Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUAN
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai s­umber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutu­han kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan se­ perti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebaga­inya­. Konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,13 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebu­ tuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, pening­katan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra­ struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam ne­ geri untuk menekan laju impor. Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor. Berkembangnya industri pangan 

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

berbahan baku kedelai membuka peluang kesempatan kerja dimula­i dari budidaya, panen, prosesing, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Agar produksi kedelai dan olahannya mampu bersaing di pasar global, maka mutu kedelai dan olahannya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembinaan dan pengembangan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran­ nya, khususnya penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahapan budi daya hingga penanganan pascapanen. 

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

II. KONDISI KEDELAI SAAT INI
A. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995, areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48 juta ha pada tahun 1995, atau meningka­t rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun 1995, terjadi penurunan a­real panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11% per tahun. S­elama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih terus menurun ratarata 9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 1. Sebagai sumber protein nabati, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan, yaitu tahu, tempe, kecap, tauco, susu kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11,38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8,97 kg/kapita pada tahun 2004, atau menu­ run rata-rata 1,69% per tahun. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Selama periode 1995–2000, konsumsi per kapita menurun dari 11,82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10,92 kg/kapita pada ta­ hun 2000, atau turun rata-rata 1,57% per tahun. Selanjutnya, penu­ runan paling tajam terjadi pada periode 2000–2004, yaitu rata-rata 4,81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang berarti, Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Artinya, bahwa Indonesia akan makin tergantung dengan impor untuk menutupi defi­ sit. Indonesia selalu mempunyai net impor yang meningkat dari se­ kitar 0,54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1,31 juta ton 

 . penguata­n kelembagaan petani. Perkembangan areal tanam. Keadaan demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus. teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. pengembangan infrastruktur.8 0. de­ ngan indeks swasembada lebih besar dari satu. dan produksi kedelai di Indonesia.2 1 0. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan terus meningkat. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelum tahun 1976. peningkatan n­ilai tambah. perluasan areal tanam. m­engingat potensi lahan cukup luas. perbaikan sistem permodalan.4 1. Mengingat penurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penurunan total konsumsi. peningkatan kualitas produk. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivita­s.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai pada tahun 2004.8 1.2 0 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 Areal (juta ha) Produktivitas (t/ha) Produksi (juta ton) Gambar 1. peningkatan efisiensi produksi. produktivitas.6 1. serta pengaturan tataniaga dan i­nsentif usaha.4 0. 2 1. perbaikan akses pasar.6 0.

Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk.  . dan elastisitas s­ilang harga komoditas lainnya. sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar. Permintaan Kedelai Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi. (2003). berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang e­t al. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunaka­n elastisitas pendapatan. pertumbuhan penduduk adalah 1. sedangkan pertumbuhan pendapatan per k­apita menggunakan data BPS (2002). Selanjutnya. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. Dengan menggunakan elastisitas yang ada.03% per tahun. Selama periode 1990–2004.67% per tahun. maka proyeksi konsumsi per kapita dan total konsumsi kedelai sampai 2025 adalah seperti disajikan pada Tabel 1. Proyeksi jumlah penduduk dilaku­kan dengan menggunakan pertumbuhan penduduk dengan tingkat yang makin rendah. Pertumbuhan harga masing-masing komoditas menggunakan data FAO 1991–2002. namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri. elastisitas harga kedelai. Harga kedelai impor yang murah dan tidak adanya tarif i­mpor menyebabkan tidak kondusifnya pengembangan kedelai di dalam negeri.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI B.

5 ton/ha bisa dicapai.43 253.833 2.708 2.154 3.07 292.286 3.52 242.47 2018 10.58 235.24 juta ha pada tahun 2025. Tantangan­ nya adalah bagaimana mencapai areal tanam seluas itu.19 280.179 2.466 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 1.024 3.90 2022 11.835 1.16 283.81 juta ha pada tahun 2015. sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija.07 2014 10.23 2025 11.37 2017 10.34 263.349 2. dan 2.559 1.016 2.210 1.740 1. maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 1.090 1.874 1.49 246.726 1.22 276.97 2013 10.87 2012 9.903 1.40 256.377 1. tahun 2003–2025.997 1.17 2015 10.13 286.12 2024 11.102 1. Proyeksi konsumsi kedelai di Indonesia.20 2005 9.687 1. terutama yang lebih kompetitif.069 2.10 289.352 2003 9.61 232.494 1.270 1.402 1.124 2.960 3.67 224.04 295.01 Dari Tabel 1 terlihat bahwa total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2.55 239.380 1. 221.27 2016 10.896 2.34 Sumber: perhitungan proyeksi penulis.480 1.77 2011 9.407 2.571 1.585 2.35 juta ton pada tahun 2025.39 2007 9.01 2023 11.  .11 2004 9.25 273.089 3.28 270. Tahun Konsumsi/ kapita Proy Pddk (kg/th) (000 jiwa) Pertumbuhan Total Konsumsi pddk (000 ton) (%) 2.316 1.31 267.291 2.67 2010 9.48 2008 9.64 228.525 2.58 2009 9.29 2006 9. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1.860 1.231 1.79 2021 10.71 juta ton pada tahun 2015 dan 3.58 2019 10.46 249.526 1.02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2.770 2.37 260.646 2.440 1.68 2020 10.235 2.219 3.

D.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI C. Profil Teknologi Kedelai Senjang produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. Teknologi produksi meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. Pengelolaan LATO d­imaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas dapat terekspresikan secara optimal. air.29 t/ha) dengan potensi genetik tanaman masih cukup tinggi (potens­i genetik >2 t/ha). Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO (lahan.  . Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribus­i yang signifikan dalam meningkatkan produksi. umur genjah. Areal pertanaman kedelai tersebar di seluruh I­ndonesia dengan luas masing-masing seperti disajikan pada Tabel 2. pemberian air yang cukup. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian be­ sar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaa­n tanaman masih belum optimal. Varietas unggul memi­ liki sifat seperti hasil tinggi. Profil Usaha Tani Tanaman kedelai merupakan tanaman cash crop yang dibudi­ dayakan di lahan sawah dan di lahan kering. Sekitar 60% areal pertanam­an kedelai terdapat di lahan sawah dan 40% lainnya di l­ahan k­ering. panen dan pascapanen dengan alsinta­n mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai de­ngan p­otensi g­enetiknya. air. tanaman. dan organisme p­engganggu). Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. dan organism­e pengganggu tanaman (LATO) telah tersedia. dan tahan/toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkunga­n fisik). pembuatan saluran drainase. pengendalia­n hama dan penyakit dengan sistem PHT. tanaman.

32 40.36 0.81 3.53 juta ha pada tahun 2003.714 28.500/ha (R/C 2.255 1.00 526.15 7.031 % 7.665.  .551 5.14).76 71.346 9.00 Tabel 2 menunjukkan bahwa luas areal tanam mencapai p­uncaknya tahun 1992.86 879. Penurunan areal tanam ada kaitannya dengan banjirnya kedelai impor sehingga nilai kompetitif dan komparatif tanaman kedelai merosot.148 152.987 5.48 0.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 2.67 juta ha.591 73.388 124. usahatani kedelai di tingkat petani cukup menguntungkan dengan pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp 2.650 52. yaitu 1.796 100.39 9.96 Jumlah 1.706 100.944 22. Penyebaran areal kedelai menurut wilayah Wilayah 1992 2003 ha % ha Sumatera Jawa Kalimantan Bali & NTB Sulawesi Maluku & Papua 480.06 1. Namun sejak tahun 2000 a­real tanam terus menurun menjadi 0. Secara finansial.896 374.82 14.048.04 4.

pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. distribusi dan pemasaran.  . POTENSI. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan tek­nik pengelolaan LATO. Potensi 1. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. Masalah­nya. Perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai. sistem produksi. Varietas unggul kedelai tersebut merupakan faktor produksi yang penting untuk diterapkan pada peningkatan produktivitas. penanganan panen dan pascapanen. Upaya s­osialisasi penggunaan varietas unggul sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. hingga saat ini baru 10% petani yang menggunakan b­enih varietas unggul yang berlabel.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI III. kendala. Rakitan varietas unggul baru mampu meningkatkan produktivitas >2 t/ha. pembuatan saluran drainase. Varietas unggul (Tabel 3) merupakan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Aspek penelitian dan pengembangan Potensi kedelai berdasarkan aspek penelitian dan pengem­ banga­n cukup menjanjikan. pemberian air yang cukup. dan peluang dalam pengembangan kedelai dipilih berdasarkan aspek penelitian dan pengembangan (litbang). serta kelembagaan. KENDALA DAN PELUANG Potensi. Inovasi teknologi dengan penggunaan b­enih bermutu. Varietas unggul yang dikemas dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dapat meningkat­ kan hasil dan pendapatan petani. A.

5 Nanti 2.6 Seulawah 2. Program pelatihan. maupun kedelai sebagai tanaman sela perlu mendapat perhatian. lahan k­ering. P­emanfaatan varieta­s toleran terhadap c­ekaman bioti­k (hama dan penyakit) misalny­a varietas Ijen toleran s­erangan ulat g­rayak dan potensi hasil tinggi (>2 t/ha).7 *UG=ulat grayak Umur (hari) 88 85 85 87 85 85 88 89 91 90 90 Ukuran biji Sedang Sedang Besar Besar Besar Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Adaptasi Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah. Ganggua­n hama.5 Mahameru 2. dan lahan bukaan baru. Tabel 3.5 Ijen 2.6 Anjasmoro 2. toleran UG* Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Peningkatan stabilitas hasil kedelai di lahan sawah.5 Ratai 2. Gangguan stabilitas hasil pada t­anaman kedelai banyak disebabkan oleh cekaman biotik dan a­biotik. Varietas toleran cekama­n abiotik (kekering­an.7 Sibayak 2. pelatihan. Penerapa­n pengendalian hama terpadu (PHT) perlu disosiali­sasikan. Varietas unggul baru kedelai yang dilepas tahun 2001–2004. sekolah lapang dan membangun kembali lembaga penyuluhan yang pada era otonomi daerah kurang mendapat perhatian. sekolah lapang PHT perl­u ditingkatkan.5 Kaba 2. V­arietas 10 . Pemasyarakatan PTT dilakukan melalui sosialisasi.5 Panderman 2. penyakit dan gulma dapat menyebabkan kehilanga­n hasil mencapa­i 80% bahkan puso apabila tidak ada t­indakan pengendalia­n. dll) perlu dirakit.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Komponen teknologi produksi yang dikemas dalam PTT pada tanaman kedelai mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 2 t/ha. tahan naungan. Varietas Potensi hasil (t/ha) Sinabung 2.5 Tanggamus 2.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI T­anggamus. Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas pertanaman kedelai. Hal ini merupaka­n salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai n­asional. 2. dan (3) kualitas peneliti bidang kedelai cukup memadai. Dalam mendu­kun­g penyediaa­n benih bermutu. Balai Benih Induk (BBI) dan Balai Benih Umum (BBU). dan (3) varietas unggul tersedia. Lembag­a u­ntuk memproduksi benih telah terbentuk namun efektivita­s perlu di­tingkatkan. UPBS di balai komoditas telah terbentuk dengan tugas untu­k memproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS). Pemakaian benih u­nggul bersertifikat pada tanaman kedelai kurang dari 10% (Ditjentan. usaha perbenihan untuk tanaman kedelai masih t­ertinggal. industri benih untuk komoditas kedelai b­elum berkembang dengan baik. 11 . Petani lebih banyak memakai benih asalan atau t­urunan dari pertanaman sebelumnya. S­eulawah. 2004). Benih penjeni­s yang dihasilkan akan disalurkan ke BBI untuk diproduksi menjad­i b­enih dasar (FS) dan benih pokok (SS). Produsen benih nasional maupun penangkar lokal masih kurang berperan. (2) teknologi benih sudah tersedia. Sibayak. Berbeda denga­n komoditas padi dan jagung. Aspek perbenihan Potensi aspek benih bermutu yang merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis kedelai antara lain adalah: (1) tersedianya Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). Nanti. Perakitan VUB berdaya hasil tinggi dan teknologi budidaya (PTT) pada tingkat litbang sangat dimungkinkan dengan adanya kekuatan seperti: (1) tersedianya sumber daya genetik yang banyak. (2) besar­ nya perhatian pemerintah dalam penelitian dan pengembangan. Varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (>2 t/ha) telah tersedia. Benih pokok disalurkan kepad­a BBU atau penangkar untuk dijadikan benih sebar (ES). dan Ratai merupakan varietas baru dengan potensi produksi tinggi dan adaptif pada lahan kering (masam dan non-masam).

dan (3) lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai masih tersedia cukup luas. Tabel 4.148 Bali & NTB 152. (2) VUB potensi hasil tinggi tersedia. Nusa Tenggara Barat.714 Jawa 879. Jawa Timur. Jawa Tengah.255 Jumlah 1.650 Kalimantan 23. Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usaha tani kedelai. Aspek sistem produksi Potensi kedelai berdasarkan aspek sistem produksi meliputi: (1) teknologi budidaya relatif sudah maju. Potensi lahan untuk pengembangan kedelai. dan Kalimantan Selatan. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah.551 Maluku & Papua 5. Secara rinci peluang penam­ bahan areal panen dapat dilakukan pada: • Lahan sawah MK II (Juli – Oktober) yang biasanya diberikan se­perti: jalur pantura Jawa Barat. 12 . Lampung. S­ulawesi Selatan. lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi. lahan kering (tegalan). Wilayah sasaran pengembangan intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai uta­ ma (LQ tinggi) diikuti propinsi penghasil kedelai dengan LQ sedang. Wilayah Luas (ha) Sumatera 480.706 Sumber: Ditjentan (2004).665. Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai d­apat diarahkan ke propinsi-propinsi yang pernah berhasil menanam kedelai seperti disajikan pada Tabel 4.388 Sulawesi 124. Sumatera Utara.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3.

Andosol. Gromusol. dan tahan/toleran 13 . • Tumpangsari tanaman perkebunan. Pengelolaan LATO dimaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas d­apat terekspresikan secara optimal. Senjang hasil produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. Jenis tanah yang sesuai untuk kedelai adalah tanah Aluvial. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian besar petani belum menggunakan benih unggul dan t­eknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. bekas alang-alang. Pertanaman kedelai ini l­ebih banyak di Lampung. Sulawesi Selatan. solum tanah sedang-dalam. Teknologi produks­i kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. Jawa Timur. Jambi. • Tumpangsari pada lahan peremajaan perhutani. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kon­ tribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. • Lahan kering (tegal). umur genjah. dan Jawa Barat. drainase sedangbaik. • Ladang yang belum ditanami. hara NPK dan unsur mikro sedang-tinggi. Tanah yang sesuai untuk budi daya kedelai adalah tekstur ber­ lempung atau berliat.6-6. air. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tinggi. kedelai ditanam pada MH I (Oktober – Janua­ri) atau MH II (Februari – Maret). Lahan gambut yang sudah direklamasi juga sesuai untuk tanaman kedelai. Regosol. Latosol. dan organisme pengganggu tanaman (LATO).9. fosfat dan bahan organik. • Lahan pasang surut yang telah direklamasi. pH tanah 5. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Utara. Sumatera Barat. Jawa Tengah.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • Lahan sawah tadah hujan MK I (Maret – Juni) awal musim hujan sebelum ditanami padi sawah seperti Jawa dan NTB. Aceh.2 t/ha) dengan potensi genetik dari tanaman kedelai masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha). • Lahan bukaan baru. dan Ultisol/Oxisol dengan amelioran ka­ pur. tanaman.

pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. tauco. Sebagai sumber protein nabati. Mengingat p­enurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penuruna­n total konsums­i.05% per tahun (Tabel 5).57% per tahun. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang b­erarti. dengan indeks swasembada lebih besar dari satu (Swastika. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Selanjutnya. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. susu kedelai. bahwa Indonesia selalu mempunya­i net impor yang meningkat dari sekitar 0. Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11.97 kg/kapita pada tahun 2004. total konsumsi hanya turun rata-rata 0. penurunan paling tajam terjadi pada periode 2000-2004. atau menu­ run rata-rata 1. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. kecap.82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10. bahwa Indonesia akan makin tergantung pada impor untuk m­enutupi d­efisit.38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8. Namun demikian.81% per tahun. pembuatan saluran drainase. yaitu rata-rata 4. Artinya. Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. atau turun rata-rata 1.31 juta ton pada tahun 2004. konsumsi per kapita menurun dari 11. yaitu tahu.69% per tahun.92 kg/kapita pada tahun 2000. dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Seperti disajikan pada Tabel 5. 14 . Selama periode 1995-2000. tempe. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan t­erus meningkat. 1997). kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelu­m tahun 1976.54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1. pemberian air yang cukup.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkung­ an fisik). panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. Penurunan terjadi sejak tahun 1995.

302 2000 1.228 673 673 0. Perkembangan manfaat kedelai di samping sebagai sumber protein.302 0.018 2.136 1.565 2.960 1.343 1.51 6.015 1.50 - 6.278 0.017 1.307 0.51 Sumber FAO (2004) diolah.24 1.973 616 616 0.684 1.870 2.52 1.75 723 1994 1.05 6.27 672 1992 1. 4.135 2002 673 2.649 343 343 0.301 1.028 541 541 0.277 2001 827 1.517 2.555 2. Neraca produksi.383 2. 15 .01 616 1998 1.00 343 1999 1.365 2003 672 2.365 800 800 0.306 1.24 541 1991 1.307 Pertumb (%) -5.365 0. Oleh karena itu.357 1.344 1.43 1.91 690 1993 1.294 1.02 1. Selain itu. konsumsi dan perdagangan kedelai di I­ndonesia tahun 1990-2004. makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung.193 0.263 746 746 0.17 -0.709 2.680 2. ke depan proyeksi kebutuhan kedelai akan meningkat seiring dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang makanan sehat.03 800 1995 1.00 1.287 607 607 0. kedelai dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencega­h penyakit kanker.08 607 1996 1. Tahun Prod Konsumsi Defisit Impor Ekspor Net impor (000 ton) (ton) (000 ton) (000 ton) (ton) (000 ton) 1990 1. telah diidentifikasi p­otensi kekuatan sebagai berikut: (1) teknologi panen dan pascapanen t­elah tersedia.24 746 1997 1.431 723 724 0.19 1.276 1.487 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 5.133 1.016 1. Aspek panen dan pascapanen Untuk aspek panen dan pascapanen. dan (3) teknolog­i p­engolahan tersedia. (2) Alsintan tersedia di pasaran.192 2004 707 2.307 1.560 690 694 3.

Produk pangan yang menggunakan minyak kedelai antara lain adalah minyak salad. yogurth. mayonaise. Produk utama lain dari kedelai adalah minyak kasar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Teknologi panen dan pascapanen kedelai yang efektif dan efi­ sien telah tersedia bahkan alsintan untuk proses panen dan pasca­ panen telah tersedia di pasaran. margarine. dilakukan di tingkat petani. M­inyak kedelai dapat diolah untuk aplikasi produk pangan dan kegunaa­n dalam b­idang teknik atau industri. susu. Isolat protein dan lesitin banya­k digunakan dalam berbagai produk industri makanan antara lain r­erotian. Dengan demikian. 5. 16 . dan lain-lain. yuba. makanan bayi (infant formula). dan bungkil kedelai. Karena bersifat multiguna. dan produk non-fermentasi seperti tahu. men­ tega putih. kembang gula. dan produk non-fermentasi lainnya se­perti keju kedelai. lesitin. kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuh­kan bagi kehidupan manusia. dengan me­ manfaatkan teknologi pascapanen. dan (3) sentra produksi telah terbentuk. harga jual kedelai akan lebih baik. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan s­ebagai pakan (Gambar 2). Produk fermentasi lain yang populer adalah natto (di Jepang). baik sebagai produk pangan. daging tiruan (meat analog). minyak goreng. Pengolahan primer. Bungkil kedelai yang mengandung protein tinggi sangat diperlukan dalam pembuatan ransum ternak (pakan). kedelai selayaknya mendapat pengolahan primer untuk meningkat­ kan kualitas kedelai sebagai bahan baku industri. dan lain-lain. isolat protein. (2) transportasi lancar. Aspek distribusi dan pemasaran Potensi aspek distribusi dan pemasaran yang telah t­eridentifikasi antara lain adalah: (1) infrastruktur distribusi telah memadai. Sebelum memasuki pengolahan sekunder menjadi produk olah­ an. farmasi (obat-obatan). tauco. Produk pangan olahan kedelai yang utama dan populer di kala­ ngan masyarakat Indonesia adalah produk fermentasi seperti tempe. natto. es krim. kecap.

Pohon industri kedelai. susu. minyak goreng. yogurth. makanan bayi ( infant formula ). kecap tauco. kecantikan) BUNGKIL PAKAN TERNAK Gambar 2. Secara umum rantai tataniaga kedelai disajikan pada Gambar 3. Selain dari petani. pelumas dll) KONSENTRAT PROTEIN PANGAN (rerotian eskrim. margarine ) TEKNIK/ INDUSTRI LESITIN ( wetting agent. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi pengrajin tahu dan tempe (KOPTI). kembang gula) FARMASI (Obat-obatan. dll KEDELAI MINYAK KASAR PANGAN (minyak salad. dll PANGAN NON FERMENTASI Tahu. 17 . pengemulsi. dan bermuara ke konsumen akhir. untuk selanjutnya dipasarkan ke pengra­ jin tahu dan tempe.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang. natto. mentega putih. PANGAN FERMENTASI Tempe. kedelai di pasar domestik juga sebagian berasal dari impor. penstabil. pelarut.

Dari Gambar 3 terlihat bahwa kedelai di tingkat petani dibeli oleh pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang grosir dan pengolah. Dalam pemasaran kedelai. Terbentuknya sentra produksi kedelai akan mempermu­ dah konsumen untuk mendapatkan kedelai secara langsung. Dalam pengembangan kedelai. Aspek kelembagaan Potensi yang dapat dimanfaatkan dalam program pengem­ bangan kedelai antara lain: (1) telah berkembangnya kelembagaan 18 . Dengan adanya infrastruktur distribusi produk yang memadai dan tranportasi yang lancar. sehingga tataniaga kedelai lebih efektif dan efisien.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai P et ani Petani Im port ir Importir P edagang Pedagang P engum pul DDesa esa Pengumpul K O P TI KOPTI G rosir Grosir P engecer Pengecer P engol ah Pengolah K onsum en akhir Konsumen Akhir Gambar 3. petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah. Rantai tataniaga kedelai di Indonesia. diharapkan arus produk dari produsen ke konsumen lebih lancar. 6. diperlukan perbaikan tataniaga kedelai dari produsen hingga konsumen. Oleh karena itu. harga riil di tingkat produsen (petani) selama 15 tahun terakhir cenderung terus menurun. sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang.

diseminasi teknologi. B. baik dalam penyaluran kredit. Hal ini dipacu oleh: (1) terbentuknya BPTP di tiap propinsi yang berfungsi ganda. Dalam alih teknologi. KKP. (2) belum optimalnya diseminasi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI p­ermodalan (kredit) dalam berbagai skim. (2) berkembangnya kelem­ bagaan alih teknologi. yaitu perakitan teknologi spesifik lokasi. Jumlah tenaga peneliti yang terbatas sehingga potensi untuk mengembangkan rakitan teknologi unggul dalam satu paket PTT belum dapat diterapkan di setiap sentra produksi kedelai. dan (3) program penelitian yang masih kurang konsisten. (2) penerimaan tenaga peneliti belum memadai. dan (3) telah terbentuknya kelembagaan k­elompok tani. keberadaan kelompok tani merupakan wadah yang efektif. sehingga mampu meningkatkan produktivitas sumber daya dan pendapatan petani. Kelemahan internal meliputi: (1) keterbatasan tenaga peneliti. Aspek penelitian dan pengembangan Kendala dalam aspek Litbang dapat dipilah berdasarkan kele­ mahan dan ancaman. dan lembaga keuangan mikro lainnya yang lebih mudah diakses petani merupakan potensi yang besar bagi petani dalam memperoleh modal untuk menerapkan teknologi maju. Kendala 1. lembaga alih teknologi juga makin berkembang. Sedangkan untuk ancaman eksternal antara lain adalah: (1) sistem diseminasi dan alih teknologi belum memadai. Kelembagaan keuangan mikro dan kelembagaan alih teknologi merupakan dua ujung tombak yang memungkinkan petani mengadopsi teknologi maju. Selain itu. Berkembangnya berbagai skim lembaga permodalan seperti LUEP. maupun pema­ saran hasil pertanian meskipun diakui dalam hal pemasaran hasil kelompok tani belum banyak berfungsi. Hasil p­enelitian 19 . dan (2) revitalisas­i penyuluhan pertanian untuk mempercepat proses alih teknologi dari lembaga penelitian ke pengguna. namun di masa mendatang peran ini dapat diaktualisasi dan terus ditingkatkan. dan (3) penghargaan hasil karya peneliti kurang memadai.

Potensi hasil varietas unggul dengan budi daya anjuran dapat mencapai > 2 t/ha. dan (3) industri benih belum berkembang dengan baik. sedang rata-rata produktivitas di tingkat petani hanya 1. namun hingga kini 20 . dan (3) petani lebih suka membuat benih asalan. Sedangkan ancaman eksternal adalah: (1) kurangnya insentif harga benih bagi penangkar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai rakitan teknologi PTT kedelai dapat meningkatkan produksi 30-40% untuk lahan sawah dan 50-60% untuk lahan kering masam. (2) umur label sertifikat benih sangat singkat. Hasil rata-rata kedelai yang masih rendah di tingkat petani dan harga yang murah menyebab­ kan petani beralih usahatani nonkedelai. Dampak dari kelemahan terse­ but menyebabkan usahatani kedelai belum dapat mencapai produksi yang maksimal dan keuntungan finansial yang masih rendah. dan (3) akses petani terhadap sumber modal terbatas. sehingga produktivitas hasil kedelai masih rendah. Hasil penelitian menun­ jukkan bahwa senjang hasil produksi kedelai di tingkat petani dengan potensi hasil genetik kedelai masih tinggi. Ketersediaan benih varietas unggul baru masih sangat terbatas. Aspek perbenihan Kendala internal aspek perbenihan kedelai adalah (1) inkon­ sistensi alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. (2) menurunnya ke­ percayaan petani terhadap mutu benih dari kios.29 t/ha. Hingga kini peng­ gunaan varietas unggul baru mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. 2. (2) sistem penyuluhan masih lemah. Aspek sistem produksi Hambatan internal yang teridentifikasi dalam aspek sistem produksi meliputi: (1) ketersediaan sarana produksi yang makin t­erbatas. 3. Benih bersertifikat merupakan jaminan pemerintah untuk menyediakan benih bermutu. Diseminasi/promosi yang belum optimal menyebabkan tingkat adopsi teknologi rendah sehingga varietas unggul baru dan teknik budi daya kedelai kurang dapat diterapkan petani.

jumlah penyuluh semakin berkurang (pensiun). (2) makin meningkatnya biaya operasional alsintan. sehingga areal dan produksi kedelai terus menurun. Akses petani terhadap sumber modal terbatas. ancaman eksternalnya adalah: (1) belum ada insentif harga yang memadai bagi produk bermutu. dan (3) tenaga kerja pengolah relatif terbatas. Selain kelemahan internal. penyuluh kurang berfungsi sebagai­ mana tugas pokoknya. Umumnya p­etani kedelai adalah petani miskin yang kekurangan modal. dan (3) anomali iklim yang da­ pat menyebabkan kegagalan panen. Kehilangan hasil kedelai pada saat panen maupun prosesing masih cukup besar. Modal petani yang terbatas dan usahatani kedelai yang kurang menguntungkan menyebabkan petani enggan menanam kedelai. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak sampainya informasi teknologi kepada petani. (2) adanya cekaman OPT. serta sarana dan prasarana penyuluhan banyak berubah fungsi. sehingga penyuluh beralih profesi menjadi b­ukan penyuluh. Hal ini dikarenakan jumlah penangkar yang masih sangat terbatas. Aspek panen dan pascapanen Kendala dalam aspek panen dan pascapanen adalah: (1) kehi­ langan hasil tinggi. Sistem panen yang dijemur di lapangan tanpa lantai jemur dan alas menyebabkan biji tercecer cukup banyak dan 21 . dan (3) modal untuk membeli alsintan sangat terbatas. Selain itu. proses sertifikasi kedelai yang rumit dan keuntungan menjadi penangkar b­enih kedelai yang sangat kecil. Pada era otonomi daerah. Selain itu. sehingga makin tidak terjangkau oleh petani. pembinaan penyuluh untuk mengakses teknologi baru kurang mendapat perhatian. Selain benih bermutu. pupuk dan pestisida makin mahal.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat. (2) penerapan teknologi panen dan pascapanen be­ lum memadai. 4. agribisnis kedelai masih dihadap­ kan pada ancaman eksternal seperti: (1) masih tingginya impor kedelai yang menyebabkan usahatani kedelai dalam negeri kurang kompetitif.

umumnya petani melakukan pemanenan dan prosesing masih d­engan cara tradisional. Belum berlakunya tarif impor 22 . yang ditentukan oleh permintaan dan persediaan ( Demand and Supply). Sedangkan pemakaia­n alat mesin untuk panen dan pengeringan. Keterbatasan modal. Sedangkan kendala eksternalnya antara lain adalah: (1) tingginya impor kedelai dengan harga murah. menyebabkan petani kedelai tidak mamp­u untuk membeli alat mesin. Harga kedelai ditentukan oleh mekanisme pasar. dan (3) b­elum adanya tarif impor. 5. Aspek distribusi dan pemasaran Kendala internal berdasarkan aspek pemasaran adalah: (1) daya tawar petani lemah. dan (3) biaya trans­ portasi yang mahal. Alat pengering dinilai masih cukup mahal bagi petani kedelai. Harga nominal kedelai di tingkat petani berfluktuasi. (2) sistem informasi pasar lemah. Memperbaiki dan memperpendek simpul mata rantai dari produsen ke konsumen p­erlu dibentuk dan difungsikan sebagaimana mestinya sehingga dapat efektif dan efisien dalam pendistribusian produk. Hal ini yang menyebabkan kehilangan hasil panen cukup besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. Panjangnya rantai dari produsen sampai kepada konsumen menyebabkan tidak efektifnya proses pemasaran. Hal ini yang menyebabkan nilai jual produk berfluktuatif dan cenderung menu­ run.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai menyebabkan kehilangan hasil cukup tinggi.500. disaat panen raya harga jatuh hingga Rp 2. sebagian besar petani b­elum menggunakan. Penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai. Sistem informasi pasar belum terbentuk sehingga titik temu antara produsen dan konsumen sering tidak ketemu. (2) rantai p­emasaran yang panjang sehingga tidak efisien. Panen dengan menggunakan sabit dan prose­s pengeringan sebagian besar masih di lapang. Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah.

sehingga petani akan sulit untuk mengatasi masalah yang dihadapi. (2) rendahnya komitmen pimpinan kelembagaan atas pelaksanaan peraturan. dan (6) aspek kelembagaan. sehingga harga kedelai di dalam negeri jatuh dan petani enggan menanam kedelai. 23 . C. Kinerja penyuluhan pertanian yang lemah menyebabkan transfe­r teknologi kedelai terhambat. Aspek kelembagaan Kendala berdasarkan aspek kelembagaan terdiri dari kelemaha­n dan ancaman. (2) tuntutan terhadap alih t­eknologi semakin meningkat. sehingga upaya untuk meningkatka­n produktivitas juga terhambat. (2) kelembagaan kelompok tani belum berfungsi optima­l dan (3) akses petani terhadap lembaga modal terbatas. efisiensi penggunaan sarana produksi. diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah perlu dilakukan agar dapat m­eningkatkan produktivitas dan daya guna kedelai.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI menyebabkan jumlah kedelai impor semakin banyak. (5) aspek distribusi dan pemasaran. (4) aspek panen dan pascapanen. serta (3) inkonsistensi peraturan antara pusat dengan daerah. Aspek penelitian dan pengembangan Peluang pengembangan berdasarkan aspek litbang meliputi: (1) kebutuhan teknologi makin meningkat. yakni: (1) aspek penelitian dan pengembangan. (2) aspek per­ benihan. Penelitian untuk mengatasi senjang hasil antara petani dan h­asil penelitian sesuai dengan potensi genetik. pemetaan lahan s­esuai. 1. Peluang Peluang pengembangan kedelai cukup besar dari berbagai a­spek. Kelemahan internal yakni: (1) sistem penyuluha­n masih lemah. Lemahnya kinerja penyuluhan juga akan mengakibatkan kinerja kelompok tani lemah. (3) aspek sistem produksi. Sedang­ kan ancama­n eksternal adalah: (1) menurunnya kepercayaan petani t­erhadap kelembagaan yang ada. 6. dan (3) prospek kerja sama penelitia­n.

peran swasta sebagai bapak angkat yang dapat memberikan jaminan harga yang layak pada saat harga jatuh. dan perluasan prevalens­i adopsi t­eknologi inovatif yang dibawa oleh varietas unggul kedelai. Dengan strategi tersebut terjadi percepatan waktu. diperlukan peningkatan kemahiran petugas dalam sistem produksi benih sumber kedelai melalui pelatihan. Peran aktif BPTP dan penyuluh untuk mengakses teknologi dari balai penelitian perlu ditingkatkan. peningkatan kadar. Untuk membangun penyebaran benih varietas unggul diperluka­n penguatan SDM dan fasilitas untuk memproduksi benih sumber. karena hingga kini penggunaan benih bersetifikat kurang dari 10%. (2) peningkatan pembinaan pen­ angkar benih di daerah sentra produksi kedelai.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tuntutan alih teknologi untuk mengatasi senjang hasil sangat diperlukan. dan (3) peningkatan produksi benih sumber dan penyebaran varietas-varietas unggul baru kedelai di daerah sentra produksi. Aspek perbenihan Peluang pengembangan pemanfaatan benih kedelai bermutu terbuka lebar. Me­ ningkatnya kemampuan SDM yang terkait dalam produksi benih dasar (FS). 24 . Kerja sama dengan swasta sangat diperlukan. penyuluh dengan kelompok tani. s­ehingga dapat meningkatkan produksi benih berkualitas yang berbasis komunita­s. Oleh karena itu. dan benih sebar (ES) diharapkan dapat me­ ningkatkan produksi benih dan dapat didisribusikan ke daerah sentrasentra produksi. Upaya pengembangan pemanfaatan benih bermutu ditempuh melalui: (1) peningkataan kemampuan petugas/penangkar untuk memproduksi benih sumber. benih pokok (SS). Revitalisasi penyuluhan diharap­ kan dapat menjadi jembatan dalam upaya meningkatkan arus teknologi dari balai penelitian kepada pengguna atau petani. 2. Untuk mewujudkan tujuan mempercepat alih teknologi diperlukan kerja sama yang baik antara peneliti. Eskalasi dan akselerasi produksi dan distribusi benih sumber varietas unggul tanaman kedelai dilakukan dengan pelatihan pengenalan varietas melalui sosialisasi varietas dan pembekalan t­eknik produksi benih kepada penangkar di daerah yang melibatkan pemangk­u kepentingan (stakeholder) terkait.

dan tahan/ toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkungan fisik). I­ndustri pengolahan produk berbahan baku kedelai membutuhkan jenis kedelai yang bermutu tinggi sesuai dengan produk yang akan dihasil­kan. diperlukan adanya s­ubsidi. Aspek sistem produksi Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek produksi meliputi: (1) penggunaan benih bermutu masih rendah. Oleh karena itu. (3) subsidi benih. (2) penggu­ naan sarana produksi. Varietas kedelai sesuai 25 . Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. Keterbatasan modal di tingkat petani untuk usahatani kedelai perlu mendapat perhatian. program pengenalan dan sosialisasi varietas unggul baru serta teknik produksi benih sangat diperlukan. panen dan pascapanen dengan a­lsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi g­enetiknya. (2) jenis olahan beragam. warna kuning mengkilap dan kebersihan biji. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah di­ adopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam me­ ningkatkan produksi. Sebagian besar konsumen menghendaki biji besar/sedang. pembuatan saluran drainase. dan (3) industri produk olahan berbahan baku kedelai makin berkembang. dan (4) program pengem­ bangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. umur genjah. baik untuk pengadaan benih varietas unggul baru maupun untuk pengadaan pupuk dan insektisida. Mutu hasil panen kedelai saat ini masih perlu ditingkatkan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tingg­i. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. Aspek panen dan pascapanen Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek panen dan pascapanen meliputi: (1) tuntutan terhadap hasil panen bermutu. 4. P­referensi konsumen terhadap mutu kedelai semakin meningkat. Oleh karena itu. pengendalian hama dan p­enyakit dengan sistem PHT. pemberian air yang cukup.

dan (3) permintaan kedelai terus meningka­t. (2) j­aringa­n transportasi memadai. gizi tinggi dan m­enyehatkan p­erlu diinformasikan pada media cetak maupun elektronik. makanan segar dengan kualitas polong maupun biji yang seragam. rasa sesuai dengan selera konsumen dan kemasan yang menari­k akan mempunya­i daya tarik bagi konsumen. dan kuantita­s serta kualitas biji untuk bahan industri cukup memadai. promosi secara g­encar. biji besar/sedang. 26 . Upaya peningkatan daya sain­g selain bentuk produk diperlukan juga penyuluhan. Cikuray.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai d­engan kehendak konsumen dan sesuai dengan bahan baku industri telah tersedia. Kaba) bahkan kedelai hitam yang sesuai de­ ngan industri kecap juga telah tersedia (Merapi. tempe. Aspek distribusi dan pemasaran Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek distribusi dan pe­ ma­saran meliputi: (1) industri pengolahan kedelai berkembang. Upaya untuk me­ningkatkan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi adalah memperbaiki b­entuk makanan olahan berbaha­n baku kedelai. menarik. warna kuning mengkilap (Argomulya. Penguatan industr­i pedesaa­n skala kecil maupun industri besar yang bermitra dengan produsen kedelai perlu ditindak lanjuti. Bentu­k makanan olaha­n yang menari­k. snack kaya akan protein. Anjasmoro. Burangrang. kecap. Sebagai i­lustrasi PT Garuda Food telah berhasil membidik konsumen tingkatan menengah ke atas dengan memproduksi snack kedelai oven dengan rasa enak dan dikemas dalam kemasan yang menarik dan terkesan elite. tauco. serta telah tersebar di seluruh pasar swalayan. dan Malika). Promosi makanan berbahan baku kedelai susu. 5. sehingg­a bisa mengendalikan konsumen untuk mengkonsumsi produk olahan kedelai.

dan (3) minat swasta dalam industri pengolahan kedelai semakin meningkat. (2) program revi­ talisasi penyuluhan. 6. Industri pengolahan bahan pangan (tahu. Revitalisasi alih teknologi dan revitalisasi penyuluhan saling ber­ hubungan erat. Program alih teknologi berupa diseminasi memperoleh prioritas utama. Di Indonesia konsumsi tertinggi adalah untuk bahan industri tahu dan tempe. tempe.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Berbagai macam produk olahan berbahan baku kedelai berkem­ bang dengan pesat. sehingga memudahkan mobilitas bahan baku kedelai dari produsen ke konsumen. tauco. Oleh karena itu. mela­ lui diseminasi diharapkan adanya kerja sama yang baik antara peneliti.776 juta ton atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri. farmasi (obat-obatan). Aspek kelembagaan Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek kelemba­ gaan berupa (1) program revitalisasi alih teknologi. 27 . Berdasarkan perhitung­ an. konsumsi kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 men­ capai 1. Jaringan transportasi sudah baik dan ditunjang oleh alat angkut yang memadai. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan ternak menyebabkan kebutuhan akan kedelai semakin meningkat. Revitalisasi di bidang pe­ nyuluhan diharapkan penyuluh dapat berperan sebagai ujung tomba­k dan mampu memberdayakan kemandirian petani. kecap. kelompok tani. snack). namun demikian teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian belum sampai kepada petani. Sedang 12% sisanya dipergunakan berbagai keperluan makanan olaha­n lain dan bahan baku industri lainnya. Asosiasi Petani Kacang Kedelai Indonesia (APKKI) telah terben­ tuk di beberapa propinsi sentra produksi kedelai dan merupakan me­ dia yang cukup efektif dalam pengembangan kedelai berbasis agri­ bisnis. k­elompok usaha/asosiasi petani dalam usaha pengembangan kedelai. pemerintah daerah. penyuluh. dan petani. Asosiasi tersebut berpeluang dikembangkan di setiap propinsi sentra kedelai dengan penyuluh pertanian sebagai mediator dan Pemerintah Daerah sebagai fasilitator.

(iii) terciptanya mata rantai pemasaran yang efisien sehingga dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan pendapatan petani. dan perluasan peranan pengguna. Upaya peningkatan produksi diikuti de­ ngan upaya peningkatan efisiensi. Tujuan jangka pendek-menengah adalah meningkatkan produksi untuk memenuhi 60% kebutuhan. Dalam hal ini diperlukan dukungan dari pemerintah dan swasta. kualitas. Tujuan jangka panjang adalah swasembada kedelai. Dengan kata lain. 28 . dan (iv) berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku kedelai di dalam negeri. penguasaan pasar. impor kedelai yang saat ini mencapai 60-65% dari total kebutuhan dapat ditekan menjadi 40%. (ii) terbentuknya kelembagaan pemasaran yang kuat di tingkat petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai IV. TUJUAN DAN SASARAN Pengembangan kedelai diarahkan untuk tujuan jangka pendekmenengah dan jangka panjang. Sasaran yang ingin dicapai dari pengembangan kedelai s­ecara nasional adalah (i) terciptanya harga yang wajar yang dapat m­emberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. dan nilai tambah produks­i.

bungkil kedelai sehingga peta­ ni memperoleh nilai tambah. teknologi telah tersedia dan SDM handal cukup tersedi­a. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalu­i strategi peningkatan produktivitas. Di tingkat agroindustri. sehingga dapat menekan biaya per satuan produk dengan tetap memperhatikan kelestarian kesuburan tanah. seperti pangan dan pakan. Arah dan Sasaran Pengembangan Pengembangan kedelai diarahkan kepada sistem agribisnis berbasis agroindustri. dan perusahaan swasta.02 juta ton. dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan dalam upaya menekan laju impor. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. peningkatan nilai tambah. Di tingkat petani. penguatan kelembagaan petani. usahatani dilakukan dengan teknologi maju yang efisien melalui pendekatan PTT. sektor swasta membeli kedelai dari petani untuk diolah lebih lanjut menjadi produk olahan sekunder. petani juga dapat dilakukan pengolahan primer kedelai dengan industri rumah tangga di tingkat petani dan kelompok tani. Pola agribisnis seperti ini akan membangun kemitraan yang sinergis antara petani dengan perusahaan swasta. 29 . peningkata­n efisiensi produksi. sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0. Selain itu. mengingat potensi laha­n cukup luas. perluasan areal tanam. Dengan demikian. baik industri pangan maupun pakan. perbaikan sistem permodalan. tahu. serta pengaturan t­ataniaga dan insentif usaha. tempe. p­eningkatan kualita­s produk.71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1. Mengingat Indonesia de­ngan jumla­h p­enduduk yang cukup besar. A. nilai tambah akan terdistri­ busi ke petani. di mana kedelai sebagai bahan baku industr­i. pengembangan infrastruktur. Keadaa­n demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus.31 juta ton. pedagang.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI V. ARAH DAN SASARAN Kebutuhan akan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2. perbaikan akses pasar. menjadi produk olahan seperti tepung kedelai.

Selam­a periode 1990-2003. Pertumbuhan harga masingmasing k­omoditas menggunakan data FAO 1991-2002. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunakan elastisitas pendapatan.03% per tahun. Proyeksi jumlah penduduk dilakukan dengan menggunakan pertumbuha­n penduduk dengan tingkat yang makin rendah. dampak swasembada kedelai akan bermuara pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku agribisnis lainnya. Sebagai bahan baku industri p­angan dan pakan. Proyeksi pertumbuhan produksi untuk masingm­asing skenario disajikan pada Tabel 6.67% per tahu­n.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sasaran utama dari pengembangan kedelai adalah untuk m­eningkatkan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi k­ebutuhan yang terus meningkat. sedangka­n pertumbuhan pendapatan per kapita menggunakan Data BPS (2002). B. berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang et al. Proyeksi Pertumbuhan Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. (2004). dan e­lastisitas silang harga komoditas lainnya. 30 . pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. Tiga skenario diajukan untuk mencapai sasaran jangka menengah maupun jangka panjang pengembangan kedelai s­esuai dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan swasembad­a kedelai ke depan. elastisitas harga kedelai. Selanjutnya. pertumbuhan penduduk adalah 1.

27 5.36 12.39 2.21 2.50 -10.5% per tahun dan 2.80 3.64 2.29 9.25% per tahun dalam periode yang sama.63 10.04 6.09 2.00 -19.00 2.50 2.84 1.34 1.84 17.19 2.89 14.98 2005-2009 1.93% per tahun dalam periode 2005-2025.08 4. produktivitas.56 1.08 5. 31 .93 1.50 0.30 2010-2014 1.50 -14.22 1.58 1.73 Skenario 1 (1) Proyeksi peningkatan produksi rata-rata 8.00 1.72 1.15 9.33 6.55 2.25 2015-2019 1.45 2.19 3.50 1.23 5.61 4.37 6.50 12.50 -9.30 2010-2014 1.50 2005-2009 1.25 -39.50 2.50 2.11 2.01 1.25 7.49 (rb ton) Prod (jt jiwa) (t/ha) (rb ha) (rb ton) (rb ton) (kg/kap) 2005-2009 1.00 -64.25 7. Proyeksi pertumbuhan areal tanam.00 61.21 2.15 2020-2025 Rataan 0.00 1.78 12.29 2.50 -9.04 -2.15 8.00 -6.23 5.58 1.50 2.00 -65.84 1.15 2020-2025 Rataan Skenario 2 Pertumb (%) 0.00 1.26 7.50 51. (2) Peningkatan produksi tersebut diperoleh dari upaya perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 6.79 4.21 0.21 2015-2019 1.19 1.08 7.27 6.81 -18.50 0.39 10.23 5.78 7. Tahun Skenario 1 Pertumb (%) Pddk Provitas Area 2.29 2.30 2010-2014 1.50 2.00 1.55 12.27 0.19 4.01 7.15 2020-2025 Rataan Skenario 3 Pertumb (%) 0.21 2015-2019 1.50 -4.24 3.86 10.25 Impor Konsumsi Kontribusi Prod (%) 2.55 14.75 1.19 1.61 4.25 6.25 2.08 4.84 1.00 1.58 1.15 8.39 2.77 1. dan produksi kedelai periode 2005-2025.25 4.50 10.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 6.21 2.55 7.95 1.50 2.50 10.02 1.

(3) Dengan skenario 3.25% per tahun untuk men­ capai tingkat pertumbuhan produksi 9. Jawa Barat. dan Sulawesi Selatan. impor yang saat ini mencapai 6065% secara substansial dapat ditekan menjadi minimal 45% pada 2010.25% per tahun dalam periode 2005-2025. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun 2020.25% per tahun dan 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai (3) Dengan skenario 1. Nusa Tenggara Barat. Arah Pengembangan Pengembangan kedelai ke depan diarahkan untuk mencapai tujuan jangka pendek-menengah dan jangka panjang yaitu Indonesia mampu meningkatkan produksi kedelai secara bertahap untuk memenuhi kebu­ tuhan dalam negeri.72% per tahun dalam periode yang sama. (3) Dengan skenario ini swasembada kedelai akan dicapai pada tahun 2015. Dengan kata lain. C. Sumatera Utara. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun terakhir yaitu 2025.72% per tahun. Skenario 3 (1) Proyeksi peningkatan produksi kedelai dalam periode yang sama rata-rata mencapai 8.81% per tahun dan 2. Skenario 2 (1) Produksi kedelai dalam negeri diproyeksi meningkat rata-rata 9. (2) Proyeksi pertumbuhan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 5. Jawa Tengah. Lampung. Program peningkatan produktivitas diprioritaskan di wilayah-wilayah sentra produksi yang produktivitasnya masih tergolong rendah. di mana tingkat penerapan teknologi oleh petani masih kurang. 32 . (2) Areal tanam dan produktivitas kedelai diproyeksikan meningkat masing-masing 7.22% per tahun. Wilayah-wilayah yang sesuai untuk program ini antara lain adalah beberapa kabupaten di Jawa Timur.

dan lahan kering yang cukup luas. Jawa Tengah. Jawa Barat. meluasnya peran pengguna. tahun 2007 sebe­ sar 900 ribu ton. Bengkulu.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Program perluasan areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) ditujukan ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi sumber daya lahan cukup baik di Jawa Timur. Pertanyaannya kemudian adalah kapan sasaran itu dapat dicapai? Inilah tantangan yang harus dijawab dengan memanfaatkan 33 . penguasaan pasar yang luas. dan kapan kemungkinan pencapaian swasembada perlu disusun beberapa alternatif skenario. maka pada tahun 2009 impor diperkirakan masih sebesar 1. serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif. Sedang perluasan areal dapat di lakukan pada sawah tadah hujan/irigasi sederhana. kuali­ tas dan nilai tambah yang berdaya saing. Sumatera Utara. tahun 2008 sebanyak 975 ribu ton. Agar sasaran pengurangan impor dapat dicapai. Peningkatan produksi diikuti dengan proses produksi yang efisien. namun belum optimal dimanfaatkan. Produksi kedelai tahun 2005 diproyeksikan 774 ribu ton biji kering. Dalam Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah (­RPPJM: 2005–2010) Departemen Pertanian. Sulawesi Tenggara. Lampung. Sasaran pengembangan kedelai dalam 20 tahun ke depan adalah untuk memanfaatkan seluruh potensi dan peluang yang ada untuk men­ coba memenuhi kebutuhan kedelai nasional dari kemampuan produksi dalam negeri. dan tahun 2009 sebesar 1.36 juta ton dan ini berarti tidak terjadi pengurangan impor.03 juta ton atau meningkat rata-rata 7. Sulawesi Selatan. Apabila sasaran peningkatan produksi diproyeksikan sebagaimana dikemukakan di atas. telah menyatakan bahwa sasaran pengembangan kedelai adalah meningkatkan produksi nasional sebesar 7% per tahun. Kalimantan Selatan.00% per tahun. Sumatera Selatan. Sasaran Sasaran jangka panjang adalah swasembada kedelai (ontrend). D. misalnya dari 60–65% menjadi 45% dari kebutuhan dalam negeri. Nusa Tenggara Barat. tahun 2006 sebesar 825 ribu ton. Wilayah-wilayah yang tergolong kate­ gori tersebut antara lain adalah Jambi. dan Sulawesi Selatan.

lahan sawah tadah hu­ jan atau lahan kering. produktivitas pada 2025 h­arus m­encapai sekitar 1.0% per tahun dan 3.5% per tahun masing-masing pada periode 2015-2019 dan 2020-2025. Pencapaian sasaran menurut skenario 1 Perkiraan pencapaian sasaran atas dasar skenario 1 disajikan pada Tabel 7. 2015-2019. Sumatera Utara.5% dan 0.95% per tahun pada 2005-2009. Lampung.5%. pengendalian gulma. Jawa.99 ton/ha secara nasional.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai sumber daya secara optimal yang dihela oleh kemajuan Iptek di bidang pangan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sum­ berdaya alam. Aceh dan Sulawesi Selatan. 1.5% per tahun dan berturu­t-turut menurun menjadi rata-rata 5. 1. 2010-2014. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks per­ tanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana. Sedangkan peningkatan produktivitas kedelai dalam empat p­eriode yang sama masing-masing diproyeksi rata-rata 4.5% per tahun pada periode 2005-2009. Wilayah sasaran perluasan areal adalah Nusa Teng­ gara Barat. Melalui kedua upaya tersebut di atas. m­asing34 . hama dan penyakit (OPT) secara terpadu. Dengan kata lain. ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor untuk me­ menuhi kebutuhan dalam negeri secara gradual dapat dikurangi dan pada akhirnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan dari kemampuan produksi dalam negeri. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa perluasan a­real tanam harus diupayakan meningkat rata-rata 10% per tahun dalam periode 2005-2009 dengan sasaran areal tanam mencapai sekitar 833 ribu ha pada 2009. waktu atau musim tanam yang s­esuai serta rotasi tanaman. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah peng­ gunaan benih varietas unggul yang bermutu.5%. Laju peningkatan areal tanam sedikit menurun pada lima tahun berikutnya (2010-2014) yaitu rata-rata 7. maka produksi diproyek­ sikan meningkat rata-rata 14. Dengan demikian. 2. Sasaran lain adalah mengembalikan keunggulan kompetitif di tingkat on farm dan keunggulan komparatif di pasar global. dan 2020-2025.

02 12 2017 0.26 4 2009 1.12 2.01 250 1.00 -6.75 2.64 273 1.21% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014 dan 2015-2019. sedikit menurun menjadi 2.113 637 1.95 1.40 2.80 1.142 1.235 44.08 Pertumb (%) 1.752 -248 3.52 757 1.604 10.35 1 2006 1.256 422 2.15 0.15 2.770 87.367 757 9.50 7.99 1.75 Pertumb (%) 0.58% per tahun pada 2010-2014 dan 2015-2019 serta rata-rata 4. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi terus menurun rata-rata 2. Pert No.081 103.00 -65.206 107.21 4.50 -14.149 9.525 70.63 896 951 1.02% per tahun pada periode 2020-2025.89 14.11 9 2014 1.40 3.87 17 2022 0.42 258 1.98 1.19 2.75 1.349 56.291 50.143 105.74 235 1.84 Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 226 1.832 91.769 11.93 Pertumb (%) 1.23 2.768 10.80 6.59 833 1.75 277 1.124 35.035 757 1.50 3.85 1.29 3 2008 1.19% dan 6.09 241 1.02 1.179 39.737 11.25 2.14 8 2013 1.99 13 2018 0.951 11.81 19 2024 0.37 4.55% per tahun pada 2005-2009.580 -51 3.99 260 1.79 1.14 2.813 -324 3.000 9.526 6 2.67 265 1.92 232 1.63 229 1.39 626 1.25 4.52 2.96 1.646 81.84 18 2023 0.30 5 2010 1. total konsumsi diproyeksikan meningkat rata-rata 2.53 3. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 1).93 1.50 2.332 112.39% dan 2.196 500 2.069 11.11 2. Tabel 7.66 3.74 263 1.438 10. Tahun Pdd (%) 0 2005 1.018 101.948 10.67 963 862 1.309 870 9.05 247 1.23 Pertumb (%) 1.25 2.55 12.894 95.593 11.94 1.88 2.20 6 2011 1.98 35 .49 244 1.466 65.66 275 1.88 1.76 2.00% per tahun pada periode 2020-2025.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI masing 10.63 2.39 7.78 20 2025 0.27 3.287 10.86 10.33 569 1.71 1.97 1.17 7 2012 1.00 1.635 -112 3.235 1.585 75.90 1. Dengan skenario 1.45 688 1.69 270 1.15 10 2015 1.90 16 2021 0.35 252 1.50 10.957 99.321 11.50 51.454 125 2.321 9.50 5.58 1.00 2.05 11 2016 1.82 1.61 255 1.27 268 1.269 109.598 10.17 238 1. swasembada kedelai diperkirakan dapat dicapai pada tahun 2020 (Tabel 7).32 2 2007 1.37 2.00 15 2020 0.709 84.193 11.456 10.454 11.692 -178 3.876 -405 3.91 279 1.19 1.88 2.028 1.146 10.95 1.407 60.96 14 2019 0.319 333 2.01 2.93 3.79 3.385 234 2. Di sisi lain.62 2.

Lampung. Yang berbeda dalam laju perluasan areal yang sangat agresif yaitu rata-rata 12.5% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014. waktu/musim tanam yang se­suai dan rotasi tanaman. serta 2. dan Sulawesi Selatan.5%.5%. 5. Dengan asumsi laju konsumsi sama dengan skenario 1. Sumatera Utara. 36 . Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih VUB yang bermutu. Wilayah sasaran perluasan areal adalah NTB.0%.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 2. perbaikan kesuburan tanah dengan pemu­ pukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). dan 0.5% per tahun untuk masing-masing periode yang sama. Untuk peningkatan IP terutama pada musim tanam kedua (MT-II) dan MT-III sangat diperlukan dukungan pengairan melalui pompanisasi dan ini tentu tidak mudah dan tidak pula murah. 1.0%. 10. Aceh. Jawa. lahan sawah ta­ dah hujan atau lahan kering. akan ditem­ puh melalui program peningkatan produktivitas yang sejalan dengan skenario 1 yaitu rata-rata 4. dan 2020-2025.5% per tahun pada periode 2005-2009. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. maka upaya peningkatan produksi menurut skenario 2 akan mencapai swasem­ bada pada tahun 2015 atau lima tahun lebih cepat dari skenario 1 (Tabel 8).5%. Pencapaian sasaran menurut skenario 2 Upaya peningkatan produksi menurut skenario 2. dan 1. 2015-2019.

367 757 9.95 1.61 11 2016 1.39 640 1.179 40.40 2.081 122.061 1.20 241 1.468 12 2.50 5.64 5 2010 1.04 2.23 2.046 9.99 12 2017 0.39 16 2021 0.79 3.75 2.02 258 1.90 268 1.072 10.96 263 1.52 2.15 2.01 3.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 8.585 90.81 275 1.19 2. Pencapaian sasaran menurut skenario 3 Diantara ketiga skenario dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri.33 569 1.768 11.01 1.048 -748 4. Pert Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri No.36 20 2025 0.97 1.67 1.00 0.01 2.63 1.336 10.873 -665 3.50 12.15 2.75 1.93 265 1.40 3.291 53.66 3.98 2.93 1.96 1. Menuru­t skenario 3.30 18 2023 0.622 11.398 11.844 11.31 19 2024 0.018 122.33 17 2022 0.11 10 2015 1.646 99.634 10.000 11.63 2.80 3 2008 1.50 2.699 -357 3.99 2.84 0.466 74.832 112.76 2.541 -98 2.14 247 1.84 17.30 4.06 8 2013 1.25 2.694 11.50 -9.269 122.94 1.080 11.988 -715 3.00 1.59 911 903 1.44 Pertumb (%) 0.59 13 2018 0.26 235 1.82 1.71 6 2011 1.235 46.88 1.90 1.35 226 1.807 10.930 -688 3. Tahun Pdd (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod (%) jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 0 2005 1.959 -701 3.103 628 1.55 Pertumb (%) 1.902 -676 3.62 2.84 273 1.5% per tahu­n pada periode 2005-2009 dan periode 2010-2014.50 2.770 107.45 720 1.93 3.784 -504 3.56 1.52 7 2012 1.39 10.83 2 2007 1.12 2. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 2).289 890 9.55 14.45 6.37 9 2014 1.71 1.42 14 2019 0. skenario 3 tampaknya yang paling moderat.407 67.63 1 2006 1. Kemudian laju 37 .21 4.349 61.78 12.29 232 1.75 279 1.894 117.05 255 1.88 2.213 453 2.75 1.17 244 1.189 10.53 3.709 103.618 -221 2.124 35.00 -64.78 277 1.630 10.14 2.003 777 1. Waktu pencapai swasembada kedelai yang cukup lama ini s­ebagai konsekuensi peningkatan areal tanam baik lewat peningkata­n IP maupu­n pemanfaatan lahan tidur masing-masing 7.67 4 2009 1.99 260 1.334 249 2.189 1.230 9.992 10.206 122.25 2.27 15 2020 0.838 10.88 2.00 2.27 3.50 1.957 122. swasembada kedelai baru bisa dicapai pada t­ahun 2025.332 122.018 -731 4.23 238 1.37 2.79 1.08 252 1.143 122.11 250 1.87 270 1.52 810 1.525 82.85 1.49 Pertumb (%) 1.58 1.00 61.32 229 1.54 Pertumb (%) 1.446 9.921 11.50 10.

26 2.39 612 1.23 Pertumb (%) 1.709 77.88 1.75 Pertumb (%) 0.14 8 2013 1.533 -28 3.75 1.206 97.63 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai p­eningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5.484 31 2.01 265 1.82 1.525 11.83 2.407 55.29 3 2008 1.55 241 1.00 244 1.71 944 808 1.958 10. Tabel 9.86 2.50 5.00 -19.329 3.326 -19.081 94.26 4 2009 1.370 10.25 250 1.67 878 913 1.52 232 1.894 87.269 99.15 10 2015 1.144 1.84 18 2023 0.88 263 1.02 12 2017 0.76 238 1.179 39.329 850 9.438 85 2.25% m­asing-masing untuk periode 2015-2029 dan 2020-2025 (Tabel 9).55 2.003 1.88 4.40 273 1.66 277 1.96 14 2019 0.00 2.205 9.646 73.97 1.20 6 2011 1.63 10.36 12.96 1.634 1.349 51. No.04 4.34 2.832 83.0% dan 3.35 1 2006 1.124 35.84 226 1.33 569 1.73 2.45 658 1.85 1.367 3.463 10.79 279 1.05 11 2016 1.007 11.39 255 1.280 955 9.78 20 2025 0.83 1.52 707 1.17 2.12 247 1.218 1.50 -10.08 Pertumb (%) 1.582 -39.93 Pertumb (%) 1.08 3.99 1.73 38 .332 100.145 462 2.466 59.99 13 2018 0.121 11.24 2.31 9.25 -39.50 -4.37 252 1.63 817 1.94 1.50 7.93 1.90 16 2021 0.086 10.62 258 1.360 11.93 0.50 3.68 3.612 10.328 10.770 80.50 7.33 3.08 3.367 757 9.777 10.27 270 1.14 1.08 3.01 2.63 235 1.59 760 1.091 1.00 2.98 1.50 2.40 229 1.063 1.61 2.34 1.392 225 2.98 7.87 17 2022 0.73 2.203 369 2.21 268 1.018 92.53 275 1.223 10.32 2 2007 1.585 68.291 46.05 3.073 9.79 1.27 2.957 91.17 7 2012 1.27 3.687 1.90 1.53 3.793 11.24 6.898 11.143 95.238 11.525 63.81 19 2024 0.68 2.263 265 2.015 688 1.95 1. Tahun Pert Pdd (%) Pddk Provitas Area Impor (jt (t/ha) (rb ha) (rb jiwa) ton) Prod (rb ton) Konsumsi (kg/ (rb kap) ton) Kontri Prod (%) 0 2005 1.218 2.692 11. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 3).58 136 2.235 42.11 9 2014 1.079 2.77 1.00 15 2020 0.75 260 1.19 547 2.30 5 2010 1.

0 1. Jawa. waktu/musim tanam yang sesuai dan rotasi tanaman. Perluasan areal tanam dilakuka­n melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigas­i sederhana. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih unggul yang bermutu. E. Lampun­g. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2025 dengan c­atatan bahwa konsumsi per kapita maupun total konsumsi sama dengan skenario 1 dan skenario 2. Nilai LQ diklasifikasikan sebagai berikut: 3. perbaikan kesuburan lahan dengan pemupukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). Penjabaran arti dari LQ adalah: LQ = Eir / Ein di mana Eir adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi propinsi (r). Perluasan Areal Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usahatani kedelai. Wilayah s­asaran perluasan areal adalah Nusa Tenggara Barat.0 > LQ > 0 nilai tinggi nilai sedang nilai rendah 39 . Ein adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi nasional (n).0 2. dan Sulawesi Selatan. Sumatera Utara. lahan sawah tadah hujan atau lahan kering.0 > LQ > 2. Aceh.0 > LQ > 1.

5 > LQ > 0. Sultra. Prioritas program peningkatan produksi dan perluasan a­real kedelai berdasarkan nilai LQ propinsi. Nilai LQ dan Propinsi 3. baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal.0 > LQ >1. Sulut.1 Jambi. 40 . Skala prioritas pengembangan kedelai berdasarkan nilai LQ disajikan pada Tabel 10. Tabel 11 menunjukkan bahwa potensi lahan yang sesuai un­ tuk tanaman kedelai. Kalsel. Yoyakarta 2.5 Bali. Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendala antara lain nilai komparatif dan kom­ petitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya. + Prioritas rendah +++ ++ + +++ + +++ + Peningkatan Produktivitas (PP) Perluasan Areal Tanam (PAT) Wilayah sasaran intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai utama (LQ) tinggi diikuti propinsi penghasil kedelai (LQ se­ dang).0 NTB. Sumsel. Sumbar. Sedangkan wilayah sasaran di Jawa dan Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan perlu mempertimbangkan lahan dengan LQ tinggi sampai sedang.0 Aceh. Jabar. Sulsel 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 10. Bengkulu.0 > LQ > 0. + Papua +++ Prioritas utama.0 > LQ > 2. Lampung. ++ Prioritas sedang. Sumut 0. Jateng. Jatim.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

Tabel 11.

Daerah sasaran peningkatan produktivitas di propinsi penghasil kedelai utama dan propinsi penghasil kedelai sedang. Propinsi Kabupaten Gunung Kidul Bantul, Wonosari, Slemen Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Sumbawa, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan. Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi Purworejo, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Demak, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Kudus, Jepara, Pati, Blora Bone, Enrekang, Gowa, Majene, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polewali, Selayar, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo

Nilai LQ

1 Penghasil 1 Yogyakarta kedelai utama (40.050 ha) (LQ Tinggi) 2 Jawa Timur (279.500 ha) 3 NTB (139.520 ha) 2 Penghasil 1 Aceh kedelai Sedang (181.390 ha) (LQ Sedang) 2 Lampung (164.500 ha) 3 Jawa Barat (327. 500 ha) 4 Jawa Tengah (379.500 ha) 5 Sulawesi Selatan (322.100 ha)

41

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

F. Peningkatan Produktivitas Upaya peningkatan produktivitas (PP) dibedakan atas tingkat produktivitas yang telah ada selama ini. Berdasarkan metoda perhi­ tungan LQ, maka lahan dengan 3,0>LQ>2,0 (LQ tinggi) merupakan lahan yang sesuai untuk peningkatan produktivitas yang tersebar di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Bagi daerahdaera­h yang telah memiliki produktivitas tinggi diarahkan untuk d­imantapkan, dan bagi daerah-daerah yang tingkat produktivitasnya masih rendah dilakukan upaya akselerasi melalui penggunaan b­enih va­rietas unggul, pupuk berimbang, penerapan teknologi spesifik lokasi, pengelolaan usahatani terpadu lahan kering. Perluasan areal tanam (PAT) diarahkan ke daerah di luar Jawa yang memiliki potensi cukup luas melalui penambahan baku lahan, mengoptimalkan lahan kering, rehabilitasi dan konservasi lahan, ser­ ta pengembangan lahan rawa/lebak/pasang surut. Perluasan areal disesuaikan dengan kecocokan lahan dengan 2,0>LQ>1,0 di Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Untuk mendukung tercapainya sasaran-sasaran tersebut, perlu dukungan aspek hulu antara lain penyediaan lahan, perbaikan pengairan, sarana produksi, alsintan, permodalan, sarana transportasi/jalan usahatani.

42

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

VI. STRATEGI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM
A. Strategi Pemecahan Masalah Perumusan strategi, kebijakan, dan program pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia disusun dengan menggunakan analisis SWOT. Penyusunan strategi dikelompokkan menjadi 6 bagian berdasar­ kan bidang masalah yang dihadapi yaitu: (1) litbang, (2) perbenihan, (3) produksi, (4) panen dan pascapanen, (5) distribusi dan pemasaran, sert­a (6) kelembagaan. Dari masing-masing isu tersebut kemudian dirangking atas dasar indikator prioritas yaitu urgent, seriousness, dan growth. Dari masing-masing isu kemudian ditentukan tiga masalah prioritas. Masalah tersebut kemudian di analisis dengan SWOT yang terdiri atas faktor internal (strength, weakness) dan faktor ekternal (o­pportunity, threat). Dari hasil analisis ditentukan prioritas masing-masing isu untuk kekeuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berdasarkan masing-masin­g m­asalah disusun strategi agresif, diversifikatif, konsolidatif, dan defensif. 1. Penelitian dan pengembangan Berdasarkan identifikasi dan seleksi faktor internal dan ekster­ nal, maka faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dominan dari aspek penelitian dan pengembangan (litbang) adalah sebagai berikut. Strategi Agresif (SO). Strategi ini memanfaatkan kekuatan e­ksternal dan peluang eksternal yang ada antara lain: • pemanfaatan secara optimal sumber daya genetik dan peneliti yang berkualitas dalam merakit varietas unggul, guna memenuhi teknologi yang meningkat, • pemanfaatan dukungan pemerintah untuk revitalisasi penyuluh­an guna meningkatkan proses alih teknologi, dan • pemanfaatan peneliti yang berkualitas untuk menjalin kerja sama penelitian (KSP) dalam perakitan teknologi.
43

• pemanfaatan KSP p­enelitian. kelemahan. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi Defensif (WT).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Strategi Diversifikatif (WO). dan ancaman. 44 . • pemanfaatan perhatian pemerintah untuk memperbaiki sistem diseminasi teknologi. Alternatif strategi yang termasuk kelompok diversifikatif adalah: • optimalisasi program diseminasi guna memenuhi kebutuhan t­eknologi yang meningkat. formulasi strategi dalam pengembangan sistem produksi benih kedelai berdasarkan kekuatan. dan • kaderisasi peneliti berkualitas melalui perbaikan rekruitmen yang sesuai dengan kebutuhan. strategi konsolidatif (WO). Strategi untuk mengatasi kelemahan i­nternal dan sekaligus mengurangi ancaman eksternal. 2. dan untuk mendukung konsistensi program • prioritasi penelitian sesuai dengan keterbatasan tenaga peneliti. antara lain: • fokus penelitian pada isu-isu yang paling mendesak. Alternatif strategi sistem perbenihan juga dikelompokkan atas dasar kombinasi antara faktor internal dan e­ksternal yang terdiri atas strategi agresif (SO). Strategi ini dimaksudkan untuk me­ manfaatkan peluang eksternal dengan memperbaiki kelemahan inter­ nal. dan • perbaikan rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan. Strategi sistem produksi benih Secara lebih rinci. peluang. dan strategi defensif (ST). strategi diversifikatif (ST). Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal sekaligus mengurangi ancaman eksternal yang ada. meliputi: • pemberdayaan peneliti melalui perbaikan sistem reward bagi peneliti berprestasi.

• pembatasan impor melalui tarif. antara lain: • perbaikan sistem alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. Memanfaatkan peluang eksternal secara optimal antara lain: (1) pemanfaatan teknologi untuk menekan biaya produksi benih u­nggul dan (2) pemanfaatan UPBS. Alternatif strategi untuk meman­ faatkan peluang eksternal secara optimal untuk mengurangi anca­ man eksternal dalam pengembangan perbenihan kedelai nasional. • penyederhanaan sistem sertifikasi. Strategi Defensif (WT). dan BBU untuk meningkatkan mutu benih guna meningkatkan kepercayaan petani. Strategi ini meliputi: • peningkatan peran penyuluh untuk menanggulangi OPT dan anomal­i iklim. 45 . BBI. • pemanfaatan varietas unggul yang tersedia dalam perakitan VUB ber­ daya hasil tinggi didukung oleh teknologi benih yang maju. antara lain: • peningkatan peran UPBS.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Agresif (SO). dan • pemanfaatan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. Strategi ini b­ersifat konsolidasi internal untuk menghadapi tantangan dari luar. abiotik maupun sosial-ekonomi dalam pengembangan sistem perbenihan kedelai. BBI. Strategi ini dimaksudkan untuk m­engurangi kelemahan internal dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengurangi ancaman eksternal baik yang bersifat biotik. Strategi Diversifikatif (WO) . dan • pemanfaatan subsidi untuk pengembangan industri benih. dan BBU dalam penyediaan b­enih bermutu. Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal yang cukup besar dalam pengem­ bangan sistem produksi benih kedelai mendukung peningkatan produksi nasional.

Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi produksi biaya rendah dengan sarana produks­i terbatas. • pemanfaatan lahan yang masih luas untuk perluasan areal tanam kedelai. Strategi Agresif (SO). Strategi Diversifikatif (WO). • penyediaan kredit lunak yang mudah diakses petani. biotik. guna memenuhi permintaan yang terus meningkat. dan • pemanfaatan VUB untuk penyediaan kedelai berprotein tinggi. dan • revitalisasi penyuluhan untuk mendiseminasikan budidaya kedelai sebagai tanaman sela. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk memanfaatkan peluang ekternal yang ada agar kinerja produksi makin membaik. maupun abiotik. Strategi ini meliputi antara lain: • pemanfaatan VUB dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi. Strategi sistem produksi Strategi pengembangan sistem produksi ( on-farm ) kedelai d­iformulasikan dengan memperhatikan keterkaitan antara faktor i­nternal dan eksternal.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. dan • perakitan varietas unggul hasil tinggi toleran terhadap cekaman lingkungan seperti OPT dan Iklim. 46 . Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dengan mengurangi atau menekan ancaman serendah mungkin baik yang bersifat sosialekonomi. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi maju dalam peningkatan produksi untuk menekan laju impor. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaata­n peluang eksternal. baik sebagai tanaman utama maupun tanaman sela.

Strategi ini meliputi: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. • pemanfaatan teknologi pengolahan untuk menghasilkan ber­bagai produk guna mendukung perkembangan agroindustri.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Defensif (WT). Strategi Diversifikatif (WO). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaa­ tan peluang eksternal. juga dilakukan terhadap formulasi strategi pada aspek ini yaitu agresif. P­enanganan hasil panen dan pascapanen dalam pengem­ bangan kedelai sangat menentukan. Strategi ini dimaksudkan untuk mening­ katkan kinerja produksi di mana secara internal banyak kelemahan dan secara eksternal juga cukup banyak ancaman sehingga strategi ini harus diformulasikan secara hati-hati. dan • pemanfaatan alsitan untuk pengolahan hasil panen. diversifikatif. Strategi penanganan panen dan pascapanen Formulasi strategi pengembangan kedelai ditinjau dari aspek pen­ anganan panen dan pascapanen didasarkan atas pengelompokan yang sama. dan defensif. Strategi Agresif (SO). Strategi ini dimaksudkan u­ntuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal u­ntuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada agar nilai tambah produks­i kedelai dapat dinikmati oleh petani produsen maupun p­engolah. dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai d­engan keterbatasan modal. 4. Strategi diversifikatif antara lain: 47 . Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu hasil. Formulasi strategi ber­ dasarkan keterkaitan antara masing-masing faktor internal dan eksternal. Penerapan teknologi pasca­ pa­nen tidak hanya menekan kehilangan hasil secara kuantitas juga meningkatkan mutu hasil. selain manajemen peme­liharaan tanama­n pada saat kegiatan usahatani. konsolidatif.

Strategi distribusi dan pemasaran Hasil analisis keterkaitan antar faktor-faktor internal seperti kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam aspek distribusi dan pemasaran kedelai dan produk olahannya dikelompokkan ke dalam empat strategi. dan defensif. Strategi ini tampaknya harus diformu­ lasikan secara hati-hati. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu produk dan meningkatkan harga jual dan • penggunaan alsintan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dalam pengolahan Strategi Defensif (WT). Strategi ini antara lain: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. guna Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan dan eksternal yang juga cukup banyak ancaman. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal dan optimalisasi pemanfaatan peluang e­ksternal. Strategi ini meliputi: 48 . dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai de­ngan keterbatasan modal. yaitu agresif. dan • penyediaan kredit lunak untuk pengadaan alsintan m­eningkatkan produk olahan berbahan baku kedelai. konsolidatif. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dalam peningkatan nilai tambah hasil dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatka­n hasil panen bermutu. diversifikatif. 5. Strategi Agresif (SO).

dan • penerapan tarif terhadap kedelai impor secara proporsional. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi diversifikatif terdiri atas: • kerja sama petani dengan pengusaha m­eningkatkan daya tawar petani. dan • peningkatan intensifikasi di sentra produksi guna menekan laju impor. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan pada tingkat petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang juga tidak 49 . Strategi ini diharapkan mampu mening­katkan nilai tambah distribusi dan pemasaran di tingkat petan­i produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. Strategi Diversifikatif (WO). • pemanfaatan transportasi yang lancar untuk menekan biaya trans­ portasi. dan • intensifikasi di daerah sentra produksi untuk memenuhi p­ermintaan kedelai yang meningkat. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan infrastruktur guna mempersingkat rantai pemasaran. pengolahan untuk • perbaikan sistem informasi pasar melalui penerapan teknologi i­nformasi. Penerapan teknologi informasi akan memperlancar arus data dan informasi dari pasar ke produsen dan ke pengolah begitu pula sebaliknya. • pemanfaatan jaringan transportasi guna mendukung p­engem­ bangan industri pengolahan. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk me­ manfaatkan peluang pasar eksternal yang ada agar kelancaran arus kedelai dari petani produsen maupun pengolah sampai ke pasar baik di desa maupun di kota terjamin.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • pemanfaatan infrastruktur guna mendukung pengembangan i­ndustri pengolahan. Strategi Defensif (WT) .

Strategi Agresif (SO). Strategi Diversifikatif (WO) . Strategi penguatan kelembagaan Percepatan penerapan revitalisasi kelembagaan petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai kalah banyaknya. 6. dan • penerapan tarif impor untuk menekan volume impor dan m­eningkatkan daya tawar petani. • sinkronisasi kelembagaan alih teknologi dengan program revita­ lisasi penyuluhan. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang ada pada tingkat organisasi petani. konsolidatif. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan informasi pasar yang ada guna memperpendek r­antai pemasaran. dan defensif. formulasi strategi dalam aspek kelembagaan juga dikelompokkan ke dalam empat magnitude sesuai dengan analisis SWOT yaitu agresif. Kelembagaan petani produsen yang ditangani secara profesional akan mampu meningkatkan posisi tawar petani dalam pasar produk 50 . pe­ nyuluhan. diversi­ fikatif. penyuluhan maupun permodalan serta optimalisasi pemanfaatan pe­ luang eksternal. Strategi agresif dari aspek kelembagaan. dan permodalan pada tingkat pedesaan tampaknya akan merupakan katalisator dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Strategi ini harus diformulasikan secara tepat dan hati-hati. dan industri pengolahan. dan • pemberdayaan kelompok tani guna mendukung program alih t­eknologi. Seperti halnya pada aspek-aspek lainnya. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal me­ manfaatkan peluang eksternal yang ada agar seluruh kelembagaan baik di tingkat petani produsen maupun prosesing di pedesaan. penyuluhan. antara lain: • pemanfaatan lembaga perkreditan untuk mendorong swasta dalam industri pengolahan.

Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal institusi yang masih banyak kelemahan pada tingka­t petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang merugikan petani. Penerapan teknologi informasi dan manajemen usaha yang efisien akan memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen dan sebaliknya. dan • kerja sama petani dengan swasta guna meningkatkan ketersediaa­n modal bagi petani. Strategi diversifikatif terdiri atas: • pemanfaatan program alih teknologi dan penyuluhan untuk p­erbaikan sistem penyuluhan. Strategi defensif yang terkait dengan masalah dis­ tribusi dan pemasaran harus diformulasikan secara tepat dan hatihati.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI kedelai yang secara alami bersifat kompetitif. Strategi ini meliputi: • perbaikan kinerja lembaga permodalan dan alih teknologi untuk meningkatkan kepercayaan petani terhadap kelembagaan yang ada. Strategi Konsolidatif (ST). dan 51 . serta peningkatan peran dan fungsi kelompok. Strategi ini diharapkan mampu melakukan konsolidasi manajemen usaha agribisnis kedelai untuk nilai tambah pada tingkat petani produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat manajemen maupun sosialekonomi. • revitalisasi kelompok tani guna meningkatkan kepercayaan petan­i. guna meningkatkan fungsi kelembagaan. dan • sinkronisasi peraturan dan kelembagaan antara pusat dengan daerah. Strategi ini antara lain: • percepatan penerapan revitalisasi penyuluhan dan lembaga p­ermodalan. Strategi Defensif (WT). • penegasan komitmen pimpinan kelembagaan dalam pelaksanaan peraturan.

dan (2) penerimaan tenaga penyuluh disertai dengan penye­ diaan fasilitas pendukungnya.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan akses petani terhadap sumber modal melalui p­erbaikan komitmen pimpinan kelembagaan. baik nasional maupun internasional. dan (2) fasilitasi KSP antara peneliti litbang dengan lembaga penelitian lain. sebagian keterbatasan dana peneli­ tian dari Badan Litbang Pertanian dapat diatasi melalui kerja sama ini. Dalam mempercepat revitalisasi penyuluhan. namun tetap berupaya memanfaatkan pe­ luang KSP dengan pihak luar. Satu kebijakan tertapis dan yang paling dominan yaitu penyediaan insentif bagi peneliti ber­ prestasi melalui penerapan HaKI dan tunjangan peneliti yang m­emadai. Dengan demikian. Dari aspek litbang. Kebijakan dan program penelitian dan pengembangan Kebijakan dan Program Agresif (SO). baik nasional maupun internasional. dan (2) melakukan KSP jangka menengah dan panjang dengan lembaga penelitian lain. maka KSP dapat dilakukan dengan sistem cost sharing. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). baik nasional maupun interna­ sional. Dua program operasional yang dirumuskan sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut adalah: (1) penelitian ung­ gulan sesuai kebutuhan stakeholders. kebijakan terse­ but harus ditindaklanjuti dalam bentuk program operasional. Implementasi dari kerja sama penelitian (KSP) dapat dilakukan dalam bentuk konsorsium. B. yaitu: (1) percepatan im­ plementasi revitalisasi penyuluhan. Kebijakan yang ter­ tapis adalah: (1) penajaman prioritas penelitian sesuai dengan SDM yang tersedia. Kedua strategi ini berpijak dari keterbatasan tenaga peneliti dan inkon­ sistensi program penelitian. Prioritas Kebijakan dan Program Pengembangan 1. dalam rangka konsistensi program penelitian. 52 . dan (2) pemantapan program penelitian untuk menjalin KSP dengan pihak luar. yaitu: (1) pemantapan lembaga penyuluhan dan keterkaitannya dengan lembaga penelitian. kebija­ kan pengembangan yang tertapis dua strategi. Jika pendanaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak.

dan (2) meningkatkan peran UPBS. Sedangkan program yang mendesak untuk diimplementasikan adalah pene­ rimaan pegawai sesuai kebutuhan lembaga penelitian. dan BBU. Formulasi kebijakan tertapis tersebu­t bertujuan untuk: (1) memanfaatkan subsidi benih dari pemerintah se­ cara optimal. Kebijakan dan pro­ gram ini diharapkan dapat mendorong kreativitas peneliti dalam meng­ hasilkan teknologi dan rumusan kebijakan baru yang prospektif. BBI dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. Sedangkan kebijakan pengembangan yang berkaitan dengan strategi SO tersebut adalah: (1) implementasi disertai pengawasan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. maka strategi kebijakan dan pro­ gram yang relevan dalam pengembangan kedelai tertapis lima kebi­ jakan dan program yang terkait dengan sistem perbenihan kedelai. diharapkan subsidi benih dari pemerintah d­apat dimanfaatkan secara tepat sasaran. Dari aspek perbenihan. BBI. D­engan demikian. BBI. dan (2) penyediaan fasilitas dan pengangkatan tenaga yang dibutuhkan UPBS. dan (2) peningkatan peran UPBS. dan BBU dapat ber­ peran lebih baik dalam penyediaan benih unggul bermutu. 2. dan (2) peningkatan kemampuan UPBS. maka program yang harus dilaksanakan adalah perbaikan sistem tunjangan fungsional peneliti dan penerapan HaKI secara konsekwen. dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. Kebijakan dan Program Defensif (WT).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut. dan UPBS. 53 . Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) program benih tepat sasaran. Kebijakan dan program sistem perbenihan Dari hasil analisis tapisan. strategi yang bersifat agresif (SO) adalah: (1) pemanfaatan subsidi b­enih untuk penyediaan varietas unggul. BBI. Kebijakan dan Program Agresif (SO). Dengan demi­ kian kesinambungan antara peneliti senior dengan peneliti yunior akan berjalan dengan baik. Kebijakan yang dibu­ tuhkan untuk perbaikan kinerja tenaga peneliti adalah rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan lembaga penelitian. dan BBU yang ada. BBI.

tenaga kerja. kebijakan yang tertapis dan dominan adalah perbaikan dan penye­ derhanaan peraturan sertifikasi. 54 . Sedangkan program yang r­elevan untuk merealisasikan kebijakan tersebut adalah pelatihan p­enangkar benih di tiap daerah. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . sehingga masa penjualan benih relati­f singka­t. umur sertifikat benih kedelai hanya tiga bulan sejak mulai pengujian. Program yang terkait dengan kebijakan ini adalah pengembangan teknologi produksi benih hemat lahan. Contoh bentuk teknologi tersebut antara lain adalah budi daya benih kedelai tanpa olah tanah (zero tillage­ ). Kunci keberhasilan yang pernah dicapai Indonesi­a pada awal tahun 1990an adalah adanya program jalur benih antara musim dan lapang (Jabalsim). kebijakan yang dibutuhkan adalah fasilitasi pelatiha­n penangkar benih di tiap daerah. benih dasar dan benih pokok pada tingkat BBI-BBU dan benih sebar pada tingkat penangkar. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan penangkar benih dalam memproduks­i benih kedelai bermutu. Sementara itu. dan input kimiawi. Program pendukungnya adalah p­enerapan sertifikasi singkat dan tepat sasaran. Program ini bisa dihidupkan lagi dengan memperbaiki sistem perbenihan mulai dari benih inti dan benih sumber pada Balit Nasional. dan insektisida hayati. Kebijakan dan pro­ gram ini ditujukan untuk mengatasi masalah birokrasi yang panjang pada sistem sertifikasi saat ini yang memakan waktu paling cepat satu b­ulan. Kebijakan ini untuk menanggulangi keterbatasan dan mahalnya sarana produksi dalam upaya pengembangan teknologi hemat biaya ( least cost technology ) untuk produksi benih unggul. Pada strategi WO.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). Kondisi ini kurang kondusif bagi i­ndustri benih kedelai di Indonesia. Kebijakan dan Program Defensif (WT). yaitu hanya dua bulan. penggunaan bahan organik (pupuk kandang atau mulsa jerami­). air. Dalam rangka pembinaan penangkar benih lokal.

Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah introduksi teknologi biaya rendah u­ntuk menekan biaya produksi. tenaga kerja. Kegiatan lain yang juga perlu mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan produksi. dan (2) perluasan areal tana­m untuk meningkatkan luas panen dan produksi kedelai. (3) mengurangi kehilangan hasil. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan peningkatan produktivitas adalah penggunaan varietas u­nggul dan pemupukan berimbang yang dikemas dalam pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT). (2) meningkatkan stabilitas hasil melalui peringatan dini terhadap ledakan hama dan penyakit maupun anomali iklim. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). Kebijakan dan Program Defensif (WT). 55 . Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Kebijakan dan program sistem produksi Kebijakan dan Program Agresif (SO). dan input kimiawi. Sedangkan program pendukung yang r­elevan adalah budidaya kedelai hemat lahan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kedelai di tingkat petani. dan (2) penanaman kedelai pada musim kering di lahan tidur. Sedangkan program dibutuhkan untuk mendukung k­ebijakan tersebut adalah pelatihan penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT serta anomali iklim. Alternatif kebijakan yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampila­n tenaga penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT dan anomali iklim. air. dan (4) pemanfaatan potensi genetik tanaman melalui kemajuan iptek pertanian. Sedangka­n p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan ini adalah: (1) penyediaan kredit dan pendampingan untuk penerapan teknologi PTT. antara lain: (1) menekan senjang hasil antara tingkat penelitian atau pengkajian dengan tingkat petani. Alternatif kebijakan yang diformulasikan adalah intensifikasi kedelai untuk meningkatkan produktivitas. Kebijakan yang terkait adalah: (1) pengembangan teknologi PTT.

Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pelatihan pengolahan hasil bagi petani untuk menekan kehilangan hasil panen. Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pe­ ngadaan alat pengolahan.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 4. Alternatif kebijakan yang terkait adalah penigkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan hasil panen. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) optimalisasi pe­ nyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolah kedelai. Kebijakan dan program distribusi dan pemasaran Kebijakan dan Program Agresif (SO). Alternatif kebijakan yang diperlukan untuk merealisasikan strategi ini adalah: (1) promosi t­eknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Sedangkan program yang relevan untuk mendukun­g kebijakan tersebut adalah: (1) demonstrasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen. dan (2) pelatihan penyuluh dalam teknologi panen dan pascapanen. Sedangkan p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan yang bersifat konsolidatif adalah pelatihan pengolahan kedelai menjadi produk olahan. Kebijakan dan Program Defensif (WT). dan (2) optimalisasi penyaluran kredit lunak untuk alsintan. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsin­ tan praproduksi dan produksi. Kebijakan dan program panen dan pascapanen Kebijakan dan Program Agresif (SO) . Kebijakan yang diperlukan adalah: (1) perbaikan jaringan transportasi untuk memperlancar arus barang. dan (2) peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur guna 56 . Kebijakan yang terkait untuk menekan kehilangan hasil adalah pengembangan i­ndustri r­umah tangga untuk pengolahan kedelai. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . 5. dan (2) revitalisasi fungsi dan peran penyuluh dalam alih teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) .

laut dan udara.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI mendukung pengembangan industri pedesaan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebi­ jakan tersebut adalah peningkatan kualitas SDM dan fasilitas dalam pelaksanaan pengawasan tarif impor. Kebijakan dan Program Defensif (WT ). dan (2) peningkatan kemampuan dan keterampila­n petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsintan praproduksi dan produksi. 6. Kebijakan dan program ini di­ butuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meng­ konsolidasikan manajemen distribusi dan pemasaran yang secara internal masih banyak kelemahan dan ancaman dari faktor eksternal pun masih cukup banyak. dan (2) pelatihan penyuluh dalam bidang teknologi panen dan pascapanen. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) demon­ strasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Sedangkan 57 . Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Alternatif kebijakan yang diperlukan adalah: (1) pengembangan teknologi siap terap sebagai b­ahan penyuluhan. laut dan udara. Alternatif kebijakan yang terkait adalah peningkatan pelaksanaan dan pengawasan tarif impor. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengadaan dan per­ baikan sarana angkutan darat. Kebijakan dan program kelembagaan Kebijakan dan Program Agresif (SO). Alternatif kebijakan yang terkait adalah perbaikan jaringan transportasi untuk menekan biaya transportasi. dan (2) pembangunan dan perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran pemasa­ ran hasil industri pangan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk men­ dukung implementasi kebijakan tersebut di atas adalah pengadaan dan perbaikan sarana angkutan darat. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Alternatif kebijakan yang sesuai adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolahan.

Sedangkan program yang dibu­ tuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pemberdayaan kelompo­k tani melalui konsolidasi manajemen kelompok dan p­enguatan modal kelompok. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengembangan pola kemitraan dalam penyediaan sara­ na produksi dan pemasaran hasil. dan (2) pelatihan petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai progra­m yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) penyebarluasan teknologi siap terap dan alat peraga bagi penyuluh. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut adalah pengembangan lembaga keuangan mikro ( micro finance ) guna mendukung alih teknologi. Kebijakan dan Program Defensif (WT) . Alternatif kebijakan yang terkait adalah percepatan revitalisasi kelompok tani guna m­eningkatkan kepercayaan petani. dan (2) demplot inovasi teknologi baru dengan melibatkan peneliti-penyuluh-kelompok tani. Alternatif kebijakan yang terkait adalah revitalisasi kelembagaan permodalan dan alih teknologi. dan (2) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Alternatif kebija­ kan yang sesuai adalah: (1) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. 58 . Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) .

5 ton biji kering/ha. menunjukkan potensi hasil yang berkisar antara 2. Kondisi ini makin mendorong menurunnya produksi kedelai domestik pasca 1992. Oleh karenanya. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Menengah Kedelai merupakan salah satu komoditas industri baik industri pangan maupun pakan. Di sisi lain. Namun peningkatan produktivitaspun sangat lambat dan sulit karena belum ditemukannya varietas unggul baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata. Produksi kedelai nasional cenderung menurun sejak tercapainya produksi tertinggi pada tahun 1992 yang mencapai sekitar 1. Secara simultan program litbang diikuti dengan diseminasi dan promosi inovasi 59 .6 juta ton. Peluang peningkatan produksi kedelai menuju swasembada masih cukup besar terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan area panen. Rendahnya produktivitas di tingkat petani antara lain disebabkan oleh penggunaan varietas lokal setempat dengan hasil rendah dan penggunaan benih produksi sendiri oleh petani. peta jalan menuju pencapaian sasaran jangka menengah peningkat­an produksi kedelai diawali dengan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemu­ kan inovasi teknologi baru pada m­asing-m­asing agroekosistem. Berkurangnya luas areal tanam adalah penyebab utama menurunnya produksi sekalipun produktivitas dapat ditingkatkan. Untuk memanfaatkan peluang tersebut diperlukan strategi. belum tersedianya benih bermutu secara luas dan belum diadopsinya teknologi spesifik lokasi secara luas turut berpe­ran menyulitkan upaya peningkatan produktivitas kedelai. Usahatani kedelai dihadapkan kepada resiko yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lain sehingga kurang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat on farm. Varietas unggul baru (VUB) kedelai yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian. PETA JALAN MENUJU PENCAPAIAN SASARAN PENGEMBANGAN A. dukungan kebijakan dan program pengembangan yang kondusif yang mampu memberikan insentif bagi petani kedelai untuk meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan. Ancaman lain terhadap upaya peningkatan produksi kedelai adalah harga kedelai im­ por yang lebih murah dan mudah diperoleh.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI VII.02.

maka kedelai perlu diusahakan terinte­ grasi dengan komoditas lain termasuk ternak dalam suatu pola usahatani terpadu. Untuk lebih memacu upaya peningkatan produktivitas. VUB kedelai tipe baru akan menjadi salah satu program unggulan ke depan. untuk menekan risiko dalam usahatani dan memper­ luas sumber pendapatan petani. (2) diseminasi inovasi tekno­ logi. padi gogo. Selanjutnya. jagung dan aneka k­acang lainnya. (4) program masalisasi (produksi nasional). Peta jalan pengembangan kedelai perlu dibuat secara cermat agar tahapan pengembangan dan langkah-langkah operasional tetap berada pada upaya pencapaian swasembada kedelai. Program litbang diawali dengan pembentukan database dan deli­ neasi lahan-lahan potensial yang sesuai untuk pengembangan kedelai. Kedelai juga sangat potensial diusahakan dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL). Secara simultan dilakukan perakitan teknologi produksi dengan pendeka­ tan PTT. (3) program aksi atau scaling up. kedelai dapat diusahakan terintegrasi de­ngan tanaman lain seperti ubi kayu. Perakitan va­ rietas kedelai yang lebih toleran terhadap lahan kering masam dan lahan kering beriklim kering tetap menjadi prioritas untuk membantu petani agar memiliki pilihan varietas yang lebih luas dalam melakukan usahataninya. Pada hirarki ke-4 dan ke-5 masing-masing adalah calon penerima manfaat dan dampak yang diharapkan. diikuti dengan pembentukan jaringan pasar (Gambar 4).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai teknologi baru baik VUB maupun PTT kedelai di lahan kering maupun la­ han sawah. Peta jalan menuju penca­ paian sasaran jangka menengah menggambarkan lima program utama yaitu: (1) penelitian dan pengembangan. Sisa tanaman pada saat panen dapat dijadikan pakan ternak terutama pada musim kemarau. Di sisi lain. Pada lahan kering. dan (5) pembentukan jaringan pasar. VUB yang akan dihasilkan juga dirakit dengan pertimbangan setelah dilepas varietas tersebut mampu menciptakan pasar (demand driving). Peng­ kayaan materi genetik dan plasma nutfah sangat penting untuk perbaikan varietas unggul baru untuk masing-masing agroekosistem. Perakitan VUB juga dirancang atas dasar kesesuaian terhadap preferen­ si dan selera pengguna serta permintaan pasar (demand driven). s­edangkan 60 . Sedangkan perakitan VUB baru kedelai masih diprioritaskan un­ tuk mencapai target hasil per hektar mendekati potensi genetiknya.

pengembangan jaringan pasar perlu dilaku­ kan melalui penyediaan informasi pasar yang cepat dan akurat termasuk market intelligence dan membangun database tentang perkembangan pasar komoditas unggulan masing-masing daerah termasuk kedelai. Kinerja manajemen usaha pengolahan kedelai harus terus ditingkatkan sehingga bisnis komoditas ini dapat bersaing dengan bisnis komoditas lainnya sehingga kedelai mampu merebut kembali keunggulan kompetitifnya di tingkat on farm. ekspose. Usaha berkelompok dapat dilakukan oleh petani dalam bentuk koperasi. nilai tambah dari penanganan hasil ini dapat langsung diminati oleh petani sekaligus me­ ningkatkan posisi tawar petani. Penerbitan dan penyebarluasan brosur. kegiatan difokuskan kepada upaya untuk mempercepat penyebaran dan adopsi inovasi teknologi. Selain dengan memperagakan secara langsung di lahan petani. korporasi. leaflet dan bookle­t dengan bahasa yang mudah mengerti oleh petani. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses kelompok usaha agribisnis kedelai terhadap sumber modal. Na­ mun pada jangka menengah petani didorong untuk mampu menciptakan nilai tambah baik secara individu maupun berkelompok. atau asosiasi yang berbadan hukum. pameran. misalnya dalam bentuk korporasi pengolahan kedelai. Demon­ strasi teknologi di lahan petani dapat meliputi antara lain: teknologi budidaya dan teknologi penanganan hasil panen dan pascapanen termasuk pengolahan hasil sekunder. Pada hirarki berikutnya. 61 . diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mela­ kukan agribisnis kedelai. Dari aspek diseminasi dan promosi. Di sisi lain penganekaragaman produk olahan berbahan baku kedelai perlu diperluas dengan memperkuat jaringan pasar produk kedelai. Program ini dapat dilakukan dengan penyuluhan langsung pada petan­i. dan demontrasi di lahan petani ( dem-farm). Dengan demikian. Pengembangan kedelai juga harus d­iikuti d­e­ ngan program aksi. pemasyarakatan inovasi teknologi kedelai juga dapat dilakukan melalui mass-media baik c­etak maupun elektronik. masalisasi atau program nasional dan diversifikasi pengembangan produk olahan di tingkat pedesaan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI pupuk kandang dan kompos sisa tanaman dapat dijadikan p­upuk organik untuk memperkaya kandungan bahan organik dalam tanah. Pemasaran kedelai di tingkat petani umumnya adalah dalam bentuk biji kering.

62 AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 4. Peta jalan (road map) menuju sasaran jangka menengah (5 tahun ke depan) pengembangan kedelai. .

penerima manfaat dari upaya pening­ katan produksi kedelai adalah petani produsen yang mengembangkan sistem integrasi tanaman ternak dalam usaha tani terpadu bebas lim­ bah (SITT-BL). Sedangka­n pendapatan rumah tangga tani diperkirakan akan terus meningkat dan m­encapai US$ 2500/kk/tahun pada akhir program. Dengan demikian muara dari manfaat tersebut adalah meningkatnya pendapatan dan kesejah­teraan rumah tangga tani dan masyarakat pedesaan.0-2. Empat keterkaitan utama dapat dilihat antara lain: (1) keterkaitan i­nstitusional (kelembagaan). Peta jalan menuju sasaran jangka panjang pengembangan i­ndustri pengolahan kedelai di pedesaan disajikan pada Gambar 5.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pada hirarki selanjutnya. mengurangi risiko kegagalan dan sekaligus mempertahankan kesuburan tanah. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Panjang Sasaran jangka panjang pengembangan kedelai adalah berkem­ bangnya industri pengolahan baik untuk pakan maupun industri pa­ ngan di pedesaan yaitu antara 2. Keempat keterkaitan tersebut 63 . Pengembangan diversifikasi vertikal melalui pengolah hasil tidak hanya bermanfaat bagi prosesor. memperluas sumber pendapatan. (4) keterkaitan regional (pewilayahan komoditas u­nggulan dan i­ndustri pengolahannya). Namun demikian.0% per tahun. juga petani dalam pola kemitraan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Mela­ lui pengembangan model integrasi tanaman ternak ini petani akan mampu meningkatkan indek pertanaman dalam pola tanam setahun.55% per tahun sampai 2025. Di sisi lain. pengem­ bangan industri pengolahan kedelai di pedesaan hendaknya memper­ hatikan daerah sentra produksi untuk menekan biaya transportasi kedelai s­ebagai b­ahan baku industri.5-5. B. (3) keterkaitan vertikal (penciptaan nilai tambah melalu­i pengolahan hasil). (2) keterkaitan horisontal (diversifikas­i horizontal­). Konsumsi kedelai diproyeksikan meningkat 2. pengusaha yang bergerak di bidang industri pengolahan juga mendapat keuntung­ an dari proses peningkatan nilai tambah dan jaminan pasokan bahan baku melalui pola kemitraan yang disepakati oleh kedua belah pihak. Muara dari penca­ paian sasaran jangka panjang peningkatan produksi dan pengem­bangan industri pengolahan kedelai adalah tumbuh dan berkembangny­a nilai tambah dan ekonomi pedesaan.

di wilayah surplus maupun defisit berupa arus barang dan jasa yang lancar. Keterkaitan institusional atau kelembagaan merupakan pra-syarat (pre-requisite) dan pilar utama pengembangan agribisnis komodita­s kedelai baik sebagai bahan baku maupun produk olahan industri p­angan maupun pakan. (4) k­onsolidasi manajeme­n usaha agribisnis dalam bentuk sistem usaha agribisnis k­orporasi (integrate­d corporate agribusiness system. Muara dan manfaat dari peta jalan tersebut ber­ ujung kepada membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan r­umah tangga tani dan masyarakat di pedesaan. AEZ). (2) varietal selection and testing. Pengembangan sistem usahatani tumpang sari dalam pola seta­ hun pada sentra-sentra produksi kedelai. 64 . (3) pemberdayaan kelembagaan permodalan pertanian. serta dikehendaki oleh kedu­a belah pihak. (3) penelitian dan peng­ kajian (litkaji) PTT kedelai untuk masing-masing agroekosistem atau yang bersifat spesifik lokasi. Semua hirarki dalam peta jalan tersebut. dan (5) pengembangan sistem agribisnis kemitraan yang saling membutuhkan. Sedangkan keterkaitan horizontal dalam pengembangan kedelai adalah pelaksanaan program peningkatan produksi dan pengemban­ gan industri pengolahan secara konsisten yang diawali dengan: (1) ka­ rakterisasi dan dileniasi agroekosistem yang sesuai (agro-ecosystem zoning. baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang akan menjadi lintasan utama menuju peningkatan produksi dan pengembangan industri pengolaha­n kedelai di pedesaan. (2) revitalisasi program penyuluha­n untuk percepata­n prose­s diseminasi dan adopsi inovasi teknologi pertanian. ICAS).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai akan m­emberikan dampak positif bagi calon penerima manfaat baik di tingkat produsen maupun konsumen akhir. menguntungkan dan saling ketergantungan. PTT spesifik lokasi kedelai dapat menggunakan varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi yang mendekati potensi genetiknya. dan (4) integrasi kedelai ke dalam sistem usahatani terpadu di tingkat petani. Mengintegrasikan kedelai ke dalam sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL) terutama di lahan kering yang pada umumnya kurang subur dapat memperluas dan memperkuat sumber pendapatan rumah tangga tani di wilayah ini. Keterkaitan kelembagaan meliputi: (1) revitalisas­i kelemba­ gaan petani.

Peta jalan (road map) menuju pencapaian sasaran jangka panjang 20 tahun ke depan. AGRO INOVASI 65 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 5.

Peningkatan aksesibilitas terhadap pasar diharapkan mampu meningkatkan arus barang dan jasa melalui perdagangan antara wilayah surplus dan wilayah defisit. Dalam hirarki keempat. Pengembangan keterkaitan vertikal dalam produksi dan industri pengolahan kedelai dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah di tingkat petani melalui penerapan inovasi teknologi pengolahan hasil baik primer maupun skunder yang meliputi: (1) pengembangan diver­ sifikasi produk olahan kedelai. diperlukan dileniasi wilayah pengem­ bangan kedelai antar wilayah sebagai komoditas unggulan. Proses penciptaan nilai tambah ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi pedesaan. (2) pengembangan industri pengolahan di pedesaan. Percepatan program pengembangan industrialisasi pedesaan akan memberikan arah pada pemanfaatan kedelai dalam menciptakan nilai tambah di pedesaan. limbah dan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk memperkaya bahan organik tanah. Sistem integrasi ini akan mendorong produksi produk sampingan secara in-situ seperti sisa tanaman sebagai pa­ kan ternak. Untuk mendukung memasarkan hasil produksi dan produk olahan secara luas perlu penguatan dan peningkatan infrastruktur dan jasa angku­ tan antar pulau maupun wilayah. 66 . dan 3) pemanfaatan limbah pengolahan kedelai sebagai pakan ternak dan pangan seperti oncom sebagai salah satu sumber protein. Kelancaran arus barang dan jasa akan memacu pertumbuhan ekonomi regional. konsolidasi usaha antarpetani dalam bentuk kelompok usaha agribisnis terpadu (KUAT) yang dike­ mas ke dalam sistem usaha agribisnis korporasi terpadu (integrated corporate agribusiness system. ICAS) merupakan jalan keluar untuk meningkatkan posisi tawar petani dan segera keluar dari perangkap kemiskinan baik sementara maupun permanen. Oleh karena itu. dapat dilakukan melalui pola kemitraan dengan pihak swasta.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sedangkan pada lahan irigasi pada umumnya kedelai diusahakan setelah usahatani padi. Pengembangan SITT-BL. Program ini tentu harus dipicu oleh kebijakan yang bias kepada pedesaan. Masih terbuka kemungkinan untuk memproduksi biogas melalui dekompos limbah samping dari sistem ini.

67 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Muara dari semua program yang dicanangkan tersebut di atas adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyaraka­t k­hususnya petani kedelai dan keluarganya serta masyarakat pedesaa­n. Sasaran lain dalam pengembangan industri pengolaha­n kedelai adalah tersedianya lapangan kerja bagi angkatan kerja pedesaa­n guna mengurangi beban sektor pertanian yang selalu m­enjadi tumpuan terakhir dalam pemecahan masalah ketenagakerjaa­n.

dan skenario 3. sedangkan konsumsi kedelai dalam negeri diproyek­ sikan 3.02 juta ton. Di tingkat usahatani. Di samping itu. Untuk mencapai sasara­n dari ketiga skenario tersebut. menjadi 7. sehingga produksi diharapkan tumbuh rata-rata 8. Untuk mencapai sasaran pengembangan tersebut. dan skenario 3 ditargetkan untuk mencapa­i swasembada pada tahun 2025.50% per tahun. Selama 20 tahun pengembangan. KELAYAKAN INVESTASI Dalam upaya mencapai sasaran produksi yang ditargetkan s­eperti terlihat pada Tabel 6-8.93% per tahun selama periode yang sama. ketiga.0%. produktivitas ditargetkan tumbuh rata-rata 2. S­kenario 1 menargetkan swasembada kedelai pada tahun 2020. per­ tumbuhan areal panen ditargetkan menurun dari rata-rata 10% per tahu­n selama periode lima tahun pertama (2005-2010). maka ditempuh tiga skenario. serta investasi untuk revitalisasi penyuluhan. skenario 2. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 1 Seperti terlihat pada Tabel 5. dan 3. dan keempat. diharapkan pada tahun 2020 produksi mencapai sekitar 3. bahwa untuk skenario 1.07 juta ton. 5. Dengan skenario ini. 68 . yaitu skenario 1. diperluka­n berbagai investasi. A. Masing-masing skenari­o m­empunyai target waktu pencapaian swasembada yang berbeda. bahkan terdapat surplus sekitar 50 ribu ton.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai VIII.5%. Indonesia sudah mencapai swasembada kedelai. pertumbuhan areal panen diharapkan rata-rata 6. pertumbuhan areal panen dan produktivita­s dirancang berbeda. pengering.5% per tahun berturut-turut pada periode lima tahu­n kedua. diperlukan sarana dan a­lsintan seperti traktor.25% per t­ahun selam­a periode 2005-2025. mesin perontok. dan sumur pantek untuk pengairan. s­kenario 2 pada tahun 2015. Selain sarana fisik. juga diperlukan investasi u­ntuk penelitian dan pengembangan (Litbang) dalam merakit teknologi baru. Pada posisi tersebut.

yaitu 30%. sehingga bebannya 100% untuk kedelai. juga dibutuhkan biaya pemeliharaan dan operasional yang nilainya masing-masing diperkirakan 5% per tahun dari biaya pengadaan alat.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Investasi traktor digunakan untuk penanaman seluruh tanama­n semusim. Untuk sumur. termasuk mesin pompa sumur pantek. Selain pembelian. pembebanannya juga seperti pengering. Secara lebih rinci. Sedangkan untuk mesin perontok dan investasi Litbang khusus digunakan untuk kedelai.16 triliun. Sedangkan tahun-tahun di antaranya tambahan investasi dilakukan berdasarkan tambahan areal tanam kedelai. dan Rp 4. kumulatif biaya investasi yang dibutuhkan untuk kedelai secara kumulatif adalah sekitar Rp 393 miliar untuk traktor. masih dibutuhkan biaya investasi untuk kegiatan penelitian dan pengembangan kedelai sebesar Rp 89 miliar. kedelai. Untuk investasi penyuluhan. Investasi untuk a­lsintan dan sumur mulai dilakukan pada tahun awal berdasarkan luas areal pertanaman kedelai. 69 . seperti padi. p­enggunaannya juga diharapkan pada 2 musim palawija. Selain itu.17 triliun untuk sumur pantek. dan Rp 54 miliar untuk kegiatan penyuluhan. sehingga hanya 30% yang dibebankan pada pengembangan kedelai. sehingga setela­h berumur lima tahun dilakukan penggantian alsintan. Demikia­n juga untuk pengering yang dapat digunakan u­ntuk menge­ringkan berbagai komoditas pertanian. Seperti terlihat pada Tabel 12. bahwa investasi yang besar diperlukan pada tahun awal (2005) dan tiap lima tahun berikutnya. kebutuha­n investasi untuk pengembangan kedelai berdasarkan skenario 1 adalah seperti disajikan Tabel 12. Rp 3. jagung. kacang tanah atau s­ayuran. total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kedelai selama 20 tahun ke depan berdasarkan skenario 1 adalah sekitar Rp 11.73 triliun untuk mesin perontok. Secara keseluruhan. Rp 2. Diasumsikan umur ekonomi alsintan 5 tahun. dalam satu siklus pola tanam setahun. Selama periode 20 t­ahun pengembangan.73 triliun untuk mesin pengering. sehingga beban biaya i­nvestasi untuk kedelai diperkirakan 30% dari total nilai investas­i traktor. sehingga pembebanannya pada pengembangan kedelai sebesar 50%.

46 3.33 139.752 1. karena diperoleh keuntungan dari investasi sekitar 92% dari total biaya investasi.32 231.61 245.92 55.438 15.44 623 2023 1.71 2.63 203.83 528 2019 1.813 1.61 660 2024 1.79 2.82 2.67 1.035 1.00 452.604 9.61 2.33 412 2015 1.00 162.287 33.385 1.09 47.74 70.737 51.729 4.38 116.000 4.06 291.50 1.49 157.769 17.22 366 2014 1.67 99.94 212.09 104.72 24.92 191.321 21.07 113.28 2.69 321.91 4.20 214.580 1.598 16.79 182.73 6.146 13.196 1.45 1.63 5.59 1.20 169.95 219.50 553 2006 626 1.20 149.88 167.57 454 2017 1.80 273.40 313. nilai tambahan produksi yang dihasilkan dari investasi tersebut secara kumulatif adalah sekitar Rp 21.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 12.58 11.82 34.44 895 2016 1.38 140.29 6.72 57.14 40.149 4.65 130 2008 757 1.93 2.29 3.876 1.526 1.63 1.30 53.94 401.73 3.75 1.58 120 2007 688 1.57 138. sehingga ting­ kat pengembalian investasi (Return of Investment=ROI) sebesar 1.52 2.083 2021 1. kegiatan investasi untuk pengembangan kedelai de­ ngan skenario 1 cukup layak dilakukan.61 147.51 6.89 1.04 1.74 52. Dengan kata lain.69 486 2018 1. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasar­ kan skenario 1.95 3.07 2.88 2.47 4.64 200.79 3.76 1.160 3.951 18. Ini berarti bahwa tiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi diperoleh tambahan penerimaan dari nilai produksi sebesar Rp 1920.94 3.319 1.19 1.55 2. Area Provitas Prod Investasi (Rp Milliar) Tahun (000 ha) (t/ha) (000 t) traktor perontok pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.321 5.35 380.11 325 2013 1.99 3.90 177.454 1.35 2.593 24.85 2.97 3.12 1.33 757 18.726 3.256 1.35 2.768 10.79 699 2025 1.32 3.91 714 2011 963 1.98 1330 Di sisi lain.82 217.47 triliun.71 1.64 5.20 39.42 126.94 3.27 597 2022 1.19 109.47 128.73 177.692 1.069 41.88 254.96 4.02 3.82 170 2010 896 1.92.52 1. 70 .89 64.948 11.03 115.53 3.39 870 3.92 157.635 1.454 22.193 20.456 26.66 194.98 127.00 188.169 89.67 4.43 3.98 3.73 261.85 91.95 2.90 2.49 2.96 3.74 149 2009 833 1.77 325.01 294 2012 1.113 1.20 3.19 99.97 574 2020 1.47 544.79 51.63 Total 393 2.19 4.37 2.11 5.23 193.88 2.81 151.74 80.86 3.69 2.66 34.17 29.63 1.47 153.

yaitu terus meningkat dari 1. investasi ini juga cukup layak.160 77. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­er­dasarkan skenario 1. dan R/C secara mikro.52 pada tahun ke-20 program.888 89.888 3.105 3. Tabel 13.90 2017 486 4.255 5.421 4. kriteria ROI secara makro. analisis kelayakan investasi berdasarkan skenario 1 disajikan pada Tabel 13.492 1.430 8.361 4.497 1.213 1.12 2019 574 4.822 17.153 16.956 4.19 2010 714 2.703 9.338 3.502 18.781 1.405 963 2.24 2020 1083 4. maka swasembada dicapai pada tahun 2020.183 7.45 2022 623 5.229 2.958 1.065 2.687 3.272 2.470 ROI = 1.255 3.34 pada tahun awal menjadi 2. swasembada kedelai tercapai pada tahun ke-15.976 1.410 12.442 853 2.959 24.082 2.976 1.000 10.678 1.154 4.291 3.79 2007 130 2. Dengan demikian.579 5.137 22.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dengan skenario ini.629 6.631 21.567 540 1.45 2013 366 3. Secara mikro di tingkat usahatani. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 553 1.195 4.104 3.712 991 2.707 2. yang dicerminkan oleh nilai perimbangan penerimaa­n terhadap total biaya (R/C).64 2024 699 5.889 15.92 71 .951 749 2.411 3.663 11.51 2016 454 3. dapat disimpulkan bahwa program pengembangan kedelai dengan skenario 1 layak dilakukan. dan 3.077 5.521 3.74 2025 1.52 Total 11. Jika program dilaksanakan pada tahun 2005.588 4.834 883 2.439 6.94 2011 294 2.56 2014 412 3.426 3.027 1.794 1.700 20.182 3.68 2015 895 3.088 2.550 1.914 21.260 3.91 2008 149 2.639 13.267 1.330 5.721 1.767 4. baik dalam pencapaian swasembada pada tahun ke-15.740 5.01 2018 528 4.589 755 1. Secara lebih rinci.05 2009 170 2.998 3.51 pada tahun ke-10 program.905 5.34 2012 325 3.048 260.670 5.177 3.55 2023 659 5.202 636 1.05 2021 596 4.338 3.499 2.878 1.401 6.34 2006 120 1.

97 3.89 1.88 6.21 4.90 3.26 421.87 297.000 25. Rata-rata pertum­ buhan areal tanam selama 20 tahun program adalah 7. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.58 16.356 2021 1.74 233 2009 911 1.57 580.99 4.03 5.694 43. ketiga dan keempat.49 152.33 139.26 452.398 22.35 127.85 187. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 1.91 3.11 209.844 23.930 1.26 200.57 762 2017 1.75 2.67 544.95 3. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-10 program atau tahun 2015.69 2.14 2.18 4.61 1.43 278.44 963 2023 1.053.003 1.81 3.01 4.65 201 2008 810 1.046 4.24 285. jika program dimulai tahun 2005.630 27.807 35.048 1.992 18.49 195.080 51.988 1.52 2.96 6.45 98.97 982 2020 1.79 141.873 1.83 901 2019 1.63 3.46 3.334 1.82 2.50 574 2006 640 1.20 135.838 11.93 3.768 22.40 66.230 5.21 115.51 39.82 271 2010 1.98 1.06 174. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 2 Dalam skenario 2.622 23. yaitu rata-rata 2.59 1.40 180.25% per tahun selama periode 2005-2025.699 1.87 418.30 190.634 17. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi ber­ dasarkan skenario 2.28 487.91 173.20 3.22 611 2014 1.45 1.91 203.92 84.50 1.34 157.902 1.33 5.88 3.25 944.04 263.27 928 2022 1.784 1.96 193.71 2. dan 1.10 178.55 600.85 2.12 1.02 190. berdasar­ kan skenario 2 adalah seperti disajikan pada Tabel 14.77 321.67 99. Tahun Area Provitas Produksi Investasi (Rp.96 3.01 46.54 55.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai B.63 1.19 1.959 1.04 1.70 112.5% per tahun berturut-turut pada pariode lima tahun kedua.072 13.01 469 2012 1.32 3.33 699 2015 1.59 526.94 562.67 1.135 2016 1.71 3.62 769.97 3.61 3.98 4.84 131.22 112.05 239.94 271.76 1.95 2.80 2.79 2.48 38.79 1.07 2.88 2.541 1.62 4.921 24.88 323.91 254.82 33.213 1.55 171.89 598.35 2.95 2.139 72 .21 8.5% per tahun pada periode lima tahun pertama (2005-2010).63 1.25% per tahun.628 Total investasi 435.36 145.11 535 2013 1.618 1.927. pertumbuhan a­real t­anam adalah 12.39 6.31 47. 5%.67 4.84 3.336 15. Miliar) (000 ha) (t/ha) (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.103 1.47 97.22 89.73 3.58 172 2007 720 1.49 2. selanjutnya 10%.85 2.06 312.018 1.579.69 827 2018 1.001 2024 2.43 230.06 3.28 2.08 362.53 215.20 27.35 5.53 159.71 2.70 3.44 1.95 180.02 3. Tabel 14.446 6.041 2025 2.189 20.94 3.468 1.30 53.91 850 2011 1. Untuk mencapai sasaran tersebut.52 1.39 890 4.33 757 18.

93 tri­liun untuk sumur pantek.63 pada tahun ke-20. Rp 3.14 triliun. kegiatan investasi ini juga sangat layak.05 triliun untuk mesin perontok. Kemudian laju peningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5. Angka ini menunjukkan bahwa program pengem­ bangan kedelai dengan menggunakan skenario 2 sangat layak. Dari segi penerimaan. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2.25% masing-masing untuk periode 20152029 dan 2020-2025 (Tabel 15).58 triliun untuk mesin pengering. Untuk mencapai sasaran tersebut.20. dan Rp 8. Karena setiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 3 Dalam skenario 3. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dari Tabel 14 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.99 pada awal tahun.0% dan 3. C. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C. secara kumulatif total biaya investasi yang dibutuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 16. yaitu rata-rata 2. Dengan demikian. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35. yaitu 1. Dari sisi usahatani secara mikro.25% per tahun selama periode 2005-2025. 73 . Seperti halnya pada skenario 1.07 pada tahun ke-10 dan 6. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 2 adalah masing-masing Rp 436 miliar untuk traktor. berdasarkan s­kenario 3 adalah seperti disajikan pada Tabel 16. Rp 3.58 triliun. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program. Dengan d­emikian. pada tahun-tahun diantaranya investasi dilakukan berdasarkan tambahan a­real tanam. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 2. diperoleh tam­ bahan penerimaan Rp 2. Sedangkan biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-17 program atau tahun 2022. kemudian meningkat menjadi 4. jika program dimulai t­ahun 2005. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama. pertumbuhan areal t­anam adalah 7.5% per tahun pada periode 2005-2009 dan periode 20102014. seperti disajikan pada Tabel 15.200. dan setiap lima tahun berikutnya.

737 5.353 5.008 3.966 7.561 1.992 25.703 2.308 3.00 5.840 6.463 35.27 5.401 2006 172 1.628 Total 16.16 2.541 .614 17.79 2.174 14.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 15.87 3.855 5.404 4.920 3.13 5.778 1.54 3.399 33.777 12.041 2025 1.945 1.620 5.19 4.597 2020 1.103 1.106 30.593 1.574 1. 1.096 1.858 11.695 1.663 3.723 4.624 4.74 4.749 455.352 9.576 ROI = 2023 1.19 2.65 4.61 2.824 23.281 2.718 6.361 2.566 1.39 3.87 3.55 5.103 19.356 32.629 574 1.145 90.093 2.600 38.70 3.787 1.877 5.49 4.301 2.098 5.122 7.729 28.659 2015 1.790 5.491 3.472 (Rp M) 931 2.639 4.41 5.20 4.005 (Rp M) 5. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai ber­ dasarkan skenario 2.055 6.164 35.368 1.617 5.705 5.160 2.430 2.176 2.773 10.377 2.078 5.139 74 .6540 2.061 6.135 21.003 4.672 40.553 1.925 6.253 6.530 36.001 2024 1.116 1.707 201 233 271 850 469 535 611 699 762 827 901 982 928 963 2.98 3.095 7.991 4.734 3.758 5. Tahun 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2016 2017 2018 2019 2021 2022 Biaya Invest Biaya Variable Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C (Rp M) 2.602 7.965 6.99 6.064 1.34 4.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 16.612 25.81 285.06 298.91 3.525 16.582 1.65 132 2.14 89.76 200.370 15.86 4.55 372.438 1.44 3.203 1.11 100. secara kumulatif total biaya investasi yang di­butuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 11.692 17.47 114.36 2.687 1.97 210.24 3.03 168.46 124.42 51. Rp 3.93 2020 1.326 1.79 1.67 1.990 305.79 67.01 194.223 14.61 3.32 98.98 1.238 3.01 162.94 2021 1.62 69.99 triliun untuk sumur pantek.66 3.71 4.634 1.97 135.50 626 2.69 2.96 417.76 3.06 327.28 4.091 1.34 146.66 triliun.21 8. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama. dan setiap lima tahun berikutnya.89 31.16 123.45 236.121 3.79 723 298 330 366 407 918 479 517 559 606 639 672 707 746 707 1.02 6.50 1.39 2. Rp 2.58 119 2.68 2.09 260.47 39.54 31. 75 .21 113.14 129.90 239.392 1.007 3.27 89.533 1.39 658 1.777 10.96 2023 1.958 11.70 209.35 3.89 1.06 198.33 612 1.08 148. Dengan demikian.74 153.59 1.44 2.97 3.27 3. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasarkan skenario 3. Sedangka­n biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar.32 49.06 212.657 Dari Tabel 16 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.073 760 1.429 4.83 2.20 5.19 1.50 78.73 6.90 2019 1.83 87.086 32.36 2014 1.145 1.70 9.95 2022 1.22 2.328 878 1.57 2.76 1.205 817 1.45 21.74 2.382 53.90 313.484 1.29 151.73 triliun untuk mesin perontok.98 2025 1.17 222.360 2.04 1.63 1.49 4.54 139.21 2.99 Total investasi 368 2.30 2.99 178.33 2.11 273.28 515. Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Area Provitas Produksi Investasi (Rp.61 46.20 133.28 2013 1.97 2024 1.82 162 3.53 298.80 56.727 40.69 3.73 850 955 3.95 5.01 162.52 1.88 4.11 2.87 35.015 1.75 1.63 2.12 1.00 196.17 20.52 3.01 2.58 11.60 251.71 1.82 2016 1.55 3.463 944 1. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 3 adalah masing-masing Rp 368 miliar untuk traktor.23 149.63 1.88 2018 1.90 177. dan Rp 4.85 2017 1.49 28.121 3.94 223.32 6.37 261. Miliar) (000 ha) (t/ha) 569 1.67 165.01 35.32 2015 1.74 146 3.17 635.07 4.898 19.51 21.74 61.46 5.793 3.56 40.43 triliun untuk mesin pengering.35 2.263 1.45 (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 757 18.14 159.

059 1.000 biaya yang dikeluarka­n u­ntuk investasi.68 2007 132 1.454 29.267 6.313 5.434 24.033 2.813 1.499 1.044 3.061 6.442 33.541 1.451 3.121 4.47 2012 330 2.35 2024 746 4. Tabel 17.024 1.015 1.034 1.68 2016 479 3.247 28.06 2009 162 2.092 25.746 5.481 4. kemudia­n meningkat menjadi 3.182 1.657 71.355 16.889 1.27 2010 723 2.932 912 3.86 2008 146 2.62 triliun.318 3. Dengan demikian.209 82.95 2006 119 1.436 4.411 12. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2. Angka ini menunjukkan bahwa program pengembangan kedelai dengan menggunakan s­kenario 3 sangat layak.50 2025 1.270 27. seperti disajikan pada Tabel 17. Karena setiap Rp 1.767 4.84 2011 298 2.07 2022 672 4.21 2023 707 4.835 1.44 76 .020 792 2.537 20.488 3.782 22.122 1.167 3.954 5.453 5.95 pada awal tahun.228 688 2.202 1.47 2021 639 4.Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 626 1.121 2.598 5.494 ROI = 2.306 19.270 1.455 1.681 3.13 Total 11.707 2.930 4.99 2015 918 3.44.273 3.050 3.174 9. diperoleh tambahan penerimaan Rp 2.451 4.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Dari segi penerimaan. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.634 2.747 5.975 5.818 1.64 2013 366 3. kegiatan investasi ini juga sangat laya­k.832 3.789 4.28 2017 517 3.60 2019 606 4.088 17.44 2018 559 3.440.544 5.81 2014 407 3.642 5.77 2020 1.177 4.901 5.857 5.978 4. yaitu 1. Dari sisi u­sahatani secara mikro.13 pada tahun k­e-20.988 1.105 6.162 11.280 2.669 1.608 4.617 4.68 pada tahun ke-10 dan 5.504 1. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C.333 4.647 31.355 3.866 356.442 7. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Prod N.973 2.679 14.382 5. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­erdasarkan skenario 3.932 10.982 1.

Mendorong/membina pengembangan usaha kecil/rumah tangg­a dalam subsistem hilir (pengolahan produk tahu. Penyediaan kredit usaha perbenihan bagi produsen dan calon produsen benih. Pengembangan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian secara umum (pembukaan sawah/lahan pertanian baru. 5. Pembinaan/pelatihan produsen/penangkar benih dalam aspek teknis (produksi benih). kecap.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI IX. 6. 7. Percepatan alih teknologi/diseminasi hasil penelitian. tauco. Percepatan penerapan teknologi di ting­ kat petani melalui revitalisasi tenaga penyuluh pertanian. Kebijakan makro mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri dengan memberlakukan tarif impor yang cukup tinggi dan menetapkan harga kedelai terendah di tingkat petani yang sesuai dengan perkembangan pasar agar keuntungan yang diperoleh petani layak dan memadai. IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi kebijakan pengembangan kedelai untuk mening­ katkan produksi kedelai dalam negeri meliputi: 1. manajemen usaha perbenihan serta pengembangan pemasaran benih. 4. 2. tempe. 77 . anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) dalam rangka menghasilkan teknologi tepat guna. PTT kedelai perlu diimplementasikan di daerah sentra produksi kedelai di Indonesia. pem­ buatan fasilitas irigasi dan jalan mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri. 3. Kebijakan alokasi sumber daya (SDM. susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi sesuai dengan tuntutan konsumen. Kemudahan prosedur untuk mengakses modal kerja (kredit usaha) bagi petani dan swasta yang berusaha dalam bidang agribisnis kedelai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful