BAB 5. PEMBAHASAN 5.

1 Gambaran Proses Perencanaan yang Dilakukan Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Bondowoso. Langkah menyusun perencanaan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) kesehatan antara lain (Handoko,2008): 5.1.1 Inventarisasi Persediaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Inventarisasi dilakukan untuk menilai sumber daya yang ada sekarang. Selain jumlah karyawan, inventarisasi meringkas beberapa keterampilan dan kecakapan setiap karyawan. Kegiatan ini juga menunjukkan pemanfaatan sumber daya manusia dalam perusahaan, yang berarti mencerminkan potensi karyawan untuk mendukung operasi perusahaan(Handoko,2008). Kegiatan inventarisasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso disebut dengan Pemutakhiran data. Kegiatan pwmutakhiran data yang selama ini dilakukan oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Kesehatan yakni : a. Kegiatan pemutakhiran data sumber daya manusia kesehatan di puskesmas dimulai dari kegiatan pengumpulan data sumber daya manusia kesehatan di puskesmas. Sewajarnya pihak puskesmas mengumpulkan data sumber daya manusia kesehatan setiap bulannya. Data-data tersebut sesuai dengan contoh form pemutakhiran data sumber daya manusia kesehatan yang diserahkan oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan pada pihak puskesmas. Data-data tersebut terdiri dari : 1) Identitas diri Identitas diri berisi nama, nomor induk pegawai (NIP), jenis kelamin, tempat tanggal lahir, agama, alamat rumah, pendidikan terakhir dan nomor telepon 2) Status kepegawaian Status kepegawaian dibedakan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Tidak Tetap (PTT), dan honorer 3) Pangkat

26

Untuk selanjutnya data tersebut oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan diolah menjadi beberapa beberapa laporan.27 Pangkat berisi golongan. deskripsi sumber daya manusia kesehatan. untuk memulai proses perencanaan SDM. Dalam proses inventarisasi yang dilakukan oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Kesehatan tidak lepas dari beberapa hambatan. Fakta itu mencakup : 1) 2) 3) 4) 5) Mutu Jenis pekerjaaan dan departemen Jenis kelamin Masa kerja Keterampilan atau tingkat pendidikan Maka dari form yang dicontohkan Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan telah mewakili data-data yang akan digunakan untuk kegiatan perencanaan sumber daya kesehatan. antara lain sumber daya manusia kesehatan per tahun. Berdasarkan . Data pemutakhiran sumber daya manusia kesehatan dari puskesmas tersebut selanjutnya diserahkan pada Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso tiap bulannya. orang perlu memiliki fakta kunci mengenai pembentukan staf dalam perusahaan yang bersangkutan . sumber daya manusia kesehatan menurut gender dan status. serta rekapitulasi sumber daya manusia kesehatan di puskesmas Bondowoso. Menurut Attwood dan dimmock 1999. b. ruang dan TMT (Terhitung Mulai Tanggal) seseorang memperoleh pangkat terakhir sesuai dengan Surat Keputusan (SK) 4) Jabatan Jabatan berisi jabatan yang diduduki menurut Surat Keputusan (SK) yang didapatkan 5) Masa kerja Masa kerja dihitung mulai dari Surat Keputusan (SK) yang keluar terakhir Data-data tersebut sesuai dengan Analisis Staf dalam Attwood dan dimmock 1999. profil kepegawaian puskesmas.

Pihak puskesmas tidak taat dalam melakukan pengumpulan data tiap bulannya akibatnya kegiatan rekapitulasi data terhambat. perubahan tugas-tugas jabatan dan sebagainya. Sebenarnya di puskesmas lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso hampir semuanya dipasang SIKDA harus melakukan pengetikan ulang saat melakukan . Data pemutakhiran sumber daya manusia kesehatan dari puskesmas yang diserahkan kepada pihak Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan dalam bentuk cetak kertas sehingga Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan rekapitulasi. Ada dua kemungkinan yang mengakibatkan hal tersebut. tambahan gelar kesarjanaan. b. yakni puskesmas tidak memiliki form yang dicontohkan atau data yang tersedia di puskesmas kurang.28 wawancara yang dilakukan. sehingga data yang dibutuhkan tidak lengkap. informasi persediaan sumber daya manusia harus diperbaharui secara periodik. 2008 informasi yang baik harus memenuhi kualifikasi sebagai berikut : 1) Akurat artinya informasi tersebut bebas dari kesalahan dan bebas dari bias 2) Tepat waktu artinya informasi harus diberikan pada waktu yang tepat. seperti keterampilan baru. 3) Relevan artinya informasi tersebut benar-benar sesuai kebutuhan pihak yang membutuhkan informasi Akibat dari data yang diserahkan pada puskesmas tidak lengkap. merupakan karakteristik utama untuk dinamika sumber daya manusia dalam organisasi. Padahal Menurut Handoko. maka pengolahan data yang seharusnya dilakukan oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Kesehatan terbengkalai. Padahal menurut Nugroho. hambatan yang dialami oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan tenaga kesehatan selama ini adalah: a. Data dalam form yang dikumpulkan oleh pihak puskesmas kepada Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan terkadang tidak sesuai dengan form yang dicontohkan. 2008 agar berguna. c. Seharusnya data dikumpulkan tiap bulan karena kurangnya peran Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dalam kegiatan mutasi dan promosi pegawai. Ini penting terutama karena perubahan-perubahan personalia.

5. Dalam standar tersebut. jadi yang dihitung hanya tenaga yang berada di puskesmas induk (Kementrian Kesehatan . Dalam pola ketenagaan minimal untuk penyelenggaraan upaya wajib di puskesmas. dan puskesmas DPTK. Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso menggunakan standar ketenagaan berdasarkan Pedoman Kebijakan Pelayanan Dasar Puskesmas yang menggambarkan pola ketenagaan minimal untuk penyelenggaraan upaya wajib di puskesmas. hanya sebagian puskesmas yang menggunakan SIKDA GENERIK. Berdasarkan keadaan yang ada di wilayah Bondowoso dimana kedua puluh lima puskesmasnya merupakan puskesmas perawatan. Dalam menyusun perencanaan kebutuhan SDM Kesehatan digunakan beberapa metode. Hal tersebut dapat dikarenakan kurangnya penerimaan sumber daya manusia terhadap sistem serta juga dapat dikarenakan keterbatasan atau kerusakan infrastruktur. Diharapkan dengan adanya SIKDA GENERIK.1. Sedangkan perencanaan yang dilakukan oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan adalah sebagai berikut : a. 2011 Forecast merupakan kegiatan memperkirakan sumber daya yang dibutuhkan di masa yang akan datang (kurun waktu tertentu) sebagai bentuk prediksi akan permintaan sumber daya manusia kesehatan di waktu yang akan datang. pelaporan dari puskesmas dapat dilakukan secara mudah dan teratur.2 Forecast Sumber Daya Manusia Kesehatan Menurut Kementrian Kesehatan RI.29 GENERIK yang fungsinya untuk mempermudah proses pelaporan. Data pemutakhiran sumber daya kesehatan yang telah diolah menjadi profil kepegawaian puskesmas dianalisis dan disesuaikan dengan standar yang berlaku. Namun kenyataannya di lapangan belum berjalan optimal. maka Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan tenaga kesehatan menggunakan standar puskesmas perawatan. tenaga kesehatan di puskesmas pembantu tidak masuk dalam hitungan. ketenagaan puskesmas dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan jenis puskesmas yakni puskesmas non perawatan. puskesmas perawatan.

d) Metode perhitungan dapat digunakan bagi berbagai jenis ketenagaan. termasuk tenaga non kesehatan ( tenaga administrasi. tenaga keuangan. sehingga hasilnya akan memberikan kemudahan dalam menyusun perencanaan anggaran dan alokasi sumber daya lainnya. Menurut Shipp (1998) metode perhitungan WISN memiliki keunggulan dibandingkan dengan metode perhitungan kebutuhan tenaga kerja lainnya. tenaga penunjang umum lainnnya ). tenaga perencanaan. di mana tenaga yang dihitung bekerja. dan e) Hasil perhitungannya realistik. 2011). b) Mudah dalam melakukan prosedur perhitungan. 2) Penyusunan kebutuhan tenaga berdasarkan Daftar Susunan Pegawai (DSP). Sebenarnya dalam perencanaan sumber daya manusia kesehatan tingkat institusi dapat menggunakan: 1) Metode WISN Metode perhitungan kebutuhan SDM berdasarkan beban kerja (WISN) adalah suatu metode perhitungan kebutuhan SDM kesehatan berdasarkan pada beban pekerjaan yang nyata yang dilaksanakan oleh tiap kategori SDM kesehatan pada tiap kategori SDM kesehatan pada tiap unit kerja di fasilitas pelayanan kesehatan. c) Mudah untuk segera mendapatkan hasil perhitungannya. Metode perhitungan kebutuhan SDM berdasarkan DSP ini bisa digunakan di . Kelebihan tersebut yaitu : a) Mudah dilaksanakan. Sedangkan kekurangan dari metode ini adalah diperlukan kelengkapan pencatatan dan kerapihan penyimpanan data karena input data yang diperlukan bagi prosedur perhitungan berasal dari rekapitulasi kegiatan/statistik rutin kegiatan unit satuan kerja/institusi. sehingga manajer kesehatan disemua tingkatan dapat segera memasukkannya dalam perencanaan ketenagaan. maka kelengkapan pencatatan dan kerapihan penyimpanan data mutlak harus dilaksanakan demi memberikan keakuratan / ketepatan hasil perhitungan jumlah tenaga kerja secara maksimal.30 RI. karena menggunakan data yang dikumpulkan dari laporan kegiatan rutin per unit layanan. sehingga dapat segera dimanfaatkan oleh manajer kesehatan disemua tingkatan dalam pengambilan keputusan/kebijakan.

Sedangkan jika tenaga yang dibutuhkan benar-benar tidak ada. Mutasi dilakukan jika tenaga yang dibutuhkan sebenarnya tersedia namun pendistribusiannya kurang merata. dan Seksi pelaksanaan program dan pengembangan pegawai. Semua usulan jumlah sumber daya .31 berbagai unit kerja seperti puskesmas. maka langkah berikutnya adalah menentukan jenis tenaga yang dibutuhkan. Salah satu tugas dari BKD adalah merumuskan kebijakan rencana kebutuhan Maka pegawai dari itu. b. kita menggunakan struktur organisasi Puskesmas yang ditetapkan oleh Pemeritah Daerah masing-masing. Untuk menetapkan jenis tenaga. Menghitung kebutuhan SDM dapat dilaksanakan dengan (Kementrian Kesehatan RI.2010) : a) Menghitung output puskesmas atau menggunakan time study untuk menghitung kapasitas kerja maupun tugas staf puskesmas b) Setelah mengetahui jumlah tenaga yang rasional. maka dapat diusulkan perekrutan pegawai baru. maka akan diketahui kelebihan dan kekurangan jumlah dari masing-masing kategori profesi sumber daya manusia kesehatan yang ada. Informasi yang telah disetujui tersebut selanjutnya akan dibawa ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Dalam hasil diskusi tersebut ada dua kemungkinan keputusan mengenai pendistribusian sumber daya manusia kesehatan di puskesmas yakni mutasi dan perekrutan pegawai baru. rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya. Namun jika ingin mengusulkan perekrutan pegawai baru. maka perlu melakukan pertimbangan lebih lanjut. Informasi yang dihasilkan diserahkan Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso untuk diketahui dan dimintai persetujuan. Setelah Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan usai menganalisis dan menyesuaikan keadaan sumber daya manusia kesehatan saat ini terhadap kebutuhan sumber daya manusia berdasarkan standar yang ditetapkan. c. Pengembangan Pendayagunaan Dinas Kesehatan bersama pihak BKD melakukan suatu diskusi yang membahas pendistribusian sumber daya manusia kesehatan supaya tersebar secara merata. Tidak seutuhnya usulan mengenai jumlah sumber daya manusia kesehatan yang diajukan oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan disetujui oleh pihak BKD.

2008 ada berbagai penyebab timbulnya permintaan sumber daya manusia di waktu yang akan datang yakni : a. Gaji dan tunjangan merupakan 50%-70% dari pengeluaran instansi pemerintah. Akibatnya pihak dinas kesehatan harus melakukan kembali kegiatan penyusunan perencanaan sumber daya manusia di puskesmas. merupakan pengeluaran untuk gaji dan tunjangan. maka dalam melakukan perencanaan setidaknya harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan atau kebutuhan sumber daya manusia. Jadi meskipun sebenarnya perencaan ketenagaan dimulai dari bottom up (disesuaikan dengan standar atau kebutuhan) tetap akan terbentur perencanaan dari top down (perencanaan dari pusat) karena terbentur oleh anggaran yang tiap waktu berubah. Lingkungan eksternal 1) Ekonomi 2) Sosial-Politik Hukum 3) Teknologi 4) Persaingan b. Melihat kenyataan bahwa kegiatan perencanaan bottom terkadang up terbentur perencanaan dari top down. nota keuangan yang paling vital yang disampaikan oleh pimpinan eksekutif atau dianggarkan oleh lembaga legislatif. anggaran merupakan faktor yang berkaitan secara riil dan langsung dengan rencana SDM. Jika melakukan penambahan pegawai misalnya maka akan menimbulkan implikasi.32 manusia kesehatan yang diajukan akan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Seperti biaya operasional yang berkaitan dengan pelaksanaan pegawai yang menjadi tanggung jawab pegawai yang bersangkutan. Menurut Handoko. Organisasional 1) Rencana-rencana strategik 2) Anggaran 3) Forecast penjualan dan produksi 4) Desain organisasi dan pekerjaan 5) Perluasan usaha . Menurut Sulistiyani dan Rosidah 2003. dan termasuk gaji yang akan membebani anggaran.

jika sekiranya ada kemungkinan terlalu banyak pekerjaan tertentu.33 c. penempatan. Anda harus mempertimbangkan pilihan berikut ini : 1) 2) 3) 4) Pengurangan tenaga kerja secara wajar (pensiun) Pengurangan pekerja (sukarela atau terpaksa dilakukan) Mutasi atau pemberian tugas baru Pensiun awal . transfer. seharusnya setelah melakukan kegiatan forecasting. promosi dan pengembangan (Handoko. Kegiatan penyusunan rencana-rencana sumber daya manusia yang dilakukan oleh Seksi Pendayagunaan Dinas Kesehatan yakni : a.1. Apakah pegawai bekerja secara efektif. Persediaan karyawan 1) Pensiun 2) Permohonan berhenti 3) Pemberhentian 4) Kematian Selain itu. langkah selanjutnya adalah melakukan pendistribusian sumber daya manusia kesehatan. dilakukan audit sumber daya manusia. seleksi. Menurut Sulistiyani dan Rosidah 2003. Menurut Attwood dan dimmock 1999. dalam rangka audit diperlukan informasi tentang pegawai yang saat ini dalam organisasi. Kedua. Implikasinya tehadap pengambilan kebijakan tentang perencanaan sumber daya manusia adalah memberikan masukan yang berarti untuk menentukan kebutuhan SDM yang sesuai dengan organisasi. Ada dua jenis informasi yang diperlukan yakni pertama.3 Penyusunan Rencana Sumber Daya Manusia Kesehatan Penyusunan rencana. latihan. 5.2008). Apakah pegawai memiliki keterampilan yang sesuai dengan tugas mereka. Setelah Seksi Pemberdayaan dan Pendayagunaan Dinas Kesehatan usai Pemberdayaan dan berdiskusi dan mendapat persetujuan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) mengenai pendistribusian sumber daya manusia kesehatan di puskesmas.rencana sumber daya manusi dilakukan untuk memadukan permintaan dan penawaran personalia dalam perolehan tenaga kerja yang qualified melalui penarikan.

Menurut Handoko. Proses penarikan penting karena kualitas sumber daya manusia organisasi tergantung pada kualitas penarikannya Ada dua sumber suplai untuk penarikan yakni internal dan eksternal. Sedangkan sumber eksternal adalah usaha penarikan tenaga kerja dari luar perusahaan (Hasibuan.34 5) 6) 7) 8) 9) 10) Pemecatan Tidak lagi merekrut pekerja baru di masa mendatang Pekerjaan paro-waktu atau berbagi kerja Penghapusan kerja lembur Berpindah ke metode yang lebih padat karya atau ke produk baru Mencari pekerjaan tambahan atau pekerjaan baru Namun jika pekerja terlalu sedikit.2008).2008 penarikan adalah proses pencarian dan pemikatan para calon karyawan (pelamar) yang mampu untuk melamar sebagai karyawan. Sumber Internal menurut adalah karyawan yang akan mengisi lowongan kerja yang lowong diambil dari dalam perusahaan tersebut. pilihannya adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Perekrutan tenaga baru Mutasi atau pemberian tugas baru Penaikan atau penurunan pangkat Perpanjangan kontrak dari mereka yang hampir pension Penggunaan pekerja lepas atau pekerja sementara Pengadaan kerja lembur Tawar-menawar mengenai produktivitas Penggunaan peralatan otomatis atau penghapusan pekerjaan Peningkatan penanaman modal guna meningkatkan produktivitas (misalnya dengan diperkenalkannya teknologi baru) Salah satu cara untuk pendistribusian sumber daya manusia dengan mengadakan penarikan sumber daya manusia. a. yakni dengan cara memutasikan atau memindahkan karyawan yang memenuhi spesifikasi pekerjaan jabatan itu. Penarikan berasal dari sumber internal Berdasarkan hasil diskusi antara Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan bersama pihak BKD diperoleh suatu alternatif untuk mendistribusikan sumber daya kesehatan di puskesmas .

karena dengan sistem ini tenaga kerja yang diterima merupakan pilihan dari pelamar-pelamar yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan perusahaan. Senioritas dan prestasi kerja pegawai merupakan bahan pertimbangan penting dalam pelaksanaan mutasi. Sistem mutasi ini kurang baik karena didasarkan atas pertimbangan suka atau tidak suka. Spoil system memang kurang baik karena bersifat subjektif.35 supaya merata. Menurut Hasibuan 2008 ada tiga dasar pelaksanaan mutasi yakni : a) Seniority System adalah mutasi yang didasarkan atau landasan masa kerja. Penarikan berasal dari sumber eksternal Cara ini dinilai sangat positif. Untuk mendistribusikan sumber daya manusia kesehatan yang berlebih tersebut maka dilakukan proses pemindahan atau mutasi. Bagi pegawai yang berprestasi. b) Spoil System adalah mutasi yang didasarkan atas landasan kekeluargaan. usia. dengan harapan puskesmas-puskesmas yang memiliki tenaga berlebih dapat ditrisbusikan ke puskesmas-puskesmas yang minim tenaga. b. namun penilaian secara subjektif di lapangan pasti ada meskipun presentasenya kecil. c) Merit System adalah mutasi pegawai yang didasarkan atas landasan yang bersifat ilmiah. objektif dan hasil prestasi kerja Menurut wawancara yang dilakukan. akan dipertahankan di puskesmas namun bagi pegawai yang dinilai prestasinya kurang baik akan dipindah atau dimutasi ke puskesmas lainnya. Untuk menentukan siapa yang akan dimutasi. maka Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan mendiskusikannya bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dan Kepala Puskesmas yang paham terhadap karyawan dan kondisi puskesmasnya. selama ini yang digunakan sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan mutasi berdasarkan tiga hal tersebut. Sistem mutasi ini tidak objektif karena kecakapan orang yang dimutasikan berdasarkan senioritas belum tentu mampu menduduki jabatan yang baru. dan pengalaman kerja dari pegawai yang bersangkutan. Dengan demikian .

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Handoko. Selain dengan meminta data pemutakhiran tiap bulannya dari masingmasing puskesmas. mengidentifikasi deviasi (perbedaan) dari rencana semula dan penyebab-penyebabnya (Mangkunegara.4 Pengawasan Dan Evaluasi Pengawasan dan evaluasi dilakukan untuk memberi umpan balik kepada sistem dan memonitor derajat pencapaian tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran perencanaan sumber daya manusia. 2008). tidak sepenuhnya akan disetujui oleh daerah karena terbentur dengan anggaran yang ada di daerah. seperti keterampilan baru. 2008 agar berguna. tambahan gelar kesarjanaan. informasi persediaan sumber daya manusia harus diperbaharui secara periodik. merupakan karakteristik utama untuk dinamika sumber daya manusia dalam organisasi. 2003). Pengawasan dan evaluasi yang dilakukan oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan adalah melalui pemutakhiran data sumber daya manusia kesehatan yang setiap bulannya dikirimkan oleh puskesmas tiap bulannya. perubahan tugas-tugas jabatan dan sebagainya. Jika di lapangan jumlah tenaga yang kurang benar-benar tidak tersedia. Namun meskipun sudah diajukan pemenuhan kuota yang kurang melalui PNS atau PTT. maka dapat diajukan saran untuk penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT). 2) Setelah tersedia tenaga-tenaga yang akan didistribusikan. maka pendistribusian akan dilakukan setelah dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) seperti contohnya SK Bupati mengenai mutasi pegawai 2. Prosedur pengawasan dan evaluasi dibutuhkan untuk memandu aktivitas perencanaan SDM. Ini penting terutama karena perubahan-perubahan personalia.1. seharusnya pengawasan dan evaluasi dapat juga dilakukan pada saat kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan tiap tahunnya oleh Bidang Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat dan Tenaga Kesehatan supaya . Pengawasan dan evaluasi tidak dilakukan secara langsung (program secara tersendiri) oleh Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan.36 dapat diharapkan bahwa tenaga kerja yang telah diterima adalah tenaga kerja yang bermutu baik (Hasibuan.

Apakah penempatan itu berhasil? Apakah karyawan itu keluar karena salah memahami hakikat pekerjaan dan perusahaan tersebut? Apakah seorang itu seorang karyawan yang baik dalam hubungan produktivitas dan sikap? Tidak dapat disangkal evaluasi semacam itu akan memasukkan suatu nilai prosedur seleksi juga.37 dapat melihat keberadaan pegawai yang melakukan mutasi karena selama ini Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan kurang dilibatkan dalam proses mutasi. Sehingga permasalahan yang sering terjadi adalah Seksi Pengembangan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan kurang dilibatkan jika ada tenaga yang melakukan mutasi.2002). Hal tersebut nantinya akan berkaitan dengan keberhasilan dalam fungsi penarikan. Ujian yang sebenarnya dari program perekrutan hanya dapat ditentukan melalui tindak lanjut terhadap pengangkatan. . tetapi kita percaya bahwa seseorang tidak dapat menilai perekrutan dengan benar tanpa mempertimbangkan hasil akhirnya yakni penempatan yang berhasil (Flippo.

24 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.