aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba MARCH 24, 2012 BY ADMIN LEAVE A COMMENT PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP

PERTUMBUHAN MIKROBA

Tujuan : Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba Dapat menarik kesimpulan dan menyikapi hal tersebut jika terlibat lagi dalam proses mikrobiologi Teori :

Kehidupan mikroorganisme umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Ada 3 macam faktor lingkungan yang mempengaruhi, yaitu : Faktor fisis, misalnya : suhu, pH, tekanan osmotik, kandungan oksigen dan lain-lain Faktor kimia, misalnya senyawa beracun atau senyawa kimia lain yang berfungsi sebagai bahan makanan Faktor biologis, misalnya : interaksi dengan mikroba lainnya Pengaruh Suhu Peranan suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme sebenarnya merupakan petunjuk adanyapengaruh suhu pada enzim di dalam sel mikroorganisme, Bila suhu rendah (di bawah optimum), aktivitas enzim juga rendah dan dengan demikian pertumbuhan mikroba menjadi lambat. Pada titik beku (di bawah minimum) semua aktivitas metrabolisme di dalam sel terhenti. Hal ini tidak hanya disebabkan karena penghambatan aktivitas enzim secara langsung, tetapi juga karena sel kehilangan air yang sangat diperlukan untuk penyerapan zat-zat makanan dan pengeluaran hasil-hasil buangan sel. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan suhu optimum : 0 – 20 °C 20 – 50 °C 50 – 100 °C Pengaruh pH Mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada jarak pH tertentu, misalnyabakteri pada pH 6,5 – 7,5, khamir pada pH 4,0 – 4,5, sedangkan kapang pada selang pH yang lebih luas. Untuk menahan perubahan pH, ke dalam medium sering ditambahkan larutan buffer (penyangga) dengan tujuan agar diperoleh pertumbuhan mikroorganisme yang baik, sebab pada pH optimumnya, pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan pH tempat tumbuhnya : = Psikrofil = Mesofil =Termofil

pH asam pH basa pH netral

: Asidofil : Alkalofil : Neutrofil

Pengaruh bahan kimia (Desinfektan) Untuk membandingkan kekuatan desinfektan alam menghambat pertumbuhan bakteri dapat digunakan cakram kertas. Pada cara ini cakram kertas dengan diameter tertentu dibasahi dengan desinfektan, kemudian diletakkan pada permukaan agar dalam cawan petri yang telah di inokulasi. Kemudian diinkubasi selama 48 jam. Jika desinfektan menghambat pertumbuhan bakteri, maka akan terlihat daerah bening di sekeliling cakram kertas. Luas daerah benda ini menjadi ukuran kekuatan daya kerja desinfektan Zat makanan yang diserap bakteri, sebagian akan digunakan untuk membangun protoplasmanya sehingga tumbuh mencapai besar tertentu kemudian membelah diri (berkembang biak)perkembangan bakteri. Bakteri berkembang biak dengan jalan membelah diri, dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4 dan seterusnya. Interval waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya:

Escherichia coli membelah diri setiap 15-29 menit Salmonella typhy membelah diri setiap 23-24 menit Sthaphylococcus tuberculosis membelah diri setiap 792-932 menit Treponema pallida membelah diri setiap 1980 menit

Bila suatu jenis bakteri dalam keadaan yang baik dan makanan yang cukup dan membelah setiap 30 menit maka 1 bakteri yang membelah diri mulai jam 09.00 maka pada jam 12.00 akan menjadi 64, pada jam 24.00 menjadi 17.000.000 dan pada jam 09.00 esok harinya menjadi 280.000.000.000.000 untunglah perkembangbiakan secepat ini tidak terjadi di alam karena banyak sekali faktor yang memperngaruhi kehidupan bakteri.

Pengaruh Lingkungan pada Pertumbuhan dan Perkembangan Bakteri

a. Pengaruh suhu

Tiap jenis bakteri mempunyai suhu optimum di mana pertumbuhannya paling baik berdasarkan hal ini bakteri dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

Golongan

Suhu Pertumbuhan Minimun Optimum Maksimum 10-15 25-37 50-60 30 40-55 60-90

Psychrophil 0 Mesophil 15-25

Thermophil 25-45 dalam satuan derajat Celcius

bakteri-bakteri patogen pada manusi termasuk bakteri mesopil. Suhu optimumnya sama degan suhu tubuh manusia (37 C)

1. Pengaruh suhu rendah. Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bakteri, bahkan ada yang tahan bertahun-tahun pada minus 70 Celcius (C) Bakteri yang patogen pada manusia umunya mati pada suhu 0 C

2. Pengaruh suhu tinggi Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila bakteri dipanaskan pada suhu di atas suhu maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri baik patogen maupun tidak dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 menit pada suhu 60-65 C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.

b. Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.

c. Pengeringan (kelembaban)

Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar ke dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab, dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang kering. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan pengeringan. Pada suasana kering ini bakteri tidak dapat merombak bahan makanan yang ditempatinya. Di laboratorium bakteri atau virus dapat dipertahankan hidup dalam keadaan kering, bila pembenihan dibekukan secara cepat kemudian dikeringkan secara cepat pula di dalam ruang vacum (hampa udara). Cara ini penting dalam pembentukan stok (cadangan) bakteri, virus, enzim, toxin, dan plasma darah, yang biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Serbuk ini sangat lyophil (suka air) karena itu pembuatannya disebut proses lyophil.

d. Keasaman (pH)

Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) agau sedikit basa (pH 7,2-7,4) tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5-7,5. Bakteri-bakteri yang patogen pada manusia tumbuhan baik pada pH 6,8-7,4, yaitu sama dengan pH darah. Beberapa bakteri dapat hidup pada suasana asam, misalnya bakteri yang hidup pada gusi manusia, yaitu Streptococcus mutans. Ada pula bakteri yang tumbuh baik pada suasana basa misalnya Vibrio cholera.

e. Pengaruh O2 dari udara

Berdasarkan responnya terhadapa 02 bebas ini, bakteri dibagi dalam 3 golongan , yaitu: Bakteri aerob (obligate aerob), yaitu bakteri yang hanya hidup di dalam lingkungan yang mengandung 02 bebas. Misalnya: Vibrio cholera, Bacillus anthracis,Corynebacterium diptheriae. Bakterii anaerob (obligate anaerob), yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung 02 bebas. Misalnya, Clostridium tetani,treponea pallida. Fakultatif aerob, yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan, baik yang mengandung 02 bebas ataupun tidak. Misalnya: Salmonella typhi, Neisseria meningitis dan Streptococcus pyogenes. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada umumnya akan lebih baik tumbuh pada lingkungan yang mengandung sedikit 02 bebas, karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

f. Pengaruh tekanan osmotik

Oksidasi. FAktorfaktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba Mengubah permebialitas membran sitoplasma sehingga lalu-lintas zat-zat yang keluar masuk ke sel mikroba menjadi kacau. Akan tetapi. LAPORAN 8 (Pengujian Viabilitas Sel Khamir dan Uji Aktivitas Ragi) VI.Air keluar dan masuk ke dalam bakteri melalui proses osmosis. larutan hipertonis di sekitar bakteri akan menyebabkan bakteri sukar atau sama sekali tidak dapat tumbuh bahkan dapat membunuhnya. Citra Aditya Bakti Tag: Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Pengaruh faktor tekanan osmotik terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan yang ada di dalam dengan yang ada di luar sel bakteri. Hydrolusa. Indan Entjang: PT. termasuk air. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di alam. Pengaruh faktor kelembaban terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. misalnya mengoksidasi suatu enzim.Pengaruh faktor oksigen terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. pengaruh desinfektan terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzim sehingga fungsi enzim itu terganggu. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakteri. Asam atau basa kuat dapat menghidroliskan struktur sel sehingga hancur. Pengaruh faktor keasaman terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Untuk kelangsungan hidupnya. karena mempunyai membran sitoplasma yang secara aktif mengatur ke luar masuknya zat ke dalam sel bakteri. PEMBAHASAN . Kenyataan ini dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk mengawetkan ikan asing dan dendeng. Terjadi ikatan kimia. pengaruh faktor suhu terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. bakteri tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan osmotik cairan di sekitarnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Mengubah sifat koloid protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati. Misalnya preparat sulfa memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroba. Memblokir beberapa reaksi kimia. Pengaruh faktor cahaya terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur itu terganggu. g. sumber: Mikrobiologi & Parasitologi: dr.

sehingga menjadi tidak berwarna. untuk mengetahui pengembangan adonan dan juga karakteristik roti itu sendiri. terdispersi dalam air. Campuran tepung cakra dan fermipan kemudian ditambahkan dengan aquades hangat sedikit demi sekit hingga terbentuk adonan roti yang kalis. Sel khamir yang masih hidup ini dapat menahan Methylen Blue.Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 November 2011. lalu lakukan pengamatan di bawah mikroskop. tidak semua mikroorganisme dapat terlihat dengan baik. pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi roti. yang selanjutnya dikocok. Pertama-tama 40 gram tepung ditambahkan 0.44 gram fermipan. bertujuan untuk mengamati jumlah sel khamir yang hidup dan yang mati. Mikroba utama dalam ragi roti ini adalah jenis khamir Saccharomyces cerevisiae. sehingga membran luar selnya dapat mengatur apapun yang keluar masuk sel. Tepung yang digunakan merupakan tepung yang memiliki kadar gluten yang tinggi sehingga cocok untuk pembuatan roti.2 Uji Aktivitas Ragi Praktikum selanjutnya adalah uji aktivitas ragi. Kemungkinan bagian yang digunakan itu adalah bagian yang sel matinya lebih banyak. Ragi fermipan dibuat menjadi suspensi. Ini dapat menyebabkan warna biru dari Methylen Blue masuk ke dalam sel. dan sel terlihat berwarna biru. 4. Adonan kalis dapat diidentifikasi dengan terbentuknya adonan yang tidak lengket dan apabila dibelah adonan tidak menjadi pecah. yang menunjukkan sel khamir tersebut hidup dan yang berwarna biru menunjukkan sel khamir yang mati karena menyerap metylen blue.1 g ragi roti ditambahkan dengan 10 ml aquades steril didalam erlenmeyer. Hal lain yang mungkin terjadi adalah kondisi lingkungan tidak cocok untuk ragi dan penambahan alkohol untuk membersihkan objek glass menyebabkan sel khamir banyak yang mati.sebelumnya 0. Karena jarak pandang yang terbatas yaitu hanya sati sisi saja. 4. Adanya sampel yang menunjukkan sel mati lebih banyak dari sel hidup dapat dipahami mengingat pengambilan 0. lalu ambil satu ose sampel dan di inokulasi pada objek glas. Sedangkan sel yang masih hidup terlihat tidak berwarna di bawah mikroskop. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa sel khamir yang mati sebanyal 33 sel dan sel hidup sebanyak 15. suspensi ditetesi lagi dengan Methylen Blue. membran luar sel tidak dapat menahan cairan yang keluar masuk sel. mempunyai daya tahan simpan yang lama. sangat aktif dalam memecah gula. Jika viabilitas sel rusak. Selain itu. Pada saat pengamatan di mikroskop kita dapat melihat dan membedakan antara sel khamir yang mati dan hidup.1 Pengujian Viabilitas Sel Khamir Ragi yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu fermipan. Praktikum kali ini terdapat dua perlakuan yaitu.1 gram ragi diawal dilakukan secara acak. Pengamatan yang dilakukan adalah pengembangan volume adonan roti yang telah dibuat. dan tumbuh dengan sangat cepat. yang ditandai dengan warna bening. Pada perlakuan pertama pengujian viabilitas sel khamir. Sel yang masih hidup masih memiliki viabilitas sel yang baik. Volume adonan dapat berkembang karena khamir menghasilkan gas CO2 yang membuat adonan . Ruang pandang yang terbatas pada mikroskop dapat menjadi salah satu penyebab ketidak-akuratan dalam menghitung jumlah mikroorganisme yang hidup dan yang mati. Sel khamir ini memiliki sifat-sifat fisiologi yang stabil.

Adonan dimasukkan ke dalam gelas ukur dan ditutup dengan cling wrap. Hasil pengamatan dapat dlihat pada Tabel 1. Tabel 1. sehingga pertumbuhan khamir meningkat. ketinggiannya juga beratambah. Peningkatan volume adonan diamati setiap 10 menit selama 1 jam.mengembang. 2011) Berdasarkan hasil pengamatan. Uji Aktivitas Ragi Menit Tinggi 0’ 72 ml 10’ 74 ml 20’ 80 ml 30’ 93 ml 40’ 96 ml 50’ 97 ml 60’ 98 ml (Sumber : Dokumentasi Pribadi. Jadi memang benar bahwa dalam adonan ragi berfungsi sebagai: . Pengembangan volume yang meningkat dapat terjadi karena suhu adonan masih optimal bagi sel khamir dan karena nutrisi yang dibutuhkan sel khamir masih banyak tersedia dalam tepung adonan. tejadi pertambahan volume pada adonan setiap 10 menit.

mudah keras. memproses gluten (membuat jaringan sehingga gas karbondioksida tertahan didalam). karena sel khamir hanya dapat tumbuh pada lingkungan yang anaerobik. serat roti kasar. Menghasilkan flavour (aroma dan rasa) pada adonan. semakin mengembang volume adonan roti. Pada pembuatan roti. Selama pengadukan adonan dan fermentasi. Memproses gluten (protein pada tepung). sedangkan gas CO2ditahan oleh gluten terigu sehingga roti mengembang. jika tidak kita tutup maka tidak akan mengembang karena udara dapat masuk dan menghambat kerja dan pertumbuhan sel khamir yang ada pada adonan roti. Bila suhu adonan melebihi 30°C. ragi mengkonsumsi gula dan mengubahnya menjadi gas karbondioksida. Pada pengujian aktivitas ragi.Leavening agent (pengembang adonan). volume adonan bertambah tiap 10 menit. ditambahkan ragi untuk memprosesnya. maka semakin buruk kualitas ragi. ragi berfungsi sebagai pengembang adonan (ragi mengkonsumsi gula yang menghasilkan karbondioksida). ragi roti menghasilan sedikit etanol dan gas CO2. yang terbentuk karena ragi juga memproduksi sejenis etanol). sehingga dapat membentuk jaringan yang dapat menahan gas karbondioksida keluar. Ragi roti di dalam adonan akan bekerja secara optimal bila suhunya di bawah 30°C. dan roti menjadi tidak tahan lama. sehingga adonan mengembang. Hal ini disebabkan karena selama fermentasi. yaitu sel hidup dan sel mati. KESIMPULAN Kesimpulan dari praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi adalah sebagai berikut: Dalam pembuatan roti. Pemakaian mesin (mixer) yang terlalu lama untuk mengaduk roti menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu adonan sehingga mengurangi aktivitas ragi (yeast). Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ragi memang benar-benar terjadi. Untuk mengoptimalkan aktivitas ragi. Etanol yang dihasilkan akan menguap selama pemanggangan. Dalam ragi terdapat dua sel khamir. . Tujuan dari gelas ukur tersebut ditutup dengan clingwarp dengan tujuan agar sel khamir dapat tumbuh dan berkembang. Semakin banyak sel mati. V. perhatikan pula suhu pembuatan adonan. ragi juga menghasilkan sejenis etanol yang dapat memberikan aroma khusus. Semakin kuat gluten menahan terbentuknya gas CO2. Akibatnya aroma roti menjadi asam. Ragi yang digunakan pada praktikum ini adalah ragi berkualitas buruk karena jumlah sel hidup lebih sedikit dari sel mati. maka aktivitas ragi akan berkurang sehingga fermentasi roti akan semakin lama. Mikroba yang berperan adalah dari spesies Saccharomyces cerevisiae. dan mengahasilkan flavour (aroma dan rasa.

PT. Amilase digunakan untuk memecah zat tepung menjadi gula untuk produksi energi. Ragi tersebut hanya mengembang sedikit demi sedikit bahkan ada yang tidak mengalami pengembangan sehingga dapat disimpulkan apabila ada komponen lain yang menghambat keberhasilan pembuatan ragi roti.A Edwards. K. apakah viabilitas sel khamir pada ragi yang dibuat masih tetap tinggi?Jika tidak. Pseudoalteromonas Arctica Sekelompok peneliti mengisolasi enzim amilase dari Pseudoalteromonas Arctica. Srikandi. W. Penerbit Universitas Indonesia. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono.. Berikut adalah hasil penelitian mengenai pengaruh suhu pada aktivitas enzim amilase yang dilakukan pada beberapa organisme. Penerjemah Muchji Muljohardjo..A. 1992. Enzim amilase umumnya bekerja maksimal pada suhu tubuh normal dan aktivitasnya akan menurun seiring terjadinya penyimpangan dari suhu normal. Teknologi Pengawetan Pangan. Dalam edisi 2010 November “Journal Protein.” para peneliti menyatakan bahwa suhu optimal enzim amilase pada bakteri tersebut adalah 30 derajat Celcius dan aktivitas molekul berkurang hingga 65 persen pada suhu nol derajat Celcius. apa alasannya? Jawab : tidak tinggi viabilitasnya. Mikrobiologi Pangan 1. Wootton. Hal ini didasarkan pada hasil uji aktivitas ragi yang telah dibuat. Bagaimana tingkat keberhasilan pembuatan ragi roti berdasarkan cara yang telah dilakukan. PERTANYAAN DAN DISKUSI Berdasarkan pengamatan. Amilase adalah sebuah enzim yang diproduksi oleh sebagian besar organisme. Jelaskan! Jawab : 10%. Buckle.H Fleet. Gramedia Pustaka Utama. Suhu optimal enzim ini akan bervariasi. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia. . Jakarta. mulai dari bakteri hingga manusia. 1987. G. 1988. Jakarta.. sebab sudah banyak sel khamir yang mati daripada sel khamir yang masih hidup. Desroiser. dan M. tergantung pada tiap jenis organisme. Ilmu Pangan. Norman. R.DAFTAR PUSTAKA Fardiaz. sebuah bakteri laut lokal di Samudra Arktik yang mengelilingi pulau Spitzbergen di Norwegia.

Para peneliti menemukan bahwa aktivitas enzim amilase tidak mengalami hambatan pada suhu mulai dari 10 sampai 50 derajat Celcius. Mereka menemukan bahwa aktivitas enzimatik meningkat seiring dengan suhu. Bacillus iicheniformis. Penelitian ini lebih lanjut melaporkan bahwa aktivitas enzimatik paling optimal terjadi pada suhu 30 derajat Celcius.25 derajat Celcius pada pH 6.Studi ini juga melaporkan bahwa aktivitas enzim amilase menurun tajam pada suhu di atas 40 derajat Celcius. sampai enzim didenaturasi pada suhu 80 derajat Celcius. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi. Bacillus subtilis Sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi Juli 2009 “Biotechnology Progress” menyelidiki potensi penggunaan enzim amilase yang diisolasi dari Bacillus subtilis.25 derajat Celcius setelah satu jam.1. Tinjauan Pustaka Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. tetapi menurun ketika tekanan dan waktu ditingkatkan. Heliodiaptomus viduus Zooplankton air tawar.[] 1.25 derajat Celcius setelah dua jam dan 70.25 dan 70. Sebuah studi yang diterbitkan dalam edisi Maret 2006 “The Turkish Journal of Zoology” melaporkan bahwa enzim amilase dalam organisme ini akan beraktivitas maksimum antara suhu 30. mengandung sejumlah besar amilase sekitar 2. aktif pada berbagai rentang suhu. sebagai indikator tekanan. reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim. enzim menjadi tidak aktif pada suhu 60. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono. Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya. . Bacillus iicheniformis Edisi Januari 1989 dari jurnal “Biotechnology and Bioengineering” melaporkan bahwa enzim α-amilase dari bakteri terisolasi. 1994).400 molekul untuk setiap gram berat badan. Selain itu. Para peneliti menyesuaikan suhu suatu medium yang mengandung bakteri secara bertahap dari 4 ke 22 hingga 37 dan akhirnya 80 derajat Celcius. Heliodiaptomus viduus. Dalam mahkluk hidup.0. PENDAHULUAN 1. suhu dan waktu pada proses pasteurisasi.

Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil. 1990). Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit(Wirahadikusumah. Misalnya. 1989). Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat. bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi. 1994). perubahan pH sangat kecil. Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih. kencing manis. menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat. larutan tidak ada gumpalan. Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis. Pada suhu 45°C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). maltotriosa atau oligosakarida. Sebaliknya pada penyakit hati. Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington. gondongan. dalam banyak kasus. Pada suhu ruang. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox. kebutuhan kofaktor. Tumbuhan mengandung α dan β amilase. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. 1994). 1994). pH optimal. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Dalam air. Pada sel hidup. kadarnya dalam darah meningkat. Pada penyakit radang pankreas. daerah temperatur. Karena itu pada suhu 40oC. hewan memiliki hanya α amilase. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington. begitu juga pada suhu ruang. substansi tersebut tidak berubah. 1991).Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. kadarnya menurun (Anonim. 1990). menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. glikogen dan polisakarida yang lain. pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor. 1991). .

Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu. Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee. laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. pepsin. yaitu suhu tubuh. 1994). enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. Beberapa ion anorganik. Pati yang merupakan . Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington. khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. pada umumnya sekitar 4. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono. Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu.5–8. Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. Pada suhu yang sangat rendah. enzim yang dikeluarkan ke lambung. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. 2. dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser. 1994). 1994). Namun dalam suatu reaksi kimia. Ketika temperatur meningkat. misalnya ion kalsium dan ion klorida. 1994). Sebagai contoh. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. Sebagai contoh. 1994).Sifat-sifat enzim antara lain : 1. (Tranggono & Setiadji. pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam. aktivitas enzim berkurang. menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington. dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington. proses denaturasi juga mulai berlangsung dan menghancurkan aktivitas molekul enzim. yang terjadi saat perkecambahan serealia. 4. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. 1989). Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah. Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. 1992). 1992). 3.

Pada suhu yang sangat rendah. dan polisakarida yang lain. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. aktifitas enzim akan berkurang. α amilase mempunyai beberapa sifat. temperatur. Tumbuhan mengandung α dan ß amylase. kofaktor. Warna iodine akan lebih cepat hilang. dll). 1994). α amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7. Tipe III : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox. d. glikogen. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. α amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida. amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. . Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. pH. Tipe II : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein. Contohnya. produk. antara lain : a. 1991). enzim. Tidak memproduksi glukosa. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. Proses produksi maltosa lebih lambat. hewan memiliki hanya α amylase. 1992). c. Dalam air.polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Untuk enzim. b. suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. Poligalakturonase. 1994). yaitu suhu tubuh. 1991). Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda– beda (Lee. Pada manusia. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian: Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. 1994). Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr. dan gaya irisan. peroksidase dan fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra. Di dalam larutan pati. kehilangan daya viskositas yang lebih cepat. Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim.

vortex. Metode Kecambah dan buah ditimbang dalam beaker glass sebanyak 15 g. 2. 2. Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui efek dari nilai pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim. stopwatch. 5. Larutan campuran tersebut disaring dengan kain mori dan filtrat yang dihasilkan ditampung.9. 1994). MATERI DAN METODE 2. 1 ml buffer pH 3.1. 4. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz. 13). 1991 ).2. Materi 2. tabung reaksi.5. Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr. dan 1 ml buffer pH 9 seperti tabel di bawah ini : Larutan pati Tabung Enzim = tidak dididihkan (setelah inkubasi 2 menit) Aquades Buffer pH 3 Buffer pH 5 2 4 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 4 - 1 2 3 . spektofotometer.2. Setelah itu ditambahkan dengan 30 ml larutan buffer. 2. 8) dan ada yang dipanaskan (kelompok 9. larutan Buffer pada pH 3. 1 ml buffer pH 7. 1. 7. kacang hijau segar. larutan pati 1%.1. 12.1. 2. Alat Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah water bath. timbangan analitik. Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno. Larutan tersebut ada yang tidak dipanaskan(kelompok 1. cawan dan batang porselin. 1 ml buffer pH 5. 1992 ). kacang tanah segar. kecambah kacang hijau. beaker glass. pompa. 1995 ). Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa.1. Kemudian masing-masing tabung reaksi diberi label dan diisi dengan 2 ml larutan pati dan ditambahkan pula ke dalamnya masing – masing tabung berbeda yaitu 1 ml aquadestilata. pipet volume. 3. penjepit. Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox. 6. 11.7.e. 10. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen Benedict. kecambah kacang tanah dan pepaya (menatah dan mendidih).2. air destilasi.

HASIL PENGAMATAN Hasil percobaan tentang pengaruh pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.9581 1. 2 ml larutan enzim yang didinginkan atau dipanaskan tadi ditambahkan ke masing – masing tabung reaksi dan di-vortex. Grafik 1.8561 0. dapat dilihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.2080 0.1968 0.3486 0.6193 Kelompok B1-B8 mengalami perlakuan enzim tidak didihkan dan kelompok B9-B13 mengalami perlakuan enzim didihkan.2706 0.9458 0.4248 2 pH 3 1.1552 0. Setelah itu.1180 0.7878 0.9199 1.3844 0.4868 0. Grafik hubungan antara nilai pH terhadap OD digambar.4480 0. Setelah itu.9213 1.4 5 Buffer pH 7 Buffer pH 9 - - - 2 - 2 Kelima tabung reaksi tersebut di-vortex. 0.6078 5 pH 9 0.5 ml larutan reagen Benedict ditambahkan ke setiap tabung reaksi dan diukur besar OD ( Optical Density ) pada λ 620.5631 0.9948 0.2412 0. Inkubasi selama 10 menit dilakukan kembali terhadap tabung–tabung reaksi tersebut.1879 0.3041 0. B7 + B8 & B13 Pepaya Matang. B5 + B6 & B12 Pepaya Mentah.1237 0.2143 3 pH 5 0.2415 1.2388 1.5701 4 pH 7 0.1957 0.1245 1. B3 + B4 & B11 Kecambah Kacang Hijau.1146 0. Kemudian di-inkubasi dalam waterbath 38oC selama 2 menit. 3. Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan Tabung Kel 1 aquades B1 + B2 B3 + B4 B5 + B6 B7 + B8 B9 + B10 B11 B12 B13 0.9005 0. Grafik Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan .0240 0. Dengan perincian kelompok B1 + B2 & B9 + B10 Kacang Hijau Segar.8425 0.8719 1. Tabel 1.1219 0.2830 0.3391 0.2289 0.2120 0.

Sehingga jika suhu berada di atas optimal. Semakin tinggi suhunya. yang ditunjukkan dengan nilai absorbansinya. sedangkan pada enzim yang dipanaskan cenderung nilai OD-nya berada ditingkat absorbansi yang lebih rendah. Dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada kelompok B9-B13 (enzim mendidih) jika dibandingkan dengan nilai absorbansi kelompom B1-B8 (enzim tidak mendidih) memiliki nilai yang jauh lebih rendah pada bahan dan pH yang sama. bahwa suhu optimal enzim antara 35oC dan 40oC. 4. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas. data dan grafik kelompok B1-B8 dengan kelompok B9-B13 tidaklah sama. yang dapat dilihat dari nilai absorbansinya. enzim akan bertahap menjadi inaktif karena terjadi perubahan struktur enzim. pada kecambah kacang hijau pada pemberian pH 7. Pada percobaan kelompok B1-B8 enzim tidak dididihkan sedangkan pada percobaan kelompok B9-B13 enzim dididihkan dengan perlakuan pH yang sama dari percobaan tersebut terdapat perbedaan hasil pengamatan. maka aktivitasnya akan berkurang yang terlihat dari menurunnya nilai absorbansinya. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Sedangkan pada bahan yang . karena enzim mengalami inaktivasi pada suhu tinggi. Pada enzim yang dididihkan. pernyataan ini sesuai dengan Tranggono & Setiadji (1989). Sesuai dengan pernyataan Gaman & Sherrington (1994). nilai absorbansinya semakin turun. Hal tersebut terlihat bahwa enzim dipengaruhi oleh panas atau suhu. Pada bahan yang tidak dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3.Pada Tabel 1 dan Grafik 1 nilai absorbansi yang didapat oleh semua kelompok berbeda satu dengan yang lain. Sedangkan pada pengaruh pH didapatkan bahwa setiap bahan memiliki nilai pH optimum untuk melakukan aktivitas enzimnya. Pada enzim yang tidak dididihkan dihasilkan nilai OD berada ditingkat nilai absorbansi yang lebih tinggi. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. P. Jakarta. Pada suhu yang sangat rendah. Kartasapoetra. Rineka Cipta. menurutGaman & Sherrington (1994) semakin besar atau basa pH yang digunakan maka semakin rendah nilai OD-nya dikarenakan enzim mengalami denaturasi. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi.PT Cipta Adi Pustaka. . Pengantar Ilmu Pangan. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. dan pada suhu 100oC enzim rusak. (1991). Ilmu Pangan. Mikrobiologi Pangan 1. S.dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. Elsevier Applied Science. (1994). Gramedia Pustaka.M & K. Jakarta. pada kecambah kacang hijau pada pemberian aquades. Dengan menggunakan larutan buffer inilah kita mendapatkan pH yang terkontrol dan tepat. Sherrington. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim tapi suhu yang terlalu tinggi pun dapat mendenaturasi enzim.B. London. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim.sedangkan aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Hal ini dapat terjadi karena terjadi kesalahan saat praktikum saat pengukuran absorbasi atau mungkin juga setiap bahan yang berbeda memang memiliki pH optimumnya masing-masing. Fardiaz. Seharusnya. Akibatnya daya kerja enzim menurun. · Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC. P.F. Gaman. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. (1990). 6. yaitu suhu tubuh. Jakarta. pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. (1994). Yogyakarta. 5. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. Ketika temperatur meningkat. aktivitas enzim berkurang. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Nutrisi dan Mikrobiologi. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang.A. KESIMPULAN · Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum. hal ini sesuai pernyataanGaman & Sherrington (1994). Fox. · Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH. Larutan buffer adalah larutan yang tahan panas terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. · Nilai absorbansi pada percobaan ini dapat menunjukkan nilai aktivitas enzim yang dipengaruhi oleh pH dan suhu tertentu.G. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. (1992). Food Enzymology Vol 2. Universitas Gadjah Mada press.

optimum 55C-60 C.Lee. sedangkan maksimum 75 C. dan asam nukleat. Organic Experiment 7th Edition. D C Health ang Company. Mikroba psirkofilik (kryofilik) adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperatur antara 0 C sampai 30 C. (1992). Williamson. Yogyakarta. Prentice Hall Inc. c. New Jersey.S. S.K. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. Martoharsono. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian . Biokimia dan Teknologi Pasca Panen. Institut Teknologi Bandung. Tranggono & Sutardi. Wirahadikusumah. Berdasarkan daerah aktivitas temperatur. Biokimia jilid 1. sehingga beda (rentang) antara temperatur minimum besar. Bandung. J. golongan ini terutama terdapat di dalam sumber-sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bertemperatur lebih tinggi dari 55 C. baik di daratan maupun di lauatan. Yogyakarta. minmum 40 C.L & L. Thermal Death Time (TDT) Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas temperature yang sempit. melainkan dalam keadaan dormansi (tidur). (1989). mikroba akan mengalami kematian. (1989). Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. disebut stenotermik. inilah yang disebut golongan euritermik. Mikroba mesofilik adalah golongan mikroba yang mempunyai temperatur optimum pertumbuhan antara 25 C-37 C minimum 15 C dan maksimum di sekitar 55 C. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Biokimia : protein. mikroba di bagi menjadi 3 golongan. Tetapi Escherichia coli tumbuh pada kisaran temperatur 8-46oC. Yogyakarta. Tranggono. (1994).Fieser. M. yaitu: a. misalnya Gonococcus yang hanya dapat hidup pada kisaran 30-40oC. United States of America. (1992). Biasanya. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Gadjah Mada University Press. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. dengan temperatur optimum 15 C. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. Petunjuk Laboratorium Biokimia Pangan. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. b. M. golongan mikroba yang memiliki batas temperatur minimum dan maksimum tidak telalu besar. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperature tinngi. Biochemical Engineering. kebanyakan golongan ini tumbuh d tempat-tempat dingin. (1990). enzim. Gajah Mada university Press.F.B. umumnya hidup di dalam alat pencernaan. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 40 C atau lebih. Bila mikroba dipiara dibawah temperatur minimum atau sedikit diatas temperatur maksimum tidak segera mati.

misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung alkohol. Definisi mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. mikros = kecil. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan pada roti. Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. Bacillus subtilis selnya berbentuk basil. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Sebagian motil dan adapula yang non motil. bios = hidup dan logos = ilmu. kelembaban. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang membusuk. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis 20-30 19 20-50 57 60 100 100 Suhu (0C) Spora Clostridium botulinum 100-330 KARAKTERISTIK BACILLUS SUBTILIS Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu. temperatur. katalase positif yang umum ditemukan di tanah. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun kontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan makanan. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif.pada suatu temperatur. Tidak seperti species lain seperti sejarah. Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak benar. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval. mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani. Baccillus subtlis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °. bentuk dan jenis spora. Hal inilah yang . pH dan komposisi medium. umur mikrroba. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut. atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. ada yang tebal dan yang tipis.

Antara tahun 1632–1723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. Leewenhoek dan Mikroskopnya Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf. yang penting lainnya adalah mekanisma kimia oleh mikroorganisme sangat mirip dengan unity in biochemistry yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisme adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British Royal Society. alga. tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi. Jika anda membaca tentang mikroorganisme anda akan menghargai. misalnya: dari tumpukan minyak di lautan dipergunakan sebagai herbisida dan insektisida di bidang pertanian. Strain-strain dari mikroorganisme yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat diterima.disebut dengan biohemial divesity atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisme. Leewenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai. . Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200–300 kali. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa informasi genetik pada semua organisme dari mikroba hingga manusia adalah DNA. Sebenarnya ia bukan 3 orang pertama dalam penggunaan mikroskop. Saat ini mikroorganisme diteliti secara insentif untuk mengetahui dasar fenomena biologi. Tetapi banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer. hewan maupun tumbuhan. Disamping itu. Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang penting di bidang kesehatan maupun industri makanan. protozoa dan virus merupakan organisme yang sering tidak terlihat. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan animalcule yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil. mengagumi mikroorganisme seperti bakteri. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia. Pengambilan informasi genetika dari mikrorganisme karena sifatnya sederhana dan perkembangbiakan yang sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabolisma. Belanda. Mikroorganisme juga merupakan sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat. Kemampuan mikroorganisme yang telah direkayasa untuk tujuan tertentu menjadikan lahan baru dalam mikrobiologi industri yang dikenal dengan bioteknologi. kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri. sekarang dikenal dengan protozoa. Mikroorganisme juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk membersihkan lingkungan. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. saliva. Sekarang insulin yang dibutuhkan manusia dapat diproduksi dalam jumlah tak terhingga oleh bakteri yang telah direkayasa. Hal ini karena mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mendekomposisi/menguraikan senyawa kimia komplek. misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai sumber energi. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. air hujan. feses dan lain sebagainya.

Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Untuk sterilisali. perubahan ini dinamakan perubahan secara kimia. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan. Pendapat atau teori ini disebut biogenesis. dan faktor biotik. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. mesofil. akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Beberapa mikroba dapat pula mengubah pH dari medium tempat hidupnya. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi. dan termofil. optimum dan maksimum. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis. ü Faktor – faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme 1. . Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. melalui fermentasi misalnya. demikian juga jasat renik. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Ada dua pendapat. satu mengatakan animacules ada karena proses pembusukan tanaman atau hewan. . Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)-nya. Misalnya. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia). Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal animalcules tersebut. Mikroba Dengan Lingkungan Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar.Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi. Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun menurun. Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada yang bersifat sementara. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu labih dari 100 tahun. Pendapat ini mendukung teori yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. sebaliknya . Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. Pengaruh Suhu atau Temperatur Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya.

Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Berdasarkan ini. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terus menerus. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190°C). Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap spesies. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Sebagai contoh. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. Berhubung dengan ini. karena spora sangat sedikit mengandung air. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. Bakteri patogen yang biasa hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku.Di dalam keadaan basah. . kita belum tahu. pada temperatur yang sama. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. Sedikit perubahan pH menuju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. buih tidak membeku sekeras air beku. Biasanya.Tapi tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi.

Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C.GRAFIK SUHU PADA BAKTERI Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. . yaitu: Bakteri termofil (politermik).

Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. .Bakteri mesofil (mesotermik). kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih.

bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar.Bakteri psikrofil (oligotermik). . Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas suhu yang sempit.Gonococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. misalnya. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46°C. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. Pada umumnya dapat di pastikan.

BAKTERI GONOCOCCUS .

misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. konidia atau dapat membentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah Bakteri yang ada dalam medium susu. Kelembaban dan Pengaruh Kebasahan serta Kekeringan Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora.spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. umur mikrroba. hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur.yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis. bahkan dapat hidup di dalam air. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. Pada proses pengeringan. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa. Meningococcus. pH dan komposisi medium. itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam. air akan menguap dari protoplasma. kelembaban. jika digesekkan di atas kaca obyek. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium botulinum 20-30 19 20-50 100-330 57 60 100 100 Suhu (0C) 2. daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri yang mati jika terkena udara kering. temperatur. Sebaliknya. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering. apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. Biasanya. Pengeringan ditempat yang terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada . Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur.BAKTERI ESCHERICHIA COLI Bakteri yang diplihara di bawah Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. bentuk dan jenis spora. Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah. mikroba akan mengalami kematian. gula.

rhizobia. misalnya Lactobacilli. tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir.5-8. sel membengkak dan akhirnya pecah. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium. (2) mikroba halofil. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis.0-7. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi. Contohnya adalah bakteri nitrat.pengeringan ditempat yang gelap. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer.0-5.0 Maksimum 9. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis.4 optimum 6. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman. misalnya Halobacterium. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur. actinomycetes. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah. yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel. lingkungan. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. dan Sarcina ventriculi. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil. Kadar Ion Hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi. Acetobacter. dan bakteri pengguna urea. Pengaruh Perubahan Nilai Osmotik Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air.0 . adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi. (3) mikroba halodurik. maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2.94).5 Suhu. 3. dinding selnya terdiri dari murein. umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % (aw = 0. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya. 4. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. Nama mikroba Ph minimum Escherichia coli 4.0 Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). sehingga tahan terhadap ion Natrium. kadar garamnya dapat mencapai 30 %.4-9. maka selnya akan mengalami plasmolisis.

0-7.0-7. yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya.0 6. pengaruhnya lebih buruk.6 1. Cara kerja buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH- 5. ruang-ruang pertemuan.Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans Lactobacillus acidophilus 4. sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik. yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ.0 6. terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam. jika kertas-kertas pembungkus makanan.8 7.2. tidak begitu berbahaya.0-8.0-6. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali. gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. ruang-ruang penyimpan daging.4 9.6-8.8 7.6-7.8 Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan.0-7. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel.0 4.6 6. Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan bentuk morfologinya. bakteri bahkan dapat mati seketika. sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. maka apabila ada perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma.6 8. Zat-zat seperti sabun. bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultraungu. Alangkah baiknya.0-4. Pengaruh Sinar Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis.0-7.0 9. dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan.4 10.6 8.4 4. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis.0-5. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara. plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. 6. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan.0 4. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini. Lebih dekat.0 8.8-6.0 6. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil. Sinar yang nampak oleh mata kita.6 5. maupun senyawa-senyawa organik amfoter. yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. deterjen.8 5.6 2.4 5.6 6. .0 6. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapaPseudomonadaceae. air.0-2. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7.5-9.0 8.

Oksidasi Zat zat seperti H2O2. yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol. sehingga zat ini merupakan desinfektan. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia. C. b. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Karbol ialah lain untuk fenol. Kulit dapat terbakar karenanya . Beberapa Desinfektan dan Antiseptic adalah sebagai berikut : Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol. sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. d. . akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium. c. virus. e. dan jamur. etanol menyebabkan terjadinya penggumpalan protein. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai.ü Faktor – faktor kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme Pada umumnya kerusakan bakteri dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : A. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. · a.Na2BO4 mudah benar melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. Depresi dan ketegangan permukaan Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. Yodium Yodium-tinktur. B. Klor didalam air menyebabkan bebasnya O2. Dan protein yang menggumpal itu telah mengalami denaturasi dan tidak dapat berfungsi lagi. Koagulasi atau penggumpalan protein Zat seperti perak. efeknya lebih baik. banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Jika dicampur dengan air murni. sehingga desinfektan menjadi menarik. alat-alat seperti gunting. tembaga dan zat-zat organik seperti fenol. lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri.

Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. bakteri dapat tumbuh biasa.Pneumococcus. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik.Penggunaan obat-obat ini. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah. g. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Gonococcus. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri. Asam-paminobenzoat memegangperanan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. hijau malakit. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhan bakteri gram positif. ü Faktor – faktor Biologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme a. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling mempengaruhi. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. Sering terjadi. Hijau berlian. fuchsin basa. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. h. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat. dan antar . tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandungempat bagian. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous(indigenous).f. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. karena zat ini tidak merusak jaringan. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. melainkan juga merupakan bakterisida. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. lagipula tidak menyebabkan sakit.

Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah. toksin. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam. Sinergisme Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. g. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup dan pertumbuhannya. Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. Mutualisme sering disebut juga simbiosis. atau fase istirahat (spora. f. maka disebut sintropisme. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum dengan Paramaecium aurelia. d. Contohnya adalah: Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein. Senyawa organik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont). Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium yang dapat menghambat populasi Nitrobacter. atau antibiotika. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens). e. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang menggunakan nutrien / makanan yang sama. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap populasi mikroba lain. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila. misal dalam keadaan kering beku. b. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic Methanobacterium. Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang mengubah etanol menjadi asam asetat. kista). Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif. Asam-asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. atau dalam keadaan nutrien terbatas. Kompetisi Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya mengalami kerugian. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan samasama mendapat keuntungan. c. pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh apapun. Amensalisme (Antagonisme) Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan.mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah. atau proses pembersihan air secara alami. Parasitisme . Thiobacillus thiooxidans menghasilkan asam sulfat.

Jamur Trichodermasp. Cara ini jugadigunakan untuk penyimpanan dan pemeliharaan egativ mikroba yang belum diketahui cara penyimpanan jangka panjangnya. dan terjadi kekeliruan pemberian label. populasi satu diuntungkan (parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Umumnya parasitisme terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. Oleh karena itu. Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E. Penyimpanan dalam Akuades Steril Beberapa jenis bakteri. 2. Pada kondisi penyimpanan ini bakteri yang disimpan masih berpeluang tumbuh dengan lambat. sehingga tidak dapat dijamin stabilitas genetiknya untuk jangka panjang. Mikroorganisme seringkali berhttp://id.wikipedia.Virus juga termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler. beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Teknik ini merupakan cara paling tradisional yang digunakan peneliti untuk memelihara koleksi egativ mikrobadi laboratorium. di antaranya kemungkinan terjadi perubahan egativ melalui seleksi varian. Namun. Terjadinya parasitisme memerlukan kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif lama. misalnya pada anggota genus Pseudomonas. Teknik ini mempunyai berbagai kendala. PEMBAHASAN Upaya Mempertahankan Viabilitas Mikroorganisme Akibat Pengaruh Lingkungan : Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajarimikroorganisme. Meskipun demikian. memparasit jamur Agaricus sp. Cara Bakteri Mempertahankan Viabilitas : 1.org/wiki/Sel_%28biologi%29&#8243. peluang terjadinya kontaminasi. Penyimpanan dengan cara ini juga memungkinkan terjadinya kontaminasi. Kendala tersebut memberi peluang yang lebih besar terjadinya kehilangan isolate dibandingkan dengan teknik lain. Agrobacterium. dan Curtobacterium. Ukuran parasit biasanya lebih kecil dari inangnya.Parasitisme terjadi antara dua populasi. Tahap penyimpanan mikrobadalam akuades steril adalah se-bagai berikut: . terutama yang berbentuk batang dan bereaksi Gram egative seperti Pseudomonas dapat disimpan cukup lama dalam akuades steril pada suhu ruang atau suhu 1015oC. Tidak semua bakteri dapat disimpan dengan baik menggunakan cara ini. banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dalam tabung agar miring yang tertutup rapat hingga sepuluh tahun atau lebih. cara ini lebih dianjurkan sebagai alternative penyimpanan jangka sedang atau sebagai pendamping penyimpanan jangka panjang. Peremajaan Berkala Peremajaan dengan cara memindahkan atau memperbarui biakan mikroba dari biakan lama ke medium tumbuh yang baru secara berkala. Peremajaan berkala tidak dianjurkan untuk penyimpanan jangka panjang. coli. baik didalam suhu ruang maupun dikulkas hal ini menunjukkan adanya kinerja bakteri dalam mempertahankan viabilitas perkembangannya.>sel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (multiseluler). Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. Mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik. misalnya sebulan atau dua bulan sekali.

mengocok. tabung dikocok hingga suspensi merata. dan mengambil satu ose suspense dan menumbuhkan pada medium cair atau langsung pada medium agar yang sesuai. 3. Mikroba yang akan dipelihara ditumbuhkan pada tabung berisi medium agar miring atau medium cair (broth) yang sesuai. Dasar teknik penyimpanan ini adalah mempertahankan viabilitas mikroba dengan mencegah pengeringan medium. Menumbuhkan mikroba yang akan disimpan dalam tabung agar miring selama 24–48 jam dan memeriksa kemurnian biakan untuk menghindari kontaminasi. Penumbuhan kembali biakan dilakukan dengan mengambil botol dari tempat penyimpanan. Penyimpanan dalam Minyak Mineral Salah satu cara sederhana untuk memelihara biakan bakteri. Penyediaan minyak mineral atau parafin cair steril. khamir dan jamur adalah dengan cara menyimpan dalam tabung agar miring dan menutup dengan minyak mineral atau parafin cair. Disamping itu. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. keberadaan minyak mineral mengakibatkan peremajaan menjadi kotor. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri ke dalam tabung reaksi berisi 3-5 ml akuades steril. Biakan bakteri berumur 24-48 jam disimpan dengan beberapacara seperti: Menambahkan 3-5 ml akuades steril ke dalam biakan miring. sehingga waktu peremajaan dapat diperpanjang hingga beberapa tahun. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri langsung ke dalam tiap botol yang berisi air steril dan mengocok hingga merata. kemudian permukaan biakan ditutup dengan minyak mineral steril setinggi 10-20 mm dari permukaan atas medium. Botol ditutup rapat dan disim-pan pada suhu ruang atau suhu10-15oC Uji viabilitas mikroba dan peme-liharaan stok isolat dilakukanse-cara rutin. Mikroba yang akan disimpan ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni pada medium agar miring yang sesuai. 5-10 ml/botol atau dalam tabung ependorf. Teknik ini sederhana. tetapi kurang praktis untuk ditransportasi. Cara penyimpanan dalam minyak mineral menurut adalah sebagai berikut : Penyediaan tabung reaksi dengan tutup berdrat atau botol McCartney berisi medium agar miring yang sesuai untuk mikroba yang akan dipelihara. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. Daya tahan hidup mikroba lebih baik apabila biakan disimpan pada suhu kulkas (4oC). . mengocok tabung hingga diperoleh suspense pekat bakteri (108-109sel/ml). diautoklaf pada suhu 121oC selama 60 menit. Beberapa jenis jamur dapat bertahan hidup sampai 20 tahun.Akuades steril disiapkan dalam botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml.

Setelah mikroba tumbuh baik. Cara penyimpanan dalam tanah steril adalah sebagai berikut: Diambil tanah yang agak liat. Tanah yang sudah kering dan di ayak dimasukkan ke dalam tabung atau botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml hingga1 cm dari permukaan tutup. Rhizobium sp. yaitu biaya murah. Penyimpanan Dalam Tanah Steril Banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dengan baik pada tanah kering yang disimpan pada suhu ruang untuk waktu yang lama. memindahkan dan mensuspensikan pada medium cair. paling tidak setiap tahun. di kering anginkan dan diayak untuk memisahkan partikel tanah yang agak besar dan membuang sisa-sisa tanaman.very) mikroba (bakteri. Suspensi mikroba (0. dan Clostridium sp.. Botol biakan yang telah diberi parafin cair disimpan pada suhu ruang atau dikulkas. Uji viabilitas mikroba dan pemeliharaan isolat dilakukan secara periodik dan rutin. hingga 20 tahun atau lebih. Biakan jamur digoreskan langsung pada medium agar. Teknik ini mempunyai beberapa keuntungan. miselia) dibuat dalam larutan steril pepton 2% dalam akuades. juga dapat disimpan dengan baik dengan cara ini. khamir) dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian biakan dari tabung. Teknik penyimpanan mikroba pada tanah kering terutama berguna untuk fungi. Penumbuhan kembali (reco. Streptomyces sp.. kemudian diautoklaf pada suhu 121oC tiga kali berturut-turut selama tiga hari masing-masing selama satu jam. Botol dikembalikan ke desikator untuk disimpan di dalamnya atau setelah kering diambil dan disimpan di ruangan.1 ml) di ambil dengan pipet steril dan di masukkan ke dalam tiap botol yang telah disiapkan. dan bakteri yang membentuk spora seperti Bacillus sp. Suspensi mikroba yang akan disimpan (sel. sehingga permukaan parafin atas berada 10-20 mm di atas permukaan medium agar.. parafin cair steril dimasukkan ke dalam botol secukupnya. . sterilitas tanah diuji dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. Bila mana diperlukan. botol dioven kering pada suhu 105oC selama satu jam dan setelah dingin disimpan di dalam desikator hingga digunakan. Mikroba yang disimpan diuji viabilitasnya setiap tahun dengan menumbuhkan pada medium agar. Minyak mineral mengapung di permukaan suspensi dan sebagian suspensi digoreskan pada medium agar yang sesuai. spora atau konidia. Tabung atau botol yang berisi tanah diberi akuades steril hingga kebasahan 50% kapasitas lapang. Selanjutnya. 4. dan stabilitas genetik mikroba dapat dipertahankan. penyimpanan pada suhu ruang..

Namun demikian. data tentang keefektifan penyimpanan dan daya tahan hidup bakteri dalam penyimpanan masih sedikit. tergantung pada strain mikroba yang disimpan. tetapi sangat efektif untuk penyimpanan bakteri. 5. susu skim 1%. kemudian ditutup rapat dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas.. Cara bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika Meminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus. Botol disterilkan de-ngan oven 105oC selama 1 jam. Biakan mikroba disimpan dalam serum kuda yang ditempatkan dalam tabung gelas kecil atau ampul. sehingga perlu diteliti lebih lanjut. atau Naglutamat 1%.Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian contoh tanah dari botol penyimpanan. Uji viabilitas bakteri dilakukan secara periodik dan rutin. Tahapan teknik penyimpanan bakteri menggunakan potongan kertas filter menurut adalah sebagai berikut: Mikroba yang akan disimpan dibiakkan pada medium yang sesuai. karena mula-mula ditemukan oleh Sordelli(Lapageet al. Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. Teknik ini sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bakteri. khamir. Tabung ini ditempatkan di dalam tabung lain yang lebih besar berisi sedikit fosfopentaoksida (P2O5) dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. serta menginkubasikan pada suhu optimal untuk pertumbuhan mikroba. Bundaran kertas steril dibuat dengan alat pelubang kertas. Sebagai pengganti lempengan gelatin digunakan bundaran potongan kertas filter steril. memindahkannya ke medium cair. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak . Penyimpanan Menggunakan Potongan Kertas Filter Teknik penyimpanan ini mirip teknik penyimpanan dengan lempengan gelatin. Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik satu bundaran kertas filter dari botol penyimpanan. Isi botol dikering vakumkan menggunakan alat vaccum freeze dryer . 6. memindahkan ke medium cair diikuti dengan menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai atau langsung dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. Teknik ini juga sederhana dan mudah. Beberapa tetes suspensi mikroba dimasukkan secara aseptic ke dalam botol yang berisi kertas filter hingga menjadi jenuh air. 25-50 bundaran kertas filter/botol. 1970). dan jamur. menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai. dimasukkan ke dalam botol kecil ukuran 10 ml dengan tutup berdrat. paling tidak setiap tahun. Penyimpanan In Vacuo dalam Gas Fosfopentaoksida Teknik penyimpanan ini disebut juga teknik Sordelli. Mikroba tersebut dapat bertahan hidup dengan baik selama 5-28 tahun. Suspensi pekat bakteri (108-109 sel/ml) dibuat dalam larutan pepton 1%.

Pada Bacillus antrachis mengandung polipeptida asam D-glutamic. ü Produksi Senyawa Kimia Untuk Membunuh Fagosit Banyak antifagosit membunuh fagosit dan sukses menginfeksi. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi. menjauhi bahkan membunuh fagositosit. tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai komplemen saat tidak ada antibodi. Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semua serotype. Pada fase eksponensial. Setiap seseorang menggunakan antibiotika. melepaskan materi yang dapat membunuh fagosit. Streptolysin O mungkin berikatan dengan kolesterol pada membran sel. Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. Pada 3 tipe Pneumococcus. frekwensi dan lama penggunaan obat). Struktur permukaan kapsul tersusun atas gel hidropilik yang menghambat kerja fagositosit. maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada. Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa. gel tersebut mengandung sebagian besar molekul yang tersusun atas polimer glukosa dan asam glukuronik. berkombinasi dengan 2acetamido-2-deoxyglucose. Komposisi kimia penyusun gel tersebut telah teridentifikasi pada beberapa bakteri. N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik. dan 1-2 penambahan polymorphs. Enzim lisosom terkurung di vakuola fagosit.sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Sedangkan beberapa bakteri lainnya (Bacillus megaterium) mengandung protein dan karbohidrat.Isolat dari Streptococcus agalactiae memproduksi kapsul polisakarida. namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dari infeksi neonatal. yang memberikan muatan negatif. Kapsul sangat berpengaruh terhadap kemampuan fagositosit. Beberapa pathogen membentuk suatu mekanisme untuk menetralisasi senyawa toksik yang dihasilkan oleh fagositosis. membantu sel untuk fungsi pencernaan. tetapi ketika sudah cukup banyak enzim dikeluarkan ke sitoplasma mengakibatkan sitoplasma meluruh dan sel . Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperature tinggi. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran. tumbuh & bereproduksi. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran residu asam sialik. pertumbuhan kapsul sangat tinggi dan organisme tervirulensi dan pada fase stasioner pertumbuhan kapsul akan menurun dan organisme yang tervirulensi berkurang. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan. polymorph granula meledak sehingga bagian sel keluar ke sitoplama. dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklah opsonik. Beberapa diantaranya dapat memperbanyak diri dalam jaringan. Kapsul polisakarida tersebut merupakan faktor virulensi yang penting. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh pathogen: ü Kapsul anti Fagositosit Beberapa bakteri terhindar dari Fagositosis dikarenakan memiliki kapsul. Streptococci pathogen mengeluarkan haemolisin (streptolisin) yang dapat melisis sel darah merah dan berperan dalam meracun polymorphs dan makrofag.

dimungkinkan karena lisosomnya lebih mudah dikeluarkan. Beberapa Chlamydia memperbanyak diri di dalam makrofag setelah difagositosis dan merusak sel dengan menginduksi keluarnya kandungan lisosom ke dalam sitoplasma. Makrofag biasanya dihancurkan dan mekanismenya belum diketahui. Listeria monocytogenesmengeluarkan toksin sitolitik. Staphylococcus aureus memproduksi komponen pigmentasi yang disebut carotenoid yang dapat menetralisir singlet oxygen dan melindungi diri dari pembunuhan.pyrogenes melakukan banyak strategi untuk menghindari system kekebalan tubuh. Beberapa jalur sinyal intraselular yang dimodulasi oleh Leishmania dibahas dalam bagian berikutnya : Mycobacterium tuberolosis menyebabkan tubercolosis. Leishmania parasit mampu modulasi fungsi makrofag banyak dalam rangka untuk mempromosikan kelangsungan hidup dalam host. termasuk faringitis dan impetigo. Bakteri ini menggunakan glikolipid dinding sel untuk mengabsobsi radikal hidroksil. ingesti dan digesti. mengeluarkan substansi cytotoxic secara langsung melalui dinding vakuola dan kedalam sel. Secara umum. Streptolysin membuat kerusakan pada lisosom. Tergolong menjadi 2 protein antigen. Ketika komponen ekstraseluler Mycoplasma hominis ditambahkan pada polymorph manusia secara in vitro maka tidak terlihat secara jelas adanya absorbsi yang dilakukan oleh Mycoplasma di permukaan polymorh. mengingat avirulen shigella pasti melakukan hal yang sama dan akan terbunuh dan dimakan. ü Menghambat dengan cara Absorpsi pada permukaan sel fagosit Ada cara yang dilakukan mikroorganisme untuk menghindar dari fagosit tanpa meracuni fagosit. kita tidak langsung membahas mekanisme intraselular di mana sinyal dikomunikasikan. Streptococcus pyogenes merupakan pathogen pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit infeksi kulit ringan sampai sistemik. virulen shigella membunuh makrofag tikus setelah fagositosis. Kegagalan dari absorpsi tidak diketahi dengan jelas. Sebagai contoh. Sehingga S. Tergolong pathogen intraselular yang tumbuh dan hidup didalam sel fagositik. membuat fungsi sebagai”suicide bags”. Entamoeba histolytica dapat membunuh polymorph dengan kontak fisik. Peranan lain dari aksi toxic pada fagosit setelah fagositosis telah diambil alih.coli hingga mati. Virulen intraseluler bacteria Mycobacterium. Brucella dan Listeria banyak memperlihatkan virulensi dengan memperbanyak diri didalam makrofag. Streptolysin S lebih berpotensial pada membrane. Tetapi adanya antibody pada mycoplasama terjadi absorpsi. . Umumnya merupakan patogen ekstraseluler yang dapat bertahan dan dapat hidup lama didalam inang dengan cara menghindari mekanisme pertahanan inang. Berbagai macam haemolysin dikeluarkan oleh Staphylococci pathogen dan dapat membunuh fagosit.mati. polymorph lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan makrofag. tetapi dimungkinkan karena Mycoplasma merusak polymorph. berperan sebagai sinergis pada membrane leukosit dan menyebabkan keluarnya granula lisosom seperti pada Streptolysin O. Fagosit dapat dikatakan mati akibat keracunan makanan. Tidak ada haemolytic leucocidin yang diproduksi berhubungan dengan virulensi staphylococcal. Sementara kita telah melihat bahwa lapisan permukaan parasit bertanggung jawab untuk memicu banyak dari efek ini. yang ditunjukkan dengan peningkatan oksidasi glukosa dan membuat cacat pagosit E. anion superoksida dan oksigen yang toksik bagi beberapa spesies yang diproduksi oleh fagosit.

Efeknya terjadi pada tipe sel yang berbeda. ALLAH tidak pernah mengambil sesuatu yang kita sayang dan kita cintai.Streptococcus pneumonia Merupakan salah satu bakteri yang memiliki pertahanan terhadap fagositosis berupa kapsul. sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. baik secara langsung maupun tidak langsung tergantung dengan respon normal terhadap imun dan kemampuan parasit. Biasa bakteri yang memiliki kapsul resisten terhadap fagositosis.S AL BAQARAH 164 Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Karena kapsul dapat melindungi sel bakteri.S ASY SYUURA 29 Artinya : “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhlukmakhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya.” TAUSYIAH “ALLAH menguji KEIKHLASAN bila sendirian. kecuali menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK”. ALLAH memberi kita KEDEWASAAN bila ada MASALAH. lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. sitokinase TGF-β dan IL-10. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. ALLAH melatih KESABARAN kita dalam KESAKITAN. hal ini tersirat dalam beberapa ayat di dalam Al-Quran diantaranya dalam: Q. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penulisan tentang “UPAYA MEMPERTAHANKAN VIABILITAS MIKROORGANISME AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN” maka dapat disimpulkan bahwa : . Leishmania merupakan parasit yang dapat menghindari makrofag dengan cara meninduksi produksi atau sekresi beberapa sinyal molekul immunosuppressive seperti metabolit asam arachidonik. Berharap semua ini dapat diterima dan dimaknai dengan baik sehingga kita mampu menjadi orangorang yang senantiasa BERSYUKUR atas seluruh NIKMAT yang ALLAH berikan pada kita disetiap keadaan. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. KAJIAN RELIGI Di dalam Al-Quran secara tersirat Allah SWT telah menyiratkan akan pentingnya pengaruh lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup yang ia ciptakan termasuk mikroorganisme yang juga merupakan salah satu contoh makhluk hidup ciptaan Allah SWT. silih bergantinya malam dan siang.” Q. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air. dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

DAFTAR PUSTAKA Annonymous. Annonymous. kadar ion Hidrogen (pH). UMM Press. mutualisme (simbiosis). Formaldehida (CH2O). 2001. B. J. 2008. kelembaban dan pengaruh kebasahan serta kekeringan. 1994. Analisis mikroba di laboratorium. Mikroorganisme. ltd. Faktor lingkungan biologi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. yaitu biotik dan faktor abiotik. Kerjasama Dengan PAU antar Universitas Pangan dan Gizi. PENDAHULUAN Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor. Diakses tanggal 04 Desember 2011. Ray.W. Metode Penyimpanan Dan Pemeliharaan Mikroba Dalam Mempertahankan Viabilitas.html. 1989. Fundamental Food Microbiology. 2004. Diakses tanggal 04 Desember 2011. hidrostatik. 2011.Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. 2008. Fardiaz. CRC Press LLC Boca Raton. Florida. Diakses Tanggal 21 Desember 2011 Bacus. Yogyakarta. Press. Annonymous. PT. yaitu netralisme. http://id. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian.http://www. Klor Dan Senyawa Klor.http://faktor-faktoryang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba. England. B. zat warna. Raja Grafindo Persada. Third Edition. B. Utilization of Microorganisme In Meat Processing Research Studies. Annonymous. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. parasitisme. komensalisme. . Haryono dan Suhardi. sinergisme. Diakses tanggal 08 Desember 2011.org/wiki/Mikroorganisme.wikipedia. Sudarmaji. kompetisi. Lud. 1984. S.scribd.org/wiki/Mikrobiologi . Bogor. yaitu pengaruh temperatur. PT. tegangan muka. N. 1994. IPB. alcohol. Sulfonamida. Waluyo. Obat Pencuci (Detergen). antibiotik.com/doc/75921669/metde-pnyimpaman-dan-pemeliharaan-mikrobadalam-mempertahankan-viabilitas. pengaruh perubahan nilai osmotic. Malang. Amensalisme (Antagonisme). Analisa Mikrobiologi Pangan. Penerbit Liberty. Mikrobiologi. pengaruh sinar. 2011. Jakarta. Faktor lingkungan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. yaitu Fenol Dan SenyawaSenyawa Lain Yang Sejenis. http://id.wikipedia. 1992. garam-garam logam. yodium. tekanan. Raja Grafindo Persada. PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA TUJUAN Untuk memberi pengetahuan mahasiswa mengenai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Lay.

aureus. Tabung reaksi 3. terbentuk dalam sebuah simbiosis. yaitu dapat tumbuh lebih cepat. secara rinci. Api bunsen dan spirtus 4. sumber nutrien. hubungan mikroba satu dengan mikroba lainnnya tersebut. Salah satu anggota asosiasi menerima keuntungan.( pertumbuhan E. 2.Batang kaca bentuk Luntuk spread 2. Eschericia coli. Coli dengan S. pH. Simbiosis Komensalisme. Pipet volume 3. kedua anggota asosiasi memperoleh keuntungan (saling mengntungkan). Antibiotik kloramfenikol 6. faktor abiotik. Simbiosis antagonisme. menghambat). Coli yang ada dalam usus besar manusia. atau parasitisme. Alkohol 5. Pb Bahan : 1. 3. PertumbuhanArthrobacter citerus pada medium yang mengandung saccharomyces cereviceae.(saling merugikan. dll. aureus. faktor biotik adalah pengaruh mikroba oleh mikroba lainnya. Contohnya: Bakteri E. ) b. kompetisi. Simbiosis Mutualisme. Aluminium foil . bahan toksik / logam berat. terdiri dari temperature.a. sedangkan anggota yang lain mendapat keuntungan. yaitu : 1. Anggota yang lain tidak terpengaruh. Biakan murni bakteri : Staphylococcus aureus. oksigen. Logam berat Cd. sumber mineral. Ada 3 jenis simbiosis yang dpt terjadi. Candida albicans 5. coli menghambat daur pertumbuhan S. dan pada umumnya tumbuh “lebih baik”. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. mikroba lain tersebut dapat berkomensalisme secara positif contohnya bersimbiosis / hidup saling menguntungkan atau negatif / saling merugikan dimana yang satu akan membunuh yang lainnya. Kapas 6. Contohnya : pengikatan nitrogen di udara oleh bakteri pengikat nitrogen dalam tanah. dapat mencapai populasi total yang besar. Media Nutrien Agar 4. Rak Tabung reaksi 2. Salah satu anggota asosiasi dihambat atau dimusnahkan. Contohnya : kompetissi antara E.

cawan Petri ke-2 pada lemari es. Mengambil 0. Menghomogenkan bakteri dengan memutar cawan Petri membentuk angka 8. Pertumbuhan mikroba pada cawan Petri: 1. dan tabung reaksi ke3 pada oven. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. Pada perlakuan dengan logam berat Cu terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk (Cu) sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. Hasil Pengamatan Pada perlakuan dengan antibiotik kloramfenikol terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. dan cawan Petri ke3 pada oven. Melewatkan jarum ose pada api Bunsen hingga nyala api berpijar. Mempersiapkan 3 cawan Petri yang telah steril. B. tabung reaksi ke-2 pada lemari es. Meletakkan masing-masing tabung reaksi pada suhu yang berbeda yaitu tabung reaksi ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Mengambil biakan bakteri dengan jarum ose dan meletakkan ke dalam tabung reaksi dengan bentuk zigzag secara aseptik Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. . Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya antibiotik. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya logam berat Cu.PROSEDUR KERJA A. Pertumbuhan Mikroba pada cawan Petri: 1. Meletakkan masing-masing cawan Petri pada suhu yang berbeda yaitu cawan Petri ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Mempersiapkan 3 tabung reaksi yang telah berisi nutrient agar. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda.1 biakan murni bakteri dengan pipet volume dan memasukkannya ke dalam cawan Petri steril secara aseptik Mengisi cawan Petri yang berisi bakteri dengan nutrient agar secara aseptik.

Antibiotika ada yang mempunyai spektrum luas. basil. Oleh karena itu antibiotik ini dikatakan memiliki spektrum yang luas. Mekanisme Kerja antibiotika Antibiotika menganggu bagian – bagian yang peka di dalam sel. didalam tubuh cepat dicapai dan bertahan untuk waktu yang lama. ada juga antibiotika berspektrum sempit.Inkubasi pada lemari es dan inkubasi pada suhu 600C tidak terlihat adanya pertumbuhan mikroba tetapi pada suhu kamar 380C terlihat adanya pertumbuhan mikroba. Pengaruh Antibiotika Terhadap Pertumbuhan Bakteri Antibiotika adalah suatu substansi ( zat – zat ) kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikrporganisme. cairan atau badan eksudat Larut dalm air serta stabil Bacterisidal level. artinya hanya efektifdigunakan untuk spesies tertentu. basil maupun spiril. karena itu penisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Hal ini dapat menunjukkan bahwa Saccharomices dapat melakukan pertumbuhan optimal pada suhu kamar 380C dan termasuk mikroba mesofil. Penisilin hanya efektif digunakan untuk memberantas terutama jenis kokus. baik kokus. Tetrasiklin efektif bagi kokus. artimya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri. dan jenis spiril tertentu. yaitu : Antibiotika yang mempengaruhi dinding sel . PEMBAHASAN A. Sifat – sifat Antibiotika yaitu: Maenghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang ( host ) Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik Tidak menyebabkan resistensi pada kuman Berspektrum luas Tidak bersifat alergenik Tetap aktif dalam plasma.

merusak alat – alat yang terbuat dari logam. Untuk menemukan temperatur maut bagi mikrobe. Zn. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit. basitrasin. pirimetamin. dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikrobe dinamakan daya oligodinamik. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikrobe masih dapat dapat berlangsung. Waktu kematian thermal ( Thermal Death Time ) waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikrobe pada suatu temperatur yang tetap.Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikrobe. Laju kematian termal ( Thermal Death Rate ) kecepatan kematian mikrobe akibat pemberian temperatur. ristosetin. . trimetoprim B. dan harganya mahal. vankomisin Antibiotika yang menganggu fungsi membran sel Contoh : polimiksin. Antibiotika yang menghambat sintesa asam nukleat Contoh : asam nalidiksat. Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikrobe terletak antara 0 – 90o C. Daya antimikrobe dari logam berat. sulfonamida. amforoterisin B Antibiotika yang menghambat sintesa protein Contoh : Aktinomisin. optimum. novobiosin. eritromisin. dan Cu. dan maksimum. b. As. dan kita kenal ada temperatur minimum. Hal ini karena bahwa tidak semua spesies mati bersama – sama pada suatu temperatur tertentu. spesies satu lebih tahan daripada spesies yang lain terhadap suatu pemanasan. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. masing – masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. klindamisin. Beberapa jenis mikrobe dapat hidup pada daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. sikloserin. kolistin. Oleh karena itu. tetrasiklin. Ag. Logam –logam yang sering dipakai adalah Hg. Pengaruh Logam Berat Terhadap Pertumbuhan Mikroba Logam berat berfungsi sebagai antimikrobe oleh karena dapat mempresipitasikan enzim – enzim atau protein essensial dalam sel. Temperatur maut / Titik kematian Termal ( Thermal Death Point ) Temperatur serendah – rendahnya yang dapat membunuh mikrobe yang berada di medium standar selama 10 menit pada kondisi tertentu. streptomisin. c. rifampisin. kloramfenikol. Pengaruh Temperatur Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. ada beberapa pedoman sebagai berikut : a. nistatin. Biasanya. sefalosporin. C.Contoh : Penisilin.

M.M. akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun. Sedangkan pada suhu rendah dan suhu tinggi pertumbuhannya terhambat. mikrobe dapat dibagi menjadi tiga golongan utama. Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur. dengan temperatur optimum 10 . Umumnya hidup dalam alat pencernaan. OLEH: DR. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu. Mikrobiologi Umum. Logam berat → menyebabkan terbentuknya zona terang atau ( halo ) disekitar bakteri. Mikrobe Psikrofil yakni golongan mikrobe yang dapat tumbuh pada 0 – 30oC.Waluyo.Universitas Muhammadiyah Press : Malang.2004.190oC ).G. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. Pembekuan secara terputus – putus ternyata lebih efektif daripada pemanasan terus – menerus. terlebihlebih mikro organisme.KES DOSEN PENDIDIKAN BIOLOGI UMM Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya. dan temperatur optimumnya 55 – 65oC.Lud. c.Kes. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh daripada kalau pembekuan itu dilakukan di dalam buih karena buih tidak dapat membeku sekeras air beku.H. Golongan mikroba ini terutama terdapat di sumber – sumber air panas dan tempat. dan Schmidt. Pengaruh suhu → mikroba tumbuh optimum pada suhu kamar. 2.1994. KESIMPULAN Faktor – faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba diantaranya yaitu : a.H. Mikrobe Mesofil adalah golongan mikrobe yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 5 – 60oC. Pembekuan air hanya dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri. b.15oC. Pembekuan secara perlahan – lahan dalam temperatur – 16oC ( es dicampurdengan garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secar mendadak dalam udara beku ( . sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya. Kehidupan bakteri tidak hanya di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan .Schlegel. sedang temperatur optimumnya 25 – 40oC.Drs. Antibiotik → menyebabkan terbentuknya zona terang ( halo ) disekitar media bakteri. karena spora sangat sedikit mengandung air.tempat lain yang bertemperatur tinggi. c. baik di daratan maupun di lautan. b. Mikrobe Termofil yakni golongan mikrobe yang tumbuh pada suhu 40 – 80oC. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya.AGUS KRISNO BUDIYANTO. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor-faktor luar. DAFTAR PUSTAKA 1. Kebanyakan dari golongan ini tumnuh di tempat – tempat dingin. yaitu : a. K.Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh pada spora.M.Mikrobiologi Umum.

maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Berapa tinggi suhu. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. perubahan ini di sebut perubahan secara kimia. sehingga tepat jugalah bila kita katakana adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Berdasarkan ini. sinar gelombang pendek. dan termofil.tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan.nya. tegangan muka dan daya oligodinamik. optimum dan maksimum. bahwa tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi. 5. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi. pada temperartur yang sama. Di dalam keadaan basah. Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Berhubung dengan ini. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan penentuan waktu maut (Thermal Death Rate).bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. 3. pengeringan. tekanan osmose. Untuk sterilisali. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time). Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup. Faktorfaktor biotik terdiri atas mahluk-mahluk hidup. Misal. Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. Biasanya. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik.1 Faktor-Faktor Abiotik. mesofil. Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu. pH. 1. 2. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. 5. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Perlu diperhatikan kiranya. 4. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. Suhu Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam (fisika) dan faktorfaktor kimia. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatupemanasan. . sebaliknya . Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut.

besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora tersebut. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. Akan tetapi. jika suhu sampai naik sedikit. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C ). Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. misalnya. kita belum tahu. Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. karena spora sangat sedikit mengandung air. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. Sebaliknya. Bacillus caldolyticus. buih tidak membeku sekeras air beku. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. yaitu: Bakteri termofil (politermik). sedang pada suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. Bakteri mesofil (mesotermik). Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. Spesies-spesies itu di tabiskan menjadi Thermus aquaticus. Conococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi.Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70 ° C saja. batas-batas antara golongan-golongan itu sukar di tentukan. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan pengawetan makanan. dan Bacillus caldotenax. Dalam praktek. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46 °C. Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang panasnya 93 – 94 °C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga sangat termofil. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. Bakteri termofil agak menyulitkan pekerjaan pasteurisasi. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. Pada . piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang rendah. Bakteri psikrofil (oligotermik). tentang efek yang lain misalnya secara kimia. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Sebagai contoh. bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di dalam lemari es.

3 Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu menurut rumus arrthenius Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia. sangat beragam pada bakteri. Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar. Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh. terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam. Kecepatan reaksi kimia merupakan fungsi langsung daripada suhu dan mengikuti hubungan yang dikemukakan semula oleh Arrhenius : Log10 V = − ΔH* + C 2. Bakteri yang dipiara di bawah suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati. dapat diramalkan bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil fakultatif.umumnya dapat di pastikan. Gambar 10. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar. yang tumbuh baik pada 0°C. Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu galur spesies .303RT v ialah kecepatan reaksi. Karena itu. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi T ¯¹ menghasilkan garis lurus dengan lereng negatif (Gambar 10. mesofil. Sebab kecepatan tumbuh dengan tibatiba sangat menurun pada batas atas dan bawah kisaran suhu. yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil.7 menunjukkan kecepatan tumbuh E. dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C). tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa inkubasi. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C. dan maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. R ialah konstante gas. kebanyakan bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air. yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C). dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil obligat. yang diisolasi dari lingkungan dingin. dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. coli yang dapat disamakan dengan fungsi T ¯¹. Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum. ΔH* ialah energi aktivitas pada reaksi. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. T ialah suhu dalam derajat Kelvin. Gambar 5. Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran. bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C). Kurvenya linear hanya pada bagian kisaran suhu untuk tumbuh.6). optimum. melainkan berada di dalam keadaan “tidur” (dormancy). Akan tetapi. yang dinamakan suhu optimum. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal.

semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk. namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut. Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum ditentukan. Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein (misalnya flagelum. dengan mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda. Akibatnya. Bila suhu turun. tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-protein ini. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan. Ilustrasi kejadian ini pada E. kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu mutan. berubah-ubah menurut suhu tumbuh. dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu. Pada suhu rendah. mutan peka panas. walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam penelitian. Akibatnya. baik prokariota maupun eukariota. Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh. dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun . coli tampak pada perubahan dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri. sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C. Oleh karen aitu. Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas. mesofil. Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat. Susunan lipid pada hampir semua organisme. perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda. Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. dengan suhu tumbuh minimum yang menaik.mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya . Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C. Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga). dan mutan peka dingin. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan .itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies. dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas. Percobaan seperti ini (Tabel 10. dan psikrofil yang agak berubah-ubah.6). ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat .

4 7. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum.0 7.5.0-4.8 Kuning – merah Merah kresol 7.0 Thiooxidans 4.0 Merah – kuning Biru brom timo l 6. dapatlah dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak.8 – 8. susu. pH air suling ialah 7.4-6. bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawasenyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya. Untuk menahan perubahan dalam medium sering ditambahkan larutan bufer. Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan.0 (netral).8 8.5 2. mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil.2 7.0-5.8 7.5.5.0 – 8.7 Merah – kuning Biru brom fenol 3. 10. optimum. 6. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6.2 Kuning – merah Fenolftalein 8. Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium.0 .0 – 9. 8. Tabel 5.3 Staphylococcus aureus 5. cuka 2.5 – 7.1 Kuning – biru Merah feno 6.7 Indikator Asam – Basa NAMA INTERVAL pH PK INDIKATOR WARNA ASAM – BASA Biru timol 8. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu.0 – 4.5 8.0 Clhorobium limicola 6.6 4.5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas. susu magnesia. optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya. Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keaadaan sangat masam atau sangat alkalin.25.5 Azotobacter spp 6.2 5.0-8. misalnya untuk bakteri pada pH 6. dan maksimum untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri Bakteri KISARAN pH UNTUK PERTUMBUHAN Batas bawah Optimum Batas atas Thiobacillus 0.8 pH minimum.2 – 9. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil.8 9.6 Tak berwarna -merah muda Tabel 5.0 – 4. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid.1N).5 – 7. khamir pada pH 4.0 Acetobacter aceti 4.0-3. larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2.4. pH Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu.0 – 7.2.1 Kuning – biru Merah metal 4. 4.5 7.5 9. 2.keadaan cairnya pada suhu tertentu.3 7.6 1.4 – 6.0 6.5 dan 7.8 9.6 7.6.0-7.5 Thermos aquaticus Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik.5 5.0-7. natrium bikarbonat (0.5 6. pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen. sari tomat.

makanan yang diasin. wadah berisi garam. organisme fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan.4-9. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi.5 persen natrium klorida.5-8. yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin. Sebagai contoh.Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri.5 alkanitas (pH) Beberapa spesies eksotik . Tabel 5.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik. yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau rendah. konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. karena cahaya adalah sumber energinya. Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi.9 Kondisi-kondisi fisik yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri Kondisi Fisik Tipe Bakteri Kondisi Biakan (Kelompok Psikologis) (Inkubasi Suhu (kisaran Psikrofil 0 – 30°c pertumbuhan) : Mesofil 25 – 40°c minimum dan Termofil : maksimum. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. hanya tumbuh bila mediumnya mengandung konsentrasi garam yang tinggi.5 Suhu. di danau air asin. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. Air laut mengandung 3. Bakteri tertentu. air laut. Termofil 25 – 55°c optimumnya pada Fakultatif (bebas pilih) suatu titik didalam Termofil obligat 45 – 75°c kisaran bergantung ada spesies Aerob Hanya tumbuh bila ada oksigen bebas Anaerob Hanya tumbuh Persyaratan akan gas tanpa oksigen Anaerob fakultatif bebas Tumbuh baik tanpa Mikroaerofil oksigen bebas Tumbuh bila ada oksigen bebas dalam jumlah sedikit Kebanyakan bakteri berkaitan dengan kehidupan hewan dan pH optimum 6.5 – Keasaman atau tumbuhan 7. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan zat alir). dan danau air asin. Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan. lingkungan.

pH minimum 0,5; Fotosintetik (autotrof dan

pH maksimum 9,5

heterotrof) Cahaya sumber cahaya Halofil (halofil obligat) Salinitasi konsentrasi garam yang tinggi, 10 –15% NaCl 3. Kelembaban Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut. 4. Tekanan osmosis Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair. Jika perubahan nilai osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahanlahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak. 6. Senyawa toksik Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap

gugusan didalam sel. 7. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi. 8. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup. 9. Kebasahan dan kekeringan Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah: Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut. 10. Sinar gelombang pendek Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan mikrobia. Sinarsinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.

Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan, ruangruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung bioskop dan sebagainya pada waktuwaktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon dan klor (chlor). 11. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan itu menyerupai membran yang elastik. Demikian juga permukaan cairan yang menyelubungi sel mikrobia. Tekanan dari membran cairan ini di teruskan ke dalam protoplasma sel melalui dinding sel dan membran sitoplasma, Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikrobia. Kebanyakan bakteri lebih menyukai tegangan muka yang relatif tinggi. Tetapi adapula yang hidup pada tegangan muka yang relatif rendah. Misalnya bakteri-bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan. Sabun mengurangi ketegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Diplococcus pneumoniae sangat peka terhadap sabun. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun; hanya bakteri yang hidup di dalam usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Bolehlah dikatakan pada umumnya, bahwa bakteri yang Gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan (depresi) tegangan permukaan daripada bakteri yang Gram positif. 12. Daya oligodinamik Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang. 13. Desinfektan Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering

melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawasenyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik. a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. b. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. c. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. d. Yodium Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol, banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. e. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. f. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. g. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun

bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Pinisilin di temukan oleh Fleming dalam tahun 1929. bakteri dapat tumbuh biasa. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. basil dan jenis spiril tertentu. polimiksin oleh Bacillus polymyxa. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan. dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Gonococcus. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa.Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas itu sesuai dengan konsentrasi antibiotik yang terkandung didalamnya. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik diketemukan. dikatakan mempunyai spektrum luas. Tetrasiklin efektif bagi kokus. disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. eritromisin.zat ini dapat membunuh bangsa jamur. aureomisin. . . Antibiotik Menurut Waksman. Sering terjadi. kloromisetin. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus. misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis. Jika sesudah 24 jam kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri sekitar bahwa bakteri itu tercekik pertumbuhannya oleh antibiotik yang terkandung dalam kepingan kertas. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Gambar 5. Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin.5 Rumus bangun sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat i. h. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Akhir-akhir ini orang telah dapat membuat kloromisetin secara sintetik. namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin. Sebaliknya. suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. baik kokus. Pneumococcus. obat-obatan ini terkenal sebagai kloramfenikol. dan pada dewasa ini jumlahnya ratusan. Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat dihasilkan oleh golongan jamur. magnamisin yang masing-masing mempunyai khasiat yang berlainan. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat secara sintetik pula. maupun spiril. oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. basitrasin oleh Bacillus subtilis. antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. teramisin. basil. Penggunaan obat-obat ini. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. melainkan oleh golongan bakteri sendiri. Asam-paminobenzoat memegang peranan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. Pada medium agar-agar yang telah disebari spesies bakteri tertentu diletakkan beberapa kepingan kertas yang masingmasing mengandung antibiotik yang diuji dalam kontrentasi yang tertentu.

dan piaraan ini kemudian disimpan dalam suhu 37 °C. Cara Menilai Khasiat Desinfektan Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan. metafen atau mertiolat. a. Misal. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu.6 Pengaruh antibiotic terhadap pertumbuhan bakteri. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom. Penyuntikan dapat dilakukan intra vena (dalam pembuluh darah balik) atau intra muscular (dalam daging). dimana Salmonella dibiarkan berada dalam larutan selama 10 menit. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida. 5. yang satu (1:90) dan yang lain (1:100). (1:400). kadang-kadang digunakan juga Micrococcus aureus. c. daerah pertumbuhanbakteri b. kita membuat 2 larutan fenol. Di samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan khasiat fenol. daerah pertumbuhanbakteri b. Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu eksperimen. maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penelanan atau penyuntikan. Setelah 5 menit berada di dalam larutan. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Persenyawaan air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji – bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. c. (1:450). Mikroorganisme yang dipakai sebagai penguji khasiat desinfektan ialah Salmo nella typhosa. (1:350). Garam – Garam Logam Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri. Di dalam perangkat yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan. Setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa tentang ada tidaknya koloni-koloni Salmonella. Banyak juga orang mempergunakan persenyawaan perak dengan protein.5 ml inokulum Salmonella typhosa yang masih muda. daerah kosong a. Desinfektan yang akan diuji itu di encerkan menurut perbandingan tertentu. M adalah agar-agar lempengan yang disebari bakteri j. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir. Jika tak ada pertumbuhan. Dari tiap-tiap larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril banyaknya tabung sesuai dengan banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. daya mana disebut oligodinamik.Sesuai dengan keperluan.2 Faktor-Faktor Biotik Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) . dan lagi pula mahal harganya. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan perangkat kedua. yaitu 12 tabung untuk desinfektan 0. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit. misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di kolam–kolam renang. maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekkan pada agar-agar lempengan. daerah kosong Gambar 5. larutan desinfektan A itu (1:300). orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok. Adapun zat yang dipakai ialah fenol. maka alat–alat yang terbuat dari logam. Katakan. hal ini berarti bahwa bakteri telah mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan.

Contohnya adanya pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi. mutualisme. Sebagai contoh mutualisme antara bakteri Rhizobium dengan polongpolongan. Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik.atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. parasitisme. Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri. dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian. sedang 2 bagian terdahulu khusus padakomoditas biji-bijian. Golongan 3) merupakan bagian sementara. Sintropisme Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang lebih komplek . Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme. Simbiose dapat dibedakan tiga macam. simbiose. Tanpa sinergisme masingmasing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut. 1978). Komensalisme Merupakan asosiasi yang sangat renggang. Antibiosis Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh.3 Fungi Dan Lingkungannya Christensen (1957) membagi fungi dalam 3 golongan berdasar keadaan lingkungan perkembangannya yaitu: 1) fungi lapangan (field fungi). Parasitisme Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. 5. tergantung pada macamnya simbiose. mutualisme. sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama. Sinergisme Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami kerugian atau tidak. (Bothast. Simbiosis Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan. tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain. Fungi lapangan menyerang bijian yang sedang dan masak penuh dengan kandungan air paling sedikit 20% atau keseimbangan lembab relatif (Rh) 90 – 100%. 2) fungi penyimpanan (storage fungi) dan 3) fungi perusakan lanjutan (advanced decay fungi). fungi penyimpanan menyerang bijian yang tersimpan setelah panen dengan kandungan air . karena jasad inang sebagai sumber kehidupannya. sinergisme. dan parasitisme. tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. ialah komensalisme. Faktorfaktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad. Mutualisme Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. antibiose dan sintropisme.

1978). 1978). Wallace (1973)menyebutkan 26 spesies Aspergillus dan 66 spesies Penicillium yang dapat diisolasi pada produk simpanan. Fungi penyimpanan juga terdiri dari beberapa spesies antara lain Penicillium. Ibasidia. sedangkan golongan fungi hidrofil diinginkan aw mencapai 0. Kebanyakan fungi penyimpanan terdiri dari dari 5 atau 6 golongan Apergillus dan baru kemudian dan beberapa spesies Penicillium sampai terjadi kerusakan lebih lanjut (Christensen dan Kaufmann. umumnya banyak terdapat pada biji sayuran atau biji serealia. Juga termasuk pula Curvularia. 2) suhu ruang penyimpanan. dan pada tempat penyimpanan fungi ini hamper tidak terdapat. Stemphylium. Fusarium banyak terdapat pada serealia yang baru dipanen. Suhu dan aktivitas air sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian. dan jagung dikenal sebagai bentuk “kudis” biji-biji yangdemikian dapat mendatangkan kercunan pada hewan maupun manusia(Uraguchi dan Yamazaki. 2) aktivitasair (water activity). 1978). Dalam kaitannya dengan kelembaban relatif (Rh) yang dapat diukur dari sekeliling bahan maka umumnya diharapkan kelembaban relatif sekitar 70-80%. Terdapat beberapa faktor pokok yang akan mempengaruhi perkembangan fungi pada bahan pangan yang disimpan. dan obat khususnya bila terjadi cuaca lembab sebelum panen.1975. Fungi yang dominan pada suatu komoditas tergantung atas macam tanaman.sekitar 13 – 20 % atau keseimbangan lembab relative (Rh) 70 – 90% (Bothast. wilayah atau lokasi geografis dan keadaan iklim. 3) tekanan osmosis. maka untuk pertumbuhan fungi endiri memerlukan faktor fisik-khemis antara lain 1) suhu.65. Chaetomium. 4) derajat awal penyerangan oleh fungi sebelum sampai tempat penyimpanan. mereka bukanlah fungi pemula kerusakan bahan dalam penyimpanan (Wallace. Paecylomices. Contoh fungi lapangan adalah alternaria.1976. Aspergillus dan Sporendomena dan kadang-kadang beberapa jenis khamir (Uraguchi dan Yamazaki. namun tidak hanya terbatas pada biji serealia. Beberapa spesies tertentu penicillium kadang-kadang dimasukkan dalam fungi lapangan (Mislivec dan Tuite. antara lain: 1) Kandungan air bijian yang disimpan. Alternaria. 1970). Menurut Christensen dan Kauftmann (1969) dilaporkan lebih dari 150 spesies fungi telah diisolasi dari bagian biji tanaman.80. Lihatlah dua table dibawah ini. 1978). Rhizopus.89. Penicillium dan Aspergillus merupakan fungi yang diketahui ada dimana-mana dan hamper terdapat disetiap wilayah. Epicoccum dan Nigospora yang umumnya menyerang dekat atau saat panen (Bothast. 4) pH. Helminthosporium dan Cladosporium (Uraguci dan yamazaki. 5) banyknya benda-benda asing (bukan bahan sejenisnya) dan 6) terdapatnya aktivitas serangga dan kutu dalam ruang simpan (Uraguchidan Yamazaki. barley. Scopulariopis. Mucor dan Rhizopus pada umumnya ada hubungannya dengan kerusakan pada kondisi lembab.0. 1973). 1974). 3)periode penyimpanan. 1978). Cladosporium umumnya pada biji serelia dalam kondisi basah selama panennya. Faktor-faktor seperti disebutkan diatas ditujukan pada bahan dimana fungi tumbuh. karena mereka menghendaki suatu lembab relatif (Rh) minimum 88% untuk pertumbuhannya. dan Neurospora. 1978). 1975). Selain Aspergillus dan Penicillium dikategorikan pula dalam fungi penyimpanan adalah Absidia. gandum. Pada barley. Fungi pada umumnya akan dapat berkembang baik pada aw sekitar 0. Mucor. mempunyai kekhususan diantara spesies dan . disamping faktor lainnya. 1974). Caldwell dan Tuite. Kekecualian adalah Aspergillus flavus yang dapat menyerang bahan dilapangan (meski termasuk fungi penyimpanan) demikian pula Fusarium akan dapat melanjutkan kerusakan bahan bijian dalam gudang (meski termasuk fungi lapangan) bila kandungan air bahan cukup tinggi (Lillehoj dkk. Setiap jenis fungi selain adalah batasan-batasan normal. 5) potensial oksidasi-reduksi (Eskin dkk. Fusarium. Helminthosporium banyak didapat pada jenis padi.

Keseimbangan lembab relatif bijian lebih penting daripada kandungan air guna mengendalikan kerusakan fungi dalam ruang penyimpanan. meskipun keduanya mempunyai hubungan erat. dalam keadaan iniuntuk setiap bahan bijian akan berbeda kandungan airnya sesuai komposisi (Pomeranz. KONSENTRASI ENZIM TERHADAP KECEPATAN REAKSI ENZIMATIK BAB I PENDAHULUAN I. pH. suhu dan konsentrasi substrat. kehilangan substrat. Katalisator dalam reaksi ini disebut enzim.lainnya seperti terlihat pada beberapa table kelembaban relatif. Dalam mendukung perannya sebgai katalisator atau mempercepat reaksi yang terjadi tentu saja ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. dapat dikatakan enzim memilki peran sangat penting. Dibawah ini diberikan gambaran Rh ruang penyimpanan dan suhu untuk pertumbuhan beberapa fungi penyimpanan yang penting. Dalam aktivitas metabolisme kita mengenal adanya katalisator. optimum dan maksimum sebagaimana tercantum dalam tabel diatas adalah perkiraan (Christensen dan Kaufmann. Membuktikan bahwa keasaman ( pH ) mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik 3. 1974). Reaksi enzimatik mempunyai suhu optimum. Faktor-faktor tersebut antara lain kosenntrasi enzim. mengecilnya oksigen dan kandungan air atau akumulasi CO2 menjadi terbatas. Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Kelembaban relatif minimum untuk perkecambahan fungi umumnya adalah 75% pada suhu biasa. Memperlihatkan kecepatan reaksi enzimatik sampai suhu tertentu sebanding dengan kenaikan suhu. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim. 1974) PENGARUH SUHU. . Hubungan antara bagian-bagian tersebut sangat kompleks maka kondisi minimum. suhu dan lainnya.1 Latar Belakang Dalam proses metabolisme di dalam tubuh terdapat berbagai macam reaksi kimia. 2. Dengan peran enzim pada hampir tiap reaksi biologis. Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya. Oleh karena pentingnya enzim. konsentrasi ion hydrogen (pH). Rekasi kimia ini meupakan bagian dari sistem yang bekerja spesifik dan menghasilkan senyawa-senyawa kimia. Pertumbuhan fungi berkaitan dengan kenaikan suhu yang dipengaruhi berbagai faktor antara laininaktivitas thermal enzim. maka praktikum tentang faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim perlu dilakukan I.2 Tujuan Percobaan 1.

Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat.2000). enzimenzim ini hanya bekerja terhadap karbohidrat isomer D bukan L. Umumnya. sehingga suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja. Kespesifikan optik tampak pada enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat. Klasifikasi enzim berdasar Commission on Enzim Of The Internasional uinion of Biochemistry ( CEIUB ) atau Internasional Enzim Commision ( IEC ) adalah sebgai berikut : Enzim yang berperan dalam reaksi oksidasi-reduksi contoh oksigenase Enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan gugus tertentu contoh enzim transaminase Enzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis contoh peptidase Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi addisi atau pemecahan ikatan rangkap contoh liase .T Simanjuntak.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam system biologis. Enzim alkohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alcohol ( Hafiz Soewoto.di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan hasil akhir reaksinya. Enzim berfungsi sebagai katalisator si dalam sel dan sifatnya sangat khas. sedangkan enzim keseluruhannya disebut haloenzim. 2003 ). dan ada pula ynag bersifat stereospesifik. ada pula yang hanya satu kelompok substrat saja. Di dalam jumlah sangat kecil. Bagian protein ( tak aktif ) ( apoenzim ) + non-protein ( gugus protestik ) = haloenzim ( aktif ) Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus ( M. enzim-enzim yang bekerja terhadap asam amino dan protein hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D.1 Enzim Enzim merupakan suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktivitas biologic. Kespesifikan gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerjaterhadap gugus yang tertentu. maka enzim juga disebut sebgai biokatalisator Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim. Sebaliknya.

Dengan demikian. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang rerlatif ketat. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu. Dengan kenaikan suhu lingkungan. karena terjadi denaturasi( Hafiz Soewoto. yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik. Pada suhu yang lebih rendah (sisi A pada gambar). Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum. laju enzimatik selalu lebih rendah.T. Simanjuntak. . α. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu optimum. Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. namun enzim tidak dapat bekerja. 2003). penyinaran ultraviolet. yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. a. sinar x. Seperti molekul protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiko kimia. keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerj enzim antara lain suhu. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37° C. Di samping itu.Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi isomerisasi contoh alanin rasemase Enzim yang berperan dalam mengkataliser reaksipembentukan ikatan dengan bantuan pemecahan ikatan dalam ATP( ligase ) ( M. jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi.2000) . dan γ. dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum Laju reaksi A B Suhu optimum t0 Pengaruh suhu terhadap laju reaksi enzimatik Pada gambar tampak bahwa di luar suhu optimum. enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. Bila suhu ditingkatkan terus. kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu. kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya ( Hafiz Soewoto.2000). oksidasi oleh udara atau senyawa lain. makin rendah pula laju reaksinya. Akan tetapi. β. pH. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi. Pengaruh suhu : Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim.

Oleh karena itu. 2002 ): R adalah gas yang bernilai 1. Akibatnya.kompleks ES tidak terbentuk. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. sehingga produk juga makin sedikit. II. Arrhenius secara empiris telah mengembangkan suatu rumusan umum antara laju suatu reaksi kimia dengan suhu mutlak system reaksi tersebut. melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum. kompleks ES akan sukar terbentuk. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. I. selain gerak termodinamik meningkat. sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. Pada daerah suhu yang lebih tinggi (sisi B pada gambar). Enzim di atas suhu optimum. T adalah suhu mutlak. Yang dinyatakan sebagai berikut ( Mohamad Sadikin. molekul protein enzim juga mengalami denaturasi. b. I II Interaksi enzim-substrat dalam suhu berbeda. makin rendah suhu. Pengaruh pH : . Pada sisi A dari kurva terdapat hubungan tertentu antara kenaikan suhu dengan laju reaksi. enzim dalam suhu optimum. E adalah suatu tetapan yang dinamakan energi aktivitas dan kadalah tetapan laju reaksi. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P.987 kal per derajat per molar. gerak termodinamik tersebut akan makin kurang. Dalam peningkatan suhu ini. gerak termodinamik akan lebih meningkat.

seperti yang tampak pada gambar di bawah ini Laju reaksi pH optimum Ph Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi enzim Kadang-kadang. Ada enzim yang mempunyai pH optimum yang sangat rendah. yang mempunyai pH optimum 2. sebagai produk makhluk hidup secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh ph ini terhadap aktivitas biologis dari enzim ini. Simanjuntak. melainkan suatu garis merata (plateau setelah kurva yang naik. pada pH yang jauh di luar pH optimum. 2003). Sebagian besar enzim bekerja aktif dalam trayek pH yang sempit umumnya 5 . Kurva hubungan antara pH dengan laju reaksi suatu enzim biasanya menghasilkan gambaran seperti lonceng. 2. Jika dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan. sebagai suatu protein enzim tidak berbeda dengan protein lainnya.0.T. seperti pada enzim amylase liur. sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5. seperti pepsin.9. Ini adalah hasil merupakan hasilpengaruh dari pH atas kombinasi factor ( 1 ) ikatan dari substrat ke enzim ( 2 ) aktivitas katalik dari enzim ( 3 ) ionisasi substrat dan ( 4 ) variasi struktur protein ( biasanya signifikan hanya pada pH yang cukup tinggi ) ( M. yaitu : 1. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum.0 sampai 9. Selain itu pada keaadan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat( Hafiz Soewoto. Ada 2 alasan untuk menyelidiki pengaruh tingkat keasaman atau pH terhadap aktivitas emzim.2000) . enzim akan terdenaturasi. untuk kemudian turun lagi sesudah plateau ) . hubungan tersebut tidak menunjukkan suatu titik puncak.Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu.

struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. bukan tidak mengkin ada interaksi yang merugikan antara enzim dan ion penyusun dapar dan bukan karena pH yang disebabkan dapar itu sendiri. Makin besar konsentrasi enzim. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. yaitu : . Pengamatan dapat dilakukan terhadap dua hal. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Bagaimana akibat dari perubahan konsentrasi enzim terhadap reaksi enzimztik itu sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini harus dicari dari pengamatan yang dilakukan atas satu seri campuran yang terdiri atas substrat dalam konsentrasi yang tetap dan enzim dalam konsentrasi yang berbeda-beda. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. Pengaruh konsentrasi enzim : Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik. Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat keasaman dengan laju reaksi maksimum ini. pH tersebut dinamakanpH maksimum. Karena tidak ada sistem dapar masing-masing di sekitar nilai kapasitas yang maksimum dari tiap dapar (rentangan pH di sekitar nilai pKa komponen asam tiap dapar). Tampak adanyaplateau. Di luar nilai pH optimum tersebut. Fenomena seperti ini dapat ditafsirkan sebab adanya molekul amylase dalam bentuk beberapa molekul protein yang berbeda (isozim). sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Dalam gambar dapat dilihat adanya nilai pH tertentu. c. reaksi makin cepat( Hafiz Soewoto. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E]. rentangan pH yang diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan bukan dalam rentangan antara pH 1 sampai 14. dengan volume akhir larutan yang sama.2000) . Tiap molekul isozem niscaya bekerja pada pH yang sedikit berbeda.Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. Oleh karena itu. 2002). Akibatnaya. proses katalisis berjalan tidak optimum. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum.

Jumlah produk 8 6 4 2 0 5 10 15 Menit Gambar 1. terhadap hubungan antara konsentrasi enzim dan kecepatan reaksi enzimatik yang dikatalisis oleh enzim tersebut. Jika data hasil kedua pengamatan tersebut masing-masing disajikan dalam bentuk grafik. . sehingga dengan sendirinya produk olahan enzim juga akan berkurang. pada konsentrasi enzim yang rendah. jumlah substrat yang tersedia sudah mulai berkurang. Pada gambar 1 tampak bahwa makin besar konsentrasi enzim maka makin banyak pula produk yang terbentuk dalam tiap waktu pengamatan. Dengan bertambahnya waktu. terhadap hubungan antara selang waktu pengamatan dan konsentrasi produk yang terbentuk pada tiap konsentrasi enzim. hubungan jumlah produk terbentuk dengan lama reaksi enzimatik pada berbagai konsentrasi enzim. bahwa defleksi tersebut makin jelas dengan makin tingginya konsentrasi enzim. dalam jangka waktu pengamatan yang sama hubungan waktu dengan jumlah produk yang dihasilkan masih berbanding lurus. pada tiap konsentrasi enzim pertambahan jumlah produk akan menunjukkan defleksi. 2. akan diperoleh kurva seperti yang tampak dalam gambar 1 dan 2.1. Dari pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan enzim. Sebaliknya. Tiap garis kurva mewakili satu konsentrasi enzim. tidak lagi berbanding lurus sejalan dengan berlalunya waktu tersebut. karena setelah selang beberapa waktu. Fenomena itu tentu mudah dimaklumi. Akan tetapi pada gambar 1 tampak pula dengan jelas.

Sebagai contoh. sehingga diperoleh garis agak melengkung. makin besar konsentrasi enzim. 2002 ). makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan [ES]. Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat. meskipun ph yang diperlukan sudah dipastikan dengan menggunakan larutan dapar dan tidak hanya sekedar larutan dengan ph yang diperlukan tersebut ( Mohamad Sadikin. penyimpangan disebabkan oleh senyawa pengaktif (aktivator). sedangkan kondisi lainnya tetap. Biasanya. Dalam suatu reaksi enzimatik.Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. Makin banyak kompleks [ES] terbentuk. Pengaruh konsentrasi substrat : Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar. Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu di dalam sel. Laju reaksi Enzim Gambar 2. enzim akan mengikat substrat membentuk kompleks enzim-substrat [ES]. d. maka makin cepat laju reaksi. pengaruh konsentrasi enzim terhadap laju reaksi enzimatik. Fungsi enzim dalam kepentingan medis. Sebaliknya. Dalam keadaan ini. Penambahan jumlah substrat tidak menambah jumlah kompleks E-S. penyimpangan ini terjadi jika enzim yang dipelajari tidak dalam keadaan murni. Dalam keadaan itu seluruh enzim sudah berada dalam bentuk kompleks E-S. kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya. sehingga mungkin terdapat senyawa-senyawa penghambat reaksi dalam jumlah yang sangat kecil. Pada konsentrasi substrat [S] melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan. kemudian kompleks ini akan terurai menjadi [E] dan produk [P]. enzim-enzim yang berperan . maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat sampai suatu batas kecepatan maksimum (V). Kadang-kadang terjadi penyimpangan dari persamaan ini. misalnya tidak adanya ion tertentu. Jadi. penyimpangan juga terdapat dalam sediaan enzim dengan kemurniaan yang tinggi.

6)-glukosidase dapa menghidrolisis ikatan α(1. Ada penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu. amilosa ini menghasilkan kompleks biru-hitam yang tajam dengan iodium akibat masuknya I2 ke dalam gelung helical ynag terbentuk ketika amilosa berada dalam air. Akhirnya tambahan enzim α-(1. berarti sel yang membuatnya mengalami disintegrasi. Dekstrin tidak membentuk kompleks berwarna dengan iodium. Bila enzim yang diukur dalam serum terutama dibuat oleh jaringan atau organ tertentu.4)-glukosida. Enzim β-amilase pada tumbuhan secara lebih spesifik menghidrolisis amilosa menjadi unit-unit maltose. Reaksi amilopektin dan iodium membentuk kompleks merah-ungu. Bobot molekulnya lebih besar daripada amilosa. . 2005 ).dalam sintesis dan reparasi DNA terletak di dalam inti sel.000. II. misalnya pada pemakaian obat analgetik tertentu dan obat anti malaria. Amilosa merupakan polisakarida linear dari unti-unit Dglukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-(1. Sel darah merah penderita defisiensi G6PDH ini sangta rentan terhadap pembebanan oksidatif. digunakan untuk membuat lem. Namun jika dihidrolisis sebagian diperoleh produk yang berbeda: amilosa menghasilkan maltose sebagai satu-satunya disakarfida sedangkan amilopektin menghasilkan campuran disakarida maltose dan isomaltosa.6)-glikosida pada titik percabangan amilopektin dan menghasilkan hidrolisis sempurna ( Staf Pengajar Kimia Organik IPB. Enzim α-amilase dalam saluran pencernaan ( air liur dan cairan pancreas ) akan menghidrolisis rantai lurus amilosa dan amilopektin secara acak menjadi campuran glukosa dan maltose. Dari hidrolisis parsial amilopektin. Pada pemakaian obat-obat tersebut dapat terjadi hemolisis intravaskuler. Bobot molekulnya beragam dari beberapa ribu sampai 150.6)-glukosida. Dasar penggunaan enzim sebagai penunjang diagnosis ialah bahwa (1) pada hakikatnya. Pati ( mailosa maupun amilopektin ) jika terhidrolisis sempurna ( semua ikatan asetal diputus ) akan menghasilkan hanya D-glukosa. pasta. Amilopektin memiliki rantai tulang punggung ( backbone ) yang sama dengan amilosa.2000). misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PDH/ G6PD). Analisis enzim dalam serum pada dasarnya dapat dipakai untuk diagnosis berbagai penyakit. Hidrolisis sempurna biasanya dilakukan dengan asam encer pada suhu tinggi sedangkan hidrolisis parsial umumnya terjadi secara enzimatik. Karena itu enzim intrasel seharusnya tidak ditemukan dalam serum dan bila ditemukan. Enzim yang mengkatalisasi berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. juga diperoleh campuran oligosakarida yang biasa dirujuk sebgai dekstrin. Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien. maka peningkatan aktivitas dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan atau organ tersebut ( Hafiz Soewoto.. atau kanji tekstil. sebagian besar enzim terdapat dan bekerja dalam sel dan (2) bahwa enzim tertentu dibuat dalam jumlah besar oleh jaringan tertentu. .2 Pati Pati ialah polisakarida simpanan yang terdapat dalam tumbuhan tingkat tingkat tinggi. tetapi dengan banyak percabangan lewat ikatan α-(1. Enzim yang berhubungan dengan berbagai biosintesis protein berada bersama ribosom. Homopolimer ini terdiri atas campuran amilosa dan amilopektin.

glukan glukohidro-lase atau EC 3.6 glikosida aktivitas enzim ini akan berhenti. Fungsi dari musin yaitu lendir yang melekatkan butir-butir makanan dan melincirkan makanan.2.3. beta-amilase. air.6-glikosida. Proses ini juga dikenal dengan nama proses likuifikasi pati.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. . Produk akhir yang dihasilkan dari aktivitasnya adalah dekstrin beserta sejumlah kecil glukosa dan maltosa. Enzim beta-amilase atau disebut juga alfa-l. dan garam natrium.3 tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan hidrolisis ikatan glikosida a-1.II.6 dan alfa-1. Enzim amylase sendiri di jelaskan di bawah ini.1.1. Adapun fungsi garam natrium yaitu menyediakan enzim beralkali untuk kerja amylase liur.C.4. Selain itu. enzim ini dapat pula menghidrolisis ikatan glikosida alfa-1. bekerja pada ikatan alfa-1.4(http://june-s. Enzim Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1.html ). dan glukoamilase.4glukanmaltohidrolas E. Sedangkan fungsi air yaitu melembabkan dan melembutkan makanan. Enzim ini memutus ikatan amilosa maupun amilopektin dari luar molekul dan menghasilkan unit-unit maltosa dari ujung nonpereduksi pada rantai polisakarida. Enzim alfa-amilase merupakan endoenzim yang memotong ikatan alfa-1. Alfaamilase akan menghidrolisis ikatan alfa-1-4 glikosida pada polisakarida dengan hasil degradasi secara acak di bagian tengah atau bagian dalam molekul.2. yaitu alfa-amilase.4-glikosida dengan menginversi konfigurasi posisi atom C(l) atau C nomor 1 molekul glukosa dari alfa menjadi beta. amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang dipecah. Secara umum. musin. tetapi hasilnya beta-glukosa yang mempunyai konfigurasi berlawanan dengan hasil hidrolisis oleh enzim a-amilase. 3. Bila tiba pada ikatan alfa-1.4. Enzim ini menghidrolisis ikatan glukosida alfa-1.2.4 amilosa dan amilopektin dengan cepat pada larutan pati kental yang telah mengalami gelatinisasi. Glukoamilase dikenal dengan nama lain alfa-1.4dan alfa-l.3 Enzim Amilase Air liur mengandung enzim amylase liur.blogspot.

1 Alat dan Bahan Alat : a) Beaker glass b) Tabung reaksi c) Pipet volume d) Pipet tetes e) Erlenmeyer f) Spektrofotometri g) Incubator Bahan : a) Air liur b) Larutan pati c) Larutan iodium d) Larutan pH 7 dan 11 e) Aquadest .BAB III MATERI DAN METODE III.

2 ml air liur kemudian diinkubasi selama tepat 1 menit d) ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung (untuk suhu 600 C dan 1000C dilakukan di luar penangas) e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh pH a) Air liur diencerkan 100 kali dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) 0. 1000 C selama 5 menit c) larutan pati dicampurkan ke dalam 0.5 ml larutan pati ditambah dengan 0. o. d) ditambah larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh Konsentrasi Enzim a) Air liur diencerkan dengan pengenceran 100 kali . 600 kali b) 1 ml larutan pati dimasukkan kedalam 8 tabung reaksi yang diberi tanda blangko dan uji kemudian diinkubasi pada suhu 370 selama 5 menit .2 ml air liur yang telah diencerkan. dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) larutan pati kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi tanda blangko dan uji kemudian pasangan tabung diinkubasi pada suhu 40.5 ml larutan pati ditambah dengan 0.5 ml larutan pH 11 (tabung B). Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama minimal 5 menit c) campuran larutan pati dengan larutan pH yang telah diinkubasi ditambahkan dengan 0. kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit. 280. 600.III.2 wadah Prosedur Kerja Sebelum melakukan percobaan diambil sampel air liur dari praktikan dan ditempatkan pada Pengaruh Suhu a) air liur diencerkan 100 kali.5 ml larutan pH 7 (tabung A). 370. 200 kali . 400 kali . Masing-asing tabung ditandai blanko dan uji.

211 0.194 0.061 0.033 0.255 AU 0.2 ml (setiap konsentrasi) dimasukkan ke dalam tabung reaksi d) Larutan pati yang telah diinkubasi dicampurkan ke air liur kemudian diinkubasi tepat 1 menit e) f) Ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm g) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungakan kecepatan reaksi dengan suhu BAB IV HASIL PENGAMATAN Adapun hasil percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut : Pengaruh Suhu Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Suhu 40C 280C 370C 600C 1000C Dari data di atas didapatkan kurva AB 0.c) Air liur yang telah diencerkan diambil 0.066 .226 0.183 0.051 0.043 0.142 0.175 0.189 ∆A/menit 0.245 0.150 0.

011 ∆A/menit -0.Pengaruh pH Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm dan perubahn warna yang terjadi pH 7 11 AB 0.0315 -0.093 0.1245 0.003 AU 0.008 Perubahan warna Coklat Biru .

Kanan adalah larutan uji Gambar2. pH 7 Kiri adalah Blanko. pH 11 Pengaruh konsentrasi .Dari data didapatkan kurva seperti di atas Foto di bawah ini memperlihatkan perbedaan warna hasil reaksi anatara pH 7 dan 11 Gambar1.

005 0.0017 0.01 0.004 Dari data di atas didapatkan kurva Keterangan: ?A/menit pada judul tiap kurva maksudnya adalah ∆A/menit.173 0.024 0. .019 -0. ∆A/menit diindikasi kan sebagai laju reaksi BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum ini kami melakukan percobaan secara invitro mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amylase yang terdapat pada air liur dalam memecah larutan pati. Faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi enzim.Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Pengenceran 100 X 200 X 400 X 600 X Konsentrasi AB 0.200 0.193 0. konsentrasi ion hydrogen (pH).185 AU 0.120 0.174 0.08 0. suhu dan konsentrasi substrat. Namun kami tidak melakukan praktikum mengenai pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim.189 ∆A/menit 0.207 0.0025 0.

Sedangkan bila suhu terlalu tinggi. Kemudian ditambahkan Larutan iodium yang akan menandakan perbedaan warna dari masing-masing perlakuan pada percobaan factor yang mempengaruhi kerja enzim. Larutan Iodium digunakan sebagai indicator perubahan warna dari larutan uji. Pada percoban mengenai pengaruh suhu terhadap aktiivitas enzim. telihat peningkatan laju reaksi akibat adanya gerak termodinamik yang secara perlahan membentuk produk dan pada titik optimum ( suhu optimum ) yaitu 37oC dapat dikatakan membentuk secara . Berdasarkan data hasil pengamatan. yang kemudian diinkubasi selama 5 menit pada suhu 4. 100 C yang masing-masing suhu dibuat blanko dan uji. enzim menjadi tidak aktif. Larutan pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. Kedua keadaan ini diakibatkan oleh benturan antara enzim dan substrat. Pada ketiga percobaan perlakuan hampir sama pada pembuatan larutan uji dan blanko. Adapun kurva hasil percobaan memperlihatkan laju reaksi dari enzim semakin cepat seiring bertambahnya suhu ini terlihat pada kenaikan suhu dari 4oC hingga 37oC namun ketika suhu mengalami kenaikan hingga 60oC terjadi penurunan laju reaksi. Perlakuan yang sama pada larutan uji dan blanko yaitu sample yang sama yaitu larutan pati yang berfungsi sebagai substrat lalu di inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C ( untuk percobaan pengaruh suhu dan konsentrasi enzim ) yang berfungsi untuk menyamakan kondisi suhu enzim dengan suhu tubuh. dan dihitung kecepatan reaksi enzimatik serta dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu. karena tidak terjadi benturan antara molekul enzim dengan substrat. larutan iodium ini merupakan indicator adanya karbohidrat atau tidak dalam larutan. 37. Pengaruh Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas katalisis enzim. dimana benturan yang terjadi semakin banyak maka struktur tiga dimensi dari enzim tersebut akan terganggu sehingga enzim akan mengalami denaturasi. 28. atau dapat dikatakan enzim akan kehilangan sifat alamiahnya. yang pertama kami lakukan adalah pengenceran air liur hingga 100 kali. Setelah itu dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm. Lalu mencampurkan pati dengan air liur dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial. untuk suhu 600 C dan 1000 C dilakukan di luar penangas. perlakuan tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya bumping selama proses pemanasan. Setelah diinkubasi larutan pati dicampurkan ke dalam 0. Pada keadaan pertama yaitu 4oC hingga 37oC.2 ml air liur kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit dan ditambahkan larutan iodium 1 ml dalam 8 ml aquadest pada masing-masing tabung. Bila suhu terlalu rendah. perubahan absorbansi per menit yang diperoleh dari absorbansi larutan blanko dan absorbansi larutan uji dapat dilihat dari kurva disamping. 60. Sedangkan air liur digunakan untuk mengetahui reaksi enzimatik dari enzim amylase di dalamnya. Kami juga menggunakan larutan pati sebagai larutan uji untuk melihat aktivitas enzim amylase. Diluar suhu optimum aktivitas enzim menjadi tidak maksimal.Dalam praktikum kali ini digunakan bahan pati yang diindikasikan sebagai substrat.

pada keadaan kedua yaitu suhu mengalami kenaikan hingga 60oC. pada keadaan ini perbenturan antara enzim dan substrat terus berlangsung namun keadaan ini tidak menambah laju reaksi namun mengurangi laju reaksi ini disebabkan karena enzim mengalami denaturasi sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. Dari kurva hasil percobaan terlihat semakin tinggi pH semakin tinggi nilai absorbansi yang menandakan semakin tingginya laju reaksi dari pH 7 ke pH 11. Dari kurva terlihat bahwa pada suhu 100 oC terjadi kenaikan nilai absorbansi.sempurna karena enzim amylase yang merupakan enzim yang terdapat tubuh memilki suhu optimum 37oC. Pada umumnya enzim bekerja maksimum . 2002 ) dari kurva laju reaksi yang semakin menurun. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. sehingga produk juga makin sedikit dan ini terlihat ( Mohamad Sadikin. Akibatnya. sehingga diperkirakan suhu dalam tabung berada di bawah 100 oC pada saat pencampuran sehingga tumbukan antara enzim dan substrat mengalami penurun dan mendekati suhu optimum sehingga menghasilkan laju reaksi yang menurun. Pengaruh pH Dari hasil percobaan kami tidak dapat membuktikan bahwa keasaman mengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Tampak adanyaplateau. Kesalahan ini terletak pada penambahan air liur yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dimana air liur yang ditambahkan hanya 1ml bukan 2ml yang merupakan tahapan pada prosedur kerja sehingga hasil absorbansi nilai ∆A/menit menjadi minus. sehingga didapatkan kurva yang tidak sesuai teori. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Kurva di samping pun menjadi rancu bila dibandingkan dengan kurva antara pH larutan enizm amylase dari air liur dengan laju reaksi menurut Mohamad Sadikin (2002) Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. kompleks E-S akan sukar terbentuk. Terlihat pada kurva di samping. Hal ini disebabkan telalu lamanya tabung reaksi berada di luar penangas.

0. adanya nilai pH tertentu. Keadaan ini menandakan bahwa enzim amylase pada air liur bekerja menghidrolisa larutan pati menjadi produk yang terdiri dari glukosa dan maltosa. 400x dan konsentrasi yang di dapat yaitu 0.pada pH 5-9. Akibatnaya.0017. Pada larutan uji pH 7 warna yang dihasilkan yaitu coklat. konsentrasi enzim amylase dari air liur yang berbedabeda didapatkan dari pengenceran larutan air liur. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. Dari hasil percobaan pengaruh konsentrasi enzim terlihat pada pergerakan laju reaksi dari 0. namun kondisi ini ini terus menurun pada konsentrasi 0. Kerja enzim sebagai katalis dipengaruhi oleh pH. Sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amylase tidak bekerja optimum dalam menghirdrolis larutan pati karena struktur 3 dimensi dari enzim amylase telah berubah sehingga tidak dapat mengolah substrat dengan baik. Kerja enzim amylase disini dikatatan sebagai hidrolisis parsial dan memperlihatkan bahwa enzim amylase berada pada kondisi 3 dimensi yang tepat sehingga dapat mengolah ( menghidrolisis ) karbohidrat dari larutan pati dengan sangat cepat. 200x.0025 hingga konsentrasi 0. Keadaan ini tidak dapat membuktikan teori yang . Larutan air liur diencerkan menjadi 100x. Pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim ini. Pengaruh konsentrasi enzim ini yaitu pembentukan produk.005. pH tersebut dinamakan pH maksimum. terlihat perbedaan warna yang signifikan antara larutan pati yang dicampurkan dengan air liur pada pH 7 dan pada pH 11 setelah ditambahkan larutan iodium. Pada pH 7 ini dapat dikatakan sudah tidak adanya karbohidrat ( dari larutan pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin ) karena dihidrolisis oleh amylase terlihat dengan tidak didapatkan warna biru kehitaman ( menandakan adanya amilosa) ataupun merah ungu ( menandakan adanya amilopektin )ketika ditambahkan larutan iodium. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. namun dari kurva kita lihat enzim amylase dari air liur bekerja semakin tinggi dengan bertambahnya pH ( yaitu pH 11 yang berada di luar kisaran pH untuk enzim bekerja maksimum). dimana makin besar konsentrasi enzim makin banyak pula produk yang dihasilkan sehingga dapat dinyatakan bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. struktur 3 dimensi berubah akibat ph yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. Pengaruh konsentrasi enzim Konsentrasi enzim mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik.0025 dimana laju reaksi semakin meningkat. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Dari pengamatan warna larutan uji. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. Oleh karena itu. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. 2002).0017 hingga 0.0017. 300x. Dari konsentrasi ini sebelum praktikum kita dapat memprediksikan jika laju reaksi akan mencapai titik tertinggi pada konsentrasi 0.01. proses katalisis berjalan tidak optimum. Sedangkan hasil pengamatan pada pH 11 menunjukan warna biru pada larutan uji setelah ditambhkan iodium.01. Di luar nilai ph optimum tersebut.0025. Kondisi ini terlihat dari kurva di samping kanan. 0. Ini menunjukan adanya kompleks pati iodium dimana dapat diindikasikan adanya amilosa yang merupakan bagian dari pati ( karbohidrat ).01 dan titik terendah pada konsentrasi 0. dan 0.

Kurva yang berbeda pada hasil percobaan dikarenakan adanya kesalahan dalam prosedur kerja. Faktor kedua yaitu pH dimana terlihat perbedaan warna akibat kerja enzim pada pH yang berbeda. Pengenceran yang dimaksud adalah ketika mengencerkan air liur dari 100x menjadi 200x dan seterusnya. Selain itu dapat kami simpulkan bahwa enzim amylase bekerja menghidrolis secara parsial larutan pati yang merupakan karbohidrat. Faktor ketiga yaitu konsentrasi enzim. dan aktivitas enzim dapat dikatakan bekerja cepat dan tepat pada pH optimumnya. Faktor pertama yaitu suhu.menyebutkan Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. Enzim amylase bekerja maksimum pada pH 7 dan pada suhu 37 0C. aktivitas enzim semakin meningkat seiring bertambahnya suhu terlihat dari laju reaksi namun aktivitasnya menurun setelah melewati suhu optimum. . Kesalahan dalam prosedur kerja ini yaitu ketidaktelitian dalam pengenceran. maka makin cepat laju reaksi yang tertera pada kurva ( Mohamad Sadikin. Jadi. BAB VI KESIMPULAN Dari hasil percobaan maka dapat kami simpulkan yaitu enzim dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. dimana semakin tinggi konsentrasi enzim semakin banyak produk yang dihasilkan. makin besar konsentrasi enzim. 2002).

Mohamad.id/download/fmipa/farmasi-mtsim1.usu. Biokimia Eksperimen Laboratorium.Jakarta: Widya Medika. Hafiz. 2005. 2000. Soewoto.ac. Sedangakan suhu 37 0C merupakan suhu optimum bagi enzim amylase dalam melaksanakan kerjanya. dkk.blogspot. Biokimia Enzim. http://june-s.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. Penuntun Praktikum Kimia Organik untuk Mahasiswa Program D3 Analisis Kimia. DAFTAR PUSTAKA Sadikin. Staf Pengajar Kimia Organik.pdf . 2002. Jakarta : Widya Medika.sehingga dapat dikatakan pH 7 merupakan pH optimum dalam kerja enzim amylase. Departemen Kimia FMIPA-IPB.html http://library.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful