P. 1
Tugas Kebakaran

Tugas Kebakaran

|Views: 16|Likes:
Published by Gisna Fadlika

More info:

Published by: Gisna Fadlika on Apr 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/11/2014

pdf

text

original

Kebakaran Kebakaran merupakan bencana yang paling sering dihadapi dan bisa digolongkan sebagai bencana alam atau

bencana yang disebabkan oleh manusia. Bahaya kebakaran dapat terjadi setiap saat, karena banyak peluang yang dapat memicu terjadinya kebakaran. Definisi kebakaran menurut Depnaker:"Suatu reaksi oksidasi eksotermis yangberlangsung dengan cepat dari suatu bahan bakar yang disertai dengantimbulnya api atau penyalaan." Definisi kebakaran menurut pengertian Asuransi secara umum: "Sesuatu yang benar-benar terbakar yang seharusnya tidakterbakar dan dibuktikan dengan adanya nyala api secara nyata, terjadi secaratidak sengaja, tiba-tiba serta menimbulkan kecelakaan atau kerugian." Definisi dari Api menurut National Fire Protection Association (NFPA) adalah suatu massa zat yang sedang berpijar yang dihasilkan dalam proses kimia oksidasi yang berlangsung dengan cepat dan disertai pelepasan energi/panas. Timbulnya api ini sendiri disebabkan oleh adanya sumber panas yang berasal dari berbagai bentuk energi yang dapat menjadi sumber penyulutan dalam segitiga api. Contoh sumber panas:  Bunga api listrik dan busur listrik  Listrik statis  Reaksi Kimia  Gesekan (friction)  Pemadatan (compression)  Api terbuka (Open Flame)  Pembakaran Spontan (spontaneous combustion)  Petir (Lightning)  Sinar matahari Pada dasarnya api sendiri terdiri dari 3 unsur dasar yang saling terikat satu dengan yang lain yang disebut sebagai segitiga api atau fire triangle, yaitu:  Panas  Oksigen  Bahan bakar Dan dengan ditambahnya reaksi kimia berantai yang terjadi antara ketiga unsurtersebut, maka terjadilah api yang menyala. Pada proses penyalaan, api mengalami 4 tahapan mulai dari tahap permulaan hingga menjadi besar, yaitu: 1.Incipient Stage (Tahap Permulaan) Pada tahap ini tidak terlihat adanya asap, lidah api, atau panas, tetapi terbentuk partikel pembakaran dalam jumlah yang signifikan selama periode tertentu. 2.Smoldering Stage (Tahap Membara) Partikel pembakaran telah bertambah, membentuk apa yang kita lihat sebagai"asap". Masih belum ada nyala api atau panas yang signifikan. 3.Flame Stage Tercapai titik nyala, dan mulai terbentuk lidah api. Jumlah asap mulai berkurang,sedangkan panas meningkat. 4.Heat Stage Pada tahap ini terbentuk panas, lidah api, asap, dan gas beracun dalam jumlah besar. Transisi dari flame stage ke heat stage biasanya sangat cepat, seolah-olahmenjadi satu dalam fase sendiri.

Jaman dahulu ketika manusia jumlahnya masih sedikit, kebakaran justru diperlukan sebagai penyedia pupuk secara alami. Kebakaran savana dapat menyehatkan ekosistem dengan cara meningkatkan pH tanah melalui abu sisa kebakaran serta meningkatkan nutrisi tanah dengan meningkatkan kandungan Kalium dan Magnesium serta fosfor di dalam tanah. Prosesnya sebagai berikut : dengan adanya kebakaran maka ada supply OH- dari abu sisa pembakaran serta terjadinya proses pertukaran ion pada koloid tanah yang menyebabkan gugus hidrogen (H+) terputus dan tergantikan oleh unsur lain seperti Mg2+, dan K+ sehingga ketersediaan unsur magnesium dan kalium setelah kebakaran mengalami kenaikan. Begitu pula dengan fosfor dalam bentuk H2PO4 setelah mengalami kebakaran terjadi peningkatan, karena koloid tanah yang mengandung unsur Al2+, Fe3+, Mn2+ bereaksi dengan fosfat dalam pertukaran gugus Hidroksil (OH-) dan merubah muatan H2PO4menjadi H2PO4. Faktor-faktor tersebut sangat diperlukan oleh tumbuhan untuk hidup lebih baik. Sementara dari sisi dampak, kebakaran belum dianggap sebagai bencana. Jumlah penduduk masih sedikit sehingga dampaknya kurang terasa. Di sisi lain, kerusakan habitat yang ditimbulkan sewaktu kebakaran tidak menimbulkan kepunahan, karena masih tingginya populasi. Justru dengan adanya kebakaran, khususnya pasca kebakaran, tumbuhan lebih banyak menghasilkan makanan bagi berbagai jenis binatang. Hewan-hewan segera memulihkan populasinya setelah tumbuhan kembali menghijau. Rerumputan muda yang masih hijau tersebut sangat disukai oleh satwa. Bayangkan jika tidak terjadi kebakaran, maka yang tersedia adalah rumput-rumput tua yang tidak disukai. Akibatnya daya dukung pakan menjadi rendah. Satwa yang ada di savana akan mengalami puncak kurva sigmoid yang pada akhirnya akan mati karena kekurangan pakan. Secara alami, tumbuhan mengering dan mati perlahan-lahan. Reregenerasi agak lambat. Dampaknya lebih buruk terhadap kesehatan ekosistem dari pada mati karena terbakar. Hal ini disebabkan pada pasca kebakaran proses dekomposisi, perbaikan nutrisi, peningkatan pH berlangsung cepat. Tumbuhan akan kembali beregenerasi untuk menyediakan pakan berupa rumput muda yang bagus bagi kesehatan satwa. Fenomena ini sangat terlihat pada musim-musim hujan atau menjelang musim kemarau, ketika tanah masih menerima sedikit air hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan. Sehingga jaman dahulu perladangan berpindah dengan cara membakar juga dianggap sebagai bagian dari kearifan tradisional. Aktivitas ini di masa itu berdampak positip bagi ekologi dan lingkungan. Sisi penting antara anugerah dan bencana itu ada pada poin pengendalian. Api yang terkendali cenderung anugerah, sedangkan api yang tidak terkendali cenderung bencana.Kebakaran sebagai anugerah adalah kebakaran yang dalam proses kejadiannya terkendali. Dengan adanya manfaat yang ditimbulkan oleh kebakaran maka secara teknis apabila dilakukan pengendalian terhadap dampak negatif maka secara ekologis ini sangat menguntungkan. Sehingga kebakaran hutan terkendali ini telah menjadi salah satu bagian dari pembinaan habitat dan populasi satwa yang sangat penting. Pembinaan habitat dilakukan dengan melokalisir areal terbakar di lokasi yang aman dari jenis-jenis spesies rentan, namun menjadi tempat merumput bagi satwa-satwa dilindungi. Pembakaran disengaja ini harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan tidak terjadi lompatan api ke daerah-daerah yang tidak diinginkan. Tentunya untuk skala luas ini tidak mudah. Karena cukup sensitif, kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh petugas atau pihak yang mengantongi ijin dari pihak berwenang.

a. Dampak Terhadap Sosial, Budaya dan Ekonomi 1. Hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat di dan sekitar hutan Sejumlah masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari hasil hutan tidak mampu melakukan aktivitasnya. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut sedikit banyak mengganggu aktivitasnya dan hal tersebut tentu saja ikut mempengaruhi penghasilan yang biasa mereka dapatkan dari aktivitas sehari-harinya. Bahkan setelah kebakaran usai pun dipastikan bahwa masyarakat kehilangan sejumlah areal dimana ia biasa mengambil hasil hutan tersebut (seperti rotan, karet dsb). 2. Terganggunya aktivitas sehari-hari Adanya gangguan asap juga menyebabkan terganggunya aktivitas yang dilakukan manusia sehari-hari. Misalnya pada pagi hari sebagian orang tidak dapat melaksanakan aktivitasnya karena sulitnya sinar matahari menembus udara yang penuh dengan asap. Demikian pula terhadap banyak aktivitas yang menuntut manusia untuk berada di luar ruangan. Adanya gangguan asap akan mengurangi intensitas dirinya untuk berada di luar ruangan. 3. Peningkatan jumlah Hama Sejumlah spesies dikatakan sebagai hama bila keberadaan dan aktivitasnya mengganggu proses produksi manusia. Bila tidak “mencampuri” urusan produksi manusia maka ia akan tetap menjadi spesies sebagaimana spesies yang lain. 4. Terganggunya kesehatan Peningkatan jumlah asap secara signifikan menjadi penyebab utama munculnya penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Gejalanya bisa ditandai dengan rasa sesak di dada dan mata agak berair. 5. Produktivitas menurun Munculnya asap juga menghalangi produktivitas manusia. Walaupun kita bisa keluar dengan menggunakan masker tetapi sinar matahari dipagi hari tidak mampu menembus ketebalan asap yang ada. Hal ini tentu saja menyebabkan waktu kerja seseorangpun berkurang karena ia harus menunggu sedikit lama agar matahari mampu memberikan sinar terangnya. Ketebalan asap juga memaksa orang menggunakan masker yang sedikit banyak mengganggu aktivitasnya sehari-hari. b. Dampak Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan 1. Hilangnya sejumlah spesies Kebakaran bukan hanya memusnahkan berjenis-jenis pohon namun juga menghancurkan berbagai jenis habitat satwa lainnya. Umumnya satwa yang ikut musnah ini akibat terperangkap oleh asap dan sulitnya jalan keluar karena api telah mengepung

dari segala penjuru. Belum ada penelitian yang mendalam seberapa banyak spesies yang ikut tebakar dalam kebakaran hutan di Indonesia. 2. Ancaman erosi Kebakaran yang terjadi di lereng-lereng pegunungan ataupun di dataran tinggi akan memusnahkan sejumlah tanaman yang juga berfungsi menahan laju tanah pada lapisan atas untuk tidak terjadi erosi. Pada saat hujan turun dan ketika run off terjadi, ketiadaan akar tanah -akibat terbakar- sebagai pengikat akan menyebabkan tanah ikut terbawa oleh hujan ke bawah yang pada akhirnya potensial sekali menimbulkan bukan hanya erosi tetapi juga longsor. 3. Perubahan fungsi pemanfaatan dan peruntukan lahan Hutan sebelum terbakar secara otomatis memiliki banyak fungsi. Sebagai catchment area, penyaring karbondioksida maupun sebagai mata rantai dari suatu ekosistem yang lebih besar yang menjaga keseimbangan planet bumi. Ketika hutan tersebut terbakar fungsi catchment areatersebut juga hilang dan karbondioksida tidak lagi disaring namun melayang-layang diudara. Dalam suatu ekosistem besar, panas matahari tidak dapat terserap dengan baik karena hilangnya fungsi serapan dari hutan yang telah terbakar tersebut. 4. Penurunan kualitas air Kebakaran hutan memang tidak secara signifikan menyebabkan perubahan kualitas air. Kualitas air yang berubah ini lebih diakibatkan faktor erosi yang muncul di bagian hulu. Ketika air hujan tidak lagi memiliki penghalang dalam menahan lajunya maka ia akan membawa seluruh butir tanah yang ada di atasnya untuk masuk kedalam sungaisungai yang ada. Akibatnya adalah sungai menjadi keruh. Hal ini akan berulang apabila ada hujan di atas gunung ataupun di hulu sungai sana. 5. Terganggunya ekosistem terumbu karang Terganggunya ekosistem terumbu karang lebih disebabkan faktor asap. Tebalnya asap menyebabkan matahari sulit untuk menembus dalamnya lautan. Pada akhirnya hal ini akan membuat terumbu karang dan beberapa spesies lainnya menjadi sedikit terhalang untuk melakukan fotosintesa. 6. Menurunnya devisa negara Turunnya produktivitas secara otomatis mempengaruhi perekonomian mikro yang pada akhirnya turut mempengaruhi pendapatan negara. 7. Sedimentasi di aliran sungai Tebalnya lumpur yang terbawa erosi akan mengalami pengendapan di bagian hilir sungai. Ancaman yang muncul adalah meluapnya sungai bersangkutan akibat erosis yang terus menerus.

c. Dampak Terhadap Hubungan Antar negara Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut sayangnya tidak mengenal batas administratif. Asap tersebut justru terbawa angin ke negara tetangga sehingga sebagian negara tetangga ikut menghirup asap yang ditimbulkan dari kebakaran di negara Indonesia. Akibatnya adalah hubungan antara negara menjadi terganggu dengan munculnya protes keras dari Malaysia dan Singapura kepada Indonesia agar kita bisa secepatnya melokalisir kebakaran hutan agar asap yang ditimbulkannya tidak semakin tebal. Yang menarik, justru akibat munculnya protes dari tetangga inilah pemerintah Indonesia seperti kebakaran jenggot dengan menyibukkan diri dan berubah fungsi sebagai barisan pemadam kebakaran. Hilangnya sejumlah spesies dan berbagai dampak yang ditimbulkan ternyata kalah penting dibanding protes keras dari tetangga. d. Dampak terhadap Perhubungan dan Pariwisata Tebalnya asap juga mengganggu transportasi udara. Sering sekali terdengar sebuah pesawat tidak bisa turun di satu tempat karena tebalnya asap yang melingkungi tempat tersebut. Sudah tentu hal ini akan mengganggu bisnis pariwisata karena keengganan orang untuk berada di tempat yang dipenuhi asap. PANDUAN MENYELAMATKAN DIRI SEMASA KEBAKARAN (ASAP) Cara-cara bergerak semasa terperangkap di dalam asap. Di dalam sesuatu kebakaran, asap merupakan ancaman kerana ia bergerak mendahului api, panas, menyesakkan pernafasan serta beracun dan boleh menyekat jalan menyelamatkan diri dari kebakaran. Sebagai panduan menyelamatkan diri dari kebakaran asap, perkara-perkara berikut perlu diberi perhatian: a. Bertenang, sabar dan berfikir. Panik atau kelam kabut boleh mengakibatkan andabertindak dengan cara yang salah. b. Sebelum membuka pintu, pastikan dahulu, jika panas biarkan tertutup. Cari jalanlain untuk menyelamatkan diri. c. Jika terperangkap di dalam asap, rendahkan diri seberapa boleh sebaiknyamerangkak di atas lantai dan bernafas pendek-pendek (melalui hidung hingga sampaike tempat selamat). d. Kepulan asap yang banyak biasanya boleh menggelapkan pemandangan. Dalam keadaan demikian, gunakan belakang tangan untuk raba jalan menyusur dinding hingga bertemu pintu keluar. Terperangkap Di Dalam Bangunan Terbakar Jika anda terperangkap di dalam bangunan, semasa berlaku kebakaran anda hendaklah bertindak seperti berikut; a. Dapatkan seberapa banyak pintu bertutup di antara anda dengan api. Sebagai makluman, pintu-pintu boleh menjadi penyelamat nyawa anda. b. Tutupkan pintu di belakang anda dan jauhkan asap dan bahang. Sumbat celah-celah pintu dan lubang angin dengan kain atau sebagainya bagi mengelakkan asap masuk (pilih bilik yang bertingkap dan tunggu untuk diselamatkan). c. Pergi ke tingkap bagi mendapatkan udara bersih dan beri isyarat minta bantuan. d. Buka tingkap sedikit di atas dan di bawah untuk membolehkan udara kotor keluar dan udara bersih masuk. e. Jika keadaan semakin buruk, pandang keluar tingkap, balut kaki dengan baju,carpet atau sebagainya (basahkan jika perlu) bagi menahan kepanasan. f. Jangan cuba terjun dari tingkap atau tingkat yang tinggi. Ramai orang terbunuhkerana tergopoh-gapah terjun. Tunggu BOMBA atau pasukan penyelamat, jika benar-benar tidak ada jalan lain lagi.
PERINGATAN:

Apabila kedengaran loceng kebakaran berbunyi iaitu sebagai isyaratberlaku kebakaran, semuakakitangan/pelatih/kontraktor/pembekal/pelawat hendaklah;a. Berhenti kerja.b. Berhentikan semua mesin.c. Matikan semua kuasa elektrik.d. Tutup gas atau lain-lain bahan yang mudah terbakar dari terdedah.e. Tutup semua tingkap dan pintu.f. Keluar melalui lorong jalan yang mudah dan jangan menggunakan lif.g. Jangan berlari.h. Jangan tolak menolak antara satu sama lain.i. Jangan sengaja buat bising. j. Jangan buat tidak tentu arah dan kelam kabut (panik).k. Jangan berpatah balik kebelakang untuk mengambil barang-barangyang tertinggal.l. Jangan duduk di dalam tandas atau stor.m. Mestilah bekerjasama dan ikut arahan. Perlengkapan Alat Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Peralatan untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran antara lain: 1.APAR (Alat Pemadam Kebakaran ) Alat pemadam api ringan ( fire Extinguisher ) adalah alat untuk memadamkan api berbentuk tabung silinder yang dapat dioperasikan secara manual oleh seseorang untuk memadamkan api pada awal timbulnya kebakaran ( ketika api masih kecil),yang beratnya 3-16 kg. APAR terdiri dari beberapa jenis sesuai dengan bahan dan isinya yaitu: a.Air Media pemadam api air ini teleh dipakai sejak Zaman belum ditmukan bahan pemadam api lain dan masih dipakai smpai sekarang pada kasus tertentu saja. Sifat air dalam pemadam kebakaran adalah menyerap panas dan ini sangat tepat untuk kalas api A. Pada umumnya ada 3 macam APAR air yaitu dengan pompa tangan, air betekanan, asam soda. Namun media air tidak boleh digunakan untuk : 1)Kebakaran listrik ( kelas C ) 2)Kebakaran minyak ( kelas B ) 3)Kebakaran logam ( kelas D ) 4)Kebakaran yang reaktif terhadap air ( kelas B ) b.Busa APAR jenis busa ada dua macam yaitu busa kimia dan busa mekanik. Busa kimia dibuat berbentuk busa / gelombang yang berisi zat arang dan karbon dioksida, sedangkan busa mekanik dibuat dari campuran zat arang dengan udara. Bahan ini sangat tepat digunakan pada kebakaran kelas B. Busa memadamkan api melalui kombinasi tiga aksi pemadam yaitu menutupi, melehmahkan dan mendinginkan. 1)menutupi / menyelimuti bagian yang terbakar dengan busa, sehingga kontak dengan oksigen teputus. 2)melehmahkan yaitu mencaga terjadinya penguapan cairan yang mudah terbakar. 3)pendingin yaitu menyerap kalori cairan yang mudah terbakar agar suhunya menurun. c.Serbuk kimia kering Sifat bubuk kimia ini tidak beracun tapi dapat menyebabkan sesak nafas sementara dan Kebakaran

pandangan akan berkurang. Bahan ini sangat tepat digunakan pada kebakaran kelsa AB maupun klas ABC. d.CO2 (Carbon dioksida) Gas CO2 digunakan untuk memadamkan api karna CO2 dapat mengurangi kadar oksigen dari udara pada saat kebakaran murah, bersih dan dapat digunakan untuk pemadaman api yang disebabkan oleh listrik yang bertegangan. 2. Sprinkler (system Pemadam Air Otomatis ) Yang dimaksud dengan system pemancar air otomatis adalah. Suatu system yang bekerja secara otomatis untuk memadamkan kebakaran ataun setidak-tidaknya mencega meluasnya kebakaran.  Sistem sprinkler terdiri dari : a.Penyediaan air yang cukup b.Jaringan pipa yang cukup c.Perlengkapan sprinkler Sistem sprinkler terbagi atas : a.Sistem basah (Wet Pipe Sistem ) b.Sistem kering (Dry Pipe Sistem ) c.Sistem curah ( Deluge Sistem ) d.Sistem pra aksi ( Pre Action Sistem ) e.Sistem kombinasi ( Combination system )

3. Hydrant Kebakaran Hydrant berasal dari kata hydro yang artinya air. Jadi yang dimaksud dengan hydrant yaitu tempat yang mendapatkan sumber air yang dirancang khusus untuk keperluan pemadam kebakaran. Jenis-jenis hydrant yaitu : a.Hydrant Kota ( Hydran Umum ) Hydrant yang disiapkan untuk mendapatkan air bagi unit mobil pemadam kebakaran untuk memudahkan dukungan air pada saat melakukan atau melaksanakan pemadaman kebakaran yang terdekat dengan titik hydran tersebut. Hydrant ini dipasang dipinggi-pinggir jalan disegenap penjuru kota dan biasanya ditempatkan diderah yang rawan terhadap kebakaran. Persyaratan hydrant kota adalah sebagai brikut : 1)Masing-masing hydran berkapasitas minimum 1000 liter/menit 2)Tekanan pompa hydrant minimum 2 kg/cm² 3)Maksimal jarak antara hydran 200 meter b.Hydrant gedung

Hydrant ini disiapkan untuk keperluan pemadam kebakaran apabila terjadi kebakaran dalam gedung. Hydrant gedung terbagi atas 3 kelas ( NFPA ) yaitu: 1)Kelas I : hydran dengan diameter selang 2½ pengoperasiannya dipersiapkan bagi penghuni gedung yang telah terlatih menggunakan peralatan tersebut atau dioperasikan oleh petugas dinas kebakaran. 2)Kelas II : hydran dengandiameter 1½ pengoprasiannya disiapkan bagi penghunigedung yang belum pernah mendapatkan latihan menggunakan peralatan tersebut. 3)Kelas III : hydrant gabungan antarakelas I dan kelas II. Komponen-komponen hydrant gedung : a)Bak persediaan air ( reservoir ) b)Pompa utama c)Pompa jockey d)Pompa valve e)Fleksibel loint f)Gate valve g)Pipa tegak h)Cek valve i)Sambungan Dinas Kebakaran ( Fire bridge Connection ) j)Pompa diesel k)Box hydrant dengan perlengkapannya Persyaratan teknis hydrant gedung : -Letak kota hydrant harus mudah dilihat dan dicapai serta tidak boleh terkunci. -Panjang selang maksimal 30m ( 100 feet ) -Pipa pemancar harus selalu terpasang pada selang -Pipa hydrant dan kota hydrant hurus dicat merah, kota hydrant harus diberi tulisan “ HYDRANT “ -Pada pembangunan tinggi yang memakai pipa tegak 6” harus disediakan kopling pengeluaran ( landing valve ) yang berdiameter 2½ (inci) Bila kebakaran terjadi, orang-orang harus mampu menyelamatkan dirinya. Untuk itu perlu dipertimbangkan: •Cara memberikan peringatan: Rencanakan suatu sistem pemberitahuan kepada orang-orang dilapangan; hal ini dapat berupa unit alarm, klakson, peluit atau teriakan mulut pada lokasi yang kecil •Cara penyelamatan: Rencanakan jalur penyelamatan dan pastikan selalu siap dan tidak terhalang. Untuk lokasilokasi pekerjaan diatas atau dibawah tanah, apabila mungkin sediakan jalan alternatif yang

baik menuju ke permukaan tanah. Lindungi jalur penyelamat dengan memasang pemisah kebakaran yang permanen dan pintu kebakaran sesegera mungkin. Hal ini penting karena jalur penyelamat akan memberi jalan kepada orang-orang ketempat berkumpul untuk dapat dihitung jumlahnya. Tanda-tanda mungkin diperlukan bila orang-orang tidak terbiasa dengan jalur penyelamatan tersebut. Pastikan tersedia cukup penerangan pada jalur penyelamatan yang terlindung atau tertutup,mungkin diperlukan pula lampu darurat. •Cara menanggulangi kebakaran: Sediakan alat pemadam kebakaran untuk pekerjaan-pekerjaan panas. Alat pemadam kebakaran (APK) juga diletakkan pada tempat-tempat tertentu disekitar lokasi. Alat pemadam kebakaran tersebut harus sesuai dengan kemungkinan kebakaran yang terjadi: Kayu, kertas dan kain – alat pemadam api jenis air Cairan mudah terbakar – alat pemadam api jenis serbuk kimia atau busa Listrik -Alat pemadam api jenis Karbondioksida (CO2) Orang-orang harus dilatih menggunakan peralatan kebakaran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->