P. 1
Kesehatan Satwa Liar

Kesehatan Satwa Liar

|Views: 144|Likes:

More info:

Published by: Agdila Okke Kalistasari on Apr 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2014

pdf

text

original

PENGELOLAAN KESEHATAN SATWA LIAR

Drh M.Nanang Tejolaksono PENDAHULUAN Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, meliputi kekayaan flora dan fauna serta ragam komponen penyusun lingkungan hidup yang hidup (biotik) maupun yang tidak hidup (abiotik). Kekayaan sumber daya alam kita yang terdiri dari tanah, air, udara, tumbuhan dan satwa, meliputi hutan tropis basah yang menutupi 63% daratan Indonesia, 30.000 jenis tumbuhan dan diperkirakan ada 220.000 jenis satwa. Pengelolaan kesehatan satwaliar dengan benar berarti turut bertanggung jawab dalam keanekaragaman hayati baik pada tingkat kemurnian genetik maupun ekosistemnya secara eksitu dan insitu. Sebagai lembaga konservasi eksitu, Taman Safari Indonesia memiliki peranan penting dalam turut melestarikan satwa di luar habitat aslinya, melalui managemen kesehatan satwa liar yang tepat sasaran,sehingga keberadaannya bermanfaat dalam hal perlindungan, pengawetan, pemeliharaan, rehabilitasi, introduksi, pelestarian, pemanfaatan dan pengembangan satwa liar. PENGELOLAAN KESEHATAN Definisi sehat menurut WHO yakni the state of complete, physical, mental and social being and not merely the absence of disease or infirmity. Dalam hal ini sehat merupakan bagian dari peneguhan kesejahteraan satwa (animal welfare) yakni suatu kondisi satwa dimana semua fungsi tubuh berjalan secara normal. Pengelolaan kesehatan sendiri meliputi 3 hal pokok, antara lain pencegahan penyakit, diagnosa penyakit, dan pengobatan. A. Pencegahan penyakit. Pencegahan penyakit sangat diutamakan dalam pengelolaan semua satwa, demikian pula pada pengelolaan kesehatan satwa liar, upaya pengobatan kadang kala terlambat, karena sulitnya mendiagnosa penyakit dini. 1. Karantina. Merupakan pintu gerbang keluar masuk satwa, Setiap satwa yang baru datang harus dikarantina terlebih dahulu selama kurang lebih 14 s/d 30 hari, sedangkan khusus untuk primata lebih lama yaitu 3 s/d 6 bulan. Selama masa karantina, satwa diperiksa kesehatannya melalui pengamatan fisik, tingkah laku (behavioural), pola makan, serta pengambilan sampel sampel diagnostic seperti feses, darah, sputum guna pemeriksaan laboratorium. Justifikasi terhadap status karantina dan kesehatan disesuaikan dengan satwa yang dalam masa karantina dan temuan pemeriksaan. Misalnya untuk primata

sedangkan sampah. Juga dilakukan immunisasi/vaksinasi pada berbagai species hewan. Juga pemberian makanan dengan kandungan protein yang terlalu tinggi bisa menyebabkan terjadinya diarrhe serta gangguan pencernaan lainnya. harus dibuang ketempat pembuangan sampah dan dimusnakan dengan dibakar atau dapat juga dibuat pupuk/kompos.dan beberapa artiodactyl/herbivora dilakukan test tuberculin. setiap karyawan yang berhubungan dengan satwa harus benar-benar sehat secara jasmani dan rohani. 5. Kebersihan pribadi juga amat penting dan harus tetap dijaga agar tetap bersih dan selalu sehat. 4. 2. Sebaiknya para perawat satwa tidak pulang kerumah dengan tetap memakai pakaian kerjanya demi menjaga kesehatan keluarganya masingmasing. utamanya bagi karyawan yang bekerja dengan primata. Pemberian pakan/makanan Pakan yang berupa sayuran segar harus dbersihkan dari racun serangga (insektisida). Bila ditemukan ada satwa yang positif maka satwa tersebut langsung diobati atau dapat juga semua satwa diberi obat cacing dan anti . 3. juga sebaiknya perawat satwa primata untuk tidak bekerja rangkap merawat satwa lainnya. Pemeriksaan rutin dan profilaksi Sampel tinja (feses) sebaiknya diperiksa secara rutin untuk mendiagnosa adanya cacing dan protozoa. bahan plastik dll. Kesehatan petugas / perawat satwa Kesehatan satwa sangat erat kaitannya dengan kesehatan perawat. Sanitasi kandang dan lingkungan. Pemeriksaan titer antibody hepatitis. sedang kan warfarin untuk membasmi tikus. Semua limbah cair dan kotoran yang bisa terurai harus dibuang kedalam septic tank. Juga tempat penyimpanan makanan harus dijaga kebersihannya. Obat anti serangga yang dapat dipakai misalnya : Malathion dan pyrethrin. Surat keterangan sehat dari dokter dan foto roentgen (Xray) paru-paru karyawan disertakan sebelum karyawan yang bersangkutan berkontak/bekerja dengan satwa. Sanitasi/kebersihan kandang dan area sekitarnya harus selalu dijaga. Taman Safari Indonesia mewajibkan para karyawannya untuk diperiksa darah sebagai diagnosa terhadap adanya penyakit tertentu terutama yang bersifat zoonosis Khusus bagi perawat satwa primata ada beberapa peraturan/ketentuan khusus misalnya: petugas wanita yang sedang hamil tidak boleh bekerja. Pemberian makanan yang terlalu banyak ( over feeding) akan menyebabkab kegemukan (obesitas) dan gangguan pencernaan (idigesti). Juga pengontrolan terhadap serangga dan tikus perlu dilakukan dengan cara menekan populasi serangga sampai batas terendah terutama di tempat-tempat perkembangbiakannya misalnya ditempat sampah dll. dan vaksinasi hepatitis perlu dan rutin dilakukan.Lantai/kandang harus dibersihkan sebelum pemberian makanan. sedangkan pakan beku (frozen) sebaiknya di thawing sesaat sebelum diberikan kepada satwa.

minum. Gejala klinis hewan sakit dapat terlihat dari perubahan nafsu makan. . Tuberculininasi dll. ruang dan meja operasi lengkap dengan seperangkat alat bedah. penambahan serta pengurangan jumlah satwa. tiduran). Namun yang lebih penting lagi ialah bagaimana kejelian seorang keeper (perawat satwa) untuk bisa melihat gejala ini dan melaporkan keadaan sebenarnya kepada Tim medis atau dokter hewan. data satwa yang sakit. Hewan sakit yakni hewan yang menunjukkan gangguan anatomis. Diagnosa Klinis Penelusuran kasus penyakit dan pengobatan berawal dari gejala klinis yang Nampak dari hewan. tanda-tanda khusus klinis (muntah. Tim medis harus melakukan bedah bangkai (nekropsi/otopsi) agar dapat mendiagnose penyebab kematian tersebut. Juga alat bantu diagnosa lainnya seperti Rontgen. diare. hidung kering. BPPH atau Laboratorium Diagnostik untuk manusia. ruang X-ray dll. Kekurangan peralatan bukanlah alasan untuk tidak melakukan pemeriksaan karena bisa saja TSI merujuk ke laboratorium yang lebih lengkap misalnya Laboratorium Mikrobiologi FKH-IPB. penampilan fisik (mata cekung. Dapat juga otopsi ini dilakukan untuk menguatkan diagnosa klinis dan diagnosa laboratoris yang sudah ada. ruang labora. bulu berdiri dll). kimia maupun fisiologis. Petugas perawat satwa diharapkan mengerti perubahan-perubahan detail dari hewan. 2. Diagnosa Laboratoris dan Patologis Pemeriksaan feses. Sarana Pengobatan dan Rumah Sakit Satwa Di Taman Safari perlu ada tempat untuk sarana pengobatan baik yang berupa Rumah Sakit Satwa (Animal Hospital) maupun di setiap lokasi dekat kandang masing-masing. batuk dll). Balitvet. dapat juga digunakan untuk membantu diagnosa. jadual vaksinasi. 3. Setiap RSS perlu dilengkapi dengan fasilitas kandang pasien. Dan untuk satwasatwa tertentu diberikan vaksinasi yang harus diulangi setiap tahun. urine dan darah di laboratorium. Bilamana ada satwa yang mati tanpa disertai gejala klinis. Data Recording Data-data tentang populasi satwa. C. perlu dibuat dan tersimpan dengan baik di komputer. disket atau CD dan dengan mudah dapat di akses/print bila dibutuhkan. perlu dibuatkan kandang fiksasi untuk pengendalian satwa tersebut.protozoa secara periodik 2-3 bulan sekali sebagai pencegahan. Ruang Otopsi dan Pemusnaan Kadaver. Sarana diagnostik dan data recording 1. jadual pemberian obat cacing dll. aktifitas harian (sering duduk. Juga di lokasi-lokasi satwa tertentu yang tidak memungkinkan dibawa ke RSS. USG Laparoskopi. B. Untuk tetap menjaga D.torium. juga hasil otopsi dan pemeriksaan organ satwa yang mati dapat memberikan arahan diagnosa penyakit tertentu atau memperkuat diagnosa klinis yang sudah ada.

keeper perlu dengan segera melapor pada tim medis. kimia maupun fisiologis. atau sering tiduran. Gejala klinis : Gejala penyakit yang dapaty ditentukan secara objektif contoh muntah. Sakit : Kondisi dimana suatu individu/satwa mengalami kelainan anatomis. Muntah : Beberapa satwa menunjukkan gejala muntah pada kondisi umum sebagai perilaku normalnya. Simtom : Tanda-tanda penyakit yang hanya ditentukan secara subjektif misalnya kepala pusing. malas bergerak. ataupun perubahan kesehatan yang perlu dipahami oleh perawat satwa. Aktifitas : Keeper harus memahami adanya penurunan dan peningkatan aktifitas satwanya. sedangkan untuk pemusnaan kadaver (bangkai) harus disediakan area tanah pekuburan khusus atau tempat pembakaran bangkai satwa (kremato. demam dll. . Diare : Konsistensi feses (kotoran) yang lembek. I. atau sakit bila bergerak.rium). karena peningkatan kadar air. Beberapa istilah dalam pelaporan kesehatan. bertujuan mengeluarkan sesuatu dari lambungnya. darah dll.mencret. mutlak dipahami dan dimengerti oleh selulruh perawat satwa. dan behavioral dari satwa yang dirawat. PELAPORAN KESEHATAN Pengetahuan dan pemahaman mengenai kondisi anatomis. sulit bergerak. nyeri dll.kebersihan serta sterilitas RSS maka adanya septik tank yang baik mutlak diperlukan. misalnya pada kondisi sering duduk. bau dan temuan lain yang menyertai kondisi diare seperti cacing. Pada kondisi yang tidak normal. seperti frekuensi yang meninigkat atau disertai perubahanperubahan fisiologis seperti penurunan aktifitas. Nafsu Makan : Keeper harus memahami adanya penurunan dan peningkatan nafsu makan dan minum satwanya. fisiologis. warna. Sehat : Kondisi suatu individu/satwa dimana semua fungsi tubuh berjalan secara normal. batuk. rasa linu. Dalam pelaporan ini perlu pula disertakan frekuensi defekasi (buang air).

ayam lebih sensitif terhadap ND dibandingkan itik. Umur Hewan. c. Status Nutrisi : Hewan yang mengkonsumsi gizi yang rendah akan lebih peka terhadap penyakit. Jamur. Status Kekebalan : Tubuh Hewan. Faktor agen Penyakit/ Pembawa Penyakit a. a.. Species hewan : Penyakit ND hanya peka terhadap jenis unggas sedangkan herbivora tidak. Agen Hospes Sakit Dari bagan diatas dapat terlihat bahwa timbulnya penyakit dipengaruhi oleh faktor seperti agen penyakit. d. Parasit. Geografis : Daerah basah(pegunungan) akan memiliki kesakitan yang tinggi dibandingkan daerah panas (berkapur) misalnya untuk cacing hati. b. Bakteri (kuman). 3. e.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Penyakit. Tingginya kekebalan tubuh akan meningkatkan kemampuan tubuh menolak penyakit yang masuk tubuh. Misalnya ada individu yang mudah terjangkit suatu penyakit tetapi ada pula individu yang tahan terhadap penyakit. hospes dan lingkungan. 2. 1. manajemen. Ricketsia dan Clamidia. Agen biologik yaitu pembawa penyakit yang disebabkan organisme hidup. b. Agen non Biologis yaitu agen penyakit yang berasal bukan dari organisme hidup misalnya patah tulang. Musim : Pada musim penghujan kasus yang sering terjadi misalnya kedinginan dan diare. keadaan geografis. Kemampuan masing-masing individu dalam membentuk kekebalan tubuh sangat bervariasi. lalulintas ternak. Faktor Hospes Faktor yang dipengaruhi dari hewan yang terserang suatu penyakit . Kemampuan agen penyakit dalam menimbulkan suatu penyakit sangat bervariasi tergantung dari agen penyakit yang menjangkiti misalnya virus (ND) akan menyebabkan angka kematian lebih tinggi dibandingkan karena cacingan. Status Fisiologis : Saat bunting dan menyusui hewan akan lebih peka terhadap serangan penyakit cacingan dibandingkan hewan pada masa yang lain. Lingkungan . Hewan muda apalagi bayi memiliki daya tahan lebih rendah dibandingkan hewan dewasa. b. Ras Hewan : Sama jenis unggas. bila dibandingkan hewan yang mengkonsumsi gizi tinggi. Virus. a. genetis (bawaan). c. keracunan. gangguan nutrisi. f. Faktor Lingkungan Faktor ini meliputi : musim/iklim.

. Management : Management pemeliharan satwa sangat berpengaruh terhadap kesehatan hewan yang meliputi : perkandangan. sanitasi lingkungan. Lalulintas hewan : Hal ini sangat berkaitan dengan penyebaran penyakit. Untuk itu karantina hewan yang baru datang maupun isolasi hewan sakit sangat penting. nutrisi.c. dll d. kepadatan hewan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->