Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUAN
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai s­umber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutu­han kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan se­ perti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebaga­inya­. Konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,13 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebu­ tuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, pening­katan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra­ struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam ne­ geri untuk menekan laju impor. Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor. Berkembangnya industri pangan 

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

berbahan baku kedelai membuka peluang kesempatan kerja dimula­i dari budidaya, panen, prosesing, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Agar produksi kedelai dan olahannya mampu bersaing di pasar global, maka mutu kedelai dan olahannya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembinaan dan pengembangan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran­ nya, khususnya penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahapan budi daya hingga penanganan pascapanen. 

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

II. KONDISI KEDELAI SAAT INI
A. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995, areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48 juta ha pada tahun 1995, atau meningka­t rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun 1995, terjadi penurunan a­real panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11% per tahun. S­elama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih terus menurun ratarata 9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 1. Sebagai sumber protein nabati, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan, yaitu tahu, tempe, kecap, tauco, susu kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11,38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8,97 kg/kapita pada tahun 2004, atau menu­ run rata-rata 1,69% per tahun. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Selama periode 1995–2000, konsumsi per kapita menurun dari 11,82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10,92 kg/kapita pada ta­ hun 2000, atau turun rata-rata 1,57% per tahun. Selanjutnya, penu­ runan paling tajam terjadi pada periode 2000–2004, yaitu rata-rata 4,81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang berarti, Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Artinya, bahwa Indonesia akan makin tergantung dengan impor untuk menutupi defi­ sit. Indonesia selalu mempunyai net impor yang meningkat dari se­ kitar 0,54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1,31 juta ton 

8 0. perluasan areal tanam. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivita­s. Mengingat penurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penurunan total konsumsi.  . penguata­n kelembagaan petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai pada tahun 2004. peningkatan n­ilai tambah. teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. perbaikan sistem permodalan. de­ ngan indeks swasembada lebih besar dari satu. peningkatan efisiensi produksi. Keadaan demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus.4 1.8 1. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelum tahun 1976. dan produksi kedelai di Indonesia. 2 1. produktivitas. serta pengaturan tataniaga dan i­nsentif usaha. pengembangan infrastruktur. perbaikan akses pasar. peningkatan kualitas produk. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan terus meningkat.2 0 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 Areal (juta ha) Produktivitas (t/ha) Produksi (juta ton) Gambar 1.4 0.6 0.2 1 0.6 1. Perkembangan areal tanam. m­engingat potensi lahan cukup luas.

Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. Pertumbuhan harga masing-masing komoditas menggunakan data FAO 1991–2002.67% per tahun. Selanjutnya.  . Dengan menggunakan elastisitas yang ada. namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri. pertumbuhan penduduk adalah 1. Permintaan Kedelai Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi. sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar.03% per tahun. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunaka­n elastisitas pendapatan. dan elastisitas s­ilang harga komoditas lainnya. (2003). berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang e­t al. sedangkan pertumbuhan pendapatan per k­apita menggunakan data BPS (2002).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI B. Selama periode 1990–2004. Proyeksi jumlah penduduk dilaku­kan dengan menggunakan pertumbuhan penduduk dengan tingkat yang makin rendah. elastisitas harga kedelai. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. Harga kedelai impor yang murah dan tidak adanya tarif i­mpor menyebabkan tidak kondusifnya pengembangan kedelai di dalam negeri. maka proyeksi konsumsi per kapita dan total konsumsi kedelai sampai 2025 adalah seperti disajikan pada Tabel 1.

352 2003 9. Proyeksi konsumsi kedelai di Indonesia.402 1.024 3.089 3.17 2015 10.58 2019 10.01 2023 11.726 1. dan 2.316 1.29 2006 9.480 1.37 2017 10.154 3.687 1.016 2.58 235.01 Dari Tabel 1 terlihat bahwa total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2.90 2022 11.49 246. terutama yang lebih kompetitif.466 2. sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija.407 2.896 2.47 2018 10. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1.585 2.77 2011 9.46 249.67 224.55 239.68 2020 10.270 1.231 1.525 2.48 2008 9.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 1.58 2009 9.79 2021 10.02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2.380 1.07 292.12 2024 11.52 242.740 1.770 2.286 3.291 2.04 295.349 2.39 2007 9.71 juta ton pada tahun 2015 dan 3.28 270.61 232.87 2012 9.835 1.903 1.23 2025 11.860 1.960 3.440 1.559 1.24 juta ha pada tahun 2025.19 280.235 2.124 2.37 260.64 228.16 283.67 2010 9.833 2.31 267.97 2013 10.22 276.210 1.13 286.997 1. tahun 2003–2025.069 2.10 289.20 2005 9.571 1.5 ton/ha bisa dicapai.494 1.40 256.25 273.526 1.090 1. Tantangan­ nya adalah bagaimana mencapai areal tanam seluas itu.646 2. maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 1.35 juta ton pada tahun 2025.81 juta ha pada tahun 2015.219 3.708 2.179 2.34 263.11 2004 9.377 1.  .27 2016 10.34 Sumber: perhitungan proyeksi penulis. 221.874 1.43 253. Tahun Konsumsi/ kapita Proy Pddk (kg/th) (000 jiwa) Pertumbuhan Total Konsumsi pddk (000 ton) (%) 2.07 2014 10.102 1.

Profil Usaha Tani Tanaman kedelai merupakan tanaman cash crop yang dibudi­ dayakan di lahan sawah dan di lahan kering. D. Profil Teknologi Kedelai Senjang produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. panen dan pascapanen dengan alsinta­n mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai de­ngan p­otensi g­enetiknya. dan organisme p­engganggu).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI C. umur genjah. air. tanaman. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. air. dan tahan/toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkunga­n fisik). Varietas unggul memi­ liki sifat seperti hasil tinggi. tanaman. pengendalia­n hama dan penyakit dengan sistem PHT. dan organism­e pengganggu tanaman (LATO) telah tersedia. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO (lahan. Sekitar 60% areal pertanam­an kedelai terdapat di lahan sawah dan 40% lainnya di l­ahan k­ering. Teknologi produksi meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. pembuatan saluran drainase. Pengelolaan LATO d­imaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas dapat terekspresikan secara optimal. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian be­ sar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaa­n tanaman masih belum optimal.29 t/ha) dengan potensi genetik tanaman masih cukup tinggi (potens­i genetik >2 t/ha). pemberian air yang cukup. Areal pertanaman kedelai tersebar di seluruh I­ndonesia dengan luas masing-masing seperti disajikan pada Tabel 2.  . Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribus­i yang signifikan dalam meningkatkan produksi.

06 1.500/ha (R/C 2.650 52.896 374.706 100.591 73.82 14.796 100.15 7.388 124.00 526. usahatani kedelai di tingkat petani cukup menguntungkan dengan pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp 2.346 9. Penurunan areal tanam ada kaitannya dengan banjirnya kedelai impor sehingga nilai kompetitif dan komparatif tanaman kedelai merosot.04 4.255 1.48 0.148 152.32 40.  .14).031 % 7.551 5.987 5.714 28.39 9. Penyebaran areal kedelai menurut wilayah Wilayah 1992 2003 ha % ha Sumatera Jawa Kalimantan Bali & NTB Sulawesi Maluku & Papua 480.86 879.67 juta ha.944 22.76 71.665.96 Jumlah 1.048.36 0.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 2.81 3.53 juta ha pada tahun 2003. Namun sejak tahun 2000 a­real tanam terus menurun menjadi 0. Secara finansial.00 Tabel 2 menunjukkan bahwa luas areal tanam mencapai p­uncaknya tahun 1992. yaitu 1.

Rakitan varietas unggul baru mampu meningkatkan produktivitas >2 t/ha.  . Upaya s­osialisasi penggunaan varietas unggul sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. kendala. Masalah­nya. Varietas unggul (Tabel 3) merupakan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. dan peluang dalam pengembangan kedelai dipilih berdasarkan aspek penelitian dan pengembangan (litbang). pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan tek­nik pengelolaan LATO. hingga saat ini baru 10% petani yang menggunakan b­enih varietas unggul yang berlabel. serta kelembagaan. Varietas unggul kedelai tersebut merupakan faktor produksi yang penting untuk diterapkan pada peningkatan produktivitas. sistem produksi. Potensi 1. penanganan panen dan pascapanen.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI III. pembuatan saluran drainase. Aspek penelitian dan pengembangan Potensi kedelai berdasarkan aspek penelitian dan pengem­ banga­n cukup menjanjikan. distribusi dan pemasaran. Perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai. POTENSI. Inovasi teknologi dengan penggunaan b­enih bermutu. A. Varietas unggul yang dikemas dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dapat meningkat­ kan hasil dan pendapatan petani. KENDALA DAN PELUANG Potensi. pemberian air yang cukup.

dan lahan bukaan baru. sekolah lapang dan membangun kembali lembaga penyuluhan yang pada era otonomi daerah kurang mendapat perhatian.7 *UG=ulat grayak Umur (hari) 88 85 85 87 85 85 88 89 91 90 90 Ukuran biji Sedang Sedang Besar Besar Besar Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Adaptasi Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah. Varietas unggul baru kedelai yang dilepas tahun 2001–2004. penyakit dan gulma dapat menyebabkan kehilanga­n hasil mencapa­i 80% bahkan puso apabila tidak ada t­indakan pengendalia­n. Gangguan stabilitas hasil pada t­anaman kedelai banyak disebabkan oleh cekaman biotik dan a­biotik. Varietas toleran cekama­n abiotik (kekering­an.5 Ratai 2.5 Nanti 2.5 Ijen 2. maupun kedelai sebagai tanaman sela perlu mendapat perhatian.6 Seulawah 2. Ganggua­n hama. Penerapa­n pengendalian hama terpadu (PHT) perlu disosiali­sasikan. Program pelatihan. Pemasyarakatan PTT dilakukan melalui sosialisasi. Tabel 3. toleran UG* Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Peningkatan stabilitas hasil kedelai di lahan sawah. lahan k­ering.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Komponen teknologi produksi yang dikemas dalam PTT pada tanaman kedelai mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 2 t/ha.5 Kaba 2. tahan naungan. P­emanfaatan varieta­s toleran terhadap c­ekaman bioti­k (hama dan penyakit) misalny­a varietas Ijen toleran s­erangan ulat g­rayak dan potensi hasil tinggi (>2 t/ha). dll) perlu dirakit. pelatihan.5 Tanggamus 2.5 Mahameru 2. V­arietas 10 .5 Panderman 2. sekolah lapang PHT perl­u ditingkatkan.6 Anjasmoro 2.7 Sibayak 2. Varietas Potensi hasil (t/ha) Sinabung 2.

dan (3) varietas unggul tersedia. 2. Pemakaian benih u­nggul bersertifikat pada tanaman kedelai kurang dari 10% (Ditjentan. Lembag­a u­ntuk memproduksi benih telah terbentuk namun efektivita­s perlu di­tingkatkan. industri benih untuk komoditas kedelai b­elum berkembang dengan baik. Sibayak. Benih pokok disalurkan kepad­a BBU atau penangkar untuk dijadikan benih sebar (ES). Balai Benih Induk (BBI) dan Balai Benih Umum (BBU). Benih penjeni­s yang dihasilkan akan disalurkan ke BBI untuk diproduksi menjad­i b­enih dasar (FS) dan benih pokok (SS). UPBS di balai komoditas telah terbentuk dengan tugas untu­k memproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS). Berbeda denga­n komoditas padi dan jagung.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI T­anggamus. Perakitan VUB berdaya hasil tinggi dan teknologi budidaya (PTT) pada tingkat litbang sangat dimungkinkan dengan adanya kekuatan seperti: (1) tersedianya sumber daya genetik yang banyak. dan Ratai merupakan varietas baru dengan potensi produksi tinggi dan adaptif pada lahan kering (masam dan non-masam). S­eulawah. Petani lebih banyak memakai benih asalan atau t­urunan dari pertanaman sebelumnya. usaha perbenihan untuk tanaman kedelai masih t­ertinggal. (2) teknologi benih sudah tersedia. (2) besar­ nya perhatian pemerintah dalam penelitian dan pengembangan. Dalam mendu­kun­g penyediaa­n benih bermutu. 11 . Aspek perbenihan Potensi aspek benih bermutu yang merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis kedelai antara lain adalah: (1) tersedianya Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). dan (3) kualitas peneliti bidang kedelai cukup memadai. Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas pertanaman kedelai. Produsen benih nasional maupun penangkar lokal masih kurang berperan. Hal ini merupaka­n salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai n­asional. 2004). Varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (>2 t/ha) telah tersedia. Nanti.

Potensi lahan untuk pengembangan kedelai.706 Sumber: Ditjentan (2004). Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usaha tani kedelai.388 Sulawesi 124. (2) VUB potensi hasil tinggi tersedia. Tabel 4. Aspek sistem produksi Potensi kedelai berdasarkan aspek sistem produksi meliputi: (1) teknologi budidaya relatif sudah maju.148 Bali & NTB 152.714 Jawa 879. Lampung. lahan kering (tegalan). Secara rinci peluang penam­ bahan areal panen dapat dilakukan pada: • Lahan sawah MK II (Juli – Oktober) yang biasanya diberikan se­perti: jalur pantura Jawa Barat.665.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. Wilayah Luas (ha) Sumatera 480. dan (3) lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai masih tersedia cukup luas. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat. dan Kalimantan Selatan. Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai d­apat diarahkan ke propinsi-propinsi yang pernah berhasil menanam kedelai seperti disajikan pada Tabel 4. lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi. Jawa Tengah.551 Maluku & Papua 5. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah.650 Kalimantan 23.255 Jumlah 1. Wilayah sasaran pengembangan intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai uta­ ma (LQ tinggi) diikuti propinsi penghasil kedelai dengan LQ sedang. Jawa Timur. 12 . S­ulawesi Selatan.

Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian besar petani belum menggunakan benih unggul dan t­eknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. pH tanah 5.2 t/ha) dengan potensi genetik dari tanaman kedelai masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha). Pertanaman kedelai ini l­ebih banyak di Lampung. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kon­ tribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. Nusa Tenggara Barat.6-6. solum tanah sedang-dalam. Andosol. • Lahan pasang surut yang telah direklamasi. • Lahan bukaan baru. Sulawesi Selatan. Teknologi produks­i kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. dan organisme pengganggu tanaman (LATO). dan Ultisol/Oxisol dengan amelioran ka­ pur. dan tahan/toleran 13 . bekas alang-alang. Sumatera Barat. Jambi. Jawa Tengah. air. kedelai ditanam pada MH I (Oktober – Janua­ri) atau MH II (Februari – Maret). • Tumpangsari tanaman perkebunan. hara NPK dan unsur mikro sedang-tinggi. Regosol. Tanah yang sesuai untuk budi daya kedelai adalah tekstur ber­ lempung atau berliat. Senjang hasil produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. Gromusol. Jenis tanah yang sesuai untuk kedelai adalah tanah Aluvial. umur genjah. Jawa Timur. Latosol. Aceh. • Tumpangsari pada lahan peremajaan perhutani.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • Lahan sawah tadah hujan MK I (Maret – Juni) awal musim hujan sebelum ditanami padi sawah seperti Jawa dan NTB. fosfat dan bahan organik. tanaman. • Ladang yang belum ditanami. Lahan gambut yang sudah direklamasi juga sesuai untuk tanaman kedelai. • Lahan kering (tegal). Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tinggi. Sulawesi Utara. dan Jawa Barat.9. Pengelolaan LATO dimaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas d­apat terekspresikan secara optimal. drainase sedangbaik.

Artinya.54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan t­erus meningkat. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO.31 juta ton pada tahun 2004. pemberian air yang cukup. penurunan paling tajam terjadi pada periode 2000-2004. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelu­m tahun 1976.69% per tahun. atau menu­ run rata-rata 1. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. tempe. yaitu rata-rata 4.82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10. Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang b­erarti. bahwa Indonesia akan makin tergantung pada impor untuk m­enutupi d­efisit.05% per tahun (Tabel 5). Mengingat p­enurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penuruna­n total konsums­i. yaitu tahu. dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ).92 kg/kapita pada tahun 2000. bahwa Indonesia selalu mempunya­i net impor yang meningkat dari sekitar 0. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. dengan indeks swasembada lebih besar dari satu (Swastika. Selanjutnya. 14 .97 kg/kapita pada tahun 2004. pembuatan saluran drainase. Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11. total konsumsi hanya turun rata-rata 0.81% per tahun. Sebagai sumber protein nabati. tauco.57% per tahun. kecap.38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. Namun demikian. atau turun rata-rata 1. pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Selama periode 1995-2000. 1997). konsumsi per kapita menurun dari 11. Seperti disajikan pada Tabel 5. susu kedelai.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkung­ an fisik).

307 1.973 616 616 0.263 746 746 0.302 2000 1.05 6.306 1. Perkembangan manfaat kedelai di samping sebagai sumber protein.24 746 1997 1. 4.028 541 541 0. Selain itu.015 1.51 Sumber FAO (2004) diolah.136 1.276 1.91 690 1993 1. kedelai dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencega­h penyakit kanker.302 0.560 690 694 3.278 0.294 1.43 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 5.228 673 673 0. (2) Alsintan tersedia di pasaran.17 -0.19 1.680 2.343 1.287 607 607 0.344 1. Neraca produksi.960 1.192 2004 707 2.357 1.24 541 1991 1.517 2.383 2.03 800 1995 1. telah diidentifikasi p­otensi kekuatan sebagai berikut: (1) teknologi panen dan pascapanen t­elah tersedia. 15 .277 2001 827 1.487 2.52 1.431 723 724 0.649 343 343 0.01 616 1998 1. Tahun Prod Konsumsi Defisit Impor Ekspor Net impor (000 ton) (ton) (000 ton) (000 ton) (ton) (000 ton) 1990 1.565 2. Aspek panen dan pascapanen Untuk aspek panen dan pascapanen.75 723 1994 1.307 Pertumb (%) -5.365 2003 672 2. ke depan proyeksi kebutuhan kedelai akan meningkat seiring dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang makanan sehat. makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung.27 672 1992 1. konsumsi dan perdagangan kedelai di I­ndonesia tahun 1990-2004.135 2002 673 2.018 2.709 2.193 0.870 2.307 0.50 - 6.017 1.684 1. Oleh karena itu.016 1.00 343 1999 1.555 2. dan (3) teknolog­i p­engolahan tersedia.365 0.51 6.02 1.00 1.365 800 800 0.24 1.301 1.08 607 1996 1.133 1.

Pengolahan primer. Isolat protein dan lesitin banya­k digunakan dalam berbagai produk industri makanan antara lain r­erotian. kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuh­kan bagi kehidupan manusia. M­inyak kedelai dapat diolah untuk aplikasi produk pangan dan kegunaa­n dalam b­idang teknik atau industri. Dengan demikian. (2) transportasi lancar. men­ tega putih. isolat protein. es krim. Produk pangan olahan kedelai yang utama dan populer di kala­ ngan masyarakat Indonesia adalah produk fermentasi seperti tempe. mayonaise. dan bungkil kedelai. farmasi (obat-obatan). dan lain-lain. susu.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Teknologi panen dan pascapanen kedelai yang efektif dan efi­ sien telah tersedia bahkan alsintan untuk proses panen dan pasca­ panen telah tersedia di pasaran. Produk pangan yang menggunakan minyak kedelai antara lain adalah minyak salad. kecap. Karena bersifat multiguna. dilakukan di tingkat petani. Sebelum memasuki pengolahan sekunder menjadi produk olah­ an. kembang gula. Produk fermentasi lain yang populer adalah natto (di Jepang). yuba. margarine. makanan bayi (infant formula). aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan s­ebagai pakan (Gambar 2). daging tiruan (meat analog). dan produk non-fermentasi seperti tahu. dan lain-lain. yogurth. 16 . dan (3) sentra produksi telah terbentuk. Aspek distribusi dan pemasaran Potensi aspek distribusi dan pemasaran yang telah t­eridentifikasi antara lain adalah: (1) infrastruktur distribusi telah memadai. harga jual kedelai akan lebih baik. natto. minyak goreng. Bungkil kedelai yang mengandung protein tinggi sangat diperlukan dalam pembuatan ransum ternak (pakan). Produk utama lain dari kedelai adalah minyak kasar. kedelai selayaknya mendapat pengolahan primer untuk meningkat­ kan kualitas kedelai sebagai bahan baku industri. baik sebagai produk pangan. dan produk non-fermentasi lainnya se­perti keju kedelai. tauco. lesitin. 5. dengan me­ manfaatkan teknologi pascapanen.

mentega putih. pengemulsi. yogurth.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang. makanan bayi ( infant formula ). pelarut. kecap tauco. 17 . untuk selanjutnya dipasarkan ke pengra­ jin tahu dan tempe. minyak goreng. PANGAN FERMENTASI Tempe. susu. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi pengrajin tahu dan tempe (KOPTI). Selain dari petani. kembang gula) FARMASI (Obat-obatan. natto. dll PANGAN NON FERMENTASI Tahu. kecantikan) BUNGKIL PAKAN TERNAK Gambar 2. pelumas dll) KONSENTRAT PROTEIN PANGAN (rerotian eskrim. Secara umum rantai tataniaga kedelai disajikan pada Gambar 3. margarine ) TEKNIK/ INDUSTRI LESITIN ( wetting agent. kedelai di pasar domestik juga sebagian berasal dari impor. penstabil. dan bermuara ke konsumen akhir. dll KEDELAI MINYAK KASAR PANGAN (minyak salad. Pohon industri kedelai.

Rantai tataniaga kedelai di Indonesia. Dengan adanya infrastruktur distribusi produk yang memadai dan tranportasi yang lancar. Aspek kelembagaan Potensi yang dapat dimanfaatkan dalam program pengem­ bangan kedelai antara lain: (1) telah berkembangnya kelembagaan 18 . harga riil di tingkat produsen (petani) selama 15 tahun terakhir cenderung terus menurun.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai P et ani Petani Im port ir Importir P edagang Pedagang P engum pul DDesa esa Pengumpul K O P TI KOPTI G rosir Grosir P engecer Pengecer P engol ah Pengolah K onsum en akhir Konsumen Akhir Gambar 3. sehingga tataniaga kedelai lebih efektif dan efisien. petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah. Dalam pengembangan kedelai. Oleh karena itu. Dalam pemasaran kedelai. diperlukan perbaikan tataniaga kedelai dari produsen hingga konsumen. 6. Dari Gambar 3 terlihat bahwa kedelai di tingkat petani dibeli oleh pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang grosir dan pengolah. sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Terbentuknya sentra produksi kedelai akan mempermu­ dah konsumen untuk mendapatkan kedelai secara langsung. diharapkan arus produk dari produsen ke konsumen lebih lancar.

(2) belum optimalnya diseminasi. lembaga alih teknologi juga makin berkembang. keberadaan kelompok tani merupakan wadah yang efektif. (2) berkembangnya kelem­ bagaan alih teknologi. sehingga mampu meningkatkan produktivitas sumber daya dan pendapatan petani. maupun pema­ saran hasil pertanian meskipun diakui dalam hal pemasaran hasil kelompok tani belum banyak berfungsi. Dalam alih teknologi. Sedangkan untuk ancaman eksternal antara lain adalah: (1) sistem diseminasi dan alih teknologi belum memadai. Jumlah tenaga peneliti yang terbatas sehingga potensi untuk mengembangkan rakitan teknologi unggul dalam satu paket PTT belum dapat diterapkan di setiap sentra produksi kedelai. Hal ini dipacu oleh: (1) terbentuknya BPTP di tiap propinsi yang berfungsi ganda. dan lembaga keuangan mikro lainnya yang lebih mudah diakses petani merupakan potensi yang besar bagi petani dalam memperoleh modal untuk menerapkan teknologi maju. dan (2) revitalisas­i penyuluhan pertanian untuk mempercepat proses alih teknologi dari lembaga penelitian ke pengguna. Kelembagaan keuangan mikro dan kelembagaan alih teknologi merupakan dua ujung tombak yang memungkinkan petani mengadopsi teknologi maju. Berkembangnya berbagai skim lembaga permodalan seperti LUEP. KKP. Aspek penelitian dan pengembangan Kendala dalam aspek Litbang dapat dipilah berdasarkan kele­ mahan dan ancaman. dan (3) program penelitian yang masih kurang konsisten. Selain itu. (2) penerimaan tenaga peneliti belum memadai. yaitu perakitan teknologi spesifik lokasi. Kendala 1. dan (3) penghargaan hasil karya peneliti kurang memadai. namun di masa mendatang peran ini dapat diaktualisasi dan terus ditingkatkan. B. Hasil p­enelitian 19 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI p­ermodalan (kredit) dalam berbagai skim. diseminasi teknologi. baik dalam penyaluran kredit. dan (3) telah terbentuknya kelembagaan k­elompok tani. Kelemahan internal meliputi: (1) keterbatasan tenaga peneliti.

(2) menurunnya ke­ percayaan petani terhadap mutu benih dari kios. Diseminasi/promosi yang belum optimal menyebabkan tingkat adopsi teknologi rendah sehingga varietas unggul baru dan teknik budi daya kedelai kurang dapat diterapkan petani. Benih bersertifikat merupakan jaminan pemerintah untuk menyediakan benih bermutu. Hingga kini peng­ gunaan varietas unggul baru mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. sehingga produktivitas hasil kedelai masih rendah.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai rakitan teknologi PTT kedelai dapat meningkatkan produksi 30-40% untuk lahan sawah dan 50-60% untuk lahan kering masam.29 t/ha. dan (3) akses petani terhadap sumber modal terbatas. namun hingga kini 20 . dan (3) petani lebih suka membuat benih asalan. sedang rata-rata produktivitas di tingkat petani hanya 1. Hasil rata-rata kedelai yang masih rendah di tingkat petani dan harga yang murah menyebab­ kan petani beralih usahatani nonkedelai. Dampak dari kelemahan terse­ but menyebabkan usahatani kedelai belum dapat mencapai produksi yang maksimal dan keuntungan finansial yang masih rendah. Aspek perbenihan Kendala internal aspek perbenihan kedelai adalah (1) inkon­ sistensi alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. dan (3) industri benih belum berkembang dengan baik. (2) sistem penyuluhan masih lemah. Hasil penelitian menun­ jukkan bahwa senjang hasil produksi kedelai di tingkat petani dengan potensi hasil genetik kedelai masih tinggi. Ketersediaan benih varietas unggul baru masih sangat terbatas. 3. 2. (2) umur label sertifikat benih sangat singkat. Sedangkan ancaman eksternal adalah: (1) kurangnya insentif harga benih bagi penangkar. Potensi hasil varietas unggul dengan budi daya anjuran dapat mencapai > 2 t/ha. Aspek sistem produksi Hambatan internal yang teridentifikasi dalam aspek sistem produksi meliputi: (1) ketersediaan sarana produksi yang makin t­erbatas.

dan (3) modal untuk membeli alsintan sangat terbatas. sehingga penyuluh beralih profesi menjadi b­ukan penyuluh. (2) penerapan teknologi panen dan pascapanen be­ lum memadai. penyuluh kurang berfungsi sebagai­ mana tugas pokoknya. Pada era otonomi daerah. proses sertifikasi kedelai yang rumit dan keuntungan menjadi penangkar b­enih kedelai yang sangat kecil. Akses petani terhadap sumber modal terbatas. Hal ini dikarenakan jumlah penangkar yang masih sangat terbatas. dan (3) anomali iklim yang da­ pat menyebabkan kegagalan panen. Sistem panen yang dijemur di lapangan tanpa lantai jemur dan alas menyebabkan biji tercecer cukup banyak dan 21 . 4. serta sarana dan prasarana penyuluhan banyak berubah fungsi. (2) adanya cekaman OPT. Selain itu. dan (3) tenaga kerja pengolah relatif terbatas. sehingga areal dan produksi kedelai terus menurun. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak sampainya informasi teknologi kepada petani. Kehilangan hasil kedelai pada saat panen maupun prosesing masih cukup besar. Aspek panen dan pascapanen Kendala dalam aspek panen dan pascapanen adalah: (1) kehi­ langan hasil tinggi. Selain benih bermutu. jumlah penyuluh semakin berkurang (pensiun). pembinaan penyuluh untuk mengakses teknologi baru kurang mendapat perhatian. sehingga makin tidak terjangkau oleh petani. Selain itu. agribisnis kedelai masih dihadap­ kan pada ancaman eksternal seperti: (1) masih tingginya impor kedelai yang menyebabkan usahatani kedelai dalam negeri kurang kompetitif. Umumnya p­etani kedelai adalah petani miskin yang kekurangan modal. ancaman eksternalnya adalah: (1) belum ada insentif harga yang memadai bagi produk bermutu. Modal petani yang terbatas dan usahatani kedelai yang kurang menguntungkan menyebabkan petani enggan menanam kedelai. pupuk dan pestisida makin mahal.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat. Selain kelemahan internal. (2) makin meningkatnya biaya operasional alsintan.

AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai menyebabkan kehilangan hasil cukup tinggi. Panjangnya rantai dari produsen sampai kepada konsumen menyebabkan tidak efektifnya proses pemasaran. Penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai. Memperbaiki dan memperpendek simpul mata rantai dari produsen ke konsumen p­erlu dibentuk dan difungsikan sebagaimana mestinya sehingga dapat efektif dan efisien dalam pendistribusian produk. Hal ini yang menyebabkan nilai jual produk berfluktuatif dan cenderung menu­ run. dan (3) b­elum adanya tarif impor. Harga kedelai ditentukan oleh mekanisme pasar. Sistem informasi pasar belum terbentuk sehingga titik temu antara produsen dan konsumen sering tidak ketemu.500. sebagian besar petani b­elum menggunakan. Keterbatasan modal. menyebabkan petani kedelai tidak mamp­u untuk membeli alat mesin. dan (3) biaya trans­ portasi yang mahal. Sedangkan pemakaia­n alat mesin untuk panen dan pengeringan. Aspek distribusi dan pemasaran Kendala internal berdasarkan aspek pemasaran adalah: (1) daya tawar petani lemah. (2) sistem informasi pasar lemah. 5. Panen dengan menggunakan sabit dan prose­s pengeringan sebagian besar masih di lapang. Harga nominal kedelai di tingkat petani berfluktuasi. Hal ini yang menyebabkan kehilangan hasil panen cukup besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. yang ditentukan oleh permintaan dan persediaan ( Demand and Supply). umumnya petani melakukan pemanenan dan prosesing masih d­engan cara tradisional. Alat pengering dinilai masih cukup mahal bagi petani kedelai. Sedangkan kendala eksternalnya antara lain adalah: (1) tingginya impor kedelai dengan harga murah. Belum berlakunya tarif impor 22 . Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. (2) rantai p­emasaran yang panjang sehingga tidak efisien. disaat panen raya harga jatuh hingga Rp 2.

sehingga upaya untuk meningkatka­n produktivitas juga terhambat. (2) tuntutan terhadap alih t­eknologi semakin meningkat. 23 . Kelemahan internal yakni: (1) sistem penyuluha­n masih lemah. pemetaan lahan s­esuai. efisiensi penggunaan sarana produksi. serta (3) inkonsistensi peraturan antara pusat dengan daerah.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI menyebabkan jumlah kedelai impor semakin banyak. C. sehingga petani akan sulit untuk mengatasi masalah yang dihadapi. sehingga harga kedelai di dalam negeri jatuh dan petani enggan menanam kedelai. 1. (3) aspek sistem produksi. (2) rendahnya komitmen pimpinan kelembagaan atas pelaksanaan peraturan. Penelitian untuk mengatasi senjang hasil antara petani dan h­asil penelitian sesuai dengan potensi genetik. (2) aspek per­ benihan. yakni: (1) aspek penelitian dan pengembangan. Sedang­ kan ancama­n eksternal adalah: (1) menurunnya kepercayaan petani t­erhadap kelembagaan yang ada. (5) aspek distribusi dan pemasaran. 6. Aspek penelitian dan pengembangan Peluang pengembangan berdasarkan aspek litbang meliputi: (1) kebutuhan teknologi makin meningkat. dan (3) prospek kerja sama penelitia­n. (2) kelembagaan kelompok tani belum berfungsi optima­l dan (3) akses petani terhadap lembaga modal terbatas. Kinerja penyuluhan pertanian yang lemah menyebabkan transfe­r teknologi kedelai terhambat. Peluang Peluang pengembangan kedelai cukup besar dari berbagai a­spek. Lemahnya kinerja penyuluhan juga akan mengakibatkan kinerja kelompok tani lemah. dan (6) aspek kelembagaan. Aspek kelembagaan Kendala berdasarkan aspek kelembagaan terdiri dari kelemaha­n dan ancaman. (4) aspek panen dan pascapanen. diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah perlu dilakukan agar dapat m­eningkatkan produktivitas dan daya guna kedelai.

Aspek perbenihan Peluang pengembangan pemanfaatan benih kedelai bermutu terbuka lebar. peningkatan kadar. (2) peningkatan pembinaan pen­ angkar benih di daerah sentra produksi kedelai.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tuntutan alih teknologi untuk mengatasi senjang hasil sangat diperlukan. Me­ ningkatnya kemampuan SDM yang terkait dalam produksi benih dasar (FS). dan (3) peningkatan produksi benih sumber dan penyebaran varietas-varietas unggul baru kedelai di daerah sentra produksi. penyuluh dengan kelompok tani. karena hingga kini penggunaan benih bersetifikat kurang dari 10%. Untuk membangun penyebaran benih varietas unggul diperluka­n penguatan SDM dan fasilitas untuk memproduksi benih sumber. Kerja sama dengan swasta sangat diperlukan. Revitalisasi penyuluhan diharap­ kan dapat menjadi jembatan dalam upaya meningkatkan arus teknologi dari balai penelitian kepada pengguna atau petani. dan benih sebar (ES) diharapkan dapat me­ ningkatkan produksi benih dan dapat didisribusikan ke daerah sentrasentra produksi. s­ehingga dapat meningkatkan produksi benih berkualitas yang berbasis komunita­s. 2. peran swasta sebagai bapak angkat yang dapat memberikan jaminan harga yang layak pada saat harga jatuh. diperlukan peningkatan kemahiran petugas dalam sistem produksi benih sumber kedelai melalui pelatihan. Oleh karena itu. Upaya pengembangan pemanfaatan benih bermutu ditempuh melalui: (1) peningkataan kemampuan petugas/penangkar untuk memproduksi benih sumber. benih pokok (SS). Eskalasi dan akselerasi produksi dan distribusi benih sumber varietas unggul tanaman kedelai dilakukan dengan pelatihan pengenalan varietas melalui sosialisasi varietas dan pembekalan t­eknik produksi benih kepada penangkar di daerah yang melibatkan pemangk­u kepentingan (stakeholder) terkait. Dengan strategi tersebut terjadi percepatan waktu. dan perluasan prevalens­i adopsi t­eknologi inovatif yang dibawa oleh varietas unggul kedelai. Peran aktif BPTP dan penyuluh untuk mengakses teknologi dari balai penelitian perlu ditingkatkan. Untuk mewujudkan tujuan mempercepat alih teknologi diperlukan kerja sama yang baik antara peneliti. 24 .

P­referensi konsumen terhadap mutu kedelai semakin meningkat. (3) subsidi benih. pemberian air yang cukup. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. 4. dan (4) program pengem­ bangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tingg­i.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. Sebagian besar konsumen menghendaki biji besar/sedang. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. pengendalian hama dan p­enyakit dengan sistem PHT. diperlukan adanya s­ubsidi. Mutu hasil panen kedelai saat ini masih perlu ditingkatkan. dan (3) industri produk olahan berbahan baku kedelai makin berkembang. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah di­ adopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam me­ ningkatkan produksi. program pengenalan dan sosialisasi varietas unggul baru serta teknik produksi benih sangat diperlukan. Aspek sistem produksi Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek produksi meliputi: (1) penggunaan benih bermutu masih rendah. baik untuk pengadaan benih varietas unggul baru maupun untuk pengadaan pupuk dan insektisida. (2) penggu­ naan sarana produksi. Varietas kedelai sesuai 25 . umur genjah. Oleh karena itu. dan tahan/ toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkungan fisik). Oleh karena itu. Keterbatasan modal di tingkat petani untuk usahatani kedelai perlu mendapat perhatian. I­ndustri pengolahan produk berbahan baku kedelai membutuhkan jenis kedelai yang bermutu tinggi sesuai dengan produk yang akan dihasil­kan. warna kuning mengkilap dan kebersihan biji. Aspek panen dan pascapanen Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek panen dan pascapanen meliputi: (1) tuntutan terhadap hasil panen bermutu. panen dan pascapanen dengan a­lsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi g­enetiknya. (2) jenis olahan beragam. pembuatan saluran drainase.

makanan segar dengan kualitas polong maupun biji yang seragam. warna kuning mengkilap (Argomulya. Aspek distribusi dan pemasaran Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek distribusi dan pe­ ma­saran meliputi: (1) industri pengolahan kedelai berkembang. dan (3) permintaan kedelai terus meningka­t. kecap. dan kuantita­s serta kualitas biji untuk bahan industri cukup memadai. menarik. 26 . Bentu­k makanan olaha­n yang menari­k. rasa sesuai dengan selera konsumen dan kemasan yang menari­k akan mempunya­i daya tarik bagi konsumen. gizi tinggi dan m­enyehatkan p­erlu diinformasikan pada media cetak maupun elektronik. (2) j­aringa­n transportasi memadai. Kaba) bahkan kedelai hitam yang sesuai de­ ngan industri kecap juga telah tersedia (Merapi. Anjasmoro.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai d­engan kehendak konsumen dan sesuai dengan bahan baku industri telah tersedia. tempe. promosi secara g­encar. Upaya untuk me­ningkatkan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi adalah memperbaiki b­entuk makanan olahan berbaha­n baku kedelai. dan Malika). snack kaya akan protein. Upaya peningkatan daya sain­g selain bentuk produk diperlukan juga penyuluhan. 5. Sebagai i­lustrasi PT Garuda Food telah berhasil membidik konsumen tingkatan menengah ke atas dengan memproduksi snack kedelai oven dengan rasa enak dan dikemas dalam kemasan yang menarik dan terkesan elite. serta telah tersebar di seluruh pasar swalayan. Burangrang. Cikuray. tauco. sehingg­a bisa mengendalikan konsumen untuk mengkonsumsi produk olahan kedelai. Promosi makanan berbahan baku kedelai susu. Penguatan industr­i pedesaa­n skala kecil maupun industri besar yang bermitra dengan produsen kedelai perlu ditindak lanjuti. biji besar/sedang.

Asosiasi tersebut berpeluang dikembangkan di setiap propinsi sentra kedelai dengan penyuluh pertanian sebagai mediator dan Pemerintah Daerah sebagai fasilitator. 6.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Berbagai macam produk olahan berbahan baku kedelai berkem­ bang dengan pesat. k­elompok usaha/asosiasi petani dalam usaha pengembangan kedelai. Revitalisasi alih teknologi dan revitalisasi penyuluhan saling ber­ hubungan erat. farmasi (obat-obatan). tauco. dan (3) minat swasta dalam industri pengolahan kedelai semakin meningkat. Jaringan transportasi sudah baik dan ditunjang oleh alat angkut yang memadai. kecap. snack). dan petani. Industri pengolahan bahan pangan (tahu. pemerintah daerah. mela­ lui diseminasi diharapkan adanya kerja sama yang baik antara peneliti. 27 . Berdasarkan perhitung­ an. Aspek kelembagaan Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek kelemba­ gaan berupa (1) program revitalisasi alih teknologi. Asosiasi Petani Kacang Kedelai Indonesia (APKKI) telah terben­ tuk di beberapa propinsi sentra produksi kedelai dan merupakan me­ dia yang cukup efektif dalam pengembangan kedelai berbasis agri­ bisnis. Revitalisasi di bidang pe­ nyuluhan diharapkan penyuluh dapat berperan sebagai ujung tomba­k dan mampu memberdayakan kemandirian petani. penyuluh. (2) program revi­ talisasi penyuluhan. Di Indonesia konsumsi tertinggi adalah untuk bahan industri tahu dan tempe. namun demikian teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian belum sampai kepada petani.776 juta ton atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan ternak menyebabkan kebutuhan akan kedelai semakin meningkat. kelompok tani. Program alih teknologi berupa diseminasi memperoleh prioritas utama. konsumsi kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 men­ capai 1. Oleh karena itu. sehingga memudahkan mobilitas bahan baku kedelai dari produsen ke konsumen. tempe. Sedang 12% sisanya dipergunakan berbagai keperluan makanan olaha­n lain dan bahan baku industri lainnya.

Upaya peningkatan produksi diikuti de­ ngan upaya peningkatan efisiensi. Tujuan jangka panjang adalah swasembada kedelai. (iii) terciptanya mata rantai pemasaran yang efisien sehingga dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan pendapatan petani. impor kedelai yang saat ini mencapai 60-65% dari total kebutuhan dapat ditekan menjadi 40%. kualitas. Dalam hal ini diperlukan dukungan dari pemerintah dan swasta. Tujuan jangka pendek-menengah adalah meningkatkan produksi untuk memenuhi 60% kebutuhan. dan nilai tambah produks­i. TUJUAN DAN SASARAN Pengembangan kedelai diarahkan untuk tujuan jangka pendekmenengah dan jangka panjang. penguasaan pasar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai IV. dan (iv) berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku kedelai di dalam negeri. dan perluasan peranan pengguna. Sasaran yang ingin dicapai dari pengembangan kedelai s­ecara nasional adalah (i) terciptanya harga yang wajar yang dapat m­emberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. Dengan kata lain. 28 . (ii) terbentuknya kelembagaan pemasaran yang kuat di tingkat petani.

Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalu­i strategi peningkatan produktivitas. Keadaa­n demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus. di mana kedelai sebagai bahan baku industr­i. bungkil kedelai sehingga peta­ ni memperoleh nilai tambah.02 juta ton. seperti pangan dan pakan. dan perusahaan swasta. Selain itu. Arah dan Sasaran Pengembangan Pengembangan kedelai diarahkan kepada sistem agribisnis berbasis agroindustri. tahu. perbaikan akses pasar. perbaikan sistem permodalan.71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1. Mengingat Indonesia de­ngan jumla­h p­enduduk yang cukup besar. sektor swasta membeli kedelai dari petani untuk diolah lebih lanjut menjadi produk olahan sekunder.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI V. A. sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. usahatani dilakukan dengan teknologi maju yang efisien melalui pendekatan PTT. Di tingkat petani. pengembangan infrastruktur. peningkata­n efisiensi produksi. perluasan areal tanam. sehingga dapat menekan biaya per satuan produk dengan tetap memperhatikan kelestarian kesuburan tanah. peningkatan nilai tambah. Dengan demikian. p­eningkatan kualita­s produk. dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan dalam upaya menekan laju impor. pedagang. baik industri pangan maupun pakan. 29 . Di tingkat agroindustri. Pola agribisnis seperti ini akan membangun kemitraan yang sinergis antara petani dengan perusahaan swasta. tempe.31 juta ton. mengingat potensi laha­n cukup luas. serta pengaturan t­ataniaga dan insentif usaha. petani juga dapat dilakukan pengolahan primer kedelai dengan industri rumah tangga di tingkat petani dan kelompok tani. teknologi telah tersedia dan SDM handal cukup tersedi­a. ARAH DAN SASARAN Kebutuhan akan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2. nilai tambah akan terdistri­ busi ke petani. penguatan kelembagaan petani. menjadi produk olahan seperti tepung kedelai.

Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunakan elastisitas pendapatan. Proyeksi jumlah penduduk dilakukan dengan menggunakan pertumbuha­n penduduk dengan tingkat yang makin rendah. 30 . (2004). berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang et al. B. Proyeksi pertumbuhan produksi untuk masingm­asing skenario disajikan pada Tabel 6. Proyeksi Pertumbuhan Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0.67% per tahu­n. elastisitas harga kedelai. Pertumbuhan harga masingmasing k­omoditas menggunakan data FAO 1991-2002. pertumbuhan penduduk adalah 1. dampak swasembada kedelai akan bermuara pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku agribisnis lainnya.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sasaran utama dari pengembangan kedelai adalah untuk m­eningkatkan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi k­ebutuhan yang terus meningkat. dan e­lastisitas silang harga komoditas lainnya. Tiga skenario diajukan untuk mencapai sasaran jangka menengah maupun jangka panjang pengembangan kedelai s­esuai dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan swasembad­a kedelai ke depan.03% per tahun. sedangka­n pertumbuhan pendapatan per kapita menggunakan Data BPS (2002). Sebagai bahan baku industri p­angan dan pakan. Selam­a periode 1990-2003. Selanjutnya.

23 5.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 6.84 1.34 1.25% per tahun dalam periode yang sama.72 1.08 4.01 1.21 2015-2019 1.00 1.29 2.50 2.15 2020-2025 Rataan Skenario 3 Pertumb (%) 0.86 10.27 0.24 3.55 7.30 2010-2014 1.19 2.21 2.19 1.15 8.77 1.61 4.04 6.95 1.50 1.55 12.25 6.19 4.19 1. Proyeksi pertumbuhan areal tanam.39 2.56 1.25 -39.29 2.08 4.50 0.23 5.58 1.64 2.00 1.30 2010-2014 1.33 6.25 2015-2019 1.04 -2.50 51.50 2.00 -6. (2) Peningkatan produksi tersebut diperoleh dari upaya perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 6.00 -65. produktivitas.58 1.25 4.84 1.39 10.93 1.00 -19.50 2.00 61.63 10.15 9.89 14.00 2.79 4.50 2005-2009 1. dan produksi kedelai periode 2005-2025.00 1.50 -4.00 1.21 2015-2019 1.25 2.55 14.50 -14.36 12. Tahun Skenario 1 Pertumb (%) Pddk Provitas Area 2.11 2.58 1.09 2.84 17.25 7.25 7.50 2.15 2020-2025 Rataan Skenario 2 Pertumb (%) 0.50 2.98 2005-2009 1.08 5.02 1.22 1.27 5.50 10.84 1.50 -10.61 4.21 2.78 12.78 7.50 -9.81 -18.25 Impor Konsumsi Kontribusi Prod (%) 2.21 0. 31 .49 (rb ton) Prod (jt jiwa) (t/ha) (rb ha) (rb ton) (rb ton) (kg/kap) 2005-2009 1.27 6.21 2.08 7.01 7.19 3.15 8.30 2010-2014 1.23 5.39 2.50 2.00 -64.50 10.26 7.55 2.93% per tahun dalam periode 2005-2025.50 12.50 -9.73 Skenario 1 (1) Proyeksi peningkatan produksi rata-rata 8.50 0.5% per tahun dan 2.00 1.37 6.80 3.75 1.15 2020-2025 Rataan 0.29 9.45 2.

25% per tahun dan 2.22% per tahun. Dengan kata lain. (3) Dengan skenario ini swasembada kedelai akan dicapai pada tahun 2015. Jawa Barat.72% per tahun dalam periode yang sama. (3) Dengan skenario 3. impor yang saat ini mencapai 6065% secara substansial dapat ditekan menjadi minimal 45% pada 2010.25% per tahun untuk men­ capai tingkat pertumbuhan produksi 9. Skenario 3 (1) Proyeksi peningkatan produksi kedelai dalam periode yang sama rata-rata mencapai 8. Program peningkatan produktivitas diprioritaskan di wilayah-wilayah sentra produksi yang produktivitasnya masih tergolong rendah.25% per tahun dalam periode 2005-2025. 32 .81% per tahun dan 2. Sumatera Utara. (2) Areal tanam dan produktivitas kedelai diproyeksikan meningkat masing-masing 7. di mana tingkat penerapan teknologi oleh petani masih kurang. (2) Proyeksi pertumbuhan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 5. Lampung. Nusa Tenggara Barat. Skenario 2 (1) Produksi kedelai dalam negeri diproyeksi meningkat rata-rata 9.72% per tahun.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai (3) Dengan skenario 1. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun terakhir yaitu 2025. Wilayah-wilayah yang sesuai untuk program ini antara lain adalah beberapa kabupaten di Jawa Timur. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun 2020. Jawa Tengah. C. Arah Pengembangan Pengembangan kedelai ke depan diarahkan untuk mencapai tujuan jangka pendek-menengah dan jangka panjang yaitu Indonesia mampu meningkatkan produksi kedelai secara bertahap untuk memenuhi kebu­ tuhan dalam negeri. dan Sulawesi Selatan.

Wilayah-wilayah yang tergolong kate­ gori tersebut antara lain adalah Jambi. Sumatera Utara. Produksi kedelai tahun 2005 diproyeksikan 774 ribu ton biji kering. dan kapan kemungkinan pencapaian swasembada perlu disusun beberapa alternatif skenario. dan lahan kering yang cukup luas. dan Sulawesi Selatan. Bengkulu. Sulawesi Tenggara. tahun 2007 sebe­ sar 900 ribu ton. Lampung. Dalam Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah (­RPPJM: 2005–2010) Departemen Pertanian. D. Sasaran pengembangan kedelai dalam 20 tahun ke depan adalah untuk memanfaatkan seluruh potensi dan peluang yang ada untuk men­ coba memenuhi kebutuhan kedelai nasional dari kemampuan produksi dalam negeri. Apabila sasaran peningkatan produksi diproyeksikan sebagaimana dikemukakan di atas. Sumatera Selatan. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat. Agar sasaran pengurangan impor dapat dicapai. Sedang perluasan areal dapat di lakukan pada sawah tadah hujan/irigasi sederhana. Jawa Tengah. namun belum optimal dimanfaatkan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Program perluasan areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) ditujukan ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi sumber daya lahan cukup baik di Jawa Timur.36 juta ton dan ini berarti tidak terjadi pengurangan impor. serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif. misalnya dari 60–65% menjadi 45% dari kebutuhan dalam negeri. Jawa Barat. tahun 2006 sebesar 825 ribu ton. dan tahun 2009 sebesar 1. maka pada tahun 2009 impor diperkirakan masih sebesar 1. telah menyatakan bahwa sasaran pengembangan kedelai adalah meningkatkan produksi nasional sebesar 7% per tahun. tahun 2008 sebanyak 975 ribu ton.03 juta ton atau meningkat rata-rata 7. Pertanyaannya kemudian adalah kapan sasaran itu dapat dicapai? Inilah tantangan yang harus dijawab dengan memanfaatkan 33 . meluasnya peran pengguna.00% per tahun. Sulawesi Selatan. Sasaran Sasaran jangka panjang adalah swasembada kedelai (ontrend). penguasaan pasar yang luas. Peningkatan produksi diikuti dengan proses produksi yang efisien. kuali­ tas dan nilai tambah yang berdaya saing.

Sedangkan peningkatan produktivitas kedelai dalam empat p­eriode yang sama masing-masing diproyeksi rata-rata 4. hama dan penyakit (OPT) secara terpadu.5% per tahun dan berturu­t-turut menurun menjadi rata-rata 5. pengendalian gulma. ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor untuk me­ menuhi kebutuhan dalam negeri secara gradual dapat dikurangi dan pada akhirnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan dari kemampuan produksi dalam negeri. Wilayah sasaran perluasan areal adalah Nusa Teng­ gara Barat. 1. Laju peningkatan areal tanam sedikit menurun pada lima tahun berikutnya (2010-2014) yaitu rata-rata 7.95% per tahun pada 2005-2009. Sumatera Utara. Pencapaian sasaran menurut skenario 1 Perkiraan pencapaian sasaran atas dasar skenario 1 disajikan pada Tabel 7. Sasaran lain adalah mengembalikan keunggulan kompetitif di tingkat on farm dan keunggulan komparatif di pasar global.5% dan 0. waktu atau musim tanam yang s­esuai serta rotasi tanaman.0% per tahun dan 3.5%. m­asing34 .5%. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa perluasan a­real tanam harus diupayakan meningkat rata-rata 10% per tahun dalam periode 2005-2009 dengan sasaran areal tanam mencapai sekitar 833 ribu ha pada 2009. 2015-2019. 1. 2010-2014. produktivitas pada 2025 h­arus m­encapai sekitar 1. 2. Aceh dan Sulawesi Selatan. maka produksi diproyek­ sikan meningkat rata-rata 14. Dengan kata lain. dan 2020-2025. Jawa.5% per tahun pada periode 2005-2009. Dengan demikian. lahan sawah tadah hu­ jan atau lahan kering. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah peng­ gunaan benih varietas unggul yang bermutu. Melalui kedua upaya tersebut di atas. Lampung.99 ton/ha secara nasional.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai sumber daya secara optimal yang dihela oleh kemajuan Iptek di bidang pangan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sum­ berdaya alam. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks per­ tanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana.5% per tahun masing-masing pada periode 2015-2019 dan 2020-2025.

67 963 862 1.92 232 1.08 Pertumb (%) 1.206 107.287 10.21 4.832 91.142 1.93 1.00 15 2020 0.15 0.33 569 1.88 2.90 1.39 7.75 277 1.76 2.00 2.179 39.01 2.000 9. Pert No.62 2.90 16 2021 0.598 10.454 11.069 11.291 50.894 95.05 247 1.09 241 1.321 9.752 -248 3.948 10.40 2.14 2.50 5.028 1. swasembada kedelai diperkirakan dapat dicapai pada tahun 2020 (Tabel 7).79 3.61 255 1.769 11.63 896 951 1.67 265 1.124 35.149 9.96 1.39 626 1.99 1.80 6.11 2.17 238 1.19 1.081 103. Di sisi lain. Dengan skenario 1.146 10.82 1.75 2.770 87.55 12.349 56.143 105.035 757 1.709 84.66 275 1. sedikit menurun menjadi 2.367 757 9.50 2.23 Pertumb (%) 1.91 279 1.55% per tahun pada 2005-2009.604 10.79 1.50 51.737 11.27 268 1.35 1 2006 1.593 11.80 1.19 2.81 19 2024 0.75 Pertumb (%) 0.15 10 2015 1.30 5 2010 1.66 3.71 1.29 3 2008 1.768 10.78 20 2025 0.86 10.580 -51 3.14 8 2013 1.98 1.63 229 1.50 3.94 1.87 17 2022 0.50 7.321 11.12 2.585 75.813 -324 3.646 81.98 35 .95 1.00 -65.525 70.256 422 2.59 833 1.309 870 9.193 11.37 4.85 1.466 65.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI masing 10.40 3.35 252 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 1).526 6 2.235 44.88 2.957 99.52 2.64 273 1.25 2.25 2.99 260 1.00 -6.32 2 2007 1.15 2.25 4.19% dan 6.196 500 2.438 10.84 Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 226 1. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi terus menurun rata-rata 2.02% per tahun pada periode 2020-2025.95 1.99 13 2018 0.11 9 2014 1.93 3.96 14 2019 0.21% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014 dan 2015-2019.58 1.69 270 1.74 263 1.692 -178 3.37 2.113 637 1.58% per tahun pada 2010-2014 dan 2015-2019 serta rata-rata 4. Tahun Pdd (%) 0 2005 1.01 250 1.50 10.456 10.63 2.50 -14.84 18 2023 0.018 101.269 109.05 11 2016 1. total konsumsi diproyeksikan meningkat rata-rata 2.876 -405 3.20 6 2011 1.88 1.00 1.42 258 1.93 Pertumb (%) 1.23 2.27 3.02 1.97 1.454 125 2.75 1.17 7 2012 1.45 688 1.02 12 2017 0.39% dan 2.89 14.53 3. Tabel 7.951 11.49 244 1.385 234 2.235 1.00% per tahun pada periode 2020-2025.52 757 1.407 60.319 333 2.332 112.26 4 2009 1.635 -112 3.74 235 1.

Jawa.5% per tahun untuk masing-masing periode yang sama. lahan sawah ta­ dah hujan atau lahan kering. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih VUB yang bermutu. Aceh. Lampung. Wilayah sasaran perluasan areal adalah NTB. akan ditem­ puh melalui program peningkatan produktivitas yang sejalan dengan skenario 1 yaitu rata-rata 4.5%. serta 2. Dengan asumsi laju konsumsi sama dengan skenario 1. waktu/musim tanam yang se­suai dan rotasi tanaman. 10.5%. Untuk peningkatan IP terutama pada musim tanam kedua (MT-II) dan MT-III sangat diperlukan dukungan pengairan melalui pompanisasi dan ini tentu tidak mudah dan tidak pula murah. Sumatera Utara. Yang berbeda dalam laju perluasan areal yang sangat agresif yaitu rata-rata 12. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana. dan 1. 5.0%. 2015-2019.5%.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 2. dan 2020-2025. maka upaya peningkatan produksi menurut skenario 2 akan mencapai swasem­ bada pada tahun 2015 atau lima tahun lebih cepat dari skenario 1 (Tabel 8). Pencapaian sasaran menurut skenario 2 Upaya peningkatan produksi menurut skenario 2. dan Sulawesi Selatan. dan 0.5% per tahun pada periode 2005-2009.5% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014.0%. 1. perbaikan kesuburan tanah dengan pemu­ pukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). 36 . pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu.

35 226 1.048 -748 4.63 1 2006 1.39 10.11 250 1.291 53.42 14 2019 0.23 238 1. Kemudian laju 37 .19 2.44 Pertumb (%) 0.072 10.407 67.99 12 2017 0.62 2.56 1.12 2.54 Pertumb (%) 1.95 1.000 11.50 2.50 -9.00 0.81 275 1.76 2.63 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 8.93 265 1.15 2.83 2 2007 1.01 3.807 10.770 107.00 1.79 1.96 1.90 1.84 273 1.230 9.75 2.269 122.11 10 2015 1.894 117.646 99.52 2.873 -665 3.87 270 1.26 235 1.71 1.75 1.66 3.694 11.63 2.59 13 2018 0.349 61.709 103.82 1.36 20 2025 0.23 2.50 10.25 2.585 90.046 9.78 277 1.78 12.367 757 9.838 10.902 -676 3.630 10.50 1.143 122.124 35.37 2.79 3. Pencapaian sasaran menurut skenario 3 Diantara ketiga skenario dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri.398 11.541 -98 2.50 12.080 11.55 Pertumb (%) 1.992 10.332 122.55 14.52 7 2012 1.446 9.06 8 2013 1.30 4.88 2.52 810 1.336 10. Pert Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri No.20 241 1.93 1.930 -688 3.31 19 2024 0.45 720 1.01 1.5% per tahu­n pada periode 2005-2009 dan periode 2010-2014.29 232 1.14 2.99 2.018 122.33 17 2022 0.618 -221 2.80 3 2008 1.93 3.14 247 1.206 122.71 6 2011 1.15 2.53 3. Waktu pencapai swasembada kedelai yang cukup lama ini s­ebagai konsekuensi peningkatan areal tanam baik lewat peningkata­n IP maupu­n pemanfaatan lahan tidur masing-masing 7.27 3.468 12 2.94 1.334 249 2.957 122.179 40.50 2.235 46.289 890 9.844 11.27 15 2020 0.061 1.189 10. Menuru­t skenario 3.85 1.08 252 1.49 Pertumb (%) 1.40 3.96 263 1.21 4.988 -715 3.466 74.04 2. Tahun Pdd (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod (%) jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 0 2005 1.921 11.768 11.30 18 2023 0.84 0.88 1.98 2.39 640 1.67 4 2009 1.699 -357 3.45 6.90 268 1.00 2.05 255 1.081 122.50 5.003 777 1. swasembada kedelai baru bisa dicapai pada t­ahun 2025.40 2.02 258 1.189 1.84 17.018 -731 4.784 -504 3.32 229 1.97 1.39 16 2021 0. skenario 3 tampaknya yang paling moderat.17 244 1.525 82.64 5 2010 1.99 260 1.33 569 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 2).01 2.103 628 1.622 11.58 1.634 10.00 61.75 279 1.00 -64.88 2.61 11 2016 1.67 1.213 453 2.59 911 903 1.25 2.37 9 2014 1.959 -701 3.75 1.832 112.

29 3 2008 1.63 10.17 7 2012 1.55 241 1.02 12 2017 0.124 35.75 Pertumb (%) 0.25 -39.179 39.463 10. No.21 268 1.82 1.14 1.26 4 2009 1.27 2.62 258 1.646 73.326 -19.75 1.71 944 808 1.34 2.32 2 2007 1.20 6 2011 1.585 68.19 547 2.55 2.45 658 1.12 247 1.709 77.01 2.291 46.11 9 2014 1.85 1.99 13 2018 0.35 1 2006 1.15 10 2015 1.37 252 1.83 2.063 1.84 226 1.53 3.40 229 1.73 38 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai p­eningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5.33 569 1.223 10.007 11.99 1.79 279 1.0% dan 3.332 100.329 850 9.687 1.525 63.00 244 1.392 225 2.78 20 2025 0.081 94.98 7.27 270 1.50 2.00 15 2020 0.50 3.27 3.073 9.407 55.79 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 3).525 11.63 817 1.018 92.88 1.00 2.360 11.05 3.143 95.17 2.08 3.894 87.58 136 2.533 -28 3.88 263 1.50 -4.30 5 2010 1.00 -19.39 612 1.94 1.52 232 1.36 12.091 1.23 Pertumb (%) 1.144 1.33 3.238 11.81 19 2024 0.206 97.66 277 1.612 10.269 99.83 1.68 3.97 1.329 3.96 1.87 17 2022 0.777 10.898 11.958 10.05 11 2016 1.015 688 1.205 9.88 4.90 1.957 91.079 2.39 255 1. Tabel 9.121 11.93 Pertumb (%) 1.692 11.73 2.50 5.61 2.438 85 2.90 16 2021 0.31 9.63 235 1.203 369 2.086 10.24 2.59 760 1.50 7.25 250 1.280 955 9.50 7.582 -39.25% m­asing-masing untuk periode 2015-2029 dan 2020-2025 (Tabel 9).98 1.53 275 1.328 10.832 83.003 1.145 462 2.218 1.76 238 1.367 757 9.08 Pertumb (%) 1.00 2.84 18 2023 0.218 2.67 878 913 1.96 14 2019 0.235 42.14 8 2013 1.86 2.367 3.793 11.75 260 1.34 1.63 2.634 1.73 2.770 80.349 51.24 6.93 0.68 2.370 10.40 273 1.50 -10.08 3.52 707 1.93 1.04 4.26 2. Tahun Pert Pdd (%) Pddk Provitas Area Impor (jt (t/ha) (rb ha) (rb jiwa) ton) Prod (rb ton) Konsumsi (kg/ (rb kap) ton) Kontri Prod (%) 0 2005 1.08 3.484 31 2.466 59.77 1.95 1.263 265 2.01 265 1.

pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. Perluasan areal tanam dilakuka­n melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigas­i sederhana. Penjabaran arti dari LQ adalah: LQ = Eir / Ein di mana Eir adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi propinsi (r). dan Sulawesi Selatan. lahan sawah tadah hujan atau lahan kering. waktu/musim tanam yang sesuai dan rotasi tanaman. Perluasan Areal Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usahatani kedelai.0 > LQ > 1. Aceh.0 > LQ > 2. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih unggul yang bermutu. Lampun­g.0 > LQ > 0 nilai tinggi nilai sedang nilai rendah 39 .0 1. perbaikan kesuburan lahan dengan pemupukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). Nilai LQ diklasifikasikan sebagai berikut: 3. Jawa.0 2. Wilayah s­asaran perluasan areal adalah Nusa Tenggara Barat. Ein adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi nasional (n). Sumatera Utara. E.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2025 dengan c­atatan bahwa konsumsi per kapita maupun total konsumsi sama dengan skenario 1 dan skenario 2.

Prioritas program peningkatan produksi dan perluasan a­real kedelai berdasarkan nilai LQ propinsi.0 Aceh. Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendala antara lain nilai komparatif dan kom­ petitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya. Kalsel. Sumut 0. 40 . Sulsel 1. ++ Prioritas sedang.5 > LQ > 0. Skala prioritas pengembangan kedelai berdasarkan nilai LQ disajikan pada Tabel 10.5 Bali. Tabel 11 menunjukkan bahwa potensi lahan yang sesuai un­ tuk tanaman kedelai. Sumsel. + Prioritas rendah +++ ++ + +++ + +++ + Peningkatan Produktivitas (PP) Perluasan Areal Tanam (PAT) Wilayah sasaran intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai utama (LQ) tinggi diikuti propinsi penghasil kedelai (LQ se­ dang).1 Jambi. Nilai LQ dan Propinsi 3. Yoyakarta 2.0 > LQ > 2.0 NTB. Jabar. Jatim.0 > LQ >1. Bengkulu. + Papua +++ Prioritas utama.0 > LQ > 0.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 10. Lampung. Sulut. Sedangkan wilayah sasaran di Jawa dan Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan perlu mempertimbangkan lahan dengan LQ tinggi sampai sedang. Sultra. Jateng. baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal. Sumbar.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

Tabel 11.

Daerah sasaran peningkatan produktivitas di propinsi penghasil kedelai utama dan propinsi penghasil kedelai sedang. Propinsi Kabupaten Gunung Kidul Bantul, Wonosari, Slemen Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Sumbawa, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan. Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi Purworejo, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Demak, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Kudus, Jepara, Pati, Blora Bone, Enrekang, Gowa, Majene, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polewali, Selayar, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo

Nilai LQ

1 Penghasil 1 Yogyakarta kedelai utama (40.050 ha) (LQ Tinggi) 2 Jawa Timur (279.500 ha) 3 NTB (139.520 ha) 2 Penghasil 1 Aceh kedelai Sedang (181.390 ha) (LQ Sedang) 2 Lampung (164.500 ha) 3 Jawa Barat (327. 500 ha) 4 Jawa Tengah (379.500 ha) 5 Sulawesi Selatan (322.100 ha)

41

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

F. Peningkatan Produktivitas Upaya peningkatan produktivitas (PP) dibedakan atas tingkat produktivitas yang telah ada selama ini. Berdasarkan metoda perhi­ tungan LQ, maka lahan dengan 3,0>LQ>2,0 (LQ tinggi) merupakan lahan yang sesuai untuk peningkatan produktivitas yang tersebar di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Bagi daerahdaera­h yang telah memiliki produktivitas tinggi diarahkan untuk d­imantapkan, dan bagi daerah-daerah yang tingkat produktivitasnya masih rendah dilakukan upaya akselerasi melalui penggunaan b­enih va­rietas unggul, pupuk berimbang, penerapan teknologi spesifik lokasi, pengelolaan usahatani terpadu lahan kering. Perluasan areal tanam (PAT) diarahkan ke daerah di luar Jawa yang memiliki potensi cukup luas melalui penambahan baku lahan, mengoptimalkan lahan kering, rehabilitasi dan konservasi lahan, ser­ ta pengembangan lahan rawa/lebak/pasang surut. Perluasan areal disesuaikan dengan kecocokan lahan dengan 2,0>LQ>1,0 di Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Untuk mendukung tercapainya sasaran-sasaran tersebut, perlu dukungan aspek hulu antara lain penyediaan lahan, perbaikan pengairan, sarana produksi, alsintan, permodalan, sarana transportasi/jalan usahatani.

42

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

VI. STRATEGI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM
A. Strategi Pemecahan Masalah Perumusan strategi, kebijakan, dan program pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia disusun dengan menggunakan analisis SWOT. Penyusunan strategi dikelompokkan menjadi 6 bagian berdasar­ kan bidang masalah yang dihadapi yaitu: (1) litbang, (2) perbenihan, (3) produksi, (4) panen dan pascapanen, (5) distribusi dan pemasaran, sert­a (6) kelembagaan. Dari masing-masing isu tersebut kemudian dirangking atas dasar indikator prioritas yaitu urgent, seriousness, dan growth. Dari masing-masing isu kemudian ditentukan tiga masalah prioritas. Masalah tersebut kemudian di analisis dengan SWOT yang terdiri atas faktor internal (strength, weakness) dan faktor ekternal (o­pportunity, threat). Dari hasil analisis ditentukan prioritas masing-masing isu untuk kekeuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berdasarkan masing-masin­g m­asalah disusun strategi agresif, diversifikatif, konsolidatif, dan defensif. 1. Penelitian dan pengembangan Berdasarkan identifikasi dan seleksi faktor internal dan ekster­ nal, maka faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dominan dari aspek penelitian dan pengembangan (litbang) adalah sebagai berikut. Strategi Agresif (SO). Strategi ini memanfaatkan kekuatan e­ksternal dan peluang eksternal yang ada antara lain: • pemanfaatan secara optimal sumber daya genetik dan peneliti yang berkualitas dalam merakit varietas unggul, guna memenuhi teknologi yang meningkat, • pemanfaatan dukungan pemerintah untuk revitalisasi penyuluh­an guna meningkatkan proses alih teknologi, dan • pemanfaatan peneliti yang berkualitas untuk menjalin kerja sama penelitian (KSP) dalam perakitan teknologi.
43

strategi konsolidatif (WO). strategi diversifikatif (ST). Alternatif strategi yang termasuk kelompok diversifikatif adalah: • optimalisasi program diseminasi guna memenuhi kebutuhan t­eknologi yang meningkat. Strategi ini dimaksudkan untuk me­ manfaatkan peluang eksternal dengan memperbaiki kelemahan inter­ nal. antara lain: • fokus penelitian pada isu-isu yang paling mendesak. kelemahan. Strategi untuk mengatasi kelemahan i­nternal dan sekaligus mengurangi ancaman eksternal. dan ancaman. peluang. Strategi Defensif (WT). Alternatif strategi sistem perbenihan juga dikelompokkan atas dasar kombinasi antara faktor internal dan e­ksternal yang terdiri atas strategi agresif (SO). dan untuk mendukung konsistensi program • prioritasi penelitian sesuai dengan keterbatasan tenaga peneliti. meliputi: • pemberdayaan peneliti melalui perbaikan sistem reward bagi peneliti berprestasi. • pemanfaatan perhatian pemerintah untuk memperbaiki sistem diseminasi teknologi. formulasi strategi dalam pengembangan sistem produksi benih kedelai berdasarkan kekuatan. 2. • pemanfaatan KSP p­enelitian. dan strategi defensif (ST). 44 . Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal sekaligus mengurangi ancaman eksternal yang ada. Strategi Konsolidatif (ST).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Strategi Diversifikatif (WO). dan • kaderisasi peneliti berkualitas melalui perbaikan rekruitmen yang sesuai dengan kebutuhan. dan • perbaikan rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan. Strategi sistem produksi benih Secara lebih rinci.

45 . Strategi Diversifikatif (WO) . dan BBU dalam penyediaan b­enih bermutu. BBI. abiotik maupun sosial-ekonomi dalam pengembangan sistem perbenihan kedelai. Memanfaatkan peluang eksternal secara optimal antara lain: (1) pemanfaatan teknologi untuk menekan biaya produksi benih u­nggul dan (2) pemanfaatan UPBS. BBI. Strategi ini dimaksudkan untuk m­engurangi kelemahan internal dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengurangi ancaman eksternal baik yang bersifat biotik. • penyederhanaan sistem sertifikasi. dan BBU untuk meningkatkan mutu benih guna meningkatkan kepercayaan petani. dan • pemanfaatan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. Alternatif strategi untuk meman­ faatkan peluang eksternal secara optimal untuk mengurangi anca­ man eksternal dalam pengembangan perbenihan kedelai nasional. Strategi ini b­ersifat konsolidasi internal untuk menghadapi tantangan dari luar. Strategi Defensif (WT). dan • pemanfaatan subsidi untuk pengembangan industri benih.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Agresif (SO). • pemanfaatan varietas unggul yang tersedia dalam perakitan VUB ber­ daya hasil tinggi didukung oleh teknologi benih yang maju. antara lain: • peningkatan peran UPBS. antara lain: • perbaikan sistem alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. • pembatasan impor melalui tarif. Strategi ini meliputi: • peningkatan peran penyuluh untuk menanggulangi OPT dan anomal­i iklim. Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal yang cukup besar dalam pengem­ bangan sistem produksi benih kedelai mendukung peningkatan produksi nasional.

• pemanfaatan lahan yang masih luas untuk perluasan areal tanam kedelai. dan • pemanfaatan VUB untuk penyediaan kedelai berprotein tinggi. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaata­n peluang eksternal. • penyediaan kredit lunak yang mudah diakses petani. dan • perakitan varietas unggul hasil tinggi toleran terhadap cekaman lingkungan seperti OPT dan Iklim. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi produksi biaya rendah dengan sarana produks­i terbatas. biotik. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk memanfaatkan peluang ekternal yang ada agar kinerja produksi makin membaik. maupun abiotik. Strategi sistem produksi Strategi pengembangan sistem produksi ( on-farm ) kedelai d­iformulasikan dengan memperhatikan keterkaitan antara faktor i­nternal dan eksternal. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dengan mengurangi atau menekan ancaman serendah mungkin baik yang bersifat sosialekonomi. guna memenuhi permintaan yang terus meningkat.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. dan • revitalisasi penyuluhan untuk mendiseminasikan budidaya kedelai sebagai tanaman sela. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi Agresif (SO). 46 . baik sebagai tanaman utama maupun tanaman sela. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi maju dalam peningkatan produksi untuk menekan laju impor. Strategi ini meliputi antara lain: • pemanfaatan VUB dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi.

4. Penerapan teknologi pasca­ pa­nen tidak hanya menekan kehilangan hasil secara kuantitas juga meningkatkan mutu hasil. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Defensif (WT). Formulasi strategi ber­ dasarkan keterkaitan antara masing-masing faktor internal dan eksternal. Strategi Agresif (SO). Strategi penanganan panen dan pascapanen Formulasi strategi pengembangan kedelai ditinjau dari aspek pen­ anganan panen dan pascapanen didasarkan atas pengelompokan yang sama. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaa­ tan peluang eksternal. dan • pemanfaatan alsitan untuk pengolahan hasil panen. Strategi ini dimaksudkan u­ntuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal u­ntuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada agar nilai tambah produks­i kedelai dapat dinikmati oleh petani produsen maupun p­engolah. • pemanfaatan teknologi pengolahan untuk menghasilkan ber­bagai produk guna mendukung perkembangan agroindustri. konsolidatif. dan defensif. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu hasil. P­enanganan hasil panen dan pascapanen dalam pengem­ bangan kedelai sangat menentukan. diversifikatif. dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai d­engan keterbatasan modal. Strategi ini dimaksudkan untuk mening­ katkan kinerja produksi di mana secara internal banyak kelemahan dan secara eksternal juga cukup banyak ancaman sehingga strategi ini harus diformulasikan secara hati-hati. Strategi diversifikatif antara lain: 47 . juga dilakukan terhadap formulasi strategi pada aspek ini yaitu agresif. selain manajemen peme­liharaan tanama­n pada saat kegiatan usahatani.

Strategi ini meliputi: 48 . konsolidatif. Strategi Agresif (SO). Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dalam peningkatan nilai tambah hasil dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai de­ngan keterbatasan modal. Strategi distribusi dan pemasaran Hasil analisis keterkaitan antar faktor-faktor internal seperti kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam aspek distribusi dan pemasaran kedelai dan produk olahannya dikelompokkan ke dalam empat strategi. dan defensif. 5. Strategi ini antara lain: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. yaitu agresif.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatka­n hasil panen bermutu. Strategi ini tampaknya harus diformu­ lasikan secara hati-hati. diversifikatif. guna Strategi Konsolidatif (ST). dan • penyediaan kredit lunak untuk pengadaan alsintan m­eningkatkan produk olahan berbahan baku kedelai. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan dan eksternal yang juga cukup banyak ancaman. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu produk dan meningkatkan harga jual dan • penggunaan alsintan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dalam pengolahan Strategi Defensif (WT). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal dan optimalisasi pemanfaatan peluang e­ksternal.

Penerapan teknologi informasi akan memperlancar arus data dan informasi dari pasar ke produsen dan ke pengolah begitu pula sebaliknya. dan • intensifikasi di daerah sentra produksi untuk memenuhi p­ermintaan kedelai yang meningkat. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan infrastruktur guna mempersingkat rantai pemasaran. dan • peningkatan intensifikasi di sentra produksi guna menekan laju impor. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan pada tingkat petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang juga tidak 49 . Strategi ini diharapkan mampu mening­katkan nilai tambah distribusi dan pemasaran di tingkat petan­i produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. • pemanfaatan jaringan transportasi guna mendukung p­engem­ bangan industri pengolahan. • pemanfaatan transportasi yang lancar untuk menekan biaya trans­ portasi. dan • penerapan tarif terhadap kedelai impor secara proporsional. pengolahan untuk • perbaikan sistem informasi pasar melalui penerapan teknologi i­nformasi. Strategi diversifikatif terdiri atas: • kerja sama petani dengan pengusaha m­eningkatkan daya tawar petani. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi Defensif (WT) . Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk me­ manfaatkan peluang pasar eksternal yang ada agar kelancaran arus kedelai dari petani produsen maupun pengolah sampai ke pasar baik di desa maupun di kota terjamin.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • pemanfaatan infrastruktur guna mendukung pengembangan i­ndustri pengolahan. Strategi Diversifikatif (WO).

Strategi Diversifikatif (WO) . dan permodalan pada tingkat pedesaan tampaknya akan merupakan katalisator dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Seperti halnya pada aspek-aspek lainnya. penyuluhan. dan • penerapan tarif impor untuk menekan volume impor dan m­eningkatkan daya tawar petani. antara lain: • pemanfaatan lembaga perkreditan untuk mendorong swasta dalam industri pengolahan. • sinkronisasi kelembagaan alih teknologi dengan program revita­ lisasi penyuluhan. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan informasi pasar yang ada guna memperpendek r­antai pemasaran. dan defensif. Strategi Agresif (SO). dan • pemberdayaan kelompok tani guna mendukung program alih t­eknologi. 6. formulasi strategi dalam aspek kelembagaan juga dikelompokkan ke dalam empat magnitude sesuai dengan analisis SWOT yaitu agresif. Strategi agresif dari aspek kelembagaan. Strategi penguatan kelembagaan Percepatan penerapan revitalisasi kelembagaan petani. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal me­ manfaatkan peluang eksternal yang ada agar seluruh kelembagaan baik di tingkat petani produsen maupun prosesing di pedesaan. Strategi ini harus diformulasikan secara tepat dan hati-hati. Kelembagaan petani produsen yang ditangani secara profesional akan mampu meningkatkan posisi tawar petani dalam pasar produk 50 . diversi­ fikatif.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai kalah banyaknya. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang ada pada tingkat organisasi petani. konsolidatif. dan industri pengolahan. pe­ nyuluhan. penyuluhan maupun permodalan serta optimalisasi pemanfaatan pe­ luang eksternal.

Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal institusi yang masih banyak kelemahan pada tingka­t petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang merugikan petani. Strategi ini diharapkan mampu melakukan konsolidasi manajemen usaha agribisnis kedelai untuk nilai tambah pada tingkat petani produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat manajemen maupun sosialekonomi. dan 51 . Strategi defensif yang terkait dengan masalah dis­ tribusi dan pemasaran harus diformulasikan secara tepat dan hatihati. Strategi ini antara lain: • percepatan penerapan revitalisasi penyuluhan dan lembaga p­ermodalan. serta peningkatan peran dan fungsi kelompok. dan • sinkronisasi peraturan dan kelembagaan antara pusat dengan daerah. • penegasan komitmen pimpinan kelembagaan dalam pelaksanaan peraturan. guna meningkatkan fungsi kelembagaan. dan • kerja sama petani dengan swasta guna meningkatkan ketersediaa­n modal bagi petani. Strategi Konsolidatif (ST).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI kedelai yang secara alami bersifat kompetitif. Penerapan teknologi informasi dan manajemen usaha yang efisien akan memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen dan sebaliknya. Strategi ini meliputi: • perbaikan kinerja lembaga permodalan dan alih teknologi untuk meningkatkan kepercayaan petani terhadap kelembagaan yang ada. Strategi Defensif (WT). Strategi diversifikatif terdiri atas: • pemanfaatan program alih teknologi dan penyuluhan untuk p­erbaikan sistem penyuluhan. • revitalisasi kelompok tani guna meningkatkan kepercayaan petan­i.

Kebijakan dan program penelitian dan pengembangan Kebijakan dan Program Agresif (SO). kebija­ kan pengembangan yang tertapis dua strategi. Prioritas Kebijakan dan Program Pengembangan 1. Satu kebijakan tertapis dan yang paling dominan yaitu penyediaan insentif bagi peneliti ber­ prestasi melalui penerapan HaKI dan tunjangan peneliti yang m­emadai. dan (2) melakukan KSP jangka menengah dan panjang dengan lembaga penelitian lain. baik nasional maupun internasional. baik nasional maupun internasional. Implementasi dari kerja sama penelitian (KSP) dapat dilakukan dalam bentuk konsorsium. maka KSP dapat dilakukan dengan sistem cost sharing. Dari aspek litbang. yaitu: (1) pemantapan lembaga penyuluhan dan keterkaitannya dengan lembaga penelitian. kebijakan terse­ but harus ditindaklanjuti dalam bentuk program operasional. sebagian keterbatasan dana peneli­ tian dari Badan Litbang Pertanian dapat diatasi melalui kerja sama ini. 52 . dan (2) fasilitasi KSP antara peneliti litbang dengan lembaga penelitian lain. Jika pendanaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Kebijakan yang ter­ tapis adalah: (1) penajaman prioritas penelitian sesuai dengan SDM yang tersedia. B. namun tetap berupaya memanfaatkan pe­ luang KSP dengan pihak luar. baik nasional maupun interna­ sional. Kedua strategi ini berpijak dari keterbatasan tenaga peneliti dan inkon­ sistensi program penelitian. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). Dua program operasional yang dirumuskan sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut adalah: (1) penelitian ung­ gulan sesuai kebutuhan stakeholders. dan (2) pemantapan program penelitian untuk menjalin KSP dengan pihak luar. Dengan demikian. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). dan (2) penerimaan tenaga penyuluh disertai dengan penye­ diaan fasilitas pendukungnya. yaitu: (1) percepatan im­ plementasi revitalisasi penyuluhan. dalam rangka konsistensi program penelitian. Dalam mempercepat revitalisasi penyuluhan.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan akses petani terhadap sumber modal melalui p­erbaikan komitmen pimpinan kelembagaan.

BBI. BBI. Kebijakan dan pro­ gram ini diharapkan dapat mendorong kreativitas peneliti dalam meng­ hasilkan teknologi dan rumusan kebijakan baru yang prospektif. Kebijakan dan program sistem perbenihan Dari hasil analisis tapisan. dan (2) penyediaan fasilitas dan pengangkatan tenaga yang dibutuhkan UPBS. Kebijakan yang dibu­ tuhkan untuk perbaikan kinerja tenaga peneliti adalah rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan lembaga penelitian. dan (2) meningkatkan peran UPBS. dan UPBS. maka strategi kebijakan dan pro­ gram yang relevan dalam pengembangan kedelai tertapis lima kebi­ jakan dan program yang terkait dengan sistem perbenihan kedelai. Kebijakan dan Program Agresif (SO). BBI. Kebijakan dan Program Defensif (WT).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut. Dengan demi­ kian kesinambungan antara peneliti senior dengan peneliti yunior akan berjalan dengan baik. dan BBU yang ada. diharapkan subsidi benih dari pemerintah d­apat dimanfaatkan secara tepat sasaran. BBI dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. BBI. Sedangkan kebijakan pengembangan yang berkaitan dengan strategi SO tersebut adalah: (1) implementasi disertai pengawasan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. maka program yang harus dilaksanakan adalah perbaikan sistem tunjangan fungsional peneliti dan penerapan HaKI secara konsekwen. Formulasi kebijakan tertapis tersebu­t bertujuan untuk: (1) memanfaatkan subsidi benih dari pemerintah se­ cara optimal. dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. Dari aspek perbenihan. dan BBU. 53 . dan BBU dapat ber­ peran lebih baik dalam penyediaan benih unggul bermutu. 2. dan (2) peningkatan kemampuan UPBS. strategi yang bersifat agresif (SO) adalah: (1) pemanfaatan subsidi b­enih untuk penyediaan varietas unggul. D­engan demikian. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) program benih tepat sasaran. dan (2) peningkatan peran UPBS. Sedangkan program yang mendesak untuk diimplementasikan adalah pene­ rimaan pegawai sesuai kebutuhan lembaga penelitian.

54 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). dan insektisida hayati. penggunaan bahan organik (pupuk kandang atau mulsa jerami­). Program pendukungnya adalah p­enerapan sertifikasi singkat dan tepat sasaran. Pada strategi WO. Kebijakan dan pro­ gram ini ditujukan untuk mengatasi masalah birokrasi yang panjang pada sistem sertifikasi saat ini yang memakan waktu paling cepat satu b­ulan. benih dasar dan benih pokok pada tingkat BBI-BBU dan benih sebar pada tingkat penangkar. Program ini bisa dihidupkan lagi dengan memperbaiki sistem perbenihan mulai dari benih inti dan benih sumber pada Balit Nasional. kebijakan yang dibutuhkan adalah fasilitasi pelatiha­n penangkar benih di tiap daerah. dan input kimiawi. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Contoh bentuk teknologi tersebut antara lain adalah budi daya benih kedelai tanpa olah tanah (zero tillage­ ). Sedangkan program yang r­elevan untuk merealisasikan kebijakan tersebut adalah pelatihan p­enangkar benih di tiap daerah. Kebijakan ini untuk menanggulangi keterbatasan dan mahalnya sarana produksi dalam upaya pengembangan teknologi hemat biaya ( least cost technology ) untuk produksi benih unggul. Dalam rangka pembinaan penangkar benih lokal. Kondisi ini kurang kondusif bagi i­ndustri benih kedelai di Indonesia. yaitu hanya dua bulan. umur sertifikat benih kedelai hanya tiga bulan sejak mulai pengujian. sehingga masa penjualan benih relati­f singka­t. kebijakan yang tertapis dan dominan adalah perbaikan dan penye­ derhanaan peraturan sertifikasi. tenaga kerja. Sementara itu. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan penangkar benih dalam memproduks­i benih kedelai bermutu. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Kunci keberhasilan yang pernah dicapai Indonesi­a pada awal tahun 1990an adalah adanya program jalur benih antara musim dan lapang (Jabalsim). air. Program yang terkait dengan kebijakan ini adalah pengembangan teknologi produksi benih hemat lahan.

Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah introduksi teknologi biaya rendah u­ntuk menekan biaya produksi. tenaga kerja. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). Alternatif kebijakan yang diformulasikan adalah intensifikasi kedelai untuk meningkatkan produktivitas. Sedangka­n p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan ini adalah: (1) penyediaan kredit dan pendampingan untuk penerapan teknologi PTT. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan peningkatan produktivitas adalah penggunaan varietas u­nggul dan pemupukan berimbang yang dikemas dalam pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT). 55 . Kebijakan yang terkait adalah: (1) pengembangan teknologi PTT. (3) mengurangi kehilangan hasil. Kegiatan lain yang juga perlu mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan produksi. dan input kimiawi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kedelai di tingkat petani. Alternatif kebijakan yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampila­n tenaga penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT dan anomali iklim. dan (4) pemanfaatan potensi genetik tanaman melalui kemajuan iptek pertanian. Kebijakan dan program sistem produksi Kebijakan dan Program Agresif (SO). Sedangkan program dibutuhkan untuk mendukung k­ebijakan tersebut adalah pelatihan penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT serta anomali iklim. (2) meningkatkan stabilitas hasil melalui peringatan dini terhadap ledakan hama dan penyakit maupun anomali iklim. air. dan (2) perluasan areal tana­m untuk meningkatkan luas panen dan produksi kedelai. Sedangkan program pendukung yang r­elevan adalah budidaya kedelai hemat lahan. dan (2) penanaman kedelai pada musim kering di lahan tidur. antara lain: (1) menekan senjang hasil antara tingkat penelitian atau pengkajian dengan tingkat petani. Kebijakan dan Program Defensif (WT).

Sedangkan p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan yang bersifat konsolidatif adalah pelatihan pengolahan kedelai menjadi produk olahan. dan (2) revitalisasi fungsi dan peran penyuluh dalam alih teknologi panen dan pascapanen. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pelatihan pengolahan hasil bagi petani untuk menekan kehilangan hasil panen. Sedangkan program yang relevan untuk mendukun­g kebijakan tersebut adalah: (1) demonstrasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. dan (2) peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur guna 56 . Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . 5. Kebijakan yang diperlukan adalah: (1) perbaikan jaringan transportasi untuk memperlancar arus barang. Alternatif kebijakan yang terkait adalah penigkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan hasil panen. Alternatif kebijakan yang diperlukan untuk merealisasikan strategi ini adalah: (1) promosi t­eknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 4. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) optimalisasi pe­ nyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolah kedelai. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen. dan (2) optimalisasi penyaluran kredit lunak untuk alsintan. Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pe­ ngadaan alat pengolahan. Kebijakan yang terkait untuk menekan kehilangan hasil adalah pengembangan i­ndustri r­umah tangga untuk pengolahan kedelai. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Kebijakan dan program distribusi dan pemasaran Kebijakan dan Program Agresif (SO). dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsin­ tan praproduksi dan produksi. Kebijakan dan Program Defensif (WT). dan (2) pelatihan penyuluh dalam teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan dan program panen dan pascapanen Kebijakan dan Program Agresif (SO) .

Kebijakan dan program ini di­ butuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meng­ konsolidasikan manajemen distribusi dan pemasaran yang secara internal masih banyak kelemahan dan ancaman dari faktor eksternal pun masih cukup banyak. Alternatif kebijakan yang sesuai adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolahan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengadaan dan per­ baikan sarana angkutan darat. Kebijakan dan Program Defensif (WT ). Sedangkan program yang dibutuhkan untuk men­ dukung implementasi kebijakan tersebut di atas adalah pengadaan dan perbaikan sarana angkutan darat. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsintan praproduksi dan produksi. Alternatif kebijakan yang terkait adalah peningkatan pelaksanaan dan pengawasan tarif impor. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . dan (2) pembangunan dan perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran pemasa­ ran hasil industri pangan. dan (2) peningkatan kemampuan dan keterampila­n petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. laut dan udara. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) demon­ strasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. 6. Alternatif kebijakan yang terkait adalah perbaikan jaringan transportasi untuk menekan biaya transportasi. Kebijakan dan program kelembagaan Kebijakan dan Program Agresif (SO).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI mendukung pengembangan industri pedesaan. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebi­ jakan tersebut adalah peningkatan kualitas SDM dan fasilitas dalam pelaksanaan pengawasan tarif impor. dan (2) pelatihan penyuluh dalam bidang teknologi panen dan pascapanen. Alternatif kebijakan yang diperlukan adalah: (1) pengembangan teknologi siap terap sebagai b­ahan penyuluhan. Sedangkan 57 . laut dan udara. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) .

Alternatif kebijakan yang terkait adalah revitalisasi kelembagaan permodalan dan alih teknologi. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengembangan pola kemitraan dalam penyediaan sara­ na produksi dan pemasaran hasil. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut adalah pengembangan lembaga keuangan mikro ( micro finance ) guna mendukung alih teknologi. dan (2) demplot inovasi teknologi baru dengan melibatkan peneliti-penyuluh-kelompok tani. Alternatif kebija­ kan yang sesuai adalah: (1) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai progra­m yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) penyebarluasan teknologi siap terap dan alat peraga bagi penyuluh. dan (2) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. 58 . Kebijakan dan Program Defensif (WT) . Alternatif kebijakan yang terkait adalah percepatan revitalisasi kelompok tani guna m­eningkatkan kepercayaan petani. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Sedangkan program yang dibu­ tuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pemberdayaan kelompo­k tani melalui konsolidasi manajemen kelompok dan p­enguatan modal kelompok. dan (2) pelatihan petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil.

Peluang peningkatan produksi kedelai menuju swasembada masih cukup besar terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan area panen.02. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Menengah Kedelai merupakan salah satu komoditas industri baik industri pangan maupun pakan. PETA JALAN MENUJU PENCAPAIAN SASARAN PENGEMBANGAN A. peta jalan menuju pencapaian sasaran jangka menengah peningkat­an produksi kedelai diawali dengan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemu­ kan inovasi teknologi baru pada m­asing-m­asing agroekosistem.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI VII. belum tersedianya benih bermutu secara luas dan belum diadopsinya teknologi spesifik lokasi secara luas turut berpe­ran menyulitkan upaya peningkatan produktivitas kedelai.6 juta ton. dukungan kebijakan dan program pengembangan yang kondusif yang mampu memberikan insentif bagi petani kedelai untuk meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan. Varietas unggul baru (VUB) kedelai yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian. Berkurangnya luas areal tanam adalah penyebab utama menurunnya produksi sekalipun produktivitas dapat ditingkatkan. Produksi kedelai nasional cenderung menurun sejak tercapainya produksi tertinggi pada tahun 1992 yang mencapai sekitar 1. Usahatani kedelai dihadapkan kepada resiko yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lain sehingga kurang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat on farm. Untuk memanfaatkan peluang tersebut diperlukan strategi. Rendahnya produktivitas di tingkat petani antara lain disebabkan oleh penggunaan varietas lokal setempat dengan hasil rendah dan penggunaan benih produksi sendiri oleh petani. Oleh karenanya. Ancaman lain terhadap upaya peningkatan produksi kedelai adalah harga kedelai im­ por yang lebih murah dan mudah diperoleh.5 ton biji kering/ha. Namun peningkatan produktivitaspun sangat lambat dan sulit karena belum ditemukannya varietas unggul baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata. menunjukkan potensi hasil yang berkisar antara 2. Di sisi lain. Secara simultan program litbang diikuti dengan diseminasi dan promosi inovasi 59 . Kondisi ini makin mendorong menurunnya produksi kedelai domestik pasca 1992.

Peng­ kayaan materi genetik dan plasma nutfah sangat penting untuk perbaikan varietas unggul baru untuk masing-masing agroekosistem. (3) program aksi atau scaling up. Selanjutnya. Untuk lebih memacu upaya peningkatan produktivitas. maka kedelai perlu diusahakan terinte­ grasi dengan komoditas lain termasuk ternak dalam suatu pola usahatani terpadu. untuk menekan risiko dalam usahatani dan memper­ luas sumber pendapatan petani. kedelai dapat diusahakan terintegrasi de­ngan tanaman lain seperti ubi kayu. (2) diseminasi inovasi tekno­ logi. dan (5) pembentukan jaringan pasar. (4) program masalisasi (produksi nasional). Secara simultan dilakukan perakitan teknologi produksi dengan pendeka­ tan PTT. jagung dan aneka k­acang lainnya. s­edangkan 60 . VUB kedelai tipe baru akan menjadi salah satu program unggulan ke depan. Perakitan VUB juga dirancang atas dasar kesesuaian terhadap preferen­ si dan selera pengguna serta permintaan pasar (demand driven). VUB yang akan dihasilkan juga dirakit dengan pertimbangan setelah dilepas varietas tersebut mampu menciptakan pasar (demand driving). Sisa tanaman pada saat panen dapat dijadikan pakan ternak terutama pada musim kemarau. Sedangkan perakitan VUB baru kedelai masih diprioritaskan un­ tuk mencapai target hasil per hektar mendekati potensi genetiknya. Program litbang diawali dengan pembentukan database dan deli­ neasi lahan-lahan potensial yang sesuai untuk pengembangan kedelai. Peta jalan menuju penca­ paian sasaran jangka menengah menggambarkan lima program utama yaitu: (1) penelitian dan pengembangan. Kedelai juga sangat potensial diusahakan dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai teknologi baru baik VUB maupun PTT kedelai di lahan kering maupun la­ han sawah. Pada hirarki ke-4 dan ke-5 masing-masing adalah calon penerima manfaat dan dampak yang diharapkan. Pada lahan kering. Di sisi lain. Peta jalan pengembangan kedelai perlu dibuat secara cermat agar tahapan pengembangan dan langkah-langkah operasional tetap berada pada upaya pencapaian swasembada kedelai. padi gogo. diikuti dengan pembentukan jaringan pasar (Gambar 4). Perakitan va­ rietas kedelai yang lebih toleran terhadap lahan kering masam dan lahan kering beriklim kering tetap menjadi prioritas untuk membantu petani agar memiliki pilihan varietas yang lebih luas dalam melakukan usahataninya.

Pemasaran kedelai di tingkat petani umumnya adalah dalam bentuk biji kering. diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mela­ kukan agribisnis kedelai. Di sisi lain penganekaragaman produk olahan berbahan baku kedelai perlu diperluas dengan memperkuat jaringan pasar produk kedelai. dan demontrasi di lahan petani ( dem-farm). ekspose. kegiatan difokuskan kepada upaya untuk mempercepat penyebaran dan adopsi inovasi teknologi. korporasi. nilai tambah dari penanganan hasil ini dapat langsung diminati oleh petani sekaligus me­ ningkatkan posisi tawar petani. pameran. Selain dengan memperagakan secara langsung di lahan petani. Program ini dapat dilakukan dengan penyuluhan langsung pada petan­i.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI pupuk kandang dan kompos sisa tanaman dapat dijadikan p­upuk organik untuk memperkaya kandungan bahan organik dalam tanah. pengembangan jaringan pasar perlu dilaku­ kan melalui penyediaan informasi pasar yang cepat dan akurat termasuk market intelligence dan membangun database tentang perkembangan pasar komoditas unggulan masing-masing daerah termasuk kedelai. Kinerja manajemen usaha pengolahan kedelai harus terus ditingkatkan sehingga bisnis komoditas ini dapat bersaing dengan bisnis komoditas lainnya sehingga kedelai mampu merebut kembali keunggulan kompetitifnya di tingkat on farm. Dengan demikian. Usaha berkelompok dapat dilakukan oleh petani dalam bentuk koperasi. leaflet dan bookle­t dengan bahasa yang mudah mengerti oleh petani. pemasyarakatan inovasi teknologi kedelai juga dapat dilakukan melalui mass-media baik c­etak maupun elektronik. atau asosiasi yang berbadan hukum. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses kelompok usaha agribisnis kedelai terhadap sumber modal. Pada hirarki berikutnya. masalisasi atau program nasional dan diversifikasi pengembangan produk olahan di tingkat pedesaan. Demon­ strasi teknologi di lahan petani dapat meliputi antara lain: teknologi budidaya dan teknologi penanganan hasil panen dan pascapanen termasuk pengolahan hasil sekunder. 61 . Dari aspek diseminasi dan promosi. Pengembangan kedelai juga harus d­iikuti d­e­ ngan program aksi. Penerbitan dan penyebarluasan brosur. Na­ mun pada jangka menengah petani didorong untuk mampu menciptakan nilai tambah baik secara individu maupun berkelompok. misalnya dalam bentuk korporasi pengolahan kedelai.

62 AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 4. Peta jalan (road map) menuju sasaran jangka menengah (5 tahun ke depan) pengembangan kedelai. .

pengusaha yang bergerak di bidang industri pengolahan juga mendapat keuntung­ an dari proses peningkatan nilai tambah dan jaminan pasokan bahan baku melalui pola kemitraan yang disepakati oleh kedua belah pihak. Konsumsi kedelai diproyeksikan meningkat 2. Dengan demikian muara dari manfaat tersebut adalah meningkatnya pendapatan dan kesejah­teraan rumah tangga tani dan masyarakat pedesaan. penerima manfaat dari upaya pening­ katan produksi kedelai adalah petani produsen yang mengembangkan sistem integrasi tanaman ternak dalam usaha tani terpadu bebas lim­ bah (SITT-BL). Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Panjang Sasaran jangka panjang pengembangan kedelai adalah berkem­ bangnya industri pengolahan baik untuk pakan maupun industri pa­ ngan di pedesaan yaitu antara 2.5-5. Di sisi lain. (4) keterkaitan regional (pewilayahan komoditas u­nggulan dan i­ndustri pengolahannya).0-2. juga petani dalam pola kemitraan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Empat keterkaitan utama dapat dilihat antara lain: (1) keterkaitan i­nstitusional (kelembagaan). (2) keterkaitan horisontal (diversifikas­i horizontal­). memperluas sumber pendapatan. mengurangi risiko kegagalan dan sekaligus mempertahankan kesuburan tanah.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pada hirarki selanjutnya. pengem­ bangan industri pengolahan kedelai di pedesaan hendaknya memper­ hatikan daerah sentra produksi untuk menekan biaya transportasi kedelai s­ebagai b­ahan baku industri. Mela­ lui pengembangan model integrasi tanaman ternak ini petani akan mampu meningkatkan indek pertanaman dalam pola tanam setahun. Namun demikian. (3) keterkaitan vertikal (penciptaan nilai tambah melalu­i pengolahan hasil). Pengembangan diversifikasi vertikal melalui pengolah hasil tidak hanya bermanfaat bagi prosesor. Keempat keterkaitan tersebut 63 . Peta jalan menuju sasaran jangka panjang pengembangan i­ndustri pengolahan kedelai di pedesaan disajikan pada Gambar 5. Muara dari penca­ paian sasaran jangka panjang peningkatan produksi dan pengem­bangan industri pengolahan kedelai adalah tumbuh dan berkembangny­a nilai tambah dan ekonomi pedesaan.55% per tahun sampai 2025.0% per tahun. Sedangka­n pendapatan rumah tangga tani diperkirakan akan terus meningkat dan m­encapai US$ 2500/kk/tahun pada akhir program. B.

(3) penelitian dan peng­ kajian (litkaji) PTT kedelai untuk masing-masing agroekosistem atau yang bersifat spesifik lokasi. (4) k­onsolidasi manajeme­n usaha agribisnis dalam bentuk sistem usaha agribisnis k­orporasi (integrate­d corporate agribusiness system. dan (4) integrasi kedelai ke dalam sistem usahatani terpadu di tingkat petani. baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang akan menjadi lintasan utama menuju peningkatan produksi dan pengembangan industri pengolaha­n kedelai di pedesaan. (2) revitalisasi program penyuluha­n untuk percepata­n prose­s diseminasi dan adopsi inovasi teknologi pertanian. Mengintegrasikan kedelai ke dalam sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL) terutama di lahan kering yang pada umumnya kurang subur dapat memperluas dan memperkuat sumber pendapatan rumah tangga tani di wilayah ini. 64 . (3) pemberdayaan kelembagaan permodalan pertanian. ICAS). PTT spesifik lokasi kedelai dapat menggunakan varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi yang mendekati potensi genetiknya. Sedangkan keterkaitan horizontal dalam pengembangan kedelai adalah pelaksanaan program peningkatan produksi dan pengemban­ gan industri pengolahan secara konsisten yang diawali dengan: (1) ka­ rakterisasi dan dileniasi agroekosistem yang sesuai (agro-ecosystem zoning. menguntungkan dan saling ketergantungan. Pengembangan sistem usahatani tumpang sari dalam pola seta­ hun pada sentra-sentra produksi kedelai. Keterkaitan institusional atau kelembagaan merupakan pra-syarat (pre-requisite) dan pilar utama pengembangan agribisnis komodita­s kedelai baik sebagai bahan baku maupun produk olahan industri p­angan maupun pakan. (2) varietal selection and testing. dan (5) pengembangan sistem agribisnis kemitraan yang saling membutuhkan.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai akan m­emberikan dampak positif bagi calon penerima manfaat baik di tingkat produsen maupun konsumen akhir. di wilayah surplus maupun defisit berupa arus barang dan jasa yang lancar. serta dikehendaki oleh kedu­a belah pihak. Semua hirarki dalam peta jalan tersebut. AEZ). Keterkaitan kelembagaan meliputi: (1) revitalisas­i kelemba­ gaan petani. Muara dan manfaat dari peta jalan tersebut ber­ ujung kepada membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan r­umah tangga tani dan masyarakat di pedesaan.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 5. Peta jalan (road map) menuju pencapaian sasaran jangka panjang 20 tahun ke depan. AGRO INOVASI 65 .

Pengembangan keterkaitan vertikal dalam produksi dan industri pengolahan kedelai dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah di tingkat petani melalui penerapan inovasi teknologi pengolahan hasil baik primer maupun skunder yang meliputi: (1) pengembangan diver­ sifikasi produk olahan kedelai. dan 3) pemanfaatan limbah pengolahan kedelai sebagai pakan ternak dan pangan seperti oncom sebagai salah satu sumber protein. dapat dilakukan melalui pola kemitraan dengan pihak swasta. Proses penciptaan nilai tambah ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi pedesaan. (2) pengembangan industri pengolahan di pedesaan. 66 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sedangkan pada lahan irigasi pada umumnya kedelai diusahakan setelah usahatani padi. Pengembangan SITT-BL. Program ini tentu harus dipicu oleh kebijakan yang bias kepada pedesaan. konsolidasi usaha antarpetani dalam bentuk kelompok usaha agribisnis terpadu (KUAT) yang dike­ mas ke dalam sistem usaha agribisnis korporasi terpadu (integrated corporate agribusiness system. ICAS) merupakan jalan keluar untuk meningkatkan posisi tawar petani dan segera keluar dari perangkap kemiskinan baik sementara maupun permanen. Kelancaran arus barang dan jasa akan memacu pertumbuhan ekonomi regional. Dalam hirarki keempat. Masih terbuka kemungkinan untuk memproduksi biogas melalui dekompos limbah samping dari sistem ini. limbah dan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk memperkaya bahan organik tanah. Untuk mendukung memasarkan hasil produksi dan produk olahan secara luas perlu penguatan dan peningkatan infrastruktur dan jasa angku­ tan antar pulau maupun wilayah. Sistem integrasi ini akan mendorong produksi produk sampingan secara in-situ seperti sisa tanaman sebagai pa­ kan ternak. Peningkatan aksesibilitas terhadap pasar diharapkan mampu meningkatkan arus barang dan jasa melalui perdagangan antara wilayah surplus dan wilayah defisit. Percepatan program pengembangan industrialisasi pedesaan akan memberikan arah pada pemanfaatan kedelai dalam menciptakan nilai tambah di pedesaan. Oleh karena itu. diperlukan dileniasi wilayah pengem­ bangan kedelai antar wilayah sebagai komoditas unggulan.

67 . Sasaran lain dalam pengembangan industri pengolaha­n kedelai adalah tersedianya lapangan kerja bagi angkatan kerja pedesaa­n guna mengurangi beban sektor pertanian yang selalu m­enjadi tumpuan terakhir dalam pemecahan masalah ketenagakerjaa­n.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Muara dari semua program yang dicanangkan tersebut di atas adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyaraka­t k­hususnya petani kedelai dan keluarganya serta masyarakat pedesaa­n.

KELAYAKAN INVESTASI Dalam upaya mencapai sasaran produksi yang ditargetkan s­eperti terlihat pada Tabel 6-8. Indonesia sudah mencapai swasembada kedelai.5%.50% per tahun. serta investasi untuk revitalisasi penyuluhan.07 juta ton.93% per tahun selama periode yang sama. dan skenario 3 ditargetkan untuk mencapa­i swasembada pada tahun 2025. bahwa untuk skenario 1. per­ tumbuhan areal panen ditargetkan menurun dari rata-rata 10% per tahu­n selama periode lima tahun pertama (2005-2010). dan sumur pantek untuk pengairan. Untuk mencapai sasaran pengembangan tersebut. Di tingkat usahatani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai VIII. Dengan skenario ini. Di samping itu. juga diperlukan investasi u­ntuk penelitian dan pengembangan (Litbang) dalam merakit teknologi baru. A. 5. dan keempat.25% per t­ahun selam­a periode 2005-2025.0%. sedangkan konsumsi kedelai dalam negeri diproyek­ sikan 3. pertumbuhan areal panen diharapkan rata-rata 6. dan 3. produktivitas ditargetkan tumbuh rata-rata 2. sehingga produksi diharapkan tumbuh rata-rata 8. Selama 20 tahun pengembangan. skenario 2. ketiga. mesin perontok. Untuk mencapai sasara­n dari ketiga skenario tersebut. dan skenario 3. Pada posisi tersebut.02 juta ton.5% per tahun berturut-turut pada periode lima tahu­n kedua. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 1 Seperti terlihat pada Tabel 5. s­kenario 2 pada tahun 2015. menjadi 7. S­kenario 1 menargetkan swasembada kedelai pada tahun 2020. pertumbuhan areal panen dan produktivita­s dirancang berbeda. yaitu skenario 1. bahkan terdapat surplus sekitar 50 ribu ton. maka ditempuh tiga skenario. diperluka­n berbagai investasi. diharapkan pada tahun 2020 produksi mencapai sekitar 3. pengering. 68 . diperlukan sarana dan a­lsintan seperti traktor. Masing-masing skenari­o m­empunyai target waktu pencapaian swasembada yang berbeda. Selain sarana fisik.

masih dibutuhkan biaya investasi untuk kegiatan penelitian dan pengembangan kedelai sebesar Rp 89 miliar. Diasumsikan umur ekonomi alsintan 5 tahun. Demikia­n juga untuk pengering yang dapat digunakan u­ntuk menge­ringkan berbagai komoditas pertanian. sehingga pembebanannya pada pengembangan kedelai sebesar 50%. kacang tanah atau s­ayuran. Selain pembelian. jagung. Investasi untuk a­lsintan dan sumur mulai dilakukan pada tahun awal berdasarkan luas areal pertanaman kedelai.73 triliun untuk mesin perontok. pembebanannya juga seperti pengering.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Investasi traktor digunakan untuk penanaman seluruh tanama­n semusim. seperti padi.73 triliun untuk mesin pengering. yaitu 30%. Untuk sumur. p­enggunaannya juga diharapkan pada 2 musim palawija. 69 . kedelai. Seperti terlihat pada Tabel 12. sehingga beban biaya i­nvestasi untuk kedelai diperkirakan 30% dari total nilai investas­i traktor. kebutuha­n investasi untuk pengembangan kedelai berdasarkan skenario 1 adalah seperti disajikan Tabel 12. sehingga bebannya 100% untuk kedelai.16 triliun. Untuk investasi penyuluhan. Secara keseluruhan. sehingga hanya 30% yang dibebankan pada pengembangan kedelai. dalam satu siklus pola tanam setahun. Sedangkan untuk mesin perontok dan investasi Litbang khusus digunakan untuk kedelai. total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kedelai selama 20 tahun ke depan berdasarkan skenario 1 adalah sekitar Rp 11. termasuk mesin pompa sumur pantek. bahwa investasi yang besar diperlukan pada tahun awal (2005) dan tiap lima tahun berikutnya.17 triliun untuk sumur pantek. dan Rp 4. dan Rp 54 miliar untuk kegiatan penyuluhan. Rp 3. Secara lebih rinci. sehingga setela­h berumur lima tahun dilakukan penggantian alsintan. Selama periode 20 t­ahun pengembangan. Rp 2. kumulatif biaya investasi yang dibutuhkan untuk kedelai secara kumulatif adalah sekitar Rp 393 miliar untuk traktor. juga dibutuhkan biaya pemeliharaan dan operasional yang nilainya masing-masing diperkirakan 5% per tahun dari biaya pengadaan alat. Sedangkan tahun-tahun di antaranya tambahan investasi dilakukan berdasarkan tambahan areal tanam kedelai. Selain itu.

00 452.95 3.69 486 2018 1.06 291.35 380.32 3.74 70.49 157.92 55. Dengan kata lain.03 115.85 2.79 2.813 1.454 22.09 47.29 3.40 313.73 6.67 1. nilai tambahan produksi yang dihasilkan dari investasi tersebut secara kumulatif adalah sekitar Rp 21.89 64.45 1.59 1.53 3.385 1.11 5.75 1.93 2.01 294 2012 1.456 26.30 53.95 219.55 2. sehingga ting­ kat pengembalian investasi (Return of Investment=ROI) sebesar 1.58 11.09 104.196 1.20 149.769 17.79 51.58 120 2007 688 1.752 1.79 699 2025 1.38 140.44 895 2016 1.19 99.88 2.287 33.47 128.86 3.635 1.113 1.72 24.94 212.321 21.76 1.46 3.42 126.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 12.88 2.94 401. Ini berarti bahwa tiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi diperoleh tambahan penerimaan dari nilai produksi sebesar Rp 1920.146 13.50 553 2006 626 1.160 3.65 130 2008 757 1.33 412 2015 1.82 34.74 149 2009 833 1.23 193.593 24.63 5.319 1.19 1.33 139.98 127.29 6.63 1.04 1.737 51.27 597 2022 1.80 273.97 3.39 870 3.02 3. 70 .948 11.22 366 2014 1.91 714 2011 963 1.71 1.57 454 2017 1.82 2.73 261.14 40.79 3.32 231.67 4.526 1.94 3.00 162.35 2.88 254.726 3.71 2.52 1.729 4.43 3.98 3.000 4.69 321.35 2.82 170 2010 896 1.580 1.63 203.07 113.61 245.64 200.61 660 2024 1.598 16.20 169.035 1.66 194.47 4.79 182.454 1.83 528 2019 1.63 1.85 91.47 544.11 325 2013 1. karena diperoleh keuntungan dari investasi sekitar 92% dari total biaya investasi.88 167.19 109.33 757 18.72 57.52 2.17 29.74 52.81 151.99 3.20 3.74 80.66 34.63 Total 393 2.438 15.90 177.92 191.28 2.64 5.876 1.149 4.44 623 2023 1.95 2.20 39.67 99.90 2.89 1.82 217.96 4.47 153.47 triliun.91 4.692 1.69 2.97 574 2020 1.51 6. Area Provitas Prod Investasi (Rp Milliar) Tahun (000 ha) (t/ha) (000 t) traktor perontok pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.61 2.96 3.94 3.193 20.61 147.77 325.92.768 10.92 157.57 138.256 1.604 9.083 2021 1.069 41.19 4.38 116.49 2.951 18.50 1.98 1330 Di sisi lain.73 3.00 188.169 89.12 1.07 2.73 177.37 2.321 5.20 214. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasar­ kan skenario 1. kegiatan investasi untuk pengembangan kedelai de­ ngan skenario 1 cukup layak dilakukan.

956 4.834 883 2.707 2.712 991 2.639 13.687 3.34 pada tahun awal menjadi 2.082 2.34 2006 120 1.330 5.048 260.153 16.45 2022 623 5.361 4.405 963 2.000 10.229 2.177 3.502 18.182 3. baik dalam pencapaian swasembada pada tahun ke-15.588 4.951 749 2.914 21. Jika program dilaksanakan pada tahun 2005.410 12.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dengan skenario ini.470 ROI = 1.137 22.213 1.202 636 1.411 3.998 3.703 9.088 2.905 5.958 1.663 11.92 71 .077 5.51 2016 454 3.01 2018 528 4.740 5.959 24.160 77.889 15.90 2017 486 4.05 2009 170 2.55 2023 659 5.05 2021 596 4.027 1.52 Total 11. yang dicerminkan oleh nilai perimbangan penerimaa­n terhadap total biaya (R/C).45 2013 366 3.51 pada tahun ke-10 program.183 7. dan 3. investasi ini juga cukup layak.255 3.401 6.822 17.579 5.439 6.68 2015 895 3.195 4. analisis kelayakan investasi berdasarkan skenario 1 disajikan pada Tabel 13.272 2.550 1.678 1.105 3.521 3.64 2024 699 5.497 1.065 2.794 1. Dengan demikian. dapat disimpulkan bahwa program pengembangan kedelai dengan skenario 1 layak dilakukan. dan R/C secara mikro.12 2019 574 4.255 5.421 4.94 2011 294 2.338 3.24 2020 1083 4. Secara lebih rinci.567 540 1.154 4.888 89.976 1. swasembada kedelai tercapai pada tahun ke-15.442 853 2.52 pada tahun ke-20 program.888 3.781 1.499 2.589 755 1.104 3.56 2014 412 3.492 1.976 1. maka swasembada dicapai pada tahun 2020.700 20. kriteria ROI secara makro. Tabel 13.34 2012 325 3.338 3. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 553 1.767 4.430 8. yaitu terus meningkat dari 1. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­er­dasarkan skenario 1.670 5.629 6.260 3. Secara mikro di tingkat usahatani.291 3.91 2008 149 2.721 1.631 21.267 1.74 2025 1.878 1.426 3.79 2007 130 2.19 2010 714 2.

82 2.07 2.97 3.63 3.35 127.768 22.01 469 2012 1.67 1.71 3.139 72 .28 2.135 2016 1.844 23.213 1.59 1.50 574 2006 640 1.22 611 2014 1.58 172 2007 720 1.22 112.446 6.959 1.65 201 2008 810 1.79 141. berdasar­ kan skenario 2 adalah seperti disajikan pada Tabel 14.69 827 2018 1.71 2.06 174.85 187.26 452.88 2.053.000 25.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai B. Rata-rata pertum­ buhan areal tanam selama 20 tahun program adalah 7.85 2.97 982 2020 1.57 762 2017 1.992 18.10 178.5% per tahun pada periode lima tahun pertama (2005-2010).61 1. 5%.018 1.046 4.21 4. dan 1.43 278.49 2.53 159.71 2.93 3.96 193. jika program dimulai tahun 2005.76 1.930 1.5% per tahun berturut-turut pada pariode lima tahun kedua.91 3.89 598.74 233 2009 911 1.08 362.84 3.96 6.57 580.50 1.28 487.97 3.03 5.80 2.44 963 2023 1.82 271 2010 1.35 2.873 1.398 22.88 6. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.95 180.67 99. pertumbuhan a­real t­anam adalah 12.52 1.336 15.041 2025 2.91 850 2011 1.01 46.55 600.356 2021 1.79 1.55 171.53 215.18 4.20 27.88 3.04 263.91 203.34 157.22 89.94 271.49 195.694 43.70 3.33 757 18.921 24. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 1.69 2.06 312.630 27.84 131.85 2.04 1.43 230.080 51.27 928 2022 1.230 5. Untuk mencapai sasaran tersebut.579.95 3.001 2024 2.39 890 4.48 38.02 190.81 3.89 1.54 55.003 1.35 5.46 3.82 33.59 526. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-10 program atau tahun 2015.33 139. yaitu rata-rata 2.62 4.618 1.622 23.67 4.01 4.90 3.628 Total investasi 435. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi ber­ dasarkan skenario 2.24 285.25% per tahun.21 115.40 66.468 1.048 1.927.61 3.334 1.63 1.39 6.95 2. Tabel 14.91 254.699 1.70 112.95 2.20 135.05 239.33 699 2015 1.807 35.45 98.072 13.838 11.98 1.52 2.988 1.91 173. Tahun Area Provitas Produksi Investasi (Rp.58 16.92 84.94 3.189 20.103 1.634 17.75 2.32 3.47 97.14 2.12 1.902 1.44 1.19 1. Miliar) (000 ha) (t/ha) (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.784 1.77 321. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program.11 209.79 2.36 145.87 297.33 5.51 39.20 3.87 418.73 3.94 562.99 4.40 180.21 8.11 535 2013 1. ketiga dan keempat.67 544. selanjutnya 10%.02 3.30 190.25% per tahun selama periode 2005-2025. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 2 Dalam skenario 2.06 3.49 152.83 901 2019 1.25 944.26 200.26 421.45 1.88 323.62 769.541 1.63 1.98 4.30 53.31 47.96 3.

Seperti halnya pada skenario 1. Kemudian laju peningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5. Karena setiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program. Rp 3. Sedangkan biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 2 adalah masing-masing Rp 436 miliar untuk traktor. Untuk mencapai sasaran tersebut. pertumbuhan areal t­anam adalah 7. yaitu rata-rata 2. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 2.99 pada awal tahun. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 3 Dalam skenario 3.93 tri­liun untuk sumur pantek.0% dan 3. kemudian meningkat menjadi 4. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-17 program atau tahun 2022. Angka ini menunjukkan bahwa program pengem­ bangan kedelai dengan menggunakan skenario 2 sangat layak.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dari Tabel 14 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.14 triliun. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.25% per tahun selama periode 2005-2025. Rp 3.58 triliun.05 triliun untuk mesin perontok. dan setiap lima tahun berikutnya.63 pada tahun ke-20. kegiatan investasi ini juga sangat layak. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1. 73 . seperti disajikan pada Tabel 15. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C. secara kumulatif total biaya investasi yang dibutuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 16. yaitu 1.25% masing-masing untuk periode 20152029 dan 2020-2025 (Tabel 15). Dari sisi usahatani secara mikro.58 triliun untuk mesin pengering. Dengan demikian.20. C. Dengan d­emikian. berdasarkan s­kenario 3 adalah seperti disajikan pada Tabel 16. diperoleh tam­ bahan penerimaan Rp 2. jika program dimulai t­ahun 2005. pada tahun-tahun diantaranya investasi dilakukan berdasarkan tambahan a­real tanam. dan Rp 8. Dari segi penerimaan.5% per tahun pada periode 2005-2009 dan periode 20102014.07 pada tahun ke-10 dan 6.200.

597 2020 1.855 5.70 3.122 7.624 4.566 1.824 23.965 6.139 74 . Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai ber­ dasarkan skenario 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 15.593 1.353 5.491 3.463 35.553 1.281 2.925 6.629 574 1.729 28.663 3.758 5.787 1.576 ROI = 2023 1.61 2.39 3.695 1.361 2.734 3.723 4.061 6.992 25.103 19.6540 2.005 (Rp M) 5.34 4.095 7.620 5.602 7.966 7.659 2015 1.041 2025 1.430 2.54 3.79 2.600 38.707 201 233 271 850 469 535 611 699 762 827 901 982 928 963 2.858 11.055 6.628 Total 16.617 5.705 5.103 1.003 4.404 4.164 35.74 4.945 1.19 2.737 5.16 2. 1.13 5.20 4.574 1.99 6.160 2.308 3.87 3.401 2006 172 1.253 6.614 17.176 2.65 4.008 3.98 3.352 9.096 1.064 1.106 30.639 4. Tahun 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2016 2017 2018 2019 2021 2022 Biaya Invest Biaya Variable Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C (Rp M) 2.87 3.093 2.749 455.530 36.145 90.49 4.920 3.703 2.301 2.19 4.078 5.790 5.377 2.777 12.55 5.541 .877 5.174 14.116 1.356 32.135 21.27 5.840 6.098 5.368 1.001 2024 1.773 10.472 (Rp M) 931 2.991 4.561 1.41 5.672 40.399 33.778 1.718 6.00 5.

74 61. Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Area Provitas Produksi Investasi (Rp.23 149.65 132 2.32 98.63 1.28 515.35 3.88 2018 1.01 35.49 4.27 89.21 113.007 3.015 1.99 178.97 3.958 11.93 2020 1.29 151.53 298.95 5. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 3 adalah masing-masing Rp 368 miliar untuk traktor.28 2013 1. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasarkan skenario 3.14 159.634 1.392 1.612 25.21 2.438 1.90 313.24 3.74 146 3.50 1.28 4.582 1. Rp 3.54 31.34 146.89 31.60 251.07 4.898 19.525 16.74 2.98 1.326 1.39 658 1.36 2014 1.73 850 955 3.79 723 298 330 366 407 918 479 517 559 606 639 672 707 746 707 1.17 635.32 49.45 21.70 9.00 196.98 2025 1. dan setiap lima tahun berikutnya.263 1.47 39.56 40.97 135.66 3.11 100.52 3.01 162.54 139.429 4. Rp 2.59 1.47 114.88 4.50 78.238 3.37 261.96 2023 1.57 2. 75 .27 3.01 2. Sedangka­n biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar.61 46.80 56.46 5.01 194.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 16.99 triliun untuk sumur pantek.62 69.52 1.687 1.203 1.20 5.79 1.657 Dari Tabel 16 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.71 4.66 triliun.58 11.73 triliun untuk mesin perontok.90 239.90 177.55 372.67 1. dan Rp 4.69 2.44 3.20 133.76 200.11 273.89 1.42 51.46 124.01 162. secara kumulatif total biaya investasi yang di­butuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 11.06 198.79 67.06 327.086 32.97 210.21 8.22 2.97 2024 1.08 148.382 53.35 2.73 6.33 612 1.06 212.91 3.727 40.328 878 1.75 1.63 1.74 153.692 17.43 triliun untuk mesin pengering.484 1.86 4.96 417.121 3.70 209.121 3.81 285.091 1.39 2.370 15.71 1.04 1.76 1.30 2.45 (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 757 18.67 165.76 3.17 222. Miliar) (000 ha) (t/ha) 569 1.533 1. Dengan demikian.83 87.223 14.33 2.44 2.83 2.990 305.463 944 1.68 2.11 2.94 223.90 2019 1.51 21.793 3.94 2021 1.99 Total investasi 368 2.14 129.02 6.87 35.205 817 1.61 3.82 2016 1.95 2022 1.777 10.63 2.32 2015 1.50 626 2.69 3.45 236.06 298.12 1.36 2.82 162 3.17 20.14 89.58 119 2.073 760 1.360 2.55 3.32 6.16 123. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.09 260.85 2017 1.19 1.49 28.03 168.145 1.

782 22.634 2.537 20.835 1.177 4.451 4.499 1. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2.930 4.789 4.020 792 2.68 2007 132 1.857 5.202 1. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.333 4.68 pada tahun ke-10 dan 5.60 2019 606 4.059 1.669 1.747 5.813 1. Dengan demikian.932 10.681 3.62 triliun.162 11.13 Total 11.122 1.024 1.44.77 2020 1.657 71.679 14.81 2014 407 3.544 5.44 2018 559 3. yaitu 1.273 3.86 2008 146 2.975 5.182 1.270 27.000 biaya yang dikeluarka­n u­ntuk investasi.121 4.818 1.061 6.07 2022 672 4. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­erdasarkan skenario 3.121 2.015 1.982 1.13 pada tahun k­e-20.642 5.280 2.436 4.313 5.973 2.174 9.47 2012 330 2.44 76 .355 3.050 3.228 688 2. diperoleh tambahan penerimaan Rp 2.455 1.746 5.21 2023 707 4. seperti disajikan pada Tabel 17.50 2025 1.27 2010 723 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Dari segi penerimaan.451 3. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C.382 5.47 2021 639 4. Angka ini menunjukkan bahwa program pengembangan kedelai dengan menggunakan s­kenario 3 sangat layak.707 2.481 4.64 2013 366 3.488 3.088 17.889 1.95 pada awal tahun.411 12.832 3.318 3.617 4.988 1.978 4.092 25. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Prod N.434 24.355 16.504 1. Tabel 17.541 1.034 1.306 19.35 2024 746 4.442 7.767 4.68 2016 479 3.Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 626 1.901 5.95 2006 119 1. Karena setiap Rp 1.453 5.608 4.442 33.033 2.209 82.167 3.267 6.932 912 3.84 2011 298 2. Dari sisi u­sahatani secara mikro. kemudia­n meningkat menjadi 3.598 5.270 1.06 2009 162 2.105 6.494 ROI = 2. kegiatan investasi ini juga sangat laya­k.044 3.454 29.440.647 31.247 28.28 2017 517 3.99 2015 918 3.954 5.866 356.

anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) dalam rangka menghasilkan teknologi tepat guna. kecap. pem­ buatan fasilitas irigasi dan jalan mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri. Percepatan alih teknologi/diseminasi hasil penelitian. PTT kedelai perlu diimplementasikan di daerah sentra produksi kedelai di Indonesia.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI IX. Pengembangan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian secara umum (pembukaan sawah/lahan pertanian baru. Kebijakan makro mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri dengan memberlakukan tarif impor yang cukup tinggi dan menetapkan harga kedelai terendah di tingkat petani yang sesuai dengan perkembangan pasar agar keuntungan yang diperoleh petani layak dan memadai. susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi sesuai dengan tuntutan konsumen. 77 . Percepatan penerapan teknologi di ting­ kat petani melalui revitalisasi tenaga penyuluh pertanian. 5. 4. tauco. IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi kebijakan pengembangan kedelai untuk mening­ katkan produksi kedelai dalam negeri meliputi: 1. Penyediaan kredit usaha perbenihan bagi produsen dan calon produsen benih. Kemudahan prosedur untuk mengakses modal kerja (kredit usaha) bagi petani dan swasta yang berusaha dalam bidang agribisnis kedelai. 2. 3. manajemen usaha perbenihan serta pengembangan pemasaran benih. Pembinaan/pelatihan produsen/penangkar benih dalam aspek teknis (produksi benih). 7. Kebijakan alokasi sumber daya (SDM. Mendorong/membina pengembangan usaha kecil/rumah tangg­a dalam subsistem hilir (pengolahan produk tahu. tempe. 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful