Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUAN
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai s­umber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutu­han kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan se­ perti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebaga­inya­. Konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,13 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebu­ tuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, pening­katan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra­ struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam ne­ geri untuk menekan laju impor. Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor. Berkembangnya industri pangan 

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

berbahan baku kedelai membuka peluang kesempatan kerja dimula­i dari budidaya, panen, prosesing, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Agar produksi kedelai dan olahannya mampu bersaing di pasar global, maka mutu kedelai dan olahannya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembinaan dan pengembangan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran­ nya, khususnya penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahapan budi daya hingga penanganan pascapanen. 

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

II. KONDISI KEDELAI SAAT INI
A. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995, areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48 juta ha pada tahun 1995, atau meningka­t rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun 1995, terjadi penurunan a­real panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11% per tahun. S­elama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih terus menurun ratarata 9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 1. Sebagai sumber protein nabati, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan, yaitu tahu, tempe, kecap, tauco, susu kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11,38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8,97 kg/kapita pada tahun 2004, atau menu­ run rata-rata 1,69% per tahun. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Selama periode 1995–2000, konsumsi per kapita menurun dari 11,82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10,92 kg/kapita pada ta­ hun 2000, atau turun rata-rata 1,57% per tahun. Selanjutnya, penu­ runan paling tajam terjadi pada periode 2000–2004, yaitu rata-rata 4,81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang berarti, Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Artinya, bahwa Indonesia akan makin tergantung dengan impor untuk menutupi defi­ sit. Indonesia selalu mempunyai net impor yang meningkat dari se­ kitar 0,54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1,31 juta ton 

 .2 0 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 Areal (juta ha) Produktivitas (t/ha) Produksi (juta ton) Gambar 1. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivita­s. serta pengaturan tataniaga dan i­nsentif usaha.6 1. dan produksi kedelai di Indonesia. perbaikan akses pasar.4 1.2 1 0. teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia.8 0. penguata­n kelembagaan petani. peningkatan n­ilai tambah. produktivitas. m­engingat potensi lahan cukup luas. 2 1. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelum tahun 1976. Mengingat penurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penurunan total konsumsi. de­ ngan indeks swasembada lebih besar dari satu.8 1.4 0. perluasan areal tanam. peningkatan efisiensi produksi. perbaikan sistem permodalan.6 0. peningkatan kualitas produk. Keadaan demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai pada tahun 2004. Perkembangan areal tanam. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan terus meningkat. pengembangan infrastruktur.

elastisitas harga kedelai.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI B. sedangkan pertumbuhan pendapatan per k­apita menggunakan data BPS (2002). (2003). berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang e­t al. Proyeksi jumlah penduduk dilaku­kan dengan menggunakan pertumbuhan penduduk dengan tingkat yang makin rendah. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunaka­n elastisitas pendapatan. pertumbuhan penduduk adalah 1. maka proyeksi konsumsi per kapita dan total konsumsi kedelai sampai 2025 adalah seperti disajikan pada Tabel 1.  .03% per tahun. sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar. Dengan menggunakan elastisitas yang ada. dan elastisitas s­ilang harga komoditas lainnya. Permintaan Kedelai Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi. Pertumbuhan harga masing-masing komoditas menggunakan data FAO 1991–2002. Selanjutnya.67% per tahun. Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. Harga kedelai impor yang murah dan tidak adanya tarif i­mpor menyebabkan tidak kondusifnya pengembangan kedelai di dalam negeri. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. Selama periode 1990–2004. namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri.

221.77 2011 9.466 2.49 246.27 2016 10.835 1.179 2.20 2005 9. Tahun Konsumsi/ kapita Proy Pddk (kg/th) (000 jiwa) Pertumbuhan Total Konsumsi pddk (000 ton) (%) 2.35 juta ton pada tahun 2025.01 Dari Tabel 1 terlihat bahwa total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2.380 1.687 1.210 1.12 2024 11.016 2.646 2.124 2.81 juta ha pada tahun 2015. Tantangan­ nya adalah bagaimana mencapai areal tanam seluas itu.874 1.46 249.67 224.770 2.40 256.25 273.43 253.402 1.61 232.34 Sumber: perhitungan proyeksi penulis.480 1.68 2020 10. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1.291 2.58 235.71 juta ton pada tahun 2015 dan 3.64 228.089 3.17 2015 10.10 289.708 2.04 295.37 2017 10.01 2023 11.37 260.231 1.585 2.67 2010 9.571 1.13 286.860 1.525 2.090 1.377 1.494 1.39 2007 9.024 3.48 2008 9.407 2.16 283.286 3.31 267.559 1.270 1.102 1.11 2004 9.79 2021 10.90 2022 11.960 3.58 2009 9.896 2.219 3.22 276.316 1.997 1.069 2.349 2.526 1.903 1.58 2019 10.440 1.52 242.29 2006 9. dan 2.97 2013 10.352 2003 9.55 239.47 2018 10.87 2012 9.740 1.235 2. maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 1.34 263.5 ton/ha bisa dicapai.07 2014 10.28 270. terutama yang lebih kompetitif. tahun 2003–2025. Proyeksi konsumsi kedelai di Indonesia.07 292.19 280.726 1.  .02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2.154 3.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 1.24 juta ha pada tahun 2025. sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija.833 2.23 2025 11.

Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribus­i yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Varietas unggul memi­ liki sifat seperti hasil tinggi. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO (lahan. pembuatan saluran drainase. D. Teknologi produksi meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. dan organism­e pengganggu tanaman (LATO) telah tersedia. tanaman.  . air. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. tanaman.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI C. pengendalia­n hama dan penyakit dengan sistem PHT. dan tahan/toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkunga­n fisik). Sekitar 60% areal pertanam­an kedelai terdapat di lahan sawah dan 40% lainnya di l­ahan k­ering. air. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian be­ sar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaa­n tanaman masih belum optimal. panen dan pascapanen dengan alsinta­n mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai de­ngan p­otensi g­enetiknya. dan organisme p­engganggu). Profil Usaha Tani Tanaman kedelai merupakan tanaman cash crop yang dibudi­ dayakan di lahan sawah dan di lahan kering. pemberian air yang cukup. Areal pertanaman kedelai tersebar di seluruh I­ndonesia dengan luas masing-masing seperti disajikan pada Tabel 2. Profil Teknologi Kedelai Senjang produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1.29 t/ha) dengan potensi genetik tanaman masih cukup tinggi (potens­i genetik >2 t/ha). umur genjah. Pengelolaan LATO d­imaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas dapat terekspresikan secara optimal.

706 100. Penurunan areal tanam ada kaitannya dengan banjirnya kedelai impor sehingga nilai kompetitif dan komparatif tanaman kedelai merosot.665.86 879.15 7.551 5. yaitu 1.82 14.346 9. usahatani kedelai di tingkat petani cukup menguntungkan dengan pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp 2.36 0.048.896 374.67 juta ha.944 22.591 73.76 71.53 juta ha pada tahun 2003.031 % 7.96 Jumlah 1.796 100.48 0.714 28.255 1.00 526.39 9.  .148 152.500/ha (R/C 2.04 4.32 40.388 124.987 5.81 3.06 1. Penyebaran areal kedelai menurut wilayah Wilayah 1992 2003 ha % ha Sumatera Jawa Kalimantan Bali & NTB Sulawesi Maluku & Papua 480. Namun sejak tahun 2000 a­real tanam terus menurun menjadi 0.650 52.00 Tabel 2 menunjukkan bahwa luas areal tanam mencapai p­uncaknya tahun 1992.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 2.14). Secara finansial.

pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. A. serta kelembagaan. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan tek­nik pengelolaan LATO. sistem produksi. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. kendala. hingga saat ini baru 10% petani yang menggunakan b­enih varietas unggul yang berlabel.  . Varietas unggul kedelai tersebut merupakan faktor produksi yang penting untuk diterapkan pada peningkatan produktivitas. Potensi 1. Masalah­nya.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI III. Upaya s­osialisasi penggunaan varietas unggul sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. pembuatan saluran drainase. Varietas unggul (Tabel 3) merupakan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Rakitan varietas unggul baru mampu meningkatkan produktivitas >2 t/ha. dan peluang dalam pengembangan kedelai dipilih berdasarkan aspek penelitian dan pengembangan (litbang). distribusi dan pemasaran. penanganan panen dan pascapanen. KENDALA DAN PELUANG Potensi. pemberian air yang cukup. Aspek penelitian dan pengembangan Potensi kedelai berdasarkan aspek penelitian dan pengem­ banga­n cukup menjanjikan. Perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai. Inovasi teknologi dengan penggunaan b­enih bermutu. Varietas unggul yang dikemas dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dapat meningkat­ kan hasil dan pendapatan petani. POTENSI.

toleran UG* Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Peningkatan stabilitas hasil kedelai di lahan sawah.5 Panderman 2.5 Ratai 2. dll) perlu dirakit.6 Seulawah 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Komponen teknologi produksi yang dikemas dalam PTT pada tanaman kedelai mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 2 t/ha.5 Mahameru 2. tahan naungan.6 Anjasmoro 2. penyakit dan gulma dapat menyebabkan kehilanga­n hasil mencapa­i 80% bahkan puso apabila tidak ada t­indakan pengendalia­n.5 Ijen 2.5 Nanti 2. P­emanfaatan varieta­s toleran terhadap c­ekaman bioti­k (hama dan penyakit) misalny­a varietas Ijen toleran s­erangan ulat g­rayak dan potensi hasil tinggi (>2 t/ha). maupun kedelai sebagai tanaman sela perlu mendapat perhatian. Varietas toleran cekama­n abiotik (kekering­an. Tabel 3. Pemasyarakatan PTT dilakukan melalui sosialisasi. dan lahan bukaan baru. pelatihan. sekolah lapang dan membangun kembali lembaga penyuluhan yang pada era otonomi daerah kurang mendapat perhatian.7 *UG=ulat grayak Umur (hari) 88 85 85 87 85 85 88 89 91 90 90 Ukuran biji Sedang Sedang Besar Besar Besar Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Adaptasi Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah. Program pelatihan.7 Sibayak 2. Varietas Potensi hasil (t/ha) Sinabung 2. Penerapa­n pengendalian hama terpadu (PHT) perlu disosiali­sasikan. Gangguan stabilitas hasil pada t­anaman kedelai banyak disebabkan oleh cekaman biotik dan a­biotik.5 Kaba 2.5 Tanggamus 2. Ganggua­n hama. V­arietas 10 . Varietas unggul baru kedelai yang dilepas tahun 2001–2004. sekolah lapang PHT perl­u ditingkatkan. lahan k­ering.

(2) teknologi benih sudah tersedia. S­eulawah. 2. Hal ini merupaka­n salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai n­asional. usaha perbenihan untuk tanaman kedelai masih t­ertinggal. (2) besar­ nya perhatian pemerintah dalam penelitian dan pengembangan. Nanti. Perakitan VUB berdaya hasil tinggi dan teknologi budidaya (PTT) pada tingkat litbang sangat dimungkinkan dengan adanya kekuatan seperti: (1) tersedianya sumber daya genetik yang banyak. dan Ratai merupakan varietas baru dengan potensi produksi tinggi dan adaptif pada lahan kering (masam dan non-masam). dan (3) varietas unggul tersedia. Benih pokok disalurkan kepad­a BBU atau penangkar untuk dijadikan benih sebar (ES). UPBS di balai komoditas telah terbentuk dengan tugas untu­k memproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS). Sibayak. Produsen benih nasional maupun penangkar lokal masih kurang berperan. Pemakaian benih u­nggul bersertifikat pada tanaman kedelai kurang dari 10% (Ditjentan. Dalam mendu­kun­g penyediaa­n benih bermutu. Lembag­a u­ntuk memproduksi benih telah terbentuk namun efektivita­s perlu di­tingkatkan. 11 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI T­anggamus. Balai Benih Induk (BBI) dan Balai Benih Umum (BBU). Berbeda denga­n komoditas padi dan jagung. Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas pertanaman kedelai. Benih penjeni­s yang dihasilkan akan disalurkan ke BBI untuk diproduksi menjad­i b­enih dasar (FS) dan benih pokok (SS). Aspek perbenihan Potensi aspek benih bermutu yang merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis kedelai antara lain adalah: (1) tersedianya Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). Varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (>2 t/ha) telah tersedia. 2004). industri benih untuk komoditas kedelai b­elum berkembang dengan baik. dan (3) kualitas peneliti bidang kedelai cukup memadai. Petani lebih banyak memakai benih asalan atau t­urunan dari pertanaman sebelumnya.

388 Sulawesi 124. Secara rinci peluang penam­ bahan areal panen dapat dilakukan pada: • Lahan sawah MK II (Juli – Oktober) yang biasanya diberikan se­perti: jalur pantura Jawa Barat. (2) VUB potensi hasil tinggi tersedia. dan (3) lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai masih tersedia cukup luas.665.255 Jumlah 1. Potensi lahan untuk pengembangan kedelai. Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usaha tani kedelai. Wilayah sasaran pengembangan intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai uta­ ma (LQ tinggi) diikuti propinsi penghasil kedelai dengan LQ sedang. Wilayah Luas (ha) Sumatera 480. Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai d­apat diarahkan ke propinsi-propinsi yang pernah berhasil menanam kedelai seperti disajikan pada Tabel 4.148 Bali & NTB 152. Lampung.714 Jawa 879.650 Kalimantan 23. Jawa Tengah. lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi. dan Kalimantan Selatan. 12 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat. Aspek sistem produksi Potensi kedelai berdasarkan aspek sistem produksi meliputi: (1) teknologi budidaya relatif sudah maju.706 Sumber: Ditjentan (2004). Tabel 4. S­ulawesi Selatan. lahan kering (tegalan).551 Maluku & Papua 5. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah. Jawa Timur.

Sulawesi Utara. Andosol. • Tumpangsari tanaman perkebunan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • Lahan sawah tadah hujan MK I (Maret – Juni) awal musim hujan sebelum ditanami padi sawah seperti Jawa dan NTB. • Tumpangsari pada lahan peremajaan perhutani. Jenis tanah yang sesuai untuk kedelai adalah tanah Aluvial. kedelai ditanam pada MH I (Oktober – Janua­ri) atau MH II (Februari – Maret). Aceh. Senjang hasil produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1.2 t/ha) dengan potensi genetik dari tanaman kedelai masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha). tanaman. solum tanah sedang-dalam. Jambi. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian besar petani belum menggunakan benih unggul dan t­eknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. Latosol. air. Regosol. Sulawesi Selatan. fosfat dan bahan organik. Pertanaman kedelai ini l­ebih banyak di Lampung. Tanah yang sesuai untuk budi daya kedelai adalah tekstur ber­ lempung atau berliat. dan Ultisol/Oxisol dengan amelioran ka­ pur. • Ladang yang belum ditanami. Gromusol. • Lahan bukaan baru. • Lahan kering (tegal). Pengelolaan LATO dimaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas d­apat terekspresikan secara optimal. Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kon­ tribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi.6-6. drainase sedangbaik. Lahan gambut yang sudah direklamasi juga sesuai untuk tanaman kedelai. Teknologi produks­i kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. Sumatera Barat. pH tanah 5. Jawa Tengah. hara NPK dan unsur mikro sedang-tinggi.9. • Lahan pasang surut yang telah direklamasi. umur genjah. bekas alang-alang. dan organisme pengganggu tanaman (LATO). Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tinggi. dan tahan/toleran 13 . dan Jawa Barat.

konsumsi per kapita menurun dari 11. dengan indeks swasembada lebih besar dari satu (Swastika.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkung­ an fisik).92 kg/kapita pada tahun 2000. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. tempe.31 juta ton pada tahun 2004. Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Seperti disajikan pada Tabel 5. 1997). Namun demikian.69% per tahun.38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8.57% per tahun. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelu­m tahun 1976.97 kg/kapita pada tahun 2004. Mengingat p­enurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penuruna­n total konsums­i. susu kedelai. total konsumsi hanya turun rata-rata 0. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Selama periode 1995-2000.54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1. pembuatan saluran drainase. Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11. pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. bahwa Indonesia akan makin tergantung pada impor untuk m­enutupi d­efisit. kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Artinya.81% per tahun. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan t­erus meningkat. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang b­erarti. Sebagai sumber protein nabati. yaitu rata-rata 4. atau menu­ run rata-rata 1. penurunan paling tajam terjadi pada periode 2000-2004. bahwa Indonesia selalu mempunya­i net impor yang meningkat dari sekitar 0. dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). kecap. Selanjutnya. 14 . pemberian air yang cukup.82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. yaitu tahu.05% per tahun (Tabel 5). tauco. atau turun rata-rata 1.

263 746 746 0.307 Pertumb (%) -5.135 2002 673 2.018 2.016 1.302 0.52 1.028 541 541 0. dan (3) teknolog­i p­engolahan tersedia.560 690 694 3.870 2.27 672 1992 1.24 541 1991 1.555 2. konsumsi dan perdagangan kedelai di I­ndonesia tahun 1990-2004.08 607 1996 1.136 1.365 800 800 0.277 2001 827 1.383 2.50 - 6.565 2.287 607 607 0.343 1.192 2004 707 2. Perkembangan manfaat kedelai di samping sebagai sumber protein.228 673 673 0.973 616 616 0.709 2. 15 .365 2003 672 2.680 2.17 -0.51 Sumber FAO (2004) diolah.017 1.357 1.365 0.51 6.278 0.684 1.431 723 724 0. Tahun Prod Konsumsi Defisit Impor Ekspor Net impor (000 ton) (ton) (000 ton) (000 ton) (ton) (000 ton) 1990 1.015 1.302 2000 1.91 690 1993 1.193 0.05 6.24 746 1997 1.649 343 343 0. telah diidentifikasi p­otensi kekuatan sebagai berikut: (1) teknologi panen dan pascapanen t­elah tersedia.02 1. Neraca produksi. Oleh karena itu.01 616 1998 1.43 1. makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung.294 1. 4.517 2.00 343 1999 1. Selain itu.306 1.307 0.276 1.960 1.00 1.487 2.24 1.03 800 1995 1.19 1.75 723 1994 1. (2) Alsintan tersedia di pasaran.133 1. Aspek panen dan pascapanen Untuk aspek panen dan pascapanen. kedelai dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencega­h penyakit kanker.344 1.307 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 5.301 1. ke depan proyeksi kebutuhan kedelai akan meningkat seiring dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang makanan sehat.

dilakukan di tingkat petani. Produk pangan olahan kedelai yang utama dan populer di kala­ ngan masyarakat Indonesia adalah produk fermentasi seperti tempe. Karena bersifat multiguna. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan s­ebagai pakan (Gambar 2). minyak goreng. M­inyak kedelai dapat diolah untuk aplikasi produk pangan dan kegunaa­n dalam b­idang teknik atau industri. Isolat protein dan lesitin banya­k digunakan dalam berbagai produk industri makanan antara lain r­erotian. Sebelum memasuki pengolahan sekunder menjadi produk olah­ an. dan produk non-fermentasi lainnya se­perti keju kedelai. kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuh­kan bagi kehidupan manusia. dan produk non-fermentasi seperti tahu. mayonaise. isolat protein. kedelai selayaknya mendapat pengolahan primer untuk meningkat­ kan kualitas kedelai sebagai bahan baku industri. natto. es krim. Bungkil kedelai yang mengandung protein tinggi sangat diperlukan dalam pembuatan ransum ternak (pakan). dan lain-lain. susu. makanan bayi (infant formula). Produk utama lain dari kedelai adalah minyak kasar. 16 . Pengolahan primer. yuba. dengan me­ manfaatkan teknologi pascapanen. kecap. (2) transportasi lancar. Produk fermentasi lain yang populer adalah natto (di Jepang). Produk pangan yang menggunakan minyak kedelai antara lain adalah minyak salad. lesitin. dan (3) sentra produksi telah terbentuk. margarine. dan bungkil kedelai. yogurth. men­ tega putih. Dengan demikian. Aspek distribusi dan pemasaran Potensi aspek distribusi dan pemasaran yang telah t­eridentifikasi antara lain adalah: (1) infrastruktur distribusi telah memadai. dan lain-lain. kembang gula. baik sebagai produk pangan. farmasi (obat-obatan). tauco.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Teknologi panen dan pascapanen kedelai yang efektif dan efi­ sien telah tersedia bahkan alsintan untuk proses panen dan pasca­ panen telah tersedia di pasaran. daging tiruan (meat analog). harga jual kedelai akan lebih baik. 5.

makanan bayi ( infant formula ). PANGAN FERMENTASI Tempe. untuk selanjutnya dipasarkan ke pengra­ jin tahu dan tempe. penstabil.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang. margarine ) TEKNIK/ INDUSTRI LESITIN ( wetting agent. kedelai di pasar domestik juga sebagian berasal dari impor. kecantikan) BUNGKIL PAKAN TERNAK Gambar 2. pengemulsi. dan bermuara ke konsumen akhir. Pohon industri kedelai. minyak goreng. yogurth. susu. Secara umum rantai tataniaga kedelai disajikan pada Gambar 3. Selain dari petani. kecap tauco. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi pengrajin tahu dan tempe (KOPTI). kembang gula) FARMASI (Obat-obatan. natto. dll KEDELAI MINYAK KASAR PANGAN (minyak salad. pelumas dll) KONSENTRAT PROTEIN PANGAN (rerotian eskrim. mentega putih. dll PANGAN NON FERMENTASI Tahu. 17 . pelarut.

6. Dari Gambar 3 terlihat bahwa kedelai di tingkat petani dibeli oleh pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang grosir dan pengolah. sehingga tataniaga kedelai lebih efektif dan efisien. Oleh karena itu. Rantai tataniaga kedelai di Indonesia. Terbentuknya sentra produksi kedelai akan mempermu­ dah konsumen untuk mendapatkan kedelai secara langsung. Dalam pengembangan kedelai. Aspek kelembagaan Potensi yang dapat dimanfaatkan dalam program pengem­ bangan kedelai antara lain: (1) telah berkembangnya kelembagaan 18 . diharapkan arus produk dari produsen ke konsumen lebih lancar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai P et ani Petani Im port ir Importir P edagang Pedagang P engum pul DDesa esa Pengumpul K O P TI KOPTI G rosir Grosir P engecer Pengecer P engol ah Pengolah K onsum en akhir Konsumen Akhir Gambar 3. diperlukan perbaikan tataniaga kedelai dari produsen hingga konsumen. Dengan adanya infrastruktur distribusi produk yang memadai dan tranportasi yang lancar. petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah. harga riil di tingkat produsen (petani) selama 15 tahun terakhir cenderung terus menurun. Dalam pemasaran kedelai. sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang.

(2) berkembangnya kelem­ bagaan alih teknologi. Sedangkan untuk ancaman eksternal antara lain adalah: (1) sistem diseminasi dan alih teknologi belum memadai. Selain itu. diseminasi teknologi. Dalam alih teknologi. Hal ini dipacu oleh: (1) terbentuknya BPTP di tiap propinsi yang berfungsi ganda. Jumlah tenaga peneliti yang terbatas sehingga potensi untuk mengembangkan rakitan teknologi unggul dalam satu paket PTT belum dapat diterapkan di setiap sentra produksi kedelai. KKP. baik dalam penyaluran kredit. lembaga alih teknologi juga makin berkembang. keberadaan kelompok tani merupakan wadah yang efektif. Aspek penelitian dan pengembangan Kendala dalam aspek Litbang dapat dipilah berdasarkan kele­ mahan dan ancaman. maupun pema­ saran hasil pertanian meskipun diakui dalam hal pemasaran hasil kelompok tani belum banyak berfungsi. dan (2) revitalisas­i penyuluhan pertanian untuk mempercepat proses alih teknologi dari lembaga penelitian ke pengguna. Kendala 1. dan (3) telah terbentuknya kelembagaan k­elompok tani. dan lembaga keuangan mikro lainnya yang lebih mudah diakses petani merupakan potensi yang besar bagi petani dalam memperoleh modal untuk menerapkan teknologi maju. (2) penerimaan tenaga peneliti belum memadai. (2) belum optimalnya diseminasi. B. sehingga mampu meningkatkan produktivitas sumber daya dan pendapatan petani. Hasil p­enelitian 19 . dan (3) penghargaan hasil karya peneliti kurang memadai. yaitu perakitan teknologi spesifik lokasi. namun di masa mendatang peran ini dapat diaktualisasi dan terus ditingkatkan. Berkembangnya berbagai skim lembaga permodalan seperti LUEP. Kelembagaan keuangan mikro dan kelembagaan alih teknologi merupakan dua ujung tombak yang memungkinkan petani mengadopsi teknologi maju. dan (3) program penelitian yang masih kurang konsisten. Kelemahan internal meliputi: (1) keterbatasan tenaga peneliti.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI p­ermodalan (kredit) dalam berbagai skim.

sedang rata-rata produktivitas di tingkat petani hanya 1. 2. Ketersediaan benih varietas unggul baru masih sangat terbatas. Aspek sistem produksi Hambatan internal yang teridentifikasi dalam aspek sistem produksi meliputi: (1) ketersediaan sarana produksi yang makin t­erbatas.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai rakitan teknologi PTT kedelai dapat meningkatkan produksi 30-40% untuk lahan sawah dan 50-60% untuk lahan kering masam. dan (3) akses petani terhadap sumber modal terbatas. Hasil penelitian menun­ jukkan bahwa senjang hasil produksi kedelai di tingkat petani dengan potensi hasil genetik kedelai masih tinggi. namun hingga kini 20 . Aspek perbenihan Kendala internal aspek perbenihan kedelai adalah (1) inkon­ sistensi alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. dan (3) petani lebih suka membuat benih asalan. Benih bersertifikat merupakan jaminan pemerintah untuk menyediakan benih bermutu. (2) umur label sertifikat benih sangat singkat. Potensi hasil varietas unggul dengan budi daya anjuran dapat mencapai > 2 t/ha.29 t/ha. Hasil rata-rata kedelai yang masih rendah di tingkat petani dan harga yang murah menyebab­ kan petani beralih usahatani nonkedelai. Sedangkan ancaman eksternal adalah: (1) kurangnya insentif harga benih bagi penangkar. Dampak dari kelemahan terse­ but menyebabkan usahatani kedelai belum dapat mencapai produksi yang maksimal dan keuntungan finansial yang masih rendah. dan (3) industri benih belum berkembang dengan baik. sehingga produktivitas hasil kedelai masih rendah. Diseminasi/promosi yang belum optimal menyebabkan tingkat adopsi teknologi rendah sehingga varietas unggul baru dan teknik budi daya kedelai kurang dapat diterapkan petani. (2) sistem penyuluhan masih lemah. (2) menurunnya ke­ percayaan petani terhadap mutu benih dari kios. Hingga kini peng­ gunaan varietas unggul baru mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. 3.

pupuk dan pestisida makin mahal. sehingga areal dan produksi kedelai terus menurun. agribisnis kedelai masih dihadap­ kan pada ancaman eksternal seperti: (1) masih tingginya impor kedelai yang menyebabkan usahatani kedelai dalam negeri kurang kompetitif. Selain itu. Sistem panen yang dijemur di lapangan tanpa lantai jemur dan alas menyebabkan biji tercecer cukup banyak dan 21 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat. (2) adanya cekaman OPT. penyuluh kurang berfungsi sebagai­ mana tugas pokoknya. Pada era otonomi daerah. Akses petani terhadap sumber modal terbatas. ancaman eksternalnya adalah: (1) belum ada insentif harga yang memadai bagi produk bermutu. Hal ini dikarenakan jumlah penangkar yang masih sangat terbatas. dan (3) tenaga kerja pengolah relatif terbatas. Umumnya p­etani kedelai adalah petani miskin yang kekurangan modal. 4. Aspek panen dan pascapanen Kendala dalam aspek panen dan pascapanen adalah: (1) kehi­ langan hasil tinggi. jumlah penyuluh semakin berkurang (pensiun). pembinaan penyuluh untuk mengakses teknologi baru kurang mendapat perhatian. Selain benih bermutu. sehingga makin tidak terjangkau oleh petani. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak sampainya informasi teknologi kepada petani. dan (3) modal untuk membeli alsintan sangat terbatas. Selain kelemahan internal. proses sertifikasi kedelai yang rumit dan keuntungan menjadi penangkar b­enih kedelai yang sangat kecil. serta sarana dan prasarana penyuluhan banyak berubah fungsi. Selain itu. (2) makin meningkatnya biaya operasional alsintan. (2) penerapan teknologi panen dan pascapanen be­ lum memadai. Kehilangan hasil kedelai pada saat panen maupun prosesing masih cukup besar. sehingga penyuluh beralih profesi menjadi b­ukan penyuluh. Modal petani yang terbatas dan usahatani kedelai yang kurang menguntungkan menyebabkan petani enggan menanam kedelai. dan (3) anomali iklim yang da­ pat menyebabkan kegagalan panen.

Sistem informasi pasar belum terbentuk sehingga titik temu antara produsen dan konsumen sering tidak ketemu. menyebabkan petani kedelai tidak mamp­u untuk membeli alat mesin. disaat panen raya harga jatuh hingga Rp 2. Harga kedelai ditentukan oleh mekanisme pasar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai menyebabkan kehilangan hasil cukup tinggi. Alat pengering dinilai masih cukup mahal bagi petani kedelai. Memperbaiki dan memperpendek simpul mata rantai dari produsen ke konsumen p­erlu dibentuk dan difungsikan sebagaimana mestinya sehingga dapat efektif dan efisien dalam pendistribusian produk. Penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai. dan (3) b­elum adanya tarif impor. Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. (2) sistem informasi pasar lemah. Sedangkan pemakaia­n alat mesin untuk panen dan pengeringan. yang ditentukan oleh permintaan dan persediaan ( Demand and Supply). umumnya petani melakukan pemanenan dan prosesing masih d­engan cara tradisional. Panjangnya rantai dari produsen sampai kepada konsumen menyebabkan tidak efektifnya proses pemasaran. Aspek distribusi dan pemasaran Kendala internal berdasarkan aspek pemasaran adalah: (1) daya tawar petani lemah. (2) rantai p­emasaran yang panjang sehingga tidak efisien. Hal ini yang menyebabkan nilai jual produk berfluktuatif dan cenderung menu­ run. Panen dengan menggunakan sabit dan prose­s pengeringan sebagian besar masih di lapang. Hal ini yang menyebabkan kehilangan hasil panen cukup besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. 5.500. Belum berlakunya tarif impor 22 . dan (3) biaya trans­ portasi yang mahal. Keterbatasan modal. Sedangkan kendala eksternalnya antara lain adalah: (1) tingginya impor kedelai dengan harga murah. sebagian besar petani b­elum menggunakan. Harga nominal kedelai di tingkat petani berfluktuasi.

yakni: (1) aspek penelitian dan pengembangan. C. (5) aspek distribusi dan pemasaran. (2) rendahnya komitmen pimpinan kelembagaan atas pelaksanaan peraturan. Kelemahan internal yakni: (1) sistem penyuluha­n masih lemah. efisiensi penggunaan sarana produksi. sehingga harga kedelai di dalam negeri jatuh dan petani enggan menanam kedelai. Kinerja penyuluhan pertanian yang lemah menyebabkan transfe­r teknologi kedelai terhambat. Aspek kelembagaan Kendala berdasarkan aspek kelembagaan terdiri dari kelemaha­n dan ancaman. (2) tuntutan terhadap alih t­eknologi semakin meningkat. (3) aspek sistem produksi. (4) aspek panen dan pascapanen. dan (6) aspek kelembagaan. Penelitian untuk mengatasi senjang hasil antara petani dan h­asil penelitian sesuai dengan potensi genetik. 1. Peluang Peluang pengembangan kedelai cukup besar dari berbagai a­spek. 6. (2) aspek per­ benihan. serta (3) inkonsistensi peraturan antara pusat dengan daerah. (2) kelembagaan kelompok tani belum berfungsi optima­l dan (3) akses petani terhadap lembaga modal terbatas. 23 . pemetaan lahan s­esuai. Lemahnya kinerja penyuluhan juga akan mengakibatkan kinerja kelompok tani lemah. sehingga petani akan sulit untuk mengatasi masalah yang dihadapi. diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah perlu dilakukan agar dapat m­eningkatkan produktivitas dan daya guna kedelai. Aspek penelitian dan pengembangan Peluang pengembangan berdasarkan aspek litbang meliputi: (1) kebutuhan teknologi makin meningkat. dan (3) prospek kerja sama penelitia­n.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI menyebabkan jumlah kedelai impor semakin banyak. Sedang­ kan ancama­n eksternal adalah: (1) menurunnya kepercayaan petani t­erhadap kelembagaan yang ada. sehingga upaya untuk meningkatka­n produktivitas juga terhambat.

Eskalasi dan akselerasi produksi dan distribusi benih sumber varietas unggul tanaman kedelai dilakukan dengan pelatihan pengenalan varietas melalui sosialisasi varietas dan pembekalan t­eknik produksi benih kepada penangkar di daerah yang melibatkan pemangk­u kepentingan (stakeholder) terkait. penyuluh dengan kelompok tani. dan perluasan prevalens­i adopsi t­eknologi inovatif yang dibawa oleh varietas unggul kedelai. Aspek perbenihan Peluang pengembangan pemanfaatan benih kedelai bermutu terbuka lebar. Revitalisasi penyuluhan diharap­ kan dapat menjadi jembatan dalam upaya meningkatkan arus teknologi dari balai penelitian kepada pengguna atau petani. dan (3) peningkatan produksi benih sumber dan penyebaran varietas-varietas unggul baru kedelai di daerah sentra produksi. peran swasta sebagai bapak angkat yang dapat memberikan jaminan harga yang layak pada saat harga jatuh. s­ehingga dapat meningkatkan produksi benih berkualitas yang berbasis komunita­s. Untuk membangun penyebaran benih varietas unggul diperluka­n penguatan SDM dan fasilitas untuk memproduksi benih sumber. Oleh karena itu. (2) peningkatan pembinaan pen­ angkar benih di daerah sentra produksi kedelai. 2. Untuk mewujudkan tujuan mempercepat alih teknologi diperlukan kerja sama yang baik antara peneliti.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tuntutan alih teknologi untuk mengatasi senjang hasil sangat diperlukan. diperlukan peningkatan kemahiran petugas dalam sistem produksi benih sumber kedelai melalui pelatihan. karena hingga kini penggunaan benih bersetifikat kurang dari 10%. peningkatan kadar. benih pokok (SS). Dengan strategi tersebut terjadi percepatan waktu. dan benih sebar (ES) diharapkan dapat me­ ningkatkan produksi benih dan dapat didisribusikan ke daerah sentrasentra produksi. Peran aktif BPTP dan penyuluh untuk mengakses teknologi dari balai penelitian perlu ditingkatkan. Me­ ningkatnya kemampuan SDM yang terkait dalam produksi benih dasar (FS). Upaya pengembangan pemanfaatan benih bermutu ditempuh melalui: (1) peningkataan kemampuan petugas/penangkar untuk memproduksi benih sumber. Kerja sama dengan swasta sangat diperlukan. 24 .

Oleh karena itu. pengendalian hama dan p­enyakit dengan sistem PHT. diperlukan adanya s­ubsidi. (3) subsidi benih. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah di­ adopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam me­ ningkatkan produksi. (2) jenis olahan beragam. I­ndustri pengolahan produk berbahan baku kedelai membutuhkan jenis kedelai yang bermutu tinggi sesuai dengan produk yang akan dihasil­kan. 4.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. pemberian air yang cukup. P­referensi konsumen terhadap mutu kedelai semakin meningkat. Mutu hasil panen kedelai saat ini masih perlu ditingkatkan. Aspek panen dan pascapanen Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek panen dan pascapanen meliputi: (1) tuntutan terhadap hasil panen bermutu. dan (3) industri produk olahan berbahan baku kedelai makin berkembang. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. Aspek sistem produksi Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek produksi meliputi: (1) penggunaan benih bermutu masih rendah. warna kuning mengkilap dan kebersihan biji. program pengenalan dan sosialisasi varietas unggul baru serta teknik produksi benih sangat diperlukan. umur genjah. Keterbatasan modal di tingkat petani untuk usahatani kedelai perlu mendapat perhatian. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tingg­i. pembuatan saluran drainase. (2) penggu­ naan sarana produksi. dan tahan/ toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkungan fisik). panen dan pascapanen dengan a­lsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi g­enetiknya. Oleh karena itu. Varietas kedelai sesuai 25 . dan (4) program pengem­ bangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. baik untuk pengadaan benih varietas unggul baru maupun untuk pengadaan pupuk dan insektisida. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. Sebagian besar konsumen menghendaki biji besar/sedang.

biji besar/sedang. Bentu­k makanan olaha­n yang menari­k. 5. kecap. Anjasmoro. Cikuray. promosi secara g­encar. Burangrang. makanan segar dengan kualitas polong maupun biji yang seragam. snack kaya akan protein. sehingg­a bisa mengendalikan konsumen untuk mengkonsumsi produk olahan kedelai. serta telah tersebar di seluruh pasar swalayan. gizi tinggi dan m­enyehatkan p­erlu diinformasikan pada media cetak maupun elektronik. Aspek distribusi dan pemasaran Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek distribusi dan pe­ ma­saran meliputi: (1) industri pengolahan kedelai berkembang. Upaya peningkatan daya sain­g selain bentuk produk diperlukan juga penyuluhan. Penguatan industr­i pedesaa­n skala kecil maupun industri besar yang bermitra dengan produsen kedelai perlu ditindak lanjuti. Sebagai i­lustrasi PT Garuda Food telah berhasil membidik konsumen tingkatan menengah ke atas dengan memproduksi snack kedelai oven dengan rasa enak dan dikemas dalam kemasan yang menarik dan terkesan elite. Kaba) bahkan kedelai hitam yang sesuai de­ ngan industri kecap juga telah tersedia (Merapi. menarik. tempe. Upaya untuk me­ningkatkan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi adalah memperbaiki b­entuk makanan olahan berbaha­n baku kedelai. rasa sesuai dengan selera konsumen dan kemasan yang menari­k akan mempunya­i daya tarik bagi konsumen. warna kuning mengkilap (Argomulya. dan kuantita­s serta kualitas biji untuk bahan industri cukup memadai. 26 . dan Malika). (2) j­aringa­n transportasi memadai. Promosi makanan berbahan baku kedelai susu. tauco. dan (3) permintaan kedelai terus meningka­t.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai d­engan kehendak konsumen dan sesuai dengan bahan baku industri telah tersedia.

(2) program revi­ talisasi penyuluhan. pemerintah daerah. Program alih teknologi berupa diseminasi memperoleh prioritas utama. Oleh karena itu. Berdasarkan perhitung­ an.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Berbagai macam produk olahan berbahan baku kedelai berkem­ bang dengan pesat. Asosiasi tersebut berpeluang dikembangkan di setiap propinsi sentra kedelai dengan penyuluh pertanian sebagai mediator dan Pemerintah Daerah sebagai fasilitator. Revitalisasi alih teknologi dan revitalisasi penyuluhan saling ber­ hubungan erat. Asosiasi Petani Kacang Kedelai Indonesia (APKKI) telah terben­ tuk di beberapa propinsi sentra produksi kedelai dan merupakan me­ dia yang cukup efektif dalam pengembangan kedelai berbasis agri­ bisnis. 27 . tempe. k­elompok usaha/asosiasi petani dalam usaha pengembangan kedelai. Aspek kelembagaan Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek kelemba­ gaan berupa (1) program revitalisasi alih teknologi. namun demikian teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian belum sampai kepada petani. kecap. Jaringan transportasi sudah baik dan ditunjang oleh alat angkut yang memadai. farmasi (obat-obatan). mela­ lui diseminasi diharapkan adanya kerja sama yang baik antara peneliti. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan ternak menyebabkan kebutuhan akan kedelai semakin meningkat. dan (3) minat swasta dalam industri pengolahan kedelai semakin meningkat. snack). dan petani. 6. kelompok tani. konsumsi kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 men­ capai 1. penyuluh. Revitalisasi di bidang pe­ nyuluhan diharapkan penyuluh dapat berperan sebagai ujung tomba­k dan mampu memberdayakan kemandirian petani.776 juta ton atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri. sehingga memudahkan mobilitas bahan baku kedelai dari produsen ke konsumen. Di Indonesia konsumsi tertinggi adalah untuk bahan industri tahu dan tempe. tauco. Sedang 12% sisanya dipergunakan berbagai keperluan makanan olaha­n lain dan bahan baku industri lainnya. Industri pengolahan bahan pangan (tahu.

AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai IV. Dengan kata lain. penguasaan pasar. Upaya peningkatan produksi diikuti de­ ngan upaya peningkatan efisiensi. (iii) terciptanya mata rantai pemasaran yang efisien sehingga dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan pendapatan petani. Tujuan jangka panjang adalah swasembada kedelai. dan (iv) berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku kedelai di dalam negeri. impor kedelai yang saat ini mencapai 60-65% dari total kebutuhan dapat ditekan menjadi 40%. Sasaran yang ingin dicapai dari pengembangan kedelai s­ecara nasional adalah (i) terciptanya harga yang wajar yang dapat m­emberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. dan nilai tambah produks­i. kualitas. dan perluasan peranan pengguna. Dalam hal ini diperlukan dukungan dari pemerintah dan swasta. Tujuan jangka pendek-menengah adalah meningkatkan produksi untuk memenuhi 60% kebutuhan. TUJUAN DAN SASARAN Pengembangan kedelai diarahkan untuk tujuan jangka pendekmenengah dan jangka panjang. (ii) terbentuknya kelembagaan pemasaran yang kuat di tingkat petani. 28 .

Arah dan Sasaran Pengembangan Pengembangan kedelai diarahkan kepada sistem agribisnis berbasis agroindustri. sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0. tahu. peningkata­n efisiensi produksi. pedagang. baik industri pangan maupun pakan. Dengan demikian. mengingat potensi laha­n cukup luas. bungkil kedelai sehingga peta­ ni memperoleh nilai tambah. Selain itu. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalu­i strategi peningkatan produktivitas. sektor swasta membeli kedelai dari petani untuk diolah lebih lanjut menjadi produk olahan sekunder. Pola agribisnis seperti ini akan membangun kemitraan yang sinergis antara petani dengan perusahaan swasta. 29 . usahatani dilakukan dengan teknologi maju yang efisien melalui pendekatan PTT.02 juta ton. teknologi telah tersedia dan SDM handal cukup tersedi­a. sehingga dapat menekan biaya per satuan produk dengan tetap memperhatikan kelestarian kesuburan tanah. p­eningkatan kualita­s produk. ARAH DAN SASARAN Kebutuhan akan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2.31 juta ton. di mana kedelai sebagai bahan baku industr­i.71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1. Di tingkat agroindustri. petani juga dapat dilakukan pengolahan primer kedelai dengan industri rumah tangga di tingkat petani dan kelompok tani. peningkatan nilai tambah. penguatan kelembagaan petani. dan perusahaan swasta. tempe. menjadi produk olahan seperti tepung kedelai. serta pengaturan t­ataniaga dan insentif usaha. dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan dalam upaya menekan laju impor. Di tingkat petani. A. pengembangan infrastruktur.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI V. Mengingat Indonesia de­ngan jumla­h p­enduduk yang cukup besar. seperti pangan dan pakan. nilai tambah akan terdistri­ busi ke petani. Keadaa­n demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus. perbaikan sistem permodalan. perbaikan akses pasar. perluasan areal tanam. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sasaran utama dari pengembangan kedelai adalah untuk m­eningkatkan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi k­ebutuhan yang terus meningkat. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. pertumbuhan penduduk adalah 1. Proyeksi Pertumbuhan Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. dan e­lastisitas silang harga komoditas lainnya. Proyeksi pertumbuhan produksi untuk masingm­asing skenario disajikan pada Tabel 6. 30 . Proyeksi jumlah penduduk dilakukan dengan menggunakan pertumbuha­n penduduk dengan tingkat yang makin rendah. berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang et al. dampak swasembada kedelai akan bermuara pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku agribisnis lainnya. Pertumbuhan harga masingmasing k­omoditas menggunakan data FAO 1991-2002.03% per tahun. Selam­a periode 1990-2003. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunakan elastisitas pendapatan. B. elastisitas harga kedelai. Tiga skenario diajukan untuk mencapai sasaran jangka menengah maupun jangka panjang pengembangan kedelai s­esuai dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan swasembad­a kedelai ke depan. Selanjutnya. Sebagai bahan baku industri p­angan dan pakan. sedangka­n pertumbuhan pendapatan per kapita menggunakan Data BPS (2002).67% per tahu­n. (2004).

01 7.56 1.00 1.37 6.78 7.19 1.00 -64.78 12.00 1.64 2.50 1.23 5.72 1.39 2.26 7.00 1.77 1.55 7.00 -19.25 6.80 3.25 7.27 6.5% per tahun dan 2.11 2.19 3.04 6.33 6.39 10.29 2.50 -14.21 2015-2019 1.79 4.50 2.84 1.50 2005-2009 1.50 2.95 1.22 1.15 2020-2025 Rataan Skenario 3 Pertumb (%) 0. 31 .93 1.25 7.58 1.15 8.25 Impor Konsumsi Kontribusi Prod (%) 2.00 1.02 1.50 2.50 -4.08 7.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 6.21 2.49 (rb ton) Prod (jt jiwa) (t/ha) (rb ha) (rb ton) (rb ton) (kg/kap) 2005-2009 1.81 -18. Tahun Skenario 1 Pertumb (%) Pddk Provitas Area 2.50 2.19 2.58 1.63 10.45 2.24 3.39 2.50 2.86 10.21 2.30 2010-2014 1.34 1. (2) Peningkatan produksi tersebut diperoleh dari upaya perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 6.01 1.50 -10.00 1.30 2010-2014 1.15 2020-2025 Rataan Skenario 2 Pertumb (%) 0.50 10.25 4.15 2020-2025 Rataan 0.00 -6.58 1.50 51.25 -39. produktivitas.25 2.55 2.84 1.27 0.21 2015-2019 1.30 2010-2014 1.08 5.00 -65.23 5.23 5.84 17.61 4.55 12.00 2. dan produksi kedelai periode 2005-2025.04 -2.89 14.73 Skenario 1 (1) Proyeksi peningkatan produksi rata-rata 8.50 10.00 61.50 12.15 9.25 2015-2019 1.08 4.84 1.15 8.36 12.93% per tahun dalam periode 2005-2025.29 2.55 14.21 2.50 0.61 4.25% per tahun dalam periode yang sama.27 5. Proyeksi pertumbuhan areal tanam.29 9.75 1.08 4.50 -9.50 -9.19 4.09 2.19 1.21 0.50 0.50 2.98 2005-2009 1.

Jawa Barat. Skenario 2 (1) Produksi kedelai dalam negeri diproyeksi meningkat rata-rata 9. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun terakhir yaitu 2025.25% per tahun dalam periode 2005-2025.72% per tahun. Sumatera Utara. impor yang saat ini mencapai 6065% secara substansial dapat ditekan menjadi minimal 45% pada 2010. C. Program peningkatan produktivitas diprioritaskan di wilayah-wilayah sentra produksi yang produktivitasnya masih tergolong rendah.81% per tahun dan 2. Nusa Tenggara Barat. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun 2020. Lampung. dan Sulawesi Selatan. Dengan kata lain. Jawa Tengah. Skenario 3 (1) Proyeksi peningkatan produksi kedelai dalam periode yang sama rata-rata mencapai 8. Arah Pengembangan Pengembangan kedelai ke depan diarahkan untuk mencapai tujuan jangka pendek-menengah dan jangka panjang yaitu Indonesia mampu meningkatkan produksi kedelai secara bertahap untuk memenuhi kebu­ tuhan dalam negeri.25% per tahun dan 2. Wilayah-wilayah yang sesuai untuk program ini antara lain adalah beberapa kabupaten di Jawa Timur.72% per tahun dalam periode yang sama.22% per tahun. (3) Dengan skenario ini swasembada kedelai akan dicapai pada tahun 2015. di mana tingkat penerapan teknologi oleh petani masih kurang. (2) Areal tanam dan produktivitas kedelai diproyeksikan meningkat masing-masing 7. (2) Proyeksi pertumbuhan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 5.25% per tahun untuk men­ capai tingkat pertumbuhan produksi 9. 32 . (3) Dengan skenario 3.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai (3) Dengan skenario 1.

misalnya dari 60–65% menjadi 45% dari kebutuhan dalam negeri. kuali­ tas dan nilai tambah yang berdaya saing. Pertanyaannya kemudian adalah kapan sasaran itu dapat dicapai? Inilah tantangan yang harus dijawab dengan memanfaatkan 33 . Peningkatan produksi diikuti dengan proses produksi yang efisien. Produksi kedelai tahun 2005 diproyeksikan 774 ribu ton biji kering. Kalimantan Selatan. telah menyatakan bahwa sasaran pengembangan kedelai adalah meningkatkan produksi nasional sebesar 7% per tahun.00% per tahun. meluasnya peran pengguna. Dalam Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah (­RPPJM: 2005–2010) Departemen Pertanian. Sulawesi Tenggara. Lampung. Apabila sasaran peningkatan produksi diproyeksikan sebagaimana dikemukakan di atas. dan kapan kemungkinan pencapaian swasembada perlu disusun beberapa alternatif skenario. Sumatera Selatan. Sasaran pengembangan kedelai dalam 20 tahun ke depan adalah untuk memanfaatkan seluruh potensi dan peluang yang ada untuk men­ coba memenuhi kebutuhan kedelai nasional dari kemampuan produksi dalam negeri.03 juta ton atau meningkat rata-rata 7.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Program perluasan areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) ditujukan ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi sumber daya lahan cukup baik di Jawa Timur.36 juta ton dan ini berarti tidak terjadi pengurangan impor. Sasaran Sasaran jangka panjang adalah swasembada kedelai (ontrend). penguasaan pasar yang luas. serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif. Sulawesi Selatan. tahun 2007 sebe­ sar 900 ribu ton. Wilayah-wilayah yang tergolong kate­ gori tersebut antara lain adalah Jambi. tahun 2008 sebanyak 975 ribu ton. Sedang perluasan areal dapat di lakukan pada sawah tadah hujan/irigasi sederhana. dan Sulawesi Selatan. Jawa Tengah. maka pada tahun 2009 impor diperkirakan masih sebesar 1. Jawa Barat. Bengkulu. namun belum optimal dimanfaatkan. Agar sasaran pengurangan impor dapat dicapai. Sumatera Utara. dan tahun 2009 sebesar 1. Nusa Tenggara Barat. dan lahan kering yang cukup luas. D. tahun 2006 sebesar 825 ribu ton.

Dengan kata lain.99 ton/ha secara nasional. produktivitas pada 2025 h­arus m­encapai sekitar 1.5% per tahun masing-masing pada periode 2015-2019 dan 2020-2025.5% per tahun dan berturu­t-turut menurun menjadi rata-rata 5. Wilayah sasaran perluasan areal adalah Nusa Teng­ gara Barat. pengendalian gulma. Lampung. Sumatera Utara. waktu atau musim tanam yang s­esuai serta rotasi tanaman. 1. Laju peningkatan areal tanam sedikit menurun pada lima tahun berikutnya (2010-2014) yaitu rata-rata 7. ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor untuk me­ menuhi kebutuhan dalam negeri secara gradual dapat dikurangi dan pada akhirnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan dari kemampuan produksi dalam negeri. m­asing34 . Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa perluasan a­real tanam harus diupayakan meningkat rata-rata 10% per tahun dalam periode 2005-2009 dengan sasaran areal tanam mencapai sekitar 833 ribu ha pada 2009. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks per­ tanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana.5% dan 0. Sasaran lain adalah mengembalikan keunggulan kompetitif di tingkat on farm dan keunggulan komparatif di pasar global.5%.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai sumber daya secara optimal yang dihela oleh kemajuan Iptek di bidang pangan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sum­ berdaya alam.5% per tahun pada periode 2005-2009. Melalui kedua upaya tersebut di atas. Pencapaian sasaran menurut skenario 1 Perkiraan pencapaian sasaran atas dasar skenario 1 disajikan pada Tabel 7. 1. 2. 2010-2014. lahan sawah tadah hu­ jan atau lahan kering. maka produksi diproyek­ sikan meningkat rata-rata 14. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah peng­ gunaan benih varietas unggul yang bermutu. Sedangkan peningkatan produktivitas kedelai dalam empat p­eriode yang sama masing-masing diproyeksi rata-rata 4.0% per tahun dan 3. Aceh dan Sulawesi Selatan. Jawa.5%. 2015-2019. hama dan penyakit (OPT) secara terpadu.95% per tahun pada 2005-2009. Dengan demikian. dan 2020-2025.

40 3.50 -14.93 Pertumb (%) 1.21 4. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi terus menurun rata-rata 2.01 2.11 2.00 1.30 5 2010 1.635 -112 3.19 2.00 2.894 95.709 84.79 3.770 87.26 4 2009 1.12 2.604 10.88 2.179 39.29 3 2008 1.21% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014 dan 2015-2019.50 51.94 1.456 10.35 252 1.50 2.948 10.39 626 1.02 12 2017 0.20 6 2011 1.02 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 1).00 -6.81 19 2024 0.95 1.385 234 2.35 1 2006 1.58 1.53 3.05 11 2016 1.018 101.80 6.55 12. Tahun Pdd (%) 0 2005 1.64 273 1.598 10.90 16 2021 0.768 10.25 2.08 Pertumb (%) 1.66 3.50 10. Dengan skenario 1.951 11.52 2.95 1.49 244 1.321 11.98 35 .86 10.67 265 1.19% dan 6.124 35.646 81.93 1.143 105.27 3.23 2.67 963 862 1.63 2.081 103.00 -65.97 1.87 17 2022 0.39% dan 2.75 Pertumb (%) 0.769 11.525 70.17 7 2012 1.146 10.752 -248 3. sedikit menurun menjadi 2.438 10.99 1.291 50.74 235 1.142 1.235 1.193 11.17 238 1.32 2 2007 1.000 9.832 91.407 60.92 232 1.813 -324 3. total konsumsi diproyeksikan meningkat rata-rata 2.40 2.75 1.256 422 2.59 833 1.69 270 1.149 9.61 255 1.52 757 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI masing 10.42 258 1.75 2.50 3.63 896 951 1.45 688 1.454 11.09 241 1.78 20 2025 0.287 10.069 11.90 1.113 637 1.321 9.367 757 9.876 -405 3.00% per tahun pada periode 2020-2025.27 268 1.99 13 2018 0.737 11.79 1.319 333 2. Pert No.14 2.15 10 2015 1.454 125 2.15 2.580 -51 3.50 5.99 260 1.19 1.39 7.349 56.196 500 2.63 229 1.89 14.37 2.33 569 1. Di sisi lain.75 277 1.84 Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 226 1.62 2.11 9 2014 1.58% per tahun pada 2010-2014 dan 2015-2019 serta rata-rata 4.957 99.55% per tahun pada 2005-2009.585 75.37 4.526 6 2.593 11.50 7.71 1.14 8 2013 1.76 2.269 109. Tabel 7.93 3.332 112.25 4.85 1.02% per tahun pada periode 2020-2025.035 757 1.028 1.82 1.309 870 9.84 18 2023 0.206 107.66 275 1.466 65.91 279 1.00 15 2020 0.80 1.88 1.98 1.235 44.01 250 1.74 263 1.05 247 1.88 2.25 2. swasembada kedelai diperkirakan dapat dicapai pada tahun 2020 (Tabel 7).692 -178 3.23 Pertumb (%) 1.15 0.96 1.96 14 2019 0.

AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 2. dan 2020-2025. 5. perbaikan kesuburan tanah dengan pemu­ pukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). 10. Jawa.0%.5% per tahun untuk masing-masing periode yang sama. lahan sawah ta­ dah hujan atau lahan kering. dan 0. Lampung.5%. waktu/musim tanam yang se­suai dan rotasi tanaman. dan Sulawesi Selatan. serta 2. 36 . Pencapaian sasaran menurut skenario 2 Upaya peningkatan produksi menurut skenario 2.5%. Dengan asumsi laju konsumsi sama dengan skenario 1. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. Wilayah sasaran perluasan areal adalah NTB.5%.5% per tahun pada periode 2005-2009. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana. maka upaya peningkatan produksi menurut skenario 2 akan mencapai swasem­ bada pada tahun 2015 atau lima tahun lebih cepat dari skenario 1 (Tabel 8). Untuk peningkatan IP terutama pada musim tanam kedua (MT-II) dan MT-III sangat diperlukan dukungan pengairan melalui pompanisasi dan ini tentu tidak mudah dan tidak pula murah. Yang berbeda dalam laju perluasan areal yang sangat agresif yaitu rata-rata 12.5% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014.0%. Sumatera Utara. 1. akan ditem­ puh melalui program peningkatan produktivitas yang sejalan dengan skenario 1 yaitu rata-rata 4. dan 1. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih VUB yang bermutu. 2015-2019. Aceh.

468 12 2.39 16 2021 0.63 1.52 7 2012 1.179 40.96 1.407 67.235 46.01 2.63 2.189 10.709 103.40 3. Pencapaian sasaran menurut skenario 3 Diantara ketiga skenario dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri.62 2.76 2.36 20 2025 0.84 273 1.01 3.50 -9.45 6.124 35.873 -665 3.01 1.55 14.00 -64. Waktu pencapai swasembada kedelai yang cukup lama ini s­ebagai konsekuensi peningkatan areal tanam baik lewat peningkata­n IP maupu­n pemanfaatan lahan tidur masing-masing 7.88 1.143 122.541 -98 2.33 569 1.37 9 2014 1.336 10.000 11.807 10.646 99.17 244 1.35 226 1.398 11.90 1.988 -715 3.78 277 1.56 1.525 82.213 453 2.080 11.42 14 2019 0.50 12.96 263 1.30 18 2023 0.27 3.87 270 1.15 2.206 122.39 640 1. skenario 3 tampaknya yang paling moderat.59 13 2018 0.50 1.894 117.53 3.50 2.90 268 1.50 2.902 -676 3.046 9.40 2.618 -221 2.59 911 903 1.230 9.003 777 1.00 0.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 8.189 1.58 1.334 249 2.64 5 2010 1.93 3.85 1.67 4 2009 1.75 2.02 258 1.32 229 1.585 90.04 2. Menuru­t skenario 3.15 2.103 628 1.45 720 1.26 235 1.446 9.00 61.93 1.88 2. Kemudian laju 37 .23 2.44 Pertumb (%) 0.71 1.94 1.81 275 1.784 -504 3.39 10.11 250 1.97 1.37 2.30 4.25 2.05 255 1.78 12.19 2.630 10.93 265 1.622 11.14 2.930 -688 3. swasembada kedelai baru bisa dicapai pada t­ahun 2025.992 10.269 122.83 2 2007 1.20 241 1.67 1.018 -731 4.061 1.5% per tahu­n pada periode 2005-2009 dan periode 2010-2014.838 10.00 2.832 112.072 10.95 1.99 12 2017 0.957 122.289 890 9.84 17.466 74.54 Pertumb (%) 1.71 6 2011 1.694 11.08 252 1.12 2.27 15 2020 0.921 11.52 2.50 5.23 238 1.84 0.768 11.367 757 9.844 11.55 Pertumb (%) 1.25 2.50 10.21 4.79 1.80 3 2008 1.349 61.52 810 1.06 8 2013 1.49 Pertumb (%) 1.14 247 1.99 260 1.048 -748 4.11 10 2015 1.770 107. Pert Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri No.332 122.33 17 2022 0.634 10.081 122.61 11 2016 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 2).31 19 2024 0.63 1 2006 1.75 1.66 3.88 2.75 1.98 2.699 -357 3.79 3. Tahun Pdd (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod (%) jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 0 2005 1.00 1.959 -701 3.29 232 1.82 1.99 2.291 53.018 122.75 279 1.

19 547 2.86 2.58 136 2.52 707 1.24 6.75 Pertumb (%) 0.407 55.45 658 1.73 2.73 38 .96 14 2019 0.11 9 2014 1.063 1.63 817 1.52 232 1.27 270 1.36 12. Tahun Pert Pdd (%) Pddk Provitas Area Impor (jt (t/ha) (rb ha) (rb jiwa) ton) Prod (rb ton) Konsumsi (kg/ (rb kap) ton) Kontri Prod (%) 0 2005 1.533 -28 3.525 11.73 2.007 11.27 2.55 241 1.370 10.88 4.90 16 2021 0.40 273 1.83 2.235 42.463 10.0% dan 3.95 1.585 68.50 -10.81 19 2024 0.206 97.40 229 1.08 3.33 569 1.59 760 1.143 95.484 31 2.392 225 2.05 3.50 7.086 10.96 1.223 10.17 7 2012 1.63 10.98 1.124 35.081 94. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 3).27 3.329 850 9. No.50 7.14 1.53 3.79 1.898 11.218 2.01 265 1.88 1.50 2.35 1 2006 1.612 10.332 100.957 91.073 9.63 2.08 Pertumb (%) 1.367 3.25 -39.25 250 1.50 3.50 -4.003 1.329 3.179 39.17 2.687 1.709 77.71 944 808 1.525 63.15 10 2015 1.78 20 2025 0.99 1.79 279 1.68 2.777 10.203 369 2.692 11.32 2 2007 1.018 92.97 1.02 12 2017 0.84 18 2023 0.958 10.832 83.05 11 2016 1.280 955 9.30 5 2010 1.349 51.079 2.68 3.37 252 1.00 2.08 3.091 1.93 1.238 11.67 878 913 1.34 2.83 1.793 11.01 2.770 80.66 277 1.26 4 2009 1.08 3.82 1.88 263 1.328 10.99 13 2018 0.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai p­eningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5.00 244 1.84 226 1.438 85 2.04 4.23 Pertumb (%) 1.76 238 1.00 2.582 -39.263 265 2.121 11.367 757 9.61 2.39 255 1.360 11.33 3.63 235 1.62 258 1.87 17 2022 0.205 9.75 260 1.14 8 2013 1.53 275 1.26 2.145 462 2.93 Pertumb (%) 1.466 59.90 1.98 7.24 2. Tabel 9.894 87.39 612 1.25% m­asing-masing untuk periode 2015-2029 dan 2020-2025 (Tabel 9).12 247 1.00 -19.326 -19.55 2.85 1.93 0.21 268 1.015 688 1.144 1.77 1.218 1.00 15 2020 0.269 99.20 6 2011 1.94 1.34 1.634 1.50 5.29 3 2008 1.75 1.646 73.31 9.291 46.

Jawa. E. Ein adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi nasional (n).0 2.0 > LQ > 0 nilai tinggi nilai sedang nilai rendah 39 . Penjabaran arti dari LQ adalah: LQ = Eir / Ein di mana Eir adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi propinsi (r). Perluasan areal tanam dilakuka­n melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigas­i sederhana. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih unggul yang bermutu. Aceh. dan Sulawesi Selatan. lahan sawah tadah hujan atau lahan kering. Perluasan Areal Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usahatani kedelai.0 > LQ > 2. Sumatera Utara.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2025 dengan c­atatan bahwa konsumsi per kapita maupun total konsumsi sama dengan skenario 1 dan skenario 2. waktu/musim tanam yang sesuai dan rotasi tanaman. Lampun­g.0 > LQ > 1. Nilai LQ diklasifikasikan sebagai berikut: 3. perbaikan kesuburan lahan dengan pemupukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi).0 1. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. Wilayah s­asaran perluasan areal adalah Nusa Tenggara Barat.

1 Jambi. baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal. Bengkulu. Sulsel 1.5 > LQ > 0. Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendala antara lain nilai komparatif dan kom­ petitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya. + Papua +++ Prioritas utama.0 > LQ > 2.0 > LQ >1.0 Aceh. Nilai LQ dan Propinsi 3. Sedangkan wilayah sasaran di Jawa dan Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan perlu mempertimbangkan lahan dengan LQ tinggi sampai sedang. 40 . Tabel 11 menunjukkan bahwa potensi lahan yang sesuai un­ tuk tanaman kedelai. Lampung. Yoyakarta 2. Sumut 0. Jateng. Kalsel. + Prioritas rendah +++ ++ + +++ + +++ + Peningkatan Produktivitas (PP) Perluasan Areal Tanam (PAT) Wilayah sasaran intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai utama (LQ) tinggi diikuti propinsi penghasil kedelai (LQ se­ dang). Jatim. Skala prioritas pengembangan kedelai berdasarkan nilai LQ disajikan pada Tabel 10. Sumbar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 10.0 NTB.5 Bali. Sumsel. Jabar. Sultra.0 > LQ > 0. Sulut. Prioritas program peningkatan produksi dan perluasan a­real kedelai berdasarkan nilai LQ propinsi. ++ Prioritas sedang.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

Tabel 11.

Daerah sasaran peningkatan produktivitas di propinsi penghasil kedelai utama dan propinsi penghasil kedelai sedang. Propinsi Kabupaten Gunung Kidul Bantul, Wonosari, Slemen Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Sumbawa, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan. Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi Purworejo, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Demak, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Kudus, Jepara, Pati, Blora Bone, Enrekang, Gowa, Majene, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polewali, Selayar, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo

Nilai LQ

1 Penghasil 1 Yogyakarta kedelai utama (40.050 ha) (LQ Tinggi) 2 Jawa Timur (279.500 ha) 3 NTB (139.520 ha) 2 Penghasil 1 Aceh kedelai Sedang (181.390 ha) (LQ Sedang) 2 Lampung (164.500 ha) 3 Jawa Barat (327. 500 ha) 4 Jawa Tengah (379.500 ha) 5 Sulawesi Selatan (322.100 ha)

41

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

F. Peningkatan Produktivitas Upaya peningkatan produktivitas (PP) dibedakan atas tingkat produktivitas yang telah ada selama ini. Berdasarkan metoda perhi­ tungan LQ, maka lahan dengan 3,0>LQ>2,0 (LQ tinggi) merupakan lahan yang sesuai untuk peningkatan produktivitas yang tersebar di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Bagi daerahdaera­h yang telah memiliki produktivitas tinggi diarahkan untuk d­imantapkan, dan bagi daerah-daerah yang tingkat produktivitasnya masih rendah dilakukan upaya akselerasi melalui penggunaan b­enih va­rietas unggul, pupuk berimbang, penerapan teknologi spesifik lokasi, pengelolaan usahatani terpadu lahan kering. Perluasan areal tanam (PAT) diarahkan ke daerah di luar Jawa yang memiliki potensi cukup luas melalui penambahan baku lahan, mengoptimalkan lahan kering, rehabilitasi dan konservasi lahan, ser­ ta pengembangan lahan rawa/lebak/pasang surut. Perluasan areal disesuaikan dengan kecocokan lahan dengan 2,0>LQ>1,0 di Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Untuk mendukung tercapainya sasaran-sasaran tersebut, perlu dukungan aspek hulu antara lain penyediaan lahan, perbaikan pengairan, sarana produksi, alsintan, permodalan, sarana transportasi/jalan usahatani.

42

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

VI. STRATEGI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM
A. Strategi Pemecahan Masalah Perumusan strategi, kebijakan, dan program pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia disusun dengan menggunakan analisis SWOT. Penyusunan strategi dikelompokkan menjadi 6 bagian berdasar­ kan bidang masalah yang dihadapi yaitu: (1) litbang, (2) perbenihan, (3) produksi, (4) panen dan pascapanen, (5) distribusi dan pemasaran, sert­a (6) kelembagaan. Dari masing-masing isu tersebut kemudian dirangking atas dasar indikator prioritas yaitu urgent, seriousness, dan growth. Dari masing-masing isu kemudian ditentukan tiga masalah prioritas. Masalah tersebut kemudian di analisis dengan SWOT yang terdiri atas faktor internal (strength, weakness) dan faktor ekternal (o­pportunity, threat). Dari hasil analisis ditentukan prioritas masing-masing isu untuk kekeuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berdasarkan masing-masin­g m­asalah disusun strategi agresif, diversifikatif, konsolidatif, dan defensif. 1. Penelitian dan pengembangan Berdasarkan identifikasi dan seleksi faktor internal dan ekster­ nal, maka faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dominan dari aspek penelitian dan pengembangan (litbang) adalah sebagai berikut. Strategi Agresif (SO). Strategi ini memanfaatkan kekuatan e­ksternal dan peluang eksternal yang ada antara lain: • pemanfaatan secara optimal sumber daya genetik dan peneliti yang berkualitas dalam merakit varietas unggul, guna memenuhi teknologi yang meningkat, • pemanfaatan dukungan pemerintah untuk revitalisasi penyuluh­an guna meningkatkan proses alih teknologi, dan • pemanfaatan peneliti yang berkualitas untuk menjalin kerja sama penelitian (KSP) dalam perakitan teknologi.
43

• pemanfaatan perhatian pemerintah untuk memperbaiki sistem diseminasi teknologi. • pemanfaatan KSP p­enelitian. antara lain: • fokus penelitian pada isu-isu yang paling mendesak. Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal sekaligus mengurangi ancaman eksternal yang ada. meliputi: • pemberdayaan peneliti melalui perbaikan sistem reward bagi peneliti berprestasi. dan ancaman. strategi konsolidatif (WO). strategi diversifikatif (ST). dan • perbaikan rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan. peluang.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Strategi Diversifikatif (WO). Strategi sistem produksi benih Secara lebih rinci. Alternatif strategi sistem perbenihan juga dikelompokkan atas dasar kombinasi antara faktor internal dan e­ksternal yang terdiri atas strategi agresif (SO). 44 . formulasi strategi dalam pengembangan sistem produksi benih kedelai berdasarkan kekuatan. Strategi ini dimaksudkan untuk me­ manfaatkan peluang eksternal dengan memperbaiki kelemahan inter­ nal. kelemahan. dan untuk mendukung konsistensi program • prioritasi penelitian sesuai dengan keterbatasan tenaga peneliti. 2. Strategi Defensif (WT). Alternatif strategi yang termasuk kelompok diversifikatif adalah: • optimalisasi program diseminasi guna memenuhi kebutuhan t­eknologi yang meningkat. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi untuk mengatasi kelemahan i­nternal dan sekaligus mengurangi ancaman eksternal. dan • kaderisasi peneliti berkualitas melalui perbaikan rekruitmen yang sesuai dengan kebutuhan. dan strategi defensif (ST).

Strategi ini b­ersifat konsolidasi internal untuk menghadapi tantangan dari luar. dan • pemanfaatan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal yang cukup besar dalam pengem­ bangan sistem produksi benih kedelai mendukung peningkatan produksi nasional.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Agresif (SO). abiotik maupun sosial-ekonomi dalam pengembangan sistem perbenihan kedelai. antara lain: • peningkatan peran UPBS. Strategi ini dimaksudkan untuk m­engurangi kelemahan internal dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengurangi ancaman eksternal baik yang bersifat biotik. • penyederhanaan sistem sertifikasi. dan BBU dalam penyediaan b­enih bermutu. dan • pemanfaatan subsidi untuk pengembangan industri benih. Memanfaatkan peluang eksternal secara optimal antara lain: (1) pemanfaatan teknologi untuk menekan biaya produksi benih u­nggul dan (2) pemanfaatan UPBS. • pemanfaatan varietas unggul yang tersedia dalam perakitan VUB ber­ daya hasil tinggi didukung oleh teknologi benih yang maju. antara lain: • perbaikan sistem alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. • pembatasan impor melalui tarif. BBI. Strategi Diversifikatif (WO) . Strategi ini meliputi: • peningkatan peran penyuluh untuk menanggulangi OPT dan anomal­i iklim. dan BBU untuk meningkatkan mutu benih guna meningkatkan kepercayaan petani. BBI. Alternatif strategi untuk meman­ faatkan peluang eksternal secara optimal untuk mengurangi anca­ man eksternal dalam pengembangan perbenihan kedelai nasional. 45 . Strategi Defensif (WT).

guna memenuhi permintaan yang terus meningkat. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaata­n peluang eksternal. dan • pemanfaatan VUB untuk penyediaan kedelai berprotein tinggi. Strategi Agresif (SO). • penyediaan kredit lunak yang mudah diakses petani. Strategi Diversifikatif (WO). dan • revitalisasi penyuluhan untuk mendiseminasikan budidaya kedelai sebagai tanaman sela. Strategi Konsolidatif (ST). maupun abiotik. dan • perakitan varietas unggul hasil tinggi toleran terhadap cekaman lingkungan seperti OPT dan Iklim. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi maju dalam peningkatan produksi untuk menekan laju impor. 46 . biotik. Strategi sistem produksi Strategi pengembangan sistem produksi ( on-farm ) kedelai d­iformulasikan dengan memperhatikan keterkaitan antara faktor i­nternal dan eksternal. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dengan mengurangi atau menekan ancaman serendah mungkin baik yang bersifat sosialekonomi.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk memanfaatkan peluang ekternal yang ada agar kinerja produksi makin membaik. • pemanfaatan lahan yang masih luas untuk perluasan areal tanam kedelai. baik sebagai tanaman utama maupun tanaman sela. Strategi ini meliputi antara lain: • pemanfaatan VUB dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi produksi biaya rendah dengan sarana produks­i terbatas.

dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai d­engan keterbatasan modal.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Defensif (WT). selain manajemen peme­liharaan tanama­n pada saat kegiatan usahatani. dan defensif. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi diversifikatif antara lain: 47 . Formulasi strategi ber­ dasarkan keterkaitan antara masing-masing faktor internal dan eksternal. Penerapan teknologi pasca­ pa­nen tidak hanya menekan kehilangan hasil secara kuantitas juga meningkatkan mutu hasil. P­enanganan hasil panen dan pascapanen dalam pengem­ bangan kedelai sangat menentukan. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaa­ tan peluang eksternal. Strategi Agresif (SO). dan • pemanfaatan alsitan untuk pengolahan hasil panen. Strategi ini dimaksudkan untuk mening­ katkan kinerja produksi di mana secara internal banyak kelemahan dan secara eksternal juga cukup banyak ancaman sehingga strategi ini harus diformulasikan secara hati-hati. Strategi penanganan panen dan pascapanen Formulasi strategi pengembangan kedelai ditinjau dari aspek pen­ anganan panen dan pascapanen didasarkan atas pengelompokan yang sama. juga dilakukan terhadap formulasi strategi pada aspek ini yaitu agresif. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. diversifikatif. • pemanfaatan teknologi pengolahan untuk menghasilkan ber­bagai produk guna mendukung perkembangan agroindustri. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu hasil. konsolidatif. Strategi ini dimaksudkan u­ntuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal u­ntuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada agar nilai tambah produks­i kedelai dapat dinikmati oleh petani produsen maupun p­engolah. 4.

dan defensif. Strategi ini antara lain: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. konsolidatif. guna Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini meliputi: 48 . Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu produk dan meningkatkan harga jual dan • penggunaan alsintan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dalam pengolahan Strategi Defensif (WT). yaitu agresif. diversifikatif.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatka­n hasil panen bermutu. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan dan eksternal yang juga cukup banyak ancaman. Strategi distribusi dan pemasaran Hasil analisis keterkaitan antar faktor-faktor internal seperti kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam aspek distribusi dan pemasaran kedelai dan produk olahannya dikelompokkan ke dalam empat strategi. 5. Strategi Agresif (SO). dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai de­ngan keterbatasan modal. dan • penyediaan kredit lunak untuk pengadaan alsintan m­eningkatkan produk olahan berbahan baku kedelai. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dalam peningkatan nilai tambah hasil dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. Strategi ini tampaknya harus diformu­ lasikan secara hati-hati. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal dan optimalisasi pemanfaatan peluang e­ksternal.

• pemanfaatan jaringan transportasi guna mendukung p­engem­ bangan industri pengolahan. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi ini meliputi: • pemanfaatan infrastruktur guna mempersingkat rantai pemasaran. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan pada tingkat petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang juga tidak 49 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • pemanfaatan infrastruktur guna mendukung pengembangan i­ndustri pengolahan. dan • peningkatan intensifikasi di sentra produksi guna menekan laju impor. Strategi diversifikatif terdiri atas: • kerja sama petani dengan pengusaha m­eningkatkan daya tawar petani. Strategi Konsolidatif (ST). dan • intensifikasi di daerah sentra produksi untuk memenuhi p­ermintaan kedelai yang meningkat. Strategi Defensif (WT) . Strategi ini diharapkan mampu mening­katkan nilai tambah distribusi dan pemasaran di tingkat petan­i produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. Penerapan teknologi informasi akan memperlancar arus data dan informasi dari pasar ke produsen dan ke pengolah begitu pula sebaliknya. pengolahan untuk • perbaikan sistem informasi pasar melalui penerapan teknologi i­nformasi. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk me­ manfaatkan peluang pasar eksternal yang ada agar kelancaran arus kedelai dari petani produsen maupun pengolah sampai ke pasar baik di desa maupun di kota terjamin. • pemanfaatan transportasi yang lancar untuk menekan biaya trans­ portasi. dan • penerapan tarif terhadap kedelai impor secara proporsional.

Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal me­ manfaatkan peluang eksternal yang ada agar seluruh kelembagaan baik di tingkat petani produsen maupun prosesing di pedesaan. konsolidatif. dan permodalan pada tingkat pedesaan tampaknya akan merupakan katalisator dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri. penyuluhan. dan industri pengolahan. Strategi penguatan kelembagaan Percepatan penerapan revitalisasi kelembagaan petani. Strategi ini harus diformulasikan secara tepat dan hati-hati. • sinkronisasi kelembagaan alih teknologi dengan program revita­ lisasi penyuluhan. Seperti halnya pada aspek-aspek lainnya. dan • pemberdayaan kelompok tani guna mendukung program alih t­eknologi. dan defensif. formulasi strategi dalam aspek kelembagaan juga dikelompokkan ke dalam empat magnitude sesuai dengan analisis SWOT yaitu agresif.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai kalah banyaknya. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan informasi pasar yang ada guna memperpendek r­antai pemasaran. Strategi Diversifikatif (WO) . 6. Strategi Agresif (SO). penyuluhan maupun permodalan serta optimalisasi pemanfaatan pe­ luang eksternal. Strategi agresif dari aspek kelembagaan. diversi­ fikatif. antara lain: • pemanfaatan lembaga perkreditan untuk mendorong swasta dalam industri pengolahan. pe­ nyuluhan. dan • penerapan tarif impor untuk menekan volume impor dan m­eningkatkan daya tawar petani. Kelembagaan petani produsen yang ditangani secara profesional akan mampu meningkatkan posisi tawar petani dalam pasar produk 50 . Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang ada pada tingkat organisasi petani.

dan • kerja sama petani dengan swasta guna meningkatkan ketersediaa­n modal bagi petani.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI kedelai yang secara alami bersifat kompetitif. dan • sinkronisasi peraturan dan kelembagaan antara pusat dengan daerah. guna meningkatkan fungsi kelembagaan. • penegasan komitmen pimpinan kelembagaan dalam pelaksanaan peraturan. serta peningkatan peran dan fungsi kelompok. Strategi ini meliputi: • perbaikan kinerja lembaga permodalan dan alih teknologi untuk meningkatkan kepercayaan petani terhadap kelembagaan yang ada. Strategi ini antara lain: • percepatan penerapan revitalisasi penyuluhan dan lembaga p­ermodalan. Strategi defensif yang terkait dengan masalah dis­ tribusi dan pemasaran harus diformulasikan secara tepat dan hatihati. Penerapan teknologi informasi dan manajemen usaha yang efisien akan memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen dan sebaliknya. Strategi diversifikatif terdiri atas: • pemanfaatan program alih teknologi dan penyuluhan untuk p­erbaikan sistem penyuluhan. • revitalisasi kelompok tani guna meningkatkan kepercayaan petan­i. Strategi Defensif (WT). Strategi ini diharapkan mampu melakukan konsolidasi manajemen usaha agribisnis kedelai untuk nilai tambah pada tingkat petani produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat manajemen maupun sosialekonomi. dan 51 . Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal institusi yang masih banyak kelemahan pada tingka­t petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang merugikan petani.

Dari aspek litbang. Dalam mempercepat revitalisasi penyuluhan. Implementasi dari kerja sama penelitian (KSP) dapat dilakukan dalam bentuk konsorsium. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). dan (2) penerimaan tenaga penyuluh disertai dengan penye­ diaan fasilitas pendukungnya. 52 . yaitu: (1) pemantapan lembaga penyuluhan dan keterkaitannya dengan lembaga penelitian. dan (2) melakukan KSP jangka menengah dan panjang dengan lembaga penelitian lain.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan akses petani terhadap sumber modal melalui p­erbaikan komitmen pimpinan kelembagaan. dan (2) pemantapan program penelitian untuk menjalin KSP dengan pihak luar. yaitu: (1) percepatan im­ plementasi revitalisasi penyuluhan. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). B. Dua program operasional yang dirumuskan sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut adalah: (1) penelitian ung­ gulan sesuai kebutuhan stakeholders. kebijakan terse­ but harus ditindaklanjuti dalam bentuk program operasional. Satu kebijakan tertapis dan yang paling dominan yaitu penyediaan insentif bagi peneliti ber­ prestasi melalui penerapan HaKI dan tunjangan peneliti yang m­emadai. Kebijakan dan program penelitian dan pengembangan Kebijakan dan Program Agresif (SO). Dengan demikian. dan (2) fasilitasi KSP antara peneliti litbang dengan lembaga penelitian lain. baik nasional maupun internasional. Prioritas Kebijakan dan Program Pengembangan 1. dalam rangka konsistensi program penelitian. baik nasional maupun interna­ sional. Jika pendanaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Kedua strategi ini berpijak dari keterbatasan tenaga peneliti dan inkon­ sistensi program penelitian. baik nasional maupun internasional. namun tetap berupaya memanfaatkan pe­ luang KSP dengan pihak luar. Kebijakan yang ter­ tapis adalah: (1) penajaman prioritas penelitian sesuai dengan SDM yang tersedia. sebagian keterbatasan dana peneli­ tian dari Badan Litbang Pertanian dapat diatasi melalui kerja sama ini. kebija­ kan pengembangan yang tertapis dua strategi. maka KSP dapat dilakukan dengan sistem cost sharing.

diharapkan subsidi benih dari pemerintah d­apat dimanfaatkan secara tepat sasaran. dan BBU. Kebijakan dan Program Agresif (SO). Sedangkan kebijakan pengembangan yang berkaitan dengan strategi SO tersebut adalah: (1) implementasi disertai pengawasan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. BBI. BBI. strategi yang bersifat agresif (SO) adalah: (1) pemanfaatan subsidi b­enih untuk penyediaan varietas unggul. 2. BBI dan BBU dalam penyediaan benih bermutu.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut. D­engan demikian. Dari aspek perbenihan. dan (2) meningkatkan peran UPBS. BBI. dan (2) penyediaan fasilitas dan pengangkatan tenaga yang dibutuhkan UPBS. Dengan demi­ kian kesinambungan antara peneliti senior dengan peneliti yunior akan berjalan dengan baik. Kebijakan dan Program Defensif (WT). dan UPBS. Formulasi kebijakan tertapis tersebu­t bertujuan untuk: (1) memanfaatkan subsidi benih dari pemerintah se­ cara optimal. 53 . dan (2) peningkatan kemampuan UPBS. Kebijakan dan program sistem perbenihan Dari hasil analisis tapisan. maka strategi kebijakan dan pro­ gram yang relevan dalam pengembangan kedelai tertapis lima kebi­ jakan dan program yang terkait dengan sistem perbenihan kedelai. dan BBU dapat ber­ peran lebih baik dalam penyediaan benih unggul bermutu. Kebijakan yang dibu­ tuhkan untuk perbaikan kinerja tenaga peneliti adalah rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan lembaga penelitian. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) program benih tepat sasaran. maka program yang harus dilaksanakan adalah perbaikan sistem tunjangan fungsional peneliti dan penerapan HaKI secara konsekwen. BBI. dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. Kebijakan dan pro­ gram ini diharapkan dapat mendorong kreativitas peneliti dalam meng­ hasilkan teknologi dan rumusan kebijakan baru yang prospektif. dan BBU yang ada. dan (2) peningkatan peran UPBS. Sedangkan program yang mendesak untuk diimplementasikan adalah pene­ rimaan pegawai sesuai kebutuhan lembaga penelitian.

kebijakan yang dibutuhkan adalah fasilitasi pelatiha­n penangkar benih di tiap daerah. Program pendukungnya adalah p­enerapan sertifikasi singkat dan tepat sasaran.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan penangkar benih dalam memproduks­i benih kedelai bermutu. sehingga masa penjualan benih relati­f singka­t. air. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Pada strategi WO. umur sertifikat benih kedelai hanya tiga bulan sejak mulai pengujian. Sedangkan program yang r­elevan untuk merealisasikan kebijakan tersebut adalah pelatihan p­enangkar benih di tiap daerah. yaitu hanya dua bulan. benih dasar dan benih pokok pada tingkat BBI-BBU dan benih sebar pada tingkat penangkar. Sementara itu. Kebijakan dan pro­ gram ini ditujukan untuk mengatasi masalah birokrasi yang panjang pada sistem sertifikasi saat ini yang memakan waktu paling cepat satu b­ulan. dan insektisida hayati. dan input kimiawi. kebijakan yang tertapis dan dominan adalah perbaikan dan penye­ derhanaan peraturan sertifikasi. Kebijakan ini untuk menanggulangi keterbatasan dan mahalnya sarana produksi dalam upaya pengembangan teknologi hemat biaya ( least cost technology ) untuk produksi benih unggul. Kunci keberhasilan yang pernah dicapai Indonesi­a pada awal tahun 1990an adalah adanya program jalur benih antara musim dan lapang (Jabalsim). Dalam rangka pembinaan penangkar benih lokal. Contoh bentuk teknologi tersebut antara lain adalah budi daya benih kedelai tanpa olah tanah (zero tillage­ ). Program ini bisa dihidupkan lagi dengan memperbaiki sistem perbenihan mulai dari benih inti dan benih sumber pada Balit Nasional. tenaga kerja. 54 . Kondisi ini kurang kondusif bagi i­ndustri benih kedelai di Indonesia. penggunaan bahan organik (pupuk kandang atau mulsa jerami­). Program yang terkait dengan kebijakan ini adalah pengembangan teknologi produksi benih hemat lahan. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) .

dan input kimiawi. Sedangkan program pendukung yang r­elevan adalah budidaya kedelai hemat lahan. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Kegiatan lain yang juga perlu mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan produksi. Alternatif kebijakan yang diformulasikan adalah intensifikasi kedelai untuk meningkatkan produktivitas. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kedelai di tingkat petani. Sedangka­n p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan ini adalah: (1) penyediaan kredit dan pendampingan untuk penerapan teknologi PTT. 55 . Kebijakan dan program sistem produksi Kebijakan dan Program Agresif (SO). Sedangkan program dibutuhkan untuk mendukung k­ebijakan tersebut adalah pelatihan penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT serta anomali iklim. air. tenaga kerja. dan (4) pemanfaatan potensi genetik tanaman melalui kemajuan iptek pertanian. antara lain: (1) menekan senjang hasil antara tingkat penelitian atau pengkajian dengan tingkat petani. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan peningkatan produktivitas adalah penggunaan varietas u­nggul dan pemupukan berimbang yang dikemas dalam pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT). Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). dan (2) penanaman kedelai pada musim kering di lahan tidur. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah introduksi teknologi biaya rendah u­ntuk menekan biaya produksi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. (2) meningkatkan stabilitas hasil melalui peringatan dini terhadap ledakan hama dan penyakit maupun anomali iklim. (3) mengurangi kehilangan hasil. dan (2) perluasan areal tana­m untuk meningkatkan luas panen dan produksi kedelai. Kebijakan yang terkait adalah: (1) pengembangan teknologi PTT. Alternatif kebijakan yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampila­n tenaga penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT dan anomali iklim.

dan (2) optimalisasi penyaluran kredit lunak untuk alsintan. 5. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Kebijakan dan program distribusi dan pemasaran Kebijakan dan Program Agresif (SO). dan (2) pelatihan penyuluh dalam teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan yang terkait untuk menekan kehilangan hasil adalah pengembangan i­ndustri r­umah tangga untuk pengolahan kedelai. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsin­ tan praproduksi dan produksi. Alternatif kebijakan yang terkait adalah penigkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan hasil panen. Kebijakan dan program panen dan pascapanen Kebijakan dan Program Agresif (SO) . Kebijakan dan Program Defensif (WT). Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pelatihan pengolahan hasil bagi petani untuk menekan kehilangan hasil panen. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pe­ ngadaan alat pengolahan. Sedangkan program yang relevan untuk mendukun­g kebijakan tersebut adalah: (1) demonstrasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Alternatif kebijakan yang diperlukan untuk merealisasikan strategi ini adalah: (1) promosi t­eknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Sedangkan p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan yang bersifat konsolidatif adalah pelatihan pengolahan kedelai menjadi produk olahan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) optimalisasi pe­ nyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolah kedelai. dan (2) revitalisasi fungsi dan peran penyuluh dalam alih teknologi panen dan pascapanen. dan (2) peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur guna 56 . Kebijakan yang diperlukan adalah: (1) perbaikan jaringan transportasi untuk memperlancar arus barang.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 4.

dan (2) peningkatan kemampuan dan keterampila­n petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. Alternatif kebijakan yang terkait adalah perbaikan jaringan transportasi untuk menekan biaya transportasi. Alternatif kebijakan yang diperlukan adalah: (1) pengembangan teknologi siap terap sebagai b­ahan penyuluhan. 6. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengadaan dan per­ baikan sarana angkutan darat. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk men­ dukung implementasi kebijakan tersebut di atas adalah pengadaan dan perbaikan sarana angkutan darat.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI mendukung pengembangan industri pedesaan. Kebijakan dan Program Defensif (WT ). Kebijakan dan program kelembagaan Kebijakan dan Program Agresif (SO). Kebijakan dan program ini di­ butuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meng­ konsolidasikan manajemen distribusi dan pemasaran yang secara internal masih banyak kelemahan dan ancaman dari faktor eksternal pun masih cukup banyak. dan (2) pelatihan penyuluh dalam bidang teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebi­ jakan tersebut adalah peningkatan kualitas SDM dan fasilitas dalam pelaksanaan pengawasan tarif impor. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Alternatif kebijakan yang terkait adalah peningkatan pelaksanaan dan pengawasan tarif impor. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) demon­ strasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Sedangkan 57 . laut dan udara. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsintan praproduksi dan produksi. laut dan udara. dan (2) pembangunan dan perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran pemasa­ ran hasil industri pangan. Alternatif kebijakan yang sesuai adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolahan.

Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengembangan pola kemitraan dalam penyediaan sara­ na produksi dan pemasaran hasil. dan (2) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. Alternatif kebijakan yang terkait adalah revitalisasi kelembagaan permodalan dan alih teknologi. dan (2) pelatihan petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. Alternatif kebija­ kan yang sesuai adalah: (1) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. dan (2) demplot inovasi teknologi baru dengan melibatkan peneliti-penyuluh-kelompok tani. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai progra­m yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) penyebarluasan teknologi siap terap dan alat peraga bagi penyuluh. Kebijakan dan Program Defensif (WT) . 58 . Alternatif kebijakan yang terkait adalah percepatan revitalisasi kelompok tani guna m­eningkatkan kepercayaan petani. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Sedangkan program yang dibu­ tuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pemberdayaan kelompo­k tani melalui konsolidasi manajemen kelompok dan p­enguatan modal kelompok. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut adalah pengembangan lembaga keuangan mikro ( micro finance ) guna mendukung alih teknologi.

Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Menengah Kedelai merupakan salah satu komoditas industri baik industri pangan maupun pakan. Rendahnya produktivitas di tingkat petani antara lain disebabkan oleh penggunaan varietas lokal setempat dengan hasil rendah dan penggunaan benih produksi sendiri oleh petani. belum tersedianya benih bermutu secara luas dan belum diadopsinya teknologi spesifik lokasi secara luas turut berpe­ran menyulitkan upaya peningkatan produktivitas kedelai. Oleh karenanya. Produksi kedelai nasional cenderung menurun sejak tercapainya produksi tertinggi pada tahun 1992 yang mencapai sekitar 1. Kondisi ini makin mendorong menurunnya produksi kedelai domestik pasca 1992. Di sisi lain.5 ton biji kering/ha. Usahatani kedelai dihadapkan kepada resiko yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lain sehingga kurang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat on farm. Namun peningkatan produktivitaspun sangat lambat dan sulit karena belum ditemukannya varietas unggul baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata. PETA JALAN MENUJU PENCAPAIAN SASARAN PENGEMBANGAN A. menunjukkan potensi hasil yang berkisar antara 2. Ancaman lain terhadap upaya peningkatan produksi kedelai adalah harga kedelai im­ por yang lebih murah dan mudah diperoleh. dukungan kebijakan dan program pengembangan yang kondusif yang mampu memberikan insentif bagi petani kedelai untuk meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan. Varietas unggul baru (VUB) kedelai yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian. peta jalan menuju pencapaian sasaran jangka menengah peningkat­an produksi kedelai diawali dengan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemu­ kan inovasi teknologi baru pada m­asing-m­asing agroekosistem. Secara simultan program litbang diikuti dengan diseminasi dan promosi inovasi 59 . Berkurangnya luas areal tanam adalah penyebab utama menurunnya produksi sekalipun produktivitas dapat ditingkatkan. Peluang peningkatan produksi kedelai menuju swasembada masih cukup besar terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan area panen.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI VII.6 juta ton. Untuk memanfaatkan peluang tersebut diperlukan strategi.02.

Secara simultan dilakukan perakitan teknologi produksi dengan pendeka­ tan PTT. Sedangkan perakitan VUB baru kedelai masih diprioritaskan un­ tuk mencapai target hasil per hektar mendekati potensi genetiknya. VUB yang akan dihasilkan juga dirakit dengan pertimbangan setelah dilepas varietas tersebut mampu menciptakan pasar (demand driving). diikuti dengan pembentukan jaringan pasar (Gambar 4).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai teknologi baru baik VUB maupun PTT kedelai di lahan kering maupun la­ han sawah. s­edangkan 60 . Peng­ kayaan materi genetik dan plasma nutfah sangat penting untuk perbaikan varietas unggul baru untuk masing-masing agroekosistem. Perakitan VUB juga dirancang atas dasar kesesuaian terhadap preferen­ si dan selera pengguna serta permintaan pasar (demand driven). untuk menekan risiko dalam usahatani dan memper­ luas sumber pendapatan petani. Sisa tanaman pada saat panen dapat dijadikan pakan ternak terutama pada musim kemarau. kedelai dapat diusahakan terintegrasi de­ngan tanaman lain seperti ubi kayu. maka kedelai perlu diusahakan terinte­ grasi dengan komoditas lain termasuk ternak dalam suatu pola usahatani terpadu. Peta jalan menuju penca­ paian sasaran jangka menengah menggambarkan lima program utama yaitu: (1) penelitian dan pengembangan. Pada hirarki ke-4 dan ke-5 masing-masing adalah calon penerima manfaat dan dampak yang diharapkan. Selanjutnya. Perakitan va­ rietas kedelai yang lebih toleran terhadap lahan kering masam dan lahan kering beriklim kering tetap menjadi prioritas untuk membantu petani agar memiliki pilihan varietas yang lebih luas dalam melakukan usahataninya. jagung dan aneka k­acang lainnya. (4) program masalisasi (produksi nasional). VUB kedelai tipe baru akan menjadi salah satu program unggulan ke depan. Pada lahan kering. (3) program aksi atau scaling up. (2) diseminasi inovasi tekno­ logi. Di sisi lain. Untuk lebih memacu upaya peningkatan produktivitas. Peta jalan pengembangan kedelai perlu dibuat secara cermat agar tahapan pengembangan dan langkah-langkah operasional tetap berada pada upaya pencapaian swasembada kedelai. Kedelai juga sangat potensial diusahakan dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL). padi gogo. dan (5) pembentukan jaringan pasar. Program litbang diawali dengan pembentukan database dan deli­ neasi lahan-lahan potensial yang sesuai untuk pengembangan kedelai.

nilai tambah dari penanganan hasil ini dapat langsung diminati oleh petani sekaligus me­ ningkatkan posisi tawar petani. Kinerja manajemen usaha pengolahan kedelai harus terus ditingkatkan sehingga bisnis komoditas ini dapat bersaing dengan bisnis komoditas lainnya sehingga kedelai mampu merebut kembali keunggulan kompetitifnya di tingkat on farm. pameran. leaflet dan bookle­t dengan bahasa yang mudah mengerti oleh petani. Na­ mun pada jangka menengah petani didorong untuk mampu menciptakan nilai tambah baik secara individu maupun berkelompok. Pada hirarki berikutnya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses kelompok usaha agribisnis kedelai terhadap sumber modal. ekspose. Pemasaran kedelai di tingkat petani umumnya adalah dalam bentuk biji kering. Dengan demikian. Penerbitan dan penyebarluasan brosur. pemasyarakatan inovasi teknologi kedelai juga dapat dilakukan melalui mass-media baik c­etak maupun elektronik. Demon­ strasi teknologi di lahan petani dapat meliputi antara lain: teknologi budidaya dan teknologi penanganan hasil panen dan pascapanen termasuk pengolahan hasil sekunder. pengembangan jaringan pasar perlu dilaku­ kan melalui penyediaan informasi pasar yang cepat dan akurat termasuk market intelligence dan membangun database tentang perkembangan pasar komoditas unggulan masing-masing daerah termasuk kedelai. Dari aspek diseminasi dan promosi. Program ini dapat dilakukan dengan penyuluhan langsung pada petan­i. Usaha berkelompok dapat dilakukan oleh petani dalam bentuk koperasi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI pupuk kandang dan kompos sisa tanaman dapat dijadikan p­upuk organik untuk memperkaya kandungan bahan organik dalam tanah. dan demontrasi di lahan petani ( dem-farm). korporasi. Selain dengan memperagakan secara langsung di lahan petani. Di sisi lain penganekaragaman produk olahan berbahan baku kedelai perlu diperluas dengan memperkuat jaringan pasar produk kedelai. 61 . Pengembangan kedelai juga harus d­iikuti d­e­ ngan program aksi. atau asosiasi yang berbadan hukum. kegiatan difokuskan kepada upaya untuk mempercepat penyebaran dan adopsi inovasi teknologi. masalisasi atau program nasional dan diversifikasi pengembangan produk olahan di tingkat pedesaan. misalnya dalam bentuk korporasi pengolahan kedelai. diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mela­ kukan agribisnis kedelai.

. Peta jalan (road map) menuju sasaran jangka menengah (5 tahun ke depan) pengembangan kedelai.62 AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 4.

(3) keterkaitan vertikal (penciptaan nilai tambah melalu­i pengolahan hasil). Konsumsi kedelai diproyeksikan meningkat 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pada hirarki selanjutnya. juga petani dalam pola kemitraan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Pengembangan diversifikasi vertikal melalui pengolah hasil tidak hanya bermanfaat bagi prosesor. Di sisi lain. Empat keterkaitan utama dapat dilihat antara lain: (1) keterkaitan i­nstitusional (kelembagaan). (4) keterkaitan regional (pewilayahan komoditas u­nggulan dan i­ndustri pengolahannya). Muara dari penca­ paian sasaran jangka panjang peningkatan produksi dan pengem­bangan industri pengolahan kedelai adalah tumbuh dan berkembangny­a nilai tambah dan ekonomi pedesaan. Keempat keterkaitan tersebut 63 . Sedangka­n pendapatan rumah tangga tani diperkirakan akan terus meningkat dan m­encapai US$ 2500/kk/tahun pada akhir program. Peta jalan menuju sasaran jangka panjang pengembangan i­ndustri pengolahan kedelai di pedesaan disajikan pada Gambar 5.55% per tahun sampai 2025. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Panjang Sasaran jangka panjang pengembangan kedelai adalah berkem­ bangnya industri pengolahan baik untuk pakan maupun industri pa­ ngan di pedesaan yaitu antara 2. memperluas sumber pendapatan. Namun demikian. pengem­ bangan industri pengolahan kedelai di pedesaan hendaknya memper­ hatikan daerah sentra produksi untuk menekan biaya transportasi kedelai s­ebagai b­ahan baku industri. mengurangi risiko kegagalan dan sekaligus mempertahankan kesuburan tanah.0-2. pengusaha yang bergerak di bidang industri pengolahan juga mendapat keuntung­ an dari proses peningkatan nilai tambah dan jaminan pasokan bahan baku melalui pola kemitraan yang disepakati oleh kedua belah pihak. Mela­ lui pengembangan model integrasi tanaman ternak ini petani akan mampu meningkatkan indek pertanaman dalam pola tanam setahun. (2) keterkaitan horisontal (diversifikas­i horizontal­). B. Dengan demikian muara dari manfaat tersebut adalah meningkatnya pendapatan dan kesejah­teraan rumah tangga tani dan masyarakat pedesaan.0% per tahun. penerima manfaat dari upaya pening­ katan produksi kedelai adalah petani produsen yang mengembangkan sistem integrasi tanaman ternak dalam usaha tani terpadu bebas lim­ bah (SITT-BL).5-5.

(2) revitalisasi program penyuluha­n untuk percepata­n prose­s diseminasi dan adopsi inovasi teknologi pertanian. dan (5) pengembangan sistem agribisnis kemitraan yang saling membutuhkan. dan (4) integrasi kedelai ke dalam sistem usahatani terpadu di tingkat petani. Pengembangan sistem usahatani tumpang sari dalam pola seta­ hun pada sentra-sentra produksi kedelai. AEZ). (3) penelitian dan peng­ kajian (litkaji) PTT kedelai untuk masing-masing agroekosistem atau yang bersifat spesifik lokasi. di wilayah surplus maupun defisit berupa arus barang dan jasa yang lancar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai akan m­emberikan dampak positif bagi calon penerima manfaat baik di tingkat produsen maupun konsumen akhir. 64 . (3) pemberdayaan kelembagaan permodalan pertanian. ICAS). (4) k­onsolidasi manajeme­n usaha agribisnis dalam bentuk sistem usaha agribisnis k­orporasi (integrate­d corporate agribusiness system. Keterkaitan institusional atau kelembagaan merupakan pra-syarat (pre-requisite) dan pilar utama pengembangan agribisnis komodita­s kedelai baik sebagai bahan baku maupun produk olahan industri p­angan maupun pakan. PTT spesifik lokasi kedelai dapat menggunakan varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi yang mendekati potensi genetiknya. serta dikehendaki oleh kedu­a belah pihak. (2) varietal selection and testing. Semua hirarki dalam peta jalan tersebut. Sedangkan keterkaitan horizontal dalam pengembangan kedelai adalah pelaksanaan program peningkatan produksi dan pengemban­ gan industri pengolahan secara konsisten yang diawali dengan: (1) ka­ rakterisasi dan dileniasi agroekosistem yang sesuai (agro-ecosystem zoning. Mengintegrasikan kedelai ke dalam sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL) terutama di lahan kering yang pada umumnya kurang subur dapat memperluas dan memperkuat sumber pendapatan rumah tangga tani di wilayah ini. menguntungkan dan saling ketergantungan. baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang akan menjadi lintasan utama menuju peningkatan produksi dan pengembangan industri pengolaha­n kedelai di pedesaan. Keterkaitan kelembagaan meliputi: (1) revitalisas­i kelemba­ gaan petani. Muara dan manfaat dari peta jalan tersebut ber­ ujung kepada membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan r­umah tangga tani dan masyarakat di pedesaan.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 5. Peta jalan (road map) menuju pencapaian sasaran jangka panjang 20 tahun ke depan. AGRO INOVASI 65 .

Peningkatan aksesibilitas terhadap pasar diharapkan mampu meningkatkan arus barang dan jasa melalui perdagangan antara wilayah surplus dan wilayah defisit. 66 . diperlukan dileniasi wilayah pengem­ bangan kedelai antar wilayah sebagai komoditas unggulan. Pengembangan keterkaitan vertikal dalam produksi dan industri pengolahan kedelai dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah di tingkat petani melalui penerapan inovasi teknologi pengolahan hasil baik primer maupun skunder yang meliputi: (1) pengembangan diver­ sifikasi produk olahan kedelai. Percepatan program pengembangan industrialisasi pedesaan akan memberikan arah pada pemanfaatan kedelai dalam menciptakan nilai tambah di pedesaan. konsolidasi usaha antarpetani dalam bentuk kelompok usaha agribisnis terpadu (KUAT) yang dike­ mas ke dalam sistem usaha agribisnis korporasi terpadu (integrated corporate agribusiness system. Pengembangan SITT-BL. (2) pengembangan industri pengolahan di pedesaan. Sistem integrasi ini akan mendorong produksi produk sampingan secara in-situ seperti sisa tanaman sebagai pa­ kan ternak. ICAS) merupakan jalan keluar untuk meningkatkan posisi tawar petani dan segera keluar dari perangkap kemiskinan baik sementara maupun permanen. Kelancaran arus barang dan jasa akan memacu pertumbuhan ekonomi regional. Proses penciptaan nilai tambah ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi pedesaan. Program ini tentu harus dipicu oleh kebijakan yang bias kepada pedesaan. Untuk mendukung memasarkan hasil produksi dan produk olahan secara luas perlu penguatan dan peningkatan infrastruktur dan jasa angku­ tan antar pulau maupun wilayah. dapat dilakukan melalui pola kemitraan dengan pihak swasta.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sedangkan pada lahan irigasi pada umumnya kedelai diusahakan setelah usahatani padi. dan 3) pemanfaatan limbah pengolahan kedelai sebagai pakan ternak dan pangan seperti oncom sebagai salah satu sumber protein. Masih terbuka kemungkinan untuk memproduksi biogas melalui dekompos limbah samping dari sistem ini. Oleh karena itu. Dalam hirarki keempat. limbah dan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk memperkaya bahan organik tanah.

Sasaran lain dalam pengembangan industri pengolaha­n kedelai adalah tersedianya lapangan kerja bagi angkatan kerja pedesaa­n guna mengurangi beban sektor pertanian yang selalu m­enjadi tumpuan terakhir dalam pemecahan masalah ketenagakerjaa­n. 67 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Muara dari semua program yang dicanangkan tersebut di atas adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyaraka­t k­hususnya petani kedelai dan keluarganya serta masyarakat pedesaa­n.

5% per tahun berturut-turut pada periode lima tahu­n kedua. Selain sarana fisik.02 juta ton. A.25% per t­ahun selam­a periode 2005-2025. mesin perontok. sedangkan konsumsi kedelai dalam negeri diproyek­ sikan 3. KELAYAKAN INVESTASI Dalam upaya mencapai sasaran produksi yang ditargetkan s­eperti terlihat pada Tabel 6-8. skenario 2.93% per tahun selama periode yang sama. serta investasi untuk revitalisasi penyuluhan. s­kenario 2 pada tahun 2015. Dengan skenario ini. dan skenario 3. per­ tumbuhan areal panen ditargetkan menurun dari rata-rata 10% per tahu­n selama periode lima tahun pertama (2005-2010). Masing-masing skenari­o m­empunyai target waktu pencapaian swasembada yang berbeda.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai VIII. Indonesia sudah mencapai swasembada kedelai. Di tingkat usahatani. dan skenario 3 ditargetkan untuk mencapa­i swasembada pada tahun 2025. pertumbuhan areal panen dan produktivita­s dirancang berbeda.0%. produktivitas ditargetkan tumbuh rata-rata 2. 68 . diharapkan pada tahun 2020 produksi mencapai sekitar 3. diperlukan sarana dan a­lsintan seperti traktor. ketiga. bahwa untuk skenario 1.07 juta ton. S­kenario 1 menargetkan swasembada kedelai pada tahun 2020. Untuk mencapai sasara­n dari ketiga skenario tersebut. 5.50% per tahun. dan sumur pantek untuk pengairan. diperluka­n berbagai investasi. Di samping itu.5%. dan 3. dan keempat. bahkan terdapat surplus sekitar 50 ribu ton. Untuk mencapai sasaran pengembangan tersebut. pertumbuhan areal panen diharapkan rata-rata 6. sehingga produksi diharapkan tumbuh rata-rata 8. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 1 Seperti terlihat pada Tabel 5. Pada posisi tersebut. yaitu skenario 1. maka ditempuh tiga skenario. pengering. menjadi 7. Selama 20 tahun pengembangan. juga diperlukan investasi u­ntuk penelitian dan pengembangan (Litbang) dalam merakit teknologi baru.

kebutuha­n investasi untuk pengembangan kedelai berdasarkan skenario 1 adalah seperti disajikan Tabel 12. termasuk mesin pompa sumur pantek. bahwa investasi yang besar diperlukan pada tahun awal (2005) dan tiap lima tahun berikutnya. Demikia­n juga untuk pengering yang dapat digunakan u­ntuk menge­ringkan berbagai komoditas pertanian.73 triliun untuk mesin perontok. kacang tanah atau s­ayuran. Untuk sumur. masih dibutuhkan biaya investasi untuk kegiatan penelitian dan pengembangan kedelai sebesar Rp 89 miliar. Sedangkan untuk mesin perontok dan investasi Litbang khusus digunakan untuk kedelai.73 triliun untuk mesin pengering. dan Rp 4. kumulatif biaya investasi yang dibutuhkan untuk kedelai secara kumulatif adalah sekitar Rp 393 miliar untuk traktor. juga dibutuhkan biaya pemeliharaan dan operasional yang nilainya masing-masing diperkirakan 5% per tahun dari biaya pengadaan alat. Selain pembelian. Sedangkan tahun-tahun di antaranya tambahan investasi dilakukan berdasarkan tambahan areal tanam kedelai. yaitu 30%. Diasumsikan umur ekonomi alsintan 5 tahun. Rp 2. dalam satu siklus pola tanam setahun. Rp 3. pembebanannya juga seperti pengering.17 triliun untuk sumur pantek. dan Rp 54 miliar untuk kegiatan penyuluhan.16 triliun.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Investasi traktor digunakan untuk penanaman seluruh tanama­n semusim. Seperti terlihat pada Tabel 12. 69 . sehingga hanya 30% yang dibebankan pada pengembangan kedelai. sehingga beban biaya i­nvestasi untuk kedelai diperkirakan 30% dari total nilai investas­i traktor. total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kedelai selama 20 tahun ke depan berdasarkan skenario 1 adalah sekitar Rp 11. kedelai. p­enggunaannya juga diharapkan pada 2 musim palawija. Selama periode 20 t­ahun pengembangan. jagung. sehingga setela­h berumur lima tahun dilakukan penggantian alsintan. Secara lebih rinci. sehingga pembebanannya pada pengembangan kedelai sebesar 50%. seperti padi. Untuk investasi penyuluhan. Investasi untuk a­lsintan dan sumur mulai dilakukan pada tahun awal berdasarkan luas areal pertanaman kedelai. Secara keseluruhan. Selain itu. sehingga bebannya 100% untuk kedelai.

43 3.47 544.32 3.98 127. kegiatan investasi untuk pengembangan kedelai de­ ngan skenario 1 cukup layak dilakukan.321 21.02 3.04 1.88 254.55 2.71 2.66 34.75 1.69 321. Area Provitas Prod Investasi (Rp Milliar) Tahun (000 ha) (t/ha) (000 t) traktor perontok pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.07 113.113 1.49 2.72 24.17 29.97 3.93 2.20 214.63 5. sehingga ting­ kat pengembalian investasi (Return of Investment=ROI) sebesar 1.948 11.79 2.160 3.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 12.52 1.92 55.692 1.19 99.19 4.95 2. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasar­ kan skenario 1.90 177.95 3.737 51.47 128.069 41.454 22.319 1.86 3.37 2.00 452.94 401.79 51.20 149.09 104.07 2.09 47.95 219.29 3.20 169.149 4.52 2.72 57.50 553 2006 626 1.580 1.58 120 2007 688 1.91 4.57 454 2017 1.85 2.58 11.63 203.50 1.94 212.951 18.456 26.193 20.98 1330 Di sisi lain.79 699 2025 1.22 366 2014 1.64 200.00 188.726 3.321 5.61 660 2024 1.97 574 2020 1.77 325.99 3.65 130 2008 757 1.88 2. 70 .14 40.20 39.47 153.71 1.73 3.61 245.604 9.46 3.88 167.30 53.32 231.63 1.752 1.59 1.06 291.44 895 2016 1.768 10.88 2.287 33.57 138.598 16.63 Total 393 2.44 623 2023 1.27 597 2022 1.729 4.03 115.92.74 149 2009 833 1.81 151.33 757 18.92 157.19 109.92 191.49 157. Ini berarti bahwa tiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi diperoleh tambahan penerimaan dari nilai produksi sebesar Rp 1920.96 4.61 2.454 1.89 1.69 2.74 52.196 1.38 116.876 1.67 1.83 528 2019 1.94 3.40 313.23 193.63 1.35 2.76 1.90 2.98 3.82 217.035 1. karena diperoleh keuntungan dari investasi sekitar 92% dari total biaya investasi.53 3.28 2.813 1.67 4. Dengan kata lain.526 1.73 177.80 273.385 1.82 34.94 3.47 triliun.82 170 2010 896 1.00 162.169 89.593 24.11 5.12 1.19 1.33 412 2015 1.39 870 3.42 126.51 6. nilai tambahan produksi yang dihasilkan dari investasi tersebut secara kumulatif adalah sekitar Rp 21.256 1.47 4.20 3.74 80.79 3.73 6.146 13.635 1.89 64.91 714 2011 963 1.74 70.000 4.73 261.69 486 2018 1.29 6.11 325 2013 1.38 140.82 2.64 5.33 139.35 2.61 147.67 99.438 15.66 194.96 3.35 380.769 17.01 294 2012 1.79 182.083 2021 1.45 1.85 91.

90 2017 486 4.629 6.914 21.05 2009 170 2.55 2023 659 5. Secara lebih rinci.027 1.183 7.976 1.426 3.439 6.470 ROI = 1.421 4.79 2007 130 2.104 3.51 pada tahun ke-10 program.822 17.888 3.589 755 1.45 2013 366 3.794 1.442 853 2.51 2016 454 3.639 13. yaitu terus meningkat dari 1.550 1.767 4. Tabel 13.492 1.338 3.959 24.721 1. Dengan demikian.077 5.153 16. investasi ini juga cukup layak. swasembada kedelai tercapai pada tahun ke-15.082 2.956 4.195 4.411 3.958 1.64 2024 699 5.502 18.889 15.154 4. maka swasembada dicapai pada tahun 2020.12 2019 574 4.670 5.703 9.497 1.834 883 2.700 20.05 2021 596 4. dan R/C secara mikro.45 2022 623 5.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dengan skenario ini. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­er­dasarkan skenario 1.52 Total 11.74 2025 1.878 1.56 2014 412 3.088 2.34 2006 120 1.951 749 2.361 4.401 6.567 540 1.19 2010 714 2.267 1.34 pada tahun awal menjadi 2. kriteria ROI secara makro.687 3.338 3.065 2.405 963 2.177 3.137 22.105 3.410 12.213 1.229 2.998 3. Jika program dilaksanakan pada tahun 2005. analisis kelayakan investasi berdasarkan skenario 1 disajikan pada Tabel 13.24 2020 1083 4. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 553 1.499 2.976 1.905 5.291 3.521 3.048 260.330 5.588 4.631 21.255 5.182 3.160 77. Secara mikro di tingkat usahatani.712 991 2.678 1.255 3.272 2.91 2008 149 2. dapat disimpulkan bahwa program pengembangan kedelai dengan skenario 1 layak dilakukan. baik dalam pencapaian swasembada pada tahun ke-15.01 2018 528 4.000 10. yang dicerminkan oleh nilai perimbangan penerimaa­n terhadap total biaya (R/C).740 5.579 5.92 71 .707 2.94 2011 294 2. dan 3.781 1.663 11.260 3.202 636 1.68 2015 895 3.34 2012 325 3.52 pada tahun ke-20 program.888 89.430 8.

01 46.05 239.07 2.44 963 2023 1.807 35.67 1.90 3.630 27.20 3.88 323.70 112.02 3.30 190.336 15.33 757 18.63 1.96 6.63 3.82 33.53 159.21 4.52 1.06 312.43 230. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1. berdasar­ kan skenario 2 adalah seperti disajikan pada Tabel 14.927.40 66.334 1.398 22.103 1.27 928 2022 1.873 1.54 55.83 901 2019 1.98 4.26 421.18 4.71 2.30 53.838 11.88 6. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 2 Dalam skenario 2.04 1.95 3.40 180.046 4.57 580. yaitu rata-rata 2. jika program dimulai tahun 2005.02 190.95 180.52 2.49 152.70 3.89 598.94 271. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-10 program atau tahun 2015.19 1.628 Total investasi 435.77 321.85 2.61 3. dan 1.04 263.041 2025 2.96 3.446 6.50 1.5% per tahun pada periode lima tahun pertama (2005-2010).634 17.31 47.01 469 2012 1.930 1.03 5.000 25.55 171.71 2.73 3.39 890 4. Tabel 14.97 3.94 3.018 1.35 5.20 135.21 115.22 112.91 850 2011 1.003 1. 5%.59 1.28 487.59 526.47 97.33 139.94 562.902 1. pertumbuhan a­real t­anam adalah 12.356 2021 1.699 1. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 1.622 23.61 1.93 3.33 5.51 39.06 3.32 3.053.91 3.35 127.91 254.768 22.58 172 2007 720 1.82 271 2010 1.79 141.694 43.579.988 1.79 1.34 157.26 200.87 418.230 5.57 762 2017 1.46 3.39 6.080 51.63 1.74 233 2009 911 1.49 195.62 4.01 4.12 1.98 1.24 285.53 215.49 2.21 8.959 1.28 2.75 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai B.76 1.25% per tahun selama periode 2005-2025.35 2.213 1.001 2024 2.26 452.67 544.97 3.33 699 2015 1.71 3.58 16.69 827 2018 1.88 2. Tahun Area Provitas Produksi Investasi (Rp.97 982 2020 1.85 187.82 2.45 1.541 1.844 23.921 24.20 27.89 1.85 2.135 2016 1.468 1.91 173.84 131.96 193.189 20.06 174.618 1.84 3.08 362.99 4.92 84.36 145. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi ber­ dasarkan skenario 2.14 2. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program.10 178.48 38.91 203.139 72 .11 209. selanjutnya 10%.22 611 2014 1.69 2.88 3.44 1.50 574 2006 640 1.45 98.65 201 2008 810 1. Miliar) (000 ha) (t/ha) (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.55 600.95 2. ketiga dan keempat.80 2.072 13.11 535 2013 1.81 3.784 1.25 944.22 89.67 99.62 769.5% per tahun berturut-turut pada pariode lima tahun kedua.992 18.95 2. Untuk mencapai sasaran tersebut.87 297. Rata-rata pertum­ buhan areal tanam selama 20 tahun program adalah 7.67 4.43 278.79 2.25% per tahun.048 1.

73 . yaitu rata-rata 2. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 2. dan setiap lima tahun berikutnya. Dengan demikian. pada tahun-tahun diantaranya investasi dilakukan berdasarkan tambahan a­real tanam. secara kumulatif total biaya investasi yang dibutuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 16. Seperti halnya pada skenario 1. Untuk mencapai sasaran tersebut.99 pada awal tahun. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 3 Dalam skenario 3. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program. diperoleh tam­ bahan penerimaan Rp 2. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.05 triliun untuk mesin perontok. kemudian meningkat menjadi 4.07 pada tahun ke-10 dan 6.58 triliun. seperti disajikan pada Tabel 15. dan Rp 8.14 triliun. Dari segi penerimaan. kegiatan investasi ini juga sangat layak. Angka ini menunjukkan bahwa program pengem­ bangan kedelai dengan menggunakan skenario 2 sangat layak. pertumbuhan areal t­anam adalah 7. berdasarkan s­kenario 3 adalah seperti disajikan pada Tabel 16. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dari Tabel 14 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.25% per tahun selama periode 2005-2025.0% dan 3. Dari sisi usahatani secara mikro. C. jika program dimulai t­ahun 2005. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 2 adalah masing-masing Rp 436 miliar untuk traktor. yaitu 1. Rp 3. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.5% per tahun pada periode 2005-2009 dan periode 20102014. Sedangkan biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar. Kemudian laju peningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5. Rp 3.58 triliun untuk mesin pengering. Karena setiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi.25% masing-masing untuk periode 20152029 dan 2020-2025 (Tabel 15).20. Dengan d­emikian.93 tri­liun untuk sumur pantek.63 pada tahun ke-20. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-17 program atau tahun 2022.200.

729 28. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai ber­ dasarkan skenario 2.20 4.6540 2.703 2.966 7.628 Total 16.773 10.41 5.106 30.877 5.617 5.99 6.176 2.055 6.041 2025 1.855 5.778 1.614 17.145 90.472 (Rp M) 931 2.061 6.718 6.61 2.787 1.734 3.576 ROI = 2023 1.19 4.13 5.840 6.308 3.463 35.672 40.695 1.87 3.945 1.541 .920 3.965 6.093 2.399 33.925 6.639 4.65 4.003 4.122 7.116 1.356 32.16 2.135 21.353 5.74 4.160 2.253 6.00 5.602 7.597 2020 1.098 5.758 5.777 12.723 4.352 9.005 (Rp M) 5.430 2.404 4.98 3.001 2024 1.368 1.624 4.566 1.401 2006 172 1.49 4.87 3.34 4.790 5.663 3.27 5.574 1.593 1.824 23.281 2.55 5.064 1.103 1.620 5.008 3.301 2.561 1.096 1.737 5.361 2.095 7.705 5.530 36.600 38.659 2015 1.078 5.991 4.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 15. 1.992 25.749 455.491 3.858 11.103 19. Tahun 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2016 2017 2018 2019 2021 2022 Biaya Invest Biaya Variable Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C (Rp M) 2.79 2.139 74 .19 2.164 35.39 3.707 201 233 271 850 469 535 611 699 762 827 901 982 928 963 2.377 2.553 1.629 574 1.70 3.174 14.54 3.

01 162.73 850 955 3.76 3.73 triliun untuk mesin perontok.94 223.03 168.45 21.74 146 3.727 40.990 305.46 5.392 1.65 132 2.94 2021 1.32 98. Miliar) (000 ha) (t/ha) 569 1.47 114.42 51.11 273.01 35.82 162 3. Sedangka­n biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar.01 2.28 2013 1.32 49.81 285.484 1.37 261.52 1.96 417.360 2.90 2019 1.22 2.82 2016 1. dan Rp 4.007 3.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 16.777 10.33 2.09 260.28 4.30 2. 75 .073 760 1.97 210.44 2.98 1.11 100.69 3.08 148.99 triliun untuk sumur pantek.39 2.46 124.95 2022 1.67 1.533 1.687 1.43 triliun untuk mesin pengering.45 (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 757 18.21 113.06 212.67 165.45 236.36 2.898 19.14 89.79 723 298 330 366 407 918 479 517 559 606 639 672 707 746 707 1.52 3.50 1.657 Dari Tabel 16 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program. Rp 2.83 2.203 1.69 2. secara kumulatif total biaya investasi yang di­butuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 11.87 35.326 1.35 3.68 2.76 200.438 1.238 3.01 162.49 4.55 372.51 21.39 658 1.20 5.88 2018 1.50 626 2.90 177.21 8.086 32.34 146.60 251.32 2015 1.692 17.44 3.793 3.79 67.28 515.47 39.66 triliun.223 14.89 1.205 817 1.62 69.85 2017 1.263 1.93 2020 1.21 2.80 56. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasarkan skenario 3.23 149.19 1.98 2025 1.61 3.58 119 2.71 1.97 3. Rp 3.35 2.63 1.73 6.56 40.04 1.121 3.429 4.99 178.12 1.75 1.17 222.17 635.07 4.71 4.582 1.015 1.958 11.50 78.33 612 1.70 209.55 3.70 9.63 1.17 20.86 4.24 3. dan setiap lima tahun berikutnya.97 135.06 327.328 878 1.27 89.66 3.54 31.79 1.370 15.61 46.88 4.121 3.27 3.16 123.091 1.36 2014 1.59 1.14 129. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 3 adalah masing-masing Rp 368 miliar untuk traktor.91 3.95 5.612 25.74 153.06 198.29 151.58 11.14 159.145 1.74 2.76 1.83 87.32 6.57 2.90 239.02 6.634 1.54 139. Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Area Provitas Produksi Investasi (Rp. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.525 16.00 196.90 313.463 944 1.01 194.382 53.89 31. Dengan demikian.53 298.20 133.11 2.96 2023 1.63 2.74 61.06 298.99 Total investasi 368 2.97 2024 1.49 28.

434 24. Tabel 17.537 20.267 6.488 3. kemudia­n meningkat menjadi 3.44 76 .68 2016 479 3.47 2012 330 2.442 33.95 2006 119 1.174 9.901 5.050 3.818 1.84 2011 298 2. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Prod N.647 31.061 6. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.789 4.13 pada tahun k­e-20.68 2007 132 1.333 4.975 5.954 5.182 1.813 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Dari segi penerimaan.988 1.707 2.228 688 2.657 71.982 1.77 2020 1. Karena setiap Rp 1.454 29.932 10.60 2019 606 4.034 1.270 1.382 5.092 25.746 5.47 2021 639 4. Dengan demikian.28 2017 517 3.679 14.162 11.088 17.273 3.270 27.27 2010 723 2.747 5.978 4.440.442 7.411 12.453 5.50 2025 1.209 82.033 2.481 4.669 1.313 5.020 792 2.355 3.68 pada tahun ke-10 dan 5.835 1.930 4.280 2.06 2009 162 2.62 triliun.681 3. Angka ini menunjukkan bahwa program pengembangan kedelai dengan menggunakan s­kenario 3 sangat layak.177 4.608 4.44 2018 559 3.024 1.202 1.634 2.451 4.973 2.306 19.355 16.044 3. Dari sisi u­sahatani secara mikro.121 2.64 2013 366 3.642 5. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C.504 1.059 1.455 1. kegiatan investasi ini juga sangat laya­k.44.541 1. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­erdasarkan skenario 3.121 4.81 2014 407 3.105 6.Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 626 1.544 5.866 356.494 ROI = 2.932 912 3. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2.767 4.617 4.000 biaya yang dikeluarka­n u­ntuk investasi.21 2023 707 4.832 3.99 2015 918 3.782 22.07 2022 672 4.247 28. diperoleh tambahan penerimaan Rp 2.35 2024 746 4.451 3.598 5.95 pada awal tahun.86 2008 146 2.436 4.889 1.318 3.499 1.13 Total 11.015 1.122 1.167 3.857 5. seperti disajikan pada Tabel 17. yaitu 1.

2. tempe. Pembinaan/pelatihan produsen/penangkar benih dalam aspek teknis (produksi benih). pem­ buatan fasilitas irigasi dan jalan mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri. 5. 4. PTT kedelai perlu diimplementasikan di daerah sentra produksi kedelai di Indonesia. 6. Percepatan alih teknologi/diseminasi hasil penelitian. Pengembangan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian secara umum (pembukaan sawah/lahan pertanian baru.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI IX. Mendorong/membina pengembangan usaha kecil/rumah tangg­a dalam subsistem hilir (pengolahan produk tahu. 77 . kecap. susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi sesuai dengan tuntutan konsumen. tauco. Kebijakan alokasi sumber daya (SDM. Kemudahan prosedur untuk mengakses modal kerja (kredit usaha) bagi petani dan swasta yang berusaha dalam bidang agribisnis kedelai. IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi kebijakan pengembangan kedelai untuk mening­ katkan produksi kedelai dalam negeri meliputi: 1. 7. 3. anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) dalam rangka menghasilkan teknologi tepat guna. manajemen usaha perbenihan serta pengembangan pemasaran benih. Kebijakan makro mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri dengan memberlakukan tarif impor yang cukup tinggi dan menetapkan harga kedelai terendah di tingkat petani yang sesuai dengan perkembangan pasar agar keuntungan yang diperoleh petani layak dan memadai. Percepatan penerapan teknologi di ting­ kat petani melalui revitalisasi tenaga penyuluh pertanian. Penyediaan kredit usaha perbenihan bagi produsen dan calon produsen benih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful