aruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroba MARCH 24, 2012 BY ADMIN LEAVE A COMMENT PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP

PERTUMBUHAN MIKROBA

Tujuan : Dapat mengetahui apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba Dapat menarik kesimpulan dan menyikapi hal tersebut jika terlibat lagi dalam proses mikrobiologi Teori :

Kehidupan mikroorganisme umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Ada 3 macam faktor lingkungan yang mempengaruhi, yaitu : Faktor fisis, misalnya : suhu, pH, tekanan osmotik, kandungan oksigen dan lain-lain Faktor kimia, misalnya senyawa beracun atau senyawa kimia lain yang berfungsi sebagai bahan makanan Faktor biologis, misalnya : interaksi dengan mikroba lainnya Pengaruh Suhu Peranan suhu terhadap pertumbuhan mikroorganisme sebenarnya merupakan petunjuk adanyapengaruh suhu pada enzim di dalam sel mikroorganisme, Bila suhu rendah (di bawah optimum), aktivitas enzim juga rendah dan dengan demikian pertumbuhan mikroba menjadi lambat. Pada titik beku (di bawah minimum) semua aktivitas metrabolisme di dalam sel terhenti. Hal ini tidak hanya disebabkan karena penghambatan aktivitas enzim secara langsung, tetapi juga karena sel kehilangan air yang sangat diperlukan untuk penyerapan zat-zat makanan dan pengeluaran hasil-hasil buangan sel. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan suhu optimum : 0 – 20 °C 20 – 50 °C 50 – 100 °C Pengaruh pH Mikroorganisme dapat tumbuh dengan baik pada jarak pH tertentu, misalnyabakteri pada pH 6,5 – 7,5, khamir pada pH 4,0 – 4,5, sedangkan kapang pada selang pH yang lebih luas. Untuk menahan perubahan pH, ke dalam medium sering ditambahkan larutan buffer (penyangga) dengan tujuan agar diperoleh pertumbuhan mikroorganisme yang baik, sebab pada pH optimumnya, pertumbuhan mikroorganisme akan terhambat. Mikroorganisme dapat dibedakan berdasarkan pH tempat tumbuhnya : = Psikrofil = Mesofil =Termofil

pH asam pH basa pH netral

: Asidofil : Alkalofil : Neutrofil

Pengaruh bahan kimia (Desinfektan) Untuk membandingkan kekuatan desinfektan alam menghambat pertumbuhan bakteri dapat digunakan cakram kertas. Pada cara ini cakram kertas dengan diameter tertentu dibasahi dengan desinfektan, kemudian diletakkan pada permukaan agar dalam cawan petri yang telah di inokulasi. Kemudian diinkubasi selama 48 jam. Jika desinfektan menghambat pertumbuhan bakteri, maka akan terlihat daerah bening di sekeliling cakram kertas. Luas daerah benda ini menjadi ukuran kekuatan daya kerja desinfektan Zat makanan yang diserap bakteri, sebagian akan digunakan untuk membangun protoplasmanya sehingga tumbuh mencapai besar tertentu kemudian membelah diri (berkembang biak)perkembangan bakteri. Bakteri berkembang biak dengan jalan membelah diri, dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4 dan seterusnya. Interval waktu yang dibutuhkan bakteri untuk membelah diri berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya:

Escherichia coli membelah diri setiap 15-29 menit Salmonella typhy membelah diri setiap 23-24 menit Sthaphylococcus tuberculosis membelah diri setiap 792-932 menit Treponema pallida membelah diri setiap 1980 menit

Bila suatu jenis bakteri dalam keadaan yang baik dan makanan yang cukup dan membelah setiap 30 menit maka 1 bakteri yang membelah diri mulai jam 09.00 maka pada jam 12.00 akan menjadi 64, pada jam 24.00 menjadi 17.000.000 dan pada jam 09.00 esok harinya menjadi 280.000.000.000.000 untunglah perkembangbiakan secepat ini tidak terjadi di alam karena banyak sekali faktor yang memperngaruhi kehidupan bakteri.

Pengaruh Lingkungan pada Pertumbuhan dan Perkembangan Bakteri

a. Pengaruh suhu

Tiap jenis bakteri mempunyai suhu optimum di mana pertumbuhannya paling baik berdasarkan hal ini bakteri dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

Golongan

Suhu Pertumbuhan Minimun Optimum Maksimum 10-15 25-37 50-60 30 40-55 60-90

Psychrophil 0 Mesophil 15-25

Thermophil 25-45 dalam satuan derajat Celcius

bakteri-bakteri patogen pada manusi termasuk bakteri mesopil. Suhu optimumnya sama degan suhu tubuh manusia (37 C)

1. Pengaruh suhu rendah. Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bakteri, bahkan ada yang tahan bertahun-tahun pada minus 70 Celcius (C) Bakteri yang patogen pada manusia umunya mati pada suhu 0 C

2. Pengaruh suhu tinggi Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila bakteri dipanaskan pada suhu di atas suhu maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri baik patogen maupun tidak dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 menit pada suhu 60-65 C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.

b. Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.

c. Pengeringan (kelembaban)

Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar ke dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab, dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang kering. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan pengeringan. Pada suasana kering ini bakteri tidak dapat merombak bahan makanan yang ditempatinya. Di laboratorium bakteri atau virus dapat dipertahankan hidup dalam keadaan kering, bila pembenihan dibekukan secara cepat kemudian dikeringkan secara cepat pula di dalam ruang vacum (hampa udara). Cara ini penting dalam pembentukan stok (cadangan) bakteri, virus, enzim, toxin, dan plasma darah, yang biasanya dibuat dalam bentuk serbuk. Serbuk ini sangat lyophil (suka air) karena itu pembuatannya disebut proses lyophil.

d. Keasaman (pH)

Umumnya asam mempunyai pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) agau sedikit basa (pH 7,2-7,4) tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5-7,5. Bakteri-bakteri yang patogen pada manusia tumbuhan baik pada pH 6,8-7,4, yaitu sama dengan pH darah. Beberapa bakteri dapat hidup pada suasana asam, misalnya bakteri yang hidup pada gusi manusia, yaitu Streptococcus mutans. Ada pula bakteri yang tumbuh baik pada suasana basa misalnya Vibrio cholera.

e. Pengaruh O2 dari udara

Berdasarkan responnya terhadapa 02 bebas ini, bakteri dibagi dalam 3 golongan , yaitu: Bakteri aerob (obligate aerob), yaitu bakteri yang hanya hidup di dalam lingkungan yang mengandung 02 bebas. Misalnya: Vibrio cholera, Bacillus anthracis,Corynebacterium diptheriae. Bakterii anaerob (obligate anaerob), yaitu bakteri yang hanya dapat hidup di dalam lingkungan yang tidak mengandung 02 bebas. Misalnya, Clostridium tetani,treponea pallida. Fakultatif aerob, yaitu bakteri yang hidup di dalam lingkungan, baik yang mengandung 02 bebas ataupun tidak. Misalnya: Salmonella typhi, Neisseria meningitis dan Streptococcus pyogenes. Bakteri-bakteri fakultatif aerob pada umumnya akan lebih baik tumbuh pada lingkungan yang mengandung sedikit 02 bebas, karena itu lebih tepat bila dinamakan bakteri microaerophil.

f. Pengaruh tekanan osmotik

Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba Mengubah permebialitas membran sitoplasma sehingga lalu-lintas zat-zat yang keluar masuk ke sel mikroba menjadi kacau. FAktorfaktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. LAPORAN 8 (Pengujian Viabilitas Sel Khamir dan Uji Aktivitas Ragi) VI. bakteri tidak mudah dipengaruhi oleh tekanan osmotik cairan di sekitarnya. Pengaruh faktor cahaya terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzim sehingga fungsi enzim itu terganggu.Air keluar dan masuk ke dalam bakteri melalui proses osmosis. Asam atau basa kuat dapat menghidroliskan struktur sel sehingga hancur. Hydrolusa. g. Memblokir beberapa reaksi kimia. termasuk air. Pertumbuhan dan perkembangan bakteri di alam. faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakteri. Misalnya preparat sulfa memblokir sintesa folic acid di dalam sel mikroba. karena perbedaan tekanan osmotik antara cairan yang ada di dalam dengan yang ada di luar sel bakteri. sumber: Mikrobiologi & Parasitologi: dr. Terjadi ikatan kimia. Citra Aditya Bakti Tag: Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Oksidasi. larutan hipertonis di sekitar bakteri akan menyebabkan bakteri sukar atau sama sekali tidak dapat tumbuh bahkan dapat membunuhnya. Pengaruh faktor keasaman terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. PEMBAHASAN . Akan tetapi. karena mempunyai membran sitoplasma yang secara aktif mengatur ke luar masuknya zat ke dalam sel bakteri. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur itu terganggu. Mengubah sifat koloid protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati. misalnya mengoksidasi suatu enzim. Pengaruh faktor tekanan osmotik terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Untuk kelangsungan hidupnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. pengaruh desinfektan terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Pengaruh faktor kelembaban terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Indan Entjang: PT. pengaruh faktor suhu terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Kenyataan ini dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk mengawetkan ikan asing dan dendeng.Pengaruh faktor oksigen terhadap Pertumbuhan dan perkembangan bakteri.

Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa sel khamir yang mati sebanyal 33 sel dan sel hidup sebanyak 15. lalu lakukan pengamatan di bawah mikroskop. Pengamatan yang dilakukan adalah pengembangan volume adonan roti yang telah dibuat. Mikroba utama dalam ragi roti ini adalah jenis khamir Saccharomyces cerevisiae. untuk mengetahui pengembangan adonan dan juga karakteristik roti itu sendiri. sangat aktif dalam memecah gula. Pada saat pengamatan di mikroskop kita dapat melihat dan membedakan antara sel khamir yang mati dan hidup. Selain itu. Pada perlakuan pertama pengujian viabilitas sel khamir. pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi roti. Campuran tepung cakra dan fermipan kemudian ditambahkan dengan aquades hangat sedikit demi sekit hingga terbentuk adonan roti yang kalis. Pertama-tama 40 gram tepung ditambahkan 0. sehingga membran luar selnya dapat mengatur apapun yang keluar masuk sel. membran luar sel tidak dapat menahan cairan yang keluar masuk sel. Kemungkinan bagian yang digunakan itu adalah bagian yang sel matinya lebih banyak.1 Pengujian Viabilitas Sel Khamir Ragi yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu fermipan. sehingga menjadi tidak berwarna. Sedangkan sel yang masih hidup terlihat tidak berwarna di bawah mikroskop.Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 November 2011.1 g ragi roti ditambahkan dengan 10 ml aquades steril didalam erlenmeyer.1 gram ragi diawal dilakukan secara acak. tidak semua mikroorganisme dapat terlihat dengan baik. 4. yang ditandai dengan warna bening. terdispersi dalam air.2 Uji Aktivitas Ragi Praktikum selanjutnya adalah uji aktivitas ragi. Ini dapat menyebabkan warna biru dari Methylen Blue masuk ke dalam sel. Adonan kalis dapat diidentifikasi dengan terbentuknya adonan yang tidak lengket dan apabila dibelah adonan tidak menjadi pecah. Ruang pandang yang terbatas pada mikroskop dapat menjadi salah satu penyebab ketidak-akuratan dalam menghitung jumlah mikroorganisme yang hidup dan yang mati.sebelumnya 0. dan tumbuh dengan sangat cepat. Sel khamir ini memiliki sifat-sifat fisiologi yang stabil. Tepung yang digunakan merupakan tepung yang memiliki kadar gluten yang tinggi sehingga cocok untuk pembuatan roti. Hal lain yang mungkin terjadi adalah kondisi lingkungan tidak cocok untuk ragi dan penambahan alkohol untuk membersihkan objek glass menyebabkan sel khamir banyak yang mati. Volume adonan dapat berkembang karena khamir menghasilkan gas CO2 yang membuat adonan . suspensi ditetesi lagi dengan Methylen Blue. mempunyai daya tahan simpan yang lama. Karena jarak pandang yang terbatas yaitu hanya sati sisi saja. bertujuan untuk mengamati jumlah sel khamir yang hidup dan yang mati. yang selanjutnya dikocok. Sel khamir yang masih hidup ini dapat menahan Methylen Blue. lalu ambil satu ose sampel dan di inokulasi pada objek glas. 4. Jika viabilitas sel rusak. Praktikum kali ini terdapat dua perlakuan yaitu. yang menunjukkan sel khamir tersebut hidup dan yang berwarna biru menunjukkan sel khamir yang mati karena menyerap metylen blue. Adanya sampel yang menunjukkan sel mati lebih banyak dari sel hidup dapat dipahami mengingat pengambilan 0. Ragi fermipan dibuat menjadi suspensi. Sel yang masih hidup masih memiliki viabilitas sel yang baik. dan sel terlihat berwarna biru.44 gram fermipan.

mengembang. ketinggiannya juga beratambah. Peningkatan volume adonan diamati setiap 10 menit selama 1 jam. Uji Aktivitas Ragi Menit Tinggi 0’ 72 ml 10’ 74 ml 20’ 80 ml 30’ 93 ml 40’ 96 ml 50’ 97 ml 60’ 98 ml (Sumber : Dokumentasi Pribadi. Hasil pengamatan dapat dlihat pada Tabel 1. Tabel 1. sehingga pertumbuhan khamir meningkat. Jadi memang benar bahwa dalam adonan ragi berfungsi sebagai: . tejadi pertambahan volume pada adonan setiap 10 menit. Adonan dimasukkan ke dalam gelas ukur dan ditutup dengan cling wrap. Pengembangan volume yang meningkat dapat terjadi karena suhu adonan masih optimal bagi sel khamir dan karena nutrisi yang dibutuhkan sel khamir masih banyak tersedia dalam tepung adonan. 2011) Berdasarkan hasil pengamatan.

Pada pengujian aktivitas ragi. Hal ini disebabkan karena selama fermentasi. ragi juga menghasilkan sejenis etanol yang dapat memberikan aroma khusus. jika tidak kita tutup maka tidak akan mengembang karena udara dapat masuk dan menghambat kerja dan pertumbuhan sel khamir yang ada pada adonan roti. .Leavening agent (pengembang adonan). sedangkan gas CO2ditahan oleh gluten terigu sehingga roti mengembang. Selama pengadukan adonan dan fermentasi. sehingga dapat membentuk jaringan yang dapat menahan gas karbondioksida keluar. KESIMPULAN Kesimpulan dari praktikum pengujian viabilitas sel khamir dan uji aktivitas ragi adalah sebagai berikut: Dalam pembuatan roti. memproses gluten (membuat jaringan sehingga gas karbondioksida tertahan didalam). Etanol yang dihasilkan akan menguap selama pemanggangan. perhatikan pula suhu pembuatan adonan. maka semakin buruk kualitas ragi. Bila suhu adonan melebihi 30°C. Dalam ragi terdapat dua sel khamir. yang terbentuk karena ragi juga memproduksi sejenis etanol). maka aktivitas ragi akan berkurang sehingga fermentasi roti akan semakin lama. mudah keras. Akibatnya aroma roti menjadi asam. sehingga adonan mengembang. Ragi roti di dalam adonan akan bekerja secara optimal bila suhunya di bawah 30°C. Semakin banyak sel mati. Menghasilkan flavour (aroma dan rasa) pada adonan. Pada pembuatan roti. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ragi memang benar-benar terjadi. yaitu sel hidup dan sel mati. ditambahkan ragi untuk memprosesnya. Tujuan dari gelas ukur tersebut ditutup dengan clingwarp dengan tujuan agar sel khamir dapat tumbuh dan berkembang. Semakin kuat gluten menahan terbentuknya gas CO2. Pemakaian mesin (mixer) yang terlalu lama untuk mengaduk roti menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu adonan sehingga mengurangi aktivitas ragi (yeast). Ragi yang digunakan pada praktikum ini adalah ragi berkualitas buruk karena jumlah sel hidup lebih sedikit dari sel mati. ragi berfungsi sebagai pengembang adonan (ragi mengkonsumsi gula yang menghasilkan karbondioksida). ragi roti menghasilan sedikit etanol dan gas CO2. V. Mikroba yang berperan adalah dari spesies Saccharomyces cerevisiae. karena sel khamir hanya dapat tumbuh pada lingkungan yang anaerobik. Untuk mengoptimalkan aktivitas ragi. dan mengahasilkan flavour (aroma dan rasa. dan roti menjadi tidak tahan lama. semakin mengembang volume adonan roti. Memproses gluten (protein pada tepung). volume adonan bertambah tiap 10 menit. ragi mengkonsumsi gula dan mengubahnya menjadi gas karbondioksida. serat roti kasar.

. 1988. Srikandi.DAFTAR PUSTAKA Fardiaz. Berikut adalah hasil penelitian mengenai pengaruh suhu pada aktivitas enzim amilase yang dilakukan pada beberapa organisme. apakah viabilitas sel khamir pada ragi yang dibuat masih tetap tinggi?Jika tidak. .. Penerbit Universitas Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Pseudoalteromonas Arctica Sekelompok peneliti mengisolasi enzim amilase dari Pseudoalteromonas Arctica. Enzim amilase umumnya bekerja maksimal pada suhu tubuh normal dan aktivitasnya akan menurun seiring terjadinya penyimpangan dari suhu normal. Penerbit Universitas Indonesia. 1987.A. Suhu optimal enzim ini akan bervariasi. R.A Edwards. W.. mulai dari bakteri hingga manusia. Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. sebuah bakteri laut lokal di Samudra Arktik yang mengelilingi pulau Spitzbergen di Norwegia. Penerjemah Muchji Muljohardjo. Mikrobiologi Pangan 1. Wootton. PERTANYAAN DAN DISKUSI Berdasarkan pengamatan. 1992. Jelaskan! Jawab : 10%. dan M. Norman. Ragi tersebut hanya mengembang sedikit demi sedikit bahkan ada yang tidak mengalami pengembangan sehingga dapat disimpulkan apabila ada komponen lain yang menghambat keberhasilan pembuatan ragi roti. G. Jakarta. Jakarta. K. Teknologi Pengawetan Pangan. tergantung pada tiap jenis organisme. Buckle.H Fleet. Ilmu Pangan. Hal ini didasarkan pada hasil uji aktivitas ragi yang telah dibuat. Dalam edisi 2010 November “Journal Protein. Desroiser. Bagaimana tingkat keberhasilan pembuatan ragi roti berdasarkan cara yang telah dilakukan. Amilase adalah sebuah enzim yang diproduksi oleh sebagian besar organisme. Amilase digunakan untuk memecah zat tepung menjadi gula untuk produksi energi. PT. Jakarta. apa alasannya? Jawab : tidak tinggi viabilitasnya. sebab sudah banyak sel khamir yang mati daripada sel khamir yang masih hidup.” para peneliti menyatakan bahwa suhu optimal enzim amilase pada bakteri tersebut adalah 30 derajat Celcius dan aktivitas molekul berkurang hingga 65 persen pada suhu nol derajat Celcius.

Studi ini juga melaporkan bahwa aktivitas enzim amilase menurun tajam pada suhu di atas 40 derajat Celcius. enzim menjadi tidak aktif pada suhu 60. reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim.25 derajat Celcius setelah satu jam. Para peneliti menemukan bahwa aktivitas enzim amilase tidak mengalami hambatan pada suhu mulai dari 10 sampai 50 derajat Celcius. Mereka menemukan bahwa aktivitas enzimatik meningkat seiring dengan suhu. suhu dan waktu pada proses pasteurisasi. Selain itu. Heliodiaptomus viduus. aktif pada berbagai rentang suhu.[] 1. Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya.400 molekul untuk setiap gram berat badan. sampai enzim didenaturasi pada suhu 80 derajat Celcius. Tinjauan Pustaka Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. Sebuah studi yang diterbitkan dalam edisi Maret 2006 “The Turkish Journal of Zoology” melaporkan bahwa enzim amilase dalam organisme ini akan beraktivitas maksimum antara suhu 30. 1994). Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono. Penelitian ini lebih lanjut melaporkan bahwa aktivitas enzimatik paling optimal terjadi pada suhu 30 derajat Celcius.0. tetapi menurun ketika tekanan dan waktu ditingkatkan. . Bacillus iicheniformis. Bacillus iicheniformis Edisi Januari 1989 dari jurnal “Biotechnology and Bioengineering” melaporkan bahwa enzim α-amilase dari bakteri terisolasi.1. Bacillus subtilis Sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi Juli 2009 “Biotechnology Progress” menyelidiki potensi penggunaan enzim amilase yang diisolasi dari Bacillus subtilis. Heliodiaptomus viduus Zooplankton air tawar. Para peneliti menyesuaikan suhu suatu medium yang mengandung bakteri secara bertahap dari 4 ke 22 hingga 37 dan akhirnya 80 derajat Celcius. mengandung sejumlah besar amilase sekitar 2.25 dan 70.25 derajat Celcius setelah dua jam dan 70. Dalam mahkluk hidup.25 derajat Celcius pada pH 6. sebagai indikator tekanan. PENDAHULUAN 1.

glikogen dan polisakarida yang lain. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. Sebaliknya pada penyakit hati. bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor. 1994). kebutuhan kofaktor. sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat. pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa. 1994). Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. kadarnya dalam darah meningkat. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan. Pada suhu ruang. Pada suhu 45°C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. substansi tersebut tidak berubah. dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. 1990). pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor. Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington. . Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim. Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. larutan tidak ada gumpalan. menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat. Misalnya. hewan memiliki hanya α amilase. 1991). perubahan pH sangat kecil. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi. Karena itu pada suhu 40oC. 1994). Tumbuhan mengandung α dan β amilase. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih. gondongan. 1989). kadarnya menurun (Anonim. Pada penyakit radang pankreas. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis. daerah temperatur. maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi. 1990). Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. Dalam air. 1991).Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. pH optimal. amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox. dalam banyak kasus. kencing manis. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington. yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit(Wirahadikusumah. Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. begitu juga pada suhu ruang. Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. Pada sel hidup. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. maltotriosa atau oligosakarida.

Pati yang merupakan . 1992). Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. proses denaturasi juga mulai berlangsung dan menghancurkan aktivitas molekul enzim. pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. (Tranggono & Setiadji. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Sebagai contoh. yang terjadi saat perkecambahan serealia. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. Ketika temperatur meningkat. Pengaruh suhu Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. 3. aktivitas enzim berkurang. Beberapa ion anorganik. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington. pada umumnya sekitar 4. Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee. 2. Pada suhu yang sangat rendah. Ko-enzim dan aktovator Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. 1994). Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah. Spesifitas Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. Sebagai contoh. misalnya ion kalsium dan ion klorida. hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam.Sifat-sifat enzim antara lain : 1. 1989). khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. 1994). 1992).5–8. Namun dalam suatu reaksi kimia. enzim yang dikeluarkan ke lambung. 1994). yaitu suhu tubuh. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington. pepsin. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono. 1994). laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. 4. 1994). Pengaruh pH pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington. Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu. dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser.

Pada manusia. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat. amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox. glikogen. Proses produksi maltosa lebih lambat. 1994). . dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati. Di dalam larutan pati. α amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida. bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr. menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. kehilangan daya viskositas yang lebih cepat. suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C. Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase.polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. enzim. Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. aktifitas enzim akan berkurang. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. c. Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim. 1991). Pada suhu yang sangat rendah. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. d. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang. dan polisakarida yang lain. hewan memiliki hanya α amylase. Tidak memproduksi glukosa. di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. dll). peroksidase dan fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian: Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. α amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7. dan gaya irisan. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 1001000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. α amilase mempunyai beberapa sifat. Tumbuhan mengandung α dan ß amylase. b. 1994). antara lain : a. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington. produk. temperatur. kofaktor. pH. Tipe III : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox. Dalam air. Contohnya. Untuk enzim. 1992). 1994). 1991). Warna iodine akan lebih cepat hilang. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda– beda (Lee. yaitu suhu tubuh. Poligalakturonase. Tipe II : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein.

1.2. 4. spektofotometer. cawan dan batang porselin. Alat Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah water bath. Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui efek dari nilai pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim.e. 12. 10. Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. 1995 ). Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz.9. timbangan analitik.1. Larutan campuran tersebut disaring dengan kain mori dan filtrat yang dihasilkan ditampung.5. 13). dan 1 ml buffer pH 9 seperti tabel di bawah ini : Larutan pati Tabung Enzim = tidak dididihkan (setelah inkubasi 2 menit) Aquades Buffer pH 3 Buffer pH 5 2 4 2 2 4 2 2 4 2 2 4 2 4 - 1 2 3 . larutan Buffer pada pH 3.1. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah reagen Benedict. Materi 2. 2. Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr. tabung reaksi. pompa. MATERI DAN METODE 2. air destilasi. 2. 11.7. Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox. 5. Metode Kecambah dan buah ditimbang dalam beaker glass sebanyak 15 g. 1 ml buffer pH 7. 3. kecambah kacang tanah dan pepaya (menatah dan mendidih).1. stopwatch. 1. 2. 1 ml buffer pH 3. kecambah kacang hijau. Setelah itu ditambahkan dengan 30 ml larutan buffer. vortex. 1992 ). kacang hijau segar. penjepit. 2. 1994).2. 1 ml buffer pH 5. pipet volume. 7. Kemudian masing-masing tabung reaksi diberi label dan diisi dengan 2 ml larutan pati dan ditambahkan pula ke dalamnya masing – masing tabung berbeda yaitu 1 ml aquadestilata. larutan pati 1%. 6. 8) dan ada yang dipanaskan (kelompok 9. 1991 ). beaker glass.2. kacang tanah segar. Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno. Larutan tersebut ada yang tidak dipanaskan(kelompok 1.

9581 1.2830 0. Grafik 1. dapat dilihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.3041 0.8719 1.9199 1.1879 0. Tabel 1.8561 0.7878 0.6078 5 pH 9 0. 0.1146 0.9458 0.8425 0. Grafik hubungan antara nilai pH terhadap OD digambar.5631 0.2289 0.3844 0.4868 0. 3.2706 0.4248 2 pH 3 1. B5 + B6 & B12 Pepaya Mentah.1552 0.1180 0.3391 0.9005 0.2415 1. Grafik Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan .2143 3 pH 5 0.2120 0.5701 4 pH 7 0.6193 Kelompok B1-B8 mengalami perlakuan enzim tidak didihkan dan kelompok B9-B13 mengalami perlakuan enzim didihkan.4480 0.5 ml larutan reagen Benedict ditambahkan ke setiap tabung reaksi dan diukur besar OD ( Optical Density ) pada λ 620.1237 0.9213 1.9948 0. 2 ml larutan enzim yang didinginkan atau dipanaskan tadi ditambahkan ke masing – masing tabung reaksi dan di-vortex.1219 0.1968 0.3486 0.2080 0. Inkubasi selama 10 menit dilakukan kembali terhadap tabung–tabung reaksi tersebut. HASIL PENGAMATAN Hasil percobaan tentang pengaruh pH yang berbeda dan pemanasan terhadap aktivitas enzim. B3 + B4 & B11 Kecambah Kacang Hijau.1957 0. B7 + B8 & B13 Pepaya Matang. Kemudian di-inkubasi dalam waterbath 38oC selama 2 menit.4 5 Buffer pH 7 Buffer pH 9 - - - 2 - 2 Kelima tabung reaksi tersebut di-vortex.1245 1. Setelah itu. Dengan perincian kelompok B1 + B2 & B9 + B10 Kacang Hijau Segar.2388 1. Pengamatan Nilai Absorbansi pada Larutan Tabung Kel 1 aquades B1 + B2 B3 + B4 B5 + B6 B7 + B8 B9 + B10 B11 B12 B13 0. Setelah itu.2412 0.0240 0.

Hal tersebut terlihat bahwa enzim dipengaruhi oleh panas atau suhu. Sedangkan pada bahan yang . bahwa suhu optimal enzim antara 35oC dan 40oC. yang ditunjukkan dengan nilai absorbansinya. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan di atas. Dapat dilihat bahwa nilai absorbansi pada kelompok B9-B13 (enzim mendidih) jika dibandingkan dengan nilai absorbansi kelompom B1-B8 (enzim tidak mendidih) memiliki nilai yang jauh lebih rendah pada bahan dan pH yang sama. nilai absorbansinya semakin turun. Sesuai dengan pernyataan Gaman & Sherrington (1994). Pada enzim yang dididihkan. sedangkan pada enzim yang dipanaskan cenderung nilai OD-nya berada ditingkat absorbansi yang lebih rendah. Pada percobaan kelompok B1-B8 enzim tidak dididihkan sedangkan pada percobaan kelompok B9-B13 enzim dididihkan dengan perlakuan pH yang sama dari percobaan tersebut terdapat perbedaan hasil pengamatan. Semakin tinggi suhunya. pada kecambah kacang hijau pada pemberian pH 7. pernyataan ini sesuai dengan Tranggono & Setiadji (1989). Sedangkan pada pengaruh pH didapatkan bahwa setiap bahan memiliki nilai pH optimum untuk melakukan aktivitas enzimnya. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9. yang dapat dilihat dari nilai absorbansinya. Sehingga jika suhu berada di atas optimal. 4. karena enzim mengalami inaktivasi pada suhu tinggi.Pada Tabel 1 dan Grafik 1 nilai absorbansi yang didapat oleh semua kelompok berbeda satu dengan yang lain. data dan grafik kelompok B1-B8 dengan kelompok B9-B13 tidaklah sama. maka aktivitasnya akan berkurang yang terlihat dari menurunnya nilai absorbansinya. enzim akan bertahap menjadi inaktif karena terjadi perubahan struktur enzim. Pada enzim yang tidak dididihkan dihasilkan nilai OD berada ditingkat nilai absorbansi yang lebih tinggi. Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. Pada bahan yang tidak dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3.

Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan.dipanaskan enzimnya dengan kacang hijau segar diperoleh bahwa nilai absorbansi tertinggi diperoleh pada pemberian pH 3. P. (1990). . Sherrington. Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim.B. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C. Jakarta. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Teknologi Penanganan Pasca Panen. Nutrisi dan Mikrobiologi. Larutan buffer adalah larutan yang tahan panas terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. (1994). hal ini sesuai pernyataanGaman & Sherrington (1994). Fox. KESIMPULAN · Enzim pada umumnya memiliki pH optimum 7 atau sekitarnya sehingga kerja enzim optimum.PT Cipta Adi Pustaka. Ensiklopedi Nasional Indonesia. karena suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. P. (1994). · Larutan Buffer digunakan untuk menjaga aktivitas enzim agar tidak rusak dan mengalami aktivasi saat penambahan pH.M & K. 6. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya. Pengantar Ilmu Pangan. 5. Hal ini dapat terjadi karena terjadi kesalahan saat praktikum saat pengukuran absorbasi atau mungkin juga setiap bahan yang berbeda memang memiliki pH optimumnya masing-masing. Elsevier Applied Science. (1992).sedangkan aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. aktivitas enzim berkurang. Ketika temperatur meningkat. Food Enzymology Vol 2. pada pepaya mentah pada pemberian aquades dan pada pepaya matang pada pemberian pH 9.A. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. (1991). Fardiaz. S. dan pada suhu 100oC enzim rusak. · Suhu optimum enzim yaitu 30-40oC. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Ilmu Pangan. Gaman. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Jakarta. pada kecambah kacang hijau pada pemberian aquades.F. pada suhu 50oC enzim menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Seharusnya. Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim tapi suhu yang terlalu tinggi pun dapat mendenaturasi enzim. London. Universitas Gadjah Mada press. Kartasapoetra. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Jakarta. yaitu suhu tubuh. menurutGaman & Sherrington (1994) semakin besar atau basa pH yang digunakan maka semakin rendah nilai OD-nya dikarenakan enzim mengalami denaturasi. Dengan menggunakan larutan buffer inilah kita mendapatkan pH yang terkontrol dan tepat. Rineka Cipta. · Nilai absorbansi pada percobaan ini dapat menunjukkan nilai aktivitas enzim yang dipengaruhi oleh pH dan suhu tertentu. Gramedia Pustaka. Yogyakarta. enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang. DAFTAR PUSTAKA Anonim.G. Pada suhu yang sangat rendah. Mikrobiologi Pangan 1.

B. Tetapi Escherichia coli tumbuh pada kisaran temperatur 8-46oC. Bandung. inilah yang disebut golongan euritermik.L & L. kebanyakan golongan ini tumbuh d tempat-tempat dingin. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. J. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Williamson. b. golongan ini terutama terdapat di dalam sumber-sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bertemperatur lebih tinggi dari 55 C.Fieser. golongan mikroba yang memiliki batas temperatur minimum dan maksimum tidak telalu besar. D C Health ang Company. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 40 C atau lebih. S. mikroba di bagi menjadi 3 golongan. yaitu: a. umumnya hidup di dalam alat pencernaan. mikroba akan mengalami kematian. sehingga beda (rentang) antara temperatur minimum besar. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian . Yogyakarta. United States of America. sedangkan maksimum 75 C. Petunjuk Laboratorium Biokimia Pangan. Mikroba mesofilik adalah golongan mikroba yang mempunyai temperatur optimum pertumbuhan antara 25 C-37 C minimum 15 C dan maksimum di sekitar 55 C.F. Gadjah Mada University Press. baik di daratan maupun di lauatan. enzim. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. dan asam nukleat. M. Biasanya. Gajah Mada university Press. (1989). melainkan dalam keadaan dormansi (tidur). Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. Biokimia jilid 1. Biokimia dan Teknologi Pasca Panen. Bila mikroba dipiara dibawah temperatur minimum atau sedikit diatas temperatur maksimum tidak segera mati. M. Prentice Hall Inc. minmum 40 C. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Biochemical Engineering. (1992). optimum 55C-60 C. Tranggono & Sutardi.Lee. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Institut Teknologi Bandung. Biokimia : protein. (1994). New Jersey. Organic Experiment 7th Edition. (1990). Wirahadikusumah. Berdasarkan daerah aktivitas temperatur. (1992). misalnya Gonococcus yang hanya dapat hidup pada kisaran 30-40oC. Thermal Death Time (TDT) Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas temperature yang sempit.S. disebut stenotermik. Yogyakarta. dengan temperatur optimum 15 C. (1989). Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Mikroba psirkofilik (kryofilik) adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperatur antara 0 C sampai 30 C.K. Yogyakarta. Martoharsono. Grafik pertumbuhan mikroba pada berbagai kisaran suhu pertumbuhan Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim. c. Mikroba termofilik adalah golongan mikroba yang dapat tumbuh pada daerah temperature tinngi. Tranggono.

temperatur. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis 20-30 19 20-50 57 60 100 100 Suhu (0C) Spora Clostridium botulinum 100-330 KARAKTERISTIK BACILLUS SUBTILIS Bacillus subtilis termasuk jenis Bacillus. umur mikrroba. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung alkohol. Semua membentuk endospora yang berbentuk bulat dan oval. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. bios = hidup dan logos = ilmu. Tidak seperti species lain seperti sejarah. kelembaban. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang membusuk. Bacillus subtilis selnya berbentuk basil. Baccillus subtlis merupakan jenis kelompok bakteri termofilik yang dapat tumbuh pada kisaran suhu 45 °C – 55 °C dan mempunyai pertumbuhan suhu optimum pada suhu 60 °C – 80 °. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. mikros = kecil.pada suatu temperatur. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif. katalase positif yang umum ditemukan di tanah. mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup. ada yang tebal dan yang tipis. Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai obligat anaerob walau penelitian sekarang tidak benar. Definisi mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Biasanya bentuk rantai atau terpisah. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Bacillus subtilis mempunyai kemampuan untuk membentuk endospora yang protektif yang memberi kemampuan bakteri tersebut mentolerir keadaan yang ekstrim. bentuk dan jenis spora. Sporanya dapat tahan terhadap panas tinggi yang sering digunakan pada makanan dan bertanggung jawab terhadap kerusakan pada roti. pH dan komposisi medium. Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai patogen walaupun kontaminasi makanan tetapi jarang menyebabkan keracunan makanan. Sebagian motil dan adapula yang non motil. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani. Hal inilah yang .

Mikroorganisme juga mempunyai potensi yang cukup besar untuk membersihkan lingkungan. saliva. Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak. misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai sumber energi. Bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa informasi genetik pada semua organisme dari mikroba hingga manusia adalah DNA. yang penting lainnya adalah mekanisma kimia oleh mikroorganisme sangat mirip dengan unity in biochemistry yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisme adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200–300 kali. Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British Royal Society. Leewenhoek menggunakan mikroskopnya yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai. . alga. Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang penting di bidang kesehatan maupun industri makanan. Sekarang insulin yang dibutuhkan manusia dapat diproduksi dalam jumlah tak terhingga oleh bakteri yang telah direkayasa.disebut dengan biohemial divesity atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisme. feses dan lain sebagainya. Strain-strain dari mikroorganisme yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat diterima. tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi. Ia biasa menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Sebenarnya ia bukan 3 orang pertama dalam penggunaan mikroskop. Belanda. misalnya: dari tumpukan minyak di lautan dipergunakan sebagai herbisida dan insektisida di bidang pertanian. Ia tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. Saat ini mikroorganisme diteliti secara insentif untuk mengetahui dasar fenomena biologi. Hal ini karena mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mendekomposisi/menguraikan senyawa kimia komplek. air hujan. sekarang dikenal dengan protozoa. Kemampuan mikroorganisme yang telah direkayasa untuk tujuan tertentu menjadikan lahan baru dalam mikrobiologi industri yang dikenal dengan bioteknologi. Tetapi banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer. Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia. protozoa dan virus merupakan organisme yang sering tidak terlihat. Salah satu diantaranya adalah bentuk batang. Disamping itu. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil. kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri. Leewenhoek dan Mikroskopnya Antony van Leeuwenhoek (1632–1723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang profesional. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf. Penemuan ini membuatnya lebih antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya. Mikroorganisme juga merupakan sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. hewan maupun tumbuhan. Pengambilan informasi genetika dari mikrorganisme karena sifatnya sederhana dan perkembangbiakan yang sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabolisma. Ia menyebut benda-benda bergerak tadi dengan animalcule yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Antara tahun 1632–1723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. Jika anda membaca tentang mikroorganisme anda akan menghargai. mengagumi mikroorganisme seperti bakteri.

Beberapa mikroba dapat pula mengubah pH dari medium tempat hidupnya. Beberapa kelompok mikroba sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal animalcules tersebut. tetapi ada juga perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologik secara turun menurun. melalui fermentasi misalnya. Kehidupan mikroba tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. dan termofil.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. sebaliknya . Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungannya. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam medium tempat tumbuhnya. akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. . Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia). optimum dan maksimum. Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. Pengaruh Suhu atau Temperatur Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. Mikroba tersebut dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. demikian juga jasat renik. Pendapat ini mendukung teori yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi. ü Faktor – faktor fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme 1. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis.Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar. Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi secara cepat dan ada yang bersifat sementara. mesofil. perubahan ini dinamakan perubahan secara kimia. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu labih dari 100 tahun. . Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. Ada dua pendapat. satu mengatakan animacules ada karena proses pembusukan tanaman atau hewan. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time)-nya. Mikroba Dengan Lingkungan Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan. Pendapat atau teori ini disebut biogenesis. dan faktor biotik. Untuk sterilisali. Misalnya. sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikroba.

tentang efek yang lain misalnya secara kimia. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering.Di dalam keadaan basah. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Berdasarkan ini. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terus menerus. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Sedikit perubahan pH menuju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. Berhubung dengan ini. Sebagai contoh. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. karena spora sangat sedikit mengandung air. kita belum tahu. . individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatu pemanasan. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190°C). Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Bakteri patogen yang biasa hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Biasanya.Tapi tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap spesies. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. pada temperatur yang sama. Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. buih tidak membeku sekeras air beku.

yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. yaitu: Bakteri termofil (politermik). .GRAFIK SUHU PADA BAKTERI Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C.

Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. .Bakteri mesofil (mesotermik). yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C.

jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. Golongan bakteri yang dapat hidup pada batas-batas suhu yang sempit. maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46°C. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. . misalnya. Pada umumnya dapat di pastikan. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli.Gonococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C.Bakteri psikrofil (oligotermik).

BAKTERI GONOCOCCUS .

Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. spesies yang satu lebih tahan dari pada yang lain terhadap suatu pemanasan. Dengan nilai temperatur yang melebihi maksimum. Laju kematian termal (thermal Deat Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Biasanya. umur mikrroba. Pada proses pengeringan. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. konidia atau dapat membentuk kista. Contoh waktu kematian thermal (TDT/ thermal death time) untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai berikut : Nama mikroba Waktu (menit) Escherichia coli Staphylococcus aureus Spora Bacilus subtilis Spora Clostridium botulinum 20-30 19 20-50 100-330 57 60 100 100 Suhu (0C) 2. Meningococcus. Hal ini karena tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. jika digesekkan di atas kaca obyek. Pengeringan ditempat yang terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada . Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering. Sebaliknya. Banyak bakteri yang mati jika terkena udara kering. temperatur. itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam. gula.spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. bentuk dan jenis spora. apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah Bakteri yang ada dalam medium susu. bahkan dapat hidup di dalam air. Hal ini akan menyebabkan terhentinya metabolisme. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Waktu kematian temal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. pH dan komposisi medium. misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Titik kematian termal suatu jenis mikroba (Thermal Death Point) adalah nilai temperatur serendah-rendahnya yang dapat mematikan jenis mikroba yang berada dalam medium standar selama 10 menit dalam kondisi tertentu. hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. air akan menguap dari protoplasma. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian termal antara lain ialah waktu. mikroba akan mengalami kematian. kelembaban. oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. Kelembaban dan Pengaruh Kebasahan serta Kekeringan Mikroba yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora.BAKTERI ESCHERICHIA COLI Bakteri yang diplihara di bawah Temperatur tinggi melebihi temperatur maksimum akan menyebabkan denaturasi protein dan enzim.yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis.

dan Sarcina ventriculi. adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi. Nama mikroba Ph minimum Escherichia coli 4. misalnya Lactobacilli. Apabila mikroba diletakkan pada larutan hipertonis. 3. sehingga tahan terhadap ion Natrium. misalnya Halobacterium. Khamir osmofil mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % (aw = 0.0-7. Contohnya adalah bakteri nitrat. Berdasarkan tekanan osmose yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi (1) mikroba osmofil. maka selnya akan mengalami plasmolisis. dinding selnya terdiri dari murein. yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2. umumnya mempunyai kandungan KCl yang tinggi dalam selnya. sel membengkak dan akhirnya pecah. maka sel mikroba akan mengalami plasmoptisa.0 . Apabila diletakkan pada larutan hipotonis. 4. Pengaruh Perubahan Nilai Osmotik Tekanan osmosis sebenarnya sangat erat hubungannya dengan kandungan air. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. (2) mikroba halofil.94). lingkungan. Bakteri yang bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik. Selain itu bakteri ini memerlukan konsentrasi Kalium yang tinggi untuk stabilitas ribosomnya.0 Maksimum 9. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. Beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin).0 Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik). actinomycetes. Kadar Ion Hidrogen (pH) Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. kadar garamnya dapat mencapai 30 %.5-8. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. dan bakteri pengguna urea. Jamur umumnya dapat hidup pada kisaran pH rendah.pengeringan ditempat yang gelap. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula tinggi.0-5. Acetobacter. Contoh mikroba halofil adalah bakteri yang termasuk Archaebacterium. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. (3) mikroba halodurik. Hanya beberapa bakteri yang bersifat toleran terhadap kemasaman. Bakteri halofil ada yang mempunyai membran purple bilayer. Apabila mikroba ditanam pada media dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur. Contoh mikroba osmofil adalah beberapa jenis khamir. rhizobia.4-9. tetapi apabila pH media 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen.5 Suhu. adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam halogen yang tinggi. Bakteri yang tahan pada kadar garam tinggi.4 optimum 6.0 Mikroorganisme yang alkalifilik.

0 6.2.0-7. Sebagai contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7.6 8. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultraungu. .6 6.0 8. Akibat selanjutnya dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan bentuk morfologinya. Lebih dekat. Oleh karenanya ke dalam medium diberi tambahan buffer untuk menjaga agar pH nya konstan. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.0 6.6-7.0 6. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil. tidak begitu berbahaya. yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ. terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam.0-7. bakteri bahkan dapat mati seketika. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis.8 5. deterjen.6 5. ruang-ruang pertemuan.6 6. jika kertas-kertas pembungkus makanan. Zat-zat seperti sabun.8 Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan. gedung-gedung bioskop dan sebagainya pada waktu-waktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik. Alangkah baiknya.4 5.6 1.0 6. maka apabila ada perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma. air.0-8. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali. plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya.0 8.4 10. maupun senyawa-senyawa organik amfoter.4 9.0-7.Proteus vulgaris Enterobacter aerogenes Pseudomonas aeruginosa Clostridium sporogenes Nitrosomonas spp Nitrobacter spp Thiobacillus Thiooxidans Lactobacillus acidophilus 4.0 9. pengaruhnya lebih buruk. sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran.4 4.8 7. 6. Cara kerja buffe adalah garam dibasik akan mengadsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH- 5.8 7.0-4.6-8.0 4. sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. ruang-ruang penyimpan daging.0-5. dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan.6 8.0-6. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi. yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapaPseudomonadaceae. Sinar yang nampak oleh mata kita. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara. Pengaruh Sinar Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel. yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ.5-9. bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya.6 2.0 4.0-7.8-6.0-2.

alat-alat seperti gunting. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. c. etanol menyebabkan terjadinya penggumpalan protein. · a. Depresi dan ketegangan permukaan Sabun dapat mengurangi ketegangan permukaan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Klor didalam air menyebabkan bebasnya O2. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Karbol ialah lain untuk fenol. lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. C. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap. Kulit dapat terbakar karenanya . Yodium Yodium-tinktur. Koagulasi atau penggumpalan protein Zat seperti perak. Oksidasi Zat zat seperti H2O2. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri.ü Faktor – faktor kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme Pada umumnya kerusakan bakteri dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : A. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. d. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium. tembaga dan zat-zat organik seperti fenol. Beberapa Desinfektan dan Antiseptic adalah sebagai berikut : Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Dan protein yang menggumpal itu telah mengalami denaturasi dan tidak dapat berfungsi lagi. oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. sehingga zat ini merupakan desinfektan. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol. e. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. sehingga desinfektan menjadi menarik. . efeknya lebih baik. dan jamur. virus. yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol. b. Jika dicampur dengan air murni. B.Na2BO4 mudah benar melepaskan O2 untuk menimbulkan oksidasi. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia.

Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. serta populasi yang keluar dari habitat alamiahnya. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat membunuh bangsa jamur. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. fuchsin basa. Netralisme Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling mempengaruhi. Sebagai contoh interaksi antara mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous(indigenous). Gonococcus. ü Faktor – faktor Biologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroorganisme a. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan.f. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat. Hijau berlian. lagipula tidak menyebabkan sakit. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik. digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan. hijau malakit. Sering terjadi. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. h. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandungempat bagian. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. dan antar . karena zat ini tidak merusak jaringan.Penggunaan obat-obat ini. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. g. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. melainkan juga merupakan bakterisida. bakteri dapat tumbuh biasa. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhan bakteri gram positif. Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. Asam-paminobenzoat memegangperanan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan.Pneumococcus. tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali.

dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk algae.mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan populasinya sangat rendah. g. misal dalam keadaan kering beku. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang menggunakan nutrien / makanan yang sama. Asam-asam tersebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. Kompetisi Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya mengalami kerugian. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap populasi mikroba lain. Komensalisme Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. c. d. toksin. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi anaerobic Methanobacterium. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam keperluan nutrisi bersama. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens). pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh apapun. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup dan pertumbuhannya. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-kacangan. f. maka disebut sintropisme. atau antibiotika. atau dalam keadaan nutrien terbatas. e. Thiobacillus thiooxidans menghasilkan asam sulfat. kista). Mutualisme sering disebut juga simbiosis. Sinergisme Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam substrat. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium yang dapat menghambat populasi Nitrobacter. Simbiosis bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. b. Parasitisme . Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. Amensalisme (Antagonisme) Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan salah satu pihak dirugikan. Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba tidak aktif. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam. yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. Algae (phycobiont) sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa organik. Mutualisme (Simbiosis) Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang keduanya saling tergantung dan samasama mendapat keuntungan. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum dengan Paramaecium aurelia. atau fase istirahat (spora. Sintropisme sangat penting dalam peruraian bahan organik tanah. Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang mengubah etanol menjadi asam asetat. atau proses pembersihan air secara alami. Senyawa organik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont). Contohnya adalah: Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi sistein.

banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dalam tabung agar miring yang tertutup rapat hingga sepuluh tahun atau lebih. Umumnya parasitisme terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik.org/wiki/Sel_%28biologi%29&#8243. Meskipun demikian. Jamur Trichodermasp. Penyimpanan dalam Akuades Steril Beberapa jenis bakteri. Peremajaan berkala tidak dianjurkan untuk penyimpanan jangka panjang. Peremajaan Berkala Peremajaan dengan cara memindahkan atau memperbarui biakan mikroba dari biakan lama ke medium tumbuh yang baru secara berkala. Penyimpanan dengan cara ini juga memungkinkan terjadinya kontaminasi. dan terjadi kekeliruan pemberian label.>sel tunggal (uniseluler) maupun bersel banyak (multiseluler). Pada kondisi penyimpanan ini bakteri yang disimpan masih berpeluang tumbuh dengan lambat. dan Curtobacterium.Parasitisme terjadi antara dua populasi. misalnya sebulan atau dua bulan sekali. Kendala tersebut memberi peluang yang lebih besar terjadinya kehilangan isolate dibandingkan dengan teknik lain. Teknik ini merupakan cara paling tradisional yang digunakan peneliti untuk memelihara koleksi egativ mikrobadi laboratorium. Oleh karena itu.wikipedia. Cara ini jugadigunakan untuk penyimpanan dan pemeliharaan egativ mikroba yang belum diketahui cara penyimpanan jangka panjangnya. terutama yang berbentuk batang dan bereaksi Gram egative seperti Pseudomonas dapat disimpan cukup lama dalam akuades steril pada suhu ruang atau suhu 1015oC. Mikroorganisme disebut juga organisme mikroskopik. beberapa protista bersel tunggal masih terlihat oleh mata telanjang dan ada beberapa spesies multisel tidak terlihat mata telanjang. Terjadinya parasitisme memerlukan kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif lama. sehingga tidak dapat dijamin stabilitas genetiknya untuk jangka panjang. baik didalam suhu ruang maupun dikulkas hal ini menunjukkan adanya kinerja bakteri dalam mempertahankan viabilitas perkembangannya. Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat bantuan. Cara Bakteri Mempertahankan Viabilitas : 1. Namun. PEMBAHASAN Upaya Mempertahankan Viabilitas Mikroorganisme Akibat Pengaruh Lingkungan : Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajarimikroorganisme. Ukuran parasit biasanya lebih kecil dari inangnya. di antaranya kemungkinan terjadi perubahan egativ melalui seleksi varian. Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E. populasi satu diuntungkan (parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Agrobacterium. Teknik ini mempunyai berbagai kendala. misalnya pada anggota genus Pseudomonas. 2.Virus juga termasuk ke dalam mikroorganisme meskipun tidak bersifat seluler. Mikroorganisme seringkali berhttp://id. coli. Tahap penyimpanan mikrobadalam akuades steril adalah se-bagai berikut: . Tidak semua bakteri dapat disimpan dengan baik menggunakan cara ini. cara ini lebih dianjurkan sebagai alternative penyimpanan jangka sedang atau sebagai pendamping penyimpanan jangka panjang. peluang terjadinya kontaminasi. memparasit jamur Agaricus sp.

3. Biakan bakteri berumur 24-48 jam disimpan dengan beberapacara seperti: Menambahkan 3-5 ml akuades steril ke dalam biakan miring. tabung dikocok hingga suspensi merata. Beberapa jenis jamur dapat bertahan hidup sampai 20 tahun.Akuades steril disiapkan dalam botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri langsung ke dalam tiap botol yang berisi air steril dan mengocok hingga merata. Mikroba yang akan disimpan ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni pada medium agar miring yang sesuai. Menumbuhkan mikroba yang akan disimpan dalam tabung agar miring selama 24–48 jam dan memeriksa kemurnian biakan untuk menghindari kontaminasi. . dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. sehingga waktu peremajaan dapat diperpanjang hingga beberapa tahun. Penyediaan minyak mineral atau parafin cair steril. Teknik ini sederhana. dan memindahkan 1 ml suspensi ke dalam tiap botol yang berisi air steril. Daya tahan hidup mikroba lebih baik apabila biakan disimpan pada suhu kulkas (4oC). khamir dan jamur adalah dengan cara menyimpan dalam tabung agar miring dan menutup dengan minyak mineral atau parafin cair. Dasar teknik penyimpanan ini adalah mempertahankan viabilitas mikroba dengan mencegah pengeringan medium. tetapi kurang praktis untuk ditransportasi. dan mengambil satu ose suspense dan menumbuhkan pada medium cair atau langsung pada medium agar yang sesuai. kemudian permukaan biakan ditutup dengan minyak mineral steril setinggi 10-20 mm dari permukaan atas medium. 5-10 ml/botol atau dalam tabung ependorf. keberadaan minyak mineral mengakibatkan peremajaan menjadi kotor. Penyimpanan dalam Minyak Mineral Salah satu cara sederhana untuk memelihara biakan bakteri. diautoklaf pada suhu 121oC selama 60 menit. mengocok. Disamping itu. mengocok tabung hingga diperoleh suspense pekat bakteri (108-109sel/ml). Penumbuhan kembali biakan dilakukan dengan mengambil botol dari tempat penyimpanan. Cara penyimpanan dalam minyak mineral menurut adalah sebagai berikut : Penyediaan tabung reaksi dengan tutup berdrat atau botol McCartney berisi medium agar miring yang sesuai untuk mikroba yang akan dipelihara. Mikroba yang akan dipelihara ditumbuhkan pada tabung berisi medium agar miring atau medium cair (broth) yang sesuai. Memindahkan satu ose biakan miring bakteri ke dalam tabung reaksi berisi 3-5 ml akuades steril. Botol ditutup rapat dan disim-pan pada suhu ruang atau suhu10-15oC Uji viabilitas mikroba dan peme-liharaan stok isolat dilakukanse-cara rutin.

Bila mana diperlukan. Rhizobium sp. Teknik penyimpanan mikroba pada tanah kering terutama berguna untuk fungi. sehingga permukaan parafin atas berada 10-20 mm di atas permukaan medium agar. paling tidak setiap tahun. penyimpanan pada suhu ruang. Suspensi mikroba (0. Mikroba yang disimpan diuji viabilitasnya setiap tahun dengan menumbuhkan pada medium agar. dan Clostridium sp. botol dioven kering pada suhu 105oC selama satu jam dan setelah dingin disimpan di dalam desikator hingga digunakan. di kering anginkan dan diayak untuk memisahkan partikel tanah yang agak besar dan membuang sisa-sisa tanaman. dan stabilitas genetik mikroba dapat dipertahankan. khamir) dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian biakan dari tabung. 4. Cara penyimpanan dalam tanah steril adalah sebagai berikut: Diambil tanah yang agak liat. Minyak mineral mengapung di permukaan suspensi dan sebagian suspensi digoreskan pada medium agar yang sesuai. Penyimpanan Dalam Tanah Steril Banyak bakteri dan jamur yang dapat bertahan hidup dengan baik pada tanah kering yang disimpan pada suhu ruang untuk waktu yang lama. spora atau konidia.1 ml) di ambil dengan pipet steril dan di masukkan ke dalam tiap botol yang telah disiapkan. dan bakteri yang membentuk spora seperti Bacillus sp.Setelah mikroba tumbuh baik. Suspensi mikroba yang akan disimpan (sel.. Tabung atau botol yang berisi tanah diberi akuades steril hingga kebasahan 50% kapasitas lapang. Penumbuhan kembali (reco.. yaitu biaya murah. parafin cair steril dimasukkan ke dalam botol secukupnya. Botol biakan yang telah diberi parafin cair disimpan pada suhu ruang atau dikulkas. Selanjutnya. kemudian diautoklaf pada suhu 121oC tiga kali berturut-turut selama tiga hari masing-masing selama satu jam. Biakan jamur digoreskan langsung pada medium agar. miselia) dibuat dalam larutan steril pepton 2% dalam akuades. Teknik ini mempunyai beberapa keuntungan.. Streptomyces sp. hingga 20 tahun atau lebih.very) mikroba (bakteri. Tanah yang sudah kering dan di ayak dimasukkan ke dalam tabung atau botol dengan tutup berdrat ukuran 25 ml hingga1 cm dari permukaan tutup. memindahkan dan mensuspensikan pada medium cair. . sterilitas tanah diuji dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. Botol dikembalikan ke desikator untuk disimpan di dalamnya atau setelah kering diambil dan disimpan di ruangan. juga dapat disimpan dengan baik dengan cara ini.. Uji viabilitas mikroba dan pemeliharaan isolat dilakukan secara periodik dan rutin.

Penyimpanan Menggunakan Potongan Kertas Filter Teknik penyimpanan ini mirip teknik penyimpanan dengan lempengan gelatin. tergantung pada strain mikroba yang disimpan. tetapi sangat efektif untuk penyimpanan bakteri. Teknik ini juga sederhana dan mudah. Sebagai pengganti lempengan gelatin digunakan bundaran potongan kertas filter steril. dimasukkan ke dalam botol kecil ukuran 10 ml dengan tutup berdrat. serta menginkubasikan pada suhu optimal untuk pertumbuhan mikroba. Tahapan teknik penyimpanan bakteri menggunakan potongan kertas filter menurut adalah sebagai berikut: Mikroba yang akan disimpan dibiakkan pada medium yang sesuai. Suspensi pekat bakteri (108-109 sel/ml) dibuat dalam larutan pepton 1%. Penggunaan antibiotika yang sering & tidak . susu skim 1%. Botol disterilkan de-ngan oven 105oC selama 1 jam. Penyimpanan In Vacuo dalam Gas Fosfopentaoksida Teknik penyimpanan ini disebut juga teknik Sordelli. kemudian ditutup rapat dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. 1970). Tabung ini ditempatkan di dalam tabung lain yang lebih besar berisi sedikit fosfopentaoksida (P2O5) dan disimpan pada suhu ruang atau di kulkas. karena mula-mula ditemukan oleh Sordelli(Lapageet al. Dalam jangka panjang hal ini dapat membuat bakteri menjadi lebih sulit untuk dimusnahkan. dan jamur. Namun demikian. data tentang keefektifan penyimpanan dan daya tahan hidup bakteri dalam penyimpanan masih sedikit. Bundaran kertas steril dibuat dengan alat pelubang kertas. Cara bakteri menjadi resisten terhadap antibiotika Meminum antibiotika untuk mengobati pilek atau penyakit yang disebabkan oleh virus. Mikroba tersebut dapat bertahan hidup dengan baik selama 5-28 tahun. memindahkan ke medium cair diikuti dengan menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai atau langsung dengan menumbuhkan contoh tanah pada medium agar. sehingga perlu diteliti lebih lanjut. memindahkannya ke medium cair. Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik satu bundaran kertas filter dari botol penyimpanan. khamir. 6. Biakan mikroba disimpan dalam serum kuda yang ditempatkan dalam tabung gelas kecil atau ampul. 25-50 bundaran kertas filter/botol..Penumbuhan kembali bakteri dilakukan dengan cara mengambil secara aseptik sebagian contoh tanah dari botol penyimpanan. 5. Isi botol dikering vakumkan menggunakan alat vaccum freeze dryer . menggoreskan suspensi medium cair pada medium agar yang sesuai. paling tidak setiap tahun. Teknik ini sesuai untuk penyimpanan jangka panjang bakteri. Uji viabilitas bakteri dilakukan secara periodik dan rutin. Beberapa tetes suspensi mikroba dimasukkan secara aseptic ke dalam botol yang berisi kertas filter hingga menjadi jenuh air. tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga dapat menimbulkan bahaya. atau Naglutamat 1%.

Sedangkan beberapa bakteri lainnya (Bacillus megaterium) mengandung protein dan karbohidrat. menjauhi bahkan membunuh fagositosit. Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semua serotype. Beberapa diantaranya dapat memperbanyak diri dalam jaringan. Streptococci pathogen mengeluarkan haemolisin (streptolisin) yang dapat melisis sel darah merah dan berperan dalam meracun polymorphs dan makrofag. yang memberikan muatan negatif. Penyebab utama meningkatnya bakteri yang resisten adalah penggunaan antibiotika secara berulang & tidak sesuai range terapi.sesuai keperluan dapat menghasilkan jenis bakteri baru yang dapat bertahan terhadap pengobatan yang diberikan atau yang disebut dengan resistensi bakteri. Beberapa pathogen membentuk suatu mekanisme untuk menetralisasi senyawa toksik yang dihasilkan oleh fagositosis. tumbuh & bereproduksi. Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperature tinggi. namun golongan dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dari infeksi neonatal. Kapsul polisakarida tersebut merupakan faktor virulensi yang penting. tergantung dari kemampuannya untuk melawan fagositosis. Komposisi kimia penyusun gel tersebut telah teridentifikasi pada beberapa bakteri. Pada Bacillus antrachis mengandung polipeptida asam D-glutamic. Streptolysin O mungkin berikatan dengan kolesterol pada membran sel. Penggunaan antibiotika mendorong perkembangan bakteri yang resisten. Kunci untuk mengontrol penyebaran bakteri yang resisten ini adalah penggunaan antibiotika secara tepat & sesuai range terapi (takaran. N-acetylglucosamine dan pada ujungnya terdapat asam sialik. Jenis bakteri baru ini memerlukan dosis yang lebih tinggi atau antibiotika yang lebih kuat untuk dapat dimusnahkan. Pada fase eksponensial. melepaskan materi yang dapat membunuh fagosit. polymorph granula meledak sehingga bagian sel keluar ke sitoplama. Struktur permukaan kapsul tersusun atas gel hidropilik yang menghambat kerja fagositosit. Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai komplemen saat tidak ada antibodi. gel tersebut mengandung sebagian besar molekul yang tersusun atas polimer glukosa dan asam glukuronik. pertumbuhan kapsul sangat tinggi dan organisme tervirulensi dan pada fase stasioner pertumbuhan kapsul akan menurun dan organisme yang tervirulensi berkurang. Enzim lisosom terkurung di vakuola fagosit. membantu sel untuk fungsi pencernaan. berkombinasi dengan 2acetamido-2-deoxyglucose. Pada 3 tipe Pneumococcus. dan 1-2 penambahan polymorphs. maka bakteri yang sensitif akan terbunuh tetapi bakteri yang resisten akan tetap ada. ü Produksi Senyawa Kimia Untuk Membunuh Fagosit Banyak antifagosit membunuh fagosit dan sukses menginfeksi.Isolat dari Streptococcus agalactiae memproduksi kapsul polisakarida. Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran residu asam sialik. Berikut beberapa cara yang dilakukan oleh pathogen: ü Kapsul anti Fagositosit Beberapa bakteri terhindar dari Fagositosis dikarenakan memiliki kapsul. Setiap seseorang menggunakan antibiotika. tetapi ketika sudah cukup banyak enzim dikeluarkan ke sitoplasma mengakibatkan sitoplasma meluruh dan sel . dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklah opsonik. Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa. Kapsul sangat berpengaruh terhadap kemampuan fagositosit. frekwensi dan lama penggunaan obat).

Umumnya merupakan patogen ekstraseluler yang dapat bertahan dan dapat hidup lama didalam inang dengan cara menghindari mekanisme pertahanan inang. Listeria monocytogenesmengeluarkan toksin sitolitik. yang ditunjukkan dengan peningkatan oksidasi glukosa dan membuat cacat pagosit E. Virulen intraseluler bacteria Mycobacterium. . polymorph lebih mudah dibunuh dibandingkan dengan makrofag. Kegagalan dari absorpsi tidak diketahi dengan jelas. Entamoeba histolytica dapat membunuh polymorph dengan kontak fisik. Bakteri ini menggunakan glikolipid dinding sel untuk mengabsobsi radikal hidroksil. Berbagai macam haemolysin dikeluarkan oleh Staphylococci pathogen dan dapat membunuh fagosit. Streptolysin membuat kerusakan pada lisosom. ingesti dan digesti. Peranan lain dari aksi toxic pada fagosit setelah fagositosis telah diambil alih. mengeluarkan substansi cytotoxic secara langsung melalui dinding vakuola dan kedalam sel. Staphylococcus aureus memproduksi komponen pigmentasi yang disebut carotenoid yang dapat menetralisir singlet oxygen dan melindungi diri dari pembunuhan. membuat fungsi sebagai”suicide bags”. mengingat avirulen shigella pasti melakukan hal yang sama dan akan terbunuh dan dimakan. dimungkinkan karena lisosomnya lebih mudah dikeluarkan. Tergolong menjadi 2 protein antigen.coli hingga mati.mati. Beberapa jalur sinyal intraselular yang dimodulasi oleh Leishmania dibahas dalam bagian berikutnya : Mycobacterium tuberolosis menyebabkan tubercolosis. Streptococcus pyogenes merupakan pathogen pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit infeksi kulit ringan sampai sistemik. Sebagai contoh. ü Menghambat dengan cara Absorpsi pada permukaan sel fagosit Ada cara yang dilakukan mikroorganisme untuk menghindar dari fagosit tanpa meracuni fagosit. virulen shigella membunuh makrofag tikus setelah fagositosis. Beberapa Chlamydia memperbanyak diri di dalam makrofag setelah difagositosis dan merusak sel dengan menginduksi keluarnya kandungan lisosom ke dalam sitoplasma. termasuk faringitis dan impetigo. Sementara kita telah melihat bahwa lapisan permukaan parasit bertanggung jawab untuk memicu banyak dari efek ini. anion superoksida dan oksigen yang toksik bagi beberapa spesies yang diproduksi oleh fagosit. Tetapi adanya antibody pada mycoplasama terjadi absorpsi. Streptolysin S lebih berpotensial pada membrane. tetapi dimungkinkan karena Mycoplasma merusak polymorph. Sehingga S. Makrofag biasanya dihancurkan dan mekanismenya belum diketahui.pyrogenes melakukan banyak strategi untuk menghindari system kekebalan tubuh. Leishmania parasit mampu modulasi fungsi makrofag banyak dalam rangka untuk mempromosikan kelangsungan hidup dalam host. Ketika komponen ekstraseluler Mycoplasma hominis ditambahkan pada polymorph manusia secara in vitro maka tidak terlihat secara jelas adanya absorbsi yang dilakukan oleh Mycoplasma di permukaan polymorh. Secara umum. Brucella dan Listeria banyak memperlihatkan virulensi dengan memperbanyak diri didalam makrofag. Tidak ada haemolytic leucocidin yang diproduksi berhubungan dengan virulensi staphylococcal. Fagosit dapat dikatakan mati akibat keracunan makanan. kita tidak langsung membahas mekanisme intraselular di mana sinyal dikomunikasikan. Tergolong pathogen intraselular yang tumbuh dan hidup didalam sel fagositik. berperan sebagai sinergis pada membrane leukosit dan menyebabkan keluarnya granula lisosom seperti pada Streptolysin O.

S ASY SYUURA 29 Artinya : “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhlukmakhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya.S AL BAQARAH 164 Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penulisan tentang “UPAYA MEMPERTAHANKAN VIABILITAS MIKROORGANISME AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN” maka dapat disimpulkan bahwa : . bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Biasa bakteri yang memiliki kapsul resisten terhadap fagositosis. sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. KAJIAN RELIGI Di dalam Al-Quran secara tersirat Allah SWT telah menyiratkan akan pentingnya pengaruh lingkungan bagi kehidupan makhluk hidup yang ia ciptakan termasuk mikroorganisme yang juga merupakan salah satu contoh makhluk hidup ciptaan Allah SWT.Streptococcus pneumonia Merupakan salah satu bakteri yang memiliki pertahanan terhadap fagositosis berupa kapsul. Karena kapsul dapat melindungi sel bakteri. baik secara langsung maupun tidak langsung tergantung dengan respon normal terhadap imun dan kemampuan parasit. Leishmania merupakan parasit yang dapat menghindari makrofag dengan cara meninduksi produksi atau sekresi beberapa sinyal molekul immunosuppressive seperti metabolit asam arachidonik. Efeknya terjadi pada tipe sel yang berbeda. ALLAH tidak pernah mengambil sesuatu yang kita sayang dan kita cintai. hal ini tersirat dalam beberapa ayat di dalam Al-Quran diantaranya dalam: Q. ALLAH melatih KESABARAN kita dalam KESAKITAN. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. sitokinase TGF-β dan IL-10.” Q. Berharap semua ini dapat diterima dan dimaknai dengan baik sehingga kita mampu menjadi orangorang yang senantiasa BERSYUKUR atas seluruh NIKMAT yang ALLAH berikan pada kita disetiap keadaan.” TAUSYIAH “ALLAH menguji KEIKHLASAN bila sendirian. silih bergantinya malam dan siang. kecuali menggantikannya dengan yang LEBIH BAIK”. ALLAH memberi kita KEDEWASAAN bila ada MASALAH.

Fardiaz. antibiotik. Raja Grafindo Persada. Metode Penyimpanan Dan Pemeliharaan Mikroba Dalam Mempertahankan Viabilitas. kadar ion Hidrogen (pH). J. B. hidrostatik. kelembaban dan pengaruh kebasahan serta kekeringan.com/doc/75921669/metde-pnyimpaman-dan-pemeliharaan-mikrobadalam-mempertahankan-viabilitas. Utilization of Microorganisme In Meat Processing Research Studies. Formaldehida (CH2O).org/wiki/Mikroorganisme. 2008. ltd. Malang. Penerbit Liberty. Raja Grafindo Persada.wikipedia. garam-garam logam. yaitu Fenol Dan SenyawaSenyawa Lain Yang Sejenis. Bogor. yodium. pengaruh perubahan nilai osmotic. Analisa Mikrobiologi Pangan. Amensalisme (Antagonisme). 2004. Diakses tanggal 04 Desember 2011. Jakarta.http://faktor-faktoryang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba. CRC Press LLC Boca Raton. Third Edition. parasitisme. B. PENDAHULUAN Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh berbagai faktor. http://id. Yogyakarta. Annonymous. kompetisi. 1992. Sudarmaji. B. Klor Dan Senyawa Klor. Diakses Tanggal 21 Desember 2011 Bacus. N. . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. komensalisme. Kerjasama Dengan PAU antar Universitas Pangan dan Gizi. 2001. Lud. 2011. 1994. PT. Annonymous. Press. Diakses tanggal 08 Desember 2011. Diakses tanggal 04 Desember 2011. 1989. 1984. Mikroorganisme. Lay. Florida. S. Faktor lingkungan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Waluyo.Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. yaitu netralisme.W. Faktor lingkungan biologi yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Ray. Sulfonamida. UMM Press. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. sinergisme. http://id.http://www. tegangan muka. Annonymous. England.html. Obat Pencuci (Detergen). Analisis mikroba di laboratorium. yaitu pengaruh temperatur. mutualisme (simbiosis). 2008. yaitu biotik dan faktor abiotik. 2011. DAFTAR PUSTAKA Annonymous. PT. tekanan. IPB.scribd. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. pengaruh sinar. PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROBA TUJUAN Untuk memberi pengetahuan mahasiswa mengenai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Fundamental Food Microbiology.org/wiki/Mikrobiologi . Mikrobiologi. alcohol. zat warna. Haryono dan Suhardi. 1994.wikipedia.

yaitu dapat tumbuh lebih cepat.Batang kaca bentuk Luntuk spread 2. dll. aureus.( pertumbuhan E. Ada 3 jenis simbiosis yang dpt terjadi. pH. atau parasitisme. Kapas 6. Salah satu anggota asosiasi menerima keuntungan. Tabung reaksi 3. Eschericia coli. Alkohol 5. sedangkan anggota yang lain mendapat keuntungan. mikroba lain tersebut dapat berkomensalisme secara positif contohnya bersimbiosis / hidup saling menguntungkan atau negatif / saling merugikan dimana yang satu akan membunuh yang lainnya. 2. menghambat). Api bunsen dan spirtus 4. Anggota yang lain tidak terpengaruh. ) b. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. kedua anggota asosiasi memperoleh keuntungan (saling mengntungkan). Aluminium foil . bahan toksik / logam berat. oksigen. 3. PertumbuhanArthrobacter citerus pada medium yang mengandung saccharomyces cereviceae. Logam berat Cd. secara rinci. yaitu : 1. Coli dengan S. aureus. Rak Tabung reaksi 2. Candida albicans 5. sumber nutrien. Contohnya: Bakteri E. Simbiosis antagonisme. Pb Bahan : 1.(saling merugikan. sumber mineral. terdiri dari temperature. faktor biotik adalah pengaruh mikroba oleh mikroba lainnya. Simbiosis Komensalisme. hubungan mikroba satu dengan mikroba lainnnya tersebut.a. Biakan murni bakteri : Staphylococcus aureus. Contohnya : pengikatan nitrogen di udara oleh bakteri pengikat nitrogen dalam tanah. Pipet volume 3. dapat mencapai populasi total yang besar. Salah satu anggota asosiasi dihambat atau dimusnahkan. Contohnya : kompetissi antara E. kompetisi. dan pada umumnya tumbuh “lebih baik”. terbentuk dalam sebuah simbiosis. coli menghambat daur pertumbuhan S. Antibiotik kloramfenikol 6. faktor abiotik. Simbiosis Mutualisme. Coli yang ada dalam usus besar manusia. Media Nutrien Agar 4.

Mempersiapkan 3 cawan Petri yang telah steril. Pertumbuhan Mikroba pada cawan Petri: 1.1 biakan murni bakteri dengan pipet volume dan memasukkannya ke dalam cawan Petri steril secara aseptik Mengisi cawan Petri yang berisi bakteri dengan nutrient agar secara aseptik. Pertumbuhan mikroba pada cawan Petri: 1. Hasil Pengamatan Pada perlakuan dengan antibiotik kloramfenikol terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . Melewatkan jarum ose pada api Bunsen hingga nyala api berpijar. Mengambil 0. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. Meletakkan masing-masing cawan Petri pada suhu yang berbeda yaitu cawan Petri ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Menghomogenkan bakteri dengan memutar cawan Petri membentuk angka 8. dan cawan Petri ke3 pada oven. Mengambil biakan bakteri dengan jarum ose dan meletakkan ke dalam tabung reaksi dengan bentuk zigzag secara aseptik Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. B. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya antibiotik. Adanya daerah terang adalah karena Sacharomieces tidak dapat tumbuh akibat adanya logam berat Cu. Mengamati perbandingan pertumbuhan mikroba setelah diletakkan pada suhu yang berbeda. tabung reaksi ke-2 pada lemari es.PROSEDUR KERJA A. Meletakkan masing-masing tabung reaksi pada suhu yang berbeda yaitu tabung reaksi ke-1 diletakkan pada suhu kamar. Mempersiapkan 3 tabung reaksi yang telah berisi nutrient agar. Membersihkan peralatan dan bahan ke tempat semula secara aseptik. semua percobaan diletakkan di masing-masing suhu yang berbeda selama 1 hari . cawan Petri ke-2 pada lemari es. Pada perlakuan dengan logam berat Cu terlihat adanya daerah terang disekitar paper disk (Cu) sedangkan pada daerah kontrol (aquades) tidak terdapat adanya daerah terang. dan tabung reaksi ke3 pada oven. .

PEMBAHASAN A. dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. basil maupun spiril. didalam tubuh cepat dicapai dan bertahan untuk waktu yang lama. baik kokus. artinya hanya efektifdigunakan untuk spesies tertentu. cairan atau badan eksudat Larut dalm air serta stabil Bacterisidal level. Antibiotika ada yang mempunyai spektrum luas. Penisilin hanya efektif digunakan untuk memberantas terutama jenis kokus. dan jenis spiril tertentu. basil. karena itu penisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. artimya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri. yaitu : Antibiotika yang mempengaruhi dinding sel . Hal ini dapat menunjukkan bahwa Saccharomices dapat melakukan pertumbuhan optimal pada suhu kamar 380C dan termasuk mikroba mesofil. Mekanisme Kerja antibiotika Antibiotika menganggu bagian – bagian yang peka di dalam sel. Tetrasiklin efektif bagi kokus. Sifat – sifat Antibiotika yaitu: Maenghambat atau membunuh patogen tanpa merusak inang ( host ) Bersifat bakterisida dan bukan bakteriostatik Tidak menyebabkan resistensi pada kuman Berspektrum luas Tidak bersifat alergenik Tetap aktif dalam plasma. Pengaruh Antibiotika Terhadap Pertumbuhan Bakteri Antibiotika adalah suatu substansi ( zat – zat ) kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikrporganisme. ada juga antibiotika berspektrum sempit.Inkubasi pada lemari es dan inkubasi pada suhu 600C tidak terlihat adanya pertumbuhan mikroba tetapi pada suhu kamar 380C terlihat adanya pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu antibiotik ini dikatakan memiliki spektrum yang luas.

Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikrobe terletak antara 0 – 90o C. kloramfenikol. dan maksimum. sulfonamida. Logam –logam yang sering dipakai adalah Hg. Pengaruh Logam Berat Terhadap Pertumbuhan Mikroba Logam berat berfungsi sebagai antimikrobe oleh karena dapat mempresipitasikan enzim – enzim atau protein essensial dalam sel. dan Cu. kolistin. vankomisin Antibiotika yang menganggu fungsi membran sel Contoh : polimiksin. Pengaruh Temperatur Temperatur merupakan salah satu faktor yang penting di dalam kehidupan. Biasanya. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikrobe masih dapat dapat berlangsung. dan harganya mahal. novobiosin. eritromisin. tetapi pada tingkatan kegiatan fisiologi yang paling minimal. pirimetamin. Waktu kematian thermal ( Thermal Death Time ) waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikrobe pada suatu temperatur yang tetap. Untuk menemukan temperatur maut bagi mikrobe. As. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit. optimum. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. c. Laju kematian termal ( Thermal Death Rate ) kecepatan kematian mikrobe akibat pemberian temperatur. dan kita kenal ada temperatur minimum.Contoh : Penisilin. Temperatur maut / Titik kematian Termal ( Thermal Death Point ) Temperatur serendah – rendahnya yang dapat membunuh mikrobe yang berada di medium standar selama 10 menit pada kondisi tertentu. Beberapa jenis mikrobe dapat hidup pada daerah temperatur yang luas sedang jenis lainnya pada daerah yang terbatas. C. tetrasiklin. Oleh karena itu.Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikrobe. amforoterisin B Antibiotika yang menghambat sintesa protein Contoh : Aktinomisin. klindamisin. streptomisin. . merusak alat – alat yang terbuat dari logam. ristosetin. masing – masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. sikloserin. b. rifampisin. nistatin. Hal ini karena bahwa tidak semua spesies mati bersama – sama pada suatu temperatur tertentu. Ag. Zn. Daya antimikrobe dari logam berat. dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikrobe dinamakan daya oligodinamik. trimetoprim B. spesies satu lebih tahan daripada spesies yang lain terhadap suatu pemanasan. ada beberapa pedoman sebagai berikut : a. Antibiotika yang menghambat sintesa asam nukleat Contoh : asam nalidiksat. sefalosporin. basitrasin.

Umumnya hidup dalam alat pencernaan.Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh pada spora. K. akan tetapi dapat pula perubahan itu bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-sifat fisiologi yang turun menurun.tempat lain yang bertemperatur tinggi. Kehidupan bakteri tidak hanya di pengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan . baik di daratan maupun di lautan. b. dan temperatur optimumnya 55 – 65oC. Golongan mikroba ini terutama terdapat di sumber – sumber air panas dan tempat. Mikrobe Termofil yakni golongan mikrobe yang tumbuh pada suhu 40 – 80oC. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh daripada kalau pembekuan itu dilakukan di dalam buih karena buih tidak dapat membeku sekeras air beku. karena spora sangat sedikit mengandung air. Pembekuan secara terputus – putus ternyata lebih efektif daripada pemanasan terus – menerus. Mikrobe Mesofil adalah golongan mikrobe yang dapat hidup dengan baik pada temperatur 5 – 60oC.Lud.AGUS KRISNO BUDIYANTO.Waluyo.15oC. Pembekuan secara perlahan – lahan dalam temperatur – 16oC ( es dicampurdengan garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secar mendadak dalam udara beku ( . Kebanyakan dari golongan ini tumnuh di tempat – tempat dingin.M.G. Pembekuan air hanya dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri. dengan temperatur optimum 10 . c.Kes. Pengaruh suhu → mikroba tumbuh optimum pada suhu kamar. mikrobe dapat dibagi menjadi tiga golongan utama. Antibiotik → menyebabkan terbentuknya zona terang ( halo ) disekitar media bakteri. OLEH: DR. Logam berat → menyebabkan terbentuknya zona terang atau ( halo ) disekitar bakteri. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu. Mikrobe Psikrofil yakni golongan mikrobe yang dapat tumbuh pada 0 – 30oC.190oC ). dan Schmidt.M.Drs.Mikrobiologi Umum. Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur.Schlegel. terlebihlebih mikro organisme. sedang temperatur optimumnya 25 – 40oC. KESIMPULAN Faktor – faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba diantaranya yaitu : a. DAFTAR PUSTAKA 1.KES DOSEN PENDIDIKAN BIOLOGI UMM Tiap-tiap makhluk hidup itu keselamatannya sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya. 2. b.2004.H.M. Mikrobiologi Umum. Sedangkan pada suhu rendah dan suhu tinggi pertumbuhannya terhambat.Universitas Muhammadiyah Press : Malang. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. yaitu : a. c.1994. Makhlukmakhluk halus ini tidak dapat menguasai faktor-faktor luar sepenuhnya. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah dengan menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor-faktor luar.H. sehingga hidupnya sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya.

Di dalam keadaan basah. Apakah pemanasan bakteri itu di lakukan di dalam keadaan kering ataukah di dalam keadaan basah. maka buah-buahan yang masam itu lebih mudah disterilisasikan daripada sayur-sayur atau daging. Misal. maka syaratnya untuk membunuh setiap spesies untuk membunuh setiap spesies bakteri ialah pemanasan selama 15 menit dengan tekanan 15 pound serta suhu 121°C di dalam autoklaf. Ketentuan ini mencakup kelima syarat-syarat tersebut diatas. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup. Mengenai pengaruh basah dan kering ini dapat diterangkan sebagai berikut. bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Beberapa pH dari medium tempat bakteri itu di panasi. Untuk sterilisali. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. maka lamanya pemanasan merupakan faktor yang berbeda-beda bagi tiap-tiap dapatlah kita adakan penentuan waktu maut (Thermal Death Rate). dan termofil.bakteri yang membentuk spora seperti genus Bacillus dan Clostridium itu tetap hidup setelah di panasi dengan uap 100°C atau lebih selama kira-kira setengah jam. Berapa lama spesies itu berada di dalam suhu tersebut. Sedikit perubahan pH menju ke asam atau ke basa itu sangat berpengaruh kepada pemanasan. 4. 5. maka sterilisasi barang-barang gelas di dalam oven kering itu memerlukan suhu yang lebih tinggi daripada 121° C dan waktu yang lebih lama daripada 15 menit. Dalam cara menentukan daya tahan panas suatu spesies perlu di perhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Daya tahan terhadap suhu itu tidak sama bagi tiap-tiap spesies. sinar gelombang pendek.nya. . sehingga tepat jugalah bila kita katakana adanya angka kematian pada suatu suhu (Thermal Death Rate). sedang faktor-faktor abiotik terdiri dari faktor-faktor alam (fisika) dan faktorfaktor kimia. pH. Untuk tujuan tertentu suatu mikrobia perlu di tentukan titik kematian termal (thermal death point) dan waktu kematian termal (thermal death time). Suhu pertumbuhan suatu mikrobia dapat di bedakan dalam suhu minimum. sebaliknya . pada temperartur yang sama. Berapa tinggi suhu. 5. Biasanya. Berhubung dengan ini. 2. Untuk menentukan suhu maut bagi bakteri orang mengambil pedoman sebagai berikut: Suhu maut (Thermal Death Point) ialah suhu yang serendahrendahnya yang dapat membunuh bakteri yang berada di dalam standard medium selama 10 menit. pengeringan. tekanan osmose. Sifat-sifat lain dari medium tempat bakteri itu di panasi. Faktorfaktor biotik terdiri atas mahluk-mahluk hidup. tegangan muka dan daya oligodinamik.tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. bahwa tidak semua individu dari suatu spesies itu mati bersama-sama pada suatu suhu tertentu. Berdasarkan atas perbedaan suhu pertumbuhannya dapat di bedakan mikrobia yang psikhrofil. Di antara faktor-faktor yang perlu di perhatikan ialah suhu. 1. Suhu Masing-masing mikrobia memerlukan suhu tertentu untuk hidupnya. 3. mesofil.1 Faktor-Faktor Abiotik. Ada spesies yang mati setelah mengalami pemanasan beberapa menit di dalam cairan medium pada suhu 60°C. Berdasarkan ini. optimum dan maksimum. Sebaliknya jika suatu standard suhu sudah ditentukan seperti pada perusahaan pengawetan makanan atau dalam perusahaan susu. Perlu diperhatikan kiranya. individu yang satu lebih tahan daripada individu yang lain terhadap suatupemanasan. Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika dan kimia. maka protein dari bakteri lebih cepat menggumpal daripada di dalam keadaan kering. perubahan ini di sebut perubahan secara kimia.

dan Bacillus caldotenax.Biasanya standard suhu itu diatas titik didih dan pemanasan setinggi ini perlu bagi pemusnahan bakteri yang berspora. Pembekuan secara perlahan-lahan dalam suhu -16°C ( es campur garam ) lebih efektif dari pada pembekuan secara mendadak dalam udara beku (-190° C ). Bakteri mesofil (mesotermik). Umumnya bakteri lebih tahan suhu rendah daripada suhu tinggi. mikrooganisme pun dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Spora bakteri termofil juga merepotkan perusahaan pengawetan makanan. Bakteri termofil agak menyulitkan pekerjaan pasteurisasi. kita belum tahu. Mengenai pengaruh suhu terhadap kegiatan fisiologi. jika suhu sampai naik sedikit. misalnya. tentang efek yang lain misalnya secara kimia. Sebagai contoh. yaitu: Bakteri termofil (politermik). maka Escherichia coli itu termasuk golongan bakteri yang kita sebut euritermik. sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut suhu optimum. Bacillus caldolyticus. Akan tetapi. jadi beda antara minimum dan maksimum suhu di sini ada lebih besar daripada yang di sebut di atas. yaitu bakteri yang dapat hidup di antara 0° sampai 30°C. yaitu dengan batas-batas 40°C sampai 80°C. karena spora sangat sedikit mengandung air. minimum 15°C dan maksimum di sekitar 55°C. meskipun bakteri ini juga dapat berbiak pada suhu lebih rendah atau lebih tinggi daripada itu. Spesies-spesies itu di tabiskan menjadi Thermus aquaticus. bakteri psikrofil dapat mengganggu makanan yang di simpan terlalu lama di dalam lemari es. Sebaliknya. Bahwa pembekuan air itu menyebabkan kerusakan mekanik pada bakteri mudahlah dimaklumi. spora-spora tidak akan tumbuh menjadi bakteri. sedang piaraan itu dapat bertahan beberapa minggu dalam keadaan beku terus-menerus. sedang suhu optimumnya ialah antara 25° sampai 40°C. jadi batas antara minimum dan maksimum tidak terlampau besar. Pembekuan bakteri di dalam air lebih cepat membunuh bakteri daripada kalau pembekuan itu di dalam buih. besarlah bahaya akan rusaknya makanan itu sebagai akibat dari pertumbuhan spora-spora tersebut. Juga pembekuan secara terputus-putus ternyata lebih efektif dari pada pembekuan secara terusmenerus. sedang suhu optimumnya antara 10° sampai 20°C. maka seperti halnya dengan mahluk-mahluk lain. Golongan bakteri yang dapat hidup pada bata-batas suhu yang sempit. Pembekuan itu sebenarnya tidak berpengaruh kepada spora. Umumnya hidup di dalam alat pencernaan. Bakteri patogen yang bias hidup di dalam tubuh hewan atau manusia dapat bertahan sampai beberapa bulan pada suhu titik beku. buih tidak membeku sekeras air beku. Golongan ini terutama terdapat didalam sumber air panas dan tempat-tempat lain yang bersuhu lebih tinggi dari 55°C. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin baik di daratan ataupun di lautan. sedang pada suhu setinggi itu spora-spora tidak mati. kadang-kadang ada juga yang dapat hidup dengan baik pada suhu 40°C atau lebih. yaitu bakteri yang hidup baik di antara 5° dan 60°C. Hanya beberapa spesies neiseria mati karena pendinginan sampai 0° C dalam kedaan basah. Berdasarkan itu adalah tiga golongan bakteri. juga di antara beberapa individu di dalam satu golongan pun batas-batas suhu optimum itu sangat berbeda-beda. Selama bahan makanan di dalam kaleng itu di simpan pada suhu yang rendah. Bakteri psikrofil (oligotermik). Pada . karena pemanasan pada pasteurisasi itu hanya sekitar 70 ° C saja. maka bakteri semacam itu kita sebut stenotermik. piaraan basil tipus mati setelah dibekukan putus – putus dalam waktu 2 jam. Sebaliknya Escherichia coli tumbuh baik antara 8 °C sampai 46 °C. Dalam praktek. Batas-batas itu ialah suhu minimum dan suhu maksimum. yaitu bakteri yang tumbuh dengan baik sekali pada suhu setinggi 55° sampai 65°C. Conococcus itu hanya dapat hidup subur antara 30 ° dan 40 ° C. Pada tahun 1967 di Yellowstone Park di temukan bakteri yang hidup dalam air yang panasnya 93 – 94 °C dan pada tahun 1969 berapa spesies lagi di tempat yang sama yang juga sangat termofil. batas-batas antara golongan-golongan itu sukar di tentukan.

yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil. sangat beragam pada bakteri. Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh. Suhu berpengaruh terhadap kinerja reaksi dalam mikroorganisme. yang dinamakan suhu optimum. Bakteri yang dipiara di bawah suhu minimum atau sedikit di atas suhu maksimum itu tidak segera mati. keduanya mempunyai optimum suhu 37 °C. dapat diramalkan bahwa semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai sistem itu membeku. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C. bahwa suhu optimum itu lebih mendekati suhu maksimum daripada suhu minimum. dan maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum. melainkan berada di dalam keadaan “tidur” (dormancy).6). bakteri seringkali dibagi atas tiga golongan besar: termofil.7 menunjukkan kecepatan tumbuh E. Gambar 10. dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil obligat. Gambar 5. T ialah suhu dalam derajat Kelvin. dapat tumbuh sampai suhu serendah –10°C jika konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku. terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam. mesofil. optimum. kebanyakan bakteri berhenti tumbuh pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air. Akan tetapi. Karena itu. Kecepatan tumbuh pada suhu tinggi yang menurun tiba-tiba disebabkan oleh denaturasi panas protein dan mungkin pula denaturasi struktur sel seperti membran. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil (organisme yang tidak dapat tumbuh di bawah 37 °C). Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan. Pada suhu maksimum untuk tumbuh maka reaksi yang merusak menjadi sangat besar. yang tumbuh baik pada 0°C. Klasifikasi reaksi suhu tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan. Kecepatan reaksi kimia merupakan fungsi langsung daripada suhu dan mengikuti hubungan yang dikemukakan semula oleh Arrhenius : Log10 V = − ΔH* + C 2. yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C). tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak terjadi betapa pun lamanya masa inkubasi. Suhu itu biasanya hanya berapa derajat lebih tinggi daripada suhu untuk kecepatan tumbuh maksimal. Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang kerap kali benar.Hal ini nyata benar bagi Gonococcus dan Escherichia coli. psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil fakultatif. Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh untuk paling sedikit satu galur spesies .3 Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu menurut rumus arrthenius Dari pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia. coli yang dapat disamakan dengan fungsi T ¯¹. kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi T ¯¹ menghasilkan garis lurus dengan lereng negatif (Gambar 10. dan euritermofil (organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C).umumnya dapat di pastikan. ΔH* ialah energi aktivitas pada reaksi. Kurvenya linear hanya pada bagian kisaran suhu untuk tumbuh. Sebab kecepatan tumbuh dengan tibatiba sangat menurun pada batas atas dan bawah kisaran suhu.303RT v ialah kecepatan reaksi. yang diisolasi dari lingkungan dingin. R ialah konstante gas.

Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil agaknya melibatkan . Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh telah disingkapkan oleh dua macam penelitian. dan psikrofil yang agak berubah-ubah. dengan suhu tumbuh minimum yang menaik. walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik. Ilustrasi kejadian ini pada E. maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang berpengaruh pada struktur pertama proteinnya. mesofil. Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum. dan mutan peka dingin. Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel tersebut. dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas. ribosom) menunjukkan bahwa banyak protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein homolognya dari bakteri mesofil. dengan mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda. Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu diturunkan. Kesimpulan ini ditunjang oleh pengamatan bahwa bakteri psikrofilik yangdiisolasi dari air antartik mengandung sejumlah besar protein yang luar biasa labilnya terhadap panas. kisaran suhunya menjadi lebih sempit oleh perubahan satu mutan. Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh. Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang berprotein (misalnya flagelum. kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat. semua protein mengalami sedikit perubahan bentuk. tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan protein-protein ini. Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C.6). Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum belum ditentukan. dan analisis sifat mutan yang peka terhadap suhu. coli tampak pada perubahan dalam susunan lemak ini adalah komponen penting daripada adaptasi suhu pada bakteri. Percobaan seperti ini (Tabel 10. perbandingan antara sifat organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda.itu terdapat variasi di antara bermacam galur beberapa spesies.mutasi yang meningkatkan ketahanan panas proteinnya . namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur utama suatu protein khusus ( misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas protein tersebut. berubah-ubah menurut suhu tumbuh. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut. mutan peka panas. Susunan lipid pada hampir semua organisme. Oleh karen aitu. baik prokariota maupun eukariota. Akibatnya. Akibatnya. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil. derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran menentukan derajat . Ada dua macam mutan yang peka terhadap suhu. Dengan jelas menunjukkan bahwa pada hakekatnya semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang sekelompok. Pada suhu rendah. Bila suhu turun. sedangkan untuk lainnya dapat sampai 50°C. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun . Tanda dengan dua panah menunjukkan bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut. yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi tiga).

4.6 1.8 pH minimum.8 9.5 dan 7.6.0 – 8.0-7.7 Indikator Asam – Basa NAMA INTERVAL pH PK INDIKATOR WARNA ASAM – BASA Biru timol 8. 2.2 5.0-5. Untuk menahan perubahan dalam medium sering ditambahkan larutan bufer. bila bakteri di kuitivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya misal 7 maka mungkin pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawasenyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya.0 – 7.8 9.0-7.5 Azotobacter spp 6. larutan penyangga adalah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH.5 2.1 Kuning – biru Merah metal 4.0 6.3 7. natrium bikarbonat (0. pH Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu.2 – 9. Istilah pH pada suatu symbol untuk derajat keasaman atau alkanitas suatu larutan.5 Thermos aquaticus Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroorganisme dibedakan menjadi 3 golongan besar yaitu: Mikroorganisme yang asidofilik.4 – 6. 4. cuka 2.5. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 2.0 .0 7.0 (netral).2 7.2. pH=log (1/[H+]) dengan [H+] sebagai konsentrasi ion hydrogen. optimum dan maksimum untuk pertumbuhanya. optimum. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum. Pergesaran pH ini dapat sedemikian besar sehingga mengahambat pertumbuhan seterusnya organisme itu.3 Staphylococcus aureus 5.8 8.8 – 8.0-4. pH air suling ialah 7. susu. sari tomat. Karena fungsi membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid.25.4 7. Namun beberapa spesies dapat tumbuh dalam keaadaan sangat masam atau sangat alkalin.6 7.7 Merah – kuning Biru brom fenol 3.4-6. 8.0 – 4. Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhanya dapat dibedakan mikrobia yang asidofil.5 6. dan maksimum untuk pertumbuhan beberapa spesies bakteri Bakteri KISARAN pH UNTUK PERTUMBUHAN Batas bawah Optimum Batas atas Thiobacillus 0. 6.0 – 4.5 8. misalnya untuk bakteri pada pH 6. susu magnesia.0 – 9. mesofil ( neutrofil ) dan alkalofil.5 – 7.5 5.5.0 Merah – kuning Biru brom timo l 6.5.0 Acetobacter aceti 4.8 7.0 Thiooxidans 4.6 4.1 Kuning – biru Merah feno 6. Pergeseran pH dapat dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium.6 Tak berwarna -merah muda Tabel 5.0 Clhorobium limicola 6. pH optimum pertumbuhan bagi kebanyakan bakteri antara 6. khamir pada pH 4. Tabel 5.5 – 7.5 9. 10.1N).keadaan cairnya pada suhu tertentu.0-8.8 Kuning – merah Merah kresol 7.5 7. dapatlah dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan penambahan derajat ketidakjenuhan asam lemak.0-3.5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada daerah pH yang luas.2 Kuning – merah Fenolftalein 8.

5 Suhu. Beberapa kelompok bakteri mempunyai persyaratan tambahan. hanya tumbuh bila mediumnya mengandung konsentrasi garam yang tinggi. konsentrasi natrium kloridanya dapat mencapai 25 persen. yang dapat tumbuh dalam larutan natrium kloride tetapi tidak mensyaratkannya disebut halofil fakultatif – mereka tumbuh dalam lingkungan berkonsentrasi garam tinggi atau rendah.5-8. organisme fotoautotrofik (fotosintetik) harus diberi sumber pencahayaan. karena cahaya adalah sumber energinya. wadah berisi garam. Sebagai contoh. Pertumbuhan bakteri dapat dipengaruhi oleh keadaan tekanan osmotik (tenaga atau tegangan yang terhimpun ketika air berdifusi melalui suatu membran) atau tekanan hidrostatik (tegangan zat alir).4-9. Telah diisolasi bakteri dari parit-parit terdalam dilautan yang tekanan hidrostatiknya mencapai ukuran ton meter persegi.5 persen natrium klorida. dan danau air asin. Tabel 5. Ini menunjukkan adanya tanggapan terhadap tekanan osmotik. Termofil 25 – 55°c optimumnya pada Fakultatif (bebas pilih) suatu titik didalam Termofil obligat 45 – 75°c kisaran bergantung ada spesies Aerob Hanya tumbuh bila ada oksigen bebas Anaerob Hanya tumbuh Persyaratan akan gas tanpa oksigen Anaerob fakultatif bebas Tumbuh baik tanpa Mikroaerofil oksigen bebas Tumbuh bila ada oksigen bebas dalam jumlah sedikit Kebanyakan bakteri berkaitan dengan kehidupan hewan dan pH optimum 6. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 8. Bakteri tertentu.5 alkanitas (pH) Beberapa spesies eksotik .Mikroorganisme yang mesofilik (neutrofilik).5 – Keasaman atau tumbuhan 7.9 Kondisi-kondisi fisik yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri Kondisi Fisik Tipe Bakteri Kondisi Biakan (Kelompok Psikologis) (Inkubasi Suhu (kisaran Psikrofil 0 – 30°c pertumbuhan) : Mesofil 25 – 40°c minimum dan Termofil : maksimum. lingkungan. di danau air asin. yaitu jasad yang dapat tumbuh pada pH antara 5. air laut. Air laut mengandung 3.0 Mikroorganisme yang alkalifilik. Mikroorganisme yang membutuhkan NaCl untuk pertumbuhannya di sebut halofil obligat – mereka tidak akan tumbuh kecuali bila konsentrasi garamnya tinggi. yang disebut bakteri halofilik dan dijumpai di air asin. gas dan pH adalah faktor-faktor fisik utama yang harus dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum bagi pertumbuhan kebanyakan spesies bakteri. makanan yang diasin.

pH minimum 0,5; Fotosintetik (autotrof dan

pH maksimum 9,5

heterotrof) Cahaya sumber cahaya Halofil (halofil obligat) Salinitasi konsentrasi garam yang tinggi, 10 –15% NaCl 3. Kelembaban Mikroorganisme mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi diatas 85°C, sedangkan untuk jamur dan aktinomises diperlukan kelembaban yang rendah dibawah 80°C. Kadar air bebas didalam lautan (aw) merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umumnya terletak diantara 0,90 – 0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Banyak mikroorganisme yang tahan hidup didalam keadaan kering untuk waktu yang lama seperti dalam bentuk spora, konidia, arthrospora, klamidospora dan kista. Seperti halnya dalam pembekuan, proses pengeringan protoplasma, menyebabkan kegiatan metaobolisme terhenti. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosa dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut. 4. Tekanan osmosis Pada umumnya mikrobia terhambat pertumbuhannya di dalam larutan yang hipertonis. Karena sel-sel mikrobia dapat mengalami plasmolisa. Didalam larutan yang hipotonis sel mengalami plasmoptisa yang dapat di ikuti pecahnya sel. Beberapa mikrobia dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan osmose yang tinggi; tergantung pada larutanya dapat dibedakan jasad osmofil dan halofil atau halodurik. Medium yang paling cocok bagi kehidupan bakteri ialah medium yang isotonik terhadap isi sel bakteri. Jika bakteri di tempatkan di dalam suatu larutan yang hipertonik terhadap isi sel, maka bakteri akan mengalami plasmolisis. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah benar menyebabkan terjadinya plasmolisis ini. Sebaliknya, bakteri yang ditempatkan di dalam air suling akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya bakteri, dengan kata lain, bakteri dapat mengalami plasmoptisis. Berdasarkan inilah maka pembuatan suspense bakteri dengan menggunakan air murni itu tidak kena, yang digunakan seharusnyalah medium cair. Jika perubahan nilai osmosis larutan medium tidak terjadi sekonyongkonyong, akan tetapi perlahanlahan sebagai akibat dari penguapan air, maka bakteri dapat menyesuaikan diri, sehingga tidak terjadi plasmolisis secara mendadak. 6. Senyawa toksik Ion-ion logam berat seperti Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li, dan Pb. Walaupun pada kadar sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroorganisme karena ion-ion logam berat dapat bereaksi dengan gugusan senyawa sel. Daya bunuh logam berat pada kadar rendah disebut daya ologodinamik. Anion seperti sulfat tartratklorida, nitrat dan benzoat mempengaruhi kegiatan fisiologi mikroorganisme. Karena adanya perbedaan sifat fisiologi yang besar pada masing-masing mikroorganisme maka sifat meracun dari anion tadi juga berbeda-beda. Sifat meracun alakali juga berbeda-beda, tergantung pada jenis logamnya. Ada beberapa senyawa asam organik seperti asam benzoat, asetat dan sorbet dapat digunakan sebagai zat pengawet didalam industry bahan makanan. Sifat meracun ini bukan disebabkan karena nilai pH, tetapi merupakan akibat langsung dari molekul asam organik tersebut terhadap

gugusan didalam sel. 7. Tegangan Muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaannya akan menyerupai membran yang elastis, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikroorganisme. Protoplasma mikroorganisme terdapat didalam sel yang dilindungi dinding sel. Dengan adanya perubahan bahan pada tegangan muka dinding sel, akan mempengaruhi permukaan protoplasma, yang akibatnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perubahan bentuk morfologinya. Bakteri yang hidup didalam alat pencernaan dapat berkembangbiak didalam medium yang mempunyai tegangan permukaan relatif rendah. Tetapi kebanyakan lebih menyukai tegangan permukaan yang relatif tinggi. 8. Tekanan Hodrostatik dan Mekanik Beberapa jenis mikroorganisme dapat hidup didalam samudra pasifik dengan tekanan lebih dari 1208 kg tiap cm persegi, dan kelompok ini disebut barofilik. Selain itu tekanan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya beberapa reaksi kimia, sedang tekanan diatas 7500 kg tiap cm persegi dapat menyebabkan denaturasi protein. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi proses biologi sel jasad hidup. 9. Kebasahan dan kekeringan Bakteri sebenarnya mahluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur; hal ini di sebabkan karena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah baiklah bagi kehidupan bakteri. Banyak bakteri menemui ajalnya, jika kena udara kering. Meningococcus, yaitu bakteri yang menyebabkan meningitis, itu mati dalam waktu kurang daripada satu jam, jika digesekkan di atas kaca obyek. Sebaliknya,spora-spora bakteri dapat bertahan beberapa tahun dalam keadaan kering. Pada proses pengeringan, air akan menguap dari protoplasma. Sehingga kegiatan metabolisme berhenti. Pengeringan dapat juga merusak protoplasma dan mematikan sel. Tetapi ada mikrobia yang dapat tahan dalam keadaan kering, misalnya mikrobia yang membentuk spora dan dalam bentuk kista. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan itu ialah: Bakteri yang ada dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada di dalam gesekan pada kaca obyek. Demikian pula efek kekeringan kurang terasa, apabila bakteri berada di dalam sputum ataupun di dalam agar-agar yang kering. Pengeringan di dalam terang itu pengaruhnya lebih buruk daripada pengeringan di dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37°C) atau suhu kamar (+ 26 °C) lebih buruk daripada pengeringan pada suhu titik-beku. Pengeringan di dalam udara efeknya lebih buruk daripada pengeringan di dalam vakum ataupun di dalam tempat yang berisi nitrogen. Oksidasi agaknya merupakan faktor-maut. 10. Sinar gelombang pendek Sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang pendek (misalnya sinar, sinar Ultra violet, sinar gama), mempunyai daya penetrasi yang cukup besar terhadap mikribia. Sinar-sinar tersebut dapat menyebabkan kematian. Perubahan genetik (mutasi) atau penghambatan pertumbuhan mikrobia. Sinarsinar tersebut banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi dan pengawetan bahan makanan. Kebanyakan bakteri tidak dapat mengadakan fotosintesis, bahkan setiap radiasi dapat berbahaya bagi kehidupannya. Sinar yang nampak oleh mata kita, yaitu yang bergelombang antara 390 m μ sampai 760 m μ, tidak begitu berbahaya; yang berbahaya ialah sinar yang lebih pendek gelombangnya, yaitu yang bergelombang antara 240 m μ sampai 300 m μ. Lampu air rasa banyak memancarkan sinar bergelombang pendek ini.

Lebih dekat, pengaruhnya lebih buruk. Dengan penyinaran pada jarak dekat sekali, bakteri bahkan dapat mati seketika, sedang pada jarak yang agak jauh mungkin sekali hanya pembiakannya sajalah yang terganggu. Spora-spora dan virus lebih dapat bertahan terhadap sinar ultra-ungu. Sinar ultra-ungu biasa dipakai untuk mensterilkan udara, air, plasma darah dan bermacam-macam bahan lainya. Suatu kesulitan ialah bahwa bakteri atau virus itu mudah sekali ketutupan benda-benda kecil, sehingga dapat terhindar dari pengaruh penyinaran. Alangkah baiknya, jika kertas-kertas pembungkus makanan, ruangruang penyimpan daging, ruang-ruang pertemuan, gedunggedung bioskop dan sebagainya pada waktuwaktu tertentu dibersihkan dengan penyinaran ultra-ungu. Sinar X dan sinar radium yang bergelombang lebih pendek daripada sinar ultra-ungu juga dapat membunuh mikroorganisme, akan tetapi memerlukan lebih banyak dosis daripada sinar ultra-ungu. Bakteri yang disinari dengan sinar X kerap kali mengalami mutasi. Aliran listrik tidak nampak berbahaya bagi kehidupan bakteri. Jika ada bakteri yang mati karenanya, hal ini di sebabkan oleh panas atau oleh zat-zat yang timbul di dalam medium sebagai akibat daripada arus listrik, seperti ozon dan klor (chlor). 11. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan itu menyerupai membran yang elastik. Demikian juga permukaan cairan yang menyelubungi sel mikrobia. Tekanan dari membran cairan ini di teruskan ke dalam protoplasma sel melalui dinding sel dan membran sitoplasma, Sehingga dapat mempengaruhi kehidupan mikrobia. Kebanyakan bakteri lebih menyukai tegangan muka yang relatif tinggi. Tetapi adapula yang hidup pada tegangan muka yang relatif rendah. Misalnya bakteri-bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan. Sabun mengurangi ketegangan permukaan, dan oleh karena itu dapat menyebabkan hancurnya bakteri. Diplococcus pneumoniae sangat peka terhadap sabun. Empedu juga mempunyai khasiat seperti sabun; hanya bakteri yang hidup di dalam usus mempunyai daya tahan terhadap empedu. Bolehlah dikatakan pada umumnya, bahwa bakteri yang Gram negatif lebih tahan terhadap pengurangan (depresi) tegangan permukaan daripada bakteri yang Gram positif. 12. Daya oligodinamik Ion-ion logam berat seperti Hg++ , Cu++ , Ag++ dan Pb++ pada kadar yang sangat rendah bersifat toksis terhadap mikrobia. Karena ion-ion tersebut dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel. Daya bunuh logam-logam berat pada kadar yang sangat rendah ini di sebut daya oligodinamik. Garam dari beberapa logam berat seperti air rasa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, daya mana di sebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali di pertunjukkan dengan suatu eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alatalat yang terbuat dari logam, dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. Persenyawaan air rasa yang organic dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji-bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lender, misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang yang mempergunakan persenyawaan perak dan protein. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanamantanaman mematikan tumbuhan ganggang dikolam-kolam renang. 13. Desinfektan Pada umumnya bakteri muda itu kurang daya-tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi, lama berada dibawah pengaruh desinfektan, merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Kenaikan suhu menambah daya desinfektan. Selanjutnya, medium dapat juga menawar daya desinfektan. Susu, plasma darah, dan zat-zat lain yang serupa protein sering

melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Dalam menggunakan desinfektan haruslah diperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini. Apakah suatu desinfektan tidak meracuni suatu jaringan, apakah ia tidak menyebabkan rasa sakit, apakah ia tidak memakan logam, apakah ia dapat diminum, apakah ia stabil, bagaimanakah baunya, bagaimanakah warnanya, apakah ia mudah dihilangkan dari pakaian apabla desinfektan tersebut sampai kena pakaian, dan apakah ia murah harganya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan orang sulit untuk menilai suatu desinfektan. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawasenyawa lain yang sejenis, formaldehida, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide, dan anti biotik. a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. b. Formaldehida (CH2O) Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan. c. Alkohol Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan. d. Yodium Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol, banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur. e. Klor Dan Senyawa Klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. f. Zat Warna Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian. g. Obat Pencuci (Detergen) Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida. Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak 1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian. Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun

yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. kloromisetin. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat secara sintetik pula. . Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi pula tidak merusak jaringan manusia. h. dikatakan mempunyai spektrum luas. Asam-paminobenzoat memegang peranan sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan. dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida.zat ini dapat membunuh bangsa jamur. Pneumococcus. Pinisilin di temukan oleh Fleming dalam tahun 1929.Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri. Gambar 5. Sebaliknya. disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin. magnamisin yang masing-masing mempunyai khasiat yang berlainan. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik diketemukan. maupun spiril.5 Rumus bangun sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat i. oleh karena itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. eritromisin. dan pada dewasa ini jumlahnya ratusan. suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu. bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium biasa. oleh karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit. basil dan jenis spiril tertentu. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak berbau dan tidak berasa apa-apa. melainkan oleh golongan bakteri sendiri. Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin. Antibiotik Menurut Waksman. baik kokus. jika tidak aturan akan menimbulkan gejalagejala alergi. namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Terutama bangsa kokus seperti Streptococcus yang menggangu tenggorokan. Jika sesudah 24 jam kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri sekitar bahwa bakteri itu tercekik pertumbuhannya oleh antibiotik yang terkandung dalam kepingan kertas. bakteri dapat tumbuh biasa. . teramisin. dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. polimiksin oleh Bacillus polymyxa. antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Gonococcus. Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat dihasilkan oleh golongan jamur. basitrasin oleh Bacillus subtilis. Pada medium agar-agar yang telah disebari spesies bakteri tertentu diletakkan beberapa kepingan kertas yang masingmasing mengandung antibiotik yang diuji dalam kontrentasi yang tertentu. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas itu sesuai dengan konsentrasi antibiotik yang terkandung didalamnya. dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan. Tetrasiklin efektif bagi kokus. lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan bakteri menjadi kebal terhadapnya. Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus. Penggunaan obat-obat ini. Khasiat sulfonamida itu terganggu oleh asam-p-aminobenzoat. Sering terjadi. misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis. dalam hal itu dapat terjadi persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. aureomisin. obat-obatan ini terkenal sebagai kloramfenikol. basil. Akhir-akhir ini orang telah dapat membuat kloromisetin secara sintetik. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum di restoran-restoran. maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam medium tersebut.

akan tetapi banyak digunakan untuk menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di kolam–kolam renang. Hal semacam ini dikerjakan pula dengan perangkat kedua. Desinfektan yang akan diuji itu di encerkan menurut perbandingan tertentu.2 Faktor-Faktor Biotik Faktor-faktor biotik ialah faktor-faktor yang disebabkan jasad (mikrobia) . Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu eksperimen. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Setelah berselang 48 jam piaraan dapat diperiksa tentang ada tidaknya koloni-koloni Salmonella. Misal.Sesuai dengan keperluan. metafen atau mertiolat.6 Pengaruh antibiotic terhadap pertumbuhan bakteri. Mikroorganisme yang dipakai sebagai penguji khasiat desinfektan ialah Salmo nella typhosa. M adalah agar-agar lempengan yang disebari bakteri j. Jika tak ada pertumbuhan. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. orang perlu mempunyai suatu ukuran pokok.5 ml inokulum Salmonella typhosa yang masih muda. (1:400). Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak kulit. Di dalam perangkat yang ketiga bakteri dibiarkan selama 15 menit berada dalam desinfektan. Cara Menilai Khasiat Desinfektan Untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan. Garam tembaga jarang dipakai sebagai bakterisida. daerah kosong Gambar 5. Persenyawaan air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji – bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. c. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom. Di samping itu kita membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan kita banding khasiatnya dengan khasiat fenol. Setelah 5 menit berada di dalam larutan. Katakan. maka alat–alat yang terbuat dari logam. maka suatu antibiotik dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penelanan atau penyuntikan. a. kita memerlukan 3 perangkat dalam pengujian ini. kadang-kadang digunakan juga Micrococcus aureus. misalnya pada mata bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. daerah pertumbuhanbakteri b. Penyuntikan dapat dilakukan intra vena (dalam pembuluh darah balik) atau intra muscular (dalam daging). kita membuat 2 larutan fenol. dan lagi pula mahal harganya. maka diambillah satu kolong inokulum untuk digesekkan pada agar-agar lempengan. Dari tiap-tiap larutan kita ambil 5 ml untuk kita masukkan dalam tabung steril banyaknya tabung sesuai dengan banyaknya larutan fenol dan desinfektan A. dan piaraan ini kemudian disimpan dalam suhu 37 °C. c. larutan desinfektan A itu (1:300). Adapun zat yang dipakai ialah fenol. daerah kosong a. 5. Banyak juga orang mempergunakan persenyawaan perak dengan protein. daerah pertumbuhanbakteri b. yaitu 12 tabung untuk desinfektan 0. hal ini berarti bahwa bakteri telah mati ketika diambil dari tabung yang berisi larutan desinfektan. yang satu (1:90) dan yang lain (1:100). dimana Salmonella dibiarkan berada dalam larutan selama 10 menit. kepingan kertas yangmengandung antibioticdalam konsentasitertentu. daya mana disebut oligodinamik. Nitrat perak 1 sampai 2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir. Garam – Garam Logam Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri. (1:350). (1:450).

sebab biasanya terdiri atas berjenis-jenis mikroorganisme yang satu dengan yang lainnyaakan saling menstimulasi kegiatan {pertumbuhan}-nya misalnya mikrobia jenis pertama akan menguraikan suatu subtrad yang hasilnya dapat digunakan dan di uraikan oleh mikrobia jenis kedua dan yang hasil hasilnya dapat digunakan oleh mikrobia jenis ketiga dan seterusnya yang hasil hasilnya akhirnya dapat menstimulasi kegiatan mikrobia jenis pertama. mutualisme. 1978). Parasitisme Merupakan bentuk assosiasi diantara parasit dengan jasad inang. sedang 2 bagian terdahulu khusus padakomoditas biji-bijian. sinergisme. Sedangkan jasad yang lain mungkin mengalami kerugian atau tidak. Keadaan ini akan dapat pula memusnahkan (melenyapkan) parasitnya sendiri. Jasad parasit yang obligat dapat merusak jasad inang dan pada akhirnya memusnahkan. parasitisme.3 Fungi Dan Lingkungannya Christensen (1957) membagi fungi dalam 3 golongan berdasar keadaan lingkungan perkembangannya yaitu: 1) fungi lapangan (field fungi). Asosiasi dapat dalam bentuk komensalisme. mutualisme. dimana salah satu jenis mendapatkan keuntungan sedang lainnya tidak mendapat keuntungan atau kerugian. Faktorfaktor tersebut antara lain ialah adanya asosiasi atau kehidupan bersama diantara jasad. Tanpa sinergisme masingmasing mikkrobatidak mampu melakukan perubahan tersebut. ialah komensalisme. karena jasad inang sebagai sumber kehidupannya. Golongan 3) merupakan bagian sementara. fungi penyimpanan menyerang bijian yang tersimpan setelah panen dengan kandungan air . (Bothast. dan parasitisme. tergantung pada macamnya simbiose. antibiose dan sintropisme. tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme.atau kegiatannya yang dapat mempengaruhi kegiatan (pertumbuhan) jasad atau mikrobia lain. simbiose. tErhambat pertumbuhannya atau mengalami gangguan-gangguan yang lain. 2) fungi penyimpanan (storage fungi) dan 3) fungi perusakan lanjutan (advanced decay fungi). 5. Mutualisme Merupakan bentuk assosiasi dimana masing-masing jenis mendapat keuntungan. Simbiose dapat dibedakan tiga macam. Sintropisme Sintropisme disebut juga nutrisi bersama atau mutualnutrition ialah bentuk asosiasi yang lebih komplek . Fungi lapangan menyerang bijian yang sedang dan masak penuh dengan kandungan air paling sedikit 20% atau keseimbangan lembab relatif (Rh) 90 – 100%. Sinergisme Sinergisme ialah suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu kemampuan untuk melakukan perubahan kimia tertentu dalam suatu subtrat atau medium. Komensalisme Merupakan asosiasi yang sangat renggang. Simbiosis Simbiosis ialah asosiasi antara dua atau lebih jasad (mikrobia) di mana satu jenis (spesies) di antara jasad yang berasosiasi tersebut mendapat keuntungan. Sering simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk assosiasi yang mutualistik. Antibiosis Antibiosis disebut juga antagonisme atau amensalisme ialah suatu bentuk asosiasi antara jasat (mikkroba) yang menyebabkan salah satu pihak dalam asosiasi tersebut terbunuh. Sebagai contoh mutualisme antara bakteri Rhizobium dengan polongpolongan. Contohnya adanya pembentukan toksindan sat-sat antibiotika oleh salah satu mikroorganisme pada suatu asosiasi.

1975. antara lain: 1) Kandungan air bijian yang disimpan. barley. Kebanyakan fungi penyimpanan terdiri dari dari 5 atau 6 golongan Apergillus dan baru kemudian dan beberapa spesies Penicillium sampai terjadi kerusakan lebih lanjut (Christensen dan Kaufmann. 1978). Mucor dan Rhizopus pada umumnya ada hubungannya dengan kerusakan pada kondisi lembab. gandum. Beberapa spesies tertentu penicillium kadang-kadang dimasukkan dalam fungi lapangan (Mislivec dan Tuite. 1974). Epicoccum dan Nigospora yang umumnya menyerang dekat atau saat panen (Bothast. namun tidak hanya terbatas pada biji serealia. Stemphylium. 1974). 5) banyknya benda-benda asing (bukan bahan sejenisnya) dan 6) terdapatnya aktivitas serangga dan kutu dalam ruang simpan (Uraguchidan Yamazaki. Fungi yang dominan pada suatu komoditas tergantung atas macam tanaman. mempunyai kekhususan diantara spesies dan . umumnya banyak terdapat pada biji sayuran atau biji serealia. 1978). dan Neurospora. 1978). Cladosporium umumnya pada biji serelia dalam kondisi basah selama panennya. wilayah atau lokasi geografis dan keadaan iklim. Wallace (1973)menyebutkan 26 spesies Aspergillus dan 66 spesies Penicillium yang dapat diisolasi pada produk simpanan. mereka bukanlah fungi pemula kerusakan bahan dalam penyimpanan (Wallace.0. Pada barley. disamping faktor lainnya. 3)periode penyimpanan. Paecylomices. karena mereka menghendaki suatu lembab relatif (Rh) minimum 88% untuk pertumbuhannya. Faktor-faktor seperti disebutkan diatas ditujukan pada bahan dimana fungi tumbuh. 4) pH. Helminthosporium banyak didapat pada jenis padi. Terdapat beberapa faktor pokok yang akan mempengaruhi perkembangan fungi pada bahan pangan yang disimpan. 1973). Fungi penyimpanan juga terdiri dari beberapa spesies antara lain Penicillium. 1970). dan pada tempat penyimpanan fungi ini hamper tidak terdapat. 1978). Setiap jenis fungi selain adalah batasan-batasan normal. Fungi pada umumnya akan dapat berkembang baik pada aw sekitar 0. 4) derajat awal penyerangan oleh fungi sebelum sampai tempat penyimpanan.89. Scopulariopis. Selain Aspergillus dan Penicillium dikategorikan pula dalam fungi penyimpanan adalah Absidia. Suhu dan aktivitas air sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian.sekitar 13 – 20 % atau keseimbangan lembab relative (Rh) 70 – 90% (Bothast. dan jagung dikenal sebagai bentuk “kudis” biji-biji yangdemikian dapat mendatangkan kercunan pada hewan maupun manusia(Uraguchi dan Yamazaki. Mucor.65. Fusarium. 3) tekanan osmosis. Menurut Christensen dan Kauftmann (1969) dilaporkan lebih dari 150 spesies fungi telah diisolasi dari bagian biji tanaman. Helminthosporium dan Cladosporium (Uraguci dan yamazaki.1976. Aspergillus dan Sporendomena dan kadang-kadang beberapa jenis khamir (Uraguchi dan Yamazaki. 1975). Contoh fungi lapangan adalah alternaria. 5) potensial oksidasi-reduksi (Eskin dkk. 2) aktivitasair (water activity). Chaetomium. dan obat khususnya bila terjadi cuaca lembab sebelum panen. sedangkan golongan fungi hidrofil diinginkan aw mencapai 0. Penicillium dan Aspergillus merupakan fungi yang diketahui ada dimana-mana dan hamper terdapat disetiap wilayah. Fusarium banyak terdapat pada serealia yang baru dipanen. Dalam kaitannya dengan kelembaban relatif (Rh) yang dapat diukur dari sekeliling bahan maka umumnya diharapkan kelembaban relatif sekitar 70-80%. Rhizopus. 1978). Kekecualian adalah Aspergillus flavus yang dapat menyerang bahan dilapangan (meski termasuk fungi penyimpanan) demikian pula Fusarium akan dapat melanjutkan kerusakan bahan bijian dalam gudang (meski termasuk fungi lapangan) bila kandungan air bahan cukup tinggi (Lillehoj dkk.80. Ibasidia. Caldwell dan Tuite. 1978). Juga termasuk pula Curvularia. 2) suhu ruang penyimpanan. Lihatlah dua table dibawah ini. Alternaria. maka untuk pertumbuhan fungi endiri memerlukan faktor fisik-khemis antara lain 1) suhu.

2 Tujuan Percobaan 1. Memperlihatkan kecepatan reaksi enzimatik sampai suhu tertentu sebanding dengan kenaikan suhu. Dalam aktivitas metabolisme kita mengenal adanya katalisator. suhu dan konsentrasi substrat. 1974) PENGARUH SUHU. Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. maka praktikum tentang faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim perlu dilakukan I. Pertumbuhan fungi berkaitan dengan kenaikan suhu yang dipengaruhi berbagai faktor antara laininaktivitas thermal enzim. mengecilnya oksigen dan kandungan air atau akumulasi CO2 menjadi terbatas. optimum dan maksimum sebagaimana tercantum dalam tabel diatas adalah perkiraan (Christensen dan Kaufmann. . dalam keadaan iniuntuk setiap bahan bijian akan berbeda kandungan airnya sesuai komposisi (Pomeranz. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim. meskipun keduanya mempunyai hubungan erat. suhu dan lainnya. Hubungan antara bagian-bagian tersebut sangat kompleks maka kondisi minimum. Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Reaksi enzimatik mempunyai suhu optimum. Kelembaban relatif minimum untuk perkecambahan fungi umumnya adalah 75% pada suhu biasa. Dengan peran enzim pada hampir tiap reaksi biologis. 1974). Membuktikan bahwa keasaman ( pH ) mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik 3. Faktor-faktor tersebut antara lain kosenntrasi enzim. kehilangan substrat. Rekasi kimia ini meupakan bagian dari sistem yang bekerja spesifik dan menghasilkan senyawa-senyawa kimia. Dibawah ini diberikan gambaran Rh ruang penyimpanan dan suhu untuk pertumbuhan beberapa fungi penyimpanan yang penting. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya. dapat dikatakan enzim memilki peran sangat penting. konsentrasi ion hydrogen (pH).1 Latar Belakang Dalam proses metabolisme di dalam tubuh terdapat berbagai macam reaksi kimia. Dalam mendukung perannya sebgai katalisator atau mempercepat reaksi yang terjadi tentu saja ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Keseimbangan lembab relatif bijian lebih penting daripada kandungan air guna mengendalikan kerusakan fungi dalam ruang penyimpanan.lainnya seperti terlihat pada beberapa table kelembaban relatif. 2. Oleh karena pentingnya enzim. pH. KONSENTRASI ENZIM TERHADAP KECEPATAN REAKSI ENZIMATIK BAB I PENDAHULUAN I. Katalisator dalam reaksi ini disebut enzim.

sedangkan enzim keseluruhannya disebut haloenzim. Ada enzim yang dapat mengkatalisa suatu kelompok substrat.1 Enzim Enzim merupakan suatu kelompok protein yang berperan penting di dalam aktivitas biologic. Di dalam jumlah sangat kecil.di dalam sel terdapat banyak jenis enzim yang berlainan kekhasannya. Kespesifikan gugus menunjukkan bahwa enzim hanya dapat bekerjaterhadap gugus yang tertentu. 2003 ). enzim-enzim yang bekerja terhadap asam amino dan protein hanya bekerja pada asam amino L dan bukan pada isomer D. sehingga suatu enzim hanya mampu menjadi katalisator untuk reaksi tertentu saja.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Kespesifikan optik tampak pada enzim-enzim yang bekerja terhadap karbohidrat.2000). ada pula yang hanya satu kelompok substrat saja. Enzim berfungsi sebagai katalisator si dalam sel dan sifatnya sangat khas. Enzim alkohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alcohol ( Hafiz Soewoto. Karena enzim mengkataliser reaksi-reaksi di dalam system biologis. enzimenzim ini hanya bekerja terhadap karbohidrat isomer D bukan L. dan ada pula ynag bersifat stereospesifik. Bagian protein ( tak aktif ) ( apoenzim ) + non-protein ( gugus protestik ) = haloenzim ( aktif ) Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus ( M. maka enzim juga disebut sebgai biokatalisator Bagian protein dari enzim disebut apo-enzim.T Simanjuntak. Klasifikasi enzim berdasar Commission on Enzim Of The Internasional uinion of Biochemistry ( CEIUB ) atau Internasional Enzim Commision ( IEC ) adalah sebgai berikut : Enzim yang berperan dalam reaksi oksidasi-reduksi contoh oksigenase Enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan gugus tertentu contoh enzim transaminase Enzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis contoh peptidase Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi addisi atau pemecahan ikatan rangkap contoh liase . enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga di dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan hasil akhir reaksinya. Sebaliknya. Umumnya.

keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. α. Simanjuntak. a. laju enzimatik selalu lebih rendah. enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya ( Hafiz Soewoto. . 2003). β. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi.T. karena terjadi denaturasi( Hafiz Soewoto. Akan tetapi. sinar x. Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. Dengan kenaikan suhu lingkungan. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C. penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik. Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37° C.2000) . penyinaran ultraviolet. jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang rerlatif ketat. dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum Laju reaksi A B Suhu optimum t0 Pengaruh suhu terhadap laju reaksi enzimatik Pada gambar tampak bahwa di luar suhu optimum. pH.2000). Seperti molekul protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiko kimia. Pada suhu yang lebih rendah (sisi A pada gambar). Bila suhu ditingkatkan terus. Pengaruh suhu : Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim. Dengan demikian. yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. namun enzim tidak dapat bekerja. Di samping itu. oksidasi oleh udara atau senyawa lain. makin rendah pula laju reaksinya. kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerj enzim antara lain suhu. dan γ.Enzim yang berperan dalam mengkatalisis reaksi isomerisasi contoh alanin rasemase Enzim yang berperan dalam mengkataliser reaksipembentukan ikatan dengan bantuan pemecahan ikatan dalam ATP( ligase ) ( M. yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu optimum.

gerak termodinamik akan lebih meningkat. E adalah suatu tetapan yang dinamakan energi aktivitas dan kadalah tetapan laju reaksi. 2002 ): R adalah gas yang bernilai 1. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. selain gerak termodinamik meningkat. Dalam peningkatan suhu ini. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. T adalah suhu mutlak. Pada daerah suhu yang lebih tinggi (sisi B pada gambar). sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. sehingga produk juga makin sedikit. I. b. II. molekul protein enzim juga mengalami denaturasi. makin rendah suhu. Pada sisi A dari kurva terdapat hubungan tertentu antara kenaikan suhu dengan laju reaksi. Pengaruh pH : . melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum. Oleh karena itu.kompleks ES tidak terbentuk. kompleks ES akan sukar terbentuk. Arrhenius secara empiris telah mengembangkan suatu rumusan umum antara laju suatu reaksi kimia dengan suhu mutlak system reaksi tersebut. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat. Yang dinyatakan sebagai berikut ( Mohamad Sadikin. gerak termodinamik tersebut akan makin kurang. I II Interaksi enzim-substrat dalam suhu berbeda. enzim dalam suhu optimum. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. Akibatnya. Enzim di atas suhu optimum.987 kal per derajat per molar.

Jika dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan. hubungan tersebut tidak menunjukkan suatu titik puncak. yang mempunyai pH optimum 2. 2003). Simanjuntak. seperti pepsin. sebagian besar enzim di dalam tubuh akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5.0.9. untuk kemudian turun lagi sesudah plateau ) .Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. pada pH yang jauh di luar pH optimum. sebagai produk makhluk hidup secara teori selalu ada kemungkinan dari pengaruh ph ini terhadap aktivitas biologis dari enzim ini.T. seperti yang tampak pada gambar di bawah ini Laju reaksi pH optimum Ph Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi enzim Kadang-kadang. melainkan suatu garis merata (plateau setelah kurva yang naik. sebagai suatu protein enzim tidak berbeda dengan protein lainnya. 2. yaitu : 1. Selain itu pada keaadan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat( Hafiz Soewoto. enzim akan terdenaturasi. Ini adalah hasil merupakan hasilpengaruh dari pH atas kombinasi factor ( 1 ) ikatan dari substrat ke enzim ( 2 ) aktivitas katalik dari enzim ( 3 ) ionisasi substrat dan ( 4 ) variasi struktur protein ( biasanya signifikan hanya pada pH yang cukup tinggi ) ( M. seperti pada enzim amylase liur. Kurva hubungan antara pH dengan laju reaksi suatu enzim biasanya menghasilkan gambaran seperti lonceng. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada pH optimum. Sebagian besar enzim bekerja aktif dalam trayek pH yang sempit umumnya 5 . Ada 2 alasan untuk menyelidiki pengaruh tingkat keasaman atau pH terhadap aktivitas emzim.2000) .0 sampai 9. Ada enzim yang mempunyai pH optimum yang sangat rendah.

Perlu diingat bahwa dalam mencari hubungan antara derajat keasaman dengan laju reaksi maksimum ini. Oleh karena itu. Bagaimana akibat dari perubahan konsentrasi enzim terhadap reaksi enzimztik itu sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini harus dicari dari pengamatan yang dilakukan atas satu seri campuran yang terdiri atas substrat dalam konsentrasi yang tetap dan enzim dalam konsentrasi yang berbeda-beda. Pengaruh konsentrasi enzim : Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim [E]. dengan volume akhir larutan yang sama. yaitu : . Dalam lingkungan keasaman seperti itu.2000) . struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Tiap molekul isozem niscaya bekerja pada pH yang sedikit berbeda. Tampak adanyaplateau. bukan tidak mengkin ada interaksi yang merugikan antara enzim dan ion penyusun dapar dan bukan karena pH yang disebabkan dapar itu sendiri. Fenomena seperti ini dapat ditafsirkan sebab adanya molekul amylase dalam bentuk beberapa molekul protein yang berbeda (isozim).Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. rentangan pH yang diselidiki biasanya berkisar dalam rentangan yang tidak lebar dan bukan dalam rentangan antara pH 1 sampai 14. Dalam gambar dapat dilihat adanya nilai pH tertentu. proses katalisis berjalan tidak optimum. struktur 3 dimensi berubah akibat pH yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. Akibatnaya. Karena tidak ada sistem dapar masing-masing di sekitar nilai kapasitas yang maksimum dari tiap dapar (rentangan pH di sekitar nilai pKa komponen asam tiap dapar). reaksi makin cepat( Hafiz Soewoto. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. Pengamatan dapat dilakukan terhadap dua hal. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Makin besar konsentrasi enzim. Di luar nilai pH optimum tersebut. c. 2002). pH tersebut dinamakanpH maksimum.

1. dalam jangka waktu pengamatan yang sama hubungan waktu dengan jumlah produk yang dihasilkan masih berbanding lurus. akan diperoleh kurva seperti yang tampak dalam gambar 1 dan 2. tidak lagi berbanding lurus sejalan dengan berlalunya waktu tersebut. Sebaliknya. 2. jumlah substrat yang tersedia sudah mulai berkurang. Tiap garis kurva mewakili satu konsentrasi enzim. bahwa defleksi tersebut makin jelas dengan makin tingginya konsentrasi enzim. Jika data hasil kedua pengamatan tersebut masing-masing disajikan dalam bentuk grafik. terhadap hubungan antara selang waktu pengamatan dan konsentrasi produk yang terbentuk pada tiap konsentrasi enzim. Dengan bertambahnya waktu. Fenomena itu tentu mudah dimaklumi. sehingga dengan sendirinya produk olahan enzim juga akan berkurang. Pada gambar 1 tampak bahwa makin besar konsentrasi enzim maka makin banyak pula produk yang terbentuk dalam tiap waktu pengamatan. Jumlah produk 8 6 4 2 0 5 10 15 Menit Gambar 1. pada konsentrasi enzim yang rendah. Akan tetapi pada gambar 1 tampak pula dengan jelas. karena setelah selang beberapa waktu. Dari pengamatan tersebut dapat dikatakan bahwa konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan enzim. . terhadap hubungan antara konsentrasi enzim dan kecepatan reaksi enzimatik yang dikatalisis oleh enzim tersebut. pada tiap konsentrasi enzim pertambahan jumlah produk akan menunjukkan defleksi. hubungan jumlah produk terbentuk dengan lama reaksi enzimatik pada berbagai konsentrasi enzim.

pengaruh konsentrasi enzim terhadap laju reaksi enzimatik. penyimpangan ini terjadi jika enzim yang dipelajari tidak dalam keadaan murni. Kadang-kadang terjadi penyimpangan dari persamaan ini. makin besar konsentrasi enzim. d. misalnya tidak adanya ion tertentu. Dalam suatu reaksi enzimatik. Fungsi enzim dalam kepentingan medis. meskipun ph yang diperlukan sudah dipastikan dengan menggunakan larutan dapar dan tidak hanya sekedar larutan dengan ph yang diperlukan tersebut ( Mohamad Sadikin. Sebaliknya. makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan [ES]. Pengaruh konsentrasi substrat : Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar. penyimpangan disebabkan oleh senyawa pengaktif (aktivator). Dalam keadaan itu seluruh enzim sudah berada dalam bentuk kompleks E-S. maka makin cepat laju reaksi. Sebagai contoh. maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat sampai suatu batas kecepatan maksimum (V). Jadi. kurang lebih sesuai dengan golongan dan fungsinya. Dalam keadaan ini. sedangkan kondisi lainnya tetap. Penambahan jumlah substrat tidak menambah jumlah kompleks E-S. Laju reaksi Enzim Gambar 2. Makin banyak kompleks [ES] terbentuk. Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat. enzim akan mengikat substrat membentuk kompleks enzim-substrat [ES]. sehingga mungkin terdapat senyawa-senyawa penghambat reaksi dalam jumlah yang sangat kecil. Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu di dalam sel.Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. kemudian kompleks ini akan terurai menjadi [E] dan produk [P]. enzim-enzim yang berperan . penyimpangan juga terdapat dalam sediaan enzim dengan kemurniaan yang tinggi. Biasanya. Pada konsentrasi substrat [S] melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan. 2002 ). sehingga diperoleh garis agak melengkung.

misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PDH/ G6PD).6)-glikosida pada titik percabangan amilopektin dan menghasilkan hidrolisis sempurna ( Staf Pengajar Kimia Organik IPB. sebagian besar enzim terdapat dan bekerja dalam sel dan (2) bahwa enzim tertentu dibuat dalam jumlah besar oleh jaringan tertentu. Bobot molekulnya lebih besar daripada amilosa. Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien. Enzim α-amilase dalam saluran pencernaan ( air liur dan cairan pancreas ) akan menghidrolisis rantai lurus amilosa dan amilopektin secara acak menjadi campuran glukosa dan maltose. tetapi dengan banyak percabangan lewat ikatan α-(1. Homopolimer ini terdiri atas campuran amilosa dan amilopektin. pasta. Dasar penggunaan enzim sebagai penunjang diagnosis ialah bahwa (1) pada hakikatnya. juga diperoleh campuran oligosakarida yang biasa dirujuk sebgai dekstrin. amilosa ini menghasilkan kompleks biru-hitam yang tajam dengan iodium akibat masuknya I2 ke dalam gelung helical ynag terbentuk ketika amilosa berada dalam air. Amilopektin memiliki rantai tulang punggung ( backbone ) yang sama dengan amilosa. Hidrolisis sempurna biasanya dilakukan dengan asam encer pada suhu tinggi sedangkan hidrolisis parsial umumnya terjadi secara enzimatik. . Karena itu enzim intrasel seharusnya tidak ditemukan dalam serum dan bila ditemukan. maka peningkatan aktivitas dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan atau organ tersebut ( Hafiz Soewoto. Bila enzim yang diukur dalam serum terutama dibuat oleh jaringan atau organ tertentu. Reaksi amilopektin dan iodium membentuk kompleks merah-ungu. Enzim yang mengkatalisasi berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak di dalam mitokondria. Bobot molekulnya beragam dari beberapa ribu sampai 150.000.dalam sintesis dan reparasi DNA terletak di dalam inti sel. Analisis enzim dalam serum pada dasarnya dapat dipakai untuk diagnosis berbagai penyakit. Enzim yang berhubungan dengan berbagai biosintesis protein berada bersama ribosom. II. misalnya pada pemakaian obat analgetik tertentu dan obat anti malaria. atau kanji tekstil..2000). Dekstrin tidak membentuk kompleks berwarna dengan iodium. Pati ( mailosa maupun amilopektin ) jika terhidrolisis sempurna ( semua ikatan asetal diputus ) akan menghasilkan hanya D-glukosa. Akhirnya tambahan enzim α-(1.6)-glukosidase dapa menghidrolisis ikatan α(1. digunakan untuk membuat lem.6)-glukosida.2 Pati Pati ialah polisakarida simpanan yang terdapat dalam tumbuhan tingkat tingkat tinggi. Sel darah merah penderita defisiensi G6PDH ini sangta rentan terhadap pembebanan oksidatif. . Namun jika dihidrolisis sebagian diperoleh produk yang berbeda: amilosa menghasilkan maltose sebagai satu-satunya disakarfida sedangkan amilopektin menghasilkan campuran disakarida maltose dan isomaltosa. Ada penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu. Pada pemakaian obat-obat tersebut dapat terjadi hemolisis intravaskuler. Dari hidrolisis parsial amilopektin. Amilosa merupakan polisakarida linear dari unti-unit Dglukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-(1.4)-glukosida. 2005 ). berarti sel yang membuatnya mengalami disintegrasi. Enzim β-amilase pada tumbuhan secara lebih spesifik menghidrolisis amilosa menjadi unit-unit maltose.

4. tetapi hasilnya beta-glukosa yang mempunyai konfigurasi berlawanan dengan hasil hidrolisis oleh enzim a-amilase.1. musin.4 amilosa dan amilopektin dengan cepat pada larutan pati kental yang telah mengalami gelatinisasi. 3.6-glikosida. air. Enzim ini menghidrolisis ikatan glukosida alfa-1. dan garam natrium. Enzim ini memutus ikatan amilosa maupun amilopektin dari luar molekul dan menghasilkan unit-unit maltosa dari ujung nonpereduksi pada rantai polisakarida. Adapun fungsi garam natrium yaitu menyediakan enzim beralkali untuk kerja amylase liur.3 Enzim Amilase Air liur mengandung enzim amylase liur.6 dan alfa-1.4. yaitu alfa-amilase. .html ). Secara umum. Enzim beta-amilase atau disebut juga alfa-l. Enzim amylase sendiri di jelaskan di bawah ini.4glukanmaltohidrolas E. dan glukoamilase.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase. Alfaamilase akan menghidrolisis ikatan alfa-1-4 glikosida pada polisakarida dengan hasil degradasi secara acak di bagian tengah atau bagian dalam molekul.4(http://june-s. bekerja pada ikatan alfa-1.glukan glukohidro-lase atau EC 3. Fungsi dari musin yaitu lendir yang melekatkan butir-butir makanan dan melincirkan makanan. Proses ini juga dikenal dengan nama proses likuifikasi pati. Selain itu. Glukoamilase dikenal dengan nama lain alfa-1.4dan alfa-l. enzim ini dapat pula menghidrolisis ikatan glikosida alfa-1.C.2.3 tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan hidrolisis ikatan glikosida a-1. amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang dipecah. Bila tiba pada ikatan alfa-1. Sedangkan fungsi air yaitu melembabkan dan melembutkan makanan. Produk akhir yang dihasilkan dari aktivitasnya adalah dekstrin beserta sejumlah kecil glukosa dan maltosa. Enzim Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1.blogspot.3.II.6 glikosida aktivitas enzim ini akan berhenti.1. Enzim alfa-amilase merupakan endoenzim yang memotong ikatan alfa-1. beta-amilase.2.2.4-glikosida dengan menginversi konfigurasi posisi atom C(l) atau C nomor 1 molekul glukosa dari alfa menjadi beta.

BAB III MATERI DAN METODE III.1 Alat dan Bahan Alat : a) Beaker glass b) Tabung reaksi c) Pipet volume d) Pipet tetes e) Erlenmeyer f) Spektrofotometri g) Incubator Bahan : a) Air liur b) Larutan pati c) Larutan iodium d) Larutan pH 7 dan 11 e) Aquadest .

2 ml air liur kemudian diinkubasi selama tepat 1 menit d) ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung (untuk suhu 600 C dan 1000C dilakukan di luar penangas) e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh pH a) Air liur diencerkan 100 kali dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) 0.5 ml larutan pH 11 (tabung B).2 wadah Prosedur Kerja Sebelum melakukan percobaan diambil sampel air liur dari praktikan dan ditempatkan pada Pengaruh Suhu a) air liur diencerkan 100 kali. 200 kali . 280. 600. 600 kali b) 1 ml larutan pati dimasukkan kedalam 8 tabung reaksi yang diberi tanda blangko dan uji kemudian diinkubasi pada suhu 370 selama 5 menit . dengan mengambil 1ml air liur dari sample dan dilarutkan dalam 100ml air dalam labu ukur b) larutan pati kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi tanda blangko dan uji kemudian pasangan tabung diinkubasi pada suhu 40. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370 C selama minimal 5 menit c) campuran larutan pati dengan larutan pH yang telah diinkubasi ditambahkan dengan 0. kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit.III. 370. d) ditambah larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung e) dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm f) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu Pengaruh Konsentrasi Enzim a) Air liur diencerkan dengan pengenceran 100 kali .5 ml larutan pati ditambah dengan 0.5 ml larutan pati ditambah dengan 0. 1000 C selama 5 menit c) larutan pati dicampurkan ke dalam 0. Masing-asing tabung ditandai blanko dan uji. 400 kali .2 ml air liur yang telah diencerkan.5 ml larutan pH 7 (tabung A). o.

142 0.255 AU 0.194 0.245 0.066 .211 0.043 0.226 0.189 ∆A/menit 0.061 0.051 0.c) Air liur yang telah diencerkan diambil 0.2 ml (setiap konsentrasi) dimasukkan ke dalam tabung reaksi d) Larutan pati yang telah diinkubasi dicampurkan ke air liur kemudian diinkubasi tepat 1 menit e) f) Ditambahkan larutan iodium 1 ml dan aquadest 8 ml pada masing-masing tabung dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm g) dihitung kecepatan reaksi enzimatik dan dibuat kurva yang menghubungakan kecepatan reaksi dengan suhu BAB IV HASIL PENGAMATAN Adapun hasil percobaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut : Pengaruh Suhu Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Suhu 40C 280C 370C 600C 1000C Dari data di atas didapatkan kurva AB 0.150 0.175 0.183 0.033 0.

008 Perubahan warna Coklat Biru .003 AU 0.1245 0.0315 -0.093 0.Pengaruh pH Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm dan perubahn warna yang terjadi pH 7 11 AB 0.011 ∆A/menit -0.

Dari data didapatkan kurva seperti di atas Foto di bawah ini memperlihatkan perbedaan warna hasil reaksi anatara pH 7 dan 11 Gambar1. Kanan adalah larutan uji Gambar2. pH 11 Pengaruh konsentrasi . pH 7 Kiri adalah Blanko.

01 0.207 0.019 -0. konsentrasi ion hydrogen (pH).08 0.173 0. ∆A/menit diindikasi kan sebagai laju reaksi BAB V PEMBAHASAN Pada praktikum ini kami melakukan percobaan secara invitro mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amylase yang terdapat pada air liur dalam memecah larutan pati. Namun kami tidak melakukan praktikum mengenai pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim.120 0.005 0.Tabel hasil pengamatan serapan berdasarkan pengukuran spectrofotometer pada λ = 680 nm Pengenceran 100 X 200 X 400 X 600 X Konsentrasi AB 0.004 Dari data di atas didapatkan kurva Keterangan: ?A/menit pada judul tiap kurva maksudnya adalah ∆A/menit.200 0.193 0. Faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi enzim.174 0. . suhu dan konsentrasi substrat.0017 0.185 AU 0.189 ∆A/menit 0.024 0.0025 0.

Lalu mencampurkan pati dengan air liur dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial. karena tidak terjadi benturan antara molekul enzim dengan substrat.Dalam praktikum kali ini digunakan bahan pati yang diindikasikan sebagai substrat. 28. Pengaruh Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas katalisis enzim. 100 C yang masing-masing suhu dibuat blanko dan uji. perubahan absorbansi per menit yang diperoleh dari absorbansi larutan blanko dan absorbansi larutan uji dapat dilihat dari kurva disamping. yang kemudian diinkubasi selama 5 menit pada suhu 4. Sedangkan bila suhu terlalu tinggi. yang pertama kami lakukan adalah pengenceran air liur hingga 100 kali. dan dihitung kecepatan reaksi enzimatik serta dibuat kurva yang menghubungkan kecepatan reaksi dengan suhu. Sedangkan air liur digunakan untuk mengetahui reaksi enzimatik dari enzim amylase di dalamnya. Diluar suhu optimum aktivitas enzim menjadi tidak maksimal. Setelah itu dilakukan pengukuran serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 680 nm. Kami juga menggunakan larutan pati sebagai larutan uji untuk melihat aktivitas enzim amylase. Larutan Iodium digunakan sebagai indicator perubahan warna dari larutan uji. 37. Larutan pati dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. dimana benturan yang terjadi semakin banyak maka struktur tiga dimensi dari enzim tersebut akan terganggu sehingga enzim akan mengalami denaturasi.2 ml air liur kemudian diinkubasi kembali selama tepat 1 menit dan ditambahkan larutan iodium 1 ml dalam 8 ml aquadest pada masing-masing tabung. perlakuan tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya bumping selama proses pemanasan. larutan iodium ini merupakan indicator adanya karbohidrat atau tidak dalam larutan. Pada percoban mengenai pengaruh suhu terhadap aktiivitas enzim. Kemudian ditambahkan Larutan iodium yang akan menandakan perbedaan warna dari masing-masing perlakuan pada percobaan factor yang mempengaruhi kerja enzim. Bila suhu terlalu rendah. 60. atau dapat dikatakan enzim akan kehilangan sifat alamiahnya. Pada ketiga percobaan perlakuan hampir sama pada pembuatan larutan uji dan blanko. untuk suhu 600 C dan 1000 C dilakukan di luar penangas. telihat peningkatan laju reaksi akibat adanya gerak termodinamik yang secara perlahan membentuk produk dan pada titik optimum ( suhu optimum ) yaitu 37oC dapat dikatakan membentuk secara . Berdasarkan data hasil pengamatan. Pada keadaan pertama yaitu 4oC hingga 37oC. Kedua keadaan ini diakibatkan oleh benturan antara enzim dan substrat. Adapun kurva hasil percobaan memperlihatkan laju reaksi dari enzim semakin cepat seiring bertambahnya suhu ini terlihat pada kenaikan suhu dari 4oC hingga 37oC namun ketika suhu mengalami kenaikan hingga 60oC terjadi penurunan laju reaksi. enzim menjadi tidak aktif. Perlakuan yang sama pada larutan uji dan blanko yaitu sample yang sama yaitu larutan pati yang berfungsi sebagai substrat lalu di inkubasi selama 5 menit pada suhu 370C ( untuk percobaan pengaruh suhu dan konsentrasi enzim ) yang berfungsi untuk menyamakan kondisi suhu enzim dengan suhu tubuh. Setelah diinkubasi larutan pati dicampurkan ke dalam 0.

Hal ini disebabkan telalu lamanya tabung reaksi berada di luar penangas. Tampak adanyaplateau. Pengaruh pH Dari hasil percobaan kami tidak dapat membuktikan bahwa keasaman mengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. Pada umumnya enzim bekerja maksimum . pada keadaan kedua yaitu suhu mengalami kenaikan hingga 60oC. sehingga diperkirakan suhu dalam tabung berada di bawah 100 oC pada saat pencampuran sehingga tumbukan antara enzim dan substrat mengalami penurun dan mendekati suhu optimum sehingga menghasilkan laju reaksi yang menurun. sehingga produk juga makin sedikit dan ini terlihat ( Mohamad Sadikin. Terlihat pada kurva di samping. Dari kurva hasil percobaan terlihat semakin tinggi pH semakin tinggi nilai absorbansi yang menandakan semakin tingginya laju reaksi dari pH 7 ke pH 11. sehingga didapatkan kurva yang tidak sesuai teori. Dari kurva terlihat bahwa pada suhu 100 oC terjadi kenaikan nilai absorbansi. maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. pada keadaan ini perbenturan antara enzim dan substrat terus berlangsung namun keadaan ini tidak menambah laju reaksi namun mengurangi laju reaksi ini disebabkan karena enzim mengalami denaturasi sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. Kesalahan ini terletak pada penambahan air liur yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dimana air liur yang ditambahkan hanya 1ml bukan 2ml yang merupakan tahapan pada prosedur kerja sehingga hasil absorbansi nilai ∆A/menit menjadi minus. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. Akibatnya. Kurva di samping pun menjadi rancu bila dibandingkan dengan kurva antara pH larutan enizm amylase dari air liur dengan laju reaksi menurut Mohamad Sadikin (2002) Laju reaksi plateau Rentangan pH optimum pH Hubungan antara pH larutan enzim dengan laju reaksi. 2002 ) dari kurva laju reaksi yang semakin menurun. kompleks E-S akan sukar terbentuk.sempurna karena enzim amylase yang merupakan enzim yang terdapat tubuh memilki suhu optimum 37oC.

pada pH 5-9. yang memungkinkan enzim bekerja maksimum. 2002). namun dari kurva kita lihat enzim amylase dari air liur bekerja semakin tinggi dengan bertambahnya pH ( yaitu pH 11 yang berada di luar kisaran pH untuk enzim bekerja maksimum). Pada pH 7 ini dapat dikatakan sudah tidak adanya karbohidrat ( dari larutan pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin ) karena dihidrolisis oleh amylase terlihat dengan tidak didapatkan warna biru kehitaman ( menandakan adanya amilosa) ataupun merah ungu ( menandakan adanya amilopektin )ketika ditambahkan larutan iodium.01.0017. Dari hasil percobaan pengaruh konsentrasi enzim terlihat pada pergerakan laju reaksi dari 0. Di luar nilai ph optimum tersebut. 300x. sehingga ia dapat mengikat dan mengolah substrat dengan kecepatan yang setinggi-tingginya. Ini menunjukan adanya kompleks pati iodium dimana dapat diindikasikan adanya amilosa yang merupakan bagian dari pati ( karbohidrat ). Kondisi ini terlihat dari kurva di samping kanan. Pada larutan uji pH 7 warna yang dihasilkan yaitu coklat. Larutan air liur diencerkan menjadi 100x. sehingga substrat tidak dapat lagi duduk dengan tepat di bagian molekul enzim yang mengolah substrat. struktur 3 dimensi enzim mulai berubah. Dalam lingkungan keasaman seperti itu. struktur 3 dimensi berubah akibat ph yang tidak optimum ( Mohamad Sadikin.0025. Akibatnaya. namun kondisi ini ini terus menurun pada konsentrasi 0. Dari konsentrasi ini sebelum praktikum kita dapat memprediksikan jika laju reaksi akan mencapai titik tertinggi pada konsentrasi 0. Pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim ini. Kerja enzim amylase disini dikatatan sebagai hidrolisis parsial dan memperlihatkan bahwa enzim amylase berada pada kondisi 3 dimensi yang tepat sehingga dapat mengolah ( menghidrolisis ) karbohidrat dari larutan pati dengan sangat cepat. pH tersebut dinamakan pH maksimum.0017 hingga 0. Kerja enzim sebagai katalis dipengaruhi oleh pH. protein enzim mengambil struktur 3 dimensi yang sangat tepat. dan 0. 400x dan konsentrasi yang di dapat yaitu 0. konsentrasi enzim amylase dari air liur yang berbedabeda didapatkan dari pengenceran larutan air liur.01. 200x. Sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amylase tidak bekerja optimum dalam menghirdrolis larutan pati karena struktur 3 dimensi dari enzim amylase telah berubah sehingga tidak dapat mengolah substrat dengan baik. Dari pengamatan warna larutan uji.0017. Keadaan ini tidak dapat membuktikan teori yang .0025 hingga konsentrasi 0. Sedangkan hasil pengamatan pada pH 11 menunjukan warna biru pada larutan uji setelah ditambhkan iodium.0.0025 dimana laju reaksi semakin meningkat. 0. Keadaan ini menandakan bahwa enzim amylase pada air liur bekerja menghidrolisa larutan pati menjadi produk yang terdiri dari glukosa dan maltosa. adanya nilai pH tertentu. Pengaruh konsentrasi enzim Konsentrasi enzim mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. proses katalisis berjalan tidak optimum. dimana makin besar konsentrasi enzim makin banyak pula produk yang dihasilkan sehingga dapat dinyatakan bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim.005. Oleh karena itu. Pengaruh konsentrasi enzim ini yaitu pembentukan produk. terlihat perbedaan warna yang signifikan antara larutan pati yang dicampurkan dengan air liur pada pH 7 dan pada pH 11 setelah ditambahkan larutan iodium.01 dan titik terendah pada konsentrasi 0.

BAB VI KESIMPULAN Dari hasil percobaan maka dapat kami simpulkan yaitu enzim dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kurva yang berbeda pada hasil percobaan dikarenakan adanya kesalahan dalam prosedur kerja. Kesalahan dalam prosedur kerja ini yaitu ketidaktelitian dalam pengenceran.menyebutkan Hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi enzim ternyata berbanding lurus. Enzim amylase bekerja maksimum pada pH 7 dan pada suhu 37 0C. dimana semakin tinggi konsentrasi enzim semakin banyak produk yang dihasilkan. dan aktivitas enzim dapat dikatakan bekerja cepat dan tepat pada pH optimumnya. Faktor pertama yaitu suhu. aktivitas enzim semakin meningkat seiring bertambahnya suhu terlihat dari laju reaksi namun aktivitasnya menurun setelah melewati suhu optimum. makin besar konsentrasi enzim. maka makin cepat laju reaksi yang tertera pada kurva ( Mohamad Sadikin. 2002). Faktor kedua yaitu pH dimana terlihat perbedaan warna akibat kerja enzim pada pH yang berbeda. . Jadi. Pengenceran yang dimaksud adalah ketika mengencerkan air liur dari 100x menjadi 200x dan seterusnya. Selain itu dapat kami simpulkan bahwa enzim amylase bekerja menghidrolis secara parsial larutan pati yang merupakan karbohidrat. Faktor ketiga yaitu konsentrasi enzim.

dkk.pdf . Mohamad. 2005. Biokimia Eksperimen Laboratorium.html http://library.usu. Soewoto. Jakarta : Widya Medika.com/2008/05/deteksi-dan-uji-kualitas-amilase.sehingga dapat dikatakan pH 7 merupakan pH optimum dalam kerja enzim amylase. 2002.Jakarta: Widya Medika. Departemen Kimia FMIPA-IPB.ac. Hafiz. Staf Pengajar Kimia Organik.id/download/fmipa/farmasi-mtsim1. DAFTAR PUSTAKA Sadikin. http://june-s. Sedangakan suhu 37 0C merupakan suhu optimum bagi enzim amylase dalam melaksanakan kerjanya. Biokimia Enzim. 2000.blogspot. Penuntun Praktikum Kimia Organik untuk Mahasiswa Program D3 Analisis Kimia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful