Perbandingan Kedudukan Dan Kewenangan Lembaga Legislatif Sebelum Dan Sesudah Amandemen UUD

Perbandingan Kedudukan dan kewenangan lembaga legislatif sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945

Posted on Mei 19, 2010 by idhulaw Oleh I Komang Edy Mulyawan Hukum tata negara pada umumnya dipahami sebagai bidang ilmu hukum tersendiri yang membahas mengenai struktur ketatanegaraan dalam keadaan diam atau statis, mekanisme hubungan antara kelembagaan negara, dan hubungan antara negara dengan warga negara. Dalam studi Hukum Tata Negara itu juga dikenal cabang ilmu khusus yang melakukan perbandingan antar berbagai konstitusi, yaitu Hukum Tata Negara Perbandingan atau Ilmu Perbandingan Hukum Tata Negara. Secara umum, bidang ilmu hukum ini bertujuan untuk membandingkan dua atau lebih konstitusi-konstitusi berbagai negara guna menemukan prinsip-prinsip pokok hukum tata Negara. Ilmu Perbandingan Hukum Tata Negara juga berfungsi untuk membandingkan suatu konstitusi dengan konstitusi lain untuk mendalami lebih mendalam konstitusi yang telah ditelaah. Ini menjadi hal menarik karena di Indonesia sendiri telah terjadi beberapa kali pergantian konstitusi mulai dari UUD 1945, UUD / Konstitusi RIS, UUDS 1950, dan terakhir UUD 1945 yang telah diamandemen yang selanjutnya kita sebut sebagai UUD Negara Republik Indonesia 1945. Dari perubahan – perubahan konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia tersebut, tentu berpengaruh pula pada sistem pemerintahan, kedudukan dan kewenangan lembaga negara, serta hubungan diantara lembaga negara tersebut. Lembaga negara adalah lembaga pemerintahan (Civilazated Organisation) yang dibuat oleh, dari, dan untuk negara. Lembaga negara bertujuan untuk membangun negara itu sendiri. Secara umum tugas lembaga negara antara lain menjaga stabilitas keamanan, politik, hukum, HAM, dan budaya, menjadi bahan penghubung antara negara dan rakyatnya, serta yang paling penting adalah membantu menjalankan roda pemerintahan. (Wikipedia, akses: 24 Oktober 2009). Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa kedudukan dan kewenangan lembaga negara sangat berpengaruh pada sistem pemerintahan dan konstitusi yang berlaku. Meskipun demikian, dalam paper ini penulis hanya akan melakukan pembahasan mengenai lembaga legislatif. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk melakukan suatu perbandingan mengenai lembaga legislatif terkait dengan konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia. Perbandingan yang dimaksud disini hanya mencakup 2 konstitusi secara umum, yaitu UUD 1945 dan UUD Negara Republik Indonesia 1945 (setelah amandemen). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada hasil amandemen serta seberapa besar perubahan konstitusi tersebut mempengaruhi kedudukan dan kewenangan lembaga legislatif di Indonesia. Seperti yang telah dikemukakan dalam halaman latar belakang, ada beberapa masalah yang akan dibahas pada paper atau karya tulis ini,yaitu: 1.1.1 Bagaimana kedudukan dan kewenangan lembaga legislatif sebelum amandemen

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Sebelum amandemen UUD 1945. kongres dan asembli nasional. Dalam system parlemen. Sedangkan dalam system presidensiil. legislatif sebagai badan tertinggi dan menunjuk eksekutif. golongan politik.)? 2.1. menerapkan budget (anggaran) pengeluaran keuangan lainnya. Mahkamah Agung (MA) Dari keenam lembaga negara tersebut. yang berperan sebagai lembaga legislatif adalah MPR dan DPR. Dewan Pertimbangan Agung (DPA) 4. Lembaga legislatif adalah badan deliberatif pemerintah dengan kuasa untuk membuat hukum yang dalam hal ini disebut dengan peraturan perundang – undangan. Menurut kamus Wikipedia yang penulis akses pada tanggal 24 Oktober 2009.1 Kedudukan lembaga legislatif sebelum amandemen UUD 1945 Seperti telah dijelaskan sebelumnya. GBHN.UUD 1945? 1. MPR merupakan lembaga tertinggi negara. Lembaga yang disebut sebagai lembaga tertinggi negara dan lembaga tinggi negara dalam UUD 1945 adalah : 1.2 Bagaimana perubahan kewenangan lembaga – lembaga legislatif sesudah amandemen UUD 1945 dan perbandingannya dengan UUD 1945 (sebelum amandemen. MPR diberi kekuasaan tak terbatas (super power) karena “kekuasaan ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR” dan MPR adalah “penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia” yang berwenang menetapkan UUD. legislatif sebagai cabang pemerintahan yang sama dan bebas dari eksekutif. 2. Presiden 3. 1992 : 56). yakni sebagai lembaga tinggi negara. yakni parlemen. ada baiknya diketahui terlebih dahulu pengertian lembaga legislatif serta lembaga apa saja yang dapat dikatakan sebagai lembaga legislatif terutama yang tercantum dalam konstitusi negara Republik Indonesia.1. dan golongan karya (Pasal 1 ayat 1 UU No. susunan anggota MPR terdiri dari anggota – anggota DPR ditambah utusan daerah. 2.2 Kewenangan lembaga legislatif sebelum UUD 1945 1. 16 Tahun 1969). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 5. MPR mendistribusikan kekuasaannya kepada lima lembaga yang lain yang kedudukannya sejajar. Yang dimaksud lembaga tertinggi negara dan lembaga tinggi negara adalah lembaga tertinggi negara dan lembaga tinggi negara menurut UUD 1945 (Daliyo. Legislatif dikenal dengan beberapa nama. Terkait dengan kedudukannya sebagai Lembaga Tertinggi Negara.1 Kedudukan dan Kewenangan Lembaga Legislatif Sebelum Amandemen UUD 1945 Sebelum membahas mengenai kedudukan lembaga legislatif.1. Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR) 2. Dalam susunan ketatanegaraan RI pada waktu itu. menaikkan pajak. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 6. dalam susunan ketatanegaraan Republik Indonesia pernah dikenal istilah lembaga tertinggi negara dan lembaga tinggi negara. mengangkat presiden dan wakil .

Hal ini dikarenakan presiden dipilih secara . Bersama presiden menetapkan APBN (Pasal 23 ayat (1)) 3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 4. Wewenang DPR menurut UUD 1945 adalah : 1. kedudukan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Adanya amandemen terhadap UUD 1945 telah menciptakan suatu sistem konstitusional yang berdasarkan perimbangan kekuasaan (check and balances) yaitu setiap kekuasaan dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi masing-masing. yaitu Dewan Perwakilan Daerah dan Mahkamah Konstitusi. yaitu salah satunya menegaskan sistem pemerintahan presidensial dengan tetap mengambil unsur – unsur pemerintahan parlementer sebagai upaya untuk menutupi kekurangan system pemerintahan presidensial.2. Dalam hal kewenangan lembaga negara. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 3. Mahkamah Konstitusi (MK) 7. Hal tersebut dapat dilihat dari dihapuskannya kedudukan MPR sebagai lembaga tertinggi negara serta adanya beberapa lembaga negara baru yang dibentuk.presiden 2. Mahkamah Agung (MA) 6. MPR tidak lagi menetapkan GBHN b. perubahan – perubahan yang terjadi di lembaga MPR baik mengenai susunan. kedudukan seluruh lembaga negara adalah sejajar sebagai lembaga tinggi negara.2 Kedudukan dan Kewenangan Lembaga legislatif Sesudah Amandemen UUD 1945. Presiden 5. MPR tidak lagi mengangkat presiden. Bersama presiden membentuk UU (Pasal 5 ayat 1 jo Pasal 20 ayat (1)) dengan kata lain bahwa DPR berwenang untuk memberikan persetujuan RUU yang diajukan presiden disamping mengajukan sendiri RUU tersebut. Meminta MPR untuk mengadakan sidang istimewa guna meminta pertanggungjawaban presiden. 2. terdapat suatu perubahan yang cukup mendasar baik dalam sistem ketatanegaraan maupun kelembagaan negara di Indonesia. Adapun lembaga – lembaga yang tercantum sebagai lembaga tinggi negara menurut UUD NRI 1945 adalah : 1. Selain itu.1 Perubahan Kedudukan dan Kewenangan lembaga legislatif pasca amandemen UUD 1945 Setelah adanya amandemen ke IV UUD 1945. tugas maupun wewenangnya adalah : a. (yang selanjutnya akan disebut UUD NRI 1945). Selain itu. UUD NRI 1945 menekankan adanya beberapa perubahan pada kewenangan lembaga legislatif yaitu : 1. Selain itu penyempurnaan pada sisi kedudukan dan kewenangan masing-masing lembaga negara disesuaikan dengan perkembangan negara demokrasi modern. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hal yang paling menonjol mengenai MPR setelah adanya amandemen UUD adalah dihilangkannya kedudukan MPR sebagai lembaga tertinggi negara. (Pasal 21 UUD 1945) 2. 2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Keanggotaan DPR sebagai lembaga tinggi negara terdiri dari golongan politik dan golongan karya yang pengisiannya melalui pemilihan dan pengangkatan.

DPD dibentuk dengan tujuan untuk mengakomodasi kepentingan daerah sebagai wujud keterwakilan daerah ditingkat nasional. (Pasal 3 ayat 2 Perubahan III UUD 1945). yaitu: fungsi legislasi. MPR hanya bertugas untuk melantik presiden terpilih sesuai dengan hasil pemilu. Selain itu. RUU lain yang berkait dengan kepentingan daerah. dan fungsi pengawasan sebagai mekanisme kontrol antar lembaga negara. Hal ini juga merupakan tindak lanjut peniadaan utusan daerah dan utusan golongan sebagai anggota MPR. d. DPD mempunyai kewenangan untuk mengajukan dan ikut membahas RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah. Salah satunya adalah diberikannya kekuasaan kepada DPR untuk membentuk UU. Susunan keanggotaan MPR mengalami perubahan yaitu terdiri dari anggota DPR dan DPD yang dipilih secara langsung melalui pemilu. Perubahan ini juga mempengaruhi hubungan antara DPR sebagai lembaga legislatif dan presiden sebagai lembaga eksekutif. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Adanya amandemen terhadap UUD 1945. (Pasal 22 D ayat (1) dan (2) UUD NRI 1945) . yaitu dalam proses serta mekanisme pembentukan UU. fungsi anggaran. Sama halnya seperti anggota DPR. yang sebelumnya dipegang oleh presiden dan DPR hanya berhak memberi persetujuaan saja. sangat mempengaruhi posisi dan kewenangan DPR sebagai lembaga legislatif. 2. MPR tetap berwenang mengubah dan menetapkan UUD (Pasal 3 ayat (1) UUD NRI 1945) e. anggota DPD juga dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu. c. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sebagai lembaga negara yang baru dibentuk setelah amandemen UUD. Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden dan atau/Wakil Presiden dalam masa jabatannya. amandemen UUD 1945 juga mempertegas fungsi DPR. (Pasal 20 A ayat (1) UUD NRI 1945) 3. (Pasal 6A ayat (1) UUD NRI 1945). (Pasal 22 C ayat (1) UUD NRI 1945). hubungan pusat dan daerah.langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. apabila atas usul DPR yang berpendapat bahwa Presiden/Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden/Wakil Presiden.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful