Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUAN
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai s­umber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutu­han kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan se­ perti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebaga­inya­. Konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,13 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebu­ tuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, pening­katan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra­ struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam ne­ geri untuk menekan laju impor. Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor. Berkembangnya industri pangan 

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

berbahan baku kedelai membuka peluang kesempatan kerja dimula­i dari budidaya, panen, prosesing, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Agar produksi kedelai dan olahannya mampu bersaing di pasar global, maka mutu kedelai dan olahannya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembinaan dan pengembangan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran­ nya, khususnya penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahapan budi daya hingga penanganan pascapanen. 

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

II. KONDISI KEDELAI SAAT INI
A. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995, areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48 juta ha pada tahun 1995, atau meningka­t rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun 1995, terjadi penurunan a­real panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11% per tahun. S­elama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih terus menurun ratarata 9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 1. Sebagai sumber protein nabati, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan, yaitu tahu, tempe, kecap, tauco, susu kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11,38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8,97 kg/kapita pada tahun 2004, atau menu­ run rata-rata 1,69% per tahun. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Selama periode 1995–2000, konsumsi per kapita menurun dari 11,82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10,92 kg/kapita pada ta­ hun 2000, atau turun rata-rata 1,57% per tahun. Selanjutnya, penu­ runan paling tajam terjadi pada periode 2000–2004, yaitu rata-rata 4,81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang berarti, Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Artinya, bahwa Indonesia akan makin tergantung dengan impor untuk menutupi defi­ sit. Indonesia selalu mempunyai net impor yang meningkat dari se­ kitar 0,54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1,31 juta ton 

perbaikan akses pasar.6 1. pengembangan infrastruktur. peningkatan kualitas produk. produktivitas. perluasan areal tanam. teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. peningkatan n­ilai tambah. serta pengaturan tataniaga dan i­nsentif usaha. penguata­n kelembagaan petani. Perkembangan areal tanam. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelum tahun 1976. perbaikan sistem permodalan. peningkatan efisiensi produksi. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan terus meningkat.  . 2 1. dan produksi kedelai di Indonesia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivita­s.2 1 0. m­engingat potensi lahan cukup luas.2 0 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 Areal (juta ha) Produktivitas (t/ha) Produksi (juta ton) Gambar 1.4 1.8 0.6 0. Mengingat penurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penurunan total konsumsi. Keadaan demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus.4 0. de­ ngan indeks swasembada lebih besar dari satu.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai pada tahun 2004.8 1.

Permintaan Kedelai Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi.03% per tahun.67% per tahun. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. sedangkan pertumbuhan pendapatan per k­apita menggunakan data BPS (2002). Dengan menggunakan elastisitas yang ada. Pertumbuhan harga masing-masing komoditas menggunakan data FAO 1991–2002. Selanjutnya. namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri. maka proyeksi konsumsi per kapita dan total konsumsi kedelai sampai 2025 adalah seperti disajikan pada Tabel 1. berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang e­t al. pertumbuhan penduduk adalah 1. (2003). sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar. dan elastisitas s­ilang harga komoditas lainnya.  .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI B. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunaka­n elastisitas pendapatan. Harga kedelai impor yang murah dan tidak adanya tarif i­mpor menyebabkan tidak kondusifnya pengembangan kedelai di dalam negeri. Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. Proyeksi jumlah penduduk dilaku­kan dengan menggunakan pertumbuhan penduduk dengan tingkat yang makin rendah. Selama periode 1990–2004. elastisitas harga kedelai.

219 3.708 2.58 2009 9.835 1.13 286.58 235.525 2.016 2.102 1.494 1.726 1.68 2020 10.29 2006 9.20 2005 9.090 1.440 1.58 2019 10.380 1.25 273.740 1.377 1. sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija.179 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 1.81 juta ha pada tahun 2015. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1.23 2025 11.833 2. tahun 2003–2025.71 juta ton pada tahun 2015 dan 3.089 3.  .28 270.11 2004 9.286 3.87 2012 9.43 253.997 1.22 276.61 232.874 1.46 249.35 juta ton pada tahun 2025.16 283.352 2003 9.47 2018 10.903 1.17 2015 10.24 juta ha pada tahun 2025.04 295.316 1.270 1.01 2023 11. terutama yang lebih kompetitif.526 1.34 Sumber: perhitungan proyeksi penulis.40 256.402 1.231 1.069 2.19 280.480 1.024 3.77 2011 9.349 2.64 228.31 267.07 292. dan 2. Tantangan­ nya adalah bagaimana mencapai areal tanam seluas itu.55 239.12 2024 11.79 2021 10.154 3.687 1.34 263.39 2007 9.67 2010 9.466 2.48 2008 9.27 2016 10.124 2.37 260.860 1. 221.10 289.235 2.01 Dari Tabel 1 terlihat bahwa total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2.407 2.49 246.02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2. Proyeksi konsumsi kedelai di Indonesia.52 242.90 2022 11.67 224.559 1.770 2.07 2014 10.960 3.585 2. maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 1.896 2. Tahun Konsumsi/ kapita Proy Pddk (kg/th) (000 jiwa) Pertumbuhan Total Konsumsi pddk (000 ton) (%) 2.37 2017 10.210 1.291 2.646 2.571 1.5 ton/ha bisa dicapai.97 2013 10.

Teknologi produksi meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. Sekitar 60% areal pertanam­an kedelai terdapat di lahan sawah dan 40% lainnya di l­ahan k­ering. dan organisme p­engganggu).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI C. Pengelolaan LATO d­imaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas dapat terekspresikan secara optimal. panen dan pascapanen dengan alsinta­n mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai de­ngan p­otensi g­enetiknya. pemberian air yang cukup. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribus­i yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian be­ sar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaa­n tanaman masih belum optimal.29 t/ha) dengan potensi genetik tanaman masih cukup tinggi (potens­i genetik >2 t/ha). D. Varietas unggul memi­ liki sifat seperti hasil tinggi. dan tahan/toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkunga­n fisik). air. pembuatan saluran drainase. dan organism­e pengganggu tanaman (LATO) telah tersedia. pengendalia­n hama dan penyakit dengan sistem PHT. umur genjah. air. Areal pertanaman kedelai tersebar di seluruh I­ndonesia dengan luas masing-masing seperti disajikan pada Tabel 2. Profil Usaha Tani Tanaman kedelai merupakan tanaman cash crop yang dibudi­ dayakan di lahan sawah dan di lahan kering.  . Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. tanaman. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO (lahan. Profil Teknologi Kedelai Senjang produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. tanaman.

255 1. Penyebaran areal kedelai menurut wilayah Wilayah 1992 2003 ha % ha Sumatera Jawa Kalimantan Bali & NTB Sulawesi Maluku & Papua 480.987 5.39 9.53 juta ha pada tahun 2003.86 879.82 14.15 7.714 28. yaitu 1.796 100. Namun sejak tahun 2000 a­real tanam terus menurun menjadi 0.551 5.665.500/ha (R/C 2.36 0.944 22.06 1.96 Jumlah 1.031 % 7.148 152.896 374.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 2. Secara finansial.706 100.67 juta ha.650 52.48 0.  .00 Tabel 2 menunjukkan bahwa luas areal tanam mencapai p­uncaknya tahun 1992.14).048. Penurunan areal tanam ada kaitannya dengan banjirnya kedelai impor sehingga nilai kompetitif dan komparatif tanaman kedelai merosot.00 526. usahatani kedelai di tingkat petani cukup menguntungkan dengan pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp 2.81 3.32 40.388 124.04 4.76 71.346 9.591 73.

Varietas unggul kedelai tersebut merupakan faktor produksi yang penting untuk diterapkan pada peningkatan produktivitas. hingga saat ini baru 10% petani yang menggunakan b­enih varietas unggul yang berlabel. A.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI III. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. pemberian air yang cukup. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan tek­nik pengelolaan LATO. penanganan panen dan pascapanen. Aspek penelitian dan pengembangan Potensi kedelai berdasarkan aspek penelitian dan pengem­ banga­n cukup menjanjikan. Varietas unggul (Tabel 3) merupakan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. KENDALA DAN PELUANG Potensi. Masalah­nya. kendala.  . sistem produksi. distribusi dan pemasaran. pembuatan saluran drainase. Rakitan varietas unggul baru mampu meningkatkan produktivitas >2 t/ha. serta kelembagaan. Upaya s­osialisasi penggunaan varietas unggul sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. Varietas unggul yang dikemas dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dapat meningkat­ kan hasil dan pendapatan petani. Potensi 1. Inovasi teknologi dengan penggunaan b­enih bermutu. dan peluang dalam pengembangan kedelai dipilih berdasarkan aspek penelitian dan pengembangan (litbang). Perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai. POTENSI.

5 Ratai 2. dll) perlu dirakit. Ganggua­n hama. P­emanfaatan varieta­s toleran terhadap c­ekaman bioti­k (hama dan penyakit) misalny­a varietas Ijen toleran s­erangan ulat g­rayak dan potensi hasil tinggi (>2 t/ha). tahan naungan. pelatihan. Gangguan stabilitas hasil pada t­anaman kedelai banyak disebabkan oleh cekaman biotik dan a­biotik. Varietas toleran cekama­n abiotik (kekering­an. Tabel 3.6 Seulawah 2. maupun kedelai sebagai tanaman sela perlu mendapat perhatian. lahan k­ering. Pemasyarakatan PTT dilakukan melalui sosialisasi. sekolah lapang PHT perl­u ditingkatkan.5 Panderman 2. penyakit dan gulma dapat menyebabkan kehilanga­n hasil mencapa­i 80% bahkan puso apabila tidak ada t­indakan pengendalia­n.6 Anjasmoro 2.5 Nanti 2.5 Kaba 2.7 *UG=ulat grayak Umur (hari) 88 85 85 87 85 85 88 89 91 90 90 Ukuran biji Sedang Sedang Besar Besar Besar Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Adaptasi Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Komponen teknologi produksi yang dikemas dalam PTT pada tanaman kedelai mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 2 t/ha. Varietas Potensi hasil (t/ha) Sinabung 2. sekolah lapang dan membangun kembali lembaga penyuluhan yang pada era otonomi daerah kurang mendapat perhatian. toleran UG* Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Peningkatan stabilitas hasil kedelai di lahan sawah. dan lahan bukaan baru. V­arietas 10 .5 Mahameru 2. Penerapa­n pengendalian hama terpadu (PHT) perlu disosiali­sasikan.7 Sibayak 2. Program pelatihan.5 Ijen 2.5 Tanggamus 2. Varietas unggul baru kedelai yang dilepas tahun 2001–2004.

dan (3) kualitas peneliti bidang kedelai cukup memadai. Nanti. Perakitan VUB berdaya hasil tinggi dan teknologi budidaya (PTT) pada tingkat litbang sangat dimungkinkan dengan adanya kekuatan seperti: (1) tersedianya sumber daya genetik yang banyak. 2. Lembag­a u­ntuk memproduksi benih telah terbentuk namun efektivita­s perlu di­tingkatkan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI T­anggamus. S­eulawah. usaha perbenihan untuk tanaman kedelai masih t­ertinggal. Balai Benih Induk (BBI) dan Balai Benih Umum (BBU). dan Ratai merupakan varietas baru dengan potensi produksi tinggi dan adaptif pada lahan kering (masam dan non-masam). Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas pertanaman kedelai. 11 . Varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (>2 t/ha) telah tersedia. 2004). Pemakaian benih u­nggul bersertifikat pada tanaman kedelai kurang dari 10% (Ditjentan. Sibayak. Benih penjeni­s yang dihasilkan akan disalurkan ke BBI untuk diproduksi menjad­i b­enih dasar (FS) dan benih pokok (SS). Berbeda denga­n komoditas padi dan jagung. Petani lebih banyak memakai benih asalan atau t­urunan dari pertanaman sebelumnya. (2) besar­ nya perhatian pemerintah dalam penelitian dan pengembangan. UPBS di balai komoditas telah terbentuk dengan tugas untu­k memproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS). Produsen benih nasional maupun penangkar lokal masih kurang berperan. industri benih untuk komoditas kedelai b­elum berkembang dengan baik. (2) teknologi benih sudah tersedia. Hal ini merupaka­n salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai n­asional. dan (3) varietas unggul tersedia. Benih pokok disalurkan kepad­a BBU atau penangkar untuk dijadikan benih sebar (ES). Dalam mendu­kun­g penyediaa­n benih bermutu. Aspek perbenihan Potensi aspek benih bermutu yang merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis kedelai antara lain adalah: (1) tersedianya Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS).

dan (3) lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai masih tersedia cukup luas. Tabel 4. lahan kering (tegalan). Jawa Tengah. Sumatera Utara. 12 .551 Maluku & Papua 5.665.714 Jawa 879.255 Jumlah 1. (2) VUB potensi hasil tinggi tersedia. Lampung.706 Sumber: Ditjentan (2004).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai d­apat diarahkan ke propinsi-propinsi yang pernah berhasil menanam kedelai seperti disajikan pada Tabel 4. lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi. Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usaha tani kedelai. Nusa Tenggara Barat. Secara rinci peluang penam­ bahan areal panen dapat dilakukan pada: • Lahan sawah MK II (Juli – Oktober) yang biasanya diberikan se­perti: jalur pantura Jawa Barat. Jawa Timur. Aspek sistem produksi Potensi kedelai berdasarkan aspek sistem produksi meliputi: (1) teknologi budidaya relatif sudah maju.650 Kalimantan 23. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah. Wilayah Luas (ha) Sumatera 480. dan Kalimantan Selatan. S­ulawesi Selatan. Wilayah sasaran pengembangan intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai uta­ ma (LQ tinggi) diikuti propinsi penghasil kedelai dengan LQ sedang.388 Sulawesi 124.148 Bali & NTB 152. Potensi lahan untuk pengembangan kedelai.

umur genjah. Sumatera Barat.6-6. Senjang hasil produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. dan tahan/toleran 13 . Nusa Tenggara Barat. dan organisme pengganggu tanaman (LATO). Jenis tanah yang sesuai untuk kedelai adalah tanah Aluvial. Aceh. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tinggi. Pertanaman kedelai ini l­ebih banyak di Lampung. dan Ultisol/Oxisol dengan amelioran ka­ pur. Latosol. • Tumpangsari tanaman perkebunan. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kon­ tribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian besar petani belum menggunakan benih unggul dan t­eknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. solum tanah sedang-dalam. Pengelolaan LATO dimaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas d­apat terekspresikan secara optimal.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • Lahan sawah tadah hujan MK I (Maret – Juni) awal musim hujan sebelum ditanami padi sawah seperti Jawa dan NTB.9. • Ladang yang belum ditanami. fosfat dan bahan organik. hara NPK dan unsur mikro sedang-tinggi.2 t/ha) dengan potensi genetik dari tanaman kedelai masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha). pH tanah 5. • Lahan kering (tegal). Jambi. Gromusol. • Lahan pasang surut yang telah direklamasi. air. Lahan gambut yang sudah direklamasi juga sesuai untuk tanaman kedelai. kedelai ditanam pada MH I (Oktober – Janua­ri) atau MH II (Februari – Maret). Sulawesi Utara. tanaman. Jawa Tengah. Tanah yang sesuai untuk budi daya kedelai adalah tekstur ber­ lempung atau berliat. dan Jawa Barat. Regosol. • Lahan bukaan baru. Teknologi produks­i kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. • Tumpangsari pada lahan peremajaan perhutani. Jawa Timur. drainase sedangbaik. Andosol. bekas alang-alang. Sulawesi Selatan.

tempe.92 kg/kapita pada tahun 2000. Selanjutnya. yaitu rata-rata 4. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang b­erarti. Namun demikian.54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1.69% per tahun. penurunan paling tajam terjadi pada periode 2000-2004. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. susu kedelai. 1997).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkung­ an fisik).31 juta ton pada tahun 2004.82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10.38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8. 14 . dengan indeks swasembada lebih besar dari satu (Swastika. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. bahwa Indonesia selalu mempunya­i net impor yang meningkat dari sekitar 0. pembuatan saluran drainase. kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan.81% per tahun. atau turun rata-rata 1. Seperti disajikan pada Tabel 5. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu.97 kg/kapita pada tahun 2004. bahwa Indonesia akan makin tergantung pada impor untuk m­enutupi d­efisit. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. atau menu­ run rata-rata 1. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan t­erus meningkat.57% per tahun. konsumsi per kapita menurun dari 11. dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Sebagai sumber protein nabati. pemberian air yang cukup. kecap. Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11.05% per tahun (Tabel 5). tauco. pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. Selama periode 1995-2000. Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelu­m tahun 1976. total konsumsi hanya turun rata-rata 0. Mengingat p­enurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penuruna­n total konsums­i. Artinya. yaitu tahu.

307 Pertumb (%) -5.02 1.365 0.487 2.973 616 616 0.24 746 1997 1. makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung.133 1.27 672 1992 1.00 1.03 800 1995 1.431 723 724 0.306 1.24 1.383 2.555 2.343 1.00 343 1999 1.302 0.277 2001 827 1. kedelai dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencega­h penyakit kanker.276 1. konsumsi dan perdagangan kedelai di I­ndonesia tahun 1990-2004.294 1.560 690 694 3.307 0.50 - 6.016 1.43 1. Neraca produksi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 5.51 Sumber FAO (2004) diolah.565 2.649 343 343 0. Tahun Prod Konsumsi Defisit Impor Ekspor Net impor (000 ton) (ton) (000 ton) (000 ton) (ton) (000 ton) 1990 1.278 0.228 673 673 0.52 1.08 607 1996 1. 15 .01 616 1998 1.135 2002 673 2.192 2004 707 2. Perkembangan manfaat kedelai di samping sebagai sumber protein.680 2.75 723 1994 1. Oleh karena itu.960 1.870 2.19 1.91 690 1993 1. ke depan proyeksi kebutuhan kedelai akan meningkat seiring dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang makanan sehat.136 1. 4.684 1. telah diidentifikasi p­otensi kekuatan sebagai berikut: (1) teknologi panen dan pascapanen t­elah tersedia.517 2.287 607 607 0.24 541 1991 1.302 2000 1.365 2003 672 2.17 -0.307 1.017 1.028 541 541 0.357 1.709 2.365 800 800 0. Aspek panen dan pascapanen Untuk aspek panen dan pascapanen.51 6.193 0.015 1.344 1. (2) Alsintan tersedia di pasaran. Selain itu.018 2.301 1.263 746 746 0. dan (3) teknolog­i p­engolahan tersedia.05 6.

Karena bersifat multiguna. (2) transportasi lancar. Bungkil kedelai yang mengandung protein tinggi sangat diperlukan dalam pembuatan ransum ternak (pakan). aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan s­ebagai pakan (Gambar 2). kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuh­kan bagi kehidupan manusia. Produk utama lain dari kedelai adalah minyak kasar. Pengolahan primer. dan lain-lain. minyak goreng. kedelai selayaknya mendapat pengolahan primer untuk meningkat­ kan kualitas kedelai sebagai bahan baku industri. baik sebagai produk pangan. dan produk non-fermentasi seperti tahu. lesitin. isolat protein. tauco. M­inyak kedelai dapat diolah untuk aplikasi produk pangan dan kegunaa­n dalam b­idang teknik atau industri. Produk pangan yang menggunakan minyak kedelai antara lain adalah minyak salad. Isolat protein dan lesitin banya­k digunakan dalam berbagai produk industri makanan antara lain r­erotian. Produk pangan olahan kedelai yang utama dan populer di kala­ ngan masyarakat Indonesia adalah produk fermentasi seperti tempe. mayonaise. yogurth. 5. es krim. daging tiruan (meat analog). natto. dilakukan di tingkat petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Teknologi panen dan pascapanen kedelai yang efektif dan efi­ sien telah tersedia bahkan alsintan untuk proses panen dan pasca­ panen telah tersedia di pasaran. Sebelum memasuki pengolahan sekunder menjadi produk olah­ an. Produk fermentasi lain yang populer adalah natto (di Jepang). margarine. dan bungkil kedelai. Aspek distribusi dan pemasaran Potensi aspek distribusi dan pemasaran yang telah t­eridentifikasi antara lain adalah: (1) infrastruktur distribusi telah memadai. dan produk non-fermentasi lainnya se­perti keju kedelai. kecap. farmasi (obat-obatan). dan (3) sentra produksi telah terbentuk. 16 . kembang gula. Dengan demikian. yuba. makanan bayi (infant formula). men­ tega putih. susu. dengan me­ manfaatkan teknologi pascapanen. harga jual kedelai akan lebih baik. dan lain-lain.

kembang gula) FARMASI (Obat-obatan. 17 . untuk selanjutnya dipasarkan ke pengra­ jin tahu dan tempe. margarine ) TEKNIK/ INDUSTRI LESITIN ( wetting agent. makanan bayi ( infant formula ). Secara umum rantai tataniaga kedelai disajikan pada Gambar 3. susu. Pohon industri kedelai. mentega putih. yogurth. PANGAN FERMENTASI Tempe. minyak goreng. pelumas dll) KONSENTRAT PROTEIN PANGAN (rerotian eskrim. pengemulsi. dll PANGAN NON FERMENTASI Tahu. kedelai di pasar domestik juga sebagian berasal dari impor. Selain dari petani.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang. kecap tauco. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi pengrajin tahu dan tempe (KOPTI). dll KEDELAI MINYAK KASAR PANGAN (minyak salad. dan bermuara ke konsumen akhir. pelarut. kecantikan) BUNGKIL PAKAN TERNAK Gambar 2. penstabil. natto.

diharapkan arus produk dari produsen ke konsumen lebih lancar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai P et ani Petani Im port ir Importir P edagang Pedagang P engum pul DDesa esa Pengumpul K O P TI KOPTI G rosir Grosir P engecer Pengecer P engol ah Pengolah K onsum en akhir Konsumen Akhir Gambar 3. Dalam pengembangan kedelai. Aspek kelembagaan Potensi yang dapat dimanfaatkan dalam program pengem­ bangan kedelai antara lain: (1) telah berkembangnya kelembagaan 18 . 6. petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah. harga riil di tingkat produsen (petani) selama 15 tahun terakhir cenderung terus menurun. sehingga tataniaga kedelai lebih efektif dan efisien. sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Dengan adanya infrastruktur distribusi produk yang memadai dan tranportasi yang lancar. Dari Gambar 3 terlihat bahwa kedelai di tingkat petani dibeli oleh pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang grosir dan pengolah. Oleh karena itu. Terbentuknya sentra produksi kedelai akan mempermu­ dah konsumen untuk mendapatkan kedelai secara langsung. Rantai tataniaga kedelai di Indonesia. diperlukan perbaikan tataniaga kedelai dari produsen hingga konsumen. Dalam pemasaran kedelai.

Dalam alih teknologi. yaitu perakitan teknologi spesifik lokasi. keberadaan kelompok tani merupakan wadah yang efektif. (2) belum optimalnya diseminasi. dan lembaga keuangan mikro lainnya yang lebih mudah diakses petani merupakan potensi yang besar bagi petani dalam memperoleh modal untuk menerapkan teknologi maju. Berkembangnya berbagai skim lembaga permodalan seperti LUEP. Kelembagaan keuangan mikro dan kelembagaan alih teknologi merupakan dua ujung tombak yang memungkinkan petani mengadopsi teknologi maju. Hasil p­enelitian 19 . sehingga mampu meningkatkan produktivitas sumber daya dan pendapatan petani. dan (3) telah terbentuknya kelembagaan k­elompok tani. Kelemahan internal meliputi: (1) keterbatasan tenaga peneliti. baik dalam penyaluran kredit. diseminasi teknologi. Jumlah tenaga peneliti yang terbatas sehingga potensi untuk mengembangkan rakitan teknologi unggul dalam satu paket PTT belum dapat diterapkan di setiap sentra produksi kedelai. Selain itu. (2) berkembangnya kelem­ bagaan alih teknologi. (2) penerimaan tenaga peneliti belum memadai. Kendala 1. dan (2) revitalisas­i penyuluhan pertanian untuk mempercepat proses alih teknologi dari lembaga penelitian ke pengguna. B. lembaga alih teknologi juga makin berkembang. namun di masa mendatang peran ini dapat diaktualisasi dan terus ditingkatkan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI p­ermodalan (kredit) dalam berbagai skim. dan (3) program penelitian yang masih kurang konsisten. Aspek penelitian dan pengembangan Kendala dalam aspek Litbang dapat dipilah berdasarkan kele­ mahan dan ancaman. Sedangkan untuk ancaman eksternal antara lain adalah: (1) sistem diseminasi dan alih teknologi belum memadai. dan (3) penghargaan hasil karya peneliti kurang memadai. maupun pema­ saran hasil pertanian meskipun diakui dalam hal pemasaran hasil kelompok tani belum banyak berfungsi. Hal ini dipacu oleh: (1) terbentuknya BPTP di tiap propinsi yang berfungsi ganda. KKP.

(2) menurunnya ke­ percayaan petani terhadap mutu benih dari kios. Hasil penelitian menun­ jukkan bahwa senjang hasil produksi kedelai di tingkat petani dengan potensi hasil genetik kedelai masih tinggi. Aspek sistem produksi Hambatan internal yang teridentifikasi dalam aspek sistem produksi meliputi: (1) ketersediaan sarana produksi yang makin t­erbatas. (2) sistem penyuluhan masih lemah. Diseminasi/promosi yang belum optimal menyebabkan tingkat adopsi teknologi rendah sehingga varietas unggul baru dan teknik budi daya kedelai kurang dapat diterapkan petani. 3. Aspek perbenihan Kendala internal aspek perbenihan kedelai adalah (1) inkon­ sistensi alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. (2) umur label sertifikat benih sangat singkat.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai rakitan teknologi PTT kedelai dapat meningkatkan produksi 30-40% untuk lahan sawah dan 50-60% untuk lahan kering masam. dan (3) industri benih belum berkembang dengan baik. Ketersediaan benih varietas unggul baru masih sangat terbatas. sedang rata-rata produktivitas di tingkat petani hanya 1. dan (3) petani lebih suka membuat benih asalan. namun hingga kini 20 . Hasil rata-rata kedelai yang masih rendah di tingkat petani dan harga yang murah menyebab­ kan petani beralih usahatani nonkedelai. Benih bersertifikat merupakan jaminan pemerintah untuk menyediakan benih bermutu. Sedangkan ancaman eksternal adalah: (1) kurangnya insentif harga benih bagi penangkar. dan (3) akses petani terhadap sumber modal terbatas.29 t/ha. sehingga produktivitas hasil kedelai masih rendah. Hingga kini peng­ gunaan varietas unggul baru mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. Dampak dari kelemahan terse­ but menyebabkan usahatani kedelai belum dapat mencapai produksi yang maksimal dan keuntungan finansial yang masih rendah. 2. Potensi hasil varietas unggul dengan budi daya anjuran dapat mencapai > 2 t/ha.

sehingga penyuluh beralih profesi menjadi b­ukan penyuluh. Pada era otonomi daerah. Selain kelemahan internal. dan (3) tenaga kerja pengolah relatif terbatas. dan (3) modal untuk membeli alsintan sangat terbatas. Sistem panen yang dijemur di lapangan tanpa lantai jemur dan alas menyebabkan biji tercecer cukup banyak dan 21 . Hal ini dikarenakan jumlah penangkar yang masih sangat terbatas. (2) adanya cekaman OPT. Modal petani yang terbatas dan usahatani kedelai yang kurang menguntungkan menyebabkan petani enggan menanam kedelai. (2) makin meningkatnya biaya operasional alsintan. ancaman eksternalnya adalah: (1) belum ada insentif harga yang memadai bagi produk bermutu. Selain itu. Aspek panen dan pascapanen Kendala dalam aspek panen dan pascapanen adalah: (1) kehi­ langan hasil tinggi. pembinaan penyuluh untuk mengakses teknologi baru kurang mendapat perhatian. penyuluh kurang berfungsi sebagai­ mana tugas pokoknya. sehingga areal dan produksi kedelai terus menurun. Selain itu. Kehilangan hasil kedelai pada saat panen maupun prosesing masih cukup besar. serta sarana dan prasarana penyuluhan banyak berubah fungsi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat. pupuk dan pestisida makin mahal. dan (3) anomali iklim yang da­ pat menyebabkan kegagalan panen. Selain benih bermutu. Akses petani terhadap sumber modal terbatas. (2) penerapan teknologi panen dan pascapanen be­ lum memadai. sehingga makin tidak terjangkau oleh petani. agribisnis kedelai masih dihadap­ kan pada ancaman eksternal seperti: (1) masih tingginya impor kedelai yang menyebabkan usahatani kedelai dalam negeri kurang kompetitif. Umumnya p­etani kedelai adalah petani miskin yang kekurangan modal. jumlah penyuluh semakin berkurang (pensiun). Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak sampainya informasi teknologi kepada petani. 4. proses sertifikasi kedelai yang rumit dan keuntungan menjadi penangkar b­enih kedelai yang sangat kecil.

dan (3) b­elum adanya tarif impor. dan (3) biaya trans­ portasi yang mahal. Sedangkan pemakaia­n alat mesin untuk panen dan pengeringan.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai menyebabkan kehilangan hasil cukup tinggi. 5. Panen dengan menggunakan sabit dan prose­s pengeringan sebagian besar masih di lapang. (2) sistem informasi pasar lemah. Sedangkan kendala eksternalnya antara lain adalah: (1) tingginya impor kedelai dengan harga murah.500. Keterbatasan modal. disaat panen raya harga jatuh hingga Rp 2. Sistem informasi pasar belum terbentuk sehingga titik temu antara produsen dan konsumen sering tidak ketemu. yang ditentukan oleh permintaan dan persediaan ( Demand and Supply). Hal ini yang menyebabkan nilai jual produk berfluktuatif dan cenderung menu­ run. Memperbaiki dan memperpendek simpul mata rantai dari produsen ke konsumen p­erlu dibentuk dan difungsikan sebagaimana mestinya sehingga dapat efektif dan efisien dalam pendistribusian produk. Panjangnya rantai dari produsen sampai kepada konsumen menyebabkan tidak efektifnya proses pemasaran. sebagian besar petani b­elum menggunakan. Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Belum berlakunya tarif impor 22 . Aspek distribusi dan pemasaran Kendala internal berdasarkan aspek pemasaran adalah: (1) daya tawar petani lemah. Hal ini yang menyebabkan kehilangan hasil panen cukup besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. Penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai. menyebabkan petani kedelai tidak mamp­u untuk membeli alat mesin. Harga kedelai ditentukan oleh mekanisme pasar. Alat pengering dinilai masih cukup mahal bagi petani kedelai. (2) rantai p­emasaran yang panjang sehingga tidak efisien. umumnya petani melakukan pemanenan dan prosesing masih d­engan cara tradisional. Harga nominal kedelai di tingkat petani berfluktuasi.

(5) aspek distribusi dan pemasaran. (3) aspek sistem produksi. (2) kelembagaan kelompok tani belum berfungsi optima­l dan (3) akses petani terhadap lembaga modal terbatas. Penelitian untuk mengatasi senjang hasil antara petani dan h­asil penelitian sesuai dengan potensi genetik. C. pemetaan lahan s­esuai. Kinerja penyuluhan pertanian yang lemah menyebabkan transfe­r teknologi kedelai terhambat. Peluang Peluang pengembangan kedelai cukup besar dari berbagai a­spek. (4) aspek panen dan pascapanen. Kelemahan internal yakni: (1) sistem penyuluha­n masih lemah. (2) rendahnya komitmen pimpinan kelembagaan atas pelaksanaan peraturan. 23 . Lemahnya kinerja penyuluhan juga akan mengakibatkan kinerja kelompok tani lemah. Aspek kelembagaan Kendala berdasarkan aspek kelembagaan terdiri dari kelemaha­n dan ancaman. dan (3) prospek kerja sama penelitia­n. efisiensi penggunaan sarana produksi. dan (6) aspek kelembagaan. (2) tuntutan terhadap alih t­eknologi semakin meningkat. sehingga harga kedelai di dalam negeri jatuh dan petani enggan menanam kedelai. serta (3) inkonsistensi peraturan antara pusat dengan daerah. sehingga upaya untuk meningkatka­n produktivitas juga terhambat. diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah perlu dilakukan agar dapat m­eningkatkan produktivitas dan daya guna kedelai. yakni: (1) aspek penelitian dan pengembangan. 1. Sedang­ kan ancama­n eksternal adalah: (1) menurunnya kepercayaan petani t­erhadap kelembagaan yang ada. 6. Aspek penelitian dan pengembangan Peluang pengembangan berdasarkan aspek litbang meliputi: (1) kebutuhan teknologi makin meningkat.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI menyebabkan jumlah kedelai impor semakin banyak. (2) aspek per­ benihan. sehingga petani akan sulit untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

Me­ ningkatnya kemampuan SDM yang terkait dalam produksi benih dasar (FS). karena hingga kini penggunaan benih bersetifikat kurang dari 10%.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tuntutan alih teknologi untuk mengatasi senjang hasil sangat diperlukan. penyuluh dengan kelompok tani. peningkatan kadar. Peran aktif BPTP dan penyuluh untuk mengakses teknologi dari balai penelitian perlu ditingkatkan. (2) peningkatan pembinaan pen­ angkar benih di daerah sentra produksi kedelai. Untuk membangun penyebaran benih varietas unggul diperluka­n penguatan SDM dan fasilitas untuk memproduksi benih sumber. dan perluasan prevalens­i adopsi t­eknologi inovatif yang dibawa oleh varietas unggul kedelai. benih pokok (SS). Upaya pengembangan pemanfaatan benih bermutu ditempuh melalui: (1) peningkataan kemampuan petugas/penangkar untuk memproduksi benih sumber. Oleh karena itu. Untuk mewujudkan tujuan mempercepat alih teknologi diperlukan kerja sama yang baik antara peneliti. Dengan strategi tersebut terjadi percepatan waktu. s­ehingga dapat meningkatkan produksi benih berkualitas yang berbasis komunita­s. Eskalasi dan akselerasi produksi dan distribusi benih sumber varietas unggul tanaman kedelai dilakukan dengan pelatihan pengenalan varietas melalui sosialisasi varietas dan pembekalan t­eknik produksi benih kepada penangkar di daerah yang melibatkan pemangk­u kepentingan (stakeholder) terkait. Aspek perbenihan Peluang pengembangan pemanfaatan benih kedelai bermutu terbuka lebar. dan benih sebar (ES) diharapkan dapat me­ ningkatkan produksi benih dan dapat didisribusikan ke daerah sentrasentra produksi. Revitalisasi penyuluhan diharap­ kan dapat menjadi jembatan dalam upaya meningkatkan arus teknologi dari balai penelitian kepada pengguna atau petani. peran swasta sebagai bapak angkat yang dapat memberikan jaminan harga yang layak pada saat harga jatuh. 24 . dan (3) peningkatan produksi benih sumber dan penyebaran varietas-varietas unggul baru kedelai di daerah sentra produksi. diperlukan peningkatan kemahiran petugas dalam sistem produksi benih sumber kedelai melalui pelatihan. 2. Kerja sama dengan swasta sangat diperlukan.

baik untuk pengadaan benih varietas unggul baru maupun untuk pengadaan pupuk dan insektisida. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah di­ adopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam me­ ningkatkan produksi. (2) jenis olahan beragam. dan (3) industri produk olahan berbahan baku kedelai makin berkembang. Aspek sistem produksi Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek produksi meliputi: (1) penggunaan benih bermutu masih rendah. Varietas kedelai sesuai 25 . 4. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tingg­i. program pengenalan dan sosialisasi varietas unggul baru serta teknik produksi benih sangat diperlukan. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. Mutu hasil panen kedelai saat ini masih perlu ditingkatkan. pembuatan saluran drainase. warna kuning mengkilap dan kebersihan biji. dan (4) program pengem­ bangan varietas unggul berdaya hasil tinggi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. pemberian air yang cukup. Sebagian besar konsumen menghendaki biji besar/sedang. Aspek panen dan pascapanen Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek panen dan pascapanen meliputi: (1) tuntutan terhadap hasil panen bermutu. panen dan pascapanen dengan a­lsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi g­enetiknya. (2) penggu­ naan sarana produksi. diperlukan adanya s­ubsidi. (3) subsidi benih. dan tahan/ toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkungan fisik). P­referensi konsumen terhadap mutu kedelai semakin meningkat. umur genjah. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. I­ndustri pengolahan produk berbahan baku kedelai membutuhkan jenis kedelai yang bermutu tinggi sesuai dengan produk yang akan dihasil­kan. Oleh karena itu. Keterbatasan modal di tingkat petani untuk usahatani kedelai perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu. pengendalian hama dan p­enyakit dengan sistem PHT.

kecap. tempe. Sebagai i­lustrasi PT Garuda Food telah berhasil membidik konsumen tingkatan menengah ke atas dengan memproduksi snack kedelai oven dengan rasa enak dan dikemas dalam kemasan yang menarik dan terkesan elite. sehingg­a bisa mengendalikan konsumen untuk mengkonsumsi produk olahan kedelai. warna kuning mengkilap (Argomulya. 5. rasa sesuai dengan selera konsumen dan kemasan yang menari­k akan mempunya­i daya tarik bagi konsumen. serta telah tersebar di seluruh pasar swalayan.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai d­engan kehendak konsumen dan sesuai dengan bahan baku industri telah tersedia. snack kaya akan protein. Penguatan industr­i pedesaa­n skala kecil maupun industri besar yang bermitra dengan produsen kedelai perlu ditindak lanjuti. Aspek distribusi dan pemasaran Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek distribusi dan pe­ ma­saran meliputi: (1) industri pengolahan kedelai berkembang. biji besar/sedang. Upaya untuk me­ningkatkan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi adalah memperbaiki b­entuk makanan olahan berbaha­n baku kedelai. Burangrang. Cikuray. makanan segar dengan kualitas polong maupun biji yang seragam. Upaya peningkatan daya sain­g selain bentuk produk diperlukan juga penyuluhan. Bentu­k makanan olaha­n yang menari­k. promosi secara g­encar. Anjasmoro. tauco. dan (3) permintaan kedelai terus meningka­t. 26 . Promosi makanan berbahan baku kedelai susu. Kaba) bahkan kedelai hitam yang sesuai de­ ngan industri kecap juga telah tersedia (Merapi. dan Malika). (2) j­aringa­n transportasi memadai. gizi tinggi dan m­enyehatkan p­erlu diinformasikan pada media cetak maupun elektronik. dan kuantita­s serta kualitas biji untuk bahan industri cukup memadai. menarik.

Revitalisasi di bidang pe­ nyuluhan diharapkan penyuluh dapat berperan sebagai ujung tomba­k dan mampu memberdayakan kemandirian petani. dan (3) minat swasta dalam industri pengolahan kedelai semakin meningkat. Sedang 12% sisanya dipergunakan berbagai keperluan makanan olaha­n lain dan bahan baku industri lainnya. 6. kecap. tempe. 27 . Berdasarkan perhitung­ an. namun demikian teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian belum sampai kepada petani.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Berbagai macam produk olahan berbahan baku kedelai berkem­ bang dengan pesat. Asosiasi Petani Kacang Kedelai Indonesia (APKKI) telah terben­ tuk di beberapa propinsi sentra produksi kedelai dan merupakan me­ dia yang cukup efektif dalam pengembangan kedelai berbasis agri­ bisnis. Jaringan transportasi sudah baik dan ditunjang oleh alat angkut yang memadai. Aspek kelembagaan Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek kelemba­ gaan berupa (1) program revitalisasi alih teknologi. Industri pengolahan bahan pangan (tahu. Program alih teknologi berupa diseminasi memperoleh prioritas utama. penyuluh. Di Indonesia konsumsi tertinggi adalah untuk bahan industri tahu dan tempe. mela­ lui diseminasi diharapkan adanya kerja sama yang baik antara peneliti. dan petani. pemerintah daerah. Oleh karena itu. kelompok tani. (2) program revi­ talisasi penyuluhan. farmasi (obat-obatan). sehingga memudahkan mobilitas bahan baku kedelai dari produsen ke konsumen.776 juta ton atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri. Asosiasi tersebut berpeluang dikembangkan di setiap propinsi sentra kedelai dengan penyuluh pertanian sebagai mediator dan Pemerintah Daerah sebagai fasilitator. tauco. Revitalisasi alih teknologi dan revitalisasi penyuluhan saling ber­ hubungan erat. k­elompok usaha/asosiasi petani dalam usaha pengembangan kedelai. konsumsi kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 men­ capai 1. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan ternak menyebabkan kebutuhan akan kedelai semakin meningkat. snack).

AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai IV. penguasaan pasar. Tujuan jangka pendek-menengah adalah meningkatkan produksi untuk memenuhi 60% kebutuhan. Dalam hal ini diperlukan dukungan dari pemerintah dan swasta. (iii) terciptanya mata rantai pemasaran yang efisien sehingga dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan pendapatan petani. Tujuan jangka panjang adalah swasembada kedelai. impor kedelai yang saat ini mencapai 60-65% dari total kebutuhan dapat ditekan menjadi 40%. kualitas. Sasaran yang ingin dicapai dari pengembangan kedelai s­ecara nasional adalah (i) terciptanya harga yang wajar yang dapat m­emberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. dan nilai tambah produks­i. Dengan kata lain. 28 . dan perluasan peranan pengguna. dan (iv) berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku kedelai di dalam negeri. TUJUAN DAN SASARAN Pengembangan kedelai diarahkan untuk tujuan jangka pendekmenengah dan jangka panjang. (ii) terbentuknya kelembagaan pemasaran yang kuat di tingkat petani. Upaya peningkatan produksi diikuti de­ ngan upaya peningkatan efisiensi.

tahu. perbaikan sistem permodalan. Mengingat Indonesia de­ngan jumla­h p­enduduk yang cukup besar. bungkil kedelai sehingga peta­ ni memperoleh nilai tambah. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. serta pengaturan t­ataniaga dan insentif usaha. Keadaa­n demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus. perbaikan akses pasar. penguatan kelembagaan petani. dan perusahaan swasta. seperti pangan dan pakan. Arah dan Sasaran Pengembangan Pengembangan kedelai diarahkan kepada sistem agribisnis berbasis agroindustri. A. peningkata­n efisiensi produksi. teknologi telah tersedia dan SDM handal cukup tersedi­a. pengembangan infrastruktur. baik industri pangan maupun pakan. sektor swasta membeli kedelai dari petani untuk diolah lebih lanjut menjadi produk olahan sekunder. nilai tambah akan terdistri­ busi ke petani. tempe.02 juta ton. Selain itu. dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan dalam upaya menekan laju impor.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI V. sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0. Pola agribisnis seperti ini akan membangun kemitraan yang sinergis antara petani dengan perusahaan swasta. peningkatan nilai tambah. menjadi produk olahan seperti tepung kedelai. perluasan areal tanam.71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1. 29 . Di tingkat petani. Dengan demikian. Di tingkat agroindustri. mengingat potensi laha­n cukup luas. petani juga dapat dilakukan pengolahan primer kedelai dengan industri rumah tangga di tingkat petani dan kelompok tani. pedagang. sehingga dapat menekan biaya per satuan produk dengan tetap memperhatikan kelestarian kesuburan tanah. di mana kedelai sebagai bahan baku industr­i. p­eningkatan kualita­s produk. usahatani dilakukan dengan teknologi maju yang efisien melalui pendekatan PTT. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalu­i strategi peningkatan produktivitas.31 juta ton. ARAH DAN SASARAN Kebutuhan akan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2.

dampak swasembada kedelai akan bermuara pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku agribisnis lainnya. B. Proyeksi pertumbuhan produksi untuk masingm­asing skenario disajikan pada Tabel 6. Selanjutnya.67% per tahu­n. sedangka­n pertumbuhan pendapatan per kapita menggunakan Data BPS (2002).03% per tahun. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunakan elastisitas pendapatan.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sasaran utama dari pengembangan kedelai adalah untuk m­eningkatkan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi k­ebutuhan yang terus meningkat. elastisitas harga kedelai. 30 . Proyeksi Pertumbuhan Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. Tiga skenario diajukan untuk mencapai sasaran jangka menengah maupun jangka panjang pengembangan kedelai s­esuai dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan swasembad­a kedelai ke depan. Proyeksi jumlah penduduk dilakukan dengan menggunakan pertumbuha­n penduduk dengan tingkat yang makin rendah. pertumbuhan penduduk adalah 1. (2004). Selam­a periode 1990-2003. dan e­lastisitas silang harga komoditas lainnya. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang et al. Sebagai bahan baku industri p­angan dan pakan. Pertumbuhan harga masingmasing k­omoditas menggunakan data FAO 1991-2002.

58 1.5% per tahun dan 2.27 5.09 2.21 2015-2019 1.55 7.08 7.21 2015-2019 1.00 1.08 5.00 -19.72 1.27 0.37 6.81 -18.15 2020-2025 Rataan Skenario 3 Pertumb (%) 0.45 2.55 12.49 (rb ton) Prod (jt jiwa) (t/ha) (rb ha) (rb ton) (rb ton) (kg/kap) 2005-2009 1.50 2. produktivitas. Proyeksi pertumbuhan areal tanam.56 1.21 2.26 7.15 2020-2025 Rataan 0.30 2010-2014 1.19 1.11 2.50 10.25 2.25 2015-2019 1.78 7.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 6.19 1.58 1.36 12.50 1.08 4.25 7.23 5.01 1.00 -6.64 2.86 10.15 8.50 2.23 5.50 2.50 -4.50 2.29 2.27 6. 31 .80 3.00 -65.02 1.89 14.50 12.63 10.01 7.24 3.29 2.79 4.73 Skenario 1 (1) Proyeksi peningkatan produksi rata-rata 8.08 4.93% per tahun dalam periode 2005-2025.95 1.21 2.25 4.22 1.15 9.50 2005-2009 1.78 12.50 -9.55 2.19 2.50 2.25 6.04 6.00 1.25 7.00 2.00 -64.30 2010-2014 1.04 -2.84 1.33 6.25% per tahun dalam periode yang sama.50 51.84 17.25 Impor Konsumsi Kontribusi Prod (%) 2.34 1.21 2. Tahun Skenario 1 Pertumb (%) Pddk Provitas Area 2.15 2020-2025 Rataan Skenario 2 Pertumb (%) 0.39 10.23 5.39 2.50 2.50 0.21 0.30 2010-2014 1.98 2005-2009 1.50 -9.39 2.84 1.77 1.58 1. (2) Peningkatan produksi tersebut diperoleh dari upaya perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 6.00 61.75 1.19 3.00 1.15 8. dan produksi kedelai periode 2005-2025.00 1.00 1.50 -10.61 4.29 9.50 10.61 4.93 1.55 14.19 4.50 -14.25 -39.84 1.50 0.

Nusa Tenggara Barat. Skenario 2 (1) Produksi kedelai dalam negeri diproyeksi meningkat rata-rata 9. (2) Proyeksi pertumbuhan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 5. (3) Dengan skenario ini swasembada kedelai akan dicapai pada tahun 2015. Sumatera Utara. di mana tingkat penerapan teknologi oleh petani masih kurang. 32 . swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun 2020.25% per tahun dalam periode 2005-2025.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai (3) Dengan skenario 1. Dengan kata lain. C.22% per tahun.72% per tahun dalam periode yang sama. (3) Dengan skenario 3. Wilayah-wilayah yang sesuai untuk program ini antara lain adalah beberapa kabupaten di Jawa Timur. dan Sulawesi Selatan. Skenario 3 (1) Proyeksi peningkatan produksi kedelai dalam periode yang sama rata-rata mencapai 8.81% per tahun dan 2.25% per tahun dan 2. Lampung. Program peningkatan produktivitas diprioritaskan di wilayah-wilayah sentra produksi yang produktivitasnya masih tergolong rendah.72% per tahun. (2) Areal tanam dan produktivitas kedelai diproyeksikan meningkat masing-masing 7.25% per tahun untuk men­ capai tingkat pertumbuhan produksi 9. impor yang saat ini mencapai 6065% secara substansial dapat ditekan menjadi minimal 45% pada 2010. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun terakhir yaitu 2025. Arah Pengembangan Pengembangan kedelai ke depan diarahkan untuk mencapai tujuan jangka pendek-menengah dan jangka panjang yaitu Indonesia mampu meningkatkan produksi kedelai secara bertahap untuk memenuhi kebu­ tuhan dalam negeri. Jawa Barat. Jawa Tengah.

dan tahun 2009 sebesar 1. Peningkatan produksi diikuti dengan proses produksi yang efisien. Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan. penguasaan pasar yang luas. Sumatera Utara. telah menyatakan bahwa sasaran pengembangan kedelai adalah meningkatkan produksi nasional sebesar 7% per tahun. Lampung. Sulawesi Tenggara. Bengkulu. meluasnya peran pengguna. serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Program perluasan areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) ditujukan ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi sumber daya lahan cukup baik di Jawa Timur. tahun 2008 sebanyak 975 ribu ton. Sasaran pengembangan kedelai dalam 20 tahun ke depan adalah untuk memanfaatkan seluruh potensi dan peluang yang ada untuk men­ coba memenuhi kebutuhan kedelai nasional dari kemampuan produksi dalam negeri. tahun 2006 sebesar 825 ribu ton. dan kapan kemungkinan pencapaian swasembada perlu disusun beberapa alternatif skenario. Agar sasaran pengurangan impor dapat dicapai.36 juta ton dan ini berarti tidak terjadi pengurangan impor. tahun 2007 sebe­ sar 900 ribu ton. Nusa Tenggara Barat. namun belum optimal dimanfaatkan. kuali­ tas dan nilai tambah yang berdaya saing. Jawa Tengah. Jawa Barat. dan lahan kering yang cukup luas. Dalam Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah (­RPPJM: 2005–2010) Departemen Pertanian. maka pada tahun 2009 impor diperkirakan masih sebesar 1. Sasaran Sasaran jangka panjang adalah swasembada kedelai (ontrend). Sedang perluasan areal dapat di lakukan pada sawah tadah hujan/irigasi sederhana.00% per tahun. Wilayah-wilayah yang tergolong kate­ gori tersebut antara lain adalah Jambi. Pertanyaannya kemudian adalah kapan sasaran itu dapat dicapai? Inilah tantangan yang harus dijawab dengan memanfaatkan 33 . Apabila sasaran peningkatan produksi diproyeksikan sebagaimana dikemukakan di atas.03 juta ton atau meningkat rata-rata 7. D. misalnya dari 60–65% menjadi 45% dari kebutuhan dalam negeri. Sulawesi Selatan. Produksi kedelai tahun 2005 diproyeksikan 774 ribu ton biji kering. dan Sulawesi Selatan.

maka produksi diproyek­ sikan meningkat rata-rata 14. Sasaran lain adalah mengembalikan keunggulan kompetitif di tingkat on farm dan keunggulan komparatif di pasar global. Laju peningkatan areal tanam sedikit menurun pada lima tahun berikutnya (2010-2014) yaitu rata-rata 7.5%. pengendalian gulma.5% dan 0. m­asing34 . Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks per­ tanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana.5% per tahun pada periode 2005-2009. Melalui kedua upaya tersebut di atas.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai sumber daya secara optimal yang dihela oleh kemajuan Iptek di bidang pangan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sum­ berdaya alam.5% per tahun masing-masing pada periode 2015-2019 dan 2020-2025. Jawa. 1.95% per tahun pada 2005-2009. ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor untuk me­ menuhi kebutuhan dalam negeri secara gradual dapat dikurangi dan pada akhirnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan dari kemampuan produksi dalam negeri.5%. Wilayah sasaran perluasan areal adalah Nusa Teng­ gara Barat. dan 2020-2025. produktivitas pada 2025 h­arus m­encapai sekitar 1. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa perluasan a­real tanam harus diupayakan meningkat rata-rata 10% per tahun dalam periode 2005-2009 dengan sasaran areal tanam mencapai sekitar 833 ribu ha pada 2009. Pencapaian sasaran menurut skenario 1 Perkiraan pencapaian sasaran atas dasar skenario 1 disajikan pada Tabel 7. 1. Sedangkan peningkatan produktivitas kedelai dalam empat p­eriode yang sama masing-masing diproyeksi rata-rata 4. Aceh dan Sulawesi Selatan. hama dan penyakit (OPT) secara terpadu. Dengan kata lain. Sumatera Utara. lahan sawah tadah hu­ jan atau lahan kering.99 ton/ha secara nasional. 2010-2014. 2. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah peng­ gunaan benih varietas unggul yang bermutu. Dengan demikian. Lampung. waktu atau musim tanam yang s­esuai serta rotasi tanaman.0% per tahun dan 3. 2015-2019.5% per tahun dan berturu­t-turut menurun menjadi rata-rata 5.

319 333 2.14 2.80 6.19 2.45 688 1.35 1 2006 1.15 10 2015 1.99 13 2018 0.49 244 1.90 1.64 273 1.113 637 1.55 12.74 235 1. Pert No.951 11.01 250 1. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi terus menurun rata-rata 2.93 3.14 8 2013 1.50 7.79 1.93 Pertumb (%) 1.957 99.29 3 2008 1.00 -65.193 11.466 65.635 -112 3.27 268 1.74 263 1.235 1.585 75.332 112.58% per tahun pada 2010-2014 dan 2015-2019 serta rata-rata 4.206 107.768 10.12 2.367 757 9.30 5 2010 1.00 2.00 1. sedikit menurun menjadi 2.25 4.709 84.018 101.66 275 1.58 1.081 103.00 15 2020 0.598 10.593 11.86 10.35 252 1.71 1.05 247 1.526 6 2.75 1.90 16 2021 0.33 569 1. Tahun Pdd (%) 0 2005 1.23 Pertumb (%) 1.96 1.67 963 862 1.08 Pertumb (%) 1.752 -248 3.454 11.256 422 2.179 39.05 11 2016 1. Di sisi lain.50 -14.39 626 1.50 3.37 4.39% dan 2.02 12 2017 0.59 833 1.84 18 2023 0.91 279 1.407 60.000 9.646 81.78 20 2025 0.79 3.19 1.99 1.349 56.75 Pertumb (%) 0.035 757 1.124 35.02% per tahun pada periode 2020-2025.62 2.454 125 2.89 14.25 2.95 1.55% per tahun pada 2005-2009.53 3.76 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI masing 10.321 9.96 14 2019 0.98 1.75 2.75 277 1.737 11.894 95.50 51.42 258 1.39 7.63 2.17 7 2012 1.142 1.309 870 9. Tabel 7.37 2.09 241 1.028 1.604 10.525 70.692 -178 3.580 -51 3.235 44.88 2.02 1.01 2.832 91.93 1.770 87.143 105.876 -405 3.99 260 1.94 1.63 896 951 1.52 757 1.23 2.149 9.813 -324 3.769 11.87 17 2022 0.20 6 2011 1.269 109. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 1).69 270 1.32 2 2007 1.88 1.069 11.84 Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 226 1.19% dan 6. swasembada kedelai diperkirakan dapat dicapai pada tahun 2020 (Tabel 7).11 9 2014 1.11 2. Dengan skenario 1.27 3.948 10.15 0.321 11.66 3.00 -6.52 2.40 2.82 1.146 10.287 10.80 1.456 10.00% per tahun pada periode 2020-2025.21 4.291 50.98 35 .40 3.385 234 2.50 10.50 2.85 1.61 255 1.438 10.81 19 2024 0.15 2.92 232 1.196 500 2.97 1.25 2.50 5.67 265 1.21% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014 dan 2015-2019.95 1. total konsumsi diproyeksikan meningkat rata-rata 2.88 2.17 238 1.63 229 1.26 4 2009 1.

Pencapaian sasaran menurut skenario 2 Upaya peningkatan produksi menurut skenario 2.0%.5% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014. Wilayah sasaran perluasan areal adalah NTB. Sumatera Utara. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. lahan sawah ta­ dah hujan atau lahan kering.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 2. akan ditem­ puh melalui program peningkatan produktivitas yang sejalan dengan skenario 1 yaitu rata-rata 4. Yang berbeda dalam laju perluasan areal yang sangat agresif yaitu rata-rata 12. Lampung.0%. 1. 5. Untuk peningkatan IP terutama pada musim tanam kedua (MT-II) dan MT-III sangat diperlukan dukungan pengairan melalui pompanisasi dan ini tentu tidak mudah dan tidak pula murah.5%. Dengan asumsi laju konsumsi sama dengan skenario 1.5% per tahun untuk masing-masing periode yang sama. dan Sulawesi Selatan. dan 0. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih VUB yang bermutu. serta 2. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana. 2015-2019.5%. dan 2020-2025. perbaikan kesuburan tanah dengan pemu­ pukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). Jawa. maka upaya peningkatan produksi menurut skenario 2 akan mencapai swasem­ bada pada tahun 2015 atau lima tahun lebih cepat dari skenario 1 (Tabel 8).5%. Aceh. 10. 36 .5% per tahun pada periode 2005-2009. waktu/musim tanam yang se­suai dan rotasi tanaman. dan 1.

046 9.52 7 2012 1.124 35.048 -748 4.634 10.11 10 2015 1.988 -715 3. swasembada kedelai baru bisa dicapai pada t­ahun 2025.67 4 2009 1.30 4.04 2.618 -221 2.63 1 2006 1.992 10.01 3.959 -701 3.15 2.84 0.14 247 1.75 1.96 263 1.37 2.76 2.407 67.367 757 9.67 1.213 453 2.289 890 9.90 1.398 11.52 2.82 1.55 Pertumb (%) 1.709 103.50 5.770 107.27 3.97 1.26 235 1.80 3 2008 1.05 255 1.50 1.45 720 1.018 122.694 11.23 238 1.080 11.832 112.018 -731 4.32 229 1.85 1.00 0.585 90.072 10.40 3.27 15 2020 0.58 1.000 11.88 2.08 252 1.56 1.99 260 1.49 Pertumb (%) 1.957 122. Pencapaian sasaran menurut skenario 3 Diantara ketiga skenario dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri.269 122.95 1.29 232 1.807 10.00 -64.78 277 1.71 1.25 2.50 10.00 61.5% per tahu­n pada periode 2005-2009 dan periode 2010-2014.93 3.19 2.921 11.66 3.17 244 1.630 10.061 1.784 -504 3.81 275 1.63 1.699 -357 3.525 82.235 46.12 2.62 2.446 9. Waktu pencapai swasembada kedelai yang cukup lama ini s­ebagai konsekuensi peningkatan areal tanam baik lewat peningkata­n IP maupu­n pemanfaatan lahan tidur masing-masing 7.63 2.50 12.33 569 1.003 777 1.88 1.230 9.50 2.23 2.349 61.189 1.59 13 2018 0.64 5 2010 1.75 1.52 810 1.90 268 1.93 1.42 14 2019 0.53 3.94 1.189 10.21 4.466 74. Pert Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri No.873 -665 3.40 2.646 99.103 628 1.78 12. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 2).37 9 2014 1.902 -676 3.844 11.79 1.44 Pertumb (%) 0.84 17.88 2.93 265 1.50 2.06 8 2013 1.00 2.143 122.081 122.75 279 1.35 226 1.930 -688 3.894 117.15 2.20 241 1.01 2.768 11.99 12 2017 0.36 20 2025 0.75 2.541 -98 2.00 1.30 18 2023 0.11 250 1.83 2 2007 1.98 2.14 2.45 6.179 40.71 6 2011 1. Tahun Pdd (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod (%) jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 0 2005 1.334 249 2.31 19 2024 0.87 270 1.838 10.84 273 1.54 Pertumb (%) 1.468 12 2.50 -9.622 11. Kemudian laju 37 .39 10. skenario 3 tampaknya yang paling moderat.33 17 2022 0.291 53.55 14.25 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 8.02 258 1.01 1.59 911 903 1.96 1.39 640 1.206 122.61 11 2016 1.336 10.79 3.99 2. Menuru­t skenario 3.332 122.39 16 2021 0.

26 4 2009 1.00 244 1.11 9 2014 1.367 757 9.08 3.367 3.709 77.50 2.93 Pertumb (%) 1.40 273 1.770 80.50 -4.63 817 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai p­eningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5.634 1.894 87.23 Pertumb (%) 1.88 4.20 6 2011 1.04 4.68 3.291 46.05 3.66 277 1.87 17 2022 0.263 265 2.24 2.21 268 1.00 -19.71 944 808 1.143 95.88 1.93 0.832 83.957 91.50 3.206 97.00 2.392 225 2.34 2.525 11.463 10.269 99.55 2.52 707 1.958 10.73 2.00 2.01 2.17 2.58 136 2.95 1.53 3.280 955 9.63 10.203 369 2.82 1.898 11.582 -39.97 1.98 1.45 658 1.27 3.12 247 1.98 7. No.585 68.329 3.90 16 2021 0.205 9.218 1.50 7.223 10.687 1.85 1.31 9.50 5.235 42.15 10 2015 1.121 11.612 10.61 2.83 1.179 39.329 850 9.015 688 1.59 760 1.328 10.35 1 2006 1.360 11.86 2.25 250 1.145 462 2.525 63. Tabel 9.079 2.29 3 2008 1.36 12.88 263 1.32 2 2007 1.692 11.073 9.00 15 2020 0.63 235 1.34 1.08 3.76 238 1.27 270 1.332 100.62 258 1.37 252 1.52 232 1.533 -28 3.370 10.90 1.003 1.84 18 2023 0. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 3).39 612 1.01 265 1.08 3.25% m­asing-masing untuk periode 2015-2029 dan 2020-2025 (Tabel 9).793 11.53 275 1.17 7 2012 1.326 -19.24 6.0% dan 3.007 11.484 31 2.84 226 1.466 59.67 878 913 1.19 547 2.99 1.79 1.02 12 2017 0.78 20 2025 0.77 1.30 5 2010 1.33 569 1.018 92.96 14 2019 0.091 1.218 2.40 229 1.05 11 2016 1.081 94.63 2.79 279 1.063 1.50 7.777 10.73 38 .33 3.26 2.75 260 1.238 11.93 1.438 85 2. Tahun Pert Pdd (%) Pddk Provitas Area Impor (jt (t/ha) (rb ha) (rb jiwa) ton) Prod (rb ton) Konsumsi (kg/ (rb kap) ton) Kontri Prod (%) 0 2005 1.68 2.124 35.08 Pertumb (%) 1.14 1.81 19 2024 0.99 13 2018 0.349 51.94 1.25 -39.086 10.83 2.27 2.407 55.55 241 1.50 -10.75 Pertumb (%) 0.646 73.96 1.75 1.73 2.39 255 1.14 8 2013 1.144 1.

Perluasan Areal Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usahatani kedelai. E. Jawa.0 2. Nilai LQ diklasifikasikan sebagai berikut: 3. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu.0 > LQ > 0 nilai tinggi nilai sedang nilai rendah 39 .0 > LQ > 2.0 > LQ > 1. Penjabaran arti dari LQ adalah: LQ = Eir / Ein di mana Eir adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi propinsi (r). waktu/musim tanam yang sesuai dan rotasi tanaman. perbaikan kesuburan lahan dengan pemupukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). Ein adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi nasional (n). Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih unggul yang bermutu. Wilayah s­asaran perluasan areal adalah Nusa Tenggara Barat. Lampun­g. dan Sulawesi Selatan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2025 dengan c­atatan bahwa konsumsi per kapita maupun total konsumsi sama dengan skenario 1 dan skenario 2. Perluasan areal tanam dilakuka­n melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigas­i sederhana. Aceh. Sumatera Utara. lahan sawah tadah hujan atau lahan kering.0 1.

Jabar. Sedangkan wilayah sasaran di Jawa dan Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan perlu mempertimbangkan lahan dengan LQ tinggi sampai sedang.0 > LQ > 0.0 > LQ > 2. Lampung. Sumbar. + Prioritas rendah +++ ++ + +++ + +++ + Peningkatan Produktivitas (PP) Perluasan Areal Tanam (PAT) Wilayah sasaran intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai utama (LQ) tinggi diikuti propinsi penghasil kedelai (LQ se­ dang).0 > LQ >1. 40 .5 Bali. Tabel 11 menunjukkan bahwa potensi lahan yang sesuai un­ tuk tanaman kedelai. Jateng.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 10. Nilai LQ dan Propinsi 3. Sulut. baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal. Sumsel. Sulsel 1. Sultra. Bengkulu. Skala prioritas pengembangan kedelai berdasarkan nilai LQ disajikan pada Tabel 10. Yoyakarta 2. + Papua +++ Prioritas utama.5 > LQ > 0. ++ Prioritas sedang. Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendala antara lain nilai komparatif dan kom­ petitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya.0 NTB.0 Aceh. Prioritas program peningkatan produksi dan perluasan a­real kedelai berdasarkan nilai LQ propinsi. Kalsel. Sumut 0. Jatim.1 Jambi.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

Tabel 11.

Daerah sasaran peningkatan produktivitas di propinsi penghasil kedelai utama dan propinsi penghasil kedelai sedang. Propinsi Kabupaten Gunung Kidul Bantul, Wonosari, Slemen Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Sumbawa, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan. Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi Purworejo, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Demak, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Kudus, Jepara, Pati, Blora Bone, Enrekang, Gowa, Majene, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polewali, Selayar, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo

Nilai LQ

1 Penghasil 1 Yogyakarta kedelai utama (40.050 ha) (LQ Tinggi) 2 Jawa Timur (279.500 ha) 3 NTB (139.520 ha) 2 Penghasil 1 Aceh kedelai Sedang (181.390 ha) (LQ Sedang) 2 Lampung (164.500 ha) 3 Jawa Barat (327. 500 ha) 4 Jawa Tengah (379.500 ha) 5 Sulawesi Selatan (322.100 ha)

41

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

F. Peningkatan Produktivitas Upaya peningkatan produktivitas (PP) dibedakan atas tingkat produktivitas yang telah ada selama ini. Berdasarkan metoda perhi­ tungan LQ, maka lahan dengan 3,0>LQ>2,0 (LQ tinggi) merupakan lahan yang sesuai untuk peningkatan produktivitas yang tersebar di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Bagi daerahdaera­h yang telah memiliki produktivitas tinggi diarahkan untuk d­imantapkan, dan bagi daerah-daerah yang tingkat produktivitasnya masih rendah dilakukan upaya akselerasi melalui penggunaan b­enih va­rietas unggul, pupuk berimbang, penerapan teknologi spesifik lokasi, pengelolaan usahatani terpadu lahan kering. Perluasan areal tanam (PAT) diarahkan ke daerah di luar Jawa yang memiliki potensi cukup luas melalui penambahan baku lahan, mengoptimalkan lahan kering, rehabilitasi dan konservasi lahan, ser­ ta pengembangan lahan rawa/lebak/pasang surut. Perluasan areal disesuaikan dengan kecocokan lahan dengan 2,0>LQ>1,0 di Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Untuk mendukung tercapainya sasaran-sasaran tersebut, perlu dukungan aspek hulu antara lain penyediaan lahan, perbaikan pengairan, sarana produksi, alsintan, permodalan, sarana transportasi/jalan usahatani.

42

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

VI. STRATEGI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM
A. Strategi Pemecahan Masalah Perumusan strategi, kebijakan, dan program pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia disusun dengan menggunakan analisis SWOT. Penyusunan strategi dikelompokkan menjadi 6 bagian berdasar­ kan bidang masalah yang dihadapi yaitu: (1) litbang, (2) perbenihan, (3) produksi, (4) panen dan pascapanen, (5) distribusi dan pemasaran, sert­a (6) kelembagaan. Dari masing-masing isu tersebut kemudian dirangking atas dasar indikator prioritas yaitu urgent, seriousness, dan growth. Dari masing-masing isu kemudian ditentukan tiga masalah prioritas. Masalah tersebut kemudian di analisis dengan SWOT yang terdiri atas faktor internal (strength, weakness) dan faktor ekternal (o­pportunity, threat). Dari hasil analisis ditentukan prioritas masing-masing isu untuk kekeuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berdasarkan masing-masin­g m­asalah disusun strategi agresif, diversifikatif, konsolidatif, dan defensif. 1. Penelitian dan pengembangan Berdasarkan identifikasi dan seleksi faktor internal dan ekster­ nal, maka faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dominan dari aspek penelitian dan pengembangan (litbang) adalah sebagai berikut. Strategi Agresif (SO). Strategi ini memanfaatkan kekuatan e­ksternal dan peluang eksternal yang ada antara lain: • pemanfaatan secara optimal sumber daya genetik dan peneliti yang berkualitas dalam merakit varietas unggul, guna memenuhi teknologi yang meningkat, • pemanfaatan dukungan pemerintah untuk revitalisasi penyuluh­an guna meningkatkan proses alih teknologi, dan • pemanfaatan peneliti yang berkualitas untuk menjalin kerja sama penelitian (KSP) dalam perakitan teknologi.
43

dan ancaman. 44 . antara lain: • fokus penelitian pada isu-isu yang paling mendesak. Strategi sistem produksi benih Secara lebih rinci. Strategi Konsolidatif (ST). • pemanfaatan perhatian pemerintah untuk memperbaiki sistem diseminasi teknologi. Strategi untuk mengatasi kelemahan i­nternal dan sekaligus mengurangi ancaman eksternal. Alternatif strategi yang termasuk kelompok diversifikatif adalah: • optimalisasi program diseminasi guna memenuhi kebutuhan t­eknologi yang meningkat. kelemahan. dan • perbaikan rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan. Strategi ini dimaksudkan untuk me­ manfaatkan peluang eksternal dengan memperbaiki kelemahan inter­ nal. strategi diversifikatif (ST). formulasi strategi dalam pengembangan sistem produksi benih kedelai berdasarkan kekuatan. peluang. dan untuk mendukung konsistensi program • prioritasi penelitian sesuai dengan keterbatasan tenaga peneliti. dan • kaderisasi peneliti berkualitas melalui perbaikan rekruitmen yang sesuai dengan kebutuhan. Alternatif strategi sistem perbenihan juga dikelompokkan atas dasar kombinasi antara faktor internal dan e­ksternal yang terdiri atas strategi agresif (SO). 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Strategi Diversifikatif (WO). Strategi Defensif (WT). meliputi: • pemberdayaan peneliti melalui perbaikan sistem reward bagi peneliti berprestasi. strategi konsolidatif (WO). • pemanfaatan KSP p­enelitian. dan strategi defensif (ST). Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal sekaligus mengurangi ancaman eksternal yang ada.

Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal yang cukup besar dalam pengem­ bangan sistem produksi benih kedelai mendukung peningkatan produksi nasional. Strategi ini b­ersifat konsolidasi internal untuk menghadapi tantangan dari luar. abiotik maupun sosial-ekonomi dalam pengembangan sistem perbenihan kedelai. dan • pemanfaatan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. • penyederhanaan sistem sertifikasi. • pembatasan impor melalui tarif. Memanfaatkan peluang eksternal secara optimal antara lain: (1) pemanfaatan teknologi untuk menekan biaya produksi benih u­nggul dan (2) pemanfaatan UPBS. Strategi Defensif (WT). • pemanfaatan varietas unggul yang tersedia dalam perakitan VUB ber­ daya hasil tinggi didukung oleh teknologi benih yang maju. Strategi Diversifikatif (WO) . dan BBU dalam penyediaan b­enih bermutu. dan BBU untuk meningkatkan mutu benih guna meningkatkan kepercayaan petani. Strategi ini dimaksudkan untuk m­engurangi kelemahan internal dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengurangi ancaman eksternal baik yang bersifat biotik. 45 . Strategi ini meliputi: • peningkatan peran penyuluh untuk menanggulangi OPT dan anomal­i iklim. BBI. dan • pemanfaatan subsidi untuk pengembangan industri benih.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Agresif (SO). antara lain: • peningkatan peran UPBS. antara lain: • perbaikan sistem alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. BBI. Alternatif strategi untuk meman­ faatkan peluang eksternal secara optimal untuk mengurangi anca­ man eksternal dalam pengembangan perbenihan kedelai nasional.

dan • revitalisasi penyuluhan untuk mendiseminasikan budidaya kedelai sebagai tanaman sela. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dengan mengurangi atau menekan ancaman serendah mungkin baik yang bersifat sosialekonomi. 46 . • pemanfaatan lahan yang masih luas untuk perluasan areal tanam kedelai. Strategi sistem produksi Strategi pengembangan sistem produksi ( on-farm ) kedelai d­iformulasikan dengan memperhatikan keterkaitan antara faktor i­nternal dan eksternal.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. guna memenuhi permintaan yang terus meningkat. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaata­n peluang eksternal. Strategi Agresif (SO). Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi maju dalam peningkatan produksi untuk menekan laju impor. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi produksi biaya rendah dengan sarana produks­i terbatas. Strategi Diversifikatif (WO). dan • perakitan varietas unggul hasil tinggi toleran terhadap cekaman lingkungan seperti OPT dan Iklim. maupun abiotik. baik sebagai tanaman utama maupun tanaman sela. dan • pemanfaatan VUB untuk penyediaan kedelai berprotein tinggi. • penyediaan kredit lunak yang mudah diakses petani. biotik. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk memanfaatkan peluang ekternal yang ada agar kinerja produksi makin membaik. Strategi ini meliputi antara lain: • pemanfaatan VUB dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi.

dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai d­engan keterbatasan modal. • pemanfaatan teknologi pengolahan untuk menghasilkan ber­bagai produk guna mendukung perkembangan agroindustri. konsolidatif. juga dilakukan terhadap formulasi strategi pada aspek ini yaitu agresif. Strategi diversifikatif antara lain: 47 . Penerapan teknologi pasca­ pa­nen tidak hanya menekan kehilangan hasil secara kuantitas juga meningkatkan mutu hasil. diversifikatif. P­enanganan hasil panen dan pascapanen dalam pengem­ bangan kedelai sangat menentukan. Strategi ini dimaksudkan u­ntuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal u­ntuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada agar nilai tambah produks­i kedelai dapat dinikmati oleh petani produsen maupun p­engolah.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Defensif (WT). 4. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaa­ tan peluang eksternal. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu hasil. Strategi ini dimaksudkan untuk mening­ katkan kinerja produksi di mana secara internal banyak kelemahan dan secara eksternal juga cukup banyak ancaman sehingga strategi ini harus diformulasikan secara hati-hati. Formulasi strategi ber­ dasarkan keterkaitan antara masing-masing faktor internal dan eksternal. Strategi Agresif (SO). selain manajemen peme­liharaan tanama­n pada saat kegiatan usahatani. dan • pemanfaatan alsitan untuk pengolahan hasil panen. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. dan defensif. Strategi penanganan panen dan pascapanen Formulasi strategi pengembangan kedelai ditinjau dari aspek pen­ anganan panen dan pascapanen didasarkan atas pengelompokan yang sama. Strategi Diversifikatif (WO).

Strategi ini antara lain: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dalam peningkatan nilai tambah hasil dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. Strategi ini meliputi: 48 . dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai de­ngan keterbatasan modal. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu produk dan meningkatkan harga jual dan • penggunaan alsintan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dalam pengolahan Strategi Defensif (WT). Strategi ini tampaknya harus diformu­ lasikan secara hati-hati. diversifikatif. dan defensif. Strategi Agresif (SO). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal dan optimalisasi pemanfaatan peluang e­ksternal. konsolidatif. yaitu agresif. dan • penyediaan kredit lunak untuk pengadaan alsintan m­eningkatkan produk olahan berbahan baku kedelai.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatka­n hasil panen bermutu. guna Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan dan eksternal yang juga cukup banyak ancaman. 5. Strategi distribusi dan pemasaran Hasil analisis keterkaitan antar faktor-faktor internal seperti kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam aspek distribusi dan pemasaran kedelai dan produk olahannya dikelompokkan ke dalam empat strategi.

Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk me­ manfaatkan peluang pasar eksternal yang ada agar kelancaran arus kedelai dari petani produsen maupun pengolah sampai ke pasar baik di desa maupun di kota terjamin. dan • peningkatan intensifikasi di sentra produksi guna menekan laju impor. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi Konsolidatif (ST).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • pemanfaatan infrastruktur guna mendukung pengembangan i­ndustri pengolahan. • pemanfaatan transportasi yang lancar untuk menekan biaya trans­ portasi. pengolahan untuk • perbaikan sistem informasi pasar melalui penerapan teknologi i­nformasi. Penerapan teknologi informasi akan memperlancar arus data dan informasi dari pasar ke produsen dan ke pengolah begitu pula sebaliknya. • pemanfaatan jaringan transportasi guna mendukung p­engem­ bangan industri pengolahan. dan • intensifikasi di daerah sentra produksi untuk memenuhi p­ermintaan kedelai yang meningkat. Strategi ini diharapkan mampu mening­katkan nilai tambah distribusi dan pemasaran di tingkat petan­i produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan pada tingkat petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang juga tidak 49 . dan • penerapan tarif terhadap kedelai impor secara proporsional. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan infrastruktur guna mempersingkat rantai pemasaran. Strategi diversifikatif terdiri atas: • kerja sama petani dengan pengusaha m­eningkatkan daya tawar petani. Strategi Defensif (WT) .

formulasi strategi dalam aspek kelembagaan juga dikelompokkan ke dalam empat magnitude sesuai dengan analisis SWOT yaitu agresif. dan • penerapan tarif impor untuk menekan volume impor dan m­eningkatkan daya tawar petani. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal me­ manfaatkan peluang eksternal yang ada agar seluruh kelembagaan baik di tingkat petani produsen maupun prosesing di pedesaan. dan • pemberdayaan kelompok tani guna mendukung program alih t­eknologi. Seperti halnya pada aspek-aspek lainnya. Strategi agresif dari aspek kelembagaan. konsolidatif. Strategi ini harus diformulasikan secara tepat dan hati-hati. pe­ nyuluhan. Strategi Agresif (SO). antara lain: • pemanfaatan lembaga perkreditan untuk mendorong swasta dalam industri pengolahan. penyuluhan maupun permodalan serta optimalisasi pemanfaatan pe­ luang eksternal. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang ada pada tingkat organisasi petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai kalah banyaknya. dan permodalan pada tingkat pedesaan tampaknya akan merupakan katalisator dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri. • sinkronisasi kelembagaan alih teknologi dengan program revita­ lisasi penyuluhan. Kelembagaan petani produsen yang ditangani secara profesional akan mampu meningkatkan posisi tawar petani dalam pasar produk 50 . penyuluhan. diversi­ fikatif. dan defensif. Strategi Diversifikatif (WO) . Strategi ini meliputi: • pemanfaatan informasi pasar yang ada guna memperpendek r­antai pemasaran. dan industri pengolahan. 6. Strategi penguatan kelembagaan Percepatan penerapan revitalisasi kelembagaan petani.

• penegasan komitmen pimpinan kelembagaan dalam pelaksanaan peraturan. Strategi ini antara lain: • percepatan penerapan revitalisasi penyuluhan dan lembaga p­ermodalan. Strategi ini diharapkan mampu melakukan konsolidasi manajemen usaha agribisnis kedelai untuk nilai tambah pada tingkat petani produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat manajemen maupun sosialekonomi. dan • kerja sama petani dengan swasta guna meningkatkan ketersediaa­n modal bagi petani.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI kedelai yang secara alami bersifat kompetitif. Strategi Konsolidatif (ST). Penerapan teknologi informasi dan manajemen usaha yang efisien akan memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen dan sebaliknya. dan • sinkronisasi peraturan dan kelembagaan antara pusat dengan daerah. dan 51 . Strategi ini meliputi: • perbaikan kinerja lembaga permodalan dan alih teknologi untuk meningkatkan kepercayaan petani terhadap kelembagaan yang ada. Strategi Defensif (WT). guna meningkatkan fungsi kelembagaan. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal institusi yang masih banyak kelemahan pada tingka­t petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang merugikan petani. Strategi defensif yang terkait dengan masalah dis­ tribusi dan pemasaran harus diformulasikan secara tepat dan hatihati. • revitalisasi kelompok tani guna meningkatkan kepercayaan petan­i. serta peningkatan peran dan fungsi kelompok. Strategi diversifikatif terdiri atas: • pemanfaatan program alih teknologi dan penyuluhan untuk p­erbaikan sistem penyuluhan.

Kebijakan yang ter­ tapis adalah: (1) penajaman prioritas penelitian sesuai dengan SDM yang tersedia. Jika pendanaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). baik nasional maupun internasional.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan akses petani terhadap sumber modal melalui p­erbaikan komitmen pimpinan kelembagaan. yaitu: (1) pemantapan lembaga penyuluhan dan keterkaitannya dengan lembaga penelitian. Kedua strategi ini berpijak dari keterbatasan tenaga peneliti dan inkon­ sistensi program penelitian. Implementasi dari kerja sama penelitian (KSP) dapat dilakukan dalam bentuk konsorsium. Dalam mempercepat revitalisasi penyuluhan. Dengan demikian. Dua program operasional yang dirumuskan sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut adalah: (1) penelitian ung­ gulan sesuai kebutuhan stakeholders. dalam rangka konsistensi program penelitian. dan (2) penerimaan tenaga penyuluh disertai dengan penye­ diaan fasilitas pendukungnya. Kebijakan dan program penelitian dan pengembangan Kebijakan dan Program Agresif (SO). B. dan (2) fasilitasi KSP antara peneliti litbang dengan lembaga penelitian lain. baik nasional maupun interna­ sional. dan (2) pemantapan program penelitian untuk menjalin KSP dengan pihak luar. dan (2) melakukan KSP jangka menengah dan panjang dengan lembaga penelitian lain. Satu kebijakan tertapis dan yang paling dominan yaitu penyediaan insentif bagi peneliti ber­ prestasi melalui penerapan HaKI dan tunjangan peneliti yang m­emadai. kebija­ kan pengembangan yang tertapis dua strategi. yaitu: (1) percepatan im­ plementasi revitalisasi penyuluhan. namun tetap berupaya memanfaatkan pe­ luang KSP dengan pihak luar. 52 . Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). Dari aspek litbang. kebijakan terse­ but harus ditindaklanjuti dalam bentuk program operasional. Prioritas Kebijakan dan Program Pengembangan 1. maka KSP dapat dilakukan dengan sistem cost sharing. sebagian keterbatasan dana peneli­ tian dari Badan Litbang Pertanian dapat diatasi melalui kerja sama ini. baik nasional maupun internasional.

diharapkan subsidi benih dari pemerintah d­apat dimanfaatkan secara tepat sasaran. dan (2) peningkatan peran UPBS. BBI. dan UPBS. Sedangkan kebijakan pengembangan yang berkaitan dengan strategi SO tersebut adalah: (1) implementasi disertai pengawasan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. maka program yang harus dilaksanakan adalah perbaikan sistem tunjangan fungsional peneliti dan penerapan HaKI secara konsekwen. BBI.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut. dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. dan BBU. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) program benih tepat sasaran. D­engan demikian. dan (2) penyediaan fasilitas dan pengangkatan tenaga yang dibutuhkan UPBS. 53 . dan (2) meningkatkan peran UPBS. dan BBU dapat ber­ peran lebih baik dalam penyediaan benih unggul bermutu. Dengan demi­ kian kesinambungan antara peneliti senior dengan peneliti yunior akan berjalan dengan baik. 2. BBI dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. Sedangkan program yang mendesak untuk diimplementasikan adalah pene­ rimaan pegawai sesuai kebutuhan lembaga penelitian. Kebijakan dan Program Defensif (WT). maka strategi kebijakan dan pro­ gram yang relevan dalam pengembangan kedelai tertapis lima kebi­ jakan dan program yang terkait dengan sistem perbenihan kedelai. BBI. Formulasi kebijakan tertapis tersebu­t bertujuan untuk: (1) memanfaatkan subsidi benih dari pemerintah se­ cara optimal. dan (2) peningkatan kemampuan UPBS. Kebijakan yang dibu­ tuhkan untuk perbaikan kinerja tenaga peneliti adalah rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan lembaga penelitian. dan BBU yang ada. Dari aspek perbenihan. Kebijakan dan pro­ gram ini diharapkan dapat mendorong kreativitas peneliti dalam meng­ hasilkan teknologi dan rumusan kebijakan baru yang prospektif. Kebijakan dan program sistem perbenihan Dari hasil analisis tapisan. BBI. Kebijakan dan Program Agresif (SO). strategi yang bersifat agresif (SO) adalah: (1) pemanfaatan subsidi b­enih untuk penyediaan varietas unggul.

Program ini bisa dihidupkan lagi dengan memperbaiki sistem perbenihan mulai dari benih inti dan benih sumber pada Balit Nasional. Pada strategi WO. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Contoh bentuk teknologi tersebut antara lain adalah budi daya benih kedelai tanpa olah tanah (zero tillage­ ). kebijakan yang dibutuhkan adalah fasilitasi pelatiha­n penangkar benih di tiap daerah. tenaga kerja. Sementara itu. Kondisi ini kurang kondusif bagi i­ndustri benih kedelai di Indonesia. penggunaan bahan organik (pupuk kandang atau mulsa jerami­).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). kebijakan yang tertapis dan dominan adalah perbaikan dan penye­ derhanaan peraturan sertifikasi. Kebijakan ini untuk menanggulangi keterbatasan dan mahalnya sarana produksi dalam upaya pengembangan teknologi hemat biaya ( least cost technology ) untuk produksi benih unggul. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Sedangkan program yang r­elevan untuk merealisasikan kebijakan tersebut adalah pelatihan p­enangkar benih di tiap daerah. umur sertifikat benih kedelai hanya tiga bulan sejak mulai pengujian. Kebijakan dan pro­ gram ini ditujukan untuk mengatasi masalah birokrasi yang panjang pada sistem sertifikasi saat ini yang memakan waktu paling cepat satu b­ulan. yaitu hanya dua bulan. sehingga masa penjualan benih relati­f singka­t. 54 . Program yang terkait dengan kebijakan ini adalah pengembangan teknologi produksi benih hemat lahan. Dalam rangka pembinaan penangkar benih lokal. dan input kimiawi. benih dasar dan benih pokok pada tingkat BBI-BBU dan benih sebar pada tingkat penangkar. Program pendukungnya adalah p­enerapan sertifikasi singkat dan tepat sasaran. Kunci keberhasilan yang pernah dicapai Indonesi­a pada awal tahun 1990an adalah adanya program jalur benih antara musim dan lapang (Jabalsim). air. dan insektisida hayati. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan penangkar benih dalam memproduks­i benih kedelai bermutu.

dan input kimiawi. Kebijakan dan program sistem produksi Kebijakan dan Program Agresif (SO). Kegiatan lain yang juga perlu mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan produksi. air. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kedelai di tingkat petani. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Alternatif kebijakan yang diformulasikan adalah intensifikasi kedelai untuk meningkatkan produktivitas. Sedangkan program dibutuhkan untuk mendukung k­ebijakan tersebut adalah pelatihan penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT serta anomali iklim. Sedangka­n p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan ini adalah: (1) penyediaan kredit dan pendampingan untuk penerapan teknologi PTT. dan (2) penanaman kedelai pada musim kering di lahan tidur. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). 55 . Sedangkan program pendukung yang r­elevan adalah budidaya kedelai hemat lahan. Kebijakan yang terkait adalah: (1) pengembangan teknologi PTT. (2) meningkatkan stabilitas hasil melalui peringatan dini terhadap ledakan hama dan penyakit maupun anomali iklim. tenaga kerja. dan (2) perluasan areal tana­m untuk meningkatkan luas panen dan produksi kedelai. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . dan (4) pemanfaatan potensi genetik tanaman melalui kemajuan iptek pertanian. Alternatif kebijakan yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampila­n tenaga penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT dan anomali iklim. (3) mengurangi kehilangan hasil. antara lain: (1) menekan senjang hasil antara tingkat penelitian atau pengkajian dengan tingkat petani. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan peningkatan produktivitas adalah penggunaan varietas u­nggul dan pemupukan berimbang yang dikemas dalam pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT). Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah introduksi teknologi biaya rendah u­ntuk menekan biaya produksi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3.

Sedangkan p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan yang bersifat konsolidatif adalah pelatihan pengolahan kedelai menjadi produk olahan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) optimalisasi pe­ nyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolah kedelai. dan (2) optimalisasi penyaluran kredit lunak untuk alsintan. Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pe­ ngadaan alat pengolahan. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen. Kebijakan dan program distribusi dan pemasaran Kebijakan dan Program Agresif (SO). Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . dan (2) revitalisasi fungsi dan peran penyuluh dalam alih teknologi panen dan pascapanen. Sedangkan program yang relevan untuk mendukun­g kebijakan tersebut adalah: (1) demonstrasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsin­ tan praproduksi dan produksi. Kebijakan dan program panen dan pascapanen Kebijakan dan Program Agresif (SO) . Kebijakan dan Program Defensif (WT). Kebijakan yang diperlukan adalah: (1) perbaikan jaringan transportasi untuk memperlancar arus barang. Kebijakan yang terkait untuk menekan kehilangan hasil adalah pengembangan i­ndustri r­umah tangga untuk pengolahan kedelai. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pelatihan pengolahan hasil bagi petani untuk menekan kehilangan hasil panen. 5. dan (2) peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur guna 56 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 4. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Alternatif kebijakan yang terkait adalah penigkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan hasil panen. dan (2) pelatihan penyuluh dalam teknologi panen dan pascapanen. Alternatif kebijakan yang diperlukan untuk merealisasikan strategi ini adalah: (1) promosi t­eknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai.

Kebijakan dan Program Defensif (WT ). Alternatif kebijakan yang sesuai adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolahan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebi­ jakan tersebut adalah peningkatan kualitas SDM dan fasilitas dalam pelaksanaan pengawasan tarif impor. Kebijakan dan program ini di­ butuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meng­ konsolidasikan manajemen distribusi dan pemasaran yang secara internal masih banyak kelemahan dan ancaman dari faktor eksternal pun masih cukup banyak. dan (2) pelatihan penyuluh dalam bidang teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI mendukung pengembangan industri pedesaan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengadaan dan per­ baikan sarana angkutan darat. laut dan udara. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk men­ dukung implementasi kebijakan tersebut di atas adalah pengadaan dan perbaikan sarana angkutan darat. Alternatif kebijakan yang terkait adalah perbaikan jaringan transportasi untuk menekan biaya transportasi. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) demon­ strasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. 6. laut dan udara. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Alternatif kebijakan yang terkait adalah peningkatan pelaksanaan dan pengawasan tarif impor. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsintan praproduksi dan produksi. Kebijakan dan program kelembagaan Kebijakan dan Program Agresif (SO). Alternatif kebijakan yang diperlukan adalah: (1) pengembangan teknologi siap terap sebagai b­ahan penyuluhan. Sedangkan 57 . dan (2) peningkatan kemampuan dan keterampila­n petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. dan (2) pembangunan dan perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran pemasa­ ran hasil industri pangan.

Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut adalah pengembangan lembaga keuangan mikro ( micro finance ) guna mendukung alih teknologi. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai progra­m yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) penyebarluasan teknologi siap terap dan alat peraga bagi penyuluh. dan (2) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. dan (2) pelatihan petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. Alternatif kebijakan yang terkait adalah percepatan revitalisasi kelompok tani guna m­eningkatkan kepercayaan petani. 58 . Kebijakan dan Program Defensif (WT) . dan (2) demplot inovasi teknologi baru dengan melibatkan peneliti-penyuluh-kelompok tani. Alternatif kebijakan yang terkait adalah revitalisasi kelembagaan permodalan dan alih teknologi. Sedangkan program yang dibu­ tuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pemberdayaan kelompo­k tani melalui konsolidasi manajemen kelompok dan p­enguatan modal kelompok. Alternatif kebija­ kan yang sesuai adalah: (1) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengembangan pola kemitraan dalam penyediaan sara­ na produksi dan pemasaran hasil.

Varietas unggul baru (VUB) kedelai yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian.6 juta ton. Usahatani kedelai dihadapkan kepada resiko yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lain sehingga kurang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat on farm. Ancaman lain terhadap upaya peningkatan produksi kedelai adalah harga kedelai im­ por yang lebih murah dan mudah diperoleh. Berkurangnya luas areal tanam adalah penyebab utama menurunnya produksi sekalipun produktivitas dapat ditingkatkan. Kondisi ini makin mendorong menurunnya produksi kedelai domestik pasca 1992. PETA JALAN MENUJU PENCAPAIAN SASARAN PENGEMBANGAN A.5 ton biji kering/ha. Rendahnya produktivitas di tingkat petani antara lain disebabkan oleh penggunaan varietas lokal setempat dengan hasil rendah dan penggunaan benih produksi sendiri oleh petani. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Menengah Kedelai merupakan salah satu komoditas industri baik industri pangan maupun pakan. Namun peningkatan produktivitaspun sangat lambat dan sulit karena belum ditemukannya varietas unggul baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata. menunjukkan potensi hasil yang berkisar antara 2. Oleh karenanya. dukungan kebijakan dan program pengembangan yang kondusif yang mampu memberikan insentif bagi petani kedelai untuk meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan. belum tersedianya benih bermutu secara luas dan belum diadopsinya teknologi spesifik lokasi secara luas turut berpe­ran menyulitkan upaya peningkatan produktivitas kedelai. Untuk memanfaatkan peluang tersebut diperlukan strategi. peta jalan menuju pencapaian sasaran jangka menengah peningkat­an produksi kedelai diawali dengan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemu­ kan inovasi teknologi baru pada m­asing-m­asing agroekosistem. Produksi kedelai nasional cenderung menurun sejak tercapainya produksi tertinggi pada tahun 1992 yang mencapai sekitar 1. Peluang peningkatan produksi kedelai menuju swasembada masih cukup besar terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan area panen.02.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI VII. Di sisi lain. Secara simultan program litbang diikuti dengan diseminasi dan promosi inovasi 59 .

untuk menekan risiko dalam usahatani dan memper­ luas sumber pendapatan petani. Pada lahan kering. Secara simultan dilakukan perakitan teknologi produksi dengan pendeka­ tan PTT. (2) diseminasi inovasi tekno­ logi. diikuti dengan pembentukan jaringan pasar (Gambar 4). Di sisi lain. Peta jalan menuju penca­ paian sasaran jangka menengah menggambarkan lima program utama yaitu: (1) penelitian dan pengembangan. jagung dan aneka k­acang lainnya. Sisa tanaman pada saat panen dapat dijadikan pakan ternak terutama pada musim kemarau. (3) program aksi atau scaling up. Kedelai juga sangat potensial diusahakan dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL). s­edangkan 60 . Sedangkan perakitan VUB baru kedelai masih diprioritaskan un­ tuk mencapai target hasil per hektar mendekati potensi genetiknya. padi gogo. maka kedelai perlu diusahakan terinte­ grasi dengan komoditas lain termasuk ternak dalam suatu pola usahatani terpadu. VUB kedelai tipe baru akan menjadi salah satu program unggulan ke depan. Perakitan va­ rietas kedelai yang lebih toleran terhadap lahan kering masam dan lahan kering beriklim kering tetap menjadi prioritas untuk membantu petani agar memiliki pilihan varietas yang lebih luas dalam melakukan usahataninya.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai teknologi baru baik VUB maupun PTT kedelai di lahan kering maupun la­ han sawah. Program litbang diawali dengan pembentukan database dan deli­ neasi lahan-lahan potensial yang sesuai untuk pengembangan kedelai. Peta jalan pengembangan kedelai perlu dibuat secara cermat agar tahapan pengembangan dan langkah-langkah operasional tetap berada pada upaya pencapaian swasembada kedelai. Perakitan VUB juga dirancang atas dasar kesesuaian terhadap preferen­ si dan selera pengguna serta permintaan pasar (demand driven). Pada hirarki ke-4 dan ke-5 masing-masing adalah calon penerima manfaat dan dampak yang diharapkan. Untuk lebih memacu upaya peningkatan produktivitas. VUB yang akan dihasilkan juga dirakit dengan pertimbangan setelah dilepas varietas tersebut mampu menciptakan pasar (demand driving). kedelai dapat diusahakan terintegrasi de­ngan tanaman lain seperti ubi kayu. dan (5) pembentukan jaringan pasar. (4) program masalisasi (produksi nasional). Selanjutnya. Peng­ kayaan materi genetik dan plasma nutfah sangat penting untuk perbaikan varietas unggul baru untuk masing-masing agroekosistem.

diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mela­ kukan agribisnis kedelai. Kinerja manajemen usaha pengolahan kedelai harus terus ditingkatkan sehingga bisnis komoditas ini dapat bersaing dengan bisnis komoditas lainnya sehingga kedelai mampu merebut kembali keunggulan kompetitifnya di tingkat on farm. korporasi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI pupuk kandang dan kompos sisa tanaman dapat dijadikan p­upuk organik untuk memperkaya kandungan bahan organik dalam tanah. Penerbitan dan penyebarluasan brosur. pemasyarakatan inovasi teknologi kedelai juga dapat dilakukan melalui mass-media baik c­etak maupun elektronik. masalisasi atau program nasional dan diversifikasi pengembangan produk olahan di tingkat pedesaan. dan demontrasi di lahan petani ( dem-farm). nilai tambah dari penanganan hasil ini dapat langsung diminati oleh petani sekaligus me­ ningkatkan posisi tawar petani. Dari aspek diseminasi dan promosi. Program ini dapat dilakukan dengan penyuluhan langsung pada petan­i. Na­ mun pada jangka menengah petani didorong untuk mampu menciptakan nilai tambah baik secara individu maupun berkelompok. Di sisi lain penganekaragaman produk olahan berbahan baku kedelai perlu diperluas dengan memperkuat jaringan pasar produk kedelai. 61 . Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses kelompok usaha agribisnis kedelai terhadap sumber modal. Pemasaran kedelai di tingkat petani umumnya adalah dalam bentuk biji kering. Demon­ strasi teknologi di lahan petani dapat meliputi antara lain: teknologi budidaya dan teknologi penanganan hasil panen dan pascapanen termasuk pengolahan hasil sekunder. Pada hirarki berikutnya. Selain dengan memperagakan secara langsung di lahan petani. Dengan demikian. ekspose. pameran. leaflet dan bookle­t dengan bahasa yang mudah mengerti oleh petani. atau asosiasi yang berbadan hukum. misalnya dalam bentuk korporasi pengolahan kedelai. Usaha berkelompok dapat dilakukan oleh petani dalam bentuk koperasi. pengembangan jaringan pasar perlu dilaku­ kan melalui penyediaan informasi pasar yang cepat dan akurat termasuk market intelligence dan membangun database tentang perkembangan pasar komoditas unggulan masing-masing daerah termasuk kedelai. Pengembangan kedelai juga harus d­iikuti d­e­ ngan program aksi. kegiatan difokuskan kepada upaya untuk mempercepat penyebaran dan adopsi inovasi teknologi.

62 AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 4. Peta jalan (road map) menuju sasaran jangka menengah (5 tahun ke depan) pengembangan kedelai. .

Pengembangan diversifikasi vertikal melalui pengolah hasil tidak hanya bermanfaat bagi prosesor. pengusaha yang bergerak di bidang industri pengolahan juga mendapat keuntung­ an dari proses peningkatan nilai tambah dan jaminan pasokan bahan baku melalui pola kemitraan yang disepakati oleh kedua belah pihak.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pada hirarki selanjutnya. Muara dari penca­ paian sasaran jangka panjang peningkatan produksi dan pengem­bangan industri pengolahan kedelai adalah tumbuh dan berkembangny­a nilai tambah dan ekonomi pedesaan. penerima manfaat dari upaya pening­ katan produksi kedelai adalah petani produsen yang mengembangkan sistem integrasi tanaman ternak dalam usaha tani terpadu bebas lim­ bah (SITT-BL).5-5. (3) keterkaitan vertikal (penciptaan nilai tambah melalu­i pengolahan hasil). (4) keterkaitan regional (pewilayahan komoditas u­nggulan dan i­ndustri pengolahannya). Peta jalan menuju sasaran jangka panjang pengembangan i­ndustri pengolahan kedelai di pedesaan disajikan pada Gambar 5. memperluas sumber pendapatan.0-2. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Panjang Sasaran jangka panjang pengembangan kedelai adalah berkem­ bangnya industri pengolahan baik untuk pakan maupun industri pa­ ngan di pedesaan yaitu antara 2. Namun demikian. B. Keempat keterkaitan tersebut 63 . Dengan demikian muara dari manfaat tersebut adalah meningkatnya pendapatan dan kesejah­teraan rumah tangga tani dan masyarakat pedesaan. Di sisi lain.0% per tahun.55% per tahun sampai 2025. pengem­ bangan industri pengolahan kedelai di pedesaan hendaknya memper­ hatikan daerah sentra produksi untuk menekan biaya transportasi kedelai s­ebagai b­ahan baku industri. Konsumsi kedelai diproyeksikan meningkat 2. Sedangka­n pendapatan rumah tangga tani diperkirakan akan terus meningkat dan m­encapai US$ 2500/kk/tahun pada akhir program. Mela­ lui pengembangan model integrasi tanaman ternak ini petani akan mampu meningkatkan indek pertanaman dalam pola tanam setahun. (2) keterkaitan horisontal (diversifikas­i horizontal­). Empat keterkaitan utama dapat dilihat antara lain: (1) keterkaitan i­nstitusional (kelembagaan). juga petani dalam pola kemitraan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. mengurangi risiko kegagalan dan sekaligus mempertahankan kesuburan tanah.

PTT spesifik lokasi kedelai dapat menggunakan varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi yang mendekati potensi genetiknya. serta dikehendaki oleh kedu­a belah pihak. Mengintegrasikan kedelai ke dalam sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL) terutama di lahan kering yang pada umumnya kurang subur dapat memperluas dan memperkuat sumber pendapatan rumah tangga tani di wilayah ini. Keterkaitan institusional atau kelembagaan merupakan pra-syarat (pre-requisite) dan pilar utama pengembangan agribisnis komodita­s kedelai baik sebagai bahan baku maupun produk olahan industri p­angan maupun pakan. Keterkaitan kelembagaan meliputi: (1) revitalisas­i kelemba­ gaan petani. Pengembangan sistem usahatani tumpang sari dalam pola seta­ hun pada sentra-sentra produksi kedelai. (3) penelitian dan peng­ kajian (litkaji) PTT kedelai untuk masing-masing agroekosistem atau yang bersifat spesifik lokasi. 64 . di wilayah surplus maupun defisit berupa arus barang dan jasa yang lancar. (2) varietal selection and testing. (2) revitalisasi program penyuluha­n untuk percepata­n prose­s diseminasi dan adopsi inovasi teknologi pertanian. AEZ). (3) pemberdayaan kelembagaan permodalan pertanian. menguntungkan dan saling ketergantungan. baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang akan menjadi lintasan utama menuju peningkatan produksi dan pengembangan industri pengolaha­n kedelai di pedesaan. Semua hirarki dalam peta jalan tersebut. Muara dan manfaat dari peta jalan tersebut ber­ ujung kepada membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan r­umah tangga tani dan masyarakat di pedesaan. Sedangkan keterkaitan horizontal dalam pengembangan kedelai adalah pelaksanaan program peningkatan produksi dan pengemban­ gan industri pengolahan secara konsisten yang diawali dengan: (1) ka­ rakterisasi dan dileniasi agroekosistem yang sesuai (agro-ecosystem zoning.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai akan m­emberikan dampak positif bagi calon penerima manfaat baik di tingkat produsen maupun konsumen akhir. dan (4) integrasi kedelai ke dalam sistem usahatani terpadu di tingkat petani. ICAS). (4) k­onsolidasi manajeme­n usaha agribisnis dalam bentuk sistem usaha agribisnis k­orporasi (integrate­d corporate agribusiness system. dan (5) pengembangan sistem agribisnis kemitraan yang saling membutuhkan.

AGRO INOVASI 65 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 5. Peta jalan (road map) menuju pencapaian sasaran jangka panjang 20 tahun ke depan.

Proses penciptaan nilai tambah ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi pedesaan.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sedangkan pada lahan irigasi pada umumnya kedelai diusahakan setelah usahatani padi. Oleh karena itu. dapat dilakukan melalui pola kemitraan dengan pihak swasta. 66 . Kelancaran arus barang dan jasa akan memacu pertumbuhan ekonomi regional. Sistem integrasi ini akan mendorong produksi produk sampingan secara in-situ seperti sisa tanaman sebagai pa­ kan ternak. Masih terbuka kemungkinan untuk memproduksi biogas melalui dekompos limbah samping dari sistem ini. Pengembangan keterkaitan vertikal dalam produksi dan industri pengolahan kedelai dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah di tingkat petani melalui penerapan inovasi teknologi pengolahan hasil baik primer maupun skunder yang meliputi: (1) pengembangan diver­ sifikasi produk olahan kedelai. Peningkatan aksesibilitas terhadap pasar diharapkan mampu meningkatkan arus barang dan jasa melalui perdagangan antara wilayah surplus dan wilayah defisit. diperlukan dileniasi wilayah pengem­ bangan kedelai antar wilayah sebagai komoditas unggulan. Dalam hirarki keempat. Untuk mendukung memasarkan hasil produksi dan produk olahan secara luas perlu penguatan dan peningkatan infrastruktur dan jasa angku­ tan antar pulau maupun wilayah. Pengembangan SITT-BL. konsolidasi usaha antarpetani dalam bentuk kelompok usaha agribisnis terpadu (KUAT) yang dike­ mas ke dalam sistem usaha agribisnis korporasi terpadu (integrated corporate agribusiness system. (2) pengembangan industri pengolahan di pedesaan. ICAS) merupakan jalan keluar untuk meningkatkan posisi tawar petani dan segera keluar dari perangkap kemiskinan baik sementara maupun permanen. dan 3) pemanfaatan limbah pengolahan kedelai sebagai pakan ternak dan pangan seperti oncom sebagai salah satu sumber protein. Percepatan program pengembangan industrialisasi pedesaan akan memberikan arah pada pemanfaatan kedelai dalam menciptakan nilai tambah di pedesaan. limbah dan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk memperkaya bahan organik tanah. Program ini tentu harus dipicu oleh kebijakan yang bias kepada pedesaan.

Sasaran lain dalam pengembangan industri pengolaha­n kedelai adalah tersedianya lapangan kerja bagi angkatan kerja pedesaa­n guna mengurangi beban sektor pertanian yang selalu m­enjadi tumpuan terakhir dalam pemecahan masalah ketenagakerjaa­n. 67 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Muara dari semua program yang dicanangkan tersebut di atas adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyaraka­t k­hususnya petani kedelai dan keluarganya serta masyarakat pedesaa­n.

KELAYAKAN INVESTASI Dalam upaya mencapai sasaran produksi yang ditargetkan s­eperti terlihat pada Tabel 6-8.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai VIII. Selain sarana fisik. S­kenario 1 menargetkan swasembada kedelai pada tahun 2020. diperlukan sarana dan a­lsintan seperti traktor. dan skenario 3. pengering. Di tingkat usahatani. Masing-masing skenari­o m­empunyai target waktu pencapaian swasembada yang berbeda. Pada posisi tersebut. Untuk mencapai sasaran pengembangan tersebut. skenario 2.93% per tahun selama periode yang sama.0%. yaitu skenario 1. s­kenario 2 pada tahun 2015. bahwa untuk skenario 1. sehingga produksi diharapkan tumbuh rata-rata 8. dan sumur pantek untuk pengairan. serta investasi untuk revitalisasi penyuluhan.50% per tahun.5%. juga diperlukan investasi u­ntuk penelitian dan pengembangan (Litbang) dalam merakit teknologi baru. A. per­ tumbuhan areal panen ditargetkan menurun dari rata-rata 10% per tahu­n selama periode lima tahun pertama (2005-2010). pertumbuhan areal panen dan produktivita­s dirancang berbeda. diperluka­n berbagai investasi. Selama 20 tahun pengembangan. 5. Dengan skenario ini. produktivitas ditargetkan tumbuh rata-rata 2.07 juta ton. sedangkan konsumsi kedelai dalam negeri diproyek­ sikan 3. diharapkan pada tahun 2020 produksi mencapai sekitar 3. pertumbuhan areal panen diharapkan rata-rata 6. Indonesia sudah mencapai swasembada kedelai. dan skenario 3 ditargetkan untuk mencapa­i swasembada pada tahun 2025. ketiga. Untuk mencapai sasara­n dari ketiga skenario tersebut. Di samping itu. dan 3. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 1 Seperti terlihat pada Tabel 5.5% per tahun berturut-turut pada periode lima tahu­n kedua. 68 . maka ditempuh tiga skenario.25% per t­ahun selam­a periode 2005-2025.02 juta ton. menjadi 7. mesin perontok. dan keempat. bahkan terdapat surplus sekitar 50 ribu ton.

Sedangkan tahun-tahun di antaranya tambahan investasi dilakukan berdasarkan tambahan areal tanam kedelai.16 triliun. Selain pembelian. Investasi untuk a­lsintan dan sumur mulai dilakukan pada tahun awal berdasarkan luas areal pertanaman kedelai. Secara lebih rinci. sehingga pembebanannya pada pengembangan kedelai sebesar 50%. juga dibutuhkan biaya pemeliharaan dan operasional yang nilainya masing-masing diperkirakan 5% per tahun dari biaya pengadaan alat. kumulatif biaya investasi yang dibutuhkan untuk kedelai secara kumulatif adalah sekitar Rp 393 miliar untuk traktor. sehingga setela­h berumur lima tahun dilakukan penggantian alsintan. p­enggunaannya juga diharapkan pada 2 musim palawija. Selama periode 20 t­ahun pengembangan. sehingga bebannya 100% untuk kedelai. jagung. 69 . Diasumsikan umur ekonomi alsintan 5 tahun. Rp 3. pembebanannya juga seperti pengering. seperti padi.73 triliun untuk mesin pengering. Untuk investasi penyuluhan.73 triliun untuk mesin perontok. kacang tanah atau s­ayuran. dalam satu siklus pola tanam setahun. Demikia­n juga untuk pengering yang dapat digunakan u­ntuk menge­ringkan berbagai komoditas pertanian. Secara keseluruhan. yaitu 30%. Untuk sumur. bahwa investasi yang besar diperlukan pada tahun awal (2005) dan tiap lima tahun berikutnya. total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kedelai selama 20 tahun ke depan berdasarkan skenario 1 adalah sekitar Rp 11. kedelai. masih dibutuhkan biaya investasi untuk kegiatan penelitian dan pengembangan kedelai sebesar Rp 89 miliar. dan Rp 4. sehingga beban biaya i­nvestasi untuk kedelai diperkirakan 30% dari total nilai investas­i traktor. Selain itu. termasuk mesin pompa sumur pantek. Rp 2. kebutuha­n investasi untuk pengembangan kedelai berdasarkan skenario 1 adalah seperti disajikan Tabel 12. Seperti terlihat pada Tabel 12. sehingga hanya 30% yang dibebankan pada pengembangan kedelai.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Investasi traktor digunakan untuk penanaman seluruh tanama­n semusim.17 triliun untuk sumur pantek. Sedangkan untuk mesin perontok dan investasi Litbang khusus digunakan untuk kedelai. dan Rp 54 miliar untuk kegiatan penyuluhan.

19 109.604 9.89 1.90 2.43 3.876 1.00 188.000 4.97 574 2020 1.09 47.88 2.49 2.95 219.39 870 3.29 6.256 1.454 1.47 triliun.63 1.20 3.98 3.61 147.45 1.321 21.82 2.74 149 2009 833 1. kegiatan investasi untuk pengembangan kedelai de­ ngan skenario 1 cukup layak dilakukan.92 55.73 3.63 Total 393 2.526 1.07 113.67 1.40 313.64 200.768 10.66 194.74 70.37 2.069 41.598 16.729 4.94 401.85 2.52 2.169 89.65 130 2008 757 1.33 412 2015 1.59 1.692 1.69 486 2018 1.76 1.79 182.14 40.09 104.454 22.50 1.580 1.47 153.02 3.593 24.99 3.64 5.89 64. 70 .63 1.82 34.88 254.49 157.98 1330 Di sisi lain.146 13.74 80.74 52.35 2.196 1.63 203.92 191.81 151.96 3.19 1. Ini berarti bahwa tiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi diperoleh tambahan penerimaan dari nilai produksi sebesar Rp 1920.33 139.438 15.79 699 2025 1.94 3.20 39.91 4.67 4.95 3.813 1.47 544.03 115.61 2.35 2.73 261.92 157.75 1.20 214.23 193.50 553 2006 626 1.82 217.193 20.69 2.769 17.00 162.30 53.44 623 2023 1.98 127.22 366 2014 1.71 2.00 452.93 2.79 2. Area Provitas Prod Investasi (Rp Milliar) Tahun (000 ha) (t/ha) (000 t) traktor perontok pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1. sehingga ting­ kat pengembalian investasi (Return of Investment=ROI) sebesar 1.35 380. karena diperoleh keuntungan dari investasi sekitar 92% dari total biaya investasi.63 5.90 177.160 3.29 3.38 140.57 454 2017 1.71 1.321 5.80 273.96 4.47 4.06 291.82 170 2010 896 1.88 167.52 1.951 18.61 245.73 6.11 5.19 99.11 325 2013 1.97 3.035 1.58 120 2007 688 1.67 99.58 11.53 3. Dengan kata lain.149 4.72 57.04 1.92.94 3.83 528 2019 1.73 177.44 895 2016 1.72 24.12 1.42 126.083 2021 1.86 3.01 294 2012 1.85 91.57 138.27 597 2022 1.79 3.948 11. nilai tambahan produksi yang dihasilkan dari investasi tersebut secara kumulatif adalah sekitar Rp 21.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 12.726 3.319 1.88 2.61 660 2024 1.19 4.77 325.635 1.38 116.456 26.737 51.91 714 2011 963 1.55 2.07 2.79 51.28 2.94 212.51 6.32 3.47 128.287 33.113 1.33 757 18. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasar­ kan skenario 1.17 29.20 149.752 1.66 34.20 169.69 321.385 1.46 3.32 231.95 2.

439 6. dan R/C secara mikro.411 3.048 260.663 11.700 20.703 9.183 7.678 1.421 4.951 749 2.45 2013 366 3.767 4.55 2023 659 5.976 1.74 2025 1.065 2.956 4. Secara mikro di tingkat usahatani.740 5.105 3.707 2.361 4.52 pada tahun ke-20 program.255 5. yang dicerminkan oleh nilai perimbangan penerimaa­n terhadap total biaya (R/C). Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 553 1.05 2009 170 2.889 15.51 pada tahun ke-10 program.260 3.579 5.34 pada tahun awal menjadi 2.195 4.64 2024 699 5.160 77.405 963 2.12 2019 574 4.401 6.91 2008 149 2. Secara lebih rinci.229 2.267 1.94 2011 294 2.077 5. yaitu terus meningkat dari 1.68 2015 895 3.52 Total 11.959 24.137 22.639 13.24 2020 1083 4.905 5.492 1.082 2.05 2021 596 4. dan 3.213 1. Jika program dilaksanakan pada tahun 2005.470 ROI = 1.497 1.90 2017 486 4.781 1.177 3.338 3.92 71 . investasi ini juga cukup layak.589 755 1.567 540 1.79 2007 130 2. kriteria ROI secara makro. Dengan demikian.712 991 2.202 636 1.588 4.34 2006 120 1.878 1.19 2010 714 2.502 18.888 89.550 1.629 6.834 883 2.291 3.521 3.499 2.721 1. dapat disimpulkan bahwa program pengembangan kedelai dengan skenario 1 layak dilakukan.153 16.976 1.794 1.430 8.01 2018 528 4.000 10.272 2.958 1.56 2014 412 3.088 2.822 17.45 2022 623 5. Tabel 13. analisis kelayakan investasi berdasarkan skenario 1 disajikan pada Tabel 13.670 5. maka swasembada dicapai pada tahun 2020.998 3. swasembada kedelai tercapai pada tahun ke-15. baik dalam pencapaian swasembada pada tahun ke-15.442 853 2.426 3.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dengan skenario ini.914 21.687 3.338 3.182 3.330 5.255 3.51 2016 454 3.154 4.631 21.027 1.104 3. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­er­dasarkan skenario 1.34 2012 325 3.888 3.410 12.

40 180.96 3.39 890 4.768 22. Miliar) (000 ha) (t/ha) (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.95 2.65 201 2008 810 1.47 97.35 2.27 928 2022 1.89 1.01 469 2012 1.579.63 1.33 699 2015 1.61 1.76 1.73 3. 5%.99 4.79 2.57 762 2017 1.57 580.34 157. jika program dimulai tahun 2005.62 4.33 139.26 421.98 4.12 1.31 47.622 23.43 278.334 1.992 18.98 1.230 5.89 598.468 1.63 3.20 135.06 312. ketiga dan keempat.003 1.85 2.97 982 2020 1.018 1.84 131.048 1.71 2.87 297.26 452.001 2024 2.28 487.45 98. Tahun Area Provitas Produksi Investasi (Rp. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi ber­ dasarkan skenario 2.53 215.77 321.927.71 2.844 23.699 1.04 263.93 3.784 1.55 171.634 17.628 Total investasi 435. dan 1.21 8.356 2021 1.67 544.59 1.70 112.20 27.694 43.84 3.69 2.336 15.69 827 2018 1.49 2.080 51.74 233 2009 911 1.921 24.94 562.44 1.50 574 2006 640 1.83 901 2019 1.398 22.71 3.92 84.139 72 .75 2.08 362.35 5.80 2.02 190.55 600.52 1.541 1.072 13. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 2 Dalam skenario 2.91 173.85 2.11 209. yaitu rata-rata 2.838 11. selanjutnya 10%.03 5.11 535 2013 1.82 271 2010 1.67 99. berdasar­ kan skenario 2 adalah seperti disajikan pada Tabel 14.59 526.5% per tahun pada periode lima tahun pertama (2005-2010).40 66. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 1.04 1.22 611 2014 1.91 850 2011 1.61 3.000 25.95 2.02 3. Tabel 14.43 230.959 1.45 1.90 3.06 174.54 55.88 323.24 285.30 53.67 1.32 3.67 4.82 33.94 3. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-10 program atau tahun 2015.30 190.25 944.630 27.94 271.81 3.53 159.46 3.96 6.26 200.053.49 195.85 187.91 203.5% per tahun berturut-turut pada pariode lima tahun kedua.50 1.446 6.103 1.25% per tahun selama periode 2005-2025.046 4.25% per tahun.91 3.873 1.28 2.988 1.22 112.902 1.48 38.10 178.041 2025 2.39 6.79 1.79 141.18 4.96 193.06 3.97 3.52 2.63 1.20 3.930 1.05 239.35 127.135 2016 1. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program.88 6.95 3.618 1.189 20.58 16.95 180.33 757 18. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai B.22 89.213 1.62 769. pertumbuhan a­real t­anam adalah 12.82 2.19 1.97 3.49 152.44 963 2023 1.36 145.21 4.807 35.21 115.01 46.51 39.07 2.70 3.91 254. Untuk mencapai sasaran tersebut.33 5.14 2.88 2. Rata-rata pertum­ buhan areal tanam selama 20 tahun program adalah 7.88 3.58 172 2007 720 1.87 418.01 4.

Kemudian laju peningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5.5% per tahun pada periode 2005-2009 dan periode 20102014. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 2 adalah masing-masing Rp 436 miliar untuk traktor. Dari sisi usahatani secara mikro. kemudian meningkat menjadi 4. Karena setiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi. yaitu rata-rata 2. seperti disajikan pada Tabel 15.0% dan 3. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-17 program atau tahun 2022.63 pada tahun ke-20.25% per tahun selama periode 2005-2025.25% masing-masing untuk periode 20152029 dan 2020-2025 (Tabel 15).58 triliun. C. secara kumulatif total biaya investasi yang dibutuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 16.14 triliun. yaitu 1. Dari segi penerimaan. Sedangkan biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dari Tabel 14 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.58 triliun untuk mesin pengering.93 tri­liun untuk sumur pantek. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 2.99 pada awal tahun.05 triliun untuk mesin perontok. dan Rp 8. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program. dan setiap lima tahun berikutnya. Dengan d­emikian.07 pada tahun ke-10 dan 6. Angka ini menunjukkan bahwa program pengem­ bangan kedelai dengan menggunakan skenario 2 sangat layak. pada tahun-tahun diantaranya investasi dilakukan berdasarkan tambahan a­real tanam. pertumbuhan areal t­anam adalah 7. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C. Seperti halnya pada skenario 1. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 3 Dalam skenario 3. Rp 3.200. 73 . berdasarkan s­kenario 3 adalah seperti disajikan pada Tabel 16. Dengan demikian. jika program dimulai t­ahun 2005. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35. kegiatan investasi ini juga sangat layak.20. Rp 3. diperoleh tam­ bahan penerimaan Rp 2. Untuk mencapai sasaran tersebut.

106 30.965 6.566 1.16 2.966 7.361 2.99 6.281 2.27 5.122 7.078 5.705 5.308 3.945 1.629 574 1.593 1.352 9.620 5.064 1.041 2025 1.135 21.49 4.20 4.008 3.773 10.541 .176 2.749 455.877 5.737 5.840 6.855 5.001 2024 1.672 40.54 3. Tahun 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2016 2017 2018 2019 2021 2022 Biaya Invest Biaya Variable Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C (Rp M) 2.614 17.116 1.093 2.87 3.472 (Rp M) 931 2.55 5.576 ROI = 2023 1.404 4.164 35.098 5.98 3.87 3.356 32.491 3.377 2.003 4.055 6.574 1. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai ber­ dasarkan skenario 2.74 4.790 5.368 1.991 4.19 2.561 1.729 28.600 38. 1.777 12.65 4.778 1.353 5.925 6.096 1.992 25.6540 2.139 74 .00 5.401 2006 172 1.628 Total 16.617 5.160 2.530 36.103 1.095 7.19 4.920 3.703 2.79 2.61 2.13 5.723 4.174 14.70 3.602 7.787 1.597 2020 1.39 3.103 19.707 201 233 271 850 469 535 611 699 762 827 901 982 928 963 2.430 2.734 3.624 4.758 5.463 35.399 33.639 4.695 1.41 5.824 23.553 1.145 90.301 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 15.659 2015 1.663 3.718 6.253 6.858 11.34 4.061 6.005 (Rp M) 5.

Sedangka­n biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasarkan skenario 3. 75 .328 878 1.98 2025 1.99 178.29 151.11 100.71 1.98 1.55 372.28 4.463 944 1.76 3.06 298.89 1.95 5.687 1.54 31.90 313.74 2.80 56.03 168.56 40.14 89.47 39.145 1.79 67.612 25.67 1. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 3 adalah masing-masing Rp 368 miliar untuk traktor.990 305.33 612 1.484 1.53 298.99 triliun untuk sumur pantek.438 1.60 251.06 198.27 89.727 40.634 1.46 124.65 132 2.88 4.24 3.52 1.01 162.83 87.777 10.58 119 2.22 2.35 3.692 17.50 78.392 1.50 1.00 196.28 515.50 626 2.61 46.34 146.49 4.45 21.36 2.39 658 1.96 2023 1.73 850 955 3.429 4.70 209.326 1. Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Area Provitas Produksi Investasi (Rp.67 165.45 236.28 2013 1.02 6.21 8.42 51.17 635.121 3.94 2021 1.32 98.79 723 298 330 366 407 918 479 517 559 606 639 672 707 746 707 1.08 148.97 210.01 162.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 16.81 285.360 2.45 (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 757 18.71 4.88 2018 1.203 1.33 2.97 3.091 1.94 223.23 149.58 11.21 113.97 135.007 3.87 35.75 1.82 162 3. dan setiap lima tahun berikutnya.015 1.79 1.19 1.43 triliun untuk mesin pengering.30 2.01 194.44 3.57 2.51 21.69 3.16 123.86 4.90 177.01 2.74 153.36 2014 1.205 817 1.793 3.533 1.74 61. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.73 6. Rp 3.07 4.04 1.01 35.35 2.898 19.11 2.39 2.21 2.06 212.93 2020 1.66 triliun.20 133.76 200.17 20.63 2.73 triliun untuk mesin perontok.44 2.370 15. secara kumulatif total biaya investasi yang di­butuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 11. Rp 2.83 2.49 28.90 239. Dengan demikian.63 1.06 327.46 5.086 32.32 49.74 146 3.121 3.89 31.582 1.958 11. Miliar) (000 ha) (t/ha) 569 1.263 1.91 3.223 14.59 1.12 1.54 139.525 16.97 2024 1.61 3.17 222.90 2019 1.66 3.99 Total investasi 368 2.382 53.62 69.09 260.69 2.55 3. dan Rp 4.52 3.37 261.96 417.47 114.657 Dari Tabel 16 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.11 273.32 6.32 2015 1.20 5.82 2016 1.238 3.14 129.073 760 1.27 3.76 1.68 2.14 159.85 2017 1.70 9.63 1.95 2022 1.

088 17.13 Total 11.789 4.954 5.13 pada tahun k­e-20.247 28.270 27.767 4.60 2019 606 4.06 2009 162 2.270 1.84 2011 298 2.382 5.818 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Dari segi penerimaan.033 2.44.121 2.64 2013 366 3.07 2022 672 4.024 1.015 1. kegiatan investasi ini juga sangat laya­k.901 5.162 11.598 5. diperoleh tambahan penerimaan Rp 2.280 2. Tabel 17.541 1.617 4.355 16.866 356.177 4.857 5.105 6.000 biaya yang dikeluarka­n u­ntuk investasi.81 2014 407 3.669 1.988 1.209 82.537 20.746 5.504 1.21 2023 707 4. kemudia­n meningkat menjadi 3.020 792 2.95 2006 119 1.28 2017 517 3. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2.44 76 .77 2020 1.333 4.62 triliun.122 1.44 2018 559 3.982 1.975 5.657 71.608 4.68 pada tahun ke-10 dan 5.411 12.440.442 7.Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 626 1.436 4.313 5.707 2.647 31. Dari sisi u­sahatani secara mikro.973 2.932 912 3.318 3.494 ROI = 2.978 4.061 6.930 4.499 1. Dengan demikian.634 2.27 2010 723 2.488 3.434 24.95 pada awal tahun. Karena setiap Rp 1.121 4.35 2024 746 4.679 14.813 1.642 5.451 4.835 1.68 2007 132 1.442 33. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.273 3.167 3. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Prod N.306 19.174 9. Angka ini menunjukkan bahwa program pengembangan kedelai dengan menggunakan s­kenario 3 sangat layak. seperti disajikan pada Tabel 17.355 3.453 5.47 2012 330 2. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­erdasarkan skenario 3.481 4.681 3.059 1.932 10.68 2016 479 3.50 2025 1.99 2015 918 3.034 1. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C.455 1. yaitu 1.182 1.454 29.451 3.202 1.267 6.050 3.47 2021 639 4.832 3.747 5.228 688 2.782 22.092 25.544 5.86 2008 146 2.044 3.889 1.

Pembinaan/pelatihan produsen/penangkar benih dalam aspek teknis (produksi benih). IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi kebijakan pengembangan kedelai untuk mening­ katkan produksi kedelai dalam negeri meliputi: 1. 4. 6. Percepatan penerapan teknologi di ting­ kat petani melalui revitalisasi tenaga penyuluh pertanian.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI IX. susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi sesuai dengan tuntutan konsumen. Kemudahan prosedur untuk mengakses modal kerja (kredit usaha) bagi petani dan swasta yang berusaha dalam bidang agribisnis kedelai. Percepatan alih teknologi/diseminasi hasil penelitian. 7. kecap. tempe. manajemen usaha perbenihan serta pengembangan pemasaran benih. 2. tauco. Kebijakan makro mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri dengan memberlakukan tarif impor yang cukup tinggi dan menetapkan harga kedelai terendah di tingkat petani yang sesuai dengan perkembangan pasar agar keuntungan yang diperoleh petani layak dan memadai. Penyediaan kredit usaha perbenihan bagi produsen dan calon produsen benih. 77 . 5. Mendorong/membina pengembangan usaha kecil/rumah tangg­a dalam subsistem hilir (pengolahan produk tahu. Pengembangan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian secara umum (pembukaan sawah/lahan pertanian baru. anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) dalam rangka menghasilkan teknologi tepat guna. 3. PTT kedelai perlu diimplementasikan di daerah sentra produksi kedelai di Indonesia. pem­ buatan fasilitas irigasi dan jalan mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri. Kebijakan alokasi sumber daya (SDM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful