DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................................................ 1 Kata Pengantar ...................................................................................................................................... 2 Bab 1 Pendahuluan ................................................................................................................................ 3 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Identifikasi Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Manfaat Penulisan Bab 2 Dasar Hukum ................................................................................................................................ 5 Bab 3 Contoh Kasus ................................................................................................................................ 6 Bab 4 Pembahasan Jual Beli dan Jual Beli Online ................................................................................. 7 A. Konsep Perjanjian ................................................................................................................ 7 1. Pengertian Perjanjian Jual Beli...................................................................................... 7 2. Kewajiban dalam suatu Perjanjian Jual Beli.................................................................. 9 2.1 Kewajiban Penjual 2.2 Kewajiban Pembeli 3. Risiko dalam Perjanjian Jual Beli ................................................................................. 13 4. Saat Terjadinya Perjanjian Jual Beli ............................................................................ 15 B. Syarat-syarat Sahnya Suatu Perjanjian dan Syarat Pengikatan Jual Beli melalui Internet 18 C. Prinsip Jual Beli Secara Online ........................................................................................... 21 D. Proses Pengikatan Jual Beli Melalui Internet .................................................................... 23 E. Analisis Hukum .................................................................................................................. 26 Bab 5. Kesimpulan ................................................................................................................................ 27 Daftar Pustaka ...................................................................................................................................... 29

1

Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kasihNya, sehingga saya bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul, “Jual Beli Online Ditinjau dari Hukum Perdata” dengan baik dan tanpa halangan. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Giofedi Rauf, S.H., M.H yang telah membimbing saya selama satu semester ini. Tugas yang bapak berikan saat ini membuat saya belajar mengenai pandangan hukum terhadap jual-beli secara online. Makalah ini membahas mengenai pengertian jual beli, kewajiban dan hak dalam jualbeli, syarat-syarat pengikatan jual beli melalui internet, serta analisis hukum terhadap jualbeli secara online. Saya berharap, makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca dan menjadi referensi untuk menambah pengetahuan umum. Saya mohon maaf bila terjadi kesalahan maupun kekurangan dalam tugas saya kali ini.

Jakarta, 21 Januari 2013

Hormat saya, Jeane Sofie

2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini indonesia sedang memasuki era pembangunan nasional, dimana dalam masa tersebut Indonesia harus melakukan suatu proses yang berkelanjutan yang harus senantiasa tanggap terhadap berbagai dinamika yang terjadi di masyarakatnya. Kemudian globalisasi informasi telah menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia sehingga memungkinkan perkembangan dan kemajuan Teknologi Informasi yang demikian pesat yang menyebabkan perubahan kegiatan kehidupan manusia dalam berbagai bidang yang secara langsung telah memengaruhi lahirnya sistem jual beli baru. Indonesia menggunakan sistem baru dalam perdagangannya, yaitu jual beli online, sehingga pembangunan Teknologi Informasi dapat dilakukan secara optimal, merata, dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun disadari bahwa penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi harus terus dikembangkan untuk menjaga, memelihara, dan memperkukuh persatuan dan kesatuan nasional berdasarkan Peraturan Perundang‐undangan demi kepentingan nasional, sebab pemanfaatan Teknologi Informasi berperan penting dalam perdagangan dan pertumbuhan perekonomian nasional tersebut untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Akibat dari sistem baru yaitu jual beli online, terhadap hukum positif yang berlaku di indonesia, yaitu hukum perdata barat, maka terdapat beberapa hal yang perlu dikaji dan dibandingkan apakah pemanfaatan teknologi online dalam proses jual beli telah sesuai dengan hukum yang berlaku di indonesia kini. Maka atas dasar itulah makalah ini dibentuk, guna mengkaji apakah ketentuan-ketentuan dalam jual beli online sesuai dengan ketentuan hukum Indonesia.

3

Bagaimana proses pengikatan jual-beli online? 3.4 Manfaat Penulisan Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak. 4 . Apa pengertian hukum jual-beli dalam hukum perdata? 2. serta untuk mengetahui jual beli dalam hukum perdata.3 Tujuan Penulisan Untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Pengantar Hukum Perdata dan Dagang. Apa analisis hukum terhadap jual-beli online? 1. 1. menambah wawasan bagi pembaca maupun penulisnya. serta pandangan hukum terhadap jual beli online.2 Identifikasi Masalah 1.1.

barang yang dijual sama sekali telah musnah maka pembelian adalah batal”. Pasal 1460 KUHPerdata yang menyatakan “jika kebendaan yang dijual itu berupa suatu barang yang sudah ditentukan.BAB 2 DASAR HUKUM Pasal 1457 KUHPerdata yang menyatakan “jual-beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga” Pasal 1427 KUHPerdata yang menyatakan “Jika pada saat penjualan.” 5 . Pasal 1513 KUHPerdata yang menyatakan “Kewajiban utama si pembeli ialah membayar harga pembelian. pada waktu dan tempat sebagaimana ditetapkan menurut persetujuan”. maka barang ini sejak saat pembelian adalah atas tanggungan si pembeli. meskipun penyerahannya belum dilakukan dan si penjual berhak menuntut harganya.

com. Seringkali seseorang yang berkedok penjual online menjual barang dagangannya dengan harga miring.000. Sudah ada 13 laporan yang menyatakan telah mengalami kerugian yang cukup besar karena situs tersebut. Mereka dengan sengaja menurunkan harga dengan selisih yang sangat jauh. 6 .BAB 3 CONTOH KASUS Penipuan online memang marak terjadi belakangan ini. Tiga orang tersebut yang tidak disebutkan namanya mengaku melakukan penipuan dengan menjual kamera digital lewat situs duniacamera. dan kamera tak kunjung dikirim oleh para tersangka. tersangka penipuan menjanjikan kamera digital akan dikirimkan. Kerugian mereka mencapai ratusan juta rupiah. Harga yang sebenarnya mencapai Rp. tapi masih ada banyak lagi. Seteleh berusaha meyakinkan para korban. asalkan korban mentransfer uang terlebih dahulu.000. Bulan April 2012. polisi telah membekuk 3 orang pelaku penipuan via internet. Korban akhirnya mengirim uang kepada tersangka. 10. Di situs tersebut tercantum nomor rekening dan nomor telepon yang dapat dihubungi. yang disertai dengan harga yang murah. Bukan hanya 13 orang korban yang merasa tertipu. Jumlah korban diperkirakan ratusan orang. guna menarik perhatian pembeli.000 tetapi oleh para tersangka dijual seharga Rp.blogspot.000. Para pelaku melakukan penipuan lewat internet dengan menampilkan gambar-gambar kamera digital. namun mereka tidak melaporkan kejadian tersebut. 16.

dengan sendirinya pabrik sudah menjadi milik tergugat dalam kasasi. selaku pembeli yang pertama.BAB 4 PEMBAHASAN JUAL BELI DAN JUAL BELI ONLINE A. Pengertian Perjanjian Jual-Beli Untuk mengetahui perjanjian jual-beli. dan juga penyerahan kepada PT. Daining diputuskan oleh Mahkamah Agung telah menyalahi janjinya untuk menjual sebuah pabrik kepada PT. dalam perkara ini Mahkamah Agung tidak membenarkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi. dan diserahkan kepada pembeli kedua. Ichsani. di dalam Sistem Obligator. maka barang tidak menjadi milik pembeli kedua. selaku pembeli yang kedua. yang dimufakati mereka berdua”. perbuatan A. Di dalam sistem obligator. Selanjutnya Volmar sebagaimana dikutip oleh Suryodiningrat mengatakan bahwa : “Jual-beli adalah pihak yang satu penjual mengikatkan dirinya kepada pihak lainnya pembeli untuk memindah tangankan suatu benda dalam eigendom dengan memperoleh pembayaran dari orang yang disebut terakhir. menjualkan barangnya kepada si B. Ichsani tidak mungkin dilaksanakan 7 . bahwa dengan penyetoran uang harga pabrik tersebut oleh tergugat dalam kasasi (PT. apabila barang telah dijual tetapi belum ada penyerahan kepada pembeli. tetapi barang yang dijual itu kemudian dijual kembali untuk yang kedua kalinya oleh si penjual. No. 101 K/Sip/63 di dalam perkara ini PT. ada baiknya dilihat Pasal 1457 KUHPerdata yang menentukan “jual-beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga”. Ichsani) di suatu Bank atas rekening penjual. sejumlah tertentu. Wirjono Prodjodikoro mengatakan : “Jual-beli adalah suatu persetujuan dimana suatu pihak mengikat diri untuk wajib menyerahkan suatu barang dan pihak lain wajib membayar harga. tidak dibenarkan. tegasnya apabila A selaku penjual. berwujud uang”. Konsep Perjanjian 1. sebelum barang diserahkan kepada B. A menjualkannya kepada C. hal ini seperti yang dimuat di dalam Putusan Mahkamah Agung tertanggal 19 Juni 1983.

sekalipun barangnya belum diserahkan dan harganya belum dibayarkan (pasal 1458 KUHPerdata).karena pabrik tidak lagi barada di tengah PT. Areal Survey. seperti yang terjadi pada penjualan atas dasar Eksekutorial atau yang disebut excutoriale verkoop. Bentuk jual-belinyapun. bukanlah persetujuan belaka. tetapi persetujuan itu hanya bersifat pendahuluan untuk suatu perbuatan hukum tertentu yaitu berupa penyerahan tadi. Wirjono Prodjodikoro mengemukakan bahwa : “Dalam Hukum Adat ada juga persetujuan antara kedua belah pihak yang berupa mufakat tentang maksud untuk memindahkan hak milik dari tangan penjual ke tangan pembeli dan pembayaran harga pembeli oleh pembeli kepada penjual. yang menyatakan bahwa hak milik atas barang-barang yang dijual adalah sudah berpindah ke tangan pembeli pada waktu persetujuan jual-beli diadakan. berupa uang oleh pembeli kepada penjual. bisa terjadi secara openbar/terbuka. tidak mungkin terjadi jual-beli. Tentang perjanjian jual-beli. terutama jika 8 . Tanpa ada barang yang hendak dijual. Cara dan terbentuknya perjanjian jual-beli. adalah jual-beli antara tangan ke tangan. apabila mereka telah menyetujui dan bersepakat tentang keadaan benda dan harga barang tersebut. dianggap sudah berlangsung antara pihak penjual dan pembeli. Menurut Hukum Adat Indonesia yang dinamakan jual-beli. yang berada diantara kedua belah pihak. Dengan demikian dalam Hukum Adat setiap hubungan jual-beli tidak mengikat kepada asas atau Sistem Obligator. jarang sekali terjadi. yakni jual-beli yang dilakukan antara penjual dan pembeli tanpa campur tangan pihak resmi. Selama penyerahan barang belum terjadi. perincianperincian pengertian obligator dan sifatnya sama sekali tidak diperlukan. atau sistem/asas yang lainnya. dan tidak perlu di muka umum. maka belum ada jual-beli. Sebaliknya jika barang objek jual-beli tidak dibayar dengan sesuatu harga. jual-beli dianggap tidak ada. Akan tetapi cara dan bentuk penjualan Eksekutorial yang bersifat umum ini. karena telah dikuasai oleh PN. Karena itu jual-beli yang terjadi dalam lalu lintas kehidupan masyarakat sehari-hari. Di dalam Hukum Adat di Indonesia. atas barang itu dengan syarat pembayaran harga tertentu. dan pada hakekatnya belum ada mengingat apa-apa bagi kedua belah pihak”. Jual-beli tidak lain dari persesuaian kehendak antara penjual dan pembeli mengenai barang dan harga. Daining. Sifat obligator ini sangat berlainan sekali dengan Code Civil Prancis. Penjualan demikian harus memerlukan keputusan pengadilan. Penjualan Eksekutorial mesti dilakukan melalui lelang di muka umum oleh pejabat lelang. Barang dan hargalah yang menjadi essensial perjanjian jual-beli. tetapi adalah suatu penyerahan barang oleh si penjual kepada si pembeli dengan maksud memindahkan hak milik.

Tujuan akta ini hanya sekedar mempelajari jual-beli itu dengan keperluan penyerahan yang kadang-kadang memerlukan penyerahan yuridis di samping penyerahan nyata. Hak dan Kewajiban Dalam Suatu Perjanjian Jual-Beli Hal-hal yang berhubungan dengan perjanjian jual-beli pada dasarnya meliputi kewajiban pihak penjual maupun pihak pembeli. bahwa barang yang baik yang berupa tuntutan maupun pembedaan. tidak bertentangan dengan ketertiban umum (openbare-orde). Jadi penafsiran yang membebankan kerugian pada penjual tentang pengertian persetujuan yang kurang jelas atau yang mengandung pengertian kembar. selalu memerlukan bentuk akta jual-beli. yakni Pasal 1473 KUHPerdata pada pokoknya kewajiban penjual menurut pasal tersebut terdiri dari dua. Kewajiban penjual untuk menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli. Umumnya pada jual-beli.1 Kewajiban Penjual Tentang kewajiban penjual ini. pengaturannya dimulai dari Pasal 1427 KUHPerdata yaitu: “Jika pada saat penjualan. Akan tetapi. barang yang dijual sama sekali telah musnah maka pembelian adalah batal”. 2. barangkali rasionya terletak pada hakekat jual-beli itu sendiri. 2. Penjual yang dibebani kewajiban untuk menyerahkan barang ditinjau dari segi ketentuan umum hukum perjanjian. Jika pasal 1472 KUHPerdata tidak menyebut apa-apa yang menjadi kewajiban pihak penjual. kewajiban itu baru dapat dijumpai pada pasal berikutnya. 9 . Kecuali mengenai bendabenda tertentu. adalah berkedudukan sebagai pihak debitur. pihak penjual selamanya yang mempunyai kedudukan lebih kuat dibanding dengan kedudukan pembeli yang lebih lemah.objeknya barang-barang bergerak cukup dilakukan dengan lisan. Memang ketentuan penafsiran yang merugikan penjual ini seolah-olah dengan pembeli ketentuan umum. yakni : 1. 2. Kewajiban penjual memberi pertanggungan atau jaminan. terutama mengenai objek benda-benda tidak bergerak pada umumnya.

Jika demikian halnya. pembelilah yang menanggung ongkos penyerahan. maka barang ini 10 . Hal ini erat sekali hubungannya yang dijual itu berupa suatu barang yang sudah ditentukan. Karena Pasal 1476 KUHPerdata itu sendiri ada menegaskan. pembeli berhak atas segala hasil dan buah yang dihasilkan barang sekalipun barang belum diserahkan kepada pembeli. maka penyerahan dilakukan di tempat terletak barang yang dijual pada saat persetujuan jual-beli terlaksana. pembeli harus menyelesaikan penyerahan tersebut (pasal 1475 KUHPerdata).Penyerahan barang dalam jual-beli merupakan tindakan pemindahan barang yang dijual ke dalam kekuasaan dan pemilikan pembeli. menjadi kepunyaan pembeli (Pasal 1481 KUHPerdata). penyerahan dilakukan di tempat tinggal kreditur. Misalnya penjualan rumah atau tanah.Ongkos penyerahan barang ditanggung oleh penjual . sepanjang para pihak. baik secara nyata maupun secara yuridis. ketentuan pembayaran ongkos penyerahan yang dimaksud Pasal 1476 KUHPerdata tadi berlaku. Namun demikian kedua belah pihak dapat mengatur lain. Serta mulai saat terjadinya penjualan. Malah kalau dalam praktek sering ditemukan. sedikit banyak harga penjual akan lebih tinggi dari pembeli yang menanggung ongkos penyerahan. segala hasil dan buah yang timbul dari barang. Berarti sejak terjadinya persetujuan jual-beli. penjual dan pembeli tidak memperjanjikan lain.Biaya untuk datang mengambil barang dipikul oleh pembeli. dalam hal ini di tempat pembeli dan penjual. di luar ketentuan yang disebut di atas. penyerahan dilakukan menurut ketentuan Pasal 1393 ayat (2) KUHPerdata. umumnya terdapat pada penyerahan benda-benda tidak bergerak. Penjual menyerahkan kepada pembeli. Bagi jual-beli barang-barang di luar barang-barang tertentu. Mengenai ongkos penyerahan barang yang dijual. Kalau pada penyerahan barang tadi diperlukan penyerahan yuridis disamping penyerahan nyata. Ketentuan ini terutama jika barang yang yang dijual terdiri dari benda tertentu (bepaalde zaak). dengan jalan melakukan akte balik nama (overschijving) dari nama penjual kepada nama pembeli. Penyerahannya sudah cukup sempurna dengan penyerahan nyata saja (pasal 612 KUHPerdata). agar pemilikan pembeli menjadi sempurna. sedangkan biaya pengambilan dipikul oleh si pembeli jika tidak telah diperjanjikan sebelumnya” : . diatur dalam Pasal 1874 KUHPerdata yang berbunyi : “Biaya penyerahan dipikul oleh si penjual. Adapun barang yang diserahkan harus dalam keadaan sebagaimana adanya pada saat persetujuan dilakukan. Jika para pihak tidak menentukan tempat penyerahan dalam persetujuan jual-beli. Lain halnya dengan benda-benda bergerak.

semua hasil atau buah yang timbul sebelum saat penyerahan harus dipelihara dan diurus oleh penjual sebagaimana layaknya seorang bapak yang berbudi baik. Pembeli harus menyelesaikan pelunasan harga bersamaan dengan penyerahan barang. Oleh karena itu. Jika tempat dan saat pembayaran tidak ditentukan dalam perjanjian. meskipun penyerahannya belum dilakukan dan si penjual berhak menuntut harganya. Tentu tempat dan saat pembayaran yang utama harus dilakukan di tempat dan saat yang telah ditentukan dalam persetujuan. maka dapat dilihat : 11 . Itulah sebabnya Pasal 1513 KUHPerdata sebagai pasal yang menentukan kewajiban pembeli dicantumkan sebagai pasal pertama. sangat beralasan sekali menganggap pembeli yang menolak melakukan pembayaran. tentu pantas untuk mensejajarkannya dengan kemungkinan keuntungan yang akan diperoleh dari benda tersebut sejak persetujuan jual-beli diadakan. Atas pembebanan risiko yang demikian. Inilah prinsip umum mengenai tempat dan saat pembayaran. barulah dipedomani prinsip umum di atas. 2. Karena itu. Kewajiban membayar harga merupakan kewajiban yang paling utama bagi pihak pembeli. Atas dasar aturan yang diuraikan. adalah pantas menjadi hak pembeli sekalipun barangnya belum diserahkan. Jual-beli tidak akan ada artinya tanpa pembayaran harga.2.1 Tempat Pembayaran Tempat dan saat pembayaran pada prinsipnya bersamaan dengan tempat dan saat penyerahan barang. yang mengatur kewajiban pembeli membayar harga barang yang dibeli. berarti telah melakukan “Perbuatan Melawan Hukum” (onrechtmatig). 2.2 Kewajiban Pembeli Adapun kewajiban pembeli adalah : Kewajiban membayar harga (Pasal 1513 KUHPerdata) yang berbunyi : “Kewajiban utama si pembeli ialah membayar harga pembelian. pada waktu dan tempat sebagaimana ditetapkan menurut persetujuan”.sejak saat pembeli adalah atas tanggung si pembeli. Yakni pembeli wajib malakukan pembayaran di tempat dan saat dilakukan penyerahan barang.

2. Pembayaran barang generic harus dilakukan di tempat tinggal pembeli. Oleh karena itu hak menangguhkan pembayaran akibat gangguan baru berakhir sampai ada kepastian lenyapnya gangguan. Hak menunda pembayaran sengaja diberikan kepada pembeli. Bisa juga berupa gabungan hak reklame penjual semula oleh karena harganya belum dilunasi. bahwa penyerahan atas barang generik dilakukan di tempat tinggal/kediaman pembeli. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1429 KUHPerdata. yang pembayaran harus dilakukan di tempat penyerahan barang. paling tepat mempergunakan analogi aturan yang dirumuskan pada Pasal 1500 KUHPerdata yang berbunyi : “Jika yang harus diserahkan hanya sebagian dari harganya. Peristiwa seperti ini tidak ada diatur dalam Pasal 1516 KUHPerdata. Gangguan itu sedemikian rupa sehingga pembeli benar-benar terganggu menguasai dan memiliki barang tersebut. 2. Pembayaran barang-barang tertentu dilakukan di tempat dimana barang tertentu tadi terletak ataupun di tempat penjual. sehingga pembayaran dan penyerahan barang terjadi serentak pada tempat dan saat yang sama.2 Hak Menunda Pembayaran Hak menangguhkan/menunda pembayaran terjadi sebagai akibat gangguan (stornis) yang dialami oleh pembeli atas barang yang dibelinya. sedangkan bagian itu dalam hubungan dengan keseluruhannya adalah 12 . terjadi bersamaan dalam waktu yang sama. demi untuk melindungi kepentingan pembeli atas kesewenangan penjual yang tidak bertanggung jawab atas jaminan barang yang dijualnya terbebas dari gangguan dan pembebanan. bertujuan agar pembayaran dan penyerahan barang yang dibeli. bagaimana penyelesaiannya. Sesuatu hal yang barangkali dikejar oleh ketentuan Pasal 1514 KUHPerdata. Hal ini sesuai dengan ketentuan.a. Kalau yang mengalami gangguan hanya sebagian saja. Sehingga untuk mencari penyelesaiannya atas kasus-kasus seperti itu. b. yang menentukan penyerahan atas barang-barang tertentu harus dilakukan di tempat dimana barang tertentu terletak ataupun di tempat kediaman penjualan. Gangguan itu berupa gugatan/tuntutan berupa hak hipotik pihak ketiga yang masih melekat pada barang.

Jual-beli jalan terus. Selebihnya dapat dilunasi pembeli. jika dalam persetujuan telah ditetapkan jangka waktu tertentu bagi si pembeli untuk mengambil barang dan waktu tersebut tidak ditepati oleh si pembeli. b. dan menangguhkan pembayaran hanya untuk sejumlah harga atau sebahagian yang terganggu saja. Bagaimana halnya. Apa yang diterangkan di atas. 13 . penjual dapat menuntut pembatalan jual-beli sesuai dengan ketentuan Pasal 1267 KUHPerdata. sedangkan bagian itu dalam hubungan dengan keseluruhannya adalah sedemikian pentingnya hingga si pembeli seandainya bagian itu tidak ada. Atas kebijaksanaan mempergunakan analogi Pasal 1500 KUHPerdata tersebut. menyangkut pembatalan jual-beli atas barang-barang tidak bergerak. jual-beli dengan sendirinya batal menurut hukum tanpa memerlukan teguran lebih dulu dari pihak penjual atau disebut wanprestasi zonder rechtelijke toessennkomst (Pasal 1518 KUHPerdata). Sebenarnya Pasal 1517 KUHPerdata ini sudah agak berlebihan. takkan membeli barangnya maka ia dapat meminta pembatalan pembelinya. Menurut Pasal 1517 KUHPerdata. takkan membeli barangnya maka ia dapat meminta pembatalan pembelinya”. Kalau objek jualbelinya terdiri dari barang-barang yang bergerak (barang-barang biasa. jika pembeli enggan membayar harga barang. dengan sendirinya telah dapat diatasi permasalahan penanggulangan pembayaran atas gangguan yang terjadi atas sebagian barang. Dengan demikian. Dengan demikian. Sudah cukup jelas dipergunakan alasan wanprestasi atas dasar moral kredit. jika yang terganggu hanya sebahagian saja pembeli dapat memilih: a. jika yang terganggu hanya sebahagian dari harganya. perabotan rumah tangga dan sebagainya). Menuntut pembatalan jual-beli. Sebab keingkaran melakukan pembayaran telah menetapkan pembelian dalam keadaan lalai (mora). Sedangkan keadaan lalai itu sendiri adalah dasar hukum untuk menempatkan seseorang dalam keadaan wanprestasi.sedemikian pentingnya hingga si pembeli seandainya bagian itu tidak ada. Yakni jual-beli bisa dilanjutkan dengan jalan menunda pembayaran hanya sekedar harga bahagian barang yang terganggu. namun pembeli tidak mau melakukan pembayaran. jika pembeli tidak melunasi pembayaran atau menangguhkan pembayaran tanpa alasan? Gangguan maupun cacat tidak ada.

debitur harus menanggung kealpaan tersebut. jika barang yang menjadi objek jual-beli tadi benar-benar tidak dapat diserahkan. umpamanya karena adanya larangan pemerintah menjual barang tersebut atau karena barang itu dicabut oleh pemerintah. bahwa dalam perjanjian timbal balik seperti pada jual-beli apabila salah satu prestasi gugur. Jual beli mengenai barang tertentu. bukan karena barangnya musnah. Kurang baik rasanya jika pembeli dibebani membayar harga barang yang musnah. barangnya tidak dapat diserahkan atas alasan impossibilitas objektif. Seandainya barang yang hendak di levering lenyap. Sebenarnya adalah lebih memenuhi logika. Dengan demikian lebih masuk akal. Sekalipun penyerahan barang belum terjadi. tetap berada pada pihak penjual selama barang belum diserahkan pada pembeli.1 Objek jual-beli terdiri dari barang tertentu Jika objek jual-beli terdiri dari barang tertentu.3. Paling tidak risiko kemusnahan barang tidak menyebabkan pembeli harus membayar harga. Adalah lebih baik untuk menentukan risiko dalam jual-beli barang tersebut. Hanya saja ketentuan. sekejap setelah penjualan berlangsung. penjual menuntut pembayaran harga seandainya barang tersebut musnah. terhitung sejak debitur melakukan kealpaan tersebut. pembeli tetap wajib membayar. Risiko Dalam Perjanjian Jual-Beli Objek jual-beli terdiri dari barang tertentu (een zeker en hepaalde-zaak) 3. risiko atas barang berada pada pihak pembeli terhitung sejak saat terjadinya persetujuan pembelian. Bagaimana dapat diterima akal. jika tetap ada kewajiban membayar sesuatu yang telah musnah nilainya. gugurlah kewajiban pembeli untuk membayar harga. Misalnya. jika barang yang dijual musnah sebelum diserahkan pada pembeli. barang yang hendak diserahkan menjadi keuntungan bagi pihak kreditur. Apakah dalam peristiwa-peristiwa seperti ini pembeli masih tetap diwajibkan membayar harga? Kalau dalam hal-hal seperti inipun pembeli tetap wajib membayar 14 . dengan sendirinya prestasi yang lainpun harus gugur. Sejak terjadinya perjanjian. Akan tetapi. risiko berpindah kepada pembeli. Jika debitur melakukan kealpaan.

artinya sudah menganggap dirinya sebagai pemilik atas barang yang diperjanjikan itu. Kadang-kadang para pihak yang mengadakan perjanjian. diukur atau dihitung. atau penyerahan yang menyebabkan seketika si pembeli menjadi pemilik barang. oleh karena itu maka perjanjian jual-beli dikatakan juga sebagai perjanjian konsensuil dan sering juga disebut Perjanjian Obligatoir. risiko atas barang. Apabila barangnya dijual dengan tumpukan/onggokan. meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar”. 3. maka tidak terjadi jual-beli. diukur atau dihitung (Pasal 1461 KUHPerdata) Memperhatikan ketentuan Pasal 1461 KUHPerdata. pembeli dikatakan menjadi pemilik atas barang semenjak diadakannya penyerahan atau sudah diadakan penyerahan. penyerahannya cukup dilakukan penyerahan secara nyata saja. yang mengatakan : “Jual-beli sudah dianggap terjadi antara kedua belah pihak setelah mereka mencapai sepakat tentang barang dan harga. Kalau barang bergerak. risiko beli atas barang-barang nyata tetap berada pada pihak penjual sampai saat barang-barang itu ditimbang. Dengan syarat jika barang nyata tadi dijual tidak dengan tumpukan. Jadi. benar-benarlah Pasal 1460 KUHPerdata merupakan ketentuan undang-undang yang paling merugikan bagi pembeli barang tertentu. dengan lahirnya kata sepakat.2 Objek jual-beli terdiri dari barang yang dijual dengan timbangan bilangan atau ukuran. 4. melainkan yang terjadi tukar-menukar. Sebenarnya belum. Mengenai penyerahan hak milik ini. karena penyerahan barang tidak bergerak berbeda dengan penyerahan barang yang bergerak. setelah lahirnya hak dan kewajiban. barang menjadi risiko beli. 15 . sampai pada saat barang itu ditimbang. Sifat konsensual dari jual-beli tersebut dapat dilihat pada Pasal 1458 KUHPerdata. sekalipun belum dilakukan penimbangan. tetap berada di pihak penjual. menganggap dirinya sudah mempunyai status yang lain.harga. pengukuran atau perkiraan. maka lahirlah perjanjian itu dan sekalian pada saat itu menyebabkan timbulnya hak dan kewajiban. Saat Terjadinya Perjanjian Jual-Beli Harga ini harus berupa uang. atau penyerahan dari tangan ke tangan. perlu diperhatikan barang-barang yang harus diserahkan. sebab kalau harga itu berupa suatu barang.

Garansi dan vrijwaring Bahwa di dalam perjanjian tersebut harus dinyatakan jaminan yang harus dibuat oleh salah satu pihak (penjual) dan harus bebas dari unsur penjiplakan. Orang yang dapat berbuat bebas atas barang itu. menurut sistem kausal harus dipenuhi dua syarat. pemberian hibah. maka penyerahannya tidak sah.Supaya penyerahan itu sah. Adanya alasan hal yang sah (titel) 2. Jadi kalau perjanjiannya tidak sah. maka penyerahannya tidak sah pula. dapat diperhatikan pula ciri-ciri perjanjian melalui internet atau ciri kontrak dagang elektronik. jualbeli. Dengan demikian. 2. 5. 4. misalnya. Kalau perjanjian ini tidak sah. seperti yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa atau tidak ada kata sepakat. yaitu : 1. Titel adalah hubungan hukum yang mengakibatkan terjadinya penyerahan itu. Biaya Para pihak dapat mengadakan kesepakatan bahwa kewajiban untuk mambayar ganti rugi dilakukan dengan risk sharing (pembagian risiko). atau dianggap tidak ada pemindahan hak milik. Pembayaran Mengenai harga dan cara pembayaran apakah pembayaran sekaligus. agar prinsip perjanjian melalui internet tersebut dapat terlaksana dengan baik. juga bila dilakukan oleh orang yang tidak berhak maka penyerahannyapun tidak sah. Cara berkomunikasi kedua belah pihak harus memperhatikan bahwa situasi untuk memberikan informasi untuk hal yang tidak pantas (illegal). 3. yakni : 1. kredit ataupun pembayaran berdasarkan jumlah tertentu dari tugas yang telah diselesaikan. Kerahasiaan Dalam hal ini perlu dibuat untuk mamastikan agar para pihak terikat untuk menjaga kerahasiaan informasi yang terdapat dalam perjanjian. 16 . Orang yang dapat berbuat bebas atas barang itu. yaitu orang yang berkewenangan penuh untuk memindah-tangankan barang itu atau orang yang diberi kuasa oleh si pemiliknya. memperhatikan hak intelektual dan tidak melanggar ketentuan hukum yang ada. Ini juga harus diperhatikan supaya penyerahannya itu sah. tukar-menukar. menyebabkan alasan haknya tidak sah.

asalkan memenuhi kedua unsur tersebut. bahwa yang menjualnya itu bukan pemiliknya. artinya orang yang membeli itu tidak mengerti. terdapat pula unsur itikad baiknya. ini sebagai pengecualian.Tetapi meskipun orang yang diberi kuasa oleh pemiliknya. maka penyerahannya itu adalah sah. 17 . Mengenai hal pengecualian ini yang dibenarkannya hanya bila penyerahannya mengandung unsur dagang dan unsur itikad baik. Dengan demikian penyerahan itu tetap sah sekalipun dilakukan oleh orang yang bukan pemiliknya. maksudnya bila dalam perjanjian jual-beli (ini unsur perdagangan).

untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Apa yang menjadi kehendak pihak yang satu. Maksudnya hal ini mempunyai arti bahwa orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut hukum. Ketentuan mengenai kecakapan seseorang diatur dalam Pasal 1329 sampai dengan Pasal 1331 KUHPerdata. dimana terhadap orang yang terkena paksaan tadi timbul rasa takut.B. dan jika seandainya tidak ada unsur penipuan ini (dalam keadaan normal) maka pihak tidak akan bersedia menandatangani perjanjian (Pasal 1328 KUHPerdata). atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”. Sedangkan unsur kesilapan dalam membuat perjanjian. juga dikehendaki oleh yang lain. Mereka yang menghendaki sesuatu yang sama secara timbal balik. 2. Suatu kesepakatan kehendak terhadap suatu perjanjian dimulai dari adanya unsur penawaran oleh salah satu pihak dan diikuti dengan penawaran dari pihak lainnya. Perihal unsur paksaan pada pasal tersebut dimaksud adalah suatu perbuatan yang menakutkan seseorang yang berpikiran sehat. setuju atau seia sekata mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Pada Pasal 1321 KUHPerdata ditegaskan : “Tiada kesepakatan yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. ketika manakala perjanjian tersebut seseorang dipengaruhi oleh pandangan atau kesan yang ternyata tidak benar. Tentu saja bila dipandang dari sudut rasa keadilan. baik terhadap dirinya sendiri maupun harta. Sepakat mereka yang mengikat dirinya. Maksudnya bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian itu harus bersepakat. mempunyai cukup kemampuan untuk menyadari benar-benar tanggung jawab 18 . Penipuan yang dimaksud adalah suatu tipu muslihat yang dipakai oleh salah satu pihak. hendaknya dari suatu kerugian yang terang dan nyata (Pasal 1324 KUHPerdata). sehingga menyebabkan pihak lain dalam perjanjian tersebut menandatangani perjanjian yang bersangkutan. Syarat-syarat Sahnya Suatu Perjanjian dan Syarat Pengikatan Jual-Beli melalui Internet Berdasarkan ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata. perlulah bahwa orang yang membuat suatu perjanjian pada akhirnya akan terikat oleh perjanjian itu. Pada dasarnya setiap orang yang sudah dewasa dan sehat pikirannya adalah cakap menurut hukum.

Apabila syarat subjektif ini tidak dipenuhi. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan. Suatu hal tertentu. yaitu kelompok syarat-syarat yang berhubungan dengan subjek perjanjian yang terdiri dari kesepakatan dan kecakapan. Kalau seorang yang belum dewasa. maka seorang dewasa yang telah ditaruh di bawah pengampuan harus diwakili oleh pengampu atau kuratornya. menurut hukum tidak dapat berbuat bebas dengan harta kekayaannya. harus diwakili oleh orang tua atau walinya. dengan kata lain perjanjian ini sah atau mengikat selama tidak dibatalkan (oleh hakim) atas permintaan 19 . Artinya. Sebab tersebut merupakan sebab yang halal yang mempunyai arti bahwa isi dari perjanjian tersebut tidak menyimpang dari ketentuanketentuan perundang-undangan yang berlaku disamping tidak menyimpang dari normanorma ketertiban dan kesusilaan. Barang atau objek tersebut paling sedikit harus ditentukan jenisnya. bahwa barang tersebut sudah ada atau sudah berada di tangan si berutang pada saat perjanjian dibuat. tidak diharuskan oleh undangundang. Suatu hal tertentu ini mengacu kepada apa (objek) yang diperjanjikan dalam perjanjian tersebut. 3. Syarat Subjektif. Yang dimaksudkan dengan sebab atau causa dari suatu perjanjian jual-beli isinya adalah pihak yang satu menghendaki uang dan pihak yang lain menginginkan hak milik atas barang tersebut. Keempat syarat ini merupakan syarat pokok bagi setiap perjanjian. Seseorang yang berada di bawah pengampuan. Suatu sebab yang halal. dan selain itu terdapat juga syarat tambahan bagi perjanjian tertentu saja. Orang yang tidak sehat pikirannya tentu tidak mampu menerima tanggung jawab yang dipikul oleh seorang yang mengadakan suatu perjanjian. misalnya perjanjian perdamaian yang harus dibuat secara tertulis.yang akan dipikul dengan perbuatan itu. kedudukannya sama dengan seorang anak yang belum dewasa. Keempat syarat ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. maka perjanjian itu dapat dibatalkan. Semuanya merupakan syarat pokok bagi setiap perjanjian. yaitu : a. setiap perjanjian harus memenuhi keempat syarat ini bila ingin menjadi perjanjian yang sah. 4. Maksudnya sebagai syarat ketiga untuk sahnya suatu perjanjian. Maksudnya perlu untuk dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan sebab disini tiada lain adalah isi dari perjanjian itu sendiri. salah satunya apakah itu kesepakatan para pihak atau kecakapan untuk membuat suatu perjanjian.

adalah demi hukum dan atas penuntutan yang dimajukan oleh atau dari pihak mereka. Sedangkan dalam hal syarat objektif tidak dipenuhi. maka perjanjian yang demikian tidak boleh dilaksanakan. karena melanggar hukum dan kesusilaan. maka perjanjian itu bukan batal demi hukum. semata-mata atas dasar kebelumdewasaan atau pengampuannya. Para ahli hukum Indonesia.pihak yang berhak meminta pembatalan itu. Syarat objektif. Alasan pembedaan antara perjanjian yang dapat diminta pembatalan dan perjanjian yang batal demi hukum menurut Prof. umumya berpendapat bahwa dalam syarat objektif tidak dipenuhi. kelompok syarat yang berhubungan dengan objeknya. maka perjanjian itu bukan batal demi hukum. akibatnya ialah bahwa bagi hukum. Apabila syarat objektif tidak dipenuhi. perbuatan tidak pernah dilakukan”. melainkan dapat diminta pembatalannya. 20 . Pembatalan ini langsung melumpuhkan perbuatan hukumnya. Tentang perjanjian yang isinya tidak halal. Subekti ialah : “Tentang perjanjian yang tidak mengandung sesuatu hal tertentu dapat dikatakan bahwa perjanjian yang demikian tidak dapat dilaksanakan karena tidak terang apa yang diperjanjikan oleh masing-masing pihak. Keadaan tersebut dapat seketika dilihat oleh Hakim”. Harus dinyatakan batal. Sesuai dengan bunyi Pasal 1446 KUHPerdata dimana dinyatakan bahwa : “Semua perikatan yang dibuat oleh orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan adalah batal. maka perjanjian itu dapat diminta pembatalannya maka perjanjian itu tetap beralih. b. yang terdiri dari satu hal yang tertentu dan suatu sebab hal.

c. memperhatikan hak intelektual dan tidak melanggar ketentuan hukum yang ada. Teori Kehendak Dikaitkan dengan teori ini maka terjadinya kontrak adalah ketika pihak penerima menyatakan penerimaannya dengan menulis e-mail. terdapat beberapa teori diantaranya: a. d. Prinsip Jual-Beli Secara Online Saat terjadinya transaksi dalam perjanjian secara online ini. Cara komunikasi Kedua belah pihak harus memperhatikan bahwa situasi untuk memberikan informasi untuk hal yang tidak pantas (illegal). Agar prinsip perjanjian melalui internet dapat terlaksana dengan baik. Garansi Bahwa di dalam perjanjian tersebut harus dinyatakan jaminan yang harus dibuat oleh salah satu pihak (penjual) dan harus bebas dari unsur penjiplakan. Teori Kepercayaan Menurut teori ini kontrak terjadi pada saat pernyataan penerimaan tersebut selayaknya telah diterima oleh penawar. b. 21 . yaitu : a.C. Teori Pengetahuan Menurut teori ini terjadinya kontrak adalah sejak diketahuinya e-mail dari penerima oleh penawar. Teori Pengiriman Menurut teori ini terjadinya kontrak adalah pada saat penerima mengirim email. b. dapat diperhatikan pula syarat pengikatan jual-beli melalui internet.

kecuali diwajibkan oleh peraturan Perundangundangan yang berlaku. e. Kerahasiaan Dalam hal ini perlu dibuat untuk memastikan para pihak terikat untuk menjaga kerahasiaan informasi yang terdapat dalam perjanjian. 22 . kredit ataupun pembayaran berdasarkan jumlah uang yang telah diselesaikan. d.c. maupun komersial dalam bentuk apapun. Pembayaran Mengenai harga dan cara pembayaran. Biaya Para pihak dapat mengadakan kesepakatan bahwa kewajiban untuk menggantikan kerugian dilakukan dengan rishk sharing (pembagian risiko). apakah pembayaran sekaligus. tidak ada satu pihak pun dalam perjanjian ini yang dibenarkan untuk membeberkan isi dari perjanjian ini dan atau memanfaatkan data-data yang digunakan dalam pelaksanaan perjanjian ini baik yang bersifat teknis.

Apabila terdapat cacad-cacad pada barang yang telah diterima. maka transaksi antara penjual dan pembeli selesai. Penawaran. Apabila setelah jangka waktu tertentu pembayaran tidak dilakukan. Terdapat perjanjian-perjanjian khusus yang disepakati keduanya. terdapat beberapa tindakan yang berbeda dengan jual beli yang dilakukan secara tidak online. Pada proses penawaran dan proses persetujuan jenis barang yang dibeli. Penjual atau pelaku usaha menyediakan storefront yang berisi katalog produk dan pelayanan yang akan diberikan. yang dilakukan oleh penjual atau pelaku usaha melalui website pada internet. Masyarakat yang memasuki website pelaku usaha tersebut dapat melihat-lihat barang yang ditawarkan oleh penjual. dan jasa pembayaran 5. Kesepakatan dicapai secara tertulis dalam media elektronik 3. Barang dikirim setelah pembayaran dilunasi seluruhnya di muka 2. Salah satu keuntungan transaksi jual beli 23 . Antara penjual dan pembeli tidak melakukan tatap muka (secara langsung) 2. perusahaan penyedia jasa pengiriman. pembeli. Barang yang telah diterima pembeli sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli dan lepas dari tanggung jawab penjual 3. Pihak tersebut antara lain perusahaan penyedia barang (penjual). Sedikitnya ada empat pihak yang terlibat di dalam transaksi online. Proses pengikatan transaksi jual beli secara elektronik ini dilakukan dalam beberapa tahap.D. diantara nya: 1. Tindakan-tindakan tersebut antara lain : 1. sebagai berikut : 1. kesepakatan batal dan barang dialihkan pada pembeli lain Pada dasarnya proses transaksi jual beli secara elektronik tidak jauh berbeda dengan proses transaksi jual beli biasa di dunia nyata. Penjual menerima persetujuan jenis barang yang dipilih dan pembeli menerima konfirmasi bahwa pesanan atau pilihan barang telah diketahui oleh penjual 6. pengiriman. Dalam transaksi online. Dalam transaksi online terdapat bagian-bagian tanggung jawab pekerjaan yaitu untuk penawaran. tanggung jawab (kewajiban) atau perjanjian dibagi kepada para pihak yang terlibat dalam jual beli tersebut 4. sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli 4. Proses Pengikatan Jual-Beli melalui Internet Dalam praktek jual beli secara online. pembayaran.

apabila seseorang tidak menggunakan media internet dan memasuki situs milik pelaku usaha yang menawarkan sebuah produk. harga. misalnya melalui fasilitas internet. nilai rating atau poll otomatis tentang barang yang diisi oleh pembeli sebelumnya. Pada transaksi jual-beli secara elektronik. Apabila penawaran dilakukan melalui e-mail address. yang mengacu pada sistem keuangan lokal. Penerimaan. spesifikasi barang termaksud dan menu produk lain yang berhubungan. Penawaran dalam sebuah website biasanya menampilkan barang-barang yang ditawarkan. maka penerimaan dilakukan melalui e-mail. Setiap orang yang berminat untuk membeli barang yang ditawarkan itu. maka barang itu akan disimpan terlebih dahulu sampai calon pembeli merasa yakin akan pilihannya. Penawaran melalui website ditujukan untuk seluruh masyarakat yang membuka website tersebut. sebagai transaksi yang hanya melibatkan institusi finansial dan pemegang account yang akan melakukan pengambilan atau mendeposit uangnya dari account masing-masing. dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut. Dengan demikian penawaran melalui media internet hanya dapat terjadi apabila seseorang membuka situs yang menampilkan sebuah tawaran melalui internet tersebut. namun tetap bertumpu pada keuangan nasional. b. dapat dilakukan tergantung penawaran yang terjadi. Penawaran melalui internet terjadi apabila pihak lain yang menggunakan media internet memasuki situs milik penjual atau pelaku usaha yang melakukan penawaran. Pembayaran. selanjutnya pembeli/konsumen akan memasuki tahap pembayaran. 2. yang dapat dilakukan langsung antara kedua pihak tanpa perantara dengan menggunakan uang nasionalnya.melalui di toko online ini adalah bahwa pembeli dapat berbelanja kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. oleh karena itu. karena siapa saja dapat masuk ke dalam website yang berisikan penawaran atas suatu barang yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha. 3. dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. maka tidak dapat dikatakan ada penawaran. dan jika calon pembeli atau konsumen itu tertarik untuk membeli salah satu barang yang ditawarkan. Transaksi model ATM. khususnya melalui website. biasanya calon pembeli akan memilih barang tertentu yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha. Pembayaran dua pihak tanpa perantara. Klasifikasi cara pembayaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. karena penawaran hanya ditujukan pada sebuah e-mail yang dituju sehingga hanya pemegang e-mail tersebut yang dituju. 24 .

Berdasarkan proses transaksi jual-beli secara elektronik yang telah diuraikan di atas. umunya merupakan proses pembayaran yang menyangkut debet. Metode pembayaran yang dapat digunakan antara lain: sistem pembayaran melalui kartu kredit online serta sistem pembayaran checkin line. 4. sehingga meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu serta biaya baik bagi pihak penjual maupun pembeli. namun dapat juga hanya melalui media internet. Pembayaran dengan perantaraan pihak ketiga. Maksud dari jual beli adalah kata sepakat. merupakan suatu proses yang dilakukan setelah pembayaran atas barang yang ditawarkan oleh penjual kepada pembeli. barang yang dijadikan objek perjanjian dikirimkan oleh penjual kepada pembeli dengan biaya pengiriman sebagaimana telah diperjanjikan antara penjual dan pembeli.” Bila pembeli melakukan persetujuan/kata sepakat dengan penjual maka terjadilah jual beli tersebut. Pengiriman. 25 . dimana antara penjual dengan pembeli saling bertemu secara langsung. Berdasarkan kemajuan teknologi. Pasal 1313 KUHPerdata menyebutkan “suatu persetujuan adalah suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih. Pembayaran dalam transaksi jual-beli secara elektronik ini sulit untuk dilakukan secara langsung karena adanya perbedaan lokasi antara penjual dengan pembeli walaupun dimungkinkan untuk dilakukan. Apabila kedudukan penjual dengan pembeli berbeda. sehingga orang yang saling berjauhan atau berada pada lokasi yang berbeda tetap dapat melakukan transaksi jual beli tanpa harus bersusah payah untuk saling bertemu secara langsung. Pada kenyataannya. kredit ataupun cek masuk. menggambarkan bahwa ternyata jual-beli tidak hanya dapat dilakukan secara konvensional. maka pembayaran dapat dilakukan melalui cara account to account atau pengalihan dari rekening pembeli kepada rekening penjual. dalam hal ini pembeli berhak atas penerimaan barang termaksud. pembayaran dapat dilakukan melalui kartu kredit dengan cara memasukkan nomor kartu kredit pada formulir yang disediakan oleh penjual dalam penawarannya.c.

Dalam kewajibannya. 7. maka selama barang belum dikirim maka resiko ditanggung penjual. maka perjanjian dapat dibatalkan akibat pembeli melakukan wanprestasi tersebut dan penjual berhak mengalihkan dagangannya kepada pembeli lain. 2. sehingga hak reklame inipun berlaku dalam jual beli online. Namun dijelaskan pula bahwa penjual dan pembeli dapat melakukan perjanjian bahwa si penjual tidak akan diwajibkan menanggung sesuatu apapun. pembeli memiliki kewajiban untuk memabayar. Berdasarkan Jual beli menurut pasal 1457 KUHPer adalah suatu perjanjian. penjual dapat menyerahkan barang dengan cara-cara tersebut. maka penjualan online yang memiliki perjanjian khusus seperti ini diperbolehkan. Dikarenakan jual beli online menggunakan sarana media elektronik. Analisis Hukum 1. sebagaimana diterangkan bahwa penjual dapat menuntut kembali barang itu sebagai miliknya dari tangan pembeli. maka seluruh ketentuan dalam UU ITE No. Berdasarkan pasal 612. 6. sehingga tidak ada pembatasan mengenai sarana apakah kesepakatan terjadi secara tatap muka langsung maupun tidak langsung. Untuk menunjang penyerahan barang tersebut. 1461. 26 . Hak reklame. 4. namun setelah barang deliver maka resiko ditanggung pembeli. 3. 613. sehingga kesepakatan online ini sah selama syarat-syarat jual beli dipenuhi yaitu kesepakatan harga dan barang. sehingga jual beli secara online ini memenuhi syarat penyerahan hak milih berdasarkan KUHPer. penjual dapat melibatkan pihak-pihak lain.2008. dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. dan jasa pembayaran. 5.berlaku. penjual memiliki kewajiban menanggung kenikmatan tenteran dan menanggung terhadap cacad-cacad tersembunyi. selama pembatasannya (seperti yang diungkapkan pada bab I) terpenuhi. Berdasarkan hal ini.11 th. 1462 KUHPer.E.sehingga apabila dalam kurun waktu tertentu (apabila telah diperjanjikan sebelumnya) pembeli tidak membayar. dan 616 KUHPer. dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan. Dalam kewajibannya. Mengenai resiko sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 1460. yaitu perusahaan penyedia jasa pengiriman.

penjual memiliki kewajiban menanggung kenikmatan tenteran dan menanggung terhadap cacad-cacad tersembunyi. Untuk menunjang penyerahan barang tersebut. barang tersebut kemudian dikirim kepada pembeli. penjual dapat menyerahkan barang dengan cara-cara tersebut. yaitu perusahaan penyedia jasa pengiriman. dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut c. Penawaran. sehingga jual beli secara online ini memenuhi syarat penyerahan hak milih berdasarkan KUHPer. Pembayaran. dan 616 KUHPer. d. maka penjualan online yang memiliki perjanjian khusus seperti ini diperbolehkan. b. Proses pengikatan jual-beli online adalah sebagai berikut: a. barang dagangan ditawarkan oleh penjual kepada pembeli b. Berdasarkan hal ini. dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan. sehingga tidak ada pembatasan mengenai sarana apakah kesepakatan terjadi secara tatap muka langsung maupun tidak langsung. dan jasa pembayaran. penjual dapat melibatkan pihak-pihak lain. Dalam kewajibannya. Setiap orang yang berminat untuk membeli barang yang ditawarkan itu. Berdasarkan Jual beli menurut pasal 1457 KUHPer adalah suatu perjanjian. 2. Berdasarkan pasal 612. dapat dilakukan melalui transaksi model ATM. 27 . c.BAB 5 KESIMPULAN 1. dan pihak yang lain untuk membayar harga yang dijanjikan. Pengiriman. selama pembatasannya (seperti yang diungkapkan pada bab I) terpenuhi. pembayaran dua pihak tanpa perantara. 613. Adapun pengertian jual-beli secara online terdapat dalam Pasal 1457 KUHPerdata yang menentukan “jual-beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak) dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga”. Penerimaan. dan pembayaran dengan perantaraan pihak ketiga. 3. sehingga kesepakatan online ini sah selama syarat-syarat jual beli dipenuhi yaitu kesepakatan harga dan barang. Namun dijelaskan pula bahwa penjual dan pembeli dapat melakukan perjanjian bahwa si penjual tidak akan diwajibkan menanggung sesuatu apapun. Analisis hukum terhadap jual beli online adalah sebagai berikut : a.

maka selama barang belum dikirim maka resiko ditanggung penjual.11 th. maka seluruh ketentuan dalam UU ITE No. 1461. pembeli memiliki kewajiban untuk memabayar. namun setelah barang deliver maka resiko ditanggung pembeli. sebagaimana diterangkan bahwa penjual dapat menuntut kembali barang itu sebagai miliknya dari tangan pembeli. e. sehingga hak reklame inipun berlaku dalam jual beli online. Hak reklame.sehingga apabila dalam kurun waktu tertentu (apabila telah diperjanjikan sebelumnya) pembeli tidak membayar.2008. 1462 KUHPer.berlaku. g. Dalam kewajibannya. f.d. Dikarenakan jual beli online menggunakan sarana media elektronik. maka perjanjian dapat dibatalkan akibat pembeli melakukan wanprestasi tersebut dan penjual berhak mengalihkan dagangannya kepada pembeli lain. 28 . Mengenai resiko sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 1460.

blogspot. “Jual Beli dalam Hukum Perdata”.ac. Chandra.id/bitstream/123456789/26565/3/Chapter%20II.com/2012/04/penipu-jual-beli-secara-online.html Komalasari.http://helianakomalasari. 2010. Heliana. “Penipu jual beli secara online ditangkap oleh polisi”.com/2010/07/ Simatupang. 2012.pdf 29 . 2012. http://gunadarmabillyandreas.DAFTAR PUSTAKA Andreas. 2011.wordpress.com/2012/05/cari-tahu-tentang-hukum-jual-beli. “Perjanjian Jual Beli Melalui Internet Ditinjau dari Aspek Hukum Perjanjian Perdata”.usu. “Cari Tahu tentang Hukum Jual Beli Online” http://kerockan. Billy.blogspot.html “____”. http://repository.

JUAL BELI ONLINE DITINJAU DARI HUKUM PERDATA MAKALAH Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Pengantar Hukum Perdata dan Dagang O L E H JEANE SOFIE 1601233465 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA JAKARTA 2013 30 .

31 .