DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................................................ 1 Kata Pengantar ...................................................................................................................................... 2 Bab 1 Pendahuluan ................................................................................................................................ 3 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Identifikasi Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Manfaat Penulisan Bab 2 Dasar Hukum ................................................................................................................................ 5 Bab 3 Contoh Kasus ................................................................................................................................ 6 Bab 4 Pembahasan Jual Beli dan Jual Beli Online ................................................................................. 7 A. Konsep Perjanjian ................................................................................................................ 7 1. Pengertian Perjanjian Jual Beli...................................................................................... 7 2. Kewajiban dalam suatu Perjanjian Jual Beli.................................................................. 9 2.1 Kewajiban Penjual 2.2 Kewajiban Pembeli 3. Risiko dalam Perjanjian Jual Beli ................................................................................. 13 4. Saat Terjadinya Perjanjian Jual Beli ............................................................................ 15 B. Syarat-syarat Sahnya Suatu Perjanjian dan Syarat Pengikatan Jual Beli melalui Internet 18 C. Prinsip Jual Beli Secara Online ........................................................................................... 21 D. Proses Pengikatan Jual Beli Melalui Internet .................................................................... 23 E. Analisis Hukum .................................................................................................................. 26 Bab 5. Kesimpulan ................................................................................................................................ 27 Daftar Pustaka ...................................................................................................................................... 29

1

Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kasihNya, sehingga saya bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul, “Jual Beli Online Ditinjau dari Hukum Perdata” dengan baik dan tanpa halangan. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Giofedi Rauf, S.H., M.H yang telah membimbing saya selama satu semester ini. Tugas yang bapak berikan saat ini membuat saya belajar mengenai pandangan hukum terhadap jual-beli secara online. Makalah ini membahas mengenai pengertian jual beli, kewajiban dan hak dalam jualbeli, syarat-syarat pengikatan jual beli melalui internet, serta analisis hukum terhadap jualbeli secara online. Saya berharap, makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca dan menjadi referensi untuk menambah pengetahuan umum. Saya mohon maaf bila terjadi kesalahan maupun kekurangan dalam tugas saya kali ini.

Jakarta, 21 Januari 2013

Hormat saya, Jeane Sofie

2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini indonesia sedang memasuki era pembangunan nasional, dimana dalam masa tersebut Indonesia harus melakukan suatu proses yang berkelanjutan yang harus senantiasa tanggap terhadap berbagai dinamika yang terjadi di masyarakatnya. Kemudian globalisasi informasi telah menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia sehingga memungkinkan perkembangan dan kemajuan Teknologi Informasi yang demikian pesat yang menyebabkan perubahan kegiatan kehidupan manusia dalam berbagai bidang yang secara langsung telah memengaruhi lahirnya sistem jual beli baru. Indonesia menggunakan sistem baru dalam perdagangannya, yaitu jual beli online, sehingga pembangunan Teknologi Informasi dapat dilakukan secara optimal, merata, dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun disadari bahwa penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi harus terus dikembangkan untuk menjaga, memelihara, dan memperkukuh persatuan dan kesatuan nasional berdasarkan Peraturan Perundang‐undangan demi kepentingan nasional, sebab pemanfaatan Teknologi Informasi berperan penting dalam perdagangan dan pertumbuhan perekonomian nasional tersebut untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Akibat dari sistem baru yaitu jual beli online, terhadap hukum positif yang berlaku di indonesia, yaitu hukum perdata barat, maka terdapat beberapa hal yang perlu dikaji dan dibandingkan apakah pemanfaatan teknologi online dalam proses jual beli telah sesuai dengan hukum yang berlaku di indonesia kini. Maka atas dasar itulah makalah ini dibentuk, guna mengkaji apakah ketentuan-ketentuan dalam jual beli online sesuai dengan ketentuan hukum Indonesia.

3

menambah wawasan bagi pembaca maupun penulisnya. 1. serta pandangan hukum terhadap jual beli online.2 Identifikasi Masalah 1. Bagaimana proses pengikatan jual-beli online? 3. 4 . Apa pengertian hukum jual-beli dalam hukum perdata? 2.1.3 Tujuan Penulisan Untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Pengantar Hukum Perdata dan Dagang. serta untuk mengetahui jual beli dalam hukum perdata.4 Manfaat Penulisan Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak. Apa analisis hukum terhadap jual-beli online? 1.

meskipun penyerahannya belum dilakukan dan si penjual berhak menuntut harganya. pada waktu dan tempat sebagaimana ditetapkan menurut persetujuan”.” 5 .BAB 2 DASAR HUKUM Pasal 1457 KUHPerdata yang menyatakan “jual-beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga” Pasal 1427 KUHPerdata yang menyatakan “Jika pada saat penjualan. Pasal 1460 KUHPerdata yang menyatakan “jika kebendaan yang dijual itu berupa suatu barang yang sudah ditentukan. maka barang ini sejak saat pembelian adalah atas tanggungan si pembeli. Pasal 1513 KUHPerdata yang menyatakan “Kewajiban utama si pembeli ialah membayar harga pembelian. barang yang dijual sama sekali telah musnah maka pembelian adalah batal”.

Bukan hanya 13 orang korban yang merasa tertipu. namun mereka tidak melaporkan kejadian tersebut.000. Mereka dengan sengaja menurunkan harga dengan selisih yang sangat jauh. tersangka penipuan menjanjikan kamera digital akan dikirimkan. 10. Tiga orang tersebut yang tidak disebutkan namanya mengaku melakukan penipuan dengan menjual kamera digital lewat situs duniacamera. Jumlah korban diperkirakan ratusan orang. Seringkali seseorang yang berkedok penjual online menjual barang dagangannya dengan harga miring.000. dan kamera tak kunjung dikirim oleh para tersangka. Harga yang sebenarnya mencapai Rp. Para pelaku melakukan penipuan lewat internet dengan menampilkan gambar-gambar kamera digital.000.BAB 3 CONTOH KASUS Penipuan online memang marak terjadi belakangan ini. 16. Kerugian mereka mencapai ratusan juta rupiah. 6 . Di situs tersebut tercantum nomor rekening dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Bulan April 2012. polisi telah membekuk 3 orang pelaku penipuan via internet. Seteleh berusaha meyakinkan para korban. yang disertai dengan harga yang murah. guna menarik perhatian pembeli.com. Korban akhirnya mengirim uang kepada tersangka.blogspot. asalkan korban mentransfer uang terlebih dahulu. Sudah ada 13 laporan yang menyatakan telah mengalami kerugian yang cukup besar karena situs tersebut.000 tetapi oleh para tersangka dijual seharga Rp. tapi masih ada banyak lagi.

Selanjutnya Volmar sebagaimana dikutip oleh Suryodiningrat mengatakan bahwa : “Jual-beli adalah pihak yang satu penjual mengikatkan dirinya kepada pihak lainnya pembeli untuk memindah tangankan suatu benda dalam eigendom dengan memperoleh pembayaran dari orang yang disebut terakhir. No. tidak dibenarkan. bahwa dengan penyetoran uang harga pabrik tersebut oleh tergugat dalam kasasi (PT. dan diserahkan kepada pembeli kedua. Ichsani tidak mungkin dilaksanakan 7 . Ichsani) di suatu Bank atas rekening penjual. dengan sendirinya pabrik sudah menjadi milik tergugat dalam kasasi. ada baiknya dilihat Pasal 1457 KUHPerdata yang menentukan “jual-beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga”. Konsep Perjanjian 1. yang dimufakati mereka berdua”. Ichsani. selaku pembeli yang kedua. Daining diputuskan oleh Mahkamah Agung telah menyalahi janjinya untuk menjual sebuah pabrik kepada PT. maka barang tidak menjadi milik pembeli kedua. Pengertian Perjanjian Jual-Beli Untuk mengetahui perjanjian jual-beli. apabila barang telah dijual tetapi belum ada penyerahan kepada pembeli. Wirjono Prodjodikoro mengatakan : “Jual-beli adalah suatu persetujuan dimana suatu pihak mengikat diri untuk wajib menyerahkan suatu barang dan pihak lain wajib membayar harga. dalam perkara ini Mahkamah Agung tidak membenarkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.BAB 4 PEMBAHASAN JUAL BELI DAN JUAL BELI ONLINE A. 101 K/Sip/63 di dalam perkara ini PT. A menjualkannya kepada C. Di dalam sistem obligator. berwujud uang”. tetapi barang yang dijual itu kemudian dijual kembali untuk yang kedua kalinya oleh si penjual. menjualkan barangnya kepada si B. tegasnya apabila A selaku penjual. hal ini seperti yang dimuat di dalam Putusan Mahkamah Agung tertanggal 19 Juni 1983. selaku pembeli yang pertama. sejumlah tertentu. di dalam Sistem Obligator. perbuatan A. dan juga penyerahan kepada PT. sebelum barang diserahkan kepada B.

bukanlah persetujuan belaka. Barang dan hargalah yang menjadi essensial perjanjian jual-beli. Daining. Selama penyerahan barang belum terjadi. perincianperincian pengertian obligator dan sifatnya sama sekali tidak diperlukan. tetapi persetujuan itu hanya bersifat pendahuluan untuk suatu perbuatan hukum tertentu yaitu berupa penyerahan tadi.karena pabrik tidak lagi barada di tengah PT. tetapi adalah suatu penyerahan barang oleh si penjual kepada si pembeli dengan maksud memindahkan hak milik. dianggap sudah berlangsung antara pihak penjual dan pembeli. atau sistem/asas yang lainnya. jual-beli dianggap tidak ada. berupa uang oleh pembeli kepada penjual. dan tidak perlu di muka umum. apabila mereka telah menyetujui dan bersepakat tentang keadaan benda dan harga barang tersebut. Penjualan Eksekutorial mesti dilakukan melalui lelang di muka umum oleh pejabat lelang. Cara dan terbentuknya perjanjian jual-beli. yakni jual-beli yang dilakukan antara penjual dan pembeli tanpa campur tangan pihak resmi. bisa terjadi secara openbar/terbuka. yang menyatakan bahwa hak milik atas barang-barang yang dijual adalah sudah berpindah ke tangan pembeli pada waktu persetujuan jual-beli diadakan. Menurut Hukum Adat Indonesia yang dinamakan jual-beli. seperti yang terjadi pada penjualan atas dasar Eksekutorial atau yang disebut excutoriale verkoop. Jual-beli tidak lain dari persesuaian kehendak antara penjual dan pembeli mengenai barang dan harga. Sebaliknya jika barang objek jual-beli tidak dibayar dengan sesuatu harga. Tentang perjanjian jual-beli. Karena itu jual-beli yang terjadi dalam lalu lintas kehidupan masyarakat sehari-hari. terutama jika 8 . Di dalam Hukum Adat di Indonesia. sekalipun barangnya belum diserahkan dan harganya belum dibayarkan (pasal 1458 KUHPerdata). Dengan demikian dalam Hukum Adat setiap hubungan jual-beli tidak mengikat kepada asas atau Sistem Obligator. Bentuk jual-belinyapun. jarang sekali terjadi. karena telah dikuasai oleh PN. dan pada hakekatnya belum ada mengingat apa-apa bagi kedua belah pihak”. adalah jual-beli antara tangan ke tangan. maka belum ada jual-beli. Sifat obligator ini sangat berlainan sekali dengan Code Civil Prancis. tidak mungkin terjadi jual-beli. atas barang itu dengan syarat pembayaran harga tertentu. yang berada diantara kedua belah pihak. Areal Survey. Tanpa ada barang yang hendak dijual. Penjualan demikian harus memerlukan keputusan pengadilan. Wirjono Prodjodikoro mengemukakan bahwa : “Dalam Hukum Adat ada juga persetujuan antara kedua belah pihak yang berupa mufakat tentang maksud untuk memindahkan hak milik dari tangan penjual ke tangan pembeli dan pembayaran harga pembeli oleh pembeli kepada penjual. Akan tetapi cara dan bentuk penjualan Eksekutorial yang bersifat umum ini.

Jika pasal 1472 KUHPerdata tidak menyebut apa-apa yang menjadi kewajiban pihak penjual. selalu memerlukan bentuk akta jual-beli. Kewajiban penjual untuk menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli. Memang ketentuan penafsiran yang merugikan penjual ini seolah-olah dengan pembeli ketentuan umum. kewajiban itu baru dapat dijumpai pada pasal berikutnya. yakni Pasal 1473 KUHPerdata pada pokoknya kewajiban penjual menurut pasal tersebut terdiri dari dua. Kewajiban penjual memberi pertanggungan atau jaminan. pengaturannya dimulai dari Pasal 1427 KUHPerdata yaitu: “Jika pada saat penjualan. barang yang dijual sama sekali telah musnah maka pembelian adalah batal”.1 Kewajiban Penjual Tentang kewajiban penjual ini. 2. 2. bahwa barang yang baik yang berupa tuntutan maupun pembedaan. Akan tetapi. pihak penjual selamanya yang mempunyai kedudukan lebih kuat dibanding dengan kedudukan pembeli yang lebih lemah. terutama mengenai objek benda-benda tidak bergerak pada umumnya. yakni : 1. tidak bertentangan dengan ketertiban umum (openbare-orde). barangkali rasionya terletak pada hakekat jual-beli itu sendiri. 2. 9 . Umumnya pada jual-beli. Jadi penafsiran yang membebankan kerugian pada penjual tentang pengertian persetujuan yang kurang jelas atau yang mengandung pengertian kembar. Hak dan Kewajiban Dalam Suatu Perjanjian Jual-Beli Hal-hal yang berhubungan dengan perjanjian jual-beli pada dasarnya meliputi kewajiban pihak penjual maupun pihak pembeli. Penjual yang dibebani kewajiban untuk menyerahkan barang ditinjau dari segi ketentuan umum hukum perjanjian. Kecuali mengenai bendabenda tertentu. Tujuan akta ini hanya sekedar mempelajari jual-beli itu dengan keperluan penyerahan yang kadang-kadang memerlukan penyerahan yuridis di samping penyerahan nyata.objeknya barang-barang bergerak cukup dilakukan dengan lisan. adalah berkedudukan sebagai pihak debitur.

penyerahan dilakukan di tempat tinggal kreditur. umumnya terdapat pada penyerahan benda-benda tidak bergerak. Kalau pada penyerahan barang tadi diperlukan penyerahan yuridis disamping penyerahan nyata. diatur dalam Pasal 1874 KUHPerdata yang berbunyi : “Biaya penyerahan dipikul oleh si penjual. Serta mulai saat terjadinya penjualan. Adapun barang yang diserahkan harus dalam keadaan sebagaimana adanya pada saat persetujuan dilakukan. sedikit banyak harga penjual akan lebih tinggi dari pembeli yang menanggung ongkos penyerahan. Bagi jual-beli barang-barang di luar barang-barang tertentu. maka barang ini 10 . di luar ketentuan yang disebut di atas. menjadi kepunyaan pembeli (Pasal 1481 KUHPerdata). Berarti sejak terjadinya persetujuan jual-beli. sepanjang para pihak. maka penyerahan dilakukan di tempat terletak barang yang dijual pada saat persetujuan jual-beli terlaksana. Namun demikian kedua belah pihak dapat mengatur lain. ketentuan pembayaran ongkos penyerahan yang dimaksud Pasal 1476 KUHPerdata tadi berlaku. pembelilah yang menanggung ongkos penyerahan. Jika para pihak tidak menentukan tempat penyerahan dalam persetujuan jual-beli.Penyerahan barang dalam jual-beli merupakan tindakan pemindahan barang yang dijual ke dalam kekuasaan dan pemilikan pembeli. pembeli berhak atas segala hasil dan buah yang dihasilkan barang sekalipun barang belum diserahkan kepada pembeli. Malah kalau dalam praktek sering ditemukan. dalam hal ini di tempat pembeli dan penjual. Lain halnya dengan benda-benda bergerak. Penjual menyerahkan kepada pembeli.Ongkos penyerahan barang ditanggung oleh penjual .Biaya untuk datang mengambil barang dipikul oleh pembeli. baik secara nyata maupun secara yuridis. Hal ini erat sekali hubungannya yang dijual itu berupa suatu barang yang sudah ditentukan. Ketentuan ini terutama jika barang yang yang dijual terdiri dari benda tertentu (bepaalde zaak). sedangkan biaya pengambilan dipikul oleh si pembeli jika tidak telah diperjanjikan sebelumnya” : . dengan jalan melakukan akte balik nama (overschijving) dari nama penjual kepada nama pembeli. Mengenai ongkos penyerahan barang yang dijual. agar pemilikan pembeli menjadi sempurna. pembeli harus menyelesaikan penyerahan tersebut (pasal 1475 KUHPerdata). Penyerahannya sudah cukup sempurna dengan penyerahan nyata saja (pasal 612 KUHPerdata). penyerahan dilakukan menurut ketentuan Pasal 1393 ayat (2) KUHPerdata. segala hasil dan buah yang timbul dari barang. Jika demikian halnya. penjual dan pembeli tidak memperjanjikan lain. Misalnya penjualan rumah atau tanah. Karena Pasal 1476 KUHPerdata itu sendiri ada menegaskan.

tentu pantas untuk mensejajarkannya dengan kemungkinan keuntungan yang akan diperoleh dari benda tersebut sejak persetujuan jual-beli diadakan. Itulah sebabnya Pasal 1513 KUHPerdata sebagai pasal yang menentukan kewajiban pembeli dicantumkan sebagai pasal pertama. barulah dipedomani prinsip umum di atas. Tentu tempat dan saat pembayaran yang utama harus dilakukan di tempat dan saat yang telah ditentukan dalam persetujuan. sangat beralasan sekali menganggap pembeli yang menolak melakukan pembayaran. Yakni pembeli wajib malakukan pembayaran di tempat dan saat dilakukan penyerahan barang.2. adalah pantas menjadi hak pembeli sekalipun barangnya belum diserahkan. maka dapat dilihat : 11 . Jual-beli tidak akan ada artinya tanpa pembayaran harga. Oleh karena itu. semua hasil atau buah yang timbul sebelum saat penyerahan harus dipelihara dan diurus oleh penjual sebagaimana layaknya seorang bapak yang berbudi baik. Kewajiban membayar harga merupakan kewajiban yang paling utama bagi pihak pembeli.1 Tempat Pembayaran Tempat dan saat pembayaran pada prinsipnya bersamaan dengan tempat dan saat penyerahan barang.sejak saat pembeli adalah atas tanggung si pembeli. Inilah prinsip umum mengenai tempat dan saat pembayaran. Atas dasar aturan yang diuraikan. Karena itu. berarti telah melakukan “Perbuatan Melawan Hukum” (onrechtmatig). Jika tempat dan saat pembayaran tidak ditentukan dalam perjanjian. yang mengatur kewajiban pembeli membayar harga barang yang dibeli.2 Kewajiban Pembeli Adapun kewajiban pembeli adalah : Kewajiban membayar harga (Pasal 1513 KUHPerdata) yang berbunyi : “Kewajiban utama si pembeli ialah membayar harga pembelian. Pembeli harus menyelesaikan pelunasan harga bersamaan dengan penyerahan barang. meskipun penyerahannya belum dilakukan dan si penjual berhak menuntut harganya. Atas pembebanan risiko yang demikian. 2. 2. pada waktu dan tempat sebagaimana ditetapkan menurut persetujuan”.

yang pembayaran harus dilakukan di tempat penyerahan barang. Oleh karena itu hak menangguhkan pembayaran akibat gangguan baru berakhir sampai ada kepastian lenyapnya gangguan. Peristiwa seperti ini tidak ada diatur dalam Pasal 1516 KUHPerdata. sehingga pembayaran dan penyerahan barang terjadi serentak pada tempat dan saat yang sama. terjadi bersamaan dalam waktu yang sama.2. Sehingga untuk mencari penyelesaiannya atas kasus-kasus seperti itu. Gangguan itu berupa gugatan/tuntutan berupa hak hipotik pihak ketiga yang masih melekat pada barang. Hal ini sesuai dengan ketentuan. demi untuk melindungi kepentingan pembeli atas kesewenangan penjual yang tidak bertanggung jawab atas jaminan barang yang dijualnya terbebas dari gangguan dan pembebanan. Pembayaran barang-barang tertentu dilakukan di tempat dimana barang tertentu tadi terletak ataupun di tempat penjual. paling tepat mempergunakan analogi aturan yang dirumuskan pada Pasal 1500 KUHPerdata yang berbunyi : “Jika yang harus diserahkan hanya sebagian dari harganya. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1429 KUHPerdata.2 Hak Menunda Pembayaran Hak menangguhkan/menunda pembayaran terjadi sebagai akibat gangguan (stornis) yang dialami oleh pembeli atas barang yang dibelinya. Sesuatu hal yang barangkali dikejar oleh ketentuan Pasal 1514 KUHPerdata. 2.a. Pembayaran barang generic harus dilakukan di tempat tinggal pembeli. b. Hak menunda pembayaran sengaja diberikan kepada pembeli. Bisa juga berupa gabungan hak reklame penjual semula oleh karena harganya belum dilunasi. sedangkan bagian itu dalam hubungan dengan keseluruhannya adalah 12 . yang menentukan penyerahan atas barang-barang tertentu harus dilakukan di tempat dimana barang tertentu terletak ataupun di tempat kediaman penjualan. bertujuan agar pembayaran dan penyerahan barang yang dibeli. Kalau yang mengalami gangguan hanya sebagian saja. Gangguan itu sedemikian rupa sehingga pembeli benar-benar terganggu menguasai dan memiliki barang tersebut. bagaimana penyelesaiannya. bahwa penyerahan atas barang generik dilakukan di tempat tinggal/kediaman pembeli.

sedemikian pentingnya hingga si pembeli seandainya bagian itu tidak ada. Dengan demikian. Yakni jual-beli bisa dilanjutkan dengan jalan menunda pembayaran hanya sekedar harga bahagian barang yang terganggu. Menurut Pasal 1517 KUHPerdata. jika dalam persetujuan telah ditetapkan jangka waktu tertentu bagi si pembeli untuk mengambil barang dan waktu tersebut tidak ditepati oleh si pembeli. namun pembeli tidak mau melakukan pembayaran. takkan membeli barangnya maka ia dapat meminta pembatalan pembelinya”. Jual-beli jalan terus. menyangkut pembatalan jual-beli atas barang-barang tidak bergerak. Sudah cukup jelas dipergunakan alasan wanprestasi atas dasar moral kredit. Selebihnya dapat dilunasi pembeli. Dengan demikian. Menuntut pembatalan jual-beli. Apa yang diterangkan di atas. Bagaimana halnya. 13 . Sebab keingkaran melakukan pembayaran telah menetapkan pembelian dalam keadaan lalai (mora). Kalau objek jualbelinya terdiri dari barang-barang yang bergerak (barang-barang biasa. Atas kebijaksanaan mempergunakan analogi Pasal 1500 KUHPerdata tersebut. b. jika pembeli tidak melunasi pembayaran atau menangguhkan pembayaran tanpa alasan? Gangguan maupun cacat tidak ada. dan menangguhkan pembayaran hanya untuk sejumlah harga atau sebahagian yang terganggu saja. jika pembeli enggan membayar harga barang. perabotan rumah tangga dan sebagainya). Sedangkan keadaan lalai itu sendiri adalah dasar hukum untuk menempatkan seseorang dalam keadaan wanprestasi. dengan sendirinya telah dapat diatasi permasalahan penanggulangan pembayaran atas gangguan yang terjadi atas sebagian barang. sedangkan bagian itu dalam hubungan dengan keseluruhannya adalah sedemikian pentingnya hingga si pembeli seandainya bagian itu tidak ada. jual-beli dengan sendirinya batal menurut hukum tanpa memerlukan teguran lebih dulu dari pihak penjual atau disebut wanprestasi zonder rechtelijke toessennkomst (Pasal 1518 KUHPerdata). jika yang terganggu hanya sebahagian saja pembeli dapat memilih: a. jika yang terganggu hanya sebahagian dari harganya. penjual dapat menuntut pembatalan jual-beli sesuai dengan ketentuan Pasal 1267 KUHPerdata. takkan membeli barangnya maka ia dapat meminta pembatalan pembelinya. Sebenarnya Pasal 1517 KUHPerdata ini sudah agak berlebihan.

risiko berpindah kepada pembeli. Adalah lebih baik untuk menentukan risiko dalam jual-beli barang tersebut. Sekalipun penyerahan barang belum terjadi. dengan sendirinya prestasi yang lainpun harus gugur. barangnya tidak dapat diserahkan atas alasan impossibilitas objektif. Jual beli mengenai barang tertentu. Akan tetapi.1 Objek jual-beli terdiri dari barang tertentu Jika objek jual-beli terdiri dari barang tertentu. jika tetap ada kewajiban membayar sesuatu yang telah musnah nilainya. Jika debitur melakukan kealpaan. jika barang yang dijual musnah sebelum diserahkan pada pembeli.3. gugurlah kewajiban pembeli untuk membayar harga. Risiko Dalam Perjanjian Jual-Beli Objek jual-beli terdiri dari barang tertentu (een zeker en hepaalde-zaak) 3. bukan karena barangnya musnah. Dengan demikian lebih masuk akal. risiko atas barang berada pada pihak pembeli terhitung sejak saat terjadinya persetujuan pembelian. pembeli tetap wajib membayar. umpamanya karena adanya larangan pemerintah menjual barang tersebut atau karena barang itu dicabut oleh pemerintah. Misalnya. Sebenarnya adalah lebih memenuhi logika. Hanya saja ketentuan. debitur harus menanggung kealpaan tersebut. barang yang hendak diserahkan menjadi keuntungan bagi pihak kreditur. sekejap setelah penjualan berlangsung. Apakah dalam peristiwa-peristiwa seperti ini pembeli masih tetap diwajibkan membayar harga? Kalau dalam hal-hal seperti inipun pembeli tetap wajib membayar 14 . terhitung sejak debitur melakukan kealpaan tersebut. penjual menuntut pembayaran harga seandainya barang tersebut musnah. tetap berada pada pihak penjual selama barang belum diserahkan pada pembeli. Seandainya barang yang hendak di levering lenyap. Bagaimana dapat diterima akal. Sejak terjadinya perjanjian. Kurang baik rasanya jika pembeli dibebani membayar harga barang yang musnah. bahwa dalam perjanjian timbal balik seperti pada jual-beli apabila salah satu prestasi gugur. jika barang yang menjadi objek jual-beli tadi benar-benar tidak dapat diserahkan. Paling tidak risiko kemusnahan barang tidak menyebabkan pembeli harus membayar harga.

maka tidak terjadi jual-beli. yang mengatakan : “Jual-beli sudah dianggap terjadi antara kedua belah pihak setelah mereka mencapai sepakat tentang barang dan harga. artinya sudah menganggap dirinya sebagai pemilik atas barang yang diperjanjikan itu. 15 . oleh karena itu maka perjanjian jual-beli dikatakan juga sebagai perjanjian konsensuil dan sering juga disebut Perjanjian Obligatoir. benar-benarlah Pasal 1460 KUHPerdata merupakan ketentuan undang-undang yang paling merugikan bagi pembeli barang tertentu. Kadang-kadang para pihak yang mengadakan perjanjian. Dengan syarat jika barang nyata tadi dijual tidak dengan tumpukan. sekalipun belum dilakukan penimbangan. menganggap dirinya sudah mempunyai status yang lain. karena penyerahan barang tidak bergerak berbeda dengan penyerahan barang yang bergerak. tetap berada di pihak penjual.2 Objek jual-beli terdiri dari barang yang dijual dengan timbangan bilangan atau ukuran. pengukuran atau perkiraan. Kalau barang bergerak. sebab kalau harga itu berupa suatu barang. Jadi. diukur atau dihitung (Pasal 1461 KUHPerdata) Memperhatikan ketentuan Pasal 1461 KUHPerdata. Apabila barangnya dijual dengan tumpukan/onggokan. atau penyerahan dari tangan ke tangan. risiko beli atas barang-barang nyata tetap berada pada pihak penjual sampai saat barang-barang itu ditimbang. perlu diperhatikan barang-barang yang harus diserahkan. setelah lahirnya hak dan kewajiban. dengan lahirnya kata sepakat. 4. Sebenarnya belum. atau penyerahan yang menyebabkan seketika si pembeli menjadi pemilik barang. melainkan yang terjadi tukar-menukar.harga. 3. Mengenai penyerahan hak milik ini. Saat Terjadinya Perjanjian Jual-Beli Harga ini harus berupa uang. risiko atas barang. sampai pada saat barang itu ditimbang. Sifat konsensual dari jual-beli tersebut dapat dilihat pada Pasal 1458 KUHPerdata. pembeli dikatakan menjadi pemilik atas barang semenjak diadakannya penyerahan atau sudah diadakan penyerahan. barang menjadi risiko beli. meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar”. penyerahannya cukup dilakukan penyerahan secara nyata saja. maka lahirlah perjanjian itu dan sekalian pada saat itu menyebabkan timbulnya hak dan kewajiban. diukur atau dihitung.

3. maka penyerahannya tidak sah. 4. kredit ataupun pembayaran berdasarkan jumlah tertentu dari tugas yang telah diselesaikan. Cara berkomunikasi kedua belah pihak harus memperhatikan bahwa situasi untuk memberikan informasi untuk hal yang tidak pantas (illegal). Jadi kalau perjanjiannya tidak sah. seperti yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa atau tidak ada kata sepakat. Dengan demikian. Pembayaran Mengenai harga dan cara pembayaran apakah pembayaran sekaligus. 5. misalnya. Kalau perjanjian ini tidak sah. 16 . dapat diperhatikan pula ciri-ciri perjanjian melalui internet atau ciri kontrak dagang elektronik. yaitu orang yang berkewenangan penuh untuk memindah-tangankan barang itu atau orang yang diberi kuasa oleh si pemiliknya. Adanya alasan hal yang sah (titel) 2. tukar-menukar. yaitu : 1.Supaya penyerahan itu sah. atau dianggap tidak ada pemindahan hak milik. menyebabkan alasan haknya tidak sah. Garansi dan vrijwaring Bahwa di dalam perjanjian tersebut harus dinyatakan jaminan yang harus dibuat oleh salah satu pihak (penjual) dan harus bebas dari unsur penjiplakan. Biaya Para pihak dapat mengadakan kesepakatan bahwa kewajiban untuk mambayar ganti rugi dilakukan dengan risk sharing (pembagian risiko). Titel adalah hubungan hukum yang mengakibatkan terjadinya penyerahan itu. jualbeli. Kerahasiaan Dalam hal ini perlu dibuat untuk mamastikan agar para pihak terikat untuk menjaga kerahasiaan informasi yang terdapat dalam perjanjian. Ini juga harus diperhatikan supaya penyerahannya itu sah. yakni : 1. 2. agar prinsip perjanjian melalui internet tersebut dapat terlaksana dengan baik. maka penyerahannya tidak sah pula. Orang yang dapat berbuat bebas atas barang itu. Orang yang dapat berbuat bebas atas barang itu. menurut sistem kausal harus dipenuhi dua syarat. memperhatikan hak intelektual dan tidak melanggar ketentuan hukum yang ada. pemberian hibah. juga bila dilakukan oleh orang yang tidak berhak maka penyerahannyapun tidak sah.

bahwa yang menjualnya itu bukan pemiliknya.Tetapi meskipun orang yang diberi kuasa oleh pemiliknya. terdapat pula unsur itikad baiknya. 17 . maka penyerahannya itu adalah sah. Dengan demikian penyerahan itu tetap sah sekalipun dilakukan oleh orang yang bukan pemiliknya. Mengenai hal pengecualian ini yang dibenarkannya hanya bila penyerahannya mengandung unsur dagang dan unsur itikad baik. asalkan memenuhi kedua unsur tersebut. ini sebagai pengecualian. maksudnya bila dalam perjanjian jual-beli (ini unsur perdagangan). artinya orang yang membeli itu tidak mengerti.

mempunyai cukup kemampuan untuk menyadari benar-benar tanggung jawab 18 . atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”. juga dikehendaki oleh yang lain. hendaknya dari suatu kerugian yang terang dan nyata (Pasal 1324 KUHPerdata). Penipuan yang dimaksud adalah suatu tipu muslihat yang dipakai oleh salah satu pihak. 2. setuju atau seia sekata mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. perlulah bahwa orang yang membuat suatu perjanjian pada akhirnya akan terikat oleh perjanjian itu. Pada Pasal 1321 KUHPerdata ditegaskan : “Tiada kesepakatan yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan. Tentu saja bila dipandang dari sudut rasa keadilan. Mereka yang menghendaki sesuatu yang sama secara timbal balik. Apa yang menjadi kehendak pihak yang satu. ketika manakala perjanjian tersebut seseorang dipengaruhi oleh pandangan atau kesan yang ternyata tidak benar. dan jika seandainya tidak ada unsur penipuan ini (dalam keadaan normal) maka pihak tidak akan bersedia menandatangani perjanjian (Pasal 1328 KUHPerdata). Perihal unsur paksaan pada pasal tersebut dimaksud adalah suatu perbuatan yang menakutkan seseorang yang berpikiran sehat. untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Maksudnya hal ini mempunyai arti bahwa orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut hukum. Ketentuan mengenai kecakapan seseorang diatur dalam Pasal 1329 sampai dengan Pasal 1331 KUHPerdata. Syarat-syarat Sahnya Suatu Perjanjian dan Syarat Pengikatan Jual-Beli melalui Internet Berdasarkan ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata. Suatu kesepakatan kehendak terhadap suatu perjanjian dimulai dari adanya unsur penawaran oleh salah satu pihak dan diikuti dengan penawaran dari pihak lainnya. sehingga menyebabkan pihak lain dalam perjanjian tersebut menandatangani perjanjian yang bersangkutan. Maksudnya bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian itu harus bersepakat. Sepakat mereka yang mengikat dirinya.B. baik terhadap dirinya sendiri maupun harta. Sedangkan unsur kesilapan dalam membuat perjanjian. Pada dasarnya setiap orang yang sudah dewasa dan sehat pikirannya adalah cakap menurut hukum. dimana terhadap orang yang terkena paksaan tadi timbul rasa takut.

Semuanya merupakan syarat pokok bagi setiap perjanjian.yang akan dipikul dengan perbuatan itu. Suatu hal tertentu. Suatu sebab yang halal. Suatu hal tertentu ini mengacu kepada apa (objek) yang diperjanjikan dalam perjanjian tersebut. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan. yaitu kelompok syarat-syarat yang berhubungan dengan subjek perjanjian yang terdiri dari kesepakatan dan kecakapan. 3. Orang yang tidak sehat pikirannya tentu tidak mampu menerima tanggung jawab yang dipikul oleh seorang yang mengadakan suatu perjanjian. kedudukannya sama dengan seorang anak yang belum dewasa. Sebab tersebut merupakan sebab yang halal yang mempunyai arti bahwa isi dari perjanjian tersebut tidak menyimpang dari ketentuanketentuan perundang-undangan yang berlaku disamping tidak menyimpang dari normanorma ketertiban dan kesusilaan. yaitu : a. maka seorang dewasa yang telah ditaruh di bawah pengampuan harus diwakili oleh pengampu atau kuratornya. Yang dimaksudkan dengan sebab atau causa dari suatu perjanjian jual-beli isinya adalah pihak yang satu menghendaki uang dan pihak yang lain menginginkan hak milik atas barang tersebut. Artinya. dengan kata lain perjanjian ini sah atau mengikat selama tidak dibatalkan (oleh hakim) atas permintaan 19 . maka perjanjian itu dapat dibatalkan. Keempat syarat ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. bahwa barang tersebut sudah ada atau sudah berada di tangan si berutang pada saat perjanjian dibuat. misalnya perjanjian perdamaian yang harus dibuat secara tertulis. Maksudnya perlu untuk dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan sebab disini tiada lain adalah isi dari perjanjian itu sendiri. Keempat syarat ini merupakan syarat pokok bagi setiap perjanjian. harus diwakili oleh orang tua atau walinya. dan selain itu terdapat juga syarat tambahan bagi perjanjian tertentu saja. menurut hukum tidak dapat berbuat bebas dengan harta kekayaannya. Seseorang yang berada di bawah pengampuan. tidak diharuskan oleh undangundang. Barang atau objek tersebut paling sedikit harus ditentukan jenisnya. Syarat Subjektif. setiap perjanjian harus memenuhi keempat syarat ini bila ingin menjadi perjanjian yang sah. Apabila syarat subjektif ini tidak dipenuhi. 4. Maksudnya sebagai syarat ketiga untuk sahnya suatu perjanjian. salah satunya apakah itu kesepakatan para pihak atau kecakapan untuk membuat suatu perjanjian. Kalau seorang yang belum dewasa.

maka perjanjian yang demikian tidak boleh dilaksanakan. Keadaan tersebut dapat seketika dilihat oleh Hakim”.pihak yang berhak meminta pembatalan itu. Alasan pembedaan antara perjanjian yang dapat diminta pembatalan dan perjanjian yang batal demi hukum menurut Prof. Para ahli hukum Indonesia. melainkan dapat diminta pembatalannya. Apabila syarat objektif tidak dipenuhi. karena melanggar hukum dan kesusilaan. b. maka perjanjian itu dapat diminta pembatalannya maka perjanjian itu tetap beralih. 20 . Pembatalan ini langsung melumpuhkan perbuatan hukumnya. Tentang perjanjian yang isinya tidak halal. semata-mata atas dasar kebelumdewasaan atau pengampuannya. umumya berpendapat bahwa dalam syarat objektif tidak dipenuhi. Sesuai dengan bunyi Pasal 1446 KUHPerdata dimana dinyatakan bahwa : “Semua perikatan yang dibuat oleh orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan adalah batal. adalah demi hukum dan atas penuntutan yang dimajukan oleh atau dari pihak mereka. kelompok syarat yang berhubungan dengan objeknya. maka perjanjian itu bukan batal demi hukum. perbuatan tidak pernah dilakukan”. Sedangkan dalam hal syarat objektif tidak dipenuhi. Subekti ialah : “Tentang perjanjian yang tidak mengandung sesuatu hal tertentu dapat dikatakan bahwa perjanjian yang demikian tidak dapat dilaksanakan karena tidak terang apa yang diperjanjikan oleh masing-masing pihak. akibatnya ialah bahwa bagi hukum. Harus dinyatakan batal. Syarat objektif. maka perjanjian itu bukan batal demi hukum. yang terdiri dari satu hal yang tertentu dan suatu sebab hal.

C. Cara komunikasi Kedua belah pihak harus memperhatikan bahwa situasi untuk memberikan informasi untuk hal yang tidak pantas (illegal). terdapat beberapa teori diantaranya: a. Teori Pengetahuan Menurut teori ini terjadinya kontrak adalah sejak diketahuinya e-mail dari penerima oleh penawar. b. dapat diperhatikan pula syarat pengikatan jual-beli melalui internet. Agar prinsip perjanjian melalui internet dapat terlaksana dengan baik. Teori Kepercayaan Menurut teori ini kontrak terjadi pada saat pernyataan penerimaan tersebut selayaknya telah diterima oleh penawar. 21 . Garansi Bahwa di dalam perjanjian tersebut harus dinyatakan jaminan yang harus dibuat oleh salah satu pihak (penjual) dan harus bebas dari unsur penjiplakan. Teori Kehendak Dikaitkan dengan teori ini maka terjadinya kontrak adalah ketika pihak penerima menyatakan penerimaannya dengan menulis e-mail. c. b. Prinsip Jual-Beli Secara Online Saat terjadinya transaksi dalam perjanjian secara online ini. d. memperhatikan hak intelektual dan tidak melanggar ketentuan hukum yang ada. Teori Pengiriman Menurut teori ini terjadinya kontrak adalah pada saat penerima mengirim email. yaitu : a.

d. tidak ada satu pihak pun dalam perjanjian ini yang dibenarkan untuk membeberkan isi dari perjanjian ini dan atau memanfaatkan data-data yang digunakan dalam pelaksanaan perjanjian ini baik yang bersifat teknis. 22 . Kerahasiaan Dalam hal ini perlu dibuat untuk memastikan para pihak terikat untuk menjaga kerahasiaan informasi yang terdapat dalam perjanjian. Pembayaran Mengenai harga dan cara pembayaran. maupun komersial dalam bentuk apapun. kecuali diwajibkan oleh peraturan Perundangundangan yang berlaku. Biaya Para pihak dapat mengadakan kesepakatan bahwa kewajiban untuk menggantikan kerugian dilakukan dengan rishk sharing (pembagian risiko).c. kredit ataupun pembayaran berdasarkan jumlah uang yang telah diselesaikan. apakah pembayaran sekaligus. e.

Barang yang telah diterima pembeli sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli dan lepas dari tanggung jawab penjual 3. diantara nya: 1. Dalam transaksi online terdapat bagian-bagian tanggung jawab pekerjaan yaitu untuk penawaran. Terdapat perjanjian-perjanjian khusus yang disepakati keduanya. Apabila terdapat cacad-cacad pada barang yang telah diterima. Proses Pengikatan Jual-Beli melalui Internet Dalam praktek jual beli secara online. yang dilakukan oleh penjual atau pelaku usaha melalui website pada internet. terdapat beberapa tindakan yang berbeda dengan jual beli yang dilakukan secara tidak online. pembayaran. Penawaran. tanggung jawab (kewajiban) atau perjanjian dibagi kepada para pihak yang terlibat dalam jual beli tersebut 4.D. Penjual atau pelaku usaha menyediakan storefront yang berisi katalog produk dan pelayanan yang akan diberikan. maka transaksi antara penjual dan pembeli selesai. Sedikitnya ada empat pihak yang terlibat di dalam transaksi online. Masyarakat yang memasuki website pelaku usaha tersebut dapat melihat-lihat barang yang ditawarkan oleh penjual. Salah satu keuntungan transaksi jual beli 23 . pengiriman. Pihak tersebut antara lain perusahaan penyedia barang (penjual). Tindakan-tindakan tersebut antara lain : 1. sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli 4. perusahaan penyedia jasa pengiriman. sebagai berikut : 1. Pada proses penawaran dan proses persetujuan jenis barang yang dibeli. dan jasa pembayaran 5. Kesepakatan dicapai secara tertulis dalam media elektronik 3. Penjual menerima persetujuan jenis barang yang dipilih dan pembeli menerima konfirmasi bahwa pesanan atau pilihan barang telah diketahui oleh penjual 6. kesepakatan batal dan barang dialihkan pada pembeli lain Pada dasarnya proses transaksi jual beli secara elektronik tidak jauh berbeda dengan proses transaksi jual beli biasa di dunia nyata. Antara penjual dan pembeli tidak melakukan tatap muka (secara langsung) 2. Apabila setelah jangka waktu tertentu pembayaran tidak dilakukan. Dalam transaksi online. Proses pengikatan transaksi jual beli secara elektronik ini dilakukan dalam beberapa tahap. pembeli. Barang dikirim setelah pembayaran dilunasi seluruhnya di muka 2.

melalui di toko online ini adalah bahwa pembeli dapat berbelanja kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. maka barang itu akan disimpan terlebih dahulu sampai calon pembeli merasa yakin akan pilihannya. Pembayaran. yang dapat dilakukan langsung antara kedua pihak tanpa perantara dengan menggunakan uang nasionalnya. Dengan demikian penawaran melalui media internet hanya dapat terjadi apabila seseorang membuka situs yang menampilkan sebuah tawaran melalui internet tersebut. misalnya melalui fasilitas internet. Penawaran melalui website ditujukan untuk seluruh masyarakat yang membuka website tersebut. dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut. selanjutnya pembeli/konsumen akan memasuki tahap pembayaran. biasanya calon pembeli akan memilih barang tertentu yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha. harga. oleh karena itu. Klasifikasi cara pembayaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Transaksi model ATM. Setiap orang yang berminat untuk membeli barang yang ditawarkan itu. karena penawaran hanya ditujukan pada sebuah e-mail yang dituju sehingga hanya pemegang e-mail tersebut yang dituju. Apabila penawaran dilakukan melalui e-mail address. 24 . karena siapa saja dapat masuk ke dalam website yang berisikan penawaran atas suatu barang yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha. 2. dapat dilakukan tergantung penawaran yang terjadi. khususnya melalui website. dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. sebagai transaksi yang hanya melibatkan institusi finansial dan pemegang account yang akan melakukan pengambilan atau mendeposit uangnya dari account masing-masing. namun tetap bertumpu pada keuangan nasional. nilai rating atau poll otomatis tentang barang yang diisi oleh pembeli sebelumnya. apabila seseorang tidak menggunakan media internet dan memasuki situs milik pelaku usaha yang menawarkan sebuah produk. dan jika calon pembeli atau konsumen itu tertarik untuk membeli salah satu barang yang ditawarkan. Pembayaran dua pihak tanpa perantara. maka tidak dapat dikatakan ada penawaran. spesifikasi barang termaksud dan menu produk lain yang berhubungan. Penawaran dalam sebuah website biasanya menampilkan barang-barang yang ditawarkan. Penerimaan. yang mengacu pada sistem keuangan lokal. maka penerimaan dilakukan melalui e-mail. Penawaran melalui internet terjadi apabila pihak lain yang menggunakan media internet memasuki situs milik penjual atau pelaku usaha yang melakukan penawaran. Pada transaksi jual-beli secara elektronik. 3. b.

dimana antara penjual dengan pembeli saling bertemu secara langsung.” Bila pembeli melakukan persetujuan/kata sepakat dengan penjual maka terjadilah jual beli tersebut. Berdasarkan proses transaksi jual-beli secara elektronik yang telah diuraikan di atas.c. Berdasarkan kemajuan teknologi. Pengiriman. sehingga orang yang saling berjauhan atau berada pada lokasi yang berbeda tetap dapat melakukan transaksi jual beli tanpa harus bersusah payah untuk saling bertemu secara langsung. barang yang dijadikan objek perjanjian dikirimkan oleh penjual kepada pembeli dengan biaya pengiriman sebagaimana telah diperjanjikan antara penjual dan pembeli. merupakan suatu proses yang dilakukan setelah pembayaran atas barang yang ditawarkan oleh penjual kepada pembeli. 25 . Maksud dari jual beli adalah kata sepakat. Pembayaran dalam transaksi jual-beli secara elektronik ini sulit untuk dilakukan secara langsung karena adanya perbedaan lokasi antara penjual dengan pembeli walaupun dimungkinkan untuk dilakukan. umunya merupakan proses pembayaran yang menyangkut debet. Pada kenyataannya. namun dapat juga hanya melalui media internet. kredit ataupun cek masuk. Pasal 1313 KUHPerdata menyebutkan “suatu persetujuan adalah suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih. maka pembayaran dapat dilakukan melalui cara account to account atau pengalihan dari rekening pembeli kepada rekening penjual. Metode pembayaran yang dapat digunakan antara lain: sistem pembayaran melalui kartu kredit online serta sistem pembayaran checkin line. 4. sehingga meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu serta biaya baik bagi pihak penjual maupun pembeli. menggambarkan bahwa ternyata jual-beli tidak hanya dapat dilakukan secara konvensional. dalam hal ini pembeli berhak atas penerimaan barang termaksud. Pembayaran dengan perantaraan pihak ketiga. pembayaran dapat dilakukan melalui kartu kredit dengan cara memasukkan nomor kartu kredit pada formulir yang disediakan oleh penjual dalam penawarannya. Apabila kedudukan penjual dengan pembeli berbeda.

26 . sehingga tidak ada pembatasan mengenai sarana apakah kesepakatan terjadi secara tatap muka langsung maupun tidak langsung. Namun dijelaskan pula bahwa penjual dan pembeli dapat melakukan perjanjian bahwa si penjual tidak akan diwajibkan menanggung sesuatu apapun. Untuk menunjang penyerahan barang tersebut. dan 616 KUHPer.2008. sehingga jual beli secara online ini memenuhi syarat penyerahan hak milih berdasarkan KUHPer. 3. maka penjualan online yang memiliki perjanjian khusus seperti ini diperbolehkan.berlaku. 1461. Dalam kewajibannya. Analisis Hukum 1. namun setelah barang deliver maka resiko ditanggung pembeli. penjual dapat melibatkan pihak-pihak lain. dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan. 2. 1462 KUHPer. dan jasa pembayaran. Berdasarkan hal ini. Berdasarkan Jual beli menurut pasal 1457 KUHPer adalah suatu perjanjian. dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. pembeli memiliki kewajiban untuk memabayar. 4. 5. 613. maka perjanjian dapat dibatalkan akibat pembeli melakukan wanprestasi tersebut dan penjual berhak mengalihkan dagangannya kepada pembeli lain. penjual dapat menyerahkan barang dengan cara-cara tersebut. Hak reklame. selama pembatasannya (seperti yang diungkapkan pada bab I) terpenuhi. Berdasarkan pasal 612. Dikarenakan jual beli online menggunakan sarana media elektronik.sehingga apabila dalam kurun waktu tertentu (apabila telah diperjanjikan sebelumnya) pembeli tidak membayar. 7. maka selama barang belum dikirim maka resiko ditanggung penjual. 6. maka seluruh ketentuan dalam UU ITE No. Mengenai resiko sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 1460. sehingga hak reklame inipun berlaku dalam jual beli online. penjual memiliki kewajiban menanggung kenikmatan tenteran dan menanggung terhadap cacad-cacad tersembunyi. sebagaimana diterangkan bahwa penjual dapat menuntut kembali barang itu sebagai miliknya dari tangan pembeli.11 th.E. yaitu perusahaan penyedia jasa pengiriman. sehingga kesepakatan online ini sah selama syarat-syarat jual beli dipenuhi yaitu kesepakatan harga dan barang. Dalam kewajibannya.

sehingga jual beli secara online ini memenuhi syarat penyerahan hak milih berdasarkan KUHPer. maka penjualan online yang memiliki perjanjian khusus seperti ini diperbolehkan. Namun dijelaskan pula bahwa penjual dan pembeli dapat melakukan perjanjian bahwa si penjual tidak akan diwajibkan menanggung sesuatu apapun. dan pembayaran dengan perantaraan pihak ketiga. penjual memiliki kewajiban menanggung kenikmatan tenteran dan menanggung terhadap cacad-cacad tersembunyi. pembayaran dua pihak tanpa perantara. Berdasarkan pasal 612. dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan. dapat dilakukan melalui transaksi model ATM. selama pembatasannya (seperti yang diungkapkan pada bab I) terpenuhi. dan 616 KUHPer. Penawaran. Penerimaan.BAB 5 KESIMPULAN 1. Analisis hukum terhadap jual beli online adalah sebagai berikut : a. 613. 2. 3. Adapun pengertian jual-beli secara online terdapat dalam Pasal 1457 KUHPerdata yang menentukan “jual-beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga”. penjual dapat melibatkan pihak-pihak lain. Dalam kewajibannya. dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. c. Berdasarkan hal ini. sehingga kesepakatan online ini sah selama syarat-syarat jual beli dipenuhi yaitu kesepakatan harga dan barang. barang tersebut kemudian dikirim kepada pembeli. b. yaitu perusahaan penyedia jasa pengiriman. Proses pengikatan jual-beli online adalah sebagai berikut: a. barang dagangan ditawarkan oleh penjual kepada pembeli b. 27 . sehingga tidak ada pembatasan mengenai sarana apakah kesepakatan terjadi secara tatap muka langsung maupun tidak langsung. Pembayaran. penjual dapat menyerahkan barang dengan cara-cara tersebut. Berdasarkan Jual beli menurut pasal 1457 KUHPer adalah suatu perjanjian. Setiap orang yang berminat untuk membeli barang yang ditawarkan itu. d. Pengiriman. Untuk menunjang penyerahan barang tersebut. dan jasa pembayaran. dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut c.

g. Hak reklame. Mengenai resiko sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 1460.d. Dikarenakan jual beli online menggunakan sarana media elektronik. maka perjanjian dapat dibatalkan akibat pembeli melakukan wanprestasi tersebut dan penjual berhak mengalihkan dagangannya kepada pembeli lain.sehingga apabila dalam kurun waktu tertentu (apabila telah diperjanjikan sebelumnya) pembeli tidak membayar. Dalam kewajibannya. pembeli memiliki kewajiban untuk memabayar. f. 1461. 28 . sehingga hak reklame inipun berlaku dalam jual beli online. sebagaimana diterangkan bahwa penjual dapat menuntut kembali barang itu sebagai miliknya dari tangan pembeli. maka seluruh ketentuan dalam UU ITE No. namun setelah barang deliver maka resiko ditanggung pembeli. maka selama barang belum dikirim maka resiko ditanggung penjual.2008. 1462 KUHPer.11 th. e.berlaku.

html “____”. “Perjanjian Jual Beli Melalui Internet Ditinjau dari Aspek Hukum Perjanjian Perdata”. http://gunadarmabillyandreas. 2010. Heliana. 2011.com/2012/04/penipu-jual-beli-secara-online.com/2012/05/cari-tahu-tentang-hukum-jual-beli. http://repository. “Penipu jual beli secara online ditangkap oleh polisi”.html Komalasari. “Cari Tahu tentang Hukum Jual Beli Online” http://kerockan. Chandra.com/2010/07/ Simatupang.wordpress. “Jual Beli dalam Hukum Perdata”.id/bitstream/123456789/26565/3/Chapter%20II.blogspot.usu.http://helianakomalasari. 2012.pdf 29 . Billy.ac.DAFTAR PUSTAKA Andreas.blogspot. 2012.

JUAL BELI ONLINE DITINJAU DARI HUKUM PERDATA MAKALAH Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Pengantar Hukum Perdata dan Dagang O L E H JEANE SOFIE 1601233465 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA JAKARTA 2013 30 .

31 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful