aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba MARCH 24, 2012 BY ADMIN LEAVE A COMMENT PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP

PERTUMBUHAN MIKROBA

Tujuan : Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba Dapat menarik kesimpulan dan menyikapi hal tersebut jika terlibat lagi dalam proses mikrobiologi Teori :

Kehidupan mikroorganisme umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Ada 3 macam faktor lingkungan yang mempengaruhi, yaitu : Faktor fisis, misalnya : suhu, pH, tekanan osmotik, kandungan oksigen dan lain-lain Faktor kimia, misalnya senyawa beracun atau senyawa kimia lain yang berfungsi sebagai bahan makanan Faktor biologis, misalnya : interaksi dengan mikroba lainnya Pengaruh Suhu Peranan suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme sebenarnya merupakan petunjuk adanyapengaruh suhu pada enzim di dalam sel mikroorganisme, Bila suhu rendah (di bawah optimum), aktivitas enzim juga rendah dan dengan demikian pertumbuhan mikroba menjadi lambat. Pada titik beku (di bawah minimum) semua aktivitas metrabolisme di dalam sel terhenti. Hal ini tidak hanya disebabkan karena penghambatan aktivitas enzim secara langsung, tetapi juga karena sel kehilangan air yang sangat diperlukan untuk penyerapan zat-zat makanan dan pengeluaran hasil-hasil buangan sel. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan suhu optimum : 0 – 20 °C 20 – 50 °C 50 – 100 °C Pengaruh pH Mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada jarak pH tertentu, misalnyabakteri pada pH 6,5 – 7,5, khamir pada pH 4,0 – 4,5, sedangkan kapang pada selang pH yang lebih luas. Untuk menahan perubahan pH, ke dalam medium sering ditambahkan larutan buffer (penyangga) dengan tujuan agar diperoleh pertumbuhan mikroorganisme yang baik, sebab pada pH optimumnya, pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan pH tempat tumbuhnya : = Psikrofil = Mesofil =Termofil

pH asam pH basa pH netral

: Asidofil : Alkalofil : Neutrofil

Pengaruh bahan kimia (Desinfektan) Untuk membandingkan kekuatan desinfektan alam menghambat pertumbuhan bakteri dapat digunakan cakram kertas. Pada cara ini cakram kertas dengan diameter tertentu dibasahi dengan desinfektan, kemudian diletakkan pada permukaan agar dalam cawan petri yang telah di inokulasi. Kemudian diinkubasi selama 48 jam. Jika desinfektan menghambat pertumbuhan bakteri, maka akan terlihat daerah bening di sekeliling cakram kertas. Luas daerah benda ini menjadi ukuran kekuatan daya kerja desinfektan Zat makanan yang diserap bakteri, sebagian akan digunakan untuk membangun protoplasmanya sehingga tumbuh mencapai besar tertentu kemudian membelah diri (berkembang biak)perkembangan bakteri. Bakteri berkembang biak dengan jalan membelah diri, dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4 dan seterusnya. Interval waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya:

Escherichia coli membelah diri setiap 15-29 menit Salmonella typhy membelah diri setiap 23-24 menit Sthaphylococcus tuberculosis membelah diri setiap 792-932 menit Treponema pallida membelah diri setiap 1980 menit

Bila suatu jenis bakteri dalam keadaan yang baik dan makanan yang cukup dan membelah setiap 30 menit maka 1 bakteri yang membelah diri mulai jam 09.00 maka pada jam 12.00 akan menjadi 64, pada jam 24.00 menjadi 17.000.000 dan pada jam 09.00 esok harinya menjadi 280.000.000.000.000 untunglah perkembangbiakan secepat ini tidak terjadi di alam karena banyak sekali faktor yang memperngaruhi kehidupan bakteri.

Pengaruh Lingkungan pada Pertumbuhan dan Perkembangan Bakteri

a. Pengaruh suhu

Tiap jenis bakteri mempunyai suhu optimum di mana pertumbuhannya paling baik berdasarkan hal ini bakteri dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

Golongan

Suhu Pertumbuhan Minimun Optimum Maksimum 10-15 25-37 50-60 30 40-55 60-90

Psychrophil 0 Mesophil 15-25

Thermophil 25-45 dalam satuan derajat Celcius

bakteri-bakteri patogen pada manusi termasuk bakteri mesopil. Suhu optimumnya sama degan suhu tubuh manusia (37 C)

1. Pengaruh suhu rendah. Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bakteri, bahkan ada yang tahan bertahun-tahun pada minus 70 Celcius (C) Bakteri yang patogen pada manusia umunya mati pada suhu 0 C

2. Pengaruh suhu tinggi Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila bakteri dipanaskan pada suhu di atas suhu maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri baik patogen maupun tidak dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 menit pada suhu 60-65 C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.

b. Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.

c. Pengeringan (kelembaban)

Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar ke dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab, dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang kering. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan pengeringan. Pada suasana kering ini bakteri tidak dapat merombak bahan makanan yang ditempatinya. Di laboratorium bakteri atau virus dapat dipertahankan hidup dalam keadaan kering, bila pembenihan dibekukan secara cepat kemudian dikeringkan secara cepat pula di dalam ruang vacum (hampa udara). Cara ini penting dalam pembentukan stok (cadangan) bakteri, virus, enzim, toxin, dan plasma darah, yang biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Serbuk ini sangat lyophil (suka air) karena itu pembuatannya disebut proses lyophil.

d. Keasaman (pH)

Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) agau sedikit basa (pH 7,2-7,4) tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5-7,5. Bakteri-bakteri yang patogen pada manusia tumbuhan baik pada pH 6,8-7,4, yaitu sama dengan pH darah. Beberapa bakteri dapat hidup pada suasana asam, misalnya bakteri yang hidup pada gusi manusia, yaitu Streptococcus mutans. Ada pula bakteri yang tumbuh baik pada suasana basa misalnya Vibrio cholera.

e. Pengaruh O2 dari udara

Berdasarkan responnya terhadapa 02 bebas ini, bakteri dibagi dalam 3 golongan , yaitu: Bakteri aerob (obligate aerob), yaitu bakteri yang hanya hidup di dalam lingkungan yang mengandung 02 bebas. Misalnya: Vibrio cholera, Bacillus anthracis,Corynebacterium diptheriae. Bakterii anaerob (obligate anaerob), yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung 02 bebas. Misalnya, Clostridium tetani,treponea pallida. Fakultatif aerob, yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan, baik yang mengandung 02 bebas ataupun tidak. Misalnya: Salmonella typhi, Neisseria meningitis dan Streptococcus pyogenes. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada umumnya akan lebih baik tumbuh pada lingkungan yang mengandung sedikit 02 bebas, karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

f. Pengaruh tekanan osmotik

Air keluar dan masuk ke dalam bakteri melalui proses osmosis. karena mempunyai membran sitoplasma yang secara aktif mengatur ke luar masuknya zat ke dalam sel bakteri. karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan yang ada di dalam dengan yang ada di luar sel bakteri. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur itu terganggu. Akan tetapi. pengaruh desinfektan terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. g. LAPORAN 8 (Pengujian Viabilitas Sel Khamir dan Uji Aktivitas Ragi) VI. Pengaruh faktor kelembaban terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Pengaruh faktor tekanan osmotik terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Hydrolusa. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. termasuk air. Oksidasi. Ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzim sehingga fungsi enzim itu terganggu.Pengaruh faktor oksigen terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. sumber: Mikrobiologi & Parasitologi: dr. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di alam. Memblokir beberapa reaksi kimia. FAktorfaktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Terjadi ikatan kimia. Asam atau basa kuat dapat menghidroliskan struktur sel sehingga hancur. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakteri. PEMBAHASAN . bakteri tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan osmotik cairan di sekitarnya. Indan Entjang: PT. Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba Mengubah permebialitas membran sitoplasma sehingga lalu-lintas zat-zat yang keluar masuk ke sel mikroba menjadi kacau. Citra Aditya Bakti Tag: Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Misalnya preparat sulfa memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroba. Untuk kelangsungan hidupnya. Pengaruh faktor cahaya terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Kenyataan ini dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk mengawetkan ikan asing dan dendeng. Mengubah sifat koloid protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati. Pengaruh faktor keasaman terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. pengaruh faktor suhu terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. misalnya mengoksidasi suatu enzim. larutan hipertonis di sekitar bakteri akan menyebabkan bakteri sukar atau sama sekali tidak dapat tumbuh bahkan dapat membunuhnya.

4. terdispersi dalam air. Sedangkan sel yang masih hidup terlihat tidak berwarna di bawah mikroskop. Ini dapat menyebabkan warna biru dari Methylen Blue masuk ke dalam sel. yang ditandai dengan warna bening. Kemungkinan bagian yang digunakan itu adalah bagian yang sel matinya lebih banyak. Pada saat pengamatan di mikroskop kita dapat melihat dan membedakan antara sel khamir yang mati dan hidup. Sel khamir ini memiliki sifat-sifat fisiologi yang stabil.1 Pengujian Viabilitas Sel Khamir Ragi yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu fermipan. Jika viabilitas sel rusak. Tepung yang digunakan merupakan tepung yang memiliki kadar gluten yang tinggi sehingga cocok untuk pembuatan roti. Selain itu. Sel khamir yang masih hidup ini dapat menahan Methylen Blue.sebelumnya 0. untuk mengetahui pengembangan adonan dan juga karakteristik roti itu sendiri. sehingga membran luar selnya dapat mengatur apapun yang keluar masuk sel. dan sel terlihat berwarna biru. Hal lain yang mungkin terjadi adalah kondisi lingkungan tidak cocok untuk ragi dan penambahan alkohol untuk membersihkan objek glass menyebabkan sel khamir banyak yang mati. Sel yang masih hidup masih memiliki viabilitas sel yang baik. Pertama-tama 40 gram tepung ditambahkan 0. pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi roti. lalu ambil satu ose sampel dan di inokulasi pada objek glas. membran luar sel tidak dapat menahan cairan yang keluar masuk sel. Karena jarak pandang yang terbatas yaitu hanya sati sisi saja. Campuran tepung cakra dan fermipan kemudian ditambahkan dengan aquades hangat sedikit demi sekit hingga terbentuk adonan roti yang kalis.Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 November 2011. yang menunjukkan sel khamir tersebut hidup dan yang berwarna biru menunjukkan sel khamir yang mati karena menyerap metylen blue. Adanya sampel yang menunjukkan sel mati lebih banyak dari sel hidup dapat dipahami mengingat pengambilan 0. tidak semua mikroorganisme dapat terlihat dengan baik. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa sel khamir yang mati sebanyal 33 sel dan sel hidup sebanyak 15. 4. Adonan kalis dapat diidentifikasi dengan terbentuknya adonan yang tidak lengket dan apabila dibelah adonan tidak menjadi pecah. Volume adonan dapat berkembang karena khamir menghasilkan gas CO2 yang membuat adonan . Ruang pandang yang terbatas pada mikroskop dapat menjadi salah satu penyebab ketidak-akuratan dalam menghitung jumlah mikroorganisme yang hidup dan yang mati. Pengamatan yang dilakukan adalah pengembangan volume adonan roti yang telah dibuat. mempunyai daya tahan simpan yang lama. yang selanjutnya dikocok. sehingga menjadi tidak berwarna.1 gram ragi diawal dilakukan secara acak. dan tumbuh dengan sangat cepat. bertujuan untuk mengamati jumlah sel khamir yang hidup dan yang mati. Ragi fermipan dibuat menjadi suspensi.2 Uji Aktivitas Ragi Praktikum selanjutnya adalah uji aktivitas ragi. Praktikum kali ini terdapat dua perlakuan yaitu. Mikroba utama dalam ragi roti ini adalah jenis khamir Saccharomyces cerevisiae. Pada perlakuan pertama pengujian viabilitas sel khamir.44 gram fermipan. sangat aktif dalam memecah gula. lalu lakukan pengamatan di bawah mikroskop. suspensi ditetesi lagi dengan Methylen Blue.1 g ragi roti ditambahkan dengan 10 ml aquades steril didalam erlenmeyer.

sehingga pertumbuhan khamir meningkat. 2011) Berdasarkan hasil pengamatan. Peningkatan volume adonan diamati setiap 10 menit selama 1 jam. Tabel 1. Uji Aktivitas Ragi Menit Tinggi 0’ 72 ml 10’ 74 ml 20’ 80 ml 30’ 93 ml 40’ 96 ml 50’ 97 ml 60’ 98 ml (Sumber : Dokumentasi Pribadi. Jadi memang benar bahwa dalam adonan ragi berfungsi sebagai: . Hasil pengamatan dapat dlihat pada Tabel 1.mengembang. tejadi pertambahan volume pada adonan setiap 10 menit. Adonan dimasukkan ke dalam gelas ukur dan ditutup dengan cling wrap. Pengembangan volume yang meningkat dapat terjadi karena suhu adonan masih optimal bagi sel khamir dan karena nutrisi yang dibutuhkan sel khamir masih banyak tersedia dalam tepung adonan. ketinggiannya juga beratambah.

Menghasilkan flavour (aroma dan rasa) pada adonan. Semakin banyak sel mati. yaitu sel hidup dan sel mati. karena sel khamir hanya dapat tumbuh pada lingkungan yang anaerobik. Etanol yang dihasilkan akan menguap selama pemanggangan. sehingga dapat membentuk jaringan yang dapat menahan gas karbondioksida keluar. memproses gluten (membuat jaringan sehingga gas karbondioksida tertahan didalam). Selama pengadukan adonan dan fermentasi. sehingga adonan mengembang. jika tidak kita tutup maka tidak akan mengembang karena udara dapat masuk dan menghambat kerja dan pertumbuhan sel khamir yang ada pada adonan roti. Pemakaian mesin (mixer) yang terlalu lama untuk mengaduk roti menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu adonan sehingga mengurangi aktivitas ragi (yeast). Untuk mengoptimalkan aktivitas ragi. Akibatnya aroma roti menjadi asam. Tujuan dari gelas ukur tersebut ditutup dengan clingwarp dengan tujuan agar sel khamir dapat tumbuh dan berkembang. ragi roti menghasilan sedikit etanol dan gas CO2. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ragi memang benar-benar terjadi. Pada pengujian aktivitas ragi. maka semakin buruk kualitas ragi. yang terbentuk karena ragi juga memproduksi sejenis etanol). Bila suhu adonan melebihi 30°C. Ragi roti di dalam adonan akan bekerja secara optimal bila suhunya di bawah 30°C. maka aktivitas ragi akan berkurang sehingga fermentasi roti akan semakin lama. Memproses gluten (protein pada tepung). mudah keras. dan roti menjadi tidak tahan lama. perhatikan pula suhu pembuatan adonan. ragi mengkonsumsi gula dan mengubahnya menjadi gas karbondioksida. Semakin kuat gluten menahan terbentuknya gas CO2.Leavening agent (pengembang adonan). sedangkan gas CO2ditahan oleh gluten terigu sehingga roti mengembang. ragi berfungsi sebagai pengembang adonan (ragi mengkonsumsi gula yang menghasilkan karbondioksida). dan mengahasilkan flavour (aroma dan rasa. Mikroba yang berperan adalah dari spesies Saccharomyces cerevisiae. semakin mengembang volume adonan roti. KESIMPULAN Kesimpulan dari praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi adalah sebagai berikut: Dalam pembuatan roti. . Ragi yang digunakan pada praktikum ini adalah ragi berkualitas buruk karena jumlah sel hidup lebih sedikit dari sel mati. Hal ini disebabkan karena selama fermentasi. volume adonan bertambah tiap 10 menit. ragi juga menghasilkan sejenis etanol yang dapat memberikan aroma khusus. V. serat roti kasar. Pada pembuatan roti. ditambahkan ragi untuk memprosesnya. Dalam ragi terdapat dua sel khamir.

Mikrobiologi Pangan 1. 1987. sebuah bakteri laut lokal di Samudra Arktik yang mengelilingi pulau Spitzbergen di Norwegia.A Edwards. Bagaimana tingkat keberhasilan pembuatan ragi roti berdasarkan cara yang telah dilakukan. 1992.DAFTAR PUSTAKA Fardiaz. Wootton.. Berikut adalah hasil penelitian mengenai pengaruh suhu pada aktivitas enzim amilase yang dilakukan pada beberapa organisme.H Fleet. K. Pseudoalteromonas Arctica Sekelompok peneliti mengisolasi enzim amilase dari Pseudoalteromonas Arctica. mulai dari bakteri hingga manusia. Jakarta.” para peneliti menyatakan bahwa suhu optimal enzim amilase pada bakteri tersebut adalah 30 derajat Celcius dan aktivitas molekul berkurang hingga 65 persen pada suhu nol derajat Celcius. dan M. PT. Ragi tersebut hanya mengembang sedikit demi sedikit bahkan ada yang tidak mengalami pengembangan sehingga dapat disimpulkan apabila ada komponen lain yang menghambat keberhasilan pembuatan ragi roti. Penerbit Universitas Indonesia. Amilase adalah sebuah enzim yang diproduksi oleh sebagian besar organisme.. . Penerbit Universitas Indonesia. Ilmu Pangan. Jakarta. Buckle. Dalam edisi 2010 November “Journal Protein. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Gramedia Pustaka Utama. Suhu optimal enzim ini akan bervariasi. Srikandi. G. PERTANYAAN DAN DISKUSI Berdasarkan pengamatan. R.. sebab sudah banyak sel khamir yang mati daripada sel khamir yang masih hidup. 1988. Enzim amilase umumnya bekerja maksimal pada suhu tubuh normal dan aktivitasnya akan menurun seiring terjadinya penyimpangan dari suhu normal. Amilase digunakan untuk memecah zat tepung menjadi gula untuk produksi energi.A. Jakarta. Jelaskan! Jawab : 10%. W. apakah viabilitas sel khamir pada ragi yang dibuat masih tetap tinggi?Jika tidak. Penerjemah Muchji Muljohardjo. Teknologi Pengawetan Pangan. tergantung pada tiap jenis organisme. Hal ini didasarkan pada hasil uji aktivitas ragi yang telah dibuat. Desroiser. apa alasannya? Jawab : tidak tinggi viabilitasnya. Norman.

Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya. tetapi menurun ketika tekanan dan waktu ditingkatkan. Penelitian ini lebih lanjut melaporkan bahwa aktivitas enzimatik paling optimal terjadi pada suhu 30 derajat Celcius.400 molekul untuk setiap gram berat badan. mengandung sejumlah besar amilase sekitar 2. Para peneliti menyesuaikan suhu suatu medium yang mengandung bakteri secara bertahap dari 4 ke 22 hingga 37 dan akhirnya 80 derajat Celcius. Bacillus subtilis Sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi Juli 2009 “Biotechnology Progress” menyelidiki potensi penggunaan enzim amilase yang diisolasi dari Bacillus subtilis. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi. Heliodiaptomus viduus Zooplankton air tawar. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono. 1994). Tinjauan Pustaka Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. sampai enzim didenaturasi pada suhu 80 derajat Celcius. sebagai indikator tekanan.25 derajat Celcius pada pH 6. PENDAHULUAN 1. aktif pada berbagai rentang suhu.25 derajat Celcius setelah satu jam. suhu dan waktu pada proses pasteurisasi. Heliodiaptomus viduus. Bacillus iicheniformis Edisi Januari 1989 dari jurnal “Biotechnology and Bioengineering” melaporkan bahwa enzim α-amilase dari bakteri terisolasi. Bacillus iicheniformis.1. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas enzim amilase tidak mengalami hambatan pada suhu mulai dari 10 sampai 50 derajat Celcius. Selain itu. Mereka menemukan bahwa aktivitas enzimatik meningkat seiring dengan suhu. Dalam mahkluk hidup.0.[] 1.25 dan 70. . reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim. enzim menjadi tidak aktif pada suhu 60.25 derajat Celcius setelah dua jam dan 70. Sebuah studi yang diterbitkan dalam edisi Maret 2006 “The Turkish Journal of Zoology” melaporkan bahwa enzim amilase dalam organisme ini akan beraktivitas maksimum antara suhu 30.Studi ini juga melaporkan bahwa aktivitas enzim amilase menurun tajam pada suhu di atas 40 derajat Celcius.

Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. kadarnya dalam darah meningkat. enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington. maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa. Tumbuhan mengandung α dan β amilase. Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. Pada suhu 45°C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit(Wirahadikusumah. Karena itu pada suhu 40oC. Pada penyakit radang pankreas. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). daerah temperatur. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat. Pada sel hidup. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Dalam air. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington. Pada suhu ruang. . 1994). Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis. 1991). Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih. kebutuhan kofaktor. Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. kencing manis. menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. 1990). 1990). Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil. Misalnya. substansi tersebut tidak berubah. kadarnya menurun (Anonim. hewan memiliki hanya α amilase. gondongan. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi. sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. pH optimal. maltotriosa atau oligosakarida. 1991). glikogen dan polisakarida yang lain. Sebaliknya pada penyakit hati. pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor. larutan tidak ada gumpalan. dalam banyak kasus. bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor. 1989). Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. begitu juga pada suhu ruang. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox. 1994). Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington.Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. 1994). perubahan pH sangat kecil. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan.

Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. 2. Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. enzim yang dikeluarkan ke lambung. proses denaturasi juga mulai berlangsung dan menghancurkan aktivitas molekul enzim. pepsin. (Tranggono & Setiadji. Namun dalam suatu reaksi kimia. 1994). 1992). 3. Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. 1994). Pada suhu 100°C semua enzim rusak. misalnya ion kalsium dan ion klorida. khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. 1989). laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. Ketika temperatur meningkat. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Beberapa ion anorganik. menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington. yaitu suhu tubuh. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono. Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. 1994). Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah.Sifat-sifat enzim antara lain : 1. Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. Pati yang merupakan . 1994). Pada suhu yang sangat rendah. Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. 1994).5–8. dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington. 4. 1992). pada umumnya sekitar 4. hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam. aktivitas enzim berkurang. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. Sebagai contoh. Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington. Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee. yang terjadi saat perkecambahan serealia. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Sebagai contoh.

Warna iodine akan lebih cepat hilang. peroksidase dan fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra. antara lain : a. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. 1992). Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim. suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C. c. d. 1994). Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. Contohnya. Tipe III : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox. Untuk enzim. 1994). dll). amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox. yaitu suhu tubuh. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. α amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7.polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. Tipe II : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein. dan polisakarida yang lain. temperatur. 1994). kofaktor. bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr. aktifitas enzim akan berkurang. Dalam air. kehilangan daya viskositas yang lebih cepat. Pada suhu yang sangat rendah. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. Di dalam larutan pati. Poligalakturonase. glikogen. pH. Proses produksi maltosa lebih lambat. dan gaya irisan. hewan memiliki hanya α amylase. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda– beda (Lee. α amilase mempunyai beberapa sifat. α amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida. . Tumbuhan mengandung α dan ß amylase. Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. enzim. produk. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. 1991). b. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian: Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. Pada manusia. Tidak memproduksi glukosa. 1991).

13).9. Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. tabung reaksi. 2. 3.2. Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno. 1995 ). cawan dan batang porselin. pipet volume. dan 1 ml buffer pH 9 seperti tabel di bawah ini : Larutan pati Tabung Enzim = tidak dididihkan (setelah inkubasi 2 menit) Aquades Buffer pH 3 Buffer pH 5 2 4 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 4 - 1 2 3 . Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen Benedict. penjepit.1. 2.7. Materi 2. 5. 1 ml buffer pH 3. 1992 ).2. MATERI DAN METODE 2. air destilasi. Kemudian masing-masing tabung reaksi diberi label dan diisi dengan 2 ml larutan pati dan ditambahkan pula ke dalamnya masing – masing tabung berbeda yaitu 1 ml aquadestilata. 1991 ). 6. kecambah kacang tanah dan pepaya (menatah dan mendidih). Larutan campuran tersebut disaring dengan kain mori dan filtrat yang dihasilkan ditampung. 4. 12. 7. kacang tanah segar. Metode Kecambah dan buah ditimbang dalam beaker glass sebanyak 15 g. timbangan analitik. 1. larutan pati 1%. 8) dan ada yang dipanaskan (kelompok 9.1. Setelah itu ditambahkan dengan 30 ml larutan buffer.1. 2. 10. 1 ml buffer pH 5. Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox. 1 ml buffer pH 7. pompa.5. Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr. kecambah kacang hijau. Larutan tersebut ada yang tidak dipanaskan(kelompok 1. stopwatch. beaker glass. spektofotometer. kacang hijau segar. 2. larutan Buffer pada pH 3. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz. Alat Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah water bath.2. vortex.1. 11.e. 1994). Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui efek dari nilai pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.

Tabel 1.3844 0.6078 5 pH 9 0.1219 0.2412 0.2706 0.2080 0.4868 0. Kemudian di-inkubasi dalam waterbath 38oC selama 2 menit.1245 1. 2 ml larutan enzim yang didinginkan atau dipanaskan tadi ditambahkan ke masing – masing tabung reaksi dan di-vortex. HASIL PENGAMATAN Hasil percobaan tentang pengaruh pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.1552 0. Grafik hubungan antara nilai pH terhadap OD digambar. Inkubasi selama 10 menit dilakukan kembali terhadap tabung–tabung reaksi tersebut.9458 0.8719 1. B7 + B8 & B13 Pepaya Matang. Grafik 1.1879 0.3391 0.8561 0.4480 0.7878 0. Dengan perincian kelompok B1 + B2 & B9 + B10 Kacang Hijau Segar. dapat dilihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.1968 0.2388 1.2415 1.5 ml larutan reagen Benedict ditambahkan ke setiap tabung reaksi dan diukur besar OD ( Optical Density ) pada λ 620.4248 2 pH 3 1. 3.1146 0.9199 1.1237 0. Setelah itu.1957 0.3486 0.4 5 Buffer pH 7 Buffer pH 9 - - - 2 - 2 Kelima tabung reaksi tersebut di-vortex.2120 0. Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan Tabung Kel 1 aquades B1 + B2 B3 + B4 B5 + B6 B7 + B8 B9 + B10 B11 B12 B13 0.8425 0.3041 0.1180 0. B5 + B6 & B12 Pepaya Mentah.2830 0.6193 Kelompok B1-B8 mengalami perlakuan enzim tidak didihkan dan kelompok B9-B13 mengalami perlakuan enzim didihkan.9005 0.9581 1.9213 1.2143 3 pH 5 0. 0. Grafik Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan . B3 + B4 & B11 Kecambah Kacang Hijau.2289 0. Setelah itu.9948 0.5631 0.0240 0.5701 4 pH 7 0.

Dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada kelompok B9-B13 (enzim mendidih) jika dibandingkan dengan nilai absorbansi kelompom B1-B8 (enzim tidak mendidih) memiliki nilai yang jauh lebih rendah pada bahan dan pH yang sama. yang ditunjukkan dengan nilai absorbansinya. sedangkan pada enzim yang dipanaskan cenderung nilai OD-nya berada ditingkat absorbansi yang lebih rendah. pernyataan ini sesuai dengan Tranggono & Setiadji (1989). karena enzim mengalami inaktivasi pada suhu tinggi. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas. Semakin tinggi suhunya. Sedangkan pada pengaruh pH didapatkan bahwa setiap bahan memiliki nilai pH optimum untuk melakukan aktivitas enzimnya. enzim akan bertahap menjadi inaktif karena terjadi perubahan struktur enzim. maka aktivitasnya akan berkurang yang terlihat dari menurunnya nilai absorbansinya. Pada enzim yang tidak dididihkan dihasilkan nilai OD berada ditingkat nilai absorbansi yang lebih tinggi. 4. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. bahwa suhu optimal enzim antara 35oC dan 40oC. Pada bahan yang tidak dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. pada kecambah kacang hijau pada pemberian pH 7. Pada enzim yang dididihkan. Sesuai dengan pernyataan Gaman & Sherrington (1994). Pada percobaan kelompok B1-B8 enzim tidak dididihkan sedangkan pada percobaan kelompok B9-B13 enzim dididihkan dengan perlakuan pH yang sama dari percobaan tersebut terdapat perbedaan hasil pengamatan. nilai absorbansinya semakin turun.Pada Tabel 1 dan Grafik 1 nilai absorbansi yang didapat oleh semua kelompok berbeda satu dengan yang lain. Hal tersebut terlihat bahwa enzim dipengaruhi oleh panas atau suhu. yang dapat dilihat dari nilai absorbansinya. data dan grafik kelompok B1-B8 dengan kelompok B9-B13 tidaklah sama. Sedangkan pada bahan yang . Sehingga jika suhu berada di atas optimal. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein.

Gramedia Pustaka. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Ketika temperatur meningkat. Pada suhu yang sangat rendah.F. (1990). Hal ini dapat terjadi karena terjadi kesalahan saat praktikum saat pengukuran absorbasi atau mungkin juga setiap bahan yang berbeda memang memiliki pH optimumnya masing-masing. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. Jakarta. Universitas Gadjah Mada press. · Nilai absorbansi pada percobaan ini dapat menunjukkan nilai aktivitas enzim yang dipengaruhi oleh pH dan suhu tertentu.M & K. Sherrington. (1992). enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang. Pengantar Ilmu Pangan. DAFTAR PUSTAKA Anonim.PT Cipta Adi Pustaka. menurutGaman & Sherrington (1994) semakin besar atau basa pH yang digunakan maka semakin rendah nilai OD-nya dikarenakan enzim mengalami denaturasi. (1994). Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim tapi suhu yang terlalu tinggi pun dapat mendenaturasi enzim. Yogyakarta. Fardiaz. Elsevier Applied Science. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C.B. Dengan menggunakan larutan buffer inilah kita mendapatkan pH yang terkontrol dan tepat. (1994). Ensiklopedi Nasional Indonesia. Mikrobiologi Pangan 1. P. 6.G. Larutan buffer adalah larutan yang tahan panas terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. · Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH. karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Pada suhu 100°C semua enzim rusak.dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. P. Ilmu Pangan. Food Enzymology Vol 2. Akibatnya daya kerja enzim menurun. London. dan pada suhu 100oC enzim rusak. KESIMPULAN · Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum. Gaman. Jakarta. aktivitas enzim berkurang. Kartasapoetra. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. 5. Seharusnya. (1991). hal ini sesuai pernyataanGaman & Sherrington (1994). Jakarta. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim.sedangkan aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. pada kecambah kacang hijau pada pemberian aquades. yaitu suhu tubuh. Rineka Cipta. pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Nutrisi dan Mikrobiologi. .A. · Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. S. Fox.

Yogyakarta. Williamson. melainkan dalam keadaan dormansi (tidur). Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Gadjah Mada University Press. J. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. Mikroba mesofilik adalah golongan mikroba yang mempunyai temperatur optimum pertumbuhan antara 25 C-37 C minimum 15 C dan maksimum di sekitar 55 C. Petunjuk Laboratorium Biokimia Pangan. Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. Tetapi Escherichia coli tumbuh pada kisaran temperatur 8-46oC.Fieser. (1990).B. golongan ini terutama terdapat di dalam sumber-sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bertemperatur lebih tinggi dari 55 C. enzim. D C Health ang Company. kebanyakan golongan ini tumbuh d tempat-tempat dingin.K. optimum 55C-60 C. inilah yang disebut golongan euritermik. baik di daratan maupun di lauatan. Biochemical Engineering. mikroba di bagi menjadi 3 golongan. golongan mikroba yang memiliki batas temperatur minimum dan maksimum tidak telalu besar. Institut Teknologi Bandung. Yogyakarta. Biokimia : protein. (1989). Tranggono.Lee. Yogyakarta. New Jersey. c. Thermal Death Time (TDT) Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas temperature yang sempit.S. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. M. United States of America. b. sedangkan maksimum 75 C. (1992). S. umumnya hidup di dalam alat pencernaan. Prentice Hall Inc. minmum 40 C. Biasanya. Berdasarkan daerah aktivitas temperatur.L & L. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 40 C atau lebih. (1989). oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian . Organic Experiment 7th Edition. (1992). Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Tranggono & Sutardi. M. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. sehingga beda (rentang) antara temperatur minimum besar. dengan temperatur optimum 15 C. mikroba akan mengalami kematian. Mikroba psirkofilik (kryofilik) adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperatur antara 0 C sampai 30 C. yaitu: a. (1994). Wirahadikusumah. Bila mikroba dipiara dibawah temperatur minimum atau sedikit diatas temperatur maksimum tidak segera mati. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Martoharsono. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. dan asam nukleat. misalnya Gonococcus yang hanya dapat hidup pada kisaran 30-40oC. Bandung. Biokimia jilid 1. Biokimia dan Teknologi Pasca Panen.F. Gajah Mada university Press. disebut stenotermik. Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperature tinngi.

temperatur. mikros = kecil. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang membusuk. Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. pH dan komposisi medium. Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak benar. kelembaban. misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung alkohol. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan pada roti. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. bentuk dan jenis spora. Baccillus subtlis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °. Sebagian motil dan adapula yang non motil. bios = hidup dan logos = ilmu. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun kontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan makanan. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis 20-30 19 20-50 57 60 100 100 Suhu (0C) Spora Clostridium botulinum 100-330 KARAKTERISTIK BACILLUS SUBTILIS Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani. Hal inilah yang . Sebagai makhluk hidup pertama di bumi.pada suatu temperatur. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. Tidak seperti species lain seperti sejarah. atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup. umur mikrroba. ada yang tebal dan yang tipis. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif. Definisi mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Bacillus subtilis selnya berbentuk basil. katalase positif yang umum ditemukan di tanah.

Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British Royal Society. Strain-strain dari mikroorganisme yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat diterima. protozoa dan virus merupakan organisme yang sering tidak terlihat. air hujan. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya. saliva. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan animalcule yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai sumber energi. feses dan lain sebagainya. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200–300 kali. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa informasi genetik pada semua organisme dari mikroba hingga manusia adalah DNA. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. Kemampuan mikroorganisme yang telah direkayasa untuk tujuan tertentu menjadikan lahan baru dalam mikrobiologi industri yang dikenal dengan bioteknologi. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang. mengagumi mikroorganisme seperti bakteri. Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia. Pengambilan informasi genetika dari mikrorganisme karena sifatnya sederhana dan perkembangbiakan yang sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabolisma. Mikroorganisme juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk membersihkan lingkungan. Antara tahun 1632–1723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. Saat ini mikroorganisme diteliti secara insentif untuk mengetahui dasar fenomena biologi. . sekarang dikenal dengan protozoa. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil. Hal ini karena mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mendekomposisi/menguraikan senyawa kimia komplek. Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang penting di bidang kesehatan maupun industri makanan. Leewenhoek dan Mikroskopnya Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. yang penting lainnya adalah mekanisma kimia oleh mikroorganisme sangat mirip dengan unity in biochemistry yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisme adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. alga. kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri.disebut dengan biohemial divesity atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisme. Leewenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai. Disamping itu. Belanda. misalnya: dari tumpukan minyak di lautan dipergunakan sebagai herbisida dan insektisida di bidang pertanian. Tetapi banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. hewan maupun tumbuhan. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf. Jika anda membaca tentang mikroorganisme anda akan menghargai. Mikroorganisme juga merupakan sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat. Sekarang insulin yang dibutuhkan manusia dapat diproduksi dalam jumlah tak terhingga oleh bakteri yang telah direkayasa. Sebenarnya ia bukan 3 orang pertama dalam penggunaan mikroskop.

Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis. Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. optimum dan maksimum. sebaliknya . Pendapat atau teori ini disebut biogenesis. Untuk sterilisali. Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. dan termofil. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada yang bersifat sementara. Pengaruh Suhu atau Temperatur Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. mesofil.Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi. Ada dua pendapat. dan faktor biotik. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi. Pendapat ini mendukung teori yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis. . Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal animalcules tersebut. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. melalui fermentasi misalnya. satu mengatakan animacules ada karena proses pembusukan tanaman atau hewan. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan. ü Faktor – faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme 1. perubahan ini dinamakan perubahan secara kimia. . demikian juga jasat renik. Beberapa mikroba dapat pula mengubah pH dari medium tempat hidupnya. akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu labih dari 100 tahun. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia). Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Mikroba Dengan Lingkungan Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)-nya. tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun menurun. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Misalnya.

maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Berhubung dengan ini. pada temperatur yang sama. Berdasarkan ini. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190°C). Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terus menerus. kita belum tahu. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap spesies. Sedikit perubahan pH menuju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. buih tidak membeku sekeras air beku. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. Bakteri patogen yang biasa hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. Sebagai contoh. karena spora sangat sedikit mengandung air. Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora.Tapi tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. . mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Biasanya. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih.Di dalam keadaan basah.

yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C.GRAFIK SUHU PADA BAKTERI Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. yaitu: Bakteri termofil (politermik). Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. . meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu.

kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan.Bakteri mesofil (mesotermik). yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. .

Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. Pada umumnya dapat di pastikan. Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas suhu yang sempit. misalnya.Gonococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46°C. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. .Bakteri psikrofil (oligotermik).

BAKTERI GONOCOCCUS .

Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. air akan menguap dari protoplasma. Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah. temperatur. Kelembaban dan Pengaruh Kebasahan serta Kekeringan Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora. jika digesekkan di atas kaca obyek. misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista.BAKTERI ESCHERICHIA COLI Bakteri yang diplihara di bawah Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. umur mikrroba. gula. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. konidia atau dapat membentuk kista. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum.yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis. daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. kelembaban. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah Bakteri yang ada dalam medium susu. bentuk dan jenis spora. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Sebaliknya. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa. hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering. Meningococcus. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium botulinum 20-30 19 20-50 100-330 57 60 100 100 Suhu (0C) 2. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. pH dan komposisi medium. mikroba akan mengalami kematian. Pengeringan ditempat yang terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada . bahkan dapat hidup di dalam air. Pada proses pengeringan. itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam. Banyak bakteri yang mati jika terkena udara kering. Biasanya.spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu.

adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi.4 optimum 6.0 Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya.0 Maksimum 9. Contohnya adalah bakteri nitrat. (2) mikroba halofil. kadar garamnya dapat mencapai 30 %. rhizobia. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. Pengaruh Perubahan Nilai Osmotik Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma.0-5. 3. maka selnya akan mengalami plasmolisis. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8.0-7. Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium. Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. misalnya Lactobacilli. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman. 4. sel membengkak dan akhirnya pecah.5-8. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin). yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. dan bakteri pengguna urea. adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi. Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi. misalnya Halobacterium. (3) mikroba halodurik. yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel.pengeringan ditempat yang gelap. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah.0 . Kadar Ion Hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Apabila diletakkan pada larutan hipotonis. Acetobacter. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi. maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur. lingkungan. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. dan Sarcina ventriculi. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % (aw = 0.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2.4-9. Nama mikroba Ph minimum Escherichia coli 4.94). sehingga tahan terhadap ion Natrium. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis.5 Suhu. dinding selnya terdiri dari murein. tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. actinomycetes.

0 6. yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ.0-4. Sinar yang nampak oleh mata kita.8 7. yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya.5-9.0-7. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali.0-7.0 8. Pengaruh Sinar Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis.0 6. Alangkah baiknya.0 8.0-7.8 5.8 Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan. bakteri bahkan dapat mati seketika. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil. maupun senyawa-senyawa organik amfoter. maka apabila ada perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma. sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu.6 5. air. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis. gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. tidak begitu berbahaya.6 2.0 6. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7. terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam. deterjen.6-7. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapaPseudomonadaceae.6 8. Zat-zat seperti sabun. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik.4 5. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan.0-7. Cara kerja buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH- 5.0 6.6-8.4 4. sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel.6 1. jika kertas-kertas pembungkus makanan. ruang-ruang pertemuan.4 9.0 4. dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan. .6 8.0-5. 6.8-6. plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultraungu.6 6. yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ.Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans Lactobacillus acidophilus 4.0-8.0 9. ruang-ruang penyimpan daging. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi. bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya.4 10.6 6.8 7.0 4. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.0-6. Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan bentuk morfologinya.0-2. pengaruhnya lebih buruk. Lebih dekat.2.

Na2BO4 mudah benar melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium. banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. virus. sehingga desinfektan menjadi menarik. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri. e. sehingga zat ini merupakan desinfektan. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. · a. dan jamur.ü Faktor – faktor kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme Pada umumnya kerusakan bakteri dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : A. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. . C. efeknya lebih baik. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Beberapa Desinfektan dan Antiseptic adalah sebagai berikut : Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Yodium Yodium-tinktur. Klor didalam air menyebabkan bebasnya O2. Jika dicampur dengan air murni. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. Oksidasi Zat zat seperti H2O2. b. Kulit dapat terbakar karenanya . Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia. d. etanol menyebabkan terjadinya penggumpalan protein. Koagulasi atau penggumpalan protein Zat seperti perak. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap. Depresi dan ketegangan permukaan Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. tembaga dan zat-zat organik seperti fenol. c. oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. B. Dan protein yang menggumpal itu telah mengalami denaturasi dan tidak dapat berfungsi lagi. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol. yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol. Karbol ialah lain untuk fenol. alat-alat seperti gunting.

Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik.Penggunaan obat-obat ini. g. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandungempat bagian. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. bakteri dapat tumbuh biasa. digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling mempengaruhi. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. lagipula tidak menyebabkan sakit. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Hijau berlian. karena zat ini tidak merusak jaringan. kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhan bakteri gram positif. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. hijau malakit. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat.f. Sering terjadi. fuchsin basa. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Asam-paminobenzoat memegangperanan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. melainkan juga merupakan bakterisida. dan antar . Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. h. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Gonococcus. ü Faktor – faktor Biologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme a. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous(indigenous).Pneumococcus. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut.

Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium yang dapat menghambat populasi Nitrobacter. Mutualisme sering disebut juga simbiosis. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah. Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang mengubah etanol menjadi asam asetat. Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. Contohnya adalah: Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein. misal dalam keadaan kering beku.mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah. g. pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh apapun. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam. d. atau fase istirahat (spora. atau antibiotika. Sinergisme Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan samasama mendapat keuntungan. toksin. Asam-asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. maka disebut sintropisme. Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens). dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup dan pertumbuhannya. Kompetisi Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya mengalami kerugian. e. kista). Amensalisme (Antagonisme) Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap populasi mikroba lain. Thiobacillus thiooxidans menghasilkan asam sulfat. f. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic Methanobacterium. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum dengan Paramaecium aurelia. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif. atau proses pembersihan air secara alami. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang menggunakan nutrien / makanan yang sama. atau dalam keadaan nutrien terbatas. b. yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. c. Parasitisme . Senyawa organik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont).

Namun. Terjadinya parasitisme memerlukan kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif lama. Kendala tersebut memberi peluang yang lebih besar terjadinya kehilangan isolate dibandingkan dengan teknik lain. Tahap penyimpanan mikrobadalam akuades steril adalah se-bagai berikut: . PEMBAHASAN Upaya Mempertahankan Viabilitas Mikroorganisme Akibat Pengaruh Lingkungan : Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajarimikroorganisme. memparasit jamur Agaricus sp. Ukuran parasit biasanya lebih kecil dari inangnya. beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E. sehingga tidak dapat dijamin stabilitas genetiknya untuk jangka panjang. terutama yang berbentuk batang dan bereaksi Gram egative seperti Pseudomonas dapat disimpan cukup lama dalam akuades steril pada suhu ruang atau suhu 1015oC. Tidak semua bakteri dapat disimpan dengan baik menggunakan cara ini. Umumnya parasitisme terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. Pada kondisi penyimpanan ini bakteri yang disimpan masih berpeluang tumbuh dengan lambat.wikipedia. misalnya sebulan atau dua bulan sekali. Peremajaan berkala tidak dianjurkan untuk penyimpanan jangka panjang. dan Curtobacterium. Mikroorganisme seringkali berhttp://id.org/wiki/Sel_%28biologi%29&#8243. Penyimpanan dalam Akuades Steril Beberapa jenis bakteri. dan terjadi kekeliruan pemberian label. baik didalam suhu ruang maupun dikulkas hal ini menunjukkan adanya kinerja bakteri dalam mempertahankan viabilitas perkembangannya. banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dalam tabung agar miring yang tertutup rapat hingga sepuluh tahun atau lebih. 2. Meskipun demikian. cara ini lebih dianjurkan sebagai alternative penyimpanan jangka sedang atau sebagai pendamping penyimpanan jangka panjang. Teknik ini mempunyai berbagai kendala. populasi satu diuntungkan (parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik.>sel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (multiseluler). di antaranya kemungkinan terjadi perubahan egativ melalui seleksi varian. Agrobacterium. Penyimpanan dengan cara ini juga memungkinkan terjadinya kontaminasi.Parasitisme terjadi antara dua populasi. Jamur Trichodermasp. Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. Peremajaan Berkala Peremajaan dengan cara memindahkan atau memperbarui biakan mikroba dari biakan lama ke medium tumbuh yang baru secara berkala. Cara Bakteri Mempertahankan Viabilitas : 1. misalnya pada anggota genus Pseudomonas.Virus juga termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler. peluang terjadinya kontaminasi. coli. Oleh karena itu. Cara ini jugadigunakan untuk penyimpanan dan pemeliharaan egativ mikroba yang belum diketahui cara penyimpanan jangka panjangnya. Teknik ini merupakan cara paling tradisional yang digunakan peneliti untuk memelihara koleksi egativ mikrobadi laboratorium.

Mikroba yang akan disimpan ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni pada medium agar miring yang sesuai. 3. Penyediaan minyak mineral atau parafin cair steril. tetapi kurang praktis untuk ditransportasi. Teknik ini sederhana. dan mengambil satu ose suspense dan menumbuhkan pada medium cair atau langsung pada medium agar yang sesuai. 5-10 ml/botol atau dalam tabung ependorf. khamir dan jamur adalah dengan cara menyimpan dalam tabung agar miring dan menutup dengan minyak mineral atau parafin cair. Daya tahan hidup mikroba lebih baik apabila biakan disimpan pada suhu kulkas (4oC). tabung dikocok hingga suspensi merata. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri ke dalam tabung reaksi berisi 3-5 ml akuades steril. Mikroba yang akan dipelihara ditumbuhkan pada tabung berisi medium agar miring atau medium cair (broth) yang sesuai. Penyimpanan dalam Minyak Mineral Salah satu cara sederhana untuk memelihara biakan bakteri. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. diautoklaf pada suhu 121oC selama 60 menit. Dasar teknik penyimpanan ini adalah mempertahankan viabilitas mikroba dengan mencegah pengeringan medium. Biakan bakteri berumur 24-48 jam disimpan dengan beberapacara seperti: Menambahkan 3-5 ml akuades steril ke dalam biakan miring. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri langsung ke dalam tiap botol yang berisi air steril dan mengocok hingga merata. mengocok.Akuades steril disiapkan dalam botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml. Cara penyimpanan dalam minyak mineral menurut adalah sebagai berikut : Penyediaan tabung reaksi dengan tutup berdrat atau botol McCartney berisi medium agar miring yang sesuai untuk mikroba yang akan dipelihara. mengocok tabung hingga diperoleh suspense pekat bakteri (108-109sel/ml). Beberapa jenis jamur dapat bertahan hidup sampai 20 tahun. keberadaan minyak mineral mengakibatkan peremajaan menjadi kotor. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. Penumbuhan kembali biakan dilakukan dengan mengambil botol dari tempat penyimpanan. Disamping itu. . sehingga waktu peremajaan dapat diperpanjang hingga beberapa tahun. kemudian permukaan biakan ditutup dengan minyak mineral steril setinggi 10-20 mm dari permukaan atas medium. Botol ditutup rapat dan disim-pan pada suhu ruang atau suhu10-15oC Uji viabilitas mikroba dan peme-liharaan stok isolat dilakukanse-cara rutin. Menumbuhkan mikroba yang akan disimpan dalam tabung agar miring selama 24–48 jam dan memeriksa kemurnian biakan untuk menghindari kontaminasi.

. Suspensi mikroba yang akan disimpan (sel. juga dapat disimpan dengan baik dengan cara ini. kemudian diautoklaf pada suhu 121oC tiga kali berturut-turut selama tiga hari masing-masing selama satu jam. sterilitas tanah diuji dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. Penumbuhan kembali (reco. botol dioven kering pada suhu 105oC selama satu jam dan setelah dingin disimpan di dalam desikator hingga digunakan.. Tabung atau botol yang berisi tanah diberi akuades steril hingga kebasahan 50% kapasitas lapang.very) mikroba (bakteri.. Biakan jamur digoreskan langsung pada medium agar. 4. Botol dikembalikan ke desikator untuk disimpan di dalamnya atau setelah kering diambil dan disimpan di ruangan. Botol biakan yang telah diberi parafin cair disimpan pada suhu ruang atau dikulkas. di kering anginkan dan diayak untuk memisahkan partikel tanah yang agak besar dan membuang sisa-sisa tanaman. Selanjutnya. Tanah yang sudah kering dan di ayak dimasukkan ke dalam tabung atau botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml hingga1 cm dari permukaan tutup. Bila mana diperlukan. dan stabilitas genetik mikroba dapat dipertahankan. Teknik ini mempunyai beberapa keuntungan. dan Clostridium sp. hingga 20 tahun atau lebih. penyimpanan pada suhu ruang. Minyak mineral mengapung di permukaan suspensi dan sebagian suspensi digoreskan pada medium agar yang sesuai.. Mikroba yang disimpan diuji viabilitasnya setiap tahun dengan menumbuhkan pada medium agar.Setelah mikroba tumbuh baik. sehingga permukaan parafin atas berada 10-20 mm di atas permukaan medium agar. Streptomyces sp. miselia) dibuat dalam larutan steril pepton 2% dalam akuades. khamir) dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian biakan dari tabung. dan bakteri yang membentuk spora seperti Bacillus sp.1 ml) di ambil dengan pipet steril dan di masukkan ke dalam tiap botol yang telah disiapkan. spora atau konidia. Cara penyimpanan dalam tanah steril adalah sebagai berikut: Diambil tanah yang agak liat. Uji viabilitas mikroba dan pemeliharaan isolat dilakukan secara periodik dan rutin. Rhizobium sp. . parafin cair steril dimasukkan ke dalam botol secukupnya. paling tidak setiap tahun. yaitu biaya murah. memindahkan dan mensuspensikan pada medium cair. Suspensi mikroba (0. Teknik penyimpanan mikroba pada tanah kering terutama berguna untuk fungi. Penyimpanan Dalam Tanah Steril Banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dengan baik pada tanah kering yang disimpan pada suhu ruang untuk waktu yang lama.

Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. dimasukkan ke dalam botol kecil ukuran 10 ml dengan tutup berdrat. Teknik ini sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bakteri. Penyimpanan Menggunakan Potongan Kertas Filter Teknik penyimpanan ini mirip teknik penyimpanan dengan lempengan gelatin. Penyimpanan In Vacuo dalam Gas Fosfopentaoksida Teknik penyimpanan ini disebut juga teknik Sordelli. Botol disterilkan de-ngan oven 105oC selama 1 jam. dan jamur. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak . 1970). Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik satu bundaran kertas filter dari botol penyimpanan. kemudian ditutup rapat dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. karena mula-mula ditemukan oleh Sordelli(Lapageet al. Biakan mikroba disimpan dalam serum kuda yang ditempatkan dalam tabung gelas kecil atau ampul. Beberapa tetes suspensi mikroba dimasukkan secara aseptic ke dalam botol yang berisi kertas filter hingga menjadi jenuh air. Cara bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika Meminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus. 25-50 bundaran kertas filter/botol. paling tidak setiap tahun. 6. tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. Sebagai pengganti lempengan gelatin digunakan bundaran potongan kertas filter steril. memindahkannya ke medium cair. khamir. Tabung ini ditempatkan di dalam tabung lain yang lebih besar berisi sedikit fosfopentaoksida (P2O5) dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. Teknik ini juga sederhana dan mudah. tetapi sangat efektif untuk penyimpanan bakteri. susu skim 1%.Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian contoh tanah dari botol penyimpanan. 5. Uji viabilitas bakteri dilakukan secara periodik dan rutin. atau Naglutamat 1%. Bundaran kertas steril dibuat dengan alat pelubang kertas. memindahkan ke medium cair diikuti dengan menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai atau langsung dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. Tahapan teknik penyimpanan bakteri menggunakan potongan kertas filter menurut adalah sebagai berikut: Mikroba yang akan disimpan dibiakkan pada medium yang sesuai. Mikroba tersebut dapat bertahan hidup dengan baik selama 5-28 tahun. data tentang keefektifan penyimpanan dan daya tahan hidup bakteri dalam penyimpanan masih sedikit.. tergantung pada strain mikroba yang disimpan. Isi botol dikering vakumkan menggunakan alat vaccum freeze dryer . sehingga perlu diteliti lebih lanjut. menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai. Suspensi pekat bakteri (108-109 sel/ml) dibuat dalam larutan pepton 1%. Namun demikian. serta menginkubasikan pada suhu optimal untuk pertumbuhan mikroba.

membantu sel untuk fungsi pencernaan. Sedangkan beberapa bakteri lainnya (Bacillus megaterium) mengandung protein dan karbohidrat. tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis.Isolat dari Streptococcus agalactiae memproduksi kapsul polisakarida. polymorph granula meledak sehingga bagian sel keluar ke sitoplama. ü Produksi Senyawa Kimia Untuk Membunuh Fagosit Banyak antifagosit membunuh fagosit dan sukses menginfeksi. Pada Bacillus antrachis mengandung polipeptida asam D-glutamic. melepaskan materi yang dapat membunuh fagosit. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran residu asam sialik. gel tersebut mengandung sebagian besar molekul yang tersusun atas polimer glukosa dan asam glukuronik. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi. berkombinasi dengan 2acetamido-2-deoxyglucose. tumbuh & bereproduksi.sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. pertumbuhan kapsul sangat tinggi dan organisme tervirulensi dan pada fase stasioner pertumbuhan kapsul akan menurun dan organisme yang tervirulensi berkurang. Pada 3 tipe Pneumococcus. Streptolysin O mungkin berikatan dengan kolesterol pada membran sel. frekwensi dan lama penggunaan obat). menjauhi bahkan membunuh fagositosit. Kapsul sangat berpengaruh terhadap kemampuan fagositosit. Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa. namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dari infeksi neonatal. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran. Pada fase eksponensial. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh pathogen: ü Kapsul anti Fagositosit Beberapa bakteri terhindar dari Fagositosis dikarenakan memiliki kapsul. Komposisi kimia penyusun gel tersebut telah teridentifikasi pada beberapa bakteri. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai komplemen saat tidak ada antibodi. yang memberikan muatan negatif. tetapi ketika sudah cukup banyak enzim dikeluarkan ke sitoplasma mengakibatkan sitoplasma meluruh dan sel . Enzim lisosom terkurung di vakuola fagosit. dan 1-2 penambahan polymorphs. N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik. Beberapa diantaranya dapat memperbanyak diri dalam jaringan. Kapsul polisakarida tersebut merupakan faktor virulensi yang penting. dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklah opsonik. Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperature tinggi. Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semua serotype. Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. Setiap seseorang menggunakan antibiotika. Streptococci pathogen mengeluarkan haemolisin (streptolisin) yang dapat melisis sel darah merah dan berperan dalam meracun polymorphs dan makrofag. Beberapa pathogen membentuk suatu mekanisme untuk menetralisasi senyawa toksik yang dihasilkan oleh fagositosis. Struktur permukaan kapsul tersusun atas gel hidropilik yang menghambat kerja fagositosit. maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan.

Peranan lain dari aksi toxic pada fagosit setelah fagositosis telah diambil alih. termasuk faringitis dan impetigo.mati. Beberapa jalur sinyal intraselular yang dimodulasi oleh Leishmania dibahas dalam bagian berikutnya : Mycobacterium tuberolosis menyebabkan tubercolosis. Brucella dan Listeria banyak memperlihatkan virulensi dengan memperbanyak diri didalam makrofag. ingesti dan digesti. Bakteri ini menggunakan glikolipid dinding sel untuk mengabsobsi radikal hidroksil. Staphylococcus aureus memproduksi komponen pigmentasi yang disebut carotenoid yang dapat menetralisir singlet oxygen dan melindungi diri dari pembunuhan. Sehingga S. Makrofag biasanya dihancurkan dan mekanismenya belum diketahui. Tetapi adanya antibody pada mycoplasama terjadi absorpsi. Sementara kita telah melihat bahwa lapisan permukaan parasit bertanggung jawab untuk memicu banyak dari efek ini. Kegagalan dari absorpsi tidak diketahi dengan jelas. mengeluarkan substansi cytotoxic secara langsung melalui dinding vakuola dan kedalam sel. dimungkinkan karena lisosomnya lebih mudah dikeluarkan. berperan sebagai sinergis pada membrane leukosit dan menyebabkan keluarnya granula lisosom seperti pada Streptolysin O. Berbagai macam haemolysin dikeluarkan oleh Staphylococci pathogen dan dapat membunuh fagosit. mengingat avirulen shigella pasti melakukan hal yang sama dan akan terbunuh dan dimakan. . Entamoeba histolytica dapat membunuh polymorph dengan kontak fisik. Secara umum. Streptolysin S lebih berpotensial pada membrane. Beberapa Chlamydia memperbanyak diri di dalam makrofag setelah difagositosis dan merusak sel dengan menginduksi keluarnya kandungan lisosom ke dalam sitoplasma. yang ditunjukkan dengan peningkatan oksidasi glukosa dan membuat cacat pagosit E. Fagosit dapat dikatakan mati akibat keracunan makanan. Listeria monocytogenesmengeluarkan toksin sitolitik. virulen shigella membunuh makrofag tikus setelah fagositosis. tetapi dimungkinkan karena Mycoplasma merusak polymorph. ü Menghambat dengan cara Absorpsi pada permukaan sel fagosit Ada cara yang dilakukan mikroorganisme untuk menghindar dari fagosit tanpa meracuni fagosit. anion superoksida dan oksigen yang toksik bagi beberapa spesies yang diproduksi oleh fagosit.pyrogenes melakukan banyak strategi untuk menghindari system kekebalan tubuh. Leishmania parasit mampu modulasi fungsi makrofag banyak dalam rangka untuk mempromosikan kelangsungan hidup dalam host. Virulen intraseluler bacteria Mycobacterium. polymorph lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan makrofag. kita tidak langsung membahas mekanisme intraselular di mana sinyal dikomunikasikan. Umumnya merupakan patogen ekstraseluler yang dapat bertahan dan dapat hidup lama didalam inang dengan cara menghindari mekanisme pertahanan inang. Ketika komponen ekstraseluler Mycoplasma hominis ditambahkan pada polymorph manusia secara in vitro maka tidak terlihat secara jelas adanya absorbsi yang dilakukan oleh Mycoplasma di permukaan polymorh. Streptolysin membuat kerusakan pada lisosom. Tergolong pathogen intraselular yang tumbuh dan hidup didalam sel fagositik.coli hingga mati. Tidak ada haemolytic leucocidin yang diproduksi berhubungan dengan virulensi staphylococcal. Sebagai contoh. Streptococcus pyogenes merupakan pathogen pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit infeksi kulit ringan sampai sistemik. membuat fungsi sebagai”suicide bags”. Tergolong menjadi 2 protein antigen.

dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. silih bergantinya malam dan siang.Streptococcus pneumonia Merupakan salah satu bakteri yang memiliki pertahanan terhadap fagositosis berupa kapsul. Biasa bakteri yang memiliki kapsul resisten terhadap fagositosis. ALLAH melatih KESABARAN kita dalam KESAKITAN.” Q. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air.” TAUSYIAH “ALLAH menguji KEIKHLASAN bila sendirian. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. hal ini tersirat dalam beberapa ayat di dalam Al-Quran diantaranya dalam: Q. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penulisan tentang “UPAYA MEMPERTAHANKAN VIABILITAS MIKROORGANISME AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN” maka dapat disimpulkan bahwa : . sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. ALLAH memberi kita KEDEWASAAN bila ada MASALAH. Berharap semua ini dapat diterima dan dimaknai dengan baik sehingga kita mampu menjadi orangorang yang senantiasa BERSYUKUR atas seluruh NIKMAT yang ALLAH berikan pada kita disetiap keadaan. kecuali menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK”.S ASY SYUURA 29 Artinya : “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhlukmakhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Karena kapsul dapat melindungi sel bakteri. baik secara langsung maupun tidak langsung tergantung dengan respon normal terhadap imun dan kemampuan parasit. Leishmania merupakan parasit yang dapat menghindari makrofag dengan cara meninduksi produksi atau sekresi beberapa sinyal molekul immunosuppressive seperti metabolit asam arachidonik. ALLAH tidak pernah mengambil sesuatu yang kita sayang dan kita cintai. bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. Efeknya terjadi pada tipe sel yang berbeda. sitokinase TGF-β dan IL-10. KAJIAN RELIGI Di dalam Al-Quran secara tersirat Allah SWT telah menyiratkan akan pentingnya pengaruh lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup yang ia ciptakan termasuk mikroorganisme yang juga merupakan salah satu contoh makhluk hidup ciptaan Allah SWT.S AL BAQARAH 164 Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.

Analisis mikroba di laboratorium. Mikrobiologi. 2011. N. 2004. Diakses Tanggal 21 Desember 2011 Bacus. J. 2008. Jakarta. IPB. Press. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba.http://www.http://faktor-faktoryang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba. Kerjasama Dengan PAU antar Universitas Pangan dan Gizi. Obat Pencuci (Detergen). 1994. antibiotik. DAFTAR PUSTAKA Annonymous. pengaruh sinar. mutualisme (simbiosis). B. Haryono dan Suhardi. S. Fundamental Food Microbiology. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. zat warna. garam-garam logam. yaitu biotik dan faktor abiotik. Annonymous. komensalisme.wikipedia. Bogor. Florida.html. Ray. Diakses tanggal 04 Desember 2011. Amensalisme (Antagonisme). Lay.W. Formaldehida (CH2O). PT. CRC Press LLC Boca Raton. Analisa Mikrobiologi Pangan. B. . Waluyo. Malang. England. PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA TUJUAN Untuk memberi pengetahuan mahasiswa mengenai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Diakses tanggal 04 Desember 2011. PENDAHULUAN Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor. B. Raja Grafindo Persada.wikipedia. Lud. parasitisme.Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. pengaruh perubahan nilai osmotic. Sulfonamida. Klor Dan Senyawa Klor. tegangan muka. yaitu Fenol Dan SenyawaSenyawa Lain Yang Sejenis. PT. http://id.scribd. Metode Penyimpanan Dan Pemeliharaan Mikroba Dalam Mempertahankan Viabilitas. kadar ion Hidrogen (pH). tekanan. Sudarmaji. Diakses tanggal 08 Desember 2011. Faktor lingkungan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. yaitu pengaruh temperatur. 2008.org/wiki/Mikrobiologi . alcohol. 2011. 1994. Annonymous. 1992. 2001. UMM Press. yodium. kompetisi. hidrostatik. Penerbit Liberty. sinergisme. ltd. Utilization of Microorganisme In Meat Processing Research Studies. kelembaban dan pengaruh kebasahan serta kekeringan. Faktor lingkungan biologi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. 1984. yaitu netralisme. Annonymous.org/wiki/Mikroorganisme.com/doc/75921669/metde-pnyimpaman-dan-pemeliharaan-mikrobadalam-mempertahankan-viabilitas. Yogyakarta. 1989. Third Edition. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Fardiaz. http://id. Mikroorganisme. Raja Grafindo Persada.

sedangkan anggota yang lain mendapat keuntungan. Api bunsen dan spirtus 4. Alkohol 5. Antibiotik kloramfenikol 6. Coli dengan S. menghambat). faktor biotik adalah pengaruh mikroba oleh mikroba lainnya. oksigen. Coli yang ada dalam usus besar manusia. faktor abiotik. yaitu : 1. terbentuk dalam sebuah simbiosis. kompetisi. Pb Bahan : 1. Pipet volume 3. coli menghambat daur pertumbuhan S. secara rinci.( pertumbuhan E. aureus. kedua anggota asosiasi memperoleh keuntungan (saling mengntungkan). Eschericia coli. Simbiosis Komensalisme. Rak Tabung reaksi 2. hubungan mikroba satu dengan mikroba lainnnya tersebut. PertumbuhanArthrobacter citerus pada medium yang mengandung saccharomyces cereviceae. Simbiosis antagonisme. sumber nutrien.a. Simbiosis Mutualisme. sumber mineral. Ada 3 jenis simbiosis yang dpt terjadi. aureus.(saling merugikan. Salah satu anggota asosiasi dihambat atau dimusnahkan. dan pada umumnya tumbuh “lebih baik”. Logam berat Cd. Media Nutrien Agar 4. Kapas 6. 2.Batang kaca bentuk Luntuk spread 2. yaitu dapat tumbuh lebih cepat. Tabung reaksi 3. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. mikroba lain tersebut dapat berkomensalisme secara positif contohnya bersimbiosis / hidup saling menguntungkan atau negatif / saling merugikan dimana yang satu akan membunuh yang lainnya. terdiri dari temperature. ) b. dll. Candida albicans 5. bahan toksik / logam berat. Contohnya: Bakteri E. atau parasitisme. Contohnya : pengikatan nitrogen di udara oleh bakteri pengikat nitrogen dalam tanah. pH. Aluminium foil . dapat mencapai populasi total yang besar. Contohnya : kompetissi antara E. 3. Anggota yang lain tidak terpengaruh. Biakan murni bakteri : Staphylococcus aureus. Salah satu anggota asosiasi menerima keuntungan.

semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Meletakkan masing-masing cawan Petri pada suhu yang berbeda yaitu cawan Petri ke-1 diletakkan pada suhu kamar. dan cawan Petri ke3 pada oven. B.1 biakan murni bakteri dengan pipet volume dan memasukkannya ke dalam cawan Petri steril secara aseptik Mengisi cawan Petri yang berisi bakteri dengan nutrient agar secara aseptik. Mempersiapkan 3 tabung reaksi yang telah berisi nutrient agar. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. . Melewatkan jarum ose pada api Bunsen hingga nyala api berpijar. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya logam berat Cu. Pada perlakuan dengan logam berat Cu terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk (Cu) sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. Pertumbuhan mikroba pada cawan Petri: 1. Mengambil biakan bakteri dengan jarum ose dan meletakkan ke dalam tabung reaksi dengan bentuk zigzag secara aseptik Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya antibiotik.PROSEDUR KERJA A. tabung reaksi ke-2 pada lemari es. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. Hasil Pengamatan Pada perlakuan dengan antibiotik kloramfenikol terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . dan tabung reaksi ke3 pada oven. cawan Petri ke-2 pada lemari es. Mengambil 0. Meletakkan masing-masing tabung reaksi pada suhu yang berbeda yaitu tabung reaksi ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Menghomogenkan bakteri dengan memutar cawan Petri membentuk angka 8. Pertumbuhan Mikroba pada cawan Petri: 1. Mempersiapkan 3 cawan Petri yang telah steril.

artinya hanya efektifdigunakan untuk spesies tertentu. yaitu : Antibiotika yang mempengaruhi dinding sel .Inkubasi pada lemari es dan inkubasi pada suhu 600C tidak terlihat adanya pertumbuhan mikroba tetapi pada suhu kamar 380C terlihat adanya pertumbuhan mikroba. Tetrasiklin efektif bagi kokus. artimya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri. Mekanisme Kerja antibiotika Antibiotika menganggu bagian – bagian yang peka di dalam sel. baik kokus. Antibiotika ada yang mempunyai spektrum luas. cairan atau badan eksudat Larut dalm air serta stabil Bacterisidal level. Oleh karena itu antibiotik ini dikatakan memiliki spektrum yang luas. Sifat – sifat Antibiotika yaitu: Maenghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang ( host ) Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik Tidak menyebabkan resistensi pada kuman Berspektrum luas Tidak bersifat alergenik Tetap aktif dalam plasma. basil maupun spiril. Penisilin hanya efektif digunakan untuk memberantas terutama jenis kokus. ada juga antibiotika berspektrum sempit. Hal ini dapat menunjukkan bahwa Saccharomices dapat melakukan pertumbuhan optimal pada suhu kamar 380C dan termasuk mikroba mesofil. dan jenis spiril tertentu. basil. didalam tubuh cepat dicapai dan bertahan untuk waktu yang lama. dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. karena itu penisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. Pengaruh Antibiotika Terhadap Pertumbuhan Bakteri Antibiotika adalah suatu substansi ( zat – zat ) kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikrporganisme. PEMBAHASAN A.

Daya antimikrobe dari logam berat. Beberapa jenis mikrobe dapat hidup pada daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. tetrasiklin. sulfonamida. tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. C. ada beberapa pedoman sebagai berikut : a. Pengaruh Temperatur Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. spesies satu lebih tahan daripada spesies yang lain terhadap suatu pemanasan. amforoterisin B Antibiotika yang menghambat sintesa protein Contoh : Aktinomisin. Laju kematian termal ( Thermal Death Rate ) kecepatan kematian mikrobe akibat pemberian temperatur. c. ristosetin. pirimetamin. rifampisin. Ag. eritromisin. klindamisin. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikrobe masih dapat dapat berlangsung. As. dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikrobe dinamakan daya oligodinamik. vankomisin Antibiotika yang menganggu fungsi membran sel Contoh : polimiksin.Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikrobe. Untuk menemukan temperatur maut bagi mikrobe. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit. sikloserin. trimetoprim B. Biasanya. optimum. novobiosin. streptomisin. dan Cu. Oleh karena itu. Logam –logam yang sering dipakai adalah Hg. dan kita kenal ada temperatur minimum. b. Waktu kematian thermal ( Thermal Death Time ) waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikrobe pada suatu temperatur yang tetap. Zn. Pengaruh Logam Berat Terhadap Pertumbuhan Mikroba Logam berat berfungsi sebagai antimikrobe oleh karena dapat mempresipitasikan enzim – enzim atau protein essensial dalam sel. Antibiotika yang menghambat sintesa asam nukleat Contoh : asam nalidiksat. kolistin. sefalosporin. dan harganya mahal. masing – masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. nistatin. kloramfenikol. Temperatur maut / Titik kematian Termal ( Thermal Death Point ) Temperatur serendah – rendahnya yang dapat membunuh mikrobe yang berada di medium standar selama 10 menit pada kondisi tertentu. merusak alat – alat yang terbuat dari logam. Hal ini karena bahwa tidak semua spesies mati bersama – sama pada suatu temperatur tertentu. Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikrobe terletak antara 0 – 90o C. basitrasin. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. .Contoh : Penisilin. dan maksimum.

terlebihlebih mikro organisme.Universitas Muhammadiyah Press : Malang. Pembekuan secara terputus – putus ternyata lebih efektif daripada pemanasan terus – menerus. sedang temperatur optimumnya 25 – 40oC. Kehidupan bakteri tidak hanya di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan . c. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh daripada kalau pembekuan itu dilakukan di dalam buih karena buih tidak dapat membeku sekeras air beku. Logam berat → menyebabkan terbentuknya zona terang atau ( halo ) disekitar bakteri. Pembekuan air hanya dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri. Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur. K. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor-faktor luar. c.2004.Drs.1994.Mikrobiologi Umum. b.15oC. Mikrobe Termofil yakni golongan mikrobe yang tumbuh pada suhu 40 – 80oC.M. Sedangkan pada suhu rendah dan suhu tinggi pertumbuhannya terhambat. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. Antibiotik → menyebabkan terbentuknya zona terang ( halo ) disekitar media bakteri.tempat lain yang bertemperatur tinggi. b. dengan temperatur optimum 10 .Waluyo. Mikrobiologi Umum. Mikrobe Psikrofil yakni golongan mikrobe yang dapat tumbuh pada 0 – 30oC. Kebanyakan dari golongan ini tumnuh di tempat – tempat dingin.H. Golongan mikroba ini terutama terdapat di sumber – sumber air panas dan tempat. KESIMPULAN Faktor – faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba diantaranya yaitu : a. Pengaruh suhu → mikroba tumbuh optimum pada suhu kamar. baik di daratan maupun di lautan. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu. mikrobe dapat dibagi menjadi tiga golongan utama.Lud.M. yaitu : a. dan temperatur optimumnya 55 – 65oC.KES DOSEN PENDIDIKAN BIOLOGI UMM Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya. karena spora sangat sedikit mengandung air. dan Schmidt.Schlegel. OLEH: DR.Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh pada spora. akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya.H. Umumnya hidup dalam alat pencernaan.Kes.G.190oC ).M. sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya. DAFTAR PUSTAKA 1. Mikrobe Mesofil adalah golongan mikrobe yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 5 – 60oC. Pembekuan secara perlahan – lahan dalam temperatur – 16oC ( es dicampurdengan garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secar mendadak dalam udara beku ( . 2.AGUS KRISNO BUDIYANTO.

Misal. Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatupemanasan.tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan penentuan waktu maut (Thermal Death Rate). Perlu diperhatikan kiranya. perubahan ini di sebut perubahan secara kimia.nya. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi. Faktorfaktor biotik terdiri atas mahluk-mahluk hidup. 3. bahwa tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. dan termofil. sinar gelombang pendek. pH. Untuk sterilisali. 4. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time). maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. pada temperartur yang sama. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. 5. optimum dan maksimum. Suhu Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. sebaliknya . Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. Berdasarkan ini. 5. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. . sehingga tepat jugalah bila kita katakana adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). mesofil. Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah. Berapa tinggi suhu. Biasanya.1 Faktor-Faktor Abiotik. Berhubung dengan ini. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. 2. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. tegangan muka dan daya oligodinamik. Di dalam keadaan basah. pengeringan. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi. tekanan osmose. sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam (fisika) dan faktorfaktor kimia. 1.

Bakteri termofil agak menyulitkan pekerjaan pasteurisasi. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Conococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. misalnya. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang rendah. Pada . Sebaliknya. Bakteri psikrofil (oligotermik). buih tidak membeku sekeras air beku.Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C ). meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. jika suhu sampai naik sedikit. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. dan Bacillus caldotenax. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan pengawetan makanan. yaitu: Bakteri termofil (politermik). tentang efek yang lain misalnya secara kimia. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70 ° C saja. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. Akan tetapi. Dalam praktek. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. Bakteri mesofil (mesotermik). maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Sebagai contoh. juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di dalam lemari es. Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang panasnya 93 – 94 °C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga sangat termofil. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. karena spora sangat sedikit mengandung air. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. kita belum tahu. besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora tersebut. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. sedang pada suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46 °C. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. Bacillus caldolyticus. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. Spesies-spesies itu di tabiskan menjadi Thermus aquaticus. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. batas-batas antara golongan-golongan itu sukar di tentukan.

dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil obligat. tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa inkubasi.6). Sebab kecepatan tumbuh dengan tibatiba sangat menurun pada batas atas dan bawah kisaran suhu. Kurvenya linear hanya pada bagian kisaran suhu untuk tumbuh. ΔH* ialah energi aktivitas pada reaksi. terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum.umumnya dapat di pastikan. melainkan berada di dalam keadaan “tidur” (dormancy). dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C). sangat beragam pada bakteri. optimum. Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu galur spesies . Suhu itu biasanya hanya berapa derajat lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal. coli yang dapat disamakan dengan fungsi T ¯¹. Akan tetapi. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Karena itu. Gambar 10. yang diisolasi dari lingkungan dingin.3 Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu menurut rumus arrthenius Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia. Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar. Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran. R ialah konstante gas. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C). Kecepatan reaksi kimia merupakan fungsi langsung daripada suhu dan mengikuti hubungan yang dikemukakan semula oleh Arrhenius : Log10 V = − ΔH* + C 2. yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C). kebanyakan bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air.303RT v ialah kecepatan reaksi. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh. yang dinamakan suhu optimum.7 menunjukkan kecepatan tumbuh E. Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan. yang tumbuh baik pada 0°C. dan maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C. T ialah suhu dalam derajat Kelvin. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. dapat diramalkan bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku. kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi T ¯¹ menghasilkan garis lurus dengan lereng negatif (Gambar 10. Bakteri yang dipiara di bawah suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati. psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil fakultatif. mesofil. Gambar 5. yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar.

6). Percobaan seperti ini (Tabel 10. perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda. kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat. Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein (misalnya flagelum. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut. Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum ditentukan. kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu mutan. derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat . Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam penelitian. namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut. Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. Pada suhu rendah. Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas. Susunan lipid pada hampir semua organisme. Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. Oleh karen aitu. sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C. Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan. dan mutan peka dingin. dan psikrofil yang agak berubah-ubah. mutan peka panas. maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga). Bila suhu turun.mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya . Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. dengan suhu tumbuh minimum yang menaik. Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu. Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas. semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk. Akibatnya. tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-protein ini. Ilustrasi kejadian ini pada E. dengan mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda. Akibatnya.itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies. baik prokariota maupun eukariota. berubah-ubah menurut suhu tumbuh. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan . mesofil. dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu. walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. coli tampak pada perubahan dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri. dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun . Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil. Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh.

5. susu magnesia.2 Kuning – merah Fenolftalein 8.0 Acetobacter aceti 4.0-4. mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil.1N). natrium bikarbonat (0.2.0 Thiooxidans 4.2 – 9.8 – 8. susu. sari tomat. misalnya untuk bakteri pada pH 6.2 7. 8.7 Indikator Asam – Basa NAMA INTERVAL pH PK INDIKATOR WARNA ASAM – BASA Biru timol 8.5 – 7.8 9.0 7.0 .0-5. 6. 4. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6.4 – 6. Tabel 5. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid. pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen.5 Thermos aquaticus Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik.0-8.5 6.0 Merah – kuning Biru brom timo l 6.6.5.5 Azotobacter spp 6. Untuk menahan perubahan dalam medium sering ditambahkan larutan bufer. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu.keadaan cairnya pada suhu tertentu. Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keaadaan sangat masam atau sangat alkalin.8 Kuning – merah Merah kresol 7. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil.0 6. optimum.6 7.0 Clhorobium limicola 6.5 – 7.0-3.4 7.25.5 7.8 pH minimum.7 Merah – kuning Biru brom fenol 3.0 – 9. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2.0-7. 10.0 – 8.0 (netral).0-7. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum. pH Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu.4-6.5 9.0 – 4.6 1.5 8.0 – 7.4.8 7.5.0 – 4. Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan. dan maksimum untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri Bakteri KISARAN pH UNTUK PERTUMBUHAN Batas bawah Optimum Batas atas Thiobacillus 0. cuka 2. Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium.5 dan 7. dapatlah dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak.6 4.5 5.8 8. bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawasenyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya. pH air suling ialah 7.1 Kuning – biru Merah feno 6.5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas.1 Kuning – biru Merah metal 4.8 9.5 2.6 Tak berwarna -merah muda Tabel 5.3 Staphylococcus aureus 5. khamir pada pH 4.3 7.2 5. optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya. 2. larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH.

Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan. organisme fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan. konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. di danau air asin. wadah berisi garam. karena cahaya adalah sumber energinya. Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi. Air laut mengandung 3. Tabel 5.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan zat alir).5 – Keasaman atau tumbuhan 7. dan danau air asin. Bakteri tertentu.5-8.5 Suhu. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik. Termofil 25 – 55°c optimumnya pada Fakultatif (bebas pilih) suatu titik didalam Termofil obligat 45 – 75°c kisaran bergantung ada spesies Aerob Hanya tumbuh bila ada oksigen bebas Anaerob Hanya tumbuh Persyaratan akan gas tanpa oksigen Anaerob fakultatif bebas Tumbuh baik tanpa Mikroaerofil oksigen bebas Tumbuh bila ada oksigen bebas dalam jumlah sedikit Kebanyakan bakteri berkaitan dengan kehidupan hewan dan pH optimum 6.Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). Sebagai contoh.5 alkanitas (pH) Beberapa spesies eksotik . yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau rendah. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. makanan yang diasin. yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin.5 persen natrium klorida. hanya tumbuh bila mediumnya mengandung konsentrasi garam yang tinggi.9 Kondisi-kondisi fisik yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri Kondisi Fisik Tipe Bakteri Kondisi Biakan (Kelompok Psikologis) (Inkubasi Suhu (kisaran Psikrofil 0 – 30°c pertumbuhan) : Mesofil 25 – 40°c minimum dan Termofil : maksimum. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. lingkungan. air laut. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi.4-9.

pH minimum 0,5; Fotosintetik (autotrof dan

pH maksimum 9,5

heterotrof) Cahaya sumber cahaya Halofil (halofil obligat) Salinitasi konsentrasi garam yang tinggi, 10 –15% NaCl 3. Kelembaban Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut. 4. Tekanan osmosis Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair. Jika perubahan nilai osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahanlahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak. 6. Senyawa toksik Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap

gugusan didalam sel. 7. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi. 8. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup. 9. Kebasahan dan kekeringan Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah: Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut. 10. Sinar gelombang pendek Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan mikrobia. Sinarsinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.

Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan, ruangruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung bioskop dan sebagainya pada waktuwaktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon dan klor (chlor). 11. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan itu menyerupai membran yang elastik. Demikian juga permukaan cairan yang menyelubungi sel mikrobia. Tekanan dari membran cairan ini di teruskan ke dalam protoplasma sel melalui dinding sel dan membran sitoplasma, Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikrobia. Kebanyakan bakteri lebih menyukai tegangan muka yang relatif tinggi. Tetapi adapula yang hidup pada tegangan muka yang relatif rendah. Misalnya bakteri-bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan. Sabun mengurangi ketegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Diplococcus pneumoniae sangat peka terhadap sabun. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun; hanya bakteri yang hidup di dalam usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Bolehlah dikatakan pada umumnya, bahwa bakteri yang Gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan (depresi) tegangan permukaan daripada bakteri yang Gram positif. 12. Daya oligodinamik Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang. 13. Desinfektan Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering

melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawasenyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik. a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. b. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. c. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. d. Yodium Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol, banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. e. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. f. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. g. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun

Sering terjadi. dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat secara sintetik pula. Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin. Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat dihasilkan oleh golongan jamur. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. bakteri dapat tumbuh biasa. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. melainkan oleh golongan bakteri sendiri. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas itu sesuai dengan konsentrasi antibiotik yang terkandung didalamnya. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. dan pada dewasa ini jumlahnya ratusan. maupun spiril. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. . Asam-paminobenzoat memegang peranan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus. Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik diketemukan. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis. Pinisilin di temukan oleh Fleming dalam tahun 1929. basitrasin oleh Bacillus subtilis. magnamisin yang masing-masing mempunyai khasiat yang berlainan. Penggunaan obat-obat ini. Antibiotik Menurut Waksman. Gonococcus. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. Pada medium agar-agar yang telah disebari spesies bakteri tertentu diletakkan beberapa kepingan kertas yang masingmasing mengandung antibiotik yang diuji dalam kontrentasi yang tertentu. obat-obatan ini terkenal sebagai kloramfenikol. .zat ini dapat membunuh bangsa jamur. dikatakan mempunyai spektrum luas. basil. Akhir-akhir ini orang telah dapat membuat kloromisetin secara sintetik. Gambar 5. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. kloromisetin.Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri. aureomisin. maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. h. antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu. polimiksin oleh Bacillus polymyxa. oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. eritromisin. Sebaliknya. basil dan jenis spiril tertentu. disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. teramisin. baik kokus. Pneumococcus. Jika sesudah 24 jam kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri sekitar bahwa bakteri itu tercekik pertumbuhannya oleh antibiotik yang terkandung dalam kepingan kertas. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran.5 Rumus bangun sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat i. Tetrasiklin efektif bagi kokus.

kadang-kadang digunakan juga Micrococcus aureus. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir. maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekkan pada agar-agar lempengan. Jika tak ada pertumbuhan. daerah kosong Gambar 5. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom. Banyak juga orang mempergunakan persenyawaan perak dengan protein.6 Pengaruh antibiotic terhadap pertumbuhan bakteri.5 ml inokulum Salmonella typhosa yang masih muda. Misal. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida. hal ini berarti bahwa bakteri telah mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan. daya mana disebut oligodinamik. kita membuat 2 larutan fenol. dan piaraan ini kemudian disimpan dalam suhu 37 °C. maka alat–alat yang terbuat dari logam. dan lagi pula mahal harganya. Dari tiap-tiap larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril banyaknya tabung sesuai dengan banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit. larutan desinfektan A itu (1:300). daerah pertumbuhanbakteri b.2 Faktor-Faktor Biotik Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) . (1:400). yang satu (1:90) dan yang lain (1:100). kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di kolam–kolam renang. yaitu 12 tabung untuk desinfektan 0. c. Desinfektan yang akan diuji itu di encerkan menurut perbandingan tertentu. Katakan. Di dalam perangkat yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan. M adalah agar-agar lempengan yang disebari bakteri j. c.Sesuai dengan keperluan. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan perangkat kedua. a. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini. 5. Cara Menilai Khasiat Desinfektan Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan. maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penelanan atau penyuntikan. Persenyawaan air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji – bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. (1:450). Mikroorganisme yang dipakai sebagai penguji khasiat desinfektan ialah Salmo nella typhosa. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu eksperimen. Garam – Garam Logam Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri. daerah pertumbuhanbakteri b. Di samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan khasiat fenol. (1:350). Adapun zat yang dipakai ialah fenol. orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok. Penyuntikan dapat dilakukan intra vena (dalam pembuluh darah balik) atau intra muscular (dalam daging). dimana Salmonella dibiarkan berada dalam larutan selama 10 menit. Setelah 5 menit berada di dalam larutan. metafen atau mertiolat. daerah kosong a. Setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa tentang ada tidaknya koloni-koloni Salmonella.

dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian. Sinergisme Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama. Antibiosis Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh. Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik. mutualisme. sedang 2 bagian terdahulu khusus padakomoditas biji-bijian. simbiose. Mutualisme Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. 1978). Tanpa sinergisme masingmasing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut. tergantung pada macamnya simbiose.3 Fungi Dan Lingkungannya Christensen (1957) membagi fungi dalam 3 golongan berdasar keadaan lingkungan perkembangannya yaitu: 1) fungi lapangan (field fungi). dan parasitisme. karena jasad inang sebagai sumber kehidupannya. sinergisme. (Bothast. Parasitisme Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. mutualisme. Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme. Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri. 5. Sebagai contoh mutualisme antara bakteri Rhizobium dengan polongpolongan. antibiose dan sintropisme. fungi penyimpanan menyerang bijian yang tersimpan setelah panen dengan kandungan air . parasitisme. Fungi lapangan menyerang bijian yang sedang dan masak penuh dengan kandungan air paling sedikit 20% atau keseimbangan lembab relatif (Rh) 90 – 100%. Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami kerugian atau tidak. Golongan 3) merupakan bagian sementara. Simbiosis Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan. Simbiose dapat dibedakan tiga macam. tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain.atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. 2) fungi penyimpanan (storage fungi) dan 3) fungi perusakan lanjutan (advanced decay fungi). Sintropisme Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang lebih komplek . ialah komensalisme. Komensalisme Merupakan asosiasi yang sangat renggang. tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. Faktorfaktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad. Contohnya adanya pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi.

Terdapat beberapa faktor pokok yang akan mempengaruhi perkembangan fungi pada bahan pangan yang disimpan. Mucor dan Rhizopus pada umumnya ada hubungannya dengan kerusakan pada kondisi lembab. dan pada tempat penyimpanan fungi ini hamper tidak terdapat. Suhu dan aktivitas air sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian. 1978). Faktor-faktor seperti disebutkan diatas ditujukan pada bahan dimana fungi tumbuh. Ibasidia. sedangkan golongan fungi hidrofil diinginkan aw mencapai 0. 1973). 1978). Helminthosporium banyak didapat pada jenis padi. Caldwell dan Tuite. Beberapa spesies tertentu penicillium kadang-kadang dimasukkan dalam fungi lapangan (Mislivec dan Tuite. mempunyai kekhususan diantara spesies dan . dan obat khususnya bila terjadi cuaca lembab sebelum panen. Dalam kaitannya dengan kelembaban relatif (Rh) yang dapat diukur dari sekeliling bahan maka umumnya diharapkan kelembaban relatif sekitar 70-80%. Penicillium dan Aspergillus merupakan fungi yang diketahui ada dimana-mana dan hamper terdapat disetiap wilayah. 1970). Fusarium. Alternaria. Fungi penyimpanan juga terdiri dari beberapa spesies antara lain Penicillium. 1978). 1978). Setiap jenis fungi selain adalah batasan-batasan normal. dan Neurospora. mereka bukanlah fungi pemula kerusakan bahan dalam penyimpanan (Wallace. dan jagung dikenal sebagai bentuk “kudis” biji-biji yangdemikian dapat mendatangkan kercunan pada hewan maupun manusia(Uraguchi dan Yamazaki.89. karena mereka menghendaki suatu lembab relatif (Rh) minimum 88% untuk pertumbuhannya. Aspergillus dan Sporendomena dan kadang-kadang beberapa jenis khamir (Uraguchi dan Yamazaki.0. 1978). 3)periode penyimpanan. Contoh fungi lapangan adalah alternaria. Wallace (1973)menyebutkan 26 spesies Aspergillus dan 66 spesies Penicillium yang dapat diisolasi pada produk simpanan.80. 2) suhu ruang penyimpanan. Selain Aspergillus dan Penicillium dikategorikan pula dalam fungi penyimpanan adalah Absidia. Stemphylium.1976. Menurut Christensen dan Kauftmann (1969) dilaporkan lebih dari 150 spesies fungi telah diisolasi dari bagian biji tanaman. 4) derajat awal penyerangan oleh fungi sebelum sampai tempat penyimpanan. 3) tekanan osmosis. disamping faktor lainnya. Kebanyakan fungi penyimpanan terdiri dari dari 5 atau 6 golongan Apergillus dan baru kemudian dan beberapa spesies Penicillium sampai terjadi kerusakan lebih lanjut (Christensen dan Kaufmann. 1974). Epicoccum dan Nigospora yang umumnya menyerang dekat atau saat panen (Bothast. 1975). 4) pH. Fungi pada umumnya akan dapat berkembang baik pada aw sekitar 0. Rhizopus. antara lain: 1) Kandungan air bijian yang disimpan. Juga termasuk pula Curvularia. Mucor. wilayah atau lokasi geografis dan keadaan iklim. Lihatlah dua table dibawah ini. Chaetomium. Pada barley. Cladosporium umumnya pada biji serelia dalam kondisi basah selama panennya. gandum.1975. Fusarium banyak terdapat pada serealia yang baru dipanen. Paecylomices. maka untuk pertumbuhan fungi endiri memerlukan faktor fisik-khemis antara lain 1) suhu. 1978). 2) aktivitasair (water activity).65. barley. namun tidak hanya terbatas pada biji serealia. Kekecualian adalah Aspergillus flavus yang dapat menyerang bahan dilapangan (meski termasuk fungi penyimpanan) demikian pula Fusarium akan dapat melanjutkan kerusakan bahan bijian dalam gudang (meski termasuk fungi lapangan) bila kandungan air bahan cukup tinggi (Lillehoj dkk. 5) banyknya benda-benda asing (bukan bahan sejenisnya) dan 6) terdapatnya aktivitas serangga dan kutu dalam ruang simpan (Uraguchidan Yamazaki. 1974). 5) potensial oksidasi-reduksi (Eskin dkk. Scopulariopis. umumnya banyak terdapat pada biji sayuran atau biji serealia. Helminthosporium dan Cladosporium (Uraguci dan yamazaki. Fungi yang dominan pada suatu komoditas tergantung atas macam tanaman.sekitar 13 – 20 % atau keseimbangan lembab relative (Rh) 70 – 90% (Bothast.

meskipun keduanya mempunyai hubungan erat. maka praktikum tentang faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim perlu dilakukan I. Hubungan antara bagian-bagian tersebut sangat kompleks maka kondisi minimum. Membuktikan bahwa keasaman ( pH ) mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik 3. suhu dan lainnya. Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. dapat dikatakan enzim memilki peran sangat penting.lainnya seperti terlihat pada beberapa table kelembaban relatif. Reaksi enzimatik mempunyai suhu optimum. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim. Dengan peran enzim pada hampir tiap reaksi biologis. Kelembaban relatif minimum untuk perkecambahan fungi umumnya adalah 75% pada suhu biasa. Katalisator dalam reaksi ini disebut enzim. Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Memperlihatkan kecepatan reaksi enzimatik sampai suhu tertentu sebanding dengan kenaikan suhu. Dalam aktivitas metabolisme kita mengenal adanya katalisator. suhu dan konsentrasi substrat. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya. mengecilnya oksigen dan kandungan air atau akumulasi CO2 menjadi terbatas. 2. optimum dan maksimum sebagaimana tercantum dalam tabel diatas adalah perkiraan (Christensen dan Kaufmann. . Oleh karena pentingnya enzim. konsentrasi ion hydrogen (pH). Dibawah ini diberikan gambaran Rh ruang penyimpanan dan suhu untuk pertumbuhan beberapa fungi penyimpanan yang penting. Rekasi kimia ini meupakan bagian dari sistem yang bekerja spesifik dan menghasilkan senyawa-senyawa kimia.1 Latar Belakang Dalam proses metabolisme di dalam tubuh terdapat berbagai macam reaksi kimia. Pertumbuhan fungi berkaitan dengan kenaikan suhu yang dipengaruhi berbagai faktor antara laininaktivitas thermal enzim. Keseimbangan lembab relatif bijian lebih penting daripada kandungan air guna mengendalikan kerusakan fungi dalam ruang penyimpanan. 1974) PENGARUH SUHU. Faktor-faktor tersebut antara lain kosenntrasi enzim. KONSENTRASI ENZIM TERHADAP KECEPATAN REAKSI ENZIMATIK BAB I PENDAHULUAN I. pH. 1974). kehilangan substrat. dalam keadaan iniuntuk setiap bahan bijian akan berbeda kandungan airnya sesuai komposisi (Pomeranz.2 Tujuan Percobaan 1. Dalam mendukung perannya sebgai katalisator atau mempercepat reaksi yang terjadi tentu saja ada faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Bagian protein ( tak aktif ) ( apoenzim ) + non-protein ( gugus protestik ) = haloenzim ( aktif ) Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus ( M.T Simanjuntak. Klasifikasi enzim berdasar Commission on Enzim Of The Internasional uinion of Biochemistry ( CEIUB ) atau Internasional Enzim Commision ( IEC ) adalah sebgai berikut : Enzim yang berperan dalam reaksi oksidasi-reduksi contoh oksigenase Enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan gugus tertentu contoh enzim transaminase Enzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis contoh peptidase Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi addisi atau pemecahan ikatan rangkap contoh liase . Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam system biologis. Sebaliknya.2000). Kespesifikan optik tampak pada enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat. Di dalam jumlah sangat kecil. sehingga suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja.di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. Enzim alkohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alcohol ( Hafiz Soewoto. dan ada pula ynag bersifat stereospesifik. maka enzim juga disebut sebgai biokatalisator Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim.1 Enzim Enzim merupakan suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktivitas biologic. sedangkan enzim keseluruhannya disebut haloenzim. Kespesifikan gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerjaterhadap gugus yang tertentu. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat. 2003 ). enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan hasil akhir reaksinya. enzim-enzim yang bekerja terhadap asam amino dan protein hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D. Umumnya. enzimenzim ini hanya bekerja terhadap karbohidrat isomer D bukan L. Enzim berfungsi sebagai katalisator si dalam sel dan sifatnya sangat khas.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. ada pula yang hanya satu kelompok substrat saja.

α. sinar x. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi. pH. jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C.2000) . Bila suhu ditingkatkan terus. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerj enzim antara lain suhu. Akan tetapi. a. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang rerlatif ketat. keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. laju enzimatik selalu lebih rendah. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37° C. kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya ( Hafiz Soewoto. β. . dan γ. yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat.Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi isomerisasi contoh alanin rasemase Enzim yang berperan dalam mengkataliser reaksipembentukan ikatan dengan bantuan pemecahan ikatan dalam ATP( ligase ) ( M. Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. makin rendah pula laju reaksinya. karena terjadi denaturasi( Hafiz Soewoto. penyinaran ultraviolet. Pada suhu yang lebih rendah (sisi A pada gambar). enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. Seperti molekul protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiko kimia. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu. namun enzim tidak dapat bekerja. 2003). Pengaruh suhu : Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim.T. Dengan demikian. penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik. oksidasi oleh udara atau senyawa lain. Dengan kenaikan suhu lingkungan. dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum Laju reaksi A B Suhu optimum t0 Pengaruh suhu terhadap laju reaksi enzimatik Pada gambar tampak bahwa di luar suhu optimum. Simanjuntak. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu optimum. yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu. Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum.2000). Di samping itu.

Enzim di atas suhu optimum. Dalam peningkatan suhu ini. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. b. kompleks ES akan sukar terbentuk. gerak termodinamik akan lebih meningkat. 2002 ): R adalah gas yang bernilai 1. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. Oleh karena itu. Pengaruh pH : . Pada daerah suhu yang lebih tinggi (sisi B pada gambar). Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat.987 kal per derajat per molar. melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum. T adalah suhu mutlak. sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. I II Interaksi enzim-substrat dalam suhu berbeda. Akibatnya. II. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. selain gerak termodinamik meningkat. enzim dalam suhu optimum. Pada sisi A dari kurva terdapat hubungan tertentu antara kenaikan suhu dengan laju reaksi. molekul protein enzim juga mengalami denaturasi. gerak termodinamik tersebut akan makin kurang. sehingga produk juga makin sedikit. makin rendah suhu. Arrhenius secara empiris telah mengembangkan suatu rumusan umum antara laju suatu reaksi kimia dengan suhu mutlak system reaksi tersebut. I. sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. Yang dinyatakan sebagai berikut ( Mohamad Sadikin. E adalah suatu tetapan yang dinamakan energi aktivitas dan kadalah tetapan laju reaksi.kompleks ES tidak terbentuk.

Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum. enzim akan terdenaturasi. Jika dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan. Ada 2 alasan untuk menyelidiki pengaruh tingkat keasaman atau pH terhadap aktivitas emzim. sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5. Selain itu pada keaadan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat( Hafiz Soewoto.0.0 sampai 9. Kurva hubungan antara pH dengan laju reaksi suatu enzim biasanya menghasilkan gambaran seperti lonceng. untuk kemudian turun lagi sesudah plateau ) . hubungan tersebut tidak menunjukkan suatu titik puncak.Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. yang mempunyai pH optimum 2.2000) . pada pH yang jauh di luar pH optimum. sebagai suatu protein enzim tidak berbeda dengan protein lainnya. Sebagian besar enzim bekerja aktif dalam trayek pH yang sempit umumnya 5 . 2003). Ada enzim yang mempunyai pH optimum yang sangat rendah.9. seperti yang tampak pada gambar di bawah ini Laju reaksi pH optimum Ph Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi enzim Kadang-kadang. seperti pepsin. melainkan suatu garis merata (plateau setelah kurva yang naik. Ini adalah hasil merupakan hasilpengaruh dari pH atas kombinasi factor ( 1 ) ikatan dari substrat ke enzim ( 2 ) aktivitas katalik dari enzim ( 3 ) ionisasi substrat dan ( 4 ) variasi struktur protein ( biasanya signifikan hanya pada pH yang cukup tinggi ) ( M. seperti pada enzim amylase liur. 2. sebagai produk makhluk hidup secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh ph ini terhadap aktivitas biologis dari enzim ini. Simanjuntak. yaitu : 1.T.

proses katalisis berjalan tidak optimum.2000) . protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. Karena tidak ada sistem dapar masing-masing di sekitar nilai kapasitas yang maksimum dari tiap dapar (rentangan pH di sekitar nilai pKa komponen asam tiap dapar). struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. bukan tidak mengkin ada interaksi yang merugikan antara enzim dan ion penyusun dapar dan bukan karena pH yang disebabkan dapar itu sendiri. pH tersebut dinamakanpH maksimum.Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. c. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. Bagaimana akibat dari perubahan konsentrasi enzim terhadap reaksi enzimztik itu sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini harus dicari dari pengamatan yang dilakukan atas satu seri campuran yang terdiri atas substrat dalam konsentrasi yang tetap dan enzim dalam konsentrasi yang berbeda-beda. Pengaruh konsentrasi enzim : Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Dalam gambar dapat dilihat adanya nilai pH tertentu. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Fenomena seperti ini dapat ditafsirkan sebab adanya molekul amylase dalam bentuk beberapa molekul protein yang berbeda (isozim). yaitu : . Oleh karena itu. reaksi makin cepat( Hafiz Soewoto. Akibatnaya. Pengamatan dapat dilakukan terhadap dua hal. Di luar nilai pH optimum tersebut. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E]. rentangan pH yang diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan bukan dalam rentangan antara pH 1 sampai 14. Makin besar konsentrasi enzim. Tiap molekul isozem niscaya bekerja pada pH yang sedikit berbeda. struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat keasaman dengan laju reaksi maksimum ini. dengan volume akhir larutan yang sama. Tampak adanyaplateau. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. 2002).

Fenomena itu tentu mudah dimaklumi. terhadap hubungan antara konsentrasi enzim dan kecepatan reaksi enzimatik yang dikatalisis oleh enzim tersebut. Dari pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan enzim. Dengan bertambahnya waktu. pada konsentrasi enzim yang rendah. tidak lagi berbanding lurus sejalan dengan berlalunya waktu tersebut. sehingga dengan sendirinya produk olahan enzim juga akan berkurang. Pada gambar 1 tampak bahwa makin besar konsentrasi enzim maka makin banyak pula produk yang terbentuk dalam tiap waktu pengamatan. . karena setelah selang beberapa waktu.1. Sebaliknya. hubungan jumlah produk terbentuk dengan lama reaksi enzimatik pada berbagai konsentrasi enzim. akan diperoleh kurva seperti yang tampak dalam gambar 1 dan 2. Jumlah produk 8 6 4 2 0 5 10 15 Menit Gambar 1. terhadap hubungan antara selang waktu pengamatan dan konsentrasi produk yang terbentuk pada tiap konsentrasi enzim. 2. bahwa defleksi tersebut makin jelas dengan makin tingginya konsentrasi enzim. Jika data hasil kedua pengamatan tersebut masing-masing disajikan dalam bentuk grafik. dalam jangka waktu pengamatan yang sama hubungan waktu dengan jumlah produk yang dihasilkan masih berbanding lurus. Tiap garis kurva mewakili satu konsentrasi enzim. Akan tetapi pada gambar 1 tampak pula dengan jelas. pada tiap konsentrasi enzim pertambahan jumlah produk akan menunjukkan defleksi. jumlah substrat yang tersedia sudah mulai berkurang.

Makin banyak kompleks [ES] terbentuk. makin besar konsentrasi enzim. enzim akan mengikat substrat membentuk kompleks enzim-substrat [ES]. penyimpangan juga terdapat dalam sediaan enzim dengan kemurniaan yang tinggi. sedangkan kondisi lainnya tetap. 2002 ). Dalam keadaan itu seluruh enzim sudah berada dalam bentuk kompleks E-S. sehingga diperoleh garis agak melengkung. penyimpangan disebabkan oleh senyawa pengaktif (aktivator). Penambahan jumlah substrat tidak menambah jumlah kompleks E-S. kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya. misalnya tidak adanya ion tertentu. Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat. Biasanya. Jadi. Sebagai contoh. Fungsi enzim dalam kepentingan medis. Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu di dalam sel. d. Kadang-kadang terjadi penyimpangan dari persamaan ini. meskipun ph yang diperlukan sudah dipastikan dengan menggunakan larutan dapar dan tidak hanya sekedar larutan dengan ph yang diperlukan tersebut ( Mohamad Sadikin. Laju reaksi Enzim Gambar 2. Pada konsentrasi substrat [S] melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan. pengaruh konsentrasi enzim terhadap laju reaksi enzimatik.Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. Dalam suatu reaksi enzimatik. penyimpangan ini terjadi jika enzim yang dipelajari tidak dalam keadaan murni. kemudian kompleks ini akan terurai menjadi [E] dan produk [P]. Dalam keadaan ini. maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat sampai suatu batas kecepatan maksimum (V). makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan [ES]. Pengaruh konsentrasi substrat : Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar. Sebaliknya. enzim-enzim yang berperan . sehingga mungkin terdapat senyawa-senyawa penghambat reaksi dalam jumlah yang sangat kecil. maka makin cepat laju reaksi.

6)-glukosida. Karena itu enzim intrasel seharusnya tidak ditemukan dalam serum dan bila ditemukan. Homopolimer ini terdiri atas campuran amilosa dan amilopektin.000. Enzim yang berhubungan dengan berbagai biosintesis protein berada bersama ribosom. Analisis enzim dalam serum pada dasarnya dapat dipakai untuk diagnosis berbagai penyakit. Bobot molekulnya lebih besar daripada amilosa.6)-glikosida pada titik percabangan amilopektin dan menghasilkan hidrolisis sempurna ( Staf Pengajar Kimia Organik IPB. Hidrolisis sempurna biasanya dilakukan dengan asam encer pada suhu tinggi sedangkan hidrolisis parsial umumnya terjadi secara enzimatik. pasta. Enzim α-amilase dalam saluran pencernaan ( air liur dan cairan pancreas ) akan menghidrolisis rantai lurus amilosa dan amilopektin secara acak menjadi campuran glukosa dan maltose. Ada penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu. digunakan untuk membuat lem. Dari hidrolisis parsial amilopektin.2 Pati Pati ialah polisakarida simpanan yang terdapat dalam tumbuhan tingkat tingkat tinggi. Dekstrin tidak membentuk kompleks berwarna dengan iodium. Sel darah merah penderita defisiensi G6PDH ini sangta rentan terhadap pembebanan oksidatif. sebagian besar enzim terdapat dan bekerja dalam sel dan (2) bahwa enzim tertentu dibuat dalam jumlah besar oleh jaringan tertentu. . Dasar penggunaan enzim sebagai penunjang diagnosis ialah bahwa (1) pada hakikatnya. Pada pemakaian obat-obat tersebut dapat terjadi hemolisis intravaskuler. Akhirnya tambahan enzim α-(1. Enzim β-amilase pada tumbuhan secara lebih spesifik menghidrolisis amilosa menjadi unit-unit maltose. Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien.dalam sintesis dan reparasi DNA terletak di dalam inti sel. Namun jika dihidrolisis sebagian diperoleh produk yang berbeda: amilosa menghasilkan maltose sebagai satu-satunya disakarfida sedangkan amilopektin menghasilkan campuran disakarida maltose dan isomaltosa. . Bobot molekulnya beragam dari beberapa ribu sampai 150. Enzim yang mengkatalisasi berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. Reaksi amilopektin dan iodium membentuk kompleks merah-ungu. Pati ( mailosa maupun amilopektin ) jika terhidrolisis sempurna ( semua ikatan asetal diputus ) akan menghasilkan hanya D-glukosa. tetapi dengan banyak percabangan lewat ikatan α-(1. misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PDH/ G6PD).4)-glukosida. amilosa ini menghasilkan kompleks biru-hitam yang tajam dengan iodium akibat masuknya I2 ke dalam gelung helical ynag terbentuk ketika amilosa berada dalam air. misalnya pada pemakaian obat analgetik tertentu dan obat anti malaria. Amilosa merupakan polisakarida linear dari unti-unit Dglukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-(1.2000). Amilopektin memiliki rantai tulang punggung ( backbone ) yang sama dengan amilosa. maka peningkatan aktivitas dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan atau organ tersebut ( Hafiz Soewoto. juga diperoleh campuran oligosakarida yang biasa dirujuk sebgai dekstrin. II. 2005 ). Bila enzim yang diukur dalam serum terutama dibuat oleh jaringan atau organ tertentu. berarti sel yang membuatnya mengalami disintegrasi.6)-glukosidase dapa menghidrolisis ikatan α(1.. atau kanji tekstil.

dan glukoamilase. Produk akhir yang dihasilkan dari aktivitasnya adalah dekstrin beserta sejumlah kecil glukosa dan maltosa. Enzim Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1.4glukanmaltohidrolas E.2. dan garam natrium. Bila tiba pada ikatan alfa-1.6 glikosida aktivitas enzim ini akan berhenti.6 dan alfa-1. air.2.4dan alfa-l. Enzim beta-amilase atau disebut juga alfa-l.glukan glukohidro-lase atau EC 3.html ).1. Glukoamilase dikenal dengan nama lain alfa-1.C. Enzim alfa-amilase merupakan endoenzim yang memotong ikatan alfa-1.1. Proses ini juga dikenal dengan nama proses likuifikasi pati. Sedangkan fungsi air yaitu melembabkan dan melembutkan makanan.4(http://june-s. Secara umum. 3.4 amilosa dan amilopektin dengan cepat pada larutan pati kental yang telah mengalami gelatinisasi. . tetapi hasilnya beta-glukosa yang mempunyai konfigurasi berlawanan dengan hasil hidrolisis oleh enzim a-amilase.II.6-glikosida. beta-amilase. enzim ini dapat pula menghidrolisis ikatan glikosida alfa-1. Enzim ini menghidrolisis ikatan glukosida alfa-1. bekerja pada ikatan alfa-1. Alfaamilase akan menghidrolisis ikatan alfa-1-4 glikosida pada polisakarida dengan hasil degradasi secara acak di bagian tengah atau bagian dalam molekul.4-glikosida dengan menginversi konfigurasi posisi atom C(l) atau C nomor 1 molekul glukosa dari alfa menjadi beta. Adapun fungsi garam natrium yaitu menyediakan enzim beralkali untuk kerja amylase liur.3 tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan hidrolisis ikatan glikosida a-1. Selain itu. yaitu alfa-amilase. amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang dipecah.4.3 Enzim Amilase Air liur mengandung enzim amylase liur.4.3.blogspot.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. Enzim ini memutus ikatan amilosa maupun amilopektin dari luar molekul dan menghasilkan unit-unit maltosa dari ujung nonpereduksi pada rantai polisakarida. musin.2. Enzim amylase sendiri di jelaskan di bawah ini. Fungsi dari musin yaitu lendir yang melekatkan butir-butir makanan dan melincirkan makanan.

BAB III MATERI DAN METODE III.1 Alat dan Bahan Alat : a) Beaker glass b) Tabung reaksi c) Pipet volume d) Pipet tetes e) Erlenmeyer f) Spektrofotometri g) Incubator Bahan : a) Air liur b) Larutan pati c) Larutan iodium d) Larutan pH 7 dan 11 e) Aquadest .

5 ml larutan pati ditambah dengan 0. 400 kali .5 ml larutan pH 7 (tabung A). 370.5 ml larutan pati ditambah dengan 0. 280. 600. 600 kali b) 1 ml larutan pati dimasukkan kedalam 8 tabung reaksi yang diberi tanda blangko dan uji kemudian diinkubasi pada suhu 370 selama 5 menit . Masing-asing tabung ditandai blanko dan uji. d) ditambah larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh Konsentrasi Enzim a) Air liur diencerkan dengan pengenceran 100 kali . kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit.5 ml larutan pH 11 (tabung B). o.III. 1000 C selama 5 menit c) larutan pati dicampurkan ke dalam 0. 200 kali . Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama minimal 5 menit c) campuran larutan pati dengan larutan pH yang telah diinkubasi ditambahkan dengan 0. dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) larutan pati kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi tanda blangko dan uji kemudian pasangan tabung diinkubasi pada suhu 40.2 wadah Prosedur Kerja Sebelum melakukan percobaan diambil sampel air liur dari praktikan dan ditempatkan pada Pengaruh Suhu a) air liur diencerkan 100 kali.2 ml air liur yang telah diencerkan.2 ml air liur kemudian diinkubasi selama tepat 1 menit d) ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung (untuk suhu 600 C dan 1000C dilakukan di luar penangas) e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh pH a) Air liur diencerkan 100 kali dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) 0.

061 0.043 0.183 0.150 0.066 .c) Air liur yang telah diencerkan diambil 0.175 0.142 0.194 0.2 ml (setiap konsentrasi) dimasukkan ke dalam tabung reaksi d) Larutan pati yang telah diinkubasi dicampurkan ke air liur kemudian diinkubasi tepat 1 menit e) f) Ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm g) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungakan kecepatan reaksi dengan suhu BAB IV HASIL PENGAMATAN Adapun hasil percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut : Pengaruh Suhu Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Suhu 40C 280C 370C 600C 1000C Dari data di atas didapatkan kurva AB 0.033 0.226 0.211 0.051 0.255 AU 0.189 ∆A/menit 0.245 0.

Pengaruh pH Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm dan perubahn warna yang terjadi pH 7 11 AB 0.003 AU 0.1245 0.008 Perubahan warna Coklat Biru .0315 -0.011 ∆A/menit -0.093 0.

pH 7 Kiri adalah Blanko.Dari data didapatkan kurva seperti di atas Foto di bawah ini memperlihatkan perbedaan warna hasil reaksi anatara pH 7 dan 11 Gambar1. pH 11 Pengaruh konsentrasi . Kanan adalah larutan uji Gambar2.

207 0.0025 0. suhu dan konsentrasi substrat.024 0. . ∆A/menit diindikasi kan sebagai laju reaksi BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum ini kami melakukan percobaan secara invitro mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amylase yang terdapat pada air liur dalam memecah larutan pati.185 AU 0.08 0.193 0. Faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi enzim.004 Dari data di atas didapatkan kurva Keterangan: ?A/menit pada judul tiap kurva maksudnya adalah ∆A/menit. konsentrasi ion hydrogen (pH).173 0.Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Pengenceran 100 X 200 X 400 X 600 X Konsentrasi AB 0.0017 0.120 0. Namun kami tidak melakukan praktikum mengenai pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim.189 ∆A/menit 0.174 0.005 0.200 0.01 0.019 -0.

dan dihitung kecepatan reaksi enzimatik serta dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu. Sedangkan bila suhu terlalu tinggi. Pengaruh Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas katalisis enzim.2 ml air liur kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit dan ditambahkan larutan iodium 1 ml dalam 8 ml aquadest pada masing-masing tabung. enzim menjadi tidak aktif. Lalu mencampurkan pati dengan air liur dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial. 100 C yang masing-masing suhu dibuat blanko dan uji. karena tidak terjadi benturan antara molekul enzim dengan substrat. Setelah diinkubasi larutan pati dicampurkan ke dalam 0. 60. Diluar suhu optimum aktivitas enzim menjadi tidak maksimal. Kemudian ditambahkan Larutan iodium yang akan menandakan perbedaan warna dari masing-masing perlakuan pada percobaan factor yang mempengaruhi kerja enzim. 28.Dalam praktikum kali ini digunakan bahan pati yang diindikasikan sebagai substrat. Pada ketiga percobaan perlakuan hampir sama pada pembuatan larutan uji dan blanko. Bila suhu terlalu rendah. larutan iodium ini merupakan indicator adanya karbohidrat atau tidak dalam larutan. dimana benturan yang terjadi semakin banyak maka struktur tiga dimensi dari enzim tersebut akan terganggu sehingga enzim akan mengalami denaturasi. Larutan pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. untuk suhu 600 C dan 1000 C dilakukan di luar penangas. Berdasarkan data hasil pengamatan. atau dapat dikatakan enzim akan kehilangan sifat alamiahnya. Kedua keadaan ini diakibatkan oleh benturan antara enzim dan substrat. yang kemudian diinkubasi selama 5 menit pada suhu 4. 37. Kami juga menggunakan larutan pati sebagai larutan uji untuk melihat aktivitas enzim amylase. Adapun kurva hasil percobaan memperlihatkan laju reaksi dari enzim semakin cepat seiring bertambahnya suhu ini terlihat pada kenaikan suhu dari 4oC hingga 37oC namun ketika suhu mengalami kenaikan hingga 60oC terjadi penurunan laju reaksi. Perlakuan yang sama pada larutan uji dan blanko yaitu sample yang sama yaitu larutan pati yang berfungsi sebagai substrat lalu di inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C ( untuk percobaan pengaruh suhu dan konsentrasi enzim ) yang berfungsi untuk menyamakan kondisi suhu enzim dengan suhu tubuh. Pada percoban mengenai pengaruh suhu terhadap aktiivitas enzim. Sedangkan air liur digunakan untuk mengetahui reaksi enzimatik dari enzim amylase di dalamnya. telihat peningkatan laju reaksi akibat adanya gerak termodinamik yang secara perlahan membentuk produk dan pada titik optimum ( suhu optimum ) yaitu 37oC dapat dikatakan membentuk secara . perubahan absorbansi per menit yang diperoleh dari absorbansi larutan blanko dan absorbansi larutan uji dapat dilihat dari kurva disamping. perlakuan tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya bumping selama proses pemanasan. Setelah itu dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm. Larutan Iodium digunakan sebagai indicator perubahan warna dari larutan uji. Pada keadaan pertama yaitu 4oC hingga 37oC. yang pertama kami lakukan adalah pengenceran air liur hingga 100 kali.

maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Hal ini disebabkan telalu lamanya tabung reaksi berada di luar penangas. kompleks E-S akan sukar terbentuk.sempurna karena enzim amylase yang merupakan enzim yang terdapat tubuh memilki suhu optimum 37oC. pada keadaan kedua yaitu suhu mengalami kenaikan hingga 60oC. sehingga produk juga makin sedikit dan ini terlihat ( Mohamad Sadikin. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. Tampak adanyaplateau. Dari kurva hasil percobaan terlihat semakin tinggi pH semakin tinggi nilai absorbansi yang menandakan semakin tingginya laju reaksi dari pH 7 ke pH 11. sehingga didapatkan kurva yang tidak sesuai teori. Pada umumnya enzim bekerja maksimum . pada keadaan ini perbenturan antara enzim dan substrat terus berlangsung namun keadaan ini tidak menambah laju reaksi namun mengurangi laju reaksi ini disebabkan karena enzim mengalami denaturasi sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. sehingga diperkirakan suhu dalam tabung berada di bawah 100 oC pada saat pencampuran sehingga tumbukan antara enzim dan substrat mengalami penurun dan mendekati suhu optimum sehingga menghasilkan laju reaksi yang menurun. Dari kurva terlihat bahwa pada suhu 100 oC terjadi kenaikan nilai absorbansi. Kesalahan ini terletak pada penambahan air liur yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dimana air liur yang ditambahkan hanya 1ml bukan 2ml yang merupakan tahapan pada prosedur kerja sehingga hasil absorbansi nilai ∆A/menit menjadi minus. 2002 ) dari kurva laju reaksi yang semakin menurun. Pengaruh pH Dari hasil percobaan kami tidak dapat membuktikan bahwa keasaman mengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Kurva di samping pun menjadi rancu bila dibandingkan dengan kurva antara pH larutan enizm amylase dari air liur dengan laju reaksi menurut Mohamad Sadikin (2002) Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. Akibatnya. Terlihat pada kurva di samping.

0.pada pH 5-9. 0. dan 0. Dari pengamatan warna larutan uji. struktur 3 dimensi berubah akibat ph yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. 2002).01. Sedangkan hasil pengamatan pada pH 11 menunjukan warna biru pada larutan uji setelah ditambhkan iodium. Kerja enzim amylase disini dikatatan sebagai hidrolisis parsial dan memperlihatkan bahwa enzim amylase berada pada kondisi 3 dimensi yang tepat sehingga dapat mengolah ( menghidrolisis ) karbohidrat dari larutan pati dengan sangat cepat. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. Akibatnaya. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Dari konsentrasi ini sebelum praktikum kita dapat memprediksikan jika laju reaksi akan mencapai titik tertinggi pada konsentrasi 0. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. dimana makin besar konsentrasi enzim makin banyak pula produk yang dihasilkan sehingga dapat dinyatakan bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. adanya nilai pH tertentu. proses katalisis berjalan tidak optimum. 400x dan konsentrasi yang di dapat yaitu 0.0017. Kerja enzim sebagai katalis dipengaruhi oleh pH. 300x. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. Pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim ini. pH tersebut dinamakan pH maksimum. Pengaruh konsentrasi enzim ini yaitu pembentukan produk. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya.0025 dimana laju reaksi semakin meningkat. Ini menunjukan adanya kompleks pati iodium dimana dapat diindikasikan adanya amilosa yang merupakan bagian dari pati ( karbohidrat ).01 dan titik terendah pada konsentrasi 0. 200x.0017. Pada pH 7 ini dapat dikatakan sudah tidak adanya karbohidrat ( dari larutan pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin ) karena dihidrolisis oleh amylase terlihat dengan tidak didapatkan warna biru kehitaman ( menandakan adanya amilosa) ataupun merah ungu ( menandakan adanya amilopektin )ketika ditambahkan larutan iodium. Kondisi ini terlihat dari kurva di samping kanan. konsentrasi enzim amylase dari air liur yang berbedabeda didapatkan dari pengenceran larutan air liur.01. Dari hasil percobaan pengaruh konsentrasi enzim terlihat pada pergerakan laju reaksi dari 0. Pada larutan uji pH 7 warna yang dihasilkan yaitu coklat. Di luar nilai ph optimum tersebut. namun dari kurva kita lihat enzim amylase dari air liur bekerja semakin tinggi dengan bertambahnya pH ( yaitu pH 11 yang berada di luar kisaran pH untuk enzim bekerja maksimum). Keadaan ini tidak dapat membuktikan teori yang . Keadaan ini menandakan bahwa enzim amylase pada air liur bekerja menghidrolisa larutan pati menjadi produk yang terdiri dari glukosa dan maltosa. Sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amylase tidak bekerja optimum dalam menghirdrolis larutan pati karena struktur 3 dimensi dari enzim amylase telah berubah sehingga tidak dapat mengolah substrat dengan baik.0017 hingga 0. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Pengaruh konsentrasi enzim Konsentrasi enzim mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Larutan air liur diencerkan menjadi 100x. Oleh karena itu. terlihat perbedaan warna yang signifikan antara larutan pati yang dicampurkan dengan air liur pada pH 7 dan pada pH 11 setelah ditambahkan larutan iodium.0025 hingga konsentrasi 0.005.0025. namun kondisi ini ini terus menurun pada konsentrasi 0.

Kurva yang berbeda pada hasil percobaan dikarenakan adanya kesalahan dalam prosedur kerja. Faktor ketiga yaitu konsentrasi enzim. dimana semakin tinggi konsentrasi enzim semakin banyak produk yang dihasilkan. aktivitas enzim semakin meningkat seiring bertambahnya suhu terlihat dari laju reaksi namun aktivitasnya menurun setelah melewati suhu optimum. Selain itu dapat kami simpulkan bahwa enzim amylase bekerja menghidrolis secara parsial larutan pati yang merupakan karbohidrat. Jadi. . Enzim amylase bekerja maksimum pada pH 7 dan pada suhu 37 0C. Pengenceran yang dimaksud adalah ketika mengencerkan air liur dari 100x menjadi 200x dan seterusnya. makin besar konsentrasi enzim. Kesalahan dalam prosedur kerja ini yaitu ketidaktelitian dalam pengenceran. Faktor kedua yaitu pH dimana terlihat perbedaan warna akibat kerja enzim pada pH yang berbeda. maka makin cepat laju reaksi yang tertera pada kurva ( Mohamad Sadikin. BAB VI KESIMPULAN Dari hasil percobaan maka dapat kami simpulkan yaitu enzim dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. dan aktivitas enzim dapat dikatakan bekerja cepat dan tepat pada pH optimumnya. Faktor pertama yaitu suhu. 2002).menyebutkan Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus.

com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. 2000.blogspot. Staf Pengajar Kimia Organik. 2005. http://june-s.sehingga dapat dikatakan pH 7 merupakan pH optimum dalam kerja enzim amylase.id/download/fmipa/farmasi-mtsim1. DAFTAR PUSTAKA Sadikin. 2002.pdf . Penuntun Praktikum Kimia Organik untuk Mahasiswa Program D3 Analisis Kimia. Departemen Kimia FMIPA-IPB. dkk. Soewoto.Jakarta: Widya Medika. Hafiz. Jakarta : Widya Medika.ac. Biokimia Enzim. Sedangakan suhu 37 0C merupakan suhu optimum bagi enzim amylase dalam melaksanakan kerjanya. Mohamad. Biokimia Eksperimen Laboratorium.usu.html http://library.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful