P. 1
Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Terhadap Kejadian Diare Di Puskesmas

Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Terhadap Kejadian Diare Di Puskesmas

|Views: 2,459|Likes:
Published by Suhadi

More info:

Published by: Suhadi on Apr 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2013

pdf

text

original

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA BAB

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit, utamanya penyakit infeksi (Notoatmodjo S, 2004). Salah satu penyakit infeksi pada balita adalah diare dan ISPA. Diare lebih dominan menyerang balita karena daya tahan tubuh balita yang masih lemah sehingga balita sangat rentan terhadap penyebaran virus penyebab diare. Diare merupakan salah satu penyebab angka kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama pada balita. Menurut Parashar tahun 2007, di dunia terdapat 6 juta balita yang meninggal tiap tahunnya karena penyakit diare. Dimana sebagian kematian tersebut terjadi di negara berkembang termasukIndonesia(DepkesRI, 2007). Hal yang bisa menyebabkan balita mudah terserang penyakit diare adalah perilaku hidup masyarakat yang kurang baik dan keadaan lingkungan yang buruk. Diare dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani secara serius karena tubuh balita sebagian besar terdiri dari air, sehingga bila terjadi diare sangat mudah terkena dehidrasi (Depkes, 2010). Penyakit diare adalah penyakit yang sangat berbahaya dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan bisa menyerang seluruh kelompok usia baik laki – laki maupuun perempuan, tetapi penyakit diare dengan tingkat dehidrasi berat dengan angka kematian paling tinggi banyak terjadi pada bayi dan balita. Di negara berkembang termasukIndonesiaanak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per tahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian (Depkes, 2010).

1
Penyakit diare diIndonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada balita. Angka kesakitan diare di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat, pada tahun 2006 jumlah kasus diare sebanyak 10.980 penderita dengan jumlah kematian 277 (CFR 2,52%). Secara keseluruhan diperkirakan angka kejadian diare pada balita berkisar antara 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000 sampai dengan 400.000 balita. Pada survei tahun 2000 yang dilakukan oleh Depkes RI melalui Ditjen P2MPL di 10 provinsi didapatkan hasil bahwa dari 18.000 rumah tangga yang disurvei diambil sample sebanyak 13.440 balita, dan kejadian diare pada balita yaitu 1,3 episode kejadian diare pertahun (Soebagyo, 2008). Jumlah kasus diare di Maju Jaya tahun 2010 yaitu sebanyak 825.022 penderita, sedangkan jumlah kasus diare pada balita yaitu sebanyak 269.483 penderita. Jumlah kasus diare pada balita setiap tahunnya rata-rata di atas 32,66%, hal ini menunjukkan bahwa kasus diare pada balita masih tetap tinggi dibandingkan golongan umur lainnya (Dinkes Maju Jaya, 2011). Kabupaten Sukolegowo merupakan salah satu dari 38 Kabupaten/Kota di Provinsi Maju Jaya dengan angka kejadian diare pada balita tahun 2008 cukup tinggi yaitu sebanyak 2.035 kasus, (Dinkes Sukolegowo, 2009). Pada tahun 2009 sebanyak 1.979 kasus dan pada tahun 2010 sebanyak 5.116 kasus, (Dinkes Sukolegowo, 2011)

Kabupaten Sukolegowo terbagi menjadi 19 kecamatan dan salah satunya adalah Kecamatan Sumber Jadi. Berdasarkan data dari Puskesmas Sumber Jadi penderita diare pada tahun 2008 sebanyak 524 penderita dan diare pada balita sebanyak 301 penderita. Pada tahun 2009 sebanyak 642 penderita dengan jumlah diare pada balita sebanyak 344 penderita. Pada tahun 2010 sebanyak 783 penderita, jumlah penderita diare balita tahun 2010 sebanyak 387 penderita. Desa Sukomakmur, Kecamatan Sumber Jadi, Kabupaten Sukolegowo adalah Desa dengan jumlah Balita terbanyak di Kecamatan Sumber Jadi yaitu sebanyak 231 Balita dengan angka kejadian diare pada tahun 2010 sebanyak 54 kasus (Puskesmas Sumber Jadi, 2011). Berdasarkan hasil survey PHBS yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan kabupaten Sukolegowo bersama dengan Puskesmas Sumber Jadi di Desa Sukomakmur, Kecamatan Sumber Jadi, Kabupaten Sukolegowo pada bulan Oktober 2010 didapatkan hasil sebagai berikut 63% termasuk kriteria sehat dan sisanya sebanyak 37% masuk kriteria tidak sehat. Berdasar pada angka hasil survey PHBS tersebut ternyata masih ada sebagian dari penduduk yang masuk kriteria tidak sehat sehingga dimungkinkan bisa menjadi penyebab tingginya angka kejadian diare di desa tersebut. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare adalah lingkungan, praktik penyapihan yang buruk dan malnutrisi. Diare dapat menyebar melalui praktik-praktik yang tidak higienis seperti menyiapkan makanan dengan tangan yang belum dicuci, setelah buang air besar atau membersihkan tinja seorang anak serta membiarkan seorang anak bermain di daerah dimana ada tinja yang terkontaminasi bakteri penyebab diare (Depkes, 2010). Perilaku ibu dalam menjaga kebersihan dan mengolah makanan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan tentang cara pengolahan dan penyiapan makanan yang sehat dan bersih. Pengetahuan dan kesadaran orang tua terhadap masalah kesehatan balitanya tentu sangat penting agar anak selalu dalam keadaan sehat dan terhindar dari berbagai penyakit, sedangkan yang mengalami diare tidak jatuh pada kondisi yang lebih buruk. Sebagian besar angka kematian diare ini diduga karena kurangnya pengetahauan masyarakat terutama ibu, mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan diare (Wijaya, 2002). Kurangnya pengetahuan bisa mempengaruhi perilaku seseorang termasuk perilaku di bidang kesehatan sehingga bisa menjadi penyebab tingginya angka penyebaran suatu penyakit termasuk penyakit diare yang mempunyai resiko penularan dan penyebaran cukup tinggi. Penyakit diare yang merupakan penyakit berbasis lingkungan juga dipengaruhi oleh keadaan kebersihan baik perorangan (personal hygiene) maupun kebersihan lingkungan perumahan, sanitasi yang baik dan memenuhi syarat kesehatan serta didukung oleh personal hygiene yang baik akan bisa mengurangi resiko munculnya suatu penyakit termasuk diantaranya penyakit diare. Personal hygiene dan sanitasi lingkungan perumahan yang baik bisa terwujud apabila didukung oleh perilaku masyarakat yang baik atau perilaku yang mendukung terhadap program-program pembangunan kesehatan termasuk program pemberantasan dan program penanggulangan penyakit diare. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tidak memadainya penyediaan air bersih, air tercemar oleh tinja, kekurangan sarana kebersihan, pembuangan tinja yang tidak higienis, kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek, serta pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya. Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare, terdiri dari faktor agent penjamu, lingkungan dan perilaku. Faktor penjamu yang menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap diare, diantaranya tidak memberikan ASI selama 2 tahun, kurang gizi, penyakit campak, dan imunodefisiensi. Faktor lingkungan yang paling dominan yaitu sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja, kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, maka penularan diare dengan mudah dapat terjadi (Depkes, 2005).

Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat diare, pemerintah melalui Dinas Kesehatan melakukan beberapa upaya : 1) Meningkatkan kwalitas dan kwantitas tatalaksana diare melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan pelaksanaan Pojok Oralit, 2) Mengupayakan tatalaksana penderita diare di rumah tangga secara tepat dan benar, 3) Meningkatkan upaya pencegahan melalui kegiatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE), 4) Meningkatkan sanitasi lingkungan, 5) Meningkatkan kewaspadaan dini dan penanggulangan kejadian luar biasa diare (DepKes RI, 2000). Upaya pencegahan diare meliputi : memberikan ASI, memperbaiki makanan pendamping ASI, menggunakan air bersih yang cukup, mencuci tangan, menggunakan jamban, membuang tinja bayi dengan benar dan memberikan imunisasi campak karena pemberian imunisasi campak dapat mencegah terjadinya diare yang lebih berat (Depkes, 2010). Puskesmas Sumber Jadi melalui Program Pemberantasan Penyakit Menular, secara intensif terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat termasuk di dalamnya program penanggulangan penyakit diare baik secara promotif, preventif maupun kuratif. Kegiatan yang telah dan selalu dilaksanakan adalah penyuluhan tentang penyakit diare di berbagai kelompok masyarakat, baik melalui kegiatan Posyandu, pertemuan Kader, kelompok arisan dan kegiatankegiatan masyarakat yang lain baik yang bersifat formal maupun non formal, di samping itu kegiatan kuratif juga dilaksanakan dengan fasilitas Puskesmas rawat inap dan UGD Puskesmas yang buka 24 Jam semua ini dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat, termasuk sebagai bentuk kesiapan apabila terjadi kasus luar biasa (KLB) termasuk mengantisipasi apabila terjadi KLB penyakit diare. Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian mengenai hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. 1.2. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo ? 1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah: mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. 1.3.2. 1) 2) 3) 4) 5) Tujuan khusus. Mengidentifikasi pengetahuan ibu tentang penyakit diare. Mengidentifikasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Mengidentifikasi kejadian diare pada balita. Menganalisis hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita. Menganalisis perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita.

1.4. serta kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pertolongan baik secara mandiri maupun dengan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Manfaat secara teoritis 1) Sebagai salah satu sumber informasi tentang hubungan antara pengetahuan dan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian dan upaya pencegahan penyakit diare pada balita. Sebagai masukan dalam merencanakan program untuk upaya pencegahan penyakit diare di masyarakat. upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diare. 2) Bagi masyarakat / keluarga Menimbulkan kesadaran pada keluarga atau masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan penyakit diare. 1.4.1. 2) Sebagai pengembangan dari ilmu keperawatan khususnya keperawatan komunitas tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. semakin baik pengetahuan seseorang maka akan semakin positif sikap seseorang sehingga perilaku yang unsur-unsurnya sangat dipengaruhi oleh sikap akan semakin positif pula . Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat khususnya bagi peneliti dan fihak-fihak terkait baik secara teoritis maupun praktis. 1. . 1. Pelaksanaan kegiatan dalam pencegahan penyakit diare melalui program pemberantasan penyakit menular secara rutin harus selalu dilaksanakan khususnya secara preventif atau pencegahan melalui penyuluhan di berbagai kelompok masyarakat baik kelompok formal maupun non formal. Balita yang merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit memerlukan perhatian yang lebih supaya kasus-kasus diare pada balita bisa dikurangi atau diatasi sehingga angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit diare pada balita bisa diatasi.5. Relevansi Pengetahuan masyarakat tentang penyakit diare merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk mengatasi masalah diare di masyarakat. Memberikan masukan dalam membuat kebijakan untuk neningkatkan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat khususnya dalam mengatasi masalah diare.2. sehingga upaya yang selama ini yang terus digalakkan oleh Pemerintah bisa mendapatkan hasil sesuai dengan harapan semua fihak.4. Manfaat secara praktis 1) Bagi Instansi terkait (Puskesmas dan Dinas Kesehatan) 1. 2. Sehingga sangat diperlukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita sehingga dalam pelaksanaan program pencegahan penyakit diare dapat terwujud. pengetahuan akan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan perilaku. Program pencegahan penyakit diare untuk bisa tercapai hasilnya diperlukan kerja sama yang baik antara masyarakat dan petugas kesehatan.

dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja.1. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain: a) Infeksi oleh bakteri: Escherichia colin. Diare menurut Ngastiyah (2005) adalah keadaan frekwensi buang air besar lebih dari 4 kali sehari pada bayi dan lebih dari 3 kali sehari pada anak. dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti pseudomonas. Menurut Mansjoer A (2003). Konsep Penyakit Diare 2. makanan dan faktor psikologis. serta frekwensi lebih dari 3 kali sehari pada anak dan pada bayi lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah. Vibrio cholerae(kolera).1. baik disertai lendir dan darah maupun tidak.1. Menurut Depkes (2010) diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Definisi penyakit diare Diare adalah buang air besar lembek atau cair dapat berupa air saja yang frekwensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) (DepkesRI. diare adalah buang air besar dengan konsistensi encer atau cair dan lebih dari 3 kali sehari. Hingga kini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat pertama diIndonesia.2. baik balita. diare disebabkan oleh faktor infeksi. 2. diare diartikan sebagai buang air encer lebih dari empat kali sehari. seperti radang tonsil. Infeksi akibat organ lain. c) d) e) f) 2) Infeksi parasit oleh cacing (Ascaris lumbricoides). bronchitis dan radang tenggorokan. Sedangkan menurut Widjaja (2002). Semua kelompok usia diserang oleh diare. 1) Faktor infeksi Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dan Keracunan makanan Faktor malabsorpsi . Salmonella thyposa. Infeksi jamur (Candida albicans).1. Etiologi Menurut Widjaja (2002). malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi). b) 8 Infeksi virus rotavirus. Infeksi basil (disentri). 2000). anak-anak dan orang dewasa. ditandai dengan peningkatan volume keenceran. konsistensi faeces encer.

Tetapi jarang terjadi pada balita. Gejalanya berupa diare berat. mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. tinja berbau sangat asam. mentah (sayuran) dan kurang matang. dan tegang.1. 2.3. Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak dan balita. Triglyserida. terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida.Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. 3) Faktor makanan Dapat terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan diare. 2) Faktor malabsorbsi Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare. beracun. pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus. dan sakit di daerah perut. dengan bantuan kelenjar lipase. cemas. jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis. 2.1. Sedangkan malabsorpsi lemak. diare dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. 4) Faktor psikologis Rasa takut. Malabsorpsi karbohidrat. basi.4. diantaranya: 1) Faktor infeksi Proses ini dapat diawali adanya mikroba atau kuman yang masuk dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit atau juga dikatakan bakteri akan menyebabkan sistem transporaktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit meningkat. terlalu banyak lemak. umumnya terjadi pada anak yang lebih besar. 3) Faktor makanan Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar. Jenis diare . 4) Faktor psikologis Keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi kecepatan gerakan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare. Patofisiologi Menurut Depkes (2010) proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan.

gangguan gizi atau penyakit lainnya. yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. muntah. gelisah. penurunan berat badan dengan cepat. dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa. berdasarkan jenisnya dibagi menjadi empat yaitu : 1) Diare Akut Diare akut yaitu. Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang.5. nafsu makan berkurang atau tidak ada. diare yang disertai darah dalam tinjanya. sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare. 4) Diare dengan masalah lain Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain. tinja cair. Tanda-tanda diare Mula-mula pasien cengeng. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme. 2. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah). 2.6. seperti demam. Suhu badan meningkat.1. anus dan daerah sekitar lecet. Gejala diare Menurut Widjaja (2000). Akibatnya adalah dehidrasi.Penyakit diare menurutDepkesRI(2000). ubun-ubun cekung. . gejala-gejala diare adalah sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Muntah sebelum dan sesudah diare. 2) Disentri Disentri yaitu. 2005). Lecet pada anus.1. suhu tubuh biasanya meningkat. Tinja bayi encer. selaput lendir mulut dan kulit kering (Ngastiyah. 3) Diare persisten Diare persisten. berat badan menurun. berlendir atau berdarah Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu. Akibat disentri adalah anoreksia. diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). warna tinja makin lama kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu.

kurang gizi. imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita. 2) Memperbaiki makanan pendamping ASI Perilaku yang salah dalam pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan resiko terjadinya diare sehingga dalam pemberiannya harus memperhatikan waktu dan jenis makanan yang diberikan. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun. tidak mencuci tangan sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak.9) Dehidrasi (kekurangan cairan). Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula. hal-hal tersebut adalah: 1) Memberikan ASI ASI turut memberikan perlindungan terhadap terjadinya diare pada balita karena antibodi dan zatzat lain yang terkandung di dalamnya memberikan perlindungan secara imunologi. menyimpan makanan masak pada suhu kamar.1. dan tidak membuang tinja dengan benar. air matang dan lain-lain. dehidrasi berat.8. yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. dehidrasi ringan. maka dapat menimbulkan kejadian diare. dehidrasi sedang. tambahkan macam makanan lain dan frekwensi pemberikan makan . Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare. 2) Faktor lingkungan dan perilaku Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. sari buah. bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga misalnya air tajin. Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. setelah anak berumur 9 bulan atau lebih. epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut: Penyebaran kuman yang menyebabkan diare. antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan. 1) Faktor pejamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare Faktor pada pejamu yang dapat meningkatkan insiden. 2. 2. kuah sayur.1. menggunakan air minum yang tercemar. Epidemiologi penyakit diare Menurut Depkes RI (2005). beberapa penyakit dan lamanya diare.7. Sebelum anak dibawa ke tempat fasilitas kesehatan untuk mengurangi resiko dehidrasi sebaiknya diberi oralit terlebih dahulu. Dua faktor yang dominan. air the. yaitu melalui makanan dan minuman. Pencegahan diare Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencegah agar anak-anak tidak terjangkit penyakit diare. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. campak. menggunakan botol susu yang kotor. Pemberian makanan pendamping ASI sebaiknya dimulai dengan memberikan makanan lunak ketika anak berumur 6 bulan dan dapat diteruskan pemberian ASI.

2.2. 2003).2. penciuman. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. frekwensi pemberiannya 4-6 kali sehari. Saat anak berumur 11 tahun berikan semua makanan yang dimasak dengan baik. 4) Mencuci tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. 3) Menggunakan air bersih yang cukup Resiko untuk menderita diare dapat dikurangi dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanannya di rumah. 2. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang .1. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia.2. Oleh sebab itu “tahu” merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo S. 2. Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. 2010).lebih sering (4 kali sehari). 6) Membuang tinja bayi dengan benar Membuang tinja bayi ke dalam jamban sesegera mungkin sehingga penularan kuman penyebab diare melalui tinja bayi dapat dicegah. 2003). Konsep Pengetahuan 2. 5) Menggunakan jamban Upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko penularan diare karena penularan kuman penyebab diare melalui tinja dapat dihindari. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo. 7) Memberikan imunisasi campak Anak yang sakit campak sering disertai diare sehingga imunisasi campak dapat mencegah terjadinya diare yang lebih parah lagi (Depkes. rasa dan raba. pendengaran. yaitu : 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. yakni indera penglihatan.

6) Evaluasi (Evaluation). Aplikasi dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan suatu bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. metode. 2) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. mendefinisikan. menyimpulkan. tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. menyatakan dan sebagainya. rumus. prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. 2005). 4) Analisis (Analysis). menguraikan. Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponenkomponen. membedakan. menyebutkan contoh. Cara memperoleh pengetahuan Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah. . Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan.3.2. dicoba kemungkinan yang lain. Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil. yakni : 1) 2) Cara tradisional atau non ilmiah Cara coba salah (trial and error) Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan. memisahkan dan sebagainya. 3) Aplikasi (Application). dapat dikelompokkan menjadi dua (Notoatmodjo S. 2. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). 5) Sintesis (Synthesis). Metode ini masih dipergunakan sampai sekarang terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. kemampuan analisis dapat dilihat penggunaan kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan).

atau lebih populer disebut metodologi penelitian (research methodology). Pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) atau bentuk lain yang sederajat. Tingkat pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar. 2001). seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya. 4) Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman adalah guru terbaik. 1998). 2001). 2. 6) Cara modern Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis. Pendidikan tinggi merupakan lanjutan pendidikan menengah adapun bentuk pendidikan tinggi . (Nursalam & Siti Pariani. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki (Effendy N. Pendidikan dasar merupakan tingkat pendidikan yang melandasi tingkat pendidikan menengah.2. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. Kemudian disimpulkan kedalam suatu konsep yang memungkinkan seseorang untuk memahami suatu gejala. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. 2) Pendidikan Tingkat pendidikan yang terlalu rendah akan sulit memahami pesan atau informasi yang disampaikan. 5) Melalui jalan pikiran Berfikir induksi adalah pembuatan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ditangkap oleh indera. Menurut Kuncoroningrat (1997) yang dikutip oleh Nursalam dan Siti Pariani (2001).3) Cara kekuasaan atau otoritas Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya. adapun bentuk pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau bentuk lain yang sederajat. Dari segi kepercayaan masyarakat. makin tinggi tingkat pendidikan seseorang. maksudnya bahwa pengalaman itu sumber pengetahuan dan pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. logis dan ilmiah.4. makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan berfikir deduksi adalah proses berpikir berdasarkan pada pengetahuan yang umum mencapai pengetahuan yang khusus. belajar. Baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Adabeberapa faktor yang bisa mempengaruhi pengetahuan seseorang baik langsung maupun tidak langsung diantaranya adalah: 1) Umur Semakin cukup umur tingkat pematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir. Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah”. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. bekerja sehingga pengetahuanpun akan bertambah. (Nursalam & Siti Pariani.

Menjadikan anggota keluarga lebih sehat dan tidak mudah sakit .3.3. 2005). 2.mencakup program pendidikan diploma.3. 2005).2. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar memahami dan mampu melaksanakan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan di masyrakat.3. 2. Konsep Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 2. magister.3. Pengertian Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri dalam hal kesehtan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Komponen PHBS Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan komponen-komponen PHBS yang meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan Memberi bayi ASI eksklusif Menimbang bayi dan balita Menggunakan air bersih Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Menggunakan jamban sehat Memberantas jentik nyamuk Makan buah dan sayur setiap hari Melakukan aktivitas fisik setiap hari 10) Tidak merokok di dalam rumah 2. (Notoatmodjo S. Manfaat PHBS 1) Bagi keluarga 1. spesialis dan dokter yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi (Standar Pendidikan Nasional.1. sarjana. 3) Pengalaman Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan oleh karena pengalaman yang diperoleh dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.

1. pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.4.4. Infeksi Saluran Pencernaan Malabsorpsi Makanan Terkontaminasi Psikologis Kerangka konseptual adalah hubungan antara konsep–konsep Yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo. 4. 4. 2010). 2. arisan jamban. Anggota keluarga lebih giat dalam bekerja 2. Mampu mengupayakan lingkungan sehat. Aplikasi 4. 2. Pengetahuan masyarakat tentang diare bertambah .2005). Kerangaka konseptual dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2. Mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan. 2) Bagi masyarakat. Analisis 5. Sintesis 6. Memahami 3. Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga. Evaluasi 1. ambulan desa. Memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada. 2.1 1. Kerangka Konsep Pengetahuan 1. Tahu 2.3. 3. 2.1. tabungan ibu bersalin (Tabulin). 3. Mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti Posyandu. Kriteria penilaian PHBS Rumah tangga termasuk kriteria sehat apabila memenuhi nilai 10 (sepuluh) atau mempunyai perilaku positif pada setiap komponen PHBS dan dikatakan tidak sehat apabila salah satu dari sepuluh komponen PHBS ada yang nilai 0 (nol) atau perilaku negatif (DepkesRI.

Keadaan lingkungan. Kejadian diare berkurang 3. Fasilitan kesehatan 12. umur. Keadaan lingkungan 11.1. 5. Sosial ekonomi 10. 7. Sumber informasi 9. Pendidikan 7. Umur 6. Fasilitas kesehatan.1 : Kerangka konseptual Keterangan Bagan: 20 Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan diantaranya pendidikan. 6. Selajutnya pengetahuan dan PHBS . Pemberian ASI eksklusif Penggunaan botol susu Kebiasaan cuci tangan Menggunakan air yang bersih Kebiasaan membuang tinja Menggunakan jamban yang sehat Jarak Sumber air dengan jamban Diare Diteliti Keterangan Tidak Diteliti Gambar 2. 3. Kwalitas hidup masyarakat meningkat 5. Media informasi PHBS Sikap Intervening 1. pengalaman. Pengalaman 8. 4. 2. PHBS menjadi lebih positif 2. Media informasi. Derajat kesehatan masyarakat meningkat 4. dan sumber informasi sedangkan faktor yang mempengaruhi PHBS adalah sosial ekonomi.

3. 4. 1. Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan yang dimulai dari perencanaan (penyusunan proposal) sampai dengan penyusunan laporan akhir yang dilaksanakan sejak bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2011. Instrumen Penelitian. Kabupaten Sukolegowo.1.2. apabila beberapa faktor tersebut bisa diatasi maka diharapkan outputnya adalah : 1.5. 2. Adapun pengumpulan data primer dilakukan pada bulan Juni 2011. BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan masalah. Sampel dan sampling.akan bisa mempengaruhi terhadap proses terjadinya penyakit diare. Kecamatan Sumber Jadi. Pada dasarnya menggunakan metode ilmiah (Notoatmodjo. alasan mengambil tempat ini adalah selama 3 (tiga) tahun terakhir yaitu tahun 2008. Pengumpulan Data. Adahubungan antara Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur. desa Sukomakmur pada tahun 2010 juga menjadi tempat dilaksanakan survey PHBS dengan hasil 63% termasuk kriteria sehat dan 37% termasuk kriteria tidak sehat. 3.1. 3.1. 5. Pengetahuan masyarakat tentang diare bertambah PHBS menjadi lebih positif (masuk kriteria sehat) Kejadian diare berkurang Derajat kesehatan masyarakat meningkat Kwalitas hidup masyarakat meningkat Hipotesis H1 : 1. 2.2. 2005). Etika penelitian. Kerangka Kerja. Kecamatan Sumber Jadi. Adahubungan antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur. Waktu dan Tempat Penelitian 3. Kabupaten Sukolegowo. Kabupaten Sukolegowo.1. Desain Penelitian. Desain Penelitian Desain penelitian adalah hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan. Tempat Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Sukomakmur. Pada bab ini akan diuraikan tentang : Waktu dan tempat penelitian. 2009 dan 2010 desa tersebut terdapat kasus diare khususnya pada balita dengan jumlah relatif lebih banyak dibanding desa yang lain di wilayah kerja Puskesmas Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. 3. Desain sangat erat dengan . Kecamatan Sumber Jadi. Populasi. Pengolahan dan Analisa Data. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel.

dengan cara pendekatan. Kerangkan kerja adalah: pentahapan atau langkah-langkah dalam aktifitas ilmiah yang dilakukan dalam melakukan penelitian (kegiatan awal sampai akhir) (Nursalam.3.1 Penyusunan Proposal Populasi Semua ibu-ibu yang memiliki balita tercatat sebagai penduduk Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebanyak 231 orang Sampel Sebagian ibu-ibu yang memiliki balita tercatat sebagai penduduk Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. (Nursalam. 3. Penelitian korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel (Nursalam. observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. 22 Dalam hal ini metode penelitian yang digunakan adalah metode analitik korelasional yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan untuk mencari. 2005). menjelaskan suatu hubungan. Artinya setiap subjek penelitian hanya diobservasi satu kali saja (Notoatmodjo. 2005). sebanyak 76 orang Sampling Simple random Sampling . Kerangka kerja penelitian tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare tertera pada gambar 3. Jenis penelitian ini menggunakan rancangan “ Cross Sectional “ yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek. 2005). 2005). memperkirakan serta menguji berdasarkan teori yang sudah ada.bagaimana kerangka konsep penelitian sebagai petunjuk perencanaan penelitian secara rinci dalam hal pengumpulan dan analisa data. Kerangka Kerja (Frame Work).

2005). 2005).Desain Penelitian cross sectional Pengolahan dan Analisa Data Pengumpulan Data Kuisioner Editing. Coding. 2) Besar sampel . 3. 2. Sampel Sampel adalah sebagian kecil yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Populasi.4. 4. Tabulating. 2008).4. uji korelasi spearman’s rho dengan program SPSS 15 Penyusunan Laporan Akhir Gambar 3. Ibu-ibu yang memiliki balita bertempat tinggal dan tercatat sebagai penduduk Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dan datang ke Posyandu.4. Dapat berkomunikasi dengan baik. (Notoatmodjo. (Notoatmodjo. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. sejumlah 231 responden. Adapun yang menjadi kriteria inklusi dalam sampel penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bersedia menjadi responden.2. Dapat membaca dan menulis. 1) Kriteria inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam. Sampel dan Sampling 3.1. Dalam penelitian ini sampel yang diteliti yaitu sebagian dari ibu-ibu yang memiliki balita yang bertempat tinggal di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh ibu-ibu yang memiliki balita (berumur 1-5 tahun) yang bertempat tinggal di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.1 Kerangka kerja penelitian tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. 3. pada penelitian ini sampel yang diteliti adalah yang sesuai dengan kriteria inklusi sejumlah 76 responden. 3. Scoring.

5. jika tidak diketahui dianggap 50 % 1 – p atau sama dengan 100% – p Tingkat kesalahan yang dipilih 0.05 adalah 1. setiap elemen diseleksi secara acak (random). agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan setiap penelitian (Nursalam. 2005). Kabupaten Sukolegowo sebagai populasi dalam penelitian ini berjumlah 231 orang Sehingga sampel pada penelitian ini ditetapkan sebesar 76 responden. 2) Variabel dependen (Variabel Tergantung) Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian diare pada balita.1. diaduk dan diambil secara acak sesuai besarnya sampel (Notoatmodjo S.5. 3. Nomor responden ditulis pada secarik kertas. Sampling Sampling adalah proses menyeleksi dari populasi yang ada.96 Perkiraan proporsi. Variabel 1) Variabel Independen (Variabel bebas) Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak yaitu dengan menggunakan teknik simple random sampling yaitu bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel. 3. Rumus yang digunakan untuk menentukan besar sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus sample maksimal menurut Sastroasmoro Sudigdo (2002) dengan rumus sebagai berikut: n = Keterangan : n N Z p q d = = = = = = Besar sampel Besarnya populasi Nilai standart normal untuk α = 0.3. Untuk mencapai sampel ini.2.5. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel 3.05 Ibu-ibu balita di desa Sukomakmur. Definisi Operasional . 2003). Kecamatan Sumber Jadi. dimasukkan ke dalam kotak.Besar sampel adalah anggota yang akan dijadikan sampel (Nursalam. 3.4. 2005).

Ya 2. N o Variabel Definisi Operasi onal Parameter 1. mempun yai balita untuk menjaw ab dengan benar terhadap 20 pertanya an tentang penyakit diare Kuisio Ordin ner al b Perilaku hidup Perilaku bersih dan sehat hidup (PHBS) bersih dan sehat (PHBS) respond en sesuai dengan 1. Menggunakan air bersih untuk Sehat jika . Cara pencegahan diare 6. Tabel 4. Cara penanganan atau penatalaksanaan diare Alat ukur Skala ukur Kategori 1. Ben ar = 1 2. Kriteria: 2.H. (A. Cuci tangan dengan k= air bersih dan sabun 0 sebelum makan dan atau setelah buang Dengan air besar. Sala h= 0 Dengan Kriteria: Baik Jika benar 76 – 100% Cukup jika benar 56 – 76% Kurang jika benar kurang dari 56 % (Nursalam. 2003) 1 IndependenPeng Kemam etahuan puan ibu yang a. Pengertian diare 2.Aziz A. 2007). Cara penyebaran atau penularan diare 5.1 Definisi Operasional variabel tentang hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. Adapun definisi operasional variabel penelitian ini tertera pada tabel 4. Balita ditimbang dalam tiga ner al =1 bulan terakhir 2. memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi dan pengukuran secara cermat terhadap objek atau fenomena. Penyebab diare 3. dll. Pemberian ASI esklusif Kuisio Ordin 1. Tida 1. Tanda-tanda dan gejala diare 4.1.Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati.

Tinja berbentuk cair 3. atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto. Buang air besar lebih dari 3-4 kali perhari 2. 1. Tida k Diar e = 1 2.1. Diar e = 0 Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data 3.6.kriteria program PHBS yang telah dimodifi kasi dan disesuai kan dengan masalah diare keperluan rumah tangga sehari-hari 1. 2010) 2 DependenKejadi Buang an diare pada air besar balita cair yang dialami oleh balita yang terpilih sebagai sampel dalam kurun waktu bulan Juli 2010 – Sekaran g 3. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yaitu suatu alat yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya.6. 2006). Jarak Sumber air dengan jamban 10 meter atau lebih 1. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan untuk variabel pengetahuan dan kejadian diare adalah kuisioner untuk . Air yang diminum selalu dimasak terlebih dahulu 3. Memiliki atau menggunaka n jamban 2. Dengan atau tanpa disertai lendir Kuisio Nomi ner nal jawaban ya = 100% Tidak sehat jika ada salah satu jawaban tidak (Depkes RI.

Jika diare diberi nilai 0. Kecamatan Sumber Jadi.7. dimana tujuan pokok penelitian adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam mengungkap fenomena (Nursalam. Jika tidak diare diberi nilai 1 2.1 Pengolahan dan Analisa Data Pengolahan Data Analisa data merupakan bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan.variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kuisioner yang digunakan disesuaikan dengan format PHBS dan diambil yang sesuai dengan masalah diare.6. Jika jawaban ya diberi nilai 1 2. 1) Coding.Nasir. Variabel pengetahuan Keterangan : n SP SM : Nilai yang didapat : skore yang didapat : skore yang maksimal (Arikunto. 3. 3. Jika jawaban tidak diberi nilai 0 3. 3. Pengumpulan Data Setelah mendapatkan ijin dari Direktur AKADEMI MELATI Bunga Jaya dan Kepala Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Variabel kejadian diare 1. Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut kriteria tertentu. 2003). 2005). Pada penelitian ini pengkodean sebagai berikut: 1.Nasir. 1. Kabupaten Sukolegowo untuk mendapatkan persetujuan sebagai responden penelitian. Klasifikasi ukumnya ditandai dengan kode tertentu yang biasanya berupa angka (Moh.7. Jawaban benar diberi nilai 1 2. 2) Skoring Scoring adalah penentuan jumlah skor bila ada jawaban ya diberi skor 1 dan bila tidak diberi skor 0 (Moh. 2005). Jawaban salah diberi nilai 0 3. 2006) . Variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 1.2. Variabel pengetahuan 1. peneliti mengadakan pendekatan pada ibu balita di desa Sukomakmur.

dan ditata untuk disajikan dan dianalisa. n : Frekwensi total atau keseluruhan (Budiarto E. 3. Proses tabulasi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan metode tally.Setelah persentase diketahui. Variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Keterangan : P : Persentase. 1.7. 2005). dan menggunakan komputer (Budiarto. kemudian hasilnya dikelompokkan pada kriteria: Kriteria sehat jika persentase 100% Kriteria tidak sehat jika persentase < 100% (Depkes. menggunakan kartu.2 1) Analisa Data Univariat Analisa data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul (Sugiono. 2002). 2001 : 37). disusun. Besarnya angka hasil perhitungan atau pengukuran diperoleh dengan cara dijumlahkan kemudian dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan sehingga diperoleh persentase. Dalam penelitian ini penyajian data dalam bentuk tabel yang menggambarkan distribusi frekwensi responden berdasarkan karakteristiknya dan tujuan penelitian. menurut Nursalam (2005) kemudian hasilnya dikelompokkan pada kriteria: Pengetahuan baik bila persentasenya 76-100%. Tabulasi adalah pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah. Pengetahuan cukup bila persentasenya 56-76% Pengetahuan kurang bila persentasenya < 56%.Nasir. f : Nilai yang diperoleh. 2006). Dengan . 2010) 3) Tabulating Tabulating adalah penyusunan data dalam bentuk tabel (Moh. Setelah persentase diketahui.

8 Etika Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menekankan pada masalah etika yang meliputi: . 3. pengetahuan cukup jika responden mampu menjawab benar sebanyak 56 – 75 % dan pengetahuan kurang jika responden mampu menjawab benar sebanyak < 56 % (Nursalam.menggunakan rumus sebagai berikut: Analisa data pengetahuan responden tentang penyakit diare menggunakan rumus : Keterangan : n SP SM : Nilai yang didapat : skore yang didapat : skore yang maksimal (Arikunto.05. 2010) Sedangkan variabel dependen kejadian diare dibagi dalam dua kategori yaitu jika tidak diare diberi skor 1 dan jika diare diberi skor 0. dengan signifikansi p = 0. 2) Bivariat Untuk mengetahui hubungan antara 2 variabel yaitu pengetahuan dengan kejadian diare pada balita digunakan uji korelasi spearman’s rho. Jika nilai p < 0. 2006) Untuk variabel pengetahuan responden tentang penyakit diare. Jika nilai p < 0. yaitu pengetahuan yang baik jika responden mampu menjawab benar sebanyak 76% – 100%. peneliti membagi pengetahuan menjadi 3. dengan signifikansi p = 0.05 maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya tidak ada hubungan antara Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden dengan kejadian diare pada balita.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan antara Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden dengan kejadian diare pada balita dan jika p > 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang nyata antara dua variabel yang diteliti.05 maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan responden dengan kejadian diare pada balita.05 artinya signifikan (ρ) dibawah atau sama dengan 0. Sedangkan untuk mengetahui hubungan 2 variabel yaitu Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita digunakan uji korelasi spearman’s rho.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan pengetahuan responden dengan kejadian diare dan jika p > 0.05 maka H1 diterima dan H0 ditolak. Uji statistik spearman’s rho digunakan untuk menghitung atau menentukan tingkatan hubungan atau korelasi antar dua variabel. 2003) Untuk Variabel Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kriteria sebagai berikut: Kriteria sehat jika jawaban nilai yang didapat 100%. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisa data adalah uji statistik spearman’s rho karena salah satu variabelnya ordinal. penelitian ini menggunakan teknik komputerisasi SPSS 15 dengan kemaknaan ρ: 0. kriteria tidak sehat jika nilai yang didapat kurang dari 100% (Depkes.05.

mempunyai hak untuk bersedia atau menolak menjadi responden. sehingga hasil penelitian masih kurang sempurna dan kurang memuaskan. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek.9. Informed consent Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian. Penyajian data dimulai dari gambaran umum tempat penelitian dan data umum tentang karakteristik responden meliputi 1) umur. Sampel dan jumlah sampel Banyaknya jumlah Ibu-ibu yang memiliki anak balita yang tinggal di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sehingga peneliti hanya mengambil sebagian responden yang terpilih sebagai sampel penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi penelitian ini. Jika subyek bersedia diteliti maka peneliti harus menghormati hak-hak reponden.8. sedangkan data . Serta mengetahui dampak yang akan terjadi selama dalam pengumpulan data. Adapun keterbatasan yang ada dalam penelitian meliputi : 3. Lembar tersebut hanya diberi nomer kode tertentu 3. Tujuannya agar subyek mengetahui maksud dan tujuan riset.2.9.8. 3. dalam setiap penelitian pasti mempunyai kelemahan-kelemahan yang ada. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Pada bagian ini berisi hasil dari pengumpulan data yang telah dilaksanakan selama enam hari mulai tanggal 13 Juni sampai dengan 18 Juni 2011. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Pada informed concent juga perlu dicantumkan untuk mengembangkan ilmu. Lembar persetujuan menjadi responden diedarkan sebelum riset dilakukan. 3. Hanya kelompok data tertentu yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian. kelemahan tersebut ditulis dalam keterbatasan. peneliti tidak akan mencantumkan identitas subyek pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subyek.3.9 Keterbatasan Aziz Alimul (2002) menyebutkan bahwa keterbatasan merupakan bagian riset keperawatan yang menjelaskan keterbatasan dalam penulisan riset.1. 3.2. 2) pendidikan 3) pekerjaan.8. yang dilaksanakan di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.1. Waktu Waktu penelitian terbatas.3.

259 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 2. Pada bagian berikut akan disampaikan hasil pembahasan terhadap penelitian guna menjawab pertanyaan dalam masalah penelitian.05. 2006).499 jiwa. Penduduk Desa Sukomakmur sebagian besar yaitu sebanyak 2.1. maka H1 diterima dan H0 ditolak. Untuk mengetahui signifikansi atau hubungan antara variabel dilakukan uji statistikspearman’s rho dengan fasilitas komputer SPSS versi 15 dengan tingkat kemaknaan ρ ≤ 0. sebelah selatan Desa Maju Jaya dan sebelah barat Desa Randu Pitu dan Desa Sumber Jadi. Adapun batas wilayah administrasi Desa Sukomakmur adalah sebagai berikut : Sebelah utara Desa Marga Jaya. .khusus meliputi 1) pengetahuan responden tentang penyakit diare 2) perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) 3) kejadian diare pada balita.292 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 4. Distribusi frekwensi responden menurut umur yang dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4. ketentuan terhadap penerimaan dan penolakan hipotesis apabila signifikansi ρ ≤ 0.1.07%) bekerja sebagai petani dan buruh tani. dengan perincian jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2. 4.05 maka H1 ditolak dan H0 diterima. (Sugioyono dan Eri. Data umum 1) Gambaran umum lokasi penelitian 34 Desa Sukomakmur merupakan salah satu dari 12 desa di wilayah Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dan termasuk Wilayah kerja Puskesmas Sumber Jadi Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. sebelah timur Desa Marga Tani. Desa Sukomakmur memiliki 1 Polindes dengan 1 tenaga Bidan Desa terdiri dari 5 (lima) Dusun dengan jumlah Posyandu sebanyak 5 buah Posyandu. Desa Sukomakmur terdiri dari 1.00 100 : Data primer Juni 2011. 2) Karakteristik responden menurut umur.05. Hasil Penelitian 4. apabila ρ > 0.1.658 jiwa (59.42 0.1 Distribusi Frekwensi Responden Menurut Umur di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Umur < 20 Tahun 20 – 30 Tahun 31 – 40 Tahun > 40 Tahun Jumlah Sumber Frekwensi 5 57 14 0 76 Persentase 6.1 Tabel 4.00 18.240 jiwa.58 75.

4) Karakteristik responden menurut jenis pekerjaan. 3) Karakteristik responden menurut tingkat pendidikan.47 44.0%) berumur 20-30 tahun. Tabel 4.2 Tabel 4.2 memberikan gambaran bahwa tingkat pendidikan responden hampir setengahnya yaitu sebanyak 34 orang (44. Distribusi frekwensi responden menurut tingkat pendidikan yang dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4. Distribusi frekwensi responden menurut jenis pekerjaan yang dikelompokkan menjadi 5 (lima) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.1 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 57 orang (75.00 35.74 1. . Bila dilihat dari tingkat pendidikan.3 Tabel 4. Tabel 4.2 Distribusi Frekwensi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Tingkat Pendidikan SD SMP / SLTP SMA / SLTA AKADEMI / PT Jumlah Sumber Frekwensi 11 30 34 1 76 Persentase 14.21 100 : Data primer Juni 2011.74%) adalah SMA/SLTA.47 39.32 100 : Data primer Juni 2011.63 0.53 34.Bila dilihat dari umur responden.3 Distribusi Frekwensi Responden Menurut Pekerjaan di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Pekerjaan Swasta Wr swasta Pns/tni/polri Buruh Tdk bekerja Jumlah Sumber Frekwensi 21 2 0 27 26 76 Persentase 27.63 2.

89 42.3 memberikan gambaran bahwa pekerjaan responden hampir setengahnya yaitu sebanyak 27 orang (35.1.11 100 : Data primer Juni 2011. 2) Karakteristik responden menurut kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Distribusi frekwensi responden menurut kriteria PHBS dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.53%) bekerja sebagai buruh 4.6 1.2.5 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57. Bila dilihat dari kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden.4 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 orang (67.Bila dilihat dari jenis pekerjaan responden.5 Tabel 4. 3) Karakteristik responden menurut kejadian diare pada balita . Tabel 4.5 Distribusi Frekwensi Responden Menurut kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Kriteria PHBS Sehat Tidak sehat Jumlah Sumber Frekwensi 44 32 76 Persentase 57. Tabel 4. Tabel 4.4 Distribusi Frekwensi Responden Menurut pengetahuan tentang diare di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Sumber Frekwensi 51 24 1 76 Persentase 67.89%) termasuk kriteria sehat.4 Tabel 4. Data Khusus 1) Karakteristik responden menurut pengetahuan tentang diare Distribusi frekwensi responden menurut pengetahuan tentang diare dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4. Bila dilihat dari pengetahuan responden tentang diare.3 100 : Data primer Juni 2011.1 31.1%) berpengetahuan baik.

10 Ya 2 22 1 25 % 2. Tabel 4.63% 0.32 100 uji spearman’s rho : p = 0.90 Total Jumlah 51 24 1 76 % 67.32% 32.89 100 Sumber: Data primer Juni 2011.7 Hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Pengetahuan Responden Baik Cukup Kurang Jumlah Kejadian Diare Pada Balita Tidak 49 2 0 51 % 64.47% 2.47%) berpengetahuan baik dan balitanya tidak mengalami kejadian diare.05 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita. Bila dilihat dari kejadian diare pada balita.6 Tabel 4.6 Distribusi Frekwensi Responden Menurut kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 Kejadian Diare Tidak diare Diare Jumlah Frekwensi 51 25 76 Persentase 67.10 31.95% 1.00% 67. Dibuktikan pada Tabel 4.8 Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo Pada Bulan Juni 2011 .6 memberikan gambaran bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 responden (67.Distribusi frekwensi responden menurut kejadian diare pada balita dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.7 dari 76 responden sebagian besar responden yaitu sebanyak 49 responden (64. 5) Hubungan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan Kejadian Diare Pada Balita Tabel 4.58 1. Tabel 4. Hasil uji spearman’s rho menunjukkan bahwa nilai ρ = 0.11 32.63% 28.000 < 0.000 Sumber : Data primer Juni 2011. 4) Hubungan pengetahuan dengan Kejadian Diare Pada Balita.11%) tidak mengalami kejadian diare pada balita.

1998 & dikutip Nursalam. Dari analisis data tentang pengetahuan responden terhadap penyakit diare dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 responden (67.11%) termasuk kriteria tidak sehat. Dari data analisis tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden dapat diketehui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57.11 Sehat 0 44 44 % 0 57. artinya terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita. 4.89%) termasuk kriteria sehat dan balitanya tidak mengalami kejadian diare.89 9.6%) berpengetahuan cukup dan sebagian kecil yaitu sebanyak 1 responden (1.1.B.000 < 0.05.000 Sumber : Data primer Juni 2011.2. baik dari media massa maupun dari orang lain. Usia responden antara 20-30 tahun yang merupakan usia dewasa dimana pada usia ini dimungkinkan lebih banyak berkumpul dan menyerap pengetahuan dari lingkungan dimana responden berinteraksi dengan lingkungan. 2005).3%) berpengetahuan kurang. 4.2. Pendidikan responden merupakan salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan pengetahuan karena dengan pendidikan yang baik maka responden dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pencegahan penyakit diare yang baik. Ini sesuai dengan pendapat Y.1%) berpengetahuan baik. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.89 Total Jumlah 25 51 76 % 32. Pengetahuan responden tentang penyakit diare di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Semakin dewasa umur. Pengetahuan yang baik dapat dipengaruhi dari tingkat pendidikan responden yang sebagian besar adalah SMA/SLTA.21 42. Mantra (2006) makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah juga orang itu menerima informasi.89 67.89 57.8 dari 76 responden sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57. hampir setengahnya yaitu 24 responden (31.2. Pembahasan 4. tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir (Huckluc. Hasil uji spearman’s rho menunjukkan bahwa nilai ρ = 0.11 100 uji spearman’s rho : p = 0.2. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan modal utama untuk pencegahan penyakit diare oleh karena itu sangat penting artinya bagi masyarakat untuk mengenal cara-cara mencegah . Dibuktikan bahwa pada Tabel 4.89%) termasuk kriteria sehat dan hampir setengahnya yaitu sebanyak 32 responden (42.Kejadian Diare Diare Tidak diare Total Kriteria Phbs Tidak Sehat 25 7 32 % 32.

11%) balitanya tidak mengalami kejadian diare dan hampir setengahnya yaitu sebanyak 25 responden (32.2. Hal ini sesuai degan apa yang disampaikan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa perilaku yang didasari oleh suatu pengetahuan yang baik akan berlangsung lebih langgeng dan menghasilkan hal yang lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh suatu pengetahuan Jenis pekerjaan responden yang hampir setengahnya adalah buruh dan tidak bekerja.4.penyakit diare sehingga tidak terjadi keparahan karena penyakit ini. Dari analisis data tentang hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 49 responden (64. Dari data analisis tentang kejadian diare pada balita dapat diketehui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 51 responden (67. Mantra (1994) menyebutkan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah juga orang itu menerima informasi.3%) jarak kurang dari 10 meter. Belum maksimalnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo hal ini dapat dipengaruhi oleh masih beragamnya tingkat pendidikan responden. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.95%) . afektif dan konatif. 4. baik dari media massa maupun dari orang lain.6%) tidak memiliki atau tidak menggunakan jamban dan dari kuisioner tentang jarak sumber air dengan jamban hampir setengahnya yaitu sebanyak 23 responden (29. Menurut Sunaryo (2004) disebutkan bahwa pengalaman langsung yang dialami individu terhadap obyek sikap berpengaruh terhadap sikap individu terhadap obyek sikap tersebut.B. Azwar (2003) menyebutkan bahwa sikap terdiri dari tiga komponen yaitu kognitif. Berdasarkan hasil kuisioner tentang kepemilikan jamban dari 76 responden hampir setengahnya yaitu sebanyak 21 responden (27.47%) berpengetahuan baik dan balitanya tidak mengalami kejadian diare. Y. Hubungan pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. Menurut Depkes RI (2006) sumber air minum yang tercemar mempunyai peranan dalam penyebaran beberapa penyakit menular termasuk penyakit diare karena sumber air minum merupakan salah satu sarana sanitasi yang berkaitan dengan kejadian diare. kuman dapat ditularkan dengan masuk ke dalam mulut melalui perantara cairan atau benda yang tercemar dengan tinja.3. Penyakit diare adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja dan merupakan penyakit menular sehingga siapapun beresiko untuk terkena penyakit diare apalagi bila tidak ditunjang dengan perilaku dan lingkungan sanitasi yang sehat. 4.89%) balitanya mengalami kejadian diare. jarak antara sumber air dan jamban yang terlalu dekat bisa menyebabkan pencemaran pada sumber air oleh bakteri escherichia coli yang merupakan bakteri penyebab diare. tingkat pendidikan yang rendah akan lebih sulit untuk menerima suatu informasi dibanding dengan yang berpendidikan lebih tinggi. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Orang lain dan budaya juga merupakan faktor pembentukkan sikap seseorang. Selain itu informasi yang diterima individu akan dapat menyebabkan perubahan sikap pada diri individu tersebut. sehingga kurang bisa saling berinteraksi satu sama lain untuk saling bertukar informasi tentang masalahmasalah kesehatan sehingga program PHBS belum sepenuhnya bisa diterima oleh seluruh lapisan Masyarakat. hampir setengahnya responden yaitu sebanyak 22 responden (28. Kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.2.

Pengetahuan akan sangat menunjang terhadap pemahaman seseorang tentang suatu penyakit termasuk pengetahuan ibu tentang penyakit diare akan sangat membantu dalam mencegah terjadinya penyakit diare pada balita. nilai uji spearman’s rho : p = 0. Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.63%) berpengetahuan baik dan balitanya mengalami kejadian diare. demikian sebaliknya perilaku yang buruk akan semakin memperbesar seseorang untuk terkena penyakit.89%) termasuk kriteria sehat dan balitanya tidak mengalami kejadian diare.000 hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0. perilaku yang positif akan mengurangi tingkat resiko terkena penyakit diare dan sebaliknya perilaku yang negatif akan semakin memperbesar resiko seseorang terkena penyakit.21%) termasuk kriteria tidak sehat dan balitanya tidak mengalami kejadian diare serta tidak satupun responden yang termasuk kreteria sehat dan balitanya mengalami kejadian diare. sebagian kecil responden yaitu sebanyak 2 responden (2. menurut Depkes RI (2010) disebutkan bahwa Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri dalam hal kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat disebutkan juga bahwa diare adalah salah satu penyakit yang berbasis lingkungan yang juga dipengaruhi oleh faktor perilaku masyarakat di bidang kesehatan.32%) berpengetahuan kurang dan balitanya mengalami kejadian diare. pengetahuan yang baik akan menunjang perilaku yang baik demikian sebaliknya pengetahuan yang kurang akan menyebabkan perilaku yang negatif atau perilaku yang tidak mendukung terhadap upaya kesehatan. Perilaku seseorang di bidang kesehatan akan berdampak pada kesehatannya. menurut Perkin (1938) yang dikutip oleh Azwar (2003) menyatakan bahwa sehat atau tidaknya seseorang tergantung dari adanya keseimbangan yang relatif dari suatu bentuk dan fungsi tubuh yang terjadi sebagai hasil dari kemampuan penyesuaian diri yang dinamis terhadap berbagai tenaga atau kekuatan yang umumnya bersumber dari lingkungannya sehingga timbul adanya penyakit yang menyebabkan sakit . Masyarakat yang termasuk kriteria tidak sehat dapat dimungkinkan menjadi salah satu penyebab masih adanya kasus penyakit diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. sebagian kecil responden yaitu sebanyak 2 responden (2.5. hampir setengahnya responden yaitu sebanyak 25 responden (32. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga bisa mencerminkan peran serta masyarakat dalam menjaga kondisi lingkungan suatu tempat agar tetap bersih dan sehat. Hal ini sesuai degan apa yang disampaikan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa perilaku yang didasari oleh suatu pengetahuan yang baik akan berlangsung lebih langgeng dan menghasilkan hal yang lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh suatu pengetahuan. Dari analisis data tentang hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 44 responden (57. 4.2. Keberhasilan dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit diare di masyarakat merupakan hasil yang dicapai dengan adanya pengetahuan yang baik yang diwujudkan dengan kegiatan/program upaya pencegahan dari penyakit tersebut.63%) berpengetahuan cukup dan balitanya tidak mengalami kejadian diare dan sebagian kecil responden yaitu sebanyak 1 responden (1.000 < 0.berpengetahuan cukup dan balitanya mengalami kejadian diare. Semakin baik perilaku seseorang maka akan semakin kecil resiko seseorang untuk terkena penyakit.05 sehingga H1 diterima yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di Desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo.89%) termasuk kreteria tidak sehat dan balitanya mengalami kejadian diare dan sebagian kecil responden yaitu sebanyak 7 responden (9.

Sebagaimana dikemukakan oleh C. 5) Ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. 2) Bagi Instansi terkait .1 Kesimpulan 1) Pengetahuan responden tentang diare di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebagian besar adalah baik. dengan lingkungan yang baik akan membantu masyarakat dalam mengurangi resiko akibat dari lingkungan. 5.2 Saran 1) Bagi profesi keperawatan Terwujudnya suatu asuhan keperawatan komunitas yang paripurna dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan yang baik dari perawat itu sendiri. 4) Ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian “hubungan pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita” 5. 3) Kejadian diare pada balita di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebagian besar adalah tidak terjadi. Terciptanya lingkungan yang cukup dan dinamis dapat menunjang kehidupan dan kesehatannya yang pada saat ini telah banyak dilaksanakan manusia dengan program pencegahan. Hubungan antara pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita harus menjadi perhatian dari profesi keperawatan komunitas dalam melaksanakan asuhan keperawatan di masyarakat. 2) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden di desa Sukomakmur Kecamatan Sumber Jadi Kabupaten Sukolegowo sebagian besar adalah sehat. Upaya pencegahan penyakit diare karena pengaruh lingkungan dapat dilaksanakan dengan program kesehatan dan membuat kondisi lingkungan yang sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan dimasyarakat tersebut. Roy dalam teori adaptasinya dinyatakan bahwa semua kondisi lingkungan yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan perilaku seseorang.atau tidaknya seseorang tergantung ada tidaknya suatu proses yang dinamis dan merupakan hubungan yang timbal balik. sehingga asuhan keperawatan komunitas dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh semua pihak.

Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Program Perawatan Kesehatan Masyarakat harus lebih digiatkan lagi dengan melibatkan seluruh unsur tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas serta melibatkan Kader Kesehatan Desa sehingga Program Kesehatan yang dilaksanakan di Masyarakat bisa lebih mengenai sasaran dan sesuai dengan tujuan yaitu meningkatkan derajat kesehatan Masyarakat.44 Puskesmas melalui Petugas kesehatan lebih aktif dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan cara memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang masalah kesehatan khususnya tentang tata cara pemberian ASI pada balita yang diare dan cara penanganan awal pada balita yang menderita diare khusunya dalam mencegah agar tidak terjadi kekurangan cairan (dehidrasi) sehingga pemahaman masyarakat tentang cara penanganan terhadap penyakit diare akan lebih baik dan resiko kekurangan cairan bisa dicegah. Jakarta : Rineka Cipta Aziz. Teori dan Pengukurannya. Suharsini. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. R I. 4) Bagi Peneliti Perlu untuk menambah dan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan terutama tentang penyakit diare serta perlu memperbaiki dan melakukan penelitian lebih lanjut agar lebih sempurna. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. mengusahakan jarak WC/Jamban dengan sumber air/sumur 10 meter atau lebih. sehingga bisa menghindari resiko terhadap suatu penyakit khususnya penyakit yang berdampak lingkungan termasuk penyakit diare. 2006. 2009. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. (2005). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008. Program Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu untuk lebih dikenalkan di masyarakat terutama tentang kreteria jamban keluarga yang sehat sehingga pemahaman dan kesadaran masyarakat akan kesehatan akan semakin baik. Prosedur Penelitian Kesehatan. E.. . R I. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. Jakarta: Salemba Medika Azwar. 3) Bagi Masyarakat Pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) responden yang termasuk kriteria baik perlu untuk dipertahankan dan berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diare sedangkan yang pengetahuan termasuk kategori cukup dan kurang perlu untuk menambah pengetahuan dan dapat mengetahui permasalahan yang ditimbulkan oleh penyakit diare. Depkes. S.. A. tidak buang air besar di kali/saluran air tetapi buang air besar pada jamban/WC. Jakarta: EGC Depkes. Bagi responden yang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) termasuk kriteria tidak sehat diharapkan supaya berperilaku lebih positif dengan melakukan kebersihan lingkungan. Jakarta: Ditjen PPM dan PL. (2003). Budiarto. Jakarta: Ditjen PPM dan PL. Sikap Manusia.. 2002.

A. Yogyakarta : Andi Offset Notoatmodjo S. 2006. 2006. 2011. Nursalam. Nursalam & Pariani. Sugiono. Ed. Buku Bagan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Muhidin. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sukolegowo 2010. dan Abdurahman. Jakarta : Aesculapius Muhidin. Jakarta: Ditjen PPM dan PL. Sukarni. Notoatmodjo S. Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah. Edisi ke lima. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. 2011. 2010. 2001. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan. Mansjoer Arief. Widyastuti. Metodologi Riset Keperawatan. Olah Data Simpustronik. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. 2002. Diare Akut pada Anak. 2010. Metode Penelitian Administrasi. 2010. Bandung: Kanisius Widjaja. Satroasmoro. Bandung: Alfabeta. Sudigdo 2002. Pendekatan Praktis Metodologi Keperawatan. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. 2001. M. 2008.. Dinkes Sukolegowo. Depkes. Regresi. dan Jalur dalam Penelitian. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Press. Jakarta: Depkes RI. 2007. Panduan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Rumah Tangga. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan.. Jakarta : CV. 2003. Bandung: Alfabeta. 2007. Sukolegowo: Puskesmas Sumber Jadi. 2002. Sukolegowo: Dinkes Sukolegowo. Edisi 2. Epidemiologi Suatu Pengantar.. Bunga Jaya: AKADEMI MELATI. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Luluk Sulistiyono. Jakarta: Sagung Seto. S. R I. Jakarta: PT Rineka Cipta. Nursalam. 2011.Depkes.. Notoatmodjo S. Jakarta: Sagung Seto. 2005. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Sugiono. Ketiga Jilid kedua.. M. dan Abdurahman. Jakarta: Kawan Pustaka. Jakarta: Salemba Medika. .. Analisis Korelasi. Soebagyo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. R I. Puskesmas Sumber Jadi. 2005. Statistika untuk penelitian. 2007. Jakarta: EGC. Metodologi penelitian kesehatan. 2005. M. P.. R I. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. S. dkk.. 2005. Sagung Seto.. Bandung: Pustaka Setia. Depkes. Kapita Selekta Kedokteran. A.

Lampiran 1 KUESIONER UNTUK RESPONDEN PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA Petunjuk Pengisian 1. Buruh 5. Beri tanda silang (X) pada jawaban kotak di sebelah kiri pilihan jawaban anda. SD 2. No Resp : (diisi petugas/peneliti) 3. SMP/ SLTP 3. PNS / TNI / POLRI 4. 2. PENDIDIKAN IBU     1. Wiraswasta 3. UMUR IBU  1. Data Demografi 1. SMA/SLTA 4. AKADEMI/PT 2. Swasta 2. PEKERJAAN IBU      1. Tidak bekerja 3. < 20 Tahun .

Anak Remaja c. 3. Anak kelihatan gembira b. Penyakit Kulit d. Kejadian Diare Petunjuk Pengisian Kuesioner 1. Pengetahuan responden tentang penyakit diare 1. > 40 tahun 1. Buang air besar encer 3 – 4 kali d. Penyakit Tenggorokan 1. Bapak – bapak d.   2. Apakah anak ibu mulai bulan Juli 2010 sampai sekarang pernah mengalami diare? a. Buang air besar lembek kurang dari 3 kali sehari c. 20 – 30 Tahun 3. 2. 31. Penyakit Telinga Menurut anda bagaimana tanda-tanda diare pada balita? a. Ya b. Baca kembali semua pertanyaan pastikan tidak ada yang terlewatkan. Bacalah dengan teliti setiap soal dan pilihan jawabannya. Menurut anda apa yang bisa menyebabkan diare pada anak balita? a. Menurut anda siapakah yang paling berisiko terkena penyakit diare a. Apa yang dimaksud dengan diare ? a. Orang Dewasa b. Tinja cair atau encer . Anak balita 1. Buang air besar sekali sehari b. Penyakit saluran pencernaan c. Tidak 1. Buang air besar 2 kali sehari atau lebih dalam sehari 1. b. Beri tanda silang (Χ) pada pilihan jawaban anda.40 Tahun 4.

Tubuh anak kelebihan cairan c. Tubuh anak kelebihan berat badan b. c. Tidak muntah 1. Panas badan tinggi b. Tubuh anak akan kelebihan berat badan b. Tubuh anak kekurangan cairan d. Buang tinja sembarangan b. hal ini disebabkan? a. Tubuh anak akan kelebihan makanan 1. Menurut anda hal-hal yang bisa menyebabkan diare adalah? a. Anak yang menderita diare bila tidak segera ditangani maka ? a. Bagaimana keadaan anak apabila mengalamai diare? a. Buang air besar encer 3 – 4 kali d. Menurut anda bagaimana cara penularan penyakit diare? a. Nafsu makan tidak berubah d. Tubuh anak kelebihan makanan 1. Melalui pakaian b. Melalui pandangan mata 1. Tubuh anak akan kekurangan cairan d. Sari buah d. Melalui pernafasan c. Air tajin dan kuah sayur b.c. Oralit c. Tidak cuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar. Semua benar 1. Penyebab utama penyakit diare adalah dari? . Menggunakan air yang tercemar d. Semua benar atau lebih dalam sehari 1. Muntah sebelum dan sesudah diare c. Apa yang bisa diberikan pada anak apabila menngalami diare sebelum anak dibawa ke fasilitas kesehatan? a. Anak yang mengalami diare maka akan lemas. Semua benar 1. Tubuh anak akan kelebihan cairan c. Melalui makanan atau minuman d.

Dicuci kemudian direbus sampai air b.a. mendidih c. Air bersih. d. Memberikan ASI c. Lingkungan yang sehat b. Jajan sembarangan b. Dicuci saja tanpa direbus. Semua benar 1. Makanan yang kotor d. Lingkungan yang kotor d. c. Menggunakan air bersih d. Semua benar 1. Air matang. Lingkungan yang bisa menimbulkan penyakit diare adalah? a. Semua benar 1. Makanan dan minuman d. Bahan makanan segar. Semua benar 1. Memberikan imunisasi campak b. Semua benar 1. Bahan makanan yang digunakan untuk membuat makanan balita adalah ? a. Hal-hal yang bisa menimbulkan penyakit diare adalah? a. Perhiasan b. Botol yang dipergunakan untuk memberikan susu formula pada balita dibersihkan dengan cara? a. Sumber air minum yang tercemar c. Cuci tangan sebelum menyuapi anak c. Bahan makanan yang sudah . b. Pakaian c. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko diare pada anak adalah? a. Selalu diganti dengan botol yang baru d. Air yang digunakan untuk mengolah makanan balita harus ? a. Botol susu selalu dibersihkan atau direbus sebelum digunakan b. Pemberian ASI secara penuh 4-6 bulan d. Menurut anda apa yang bisa dilakukan untuk mencegah agar anak tidak terkena diare? a. Semua benar 1. Lingkungan yang bersih c. b. Air mentah. Semua benar 1.

layu. c. Bahan makanan yang kadaluwarsa. d. Semua benar
1. Cara yang baik untuk memanaskan makanan cair balita yang sudah menjadi dingin adalah ?

a. Dipanaskan tanpa menunggu sampai mendidih. c. Dipanaskan sampai mendidih.

b. Dihangatkan saja. d. Semua benar

1. Apabila anak yang masih minum ASI mengalami diare dan disertai muntah apakah ASI tetap perlu diberikan?

a. Tetap diberikan. c. Diberikan kalau minta saja

b. Tidak diberikan. d. Terserah ibunya

1. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Petunjuk Pengisian Kuesioner 1. Bacalah dengan teliti setiap soal dan pilihan jawabannya. 2. Beri tanda centang ( V ) pada pilihan jawaban anda.

No. 1 2 3 4

Pertanyaan Apakah anak ibu pada saat lahir sampai umur 2 hari hanya diberi ASI saja? Apakah anak balita dalam tiga bulan terakhir ditimbang setiap bulan ? Apakah untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, menggunakan air bersih ? Apakah sebelum makan dan atau setelah buang air besar, dll, anggota rumah tangga mencuci tangan dengan air bersih dan sabun ? Apakah tersedia ( memiliki atau menggunakan ) jamban di rumah tangga ? Apakah jarak sumber air dengan jamban 10 meter atau lebih? Apakah air yang diminum selalu dimasak terlebih dahulu?

Ya

Tidak

5 6 7

Lampiran 2
KISI-KISI DAN KUNCI JAWABAN KUISIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA

1. Pengetahuan responden tentang diare. 1. Pengertian diare 2. Penyebab diare 3. Tanda-tanda dan gejala diare 4. Cara penyebaran atau penularan diare 5. Cara pencegahan diare 6. Cara penanganan atau penatalaksanaan diare

1. Komponen PHBS 1. Pemberian ASI esklusif 2. Balita ditimbang dalam tiga bulan terakhir 3. Cuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan atau setelah buang air besar, dll, 4. Menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga seharihari 5. Memiliki atau menggunakan jamban di rumah tangga 6. Air yang diminum selalu dimasak terlebih dahulu 7. Jarak Sumber air dengan jamban 10 meter atau lebih

1. Kunci jawaban

No 1 2 3 4 5 6

Jawaban C D A B D B

No 11 12 13 14 15 16

Jawaban B D B D D A

7 8 9 10

D B D B

17 18 19 20

C A C A

Lampiran 3 TABULASI HASIL PENELITIAN VARIABEL PENGETAHUAN NO RESP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 NO SOAL KUISIONER 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 13 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 15 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 16 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

17

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 .

53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 JML % 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 68 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 64 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 76 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 68 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 72 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 76 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 73 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 76 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 62 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 76 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 76 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 66 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 76 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 66 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 65 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 74 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 76 89% 84% 100% 89% 95% 100% 96% 100% 82% 100% 100% 87% 100% 87% 86% 97% 100 PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) NO RESP 1 NO SUB VARIABEL PHBS 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 JML 7 KRITERIA SEHAT .

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 NO RESP 26 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 7 7 6 7 7 7 4 7 4 7 5 7 7 4 7 7 7 7 7 4 7 7 4 JML 7 TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT KRITERIA SEHAT NO SUB VARIABEL PHBS 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 .

27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 NO 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 7 7 7 5 7 7 7 7 4 7 4 6 5 7 7 7 5 7 7 5 6 7 5 7 JML SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT KRITERIA NO SUB VARIABEL PHBS .

RESP 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 5 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 6 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 7 6 5 7 6 6 7 7 6 4 6 7 7 6 7 7 5 6 7 6 6 TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT TIDAK SEHAT .

0% 89.4% 98.7% 100.10% TABULASI KUISIONER PENELITIAN NO KEJADIAN PENDIDIKAN PEKERJAAN UMUR PHBS PENGETAHUAN RESP DIARE 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 3 2 2 3 2 3 2 3 1 2 3 2 3 1 3 2 1 2 3 3 2 1 1 5 5 1 1 4 1 1 4 1 4 5 2 4 4 5 4 4 1 5 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 2 3 2 3 2 3 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 .0% 85.7% 100.4% 69.74 75 76 Jumlah % 1 1 1 74 1 1 1 75 1 1 1 76 0 1 1 65 1 1 1 55 1 1 0 53 1 1 1 76 6 7 6 474 TIDAK SEHAT SEHAT TIDAK SEHAT 97.5% 72.

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 1 3 3 2 3 3 1 2 3 3 3 3 2 1 2 1 2 2 1 3 2 1 3 3 3 3 2 1 2 2 3 3 4 4 4 1 4 4 4 5 5 4 4 1 5 4 5 1 5 5 4 1 5 1 5 1 5 1 5 1 5 4 4 2 2 2 3 3 3 2 1 3 2 2 3 3 1 1 1 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 3 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 .

54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 2 3 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 3 3 3 2 1 3 3 4 2 2 2 1 4 5 1 5 5 4 1 5 4 4 5 5 5 1 4 1 5 5 5 4 4 4 3 2 3 3 3 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 3 2 2 Keterangan 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 2 2 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 2 2 3 2 3 2 3 3 NO Uraian Skor 1 SD SLTP SLTA PT SWASTA 2 3 4 Keterangan 1 PENDIDIKAN 2 PEKERJAAN 1 .

2 3 4 5 1 3 UMUR 2 3 4 0 1 1 0 3 6 PENGETAHUAN 2 1 WR SWASTA PNS/TNI/POLRI BURUH TDK BEKERJA < 20 Tahun 20 – 30 Tahun 31.40 Tahun > 40 tahun DIARE TIDAK DIARE SEHAT TIDK SEHAT BAIK CUKUP KURANG 4 KEJADIAN DIARE 5 PHBS Lampiran 4 HASIL UJI SPSS 15 Frequencies Statistics UMUR N Valid Missing 76 0 PENDIDIKAN PEKERJAAN 76 0 76 0 DIARE 76 0 .

2 100.Frequency Table UMUR Frequency Valid < 20 TH 20 – 30 TH 31 – 40 TH Total 5 57 14 76 Percent 6.0 Valid Percent 14.5 34.6 100.0 18.5 39.5 53.6 35.6 35.3 100.0 Cumulative Percent 6.4 100.3 100.0 Valid Percent 6.9 98.5 34.0 Valid Percent 27.0 18.5 44.0 Cumulative Percent 27.6 2.8 100.0 Cumulative Percent 14.6 75.3 65.0 PEKERJAAN Frequency Percent Valid SWASTA WIRASWASTA BURUH TIDAK BEKERJA Total 21 2 27 26 76 27.5 39.6 81.5 44.6 2.0 PENDIDIKAN Frequency Valid SD SLTP SLTA PT Total 11 30 34 1 76 Percent 14.7 1.6 30.2 100.7 100.7 1.4 100.6 75.0 .

3 32.1 100.1 57.0 Cumulative Percent 42.0 42.9 100.1 100.9 67.0 Cumulative Percent 1.6 67.0 KEJADIAN DIARE Frequency Percent Valid DIARE TIDAK DIARE Total 25 51 76 32.1 57.9 100.3 31.PENGETAHUAN Frequency Percent Valid KURANG CUKUP BAIK Total 1 24 51 76 1.9 100.0 Crosstabs .1 100.9 67.6 67.0 KRITERIA PHBS Frequency Valid TIDAK SEHAT SEHAT Total 32 44 76 Percent Valid Percent 42.0 Cumulative Percent 32.0 Valid Percent 32.3 31.1 100.1 100.9 100.0 Valid Percent 1.

0% N 0 Missing Percent .0% N 76 Total Percent 100.Case Processing Summary Cases Valid N PENGETAHUAN * DIARE 76 Percent 100.0% N 76 Total Percent 100.0% DIARE * KRITERIA PHBS Crosstabulation .0% PENGETAHUAN * DIARE Crosstabulation Count DIARE DIARE PENGETAHUAN KURANG CUKUP BAIK Total Crosstabs TIDAK DIARE 0 2 49 51 Total 1 24 51 76 1 22 2 25 Case Processing Summary Cases Valid N DIARE * KRITERIA PHBS 76 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .

000 76 Correlations DIARE Correlation Coefficient Sig.880(**) .880(**) .821(**) .000 .Count KRITERIA PHBS TIDAK SEHAT DIARE Total Nonparametric Correlations Total SEHAT 0 44 44 25 51 76 DIARE TIDAK DIARE 25 7 32 Correlations PENGETAHUAN Spearman’s rho PENGETAHUAN Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) 1.000 Spearman’s rho DIARE .01 level (2-tailed). (2-tailed) N DIARE Correlation Coefficient Sig.000 . 76 1. (2-tailed) N ** Correlation is significant at the 0. KRITERIA PHBS . 76 .000 76 1.000 . Nonparametric Correlations DIARE .

8 84.N KRITERIA PHBS Correlation Coefficient Sig.0 Valid Percent 10.2 100.0 .5 100.0 Cumulative Percent 15.0 SOAL NOMER 2 Frequency Valid SALAH BENAR Total 12 64 76 Percent 15.000 76 76 1.0 Cumulative Percent 100.8 84.0 SOAL NOMER 3 Frequency Valid BENAR 76 Percent 100.5 89.0 Cumulative Percent 10.0 Valid Percent 100.5 89.01 level (2-tailed). 76 DISTRIBUSI FREKWENSI JAWABAN RESPONDEN SOAL NOMER 1 Frequency Valid SALAH BENAR Total 8 68 76 Percent 10.5 100.5 100.2 100.8 100.0 Valid Percent 15. 76 .000 .821(**) . (2-tailed) N ** Correlation is significant at the 0.

0 Valid Percent 3.9 100.0 SOAL NOMER 7 Frequency Valid SALAH BENAR Total 3 73 76 Percent 3.3 94.9 96.0 Cumulative Percent 10.3 100.0 Valid Percent 10.0 Cumulative Percent 5.0 SOAL NOMER 5 Frequency Valid SALAH BENAR Total 4 72 76 Percent 5.0 Valid Percent 5.5 100.0 Cumulative Percent 3.5 89.5 100.SOAL NOMER 4 Frequency Valid SALAH BENAR Total 8 68 76 Percent 10.0 SOAL NOMER 6 Frequency Valid BENAR 76 Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 Valid Percent 100.5 89.9 96.1 100.0 .5 100.7 100.1 100.7 100.3 94.

4 81.0 SOAL NOMER 9 Frequency Valid SALAH BENAR Total 14 62 76 Percent 18.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 100.0 Valid Percent 18.0 SOAL NOMER 11 Frequency Valid BENAR 76 Percent 100.0 Cumulative Percent 100.6 100.4 100.4 81.0 Cumulative Percent 100.6 100.0 SOAL NOMER 12 .0 SOAL NOMER 10 Frequency Valid BENAR 76 Percent 100.SOAL NOMER 8 Frequency Valid BENAR 76 Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Cumulative Percent 18.

0 Cumulative Percent 100.0 Valid Percent 14.0 Valid Percent 13.0 SOAL NOMER 13 Frequency Valid BENAR 76 Percent 100.0 SOAL NOMER 15 Frequency Valid SALAH BENAR Total 11 65 76 Percent 14.2 86.2 86.Frequency Valid SALAH BENAR Total 10 66 76 Percent 13.5 100.8 100.5 100.8 100.5 85.8 100.5 100.2 100.0 Cumulative Percent 13.0 Valid Percent 100.2 86.0 Valid Percent 13.2 86.0 Cumulative Percent 14.0 Cumulative Percent 13.0 SOAL NOMER 14 Frequency Valid SALAH BENAR Total 10 66 76 Percent 13.0 SOAL NOMER 16 .8 100.2 100.5 85.

5 100.6 97.9 92.9 100.6 100.0 Cumulative Percent 2.0 Cumulative Percent 7.6 97.1 100.0 Valid Percent 7.4 100.Frequency Valid SALAH BENAR Total 2 74 76 Percent 2.0 Valid Percent 10.5 100.0 Cumulative Percent 100.5 89.0 SOAL NOMER 17 Frequency Valid BENAR 76 Percent 100.0 Valid Percent 100.0 Valid Percent 2.4 100.5 89.0 SOAL NOMER 19 Frequency Valid SALAH BENAR Total 6 70 76 Percent 7.1 100.0 SOAL NOMER 20 Frequency Percent Valid Cumulative .5 100.0 Cumulative Percent 10.9 92.0 SOAL NOMER 18 Frequency Valid SALAH BENAR Total 8 68 76 Percent 10.

Tanggal 13 Juni 2011 Peneliti Responden .Percent Valid SALAH BENAR Total 19 57 76 25.0 100.0 100. data maupun informasi yang akan saya berikan.0 25. Sebelumnya saya telah diberi penjelasan tentang tujuan Penelitian Ilmiah ini dan saya telah mengerti bahwa peneliti akan merahasiakan identitas. saya menyatakan : Bersedia menjadi responden dalam penelitian Ilmiah. Bahwa saya diminta untuk berperan serta dalam Penelitian Ilmiah ini sebagai responden dengan mengisi angket yang disediakan oleh penulis. Peneliti NIM : :. tanpa ada unsur pemaksaan dari siapapun.0 Percent 25.0 Lampiran 5 PERNYATAAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN Judul : Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Dengan Kejadian Diare Pada Balita. Apabila ada pertanyaan yang diajukan menimbulkan ketidaknyamanan bagi saya. peneliti akan menghentikan pada saat ini dan saya berhak mengundurkan diri.0 75.0 100. Demikian persetujuan ini saya buat secara sadar dan suka rela. Sukolegowo.0 75.

…………………………………… Lampiran 6 JADWAL KEGIATAN PENELITIAN NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KEGIATAN Pembuatan Judul Konsultasi Judul Studi Kepustakaan Penyusunan Proposal Ujian Proposal Revisi Proposal Perijinan Skripsi Pengumpulan Data Pengolahan Data dan Analisa Data Ujian/Sidang Skripsi Revisi Skripsi : BULAN MEI 2011 X X X X X X X X X X X X X X X X JUNI 2011 JULI 2011 Keterangan X = Pelaksanaan kegiatan .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->