aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba MARCH 24, 2012 BY ADMIN LEAVE A COMMENT PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP

PERTUMBUHAN MIKROBA

Tujuan : Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba Dapat menarik kesimpulan dan menyikapi hal tersebut jika terlibat lagi dalam proses mikrobiologi Teori :

Kehidupan mikroorganisme umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Ada 3 macam faktor lingkungan yang mempengaruhi, yaitu : Faktor fisis, misalnya : suhu, pH, tekanan osmotik, kandungan oksigen dan lain-lain Faktor kimia, misalnya senyawa beracun atau senyawa kimia lain yang berfungsi sebagai bahan makanan Faktor biologis, misalnya : interaksi dengan mikroba lainnya Pengaruh Suhu Peranan suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme sebenarnya merupakan petunjuk adanyapengaruh suhu pada enzim di dalam sel mikroorganisme, Bila suhu rendah (di bawah optimum), aktivitas enzim juga rendah dan dengan demikian pertumbuhan mikroba menjadi lambat. Pada titik beku (di bawah minimum) semua aktivitas metrabolisme di dalam sel terhenti. Hal ini tidak hanya disebabkan karena penghambatan aktivitas enzim secara langsung, tetapi juga karena sel kehilangan air yang sangat diperlukan untuk penyerapan zat-zat makanan dan pengeluaran hasil-hasil buangan sel. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan suhu optimum : 0 – 20 °C 20 – 50 °C 50 – 100 °C Pengaruh pH Mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada jarak pH tertentu, misalnyabakteri pada pH 6,5 – 7,5, khamir pada pH 4,0 – 4,5, sedangkan kapang pada selang pH yang lebih luas. Untuk menahan perubahan pH, ke dalam medium sering ditambahkan larutan buffer (penyangga) dengan tujuan agar diperoleh pertumbuhan mikroorganisme yang baik, sebab pada pH optimumnya, pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan pH tempat tumbuhnya : = Psikrofil = Mesofil =Termofil

pH asam pH basa pH netral

: Asidofil : Alkalofil : Neutrofil

Pengaruh bahan kimia (Desinfektan) Untuk membandingkan kekuatan desinfektan alam menghambat pertumbuhan bakteri dapat digunakan cakram kertas. Pada cara ini cakram kertas dengan diameter tertentu dibasahi dengan desinfektan, kemudian diletakkan pada permukaan agar dalam cawan petri yang telah di inokulasi. Kemudian diinkubasi selama 48 jam. Jika desinfektan menghambat pertumbuhan bakteri, maka akan terlihat daerah bening di sekeliling cakram kertas. Luas daerah benda ini menjadi ukuran kekuatan daya kerja desinfektan Zat makanan yang diserap bakteri, sebagian akan digunakan untuk membangun protoplasmanya sehingga tumbuh mencapai besar tertentu kemudian membelah diri (berkembang biak)perkembangan bakteri. Bakteri berkembang biak dengan jalan membelah diri, dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4 dan seterusnya. Interval waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya:

Escherichia coli membelah diri setiap 15-29 menit Salmonella typhy membelah diri setiap 23-24 menit Sthaphylococcus tuberculosis membelah diri setiap 792-932 menit Treponema pallida membelah diri setiap 1980 menit

Bila suatu jenis bakteri dalam keadaan yang baik dan makanan yang cukup dan membelah setiap 30 menit maka 1 bakteri yang membelah diri mulai jam 09.00 maka pada jam 12.00 akan menjadi 64, pada jam 24.00 menjadi 17.000.000 dan pada jam 09.00 esok harinya menjadi 280.000.000.000.000 untunglah perkembangbiakan secepat ini tidak terjadi di alam karena banyak sekali faktor yang memperngaruhi kehidupan bakteri.

Pengaruh Lingkungan pada Pertumbuhan dan Perkembangan Bakteri

a. Pengaruh suhu

Tiap jenis bakteri mempunyai suhu optimum di mana pertumbuhannya paling baik berdasarkan hal ini bakteri dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

Golongan

Suhu Pertumbuhan Minimun Optimum Maksimum 10-15 25-37 50-60 30 40-55 60-90

Psychrophil 0 Mesophil 15-25

Thermophil 25-45 dalam satuan derajat Celcius

bakteri-bakteri patogen pada manusi termasuk bakteri mesopil. Suhu optimumnya sama degan suhu tubuh manusia (37 C)

1. Pengaruh suhu rendah. Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bakteri, bahkan ada yang tahan bertahun-tahun pada minus 70 Celcius (C) Bakteri yang patogen pada manusia umunya mati pada suhu 0 C

2. Pengaruh suhu tinggi Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila bakteri dipanaskan pada suhu di atas suhu maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri baik patogen maupun tidak dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 menit pada suhu 60-65 C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.

b. Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.

c. Pengeringan (kelembaban)

Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar ke dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab, dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang kering. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan pengeringan. Pada suasana kering ini bakteri tidak dapat merombak bahan makanan yang ditempatinya. Di laboratorium bakteri atau virus dapat dipertahankan hidup dalam keadaan kering, bila pembenihan dibekukan secara cepat kemudian dikeringkan secara cepat pula di dalam ruang vacum (hampa udara). Cara ini penting dalam pembentukan stok (cadangan) bakteri, virus, enzim, toxin, dan plasma darah, yang biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Serbuk ini sangat lyophil (suka air) karena itu pembuatannya disebut proses lyophil.

d. Keasaman (pH)

Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) agau sedikit basa (pH 7,2-7,4) tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5-7,5. Bakteri-bakteri yang patogen pada manusia tumbuhan baik pada pH 6,8-7,4, yaitu sama dengan pH darah. Beberapa bakteri dapat hidup pada suasana asam, misalnya bakteri yang hidup pada gusi manusia, yaitu Streptococcus mutans. Ada pula bakteri yang tumbuh baik pada suasana basa misalnya Vibrio cholera.

e. Pengaruh O2 dari udara

Berdasarkan responnya terhadapa 02 bebas ini, bakteri dibagi dalam 3 golongan , yaitu: Bakteri aerob (obligate aerob), yaitu bakteri yang hanya hidup di dalam lingkungan yang mengandung 02 bebas. Misalnya: Vibrio cholera, Bacillus anthracis,Corynebacterium diptheriae. Bakterii anaerob (obligate anaerob), yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung 02 bebas. Misalnya, Clostridium tetani,treponea pallida. Fakultatif aerob, yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan, baik yang mengandung 02 bebas ataupun tidak. Misalnya: Salmonella typhi, Neisseria meningitis dan Streptococcus pyogenes. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada umumnya akan lebih baik tumbuh pada lingkungan yang mengandung sedikit 02 bebas, karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

f. Pengaruh tekanan osmotik

Pengaruh faktor cahaya terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. pengaruh faktor suhu terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. misalnya mengoksidasi suatu enzim. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakteri. Indan Entjang: PT. Pengaruh faktor tekanan osmotik terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. g. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di alam. PEMBAHASAN . Misalnya preparat sulfa memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroba. Untuk kelangsungan hidupnya. bakteri tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan osmotik cairan di sekitarnya. Terjadi ikatan kimia. Citra Aditya Bakti Tag: Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba Mengubah permebialitas membran sitoplasma sehingga lalu-lintas zat-zat yang keluar masuk ke sel mikroba menjadi kacau. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Asam atau basa kuat dapat menghidroliskan struktur sel sehingga hancur. Akan tetapi. Pengaruh faktor kelembaban terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan yang ada di dalam dengan yang ada di luar sel bakteri.Pengaruh faktor oksigen terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. termasuk air. Ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzim sehingga fungsi enzim itu terganggu. Pengaruh faktor keasaman terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Oksidasi. LAPORAN 8 (Pengujian Viabilitas Sel Khamir dan Uji Aktivitas Ragi) VI. karena mempunyai membran sitoplasma yang secara aktif mengatur ke luar masuknya zat ke dalam sel bakteri. sumber: Mikrobiologi & Parasitologi: dr. larutan hipertonis di sekitar bakteri akan menyebabkan bakteri sukar atau sama sekali tidak dapat tumbuh bahkan dapat membunuhnya. Hydrolusa. pengaruh desinfektan terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. FAktorfaktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan perkembangan bakteri.Air keluar dan masuk ke dalam bakteri melalui proses osmosis. Mengubah sifat koloid protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati. Memblokir beberapa reaksi kimia. Kenyataan ini dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk mengawetkan ikan asing dan dendeng. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur itu terganggu.

Ruang pandang yang terbatas pada mikroskop dapat menjadi salah satu penyebab ketidak-akuratan dalam menghitung jumlah mikroorganisme yang hidup dan yang mati. Hal lain yang mungkin terjadi adalah kondisi lingkungan tidak cocok untuk ragi dan penambahan alkohol untuk membersihkan objek glass menyebabkan sel khamir banyak yang mati. lalu ambil satu ose sampel dan di inokulasi pada objek glas. Mikroba utama dalam ragi roti ini adalah jenis khamir Saccharomyces cerevisiae. bertujuan untuk mengamati jumlah sel khamir yang hidup dan yang mati. Adanya sampel yang menunjukkan sel mati lebih banyak dari sel hidup dapat dipahami mengingat pengambilan 0. Pada saat pengamatan di mikroskop kita dapat melihat dan membedakan antara sel khamir yang mati dan hidup. dan sel terlihat berwarna biru. Ragi fermipan dibuat menjadi suspensi. Jika viabilitas sel rusak. Sel khamir ini memiliki sifat-sifat fisiologi yang stabil. Kemungkinan bagian yang digunakan itu adalah bagian yang sel matinya lebih banyak. Pengamatan yang dilakukan adalah pengembangan volume adonan roti yang telah dibuat. sehingga membran luar selnya dapat mengatur apapun yang keluar masuk sel. Selain itu. tidak semua mikroorganisme dapat terlihat dengan baik. terdispersi dalam air. 4. 4. Tepung yang digunakan merupakan tepung yang memiliki kadar gluten yang tinggi sehingga cocok untuk pembuatan roti. Sel khamir yang masih hidup ini dapat menahan Methylen Blue. yang ditandai dengan warna bening. membran luar sel tidak dapat menahan cairan yang keluar masuk sel. Sedangkan sel yang masih hidup terlihat tidak berwarna di bawah mikroskop. Pertama-tama 40 gram tepung ditambahkan 0.2 Uji Aktivitas Ragi Praktikum selanjutnya adalah uji aktivitas ragi. Praktikum kali ini terdapat dua perlakuan yaitu.1 gram ragi diawal dilakukan secara acak. Campuran tepung cakra dan fermipan kemudian ditambahkan dengan aquades hangat sedikit demi sekit hingga terbentuk adonan roti yang kalis. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa sel khamir yang mati sebanyal 33 sel dan sel hidup sebanyak 15. sangat aktif dalam memecah gula. Pada perlakuan pertama pengujian viabilitas sel khamir.44 gram fermipan. yang menunjukkan sel khamir tersebut hidup dan yang berwarna biru menunjukkan sel khamir yang mati karena menyerap metylen blue. Adonan kalis dapat diidentifikasi dengan terbentuknya adonan yang tidak lengket dan apabila dibelah adonan tidak menjadi pecah.Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 November 2011. untuk mengetahui pengembangan adonan dan juga karakteristik roti itu sendiri. Ini dapat menyebabkan warna biru dari Methylen Blue masuk ke dalam sel. yang selanjutnya dikocok.1 Pengujian Viabilitas Sel Khamir Ragi yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu fermipan.sebelumnya 0. pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi roti. suspensi ditetesi lagi dengan Methylen Blue. Volume adonan dapat berkembang karena khamir menghasilkan gas CO2 yang membuat adonan .1 g ragi roti ditambahkan dengan 10 ml aquades steril didalam erlenmeyer. lalu lakukan pengamatan di bawah mikroskop. mempunyai daya tahan simpan yang lama. Karena jarak pandang yang terbatas yaitu hanya sati sisi saja. dan tumbuh dengan sangat cepat. sehingga menjadi tidak berwarna. Sel yang masih hidup masih memiliki viabilitas sel yang baik.

Peningkatan volume adonan diamati setiap 10 menit selama 1 jam. ketinggiannya juga beratambah. Uji Aktivitas Ragi Menit Tinggi 0’ 72 ml 10’ 74 ml 20’ 80 ml 30’ 93 ml 40’ 96 ml 50’ 97 ml 60’ 98 ml (Sumber : Dokumentasi Pribadi. Pengembangan volume yang meningkat dapat terjadi karena suhu adonan masih optimal bagi sel khamir dan karena nutrisi yang dibutuhkan sel khamir masih banyak tersedia dalam tepung adonan. Jadi memang benar bahwa dalam adonan ragi berfungsi sebagai: . Tabel 1.mengembang. tejadi pertambahan volume pada adonan setiap 10 menit. sehingga pertumbuhan khamir meningkat. Hasil pengamatan dapat dlihat pada Tabel 1. Adonan dimasukkan ke dalam gelas ukur dan ditutup dengan cling wrap. 2011) Berdasarkan hasil pengamatan.

Leavening agent (pengembang adonan). yang terbentuk karena ragi juga memproduksi sejenis etanol). karena sel khamir hanya dapat tumbuh pada lingkungan yang anaerobik. mudah keras. sehingga adonan mengembang. Ragi yang digunakan pada praktikum ini adalah ragi berkualitas buruk karena jumlah sel hidup lebih sedikit dari sel mati. semakin mengembang volume adonan roti. perhatikan pula suhu pembuatan adonan. Memproses gluten (protein pada tepung). Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ragi memang benar-benar terjadi. ragi roti menghasilan sedikit etanol dan gas CO2. ragi juga menghasilkan sejenis etanol yang dapat memberikan aroma khusus. Untuk mengoptimalkan aktivitas ragi. serat roti kasar. Akibatnya aroma roti menjadi asam. Pada pembuatan roti. V. Mikroba yang berperan adalah dari spesies Saccharomyces cerevisiae. maka semakin buruk kualitas ragi. dan mengahasilkan flavour (aroma dan rasa. jika tidak kita tutup maka tidak akan mengembang karena udara dapat masuk dan menghambat kerja dan pertumbuhan sel khamir yang ada pada adonan roti. ditambahkan ragi untuk memprosesnya. dan roti menjadi tidak tahan lama. memproses gluten (membuat jaringan sehingga gas karbondioksida tertahan didalam). Ragi roti di dalam adonan akan bekerja secara optimal bila suhunya di bawah 30°C. yaitu sel hidup dan sel mati. Menghasilkan flavour (aroma dan rasa) pada adonan. ragi mengkonsumsi gula dan mengubahnya menjadi gas karbondioksida. volume adonan bertambah tiap 10 menit. KESIMPULAN Kesimpulan dari praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi adalah sebagai berikut: Dalam pembuatan roti. Selama pengadukan adonan dan fermentasi. maka aktivitas ragi akan berkurang sehingga fermentasi roti akan semakin lama. sehingga dapat membentuk jaringan yang dapat menahan gas karbondioksida keluar. Bila suhu adonan melebihi 30°C. Semakin kuat gluten menahan terbentuknya gas CO2. Dalam ragi terdapat dua sel khamir. Semakin banyak sel mati. Hal ini disebabkan karena selama fermentasi. ragi berfungsi sebagai pengembang adonan (ragi mengkonsumsi gula yang menghasilkan karbondioksida). Tujuan dari gelas ukur tersebut ditutup dengan clingwarp dengan tujuan agar sel khamir dapat tumbuh dan berkembang. Pemakaian mesin (mixer) yang terlalu lama untuk mengaduk roti menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu adonan sehingga mengurangi aktivitas ragi (yeast). Pada pengujian aktivitas ragi. Etanol yang dihasilkan akan menguap selama pemanggangan. sedangkan gas CO2ditahan oleh gluten terigu sehingga roti mengembang. .

Wootton. Suhu optimal enzim ini akan bervariasi. Penerbit Universitas Indonesia. Enzim amilase umumnya bekerja maksimal pada suhu tubuh normal dan aktivitasnya akan menurun seiring terjadinya penyimpangan dari suhu normal.DAFTAR PUSTAKA Fardiaz.A Edwards. G. Jakarta. Jakarta. Penerjemah Muchji Muljohardjo. sebab sudah banyak sel khamir yang mati daripada sel khamir yang masih hidup. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Buckle.. PERTANYAAN DAN DISKUSI Berdasarkan pengamatan. Srikandi. dan M. K.A. Desroiser. PT. Pseudoalteromonas Arctica Sekelompok peneliti mengisolasi enzim amilase dari Pseudoalteromonas Arctica. Penerbit Universitas Indonesia. Dalam edisi 2010 November “Journal Protein. Mikrobiologi Pangan 1. apakah viabilitas sel khamir pada ragi yang dibuat masih tetap tinggi?Jika tidak.H Fleet. Amilase adalah sebuah enzim yang diproduksi oleh sebagian besar organisme.. .” para peneliti menyatakan bahwa suhu optimal enzim amilase pada bakteri tersebut adalah 30 derajat Celcius dan aktivitas molekul berkurang hingga 65 persen pada suhu nol derajat Celcius. tergantung pada tiap jenis organisme. Berikut adalah hasil penelitian mengenai pengaruh suhu pada aktivitas enzim amilase yang dilakukan pada beberapa organisme. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal ini didasarkan pada hasil uji aktivitas ragi yang telah dibuat. Norman. Ilmu Pangan. 1988. mulai dari bakteri hingga manusia. Amilase digunakan untuk memecah zat tepung menjadi gula untuk produksi energi. 1992. R. apa alasannya? Jawab : tidak tinggi viabilitasnya. 1987.. sebuah bakteri laut lokal di Samudra Arktik yang mengelilingi pulau Spitzbergen di Norwegia. Jelaskan! Jawab : 10%. Teknologi Pengawetan Pangan. Ragi tersebut hanya mengembang sedikit demi sedikit bahkan ada yang tidak mengalami pengembangan sehingga dapat disimpulkan apabila ada komponen lain yang menghambat keberhasilan pembuatan ragi roti. Bagaimana tingkat keberhasilan pembuatan ragi roti berdasarkan cara yang telah dilakukan. W.

[] 1. reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim. Dalam mahkluk hidup. tetapi menurun ketika tekanan dan waktu ditingkatkan.25 derajat Celcius pada pH 6. Sebuah studi yang diterbitkan dalam edisi Maret 2006 “The Turkish Journal of Zoology” melaporkan bahwa enzim amilase dalam organisme ini akan beraktivitas maksimum antara suhu 30. aktif pada berbagai rentang suhu. 1994). Bacillus iicheniformis Edisi Januari 1989 dari jurnal “Biotechnology and Bioengineering” melaporkan bahwa enzim α-amilase dari bakteri terisolasi. Penelitian ini lebih lanjut melaporkan bahwa aktivitas enzimatik paling optimal terjadi pada suhu 30 derajat Celcius.Studi ini juga melaporkan bahwa aktivitas enzim amilase menurun tajam pada suhu di atas 40 derajat Celcius.400 molekul untuk setiap gram berat badan. Para peneliti menyesuaikan suhu suatu medium yang mengandung bakteri secara bertahap dari 4 ke 22 hingga 37 dan akhirnya 80 derajat Celcius.1.25 derajat Celcius setelah dua jam dan 70. mengandung sejumlah besar amilase sekitar 2.25 derajat Celcius setelah satu jam. Selain itu. sebagai indikator tekanan. Bacillus subtilis Sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi Juli 2009 “Biotechnology Progress” menyelidiki potensi penggunaan enzim amilase yang diisolasi dari Bacillus subtilis. Bacillus iicheniformis. sampai enzim didenaturasi pada suhu 80 derajat Celcius. Mereka menemukan bahwa aktivitas enzimatik meningkat seiring dengan suhu. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas enzim amilase tidak mengalami hambatan pada suhu mulai dari 10 sampai 50 derajat Celcius. Heliodiaptomus viduus. enzim menjadi tidak aktif pada suhu 60. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi. .25 dan 70.0. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono. suhu dan waktu pada proses pasteurisasi. Tinjauan Pustaka Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya. Heliodiaptomus viduus Zooplankton air tawar. PENDAHULUAN 1.

1994). .Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. begitu juga pada suhu ruang. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi. 1991). dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Pada sel hidup. substansi tersebut tidak berubah. Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih. pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa. Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil. Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis. Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat. larutan tidak ada gumpalan. Dalam air. kebutuhan kofaktor. dalam banyak kasus. perubahan pH sangat kecil. Pada penyakit radang pankreas. 1990). kencing manis. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi. Pada suhu ruang. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan. enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. hewan memiliki hanya α amilase. yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit(Wirahadikusumah. kadarnya dalam darah meningkat. glikogen dan polisakarida yang lain. 1994). Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington. Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. 1990). 1994). pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington. Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. kadarnya menurun (Anonim. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. maltotriosa atau oligosakarida. Akibatnya daya kerja enzim menurun. pH optimal. bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor. gondongan. Pada suhu 45°C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Tumbuhan mengandung α dan β amilase. Sebaliknya pada penyakit hati. menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat. Misalnya. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. 1989). daerah temperatur. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. 1991). dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. Karena itu pada suhu 40oC. pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor.

1992). Namun dalam suatu reaksi kimia. Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. 1994).Sifat-sifat enzim antara lain : 1. Beberapa ion anorganik. Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. enzim yang dikeluarkan ke lambung. misalnya ion kalsium dan ion klorida. 1994). pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington. Pati yang merupakan . Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono. Sebagai contoh. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu. Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. pepsin. (Tranggono & Setiadji. 1994). Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. yaitu suhu tubuh. pada umumnya sekitar 4. 4. Sebagai contoh. 3. 1989). enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. Pada suhu yang sangat rendah. Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. 1994). laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. 1992). Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington. khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. 2. Ketika temperatur meningkat. Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis.5–8. hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser. 1994). aktivitas enzim berkurang. proses denaturasi juga mulai berlangsung dan menghancurkan aktivitas molekul enzim. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. yang terjadi saat perkecambahan serealia. dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington.

Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. peroksidase dan fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Pada manusia. Warna iodine akan lebih cepat hilang. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. glikogen. antara lain : a. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. c. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. temperatur. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. d. Tidak memproduksi glukosa. pH. Di dalam larutan pati. 1992). Proses produksi maltosa lebih lambat. aktifitas enzim akan berkurang. Tipe III : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox. Pada suhu yang sangat rendah. 1994). kehilangan daya viskositas yang lebih cepat. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. Poligalakturonase.polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. Tipe II : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein. Tumbuhan mengandung α dan ß amylase. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian: Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein. enzim. α amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida. Dalam air. yaitu suhu tubuh. dan gaya irisan. α amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. kofaktor. . di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr. Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Untuk enzim. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Contohnya. produk. dll). amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox. 1991). α amilase mempunyai beberapa sifat. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda– beda (Lee. suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C. dan polisakarida yang lain. Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim. hewan memiliki hanya α amylase. 1994). 1991). b. 1994).

Alat Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah water bath. timbangan analitik. Larutan tersebut ada yang tidak dipanaskan(kelompok 1. spektofotometer. beaker glass. Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. MATERI DAN METODE 2.1.e. stopwatch.7. 1992 ).1. kacang hijau segar. pipet volume. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen Benedict. penjepit. 12. kecambah kacang tanah dan pepaya (menatah dan mendidih). pompa. 3.9. 1995 ). Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno. 1. 2.2. kacang tanah segar. 1 ml buffer pH 3.5.1. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz. 10. larutan Buffer pada pH 3. Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui efek dari nilai pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim. cawan dan batang porselin. 1991 ). 2. Setelah itu ditambahkan dengan 30 ml larutan buffer. 8) dan ada yang dipanaskan (kelompok 9.2. 1994). dan 1 ml buffer pH 9 seperti tabel di bawah ini : Larutan pati Tabung Enzim = tidak dididihkan (setelah inkubasi 2 menit) Aquades Buffer pH 3 Buffer pH 5 2 4 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 4 - 1 2 3 . vortex.2. kecambah kacang hijau. Kemudian masing-masing tabung reaksi diberi label dan diisi dengan 2 ml larutan pati dan ditambahkan pula ke dalamnya masing – masing tabung berbeda yaitu 1 ml aquadestilata. Materi 2.1. 11. 6. 7. larutan pati 1%. 2. Metode Kecambah dan buah ditimbang dalam beaker glass sebanyak 15 g. 5. air destilasi. tabung reaksi. 13). Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr. 4. 2. Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox. 1 ml buffer pH 5. Larutan campuran tersebut disaring dengan kain mori dan filtrat yang dihasilkan ditampung. 1 ml buffer pH 7.

5701 4 pH 7 0.8425 0.4 5 Buffer pH 7 Buffer pH 9 - - - 2 - 2 Kelima tabung reaksi tersebut di-vortex.0240 0.4480 0. Setelah itu.3844 0.3391 0.6078 5 pH 9 0.2706 0. Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan Tabung Kel 1 aquades B1 + B2 B3 + B4 B5 + B6 B7 + B8 B9 + B10 B11 B12 B13 0.2120 0.9581 1.4868 0. Grafik Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan .2830 0.2388 1.1552 0. HASIL PENGAMATAN Hasil percobaan tentang pengaruh pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.9005 0.2143 3 pH 5 0. B3 + B4 & B11 Kecambah Kacang Hijau. Tabel 1.8719 1. dapat dilihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.3041 0. Kemudian di-inkubasi dalam waterbath 38oC selama 2 menit. B7 + B8 & B13 Pepaya Matang. Grafik hubungan antara nilai pH terhadap OD digambar.4248 2 pH 3 1.2415 1.6193 Kelompok B1-B8 mengalami perlakuan enzim tidak didihkan dan kelompok B9-B13 mengalami perlakuan enzim didihkan.1180 0. 2 ml larutan enzim yang didinginkan atau dipanaskan tadi ditambahkan ke masing – masing tabung reaksi dan di-vortex.9213 1. Setelah itu. Inkubasi selama 10 menit dilakukan kembali terhadap tabung–tabung reaksi tersebut.3486 0. 0.1245 1.9948 0.1146 0.7878 0.5631 0. 3.1879 0.5 ml larutan reagen Benedict ditambahkan ke setiap tabung reaksi dan diukur besar OD ( Optical Density ) pada λ 620.1237 0. B5 + B6 & B12 Pepaya Mentah.1957 0.2289 0.1968 0.9458 0.2412 0. Grafik 1.1219 0. Dengan perincian kelompok B1 + B2 & B9 + B10 Kacang Hijau Segar.9199 1.8561 0.2080 0.

nilai absorbansinya semakin turun.Pada Tabel 1 dan Grafik 1 nilai absorbansi yang didapat oleh semua kelompok berbeda satu dengan yang lain. Pada percobaan kelompok B1-B8 enzim tidak dididihkan sedangkan pada percobaan kelompok B9-B13 enzim dididihkan dengan perlakuan pH yang sama dari percobaan tersebut terdapat perbedaan hasil pengamatan. Pada enzim yang dididihkan. Sedangkan pada pengaruh pH didapatkan bahwa setiap bahan memiliki nilai pH optimum untuk melakukan aktivitas enzimnya. Sesuai dengan pernyataan Gaman & Sherrington (1994). pada kecambah kacang hijau pada pemberian pH 7. Semakin tinggi suhunya. data dan grafik kelompok B1-B8 dengan kelompok B9-B13 tidaklah sama. bahwa suhu optimal enzim antara 35oC dan 40oC. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada kelompok B9-B13 (enzim mendidih) jika dibandingkan dengan nilai absorbansi kelompom B1-B8 (enzim tidak mendidih) memiliki nilai yang jauh lebih rendah pada bahan dan pH yang sama. Sehingga jika suhu berada di atas optimal. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. 4. Pada enzim yang tidak dididihkan dihasilkan nilai OD berada ditingkat nilai absorbansi yang lebih tinggi. yang ditunjukkan dengan nilai absorbansinya. Hal tersebut terlihat bahwa enzim dipengaruhi oleh panas atau suhu. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas. pernyataan ini sesuai dengan Tranggono & Setiadji (1989). sedangkan pada enzim yang dipanaskan cenderung nilai OD-nya berada ditingkat absorbansi yang lebih rendah. yang dapat dilihat dari nilai absorbansinya. karena enzim mengalami inaktivasi pada suhu tinggi. Sedangkan pada bahan yang . Pada bahan yang tidak dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. maka aktivitasnya akan berkurang yang terlihat dari menurunnya nilai absorbansinya. enzim akan bertahap menjadi inaktif karena terjadi perubahan struktur enzim.

PT Cipta Adi Pustaka. Ketika temperatur meningkat. 5. Pengantar Ilmu Pangan.sedangkan aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Dengan menggunakan larutan buffer inilah kita mendapatkan pH yang terkontrol dan tepat. (1991).F. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. Ensiklopedi Nasional Indonesia. (1990). dan pada suhu 100oC enzim rusak. . Yogyakarta. Gaman. P. DAFTAR PUSTAKA Anonim. karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. aktivitas enzim berkurang. · Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH.B. (1992). yaitu suhu tubuh. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Larutan buffer adalah larutan yang tahan panas terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. London. (1994). pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. Ilmu Pangan. · Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC. KESIMPULAN · Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum. Mikrobiologi Pangan 1. (1994). Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Jakarta. Akibatnya daya kerja enzim menurun. menurutGaman & Sherrington (1994) semakin besar atau basa pH yang digunakan maka semakin rendah nilai OD-nya dikarenakan enzim mengalami denaturasi. Universitas Gadjah Mada press. Kartasapoetra. 6. Fardiaz. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Hal ini dapat terjadi karena terjadi kesalahan saat praktikum saat pengukuran absorbasi atau mungkin juga setiap bahan yang berbeda memang memiliki pH optimumnya masing-masing. Rineka Cipta. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi.A. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. Food Enzymology Vol 2. Pada suhu yang sangat rendah. P.G. Nutrisi dan Mikrobiologi. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. Jakarta. Fox.M & K. Gramedia Pustaka. Elsevier Applied Science. Seharusnya. pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Jakarta. hal ini sesuai pernyataanGaman & Sherrington (1994). Sherrington. · Nilai absorbansi pada percobaan ini dapat menunjukkan nilai aktivitas enzim yang dipengaruhi oleh pH dan suhu tertentu. pada kecambah kacang hijau pada pemberian aquades.dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. S. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim tapi suhu yang terlalu tinggi pun dapat mendenaturasi enzim.

mikroba akan mengalami kematian. D C Health ang Company. Biokimia : protein. b. M. Bila mikroba dipiara dibawah temperatur minimum atau sedikit diatas temperatur maksimum tidak segera mati.K. Mikroba psirkofilik (kryofilik) adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperatur antara 0 C sampai 30 C. Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim.Fieser. dengan temperatur optimum 15 C. golongan ini terutama terdapat di dalam sumber-sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bertemperatur lebih tinggi dari 55 C. mikroba di bagi menjadi 3 golongan.S. J.F. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian . melainkan dalam keadaan dormansi (tidur). S. Thermal Death Time (TDT) Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas temperature yang sempit. Biokimia jilid 1. dan asam nukleat. (1989). umumnya hidup di dalam alat pencernaan. golongan mikroba yang memiliki batas temperatur minimum dan maksimum tidak telalu besar. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Berdasarkan daerah aktivitas temperatur. Tranggono & Sutardi. minmum 40 C. Tranggono. M. Yogyakarta. Biochemical Engineering. Tetapi Escherichia coli tumbuh pada kisaran temperatur 8-46oC.L & L. (1989). kebanyakan golongan ini tumbuh d tempat-tempat dingin. Bandung. Gajah Mada university Press.Lee. New Jersey. (1992). United States of America. inilah yang disebut golongan euritermik. Biasanya. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum.B. Gadjah Mada University Press. (1990). Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. Institut Teknologi Bandung. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Williamson. Yogyakarta. Wirahadikusumah. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Mikroba mesofilik adalah golongan mikroba yang mempunyai temperatur optimum pertumbuhan antara 25 C-37 C minimum 15 C dan maksimum di sekitar 55 C. c. sehingga beda (rentang) antara temperatur minimum besar. (1992). Yogyakarta. (1994). Organic Experiment 7th Edition. disebut stenotermik. Prentice Hall Inc. misalnya Gonococcus yang hanya dapat hidup pada kisaran 30-40oC. enzim. Martoharsono. Petunjuk Laboratorium Biokimia Pangan. yaitu: a. baik di daratan maupun di lauatan. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 40 C atau lebih. Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperature tinngi. optimum 55C-60 C. sedangkan maksimum 75 C. Biokimia dan Teknologi Pasca Panen.

Sebagian motil dan adapula yang non motil. Baccillus subtlis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °. Hal inilah yang . temperatur. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang membusuk. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis 20-30 19 20-50 57 60 100 100 Suhu (0C) Spora Clostridium botulinum 100-330 KARAKTERISTIK BACILLUS SUBTILIS Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi. bentuk dan jenis spora. ada yang tebal dan yang tipis. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun kontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan makanan. bios = hidup dan logos = ilmu. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan pada roti. mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu. misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung alkohol. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani. umur mikrroba. Bacillus subtilis selnya berbentuk basil. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval. Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak benar.pada suatu temperatur. pH dan komposisi medium. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. mikros = kecil. Definisi mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. katalase positif yang umum ditemukan di tanah. Biasanya bentuk rantai atau terpisah. kelembaban. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut. Tidak seperti species lain seperti sejarah.

misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai sumber energi. . hewan maupun tumbuhan. alga. misalnya: dari tumpukan minyak di lautan dipergunakan sebagai herbisida dan insektisida di bidang pertanian. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. Belanda. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200–300 kali. yang penting lainnya adalah mekanisma kimia oleh mikroorganisme sangat mirip dengan unity in biochemistry yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisme adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil. Jika anda membaca tentang mikroorganisme anda akan menghargai. Hal ini karena mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mendekomposisi/menguraikan senyawa kimia komplek. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. Antara tahun 1632–1723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri. Strain-strain dari mikroorganisme yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat diterima. protozoa dan virus merupakan organisme yang sering tidak terlihat. Saat ini mikroorganisme diteliti secara insentif untuk mengetahui dasar fenomena biologi.disebut dengan biohemial divesity atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisme. Mikroorganisme juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk membersihkan lingkungan. tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi. Pengambilan informasi genetika dari mikrorganisme karena sifatnya sederhana dan perkembangbiakan yang sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabolisma. Disamping itu. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan animalcule yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Kemampuan mikroorganisme yang telah direkayasa untuk tujuan tertentu menjadikan lahan baru dalam mikrobiologi industri yang dikenal dengan bioteknologi. Leewenhoek dan Mikroskopnya Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. Tetapi banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa informasi genetik pada semua organisme dari mikroba hingga manusia adalah DNA. feses dan lain sebagainya. saliva. Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang penting di bidang kesehatan maupun industri makanan. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf. Mikroorganisme juga merupakan sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya. sekarang dikenal dengan protozoa. mengagumi mikroorganisme seperti bakteri. Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British Royal Society. Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia. air hujan. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Leewenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai. Sekarang insulin yang dibutuhkan manusia dapat diproduksi dalam jumlah tak terhingga oleh bakteri yang telah direkayasa. Sebenarnya ia bukan 3 orang pertama dalam penggunaan mikroskop.

perubahan ini dinamakan perubahan secara kimia. Ada dua pendapat. dan faktor biotik. mesofil. sebaliknya . Pendapat ini mendukung teori yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis. akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Beberapa mikroba dapat pula mengubah pH dari medium tempat hidupnya. optimum dan maksimum. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun menurun. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. dan termofil. Mikroba Dengan Lingkungan Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia). Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan.Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi. Misalnya. Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada yang bersifat sementara. Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu labih dari 100 tahun. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar. . ü Faktor – faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme 1. satu mengatakan animacules ada karena proses pembusukan tanaman atau hewan. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis. melalui fermentasi misalnya. sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Pendapat atau teori ini disebut biogenesis. . Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)-nya. demikian juga jasat renik. Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Untuk sterilisali. Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal animalcules tersebut. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan. Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. Pengaruh Suhu atau Temperatur Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya.

buih tidak membeku sekeras air beku. Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. Berdasarkan ini. Sedikit perubahan pH menuju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. pada temperatur yang sama. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. Bakteri patogen yang biasa hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan. Sebagai contoh. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap spesies. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terus menerus.Tapi tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. karena spora sangat sedikit mengandung air. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah.Di dalam keadaan basah. Berhubung dengan ini. . kita belum tahu. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190°C). mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. Biasanya.

GRAFIK SUHU PADA BAKTERI Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. yaitu: Bakteri termofil (politermik). Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. . yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C.

yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan.Bakteri mesofil (mesotermik). . kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C.

maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. Pada umumnya dapat di pastikan. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik.Bakteri psikrofil (oligotermik). jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. . yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. misalnya.Gonococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46°C.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas suhu yang sempit. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C.

BAKTERI GONOCOCCUS .

Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. jika digesekkan di atas kaca obyek. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium botulinum 20-30 19 20-50 100-330 57 60 100 100 Suhu (0C) 2. Sebaliknya. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa. Meningococcus. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. kelembaban. Biasanya. pH dan komposisi medium. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering.yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis. Pengeringan ditempat yang terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada . air akan menguap dari protoplasma. konidia atau dapat membentuk kista. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah. bentuk dan jenis spora. temperatur. Pada proses pengeringan. gula. Kelembaban dan Pengaruh Kebasahan serta Kekeringan Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista.BAKTERI ESCHERICHIA COLI Bakteri yang diplihara di bawah Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. Banyak bakteri yang mati jika terkena udara kering. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah Bakteri yang ada dalam medium susu.spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. bahkan dapat hidup di dalam air. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. umur mikrroba. hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. mikroba akan mengalami kematian. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap.

Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku.0 Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel. dan bakteri pengguna urea.5-8. actinomycetes. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. rhizobia. tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah. 3. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. Pengaruh Perubahan Nilai Osmotik Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. misalnya Halobacterium.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. dan Sarcina ventriculi.0-7. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur. Contohnya adalah bakteri nitrat. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya. (3) mikroba halodurik. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. sel membengkak dan akhirnya pecah.0 Maksimum 9. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium. Acetobacter.5 Suhu. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. kadar garamnya dapat mencapai 30 %. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis.0-5. Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Nama mikroba Ph minimum Escherichia coli 4. dinding selnya terdiri dari murein. misalnya Lactobacilli. maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa. adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % (aw = 0. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2.4-9. 4.94).4 optimum 6.pengeringan ditempat yang gelap. lingkungan. maka selnya akan mengalami plasmolisis. (2) mikroba halofil. sehingga tahan terhadap ion Natrium. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma.0 . Kadar Ion Hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi.

8 Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan.Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans Lactobacillus acidophilus 4. bakteri bahkan dapat mati seketika.0 4. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi.6 6. Sinar yang nampak oleh mata kita.0-7.0 6.2. 6. . Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini. dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan. yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel.0 6.0 9.0-7.0-2.0-7. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali.6-7.0 6.6 8. Pengaruh Sinar Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis.4 5. gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam. Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan bentuk morfologinya. bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya.8 5. Lebih dekat.4 4. ruang-ruang penyimpan daging.8 7. yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya.0-4.6 5.0 6.6-8.0-8. Alangkah baiknya.6 6.0 8.4 9. plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya.6 1. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultraungu.4 10. maka apabila ada perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma. yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. tidak begitu berbahaya. sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. jika kertas-kertas pembungkus makanan. sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil. deterjen. air.8-6. ruang-ruang pertemuan. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis.0-7.8 7. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik. Cara kerja buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH- 5. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara.6 8.0-6.0 8.0 4. pengaruhnya lebih buruk.6 2. maupun senyawa-senyawa organik amfoter. Zat-zat seperti sabun.5-9. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapaPseudomonadaceae.0-5.

yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol. Koagulasi atau penggumpalan protein Zat seperti perak. Dan protein yang menggumpal itu telah mengalami denaturasi dan tidak dapat berfungsi lagi. Yodium Yodium-tinktur. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. d. banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. dan jamur. · a. Oksidasi Zat zat seperti H2O2. b. sehingga zat ini merupakan desinfektan. akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri. efeknya lebih baik. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. B. oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. etanol menyebabkan terjadinya penggumpalan protein. tembaga dan zat-zat organik seperti fenol. Kulit dapat terbakar karenanya . Depresi dan ketegangan permukaan Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri.Na2BO4 mudah benar melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. Jika dicampur dengan air murni. lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain.ü Faktor – faktor kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme Pada umumnya kerusakan bakteri dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : A. Beberapa Desinfektan dan Antiseptic adalah sebagai berikut : Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Klor didalam air menyebabkan bebasnya O2. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. virus. e. C. . sehingga desinfektan menjadi menarik. Karbol ialah lain untuk fenol. sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. c. alat-alat seperti gunting. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol.

Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Asam-paminobenzoat memegangperanan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. g. Hijau berlian. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. lagipula tidak menyebabkan sakit. h. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah. bakteri dapat tumbuh biasa. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat.Penggunaan obat-obat ini. dan antar . dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Gonococcus. hijau malakit. karena zat ini tidak merusak jaringan. kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhan bakteri gram positif. Sering terjadi. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling mempengaruhi. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous(indigenous). Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandungempat bagian. fuchsin basa.Pneumococcus. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik.f. melainkan juga merupakan bakterisida. ü Faktor – faktor Biologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme a. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative.

Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. Contohnya adalah: Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum dengan Paramaecium aurelia. Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif. dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah. Amensalisme (Antagonisme) Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan. atau fase istirahat (spora. b. atau proses pembersihan air secara alami. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. kista). Mutualisme sering disebut juga simbiosis. atau dalam keadaan nutrien terbatas. Asam-asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. Thiobacillus thiooxidans menghasilkan asam sulfat. f. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. d. maka disebut sintropisme. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic Methanobacterium. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan samasama mendapat keuntungan. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium yang dapat menghambat populasi Nitrobacter. Senyawa organik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont). Sinergisme Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup dan pertumbuhannya. e.mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang menggunakan nutrien / makanan yang sama. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens). yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. toksin. Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh apapun. Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang mengubah etanol menjadi asam asetat. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap populasi mikroba lain. atau antibiotika. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama. Parasitisme . Kompetisi Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya mengalami kerugian. misal dalam keadaan kering beku. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila. g. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. c.

Pada kondisi penyimpanan ini bakteri yang disimpan masih berpeluang tumbuh dengan lambat. Agrobacterium. sehingga tidak dapat dijamin stabilitas genetiknya untuk jangka panjang. di antaranya kemungkinan terjadi perubahan egativ melalui seleksi varian. terutama yang berbentuk batang dan bereaksi Gram egative seperti Pseudomonas dapat disimpan cukup lama dalam akuades steril pada suhu ruang atau suhu 1015oC. PEMBAHASAN Upaya Mempertahankan Viabilitas Mikroorganisme Akibat Pengaruh Lingkungan : Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajarimikroorganisme. Cara ini jugadigunakan untuk penyimpanan dan pemeliharaan egativ mikroba yang belum diketahui cara penyimpanan jangka panjangnya. Tahap penyimpanan mikrobadalam akuades steril adalah se-bagai berikut: . Oleh karena itu. misalnya pada anggota genus Pseudomonas. Cara Bakteri Mempertahankan Viabilitas : 1.wikipedia. Terjadinya parasitisme memerlukan kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif lama. Teknik ini merupakan cara paling tradisional yang digunakan peneliti untuk memelihara koleksi egativ mikrobadi laboratorium. Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. baik didalam suhu ruang maupun dikulkas hal ini menunjukkan adanya kinerja bakteri dalam mempertahankan viabilitas perkembangannya. Teknik ini mempunyai berbagai kendala. dan terjadi kekeliruan pemberian label. Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E. coli.org/wiki/Sel_%28biologi%29&#8243. Umumnya parasitisme terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. Peremajaan berkala tidak dianjurkan untuk penyimpanan jangka panjang.>sel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (multiseluler). Tidak semua bakteri dapat disimpan dengan baik menggunakan cara ini. Penyimpanan dalam Akuades Steril Beberapa jenis bakteri.Virus juga termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler. 2. Namun. Meskipun demikian. Ukuran parasit biasanya lebih kecil dari inangnya. Penyimpanan dengan cara ini juga memungkinkan terjadinya kontaminasi. beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Mikroorganisme seringkali berhttp://id. banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dalam tabung agar miring yang tertutup rapat hingga sepuluh tahun atau lebih. Mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik.Parasitisme terjadi antara dua populasi. cara ini lebih dianjurkan sebagai alternative penyimpanan jangka sedang atau sebagai pendamping penyimpanan jangka panjang. Kendala tersebut memberi peluang yang lebih besar terjadinya kehilangan isolate dibandingkan dengan teknik lain. Jamur Trichodermasp. memparasit jamur Agaricus sp. dan Curtobacterium. peluang terjadinya kontaminasi. populasi satu diuntungkan (parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). misalnya sebulan atau dua bulan sekali. Peremajaan Berkala Peremajaan dengan cara memindahkan atau memperbarui biakan mikroba dari biakan lama ke medium tumbuh yang baru secara berkala.

Penyimpanan dalam Minyak Mineral Salah satu cara sederhana untuk memelihara biakan bakteri. Penumbuhan kembali biakan dilakukan dengan mengambil botol dari tempat penyimpanan. Cara penyimpanan dalam minyak mineral menurut adalah sebagai berikut : Penyediaan tabung reaksi dengan tutup berdrat atau botol McCartney berisi medium agar miring yang sesuai untuk mikroba yang akan dipelihara. Botol ditutup rapat dan disim-pan pada suhu ruang atau suhu10-15oC Uji viabilitas mikroba dan peme-liharaan stok isolat dilakukanse-cara rutin. mengocok tabung hingga diperoleh suspense pekat bakteri (108-109sel/ml). dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. Daya tahan hidup mikroba lebih baik apabila biakan disimpan pada suhu kulkas (4oC). . Biakan bakteri berumur 24-48 jam disimpan dengan beberapacara seperti: Menambahkan 3-5 ml akuades steril ke dalam biakan miring. Beberapa jenis jamur dapat bertahan hidup sampai 20 tahun. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. tetapi kurang praktis untuk ditransportasi.Akuades steril disiapkan dalam botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml. Penyediaan minyak mineral atau parafin cair steril. keberadaan minyak mineral mengakibatkan peremajaan menjadi kotor. Mikroba yang akan disimpan ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni pada medium agar miring yang sesuai. Disamping itu. Mikroba yang akan dipelihara ditumbuhkan pada tabung berisi medium agar miring atau medium cair (broth) yang sesuai. sehingga waktu peremajaan dapat diperpanjang hingga beberapa tahun. 3. 5-10 ml/botol atau dalam tabung ependorf. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri langsung ke dalam tiap botol yang berisi air steril dan mengocok hingga merata. dan mengambil satu ose suspense dan menumbuhkan pada medium cair atau langsung pada medium agar yang sesuai. Dasar teknik penyimpanan ini adalah mempertahankan viabilitas mikroba dengan mencegah pengeringan medium. kemudian permukaan biakan ditutup dengan minyak mineral steril setinggi 10-20 mm dari permukaan atas medium. mengocok. Teknik ini sederhana. diautoklaf pada suhu 121oC selama 60 menit. khamir dan jamur adalah dengan cara menyimpan dalam tabung agar miring dan menutup dengan minyak mineral atau parafin cair. Menumbuhkan mikroba yang akan disimpan dalam tabung agar miring selama 24–48 jam dan memeriksa kemurnian biakan untuk menghindari kontaminasi. tabung dikocok hingga suspensi merata. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri ke dalam tabung reaksi berisi 3-5 ml akuades steril.

Suspensi mikroba yang akan disimpan (sel. Minyak mineral mengapung di permukaan suspensi dan sebagian suspensi digoreskan pada medium agar yang sesuai. sehingga permukaan parafin atas berada 10-20 mm di atas permukaan medium agar. memindahkan dan mensuspensikan pada medium cair. hingga 20 tahun atau lebih. sterilitas tanah diuji dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. Tabung atau botol yang berisi tanah diberi akuades steril hingga kebasahan 50% kapasitas lapang. Tanah yang sudah kering dan di ayak dimasukkan ke dalam tabung atau botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml hingga1 cm dari permukaan tutup.. Streptomyces sp.. dan bakteri yang membentuk spora seperti Bacillus sp. spora atau konidia. dan Clostridium sp. Penyimpanan Dalam Tanah Steril Banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dengan baik pada tanah kering yang disimpan pada suhu ruang untuk waktu yang lama. Teknik ini mempunyai beberapa keuntungan. dan stabilitas genetik mikroba dapat dipertahankan.Setelah mikroba tumbuh baik. miselia) dibuat dalam larutan steril pepton 2% dalam akuades. Botol dikembalikan ke desikator untuk disimpan di dalamnya atau setelah kering diambil dan disimpan di ruangan. penyimpanan pada suhu ruang. Penumbuhan kembali (reco. Selanjutnya. Cara penyimpanan dalam tanah steril adalah sebagai berikut: Diambil tanah yang agak liat.1 ml) di ambil dengan pipet steril dan di masukkan ke dalam tiap botol yang telah disiapkan. Teknik penyimpanan mikroba pada tanah kering terutama berguna untuk fungi. . khamir) dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian biakan dari tabung. botol dioven kering pada suhu 105oC selama satu jam dan setelah dingin disimpan di dalam desikator hingga digunakan. paling tidak setiap tahun.. Suspensi mikroba (0. 4. Botol biakan yang telah diberi parafin cair disimpan pada suhu ruang atau dikulkas. Mikroba yang disimpan diuji viabilitasnya setiap tahun dengan menumbuhkan pada medium agar.very) mikroba (bakteri. Rhizobium sp. Bila mana diperlukan. juga dapat disimpan dengan baik dengan cara ini. Uji viabilitas mikroba dan pemeliharaan isolat dilakukan secara periodik dan rutin. yaitu biaya murah. parafin cair steril dimasukkan ke dalam botol secukupnya. Biakan jamur digoreskan langsung pada medium agar. kemudian diautoklaf pada suhu 121oC tiga kali berturut-turut selama tiga hari masing-masing selama satu jam. di kering anginkan dan diayak untuk memisahkan partikel tanah yang agak besar dan membuang sisa-sisa tanaman..

Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian contoh tanah dari botol penyimpanan.. tetapi sangat efektif untuk penyimpanan bakteri. Tahapan teknik penyimpanan bakteri menggunakan potongan kertas filter menurut adalah sebagai berikut: Mikroba yang akan disimpan dibiakkan pada medium yang sesuai. Suspensi pekat bakteri (108-109 sel/ml) dibuat dalam larutan pepton 1%. tergantung pada strain mikroba yang disimpan. data tentang keefektifan penyimpanan dan daya tahan hidup bakteri dalam penyimpanan masih sedikit. Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik satu bundaran kertas filter dari botol penyimpanan. Penyimpanan Menggunakan Potongan Kertas Filter Teknik penyimpanan ini mirip teknik penyimpanan dengan lempengan gelatin. Isi botol dikering vakumkan menggunakan alat vaccum freeze dryer . karena mula-mula ditemukan oleh Sordelli(Lapageet al. dimasukkan ke dalam botol kecil ukuran 10 ml dengan tutup berdrat. susu skim 1%. Penyimpanan In Vacuo dalam Gas Fosfopentaoksida Teknik penyimpanan ini disebut juga teknik Sordelli. Cara bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika Meminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus. Beberapa tetes suspensi mikroba dimasukkan secara aseptic ke dalam botol yang berisi kertas filter hingga menjadi jenuh air. Botol disterilkan de-ngan oven 105oC selama 1 jam. Teknik ini sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bakteri. Sebagai pengganti lempengan gelatin digunakan bundaran potongan kertas filter steril. sehingga perlu diteliti lebih lanjut. paling tidak setiap tahun. 25-50 bundaran kertas filter/botol. Teknik ini juga sederhana dan mudah. Namun demikian. Mikroba tersebut dapat bertahan hidup dengan baik selama 5-28 tahun. Biakan mikroba disimpan dalam serum kuda yang ditempatkan dalam tabung gelas kecil atau ampul. dan jamur. memindahkan ke medium cair diikuti dengan menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai atau langsung dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. serta menginkubasikan pada suhu optimal untuk pertumbuhan mikroba. Tabung ini ditempatkan di dalam tabung lain yang lebih besar berisi sedikit fosfopentaoksida (P2O5) dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. kemudian ditutup rapat dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. 5. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak . 1970). Uji viabilitas bakteri dilakukan secara periodik dan rutin. 6. menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai. atau Naglutamat 1%. Bundaran kertas steril dibuat dengan alat pelubang kertas. Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. khamir. memindahkannya ke medium cair.

dan 1-2 penambahan polymorphs. Streptolysin O mungkin berikatan dengan kolesterol pada membran sel. melepaskan materi yang dapat membunuh fagosit. pertumbuhan kapsul sangat tinggi dan organisme tervirulensi dan pada fase stasioner pertumbuhan kapsul akan menurun dan organisme yang tervirulensi berkurang. membantu sel untuk fungsi pencernaan. Kapsul sangat berpengaruh terhadap kemampuan fagositosit. Pada fase eksponensial. maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada. tetapi ketika sudah cukup banyak enzim dikeluarkan ke sitoplasma mengakibatkan sitoplasma meluruh dan sel . gel tersebut mengandung sebagian besar molekul yang tersusun atas polimer glukosa dan asam glukuronik. berkombinasi dengan 2acetamido-2-deoxyglucose. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran. frekwensi dan lama penggunaan obat). Pada 3 tipe Pneumococcus. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai komplemen saat tidak ada antibodi. Pada Bacillus antrachis mengandung polipeptida asam D-glutamic. Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. Beberapa diantaranya dapat memperbanyak diri dalam jaringan. Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperature tinggi. dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklah opsonik. tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran residu asam sialik. Beberapa pathogen membentuk suatu mekanisme untuk menetralisasi senyawa toksik yang dihasilkan oleh fagositosis. polymorph granula meledak sehingga bagian sel keluar ke sitoplama. Komposisi kimia penyusun gel tersebut telah teridentifikasi pada beberapa bakteri.sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Setiap seseorang menggunakan antibiotika. menjauhi bahkan membunuh fagositosit. Kapsul polisakarida tersebut merupakan faktor virulensi yang penting. namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dari infeksi neonatal. yang memberikan muatan negatif.Isolat dari Streptococcus agalactiae memproduksi kapsul polisakarida. Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semua serotype. Sedangkan beberapa bakteri lainnya (Bacillus megaterium) mengandung protein dan karbohidrat. Enzim lisosom terkurung di vakuola fagosit. ü Produksi Senyawa Kimia Untuk Membunuh Fagosit Banyak antifagosit membunuh fagosit dan sukses menginfeksi. tumbuh & bereproduksi. Struktur permukaan kapsul tersusun atas gel hidropilik yang menghambat kerja fagositosit. Streptococci pathogen mengeluarkan haemolisin (streptolisin) yang dapat melisis sel darah merah dan berperan dalam meracun polymorphs dan makrofag. N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik. Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh pathogen: ü Kapsul anti Fagositosit Beberapa bakteri terhindar dari Fagositosis dikarenakan memiliki kapsul.

ingesti dan digesti. Tetapi adanya antibody pada mycoplasama terjadi absorpsi. . kita tidak langsung membahas mekanisme intraselular di mana sinyal dikomunikasikan. Streptococcus pyogenes merupakan pathogen pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit infeksi kulit ringan sampai sistemik. Umumnya merupakan patogen ekstraseluler yang dapat bertahan dan dapat hidup lama didalam inang dengan cara menghindari mekanisme pertahanan inang. virulen shigella membunuh makrofag tikus setelah fagositosis. mengeluarkan substansi cytotoxic secara langsung melalui dinding vakuola dan kedalam sel. Entamoeba histolytica dapat membunuh polymorph dengan kontak fisik. Secara umum. Staphylococcus aureus memproduksi komponen pigmentasi yang disebut carotenoid yang dapat menetralisir singlet oxygen dan melindungi diri dari pembunuhan. Sehingga S. Brucella dan Listeria banyak memperlihatkan virulensi dengan memperbanyak diri didalam makrofag. Berbagai macam haemolysin dikeluarkan oleh Staphylococci pathogen dan dapat membunuh fagosit. yang ditunjukkan dengan peningkatan oksidasi glukosa dan membuat cacat pagosit E. membuat fungsi sebagai”suicide bags”. Virulen intraseluler bacteria Mycobacterium. Tidak ada haemolytic leucocidin yang diproduksi berhubungan dengan virulensi staphylococcal. Streptolysin membuat kerusakan pada lisosom. Ketika komponen ekstraseluler Mycoplasma hominis ditambahkan pada polymorph manusia secara in vitro maka tidak terlihat secara jelas adanya absorbsi yang dilakukan oleh Mycoplasma di permukaan polymorh.coli hingga mati. Tergolong pathogen intraselular yang tumbuh dan hidup didalam sel fagositik. Kegagalan dari absorpsi tidak diketahi dengan jelas. Streptolysin S lebih berpotensial pada membrane. Peranan lain dari aksi toxic pada fagosit setelah fagositosis telah diambil alih. Listeria monocytogenesmengeluarkan toksin sitolitik. mengingat avirulen shigella pasti melakukan hal yang sama dan akan terbunuh dan dimakan.mati. termasuk faringitis dan impetigo. Sebagai contoh. ü Menghambat dengan cara Absorpsi pada permukaan sel fagosit Ada cara yang dilakukan mikroorganisme untuk menghindar dari fagosit tanpa meracuni fagosit. Beberapa jalur sinyal intraselular yang dimodulasi oleh Leishmania dibahas dalam bagian berikutnya : Mycobacterium tuberolosis menyebabkan tubercolosis. Makrofag biasanya dihancurkan dan mekanismenya belum diketahui. tetapi dimungkinkan karena Mycoplasma merusak polymorph. Bakteri ini menggunakan glikolipid dinding sel untuk mengabsobsi radikal hidroksil. Leishmania parasit mampu modulasi fungsi makrofag banyak dalam rangka untuk mempromosikan kelangsungan hidup dalam host. berperan sebagai sinergis pada membrane leukosit dan menyebabkan keluarnya granula lisosom seperti pada Streptolysin O. anion superoksida dan oksigen yang toksik bagi beberapa spesies yang diproduksi oleh fagosit. Sementara kita telah melihat bahwa lapisan permukaan parasit bertanggung jawab untuk memicu banyak dari efek ini. Tergolong menjadi 2 protein antigen.pyrogenes melakukan banyak strategi untuk menghindari system kekebalan tubuh. dimungkinkan karena lisosomnya lebih mudah dikeluarkan. polymorph lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan makrofag. Beberapa Chlamydia memperbanyak diri di dalam makrofag setelah difagositosis dan merusak sel dengan menginduksi keluarnya kandungan lisosom ke dalam sitoplasma. Fagosit dapat dikatakan mati akibat keracunan makanan.

dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air.” Q. silih bergantinya malam dan siang. lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Berharap semua ini dapat diterima dan dimaknai dengan baik sehingga kita mampu menjadi orangorang yang senantiasa BERSYUKUR atas seluruh NIKMAT yang ALLAH berikan pada kita disetiap keadaan. sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. baik secara langsung maupun tidak langsung tergantung dengan respon normal terhadap imun dan kemampuan parasit. kecuali menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK”.S ASY SYUURA 29 Artinya : “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhlukmakhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. hal ini tersirat dalam beberapa ayat di dalam Al-Quran diantaranya dalam: Q. Leishmania merupakan parasit yang dapat menghindari makrofag dengan cara meninduksi produksi atau sekresi beberapa sinyal molekul immunosuppressive seperti metabolit asam arachidonik. ALLAH melatih KESABARAN kita dalam KESAKITAN. KAJIAN RELIGI Di dalam Al-Quran secara tersirat Allah SWT telah menyiratkan akan pentingnya pengaruh lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup yang ia ciptakan termasuk mikroorganisme yang juga merupakan salah satu contoh makhluk hidup ciptaan Allah SWT. Biasa bakteri yang memiliki kapsul resisten terhadap fagositosis. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penulisan tentang “UPAYA MEMPERTAHANKAN VIABILITAS MIKROORGANISME AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN” maka dapat disimpulkan bahwa : .Streptococcus pneumonia Merupakan salah satu bakteri yang memiliki pertahanan terhadap fagositosis berupa kapsul. Karena kapsul dapat melindungi sel bakteri. ALLAH tidak pernah mengambil sesuatu yang kita sayang dan kita cintai.S AL BAQARAH 164 Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.” TAUSYIAH “ALLAH menguji KEIKHLASAN bila sendirian. bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. ALLAH memberi kita KEDEWASAAN bila ada MASALAH. Efeknya terjadi pada tipe sel yang berbeda. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. sitokinase TGF-β dan IL-10.

B. J.wikipedia. N. tekanan. Diakses tanggal 04 Desember 2011. England.org/wiki/Mikroorganisme. 2001. Analisa Mikrobiologi Pangan. Klor Dan Senyawa Klor.http://faktor-faktoryang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba. Annonymous. Diakses tanggal 04 Desember 2011. 1992. UMM Press. tegangan muka.Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Annonymous. . Kerjasama Dengan PAU antar Universitas Pangan dan Gizi. Third Edition. yodium. Metode Penyimpanan Dan Pemeliharaan Mikroba Dalam Mempertahankan Viabilitas. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Formaldehida (CH2O). S. yaitu Fenol Dan SenyawaSenyawa Lain Yang Sejenis. garam-garam logam. kelembaban dan pengaruh kebasahan serta kekeringan. PT.html. 2011.scribd. hidrostatik. Bogor. Raja Grafindo Persada. PT. IPB. kompetisi. sinergisme. antibiotik.com/doc/75921669/metde-pnyimpaman-dan-pemeliharaan-mikrobadalam-mempertahankan-viabilitas. CRC Press LLC Boca Raton. Haryono dan Suhardi. Faktor lingkungan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. http://id. yaitu pengaruh temperatur. 1984. B. 1994. 2004.org/wiki/Mikrobiologi . Diakses tanggal 08 Desember 2011.wikipedia. 1989. PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA TUJUAN Untuk memberi pengetahuan mahasiswa mengenai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Ray. komensalisme. PENDAHULUAN Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor. Yogyakarta. alcohol. yaitu biotik dan faktor abiotik. Lud. DAFTAR PUSTAKA Annonymous. Florida. ltd. Lay. Faktor lingkungan biologi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Fardiaz. 1994. Utilization of Microorganisme In Meat Processing Research Studies. Press. zat warna. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Penerbit Liberty. Mikroorganisme. Sulfonamida. Annonymous. Mikrobiologi. Jakarta. kadar ion Hidrogen (pH). mutualisme (simbiosis). Analisis mikroba di laboratorium. Obat Pencuci (Detergen). 2008. Diakses Tanggal 21 Desember 2011 Bacus. yaitu netralisme. B. 2011. Amensalisme (Antagonisme). Malang. Raja Grafindo Persada. pengaruh sinar. 2008. parasitisme. http://id. pengaruh perubahan nilai osmotic.http://www. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. Waluyo. Fundamental Food Microbiology.W. Sudarmaji.

3. oksigen. aureus. Coli yang ada dalam usus besar manusia. ) b. yaitu dapat tumbuh lebih cepat. mikroba lain tersebut dapat berkomensalisme secara positif contohnya bersimbiosis / hidup saling menguntungkan atau negatif / saling merugikan dimana yang satu akan membunuh yang lainnya. Antibiotik kloramfenikol 6. Contohnya: Bakteri E.a. faktor abiotik. Contohnya : kompetissi antara E. Simbiosis Mutualisme. 2. Alkohol 5. Media Nutrien Agar 4. Aluminium foil . kompetisi. faktor biotik adalah pengaruh mikroba oleh mikroba lainnya.Batang kaca bentuk Luntuk spread 2. Pb Bahan : 1.(saling merugikan. Anggota yang lain tidak terpengaruh. dapat mencapai populasi total yang besar. Salah satu anggota asosiasi menerima keuntungan. Biakan murni bakteri : Staphylococcus aureus. atau parasitisme. Api bunsen dan spirtus 4. pH. coli menghambat daur pertumbuhan S. Candida albicans 5. Pipet volume 3. Salah satu anggota asosiasi dihambat atau dimusnahkan. Ada 3 jenis simbiosis yang dpt terjadi. Logam berat Cd. Simbiosis Komensalisme. dll. PertumbuhanArthrobacter citerus pada medium yang mengandung saccharomyces cereviceae. yaitu : 1. bahan toksik / logam berat. aureus. Eschericia coli. dan pada umumnya tumbuh “lebih baik”. Kapas 6. Rak Tabung reaksi 2. hubungan mikroba satu dengan mikroba lainnnya tersebut. terbentuk dalam sebuah simbiosis. sumber nutrien. Tabung reaksi 3. sumber mineral.( pertumbuhan E. secara rinci. menghambat). sedangkan anggota yang lain mendapat keuntungan. Coli dengan S. Contohnya : pengikatan nitrogen di udara oleh bakteri pengikat nitrogen dalam tanah. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. kedua anggota asosiasi memperoleh keuntungan (saling mengntungkan). terdiri dari temperature. Simbiosis antagonisme.

Mengambil 0. Menghomogenkan bakteri dengan memutar cawan Petri membentuk angka 8. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. dan tabung reaksi ke3 pada oven. B. Pertumbuhan Mikroba pada cawan Petri: 1. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya antibiotik. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Hasil Pengamatan Pada perlakuan dengan antibiotik kloramfenikol terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. Melewatkan jarum ose pada api Bunsen hingga nyala api berpijar. tabung reaksi ke-2 pada lemari es. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya logam berat Cu. Mempersiapkan 3 tabung reaksi yang telah berisi nutrient agar. dan cawan Petri ke3 pada oven. Mengambil biakan bakteri dengan jarum ose dan meletakkan ke dalam tabung reaksi dengan bentuk zigzag secara aseptik Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik.1 biakan murni bakteri dengan pipet volume dan memasukkannya ke dalam cawan Petri steril secara aseptik Mengisi cawan Petri yang berisi bakteri dengan nutrient agar secara aseptik.PROSEDUR KERJA A. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Meletakkan masing-masing cawan Petri pada suhu yang berbeda yaitu cawan Petri ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Mempersiapkan 3 cawan Petri yang telah steril. . Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. Pertumbuhan mikroba pada cawan Petri: 1. cawan Petri ke-2 pada lemari es. Pada perlakuan dengan logam berat Cu terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk (Cu) sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. Meletakkan masing-masing tabung reaksi pada suhu yang berbeda yaitu tabung reaksi ke-1 diletakkan pada suhu kamar.

Antibiotika ada yang mempunyai spektrum luas. dan jenis spiril tertentu. cairan atau badan eksudat Larut dalm air serta stabil Bacterisidal level. Oleh karena itu antibiotik ini dikatakan memiliki spektrum yang luas.Inkubasi pada lemari es dan inkubasi pada suhu 600C tidak terlihat adanya pertumbuhan mikroba tetapi pada suhu kamar 380C terlihat adanya pertumbuhan mikroba. Penisilin hanya efektif digunakan untuk memberantas terutama jenis kokus. PEMBAHASAN A. basil. baik kokus. Tetrasiklin efektif bagi kokus. Sifat – sifat Antibiotika yaitu: Maenghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang ( host ) Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik Tidak menyebabkan resistensi pada kuman Berspektrum luas Tidak bersifat alergenik Tetap aktif dalam plasma. yaitu : Antibiotika yang mempengaruhi dinding sel . Mekanisme Kerja antibiotika Antibiotika menganggu bagian – bagian yang peka di dalam sel. artimya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri. ada juga antibiotika berspektrum sempit. artinya hanya efektifdigunakan untuk spesies tertentu. Hal ini dapat menunjukkan bahwa Saccharomices dapat melakukan pertumbuhan optimal pada suhu kamar 380C dan termasuk mikroba mesofil. didalam tubuh cepat dicapai dan bertahan untuk waktu yang lama. karena itu penisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Pengaruh Antibiotika Terhadap Pertumbuhan Bakteri Antibiotika adalah suatu substansi ( zat – zat ) kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikrporganisme. basil maupun spiril.

Hal ini karena bahwa tidak semua spesies mati bersama – sama pada suatu temperatur tertentu. c. Daya antimikrobe dari logam berat. C. Pengaruh Temperatur Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. Waktu kematian thermal ( Thermal Death Time ) waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikrobe pada suatu temperatur yang tetap. Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikrobe terletak antara 0 – 90o C. dan Cu. tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. As. kloramfenikol. novobiosin. nistatin. Pengaruh Logam Berat Terhadap Pertumbuhan Mikroba Logam berat berfungsi sebagai antimikrobe oleh karena dapat mempresipitasikan enzim – enzim atau protein essensial dalam sel. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikrobe masih dapat dapat berlangsung. vankomisin Antibiotika yang menganggu fungsi membran sel Contoh : polimiksin. Temperatur maut / Titik kematian Termal ( Thermal Death Point ) Temperatur serendah – rendahnya yang dapat membunuh mikrobe yang berada di medium standar selama 10 menit pada kondisi tertentu. tetrasiklin.Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikrobe. rifampisin.Contoh : Penisilin. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit. ada beberapa pedoman sebagai berikut : a. streptomisin. eritromisin. merusak alat – alat yang terbuat dari logam. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. Untuk menemukan temperatur maut bagi mikrobe. b. Beberapa jenis mikrobe dapat hidup pada daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. spesies satu lebih tahan daripada spesies yang lain terhadap suatu pemanasan. klindamisin. optimum. sefalosporin. dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikrobe dinamakan daya oligodinamik. dan maksimum. Biasanya. Laju kematian termal ( Thermal Death Rate ) kecepatan kematian mikrobe akibat pemberian temperatur. amforoterisin B Antibiotika yang menghambat sintesa protein Contoh : Aktinomisin. basitrasin. masing – masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. dan kita kenal ada temperatur minimum. trimetoprim B. Oleh karena itu. . Antibiotika yang menghambat sintesa asam nukleat Contoh : asam nalidiksat. Ag. Logam –logam yang sering dipakai adalah Hg. dan harganya mahal. sulfonamida. ristosetin. sikloserin. kolistin. Zn. pirimetamin.

Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh pada spora.Schlegel. K. Pembekuan secara perlahan – lahan dalam temperatur – 16oC ( es dicampurdengan garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secar mendadak dalam udara beku ( .KES DOSEN PENDIDIKAN BIOLOGI UMM Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya. sedang temperatur optimumnya 25 – 40oC. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu.M. DAFTAR PUSTAKA 1. OLEH: DR.1994. Antibiotik → menyebabkan terbentuknya zona terang ( halo ) disekitar media bakteri. Mikrobiologi Umum. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya. dengan temperatur optimum 10 . terlebihlebih mikro organisme. Pembekuan secara terputus – putus ternyata lebih efektif daripada pemanasan terus – menerus.Kes.tempat lain yang bertemperatur tinggi.Lud. 2.H. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh daripada kalau pembekuan itu dilakukan di dalam buih karena buih tidak dapat membeku sekeras air beku. KESIMPULAN Faktor – faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba diantaranya yaitu : a. c. yaitu : a. Pembekuan air hanya dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri. mikrobe dapat dibagi menjadi tiga golongan utama. Mikrobe Termofil yakni golongan mikrobe yang tumbuh pada suhu 40 – 80oC. Pengaruh suhu → mikroba tumbuh optimum pada suhu kamar.AGUS KRISNO BUDIYANTO. Sedangkan pada suhu rendah dan suhu tinggi pertumbuhannya terhambat.Waluyo. baik di daratan maupun di lautan. Mikrobe Psikrofil yakni golongan mikrobe yang dapat tumbuh pada 0 – 30oC. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor-faktor luar. Kebanyakan dari golongan ini tumnuh di tempat – tempat dingin. b. Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur.190oC ).M. Golongan mikroba ini terutama terdapat di sumber – sumber air panas dan tempat.Mikrobiologi Umum. c. karena spora sangat sedikit mengandung air.Universitas Muhammadiyah Press : Malang.Drs. akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun. b.2004. Logam berat → menyebabkan terbentuknya zona terang atau ( halo ) disekitar bakteri.G. dan temperatur optimumnya 55 – 65oC.M. Mikrobe Mesofil adalah golongan mikrobe yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 5 – 60oC. dan Schmidt. sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya.H. Umumnya hidup dalam alat pencernaan. Kehidupan bakteri tidak hanya di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan .15oC.

Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time). 3. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Misal.nya. Perlu diperhatikan kiranya. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. sinar gelombang pendek.1 Faktor-Faktor Abiotik. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. perubahan ini di sebut perubahan secara kimia. . Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. 2. Berapa tinggi suhu. mesofil. sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam (fisika) dan faktorfaktor kimia.tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. 1. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatupemanasan. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. Berdasarkan ini. 5. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan penentuan waktu maut (Thermal Death Rate). bahwa tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup. Di dalam keadaan basah. Berhubung dengan ini. Biasanya. Untuk sterilisali. pH. pada temperartur yang sama. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. dan termofil. sehingga tepat jugalah bila kita katakana adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). optimum dan maksimum. 4. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Suhu Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi. tekanan osmose. 5. Faktorfaktor biotik terdiri atas mahluk-mahluk hidup. Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi. sebaliknya . Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah. pengeringan. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. tegangan muka dan daya oligodinamik.

Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. Bakteri termofil agak menyulitkan pekerjaan pasteurisasi. Sebaliknya. bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di dalam lemari es. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. jika suhu sampai naik sedikit. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. Dalam praktek. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. batas-batas antara golongan-golongan itu sukar di tentukan. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. Bakteri psikrofil (oligotermik). Spesies-spesies itu di tabiskan menjadi Thermus aquaticus. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. dan Bacillus caldotenax. karena spora sangat sedikit mengandung air. Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C ). kita belum tahu. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. Conococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. misalnya.Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan pengawetan makanan. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70 ° C saja. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang rendah. Bakteri mesofil (mesotermik). Sebagai contoh. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora tersebut. buih tidak membeku sekeras air beku. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46 °C. Akan tetapi. Bacillus caldolyticus. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang panasnya 93 – 94 °C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga sangat termofil. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. yaitu: Bakteri termofil (politermik). Pada . yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. sedang pada suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu.

yang diisolasi dari lingkungan dingin.umumnya dapat di pastikan. dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C). melainkan berada di dalam keadaan “tidur” (dormancy). bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil. dapat diramalkan bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku. Bakteri yang dipiara di bawah suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati. tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa inkubasi.3 Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu menurut rumus arrthenius Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar. Kurvenya linear hanya pada bagian kisaran suhu untuk tumbuh. sangat beragam pada bakteri. Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan. Kecepatan reaksi kimia merupakan fungsi langsung daripada suhu dan mengikuti hubungan yang dikemukakan semula oleh Arrhenius : Log10 V = − ΔH* + C 2. Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. mesofil. Sebab kecepatan tumbuh dengan tibatiba sangat menurun pada batas atas dan bawah kisaran suhu. dan maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan.7 menunjukkan kecepatan tumbuh E. psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil fakultatif. ΔH* ialah energi aktivitas pada reaksi. R ialah konstante gas.303RT v ialah kecepatan reaksi. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi T ¯¹ menghasilkan garis lurus dengan lereng negatif (Gambar 10. Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar. optimum. kebanyakan bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air. Gambar 5. Gambar 10. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C). yang tumbuh baik pada 0°C. Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. Akan tetapi. T ialah suhu dalam derajat Kelvin.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. Karena itu. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal. yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C). terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil.6). Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu galur spesies . dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil obligat. coli yang dapat disamakan dengan fungsi T ¯¹. Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran. yang dinamakan suhu optimum.

Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas. namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut. coli tampak pada perubahan dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan .mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya . derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat . dengan mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda. Susunan lipid pada hampir semua organisme. Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum ditentukan. Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein (misalnya flagelum. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut. walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. mutan peka panas. dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun . Bila suhu turun.itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies. maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu mutan. Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam penelitian. tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-protein ini. dan psikrofil yang agak berubah-ubah. Akibatnya. Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu. Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan. Ilustrasi kejadian ini pada E. mesofil. yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga). kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat. semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk. dan mutan peka dingin. dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu. Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok.6). Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. Percobaan seperti ini (Tabel 10. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C. dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas. dengan suhu tumbuh minimum yang menaik. baik prokariota maupun eukariota. berubah-ubah menurut suhu tumbuh. ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C. Oleh karen aitu. Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh. perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. Pada suhu rendah. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil. Akibatnya.

5 – 7.5 2. optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya.0 Acetobacter aceti 4. Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan.1 Kuning – biru Merah feno 6.0-7. Untuk menahan perubahan dalam medium sering ditambahkan larutan bufer. dapatlah dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak. bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawasenyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya. larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH.3 7.5 9.0 6.8 7.2 5. 8.0 Merah – kuning Biru brom timo l 6.8 9. susu.6 4.6 1. optimum.2 – 9.2 Kuning – merah Fenolftalein 8.7 Merah – kuning Biru brom fenol 3.4 7.0 Thiooxidans 4.4-6.3 Staphylococcus aureus 5.8 pH minimum. 4. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid.0-4.0-3.0 7. susu magnesia.0-5.0 – 4.5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas.2 7. sari tomat. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil.5 dan 7. misalnya untuk bakteri pada pH 6.5 – 7.5.5 7. 10. pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen.1N).0 . Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium. mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil.25. 2. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6. dan maksimum untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri Bakteri KISARAN pH UNTUK PERTUMBUHAN Batas bawah Optimum Batas atas Thiobacillus 0. cuka 2.7 Indikator Asam – Basa NAMA INTERVAL pH PK INDIKATOR WARNA ASAM – BASA Biru timol 8.keadaan cairnya pada suhu tertentu.5 6.5. khamir pada pH 4.8 9.4 – 6. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu.0 Clhorobium limicola 6.5 8.0 (netral). Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keaadaan sangat masam atau sangat alkalin.0 – 9.0-8.2. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum.0 – 8.0-7.8 Kuning – merah Merah kresol 7.5 5.6 Tak berwarna -merah muda Tabel 5.4.0 – 4.5 Thermos aquaticus Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. pH Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu.5 Azotobacter spp 6.6 7. natrium bikarbonat (0.1 Kuning – biru Merah metal 4.0 – 7.5. 6.8 – 8.8 8. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2. Tabel 5. pH air suling ialah 7.6.

5-8. wadah berisi garam. lingkungan. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan zat alir).5 Suhu. makanan yang diasin. air laut. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik. Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan. Sebagai contoh. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi. karena cahaya adalah sumber energinya.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. organisme fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan.5 persen natrium klorida. yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin. Air laut mengandung 3.Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). hanya tumbuh bila mediumnya mengandung konsentrasi garam yang tinggi. Bakteri tertentu. Tabel 5.5 – Keasaman atau tumbuhan 7.4-9. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi.9 Kondisi-kondisi fisik yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri Kondisi Fisik Tipe Bakteri Kondisi Biakan (Kelompok Psikologis) (Inkubasi Suhu (kisaran Psikrofil 0 – 30°c pertumbuhan) : Mesofil 25 – 40°c minimum dan Termofil : maksimum. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. di danau air asin. yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau rendah. dan danau air asin. Termofil 25 – 55°c optimumnya pada Fakultatif (bebas pilih) suatu titik didalam Termofil obligat 45 – 75°c kisaran bergantung ada spesies Aerob Hanya tumbuh bila ada oksigen bebas Anaerob Hanya tumbuh Persyaratan akan gas tanpa oksigen Anaerob fakultatif bebas Tumbuh baik tanpa Mikroaerofil oksigen bebas Tumbuh bila ada oksigen bebas dalam jumlah sedikit Kebanyakan bakteri berkaitan dengan kehidupan hewan dan pH optimum 6.5 alkanitas (pH) Beberapa spesies eksotik .

pH minimum 0,5; Fotosintetik (autotrof dan

pH maksimum 9,5

heterotrof) Cahaya sumber cahaya Halofil (halofil obligat) Salinitasi konsentrasi garam yang tinggi, 10 –15% NaCl 3. Kelembaban Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut. 4. Tekanan osmosis Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair. Jika perubahan nilai osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahanlahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak. 6. Senyawa toksik Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap

gugusan didalam sel. 7. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi. 8. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup. 9. Kebasahan dan kekeringan Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah: Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut. 10. Sinar gelombang pendek Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan mikrobia. Sinarsinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.

Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan, ruangruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung bioskop dan sebagainya pada waktuwaktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon dan klor (chlor). 11. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan itu menyerupai membran yang elastik. Demikian juga permukaan cairan yang menyelubungi sel mikrobia. Tekanan dari membran cairan ini di teruskan ke dalam protoplasma sel melalui dinding sel dan membran sitoplasma, Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikrobia. Kebanyakan bakteri lebih menyukai tegangan muka yang relatif tinggi. Tetapi adapula yang hidup pada tegangan muka yang relatif rendah. Misalnya bakteri-bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan. Sabun mengurangi ketegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Diplococcus pneumoniae sangat peka terhadap sabun. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun; hanya bakteri yang hidup di dalam usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Bolehlah dikatakan pada umumnya, bahwa bakteri yang Gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan (depresi) tegangan permukaan daripada bakteri yang Gram positif. 12. Daya oligodinamik Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang. 13. Desinfektan Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering

melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawasenyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik. a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. b. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. c. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. d. Yodium Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol, banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. e. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. f. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. g. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun

oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik diketemukan. yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. . Jika sesudah 24 jam kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri sekitar bahwa bakteri itu tercekik pertumbuhannya oleh antibiotik yang terkandung dalam kepingan kertas. basitrasin oleh Bacillus subtilis. magnamisin yang masing-masing mempunyai khasiat yang berlainan. basil dan jenis spiril tertentu. maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. polimiksin oleh Bacillus polymyxa. obat-obatan ini terkenal sebagai kloramfenikol. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin. Gonococcus. baik kokus. Akhir-akhir ini orang telah dapat membuat kloromisetin secara sintetik. teramisin. disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. maupun spiril. Antibiotik Menurut Waksman. basil. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. Gambar 5. antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. eritromisin. oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. h. aureomisin. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. . jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. Pneumococcus. bakteri dapat tumbuh biasa. dan pada dewasa ini jumlahnya ratusan. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Tetrasiklin efektif bagi kokus. Sering terjadi. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat secara sintetik pula. Penggunaan obat-obat ini. Sebaliknya. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Pada medium agar-agar yang telah disebari spesies bakteri tertentu diletakkan beberapa kepingan kertas yang masingmasing mengandung antibiotik yang diuji dalam kontrentasi yang tertentu. misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis. Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin. Asam-paminobenzoat memegang peranan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. dikatakan mempunyai spektrum luas. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas itu sesuai dengan konsentrasi antibiotik yang terkandung didalamnya.5 Rumus bangun sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat i. Pinisilin di temukan oleh Fleming dalam tahun 1929.Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. kloromisetin. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus. suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan.zat ini dapat membunuh bangsa jamur. namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat dihasilkan oleh golongan jamur. melainkan oleh golongan bakteri sendiri. dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif.

a. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit. Dari tiap-tiap larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril banyaknya tabung sesuai dengan banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. (1:450). kita membuat 2 larutan fenol.5 ml inokulum Salmonella typhosa yang masih muda.2 Faktor-Faktor Biotik Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) . akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di kolam–kolam renang. yaitu 12 tabung untuk desinfektan 0. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir. c. (1:400). dimana Salmonella dibiarkan berada dalam larutan selama 10 menit. maka alat–alat yang terbuat dari logam. misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Misal. kadang-kadang digunakan juga Micrococcus aureus. daerah pertumbuhanbakteri b. Cara Menilai Khasiat Desinfektan Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini. Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu eksperimen. Di samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan khasiat fenol. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. Jika tak ada pertumbuhan. Setelah 5 menit berada di dalam larutan. M adalah agar-agar lempengan yang disebari bakteri j. Setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa tentang ada tidaknya koloni-koloni Salmonella. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida. Mikroorganisme yang dipakai sebagai penguji khasiat desinfektan ialah Salmo nella typhosa. orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok.Sesuai dengan keperluan. metafen atau mertiolat. daerah kosong a. daya mana disebut oligodinamik. dan piaraan ini kemudian disimpan dalam suhu 37 °C. daerah pertumbuhanbakteri b. c. hal ini berarti bahwa bakteri telah mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan. maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekkan pada agar-agar lempengan. Banyak juga orang mempergunakan persenyawaan perak dengan protein. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom. 5. Di dalam perangkat yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan. maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penelanan atau penyuntikan. Katakan. yang satu (1:90) dan yang lain (1:100). Adapun zat yang dipakai ialah fenol. (1:350). Penyuntikan dapat dilakukan intra vena (dalam pembuluh darah balik) atau intra muscular (dalam daging). Desinfektan yang akan diuji itu di encerkan menurut perbandingan tertentu. dan lagi pula mahal harganya. Garam – Garam Logam Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri. larutan desinfektan A itu (1:300).6 Pengaruh antibiotic terhadap pertumbuhan bakteri. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan perangkat kedua. Persenyawaan air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji – bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. daerah kosong Gambar 5.

Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami kerugian atau tidak. 1978). dan parasitisme. ialah komensalisme. Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik. antibiose dan sintropisme. Simbiose dapat dibedakan tiga macam. Komensalisme Merupakan asosiasi yang sangat renggang. karena jasad inang sebagai sumber kehidupannya. Sinergisme Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama. (Bothast. tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain. Contohnya adanya pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi. 2) fungi penyimpanan (storage fungi) dan 3) fungi perusakan lanjutan (advanced decay fungi). Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri. Fungi lapangan menyerang bijian yang sedang dan masak penuh dengan kandungan air paling sedikit 20% atau keseimbangan lembab relatif (Rh) 90 – 100%. sinergisme. sedang 2 bagian terdahulu khusus padakomoditas biji-bijian. Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme. Golongan 3) merupakan bagian sementara. tergantung pada macamnya simbiose. dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian. Sebagai contoh mutualisme antara bakteri Rhizobium dengan polongpolongan. Tanpa sinergisme masingmasing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut. Sintropisme Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang lebih komplek . simbiose. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. Antibiosis Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh. mutualisme. 5. Simbiosis Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan. Faktorfaktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad.3 Fungi Dan Lingkungannya Christensen (1957) membagi fungi dalam 3 golongan berdasar keadaan lingkungan perkembangannya yaitu: 1) fungi lapangan (field fungi).atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. parasitisme. Mutualisme Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. Parasitisme Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. mutualisme. fungi penyimpanan menyerang bijian yang tersimpan setelah panen dengan kandungan air .

Epicoccum dan Nigospora yang umumnya menyerang dekat atau saat panen (Bothast. Setiap jenis fungi selain adalah batasan-batasan normal. dan pada tempat penyimpanan fungi ini hamper tidak terdapat. 1978). 1978). Wallace (1973)menyebutkan 26 spesies Aspergillus dan 66 spesies Penicillium yang dapat diisolasi pada produk simpanan. 1974). Contoh fungi lapangan adalah alternaria. mereka bukanlah fungi pemula kerusakan bahan dalam penyimpanan (Wallace. Menurut Christensen dan Kauftmann (1969) dilaporkan lebih dari 150 spesies fungi telah diisolasi dari bagian biji tanaman. 1974). Juga termasuk pula Curvularia.0. dan obat khususnya bila terjadi cuaca lembab sebelum panen. Aspergillus dan Sporendomena dan kadang-kadang beberapa jenis khamir (Uraguchi dan Yamazaki. 1978). Alternaria. antara lain: 1) Kandungan air bijian yang disimpan. wilayah atau lokasi geografis dan keadaan iklim. 1975). umumnya banyak terdapat pada biji sayuran atau biji serealia. Caldwell dan Tuite. maka untuk pertumbuhan fungi endiri memerlukan faktor fisik-khemis antara lain 1) suhu. Helminthosporium banyak didapat pada jenis padi. 1970). Suhu dan aktivitas air sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian. 1978). karena mereka menghendaki suatu lembab relatif (Rh) minimum 88% untuk pertumbuhannya. Mucor dan Rhizopus pada umumnya ada hubungannya dengan kerusakan pada kondisi lembab. dan Neurospora. namun tidak hanya terbatas pada biji serealia. Penicillium dan Aspergillus merupakan fungi yang diketahui ada dimana-mana dan hamper terdapat disetiap wilayah. Kekecualian adalah Aspergillus flavus yang dapat menyerang bahan dilapangan (meski termasuk fungi penyimpanan) demikian pula Fusarium akan dapat melanjutkan kerusakan bahan bijian dalam gudang (meski termasuk fungi lapangan) bila kandungan air bahan cukup tinggi (Lillehoj dkk. Fungi penyimpanan juga terdiri dari beberapa spesies antara lain Penicillium.89. Terdapat beberapa faktor pokok yang akan mempengaruhi perkembangan fungi pada bahan pangan yang disimpan. barley. Helminthosporium dan Cladosporium (Uraguci dan yamazaki. Scopulariopis. 1978). Kebanyakan fungi penyimpanan terdiri dari dari 5 atau 6 golongan Apergillus dan baru kemudian dan beberapa spesies Penicillium sampai terjadi kerusakan lebih lanjut (Christensen dan Kaufmann. 5) banyknya benda-benda asing (bukan bahan sejenisnya) dan 6) terdapatnya aktivitas serangga dan kutu dalam ruang simpan (Uraguchidan Yamazaki. 2) aktivitasair (water activity). Cladosporium umumnya pada biji serelia dalam kondisi basah selama panennya. Fungi pada umumnya akan dapat berkembang baik pada aw sekitar 0. 4) pH. sedangkan golongan fungi hidrofil diinginkan aw mencapai 0. Selain Aspergillus dan Penicillium dikategorikan pula dalam fungi penyimpanan adalah Absidia. 1978). Mucor. Beberapa spesies tertentu penicillium kadang-kadang dimasukkan dalam fungi lapangan (Mislivec dan Tuite. Rhizopus. Ibasidia.1975. Fungi yang dominan pada suatu komoditas tergantung atas macam tanaman. Chaetomium.1976. Paecylomices. Stemphylium. disamping faktor lainnya.65. Dalam kaitannya dengan kelembaban relatif (Rh) yang dapat diukur dari sekeliling bahan maka umumnya diharapkan kelembaban relatif sekitar 70-80%. dan jagung dikenal sebagai bentuk “kudis” biji-biji yangdemikian dapat mendatangkan kercunan pada hewan maupun manusia(Uraguchi dan Yamazaki. gandum. Lihatlah dua table dibawah ini. 4) derajat awal penyerangan oleh fungi sebelum sampai tempat penyimpanan. Faktor-faktor seperti disebutkan diatas ditujukan pada bahan dimana fungi tumbuh. Fusarium. 2) suhu ruang penyimpanan. Fusarium banyak terdapat pada serealia yang baru dipanen. 1973). 3) tekanan osmosis.sekitar 13 – 20 % atau keseimbangan lembab relative (Rh) 70 – 90% (Bothast. Pada barley. 5) potensial oksidasi-reduksi (Eskin dkk. 3)periode penyimpanan. mempunyai kekhususan diantara spesies dan .80.

Memperlihatkan kecepatan reaksi enzimatik sampai suhu tertentu sebanding dengan kenaikan suhu. 2. Rekasi kimia ini meupakan bagian dari sistem yang bekerja spesifik dan menghasilkan senyawa-senyawa kimia. Faktor-faktor tersebut antara lain kosenntrasi enzim. kehilangan substrat. Dengan peran enzim pada hampir tiap reaksi biologis. . optimum dan maksimum sebagaimana tercantum dalam tabel diatas adalah perkiraan (Christensen dan Kaufmann.lainnya seperti terlihat pada beberapa table kelembaban relatif. Dibawah ini diberikan gambaran Rh ruang penyimpanan dan suhu untuk pertumbuhan beberapa fungi penyimpanan yang penting. Keseimbangan lembab relatif bijian lebih penting daripada kandungan air guna mengendalikan kerusakan fungi dalam ruang penyimpanan.2 Tujuan Percobaan 1. dalam keadaan iniuntuk setiap bahan bijian akan berbeda kandungan airnya sesuai komposisi (Pomeranz. Katalisator dalam reaksi ini disebut enzim. pH.1 Latar Belakang Dalam proses metabolisme di dalam tubuh terdapat berbagai macam reaksi kimia. mengecilnya oksigen dan kandungan air atau akumulasi CO2 menjadi terbatas. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya. 1974). suhu dan konsentrasi substrat. maka praktikum tentang faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim perlu dilakukan I. Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Pertumbuhan fungi berkaitan dengan kenaikan suhu yang dipengaruhi berbagai faktor antara laininaktivitas thermal enzim. Hubungan antara bagian-bagian tersebut sangat kompleks maka kondisi minimum. Oleh karena pentingnya enzim. Membuktikan bahwa keasaman ( pH ) mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik 3. Dalam mendukung perannya sebgai katalisator atau mempercepat reaksi yang terjadi tentu saja ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. konsentrasi ion hydrogen (pH). Dalam aktivitas metabolisme kita mengenal adanya katalisator. Reaksi enzimatik mempunyai suhu optimum. meskipun keduanya mempunyai hubungan erat. Kelembaban relatif minimum untuk perkecambahan fungi umumnya adalah 75% pada suhu biasa. 1974) PENGARUH SUHU. KONSENTRASI ENZIM TERHADAP KECEPATAN REAKSI ENZIMATIK BAB I PENDAHULUAN I. dapat dikatakan enzim memilki peran sangat penting. suhu dan lainnya. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim.

enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan hasil akhir reaksinya. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam system biologis. maka enzim juga disebut sebgai biokatalisator Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim.T Simanjuntak. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat. 2003 ).1 Enzim Enzim merupakan suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktivitas biologic. Bagian protein ( tak aktif ) ( apoenzim ) + non-protein ( gugus protestik ) = haloenzim ( aktif ) Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus ( M. Sebaliknya. Kespesifikan gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerjaterhadap gugus yang tertentu. sehingga suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja. dan ada pula ynag bersifat stereospesifik.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. enzimenzim ini hanya bekerja terhadap karbohidrat isomer D bukan L.2000). ada pula yang hanya satu kelompok substrat saja. enzim-enzim yang bekerja terhadap asam amino dan protein hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D. Umumnya. Enzim alkohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alcohol ( Hafiz Soewoto. sedangkan enzim keseluruhannya disebut haloenzim. Klasifikasi enzim berdasar Commission on Enzim Of The Internasional uinion of Biochemistry ( CEIUB ) atau Internasional Enzim Commision ( IEC ) adalah sebgai berikut : Enzim yang berperan dalam reaksi oksidasi-reduksi contoh oksigenase Enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan gugus tertentu contoh enzim transaminase Enzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis contoh peptidase Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi addisi atau pemecahan ikatan rangkap contoh liase . Enzim berfungsi sebagai katalisator si dalam sel dan sifatnya sangat khas.di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. Di dalam jumlah sangat kecil. Kespesifikan optik tampak pada enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat.

α. penyinaran ultraviolet. enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu.2000). Di samping itu. pH. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu optimum. Seperti molekul protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiko kimia. Bila suhu ditingkatkan terus. . namun enzim tidak dapat bekerja. oksidasi oleh udara atau senyawa lain. Simanjuntak. dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum Laju reaksi A B Suhu optimum t0 Pengaruh suhu terhadap laju reaksi enzimatik Pada gambar tampak bahwa di luar suhu optimum. Dengan kenaikan suhu lingkungan.2000) . keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu. jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. karena terjadi denaturasi( Hafiz Soewoto. penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik. Dengan demikian. yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. makin rendah pula laju reaksinya. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C. Pada suhu yang lebih rendah (sisi A pada gambar). dan γ. yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerj enzim antara lain suhu. kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu. sinar x. Pengaruh suhu : Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim.T. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang rerlatif ketat. a. β. kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya ( Hafiz Soewoto.Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi isomerisasi contoh alanin rasemase Enzim yang berperan dalam mengkataliser reaksipembentukan ikatan dengan bantuan pemecahan ikatan dalam ATP( ligase ) ( M. 2003). Akan tetapi. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37° C. laju enzimatik selalu lebih rendah. Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum.

II. Arrhenius secara empiris telah mengembangkan suatu rumusan umum antara laju suatu reaksi kimia dengan suhu mutlak system reaksi tersebut. 2002 ): R adalah gas yang bernilai 1. Oleh karena itu.987 kal per derajat per molar. Pengaruh pH : . b. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. Akibatnya. enzim dalam suhu optimum. Pada daerah suhu yang lebih tinggi (sisi B pada gambar). T adalah suhu mutlak. kompleks ES akan sukar terbentuk. gerak termodinamik akan lebih meningkat. Yang dinyatakan sebagai berikut ( Mohamad Sadikin. sehingga produk juga makin sedikit. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat. I. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. selain gerak termodinamik meningkat. melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum.kompleks ES tidak terbentuk. E adalah suatu tetapan yang dinamakan energi aktivitas dan kadalah tetapan laju reaksi. I II Interaksi enzim-substrat dalam suhu berbeda. Enzim di atas suhu optimum. sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. gerak termodinamik tersebut akan makin kurang. makin rendah suhu. Dalam peningkatan suhu ini. Pada sisi A dari kurva terdapat hubungan tertentu antara kenaikan suhu dengan laju reaksi. sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. molekul protein enzim juga mengalami denaturasi.

seperti yang tampak pada gambar di bawah ini Laju reaksi pH optimum Ph Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi enzim Kadang-kadang. pada pH yang jauh di luar pH optimum. 2. melainkan suatu garis merata (plateau setelah kurva yang naik.0. Sebagian besar enzim bekerja aktif dalam trayek pH yang sempit umumnya 5 . Simanjuntak. yang mempunyai pH optimum 2. Ada 2 alasan untuk menyelidiki pengaruh tingkat keasaman atau pH terhadap aktivitas emzim. sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5.2000) . hubungan tersebut tidak menunjukkan suatu titik puncak. seperti pepsin. Ini adalah hasil merupakan hasilpengaruh dari pH atas kombinasi factor ( 1 ) ikatan dari substrat ke enzim ( 2 ) aktivitas katalik dari enzim ( 3 ) ionisasi substrat dan ( 4 ) variasi struktur protein ( biasanya signifikan hanya pada pH yang cukup tinggi ) ( M. 2003). yaitu : 1. sebagai produk makhluk hidup secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh ph ini terhadap aktivitas biologis dari enzim ini.T. Ada enzim yang mempunyai pH optimum yang sangat rendah. Jika dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan. untuk kemudian turun lagi sesudah plateau ) . Selain itu pada keaadan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat( Hafiz Soewoto. Kurva hubungan antara pH dengan laju reaksi suatu enzim biasanya menghasilkan gambaran seperti lonceng. seperti pada enzim amylase liur. sebagai suatu protein enzim tidak berbeda dengan protein lainnya. enzim akan terdenaturasi.0 sampai 9. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum.9.Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu.

reaksi makin cepat( Hafiz Soewoto. Oleh karena itu. c. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. Fenomena seperti ini dapat ditafsirkan sebab adanya molekul amylase dalam bentuk beberapa molekul protein yang berbeda (isozim). Tampak adanyaplateau.Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. rentangan pH yang diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan bukan dalam rentangan antara pH 1 sampai 14. Pengaruh konsentrasi enzim : Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Tiap molekul isozem niscaya bekerja pada pH yang sedikit berbeda. 2002). pH tersebut dinamakanpH maksimum. Pengamatan dapat dilakukan terhadap dua hal. Karena tidak ada sistem dapar masing-masing di sekitar nilai kapasitas yang maksimum dari tiap dapar (rentangan pH di sekitar nilai pKa komponen asam tiap dapar). yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. dengan volume akhir larutan yang sama. struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin.2000) . Di luar nilai pH optimum tersebut. Bagaimana akibat dari perubahan konsentrasi enzim terhadap reaksi enzimztik itu sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini harus dicari dari pengamatan yang dilakukan atas satu seri campuran yang terdiri atas substrat dalam konsentrasi yang tetap dan enzim dalam konsentrasi yang berbeda-beda. Akibatnaya. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. proses katalisis berjalan tidak optimum. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Makin besar konsentrasi enzim. Dalam gambar dapat dilihat adanya nilai pH tertentu. bukan tidak mengkin ada interaksi yang merugikan antara enzim dan ion penyusun dapar dan bukan karena pH yang disebabkan dapar itu sendiri. Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat keasaman dengan laju reaksi maksimum ini. yaitu : . Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E].

. hubungan jumlah produk terbentuk dengan lama reaksi enzimatik pada berbagai konsentrasi enzim. 2. Tiap garis kurva mewakili satu konsentrasi enzim. terhadap hubungan antara selang waktu pengamatan dan konsentrasi produk yang terbentuk pada tiap konsentrasi enzim. akan diperoleh kurva seperti yang tampak dalam gambar 1 dan 2. pada konsentrasi enzim yang rendah. Akan tetapi pada gambar 1 tampak pula dengan jelas. Jika data hasil kedua pengamatan tersebut masing-masing disajikan dalam bentuk grafik. Pada gambar 1 tampak bahwa makin besar konsentrasi enzim maka makin banyak pula produk yang terbentuk dalam tiap waktu pengamatan.1. Dengan bertambahnya waktu. pada tiap konsentrasi enzim pertambahan jumlah produk akan menunjukkan defleksi. Sebaliknya. sehingga dengan sendirinya produk olahan enzim juga akan berkurang. jumlah substrat yang tersedia sudah mulai berkurang. Fenomena itu tentu mudah dimaklumi. Dari pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan enzim. bahwa defleksi tersebut makin jelas dengan makin tingginya konsentrasi enzim. tidak lagi berbanding lurus sejalan dengan berlalunya waktu tersebut. dalam jangka waktu pengamatan yang sama hubungan waktu dengan jumlah produk yang dihasilkan masih berbanding lurus. terhadap hubungan antara konsentrasi enzim dan kecepatan reaksi enzimatik yang dikatalisis oleh enzim tersebut. Jumlah produk 8 6 4 2 0 5 10 15 Menit Gambar 1. karena setelah selang beberapa waktu.

Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. Fungsi enzim dalam kepentingan medis. kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya. Dalam keadaan itu seluruh enzim sudah berada dalam bentuk kompleks E-S. sehingga mungkin terdapat senyawa-senyawa penghambat reaksi dalam jumlah yang sangat kecil. pengaruh konsentrasi enzim terhadap laju reaksi enzimatik. sedangkan kondisi lainnya tetap. Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu di dalam sel. Jadi. enzim-enzim yang berperan . kemudian kompleks ini akan terurai menjadi [E] dan produk [P]. enzim akan mengikat substrat membentuk kompleks enzim-substrat [ES]. makin besar konsentrasi enzim. Dalam suatu reaksi enzimatik. Sebaliknya. Makin banyak kompleks [ES] terbentuk. Kadang-kadang terjadi penyimpangan dari persamaan ini. penyimpangan disebabkan oleh senyawa pengaktif (aktivator). makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan [ES]. Dalam keadaan ini. Sebagai contoh. Biasanya. Pengaruh konsentrasi substrat : Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar. 2002 ). sehingga diperoleh garis agak melengkung. Laju reaksi Enzim Gambar 2. Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat. penyimpangan juga terdapat dalam sediaan enzim dengan kemurniaan yang tinggi. misalnya tidak adanya ion tertentu. penyimpangan ini terjadi jika enzim yang dipelajari tidak dalam keadaan murni. maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat sampai suatu batas kecepatan maksimum (V). meskipun ph yang diperlukan sudah dipastikan dengan menggunakan larutan dapar dan tidak hanya sekedar larutan dengan ph yang diperlukan tersebut ( Mohamad Sadikin. Pada konsentrasi substrat [S] melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan. d. maka makin cepat laju reaksi. Penambahan jumlah substrat tidak menambah jumlah kompleks E-S.

pasta. juga diperoleh campuran oligosakarida yang biasa dirujuk sebgai dekstrin. Ada penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu. Homopolimer ini terdiri atas campuran amilosa dan amilopektin.000. digunakan untuk membuat lem. Karena itu enzim intrasel seharusnya tidak ditemukan dalam serum dan bila ditemukan. Enzim β-amilase pada tumbuhan secara lebih spesifik menghidrolisis amilosa menjadi unit-unit maltose. Dari hidrolisis parsial amilopektin. Bila enzim yang diukur dalam serum terutama dibuat oleh jaringan atau organ tertentu. Sel darah merah penderita defisiensi G6PDH ini sangta rentan terhadap pembebanan oksidatif.2000). Pati ( mailosa maupun amilopektin ) jika terhidrolisis sempurna ( semua ikatan asetal diputus ) akan menghasilkan hanya D-glukosa. berarti sel yang membuatnya mengalami disintegrasi. Amilopektin memiliki rantai tulang punggung ( backbone ) yang sama dengan amilosa. amilosa ini menghasilkan kompleks biru-hitam yang tajam dengan iodium akibat masuknya I2 ke dalam gelung helical ynag terbentuk ketika amilosa berada dalam air. Namun jika dihidrolisis sebagian diperoleh produk yang berbeda: amilosa menghasilkan maltose sebagai satu-satunya disakarfida sedangkan amilopektin menghasilkan campuran disakarida maltose dan isomaltosa.6)-glukosidase dapa menghidrolisis ikatan α(1. Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien.2 Pati Pati ialah polisakarida simpanan yang terdapat dalam tumbuhan tingkat tingkat tinggi. misalnya pada pemakaian obat analgetik tertentu dan obat anti malaria. .6)-glikosida pada titik percabangan amilopektin dan menghasilkan hidrolisis sempurna ( Staf Pengajar Kimia Organik IPB. II. Enzim yang berhubungan dengan berbagai biosintesis protein berada bersama ribosom. Dasar penggunaan enzim sebagai penunjang diagnosis ialah bahwa (1) pada hakikatnya. misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PDH/ G6PD).6)-glukosida. Pada pemakaian obat-obat tersebut dapat terjadi hemolisis intravaskuler. maka peningkatan aktivitas dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan atau organ tersebut ( Hafiz Soewoto.. . Analisis enzim dalam serum pada dasarnya dapat dipakai untuk diagnosis berbagai penyakit. Amilosa merupakan polisakarida linear dari unti-unit Dglukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-(1. sebagian besar enzim terdapat dan bekerja dalam sel dan (2) bahwa enzim tertentu dibuat dalam jumlah besar oleh jaringan tertentu.dalam sintesis dan reparasi DNA terletak di dalam inti sel. Akhirnya tambahan enzim α-(1. Bobot molekulnya beragam dari beberapa ribu sampai 150. 2005 ). Enzim yang mengkatalisasi berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. Enzim α-amilase dalam saluran pencernaan ( air liur dan cairan pancreas ) akan menghidrolisis rantai lurus amilosa dan amilopektin secara acak menjadi campuran glukosa dan maltose. atau kanji tekstil.4)-glukosida. Dekstrin tidak membentuk kompleks berwarna dengan iodium. Bobot molekulnya lebih besar daripada amilosa. Hidrolisis sempurna biasanya dilakukan dengan asam encer pada suhu tinggi sedangkan hidrolisis parsial umumnya terjadi secara enzimatik. Reaksi amilopektin dan iodium membentuk kompleks merah-ungu. tetapi dengan banyak percabangan lewat ikatan α-(1.

1. Selain itu.4dan alfa-l.II.4-glikosida dengan menginversi konfigurasi posisi atom C(l) atau C nomor 1 molekul glukosa dari alfa menjadi beta. Glukoamilase dikenal dengan nama lain alfa-1.3. Secara umum. air.4(http://june-s. Enzim Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1. yaitu alfa-amilase. 3.blogspot. dan garam natrium.4. Enzim ini menghidrolisis ikatan glukosida alfa-1.4.3 Enzim Amilase Air liur mengandung enzim amylase liur. Alfaamilase akan menghidrolisis ikatan alfa-1-4 glikosida pada polisakarida dengan hasil degradasi secara acak di bagian tengah atau bagian dalam molekul. tetapi hasilnya beta-glukosa yang mempunyai konfigurasi berlawanan dengan hasil hidrolisis oleh enzim a-amilase. bekerja pada ikatan alfa-1. Fungsi dari musin yaitu lendir yang melekatkan butir-butir makanan dan melincirkan makanan.2. enzim ini dapat pula menghidrolisis ikatan glikosida alfa-1. amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang dipecah.4glukanmaltohidrolas E. Enzim alfa-amilase merupakan endoenzim yang memotong ikatan alfa-1.html ). Bila tiba pada ikatan alfa-1.2.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. Enzim ini memutus ikatan amilosa maupun amilopektin dari luar molekul dan menghasilkan unit-unit maltosa dari ujung nonpereduksi pada rantai polisakarida. Produk akhir yang dihasilkan dari aktivitasnya adalah dekstrin beserta sejumlah kecil glukosa dan maltosa.C.2.6-glikosida. Enzim beta-amilase atau disebut juga alfa-l. musin.6 dan alfa-1.1. dan glukoamilase.glukan glukohidro-lase atau EC 3. Adapun fungsi garam natrium yaitu menyediakan enzim beralkali untuk kerja amylase liur. . beta-amilase. Proses ini juga dikenal dengan nama proses likuifikasi pati.3 tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan hidrolisis ikatan glikosida a-1. Sedangkan fungsi air yaitu melembabkan dan melembutkan makanan.6 glikosida aktivitas enzim ini akan berhenti. Enzim amylase sendiri di jelaskan di bawah ini.4 amilosa dan amilopektin dengan cepat pada larutan pati kental yang telah mengalami gelatinisasi.

1 Alat dan Bahan Alat : a) Beaker glass b) Tabung reaksi c) Pipet volume d) Pipet tetes e) Erlenmeyer f) Spektrofotometri g) Incubator Bahan : a) Air liur b) Larutan pati c) Larutan iodium d) Larutan pH 7 dan 11 e) Aquadest .BAB III MATERI DAN METODE III.

400 kali . dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) larutan pati kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi tanda blangko dan uji kemudian pasangan tabung diinkubasi pada suhu 40. d) ditambah larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh Konsentrasi Enzim a) Air liur diencerkan dengan pengenceran 100 kali . Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama minimal 5 menit c) campuran larutan pati dengan larutan pH yang telah diinkubasi ditambahkan dengan 0. 370.5 ml larutan pati ditambah dengan 0.2 ml air liur yang telah diencerkan.5 ml larutan pH 7 (tabung A). 600. 600 kali b) 1 ml larutan pati dimasukkan kedalam 8 tabung reaksi yang diberi tanda blangko dan uji kemudian diinkubasi pada suhu 370 selama 5 menit . kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit.5 ml larutan pati ditambah dengan 0. o.2 ml air liur kemudian diinkubasi selama tepat 1 menit d) ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung (untuk suhu 600 C dan 1000C dilakukan di luar penangas) e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh pH a) Air liur diencerkan 100 kali dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) 0. 200 kali .2 wadah Prosedur Kerja Sebelum melakukan percobaan diambil sampel air liur dari praktikan dan ditempatkan pada Pengaruh Suhu a) air liur diencerkan 100 kali.III.5 ml larutan pH 11 (tabung B). 280. Masing-asing tabung ditandai blanko dan uji. 1000 C selama 5 menit c) larutan pati dicampurkan ke dalam 0.

066 .175 0.245 0.2 ml (setiap konsentrasi) dimasukkan ke dalam tabung reaksi d) Larutan pati yang telah diinkubasi dicampurkan ke air liur kemudian diinkubasi tepat 1 menit e) f) Ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm g) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungakan kecepatan reaksi dengan suhu BAB IV HASIL PENGAMATAN Adapun hasil percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut : Pengaruh Suhu Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Suhu 40C 280C 370C 600C 1000C Dari data di atas didapatkan kurva AB 0.255 AU 0.211 0.051 0.226 0.194 0.c) Air liur yang telah diencerkan diambil 0.189 ∆A/menit 0.043 0.183 0.033 0.061 0.150 0.142 0.

008 Perubahan warna Coklat Biru .1245 0.003 AU 0.Pengaruh pH Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm dan perubahn warna yang terjadi pH 7 11 AB 0.093 0.011 ∆A/menit -0.0315 -0.

pH 11 Pengaruh konsentrasi .Dari data didapatkan kurva seperti di atas Foto di bawah ini memperlihatkan perbedaan warna hasil reaksi anatara pH 7 dan 11 Gambar1. Kanan adalah larutan uji Gambar2. pH 7 Kiri adalah Blanko.

189 ∆A/menit 0. ∆A/menit diindikasi kan sebagai laju reaksi BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum ini kami melakukan percobaan secara invitro mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amylase yang terdapat pada air liur dalam memecah larutan pati.024 0.185 AU 0.005 0.173 0.120 0.207 0. Faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi enzim. .004 Dari data di atas didapatkan kurva Keterangan: ?A/menit pada judul tiap kurva maksudnya adalah ∆A/menit.01 0.08 0. Namun kami tidak melakukan praktikum mengenai pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim.200 0. suhu dan konsentrasi substrat. konsentrasi ion hydrogen (pH).174 0.019 -0.193 0.Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Pengenceran 100 X 200 X 400 X 600 X Konsentrasi AB 0.0025 0.0017 0.

karena tidak terjadi benturan antara molekul enzim dengan substrat. enzim menjadi tidak aktif. dan dihitung kecepatan reaksi enzimatik serta dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu. 60. Setelah diinkubasi larutan pati dicampurkan ke dalam 0. perubahan absorbansi per menit yang diperoleh dari absorbansi larutan blanko dan absorbansi larutan uji dapat dilihat dari kurva disamping. Pada keadaan pertama yaitu 4oC hingga 37oC. Pada ketiga percobaan perlakuan hampir sama pada pembuatan larutan uji dan blanko. dimana benturan yang terjadi semakin banyak maka struktur tiga dimensi dari enzim tersebut akan terganggu sehingga enzim akan mengalami denaturasi. yang kemudian diinkubasi selama 5 menit pada suhu 4. Pada percoban mengenai pengaruh suhu terhadap aktiivitas enzim. Lalu mencampurkan pati dengan air liur dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial. Kami juga menggunakan larutan pati sebagai larutan uji untuk melihat aktivitas enzim amylase. Adapun kurva hasil percobaan memperlihatkan laju reaksi dari enzim semakin cepat seiring bertambahnya suhu ini terlihat pada kenaikan suhu dari 4oC hingga 37oC namun ketika suhu mengalami kenaikan hingga 60oC terjadi penurunan laju reaksi. Kedua keadaan ini diakibatkan oleh benturan antara enzim dan substrat. untuk suhu 600 C dan 1000 C dilakukan di luar penangas. yang pertama kami lakukan adalah pengenceran air liur hingga 100 kali. Perlakuan yang sama pada larutan uji dan blanko yaitu sample yang sama yaitu larutan pati yang berfungsi sebagai substrat lalu di inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C ( untuk percobaan pengaruh suhu dan konsentrasi enzim ) yang berfungsi untuk menyamakan kondisi suhu enzim dengan suhu tubuh. 37.2 ml air liur kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit dan ditambahkan larutan iodium 1 ml dalam 8 ml aquadest pada masing-masing tabung. larutan iodium ini merupakan indicator adanya karbohidrat atau tidak dalam larutan. Larutan pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. Larutan Iodium digunakan sebagai indicator perubahan warna dari larutan uji.Dalam praktikum kali ini digunakan bahan pati yang diindikasikan sebagai substrat. Setelah itu dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm. perlakuan tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya bumping selama proses pemanasan. 100 C yang masing-masing suhu dibuat blanko dan uji. Bila suhu terlalu rendah. Kemudian ditambahkan Larutan iodium yang akan menandakan perbedaan warna dari masing-masing perlakuan pada percobaan factor yang mempengaruhi kerja enzim. Berdasarkan data hasil pengamatan. 28. Sedangkan bila suhu terlalu tinggi. Pengaruh Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas katalisis enzim. telihat peningkatan laju reaksi akibat adanya gerak termodinamik yang secara perlahan membentuk produk dan pada titik optimum ( suhu optimum ) yaitu 37oC dapat dikatakan membentuk secara . Diluar suhu optimum aktivitas enzim menjadi tidak maksimal. Sedangkan air liur digunakan untuk mengetahui reaksi enzimatik dari enzim amylase di dalamnya. atau dapat dikatakan enzim akan kehilangan sifat alamiahnya.

Akibatnya. Kesalahan ini terletak pada penambahan air liur yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dimana air liur yang ditambahkan hanya 1ml bukan 2ml yang merupakan tahapan pada prosedur kerja sehingga hasil absorbansi nilai ∆A/menit menjadi minus. sehingga diperkirakan suhu dalam tabung berada di bawah 100 oC pada saat pencampuran sehingga tumbukan antara enzim dan substrat mengalami penurun dan mendekati suhu optimum sehingga menghasilkan laju reaksi yang menurun. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. sehingga produk juga makin sedikit dan ini terlihat ( Mohamad Sadikin. pada keadaan kedua yaitu suhu mengalami kenaikan hingga 60oC. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. Dari kurva hasil percobaan terlihat semakin tinggi pH semakin tinggi nilai absorbansi yang menandakan semakin tingginya laju reaksi dari pH 7 ke pH 11. Pengaruh pH Dari hasil percobaan kami tidak dapat membuktikan bahwa keasaman mengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. sehingga didapatkan kurva yang tidak sesuai teori. 2002 ) dari kurva laju reaksi yang semakin menurun. Dari kurva terlihat bahwa pada suhu 100 oC terjadi kenaikan nilai absorbansi. Tampak adanyaplateau. Pada umumnya enzim bekerja maksimum .sempurna karena enzim amylase yang merupakan enzim yang terdapat tubuh memilki suhu optimum 37oC. Hal ini disebabkan telalu lamanya tabung reaksi berada di luar penangas. kompleks E-S akan sukar terbentuk. Terlihat pada kurva di samping. pada keadaan ini perbenturan antara enzim dan substrat terus berlangsung namun keadaan ini tidak menambah laju reaksi namun mengurangi laju reaksi ini disebabkan karena enzim mengalami denaturasi sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. Kurva di samping pun menjadi rancu bila dibandingkan dengan kurva antara pH larutan enizm amylase dari air liur dengan laju reaksi menurut Mohamad Sadikin (2002) Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi.

0017. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. Dari hasil percobaan pengaruh konsentrasi enzim terlihat pada pergerakan laju reaksi dari 0. 2002). Keadaan ini menandakan bahwa enzim amylase pada air liur bekerja menghidrolisa larutan pati menjadi produk yang terdiri dari glukosa dan maltosa.01. Di luar nilai ph optimum tersebut. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. dimana makin besar konsentrasi enzim makin banyak pula produk yang dihasilkan sehingga dapat dinyatakan bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Kerja enzim amylase disini dikatatan sebagai hidrolisis parsial dan memperlihatkan bahwa enzim amylase berada pada kondisi 3 dimensi yang tepat sehingga dapat mengolah ( menghidrolisis ) karbohidrat dari larutan pati dengan sangat cepat. pH tersebut dinamakan pH maksimum.0025 hingga konsentrasi 0. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Kondisi ini terlihat dari kurva di samping kanan. 300x. Oleh karena itu.0017. Pada pH 7 ini dapat dikatakan sudah tidak adanya karbohidrat ( dari larutan pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin ) karena dihidrolisis oleh amylase terlihat dengan tidak didapatkan warna biru kehitaman ( menandakan adanya amilosa) ataupun merah ungu ( menandakan adanya amilopektin )ketika ditambahkan larutan iodium. Pengaruh konsentrasi enzim Konsentrasi enzim mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Sedangkan hasil pengamatan pada pH 11 menunjukan warna biru pada larutan uji setelah ditambhkan iodium. dan 0. struktur 3 dimensi berubah akibat ph yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. 400x dan konsentrasi yang di dapat yaitu 0.0.01 dan titik terendah pada konsentrasi 0. Kerja enzim sebagai katalis dipengaruhi oleh pH.01. namun kondisi ini ini terus menurun pada konsentrasi 0. Larutan air liur diencerkan menjadi 100x. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat.0017 hingga 0. Dari konsentrasi ini sebelum praktikum kita dapat memprediksikan jika laju reaksi akan mencapai titik tertinggi pada konsentrasi 0. konsentrasi enzim amylase dari air liur yang berbedabeda didapatkan dari pengenceran larutan air liur. terlihat perbedaan warna yang signifikan antara larutan pati yang dicampurkan dengan air liur pada pH 7 dan pada pH 11 setelah ditambahkan larutan iodium. namun dari kurva kita lihat enzim amylase dari air liur bekerja semakin tinggi dengan bertambahnya pH ( yaitu pH 11 yang berada di luar kisaran pH untuk enzim bekerja maksimum). adanya nilai pH tertentu.pada pH 5-9. Keadaan ini tidak dapat membuktikan teori yang .005. Pengaruh konsentrasi enzim ini yaitu pembentukan produk. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya.0025 dimana laju reaksi semakin meningkat. Ini menunjukan adanya kompleks pati iodium dimana dapat diindikasikan adanya amilosa yang merupakan bagian dari pati ( karbohidrat ). Dari pengamatan warna larutan uji. 200x. 0. Pada larutan uji pH 7 warna yang dihasilkan yaitu coklat. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amylase tidak bekerja optimum dalam menghirdrolis larutan pati karena struktur 3 dimensi dari enzim amylase telah berubah sehingga tidak dapat mengolah substrat dengan baik. proses katalisis berjalan tidak optimum. Pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim ini. Akibatnaya.0025.

aktivitas enzim semakin meningkat seiring bertambahnya suhu terlihat dari laju reaksi namun aktivitasnya menurun setelah melewati suhu optimum. Faktor pertama yaitu suhu. Jadi. Faktor ketiga yaitu konsentrasi enzim. maka makin cepat laju reaksi yang tertera pada kurva ( Mohamad Sadikin. . Selain itu dapat kami simpulkan bahwa enzim amylase bekerja menghidrolis secara parsial larutan pati yang merupakan karbohidrat.menyebutkan Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. makin besar konsentrasi enzim. Faktor kedua yaitu pH dimana terlihat perbedaan warna akibat kerja enzim pada pH yang berbeda. BAB VI KESIMPULAN Dari hasil percobaan maka dapat kami simpulkan yaitu enzim dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kesalahan dalam prosedur kerja ini yaitu ketidaktelitian dalam pengenceran. Enzim amylase bekerja maksimum pada pH 7 dan pada suhu 37 0C. dan aktivitas enzim dapat dikatakan bekerja cepat dan tepat pada pH optimumnya. dimana semakin tinggi konsentrasi enzim semakin banyak produk yang dihasilkan. Kurva yang berbeda pada hasil percobaan dikarenakan adanya kesalahan dalam prosedur kerja. Pengenceran yang dimaksud adalah ketika mengencerkan air liur dari 100x menjadi 200x dan seterusnya. 2002).

Jakarta: Widya Medika. DAFTAR PUSTAKA Sadikin.sehingga dapat dikatakan pH 7 merupakan pH optimum dalam kerja enzim amylase. Departemen Kimia FMIPA-IPB.blogspot. Sedangakan suhu 37 0C merupakan suhu optimum bagi enzim amylase dalam melaksanakan kerjanya.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. Mohamad. dkk.html http://library.pdf . http://june-s. 2002. Penuntun Praktikum Kimia Organik untuk Mahasiswa Program D3 Analisis Kimia. 2000. Hafiz. Soewoto. Jakarta : Widya Medika. 2005.id/download/fmipa/farmasi-mtsim1.ac.usu. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Staf Pengajar Kimia Organik. Biokimia Enzim.