P. 1
aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba.docx

aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba.docx

|Views: 1,271|Likes:
Published by Fachru Reza Rochili
Laporan praktikum
Laporan praktikum

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Fachru Reza Rochili on Apr 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba MARCH 24, 2012 BY ADMIN LEAVE A COMMENT PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP

PERTUMBUHAN MIKROBA

Tujuan : Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba Dapat menarik kesimpulan dan menyikapi hal tersebut jika terlibat lagi dalam proses mikrobiologi Teori :

Kehidupan mikroorganisme umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Ada 3 macam faktor lingkungan yang mempengaruhi, yaitu : Faktor fisis, misalnya : suhu, pH, tekanan osmotik, kandungan oksigen dan lain-lain Faktor kimia, misalnya senyawa beracun atau senyawa kimia lain yang berfungsi sebagai bahan makanan Faktor biologis, misalnya : interaksi dengan mikroba lainnya Pengaruh Suhu Peranan suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme sebenarnya merupakan petunjuk adanyapengaruh suhu pada enzim di dalam sel mikroorganisme, Bila suhu rendah (di bawah optimum), aktivitas enzim juga rendah dan dengan demikian pertumbuhan mikroba menjadi lambat. Pada titik beku (di bawah minimum) semua aktivitas metrabolisme di dalam sel terhenti. Hal ini tidak hanya disebabkan karena penghambatan aktivitas enzim secara langsung, tetapi juga karena sel kehilangan air yang sangat diperlukan untuk penyerapan zat-zat makanan dan pengeluaran hasil-hasil buangan sel. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan suhu optimum : 0 – 20 °C 20 – 50 °C 50 – 100 °C Pengaruh pH Mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada jarak pH tertentu, misalnyabakteri pada pH 6,5 – 7,5, khamir pada pH 4,0 – 4,5, sedangkan kapang pada selang pH yang lebih luas. Untuk menahan perubahan pH, ke dalam medium sering ditambahkan larutan buffer (penyangga) dengan tujuan agar diperoleh pertumbuhan mikroorganisme yang baik, sebab pada pH optimumnya, pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan pH tempat tumbuhnya : = Psikrofil = Mesofil =Termofil

pH asam pH basa pH netral

: Asidofil : Alkalofil : Neutrofil

Pengaruh bahan kimia (Desinfektan) Untuk membandingkan kekuatan desinfektan alam menghambat pertumbuhan bakteri dapat digunakan cakram kertas. Pada cara ini cakram kertas dengan diameter tertentu dibasahi dengan desinfektan, kemudian diletakkan pada permukaan agar dalam cawan petri yang telah di inokulasi. Kemudian diinkubasi selama 48 jam. Jika desinfektan menghambat pertumbuhan bakteri, maka akan terlihat daerah bening di sekeliling cakram kertas. Luas daerah benda ini menjadi ukuran kekuatan daya kerja desinfektan Zat makanan yang diserap bakteri, sebagian akan digunakan untuk membangun protoplasmanya sehingga tumbuh mencapai besar tertentu kemudian membelah diri (berkembang biak)perkembangan bakteri. Bakteri berkembang biak dengan jalan membelah diri, dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4 dan seterusnya. Interval waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya:

Escherichia coli membelah diri setiap 15-29 menit Salmonella typhy membelah diri setiap 23-24 menit Sthaphylococcus tuberculosis membelah diri setiap 792-932 menit Treponema pallida membelah diri setiap 1980 menit

Bila suatu jenis bakteri dalam keadaan yang baik dan makanan yang cukup dan membelah setiap 30 menit maka 1 bakteri yang membelah diri mulai jam 09.00 maka pada jam 12.00 akan menjadi 64, pada jam 24.00 menjadi 17.000.000 dan pada jam 09.00 esok harinya menjadi 280.000.000.000.000 untunglah perkembangbiakan secepat ini tidak terjadi di alam karena banyak sekali faktor yang memperngaruhi kehidupan bakteri.

Pengaruh Lingkungan pada Pertumbuhan dan Perkembangan Bakteri

a. Pengaruh suhu

Tiap jenis bakteri mempunyai suhu optimum di mana pertumbuhannya paling baik berdasarkan hal ini bakteri dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

Golongan

Suhu Pertumbuhan Minimun Optimum Maksimum 10-15 25-37 50-60 30 40-55 60-90

Psychrophil 0 Mesophil 15-25

Thermophil 25-45 dalam satuan derajat Celcius

bakteri-bakteri patogen pada manusi termasuk bakteri mesopil. Suhu optimumnya sama degan suhu tubuh manusia (37 C)

1. Pengaruh suhu rendah. Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bakteri, bahkan ada yang tahan bertahun-tahun pada minus 70 Celcius (C) Bakteri yang patogen pada manusia umunya mati pada suhu 0 C

2. Pengaruh suhu tinggi Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila bakteri dipanaskan pada suhu di atas suhu maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri baik patogen maupun tidak dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 menit pada suhu 60-65 C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.

b. Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.

c. Pengeringan (kelembaban)

Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar ke dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab, dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang kering. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan pengeringan. Pada suasana kering ini bakteri tidak dapat merombak bahan makanan yang ditempatinya. Di laboratorium bakteri atau virus dapat dipertahankan hidup dalam keadaan kering, bila pembenihan dibekukan secara cepat kemudian dikeringkan secara cepat pula di dalam ruang vacum (hampa udara). Cara ini penting dalam pembentukan stok (cadangan) bakteri, virus, enzim, toxin, dan plasma darah, yang biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Serbuk ini sangat lyophil (suka air) karena itu pembuatannya disebut proses lyophil.

d. Keasaman (pH)

Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) agau sedikit basa (pH 7,2-7,4) tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5-7,5. Bakteri-bakteri yang patogen pada manusia tumbuhan baik pada pH 6,8-7,4, yaitu sama dengan pH darah. Beberapa bakteri dapat hidup pada suasana asam, misalnya bakteri yang hidup pada gusi manusia, yaitu Streptococcus mutans. Ada pula bakteri yang tumbuh baik pada suasana basa misalnya Vibrio cholera.

e. Pengaruh O2 dari udara

Berdasarkan responnya terhadapa 02 bebas ini, bakteri dibagi dalam 3 golongan , yaitu: Bakteri aerob (obligate aerob), yaitu bakteri yang hanya hidup di dalam lingkungan yang mengandung 02 bebas. Misalnya: Vibrio cholera, Bacillus anthracis,Corynebacterium diptheriae. Bakterii anaerob (obligate anaerob), yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung 02 bebas. Misalnya, Clostridium tetani,treponea pallida. Fakultatif aerob, yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan, baik yang mengandung 02 bebas ataupun tidak. Misalnya: Salmonella typhi, Neisseria meningitis dan Streptococcus pyogenes. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada umumnya akan lebih baik tumbuh pada lingkungan yang mengandung sedikit 02 bebas, karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

f. Pengaruh tekanan osmotik

Akan tetapi. PEMBAHASAN . Memblokir beberapa reaksi kimia. Hydrolusa. karena mempunyai membran sitoplasma yang secara aktif mengatur ke luar masuknya zat ke dalam sel bakteri. Misalnya preparat sulfa memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroba. Pengaruh faktor keasaman terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur itu terganggu. bakteri tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan osmotik cairan di sekitarnya.Air keluar dan masuk ke dalam bakteri melalui proses osmosis. karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan yang ada di dalam dengan yang ada di luar sel bakteri. Asam atau basa kuat dapat menghidroliskan struktur sel sehingga hancur. Mengubah sifat koloid protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakteri. Pengaruh faktor cahaya terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. g. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di alam. pengaruh desinfektan terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Indan Entjang: PT. Terjadi ikatan kimia. Oksidasi. Pengaruh faktor kelembaban terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Kenyataan ini dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk mengawetkan ikan asing dan dendeng. Untuk kelangsungan hidupnya. Ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzim sehingga fungsi enzim itu terganggu. pengaruh faktor suhu terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. sumber: Mikrobiologi & Parasitologi: dr. larutan hipertonis di sekitar bakteri akan menyebabkan bakteri sukar atau sama sekali tidak dapat tumbuh bahkan dapat membunuhnya. Citra Aditya Bakti Tag: Pertumbuhan dan perkembangan bakteri.Pengaruh faktor oksigen terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Pengaruh faktor tekanan osmotik terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. misalnya mengoksidasi suatu enzim. FAktorfaktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. LAPORAN 8 (Pengujian Viabilitas Sel Khamir dan Uji Aktivitas Ragi) VI. termasuk air. Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba Mengubah permebialitas membran sitoplasma sehingga lalu-lintas zat-zat yang keluar masuk ke sel mikroba menjadi kacau.

44 gram fermipan. Sel khamir ini memiliki sifat-sifat fisiologi yang stabil. Sel yang masih hidup masih memiliki viabilitas sel yang baik. membran luar sel tidak dapat menahan cairan yang keluar masuk sel. Sedangkan sel yang masih hidup terlihat tidak berwarna di bawah mikroskop. dan tumbuh dengan sangat cepat. Mikroba utama dalam ragi roti ini adalah jenis khamir Saccharomyces cerevisiae. Tepung yang digunakan merupakan tepung yang memiliki kadar gluten yang tinggi sehingga cocok untuk pembuatan roti.1 gram ragi diawal dilakukan secara acak. Adanya sampel yang menunjukkan sel mati lebih banyak dari sel hidup dapat dipahami mengingat pengambilan 0. yang ditandai dengan warna bening. Volume adonan dapat berkembang karena khamir menghasilkan gas CO2 yang membuat adonan . Pengamatan yang dilakukan adalah pengembangan volume adonan roti yang telah dibuat. terdispersi dalam air.Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 November 2011. tidak semua mikroorganisme dapat terlihat dengan baik. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa sel khamir yang mati sebanyal 33 sel dan sel hidup sebanyak 15. sangat aktif dalam memecah gula. dan sel terlihat berwarna biru. mempunyai daya tahan simpan yang lama. Campuran tepung cakra dan fermipan kemudian ditambahkan dengan aquades hangat sedikit demi sekit hingga terbentuk adonan roti yang kalis. Ragi fermipan dibuat menjadi suspensi. lalu ambil satu ose sampel dan di inokulasi pada objek glas. Hal lain yang mungkin terjadi adalah kondisi lingkungan tidak cocok untuk ragi dan penambahan alkohol untuk membersihkan objek glass menyebabkan sel khamir banyak yang mati. Sel khamir yang masih hidup ini dapat menahan Methylen Blue. suspensi ditetesi lagi dengan Methylen Blue. Praktikum kali ini terdapat dua perlakuan yaitu. Karena jarak pandang yang terbatas yaitu hanya sati sisi saja.1 Pengujian Viabilitas Sel Khamir Ragi yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu fermipan. Pada saat pengamatan di mikroskop kita dapat melihat dan membedakan antara sel khamir yang mati dan hidup. Selain itu.1 g ragi roti ditambahkan dengan 10 ml aquades steril didalam erlenmeyer. bertujuan untuk mengamati jumlah sel khamir yang hidup dan yang mati. pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi roti. Pertama-tama 40 gram tepung ditambahkan 0. Adonan kalis dapat diidentifikasi dengan terbentuknya adonan yang tidak lengket dan apabila dibelah adonan tidak menjadi pecah. yang selanjutnya dikocok. sehingga menjadi tidak berwarna. sehingga membran luar selnya dapat mengatur apapun yang keluar masuk sel. Kemungkinan bagian yang digunakan itu adalah bagian yang sel matinya lebih banyak.2 Uji Aktivitas Ragi Praktikum selanjutnya adalah uji aktivitas ragi.sebelumnya 0. Ruang pandang yang terbatas pada mikroskop dapat menjadi salah satu penyebab ketidak-akuratan dalam menghitung jumlah mikroorganisme yang hidup dan yang mati. Ini dapat menyebabkan warna biru dari Methylen Blue masuk ke dalam sel. yang menunjukkan sel khamir tersebut hidup dan yang berwarna biru menunjukkan sel khamir yang mati karena menyerap metylen blue. untuk mengetahui pengembangan adonan dan juga karakteristik roti itu sendiri. Pada perlakuan pertama pengujian viabilitas sel khamir. lalu lakukan pengamatan di bawah mikroskop. 4. Jika viabilitas sel rusak. 4.

tejadi pertambahan volume pada adonan setiap 10 menit. sehingga pertumbuhan khamir meningkat.mengembang. Jadi memang benar bahwa dalam adonan ragi berfungsi sebagai: . Peningkatan volume adonan diamati setiap 10 menit selama 1 jam. Pengembangan volume yang meningkat dapat terjadi karena suhu adonan masih optimal bagi sel khamir dan karena nutrisi yang dibutuhkan sel khamir masih banyak tersedia dalam tepung adonan. Uji Aktivitas Ragi Menit Tinggi 0’ 72 ml 10’ 74 ml 20’ 80 ml 30’ 93 ml 40’ 96 ml 50’ 97 ml 60’ 98 ml (Sumber : Dokumentasi Pribadi. Tabel 1. Adonan dimasukkan ke dalam gelas ukur dan ditutup dengan cling wrap. 2011) Berdasarkan hasil pengamatan. ketinggiannya juga beratambah. Hasil pengamatan dapat dlihat pada Tabel 1.

Mikroba yang berperan adalah dari spesies Saccharomyces cerevisiae. Hal ini disebabkan karena selama fermentasi. serat roti kasar. Selama pengadukan adonan dan fermentasi. perhatikan pula suhu pembuatan adonan. Untuk mengoptimalkan aktivitas ragi. Pemakaian mesin (mixer) yang terlalu lama untuk mengaduk roti menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu adonan sehingga mengurangi aktivitas ragi (yeast). sedangkan gas CO2ditahan oleh gluten terigu sehingga roti mengembang. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ragi memang benar-benar terjadi. Dalam ragi terdapat dua sel khamir. Menghasilkan flavour (aroma dan rasa) pada adonan. maka semakin buruk kualitas ragi. semakin mengembang volume adonan roti. V. Semakin kuat gluten menahan terbentuknya gas CO2. jika tidak kita tutup maka tidak akan mengembang karena udara dapat masuk dan menghambat kerja dan pertumbuhan sel khamir yang ada pada adonan roti. ragi juga menghasilkan sejenis etanol yang dapat memberikan aroma khusus. KESIMPULAN Kesimpulan dari praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi adalah sebagai berikut: Dalam pembuatan roti.Leavening agent (pengembang adonan). ragi roti menghasilan sedikit etanol dan gas CO2. Bila suhu adonan melebihi 30°C. yaitu sel hidup dan sel mati. sehingga adonan mengembang. Tujuan dari gelas ukur tersebut ditutup dengan clingwarp dengan tujuan agar sel khamir dapat tumbuh dan berkembang. dan mengahasilkan flavour (aroma dan rasa. Pada pengujian aktivitas ragi. dan roti menjadi tidak tahan lama. Memproses gluten (protein pada tepung). ditambahkan ragi untuk memprosesnya. ragi mengkonsumsi gula dan mengubahnya menjadi gas karbondioksida. karena sel khamir hanya dapat tumbuh pada lingkungan yang anaerobik. sehingga dapat membentuk jaringan yang dapat menahan gas karbondioksida keluar. Semakin banyak sel mati. Pada pembuatan roti. volume adonan bertambah tiap 10 menit. ragi berfungsi sebagai pengembang adonan (ragi mengkonsumsi gula yang menghasilkan karbondioksida). Ragi yang digunakan pada praktikum ini adalah ragi berkualitas buruk karena jumlah sel hidup lebih sedikit dari sel mati. mudah keras. memproses gluten (membuat jaringan sehingga gas karbondioksida tertahan didalam). . maka aktivitas ragi akan berkurang sehingga fermentasi roti akan semakin lama. Etanol yang dihasilkan akan menguap selama pemanggangan. yang terbentuk karena ragi juga memproduksi sejenis etanol). Akibatnya aroma roti menjadi asam. Ragi roti di dalam adonan akan bekerja secara optimal bila suhunya di bawah 30°C.

. Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta. Jakarta. dan M.. Suhu optimal enzim ini akan bervariasi. 1987. Penerbit Universitas Indonesia. Desroiser.DAFTAR PUSTAKA Fardiaz. Srikandi. 1988. Hal ini didasarkan pada hasil uji aktivitas ragi yang telah dibuat. W. sebab sudah banyak sel khamir yang mati daripada sel khamir yang masih hidup. Amilase adalah sebuah enzim yang diproduksi oleh sebagian besar organisme. sebuah bakteri laut lokal di Samudra Arktik yang mengelilingi pulau Spitzbergen di Norwegia. G. Jelaskan! Jawab : 10%.. Penerjemah Muchji Muljohardjo. Ilmu Pangan. apakah viabilitas sel khamir pada ragi yang dibuat masih tetap tinggi?Jika tidak. Dalam edisi 2010 November “Journal Protein. Berikut adalah hasil penelitian mengenai pengaruh suhu pada aktivitas enzim amilase yang dilakukan pada beberapa organisme. 1992. Mikrobiologi Pangan 1.A. Buckle. PERTANYAAN DAN DISKUSI Berdasarkan pengamatan. PT. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Bagaimana tingkat keberhasilan pembuatan ragi roti berdasarkan cara yang telah dilakukan. mulai dari bakteri hingga manusia..” para peneliti menyatakan bahwa suhu optimal enzim amilase pada bakteri tersebut adalah 30 derajat Celcius dan aktivitas molekul berkurang hingga 65 persen pada suhu nol derajat Celcius. Penerbit Universitas Indonesia.A Edwards. Amilase digunakan untuk memecah zat tepung menjadi gula untuk produksi energi. Wootton. R.H Fleet. Ragi tersebut hanya mengembang sedikit demi sedikit bahkan ada yang tidak mengalami pengembangan sehingga dapat disimpulkan apabila ada komponen lain yang menghambat keberhasilan pembuatan ragi roti. Norman. Enzim amilase umumnya bekerja maksimal pada suhu tubuh normal dan aktivitasnya akan menurun seiring terjadinya penyimpangan dari suhu normal. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Pseudoalteromonas Arctica Sekelompok peneliti mengisolasi enzim amilase dari Pseudoalteromonas Arctica. apa alasannya? Jawab : tidak tinggi viabilitasnya. K. tergantung pada tiap jenis organisme.

25 derajat Celcius setelah satu jam. Bacillus subtilis Sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi Juli 2009 “Biotechnology Progress” menyelidiki potensi penggunaan enzim amilase yang diisolasi dari Bacillus subtilis. tetapi menurun ketika tekanan dan waktu ditingkatkan. Tinjauan Pustaka Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. 1994). PENDAHULUAN 1. aktif pada berbagai rentang suhu. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi. Heliodiaptomus viduus Zooplankton air tawar. Penelitian ini lebih lanjut melaporkan bahwa aktivitas enzimatik paling optimal terjadi pada suhu 30 derajat Celcius. .0. sampai enzim didenaturasi pada suhu 80 derajat Celcius. sebagai indikator tekanan. Bacillus iicheniformis Edisi Januari 1989 dari jurnal “Biotechnology and Bioengineering” melaporkan bahwa enzim α-amilase dari bakteri terisolasi. Selain itu. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono. mengandung sejumlah besar amilase sekitar 2. Heliodiaptomus viduus.25 derajat Celcius setelah dua jam dan 70.[] 1. Mereka menemukan bahwa aktivitas enzimatik meningkat seiring dengan suhu.Studi ini juga melaporkan bahwa aktivitas enzim amilase menurun tajam pada suhu di atas 40 derajat Celcius.25 derajat Celcius pada pH 6.1. Sebuah studi yang diterbitkan dalam edisi Maret 2006 “The Turkish Journal of Zoology” melaporkan bahwa enzim amilase dalam organisme ini akan beraktivitas maksimum antara suhu 30. Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya. enzim menjadi tidak aktif pada suhu 60. reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas enzim amilase tidak mengalami hambatan pada suhu mulai dari 10 sampai 50 derajat Celcius. Dalam mahkluk hidup.400 molekul untuk setiap gram berat badan. Bacillus iicheniformis. suhu dan waktu pada proses pasteurisasi. Para peneliti menyesuaikan suhu suatu medium yang mengandung bakteri secara bertahap dari 4 ke 22 hingga 37 dan akhirnya 80 derajat Celcius.25 dan 70.

kencing manis. enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington. Tumbuhan mengandung α dan β amilase. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. glikogen dan polisakarida yang lain. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi. Sebaliknya pada penyakit hati. kadarnya menurun (Anonim. menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat. Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. kebutuhan kofaktor. larutan tidak ada gumpalan. 1994). menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Pada sel hidup. Pada suhu ruang. pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa. Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. 1994). Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. 1990). begitu juga pada suhu ruang.Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat. 1991). dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor. Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. dalam banyak kasus. maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington. pH optimal. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. 1994). substansi tersebut tidak berubah. pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor. Dalam air. Karena itu pada suhu 40oC. 1990). Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). Misalnya. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil. yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit(Wirahadikusumah. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington. 1991). kadarnya dalam darah meningkat. sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. Pada penyakit radang pankreas. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Pada suhu 45°C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis. 1989). perubahan pH sangat kecil. hewan memiliki hanya α amilase. daerah temperatur. gondongan. maltotriosa atau oligosakarida. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim. .

Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. 2.5–8. dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington. khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. Pada suhu yang sangat rendah. dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser. Beberapa ion anorganik. Sebagai contoh. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu. 1994). pada umumnya sekitar 4. (Tranggono & Setiadji. Ketika temperatur meningkat. yaitu suhu tubuh. Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee. 4. Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. yang terjadi saat perkecambahan serealia. 1992). 1994). misalnya ion kalsium dan ion klorida. Namun dalam suatu reaksi kimia. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. pepsin. aktivitas enzim berkurang. Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. proses denaturasi juga mulai berlangsung dan menghancurkan aktivitas molekul enzim. enzim yang dikeluarkan ke lambung. Sebagai contoh. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. Pati yang merupakan . Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington. Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah.Sifat-sifat enzim antara lain : 1. menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington. laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. 1992). 1994). 1994). Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. 1994). Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. 3. hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam. Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. 1989).

Tumbuhan mengandung α dan ß amylase. Warna iodine akan lebih cepat hilang. pH. peroksidase dan fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. produk. Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim. Pada suhu yang sangat rendah. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda– beda (Lee. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian: Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein. enzim. α amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7. 1994). dll). c. suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C. Poligalakturonase.polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. Tipe III : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox. 1991). kofaktor. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. kehilangan daya viskositas yang lebih cepat. 1992). Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Tipe II : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein. antara lain : a. Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. 1991). menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Dalam air. α amilase mempunyai beberapa sifat. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr. 1994). . hewan memiliki hanya α amylase. d. Contohnya. Proses produksi maltosa lebih lambat. 1994). temperatur. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. dan polisakarida yang lain. Tidak memproduksi glukosa. α amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. dan gaya irisan. Di dalam larutan pati. glikogen. Untuk enzim. aktifitas enzim akan berkurang. amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox. Pada manusia. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. yaitu suhu tubuh. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. b.

1991 ). Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr.9. 1 ml buffer pH 3.1. timbangan analitik. 3. Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui efek dari nilai pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim. 2. 4. 1. 5. larutan Buffer pada pH 3. Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox. 1995 ). 10. Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno. MATERI DAN METODE 2. 6. 12. 13). kacang hijau segar. kecambah kacang tanah dan pepaya (menatah dan mendidih). 2. stopwatch.e. Metode Kecambah dan buah ditimbang dalam beaker glass sebanyak 15 g. pompa. 1994).2. 11. Kemudian masing-masing tabung reaksi diberi label dan diisi dengan 2 ml larutan pati dan ditambahkan pula ke dalamnya masing – masing tabung berbeda yaitu 1 ml aquadestilata. kacang tanah segar. Materi 2. Larutan campuran tersebut disaring dengan kain mori dan filtrat yang dihasilkan ditampung. dan 1 ml buffer pH 9 seperti tabel di bawah ini : Larutan pati Tabung Enzim = tidak dididihkan (setelah inkubasi 2 menit) Aquades Buffer pH 3 Buffer pH 5 2 4 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 4 - 1 2 3 . 1 ml buffer pH 7.7.1. Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. 8) dan ada yang dipanaskan (kelompok 9. 7. 2. larutan pati 1%. air destilasi. kecambah kacang hijau. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz.1. Larutan tersebut ada yang tidak dipanaskan(kelompok 1. Setelah itu ditambahkan dengan 30 ml larutan buffer. Alat Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah water bath. vortex.2. tabung reaksi.2. 1 ml buffer pH 5. 2.5.1. spektofotometer. 1992 ). cawan dan batang porselin. penjepit. pipet volume. beaker glass. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen Benedict.

1146 0. dapat dilihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.4248 2 pH 3 1.6078 5 pH 9 0. Tabel 1. Dengan perincian kelompok B1 + B2 & B9 + B10 Kacang Hijau Segar.1180 0.1957 0. Kemudian di-inkubasi dalam waterbath 38oC selama 2 menit.3041 0. 2 ml larutan enzim yang didinginkan atau dipanaskan tadi ditambahkan ke masing – masing tabung reaksi dan di-vortex. Setelah itu.2388 1.9199 1.1879 0.9948 0.4480 0.8561 0.3486 0. Grafik hubungan antara nilai pH terhadap OD digambar.2412 0.8425 0. HASIL PENGAMATAN Hasil percobaan tentang pengaruh pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.1219 0.9005 0.4 5 Buffer pH 7 Buffer pH 9 - - - 2 - 2 Kelima tabung reaksi tersebut di-vortex. Grafik Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan . Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan Tabung Kel 1 aquades B1 + B2 B3 + B4 B5 + B6 B7 + B8 B9 + B10 B11 B12 B13 0.0240 0. 3.7878 0.1237 0. Setelah itu.2830 0.2120 0.1968 0. B3 + B4 & B11 Kecambah Kacang Hijau.6193 Kelompok B1-B8 mengalami perlakuan enzim tidak didihkan dan kelompok B9-B13 mengalami perlakuan enzim didihkan.9213 1.9458 0. Inkubasi selama 10 menit dilakukan kembali terhadap tabung–tabung reaksi tersebut.2706 0.5701 4 pH 7 0.8719 1.2080 0.3391 0. B5 + B6 & B12 Pepaya Mentah.4868 0.2415 1. 0.5631 0.9581 1.5 ml larutan reagen Benedict ditambahkan ke setiap tabung reaksi dan diukur besar OD ( Optical Density ) pada λ 620. B7 + B8 & B13 Pepaya Matang.2143 3 pH 5 0. Grafik 1.3844 0.2289 0.1552 0.1245 1.

Pada Tabel 1 dan Grafik 1 nilai absorbansi yang didapat oleh semua kelompok berbeda satu dengan yang lain. Hal tersebut terlihat bahwa enzim dipengaruhi oleh panas atau suhu. Sehingga jika suhu berada di atas optimal. maka aktivitasnya akan berkurang yang terlihat dari menurunnya nilai absorbansinya. Pada enzim yang tidak dididihkan dihasilkan nilai OD berada ditingkat nilai absorbansi yang lebih tinggi. nilai absorbansinya semakin turun. Sedangkan pada pengaruh pH didapatkan bahwa setiap bahan memiliki nilai pH optimum untuk melakukan aktivitas enzimnya. bahwa suhu optimal enzim antara 35oC dan 40oC. Semakin tinggi suhunya. enzim akan bertahap menjadi inaktif karena terjadi perubahan struktur enzim. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas. Pada bahan yang tidak dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. karena enzim mengalami inaktivasi pada suhu tinggi. Sesuai dengan pernyataan Gaman & Sherrington (1994). Pada percobaan kelompok B1-B8 enzim tidak dididihkan sedangkan pada percobaan kelompok B9-B13 enzim dididihkan dengan perlakuan pH yang sama dari percobaan tersebut terdapat perbedaan hasil pengamatan. yang dapat dilihat dari nilai absorbansinya. Sedangkan pada bahan yang . sedangkan pada enzim yang dipanaskan cenderung nilai OD-nya berada ditingkat absorbansi yang lebih rendah. pada kecambah kacang hijau pada pemberian pH 7. yang ditunjukkan dengan nilai absorbansinya. Dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada kelompok B9-B13 (enzim mendidih) jika dibandingkan dengan nilai absorbansi kelompom B1-B8 (enzim tidak mendidih) memiliki nilai yang jauh lebih rendah pada bahan dan pH yang sama. Pada enzim yang dididihkan. data dan grafik kelompok B1-B8 dengan kelompok B9-B13 tidaklah sama. pernyataan ini sesuai dengan Tranggono & Setiadji (1989). pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. 4. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein.

A. KESIMPULAN · Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum. Fox. Larutan buffer adalah larutan yang tahan panas terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. Food Enzymology Vol 2. menurutGaman & Sherrington (1994) semakin besar atau basa pH yang digunakan maka semakin rendah nilai OD-nya dikarenakan enzim mengalami denaturasi. Gaman. karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Pengantar Ilmu Pangan. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. Nutrisi dan Mikrobiologi. Elsevier Applied Science. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Kartasapoetra. (1990). Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Seharusnya.F. Ilmu Pangan. P. aktivitas enzim berkurang. Yogyakarta. P. · Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH. DAFTAR PUSTAKA Anonim. dan pada suhu 100oC enzim rusak. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Universitas Gadjah Mada press. (1994).G. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. yaitu suhu tubuh.sedangkan aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu.dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Ketika temperatur meningkat. Teknologi Penanganan Pasca Panen. pada kecambah kacang hijau pada pemberian aquades. (1994).PT Cipta Adi Pustaka. 5. pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Sherrington. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang. Mikrobiologi Pangan 1. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. · Nilai absorbansi pada percobaan ini dapat menunjukkan nilai aktivitas enzim yang dipengaruhi oleh pH dan suhu tertentu. London. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C.M & K. Pada suhu yang sangat rendah. S. . hal ini sesuai pernyataanGaman & Sherrington (1994). · Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC. (1991). Pada suhu 100°C semua enzim rusak. (1992). Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Rineka Cipta. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim tapi suhu yang terlalu tinggi pun dapat mendenaturasi enzim. Jakarta. Fardiaz. Jakarta. Hal ini dapat terjadi karena terjadi kesalahan saat praktikum saat pengukuran absorbasi atau mungkin juga setiap bahan yang berbeda memang memiliki pH optimumnya masing-masing. 6. Jakarta. Dengan menggunakan larutan buffer inilah kita mendapatkan pH yang terkontrol dan tepat.B. Gramedia Pustaka.

Organic Experiment 7th Edition.L & L. Institut Teknologi Bandung. Bandung. melainkan dalam keadaan dormansi (tidur). Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. (1994). Prentice Hall Inc. Wirahadikusumah. optimum 55C-60 C. J.K. yaitu: a. misalnya Gonococcus yang hanya dapat hidup pada kisaran 30-40oC. mikroba akan mengalami kematian. United States of America. Berdasarkan daerah aktivitas temperatur. M. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Martoharsono. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme.F. sedangkan maksimum 75 C. enzim. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 40 C atau lebih. Mikroba mesofilik adalah golongan mikroba yang mempunyai temperatur optimum pertumbuhan antara 25 C-37 C minimum 15 C dan maksimum di sekitar 55 C.B. (1992). Thermal Death Time (TDT) Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas temperature yang sempit. baik di daratan maupun di lauatan. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian . Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperature tinngi. Mikroba psirkofilik (kryofilik) adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperatur antara 0 C sampai 30 C. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Williamson. (1992). dan asam nukleat. Yogyakarta. Tranggono & Sutardi. Gadjah Mada University Press. mikroba di bagi menjadi 3 golongan. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Biokimia : protein. Tranggono. (1990). Biochemical Engineering. New Jersey. umumnya hidup di dalam alat pencernaan. (1989). Tetapi Escherichia coli tumbuh pada kisaran temperatur 8-46oC.Lee. golongan ini terutama terdapat di dalam sumber-sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bertemperatur lebih tinggi dari 55 C. b. Gajah Mada university Press. Yogyakarta. inilah yang disebut golongan euritermik. D C Health ang Company. Biasanya. Petunjuk Laboratorium Biokimia Pangan. M. (1989). kebanyakan golongan ini tumbuh d tempat-tempat dingin. Biokimia jilid 1. golongan mikroba yang memiliki batas temperatur minimum dan maksimum tidak telalu besar. minmum 40 C. Yogyakarta. Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. Biokimia dan Teknologi Pasca Panen. dengan temperatur optimum 15 C.Fieser. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi.S. disebut stenotermik. sehingga beda (rentang) antara temperatur minimum besar. Bila mikroba dipiara dibawah temperatur minimum atau sedikit diatas temperatur maksimum tidak segera mati. S. c.

Baccillus subtlis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi. Tidak seperti species lain seperti sejarah. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun kontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan makanan. bios = hidup dan logos = ilmu. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut. mikros = kecil. katalase positif yang umum ditemukan di tanah. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval. ada yang tebal dan yang tipis. atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. Hal inilah yang . Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim.pada suatu temperatur. Definisi mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. temperatur. misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung alkohol. bentuk dan jenis spora. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan pada roti. pH dan komposisi medium. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang membusuk. Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak benar. Bacillus subtilis selnya berbentuk basil. kelembaban. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu. umur mikrroba. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Sebagian motil dan adapula yang non motil. mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis 20-30 19 20-50 57 60 100 100 Suhu (0C) Spora Clostridium botulinum 100-330 KARAKTERISTIK BACILLUS SUBTILIS Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif.

Kemampuan mikroorganisme yang telah direkayasa untuk tujuan tertentu menjadikan lahan baru dalam mikrobiologi industri yang dikenal dengan bioteknologi. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan animalcule yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi. Mikroorganisme juga merupakan sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat. Jika anda membaca tentang mikroorganisme anda akan menghargai. sekarang dikenal dengan protozoa. Disamping itu. feses dan lain sebagainya. air hujan. Pengambilan informasi genetika dari mikrorganisme karena sifatnya sederhana dan perkembangbiakan yang sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabolisma. Leewenhoek dan Mikroskopnya Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. Belanda. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Mikroorganisme juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk membersihkan lingkungan. hewan maupun tumbuhan. kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri. Leewenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai. Saat ini mikroorganisme diteliti secara insentif untuk mengetahui dasar fenomena biologi. alga. . Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya. Tetapi banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer. misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai sumber energi. saliva. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa informasi genetik pada semua organisme dari mikroba hingga manusia adalah DNA. misalnya: dari tumpukan minyak di lautan dipergunakan sebagai herbisida dan insektisida di bidang pertanian. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200–300 kali. Sekarang insulin yang dibutuhkan manusia dapat diproduksi dalam jumlah tak terhingga oleh bakteri yang telah direkayasa. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. yang penting lainnya adalah mekanisma kimia oleh mikroorganisme sangat mirip dengan unity in biochemistry yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisme adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British Royal Society. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf. protozoa dan virus merupakan organisme yang sering tidak terlihat. Strain-strain dari mikroorganisme yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat diterima. Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang penting di bidang kesehatan maupun industri makanan. Hal ini karena mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mendekomposisi/menguraikan senyawa kimia komplek. Antara tahun 1632–1723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. mengagumi mikroorganisme seperti bakteri.disebut dengan biohemial divesity atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisme. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang. Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia. Sebenarnya ia bukan 3 orang pertama dalam penggunaan mikroskop.

maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. . Beberapa mikroba dapat pula mengubah pH dari medium tempat hidupnya. melalui fermentasi misalnya. Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Mikroba Dengan Lingkungan Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. dan faktor biotik. Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Misalnya. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu labih dari 100 tahun. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. sebaliknya . tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun menurun. Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal animalcules tersebut. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. satu mengatakan animacules ada karena proses pembusukan tanaman atau hewan. Pendapat atau teori ini disebut biogenesis. Untuk sterilisali. Ada dua pendapat. dan termofil. optimum dan maksimum.Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. perubahan ini dinamakan perubahan secara kimia. mesofil. Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. Pendapat ini mendukung teori yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis. Pengaruh Suhu atau Temperatur Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi. Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada yang bersifat sementara. demikian juga jasat renik. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar. . Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)-nya. ü Faktor – faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme 1. akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia).

Sebagai contoh. Berhubung dengan ini. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. . maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap spesies. kita belum tahu. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190°C). Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Berdasarkan ini. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. pada temperatur yang sama. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terus menerus. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. buih tidak membeku sekeras air beku. karena spora sangat sedikit mengandung air. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Bakteri patogen yang biasa hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Biasanya. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan. Sedikit perubahan pH menuju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan.Tapi tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu.Di dalam keadaan basah. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi.

Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. yaitu: Bakteri termofil (politermik). . yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C.GRAFIK SUHU PADA BAKTERI Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu.

. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C.Bakteri mesofil (mesotermik). Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C.

Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas suhu yang sempit. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46°C. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. misalnya. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum.Gonococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. Pada umumnya dapat di pastikan. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik.Bakteri psikrofil (oligotermik). . yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli.

BAKTERI GONOCOCCUS .

Demikian pula efek kekeringan kurang terasa. Banyak bakteri yang mati jika terkena udara kering. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. pH dan komposisi medium. Kelembaban dan Pengaruh Kebasahan serta Kekeringan Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora. Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium botulinum 20-30 19 20-50 100-330 57 60 100 100 Suhu (0C) 2. jika digesekkan di atas kaca obyek.yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis. Pengeringan ditempat yang terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada . Meningococcus. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu.BAKTERI ESCHERICHIA COLI Bakteri yang diplihara di bawah Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. bentuk dan jenis spora. mikroba akan mengalami kematian. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. air akan menguap dari protoplasma. hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. temperatur. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah Bakteri yang ada dalam medium susu. Biasanya. Sebaliknya. Pada proses pengeringan. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. konidia atau dapat membentuk kista. kelembaban. bahkan dapat hidup di dalam air.spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering. daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. gula. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. umur mikrroba.

0 Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik).94). Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. Acetobacter. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya.4 optimum 6. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis. kadar garamnya dapat mencapai 30 %. tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri.0-7. actinomycetes. Pengaruh Perubahan Nilai Osmotik Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % (aw = 0. umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. dinding selnya terdiri dari murein. Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi.pengeringan ditempat yang gelap. (2) mikroba halofil. dan bakteri pengguna urea. rhizobia. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. misalnya Lactobacilli.0-5. yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil. sel membengkak dan akhirnya pecah. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Kadar Ion Hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). maka selnya akan mengalami plasmolisis. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis. dan Sarcina ventriculi. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi. Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium. maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa. misalnya Halobacterium. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman.5-8.4-9.0 . sehingga tahan terhadap ion Natrium. (3) mikroba halodurik. Contohnya adalah bakteri nitrat. Nama mikroba Ph minimum Escherichia coli 4.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. 4. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri.5 Suhu. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer. Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin).0 Maksimum 9. 3. lingkungan. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2. adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi.

Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultraungu.4 9.8 7.0-7.0 9.8 7.Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans Lactobacillus acidophilus 4. terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam. Pengaruh Sinar Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis.0 8. ruang-ruang pertemuan. sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu.6 6. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis. maupun senyawa-senyawa organik amfoter. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini. bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Zat-zat seperti sabun. . Cara kerja buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH- 5.2.6 2.0 6.0-7.6 1. Alangkah baiknya. pengaruhnya lebih buruk.6-8. yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ.0-6. air. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel.0-8.6 8. Lebih dekat.0 6.6 6. Sinar yang nampak oleh mata kita. deterjen.8 Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan. maka apabila ada perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil.8 5.4 4. jika kertas-kertas pembungkus makanan.5-9. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi.8-6.6-7. yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan. yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapaPseudomonadaceae. tidak begitu berbahaya. 6.4 5.6 5.0 6. bakteri bahkan dapat mati seketika. Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan bentuk morfologinya.0 4.6 8.0 8.0 6. sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara.0-5.0-7. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan.0-7. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali.0 4. ruang-ruang penyimpan daging. gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu.0-2.0-4.4 10. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik.

Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium. C. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri. Klor didalam air menyebabkan bebasnya O2. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap. oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Koagulasi atau penggumpalan protein Zat seperti perak. Dan protein yang menggumpal itu telah mengalami denaturasi dan tidak dapat berfungsi lagi. sehingga desinfektan menjadi menarik. . Yodium Yodium-tinktur. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin.ü Faktor – faktor kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme Pada umumnya kerusakan bakteri dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : A. B. banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. b. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia. yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol. sehingga zat ini merupakan desinfektan. tembaga dan zat-zat organik seperti fenol. d. Oksidasi Zat zat seperti H2O2. dan jamur. · a. Depresi dan ketegangan permukaan Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Kulit dapat terbakar karenanya . sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. c. Beberapa Desinfektan dan Antiseptic adalah sebagai berikut : Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. alat-alat seperti gunting. lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. efeknya lebih baik. e. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. etanol menyebabkan terjadinya penggumpalan protein. Jika dicampur dengan air murni. Karbol ialah lain untuk fenol.Na2BO4 mudah benar melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. virus.

Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. h.f. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa.Pneumococcus. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandungempat bagian. ü Faktor – faktor Biologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme a. Sering terjadi. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Gonococcus. Asam-paminobenzoat memegangperanan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. bakteri dapat tumbuh biasa.Penggunaan obat-obat ini. g. karena zat ini tidak merusak jaringan. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. dan antar . kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhan bakteri gram positif. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. lagipula tidak menyebabkan sakit. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Hijau berlian. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling mempengaruhi. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. melainkan juga merupakan bakterisida. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous(indigenous). hijau malakit. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat. fuchsin basa. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut.

Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang mengubah etanol menjadi asam asetat. d. Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. c. Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama. Amensalisme (Antagonisme) Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium yang dapat menghambat populasi Nitrobacter. Senyawa organik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont). atau proses pembersihan air secara alami. Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap populasi mikroba lain. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens). atau antibiotika. dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae. g. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan samasama mendapat keuntungan. atau fase istirahat (spora. Thiobacillus thiooxidans menghasilkan asam sulfat. Mutualisme sering disebut juga simbiosis. Parasitisme .mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah. Asam-asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup dan pertumbuhannya. b. f. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang menggunakan nutrien / makanan yang sama. Contohnya adalah: Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah. misal dalam keadaan kering beku. toksin. Sinergisme Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. e. yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic Methanobacterium. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila. Kompetisi Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya mengalami kerugian. kista). Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum dengan Paramaecium aurelia. maka disebut sintropisme. atau dalam keadaan nutrien terbatas. pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh apapun.

terutama yang berbentuk batang dan bereaksi Gram egative seperti Pseudomonas dapat disimpan cukup lama dalam akuades steril pada suhu ruang atau suhu 1015oC. Terjadinya parasitisme memerlukan kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif lama. Peremajaan berkala tidak dianjurkan untuk penyimpanan jangka panjang. populasi satu diuntungkan (parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Pada kondisi penyimpanan ini bakteri yang disimpan masih berpeluang tumbuh dengan lambat. Namun. sehingga tidak dapat dijamin stabilitas genetiknya untuk jangka panjang. peluang terjadinya kontaminasi. Penyimpanan dalam Akuades Steril Beberapa jenis bakteri. coli. dan Curtobacterium. dan terjadi kekeliruan pemberian label.wikipedia. baik didalam suhu ruang maupun dikulkas hal ini menunjukkan adanya kinerja bakteri dalam mempertahankan viabilitas perkembangannya. Jamur Trichodermasp. Oleh karena itu. memparasit jamur Agaricus sp. Kendala tersebut memberi peluang yang lebih besar terjadinya kehilangan isolate dibandingkan dengan teknik lain. Teknik ini mempunyai berbagai kendala. Mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik. Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Mikroorganisme seringkali berhttp://id. Cara ini jugadigunakan untuk penyimpanan dan pemeliharaan egativ mikroba yang belum diketahui cara penyimpanan jangka panjangnya.Parasitisme terjadi antara dua populasi. Cara Bakteri Mempertahankan Viabilitas : 1. PEMBAHASAN Upaya Mempertahankan Viabilitas Mikroorganisme Akibat Pengaruh Lingkungan : Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajarimikroorganisme. Meskipun demikian.org/wiki/Sel_%28biologi%29&#8243. cara ini lebih dianjurkan sebagai alternative penyimpanan jangka sedang atau sebagai pendamping penyimpanan jangka panjang. 2. Peremajaan Berkala Peremajaan dengan cara memindahkan atau memperbarui biakan mikroba dari biakan lama ke medium tumbuh yang baru secara berkala. Tidak semua bakteri dapat disimpan dengan baik menggunakan cara ini. Umumnya parasitisme terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. Ukuran parasit biasanya lebih kecil dari inangnya. banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dalam tabung agar miring yang tertutup rapat hingga sepuluh tahun atau lebih. misalnya sebulan atau dua bulan sekali. Penyimpanan dengan cara ini juga memungkinkan terjadinya kontaminasi. di antaranya kemungkinan terjadi perubahan egativ melalui seleksi varian. Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E.>sel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (multiseluler). Teknik ini merupakan cara paling tradisional yang digunakan peneliti untuk memelihara koleksi egativ mikrobadi laboratorium.Virus juga termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler. Agrobacterium. misalnya pada anggota genus Pseudomonas. Tahap penyimpanan mikrobadalam akuades steril adalah se-bagai berikut: .

Daya tahan hidup mikroba lebih baik apabila biakan disimpan pada suhu kulkas (4oC). Teknik ini sederhana. kemudian permukaan biakan ditutup dengan minyak mineral steril setinggi 10-20 mm dari permukaan atas medium. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. mengocok tabung hingga diperoleh suspense pekat bakteri (108-109sel/ml). khamir dan jamur adalah dengan cara menyimpan dalam tabung agar miring dan menutup dengan minyak mineral atau parafin cair.Akuades steril disiapkan dalam botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml. dan mengambil satu ose suspense dan menumbuhkan pada medium cair atau langsung pada medium agar yang sesuai. tetapi kurang praktis untuk ditransportasi. 3. Dasar teknik penyimpanan ini adalah mempertahankan viabilitas mikroba dengan mencegah pengeringan medium. diautoklaf pada suhu 121oC selama 60 menit. mengocok. 5-10 ml/botol atau dalam tabung ependorf. Beberapa jenis jamur dapat bertahan hidup sampai 20 tahun. Biakan bakteri berumur 24-48 jam disimpan dengan beberapacara seperti: Menambahkan 3-5 ml akuades steril ke dalam biakan miring. keberadaan minyak mineral mengakibatkan peremajaan menjadi kotor. Penyimpanan dalam Minyak Mineral Salah satu cara sederhana untuk memelihara biakan bakteri. Cara penyimpanan dalam minyak mineral menurut adalah sebagai berikut : Penyediaan tabung reaksi dengan tutup berdrat atau botol McCartney berisi medium agar miring yang sesuai untuk mikroba yang akan dipelihara. Mikroba yang akan dipelihara ditumbuhkan pada tabung berisi medium agar miring atau medium cair (broth) yang sesuai. Penumbuhan kembali biakan dilakukan dengan mengambil botol dari tempat penyimpanan. Mikroba yang akan disimpan ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni pada medium agar miring yang sesuai. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri ke dalam tabung reaksi berisi 3-5 ml akuades steril. sehingga waktu peremajaan dapat diperpanjang hingga beberapa tahun. Botol ditutup rapat dan disim-pan pada suhu ruang atau suhu10-15oC Uji viabilitas mikroba dan peme-liharaan stok isolat dilakukanse-cara rutin. . Menumbuhkan mikroba yang akan disimpan dalam tabung agar miring selama 24–48 jam dan memeriksa kemurnian biakan untuk menghindari kontaminasi. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri langsung ke dalam tiap botol yang berisi air steril dan mengocok hingga merata. Penyediaan minyak mineral atau parafin cair steril. tabung dikocok hingga suspensi merata. Disamping itu.

Uji viabilitas mikroba dan pemeliharaan isolat dilakukan secara periodik dan rutin. Teknik penyimpanan mikroba pada tanah kering terutama berguna untuk fungi. Mikroba yang disimpan diuji viabilitasnya setiap tahun dengan menumbuhkan pada medium agar. khamir) dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian biakan dari tabung. di kering anginkan dan diayak untuk memisahkan partikel tanah yang agak besar dan membuang sisa-sisa tanaman. memindahkan dan mensuspensikan pada medium cair. kemudian diautoklaf pada suhu 121oC tiga kali berturut-turut selama tiga hari masing-masing selama satu jam. Penumbuhan kembali (reco. Penyimpanan Dalam Tanah Steril Banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dengan baik pada tanah kering yang disimpan pada suhu ruang untuk waktu yang lama. parafin cair steril dimasukkan ke dalam botol secukupnya. Botol biakan yang telah diberi parafin cair disimpan pada suhu ruang atau dikulkas. spora atau konidia. Streptomyces sp. hingga 20 tahun atau lebih. penyimpanan pada suhu ruang. Biakan jamur digoreskan langsung pada medium agar.Setelah mikroba tumbuh baik. Tabung atau botol yang berisi tanah diberi akuades steril hingga kebasahan 50% kapasitas lapang. 4. .. dan stabilitas genetik mikroba dapat dipertahankan. yaitu biaya murah. paling tidak setiap tahun.1 ml) di ambil dengan pipet steril dan di masukkan ke dalam tiap botol yang telah disiapkan.. dan Clostridium sp. Rhizobium sp. miselia) dibuat dalam larutan steril pepton 2% dalam akuades. Tanah yang sudah kering dan di ayak dimasukkan ke dalam tabung atau botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml hingga1 cm dari permukaan tutup. sterilitas tanah diuji dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar.. Suspensi mikroba (0. sehingga permukaan parafin atas berada 10-20 mm di atas permukaan medium agar. juga dapat disimpan dengan baik dengan cara ini. Bila mana diperlukan. dan bakteri yang membentuk spora seperti Bacillus sp. botol dioven kering pada suhu 105oC selama satu jam dan setelah dingin disimpan di dalam desikator hingga digunakan.. Cara penyimpanan dalam tanah steril adalah sebagai berikut: Diambil tanah yang agak liat.very) mikroba (bakteri. Botol dikembalikan ke desikator untuk disimpan di dalamnya atau setelah kering diambil dan disimpan di ruangan. Teknik ini mempunyai beberapa keuntungan. Selanjutnya. Suspensi mikroba yang akan disimpan (sel. Minyak mineral mengapung di permukaan suspensi dan sebagian suspensi digoreskan pada medium agar yang sesuai.

Teknik ini sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bakteri. Cara bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika Meminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyimpanan Menggunakan Potongan Kertas Filter Teknik penyimpanan ini mirip teknik penyimpanan dengan lempengan gelatin. Bundaran kertas steril dibuat dengan alat pelubang kertas. khamir. dimasukkan ke dalam botol kecil ukuran 10 ml dengan tutup berdrat. kemudian ditutup rapat dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. dan jamur. Sebagai pengganti lempengan gelatin digunakan bundaran potongan kertas filter steril. menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai. Beberapa tetes suspensi mikroba dimasukkan secara aseptic ke dalam botol yang berisi kertas filter hingga menjadi jenuh air. Mikroba tersebut dapat bertahan hidup dengan baik selama 5-28 tahun. atau Naglutamat 1%. Uji viabilitas bakteri dilakukan secara periodik dan rutin. Biakan mikroba disimpan dalam serum kuda yang ditempatkan dalam tabung gelas kecil atau ampul. tergantung pada strain mikroba yang disimpan. Teknik ini juga sederhana dan mudah. Namun demikian. tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya.Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian contoh tanah dari botol penyimpanan. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak . tetapi sangat efektif untuk penyimpanan bakteri. Penyimpanan In Vacuo dalam Gas Fosfopentaoksida Teknik penyimpanan ini disebut juga teknik Sordelli. Suspensi pekat bakteri (108-109 sel/ml) dibuat dalam larutan pepton 1%. memindahkan ke medium cair diikuti dengan menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai atau langsung dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. Tahapan teknik penyimpanan bakteri menggunakan potongan kertas filter menurut adalah sebagai berikut: Mikroba yang akan disimpan dibiakkan pada medium yang sesuai. Isi botol dikering vakumkan menggunakan alat vaccum freeze dryer . serta menginkubasikan pada suhu optimal untuk pertumbuhan mikroba. 6. susu skim 1%. Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik satu bundaran kertas filter dari botol penyimpanan. karena mula-mula ditemukan oleh Sordelli(Lapageet al. 1970). data tentang keefektifan penyimpanan dan daya tahan hidup bakteri dalam penyimpanan masih sedikit. paling tidak setiap tahun. Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. memindahkannya ke medium cair. sehingga perlu diteliti lebih lanjut.. Botol disterilkan de-ngan oven 105oC selama 1 jam. Tabung ini ditempatkan di dalam tabung lain yang lebih besar berisi sedikit fosfopentaoksida (P2O5) dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. 5. 25-50 bundaran kertas filter/botol.

Kapsul polisakarida tersebut merupakan faktor virulensi yang penting. membantu sel untuk fungsi pencernaan. ü Produksi Senyawa Kimia Untuk Membunuh Fagosit Banyak antifagosit membunuh fagosit dan sukses menginfeksi. gel tersebut mengandung sebagian besar molekul yang tersusun atas polimer glukosa dan asam glukuronik.sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Struktur permukaan kapsul tersusun atas gel hidropilik yang menghambat kerja fagositosit. yang memberikan muatan negatif. Komposisi kimia penyusun gel tersebut telah teridentifikasi pada beberapa bakteri. dan 1-2 penambahan polymorphs. Pada Bacillus antrachis mengandung polipeptida asam D-glutamic. menjauhi bahkan membunuh fagositosit. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh pathogen: ü Kapsul anti Fagositosit Beberapa bakteri terhindar dari Fagositosis dikarenakan memiliki kapsul. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran residu asam sialik. namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dari infeksi neonatal. N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik. Streptolysin O mungkin berikatan dengan kolesterol pada membran sel. berkombinasi dengan 2acetamido-2-deoxyglucose. tetapi ketika sudah cukup banyak enzim dikeluarkan ke sitoplasma mengakibatkan sitoplasma meluruh dan sel . Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan. Sedangkan beberapa bakteri lainnya (Bacillus megaterium) mengandung protein dan karbohidrat. Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa. Kapsul sangat berpengaruh terhadap kemampuan fagositosit. tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis. maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada. Pada 3 tipe Pneumococcus. Beberapa pathogen membentuk suatu mekanisme untuk menetralisasi senyawa toksik yang dihasilkan oleh fagositosis.Isolat dari Streptococcus agalactiae memproduksi kapsul polisakarida. melepaskan materi yang dapat membunuh fagosit. Enzim lisosom terkurung di vakuola fagosit. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran. polymorph granula meledak sehingga bagian sel keluar ke sitoplama. frekwensi dan lama penggunaan obat). Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semua serotype. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai komplemen saat tidak ada antibodi. Pada fase eksponensial. Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. pertumbuhan kapsul sangat tinggi dan organisme tervirulensi dan pada fase stasioner pertumbuhan kapsul akan menurun dan organisme yang tervirulensi berkurang. Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperature tinggi. dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklah opsonik. Streptococci pathogen mengeluarkan haemolisin (streptolisin) yang dapat melisis sel darah merah dan berperan dalam meracun polymorphs dan makrofag. Beberapa diantaranya dapat memperbanyak diri dalam jaringan. Setiap seseorang menggunakan antibiotika. tumbuh & bereproduksi.

Streptococcus pyogenes merupakan pathogen pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit infeksi kulit ringan sampai sistemik. ingesti dan digesti. Tetapi adanya antibody pada mycoplasama terjadi absorpsi. berperan sebagai sinergis pada membrane leukosit dan menyebabkan keluarnya granula lisosom seperti pada Streptolysin O. Peranan lain dari aksi toxic pada fagosit setelah fagositosis telah diambil alih. Bakteri ini menggunakan glikolipid dinding sel untuk mengabsobsi radikal hidroksil. Entamoeba histolytica dapat membunuh polymorph dengan kontak fisik. Secara umum. termasuk faringitis dan impetigo. Virulen intraseluler bacteria Mycobacterium. Tidak ada haemolytic leucocidin yang diproduksi berhubungan dengan virulensi staphylococcal. Umumnya merupakan patogen ekstraseluler yang dapat bertahan dan dapat hidup lama didalam inang dengan cara menghindari mekanisme pertahanan inang.pyrogenes melakukan banyak strategi untuk menghindari system kekebalan tubuh. Sebagai contoh. Tergolong menjadi 2 protein antigen. Brucella dan Listeria banyak memperlihatkan virulensi dengan memperbanyak diri didalam makrofag.mati. mengeluarkan substansi cytotoxic secara langsung melalui dinding vakuola dan kedalam sel. mengingat avirulen shigella pasti melakukan hal yang sama dan akan terbunuh dan dimakan.coli hingga mati. dimungkinkan karena lisosomnya lebih mudah dikeluarkan. Beberapa jalur sinyal intraselular yang dimodulasi oleh Leishmania dibahas dalam bagian berikutnya : Mycobacterium tuberolosis menyebabkan tubercolosis. Listeria monocytogenesmengeluarkan toksin sitolitik. Sementara kita telah melihat bahwa lapisan permukaan parasit bertanggung jawab untuk memicu banyak dari efek ini. . kita tidak langsung membahas mekanisme intraselular di mana sinyal dikomunikasikan. membuat fungsi sebagai”suicide bags”. Makrofag biasanya dihancurkan dan mekanismenya belum diketahui. Sehingga S. Tergolong pathogen intraselular yang tumbuh dan hidup didalam sel fagositik. tetapi dimungkinkan karena Mycoplasma merusak polymorph. yang ditunjukkan dengan peningkatan oksidasi glukosa dan membuat cacat pagosit E. Ketika komponen ekstraseluler Mycoplasma hominis ditambahkan pada polymorph manusia secara in vitro maka tidak terlihat secara jelas adanya absorbsi yang dilakukan oleh Mycoplasma di permukaan polymorh. anion superoksida dan oksigen yang toksik bagi beberapa spesies yang diproduksi oleh fagosit. Beberapa Chlamydia memperbanyak diri di dalam makrofag setelah difagositosis dan merusak sel dengan menginduksi keluarnya kandungan lisosom ke dalam sitoplasma. Streptolysin membuat kerusakan pada lisosom. ü Menghambat dengan cara Absorpsi pada permukaan sel fagosit Ada cara yang dilakukan mikroorganisme untuk menghindar dari fagosit tanpa meracuni fagosit. Leishmania parasit mampu modulasi fungsi makrofag banyak dalam rangka untuk mempromosikan kelangsungan hidup dalam host. Kegagalan dari absorpsi tidak diketahi dengan jelas. Berbagai macam haemolysin dikeluarkan oleh Staphylococci pathogen dan dapat membunuh fagosit. Fagosit dapat dikatakan mati akibat keracunan makanan. Streptolysin S lebih berpotensial pada membrane. virulen shigella membunuh makrofag tikus setelah fagositosis. Staphylococcus aureus memproduksi komponen pigmentasi yang disebut carotenoid yang dapat menetralisir singlet oxygen dan melindungi diri dari pembunuhan. polymorph lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan makrofag.

lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan.S AL BAQARAH 164 Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Leishmania merupakan parasit yang dapat menghindari makrofag dengan cara meninduksi produksi atau sekresi beberapa sinyal molekul immunosuppressive seperti metabolit asam arachidonik. Biasa bakteri yang memiliki kapsul resisten terhadap fagositosis. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. ALLAH memberi kita KEDEWASAAN bila ada MASALAH.” Q. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penulisan tentang “UPAYA MEMPERTAHANKAN VIABILITAS MIKROORGANISME AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN” maka dapat disimpulkan bahwa : . dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. hal ini tersirat dalam beberapa ayat di dalam Al-Quran diantaranya dalam: Q. ALLAH melatih KESABARAN kita dalam KESAKITAN. KAJIAN RELIGI Di dalam Al-Quran secara tersirat Allah SWT telah menyiratkan akan pentingnya pengaruh lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup yang ia ciptakan termasuk mikroorganisme yang juga merupakan salah satu contoh makhluk hidup ciptaan Allah SWT. Efeknya terjadi pada tipe sel yang berbeda. kecuali menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK”. sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Karena kapsul dapat melindungi sel bakteri. silih bergantinya malam dan siang. bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. baik secara langsung maupun tidak langsung tergantung dengan respon normal terhadap imun dan kemampuan parasit. ALLAH tidak pernah mengambil sesuatu yang kita sayang dan kita cintai. sitokinase TGF-β dan IL-10.S ASY SYUURA 29 Artinya : “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhlukmakhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” TAUSYIAH “ALLAH menguji KEIKHLASAN bila sendirian.Streptococcus pneumonia Merupakan salah satu bakteri yang memiliki pertahanan terhadap fagositosis berupa kapsul. Berharap semua ini dapat diterima dan dimaknai dengan baik sehingga kita mampu menjadi orangorang yang senantiasa BERSYUKUR atas seluruh NIKMAT yang ALLAH berikan pada kita disetiap keadaan.

Obat Pencuci (Detergen). Bogor. PT. 2004. PENDAHULUAN Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor. . S. Mikrobiologi. PT. Annonymous. Diakses tanggal 04 Desember 2011. yaitu Fenol Dan SenyawaSenyawa Lain Yang Sejenis. Fardiaz. Press. Diakses Tanggal 21 Desember 2011 Bacus. kadar ion Hidrogen (pH). Jakarta. Klor Dan Senyawa Klor. pengaruh sinar. Formaldehida (CH2O). yaitu biotik dan faktor abiotik. Sulfonamida. tegangan muka. 1989. 2011. Diakses tanggal 08 Desember 2011. yodium. Kerjasama Dengan PAU antar Universitas Pangan dan Gizi. Analisis mikroba di laboratorium. Sudarmaji. hidrostatik. Annonymous. Metode Penyimpanan Dan Pemeliharaan Mikroba Dalam Mempertahankan Viabilitas. http://id. B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. IPB. J. Third Edition. 2008. UMM Press. Amensalisme (Antagonisme). 1994. Waluyo. Mikroorganisme. yaitu pengaruh temperatur. Faktor lingkungan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Annonymous. Faktor lingkungan biologi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. kompetisi. Analisa Mikrobiologi Pangan.com/doc/75921669/metde-pnyimpaman-dan-pemeliharaan-mikrobadalam-mempertahankan-viabilitas. Penerbit Liberty. CRC Press LLC Boca Raton. komensalisme.http://faktor-faktoryang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba. mutualisme (simbiosis).http://www. ltd. Lud. N. Fundamental Food Microbiology.W. Utilization of Microorganisme In Meat Processing Research Studies.html. Diakses tanggal 04 Desember 2011. 2011. 1992. Yogyakarta. Raja Grafindo Persada.Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. pengaruh perubahan nilai osmotic. B. Raja Grafindo Persada. Florida. kelembaban dan pengaruh kebasahan serta kekeringan. 2001. antibiotik. B. yaitu netralisme. 2008. Haryono dan Suhardi. Ray.scribd.org/wiki/Mikroorganisme. tekanan. http://id. 1994. garam-garam logam. Malang. alcohol. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum.wikipedia. DAFTAR PUSTAKA Annonymous. Lay.org/wiki/Mikrobiologi .wikipedia. 1984. England. sinergisme. zat warna. parasitisme. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA TUJUAN Untuk memberi pengetahuan mahasiswa mengenai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba.

sumber mineral. Rak Tabung reaksi 2. terbentuk dalam sebuah simbiosis. Contohnya : pengikatan nitrogen di udara oleh bakteri pengikat nitrogen dalam tanah. Logam berat Cd. mikroba lain tersebut dapat berkomensalisme secara positif contohnya bersimbiosis / hidup saling menguntungkan atau negatif / saling merugikan dimana yang satu akan membunuh yang lainnya. Contohnya : kompetissi antara E. 3. Kapas 6. Biakan murni bakteri : Staphylococcus aureus. faktor biotik adalah pengaruh mikroba oleh mikroba lainnya. hubungan mikroba satu dengan mikroba lainnnya tersebut. Simbiosis Komensalisme. aureus. 2. menghambat). Antibiotik kloramfenikol 6. Simbiosis Mutualisme. Salah satu anggota asosiasi menerima keuntungan. Ada 3 jenis simbiosis yang dpt terjadi. Anggota yang lain tidak terpengaruh. faktor abiotik.(saling merugikan. Alkohol 5.a. dapat mencapai populasi total yang besar. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. coli menghambat daur pertumbuhan S. kompetisi. aureus. Candida albicans 5. sedangkan anggota yang lain mendapat keuntungan. Simbiosis antagonisme.( pertumbuhan E. Contohnya: Bakteri E. dll. Media Nutrien Agar 4.Batang kaca bentuk Luntuk spread 2. kedua anggota asosiasi memperoleh keuntungan (saling mengntungkan). pH. Coli yang ada dalam usus besar manusia. ) b. bahan toksik / logam berat. terdiri dari temperature. yaitu dapat tumbuh lebih cepat. Coli dengan S. Tabung reaksi 3. PertumbuhanArthrobacter citerus pada medium yang mengandung saccharomyces cereviceae. Aluminium foil . Eschericia coli. secara rinci. Pipet volume 3. Api bunsen dan spirtus 4. yaitu : 1. sumber nutrien. atau parasitisme. Salah satu anggota asosiasi dihambat atau dimusnahkan. dan pada umumnya tumbuh “lebih baik”. Pb Bahan : 1. oksigen.

Mengambil 0. Mempersiapkan 3 tabung reaksi yang telah berisi nutrient agar. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya logam berat Cu.PROSEDUR KERJA A. tabung reaksi ke-2 pada lemari es. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Pertumbuhan mikroba pada cawan Petri: 1. Mengambil biakan bakteri dengan jarum ose dan meletakkan ke dalam tabung reaksi dengan bentuk zigzag secara aseptik Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya antibiotik. . Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Menghomogenkan bakteri dengan memutar cawan Petri membentuk angka 8. dan tabung reaksi ke3 pada oven.1 biakan murni bakteri dengan pipet volume dan memasukkannya ke dalam cawan Petri steril secara aseptik Mengisi cawan Petri yang berisi bakteri dengan nutrient agar secara aseptik. B. Pada perlakuan dengan logam berat Cu terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk (Cu) sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. dan cawan Petri ke3 pada oven. Hasil Pengamatan Pada perlakuan dengan antibiotik kloramfenikol terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. Melewatkan jarum ose pada api Bunsen hingga nyala api berpijar. Meletakkan masing-masing cawan Petri pada suhu yang berbeda yaitu cawan Petri ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Mempersiapkan 3 cawan Petri yang telah steril. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. cawan Petri ke-2 pada lemari es. Meletakkan masing-masing tabung reaksi pada suhu yang berbeda yaitu tabung reaksi ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Pertumbuhan Mikroba pada cawan Petri: 1.

Penisilin hanya efektif digunakan untuk memberantas terutama jenis kokus. dan jenis spiril tertentu. dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. basil. Mekanisme Kerja antibiotika Antibiotika menganggu bagian – bagian yang peka di dalam sel. ada juga antibiotika berspektrum sempit. Tetrasiklin efektif bagi kokus. cairan atau badan eksudat Larut dalm air serta stabil Bacterisidal level. basil maupun spiril. Hal ini dapat menunjukkan bahwa Saccharomices dapat melakukan pertumbuhan optimal pada suhu kamar 380C dan termasuk mikroba mesofil. artinya hanya efektifdigunakan untuk spesies tertentu. Pengaruh Antibiotika Terhadap Pertumbuhan Bakteri Antibiotika adalah suatu substansi ( zat – zat ) kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikrporganisme. Sifat – sifat Antibiotika yaitu: Maenghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang ( host ) Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik Tidak menyebabkan resistensi pada kuman Berspektrum luas Tidak bersifat alergenik Tetap aktif dalam plasma. Oleh karena itu antibiotik ini dikatakan memiliki spektrum yang luas. PEMBAHASAN A. yaitu : Antibiotika yang mempengaruhi dinding sel . artimya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri. karena itu penisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. baik kokus. Antibiotika ada yang mempunyai spektrum luas. didalam tubuh cepat dicapai dan bertahan untuk waktu yang lama.Inkubasi pada lemari es dan inkubasi pada suhu 600C tidak terlihat adanya pertumbuhan mikroba tetapi pada suhu kamar 380C terlihat adanya pertumbuhan mikroba.

sulfonamida. ada beberapa pedoman sebagai berikut : a. vankomisin Antibiotika yang menganggu fungsi membran sel Contoh : polimiksin. Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikrobe terletak antara 0 – 90o C. kolistin. Untuk menemukan temperatur maut bagi mikrobe. Oleh karena itu. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikrobe masih dapat dapat berlangsung. pirimetamin. Pengaruh Logam Berat Terhadap Pertumbuhan Mikroba Logam berat berfungsi sebagai antimikrobe oleh karena dapat mempresipitasikan enzim – enzim atau protein essensial dalam sel. dan harganya mahal. rifampisin. As. C. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. optimum. dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikrobe dinamakan daya oligodinamik. amforoterisin B Antibiotika yang menghambat sintesa protein Contoh : Aktinomisin. Beberapa jenis mikrobe dapat hidup pada daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas.Contoh : Penisilin. . Laju kematian termal ( Thermal Death Rate ) kecepatan kematian mikrobe akibat pemberian temperatur. masing – masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. Logam –logam yang sering dipakai adalah Hg. sefalosporin. c. eritromisin. Daya antimikrobe dari logam berat. tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. Temperatur maut / Titik kematian Termal ( Thermal Death Point ) Temperatur serendah – rendahnya yang dapat membunuh mikrobe yang berada di medium standar selama 10 menit pada kondisi tertentu. merusak alat – alat yang terbuat dari logam. novobiosin. basitrasin. Biasanya. dan Cu. klindamisin. kloramfenikol. Hal ini karena bahwa tidak semua spesies mati bersama – sama pada suatu temperatur tertentu. Ag. streptomisin. dan kita kenal ada temperatur minimum. tetrasiklin. b. trimetoprim B. spesies satu lebih tahan daripada spesies yang lain terhadap suatu pemanasan.Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikrobe. Waktu kematian thermal ( Thermal Death Time ) waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikrobe pada suatu temperatur yang tetap. Antibiotika yang menghambat sintesa asam nukleat Contoh : asam nalidiksat. ristosetin. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit. dan maksimum. Zn. nistatin. sikloserin. Pengaruh Temperatur Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan.

Antibiotik → menyebabkan terbentuknya zona terang ( halo ) disekitar media bakteri. Logam berat → menyebabkan terbentuknya zona terang atau ( halo ) disekitar bakteri. DAFTAR PUSTAKA 1. Mikrobe Psikrofil yakni golongan mikrobe yang dapat tumbuh pada 0 – 30oC.2004. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu. dan Schmidt. KESIMPULAN Faktor – faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba diantaranya yaitu : a. Mikrobe Mesofil adalah golongan mikrobe yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 5 – 60oC. akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun. karena spora sangat sedikit mengandung air. Pembekuan secara terputus – putus ternyata lebih efektif daripada pemanasan terus – menerus.AGUS KRISNO BUDIYANTO. sedang temperatur optimumnya 25 – 40oC.Waluyo. Sedangkan pada suhu rendah dan suhu tinggi pertumbuhannya terhambat.Mikrobiologi Umum. dan temperatur optimumnya 55 – 65oC. OLEH: DR. c. Mikrobiologi Umum.Drs. Mikrobe Termofil yakni golongan mikrobe yang tumbuh pada suhu 40 – 80oC. Pembekuan air hanya dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri. b. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor-faktor luar.M.Universitas Muhammadiyah Press : Malang. Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur. Umumnya hidup dalam alat pencernaan.M. Golongan mikroba ini terutama terdapat di sumber – sumber air panas dan tempat. Kehidupan bakteri tidak hanya di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan . Kebanyakan dari golongan ini tumnuh di tempat – tempat dingin.Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh pada spora.G. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh daripada kalau pembekuan itu dilakukan di dalam buih karena buih tidak dapat membeku sekeras air beku. dengan temperatur optimum 10 .1994.M. Pengaruh suhu → mikroba tumbuh optimum pada suhu kamar. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. mikrobe dapat dibagi menjadi tiga golongan utama.Lud. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya.KES DOSEN PENDIDIKAN BIOLOGI UMM Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya. baik di daratan maupun di lautan. 2.tempat lain yang bertemperatur tinggi.H.H.15oC. terlebihlebih mikro organisme. yaitu : a.190oC ).Kes.Schlegel. K. sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya. b. c. Pembekuan secara perlahan – lahan dalam temperatur – 16oC ( es dicampurdengan garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secar mendadak dalam udara beku ( .

Misal. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Faktorfaktor biotik terdiri atas mahluk-mahluk hidup. . pengeringan. optimum dan maksimum. Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Di dalam keadaan basah.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. sehingga tepat jugalah bila kita katakana adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). 2. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Berapa tinggi suhu. 3.nya. Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut. Suhu Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Berdasarkan ini. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. 4. sebaliknya .tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Perlu diperhatikan kiranya. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan penentuan waktu maut (Thermal Death Rate). individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatupemanasan. mesofil. 1. Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. Biasanya. Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam (fisika) dan faktorfaktor kimia. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah. 5. pH. tekanan osmose. Untuk sterilisali. bahwa tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. pada temperartur yang sama. 5. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time). sinar gelombang pendek.1 Faktor-Faktor Abiotik. dan termofil. tegangan muka dan daya oligodinamik. perubahan ini di sebut perubahan secara kimia. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu. Berhubung dengan ini.

buih tidak membeku sekeras air beku. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. Akan tetapi. misalnya. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. Sebagai contoh. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang panasnya 93 – 94 °C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga sangat termofil.Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. karena spora sangat sedikit mengandung air. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. sedang pada suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan pengawetan makanan. dan Bacillus caldotenax. Sebaliknya. juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. jika suhu sampai naik sedikit. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46 °C. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. yaitu: Bakteri termofil (politermik). Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang rendah. karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70 ° C saja. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora tersebut. kita belum tahu. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di dalam lemari es. Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit. batas-batas antara golongan-golongan itu sukar di tentukan. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C ). Bacillus caldolyticus. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. Pada . Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Bakteri psikrofil (oligotermik). Bakteri mesofil (mesotermik). meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. Conococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. Dalam praktek. Bakteri termofil agak menyulitkan pekerjaan pasteurisasi. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. Spesies-spesies itu di tabiskan menjadi Thermus aquaticus. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri.

tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa inkubasi. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C. yang diisolasi dari lingkungan dingin. Akan tetapi.7 menunjukkan kecepatan tumbuh E.3 Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu menurut rumus arrthenius Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia. mesofil. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C). Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh. kebanyakan bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air. ΔH* ialah energi aktivitas pada reaksi. dapat diramalkan bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku. dan maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar. T ialah suhu dalam derajat Kelvin. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar. Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran. Gambar 10. Kecepatan reaksi kimia merupakan fungsi langsung daripada suhu dan mengikuti hubungan yang dikemukakan semula oleh Arrhenius : Log10 V = − ΔH* + C 2. R ialah konstante gas. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. Kurvenya linear hanya pada bagian kisaran suhu untuk tumbuh. dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C).303RT v ialah kecepatan reaksi. optimum. Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan. terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam. sangat beragam pada bakteri.6). coli yang dapat disamakan dengan fungsi T ¯¹. Sebab kecepatan tumbuh dengan tibatiba sangat menurun pada batas atas dan bawah kisaran suhu. psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil fakultatif. dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil obligat. Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu galur spesies . Gambar 5. yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C). melainkan berada di dalam keadaan “tidur” (dormancy). bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil. kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi T ¯¹ menghasilkan garis lurus dengan lereng negatif (Gambar 10.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal. yang tumbuh baik pada 0°C.umumnya dapat di pastikan. dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. yang dinamakan suhu optimum. Bakteri yang dipiara di bawah suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati. yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum. Karena itu.

Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein (misalnya flagelum. Akibatnya. berubah-ubah menurut suhu tumbuh. namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan . Percobaan seperti ini (Tabel 10. dan mutan peka dingin. dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun . Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas. semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk. dengan mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda. Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh. derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat . kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu mutan. Pada suhu rendah. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat. baik prokariota maupun eukariota. dengan suhu tumbuh minimum yang menaik.mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya . Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu.6). Susunan lipid pada hampir semua organisme. Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C. maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. Bila suhu turun. yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga).itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies. Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam penelitian. dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu. mesofil. mutan peka panas. tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-protein ini. ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. Akibatnya. dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas. Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan. Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. Ilustrasi kejadian ini pada E. dan psikrofil yang agak berubah-ubah. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut. Oleh karen aitu. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil. coli tampak pada perubahan dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri. walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum ditentukan. perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda.

0-4.8 9.1N).0 (netral). bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawasenyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya. Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan. cuka 2.0-5.5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas. pH air suling ialah 7.3 7.5 Thermos aquaticus Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2.8 pH minimum. dan maksimum untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri Bakteri KISARAN pH UNTUK PERTUMBUHAN Batas bawah Optimum Batas atas Thiobacillus 0. natrium bikarbonat (0.2 Kuning – merah Fenolftalein 8.6 1. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu.4 7.6 4.0 Thiooxidans 4.0-7.8 8.0 .0 Clhorobium limicola 6. sari tomat.6 Tak berwarna -merah muda Tabel 5. 2. khamir pada pH 4.2 5.5 2. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6.0-8.8 – 8.5 5.5 7.2.2 7.8 9.1 Kuning – biru Merah feno 6.0 – 9. dapatlah dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak.1 Kuning – biru Merah metal 4.0 Acetobacter aceti 4. Tabel 5.5 – 7.0 6. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid. mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil.5 – 7. pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen.5.5 dan 7.6.0 – 4.4 – 6.keadaan cairnya pada suhu tertentu.0-7.0 Merah – kuning Biru brom timo l 6. misalnya untuk bakteri pada pH 6. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum.0 – 7.8 Kuning – merah Merah kresol 7. Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium.0 – 4. susu magnesia. 8.8 7. optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya. 10.3 Staphylococcus aureus 5.5 9. susu.4-6.5 8.5 Azotobacter spp 6.2 – 9. Untuk menahan perubahan dalam medium sering ditambahkan larutan bufer.5.0 7.6 7. 6.0 – 8. 4.4. larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil.7 Indikator Asam – Basa NAMA INTERVAL pH PK INDIKATOR WARNA ASAM – BASA Biru timol 8. optimum.0-3.25. pH Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu. Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keaadaan sangat masam atau sangat alkalin.5 6.7 Merah – kuning Biru brom fenol 3.5.

lingkungan.4-9. Termofil 25 – 55°c optimumnya pada Fakultatif (bebas pilih) suatu titik didalam Termofil obligat 45 – 75°c kisaran bergantung ada spesies Aerob Hanya tumbuh bila ada oksigen bebas Anaerob Hanya tumbuh Persyaratan akan gas tanpa oksigen Anaerob fakultatif bebas Tumbuh baik tanpa Mikroaerofil oksigen bebas Tumbuh bila ada oksigen bebas dalam jumlah sedikit Kebanyakan bakteri berkaitan dengan kehidupan hewan dan pH optimum 6. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. Tabel 5. makanan yang diasin.Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). air laut. dan danau air asin. yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin.5-8. Air laut mengandung 3. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi.5 alkanitas (pH) Beberapa spesies eksotik . Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi.9 Kondisi-kondisi fisik yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri Kondisi Fisik Tipe Bakteri Kondisi Biakan (Kelompok Psikologis) (Inkubasi Suhu (kisaran Psikrofil 0 – 30°c pertumbuhan) : Mesofil 25 – 40°c minimum dan Termofil : maksimum. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. Sebagai contoh.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. hanya tumbuh bila mediumnya mengandung konsentrasi garam yang tinggi.5 persen natrium klorida. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8.5 – Keasaman atau tumbuhan 7. yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau rendah. Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan.5 Suhu. Bakteri tertentu. karena cahaya adalah sumber energinya. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan zat alir). di danau air asin. wadah berisi garam. konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. organisme fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan.

pH minimum 0,5; Fotosintetik (autotrof dan

pH maksimum 9,5

heterotrof) Cahaya sumber cahaya Halofil (halofil obligat) Salinitasi konsentrasi garam yang tinggi, 10 –15% NaCl 3. Kelembaban Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut. 4. Tekanan osmosis Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair. Jika perubahan nilai osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahanlahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak. 6. Senyawa toksik Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap

gugusan didalam sel. 7. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi. 8. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup. 9. Kebasahan dan kekeringan Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah: Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut. 10. Sinar gelombang pendek Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan mikrobia. Sinarsinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.

Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan, ruangruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung bioskop dan sebagainya pada waktuwaktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon dan klor (chlor). 11. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan itu menyerupai membran yang elastik. Demikian juga permukaan cairan yang menyelubungi sel mikrobia. Tekanan dari membran cairan ini di teruskan ke dalam protoplasma sel melalui dinding sel dan membran sitoplasma, Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikrobia. Kebanyakan bakteri lebih menyukai tegangan muka yang relatif tinggi. Tetapi adapula yang hidup pada tegangan muka yang relatif rendah. Misalnya bakteri-bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan. Sabun mengurangi ketegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Diplococcus pneumoniae sangat peka terhadap sabun. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun; hanya bakteri yang hidup di dalam usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Bolehlah dikatakan pada umumnya, bahwa bakteri yang Gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan (depresi) tegangan permukaan daripada bakteri yang Gram positif. 12. Daya oligodinamik Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang. 13. Desinfektan Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering

melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawasenyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik. a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. b. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. c. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. d. Yodium Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol, banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. e. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. f. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. g. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun

obat-obatan ini terkenal sebagai kloramfenikol. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. eritromisin. disebut antibiotik yang spektrumnya sempit.5 Rumus bangun sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat i. basitrasin oleh Bacillus subtilis. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas itu sesuai dengan konsentrasi antibiotik yang terkandung didalamnya. Tetrasiklin efektif bagi kokus. basil dan jenis spiril tertentu. polimiksin oleh Bacillus polymyxa. bakteri dapat tumbuh biasa. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik diketemukan. Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat dihasilkan oleh golongan jamur. yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. dikatakan mempunyai spektrum luas. Pinisilin di temukan oleh Fleming dalam tahun 1929. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis. Pneumococcus. Penggunaan obat-obat ini. Gambar 5. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin. Jika sesudah 24 jam kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri sekitar bahwa bakteri itu tercekik pertumbuhannya oleh antibiotik yang terkandung dalam kepingan kertas. melainkan oleh golongan bakteri sendiri. . Akhir-akhir ini orang telah dapat membuat kloromisetin secara sintetik. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. Sering terjadi. magnamisin yang masing-masing mempunyai khasiat yang berlainan. maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. aureomisin. Gonococcus. teramisin. baik kokus. antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi.zat ini dapat membunuh bangsa jamur. Antibiotik Menurut Waksman. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu. h. Asam-paminobenzoat memegang peranan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan. basil. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. maupun spiril. dan pada dewasa ini jumlahnya ratusan. Sebaliknya. .Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat secara sintetik pula. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin. kloromisetin. Pada medium agar-agar yang telah disebari spesies bakteri tertentu diletakkan beberapa kepingan kertas yang masingmasing mengandung antibiotik yang diuji dalam kontrentasi yang tertentu.

metafen atau mertiolat. c. Garam – Garam Logam Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri. maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penelanan atau penyuntikan. daerah pertumbuhanbakteri b. maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekkan pada agar-agar lempengan. Jika tak ada pertumbuhan. Katakan. daya mana disebut oligodinamik. daerah kosong Gambar 5. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit. yang satu (1:90) dan yang lain (1:100). (1:350). kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. (1:400). Setelah 5 menit berada di dalam larutan. maka alat–alat yang terbuat dari logam. a. hal ini berarti bahwa bakteri telah mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan. Adapun zat yang dipakai ialah fenol. 5. Dari tiap-tiap larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril banyaknya tabung sesuai dengan banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. yaitu 12 tabung untuk desinfektan 0. Di samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan khasiat fenol. Penyuntikan dapat dilakukan intra vena (dalam pembuluh darah balik) atau intra muscular (dalam daging). kadang-kadang digunakan juga Micrococcus aureus. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini. daerah kosong a. Setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa tentang ada tidaknya koloni-koloni Salmonella. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan perangkat kedua. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. Desinfektan yang akan diuji itu di encerkan menurut perbandingan tertentu. daerah pertumbuhanbakteri b. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir. dimana Salmonella dibiarkan berada dalam larutan selama 10 menit. M adalah agar-agar lempengan yang disebari bakteri j. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di kolam–kolam renang. Cara Menilai Khasiat Desinfektan Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan. Di dalam perangkat yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan. c.2 Faktor-Faktor Biotik Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) . orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok. dan lagi pula mahal harganya. misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu eksperimen.6 Pengaruh antibiotic terhadap pertumbuhan bakteri. Misal. Banyak juga orang mempergunakan persenyawaan perak dengan protein. kita membuat 2 larutan fenol. (1:450). Mikroorganisme yang dipakai sebagai penguji khasiat desinfektan ialah Salmo nella typhosa. larutan desinfektan A itu (1:300). Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida.5 ml inokulum Salmonella typhosa yang masih muda. dan piaraan ini kemudian disimpan dalam suhu 37 °C. Persenyawaan air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji – bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur.Sesuai dengan keperluan.

dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian.atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. 1978). Mutualisme Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. Faktorfaktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad. Contohnya adanya pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi. Sinergisme Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. Golongan 3) merupakan bagian sementara. mutualisme. simbiose. sinergisme. parasitisme. tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. Sebagai contoh mutualisme antara bakteri Rhizobium dengan polongpolongan. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain. Simbiosis Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan. Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik. (Bothast. mutualisme. Simbiose dapat dibedakan tiga macam. dan parasitisme. Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami kerugian atau tidak. ialah komensalisme. Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme. 5. sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama. karena jasad inang sebagai sumber kehidupannya.3 Fungi Dan Lingkungannya Christensen (1957) membagi fungi dalam 3 golongan berdasar keadaan lingkungan perkembangannya yaitu: 1) fungi lapangan (field fungi). Parasitisme Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri. tergantung pada macamnya simbiose. fungi penyimpanan menyerang bijian yang tersimpan setelah panen dengan kandungan air . Tanpa sinergisme masingmasing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut. Komensalisme Merupakan asosiasi yang sangat renggang. sedang 2 bagian terdahulu khusus padakomoditas biji-bijian. Sintropisme Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang lebih komplek . antibiose dan sintropisme. Antibiosis Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh. Fungi lapangan menyerang bijian yang sedang dan masak penuh dengan kandungan air paling sedikit 20% atau keseimbangan lembab relatif (Rh) 90 – 100%. 2) fungi penyimpanan (storage fungi) dan 3) fungi perusakan lanjutan (advanced decay fungi).

Alternaria. umumnya banyak terdapat pada biji sayuran atau biji serealia. dan obat khususnya bila terjadi cuaca lembab sebelum panen. dan pada tempat penyimpanan fungi ini hamper tidak terdapat. gandum. Fungi yang dominan pada suatu komoditas tergantung atas macam tanaman. Stemphylium. 3)periode penyimpanan. Beberapa spesies tertentu penicillium kadang-kadang dimasukkan dalam fungi lapangan (Mislivec dan Tuite. 1978).sekitar 13 – 20 % atau keseimbangan lembab relative (Rh) 70 – 90% (Bothast. namun tidak hanya terbatas pada biji serealia. Menurut Christensen dan Kauftmann (1969) dilaporkan lebih dari 150 spesies fungi telah diisolasi dari bagian biji tanaman. 4) pH. Epicoccum dan Nigospora yang umumnya menyerang dekat atau saat panen (Bothast. Ibasidia. 2) suhu ruang penyimpanan. Setiap jenis fungi selain adalah batasan-batasan normal. Fusarium. 1978). 1978). Dalam kaitannya dengan kelembaban relatif (Rh) yang dapat diukur dari sekeliling bahan maka umumnya diharapkan kelembaban relatif sekitar 70-80%.0.65. Helminthosporium banyak didapat pada jenis padi. 5) banyknya benda-benda asing (bukan bahan sejenisnya) dan 6) terdapatnya aktivitas serangga dan kutu dalam ruang simpan (Uraguchidan Yamazaki. Chaetomium. sedangkan golongan fungi hidrofil diinginkan aw mencapai 0. dan jagung dikenal sebagai bentuk “kudis” biji-biji yangdemikian dapat mendatangkan kercunan pada hewan maupun manusia(Uraguchi dan Yamazaki. Kekecualian adalah Aspergillus flavus yang dapat menyerang bahan dilapangan (meski termasuk fungi penyimpanan) demikian pula Fusarium akan dapat melanjutkan kerusakan bahan bijian dalam gudang (meski termasuk fungi lapangan) bila kandungan air bahan cukup tinggi (Lillehoj dkk. Wallace (1973)menyebutkan 26 spesies Aspergillus dan 66 spesies Penicillium yang dapat diisolasi pada produk simpanan. 1973). Mucor dan Rhizopus pada umumnya ada hubungannya dengan kerusakan pada kondisi lembab. 1975). barley. disamping faktor lainnya. Selain Aspergillus dan Penicillium dikategorikan pula dalam fungi penyimpanan adalah Absidia. 2) aktivitasair (water activity). 1978). Helminthosporium dan Cladosporium (Uraguci dan yamazaki. Faktor-faktor seperti disebutkan diatas ditujukan pada bahan dimana fungi tumbuh. maka untuk pertumbuhan fungi endiri memerlukan faktor fisik-khemis antara lain 1) suhu. Pada barley. Aspergillus dan Sporendomena dan kadang-kadang beberapa jenis khamir (Uraguchi dan Yamazaki. Cladosporium umumnya pada biji serelia dalam kondisi basah selama panennya. mereka bukanlah fungi pemula kerusakan bahan dalam penyimpanan (Wallace.1975. Terdapat beberapa faktor pokok yang akan mempengaruhi perkembangan fungi pada bahan pangan yang disimpan. antara lain: 1) Kandungan air bijian yang disimpan. Fungi pada umumnya akan dapat berkembang baik pada aw sekitar 0. Rhizopus.89. 4) derajat awal penyerangan oleh fungi sebelum sampai tempat penyimpanan. 1974). Scopulariopis.1976. Fusarium banyak terdapat pada serealia yang baru dipanen. 5) potensial oksidasi-reduksi (Eskin dkk. Juga termasuk pula Curvularia. Fungi penyimpanan juga terdiri dari beberapa spesies antara lain Penicillium. 1970). 1978).80. mempunyai kekhususan diantara spesies dan . dan Neurospora. Mucor. Caldwell dan Tuite. Kebanyakan fungi penyimpanan terdiri dari dari 5 atau 6 golongan Apergillus dan baru kemudian dan beberapa spesies Penicillium sampai terjadi kerusakan lebih lanjut (Christensen dan Kaufmann. Penicillium dan Aspergillus merupakan fungi yang diketahui ada dimana-mana dan hamper terdapat disetiap wilayah. Suhu dan aktivitas air sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian. Lihatlah dua table dibawah ini. Paecylomices. karena mereka menghendaki suatu lembab relatif (Rh) minimum 88% untuk pertumbuhannya. Contoh fungi lapangan adalah alternaria. wilayah atau lokasi geografis dan keadaan iklim. 1978). 1974). 3) tekanan osmosis.

2.lainnya seperti terlihat pada beberapa table kelembaban relatif.1 Latar Belakang Dalam proses metabolisme di dalam tubuh terdapat berbagai macam reaksi kimia. dapat dikatakan enzim memilki peran sangat penting. suhu dan lainnya. Keseimbangan lembab relatif bijian lebih penting daripada kandungan air guna mengendalikan kerusakan fungi dalam ruang penyimpanan. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim. kehilangan substrat. Reaksi enzimatik mempunyai suhu optimum. Memperlihatkan kecepatan reaksi enzimatik sampai suhu tertentu sebanding dengan kenaikan suhu. Dalam aktivitas metabolisme kita mengenal adanya katalisator. mengecilnya oksigen dan kandungan air atau akumulasi CO2 menjadi terbatas. Dengan peran enzim pada hampir tiap reaksi biologis. Katalisator dalam reaksi ini disebut enzim. optimum dan maksimum sebagaimana tercantum dalam tabel diatas adalah perkiraan (Christensen dan Kaufmann. Membuktikan bahwa keasaman ( pH ) mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik 3. maka praktikum tentang faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim perlu dilakukan I. Kelembaban relatif minimum untuk perkecambahan fungi umumnya adalah 75% pada suhu biasa. . Dibawah ini diberikan gambaran Rh ruang penyimpanan dan suhu untuk pertumbuhan beberapa fungi penyimpanan yang penting. suhu dan konsentrasi substrat. pH. Oleh karena pentingnya enzim. Dalam mendukung perannya sebgai katalisator atau mempercepat reaksi yang terjadi tentu saja ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Faktor-faktor tersebut antara lain kosenntrasi enzim. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya.2 Tujuan Percobaan 1. 1974). 1974) PENGARUH SUHU. KONSENTRASI ENZIM TERHADAP KECEPATAN REAKSI ENZIMATIK BAB I PENDAHULUAN I. Pertumbuhan fungi berkaitan dengan kenaikan suhu yang dipengaruhi berbagai faktor antara laininaktivitas thermal enzim. dalam keadaan iniuntuk setiap bahan bijian akan berbeda kandungan airnya sesuai komposisi (Pomeranz. Rekasi kimia ini meupakan bagian dari sistem yang bekerja spesifik dan menghasilkan senyawa-senyawa kimia. Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. Hubungan antara bagian-bagian tersebut sangat kompleks maka kondisi minimum. konsentrasi ion hydrogen (pH). meskipun keduanya mempunyai hubungan erat.

Kespesifikan optik tampak pada enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam system biologis. dan ada pula ynag bersifat stereospesifik.T Simanjuntak. Enzim berfungsi sebagai katalisator si dalam sel dan sifatnya sangat khas. 2003 ). enzim-enzim yang bekerja terhadap asam amino dan protein hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D. Klasifikasi enzim berdasar Commission on Enzim Of The Internasional uinion of Biochemistry ( CEIUB ) atau Internasional Enzim Commision ( IEC ) adalah sebgai berikut : Enzim yang berperan dalam reaksi oksidasi-reduksi contoh oksigenase Enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan gugus tertentu contoh enzim transaminase Enzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis contoh peptidase Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi addisi atau pemecahan ikatan rangkap contoh liase . sedangkan enzim keseluruhannya disebut haloenzim.2000). sehingga suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. enzimenzim ini hanya bekerja terhadap karbohidrat isomer D bukan L.di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. maka enzim juga disebut sebgai biokatalisator Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim. Umumnya. ada pula yang hanya satu kelompok substrat saja. Kespesifikan gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerjaterhadap gugus yang tertentu. Sebaliknya. Enzim alkohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alcohol ( Hafiz Soewoto. Bagian protein ( tak aktif ) ( apoenzim ) + non-protein ( gugus protestik ) = haloenzim ( aktif ) Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus ( M. Di dalam jumlah sangat kecil.1 Enzim Enzim merupakan suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktivitas biologic. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat. enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan hasil akhir reaksinya.

sinar x. . Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum. keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. Akan tetapi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerj enzim antara lain suhu. laju enzimatik selalu lebih rendah. Bila suhu ditingkatkan terus. Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya ( Hafiz Soewoto. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C. penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik.T. Simanjuntak. Pada suhu yang lebih rendah (sisi A pada gambar). dan γ. penyinaran ultraviolet. namun enzim tidak dapat bekerja. pH. Dengan kenaikan suhu lingkungan. β. Seperti molekul protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiko kimia. 2003). Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37° C. a.2000) .Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi isomerisasi contoh alanin rasemase Enzim yang berperan dalam mengkataliser reaksipembentukan ikatan dengan bantuan pemecahan ikatan dalam ATP( ligase ) ( M. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang rerlatif ketat. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi. oksidasi oleh udara atau senyawa lain. karena terjadi denaturasi( Hafiz Soewoto. yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu optimum. Pengaruh suhu : Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim. yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. Di samping itu. jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi.2000). dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum Laju reaksi A B Suhu optimum t0 Pengaruh suhu terhadap laju reaksi enzimatik Pada gambar tampak bahwa di luar suhu optimum. makin rendah pula laju reaksinya. enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. α. kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu. Dengan demikian.

selain gerak termodinamik meningkat. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Oleh karena itu. sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. Pada sisi A dari kurva terdapat hubungan tertentu antara kenaikan suhu dengan laju reaksi. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. gerak termodinamik akan lebih meningkat. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat.kompleks ES tidak terbentuk. Enzim di atas suhu optimum. Arrhenius secara empiris telah mengembangkan suatu rumusan umum antara laju suatu reaksi kimia dengan suhu mutlak system reaksi tersebut. I. Pengaruh pH : . 2002 ): R adalah gas yang bernilai 1. sehingga produk juga makin sedikit. Akibatnya. enzim dalam suhu optimum. kompleks ES akan sukar terbentuk. b.987 kal per derajat per molar. makin rendah suhu. II. Dalam peningkatan suhu ini. gerak termodinamik tersebut akan makin kurang. I II Interaksi enzim-substrat dalam suhu berbeda. Pada daerah suhu yang lebih tinggi (sisi B pada gambar). melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum. E adalah suatu tetapan yang dinamakan energi aktivitas dan kadalah tetapan laju reaksi. Yang dinyatakan sebagai berikut ( Mohamad Sadikin. molekul protein enzim juga mengalami denaturasi. T adalah suhu mutlak. sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering.

Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. pada pH yang jauh di luar pH optimum.0 sampai 9. 2003). yang mempunyai pH optimum 2. Jika dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan. seperti pada enzim amylase liur. Selain itu pada keaadan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat( Hafiz Soewoto. Ada 2 alasan untuk menyelidiki pengaruh tingkat keasaman atau pH terhadap aktivitas emzim.0. enzim akan terdenaturasi. sebagai suatu protein enzim tidak berbeda dengan protein lainnya. melainkan suatu garis merata (plateau setelah kurva yang naik. Simanjuntak. sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5. Ada enzim yang mempunyai pH optimum yang sangat rendah.T. seperti yang tampak pada gambar di bawah ini Laju reaksi pH optimum Ph Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi enzim Kadang-kadang. sebagai produk makhluk hidup secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh ph ini terhadap aktivitas biologis dari enzim ini. yaitu : 1. untuk kemudian turun lagi sesudah plateau ) . hubungan tersebut tidak menunjukkan suatu titik puncak. 2.9. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum. seperti pepsin. Kurva hubungan antara pH dengan laju reaksi suatu enzim biasanya menghasilkan gambaran seperti lonceng. Sebagian besar enzim bekerja aktif dalam trayek pH yang sempit umumnya 5 . Ini adalah hasil merupakan hasilpengaruh dari pH atas kombinasi factor ( 1 ) ikatan dari substrat ke enzim ( 2 ) aktivitas katalik dari enzim ( 3 ) ionisasi substrat dan ( 4 ) variasi struktur protein ( biasanya signifikan hanya pada pH yang cukup tinggi ) ( M.2000) .

Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E]. Akibatnaya.2000) . Pengaruh konsentrasi enzim : Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik. Bagaimana akibat dari perubahan konsentrasi enzim terhadap reaksi enzimztik itu sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini harus dicari dari pengamatan yang dilakukan atas satu seri campuran yang terdiri atas substrat dalam konsentrasi yang tetap dan enzim dalam konsentrasi yang berbeda-beda. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Di luar nilai pH optimum tersebut. Tampak adanyaplateau. yaitu : . Tiap molekul isozem niscaya bekerja pada pH yang sedikit berbeda. dengan volume akhir larutan yang sama. c. bukan tidak mengkin ada interaksi yang merugikan antara enzim dan ion penyusun dapar dan bukan karena pH yang disebabkan dapar itu sendiri. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. Fenomena seperti ini dapat ditafsirkan sebab adanya molekul amylase dalam bentuk beberapa molekul protein yang berbeda (isozim). rentangan pH yang diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan bukan dalam rentangan antara pH 1 sampai 14. reaksi makin cepat( Hafiz Soewoto. pH tersebut dinamakanpH maksimum. 2002). yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. Pengamatan dapat dilakukan terhadap dua hal. Dalam gambar dapat dilihat adanya nilai pH tertentu. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. Karena tidak ada sistem dapar masing-masing di sekitar nilai kapasitas yang maksimum dari tiap dapar (rentangan pH di sekitar nilai pKa komponen asam tiap dapar). Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat keasaman dengan laju reaksi maksimum ini.Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Oleh karena itu. Makin besar konsentrasi enzim. proses katalisis berjalan tidak optimum.

sehingga dengan sendirinya produk olahan enzim juga akan berkurang.1. pada konsentrasi enzim yang rendah. Tiap garis kurva mewakili satu konsentrasi enzim. Dari pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan enzim. Fenomena itu tentu mudah dimaklumi. hubungan jumlah produk terbentuk dengan lama reaksi enzimatik pada berbagai konsentrasi enzim. terhadap hubungan antara selang waktu pengamatan dan konsentrasi produk yang terbentuk pada tiap konsentrasi enzim. 2. akan diperoleh kurva seperti yang tampak dalam gambar 1 dan 2. Jumlah produk 8 6 4 2 0 5 10 15 Menit Gambar 1. bahwa defleksi tersebut makin jelas dengan makin tingginya konsentrasi enzim. terhadap hubungan antara konsentrasi enzim dan kecepatan reaksi enzimatik yang dikatalisis oleh enzim tersebut. pada tiap konsentrasi enzim pertambahan jumlah produk akan menunjukkan defleksi. Sebaliknya. jumlah substrat yang tersedia sudah mulai berkurang. Dengan bertambahnya waktu. Jika data hasil kedua pengamatan tersebut masing-masing disajikan dalam bentuk grafik. tidak lagi berbanding lurus sejalan dengan berlalunya waktu tersebut. . dalam jangka waktu pengamatan yang sama hubungan waktu dengan jumlah produk yang dihasilkan masih berbanding lurus. Pada gambar 1 tampak bahwa makin besar konsentrasi enzim maka makin banyak pula produk yang terbentuk dalam tiap waktu pengamatan. karena setelah selang beberapa waktu. Akan tetapi pada gambar 1 tampak pula dengan jelas.

penyimpangan disebabkan oleh senyawa pengaktif (aktivator). Dalam suatu reaksi enzimatik. Laju reaksi Enzim Gambar 2.Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. Fungsi enzim dalam kepentingan medis. enzim-enzim yang berperan . Pada konsentrasi substrat [S] melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan. Kadang-kadang terjadi penyimpangan dari persamaan ini. Sebagai contoh. pengaruh konsentrasi enzim terhadap laju reaksi enzimatik. makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan [ES]. sedangkan kondisi lainnya tetap. Jadi. Dalam keadaan itu seluruh enzim sudah berada dalam bentuk kompleks E-S. meskipun ph yang diperlukan sudah dipastikan dengan menggunakan larutan dapar dan tidak hanya sekedar larutan dengan ph yang diperlukan tersebut ( Mohamad Sadikin. Makin banyak kompleks [ES] terbentuk. misalnya tidak adanya ion tertentu. enzim akan mengikat substrat membentuk kompleks enzim-substrat [ES]. sehingga mungkin terdapat senyawa-senyawa penghambat reaksi dalam jumlah yang sangat kecil. Biasanya. 2002 ). kemudian kompleks ini akan terurai menjadi [E] dan produk [P]. Penambahan jumlah substrat tidak menambah jumlah kompleks E-S. d. Pengaruh konsentrasi substrat : Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar. kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya. Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu di dalam sel. Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat. Sebaliknya. penyimpangan ini terjadi jika enzim yang dipelajari tidak dalam keadaan murni. makin besar konsentrasi enzim. penyimpangan juga terdapat dalam sediaan enzim dengan kemurniaan yang tinggi. maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat sampai suatu batas kecepatan maksimum (V). Dalam keadaan ini. maka makin cepat laju reaksi. sehingga diperoleh garis agak melengkung.

Reaksi amilopektin dan iodium membentuk kompleks merah-ungu. Sel darah merah penderita defisiensi G6PDH ini sangta rentan terhadap pembebanan oksidatif. Dekstrin tidak membentuk kompleks berwarna dengan iodium. digunakan untuk membuat lem. .000. Bila enzim yang diukur dalam serum terutama dibuat oleh jaringan atau organ tertentu.6)-glukosidase dapa menghidrolisis ikatan α(1. Amilosa merupakan polisakarida linear dari unti-unit Dglukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-(1. sebagian besar enzim terdapat dan bekerja dalam sel dan (2) bahwa enzim tertentu dibuat dalam jumlah besar oleh jaringan tertentu. Enzim α-amilase dalam saluran pencernaan ( air liur dan cairan pancreas ) akan menghidrolisis rantai lurus amilosa dan amilopektin secara acak menjadi campuran glukosa dan maltose. Pada pemakaian obat-obat tersebut dapat terjadi hemolisis intravaskuler.dalam sintesis dan reparasi DNA terletak di dalam inti sel.. 2005 ). Akhirnya tambahan enzim α-(1. Dari hidrolisis parsial amilopektin. misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PDH/ G6PD). Namun jika dihidrolisis sebagian diperoleh produk yang berbeda: amilosa menghasilkan maltose sebagai satu-satunya disakarfida sedangkan amilopektin menghasilkan campuran disakarida maltose dan isomaltosa. Bobot molekulnya beragam dari beberapa ribu sampai 150. . Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien. Dasar penggunaan enzim sebagai penunjang diagnosis ialah bahwa (1) pada hakikatnya. Enzim yang berhubungan dengan berbagai biosintesis protein berada bersama ribosom.2 Pati Pati ialah polisakarida simpanan yang terdapat dalam tumbuhan tingkat tingkat tinggi. Ada penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu. berarti sel yang membuatnya mengalami disintegrasi. Bobot molekulnya lebih besar daripada amilosa. amilosa ini menghasilkan kompleks biru-hitam yang tajam dengan iodium akibat masuknya I2 ke dalam gelung helical ynag terbentuk ketika amilosa berada dalam air. atau kanji tekstil. Karena itu enzim intrasel seharusnya tidak ditemukan dalam serum dan bila ditemukan. tetapi dengan banyak percabangan lewat ikatan α-(1. Enzim β-amilase pada tumbuhan secara lebih spesifik menghidrolisis amilosa menjadi unit-unit maltose. Enzim yang mengkatalisasi berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. misalnya pada pemakaian obat analgetik tertentu dan obat anti malaria.6)-glikosida pada titik percabangan amilopektin dan menghasilkan hidrolisis sempurna ( Staf Pengajar Kimia Organik IPB.2000). maka peningkatan aktivitas dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan atau organ tersebut ( Hafiz Soewoto. pasta. Analisis enzim dalam serum pada dasarnya dapat dipakai untuk diagnosis berbagai penyakit.4)-glukosida. Pati ( mailosa maupun amilopektin ) jika terhidrolisis sempurna ( semua ikatan asetal diputus ) akan menghasilkan hanya D-glukosa. II. Homopolimer ini terdiri atas campuran amilosa dan amilopektin. juga diperoleh campuran oligosakarida yang biasa dirujuk sebgai dekstrin. Hidrolisis sempurna biasanya dilakukan dengan asam encer pada suhu tinggi sedangkan hidrolisis parsial umumnya terjadi secara enzimatik.6)-glukosida. Amilopektin memiliki rantai tulang punggung ( backbone ) yang sama dengan amilosa.

4dan alfa-l.4(http://june-s.4. .1.4. 3. air.6 dan alfa-1.glukan glukohidro-lase atau EC 3. Enzim ini menghidrolisis ikatan glukosida alfa-1. Sedangkan fungsi air yaitu melembabkan dan melembutkan makanan. Enzim ini memutus ikatan amilosa maupun amilopektin dari luar molekul dan menghasilkan unit-unit maltosa dari ujung nonpereduksi pada rantai polisakarida. Bila tiba pada ikatan alfa-1. Proses ini juga dikenal dengan nama proses likuifikasi pati. Adapun fungsi garam natrium yaitu menyediakan enzim beralkali untuk kerja amylase liur. tetapi hasilnya beta-glukosa yang mempunyai konfigurasi berlawanan dengan hasil hidrolisis oleh enzim a-amilase. enzim ini dapat pula menghidrolisis ikatan glikosida alfa-1.C. Alfaamilase akan menghidrolisis ikatan alfa-1-4 glikosida pada polisakarida dengan hasil degradasi secara acak di bagian tengah atau bagian dalam molekul.3. Selain itu.6-glikosida. Produk akhir yang dihasilkan dari aktivitasnya adalah dekstrin beserta sejumlah kecil glukosa dan maltosa.3 tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan hidrolisis ikatan glikosida a-1. dan garam natrium.6 glikosida aktivitas enzim ini akan berhenti.2.blogspot.2. beta-amilase. Enzim alfa-amilase merupakan endoenzim yang memotong ikatan alfa-1. Enzim beta-amilase atau disebut juga alfa-l.html ). amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang dipecah.4glukanmaltohidrolas E. Enzim amylase sendiri di jelaskan di bawah ini.4 amilosa dan amilopektin dengan cepat pada larutan pati kental yang telah mengalami gelatinisasi. bekerja pada ikatan alfa-1.1.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. Secara umum. musin. yaitu alfa-amilase. dan glukoamilase.4-glikosida dengan menginversi konfigurasi posisi atom C(l) atau C nomor 1 molekul glukosa dari alfa menjadi beta. Enzim Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1.II.2. Glukoamilase dikenal dengan nama lain alfa-1. Fungsi dari musin yaitu lendir yang melekatkan butir-butir makanan dan melincirkan makanan.3 Enzim Amilase Air liur mengandung enzim amylase liur.

BAB III MATERI DAN METODE III.1 Alat dan Bahan Alat : a) Beaker glass b) Tabung reaksi c) Pipet volume d) Pipet tetes e) Erlenmeyer f) Spektrofotometri g) Incubator Bahan : a) Air liur b) Larutan pati c) Larutan iodium d) Larutan pH 7 dan 11 e) Aquadest .

2 wadah Prosedur Kerja Sebelum melakukan percobaan diambil sampel air liur dari praktikan dan ditempatkan pada Pengaruh Suhu a) air liur diencerkan 100 kali.5 ml larutan pH 7 (tabung A). 280. kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit. d) ditambah larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh Konsentrasi Enzim a) Air liur diencerkan dengan pengenceran 100 kali . 200 kali . o.5 ml larutan pati ditambah dengan 0. 400 kali . Masing-asing tabung ditandai blanko dan uji.III.2 ml air liur kemudian diinkubasi selama tepat 1 menit d) ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung (untuk suhu 600 C dan 1000C dilakukan di luar penangas) e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh pH a) Air liur diencerkan 100 kali dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) 0. 1000 C selama 5 menit c) larutan pati dicampurkan ke dalam 0. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama minimal 5 menit c) campuran larutan pati dengan larutan pH yang telah diinkubasi ditambahkan dengan 0. dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) larutan pati kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi tanda blangko dan uji kemudian pasangan tabung diinkubasi pada suhu 40. 370.2 ml air liur yang telah diencerkan.5 ml larutan pati ditambah dengan 0. 600 kali b) 1 ml larutan pati dimasukkan kedalam 8 tabung reaksi yang diberi tanda blangko dan uji kemudian diinkubasi pada suhu 370 selama 5 menit .5 ml larutan pH 11 (tabung B). 600.

226 0.033 0.2 ml (setiap konsentrasi) dimasukkan ke dalam tabung reaksi d) Larutan pati yang telah diinkubasi dicampurkan ke air liur kemudian diinkubasi tepat 1 menit e) f) Ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm g) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungakan kecepatan reaksi dengan suhu BAB IV HASIL PENGAMATAN Adapun hasil percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut : Pengaruh Suhu Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Suhu 40C 280C 370C 600C 1000C Dari data di atas didapatkan kurva AB 0.066 .061 0.245 0.189 ∆A/menit 0.183 0.211 0.175 0.142 0.c) Air liur yang telah diencerkan diambil 0.051 0.194 0.255 AU 0.043 0.150 0.

003 AU 0.0315 -0.011 ∆A/menit -0.093 0.008 Perubahan warna Coklat Biru .Pengaruh pH Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm dan perubahn warna yang terjadi pH 7 11 AB 0.1245 0.

Kanan adalah larutan uji Gambar2.Dari data didapatkan kurva seperti di atas Foto di bawah ini memperlihatkan perbedaan warna hasil reaksi anatara pH 7 dan 11 Gambar1. pH 11 Pengaruh konsentrasi . pH 7 Kiri adalah Blanko.

0025 0.08 0.120 0. Namun kami tidak melakukan praktikum mengenai pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim.207 0.0017 0. ∆A/menit diindikasi kan sebagai laju reaksi BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum ini kami melakukan percobaan secara invitro mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amylase yang terdapat pada air liur dalam memecah larutan pati. Faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi enzim.185 AU 0.200 0. suhu dan konsentrasi substrat. konsentrasi ion hydrogen (pH).019 -0.01 0.Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Pengenceran 100 X 200 X 400 X 600 X Konsentrasi AB 0.174 0.173 0.189 ∆A/menit 0.024 0.193 0. .005 0.004 Dari data di atas didapatkan kurva Keterangan: ?A/menit pada judul tiap kurva maksudnya adalah ∆A/menit.

Pada keadaan pertama yaitu 4oC hingga 37oC. Diluar suhu optimum aktivitas enzim menjadi tidak maksimal. Adapun kurva hasil percobaan memperlihatkan laju reaksi dari enzim semakin cepat seiring bertambahnya suhu ini terlihat pada kenaikan suhu dari 4oC hingga 37oC namun ketika suhu mengalami kenaikan hingga 60oC terjadi penurunan laju reaksi.2 ml air liur kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit dan ditambahkan larutan iodium 1 ml dalam 8 ml aquadest pada masing-masing tabung. yang kemudian diinkubasi selama 5 menit pada suhu 4. Setelah itu dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm. Kedua keadaan ini diakibatkan oleh benturan antara enzim dan substrat. Sedangkan air liur digunakan untuk mengetahui reaksi enzimatik dari enzim amylase di dalamnya. Lalu mencampurkan pati dengan air liur dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial.Dalam praktikum kali ini digunakan bahan pati yang diindikasikan sebagai substrat. dimana benturan yang terjadi semakin banyak maka struktur tiga dimensi dari enzim tersebut akan terganggu sehingga enzim akan mengalami denaturasi. yang pertama kami lakukan adalah pengenceran air liur hingga 100 kali. Setelah diinkubasi larutan pati dicampurkan ke dalam 0. 100 C yang masing-masing suhu dibuat blanko dan uji. 28. Berdasarkan data hasil pengamatan. Larutan Iodium digunakan sebagai indicator perubahan warna dari larutan uji. Pada ketiga percobaan perlakuan hampir sama pada pembuatan larutan uji dan blanko. atau dapat dikatakan enzim akan kehilangan sifat alamiahnya. perubahan absorbansi per menit yang diperoleh dari absorbansi larutan blanko dan absorbansi larutan uji dapat dilihat dari kurva disamping. dan dihitung kecepatan reaksi enzimatik serta dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu. telihat peningkatan laju reaksi akibat adanya gerak termodinamik yang secara perlahan membentuk produk dan pada titik optimum ( suhu optimum ) yaitu 37oC dapat dikatakan membentuk secara . Larutan pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. perlakuan tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya bumping selama proses pemanasan. Perlakuan yang sama pada larutan uji dan blanko yaitu sample yang sama yaitu larutan pati yang berfungsi sebagai substrat lalu di inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C ( untuk percobaan pengaruh suhu dan konsentrasi enzim ) yang berfungsi untuk menyamakan kondisi suhu enzim dengan suhu tubuh. Kemudian ditambahkan Larutan iodium yang akan menandakan perbedaan warna dari masing-masing perlakuan pada percobaan factor yang mempengaruhi kerja enzim. karena tidak terjadi benturan antara molekul enzim dengan substrat. 60. Pada percoban mengenai pengaruh suhu terhadap aktiivitas enzim. larutan iodium ini merupakan indicator adanya karbohidrat atau tidak dalam larutan. enzim menjadi tidak aktif. Bila suhu terlalu rendah. Kami juga menggunakan larutan pati sebagai larutan uji untuk melihat aktivitas enzim amylase. 37. untuk suhu 600 C dan 1000 C dilakukan di luar penangas. Pengaruh Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas katalisis enzim. Sedangkan bila suhu terlalu tinggi.

Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. Dari kurva terlihat bahwa pada suhu 100 oC terjadi kenaikan nilai absorbansi. 2002 ) dari kurva laju reaksi yang semakin menurun. sehingga didapatkan kurva yang tidak sesuai teori. Tampak adanyaplateau. pada keadaan kedua yaitu suhu mengalami kenaikan hingga 60oC. sehingga produk juga makin sedikit dan ini terlihat ( Mohamad Sadikin. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Hal ini disebabkan telalu lamanya tabung reaksi berada di luar penangas.sempurna karena enzim amylase yang merupakan enzim yang terdapat tubuh memilki suhu optimum 37oC. Kurva di samping pun menjadi rancu bila dibandingkan dengan kurva antara pH larutan enizm amylase dari air liur dengan laju reaksi menurut Mohamad Sadikin (2002) Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. Pada umumnya enzim bekerja maksimum . Kesalahan ini terletak pada penambahan air liur yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dimana air liur yang ditambahkan hanya 1ml bukan 2ml yang merupakan tahapan pada prosedur kerja sehingga hasil absorbansi nilai ∆A/menit menjadi minus. Akibatnya. Pengaruh pH Dari hasil percobaan kami tidak dapat membuktikan bahwa keasaman mengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. sehingga diperkirakan suhu dalam tabung berada di bawah 100 oC pada saat pencampuran sehingga tumbukan antara enzim dan substrat mengalami penurun dan mendekati suhu optimum sehingga menghasilkan laju reaksi yang menurun. Dari kurva hasil percobaan terlihat semakin tinggi pH semakin tinggi nilai absorbansi yang menandakan semakin tingginya laju reaksi dari pH 7 ke pH 11. kompleks E-S akan sukar terbentuk. Terlihat pada kurva di samping. pada keadaan ini perbenturan antara enzim dan substrat terus berlangsung namun keadaan ini tidak menambah laju reaksi namun mengurangi laju reaksi ini disebabkan karena enzim mengalami denaturasi sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap.

Pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim ini. Pengaruh konsentrasi enzim Konsentrasi enzim mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Kerja enzim amylase disini dikatatan sebagai hidrolisis parsial dan memperlihatkan bahwa enzim amylase berada pada kondisi 3 dimensi yang tepat sehingga dapat mengolah ( menghidrolisis ) karbohidrat dari larutan pati dengan sangat cepat. Kondisi ini terlihat dari kurva di samping kanan.01 dan titik terendah pada konsentrasi 0.0025 dimana laju reaksi semakin meningkat. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. Akibatnaya. dan 0. Di luar nilai ph optimum tersebut.pada pH 5-9. struktur 3 dimensi berubah akibat ph yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. Kerja enzim sebagai katalis dipengaruhi oleh pH. Pengaruh konsentrasi enzim ini yaitu pembentukan produk. proses katalisis berjalan tidak optimum. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat.01. 300x. Keadaan ini tidak dapat membuktikan teori yang . Sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amylase tidak bekerja optimum dalam menghirdrolis larutan pati karena struktur 3 dimensi dari enzim amylase telah berubah sehingga tidak dapat mengolah substrat dengan baik. Dari hasil percobaan pengaruh konsentrasi enzim terlihat pada pergerakan laju reaksi dari 0. Pada larutan uji pH 7 warna yang dihasilkan yaitu coklat.0025 hingga konsentrasi 0.0017. adanya nilai pH tertentu. Larutan air liur diencerkan menjadi 100x. 0.0025. pH tersebut dinamakan pH maksimum.005. dimana makin besar konsentrasi enzim makin banyak pula produk yang dihasilkan sehingga dapat dinyatakan bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim.0. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. 200x. 2002). Oleh karena itu. Pada pH 7 ini dapat dikatakan sudah tidak adanya karbohidrat ( dari larutan pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin ) karena dihidrolisis oleh amylase terlihat dengan tidak didapatkan warna biru kehitaman ( menandakan adanya amilosa) ataupun merah ungu ( menandakan adanya amilopektin )ketika ditambahkan larutan iodium. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Ini menunjukan adanya kompleks pati iodium dimana dapat diindikasikan adanya amilosa yang merupakan bagian dari pati ( karbohidrat ). Sedangkan hasil pengamatan pada pH 11 menunjukan warna biru pada larutan uji setelah ditambhkan iodium. namun dari kurva kita lihat enzim amylase dari air liur bekerja semakin tinggi dengan bertambahnya pH ( yaitu pH 11 yang berada di luar kisaran pH untuk enzim bekerja maksimum). yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. Dari konsentrasi ini sebelum praktikum kita dapat memprediksikan jika laju reaksi akan mencapai titik tertinggi pada konsentrasi 0. Dari pengamatan warna larutan uji. Keadaan ini menandakan bahwa enzim amylase pada air liur bekerja menghidrolisa larutan pati menjadi produk yang terdiri dari glukosa dan maltosa. namun kondisi ini ini terus menurun pada konsentrasi 0.0017 hingga 0. terlihat perbedaan warna yang signifikan antara larutan pati yang dicampurkan dengan air liur pada pH 7 dan pada pH 11 setelah ditambahkan larutan iodium.0017.01. konsentrasi enzim amylase dari air liur yang berbedabeda didapatkan dari pengenceran larutan air liur. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. 400x dan konsentrasi yang di dapat yaitu 0.

Pengenceran yang dimaksud adalah ketika mengencerkan air liur dari 100x menjadi 200x dan seterusnya. Enzim amylase bekerja maksimum pada pH 7 dan pada suhu 37 0C. . dan aktivitas enzim dapat dikatakan bekerja cepat dan tepat pada pH optimumnya. Selain itu dapat kami simpulkan bahwa enzim amylase bekerja menghidrolis secara parsial larutan pati yang merupakan karbohidrat. Kesalahan dalam prosedur kerja ini yaitu ketidaktelitian dalam pengenceran. aktivitas enzim semakin meningkat seiring bertambahnya suhu terlihat dari laju reaksi namun aktivitasnya menurun setelah melewati suhu optimum. dimana semakin tinggi konsentrasi enzim semakin banyak produk yang dihasilkan. BAB VI KESIMPULAN Dari hasil percobaan maka dapat kami simpulkan yaitu enzim dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. 2002). Faktor pertama yaitu suhu. maka makin cepat laju reaksi yang tertera pada kurva ( Mohamad Sadikin. makin besar konsentrasi enzim.menyebutkan Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. Faktor kedua yaitu pH dimana terlihat perbedaan warna akibat kerja enzim pada pH yang berbeda. Faktor ketiga yaitu konsentrasi enzim. Jadi. Kurva yang berbeda pada hasil percobaan dikarenakan adanya kesalahan dalam prosedur kerja.

Jakarta : Widya Medika.blogspot. Penuntun Praktikum Kimia Organik untuk Mahasiswa Program D3 Analisis Kimia. 2000. Biokimia Eksperimen Laboratorium.sehingga dapat dikatakan pH 7 merupakan pH optimum dalam kerja enzim amylase. http://june-s. Departemen Kimia FMIPA-IPB.pdf .html http://library.id/download/fmipa/farmasi-mtsim1. DAFTAR PUSTAKA Sadikin. Staf Pengajar Kimia Organik. Mohamad. Hafiz.Jakarta: Widya Medika. Sedangakan suhu 37 0C merupakan suhu optimum bagi enzim amylase dalam melaksanakan kerjanya.usu. Biokimia Enzim. Soewoto.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. dkk. 2005.ac. 2002.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->