P. 1
Syamsuddin - FISIKA TANAH

Syamsuddin - FISIKA TANAH

|Views: 90|Likes:
Published by Gatot Suherman
bahan tentang tanah
bahan tentang tanah

More info:

Published by: Gatot Suherman on Apr 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/09/2014

pdf

text

original

PENULISAN BUKU AJAR

FISIKA TANAH
PENULIS
SYAMSUDDIN, S.Si, MT
Dibiayai oleh
dana DIPA BLU Universitas Hasanuddin tahun 2012
PROGRAM STUDI FISIKA JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2012
LKPP UNHAS
ii
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10, Makassar 90245;
Telp 0411 586200 ext 1064; Fax 0411 585188; email lpp@unhas.ac.id
HALAMAN PENGESAHAN
HIBAH PENULISAN BUKU AJAR BAGI TENAGA AKADEMIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2012
Judul Buku/Mata Kuliah : Fisika Tanah
Nama Lengkap : Syamsuddin, S.Si, MT
Penanggung Jawab Penulisan : Syamsuddin, S.Si, MT
N I P / N I D N : 19740115 200212 1 001
Pangkat/Golongan : Penata Muda Tk I / IIIb
Program Studi : Geofisika
Fakultas : MIPA
Email : syamsuddinmalang@yahoo.co.id
Anggota Tim Penulis : 1. -
2. -
Biaya : Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah)
Dibiayai oleh dana DIPA BLU Universitas Hasanuddin
tahun 2012 sesuai SK Rektor Unhas No
Makassar, 28 November 2012
Dekan Fakultas MIPA Penanggungjawab Penulisan
Prof. Dr. H. Abd. Wahid Wahab, M.Sc. Syamsuddin, S.Si, MT
NIP. 19490827 197602 1 001 NIP. 197401152002121001
Mengetahui,
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Pendidikan
Prof. Dr. Ir. Lellah Rahim, M.Sc.
NIP. 19630501 198803 1 004
iii
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10, Makassar 90245;
Telp 0411 586200 ext 1064; Fax 0411 585188; email lpp@unhas.ac.id
Surat Pernyataan
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Syamsuddin, S.Si, MT
NIDN : 0015017405
Telp/HP : 0812 4262 3874
Program Studi : Geofisika
Judul Buku : Fisika Tanah
Dengan ini menyatakan siap dan sanggup:
1. Bekerja sama dengan fasiltator penulisan buku ajar yang ditunjuk PKPAI-
LKPP Unhas
2. Menyelesaikan penulisan buku ajar tersebut di atas sesuai jadwal yang
ditentukan Panitia Hibah Penulisan Buku Ajar Universitas Hasanuddin Tahun
2012.
3. Paling lambat tanggal 30 November 2012 menyerahkan tiga eksemplar buku
itu dalam bentuk hardcover (“jilid tesis”), ditambah dua eksemplar dalam
bentuk jilid antero biasa, dan satu softcopy dalam file doc atau pdf dalam satu
CD ke Panitia Hibah Penulisan Buku Ajar Unhas Tahun 2012.
Demikian pernyatan ini saya buat dengan sungguh sungguh.
Makassar, 10 September 2012.
Mengetahui Penulis/Penggungjawab
(Ganding Sitepu) (Syamsuddin)
NIDN: 0025046001 NIDN: 0015017405
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kekhadirat Allah SWT atas Rahmat dan HidayahNya sehingga bahan ajar ini
dapat diselesaikan. Semoga dengan bahan ajar ini dapat memberikan motivasi kepada
mahasiswa untuk memahami fisika tanah. Bahan ajar ini sebagai pedoman dan acuan
sebagaimana dalam GBRP untuk dijadikan batasan dalam mempelajari fisika tanah. Oleh
karena itu mahasiswa dapat mencari referensi lain untuk melengkapi materi yang disajikan
dalam bahan ajar ini.
Fisika tanah merupakan matakuliah pilihan tetapi dibutuhkan di program studi Geofisika
jurusan Fisika Fakultas MIPA UNHAS. Fisika tanah di pertanian dikenal dengan nama
“Ilmu Tanah”, di sipil namanya “mekanika tanah” dan masih banyak disiplin ilmu yang
belajar tentang tanah.
Pada matakuliah fisika tanah dikaji tentang sifat fisis, komposisi, mekanika, dan
konservasi tanah serta metode pendukung fisika tanah. Fisika tanah merupakan matakuliah
yang sebenarnya memerlukan praktikum karena identifikasi sifat-sifat fisis tanah
diperlukan eksperimen, baik di lapangan maupun di laboratorium. Namun pada
kenyataannya matakuliah ini tidak memiliki praktikum. Semoga kedepannya praktikum
matakuliah ini dapat diaplikasikan secara nyata.
Walaupun matakuliah ini pilihan tetap sangat bermanfaat bagi mahasiswa terutama setelah
menyelesaikan studinya. Karena segala aktifitas di bumi ini berkaitan dengan tanah, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari bahwa bahan ajar ini jauh dari kesempurnaan yang disebabkan oleh
keterbasan baik waktu maupun pengetahuan penulis. Oleh karena itu saran dan bantuan
semua pihak sangat kami butuhkan demi kesempurnaan bahan ajar fisika tanah ini.
Makassar, November 2012
Penulis
v
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ---------------------------------------------------------------------------------------i
Halaman Pengesahan ---------------------------------------------------------------------------------- ii
Surat Pernyataan Penulis----------------------------------------------------------------------------- iii
Kata Pengantar ---------------------------------------------------------------------------------------- iv
Daftar Isi ------------------------------------------------------------------------------------------------ v
Senarai Kata Penting (Glosarium) ----------------------------------------------------------------viii
BAB 1 PENDAHULUAN --------------------------------------------------------------------------- 1
1.1. Profil Lulusan Program Studi Geofisika----------------------------------------------------- 1
1.2. Kompetensi Lulusan Program Studi Geofisika--------------------------------------------- 1
1.3. Analisis Kebutuhan Pembelajaran------------------------------------------------------------ 3
1.4. Garis Besar Rencana Pembelajaran ---------------------------------------------------------- 4
BAB 2 PENGANTAR FISIKA TANAH----------------------------------------------------------- 6
2.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------------------------- 6
2.2. Definisi ------------------------------------------------------------------------------------------ 6
2.3. Konsep Tanah ----------------------------------------------------------------------------------- 7
2.4. Penutup ------------------------------------------------------------------------------------------ 9
2.5. Daftar Bacaan ----------------------------------------------------------------------------------- 9
BAB 3 SIFAT FISIS DAN MORFOLOGI TANAH--------------------------------------------10
3.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------------------------10
3.2. Definisi ------------------------------------------------------------------------------------------10
3.3. Sifat Fisis dan Morfologi Tanah ------------------------------------------------------------11
3.4. Penutup -----------------------------------------------------------------------------------------24
3.5. Daftar Bacaan ----------------------------------------------------------------------------------24
BAB 4 KLASIFIKASI DAN KOMPOSISI TANAH -------------------------------------------25
4.1. Pendahuluan -----------------------------------------------------------------------------------25
4.2. Definisi -----------------------------------------------------------------------------------------25
4.3. Sistem Klasifikasi Tanah ---------------------------------------------------------------------25
4.4. Sistem Klasifikasi Tanah ---------------------------------------------------------------------30
4.5. Penutup -----------------------------------------------------------------------------------------34
4.6. Daftar Bacaan ----------------------------------------------------------------------------------34
BAB 5 AIR DALAM TANAH ---------------------------------------------------------------------35
5.1. Pendahuluan -----------------------------------------------------------------------------------35
vi
5.2. Definisi -----------------------------------------------------------------------------------------35
5.3. Pembentukan dan Pergerakan Air Tanah --------------------------------------------------37
5.4. Penutu -------------------------------------------------------------------------------------------46
5.5. Bahan Bacaan ----------------------------------------------------------------------------------47
BAB 6 KONSEVASI TANAH DAN AIR -------------------------------------------------------48
6.1. Pendahuluan -----------------------------------------------------------------------------------48
6.2. Definisi -----------------------------------------------------------------------------------------48
6.3. Erosi ---------------------------------------------------------------------------------------------49
6.4. Metode Konservasi Tanah dan Air ---------------------------------------------------------54
6.5. Konservasi Air ---------------------------------------------------------------------------------61
6.6. Kualitas Air ------------------------------------------------------------------------------------73
6.7. Penutup -----------------------------------------------------------------------------------------78
6.8. Bahan Bacaan ----------------------------------------------------------------------------------78
BAB 7 PENGANTAR GETEKNIK ---------------------------------------------------------------79
7.1. Pendahuluan -----------------------------------------------------------------------------------79
7.2. Definisi -----------------------------------------------------------------------------------------79
7.3. Mekanika Tanah -------------------------------------------------------------------------------80
7.4. Penutup -----------------------------------------------------------------------------------------82
7.5. Daftar Bacaan ----------------------------------------------------------------------------------82
BAB 8 TEGANGAN EFEKTIF DAN KUAT GESER TANAH -----------------------------83
8.1. Pendahuluan -----------------------------------------------------------------------------------83
8.2. Definisi -----------------------------------------------------------------------------------------83
8.3. Konsep Tegangan Total dan Efektif --------------------------------------------------------83
8.4. Kuat Geser Tanah -----------------------------------------------------------------------------90
8.5. Penutup -----------------------------------------------------------------------------------------94
8.6. Daftar Bacaan ----------------------------------------------------------------------------------95
BAB 9 DAYA DUKUNG DAN KONSOLIDASI TANAH -----------------------------------96
9.1. Pendahuluan -----------------------------------------------------------------------------------96
9.2. Definisi -----------------------------------------------------------------------------------------96
9.3. Daya Dukung Tanah --------------------------------------------------------------------------96
9.4. Konsolidasi ----------------------------------------------------------------------------------- 104
9.5. Penutup --------------------------------------------------------------------------------------- 107
9.6. Daftar Bacaan -------------------------------------------------------------------------------- 107
BAB 10 LIKUIFAKSI ---------------------------------------------------------------------------- 108
vii
10.1. Pendahuluan --------------------------------------------------------------------------------- 108
10.2. Definisi --------------------------------------------------------------------------------------- 108
10.3. Ketika Tanah Mencair ---------------------------------------------------------------------- 109
10.4. Penutup --------------------------------------------------------------------------------------- 113
10.5. Daftar Bacaan -------------------------------------------------------------------------------- 113
BAB 11 STABILITAS LERENG --------------------------------------------------------------- 114
11.1. Pendahuluan --------------------------------------------------------------------------------- 114
11.2. Definisi --------------------------------------------------------------------------------------- 114
11.3. Lereng ----------------------------------------------------------------------------------------- 114
11.4. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tanah Longsor ----------------------------------- 118
11.5. Jenis-Jenis Tanah Longsor ----------------------------------------------------------------- 120
11.6. Kestabilan Lereng --------------------------------------------------------------------------- 124
11.7. Penutup --------------------------------------------------------------------------------------- 126
11.8. Daftar Bacaan -------------------------------------------------------------------------------- 126
BAB 12 DUKUNGAN METODE GEOFISIKA DALAM FISIKA TANAH------------- 127
12.1. Pendahuluan --------------------------------------------------------------------------------- 127
12.2. Definisi --------------------------------------------------------------------------------------- 127
12.3. Metode Seismik ----------------------------------------------------------------------------- 127
12.4. Metode Geolistrik --------------------------------------------------------------------------- 134
12.5. Penutup --------------------------------------------------------------------------------------- 142
12.6. Daftar Bacaan -------------------------------------------------------------------------------- 142
Evaluasi ---------------------------------------------------------------------------------------------- 143
Daftar Pustaka -------------------------------------------------------------------------------------- 144
viii
GLOSARIUM
1. Tanah : material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral padat yang terikat secara
kimia satu sama lain dengan ruang-ruang kosong antar butir yang diisi zat cair dan gas
2. Solum : bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik
3. Pedologi : ilmu yang mempelajari proses pembentukan tanah & faktor pembentuknya,
klasifikasi tanah, survei & cara pengamatan di lapangan
4. Fisika tanah : Ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisis tanah seperti tekstur tanah,
struktur, konsistensi, kandungan & gerakan air di dalam tanah, serta suhu tanah, dll
5. Horison tanah : lapisan- lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses
pembentukan tanah
6. Profil tanah : penampang vertikal dari tanah yang menunjukan susunan horison tanah
7. Warna tanah : campuran komponen lain yang terjadi karena mempengaruhi berbagai
faktor atau persenyawaan tunggal
8. Tekstur tanah : perbandingan relatif dari partikel-partikel atau fraksi-fraksi primer
tanah, yaitu pasir, debu, liat dan lempung atau dilapangan dikenal dengan rasa
kekasaran atau kehalusan dari tanah
9. Tanah kohesif : Tanah yang mempunyai partikel-partikel yang melekat satu sama lain
setelah dibasahi dan setelah kering diperlukan gaya yang cukup besar untuk
meremasnya, maka tanah tersebut
10. Struktur tanah : penyusunan partikel-partikel tanah primer seperti pasir, debu dan liat
membentuk agregat-agregat, yang satu agregat dengan lainnya dibatasi oleh bidang
belah alami yang lemah
11. Ped : Agregat yang terbentuk secara alami
12. Clod : bongkah tanah hasil pengolahan tanah
13. Kadar air (water content) : perbandingan antara berat air dan berat butiran padat dari
volume tanah yang diselidiki
14. Angka pori : perbandingan antara volume pori dan volume butiran padat
15. Porositas : perbandingan antara volume pori dan volume tanah total
16. Derajat kejenuhan : perbandingan antara volume air dan volume pori
17. Berat volume : berat tanah per satuan volume
18. Batas susut : transisi dari keadaan padat ke keadaan semi padat
19. Batas plastis : transisi dari keadaan semi padat ke keadaan plastis
20. Batas cair : keadaan plastis ke keadaan cair
ix
21. Infiltrasi : proses masuknya air dari permukaan ke dalam tana.
22. Perkolasi : gerakan aliran air di dalam tanah (dari zone of aeration ke zone of
saturation)
23. Klasifikasi tanah : suatu pengaturan beberapa jenis tanah yang berbeda tapi
mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan
pemakaiannya
24. Mineral primer : mineral yang berasal langsung dari batuan yang lapuk
25. Mineral sekunder : mineral bentukan baru yang terbentuk selama pembentukan tanah
26. Siklus meteorik : telah melalui proses penguapan (evaporation) dari laut, danau,
maupun sungai; lalu mengalami kondensasi di atmosfer, dan kemudian menjadi hujan
yang turun ke permukaan bumi
27. Air tanah : air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat di dalam ruang antar butir-
butir tanah yang meresap ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan tanah
28. Akifer : ruang antar butir yang dapat menyimpan air
29. Lapisan permeable : lapisan yang mudah dilalui oleh air tanah
30. Lapisan impermeable : lapisan yang sulit dilalui air tanah
31. Air gantung : air yang berada pada zona tak-jenuh
32. Air solum : air gantung yang terdapat dekat permukaan hingga tersedia bagi akar
tetumbuhan
33. Air merambut ; air yang tersimpan dalam ruang merambut
34. Air tanah preatis : air tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah serta berada
di atas lapisan kedap air
35. Infiltrasi : peristiwa masuknya air ke dalam tanah yang umumnya melalui permukaan
dan secara vertical
36. Rembesan lateral : air dalam tanah tidak bergerak secara vertikal, melainkan horizontal
37. Water table : permukaan air tanah atau batas atas muka air tanah
38. Zona saturasi air : lapisan tanah yang terisi air tanah
39. Akiklud : suatu formasi yang berisi air tetapi tidak dapat memindahkannya dengan
cukup cepat untuk melengkapi persediaan yang berarti pada sumur atau mata air
40. Pencemaran air tanah : suatu keadaan air yang telah mengalami penyimpangan dari
keadaan normalnya
41. Konservasi tanah : upaya untuk mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan memperbaiki
tanah yang rusak oleh erosi
x
42. Konservasi air : penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefesien
mungkin dan mengatur waktu aliranagar tidak terjadi banjir yang merusakdan terdapat
cukup air pada waktu musim kemarau
43. Erosi : peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari
suatu tempat ke tempat lain oleh media alami
44. Metode vegetatif : metode yang mempenggunakan tanaman dan tumbuhan untuk
mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan tanah
45. Metode mekanik : semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah dan
pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan
meningkatkan kemampuan penggunaan tanah
46. Berat tanah efektif : berat tanah yang terendam air
47. Tegangan efektif : tegangan yang terjadi akibat berat tanah efektif di dalam tanah
48. Kuat geser tanah : kemampuan tanah melawan tegangan geser yang terjadi
49. Daya dukung : kemampuan tanah memikul tekanan atau tekanan maksimum yang
diijinkan bekerja pada tanah pondasi
50. Konsolidasi : peristiwa mampatnya tanah karena menderita tambahan efektif
51. Pondasi : bagian yang paling penting dari sistem rekayasa konstruksi yang bertumpu
pada tanah
52. Tanah teoritis : tanah yang belum mengalami konsolidasi meskipun oleh beratnya
sendiri
53. Likuifaksi tanah : suatu perilaku tanah yang mengalami perubahan tiba-tiba dari
kondisi padat ke kondisi mencair, atau memiliki sifat seperti air berat.
54. Longsoran : pergerakan masa tanah atau batuan sepanjang bidang gelincir atau suatu
permukaan bidang geser.
55. Lereng : permukaan bumi yang membentuk sudut kemiringan tertentu dengan bidang
horisontal.
56. Kestabilan lereng : stabilitas lereng yang mantap bila diberi beban di atasnya
57. Faktor keamanan : besarnya momen penahan per momen penggerak
58. Metode seismik : metode Geofisika yang menggunakan perambatan gelombang
mekanik
59. Metode resistivtas : salah satu metode geolistrik yang mempelajari sifar resistivitas/
konduktivitas listrik dari lapisan batuan di dalam bumi
Fisika Tanah - 1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Profil Lulusan Program Studi Geofisika
Lulusan PS Geofisika umumnya memiliki nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) di atas rata-
rata nilai standar IPK yang disyaratkan dunia kerja (2,75). Berdasarkan tabel-1 di bawah,
IPK rata-rata lulusan PS Geofisika dari tahun ajaran 2006/2007 hingga tahun ajaran
2010/2011 adalah 3,08.
Tabel-1 Profil Lulusan PS Geofisika Berdasarkan Tahun Lulus dan IPK
Tahun
Lulus
IPK<2,75 IPK 2,75~3 IPK>3 Total
pertahun
Rata-rata
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 2 3 4 5 6 7 8 9
2006/2007 0 - 3 21.43 11 8.57 14 3.09
2007/2008 1 2.70 11 29.73 25 7.57 37 3.07
2008/2009 1 3.33 7 23.33 22 73.33 30 3.10
2009/2010 0 - 4 16.00 21 84.00 25 3.16
2010/2011 2 7.14 6 21.43 20 71.43 28 3.12
Total 4 2.99 31 23.13 99 73.88 134 3.08
Lulusan PS Geofisika umumnya menyelesaikan studi dalam kisaran waktu rata-rata 5,6
tahun atau 5 tahun 7 bulan sebagaimana tertuang dalam tabel-2. Waktu studi mahasiswa PS
Geofisika tergolong masih cukup lama, karena itu PS Geofisika mengupayakan agar
penyelesaian studi mahasiswa dapat dipercepat menjadi rata-rata 4 tahun, diantaranya
dengan merevisi kurikulum PS Geofisika yang sesuai dengan kebutuhan stakeholder.
Tabel-2 Profil Lulusan PS Geofisika berdasarkan Tahun Lulus dan Lama Studi
Tahun
lulus
Lama Studi (tahun)
Total
Lulusan
Lama Studi
rata-rata
4.0-4.5 4.5-5.0 >5.0
Total % Total % Total %
2006/2007 1 0.25 0 0.00 3 75.00 4.0 5.60
2007/2008 0 0.00 0 0.00 12 100.00 12.0 6.00
2008/2009 12 0.67 0 0.00 6 33.33 18.0 5.48
2009/2010 1 0.17 0 0.00 5 83.33 6.0 5.15
2010/2011 0 0.00 0 0.00 7 100.00 7.0 5.15
Total 14 1.5 0 0.0 33 650.3 98 5.60
1.2. Kompetensi Lulusan Program Studi Geofisika
Lulusan Program Studi Geofisika diharapkan dapat memenuhi kompetensi program studi
yang dijabarkan dalam lima elemen kompetensi yaitu:
a. landasan kepribadian;
Fisika Tanah - 2
b. penguasaan ilmu dan keterampilan;
c. kemampuan berkarya;
d. sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan
keterampilan yang dikuasai;
e. pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam
berkarya.
Berdasarkan elemen kompetensi tersebut disusun substansi kajian pada Program Studi
Geofisika, yaitu:
1. Fisika Bumi
2. Geologi
3. Oseanografi
4. Geografi
5. Meteorologi
6. Fisika
Berdasarkan substansi kajian tersebut dijabarkan kompetensi lulusan Program Studi
Geofisika, sebagai berikut :
a. Kompetensi Utama (U)
1. Menjunjung tinggi norma, tata nilai, moral, agama, etika dan tanggung jawab
profesional sebagai sarjana geofisika.
2. Memiliki pengetahuan dasar geofisika secara komprehensif sehingga mereka dapat
berprofesi sebagai ahli geofisika melalui penguasaan secara operasional sains dasar
(matematika, fisika, kimia, biologi, geologi), disamping ilmu geofisika secara umum.
3. Memiliki kemampuan dan keterampilan dalam melakukan permodelan matematis/
model fisis berbagai proses geofisika.
4. Memiliki pengetahuan keahlian dalam merancang dan melaksanakan survei geofisika
praktis secara lengkap (pengumpulan data, pemrosesan data, dan interpretasi) dan
menuangkan hasilnya dalam bentuk laporan penelitian.
5. Memiliki penguasaan secara operasional semua metode geofisika (a.l. seismik,
gravitasi, magnetik, elektrik, elektromagnetik, termik, radio-aktivitas), metode
survey hidro-oseanografi dan prediksi cuaca yang akurat.
Fisika Tanah - 3
b. Kompetensi Pendukung (P)
1. Mampu berkomunikasi secara efektif dalam bidang geofisika khususnya dan
masyarakat luas dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
2. Memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu geofisika dalam melakukan
mitigasi dan adaptasi bencana alam.
3. Mandiri untuk belajar lebih lanjut (mengembangkan diri) dan berfikir secara logis
dan analitis untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi secara profesional.
c. Kompetensi Lainnya
1. Memiliki pemahaman, kesadaran dan kearifan tentang berbagai aspek sosial,
ekonomi dan budaya akibat dampak laju perkembangan IPTEKS yang pesat.
2. Memiliki integritas, adaptif, mampu bekerjasama (team work) dan memiliki etika
ilmiah yang tinggi baik dalam lingkungan kerja maupun dalam berkehidupan di
masyarakat.
3. Memiliki kesadaran, kepedulian dan komitmen terhadap perlindungan dan
pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan.
1.3. Analisis Kebutuhan Pembelajaran
Matakuliah ini memiliki 2 sks sehingga seakan-akan tidak membutuhkan praktikum.
Namun kalau dilihat apa isi dari matakuliah ini, maka sebagian besar materinya dapat
dilengkapi dengan eksperimen. Kendala yang sangat dasar kenapa matakuliah ini tidak
memiliki praktikum adalah tidak adanya peralatan yang mendukung untuk praktikum yang
dimiliki oleh program studi. Kalau berbicara tentang referensi dari matakuliah ini,
referensinya sangat banyak. Bahkan setiap materi ada referensinya, namun terpisah-pisah
dan tidak sesuai dengan GBRP. Oleh karena itu kebutuhan mendasar adalah bahan ajar,
sebagaimana yang diajukan saat ini. Kebutuhan akan matakuliah ini akan berubah-ubah di
setiap tahunnya, karena tidak dapat dipenuhi secara maksimal. Akan tetapi diusahakan
secara bertahap.
1.4. Garis Besar Rencana Pembelajaran
GARIS BESAR RENCANA PEMBELAJARN (GBRP)
MATAKULIAH: FISIKA TANAH (256H2202)
DOSEN PENGAMPU: SYAMSUDDIN, S.Si, MT & Dr. RAHMAN KURNIAWAN, M.Si
Kompetensi Utama 1. Mampu memahami hakikat dari tanah
2. Mampu menerapkan sifat fisis tanah ke dalam mekanika tanah
3. Mampu mengaplikasikan ilmu tentang tanah di masyarakat
Kompotensi Pendukung Kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi dalam lingkungan kerja
Kompotensi Institusional Kemampuan untuk terlibat dalam kehidupan sosial bermasyarakat berdasarkan budaya bahari
Minggu
ke
Materi Pembelajaran Bentuk Pembelajaran Kompetensi Akhir Sesi Pembelajaran Indikator Penilaian
Bobot
%
1 Informasi Kontrak Dan
Strategi Pembelajaran
Ceramah dan Diskusi Mengetahui susunan materi, metode
pembelajaran dan evaluasi yang akan
dilaksanakan
2 Pendahuluan Ceramah, diskusi, dan
tugas kajian pustaka
Mengetahui arti fisika tanah dan
keterkaitan dengan ilmu-ilmu lain
Kejelasan uraian dan ketepatan
penyelesaian tugas
3
3 Sifat fisis dan morfologi
tanah
Presentasi dan Diskusi Memahami sifat-sifat fisis dan morfologi
tanah serta keterkaitannya
Ketepatan pemakaian konsep
dan kejelasan uraian serta kerja
sama kelompok
8
4 Klasifikasi dan komposisi
tanah
Presentasi dan Diskusi Mengetahui klasisfikasi dan komposisi
tanah serta membedakannya
Kejelasan uraian,kemampuan
menjawab pertanyaan dan kerja
sama kelompok
8
5 Air dalam tanah Presentasi dan Diskusi Mampu menjelaskan defenisi, proses
pembentukan dan manfaat air tanah
Kejelasan uraian,kemampuan
menjawab pertanyaan dan kerja
sama kelompok
8
6 Konservasi tanah dan air Presentasi dan Diskusi Mampu menjelaskan arti, jenis, dan
proses-proses dalam konservasi tanah
dan air
Kejelasan uraian,kemampuan
menjawab pertanyaan dan kerja
sama kelompok
8
7 Pengantar mekanika tanah Ceramah, diskusi, dan
tugas kajian pustaka
Mengetahui arti dan klasifikasi mekanika
tanah serta peruntukannya
Kejelasan uraian dan ketepatan
penyelesaian tugas
3
8 Tegangan efektif tanah Presentasi dan Diskusi Mampu menjelaskan definisi dan prinsip-
prinsip tegangan efektif tanah
Penguasaan materi dengan
kejelasan uraian dan kerja sama
kelompok
8
9 Kuat geser tanah Presentasi dan Diskusi Mampu menjelaskan definisi dan prinsip-
prinsip kuat geser tanah
Penguasaan materi dengan
kejelasan uraian dan kerja sama
kelompok
8
10 Daya dukung tanah Presentasi dan Diskusi Mampu menguraikan teori daya dukung
tanah disertai dengan contoh
Penguasaan materi dengan
kejelasan uraian dan kerja sama
kelompok
8
11 Konsolidasi tanah Presentasi dan Diskusi Mampu menjelaskan definisi dan prinsip
konsolidasi tanah serta peruntukannya
Penguasaan materi dengan
kejelasan uraian dan kerja sama
kelompok
8
12 Likuifaksi tanah Presentasi dan Diskusi Mampu menjelaskan definisi, jenis, dan
dampak likuifaksi tanah
Penguasaan materi dengan
kejelasan uraian dan kerja sama
kelompok
8
13 Stabilitas lereng Presentasi dan Diskusi Mampu menjelaskan definisi dan
klasisfikasi stabilitas lereng serta faktor
keamanan
Penguasaan materi dengan
kejelasan uraian dan kerja sama
kelompok
9
14 Dukungan Metode
Geofisika dalam fisika
tanah
Ceramah, diskusi, dan
tugas kajian pustaka
Mengetahui mengetahui metode-metode
geofisika yang erat hubungan dengan
sifat fisis dan mekanika tanah
Kejelasan uraian dan ketepatan
penyelesaian tugas
3
16 Evaluasi akhir semester Tes tertulis Menjawab pertanyaan dengan baik dan
benar
Kejelasan Uraian 10
Bahan Bacaan:
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”, Erlangga, Jakarta.
2. Budi Santoso, Heri Suprapto, & Suryadi HS, “Dasar Mekanika Tanah”, Seri Diktat Kuliah, Gunadarma,
3. I Made Mega, dkk, 2010, ”Klasifikasi Tanah dan Kesesuaian Lahan”, Bahan Ajar, Universitas Udayana, Denpasar
4. Arie S. Hutagalung, 2007, “Pelepasan, Penyelesaian, dan Kesepakatan dalam Konsolidasi Tanah bagi Pembangunan Rumah Susun Ditinjau dari
Hukum Perdata”, BPN, Jakarta
5. Braja M. Das, Nur Endah, & Indrasurya B. Mochtar, 1985, “Mekanika Teknik: Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis)”, Erlangga, Surabaya
6. Beydha I., 2002, “Konservasi Tanah dan Air di Indonesia Kenyatan dan Harapan”, Fisip UNSU, Medan.
Fisika Tanah - 6
BAB 2 PENGANTAR FISIKA TANAH
2.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mengetahui
arti fisika tanah dan keterkaitan dengan ilmu-ilmu lain. Untuk mencapai kompetensi ini
digunakan metode pembelajaran SCL yang diawali dengan ceramah, diskusi (Interaktif),
kemudian dilengkapi dengan tugas kajian pustaka.
2.2. Definisi
Tanah (soil) merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun
dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara,
dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman. Tanah dapat pula didefinisikan sebagai
material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral padat yang terikat secara kimia satu
sama lain dengan ruang-ruang kosong antar butir yang diisi oleh zat cair dan gas. Menurut
asal katanya, tanah dalam bahasa Yunani berarti pedon, dan dalam bahasa Latin berarti
Solum merupakan bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik.
Pedologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari proses pembentukan tanah & faktor
pembentuknya, klasifikasi tanah, survei & cara pengamatan di lapangan. Serta ilmu yang
mempelajari beberapa aspek tentang tanah disebut “ilmu tanah”. Sementara fisika
merupakan ilmu yang mengkaji materi berdasarkan sifat dan prilaku fisisnya. Dengan
demikian “fisika tanah” merupakan cabang dari ilmu tanah, yang didefinisikan sebagai
Ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisis tanah seperti tekstur tanah, struktur, konsistensi,
kandungan & gerakan air di dalam tanah, serta suhu tanah, dan lain sebagainya.
Fisika tanah dapat dipandang sebagai ilmu dasar sekaligus terapan dengan melibatkan
berbagai cabang ilmu yang lain termasuk ilmu tanah, hidrologi, klimatolologi, ekologi,
geologi, sedimentologi, botani dan agronomi. Cabang ilmu tanah selain fisika tanah masih
terlalu banyak untuk dikaji, antara lain:
• Kimia Tanah
• Kesuburan Tanah
• Konservasi Tanah & Air
• Mikrobiologi Tanah
• Mineralogi Tanah
• Genesis & Klasifikasi Tanah
• Geografi Tanah
• Survei Tanah & Evaluasi Tanah
Fisika Tanah - 7
Pada bahan ajar ini Fisika tanah mengkaji tentang sifat-sifat fisis tanah dan morfologinya,
klasifikasi dan komposisi tanah, air dalam tanah, konservasi air dan tanah, serta beberapa
bagian mekanika tanah (yakni tegangan efektif dan kuat geser tanah, daya dukung dan
konsolidasi tanah, likuifaksi, kestabilan lereng. Di sini juga dimasukkan metode Geofisika
yang berkaitan dengan fisika tanah.
Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung
kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar.
Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa-sisa bahan organik dan
organisme (vegetasi/hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam
tanah terdapat pula udara dan air. Tanah terdapat di mana-mana, tetapi kepentingan orang-
orang terhadap tanah berbeda-beda, diantaranya:
 Ahli tambang berpendapat bahwa tanah adalah sesuatu yang tidak berguna karena
menutupi barang-barang tambang yang dicarinya. Semua bahan yang digali kacuali
batu-batunya dinamakan tanah.
 Ahli jalan menganggap bahwa tanah adalah permukaan bumi yang lembek yang butuh
penguatan.
 Masyarakat umum beda dengan dua kelompok yang di atas karena tanah diartikan
sebagai wilayah darat yang dapat digunakan untuk berbagai usaha misalnya mendirikan
bangunan, pertanian, peternakan, dan sebagainya.
2.3. Konsep Tanah
Menelusuri lebih lanjut, ternyata ada beberapa konsepsi tentang tanah, antara lain:
1. Tanah Menurut Konsepsi Geografis
Tanah mempunyai ciri fisik yang saling berbeda di suatu bidang dengan bidang lainnya.
Setiap bidang tanah itu sangat unik dan letak atau lokasi tanah itu merupakan sifat/ciri
yang sangat penting. Kegunaan dan highest dan best use dari tanah akan sangat
dipengaruhi oleh bentuk fisik dan letak atau lokasi serta akses menuju ke tanah tesebut,
serta berbagai faktor lain yang mempengaruhi, yang secara singkat disebut geografi.
2. Tanah Menurut Konsepsi Sosial
Masyarakat modern telah semakin meningkatkan kepeduliannya dengan bagaimana tanah
itu digunakan dan bagaimana hak atas tanah itu didistribusikan. Penawaran atau persediaan
tanah itu sifatnya tetap, sehingga peningkatan permintaan atas tanah menghendaki agar
penggunaan tanah itu lebih dapat diintensifkan. Pertikaian sering timbul karena adanya
Fisika Tanah - 8
perbedaan pandangan dari masyarakat mengenai penggunaan atas tanah. Bagi yang
mempunyai pandangan bahwa tanah itu mempunyai fungsi sosial yang harus digunakan
bersama-sama oleh mereka yang membutuhkan, maka tanah akan dijaga agar tidak
tercemar dan mempunyai fungsi sosial yang harus digunakan bersama-sama oleh mereka
yang membutuhkan, maka tanah akan dijaga agar tidak tercemar dan mempunyai fungsi
ekologis yang penting. Sedangkan kelompok lain berpandangan bahwa tanah adalah
komoditas perdagangan sehingga masyarakat lebih bagus dibentuk dan dilayani oleh para
individu yang mempunyai hak tak terbatas terhadap tanah.
3. Tanah Menurut Konsepsi Ekonomi
Tanah adalah entitas fisik yang melekat dengan hak kepemilikan yang berdasarkan hukum
dapat dibatasi bagi kebaikan umat manusia. Tanah merupakan sumber utama bagi
kekayaan, yang dapat dinilai dengan uang atau dipertukarkan dengan uang. Tanah dan apa
yang dihasilkan mempunyai nilai ekonomis ketika dialihkan ke dalam barang dan jasa
yang bermanfaat, sesuai dengan yang diinginkan dan dibayar oleh konsumen. Konsep
ekonomi dari tanah sebagai sumber kekayaan dan obyek nilai merupakan pusat dari teori
penelitian.
4. Tanah Dalam Kacamata Hukum
Hukum yang merupakan lembaga kemasyarakatan mencerminkan aspek budaya, politik,
pemerintahan, ekonomi, sosiologis, dan filosofis masyarakatnya. Yang dimaksud dengan
tanah itu tidak hanya permukaan tanah saja, akan tetapi juga meliputi semua kandungannya
atau yang melekat padanya seperi mineral, pepohonan, bangunan, tanaman, dan
sebagainya. Walaupun hak atas tanah di Indonesia diakui, namun sesuai dengan konstitusi
kita maka semua kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu dikuasai oleh negara,
sehingga apabila lahan yang dimiliki oleh seseorang mengandung mineral seperti minyak
atau gas alam, maka hak untuk menguasai kekayaan tersebut ada pada negara, bukan
perorangan.Dengan demikian, penggunaan hak yang dimiliki oleh sesorang itu dibatasi
oleh hukum dan peraturan perundangan yang berlaku.
5. Konsep atas Tanah di Masyarakat
Penggunaan tanah diperoleh dari wewenang yang diberikan oleh organisasi
kemasyarakatan. Di berbagai negara yang mempunyai sistem pemerintahan totaliter atau
komunis, dimana kepemilikan dan pasar atas tanah tidak bebas diperjual belikan,
pemerintah sering mengatur semua penggunaan dari tanah. Sebaliknya dalam suatu negara
Fisika Tanah - 9
yang menganut ekonomi pasar bebas, maka penggunaan tanah diatur dalam undang-
undang. Bagaimana berbagai kekuatan mempengaruhi tanah dan penggunaannya, maka
kita harus mengerti peranan hukum tanah dan hukum lain seperti hukum adat yang juga
mengatur tentang pertanahan.
2.4. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Menguraikan kaitan fisika tanah dengan ilmu-ilmu lain di atas pada kertas A4 yang
diketik dengan spasi 1.5.
2. Mencari referensi lain tentang materi pembahasan ini dikumpul pada dosen pengampu
dalam bentuk softcopy dan hardcopy.
2.5. Daftar Bacaan
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”,
Erlangga, Jakarta.
2. Ir. I Nyoman Puja, M.S., 2008, “Penuntun Praktikum Fisika Tanah”, Jurusan Tanah
Universitas Udayana, Denpasar.
Fisika Tanah - 10
BAB 3 SIFAT FISIS DAN MORFOLOGI TANAH
3.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Memahami
sifat-sifat fisis dan morfologi tanah serta keterkaitannya. Untuk mencapai kompetensi ini
digunakan metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan diskusi, kemudian
dilengkapi dengan makalah dan power point yang diperoleh dari referensi selain bahan ajar
ini.
3.2. Definisi
Tanah mempunyai beberapa karakteristik yang terbagi dalam tiga kelompok diantaranya
adalah sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Sifat fisik tanah antara lain adalah tekstur,
permeabilitas, infiltrasi, dll. Setiap jenis tanah memiliki sifat fisik tanah yang berbeda.
Usaha untuk memperbaiki kesuburan tanah tidak hanya terhadap perbaikan sifat kimia dan
biologi tanah tetapi juga perbaikan sifat fisik tanah. Perbaikan keadaan fisik tanah dapat
dilakukan dengan pengolahan tanah, perbaikan struktur tanah dan meningkatkan
kandungan bahan organik tanah. Selain itu sifat fisik tanah sangat mempengaruhi
pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi fisik tanah menentukan penetrasi akar dalam
tanah, retensi air, drainase, aerasi dan nutrisi tanaman. Sifat fisik tanah juga mempengaruhi
sifat kimia dan biologi tanah.
Proses pembentukan tanah di mulai dari proses pelapukan batuan induk menjadi bahan
induk tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik dengan bahan mineral di
permukaan tanah, pembentukan struktur tanah, pemindahan bahan- bahan tanah dari
bagian atas tanah ke bagian bawah dan berbagai proses lain yang dapat menghasilkan
horizon- horizon tanah. Horison tanah adalah lapisan- lapisan tanah yang terbentuk karena
hasil dari proses pembentukan tanah. Proses pembentukan horison-horison tersebut akan
menghasilkan benda alam baru yang disebut tanah. Sedangkan penampang vertikal dari
tanah yang menunjukan susunan horison tanah disebut profil tanah. Ada 6 horison utama
yang menyusun profil tanah berturut-turut dari atas ke bawah yaitu horizon (O), A, E, B, C,
dan R. Sedang horizon penyusun solum tanah adalah horizon A, E, dan B.
Gambar
Batas satu horizon dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas
baur. Pada pengamatan lapang ketajaman peralihan horizon ini dapat dibedakan beberapa
tingkatan yaitu:
- Nyata (lebar peralihan kurang dari 2,5 cm)
- Jelas (lebar peralihan 2,5
- Berangsur (lebar peralihan 6,5
- Baur (lebar peralihan >
Batasan horizon tersebut dapat :
- Rata
- Berombak
- Tidak teratur atau terputus
3.3. Sifat Fisis dan Morfologi Tanah
Sifat fisis dan morfologi tanah merupakan satu kesatuan.
diamati dan dipelajari di lapangan.
dan diteliti di Laboratorium dengan mengambil conto tanah di lapangan
morfologi tanah yang dimaksud antara lain
air, konsistensi, dan porositas.
Fisika Tanah

Gambar 3.1. Batasan horison tanah
Batas satu horizon dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas
baur. Pada pengamatan lapang ketajaman peralihan horizon ini dapat dibedakan beberapa
(lebar peralihan kurang dari 2,5 cm)
(lebar peralihan 2,5-6,5 cm)
(lebar peralihan 6,5-12,5 cm)
(lebar peralihan > 12,5 cm)
Batasan horizon tersebut dapat :
Tidak teratur atau terputus
Sifat Fisis dan Morfologi Tanah
Sifat fisis dan morfologi tanah merupakan satu kesatuan. Morfologi tanah
diamati dan dipelajari di lapangan. Sifat fisis tanah adalah karakteristik tanah yang diukur
dan diteliti di Laboratorium dengan mengambil conto tanah di lapangan. Sifat fisis
tanah yang dimaksud antara lain: warna, tekstur, struktur, berat spesifik, kadar
.
Fisika Tanah - 11
GG
Batas satu horizon dengan horizon lainnya dalam suatu profil tanah dapat terlihat jelas atau
baur. Pada pengamatan lapang ketajaman peralihan horizon ini dapat dibedakan beberapa
Morfologi tanah umumnya
tanah yang diukur
Sifat fisis dan
berat spesifik, kadar
Fisika Tanah - 12
3.3.1. Warna Tanah
Warna tanah merupakan salah satu sifat yang mudah dilihat dan menunjukkan sifat dari
tanah tersebut. Warna tanah merupakan campuran komponen lain yang terjadi karena
mempengaruhi berbagai faktor atau persenyawaan tunggal. Urutan warna tanah adalah
hitam, coklat, karat, abu-abu, kuning dan putih (Syarief, 1979).
Warna tanah dengan akurat dapat diukur dengan tiga sifat-sifat prinsip warnanya. Dalam
menentukan warna cahaya dapat juga menggunakan Munsell Soil Colour Chart sebagai
pembeda warna tersebut. Penentuan ini meliputi penentuan warna dasar atau matrik, warna
karatan atau kohesi dan humus. Warna tanah penting untuk diketahui karena berhubungan
dengan kandungan bahan organik yang terdapat di dalam tanah tersebut, iklim, drainase
tanah dan juga mineralogi tanah (Thompson dan Troen, 1978).
Mineral-mineral yang terdapat dalam jumlah tertentu dalam tanah kebanyakan berwarna
agak terang (light). Sebagai akibatnya, tanah-tanah itu berwarna agak kelabu terang, jika
terdiri dari mineral-mineral serupa itu yang sedikit mengalami perubahan kimiawi.
Warna gelap pada tanah umumnya disebabkan oleh kandungan tinggi dari bahan organik
yang terdekomposisi, jadi, dengan cara praktis persentase bahan organik di dalam tanah
diestimasi berdasarkan warnanya. Bahan organik di dalam tanah akan mengahsilkan warna
kelabu gelap, coklat gelap, kecuali terdapat pengaruh mineral seperti besi oksida ataupun
akumulasi garam-garam sehingga sering terjadi modifikasi dari warna-warna di atas.
Gambar 3.2. Warna tanah berdasarkan kandungannya
Fisika Tanah - 13
3.3.2. Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif dari partikel-partikel atau fraksi-fraksi primer
tanah, yaitu pasir, debu, liat dan lempung atau dilapangan dikenal dengan rasa kekasaran
atau kehalusan dari tanah. Jika beberapa contoh tanah ditetapkan atau dianalisa di
laboratorium, maka hasilnya selalu memperlihatkan bahwa tanah itu mengandung partikel-
partikel yang beraneka ragam ukurannya, ada yang berukuran koloid, sangat halus, halus,
kasar dan sangat kasar.
- Pasir < 2 - 0,05 mm ;
- Debu < 0,05 - 0,002 mm ;
- Liat < 0,002 mm atau < 2mm ,
- lebih halus dikenal liat halus < 0,2 mm;
- Bahan koloid < 0,001 mm
Nama dan sifat tanah ditentukan atau dipengaruhi oleh gradasainya (untuk tanah berbutir
kasar) dan batas konsistensinya (untuk tanah berbutir halus). Gradasai merupakan sifat
yang penting untuk tanah berbutir kasar. Tanah terdiri dari aneka ragam Ukuran butir
dengan perbandingan prosentasi ukuran butiran beraneka ragam. Dengan kata lain
distribusi Ukuran butiran atau gradasi butiran tidak pernah sama tanah yang satu dengan
yang lainnya. Untuk menganalisa gradasi tanah berbutir kasar digunakan analisa saringan
dan untuk tanah berbutir halus digunakan analisa hydrometer (cara pengendapan). Batasan-
batasan ukuran butiran tanah dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut.
Tabel 3.1 Skema jenis tanah dan batasan ukuran butirannya
Biasanya tanah terdiri dari campuran beberapa ukuran. Semakin panjang gradasinya maka
tanah tersebut akan semakin baik. Tanah yang mempunyai partikel-partikel yang melekat
satu sama lain setelah dibasahi dan setelah kering diperlukan gaya yang cukup besar untuk
meremasnya, maka tanah tersebut disebut tanah kohesif.
Fisika Tanah - 14
Di lapangan tekstur tanah dapat ditentukan dengan memijittanah basah di antara jari-jari,
sambil dirasakan halus-kasarnya yaitu dirasakan adanya butiran-butiran pasir, debu, dan
liat. Berdasarkan perbandingan butiran tersebut, maka dikenal 12 kelas tekstur tanah yakni:
Tabel 3.2 Kelas-kelas Tekstur Tanah (LPT, 1969)
a. Pasir: Rasa kasar jelas, tidak membentuk bola tidak melekat
b. Pasir berlempung(ls): Rasa kasar jelas, membentuk bola dan mudah sekali
hancur, sedikit sekali melekat
c. Lempung Berpasir (sl) Rasa kasar agak jelas, membentuk bola yang agak
keras tetapi mudah hancur, melekat
d. Lempung (l) Rasa tidak kasar dan tidak licin membentuk bola
teguh, dapat sedikit digulung, dengan permukaan
mengkilap, melekat.
e. Debu (si) Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat
sedikit didulung dengan permukaan mengkilat agak
melekat
f. Lempung berliat (cl.l) Rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh
(kering) membentuk gulungan bila dispirit, gulungan
mudah hancur, melekatnya sedang.
g. Lempung liat berpasir (scl.l) Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh
(kering) membentuk gulungan bila dispirit, gulungan
mudah hancur, melekat
h. Lempung liat berdebu (si cl.l) Rasa jelas licin, membentuk bola teguh, gulungan
menkilat, melekat
i. Liat berdebu (sic l) Rasa licin agak kasar, membentuk bola, dalam
keadaan kering sukar dipirit, mudah
digulung,melekat sekali.
j. Liat berdebu (sic l) Rasa agak licin membentuk bola, dalam keadaan
kering sukar dispirit, mudah digulung,melekat sekali
k. Liat Rasa berat,membentuk bola baik, melekat sekali
l. Liat berat Rasa berat sekali, membentuk bola baik, sangat lekat
Tekstur yang paling ideal bagi tanah pertanian adalah tekstur Lempung berdebu, yang
terdiri dari : Air tanah 25%, Udara tanah 25%, Mineral 45% dan Bahan organic 5%
Gambar 3.3. Komposisi tekstur tanah
Fisika Tanah - 15
Tekstur mencerminkan ukuran partikel tanah yang dominanPenetapan tekstur tanah di
laboratorium dapat dilakukan dengan analisa mekanis, yang umumnya dipakai metode
pipet dan metode hydrometer bouyoucus, kedua metode ini didasarkan atas perbedaan
kecepatan jatuhnya partikel-partikel di dalam air. Selanjutnya hasil dari analisa
laboratorium yang berupa persentase dari fraksi tanah dimasukkan ke dalam diagram
segitiga tekstur USDA.
Gambar 3.4. Segitiga tekstur tanah dan sebaran butir
3.3.3. Struktur Tanah
Struktur tanah adalah penyusunan partikel-partikel tanah primer seperti pasir, debu dan liat
membentuk agregat-agregat, yang satu agregat dengan lainnya dibatasi oleh bidang belah
alami yang lemah. Agregat yang terbentuk secara alami disebut ped, sedangkan bongkah
tanah hasil pengolahan tanah disebut clod.
Struktur yang dapat memodifikasi pengaruh terkstur dalam hubungannya dengan
kelembaban porositas, tersedia unsur hara, kegiatan jasad hidup dan pengaruh permukaan
akar. Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Bentuk struktur
dapat dibedakan menjadi:
a. bentuk lempeng
b. bentuk prisma
c. bentuk gumpal
d. bentuk spheroidel atau bulat
Fisika Tanah - 16
Keempat bentuk utama di atas akhirnya menghasilkan tujuh tipe struktur tanah, yakni:
granuler, prisma, remah, lempeng, tiang, gumpal bersudut, dan gumpal membulat.
Gambar 3.5. Tipe-tipe struktur tanah
Suatu pengertian tentang sebab-sebab perkembangan struktur di dalam tanah perlu
diperhatikan, karena sturktur tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan dapat
berubah karena pengelolaan tanah. Struktur lapisan olah dipengaruhi oleh praktis dan di
mana aerasi dan drainase membatasi pertumbuhan tanaman, sistem pertanaman yang
mampu menjaga kemantapan agregat tanah akan memberikan hasil yang tinggi bagi
produksi pertanian (Hakim et al., 1986).
Tabel 3.3 Klasifikasi ukuran struktur tanah
Ketahanan struktur tanah dibedakan menjadi :
1. Tingkat perkembangan lemah (butir struktur tanah mudah hancur).
2. Tingkat perkembangan sedang (butir struktur tanah sukar hancur).
Fisika Tanah - 17
3. Tingkat perkembangan kuat (butir struktur tanah sukar hancur), hal ini sesuai dengan
jelas tanah dan tingkat kelembabannya. Tanah permukaan yang banyak mengandung
humus umumnya mempunyai tingkat perkembangan kuat.
3.3.4. Berat Spesifik
Harga berat spesifik butiran tanah (bagian padat) sering dibutuhkan dalam bermacam-
macam keperluan perhitungan dalam mekanika tanah. Harga-harga itu dapat ditentukan
secara akuran di laboratorium. Tabel 3.4 menunjukkan harga-harga berat spesifik beberapa
mineral yang umum terdapat dalam tanah. Sebagian besar mineral tersebut mempunyai
berat spesifik berkisar antara 2.6 sampai dengan 2.9. Bagian padat tanah pasir yang
berwarna terang, umumnya terdiri dari kwarsa dengan berat spesifik kira-kira 2.65. untuk
tanah lempung dan lanau harganya sekitar 2.6 sampai 2.9.
Tabel 3.4 Berat Spesifik Mineral-Mineral Penting
Mineral Berat Spesifik (G
s
) Mineral Berat Spesifik (G
s
)
Quartz (kwarsa)
Kaolinite
Illite
Montmorillonite
Halloysite
Potassium Feldspar
Sodium & Ca- Feldspar
2.65
2.60
2.80
2.65-2.80
2.00-2.55
2.57
2.62-2.76
Chlorite
Biotite
Miscovite
Hornblende
Limonite
Olivine
2.60-2.90
2.80-3.20
2.76-3.10
3.00-3.47
3.60-4.00
3.27-3.37
Sumber : Das dkk, 1988
Berat Spesifik (Bulk density) tanah menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering
dengan volume tanah termasuk volume pori-pori tanah.
Bulk density =
berat tanah kering (g)
volume tanah (cc)
“Makin padat suatu tanah makin tinggi bulk densitynya, yang berarti makin sulit dilalui air
dan ditembus akar tanaman.”
3.3.5. Kadar Air Tanah
Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap)
oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang
kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi,
kohesi, dan gravitasi. Karena adanya gaya-gaya tersebut maka air dalam tanah dapat
dibedakan menjadi:
Fisika Tanah - 18
1) Air hidroskopik, adalah air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak dapat
digunakan tanaman, kondisi ini terjadi karena adanya gaya adhesi antara tanah dengan
air. Air hidroskopik merupakan selimut air pada permukaan butir-butir tanah.
2) Air kapiler, adalah air dalam tanah dimana daya kohesi (gaya tarik menarik antara
sesama butir-butir air) dan daya adhesi (antara air dan tanah) lebih kuat dari gravitasi.
Air ini dapat bergerak secara horisontal (ke samping) atau vertikal (ke atas) karena
gaya-gaya kapiler. Sebagian besar dari air kapiler merupakan air yang tersedia (dapat
diserap) bagi tanaman.
Gambar 3.6. Tiga fase elemen tanah menunjukkan hubungan antara massa dan volume
Kadar air (w) disebut juga water content didefinisikan sebagai perbandingan antara berat
air dan berat butiran padat dari volume tanah yang diselidiki.
s
w
s
w
s
w
m
m
g m
g m
W
W
w =
·
·
= =
Karena massa butiran padat dalam elemen tanah (m
s
) sama dengan G
s
µ
w
, maka massa air
adalah:
w s s w
wG wm m  = =
Kerapatan elemen tanah yang ditunjukkan gambar 3.6, dapat ditulis:
( )
e
G w
V
m
w s
+
+
= =
1
1 

Secara matematika, kadar air dari tanah yang jenuh air dapat dinyatakan sebagai:
Fisika Tanah - 19
( )
s s
w
G n
n
W
W
w
÷
= =
1
dengan: W
s
= berat butiran padat
W
s
= berat air

w
= kerapatan air = 1000 kg/m
3
e = angka pori
n = porositas
3.3.6. Berat Isi
Gambar 3.7 menunjukkan suatu elemen tanah dengan volume V dan berat W. Vulume total
(V) dan berat total (W) dapat disajikan dalam bentuk matematika seperti berikut:
w s
a w s v s
W W W
V V V V V V
+ =
+ + = + =
dengan: V
s
= volume butiran padat
V
v
= volume pori
V
w
= volume air dalam pori
V
a
= volume udara dalam pori
Karena udara dianggap tidak mempunyai berat.
Gambar 3.7. (a) Elemen tanah dalam keadaan asli. (b) Tiga fase elemen tanah
Hubungan volume yang umum dipakai untuk suatu elemen tanah adalah angka pori (void
ratio), porositas (porosity), dan derajat kejenuhan (degree of saturation). Angka pori (e)
adalah perbandingan antara volume pori dan volume butiran padat. Sementara porositas (n)
Fisika Tanah - 20
merupakan perbandingan antara volume pori dan volume tanah total. Dan derajat
kejenuhan (S) didefinisikan sebagai perbandingan antara volume air dan volume pori.
v
w v
s
v
V
V
S
V
V
n
V
V
e = = = ; ;
Istilah-istilah yang umum dipakai dalam hubungnnya dengan berat kadar air (moisture
content) dan berat volume (unit weight). Kadar air (w) didefinisikan sebagai perbandingan
antara berat air dan berat butiran padat dan berat volume (¸) adalah berat tanah per satuan
volume.
( )
V
w W
V
W
s
+
= =
1

Sedangkan berat volume kering (¸
d
) didefinisikan sebagai:
( ) ( )
( ) n G
e
G
atau
w V
W
w s
w s
d
s
d
÷ =
+
=
+
= = 1
1 1





karena
e
e
n
+
=
1
Sementara itu berat volume tanah yang jenuh air ditulis dalam bentuk matematika seperti
berikut:
( )
( ) | |
w s
w s
sat
n G n
e
e G


 + ÷ =
+
+
= 1
1
3.3.7. Konsistensi Tanah
Konsitensi tanah menunjukan kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau daya adhesi
butir-butir tanah dengan benda lain. Tanah dengan struktur baik (granuler, remah)
mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.
Tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada
alat pengolah tanah. Karena tanah dalam keadaan lembab, basah dan kering maka
penyipatan konsistensi tanah harus pada kondisi tersebut.
Istilah-istilah yang digunakan untukmenggambarkan konsistensi tanah :
1. Tanah basah : tidak lekat, lekat, tidak plastis dan plastis
2. Tanah lembab: mudah lepas, mudah pecah.
3. Tanah kering : lepas, halus, keras
Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah tersebut dapat
diremas-remas (remolded) tanpa menimbulkan retakan. Sifat kohesif ini terjadi karena
Fisika Tanah - 21
adanya air yang terserap (absorbed water) di sekeliling permukaan partikel lempung. Bila
kadar airnya sangat tinggi, cukup tanah dan air akan menjadi sangat lembek seperti cairan.
Oleh karena itu, atas dasar air yang dikandungnya, tanah dapat dipisahkan ke dalam empat
keadaan dasar, yaitu padat, semi padat, plastis, dan cair.
Gambar 3.8. Batas-batas Atterberg (Ilmuwan Swedia, 1900)
Kadar air dinyatakan dalam persen, di mana terjadi transisi dari keadaan padat ke keadaan
semi padat didefinisikan sebagai batas susut. Kadar air di mana terjadi transisi dari
keadaan semi padat ke keadaan plastis didefinisikan sebagai batas plastis, dan untuk dari
keadaan plastis ke keadaan cair didefinisikan sebagai batas cair. Batas-batas ini dikenal
juga sebagai batas-batas Atterberg (Atterberg limits)
3.3.8. Porositas
Ruang pori total adalah volume dari tanah yang ditempati oleh udara dan air. Persentase
volume ruang pori total disebut porositas. Untuk menentukan porositas, contoh tanah
ditempatkan pada tempat berisi air sehingga jenuh dan kemudian cores ini ditimbang.
Perbedaan berat antara keadaan jenuh air dan core yang kering oven merupakan volume
ruang pori. Untuk 400 cm
3
cores yang berisi 200 gr (200 cm
3
) air pada kondisi jenuh
porositas tanahnya akan mencapai 50% (Foth, 1988).
Tanah dengan tekstur halus mempunyai kisaran ukuran dan bentuk partikelnya yang luas.
Hal ini telah ditekankan bahwa tanah permukaan yang berpasir mempunyai porositras kecil
daripada tanah liat. Berarti bahwa tanah pasir mempunyai volume yang lebih sedikit
ditempati oleh ruang pori. Ruang pori total pada tanah pasir mungkin rendah tetapi
mempunyai proporsi yang besar yang disusun daripada komposisi pori-pori yang besar
yang sangat efisien dalam pergerakan udara dan airnya. Persentase volume yang dapat
terisi oleh pori-pori kecil pada tanah pasir rendah yang menyebabkan kapasitas menahan
airnya rendah. Sebaliknya tanah-tanah permukaan dengan tekstur halus memiliki ruang
Fisika Tanah - 22
pori total lebih banyak dan proporsinya relatif besar yang disusun oleh pori kecil.
Akibatnya adalah atanah mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi.
Gambar 3.9. (a) Ruang pori makro (b) ruang pori mikro
3.3.9. Infiltrasi
Infiltrasi dari segi hidrologi penting, karena hal ini menandai peralihan dari air permukaan
yang bergerak cepat ke air tanah yang bergerak lambat dan air tanah. Kapasitas infiltrasi
suatu tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat fisiknya dan derajat kemampatannya, kandungan
air dan permebilitas lapisan bawah permukaan, nisbi air, dan iklim mikro tanah. Air yang
berinfiltrasi pada sutu tanah hutan karena pengaruh gravitasi dan daya tarik kapiler atau
disebabkan juga oleh tekanan dari pukulan air hujan pada permukaan tanah.
Infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan ke dalam tanah. Perkolasi adalah
gerakan aliran air di dalam tanah (dari zone of aeration ke zone of saturation). Infiltrasi
berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran permukaan dan juga berpengaruh
terhadap laju aliran permukaan (run off).
Beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah:
1. Dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebal lapisan yang jenuh.
2. Kelembaban tanah
3. Pemampatan tanah oleh curah hujan
4. Penyumbatan oleh bahan yang halus (bahan endapan)
5. Pemampatan oleh orang dan hewan
6. Struktur tanah
7. Tumbuh-tumbuhan
8. Udara yang terdapat dalam tanah
9. Topografi
10. Intensitas hujan
Fisika Tanah - 23
11. Kekasaran permukaan
12. Mutu air
13. Suhu udara
14. Adanya kerak di permukaan.
3.3.10. Permeabilitas
Semua jenis tanah bersifat lolos air (permeable) dimana air bebas mengalir melalui ruang-
ruang kosong (pori-pori) yang ada di antara butiran-butiran tanah. Tekanan pori diukur
relatif terhadap tekanan atmosfer dan permukaan lapisan tanah yang tekanannya sama
dengan tekanan atmosfer dinamakan muka air tanah atau permukaan freasik, di bawah
muka air tanah. Tanah diasumsikan jenuh walaupun sebenarnya tidak demikian karena ada
rongga-rongga udara.
Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Struktur dan
tekstur serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam menaikkan laju permeabilitas
tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian,
menurunkan laju air larian.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang dipengaruhi
oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah. Secara garis besar,
makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan makin rendah koefisien
permeabilitasnya.
Menurut Susanto dan Purnomo (1996), pada kebanyakan tanah, pada kenyataan
konduktivitas hidroulik tidak selamanya tetap. Karena berbagai proses kimia, fisika dan
biologi, konduktivitas hidroulik bisa berubah saat air masuk dan mengalir ke dalam tanah.
Perubahan yang terjadi pada komposisi ion kompleks yang dapat dipertukarkanseperti saat
air memasuki tanah mempunyai komposisi atau konsentrasi zat terlarut yang berbeda
dengan larutan awal, bisa sangat merubah konduktivitas hidroulik. Secara umum
konduktivitas akan berkurang bila konsentrasi zat terlarut elektrolit berkurang, disebabkan
oleh penomena pengembangan dan dispersi yang juga dipengaruhu oleh jeni-jenis kation
yang ada pelepasan dan perpindahan partikel-partikel lempung, selama aliran yang lam,
bisa menghasilkan penyumbatan pori. Interaksi zat terlarut dan matrik tanah dan
pengaruhnya terhadap konduktivitas hidroulik khususnya penting pada tanah-tanah masam
dan berkadar natrium tinggi.
Fisika Tanah - 24
3.3.11. Stabilitas Agregat
Kemantapan agregat adalah ketahanan rata-rata agregat tanah melawan pendispersi oleh
benturan tetes air hujan atau penggenangan air. Kemantapan tergantung pada ketahanan
jonjot tanah melawan daya dispersi air dan kekuatan sementasi atau pengikatan. Faktor-
faktor yang berpengaruh dalam kemantapan agregat antara lain: bahan-bahan penyemen
agregat tanah, bentuk dan ukuran agregat, serta tingkat agregasi Stabilitas agregat yang
terbentuk tergantung pada keutuhan tanag permukaan agregat pada saat rehidrasi dan
kekuatan ikatan antarkoloid-partikel di dalam agregat pada saat basah. Pentingnya peran
lendir (gum) microbial sebagai agen pengikat adalah menjamin kelangsungan aktivitas
mikroba dalam proses pembentukan ped dan agregasi.
3.4. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Suatu sampel tanah telah diuji fisis yang menghasilkan volume sampel basah 60,953 cc
dengan massa basah 92,25 gr, massa kering 56,72 gr, massa jenis 2,621, maka berapa
kadar air, volume pori, saturasi dan porositas.
2. Mencari gambar dan keterangan tentang ayakan dan hydrometer.
3. Mencari referensi lain tentang cara menentukan batas konsistensi tanah dan uraikan.
3.5. Daftar Bacaan
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”,
Erlangga, Jakarta.
2. Braja M. Das, Nur Endah, & Indrasurya B. Mochtar, 1985, “Mekanika Teknik: Prinsip-
Prinsip Rekayasa Geoteknis)”, Erlangga, Surabaya.
3. Sarwono Hardjowigeno, 2010, “Ilmu Tanah”, Akademik Pressindo, Jakarta.
Fisika Tanah - 25
BAB 4 KLASIFIKASI DAN KOMPOSISI TANAH
4.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mengetahui
klasisfikasi dan komposisi tanah serta membedakannya. Untuk mencapai kompetensi ini
digunakan metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan diskusi, kemudian
dilengkapi dengan makalah dan power point yang diperoleh dari referensi selain bahan ajar
ini.
4.2. Definisi
Klasifikasi tanah adalah suatu pengaturan beberapa jenis tanah yang berbeda-beda tapi
mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pemakaiannya.
Klasifikasi tanah dapat pula didefinisikan sebagai usaha untuk membeda-bedakan tanah
berdasarkan atas sifat-sifat yang dimilikinya. Tanah dapat dibedakan menjadi 2 klasifikasi,
yaitu:
1. Klasifikasi alami
2. Klasifikasi teknis
Klasifikasi alami adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat tanah yang dimilikinya
tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Klasifikasi ini
memberikan gambaran dasar terhadap sifat fisis, kimia, dan mineralogy tanah yang
dimiliki masing-masing kelas yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk
pengelompokan bagi berbagai penggunaan tanah.
Klasifikasi teknis adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat-sifat tanah yang
mempengaruhi kemampuan tanah untuk penggunaan tertentu. (Contoh: klasifikasi
kesesuaian lahan untuk perkebunan, tanah akan diklasifikasikan atas dasar sifat-sifat tanah
yang mempengaruhi tanaman perkebunan tersebut seperti drainase tanah, lereng, tekstur
tanah dan lainnya).
4.3. Sistem Klasifikasi Tanah
Sistem klasifikasi tanah yang didasarkan atas tekstur dan plastisitas, dibagi atas dua
macam, yaitu:
1. Sistem Klasifikasi AASHTO (American Association of State Highway and
Transportation Officials Classification)
2. Sistem Klasifikasi USCS (Unified Soil Classification System)
Fisika Tanah - 26
4.3.1. Sistem Klasifikasi AASHTO
Sistem klasifikasi AASHTO (American Association of State Highway and Transportation
Officials Classification) berguna untuk menentukan kualitas tanah untuk perencanaan
timbunan jalan. Tanah digolongkan dalam 7 golongan utama (A-1 hingga A-7). Tanah
yang dikelompokkan A-1 sampai dengan A-3 adalah tanah berbutir di mana 35% atau
kurang dari jumlah butiran tanah tersebut lolos ayakan No. 200. Selebihnya yang lolos
ayakan No. 200 dimasukkan ke dalam A-4 semapi dengan A-7.
Sistem klasifikasi AASHTO didasarkan pada :
 Hasil analisa saringan/ ayakan
 Batas-batas Atteberg
Tabel 4.1 Klasifikasi tanah untuk lapisan tanah dasar jalan raya (system AASHTO)
Untuk menevaluasi mutu (kualitas) suatu tanah sebagai bahan lapisan tanah dasar, suatu
angka yang dikenal Indeks Group (GI) juga diperlukan selain kelompok dan sub kelompok
tanah bersangkutan. Harga GI dapat dihitung dengan memakai persamaan:
GI = (F-35)[0,2+0,005(LL-40)]+0,01(F-15)(PI-10)
dengan:
F : persentase butiran yang lolos ayakan No. 200
LL : batas cair (Limit Liquid)
Fisika Tanah - 27
PI : indeks plastisitas
Aturan dalam menentukan harga indeks grup (GI) yaitu:
a. Apabila nilai GI negatif, harga GI dianggap nol
b. Nilai GI dibulatkan berdasarkan angka paling dekat (misalnya 3,4 menjadi 3 dan 3,5
menjadi 4)
c. Tidak ada batas atas untuk GI
d. GI untuk tanah kelompok A-1a, A-1b, A-2-4, A-2-5, dan A-3 selalu sama dengan nol
e. Untuk tanah yang masuk kelompok A-2-6 dan A-2-7, GI hanya dihitung dari bagian PI
yaitu:
GI = 0,01(F-15)(PI-10)
Umumnya kualitas tanah yang digunakan untuk bahan tanah dasar dapat dinyatakan
sebagai kebalikan dari harga indeks grup.
4.3.2. Sistem Klasifikasi USCS
Klasifikasi tanah dalam sistem ini ditentukan oleh parameter-parameter, sebagai berikut:
 Jenis ukuran butiran
- Kerikil : lewat ayakan no.3 tertahan ayakan no. 4
- Pasir : lewat ayakan no. 4 tertahan ayakan no. 200
- Lanau dan lempung : lewat ayakan no. 200
 Koefisien Keseragaman
 Batas-batas Atteberg
Secara garis besar tanah dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu :
a. Tanah berbutir kasar (kerikil dan pasir) jika kurang dari 50% lolos saringan nomor
200, dan simbol kelompok ini dimulai dengan huruf G atau S
b. Tanah berbutir halus (lanau/lempung) jika lebih dari 50% lolos saringan nomor 200
(diameter 0,075 mm), dan simbonya dimulai dengan huruf M, C, O, dan PT
digunakan untuk tanah gambut (peat), muck, tanah-tanah lain dengan kadar organik
tinggi.
Huruf pertama pada pemberian nama kelompoknya, adalah merupakan singakatan dari
jenis-jenis tanah berikut:
• G = Gravel (kerikil)
• M = Inorganic Silt (Lanau Anorganik)
• C = Inorganic Clay (Lempung Anorganik)
Fisika Tanah - 28
• O = Organic Silt or Clay (Lanau atau Lempung Organik)
• W = Well Graded (tanah dengan gradasi baik)
• P = Poorly Graded (tanah dengan gradasi buruk)
• L = Low Plasticity (pastisitas rendah LL < 50)
• H = High Plasticity (pastisitas tingg LL > 50)
Tabel 4.2 Klasifikasi tanah system USCS
Fisika Tanah - 29
Tabel 4.3 Saringan standar Amerika
No. Saringan Diammeter Lubang (mm)
3
4
6
8
10
16
20
30
40
50
60
70
100
140
200
270
6,35
4,75
3,35
2,36
2,00
1,18
0,85
0,60
0,42
0,30
0,25
0,21
0,15
0,106
0,075
0,053
Terdapat berbagai macam sistem klasifikasi tanah yang ada di dunia, namun di Indonesia
dikenal 3 (tiga) jenis klasifikasi tanah yang masing-masing dikembangkan oleh Pusat
Penelitian Tanah Bogor, FAO/UNESCO dan USDA (United States Department of
Agriculture = Departemen Pertanian Amerika Serikat). Walaupun demikian nama-nama
lama yang sudah terkenal tetap dipertahankan, tetapi menggunakan definisi-definisi baru.
Jenis-jenis tanah yang ada ditunjukkan pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Jenis tanah berdasarkan klasifikasi tanah yang dianut di Indonesia
No
Sistem Dudal-
Soepraptohardjo
(1957/1961)
PPT
(1978/1982)
FAO/UNESCO
(1974)
USDA
(1975/1998)
1. Tanah Aluvial Aluvial Fluvisol -Entisol
-Incepticol
2. Andosol Andosol Andosol Andisol
3. Brown Forest Soil Kambisol Cambisol Inceptisol
4. Grumusol Grumusol Vertisol Vertisol
5. Latosol -Kambisol
-Latosol
-Lateritik
-Cambisol
-Nitosol
-Ferralsol
-Inceptisol
-Ultisol
-Oxisol
6. Litosol Litosol Lithosol Entisol
Fisika Tanah - 30
7. Mediteran Mediteran Luvisol Inceptisol
8. Organosol Organosol Histosol Histosol
9. Podsol Podsol Podsol Spodosol
10. Podsolok Merah Kuning Podsolik Acrisol Ultisol
11. Podsolik Coklat Kambisol Cambisol Inceptisol
12. Podsolik Coklat Kekelabuan Podsolik Acrisol Ultisol
13. Regosol Regosol Regosol Entisol
14. Rendzina Rendzina Rendzina Rendoll
15. - Ranker Ranker Entisol
16. Tanah Berglei
Glei Humos
Glei Humus Rendah
Hidromod Kelabu
Alurial Hidromorf
-Gleisol
-Gleisol Humik
-Gicisol
-Podsolik Gleiik
-Gleisol Hidrik
-Gleysol
-Acrisol Gicyic
-Inceptisol
-Aquic Subordo
-Inceptisol
-Ultisol
-Inceptisol
17. Planosol Planosol Planosol Alfisol
4.4. Komposisi Tanah
Tanah adalah himpunan material, bahan organik dan endapan-endapan yang relative lepas
(loose), yang terletak di atas batuan dasar (bedrock). Ikatan antara butiran yang relative
lemah dapat disebabkan oleh karbonat, zat organik, atau oksida-oksida yang mengendap di
antara partikel-partikel. Ruang di antara partikel-partikel dapat berisi air, udara ataupun
keduanya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komposisi tanah terdiri atas:
a. Mineral dan bahan organic
b. Air (water)
c. Udara (air)
Gambar 4.1. Sketsa butiran tanah (solid) dan rongga (pori) dalam tanah
Fisika Tanah - 31
4.4.1. Bahan Mineral
Bahan mineral dalam tanah berasal dari hasil pelapukan batu-batuan. Bahan mineral dapat
dibedakan menjadi:
1. Fraksi tanah halus (fine earth fraction) yang berukuran < 2 mm. Mineral yang masuk
fraksi tanah halus adalah: pasir ukuran 2mm – 50m, debu ukuran 50m – 2m, dan
lempung ukuran < 2m.
2. Fragmen batuan (rock fragment) yang berukuran 2 mm sampai ukuran horisontalnya
lebih kecil dari sebuah pedon. Mineral yang masuk fragmen batuan adala: Kerikil,
kerakal, dan batu.
Mineral tanah dapat dibedakan menjadi mineral primer dan sekunder. Mineral primer yaitu
mineral yang berasal langsung dari batuan yang lapuk. Mineral primer umumnya terdapat
dalam fraksi pasir dan debu. Mineral sekunder adalah mineral bentukan baru yang
terbentuk selama pembentukan tanah, misalnya fraksi liat.
Tabel 4.5 Beberapa jenis mineral tanah dan unsure hara
Mineral Unsur Hara
Kwarsa (SiO2) -
Kalsit Ca
Dolomit Ca, Mg
Feldspar: Ortoklas
Plagioklas
K
Na, Ca
Mika: Muskovit
Biotit
K
K, Mg, Fe
Amfibole (hornblende) Ca, Mg, Fe, Na
Piroksin (hiperstin, augit) Ca, Mg, Fe
Olivin Mg, Fe
Leusit K
Apatit P
Sumber data : Ilmu Tanah. Sarwono Hardjowigeno, 2003
4.4.2. Bahan Organik
Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah, dengan jumlah yang tidak besar
(sekitar 3 – 5 %), namun pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah sangat besar. Adapun
pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah dan akibat terhadap pertumbuhan tanaman adalah :
a. Sebagai granulator (memperbaiki struktur tanah)
b. Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lainnya
c. Menambah kemampuan tanah untuk menahan air
Fisika Tanah - 32
d. Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur hara (kapasitas tukar kation tanah
menjadi tinggi)
e. Sumber energi bagi mikroorganisme
Bahan organik dalam tanah terdiri dari bahan organik kasar dan bahan organik halus atau
humus. Tanah yang banyak mengandung humus atau bahan organik adalah tanah-tanah
lapisan atas (top soil). Apabila suatu tanah mengandung bahan organik lebih dari 20%
pasir, atau lebih dari 30% liat dan tebalnya l;ebih dari 40 cm, maka tanah itu termasuk
tanah organic atau gambut. Kandungan bahan organik tanah dihitung dari kandungan C-
organik sebagai berikut:
Bahan organik (%) = 1,74 x C-organik (%)
4.4.3. Air (Water)
Air terdapat di dalam tanah karena ditahan/diserap oleh masa tanah, tertahan oleh lapisan
kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Guna air bagi pertumbuhan
tanaman adalah:
a. Sebagai unsur hara tanaman; tanaman memerlukan air dari tanah dan CO2 dari udara
untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses fotosintesa.
b. Sebagai pelarut unsur hara; unsur-unsur hara yang terlarut dalam air diserap oleh akar-
akar tanaman dari larutan tersebut
c. Sebagai bagian dari sel tanaman; air merupakan bagian dari protoplasma
Persediaan air dalam tanah tergantung dari beberapa hal, yaitu:
• Banyaknya curah hujan atau air irigasi
• Kemampuan tanah menahan air
• Besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui
vegetasi)
• Tingginya muka air tanah.
Dalam menentukan jumlah air tersedia bagi tanaman beberapa istilah di bawah ini perlu
dipahami:
a. Kapasitas Lapang
b. Titik Layu Permanen
c. Air Tersedia
Fisika Tanah - 33
Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air
(moisture tension) dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya
tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut di dalam tanah. Kemampuan tanah
untuk menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah bertekstur kasar
mempunyai kemampuan menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus.
4.4.4. Udara (Air)
Udara dan air mengisi pori-pori tanah. Banyaknya pori-pori di dalam tanah kurang lebih
50% dari volume tanah, sedangkan jumlah air dan udara di dalam tanah berubah-ubah.
Susunan udara di dalam tanah berbeda jika dibandingkan dengan susunan udara di
atmosfir, dengan perbedaan sebagai berikut :
• Kandungan uap air lebih tinggi; tanah-tanah yang lembab mempunyai udara dengan
kelembaban nisbi (relative humidity = RH) mendekati 100 %.
• Kandungan CO2 lebih besar daripada atmosfir ( 0,03 %)
• Kandungan O2 lebih kecil daripada di atmosfir (udara tanah terdiri dari 10 – 12 %
O2, sedangkan atmosfir terdiri dari 20 % O2
Hal ini mungkin disebabkan karena kegiatan dekomposisi bahan organik atau
pernafasan organisme hidup dalam tanah dan akar-akar tanaman yang mengambil O2
dan melepaskan CO2.
GG
Gambar 4.2. Tiga fase tanah yang terpisah dari elemen tanah,
dimana volume solid/ butiran tanah = 1
Volume suatu sampel tanah dapat dilihat pada gambar di atas, sehingga dapat dibuat
hubungannya sebagai berikut:
Fisika Tanah - 34
V = V
s
+ V
w
+ V
a
Volume pori adalah ruang yang ditempai air dan udara, atau
V
v
= V
w
+ V
a
Dengan demikian volume sampel juga dapat dihitung dengan:
V = V
s
+ V
v
Jadi angka pori (e), porositas (n), dan saturasi (S) dapat dirumuskan sebagai:
=

, =

× 100% , =

× 100%
Hubungan antara angka pori dengan porositas ditulis seperti berikut:
=


4.5. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Suatu sampel tanah yang memiliki berat lolos ayakan No. 200 sebesar 95% dengan LL
= 60 serta PI = 40. Tentukan klasifikasi tanah tersebut berdasarkan sistem AASHTO!
2. Mencari contoh soal tentang klasifikasi tanah berdasarkan sistem USCS.
3. Mencari perbandingan klasifikasi tanah berdasarkan sistem AASHTO terhadap sistem
USCS dan sebaliknya.
4.6. Daftar Bacaan
1. Braja M. Das, Nur Endah, & Indrasurya B. Mochtar, 1985, “Mekanika Teknik: Prinsip-
Prinsip Rekayasa Geoteknis)”, Erlangga, Surabaya.
2. Sarwono Hardjowigeno, 2010, “Ilmu Tanah”, Akademik Pressindo, Jakarta.
Fisika Tanah - 35
BAB 5 AIR DALAMTANAH
5.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mampu
menjelaskan defenisi, proses pembentukan dan manfaat air tanah. Untuk mencapai
kompetensi ini digunakan metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan diskusi,
kemudian dilengkapi dengan makalah dan power point yang diperoleh dari referensi selain
bahan ajar ini.
5.2. Definisi
Air yang kita gunakan sehari-hari telah menjalani siklus meteorik, yaitu telah melalui
proses penguapan (evaporation) dari laut, danau, maupun sungai; lalu mengalami
kondensasi di atmosfer, dan kemudian menjadi hujan yang turun ke permukaan bumi. Air
hujan yang turun ke permukaan bumi tersebut ada yang langsung mengalir di permukaan
bumi (run off) dan ada yang meresap ke bawah permukaan bumi (infiltration). Air yang
langsung mengalir di permukaan bumi tersebut ada yang mengalir ke sungai, sebagian
mengalir ke danau, dan akhirnya sampai kembali ke laut.
Menurut Herlambang (1996) air tanah adalah air yang bergerak di dalam tanah yang
terdapat didalam ruang antar butir-butir tanah yang meresap ke dalam tanah dan bergabung
membentuk lapisan tanah yang disebut akifer. Lapisan yang mudah dilalui oleh air tanah
disebut lapisan permeable, seperti lapisan yang terdapat pada pasir atau kerikil, sedangkan
lapisan yang sulit dilalui air tanah disebut lapisan impermeable, seperti lapisan lempung
atau geluh. Lapisan yang dapat menangkap dan meloloskan air disebut akuifer.
Air tanah (groundwater) adalah bagian dari air yang ada di bawah permukaan tanah (sub-
surface water), yakni hanya yang berada di zona jenuh (zone of saturation). Penyebaran
vertikal air bawah permukaan dapat dibagi menjadi:
 Zona tak-jenuh (zone of aeration)terisi air dan udara
 Zona jenuh (zone of saturation)seluruhnya terisi air
Air yang berada pada zona tak-jenuh disebut air gantung (vadose water). Air gantung
yang terdapat dekat permukaan hingga tersedia bagi akar tetumbuhan disebut air solum
(solumn water), dan yang tersimpan dalam ruang merambut (capillary zone) disebut air
merambut (capillary water).
Fisika Tanah - 36
Gambar 5.1. Distribusi perlapisan air tanah
Air tanah dapat kita bagi lagi menjadi dua, yakni air tanah preatis dan air tanah artesis.
a. Air Tanah Preatis
Air tanah preatis adalah air tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah serta
berada di atas lapisan kedap air / impermeable. Umumnya berasosiasi dengan akuifer yang
berada dekat permukaan hingga kedalaman 15 - 40 m.
b. Air Tanah Artesis
Air tanah artesis letaknya sangat jauh di dalam tanah serta berada di antara dua lapisan
kedap air. Umumnya berasosiasi dengan akuifer yang tersimpan pada kedalaman lebih
dari 40 m.
Gambar 5.2. Gambaran permukaan air tanah
Fisika Tanah - 37
5.3. Pembentukan dan Pergerakan Air Tanah
Infiltrasi adalah peristiwa masuknya air ke dalam tanah yang umumnya melalui permukaan
dan secara vertikal. Jika air dalam tanah tidak bergerak secara vertikal, melainkan
horizontal yang disebut rembesan lateral.
Gambar 5.2. Gambaran permukaan air tanah
Beberapa curah hujan yang jatuh ke tanah infiltrat ke dalam tanah menjadi air tanah.
Setelah di tanah, air ini bergerak dekat dengan permukaan tanah dan muncul dengan sangat
cepat sebagai debit ke streambeds, tapi, karena gravitasi, sebagian besar terus tenggelam
lebih dalam ke dalam tanah. Jika air tersebut memenuhi meja air (bawah tanah yang
jenuh), dapat bergerak secara vertikal dan horizontal. Air bergerak ke bawah juga dapat
memenuhi lebih padat dan tahan air non-pori batuan dan tanah, yang menyebabkan untuk
mengalir dengan cara yang lebih horisontal, umumnya ke arah sungai, laut, atau lebih
dalam ke dalam tanah.
Jika air tanah ingin menjadi anggota dalam performa yang baik dari siklus air, maka tidak
dapat benar-benar statis dan tinggal di mana tempatnya. Seperti ditunjukkan diagram, arah
dan kecepatan gerakan air tanah ditentukan oleh berbagai karakteristik akuifer dan lapisan
batuan bawah permukaan membatasi (yang air memiliki waktu yang sulit menembus) di
dalam tanah. Air bergerak di bawah tanah tergantung pada permeabilitas (seberapa mudah
atau sulitnya bagi air untuk bergerak) dan pada porositas (jumlah ruang terbuka dalam
materi) dari batuan bawah permukaan. Jika batu memiliki karakteristik yang
memungkinkan air bergerak relatif bebas melalui itu, maka air tanah dapat bergerak jarak
yang signifikan dalam beberapa hari. Tapi air tanah juga dapat tenggelam dalam akuifer
dalam dimana dibutuhkan ribuan tahun untuk kembali ke lingkungan, atau bahkan masuk
Fisika Tanah - 38
ke dalam penyimpanan air tanah dalam, di mana ia mungkin tinggal untuk waktu yang
lebih lama lagi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infiltrasi adalah:
 Ukuran pori
 Kandungan air tanah
 Besarnya curah hujan
 Kondisi geologi dan litologi setempat
Perkolasi adalah peristiwa masuknya air lebih dalam ke dalam tanah menjadi air bawah
tanah (ground water) yang kemudian akan masuk ke dalam sungai atau danau melalui
aliran bawah tanah (ground water flow)
Laju infiltrasi adalah banyaknya air persatuan waktu yg masuk melalui permukaan
tanah (dalam mm/jam)
Laju perkolasi adalah banyaknya air yang melalui penampang profil tanah
persatuan waktu (dalam mm/jam)
Kamampuan profil tanah melewatkan air ke dalam profil tanah disebut kapasitas
perkolasi.
5.3.1. Sifat Fisik Batuan
Sifat fisik batuan yang dapat mempengaruhi jumlah air tanah (Rock Properties Affecting
Groundwater), adalah:
 Porositas,merupakan jumlah atau persentase pori atau rongga dalam total volume
batuan atau sedimen.
 Permeabilitas,merupakan kemampuan batuan atau tanah untuk melewatkan atau
meloloskan air.
 Lapisan atau batuan yang disusun oleh material lempung yang tidak dapat
melewatkan air disebut lapisan kedap air (impermeable) dan disebut lapisan
aquiclude.Sebaliknya,batuan permeabel yang disusun oleh material kasar seperti
pasir atau kerikil yang mempunyai pori-pori yang besar,yang dapat mengalirkan air
tanah dengan mudah disebut lapisan akifer.
Fisika Tanah - 39
Air yang tersimpan di bawah tanah itu disebut air tanah. Sementara air yang tidak
bisa diserap dan berada di permukaan tanah disebut air permukaan. Permukaan air
tanah atau batas atas muka air tanah disebut water table, sementara lapisan tanah
yang terisi air tanah disebut zona saturasi air.
Gambar 5.3. Zona saturasi
 Formasi geologi permeabel (tembus air) yang dikenal sebagai aquifer (juga disebut
reservoir air tanah, fomasi pengikat air, dasar-dasar yang tembus air) yang
merupakan formasi pengikat air yang memungkinkan jumlah air yang cukup besar
untuk bergerak melaluinya pada kondisi lapangan yang biasa.
 Akiklud (atau dasar semi permeabel) yaitu suatu formasi yang berisi air tetapi tidak
dapat memindahkannya dengan cukup cepat untuk melengkapi persediaan yang
berarti pada sumur atau mata air.
Dalam perjalananya aliran air tanah seringkali melewati suatu lapisan akifer yang
diatasnya memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air (impermeable) hal ini
mengakibatkan perubahan tekanan antara air tanah yang berada di bawah lapisan penutup
dan air tanah yang berada diatasnya. Perubahan tekanan inilah yang didefinisikan sebagai
air tanah tertekan (confined aquifer) dan airtanah bebas (unconfined aquifer).
Menurut Krussman dan Ridder (1970) dalam Utaya (1990) bahwa macam-macam akifer
sebagai berikut:
a. Akifer Bebas (Unconfined Aquifer) yaitu lapisan lolos air yang hanya sebagian terisi
oleh air dan berada di atas lapisan kedap air. Permukaan tanah pada aquifer ini disebut
Fisika Tanah - 40
dengan water table (preatiklevel), yaitu permukaan air yang mempunyai tekanan
hidrostatik sama dengan atmosfer.
b. Akifer Tertekan (Confined Aquifer) yaitu aquifer yang seluruh jumlahnya air yang
dibatasi oleh lapisan kedap air, baik yang di atas maupun di bawah, serta mempunyai
tekanan jenuh lebih besar dari pada tekanan atmosfer.
c. Akifer Semi tertekan (Semi Confined Aquifer) yaitu aquifer yang seluruhnya jenuh
air, dimana bagian atasnya dibatasi oleh lapisan semi lolos air di bagian bawahnya
merupakan lapisan kedap air.
Gambar 5.4. Kemungkinan permukaan air tanah dalam bor yang tertekan
Gambar 5.5. Kemungkinan permukaan air tanah dalam bor yang bebas
d. Akifer Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer) yaitu aquifer yang bagian bawahnya
yang merupakan lapisan kedap air, sedangkan bagian atasnya merupakan material
berbutir halus, sehingga pada lapisan penutupnya masih memungkinkan adanya
gerakan air
Fisika Tanah - 41
Dengan demikian aquifer ini merupakan peralihan antara aquifer bebas dengan aquifer
semi tertekan.
Tolman (1937) dalam Wiwoho (1999) mengemukakan bahwa air tanah dangkal pada
akifer dengan material yang belum termampatkan di daerah beriklim kering menunjukan
konsentrasi unsur-unsur kimia yang tinggi terutama musim kemarau. Hal ini disebabkan
oleh adanya gerakan kapiler air tanah dan tingkat evaporasi yang cukup besar. Besar
kecilnya material terlarut tergantung pada lamanya air kontak dengan batuan. Semakin
lama air kontak dengan batuan semakin tinggi unsur-unsur yang terlarut di dalamnya.
Disamping itu umur batuan juga mempengaruhi tingkat kegaraman air, sebab semakin tua
umur batuan, maka semakin tinggi pula kadar garam-garam yang terlarut di dalamnya.
Gambar 5.6. Lapisan permeabel
Gambar 5.7. Tipe akuifer
Fisika Tanah - 42
Gambar 5.8. Kondisi geomorfologi dengan akuifer yang baik
Todd (1980) dalam Hartono (1999) menyatakan tidak semua formasi litologi dan kondisi
geomorfologi merupakan akifer yang baik. Berdasarkan pengamatan lapangan, akifer
dijumpai pada bentuk lahan sebagai berikut:
a. Lintasan air (water course), materialnya terdiri dari aluvium yang mengendap di
sepanjang alur sungai sebagai bentuk lahan dataran banjir serta tanggul alam. Bahan
aluvium itu biasanya berupa pasir dan karikil.
b. Lembah yang terkubur (burried valley) atau lembah yang ditinggalkan (abandoned
valley), tersusun oleh materi lepas-lepas yang berupa pasir halus sampai kasar.
c. Dataran (plain), ialah bentuk lahan berstruktur datar dan tersusun atas bahan aluvium
yang berasal dari berbagai bahan induk sehingga merupakan akifer yang baik.
d. Lembah antar pegunungan (intermontane valley), yaitu lembah yang berada diantara
dua pegunungan, materialnya berasal dari hasil erosi dan gerak massa batuan dari
pegunungan di sekitarnya.
e. Batu gamping (limestone), air tanah terperangkap dalam retakan-retakan atau diaklas-
diaklas. Porositas batu gamping ini bersifat sekunder.
Batuan vulkanik, terutama yang bersifat basal. Sewaktu aliran basal ini mengalir, ia
mengeluarkan gas-gas. Bekas-bekas gas keluar itulah yang merupakan lubang atau pori-
pori dapat terisi air.
5.3.2. Gerakan Air Tanah
Di samping air tanah bergerak dari atas ke bawah, air tanah juga bergerak dari bawah ke
atas (gaya kapiler). Air bergerak horisontal pada dasarnya mengikuti hukum hidrolika, air
bergerak horisontal karena adanya perbedaan gradien hidrolik. Gerakan air tanah
Fisika Tanah - 43
mengikuti hukum Darcy yang berbunyi “volume air tanah yang melalui batuan berbanding
lurus dengan tekanan dan berbanding terbalik dengan tebal lapisan.
Pada tahun 1856, Darcy memperkenalkan suatu persamaan sederhana yang digunakan
untuk menghitung kecepatan aliran air yang mengalir dalam tanah jenuh, dinyatakan
sbagai berikut
v = k i dengan =

dimana :
v = kecepatan aliran,
k = koefisien rembesan
i = garadien hidrolik
L = panjang aliran air
Gambar 5.9. Tekanan, elevasi, dan tinggi total energy untuk aliran air dalam tanah
Gambar 5.10. Variasi kecepatan aliran dengan gradien hidrolik dalam tanah Lempung
Fisika Tanah - 44
Apabila jumlah air yang mengalir tanah dala satu satuan waktu disebut debit dan ditulis:
Q = Av = A
v
v
s
di mana:
v
s
= Kecepatan rembesan yang melalui pori-pori tanah
A
v
= luas pori-pori penampang melintang sampel tanah.
5.3.3. Mutu Air Tanah
Sifat fisika dan komposisi kimia air tanah yang menentukan mutu air tanah secara alami
sangat dipengaruhi oleh jenis litologi penyusun akuifer, jenis tanah/batuan yang dilalui air
tanah, serta jenis air asal air tanah. Mutu tersebut akan berubah manakala terjadi intervensi
manusia terhadap air tanah, seperti pengambilan air tanah yang berlebihan, pembuangan
libah, dll Air tanah dangkal rawan (vulnerable) terhadap pencemaran dari zat-zat pencemar
dari permukaan. Namun karena tanah/batuan bersifat melemahkan zat-zat pencemar, maka
tingkat pencemaran terhadap air tanah dangkal sangat tergantung dari kedudukan akuifer,
besaran dan jenis zat pencemar, serta jenis tanah/batuan di zona takjenuh, serta batuan
penyusun akuifer itu sendiri. Mengingat perubahan pola imbuhan, maka air tanah dalam di
daerah-daerah perkotaan yang telah intensif pemanfaatan air tanahnya, menjadi sangat
rawan pencemaran, apabila air tanah dangkalnya di daerah-daerah tersebut sudah tercemar.
Air tanah yang tercemar adalah pembawa bibit-bibit penyakit yang berasal dari air (water
born diseases).
5.3.4. Manfaat air tanah dalam kehidupan
Air sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, binatang, dan tetumbuhan. Adapun
manfaat dalam kehidupan adalah:
a. makin banyak air tanah debet air dalam tanah akan bertambah
b. air tanah mempengaruhi kontinuitas debet air sungai
c. air tanah mempengaruhi sumber air pada sentral PLTA
d. air tanah sebagai persediaan air minum penduduk dan irigasi
e. air tanah berpengaruh terhadap kelangsungan tumbuh-tumbuhan, hewan, dan
manusia
5.3.5. Pelestarian Air Tanah
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengisi persediaan air tanah adalah dengan
melubangi tanah dengan diameter 5 cm dan kedalaman 50 cm hingga 1 meter. Hal ini
Fisika Tanah - 45
bertujuan selain mengurangi risiko banjir, juga agar pada saat hujan, air hujan yang turun
dapat terserap oleh tanah dan menuju pada titik air tanah.
Selain itu, bagi Anda yang kerap menggunakan jasa hotel berbintang, hendaknya
menggunakan air yang telah menjadi fasilitas Anda di kamar hotel dengan sebijak
mungkin. Upayakan sebisa mungkin hindari berendam di bathtube yang akan
menghabiskan air dalam volume yang sangat banyak.
Perilaku merusak lingkungan (khususnya air sebagai sumber daya alami) sudah mengakar
di berbagai lapisan masyarakat. Eksistensi dan daya juang kelompok pecinta lingkungan di
beberapa daerah, setidaknya telah berhasil memberikan edukasi dan penyadaran bertahap
kepada masyarakat. Namun, hal ini tidaklah menghentikan perusakan yang dilakukan baik
oleh masyarakat secara langsung maupun oleh pemerintah melalui sistem dan kebijakan
yang tidak memihak pada pelestarian air tanah.
Apa yang dilakukan kelompok pencinta lingkungan tersebut baru menyentuh sebagian
kecil dari permasalahan memuliakan air. Tindakan nyata masyarakatlah, entah itu berupa
upaya tidak mendukung perusakan air entah melakukan kampanye pemuliaan air di
lingkungan sendiri, yang paling mujarab dalam menangani permasalahan air yang tiap
tahun menjadi perhatian serius dari para pencinta lingkungan, tak hanya di Indonesia,
tetapi juga di dunia.
5.3.6. Pencemaran Air
Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya. Jadi pencemaran air
tanah adalah suatu keadaan air tersebut telah mengalami penyimpangan dari keadaan
normalnya. Ada banyak indikator yang menunjukkan tingkat pencemaran air tanah, yang
harus dilakukan di laboratorium. Namun secara sederhana air tanah yang tercemar juga bisa
dikenali lewat pengamatan fisik. Untuk mendapatkan air tanah dengan kualitas baik, sumur
harus dibuat dengan kedalaman tertentu. Sumur yang terlalu dangkal akan terisi air
permukaan, yang lebih mudah terkontaminasi oleh cemaran atau polutan.
Sumber pencemaran terdiri dari polutan alami (mineral dan mikroorganisme) serta polutan
buatan. Polutan buatan manusia seperti residu (sisa) bahan kimia umumnya lebih berbahaya
dibandingkan polutan alami. Polutan buatan bisa datang dari limbah rumah tangga, industri
Fisika Tanah - 46
maupun pertanian. Dari rumah tangga antara lain berupa air sabun bekas cucian. Dari
industri lebih beragam, sementara dari pertanian antara lain pupuk dan pestisida.
Air bersih yang layak untuk dikonsumsi seharusnya tidak berbau, tidak berasa dan tidak
berwarna. Adanya pencemaran menyebabkan perubahan pada sifat tersebut. Tanda-tanda
bahwa air tanah sudah tercemar dapat dikenali melalui pengamatan fisik. Beberapa di
antaranya adalah:
a. Warna kekuningan akan muncul jika air tercemar chromium dan materi organik. Jika
air berwarna merah kekuningan, itu menandakan adanya cemaran besi. Sementara
pengotor berupa lumpur akan memberi warna merah kecoklatan.
b. Kekeruhan juga merupakan tanda bahwa air tanah telah tercemar oleh koloid (bio zat
yang lekat seperti getah atau lem). Lumpur, tanah liat dan berbagai mikroorganisme
seperti plankton maupun partikel lainnya bisa menyebabkan air berubah menjadi keruh.
c. Polutan berupa mineral akan membuat air tanah memiliki rasa tertentu. Jika terasa
pahit, pemicunya bisa berupa besi, alumunium, mangaan, sulfat maupun kapur dalam
jumlah besar.
d. Air tanah yang rasanya seperti air sabun menunjukkan adanya cemaran alkali.
Sumbernya bisa berupa natrium bikarbonat, maupun bahan pencuci yang lain misalnya
detergen.
e. Sedangkan rasa payau menunjukkan kandungan garam yang tinggi, sering terjadi di
daerah sekitar muara sungai.
f. Bau yang tercium dalam air tanah juga menunjukkan adanya pencemaran. Apapun
baunya, itu sudah menunjukkan bahwa air tanah tidak layak untuk dikonsumsi.
5.4. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Sebuah sampel dibuat sedemikian sehingga berbentuk silinder untuk diukur koefisien
rembesannya dengan luas 80 cm
2
dan tinggi 100 cm. Bila tinggi jatuh air yang
digunakan dari lubang pengeluaran adalah 1,5 m, maka volume air yang tertampung
selama 10 menit adalah 25 mL. Berapa koefisien rembesan sampel tersebut?
2. Uraikan manfaat air tanah bagi kehidupan manusia.
3. Mencari dari literatur tentang gambar siklus hidrologi yang lengkap kemudian
dijelaskan.
Fisika Tanah - 47
5.5. Bacaan
1. Braja M. Das, Nur Endah, & Indrasurya B. Mochtar, 1985, “Mekanika Teknik: Prinsip-
Prinsip Rekayasa Geoteknis)”, Erlangga, Surabaya.
2. Sarwono Hardjowigeno, 2010, “Ilmu Tanah”, Akademik Pressindo, Jakarta.
Fisika Tanah - 48
BAB 6 KONSEVASI TANAH DAN AIR
6.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mampu
menjelaskan arti, jenis, dan proses-proses dalam konservasi tanah dan air. Untuk mencapai
kompetensi ini digunakan metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan diskusi,
kemudian dilengkapi dengan makalah dan power point yang diperoleh dari referensi selain
bahan ajar ini.
6.2. Definisi
Konservasi tanah dalam arti luas adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara
penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai
dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Dalam arti yang
sempit konservasi tanah diartikan sebagai upaya untuk mencegah kerusakan tanah oleh
erosi dan memperbaiki tanah yang rusak oleh erosi. Sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi
tanah menentukan kemampuan tanah (soil capability) untuk suatu penggunaan dan
perlakuan yang diperlukan agar tanah tidak rusak dan dapat digunakan secara
berkelanjutan (sustainable). Sifat-sifat tanah tersebut juga menentukan kepekaan tanah
untuk tererosi. Sistem penilaian tanah untuk maksud menentukan kemampuan tanah,
dirumuskan di dalam Sistem Klasifikasi Kemampuan Lahan (Land Capability
Classification).
Sistem klasifikasi tanah ini ditujukan untuk :
1. Mencegah erosi
2. Memperbaiki tanah yang rusak
3. Memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar tanah dapat digunakan secara
berkelanjutan (lestari).
Dengan demikian, maka konservasi tanah tidaklah berarti penunndaan penggunaan tanah
atau pelarangan penggunaan tanah, melainkan menyesuaikan macam dan cara penggunaan
tanahdengan kemampuan tanah serta memberikan perlakuan sesuai dengan syarat yang
diperlukan agar tidak rusak dan dapat berfungsi secara berkelanjutan. Inilah kaedah
konservasi tanah.
Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk
pertanian seefesien mungkin, dan mengatur waktu aliranagar tidak terjadi banjir yang
merusakdan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau.
Fisika Tanah - 49
Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air. Setiap
perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu
dan tempat-tempat dihilirnya. Oleh karena itu, konservasi tanah dan konservasi air
merupakan dua hal yang berhubungan erat sekali. Berbagai tindakan konservasi tanah juga
merupakan tindakan konservasi air.
Berdasarkan hubungan ini,maka tanggung jawab sektor pertaniandalam masalah air ada
dua yaitu:
1. Memelihara jumlah, waktu aliran dan kualitas air
2. Mengoptimalkan manfaat air melalui penerapan cara-cara penggunaan air unutk
pertanian yang efisien (Renne,1960).
Persoalan konservasi tanah dan air adalah kompleks dan memerlukan kerjasama yang erat
antara berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti ilmu tanah, biologi, hidrologi dan teknik
konservasitanah dan air. Pada akhirnya pengembangan dan penerapan konservasi tanah
dan air ditentukan oleh berbagai aspek sosial, ekonomi dan budaya manusia.
6.3. Erosi
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari
suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-
bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan ditempat
lain. Pengikisan dan pengangkutan tanah tersebut terjadi oleh media alami yaitu air dan
angin.
Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan
oleh kekuatan air. Didaerah beriklim basah erosi oleh air yang lebih penting, sedangkan
erosi oleh angin tidak begitu berarti. Erosi oleh angin merupakan peristiwa sangat penting
di daerah beriklim kering. Indonesia adalah daerah tropika yang umumnya beriklim basah,
maka pembahasan akan berpusat pada masalah erosi oleh air.
Beberapa macam erosi yang dikenal dalam kamus konservasi tanah dan air yaitu erosi
geologi, erosi normal, dan erosi dipercepat. Erosi geologi adalah erosi yamg terjadi sejak
permukaan bumiterbentuk yang menyebabkan terkikisnya batuan, sehingga terjadi bentuk
morfologi permukaan bumi seperti yang terdapat sekaramg ini. Erosi normal, juga disebut
erosi alami merupakan proses pengangkutan tanah atau bagian-bagian tanah yang terjadi di
bawah keadaan alami. Erosi alam terjadi dengan laju yang lambatyang memungkinkan
Fisika Tanah - 50
terbentuknya tanah yang tebal dan mampu mendukung pertumbuhan vegetasi secara
normal. Erosi dipercepat adalah pengangkutan tanah dengan laju yang lebih cepat dari
erosi normal dan lebih cepat dari pembentukan tanah yang menimbulkan kerusakan tanah,
sebagai akibat perbuatan manusia yang menghilangkan tumbuhan penutup tanah.
Meskipun kedua macam erosi tersebut terjadi, hanya erosi dipercepat yang menjadi
perhatian konversi tanah dan digunakan dalah istilah erosi.
Menurut bentuknya, erosi dibedakan dalam erosi lembar, erosi alur, erosi internal. Erosi
yang terjadi pada tanggul atau tepi saluran irigasi atau drainase dapat berbentuk salah satu
dari bentuk tersebut.
6.3.1. Erosi Lembar
Erosi lembar (sheet erosion) adalah pengangkutan lapisan tanah yang merata tebalnya dari
suatu permukaan tanah. Kekuatan butir-butir hujan dan aliran permukaan yang merata di
atas permukaan tanah merupakan penyebab erosi ini. Dari segi energi, pengaruh butir-butir
hujan mungkin lebih besar karena kecepatan jatuhnya sekitar 6 smapai 10 m detikˉˡ,
sedangkan kecepatan aliran air di permukaan tanah berkisar antara 0,3 sampai 0,6 m/s deti.
Kehilangan lapisan dari permukaan tanah adalah seragam tebalnya, maka bentuk erosi
lembar tidak segera nampak. Jika proses erosi telah berjalan lanjut barulah disadari, yaitu
setelah tanaman mulai ditanam di ataslapisan bawah tanah (subsoil) yang tidak baik bagi
pertumbuhan tanaman. Erosi lembar disebut juga erosi antara alur atau interrill erosion.
6.3.2. Erosi Alur
Erosi alur (rill erosion) adalah pengangkutan tanah dari alur-alur tertentu pada permukaan
tanah, yang merupakan parit-parit kecil dan dangkal. Erosi alur terjadi karena air mengalir
di permukaan tanah tidak merata, tetapi terkonsentrasi pada alur tertentu, sehingga
pengangkutan tanah terjadi pada tempat aliran permukaan terkonsentrasi. Kecenderungan
terjadinya erosi alur lebih dipengaruhi oleh cara bertanam dan sifat fisik tanah dari pada
oleh sifat hujan.
Alur yang terjadi masih dangkal dan dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah. Erosi
alur biasanya terjadi pada tanah-tanah yang ditanami dengan tanaman yang ditanam
berbaris menurut lereng, atau akibat pengolahan tanah menurut lereng, atau bekas jalur
menarik balok kayu. Erosi lembar dan erosi alur lebih banyak dan luas terjadinya dari pada
erosi bentuk lain.
Fisika Tanah - 51
6.3.3. Erosi Parit
Erosi parit (Gully erosion) proses terjadinya sama dengan erosi alur, tetapi alur yang
terbentuk sudah demikian besarnya sehingga tidak dapat lagi dihilangkan dengan
pengolahan tanah biasa. Erosi parit yang baru terbentuk berukuran sekitar 40 cm lebarnya
dengan kedalaman sekitar 30 cm. Erosi parit yang sudah lanjut dapat mencapai 30 cm
dalamnya.
Erosi parit dapat berbentuk V atau U, bergantung pada kepekaan erosi substratanya.
Bentuk V adalah bentuk yang umum terdapat, tetapi pada daerah yang substratanya yang
mudah lepas yang umumnya berasal dari batuan sedimen, maka akan terjadi bentuk U.
Tanah-tanah yang telah mengalami erosi parit sangat sulit dijadikan untuk tanah pertanian.
Diantara kedua bentuk tersebut, bentuk U lebih sulit diperbaiki dari pada bentuk V. Erosi
parit juga dikenal dengan nama ravine.
6.3.4. Erosi Tebing Sungai
Energi tebing sungai (river bank erosion) terjadi sebagai akibat pengikisan tebing sungai
oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing atau oleh terjangan aliran sungai yang kuat
pada belokan sungai. Erosi tebing akan terjadi lebih hebat, jika vegetasi penutup tebing
tidak ada atau jika pengolahan tanah sampai ke pinggir tebing sungai. Oleh karena itu,
sangat penting memelihara satu strip tumbuhan sepanjang sungai untuk mencegah erosi
tebing. Strip tumbuhan, berupa rumput, semak atau hutan disepanjang sungai yang disebut
riparian strip (strip atau jalur riparian) merupakan metode untuk mencegah terjadinya erosi
tebing.
6.3.5. Longsor
Longsor (landslide) adalah suatu bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan atau
gerakan tanah yang terjadi pada saat bersamaan dalam volume besar. Berbeda dari bentuk
erosi lainnya, pada tanah longsor pengangkutan tanah dalam volume besar terjadi
sekaligus. Longsor terjadi sebagai akibat meluncurnya suatu volume tanah diatas suatu
lapisan agak kedap air yang jenuh air. Lapisan kedap air tersebut terdiri atas liat atau
mengandung liat tinggi atau batuan lain seperti lapal liat (clay shale) yang setelah jenuh air
berlaku sebagai tempat meluncur.
Akan terjadi longsor jika terpenuh tiga keadaan, yaitu ;
Fisika Tanah - 52
1. Lereng yang cukup curam, sehingga volume tanah dapat bergerak atau meluncur ke
bawah.
2. Terdapat lapisan di bawah permukaan tanah yang kedap air dan lunak yang merupakan
bidang luncur.
3. Terdapat cukup air dalam tanah, sehingga lapisan tanah tepat dia atas lapisan kedap air
menjadi jenuh.
Lapisan kedap atau agak kedap air biasanya terdiri dari lapisan liat atau mengandung liat
tinggi, tetapi mungkin juga lapisan batuan, Napal liat (clay shale). Suatu bentuk lain yang
mirip dengan tanah longsor adalah tanah yang merayap (soil creep). Pada tanah merayap,
perpindahan tanah terjadi ke bagian bawah pada suatu bidang yang sama dengan tempat
tanah semula.
6.3.6. Erosi Internal
Erosi internal adalah terangkutnya butir-butir tanah ke bawah ke dalam celah-celah atau
pori-pori tanah, sehingga tanah menjadi kedap air dan udara. Erosi internal mungkin tidak
menyebabkan kerusakan berarti karena sebenarnya bagian-bagian tanah tidak terangkut
keluar tempat tersebut, dan tanah akan baik kembali setelah dilakukan pengolahan tanah.
Akan tetapi erosi internal menyebabkan menurunnya kapasitas infiltrasi tanah dengan
cepat, sehingga aliran permukaan meningkat dan menyebabkan terjadinya erosi lembar
atau erosi alur.erosi internal juga disebut erosi vertikal.
Bentuk lain erosi yang terjadi pada tempat-tempat tertentu adalah erosi terowongan atau
piapa (piping), erosi lapik (pedestal), dan erosi mercu (pinnacle). Erosi terowongan adalah
terangkutnya bagian-bagian tanah ke bagian bawah yang menimbulkan lubang memanjang
ke bawah, membentuk semacam pipa dan hanya terjadi pada tanah-tanah yang biasanya
merupakan tanah yang buruk untuk pertanian. Erosi lapik terjadi disekitar pangkal pohon
atau batu karena tanah disekitar pangkal pohon atau batu atau kerikil tererosi oleh percikan
butir-butir hujan atau terangkut oleh aliran permukaan, sedangkan tanah yang berada
didekat pangkal pohon dan akar atau berada di bawah batu terlindung dari percikan hujan
dan tidak tererosi. Erosi merci seperti tonggak-tonggak terbuat dari tanah, yang tingginya
beberapa centimeter (cm). Tonggak-tonggak tanah tersebut mrupakan bagian tanah yang
resisten terhadap erosi atau yang tertutup batu atau kerikil. Sifat-sifat kimia dan fisik tanah
yang menyebabkan terjadinya erosi mercu tidak diketahui, akan tetapi umumnya terdapat
pada tanah-tanah mengandung Natrium berlebih dan dalam keadaan terflokulasi.
Fisika Tanah - 53
Masalah utama dari konservasi tanah adalah masalah menjaga agar tanah tidak terdispersi,
dan mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan agar tidak terjadi
pengangkutan tanah. berdasarkan hal ini, ada 3 cara pendekatan dlam konservasi tanah,
yaitu:
1. Menutup tanah dengan tumbuhan dan tanaman
2. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah, sekaligus menjaga kemampuan untuk
menyerap air
3. Mengatur aliran permukaan agar mengalir tanpa merusak permukaan tanah.
6.4. Metode Konservasi Tanah dan Air
Beberapa metode yang diterapkan dalam konsevasi tanah dan air, yaitu: metode vegetatif,
mekanik dan kimia.
6.4.1. Metode Vegetatif
Metode vegetatif adalah metode yang mempenggunakan tanaman dan tumbuhan untuk
mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan tanah. tujuannya antara lain:
a. Melindungi tanah terdapat daya perusak butir butir hujan yang jatuh
b. Melindungi tanah terhadap daya perusak air yang mengalir di permukaan tanah
c. Memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahanan air yang langsung
mempengaruhi besarnya aliran permukaan.
Metode vegetatif dapat diurai sebagai berikut:
1. Penanaman dalam strip, yaitu suatu system bercocok tanam yang beberapa jenis
tanaman dalam strip yang berselang seling pada sebidang tanah pada waktu yang sama
dan disusun memotong lereng atau menurut garis kontur.
Menurut Kell and Brown (1938) dan Tower and Gardens (1946), tipe tipe penanaman
dalam strip dapat dibagi menjadi:
a. Penanaman dalam strip menurut kontur
b. Penanaman dalam strip lapangan yang terdiri dari strip strip tanaman yang
lebarnya seragam yang dibuat memotong arah lereng umum.
c. Penanaman berselang seling antara tanaman pokok dan rumput menurut kontur.
Menurut Wischmeir and Smith (1965), ukuran strip dapat dinyatakan sebagai:
W = 27 – (3(S-6))/4
dengan W : lebar strip dalam meter dan S : kecuraman lereng dalam persen
Fisika Tanah - 54
2. Penggunaan sisa sisa atau bagian bagian tanaman dan tumbuhan, yakni dalam bentuk
pupuk yang dibenamkan ke dalam tanah baik dalam secara merata atau pun dalam
jalur jalur tertentu. Sisa sisa tanaman dapat juga ditumpuk terlebih dahulu pada tempat
tertentu dan dijaga kelembabannya sampai terjadi humifikasi sehingga berbentuk
kompos sebelum digunakan sebagai pupuk.
3. Geotekstil, adalah tekstil (barang tenun atau tenunan) permeable yang digunakan
dalam pekerjaan pekerjaan yang berhubungan dengan tanah, fondasi bangunan, dan
batuan atau bahan bahan yang digunakan dalam pekerjaan geoteknik sebagai bagian
integral proyek buatan manusia (John, 1989). Fungsinya antara lain:
a. Pemisahan dua bahan tanah (ground material) yang berbeda
b. Filtrasi, yaitu pemindahan cairan, bukan bahan padat, melalui geotekstil
c. Drainase, dimana geotekstil meningkatkan konduktivitas hidrolik local, sehingga
meningkatkan aliran ke drainase bawah tanah (sub-surface drain)
d. Pengendalian erosi
e. Stabilisasi dan penguatan lereng
f. Ameleorasi suatu tempat agar tumbuhan dapat ditanam dan tumbuh
4. Strip penyangga riparian, yakni penanaman tumbuhan berupa pohonan, rumputan, dan
semak semak atau campuran berbagai bentuk dan jenis vegetasi sepanjang tepi kiri dan
kanan sungai. Fungsinya antara lain:
a. Sungai tidak terganggu oleh aktifitas yang berkembang disekitarnya
b. Agar kegiatan pemanfaatan dan upaya peningkatan nilai manfaat sumber daya
yang ada di sungai dapat memberikan hasil secara optimal sekaligus menjaga
fungsi sungai
c. Agar daya rusak air terhadap sungan dan lingkungannya dapat dibatasi.
6.4.2. Metode Mekanik
Metode mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah dan
pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan
kemampuan penggunaan tanah. Fungsinya antara lain:
a. Memperlambat aliran permukaan
b. Menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak
c. Memperbaiki atau memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah dan memperbaiki aerasi
tanah
d. Penyediaan air bagi tanaman
Fisika Tanah - 55
Metode mekanik ini meliputi:
1. Pengolahan tanah konservasi, adalah setipa manipulasi mekanik terhadap tanah untuk
menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Langkah
langkahnya antara lain:
a. Tanah diolah seperlunya, tergantung pada kondisi fisik tanah
b. Pengolahan tanah dilakukan untuk bukan sawah pada kandungan air tanah yang
tepat
c. Gunakan herbisida ramah lingkungan untuk memberantas gulma
d. Dalamnya pengolahan selalu dirubah
e. Pengolahan tanah dilakukan menurut kontur
2. Pengolahan tanah menurut kontur, yakni menanam tanaman berdasarkan kontur dan
membentuk jalur jalur tumpukan tanah yang dibalik memanjang ke bawah searah
lereng sehingga akan terjadi konsentrasi aliran permukaan pada alur alur tersebut.
Keuntungan utama dari metode ini adalah terbentuknya penghambat aliran permukaan
yang meningkatkan penyerapan air oleh tanah dan menghindari pengangkutan tanah.
3. Guludan dan Guludan bersaluran, adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang
menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Umumnya, tinggi guludan sekitar 25
– 30 cm dengan lebar dasar sekitar 30 – 40 cm.
4. Parit pengelak, adalah salah satu cara konservasi tanah dengan membuat semacam
saluran yang memotong arah lereng atau menurut kontur dengan kemiringan yang
kecil terhadap kontur sehingga kecepatan air di dalam saluran tersebut tidak lebih dari
0,5 m/s. fungsinya adalah menampung dan menyalurkan aliran permukaan dari bagian
atau lereng dengan kecepatan rendah ke saluran pembuangan yang ditanami rumput.
5. Teras, berfungsi menurangi panjang lereng dan menahan air sehingga mengurangi
kecepatan dan jumlah aliran permukaan serta memungkinkan penyerapan air oleh
tanah.
6.4.3. Metode Kimia
Metode kimia dalam konservasi tanah dan air adalah penggunaan preparat kimia baik
berupa senyawa sintetik maupun berupa bahan alami yang telah diolah, dalam jumlah yang
relatif sedikit, untuk meningkatkan stabilitas agregat tanah dan mencegah erosi. Struktur
tanah yang stabil merupakan salah satu faktor yang berpengaruh positif terhadap
pengurangan kepekaan erosi tanah dan pertumbuhan tanaman. Bahan organik tanah sangat
Fisika Tanah - 56
berperan dalam pembentukan struktur tanah yang stabil. Bahan organik tanah berperan
sebagai reservoir unsur hara, memperbaiki struktur tanah, drainase tanah, peredaran udara
tanah (aerasi), kapasitas penahan air tanah, dan merupakan sumber energi bagi
mikroorganisme.
Setelah tanah dibersihkan dari vegetasi penutupnya dan diolah untuk usaha produksi
tanaman, bahan organik tanah akan cepat sekali menurun, sehingga kepekaan erosi tanah
cepat meningkat dan produktivitas tanah dapat dengan cepat menurun. Untuk
meningkatkan kandungan bahan organik tanah tidaklah mudah. Jika kita asumsikan untuk
menghasilkan 1 kg bahan organik tanah (humus) diperlukan sekitar 10 kg sisa-sisa
tanaman segar, maka untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah dengan 1%
diperlukan penambahan bahan sisa-sisa tumbuhan/tanaman sebanyak 200 ton haˉˡ (berat
tanah per ha sampai kedalaman 20 cm, dengan Berat Isi sebesar 1g ccˉˡ adalah 2000 ton).
Oleh karena itu, para ilmuan tanah berupaya untuk mencari atau mendapatkan bahan yang
dapat ditambahkan ke tanah dalam jumlah yang tidak terlalu banyak namun mampu
memperbaiki struktur tanah.
Menjelang tahun 1950-an telah dikembangkan preparat-preparat kimia organik sintetik
yang digunakan untuk membentuk struktur tanah yang stabil. Preparat kimia tersebut
secara umum dinamakan soil conditioner yang di dalam Bahasa Indonesia dapat disebut
“pemantap struktur tanah”. Sebenarnya istilah soil conditioner telah lama dikenal, yang
didefenisikan sebagai material (bahan) yang ditambahkan ke tanah dengan fungsi utama
memperbaiki sifat fisik tanah (stabilitas agregat, kapasitas infiltrasi, daya olah tanah dan
drainase). Dengan defenisi tersebut maka soil conditioner dapat berupa bahan anorganik
atau bahan organik, dan dapat berupa bahan sintetik atau bahan alami.
Salah satu usaha pertama dalam penggunaan senyawa organik sintetik sebagai soil
conditioner dilakukan oleh Van Bavel (1950), yang menyimpulkan bahwa senyawa
organik sintetik tertentu dapat memperbaiki stabilitas agregat tanah terhadap air secara
efektif, akan tetapi bahan yang digunakannya masih terlalu banyak sehingga terlalu mahal
untuk diaplikasikan secara luas. Diantara beberapa macam bahan yang digunakan adalah
campuran dymetyl dichlorosilane dan metyl-trichlorosilane yang dinamainya MCS. Bahan
kimia ini berupa cairan yang mudah menguap, dan gas yang terbentuk bercampur dengan
air tanah. Senyawa yang terbentuk menyebabkan agregat tanah menjadi stabil.
Fisika Tanah - 57
Pada tahun 1952 Monsanto Chemical Company mengumumkan pembuatan soil
conditioner dengan merek dagang Krillium. Pengaruh bahan ini diteliti oleh W.P. Martin
dan G.Taylor yang hasilnya dipublikasikan dalam Soil Science terbitan Juni 1952.
Beberapa macam bahan pemantap struktur tanah pada saat ini telah dikenal. Untuk
memberikan gambaran tentang cara kerja pemantap tanah, Krillium digunakan sebagai
contoh. Senyawa ini adalah garam Natrium dari Polyacrylonitrile yang terhidrolisa.
Rumus kimia acrylonitrile adalah sebagai berikut :
H H
C C
H C
N
Melalui polimerisasi akan terbentuk senyawa berantai panjang yang dinamai
Polyacrylonitrile :
H H H H
C C C C
H C H C
N N
Melalui hidrolisis, dua molekul air ditambahkan pada seriap unit membentuk ammonium
acrylate atau garam ammonium Polyacrylonitrile yang terhidrolisis. Dengan mensubtitusi
ammonium dengan H+ akan terbentuk asam polyacrylic :
H H H H
C C C C
H C=0 H C=0
O O
H H
Dengan menggantikan ion H+ pada gugusan carboxyl dengan Na+ akan didapat garam
Natrium Polycrylonitrile. Bahan tersebut di atas, di dalam literature ilmu tanah dikenal
sebagai HPAN. Senyawa organik berantai panjang ini jika Na+ terlepas, bermuatan
negatif. Butir-butir liat akan terikat menurut salah satu atau beberapa mekanisme.
Soil conditioner mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap stabilitas agregat.
Pengaruhnya berjangka lama oleh karena senyawa tersebut tahan terhadap serangan
Fisika Tanah - 58
mikroba tanah. Permeabilitas tanah dipertinggi dan erosi berkurang. Bahan tersebut juga
memperbaiki pertumbuhan tanaman semusim pada tanah liat yang berat.
Popularitas soil conditioner tidak berlangsung lama tidak disebabkan oleh mahalnya harga
preparat-preparat yang dipasarkan. Penelitian untuk mendapatkan konsep yang lebih
mantap tentang soil conditioner terus dilakukan dan dalam bulan April 1972 diadakan
symposium berjudul “Fundamentals of Soil Conditing” di Universitas Ghent, Belgia.
Penelitian-penelitian terakhir tidak hanya memberikan penekanan pada pemantapan
agregat tanah seperti yang dipedomani dalam tahun 1950-an, akan tetapi, berdasarkan
konsep yang lebih luas yaitu:
a. Pemantapan agregat tanah untuk mencegah erosi dan pencemaran. Sama dengan
konsep sebelumnya.
b. Merubah sifat-sifat hidrophobik atau hidrophibik tanah, yang demikian merubah kurva
penahanan air tanah.
c. Mengurangi atau meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, yang berarti
memperbaharui kemampuan tanah menahan unsur hara.
Selain dari pada itu, penekana terhadap prinsip pencapaian hasil ekonomis maksimum
akhir-akhir ini di Amerika Serika, telah membaharui minat terhadap soil conditioner.
Beberapa preparat kimia yang dikembangkan berdasarkan konsep tersebut diatas
dikelompokkan sebagai berikut (De Boot, Gabriels dan Van Develde, 1973):
a. Polymer tak terionisasi: Polyvinyl alcohol (PVa)
b. Polyanion :
- Polyvinyl acetate (PVa)
- Polyacrylonitrile, setengah terhidrolisis (HpPAN)
- Polyacrylic acid (PAA)
- Vinyl acetate Malic acid copolymer (VAMA)
c. Polycation : Dimethylaminoethylmetacrylate (DAEMA)
d. Dipole polymer, mempunyai gugusan positif dan negatife : Polyacrylamide (PAM)
e. Emulsi Bitume
Polymer kelompok a, b, dan c bersifat non-hidrophobik, sedangkan kelompok e bersifat
non-hidrophilik. Polymer yang dapat meningkatkan KTK adalah yang terdapat dalam
Fisika Tanah - 59
kelompok b dan e. Emulsi bitumen tergantung pada pengemulsi yang digunakan, dapat
mempunyai gugusan aktif carboxyl atau –HSO3-.
Dua contoh penggunaan soil conditioner, dikemukakan di bawah ini :
Polyacrylamide (PAM) adalah polimer non-hidrophobik mempunyai bagian aktif amide
yang mengikat bagian-bagian – OH pada butir liat melalui ikatan hydrogen sebagai
berikut:
H O
Liat OH --------- N C R Polymer
Akan tetapi, mekanisme yang terjadi mungkin juga sebagai berikut :
OH O
C NH2 + H+ C NH2H+
Kemudian mengikat bagian-bagian negative liat, atau gugus aktif berada dalam bentuk
berikut :
R
OH
C NH
Sementara yang mengikat atom-atom oksigen pada tanah liat melalui ikatan hydrogen.
PAM dicampur air dengan perbandingan volume tertentu. Emulsi yang terbentuk
disemprotkan ke permukaan tanah yang kemudian diaduk dengan cangkul atau garpu.
Pengaruh preparat ini dalam perbaikan struktur tanah dipengaruhi beberapa faktor, antara
lain (1) berat molekul polymer; berat molekul Pam sekitar 106, (2) kandungan air tanah;
kandungan air tanah yang optimum bagi pembentukan struktur tanah adalah pada titik
lengkung terbesar dalam kurva pF tanah, dan (3) konsentrasi emulsi; tanah berkadar liat
tinggi nampaknya memerlukan konsentrasi lebih kecil dari pada tanah-tanah berpasir.
Emulsi bitumen yang belum dirubah menyebabkan tanah hidrophobik, yang sangat
bermanfaat bagi pembentukan agregat tanah-tanah yang mudah mengeras dan mengurangi
penguapan air jika dicampurkan pada kedalaman 5-8 m dari permukaan tanah. Gugusan
Fisika Tanah - 60
aktif dalam keadaan ini adalah carboxyl. Untuk menjadikan tanah lebih hidrophilik maka
bagian aktif harus diganti dengan asam yang lebih keras, dengan cara sulfonasi atau
menggunakan pengemulsi mengandung asam sulfonik sehingga gugusan aktif mengandung
gugusan [HSO3]-. Emulsi bitumen dicampur dengan air dalam perbandingan tertentu
kemudian dicampurkan dengan tanah seperti telah diterangkan di atas. Pengaruh bitumen
juga sangat dipengaruhi kandungan air tanah pada saat pencampuran (De Boodt et
al.,1973).
Beberapa hasil penelitian penggunaan pemantapan struktur di Indonesia menunjukkan
hasil yang baik dalam memperbaiki sifat-sifat fisik tanah (Adi dan Kuswanda, 1982;
Herudjito, 1987).
Strategi apliksi baru yang ditujukan untuk pencegahan penyumbatan pori-pori-pori
permukaan tanah (surface sealing) dan pergerakan permukaan tanah (crusting) telah
menimbulkan minat baru terhadap preparat kimia untuk pencegahan erosi (Norton et al.,
1993dalam Zhang and Miller, 1996). Sejumlah kecil polymer, baik disemprotkan ke
permukaan tanah atau dilarutkan ke dalam air irigasi, dapat mengurangi aliran permukaan
dan erosi dengan cara mengurangi penyumbatan pori permukaan tanah dan pergerakan
permukaan tanah (Lentz et al., 1992; Levin et al., 1991). Zhang and Miller (1996) dalam
percobaan mereka pada tanah Cecil Georgia (lapisan Ap mengandung 77% pasir, 14%
debu, 9% liat dan 15 g kgˉ¹ bahan organik, dengan KTK 5,3 cmol kgˉ¹ dan ESP
(exchangeable sodium percentage) sebesar 1,9%). Tanah ini mudahmembentuk kerak
dipermukaannya. Polymer polyacrylamide (PAM) dengan merek dagang magnifloc 836A
(American Cyanamide Corp., Stamford, CT) memiliki berat molekul sebesar 15 juta g
molˉ¹. PAM tersebut didehidrasi dan dilarutka ke dalam 2,5 mol CaSO4 mˉ³ untuk
mendapatkan larutan dengan konentrasi 1 kg mˉ³. Tiga perlakuan yaitu 0,15 kg PAM haˉ¹
(PAM-15), 30 kg PAM haˉ¹(PAM-30) dengan duaualangan diberikan secara acak kepada
enam petak tanah yang masing-masing berukuran 3,5 m x 0,92 m. simulator hujan dengan
oscillating nozzeles digunakan dalam percobaan ini. Tiga simulasi hujan dilakukan dalam
jangka waktu dua minggu dengan intensitas hujan sebesar 85 mm jamˉ¹. Setiap bulan
berlangsung selama 31 menit, dan contoh aliran permukaan ditampung setiap selang waktu
3 menit. Kandungan air volumetrik diukur dengan alat TDR (time domein reflectometry)
pada 6 kedalaman (2,5; 5; 10; 14; 20; 25 cm). pengukuran kandungan air volumetric
dilakukan sebelum hujan dan setiap selang 5 menit selama hujan. Hasil penelitian Zhang
and Miller (1996) menunjukkan bahwa setelah simulasi hujan pertama laju infiltrasi tanah
Fisika Tanah - 61
yang diberi PAM secara nyata lebih itnggi dari tanpa PAM (kontrol), sedangkan laju aliran
permukaan , koefisien aliran permukaan, konsentrasi sedimen dan laju erosi tanah yang
diberi PAM lebih rendah secara nyata dari tanpa PAM (kontrol). Setelah kejadian simulasi
hujan kedua dan ketiga hasilnya mirip dengan setelah simulasi pertama kecuali bahwa
konsentrasi sedimen setelah simulasi kedua dan ketiga ini tidak berbeda nyata antara tanah
yang diberi PAM dengan kontrol. Namun rata-rata hasil penelitian ini menunjukkan
perlakuan PAM telah memperbaiki sifat-sifat fisik tanah sehingga besarnya erosi menurun
(Tabel 4.18). hasil penelitian Zhang and Miller (1996) juga menunjukkan bahwa berat isi
kerak yang terbentuk pada perlakuan PAM-15 sebesar 1,54 g cmˉ³; PAM-30 sebesar 1,55 g
cmˉ³ secara nyata lebih rendah dari berat isi kerak pada control (1,66 g cmˉ³).
Tabel 6.1 Perbandingan hasil pengamatan berbagai variable rata-rata menurut waktu hujan,
perlakuan PAM dan kejadian hujan Zhang and Miller (1996).
Kejadian
Hujan
Pelakuan
PAM
Laju
Infiltrasi
Laju
Aliran
Permukaan
Koefisien
Aliran
Permukaan
Konsentrasi
Sedimen
Laju
Erosi
------mm hˉˡ ------- mmˉˡ gLˉˡ G mˉ²
1 Kontrol
PAM (15+30
perbedaan)
38,8
83,6
*
48,6
2,8
*
0,56
0,03
*
64,6
17,3
*
52,3
0,8
*
1+2 Kontrol
PAM (15+30
perbedaan)
31,8
51,3
*
50,3
30,0
*
0,61
0.37
*
56,4
40,5
NS
47,3
20,2
*
Rata-rata Kontrol
PAM (15+30
perbedaan)
35,3
67,5
*
49,5
16,4
*
0,58
0,20
*
60,5
28,9
*
49,8
10,5
*
Keterangan: * nyata pada = 0,05; NS = tidak nyata.
6.5. Konservasi Air
Meskipun berbagai metode konservasi tanah atau cara pengendalian erosi juga
mempengaruhi rata air baik di lokasi perlakuan atau di bagian hilirnya, terdapat beberapa
metode yang khusus merupakan metode konservasi air. seperti telah dikemukakan,
konservasi air adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien
Fisika Tanah - 62
mungkin, dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak terjadi banjir yang merusak pada
musim hujan dan cukup air pada waktu musim kemarau.
Di dalam siklus air (siklus hidrologi) sebagian dari air hujan yang smapai ke permukaan
tanah akan terus mengalir ke laut sebagai aliran permukaan. Sisanya kembali ke udara baik
melalui evaporasi dari permukaan air, dari permukaan tanah dan permukaan tumbuh-
tumbuhan, maupun melalui transpirasi. Tanah berlaku sebagai penyimpan (reservoir)
sementara air berada dalam keadaan simpanan transit di dalam tanah. Terdapat waktu
tenggang sejak air masuk ke tanah sampai mengalir masuk ke dalam sungai yang
selanjutnya kembali lagi ke udara melalui penguapan. Pada akhirnya yang tersimpan
sementara di dalam tanah akan masuk ke dalam siklus air.
Evaluasi terhadap neraca air suatu tempat menjuruskan pada kesimpulan bahwa air dapat
dimanfaatkan secara lebih efisisen dari pada sekarang. Sebagai contoh, Bertrand (1996)
menunjukkan bahwa curah huja rata-rata daerah Great Plain (Amerika Serikat) adalah 500
mm per tahun. Dari 500 mm ini sekitar 60% atau 300 mm hilang melalui evaporasi; sekitar
20% atau 100 mm digunakan tanaman; sekitar 14% atau 70 mm digunakan gulma; sekitar
5% atau 25 mm mengalir ke dalam sungai; dan 1% atau 5 mm bergerak secara perkolasi ke
bagian bawah tanah. Dari 20% atau 100 mm yang dipergunakan tanaman untuk transpirasi
hanya sekitar 5% atau 5 mm yang dipergunakan oleh tanaman untuk metabolisme, sisanya
kembali ke udara melalui tanaman dan hanya berperan untuk mendinginkan tanaman.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan cara pengelolaan tanah dan lahan
menyebabkan terjadinya perubahan dalam besarnya bagian air hujan yang mengalir di atas
permukaan tanah.
Penelahaan terhadap neraca air menunjukkan bahwa konservasi air dapat dilakukan
melalui cara-cara yang dapat mengendalikan evaporasi, transpirasi dan aliran permukaan.
Meskipun demikian konservasi air adalah sulit. Oleh karena ia merupakan komponen yang
dinamik dari ekosistem. Air bergerak melalui system tersebut dengan laju yang berbeda
menurut waktu dan tempat oleh pengaruh hokum pengangkutan umum yang secara
sederhana dinyatakan sebagai berikut.
Flux (laju) = koefisien transmisi x gaya dorong
Flux (laju) dinyatakan dalam jumlah air yang terangkut dalam suatu waktu tertentu melalui
suatu satuan penampang yang tegak lurus arah gerak air. gaya dorong dinyatakan sebagai
Fisika Tanah - 63
gradient negatif dari potensial air. koefesien transmisi adalah perbandingan antara flux clan
gaya dorong. Radiasi matahari memberikan energy yang menimbulkan gaya dorong untuk
menggerakkan air dalam system tanah tanaman atmosfer. Di dalam keadaan yang
mendekati ideal, sekitar 75 sampai 85 persen radiasi netto yang diserap selama siang hari
digunakan untuk menguapkan air, 5 smapai 10 persen menjadi bagian dari pertukaran
panas dengan atmosfer oleh proses konveksi, dan sekitar 5 persen untuk fotosintesa.
Koefisien transmisi bukanlah suatu konstanta, akan tetapi merupakan suatu fungsi media
pengantar dan bahan yang dilewatkan (diangkut) yaitu air.
Perubahan-perubahan besar dalam efisiensi pemakaian air (EPA) tidak akan terjadi, oleh
karena hal ini memerlukan system umpan balik yang membutuhkan perubahan menyeluruh
hubungan antara iklim dan tanah tanaman. Akan tetapi pengelola lahan dapat merubah
kecepatan proses hidrologi pada suatu areal dan oleh karenanya dapat mempengaruhi air
sampai di permukaan lahan.
Dengan demikian, maka konservasi air dapat dilakukan dengan (A) pengelolaan dua
komponen hidrologi yaitu air permukaan dan air tanah, dan (B) peningkatan efisiensi
pemakaian air irigasi.
6.5.1. Pengelolaan Air Permukaan dan Tanah Air Tanah
Pengelolaan air permukaan dan air tanah bertujuan untuk memanfaatkan kedua komponen
hidrologi tersebut secara lebih efisien.
a. Pengelolaan Air Permukaan (Surface Water Management)
Pengelolaan air permukaan yaitu air yang berada di permukaan tanah meliputi:
1) pengendalian aliran permukaan, 2) penyadapan air, 3) meningkatkan kapasitas,
4) pengolahan tanah, 5) penggunaan bahan penyumbat tanah dan penolak air, 6) melapisi
saluran air.
(1) Pengendalian Aliran Permukaan
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan terbaik mengkonservasi air
adalah mengendalikan bagian curah hujan yang mengalir di atas permukaan tanah. Tidak
semua air yang mengalir di atas permukaan tanah akan sampai dan menjadi bagian dari air
yang mengalir di dalam sungai atau di dalam danau. Sebagian air tersebut hilang sewaktu
bergerak ke dalam sungai atau danau tersebut.
Fisika Tanah - 64
Telah banyak kali ditunjukkan bahwa cara paling efektif dalam memelihara keadaan
permukaan tanah dalam keadaan yang dapat menyerap air dan menahan air adalah
melindungi tanah tersebut agar tidak mudah terdispersi. Berbagai cara untuk mencapai
tujuan ini telah dikemukakan di dalam bagian terdahulu, seperti penutupan tanah dengan
mulsa, penambahan pupuk organikdan penggunaan bahan-bahan/preparat kimia.
Pengendalian air permukaan untuk memperpanjang waktu air tertahan di atas permukaan
tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah merupakan tujuan ahli-ahli
pertanian sejak dulu. Pengolahan tanah dan penanaman menurut garis kontur (contour
cultivation), sejak metoda konservasi yang tertua, dengan pembentukan semacam guludan
dan saluran yang searah garis kontur adalah cara yang efektif dalam memaksa air masuk ke
dalam tanah sehingga lebih banyak air yang dapat digunakan oleh tanaman. Tingkat daya
guna pengolahan tanah dan penanaman menurut kontur dalam konservasi air dan
meningkatkan produksi tanaman tergantung pada tipe tanah, intensitas, distribusi dan
jumlah curah hujan, dan panjang serta kecuraman lereng permukaan tanah. Pengolahan
tanah dan penanaman menurut kontur sangat bermanfaat di daerah agak kering yang semua
air hujannya yang kecil itu harus dapat dipergunakan oleh tanaman. Akan tetapi di daerah
beriklim basah cara ini juga bermanfaat oleh karena membantu mengalirkan air lebih
keluar lapangan dengan cara yang tidak merusak semasa curah hujan tinggi, dan menahan
air permukaan di atas tanah sewaktu curah hujan mulai berkurang.
Penenaman dalam strip yang merupakan system penanaman berselang seling antara strip
tanaman yang tumbuh rapat (umumnya rumput atau leguminosa penutup tanah) dan strip
tanaman semusim yang dibuat melintang lereng adalah tindakan konservasi yang cukup
baik. Penanaman dalam strip efektif oleh karena strip tanaman penutup tanah
memperlambat aliran permukaan, menyaring lumpur dan menyebabkan lebih banyak
waktu bagi airuntuk masuk ke dalam tanah.
Zing (dalam : Zingg and Hauser, 1959) mengembangkan suatu bentuk teras yang disebut
conservation bench terrace, yaitu suatu teras tangga atau teras bangku yang di bagian
taludnya diberi galengan seperti pada tanah sawah (Gambar 4.18). daya guna metode
konservasi air ini dapat dilihat pada Tabel 4.19. (Hauser and Cox, 1962). Pada penelitian
ini tanah ditanami dengan system pergiliran gandum – sorghum – bero. Hasil rata-rata pada
teras konservasi hampir 1,5 kali hasil pada teras berdasar lebar data dan berlereng (Tabel
6.2).
Pada percobaan lapangan di Hays, Negara bagian Kansas, Hauser dan Cox (1962)
mendapatkan bahwa teras bangku datar menghasilkan 17% lebih tinggi biji sorghum dari
pada tanah-tanah berlereng di sekitarnya. Teras bangkutersebut menahan 5% lebih bany
air dari tanah-tanah berlereng disekitarnya setiap tahun.
(2) Penyadapan atau pemanenan air (water harvesting)
Suatu bidang penelitian konservasi air yang perlu dikembangkan adalah mengenai konsep
water harvesting yang dalam bahasa Indonesia berarti
lebih mendekati kalau digunakan istilah penyadapan air. konsep ini didasarkan atas asumsi
bahwa suatu bagian lahan tertentu lebih berharga untuk diberi air dari pada bagian lainnya.
Gambar 6.1 Pengaruh Teras Datar
memperlihatkan Air yang Tersimpan Oleh Tanah dalam Musim Panas 1957 di Bushland,
Tabel 6.2 Produksi Rata-rata dari Tahun 1957
di Bushland, Texas (Hauser and Cox, 1962).
Perlakuan
1. Terras Konservasi Zingg
2. Terras berdasar lebar dan datar
3. Terras berdasar lebar berlereng
Produksi rata-rata (cwt/100 acre)
Secara potensial nilai metoda ini adalah kenyataan bahwa curah hujan setinggi 25 mm
menghasilkan 25 liter air untuk setiap satu m² lahan. Jika air hujan tersebut dibiarkan jatuh
dan masuk ke dalam tanah secara merata, mungkin sedikit sekali pengaruhnya ter
kandungan air tanah. Akan tetapi jika air tersebut dikumpulkan dan diberi kepada bidang
Fisika Tanah
Pada percobaan lapangan di Hays, Negara bagian Kansas, Hauser dan Cox (1962)
mendapatkan bahwa teras bangku datar menghasilkan 17% lebih tinggi biji sorghum dari
tanah berlereng di sekitarnya. Teras bangkutersebut menahan 5% lebih bany
tanah berlereng disekitarnya setiap tahun.
atau pemanenan air (water harvesting)
Suatu bidang penelitian konservasi air yang perlu dikembangkan adalah mengenai konsep
yang dalam bahasa Indonesia berarti pemanenan air, akan tetapi mungkin
lebih mendekati kalau digunakan istilah penyadapan air. konsep ini didasarkan atas asumsi
bahwa suatu bagian lahan tertentu lebih berharga untuk diberi air dari pada bagian lainnya.
Pengaruh Teras Datar Konvensional dan Teras Bangku Konservasi Zingg
memperlihatkan Air yang Tersimpan Oleh Tanah dalam Musim Panas 1957 di Bushland,
Texas (Hauser and Cox, 1962)
rata dari Tahun 1957-1960. Tanah dengan Beberapa Macam Teras
Texas (Hauser and Cox, 1962).
Gandum Biji Sorghum Jumlah
Terras Konservasi Zingg 204 1284 1488
Terras berdasar lebar dan datar 309 709 1018
Terras berdasar lebar berlereng 311 664 975
rata (cwt/100 acre)
Secara potensial nilai metoda ini adalah kenyataan bahwa curah hujan setinggi 25 mm
menghasilkan 25 liter air untuk setiap satu m² lahan. Jika air hujan tersebut dibiarkan jatuh
dan masuk ke dalam tanah secara merata, mungkin sedikit sekali pengaruhnya ter
kandungan air tanah. Akan tetapi jika air tersebut dikumpulkan dan diberi kepada bidang
Fisika Tanah - 65
Pada percobaan lapangan di Hays, Negara bagian Kansas, Hauser dan Cox (1962)
mendapatkan bahwa teras bangku datar menghasilkan 17% lebih tinggi biji sorghum dari
tanah berlereng di sekitarnya. Teras bangkutersebut menahan 5% lebih banyak
Suatu bidang penelitian konservasi air yang perlu dikembangkan adalah mengenai konsep
pemanenan air, akan tetapi mungkin
lebih mendekati kalau digunakan istilah penyadapan air. konsep ini didasarkan atas asumsi
bahwa suatu bagian lahan tertentu lebih berharga untuk diberi air dari pada bagian lainnya.
Konvensional dan Teras Bangku Konservasi Zingg
memperlihatkan Air yang Tersimpan Oleh Tanah dalam Musim Panas 1957 di Bushland,
1960. Tanah dengan Beberapa Macam Teras
Jumlah
1488
1018
975
Secara potensial nilai metoda ini adalah kenyataan bahwa curah hujan setinggi 25 mm
menghasilkan 25 liter air untuk setiap satu m² lahan. Jika air hujan tersebut dibiarkan jatuh
dan masuk ke dalam tanah secara merata, mungkin sedikit sekali pengaruhnya terhadap
kandungan air tanah. Akan tetapi jika air tersebut dikumpulkan dan diberi kepada bidang
Fisika Tanah - 66
tanah tertentu saja maka akan lebih banyak air yang dapat disediakan bagi pertumbuhan
tanaman. Caranya adalah dengan menutupi suatu bagian permukaan tanah dengan bahan
yang tidak tembus air atau dengan memberikan bahan kimia yang menolak air kepada
tanah tersebut, sehingga air tidak masuk ke dalam tanah akan tetapi mengalir atau dialirkan
ke bagian tanah lainnya yang ditanami dengan tanaman tertentu. Bahan-bahan yang pernah
dicoba adalah emulsi anion atau kation aspal, lembar aluminium pembungkus, karet buthyl
dan plastik polyethylene. Perlakuan yang paling memberikan harapan adalah perlakuan
emulsi aspal anion, penutupan permukaaan tanah dengan aluminium pembungkus, karet
buthyl, dan lembar plastik. Setelah dua tahun perlakuan, 100% air hujan dapat disadap.
Metoda penyadapan air lainnya yang berhasil dalam konservasi air peningkatan produksi,
dilaporkan oleh Kemper (1964). Caranya adalah dengan menanam dua baris jagung atau
sorghum di dalam strip selebar kurang lebih 60 cm, dengan jaraj antara strip selebar kurang
lebih 300 cm. tanah antara strip yang lebarnya 300 cm itu dijadikan guludan kemudian
dipadatkan dan ditutupi dengan lapisan plastik sehingga air yang jatuh di atas guludan
tersebut akan mengalir dan masuk ke dalam tanah yang bertanaman jagung atau sorghum
tersebut. Jika strip tanaman dan guludan dibuat menurut garis kontur makka secara praktis
aliran permukaan dapat dihilangkan dan semua air akan masuk ke dalam tempat tanaman
berada.
Dengan pembuatan galengan menurut kontur dan menutupi galengan yang memisahkan
barisan tanaman jagung selebar 75 100 cm dengan lapisan plastik hitam, Willis (1962) dan
Willis et al.,(1963) menyadap air dan mempergunakannya untuk meningkatkan produksi
jagung dari 25 bushel menjadi 50 bushel per acre di Manden, North Dakota , Amerika
Serikat. Daya guna system ini bersistem pada (1) penggunaan curah hujan yang rendah
tersebut secara efisien, (2) menggunakan air tanah yang bertambah di dalam barisan
tanaman jagung secara lebih baik, dan (3) meningkatkan suhu tanah yang merangsang
perkecambahan dan pertumbuhan jagung.
(3) Meningkatkan Kapasitas Infiltrasi Tanah
Kapasitas infiltrasi tanah dapat ditingkatkan dengan memperbaiki struktur tanah. Secara
umum, cara yang paling efektif dalam meningkatkan kapasitas infiltrasi atau menjaga
kapasitas infiltrasi yang tinggi adalah memberikan penutupan terhadap tanah dengan
tanaman penutup tanah atau mulsa, atau dengan memberikan bahan organik.
Fisika Tanah - 67
(4) Pengolahan Tanah
Cara pengolahan tanah mempengaruhi besarnya aliran permukaan dan infiltrasi. Beberapa
cara pengolahan tanah untuk menciptakan dan memelihara struktur tanah yang baik dalam
konservasi air adalah pengolahan tanah minimum, olah-tanam, wheel track planting, lister
planting,dan strip tillage.
Pengolahan tanah minimum merupakan cara konservasi air yang efektif disebabkan tidak
hanya oleh karena berkurangnya pemadatan tanah oleh mesin/alat pengolahan tanah, akan
tetapi juga oleh permukaan tanah yang kasar yang dapat menahan sejumlah air pada
depresi-depresi kecil pada permukaan tanah yang tidak diolah tersebut. Pada permukaan
demikian ini kemungkinan infiltrasi air lebih besar. Kapasitas simpan potensial pada
depresi-depresi mikro disebut simpanan depresi. Larson (1964) melaporkan bahwa pada
lereng kurang dari 2 persen, alur-alur yang dihasilkan oleh pengolahan dengan contour
listing mempunyai simpanan depresi sebesar 75 mm, pengolahan minimum menurut garis
kontur menyimpan sekitar 50 sampai 75 mm air, dan tanah yang permukaannya rata
sebagai hasil pengolahan tanah konvensional hanya menyimpan 12,5 mm sampai 25 mm
air. Daya guna pengolahan tanah minimum dalam pengendalian aliran permukaan dan
erosi terlihat pada hasil penelitian Meyer dan Mannering (1963) seperti tertera pada tabel
6.3
Penelitian Allmaras, Burwell, dan Voorhees (1964) di Minnesota dan Myhre (1963, dalam
Bertrand, 1966) di Mississipi menunjukkan bahwa permukaan tanah yang kasar
mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi, yang memperbesar persediaan
air dalam tanah untuk tanaman.
Tabel 6.3 Pengaruh Cara Pengolahan Tanah Terhadap Erosi Segera Setelah Pengolahan
pada Tanah Lempung Berdebu Russel.
Cara Pengolahan
Tanah
Banyak air
diberikan (mm)
Aliran
permukaan (mm) Erosi ton/ha
konvensional 130 74,25 37,4
minimum 130 46,50 19,3
(5) Penggunaan Bahan Penyumbat Tanah dan Penolak Air (Soil sealantas and water
repellents).
Pengendalian evaporasi dan kehilangan rembesan dari waduk dan saluran air merupakan
cara yang perlu dijajaki dalam konservasi air. USDA (1962 di dalam Bertrand,1966)
Fisika Tanah - 68
melaporkan bahwa bahan kimiayang menyebabkan deflokulasi tanah seperti natrium
hexamephosphat, telah diketahui berhasil dalam mengurangirembesan berbagai reservoir.
Penelitian di Laboratorium USDA Soil Conservation Service, Temple, Arizona, meliputi
penyemprotan reservoir yang sedang kering dengan senyawa-senyawa seperti aspal
dan/atau pelapisan dengan bahan pelapis seperti film plastik. Menurut Myers (1963 di
dalam Bertrand,1966) pada pelapisan dengan lapisan plastik perlu dibuatkan pagar untuk
menghindarkan kerusakan oleh ternak. Aspal bergugus aktif kation secara efektif
mengurangi rembesan jika satu galon aspal disemprotkan untuk setiap yard tanah atau
dituangkan ke dalam reservoir berair dimana lapisan emulsi aspal tersebut kemudian
membentuk lapisan yang menutupi permukaan tanah.
(6) Melapisi Saluran-saluran Air.
Dari berbagai bahan pelapis yang telah dipelajari, lembaran buthyl, film plastik, dan
prefabricated pelapis aspal merupakan pelapis yang paling baik. Lauritzen (1961)
melaporkan bahwa pengurangan seratus persen kehilangan air dengan pelapisan jarang
dapat dicapai.
b. Pengelolaan Air Tanah (Soil Water Management)
Pengelolaan air tanah, yaitu air yang berada di dalam tanah (air di dalam pori-pori tanah
dan air bebas), dilakukan dengan perbaikan drainase, pengendalian perkolasi dalam dan air
bawah permukaan tanah (interflow) dan perubahan struktur lapisan bawah tanah.
(1) Drainase
Perbaikan drainase meningkatkan efesiensi penggunaan air oleh tanaman, oleh karena
hilangnya air lebih akan memungkinkan akar tanaman berkembang lebih luas ke bagian
lebih bawah profil tanah dari pada hanya terbatas dilapisan atas yang dangkal yang akan
cepat kering jika permukaan air tanah turun.
Di daerah beriklim kering, perbaikan drainase meningkatkan efesiensi pemakaian airoleh
tanaman disebabkan berkurangnya akumulasi garam di permukaan tanah. Permukaan air
dalam tanah harus lebih dalam tempatnya di daerah beriklim kering dari pada di daerah
beriklim basah disebabkan faktor salinitas. Tanpa pengendalian salinitas akan sulit terjadi
pertumbuhan tanaman yang baik dan efesiensi penggunaan air akan sangat rendah.
Perbaikan drainas dapat dilakukan dengan fasilitas drainase permukaan, fasilitas drainase
dalam atau kombinasi keduanya.
Fisika Tanah - 69
(2) Pengendalian Perkolasi Dalam dan Aliran Bawah Permukaan (Interflow)
Jika kita memenuhi tanah dengan air maka air akan lebih bergerak ke bawah keluar dari
daerah perakaran dan tanah akan mencapai suatu keadaan kandungan air yang disebut
Kapasitas Lapang. Banyaknya air yang ditahan dilapisan atau di daerah perakaran
bervariasi tergantung pada sifat-sifat fisik tanah dan jauhnya kedudukan permukaan air
bawah tanah dari daerah perakaran. Pada tanah yang dalam dan seragam dengan
kedudukan permukaan air yang jauh (dalam) dari daerah perakaran, keadaan kapasitas
lapang sangat cepat tercapai dan kandungan air tanah daerah perakaran itu ditentukan
potensial kapiler tanah. Proses perkolasi normal di dalam tanah dapat dirubah oleh adanya
lapisan kedap air atau adanya peralihan tiba-tiba porositas lapisan tanah di bagian bawah.
Perubahan demikian ini dapat mengurangi perkolasi sehingga lebih banyak air dapat
dipergunakan tanaman.
Untuk mencegah aliran bawah permukaan (interflow) pada tanah-tanah yang tidak seragam
dan berlereng dapat dilakukan dengan menempatkan /menanamkan secara vertikal dan
menurut garis kontur lapisan penahan air dapat dipergunakan tanaman.
(3) Perubahan Struktur Lapisan Bawah
Jika suatu lapisan kedap air terdapat di suatu tempat dalam profil tanah, akar tanaman akan
terbatas pada lapisan di atas lapisan kedap tersebut dan simpanan air tanah tersebut akan
terbatas juga. Usaha-usaha untuk memecahkan lapisan kedap air secara mekanik telah
menemui berbagai tingkat keberhasilan. Smith (1951) bekerja pada lapisan liat kedap (clay
pan) di Missouri, menggunakan alat pemecah (subsoiler) sampai kedalaman 40 cm,
menunjukkan bahwa cara ini berhasil mengurangi jumlah aliran permukaan. Kohnke dan
Bertrand (1956) di Indiana melaporkan pemecahan lapisan kedap air pada kedalaman 45
cm meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah dan ketersediaan air daerah
perakaran selama satu tahun. Kemudian pengaruh tersebut hilang.
Spain dan McCuen (1956) dengan berhasil menciptakan alatpenghembus bahan organikke
dalam jalur lubang tanah yang telah dibuat oleh subsoiler chisel. Bahan organik tersebut
memenuhi lubang tadi dari permukaan tanah sampai kedalaman 45 50 cm. Swartzendruber
(1960) dari hasil evaluasinya berkesimpulan bahwa lubang bahan organik vertikaltersebut
meningkatkan masuknya air jika permeabilitas horizontal tanah melampaui permeabilitas
vertikal. Jika lapisan permukaan tanah tersebut pada mulanya kedap air, maka pengaruh
bahan organik tersebut lebih besar.
Fisika Tanah - 70
6.5.2. Meningkatkan Efisiensi Pemakaian Air Tanaman
Efesiensi pemakaian atau penggunaan air (EPA) dinyatakan dalam banyaknya hasil yang
didapat persatuan air yang digunakan, yang dapat dinyatakan dalam kilogram bahan kering
meter kubik air. Secara umum dapat dinyatakan dalam hubungan sebagai berikut :
EPA = Hasil / Jumlah air yang dipakai
Pemakaian air dapat dihitung pada beberapa tingkat yaitu pada petak sawah atau petak
usahatani, pada pintu tersier, pintu sekunder atau pada pintu primer. Pada tingkat petak
sawah atau petak usahatani komponen pemakaian air adalah
A
1
= U + S + P + L
1
Dimana A
1
adalah jumlah pemakaian air petak sawah atau petak usahatani, U adalah
eapotranspirasi, S adalah banyaknya air yang ditahan di dalam dan di atas permukaan tanah
(untuk sawah), P adalah perkolasi, dan L
1
adalh air yang keluar dari petak berupa
kebocoran-kebocoran galengan sawah dan mengalir di permukaan.
Pada tingkat tersier komponen pemakaian air adalah :
A2 = A1 + L2
Dengan A2 adalah jumlah pemakaian air yang diukur pada pintu tersier, A1 adalah
pemakaian air pada petak sawah atau petak usahatani, dan L2 adalah kehilangan air di
dalam saluran irigasi tersier (perkolasi, rembesan, dan penguapan).
Pada tingkat sekunder komponen pemakaian air adalah :
A3 = A2 + L3
Dimana A3 adalah pemakaian air yang diukur pada pintu sekunder, A2 +adalah jimlah
pemakaian air tersier, dan L3 adalah kehilangan air dalam saluran irigasi sekunder
(perkolasi, rembesan, dan penguapan).
Pada tingkat primer komponen pemakaian air adalah :
A4 = A3 + L4
Fisika Tanah - 71
Dengan A4 adalah pemakaian air yang diukur pada pintu primer, A3 adalah jumlah
pemakaian air tingkat sekunder dan L4 adalah kehilangan air selama dalam saluran primer.
Untuk meningkatkan efesiensi pemakaian air, harus ditelaah komponen-komponen
pemakaian air yang dapat dipengaruhi. Komponen pertama dalam pemakaian air adalah
evapotranspirasi (U atau ET). Jika hasil tanaman (jumlah produksi per satuan luas)
meningkat secara linier dengan evapotranspirasi maka tidak ada kesempatan untuk
meningkatkan efesiensi pemakaian air konsumtif (U atau ET). Untuk menunjukkan bahwa
efesiensi pemakaian aie (EPA) bervariasi dan dapat dirubah, secara ringkas disajikan
gambaran tentang pengaruh pupuk terhadap hasil tanaman, ET dan EPA dalam enam
kemungkinan kondisi tumbuhan atau tanaman, dengan asumsi air cukup tersedia (gambar
6.2). nilai EPA konstan jika tanaman ditumbuhkan di dalam pot-pot yang diletakkan
berjauhan dan permukaannya ditutup sehingga tidak ada evaporasi seperti terlihat pada
model A gambar 6.2. model B adalah data yang didapat dari lysimeter atau pot yang tidak
cukup terlindung dari panas pantulan (advected heat). Model C adalah untuk padi sawah.
Model D berlaku untuk tanaman umumnya dilapangan yang ar dan tajuknya cukup, yang
memungkinkan ET mencapai nilai potensialsehubungan dengan energi yang tersedia.
Model E berlakuuntuk tanaman nenas yang stomatanya tertutup pada siang hari. Model F
berlaku untuk keadaan jika air tersedia meningkat, akan meningkatkan ET akan tetapi
secara relatif kurang pengaruhnya terhadap hasil. Dari EPA, ET dan hasil seperti
digambarkan di atas, maka untuk meningkatkan EPA usaha yang paling mudah adalah
meningkatakan hasil tanaman (produksi per satuan luas) dengan menggunakan varietas
yang lebih unggul dan penggunaan sarana produsi seperti pupuk dan pestisida secara lebih
baik. Pada tanah-tanah bukan sawah (tanah darat) EPA dapat juga ditingkatkan dengan
mengurangi faktor evaporasi (E) dari ET dengan menutuppermukaan tanah dengan mulsa.
Komponen kedua dalam pemakaian air, yang dapat diperbaiki untuk meningkatkan
efesiensi pemakaian air, adalah jumlah air yang ditahan atau diberikan dalam sepetak
sawah atau petak usahatani (peubah S). Untuk tanah sawah peningkatan EPA dapat
dilakukan dengan mengurangi tinggi genangan. Telah diperlihatkan dalam bagian-bagian
sebelumnya bahwa hasil padi tidak dipengaruhi oleh tinggi genangan air di sawah atau
dalam beberapa kasus genangan rendah memberikan hasil lebih baik. Dengan mengurangi
tinggi genangan maka EPA akan meningkat. Air lebih dari pengurangan tinggi genangan
suatu areal dapat digunakan untuk mengairi areal lain sehingga luas areal yang dapat
ditanami akan bertambah. Pada tanah-tanah bukan sawah nilai S dapat dipengaruhi dengan
meningkatkan kapasitas penahan air tanah agar lebih banyak air yang tersedia bagi
tanaman.
Gambar 6.2 Enam Model Hubungan anta
Tanaman (Y), dan Efesiensi Pemakaian Air (Y/ET).
Data yang Didapat Di Lapangan dimana Hasil yang Dicapai Tergantung pada Jumlah Air
Komponen P atau rembesan air keluar daerah perakaran pada tanah yang dijadikan sawah
akan berkurang dengan terbentuknya lapisan tapak bajak yang kedap air. Pada tanah
pasir perkolasi dapat dikurangi dengan pemasangan lapisan plastik. Pada tanah bukan
sawah besaran P tidak boleh diperkecil oleh karena akan memperburuk drainase tanah.
Komponen L1 dapat dikurangi dengan mengurangi kebocoran
mengurangi atau menghilangkan air yang mengalir keluardengan pemberian air secara
terputus (intermittent). Komponen L2, L3, dan L4 secara teoritis dapat dikurangi dengan
pelapisan dengan bahan kedap air atau pemberian bahan penolak air pada saluran, akan
tetapi secara ekonomis mungkin tidak layak. Namun demikian dalam hal saluran yang
dibuat pada tanah timbunan pelapisan dengan semen misalnya harus dilakukan.
Secara keseluruhan efisiensi penggunaan air irigasi dapat ditingkatkan melalui
1. Mengurangi tinggi penggenangan
2. Mengurangi kebocoran-kebocora
Fisika Tanah
meningkatkan kapasitas penahan air tanah agar lebih banyak air yang tersedia bagi
Enam Model Hubungan antara Evapotranspirasi (ET) dengan Hasil Panen
Tanaman (Y), dan Efesiensi Pemakaian Air (Y/ET). Model E dan F juga berlaku
Data yang Didapat Di Lapangan dimana Hasil yang Dicapai Tergantung pada Jumlah Air
yang Tersedia (Viets,1962)
rembesan air keluar daerah perakaran pada tanah yang dijadikan sawah
akan berkurang dengan terbentuknya lapisan tapak bajak yang kedap air. Pada tanah
pasir perkolasi dapat dikurangi dengan pemasangan lapisan plastik. Pada tanah bukan
tidak boleh diperkecil oleh karena akan memperburuk drainase tanah.
Komponen L1 dapat dikurangi dengan mengurangi kebocoran-kebocoran galengan dan
mengurangi atau menghilangkan air yang mengalir keluardengan pemberian air secara
omponen L2, L3, dan L4 secara teoritis dapat dikurangi dengan
pelapisan dengan bahan kedap air atau pemberian bahan penolak air pada saluran, akan
tetapi secara ekonomis mungkin tidak layak. Namun demikian dalam hal saluran yang
pelapisan dengan semen misalnya harus dilakukan.
keseluruhan efisiensi penggunaan air irigasi dapat ditingkatkan melalui
engurangi tinggi penggenangan atau banyak air yang diberikan,
kebocoran saluran irigasi dan galengan,
Fisika Tanah - 72
meningkatkan kapasitas penahan air tanah agar lebih banyak air yang tersedia bagi
ra Evapotranspirasi (ET) dengan Hasil Panen
Model E dan F juga berlaku untuk
Data yang Didapat Di Lapangan dimana Hasil yang Dicapai Tergantung pada Jumlah Air
rembesan air keluar daerah perakaran pada tanah yang dijadikan sawah
akan berkurang dengan terbentuknya lapisan tapak bajak yang kedap air. Pada tanah-tanah
pasir perkolasi dapat dikurangi dengan pemasangan lapisan plastik. Pada tanah bukan
tidak boleh diperkecil oleh karena akan memperburuk drainase tanah.
kebocoran galengan dan
mengurangi atau menghilangkan air yang mengalir keluardengan pemberian air secara
omponen L2, L3, dan L4 secara teoritis dapat dikurangi dengan
pelapisan dengan bahan kedap air atau pemberian bahan penolak air pada saluran, akan
tetapi secara ekonomis mungkin tidak layak. Namun demikian dalam hal saluran yang
pelapisan dengan semen misalnya harus dilakukan.
keseluruhan efisiensi penggunaan air irigasi dapat ditingkatkan melalui :
Fisika Tanah - 73
3. Peningkatan produktivitas melalui penggunaan bibit unggul dan sarana produksi yang
lebih baik,
4. Penggiliran pemberian air,
a. pergiliran berdasarkan saluran sekunder,
b. berdasarkan saluran tersier, atau
c. berdasarkan petak sawah.
Pergiliran (penggolongan) (a) dan (b) adalah yang lebih mudah dilakukan disbanding
dengan cara (c).
5. Pemberian air secara terputus (intermittent).
Penelitian mengenai efisiensi pemakaian air cukup banyak dilakukan. Beberapa hasil
penelitian tersebut disajikan pada Tabel 6.4. Pemakaian air dengan pemberian air pada
keadaan macak-macak (tinggi air sekitar 0 cm) lebih efisien dari pada pemberian air
dengan penggenangan 5 cm. pengolahan dangkal lebih efisien dalam pemberian air dari
pada pengolahan dalam. Pelumpuran lebih efisien dari pengemburan.
Tabel 6.4 Pengaruh Tinggi Penggenangan dan Waktu Pemberian Air terhadap Efesiensi
Pemakaian Air Padi Sawah dan Kedelai di Sukamandi (Balitbang Deptan, 1987).
Pemberian Air Jumlah Air yang
digunkan
(m³haˉˡ)
Frekuensi
pemberian
Air
Hasil gabah
(t haˉˡ)
Efisiensi
Pemakaian Air
(kg mˉ³air)
Padi Sawah Musim Kemarau 1981 dan 1981
-pengenangan 5 cm
-macak-macak
18.300
5.888
-
-
5,42
5,61
0,30
0,95
Tanaman Kedelai Musim Kemarau 1981
- 100 – 110% K.L.
- 78 – 100% K.L.
- 70 – 100% K.L.
3.416
2.562
1.312
414
8
1,09
1,10
1,11
0,32
0,43
0,85
Catatan : K.L. Kapasitas Lapang
6.6. Kualitas Air
Kualitas air menyatakan tingkat kesesuaian air untuk dipergunakan bagi pemenuhan
tertentu bagi kehidupan manusia, seperti untuk mengairi tanaman, minuman ternaknya dan
kebutuhan manusia langsung seperti untuk minum, mandi, mencuci dan sebagainya.
Kualitas air ditentukan oleh kandungan sedimen tersuspensi dan bahan kimia yang terlarut
di dalam air tersebut.
Fisika Tanah - 74
Tabel 6.5 Pengaruh Tinggi genangan air dan cara pengolahan tanah terhadap efisiensi
pemakaian air padi sawah di Cihea, Ciancur, Jawa Barat (Abdullah Abas id.dan
Abdurrachman,1985).
Perlakuan Pemakaian Air
(mm)
Hasil Gabah
(ton/ha)
Efisiensi
Penajakan Air
Tinggi genangan
-penggenangan 5 cm
-Macak-macak
Pengolahan Tanah
-Dangkal, dilumpurkan
-Dangkal, digemburkan
-Dalam, dilumpurkan
-Dalam, digemburkan
2077,7
1194,8
1605,7
1575,7
1724,3
1638,4
1830,0
588,8
1105,2
1149,8
1186,7
1395,9
4,09
4,08
4,27
4,10
3,92
4,05
5,42
5,61
5,42
5,42
5,67
5,56
1,97
3,42
2,66
2,60
2,27
2,47
2,96
9,53
4,90
4,71
4,78
3,98
Catatan :
a = Rata-rata Musim Hujan 1980/1981
b = Rata-rata Musim Kemarau 1980/1981
Pengolahan Dangkal = 20 cm
Pengolahan Dalam = 40 cm
Dilumpurkan = kadar air sampai jenuh
Digemburkan = kadar air sekitar kapasitas lapang
Tanah Glei Humus Rendah (Vertic Tropaquept), pada ketinggian 263 m d.p.l.
Pengaruh sedimen yang tersuspensi ditentukan oleh sifat sedimen itu sendiri dan keaadaan
tanah tempat sedimen terendapkan.sedimen yang berasal dari daerah yang subur akan
mempersubur dan memperbaiki tekstur tanah berpasir tempatnya mengendap. Akan tetapi
sedimen yang berasal dari daerah miskin dan mengalami erosi yang parah akan
memiskinkan tanah yang diendapinya, dan akan meninggikan permukaan tanah serta dapat
mengurangi permeabilitas tanah.selain dari pada itu kandungan sedimen yang tinggi akan
mempercepat pendangkalan saluran-saluran irigasi yang menyebabkan meningkatnya
biaya pemeliharaan. Air yang berasal dari air bawah tanah tidak mengandung sedimen
yang dapat memberikan dampak negatif. Air yang berasal dari reservoir biasa juga kurang
mengandung sedimen.
Bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam air mempengaruhi kesesuaian air bagi
pemenuhan banyak keperluan manusia. Sifat air irigasi yang terpenting yang
mempengaruhi kesesuaiannya untuk irigasi adalah :
1. konsentrasi total garam terlarut,
a b a b a b
2. perbandingan Natrium terhadap kation lainnya,
3. konsentrasi unsur-unsur secara potensial yang merupakan racun bagi tanaman,
4. konsentrasi bikarbonat sehubungan dengan konsentrasi Kalsium dan Magnesium
(USDA, 1954).
Jumlah garam terlarut biasanya di tentukan dengan dayah hantar
yang dinyatakan dalam millimhos (mmhos) per cm. hubungan antar konduktivitas dengan
kandungan garam larut yang dinyatakan dalam parts per million (ppm) tertera pada gambar
6.4. perbandingan antara kandungan natrium dengan katio
air, dinyatakan dengan nisba jerapan natrium (
SAR, dihitung dengan persamaan :
SAR =
˖
˖˖ ˖˖¡
denagn Na++, Ca++ dan Mg++ adalah konsentrasi kation tersebut di dalam air dinyatakan
dalam miliekivalen perliter
konduktivitas dan SAR dinyatakan pada gambar
bagi tanaman untuk tumbuh dengan normal, pada keadaan tertentu dengan konsentrasi 1/3
ppm dapat merupakan racun bagi tanaman. Kepekaan beberapa jenis tanaman terhadap
Boron dalam air irigasi disajikan pada tabel
dalam air dapat menyebabkan terendapnya Ca dan Mg dalam bentuk CaCO3 dan MgCO3,
yang mengakibatkan meningkatnya SAR air.
Gambar 6.3 Hubungan antara konsentrasi garam terlarut dalam air irigasi
Fisika Tanah
ium terhadap kation lainnya,
unsur secara potensial yang merupakan racun bagi tanaman,
konsentrasi bikarbonat sehubungan dengan konsentrasi Kalsium dan Magnesium
Jumlah garam terlarut biasanya di tentukan dengan dayah hantar listrik (konduktivitas) air
yang dinyatakan dalam millimhos (mmhos) per cm. hubungan antar konduktivitas dengan
kandungan garam larut yang dinyatakan dalam parts per million (ppm) tertera pada gambar
. perbandingan antara kandungan natrium dengan kation lainnya atau bahaya natrium
air, dinyatakan dengan nisba jerapan natrium (sodium adsorp ratio) yang disingkat dengan
SAR, dihitung dengan persamaan :
Na++, Ca++ dan Mg++ adalah konsentrasi kation tersebut di dalam air dinyatakan
air. kesesuaian air irigasi bagi tanaman berdasarkan
konduktivitas dan SAR dinyatakan pada gambar 6.3 dan 4.23. Baron, meskipun esensial
n untuk tumbuh dengan normal, pada keadaan tertentu dengan konsentrasi 1/3
ppm dapat merupakan racun bagi tanaman. Kepekaan beberapa jenis tanaman terhadap
Boron dalam air irigasi disajikan pada tabel 4.24. kandungan bikarbonat yang tinggi di
at menyebabkan terendapnya Ca dan Mg dalam bentuk CaCO3 dan MgCO3,
yang mengakibatkan meningkatnya SAR air.
Hubungan antara konsentrasi garam terlarut dalam air irigasi
konduktivitasair ( USDA,1954)
Fisika Tanah - 75
unsur secara potensial yang merupakan racun bagi tanaman,
konsentrasi bikarbonat sehubungan dengan konsentrasi Kalsium dan Magnesium
listrik (konduktivitas) air
yang dinyatakan dalam millimhos (mmhos) per cm. hubungan antar konduktivitas dengan
kandungan garam larut yang dinyatakan dalam parts per million (ppm) tertera pada gambar
n lainnya atau bahaya natrium
) yang disingkat dengan
Na++, Ca++ dan Mg++ adalah konsentrasi kation tersebut di dalam air dinyatakan
air. kesesuaian air irigasi bagi tanaman berdasarkan
. Baron, meskipun esensial
n untuk tumbuh dengan normal, pada keadaan tertentu dengan konsentrasi 1/3
ppm dapat merupakan racun bagi tanaman. Kepekaan beberapa jenis tanaman terhadap
. kandungan bikarbonat yang tinggi di
at menyebabkan terendapnya Ca dan Mg dalam bentuk CaCO3 dan MgCO3,
Hubungan antara konsentrasi garam terlarut dalam air irigasi
Gambar 6.4 Klarifikasi air irigasi
Tabel 6.6 Kesesuaian Air untuk Irigasi
Kelas Salinitas/konduktivitas
Rendah
1
Air-Rendah Salinitas (Cl) dapat
dipergunakan untuk mengairi semua
tanaman pada hampir semua tanah
dengan kemungkinan kecil sekali akan
terjadi salinitas yang membahayakan
tanaman, proses pencucian diperlukan,
akan tetapi hal ini biasanya terjadi
dengan pelaksanaan irigasi secara
normal, kecuali jika permeabilitas
tanah luar biasa rendahnya.
Sedang
2
Air-sedang salinitas (C2) dapat
digunakan untuk irigasi jika terjadi
cukup pencucian. Tanaman yang
tahan garam dapat ditanam tanpa
tindakan. Khusus pengendalian
salinitas.
Fisika Tanah
Klarifikasi air irigasi berdasarkan bahaya Natrium dan konduktivitas air
(USDA,1954)
Kesesuaian Air untuk Irigasi
Salinitas/konduktivitas SAR(*)
Rendah Salinitas (Cl) dapat
dipergunakan untuk mengairi semua
tanaman pada hampir semua tanah
kemungkinan kecil sekali akan
terjadi salinitas yang membahayakan
tanaman, proses pencucian diperlukan,
akan tetapi hal ini biasanya terjadi
dengan pelaksanaan irigasi secara
normal, kecuali jika permeabilitas
tanah luar biasa rendahnya.
Air-Rendah Natrium (Sl) dapat
digunakan mengairihampir semua
tanah dengan kemungkinan yang
kecil untuk terkumpulnya Na dapat
ditukar pada tingkat yang
membahayakan.
sedang salinitas (C2) dapat
digunakan untuk irigasi jika terjadi
cukup pencucian. Tanaman yang agak
tahan garam dapat ditanam tanpa
tindakan. Khusus pengendalian
Air-sedang Natrium (S2) akan
menyebabkan bahaya natrium yang
agak besar pada tanah bertekstur
halus dengan KTK yang tinggi,
terutama pada keadaan pencucian
yang rendah, kecuali jika terdapat
gipsum di dalam tanah. Air ini dapat
digunakan pada tanah bertekstur kasar
dan tanah organik yang
permeabilitasnya baik.
Fisika Tanah - 76
berdasarkan bahaya Natrium dan konduktivitas air
(Sl) dapat
digunakan mengairihampir semua
tanah dengan kemungkinan yang
kecil untuk terkumpulnya Na dapat
ditukar pada tingkat yang
sedang Natrium (S2) akan
menyebabkan bahaya natrium yang
agak besar pada tanah bertekstur
halus dengan KTK yang tinggi,
terutama pada keadaan pencucian
ika terdapat
gipsum di dalam tanah. Air ini dapat
digunakan pada tanah bertekstur kasar
Fisika Tanah - 77
Kelas Salinitas/konduktivitas SAR(*)
Tinggi
3
Air-Tinggi salinitas (C3) tidak dapat
digunakan pada tanah yang
drainasenya buruk. Meskipun cukup
drainase, pengelolaan khusus untuk
mengendalikan salinitas diperlukan,
dan tanaman yang digunakan harus
mempunyai ketahanan yang baik
terhadap garam.
Air-Tinggi Natrium (S3) dapat
menimbulkan tingkat kandungan
natrium yang berbahaya pada tanah
umumnya dan memerlukan
pengelolaan tanah khusus; drainase
baik, pencucian tinggi dan
penambahan bahan organik. Perlakuan
dengan bahan kimia untuk mengganti
Na dapat ditukar dapat dilakukan jika
salinitas air tidak terlalu tinggi.
Sangat
Tinggi
4
Air-Sangat Tinggi (C4) tidak sesuai
untuk irigasi dalam keadaan biasa,
akan tetapi dapat digunakan kadang
kala dalam lingkungan yang khusus.
Tanah harus permeabel, drainase harus
cukup, dan tanaman yang ditanam
harus sangat tahan terhadap garam.
Air-Sangat Tinggi Natrium (S4)
umumnya tidak memuaskan untuk
irigasi kecuali pada air-rendah, dan
mungkinjuga pada air sedang
salinitas, dimana larutan kalsium dari
tanah atau dengan menggunakan
gipsum atau cara perbaikan lainnya
yang menyebabkan air ini layak
digunakan.
1. (*) Kadang-kadang air irigasi melarutkancukup banyak kalsium dari tanah berkapur
(calcerious) yang dapat mengurangi bahaya Natrium. Hal ini harus diperhitungkan
dalam penggunaan air C1-S3 dan C1-S4. Untuk tanah berkapur dengan pH tinggi atau
tanah tidak berkapur, maka status Natrium air kelas C1 S3, C1-S4 dan C2 S4 dapat
dierbaiki dengan penambahan gipsum pada air. Demikian juga mungkin bermanfaat
menambahkan gipsum kepada tanah secara berkala jika air C2 S3 dan C3 S2
digunakan.
2. Dalam penggunaannya lihat juga Gambar Klarifikasi air.
Tabel 6.7 Kepekaan Beberapa Jenis Tanaman terhadap Boron dalam Air Irigasi (USSL,
1954).
Peka (1 ppm B) Agak peka (2 ppm b) Tahan (toleran) (4 ppm b)
Navy bean
Pear
Apel
Anggur
Persimmon
Avokad
Grapefruit
Jeruk sitrun
Bunga matahari
Kentang
Kapas
Tomat
Sweet pea
Lobak
Field pea
Jelai (jawawut)
Gandum
Jagung
Sorghum
Cabai
Ubi jalar
Lima bean
Asparagus
Tanaman korma
Bit Gula
Alfalfa
Broad bean
Bawang
Turnip
Kubis (kol)
Slada
wortel
Fisika Tanah - 78
6.7. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Mencari gambar dari literatur lain tentang kerusakan tanah.
2. Menguraikan mekanisme konservasi tanah dan air berdasarkan literatur dan
pengalaman anda (yang pernah dilihat)
3. Jelaskan cara mengetahui mutu air dan cara menjaganya agar tetap dapat difungsikan
sebagaimana mestinya.
4. Mencari dari literatur tentang gambar penanggulangan atau konservasi tanah dan air.
6.8. Bacaan
1. Sitanala Arsyad, 2010, “Konservasi Tanah dan Air”, IPB Press, Bogor.
2. Sarwono Hardjowigeno, 2010, “Ilmu Tanah”, Akademik Pressindo, Jakarta.
3. Inon Beydha, 2002, “Konservasi Tanah dan Air di Indonesia Kenyatan dan Harapan”,
Fisip UNSU, Medan.
Fisika Tanah - 79
BAB 7 PENGANTAR GETEKNIK
7.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mengetahui
arti dan klasifikasi mekanika tanah serta peruntukannya. Untuk mencapai kompetensi ini
digunakan metode pembelajaran SCL yang diawali dengan ceramah, diskusi (Interaktif),
kemudian dilengkapi dengan tugas kajian pustaka.
7.2. Definisi
Geoteknik adalah suatu bagian dari cabang ilmu Teknik sipil, yang membahas mengenai
permasalahan kekuatan tanah dan hubungannya dengan kemampuan menahan beban
bangunan yang berdiri di atasnya. Pada dasarnya geoteknik adalah ilmu tua yang seiring
dengan tingkat peradaban manusia, mulai pembangunan piramid di mesir hingga
pembangunan gedung pencakar langit di beberapa Negara.
Geoteknik berkaitan dengan koordinasi multidisiplin dari:
a. Mekanika: respon massa tergadap gaya (konsep mekanika batuan)
b. Sifat bahan: sifat fisis
c. Aliran fluida: prinsip-prinsip mekanika fluida
d. Pengaruh lingkungan: cuaca, curah hujan, gravitasi, dan kimiawi
e. Tanah dan batu: plastisitas tanah dan batu
Prinsip-prinsip geoteknik dapat diurai sebagai berikut:
1. Sifat-sifat material + struktur massa tanah = Sifat massa tanah
2. Sifat massa tanah + lingkungan sekitar = Situasi geologi teknik
3. Prilaku yang ditampakkan oleh tanah =


4. Material : batuan, tanah, dan fluida
5. Sifat material : sifat geoteknik dari material
6. Struktur massa tanah : struktur geologis maretial lahan (lapisan, lipatan, patahan, dll)
7. Sifat massa tanah : sifat-sifat geoteknik volume tanah yang dipengaruhi oleh beban
(kadang diketahui dari penelitian lapangan)
8. Lingkungan sekitar : iklim, fluida, tegangan, waktu, dan peristiwa alam.
9. Tindakan geologis : galian, bangunan, bendungan, terowongan, jalan, eksploitasi air
dan tambang, dsb
Fisika Tanah - 80
Secara keilmuan, bidang geoteknik mempelajari lebih mendalam tentang ilmu:
• Mekanika tanah dan batuan
• Teknik pondasi
• Stuktur bawah tanah
7.3. Mekanika Tanah
Mekanika Tanah adalah bagian dari Geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari
ilmu Teknik Sipil, dalam Bahasa Inggris mekanika tanah berarti soil mechanics atau soil
engineering dan Bodenmechanik dalam Bahasa Jerman. Istilah mekanika tanah diberikan
oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui bukunya “Erdbaumechanik auf
bodenphysikalicher Grundlage” (Mekanika Tanah berdasar pada Sifat-Sifat Dasar Fisik
Tanah), yang membahas prinsip-prinsip dasar dari ilmu mekanika tanah modern, dan
menjadi dasar studi-studi lanjutan ilmu ini, sehingga Terzaghi disebut sebagai “Bapak
Mekanika Tanah”.
Mekanika (Bahasa Latin mechanicus, dari Bahasa Yunani mechanikos, "seseorang yang
ahli di bidang mesin") adalah jenis ilmu khusus yang mempelajari fungsi dan pelaksanaan
mesin, alat atau benda yang seperti mesin. Mekanika (Mechanics) juga berarti ilmu
pengetahuan yang mempelajari gerakan suatu benda serta efek gaya dalam gerakan itu.
Sejarah terjadinya tanah, pada mulanya bumi berupa bola magma cair yang sangat panas. Karena
pendinginan, permukaannya membeku maka terjadi batuan beku. Karena proses fisika (panas, ding
in, membeku dan mencair) batuan tersebut hancur menjadi butiran-butiran tanah (sifat-sifatnya tetap
seperti batu aslinya : pasir, kerikil, dan lanau). Oleh proses kimia (hidrasi, oksidasi) batuan menjadi
lapuk sehingga menjadi tanah dengan sifat berubah dari batu aslinya.
Disini dikenal Transported Soil: adalah tanah yang lokasinya pindah dari tempat terjadinya yang
disebabkan oleh Miran air, angin, dan es dan Residual Soil adalah tanah yang tidak pindah dari tempat
terjadinya. Oleh proses alam, proses perubahan dapat bermacam-macam dan berulang. Batu
menjadi tanah karena pelapukan dan penghancuran, dan tanah bisa menjadi batu karena proses
pemadatan, sementasi. Batu bisa menjadi batu jenis lain karena panas, tekanan, dan larutan.
Kita jumpai di sekeliling kita berbagai macam batuan. Dilihat dari sifat fisiknya mereka
sangat beragam, baik warna, kekerasan, kekompakan, maupun material pembentuknya.
Untuk membedakannya, dibuatlah pengelompokan. Pengelompokan yang paling
sederhana adalah berdasarkan kejadiannya atau cara terbentuknya, atau genesanya
menjadi tiga kelompok utama:
Fisika Tanah - 81
1) Batuan beku, terbentuk dari magma yang mendingin dan membeku (misalnya: granit,
basalt).
2) Batuan sedimen, merupakan batuan yang terbentuk dari sedimen yang diendapkan
dan telah mengalami proses geologi menjadi batuan sedimen (misalnya: gamping,
batu pasir).
3) Batuan metamorfosa atau batuan malihan; Batuan, jika mengalami tekanan dan atau
suhu yang tinggi akan berubah menjadi batuan metamorfosa, atau batuan malihan
(misalnya marmer, serpih).
Tanah terdiri atas butir-butir diantaranya berupa ruang pori. Ruang pori dapat terisi udara dan
atau air. Tanah juga dapat mengandung bahan-bahan organik sisa atau pelapukan tumbuhan atau
hewan. Tanah semacam ini disebut tanah organik.
a. Perbedaan Batu dan Tanah
Batu merupakan kumpulan butir butirmineral alam yang saling terikat erat dan kuat.
Sehingga sukaruntuk dilepaskan. Sedangkan tanah merupakan kumpulan butir butir min al alam
yang tidak melekat atau melekat tidak erat, sehingga sangat mudah untuk dipisahl4n. Sedangkan
Cadas adalah merupakan peralihan antara batu dan tanah.
b. Jeni s-Jeni s Tanah
Fraksi-fraksi tanah (Jenis tanah berdasarkan ukuran butir)
(1). kerikil (gravel) > 2.00 mm
(2). pasir (sand) 2.00 —0.06 mm
(3). lanau (silt) 0.06 —0.002 mm
(4). lempung (clay) < 0.002 mm
Pengelompokan jenis tanah dalam praktek berdasarkan campuran butir
a. Tanah berbutir kasar adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya berupa pasir dan
kerikil.
b. Tanah berbutir halus adalah tanah yang sebagian besar butir-butir tanahnya berupa lempung
dan lanau.
c. Tanah organik adalah tanah yang cukup banyak mengandung bahan-bahan organik.
Pengelompokan tanah berdasarkan sifat lekatannya
1. Tanah Kohesif : adalah tanah yang mempunyai sifat lekatan antara butir-butirnya. (tanah lempungan =
mengandung lempung cukup banyak).
Fisika Tanah - 82
2. Tanah Non Kohesif : adalah tanah yang tidak mempunyai atau sedikit sekali lekatan antara
butir-butirnya. (hampir tidak mengandung lempung misal pasir).
3. Tanah Organik : adalah tanah yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan organik.
(sifat tidak baik).
7.4. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Menguraikan bidang ilmu yang berkaitan dengan geoteknik di atas pada kertas A4
yang diketik dengan spasi 1.5.
2. Mencari referensi lain tentang bagian-bagian mekanika tanah dikumpul pada dosen
pengampu dalam bentuk softcopy dan hardcopy.
7.5. Daftar Bacaan
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”,
Erlangga, Jakarta.
2. Budi Santoso, Heri Suprapti, dan Suryadi HS, 2005, Seri Diktat Kuliah: “Dasar-Dasar
Mekanika Tanah”, Gunadarma, Jakarta.
Fisika Tanah - 83
BAB 8 TEGANGAN EFEKTIF DAN KUAT GESER TANAH
8.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mampu
menjelaskan definisi dan prinsip-prinsip tegangan efektif tanah; dan Mampu menjelaskan
definisi dan prinsip-prinsip kuat geser tanah. Untuk mencapai kompetensi ini digunakan
metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan diskusi, kemudian dilengkapi
dengan makalah dan power point yang diperoleh dari referensi selain bahan ajar ini.
Khusus bab ini disajikan dalam 2 kali pertemuan.
8.2. Definisi
Berat tanah yang terendam air disebut berat tanah efektif, sedangkan tegangan yang terjadi
akibat berat tanah efektif di dalam tanah disebut tegangan efektif. Kuat geser tanah
adalah kemampuan tanah melawan tegangan geser yang terjadi pada saat ini. Keruntuhan
geser tanah terjadi bukan karena disebabkan hancurnya butir – butir tanah tersebut, tetapi
karena adanya gerak relative antara butir – butir tanah tersebut.
8.3. Konsep Tegangan Total dan Efektif
Secara umum elemen tanah mempunyai tiga fase, yaitu butiran padat, air dan udara.
Pemahaman mengenai komposisi tanah diperlukan untuk mengambil keputusan dalam
memperoleh parameter tanah. Berdasarkan ketiga fase tersebut, diperoleh hubungan
volume-berat seperti terlihat pada Gambar 8.1.
Gambar 8.1. Hubungan antar fase tanah
Hubungan volume yang umum digunakan untuk suatu elemen tanah adalah angka pori
(void ratio), porositas (porosity), derajat kejenuhan (degree of saturation), sedangkan
Fisika Tanah - 84
untuk hubungan berat digunakan istilah kadar air (water content), dan berat volume (unit
weight). Hubungan-hubungan tersebut dapat dikembangkan sehingga dapat diketahui
parameter yang digunakan dalam perhitungan desain. (Tabel 8.1)
Tabel 8.1 Korelasi antar berbagai jenis parameter tanah
Fisika Tanah - 85
8.3.1. Konsep Tegangan Total
Pada suatu massa tanah, tegangan total pada suatu titik dihitung dari berat volume
keseluruhan dari elemen tanah yang berada di atasnya. Jika suatu massa tanah tersebut
diketahui terdapat air tanah, maka tegangan total dihitung dengan memasukkan pengaruh
berat volume tanah jenuh air dan berat volume air.
Fisika Tanah - 86
Gambar 8.2. Potongan Melintang Tanah (Mekanika Tanah, Braja M. Das, Jilid 1, 1985)
Gambar 8.2. menunjukkan titik A pada suatu massa tanah dalam potongan melintang. H
adalah besarnya kedalaman muka air tanah dihitung dari partikel tanah sedangkan Ha
merupakan kedalaman titik A dihitung dari muka air tanah. Secara matematis, besarnya
tegangan total (s) adalah:
Dengan 
w
= berat volume air dan γ
sat
= berat volume tanah jenuh air.
Analisis tegangan total digunakan untuk menganalisis stabilitas jangka pendek (short term)
atau akhir konstruksi, dalam penggunaan praktis disebut juga kondisi undrained. Kondisi
ini terjadi pada saat penambahan beban luar melebihi kecepatan terdisipasinya air pori.
Pada tanah lempung proses terdisipasinya tekanan air pori relatif lebih lambat
dibandingkan dengan tanah pasir, oleh karena itu analisis kondisi undrained umumnya
digunakan untuk tanah lempung.
Faktor keamanan dalam kondisi kritis (minimal) terletak di akhir konstruksi pada saat nilai
u maksimal. Seiring berjalannya waktu, tekanan air pori akan tereduksi sehingga
menyebabkan kuat geser tanah dan faktor keamanan meningkat. Berdasarkan ilustrasi
tersebut, maka analisis tegangan total digunakan pada saat lereng dalam kodisi kritis
(faktor keamanan minimal).
Fisika Tanah - 87
Parameter yang digunakan pada analisis tegangan total adalah c
u
dan f
u
. Parameter-
parameter tersebut disebut dengan parameter total. Kekuatan tanah lempung jenuh
dinyatakan dengan
Dengan S
u
= undrained shear strength, c
u
= undrained cohesion, f
u
= undrained friction
angle.
Undrained strength (cu) untuk lempung normally consolidated dapat ditentukan melalui
persamaan berikut:
Dengan ’0 = tegangan efektif overburden dan Ip = indeks plastisitas.
Untuk lempung overconsolidated, undrained strength (cu) ditentukan melalui persamaan:
Dengan OCR = overconsolidation ratio
Gambar 8.3. Tes yang dilakukan untuk stabilitas jangka pendek (Slope Stability and
Stabilization Method, Thomas S Lee, 1996)
Berdasarkan Gambar 8.3., parameter-parameter tanah selain diperoleh melalui tes triaxial
UU dapat juga melalui tes triaxial CU dan tes unconfined compression dan umumnya
digunakan untuk analisis stabilitas timbunan maupun pondasi.
Fisika Tanah - 88
8.3.2. Konsep Tegangan Efektif
Titik A pada Gambar 2.2. terletak dalam sebuah tanah jenuh air, berdasarkan kondisi
tersebut di titik A terdapat gaya hidrostatis akibat pengaruh muka air tanah. Tekanan
hidrostatis tersebut disebut tekanan air pori (u). Tegangan efektif menunjukkan hubungan
tegangan total pada suatu massa tenuh jenuh air yang dipengaruhi tekanan air pori. Secara
matematis tegangan efektif (’) dapat dinyatakan:
’ =  - u
Dengan memasukkan pengaruh kedalaman dan berat volume air dan tanah maka
persamaan tersebut dapat dikembangkan menjadi:
(H
A
– H) merupakan tinggi tanah , sedangkan (γ
sat
– γ
w
) merupakan berat volume tanah
efektif (γ’).
Analisis tegangan efektif digunakan untuk menganalisis stabilitas jangka panjang (long
term) atau disebut juga dengan kondisi drained. Pada tanah pasir, proses terdisipasinya air
pori terjadi lebih cepat, oleh karena itu analisis kondisi drained umumnya digunakan untuk
analisis stabilitas pada tanah pasir.
Parameter yang digunakan pada analisis tegangan efektif adalah c’ dan f’. Parameter-
parameter tersebut disebut dengan parameter efektif. Analisis pada kondisi long term
menggunakan metode tegangan efektif, parameternya ditentukan dengan test triaxial
drained atau tes direct shear, bisa juga menggunakan CU test dengan memperhitungkan
tegangan air pori atau menggunakan ring shear test.
Fisika Tanah - 89
Gambar 8.4 Tes yang dilakukan untuk stabilitas jangka panjang (Slope Stability and
Stabilization Method, Thomas S Lee, 1996)
Selain menggunakan tes berdasarkan Gambar 8.4, tekanan air pori juga dapat ditentukan
melaui flow nets maupun analisis seepage lainnya. Umumnya analisis drained dengan
mengguanakan parameter efektif digunakan pada stabilitas galian dan lereng alami.
Namun tidak semua kondisi stabilitas harus dianalisis dengan menggunakan parameter-
parameter yang sudah ditentukan seperti yang telah dibahas sebelumnya, karena kondisi
tanah dan lapangan menentukan juga analisis yang akan digunakan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 8.2.
Tabel 8.2. Analisis stabilitas berdasarkan kondisi tanah dan lapangan (Slope Stability and
Stabilization Method, Thomas S Lee, 1996)
8.4. Kuat Geser Tanah
Kekuatan geser yang dimiliki oleh
 Pada tanah berbutir halus misalnya lempung kekuatan geser yang dimiliki tanah
disebabkan karena adanya kohesi atau lekatan antara butir
 Pada tanah berbutir kasar , kekuatan geser disebabkan karena adanya geseka
antara butir – butir tanah sehingga sering disebut sudut gesek dalam
 Pada tanah yang merupakan campuran antara tanah halus dan tanah kasar,
kekuatan geser disebabkab karena adanya lekatan dan gesekan antara butir
tanah.
Kuat geser tanah dinyatakan dalam rumus :
=

+s′ tan j′
Gambar 8.7. Hubungan antara tegangan total, tegangan efektif, dan tekanan air pori
Fisika Tanah
Kekuatan geser yang dimiliki oleh suatu tanah disebabkan oleh :
Pada tanah berbutir halus misalnya lempung kekuatan geser yang dimiliki tanah
disebabkan karena adanya kohesi atau lekatan antara butir – butir tanah
Pada tanah berbutir kasar , kekuatan geser disebabkan karena adanya geseka
butir tanah sehingga sering disebut sudut gesek dalam
Pada tanah yang merupakan campuran antara tanah halus dan tanah kasar,
kekuatan geser disebabkab karena adanya lekatan dan gesekan antara butir
akan dalam rumus :
Gambar 8.7. Hubungan antara tegangan total, tegangan efektif, dan tekanan air pori
Gambar 8.5.
Gambaran Kekuatan
geser tanah
Fisika Tanah - 90
Pada tanah berbutir halus misalnya lempung kekuatan geser yang dimiliki tanah
butir tanah
Pada tanah berbutir kasar , kekuatan geser disebabkan karena adanya gesekan
Pada tanah yang merupakan campuran antara tanah halus dan tanah kasar,
kekuatan geser disebabkab karena adanya lekatan dan gesekan antara butir – butir
Gambar 8.7. Hubungan antara tegangan total, tegangan efektif, dan tekanan air pori
Gambar 8.5.
Gambaran Kekuatan
geser tanah
8.4.1. Cara Pengujian untuk Menentukan Kuat geser
Pengujian kuat geser dimaksudkan untuk mencari parameter
diperlukan dalam menentukan kuat geser. Percobaan untuk menentukan kuat geser dibagi
menjadi :
1. Drained Test
Sampel tanah diberi tegangan normal dan selama percobaan air dialirkan. Tegangan geser
diberikan dengan air tetap terbuka dan tegangan pori dijaga supaya t
2. Undrained Test
Pada percobaan ini tekanan air pori tidak diukur dan selama percobaan air tdak
diperbolehkan mengalir. Hanya kekuatan geser undrained yang dapat ditentukan.
3. Consolidted Undrained Test
Sampel tanah diberikan tegangan normal sampai k
mengalir dari sampel. Konsolidasi dianggap selesai jika sudah tidak ada perubahan pada isi
sampel. Setelah itu jalan air ditutup dan sampel diberi tegangan geser sejauh secara
undrained. Tegangan normal tetap bekerj
8.4.2. Percobaan Kuat Geser
1. Percobaan Geser Langsung
Gambar 8.8. Sketsa percobaan kuat geser langsung
Sampel tanah berupa contoh tanah bertampang lingkaran dan di taruh di dalam alat berupa
dua buah cincin kemudian diatasnya diberi
tanah digeser dengan gaya T yang besarnya berangsur
pecah tergeser (T1). Gaya T1 pada saat tanah pecah dicacat.
Fisika Tanah
Cara Pengujian untuk Menentukan Kuat geser
Pengujian kuat geser dimaksudkan untuk mencari parameter – parameter dari tanah yang
kan dalam menentukan kuat geser. Percobaan untuk menentukan kuat geser dibagi
Sampel tanah diberi tegangan normal dan selama percobaan air dialirkan. Tegangan geser
diberikan dengan air tetap terbuka dan tegangan pori dijaga supaya tetap nol.
Pada percobaan ini tekanan air pori tidak diukur dan selama percobaan air tdak
diperbolehkan mengalir. Hanya kekuatan geser undrained yang dapat ditentukan.
Consolidted Undrained Test
Sampel tanah diberikan tegangan normal sampai konsolidasi selesai dan air diperbolehkan
mengalir dari sampel. Konsolidasi dianggap selesai jika sudah tidak ada perubahan pada isi
sampel. Setelah itu jalan air ditutup dan sampel diberi tegangan geser sejauh secara
undrained. Tegangan normal tetap bekerja dan tegangan pori diukur.
Percobaan Geser Langsung
Gambar 8.8. Sketsa percobaan kuat geser langsung
Sampel tanah berupa contoh tanah bertampang lingkaran dan di taruh di dalam alat berupa
dua buah cincin kemudian diatasnya diberi benan normalyang besarnya tetap. Sampel
tanah digeser dengan gaya T yang besarnya berangsur-angsur dinaikkan sampai tanah
pecah tergeser (T1). Gaya T1 pada saat tanah pecah dicacat.
Fisika Tanah - 91
parameter dari tanah yang
kan dalam menentukan kuat geser. Percobaan untuk menentukan kuat geser dibagi
Sampel tanah diberi tegangan normal dan selama percobaan air dialirkan. Tegangan geser
Pada percobaan ini tekanan air pori tidak diukur dan selama percobaan air tdak
diperbolehkan mengalir. Hanya kekuatan geser undrained yang dapat ditentukan.
onsolidasi selesai dan air diperbolehkan
mengalir dari sampel. Konsolidasi dianggap selesai jika sudah tidak ada perubahan pada isi
sampel. Setelah itu jalan air ditutup dan sampel diberi tegangan geser sejauh secara
Sampel tanah berupa contoh tanah bertampang lingkaran dan di taruh di dalam alat berupa
benan normalyang besarnya tetap. Sampel
angsur dinaikkan sampai tanah
Percobaan dilakukan dengan tiga sampel tanah dilakukan percobaan seperti
sudut geser dalam dan kohesi dicari secara grafis berdasarkan h
2. Uji Tekan Bebas
Pengujian tekan bebas dilakukan jika sampel tanah bebas berupa tanah kohesif. Benda uji
berbentuk silinder dimana tingginya minimal dua kali di
angsur sampai tanah pecah, maka :
=

Gambar 8.9. Sketsa Uji Tekan Bebas
Jika pengujian dilakukan terhadap tanah yang sangat lunak, tanah tidak akan pecah tetapi
cuma akan menggelembung.
Fisika Tanah
Percobaan dilakukan dengan tiga sampel tanah dilakukan percobaan seperti
sudut geser dalam dan kohesi dicari secara grafis berdasarkan hukum Coulomb :
Pengujian tekan bebas dilakukan jika sampel tanah bebas berupa tanah kohesif. Benda uji
berbentuk silinder dimana tingginya minimal dua kali diameternya. Beban Qu berangsur
angsur sampai tanah pecah, maka :
Gambar 8.9. Sketsa Uji Tekan Bebas
Jika pengujian dilakukan terhadap tanah yang sangat lunak, tanah tidak akan pecah tetapi
Fisika Tanah - 92
di atas. Nilai
kum Coulomb :
Pengujian tekan bebas dilakukan jika sampel tanah bebas berupa tanah kohesif. Benda uji
ameternya. Beban Qu berangsur –
Jika pengujian dilakukan terhadap tanah yang sangat lunak, tanah tidak akan pecah tetapi
3. Uji Triaksial
Pada pengujian ini sampel tanah di letakkan di atas dasar sel dan di bagian atas ditutup.
Sampel tanah ditutup dengan membrane yang diameternya sama dengan sampel. Sel diisi
dengan air dan tekanan air dinaikkan sampai nilai yang dimaksudkan. Tegangan sel
dibiarkan bekerja sampai jangka waktu tertentu. Pengukuran kuat geser dilakukan dengan
memberikan tekanan vertical pada sampel. Pembacaan dapat dilakukan pada proving ring
pada tegangan tertentu. Dari pembacaan dapat diketahui tekanan maksimum yang terjadi
saat terjadi saat keruntuhan.
Gambar 8.10. Sketsa posisi sampel saat uji triaksial
Sampel tanah berbentuk silinder dengan tinggi minimal dua kali diameter. Sampel tanah
dibungkus dengan karet tipis sehingga air tidak dapat keluar, kemudian dimasukkan ke
dalam silinder yang diberi air dan tekanan, sehingga air akan masuk ke segala arah. Dari
atas, sampel tanah ditekan dengan beban P yang berangsur
Maka:
1 dan 3 akan memecahkan tanah. Untuk mencari c dan
total dalam hal ini kran A ditutup, sehingga air dalam tanah tidak keluar. (
beban P baru diberikan setelah
tanah berkonsolidasi (unconsolidated
Fisika Tanah
pengujian ini sampel tanah di letakkan di atas dasar sel dan di bagian atas ditutup.
Sampel tanah ditutup dengan membrane yang diameternya sama dengan sampel. Sel diisi
dengan air dan tekanan air dinaikkan sampai nilai yang dimaksudkan. Tegangan sel
kan bekerja sampai jangka waktu tertentu. Pengukuran kuat geser dilakukan dengan
memberikan tekanan vertical pada sampel. Pembacaan dapat dilakukan pada proving ring
pada tegangan tertentu. Dari pembacaan dapat diketahui tekanan maksimum yang terjadi
Gambar 8.10. Sketsa posisi sampel saat uji triaksial
Sampel tanah berbentuk silinder dengan tinggi minimal dua kali diameter. Sampel tanah
dibungkus dengan karet tipis sehingga air tidak dapat keluar, kemudian dimasukkan ke
m silinder yang diberi air dan tekanan, sehingga air akan masuk ke segala arah. Dari
n dengan beban P yang berangsur-angsur dinaikkan.
3 akan memecahkan tanah. Untuk mencari c dan  semu berdasarkan tekanan
total dalam hal ini kran A ditutup, sehingga air dalam tanah tidak keluar. (
beban P baru diberikan setelah 3 bekerja, sehingga tidak memberikan kesempatan pada
unconsolidated).
Fisika Tanah - 93
pengujian ini sampel tanah di letakkan di atas dasar sel dan di bagian atas ditutup.
Sampel tanah ditutup dengan membrane yang diameternya sama dengan sampel. Sel diisi
dengan air dan tekanan air dinaikkan sampai nilai yang dimaksudkan. Tegangan sel
kan bekerja sampai jangka waktu tertentu. Pengukuran kuat geser dilakukan dengan
memberikan tekanan vertical pada sampel. Pembacaan dapat dilakukan pada proving ring
pada tegangan tertentu. Dari pembacaan dapat diketahui tekanan maksimum yang terjadi
Sampel tanah berbentuk silinder dengan tinggi minimal dua kali diameter. Sampel tanah
dibungkus dengan karet tipis sehingga air tidak dapat keluar, kemudian dimasukkan ke
m silinder yang diberi air dan tekanan, sehingga air akan masuk ke segala arah. Dari
semu berdasarkan tekanan
total dalam hal ini kran A ditutup, sehingga air dalam tanah tidak keluar. (undrained)
3 bekerja, sehingga tidak memberikan kesempatan pada
Fisika Tanah - 94
Untuk tanah lempung dapat dilakukan dengan consolidated undrained dan membaca
tekanan air pori. Consolidated artinya 3 diberikan twtapi dibiarkan beberapa waktu baru
kran B dibuka, dengan demikian 3 bekerja sehingga tanah berkonsolidasi sehingga air
pada buret naik (konsolidasi selesai). Selanjutnya karan B ditutup dan P dinaikkan.
Perubahan tekanan uap pori dapat dibaca pada manometer (U). denhan kombinasi 1, 3,
dan U dapat dicari

′ .
Pada pelaksanaan pengujian dilaksanakan minimal tiga kali dari sampel yang berbeda. Dari
setiap sampel akan didapatkan 1, 3. Dari data – data tersebut kemudian digambarkan
lingkarannya dan ditarik garis singgung antara lingkaran – lingkaran tersebut. Garis
singgung akan memotong sumbu S, maka nilai pada perpotongan tersebut adalah kohesi
(c’). Nilai

dalah sudut yang dibentuk antara garis singgung dan sudut mendatar.
Gambar. 8.11. Kondisi pengujian triaksial dengan Lingkaran Mohr (diameter 3-1)
8.5. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Menguraikan mekanisme dalam penentuan tegangan efektif dan kuat geser tanah.
2. Mencari referensi lain tentang contoh pengukuran tegangan efektif dan kuat geser
bahan.
Fisika Tanah - 95
8.6. Daftar Bacaan
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”,
Erlangga, Jakarta.
2. Dandung Sri Harninto, 2010, “Studi Prilaku Bahan”, FT UI, Jakarta.
3. Braja M. Das, Nur Endah, & Indrasurya B. Mochtar, 1985, “Mekanika Teknik: Prinsip-
Prinsip Rekayasa Geoteknis)”, Erlangga, Surabaya.
Fisika Tanah - 96

BAB 9 DAYA DUKUNG DAN KONSOLIDASI TANAH
9.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mampu
menguraikan teori daya dukung tanah disertai dengan contoh; dan Mampu menjelaskan
definisi dan prinsip konsolidasi tanah serta peruntukannya. Untuk mencapai kompetensi ini
digunakan metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan diskusi, kemudian
dilengkapi dengan makalah dan power point yang diperoleh dari referensi selain bahan ajar
ini. Khusus bab ini disajikan dalam 2 kali pertemuan.
9.2. Definisi
Sebelum mendirikan bangunan perlu diadakan peninjauan terhadap tanah sebagai berikut:
- Daya dukung tanah mencukupi
- Penurunan akibat konsolidasi tidak membahayakan bangunan, baik penurunan
maksimum maupun penurunan deferensial.
Pada dasarnya daya dukung adalah kemampuan tanah memikul tekanan atau tekanan
maksimum yang diijinkan bekerja pada tanah pondasi ( kN/m
2
).
Konsolidasi adalah peristiwa mampatnya tanah karena menderita tambahan efektif.
Konsolidasi Tanah adalah salah satu kegiatan penataan tanah baik berupa bentuk, letak dan
aksesibilitas. Indahnya kegiatan ini adalah pemilik tanah tidak harus pindah ke tempat lain
karena masih memiliki tanah di lokasi tersebut.
9.3. Daya Dukung Tanah
9.3.1. Kondisi Tanah
Daya dukung batas (Ultimate Bearing Capacity) adalah daya kemampuan pada batas
runtuh 
ult
. Daya dukung tanah yang diijinkan =  ada faktor aman di mana:

SF = 3 untuk beban normal
SF = 2 untuk beban darurat
Misalnya:
Sebuah kolom memikul beban sebesar P kN, menggunakan pondasi langsung (pondasi
telapak) dengan ukuran B x L m
2
. Luas pondasi A = B x L m
2
. Tekanan yang timbul pada
tanah sebesar:  = P/A = P/(B.L) kN/m
2
. Jika diketahui P = 90 kN dan daya dukung tanah
 = 15 kN/m
2
. Berapakah ukuran pondasi yang dijinkan. Luas pondasi yang diperlukan :
Fisika Tanah - 97

A = P/ = 90/15 = 6 m
2


Dapat digunakan pondasi bujur sangkar
B = √ = 2,449
Maka bisa digunakan B = 2,45 m atau bentuk segiempat dengan B = 2 m, dan L = 3 m.

Gambar 9.1. Tekanan pada tanah dan pengarunya
Besarnya  ditentukan dan dibatasi oleh :
- Aman terhadap runtuhnya tanah
- Aman terhadap penurunan akibat konsolidasi tanah
1. Penurunan total tidak terlalu besar
2. Penurunan sangat tidak merata
Yang mempunyai pengaruh terhadap daya dukung tanah ultimate suatu tanah adalah :
- Nilai parameter tanah ( )
- Kedalaman pondasi (Df)
- Ukuran dan bentuk pondasi
- Sifat tanah terhadap penurunan
- Kedalaman muka air tanah
Berdasarkan lunak dan kerasnya tanah atau padat kurang padatnya tanah terdapat dua
kondisi sifat penurunan jika diberi beban berangsur naik.
Mula-mula dengan beban kecil penurunan kecil, setelah mencapai ultimate, terus cepat
turun (Kondisi General Shear). Hal ini terjadi pada tanah yang cukup keras (padat). Tidak
Fisika Tanah - 98

jelas batas ultimate, dan penurunan relatis besar (Kondisi Local Shear). Ini terjadi pada
tanah lunak atau kurang padat.

Gambar.9.2. Pengaruh penurunan tanah terhadap tekanan
9.3.2. Teori Terzaghi (Mengenai Daya Dukung Tanah)
Dimisalkan pondasi laju dengan lebar B, yang dalamnya Df dan memikul beban Q kN/m
2

(lihat gambar). Pada tanah dasar bekerja tekanan s = Q/B kN/m
2
. Jika Q atau ̅ terlalu
besar, pondasi akan turun, jika tercapai ultimate tanah akan runtuh dan menggeser ke
samping.

Gambar 9.3. Tekanan pada tanah akan menyebabkan keruntuhan dan menimbulkan
tekanan aktif dan pasif sehingga tanah menggeser ke samping

Pada gambar diatas disederhanakan dan dianggap sebagai berikut :
- Bidang longsoran dianggap garis lurus
- Yang mendorong tekanan aktif, yang melawan tekanan pasif.
Fisika Tanah - 99

- Muka tanah dianggap sebagai satu bidang dengan dasar pondasi, berat tanah setebal Df
dianggap beban terbagi rata q = Df kN/m
2

Asumsi Terzhagi dalam menganalisis daya dukung :
 Pondasi memanjang tak terhingga
 Tanah di dasar pondasi dianggap homogen
 Berat tanah di atas pondasi dapat diganti dengan beban terbagi rata sebesar q = D x γ,
dengan D adalah kedalaman dasar pondasi, γ adalah berat volume tanah di atas dasar
pondasi.
 Tahanan geser tanah di atas dasar pondasi diabaikan
 Dasar pondasi kasar
 Bidang keruntuhan terdiri dari lengkung spiral logaritmis dan linier
 Baji tanah yang terbentuk di dasar pondasi dalam keadaan elastis dan bergerak
bersama-sama dengan dasar pondasinya.
 Pertemuan antara sisi baji dengan dasar pondasi membentuk sudut sebesar sudut gesek
dalam tanah φ.
 Berlaku prinsip superposisi
Dianggap tekanan aktif dan tekanan pasif pada bidang vertical fiktif KM sebagai berikut.
KM = H = B tg (45 - /2) = B

Gambar 9.4. Tekanan aktif dan pasif yang disebabkan tekanan normal
Pada kedalaman ultimate sama dengan kondisi seimbang yang terakhir sebelum runtuh
( = 
ult
).
Untuk lebar meter
Ka c H Ka H g Ka g H Ea 2
2
2
1
  

Kp c H Ka H q Ka g H Ea 2
2
2
1
  

Fisika Tanah - 100

Pada keadaan ini :

maka didapat :

(√ √)

dengan H = B

√√


(1)
Dan dapat ditulis sebagai berikut

(Rumus Terzaghi) (2)
Oleh Terzaghi digunakan rumus dengan bentuk persamaan (2) tetapi nilainya tidak sama
persis seperti persamaan (1), diadakan koreksi mengingat:
 Bidang longsor buang garis lurus
 Diperhitungkan terhadap 3 macam bentuk pondasi
- Persegi (square),
- Bulat (round),
- Lajur (continous)
 Dibedakan keadaan
- Kondisi general shear
- Kondisi local shear
General Shear
1. Continous footing

2. Square footing

3. Round footing

Fisika Tanah - 101

Local Shear
1. Continuos footing

2. Square footing

3. Round footing

Di mana:

: daya dukung ultimate
c : kohesi tanah
q = γ.Df : tekanan overburden pada dasar pondasi
γ : berat volume tanah
Df : kedalaman pondasi
B : lebar/diameter pondasi
L : panjang pondasi
Nc, Nq, Nγ : faktor daya dukung pondasi

Rumus-rumus di atas disederhanakan menjadi 2 persamaan sebagai berikut:
General Shear

Local Shear

dan adalah faktor bentuk pondasi dengan:

Lajur (c)
Persegi (s)
Bulat (r)
1,0
1,3
1,3
0,5
0,4
0,3

9.3.3. Pondasi
Pondasi merupakan bagian yang paling penting dari sistem rekayasa konstruksi yang
bertumpu pada tanah. Suatu konstruksi bangunan bagian paling bawah yang berhubungan
langsung dengan tanah atau batuan.
Fungsi dari suatu pondasi:
 menahan/mendukung bangunan diatasnya
Fisika Tanah - 102

 meneruskan beban yang ditopang oleh pondasi dan beratnya sendiri kedalam tanah dan
batuan yang terletak dibawahnya.
Jenis-jenis Pondasi
Untuk memilih pondasi yang memadai, perlu memperhatikan apakah pondasi itu cocok
untuk berbagai keadaan di lapangan serta dapat diselesaikan secara ekonomis sesuai jadwal
kerja, maka perlu pertimbangan:
a. Keadaan tanah pondasi
b. Batasan akibat kostruksi diatasnya
c. Batasan dari sekelilingnya
d. Waktu dan biaya pengerjaan
Klasifikasi Pondasi
1. Pondasi dangkal
Pondasi yang kedalamannya dekat dengan permukaan tanah. Pondasi yang mendukung
beban secara langsung. Contohnya, pondasi telapak, pondasi memanjang.
Syarat: D/B < 1
2. Pondasi dalam
Pondasi yang kedalamannya cukup jauh dari permukaan tanah. Pondasi yang meneruskan
beban bangunan ke tanah keras/batu yang relatif lebih jauh dari permukaan. Contohnya
pondasi tiang, pondasi sumuran.
Syarat: D/B > 4
D : kedalaman pondasi
B : lebar pondasi
Berdasarkan bentuknya pondasi dapat dibedakan menjadi
1. Pondasi Memanjang
Pondasi yang digunakan untuk mendukung dinding memanjang atau mendukung sederetan
kolom yang berjarak dekat.
Fisika Tanah - 103


Gambar 9.5. Pemasangan pondasi memanjang (kiri)
dan skema pondasi memanjang (kanan)
2. Pondasi Telapak (Pondasi Langsung)
Pondasi yang berdiri sendiri dalam mendukung kolom. Tanah pendukung pondasi terletak
pada permukaan tanah atau 2 - 3 meter dibawah tanah.

Gambar 9.6. Skema pondasi telapak
3. Pondasi Rakit
Pondasi yang digunakan untuk mendukung bangunan yang terletak pada tanah lunak atau
digunakan apabila susunan kolom jaraknya sedemikian dekat di semua arahnya.
4. Pondasi Sumuran
Pondasi yang digunakan apabila tanah dasar yang kuat terletak pada kedalaman yang
relatif dalam. Bentuk peralihan antara pondasi dangkal dan tiang.
Fisika Tanah - 104


Gambar 9.7. Skema pondasi sumuran
5. Pondasi Tiang
Bila tanah pondasi pada kedalaman normal tidak mampu mendukung beban, sedangkan
tanah keras terletak pada kedalaman yang sangat dalam. Bila pondasi terletak pada tanah
timbunan yang cukup tinggi dipengaruhi settlement.

Gambar 9.8. Contoh pondasi tiang
6. Pondasi Tiang Pancang
Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 20 meter dibawah
permukaan tanah. Agar tidak terjadi penurunan digunakan tiang pancang, tetapi bila
terdapat batu besar pada lapisan antara, maka pemakaian caisson lebih menguntungkan.
7. Pondasi Caisson, Tiang Baja, Tiang Beton
Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman + 30 m dibawah permukaan tanah.
Bila kedalaman lebih dari 40 m dipakai tiang baja atau tiang beton yang di cor ditempat.
9.4. Konsolidasi
Setiap konsolidasi tanah terkait ke minimal 2 (dua) aspek. Yang pertama adalah perubahan
fisik tanahnya baik bentuk, letak dan luasnya dan yang kedua adalah aspek legalnya
dimana tanda bukti hak atau sertifikat tanah yang ada pun harus diupdate sehingga
mencerminkan fisik tanah yang baru.

Fisika Tanah - 105

Pada peristiwa konsolidasi ada dua hal penting :
1. Besarnya penurunan yang akan terjadi, yang ditentukan :
 Kompresibitas tanah
 Tebal tanah kompresibel
 Besarnya tambahan tekanan efektif
2. Laju konsolidasi, dipengaruhi oleh :
 Permeabilitas tanah
 Tebal tanah kompresibel
 Kondisi drainase di atas dan di bawah lapisan tanah kompresibel
Untuk bisa mampat, air yang ada didalam pori tanah harus dikeluarkan. Kecepatan
pemampatan dipengaruhi oleh proses keluarnya air dari dalam pori tanah dan sifat
kompresibilitas tanah.
Pasir adalah tanah yang sangat permeable dan tanah yang tidak kompresibel, sehingga
proses penurunan terjadi sangat cepat dan penurunannya kecil. Lempung yang kenyang air
adalah tanah yang rapat air dan bersifat kompresibel sehingga penurunan yang terjadi bisa
bertahun-tahun dan ponurunan yang terjadi besar.
9.4.1. Tanah Normal (Normally consolidated)
Tanah di alam pada umumnya telah mengalami konsolidasi primer selama bertahun-tahun
karena beratnya sendiri. Bagian tanah di A yang berada pada kedalaman h telah berpuluh-
puluh tahun memikul beban berat sendiri dari tanah yang ada diatasnya.
Tekanan efektif lapangan Po :
Po = ho

Gambar 9.9. Konsolidasi akibat adanya tegangan efektif tanah
9.4.2. Tanah Prakonsolidasi (Over Consolidated)
Adalah tanah yang pernah mengalami konsolidasi oleh beban yang lebih besar daripada
tekanan efektif yang sekarang. Misalnya suatu bukit yang mengalami longsoran.
Fisika Tanah - 106


Gambar 9.10. Konsolidasi akibat beban berlebihan
Tanah di B yang sekarang kedalamannya ho, ternyata pernah mengalami konsolidasi
dengan beban yang lebih besar pada waktu dulu.
Tekanan lapangan sekarang : Po = ho
Tekanan prakonsolidasi : Pc = hc
9.4.3. Tanah Teoritis
Tanah teoritis yaitu tanah yang belum mengalami konsolidasi meskipun oleh beratnya
sendiri.

Gambar 9.10. Sketsa tanah teoritis (belum terkonsolidasi)
9.4.4. Percobaan Konsolidasi di Laboratorium


Gambar 9.11. Alat uji konsolidasi tanah (Oedometer)
Benda uji : sampel tanah kenyang air, berbentuk bulat berdiameter 0.5 - 11 cm dan
ketebalannya 2.0 – 4.0 cm. Di atas dan di bawah benda uji dipasang batu pori agar pori
dapat keluar baik ke atas maupun ke bawah.
Fisika Tanah - 107

Cara kerja Oedometer :
1. Tanah kenyang air diberi beban P, dan diperbesar setiap tahap
2. Dalm setiap tahap ebban dibiarkan selama 24 jam
3. Diamati penurunan tebal tanah selama 24 jam pada waktu-waktu yan ditentukan
Percobaan yang dimaksudkan untuk mempelajari kompresibilitas suatu tanah tertentu,
yaitu :
1. Mempelajari hubungan antara beban P dan besarnya penurunan atau antar beban
dengan angka pori sehingga dapat ditentukan indeks kompresi atau koefisien
perubahan volume.
2. Mempelajari kecepatan penurunan dengan waktu bagi setiap tahap beban untuk
menentukan koefisien konsolidasi.
Penurunan tanah terjadi karena berkurangnya volume pori tanah, sehingga
pengurangan tebal diturunkan menjadi perubahan angka pori. Hubungan penurunan
dengna waktu bagi setiap beban digunakan untuk mempelajari waktu proses kembali.
9.4.5. Waktu Proses Konsolidasi dan Derajat Konsolidasi
Akibat adanya tambahan tekanan efektif pada lapisan tanah kompresif, tanah mengalami
konsolidasi yang prosesnya berlangsung lambat dan berlangsung dalam waktu yang lama.
Kecepatan konsolidasi dipengaruhi oleh :
 Koefisien konsolidasi tanah
 Tebal lapisan tanah kompresif
 Drainase tanah
9.5. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Menguraikan mekanisme dalam penentuan daya dukung tanah.
2. Menguraikan proses terjadinya konsolidasi tanah.
3. Mencari referensi lain tentang perhitungan daya dukung dan konsolidasi tanah.

9.6. Daftar Bacaan
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”,
Erlangga, Jakarta.
2. Dandung Sri Harninto, 2010, “Studi Prilaku Bahan”, FT UI, Jakarta.
3. Braja M. Das, Nur Endah, & Indrasurya B. Mochtar, 1985, “Mekanika Teknik: Prinsip-
Prinsip Rekayasa Geoteknis)”, Erlangga, Surabaya.
Fisika Tanah - 108
BAB 10 LIKUIFAKSI
10.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mampu
menjelaskan definisi, jenis, dan dampak likuifaksi tanah. Untuk mencapai kompetensi ini
digunakan metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan diskusi, kemudian
dilengkapi dengan makalah dan power point yang diperoleh dari referensi selain bahan ajar
ini.
10.2. Definisi
Pencairan tanah atau likuifaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah suatu
perilaku tanah yang mengalami perubahan tiba-tiba dari kondisi padat ke kondisi mencair,
atau memiliki sifat seperti air berat. Fenomena ini lebih mungkin terjadi pada tanah
berbutiran renggang atau moderat dengan penyaluran air (drainase) yang buruk, seperti
pada pasir lanauan (silty sand) atau pasir dan kerikil yang dilapisi atau mengandung
lapisan sedimen kedap. Sewaktu terjadi, misalnya pada peristiwa gempa bumi, pasir
renggang cenderung untuk mengalami penurunan volume, yang menyebabkan peningkatan
tekanan air pori dan, akibatnya, penurunan kekuatan geser (shear strength), yaitu
penurunan tegangan efektif.
Diketahui bahwa likuifaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat
getaran gempa. Lapisan pasir berubah menjadi seperti cairan sehingga tak mampu
menopang beban banguna di dalam atau di atasnya.
Syarat-syarat terjadinya likuifaksi pada sebuah wilayah, masing-masing lapisan tanah
berupa pasir atau lanau, lapisan tanah jenuh air, lapisan bersifat lepas (tidak padat), terjadi
gempa bermagnitudo di atas 5.0, dan berkecepatan gempa lebih dari 1.0 gal.
Gempa bumi diseluruh dunia sejak 4000 tahun yang lalu hingga kini, telah memakan
korban lebih dari 13 juta jiwa. Pusat-pusat kepadatan penduduk berada di daerah subur,
kemudahan mendapatkan air, pemandangan yang indah, kawasan tambang,perkotaan besar
serta daerah industri. Kebanyakan dari wilayah tersebut berada atau berdekatan dengan
wilayah seismik atau sabuk api.
Beberapa fenomena likuifaksi ditemui di indonesia di kawasan pascagempa, diantaranya
berupa semburan pasir yang menyumbat, longsoran lereng tanah, kegagalan pondasi
jembatan dan bangunan ambles.
Fisika Tanah - 109
Untuk mengetahui potensi daya dukung tanah dan likuifaksi dilakukan dengan dua cara;
pengeboran teknik mengambil sampel lapisan tanah dan pengeboran sondir yang mengukur
kepadatan lapisan tanah melalui alat manometer (tanpa mengambil sampel tanah).
Kedua teknik pengeboran penting dilakukan di titik-titik berbeda sebelum hasilnya
dianalisa dan menghasilkan peta daya dukung.
1. Tempat Terjadinya Likuifaksi
Mitigasi bahaya likuifaksi di daerah rawan gempabumi memerlukan pengetahuan yang
baik mengenai kondisi geologi dan geologi teknik lapisan tanah bawah permukaan yang
mengontrol kerentanan lapisan tanah terhadap peristiwa likuifaksi.
2. Syarat Terjadinya Likuifaksi
Syarat-syarat terjadinya peristiwa likuifaksi harus memenuhi beberapa kriteria, yakni :
a. lapisan tanahnya berupa pasir atau Lanau,
b. lapisan tanahnya jenuh air,
c. lapisan tanahnya bersifat terurai atau gembur (tidak padat),
d. gempa buminya harus kuat dan lama.
10.3. Ketika Tanah Mencair
Kota Urayasu adalah sebuah kawasan reklamasi.
Dulunya ini hanyalah sebuah kota nelayan kecil, tapi
kemudian seiring dibangunnya kawasan Disneyland
di sebelahnya, kota ini berkembang menjadi sebuah
kawasan elit. Kawasan elit yang kini penuh rumah-
rumah miring.
“Selamat pagi” kata Profesor Ikuo Towhata
dengan bahasa Indonesia yang fasih ketika
pertama kali bertemu di stasiun sebelum
mengantar kami. rupanya beliau pernah beberapa
kali ke Indonesia pasca gempa. Beruntung beliau
bersedia diajak berkeliling dan menjelaskan
fenomena yang baru buat kami ini.
Fisika Tanah - 110
Likuifaksi adalah sebuah istilah di
kalangan ahli geologi yaitu proses
“pencairan” tanah akibat berubahnya
sifat tanah dari keadaan padat menjadi
cair pasca guncangan gempa.
Fenomena ini biasa muncul pasca
gempa besar di kawasan reklamasi,
seperti yang terjadi di kota Urayasu,
Provinsi Chiba. Ini adalah foto-foto
hasil liputan beberapa hari lalu ke
kawasan itu, tiga minggu setelah gempa dahsyat itu terjadi. Sebuah pengalaman berharga
karena kami ditemani oleh seorang pakar likuifaksi dunia, Profesor Ikuo Towhata
“Manhole” alias gorong-gorong yang melesak ke
atas karena tekanan air di bawahnya. Ini juga
fenomena umum yang terjadi di sebuah kota
yang mengalami likuifaksi.
Retakan di pinggir pantai Kota Urayasu.
Pemandangan ini terjadi di mana-mana.
Seorang teman yang tengah berada di
Disneyland Tokyo, tidak jauh dari situ,
mengatakan saat gempa, tanah retak dan air
menyembur kencang dari dalam tanah.
Fisika Tanah - 111
Box telepon umum yang miring di sebelah
stasiun shin-urayasu. Tiga minggu
berselang, pembersihan telah banyak
dilakukan, tapi kota itu masih penuh pasir
Tiang listrik yang miring tengah berusaha
ditegakkan kembali. Pasokan listrik relatif
tidak terganggu. Tapi air dan gas putus
total karena pipa-pipa baja yang ditanam
didalam tanah patah berantakan.
Pemilik rumah ini rupanya sudah sangat
paham dengan likuifaksi. Saat
membangun rumahnya beberapa bulan
lalu, dia mengeluarkan dana sampai 1
juta yen (sekitar 100 juta rupiah) untuk
melakukan “ground compaction” alias
pemadatan tanah. Rumahnya pun tegap
tegak berdiri di tengah rumah lain yang
miring.. Perhatikan pipa-pipa kuning di
sekitar rumah itu.. Itu pipa plastik yang dipakai mengalirkan gas sementara.. Ngeri juga,
tapi ternyata sistem mereka cukup canggih. jadi begitu ada kebocoran sedikit saja, aliran
gas langsung mati.
Fisika Tanah - 112
Bangunan di sebuah klinik di Urayasu
yang ambles ke dalam tanah sekitar 50-
60 sentimeter
Di bawah lahan parkir ini kemungkinan ada
“septic tank” yang langsung terdorong ke atas
saat terjadi likuifaksi.
Ini adalah foto yang menjadi icon
untuk menggambarkan dampak
ekstrim akibat likuifaksi. Gambar
ini saya temukan di buku karya
Professor Towhata yang diambil
pasca gempa di Niigata beberapa
tahun silam. Perhatikan bangunan
apartemen di bagian tengah yang
sampai rebah ke tanah. Menurut
Profesor Towhata ini adalah
dampak likuifaksi tanah terburuk
yang pernah dilihatnya. Urayasu masih termasuk beruntung di bandingkan Niigata. Oya,
beliau juga bilang kalau di Aceh sempat terjadi likuifaksi, namun tidak terlalu nampak
karena kawasan sekitar yang tersapu tsunami.
Fisika Tanah - 113
10.4. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Menjelaskan bagaimana proses terjadinya likuifaksi di suatu tempat atau daerah.
2. Menguraikan faktor-faktor penyebab terjadinya likuifaksi.
3. Mencari referensi lain tentang gambar dan artikel likuifaksi.
10.5. Daftar Bacaan
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”,
Erlangga, Jakarta.
2. Dandung Sri Harninto, 2010, “Studi Prilaku Bahan”, FT UI, Jakarta.
3. Sri Atmaja P. Rosyidi, Surya Budi Lesmana, Djoko Wintolo, Anita Widianti, 2010,
“Prosedur Analisis Likuifaksi Menggunakan Vs”, Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta, Yogyakarta.
Fisika Tanah - 114
BAB 11 STABILITAS LERENG
11.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mampu
menjelaskan definisi dan klasisfikasi stabilitas lereng serta faktor keamanan. Untuk
mencapai kompetensi ini digunakan metode pembelajaran SCL dengan cara presentasi dan
diskusi, kemudian dilengkapi dengan makalah dan power point yang diperoleh dari
referensi selain bahan ajar ini.
11.2. Definisi
Gerakan tanah (mass movement) adalah gerakan perpindahan atau gerakan lereng dari
bagian atas atau perpindahan massa tanah maupun batu pada arah tegak, mendatar atau
miring dari kedudukan semula.
Longsoran adalah pergerakan masa tanah atau batuan sepanjang bidang gelincir atau suatu
permukaan bidang geser. Massa batuan adalah kondisi material dan bidang-bidang
diskontinuitas yang dimiliki batuan (Bieniawski, 1989).
Lereng adalah permukaan bumi yang membentuk sudut kemiringan tertentu dengan bidang
horisontal. Lereng dapat terbentuk secara alamiah karena proses geologi atau karena dibuat
oleh manusia. Lereng yang terbentuk secara alamiah misalnya lereng bukit dan tebing
sungai, sedangkan lereng buatan manusia antara lain yaitu galian dan timbunan untuk
membuat jalan raya dan jalan kereta api, bendungan, tanggul sungai dan kanal serta
tambang terbuka.
Penyebab-penyebab longsoran diantaranya (Highway Research Board, 1978, dalam
Bandono dan Sadisun, 1997), yaitu :
11.3. Lereng
Lereng secara umum dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu lereng alami dan lereng
buatan.
1. Lereng Alami
Lereng alami yang telah berada dalam kondisi yang stabil selama puluhan atau bahkan
ratusan tahun dapat tiba-tiba runtuh sebagai akibat dari adanya perubahan kondisi
lingkungan, antara lain seperti perubahan bentuk topografi, kondisi air tanah, adanya
gempa bumi maupun pelapukan. Kadang-kadang keruntuhan tersebut juga dapat
Fisika Tanah - 115
disebabkan oleh adanya aktivitas konstruksi seperti pembuatan jalan raya, jalan kereta api,
saluran air dan bendungan.
2. Lereng Buatan
a. Timbunan
Analisis kestabilan lereng timbunan biasanya lebih mudah dan mempunyai ketidakpastian
yang lebih rendah daripada lereng alami dan galian. Hal ini disebabkan karena material
yang digunakan untuk timbunan dapat dipilih dan dikontrol dengan baik. Kestabilan lereng
timbunan dari material yang berkohesi seperti lempung, pasir berlempung, tergantung pada
beberapa faktor sebagai berikut: sudut gesek, kohesi, berat jenis tanah, tekanan air pori dan
geometri lereng. Longsoran yang biasanya terjadi pada jenis timbunan ini biasanya
merupakan gelinciran yang dalam dengan permukaan yang menyentuh bagian atas dari
lapisan keras yang berada di bawah timbunan.
Kestabilan timbunan harus ditentukan untuk beberapa kondisi sebagai berikut:
 Kestabilan jangka pendek atau akhir konstruksi
 Kestabilan jangka panjang
 Penurunan muka air tanah mendadak
Kestabilan lereng timbunan akan berkurang apabila tinggi timbunan dinaikkan karena
lereng akan semakin tinggi dan beban pada pondasi juga bertambah. Sebagai akibatnya
maka kestabilan jangka pendek atau kestabilan pada akhir konstruksi timbunan biasanya
merupakan kondisi kestabilan yang paling kritis dan lebih menentukan daripada kestabilan
jangka panjang. Setelah timbunan selesai dibuat maka faktor keamanan akan bertambah
seiring dengan bertambahnya umur timbunan karena adanya konsolidasi pada timbunan
dan berkurangnya tekanan air pori sehingga kekuatan geser timbunan akan bertambah.
Gambar 11.1. Gambar kondisi kestabilan timbunan di atas tanah lempung
Fisika Tanah - 116
Gambar 11.2. Contoh timbunan jalan raya
Gambar 11.3. Contoh timbunan jalan kereta api
b. Galian
Tujuan dari rancangan galian adalah untuk menentukan tinggi dan sudut kemiringan lereng
yang optimum sehingga lereng tetap stabil dalam jangka waktu yang diinginkan. Lamanya
kondisi kestabilan lereng yang harus dipenuhi ditentukan oleh apakah galian bersifat
permanen atau sementara, pekerjaan perawatan yang dirancang pada lereng serta
pemantauan kondisi kestabilan yang dipasang pada lereng. Galian dapat dibuat dengan
sudut kemiringan tunggal atau menggunakan sudut kemiringan yang bervariasi sesuai
dengan tipe material yang digali. Misalnya untuk lereng yang terdiri dari material tanah
dan batuan, sudut kemiringan lereng batuan dapat dibuat lebih terjal daripada lereng tanah.
Penggalian lereng juga dapat dilakukan secara berjenjang dengan menggunakan berm
untuk setiap interval ketinggian. Apabila penggalian dilakukan secara berjenjang maka
Fisika Tanah - 117
harus dilakukan analisis untuk kestabilan lereng secara keseluruhan maupun lereng tunggal
pada setiap jenjang.
Gambar 11.4. Contoh galian berupa tambang terbuka
Bendungan merupakan perubahan lereng yang kombinasi antara galian dan timbunan.
Kebanyakan lereng di sekitar bendungan bertipe urukan, seperti gambar berikut.
Gambar 11.5. Contoh lereng pada bendungan tipe urukan
Fisika Tanah - 118
11.4. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tanah Longsor
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada
gaya penahan. Gaya penehan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan
tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban
(gravitasi), serta berat jenis tanah-batuan.
11.4.1. Pengaruh gaya gravitasi
Pada batuan atau hancurannya yang terletak di atas lereng, mengalami gaya tarik bumi
(gravitasi g) ke bawah (pusat bumi), seperti pada gambar 11.6.
Gambar 11.6. Benda pada bidang miring dipengaruhi oleh gravitasi (g) yang dapat
diuraikan sebagai gaya tegak lurus bidang (g
p
) dan gaya pada bidang (g
t
)
Uraian gaya gravitasi yang tegak terhadap bidang (g
p
= g cos ) menahan massa batuan
pada bidang sedangkan yang sejajar bidang (g
t
= g sin ) menarik massa batuan menuruni
lereng. Dalam kondisi g
p
lebih besar dari g
t
batuan tetap ditempatnya, akan tetapi jika g
t
menjadi lebih besar dari g
p
oleh karena lereng lebih terjal (sudut  membesar), maka
batuan akan bergerak turun lereng. Gaya yang menarik turun lereng disebut shear stress.
Faktor lain yang mempengaruhi kesetimbangan ini adalah gaya gesekan dalam. Gaya
gesekan dan kohesi antar butir dalam batuan dinamakan shear strength. Jika shear strength
lebih besar dari shear stress atau seimbang maka batuan atau runtuhannya tidak akan
bergerak turun lereng dimana hubungan keduanya dinyatakan sebagai faktor keamanan
(safety factor, Fs) lereng. Lereng dengan nilai Fs kurang dari 1 maka rawan longsor.

g
t
g
g
p
Fisika Tanah - 119
Nilai shear stress bertambah karena lereng menjadi lebih curam yang disebabkan oleh
erosi, adanya getaran gempa, dan bertambahnya beban. Bertambah curamnya lereng berarti
sudut  menjadi lebih besar dan mengakibatkan g sin  > g cos  .
11.4.2. Pengaruh Air
Pada musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di
permukaan tanah secara besar-besaran. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau
rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya permukaan tanah.
Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian tanah yang retak sehingga tanah dengan cepat
mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya
sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Air hujan dengan mudah merembes pada tanah yang gembur dan batuan yang berongga
atau retak-retak. Air rembesan ini berkumpul antara tanah penutup dan batuan asal atau
lapisan dasar yang kedap air. Tempat air rembesan ini berkumpul dapat berfungsi sebagai
bidang luncur jika terjadi gerakan tanah. Meningkatnya kadar air dalam lapisan tanah atau
batuan terutama yang terletak pada lereng-lereng bukit, akan mempermudah terjadinya
longsor.
Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena melalui tanah yang
merekah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan
gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat dicegah karena
air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah. Air
bukanlah penyebab utama dan bukan juga sebagai media transportasi akan tetapi ia
mempunyai peran penting.
Pengaruh air pada gerak tanah adalah sebagai: penambahan beban (memperbesar g),
memperkecil gaya kohesi akibat tekanan air dan mungkin juga melarutkan perekat antar
butir, tekanan ke atas air akan mengurangi gaya gesek.
11.4.3. Faktor Topografi (Kelerengan)
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong lereng yang terjal
terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut
lereng yang menyebabkan longsor adalah 18
0
apabila ujung lerengnya terjal dan bidang
longsorannya mendatar (gambar 11.7).
Fisika Tanah - 120
11.4.4. Faktor Struktur
Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung) yang merupakan bidang lemah
dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor. Bidang tersebut memiliki ciri
sebagai berikut :
 Bidang perlapisan batuan
 Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar.
 Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat.
 Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang kedap air.
 Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah yang dapat berfungsi sebagai bidang
luncuran tanah longsor.
11.4.5. Faktor Kegempaan
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan atau letusan
gunungapi, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Semua itu dapat menyebabkan
retaknya tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah (gambar 11.8).
11.5. Jenis-Jenis Tanah Longsor
Proses tanah longsor dipengaruhi oleh tipe material, tipe gerakan, ada tidaknya air, dan
kecepatan gerakan, membuat klasifikasi gerakan tanah menjadi kompleks. Proses tanah
longsor tidak lepas dari factor kegagalan lereng secara mendadak dan aliran material.
Dengan demikian garakan tanah dapat dibedakan atas tiga jenis utama, yaitu: falls (jatuhan
pecahan batuan dan sedimen yang lepas ke dasar lereng), slides (longsoran batuan atau
sedimen dengan permukaan planar), dan flows (longsoran yang mengalir laksana fluida
kental.
Gambar 11.7. Tebing yang terjal Gambar 11.8. Badan jalan retak dan
jatuh
Fisika Tanah - 121
11.5.1 Falls
Fall adalah gerak pecahan batuan besar atau kecil yang terlepas dari batuan dasar dan jatuh
bebas. Biasanya terjadi pada tebing-tebing yang terjal dimana material lepas tidak dapat
tetap ditempatnya, dapat langsung jatuh atau membentur-bentur dinding tebing sebelum
sampai di bawah tebing. Contoh pada tebing di pinggir jalan yang baru dikupas terutama
batuannya masih segar atau agak lapuk dan banyak rekahan (gambar 11.9).
Gambar 11.9. Jatuhan atau runtuhan batu
11.5.2 Slides
Slides adalah material yang bergerak masih agak koheren dan bergerak diatas suatu
permukaan bidang. Bidang luncurannya dapat berupa bidang rekahan, kekar atau bidang
perlapisan yang sejajar dengan lereng. Slide dibedakan menjadi rockslide (longsoran massa
batuan dengan bentuk plat) dan slump (longsoran massa dengan permukaan melengkung).
1. Rockslide
Rockslide (gerakan blok) adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir
berbentuk rata. Longsor ini disebut juga longsor translasi blok batu (gambar 11.10).
Gambar 11.10. Gerakan blok batu Gambar 11.11. Longsoran rotasi
Fisika Tanah - 122
2. Slump
Slump adalah keruntuhan lereng dimana batuan atau regolith bergerak turun dan maju
disertai gerak rotasional yang berlawanan dengan arah massa yang bergerak, melalui
bidang lengkung dan cekung ke atas. Ujung blok yang turun biasanya terangkat akibat
rotasi, membentuk lereng baru yang landai dan berlawanan arah dengan bidang luncurnya.
Slump dapat terjadi sendiri-sendiri atau berkelompok. Gerak perpindahan material tidak
cepat dan tidak jauh (gambar 11.11).
11.5.3 Flows
Flow (aliran) terjadi apabila material bergerak menuruni lereng sebagai cairan kental
dengan cepat dan umumnya dijumpai berupa campuran sedimen, air dan udara dengan
memperhatikan kecepatan dan konsentrasi sedimen yang mengalir. Yang sering terjadi
adalah aliran lumpur (mud flow), aliran debris dengan banyak air dan utamanya partikel
halus. Tipe gerak tanah ini umumnya terjadi didaerah yang curah hujannya tinggi.
Kecepatan alirannya tidak hanya bergantung pada kecuraman lereng akan tetapi juga pada
kandungan air.
1. Mud Flow
Mud flow (aliran lumpur) adalah gerakan massa tanah dan batuan berukuran lempung pada
bidang gelincir berbentuk rata atau bergelombang landai. jenis ini biasa disebut longsor
translasi blok (gambar 11.12).
2. Debris Flow
Debris Flow (aliran bahan rombakan) adalah gerakan massa tanah yang bergerak akibat
dorongan air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan
air, dan materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai
ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat biasa sampai ribuan meter, seperti di daerah
Gambar 11.12. Longsor translasi Gambar 11.13. Aliran bahan rombakan
Fisika Tanah - 123
aliran sungai, dan sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan banyak korban
(gambar 11.13).
3. Creep
Creep (rayapan) merupakan tipe dimana gerakannya sangat lambat, sehingga tidak
teramati, hanya akibatnya seperti dinding rumah retak-retak akibat pondasinya perlahan-
lahan bergeser, tiang-tiang dan pepohonan tumbuhnya melengkung. Rayapan dapat terjadi
juga karena tanah jenuh air, daya kohesinya berkurang dan tanah mudah bergerak ke
bawah lereng (gambar 11.14).
Tanah longsor dapat pula diklasifikasikan menurut modelnya yang didekati dengan
mengasumsikan adanya bidang gelincir potensial pada penampang 2-D suatu lereng.
Dengan demikian model tanah longsor pada suatu lereng dapat dibedakan menjadi: longsor
lingkaran, longsor busur, dan longsor bidang.
a. Longsor Lingkaran (Circular Failure)
Longsor lingkaran paling sering terjadi di alam, terutama pada lereng yang terdiri dari
tanah homogen. Longsor ini juga terjadi pada batuan lapuk yang memiliki bidang-bidang
rapat yang tak menerus (heavily joint) atau pada timbunan batu pecah.
b. Longsor Busur (Semi-Log Failure)
Longsor ini hampir sama dengan longsor lingkaran, hanya saja bidang gelincirnya tidak
membentuk lingkaran tapi agak landai (semi log). Longsor jenis ini terjadi pada daerah
yang tanahnya terdiri dari beberapa lapisan namun tidak terdapat bidang-bidang lemah.
Umumnya longsor ini merupakan gabungan longsor lingkaran dengan longsor bidang.
Gambar 11.14. Rayapan tanah
Fisika Tanah - 124
c. Longsor Bidang (Plane Failure)
Longsor bidang biasanya terjadi pada batuan yang mempunyai bidang gelincir bebas (day
light) yang dianggap rata dan mengarah ke lereng. Bidang gelincir tersebut dapat berupa
bidang diskontinu seperti bidang sesar, kekar/rekahan (joint), liniasi maupun bidang
perlapisan batuan.
Longsoran bidang akan terjadi bila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
 Terdapat bidang gelincir bebas, artinya kemiringan bidang gelincir lebih kecil dari
kemiringan lereng ( < ).
 Kemiringan bidang gelincir lebih besar dari sudut geser dalam batuan( > ).
 Arah bidang gelincir sejajar atau mendekati sejajar dengan arah lereng.
 Tidak terdapat gaya penahan di kedua sisi longsoran.
11.6. Kestabilan Lereng
Parameter-parameter yang mempengaruhi kondisi kestabilan lereng antara lain yaitu:
• Geometri lereng
• Kekuatan geser material
• Berat satuan materil
• Tekanan air pori.
Terdapat beberapa kesulitan yang dihadapi dalam analisis kestabilan lereng alami karena
beberapa hal sebagai berikut:
- kesulitan untuk mendapatkan data masukan, (seperti model geologi, hubungan
tegangan-regangan, distribusi tekanan air pori), yang memadai.
- tingginya tingkat ketidakpastian mengenai mekanisme longsoran yang mungkin terjadi
serta proses-proses penyebabnya.
Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan dalam analisis kestabilan lereng alami antara
lain yaitu menentukan apakah longsoran yang mungkin terjadi merupakan longsoran yang
pertama kali atau longsoran yang terjadi pada bidang geser yang sudah ada serta
kemungkinan terjadinya longsoran apabila dibuat suatu pekerjaan konstruksi atau
penggalian pada lereng.
Bila dalam analisa kestabilan lereng diasumsikan bahwa longsoran akan membentuk
bidang longsor berupa lingkaran, maka dasar-dasar statika dapat digunakan untuk
Fisika Tanah - 125
menentukan keadaan aman atau tidaknya suatu lereng. Bila longsoran total dianggap
silindris, maka bidang longsor penampang lereng tersebut merupakan unsur lingkaran.
Gaya-gaya yang mempengaruhi keseimbangan massa longsoran adalah momen-momen
gaya yang bekerja terhadap titik pusat dari busur lingkaran longsor.
Untuk mengidentifikasikan terjadinya suatu gerakan tanah, penting untuk diketahui faktor
keamanan lereng, yaitu dengan membandingkan momen penahan longsor terhadap momen
penggeraknya. Kekuatan geser (shear strength) maksimum yang ada pada tanah digunakan
dalam menghitung momen penahan. Kelongsoran terjadi bila momen penggerak melebihi
momen penahannya. Faktor keamanan lereng dinyatakan sebagai:
penggerak momen
penahan momen
FK 
FK > 1 berarti lereng dalam keadaan mantap,
FK = 1 berarti lereng diambang kelongsoran,
FK < 1 berarti lereng mengalami kelongsoran.
Pada kenyataannya di lapangan, perencanaan maupun penentuan faktor keamanan lereng
tidak dapat ditentukan dengan pasti. Untuk itu digunakan interval nilai faktor keamanan
dalam menetapkan faktor keamanan dari suatu lereng (tabel 2.1 dan tabel 2.2).
Tabel 11.1 Nilai faktor keamanan terhadap keadaan lereng
Nilai FK Kemungkinan Longsor
FK < 1.07
1.07 < FK < 1.25
FK > 1.25
Kelongsoran biasa terjadi
Kelongsoran pernah terjadi
Kelongsoran jarang terjadi
Sumber : Joseph, 1986
Tabel 11.2 Nialai FK untuk perencanaan lereng
Nilai FK Keadaan Lereng
< 1.0
1.0 – 1.2
1.3 – 1.4
1.5 – 1.7
Tidak mantap
Kemantapan diragukan
Memuaskan untuk pemotongan dan penimbunan
Mantap untuk bendungan
Sumber : Suyono, 1983.
Fisika Tanah - 126
11.7. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Menjelaskan mekanisme terjadinya longsor.
2. Menguraikan faktor-faktor penyebab terjadinya longsor.
3. Mencari referensi lain tentang contoh perhitungan faktor keamanan suatu lereng.
11.8. Daftar Bacaan
1. Joseph E. Bowles, Johan K Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”,
Erlangga, Jakarta.
2. Sosrodarsono, Suyono, et al, 1983, ”Mekanika Tanah dan Teknik Fondasi”, Pradya
Paramita, Jakarta.
3. Syamsuddin, 2007, ”Penentuan Struktur Bawah Permukaan Bumi Dangkal dengan
Menggunakan Metoda Geolistrik Tahanan Jenis 2D”, Tesis, ITB, Bandung.
Fisika Tanah - 127
BAB 12 DUKUNGAN METODE GEOFISIKA DALAM FISIKA TANAH
12.1. Pendahuluan
Kompetensi akhir yang akan diharapkan dari bagian pembelajaran ini, adalah: Mengetahui
mengetahui metode-metode geofisika yang erat hubungan dengan sifat fisis dan mekanika
tanah. Untuk mencapai kompetensi ini digunakan metode pembelajaran SCL yang diawali
dengan ceramah, diskusi (Interaktif).
12.2. Definisi
Metode Geofisika adalah suatu cara mengidentifikasi material di bawah permukaan dengan
melakukan pengukuran di permukaan bumi. Ada beberapa metode Geofisika yang dikenal,
antara lain: Metode Gravitasi, Metode Geolistrik, Metode Geomagnet, Metode Seismik,
dan Metode Elektromagnetik. Dari sekian banyak metode yang ada, setidaknya ada dua
metode yang sangat erat hubungannya dengan Fisika Tanah, yaitu: Metode Geolistrik dan
Metode Seismik.
12.3. Metode Seismik
Metode seismik adalah metode Geofisika yang menggunakan perambatan gelombang
mekanik. Metode seismik dapat dibedakan atas dua bagian, yaitu: seismik refleksi dan
seismik refraksi. Metoda seismik refleksi mengukur waktu yang diperlukan suatu impuls
suara untuk melaju dari sumber suara, terpantul oleh batas-batas formasi geologi, dan
kembali ke permukaan tanah pada suatu geophone. Refleksi dari suatu horison geologi
mirip dengan gema pada suatu muka tebing atau jurang. Metoda seismik repleksi banyak
dimanfaatkan untuk keperluan Explorasi perminyakan, penetuan sumber gempa ataupun
mendeteksi struktur lapisan tanah. Sedangkan Metoda seismik refraksi mengukur
gelombang datang yang dipantulkan sepanjang formasi geologi di bawah permukaan tanah.
Peristiwa refraksi umumnya terjadi pada muka air tanah dan bagian paling atas formasi
bantalan batuan cadas. Grafik waktu datang gelombang pertama seismik pada masing-
masing geofon memberikan informasi mengenai kedalaman dan lokasi dari horison-
horison geologi ini. Informasi ini kemudian digambarkan dalam suatu penampang silang
untuk menunjukkan kedalaman dari muka air tanah dan lapisan pertama dari bantalan
batuan cadas. Sumber getar dari metode ini adalah: Palu (pukulan) dan Dinamik. Pada
pokok bahasan ini hanya mengkaji metode seismik refraksi.
Fisika Tanah - 128
12.3.1. Prinsip Dasar Metode seismik
Penggunaan metode seismik refraksi pada daerah ini bertujuan untuk mengetahui batas
kontak antara batugamping dan breksi dengan masa dasar lempung. Perbedaan kecepatan
antara lapisan ini menjadi dasar penggunaan metode ini dalam menentukan batas kontak.
Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui prinsip dasar metode seismik refraksi.
Gelombang seismik yang dihasilkan dari sumber, penjalarannya sebagian ada yang
dipantulkan dan dibiaskan. Secara garis besar anggapan yang dipakai dalam penjalaran
gelombang seismik sebagai berikut :
1. Panjang gelombang seismik lebih kecil dari ketebalan lapisan bumi. Hal ini
memungkinkan setiap lapisan yang mempunyai syarat tersebut akan dapat terdeteksi.
2. Gelombang seismik dianggap sebagai sinar seismik yang memenuhi hukum-hukum
Snellius (gambar 12.1), prinsip Huygens (setiap titik yang dilalui muka gelombang
akan menjadi sumber gelombang baru, gambar 12.2) dan prinsip Fermat yaitu
penjalaran gelombang dari suatu titik ke titik lainnya akan melewati lintasan dengan
waktu minimum.
3. Pada bidang batasa antar lapisan, gelombang seismik merambat dengan kecepatan
pada lapisan di bawahnya.
4. Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.
Selain itu anggapan medium yang dilalui oleh gelombang seismik adalah :
1. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan setiap lapisan menjalarkan gelombang
seismik dengan kecepatan yang berbeda.
2. Bertambanya kedalaman, batuan akan semakin kompak.
Gambar 12.1. Prinsip dasar Hukum Snellius
Ilustrasi penjalaran gelombang refraksi melalui bidang batas 2 medium yang berbeda dapat
dilihat pada gambar 12.3. Karena gelombang ini merambat pada bidang batas maka
gelombang ini terbiaskan pada kondisi kritis.
Persamaan hukum Snellius :
2
1
sin
sin
V
V
r
i
=
untuk sudut datang dimana gelombang akan merambat sejajar dengan perlapisan (sudut
kritis) :
2
1 1
sin
V
V
i
c
÷
=
Gambar
Pada tahap pertama dari survei seismik refraksi adalah memilih lokasi dan panjang lintasan
survei dengan menggunakan peta topografi daerah penyelidikan. Lokasi lintasan survei
harus diset untuk mencapai tujuan survei secara efisien, yaitu menggunakan infor
yang ada pada peta topografi dan peta geologi. Pada dasarnya akan lebih baik bila memilih
lintasan survei pada permukaan yang datar.
Fisika Tanah
Ilustrasi penjalaran gelombang refraksi melalui bidang batas 2 medium yang berbeda dapat
.3. Karena gelombang ini merambat pada bidang batas maka
gelombang ini terbiaskan pada kondisi kritis.
untuk sudut datang dimana gelombang akan merambat sejajar dengan perlapisan (sudut
Gambar 11.2. Prinsip Huygens.
Gambar 12.3. Penjalaran Gelombang Bias.
Pada tahap pertama dari survei seismik refraksi adalah memilih lokasi dan panjang lintasan
survei dengan menggunakan peta topografi daerah penyelidikan. Lokasi lintasan survei
harus diset untuk mencapai tujuan survei secara efisien, yaitu menggunakan infor
yang ada pada peta topografi dan peta geologi. Pada dasarnya akan lebih baik bila memilih
lintasan survei pada permukaan yang datar.
Fisika Tanah - 129
Ilustrasi penjalaran gelombang refraksi melalui bidang batas 2 medium yang berbeda dapat
.3. Karena gelombang ini merambat pada bidang batas maka
untuk sudut datang dimana gelombang akan merambat sejajar dengan perlapisan (sudut
Pada tahap pertama dari survei seismik refraksi adalah memilih lokasi dan panjang lintasan
survei dengan menggunakan peta topografi daerah penyelidikan. Lokasi lintasan survei
harus diset untuk mencapai tujuan survei secara efisien, yaitu menggunakan informasi
yang ada pada peta topografi dan peta geologi. Pada dasarnya akan lebih baik bila memilih
Fisika Tanah - 130
Panjang lintasan survei tergantung pada kedalaman eksplorasi yang diinginkan. Bila
menggunakan Metoda Hagiwara sebagai metoda interpretasi, diperlukan suatu pasangan
kurva travel time bolak-balik (reciprocal travel time curve) yang direfraksikan dari suatu
lapisan pada kedalaman penyelidikan. Panjang survei (spread) dapat diestimasi dengan
mengasumsikan model struktur dua lapis paralel seperti yang terlihat pada gambar 1. Jarak,
Axa (dari A ke Xa) dapat ditulis sebagai:
( )
( )
1 2
1 2
V V
V V
ha 2 AXa
÷
+
=
dimana h : ketebalan lapisan permukaan
V
1
: kecepatan lapisan permukaan
V
2
: kecepatan refraktor
Rekaman titik penerima A ke Xa, kedatangan pertama (first arrival) merupakan
gelombang langsung dan kedatangan pertama (first break) dari gelombang refraksi tidak
muncul. Jarak BXb (titik-titik penerima untuk gelombang refraksi) dapat diturunkan
dengan cara yang sama, yaitu:
( )
( )
1 2
1 2
V V
V V
hb 2 AXb
÷
+
=
Jarak XaXb, harus cukup panjang untuk menentukan kecepatan refraktor, biasanya dipilih
20 sampai 30 kali jarak antar penerima. Akhirnya, panjang lintasan L dapat digambarkan
sebagai berikut:
XaXb BXb AXa L + + >
Dalam upaya mendapatkan kedalaman eksplorasi yang cukup untuk memenuhi tujuan
penyelidikan, panjang survei (spread) harus lebih besar dari L.
Untuk interpretasi seismik refraksi dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain :
1. Metoda T – X
2. Metoda Waktu Tunda (Delay Time)
3. Metoda Hagiwara
4. Metoda Matsuda
5. Metoda GRM (Generalized Reciprocal Method)
Fisika Tanah - 131
Pada interpretasi data kali ini megunakan Metoda Hagiwara, sehingga dalam penulisan ini
hanya dibahas tentang prinsip perhitungan Metoda Hagiwara. Pada Gambar 12.4, v
1
dan v
2
masing-masing adalah kecepatan lapisan atas dan kecepatan lapisan bawah, dan i adalah
sudut kritis refraksi. Dengan Hukum Snellius:
2
1
sin
v
v
i =
A dan B adalah titik tembak dan P adalah titik penerima (geophone). Lintasan gelombang
bias dari A ke P adalah A → A″ → P″ → P dan lintasan dari B ke P adalah B → B″ → P″
→ P. Dengan menggambar garis P′ R yang tegak lurus dari P′ ke P P″, diperoleh hubungan
2 2 1
" '
sin
" "
v
P P
i v
RP
v
RP
= =
Oleh kerena itu,
2 1 1 1 1
" '
cos
" "
v
P P
v
i h
v
RP
v
PR
v
PP p
+ = + =
Dengan cara yang sama, dapat diperoleh :
2 1 1
2 1 1
2 1 1
cos
cos
cos
v
B'B"
v
i h
v
BB"
v
A'A"
v
i h
v
AA"
v
P'P"'
v
i h
v
' PP"
B
A
p
+ =
+ =
+ =

Gambar 12.4. Lintasan gelombang bias untuk struktur dua lapis
h
P
i i
R
P
P’ P’’’ P”
h
A
i
A
A’
A”
h
B
i
B
B’
B”
v1
v2
Shot Point Shot Point Receiving Point
Gambar
Bila dinotasikan waktu perambatan gelombang bias dari titik tembak A ke titik penerima P
dengan T
AP
, waktu perambatan dari B ke P dengan
dengan T
AB
, maka
2 1
2 1
2 1
" " "
' " " "
" " "
B
v
B A
v
AA
T
P
v
P B
v
BB
T
P
v
P A
v
AA
T
AB
BP
AP
+ + =
+ + =
+ + =
Dari persamaan (3) diperoleh hubungan sebagai berikut:
P
BP AP
v
i h
T T + = +
1
cos 2
(
cos 2
1
BP AP P
T T
i
v
h + =
Dalam persamaan di atas, v
langsung dekat titik tembak, dan
cos i tidak dapat dicari, karena
kedalaman h
P
dan titik penerima
Misalkan besar T′
AP
ditunjukkan oleh persamaan:
2
(
'
BP AP
AP AP
T T
T T
+
÷ =
Fisika Tanah
Gambar 12.5. Kurva travel time bolak-balik
Bila dinotasikan waktu perambatan gelombang bias dari titik tembak A ke titik penerima P
atan dari B ke P dengan T
BP
dan waktu perambatan dari A ke B
2 1 1 1
2 1 1 1
2 1 1 1
' ' cos cos "
' ' cos cos ' "
' ' cos cos "
v
B A
v
i h
v
i h
v
P B
v
P B
v
i h
v
i h
v
P P
v
P A
v
i h
v
i h
v
P P
B A
P B
P A
+ + =
+ + =
+ + =

Dari persamaan (3) diperoleh hubungan sebagai berikut:
AB
T +
)
AB
T ÷
v
1
dapat diperoleh dari kurva travel-time dari gelombang
langsung dekat titik tembak, dan T
AP
, T
BP
dan T
AB
diperoleh dengan cara observasi. Tetapi
tidak dapat dicari, karena v
2
biasanya tidak diketahui. Jika harga
dan titik penerima P.
ditunjukkan oleh persamaan:
2
)
AB BP
T ÷

Fisika Tanah - 132
Bila dinotasikan waktu perambatan gelombang bias dari titik tembak A ke titik penerima P
dan waktu perambatan dari A ke B
time dari gelombang
diperoleh dengan cara observasi. Tetapi
biasanya tidak diketahui. Jika harga v
2
diketahui,
Fisika Tanah - 133
Dari beberapa persamaan di atas, dapat dituliskan
2 1
' ' cos
'
v
P A
v
i h
T
A
AP
+ =
Jarak x diukur ke arah B, dengan mengambil A sebagai titik referensi (origin),  adalah
sudut gelombang yang merambat pada lapisan bawah ke garis horisontal. Kemudian A′ P′
diperoleh dari persamaan
}
=
P
A
dx
P A
 cos
' '
Pada dasarnya harga  tidak terlalu besar, maka dapat diambil pendekatan cos  = 1.
Oleh karena itu A′ P′ = x merupakan pendekatan yang sangat dimungkinkan. Sehingga:
2 1
cos
'
v
x
v
i h
T
A
AP
+ =
Persamaan ini merupakan persamaan linier terhadap x, jika diambil x sebagai absis dan
T
AP
sebagai ordinat dan diplot titik-titik yang bersesuaian. Garis lurus tersebut merupakan
suatu short (bentuk kurva yang lebih pendek) dari travel time curve yang dikandung oleh
titik-titik yang berhubungan. Nilai T
AP
diperoleh dari:
2
1
) ' (
v
T
dx
d
AP
=
T
AP
merupakan besaran yang menunjukkan kecepatan pada lapisan bawah, yang disebut
sebagai “velocity travel time”. Dengan cara yang sama dapat diperoleh nilai T
BP
.
Dengan menggunakan nilai v
2
maka nilai cos i dapat dihitung. Untuk x = 0 pada persamaan
diatas, dinotasikan harga dari T
AP
maka didapat:
1
cos
'
v
i h
A
A
= 
dengan h
A
adalah kedalaman pada titik A.
Lereng alami yang telah berada dalam kondisi yang stabil selama puluhan atau bahkan
ratusan tahun dapat tiba-tiba runtuh sebagai akibat dari adanya perubahan kondisi
Fisika Tanah - 134
lingkungan, antara lain seperti perubahan bentuk topografi, kondisi air tanah, adanya
gempa bumi maupun pelapukan. Kadang-kadang keruntuhan tersebut juga dapat
disebabkan oleh adanya aktivitas konstruksi seperti pembuatan jalan raya, jalan kereta api,
saluran air dan bendungan.
12.3.2. Metode Seismik Refraksi dalam Fisika Tanah
Peranan metode Seisimik refraksi sangat penting dalam hal penentuan batas antara soil
(tanah) dengan batuan kompak di bawahnya. Pada beberapa keadaan metode seismik
refraksi sangat dibutuhkan, misalnya suatu instansi yang hendak mendirikan bagunan
bertingkat maka dibutuh kan informasi tentang bedrock (batuan dasar). Informasi tentang
batuan dasar dibutuhkan untuk keperluan pembuatan pondasi. Bila suatu bangunan
bertingkat pondasinya tidak sampai pada batuan dasar atau batuan kompak, maka besar
kemungkinan terjadi konsolidasi atau penurunan pondasi. Hal tersebut dapat
membahayakan bagi penghuni bangunan tersebut. Selian penentuan batas tanah dan
batuan, juga dapat ditentuk jenis material yang dilalui gelombang mekanik dengan melihat
kecepatan yang diperoleh.
12.4. Metode Geolistrik
Metode geolistrik bertujuan untuk mengetahui jenis batuan pada lapisan bumi berdasar
besaran resistivitas atau konduktivitasnya dengan cara mengamati potensial listrik dalam
batuan yang bersesuai dengan aliran arus listrik yang disuntikan disuatu di permukaan
bumi, kemudian mengamati potensial dititik –titik disekitar sumber arus tersebut.
Selanjutnya dengan memanfaatkan hukum Ohm dan medan potensial yang dihasilkan
dapat diidentifikasi jenia batuan yang ada disetiap lapisan, jumlah lapisan, ketebalan
lapisan dan tentu saja dengan asumsi bahwa setiap lapisan berbeda sifat kelistrikannya
dengan lapisan lain dan umum didekati dengan asumsi setiap lapisan bersifat homogeny
(homogen) dan isotropis. Metode ini dapat menginvestigasi sampa pada beberapan lapisan
bumi bergantung pada metode dan hasil yang ingin dicapai.
Metode Geolistrik terbagi atas 3 bagian, yaitu: metode potensial diri(SP), metode induksi
polarisasi (IP),metode geolistrik hambatan jenis (Metode Resistivitas). Ketiga metode
geolistrik ini berpeluang untuk digunakan mendukung penelitian fisika tanah. Namun pada
pokok bahasan ini hanya diurai tentang metode geolistrik tahanan jenis.
Fisika Tanah - 135
12.4.1. Prinsip Dasar Geolistrik
Metode resistivtas adalah salah satu metode geolistrik yang mempelajari sifar resistivitas/
konduktivitas listrik dari lapisan batuan di dalam bumi. Sebetulnya terdapat banyak
metode eksplorasi geofisika yang mempergunakan sifat tahanan jenis sebagai media
alat/alat untuk mempelajari keadaan geologi bawah permukaan .
Berdasarkan pada tujuan penyeledikannya metode geolistrik tahanan jenis dapat dibagi
menjadi dua kelompok besar yaitu:
1. Metode resistivitas mapping
Metode Resistivitas Mapping bertujuan untuk mempelajari variasi resistivitas bawah
permukaan secara horisontal .Oleh karena itu pada metode ini digunakan konfigurasi
elektroda yang sama untuk semua titik pengamatan dipermukaan bumi. Setelah itu
baru dibuat kontour rsistivitanya.
2. Metode resistivitas sounding
Metode resistivitas sounding biasa juga disebut metode resistivitas drilling.Tujuan dari
metode ini adalah mempelajari variasi resistivitas bawah permukaan secara vertikal.
Pada metode ini pengukuran potensial dilakukan dengan cara mengubah-ubah jarak
elektrode.Pengubahan jarak elektrode ini tidak dilakukan secara sembarangan tapi dari
jarak terkecil kemudian diperbesar secara gradual .Jarak ini sebanding dengan
kedalaman lapisan batuan yang ingin dideteksi. Pembesaran elektrode dapat dilakukan
bila dimiliki peralatan geolistrik yang memadai yakni alat geolistrik tersebut harus
mengahsilkan arus listrik yang besar atau memiliki sensivitas yang tinggi artinya dapat
membaca perbedaan beda potensial yang kecil.
Konsep dasar dari Metoda Geolistrik adalah Hukum Ohm yang pertama kali dicetuskan
oleh George Simon Ohm. Dia menyatakan bahwa beda potensial yang timbul di ujung-
ujung suatu medium berbanding lurus dengan arus listrik yang mengalir pada medium
tersebut. Selain itu, dia juga menyatakan bahwa tahanan listrik berbanding lurus dengan
panjang medium dan berbanding terbalik dengan luas penampangnya. Formulasi dari
kedua pernyataan Ohm di atas, dapat dituliskan sebagai berikut:
I V · atau R I V . =
A
L
R · atau
A
L
R  =
Fisika Tanah - 136
Arus listrik diasumsikan muatan positif yang bergerak ke arah terminal megatif, sedangkan
muatan negatif bergeraka ke terminal positif. Namun kesepakatan menyatakan bahwa arus
listrik bergerak dari muatan positif ke arah muatan negatif.
Prinsip pelaksanaan survei resistivitas adalah mengalirkan arus listrik searah ke dalam
bumi melalui dua elektroda arus yang ditancapkan pada dua titik permukaan tanah dan
kemudian mengukur respon beda potensial yang terjadi antara dua titik yang lain di
permukaan bumi dimana dua elektroda potensial ditempatkan dalam suatu susunan
tertentu.
Dari data pengukuran yang didapat yakni beda potensial dan kuat arus, akan diperoleh
harga-harga resistivitas semu untuk setiap spasi elektroda yang dibentang. Harga-harga
tersebut digambarkan pada kertas grafik log-log untuk mendapatkan kurva lapangan.
Kurva lapangan ini kemudian diinterpretasikan untuk mendapatkan harga-harga ketebalan
dan resistivitas lapisan bawah permukaan bumi.
Dalam pendugaan resistivitas, digunakan asumsi-asumsi sebagai berikut:
- Pada bawah permukaan bumi terdiri dari lapisan-lapisan dengan ketebalan tertentu,
kecuali pada lapisan terbawah yang mempunyai ketebalan tidak berhingga
- Bidang batas antar lapisan adalah horizontal.
- Setiap lapisan dianggap homogen isotropis
Apabila pada medium homogen isotrropis dialiri arus searah (I) dengan medan listrik (E),
maka elemen arus (dI) yang melalui suatu elemen luasan (dA) dengan rapat arus ( J ) akan
berlaku hubungan:
A d J dI · =
Dengan demikian rapat arus ( J ) di setiap elemen luasan akibat medan listrik (E), akan
memenuhi hubungan sebagai berikut:
E J  =
dengan E dalam Volts per meter dan  adalah konduktivitas medium dalam siemens per
meter (S/m) atau MHO/m (O-m)
-1
.
Medan listrtik adalah gradien dari potensial skalar,
V E V ÷ =
sehingga kita mendapatkan
V J V ÷ = 
Fisika Tanah - 137
Apabila arus stasioner dengan koefisien konduktivitas  konstan, maka akan diperoleh
persamaan Laplace dengan potensial harmonis. Hal ini akan dijabarkan pada seksi berikut.
12.4.2. Potensial Pada Bumi Homogen Isotropis
Lapisan bumi bersifat homogen isotropis adalah merupakan pendekatan yang sederhana
dalam penentuan tahanan jenis lapisan-lapisan batuan bumi, sehingga tahanan jenis 
dianggap tidak bergantung pada sumbu koordinat dan  merupakan fungsi skalar jarak titik
pengamatan. Arus tunggal I menyebabkan timbulnya distribusi potensial. Dalam hal ini
hukum-hukum fisika dasar yang dapat digunakan adalah terutama Hukum Kekekalan
Muatan dan Hukum Ohm. Aliran arus yang mengalir dalam bumi homogen isotropis
didasarkan pada Hukum Kekekalan Muatan yang secara matematis dapat dituliskan
sebagai berikut:
t
q
J
c
c
÷ = · V
Dimana, J = rapat arus (A/m
2
)
q = rapat muatan (C/m
3
)
Persamaan di atas disebut juga sebagai persamaan kontinuitas. Bila arus stasioner maka
persamaan di atas menjadi :
0 = · V J
Hukum Ohm menyatakan bahwa besarnya rapat arus J akan sebanding dengan besarnya
medan listrik E , sehingga diperoleh persamaan matematis seperti berikut :
V E E J V ÷ = = =  

1
Arah J sama dengan arah E dan  konstan bila medium homogen isotropis.
dimana:  = tahanan jenis medium
E = medan listrik (volt/m)
 =  1 = hantaran medium (mho/m)
V = potensial listrik (volt)
Kedua persamaan di atas untuk medium homogen isotropis () konstan, maka  juga
konstan atau V = 0, sehingga diperoleh persamaan Laplace sebagai berikut:
0
2
= V V
Fisika Tanah - 138
Persamaan ini termasuk persamaan dasar dalam teori penyelidikan geolistrik tahanan jenis.
Dengan demikian distribusi potensial listrik untuk arus listrik searah dalam medium
homogen isotropis memenuhi persamaan Laplace.
12.4.3. Potensial Elektroda Arus Tunggal pada Permukaan Medium Isotropis
Gambar 12.6. Sumber arus tunggal di permukaan medium homogen isotropis (Loke, 2004)
Pada model bumi yang berbentuk setengah bola homogen isotropis memiliki konduktivitas
udara sama dengan nol. Dengan demikian arus I yang dialirkan melalui sebuah elektroda
pada titik P di permukaan, akan tersebar ke semua arah dengan besar yang sama. (Gambar
12.6). Potensial pada suatu jarak r dari titik P, hanya merupakan fungsi r saja. Persamaan
Laplace yang berhubungan dengan kondisi ini dalam sistem koordinat bola adalah:
0
sin
1
sin
sin
1 1 1
2 2 2 2
2
2
=
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
c
c
  

 
V
r
V
r r
V
r
r r
Mengingat arus yang mengalir simetri terhadap arah  dan  pada arus tunggal, maka
persamaan di atas menjadi:
0
2
2
2
=
c
c
+
c
c
r
V
r r
V
Dengan demikian potensial di setiap titik yang berhubungan dengan sumber arus pada
permukaan bumi yang homogen isotropis adalah:
I
V
r atau
I
r
V  


2
2
1
= =
Power
C
2
C
1
b
Arah aliran arus Muka potensial
sama
u
Y
X
Z
|
P
Fisika Tanah - 139
12.4.4. Potensial Dua Elektroda Arus pada Permukaan Homogen Isotropis
Pada pengukuran geolistrik tahanan jenis, biasanya digunakan dua buah elektroda arus C di
permukaan. Besarnya potensial pada titik P di permukaan akan dipengaruhi oleh kedua
elektroda tersebut (Gambar 12.7).
Gambar 12.7. Dua elektroda arus dan potensial di permukaan bumi homogen isotropis
(Loke & Barker, 1996)
Potensial pada titik P
1
yang disebabkan oleh arus dari elektroda C
1
dan C
2
adalah:
1
1
2 r
I
V


= dan
2
2
2 r
I
V


÷ =
Beda potensial di titik P
1
akibat arus C
1
dan C
2
menjadi:
|
|
.
|

\
|
÷ = +
2 1
2 1
1 1
2 r r
I
V V


Demikian pula potensial yang timbul pada titik P
2
akibat arus dari elektorda C
1
dan C
2
,
sehingga beda potensial antara titik P
1
dan P
2
ditulis sebagai:
k
I
r r r r
I
V



=
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
÷ ÷
|
|
.
|

\
|
÷ = A
4 3 2 1
1 1 1 1
2
atau
I
V
k
A
=  
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
|
|
.
|

\
|
÷
=
4 3 2 1
1 1 1 1
2
r r r r
k

dimana k adalah faktor geometri yang bergantung pada susunan elektroda.
Harga resistivitas pada persamaan di atas merupakan harga resistivitas semu yang
diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan. Harga resistivitas sebenarnya dapat diperoleh
Fisika Tanah - 140
dengan melakukan suatu proses perhitungan, baik secara manual maupun secara
komputerisasi. Perhitungan secara manual dilakukan dengan bantuan beberapa jenis kurva
yang dikenal dengan kurva standar dan kurva bantu. Sedangkan cara komputerisasi
membutuhkan suatu perangkat lunak berupa software. Software yang umum digunakan
adalah IP dan RES2DINV.
Gambar 12.8 dan 12.9 memperlihatkan kisaran harga resistivitas dari beberapa jenis
batuan. Harga resistivitas batuan dapat berubah-ubah, apabila kandungan fluida dalam
pori-pori batuan mengalami perubahan atau terjadi perubahan secara signifikan kandungan
kimia yang memiliki kontras harga resistivitas.
Gambar 12.8. Kisaran rata-rata harga resistivitas spesifik dan permitivitas relatif beberapa
jenis batuan.(Schön, 1996)
Gambar 12.9. Kisaran harga resistivitas beberapa jenis batuan, tanah, dan mineral (Loke,
2004)
Fisika Tanah - 141
12.4.5. Konfigurasi Elektroda dan Sensitivitasi
Ada beberapa bentuk konfigurasi elektroda (potensial dan arus) dalam eksplorasi geolistrik
tahanan jenis dengan faktor geometri yang berbeda-beda, yaitu: Wenner Alpha, Wenner
Beta, Wenner Gamma, Pole-Pole, Dipole-Dipole, Pole-Dipole, Wenner–Schlumberger,
dan Equatorial Dipole-Dipole. Setiap konfigurasi memiliki kelebihan dan kekurangan, baik
ditinjau dari efektivitas dan efisiensinya maupun dari sensitifitasnya. Gambar 12.10
menunjukkan berbagai bentuk susunan (konfigurasi) elektroda beserta faktor geometrinya.
Gambar 12.10. Konfigurasi elektroda dalam eksplorasi geolistrik (Loke, 2004)
12.4.6. Metode Resistifitas Dalam Fisika Tanah
Seperti halnya metode seismik refraksi, metode resistivitas juga sangat besar peranannya
dalam fisika tanah. Metode risitivtas ini banyak digunakan untuk penelitian lingkungan dan
air tanah. Sehingga dapat dikatakan bahwa metode ini yang paling banyak digunakan
dalam mengkaji tentang tanah dan air. Dengan melihat konduktifitas atau resistivitas yang
diperoleh dari pengukuran lapangan, dapat didentifikasi jenis-jenis material yang adan di
bawah permukaan daerah penyelidikan. Salah satu parameter penting dalam penyelidikan
dengan menggunakan metode resistivitas ini adalah air pori dan logam. Kedua material itu
merupakan konduktor yang baik. Namun tidak menutup kemungkinan untuk diteliti
dengan menggunakan metode ini mineral non logam. Dengan melihat asosiasinya, maka
dapat diidentifikasi material-material yang terukur di bawah permukaan.
Fisika Tanah - 142
12.5. Penutup
Sebagai bahan evaluasi selain ujian, dalam pembahasan ini diberikan tugas berupa:
1. Menjelaskan mekanisme penjalaran gelombang pada metode seismik.
2. Menjelaskan prinsip kelistrikan bumi dalam pengukuran metode geolistrik tahanan
jenis.
3. Mencari referensi lain tentang masing-masing metode pengukuran di lapangan untuk
seismik dan resistivitas.
12.6. Daftar Bacaan
1. Lantu dan Samsuddin, 2009, “Modul pembelajaran: Metode Geolistrik dan
Geoelektromagnetik”, Geofisika UNHAS, Makassar.
2. Syamsuddin, 2007, ”Penentuan Struktur Bawah Permukaan Bumi Dangkal dengan
Menggunakan Metoda Geolistrik Tahanan Jenis 2D”, Tesis, ITB, Bandung.
Fisika Tanah - 143
EVALUASI
Evaluasi merupakan usaha untuk melihat batas-batas keberhasilan mahasiswa dan dosen
setelah pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi dapat dilakukan dengan mengadakan ujian
tengah semester dan ujian akhir semester ditambah tugas rumah. Namun disamping ketiga
jenis evaluasi di atas, dapat pula dilakukan evaluasi pada setiap pertemuan.
Pada matakuliah ini, jenis evaluasi yang dilakukan adalah
1. Tugas mandiri dan kelompok yang dikerjakan di rumah.
Pada bagian ini tugas yang ada pada stiap penutup bab dari bahan ajar dapat dilakukan
oleh perorangan dapat pula kelompok. Tergantung dari instruksi dasen pengampu
matakuliah ini dengan melihat kondisi pembelajar. Jenis penilaiannya diambil
berdasarkan: ketepatan waktu mengumpul, kesempurnaan jawaban dan keabsahan
referensi.
2. Tugas kelompok pembuatan makalah dan presentasi
Mahasiswa membuat makalah sesuai materi yang diberikan dilakukan di rumah atau di
kampus luar kelas dan dipresentasikan di dalam kelas secara berkelompok juga. Jenis
penilaian pada tugas ini adalah: kelengkapan makalah, kepiawaian dalam
mempresentasikan (penguasaan materi, media, dan sikap), dan tanggap dalam
menjawab pertanyaan
3. Ujian tak terjadwal atau kuis.
Kuis dilakukan untuk melihat apakah materi yang dipelajari sebelumnya dipahami atau
tidak dan apakah sudah siap menerima materi di hari itu. Penilaiannya dari kejelasan
uraian (kognitif), sikap dala ujian (afektif), dan kecepatan mengumpul (psikomotorik)
4. Uji kompetensi akhir
Ujian ini dilakukan dua kali karena matakuliah ini diampu oleh dua orang dosen.
Meteri yang diujikan tergantung materi apa yang disajikan oleh dosen bersangkutan.
Penilaiannya benar-benar dari kognitif belaka.
Akumulasi nilai dari berbagai jenis evaluasi di atas menentukan nilai mutu tadi mahasiswa
bersangkutan. Pemberian nilai dan mutu kepada mahasiswa mengikuti aturan akdemik
yang berlaku di UNHAS.
Berdasarkan nilai-nilai yang diperoleh mahasiswa dosen atau tim dapat dievaluasi
keberhasilannya dalam membawakan materi.
Fisika Tanah - 144
DAFTAR PUSTAKA
Beydha I., 2002, “Konservasi Tanah dan Air di Indonesia Kenyatan dan Harapan”, Fisip
UNSU, Medan.
Bowles, J.E., dan J.K., Hainim, 1984, “Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah”, Erlangga,
Jakarta.
Das, B.M., N., Endah, & I.B., Mochtar, 1985, “Mekanika Teknik: Prinsip-Prinsip
Rekayasa Geoteknis)”, Erlangga, Surabaya
Hardjowigeno, S., 2010, “Ilmu Tanah”, Akademik Pressindo, Jakarta.
Hutagalung, A.S., 2007, “Pelepasan, Penyelesaian, dan Kesepakatan dalam Konsolidasi
Tanah bagi Pembangunan Rumah Susun Ditinjau dari Hukum Perdata”, BPN,
Jakarta
Mega, I M., dkk, 2010, ”Klasifikasi Tanah dan Kesesuaian Lahan”, Bahan Ajar,
Universitas Udayana, Denpasar
Puja, I N., 2008, “Penuntun Praktikum Fisika Tanah”, Jurusan Tanah Universitas
Udayana, Denpasar
Santoso, B., H. Suprapto, & Suryadi HS, “Dasar Mekanika Tanah”, Seri Diktat Kuliah,
Gunadarma, Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->