Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

I. PENDAHULUAN
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai berperan sebagai s­umber protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kebutu­han kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan se­ perti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebaga­inya­. Konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,13 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebu­ tuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus, mengingat potensi lahan cukup luas, teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, pening­katan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra­ struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam ne­ geri untuk menekan laju impor. Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor. Berkembangnya industri pangan 

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

berbahan baku kedelai membuka peluang kesempatan kerja dimula­i dari budidaya, panen, prosesing, transportasi, pasar sampai pada industri pengolahan. Agar produksi kedelai dan olahannya mampu bersaing di pasar global, maka mutu kedelai dan olahannya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembinaan dan pengembangan dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran­ nya, khususnya penerapan jaminan mutu terpadu sejak tahapan budi daya hingga penanganan pascapanen. 

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

II. KONDISI KEDELAI SAAT INI
A. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990-1995, areal panen kedelai meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 1,48 juta ha pada tahun 1995, atau meningka­t rata-rata 2,06% per tahun. Sejak tahun 1995, terjadi penurunan a­real panen secara tajam dari sekitar 1,48 juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata 11% per tahun. S­elama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih terus menurun ratarata 9,66% per tahun. Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 1. Sebagai sumber protein nabati, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan, yaitu tahu, tempe, kecap, tauco, susu kedelai, dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11,38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8,97 kg/kapita pada tahun 2004, atau menu­ run rata-rata 1,69% per tahun. Penurunan terjadi sejak tahun 1995. Selama periode 1995–2000, konsumsi per kapita menurun dari 11,82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10,92 kg/kapita pada ta­ hun 2000, atau turun rata-rata 1,57% per tahun. Selanjutnya, penu­ runan paling tajam terjadi pada periode 2000–2004, yaitu rata-rata 4,81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang berarti, Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar. Artinya, bahwa Indonesia akan makin tergantung dengan impor untuk menutupi defi­ sit. Indonesia selalu mempunyai net impor yang meningkat dari se­ kitar 0,54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1,31 juta ton 

peningkatan efisiensi produksi. serta pengaturan tataniaga dan i­nsentif usaha. perbaikan akses pasar.8 0. perbaikan sistem permodalan. Perkembangan areal tanam. Keadaan demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus. peningkatan n­ilai tambah.4 1. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan terus meningkat. Mengingat penurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penurunan total konsumsi. dan produksi kedelai di Indonesia. perluasan areal tanam. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelum tahun 1976. penguata­n kelembagaan petani. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivita­s.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai pada tahun 2004.2 0 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 Areal (juta ha) Produktivitas (t/ha) Produksi (juta ton) Gambar 1. 2 1. peningkatan kualitas produk. produktivitas. m­engingat potensi lahan cukup luas. pengembangan infrastruktur.6 1.  . de­ ngan indeks swasembada lebih besar dari satu.8 1.4 0.2 1 0. teknologi telah banyak tersedia dan SDM handal cukup tersedia.6 0.

berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang e­t al. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunaka­n elastisitas pendapatan.67% per tahun. Pertumbuhan harga masing-masing komoditas menggunakan data FAO 1991–2002. namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri. sedangkan pertumbuhan pendapatan per k­apita menggunakan data BPS (2002). pertumbuhan penduduk adalah 1. Permintaan Kedelai Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup tinggi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI B. maka proyeksi konsumsi per kapita dan total konsumsi kedelai sampai 2025 adalah seperti disajikan pada Tabel 1. elastisitas harga kedelai. Selanjutnya. Selama periode 1990–2004. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. sehingga harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar. Dengan menggunakan elastisitas yang ada.  . Harga kedelai impor yang murah dan tidak adanya tarif i­mpor menyebabkan tidak kondusifnya pengembangan kedelai di dalam negeri.03% per tahun. (2003). dan elastisitas s­ilang harga komoditas lainnya. Proyeksi jumlah penduduk dilaku­kan dengan menggunakan pertumbuhan penduduk dengan tingkat yang makin rendah.

833 2.016 2.270 1.58 2009 9.494 1.687 1.896 2.402 1.559 1.97 2013 10.46 249.316 1.291 2.37 260.090 1.20 2005 9.34 263.40 256.646 2.67 224.440 1.12 2024 11.407 2.380 1.61 232.740 1.102 1.585 2.58 235.79 2021 10.210 1.089 3.  .04 295.35 juta ton pada tahun 2025.770 2.31 267. 221.52 242.069 2.81 juta ha pada tahun 2015.58 2019 10.71 juta ton pada tahun 2015 dan 3.47 2018 10.5 ton/ha bisa dicapai.708 2.22 276.55 239. Proyeksi konsumsi kedelai di Indonesia. Tantangan­ nya adalah bagaimana mencapai areal tanam seluas itu. dan 2.024 3.231 1. maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 1.11 2004 9. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 1.43 253.23 2025 11.13 286.835 1.39 2007 9.37 2017 10.87 2012 9.874 1.02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2.10 289.24 juta ha pada tahun 2025. tahun 2003–2025.903 1.67 2010 9.01 Dari Tabel 1 terlihat bahwa total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2.377 1.64 228.34 Sumber: perhitungan proyeksi penulis.28 270.19 280. sementara lahan yang tersedia terbatas dan digunakan untuk berbagai tanaman palawija.480 1.235 2.219 3.352 2003 9.466 2.29 2006 9.349 2. Tahun Konsumsi/ kapita Proy Pddk (kg/th) (000 jiwa) Pertumbuhan Total Konsumsi pddk (000 ton) (%) 2.48 2008 9.526 1.16 283.49 246.525 2.154 3.90 2022 11.27 2016 10.997 1.860 1. terutama yang lebih kompetitif.07 292.571 1.726 1.07 2014 10.17 2015 10.179 2.286 3.68 2020 10.77 2011 9.124 2.960 3.25 273.01 2023 11.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 1.

dan organism­e pengganggu tanaman (LATO) telah tersedia. panen dan pascapanen dengan alsinta­n mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai de­ngan p­otensi g­enetiknya. D. Pengelolaan LATO d­imaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas dapat terekspresikan secara optimal. umur genjah. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO (lahan.  . dan organisme p­engganggu). Areal pertanaman kedelai tersebar di seluruh I­ndonesia dengan luas masing-masing seperti disajikan pada Tabel 2. Teknologi produksi meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan. pemberian air yang cukup. Sekitar 60% areal pertanam­an kedelai terdapat di lahan sawah dan 40% lainnya di l­ahan k­ering. air. Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian be­ sar petani belum menggunakan benih unggul dan teknik pengelolaa­n tanaman masih belum optimal.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI C. Varietas unggul memi­ liki sifat seperti hasil tinggi. pembuatan saluran drainase. tanaman. Profil Usaha Tani Tanaman kedelai merupakan tanaman cash crop yang dibudi­ dayakan di lahan sawah dan di lahan kering. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. tanaman. dan tahan/toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkunga­n fisik). Profil Teknologi Kedelai Senjang produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. air. pengendalia­n hama dan penyakit dengan sistem PHT. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribus­i yang signifikan dalam meningkatkan produksi.29 t/ha) dengan potensi genetik tanaman masih cukup tinggi (potens­i genetik >2 t/ha).

665.255 1. Penurunan areal tanam ada kaitannya dengan banjirnya kedelai impor sehingga nilai kompetitif dan komparatif tanaman kedelai merosot.00 Tabel 2 menunjukkan bahwa luas areal tanam mencapai p­uncaknya tahun 1992.148 152.39 9.048.388 124.714 28.48 0.81 3.650 52.  .00 526.53 juta ha pada tahun 2003. Secara finansial.86 879.987 5.031 % 7.346 9.36 0.896 374.14).796 100.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 2.944 22.15 7.82 14.06 1.500/ha (R/C 2.76 71.96 Jumlah 1. Namun sejak tahun 2000 a­real tanam terus menurun menjadi 0.551 5. yaitu 1.706 100. usahatani kedelai di tingkat petani cukup menguntungkan dengan pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp 2. Penyebaran areal kedelai menurut wilayah Wilayah 1992 2003 ha % ha Sumatera Jawa Kalimantan Bali & NTB Sulawesi Maluku & Papua 480.591 73.32 40.67 juta ha.04 4.

Varietas unggul (Tabel 3) merupakan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian yang mudah diadopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI III. A. Aspek penelitian dan pengembangan Potensi kedelai berdasarkan aspek penelitian dan pengem­ banga­n cukup menjanjikan. Potensi 1.  . penanganan panen dan pascapanen. Upaya s­osialisasi penggunaan varietas unggul sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. hingga saat ini baru 10% petani yang menggunakan b­enih varietas unggul yang berlabel. pemberian air yang cukup. Inovasi teknologi dengan penggunaan b­enih bermutu. POTENSI. Masalah­nya. dan peluang dalam pengembangan kedelai dipilih berdasarkan aspek penelitian dan pengembangan (litbang). Rakitan varietas unggul baru mampu meningkatkan produktivitas >2 t/ha. pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. pembuatan saluran drainase. kendala. Varietas unggul kedelai tersebut merupakan faktor produksi yang penting untuk diterapkan pada peningkatan produktivitas. sistem produksi. serta kelembagaan. KENDALA DAN PELUANG Potensi. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan tek­nik pengelolaan LATO. Perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi dan toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai. distribusi dan pemasaran. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. Varietas unggul yang dikemas dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dapat meningkat­ kan hasil dan pendapatan petani.

5 Kaba 2.7 *UG=ulat grayak Umur (hari) 88 85 85 87 85 85 88 89 91 90 90 Ukuran biji Sedang Sedang Besar Besar Besar Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Adaptasi Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah Lahan sawah. Tabel 3. Varietas toleran cekama­n abiotik (kekering­an. Pemasyarakatan PTT dilakukan melalui sosialisasi. Gangguan stabilitas hasil pada t­anaman kedelai banyak disebabkan oleh cekaman biotik dan a­biotik.5 Panderman 2. P­emanfaatan varieta­s toleran terhadap c­ekaman bioti­k (hama dan penyakit) misalny­a varietas Ijen toleran s­erangan ulat g­rayak dan potensi hasil tinggi (>2 t/ha).5 Mahameru 2.6 Anjasmoro 2. Varietas unggul baru kedelai yang dilepas tahun 2001–2004.5 Ratai 2. dll) perlu dirakit.6 Seulawah 2. Program pelatihan. Varietas Potensi hasil (t/ha) Sinabung 2. tahan naungan. dan lahan bukaan baru.7 Sibayak 2. penyakit dan gulma dapat menyebabkan kehilanga­n hasil mencapa­i 80% bahkan puso apabila tidak ada t­indakan pengendalia­n. Ganggua­n hama.5 Ijen 2. V­arietas 10 . pelatihan. Penerapa­n pengendalian hama terpadu (PHT) perlu disosiali­sasikan. toleran UG* Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Lahan kering Peningkatan stabilitas hasil kedelai di lahan sawah.5 Tanggamus 2.5 Nanti 2. sekolah lapang dan membangun kembali lembaga penyuluhan yang pada era otonomi daerah kurang mendapat perhatian. lahan k­ering. maupun kedelai sebagai tanaman sela perlu mendapat perhatian.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Komponen teknologi produksi yang dikemas dalam PTT pada tanaman kedelai mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari 2 t/ha. sekolah lapang PHT perl­u ditingkatkan.

11 . Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas pertanaman kedelai. Nanti. dan (3) kualitas peneliti bidang kedelai cukup memadai. usaha perbenihan untuk tanaman kedelai masih t­ertinggal. UPBS di balai komoditas telah terbentuk dengan tugas untu­k memproduksi benih inti (NS) dan benih penjenis (BS). Hal ini merupaka­n salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai n­asional. (2) teknologi benih sudah tersedia. 2. (2) besar­ nya perhatian pemerintah dalam penelitian dan pengembangan. Pemakaian benih u­nggul bersertifikat pada tanaman kedelai kurang dari 10% (Ditjentan. Lembag­a u­ntuk memproduksi benih telah terbentuk namun efektivita­s perlu di­tingkatkan. 2004). Dalam mendu­kun­g penyediaa­n benih bermutu.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI T­anggamus. Varietas unggul dengan potensi hasil tinggi (>2 t/ha) telah tersedia. Produsen benih nasional maupun penangkar lokal masih kurang berperan. Balai Benih Induk (BBI) dan Balai Benih Umum (BBU). Aspek perbenihan Potensi aspek benih bermutu yang merupakan kekuatan dalam pengembangan agribisnis kedelai antara lain adalah: (1) tersedianya Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). dan Ratai merupakan varietas baru dengan potensi produksi tinggi dan adaptif pada lahan kering (masam dan non-masam). S­eulawah. industri benih untuk komoditas kedelai b­elum berkembang dengan baik. Benih pokok disalurkan kepad­a BBU atau penangkar untuk dijadikan benih sebar (ES). Berbeda denga­n komoditas padi dan jagung. dan (3) varietas unggul tersedia. Perakitan VUB berdaya hasil tinggi dan teknologi budidaya (PTT) pada tingkat litbang sangat dimungkinkan dengan adanya kekuatan seperti: (1) tersedianya sumber daya genetik yang banyak. Benih penjeni­s yang dihasilkan akan disalurkan ke BBI untuk diproduksi menjad­i b­enih dasar (FS) dan benih pokok (SS). Petani lebih banyak memakai benih asalan atau t­urunan dari pertanaman sebelumnya. Sibayak.

Secara rinci peluang penam­ bahan areal panen dapat dilakukan pada: • Lahan sawah MK II (Juli – Oktober) yang biasanya diberikan se­perti: jalur pantura Jawa Barat. Potensi lahan untuk pengembangan kedelai. S­ulawesi Selatan. Wilayah sasaran pengembangan intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai uta­ ma (LQ tinggi) diikuti propinsi penghasil kedelai dengan LQ sedang.665. Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai d­apat diarahkan ke propinsi-propinsi yang pernah berhasil menanam kedelai seperti disajikan pada Tabel 4.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. 12 .714 Jawa 879. Lampung.255 Jumlah 1. Tabel 4.650 Kalimantan 23. Aspek sistem produksi Potensi kedelai berdasarkan aspek sistem produksi meliputi: (1) teknologi budidaya relatif sudah maju. dan Kalimantan Selatan. Jawa Timur.706 Sumber: Ditjentan (2004). lahan kering (tegalan). Sumatera Utara. Wilayah Luas (ha) Sumatera 480. dan (3) lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai masih tersedia cukup luas.551 Maluku & Papua 5. Jawa Tengah. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah. Nusa Tenggara Barat.388 Sulawesi 124.148 Bali & NTB 152. lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi. (2) VUB potensi hasil tinggi tersedia. Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usaha tani kedelai.

bekas alang-alang.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • Lahan sawah tadah hujan MK I (Maret – Juni) awal musim hujan sebelum ditanami padi sawah seperti Jawa dan NTB. • Lahan kering (tegal).9. Teknologi produks­i kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan.6-6. pH tanah 5. fosfat dan bahan organik. hara NPK dan unsur mikro sedang-tinggi. Andosol. kedelai ditanam pada MH I (Oktober – Janua­ri) atau MH II (Februari – Maret). Jambi. Regosol. Jenis tanah yang sesuai untuk kedelai adalah tanah Aluvial. • Tumpangsari pada lahan peremajaan perhutani. drainase sedangbaik. • Lahan pasang surut yang telah direklamasi. • Lahan bukaan baru. Pertanaman kedelai ini l­ebih banyak di Lampung. solum tanah sedang-dalam. Latosol. Sulawesi Utara. Sulawesi Selatan. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah diadopsi petani dan memberikan kon­ tribusi yang signifikan dalam meningkatkan produksi. • Ladang yang belum ditanami. Lahan gambut yang sudah direklamasi juga sesuai untuk tanaman kedelai. air. Nusa Tenggara Barat. Aceh. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tinggi. Jawa Timur. dan Jawa Barat.2 t/ha) dengan potensi genetik dari tanaman kedelai masih cukup tinggi (potensi genetik >2 t/ha). • Tumpangsari tanaman perkebunan. Tanah yang sesuai untuk budi daya kedelai adalah tekstur ber­ lempung atau berliat. dan Ultisol/Oxisol dengan amelioran ka­ pur. Gromusol. Pengelolaan LATO dimaksudkan agar potensi hayati yang dimiliki oleh varietas d­apat terekspresikan secara optimal. dan tahan/toleran 13 . umur genjah. Jawa Tengah. Senjang hasil produktivitas kedelai di tingkat petani (rata-rata 1. dan organisme pengganggu tanaman (LATO). Rendahnya produktivitas disebabkan sebagian besar petani belum menggunakan benih unggul dan t­eknik pengelolaan tanaman masih belum optimal. Sumatera Barat. tanaman.

Penurunan terjadi sejak tahun 1995.81% per tahun. Penurunan total konsumsi jauh lebih rendah dari pada penurun­ an produksi. Selama periode 1995-2000. 14 .69% per tahun. Indonesia akan menghadapi defisit yang makin besar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkung­ an fisik). Implikasinya ialah bahwa tanpa terobosan yang b­erarti. Sebagai sumber protein nabati. kecap. panen dan pascapanen dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya. Mengingat p­enurunan produksi kedelai jauh lebih tajam dari pada penuruna­n total konsums­i. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. konsumsi per kapita menurun dari 11. Seperti disajikan pada Tabel 5.31 juta ton pada tahun 2004.97 kg/kapita pada tahun 2004. tauco. atau menu­ run rata-rata 1. dan berbagai bentuk makanan ringan ( snack ). pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT. maka ke depan impor untuk menutupi defisit diperkirakan akan t­erus meningkat. yaitu rata-rata 4. Artinya. Selanjutnya. total konsumsi hanya turun rata-rata 0. tempe. bahwa Indonesia akan makin tergantung pada impor untuk m­enutupi d­efisit. Padahal Indonesia pernah berswasembada kedelai sebelu­m tahun 1976. pembuatan saluran drainase.54 juta ton pada tahun 1990 menjadi sekitar 1.82 kg/kapita pada tahun 1995 menjadi 10. kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. atau turun rata-rata 1. Namun demikian. dengan indeks swasembada lebih besar dari satu (Swastika. 1997). penurunan paling tajam terjadi pada periode 2000-2004.92 kg/kapita pada tahun 2000. yaitu tahu.57% per tahun. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu.38 kg/kapita pada tahun 1990 menjadi sekitar 8. bahwa Indonesia selalu mempunya­i net impor yang meningkat dari sekitar 0. pemberian air yang cukup. Data statistik FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita kedelai selama 1½ dekade terakhir menurun dari sekitar 11.05% per tahun (Tabel 5). susu kedelai.

365 800 800 0.51 6.287 607 607 0. ke depan proyeksi kebutuhan kedelai akan meningkat seiring dengan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang makanan sehat.016 1. Neraca produksi.383 2.75 723 1994 1.24 1.028 541 541 0.307 1.24 541 1991 1.00 1. Oleh karena itu.555 2.680 2.015 1. kedelai dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencega­h penyakit kanker.431 723 724 0.43 1.365 2003 672 2. 15 .19 1. konsumsi dan perdagangan kedelai di I­ndonesia tahun 1990-2004.565 2.192 2004 707 2.357 1.27 672 1992 1. telah diidentifikasi p­otensi kekuatan sebagai berikut: (1) teknologi panen dan pascapanen t­elah tersedia.302 2000 1.649 343 343 0.50 - 6.709 2.17 -0.133 1. Selain itu. makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung.343 1.344 1.135 2002 673 2.294 1. Aspek panen dan pascapanen Untuk aspek panen dan pascapanen.03 800 1995 1.52 1.365 0.193 0.870 2. dan (3) teknolog­i p­engolahan tersedia.02 1. Perkembangan manfaat kedelai di samping sebagai sumber protein.277 2001 827 1.228 673 673 0.973 616 616 0.01 616 1998 1.263 746 746 0.24 746 1997 1.278 0.302 0.306 1.560 690 694 3.684 1.017 1.136 1. (2) Alsintan tersedia di pasaran.018 2. 4.276 1.301 1.517 2.91 690 1993 1. Tahun Prod Konsumsi Defisit Impor Ekspor Net impor (000 ton) (ton) (000 ton) (000 ton) (ton) (000 ton) 1990 1.05 6.487 2.08 607 1996 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 5.307 0.307 Pertumb (%) -5.51 Sumber FAO (2004) diolah.00 343 1999 1.960 1.

16 . M­inyak kedelai dapat diolah untuk aplikasi produk pangan dan kegunaa­n dalam b­idang teknik atau industri. natto. baik sebagai produk pangan. susu. daging tiruan (meat analog). Produk pangan yang menggunakan minyak kedelai antara lain adalah minyak salad. dan produk non-fermentasi seperti tahu. lesitin. dan (3) sentra produksi telah terbentuk. dilakukan di tingkat petani. Dengan demikian. kecap. mayonaise. men­ tega putih. yuba. dan produk non-fermentasi lainnya se­perti keju kedelai. yogurth. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan s­ebagai pakan (Gambar 2).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Teknologi panen dan pascapanen kedelai yang efektif dan efi­ sien telah tersedia bahkan alsintan untuk proses panen dan pasca­ panen telah tersedia di pasaran. tauco. dan bungkil kedelai. Produk pangan olahan kedelai yang utama dan populer di kala­ ngan masyarakat Indonesia adalah produk fermentasi seperti tempe. minyak goreng. dan lain-lain. Sebelum memasuki pengolahan sekunder menjadi produk olah­ an. dengan me­ manfaatkan teknologi pascapanen. kedelai dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk yang sangat dibutuh­kan bagi kehidupan manusia. Karena bersifat multiguna. 5. Isolat protein dan lesitin banya­k digunakan dalam berbagai produk industri makanan antara lain r­erotian. Pengolahan primer. (2) transportasi lancar. kembang gula. kedelai selayaknya mendapat pengolahan primer untuk meningkat­ kan kualitas kedelai sebagai bahan baku industri. Aspek distribusi dan pemasaran Potensi aspek distribusi dan pemasaran yang telah t­eridentifikasi antara lain adalah: (1) infrastruktur distribusi telah memadai. isolat protein. es krim. dan lain-lain. harga jual kedelai akan lebih baik. makanan bayi (infant formula). farmasi (obat-obatan). Produk utama lain dari kedelai adalah minyak kasar. Produk fermentasi lain yang populer adalah natto (di Jepang). Bungkil kedelai yang mengandung protein tinggi sangat diperlukan dalam pembuatan ransum ternak (pakan). margarine.

natto. kedelai di pasar domestik juga sebagian berasal dari impor. pelumas dll) KONSENTRAT PROTEIN PANGAN (rerotian eskrim. dll PANGAN NON FERMENTASI Tahu. Secara umum rantai tataniaga kedelai disajikan pada Gambar 3. pengemulsi. kecap tauco. mentega putih. susu. yogurth. Selain dari petani. margarine ) TEKNIK/ INDUSTRI LESITIN ( wetting agent. kembang gula) FARMASI (Obat-obatan. untuk selanjutnya dipasarkan ke pengra­ jin tahu dan tempe. 17 . makanan bayi ( infant formula ). dll KEDELAI MINYAK KASAR PANGAN (minyak salad. dan bermuara ke konsumen akhir. kecantikan) BUNGKIL PAKAN TERNAK Gambar 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang. penstabil. minyak goreng. PANGAN FERMENTASI Tempe. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi pengrajin tahu dan tempe (KOPTI). pelarut. Pohon industri kedelai.

diperlukan perbaikan tataniaga kedelai dari produsen hingga konsumen. Dengan adanya infrastruktur distribusi produk yang memadai dan tranportasi yang lancar.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai P et ani Petani Im port ir Importir P edagang Pedagang P engum pul DDesa esa Pengumpul K O P TI KOPTI G rosir Grosir P engecer Pengecer P engol ah Pengolah K onsum en akhir Konsumen Akhir Gambar 3. Oleh karena itu. petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah. Rantai tataniaga kedelai di Indonesia. 6. diharapkan arus produk dari produsen ke konsumen lebih lancar. Dari Gambar 3 terlihat bahwa kedelai di tingkat petani dibeli oleh pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang grosir dan pengolah. Terbentuknya sentra produksi kedelai akan mempermu­ dah konsumen untuk mendapatkan kedelai secara langsung. harga riil di tingkat produsen (petani) selama 15 tahun terakhir cenderung terus menurun. sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Dalam pengembangan kedelai. sehingga tataniaga kedelai lebih efektif dan efisien. Dalam pemasaran kedelai. Aspek kelembagaan Potensi yang dapat dimanfaatkan dalam program pengem­ bangan kedelai antara lain: (1) telah berkembangnya kelembagaan 18 .

dan (3) telah terbentuknya kelembagaan k­elompok tani. keberadaan kelompok tani merupakan wadah yang efektif. Jumlah tenaga peneliti yang terbatas sehingga potensi untuk mengembangkan rakitan teknologi unggul dalam satu paket PTT belum dapat diterapkan di setiap sentra produksi kedelai. diseminasi teknologi. dan (3) program penelitian yang masih kurang konsisten. Berkembangnya berbagai skim lembaga permodalan seperti LUEP. Kendala 1. sehingga mampu meningkatkan produktivitas sumber daya dan pendapatan petani. Aspek penelitian dan pengembangan Kendala dalam aspek Litbang dapat dipilah berdasarkan kele­ mahan dan ancaman. Selain itu. B. Sedangkan untuk ancaman eksternal antara lain adalah: (1) sistem diseminasi dan alih teknologi belum memadai. baik dalam penyaluran kredit. dan (3) penghargaan hasil karya peneliti kurang memadai. Dalam alih teknologi. lembaga alih teknologi juga makin berkembang. Hasil p­enelitian 19 . KKP. Kelemahan internal meliputi: (1) keterbatasan tenaga peneliti. (2) penerimaan tenaga peneliti belum memadai. dan (2) revitalisas­i penyuluhan pertanian untuk mempercepat proses alih teknologi dari lembaga penelitian ke pengguna. maupun pema­ saran hasil pertanian meskipun diakui dalam hal pemasaran hasil kelompok tani belum banyak berfungsi. (2) belum optimalnya diseminasi. dan lembaga keuangan mikro lainnya yang lebih mudah diakses petani merupakan potensi yang besar bagi petani dalam memperoleh modal untuk menerapkan teknologi maju. yaitu perakitan teknologi spesifik lokasi. namun di masa mendatang peran ini dapat diaktualisasi dan terus ditingkatkan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI p­ermodalan (kredit) dalam berbagai skim. Hal ini dipacu oleh: (1) terbentuknya BPTP di tiap propinsi yang berfungsi ganda. Kelembagaan keuangan mikro dan kelembagaan alih teknologi merupakan dua ujung tombak yang memungkinkan petani mengadopsi teknologi maju. (2) berkembangnya kelem­ bagaan alih teknologi.

Potensi hasil varietas unggul dengan budi daya anjuran dapat mencapai > 2 t/ha.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai rakitan teknologi PTT kedelai dapat meningkatkan produksi 30-40% untuk lahan sawah dan 50-60% untuk lahan kering masam. Aspek sistem produksi Hambatan internal yang teridentifikasi dalam aspek sistem produksi meliputi: (1) ketersediaan sarana produksi yang makin t­erbatas. Diseminasi/promosi yang belum optimal menyebabkan tingkat adopsi teknologi rendah sehingga varietas unggul baru dan teknik budi daya kedelai kurang dapat diterapkan petani. 3. (2) umur label sertifikat benih sangat singkat. Ketersediaan benih varietas unggul baru masih sangat terbatas. Hasil penelitian menun­ jukkan bahwa senjang hasil produksi kedelai di tingkat petani dengan potensi hasil genetik kedelai masih tinggi. Hasil rata-rata kedelai yang masih rendah di tingkat petani dan harga yang murah menyebab­ kan petani beralih usahatani nonkedelai. Aspek perbenihan Kendala internal aspek perbenihan kedelai adalah (1) inkon­ sistensi alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. Dampak dari kelemahan terse­ but menyebabkan usahatani kedelai belum dapat mencapai produksi yang maksimal dan keuntungan finansial yang masih rendah. namun hingga kini 20 . sehingga produktivitas hasil kedelai masih rendah. Sedangkan ancaman eksternal adalah: (1) kurangnya insentif harga benih bagi penangkar. Benih bersertifikat merupakan jaminan pemerintah untuk menyediakan benih bermutu. (2) sistem penyuluhan masih lemah.29 t/ha. dan (3) petani lebih suka membuat benih asalan. dan (3) akses petani terhadap sumber modal terbatas. (2) menurunnya ke­ percayaan petani terhadap mutu benih dari kios. dan (3) industri benih belum berkembang dengan baik. Hingga kini peng­ gunaan varietas unggul baru mencapai 20% dan penggunaan benih yang bersertifikat hanya 10%. 2. sedang rata-rata produktivitas di tingkat petani hanya 1.

(2) penerapan teknologi panen dan pascapanen be­ lum memadai. dan (3) anomali iklim yang da­ pat menyebabkan kegagalan panen. pupuk dan pestisida makin mahal. (2) adanya cekaman OPT. penyuluh kurang berfungsi sebagai­ mana tugas pokoknya. 4. (2) makin meningkatnya biaya operasional alsintan. sehingga penyuluh beralih profesi menjadi b­ukan penyuluh. dan (3) tenaga kerja pengolah relatif terbatas. agribisnis kedelai masih dihadap­ kan pada ancaman eksternal seperti: (1) masih tingginya impor kedelai yang menyebabkan usahatani kedelai dalam negeri kurang kompetitif. Aspek panen dan pascapanen Kendala dalam aspek panen dan pascapanen adalah: (1) kehi­ langan hasil tinggi. Selain itu. Umumnya p­etani kedelai adalah petani miskin yang kekurangan modal. pembinaan penyuluh untuk mengakses teknologi baru kurang mendapat perhatian. jumlah penyuluh semakin berkurang (pensiun). sehingga areal dan produksi kedelai terus menurun. Pada era otonomi daerah. Selain itu. Akses petani terhadap sumber modal terbatas. serta sarana dan prasarana penyuluhan banyak berubah fungsi. sehingga makin tidak terjangkau oleh petani. Kehilangan hasil kedelai pada saat panen maupun prosesing masih cukup besar. Selain benih bermutu. proses sertifikasi kedelai yang rumit dan keuntungan menjadi penangkar b­enih kedelai yang sangat kecil. Sistem panen yang dijemur di lapangan tanpa lantai jemur dan alas menyebabkan biji tercecer cukup banyak dan 21 . Hal ini dikarenakan jumlah penangkar yang masih sangat terbatas.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak sampainya informasi teknologi kepada petani. Selain kelemahan internal. ancaman eksternalnya adalah: (1) belum ada insentif harga yang memadai bagi produk bermutu. dan (3) modal untuk membeli alsintan sangat terbatas. Modal petani yang terbatas dan usahatani kedelai yang kurang menguntungkan menyebabkan petani enggan menanam kedelai.

menyebabkan petani kedelai tidak mamp­u untuk membeli alat mesin. Belum berlakunya tarif impor 22 . Sedangkan pemakaia­n alat mesin untuk panen dan pengeringan. Sedangkan kendala eksternalnya antara lain adalah: (1) tingginya impor kedelai dengan harga murah. disaat panen raya harga jatuh hingga Rp 2.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai menyebabkan kehilangan hasil cukup tinggi. yang ditentukan oleh permintaan dan persediaan ( Demand and Supply). Memperbaiki dan memperpendek simpul mata rantai dari produsen ke konsumen p­erlu dibentuk dan difungsikan sebagaimana mestinya sehingga dapat efektif dan efisien dalam pendistribusian produk. 5. Hal ini yang menyebabkan nilai jual produk berfluktuatif dan cenderung menu­ run. Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Penerapan teknologi panen dan pascapanen belum memadai. umumnya petani melakukan pemanenan dan prosesing masih d­engan cara tradisional. Keterbatasan modal. Aspek distribusi dan pemasaran Kendala internal berdasarkan aspek pemasaran adalah: (1) daya tawar petani lemah. Hal ini yang menyebabkan kehilangan hasil panen cukup besar dan proses produksi menjadi tidak efisien. Harga nominal kedelai di tingkat petani berfluktuasi. Harga kedelai ditentukan oleh mekanisme pasar. (2) sistem informasi pasar lemah. (2) rantai p­emasaran yang panjang sehingga tidak efisien. Sistem informasi pasar belum terbentuk sehingga titik temu antara produsen dan konsumen sering tidak ketemu. sebagian besar petani b­elum menggunakan. Panen dengan menggunakan sabit dan prose­s pengeringan sebagian besar masih di lapang. dan (3) biaya trans­ portasi yang mahal. Alat pengering dinilai masih cukup mahal bagi petani kedelai.500. Panjangnya rantai dari produsen sampai kepada konsumen menyebabkan tidak efektifnya proses pemasaran. dan (3) b­elum adanya tarif impor.

Penelitian untuk mengatasi senjang hasil antara petani dan h­asil penelitian sesuai dengan potensi genetik. sehingga petani akan sulit untuk mengatasi masalah yang dihadapi. (4) aspek panen dan pascapanen. dan (6) aspek kelembagaan. efisiensi penggunaan sarana produksi. diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah perlu dilakukan agar dapat m­eningkatkan produktivitas dan daya guna kedelai. Lemahnya kinerja penyuluhan juga akan mengakibatkan kinerja kelompok tani lemah. C. (3) aspek sistem produksi. pemetaan lahan s­esuai. (5) aspek distribusi dan pemasaran. sehingga upaya untuk meningkatka­n produktivitas juga terhambat. Kelemahan internal yakni: (1) sistem penyuluha­n masih lemah. (2) rendahnya komitmen pimpinan kelembagaan atas pelaksanaan peraturan. (2) aspek per­ benihan. (2) kelembagaan kelompok tani belum berfungsi optima­l dan (3) akses petani terhadap lembaga modal terbatas. dan (3) prospek kerja sama penelitia­n. serta (3) inkonsistensi peraturan antara pusat dengan daerah. 23 . Aspek penelitian dan pengembangan Peluang pengembangan berdasarkan aspek litbang meliputi: (1) kebutuhan teknologi makin meningkat. sehingga harga kedelai di dalam negeri jatuh dan petani enggan menanam kedelai. (2) tuntutan terhadap alih t­eknologi semakin meningkat. Aspek kelembagaan Kendala berdasarkan aspek kelembagaan terdiri dari kelemaha­n dan ancaman. 1. 6. Kinerja penyuluhan pertanian yang lemah menyebabkan transfe­r teknologi kedelai terhambat. Peluang Peluang pengembangan kedelai cukup besar dari berbagai a­spek. Sedang­ kan ancama­n eksternal adalah: (1) menurunnya kepercayaan petani t­erhadap kelembagaan yang ada. yakni: (1) aspek penelitian dan pengembangan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI menyebabkan jumlah kedelai impor semakin banyak.

Peran aktif BPTP dan penyuluh untuk mengakses teknologi dari balai penelitian perlu ditingkatkan. 2. Me­ ningkatnya kemampuan SDM yang terkait dalam produksi benih dasar (FS). Aspek perbenihan Peluang pengembangan pemanfaatan benih kedelai bermutu terbuka lebar. (2) peningkatan pembinaan pen­ angkar benih di daerah sentra produksi kedelai. peningkatan kadar. Eskalasi dan akselerasi produksi dan distribusi benih sumber varietas unggul tanaman kedelai dilakukan dengan pelatihan pengenalan varietas melalui sosialisasi varietas dan pembekalan t­eknik produksi benih kepada penangkar di daerah yang melibatkan pemangk­u kepentingan (stakeholder) terkait. Dengan strategi tersebut terjadi percepatan waktu. karena hingga kini penggunaan benih bersetifikat kurang dari 10%. peran swasta sebagai bapak angkat yang dapat memberikan jaminan harga yang layak pada saat harga jatuh. Untuk membangun penyebaran benih varietas unggul diperluka­n penguatan SDM dan fasilitas untuk memproduksi benih sumber. Kerja sama dengan swasta sangat diperlukan. Upaya pengembangan pemanfaatan benih bermutu ditempuh melalui: (1) peningkataan kemampuan petugas/penangkar untuk memproduksi benih sumber. penyuluh dengan kelompok tani. dan (3) peningkatan produksi benih sumber dan penyebaran varietas-varietas unggul baru kedelai di daerah sentra produksi. dan benih sebar (ES) diharapkan dapat me­ ningkatkan produksi benih dan dapat didisribusikan ke daerah sentrasentra produksi. 24 . Untuk mewujudkan tujuan mempercepat alih teknologi diperlukan kerja sama yang baik antara peneliti. Revitalisasi penyuluhan diharap­ kan dapat menjadi jembatan dalam upaya meningkatkan arus teknologi dari balai penelitian kepada pengguna atau petani. diperlukan peningkatan kemahiran petugas dalam sistem produksi benih sumber kedelai melalui pelatihan. benih pokok (SS). Oleh karena itu. dan perluasan prevalens­i adopsi t­eknologi inovatif yang dibawa oleh varietas unggul kedelai. s­ehingga dapat meningkatkan produksi benih berkualitas yang berbasis komunita­s.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tuntutan alih teknologi untuk mengatasi senjang hasil sangat diperlukan.

dan (4) program pengem­ bangan varietas unggul berdaya hasil tinggi. Varietas unggul memiliki sifat seperti hasil tingg­i. Mutu hasil panen kedelai saat ini masih perlu ditingkatkan. Varietas kedelai sesuai 25 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. Aspek sistem produksi Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek produksi meliputi: (1) penggunaan benih bermutu masih rendah. diperlukan adanya s­ubsidi. program pengenalan dan sosialisasi varietas unggul baru serta teknik produksi benih sangat diperlukan. Oleh karena itu. dan (3) industri produk olahan berbahan baku kedelai makin berkembang. Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu. Keterbatasan modal di tingkat petani untuk usahatani kedelai perlu mendapat perhatian. (3) subsidi benih. pembuatan saluran drainase. pengendalian hama dan p­enyakit dengan sistem PHT. Sebagian besar konsumen menghendaki biji besar/sedang. Oleh karena itu. 4. warna kuning mengkilap dan kebersihan biji. dan tahan/ toleran terhadap cekaman biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (lingkungan fisik). panen dan pascapanen dengan a­lsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi g­enetiknya. Teknik produksi merupakan sintesis dari varietas unggul dan teknik pengelolaan LATO. (2) jenis olahan beragam. umur genjah. baik untuk pengadaan benih varietas unggul baru maupun untuk pengadaan pupuk dan insektisida. pemberian air yang cukup. P­referensi konsumen terhadap mutu kedelai semakin meningkat. Varietas unggul merupakan inovasi teknologi yang mudah di­ adopsi petani dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam me­ ningkatkan produksi. Aspek panen dan pascapanen Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek panen dan pascapanen meliputi: (1) tuntutan terhadap hasil panen bermutu. (2) penggu­ naan sarana produksi. I­ndustri pengolahan produk berbahan baku kedelai membutuhkan jenis kedelai yang bermutu tinggi sesuai dengan produk yang akan dihasil­kan.

sehingg­a bisa mengendalikan konsumen untuk mengkonsumsi produk olahan kedelai. Aspek distribusi dan pemasaran Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek distribusi dan pe­ ma­saran meliputi: (1) industri pengolahan kedelai berkembang. makanan segar dengan kualitas polong maupun biji yang seragam. Upaya untuk me­ningkatkan nilai tambah dan daya saing lebih tinggi adalah memperbaiki b­entuk makanan olahan berbaha­n baku kedelai. biji besar/sedang. Anjasmoro. dan Malika). warna kuning mengkilap (Argomulya. dan (3) permintaan kedelai terus meningka­t. snack kaya akan protein. promosi secara g­encar. Bentu­k makanan olaha­n yang menari­k. dan kuantita­s serta kualitas biji untuk bahan industri cukup memadai.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai d­engan kehendak konsumen dan sesuai dengan bahan baku industri telah tersedia. tempe. gizi tinggi dan m­enyehatkan p­erlu diinformasikan pada media cetak maupun elektronik. Sebagai i­lustrasi PT Garuda Food telah berhasil membidik konsumen tingkatan menengah ke atas dengan memproduksi snack kedelai oven dengan rasa enak dan dikemas dalam kemasan yang menarik dan terkesan elite. (2) j­aringa­n transportasi memadai. Upaya peningkatan daya sain­g selain bentuk produk diperlukan juga penyuluhan. tauco. Penguatan industr­i pedesaa­n skala kecil maupun industri besar yang bermitra dengan produsen kedelai perlu ditindak lanjuti. Promosi makanan berbahan baku kedelai susu. Cikuray. Kaba) bahkan kedelai hitam yang sesuai de­ ngan industri kecap juga telah tersedia (Merapi. serta telah tersebar di seluruh pasar swalayan. kecap. 5. menarik. rasa sesuai dengan selera konsumen dan kemasan yang menari­k akan mempunya­i daya tarik bagi konsumen. Burangrang. 26 .

Berdasarkan perhitung­ an. dan petani.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Berbagai macam produk olahan berbahan baku kedelai berkem­ bang dengan pesat. kecap. mela­ lui diseminasi diharapkan adanya kerja sama yang baik antara peneliti. Jaringan transportasi sudah baik dan ditunjang oleh alat angkut yang memadai. tauco. Asosiasi tersebut berpeluang dikembangkan di setiap propinsi sentra kedelai dengan penyuluh pertanian sebagai mediator dan Pemerintah Daerah sebagai fasilitator. dan (3) minat swasta dalam industri pengolahan kedelai semakin meningkat. Program alih teknologi berupa diseminasi memperoleh prioritas utama. aplikasi dalam bidang teknik (industri) dan sebagai pakan ternak menyebabkan kebutuhan akan kedelai semakin meningkat. pemerintah daerah. farmasi (obat-obatan). konsumsi kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 men­ capai 1. snack). Asosiasi Petani Kacang Kedelai Indonesia (APKKI) telah terben­ tuk di beberapa propinsi sentra produksi kedelai dan merupakan me­ dia yang cukup efektif dalam pengembangan kedelai berbasis agri­ bisnis. Oleh karena itu. k­elompok usaha/asosiasi petani dalam usaha pengembangan kedelai. Industri pengolahan bahan pangan (tahu. Revitalisasi alih teknologi dan revitalisasi penyuluhan saling ber­ hubungan erat. 6. Revitalisasi di bidang pe­ nyuluhan diharapkan penyuluh dapat berperan sebagai ujung tomba­k dan mampu memberdayakan kemandirian petani. sehingga memudahkan mobilitas bahan baku kedelai dari produsen ke konsumen. Aspek kelembagaan Peluang pengembangan kedelai berdasarkan aspek kelemba­ gaan berupa (1) program revitalisasi alih teknologi. (2) program revi­ talisasi penyuluhan. penyuluh.776 juta ton atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri. kelompok tani. tempe. 27 . Sedang 12% sisanya dipergunakan berbagai keperluan makanan olaha­n lain dan bahan baku industri lainnya. namun demikian teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian belum sampai kepada petani. Di Indonesia konsumsi tertinggi adalah untuk bahan industri tahu dan tempe.

impor kedelai yang saat ini mencapai 60-65% dari total kebutuhan dapat ditekan menjadi 40%. kualitas. Dalam hal ini diperlukan dukungan dari pemerintah dan swasta. dan nilai tambah produks­i. dan perluasan peranan pengguna. Tujuan jangka panjang adalah swasembada kedelai. Sasaran yang ingin dicapai dari pengembangan kedelai s­ecara nasional adalah (i) terciptanya harga yang wajar yang dapat m­emberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. dan (iv) berkembangnya industri yang menggunakan bahan baku kedelai di dalam negeri. penguasaan pasar. 28 . (ii) terbentuknya kelembagaan pemasaran yang kuat di tingkat petani. (iii) terciptanya mata rantai pemasaran yang efisien sehingga dapat memberikan keuntungan dan meningkatkan pendapatan petani. Upaya peningkatan produksi diikuti de­ ngan upaya peningkatan efisiensi. TUJUAN DAN SASARAN Pengembangan kedelai diarahkan untuk tujuan jangka pendekmenengah dan jangka panjang. Dengan kata lain.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai IV. Tujuan jangka pendek-menengah adalah meningkatkan produksi untuk memenuhi 60% kebutuhan.

Selain itu. peningkatan nilai tambah. Arah dan Sasaran Pengembangan Pengembangan kedelai diarahkan kepada sistem agribisnis berbasis agroindustri. ARAH DAN SASARAN Kebutuhan akan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2. Keadaa­n demikian tidak dapat dibiarkan terus menerus. sektor swasta membeli kedelai dari petani untuk diolah lebih lanjut menjadi produk olahan sekunder. tahu. baik industri pangan maupun pakan. Mengingat Indonesia de­ngan jumla­h p­enduduk yang cukup besar. 29 . peningkata­n efisiensi produksi.71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1. perbaikan akses pasar. mengingat potensi laha­n cukup luas. teknologi telah tersedia dan SDM handal cukup tersedi­a. Upaya untuk menekan laju impor tersebut dapat ditempuh melalu­i strategi peningkatan produktivitas. perbaikan sistem permodalan. bungkil kedelai sehingga peta­ ni memperoleh nilai tambah.02 juta ton. perluasan areal tanam. Di tingkat agroindustri. menjadi produk olahan seperti tepung kedelai. pedagang. dan perusahaan swasta. di mana kedelai sebagai bahan baku industr­i. dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan dalam upaya menekan laju impor. penguatan kelembagaan petani. usahatani dilakukan dengan teknologi maju yang efisien melalui pendekatan PTT. serta pengaturan t­ataniaga dan insentif usaha. Di tingkat petani. A. sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0. pengembangan infrastruktur. seperti pangan dan pakan. Dengan demikian. petani juga dapat dilakukan pengolahan primer kedelai dengan industri rumah tangga di tingkat petani dan kelompok tani. p­eningkatan kualita­s produk.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI V. Pola agribisnis seperti ini akan membangun kemitraan yang sinergis antara petani dengan perusahaan swasta. sehingga dapat menekan biaya per satuan produk dengan tetap memperhatikan kelestarian kesuburan tanah. tempe. nilai tambah akan terdistri­ busi ke petani.31 juta ton. Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Proyeksi Pertumbuhan Proyeksi konsumsi kedelai dalam bahasan ini dilakukan d­engan cara memproyeksikan konsumsi per kapita dan proyeksi jumlah p­enduduk. 30 . Selanjutnya. Tiga skenario diajukan untuk mencapai sasaran jangka menengah maupun jangka panjang pengembangan kedelai s­esuai dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan swasembad­a kedelai ke depan. Pertumbuhan harga masingmasing k­omoditas menggunakan data FAO 1991-2002. B.67% per tahu­n. berdasarkan hasil penelitia­n S­imatupang et al. Sebagai bahan baku industri p­angan dan pakan. pertumbuhan penduduk diasumsikan menurun 0. Proyeksi konsumsi per kapita dilakukan dengan menggunakan elastisitas pendapatan. dampak swasembada kedelai akan bermuara pada peningkatan pendapatan petani dan pelaku agribisnis lainnya. Proyeksi jumlah penduduk dilakukan dengan menggunakan pertumbuha­n penduduk dengan tingkat yang makin rendah. pertumbuhan penduduk adalah 1. dan e­lastisitas silang harga komoditas lainnya.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sasaran utama dari pengembangan kedelai adalah untuk m­eningkatkan produksi kedelai dalam negeri untuk memenuhi k­ebutuhan yang terus meningkat. sedangka­n pertumbuhan pendapatan per kapita menggunakan Data BPS (2002). Selam­a periode 1990-2003. (2004). Proyeksi pertumbuhan produksi untuk masingm­asing skenario disajikan pada Tabel 6. elastisitas harga kedelai.03% per tahun.

29 2.29 2.11 2.56 1.00 1.19 1.50 2.86 10.39 2.30 2010-2014 1.00 -64.63 10.39 2.22 1.93% per tahun dalam periode 2005-2025.25 -39.81 -18.00 1.15 8.01 1.19 4.39 10.50 0.15 9.78 7.50 10.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 6.27 6.25 7.5% per tahun dan 2. 31 .73 Skenario 1 (1) Proyeksi peningkatan produksi rata-rata 8. Proyeksi pertumbuhan areal tanam.08 5.00 61.21 2.84 17.25 2015-2019 1.15 2020-2025 Rataan Skenario 3 Pertumb (%) 0.50 1.55 7.04 -2.23 5.50 10.23 5.50 2.21 2.19 3.09 2.25 7.37 6.25 4.50 2. (2) Peningkatan produksi tersebut diperoleh dari upaya perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 6.64 2.98 2005-2009 1.45 2.19 2.89 14.49 (rb ton) Prod (jt jiwa) (t/ha) (rb ha) (rb ton) (rb ton) (kg/kap) 2005-2009 1.78 12.55 2.08 7.55 14.61 4.19 1.50 -14.26 7.50 -4.27 5.00 -65.84 1.08 4.50 51.50 -9.25% per tahun dalam periode yang sama.50 12.21 2015-2019 1.55 12.79 4.36 12.95 1.34 1. produktivitas.30 2010-2014 1.29 9.02 1. dan produksi kedelai periode 2005-2025.00 -19.25 6.50 2.15 2020-2025 Rataan 0.50 -10.72 1.25 2.08 4.93 1.15 2020-2025 Rataan Skenario 2 Pertumb (%) 0.50 2.01 7. Tahun Skenario 1 Pertumb (%) Pddk Provitas Area 2.00 1.24 3.21 2015-2019 1.75 1.61 4.84 1.27 0.84 1.50 0.00 1.23 5.21 2.50 2005-2009 1.25 Impor Konsumsi Kontribusi Prod (%) 2.80 3.00 1.50 -9.15 8.00 -6.04 6.58 1.77 1.33 6.58 1.30 2010-2014 1.50 2.21 0.58 1.00 2.

Arah Pengembangan Pengembangan kedelai ke depan diarahkan untuk mencapai tujuan jangka pendek-menengah dan jangka panjang yaitu Indonesia mampu meningkatkan produksi kedelai secara bertahap untuk memenuhi kebu­ tuhan dalam negeri. di mana tingkat penerapan teknologi oleh petani masih kurang. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. Lampung. Sumatera Utara. Program peningkatan produktivitas diprioritaskan di wilayah-wilayah sentra produksi yang produktivitasnya masih tergolong rendah.22% per tahun. impor yang saat ini mencapai 6065% secara substansial dapat ditekan menjadi minimal 45% pada 2010. (3) Dengan skenario 3. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun 2020.72% per tahun. (2) Proyeksi pertumbuhan perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas masing-masing 5. 32 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai (3) Dengan skenario 1. Dengan kata lain.72% per tahun dalam periode yang sama.25% per tahun dan 2. Skenario 3 (1) Proyeksi peningkatan produksi kedelai dalam periode yang sama rata-rata mencapai 8. Skenario 2 (1) Produksi kedelai dalam negeri diproyeksi meningkat rata-rata 9. Wilayah-wilayah yang sesuai untuk program ini antara lain adalah beberapa kabupaten di Jawa Timur. (3) Dengan skenario ini swasembada kedelai akan dicapai pada tahun 2015.25% per tahun untuk men­ capai tingkat pertumbuhan produksi 9.81% per tahun dan 2. C. (2) Areal tanam dan produktivitas kedelai diproyeksikan meningkat masing-masing 7. Jawa Barat. dan Sulawesi Selatan. swasembada kedelai akan dicapai pada t­ahun terakhir yaitu 2025.25% per tahun dalam periode 2005-2025.

dan lahan kering yang cukup luas. Sulawesi Selatan. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. meluasnya peran pengguna. maka pada tahun 2009 impor diperkirakan masih sebesar 1. tahun 2007 sebe­ sar 900 ribu ton. Sulawesi Tenggara. namun belum optimal dimanfaatkan. Nusa Tenggara Barat. Sasaran Sasaran jangka panjang adalah swasembada kedelai (ontrend). Sumatera Selatan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Program perluasan areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) ditujukan ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi sumber daya lahan cukup baik di Jawa Timur. Jawa Tengah. Apabila sasaran peningkatan produksi diproyeksikan sebagaimana dikemukakan di atas.00% per tahun. Sumatera Utara. Peningkatan produksi diikuti dengan proses produksi yang efisien. Pertanyaannya kemudian adalah kapan sasaran itu dapat dicapai? Inilah tantangan yang harus dijawab dengan memanfaatkan 33 . serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif.03 juta ton atau meningkat rata-rata 7. tahun 2006 sebesar 825 ribu ton. Lampung.36 juta ton dan ini berarti tidak terjadi pengurangan impor. dan tahun 2009 sebesar 1. dan Sulawesi Selatan. tahun 2008 sebanyak 975 ribu ton. Bengkulu. kuali­ tas dan nilai tambah yang berdaya saing. Agar sasaran pengurangan impor dapat dicapai. misalnya dari 60–65% menjadi 45% dari kebutuhan dalam negeri. D. Dalam Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah (­RPPJM: 2005–2010) Departemen Pertanian. Wilayah-wilayah yang tergolong kate­ gori tersebut antara lain adalah Jambi. Sasaran pengembangan kedelai dalam 20 tahun ke depan adalah untuk memanfaatkan seluruh potensi dan peluang yang ada untuk men­ coba memenuhi kebutuhan kedelai nasional dari kemampuan produksi dalam negeri. dan kapan kemungkinan pencapaian swasembada perlu disusun beberapa alternatif skenario. Sedang perluasan areal dapat di lakukan pada sawah tadah hujan/irigasi sederhana. penguasaan pasar yang luas. Produksi kedelai tahun 2005 diproyeksikan 774 ribu ton biji kering. telah menyatakan bahwa sasaran pengembangan kedelai adalah meningkatkan produksi nasional sebesar 7% per tahun.

5% dan 0. hama dan penyakit (OPT) secara terpadu. Pencapaian sasaran menurut skenario 1 Perkiraan pencapaian sasaran atas dasar skenario 1 disajikan pada Tabel 7.99 ton/ha secara nasional. Lampung. m­asing34 . Sedangkan peningkatan produktivitas kedelai dalam empat p­eriode yang sama masing-masing diproyeksi rata-rata 4. lahan sawah tadah hu­ jan atau lahan kering. 1. maka produksi diproyek­ sikan meningkat rata-rata 14. Dengan demikian. Wilayah sasaran perluasan areal adalah Nusa Teng­ gara Barat.5% per tahun dan berturu­t-turut menurun menjadi rata-rata 5.0% per tahun dan 3.5% per tahun masing-masing pada periode 2015-2019 dan 2020-2025. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa perluasan a­real tanam harus diupayakan meningkat rata-rata 10% per tahun dalam periode 2005-2009 dengan sasaran areal tanam mencapai sekitar 833 ribu ha pada 2009. Aceh dan Sulawesi Selatan.95% per tahun pada 2005-2009.5% per tahun pada periode 2005-2009. Sasaran lain adalah mengembalikan keunggulan kompetitif di tingkat on farm dan keunggulan komparatif di pasar global. 2. 2015-2019. Dengan kata lain. waktu atau musim tanam yang s­esuai serta rotasi tanaman.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai sumber daya secara optimal yang dihela oleh kemajuan Iptek di bidang pangan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan sum­ berdaya alam. ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor untuk me­ menuhi kebutuhan dalam negeri secara gradual dapat dikurangi dan pada akhirnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan dari kemampuan produksi dalam negeri. 1. Jawa. Sumatera Utara. Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah peng­ gunaan benih varietas unggul yang bermutu. Melalui kedua upaya tersebut di atas. dan 2020-2025.5%. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks per­ tanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana. produktivitas pada 2025 h­arus m­encapai sekitar 1. 2010-2014.5%. Laju peningkatan areal tanam sedikit menurun pada lima tahun berikutnya (2010-2014) yaitu rata-rata 7. pengendalian gulma.

63 229 1.50 10.98 1.17 7 2012 1. Dengan skenario 1.55% per tahun pada 2005-2009.97 1.25 4.88 2.526 6 2.35 252 1. sedikit menurun menjadi 2.94 1.149 9.85 1.635 -112 3.05 247 1.55 12.64 273 1.321 11.02 12 2017 0.580 -51 3.20 6 2011 1.32 2 2007 1.37 2.454 125 2.769 11.142 1.99 1.269 109. total konsumsi diproyeksikan meningkat rata-rata 2.25 2.50 -14.01 250 1.78 20 2025 0.321 9.80 1.87 17 2022 0.113 637 1.74 263 1.00 -6.88 2. Tabel 7.19 1.33 569 1.27 3.39 626 1.45 688 1.40 2. Pert No.585 75.71 1.21% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014 dan 2015-2019.30 5 2010 1.66 3.876 -405 3.66 275 1.50 2.67 265 1.00 2.99 260 1.598 10.75 2.19 2.93 1.19% dan 6.39 7.15 0.00 1.235 1.96 14 2019 0.23 2.61 255 1.93 Pertumb (%) 1.76 2.50 7.82 1.291 50.894 95.02% per tahun pada periode 2020-2025.143 105.00 -65.37 4.89 14.737 11.069 11.75 Pertumb (%) 0.11 9 2014 1.813 -324 3.14 2.92 232 1.74 235 1.000 9.75 277 1.768 10.454 11.84 18 2023 0.466 65.63 2.25 2.42 258 1.93 3.15 10 2015 1.98 35 .951 11.26 4 2009 1.90 16 2021 0.206 107.91 279 1.39% dan 2.770 87.01 2.124 35.99 13 2018 0.95 1.593 11.50 51.11 2.709 84.646 81.50 3.58 1.75 1.05 11 2016 1.53 3. Di sisi lain.52 757 1.81 19 2024 0.95 1.96 1.948 10.00% per tahun pada periode 2020-2025.235 44.09 241 1.287 10.52 2.88 1.12 2.58% per tahun pada 2010-2014 dan 2015-2019 serta rata-rata 4.79 3.84 Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 226 1.018 101.62 2.79 1.02 1.035 757 1.319 333 2.40 3. swasembada kedelai diperkirakan dapat dicapai pada tahun 2020 (Tabel 7).407 60.49 244 1.27 268 1.832 91.332 112.604 10.08 Pertumb (%) 1.309 870 9.86 10.21 4.35 1 2006 1.29 3 2008 1.69 270 1.349 56.367 757 9. Tahun Pdd (%) 0 2005 1.196 500 2.438 10.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI masing 10.23 Pertumb (%) 1.67 963 862 1.146 10.028 1.00 15 2020 0.14 8 2013 1.179 39.692 -178 3.50 5. Penurunan laju pertumbuhan konsumsi terus menurun rata-rata 2.525 70.80 6.193 11.63 896 951 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 1).385 234 2.59 833 1.15 2.256 422 2.081 103.90 1.456 10.752 -248 3.957 99.17 238 1.

1.5%.0%. Aceh. dan Sulawesi Selatan. Pencapaian sasaran menurut skenario 2 Upaya peningkatan produksi menurut skenario 2.5% per tahun masing-masing pada periode 2010-2014. Yang berbeda dalam laju perluasan areal yang sangat agresif yaitu rata-rata 12.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 2. Untuk peningkatan IP terutama pada musim tanam kedua (MT-II) dan MT-III sangat diperlukan dukungan pengairan melalui pompanisasi dan ini tentu tidak mudah dan tidak pula murah.5% per tahun pada periode 2005-2009.5%. perbaikan kesuburan tanah dengan pemu­ pukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih VUB yang bermutu. serta 2. Sumatera Utara.5%. Lampung. Wilayah sasaran perluasan areal adalah NTB. 5. waktu/musim tanam yang se­suai dan rotasi tanaman. dan 2020-2025. akan ditem­ puh melalui program peningkatan produktivitas yang sejalan dengan skenario 1 yaitu rata-rata 4. Jawa. maka upaya peningkatan produksi menurut skenario 2 akan mencapai swasem­ bada pada tahun 2015 atau lima tahun lebih cepat dari skenario 1 (Tabel 8). Dengan asumsi laju konsumsi sama dengan skenario 1. dan 1.0%. lahan sawah ta­ dah hujan atau lahan kering. dan 0. 2015-2019. Perluasan areal tanam dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigasi sederhana.5% per tahun untuk masing-masing periode yang sama. pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. 10. 36 .

Waktu pencapai swasembada kedelai yang cukup lama ini s­ebagai konsekuensi peningkatan areal tanam baik lewat peningkata­n IP maupu­n pemanfaatan lahan tidur masing-masing 7.20 241 1.78 12.018 -731 4. skenario 3 tampaknya yang paling moderat.71 1.39 640 1.23 238 1.01 3.630 10.84 273 1.048 -748 4.14 2.844 11.52 2.99 260 1.62 2.25 2.992 10.838 10.230 9.50 2.894 117.213 453 2.080 11.289 890 9.27 15 2020 0.634 10.52 7 2012 1.96 263 1.61 11 2016 1.97 1.59 13 2018 0.468 12 2.58 1.29 232 1.00 2.88 2.85 1.11 10 2015 1.206 122.15 2.407 67.959 -701 3.49 Pertumb (%) 1.179 40.235 46.80 3 2008 1.398 11.76 2.63 1.99 12 2017 0.30 4.37 9 2014 1.94 1.21 4.75 1. swasembada kedelai baru bisa dicapai pada t­ahun 2025.124 35.35 226 1.95 1.000 11.081 122.694 11.50 10.53 3.332 122.061 1.45 6.072 10.902 -676 3.784 -504 3.00 61.15 2. Kemudian laju 37 .50 1.00 0.36 20 2025 0.33 569 1.39 16 2021 0.56 1.64 5 2010 1.768 11. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 2).83 2 2007 1.23 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 8.585 90.01 1.42 14 2019 0.75 279 1.54 Pertumb (%) 1.30 18 2023 0.50 12.55 14.52 810 1.807 10.921 11.75 2.19 2.367 757 9.189 10.12 2.003 777 1.99 2.02 258 1.525 82.39 10.84 17.37 2. Tahun Pdd (jt (t/ha) (rb ha) (rb (rb (kg/ (rb Prod (%) jiwa) ton) ton) kap) ton) (%) 0 2005 1.541 -98 2.44 Pertumb (%) 0.957 122.00 1.93 3.27 3.08 252 1.446 9.79 1.55 Pertumb (%) 1.06 8 2013 1.79 3.336 10.82 1.84 0.71 6 2011 1.40 2. Pencapaian sasaran menurut skenario 3 Diantara ketiga skenario dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri.05 255 1.103 628 1.04 2.88 1.709 103.832 112.66 3.87 270 1. Menuru­t skenario 3.988 -715 3.50 2.646 99.67 4 2009 1.59 911 903 1.96 1.291 53.88 2.90 1.699 -357 3.622 11.334 249 2. Pert Pddk Provitas Area Impor Prod Konsumsi Kontri No.018 122.349 61.930 -688 3.33 17 2022 0.269 122.189 1.93 265 1.26 235 1.31 19 2024 0.14 247 1.90 268 1.67 1.50 -9.770 107.143 122.63 2.32 229 1.50 5.5% per tahu­n pada periode 2005-2009 dan periode 2010-2014.81 275 1.466 74.75 1.046 9.17 244 1.98 2.873 -665 3.00 -64.78 277 1.01 2.45 720 1.40 3.11 250 1.25 2.63 1 2006 1.93 1.618 -221 2.

93 1.53 275 1.29 3 2008 1.063 1.34 2.61 2.12 247 1. Tahun Pert Pdd (%) Pddk Provitas Area Impor (jt (t/ha) (rb ha) (rb jiwa) ton) Prod (rb ton) Konsumsi (kg/ (rb kap) ton) Kontri Prod (%) 0 2005 1.40 273 1.95 1.96 14 2019 0.90 1.777 10.086 10.332 100.291 46.582 -39.0% dan 3.39 255 1.23 Pertumb (%) 1.015 688 1. Arah dan sasaran pengembangan kedelai pada jangka menengah dan jangka panjang (skenario 3).84 18 2023 0.31 9.24 2.33 569 1.98 1.58 136 2.40 229 1.957 91.205 9.19 547 2.091 1.66 277 1.52 232 1.99 1.55 241 1.93 0.59 760 1.05 3.269 99.144 1.20 6 2011 1.02 12 2017 0.97 1.94 1.00 -19.081 94.84 226 1.08 3.692 11.143 95.50 -10.018 92.77 1.01 2.466 59.832 83.370 10.55 2.76 238 1.14 1.235 42.003 1.073 9.83 1.203 369 2.68 3.14 8 2013 1.79 1.63 235 1.27 2.75 260 1.525 11.17 2.179 39.83 2.00 2.484 31 2.52 707 1.367 3.329 3.45 658 1.68 2.238 11.63 817 1.958 10.90 16 2021 0.88 4.88 1.634 1.223 10.326 -19.27 270 1.533 -28 3.04 4.218 2.67 878 913 1.00 15 2020 0.50 3.73 38 .00 2.392 225 2.00 244 1.35 1 2006 1.01 265 1.24 6.99 13 2018 0.85 1.37 252 1.79 279 1. Tabel 9.525 63.280 955 9.438 85 2.71 944 808 1.206 97.328 10.218 1.33 3.793 11.407 55.88 263 1.894 87.08 Pertumb (%) 1.50 7.612 10.15 10 2015 1.367 757 9.73 2.87 17 2022 0. No.81 19 2024 0.32 2 2007 1.63 10.709 77.26 2.27 3.86 2.82 1.08 3.329 850 9.21 268 1.25 250 1.50 -4.08 3.26 4 2009 1.349 51.770 80.73 2.75 1.39 612 1.50 2.121 11.687 1.898 11.98 7.93 Pertumb (%) 1.124 35.25 -39.007 11.30 5 2010 1.53 3.585 68.25% m­asing-masing untuk periode 2015-2029 dan 2020-2025 (Tabel 9).646 73.11 9 2014 1.78 20 2025 0.05 11 2016 1.63 2.36 12.75 Pertumb (%) 0.96 1.50 7.34 1.50 5.145 462 2.079 2.463 10.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai p­eningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5.360 11.17 7 2012 1.263 265 2.62 258 1.

Teknologi utama yang diperlukan dalam program ini adalah penggunaan benih unggul yang bermutu. Sumatera Utara.0 > LQ > 0 nilai tinggi nilai sedang nilai rendah 39 . pengendalian gulma dan hama (OPT) secara terpadu. Perluasan areal tanam dilakuka­n melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) pada lahan sawah irigas­i sederhana. perbaikan kesuburan lahan dengan pemupukan sesuai kebutuhan (spesifik lokasi). E. Ein adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi nasional (n). Jawa. Nilai LQ diklasifikasikan sebagai berikut: 3. waktu/musim tanam yang sesuai dan rotasi tanaman. Aceh.0 1. Lampun­g. Wilayah s­asaran perluasan areal adalah Nusa Tenggara Barat. lahan sawah tadah hujan atau lahan kering.0 > LQ > 1.0 2.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pencapaian swasembada kedelai pada tahun 2025 dengan c­atatan bahwa konsumsi per kapita maupun total konsumsi sama dengan skenario 1 dan skenario 2.0 > LQ > 2. dan Sulawesi Selatan. Penjabaran arti dari LQ adalah: LQ = Eir / Ein di mana Eir adalah sumbangan kedelai (i) terhadap ekonomi propinsi (r). Perluasan Areal Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator ke­ sesuaian agroekosistem bagi usahatani kedelai.

AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 10.0 NTB. Bengkulu. Nilai LQ dan Propinsi 3. + Prioritas rendah +++ ++ + +++ + +++ + Peningkatan Produktivitas (PP) Perluasan Areal Tanam (PAT) Wilayah sasaran intensifikasi terletak di propinsi penghasil kedelai utama (LQ) tinggi diikuti propinsi penghasil kedelai (LQ se­ dang). Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendala antara lain nilai komparatif dan kom­ petitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya. Tabel 11 menunjukkan bahwa potensi lahan yang sesuai un­ tuk tanaman kedelai.0 > LQ >1. Sedangkan wilayah sasaran di Jawa dan Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan perlu mempertimbangkan lahan dengan LQ tinggi sampai sedang. Jateng. Sultra.0 Aceh. Prioritas program peningkatan produksi dan perluasan a­real kedelai berdasarkan nilai LQ propinsi. ++ Prioritas sedang. Sumbar. Sumsel.0 > LQ > 0. Jatim.5 > LQ > 0. Sulut. Yoyakarta 2. Kalsel. Sulsel 1.5 Bali.0 > LQ > 2. baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal. 40 . Skala prioritas pengembangan kedelai berdasarkan nilai LQ disajikan pada Tabel 10. Jabar.1 Jambi. + Papua +++ Prioritas utama. Lampung. Sumut 0.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

Tabel 11.

Daerah sasaran peningkatan produktivitas di propinsi penghasil kedelai utama dan propinsi penghasil kedelai sedang. Propinsi Kabupaten Gunung Kidul Bantul, Wonosari, Slemen Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep. Sumbawa, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Barat Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan. Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi Purworejo, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Demak, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Kudus, Jepara, Pati, Blora Bone, Enrekang, Gowa, Majene, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polewali, Selayar, Sidenreng Rappang, Soppeng, Wajo

Nilai LQ

1 Penghasil 1 Yogyakarta kedelai utama (40.050 ha) (LQ Tinggi) 2 Jawa Timur (279.500 ha) 3 NTB (139.520 ha) 2 Penghasil 1 Aceh kedelai Sedang (181.390 ha) (LQ Sedang) 2 Lampung (164.500 ha) 3 Jawa Barat (327. 500 ha) 4 Jawa Tengah (379.500 ha) 5 Sulawesi Selatan (322.100 ha)

41

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

F. Peningkatan Produktivitas Upaya peningkatan produktivitas (PP) dibedakan atas tingkat produktivitas yang telah ada selama ini. Berdasarkan metoda perhi­ tungan LQ, maka lahan dengan 3,0>LQ>2,0 (LQ tinggi) merupakan lahan yang sesuai untuk peningkatan produktivitas yang tersebar di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Bagi daerahdaera­h yang telah memiliki produktivitas tinggi diarahkan untuk d­imantapkan, dan bagi daerah-daerah yang tingkat produktivitasnya masih rendah dilakukan upaya akselerasi melalui penggunaan b­enih va­rietas unggul, pupuk berimbang, penerapan teknologi spesifik lokasi, pengelolaan usahatani terpadu lahan kering. Perluasan areal tanam (PAT) diarahkan ke daerah di luar Jawa yang memiliki potensi cukup luas melalui penambahan baku lahan, mengoptimalkan lahan kering, rehabilitasi dan konservasi lahan, ser­ ta pengembangan lahan rawa/lebak/pasang surut. Perluasan areal disesuaikan dengan kecocokan lahan dengan 2,0>LQ>1,0 di Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Untuk mendukung tercapainya sasaran-sasaran tersebut, perlu dukungan aspek hulu antara lain penyediaan lahan, perbaikan pengairan, sarana produksi, alsintan, permodalan, sarana transportasi/jalan usahatani.

42

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai

AGRO INOVASI

VI. STRATEGI, KEBIJAKAN, DAN PROGRAM
A. Strategi Pemecahan Masalah Perumusan strategi, kebijakan, dan program pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia disusun dengan menggunakan analisis SWOT. Penyusunan strategi dikelompokkan menjadi 6 bagian berdasar­ kan bidang masalah yang dihadapi yaitu: (1) litbang, (2) perbenihan, (3) produksi, (4) panen dan pascapanen, (5) distribusi dan pemasaran, sert­a (6) kelembagaan. Dari masing-masing isu tersebut kemudian dirangking atas dasar indikator prioritas yaitu urgent, seriousness, dan growth. Dari masing-masing isu kemudian ditentukan tiga masalah prioritas. Masalah tersebut kemudian di analisis dengan SWOT yang terdiri atas faktor internal (strength, weakness) dan faktor ekternal (o­pportunity, threat). Dari hasil analisis ditentukan prioritas masing-masing isu untuk kekeuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat). Berdasarkan masing-masin­g m­asalah disusun strategi agresif, diversifikatif, konsolidatif, dan defensif. 1. Penelitian dan pengembangan Berdasarkan identifikasi dan seleksi faktor internal dan ekster­ nal, maka faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dominan dari aspek penelitian dan pengembangan (litbang) adalah sebagai berikut. Strategi Agresif (SO). Strategi ini memanfaatkan kekuatan e­ksternal dan peluang eksternal yang ada antara lain: • pemanfaatan secara optimal sumber daya genetik dan peneliti yang berkualitas dalam merakit varietas unggul, guna memenuhi teknologi yang meningkat, • pemanfaatan dukungan pemerintah untuk revitalisasi penyuluh­an guna meningkatkan proses alih teknologi, dan • pemanfaatan peneliti yang berkualitas untuk menjalin kerja sama penelitian (KSP) dalam perakitan teknologi.
43

Strategi untuk mengatasi kelemahan i­nternal dan sekaligus mengurangi ancaman eksternal. Strategi ini dimaksudkan untuk me­ manfaatkan peluang eksternal dengan memperbaiki kelemahan inter­ nal. Strategi sistem produksi benih Secara lebih rinci. Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal sekaligus mengurangi ancaman eksternal yang ada. meliputi: • pemberdayaan peneliti melalui perbaikan sistem reward bagi peneliti berprestasi. formulasi strategi dalam pengembangan sistem produksi benih kedelai berdasarkan kekuatan. peluang. • pemanfaatan KSP p­enelitian. dan • kaderisasi peneliti berkualitas melalui perbaikan rekruitmen yang sesuai dengan kebutuhan. 44 . kelemahan. dan ancaman. antara lain: • fokus penelitian pada isu-isu yang paling mendesak. Alternatif strategi yang termasuk kelompok diversifikatif adalah: • optimalisasi program diseminasi guna memenuhi kebutuhan t­eknologi yang meningkat. dan strategi defensif (ST).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Strategi Diversifikatif (WO). strategi diversifikatif (ST). strategi konsolidatif (WO). • pemanfaatan perhatian pemerintah untuk memperbaiki sistem diseminasi teknologi. dan untuk mendukung konsistensi program • prioritasi penelitian sesuai dengan keterbatasan tenaga peneliti. 2. Strategi Konsolidatif (ST). Strategi Defensif (WT). dan • perbaikan rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan. Alternatif strategi sistem perbenihan juga dikelompokkan atas dasar kombinasi antara faktor internal dan e­ksternal yang terdiri atas strategi agresif (SO).

45 . Strategi Diversifikatif (WO) . Memanfaatkan peluang eksternal secara optimal antara lain: (1) pemanfaatan teknologi untuk menekan biaya produksi benih u­nggul dan (2) pemanfaatan UPBS. • pemanfaatan varietas unggul yang tersedia dalam perakitan VUB ber­ daya hasil tinggi didukung oleh teknologi benih yang maju. dan BBU untuk meningkatkan mutu benih guna meningkatkan kepercayaan petani. abiotik maupun sosial-ekonomi dalam pengembangan sistem perbenihan kedelai. Strategi ini meliputi: • peningkatan peran penyuluh untuk menanggulangi OPT dan anomal­i iklim. • penyederhanaan sistem sertifikasi. BBI. dan • pemanfaatan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Agresif (SO). Strategi Defensif (WT). dan BBU dalam penyediaan b­enih bermutu. antara lain: • peningkatan peran UPBS. Strategi ini b­ersifat konsolidasi internal untuk menghadapi tantangan dari luar. antara lain: • perbaikan sistem alur benih dari benih sumber sampai benih sebar. Alternatif strategi untuk meman­ faatkan peluang eksternal secara optimal untuk mengurangi anca­ man eksternal dalam pengembangan perbenihan kedelai nasional. BBI. Strategi ini dimaksudkan untuk m­engurangi kelemahan internal dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengurangi ancaman eksternal baik yang bersifat biotik. Strategi untuk memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal yang cukup besar dalam pengem­ bangan sistem produksi benih kedelai mendukung peningkatan produksi nasional. • pembatasan impor melalui tarif. dan • pemanfaatan subsidi untuk pengembangan industri benih.

Strategi sistem produksi Strategi pengembangan sistem produksi ( on-farm ) kedelai d­iformulasikan dengan memperhatikan keterkaitan antara faktor i­nternal dan eksternal. Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaata­n peluang eksternal. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk memanfaatkan peluang ekternal yang ada agar kinerja produksi makin membaik. Strategi ini meliputi antara lain: • pemanfaatan VUB dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi. • penyediaan kredit lunak yang mudah diakses petani. Strategi Agresif (SO). • pemanfaatan lahan yang masih luas untuk perluasan areal tanam kedelai. 46 .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 3. Strategi Diversifikatif (WO). guna memenuhi permintaan yang terus meningkat. Strategi Konsolidatif (ST). biotik. dan • revitalisasi penyuluhan untuk mendiseminasikan budidaya kedelai sebagai tanaman sela. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dengan mengurangi atau menekan ancaman serendah mungkin baik yang bersifat sosialekonomi. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi produksi biaya rendah dengan sarana produks­i terbatas. dan • perakitan varietas unggul hasil tinggi toleran terhadap cekaman lingkungan seperti OPT dan Iklim. baik sebagai tanaman utama maupun tanaman sela. Strategi ini meliputi: • penerapan teknologi maju dalam peningkatan produksi untuk menekan laju impor. dan • pemanfaatan VUB untuk penyediaan kedelai berprotein tinggi. maupun abiotik.

• pemanfaatan teknologi pengolahan untuk menghasilkan ber­bagai produk guna mendukung perkembangan agroindustri. 4. Formulasi strategi ber­ dasarkan keterkaitan antara masing-masing faktor internal dan eksternal. dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai d­engan keterbatasan modal. Strategi penanganan panen dan pascapanen Formulasi strategi pengembangan kedelai ditinjau dari aspek pen­ anganan panen dan pascapanen didasarkan atas pengelompokan yang sama. selain manajemen peme­liharaan tanama­n pada saat kegiatan usahatani. dan defensif. Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu hasil. Strategi diversifikatif antara lain: 47 . Strategi ini meliputi: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. Penerapan teknologi pasca­ pa­nen tidak hanya menekan kehilangan hasil secara kuantitas juga meningkatkan mutu hasil. P­enanganan hasil panen dan pascapanen dalam pengem­ bangan kedelai sangat menentukan. Strategi ini dimaksudkan u­ntuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal u­ntuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada agar nilai tambah produks­i kedelai dapat dinikmati oleh petani produsen maupun p­engolah. Strategi Agresif (SO). dan • pemanfaatan alsitan untuk pengolahan hasil panen. Strategi ini dimaksudkan untuk mening­ katkan kinerja produksi di mana secara internal banyak kelemahan dan secara eksternal juga cukup banyak ancaman sehingga strategi ini harus diformulasikan secara hati-hati. konsolidatif. juga dilakukan terhadap formulasi strategi pada aspek ini yaitu agresif. Strategi Diversifikatif (WO).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Strategi Defensif (WT). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang dimiliki dan optimalisasi pemanfaa­ tan peluang eksternal. diversifikatif.

Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal dan optimalisasi pemanfaatan peluang e­ksternal. guna Strategi Konsolidatif (ST). Strategi ini meliputi: 48 . Strategi distribusi dan pemasaran Hasil analisis keterkaitan antar faktor-faktor internal seperti kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman dalam aspek distribusi dan pemasaran kedelai dan produk olahannya dikelompokkan ke dalam empat strategi. dan • penyediaan kredit lunak untuk pengadaan alsintan m­eningkatkan produk olahan berbahan baku kedelai. dan defensif. konsolidatif. diversifikatif. Strategi ini antara lain: • pemanfaatan tenaga yang terbatas untuk menekan kehilangan hasil. Strategi Agresif (SO). Strategi ini antara lain: • penerapan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatkan mutu produk dan meningkatkan harga jual dan • penggunaan alsintan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja dalam pengolahan Strategi Defensif (WT).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan teknologi panen dan pascapanen untuk meningkatka­n hasil panen bermutu. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan dan eksternal yang juga cukup banyak ancaman. yaitu agresif. Strategi ini tampaknya harus diformu­ lasikan secara hati-hati. 5. Strategi ini diarahkan untuk meman­ faatkan secara optimal kekuatan internal dalam peningkatan nilai tambah hasil dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. dan • penggunaan alsintan sederhana yang terjangkau sesuai de­ngan keterbatasan modal.

Strategi ini meliputi: • pemanfaatan infrastruktur guna mempersingkat rantai pemasaran. Penerapan teknologi informasi akan memperlancar arus data dan informasi dari pasar ke produsen dan ke pengolah begitu pula sebaliknya. Strategi ini diharapkan mampu mening­katkan nilai tambah distribusi dan pemasaran di tingkat petan­i produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat teknis maupun sosial-ekonomi. • pemanfaatan transportasi yang lancar untuk menekan biaya trans­ portasi. dan • intensifikasi di daerah sentra produksi untuk memenuhi p­ermintaan kedelai yang meningkat. Strategi Defensif (WT) . dan • penerapan tarif terhadap kedelai impor secara proporsional. Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal yang masih banyak kelemahan pada tingkat petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang juga tidak 49 .Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI • pemanfaatan infrastruktur guna mendukung pengembangan i­ndustri pengolahan. dan • peningkatan intensifikasi di sentra produksi guna menekan laju impor. Strategi diversifikatif terdiri atas: • kerja sama petani dengan pengusaha m­eningkatkan daya tawar petani. Strategi Diversifikatif (WO). Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal untuk me­ manfaatkan peluang pasar eksternal yang ada agar kelancaran arus kedelai dari petani produsen maupun pengolah sampai ke pasar baik di desa maupun di kota terjamin. • pemanfaatan jaringan transportasi guna mendukung p­engem­ bangan industri pengolahan. pengolahan untuk • perbaikan sistem informasi pasar melalui penerapan teknologi i­nformasi. Strategi Konsolidatif (ST).

pe­ nyuluhan. dan industri pengolahan. Seperti halnya pada aspek-aspek lainnya. Strategi agresif dari aspek kelembagaan. Strategi Diversifikatif (WO) . Strategi penguatan kelembagaan Percepatan penerapan revitalisasi kelembagaan petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai kalah banyaknya. konsolidatif. antara lain: • pemanfaatan lembaga perkreditan untuk mendorong swasta dalam industri pengolahan. formulasi strategi dalam aspek kelembagaan juga dikelompokkan ke dalam empat magnitude sesuai dengan analisis SWOT yaitu agresif. Strategi ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan internal dan mencoba secara optimal me­ manfaatkan peluang eksternal yang ada agar seluruh kelembagaan baik di tingkat petani produsen maupun prosesing di pedesaan. penyuluhan maupun permodalan serta optimalisasi pemanfaatan pe­ luang eksternal. Strategi ini meliputi: • pemanfaatan informasi pasar yang ada guna memperpendek r­antai pemasaran. 6. diversi­ fikatif. penyuluhan. dan • penerapan tarif impor untuk menekan volume impor dan m­eningkatkan daya tawar petani. dan • pemberdayaan kelompok tani guna mendukung program alih t­eknologi. dan permodalan pada tingkat pedesaan tampaknya akan merupakan katalisator dalam upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Strategi Agresif (SO). Strategi ini diformulasikan untuk meman­ faatkan kekuatan internal yang ada pada tingkat organisasi petani. Strategi ini harus diformulasikan secara tepat dan hati-hati. dan defensif. • sinkronisasi kelembagaan alih teknologi dengan program revita­ lisasi penyuluhan. Kelembagaan petani produsen yang ditangani secara profesional akan mampu meningkatkan posisi tawar petani dalam pasar produk 50 .

Strategi diversifikatif terdiri atas: • pemanfaatan program alih teknologi dan penyuluhan untuk p­erbaikan sistem penyuluhan. • revitalisasi kelompok tani guna meningkatkan kepercayaan petan­i.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI kedelai yang secara alami bersifat kompetitif. dan • sinkronisasi peraturan dan kelembagaan antara pusat dengan daerah. Strategi ini antara lain: • percepatan penerapan revitalisasi penyuluhan dan lembaga p­ermodalan. Strategi ini diharapkan mampu melakukan konsolidasi manajemen usaha agribisnis kedelai untuk nilai tambah pada tingkat petani produsen dengan mengurangi atau menekan ancaman baik yang bersifat manajemen maupun sosialekonomi. Strategi defensif yang terkait dengan masalah dis­ tribusi dan pemasaran harus diformulasikan secara tepat dan hatihati. Penerapan teknologi informasi dan manajemen usaha yang efisien akan memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen dan sebaliknya. dan • kerja sama petani dengan swasta guna meningkatkan ketersediaa­n modal bagi petani. • penegasan komitmen pimpinan kelembagaan dalam pelaksanaan peraturan. guna meningkatkan fungsi kelembagaan. Strategi ini meliputi: • perbaikan kinerja lembaga permodalan dan alih teknologi untuk meningkatkan kepercayaan petani terhadap kelembagaan yang ada. serta peningkatan peran dan fungsi kelompok. Strategi Defensif (WT). Strategi Konsolidatif (ST). dan 51 . Strategi ini diarahkan untuk mengatasi kondisi internal institusi yang masih banyak kelemahan pada tingka­t petani produsen maupun pengolah dan masalah eksternal yang merugikan petani.

yaitu: (1) pemantapan lembaga penyuluhan dan keterkaitannya dengan lembaga penelitian. maka KSP dapat dilakukan dengan sistem cost sharing. Dua program operasional yang dirumuskan sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut adalah: (1) penelitian ung­ gulan sesuai kebutuhan stakeholders. Kebijakan dan program penelitian dan pengembangan Kebijakan dan Program Agresif (SO). Prioritas Kebijakan dan Program Pengembangan 1. yaitu: (1) percepatan im­ plementasi revitalisasi penyuluhan. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). Implementasi dari kerja sama penelitian (KSP) dapat dilakukan dalam bentuk konsorsium. dalam rangka konsistensi program penelitian. B. baik nasional maupun interna­ sional. Dari aspek litbang. Dalam mempercepat revitalisasi penyuluhan. Kedua strategi ini berpijak dari keterbatasan tenaga peneliti dan inkon­ sistensi program penelitian. baik nasional maupun internasional. sebagian keterbatasan dana peneli­ tian dari Badan Litbang Pertanian dapat diatasi melalui kerja sama ini. kebijakan terse­ but harus ditindaklanjuti dalam bentuk program operasional. namun tetap berupaya memanfaatkan pe­ luang KSP dengan pihak luar. Dengan demikian. kebija­ kan pengembangan yang tertapis dua strategi. dan (2) melakukan KSP jangka menengah dan panjang dengan lembaga penelitian lain. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST).AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai • peningkatan akses petani terhadap sumber modal melalui p­erbaikan komitmen pimpinan kelembagaan. 52 . dan (2) fasilitasi KSP antara peneliti litbang dengan lembaga penelitian lain. dan (2) penerimaan tenaga penyuluh disertai dengan penye­ diaan fasilitas pendukungnya. dan (2) pemantapan program penelitian untuk menjalin KSP dengan pihak luar. baik nasional maupun internasional. Jika pendanaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Satu kebijakan tertapis dan yang paling dominan yaitu penyediaan insentif bagi peneliti ber­ prestasi melalui penerapan HaKI dan tunjangan peneliti yang m­emadai. Kebijakan yang ter­ tapis adalah: (1) penajaman prioritas penelitian sesuai dengan SDM yang tersedia.

maka strategi kebijakan dan pro­ gram yang relevan dalam pengembangan kedelai tertapis lima kebi­ jakan dan program yang terkait dengan sistem perbenihan kedelai. dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. Dari aspek perbenihan. dan (2) penyediaan fasilitas dan pengangkatan tenaga yang dibutuhkan UPBS. BBI dan BBU dalam penyediaan benih bermutu. dan (2) meningkatkan peran UPBS. dan BBU dapat ber­ peran lebih baik dalam penyediaan benih unggul bermutu. Sedangkan program yang mendesak untuk diimplementasikan adalah pene­ rimaan pegawai sesuai kebutuhan lembaga penelitian. Dengan demi­ kian kesinambungan antara peneliti senior dengan peneliti yunior akan berjalan dengan baik. dan BBU yang ada. Kebijakan dan program sistem perbenihan Dari hasil analisis tapisan. BBI. BBI. Formulasi kebijakan tertapis tersebu­t bertujuan untuk: (1) memanfaatkan subsidi benih dari pemerintah se­ cara optimal.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut. Kebijakan dan pro­ gram ini diharapkan dapat mendorong kreativitas peneliti dalam meng­ hasilkan teknologi dan rumusan kebijakan baru yang prospektif. dan UPBS. 53 . strategi yang bersifat agresif (SO) adalah: (1) pemanfaatan subsidi b­enih untuk penyediaan varietas unggul. Sedangkan kebijakan pengembangan yang berkaitan dengan strategi SO tersebut adalah: (1) implementasi disertai pengawasan subsidi benih untuk penyediaan varietas unggul. diharapkan subsidi benih dari pemerintah d­apat dimanfaatkan secara tepat sasaran. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Kebijakan yang dibu­ tuhkan untuk perbaikan kinerja tenaga peneliti adalah rekruitmen tenaga peneliti sesuai kebutuhan lembaga penelitian. D­engan demikian. BBI. Kebijakan dan Program Agresif (SO). Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) program benih tepat sasaran. maka program yang harus dilaksanakan adalah perbaikan sistem tunjangan fungsional peneliti dan penerapan HaKI secara konsekwen. dan (2) peningkatan peran UPBS. 2. BBI. dan (2) peningkatan kemampuan UPBS. dan BBU.

kebijakan yang tertapis dan dominan adalah perbaikan dan penye­ derhanaan peraturan sertifikasi. Dalam rangka pembinaan penangkar benih lokal. penggunaan bahan organik (pupuk kandang atau mulsa jerami­). Sementara itu. Kunci keberhasilan yang pernah dicapai Indonesi­a pada awal tahun 1990an adalah adanya program jalur benih antara musim dan lapang (Jabalsim). Program yang terkait dengan kebijakan ini adalah pengembangan teknologi produksi benih hemat lahan. Kebijakan ini untuk menanggulangi keterbatasan dan mahalnya sarana produksi dalam upaya pengembangan teknologi hemat biaya ( least cost technology ) untuk produksi benih unggul.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO). benih dasar dan benih pokok pada tingkat BBI-BBU dan benih sebar pada tingkat penangkar. Program ini bisa dihidupkan lagi dengan memperbaiki sistem perbenihan mulai dari benih inti dan benih sumber pada Balit Nasional. Contoh bentuk teknologi tersebut antara lain adalah budi daya benih kedelai tanpa olah tanah (zero tillage­ ). Sedangkan program yang r­elevan untuk merealisasikan kebijakan tersebut adalah pelatihan p­enangkar benih di tiap daerah. Program pendukungnya adalah p­enerapan sertifikasi singkat dan tepat sasaran. 54 . Pada strategi WO. yaitu hanya dua bulan. Kondisi ini kurang kondusif bagi i­ndustri benih kedelai di Indonesia. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan penangkar benih dalam memproduks­i benih kedelai bermutu. umur sertifikat benih kedelai hanya tiga bulan sejak mulai pengujian. tenaga kerja. kebijakan yang dibutuhkan adalah fasilitasi pelatiha­n penangkar benih di tiap daerah. Kebijakan dan pro­ gram ini ditujukan untuk mengatasi masalah birokrasi yang panjang pada sistem sertifikasi saat ini yang memakan waktu paling cepat satu b­ulan. sehingga masa penjualan benih relati­f singka­t. Kebijakan dan Program Defensif (WT). air. dan input kimiawi. dan insektisida hayati. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) .

Alternatif kebijakan yang dibutuhkan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampila­n tenaga penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT dan anomali iklim. dan (2) penanaman kedelai pada musim kering di lahan tidur. Kebijakan yang terkait adalah: (1) pengembangan teknologi PTT. antara lain: (1) menekan senjang hasil antara tingkat penelitian atau pengkajian dengan tingkat petani. (2) meningkatkan stabilitas hasil melalui peringatan dini terhadap ledakan hama dan penyakit maupun anomali iklim.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI 3. Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah introduksi teknologi biaya rendah u­ntuk menekan biaya produksi. dan (2) perluasan areal tana­m untuk meningkatkan luas panen dan produksi kedelai. Kebijakan dan program sistem produksi Kebijakan dan Program Agresif (SO). Kegiatan lain yang juga perlu mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas kedelai adalah pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan produksi. tenaga kerja. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan peningkatan produktivitas adalah penggunaan varietas u­nggul dan pemupukan berimbang yang dikemas dalam pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT). Kebijakan dan Program Defensif (WT). dan (4) pemanfaatan potensi genetik tanaman melalui kemajuan iptek pertanian. air. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . (3) mengurangi kehilangan hasil. Sedangkan program pendukung yang r­elevan adalah budidaya kedelai hemat lahan. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kedelai di tingkat petani. Sedangka­n p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan ini adalah: (1) penyediaan kredit dan pendampingan untuk penerapan teknologi PTT. dan input kimiawi. Alternatif kebijakan yang diformulasikan adalah intensifikasi kedelai untuk meningkatkan produktivitas. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST). Sedangkan program dibutuhkan untuk mendukung k­ebijakan tersebut adalah pelatihan penyuluh dalam identifikasi dan penanggulangan OPT serta anomali iklim. 55 .

dan (2) peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur guna 56 . 5.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai 4. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) optimalisasi pe­ nyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolah kedelai. Kebijakan dan program ini dibutuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menekan kehilangan hasil panen dan pascapanen. Alternatif kebijaka­n yang diformulasikan adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pe­ ngadaan alat pengolahan. Kebijakan yang diperlukan adalah: (1) perbaikan jaringan transportasi untuk memperlancar arus barang. Kebijakan yang terkait untuk menekan kehilangan hasil adalah pengembangan i­ndustri r­umah tangga untuk pengolahan kedelai. dan (2) pelatihan penyuluh dalam teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan dan Program Defensif (WT). Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pelatihan pengolahan hasil bagi petani untuk menekan kehilangan hasil panen. Sedangkan program yang relevan untuk mendukun­g kebijakan tersebut adalah: (1) demonstrasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. dan (2) optimalisasi penyaluran kredit lunak untuk alsintan. Kebijakan dan program distribusi dan pemasaran Kebijakan dan Program Agresif (SO). Alternatif kebijakan yang terkait adalah penigkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan hasil panen. Alternatif kebijakan yang diperlukan untuk merealisasikan strategi ini adalah: (1) promosi t­eknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Kebijakan dan program panen dan pascapanen Kebijakan dan Program Agresif (SO) . Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Sedangkan p­rogram yang relevan untuk mendukung kebijakan yang bersifat konsolidatif adalah pelatihan pengolahan kedelai menjadi produk olahan. dan (2) revitalisasi fungsi dan peran penyuluh dalam alih teknologi panen dan pascapanen. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsin­ tan praproduksi dan produksi.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI mendukung pengembangan industri pedesaan. Alternatif kebijakan yang terkait adalah perbaikan jaringan transportasi untuk menekan biaya transportasi. Alternatif kebijakan yang sesuai adalah: (1) penyaluran kredit lunak untuk pengadaan alat pengolahan. Kebijakan dan program kelembagaan Kebijakan dan Program Agresif (SO). dan (2) pelatihan penyuluh dalam bidang teknologi panen dan pascapanen. dan (2) penyaluran kredit lunak untuk alsintan praproduksi dan produksi. dan (2) pembangunan dan perbaikan infrastruktur untuk mendukung kelancaran pemasa­ ran hasil industri pangan. laut dan udara. Kebijakan dan program ini di­ butuhkan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meng­ konsolidasikan manajemen distribusi dan pemasaran yang secara internal masih banyak kelemahan dan ancaman dari faktor eksternal pun masih cukup banyak. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengadaan dan per­ baikan sarana angkutan darat. Sedangkan program yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) demon­ strasi teknologi pengolahan berbagai produk berbahan baku kedelai. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk men­ dukung implementasi kebijakan tersebut di atas adalah pengadaan dan perbaikan sarana angkutan darat. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . Alternatif kebijakan yang diperlukan adalah: (1) pengembangan teknologi siap terap sebagai b­ahan penyuluhan. Kebijakan dan Program Defensif (WT ). Alternatif kebijakan yang terkait adalah peningkatan pelaksanaan dan pengawasan tarif impor. 6. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung kebi­ jakan tersebut adalah peningkatan kualitas SDM dan fasilitas dalam pelaksanaan pengawasan tarif impor. Sedangkan 57 . laut dan udara. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . dan (2) peningkatan kemampuan dan keterampila­n petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil.

dan (2) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut adalah pengembangan lembaga keuangan mikro ( micro finance ) guna mendukung alih teknologi. dan (2) pelatihan petani dalam penerapan teknologi pengolahan hasil. Kebijakan dan Program Konsolidatif (ST) . Alternatif kebija­ kan yang sesuai adalah: (1) fasilitasi kemitraan dalam penyediaan sarana produksi dan pemasaran hasil. 58 . Alternatif kebijakan yang terkait adalah percepatan revitalisasi kelompok tani guna m­eningkatkan kepercayaan petani. Sedangkan program yang dibu­ tuhkan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah pemberdayaan kelompo­k tani melalui konsolidasi manajemen kelompok dan p­enguatan modal kelompok. Sedangkan program yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan tersebut adalah: (1) pengembangan pola kemitraan dalam penyediaan sara­ na produksi dan pemasaran hasil. Kebijakan dan Program Defensif (WT) .AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai progra­m yang relevan untuk mendukung kebijakan tersebut adalah: (1) penyebarluasan teknologi siap terap dan alat peraga bagi penyuluh. Kebijakan dan Program Diversifikatif (WO) . dan (2) demplot inovasi teknologi baru dengan melibatkan peneliti-penyuluh-kelompok tani. Alternatif kebijakan yang terkait adalah revitalisasi kelembagaan permodalan dan alih teknologi.

Produksi kedelai nasional cenderung menurun sejak tercapainya produksi tertinggi pada tahun 1992 yang mencapai sekitar 1. Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Menengah Kedelai merupakan salah satu komoditas industri baik industri pangan maupun pakan.5 ton biji kering/ha. Oleh karenanya. peta jalan menuju pencapaian sasaran jangka menengah peningkat­an produksi kedelai diawali dengan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemu­ kan inovasi teknologi baru pada m­asing-m­asing agroekosistem.6 juta ton. PETA JALAN MENUJU PENCAPAIAN SASARAN PENGEMBANGAN A. Di sisi lain. menunjukkan potensi hasil yang berkisar antara 2. Untuk memanfaatkan peluang tersebut diperlukan strategi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI VII. Peluang peningkatan produksi kedelai menuju swasembada masih cukup besar terutama melalui peningkatan produktivitas dan perluasan area panen. Ancaman lain terhadap upaya peningkatan produksi kedelai adalah harga kedelai im­ por yang lebih murah dan mudah diperoleh. Usahatani kedelai dihadapkan kepada resiko yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan lain sehingga kurang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat on farm. dukungan kebijakan dan program pengembangan yang kondusif yang mampu memberikan insentif bagi petani kedelai untuk meningkatkan produktivitas per satuan luas lahan.02. Rendahnya produktivitas di tingkat petani antara lain disebabkan oleh penggunaan varietas lokal setempat dengan hasil rendah dan penggunaan benih produksi sendiri oleh petani. Kondisi ini makin mendorong menurunnya produksi kedelai domestik pasca 1992. Secara simultan program litbang diikuti dengan diseminasi dan promosi inovasi 59 . belum tersedianya benih bermutu secara luas dan belum diadopsinya teknologi spesifik lokasi secara luas turut berpe­ran menyulitkan upaya peningkatan produktivitas kedelai. Namun peningkatan produktivitaspun sangat lambat dan sulit karena belum ditemukannya varietas unggul baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata. Varietas unggul baru (VUB) kedelai yang telah dilepas oleh Badan Litbang Pertanian. Berkurangnya luas areal tanam adalah penyebab utama menurunnya produksi sekalipun produktivitas dapat ditingkatkan.

Program litbang diawali dengan pembentukan database dan deli­ neasi lahan-lahan potensial yang sesuai untuk pengembangan kedelai. (2) diseminasi inovasi tekno­ logi. Peta jalan pengembangan kedelai perlu dibuat secara cermat agar tahapan pengembangan dan langkah-langkah operasional tetap berada pada upaya pencapaian swasembada kedelai. Peng­ kayaan materi genetik dan plasma nutfah sangat penting untuk perbaikan varietas unggul baru untuk masing-masing agroekosistem.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai teknologi baru baik VUB maupun PTT kedelai di lahan kering maupun la­ han sawah. Pada hirarki ke-4 dan ke-5 masing-masing adalah calon penerima manfaat dan dampak yang diharapkan. Sisa tanaman pada saat panen dapat dijadikan pakan ternak terutama pada musim kemarau. kedelai dapat diusahakan terintegrasi de­ngan tanaman lain seperti ubi kayu. Perakitan va­ rietas kedelai yang lebih toleran terhadap lahan kering masam dan lahan kering beriklim kering tetap menjadi prioritas untuk membantu petani agar memiliki pilihan varietas yang lebih luas dalam melakukan usahataninya. s­edangkan 60 . Perakitan VUB juga dirancang atas dasar kesesuaian terhadap preferen­ si dan selera pengguna serta permintaan pasar (demand driven). diikuti dengan pembentukan jaringan pasar (Gambar 4). dan (5) pembentukan jaringan pasar. (3) program aksi atau scaling up. VUB kedelai tipe baru akan menjadi salah satu program unggulan ke depan. Secara simultan dilakukan perakitan teknologi produksi dengan pendeka­ tan PTT. Kedelai juga sangat potensial diusahakan dalam suatu sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL). (4) program masalisasi (produksi nasional). maka kedelai perlu diusahakan terinte­ grasi dengan komoditas lain termasuk ternak dalam suatu pola usahatani terpadu. padi gogo. Selanjutnya. VUB yang akan dihasilkan juga dirakit dengan pertimbangan setelah dilepas varietas tersebut mampu menciptakan pasar (demand driving). jagung dan aneka k­acang lainnya. Di sisi lain. Untuk lebih memacu upaya peningkatan produktivitas. Pada lahan kering. Sedangkan perakitan VUB baru kedelai masih diprioritaskan un­ tuk mencapai target hasil per hektar mendekati potensi genetiknya. Peta jalan menuju penca­ paian sasaran jangka menengah menggambarkan lima program utama yaitu: (1) penelitian dan pengembangan. untuk menekan risiko dalam usahatani dan memper­ luas sumber pendapatan petani.

Usaha berkelompok dapat dilakukan oleh petani dalam bentuk koperasi. Na­ mun pada jangka menengah petani didorong untuk mampu menciptakan nilai tambah baik secara individu maupun berkelompok. Program ini dapat dilakukan dengan penyuluhan langsung pada petan­i. Di sisi lain penganekaragaman produk olahan berbahan baku kedelai perlu diperluas dengan memperkuat jaringan pasar produk kedelai. 61 . kegiatan difokuskan kepada upaya untuk mempercepat penyebaran dan adopsi inovasi teknologi. korporasi. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses kelompok usaha agribisnis kedelai terhadap sumber modal. atau asosiasi yang berbadan hukum. pemasyarakatan inovasi teknologi kedelai juga dapat dilakukan melalui mass-media baik c­etak maupun elektronik. misalnya dalam bentuk korporasi pengolahan kedelai. Penerbitan dan penyebarluasan brosur. Pengembangan kedelai juga harus d­iikuti d­e­ ngan program aksi. pengembangan jaringan pasar perlu dilaku­ kan melalui penyediaan informasi pasar yang cepat dan akurat termasuk market intelligence dan membangun database tentang perkembangan pasar komoditas unggulan masing-masing daerah termasuk kedelai. diyakini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mela­ kukan agribisnis kedelai. Pada hirarki berikutnya. Selain dengan memperagakan secara langsung di lahan petani. leaflet dan bookle­t dengan bahasa yang mudah mengerti oleh petani. Dengan demikian. Pemasaran kedelai di tingkat petani umumnya adalah dalam bentuk biji kering. nilai tambah dari penanganan hasil ini dapat langsung diminati oleh petani sekaligus me­ ningkatkan posisi tawar petani. ekspose. dan demontrasi di lahan petani ( dem-farm). Demon­ strasi teknologi di lahan petani dapat meliputi antara lain: teknologi budidaya dan teknologi penanganan hasil panen dan pascapanen termasuk pengolahan hasil sekunder. pameran. Dari aspek diseminasi dan promosi.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI pupuk kandang dan kompos sisa tanaman dapat dijadikan p­upuk organik untuk memperkaya kandungan bahan organik dalam tanah. masalisasi atau program nasional dan diversifikasi pengembangan produk olahan di tingkat pedesaan. Kinerja manajemen usaha pengolahan kedelai harus terus ditingkatkan sehingga bisnis komoditas ini dapat bersaing dengan bisnis komoditas lainnya sehingga kedelai mampu merebut kembali keunggulan kompetitifnya di tingkat on farm.

. Peta jalan (road map) menuju sasaran jangka menengah (5 tahun ke depan) pengembangan kedelai.62 AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 4.

0% per tahun. pengem­ bangan industri pengolahan kedelai di pedesaan hendaknya memper­ hatikan daerah sentra produksi untuk menekan biaya transportasi kedelai s­ebagai b­ahan baku industri.55% per tahun sampai 2025. penerima manfaat dari upaya pening­ katan produksi kedelai adalah petani produsen yang mengembangkan sistem integrasi tanaman ternak dalam usaha tani terpadu bebas lim­ bah (SITT-BL). pengusaha yang bergerak di bidang industri pengolahan juga mendapat keuntung­ an dari proses peningkatan nilai tambah dan jaminan pasokan bahan baku melalui pola kemitraan yang disepakati oleh kedua belah pihak. (4) keterkaitan regional (pewilayahan komoditas u­nggulan dan i­ndustri pengolahannya). Namun demikian. Mela­ lui pengembangan model integrasi tanaman ternak ini petani akan mampu meningkatkan indek pertanaman dalam pola tanam setahun. Sedangka­n pendapatan rumah tangga tani diperkirakan akan terus meningkat dan m­encapai US$ 2500/kk/tahun pada akhir program. Konsumsi kedelai diproyeksikan meningkat 2. Peta jalan menuju sasaran jangka panjang pengembangan i­ndustri pengolahan kedelai di pedesaan disajikan pada Gambar 5. mengurangi risiko kegagalan dan sekaligus mempertahankan kesuburan tanah. B. Keempat keterkaitan tersebut 63 . Peta Jalan Menuju Sasaran Jangka Panjang Sasaran jangka panjang pengembangan kedelai adalah berkem­ bangnya industri pengolahan baik untuk pakan maupun industri pa­ ngan di pedesaan yaitu antara 2. Muara dari penca­ paian sasaran jangka panjang peningkatan produksi dan pengem­bangan industri pengolahan kedelai adalah tumbuh dan berkembangny­a nilai tambah dan ekonomi pedesaan. Empat keterkaitan utama dapat dilihat antara lain: (1) keterkaitan i­nstitusional (kelembagaan).5-5. (2) keterkaitan horisontal (diversifikas­i horizontal­).Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Pada hirarki selanjutnya. (3) keterkaitan vertikal (penciptaan nilai tambah melalu­i pengolahan hasil). memperluas sumber pendapatan.0-2. Dengan demikian muara dari manfaat tersebut adalah meningkatnya pendapatan dan kesejah­teraan rumah tangga tani dan masyarakat pedesaan. juga petani dalam pola kemitraan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Di sisi lain. Pengembangan diversifikasi vertikal melalui pengolah hasil tidak hanya bermanfaat bagi prosesor.

(4) k­onsolidasi manajeme­n usaha agribisnis dalam bentuk sistem usaha agribisnis k­orporasi (integrate­d corporate agribusiness system. PTT spesifik lokasi kedelai dapat menggunakan varietas unggul baru dengan potensi hasil tinggi yang mendekati potensi genetiknya. Sedangkan keterkaitan horizontal dalam pengembangan kedelai adalah pelaksanaan program peningkatan produksi dan pengemban­ gan industri pengolahan secara konsisten yang diawali dengan: (1) ka­ rakterisasi dan dileniasi agroekosistem yang sesuai (agro-ecosystem zoning. serta dikehendaki oleh kedu­a belah pihak. Muara dan manfaat dari peta jalan tersebut ber­ ujung kepada membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan r­umah tangga tani dan masyarakat di pedesaan. 64 . di wilayah surplus maupun defisit berupa arus barang dan jasa yang lancar. Mengintegrasikan kedelai ke dalam sistem integrasi tanaman ternak bebas limbah (SITT-BL) terutama di lahan kering yang pada umumnya kurang subur dapat memperluas dan memperkuat sumber pendapatan rumah tangga tani di wilayah ini. (2) revitalisasi program penyuluha­n untuk percepata­n prose­s diseminasi dan adopsi inovasi teknologi pertanian. AEZ). menguntungkan dan saling ketergantungan. dan (4) integrasi kedelai ke dalam sistem usahatani terpadu di tingkat petani. (3) pemberdayaan kelembagaan permodalan pertanian. (2) varietal selection and testing. Semua hirarki dalam peta jalan tersebut. baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang akan menjadi lintasan utama menuju peningkatan produksi dan pengembangan industri pengolaha­n kedelai di pedesaan. (3) penelitian dan peng­ kajian (litkaji) PTT kedelai untuk masing-masing agroekosistem atau yang bersifat spesifik lokasi. Keterkaitan institusional atau kelembagaan merupakan pra-syarat (pre-requisite) dan pilar utama pengembangan agribisnis komodita­s kedelai baik sebagai bahan baku maupun produk olahan industri p­angan maupun pakan. ICAS). Pengembangan sistem usahatani tumpang sari dalam pola seta­ hun pada sentra-sentra produksi kedelai. Keterkaitan kelembagaan meliputi: (1) revitalisas­i kelemba­ gaan petani.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai akan m­emberikan dampak positif bagi calon penerima manfaat baik di tingkat produsen maupun konsumen akhir. dan (5) pengembangan sistem agribisnis kemitraan yang saling membutuhkan.

Peta jalan (road map) menuju pencapaian sasaran jangka panjang 20 tahun ke depan.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Gambar 5. AGRO INOVASI 65 .

Pengembangan keterkaitan vertikal dalam produksi dan industri pengolahan kedelai dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah di tingkat petani melalui penerapan inovasi teknologi pengolahan hasil baik primer maupun skunder yang meliputi: (1) pengembangan diver­ sifikasi produk olahan kedelai.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Sedangkan pada lahan irigasi pada umumnya kedelai diusahakan setelah usahatani padi. Program ini tentu harus dipicu oleh kebijakan yang bias kepada pedesaan. 66 . Kelancaran arus barang dan jasa akan memacu pertumbuhan ekonomi regional. (2) pengembangan industri pengolahan di pedesaan. Peningkatan aksesibilitas terhadap pasar diharapkan mampu meningkatkan arus barang dan jasa melalui perdagangan antara wilayah surplus dan wilayah defisit. ICAS) merupakan jalan keluar untuk meningkatkan posisi tawar petani dan segera keluar dari perangkap kemiskinan baik sementara maupun permanen. Untuk mendukung memasarkan hasil produksi dan produk olahan secara luas perlu penguatan dan peningkatan infrastruktur dan jasa angku­ tan antar pulau maupun wilayah. dan 3) pemanfaatan limbah pengolahan kedelai sebagai pakan ternak dan pangan seperti oncom sebagai salah satu sumber protein. Oleh karena itu. konsolidasi usaha antarpetani dalam bentuk kelompok usaha agribisnis terpadu (KUAT) yang dike­ mas ke dalam sistem usaha agribisnis korporasi terpadu (integrated corporate agribusiness system. Percepatan program pengembangan industrialisasi pedesaan akan memberikan arah pada pemanfaatan kedelai dalam menciptakan nilai tambah di pedesaan. dapat dilakukan melalui pola kemitraan dengan pihak swasta. Dalam hirarki keempat. limbah dan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk memperkaya bahan organik tanah. Masih terbuka kemungkinan untuk memproduksi biogas melalui dekompos limbah samping dari sistem ini. diperlukan dileniasi wilayah pengem­ bangan kedelai antar wilayah sebagai komoditas unggulan. Proses penciptaan nilai tambah ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi pedesaan. Sistem integrasi ini akan mendorong produksi produk sampingan secara in-situ seperti sisa tanaman sebagai pa­ kan ternak. Pengembangan SITT-BL.

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Muara dari semua program yang dicanangkan tersebut di atas adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyaraka­t k­hususnya petani kedelai dan keluarganya serta masyarakat pedesaa­n. Sasaran lain dalam pengembangan industri pengolaha­n kedelai adalah tersedianya lapangan kerja bagi angkatan kerja pedesaa­n guna mengurangi beban sektor pertanian yang selalu m­enjadi tumpuan terakhir dalam pemecahan masalah ketenagakerjaa­n. 67 .

sehingga produksi diharapkan tumbuh rata-rata 8. mesin perontok. Pada posisi tersebut. juga diperlukan investasi u­ntuk penelitian dan pengembangan (Litbang) dalam merakit teknologi baru.5% per tahun berturut-turut pada periode lima tahu­n kedua. Untuk mencapai sasaran pengembangan tersebut.02 juta ton. ketiga. dan sumur pantek untuk pengairan. KELAYAKAN INVESTASI Dalam upaya mencapai sasaran produksi yang ditargetkan s­eperti terlihat pada Tabel 6-8.07 juta ton. diperlukan sarana dan a­lsintan seperti traktor. Masing-masing skenari­o m­empunyai target waktu pencapaian swasembada yang berbeda. dan skenario 3 ditargetkan untuk mencapa­i swasembada pada tahun 2025. produktivitas ditargetkan tumbuh rata-rata 2.93% per tahun selama periode yang sama. Di samping itu. 68 . pengering. diperluka­n berbagai investasi. per­ tumbuhan areal panen ditargetkan menurun dari rata-rata 10% per tahu­n selama periode lima tahun pertama (2005-2010). skenario 2. dan keempat. Di tingkat usahatani.0%. yaitu skenario 1. A. pertumbuhan areal panen diharapkan rata-rata 6. S­kenario 1 menargetkan swasembada kedelai pada tahun 2020. menjadi 7. pertumbuhan areal panen dan produktivita­s dirancang berbeda. diharapkan pada tahun 2020 produksi mencapai sekitar 3.25% per t­ahun selam­a periode 2005-2025. Untuk mencapai sasara­n dari ketiga skenario tersebut. Selama 20 tahun pengembangan. bahwa untuk skenario 1. dan 3. maka ditempuh tiga skenario. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 1 Seperti terlihat pada Tabel 5. bahkan terdapat surplus sekitar 50 ribu ton. sedangkan konsumsi kedelai dalam negeri diproyek­ sikan 3.5%.50% per tahun. Indonesia sudah mencapai swasembada kedelai. Selain sarana fisik. s­kenario 2 pada tahun 2015.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai VIII. Dengan skenario ini. dan skenario 3. 5. serta investasi untuk revitalisasi penyuluhan.

kumulatif biaya investasi yang dibutuhkan untuk kedelai secara kumulatif adalah sekitar Rp 393 miliar untuk traktor. Diasumsikan umur ekonomi alsintan 5 tahun. kacang tanah atau s­ayuran. Selain itu. dan Rp 54 miliar untuk kegiatan penyuluhan. Seperti terlihat pada Tabel 12. jagung. total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan kedelai selama 20 tahun ke depan berdasarkan skenario 1 adalah sekitar Rp 11. kebutuha­n investasi untuk pengembangan kedelai berdasarkan skenario 1 adalah seperti disajikan Tabel 12. kedelai. yaitu 30%. Selain pembelian. masih dibutuhkan biaya investasi untuk kegiatan penelitian dan pengembangan kedelai sebesar Rp 89 miliar. Sedangkan tahun-tahun di antaranya tambahan investasi dilakukan berdasarkan tambahan areal tanam kedelai. Sedangkan untuk mesin perontok dan investasi Litbang khusus digunakan untuk kedelai.73 triliun untuk mesin pengering.17 triliun untuk sumur pantek. sehingga pembebanannya pada pengembangan kedelai sebesar 50%. Untuk investasi penyuluhan. sehingga setela­h berumur lima tahun dilakukan penggantian alsintan. bahwa investasi yang besar diperlukan pada tahun awal (2005) dan tiap lima tahun berikutnya. Rp 3. termasuk mesin pompa sumur pantek. Demikia­n juga untuk pengering yang dapat digunakan u­ntuk menge­ringkan berbagai komoditas pertanian.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Investasi traktor digunakan untuk penanaman seluruh tanama­n semusim. dan Rp 4. seperti padi. juga dibutuhkan biaya pemeliharaan dan operasional yang nilainya masing-masing diperkirakan 5% per tahun dari biaya pengadaan alat. sehingga hanya 30% yang dibebankan pada pengembangan kedelai. Untuk sumur. sehingga beban biaya i­nvestasi untuk kedelai diperkirakan 30% dari total nilai investas­i traktor. p­enggunaannya juga diharapkan pada 2 musim palawija. pembebanannya juga seperti pengering. sehingga bebannya 100% untuk kedelai. Secara keseluruhan. Selama periode 20 t­ahun pengembangan. Investasi untuk a­lsintan dan sumur mulai dilakukan pada tahun awal berdasarkan luas areal pertanaman kedelai. Rp 2.73 triliun untuk mesin perontok. dalam satu siklus pola tanam setahun. 69 .16 triliun. Secara lebih rinci.

kegiatan investasi untuk pengembangan kedelai de­ ngan skenario 1 cukup layak dilakukan.71 1. karena diperoleh keuntungan dari investasi sekitar 92% dari total biaya investasi.66 194.20 169.85 2.526 1.146 13.951 18.00 188.76 1.35 380.160 3.88 254.73 6.72 57.035 1.88 2.74 149 2009 833 1.73 177.17 29.12 1.97 574 2020 1. Dengan kata lain.604 9.82 34.63 5.98 127.692 1.29 3.42 126.19 4.90 177.319 1.52 1.94 212.94 3.91 4.01 294 2012 1.79 51.49 2.32 3.752 1.28 2.149 4.49 157.69 321.321 21.72 24.66 34.94 3.593 24.63 Total 393 2.30 53.47 128.69 2.385 1.47 544.169 89. Area Provitas Prod Investasi (Rp Milliar) Tahun (000 ha) (t/ha) (000 t) traktor perontok pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.196 1.74 80.96 3.32 231.61 245.948 11.58 120 2007 688 1.74 70.09 47.256 1.50 553 2006 626 1.92 55.98 3.726 3.069 41.40 313.20 149.95 3.82 2.79 699 2025 1.80 273.73 261.456 26.61 660 2024 1.23 193.083 2021 1.81 151.58 11.79 182.98 1330 Di sisi lain.85 91.67 1.93 2.729 4.454 1.11 5.79 2.51 6.19 99.91 714 2011 963 1.71 2.876 1.37 2.20 3.438 15. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasar­ kan skenario 1.57 454 2017 1.67 4.59 1.92.47 4.99 3.000 4.44 895 2016 1.454 22.97 3.75 1.27 597 2022 1.82 217.67 99.38 140.74 52.00 452.46 3.22 366 2014 1.95 2.92 157. Ini berarti bahwa tiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi diperoleh tambahan penerimaan dari nilai produksi sebesar Rp 1920.92 191.44 623 2023 1.03 115.33 139.768 10.69 486 2018 1.35 2.20 39.11 325 2013 1.02 3.00 162.83 528 2019 1. 70 . sehingga ting­ kat pengembalian investasi (Return of Investment=ROI) sebesar 1.63 203.193 20.737 51.73 3.90 2.769 17.53 3.813 1.79 3.29 6.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 12.61 147.580 1.19 1.65 130 2008 757 1.39 870 3.82 170 2010 896 1.61 2.95 219.45 1.88 2.20 214.47 triliun.113 1.77 325.598 16.64 5. nilai tambahan produksi yang dihasilkan dari investasi tersebut secara kumulatif adalah sekitar Rp 21.43 3.55 2.89 64.50 1.14 40.07 2.321 5.89 1.33 757 18.96 4.38 116.07 113.35 2.47 153.04 1.09 104.94 401.06 291.19 109.86 3.63 1.88 167.33 412 2015 1.287 33.57 138.64 200.52 2.635 1.63 1.

68 2015 895 3.951 749 2. Secara lebih rinci.260 3.291 3. Secara mikro di tingkat usahatani.255 3.703 9. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 553 1.34 2012 325 3.338 3.90 2017 486 4.267 1.958 1.027 1. yang dicerminkan oleh nilai perimbangan penerimaa­n terhadap total biaya (R/C).410 12.401 6.834 883 2.361 4.687 3.104 3.160 77.24 2020 1083 4.492 1.442 853 2.767 4.521 3.195 4.998 3. Jika program dilaksanakan pada tahun 2005.55 2023 659 5.721 1.589 755 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dengan skenario ini.19 2010 714 2.12 2019 574 4.550 1.34 2006 120 1.272 2.889 15.048 260.94 2011 294 2.74 2025 1.338 3.663 11.05 2021 596 4.229 2.065 2.888 89.137 22.426 3.888 3.082 2.000 10.712 991 2.088 2.182 3.202 636 1.878 1.45 2013 366 3.499 2.470 ROI = 1. dapat disimpulkan bahwa program pengembangan kedelai dengan skenario 1 layak dilakukan.740 5.51 pada tahun ke-10 program.497 1.34 pada tahun awal menjadi 2.52 pada tahun ke-20 program.502 18. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­er­dasarkan skenario 1.700 20.52 Total 11. investasi ini juga cukup layak.629 6.781 1.905 5.976 1.822 17. baik dalam pencapaian swasembada pada tahun ke-15.56 2014 412 3.153 16.92 71 . swasembada kedelai tercapai pada tahun ke-15.330 5.959 24.213 1.405 963 2.707 2. yaitu terus meningkat dari 1.914 21.439 6.411 3.678 1. maka swasembada dicapai pada tahun 2020.956 4. dan 3.579 5.631 21.794 1. kriteria ROI secara makro. dan R/C secara mikro.639 13.105 3.154 4.05 2009 170 2.01 2018 528 4.64 2024 699 5.177 3.588 4.51 2016 454 3. Tabel 13.421 4. analisis kelayakan investasi berdasarkan skenario 1 disajikan pada Tabel 13.567 540 1.79 2007 130 2.183 7.077 5.976 1.255 5.91 2008 149 2. Dengan demikian.45 2022 623 5.430 8.670 5.

63 1.26 452.46 3.33 699 2015 1.59 1.61 1. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 2 Dalam skenario 2.35 2. pertumbuhan a­real t­anam adalah 12.32 3.79 2.73 3.50 1.34 157.003 1.97 3.94 271.96 193.14 2.838 11.89 598. dan 1.74 233 2009 911 1.11 209.58 16. ketiga dan keempat.25 944.88 323.053.041 2025 2.959 1.95 180.49 152.12 1.07 2.213 1.88 2.541 1.49 195.30 53.43 278.135 2016 1.87 418.53 159.54 55.96 3.05 239.356 2021 1.55 600.618 1.27 928 2022 1.03 5.20 27.40 180.01 4.67 544.02 3.22 611 2014 1.20 135.018 1.91 3.35 127.072 13.43 230.25% per tahun selama periode 2005-2025.94 3.06 3.902 1. selanjutnya 10%.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai B.5% per tahun berturut-turut pada pariode lima tahun kedua.97 982 2020 1.40 66. jika program dimulai tahun 2005.44 1. Tabel 14.71 3.784 1.51 39.49 2.70 3.33 757 18.398 22. Untuk mencapai sasaran tersebut.99 4.88 3.69 2.336 15.84 131.579.000 25.468 1.628 Total investasi 435.768 22.230 5. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 1.18 4.04 1.622 23. berdasar­ kan skenario 2 adalah seperti disajikan pada Tabel 14. Miliar) (000 ha) (t/ha) (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 2005 569 1.82 33.55 171.930 1.62 4.30 190.59 526.28 2.699 1.91 254.67 99.45 1.52 1.87 297.77 321. Rata-rata pertum­ buhan areal tanam selama 20 tahun program adalah 7.21 4.24 285.22 112.62 769.048 1.11 535 2013 1.5% per tahun pada periode lima tahun pertama (2005-2010).88 6.79 1.82 271 2010 1.08 362. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi ber­ dasarkan skenario 2.53 215.91 173.33 139.84 3.807 35.65 201 2008 810 1.25% per tahun.85 2.63 1. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program. Tahun Area Provitas Produksi Investasi (Rp.82 2.98 1.83 901 2019 1.81 3.85 2.91 203.06 312.26 200.57 580.76 1.046 4.63 3.001 2024 2.630 27.61 3. 5%.93 3.45 98.36 145.02 190.71 2.988 1.89 1. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-10 program atau tahun 2015.39 890 4.28 487.21 115.79 141.67 4.992 18. yaitu rata-rata 2.69 827 2018 1.75 2.80 2.57 762 2017 1.39 6.04 263.90 3.873 1.927.19 1.103 1.92 84.95 2.50 574 2006 640 1.694 43.06 174.71 2.47 97.98 4.58 172 2007 720 1.33 5.334 1.95 3.35 5.189 20.67 1.10 178.48 38.634 17.26 421.01 46.95 2.44 963 2023 1.97 3.94 562.52 2.91 850 2011 1.921 24.080 51.96 6.01 469 2012 1.446 6.20 3.85 187.70 112.139 72 .22 89. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.21 8.844 23.31 47.

dan Rp 8. jika program dimulai t­ahun 2005.20. berdasarkan s­kenario 3 adalah seperti disajikan pada Tabel 16. Sedangkan pertumbuhan produktivitas sama seperti pada skenario 1.25% per tahun selama periode 2005-2025. target waktu pencapaian swasembada kedelai adalah tahun ke-17 program atau tahun 2022.14 triliun. secara kumulatif total biaya investasi yang dibutuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 16. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.58 triliun. maka kebutuhan biaya investasi selama 20 tahun program.58 triliun untuk mesin pengering. pertumbuhan areal t­anam adalah 7.63 pada tahun ke-20. C.5% per tahun pada periode 2005-2009 dan periode 20102014.0% dan 3. seperti disajikan pada Tabel 15. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C. Angka ini menunjukkan bahwa program pengem­ bangan kedelai dengan menggunakan skenario 2 sangat layak.93 tri­liun untuk sumur pantek. Dengan metoda perhitungan yang sama dengan skenario 2.25% masing-masing untuk periode 20152029 dan 2020-2025 (Tabel 15). Sedangkan biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar. yaitu 1. Seperti halnya pada skenario 1. Karena setiap Rp 1000 biaya yang dikeluarkan untuk investasi. diperoleh tam­ bahan penerimaan Rp 2. dan setiap lima tahun berikutnya. Dengan demikian. Analisis Investasi Berdasarkan Skenario 3 Dalam skenario 3. Kemudian laju peningkatan areal tanam kedelai tersebut turun menjadi rata-rata 5. Rp 3. Dengan d­emikian. pada tahun-tahun diantaranya investasi dilakukan berdasarkan tambahan a­real tanam. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 2 adalah masing-masing Rp 436 miliar untuk traktor. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2.99 pada awal tahun.200. 73 . kemudian meningkat menjadi 4. Rp 3.07 pada tahun ke-10 dan 6. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35. Dari segi penerimaan. Dari sisi usahatani secara mikro.05 triliun untuk mesin perontok. yaitu rata-rata 2. Untuk mencapai sasaran tersebut. kegiatan investasi ini juga sangat layak.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Dari Tabel 14 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.

600 38.672 40.624 4.945 1.003 4.005 (Rp M) 5.773 10.103 1.541 .55 5.093 2.352 9.87 3.001 2024 1.628 Total 16.061 6.308 3.055 6.70 3.991 4.705 5.301 2.078 5.639 4.787 1.34 4.729 28.593 1.530 36.368 1.356 32.139 74 .064 1.65 4.13 5.840 6.103 19.16 2.174 14.19 2.965 6.707 201 233 271 850 469 535 611 699 762 827 901 982 928 963 2.629 574 1.49 4.79 2.472 (Rp M) 931 2.463 35.617 5.145 90. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai ber­ dasarkan skenario 2.777 12.008 3.659 2015 1.855 5.095 7.790 5.106 30.54 3.353 5.399 33.602 7.430 2. Tahun 2005 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2016 2017 2018 2019 2021 2022 Biaya Invest Biaya Variable Tot Biaya Nilai Produksi Nilai Tb Prod R/C (Rp M) 2.096 1.135 21.561 1.614 17. 1.377 2.87 3.758 5.778 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Tabel 15.116 1.61 2.920 3.98 3.824 23.99 6.597 2020 1.6540 2.966 7.041 2025 1.00 5.553 1.749 455.19 4.737 5.401 2006 172 1.39 3.576 ROI = 2023 1.164 35.361 2.858 11.574 1.620 5.160 2.74 4.992 25.122 7.20 4.734 3.41 5.281 2.877 5.176 2.491 3.566 1.27 5.703 2.663 3.723 4.253 6.098 5.718 6.404 4.925 6.695 1.

46 5.45 236.73 triliun untuk mesin perontok.392 1.98 2025 1.66 triliun.11 273.01 194.59 1.43 triliun untuk mesin pengering. Sedangka­n biaya investasi untuk Litbang dan penyuluhan masing-masing Rp 89 miliar dan Rp 54 miliar.06 298.02 6.85 2017 1.70 9.68 2.687 1.44 2.203 1.238 3.63 1.96 417.81 285. biaya investasi yang besar dibutuhkan pada tahun pertama.086 32.63 1.74 153.09 260.55 372.32 49.27 89.328 878 1.58 119 2.06 327.73 6.88 2018 1.32 6.35 3.76 1.35 2.360 2.49 4.56 40.01 35.326 1.83 2.692 17.74 146 3.06 198.11 100.14 89.79 67.32 2015 1.24 3.03 168.23 149.34 146.33 2.69 2.67 1.90 239.90 313.429 4.58 11.50 626 2.145 1.438 1.76 200.52 1. Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Area Provitas Produksi Investasi (Rp. dan Rp 4.53 298.370 15.533 1.79 723 298 330 366 407 918 479 517 559 606 639 672 707 746 707 1.45 (000 t) Traktor Perontok Pengering Sumur Litbang Pnylhn Total 757 18.98 1.42 51.74 2.525 16.61 3.39 658 1.66 3.20 133. 75 .958 11.484 1.50 78.205 817 1.75 1.95 5.97 135.90 177.69 3.634 1.89 31.60 251.898 19.47 114.17 635.65 132 2.49 28.62 69.007 3.19 1.30 2.21 2. Kebutuhan investasi untuk pencapaian sasaran produksi berdasarkan skenario 3.99 triliun untuk sumur pantek.57 2.12 1.61 46. secara kumulatif total biaya investasi yang di­butuhkan selama 20 tahun program pengembangan kedelai adalah Rp 11.582 1.47 39.82 162 3.04 1.06 212.36 2014 1.79 1.22 2.90 2019 1.29 151.95 2022 1.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI Tabel 16.54 139.21 8.657 Dari Tabel 16 terlihat bahwa secara kumulatif selama 20 tahun program.07 4.74 61.32 98. Biaya investasi yang dibutuhkan sesuai dengan Skenario 3 adalah masing-masing Rp 368 miliar untuk traktor.777 10.51 21. Rp 2.71 4.263 1.20 5.76 3. Rp 3. Dengan demikian.36 2.08 148.73 850 955 3.83 87.121 3.01 2.39 2.52 3.01 162.94 2021 1.223 14.33 612 1.073 760 1.46 124.727 40.88 4.94 223.97 3. Miliar) (000 ha) (t/ha) 569 1.63 2.990 305.45 21.16 123.55 3.87 35.96 2023 1.015 1.121 3.82 2016 1.28 515.463 944 1.382 53.54 31.93 2020 1.11 2.28 2013 1.44 3.99 Total investasi 368 2.99 178.71 1.01 162.17 222.67 165.00 196.70 209.89 1.14 129.793 3.50 1.97 210.21 113.97 2024 1.28 4.37 261.86 4.80 56.612 25.17 20.91 3. dan setiap lima tahun berikutnya.091 1.14 159.27 3.

818 1.434 24.95 pada awal tahun.28 2017 517 3.451 3.669 1.930 4.121 2.679 14.84 2011 298 2.033 2.411 12.494 ROI = 2.174 9.07 2022 672 4.832 3.092 25.451 4.44.442 33.481 4.782 22.932 912 3.95 2006 119 1.608 4.306 19. tambahan nilai produksi yang diperoleh dari program pengembangan kedelai selama periode yang sama adalah Rp 35.267 6.436 4.889 1. Angka ini menunjukkan bahwa program pengembangan kedelai dengan menggunakan s­kenario 3 sangat layak.857 5.988 1.634 2.162 11.442 7.280 2.973 2.789 4.122 1.537 20.68 2016 479 3.617 4.982 1.681 3.050 3. yaitu 1.270 1.AGRO INOVASI Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Dari segi penerimaan.167 3.978 4.62 triliun.21 2023 707 4.504 1.657 71.059 1.202 1.020 792 2. Dari sisi u­sahatani secara mikro.247 28.000 biaya yang dikeluarka­n u­ntuk investasi. Karena setiap Rp 1.355 16.499 1.746 5. kemudia­n meningkat menjadi 3.747 5.318 3.121 4. Tahun Biaya Biaya Tot Biaya Nilai Prod N. Tabel 17.642 5.44 2018 559 3.13 pada tahun k­e-20.47 2012 330 2. nilai ROI dari program pengembangan kedelai ini adalah 2. kegiatan investasi ini juga sangat laya­k.707 2.835 1.975 5.453 5.015 1. seperti disajikan pada Tabel 17.06 2009 162 2.77 2020 1.270 27.488 3.024 1.35 2024 746 4.27 2010 723 2. Analisis kelayakan investasi pengembangan kedelai b­erdasarkan skenario 3.209 82.99 2015 918 3.355 3.81 2014 407 3.177 4.47 2021 639 4.034 1.182 1.313 5.767 4.382 5.866 356.541 1.061 6.088 17.13 Total 11.813 1.932 10.68 pada tahun ke-10 dan 5.044 3.105 6.901 5.50 2025 1.64 2013 366 3.333 4. Hal ini dicerminkan oleh nilai R/C.544 5. Dengan demikian.454 29.44 76 . diperoleh tambahan penerimaan Rp 2.60 2019 606 4.440.455 1.68 2007 132 1.228 688 2.86 2008 146 2.273 3.Tb Prod R/C Invest Variable (Rp M) (Rp M) (Rp M) 2005 626 1.954 5.647 31.598 5.

IMPLIKASI KEBIJAKAN Implikasi kebijakan pengembangan kedelai untuk mening­ katkan produksi kedelai dalam negeri meliputi: 1. susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi sesuai dengan tuntutan konsumen. 6. tauco. Percepatan penerapan teknologi di ting­ kat petani melalui revitalisasi tenaga penyuluh pertanian. Kebijakan makro mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri dengan memberlakukan tarif impor yang cukup tinggi dan menetapkan harga kedelai terendah di tingkat petani yang sesuai dengan perkembangan pasar agar keuntungan yang diperoleh petani layak dan memadai. PTT kedelai perlu diimplementasikan di daerah sentra produksi kedelai di Indonesia. Penyediaan kredit usaha perbenihan bagi produsen dan calon produsen benih. 3. Kemudahan prosedur untuk mengakses modal kerja (kredit usaha) bagi petani dan swasta yang berusaha dalam bidang agribisnis kedelai. manajemen usaha perbenihan serta pengembangan pemasaran benih. pem­ buatan fasilitas irigasi dan jalan mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri. Pengembangan sarana dan prasarana infrastruktur pertanian secara umum (pembukaan sawah/lahan pertanian baru. 2. 77 . kecap. 7. Mendorong/membina pengembangan usaha kecil/rumah tangg­a dalam subsistem hilir (pengolahan produk tahu. anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) dalam rangka menghasilkan teknologi tepat guna. Pembinaan/pelatihan produsen/penangkar benih dalam aspek teknis (produksi benih). tempe. 4. Kebijakan alokasi sumber daya (SDM. 5.Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai AGRO INOVASI IX. Percepatan alih teknologi/diseminasi hasil penelitian.