aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba MARCH 24, 2012 BY ADMIN LEAVE A COMMENT PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP

PERTUMBUHAN MIKROBA

Tujuan : Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba Dapat menarik kesimpulan dan menyikapi hal tersebut jika terlibat lagi dalam proses mikrobiologi Teori :

Kehidupan mikroorganisme umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Ada 3 macam faktor lingkungan yang mempengaruhi, yaitu : Faktor fisis, misalnya : suhu, pH, tekanan osmotik, kandungan oksigen dan lain-lain Faktor kimia, misalnya senyawa beracun atau senyawa kimia lain yang berfungsi sebagai bahan makanan Faktor biologis, misalnya : interaksi dengan mikroba lainnya Pengaruh Suhu Peranan suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme sebenarnya merupakan petunjuk adanyapengaruh suhu pada enzim di dalam sel mikroorganisme, Bila suhu rendah (di bawah optimum), aktivitas enzim juga rendah dan dengan demikian pertumbuhan mikroba menjadi lambat. Pada titik beku (di bawah minimum) semua aktivitas metrabolisme di dalam sel terhenti. Hal ini tidak hanya disebabkan karena penghambatan aktivitas enzim secara langsung, tetapi juga karena sel kehilangan air yang sangat diperlukan untuk penyerapan zat-zat makanan dan pengeluaran hasil-hasil buangan sel. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan suhu optimum : 0 – 20 °C 20 – 50 °C 50 – 100 °C Pengaruh pH Mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada jarak pH tertentu, misalnyabakteri pada pH 6,5 – 7,5, khamir pada pH 4,0 – 4,5, sedangkan kapang pada selang pH yang lebih luas. Untuk menahan perubahan pH, ke dalam medium sering ditambahkan larutan buffer (penyangga) dengan tujuan agar diperoleh pertumbuhan mikroorganisme yang baik, sebab pada pH optimumnya, pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan pH tempat tumbuhnya : = Psikrofil = Mesofil =Termofil

pH asam pH basa pH netral

: Asidofil : Alkalofil : Neutrofil

Pengaruh bahan kimia (Desinfektan) Untuk membandingkan kekuatan desinfektan alam menghambat pertumbuhan bakteri dapat digunakan cakram kertas. Pada cara ini cakram kertas dengan diameter tertentu dibasahi dengan desinfektan, kemudian diletakkan pada permukaan agar dalam cawan petri yang telah di inokulasi. Kemudian diinkubasi selama 48 jam. Jika desinfektan menghambat pertumbuhan bakteri, maka akan terlihat daerah bening di sekeliling cakram kertas. Luas daerah benda ini menjadi ukuran kekuatan daya kerja desinfektan Zat makanan yang diserap bakteri, sebagian akan digunakan untuk membangun protoplasmanya sehingga tumbuh mencapai besar tertentu kemudian membelah diri (berkembang biak)perkembangan bakteri. Bakteri berkembang biak dengan jalan membelah diri, dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4 dan seterusnya. Interval waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya:

Escherichia coli membelah diri setiap 15-29 menit Salmonella typhy membelah diri setiap 23-24 menit Sthaphylococcus tuberculosis membelah diri setiap 792-932 menit Treponema pallida membelah diri setiap 1980 menit

Bila suatu jenis bakteri dalam keadaan yang baik dan makanan yang cukup dan membelah setiap 30 menit maka 1 bakteri yang membelah diri mulai jam 09.00 maka pada jam 12.00 akan menjadi 64, pada jam 24.00 menjadi 17.000.000 dan pada jam 09.00 esok harinya menjadi 280.000.000.000.000 untunglah perkembangbiakan secepat ini tidak terjadi di alam karena banyak sekali faktor yang memperngaruhi kehidupan bakteri.

Pengaruh Lingkungan pada Pertumbuhan dan Perkembangan Bakteri

a. Pengaruh suhu

Tiap jenis bakteri mempunyai suhu optimum di mana pertumbuhannya paling baik berdasarkan hal ini bakteri dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

Golongan

Suhu Pertumbuhan Minimun Optimum Maksimum 10-15 25-37 50-60 30 40-55 60-90

Psychrophil 0 Mesophil 15-25

Thermophil 25-45 dalam satuan derajat Celcius

bakteri-bakteri patogen pada manusi termasuk bakteri mesopil. Suhu optimumnya sama degan suhu tubuh manusia (37 C)

1. Pengaruh suhu rendah. Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bakteri, bahkan ada yang tahan bertahun-tahun pada minus 70 Celcius (C) Bakteri yang patogen pada manusia umunya mati pada suhu 0 C

2. Pengaruh suhu tinggi Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila bakteri dipanaskan pada suhu di atas suhu maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri baik patogen maupun tidak dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 menit pada suhu 60-65 C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.

b. Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.

c. Pengeringan (kelembaban)

Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar ke dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab, dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang kering. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan pengeringan. Pada suasana kering ini bakteri tidak dapat merombak bahan makanan yang ditempatinya. Di laboratorium bakteri atau virus dapat dipertahankan hidup dalam keadaan kering, bila pembenihan dibekukan secara cepat kemudian dikeringkan secara cepat pula di dalam ruang vacum (hampa udara). Cara ini penting dalam pembentukan stok (cadangan) bakteri, virus, enzim, toxin, dan plasma darah, yang biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Serbuk ini sangat lyophil (suka air) karena itu pembuatannya disebut proses lyophil.

d. Keasaman (pH)

Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) agau sedikit basa (pH 7,2-7,4) tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5-7,5. Bakteri-bakteri yang patogen pada manusia tumbuhan baik pada pH 6,8-7,4, yaitu sama dengan pH darah. Beberapa bakteri dapat hidup pada suasana asam, misalnya bakteri yang hidup pada gusi manusia, yaitu Streptococcus mutans. Ada pula bakteri yang tumbuh baik pada suasana basa misalnya Vibrio cholera.

e. Pengaruh O2 dari udara

Berdasarkan responnya terhadapa 02 bebas ini, bakteri dibagi dalam 3 golongan , yaitu: Bakteri aerob (obligate aerob), yaitu bakteri yang hanya hidup di dalam lingkungan yang mengandung 02 bebas. Misalnya: Vibrio cholera, Bacillus anthracis,Corynebacterium diptheriae. Bakterii anaerob (obligate anaerob), yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung 02 bebas. Misalnya, Clostridium tetani,treponea pallida. Fakultatif aerob, yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan, baik yang mengandung 02 bebas ataupun tidak. Misalnya: Salmonella typhi, Neisseria meningitis dan Streptococcus pyogenes. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada umumnya akan lebih baik tumbuh pada lingkungan yang mengandung sedikit 02 bebas, karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

f. Pengaruh tekanan osmotik

Asam atau basa kuat dapat menghidroliskan struktur sel sehingga hancur. Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba Mengubah permebialitas membran sitoplasma sehingga lalu-lintas zat-zat yang keluar masuk ke sel mikroba menjadi kacau. Terjadi ikatan kimia. Ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzim sehingga fungsi enzim itu terganggu. Akan tetapi. LAPORAN 8 (Pengujian Viabilitas Sel Khamir dan Uji Aktivitas Ragi) VI. Pengaruh faktor cahaya terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Untuk kelangsungan hidupnya. Memblokir beberapa reaksi kimia. karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan yang ada di dalam dengan yang ada di luar sel bakteri. misalnya mengoksidasi suatu enzim. larutan hipertonis di sekitar bakteri akan menyebabkan bakteri sukar atau sama sekali tidak dapat tumbuh bahkan dapat membunuhnya. pengaruh desinfektan terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. pengaruh faktor suhu terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. termasuk air. bakteri tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan osmotik cairan di sekitarnya. Hydrolusa. Pengaruh faktor kelembaban terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Citra Aditya Bakti Tag: Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur itu terganggu. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. g. Oksidasi. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di alam. Kenyataan ini dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk mengawetkan ikan asing dan dendeng. sumber: Mikrobiologi & Parasitologi: dr.Air keluar dan masuk ke dalam bakteri melalui proses osmosis. Indan Entjang: PT. Pengaruh faktor keasaman terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. FAktorfaktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan perkembangan bakteri.Pengaruh faktor oksigen terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Misalnya preparat sulfa memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroba. Mengubah sifat koloid protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakteri. Pengaruh faktor tekanan osmotik terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. karena mempunyai membran sitoplasma yang secara aktif mengatur ke luar masuknya zat ke dalam sel bakteri. PEMBAHASAN .

pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi roti. lalu ambil satu ose sampel dan di inokulasi pada objek glas. Jika viabilitas sel rusak. Pertama-tama 40 gram tepung ditambahkan 0.1 gram ragi diawal dilakukan secara acak. Sel khamir yang masih hidup ini dapat menahan Methylen Blue. Ragi fermipan dibuat menjadi suspensi. terdispersi dalam air. Volume adonan dapat berkembang karena khamir menghasilkan gas CO2 yang membuat adonan . sehingga menjadi tidak berwarna.44 gram fermipan.Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 November 2011.2 Uji Aktivitas Ragi Praktikum selanjutnya adalah uji aktivitas ragi. Pengamatan yang dilakukan adalah pengembangan volume adonan roti yang telah dibuat. Hal lain yang mungkin terjadi adalah kondisi lingkungan tidak cocok untuk ragi dan penambahan alkohol untuk membersihkan objek glass menyebabkan sel khamir banyak yang mati. Ruang pandang yang terbatas pada mikroskop dapat menjadi salah satu penyebab ketidak-akuratan dalam menghitung jumlah mikroorganisme yang hidup dan yang mati. Campuran tepung cakra dan fermipan kemudian ditambahkan dengan aquades hangat sedikit demi sekit hingga terbentuk adonan roti yang kalis. Sel yang masih hidup masih memiliki viabilitas sel yang baik. yang selanjutnya dikocok. Adanya sampel yang menunjukkan sel mati lebih banyak dari sel hidup dapat dipahami mengingat pengambilan 0. tidak semua mikroorganisme dapat terlihat dengan baik.1 g ragi roti ditambahkan dengan 10 ml aquades steril didalam erlenmeyer. membran luar sel tidak dapat menahan cairan yang keluar masuk sel. Mikroba utama dalam ragi roti ini adalah jenis khamir Saccharomyces cerevisiae. yang menunjukkan sel khamir tersebut hidup dan yang berwarna biru menunjukkan sel khamir yang mati karena menyerap metylen blue. sehingga membran luar selnya dapat mengatur apapun yang keluar masuk sel. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa sel khamir yang mati sebanyal 33 sel dan sel hidup sebanyak 15. Praktikum kali ini terdapat dua perlakuan yaitu. Pada saat pengamatan di mikroskop kita dapat melihat dan membedakan antara sel khamir yang mati dan hidup. Pada perlakuan pertama pengujian viabilitas sel khamir. lalu lakukan pengamatan di bawah mikroskop.sebelumnya 0. Karena jarak pandang yang terbatas yaitu hanya sati sisi saja. Sel khamir ini memiliki sifat-sifat fisiologi yang stabil. Sedangkan sel yang masih hidup terlihat tidak berwarna di bawah mikroskop. bertujuan untuk mengamati jumlah sel khamir yang hidup dan yang mati. sangat aktif dalam memecah gula. dan tumbuh dengan sangat cepat. Ini dapat menyebabkan warna biru dari Methylen Blue masuk ke dalam sel. 4. untuk mengetahui pengembangan adonan dan juga karakteristik roti itu sendiri. Kemungkinan bagian yang digunakan itu adalah bagian yang sel matinya lebih banyak. Tepung yang digunakan merupakan tepung yang memiliki kadar gluten yang tinggi sehingga cocok untuk pembuatan roti. 4. yang ditandai dengan warna bening. suspensi ditetesi lagi dengan Methylen Blue. mempunyai daya tahan simpan yang lama. Adonan kalis dapat diidentifikasi dengan terbentuknya adonan yang tidak lengket dan apabila dibelah adonan tidak menjadi pecah.1 Pengujian Viabilitas Sel Khamir Ragi yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu fermipan. Selain itu. dan sel terlihat berwarna biru.

Uji Aktivitas Ragi Menit Tinggi 0’ 72 ml 10’ 74 ml 20’ 80 ml 30’ 93 ml 40’ 96 ml 50’ 97 ml 60’ 98 ml (Sumber : Dokumentasi Pribadi. tejadi pertambahan volume pada adonan setiap 10 menit. Pengembangan volume yang meningkat dapat terjadi karena suhu adonan masih optimal bagi sel khamir dan karena nutrisi yang dibutuhkan sel khamir masih banyak tersedia dalam tepung adonan. Jadi memang benar bahwa dalam adonan ragi berfungsi sebagai: . Hasil pengamatan dapat dlihat pada Tabel 1. Adonan dimasukkan ke dalam gelas ukur dan ditutup dengan cling wrap.mengembang. 2011) Berdasarkan hasil pengamatan. Tabel 1. sehingga pertumbuhan khamir meningkat. ketinggiannya juga beratambah. Peningkatan volume adonan diamati setiap 10 menit selama 1 jam.

serat roti kasar. sedangkan gas CO2ditahan oleh gluten terigu sehingga roti mengembang. Bila suhu adonan melebihi 30°C. Semakin banyak sel mati. Untuk mengoptimalkan aktivitas ragi. Memproses gluten (protein pada tepung). ragi berfungsi sebagai pengembang adonan (ragi mengkonsumsi gula yang menghasilkan karbondioksida). ragi mengkonsumsi gula dan mengubahnya menjadi gas karbondioksida. Mikroba yang berperan adalah dari spesies Saccharomyces cerevisiae. Semakin kuat gluten menahan terbentuknya gas CO2. Akibatnya aroma roti menjadi asam. . sehingga adonan mengembang. karena sel khamir hanya dapat tumbuh pada lingkungan yang anaerobik.Leavening agent (pengembang adonan). Hal ini disebabkan karena selama fermentasi. perhatikan pula suhu pembuatan adonan. maka semakin buruk kualitas ragi. jika tidak kita tutup maka tidak akan mengembang karena udara dapat masuk dan menghambat kerja dan pertumbuhan sel khamir yang ada pada adonan roti. yang terbentuk karena ragi juga memproduksi sejenis etanol). dan mengahasilkan flavour (aroma dan rasa. Menghasilkan flavour (aroma dan rasa) pada adonan. memproses gluten (membuat jaringan sehingga gas karbondioksida tertahan didalam). Pemakaian mesin (mixer) yang terlalu lama untuk mengaduk roti menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu adonan sehingga mengurangi aktivitas ragi (yeast). Tujuan dari gelas ukur tersebut ditutup dengan clingwarp dengan tujuan agar sel khamir dapat tumbuh dan berkembang. mudah keras. dan roti menjadi tidak tahan lama. KESIMPULAN Kesimpulan dari praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi adalah sebagai berikut: Dalam pembuatan roti. Pada pengujian aktivitas ragi. Ragi yang digunakan pada praktikum ini adalah ragi berkualitas buruk karena jumlah sel hidup lebih sedikit dari sel mati. Ragi roti di dalam adonan akan bekerja secara optimal bila suhunya di bawah 30°C. Etanol yang dihasilkan akan menguap selama pemanggangan. ditambahkan ragi untuk memprosesnya. V. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ragi memang benar-benar terjadi. Selama pengadukan adonan dan fermentasi. ragi roti menghasilan sedikit etanol dan gas CO2. Pada pembuatan roti. semakin mengembang volume adonan roti. maka aktivitas ragi akan berkurang sehingga fermentasi roti akan semakin lama. Dalam ragi terdapat dua sel khamir. ragi juga menghasilkan sejenis etanol yang dapat memberikan aroma khusus. sehingga dapat membentuk jaringan yang dapat menahan gas karbondioksida keluar. volume adonan bertambah tiap 10 menit. yaitu sel hidup dan sel mati.

apakah viabilitas sel khamir pada ragi yang dibuat masih tetap tinggi?Jika tidak. W. 1992.H Fleet. Ragi tersebut hanya mengembang sedikit demi sedikit bahkan ada yang tidak mengalami pengembangan sehingga dapat disimpulkan apabila ada komponen lain yang menghambat keberhasilan pembuatan ragi roti. Norman. Amilase adalah sebuah enzim yang diproduksi oleh sebagian besar organisme. Jakarta. Berikut adalah hasil penelitian mengenai pengaruh suhu pada aktivitas enzim amilase yang dilakukan pada beberapa organisme. tergantung pada tiap jenis organisme. G. Penerbit Universitas Indonesia. Dalam edisi 2010 November “Journal Protein.A Edwards. R. Jelaskan! Jawab : 10%. Bagaimana tingkat keberhasilan pembuatan ragi roti berdasarkan cara yang telah dilakukan. Gramedia Pustaka Utama. Penerjemah Muchji Muljohardjo. apa alasannya? Jawab : tidak tinggi viabilitasnya. Ilmu Pangan. Suhu optimal enzim ini akan bervariasi. dan M.” para peneliti menyatakan bahwa suhu optimal enzim amilase pada bakteri tersebut adalah 30 derajat Celcius dan aktivitas molekul berkurang hingga 65 persen pada suhu nol derajat Celcius.. Jakarta. 1987. PERTANYAAN DAN DISKUSI Berdasarkan pengamatan. Teknologi Pengawetan Pangan. sebab sudah banyak sel khamir yang mati daripada sel khamir yang masih hidup.A. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia. K. Pseudoalteromonas Arctica Sekelompok peneliti mengisolasi enzim amilase dari Pseudoalteromonas Arctica. . 1988. Wootton. Desroiser. PT.DAFTAR PUSTAKA Fardiaz.. sebuah bakteri laut lokal di Samudra Arktik yang mengelilingi pulau Spitzbergen di Norwegia. Mikrobiologi Pangan 1. Hal ini didasarkan pada hasil uji aktivitas ragi yang telah dibuat. Buckle.. mulai dari bakteri hingga manusia. Enzim amilase umumnya bekerja maksimal pada suhu tubuh normal dan aktivitasnya akan menurun seiring terjadinya penyimpangan dari suhu normal. Srikandi. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Amilase digunakan untuk memecah zat tepung menjadi gula untuk produksi energi.

1. Heliodiaptomus viduus Zooplankton air tawar. . Penelitian ini lebih lanjut melaporkan bahwa aktivitas enzimatik paling optimal terjadi pada suhu 30 derajat Celcius.25 derajat Celcius pada pH 6. PENDAHULUAN 1. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi. Para peneliti menyesuaikan suhu suatu medium yang mengandung bakteri secara bertahap dari 4 ke 22 hingga 37 dan akhirnya 80 derajat Celcius. sebagai indikator tekanan. 1994). enzim menjadi tidak aktif pada suhu 60.[] 1. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono.0. aktif pada berbagai rentang suhu. Sebuah studi yang diterbitkan dalam edisi Maret 2006 “The Turkish Journal of Zoology” melaporkan bahwa enzim amilase dalam organisme ini akan beraktivitas maksimum antara suhu 30.25 dan 70. Bacillus subtilis Sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi Juli 2009 “Biotechnology Progress” menyelidiki potensi penggunaan enzim amilase yang diisolasi dari Bacillus subtilis. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas enzim amilase tidak mengalami hambatan pada suhu mulai dari 10 sampai 50 derajat Celcius. Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya. Selain itu.25 derajat Celcius setelah dua jam dan 70. mengandung sejumlah besar amilase sekitar 2.25 derajat Celcius setelah satu jam. Dalam mahkluk hidup. Bacillus iicheniformis. Tinjauan Pustaka Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. tetapi menurun ketika tekanan dan waktu ditingkatkan. Bacillus iicheniformis Edisi Januari 1989 dari jurnal “Biotechnology and Bioengineering” melaporkan bahwa enzim α-amilase dari bakteri terisolasi.400 molekul untuk setiap gram berat badan. reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim. suhu dan waktu pada proses pasteurisasi. Mereka menemukan bahwa aktivitas enzimatik meningkat seiring dengan suhu.Studi ini juga melaporkan bahwa aktivitas enzim amilase menurun tajam pada suhu di atas 40 derajat Celcius. Heliodiaptomus viduus. sampai enzim didenaturasi pada suhu 80 derajat Celcius.

kadarnya menurun (Anonim. 1994). Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. Sebaliknya pada penyakit hati. perubahan pH sangat kecil. Misalnya. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington. 1990). 1989). sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis. bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox. hewan memiliki hanya α amilase. enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington. yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit(Wirahadikusumah. 1994). Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. 1994). Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa. 1991). kencing manis. kadarnya dalam darah meningkat. Pada sel hidup. 1991). dalam banyak kasus. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan. 1990). Dalam air. maltotriosa atau oligosakarida. kebutuhan kofaktor. . Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. larutan tidak ada gumpalan. Pada penyakit radang pankreas. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil. glikogen dan polisakarida yang lain. Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. begitu juga pada suhu ruang. Pada suhu ruang. substansi tersebut tidak berubah. Tumbuhan mengandung α dan β amilase. pH optimal. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Karena itu pada suhu 40oC. dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. Pada suhu 45°C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington. menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat.Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. gondongan. pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor. daerah temperatur. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang.

Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. 1994). Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee. 1994). misalnya ion kalsium dan ion klorida. 2. Sebagai contoh.Sifat-sifat enzim antara lain : 1. 3. dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser. yang terjadi saat perkecambahan serealia. Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Sebagai contoh. pada umumnya sekitar 4. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. 4. Ketika temperatur meningkat. hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam. laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. Pati yang merupakan . Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. (Tranggono & Setiadji. Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu. Namun dalam suatu reaksi kimia. Pada suhu yang sangat rendah. 1992). Beberapa ion anorganik.5–8. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington. 1994). pepsin. aktivitas enzim berkurang. enzim yang dikeluarkan ke lambung. 1992). Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono. Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington. pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. 1989). Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. proses denaturasi juga mulai berlangsung dan menghancurkan aktivitas molekul enzim. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. 1994). Pada suhu 100°C semua enzim rusak. dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington. Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. yaitu suhu tubuh. 1994).

c. . suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C. Tipe III : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox. α amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. dll). Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. antara lain : a. glikogen. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. produk. aktifitas enzim akan berkurang. dan gaya irisan. kofaktor. b. amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. 1991). enzim. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim. yaitu suhu tubuh. peroksidase dan fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra. kehilangan daya viskositas yang lebih cepat. α amilase mempunyai beberapa sifat. Tidak memproduksi glukosa. Pada suhu yang sangat rendah. Di dalam larutan pati. 1994). 1992). dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. Tipe II : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein. 1991). Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. Poligalakturonase. d. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian: Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein. Warna iodine akan lebih cepat hilang. Tumbuhan mengandung α dan ß amylase. di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. 1994). α amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7. dan polisakarida yang lain. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda– beda (Lee. temperatur. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr. Contohnya. pH. Untuk enzim. Proses produksi maltosa lebih lambat. hewan memiliki hanya α amylase. Pada manusia. Dalam air.polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. 1994).

spektofotometer. 11. 1994). 7. 2. beaker glass. 1995 ). penjepit.1.2. 1 ml buffer pH 7. kecambah kacang hijau. 1. 2.9. 6. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen Benedict. kecambah kacang tanah dan pepaya (menatah dan mendidih). dan 1 ml buffer pH 9 seperti tabel di bawah ini : Larutan pati Tabung Enzim = tidak dididihkan (setelah inkubasi 2 menit) Aquades Buffer pH 3 Buffer pH 5 2 4 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 4 - 1 2 3 . 3. Larutan campuran tersebut disaring dengan kain mori dan filtrat yang dihasilkan ditampung.e. larutan Buffer pada pH 3. kacang tanah segar. 12. Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr. Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. 1991 ). timbangan analitik. vortex. Alat Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah water bath. cawan dan batang porselin. 2. 8) dan ada yang dipanaskan (kelompok 9. tabung reaksi. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz. kacang hijau segar. 10. 13).5. Setelah itu ditambahkan dengan 30 ml larutan buffer. Materi 2. pipet volume. pompa. MATERI DAN METODE 2. 2.1. Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox. 1 ml buffer pH 3.2.1. Metode Kecambah dan buah ditimbang dalam beaker glass sebanyak 15 g.7. air destilasi. stopwatch. larutan pati 1%. Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno. 5. 1 ml buffer pH 5. Kemudian masing-masing tabung reaksi diberi label dan diisi dengan 2 ml larutan pati dan ditambahkan pula ke dalamnya masing – masing tabung berbeda yaitu 1 ml aquadestilata. 1992 ). Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui efek dari nilai pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim. Larutan tersebut ada yang tidak dipanaskan(kelompok 1.2. 4.1.

8719 1.1957 0.0240 0. Setelah itu.1219 0.2706 0.3391 0.4 5 Buffer pH 7 Buffer pH 9 - - - 2 - 2 Kelima tabung reaksi tersebut di-vortex.2830 0. Dengan perincian kelompok B1 + B2 & B9 + B10 Kacang Hijau Segar.9213 1.3041 0.2412 0.6193 Kelompok B1-B8 mengalami perlakuan enzim tidak didihkan dan kelompok B9-B13 mengalami perlakuan enzim didihkan.2289 0. HASIL PENGAMATAN Hasil percobaan tentang pengaruh pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.6078 5 pH 9 0.5701 4 pH 7 0. Setelah itu.1146 0.9458 0.3486 0. 2 ml larutan enzim yang didinginkan atau dipanaskan tadi ditambahkan ke masing – masing tabung reaksi dan di-vortex. B5 + B6 & B12 Pepaya Mentah.1245 1.5 ml larutan reagen Benedict ditambahkan ke setiap tabung reaksi dan diukur besar OD ( Optical Density ) pada λ 620.2080 0.4248 2 pH 3 1. 3.7878 0.9199 1.4868 0.5631 0.1180 0.2415 1. Inkubasi selama 10 menit dilakukan kembali terhadap tabung–tabung reaksi tersebut. Grafik hubungan antara nilai pH terhadap OD digambar.2120 0. dapat dilihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.4480 0. B3 + B4 & B11 Kecambah Kacang Hijau.3844 0.8561 0.1879 0.8425 0. Kemudian di-inkubasi dalam waterbath 38oC selama 2 menit.1237 0.2143 3 pH 5 0.2388 1.9005 0. Grafik 1.9581 1. Grafik Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan . 0.1968 0. Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan Tabung Kel 1 aquades B1 + B2 B3 + B4 B5 + B6 B7 + B8 B9 + B10 B11 B12 B13 0.1552 0. B7 + B8 & B13 Pepaya Matang. Tabel 1.9948 0.

Semakin tinggi suhunya. Pada percobaan kelompok B1-B8 enzim tidak dididihkan sedangkan pada percobaan kelompok B9-B13 enzim dididihkan dengan perlakuan pH yang sama dari percobaan tersebut terdapat perbedaan hasil pengamatan. Sedangkan pada bahan yang . Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. enzim akan bertahap menjadi inaktif karena terjadi perubahan struktur enzim. Sehingga jika suhu berada di atas optimal. Sesuai dengan pernyataan Gaman & Sherrington (1994). yang dapat dilihat dari nilai absorbansinya. yang ditunjukkan dengan nilai absorbansinya. Dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada kelompok B9-B13 (enzim mendidih) jika dibandingkan dengan nilai absorbansi kelompom B1-B8 (enzim tidak mendidih) memiliki nilai yang jauh lebih rendah pada bahan dan pH yang sama. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas. nilai absorbansinya semakin turun. Pada bahan yang tidak dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. Hal tersebut terlihat bahwa enzim dipengaruhi oleh panas atau suhu. pada kecambah kacang hijau pada pemberian pH 7. sedangkan pada enzim yang dipanaskan cenderung nilai OD-nya berada ditingkat absorbansi yang lebih rendah. bahwa suhu optimal enzim antara 35oC dan 40oC. 4. maka aktivitasnya akan berkurang yang terlihat dari menurunnya nilai absorbansinya. pernyataan ini sesuai dengan Tranggono & Setiadji (1989). Pada enzim yang tidak dididihkan dihasilkan nilai OD berada ditingkat nilai absorbansi yang lebih tinggi. Sedangkan pada pengaruh pH didapatkan bahwa setiap bahan memiliki nilai pH optimum untuk melakukan aktivitas enzimnya. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. data dan grafik kelompok B1-B8 dengan kelompok B9-B13 tidaklah sama. Pada enzim yang dididihkan.Pada Tabel 1 dan Grafik 1 nilai absorbansi yang didapat oleh semua kelompok berbeda satu dengan yang lain. karena enzim mengalami inaktivasi pada suhu tinggi.

Elsevier Applied Science. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C.sedangkan aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. P. hal ini sesuai pernyataanGaman & Sherrington (1994). karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Dengan menggunakan larutan buffer inilah kita mendapatkan pH yang terkontrol dan tepat. Pada suhu yang sangat rendah. Rineka Cipta. Jakarta. (1990).B. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. (1994). aktivitas enzim berkurang. Fardiaz. Gaman. Yogyakarta. Ketika temperatur meningkat. S. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Kartasapoetra. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Ensiklopedi Nasional Indonesia. (1991). Fox. (1992).G. Larutan buffer adalah larutan yang tahan panas terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. · Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. London. (1994). Sherrington. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Food Enzymology Vol 2. Nutrisi dan Mikrobiologi. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Hal ini dapat terjadi karena terjadi kesalahan saat praktikum saat pengukuran absorbasi atau mungkin juga setiap bahan yang berbeda memang memiliki pH optimumnya masing-masing. 6.M & K. Gramedia Pustaka. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. yaitu suhu tubuh. KESIMPULAN · Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum. Jakarta. Akibatnya daya kerja enzim menurun. 5.F. Pengantar Ilmu Pangan. · Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang. P.dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. · Nilai absorbansi pada percobaan ini dapat menunjukkan nilai aktivitas enzim yang dipengaruhi oleh pH dan suhu tertentu. pada kecambah kacang hijau pada pemberian aquades.A. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim tapi suhu yang terlalu tinggi pun dapat mendenaturasi enzim. menurutGaman & Sherrington (1994) semakin besar atau basa pH yang digunakan maka semakin rendah nilai OD-nya dikarenakan enzim mengalami denaturasi. dan pada suhu 100oC enzim rusak. Mikrobiologi Pangan 1. Seharusnya.PT Cipta Adi Pustaka. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Universitas Gadjah Mada press. Ilmu Pangan. . Jakarta.

Biokimia dan Teknologi Pasca Panen. inilah yang disebut golongan euritermik. Martoharsono. Thermal Death Time (TDT) Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas temperature yang sempit. Petunjuk Laboratorium Biokimia Pangan. Bandung. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 40 C atau lebih. optimum 55C-60 C. (1992). New Jersey.L & L. Institut Teknologi Bandung. D C Health ang Company. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian . umumnya hidup di dalam alat pencernaan. J. Berdasarkan daerah aktivitas temperatur.B. golongan mikroba yang memiliki batas temperatur minimum dan maksimum tidak telalu besar. Prentice Hall Inc. M. Biochemical Engineering. Mikroba psirkofilik (kryofilik) adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperatur antara 0 C sampai 30 C. Yogyakarta. Gajah Mada university Press. dan asam nukleat. S. Yogyakarta. Tranggono & Sutardi. sedangkan maksimum 75 C. Yogyakarta.Lee. disebut stenotermik.Fieser. b. United States of America.S. mikroba akan mengalami kematian. Bila mikroba dipiara dibawah temperatur minimum atau sedikit diatas temperatur maksimum tidak segera mati. dengan temperatur optimum 15 C.F. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperature tinngi. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. c. kebanyakan golongan ini tumbuh d tempat-tempat dingin. (1989). Biokimia jilid 1. melainkan dalam keadaan dormansi (tidur). enzim. (1990). (1994). sehingga beda (rentang) antara temperatur minimum besar. Biokimia : protein.K. (1989). Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. M. Wirahadikusumah. minmum 40 C. misalnya Gonococcus yang hanya dapat hidup pada kisaran 30-40oC. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Biasanya. yaitu: a. Tranggono. mikroba di bagi menjadi 3 golongan. baik di daratan maupun di lauatan. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. Organic Experiment 7th Edition. Tetapi Escherichia coli tumbuh pada kisaran temperatur 8-46oC. Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. (1992). spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Gadjah Mada University Press. golongan ini terutama terdapat di dalam sumber-sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bertemperatur lebih tinggi dari 55 C. Williamson. Mikroba mesofilik adalah golongan mikroba yang mempunyai temperatur optimum pertumbuhan antara 25 C-37 C minimum 15 C dan maksimum di sekitar 55 C.

Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu. Tidak seperti species lain seperti sejarah. Bacillus subtilis selnya berbentuk basil. Sebagian motil dan adapula yang non motil. Definisi mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut. Biasanya bentuk rantai atau terpisah. bios = hidup dan logos = ilmu. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang membusuk. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif. Baccillus subtlis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun kontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan makanan. kelembaban. mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup. ada yang tebal dan yang tipis. atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak benar. temperatur. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis 20-30 19 20-50 57 60 100 100 Suhu (0C) Spora Clostridium botulinum 100-330 KARAKTERISTIK BACILLUS SUBTILIS Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. pH dan komposisi medium. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap.pada suatu temperatur. katalase positif yang umum ditemukan di tanah. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. Hal inilah yang . misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung alkohol. bentuk dan jenis spora. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan pada roti. mikros = kecil. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval. umur mikrroba.

Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang penting di bidang kesehatan maupun industri makanan. hewan maupun tumbuhan. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa informasi genetik pada semua organisme dari mikroba hingga manusia adalah DNA. Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia. yang penting lainnya adalah mekanisma kimia oleh mikroorganisme sangat mirip dengan unity in biochemistry yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisme adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Leewenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai. Leewenhoek dan Mikroskopnya Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. . Pengambilan informasi genetika dari mikrorganisme karena sifatnya sederhana dan perkembangbiakan yang sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabolisma. Mikroorganisme juga merupakan sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat. Sebenarnya ia bukan 3 orang pertama dalam penggunaan mikroskop. alga. Strain-strain dari mikroorganisme yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat diterima. Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British Royal Society. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. Kemampuan mikroorganisme yang telah direkayasa untuk tujuan tertentu menjadikan lahan baru dalam mikrobiologi industri yang dikenal dengan bioteknologi. Mikroorganisme juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk membersihkan lingkungan. mengagumi mikroorganisme seperti bakteri. misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai sumber energi. Belanda. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200–300 kali. tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi. misalnya: dari tumpukan minyak di lautan dipergunakan sebagai herbisida dan insektisida di bidang pertanian. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil. Tetapi banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang. Hal ini karena mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mendekomposisi/menguraikan senyawa kimia komplek. kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri. protozoa dan virus merupakan organisme yang sering tidak terlihat. Saat ini mikroorganisme diteliti secara insentif untuk mengetahui dasar fenomena biologi. saliva. Jika anda membaca tentang mikroorganisme anda akan menghargai. Antara tahun 1632–1723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. air hujan. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. Sekarang insulin yang dibutuhkan manusia dapat diproduksi dalam jumlah tak terhingga oleh bakteri yang telah direkayasa. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan animalcule yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Disamping itu. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf.disebut dengan biohemial divesity atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisme. sekarang dikenal dengan protozoa. feses dan lain sebagainya.

demikian juga jasat renik.Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu labih dari 100 tahun. Pengaruh Suhu atau Temperatur Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. . melalui fermentasi misalnya. Untuk sterilisali. optimum dan maksimum. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. . Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada yang bersifat sementara. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis. dan termofil. perubahan ini dinamakan perubahan secara kimia. sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia).bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)-nya. Pendapat atau teori ini disebut biogenesis. Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal animalcules tersebut. ü Faktor – faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme 1. mesofil. satu mengatakan animacules ada karena proses pembusukan tanaman atau hewan. Mikroba Dengan Lingkungan Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar. tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun menurun. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. Ada dua pendapat. Misalnya. akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi. dan faktor biotik. sebaliknya . Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Pendapat ini mendukung teori yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis. Beberapa mikroba dapat pula mengubah pH dari medium tempat hidupnya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar.

Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. Bakteri patogen yang biasa hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. Biasanya. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap spesies. karena spora sangat sedikit mengandung air. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain.Tapi tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. pada temperatur yang sama. Berhubung dengan ini. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. . kita belum tahu. buih tidak membeku sekeras air beku.Di dalam keadaan basah. Berdasarkan ini. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. Sedikit perubahan pH menuju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terus menerus. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Sebagai contoh. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190°C).

GRAFIK SUHU PADA BAKTERI Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. . Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. yaitu: Bakteri termofil (politermik).

kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. . Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C.Bakteri mesofil (mesotermik).

Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas suhu yang sempit. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46°C. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik.Gonococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. . Pada umumnya dapat di pastikan. misalnya. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum.Bakteri psikrofil (oligotermik). sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C.

BAKTERI GONOCOCCUS .

Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. bentuk dan jenis spora. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering. Kelembaban dan Pengaruh Kebasahan serta Kekeringan Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora. itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam. air akan menguap dari protoplasma. konidia atau dapat membentuk kista. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. Pada proses pengeringan. jika digesekkan di atas kaca obyek. apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah. gula.yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis. kelembaban. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan.BAKTERI ESCHERICHIA COLI Bakteri yang diplihara di bawah Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium botulinum 20-30 19 20-50 100-330 57 60 100 100 Suhu (0C) 2. pH dan komposisi medium. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. temperatur. Sebaliknya. misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. umur mikrroba. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. Meningococcus. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah Bakteri yang ada dalam medium susu. bahkan dapat hidup di dalam air. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa. Pengeringan ditempat yang terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada . Biasanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. mikroba akan mengalami kematian. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Banyak bakteri yang mati jika terkena udara kering.spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering.

0-7. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur.0 . Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin).5-8. Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium. (3) mikroba halodurik. maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis.5 Suhu.0 Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % (aw = 0. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. sel membengkak dan akhirnya pecah. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah. Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman. maka selnya akan mengalami plasmolisis. rhizobia. misalnya Lactobacilli. dan Sarcina ventriculi. dan bakteri pengguna urea. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis. misalnya Halobacterium. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2. dinding selnya terdiri dari murein. sehingga tahan terhadap ion Natrium. Acetobacter.0 Maksimum 9. 4.4-9. Contohnya adalah bakteri nitrat. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri.pengeringan ditempat yang gelap.4 optimum 6. (2) mikroba halofil. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. actinomycetes. Kadar Ion Hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). lingkungan. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi. umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. 3. Pengaruh Perubahan Nilai Osmotik Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Nama mikroba Ph minimum Escherichia coli 4. kadar garamnya dapat mencapai 30 %.0-5.94). yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel. adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi. tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer.

0-7.0-7. plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi. terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam.0 8.6-7. deterjen.0 6. Cara kerja buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH- 5.Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans Lactobacillus acidophilus 4.8 Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan. tidak begitu berbahaya.6 6. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel. sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. maupun senyawa-senyawa organik amfoter.6 2. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik. ruang-ruang penyimpan daging.0-2. dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis.0-4.0-8. pengaruhnya lebih buruk. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil.4 10. Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan bentuk morfologinya. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapaPseudomonadaceae. .6 1. sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultraungu.6 5. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan.8 7. maka apabila ada perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma.0-7.4 4.8 7. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara.0 6.4 9. Sinar yang nampak oleh mata kita.4 5.0 4. air. 6. yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lebih dekat.0 9.0 6.5-9.0-5.2.0-7.6-8. jika kertas-kertas pembungkus makanan. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7. yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya.8-6. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali. Pengaruh Sinar Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis.6 6. ruang-ruang pertemuan.6 8.0 4.8 5.0 6.6 8. yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ. Alangkah baiknya. Zat-zat seperti sabun. bakteri bahkan dapat mati seketika.0-6.0 8.

Klor didalam air menyebabkan bebasnya O2. Beberapa Desinfektan dan Antiseptic adalah sebagai berikut : Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Depresi dan ketegangan permukaan Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. efeknya lebih baik. . Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. c. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. Karbol ialah lain untuk fenol. Koagulasi atau penggumpalan protein Zat seperti perak. b. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri. virus. lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. sehingga desinfektan menjadi menarik. sehingga zat ini merupakan desinfektan. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. dan jamur. Kulit dapat terbakar karenanya . B. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Oksidasi Zat zat seperti H2O2. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap. · a. e. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai.Na2BO4 mudah benar melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium. d. alat-alat seperti gunting. Yodium Yodium-tinktur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol. etanol menyebabkan terjadinya penggumpalan protein. C. Jika dicampur dengan air murni.ü Faktor – faktor kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme Pada umumnya kerusakan bakteri dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : A. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Dan protein yang menggumpal itu telah mengalami denaturasi dan tidak dapat berfungsi lagi. sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol. tembaga dan zat-zat organik seperti fenol.

Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. lagipula tidak menyebabkan sakit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. bakteri dapat tumbuh biasa.Penggunaan obat-obat ini. Hijau berlian. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. ü Faktor – faktor Biologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme a. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Sering terjadi. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. Asam-paminobenzoat memegangperanan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. dan antar . Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. g. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling mempengaruhi. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. melainkan juga merupakan bakterisida. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandungempat bagian. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. hijau malakit. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah. fuchsin basa. Gonococcus. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous(indigenous).Pneumococcus. kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhan bakteri gram positif. h. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat.f. serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. karena zat ini tidak merusak jaringan. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat.

atau fase istirahat (spora. atau dalam keadaan nutrien terbatas. maka disebut sintropisme. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic Methanobacterium. misal dalam keadaan kering beku. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap populasi mikroba lain. atau antibiotika. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah. Amensalisme (Antagonisme) Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan. Sinergisme Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. Thiobacillus thiooxidans menghasilkan asam sulfat. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum dengan Paramaecium aurelia. Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. Contohnya adalah: Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein. Parasitisme . Asam-asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae. Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif. yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup dan pertumbuhannya. c. g. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium yang dapat menghambat populasi Nitrobacter. d. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan samasama mendapat keuntungan. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam. toksin. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama. Mutualisme sering disebut juga simbiosis. Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens). Senyawa organik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont). Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang menggunakan nutrien / makanan yang sama. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. e. f. kista). b. Kompetisi Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya mengalami kerugian. Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang mengubah etanol menjadi asam asetat. pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh apapun. atau proses pembersihan air secara alami.mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah.

beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Cara ini jugadigunakan untuk penyimpanan dan pemeliharaan egativ mikroba yang belum diketahui cara penyimpanan jangka panjangnya. Jamur Trichodermasp. terutama yang berbentuk batang dan bereaksi Gram egative seperti Pseudomonas dapat disimpan cukup lama dalam akuades steril pada suhu ruang atau suhu 1015oC. Cara Bakteri Mempertahankan Viabilitas : 1. Pada kondisi penyimpanan ini bakteri yang disimpan masih berpeluang tumbuh dengan lambat.wikipedia. Namun. Umumnya parasitisme terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. di antaranya kemungkinan terjadi perubahan egativ melalui seleksi varian. Teknik ini mempunyai berbagai kendala. Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. 2. Mikroorganisme seringkali berhttp://id. dan Curtobacterium. populasi satu diuntungkan (parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E. Kendala tersebut memberi peluang yang lebih besar terjadinya kehilangan isolate dibandingkan dengan teknik lain. misalnya pada anggota genus Pseudomonas. Teknik ini merupakan cara paling tradisional yang digunakan peneliti untuk memelihara koleksi egativ mikrobadi laboratorium. Agrobacterium. Meskipun demikian. coli. Peremajaan Berkala Peremajaan dengan cara memindahkan atau memperbarui biakan mikroba dari biakan lama ke medium tumbuh yang baru secara berkala. Penyimpanan dalam Akuades Steril Beberapa jenis bakteri. Ukuran parasit biasanya lebih kecil dari inangnya. memparasit jamur Agaricus sp.Parasitisme terjadi antara dua populasi.org/wiki/Sel_%28biologi%29&#8243. Mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik. banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dalam tabung agar miring yang tertutup rapat hingga sepuluh tahun atau lebih. PEMBAHASAN Upaya Mempertahankan Viabilitas Mikroorganisme Akibat Pengaruh Lingkungan : Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajarimikroorganisme.Virus juga termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler. peluang terjadinya kontaminasi. Tahap penyimpanan mikrobadalam akuades steril adalah se-bagai berikut: . Penyimpanan dengan cara ini juga memungkinkan terjadinya kontaminasi. Peremajaan berkala tidak dianjurkan untuk penyimpanan jangka panjang. Tidak semua bakteri dapat disimpan dengan baik menggunakan cara ini. dan terjadi kekeliruan pemberian label. misalnya sebulan atau dua bulan sekali. Oleh karena itu.>sel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (multiseluler). Terjadinya parasitisme memerlukan kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif lama. sehingga tidak dapat dijamin stabilitas genetiknya untuk jangka panjang. cara ini lebih dianjurkan sebagai alternative penyimpanan jangka sedang atau sebagai pendamping penyimpanan jangka panjang. baik didalam suhu ruang maupun dikulkas hal ini menunjukkan adanya kinerja bakteri dalam mempertahankan viabilitas perkembangannya.

Cara penyimpanan dalam minyak mineral menurut adalah sebagai berikut : Penyediaan tabung reaksi dengan tutup berdrat atau botol McCartney berisi medium agar miring yang sesuai untuk mikroba yang akan dipelihara. tabung dikocok hingga suspensi merata. Penyimpanan dalam Minyak Mineral Salah satu cara sederhana untuk memelihara biakan bakteri. diautoklaf pada suhu 121oC selama 60 menit. Menumbuhkan mikroba yang akan disimpan dalam tabung agar miring selama 24–48 jam dan memeriksa kemurnian biakan untuk menghindari kontaminasi.Akuades steril disiapkan dalam botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml. tetapi kurang praktis untuk ditransportasi. Botol ditutup rapat dan disim-pan pada suhu ruang atau suhu10-15oC Uji viabilitas mikroba dan peme-liharaan stok isolat dilakukanse-cara rutin. sehingga waktu peremajaan dapat diperpanjang hingga beberapa tahun. mengocok tabung hingga diperoleh suspense pekat bakteri (108-109sel/ml). Mikroba yang akan disimpan ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni pada medium agar miring yang sesuai. Penumbuhan kembali biakan dilakukan dengan mengambil botol dari tempat penyimpanan. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri langsung ke dalam tiap botol yang berisi air steril dan mengocok hingga merata. keberadaan minyak mineral mengakibatkan peremajaan menjadi kotor. Beberapa jenis jamur dapat bertahan hidup sampai 20 tahun. Mikroba yang akan dipelihara ditumbuhkan pada tabung berisi medium agar miring atau medium cair (broth) yang sesuai. mengocok. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri ke dalam tabung reaksi berisi 3-5 ml akuades steril. dan mengambil satu ose suspense dan menumbuhkan pada medium cair atau langsung pada medium agar yang sesuai. Teknik ini sederhana. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. kemudian permukaan biakan ditutup dengan minyak mineral steril setinggi 10-20 mm dari permukaan atas medium. 3. Daya tahan hidup mikroba lebih baik apabila biakan disimpan pada suhu kulkas (4oC). Penyediaan minyak mineral atau parafin cair steril. Disamping itu. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. Dasar teknik penyimpanan ini adalah mempertahankan viabilitas mikroba dengan mencegah pengeringan medium. . Biakan bakteri berumur 24-48 jam disimpan dengan beberapacara seperti: Menambahkan 3-5 ml akuades steril ke dalam biakan miring. khamir dan jamur adalah dengan cara menyimpan dalam tabung agar miring dan menutup dengan minyak mineral atau parafin cair. 5-10 ml/botol atau dalam tabung ependorf.

Setelah mikroba tumbuh baik. parafin cair steril dimasukkan ke dalam botol secukupnya. Mikroba yang disimpan diuji viabilitasnya setiap tahun dengan menumbuhkan pada medium agar. memindahkan dan mensuspensikan pada medium cair. Selanjutnya. botol dioven kering pada suhu 105oC selama satu jam dan setelah dingin disimpan di dalam desikator hingga digunakan. yaitu biaya murah.very) mikroba (bakteri. Minyak mineral mengapung di permukaan suspensi dan sebagian suspensi digoreskan pada medium agar yang sesuai. Teknik ini mempunyai beberapa keuntungan. dan bakteri yang membentuk spora seperti Bacillus sp. juga dapat disimpan dengan baik dengan cara ini. dan Clostridium sp. Suspensi mikroba yang akan disimpan (sel. paling tidak setiap tahun. Biakan jamur digoreskan langsung pada medium agar. sehingga permukaan parafin atas berada 10-20 mm di atas permukaan medium agar. miselia) dibuat dalam larutan steril pepton 2% dalam akuades. Penumbuhan kembali (reco. penyimpanan pada suhu ruang. sterilitas tanah diuji dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar.. . Cara penyimpanan dalam tanah steril adalah sebagai berikut: Diambil tanah yang agak liat. Suspensi mikroba (0. Uji viabilitas mikroba dan pemeliharaan isolat dilakukan secara periodik dan rutin.1 ml) di ambil dengan pipet steril dan di masukkan ke dalam tiap botol yang telah disiapkan. Teknik penyimpanan mikroba pada tanah kering terutama berguna untuk fungi. 4... Botol dikembalikan ke desikator untuk disimpan di dalamnya atau setelah kering diambil dan disimpan di ruangan. hingga 20 tahun atau lebih. Streptomyces sp. Tanah yang sudah kering dan di ayak dimasukkan ke dalam tabung atau botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml hingga1 cm dari permukaan tutup. Rhizobium sp. khamir) dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian biakan dari tabung. Tabung atau botol yang berisi tanah diberi akuades steril hingga kebasahan 50% kapasitas lapang. dan stabilitas genetik mikroba dapat dipertahankan. Penyimpanan Dalam Tanah Steril Banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dengan baik pada tanah kering yang disimpan pada suhu ruang untuk waktu yang lama. di kering anginkan dan diayak untuk memisahkan partikel tanah yang agak besar dan membuang sisa-sisa tanaman. kemudian diautoklaf pada suhu 121oC tiga kali berturut-turut selama tiga hari masing-masing selama satu jam. spora atau konidia. Bila mana diperlukan. Botol biakan yang telah diberi parafin cair disimpan pada suhu ruang atau dikulkas..

Cara bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika Meminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus. Suspensi pekat bakteri (108-109 sel/ml) dibuat dalam larutan pepton 1%. Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik satu bundaran kertas filter dari botol penyimpanan. Beberapa tetes suspensi mikroba dimasukkan secara aseptic ke dalam botol yang berisi kertas filter hingga menjadi jenuh air. tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. Sebagai pengganti lempengan gelatin digunakan bundaran potongan kertas filter steril. memindahkan ke medium cair diikuti dengan menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai atau langsung dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. Biakan mikroba disimpan dalam serum kuda yang ditempatkan dalam tabung gelas kecil atau ampul. memindahkannya ke medium cair. serta menginkubasikan pada suhu optimal untuk pertumbuhan mikroba. Tahapan teknik penyimpanan bakteri menggunakan potongan kertas filter menurut adalah sebagai berikut: Mikroba yang akan disimpan dibiakkan pada medium yang sesuai.. data tentang keefektifan penyimpanan dan daya tahan hidup bakteri dalam penyimpanan masih sedikit. Penyimpanan Menggunakan Potongan Kertas Filter Teknik penyimpanan ini mirip teknik penyimpanan dengan lempengan gelatin. karena mula-mula ditemukan oleh Sordelli(Lapageet al. paling tidak setiap tahun. Namun demikian. 25-50 bundaran kertas filter/botol. 5. susu skim 1%. kemudian ditutup rapat dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. 6. tergantung pada strain mikroba yang disimpan. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak . Teknik ini juga sederhana dan mudah. 1970). dan jamur. Mikroba tersebut dapat bertahan hidup dengan baik selama 5-28 tahun. Tabung ini ditempatkan di dalam tabung lain yang lebih besar berisi sedikit fosfopentaoksida (P2O5) dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. atau Naglutamat 1%. Penyimpanan In Vacuo dalam Gas Fosfopentaoksida Teknik penyimpanan ini disebut juga teknik Sordelli. Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. dimasukkan ke dalam botol kecil ukuran 10 ml dengan tutup berdrat. sehingga perlu diteliti lebih lanjut. Teknik ini sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bakteri. Isi botol dikering vakumkan menggunakan alat vaccum freeze dryer . tetapi sangat efektif untuk penyimpanan bakteri. menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai. Uji viabilitas bakteri dilakukan secara periodik dan rutin. Bundaran kertas steril dibuat dengan alat pelubang kertas. khamir. Botol disterilkan de-ngan oven 105oC selama 1 jam.Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian contoh tanah dari botol penyimpanan.

Struktur permukaan kapsul tersusun atas gel hidropilik yang menghambat kerja fagositosit. gel tersebut mengandung sebagian besar molekul yang tersusun atas polimer glukosa dan asam glukuronik. Pada fase eksponensial. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai komplemen saat tidak ada antibodi. polymorph granula meledak sehingga bagian sel keluar ke sitoplama.Isolat dari Streptococcus agalactiae memproduksi kapsul polisakarida. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan. berkombinasi dengan 2acetamido-2-deoxyglucose. Pada 3 tipe Pneumococcus. Kapsul polisakarida tersebut merupakan faktor virulensi yang penting. Setiap seseorang menggunakan antibiotika. Komposisi kimia penyusun gel tersebut telah teridentifikasi pada beberapa bakteri. Beberapa pathogen membentuk suatu mekanisme untuk menetralisasi senyawa toksik yang dihasilkan oleh fagositosis. dan 1-2 penambahan polymorphs. Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh pathogen: ü Kapsul anti Fagositosit Beberapa bakteri terhindar dari Fagositosis dikarenakan memiliki kapsul. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi. maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada. Beberapa diantaranya dapat memperbanyak diri dalam jaringan. Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. membantu sel untuk fungsi pencernaan.sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran. tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis. dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklah opsonik. tetapi ketika sudah cukup banyak enzim dikeluarkan ke sitoplasma mengakibatkan sitoplasma meluruh dan sel . Enzim lisosom terkurung di vakuola fagosit. pertumbuhan kapsul sangat tinggi dan organisme tervirulensi dan pada fase stasioner pertumbuhan kapsul akan menurun dan organisme yang tervirulensi berkurang. namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dari infeksi neonatal. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran residu asam sialik. Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperature tinggi. frekwensi dan lama penggunaan obat). Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semua serotype. melepaskan materi yang dapat membunuh fagosit. yang memberikan muatan negatif. tumbuh & bereproduksi. Sedangkan beberapa bakteri lainnya (Bacillus megaterium) mengandung protein dan karbohidrat. menjauhi bahkan membunuh fagositosit. Streptococci pathogen mengeluarkan haemolisin (streptolisin) yang dapat melisis sel darah merah dan berperan dalam meracun polymorphs dan makrofag. N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik. Kapsul sangat berpengaruh terhadap kemampuan fagositosit. Pada Bacillus antrachis mengandung polipeptida asam D-glutamic. Streptolysin O mungkin berikatan dengan kolesterol pada membran sel. ü Produksi Senyawa Kimia Untuk Membunuh Fagosit Banyak antifagosit membunuh fagosit dan sukses menginfeksi.

Streptolysin S lebih berpotensial pada membrane. Beberapa Chlamydia memperbanyak diri di dalam makrofag setelah difagositosis dan merusak sel dengan menginduksi keluarnya kandungan lisosom ke dalam sitoplasma.pyrogenes melakukan banyak strategi untuk menghindari system kekebalan tubuh. Listeria monocytogenesmengeluarkan toksin sitolitik. dimungkinkan karena lisosomnya lebih mudah dikeluarkan. Staphylococcus aureus memproduksi komponen pigmentasi yang disebut carotenoid yang dapat menetralisir singlet oxygen dan melindungi diri dari pembunuhan. Tergolong pathogen intraselular yang tumbuh dan hidup didalam sel fagositik. Umumnya merupakan patogen ekstraseluler yang dapat bertahan dan dapat hidup lama didalam inang dengan cara menghindari mekanisme pertahanan inang. membuat fungsi sebagai”suicide bags”. Tergolong menjadi 2 protein antigen. Streptolysin membuat kerusakan pada lisosom. berperan sebagai sinergis pada membrane leukosit dan menyebabkan keluarnya granula lisosom seperti pada Streptolysin O. tetapi dimungkinkan karena Mycoplasma merusak polymorph. Tidak ada haemolytic leucocidin yang diproduksi berhubungan dengan virulensi staphylococcal. Fagosit dapat dikatakan mati akibat keracunan makanan. Tetapi adanya antibody pada mycoplasama terjadi absorpsi. Ketika komponen ekstraseluler Mycoplasma hominis ditambahkan pada polymorph manusia secara in vitro maka tidak terlihat secara jelas adanya absorbsi yang dilakukan oleh Mycoplasma di permukaan polymorh.mati. Entamoeba histolytica dapat membunuh polymorph dengan kontak fisik. ingesti dan digesti. Bakteri ini menggunakan glikolipid dinding sel untuk mengabsobsi radikal hidroksil. Brucella dan Listeria banyak memperlihatkan virulensi dengan memperbanyak diri didalam makrofag. mengingat avirulen shigella pasti melakukan hal yang sama dan akan terbunuh dan dimakan. Secara umum. polymorph lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan makrofag. Leishmania parasit mampu modulasi fungsi makrofag banyak dalam rangka untuk mempromosikan kelangsungan hidup dalam host. Streptococcus pyogenes merupakan pathogen pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit infeksi kulit ringan sampai sistemik. Sehingga S. anion superoksida dan oksigen yang toksik bagi beberapa spesies yang diproduksi oleh fagosit. Berbagai macam haemolysin dikeluarkan oleh Staphylococci pathogen dan dapat membunuh fagosit. . Virulen intraseluler bacteria Mycobacterium. yang ditunjukkan dengan peningkatan oksidasi glukosa dan membuat cacat pagosit E. Sementara kita telah melihat bahwa lapisan permukaan parasit bertanggung jawab untuk memicu banyak dari efek ini.coli hingga mati. Sebagai contoh. kita tidak langsung membahas mekanisme intraselular di mana sinyal dikomunikasikan. virulen shigella membunuh makrofag tikus setelah fagositosis. Makrofag biasanya dihancurkan dan mekanismenya belum diketahui. Beberapa jalur sinyal intraselular yang dimodulasi oleh Leishmania dibahas dalam bagian berikutnya : Mycobacterium tuberolosis menyebabkan tubercolosis. ü Menghambat dengan cara Absorpsi pada permukaan sel fagosit Ada cara yang dilakukan mikroorganisme untuk menghindar dari fagosit tanpa meracuni fagosit. Kegagalan dari absorpsi tidak diketahi dengan jelas. termasuk faringitis dan impetigo. mengeluarkan substansi cytotoxic secara langsung melalui dinding vakuola dan kedalam sel. Peranan lain dari aksi toxic pada fagosit setelah fagositosis telah diambil alih.

sitokinase TGF-β dan IL-10. bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. Berharap semua ini dapat diterima dan dimaknai dengan baik sehingga kita mampu menjadi orangorang yang senantiasa BERSYUKUR atas seluruh NIKMAT yang ALLAH berikan pada kita disetiap keadaan. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. Biasa bakteri yang memiliki kapsul resisten terhadap fagositosis. Leishmania merupakan parasit yang dapat menghindari makrofag dengan cara meninduksi produksi atau sekresi beberapa sinyal molekul immunosuppressive seperti metabolit asam arachidonik. Efeknya terjadi pada tipe sel yang berbeda.” TAUSYIAH “ALLAH menguji KEIKHLASAN bila sendirian. silih bergantinya malam dan siang. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” Q. lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan.Streptococcus pneumonia Merupakan salah satu bakteri yang memiliki pertahanan terhadap fagositosis berupa kapsul. baik secara langsung maupun tidak langsung tergantung dengan respon normal terhadap imun dan kemampuan parasit.S ASY SYUURA 29 Artinya : “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhlukmakhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penulisan tentang “UPAYA MEMPERTAHANKAN VIABILITAS MIKROORGANISME AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN” maka dapat disimpulkan bahwa : . hal ini tersirat dalam beberapa ayat di dalam Al-Quran diantaranya dalam: Q.S AL BAQARAH 164 Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. KAJIAN RELIGI Di dalam Al-Quran secara tersirat Allah SWT telah menyiratkan akan pentingnya pengaruh lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup yang ia ciptakan termasuk mikroorganisme yang juga merupakan salah satu contoh makhluk hidup ciptaan Allah SWT. ALLAH memberi kita KEDEWASAAN bila ada MASALAH. Karena kapsul dapat melindungi sel bakteri. kecuali menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK”. ALLAH melatih KESABARAN kita dalam KESAKITAN. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air. ALLAH tidak pernah mengambil sesuatu yang kita sayang dan kita cintai.

2011. pengaruh perubahan nilai osmotic. Annonymous. 2011. S. http://id. Annonymous. . 1992. PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA TUJUAN Untuk memberi pengetahuan mahasiswa mengenai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. B. garam-garam logam. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. Annonymous. Diakses tanggal 08 Desember 2011. Jakarta. 2004. Klor Dan Senyawa Klor. Diakses tanggal 04 Desember 2011. sinergisme. B.http://faktor-faktoryang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba. Formaldehida (CH2O). B. yaitu netralisme.http://www. mutualisme (simbiosis). UMM Press. http://id. ltd. Fardiaz. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Kerjasama Dengan PAU antar Universitas Pangan dan Gizi. Raja Grafindo Persada. antibiotik. 1994. N.W. zat warna. PENDAHULUAN Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sulfonamida. Obat Pencuci (Detergen). yaitu biotik dan faktor abiotik.wikipedia. tekanan. Lud. Utilization of Microorganisme In Meat Processing Research Studies. Diakses tanggal 04 Desember 2011. Raja Grafindo Persada. Malang. Ray. PT. Analisis mikroba di laboratorium. IPB. Yogyakarta. yaitu pengaruh temperatur. England. Lay.org/wiki/Mikrobiologi . hidrostatik. Analisa Mikrobiologi Pangan. kadar ion Hidrogen (pH). 1994. DAFTAR PUSTAKA Annonymous.html.wikipedia. Fundamental Food Microbiology. Press. tegangan muka. alcohol. J. Diakses Tanggal 21 Desember 2011 Bacus. 2008. Mikrobiologi. Metode Penyimpanan Dan Pemeliharaan Mikroba Dalam Mempertahankan Viabilitas. Penerbit Liberty. Haryono dan Suhardi. Amensalisme (Antagonisme). PT. Sudarmaji. Florida.com/doc/75921669/metde-pnyimpaman-dan-pemeliharaan-mikrobadalam-mempertahankan-viabilitas. 1989. parasitisme. Waluyo. yaitu Fenol Dan SenyawaSenyawa Lain Yang Sejenis. Third Edition.Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.org/wiki/Mikroorganisme. 2001. Faktor lingkungan biologi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. 1984. CRC Press LLC Boca Raton.scribd. pengaruh sinar. yodium. Bogor. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. kelembaban dan pengaruh kebasahan serta kekeringan. 2008. Mikroorganisme. Faktor lingkungan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. komensalisme. kompetisi.

Candida albicans 5. ) b. Salah satu anggota asosiasi menerima keuntungan. dan pada umumnya tumbuh “lebih baik”. bahan toksik / logam berat. Aluminium foil . aureus. pH. menghambat). terbentuk dalam sebuah simbiosis. Ada 3 jenis simbiosis yang dpt terjadi. yaitu dapat tumbuh lebih cepat. Simbiosis Komensalisme. Media Nutrien Agar 4. hubungan mikroba satu dengan mikroba lainnnya tersebut. Contohnya : pengikatan nitrogen di udara oleh bakteri pengikat nitrogen dalam tanah. coli menghambat daur pertumbuhan S. Antibiotik kloramfenikol 6. 3. Logam berat Cd. Tabung reaksi 3. oksigen. sumber nutrien. terdiri dari temperature. Simbiosis Mutualisme. faktor abiotik. Pb Bahan : 1. kedua anggota asosiasi memperoleh keuntungan (saling mengntungkan). Api bunsen dan spirtus 4.Batang kaca bentuk Luntuk spread 2. Kapas 6.a. dll. sedangkan anggota yang lain mendapat keuntungan. Rak Tabung reaksi 2. Contohnya: Bakteri E. faktor biotik adalah pengaruh mikroba oleh mikroba lainnya. Coli yang ada dalam usus besar manusia. 2. Simbiosis antagonisme. dapat mencapai populasi total yang besar. PertumbuhanArthrobacter citerus pada medium yang mengandung saccharomyces cereviceae. sumber mineral.(saling merugikan. aureus. Coli dengan S. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. Contohnya : kompetissi antara E. Biakan murni bakteri : Staphylococcus aureus. kompetisi. secara rinci. Eschericia coli. Anggota yang lain tidak terpengaruh. Salah satu anggota asosiasi dihambat atau dimusnahkan. mikroba lain tersebut dapat berkomensalisme secara positif contohnya bersimbiosis / hidup saling menguntungkan atau negatif / saling merugikan dimana yang satu akan membunuh yang lainnya.( pertumbuhan E. Alkohol 5. atau parasitisme. Pipet volume 3. yaitu : 1.

Mempersiapkan 3 tabung reaksi yang telah berisi nutrient agar. Mengambil 0. Pertumbuhan mikroba pada cawan Petri: 1. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Mempersiapkan 3 cawan Petri yang telah steril. Pertumbuhan Mikroba pada cawan Petri: 1. Hasil Pengamatan Pada perlakuan dengan antibiotik kloramfenikol terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang.PROSEDUR KERJA A. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Pada perlakuan dengan logam berat Cu terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk (Cu) sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. B. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya logam berat Cu. dan tabung reaksi ke3 pada oven. Mengambil biakan bakteri dengan jarum ose dan meletakkan ke dalam tabung reaksi dengan bentuk zigzag secara aseptik Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. dan cawan Petri ke3 pada oven. Melewatkan jarum ose pada api Bunsen hingga nyala api berpijar.1 biakan murni bakteri dengan pipet volume dan memasukkannya ke dalam cawan Petri steril secara aseptik Mengisi cawan Petri yang berisi bakteri dengan nutrient agar secara aseptik. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya antibiotik. Meletakkan masing-masing cawan Petri pada suhu yang berbeda yaitu cawan Petri ke-1 diletakkan pada suhu kamar. . semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . cawan Petri ke-2 pada lemari es. tabung reaksi ke-2 pada lemari es. Meletakkan masing-masing tabung reaksi pada suhu yang berbeda yaitu tabung reaksi ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Menghomogenkan bakteri dengan memutar cawan Petri membentuk angka 8. Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik.

didalam tubuh cepat dicapai dan bertahan untuk waktu yang lama. basil. karena itu penisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. ada juga antibiotika berspektrum sempit. dan jenis spiril tertentu. basil maupun spiril.Inkubasi pada lemari es dan inkubasi pada suhu 600C tidak terlihat adanya pertumbuhan mikroba tetapi pada suhu kamar 380C terlihat adanya pertumbuhan mikroba. PEMBAHASAN A. dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Hal ini dapat menunjukkan bahwa Saccharomices dapat melakukan pertumbuhan optimal pada suhu kamar 380C dan termasuk mikroba mesofil. yaitu : Antibiotika yang mempengaruhi dinding sel . Mekanisme Kerja antibiotika Antibiotika menganggu bagian – bagian yang peka di dalam sel. Sifat – sifat Antibiotika yaitu: Maenghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang ( host ) Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik Tidak menyebabkan resistensi pada kuman Berspektrum luas Tidak bersifat alergenik Tetap aktif dalam plasma. Penisilin hanya efektif digunakan untuk memberantas terutama jenis kokus. cairan atau badan eksudat Larut dalm air serta stabil Bacterisidal level. Pengaruh Antibiotika Terhadap Pertumbuhan Bakteri Antibiotika adalah suatu substansi ( zat – zat ) kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikrporganisme. Tetrasiklin efektif bagi kokus. Oleh karena itu antibiotik ini dikatakan memiliki spektrum yang luas. artinya hanya efektifdigunakan untuk spesies tertentu. baik kokus. artimya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri. Antibiotika ada yang mempunyai spektrum luas.

tetrasiklin. Logam –logam yang sering dipakai adalah Hg. Pengaruh Logam Berat Terhadap Pertumbuhan Mikroba Logam berat berfungsi sebagai antimikrobe oleh karena dapat mempresipitasikan enzim – enzim atau protein essensial dalam sel. dan kita kenal ada temperatur minimum. sikloserin. amforoterisin B Antibiotika yang menghambat sintesa protein Contoh : Aktinomisin. sefalosporin. Zn. Hal ini karena bahwa tidak semua spesies mati bersama – sama pada suatu temperatur tertentu. c. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. optimum. kolistin. masing – masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. Oleh karena itu. Beberapa jenis mikrobe dapat hidup pada daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. Waktu kematian thermal ( Thermal Death Time ) waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikrobe pada suatu temperatur yang tetap. C. Temperatur maut / Titik kematian Termal ( Thermal Death Point ) Temperatur serendah – rendahnya yang dapat membunuh mikrobe yang berada di medium standar selama 10 menit pada kondisi tertentu. Antibiotika yang menghambat sintesa asam nukleat Contoh : asam nalidiksat. rifampisin. eritromisin. merusak alat – alat yang terbuat dari logam. sulfonamida. Pengaruh Temperatur Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. klindamisin. b. Daya antimikrobe dari logam berat. Untuk menemukan temperatur maut bagi mikrobe. tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. streptomisin. basitrasin. vankomisin Antibiotika yang menganggu fungsi membran sel Contoh : polimiksin. dan harganya mahal. . Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikrobe masih dapat dapat berlangsung. novobiosin. dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikrobe dinamakan daya oligodinamik. Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikrobe terletak antara 0 – 90o C. spesies satu lebih tahan daripada spesies yang lain terhadap suatu pemanasan. Laju kematian termal ( Thermal Death Rate ) kecepatan kematian mikrobe akibat pemberian temperatur. ada beberapa pedoman sebagai berikut : a. trimetoprim B. Ag. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit.Contoh : Penisilin. dan Cu. kloramfenikol.Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikrobe. dan maksimum. ristosetin. Biasanya. pirimetamin. nistatin. As.

H. c.190oC ). akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun. Pembekuan secara terputus – putus ternyata lebih efektif daripada pemanasan terus – menerus.AGUS KRISNO BUDIYANTO. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor-faktor luar. sedang temperatur optimumnya 25 – 40oC. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya. 2. c.H.Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh pada spora.Universitas Muhammadiyah Press : Malang.Drs. dan temperatur optimumnya 55 – 65oC. Mikrobe Psikrofil yakni golongan mikrobe yang dapat tumbuh pada 0 – 30oC.Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.Kes. Mikrobe Mesofil adalah golongan mikrobe yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 5 – 60oC. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu. Pembekuan air hanya dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri. Kehidupan bakteri tidak hanya di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan . yaitu : a. KESIMPULAN Faktor – faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba diantaranya yaitu : a. DAFTAR PUSTAKA 1.Waluyo. dan Schmidt. Pembekuan secara perlahan – lahan dalam temperatur – 16oC ( es dicampurdengan garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secar mendadak dalam udara beku ( . Kebanyakan dari golongan ini tumnuh di tempat – tempat dingin.1994. b. Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur. Sedangkan pada suhu rendah dan suhu tinggi pertumbuhannya terhambat.M.2004.KES DOSEN PENDIDIKAN BIOLOGI UMM Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya. b. Mikrobiologi Umum. Umumnya hidup dalam alat pencernaan.15oC. terlebihlebih mikro organisme. sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya. dengan temperatur optimum 10 . Golongan mikroba ini terutama terdapat di sumber – sumber air panas dan tempat. Antibiotik → menyebabkan terbentuknya zona terang ( halo ) disekitar media bakteri. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh daripada kalau pembekuan itu dilakukan di dalam buih karena buih tidak dapat membeku sekeras air beku. karena spora sangat sedikit mengandung air. OLEH: DR.G. mikrobe dapat dibagi menjadi tiga golongan utama.tempat lain yang bertemperatur tinggi. Mikrobe Termofil yakni golongan mikrobe yang tumbuh pada suhu 40 – 80oC. baik di daratan maupun di lautan.M. K.M. Pengaruh suhu → mikroba tumbuh optimum pada suhu kamar.Schlegel.Lud. Logam berat → menyebabkan terbentuknya zona terang atau ( halo ) disekitar bakteri.

1. sebaliknya . pada temperartur yang sama. pengeringan. 5. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi. Suhu Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. optimum dan maksimum. Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. Perlu diperhatikan kiranya. Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Faktorfaktor biotik terdiri atas mahluk-mahluk hidup. Di dalam keadaan basah. Berdasarkan ini. Biasanya. tekanan osmose. 2. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. perubahan ini di sebut perubahan secara kimia. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. sinar gelombang pendek. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time).nya. Untuk sterilisali. tegangan muka dan daya oligodinamik. Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah. Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatupemanasan. bahwa tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Berhubung dengan ini. 3. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu. Misal.tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. sehingga tepat jugalah bila kita katakana adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. 4. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. mesofil. 5.1 Faktor-Faktor Abiotik. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam (fisika) dan faktorfaktor kimia. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. . Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. Berapa tinggi suhu. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan penentuan waktu maut (Thermal Death Rate). pH. dan termofil. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging.

Sebagai contoh. yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. yaitu: Bakteri termofil (politermik). Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. buih tidak membeku sekeras air beku. Bakteri mesofil (mesotermik). meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora tersebut. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46 °C. misalnya. sedang pada suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70 ° C saja. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. kita belum tahu. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. Bakteri termofil agak menyulitkan pekerjaan pasteurisasi. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C ). Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. karena spora sangat sedikit mengandung air. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. Conococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang panasnya 93 – 94 °C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga sangat termofil. Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit. batas-batas antara golongan-golongan itu sukar di tentukan.Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Dalam praktek. Sebaliknya. jika suhu sampai naik sedikit. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Akan tetapi. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di dalam lemari es. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan pengawetan makanan. Bakteri psikrofil (oligotermik). Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. Pada . jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang rendah. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. Bacillus caldolyticus. Spesies-spesies itu di tabiskan menjadi Thermus aquaticus. dan Bacillus caldotenax.

303RT v ialah kecepatan reaksi. Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu galur spesies . Kecepatan reaksi kimia merupakan fungsi langsung daripada suhu dan mengikuti hubungan yang dikemukakan semula oleh Arrhenius : Log10 V = − ΔH* + C 2. Gambar 10. coli yang dapat disamakan dengan fungsi T ¯¹. Kurvenya linear hanya pada bagian kisaran suhu untuk tumbuh. mesofil. yang diisolasi dari lingkungan dingin. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Sebab kecepatan tumbuh dengan tibatiba sangat menurun pada batas atas dan bawah kisaran suhu.6). tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa inkubasi. yang dinamakan suhu optimum. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C).Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. Gambar 5. terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam. Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum. yang tumbuh baik pada 0°C. melainkan berada di dalam keadaan “tidur” (dormancy). optimum. T ialah suhu dalam derajat Kelvin. Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil fakultatif. dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C). dan maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan.umumnya dapat di pastikan. Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar. bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil.3 Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu menurut rumus arrthenius Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia. yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C). Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan. Akan tetapi. yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil. Karena itu. dapat diramalkan bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku. dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. ΔH* ialah energi aktivitas pada reaksi. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi T ¯¹ menghasilkan garis lurus dengan lereng negatif (Gambar 10. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh. Bakteri yang dipiara di bawah suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati. dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil obligat. R ialah konstante gas. kebanyakan bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air. Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran.7 menunjukkan kecepatan tumbuh E. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal. sangat beragam pada bakteri.

mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya . coli tampak pada perubahan dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri. Susunan lipid pada hampir semua organisme. Ilustrasi kejadian ini pada E. perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda. Bila suhu turun. dan mutan peka dingin. Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas. baik prokariota maupun eukariota. derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat . dan psikrofil yang agak berubah-ubah. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C.itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies. maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum ditentukan. tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-protein ini. semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk. mutan peka panas. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin.6). Mungkin pula untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut. yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga). Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu. Oleh karen aitu. Pada suhu rendah. kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu mutan. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan . Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. Percobaan seperti ini (Tabel 10. Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh. berubah-ubah menurut suhu tumbuh. dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas. Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu. Akibatnya. Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein (misalnya flagelum. ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam penelitian. dengan mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda. walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. Akibatnya. Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan. mesofil. dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun . namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut. Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil. sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C. kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat. dengan suhu tumbuh minimum yang menaik.

6.0 – 9.0 – 7.2 7. 6.6 Tak berwarna -merah muda Tabel 5.5 6. Untuk menahan perubahan dalam medium sering ditambahkan larutan bufer. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6.0-3.8 8.5.8 9.5 7.2 – 9.8 – 8.4 7.2. bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawasenyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya.0 Acetobacter aceti 4.4 – 6.5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil.5 2.3 7. susu magnesia.0 Thiooxidans 4.0-8.6 7. dan maksimum untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri Bakteri KISARAN pH UNTUK PERTUMBUHAN Batas bawah Optimum Batas atas Thiobacillus 0.3 Staphylococcus aureus 5.0-7.1 Kuning – biru Merah feno 6. 10.7 Merah – kuning Biru brom fenol 3.5 Thermos aquaticus Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik.8 Kuning – merah Merah kresol 7. 2. pH Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu.6 1.5 Azotobacter spp 6.0 – 8. 8.1N).0-4.5 – 7. mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil.0-5. sari tomat.0 . optimum.7 Indikator Asam – Basa NAMA INTERVAL pH PK INDIKATOR WARNA ASAM – BASA Biru timol 8.5 dan 7. khamir pada pH 4.0 – 4.0 Clhorobium limicola 6. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid. natrium bikarbonat (0. Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan.0-7. Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium.5. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum.5 8.5 5.0 6. cuka 2.0 – 4. misalnya untuk bakteri pada pH 6.5 – 7.4. larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH. Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keaadaan sangat masam atau sangat alkalin.2 5.0 Merah – kuning Biru brom timo l 6. dapatlah dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak.8 7. Tabel 5. 4.keadaan cairnya pada suhu tertentu.5 9. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2. optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya.8 9. susu.8 pH minimum.5. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu.25.2 Kuning – merah Fenolftalein 8.4-6.0 7.6 4. pH air suling ialah 7.1 Kuning – biru Merah metal 4.0 (netral). pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen.

0 Mikroorganisme yang alkalifilik.5-8. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan zat alir). Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan. karena cahaya adalah sumber energinya.4-9. Air laut mengandung 3.5 persen natrium klorida. Sebagai contoh. konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi. air laut. lingkungan. makanan yang diasin.5 alkanitas (pH) Beberapa spesies eksotik . gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. dan danau air asin. Termofil 25 – 55°c optimumnya pada Fakultatif (bebas pilih) suatu titik didalam Termofil obligat 45 – 75°c kisaran bergantung ada spesies Aerob Hanya tumbuh bila ada oksigen bebas Anaerob Hanya tumbuh Persyaratan akan gas tanpa oksigen Anaerob fakultatif bebas Tumbuh baik tanpa Mikroaerofil oksigen bebas Tumbuh bila ada oksigen bebas dalam jumlah sedikit Kebanyakan bakteri berkaitan dengan kehidupan hewan dan pH optimum 6. wadah berisi garam. yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin. Tabel 5. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8.Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5.5 Suhu. hanya tumbuh bila mediumnya mengandung konsentrasi garam yang tinggi.9 Kondisi-kondisi fisik yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri Kondisi Fisik Tipe Bakteri Kondisi Biakan (Kelompok Psikologis) (Inkubasi Suhu (kisaran Psikrofil 0 – 30°c pertumbuhan) : Mesofil 25 – 40°c minimum dan Termofil : maksimum. di danau air asin. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi. Bakteri tertentu. yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau rendah.5 – Keasaman atau tumbuhan 7. organisme fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan.

pH minimum 0,5; Fotosintetik (autotrof dan

pH maksimum 9,5

heterotrof) Cahaya sumber cahaya Halofil (halofil obligat) Salinitasi konsentrasi garam yang tinggi, 10 –15% NaCl 3. Kelembaban Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut. 4. Tekanan osmosis Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair. Jika perubahan nilai osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahanlahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak. 6. Senyawa toksik Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap

gugusan didalam sel. 7. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi. 8. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup. 9. Kebasahan dan kekeringan Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah: Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut. 10. Sinar gelombang pendek Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan mikrobia. Sinarsinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.

Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan, ruangruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung bioskop dan sebagainya pada waktuwaktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon dan klor (chlor). 11. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan itu menyerupai membran yang elastik. Demikian juga permukaan cairan yang menyelubungi sel mikrobia. Tekanan dari membran cairan ini di teruskan ke dalam protoplasma sel melalui dinding sel dan membran sitoplasma, Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikrobia. Kebanyakan bakteri lebih menyukai tegangan muka yang relatif tinggi. Tetapi adapula yang hidup pada tegangan muka yang relatif rendah. Misalnya bakteri-bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan. Sabun mengurangi ketegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Diplococcus pneumoniae sangat peka terhadap sabun. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun; hanya bakteri yang hidup di dalam usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Bolehlah dikatakan pada umumnya, bahwa bakteri yang Gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan (depresi) tegangan permukaan daripada bakteri yang Gram positif. 12. Daya oligodinamik Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang. 13. Desinfektan Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering

melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawasenyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik. a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. b. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. c. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. d. Yodium Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol, banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. e. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. f. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. g. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun

Sering terjadi. . eritromisin. basil dan jenis spiril tertentu. dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. dan pada dewasa ini jumlahnya ratusan. Akhir-akhir ini orang telah dapat membuat kloromisetin secara sintetik. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. teramisin.zat ini dapat membunuh bangsa jamur. antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. bakteri dapat tumbuh biasa. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus. misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat secara sintetik pula. Jika sesudah 24 jam kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri sekitar bahwa bakteri itu tercekik pertumbuhannya oleh antibiotik yang terkandung dalam kepingan kertas. obat-obatan ini terkenal sebagai kloramfenikol. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas itu sesuai dengan konsentrasi antibiotik yang terkandung didalamnya. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat.Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri. namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. Asam-paminobenzoat memegang peranan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. h. magnamisin yang masing-masing mempunyai khasiat yang berlainan. basitrasin oleh Bacillus subtilis. baik kokus. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik diketemukan. maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. aureomisin. disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. Sebaliknya. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Penggunaan obat-obat ini. Gambar 5. Gonococcus. Antibiotik Menurut Waksman. maupun spiril. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. dikatakan mempunyai spektrum luas. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Pinisilin di temukan oleh Fleming dalam tahun 1929. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. melainkan oleh golongan bakteri sendiri. polimiksin oleh Bacillus polymyxa. Pneumococcus. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Tetrasiklin efektif bagi kokus. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin. suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu. kloromisetin.5 Rumus bangun sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat i. basil. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. Pada medium agar-agar yang telah disebari spesies bakteri tertentu diletakkan beberapa kepingan kertas yang masingmasing mengandung antibiotik yang diuji dalam kontrentasi yang tertentu. . Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat dihasilkan oleh golongan jamur.

daerah pertumbuhanbakteri b. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit. Persenyawaan air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji – bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Desinfektan yang akan diuji itu di encerkan menurut perbandingan tertentu. Di dalam perangkat yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan. kadang-kadang digunakan juga Micrococcus aureus. daerah kosong a. daya mana disebut oligodinamik. Setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa tentang ada tidaknya koloni-koloni Salmonella. 5. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom. (1:400). Katakan. kita membuat 2 larutan fenol.6 Pengaruh antibiotic terhadap pertumbuhan bakteri. orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok.5 ml inokulum Salmonella typhosa yang masih muda. c. Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu eksperimen. metafen atau mertiolat. akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di kolam–kolam renang. Cara Menilai Khasiat Desinfektan Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekkan pada agar-agar lempengan. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan perangkat kedua. misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. yaitu 12 tabung untuk desinfektan 0. daerah kosong Gambar 5.2 Faktor-Faktor Biotik Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) . Penyuntikan dapat dilakukan intra vena (dalam pembuluh darah balik) atau intra muscular (dalam daging). yang satu (1:90) dan yang lain (1:100). Banyak juga orang mempergunakan persenyawaan perak dengan protein. dimana Salmonella dibiarkan berada dalam larutan selama 10 menit. dan piaraan ini kemudian disimpan dalam suhu 37 °C. Misal. (1:450). dan lagi pula mahal harganya. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida. Jika tak ada pertumbuhan. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. Garam – Garam Logam Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri. Mikroorganisme yang dipakai sebagai penguji khasiat desinfektan ialah Salmo nella typhosa. Dari tiap-tiap larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril banyaknya tabung sesuai dengan banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. c. daerah pertumbuhanbakteri b. Setelah 5 menit berada di dalam larutan. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penelanan atau penyuntikan. (1:350). Adapun zat yang dipakai ialah fenol. a.Sesuai dengan keperluan. larutan desinfektan A itu (1:300). maka alat–alat yang terbuat dari logam. M adalah agar-agar lempengan yang disebari bakteri j. hal ini berarti bahwa bakteri telah mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan. Di samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan khasiat fenol.

Sebagai contoh mutualisme antara bakteri Rhizobium dengan polongpolongan. tergantung pada macamnya simbiose. Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami kerugian atau tidak. Sintropisme Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang lebih komplek . antibiose dan sintropisme. Contohnya adanya pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi. Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme. simbiose. Fungi lapangan menyerang bijian yang sedang dan masak penuh dengan kandungan air paling sedikit 20% atau keseimbangan lembab relatif (Rh) 90 – 100%. sinergisme. Parasitisme Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. 2) fungi penyimpanan (storage fungi) dan 3) fungi perusakan lanjutan (advanced decay fungi). Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik. dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian. Faktorfaktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad. (Bothast. Antibiosis Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh. Golongan 3) merupakan bagian sementara. mutualisme. Sinergisme Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. karena jasad inang sebagai sumber kehidupannya.3 Fungi Dan Lingkungannya Christensen (1957) membagi fungi dalam 3 golongan berdasar keadaan lingkungan perkembangannya yaitu: 1) fungi lapangan (field fungi). tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. 1978). parasitisme. dan parasitisme. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. sedang 2 bagian terdahulu khusus padakomoditas biji-bijian. fungi penyimpanan menyerang bijian yang tersimpan setelah panen dengan kandungan air . Simbiose dapat dibedakan tiga macam. ialah komensalisme. Simbiosis Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan. Tanpa sinergisme masingmasing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut. tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain. Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri.atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. Mutualisme Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. mutualisme. 5. Komensalisme Merupakan asosiasi yang sangat renggang. sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama.

dan jagung dikenal sebagai bentuk “kudis” biji-biji yangdemikian dapat mendatangkan kercunan pada hewan maupun manusia(Uraguchi dan Yamazaki. Selain Aspergillus dan Penicillium dikategorikan pula dalam fungi penyimpanan adalah Absidia. namun tidak hanya terbatas pada biji serealia. Chaetomium. gandum. Pada barley.sekitar 13 – 20 % atau keseimbangan lembab relative (Rh) 70 – 90% (Bothast. wilayah atau lokasi geografis dan keadaan iklim. Lihatlah dua table dibawah ini. 5) potensial oksidasi-reduksi (Eskin dkk. Epicoccum dan Nigospora yang umumnya menyerang dekat atau saat panen (Bothast. 1978). Aspergillus dan Sporendomena dan kadang-kadang beberapa jenis khamir (Uraguchi dan Yamazaki. Cladosporium umumnya pada biji serelia dalam kondisi basah selama panennya. 2) aktivitasair (water activity). mereka bukanlah fungi pemula kerusakan bahan dalam penyimpanan (Wallace. 4) pH. 1978). 1974). 1970). Alternaria. Setiap jenis fungi selain adalah batasan-batasan normal. Ibasidia. Dalam kaitannya dengan kelembaban relatif (Rh) yang dapat diukur dari sekeliling bahan maka umumnya diharapkan kelembaban relatif sekitar 70-80%. Paecylomices. Mucor dan Rhizopus pada umumnya ada hubungannya dengan kerusakan pada kondisi lembab. disamping faktor lainnya. antara lain: 1) Kandungan air bijian yang disimpan. dan Neurospora.1976. karena mereka menghendaki suatu lembab relatif (Rh) minimum 88% untuk pertumbuhannya. maka untuk pertumbuhan fungi endiri memerlukan faktor fisik-khemis antara lain 1) suhu.65. Juga termasuk pula Curvularia. mempunyai kekhususan diantara spesies dan . Kebanyakan fungi penyimpanan terdiri dari dari 5 atau 6 golongan Apergillus dan baru kemudian dan beberapa spesies Penicillium sampai terjadi kerusakan lebih lanjut (Christensen dan Kaufmann. 3) tekanan osmosis. barley. umumnya banyak terdapat pada biji sayuran atau biji serealia. Contoh fungi lapangan adalah alternaria. Scopulariopis. Fungi pada umumnya akan dapat berkembang baik pada aw sekitar 0. 4) derajat awal penyerangan oleh fungi sebelum sampai tempat penyimpanan. sedangkan golongan fungi hidrofil diinginkan aw mencapai 0. 1978). Fusarium banyak terdapat pada serealia yang baru dipanen.89. Helminthosporium banyak didapat pada jenis padi. Suhu dan aktivitas air sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian. dan obat khususnya bila terjadi cuaca lembab sebelum panen. 5) banyknya benda-benda asing (bukan bahan sejenisnya) dan 6) terdapatnya aktivitas serangga dan kutu dalam ruang simpan (Uraguchidan Yamazaki.1975.0. Fungi penyimpanan juga terdiri dari beberapa spesies antara lain Penicillium. Fungi yang dominan pada suatu komoditas tergantung atas macam tanaman. 1973). Wallace (1973)menyebutkan 26 spesies Aspergillus dan 66 spesies Penicillium yang dapat diisolasi pada produk simpanan. Stemphylium. Rhizopus. Fusarium. Caldwell dan Tuite. 1974). 1978). Beberapa spesies tertentu penicillium kadang-kadang dimasukkan dalam fungi lapangan (Mislivec dan Tuite. Terdapat beberapa faktor pokok yang akan mempengaruhi perkembangan fungi pada bahan pangan yang disimpan. Penicillium dan Aspergillus merupakan fungi yang diketahui ada dimana-mana dan hamper terdapat disetiap wilayah. Menurut Christensen dan Kauftmann (1969) dilaporkan lebih dari 150 spesies fungi telah diisolasi dari bagian biji tanaman. Mucor. 2) suhu ruang penyimpanan. 1978). dan pada tempat penyimpanan fungi ini hamper tidak terdapat. 3)periode penyimpanan. Faktor-faktor seperti disebutkan diatas ditujukan pada bahan dimana fungi tumbuh. 1978). Kekecualian adalah Aspergillus flavus yang dapat menyerang bahan dilapangan (meski termasuk fungi penyimpanan) demikian pula Fusarium akan dapat melanjutkan kerusakan bahan bijian dalam gudang (meski termasuk fungi lapangan) bila kandungan air bahan cukup tinggi (Lillehoj dkk. 1975). Helminthosporium dan Cladosporium (Uraguci dan yamazaki.80.

mengecilnya oksigen dan kandungan air atau akumulasi CO2 menjadi terbatas. Faktor-faktor tersebut antara lain kosenntrasi enzim. 1974) PENGARUH SUHU. Dengan peran enzim pada hampir tiap reaksi biologis. KONSENTRASI ENZIM TERHADAP KECEPATAN REAKSI ENZIMATIK BAB I PENDAHULUAN I.lainnya seperti terlihat pada beberapa table kelembaban relatif. Membuktikan bahwa keasaman ( pH ) mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik 3. Kelembaban relatif minimum untuk perkecambahan fungi umumnya adalah 75% pada suhu biasa. maka praktikum tentang faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim perlu dilakukan I. Hubungan antara bagian-bagian tersebut sangat kompleks maka kondisi minimum. Rekasi kimia ini meupakan bagian dari sistem yang bekerja spesifik dan menghasilkan senyawa-senyawa kimia. Oleh karena pentingnya enzim. dapat dikatakan enzim memilki peran sangat penting.1 Latar Belakang Dalam proses metabolisme di dalam tubuh terdapat berbagai macam reaksi kimia.2 Tujuan Percobaan 1. suhu dan lainnya. Dalam aktivitas metabolisme kita mengenal adanya katalisator. kehilangan substrat. meskipun keduanya mempunyai hubungan erat. Katalisator dalam reaksi ini disebut enzim. . 1974). Reaksi enzimatik mempunyai suhu optimum. dalam keadaan iniuntuk setiap bahan bijian akan berbeda kandungan airnya sesuai komposisi (Pomeranz. Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Dibawah ini diberikan gambaran Rh ruang penyimpanan dan suhu untuk pertumbuhan beberapa fungi penyimpanan yang penting. Memperlihatkan kecepatan reaksi enzimatik sampai suhu tertentu sebanding dengan kenaikan suhu. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim. 2. suhu dan konsentrasi substrat. Pertumbuhan fungi berkaitan dengan kenaikan suhu yang dipengaruhi berbagai faktor antara laininaktivitas thermal enzim. optimum dan maksimum sebagaimana tercantum dalam tabel diatas adalah perkiraan (Christensen dan Kaufmann. Dalam mendukung perannya sebgai katalisator atau mempercepat reaksi yang terjadi tentu saja ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya. Keseimbangan lembab relatif bijian lebih penting daripada kandungan air guna mengendalikan kerusakan fungi dalam ruang penyimpanan. Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. konsentrasi ion hydrogen (pH). pH.

maka enzim juga disebut sebgai biokatalisator Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim. enzimenzim ini hanya bekerja terhadap karbohidrat isomer D bukan L. Enzim alkohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alcohol ( Hafiz Soewoto. sedangkan enzim keseluruhannya disebut haloenzim.T Simanjuntak. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam system biologis. sehingga suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja. Di dalam jumlah sangat kecil. Kespesifikan optik tampak pada enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat. 2003 ). Sebaliknya.di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. Umumnya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat. Kespesifikan gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerjaterhadap gugus yang tertentu. enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan hasil akhir reaksinya. Bagian protein ( tak aktif ) ( apoenzim ) + non-protein ( gugus protestik ) = haloenzim ( aktif ) Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus ( M. Klasifikasi enzim berdasar Commission on Enzim Of The Internasional uinion of Biochemistry ( CEIUB ) atau Internasional Enzim Commision ( IEC ) adalah sebgai berikut : Enzim yang berperan dalam reaksi oksidasi-reduksi contoh oksigenase Enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan gugus tertentu contoh enzim transaminase Enzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis contoh peptidase Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi addisi atau pemecahan ikatan rangkap contoh liase . dan ada pula ynag bersifat stereospesifik. ada pula yang hanya satu kelompok substrat saja. enzim-enzim yang bekerja terhadap asam amino dan protein hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D. Enzim berfungsi sebagai katalisator si dalam sel dan sifatnya sangat khas.1 Enzim Enzim merupakan suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktivitas biologic.2000).

namun enzim tidak dapat bekerja.T. enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. a. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu optimum. . Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu. Simanjuntak. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerj enzim antara lain suhu. Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum.2000). α. dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum Laju reaksi A B Suhu optimum t0 Pengaruh suhu terhadap laju reaksi enzimatik Pada gambar tampak bahwa di luar suhu optimum. Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. Di samping itu. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang rerlatif ketat. Akan tetapi. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37° C. kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya ( Hafiz Soewoto.2000) . β. karena terjadi denaturasi( Hafiz Soewoto. oksidasi oleh udara atau senyawa lain.Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi isomerisasi contoh alanin rasemase Enzim yang berperan dalam mengkataliser reaksipembentukan ikatan dengan bantuan pemecahan ikatan dalam ATP( ligase ) ( M. Pada suhu yang lebih rendah (sisi A pada gambar). penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik. Dengan kenaikan suhu lingkungan. Dengan demikian. 2003). sinar x. penyinaran ultraviolet. Pengaruh suhu : Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi. keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu. laju enzimatik selalu lebih rendah. Bila suhu ditingkatkan terus. makin rendah pula laju reaksinya. jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C. yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. Seperti molekul protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiko kimia. pH. yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. dan γ.

Dalam peningkatan suhu ini. Oleh karena itu. makin rendah suhu. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat.987 kal per derajat per molar. Pada sisi A dari kurva terdapat hubungan tertentu antara kenaikan suhu dengan laju reaksi.kompleks ES tidak terbentuk. Pengaruh pH : . gerak termodinamik tersebut akan makin kurang. 2002 ): R adalah gas yang bernilai 1. I. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. enzim dalam suhu optimum. I II Interaksi enzim-substrat dalam suhu berbeda. sehingga produk juga makin sedikit. Akibatnya. selain gerak termodinamik meningkat. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Arrhenius secara empiris telah mengembangkan suatu rumusan umum antara laju suatu reaksi kimia dengan suhu mutlak system reaksi tersebut. T adalah suhu mutlak. melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. b. E adalah suatu tetapan yang dinamakan energi aktivitas dan kadalah tetapan laju reaksi. II. Pada daerah suhu yang lebih tinggi (sisi B pada gambar). sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. Yang dinyatakan sebagai berikut ( Mohamad Sadikin. gerak termodinamik akan lebih meningkat. Enzim di atas suhu optimum. molekul protein enzim juga mengalami denaturasi. kompleks ES akan sukar terbentuk.

hubungan tersebut tidak menunjukkan suatu titik puncak. untuk kemudian turun lagi sesudah plateau ) .T. seperti yang tampak pada gambar di bawah ini Laju reaksi pH optimum Ph Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi enzim Kadang-kadang. Sebagian besar enzim bekerja aktif dalam trayek pH yang sempit umumnya 5 . sebagai produk makhluk hidup secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh ph ini terhadap aktivitas biologis dari enzim ini. Ada enzim yang mempunyai pH optimum yang sangat rendah. Simanjuntak. Kurva hubungan antara pH dengan laju reaksi suatu enzim biasanya menghasilkan gambaran seperti lonceng. Ada 2 alasan untuk menyelidiki pengaruh tingkat keasaman atau pH terhadap aktivitas emzim.0. melainkan suatu garis merata (plateau setelah kurva yang naik. enzim akan terdenaturasi. 2003). seperti pepsin.0 sampai 9. Selain itu pada keaadan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat( Hafiz Soewoto. yang mempunyai pH optimum 2. seperti pada enzim amylase liur. sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5. yaitu : 1.Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. Ini adalah hasil merupakan hasilpengaruh dari pH atas kombinasi factor ( 1 ) ikatan dari substrat ke enzim ( 2 ) aktivitas katalik dari enzim ( 3 ) ionisasi substrat dan ( 4 ) variasi struktur protein ( biasanya signifikan hanya pada pH yang cukup tinggi ) ( M. sebagai suatu protein enzim tidak berbeda dengan protein lainnya. pada pH yang jauh di luar pH optimum.2000) . Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum. Jika dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan.9. 2.

Pengamatan dapat dilakukan terhadap dua hal. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E]. Bagaimana akibat dari perubahan konsentrasi enzim terhadap reaksi enzimztik itu sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini harus dicari dari pengamatan yang dilakukan atas satu seri campuran yang terdiri atas substrat dalam konsentrasi yang tetap dan enzim dalam konsentrasi yang berbeda-beda. Tiap molekul isozem niscaya bekerja pada pH yang sedikit berbeda. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. Karena tidak ada sistem dapar masing-masing di sekitar nilai kapasitas yang maksimum dari tiap dapar (rentangan pH di sekitar nilai pKa komponen asam tiap dapar). yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. Makin besar konsentrasi enzim. pH tersebut dinamakanpH maksimum. Pengaruh konsentrasi enzim : Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik. rentangan pH yang diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan bukan dalam rentangan antara pH 1 sampai 14. Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat keasaman dengan laju reaksi maksimum ini. Akibatnaya. c. Dalam gambar dapat dilihat adanya nilai pH tertentu. Oleh karena itu.Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. dengan volume akhir larutan yang sama. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. 2002).2000) . reaksi makin cepat( Hafiz Soewoto. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. Di luar nilai pH optimum tersebut. Tampak adanyaplateau. proses katalisis berjalan tidak optimum. bukan tidak mengkin ada interaksi yang merugikan antara enzim dan ion penyusun dapar dan bukan karena pH yang disebabkan dapar itu sendiri. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Fenomena seperti ini dapat ditafsirkan sebab adanya molekul amylase dalam bentuk beberapa molekul protein yang berbeda (isozim). yaitu : .

2. Sebaliknya. pada tiap konsentrasi enzim pertambahan jumlah produk akan menunjukkan defleksi. jumlah substrat yang tersedia sudah mulai berkurang. Pada gambar 1 tampak bahwa makin besar konsentrasi enzim maka makin banyak pula produk yang terbentuk dalam tiap waktu pengamatan. Tiap garis kurva mewakili satu konsentrasi enzim. tidak lagi berbanding lurus sejalan dengan berlalunya waktu tersebut. sehingga dengan sendirinya produk olahan enzim juga akan berkurang.1. bahwa defleksi tersebut makin jelas dengan makin tingginya konsentrasi enzim. akan diperoleh kurva seperti yang tampak dalam gambar 1 dan 2. . Jumlah produk 8 6 4 2 0 5 10 15 Menit Gambar 1. Fenomena itu tentu mudah dimaklumi. Akan tetapi pada gambar 1 tampak pula dengan jelas. hubungan jumlah produk terbentuk dengan lama reaksi enzimatik pada berbagai konsentrasi enzim. dalam jangka waktu pengamatan yang sama hubungan waktu dengan jumlah produk yang dihasilkan masih berbanding lurus. terhadap hubungan antara selang waktu pengamatan dan konsentrasi produk yang terbentuk pada tiap konsentrasi enzim. Dengan bertambahnya waktu. terhadap hubungan antara konsentrasi enzim dan kecepatan reaksi enzimatik yang dikatalisis oleh enzim tersebut. Dari pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan enzim. Jika data hasil kedua pengamatan tersebut masing-masing disajikan dalam bentuk grafik. pada konsentrasi enzim yang rendah. karena setelah selang beberapa waktu.

Kadang-kadang terjadi penyimpangan dari persamaan ini. penyimpangan juga terdapat dalam sediaan enzim dengan kemurniaan yang tinggi. penyimpangan disebabkan oleh senyawa pengaktif (aktivator).Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. enzim akan mengikat substrat membentuk kompleks enzim-substrat [ES]. Fungsi enzim dalam kepentingan medis. Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat. enzim-enzim yang berperan . Pengaruh konsentrasi substrat : Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar. Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu di dalam sel. maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat sampai suatu batas kecepatan maksimum (V). meskipun ph yang diperlukan sudah dipastikan dengan menggunakan larutan dapar dan tidak hanya sekedar larutan dengan ph yang diperlukan tersebut ( Mohamad Sadikin. Laju reaksi Enzim Gambar 2. sedangkan kondisi lainnya tetap. Dalam keadaan ini. d. Makin banyak kompleks [ES] terbentuk. Sebaliknya. Dalam suatu reaksi enzimatik. sehingga mungkin terdapat senyawa-senyawa penghambat reaksi dalam jumlah yang sangat kecil. Jadi. Pada konsentrasi substrat [S] melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan. 2002 ). Dalam keadaan itu seluruh enzim sudah berada dalam bentuk kompleks E-S. Sebagai contoh. kemudian kompleks ini akan terurai menjadi [E] dan produk [P]. Penambahan jumlah substrat tidak menambah jumlah kompleks E-S. penyimpangan ini terjadi jika enzim yang dipelajari tidak dalam keadaan murni. misalnya tidak adanya ion tertentu. sehingga diperoleh garis agak melengkung. Biasanya. makin besar konsentrasi enzim. kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya. makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan [ES]. maka makin cepat laju reaksi. pengaruh konsentrasi enzim terhadap laju reaksi enzimatik.

misalnya pada pemakaian obat analgetik tertentu dan obat anti malaria. atau kanji tekstil. II. sebagian besar enzim terdapat dan bekerja dalam sel dan (2) bahwa enzim tertentu dibuat dalam jumlah besar oleh jaringan tertentu. Bobot molekulnya lebih besar daripada amilosa. Enzim yang berhubungan dengan berbagai biosintesis protein berada bersama ribosom. Sel darah merah penderita defisiensi G6PDH ini sangta rentan terhadap pembebanan oksidatif. . Enzim α-amilase dalam saluran pencernaan ( air liur dan cairan pancreas ) akan menghidrolisis rantai lurus amilosa dan amilopektin secara acak menjadi campuran glukosa dan maltose.2 Pati Pati ialah polisakarida simpanan yang terdapat dalam tumbuhan tingkat tingkat tinggi. juga diperoleh campuran oligosakarida yang biasa dirujuk sebgai dekstrin. Enzim β-amilase pada tumbuhan secara lebih spesifik menghidrolisis amilosa menjadi unit-unit maltose. Enzim yang mengkatalisasi berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. Akhirnya tambahan enzim α-(1. Pati ( mailosa maupun amilopektin ) jika terhidrolisis sempurna ( semua ikatan asetal diputus ) akan menghasilkan hanya D-glukosa. Hidrolisis sempurna biasanya dilakukan dengan asam encer pada suhu tinggi sedangkan hidrolisis parsial umumnya terjadi secara enzimatik. Amilopektin memiliki rantai tulang punggung ( backbone ) yang sama dengan amilosa.000. Pada pemakaian obat-obat tersebut dapat terjadi hemolisis intravaskuler. digunakan untuk membuat lem. Dasar penggunaan enzim sebagai penunjang diagnosis ialah bahwa (1) pada hakikatnya. Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien. Homopolimer ini terdiri atas campuran amilosa dan amilopektin.. Dekstrin tidak membentuk kompleks berwarna dengan iodium. amilosa ini menghasilkan kompleks biru-hitam yang tajam dengan iodium akibat masuknya I2 ke dalam gelung helical ynag terbentuk ketika amilosa berada dalam air. Bobot molekulnya beragam dari beberapa ribu sampai 150. Karena itu enzim intrasel seharusnya tidak ditemukan dalam serum dan bila ditemukan.2000). Amilosa merupakan polisakarida linear dari unti-unit Dglukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-(1.6)-glikosida pada titik percabangan amilopektin dan menghasilkan hidrolisis sempurna ( Staf Pengajar Kimia Organik IPB. Analisis enzim dalam serum pada dasarnya dapat dipakai untuk diagnosis berbagai penyakit. Reaksi amilopektin dan iodium membentuk kompleks merah-ungu. berarti sel yang membuatnya mengalami disintegrasi.dalam sintesis dan reparasi DNA terletak di dalam inti sel. Ada penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu. pasta. Dari hidrolisis parsial amilopektin. .6)-glukosida. maka peningkatan aktivitas dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan atau organ tersebut ( Hafiz Soewoto. tetapi dengan banyak percabangan lewat ikatan α-(1.6)-glukosidase dapa menghidrolisis ikatan α(1.4)-glukosida. Namun jika dihidrolisis sebagian diperoleh produk yang berbeda: amilosa menghasilkan maltose sebagai satu-satunya disakarfida sedangkan amilopektin menghasilkan campuran disakarida maltose dan isomaltosa. misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PDH/ G6PD). Bila enzim yang diukur dalam serum terutama dibuat oleh jaringan atau organ tertentu. 2005 ).

air. Enzim ini memutus ikatan amilosa maupun amilopektin dari luar molekul dan menghasilkan unit-unit maltosa dari ujung nonpereduksi pada rantai polisakarida. Glukoamilase dikenal dengan nama lain alfa-1.6-glikosida.2.3 tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan hidrolisis ikatan glikosida a-1.3 Enzim Amilase Air liur mengandung enzim amylase liur. Enzim amylase sendiri di jelaskan di bawah ini.II.C. Fungsi dari musin yaitu lendir yang melekatkan butir-butir makanan dan melincirkan makanan. dan glukoamilase. Proses ini juga dikenal dengan nama proses likuifikasi pati.2.6 dan alfa-1.6 glikosida aktivitas enzim ini akan berhenti.4dan alfa-l. Bila tiba pada ikatan alfa-1. Enzim ini menghidrolisis ikatan glukosida alfa-1. enzim ini dapat pula menghidrolisis ikatan glikosida alfa-1. Enzim alfa-amilase merupakan endoenzim yang memotong ikatan alfa-1.4.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. Sedangkan fungsi air yaitu melembabkan dan melembutkan makanan. musin.html ). Alfaamilase akan menghidrolisis ikatan alfa-1-4 glikosida pada polisakarida dengan hasil degradasi secara acak di bagian tengah atau bagian dalam molekul. . bekerja pada ikatan alfa-1. Produk akhir yang dihasilkan dari aktivitasnya adalah dekstrin beserta sejumlah kecil glukosa dan maltosa.4. Adapun fungsi garam natrium yaitu menyediakan enzim beralkali untuk kerja amylase liur. Secara umum.glukan glukohidro-lase atau EC 3. 3.1. Enzim beta-amilase atau disebut juga alfa-l.4(http://june-s. amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang dipecah. dan garam natrium. Enzim Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1.blogspot. yaitu alfa-amilase.4 amilosa dan amilopektin dengan cepat pada larutan pati kental yang telah mengalami gelatinisasi. tetapi hasilnya beta-glukosa yang mempunyai konfigurasi berlawanan dengan hasil hidrolisis oleh enzim a-amilase. beta-amilase.3.4-glikosida dengan menginversi konfigurasi posisi atom C(l) atau C nomor 1 molekul glukosa dari alfa menjadi beta. Selain itu.1.4glukanmaltohidrolas E.2.

BAB III MATERI DAN METODE III.1 Alat dan Bahan Alat : a) Beaker glass b) Tabung reaksi c) Pipet volume d) Pipet tetes e) Erlenmeyer f) Spektrofotometri g) Incubator Bahan : a) Air liur b) Larutan pati c) Larutan iodium d) Larutan pH 7 dan 11 e) Aquadest .

370.2 ml air liur yang telah diencerkan. 200 kali .5 ml larutan pH 11 (tabung B). 600 kali b) 1 ml larutan pati dimasukkan kedalam 8 tabung reaksi yang diberi tanda blangko dan uji kemudian diinkubasi pada suhu 370 selama 5 menit .5 ml larutan pati ditambah dengan 0. o. 280. dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) larutan pati kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi tanda blangko dan uji kemudian pasangan tabung diinkubasi pada suhu 40.5 ml larutan pH 7 (tabung A). 600. kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama minimal 5 menit c) campuran larutan pati dengan larutan pH yang telah diinkubasi ditambahkan dengan 0. d) ditambah larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh Konsentrasi Enzim a) Air liur diencerkan dengan pengenceran 100 kali .III. 1000 C selama 5 menit c) larutan pati dicampurkan ke dalam 0. Masing-asing tabung ditandai blanko dan uji.5 ml larutan pati ditambah dengan 0.2 ml air liur kemudian diinkubasi selama tepat 1 menit d) ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung (untuk suhu 600 C dan 1000C dilakukan di luar penangas) e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh pH a) Air liur diencerkan 100 kali dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) 0.2 wadah Prosedur Kerja Sebelum melakukan percobaan diambil sampel air liur dari praktikan dan ditempatkan pada Pengaruh Suhu a) air liur diencerkan 100 kali. 400 kali .

226 0.211 0.043 0.255 AU 0.150 0.033 0.142 0.245 0.175 0.194 0.189 ∆A/menit 0.c) Air liur yang telah diencerkan diambil 0.2 ml (setiap konsentrasi) dimasukkan ke dalam tabung reaksi d) Larutan pati yang telah diinkubasi dicampurkan ke air liur kemudian diinkubasi tepat 1 menit e) f) Ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm g) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungakan kecepatan reaksi dengan suhu BAB IV HASIL PENGAMATAN Adapun hasil percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut : Pengaruh Suhu Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Suhu 40C 280C 370C 600C 1000C Dari data di atas didapatkan kurva AB 0.066 .183 0.061 0.051 0.

1245 0.003 AU 0.093 0.011 ∆A/menit -0.008 Perubahan warna Coklat Biru .Pengaruh pH Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm dan perubahn warna yang terjadi pH 7 11 AB 0.0315 -0.

pH 11 Pengaruh konsentrasi . pH 7 Kiri adalah Blanko. Kanan adalah larutan uji Gambar2.Dari data didapatkan kurva seperti di atas Foto di bawah ini memperlihatkan perbedaan warna hasil reaksi anatara pH 7 dan 11 Gambar1.

004 Dari data di atas didapatkan kurva Keterangan: ?A/menit pada judul tiap kurva maksudnya adalah ∆A/menit.0025 0.005 0.193 0.Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Pengenceran 100 X 200 X 400 X 600 X Konsentrasi AB 0.173 0. Namun kami tidak melakukan praktikum mengenai pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim. Faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi enzim. konsentrasi ion hydrogen (pH).189 ∆A/menit 0. suhu dan konsentrasi substrat.024 0.185 AU 0.08 0.019 -0.200 0. ∆A/menit diindikasi kan sebagai laju reaksi BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum ini kami melakukan percobaan secara invitro mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amylase yang terdapat pada air liur dalam memecah larutan pati.01 0.120 0.0017 0.207 0. .174 0.

Sedangkan air liur digunakan untuk mengetahui reaksi enzimatik dari enzim amylase di dalamnya. Pengaruh Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas katalisis enzim. Adapun kurva hasil percobaan memperlihatkan laju reaksi dari enzim semakin cepat seiring bertambahnya suhu ini terlihat pada kenaikan suhu dari 4oC hingga 37oC namun ketika suhu mengalami kenaikan hingga 60oC terjadi penurunan laju reaksi. yang kemudian diinkubasi selama 5 menit pada suhu 4. dan dihitung kecepatan reaksi enzimatik serta dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu. karena tidak terjadi benturan antara molekul enzim dengan substrat. 28. Bila suhu terlalu rendah. perlakuan tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya bumping selama proses pemanasan. Perlakuan yang sama pada larutan uji dan blanko yaitu sample yang sama yaitu larutan pati yang berfungsi sebagai substrat lalu di inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C ( untuk percobaan pengaruh suhu dan konsentrasi enzim ) yang berfungsi untuk menyamakan kondisi suhu enzim dengan suhu tubuh. Larutan Iodium digunakan sebagai indicator perubahan warna dari larutan uji.Dalam praktikum kali ini digunakan bahan pati yang diindikasikan sebagai substrat. Pada keadaan pertama yaitu 4oC hingga 37oC. atau dapat dikatakan enzim akan kehilangan sifat alamiahnya. larutan iodium ini merupakan indicator adanya karbohidrat atau tidak dalam larutan. Setelah itu dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm. Larutan pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. Berdasarkan data hasil pengamatan. telihat peningkatan laju reaksi akibat adanya gerak termodinamik yang secara perlahan membentuk produk dan pada titik optimum ( suhu optimum ) yaitu 37oC dapat dikatakan membentuk secara . Kedua keadaan ini diakibatkan oleh benturan antara enzim dan substrat.2 ml air liur kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit dan ditambahkan larutan iodium 1 ml dalam 8 ml aquadest pada masing-masing tabung. Kami juga menggunakan larutan pati sebagai larutan uji untuk melihat aktivitas enzim amylase. 37. yang pertama kami lakukan adalah pengenceran air liur hingga 100 kali. Setelah diinkubasi larutan pati dicampurkan ke dalam 0. 60. untuk suhu 600 C dan 1000 C dilakukan di luar penangas. perubahan absorbansi per menit yang diperoleh dari absorbansi larutan blanko dan absorbansi larutan uji dapat dilihat dari kurva disamping. Diluar suhu optimum aktivitas enzim menjadi tidak maksimal. dimana benturan yang terjadi semakin banyak maka struktur tiga dimensi dari enzim tersebut akan terganggu sehingga enzim akan mengalami denaturasi. enzim menjadi tidak aktif. Pada ketiga percobaan perlakuan hampir sama pada pembuatan larutan uji dan blanko. Lalu mencampurkan pati dengan air liur dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial. Kemudian ditambahkan Larutan iodium yang akan menandakan perbedaan warna dari masing-masing perlakuan pada percobaan factor yang mempengaruhi kerja enzim. Sedangkan bila suhu terlalu tinggi. Pada percoban mengenai pengaruh suhu terhadap aktiivitas enzim. 100 C yang masing-masing suhu dibuat blanko dan uji.

Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. pada keadaan kedua yaitu suhu mengalami kenaikan hingga 60oC. sehingga didapatkan kurva yang tidak sesuai teori. Pengaruh pH Dari hasil percobaan kami tidak dapat membuktikan bahwa keasaman mengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Kurva di samping pun menjadi rancu bila dibandingkan dengan kurva antara pH larutan enizm amylase dari air liur dengan laju reaksi menurut Mohamad Sadikin (2002) Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. kompleks E-S akan sukar terbentuk. Hal ini disebabkan telalu lamanya tabung reaksi berada di luar penangas. pada keadaan ini perbenturan antara enzim dan substrat terus berlangsung namun keadaan ini tidak menambah laju reaksi namun mengurangi laju reaksi ini disebabkan karena enzim mengalami denaturasi sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. sehingga diperkirakan suhu dalam tabung berada di bawah 100 oC pada saat pencampuran sehingga tumbukan antara enzim dan substrat mengalami penurun dan mendekati suhu optimum sehingga menghasilkan laju reaksi yang menurun. Kesalahan ini terletak pada penambahan air liur yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dimana air liur yang ditambahkan hanya 1ml bukan 2ml yang merupakan tahapan pada prosedur kerja sehingga hasil absorbansi nilai ∆A/menit menjadi minus. Tampak adanyaplateau. sehingga produk juga makin sedikit dan ini terlihat ( Mohamad Sadikin. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Terlihat pada kurva di samping. Pada umumnya enzim bekerja maksimum . Dari kurva terlihat bahwa pada suhu 100 oC terjadi kenaikan nilai absorbansi. Akibatnya. Dari kurva hasil percobaan terlihat semakin tinggi pH semakin tinggi nilai absorbansi yang menandakan semakin tingginya laju reaksi dari pH 7 ke pH 11.sempurna karena enzim amylase yang merupakan enzim yang terdapat tubuh memilki suhu optimum 37oC. 2002 ) dari kurva laju reaksi yang semakin menurun.

pada pH 5-9. konsentrasi enzim amylase dari air liur yang berbedabeda didapatkan dari pengenceran larutan air liur.0025 dimana laju reaksi semakin meningkat. Akibatnaya. adanya nilai pH tertentu.0025.0017.005. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. 400x dan konsentrasi yang di dapat yaitu 0. Oleh karena itu. Keadaan ini tidak dapat membuktikan teori yang . Sedangkan hasil pengamatan pada pH 11 menunjukan warna biru pada larutan uji setelah ditambhkan iodium.0017 hingga 0. Larutan air liur diencerkan menjadi 100x. Dari konsentrasi ini sebelum praktikum kita dapat memprediksikan jika laju reaksi akan mencapai titik tertinggi pada konsentrasi 0. Dari pengamatan warna larutan uji. 0. Ini menunjukan adanya kompleks pati iodium dimana dapat diindikasikan adanya amilosa yang merupakan bagian dari pati ( karbohidrat ). Dari hasil percobaan pengaruh konsentrasi enzim terlihat pada pergerakan laju reaksi dari 0. terlihat perbedaan warna yang signifikan antara larutan pati yang dicampurkan dengan air liur pada pH 7 dan pada pH 11 setelah ditambahkan larutan iodium.0017. Pada pH 7 ini dapat dikatakan sudah tidak adanya karbohidrat ( dari larutan pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin ) karena dihidrolisis oleh amylase terlihat dengan tidak didapatkan warna biru kehitaman ( menandakan adanya amilosa) ataupun merah ungu ( menandakan adanya amilopektin )ketika ditambahkan larutan iodium. Kerja enzim sebagai katalis dipengaruhi oleh pH. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. 2002). sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. struktur 3 dimensi berubah akibat ph yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. proses katalisis berjalan tidak optimum.01 dan titik terendah pada konsentrasi 0. namun dari kurva kita lihat enzim amylase dari air liur bekerja semakin tinggi dengan bertambahnya pH ( yaitu pH 11 yang berada di luar kisaran pH untuk enzim bekerja maksimum).0025 hingga konsentrasi 0. 300x. namun kondisi ini ini terus menurun pada konsentrasi 0. Pengaruh konsentrasi enzim ini yaitu pembentukan produk. Pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim ini. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Kerja enzim amylase disini dikatatan sebagai hidrolisis parsial dan memperlihatkan bahwa enzim amylase berada pada kondisi 3 dimensi yang tepat sehingga dapat mengolah ( menghidrolisis ) karbohidrat dari larutan pati dengan sangat cepat. dimana makin besar konsentrasi enzim makin banyak pula produk yang dihasilkan sehingga dapat dinyatakan bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Pada larutan uji pH 7 warna yang dihasilkan yaitu coklat.01.0. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. pH tersebut dinamakan pH maksimum. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. Sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amylase tidak bekerja optimum dalam menghirdrolis larutan pati karena struktur 3 dimensi dari enzim amylase telah berubah sehingga tidak dapat mengolah substrat dengan baik. Keadaan ini menandakan bahwa enzim amylase pada air liur bekerja menghidrolisa larutan pati menjadi produk yang terdiri dari glukosa dan maltosa. 200x. dan 0.01. Pengaruh konsentrasi enzim Konsentrasi enzim mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Di luar nilai ph optimum tersebut. Kondisi ini terlihat dari kurva di samping kanan.

dan aktivitas enzim dapat dikatakan bekerja cepat dan tepat pada pH optimumnya. . Faktor pertama yaitu suhu. Selain itu dapat kami simpulkan bahwa enzim amylase bekerja menghidrolis secara parsial larutan pati yang merupakan karbohidrat. Kesalahan dalam prosedur kerja ini yaitu ketidaktelitian dalam pengenceran. Jadi. maka makin cepat laju reaksi yang tertera pada kurva ( Mohamad Sadikin. Pengenceran yang dimaksud adalah ketika mengencerkan air liur dari 100x menjadi 200x dan seterusnya. Enzim amylase bekerja maksimum pada pH 7 dan pada suhu 37 0C. makin besar konsentrasi enzim. dimana semakin tinggi konsentrasi enzim semakin banyak produk yang dihasilkan. Faktor kedua yaitu pH dimana terlihat perbedaan warna akibat kerja enzim pada pH yang berbeda. 2002).menyebutkan Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. BAB VI KESIMPULAN Dari hasil percobaan maka dapat kami simpulkan yaitu enzim dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. aktivitas enzim semakin meningkat seiring bertambahnya suhu terlihat dari laju reaksi namun aktivitasnya menurun setelah melewati suhu optimum. Kurva yang berbeda pada hasil percobaan dikarenakan adanya kesalahan dalam prosedur kerja. Faktor ketiga yaitu konsentrasi enzim.

ac. Biokimia Enzim. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Staf Pengajar Kimia Organik. Mohamad. DAFTAR PUSTAKA Sadikin. http://june-s.Jakarta: Widya Medika. 2000.pdf .id/download/fmipa/farmasi-mtsim1.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase.sehingga dapat dikatakan pH 7 merupakan pH optimum dalam kerja enzim amylase. Jakarta : Widya Medika. Penuntun Praktikum Kimia Organik untuk Mahasiswa Program D3 Analisis Kimia. 2005. Sedangakan suhu 37 0C merupakan suhu optimum bagi enzim amylase dalam melaksanakan kerjanya. Soewoto.usu. dkk. Departemen Kimia FMIPA-IPB. 2002. Hafiz.blogspot.html http://library.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful