P. 1
Kedelai Bagian b

Kedelai Bagian b

|Views: 15|Likes:

More info:

Published by: Latifani Ayu Chaerunnisa on Apr 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • I. PENDAHULUAN
  • II. KONDISI KEDELAI SAAT INI
  • III. POTENSI, KENDALA DAN PELUANG
  • IV. TUJUAN DAN SASARAN
  • V. ARAH DAN SASARAN
  • VI. STRATEGI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM
  • VII. PETA JALAN MENUJU PENCAPAIAN SASARAN PENGEMBANGAN
  • VIII. KELAYAKAN INVESTASI
  • IX. IMPLIKASI KEBIJAKAN

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUAN
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai s­umber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutu­han kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan se­ perti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebaga­inya­. Konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,13 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebu­ tuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, pening­katan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra­ struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam ne­ geri untuk menekan laju impor. Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor. Berkembangnya industri pangan 

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

berbahan baku kedelai membuka peluang kesempatan kerja dimula­i dari budidaya, panen, prosesing, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Agar produksi kedelai dan olahannya mampu bersaing di pasar global, maka mutu kedelai dan olahannya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembinaan dan pengembangan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran­ nya, khususnya penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahapan budi daya hingga penanganan pascapanen. 

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

II. KONDISI KEDELAI SAAT INI
A. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995, areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48 juta ha pada tahun 1995, atau meningka­t rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun 1995, terjadi penurunan a­real panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11% per tahun. S­elama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih terus menurun ratarata 9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 1. Sebagai sumber protein nabati, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan, yaitu tahu, tempe, kecap, tauco, susu kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11,38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8,97 kg/kapita pada tahun 2004, atau menu­ run rata-rata 1,69% per tahun. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Selama periode 1995–2000, konsumsi per kapita menurun dari 11,82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10,92 kg/kapita pada ta­ hun 2000, atau turun rata-rata 1,57% per tahun. Selanjutnya, penu­ runan paling tajam terjadi pada periode 2000–2004, yaitu rata-rata 4,81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang berarti, Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Artinya, bahwa Indonesia akan makin tergantung dengan impor untuk menutupi defi­ sit. Indonesia selalu mempunyai net impor yang meningkat dari se­ kitar 0,54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1,31 juta ton 

peningkatan efisiensi produksi. pengembangan infrastruktur. peningkatan n­ilai tambah. teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Mengingat penurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penurunan total konsumsi.4 0.6 1.2 0 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 Areal (juta ha) Produktivitas (t/ha) Produksi (juta ton) Gambar 1.6 0.2 1 0. de­ ngan indeks swasembada lebih besar dari satu.8 0. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelum tahun 1976. Keadaan demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus. m­engingat potensi lahan cukup luas. Perkembangan areal tanam. perbaikan akses pasar. penguata­n kelembagaan petani. perbaikan sistem permodalan.  . serta pengaturan tataniaga dan i­nsentif usaha. dan produksi kedelai di Indonesia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivita­s.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai pada tahun 2004.8 1. perluasan areal tanam. produktivitas. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan terus meningkat. 2 1.4 1. peningkatan kualitas produk.

berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang e­t al. Harga kedelai impor yang murah dan tidak adanya tarif i­mpor menyebabkan tidak kondusifnya pengembangan kedelai di dalam negeri. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. (2003). dan elastisitas s­ilang harga komoditas lainnya.67% per tahun.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI B. Dengan menggunakan elastisitas yang ada. maka proyeksi konsumsi per kapita dan total konsumsi kedelai sampai 2025 adalah seperti disajikan pada Tabel 1. pertumbuhan penduduk adalah 1. namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri.03% per tahun. Selama periode 1990–2004. Selanjutnya. Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. elastisitas harga kedelai. Permintaan Kedelai Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunaka­n elastisitas pendapatan. sedangkan pertumbuhan pendapatan per k­apita menggunakan data BPS (2002).  . Proyeksi jumlah penduduk dilaku­kan dengan menggunakan pertumbuhan penduduk dengan tingkat yang makin rendah. sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar. Pertumbuhan harga masing-masing komoditas menggunakan data FAO 1991–2002.

102 1.860 1.235 2.896 2.646 2.07 2014 10.526 1.571 1.19 280.64 228.231 1.24 juta ha pada tahun 2025.874 1.58 235.402 1.49 246.71 juta ton pada tahun 2015 dan 3.291 2.024 3.58 2009 9.16 283.43 253.352 2003 9.377 1.67 224.090 1.525 2.069 2.87 2012 9.81 juta ha pada tahun 2015.210 1.01 Dari Tabel 1 terlihat bahwa total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2.494 1.219 3.833 2.48 2008 9.687 1.13 286.58 2019 10.52 242.286 3.12 2024 11.440 1.25 273.559 1.124 2.380 1.34 Sumber: perhitungan proyeksi penulis.466 2. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1.22 276. dan 2.31 267.179 2.903 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 1.90 2022 11.29 2006 9. sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija.20 2005 9.740 1. maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 1.55 239.10 289.270 1.726 1.79 2021 10. tahun 2003–2025.089 3.585 2.77 2011 9.480 1.5 ton/ha bisa dicapai.708 2.835 1. Tantangan­ nya adalah bagaimana mencapai areal tanam seluas itu.47 2018 10.02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2.960 3.34 263.11 2004 9.997 1.61 232.01 2023 11.17 2015 10.39 2007 9.407 2. 221.37 2017 10.23 2025 11.349 2.016 2.316 1.46 249.35 juta ton pada tahun 2025. terutama yang lebih kompetitif.28 270.770 2.97 2013 10.27 2016 10.37 260.40 256.67 2010 9. Tahun Konsumsi/ kapita Proy Pddk (kg/th) (000 jiwa) Pertumbuhan Total Konsumsi pddk (000 ton) (%) 2. Proyeksi konsumsi kedelai di Indonesia.07 292.68 2020 10.154 3.04 295.  .

 . dan tahan/toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkunga­n fisik). Pengelolaan LATO d­imaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas dapat terekspresikan secara optimal. pengendalia­n hama dan penyakit dengan sistem PHT. dan organisme p­engganggu). Areal pertanaman kedelai tersebar di seluruh I­ndonesia dengan luas masing-masing seperti disajikan pada Tabel 2. pemberian air yang cukup. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO (lahan. umur genjah. dan organism­e pengganggu tanaman (LATO) telah tersedia. Teknologi produksi meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI C. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribus­i yang signifikan dalam meningkatkan produksi. tanaman. panen dan pascapanen dengan alsinta­n mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai de­ngan p­otensi g­enetiknya. air. pembuatan saluran drainase. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian be­ sar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaa­n tanaman masih belum optimal. D. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. Profil Usaha Tani Tanaman kedelai merupakan tanaman cash crop yang dibudi­ dayakan di lahan sawah dan di lahan kering. tanaman. air.29 t/ha) dengan potensi genetik tanaman masih cukup tinggi (potens­i genetik >2 t/ha). Profil Teknologi Kedelai Senjang produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. Sekitar 60% areal pertanam­an kedelai terdapat di lahan sawah dan 40% lainnya di l­ahan k­ering. Varietas unggul memi­ liki sifat seperti hasil tinggi.

82 14.48 0.551 5.346 9.32 40.86 879.06 1.14).896 374.031 % 7.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 2.148 152.39 9.67 juta ha.36 0.15 7.796 100.944 22.53 juta ha pada tahun 2003.  .650 52.987 5.388 124.048. Penyebaran areal kedelai menurut wilayah Wilayah 1992 2003 ha % ha Sumatera Jawa Kalimantan Bali & NTB Sulawesi Maluku & Papua 480.96 Jumlah 1.76 71.706 100.00 526.714 28.500/ha (R/C 2. yaitu 1. Penurunan areal tanam ada kaitannya dengan banjirnya kedelai impor sehingga nilai kompetitif dan komparatif tanaman kedelai merosot.591 73.255 1.04 4. Namun sejak tahun 2000 a­real tanam terus menurun menjadi 0. Secara finansial.81 3.665.00 Tabel 2 menunjukkan bahwa luas areal tanam mencapai p­uncaknya tahun 1992. usahatani kedelai di tingkat petani cukup menguntungkan dengan pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp 2.

Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan tek­nik pengelolaan LATO. hingga saat ini baru 10% petani yang menggunakan b­enih varietas unggul yang berlabel. KENDALA DAN PELUANG Potensi. Varietas unggul (Tabel 3) merupakan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. penanganan panen dan pascapanen. POTENSI. distribusi dan pemasaran. Varietas unggul kedelai tersebut merupakan faktor produksi yang penting untuk diterapkan pada peningkatan produktivitas. A. kendala. pembuatan saluran drainase. pemberian air yang cukup. sistem produksi. serta kelembagaan. Masalah­nya. Inovasi teknologi dengan penggunaan b­enih bermutu.  . Upaya s­osialisasi penggunaan varietas unggul sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. dan peluang dalam pengembangan kedelai dipilih berdasarkan aspek penelitian dan pengembangan (litbang). Perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. Rakitan varietas unggul baru mampu meningkatkan produktivitas >2 t/ha.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI III. Aspek penelitian dan pengembangan Potensi kedelai berdasarkan aspek penelitian dan pengem­ banga­n cukup menjanjikan. Potensi 1. pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. Varietas unggul yang dikemas dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dapat meningkat­ kan hasil dan pendapatan petani.

Gangguan stabilitas hasil pada t­anaman kedelai banyak disebabkan oleh cekaman biotik dan a­biotik.5 Tanggamus 2. Program pelatihan.5 Ijen 2. tahan naungan. Varietas Potensi hasil (t/ha) Sinabung 2. maupun kedelai sebagai tanaman sela perlu mendapat perhatian.7 *UG=ulat grayak Umur (hari) 88 85 85 87 85 85 88 89 91 90 90 Ukuran biji Sedang Sedang Besar Besar Besar Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Adaptasi Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah. Ganggua­n hama. sekolah lapang PHT perl­u ditingkatkan. lahan k­ering.6 Seulawah 2. Varietas toleran cekama­n abiotik (kekering­an. P­emanfaatan varieta­s toleran terhadap c­ekaman bioti­k (hama dan penyakit) misalny­a varietas Ijen toleran s­erangan ulat g­rayak dan potensi hasil tinggi (>2 t/ha). dan lahan bukaan baru. penyakit dan gulma dapat menyebabkan kehilanga­n hasil mencapa­i 80% bahkan puso apabila tidak ada t­indakan pengendalia­n. sekolah lapang dan membangun kembali lembaga penyuluhan yang pada era otonomi daerah kurang mendapat perhatian. Tabel 3. dll) perlu dirakit. Varietas unggul baru kedelai yang dilepas tahun 2001–2004.7 Sibayak 2. Pemasyarakatan PTT dilakukan melalui sosialisasi.5 Nanti 2.5 Kaba 2.6 Anjasmoro 2.5 Ratai 2. Penerapa­n pengendalian hama terpadu (PHT) perlu disosiali­sasikan. toleran UG* Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Peningkatan stabilitas hasil kedelai di lahan sawah.5 Panderman 2. V­arietas 10 . pelatihan.5 Mahameru 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Komponen teknologi produksi yang dikemas dalam PTT pada tanaman kedelai mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 2 t/ha.

Lembag­a u­ntuk memproduksi benih telah terbentuk namun efektivita­s perlu di­tingkatkan. (2) teknologi benih sudah tersedia. (2) besar­ nya perhatian pemerintah dalam penelitian dan pengembangan. S­eulawah. Produsen benih nasional maupun penangkar lokal masih kurang berperan. Benih pokok disalurkan kepad­a BBU atau penangkar untuk dijadikan benih sebar (ES). dan Ratai merupakan varietas baru dengan potensi produksi tinggi dan adaptif pada lahan kering (masam dan non-masam). Varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (>2 t/ha) telah tersedia. Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas pertanaman kedelai. 2004). industri benih untuk komoditas kedelai b­elum berkembang dengan baik. Petani lebih banyak memakai benih asalan atau t­urunan dari pertanaman sebelumnya.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI T­anggamus. Pemakaian benih u­nggul bersertifikat pada tanaman kedelai kurang dari 10% (Ditjentan. Benih penjeni­s yang dihasilkan akan disalurkan ke BBI untuk diproduksi menjad­i b­enih dasar (FS) dan benih pokok (SS). UPBS di balai komoditas telah terbentuk dengan tugas untu­k memproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS). 2. usaha perbenihan untuk tanaman kedelai masih t­ertinggal. Nanti. dan (3) varietas unggul tersedia. Dalam mendu­kun­g penyediaa­n benih bermutu. Hal ini merupaka­n salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai n­asional. Sibayak. Perakitan VUB berdaya hasil tinggi dan teknologi budidaya (PTT) pada tingkat litbang sangat dimungkinkan dengan adanya kekuatan seperti: (1) tersedianya sumber daya genetik yang banyak. dan (3) kualitas peneliti bidang kedelai cukup memadai. 11 . Balai Benih Induk (BBI) dan Balai Benih Umum (BBU). Aspek perbenihan Potensi aspek benih bermutu yang merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis kedelai antara lain adalah: (1) tersedianya Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). Berbeda denga­n komoditas padi dan jagung.

148 Bali & NTB 152. dan (3) lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai masih tersedia cukup luas. dan Kalimantan Selatan. Lampung. Tabel 4.714 Jawa 879. Jawa Tengah. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah.551 Maluku & Papua 5.706 Sumber: Ditjentan (2004). Potensi lahan untuk pengembangan kedelai. Wilayah Luas (ha) Sumatera 480. Aspek sistem produksi Potensi kedelai berdasarkan aspek sistem produksi meliputi: (1) teknologi budidaya relatif sudah maju. (2) VUB potensi hasil tinggi tersedia. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. 12 .665. lahan kering (tegalan). Wilayah sasaran pengembangan intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai uta­ ma (LQ tinggi) diikuti propinsi penghasil kedelai dengan LQ sedang. Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usaha tani kedelai.255 Jumlah 1. Secara rinci peluang penam­ bahan areal panen dapat dilakukan pada: • Lahan sawah MK II (Juli – Oktober) yang biasanya diberikan se­perti: jalur pantura Jawa Barat. Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai d­apat diarahkan ke propinsi-propinsi yang pernah berhasil menanam kedelai seperti disajikan pada Tabel 4. S­ulawesi Selatan. lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi.650 Kalimantan 23.388 Sulawesi 124.

dan organisme pengganggu tanaman (LATO). Gromusol. • Ladang yang belum ditanami. fosfat dan bahan organik. Nusa Tenggara Barat. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kon­ tribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Jawa Timur. kedelai ditanam pada MH I (Oktober – Janua­ri) atau MH II (Februari – Maret). tanaman. • Tumpangsari pada lahan peremajaan perhutani. Pertanaman kedelai ini l­ebih banyak di Lampung. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tinggi. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian besar petani belum menggunakan benih unggul dan t­eknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. • Lahan bukaan baru. umur genjah. Sulawesi Utara. hara NPK dan unsur mikro sedang-tinggi.6-6. Pengelolaan LATO dimaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas d­apat terekspresikan secara optimal. Sulawesi Selatan. Aceh. Jawa Tengah. dan Jawa Barat. dan Ultisol/Oxisol dengan amelioran ka­ pur.9.2 t/ha) dengan potensi genetik dari tanaman kedelai masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • Lahan sawah tadah hujan MK I (Maret – Juni) awal musim hujan sebelum ditanami padi sawah seperti Jawa dan NTB. Jambi. air. bekas alang-alang. Senjang hasil produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. Tanah yang sesuai untuk budi daya kedelai adalah tekstur ber­ lempung atau berliat. • Lahan pasang surut yang telah direklamasi. solum tanah sedang-dalam. pH tanah 5. Teknologi produks­i kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. Sumatera Barat. Lahan gambut yang sudah direklamasi juga sesuai untuk tanaman kedelai. Regosol. Latosol. Andosol. drainase sedangbaik. dan tahan/toleran 13 . • Lahan kering (tegal). Jenis tanah yang sesuai untuk kedelai adalah tanah Aluvial. • Tumpangsari tanaman perkebunan.

Mengingat p­enurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penuruna­n total konsums­i.31 juta ton pada tahun 2004. dengan indeks swasembada lebih besar dari satu (Swastika. Penurunan terjadi sejak tahun 1995.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkung­ an fisik). 14 . penurunan paling tajam terjadi pada periode 2000-2004. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan t­erus meningkat.82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. bahwa Indonesia akan makin tergantung pada impor untuk m­enutupi d­efisit.38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. atau menu­ run rata-rata 1. Selanjutnya. pembuatan saluran drainase. Artinya.92 kg/kapita pada tahun 2000. Namun demikian. yaitu tahu. atau turun rata-rata 1.81% per tahun. pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. Sebagai sumber protein nabati. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. 1997). Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang b­erarti.54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1. yaitu rata-rata 4. total konsumsi hanya turun rata-rata 0.69% per tahun. tauco. bahwa Indonesia selalu mempunya­i net impor yang meningkat dari sekitar 0.97 kg/kapita pada tahun 2004. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelu­m tahun 1976. kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan.57% per tahun. dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Selama periode 1995-2000. tempe. Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11. Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. susu kedelai. Seperti disajikan pada Tabel 5. kecap. konsumsi per kapita menurun dari 11.05% per tahun (Tabel 5). Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. pemberian air yang cukup.

05 6.517 2.27 672 1992 1.294 1.017 1.870 2.193 0.365 2003 672 2.649 343 343 0. Oleh karena itu.51 6.306 1.287 607 607 0. 15 .52 1.016 1.973 616 616 0.50 - 6.302 0. kedelai dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencega­h penyakit kanker. Aspek panen dan pascapanen Untuk aspek panen dan pascapanen.960 1.301 1.08 607 1996 1.24 746 1997 1.228 673 673 0.135 2002 673 2. (2) Alsintan tersedia di pasaran.24 1.02 1.75 723 1994 1.03 800 1995 1.91 690 1993 1.365 800 800 0.344 1. telah diidentifikasi p­otensi kekuatan sebagai berikut: (1) teknologi panen dan pascapanen t­elah tersedia.302 2000 1. konsumsi dan perdagangan kedelai di I­ndonesia tahun 1990-2004.24 541 1991 1.357 1.136 1. Perkembangan manfaat kedelai di samping sebagai sumber protein. makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung.277 2001 827 1.365 0.709 2.028 541 541 0.01 616 1998 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 5.192 2004 707 2. Selain itu.51 Sumber FAO (2004) diolah.680 2. dan (3) teknolog­i p­engolahan tersedia.17 -0.43 1.263 746 746 0.560 690 694 3.307 Pertumb (%) -5.684 1. Tahun Prod Konsumsi Defisit Impor Ekspor Net impor (000 ton) (ton) (000 ton) (000 ton) (ton) (000 ton) 1990 1.276 1.565 2. 4. Neraca produksi.19 1.383 2.00 1.555 2.00 343 1999 1.307 1.278 0.015 1.018 2.343 1.487 2.307 0.133 1. ke depan proyeksi kebutuhan kedelai akan meningkat seiring dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang makanan sehat.431 723 724 0.

es krim. dan bungkil kedelai. minyak goreng. susu. Karena bersifat multiguna. harga jual kedelai akan lebih baik. kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuh­kan bagi kehidupan manusia. makanan bayi (infant formula). farmasi (obat-obatan). kembang gula. dan lain-lain. tauco. dan produk non-fermentasi seperti tahu. Produk pangan yang menggunakan minyak kedelai antara lain adalah minyak salad. dilakukan di tingkat petani. men­ tega putih. Isolat protein dan lesitin banya­k digunakan dalam berbagai produk industri makanan antara lain r­erotian. kedelai selayaknya mendapat pengolahan primer untuk meningkat­ kan kualitas kedelai sebagai bahan baku industri. daging tiruan (meat analog). dan lain-lain.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Teknologi panen dan pascapanen kedelai yang efektif dan efi­ sien telah tersedia bahkan alsintan untuk proses panen dan pasca­ panen telah tersedia di pasaran. baik sebagai produk pangan. Pengolahan primer. Bungkil kedelai yang mengandung protein tinggi sangat diperlukan dalam pembuatan ransum ternak (pakan). aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan s­ebagai pakan (Gambar 2). kecap. 5. lesitin. yogurth. isolat protein. Sebelum memasuki pengolahan sekunder menjadi produk olah­ an. Produk utama lain dari kedelai adalah minyak kasar. Aspek distribusi dan pemasaran Potensi aspek distribusi dan pemasaran yang telah t­eridentifikasi antara lain adalah: (1) infrastruktur distribusi telah memadai. dengan me­ manfaatkan teknologi pascapanen. dan produk non-fermentasi lainnya se­perti keju kedelai. yuba. margarine. Produk pangan olahan kedelai yang utama dan populer di kala­ ngan masyarakat Indonesia adalah produk fermentasi seperti tempe. 16 . natto. Dengan demikian. mayonaise. (2) transportasi lancar. M­inyak kedelai dapat diolah untuk aplikasi produk pangan dan kegunaa­n dalam b­idang teknik atau industri. Produk fermentasi lain yang populer adalah natto (di Jepang). dan (3) sentra produksi telah terbentuk.

margarine ) TEKNIK/ INDUSTRI LESITIN ( wetting agent. natto. yogurth. mentega putih. kembang gula) FARMASI (Obat-obatan. Secara umum rantai tataniaga kedelai disajikan pada Gambar 3. pelarut. kecantikan) BUNGKIL PAKAN TERNAK Gambar 2. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi pengrajin tahu dan tempe (KOPTI). kedelai di pasar domestik juga sebagian berasal dari impor. dan bermuara ke konsumen akhir. makanan bayi ( infant formula ). dll KEDELAI MINYAK KASAR PANGAN (minyak salad. dll PANGAN NON FERMENTASI Tahu. 17 . untuk selanjutnya dipasarkan ke pengra­ jin tahu dan tempe.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang. pelumas dll) KONSENTRAT PROTEIN PANGAN (rerotian eskrim. minyak goreng. Selain dari petani. penstabil. Pohon industri kedelai. kecap tauco. PANGAN FERMENTASI Tempe. pengemulsi. susu.

sehingga tataniaga kedelai lebih efektif dan efisien. diperlukan perbaikan tataniaga kedelai dari produsen hingga konsumen. 6. Dalam pemasaran kedelai. sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Oleh karena itu. Dengan adanya infrastruktur distribusi produk yang memadai dan tranportasi yang lancar. harga riil di tingkat produsen (petani) selama 15 tahun terakhir cenderung terus menurun. petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah. Terbentuknya sentra produksi kedelai akan mempermu­ dah konsumen untuk mendapatkan kedelai secara langsung. diharapkan arus produk dari produsen ke konsumen lebih lancar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai P et ani Petani Im port ir Importir P edagang Pedagang P engum pul DDesa esa Pengumpul K O P TI KOPTI G rosir Grosir P engecer Pengecer P engol ah Pengolah K onsum en akhir Konsumen Akhir Gambar 3. Rantai tataniaga kedelai di Indonesia. Dalam pengembangan kedelai. Dari Gambar 3 terlihat bahwa kedelai di tingkat petani dibeli oleh pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang grosir dan pengolah. Aspek kelembagaan Potensi yang dapat dimanfaatkan dalam program pengem­ bangan kedelai antara lain: (1) telah berkembangnya kelembagaan 18 .

(2) belum optimalnya diseminasi. maupun pema­ saran hasil pertanian meskipun diakui dalam hal pemasaran hasil kelompok tani belum banyak berfungsi. Jumlah tenaga peneliti yang terbatas sehingga potensi untuk mengembangkan rakitan teknologi unggul dalam satu paket PTT belum dapat diterapkan di setiap sentra produksi kedelai. dan (3) telah terbentuknya kelembagaan k­elompok tani. Kelemahan internal meliputi: (1) keterbatasan tenaga peneliti. (2) berkembangnya kelem­ bagaan alih teknologi. (2) penerimaan tenaga peneliti belum memadai. Dalam alih teknologi. baik dalam penyaluran kredit. Selain itu. B. Hasil p­enelitian 19 . dan (2) revitalisas­i penyuluhan pertanian untuk mempercepat proses alih teknologi dari lembaga penelitian ke pengguna. Hal ini dipacu oleh: (1) terbentuknya BPTP di tiap propinsi yang berfungsi ganda. yaitu perakitan teknologi spesifik lokasi. Sedangkan untuk ancaman eksternal antara lain adalah: (1) sistem diseminasi dan alih teknologi belum memadai. dan (3) penghargaan hasil karya peneliti kurang memadai. dan (3) program penelitian yang masih kurang konsisten. Berkembangnya berbagai skim lembaga permodalan seperti LUEP. Kendala 1. Aspek penelitian dan pengembangan Kendala dalam aspek Litbang dapat dipilah berdasarkan kele­ mahan dan ancaman. diseminasi teknologi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI p­ermodalan (kredit) dalam berbagai skim. namun di masa mendatang peran ini dapat diaktualisasi dan terus ditingkatkan. Kelembagaan keuangan mikro dan kelembagaan alih teknologi merupakan dua ujung tombak yang memungkinkan petani mengadopsi teknologi maju. keberadaan kelompok tani merupakan wadah yang efektif. lembaga alih teknologi juga makin berkembang. dan lembaga keuangan mikro lainnya yang lebih mudah diakses petani merupakan potensi yang besar bagi petani dalam memperoleh modal untuk menerapkan teknologi maju. sehingga mampu meningkatkan produktivitas sumber daya dan pendapatan petani. KKP.

dan (3) akses petani terhadap sumber modal terbatas. (2) menurunnya ke­ percayaan petani terhadap mutu benih dari kios. Hingga kini peng­ gunaan varietas unggul baru mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. Aspek sistem produksi Hambatan internal yang teridentifikasi dalam aspek sistem produksi meliputi: (1) ketersediaan sarana produksi yang makin t­erbatas. Hasil penelitian menun­ jukkan bahwa senjang hasil produksi kedelai di tingkat petani dengan potensi hasil genetik kedelai masih tinggi. Benih bersertifikat merupakan jaminan pemerintah untuk menyediakan benih bermutu. Sedangkan ancaman eksternal adalah: (1) kurangnya insentif harga benih bagi penangkar. namun hingga kini 20 . sedang rata-rata produktivitas di tingkat petani hanya 1. (2) sistem penyuluhan masih lemah.29 t/ha. Dampak dari kelemahan terse­ but menyebabkan usahatani kedelai belum dapat mencapai produksi yang maksimal dan keuntungan finansial yang masih rendah.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai rakitan teknologi PTT kedelai dapat meningkatkan produksi 30-40% untuk lahan sawah dan 50-60% untuk lahan kering masam. 3. Diseminasi/promosi yang belum optimal menyebabkan tingkat adopsi teknologi rendah sehingga varietas unggul baru dan teknik budi daya kedelai kurang dapat diterapkan petani. dan (3) industri benih belum berkembang dengan baik. (2) umur label sertifikat benih sangat singkat. sehingga produktivitas hasil kedelai masih rendah. 2. Potensi hasil varietas unggul dengan budi daya anjuran dapat mencapai > 2 t/ha. Hasil rata-rata kedelai yang masih rendah di tingkat petani dan harga yang murah menyebab­ kan petani beralih usahatani nonkedelai. Ketersediaan benih varietas unggul baru masih sangat terbatas. Aspek perbenihan Kendala internal aspek perbenihan kedelai adalah (1) inkon­ sistensi alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. dan (3) petani lebih suka membuat benih asalan.

dan (3) modal untuk membeli alsintan sangat terbatas. proses sertifikasi kedelai yang rumit dan keuntungan menjadi penangkar b­enih kedelai yang sangat kecil. (2) makin meningkatnya biaya operasional alsintan. Umumnya p­etani kedelai adalah petani miskin yang kekurangan modal. pembinaan penyuluh untuk mengakses teknologi baru kurang mendapat perhatian. Sistem panen yang dijemur di lapangan tanpa lantai jemur dan alas menyebabkan biji tercecer cukup banyak dan 21 . dan (3) anomali iklim yang da­ pat menyebabkan kegagalan panen. Hal ini dikarenakan jumlah penangkar yang masih sangat terbatas. Selain itu. Selain kelemahan internal. ancaman eksternalnya adalah: (1) belum ada insentif harga yang memadai bagi produk bermutu. Modal petani yang terbatas dan usahatani kedelai yang kurang menguntungkan menyebabkan petani enggan menanam kedelai. Akses petani terhadap sumber modal terbatas.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat. Selain benih bermutu. sehingga makin tidak terjangkau oleh petani. (2) adanya cekaman OPT. jumlah penyuluh semakin berkurang (pensiun). 4. dan (3) tenaga kerja pengolah relatif terbatas. sehingga penyuluh beralih profesi menjadi b­ukan penyuluh. Aspek panen dan pascapanen Kendala dalam aspek panen dan pascapanen adalah: (1) kehi­ langan hasil tinggi. agribisnis kedelai masih dihadap­ kan pada ancaman eksternal seperti: (1) masih tingginya impor kedelai yang menyebabkan usahatani kedelai dalam negeri kurang kompetitif. (2) penerapan teknologi panen dan pascapanen be­ lum memadai. pupuk dan pestisida makin mahal. penyuluh kurang berfungsi sebagai­ mana tugas pokoknya. Kehilangan hasil kedelai pada saat panen maupun prosesing masih cukup besar. Pada era otonomi daerah. sehingga areal dan produksi kedelai terus menurun. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak sampainya informasi teknologi kepada petani. serta sarana dan prasarana penyuluhan banyak berubah fungsi. Selain itu.

yang ditentukan oleh permintaan dan persediaan ( Demand and Supply). dan (3) biaya trans­ portasi yang mahal. Belum berlakunya tarif impor 22 . Alat pengering dinilai masih cukup mahal bagi petani kedelai. (2) rantai p­emasaran yang panjang sehingga tidak efisien. Harga kedelai ditentukan oleh mekanisme pasar.500. 5. Keterbatasan modal. Sedangkan pemakaia­n alat mesin untuk panen dan pengeringan. (2) sistem informasi pasar lemah. Hal ini yang menyebabkan nilai jual produk berfluktuatif dan cenderung menu­ run. Sistem informasi pasar belum terbentuk sehingga titik temu antara produsen dan konsumen sering tidak ketemu. Sedangkan kendala eksternalnya antara lain adalah: (1) tingginya impor kedelai dengan harga murah. Memperbaiki dan memperpendek simpul mata rantai dari produsen ke konsumen p­erlu dibentuk dan difungsikan sebagaimana mestinya sehingga dapat efektif dan efisien dalam pendistribusian produk. Penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai. disaat panen raya harga jatuh hingga Rp 2. Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. sebagian besar petani b­elum menggunakan. Harga nominal kedelai di tingkat petani berfluktuasi. Panen dengan menggunakan sabit dan prose­s pengeringan sebagian besar masih di lapang. dan (3) b­elum adanya tarif impor. menyebabkan petani kedelai tidak mamp­u untuk membeli alat mesin. umumnya petani melakukan pemanenan dan prosesing masih d­engan cara tradisional. Panjangnya rantai dari produsen sampai kepada konsumen menyebabkan tidak efektifnya proses pemasaran.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai menyebabkan kehilangan hasil cukup tinggi. Hal ini yang menyebabkan kehilangan hasil panen cukup besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. Aspek distribusi dan pemasaran Kendala internal berdasarkan aspek pemasaran adalah: (1) daya tawar petani lemah.

serta (3) inkonsistensi peraturan antara pusat dengan daerah. 6. (2) kelembagaan kelompok tani belum berfungsi optima­l dan (3) akses petani terhadap lembaga modal terbatas. Penelitian untuk mengatasi senjang hasil antara petani dan h­asil penelitian sesuai dengan potensi genetik. Kinerja penyuluhan pertanian yang lemah menyebabkan transfe­r teknologi kedelai terhambat. dan (3) prospek kerja sama penelitia­n. sehingga harga kedelai di dalam negeri jatuh dan petani enggan menanam kedelai. (2) tuntutan terhadap alih t­eknologi semakin meningkat. (4) aspek panen dan pascapanen. dan (6) aspek kelembagaan. (5) aspek distribusi dan pemasaran. Aspek kelembagaan Kendala berdasarkan aspek kelembagaan terdiri dari kelemaha­n dan ancaman. sehingga petani akan sulit untuk mengatasi masalah yang dihadapi. yakni: (1) aspek penelitian dan pengembangan. sehingga upaya untuk meningkatka­n produktivitas juga terhambat.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI menyebabkan jumlah kedelai impor semakin banyak. efisiensi penggunaan sarana produksi. 23 . (2) aspek per­ benihan. diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah perlu dilakukan agar dapat m­eningkatkan produktivitas dan daya guna kedelai. Aspek penelitian dan pengembangan Peluang pengembangan berdasarkan aspek litbang meliputi: (1) kebutuhan teknologi makin meningkat. (2) rendahnya komitmen pimpinan kelembagaan atas pelaksanaan peraturan. pemetaan lahan s­esuai. 1. Sedang­ kan ancama­n eksternal adalah: (1) menurunnya kepercayaan petani t­erhadap kelembagaan yang ada. C. (3) aspek sistem produksi. Peluang Peluang pengembangan kedelai cukup besar dari berbagai a­spek. Lemahnya kinerja penyuluhan juga akan mengakibatkan kinerja kelompok tani lemah. Kelemahan internal yakni: (1) sistem penyuluha­n masih lemah.

penyuluh dengan kelompok tani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tuntutan alih teknologi untuk mengatasi senjang hasil sangat diperlukan. karena hingga kini penggunaan benih bersetifikat kurang dari 10%. Dengan strategi tersebut terjadi percepatan waktu. dan (3) peningkatan produksi benih sumber dan penyebaran varietas-varietas unggul baru kedelai di daerah sentra produksi. Kerja sama dengan swasta sangat diperlukan. s­ehingga dapat meningkatkan produksi benih berkualitas yang berbasis komunita­s. Oleh karena itu. Peran aktif BPTP dan penyuluh untuk mengakses teknologi dari balai penelitian perlu ditingkatkan. diperlukan peningkatan kemahiran petugas dalam sistem produksi benih sumber kedelai melalui pelatihan. Untuk mewujudkan tujuan mempercepat alih teknologi diperlukan kerja sama yang baik antara peneliti. dan perluasan prevalens­i adopsi t­eknologi inovatif yang dibawa oleh varietas unggul kedelai. Untuk membangun penyebaran benih varietas unggul diperluka­n penguatan SDM dan fasilitas untuk memproduksi benih sumber. Aspek perbenihan Peluang pengembangan pemanfaatan benih kedelai bermutu terbuka lebar. 24 . peningkatan kadar. (2) peningkatan pembinaan pen­ angkar benih di daerah sentra produksi kedelai. Me­ ningkatnya kemampuan SDM yang terkait dalam produksi benih dasar (FS). dan benih sebar (ES) diharapkan dapat me­ ningkatkan produksi benih dan dapat didisribusikan ke daerah sentrasentra produksi. 2. Revitalisasi penyuluhan diharap­ kan dapat menjadi jembatan dalam upaya meningkatkan arus teknologi dari balai penelitian kepada pengguna atau petani. benih pokok (SS). peran swasta sebagai bapak angkat yang dapat memberikan jaminan harga yang layak pada saat harga jatuh. Upaya pengembangan pemanfaatan benih bermutu ditempuh melalui: (1) peningkataan kemampuan petugas/penangkar untuk memproduksi benih sumber. Eskalasi dan akselerasi produksi dan distribusi benih sumber varietas unggul tanaman kedelai dilakukan dengan pelatihan pengenalan varietas melalui sosialisasi varietas dan pembekalan t­eknik produksi benih kepada penangkar di daerah yang melibatkan pemangk­u kepentingan (stakeholder) terkait.

I­ndustri pengolahan produk berbahan baku kedelai membutuhkan jenis kedelai yang bermutu tinggi sesuai dengan produk yang akan dihasil­kan. 4. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tingg­i. Sebagian besar konsumen menghendaki biji besar/sedang. Varietas kedelai sesuai 25 . pengendalian hama dan p­enyakit dengan sistem PHT. dan (4) program pengem­ bangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. Keterbatasan modal di tingkat petani untuk usahatani kedelai perlu mendapat perhatian. (2) penggu­ naan sarana produksi. Oleh karena itu. Oleh karena itu. panen dan pascapanen dengan a­lsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi g­enetiknya. Aspek sistem produksi Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek produksi meliputi: (1) penggunaan benih bermutu masih rendah. program pengenalan dan sosialisasi varietas unggul baru serta teknik produksi benih sangat diperlukan. dan tahan/ toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkungan fisik). umur genjah. P­referensi konsumen terhadap mutu kedelai semakin meningkat.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. Mutu hasil panen kedelai saat ini masih perlu ditingkatkan. Aspek panen dan pascapanen Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek panen dan pascapanen meliputi: (1) tuntutan terhadap hasil panen bermutu. pemberian air yang cukup. (3) subsidi benih. (2) jenis olahan beragam. baik untuk pengadaan benih varietas unggul baru maupun untuk pengadaan pupuk dan insektisida. diperlukan adanya s­ubsidi. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah di­ adopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam me­ ningkatkan produksi. warna kuning mengkilap dan kebersihan biji. dan (3) industri produk olahan berbahan baku kedelai makin berkembang. pembuatan saluran drainase.

Upaya untuk me­ningkatkan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi adalah memperbaiki b­entuk makanan olahan berbaha­n baku kedelai. Anjasmoro. Penguatan industr­i pedesaa­n skala kecil maupun industri besar yang bermitra dengan produsen kedelai perlu ditindak lanjuti. (2) j­aringa­n transportasi memadai. dan (3) permintaan kedelai terus meningka­t. Kaba) bahkan kedelai hitam yang sesuai de­ ngan industri kecap juga telah tersedia (Merapi. gizi tinggi dan m­enyehatkan p­erlu diinformasikan pada media cetak maupun elektronik. Aspek distribusi dan pemasaran Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek distribusi dan pe­ ma­saran meliputi: (1) industri pengolahan kedelai berkembang. Promosi makanan berbahan baku kedelai susu. Cikuray. Bentu­k makanan olaha­n yang menari­k. menarik. Burangrang. dan kuantita­s serta kualitas biji untuk bahan industri cukup memadai. Sebagai i­lustrasi PT Garuda Food telah berhasil membidik konsumen tingkatan menengah ke atas dengan memproduksi snack kedelai oven dengan rasa enak dan dikemas dalam kemasan yang menarik dan terkesan elite. dan Malika). warna kuning mengkilap (Argomulya. rasa sesuai dengan selera konsumen dan kemasan yang menari­k akan mempunya­i daya tarik bagi konsumen. makanan segar dengan kualitas polong maupun biji yang seragam.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai d­engan kehendak konsumen dan sesuai dengan bahan baku industri telah tersedia. 26 . 5. serta telah tersebar di seluruh pasar swalayan. kecap. sehingg­a bisa mengendalikan konsumen untuk mengkonsumsi produk olahan kedelai. snack kaya akan protein. biji besar/sedang. tempe. tauco. promosi secara g­encar. Upaya peningkatan daya sain­g selain bentuk produk diperlukan juga penyuluhan.

Jaringan transportasi sudah baik dan ditunjang oleh alat angkut yang memadai. Berdasarkan perhitung­ an. Aspek kelembagaan Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek kelemba­ gaan berupa (1) program revitalisasi alih teknologi. kelompok tani. penyuluh.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Berbagai macam produk olahan berbahan baku kedelai berkem­ bang dengan pesat. snack). Sedang 12% sisanya dipergunakan berbagai keperluan makanan olaha­n lain dan bahan baku industri lainnya. kecap. Program alih teknologi berupa diseminasi memperoleh prioritas utama. Di Indonesia konsumsi tertinggi adalah untuk bahan industri tahu dan tempe. dan petani. dan (3) minat swasta dalam industri pengolahan kedelai semakin meningkat. Industri pengolahan bahan pangan (tahu. konsumsi kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 men­ capai 1. sehingga memudahkan mobilitas bahan baku kedelai dari produsen ke konsumen. Revitalisasi alih teknologi dan revitalisasi penyuluhan saling ber­ hubungan erat. (2) program revi­ talisasi penyuluhan. namun demikian teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian belum sampai kepada petani.776 juta ton atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri. pemerintah daerah. mela­ lui diseminasi diharapkan adanya kerja sama yang baik antara peneliti. tauco. tempe. Oleh karena itu. 6. Asosiasi Petani Kacang Kedelai Indonesia (APKKI) telah terben­ tuk di beberapa propinsi sentra produksi kedelai dan merupakan me­ dia yang cukup efektif dalam pengembangan kedelai berbasis agri­ bisnis. Revitalisasi di bidang pe­ nyuluhan diharapkan penyuluh dapat berperan sebagai ujung tomba­k dan mampu memberdayakan kemandirian petani. 27 . farmasi (obat-obatan). k­elompok usaha/asosiasi petani dalam usaha pengembangan kedelai. Asosiasi tersebut berpeluang dikembangkan di setiap propinsi sentra kedelai dengan penyuluh pertanian sebagai mediator dan Pemerintah Daerah sebagai fasilitator. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan ternak menyebabkan kebutuhan akan kedelai semakin meningkat.

Upaya peningkatan produksi diikuti de­ ngan upaya peningkatan efisiensi. impor kedelai yang saat ini mencapai 60-65% dari total kebutuhan dapat ditekan menjadi 40%. dan perluasan peranan pengguna. Tujuan jangka panjang adalah swasembada kedelai. (iii) terciptanya mata rantai pemasaran yang efisien sehingga dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan pendapatan petani. Dalam hal ini diperlukan dukungan dari pemerintah dan swasta. TUJUAN DAN SASARAN Pengembangan kedelai diarahkan untuk tujuan jangka pendekmenengah dan jangka panjang. Sasaran yang ingin dicapai dari pengembangan kedelai s­ecara nasional adalah (i) terciptanya harga yang wajar yang dapat m­emberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. (ii) terbentuknya kelembagaan pemasaran yang kuat di tingkat petani. kualitas. 28 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai IV. Dengan kata lain. dan nilai tambah produks­i. penguasaan pasar. dan (iv) berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku kedelai di dalam negeri. Tujuan jangka pendek-menengah adalah meningkatkan produksi untuk memenuhi 60% kebutuhan.

A. pedagang. menjadi produk olahan seperti tepung kedelai. Di tingkat petani. serta pengaturan t­ataniaga dan insentif usaha. sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0. sehingga dapat menekan biaya per satuan produk dengan tetap memperhatikan kelestarian kesuburan tanah. pengembangan infrastruktur.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI V. baik industri pangan maupun pakan. Selain itu.02 juta ton.31 juta ton. Keadaa­n demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus.71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1. nilai tambah akan terdistri­ busi ke petani. 29 . Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalu­i strategi peningkatan produktivitas. Pola agribisnis seperti ini akan membangun kemitraan yang sinergis antara petani dengan perusahaan swasta. petani juga dapat dilakukan pengolahan primer kedelai dengan industri rumah tangga di tingkat petani dan kelompok tani. dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan dalam upaya menekan laju impor. usahatani dilakukan dengan teknologi maju yang efisien melalui pendekatan PTT. mengingat potensi laha­n cukup luas. perbaikan akses pasar. sektor swasta membeli kedelai dari petani untuk diolah lebih lanjut menjadi produk olahan sekunder. Arah dan Sasaran Pengembangan Pengembangan kedelai diarahkan kepada sistem agribisnis berbasis agroindustri. tahu. p­eningkatan kualita­s produk. penguatan kelembagaan petani. bungkil kedelai sehingga peta­ ni memperoleh nilai tambah. dan perusahaan swasta. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. ARAH DAN SASARAN Kebutuhan akan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2. Di tingkat agroindustri. peningkatan nilai tambah. seperti pangan dan pakan. perluasan areal tanam. Mengingat Indonesia de­ngan jumla­h p­enduduk yang cukup besar. di mana kedelai sebagai bahan baku industr­i. peningkata­n efisiensi produksi. Dengan demikian. teknologi telah tersedia dan SDM handal cukup tersedi­a. tempe. perbaikan sistem permodalan.

Sebagai bahan baku industri p­angan dan pakan. Proyeksi jumlah penduduk dilakukan dengan menggunakan pertumbuha­n penduduk dengan tingkat yang makin rendah. Pertumbuhan harga masingmasing k­omoditas menggunakan data FAO 1991-2002.03% per tahun. berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang et al. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunakan elastisitas pendapatan. dan e­lastisitas silang harga komoditas lainnya. Proyeksi Pertumbuhan Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk.67% per tahu­n. dampak swasembada kedelai akan bermuara pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku agribisnis lainnya. sedangka­n pertumbuhan pendapatan per kapita menggunakan Data BPS (2002). (2004). elastisitas harga kedelai. Selam­a periode 1990-2003.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sasaran utama dari pengembangan kedelai adalah untuk m­eningkatkan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi k­ebutuhan yang terus meningkat. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. 30 . pertumbuhan penduduk adalah 1. B. Selanjutnya. Proyeksi pertumbuhan produksi untuk masingm­asing skenario disajikan pada Tabel 6. Tiga skenario diajukan untuk mencapai sasaran jangka menengah maupun jangka panjang pengembangan kedelai s­esuai dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan swasembad­a kedelai ke depan.

19 2.15 8.00 -65.15 2020-2025 Rataan Skenario 2 Pertumb (%) 0.21 2.25 7.29 2.00 61.24 3.80 3.21 0.23 5.19 3.23 5.45 2.49 (rb ton) Prod (jt jiwa) (t/ha) (rb ha) (rb ton) (rb ton) (kg/kap) 2005-2009 1.50 2.08 7.30 2010-2014 1.04 6.27 6.5% per tahun dan 2.50 2.00 -64.61 4.11 2.93 1.50 10.36 12.50 0.84 17.21 2.39 10.08 4.79 4.64 2.95 1. produktivitas.84 1.50 12.50 10.01 1.55 14.50 2.30 2010-2014 1.21 2015-2019 1.15 9.25 7.00 -6.39 2.00 1.33 6.25% per tahun dalam periode yang sama.00 1.50 0.86 10.73 Skenario 1 (1) Proyeksi peningkatan produksi rata-rata 8.50 -4.55 12.22 1.58 1.39 2.09 2.78 12.27 5.15 2020-2025 Rataan Skenario 3 Pertumb (%) 0.00 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 6. (2) Peningkatan produksi tersebut diperoleh dari upaya perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 6.02 1.93% per tahun dalam periode 2005-2025.81 -18.55 7.84 1. dan produksi kedelai periode 2005-2025.25 2015-2019 1.19 1.89 14.84 1.98 2005-2009 1.78 7.08 4. Tahun Skenario 1 Pertumb (%) Pddk Provitas Area 2.61 4.19 4.23 5.00 2.01 7.15 8. Proyeksi pertumbuhan areal tanam.00 -19.77 1.25 Impor Konsumsi Kontribusi Prod (%) 2.30 2010-2014 1.50 51.75 1.00 1.34 1.37 6.00 1.50 2005-2009 1.08 5.63 10.50 -9.25 4.04 -2.27 0.29 2.72 1.56 1.26 7.50 -14.29 9.50 1.58 1.58 1.50 -10. 31 .25 -39.21 2.25 6.50 2.19 1.50 2.21 2015-2019 1.25 2.55 2.50 -9.50 2.15 2020-2025 Rataan 0.

swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun terakhir yaitu 2025. 32 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai (3) Dengan skenario 1. (2) Areal tanam dan produktivitas kedelai diproyeksikan meningkat masing-masing 7.72% per tahun dalam periode yang sama. Nusa Tenggara Barat. di mana tingkat penerapan teknologi oleh petani masih kurang. Sumatera Utara. Skenario 3 (1) Proyeksi peningkatan produksi kedelai dalam periode yang sama rata-rata mencapai 8. (2) Proyeksi pertumbuhan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 5. (3) Dengan skenario 3. dan Sulawesi Selatan. Lampung.72% per tahun.22% per tahun. Jawa Tengah. Arah Pengembangan Pengembangan kedelai ke depan diarahkan untuk mencapai tujuan jangka pendek-menengah dan jangka panjang yaitu Indonesia mampu meningkatkan produksi kedelai secara bertahap untuk memenuhi kebu­ tuhan dalam negeri. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun 2020. impor yang saat ini mencapai 6065% secara substansial dapat ditekan menjadi minimal 45% pada 2010. C. Wilayah-wilayah yang sesuai untuk program ini antara lain adalah beberapa kabupaten di Jawa Timur. (3) Dengan skenario ini swasembada kedelai akan dicapai pada tahun 2015. Jawa Barat. Skenario 2 (1) Produksi kedelai dalam negeri diproyeksi meningkat rata-rata 9.25% per tahun untuk men­ capai tingkat pertumbuhan produksi 9. Dengan kata lain.25% per tahun dalam periode 2005-2025.25% per tahun dan 2.81% per tahun dan 2. Program peningkatan produktivitas diprioritaskan di wilayah-wilayah sentra produksi yang produktivitasnya masih tergolong rendah.

Peningkatan produksi diikuti dengan proses produksi yang efisien. Bengkulu. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat. Lampung. tahun 2006 sebesar 825 ribu ton. Dalam Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah (­RPPJM: 2005–2010) Departemen Pertanian. meluasnya peran pengguna.00% per tahun. Agar sasaran pengurangan impor dapat dicapai. Pertanyaannya kemudian adalah kapan sasaran itu dapat dicapai? Inilah tantangan yang harus dijawab dengan memanfaatkan 33 . Produksi kedelai tahun 2005 diproyeksikan 774 ribu ton biji kering. Sasaran pengembangan kedelai dalam 20 tahun ke depan adalah untuk memanfaatkan seluruh potensi dan peluang yang ada untuk men­ coba memenuhi kebutuhan kedelai nasional dari kemampuan produksi dalam negeri. telah menyatakan bahwa sasaran pengembangan kedelai adalah meningkatkan produksi nasional sebesar 7% per tahun. D. tahun 2007 sebe­ sar 900 ribu ton. dan lahan kering yang cukup luas. Wilayah-wilayah yang tergolong kate­ gori tersebut antara lain adalah Jambi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Program perluasan areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) ditujukan ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi sumber daya lahan cukup baik di Jawa Timur. kuali­ tas dan nilai tambah yang berdaya saing. Sedang perluasan areal dapat di lakukan pada sawah tadah hujan/irigasi sederhana. dan Sulawesi Selatan. Apabila sasaran peningkatan produksi diproyeksikan sebagaimana dikemukakan di atas. misalnya dari 60–65% menjadi 45% dari kebutuhan dalam negeri. tahun 2008 sebanyak 975 ribu ton. penguasaan pasar yang luas. Sasaran Sasaran jangka panjang adalah swasembada kedelai (ontrend). Jawa Barat. dan kapan kemungkinan pencapaian swasembada perlu disusun beberapa alternatif skenario. Sumatera Utara. Sulawesi Tenggara. serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif. maka pada tahun 2009 impor diperkirakan masih sebesar 1.36 juta ton dan ini berarti tidak terjadi pengurangan impor. Jawa Tengah.03 juta ton atau meningkat rata-rata 7. Kalimantan Selatan. dan tahun 2009 sebesar 1. Sumatera Selatan. namun belum optimal dimanfaatkan.

Laju peningkatan areal tanam sedikit menurun pada lima tahun berikutnya (2010-2014) yaitu rata-rata 7.5%. ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor untuk me­ menuhi kebutuhan dalam negeri secara gradual dapat dikurangi dan pada akhirnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan dari kemampuan produksi dalam negeri. Dengan demikian. 1. Sedangkan peningkatan produktivitas kedelai dalam empat p­eriode yang sama masing-masing diproyeksi rata-rata 4. Aceh dan Sulawesi Selatan.5% per tahun dan berturu­t-turut menurun menjadi rata-rata 5. Dengan kata lain.0% per tahun dan 3. Lampung. Sumatera Utara. Melalui kedua upaya tersebut di atas. 2. Pencapaian sasaran menurut skenario 1 Perkiraan pencapaian sasaran atas dasar skenario 1 disajikan pada Tabel 7. 2015-2019. maka produksi diproyek­ sikan meningkat rata-rata 14.5% per tahun pada periode 2005-2009.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai sumber daya secara optimal yang dihela oleh kemajuan Iptek di bidang pangan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sum­ berdaya alam. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa perluasan a­real tanam harus diupayakan meningkat rata-rata 10% per tahun dalam periode 2005-2009 dengan sasaran areal tanam mencapai sekitar 833 ribu ha pada 2009.95% per tahun pada 2005-2009. Sasaran lain adalah mengembalikan keunggulan kompetitif di tingkat on farm dan keunggulan komparatif di pasar global. 1. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah peng­ gunaan benih varietas unggul yang bermutu. pengendalian gulma. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks per­ tanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana. Jawa. m­asing34 . hama dan penyakit (OPT) secara terpadu. 2010-2014.5%.99 ton/ha secara nasional.5% dan 0. dan 2020-2025. lahan sawah tadah hu­ jan atau lahan kering. Wilayah sasaran perluasan areal adalah Nusa Teng­ gara Barat.5% per tahun masing-masing pada periode 2015-2019 dan 2020-2025. waktu atau musim tanam yang s­esuai serta rotasi tanaman. produktivitas pada 2025 h­arus m­encapai sekitar 1.

81 19 2024 0. swasembada kedelai diperkirakan dapat dicapai pada tahun 2020 (Tabel 7).454 125 2.11 9 2014 1.29 3 2008 1.80 6.67 265 1.98 35 .27 268 1.91 279 1.894 95.454 11.02 12 2017 0.770 87.635 -112 3.76 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI masing 10.438 10.50 10.580 -51 3.69 270 1.142 1.14 8 2013 1.53 3.367 757 9.88 1.94 1.88 2.63 896 951 1.143 105.01 2.35 1 2006 1.00 1.88 2.385 234 2.09 241 1.87 17 2022 0.61 255 1.82 1.89 14.55 12.526 6 2.23 2.59 833 1.85 1.15 2.75 Pertumb (%) 0.269 109.90 16 2021 0. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 1).45 688 1.84 Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 226 1.193 11. Tahun Pdd (%) 0 2005 1.14 2.646 81.585 75.752 -248 3.08 Pertumb (%) 1.78 20 2025 0.50 3. total konsumsi diproyeksikan meningkat rata-rata 2.813 -324 3.96 1.287 10.113 637 1.99 260 1.30 5 2010 1.35 252 1.321 9.00 15 2020 0.98 1.71 1.01 250 1.93 3.49 244 1.00 -65.58 1.206 107.23 Pertumb (%) 1.525 70.737 11.05 247 1.035 757 1.11 2.709 84.291 50.90 1.235 44.018 101. Dengan skenario 1.124 35.95 1.146 10.456 10. Di sisi lain.63 2.84 18 2023 0.951 11.50 -14.832 91.081 103.64 273 1.26 4 2009 1.96 14 2019 0.95 1.32 2 2007 1.15 10 2015 1.99 1.00% per tahun pada periode 2020-2025. sedikit menurun menjadi 2.66 3.40 2.179 39.19 2.86 10.876 -405 3.25 2.05 11 2016 1.93 Pertumb (%) 1.62 2.97 1.00 -6.33 569 1.17 238 1.692 -178 3.27 3.20 6 2011 1.79 1.79 3.593 11.948 10.00 2.957 99.50 2.349 56.80 1.25 2.74 263 1.92 232 1.235 1.42 258 1.75 1. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi terus menurun rata-rata 2.21% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014 dan 2015-2019.39% dan 2.50 5.02% per tahun pada periode 2020-2025.028 1.58% per tahun pada 2010-2014 dan 2015-2019 serta rata-rata 4.93 1.17 7 2012 1.39 626 1.39 7.66 275 1.309 870 9.37 4. Pert No.604 10.256 422 2.37 2.63 229 1.52 2.75 2.149 9.768 10.319 333 2.67 963 862 1.466 65.55% per tahun pada 2005-2009.769 11.21 4.321 11.332 112.50 51.19% dan 6.407 60.75 277 1.25 4. Tabel 7.50 7.19 1.598 10.74 235 1.52 757 1.196 500 2.99 13 2018 0.40 3.000 9.02 1.069 11.15 0.12 2.

Jawa. 1. 2015-2019.5%. maka upaya peningkatan produksi menurut skenario 2 akan mencapai swasem­ bada pada tahun 2015 atau lima tahun lebih cepat dari skenario 1 (Tabel 8). lahan sawah ta­ dah hujan atau lahan kering. Sumatera Utara.5% per tahun pada periode 2005-2009. serta 2. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. 10. 36 . Dengan asumsi laju konsumsi sama dengan skenario 1. Untuk peningkatan IP terutama pada musim tanam kedua (MT-II) dan MT-III sangat diperlukan dukungan pengairan melalui pompanisasi dan ini tentu tidak mudah dan tidak pula murah. akan ditem­ puh melalui program peningkatan produktivitas yang sejalan dengan skenario 1 yaitu rata-rata 4. 5.5%.0%. perbaikan kesuburan tanah dengan pemu­ pukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi).0%. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana.5% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 2. dan Sulawesi Selatan. Aceh. Yang berbeda dalam laju perluasan areal yang sangat agresif yaitu rata-rata 12. Pencapaian sasaran menurut skenario 2 Upaya peningkatan produksi menurut skenario 2. Lampung.5%.5% per tahun untuk masing-masing periode yang sama. Wilayah sasaran perluasan areal adalah NTB. dan 0. dan 1. waktu/musim tanam yang se­suai dan rotasi tanaman. dan 2020-2025. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih VUB yang bermutu.

98 2.103 628 1.75 2.75 1.768 11.988 -715 3.76 2.75 279 1.00 2.00 61.71 6 2011 1.289 890 9.30 4.894 117.018 122.78 277 1.45 720 1.699 -357 3.17 244 1.40 2.50 2.367 757 9.99 2.32 229 1.832 112.59 911 903 1.14 247 1.99 12 2017 0.31 19 2024 0. swasembada kedelai baru bisa dicapai pada t­ahun 2025.081 122.709 103.33 17 2022 0.30 18 2023 0.466 74.269 122.189 10.50 10.00 -64.046 9.00 0.81 275 1.838 10.84 273 1.003 777 1.50 1.694 11.018 -731 4.66 3.06 8 2013 1.52 7 2012 1.56 1.02 258 1.50 2.39 10.62 2.42 14 2019 0.55 14.79 1.873 -665 3.37 2.630 10.784 -504 3.87 270 1.213 453 2.291 53.770 107.64 5 2010 1.25 2.63 1.23 2.75 1.08 252 1.39 16 2021 0.541 -98 2.20 241 1.957 122. Menuru­t skenario 3.36 20 2025 0.398 11.84 17.446 9.19 2.79 3.29 232 1.844 11.50 12.95 1.189 1.80 3 2008 1. skenario 3 tampaknya yang paling moderat.646 99.25 2.902 -676 3.61 11 2016 1.618 -221 2.94 1.96 1.71 1.84 0.52 2.45 6.21 4.407 67.33 569 1.15 2.99 260 1.35 226 1.15 2.50 5. Tahun Pdd (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod (%) jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 0 2005 1.12 2.96 263 1.235 46.349 61.63 1 2006 1.88 2.52 810 1.58 1.39 640 1.080 11.40 3.921 11.97 1.04 2. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 2).23 238 1.50 -9.90 1.930 -688 3.468 12 2.332 122.93 265 1.55 Pertumb (%) 1.230 9.54 Pertumb (%) 1.807 10.37 9 2014 1.88 2.01 2.90 268 1.27 3.336 10.5% per tahu­n pada periode 2005-2009 dan periode 2010-2014.85 1.83 2 2007 1.78 12.49 Pertumb (%) 1.000 11.061 1.63 2.53 3.44 Pertumb (%) 0.959 -701 3.585 90.206 122.01 1.143 122.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 8.14 2.124 35.11 250 1.82 1. Pencapaian sasaran menurut skenario 3 Diantara ketiga skenario dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri.59 13 2018 0. Kemudian laju 37 .072 10.179 40.01 3.992 10. Waktu pencapai swasembada kedelai yang cukup lama ini s­ebagai konsekuensi peningkatan areal tanam baik lewat peningkata­n IP maupu­n pemanfaatan lahan tidur masing-masing 7.67 1.93 3.05 255 1.88 1.634 10.93 1.26 235 1.334 249 2.00 1.67 4 2009 1.622 11. Pert Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri No.27 15 2020 0.525 82.11 10 2015 1.048 -748 4.

52 707 1.957 91.90 1.88 263 1.33 3.328 10.39 255 1.87 17 2022 0.98 1.407 55.97 1.75 260 1.145 462 2.00 2.79 1.634 1.12 247 1.332 100.40 229 1.84 18 2023 0.55 2. Tahun Pert Pdd (%) Pddk Provitas Area Impor (jt (t/ha) (rb ha) (rb jiwa) ton) Prod (rb ton) Konsumsi (kg/ (rb kap) ton) Kontri Prod (%) 0 2005 1.367 3.66 277 1.17 7 2012 1.53 3.898 11.02 12 2017 0.692 11.93 1.50 5.68 2.269 99.94 1.14 8 2013 1.27 3.40 273 1.585 68.20 6 2011 1.11 9 2014 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai p­eningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5.81 19 2024 0.29 3 2008 1.88 1.291 46.08 3.50 -4.15 10 2015 1.121 11.525 63.24 2.21 268 1.36 12.53 275 1.00 15 2020 0.32 2 2007 1.33 569 1.73 38 .329 850 9.326 -19.35 1 2006 1.52 232 1.015 688 1.24 6.263 265 2.27 2.582 -39.770 80.83 1.091 1.007 11.958 10.709 77.98 7.370 10.55 241 1.84 226 1.96 1.143 95.79 279 1.39 612 1.00 244 1.124 35.525 11.78 20 2025 0.367 757 9.99 13 2018 0.90 16 2021 0.08 3.76 238 1.19 547 2.793 11.00 -19.88 4.079 2.612 10.93 0.63 235 1.179 39.25 -39.205 9.37 252 1.75 1.25% m­asing-masing untuk periode 2015-2029 dan 2020-2025 (Tabel 9).203 369 2.063 1.73 2.25 250 1.777 10. No.329 3.67 878 913 1.45 658 1.360 11.646 73.235 42.894 87.71 944 808 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 3).86 2.26 2.003 1.392 225 2.62 258 1. Tabel 9.349 51.206 97.50 -10.218 1.280 955 9.50 7.223 10.687 1.59 760 1.27 270 1.63 817 1.832 83.081 94.83 2.31 9.08 Pertumb (%) 1.073 9.086 10.30 5 2010 1.05 3.63 10.018 92.533 -28 3.82 1.05 11 2016 1.00 2.99 1.75 Pertumb (%) 0.34 1.93 Pertumb (%) 1.144 1.73 2.96 14 2019 0.08 3.68 3.466 59.50 2.34 2.77 1.484 31 2.218 2.63 2.01 265 1.23 Pertumb (%) 1.50 3.85 1.95 1.14 1.438 85 2.463 10.26 4 2009 1.238 11.58 136 2.01 2.50 7.04 4.61 2.17 2.0% dan 3.

Wilayah s­asaran perluasan areal adalah Nusa Tenggara Barat. waktu/musim tanam yang sesuai dan rotasi tanaman.0 2. Nilai LQ diklasifikasikan sebagai berikut: 3. Ein adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi nasional (n).0 > LQ > 0 nilai tinggi nilai sedang nilai rendah 39 . Aceh.0 > LQ > 1. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. dan Sulawesi Selatan. Jawa. E.0 > LQ > 2. perbaikan kesuburan lahan dengan pemupukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih unggul yang bermutu.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2025 dengan c­atatan bahwa konsumsi per kapita maupun total konsumsi sama dengan skenario 1 dan skenario 2. lahan sawah tadah hujan atau lahan kering. Lampun­g. Penjabaran arti dari LQ adalah: LQ = Eir / Ein di mana Eir adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi propinsi (r). Perluasan Areal Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usahatani kedelai.0 1. Sumatera Utara. Perluasan areal tanam dilakuka­n melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigas­i sederhana.

Kalsel. Sumbar.0 Aceh. Tabel 11 menunjukkan bahwa potensi lahan yang sesuai un­ tuk tanaman kedelai. Skala prioritas pengembangan kedelai berdasarkan nilai LQ disajikan pada Tabel 10. Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendala antara lain nilai komparatif dan kom­ petitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya. Sulut. Sumut 0. 40 . Nilai LQ dan Propinsi 3.0 > LQ >1. baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal. + Papua +++ Prioritas utama.0 > LQ > 0. Lampung.0 > LQ > 2. Jabar. Prioritas program peningkatan produksi dan perluasan a­real kedelai berdasarkan nilai LQ propinsi.1 Jambi. Sedangkan wilayah sasaran di Jawa dan Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan perlu mempertimbangkan lahan dengan LQ tinggi sampai sedang. Sultra. Sumsel. Bengkulu. Jatim. Jateng. ++ Prioritas sedang. Sulsel 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 10.5 Bali.0 NTB.5 > LQ > 0. Yoyakarta 2. + Prioritas rendah +++ ++ + +++ + +++ + Peningkatan Produktivitas (PP) Perluasan Areal Tanam (PAT) Wilayah sasaran intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai utama (LQ) tinggi diikuti propinsi penghasil kedelai (LQ se­ dang).

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

Tabel 11.

Daerah sasaran peningkatan produktivitas di propinsi penghasil kedelai utama dan propinsi penghasil kedelai sedang. Propinsi Kabupaten Gunung Kidul Bantul, Wonosari, Slemen Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Sumbawa, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan. Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi Purworejo, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Demak, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Kudus, Jepara, Pati, Blora Bone, Enrekang, Gowa, Majene, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polewali, Selayar, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo

Nilai LQ

1 Penghasil 1 Yogyakarta kedelai utama (40.050 ha) (LQ Tinggi) 2 Jawa Timur (279.500 ha) 3 NTB (139.520 ha) 2 Penghasil 1 Aceh kedelai Sedang (181.390 ha) (LQ Sedang) 2 Lampung (164.500 ha) 3 Jawa Barat (327. 500 ha) 4 Jawa Tengah (379.500 ha) 5 Sulawesi Selatan (322.100 ha)

41

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

F. Peningkatan Produktivitas Upaya peningkatan produktivitas (PP) dibedakan atas tingkat produktivitas yang telah ada selama ini. Berdasarkan metoda perhi­ tungan LQ, maka lahan dengan 3,0>LQ>2,0 (LQ tinggi) merupakan lahan yang sesuai untuk peningkatan produktivitas yang tersebar di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Bagi daerahdaera­h yang telah memiliki produktivitas tinggi diarahkan untuk d­imantapkan, dan bagi daerah-daerah yang tingkat produktivitasnya masih rendah dilakukan upaya akselerasi melalui penggunaan b­enih va­rietas unggul, pupuk berimbang, penerapan teknologi spesifik lokasi, pengelolaan usahatani terpadu lahan kering. Perluasan areal tanam (PAT) diarahkan ke daerah di luar Jawa yang memiliki potensi cukup luas melalui penambahan baku lahan, mengoptimalkan lahan kering, rehabilitasi dan konservasi lahan, ser­ ta pengembangan lahan rawa/lebak/pasang surut. Perluasan areal disesuaikan dengan kecocokan lahan dengan 2,0>LQ>1,0 di Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Untuk mendukung tercapainya sasaran-sasaran tersebut, perlu dukungan aspek hulu antara lain penyediaan lahan, perbaikan pengairan, sarana produksi, alsintan, permodalan, sarana transportasi/jalan usahatani.

42

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

VI. STRATEGI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM
A. Strategi Pemecahan Masalah Perumusan strategi, kebijakan, dan program pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia disusun dengan menggunakan analisis SWOT. Penyusunan strategi dikelompokkan menjadi 6 bagian berdasar­ kan bidang masalah yang dihadapi yaitu: (1) litbang, (2) perbenihan, (3) produksi, (4) panen dan pascapanen, (5) distribusi dan pemasaran, sert­a (6) kelembagaan. Dari masing-masing isu tersebut kemudian dirangking atas dasar indikator prioritas yaitu urgent, seriousness, dan growth. Dari masing-masing isu kemudian ditentukan tiga masalah prioritas. Masalah tersebut kemudian di analisis dengan SWOT yang terdiri atas faktor internal (strength, weakness) dan faktor ekternal (o­pportunity, threat). Dari hasil analisis ditentukan prioritas masing-masing isu untuk kekeuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berdasarkan masing-masin­g m­asalah disusun strategi agresif, diversifikatif, konsolidatif, dan defensif. 1. Penelitian dan pengembangan Berdasarkan identifikasi dan seleksi faktor internal dan ekster­ nal, maka faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dominan dari aspek penelitian dan pengembangan (litbang) adalah sebagai berikut. Strategi Agresif (SO). Strategi ini memanfaatkan kekuatan e­ksternal dan peluang eksternal yang ada antara lain: • pemanfaatan secara optimal sumber daya genetik dan peneliti yang berkualitas dalam merakit varietas unggul, guna memenuhi teknologi yang meningkat, • pemanfaatan dukungan pemerintah untuk revitalisasi penyuluh­an guna meningkatkan proses alih teknologi, dan • pemanfaatan peneliti yang berkualitas untuk menjalin kerja sama penelitian (KSP) dalam perakitan teknologi.
43

• pemanfaatan perhatian pemerintah untuk memperbaiki sistem diseminasi teknologi. formulasi strategi dalam pengembangan sistem produksi benih kedelai berdasarkan kekuatan. • pemanfaatan KSP p­enelitian. kelemahan. Alternatif strategi sistem perbenihan juga dikelompokkan atas dasar kombinasi antara faktor internal dan e­ksternal yang terdiri atas strategi agresif (SO). strategi diversifikatif (ST). 2. dan strategi defensif (ST).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Strategi Diversifikatif (WO). Strategi sistem produksi benih Secara lebih rinci. peluang. Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal sekaligus mengurangi ancaman eksternal yang ada. Strategi Defensif (WT). antara lain: • fokus penelitian pada isu-isu yang paling mendesak. dan untuk mendukung konsistensi program • prioritasi penelitian sesuai dengan keterbatasan tenaga peneliti. Alternatif strategi yang termasuk kelompok diversifikatif adalah: • optimalisasi program diseminasi guna memenuhi kebutuhan t­eknologi yang meningkat. dan • perbaikan rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan. meliputi: • pemberdayaan peneliti melalui perbaikan sistem reward bagi peneliti berprestasi. 44 . Strategi ini dimaksudkan untuk me­ manfaatkan peluang eksternal dengan memperbaiki kelemahan inter­ nal. dan • kaderisasi peneliti berkualitas melalui perbaikan rekruitmen yang sesuai dengan kebutuhan. strategi konsolidatif (WO). Strategi Konsolidatif (ST). Strategi untuk mengatasi kelemahan i­nternal dan sekaligus mengurangi ancaman eksternal. dan ancaman.

Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal yang cukup besar dalam pengem­ bangan sistem produksi benih kedelai mendukung peningkatan produksi nasional. antara lain: • perbaikan sistem alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. Strategi ini meliputi: • peningkatan peran penyuluh untuk menanggulangi OPT dan anomal­i iklim. Memanfaatkan peluang eksternal secara optimal antara lain: (1) pemanfaatan teknologi untuk menekan biaya produksi benih u­nggul dan (2) pemanfaatan UPBS. dan BBU untuk meningkatkan mutu benih guna meningkatkan kepercayaan petani. dan • pemanfaatan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. Alternatif strategi untuk meman­ faatkan peluang eksternal secara optimal untuk mengurangi anca­ man eksternal dalam pengembangan perbenihan kedelai nasional. Strategi ini b­ersifat konsolidasi internal untuk menghadapi tantangan dari luar. Strategi Defensif (WT). abiotik maupun sosial-ekonomi dalam pengembangan sistem perbenihan kedelai. dan BBU dalam penyediaan b­enih bermutu. antara lain: • peningkatan peran UPBS. dan • pemanfaatan subsidi untuk pengembangan industri benih. • penyederhanaan sistem sertifikasi. Strategi ini dimaksudkan untuk m­engurangi kelemahan internal dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengurangi ancaman eksternal baik yang bersifat biotik. BBI. • pembatasan impor melalui tarif. Strategi Diversifikatif (WO) .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Agresif (SO). 45 . BBI. • pemanfaatan varietas unggul yang tersedia dalam perakitan VUB ber­ daya hasil tinggi didukung oleh teknologi benih yang maju.

Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaata­n peluang eksternal. dan • revitalisasi penyuluhan untuk mendiseminasikan budidaya kedelai sebagai tanaman sela. Strategi ini meliputi antara lain: • pemanfaatan VUB dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi. Strategi sistem produksi Strategi pengembangan sistem produksi ( on-farm ) kedelai d­iformulasikan dengan memperhatikan keterkaitan antara faktor i­nternal dan eksternal. Strategi Agresif (SO). Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk memanfaatkan peluang ekternal yang ada agar kinerja produksi makin membaik. baik sebagai tanaman utama maupun tanaman sela. biotik. dan • pemanfaatan VUB untuk penyediaan kedelai berprotein tinggi. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi maju dalam peningkatan produksi untuk menekan laju impor. • penyediaan kredit lunak yang mudah diakses petani. • pemanfaatan lahan yang masih luas untuk perluasan areal tanam kedelai. 46 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. dan • perakitan varietas unggul hasil tinggi toleran terhadap cekaman lingkungan seperti OPT dan Iklim. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi produksi biaya rendah dengan sarana produks­i terbatas. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dengan mengurangi atau menekan ancaman serendah mungkin baik yang bersifat sosialekonomi. maupun abiotik. guna memenuhi permintaan yang terus meningkat.

juga dilakukan terhadap formulasi strategi pada aspek ini yaitu agresif. P­enanganan hasil panen dan pascapanen dalam pengem­ bangan kedelai sangat menentukan. Strategi penanganan panen dan pascapanen Formulasi strategi pengembangan kedelai ditinjau dari aspek pen­ anganan panen dan pascapanen didasarkan atas pengelompokan yang sama. Strategi diversifikatif antara lain: 47 . selain manajemen peme­liharaan tanama­n pada saat kegiatan usahatani. dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai d­engan keterbatasan modal. dan • pemanfaatan alsitan untuk pengolahan hasil panen. Strategi Agresif (SO). Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu hasil.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Defensif (WT). dan defensif. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. Strategi ini dimaksudkan untuk mening­ katkan kinerja produksi di mana secara internal banyak kelemahan dan secara eksternal juga cukup banyak ancaman sehingga strategi ini harus diformulasikan secara hati-hati. Formulasi strategi ber­ dasarkan keterkaitan antara masing-masing faktor internal dan eksternal. diversifikatif. Penerapan teknologi pasca­ pa­nen tidak hanya menekan kehilangan hasil secara kuantitas juga meningkatkan mutu hasil. Strategi ini dimaksudkan u­ntuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal u­ntuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada agar nilai tambah produks­i kedelai dapat dinikmati oleh petani produsen maupun p­engolah. • pemanfaatan teknologi pengolahan untuk menghasilkan ber­bagai produk guna mendukung perkembangan agroindustri. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaa­ tan peluang eksternal. konsolidatif. 4. Strategi Diversifikatif (WO).

Strategi distribusi dan pemasaran Hasil analisis keterkaitan antar faktor-faktor internal seperti kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam aspek distribusi dan pemasaran kedelai dan produk olahannya dikelompokkan ke dalam empat strategi. Strategi ini antara lain: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. Strategi Agresif (SO). dan • penyediaan kredit lunak untuk pengadaan alsintan m­eningkatkan produk olahan berbahan baku kedelai. guna Strategi Konsolidatif (ST). dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai de­ngan keterbatasan modal. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu produk dan meningkatkan harga jual dan • penggunaan alsintan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dalam pengolahan Strategi Defensif (WT). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal dan optimalisasi pemanfaatan peluang e­ksternal. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dalam peningkatan nilai tambah hasil dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. Strategi ini meliputi: 48 . Strategi ini tampaknya harus diformu­ lasikan secara hati-hati. 5. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan dan eksternal yang juga cukup banyak ancaman. yaitu agresif. diversifikatif. dan defensif. konsolidatif.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatka­n hasil panen bermutu.

• pemanfaatan jaringan transportasi guna mendukung p­engem­ bangan industri pengolahan. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan infrastruktur guna mempersingkat rantai pemasaran. dan • peningkatan intensifikasi di sentra produksi guna menekan laju impor. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan pada tingkat petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang juga tidak 49 . Strategi Konsolidatif (ST). dan • penerapan tarif terhadap kedelai impor secara proporsional. Strategi Defensif (WT) .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • pemanfaatan infrastruktur guna mendukung pengembangan i­ndustri pengolahan. Strategi ini diharapkan mampu mening­katkan nilai tambah distribusi dan pemasaran di tingkat petan­i produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk me­ manfaatkan peluang pasar eksternal yang ada agar kelancaran arus kedelai dari petani produsen maupun pengolah sampai ke pasar baik di desa maupun di kota terjamin. Strategi diversifikatif terdiri atas: • kerja sama petani dengan pengusaha m­eningkatkan daya tawar petani. • pemanfaatan transportasi yang lancar untuk menekan biaya trans­ portasi. pengolahan untuk • perbaikan sistem informasi pasar melalui penerapan teknologi i­nformasi. dan • intensifikasi di daerah sentra produksi untuk memenuhi p­ermintaan kedelai yang meningkat. Penerapan teknologi informasi akan memperlancar arus data dan informasi dari pasar ke produsen dan ke pengolah begitu pula sebaliknya.

formulasi strategi dalam aspek kelembagaan juga dikelompokkan ke dalam empat magnitude sesuai dengan analisis SWOT yaitu agresif. pe­ nyuluhan. konsolidatif. Strategi Diversifikatif (WO) . diversi­ fikatif. antara lain: • pemanfaatan lembaga perkreditan untuk mendorong swasta dalam industri pengolahan. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang ada pada tingkat organisasi petani. dan industri pengolahan. Strategi Agresif (SO). dan • pemberdayaan kelompok tani guna mendukung program alih t­eknologi. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal me­ manfaatkan peluang eksternal yang ada agar seluruh kelembagaan baik di tingkat petani produsen maupun prosesing di pedesaan. 6. dan • penerapan tarif impor untuk menekan volume impor dan m­eningkatkan daya tawar petani. Strategi agresif dari aspek kelembagaan. Kelembagaan petani produsen yang ditangani secara profesional akan mampu meningkatkan posisi tawar petani dalam pasar produk 50 . Seperti halnya pada aspek-aspek lainnya. penyuluhan. dan defensif. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan informasi pasar yang ada guna memperpendek r­antai pemasaran. Strategi penguatan kelembagaan Percepatan penerapan revitalisasi kelembagaan petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai kalah banyaknya. penyuluhan maupun permodalan serta optimalisasi pemanfaatan pe­ luang eksternal. Strategi ini harus diformulasikan secara tepat dan hati-hati. • sinkronisasi kelembagaan alih teknologi dengan program revita­ lisasi penyuluhan. dan permodalan pada tingkat pedesaan tampaknya akan merupakan katalisator dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri.

Penerapan teknologi informasi dan manajemen usaha yang efisien akan memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen dan sebaliknya. Strategi Konsolidatif (ST). • penegasan komitmen pimpinan kelembagaan dalam pelaksanaan peraturan. Strategi ini antara lain: • percepatan penerapan revitalisasi penyuluhan dan lembaga p­ermodalan. guna meningkatkan fungsi kelembagaan. • revitalisasi kelompok tani guna meningkatkan kepercayaan petan­i. Strategi Defensif (WT). dan • sinkronisasi peraturan dan kelembagaan antara pusat dengan daerah. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal institusi yang masih banyak kelemahan pada tingka­t petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang merugikan petani. Strategi ini meliputi: • perbaikan kinerja lembaga permodalan dan alih teknologi untuk meningkatkan kepercayaan petani terhadap kelembagaan yang ada.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI kedelai yang secara alami bersifat kompetitif. Strategi diversifikatif terdiri atas: • pemanfaatan program alih teknologi dan penyuluhan untuk p­erbaikan sistem penyuluhan. Strategi ini diharapkan mampu melakukan konsolidasi manajemen usaha agribisnis kedelai untuk nilai tambah pada tingkat petani produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat manajemen maupun sosialekonomi. dan 51 . serta peningkatan peran dan fungsi kelompok. dan • kerja sama petani dengan swasta guna meningkatkan ketersediaa­n modal bagi petani. Strategi defensif yang terkait dengan masalah dis­ tribusi dan pemasaran harus diformulasikan secara tepat dan hatihati.

dan (2) melakukan KSP jangka menengah dan panjang dengan lembaga penelitian lain. Kedua strategi ini berpijak dari keterbatasan tenaga peneliti dan inkon­ sistensi program penelitian. maka KSP dapat dilakukan dengan sistem cost sharing.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan akses petani terhadap sumber modal melalui p­erbaikan komitmen pimpinan kelembagaan. Prioritas Kebijakan dan Program Pengembangan 1. Kebijakan dan program penelitian dan pengembangan Kebijakan dan Program Agresif (SO). dalam rangka konsistensi program penelitian. Jika pendanaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Dua program operasional yang dirumuskan sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut adalah: (1) penelitian ung­ gulan sesuai kebutuhan stakeholders. Kebijakan yang ter­ tapis adalah: (1) penajaman prioritas penelitian sesuai dengan SDM yang tersedia. namun tetap berupaya memanfaatkan pe­ luang KSP dengan pihak luar. baik nasional maupun internasional. B. baik nasional maupun internasional. 52 . kebija­ kan pengembangan yang tertapis dua strategi. Satu kebijakan tertapis dan yang paling dominan yaitu penyediaan insentif bagi peneliti ber­ prestasi melalui penerapan HaKI dan tunjangan peneliti yang m­emadai. dan (2) pemantapan program penelitian untuk menjalin KSP dengan pihak luar. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). Dalam mempercepat revitalisasi penyuluhan. baik nasional maupun interna­ sional. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). kebijakan terse­ but harus ditindaklanjuti dalam bentuk program operasional. dan (2) penerimaan tenaga penyuluh disertai dengan penye­ diaan fasilitas pendukungnya. yaitu: (1) pemantapan lembaga penyuluhan dan keterkaitannya dengan lembaga penelitian. Implementasi dari kerja sama penelitian (KSP) dapat dilakukan dalam bentuk konsorsium. Dari aspek litbang. dan (2) fasilitasi KSP antara peneliti litbang dengan lembaga penelitian lain. yaitu: (1) percepatan im­ plementasi revitalisasi penyuluhan. sebagian keterbatasan dana peneli­ tian dari Badan Litbang Pertanian dapat diatasi melalui kerja sama ini. Dengan demikian.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut. maka strategi kebijakan dan pro­ gram yang relevan dalam pengembangan kedelai tertapis lima kebi­ jakan dan program yang terkait dengan sistem perbenihan kedelai. Dari aspek perbenihan. Kebijakan yang dibu­ tuhkan untuk perbaikan kinerja tenaga peneliti adalah rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan lembaga penelitian. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) program benih tepat sasaran. dan (2) penyediaan fasilitas dan pengangkatan tenaga yang dibutuhkan UPBS. strategi yang bersifat agresif (SO) adalah: (1) pemanfaatan subsidi b­enih untuk penyediaan varietas unggul. Kebijakan dan Program Agresif (SO). dan UPBS. BBI. dan (2) peningkatan peran UPBS. D­engan demikian. Sedangkan kebijakan pengembangan yang berkaitan dengan strategi SO tersebut adalah: (1) implementasi disertai pengawasan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. BBI dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. diharapkan subsidi benih dari pemerintah d­apat dimanfaatkan secara tepat sasaran. dan (2) meningkatkan peran UPBS. Kebijakan dan Program Defensif (WT). dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. 2. BBI. Sedangkan program yang mendesak untuk diimplementasikan adalah pene­ rimaan pegawai sesuai kebutuhan lembaga penelitian. Kebijakan dan program sistem perbenihan Dari hasil analisis tapisan. Formulasi kebijakan tertapis tersebu­t bertujuan untuk: (1) memanfaatkan subsidi benih dari pemerintah se­ cara optimal. maka program yang harus dilaksanakan adalah perbaikan sistem tunjangan fungsional peneliti dan penerapan HaKI secara konsekwen. dan BBU yang ada. dan BBU. BBI. 53 . dan (2) peningkatan kemampuan UPBS. dan BBU dapat ber­ peran lebih baik dalam penyediaan benih unggul bermutu. Dengan demi­ kian kesinambungan antara peneliti senior dengan peneliti yunior akan berjalan dengan baik. Kebijakan dan pro­ gram ini diharapkan dapat mendorong kreativitas peneliti dalam meng­ hasilkan teknologi dan rumusan kebijakan baru yang prospektif. BBI.

Dalam rangka pembinaan penangkar benih lokal. Kebijakan dan pro­ gram ini ditujukan untuk mengatasi masalah birokrasi yang panjang pada sistem sertifikasi saat ini yang memakan waktu paling cepat satu b­ulan. tenaga kerja. dan insektisida hayati. Sementara itu. air. Program ini bisa dihidupkan lagi dengan memperbaiki sistem perbenihan mulai dari benih inti dan benih sumber pada Balit Nasional. sehingga masa penjualan benih relati­f singka­t. kebijakan yang dibutuhkan adalah fasilitasi pelatiha­n penangkar benih di tiap daerah. 54 . kebijakan yang tertapis dan dominan adalah perbaikan dan penye­ derhanaan peraturan sertifikasi. yaitu hanya dua bulan. dan input kimiawi. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Kebijakan dan Program Defensif (WT). benih dasar dan benih pokok pada tingkat BBI-BBU dan benih sebar pada tingkat penangkar. Contoh bentuk teknologi tersebut antara lain adalah budi daya benih kedelai tanpa olah tanah (zero tillage­ ). Pada strategi WO. Sedangkan program yang r­elevan untuk merealisasikan kebijakan tersebut adalah pelatihan p­enangkar benih di tiap daerah. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan penangkar benih dalam memproduks­i benih kedelai bermutu.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). Program yang terkait dengan kebijakan ini adalah pengembangan teknologi produksi benih hemat lahan. Kunci keberhasilan yang pernah dicapai Indonesi­a pada awal tahun 1990an adalah adanya program jalur benih antara musim dan lapang (Jabalsim). penggunaan bahan organik (pupuk kandang atau mulsa jerami­). Kondisi ini kurang kondusif bagi i­ndustri benih kedelai di Indonesia. Program pendukungnya adalah p­enerapan sertifikasi singkat dan tepat sasaran. Kebijakan ini untuk menanggulangi keterbatasan dan mahalnya sarana produksi dalam upaya pengembangan teknologi hemat biaya ( least cost technology ) untuk produksi benih unggul. umur sertifikat benih kedelai hanya tiga bulan sejak mulai pengujian.

Sedangka­n p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan ini adalah: (1) penyediaan kredit dan pendampingan untuk penerapan teknologi PTT. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). (3) mengurangi kehilangan hasil. air. Kegiatan lain yang juga perlu mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan produksi. 55 . antara lain: (1) menekan senjang hasil antara tingkat penelitian atau pengkajian dengan tingkat petani. Sedangkan program dibutuhkan untuk mendukung k­ebijakan tersebut adalah pelatihan penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT serta anomali iklim. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan peningkatan produktivitas adalah penggunaan varietas u­nggul dan pemupukan berimbang yang dikemas dalam pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT). Kebijakan dan Program Defensif (WT). Kebijakan dan program sistem produksi Kebijakan dan Program Agresif (SO). tenaga kerja. dan (2) perluasan areal tana­m untuk meningkatkan luas panen dan produksi kedelai. Alternatif kebijakan yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampila­n tenaga penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT dan anomali iklim. dan input kimiawi. (2) meningkatkan stabilitas hasil melalui peringatan dini terhadap ledakan hama dan penyakit maupun anomali iklim. Kebijakan yang terkait adalah: (1) pengembangan teknologi PTT. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kedelai di tingkat petani.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. dan (4) pemanfaatan potensi genetik tanaman melalui kemajuan iptek pertanian. Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah introduksi teknologi biaya rendah u­ntuk menekan biaya produksi. dan (2) penanaman kedelai pada musim kering di lahan tidur. Alternatif kebijakan yang diformulasikan adalah intensifikasi kedelai untuk meningkatkan produktivitas. Sedangkan program pendukung yang r­elevan adalah budidaya kedelai hemat lahan.

dan (2) peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur guna 56 . Sedangkan program yang relevan untuk mendukun­g kebijakan tersebut adalah: (1) demonstrasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsin­ tan praproduksi dan produksi. Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pe­ ngadaan alat pengolahan. dan (2) revitalisasi fungsi dan peran penyuluh dalam alih teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan yang diperlukan adalah: (1) perbaikan jaringan transportasi untuk memperlancar arus barang. dan (2) pelatihan penyuluh dalam teknologi panen dan pascapanen. 5. Alternatif kebijakan yang terkait adalah penigkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan hasil panen. Sedangkan p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan yang bersifat konsolidatif adalah pelatihan pengolahan kedelai menjadi produk olahan. Kebijakan yang terkait untuk menekan kehilangan hasil adalah pengembangan i­ndustri r­umah tangga untuk pengolahan kedelai. Alternatif kebijakan yang diperlukan untuk merealisasikan strategi ini adalah: (1) promosi t­eknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Kebijakan dan program panen dan pascapanen Kebijakan dan Program Agresif (SO) .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 4. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen. dan (2) optimalisasi penyaluran kredit lunak untuk alsintan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pelatihan pengolahan hasil bagi petani untuk menekan kehilangan hasil panen. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) optimalisasi pe­ nyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolah kedelai. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Kebijakan dan program distribusi dan pemasaran Kebijakan dan Program Agresif (SO).

Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebi­ jakan tersebut adalah peningkatan kualitas SDM dan fasilitas dalam pelaksanaan pengawasan tarif impor. laut dan udara. 6. Alternatif kebijakan yang diperlukan adalah: (1) pengembangan teknologi siap terap sebagai b­ahan penyuluhan. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsintan praproduksi dan produksi. Alternatif kebijakan yang terkait adalah perbaikan jaringan transportasi untuk menekan biaya transportasi. laut dan udara. Alternatif kebijakan yang terkait adalah peningkatan pelaksanaan dan pengawasan tarif impor. Sedangkan 57 . Kebijakan dan Program Defensif (WT ). Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) demon­ strasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Kebijakan dan program ini di­ butuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meng­ konsolidasikan manajemen distribusi dan pemasaran yang secara internal masih banyak kelemahan dan ancaman dari faktor eksternal pun masih cukup banyak. dan (2) pembangunan dan perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran pemasa­ ran hasil industri pangan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI mendukung pengembangan industri pedesaan. Alternatif kebijakan yang sesuai adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolahan. dan (2) peningkatan kemampuan dan keterampila­n petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk men­ dukung implementasi kebijakan tersebut di atas adalah pengadaan dan perbaikan sarana angkutan darat. dan (2) pelatihan penyuluh dalam bidang teknologi panen dan pascapanen. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengadaan dan per­ baikan sarana angkutan darat. Kebijakan dan program kelembagaan Kebijakan dan Program Agresif (SO).

Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengembangan pola kemitraan dalam penyediaan sara­ na produksi dan pemasaran hasil. Kebijakan dan Program Defensif (WT) . Alternatif kebijakan yang terkait adalah percepatan revitalisasi kelompok tani guna m­eningkatkan kepercayaan petani. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . dan (2) demplot inovasi teknologi baru dengan melibatkan peneliti-penyuluh-kelompok tani. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . dan (2) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai progra­m yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) penyebarluasan teknologi siap terap dan alat peraga bagi penyuluh. Sedangkan program yang dibu­ tuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pemberdayaan kelompo­k tani melalui konsolidasi manajemen kelompok dan p­enguatan modal kelompok. dan (2) pelatihan petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. Alternatif kebijakan yang terkait adalah revitalisasi kelembagaan permodalan dan alih teknologi. 58 . Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut adalah pengembangan lembaga keuangan mikro ( micro finance ) guna mendukung alih teknologi. Alternatif kebija­ kan yang sesuai adalah: (1) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil.

02. dukungan kebijakan dan program pengembangan yang kondusif yang mampu memberikan insentif bagi petani kedelai untuk meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Menengah Kedelai merupakan salah satu komoditas industri baik industri pangan maupun pakan. Untuk memanfaatkan peluang tersebut diperlukan strategi. Varietas unggul baru (VUB) kedelai yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian. Ancaman lain terhadap upaya peningkatan produksi kedelai adalah harga kedelai im­ por yang lebih murah dan mudah diperoleh. Namun peningkatan produktivitaspun sangat lambat dan sulit karena belum ditemukannya varietas unggul baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata. PETA JALAN MENUJU PENCAPAIAN SASARAN PENGEMBANGAN A. Peluang peningkatan produksi kedelai menuju swasembada masih cukup besar terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan area panen. Usahatani kedelai dihadapkan kepada resiko yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lain sehingga kurang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat on farm. belum tersedianya benih bermutu secara luas dan belum diadopsinya teknologi spesifik lokasi secara luas turut berpe­ran menyulitkan upaya peningkatan produktivitas kedelai. Kondisi ini makin mendorong menurunnya produksi kedelai domestik pasca 1992. Rendahnya produktivitas di tingkat petani antara lain disebabkan oleh penggunaan varietas lokal setempat dengan hasil rendah dan penggunaan benih produksi sendiri oleh petani.6 juta ton. Secara simultan program litbang diikuti dengan diseminasi dan promosi inovasi 59 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI VII. Produksi kedelai nasional cenderung menurun sejak tercapainya produksi tertinggi pada tahun 1992 yang mencapai sekitar 1. Berkurangnya luas areal tanam adalah penyebab utama menurunnya produksi sekalipun produktivitas dapat ditingkatkan. menunjukkan potensi hasil yang berkisar antara 2. peta jalan menuju pencapaian sasaran jangka menengah peningkat­an produksi kedelai diawali dengan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemu­ kan inovasi teknologi baru pada m­asing-m­asing agroekosistem. Di sisi lain. Oleh karenanya.5 ton biji kering/ha.

untuk menekan risiko dalam usahatani dan memper­ luas sumber pendapatan petani. Di sisi lain. Peta jalan pengembangan kedelai perlu dibuat secara cermat agar tahapan pengembangan dan langkah-langkah operasional tetap berada pada upaya pencapaian swasembada kedelai. Program litbang diawali dengan pembentukan database dan deli­ neasi lahan-lahan potensial yang sesuai untuk pengembangan kedelai. jagung dan aneka k­acang lainnya. Secara simultan dilakukan perakitan teknologi produksi dengan pendeka­ tan PTT.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai teknologi baru baik VUB maupun PTT kedelai di lahan kering maupun la­ han sawah. VUB yang akan dihasilkan juga dirakit dengan pertimbangan setelah dilepas varietas tersebut mampu menciptakan pasar (demand driving). Peng­ kayaan materi genetik dan plasma nutfah sangat penting untuk perbaikan varietas unggul baru untuk masing-masing agroekosistem. Perakitan VUB juga dirancang atas dasar kesesuaian terhadap preferen­ si dan selera pengguna serta permintaan pasar (demand driven). s­edangkan 60 . Sisa tanaman pada saat panen dapat dijadikan pakan ternak terutama pada musim kemarau. Sedangkan perakitan VUB baru kedelai masih diprioritaskan un­ tuk mencapai target hasil per hektar mendekati potensi genetiknya. Kedelai juga sangat potensial diusahakan dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL). Peta jalan menuju penca­ paian sasaran jangka menengah menggambarkan lima program utama yaitu: (1) penelitian dan pengembangan. diikuti dengan pembentukan jaringan pasar (Gambar 4). Perakitan va­ rietas kedelai yang lebih toleran terhadap lahan kering masam dan lahan kering beriklim kering tetap menjadi prioritas untuk membantu petani agar memiliki pilihan varietas yang lebih luas dalam melakukan usahataninya. kedelai dapat diusahakan terintegrasi de­ngan tanaman lain seperti ubi kayu. Pada hirarki ke-4 dan ke-5 masing-masing adalah calon penerima manfaat dan dampak yang diharapkan. Untuk lebih memacu upaya peningkatan produktivitas. dan (5) pembentukan jaringan pasar. Selanjutnya. padi gogo. (4) program masalisasi (produksi nasional). VUB kedelai tipe baru akan menjadi salah satu program unggulan ke depan. (3) program aksi atau scaling up. maka kedelai perlu diusahakan terinte­ grasi dengan komoditas lain termasuk ternak dalam suatu pola usahatani terpadu. Pada lahan kering. (2) diseminasi inovasi tekno­ logi.

pemasyarakatan inovasi teknologi kedelai juga dapat dilakukan melalui mass-media baik c­etak maupun elektronik. korporasi. Kinerja manajemen usaha pengolahan kedelai harus terus ditingkatkan sehingga bisnis komoditas ini dapat bersaing dengan bisnis komoditas lainnya sehingga kedelai mampu merebut kembali keunggulan kompetitifnya di tingkat on farm. pengembangan jaringan pasar perlu dilaku­ kan melalui penyediaan informasi pasar yang cepat dan akurat termasuk market intelligence dan membangun database tentang perkembangan pasar komoditas unggulan masing-masing daerah termasuk kedelai. 61 . atau asosiasi yang berbadan hukum. Pengembangan kedelai juga harus d­iikuti d­e­ ngan program aksi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI pupuk kandang dan kompos sisa tanaman dapat dijadikan p­upuk organik untuk memperkaya kandungan bahan organik dalam tanah. Di sisi lain penganekaragaman produk olahan berbahan baku kedelai perlu diperluas dengan memperkuat jaringan pasar produk kedelai. ekspose. kegiatan difokuskan kepada upaya untuk mempercepat penyebaran dan adopsi inovasi teknologi. pameran. Selain dengan memperagakan secara langsung di lahan petani. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses kelompok usaha agribisnis kedelai terhadap sumber modal. leaflet dan bookle­t dengan bahasa yang mudah mengerti oleh petani. dan demontrasi di lahan petani ( dem-farm). masalisasi atau program nasional dan diversifikasi pengembangan produk olahan di tingkat pedesaan. Program ini dapat dilakukan dengan penyuluhan langsung pada petan­i. Usaha berkelompok dapat dilakukan oleh petani dalam bentuk koperasi. Na­ mun pada jangka menengah petani didorong untuk mampu menciptakan nilai tambah baik secara individu maupun berkelompok. nilai tambah dari penanganan hasil ini dapat langsung diminati oleh petani sekaligus me­ ningkatkan posisi tawar petani. misalnya dalam bentuk korporasi pengolahan kedelai. diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mela­ kukan agribisnis kedelai. Dari aspek diseminasi dan promosi. Pada hirarki berikutnya. Demon­ strasi teknologi di lahan petani dapat meliputi antara lain: teknologi budidaya dan teknologi penanganan hasil panen dan pascapanen termasuk pengolahan hasil sekunder. Pemasaran kedelai di tingkat petani umumnya adalah dalam bentuk biji kering. Penerbitan dan penyebarluasan brosur. Dengan demikian.

Peta jalan (road map) menuju sasaran jangka menengah (5 tahun ke depan) pengembangan kedelai. .62 AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 4.

0% per tahun. Empat keterkaitan utama dapat dilihat antara lain: (1) keterkaitan i­nstitusional (kelembagaan).0-2. Namun demikian.55% per tahun sampai 2025. Peta jalan menuju sasaran jangka panjang pengembangan i­ndustri pengolahan kedelai di pedesaan disajikan pada Gambar 5. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Panjang Sasaran jangka panjang pengembangan kedelai adalah berkem­ bangnya industri pengolahan baik untuk pakan maupun industri pa­ ngan di pedesaan yaitu antara 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pada hirarki selanjutnya. Dengan demikian muara dari manfaat tersebut adalah meningkatnya pendapatan dan kesejah­teraan rumah tangga tani dan masyarakat pedesaan. Sedangka­n pendapatan rumah tangga tani diperkirakan akan terus meningkat dan m­encapai US$ 2500/kk/tahun pada akhir program. penerima manfaat dari upaya pening­ katan produksi kedelai adalah petani produsen yang mengembangkan sistem integrasi tanaman ternak dalam usaha tani terpadu bebas lim­ bah (SITT-BL). (2) keterkaitan horisontal (diversifikas­i horizontal­). memperluas sumber pendapatan. pengem­ bangan industri pengolahan kedelai di pedesaan hendaknya memper­ hatikan daerah sentra produksi untuk menekan biaya transportasi kedelai s­ebagai b­ahan baku industri. Muara dari penca­ paian sasaran jangka panjang peningkatan produksi dan pengem­bangan industri pengolahan kedelai adalah tumbuh dan berkembangny­a nilai tambah dan ekonomi pedesaan. mengurangi risiko kegagalan dan sekaligus mempertahankan kesuburan tanah. B. Konsumsi kedelai diproyeksikan meningkat 2. Mela­ lui pengembangan model integrasi tanaman ternak ini petani akan mampu meningkatkan indek pertanaman dalam pola tanam setahun. Di sisi lain. (4) keterkaitan regional (pewilayahan komoditas u­nggulan dan i­ndustri pengolahannya). Keempat keterkaitan tersebut 63 .5-5. (3) keterkaitan vertikal (penciptaan nilai tambah melalu­i pengolahan hasil). Pengembangan diversifikasi vertikal melalui pengolah hasil tidak hanya bermanfaat bagi prosesor. juga petani dalam pola kemitraan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. pengusaha yang bergerak di bidang industri pengolahan juga mendapat keuntung­ an dari proses peningkatan nilai tambah dan jaminan pasokan bahan baku melalui pola kemitraan yang disepakati oleh kedua belah pihak.

(3) penelitian dan peng­ kajian (litkaji) PTT kedelai untuk masing-masing agroekosistem atau yang bersifat spesifik lokasi. dan (5) pengembangan sistem agribisnis kemitraan yang saling membutuhkan. di wilayah surplus maupun defisit berupa arus barang dan jasa yang lancar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai akan m­emberikan dampak positif bagi calon penerima manfaat baik di tingkat produsen maupun konsumen akhir. PTT spesifik lokasi kedelai dapat menggunakan varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi yang mendekati potensi genetiknya. menguntungkan dan saling ketergantungan. (2) varietal selection and testing. dan (4) integrasi kedelai ke dalam sistem usahatani terpadu di tingkat petani. Keterkaitan institusional atau kelembagaan merupakan pra-syarat (pre-requisite) dan pilar utama pengembangan agribisnis komodita­s kedelai baik sebagai bahan baku maupun produk olahan industri p­angan maupun pakan. Muara dan manfaat dari peta jalan tersebut ber­ ujung kepada membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan r­umah tangga tani dan masyarakat di pedesaan. (2) revitalisasi program penyuluha­n untuk percepata­n prose­s diseminasi dan adopsi inovasi teknologi pertanian. ICAS). (4) k­onsolidasi manajeme­n usaha agribisnis dalam bentuk sistem usaha agribisnis k­orporasi (integrate­d corporate agribusiness system. serta dikehendaki oleh kedu­a belah pihak. Pengembangan sistem usahatani tumpang sari dalam pola seta­ hun pada sentra-sentra produksi kedelai. baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang akan menjadi lintasan utama menuju peningkatan produksi dan pengembangan industri pengolaha­n kedelai di pedesaan. Keterkaitan kelembagaan meliputi: (1) revitalisas­i kelemba­ gaan petani. Mengintegrasikan kedelai ke dalam sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL) terutama di lahan kering yang pada umumnya kurang subur dapat memperluas dan memperkuat sumber pendapatan rumah tangga tani di wilayah ini. AEZ). (3) pemberdayaan kelembagaan permodalan pertanian. 64 . Semua hirarki dalam peta jalan tersebut. Sedangkan keterkaitan horizontal dalam pengembangan kedelai adalah pelaksanaan program peningkatan produksi dan pengemban­ gan industri pengolahan secara konsisten yang diawali dengan: (1) ka­ rakterisasi dan dileniasi agroekosistem yang sesuai (agro-ecosystem zoning.

Peta jalan (road map) menuju pencapaian sasaran jangka panjang 20 tahun ke depan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 5. AGRO INOVASI 65 .

Sistem integrasi ini akan mendorong produksi produk sampingan secara in-situ seperti sisa tanaman sebagai pa­ kan ternak.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sedangkan pada lahan irigasi pada umumnya kedelai diusahakan setelah usahatani padi. Oleh karena itu. Kelancaran arus barang dan jasa akan memacu pertumbuhan ekonomi regional. Masih terbuka kemungkinan untuk memproduksi biogas melalui dekompos limbah samping dari sistem ini. Proses penciptaan nilai tambah ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi pedesaan. limbah dan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk memperkaya bahan organik tanah. 66 . dan 3) pemanfaatan limbah pengolahan kedelai sebagai pakan ternak dan pangan seperti oncom sebagai salah satu sumber protein. Pengembangan keterkaitan vertikal dalam produksi dan industri pengolahan kedelai dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah di tingkat petani melalui penerapan inovasi teknologi pengolahan hasil baik primer maupun skunder yang meliputi: (1) pengembangan diver­ sifikasi produk olahan kedelai. Dalam hirarki keempat. Percepatan program pengembangan industrialisasi pedesaan akan memberikan arah pada pemanfaatan kedelai dalam menciptakan nilai tambah di pedesaan. Pengembangan SITT-BL. diperlukan dileniasi wilayah pengem­ bangan kedelai antar wilayah sebagai komoditas unggulan. (2) pengembangan industri pengolahan di pedesaan. dapat dilakukan melalui pola kemitraan dengan pihak swasta. Untuk mendukung memasarkan hasil produksi dan produk olahan secara luas perlu penguatan dan peningkatan infrastruktur dan jasa angku­ tan antar pulau maupun wilayah. konsolidasi usaha antarpetani dalam bentuk kelompok usaha agribisnis terpadu (KUAT) yang dike­ mas ke dalam sistem usaha agribisnis korporasi terpadu (integrated corporate agribusiness system. Program ini tentu harus dipicu oleh kebijakan yang bias kepada pedesaan. Peningkatan aksesibilitas terhadap pasar diharapkan mampu meningkatkan arus barang dan jasa melalui perdagangan antara wilayah surplus dan wilayah defisit. ICAS) merupakan jalan keluar untuk meningkatkan posisi tawar petani dan segera keluar dari perangkap kemiskinan baik sementara maupun permanen.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Muara dari semua program yang dicanangkan tersebut di atas adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyaraka­t k­hususnya petani kedelai dan keluarganya serta masyarakat pedesaa­n. Sasaran lain dalam pengembangan industri pengolaha­n kedelai adalah tersedianya lapangan kerja bagi angkatan kerja pedesaa­n guna mengurangi beban sektor pertanian yang selalu m­enjadi tumpuan terakhir dalam pemecahan masalah ketenagakerjaa­n. 67 .

0%. yaitu skenario 1. 68 . sehingga produksi diharapkan tumbuh rata-rata 8. dan skenario 3 ditargetkan untuk mencapa­i swasembada pada tahun 2025.93% per tahun selama periode yang sama. sedangkan konsumsi kedelai dalam negeri diproyek­ sikan 3. KELAYAKAN INVESTASI Dalam upaya mencapai sasaran produksi yang ditargetkan s­eperti terlihat pada Tabel 6-8. pertumbuhan areal panen diharapkan rata-rata 6. Untuk mencapai sasaran pengembangan tersebut. dan 3. 5. skenario 2. Pada posisi tersebut. diperlukan sarana dan a­lsintan seperti traktor. Indonesia sudah mencapai swasembada kedelai.5% per tahun berturut-turut pada periode lima tahu­n kedua. Selama 20 tahun pengembangan. dan sumur pantek untuk pengairan. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 1 Seperti terlihat pada Tabel 5. Dengan skenario ini. diperluka­n berbagai investasi.5%. Untuk mencapai sasara­n dari ketiga skenario tersebut. per­ tumbuhan areal panen ditargetkan menurun dari rata-rata 10% per tahu­n selama periode lima tahun pertama (2005-2010). serta investasi untuk revitalisasi penyuluhan. juga diperlukan investasi u­ntuk penelitian dan pengembangan (Litbang) dalam merakit teknologi baru. diharapkan pada tahun 2020 produksi mencapai sekitar 3. dan keempat. maka ditempuh tiga skenario. ketiga.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai VIII. pertumbuhan areal panen dan produktivita­s dirancang berbeda. menjadi 7. produktivitas ditargetkan tumbuh rata-rata 2. Selain sarana fisik. S­kenario 1 menargetkan swasembada kedelai pada tahun 2020. A.07 juta ton. bahwa untuk skenario 1. pengering. Di samping itu.50% per tahun. dan skenario 3.02 juta ton. Di tingkat usahatani. mesin perontok. s­kenario 2 pada tahun 2015. Masing-masing skenari­o m­empunyai target waktu pencapaian swasembada yang berbeda. bahkan terdapat surplus sekitar 50 ribu ton.25% per t­ahun selam­a periode 2005-2025.

pembebanannya juga seperti pengering. kedelai. p­enggunaannya juga diharapkan pada 2 musim palawija. Rp 2. Sedangkan untuk mesin perontok dan investasi Litbang khusus digunakan untuk kedelai. Selain pembelian.73 triliun untuk mesin pengering. Diasumsikan umur ekonomi alsintan 5 tahun. sehingga setela­h berumur lima tahun dilakukan penggantian alsintan. sehingga hanya 30% yang dibebankan pada pengembangan kedelai. Investasi untuk a­lsintan dan sumur mulai dilakukan pada tahun awal berdasarkan luas areal pertanaman kedelai. seperti padi. Secara lebih rinci. kacang tanah atau s­ayuran. Seperti terlihat pada Tabel 12. dan Rp 54 miliar untuk kegiatan penyuluhan. Untuk investasi penyuluhan. Secara keseluruhan. kebutuha­n investasi untuk pengembangan kedelai berdasarkan skenario 1 adalah seperti disajikan Tabel 12. bahwa investasi yang besar diperlukan pada tahun awal (2005) dan tiap lima tahun berikutnya. Untuk sumur. masih dibutuhkan biaya investasi untuk kegiatan penelitian dan pengembangan kedelai sebesar Rp 89 miliar. yaitu 30%. Selain itu. sehingga bebannya 100% untuk kedelai.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Investasi traktor digunakan untuk penanaman seluruh tanama­n semusim. termasuk mesin pompa sumur pantek. kumulatif biaya investasi yang dibutuhkan untuk kedelai secara kumulatif adalah sekitar Rp 393 miliar untuk traktor. Selama periode 20 t­ahun pengembangan.17 triliun untuk sumur pantek. total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kedelai selama 20 tahun ke depan berdasarkan skenario 1 adalah sekitar Rp 11. juga dibutuhkan biaya pemeliharaan dan operasional yang nilainya masing-masing diperkirakan 5% per tahun dari biaya pengadaan alat. Sedangkan tahun-tahun di antaranya tambahan investasi dilakukan berdasarkan tambahan areal tanam kedelai. sehingga pembebanannya pada pengembangan kedelai sebesar 50%. dalam satu siklus pola tanam setahun.16 triliun. Demikia­n juga untuk pengering yang dapat digunakan u­ntuk menge­ringkan berbagai komoditas pertanian. 69 .73 triliun untuk mesin perontok. Rp 3. sehingga beban biaya i­nvestasi untuk kedelai diperkirakan 30% dari total nilai investas­i traktor. dan Rp 4. jagung.

72 24.01 294 2012 1.29 6.12 1.81 151.160 3.30 53.39 870 3. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasar­ kan skenario 1.20 214.73 3.813 1.948 11.98 1330 Di sisi lain.79 2.79 699 2025 1.64 5.88 2.28 2.99 3.90 177.193 20.598 16.59 1.19 4.63 1.769 17.196 1.73 6.83 528 2019 1.000 4.63 Total 393 2.93 2.32 3.35 2.07 113.27 597 2022 1.58 11.74 70.67 4.083 2021 1.11 325 2013 1.73 177.69 321.37 2.45 1.95 3.96 3. Area Provitas Prod Investasi (Rp Milliar) Tahun (000 ha) (t/ha) (000 t) traktor perontok pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.113 1.74 52.43 3.169 89.035 1. 70 .71 2.729 4.385 1. kegiatan investasi untuk pengembangan kedelai de­ ngan skenario 1 cukup layak dilakukan.20 39.00 188.67 99.74 149 2009 833 1.58 120 2007 688 1.61 245.92 157.46 3.604 9.438 15.55 2.11 5.42 126.876 1.47 triliun.768 10.321 21.20 149.92 55.38 140.06 291.456 26.19 99.752 1.50 1.95 2.02 3.49 2. Ini berarti bahwa tiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi diperoleh tambahan penerimaan dari nilai produksi sebesar Rp 1920.86 3.88 2.66 194.72 57.19 1.04 1.00 162.97 3.94 401.692 1.63 1.454 1.92.635 1.74 80.35 2.03 115. nilai tambahan produksi yang dihasilkan dari investasi tersebut secara kumulatif adalah sekitar Rp 21.61 2.76 1.90 2.50 553 2006 626 1.57 454 2017 1.19 109.89 64.82 217.726 3.92 191.069 41.35 380. sehingga ting­ kat pengembalian investasi (Return of Investment=ROI) sebesar 1. Dengan kata lain.63 5.593 24.52 2.287 33.96 4.94 212.94 3.256 1.95 219.94 3.22 366 2014 1.09 104.98 127.44 623 2023 1.80 273.51 6.29 3.146 13.526 1.47 4.65 130 2008 757 1.88 254.17 29.75 1.98 3.89 1.47 544.79 51.73 261.20 3.319 1.57 138.53 3.49 157.00 452.14 40.67 1.66 34.321 5.64 200.20 169.149 4.07 2.09 47.82 34.91 4.82 2.40 313.79 182.91 714 2011 963 1.44 895 2016 1.69 2.32 231.97 574 2020 1.88 167.52 1.82 170 2010 896 1.737 51. karena diperoleh keuntungan dari investasi sekitar 92% dari total biaya investasi.951 18.69 486 2018 1.580 1.61 660 2024 1.47 153.77 325.33 412 2015 1.38 116.79 3.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 12.85 91.85 2.47 128.454 22.23 193.63 203.33 757 18.71 1.33 139.61 147.

589 755 1.027 1.05 2009 170 2.048 260.267 1.338 3.260 3.663 11.55 2023 659 5.183 7.678 1.291 3.834 883 2.065 2.410 12.153 16.951 749 2.914 21.998 3.976 1. yaitu terus meningkat dari 1.421 4.579 5.521 3. maka swasembada dicapai pada tahun 2020.639 13.79 2007 130 2.439 6.94 2011 294 2.255 5.182 3.52 Total 11.959 24.707 2.160 77.588 4.712 991 2.34 2012 325 3.51 pada tahun ke-10 program.878 1.497 1.721 1.34 pada tahun awal menjadi 2.104 3. Dengan demikian.088 2.45 2022 623 5.700 20. Secara mikro di tingkat usahatani.330 5.703 9.629 6.361 4.202 636 1.499 2.411 3.229 2.740 5. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 553 1. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­er­dasarkan skenario 1. Tabel 13.24 2020 1083 4.956 4.767 4.794 1.631 21.12 2019 574 4.68 2015 895 3.52 pada tahun ke-20 program. dan R/C secara mikro.550 1. yang dicerminkan oleh nilai perimbangan penerimaa­n terhadap total biaya (R/C).082 2.105 3.05 2021 596 4. dan 3.442 853 2. Secara lebih rinci.781 1. swasembada kedelai tercapai pada tahun ke-15.01 2018 528 4.64 2024 699 5. investasi ini juga cukup layak.56 2014 412 3.51 2016 454 3.255 3.976 1.470 ROI = 1.92 71 .338 3. baik dalam pencapaian swasembada pada tahun ke-15.91 2008 149 2.000 10. dapat disimpulkan bahwa program pengembangan kedelai dengan skenario 1 layak dilakukan.905 5.272 2.430 8.195 4. kriteria ROI secara makro.687 3.137 22.822 17.492 1.567 540 1.888 89.45 2013 366 3.401 6.74 2025 1. analisis kelayakan investasi berdasarkan skenario 1 disajikan pada Tabel 13.213 1.34 2006 120 1. Jika program dilaksanakan pada tahun 2005.177 3.077 5.889 15.90 2017 486 4.19 2010 714 2.426 3.405 963 2.958 1.670 5.888 3.502 18.154 4.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dengan skenario ini.

73 3.92 84.05 239.96 6.22 112.53 215.80 2.072 13.11 535 2013 1.21 115.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai B. Tahun Area Provitas Produksi Investasi (Rp.230 5.26 200. berdasar­ kan skenario 2 adalah seperti disajikan pada Tabel 14. ketiga dan keempat.838 11.67 1.35 127.01 4.97 982 2020 1.25% per tahun selama periode 2005-2025.018 1.19 1.35 5.25% per tahun.95 2.67 4.85 187. Miliar) (000 ha) (t/ha) (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.61 3.30 53.541 1. jika program dimulai tahun 2005.189 20.94 562.21 8.921 24.85 2.43 278.82 2.48 38.080 51.26 452.58 172 2007 720 1.807 35.03 5.52 2.71 2. Rata-rata pertum­ buhan areal tanam selama 20 tahun program adalah 7.97 3.618 1.84 3.628 Total investasi 435.08 362.21 4.10 178. yaitu rata-rata 2.24 285. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 2 Dalam skenario 2.32 3.20 3.63 1.768 22. selanjutnya 10%.47 97.93 3.356 2021 1.992 18.988 1.28 487.65 201 2008 810 1. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi ber­ dasarkan skenario 2.01 46.398 22.446 6.22 611 2014 1.02 190.630 27.694 43.50 574 2006 640 1.91 203.902 1.20 27.02 3.55 171.95 2.63 3.84 131.33 139.98 4.57 580.85 2.44 963 2023 1.07 2.96 193.40 180.49 2.71 3.04 263.82 33. Untuk mencapai sasaran tersebut.45 1.89 1.11 209.959 1.139 72 .88 6.88 3.88 2.59 1.79 1.33 757 18.67 544.91 254.12 1.34 157.468 1.046 4.22 89.62 4. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.048 1.18 4.699 1.91 173.52 1.50 1.041 2025 2.82 271 2010 1.04 1.844 23.58 16.95 3. 5%.25 944.39 6.94 3.87 297.45 98. dan 1.36 145.69 827 2018 1.77 321.70 112.334 1.98 1.01 469 2012 1.51 39.53 159.49 152.579.55 600.69 2.40 66.67 99.54 55.003 1.336 15.33 699 2015 1.5% per tahun pada periode lima tahun pertama (2005-2010).71 2.927.26 421. Tabel 14.57 762 2017 1.49 195.14 2.30 190. pertumbuhan a­real t­anam adalah 12.35 2.06 174. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program.63 1.46 3.62 769.91 850 2011 1.784 1.634 17.91 3.61 1.44 1.79 141. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 1.873 1.59 526.89 598.930 1.76 1.39 890 4.000 25.20 135.96 3.06 3.103 1.87 418.94 271.74 233 2009 911 1.99 4.79 2.135 2016 1.83 901 2019 1.75 2.28 2.27 928 2022 1.06 312.31 47.90 3.33 5.43 230.95 180.622 23.81 3.213 1.88 323.5% per tahun berturut-turut pada pariode lima tahun kedua.053. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-10 program atau tahun 2015.70 3.97 3.001 2024 2.

99 pada awal tahun. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 2 adalah masing-masing Rp 436 miliar untuk traktor. berdasarkan s­kenario 3 adalah seperti disajikan pada Tabel 16.05 triliun untuk mesin perontok. Rp 3. dan Rp 8. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 2.07 pada tahun ke-10 dan 6. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1. Angka ini menunjukkan bahwa program pengem­ bangan kedelai dengan menggunakan skenario 2 sangat layak.93 tri­liun untuk sumur pantek. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.63 pada tahun ke-20.14 triliun. Rp 3. Dari segi penerimaan. Sedangkan biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar.25% per tahun selama periode 2005-2025. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama. pada tahun-tahun diantaranya investasi dilakukan berdasarkan tambahan a­real tanam. kemudian meningkat menjadi 4. diperoleh tam­ bahan penerimaan Rp 2. Dengan d­emikian. Karena setiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-17 program atau tahun 2022. kegiatan investasi ini juga sangat layak. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C.20. yaitu rata-rata 2.200. seperti disajikan pada Tabel 15.58 triliun untuk mesin pengering. dan setiap lima tahun berikutnya. 73 .58 triliun. yaitu 1. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program. Dengan demikian. secara kumulatif total biaya investasi yang dibutuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 16. Kemudian laju peningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5. Seperti halnya pada skenario 1. jika program dimulai t­ahun 2005. pertumbuhan areal t­anam adalah 7. Untuk mencapai sasaran tersebut.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dari Tabel 14 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program. Dari sisi usahatani secara mikro.25% masing-masing untuk periode 20152029 dan 2020-2025 (Tabel 15). Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 3 Dalam skenario 3. C.5% per tahun pada periode 2005-2009 dan periode 20102014.0% dan 3.

597 2020 1.576 ROI = 2023 1.353 5.116 1.098 5.368 1.20 4.078 5.041 2025 1.135 21.628 Total 16.061 6.703 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 15.19 2.877 5.723 4.16 2.858 11.377 2.593 1.945 1.174 14.707 201 233 271 850 469 535 611 699 762 827 901 982 928 963 2.553 1.87 3.541 .920 3.399 33.734 3.74 4. 1.695 1.614 17. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai ber­ dasarkan skenario 2.672 40.600 38.663 3.965 6.472 (Rp M) 931 2.70 3.49 4.530 36.001 2024 1.34 4.160 2.624 4.566 1.629 574 1.39 3.659 2015 1.463 35.281 2.54 3.773 10.99 6.824 23.561 1.27 5.164 35.106 30.301 2.491 3.758 5.064 1.617 5.855 5.602 7.992 25.6540 2.352 9.253 6.790 5.778 1.777 12.093 2.87 3.65 4.430 2.19 4.79 2.41 5.787 1.13 5.096 1.008 3.055 6.737 5.574 1.00 5.991 4.139 74 .003 4.103 19.103 1. Tahun 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2016 2017 2018 2019 2021 2022 Biaya Invest Biaya Variable Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C (Rp M) 2.705 5.122 7.176 2.98 3.55 5.620 5.61 2.639 4.145 90.361 2.308 3.095 7.840 6.356 32.925 6.401 2006 172 1.729 28.749 455.005 (Rp M) 5.966 7.718 6.404 4.

61 3.19 1.96 2023 1.438 1.16 123.27 89.582 1.43 triliun untuk mesin pengering.29 151. Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Area Provitas Produksi Investasi (Rp.34 146.73 triliun untuk mesin perontok.28 515.73 850 955 3.21 113.32 6.32 49.692 17.687 1. Miliar) (000 ha) (t/ha) 569 1.02 6.14 159.23 149.09 260.238 3.11 100.898 19.71 4.89 1.793 3.091 1.79 67.36 2014 1.121 3.525 16. 75 .35 3.06 298.392 1.20 133.88 2018 1.87 35.74 61.52 1.45 236.73 6.21 8.61 46.66 triliun.49 4.94 223.39 658 1.94 2021 1.67 1.36 2.85 2017 1.57 2.74 153.429 4.96 417.37 261.326 1.98 2025 1.70 209.52 3.60 251.28 2013 1.49 28.75 1.03 168.370 15.205 817 1.634 1.04 1.30 2.27 3.95 5.51 21.46 124.45 (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 757 18. dan Rp 4.11 2.67 165.612 25.65 132 2.484 1.63 1.533 1.007 3. Rp 2.90 2019 1. dan setiap lima tahun berikutnya.727 40.145 1.99 triliun untuk sumur pantek.657 Dari Tabel 16 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.98 1.58 11.76 3.83 2.777 10.24 3. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.74 2.91 3.015 1.01 35.58 119 2.81 285.121 3.90 177.00 196.97 3.93 2020 1.39 2.360 2.06 198.63 2. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasarkan skenario 3.14 129.50 78. Sedangka­n biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar.35 2.22 2.45 21.28 4.203 1.06 212.17 222.99 Total investasi 368 2.086 32.80 56.463 944 1.63 1.50 1.99 178.90 313.33 2.44 3.17 20.79 1.44 2.70 9.47 114.01 162.42 51.08 148.97 210.54 139.76 200.56 40.328 878 1.11 273.79 723 298 330 366 407 918 479 517 559 606 639 672 707 746 707 1.59 1.06 327. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 3 adalah masing-masing Rp 368 miliar untuk traktor.69 3.21 2.95 2022 1.97 135.66 3.01 194.74 146 3. Rp 3.50 626 2.073 760 1.68 2.82 162 3.01 162.62 69. secara kumulatif total biaya investasi yang di­butuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 11.69 2.263 1.55 3.88 4.89 31.14 89.97 2024 1.07 4.82 2016 1.47 39.55 372.71 1.12 1.53 298.01 2.223 14.958 11. Dengan demikian.90 239.83 87.990 305.46 5.32 98.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 16.76 1.382 53.33 612 1.32 2015 1.20 5.54 31.17 635.86 4.

77 2020 1.050 3. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C.177 4.68 pada tahun ke-10 dan 5. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2.13 Total 11.44 76 .209 82.617 4.024 1.000 biaya yang dikeluarka­n u­ntuk investasi.044 3.835 1.318 3. Angka ini menunjukkan bahwa program pengembangan kedelai dengan menggunakan s­kenario 3 sangat layak.453 5.247 28.015 1.857 5.932 912 3. Dari sisi u­sahatani secara mikro. yaitu 1.440.60 2019 606 4.454 29.455 1.982 1.634 2.442 33.813 1.034 1.68 2016 479 3.647 31.434 24.313 5.504 1.901 5.355 3.747 5.81 2014 407 3.86 2008 146 2.818 1.975 5.50 2025 1. seperti disajikan pada Tabel 17.13 pada tahun k­e-20.930 4.228 688 2.333 4.270 27.059 1.889 1. Tabel 17.121 2.105 6.481 4.488 3.06 2009 162 2.679 14.832 3.21 2023 707 4.95 pada awal tahun.355 16.442 7.382 5.499 1.47 2012 330 2.64 2013 366 3. diperoleh tambahan penerimaan Rp 2.28 2017 517 3.707 2.451 3.62 triliun.746 5.202 1.174 9.866 356.088 17.270 1.306 19.978 4.35 2024 746 4.121 4.598 5.681 3.122 1.451 4.07 2022 672 4.267 6.182 1.537 20.657 71.020 792 2.033 2.092 25.494 ROI = 2.273 3.27 2010 723 2.95 2006 119 1.541 1. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.954 5.669 1. Dengan demikian.642 5.68 2007 132 1. Karena setiap Rp 1.Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 626 1.061 6.84 2011 298 2.162 11.99 2015 918 3.767 4.411 12. kemudia­n meningkat menjadi 3. kegiatan investasi ini juga sangat laya­k.44.544 5. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­erdasarkan skenario 3.988 1.167 3.44 2018 559 3.973 2.782 22.47 2021 639 4. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Prod N.608 4.789 4.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Dari segi penerimaan.932 10.436 4.280 2.

3. Mendorong/membina pengembangan usaha kecil/rumah tangg­a dalam subsistem hilir (pengolahan produk tahu. 2. kecap. tauco. anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) dalam rangka menghasilkan teknologi tepat guna. tempe. Kebijakan makro mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri dengan memberlakukan tarif impor yang cukup tinggi dan menetapkan harga kedelai terendah di tingkat petani yang sesuai dengan perkembangan pasar agar keuntungan yang diperoleh petani layak dan memadai. 4. PTT kedelai perlu diimplementasikan di daerah sentra produksi kedelai di Indonesia. Pengembangan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian secara umum (pembukaan sawah/lahan pertanian baru.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI IX. 6. Kemudahan prosedur untuk mengakses modal kerja (kredit usaha) bagi petani dan swasta yang berusaha dalam bidang agribisnis kedelai. Penyediaan kredit usaha perbenihan bagi produsen dan calon produsen benih. 5. Pembinaan/pelatihan produsen/penangkar benih dalam aspek teknis (produksi benih). Kebijakan alokasi sumber daya (SDM. Percepatan penerapan teknologi di ting­ kat petani melalui revitalisasi tenaga penyuluh pertanian. 7. Percepatan alih teknologi/diseminasi hasil penelitian. pem­ buatan fasilitas irigasi dan jalan mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri. susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi sesuai dengan tuntutan konsumen. manajemen usaha perbenihan serta pengembangan pemasaran benih. IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi kebijakan pengembangan kedelai untuk mening­ katkan produksi kedelai dalam negeri meliputi: 1. 77 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->