P. 1
Pupuk Dan Pemupukan 2

Pupuk Dan Pemupukan 2

5.0

|Views: 4,493|Likes:
Published by wahyusoil unhas

More info:

Published by: wahyusoil unhas on Apr 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

I. I.1.

Latar Belakang Defenisi terkadang defenisi tentang sulit pada

PENDAHULUAN

tanah bagi tanah,

sangatlah kita untuk

bervariasi memberikan dan

sangatlah yang tepat

kerena

pandangan

kepentingan yang beraneka ragam tentang tanah.

Ada yang

mengatakan bahwa tanah adalah tubuh alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat gaya-gaya alam (natural material) pada permukaan bumi, tanah dapat pula diartikan sebagai tempat tumbuhnya tanaman, defenisi lainnya tentang tanah adalah tanah merupakan hasil

pelapukan batuan dan pelapukan sisa-sisa bahan organik dari organisme (vegetasi dan hewan) yang hidup

didalamnya. Bahan organik merupakan bahan penting dalam

menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia, maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah

bahan pemantap agregat tanah, selain itu bahan organik adalah sumber energi dari sebagian besar organisme tanah. Perombakan sisa-sisa tanaman dan penyusun beberapa campuran oleh mikroorganisme tanah dimana bahan organik merupakan penyusun fraksi tanah. bukan Hasil mineral yang ditemukan sebagai ini

aktivitas

mikroorganisme

1

adalah dimana tanah berisi sejumlah besar campuran bahan organik dalam berbagai tahap perombakan. Humus adalah

kata yang digunakan berhubungan dengan bahan organik yang telah mengalami perombakan secara ekstensif dan sampai perubahan yang lebih jauh. Kesuburan tanah selain berasal dari residu makhluk hidup dapat atau yang bersifat dengan alami, kesuburan pupuk tanah juga

ditingkatkan

penambahan

anorganik.

Pupuk anorganik yang banyak dibutuhkan oleh tanah dalam pertumbuhan tanaman antara lain adalah urea. disebut juga sebagai pupuk N, karena Pupuk ini lebih

mengandung

banyak nitrogen.

Urea ini berfungsi dalam perkembangan Selain itu, kelebihan pupuk ini

vegetatif dari tanaman.

juga dapat membuat tanaman menjadi hangus, terutama yang memiliki daun yang agak peka. Salah satu tanaman yang umumnya menggunakan pupuk urea adalah tanaman jagung (Zea mays L.). Tanaman jagung

(Zea mays L.) merupakan tanaman yang berfotosintesis C4, maksudnya mempunyai kapasitas fotosintesis tinggi.

Selain jagung (Zea mays L.), yang termasuk dalam golongan C4 adalah sorgum dan tebu.

2

Berdasarkan

uraian

diatas,

maka

perlu

dilakukan

praktikum pupuk dan pemupukan untuk mengetahui pengaruh pupuk yang berbeda terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung (Zea mays L.). I.2.Tujuan dan Kegunaan Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pupuk urea dengan cara aplikasi benih di atas pupuk terhadap pertumbuhan halus. Kegunaannya acuan N,P,K dalam dan adalah dan sebagai bahan informasi dan tanaman jagung (Zea mays L.) pada pasir

aplikasi

rekomendasi pada pasir

penggunaan halus dan

pupuk

pupuk

kandang

tanaman

jagung (Zea mays L.)

3

II. II.1. Alfisol

TINJAUAN PUSTAKA

Tanah-tanah yang mempunyai kandungan liat tinggi di horison B (Horison argilik) dibedakan menjadi Afisol (pelapukan belum lanjut) dan Ultisol (pelapukan lanjut). Alfisol kebanyakan ditemukan di daerah beriklim sedang, tetapi dapat pula ditemukan di di daerah tropika dan

subtropika

terutama

tempat-tempa

dengan

tingkat

pelapukan sedang (Hardjowigeno, 1993). Alfisol berbukit. ditemukan di daerah-daerah datar sampai

Proses pembentukan Alfisol di Iowa memerlukan

waktu 5000 tahun karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk horison argilik. Alfisol terbentuk di

bawah tegakan hutan berdaun lebar (Hardjowigeno, 1993). Alfisol terbentuk dari bahan induk yang mengandung karbonat dan tidak lebih tua dari pleistosin. Di daerah

dingin hampir semuanya berasal dari bahan induk berkapur yang masih muda. Di daerah basah bahan induk biasanya

lebih tua daripada di daerah dingin (Munir, 1984). Alfisol digunakan Tanah ini untuk merupakan pertanian, tanah rumput yang subur, atau banyak hutan.

ternak,

mempunyai

kejenuhan 4

basa

tinggi,

kapasitas

tukar

kation

tinggi,

cadangan

unsur

hara

tinggi

(Hardjowigeno, 1993). II.2. Jenis Pupuk Pupuk dalam arti luas, termasuk semua bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur-unsur essensial bagi pertumbuhan tanaman. Tetapi istilah pupuk Pupuk tidak bentuk unsur

biasanya berhubungan dengan pupuk buatan. berisi unsur-unsur hara tanaman dalam

seperti nitrogen, fosfor atau kalium ; tetapi unsur-unsur tersebut ada dalam bentuk campuran yang memberikan

bentuk-bentuk ion dari unsur hara yang dapat diadsorbsi tanaman (Foth, 1991). Pengertian klasifikasi pupuk dapat dilihat dari

beberapa segi, yaitu (1) atas dasar pembentukannya yang terdiri dari pupuk alam dan pupuk buatan, (2) atas dasar kandungan unsure hara yang dikandungnya yang terdiri dari pupuk tunggal dan pupuk majemuk, dan (3) atas dasar

susunan kimiawinya yang mempunyai hubungan penting dalam perubahan-perubahan di dalam (Hakim, dkk., 1986). Paling tidak ada 14 unsur essensial yang diperoleh tanaman dari tanah, yaitu nitrogen (N), fosfor (P),

kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), mangan (Mn), besi (Fe), belerang (S), tembaga (Cu), seng (Zn), boron 5

(B), molybdenum (Mo), dan klor (Cl). Dua dari mereka, kalsium dan magnesium diberikan ke dalam tanah sebagai kapur, Tetapi kalium terutama dari serta 13 Ca di daerah yang kekurangan nitrogen, paling unsur fosfor, besar itu. dan pada

unsur yang

tersebut,

pengaruhnya

tanaman (Soepardi, 1983). Aplikasi penggunaan pupuk dilakukan dengan tiga

cara, yaitu pemberian sebelum tanam, pada saat tanam dan setelah tanam. beberapa Pemberian pupuk sebelum tanam meliputi yaitu broadcast, broadcast

metode,

incomparation, subsurface band. tanam band, juga seed meliputi band, dan beberapa surface

Aplikasi pupuk pada saat metode, band. yaitu subsurface aplikasi

Sedangkan

pupuk setelah tanam juga meliputi beberapa metode, yaitu top dressing dan side dressing (Sutanto, 2002). Sebelum melakukan penanaman, tanah yang sudah

diolah diberi pupuk dasar untuk menambah unsure hara di dalam tanah agar dapat diserap oleh tanaman. Sebagai

pyupuk dasar umumnya digunakan pupuk kandang dan jenis pupuk buatan seperti urea, TSP, dan KCl yang diberikan pada saat penanaman (Palungkun dan Asiani, 1991).

6

2.2.1.

Nitrogen (N) Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas (N2)

di

atmosfer,

yang

takarannya

mencapai

78%

volume,

dan

sumber lainnya senyawa-senyawa yang tersimpan dalam tubuh jasad. Nitrogen sangat jarang ditemui karena sifatnya

yang mudah larut dalam air (Poerwowidodo, 1992). Nitrogen diserap oleh tanaman sebagai NO3- dan NH4+ kemudian dimasukkan ke dalam semua gas amino dan Protein (Indrana, 1994). Ada juga bentuk pokok nitrogen dalam

tanah mineral, yaitu nitrogen organik, bergabung dengan humus tanah ; nitrogen amonium dapat diikat oleh mineral lempung tertentu, dan amonium anorganik dapat larut dan senyawa nitrat (Buckman dan Brady, 1992). Nitrogen digunakan, yang tersedia tidak dapat berbagai langsung proses

tetapi

harus

mengalami

terlebih dahulu.

Pada tanah yang immobilitasnya rendah

nitrogen yang ditambahkan akan bereaksi dengan pH tanah yang mempengaruhi proses nitrogen. Begitu pula dengan

proses denitrifikasi yang pada proses ini ketersediaan nitrogen tergantung dari mikroba tanah yang pada umumnya lebih menyukai senyawa dalam bentuk ion amonium daripada ion nitrat (Jumin, 1992).

7

Peranan adalah

utama

nitrogen

(N)

bagi secara

tanaman

jagung

merangsang

pertumbuhan

keseluruhan,

khususnya batang, cabang dan daun. pun berperan penting dalam

Selain itu, nitrogen zat hijau daun

pembentukan

yang sangat berguna dalam proses fotosintesis (Lingga dan Marsono, 2000). Kekahatan atau defisiensi nitrogen menyebabkan

proses pembelahan sel terhambat dan akibatnya menyusutkan pertumbuhan. menyebabkan Selain kenaikan itu, kekahatan C/N, senyawa dan protein kelebihan

nisbah

karbohidrat ini akan meningkatkan kandungan selulosa dan lignin. Ini menyebabkan tanaman jagung yang kahat akan

nitrogen tampak kecil, kering, tidak sekulen, dan sudut daun terhadap batang sangat runcing (Poerwowidodo, 1992). Salah satu bentuk pupuk N yang banyak digunakan adalah urea (CO(NH2)2). gas asam arang. Urea dibuat dari gas amoniak dan

Persenyawaan kedua zat ini malahirkan

pupuk urea dengan kandungan N sebanyak 46% (Lingga dan Marsono, 2002). Urea termasuk pupuk yang higroskopis (mudah

menarik uap air).

Pada kelembaban 73%, pupuk ini sudah Oleh karena itu urea

mampu menarik uap air dan udara.

mudah larut dan mudah diserap oleh tanaman (Lingga dan Marsono, 2002). 8

Urea dapat membuat tanaman hangus, terutama yang memiliki daun yang amat peka. dengan bentuk tetesan yang Untuk itu, semprotkan urea besar. Berdasarkan bentuk

fisiknya maka urea dibagi menjadi dua jenis, yaitu urea prill dan urea non prill (Lingga dan Marsono, 2002). Urea berperan dalam pertumbuhan bagian vegetatif tanaman. Pemberian pupuk urea dalam suatu lahan sebelum

penanaman adalah sekitar 20 kg/ha (Palungkun dan Asiani, 1991). 2.2.2. Phosphor (P) Paling sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau, dan senyawa asli unsur ini yang organik dan anorganik, yang terdapat dalam tanah (Buckman dan Brady, 1992). Unsur P diserap tanaman dalam bentuk ortofosfat primer, H2PO4. menyusul kemudian dalam HPO42-. Species ion yang merajai tergantung dari PH sistem tanah-pupuk-

tanaman, yang mempunyai ketersediaan tinggi pada pH 5,57. kepekatan H2PO4 tanaman yang tinggi dalam dalam larutan takaran tanah besar

memungkinkan

mengangkutnya

karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali

9

penyerapan

tanaman

untuk

H2PO4

dibanding

untuk

HPO42-

(Poerwowidodo, 1992). Bentuk adalah P yang dan lain yang dapat diserap tanaman ini

pirofosfat

metafosfat.

Kedua

bentuk

misalnya terdapat dalam bentuk pupuk P dan K metafosfat. Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organik,

yaitu asam nukleat dan phytin. Kedua bentuk senyawa ini terbentuk melalui proses degradasi dan dekomposisi bahan organik yang langsung dapat diserap oleh tanaman (Hakim, dkk.,1986). Ketersediaan phospor di dalam tanah ditentukan

oleh banyak faktor, tetapi yang paling penting adalah pH tanah. Pada tanah ber-pH rendah (masam), phospor akan

bereaksi dengan ion besi (Fe)

dan aluminium (Al). reaksi

ini akan membentuk besi fosfat atau aluminium fosfat yang sukar larut di dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Pada tanah ber-pH tinggi (basa), phospor

akan bereaksi dengan ion kalsium. Reaksi ini membentuk kalsium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh pH tanaman. tanah, Dengan pemupukan demikian, phospor tidak tanpa akan

memperhatikan

berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman (Novizan, 2002). Menurut Buckman dan Brady (1992), bahwa fosfor

dapat berpengaruh menguntungkan pada pembelahan sel dan 10

pembentukan

lemak

serta

albumin,

pembungaan

dan

pembuahan, termasuk proses pembentukan biji, perkembangan akar, khususnya akar lateral dan akar halus berserabut, kekuatan batang, dan kekebalan tanaman terhadap penyakit tertentu. Gejala menjadikan daun/malai daun, jagung dan kekurangan P pada tanaman jagung dapat daunujung

pertumbuhan menjadi juga ungu

terhambat atau coklat akan

(kerdil), mulai dari

pada

jagung

menyebabkan dan

tongkol

menjadi

tidak

sempurna

kecil-kecil

(Hardjowigeno, 1993). 2.2.3. Kalium (K) Menurut Buckman dan Brady (1992), berbagai bentuk kalium dalam tanah digolongkan atas dasar ketersediaannya menjadi 3 golongan besar yaitu bentuk relatif tidak

tersedia, mudah tersedia, dan lambat tersedia. Senyawa yang mengandung sebagian besar bentuk kalium ini adalah feldspat dan mika, lebih lanjut dijelaskan oleh Mulyani

(1999), bahwa sumber-sumber kalium adalah beberapa jenis mineral, sisa-sisa tanaman dan jasad renik, air irigasi

serta larutan dalam tanah, dan pupuk buatan. Unsur ini diserap tanaman dalam bentuk ion K+ dan dapat dijumpai di dalam 11 tanah dalam jumlah yang

bervariasi, namun jumlahnya dalam keadaan tersedia bagi tanaman biasanya kecil. Kalium ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk garam-garam mudah larut seperti KC1, K2SO4, KNO3, dan K-Mg-SO4. Mekanisme penyerapan K mencakup aliran massa, konveksi, difusi, dan serapan langsung dari

permukaan zarah tanah (Poerwowidodo, 1992). Di dalam tanah, ion K bersifat sangat dinamis dan juga mudah tercuci pada tanah berpasir dan tanah dengan pH yang rendah. Sekitar 1-10% terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bermuatan pada positif. posisi ini dari Bagi agak jenis tanaman, lambat. mineral

ketersediaan Kandungan

kalium

kalium

sangat

tergantung

pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat. Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang oleh tiga hal,

yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian kalium oleh air, dan erosi tanah (Novizan, 2002). Menurut Hakim, dkk (1986), bahwa peranan kalium secara fisiologis adalah metabolisme karbohidrat, yakni pembentukan pemecahan, dan translokasi pati, metabolisme nitrogen kegiatan dan sintesis protein, mengawasi dan mengatur asam-asam

berbagai

unsur

mineral,

netralisasi

organik penting secara fisiologis, mengaktifkan berbagai enzim, mempercepat proses pertumbuhan jaringan

12

meristematik,

mengatur

pergerakan

stomata

dan

hal-hal

yang berhubungan dengan air. Defisiensi kalium agak sulit diketahui gejalanya, karena gejala ini jarang ditampakkan ketika tanaman masih muda (Mulyani, 1999). Pada tanaman jagung, gejalanya daun terlihakaput lebih tua, muncul warna kuning pada pinggir dan di ujung daun yang akhirnya mengering dan rontok. Daun mengerut buah, ukuran (Keriting) dimulai dari daun tua. Pada tongkol menjadi lebih kecil, warna buah

tidak merata dan biji buah menjadi kisut (Novizan, 2002). 2.2.4. Belerang (S) Belerang sedikit. Akan dibutuhkan tetapi tanaman dalam belerang jumlah juga yang dapat

kekurangan

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Lingga dan Marsono, 2000). Gejala tanaman yang kekurangan belerang umumnya

tampak pada seluruh daun muda yang berubah menjadi hijau muda, kadang-kadang tampak tidak merata, sedikit

mengkilat agak keputihan, lantas berubah menjadi kuningkuning hijau. Jeleknya lagi, tanaman akan tumbuh

terlambat, kerdil, berbatang pendek, dan kurus (Lingga dan Marsono, 2000).

13

II.3.

Tanaman Jagung (Zea mays L.) Iklim Jagung (Zea mays L.) sangat cocok ditanam di

daerah yang sejuk dan cukup dingin.

Tanaman ini tumbuh

baik mulai dari 50o LU sampai 40o LS dengan ketinggian 3000 dpl. Faktor-faktor iklim yang paling mempengaruhi Secara

peretumbuhan tanaman adalah curah hujan dan suhu.

umum tanaman jagung (Zea mays L.) memerlukan air sebanyak 200 – 300 mm/bulan (Palungkun dan Asiani, 1991). Keadaan suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.) adalah 21 – 30oC. namun pada suhu

rendah sampai 16oC dan suhu tinggi sampai 35oC, jagung (Zea mays L.) masih benih dapat berkisar tumbuh. 21 – Suhu 27oC optimum untuk dan

perkecambahan Asiani, 1991). Jagung semua jenis

(Palungkun

(Zea tanah,

mays

L.)

dapat

tumbuh

hampir baik

pada serta

asalkan

draenasenya

persediaan humus dan pupuk tercukupi.

Kemasaman tanah

yang baik yang baik untuk pertumbuhannya adalah 5,5 – 7,0 (Palungkun dan Asiani, 1991).

14

Tanah Tanaman jagung (Zea mays L.) dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Tanah-tanah dengan kandungan unsur

hara tinggi, kelembaban yang optimal dan factor-faktor eksternal, optimum seperti curah hujan, dan temperatur dapat yang

bagi

pertumbuhan

tanaman

menunjang

pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung (Zea mays L.) (Palungkun dan Asiani, 1991). Pengolahan tanah bertujuan untuk memberikan

kondisi yang terbaik bagi pertumbuhan dan perkembangan jagung (Zea mays L.). Disamping itu, pengolahan tanah

juga untuk memperbaiki sifat fisik tanah dan memberantas atau mencegah pertumbuhan gulma (Palungkun dan Asiani, 1991). Cara pengolahan untuk tanah berat, yaitu dua kali pembajakan tanah dan satu kali sekali penggaruan, pembajakan untuk sedangkan dan untuk

ringan

cukup dibuat

penggaruan. yang

Selanjutnya

alur-alur

pengairan

lebarnya ± 30 cm dengan kedalaman 20 cm.

jarak tiap-tiap

alur 100 – 120 cm (Palungkun dan Asiani, 1991).

15

Pemberian Pupuk Dasar Sebelum dilakukan penanaman, tanah yang sudah

diolah diberi pupuk dasar untuk menambah unsur hara di dalam tanah agar dapat diserap oleh tanaman. pupuk dasar umumnya digunakan pupuk kandang Sebagai dan jenis

pupuk buatan seperti urea, TSP, dan KCl yang diberikan pada saat penanaman (Palungkun dan Asiani, 1991). Penanaman Sebelum dilakukan penanaman, selain diberi pupuk dasar berupa urea, TSP, dan KCl, juga diberi Furadan 3 G untuk memberantas ulat tanah. Dosis yang digunakan

adalah 20 kg/ha (Palungkun dan Asiani, 1991).

16

III. BAHAN DAN METODE III.1.Tempat dan Waktu Praktikum Pupuk dan Pemupukan dilaksanakan di

Green House Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Universitas Hasanuddin, 2004. III.2.Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan adalah tanah Alfisol, air, polybag, benih jagung (Zea mays L.), dan pupuk urea. Alat-alat yang digunakan adalah cangkul, mistar, timbangan, dan alat tulis menulis. III.3.Metode Percobaan Metode percobaan dilaksanakan dengan metode Dengan Makassar. Berlangsung April sampai Mei,

penanaman benih di atas atau di dekat pupuk urea. perlakuan : 1. 0 gram urea/polybag A1 2. 0,25 gram urea/polybag A2 3. 0,75 gram urea/polybag A3 4. 0,375 gram urea/polybag A4 5. 1,5 gram urea/polybag A5 III.4.Pelaksanaan Percobaan 17

III.4.1. Penyiapan Media Tanam • Mengambil tanah lapisan top soil dengan menggunakan

cangkul dan sekop. • • Tanah dikeringudarakan, kemudian tanah dihomogitaskan. Menyiapkan 5 buah polybag ukuran 5 kg, kemudian

mengisinya dengan 5 kg tanah. • Menlakukan penyiraman sampai kapasitas lapang.

III.4.2.Pemberian Pupuk • Menimbang pupum urea, untuk setiap polybag masing-

masing 0,25 gr, 0,375 gr, 0,75 gr, dan 1,5 gr. • Menaburkan pupuk ke atas tanah pada setiap polybag

sesuai dengan dosisnya maing-masing. III.4.3. Penanaman • Menyiapkan benih jagung (Zea mays L.), kemudian

merendam benih sehari sebelum penanaman. • Meletakkan benih di atas atau di dekat pupuk di dalam polybag masing-masing sebanyak 5 benih.

III.4.4.Pemeliharaan

18

Pemeliharaan

dilakukan

dengan

cara

menyiram

tanaman setiap hari dan mencabut gulma. III.4.5.Parameter Pengamatan Parameter pengamatan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Tinggi tanaman (cm). 2. Jumlah daun (helai) 3. Kenampakan morfologis tanaman.

IV.
80 Tinggi Tanaman (Cm)

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil 60
50 30 20 10 0
A1 (Kontrol) A2 (0,25 A3 (0,375 A4 (0,75 g) g) g)

70

Minggu I Minggu II Minggu III

40 IV.1.1. Tinggi Tanaman (Cm)

19

A5 (1,5)

Perlakuan

Gambar 1. Diagram Rata-rata Tinggi Tanaman (Cm) Jagung (Zea mays L.) Pada Berbagai Perlakuan. IV.1.2. Jumlah Daun (Helai)
8 Jumlah Daun (Helai) 7 6 5 4 3 2 1 0
A1 (Kontrol) A2 (0,25 g) A3 (0,375 A4 (0,75 g) g) A5 (1,5)

Minggu I Minggu II Minggu III

Perlakuan

Gambar 1. Diagram Rata-rata Jumlah Daun (Helai) Tanaman Jagung (Zea mays L.) Pada Berbagai Perlakuan. IV.1.3. Kenampakan Morfologis Tabel 1. Hasil Pengamatan Penampakan Morfologis Tanaman Jagung (Zea mays L.) Pada Berbagai Perlakuan. Penampakan Morfologis Perlakuan Minggu I Minggu II Minggu III

20

A1 Ujung daun (Kontrol) menguning

Bercak-bercak kuning pada daun dan ujung daun mnegering Pinggir daun menguning terdapat bercak-bercak kuning dan warna merah ungu pada tulang daun Pinggir daun menguning terdapat bercak-bercak kuning dan warna merah ungu pada tulang daun Pinggir daun menguning terdapat bercak-bercak kuning dan warna merah ungu pada tulang daun

Bercak-bercak kuning pada daun dan ujung daun mnegering Pinggir daun menguning terdapat bercak-bercak kuning dan warna merah ungu pada tulang daun Pinggir daun menguning terdapat bercak-bercak kuning dan warna merah ungu pada tulang daun Pinggir daun menguning terdapat bercak-bercak kuning dan warna merah ungu pada tulang daun

A2 (0,25 g)

Terdapat Bercak kuning pada daun

A3 Ujung daun (0,375 g) mongering

A4 (0,75 g)

Ujung daun mongering dan tanaman kerdil

Ujung daun Ujung daun mongering dan mongering dan menguning, menguning, tanaman tanaman kerdil kerdil Sumber : Hasil Pengamatan Di Lapangan, 2004.

A5 (1,5 g)

Pertumbuhan tanaman kerdil dan ujung daun mengering

V. 21

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->