P. 1
Buku Pembangunan Perumahan Dan Permukiman

Buku Pembangunan Perumahan Dan Permukiman

|Views: 39|Likes:
Published by Dian Kusbandiah

More info:

Published by: Dian Kusbandiah on Apr 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Perkembangan Perumahan dan Permukiman di Indonesia
  • 1.2 Isu Pembangunan Perumahan dan Permukiman
  • 1.2.1 Perumahan
  • 1.2.2 Air Minum dan Air Limbah
  • 1.2.3Persampahan dan Drainase
  • 2.1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025
  • 2.2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2009
  • 3.1 Perumahan
  • 3.1.1 Status Penguasaan Tempat Tinggal
  • 3.1.2 Cara Memperoleh Rumah
  • 3.1.3 Kondisi Fisik Bangunan
  • GAMBAR 3.5 RUMAH TANGGAMENURUT JENIS PLAFON TERLUAS TAHUN 2004 DAN 2007 (%)
  • 3.1.4 Fasilitas Rumah
  • 3.1.5 Permukiman Kumuh
  • 3.1.6 BacklogPerumahan
  • 3.1.8 Subsidi KPR/KPS
  • 3.2 Air Minum
  • 3.2.1 Cakupan Pelayanan Air Minum
  • GAMBAR 3.10 CAKUPAN PELAYANAN AIR MINUM DI KOTA-DESA, 2002 DAN 2007
  • GAMBAR 3.12 CAKUPAN PELAYANAN AIR MINUM DI PERDESAAN TAHUN 2002 DAN 2007
  • GAMBAR 3.11 CAKUPAN PELAYANAN AIR MINUM DI PERKOTAAN TAHUN 2002 DAN 2007
  • 3.2.2 Kepemilikan Fasilitas
  • 3.2.3 Ketersediaan Air Baku
  • TABELIII.16 STATUS MUTU AIR PADA35 SUNGAI DI INDONESIATAHUN 2006
  • GAMBAR 3.14 POTENSI CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA
  • TABELIII.17 POTENSI CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA
  • 3.2.4 Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS)
  • GAMBAR 3.15 PROYEK KPS AIR MINUM DI INDONESIA
  • TABELIII.18 KPS AIR MINUM YANG TELAH BEROPERASI DI INDONESIA
  • TABELIII.19 PELUANG KPS SEKTOR AIR MINUM DI INDONESIA
  • 3.2.5 Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
  • TABELIII.20 PERBANDINGAN TARIF AIR DAN HARGAPOKOK PRODUKSI
  • GAMBAR 3.17 STATUS KINERJAPDAM TERKAIT PENYERTAAN MODALPEMERINTAH
  • 3.3.2 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
  • TABELIII.23 STATUS INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) TAHUN 2007
  • 3.4.2 Timbulan Sampah Kota Besar dan Metropolitan
  • 3.4.3 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah
  • TABELIII.27 DAFTAR TPAYANG MENGGUNAKAN SISTEM SANITARY LANDFILL
  • TABELIII.28 KETERSEDIAAN FASILITAS DI TPA
  • 3.4.4 Kelembagaan
  • GAMBAR 3.23 KLASIFIKASI TPABERDASARKAN ESTIMASI PERIODE PENGGUNAANNYA
  • TABEL III.29 ASPEK KELEMBAGAAN DALAM BIDANG PERSAMPAHAN
  • 3.5.2 Kondisi Saluran Drainase
  • 4.1 Umum
  • TABELIV.1 KESEPAKATAN INTERNASIONALTERKAIT PERUMAHAN DAN/ATAU PERMUKIMAN
  • 4.2.1 Latar Belakang MDGs
  • 4.2.2 Tujuan MDGs
  • TABELIV.2 TUJUAN DAN TARGET MDGS
  • TABELIV.4 INDIKATOR DAN TARGET MDGsPERUMAHAN
  • TABELIV.6 STATUS PENCAPAIAN MDGS INDONESIATAHUN 2007 (%)
  • 4.2.6Tantangan dan Upaya Pencapaian MDGs di Indo- nesia
  • 4.3 Perumahan
  • 4.4 Permukiman
  • TABEL IV.8 KESEPAKATAN INTERNASIONAL TERKAIT PEMBANGUNAN PERMUKIMAN
  • 5.1 Undang-Undang
  • 5.1.3Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
  • 5.1.4Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun
  • 5.1.5Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
  • 5.1.7Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah
  • 5.2 Peraturan Pemerintah
  • 5.2.2Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 ten- tang Rumah Susun
  • 6.1 Perumahan
  • 6.1.2 Proyek
  • TABELVI. 11 PENCAPAIAN PROYEK SANIMAS
  • TABELVI.12 KONDISI KECAMATAN BERDASARKAN ADATIDAKNYAIKK SPAM
  • GAMBAR 6.1 KONDISI OPERASI SISTEM IKK DI INDONESIA
  • GAMBAR 6.2 KONDISI SPAM-IKK PER WILAYAH DI INDONESIA(%)
  • TABELVI.18 DAFTAR LOKASI PROYEK SToPS
  • TABELVI.19 DAFTAR LOKASI PROYEK PAMSIMAS
  • 7.1 Perumahan
  • 7.1.1 Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni
  • TABELVII.1 DAFTAR KISAH SUKSES PEMBANGUNAN PERUMAHAN
  • 7.2 Permukiman
  • 7.2.1 Peningkatan Kapasitas
  • TABELVII.2 DAFTAR KISAH SUKSES PENINGKATAN KAPASITAS POKJAAMPL
  • TABELVII.3 DAFTAR KISAH SUKSES PEMELIHARAAN KUALITAS SUMBER AIR
  • 7.2.2 Pemeliharaan Kualitas Sumber Air
  • 7.2.3 Penyediaan Air Minum dan Pengelolaan Sanitasi
  • 7.2.4 Pengelolaan Sampah dengan Penerapan 3R
  • 7.2.5Keberhasilan Program Sanitasi Total Berbasis Ma- syarakat
  • 7.2.6 Pemeliharaan Kualitas Lingkungan
  • 7.2.7 Teknologi Ramah Lingkungan

PEMBANGUNAN

PERUMAHAN dan P E R M U K I M A N
d i

I n d o n e s i a

Oktober 2008

i

Pengarah Budi Hidayat (Direktur Permukiman dan Perumahan, BAPPENAS), Nugroho Tri Utomo (Kasubdit Air Minum dan Air Limbah, BAPPENAS), Hari Kristijo (Kasubdit Pengembangan Perumahan, BAPPENAS) Editor Oswar Mungkasa Penyusun Willy Irawan, Darajat Mulyanto, Kurnia Ratna Dewi, Alis Listalatu, Anna Farahdiba, Dendra Falah, Rebecca (Tim Penulis); Tata Letak dan Desain Grafis : Rudi Kosasih Dukungan Maraita Listyasari, Nurul Wajah Mujahid, Ira Lubis, Nur Aisyah Nasution, Dyota Condrorini, Fatty Rakhmaniar, Meddy C. Foto : Bowo Leksono Diterbitkan Oleh Direktorat Permukiman dan Perumahan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Bekerjasama dengan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan/POKJA AMPL Atas Dukungan Pembiayaan Departemen Pekerjaan Umum
Direktorat Permukiman dan Perumahan Kementerian Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/BAPPENAS Gd. Baru Lt. 3 Jalan Taman Surapati No. 2 Jakarta 10310 Telp/Fax (+62-21) 31934819 Website : http://perkim.bappenas.go.id e-mail : perkim@bappenas.go.id

iii

serta memberi manfaat bagi peningkatan kinerja pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia. Akhir kata. Gagasan untuk menerbitkan buku ini timbul pertama-tama didasari oleh keprihatinan kami terhadap kurang tersedianya sumber informasi yang memadai tentang pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia. Sementara disadari sepenuhnya bahwa ketersediaan data dan informasi yang memadai merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi terselenggaranya pembangunan perumahan dan permukiman yang optimal. tetapi buku yang kami susun ini memang sedikit berbeda dengan apa yang selama ini kita punyai. atas perkenannya sehingga buku Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia dapat terbit sesuai dengan rencana. dan bahkan kisah sukses. khususnya dari sekretariat proyek. semoga buku ini dapat menambah keragaman sumber informasi pembangunan perumahan dan permukiman dan bahkan menjadi pemicu pemangku kepentingan lainnya untuk melengkapi sumber informasi yang telah ada. kerangka kebijakan. Tentunya usaha untuk merealisasikan buku ini tidak akan tercapai tanpa kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak. Hal ini dilakukan untuk lebih mengoptimalkan ketersediaan data dan informasi yang selama ini masih berserak.KATA PENGANTAR P uji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa. regulasi. materi yang kami sajikan tidak hanya berupa data tetapi juga merangkum berbagai ragam informasi mulai dari isu pembangunan. Kami berhutang ucapan terima kasih kepada berbagai pihak diantaranya (i) Sekretariat Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang merupakan mitra kerja utama kami dalam merampungkan kerja besar ini. dan (iii) banyak pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. (ii) Nara sumber yang telah meluangkan waktu untuk menyediakan informasi berharga yang kami butuhkan. kesepakatan internasional. Kami tidak berpretensi untuk terlihat lain. Untuk itu. Sebagian besar informasi yang terkumpul didapatkan dari Pusat Informasi AMPL yang merupakan salah satu bentuk layanan Sekretariat Pokja AMPL. Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas Budi Hidayat v v .

....................................... 3.......................................................1.................3.....................................1 Status Penguasaan Tempat Tinggal ......................1 Perumahan .....1 Perumahan ......................................... 3.............7 Rusunawa dan Rusunami .............................. 3.............. 3................. 3...........2 Isu Pembangunan Perumahan dan Permukiman ........................................................................................................................2 Air Minum dan Air Limbah .............................................................2.......................................................................................................3 Ketersediaan Air Baku..........................................2............ 3................... 1...........................................................................................................................................8 Subsidi KPR/KPRS ........1 Cakupan Pelayanan Air Minum ...................... Daftar Isi .. Bab I Perkembangan dan Isu Perumahan dan Permukiman di Indonesia ............................................................6 Backlog Perumahan ........ 1........................................................................ 3............................... 3....................... 3.................................... 2..... 3.................................................2.............. 2............................................2 Air Minum..1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 .........................................................................................................2............................................................. 3................5 Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum..... 1..........................................................................4 Kerjasama Pemerintah Swasta ................2 Kepemilikan Fasilitas...................................1.............................................................................. 11 13 14 14 17 19 19 20 21 23 23 24 25 26 27 27 29 29 31 36 38 38 39 vii .3 Kondisi Fisik Bangunan .........................................................................3 Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) ............... 3.............. 1............................................................................................................................................................................. 3.................................................1.......2................................1 Perkembangan Perumahan dan Permukiman di Indonesia .................................2....................3 Persampahan dan Drainase ....... Daftar Tabel ............1...............3 Sanitasi Dasar dan Air Limbah ..................................................................................................5 Permukiman Kumuh ......... v vii x xiii xv xxiii 1 3 8 8 9 10 Bab II Pembangunan Permukiman dan Perumahan dalam Kerangka Perencanaan Pembangunan Nasional ... Daftar Gambar ..................................... 3........ 1........................................... 3....2.......................2.....2 Cara Memperoleh Rumah ............. Daftar Singkatan.....................1........... Daftar Istilah .............3... 3.1 Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar ...............1.....................DAFTAR ISI Kata Pengantar ........ Bab III Data dan Informasi Dasar ............. 3....1....................................... 3............................................2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2009 2..1....2 Instalasi Pengolahan Air Limbah .....................4 Fasilitas Rumah ......................

......3 Perumahan ............. 4...................2 Millennium Development Goals (MDGs) ....... 3......2 Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun 5.........................................................3 Tujuan............................................ 3...................................................................................... 5.....2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria ................. Target.............4.................1.............. 5....... Bab V Regulasi ..............2......................1 Latar Belakang MDGs ........................1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman ...........................1 Luas Kawasan Tergenang ............. viii 41 41 42 43 44 46 46 46 49 51 52 52 52 53 55 57 61 64 65 71 73 73 73 73 74 74 74 74 75 75 75 75 76 76 76  viii ..1 Umum ...........6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) .........2................. 3..............5...........................1 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah........... 4.............................. 4.................................. 5....2 Peraturan Pemerintah . 3...................6 Tantangan dan Upaya Pencapaian MDGs di Indonesia .......................2 Kondisi Saluran Drainase ...... Hak Guna Bangunan.............................................................................1............2.... 4.................. 4...................................................................................4.......2........................................................4.................................. dan Hak Pakai Atas Tanah .................3.............4........................................................5 Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2005 tentang Penyertaan Modal Negara untuk Pendirian Perseroan (Persero) di Bidang Pembiayaan Sekunder Perumahan ..................1...............................................................4 Persampahan ....4 Target MDGs di Indonesia ..... 5...... 5........................6 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah ...............2 Timbulan Sampah Kota Besar dan Metropolitan .... 3.......... Pemerintah Daerah Provinsi............................... 4........... 5................................................3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah 5................4 Permukiman.................................... 3................................................................ 4..........1.............. 5..7 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah 5..........................2..........................................................................1............2........1................5 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air ....................2.5 Drainase .......................... 4.... 5............................................................2............3 Tempat Pembuangan Akhir Sampah ......................4 Kelembagaan ......... 5.................... 4..............................................1.......................... 3.3 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha......................................2 Tujuan MDGs ....1 Undang-Undang ...5........... 5...................................... 5....4 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun . 4.................................2.................... dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota ......................2.........4 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun (KASIBA) dan Lingkungan Siap Bangun (LISIBA) ........................... Bab IV Kesepakatan Internasional ........ 5.............5 Pencapaian Target MDGs di Indonesia ..............1 Cara Pembuangan Sampah ......................2.................................................2.... dan Indikator MDGs .........................................

.................................................................1............................................ 6.....................1.................................1................2.............................................................. 6.........................................2 Perbaikan Lingkungan Perumahan ....2................................................................1 Perumahan ........ Regulasi Umum D.......................................................5 Keberhasilan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ..1 Perumahan .....2................................................1 Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni................5....2.................4 Pengelolaan Sampah dengan Penerapan 3R ......................... Bab VII Kisah Sukses ............... Bab VI Program dan Proyek ...............................7 Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air................2 Proyek ......................................7 Teknologi Ramah Lingkungan ...........................................................3 Penyediaan Air Minum dan Pengelolaan Sanitasi .................................................. 7................................... Regulasi Permukiman F..................................2........2 Pemeliharaan Kualitas Sumber Air ............................ 7................2 Permukiman......................................2. Kesepakatan Internasional C.... Regulasi Perumahan E....2...................................................1 Program ..... 6.... 7.............................................................2.2 Proyek ....................... 7......... 77 77 79 81 81 83 85 85 93 115 117 117 118 119 119 119 120 121 121 122 123 124 125 Lampiran (dalam CD) A..... 7... Kisah Sukses Permukiman  ix ix ....................2 Permukiman.................................................. 7.................................8 Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air ...1 Peningkatan Kapasitas.................... Data dan Informasi Dasar B. 6................. 5................. 6..................................................................................2...................... 7....3 Pembangunan Rumah Swadaya Layak Huni ..............................................1................................................6 Pemeliharaan Kualitas Lingkungan...........2... 7................. 7......................... Daftar Pustaka .....1 Program ..........................................................................................................1.....2. 7... Kisah Sukses Perumahan G... 7.............................................................. 7..... 6...........

.................................... 19 20 21 21 23 24 24 24 25 25 26 27 27 29 29 30 31 32 35 37 38 40 41 42 43 43 43 44 45 46 x ......................................................................................................29 Tabel III...... Status Mutu Air pada 35 Sungai di Indonesia Tahun 2006 ................................... Rumah Tangga yang Cara Memperoleh Bangunannya dengan Membeli menurut Cara Pembayaran Tahun 2004 dan 2007 ....................12 Tabel III....................2 Tabel III........................9 Tabel III...... Lokasi Instalasi Pengolahan Air Limbah Tahun 2007 dan Rencana Tahun 2008 .................................................................................................... Rumah Tangga yang Menempati Rumah Milik Sendiri menurut Cara Memperoleh Bangunan Tahun 2007 (%) ............................................. Peluang KPS Sektor Air Minum di Indonesia .................... 2004..30 Rumah Tangga menurut Status Penguasaan Tempat Tinggal Tahun 2004 dan 2007 (%).......................7 Tabel III...........22 Tabel III..21 Tabel III.. Rumah Tangga menurut Sumber Air yang Digunakan Tahun 2002-2007 (%) ...................... Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Penampungan Akhir Tinja Tahun 2001 dan 2007 .................15 Tabel III.............. Jumlah Kebutuhan Rumah Tahun 2000.................................3 Tabel III..5 Tabel III...20 Tabel III..................... dan 2007 ............................DAFTAR TABEL Tabel III......................................................................................... Lokasi.................... Timbulan Sampah di Kota Besar dan Metropolitan Tahun 2002 dan 2006 Profil Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Indonesia Tahun 2007......................................... 2005.................24 Tabel III............. KPS Air Minum yang Telah Beroperasi di Indonesia .............................13 Tabel III..............16 Tabel III......... dan 2009 ...27 Tabel III.................................. Jumlah Desa yang Memiliki Lingkungan Permukiman Kumuh Tahun 2003 dan 2005 . Backlog Perumahan Tahun 2007 ......... dan 2003 ...............1 Tabel III........... Rumah Tangga menurut Cara Pembuangan Sampah Tahun 2001................................ Rumah Tangga di Perkotaan dan Perdesaan menurut Kepemilikan Fasilitas Air Minum Tahun 2007 .............................................................26 Tabel III................................................... Luas.............................. Luas Kawasan Tergenang di Indonesia Tahun 2003................19 Tabel III.......... 2000... Ketersediaan Fasilitas di TPA .. Rumah Tangga menurut Kondisi Bangunan Tempat Tinggal Tahun 2004 dan 2007 (%)...... 2004..........................................................8 Tabel III...........................28 Tabel III.....14 Tabel III................6 Tabel III... dan 2006 ....... Rumah Tangga menurut Status Hukum Tanah Tahun 2004 dan 2007 (%) .............................. Tingkat Hunian Rusunawa (unit) Tahun 2007 ...................... Jumlah Rusunawa Terbangun tiap Propinsi Tahun 2004-2007 ................................................. Status Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahun 2007 .......4 Tabel III.. Perbandingan Tarif Air dan Harga Pokok Produksi .............. Daftar TPA yang Menggunakan Sistem Sanitary Landfill .............................................................. Aspek Kelembagaan dalam Bidang Persampahan ........... Jumlah Penerbitan KPRSH Bersubsidi Tahun 2004-2007 (unit) ...... Potensi Cekungan Air Tanah .............................................18 Tabel III................10 Tabel III.................... Kapasitas Produksi Perusahaan Air Bersih Tahun 2001-2005 .17 Tabel III. dan Jumlah Penghuni Kawasan Kumuh Tahun 1996......................................11 Tabel III.....23 Tabel III..........................................25 Tabel III...

...........................5 Tabel VI........20 Tabel VI..................... Pencapaian Kerjasama Bappenas ............11 Tabel VI...................... Indikator dan Target MDGs Perumahan .......... Daftar Kisah Sukses Peningkatan Kapasitas Pokja AMPL ..21 Tabel VII..............................................................Plan Perjanjian Kerja Tahun 2007 ......................... Kesepakatan Internasional Terkait Pembangunan Perumahan dalam Kurun Waktu 1966-1996 .........5 Tabel IV...2 Tabel IV..UNICEF ....................6 Tabel VI................. Daftar Lokasi Proyek Sanimas......... Perkembangan Pelaksanaan Kegiatan STBM untuk Pilar Stop Buang Air Besar Sembarangan per Desember 2008 .....................................12 Tabel VI................................................................................Plan Perjanjian Kerja Tahun 2008 .......4 Tabel IV.................Tabel III....2 Tabel VII... Indikator dan Target MDGs Permukiman (Air Minum dan Sanitasi Dasar) Indonesia.......................................................................................................8 Tabel VI............ Kesepakatan Internasional Terkait Pembangunan Permukiman ...... Pencapaian Kerjasama Bappenas ....3 Tabel VI..................................................... Alokasi Dana Program Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2005-2008 (juta Rupiah)........6 Tabel IV............. Status Pencapaian MDGs Indonesia per Tahun 2007 (%) .......................4 Tabel VI............7 Tabel IV.......................................................................... Kesepakatan Internasional Terkait Perumahan dan/atau Permukiman ................................................................................................. Alokasi Dana Program Peningkatan Kinerja Persampahan dan Drainase Tahun 2005-2008 (juta Rupiah) ...... Daftar Lokasi Proyek Pamsimas ................................................ Alokasi Pendanaan per Periode Proyek WES ........................... Alokasi Dana Program Pengembangan Kelembagaan Tahun 2005-2008 (juta Rupiah)........................31 Tabel IV........9 Tabel VI.........................................................3 Tabel IV.............................17 Tabel VI..................... Perkembangan Pelaksanaan Kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat untuk Pilar Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) per Desember 2008 ..............15 Tabel VI..... Pencapaian Program Pengembangan Kinerja Pelayanan Air Minum dan Air Limbah ..1 Tabel VII............................... Target dan Realisasi Lokasi Desa Sasaran Program PAMSIMAS Komponen C Tahun 2008 .................................... Alokasi Dana Program Pengembangan Kinerja Air Minum dan Air Limbah Tahun 2005-2008 (juta Rupiah) ...............................................................................................................................................8 Tabel VI..............10 Tabel VI.................19 Tabel VI................................................... Kondisi Kecamatan Berdasarkan Ada Tidaknya IKK SPAM .......................................... Pencapaian Proyek Sanimas .................................. Alokasi Dana Program Pengembangan Perumahan Tahun 2005-2008 (juta Rupiah)....... Lokasi Proyek WES-Unicef per Tahun Anggaran............. Tujuan dan Target MDGs ..........................1 Tabel IV.......18 Tabel VI................................................1 Tabel VI..........................................................................................................................3 Rumah Tangga menurut Keadaan Air Got/Selokan di Sekitar Rumah Tahun 2007 ................................. Lokasi Proyek WES-Unicef .......13 Tabel VI................................ Daftar Kisah Sukses Pemeliharaan Kualitas Sumber Air ......... Pelaksanaan Kegiatan STBM oleh Proyek PAMSIMAS Tahun 2008 ....................................................................... Daftar Kisah Sukses Pembangunan Perumahan .......................................14 Tabel VI... Daftar Lokasi Proyek SToPS ...........16 Tabel VI. Alokasi Dana Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan Tahun 2005-2008 (juta Rupiah) ..................2 Tabel VI.... 47 51 53 55 57 57 60 64 66 81 82 86 87 88 88 89 91 92 97 98 103 106 106 107 108 108 109 111 112 112 117 119 120  xi xi ...................7 Tabel VI................................ Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki atau Menyewa Rumah Tahun 1992-2006 (%) ...................

....... Daftar Kisah Sukses Pengelolaan Sampah dengan Konsep 3R .....7 Tabel VII.....6 Tabel VII..... Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat........................... 121 121 123 123 124  xii xii ... Daftar Kisah Sukses Teknologi Ramah Lingkungan ..Tabel VII..5 Tabel VII..4 Tabel VII..................................8 Daftar Kisah Sukses Penyediaan Air Minum dan Pengelolaan Sanitasi ......... Daftar Kisah Sukses Pemeliharaan Kualitas Lingkungan ..............................

......................................................................................................................18 Gambar 3.....................................................3 Gambar 3............................................................................... Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Penampungan Akhir Tinja di Perdesaan Tahun 2001 dan 2007 ........15 Gambar 3..... Klasifikasi Rumah Tangga menurut Keadaan Air Got/Selokan di Sekitar Rumah Tahun 2007 ............................................................22 Gambar 3................. Rumah Tangga menurut Luas Tapak Bangunan (m2) Tahun 2004 dan 2007 ..24 Gambar 4......................................... Cakupan Pelayanan Air Minum di Kota-Desa Tahun 2002 dan 2007 ....... Rumah Tangga yang Memiliki Rumah Melalui KPR menurut Jangka Waktu Pengembalian Kredit Tahun 2007 ............................................... Proyek KPS Air Minum di Indonesia .............................................. Rumah Tangga menurut Kepemilikan Bukti Hukum Tanah Tahun 2004 dan 2007 (%)...... Rumah Tangga Menurut Sumber Penerangan menggunakan Listrik dari PLN Tahun 2004 dan 2007 ................................................................................ 19 20 20 22 22 22 23 23 26 28 28 28 29 31 32 36 38 39 39 39 42 42 44 47 57 58 xiii ...................................................... Cakupan Pelayanan Air Minum di Perkotaan Tahun 2002 dan 2007.......................... Status Kinerja PDAM terkait Penyertaan Modal Pemerintah ...............17 Gambar 3.................................. Rumah Tangga menurut Jenis Plafon Terluas Tahun 2004 dan 2007 ....4 Gambar 3..................................................6 Gambar 3.1 Gambar 4....................19 Gambar 3.2 Gambar 3.. Potensi Cekungan Air Tanah di Indonesia . Rumah Tangga di Perkotaan dan Perdesaan menurut Kepemilikan Fasilitas Air Minum Tahun 2007 ..............1 Gambar 3... Klasifikasi TPA Berdasarkan Estimasi Periode Penggunaannya .........................................14 Gambar 3.......... Perkembangan Alokasi Dana dan Subsidi Perumahan Tahun 20042009 ....... Rumah Tangga menurut Status Penguasaan Tempat Tinggal Tahun 2004 dan 2007 .............. Status Kinerja PDAM ..13 Gambar 3...................................16 Gambar 3..................... Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Penampungan Akhir Tinja di Perkotaan Tahun 2001 dan 2007 . Cakupan Pelayanan Air Minum di Perdesaan Tahun 2002 dan 2007.............21 Gambar 3................................................................................................................ Rumah Tangga menurut Kondisi Bangunan Tempat Tinggal Tahun 2004 dan 2007 (%).20 Gambar 3...................11 Gambar 3........................................................................... Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Penampungan Akhir Tinja di Kota-Desa Tahun 2001 dan 2007 ..........................................DAFTAR GAMBAR Gambar 3.....................10 Gambar 3.......7 Gambar 3..........................................8 Gambar 3................ Proporsi Rumah Tangga menurut Cara Pembuangan Sampah Tahun 2007 ................23 Gambar 3......................... Pelayanan Air Minum Sumber Air Terlindungi di Indonesia Tahun 1992-2006 (%) ................ Rumah Tangga yang Memiliki atau Menyewa Rumah Tahun 19922006 (%) ......................12 Gambar 3.............................2 Rumah Tangga yang Belum Memiliki Rumah Tahun 2004 dan 2007 (%) ........................9 Gambar 3.................................................................................5 Gambar 3........ Jenis Timbulan Sampah Berdasarkan Klasifikasi ..............................

........1 Gambar 6.....................5 Gambar 6...................Gambar 4........................................................... 58 Akses Penduduk pada Fasilitas Sanitasi Layak Menurut Desa... 104  xiv xiv .................. dan Total Tahun 2006 (%) ............................. 104 Kondisi SPAM-IKK per Wilayah di Indonesia ..............................3 Gambar 4... Tahun 1992-2006 (%) ........ 60 Kondisi Operasi Sistem IKK di Indonesia ......... Kota...2 Pelayanan Air Minum Sumber Air Terlindungi Menurut Desa dan Kota.....................................

Replanting Asian Development Bank Acquired Immune Deficiency Syndrome Aliansi Jurnalis Independen Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat Aceh-Nias Support Project Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Angka Partisipasi Murni Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan Association of South East Asia Nations Annual Work Plans Bahan Berbahaya dan Beracun Buang Air Besar Buang Air Besar Sembarangan Bawah Lima Tahun Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Kota Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Badan Amil Zakat. Recycle. Reuse Reduce. dan Sodaqah Bina Ekonomi Sosial Terpadu Bird Conservation Society Bina Karta Lestari Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Badan Keswadayaan Masyarakat Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Perumahan dan Permukiman Nasional Bantuan Langsung Masyarakat Bantuan Langsung Tunai Geman Ministry for Economic Cooperation Biochemical Oxygen Demand Build Operate Lease Build Operate Own Build Operate Transfer Pembangunan xv xv . Recycle.DAFTAR SINGKATAN 3R 4R ADB AIDS AJI AKB AKI AMDAL AMPL AMPL-BM ANSP APBD APBN APM APPB ASEAN AWP B3 BAB BABS BALITA BAPEDAL BAPEDALDA BAPERTARUM-PNS BAPPEDA BAPPEKO BAPPENAS BAZIS BEST BICONS BINTARI BPPSPAM BKM BKP4N BLM BLT BMZ BOD BOL BOO BOT Reduce. Infaq. Reuse.

BP2BPK BPABS BPAM BPN BPO BPP BPPSPAM BPS BR2K BRI BUMD BUMN BUMS BUS CAP CBO CBSWM CCTV CDM CDS CFR CIBLAS CLTS CO2 Co-BILD COD CPAP CPM CSP CSR CTPS CU CWSHP DAS DBOM DED DEPDAGRI DEPKES DEPKEU DEWATS DIPA DIPDA DITJEN DIY DKI JAKARTA DML DPR/DPRD Pedoman Umum Pembangunan Perumahan dan Permukiman Bertumpu pada Kelompok Badan Pengelola Air Bersih dan Sanitasi Badan Pengelolaan Air Minum Badan Pertanahan Nasional Bahan Perusak Ozon Badan Pendukung Pengembangan Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Badan Pusat Statistik Bantuan Revitalisasi Rumah Kumuh Bank Rakyat Indonesia Badan Usaha Milik Daerah Badan Usaha Milik Negara Badan Usaha Milik Swasta Berlian Unggas Sakti Community Action Plan Community-Based Organization Community Based Solid Waste Management Closed Circuit Television Clean Development Mechanism City Development Strategies Case Fatality Rate Koperasi Cibangkong Sebelas Community Led Total Sanitation Karbondioksida Community Based Initiatives for Housing and Local Development Chemical Oxygen Demand Country Program and Action Plan Country Program Mission Country Strategy and Program Corporate Social Responsibility Cuci Tangan Pakai Sabun Credit Union Community Water Service and Health Program Daerah Aliran Sungai Design Build Operate Maintain Detail Engineering Design Departemen Dalam Negeri Departemen Kesehatan Departemen Keuangan Decentralized Wastewater Treatment System Daftar Isian Proyek dan Anggaran Daftar Isian Proyek Daerah Direktorat Jenderal Daerah Istimewa Yogyakarta Daerah Khusus Ibukota Jakarta Dana Mitra Lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat/Dewan Perwakilan Rakyat Daerah  xvi xvi .

DSDP DSR EE ESP FBOOT FHN FMCU fMPS GBHN GDP GNPSR GOI GPL GRK GTZ HA HAM HDI HGB HGU HIPPAM HIV HPAT HPI HSF HSP HU IKK IPAL IPESATU IPLBM IPLT ISPA ISSDP ITS IWRM IYS JABAR Jampedas JO JICA JKM JUMANTIK K3A KANCIL KASIBA KBR KEHATI Denpasar Sewerage Development Project Debt to Service Ratio Environmental Education Environmental Services Program Finance Build Own Operate Transfer Family Health Nutrition Forum Masyarakat Code Utara Forum Masyarakat Peduli Sungai Garis-Garis Besar Haluan Negar Gross Domestic Product Gerakan Nasional Pembangunan Satu Juta Rumah Government of Indonesia Gerakan Peduli Lingkungan Gas Rumah Kaca Deutsche Gesselschaft fur Technische Zusammenarbeit Hektar Hak Asasi Manusia Human Development Index Hak Guna Bangunan Hak Guna Usaha Himpunan Penduduk Pengelola Air Minum Human Immunodeficiency Virus Hak Pakai Atas Tanah Human Poverti Index Hanns Seidel Foundation Health Services Program Hidran Umum Ibukota Kecamatan Instalasi Pengolahan Air Limbah Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu Instalasi Pengolah Limbah Berbasis Masyarakat Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja Infeksi Saluran Pernafasan Atas Indonesia Sanitation Sector Development Program Institut Teknologi Sepuluh November Integrated Water Resources Management International Year of Sanitation Jawa Barat Jaringan Masyarakat Peduli Sub DAS Cikundul Joint Operation Japan International Cooperation Agency Jaringan Kesejahteraan dan Kesehatan Masyarakat Juru Pemantau Jentik Kelompok Kerja Komunikasi Air Kader Anak Cinta Lingkungan Kawasan Siap Bangun Komunitas Berpenghasilan Rendah Keanekaragaman Hayati Indonesia  xvii xvii .

KEMENPERA KEPMEN KfW KIP KIR KITA KK KKS KLB KLH KM KONUS KORPRI KPM KPR/KPRS KPS KPSHK KRuHA KTP2D KTT KTT LDR Lisiba Lisiba-BS LKB LKM LKM-KOLISA LKNB LMD/LKMD LPK LPMK LPP LPW LSM MAP MBR MCK MCS MDGs MENDIKNAS MENKOKESRA MENPERA MOU MPA MPAP MPR Kementerian Negara Perumahan Rakyat Keputusan Menteri German Bank for Reconstruction Kampung Improvement Program Kelompok Ilmiah Remaja Kitakyusu International Techno-Cooperative Association Kepala Keluarga Klub Konservasi Sekolah Kejadian Luar Biasa Kementerian Negara Lingkungan Hidup Kilometer Konservasi Alam Nusantara Korps Pegawai Republik Indonesia Komite Pemberdayaan Masyarakat Kredit Pemilikan Rumah/Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat Kerjasama Pemerintah Swasta Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa Kelompok Tani Tahura Konferensi Tingkat Tinggi Loan to Deposit Ratio Lingkungan Siap Bangun Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri Lembaga Keuangan Bank Lembaga Keuangan Mikro Lembaga Keuangan Mikro Koperasi Lima Saudara Lembaga Keuangan Non-Bank Lembaga Masyarakat Desa/Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa Lembaga Penjamin Kredit Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Lembaga Pembiayaan Perumahan Lembaga Perwakilan Warga Lembaga Swadaya Masyarakat Mangrove Action Project Masyarakat Berpenghasilan Rendah Mandi Cuci Kakus Marine Conservation Society Millennium Development Goals Menteri Pendidikan Nasional Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Menteri Perumahan Rakyat Memorandum of Understanding Methodology for Participatory Assessment Mar del Plata Action Plan Majelis Permusyawaratan Rakyat  xviii xviii .

Spiritual. and Cultural Advancement Operation and Monitoring Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan Pembangunan Perumahan Bertumpu pada Kelompok Proyek Pembangunan Prasarana Kota Terpadu Proyek Pembangunan Prasarana Desa Terpadu Paguyuban Masyarakat Bukit Kencana Pengelolaan Air Minum Tingkat Rumah Tangga Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat Penguatan Ekonomi Kerakyatan Sampah Kering Perserikatan Bangsa-Bangsa Project Concern International Perusahaan Daerah Perusahaan Daerah Air Minum Perusahaan Daerah Air Limbah Pendapatan Domestik Bruto Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah Pembangunan Lima Tahun Pemerintah Kota Pemerintah Provinsi Peraturan Menteri Peraturan Presiden Participatory Health and Sanitation Transformation Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Project Implementation Document Penerangan Jalan Umum Program Kesejahteraan Keluarga Pembangunan Kawasan Terpadu Partnership for Local Economic Development Perusahaan Listrik Negara Pinjaman Luar Negeri Penyehatan Lingkungan Permukiman Perlindungan Mata Air Pemberdayaan Masyarakat dan Desa  xix xix .MSC MSJ MURI MUSPIKA NAD NATURLIKE NGO NSPM NTB NTT NUP NUSSP ODF OISCA OM P2KP P2BPK P3KT P3DT PAGARWAJA PAMRT PAMSIMAS PARAS PARING PBB PCI PD PDAM PDAL PDB PDPAL PELITA PEMKOT PEMPROV PERMEN PERPRES PHAST PHBS PID PJU PKK PKT PLED PLN PLN PLP PMA PMD Mitra Surya Cemerlang Mekarsari Jaya Museum Rekor Indonesia Musyawarah Pimpinan Kecamatan Nanggroe Aceh Darussalam Naturalis Cilik Beretika Non-Government Organization Norma. Standar. Pedoman. dan Manual Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Neighborhood Upgrading Plan’s Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project Open Defecation Free Organization for Industrial.

Associative Strength. Sarana.Indeks Pembangunan Masyarakat Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Panitia Pembangunan Sarana Air Bersih Perempuan Peduli Sumber Daya Air Program Pembangunan Nasional Prasarana. dan Utilitas Umum Perguruan Tinggi Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara Pekerjaan Umum Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Rencana Strategis Rencana Pembangunan Lima Tahun Rotating Biological Contractors Raptor Conservation Society Rumah Inti Tumbuh Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Daerah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rumah Sederhana Sehat Rumah . Action Planning. and Responsibility Saringan Rumah Tangga Setara Barel Minyak  xx xx . Resourcefulness.Inti Sehat Sederhana Rumah Tangga Rukun Tetangga/Rukun Warga Rencana Tata Ruang Wilayah Rumah Susun Sederhana Milik Rumah Susun Sederhana Sewa Rural Water Supply and Sanitation Sanitasi Berbasis Masyarakat Self-Esteem.PNBI PNPM PNS PODES Pokja AMPL Pokmer Polri POSYANDU PP PPAB PPAT PPP PPP PPK PPK-IPM PPM-PL PPSAB PPSDA PROPENAS PSU PT PTPN PU PUSDAKOTA PUSLITBANGKIM RENSTRA REPELITA RBC RCS RIT RP4D RPJMN RPJPN RsH RSS RT RT/RW RTRW RUSUNAMI RUSUNAWA RWSS SANIMAS SARAR SARUT SBM Program Nasional Bagi Anak Indonesia Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pegawai Negeri Sipil Potensi Desa Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Kelompok Pemakai Air Bersih Kepolisian Republik Indonesia Pos Pelayanan Terpadu Peraturan Pemerintah Pengurus Pemakai Air Bersih Pejabat Pembuat Akta Tanah Public Private Partnership Purchasing Power Parity Program Pengembangan Kecamatan Program Pendanaan Kompetisi .

SD SDA SDA SDM SERULING SIMASTER SK SLA SMA SMF SMK SMM SMP SMUN SPAM SPTPD SR STBM STIKES SToPS SUSENAS SWS TA TAD TERANGI THM TK TKM TNI TOGA TOT TPA TPAK TPS TPT TSSM UASB UKL UKS UN UNCED UNDP UNESCO UNHCS UNICEF UNSGAB UPL Sekolah Dasar Sumber Daya Air Sumber Daya Alam Sumber Daya Manusia Sekolah Ramah Lingkungan Sistem Mengolah Sampah Terpadu Surat Keputusan Subsidiary Loan Agreement Sekolah Menengah Atas Secondary Mortgage Facility Sekolah Menengah Kejuruan Secondary Mortgage Market Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Umum Negeri Sistem Penyediaan Air Minum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Daerah Sambungan Rumah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sanitasi Total dan Pemasangan Sanitasi Survey Sosial Ekonomi Nasional Safe Water System Technical Assistance Tidak Ada Data Terumbu Karang Indonesia Takakura Home Method Taman Kanak-Kanak Tim Kerja Masyarakat Tentara Nasional Indonesia Tanaman Obat Keluarga Training of Trainer Tempat Pembuangan Akhir Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tempat Pembuangan Sementara Sampah Tingkat Pengangguran Terbuka Total Sanitation and Sanitation Marketing Upflow Anerobic Sludge Blanket Upaya Pengelolaan Lingkungan Usaha Kesehatan Sekolah United Nations United Nations Conference on Environment and Development United Nations Development Programme United Nations Educational. Scientific and Cultural Organization United Nations for Human Settlements United Nations Children's Fund United Nation Secretary General’s Advisory Board on Water and Sanitation Upaya Pemantauan Lingkungan  xxi xxi .

USAID US-EPA USD/US$ UU UUD WALHI WASPOLA WES WHO WJEMP WNI WPL WSM WTE WTP WTP WSLIC WSP-EAP WWD WWF YBL YPAL United States Agency for International Development United States-Environmental Protection Agency United States Dollar Undang-Undang Undang-Undang Dasar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Water Supply and Sanitation Policy and Action Planning Water and Environmental Sanitation World Health Organization Implementation of Western Java Environmental Management Project Warga Negara Indonesia Warga Peduli Lingkungan Watershed Management Waste to Energy Wajar Tanpa Pengecualian Water Treatment Plants Water and Sanitation for Low Income Communities Water and Sanitation Program East Asia and the Pacific World Water Day World Water Forum Yayasan Bina Lestari Yayasan Pribumi Alam Lestari  xxii xxii .

termasuk juga mereka yang membeli rumah alih kredit dari penghuni lama dengan masih melanjutkan membayar angsuran. xxiii . D 2. rumah adat. Real Estate. e. f. c. Bebas Sewa Jika tempat tinggal tersebut diperoleh dari pihak lain (bukan famili/orangtua) dan ditempati/didiami oleh RT tanpa mengeluarkan suatu pembayaran apapun. dll) Cara memperoleh tempat tinggal/rumah yang dibeli langsung dari pengembang baik dengan pembayaran tunai atau kredit. Rumah yang dibeli secara angsuran melalui kredit bank atau dengan status sewa beli dianggap sebagai rumah milik sendiri. 1. misalnya tempat tinggal milik bersama. d. Cara Memperoleh Bangunan a. Sewa Jika tempat tinggal tersebut disewa oleh KRT atas salah seorang ART dengan pembayaran sewanya secara teratur dan terus menerus tanpa batasan waktu tertentu. dan sebagainya. Pencantuman istilah teknis dalam buku ini bertujuan untuk memudahkan pengguna data dalam memahami maksud dari setiap data dan analisis yang dipaparkan. Milik Sendiri Jika tempat tinggal tersebut betul-betul sudah milik kepala rumah tangga (KRT) atau salah satu anggota rumah tangga (ART). b. Kontrak Jika tempat tinggal tersebut disewa oleh KRT atau ART dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kontrak antara pemilik dan pemakai. Lainnya Jika tempat tinggal tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu kategori di atas.DAFTAR ISTILAH alam buku ini dipakai berbagai istilah teknis yang biasa ditemukan dalam bidang perumahan dan permukiman. misalnya satu atau dua tahun. g. Rumah Milik Orang Tua/Sanak/Saudara Jika tempat tinggal tersebut bukan milik sendiri melainkan milik orangtua/sanak/saudara dan tidak mengeluarkan suatu pembayaran apapun untuk mendiami tempat tinggal tersebut. Rumah Dinas Jika tempat tinggal tersebut dimiliki dan disediakan oleh suatu instansi tempat bekerja salah satu ART baik dengan membayar sewa maupun tidak. Status Penguasaan Tempat Tinggal a. Membeli dari Pengembang (Perumnas. Cara pembayarannya biasanya sekaligus di muka atau dapat diangsur menurut persetujuan kedua belah pihak.

3. Membangun dengan Pinjaman Perorangan Cara memperoleh tempat tinggal/rumah dengan membangun sendiri dan biayanya berasal dari pinjaman/hutang dari perorangan. Membeli Baru dari Perorangan Cara memperoleh tempat tinggal/rumah yang dibeli dari perorangan atau pihak lain dalam keadaan baru. Lainnya Cara memperoleh tempat tinggal/rumah yang tidak termasuk ke dalam kategori diatas. Pengalihan administrasi adalah cara memperoleh rumah melalui pengalihan administrasi. baik dengan pembayaran kredit maupun tunai. Lainnya Adalah cara pembayaran yang tidak termasuk dalam kategori diatas. c. Angsuran KPR (Bank. g. Membangun dengan Pinjaman Bank/Koperasi Cara memperoleh tempat tinggal/rumah dengan membangun sendiri dan biayanya berasal dari pinjaman/hutang dari lembaga keuangan seperti bank atau pinjaman/hutang dari koperasi. dan sebagainya. seperti pembelian rumah dinas. Perolehan rumah dengan fasilitas pengalihan administrasi biasanya mendapat subsidi tertentu dibandingkan cara lainnya. f. c. dan sebagainya. Tunai Adalah membayar secara kontan (bukan kredit) kepada pihak penjual dan tidak melalui hutang dari manapun. dan hibah. Membeli bukan Baru Cara memperoleh rumah yang dibeli dari perorangan atau dari pihak lain dalam keadaan tidak baru/sudah pernah ditempati oleh orang (ART) lain. teman. Membeli melalui Koperasi/Yayasan Cara memperoleh tempat tinggal/rumah yang dibeli dari koperasi/yayasan pengembang. h. Termasuk dalam kategori ini adalah membeli langsung kepada pengembang yang uangnya dipinjam dari koperasi untuk membeli rumah. termasuk juga mereka yang membeli rumah alih kredit dari penghuni lama dengan masih melanjutkan membayar angsuran. Lembaga Keuangan) Adalah angsuran yang dipergunakan untuk kredit pemilikan rumah yang dikeluarkan oleh bank/lembaga keuangan.  xxiv xxiv . saudara.b. teman. contohnya pengalihan administrasi. Misalnya membeli rumah dengan meminjam kepada saudara. d. Dikatakan baru bila pembeli merupakan penghuni pertama dari rumah tersebut. b. Membangun dengan Biaya Sendiri Cara memperoleh tempat tinggal/rumah dengan membangun sendiri dengan biaya sendiri tanpa meminjam dari pihak manapun. misalkan dari orang tua. Angsuran Bukan KPR Adalah angsuran yang dipergunakan untuk pembayaran kredit pemilikan rumah yang dikeluarkan bukan oleh KPR. warisan. Cara Pembayaran a. e. d.

5. Plafon Bangunan Plafon adalah jenis pembatas ruang bagian atas ruangan yang terletak di bawah atap yang berfungsi untuk melindungi penghuni ruangan dari udara panas. Lainnya Misalnya surat jual beli tanah (bukan akta jual beli) baik di atas segel/meterai maupun tidak. b. Sertifikat dari BPN/Kantor Agraria Adalah tanda bukti yang diberikan oleh pemilik tanah. Bahan plafon antara lain: a. Status hukum tanah yang dimaksud adalah status hukum dari tanah yang diatasnya berdiri bahan bangunan tempat tinggal responden. c. Hak Guna Bangunan Adalah hak atas tanah yang penguasaannya maksimum 30 tahun dan dapat dialihkan kepada pihak lain tetapi penggunaannya hanya untuk bangunan. a. hak guna bangunan. atau hak pakai. d. dalam bentuk jenis sertifikat tanah yang dikeluarkan pemerintah atau turun temurun berdasarkan adat yang diakui pemerintah. maka masuk kategori tidak ada plafon). Sertifikat ini bisa berupa sertifikat hak milik. sedangkan lantai dua dan seterusnya tidak mempunyai tapak bangunan. 7. Girik Adalah surat tanda bukti kepemilikan tanah yang dikeluarkan dari kepala desa/kelurahan yang digunakan untuk penarikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). 6. Hak Milik Adalah hak atas tanah yang dikuasai tanpa batas waktu dan dapat dialihkan kepada pihak lain serta dapat digunakan untuk berbagai keperluan b. dan tampias air hujan sehingga ruangan menjadi aman/nyaman untuk ditinggali. dan tanda bukti kepemilikan lain selain kategori diatas. dingin. Tidak Ada Bukti Apabila tanah dari rumah yang ditempati tidak memiliki tanda bukti kepemilikan apapun. tanpa memperhatikan status kepemilikan dari tempat tinggal tersebut.4. kurang lebih 10 tahun atau selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan tertentu. Beton (catatan : jika beton juga berfungsi sebagai atap. Luas Tapak Bangunan Adalah luas tanah sebatas luasnya pondasi yang dibuat untuk bangunan. Akta Jual Beli Adalah salah satu tanda bukti kepemilikan tanah oleh pejabat pembuat akta tanah (PPAT/Notaris) yang berupa akta perjanjian jual beli antara penjual dan pembeli atas tanah yang dipergunakan sebagai tempat tinggal responden c.  xxv xxv . Untuk bangunan bertingkat. e. Surat Tanah a. Hak Pakai Adalah hak atas tanah dengan jangka waktu penggunaannya terbatas. Status Hukum Tanah Adalah hak untuk mempergunakan tanah tidak termasuk benda-benda lain di dalam tanah seperti bahan-bahan mineral dan minyak. luas tapak hanya untuk lantai satu saja.

9. Backlog adalah jumlah akumulasi kebutuhan yang tidak terpenuhi pada tahun-tahun sebelumnya. Demand Responsive Approach atau Pendekatan Tanggap Kebutuhan berarti suatu pendekatan yang menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai faktor yang menentukan dalam pengambilan keputusan termasuk di dalamnya pendanaan. Terdapat tiga komponen dalam konsep ini. g. Bina usaha dilakukan untuk melatih masyarakat agar mampu meningkatkan perekonomian. baik secara pribadi ataupun kelompok. Gypsum Kayu/Triplek Asbes Anyaman Bambu Lainnya Tidak Ada. d. c. namun juga memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat. Jamban sendiri adalah jamban yang hanya digunakan oleh satu keluarga. sewa. dinding. maupun pembentukan perilaku masyarakat melalui kegiatan keagamaan (pengajian. apabila rumah yang kerangka pokoknya (kerangka atap. f. Sedang. 10. Kepemilikan Fasilitas Sanitasi a. jika bangunan tidak memiliki plafon atau jika atap bangunan langsung merangkap sebagai plafon. pendidikan. c. Bina manusia dilakukan melalui kegiatan peningkatan kesehatan. Rusak. atau mengontrak rumah. misalnya hanya dindingnya saja yang rusak. dan Bina Lingkungan.b. apabila rumah yang kerangka pokoknya memerlukan perbaikan segera karena membahayakan penghuninya Secure Tenure adalah jaminan bagi masyarakat untuk tinggal di suatu tempat karena adanya bukti kepemilikan. 13. Rusak berat. Bina Usaha. Sedangkan bina lingkungan dilaksanakan antara lain melalui kegiatan peningkatan kualitas lingkungan permukiman. b. Kondisi Bangunan Tempat Tinggal a. misalnya dengan bantuan permodalan dan peningkatan keterampilan berusaha. apabila rumah yang dua dari kerangka pokoknya atau sebagian besar komponen bangunannya memerlukan perbaikan. e. 12. yaitu Bina Manusia. Jamban bersama adalah jamban yang digunakan oleh dua keluarga atau lebih. dan lantai) atau komponen bangunannya belum memerlukan perbaikan. apabila rumah yang kerangka pokoknya atau sebagian kecil komponen bangunannya memerlukan perbaikan atau salah satu kerangka pokoknya rusak. b. Ketiga komponen tersebut dilaksanakan secara paralel untuk mencapai target penanggulangan kemiskinan secara menyeluruh. c.  xxvi xxvi . dan sebagainya). 8. d. 11. Baik. Jamban umum adalah jamban yang dapat digunakan oleh setiap warga desa yang bersangkutan maupun masyarakat lainnya. Konsep Tribina adalah konsep pembangunan untuk menanggulangi masalah kemiskinan yang tidak hanya fokus ke hal-hal bersifat fisik saja.

d. Bukan jamban, apabila tempat pembuangan air besar yang penampungan akhirnya sungai, kolam, lubang, dan sebagainya 14. Cara Pembuangan Sampah a. Diangkut Petugas/Dibuang ke TPS/TPA Bila sampah yang dihasilkan dari rumah tangga diangkut oleh petugas kebersihan untuk dibawa ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat penampungan akhir (TPA), termasuk yang dibuang langsung oleh ART ke TPS/TPA. b. Ditimbun Bila sampah dibuang ke dalam lubang, kemudian ditimbun dengan tanah (sanitary landfill). c. Dibakar Bila sampah dibakar langsung maupun ditumpuk dahulu, kemudian dibakar. d. Dibuang ke Kali/Selokan Bila sampah dibuang langsung ke kali/selokan. e. Dibuang Sembarangan Bila sampah dibuang ke sembarang tempat atau tidak memiliki tempat penampungan yang tetap, misal jalan, tanah kosong, dan lain-lain f. Lainnya Bila sampah dibuang dengan cara selain yang tidak disebutkan diatas, misalnya dijadikan makanan ternak. 

xxvii
xxvii

xxviii

.

sebagai komitmen negara yang dibuktikan antara lain dengan mengalokasikan anggarannya. maupun bantuan luar negeri bilateral. 1 A. komunikasi. 1990-2004. Pembangunan prasara- P erkembangan pembangunan perumahan dan permukim- an di Indonesia dikategorikan dalam beberapa era. seperti komunikasi. perlunya mewujudkan hasil penelitian yang telah dilakukan. pembangunan prasarana dan sarana air minum di perdesaan sebagian dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan. Selain itu. Arahan itu kemudian dituangkan dalam rencana pembangunan lima tahun (Repelita) 1974-1979. Kondisi tersebut tidak mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. sungai dan sebagainya. energi. yaitu wilayah permukiman dengan jumlah penduduk kurang dari 20 ribu jiwa. serta bantuan teknis WHO dan UNDP. Indonesia sebagai negara yang menyimpan sebagian cadangan minyak bumi dunia menjadi sasaran investasi. 1980-1990. dan setelah 2004. dan multilateral yang berasal dari Bank Dunia atau Bank Pembangunan Asia. Dalam Pelita I dan Pelita II. Investasi prasarana dan sarana air minum beserta operasi dan pemeliharaannya dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum. masyarakat perdesaan mendapatkan air dari sarana tradisional. Industri tersebut pada umumnya berlokasi di kawasan perkotaan sehingga pertumbuhan ekonomi di perkotaan meningkat cukup pesat. dan sebagainya. seperti Kampung Improvement Project I (KIP I).03 1. Foto: Istimewa Pembangunan prasarana dan sarana permukiman kurang mendapat prioritas selama Pelita I (1969-1974) dan Pelita II (1974-1979). Hal ini membawa dampak kepada meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur seperti jaringan jalan. Pada waktu itu. yang membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia dengan berkembangnya industri hilir dan industri terkait lainnya. . APBD. Pelayanan air minum di perkotaan pada saat Pelita I dan Pelita II masih mengandalkan jaringan yang dibangun pada masa penjajahan dan investasi tambahan setelah kemerdekaan dengan jumlah yang sangat terbatas. pembangunan prasarana dan sarana air minum juga dilaksanakan oleh LSM. mata air. Materi tentang perumahan dikutip dari Kajian Pendahuluan Penyusunan RPJMN 2010-2014 Bidang Perumahan dan Permukiman. Dalam Pelita II terjadi perubahan ekonomi dunia dengan meningkatnya harga minyak bumi di pasaran dunia. Era sebelum 1980 Pada era tahun 1970 . pembangunan prasarana dan sarana air minum belum menyentuh masyarakat perdesaan dan perkotaan skala kecil (IKK). Pembangunan prasarana dan sarana air minum berskala kecil biasanya dikaitkan dengan proyek pembangunan lainnya. Demikian pula halnya dengan pembangunan sarana pelayanan masyarakat lainnya. seperti sumur. Unicef. Dalam dua dasawarsa tersebut titik berat pembangunan nasional difokuskan pada pembangunan 1 Sebagian besar materi pada bagian ini dikutip dari dua dokumen. pembangunan perumahan meski belum dianggap penting namun mulai dinyatakan secara eksplisit dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1973 bahwa pembangunan perumahan perlu lebih diperhatikan.1980. Biaya pembangunan prasarana dan sarana air minum berasal dari APBN.1 Perkembangan Perumahan dan Permukiman di Indonesia Perkembangan Isu pertanian dan irigasi sebagai upaya memantapkan ketahanan pangan. transportasi. sementara materi permukiman dikutip dari Dokumen Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat 2003. jaringan air minum dan penyehatan lingkungan. Pada umumnya. yaitu sebelum 1980. perlunya diciptakan sistem pembiayaan serta perlunya penyuluhan tehadap masyarakat tentang rumah sehat. dan energi. Pertumbuhan ekonomi di perkotaan tersebut menarik tenaga kerja di perdesaan untuk berimigrasi ke perkotaan.

sedangkan masyarakat yang tidak memiliki jamban menggunakan tempat pembuangan limbah tradisionil seperti sungai. kebun. Pembangunan prasarana dan sarana air minum di kota kecil (dengan jumlah penduduk kurang dari 50.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 04 masyarakat. dan pengelolaan ditentukan oleh pemerintah pusat melalui departemen teknis yang menangani. dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Prasarana dan sarana air minum yang telah dibangun seringkali tidak berlanjut atau mengalami kegagalan. termasuk untuk pembangunan prasarana dan sarana air minum di Ibu Kota Kecamatan (IKK). Kedua momentum tersebut menjadi pendorong bagi peningkatan pelayanan air minum bagi . termasuk untuk meningkatkan kemampuan aparat pemerintah dalam bidang perencanaan dan pelaksanaan. Hal ini paling tidak telah memberi gambaran bahwa perumahan dan permukiman memang dianggap sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan sosial. Sebagian prasarana dan sarana penyehatan lingkungan cakupan pelayanannya terbatas. Pembangunan prasarana dan sarana air minum dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum dengan mengacu kepada standar teknis pelayanan air minum internasional yang mendasarkan perhitungan kepada jumlah penduduk. dan lain-lain. Pada era ini bantuan kerjasama dan pinjaman luar negeri na dan sarana air minum di perdesaan seringkali ditujukan untuk uji coba penerapan teknologi tepat guna. Selama Pelita III. kurang terpelihara. Sedangkan pembangunan prasarana dan sarana air minum di perdesaan dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM-PL). karena prasarana dan sarana yang dibangun tidak dipelihara dengan baik. kolam.1990 Sejak 1983. dan kakus (MCK). Dalam upaya penataan permukiman kumuh di perkotaan. pembangunan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan di perkotaan dan perdesaan belum mendapatkan perhatian. pelaksanaan. Pada saat itu. cuci. Penanganan limbah pada tingkat rumah tangga dilayani melalui jamban dengan tangki septik. sawah. Sehingga selama Pelita III (1979-1984) dan Pelita IV (1984-1989) terjadi peningkatan investasi yang sangat signifikan di sektor air minum. Selama Pelita I dan Pelita II. Kondisi perekonomian yang baik tersebut sangat kondusif bagi perkembangan sektor infrastruktur. B. Selain itu. pengelolaan limbah manusia secara sistematik belum dilakukan. Pada saat yang sama dicanangkan Dekade Air Internasional (1981-1989) yang bertujuan meningkatkan pelayanan air minum bagi semua lapisan masyarakat. misalnya pompa tangan atau uji coba perangkat lunak seperti konsep peran serta masyarakat dan konsep pembentukan lembaga pengelola. dan sektor manufaktur dan teknologi berkembang sangat pesat. sehingga cakupan pelayanan dan dampaknya juga sangat terbatas. pemerintah mulai melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan internasional dalam bentuk pinjaman luar negeri untuk melakukan investasi di sektor air minum. Dampak dari pelaksanaan standar tersebut adalah terkonsentrasinya investasi prasarana dan sarana air minum pada kawasan-kawasan yang padat penduduk seperti di pulau Jawa dan pulau Sumatera. Dalam Pelita III pembangunan prasarana dan sarana air minum berhasil meningkatkan cakupan pelayanan air minum sebesar 20-30% dan dalam Pelita IV penyediaan prasarana dan sarana air minum mampu melayani 55% masyarakat. istilah perumahan rakyat dalam GBHN diubah menjadi perumahan dan permukiman dan tetap menjadi kebijakan sektor yang eksplisit di bawah bidang kesejahteraan. Sebagai pengelolanya dibentuk Badan Pengelola Air Minum (BPAM) yang bersama-sama dengan pemerintah daerah dikembangkan menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Era 1980 . Penanganan masalah limbah masih terbatas pada tahap konsep penanganan dan belum diwujudkan ke dalam pembangunan fisik. Departemen Kesehatan dibantu oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa (PMD). Walaupun telah cukup banyak investasi yang dilaksanakan untuk meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana air minum namun laju investasi tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk sehingga cakupan pelayanan sulit untuk dinaikkan secara signifikan. Departemen Dalam Negeri. Posisi di bawah bidang kesejahteraan sosial ini terus berlanjut sampai dengan GBHN 1998. pemerintah membangun tempat mandi.000 jiwa) dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Pertumbuhan ekonomi pada era 1980-1990 cukup tinggi. Skala pengembangannya sangat terbatas dan tidak besar. pemerintah menyediakan investasi cukup besar di bidang penyediaan prasarana dan sarana air minum di perkotaan. Pola perencanaan. Model pendekatan pembangunan dan standar teknis pengelolaan dirumuskan oleh pemerintah pusat.

Pengelolaan limbah padat (sampah) baru dilakukan secara sistematis oleh pemerintah dimulai awal Perkembangan Isu tahun 1980-an. untuk mendorong kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola pembangunan prasarana dan sarana air minum maka diciptakan mekanisme hibah pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. yang terjadi sejak Agustus 1997 dan diikuti oleh krisis politik. Pemerintah mulai mengembangkan dan mempromosikan sarana pengolah limbah setempat (on-site) dan tempat mandi. kakus (MCK). pemerintah menyediakan dana stimulan dan dikembangkan oleh masyarakat melalui swadana. Mengingat operasi dan pemeliharaan instalasi pengolah limbah cair memerlukan kecermatan teknis dan biaya yang mahal maka pengoperasian dan pemeliharaannya dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan secara bertahap diserahkan kepada pemerintah daerah. lemahnya kapasitas dan tanggung jawab aparat di bidang jaringan drainase serta tidak adanya anggaran untuk operasi dan pemeliharaan jaringan drainase merupakan permasalahan rutin yang menyebabkan tidak tertanganinya genangan yang ada di permukiman. Keberhasilan konsep Proyek Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT) yang menginte- . Investasi prasarana dan sarana air minum pada masa itu banyak berasal dari hutang lembaga keuangan bilateral maupun multilateral. Krisis ekonomi. pemerintah cenderung untuk memecahkannya dengan pendekatan parsial. operasi. Untuk kawasan padat penduduk di perkotaan dilaksanakan pembangunan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan yang dilengkapi tangki septik. ternyata hasilnya kurang menggembirakan. Pada saat yang sama. Selain itu. seluruh material pembangunannya ditentukan oleh pemerintah pusat. Pembangunan MCK banyak mengalami hambatan dan kegagalan serta sarana yang telah terbangun kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Walaupun tingkat cakupan pelayanan kepada masyarakat meningkat secara signifikan.05 melalui lembaga keuangan bilateral dan multilateral meningkat terus. Keterlibatan dunia swasta di semua sektor meningkat pesat. C. banyak prasarana dan sarana yang tidak dapat dioperasikan karena tidak dipelihara secara benar. Dampaknya adalah tidak adanya kesatuan sistem jaringan drainase dengan lingkup perkotaan sehingga penanganan persoalan genangan pada satu kawasan menyebabkan genangan pada kawasan lain. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan menyebabkan terabaikannya penanganan limbah padat. mengakibatkan terjadinya kemandegan ekonomi. Era 1990 . Meningkatnya tuntutan otonomi daerah dan kebijakan desentralisasi menyebabkan kendali pemerintah pusat lebih dilonggarkan. Inovasi-inovasi baru dibidang pengelolaan limbah padat yang ramah lingkungan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Cakupan pelayanannya meningkat secara signifikan. Instalasi pengolah limbah cair terpusat (sewerage) mulai dibangun di beberapa kota besar oleh Departemen Pekerjaan Umum. namun kinerja pemanfaatan prasarana dan sarana yang telah dibangun ternyata kurang menggembirakan. Program penyediaan jamban di perdesaan. Kegiatan ini pada umumnya dilaksanakan bersama antara pemerintah dengan masyarakat. untuk memecahkan persoalan genangan yang ada di permukiman. Kesadaran untuk mempergunakan teknologi yang ramah lingkungan berbenturan dengan mahalnya konstruksi. pembangunan prasarana dan sarana air minum direncanakan untuk melayani sekitar 60% penduduk perdesaan dan 80% penduduk perkotaan.2004 Pelita V (1989-1994) dan Pelita VI (1994-1999) merupakan era globalisasi terutama di bidang ekonomi. Pada Repelita VI. namun demikian. Walaupun dalam skala kecil. namun demikian teknologi yang dipergunakan masih belum ramah lingkungan sehingga seringkali menimbulkan persoalan baru pada lingkungan sekitarnya. Pembangunan saluran limbah yang terintegrasi dengan sistem penanggulangan banjir dan drainase air hujan belum dilaksanakan secara integratif dan sistematis. cadangan devisa pemerintah sangat terbatas sehingga anggaran pemerintah yang ada tidak mencukupi untuk membiayai pembangunan prasarana dan sarana. prinsip Dublin-Rio (Dublin-Rio Principles) diterapkan secara internasional. Seiring dengan meningkatnya tuntutan otonomi. demikian juga di bidang infrastruktur perkotaan. dan pemeliharaan yang harus dilaksanakan. Pada pembangunan bidang penyehatan lingkungan. upaya pembangunan dilakukan untuk mengelola limbah cair dan limbah padat. cuci. LSM mulai berperan serta dalam penyediaan prasarana dan sarana air minum di perdesaan dan kota-kota kecil dengan bantuan dana dari berbagai donor nirlaba. khususnya di perkotaan. kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat perdesaan masih melakukan "buang air besar" (BAB) di tempat tradisional. Pada saat itu.

berorientasi kepada keuntungan (tanpa meninggalkan beban sosial). Pelayanan air minum perlu melibatkan dunia swasta dan dilakukan secara profesional. dan pengawasan kualitas pekerjaan konstruksi menjadi sangat terbatas dan tidak dapat dilaksanakan dengan baik. kendala yang dihadapi adalah rendahnya kemampuan mengelola suatu perusahaan (masih terdapat PDAM yang dikelola oleh birokrat bukan profesional di bidangnya). Pada tahun 1988. walaupun pelaksanaannya masih dilakukan secara ter- . Kondisi ini menyebabkan sebagian besar PDAM masih bergantung kepada subsidi dari pemerintah pusat. Banyaknya paket pekerjaan yang harus diselesaikan dan terbatasnya sumber daya manusia menjadi kendala dalam peningkatan kualitas prasarana dan sarana permukiman yang dibangun. namun standar pembangunan IKK masih tetap dijadikan acuan. Dampaknya. Sedikitnya sambungan rumah tersebut menyebabkan tingkat pendapatan tidak sesuai dengan yang direncanakan sehingga tidak mampu menutup biaya operasi dan pemeliharaan serta mengembangkan jaringan pelayanan. Proyek pembangunan prasarana dan sarana sosial (Pembangunan Kawasan Terpadu (PKT). sedangkan kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi cenderung terabaikan. Pelita IV merupakan titik awal dimulainya partisipasi masyarakat dan terlibatnya LSM di tingkat daerah dan nasional dalam pelaksanaan proyek-proyek pemerintah yang didanai oleh lembaga keuangan internasional. disadari bahwa agar PDAM dapat meningkatkan mutu pelayanan air minum kepada masyarakat maka kebijakan air minum perlu diubah dan pengelolaan PDAM perlu direformasi secara menyeluruh. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya tingkat sambungan rumah kedalam sistem sewerage yang telah dibangun. mahalnya investasi baru. Namun demikian. Hal ini terjadi karena pembinaan teknis. cakupan pelayanan ternyata tidak sesuai dengan yang direncanakan. Cakupan pelayanan masih merupakan tujuan pembangunan. Pada pendekatan ini dilakukan terobosan baru dalam penyaluran anggaran pemerintah dengan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam pembangunan prasarana dan sarana. dan menjauhkan campur tangan birokrasi dalam pengelolaan perusahaan. pemanfaatan LSM untuk memotivasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya lingkungan yang sehat khususnya dalam kaitannya dengan pemanfaatan jaringan pelayanan limbah cair manusia telah berhasil memotivasi masyarakat untuk melakukan penyambungan pada instalasi pengolah limbah terpadu yang ada di Kota Cirebon4 . komponen grasikan seluruh infrastruktur perkotaan kedalam satu paket pinjaman menarik perhatian lembaga keuangan bilateral dan multilateral. Pengelolaan PDAM belum dapat dilaksanakan sesuai standar perusahaan. tidak adanya kebebasan dalam menentukan tarif. Secara bertahap pendekatan kegiatan IKK (Ibu Kota Kecamatan) bergeser ke kota-kota ukuran menengah. termasuk di dalamnya prasarana dan sarana permukiman. Di beberapa kota. diterima sebagai pendekatan pembangunan alternatif dengan hasil yang cukup bervariasi. dan terbatasnya sumber daya manusia. Konsep kepemilikan masyarakat dan pendekatan yang didasarkan kepada kebutuhan (Demand Responsive Approach) mulai diterima secara luas. telah berhasil dibangun instalasi pengolah limbah berbasis masyarakat (IPLBM). Selain pendekatan tersebut. banyak institusi baik di pusat maupun di daerah enggan untuk mengelola jaringan limbah cair manusia. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah cair manusia masih belum setinggi kesadaran terhadap pentingnya air minum. Secara teknis biasanya merupakan pengaliran limbah cair dari rumah-rumah melalui saluran perpipaan dangkal (shallow sewer) yang dirangkai dengan tangki septik ukuran besar dan kolam terbuka sebagai instalasi pengolah3 . Dalam pembangunan prasarana sosial (P3DT dan lainnya) konsep MCK masih sering dilakukan. Persoalan lama selalu berulang dalam pembangunan prasarana dan sarana air minum yaitu kurang optimalnya pemanfaatan prasarana dan sarana air minum yang telah dibangun karena ketidakmampuan masyarakat untuk mengoperasikan dan memeliharanya. Pemeran utama pendekatan konsep tersebut adalah Departemen Pekerjaan Umum yang kemudian mendelegasikan sebagian wewenangnya kepada tingkat propinsi dan kabupaten/kota. sehingga konstruksi prasarana dan sarana baru menjadi kegiatan utama.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 06 batas. dan sebagainya). Proyek Pembangunan Prasarana Desa Terpadu (P3DT). Begitu pula dalam setiap proyek sarana permukiman skala besar. supervisi. walaupun banyak yang tidak berfungsi setelah selesai dibangun. Selain kendala tersebut terdapat kendala alam yaitu semakin menipisnya air baku (disebabkan oleh rusaknya lingkungan) yang dapat dimanfaatkan dan ketiadaan sumber air yang dapat dimanfaatkan. Pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator dan pembina teknis.

Repelita 1999-2004 tidak lagi dipersiapkan dan sebagai pengganti disusun Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004 yang mengacu pada GBHN 1999 yang jelas berbeda dengan Repelita. 4 Kota Cirebon memiliki sistem penyaluran dan pengolahan limbah terpusat. Hal ini disebabkan. Karena itu kebijakan dan rencana yang sifatnya sentralistis perlu dikurangi. pertama. Ketika terjadi reformasi dan GBHN 1998 digantikan dengan GBHN 1999-2004. dibangun. Tampaknya hal ini dilandasi oleh perubahan kerangka fikir dari pembangunan yang sentralistis menuju ke desentralisasi. Propenas tidak lagi memuat perkiraan kebutuhan dan peruntukan dana. Hal ini dapat dilihat pada sektor persampahan dan drainase. sumber daya manusia. GBHN tidak lagi memberi arah sampai pembangunan sektor. namun masih terfokus pada masalah-masalah lingkungan skala besar belum menjangkau skala permukiman. tetapi anggaran yang tersedia melalui P3KT terbatas dan tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh sektor infrastruktur yang ada di perkotaan. akan bisa ditemukan bahwa Repelita jauh lebih rinci. P3KT sebagai suatu konsep penanganan persoalan infrastruktur perkotaan cukup baik. pemasaran sambungan ke rumah tangga dilakukan menggunakan jasa LSM . menyebabkan pembangunan dan penyediaan prasarana dan sarana dilakukan tidak sesuai dengan kebutuhan nyata yang ada di masyarakat sehingga prasarana dan sarana yang dibangun kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Persoalan sampah dan drainase masih dianggap sebagai persoalan teknis yang dapat dipecahkan oleh departemen teknis. Kondisi di atas ditambah dengan kinerja departemen teknis yang berorientasi proyek (project oriented) bukan berorientasi kepada program (program oriented). dan administratif pemerintahan. tidak pernah mendapat perhatian pada tingkat nasional. Kalau disandingkan Propenas dengan Repelita. Sistem direncanakan.07 penyediaan jamban (latrine) selalu ada. Hal ini menyebabkan isu permukiman khususnya sampah dan drainase. Dalam Propenas ini perumahan dan permukiman menjadi bagian dari program nasional Pembangunan Daerah. tetapi hanya sampai permasalahan yang dirinci menjadi permasalahan hukum. Kedua. perumahan dan permukiman tidak lagi menjadi kebijakan yang eksplisit. Foto: Bowo Leksono 3 Contoh Instalasi Pengolah Limbah Berbasis Masyarakat (IPLBM) yang sudah berjalan baik adalah di Kelurahan Tlogomas Kota Malang. namun demikian banyak juga yang cukup berhasil. namun persoalan persampahan dan genangan di perkotaan Perkembangan Isu setiap tahun hingga saat ini belum terselesaikan. Kondisi ini menyebabkan penanganan persoalan infrastruktur di perkotaan dilakukan secara parsial dan tidak sistematis. sebagai badan penanggung jawab dan pengendali masalah lingkungan hidup dibentuk. politik. agama. karena GBHN tidak lagi menjadi pola umum pembangunan nasional atau haluan pembangunan nasional. investasi untuk pembangunan prasarana dan sarana drainase serta persampahan telah menghabiskan anggaran yang cukup besar. Program stimulan dengan pemberian bantuan material yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat dan penerapan konsep satu teknologi masih tetap berlanjut. sosial dan budaya. sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Hasil yang diperoleh tidak selalu memuaskan. Dampaknya adalah persoalan infrastruktur tidak terpecahkan dan pemanfaatan anggaran yang sebagian dibiayai melalui hutang menjadi tidak efisien dan efektif. tetapi menjadi haluan penyelenggaraan negara. pertahanan dan keamanan. ekonomi. namun menyangkut persoalan pengelolaan (management). dan dioperasikan dengan pendanaan masyarakat sendiri. Persoalan sampah dan drainase pada dasarnya bukan persoalan teknis saja. Propenas menjadi UndangUndang. Program dapat berhasil dengan memuaskan bila masyarakat memanfaatkan prasarana dan sarana yang dibangun dan mereka mau memeliharanya agar prasarana dan sarana tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedal). pembangunan daerah. pendidikan.

potensi yang dimiliki yang kemudian dirumuskan dalam visi dan misi pembangunan untuk 20 tahun yang akan datang. Kemampuan pemerintah untuk mendukung penyediaan prasarana dan sarana dasar perumahan masih terbatas. Karena kelembagaan negara ini memang tidak disusun berdasarkan misi yang dirumuskan dalam RPJPN. yang perlu dikoreksi. Era Setelah 2004 Setelah lebih dari tiga puluh tahun penyelenggaraan pembangunan di Indonesia yang selalu dipandu oleh Garis Besar Haluan Negara melalui ketetapan MPR sebagai lembaga tertinggi negara. Jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah semakin D. baik sebagai pembangun (provider) maupun pemberdaya (enabler). Perencanaan pembangunan jangka panjang kemudian disusun berdasarkan kesamaan pandangan tentang kondisi sekarang. Selain itu. terhitung sejak disahkannya amandemen UUD 45 telah terjadi perubahan mendasar. Belum mantapnya kelembagaan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman. Luasan kawasan kumuh cenderung terus meningkat setiap tahunnya selaras dengan pertumbuhan penduduk dan makin tidak terkendalinya pertumbuhan kota utama (primacy city) yang menjadi penarik meningkatnya arus migrasi. b. Meskipun GBHN berangkat dari pemikiran filosofis dan normatif seperti wawasan nusantara dan ketahanan nasional. pemikiran jangka panjang yang disebut "haluan negara" yang berangkat dari dasar-dasar filosofis. Bidang dan sektor pembangunan yang pada umumnya menjadi garapan departemen.2. Oleh karena itu. Meningkatnya luasan kawasan kumuh. a. Selain MPR tidak lagi menetapkan haluan negara juga telah diterbitkan UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan yang menentukan adanya Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang ditetapkan dengan undang-undang. tetapi arah pembangunan telah disistematisasikan menurut bidang yang berkaitan dengan penyelenggaraannya. Oleh karena itu. perannya dan apa yang harus dilakukan. Perubahan institusional ini sesungguhnya merupakan pengejawantahan sikap dan tekad bangsa menuju negara yang makin demokratis. Kelembagaan penyelenggara pembangunan perumahan belum berada pada tingkat kinerja yang optimal untuk menjalankan fungsi. apa yang harus dilakukan oleh suatu bidang garapan seperti perumahan dan permukiman harus menelisik dengan cermat. Ditentukan sasaran pokok dan ukuran keberhasilan yang abstrak dan kualitatif yang harus diterjemahkan dalam sasaran nyata dan terukur. kementerian dan lembaga non departemen tidak diungkapkan secara eksplisit dan jelas. perubahan sikap tersebut juga membawa konsekuensi pada kerangka pikir penyelenggaraan pembangunan dan metoda serta sistimatika GBHN menjadi tidak sesuai lagi. tantangan yang dihadapi. 1.1 Perumahan Isu pembangunan perumahan meliputi beberapa hal sebagai berikut. kemudian juga diungkapkan kembali sebagai kondisi dan tantangan yang dihadapi dalam RPJPN.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 08 pai dengan misi tersebut. kemudian menguraikan apa yang hendak dica- . Meningkatnya jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah. d. khususnya tentang kondisi perumahan. Oleh karena itu. laju pertumbuhan kawasan kumuh (di pusat kota maupun di tepi kota) juga dipicu oleh keterbatasan kemampuan dan ketidakpedulian masyarakat untuk melakukan perbaikan rumah (home improvement).Terbatasnya kemampuan penyediaan prasarana dan sarana perumahan. dan menafsirkan serta menjabarkan lebih lanjut dimana posisinya. pemberian penghargaan yang makin tinggi pada hak asasi manusia dan penyelenggaraan negara yang makin terdesentralisasi. Padahal banyak asumsi tentang kondisi tahun 2004 tersebut. Dokumen rencana ini mengutarakan visi dan misi pembangunan Indonesia. Kondisi transisional menyebabkan RPJPN muncul ketika Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tengah dilaksanakan. tata nilai dan norma yang disepakati melalui permusyawaratan wakil rakyat harus diganti dengan kerangka pikir yang baru. terutama bidang perumahan. c. sangat bisa dimengerti apabila asumsi yang digunakan oleh RPJM.2 Isu Pembangunan Perumahan dan Permukiman 1. Selain perubahan tata penyelenggaraan Negara. Faktor ini menjadi salah satu penghambat dalam penyediaan perumahan untuk masyarakat berpendapatan rendah serta pemicu menurunnya kualitas kawasan yang dihuni oleh masyarakat berpendapatan rendah. RPJPN 2005-2025 tidak secara langsung dan tegas mengarahkan apa yang harus dilakukan untuk setiap bidang pembangunan.

Rendahnya kualitas pengelolaan pelayanan air minum yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Hasil audit terhadap PDAM pada Tahun 2007 dan dipublikasi oleh BPPSPAM (Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum)5 menunjukkan hanya 25. cakupan pelayanan air minum perpipaan dalam kurun waktu 6 tahun terakhir ini tidak terlalu banyak berubah. f. Berdasar audit terhadap 306 PDAM dari total keseluruhan 340 PDAM.2%. g. 6 .93% yang tergolong kriteria sakit atau tidak mampu menanggung resiko kas dan pinjaman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pembiayaan perumahan yang terbatas dan pola subsidi yang memungkinkan terjadinya salah sasaran Berbagai bantuan program perumahan tidak sepenuhnya terkoordinasi dan efektif.25% dengan kriteria kurang sehat atau akan menanggung resiko atas semua keadaan kas dan pembayaran pinjaman untuk berkembang dalam pelayanan. sementara selebihnya sebesar 37. Berdasarkan Data Statistik Perumahan dan Permukiman tahun 2004.4% telah mendapat layanan air perpipaan. PDAM sehat merupakan PDAM yang mampu berkembang dan memperoleh keuntungan untuk memperbaiki kas dan kewajiban pinjaman dan penggantian instalasi untuk tetap beroperasi secara efisien dalam pelayanan kepada pelanggan.2. Pada tahun 2006.07% rumah tangga yang belum memiliki rumah dan meningkat menjadi 21.78% pada tahun 2007. Hal ini akan semakin menjauhkan keterjangkauan masyarakat terhadap harga rumah yang ditawarkan. Stagnasi dalam penurunan tingkat kebocoran air minum Tingkat kebocoran yang disebabkan kebocoran teknis dan non teknis pada tahun 2007 masih dalam kategori tinggi.2 Air Minum dan Air Limbah Isu terkait pembangunan air minum dan air limbah sebagai berikut. terdapat 19. Stagnasi dalam peningkatan pelayanan air minum perpipaan selama enam tahun terakhir (2000-2006) Secara umum. yang relatif tidak berbeda kondisinya 5 Perkembangan Isu dengan cakupan layanan air perpipaan pada tahun 2000 yang sebesar 19. Masih rendahnya efisiensi dalam pembangunan perumahan Tingginya biaya administrasi perijinan yang dikeluarkan dalam pembangunan perumahan merupakan satu persoalan yang senantiasa dihadapi dalam pembangunan perumahan. Bantuan pembangunan dan perbaikan rumah secara swadaya dan berkelompok masih bersifat proyek dan kurang menjangkau kelompok sasaran. e.82% dari total PDAM dengan kriteria sehat6 . sekitar 18. Kesenjangan tersebut dalam jangka panjang menyebabkan pasar perumahan menjadi tidak sehat karena ketidakstabilan dalam ketersediaan sumber pembiayaan. Sementara PDAM kriteria kurang sehat atau akan menanggung resiko atas semua keadaan kas dan pembayaran pinjaman untuk berkembang dalam pelayanan.65%. Hasil audit BPPSPAM (Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum) pada tahun 2007 memperlihatkan bahwa tingkat kebocoran PDAM dalam skala nasional adalah sebesar 33. Foto: Bowo Leksono b. serta yang lebih memprihatinkan adalah sebesar 36.2009 maka diperkirakan jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah akan terus meningkat. 1. Apabila upaya penyediaan perumahan tidak mampu untuk memenuhi backlog dan pertumbuhan baru selama kurun waktu 2005 . a. PDAM sakit atau tidak mampu menanggung resiko kas dan pinjaman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. c.09 meningkat. Terjadinya kesenjangan (mismatch) dalam pembiayaan perumahan Sumber pembiayaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) pada umumnya berasal dari dana jangka pendek (deposito dan tabungan) sementara sifat kredit pemilikan rumah pada umumnya mempunyai masa jatuh tempo dalam jangka panjang.

Tahun 2007 terdapat sebanyak 340 PDAM (mengalami penambahan sebesar 74 PDAM sejak Tahun 2006).83%. Permasalahan tarif yang tidak mampu mencapai kondisi pemulihan biaya (full cost recovery) Hingga saat ini tarif dasar sebagian besar PDAM masih dibawah biaya produksi air minum. Meningkatnya kecenderungan kabupaten/kota yang baru terbentuk untuk membentuk PDAM baru yang terpisah dari PDAM kabupaten/kota induk Kecenderungan pembentukan PDAM baru dipicu dengan alasan kebutuhan akan sumber pendapatan asli daerah kabupaten/kota baru. Kenaikan tersebut diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan semakin sulitnya mendapatkan lahan untuk dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir (TPA). Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan kawasan tergenang dan terhambatnya fungsi drainase. yaitu lebih kecil dari 30%. Belum diolahnya lumpur tinja (sludge) secara baik Tingkat pelayanan air limbah selama 10 tahun terakhir dapat dikatakan cukup baik.57% pada tahun 2007. sehingga secara akuntansi sebagian besar PDAM saat ini beroperasi dengan kondisi rugi. d.92% pada tahun 2003 menjadi 13. g. e. Hal ini dapat dilihat dari cakupan pelayanan drainase yang hanya meningkat dari 18. Menurunnya proporsi masyarakat di kawasan perkotaan yang mendapatkan pelayanan sistem pembuangan air limbah (sewerage system).Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 10 1. Menurunnya kualitas manajemen tempat pembuangan akhir (TPA) Berubahnya sistem pengelolaan TPA yang didesain sebagai sanitary landfill dan/atau controlled landfill menjadi open dumping mencerminkan penurunan kinerja TPA tersebut. Tidak berfungsinya saluran drainase sebagai pematus air hujan Kelangkaan lokasi untuk pembuangan sampah menyebabkan masyarakat membuang sampah ke saluran drainase. Namun demikian. Meningkatnya pencemaran lingkungan akibat meningkatnya jumlah sampah yang dibuang ke sungai dan/atau dibakar Proporsi sampah yang dibuang ke sungai dan di bakar pada tahun 2001 sebesar 51% dan meningkat menjadi 77. Hal ini masih ditambahkan dengan masih tingginya pemanfaatan sungai sebagai tempat pembuangan lumpur tinja domestik. f.63% pada tahun 2007. Terjadinya stagnasi dalam penanganan sampah dan drainase secara baik dan berwawasan lingkungan (environment friendly) Stagnasi ini terjadi karena rendahnya kesadaran seluruh pemangku kepentingan. Sedangkan luas genangan yang terjadi akibat buruknya kondisi drainase hanya berkurang dari 17.55% pada tahun 2006.8%. . Rendahnya laju pembangunan sistem pembuangan air limbah bagi kota-kota metropolitan dan besar pada umumnya disebabkan oleh semakin mahalnya nilai konstruksi dan semakin terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai jaringan pelayanan. yaitu tumbuh rata-rata sebesar 8. Data tahun 2007 menunjukkan bahwa proporsi TPA yang masih menggunakan metode sanitary landfill hanya sebesar 2. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya tingkat pemanfaatan Instalasi Pengolah Air Tinja (IPLT) yang telah dibangun untuk mengolah lumpur tinja domestik. Hal ini disebabkan laju pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan tidak mampu diimbangi oleh laju penyediaan sarana dan prasarana sistem pembuangan air limbah.2. „ d. Data dari Susenas tahun 2007 menunjukkan bahwa proporsi air di got/selokan yang mengalir dengan lancar hanya 52.41% pada tahun 2004 menjadi 20. khususnya pengambil keputusan terhadap peranan penanganan persampahan dan drainase untuk mendukung lingkungan hidup yang baik. Selain itu kesediaan membayar masyarakat yang masih sangat rendah juga menghambat laju pembangunan sistem pembuangan air limbah. hasil tersebut tidak diikuti dengan peningkatan dalam pengolahan lebih lanjut terhadap lumpur tinja domestik dari tangki septik dan jamban. Kecenderungan ini memberikan pengaruh negatif terhadap efisiensi pelayanan air minum yang bergantung pada skala ekonomi. Kegagalan mempertahankan manajemen TPA sesuai dengan kriteria teknis sanitary landfill sangat signifikan.6% per tahun. c.3 Persampahan dan Drainase Isu terkait pembangunan persampahan dan drainase sebagai berikut: a. b.

.

.

misi kelima dan keenam yang secara jelas mencantumkan keterkaitannya yaitu:  Misi kelima adalah mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. Pemenuhan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya diarahkan pada (i) penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri. perdagangan. Pemenuhan kebutuhan tersebut dilakukan melalui pendekatan tanggap kebutuhan (demand responsive approach) dan pendekatan terpadu dengan sektor sumber daya alam dan lingkungan hidup. transportasi. 2. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia. memadai. dan berbasiskan kepentingan nasional 7.  2005-2025 yaitu Indonesia yang Mandiri. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum 4. Adapun ke-delapan misi tersebut sebagai berikut. seperti industri. Selanjutnya RPJPN juga menyebutkan bahwa untuk mewujudkan visi pembangunan nasional tersebut ditempuh melalui 8 (delapan) misi pembangunan nasional. serta kesehatan. Pembangunan air minum dan sanitasi dilakukan melalui (i) peningkatan kualitas pengelolaan aset (asset management) dalam penyediaan air minum dan sanitasi. 1. Mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan 6. berbudaya. dan bersatu 5. (ii) penyelenggaraan pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya yang mandiri mampu membangkitkan potensi pembiayaan yang berasal dari masyarakat dan pasar modal. Mewujudkan Indonesia aman. yang diantaranya menegaskan perumahan dan permukiman terkait dengan pemanfaatan ruang yang serasi antara penggunaan untuk permukiman. kuat. dijabarkan dalam sasaran pokok dan arah kebijakan. dan efisien. Misi inilah yang kemudian diuraikan. kredibel. Arah kebijakan pembangunan perumahan dan permukim- an tahun 2005-2025 antara lain: 1. (ii) pemenuhan kebutuhan minimal air minum dan sanitasi dasar bagi masyarakat. R PJPN bertolak dari visi pembangunan nasional tahun Misi keenam adalah mewujudkan Indonesia asri dan lestari. Foto: Bowo Leksono Terkait dengan pembangunan permukiman dan perumahan. Pembangunan dan penyediaan air minum dan sanitasi diarahkan untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat serta kebutuhan sektor-sektor terkait lainnya. sosial ekonomi dan konservasi. mandiri. dan (iv) penyediaan sumber-sumber pembiayaan murah dalam pelayanan air minum dan sanitasi bagi masyarakat miskin. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional. (iii) penyelenggaraan pelayanan air minum dan sanitasi yang kredibel dan profesional. yang diantaranya menegaskan . dan jasa sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Adil dan Makmur. maju. sumber daya air.1 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 Kerangka Perencanaan Pembangunan Nasional kebutuhan hunian menjadi salah satu dari empat sasaran pokok (sasaran ke-3) dan salah satu dari 21 arah pembangunan (arah ke-19).13 2. beretika. Maju. dan terjangkau oleh daya beli masyarakat serta didukung oleh prasarana dan sarana permukiman yang mencukupi dan berkualitas yang dikelola secara profesional. pariwisata. layak. dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila 2. serta meningkatkan pemerataan dan penyebaran pembangunan. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing 3. damai. dan (iii) pembangunan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya yang memperhatikan fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup. bermoral. menciptakan lapangan kerja.

Sampai saat ini. 2. sanitasi. dan persampahan) sebagai berikut. 1. (ii) meningkatkan kehandalan dan keberlanjutan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan. Dengan demikian. pemeliharaan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan. Sasaran pembangunan persampahan dan drainase adalah meningkatnya jumlah sampah terangkut hingga 75 persen hingga akhir tahun 2009 dan meningkatnya kinerja pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang berwawasan lingkungan (environmental friendly) pada semua kota-kota metropolitan. penyediaan. Air merupakan Benda Sosial dan Benda Ekonomi Sampai saat ini air hanya dipandang sebagai benda sosial yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja dan dengan jumlah yang tidak terbatas. Sedangkan tujuan khususnya adalah (i) meningkatkan pembangunan. masyarakat tidak dapat menghargai air sebagai benda langka yang harus dijaga keberadaannya. 2. Departemen Kesehatan. Pembangunan infrastruktur adalah bagian integral dari pembangunan nasional. dan Departemen Dalam Negeri. Di dalam RPJMN disebutkan bahwa ketersediaan sarana perumahan dan permukiman.2 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2009 Dalam RPJMN 2005-2009. efisien. Kebijakan ini disusun melalui proses partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. disepakati terdapat 11 prinsip dasar yang mewarnai pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan (air minum. efisien. maka disusun Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM). Dampaknya adalah masyarakat mengeksploitasi air secara bebas dan tidak memiliki keinginan untuk melestarikan lingkungan. Tujuan umum dari kebijakan ini adalah terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan. kebijakan AMPLBM telah diadopsi oleh berbagai proyek air minum dan penyehatan lingkungan. Oleh sebab itu. serta terbebasnya saluran-saluran drainase dari sampah sehingga mampu meningkatkan fungsi saluran drainase sebagai pematus air hujan dan berkurangnya wilayah genangan permanen dan temporer hingga 75 persen dari kondisi saat ini. Departemen Pekerjaan Umum. Kebijakan ini telah disepakati di tingkat eselon I departemen terkait yaitu Bappenas. perumahan dan permukiman masuk ke dalam pembangunan infrastruktur. dan telah diimplementasikan di setidaknya 13 propinsi dan sekitar 100 kabupaten/kota. pandangan tersebut perlu diubah menjadi air adalah benda ekonomi dan memerlukan pengorbanan untuk mendapatkannya sehingga diharapkan perilaku masyarakat akan lebih bijak dalam menggunakan air. tidak diskriminatif. Menyadari hal tersebut di atas. secara luas dan merata. dan diselesaikan dalam waktu cukup lama (1998-2003) untuk memastikan bahwa hasilnya telah mengakomodasi pemikiran beragam pemangku kepentingan. Pembangunan AMPL pada dekade lalu masih sangat fokus pada target dan bukan pada keberlanjutan fasilitas. kota besar. Salah satu faktor dominan sebagai . Akibatnya rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun menjadi sangat rendah. serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dapat menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. antara lain air minum dan sanitasi. dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat yang didukung oleh sistem pembiayaan perumahan jangka panjang yang market friendly.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 14 penyebabnya adalah belum termanfaatkannya potensi masyarakat sebagai salah satu pelaku pembangunan. Dalam kebijakan pembangunan AMPL-BM. Peran pemerintah menjadi sangat dominan dan masyarakat hanya menjadi penonton. Sasaran pembangunan perumahan dalam RPJMN 20052009 adalah pemenuhan kebutuhan hunian bagi masyarakat melalui terciptanya pasar primer yang sehat. Sedangkan sasaran pembangunan air minum dan air limbah adalah meningkatnya cakupan pelayanan air minum perpipaan secara nasional hingga mencapai 40 persen pada akhir tahun 2009 dengan perincian cakupan pelayanan air minum perpipaan untuk penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan diharapkan dapat meningkat hingga mencapai 66 persen dan di kawasan perdesaan meningkat hingga mencapai 30 persen serta Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS)/open defecation free (ODF) untuk semua kabupaten/kota hingga akhir tahun 2009. akuntabel. dan akuntabel.3 Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPLBM) Pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan telah berlangsung lama namun tingkat keberlanjutan fasilitas yang dibangun masih rendah. dan kota sedang. Departemen Keuangan.

Pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Agar pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan dapat berkelanjutan maka pembangunan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan harus mampu mengubah perilaku masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan sebagai dasar menuju kualitas hidup yang lebih baik. pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan harus memperhatikan dan melibatkan secara aktif kelompok masyarakat miskin dan kelompok masyarakat tidak beruntung lainnya dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian. 10. Peran Perempuan dalam Pengambilan Keputusan Peranan perempuan untuk memenuhi kebutuhan AMPL untuk kepentingan sehari-hari sangat dominan. Oleh sebab itu. bagaimana pengelolaan dana dan pertanggungjawabannya. bukan hanya sebagai penyedia (provider). Pembangunan Berwawasan Lingkungan Pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan dilaksanakan dengan mempertimbangkan kaidah dan norma kelestarian lingkungan. 4. Kondisi ini menjadikan proses pembangunan berbasis masyarakat mensyaratkan perlunya keterbukaan dalam seluruh tahapannya. Dengan demikian.15 2. dan bagaimana pengelolaan pelayanan. Untuk meningkatkan efektivitas pendekatan tanggap kebutuhan. Namun disadari sepenuhnya bahwa masyarakat miskin merupakan golongan masyarakat yang paling rentan terkena dampak dari kondisi tidak tersedianya fasilitas AMPL. pusat maupun daerah. Keberpihakan pada Masyarakat Miskin Pada prinsipnya. Dengan demikian diharapkan adanya sinergi antara upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan upaya peningkatan kelestarian lingkungan. beragam kepentingan dan juga melibatkan dana yang cukup besar. 8. 3. Kebijakan ini sekaligus bertujuan meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan yang dibangun serta meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengenali lebih dini sistem pengelolaannya. salah satunya menjadi fasilitator. peranan pemerintah. seluruh masyarakat harus terlibat secara aktif dalam setiap tahapan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan. Namun demikian mengingat keterbatasan ruang dan waktu maka keterlibatan tersebut dapat melalui mekanisme perwakilan yang demokratis serta mencerminkan dan merepresentasikan keinginan dan kebutuhan mayoritas masyarakat. Penerapan Prinsip Pemulihan Biaya Pembangunan dan pengelolaan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan perlu memperhatikan prinsip pemulihan biaya (cost recovery). pemerintah sebagai fasilitator harus memberikan pilihan yang diinformasikan (informed choice)1 kepada masyarakat. 7. 11. peran perempuan sangat dibutuhkan dalam pengambilan 1 Kerangka Perencanaan Pembangunan Nasional keputusan terkait AMPL. 5. Pelayanan Optimal dan Tepat Sasaran Pembangunan AMPL harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat serta dapat menjawab permasalahan yang dihadapi. Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator Pemberdayaan diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi dan kemampuan yang mereka miliki atas dasar prakarsa dan kreativitas. seluruh masyarakat Indonesia berhak untuk mendapatkan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang layak dan terjangkau. pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan yang berbasis masyarakat Pilihan yang terinformasikan mencakup saat berpartisipasi. perempuan lebih mengetahui yang mereka butuhkan dalam hal kemudahan mendapatkan air dan kemudahan mempergunakan prasarana dan sarana. Akuntabilitas Proses Pembangunan Proses pembangunan melibatkan beragam pihak. 6. Oleh sebab itu. 9. Sebagai pihak yang langsung berhubungan dengan pemanfaatan prasarana dan sarana AMPL. pilihan teknologi dan tingkat pelayanan berdasar pada keinginan membayar (willingness to pay). . Pilihan yang Diinformasikan Sebagai Dasar dalam Pendekatan Tanggap Kebutuhan Pendekatan tanggap kebutuhan (Demand Responsive Approach) menempatkan masyarakat pada posisi teratas dalam pengambilan keputusan. Akibatnya. Peran Aktif Masyarakat Pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan harus menempatkan masyarakat sasaran tidak lagi sebagai obyek pembangunan namun sebagai subyek pembangunan. bagaimana dan kapan diterimanya pelayanan.

Meningkatkan investasi untuk pengembangan kapasitas sumber daya masyarakat pengguna 3. Meningkatkan pelestarian dan pengelolaan lingkungan. Menyusun Norma. 14. Besarnya iuran yang dibutuhkan untuk menutup pembiayaan tersebut harus disepakati oleh seluruh masyarakat. Mempromosikan perubahan pendekatan dalam pengelolaan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 16 perlu memperhitungkan seluruh komponen biaya dalam pembangunan. dan pengelolaan 7. Secara keseluruhan terdapat 16 strategi pelaksanaan kebijakan AMPL Berbasis Masyarakat. Meningkatkan kepedulian masyarakat pengguna 13. Meningkatkan kualitas pengelolaan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat pengguna. pengembangan. Pedoman dan Manual (NSPM) sektor air minum dan penyehatan lingkungan sebagai upaya memperbaiki kualitas pelayanan pada tahap perencanaan. Mengembangkan pola monitoring dan evaluasi hasil pembangunan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan yang berorientasi kepada pencapaian tujuan dan ketepatan sasaran. dan pengelolaan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan 4. khususnya sumber daya air 10. Strategi pelaksanaan kebijakan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan merupakan penjabaran dari kebijakan umum yang telah dikemukakan sebelumnya. „ . 6. Mengembangkan kerangka peraturan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan. pemeliharaan. 8. Mendorong konsolidasi penelitian. Mengembangkan motivasi masyarakat melalui pendidikan formal dan informal 9. Menerapkan upaya khusus pada masyarakat yang kurang beruntung untuk mencapai kesetaraan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan. dan pembagian beban biaya yang perlu dipikul oleh masyarakat. 12. 15. pelaksanaan dan pengelolaan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan 2. Meningkatkan kemampuan masyarakat di bidang teknik. Mendorong penerapan pilihan pembiayaan untuk pembangunan. Menempatkan kelompok pengguna dalam pengambilan keputusan pada seluruh tahapan pembangunan serta pengelolaan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan 5. dan diseminasi pilihan teknologi untuk mendukung prinsip pemberdayaan masyarakat. operasi. dan kelembagaan. pelaksanaan. dari pendekatan berdasarkan batasan administrasi menjadi pendekatan sistem Foto: Bowo Leksono 11. Mengembangkan komponen kegiatan monitoring dan evaluasi dalam empat tingkat 16. pembiayaan. yaitu: 1. Mengembangkan dan menyebarluaskan indikator kinerja pembangunan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan. Standar. dalam pembangunan dan pengelolaan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan.

.

.

BPS (berbagai tahun) . ternyata secara nasional masih cukup banyak penduduk yang belum memiliki tempat tinggal.24 1.15 1.33 Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman.1.21 0.93 4.93 0.66 0. menurun 2. Jika status kepemilikannya jelas secara hukum maka penghuninya akan nyaman untuk tinggal tanpa khawatir rumahnya akan digusur/diklaim pihak lain.28 0. GAMBAR 3. Sementara rumah tangga yang tidak memiliki rumah sebagian besar berstatus kontrak dan sewa sebesar 8. yakni hanya 1. BPS (berbagai tahun) TABEL III.46 1.19 3.06 4.44 8.7% penduduk yang masih belum memiliki tempat tinggal sendiri.02 8.95 1.68 11.24 1. Kondisi ini juga berlaku baik di perkotaan maupun perdesaan.94 9.10 3.80 0. masih sekitar 19.1.1 RUMAH TANGGA YANG BELUM MEMILIKI RUMAH TAHUN 2004 DAN 2007 (%) Data dan Informasi Dasar Walaupun demikian. Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman.94 0. Selain itu.52 1.31 NASIONAL 80.60 0. dan bahkan meningkat menjadi 21.1.36 8.39 8.1 Perumahan 3. dan menunjukkan peningkatan dibanding tahun 2004.5%.3%. Selengkapnya pada gambar 3.05 0.76 7. pada tahun 2007 proporsi kepemilikan rumah yang paling besar adalah milik sendiri yakni mencapai 78. Berdasarkan hasil Susenas. Proporsi rumah tangga yang tidak memiliki rumah terlihat jauh lebih banyak terjadi di perkotaan yang mencapai 30.71% pada tahun 2007. dibanding di perdesaan.52 9.78% pada tahun 2007.72 0.98% (2007). kategori rumah tangga yang belum memiliki tempat tinggal yang relatif besar adalah kategori menempati milik orang tua/sanak/saudara yang mencapai 9.06% (2004) dan 32. Pada tahun 2004.92 1.22 4. Kondisi ini berlaku juga baik di perdesaan maupun perkotaan.00 1.75 1. status kontrak dan sewa mencapai 17% dari total penduduk perkotaan.38 KOTA 67.81 2. sedangkan di kawasan perdesaan jumlahnya jauh lebih kecil.94 8. Selengkapnya pada Tabel III.70 1.1 RUMAH TANGGA MENURUT STATUS PENGUASAAN TEMPAT TINGGAL TAHUN 2004 DAN 2007 (%) STATUS Milik Sendiri Kontrak Sewa Bebas Sewa Rumah Dinas Milik Orang Tua/ Sanak/Saudara Lainnya 2004 KOTA 69.71 0.08 6.22%.47 DESA 89.77 1.38 2007 DESA 86.30 NASIONAL 78.1 Status Penguasaan Tempat Tinggal Salah satu syarat sebuah rumah yang layak ialah status kepemilikannya (tenure). Di kawasan perkotaan.71% dari tahun 2004.

kategori Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai memiliki proporsi dibawah 7%.86 Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman.39 Hak Milik 90. kategori yang paling dominan adalah kategori hak milik yang mencapai 93.2 Cara Memperoleh Rumah Pada bagian ini dijelaskan tentang kategori cara mendapatkan rumah yang meliputi cara mendapatkan dan pembayarannya.05% pada tahun 2007. dan membeli baru dari perorangan di tingkat nasional dan perkotaan.2 RUMAH TANGGA MENURUT STATUS HUKUM TANAH TAHUN 2004 DAN 2007 (%) HAK ATAS TANAH 2004 KOTA DESA 1. BPS (berbagai tahun) GAMBAR 3. Sumber : Statistik Permukiman dan Perumahan. dan 73. membeli dari pengembang.06 94. BPS (berbagai tahun) Jika dikategorikan berdasar bukti hukum. Dari berbagai kategori mendapatkan rumah.15% pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 30.6% pada tahun 2007.48% pada tahun 2004 menjadi 22. Namun demikian masih banyak rumah tangga yang belum memiliki bukti hukum.3 dan kategori pembayaran pada Tabel III. Sementara di perdesaan agak berbeda.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 20 16.74 96.06% pada tahun 2007.21 2.13 1. sebagian besar rumah tangga telah memiliki sertifikat dari BPN maupun Kantor Agraria.92 93.75 Hak Guna Bangunan 8.2 GAMBAR 3.2 2.1% (perdesaan). Sementara itu. Sementara itu. Golongan rumah tangga ini sangat rawan terhadap penggusuran dan pendudukan lahan oleh pihak lain. kategori lain yang cukup besar adalah kategori membeli bukan baru.1% (nasional). Selengkapnya pada Tabel III. Bukti hukum lainnya yang banyak dimiliki rumah tangga di Indonesia adalah girik dan akta jual beli dari PPAT.94 NASIONAL KOTA 0. Rincian kategori cara mendapatkan pada Tabel III.13% dari total bukti kepemilikan pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 96. kategori dengan proporsi terbesar adalah membangun dari biaya sendiri yang mencapai 67.8% (perkotaan). BPS (berbagai tahun) . Berdasarkan kategori status bukti hukum penguasaan tanah dari BPN.9 2007 DESA 1. kategori membangun dengan pinjaman perorangan terlihat cukup besar dan membeli dari pengembang relatif kecil.1.2 RUMAH TANGGA MENURUT STATUS PENGUASAAN TEMPAT TINGGAL TAHUN 2004 DAN 2007 (%) Sumber: Statistik Perumahan dan Permukiman.4 1.95 5. 56.05 Hak Pakai 0.3.4 NASIONAL 1.2 97. bahkan cenderung meningkat dari TABEL III.3 RUMAH TANGGA MENURUT KEPEMILIKAN BUKTI HUKUM TANAH TAHUN 2004 DAN 2007 (%) 3. Selengkapnya pada Gambar 3.04 4.4. yakni sebesar 27. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seperempat rumah tangga di Indonesia tidak memiliki kekuatan hukum dalam menempati rumah dan tanah.85 95.

dan kategori lainnya. Bila kondisi fisik rumah tersebut buruk maka fungsi rumah sebagai pelindung bagi penghuninya tidak akan terpenuhi.05 6.82 Sumber : Statistik Permukiman dan Perumahan. Salah satu kriteria kondisi bangunan adalah jenis bahan yang digunakan.89 3. Proporsi cara pembayaran relatif stabil jika dibandingkan kondisi tahun 2007 terhadap tahun 2004.48 0.30 2.3 Kondisi Fisik Bangunan Kondisi fisik rumah merupakan hal yang penting untuk melihat kelayakan hunian sebuah rumah. asbes.51 4. Kondisi di perdesaan terlihat berbeda.5.02 0. Jangka waktu pengembalian KPR yang dominan berkisar antara 6-15 tahun di nasional dan perkotaan. Namun di perdesaan terlihat waktu pengembalian 1-5 tahun cukup dominan bersama dengan waktu pengembalian 6-15 tahun.3 RUMAH TANGGA YANG MENEMPATI RUMAH MILIK SENDIRI MENURUT CARA MEMPEROLEH BANGUNAN TAHUN 2007 (%) CARA MEMPEROLEH BANGUNAN Membeli dari pengembang Membeli melalui koperasi/yayasan Membeli baru dari perorangan Membeli bukan baru Membangun dengan biaya sendiri Membangun dengan pinjaman perorangan Membangun dengan pinjaman bank/koperasi Lainnya PERKOTAAN 7.75 8. disusul angsuran KPR.99 18. dan anyaman bambu. angsuran non KPR.28 7.21 TABEL III. 2007 Cara pembayaran yang dominan dalam pembelian rumah di tingkat nasional dan perkotaan adalah membayar tunai. Kondisi fisik rumah juga mempengaruhi segi kesehatan pemilik rumah. BPS (berbagai tahun) .86 1.68 8.56 18.95% rumah di Indonesia tidak memiliki plafon.46 Data dan Informasi Dasar NASIONAL 3. Pada tahun 2007.72 2. TABEL III.4. Namun demikian masih banyak pula rumah yang tidak memiliki plafon. bahkan angsuran KPR cenderung menurun.39 0.42 PERDESAAN 0. 42.06 5.45% dari tahun 2004.00 17. TAHUN 2004 DAN 2007 (%) CARA PEMBAYARAN Tunai Angsuran KPR Angsuran Bukan KPR Lainnya 2004 PERKOTAAN PERDESAAN NASIONAL 64.93 7.92 27.95 5. Selengkapnya pada Tabel III.76 2007 PERKOTAAN PERDESAAN NASIONAL 64.57 1.37 56.94 26. Bila kondisi fisiknya masih baik maka penghuni rumah tersebut akan nyaman tinggal di dalam rumahnya.42 4.35 3.55 Sumber : Statistik Permukiman dan Perumahan.27 9. yaitu angsuran non KPR terlihat lebih dominan dibanding angsuran KPR.49 4.47 67.23 80.74 8.05 69. Selengkapnya pada Gambar 3.4.1.45 69.18 1.01 0. 3. dan yang paling sering digunakan adalah kayu/triplek.17 4.4 20.85 77. meningkat sebesar 2.76 73.47 6.23 3. Selengkapnya pada Gambar 3.82 1.09 2.67 17.08 1.4 RUMAH TANGGA YANG CARA MEMPEROLEH BANGUNANNYA DENGAN MEMBELI MENURUT CARA PEMBAYARAN.

Proporsi rumah dengan kondisi baik lebih banyak berada di kawasan perkotaan daripada perdesaan. Standar yang dimiliki WHO. sebuah rumah dikatakan memenuhi syarat rumah sehat bila luas per orang minimal 10 m2. Rumah dengan kondisi sedang adalah rumah yang kerangka pokoknya atau sebagian kecil komponen bangunannya memerlukan perbaikan atau salah satu kerangka pokoknya saja yang rusak.71% pada tahun 2004 menjadi 10.12% pada tahun 2007. Walaupun demikian Terdapat 4 kriteria yang menggambarkan kondisi bangunan rumah. Sebagian besar kondisi bangunan di Indonesia (mencapai 90%) dalam kondisi layak huni (kondisi baik dan sedang). dinding. Jadi apabila jumlah anggota keluarga dalam sebuah rumah 4-5 orang. Berdasarkan data.6. sedangkan rumah dengan kondisi rusak berat adalah rumah yang kerangka pokoknya memerlukan perbaikan segera karena membahayakan penghuninya. Sementara itu. Rumah dengan kondisi baik didefinisikan sebagai rumah yang kerangka pokoknya (atap. maka rumah tersebut harus mempunyai luas 40-50 m2. Pada tahun 2004. proporsi rumah dengan kondisi rusak dan rusak berat mengalami peningkatan dari 5. Selengkapnya pada Tabel III. Sementara sekitar 51% rumah tangga mempunyai luasan rumah berkisar 28-70 m2. sedang. Namun proporsinya dari tahun ke tahun cenderung menurun. proporsinya mencapai 94%. rusak.5 RUMAH TANGGA MENURUT JENIS PLAFON TERLUAS TAHUN 2004 DAN 2007 (%) Sumber: Statistik Perumahan dan Permukiman. dan rusak berat.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 22 masih ditemui luasan bangunan dibawah 20 m2 yang dihuni oleh sekitar 5. BPS (berbagai tahun) Kriteria lainnya adalah luas tapak bangunan yang menunjukkan kenyamanan untuk sebuah rumah yang layak tinggal.6% rumah tangga. yaitu baik. Selengkapnya pada Gambar 3. kemudian menurun menjadi 90% pada tahun 2007. BPS (berbagai tahun) Sumber: Statistik Perumahan dan Permukiman. proporsi yang terbesar adalah rumah tangga yang memiliki rumah dengan luas diatas 70 m2. Komposisi proporsi ini relatif tetap dari tahun 2004 sampai 2007. Rumah dengan kondisi rusak adalah rumah yang sebagian besar komponen bangunannya memerlukan perbaikan.5. mencapai sekitar 40%. .4 RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI RUMAH MELALUI KPR MENURUT JANGKA WAKTU PENGEMBALIAN KREDIT TAHUN 2007 (%) Sumber: Statistik Perumahan dan Permukiman 2007 GAMBAR 3. dan lantai) atau komponen bangunannya belum memerlukan perbaikan.6 RUMAH TANGGA MENURUT LUAS TAPAK BANGUNAN (M2) TAHUN 2004 DAN 2007 GAMBAR 3. GAMBAR 3.

21 11.37 1.565 hektar.87 Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman.33 39.8 RUMAH TANGGA MENURUT SUMBER PENERANGAN MENGGUNAKAN LISTRIK DARI PLN TAHUN 2004 DAN 2007 (%) Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman. Pada tahun 2007 proprosi rumah tangga Indonesia yang telah menggunakan listrik dari PLN adalah sebanyak 88. Berdasarkan data dari RPJMN 2005-2009.37 2007 Data dan Informasi Dasar 45. dan beraktivitas dengan semestinya.5%.17 0.64 6.1 NASIONAL 2004 46.46 0.34 0. Penjelasan mengenai air minum.1. Selengkapnya pada Gambar 3.4 Fasilitas Rumah Beberapa aspek perumahan yang perlu diperhatikan antara lain ketersediaan penerangan.7 RUMAH TANGGA MENURUT KONDISI BANGUNAN TEMPAT TINGGAL TAHUN 2004 DAN 2007 (%) GAMBAR 3. BPS (berbagai tahun) 3. Pada tahun 1996.57 2004 41. penggunaan listrik PLN oleh rumah tangga lebih banyak dibanding di perdesaan. Dalam jangka waktu tiga tahun ternyata luas permukiman kumuh di Indonesia bertambah hingga 18%.053 hektar.51%. nyaman. Sumber: Statistik Perumahan dan Permukiman.94 9.32 47. Penerangan yang memadai. BPS (berbagai tahun) GAMBAR 3.25 0. dan kepemilikan kamar mandi. Dengan demikian telah terjadi kenaikan jumlah rumah tangga yang menggunakan PLN dari tahun 2004 sebesar 3.5 Permukiman Kumuh Salah satu permasalahan perumahan di Indonesia adalah semakin meluasnya permukiman kumuh.48 DESA 2007 40. Penerangan yang dianggap baik adalah yang bersumber dari listrik.27 48. fasilitas sanitasi.393 hektar. meningkatnya luas permukiman kumuh tersebut selaras dengan pertum- . luas permukiman kumuh telah berkembang menjadi 47. Listrik yang dikonsumsi dapat berasal dari PLN maupun nonPLN. fasilitas persampahan.68 6. Pada bagian ini hanya akan memaparkan fasilitas rumah berupa penerangan (listrik). data terakhir tahun 2003 menunjukkan bahwa luas permukiman kumuh berhasil diturunkan menjadi 45.29 43. luas permukiman kumuh di Indonesia mencapai 40.07 4. Namun demikian.23 2007 53.23 TABEL III.21 0.1. BPS (berbagai tahun) 3.5 RUMAH TANGGA MENURUT KONDISI BANGUNAN TEMPAT TINGGAL TAHUN 2004 DAN 2007 (%) KONDISI Baik Sedang Rusak Rusak Berat KOTA 2004 54. membantu manusia hidup sehat. dan persampahan dipaparkan secara rinci pada bagian profil permukiman. Sedangkan pada tahun 2000.02 5. air bersih.8.67 51. Di perkotaan.94 43.

053 47. peningkatan kebutuhan rumah juga disebabkan oleh pertumbuhan jumlah rumah tangga.6.000 unit pertahun. Dari data yang tersedia.1 juta unit. TABEL III. (berbagai tahun) Keterangan : *** Menggunakan asumsi rata-rata anggota keluarga pada Statistik Potensi Desa Indonesia 2003 yaitu 1 rumah tangga terdiri atas 4.886 titik dan dihuni oleh sekitar 2.003.774 2. BPS (Tahun 2003 dan 2005) 3.190 buhan penduduk dan makin tidak terkendalinya pertumbuhan kota utama (primacy city) yang menjadi penarik meningkatnya arus migrasi.089 6. Selain itu.8 juta unit. Selengkapnya pada Tabel III.886 10.966 2. .190 desa pada tahun 2005.505.7. Hal tersebut ditambah lagi dengan kondisi rumah tidak layak huni yang mencapai 13 juta unit.6 Backlog Perumahan Kondisi backlog perumahan sampai dengan tahun 2007 dapat dikatakan cukup tinggi yaitu mencapai 5. Dengan demikian pada akhir tahun 2004 total kebutuhan rumah akan mencapai 5. LOKASI. ditambah dengan peningkatan kebutuhan rumah akibat pertumbuhan penduduk (pertumbuhan rumah tangga). Jumlah tersebut meningkat tajam selama kurun waktu 10 tahun menjadi 15. Jumlah lokasi dan jumlah penduduk yang tinggal di permukiman kumuh pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari kebutuhan tahun sebelumnya yang belum terakomodasi oleh penyediaan rumah yang dilakukan oleh BUMN.739 lokasi dan dihuni oleh 3. khususnya jaringan jalan dengan kawasan permukiman yang terbangun.906 KK KETERANGAN Sumber: Statistik Potensi Desa Indonesia.28 juta jiwa. Selengkapnya pada Tabel III.8 BACKLOG PERUMAHAN TAHUN 2007 KONDISI PERUMAHAN Backlog Pertumbuhan kebutuhan/tahun Rumah Tidak Layak Huni JUMLAH (JUTA UNIT) 5.393 45. Bila pemerintah berkeinginan agar kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dalam waktu 10 tahun.8 0.7 JUMLAH DESA YANG MEMILIKI LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH TAHUN 2003 DAN 2005 TAHUN 2003 2005 JUMLAH DESA YANG ADA PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN 1.025*** 732.8 juta unit dengan pertumbuhan kebutuhan sekitar 800. dan pada tahun 2009 sebesar 11. TABEL III.115*** 854. Pada tahun 2000. DAN 2005 TAHUN 1996* 2000* 2003** 2005** LUAS (HA) 40. BPS.739 PENGHUNI (JIWA) 2.6 LUAS.065 12.1 jiwa Menggunakan desa sebagai dasar data. jumlah lokasi permukiman kumuh pada tahun 1996 mencapai 4. jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah mencapai 4 juta rumah tangga. ketidakteraturan. laju pertumbuhan kawasan kumuh (di pusat kota maupun di tepi kota) juga dipicu oleh keterbatasan kemampuan dan ketidakpedulian masyarakat untuk melakukan perbaikan rumah (home improvement).6 juta unit. maupun swadaya masyarakat.315 3.289.445 KK 3. developer swasta.089 desa dan meningkat menjadi 6. maka sejak tahun 2000 total kebutuhan rumah per tahun adalah sebesar 1.8 13 Sumber: Presentasi Rencana dan Sasaran Program Kemenpera 2005 . 2000.13 Desember 2007 Sumber : * RPJMN 2005-2009.2007.565 tad JUMLAH LOKASI 4. berdasarkan data Statistik Potensi Desa tahun 2003 dan 2005. Bappenas ** Statistik Potensi Desa Indonesia.1.921 NASIONAL 4.269 PERDESAAN 2. DAN JUMLAH PENGHUNI KAWASAN KUMUH TAHUN 1996. Di pinggir kota hal tersebut yang menimbulkan urban sprawl yang membawa dampak kepada kemacetan (congestion). Hal lain yang juga menjadi pemicu adalah ketidakharmonisan antara struktur infrastruktur kota.162 15.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 24 TABEL III. yang pada akhirnya menimbulkan ketidakefisienan serta pemborosan energi dan waktu. Selain itu.862 3.5 juta jiwa pada tahun 2005.275. 2003. jumlah desa di Indonesia yang memiliki lingkungan permukiman kumuh pada tahun 2003 mencapai 4.

diharapkan masyarakat miskin dapat secara bertahap memperbaiki kualitas hidup dan kehidupannya. Instansi yang membangun rusunawa tersebut adalah Kementerian Negara Perumahan Rakyat.006 Lampung Kepulauan Riau Banten DKI Jakarta Jawa Barat DIY Jawa Tengah Jawa Timur NTT Bali Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Papua TOTAL 3.5 JUMLAH UNIT 98 98 432 98 3.504 1. jumlah rusunawa yang sudah dibangun baru mencapai 16. pembangunan rusunawa pada dasarnya bukan semata-mata menyediakan hunian sewa yang layak tetapi merupakan bagian dari upaya untuk penanggulangan kemiskinan. DAN 2009 TAHUN 2000 2004 2009 JUMLAH RT YANG BELUM MEMILIKI RUMAH 4. 2004. Bappenas Keterangan: tad = tidak tersedia data Data dan Informasi Dasar NO 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Jambi LOKASI JUMLAH TWIN BLOK 1 1 5 1 41 26.1.022 1. drainase.5 11 18 24 1 1 10 1 1 2 1 1 3 2 169. Selain itu juga pemilihan lokasi yang jauh dari komunitas dan tempat bekerja yang tanpa didukung oleh prasarana dan sarana transportasi memadai menjadi kendala utama penyebab rendahnya keberminatan masyarakat untuk menghuni rusunawa. hanya sekitar 3.006 unit dan terbagi ke dalam 169.055 290 288 Sumber : Kementerian Negara Perumahan Rakyat. sedangkan sisanya sebanyak 11. dan listrik.864 Tad Tad TOTAL KEBUTUHAN RUMAH (UNIT) 1.663. .25 TABEL III. Dinas Perumahan DKI Jakarta.533 5. 2007 Dari sejumlah rusunawa yang terbangun tersebut.665.000 unit.5 twin blok (27% dari target). Selain itu.9 JUMLAH KEBUTUHAN RUMAH TAHUN 2000. Sampai dengan akhir tahun 2007.718 2.916 2. hasil pencapaian pembangunan rusunawa masih jauh dari target yang diharapkan. Tingkat hunian yang rendah disebabkan oleh kurangnya dukungan penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman seperti prasarana air minum. Dari target 60. Departemen Pekerjaan Umum.7% dari total rusunawa). persampahan. air limbah.790 unit yang telah dihuni oleh masyarakat (22. dan Perum Perumnas. Melalui penyediaan hunian sewa yang terjangkau.330 Sumber : RPJMN 2005-2009.665 11.208 98 98 933 98 98 180 96 98 290 192 16.832.338. TABEL III.7 Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dan Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) Pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) ditujukan bagi masyarakat berpendapatan rendah yang belum mampu untuk memiliki rumah.928 unit belum dihuni dan 288 unit lainnya masih dalam proses penghunian.10 JUMLAH RUSUNAWA TERBANGUN TIAP PROPINSI TAHUN 2004-2007 NO 1 2 3 4 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan LOKASI JUMLAH TWIN BLOK 1 11 3 3 JUMLAH UNIT 98 1.

Secara lebih luas. jumlah Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi terus meningkat dari tahun ke tahun. rusunami diharapkan tidak hanya mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan hunian masyarakat perkotaan.595 unit rusunami.808 16. Pada tahun 2004 realisasi penerbitannya baru sebesar 30 ribu unit.339 5.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 26 yang bertujuan untuk membantu MBR atas sebagian biaya membangun/memperbaiki RSH yang pokok pembiayaannya disediakan oleh Lembaga Keuangan Bank (LKB)/Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB)/Koperasi. sejak tahun 2004 sampai dengan 2009. kemudian meningkat menjadi 63 ribu unit (meningkat 106. dan menjadi Rp. 4.962 unit.845 8. Rusunami di kawasan perkotaan diharapkan dapat mengurangi beban transportasi kota dengan kawasan perkotaan di sekitarnya.006 PEMBANGUN Kemenpera Departemen PU Perum Perumnas Dinas Perumahan DKI Jakarta TOTAL PENGHUNIAN Sumber : Kementerian Negara Perumahan Rakyat. alokasi dana subsidi perumahan. Pembangunan rusunami baru dimulai tahun 2008 dengan dibangunnya 2. Dengan demikian. .1 %) pada tahun 2005. jumlah alokasi anggaran subsidi perumahan yang diberikan Pemerintah mencapai Rp. 800 Milyar pada tahun 2008. Rp.11 TINGKAT HUNIAN RUSUNAWA TAHUN 2007 (UNIT) INSTANSI SUDAH DIHUNI 506 2. 2007 Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami)1 adalah rumah susun yang arsitektur bangunannya sederhana yang dimiliki oleh perseorangan dan/atau badan hukum.9 PERKEMBANGAN ALOKASI DANA DAN SUBSIDI PERUMAHAN TAHUN 2004-2009 TABEL III. subsidi uang muka atau subsidi untuk membangun/memperbaiki rumah Sumber : Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Dapat dilihat dari Gambar 3.323 unit hunian bersubsidi) sedang dalam tahap pembangunan dan diperkirakan akan selesai dibangun pada akhir tahun 2008.000 unit. Untuk mengejar target pembangunan. GAMBAR 3. dan penerbitan RSH terus meningkat dari tahun ke tahun.9 bahwa jumlah alokasi dana subsidi perumahan sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pembangunan rusunami dapat menjadi salah satu alternatif solusi berbagai masalah perkotaan.1. dan 122 ribu unit pada tahun 2007. 300 Milyar pada tahun 2007. 78 ribu unit pada tahun 2006. 3. Dengan demikian.3 Triliun. 251 Milyar. pada akhir tahun 2009 diperkirakan akan tersedia 44.713 576 2. 252 Milyar pada tahun 2005. target pembangunan rusunami adalah sebanyak 25. 2. Perkembangan kebutuhan anggaran subsidi perumahan. Di dalam RPJM 2005-2009.300 11. Sampai saat ini tercatat 42 tower rusunami (15. 1 Berdasarkan Permeneg Perumahan Rakyat Nomor 10/Permen/M/2008 tentang Tata Laksana Penghunian dan Pengalihan Satuan Rumah Susun Sederhana Milik. pemerintah menyediakan subsidi untuk pembangunan perumahan sederhana sehat.928 DALAM PROSES 288 288 JUMLAH 3.8 Subsidi KPR/KPS Untuk menyediakan rumah yang layak huni dan terjangkau khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). pada tahun 2006 besarannya tetap sebesar Rp. Dengan demikian selama kurun waktu empat tahun telah terjadi peningkatan jumlah penerbitan KPRSH sebesar hampir mencapai 300%. pada tahun 2009 direncanakan pembangunan rusunami sebanyak 41.633 unit hunian.681 672 2. 2008 Sementara itu. naik menjadi Rp. naik menjadi Rp. 252 Milyar. realisasi pembayaran subsidi perumahan. Pada tahun 2004 jumlah dana subsidi perumahan sebesar Rp.680 96 508 3.790 BELUM DIHUNI 3.5 Triliun pada tahun 2009. Fasilitas subsidi perumahan tersebut dapat berupa subsidi selisih bunga.

05 PERKOTAAN+PERDESAAN 2002 1.43 34 12. Penggunaan air kemasan walaupun meningkat tajam tetapi bukan merupakan sumber yang layak dikategorikan sebagai barang publik tetapi lebih sebagai komoditas dagang.39 100 78.81 12. BPS (berbagai tahun) Keterangan: *) termasuk ke dalam kategori sumber air minum aman menurut Susenas. air kemasan dan air hujan.5% masyarakat pada tahun 2007.2.44 100 93.86 4. sumber air minum yang aman telah terjangkau oleh sekitar 81.4 100 81.34 2.62 30.65 7.43 18.41 100 91. Angka tersebut tidak menunjukkan perubahan cakupan layanan air minum yang signifikan dibanding tahun 2002 yang sebesar 78%.35 0.48 NO.57 0. . Sumber : Kementerian Negara Perumahan Rakyat.3 4.28 0.41 24.77 4. Sementara penggunaan sumber air yang tidak aman seperti sumur tak terlindungi dan air sungai cenderung berkurang signifikan.27 TABEL III.8 11.46 14.18 17. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 SUMBER AIR Air Kemasan* Ledeng* Pompa* Sumur Terlindungi* Sumur Tak Terlindungi Mata Air Terlindungi Mata Air Tak Terlindungi* Air Sungai Air Hujan* Lainnya Jumlah Total Sumber Air Minum Aman Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat.25 6.45 1.9 7.2 Air Minum 3.8 2.38 0.12 JUMLAH PENERBITAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH SEDERHANA SEHAT BERSUBSIDI (KPRSH) TAHUN 2004-2007 (UNIT) TAHUN 2004 2005 2006 2007 JUMLAH 30.22 34.45 27.79 0. Berdasarkan data Susenas.06 36.39 2007 14.72 2007 7.88 PERDESAAN 2002 0.89 7.07 10.32 7.02 2.12 7.1 Cakupan Pelayanan Air Minum Air minum yang aman menurut Susenas 2007 didefinisikan sebagai air yang berasal dari sumur terlindungi. mata air terlindungi.48 2007 1.13 PROPORSI RUMAH TANGGA MENURUT SUMBER AIR YANG DIGUNAKAN TAHUN 2002-2007 (%) PERKOTAAN 2002 2.95 0.18 16.53 0.98 3.38 6.32 21.72 1.89 33. Peningkatan tersebut terutama didominasi oleh peningkatan pemanfaatan sumber air minum dari sumur pompa.43 2. Sumber air ledeng dan air hujan relatif stabil. 2008 3.28 13.46 3.174 122.38 100 68.91 23. TABEL III.918 63. ledeng.07 30.8 0. Pemanfaatan sumber tidak aman lainnya relatif tetap.3 14.54 0.93 17.68 0.713 78.79 4.38 100 72.85 5.65 3.77 3.811 Data dan Informasi Dasar pompa.17 9.

Berbeda dengan di daerah perkotaan. Sementara daerah perdesaan masih mengandalkan sumber dari sumur terlindungi. 2002 DAN 2007 Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat. Tapi tidak demikian halnya dengan penggunaan pompa yang meningkat cukup besar. Sementara penggunaan sumber air minum berupa air ledeng menurun dalam kurun tersebut.12 CAKUPAN PELAYANAN AIR MINUM DI PERDESAAN TAHUN 2002 DAN 2007 GAMBAR 3. BPS .95% meningkat menjadi 78. Efektifitas produksi yang pada tahun 2001 mencapai 71.36% pada tahun 2005.45% pada tahun 2007. namun sumber air yang tidak aman juga masih relatif signifikan yaitu berupa sumur tak terlindungi.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 28 GAMBAR 3. Sementara kapasitas produksi efektif meningkat dari 41. mata air tak terlindungi dan air sungai mengalami penurunan. BPS Secara umum. Sementara penggunaan sumber air minum yang aman di daerah perdesaan menunjukkan peningkatan yang cukup berarti dibanding tahun 2002 yang baru mencapai 66%. baik kapasitas produksi potensial maupun efektif. sumur pompa dan sumur terlindungi. Hal ini menunjukkan jumlah pelanggan air minum PDAM secara kontinu terus meningkat secara signifikan sejalan dengan kesadaran masyarakat akan kebutuhan air bersih.89% menjadi 14. Khusus mengenai air perpipaan yang diproduksi oleh PDAM. akses terhadap sumber air minum yang aman di daerah perkotaan mencapai 94% yang relatif lebih besar dari daerah perdesaan yang hanya sebesar 72% pada tahun 2007. tabel berikut ini menunjukkan data mengenai produksi air yang dihasilkan oleh PDAM. penggunaan sumber air minum berupa air kemasan di daerah perdesaan tidak menunjukkan perubahan berarti. BPS Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat.62% (tahun 2001) meningkat menjadi 50. Kapasitas produksi yang berhasil dicapai oleh perusahaan selama periode 2001-2005 juga mengalami peningkatan cukup berarti. Demikian pula ledeng dan mata air telindungi.52% (tahun 2005). GAMBAR 3.11 CAKUPAN PELAYANAN AIR MINUM DI PERKOTAAN TAHUN 2002 DAN 2007 Hal yang menarik di daerah perkotaan adalah penggunaan sumber air minum berupa air kemasan yang mengalami lonjakan hampir 400% dari tahun 2002 yang hanya sebesar 2. Walaupun demikian. Penggunaan sumber air minum yang aman di perkotaan pada tahun 2007 sebesar 94% menunjukkan peningkatan yang tidak signifikan dibanding kondisi tahun 2002 yang sudah mencapai 92%. Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat. Sumber air minum daerah perkotaan didominasi oleh ledeng. Dilain pihak. penggunaan sumber air minum tidak aman berupa sumur tak terlindungi juga mengalami penurunan.10 CAKUPAN PELAYANAN AIR MINUM DI KOTA-DESA. penggunaan sumur tak terlindungi.

13 RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN DAN PERDESAAN MENURUT KEPEMILIKAN FASILITAS AIR MINUM TAHUN 2007 TABEL III. Walaupun terlihat sedikit perbedaan bahwa kategori milik umum relatif jauh lebih besar di perdesaan sementara milik sendiri relatif lebih besar di perkotaan. dan tidak ada (tidak memiliki status kepemilikan). Selengkapnya pada Tabel III. KAPASITAS PERUSAHAAN AIR MINUM Jumlah Perusahaan Air Bersih Kapasitas Produksi Potensial (%) Kapasitas Produksi Efektif (%) Efektifitas Produksi Air Bersih (%) TAHUN 2001 456 71.42 45.15 RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN DAN PERDESAAN MENURUT KEPEMILIKAN FASILITAS AIR MINUM TAHUN 2007 (%) TIPE KEPEMILIKAN FASILITAS NO.53 25.2.2 Kepemilikan Fasilitas Kepemilikan fasilitas air minum dibedakan berdasarkan empat kategori.99 5.57 Data dan Informasi Dasar TAHUN 2005 524 78.35 TAHUN 2002 469 77.21 16. Pada tahun 2006 terdapat 30 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi yang berhasil memantau 35 sungai di Indonesia.09 23. 2. Adapun hasilnya sebagai berikut. 3. Sementara saat ini kondisi kualitas air sungai perlu mendapatkan perhatian khusus mengingat kondisinya yang kian tercemar.36 50. 1.49 48.3 Ketersediaan Air Baku Sebagaimana diketahui salah satu sumber air baku adalah air sungai.41 56.45 6. BPS 2007 .29 TABEL III.15 dan Gambar 3. antara lain BOD dan COD. bersama. dilakukan evaluasi berdasarkan kriteria mutu air. BPS 2007 GAMBAR 3. Kondisi ini juga berlaku di perkotaan maupun perdesaan. BPS 3. Berdasarkan parameter kualitas air yang dipantau. Namun masih tercatat fasilitas yang tidak jelas kepemilikannya.73 22.62 12.97 26.72 22.17 46.24 3. Di Indonesia. TIPE DAERAH 1 2 Perkotaan Perdesaan Total SENDIRI 69.28 TAHUN 2003 490 80. umum.72 44. 4.14 KAPASITAS PRODUKSI PERUSAHAAN AIR MINUM TAHUN 2001 .46 Sumber : Statistik Air Bersih 2001-2005.2005 NO. disusul milik bersama dan milik umum.00 5.69 22. Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat.86 27.62 19. kategori pemilikan sendiri fasilitas air minum terlihat dominan yang mencapai 56.95 41.54 BERSAMA UMUM 22.13. Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat.5% dari jumlah fasilitas. yaitu kepemilikan sendiri.2.04 TAHUN 2004 475 77.12 45.07 RATA-RATA 2001-2005 77.22 TIDAK ADA 2.

16 STATUS MUTU AIR PADA 35 SUNGAI DI INDONESIA TAHUN 2006 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Riau Riau Riau Riau Sumatera Barat Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta DKI Jakarta Jawa Barat DI. KLH .cemar sedang Cemar ringan .cemar berat Cemar sedang .cemar berat Cemar ringan Cemar ringan Memenuhi .cemar berat Cemar ringan .cemar berat Sumber: Status Lingkungan Hidup Indonesia 2006.cemar sedang Memenuhi .cemar sedang Memenuhi .cemar berat Cemar sedang .cemar sedang Cemar ringan .cemar sedang Cemar ringan .cemar ringan Cemar ringan .cemar ringan Cemar ringan .cemar ringan Memenuhi .cemar sedang Cemar ringan .cemar berat Cemar sedang .Cemar berat Cemar sedang .cemar berat Cemar sedang . Yogyakarta Jawa Tengah Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Maluku Utara Papua NAMA SUNGAI Krueng Tamiang Deli Kampar Indragiri Siak Rokan Batang Agam Batang Hari Air Bengkulu Musi Way Sekampung Rangkui Kali Angke Ciliwung Citarum Progo Progo Brantas Tukad Badung Kali Jangkok Kali Dendeng Kapuas Kahayan Martapura Mahakam Tondano Bone Palu Tallo Jeneberang Konaweha Batu Gajah Batu Merah Tabobo Anafre STATUS MUTU Cemar ringan Cemar sedang .cemar berat Cemar ringan .cemar sedang Cemar ringan .cemar ringan Cemar Berat Cemar ringan Cemar sedang Cemar sedang .cemar berat Cemar ringan .cemar berat Memenuhi .cemar sedang Cemar ringan .cemar sedang Memenuhi .Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 30 TABEL III.cemar berat Cemar sedang .cemar berat Cemar berat Cemar sedang Cemar sedang .cemar berat Cemar ringan .

381 41.830 52. Cekungan-cekungan di muka bumi yang dapat menampung air. danau.15. skor = -1 s.473 1. Sementara peluang KPS selengkapnya pada Tabel III. Variasi kondisi tercemar ini berkisar pada jenis tercemar ringan.2.656 80. tercemar sedang. Selengkapnya pada Tabel III.334 68. 3.17 POTENSI CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA NO.14. Sumber mata air selain sungai adalah cekungan. Misal memenuhi-cemar berat artinya bagian hulu memenuhi dan bagian hilir tercemar berat.926 41.662 723. Cara untuk menentukan status mutu air adalah dengan menggunakan sistem nilai dari USEPA (Environmental Protection Agency) dengan mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas.d -10 cemar ringan Kelas C : Sedang. skor = -11 s. TIPE DAERAH JUMLAH Sumatera Jawa Kalimantan Bali Nusa Tenggara Sulawesi Maluku Papua Total 65 80 22 8 47 91 68 16 397 CEKUNGAN LUAS (Km2) 270.14 POTENSI CEKUNGAN AIR TANAH DI INDONESIA 1 2 3 4 5 6 7 8 TABEL III.425 37.244 13. hingga tercemar berat.4 Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Saat ini terdapat 25 KPS yang telah beroperasi di Indonesia. Dep.288 Sumber : Dit.936 209. Sumber: Status Lingkungan Hidup Indonesia 2006.19. Selengkapnya pada Tabel III.629 VOLUME (JUTA m3) 109.400 308. dan lainnya. skor = 0 atau memenuhi baku mutu Kelas B : baik.d -30 atau cemar sedang Kelas D : Buruk. rawa.17 dan Gambar 3. Walaupun demikian masih ditemui beberapa sungai yang di bagian hulunya kondisinya masih memenuhi syarat.971 4. seperti waduk. GAMBAR 3.598 10.31 Penentuan Status Mutu Air dengan menggunakan Metode STORET yaitu membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu yang disesuaikan dengan peruntukannya guna menentukan status mutu air. Hasil bagian hulu ditulis dahulu menyusul bagian hilir.139 20. Status mutu kualitas air yang ada di 32 sungai di Indonesia sebagian besar menunjukkan kondisi yang tercemar baik di daerah hulu dan hilir. KLH . Geologi Tata Lingkungan. ESDM. terlihat bahwa pulau Sumatera dan Kalimantan adalah dua pulau yang memiliki potensi cekungan air tanah di Indonesia yang paling tinggi. skor =30 atau cemar berat Pada kolom status mutu terdapat dua hasil yang menunFoto: Bowo Leksono jukkan hasil bagian hulu dan bagian hilir.768 25. yaitu :     Data dan Informasi Dasar Kelas A : baik sekali.174 43. 2006 Dari tabel di atas.18 dan Gambar 3. Potensi cekungan air tanah yang ada di Indonesia tersebar di seluruh propinsi dan potensi cekungan yang paling besar terdapat di Propinsi Sumatera dan Kalimantan.

IPA : 80 l/detik .Di Kabupaten Sukarame pada tahun 2005 (1998-2023) Cipta Sarana telah ditingkatkan menjadi 120 l/detik .IPA 500 l/detik .Operasi Penuh .18 KPS AIR MINUM YANG TELAH BEROPERASI DI INDONESIA NO.Perpipaan US$ 2 15 Tahun (1996-2021) 4 US$ 5 25 Tahun PT.Beroperasi pada tahun 1998 Part Palembang Konsesi .Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 32 GAMBAR 3.Kapasitas Produksi: 3000 l/d .Perpipaan TOTAL INVESTASI (JUTA) US$ 5 PERIODE KONSESI 25 Tahun (2000-2025 25 Tahun (1996-2021) INVESTOR Lyonnaise Des Eaux PENJELASAN Operasi Penuh 2 US$ 100 Cascal By Sumber Air Baku dari Estuari Reservoir dan Duriangkang Bangun Cipta Sarana PT.IPA : 200 l/detik . Noviantama Operasi Penuh 3 Jambi BOT . 2007 TABEL III.15 PROYEK KPS AIR MINUM DI INDONESIA Sumber : BPPSPAM. 1 TIPE DAN WILAYAH KPS Medan BOT .Pipa Transmisi Batam Konsesi . Bangun .

Peningkatan : 60 l/detik Beroperasi untuk 2000 SR Bekasi (Kemang Pratama) BOO . Hunday Kawasan Tempat Tinggal.Kapasitas Produksi : 50 l/detik .Kendala sumber air baku untuk penambahan kapasitas setelah 2007 Sumber air baku untuk Jakarta dan Tangerang 7 US$ 225 25 Tahun (1997-2022) 8 US$ 225 25 Tahun (1998-2023) PT. Sauh Bahtera Samudra PT.5 25 Tahun (2000-2025) 1993 14 US$ 10 PT. Kemang Pratama PT.Pipa transmisi 40 km Wilayah Barat Jakarta Konsesi .Perpipaan Transmisi Bintaro Jaya BOO . Full Private (Tarif ditentukan dengan kuesioner) sejak Tahun 1993 Kawasan Industri.Masalah implementasi tarif .Kendala sumber air baku untuk penambahan kapasitas setelah 2007 .Masalah impelementasi tarif .Kendala dalam proyeksi kebutuhan yang lebih kecil daripada kebutuhan nyata . Palyja Dalam Operasi Kapasitas Penuh. Thames PAM Jaya 9 Cisadane JO Operasi IPA sebesar 3000 l/dtk Serpong BOT .Perpipaan Transmisi TOTAL INVESTASI (JUTA) US$ 10 US$ 5 PERIODE KONSESI INVESTOR PENJELASAN 15 Tahun PT. DAPENMA (2005-2020) 1993 PT.Kapasitas Produksi : 100 l/dtk .Perpipaan Transmisi Lippo Karawaci BOT .Kapasitas Penuh .Kapasitas Produksi : 6200 l/d .Sistem Penyediaan Air Minum: 50 l/detik - 25 Tahun (1998-2023) Tirta Cisadane 10 US$ 2.Perpipaan Hunday Industrial Estate BOO .Kapasitas Produksi : 6500 l/d .IPA : 120 l/detik .IPA 50 l/detik . Tarif ditentukan dengan kuesioner .5 25 Tahun (1997-2022) 25 Tahun (1999-2024) 1990 Bintang Jaya Lippo Karawaci Full Private Kawasan Tempat Tinggal 11 US$ 10 Kawasan Tempat Tinggal (Tarif ditentukan dengan kuesioner) Potable Water 12 US$ 10 Pembangunan Kawasan Tempat Tinggal. Full Private (Tarif ditentukan dengan kuesioner) sejak Tahun 1994 15 US$ 5 1994 .Perpipaan Transmisi Wilayah Timur Jakarta Konsesi . 5 6 Data dan Informasi Dasar TIPE DAN WILAYAH KPS Pekanbaru BOT JO Existing + 600 l/detik Serang Utara BOO . Full Private Jaya (Tarif ditentukan dengan kuesioner) sejak Tahun 1990 Operasi Penuh 13 US$ 0.Kapasitas Produksi 150 l/det . Pemerintah Daerah mendapatkan royalti sebesar 5% tarif.Perpipaan Distribusi Cikampek BOT .33 NO.

seperti: 1. Mengurangi jumlah pinjaman Pemerintah maupun sektor publik lainnya.IPA: 400 l/detik . BOL (Build Operate Lease).Kapasitas Produksi : 50 l/detik . air dan listrik.Perpipaan Tranmisi Banjarmasin Konstruksi BTO .5 1995 PT. MLD Kawasan Tempat TInggal dan Industri sejak Tahun 1998 Operasi Penuh 18 US$ 2. telekomunikasi. Bukit Indah Full Private PT. Terdapat berbagai variasi atau istilah BOO/BOT yang dikenal luas. 4. 2. Mengoptimalkan kemungkinan pemanfaatan perusahaan maupun teknologi asing. Hanarida 25 Tahun (1995-2020) PT. .5 US$ 3 US$ 10 Kawasan Industri.IPA 500 l/detik Kota Tangerang BOT TOTAL INVESTASI (JUTA) INVESTOR US$ 2. Adi Karya Gadang Berhad Operasi Penuh Dalam tahap Konstruksi Sumber : BPPSPAM. 3. Merupakan tambahan sumber pembiayaan bagi proyek-proyek yang diprioritaskan (additional finance sources for priority projects). Full Private (Tarif ditentukan dengan kuesioner) 17 US$ 10 1998 PT. Tambahan fasilitas baru. dan sebagainya.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 34 PERIODE KONSESI PENJELASAN NO. BOT (Build Operate Transfer).Suplai untuk Nusa Dua dan Wilayah Bali Selatan Samarinda Konstruksi BOT : . pembiayaan dan pengoperasian kepada sektor swasta.2025) 20 Tahun (2006-2026) 2004 19 US$ 2 PT. Pertimbangan-pertimbangan pokok bagi pembangunan proyek infrastruktur dengan pola BOO/BOT yang didasarkan atas kepentingan Pemerintah Daerah. 6.IPA 150 l/detik . DBOM (Design Build Operate Maintain). Cikarang Permai Kawasan Tempat Tinggal.Sistem Penyediaan Air Minum : 25 l/detik (IPA + Perpipaan) Bukit Indah Cikarang BOO . Mengalihkan resiko bagi konstruksi. Vivendi Operasi Penuh (2005-2030) PT.5 20 Tahun (2005. seperti sarana transportasi. Tidak membebani neraca pembayaran pemerintah (off balance-sheet financing).Perpipaan Ditribusi Subang BOT .Pipa Distribusi Up Rating Gajah Mungkur (400 ha 600 l/detik) Bawen BOT IPA 250 l/dtk + Sistem distribusi Kabupaten Sidoarjo BOT Kapasitas Produksi : 200 l/detik + 450 l/detik Denpasar BOT . Tirta Artha Buana Operasi Penuh Rencana Untuk Fase II 22 23 US$ 5 25 years (2004-2029) 5 Years (2005-2010) 25 Tahun (2006-2031) WATS Operasi Penuh 24 25 US$ 5 US$ 5 PT. diantaranya: FBOOT (Finance Build Own Operate Transfer). 8. 16 TIPE DAN WILAYAH KPS Kota Legenda BOO . Istilah BOO/BOT digunakan untuk semua tipe Concession Agreement. 2007 Keterangan: 1.Kapasitas Produksi : 300 l/detik . 7. WTP = Water Treatment Plant (Instalasi Pengolah Air Minum) 2. khususnya bagi kepentingan negaranegara berkembang. Diperolehnya fasilitas yang lengkap dan operasional setelah masa akhir konsesi. Tirta Gajah Mungkur APAC INTI Full Private Dalam Tahap Konstruksi 20 21 US$ 10 US$ 2. Pola BOO/BOT (Build Operate Own/Build Operate Transfer) dikenal luas di dunia. sebagai salah satu jalan keluar bagi permasalahan dana dalam membangun infrastruktur. PDAM memilik hak sebesar 50 l/detik sejak Tahun 2004 (1998-2023) PT. 5. Mendorong proses alih teknologi.

19. 17. 5. 7. 22. 13. 1.600 2. 10. 20. 21. 2. 15.5 5 5 15 2. 12.000 2.5 3.000 100 4.35 TABEL III. 6. 11. 18. Sumber:BPPSPAM 2007 Foto: Bowo Leksono . 3.000 400 400 400 *) Paket kegiatan yang sudah kerjasama dengan swasta. 9.19 PELUANG KPS SEKTOR AIR MINUM DI INDONESIA Data dan Informasi Dasar NO.5 5 45 4 90 55 35 5 5 TIPE Konsesi Konsesi Konsesi Konsesi/BOT Konsesi/BOT Konsesi/BOT Konsesi Konsesi Konsesi Konsesi Konsesi ROT Konsesi Konsesi BOT Konsesi Konsesi Konsesi BOT Konsesi Konsesi Konsesi KAPASITAS (LITER/DETIK) 250 110 110 420 420 250 350 250 250 100 225 400 . 8. PROYEK Duri Water Supply (Kabupaten Bengkalis) Dumai Water Supply Tanjung Pinang Water Supply Ciledug Water Supply (Kota Tangerang) Benda Water Supply (Kota Tangerang) Ciparen Tangerang Water Supply Sepatan Water Supply (Kabupaten Tangerang) Pondok Gede Water Supply (Kota Bekasi) Cikarang Water Supply (Kabupaten Bekasi) Jatinangor Water Supply (Kabupaten Sumedang) Cirebon Bulk dan Water Supply Uprating IPA Kali Garang Semarang*) Semarang Raw Water Supply Tegal Water Supply Surakarta-Sukaharjo Bulk Treated Water Supply Yogyakarta Surrounding Bulk Water Supply *) Menganti Water Supply (Kabupaten Gresik) Umbulan Bulk Water Supply Karangpilang IV Bulk Water Supply Manado Bulk Water Supply Banjarmasin Bulk Treated Water Supply*) Samarinda Bulk Water Supply*) PERKIRAAN (JUTA DOLLAR) 15 4 5 13 25 50 12 9 7. 14. 16.500 100 400 2. 4.

serta pengukuran pendapatan yang diperoleh dari pinjaman (revenue to debt) b.93% yang memiliki kriteria sakit. Rendahnya tarif ini disebabkan oleh ketentuan yang berlaku sebelumnya dimana penetapan tarif harus dengan persetujuan Bupati/Walikota dan/atau DPRD. terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara harga pokok produksi dan tarif air yang diterapkan PDAM.000 pelanggan c.13 per m3. B. Kondisi ini tidak mengalami perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2006. 37. A. harga jual air minimal mencapai Rp 561. Kriteria tersebut didasarkan pada 3 aspek yaitu: a. Aspek Teknis meliputi kehilangan air. Di lain pihak. Berikut ini adalah gambaran kinerja PDAM di Indonesia berdasarkan laporan evaluasi terakhir. Harga Pokok Berdasarkan hasil audit BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah) yang dilaksanakan pada tahun 2007.25% yang memiliki kriteria kurang sehat dan 36.16 PERSENTASE STATUS KINERJA PDAM (%) Sumber: BPPSPAM.71/m3 dan maksimal mencapai Rp 4. diketahui bahwa hanya 25. Bupati/Walikota dan/atau DPRD tersebut seringkali tidak menyetujui bila air dijual dengan tarif diatas harga pokok. rasio pemanfaatan pinjaman dana terhadap pembiayaan aset (debt to total asset).76/m3 dengan harga pokok produksi air minum minimal adalah sebesar Rp 343.5 Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) PDAM adalah Badan Usaha Milik Daerah yang berperan sebagai salah satu penyelenggara sistem penyediaan air minum (SPAM) di kota/kabupaten yang hingga tahun 2007 telah berjumlah sebanyak 340 PDAM di Indonesia. 3. 2007 Foto: Bowo Leksono .82% PDAM yang memiliki kriteria sehat.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 36 Berdasarkan kriteria yang telah disebutkan diatas maka status kinerja dengan kriteria sehat adalah PDAM yang mampu berkembang dan memperoleh keuntungan untuk memperbaiki kas dan kewajiban pinjaman dan penggantian instalasi untuk tetap beroperasi secara efisien dalam pelayanan kepada pelanggan.109. Beberapa hal yang menyebabkan kondisi tidak sehat antara lain adalah harga jual air yang dibawah harga pokok.248. struktur pelanggan. Sedangkan kriteria sakit adalah PDAM yang tidak mampu menanggung resiko kas dan pinjaman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kriteria kurang sehat adalah PDAM yang akan menanggung resiko atas semua keadaan kas dan pembayaran pinjaman untuk berkembang dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Aspek keuangan meliputi rasio biaya operasi dengan pendapatan (operating ratio). Pada tahun 2007. Aspek manajemen meliputi efektivitas pengelolaan sistem distribusi dan pelayanan terhadap pelanggan.74 per m3 dan maksimal mencapai Rp 12. serta rasio pegawai terhadap 1. efisiensi produksi serta jam operasi pelayanan GAMBAR 3.2. Status Kinerja PDAM Berdasarkan laporan audit keuangan dan laporan audit kinerja oleh Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Tahun 2007.

D.47 PDAM Kab.37%) pemekaran mempunyai masalah dengan PDAM induk. Departemen Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No.20 PERBANDINGAN TARIF AIR DAN HARGA POKOK PRODUKSI TAHUN 2007 TARIF AIR (RP/m3) Minimal Maksimal Rata-rata Harga Pokok Produksi (Rp/m ) 3 Data dan Informasi Dasar TAHUN 2006 561. terutama masalah sumber air dan pembagian aset. Kehilangan air ini disebabkan oleh aspek administratif dan aspek teknis.490. Pemekaran PDAM. Buol Kab. Tojo Una-Una PDAM Tirta Pangabuan Kab. Kehilangan air administratif timbul akibat kesalahan pencatatan meter. dimana sebanyak 38 PDAM (59. Kesulitan untuk mendapat sumber pendanaan berimplikasi pada kemampuan PDAM untuk memperbaiki kinerja dan memperluas cakupan pelayanan. Pontianak 1.13 Rata-rata (Rp/m ) 3 2.248.71 4. tidak berfungsinya meter induk air maupun pencurian air (sambungan ilegal). 26 PDAM dalam pembahasan dan 5 PDAM belum dapat ditindaklanjuti.253. Dompu PDAM Kab.11 Sumber: Laporan Audit Kinerja PDAM. Tanjung Jabung Barat 2.821. Rekening Dana Investasi dan Rekening Pembangunan Daerah pada Perusahaan Daerah Air Minum. Dengan tingginya volume kehilangan air maka PDAM harus menanggung biaya dasar yang tinggi. dari total 205 PDAM yang berutang pada pemerintah.109. . hingga saat ini. Penyertaan Modal Pemerintah Berdasarkan data Departemen Keuangan.37 TABEL III. 40 PDAM telah mengajukan permohonan restrukturisasi utang dengan perincian 19 PDAM telah dibahas tim restrukturisasi.22 PDAM Kab. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sedangkan kehilangan air teknis umumnya diakibatkan oleh kebocoran pipa. rata-rata tingkat kehilangan air di PDAM masih sangat tinggi yaitu 39% dengan kerugian setiap tahunnya mencapai Rp 1. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah beserta peraturan pendukungnya menyatakan bahwa salah satu persyaratan pinjaman daerah adalah tidak adanya tunggakan pinjaman. BPKP.6 triliun. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2007 terdapat 47 PDAM yang dimekarkan menjadi 111 PDAM. 2008 C.01 4. Hingga awal tahun 2009.04 556. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.985. 26 Tahun 2006. 175 PDAM memiliki tunggakan baik tunggakan pokok maupun non pokok sebesar Rp 4. Besarnya tunggakan ini menyebabkan PDAM tidak mampu mendapatkan pinjaman baru karena berdasarkan UU No.901.68 Minimal Maksimal 343.64 triliun. Berdasarkan laporan audit keuangan dan laporan audit kinerja oleh Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Tahun 2007. tidak akuratnya meter air. volume kehilangan air yang diperbolehkan adalah 20% sehingga biaya dasar menunjukan biaya sesungguhnya yang harus ditanggung oleh PDAM.76 PDAM Kab.35 PDAM Kab. E. 120 Tahun 2008 tentang Penyelesaian Piutang Negara yang Bersumber dari Penerusan Pinjaman Dalam Negeri. Tanjung Jabung Barat 520. Dompu PDAM Kota Tangerang 1.248.74 9.54 PDAM Tirta Pangabuan 12. Tingkat Kebocoran Presentasi kehilangan air juga menjadi penyebab kondisi PDAM tidak sehat.

47 6.18 2007 71. Hal ini menunjukkan peningkatan yang cukup berarti dari kondisi tahun 2001 yang baru mencapai 61.99 68.23 1.62 30. Ditengarai tangki septik yang ada sebagian besar masih mencemari lingkungan.13 4.51 5.54 5.67 23.22 4.99 50.54 1.85 1.7% pada tahun 2007.52 2007 49.24 100 61.95 3.69 23.51 1.3 Sanitasi Dasar dan Air Limbah 3.67 8.17 STATUS KINERJA PDAM TERKAIT PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH Sumber: Departemen Keuangan.22 PERDESAAN 2001 19. penduduk yang mempunyai akses sanitasi dasar yang memadai (tangki septik dan lubang tanah) telah mencapai 68.69 23.06 2.47 28.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 38 GAMBAR 3.01 5. Walaupun demikian pencapaian ini belum mempertimbangkan kualitas dari sarana yang tersedia.23 99.18 1.29 2007 32.1 Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar Secara umum. BPS (berbagai tahun) .3.24 19.99 81.39 99.98 100.02 76.14 NASIONAL 2001 38.35 26.5%. TABEL III.8 7.49 9.01 59.36 13.22 Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat.21 CAKUPAN PELAYANAN SANITASI DASAR MENURUT TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR TINJA TAHUN 2001 DAN 2007 NO JENIS TEMPAT PEMBUANGAN AIR BESAR (JAMBAN) PERKOTAAN 2001 62.65 99. 2008 3.67 Foto: Istimewa 1 Tangki/septic 2 Kolam Sawah 4 Lobang Tanah 5 Pantai/kebun 6 Lainnya Total Memadai 3 Sungai/Danau/Laut 17.89 19.52 13.84 10.88 3.16 1.75 100.

89%).2007 Penduduk BAB di sungai/danau berkurang (4. 3.5% dibanding dengan penduduk perdesaan 40. Sementara perubahan di perkotaan relatif kecil hanya sekitar 7%.19 CAKUPAN PELAYANAN SANITASI DASAR MENURUT TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR TINJA DI PERKOTAAN. IPAL terpadu adalah instalasi dimana seluruh industri membuang limbah di tempat yang sama. selama periode 2001 .2007. BPS Pencapaian di atas masih jauh dari memadai mengingat proporsi penduduk yang Buang Air Besar (BAB) sembarangan (di kolam/sawah. maka pengawasan mudah dilakukan.DESA. BAB sembarangan sebagian terbesar pada lokasi sungai/danau (19. 2001 .54%) dan lainnya (1.2007 GAMBAR 3. BPS Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat. sungai/danau. pantai/tanah terbuka lainnya) masih sekitar 31. Penduduk perkotaan yang BAB sembarangan relatif jauh lebih kecil yaitu hanya sekitar 18.5%. Setiap ada pendirian suatu industri.5% pada tahun 2001. BPS .24%). 2001 . Walaupun demikian telah terlihat perubahan signifikan dari perilaku penduduk perdesaan jika membandingkan penduduk perdesaan yang BAB sembarangan masih sebesar 49. pantai/tanah terbuka (5. Perubahan tersebut baik di perkotaan maupun perdesaan terutama terjadi pada kategori BAB di sungai/danau. kemudian kolam/sawah (4. 2001 . GAMBAR 3. Penggunaan tangki septik dominan di perkotaan. tetapi cenderung tetap pada lokasi seperti kolam/sawah dan pantai/tanah terbuka.20 Data dan Informasi Dasar CAKUPAN PELAYANAN SANITASI DASAR MENURUT TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR TINJA DI PERDESAAN. Jika tersedia IPAL terpadu.3%. persyaratannya harus memiliki IPAL.18 CAKUPAN PELAYANAN SANITASI DASAR MENURUT TEMPAT PENAMPUNGAN AKHIR TINJA DI KOTA .65%).3. sementara penduduk perdesaan meskipun penggunaan tangki septik meningkat dengan signifikan akan tetapi penggunaan sungai/danau dan lobang tanah juga relatif mendominasi.43%).39 GAMBAR 3.2007 Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat. Sumber : Statistik Kesejahteraan Rakyat.2 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Konsep IPAL terpadu bertujuan untuk mencegah pencemaran pada sumber air seperti sungai tidak terjadi lagi.

PENGOLAHAN (m3/HARI) TAHUN 2007 30.Kab. Badung TOTAL KAPASITAS Suwung Kaw.000 800 51.000 2.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 40 TABEL III.993 Sumber : www.go.Kota Surakarta Semanggi Mojosongo 2.074 Aerated Lagoon 6 7 PROVINSI DIY .Kota Cirebon Bojongsoang Ade Irma S Kesenden Perumnas S Perumnas U Perluasan pelayanan Optimalisasi IPAL 5 PROVINSI JAWA TENGAH .500 RENCANA 2008 Perluasan pelayanan Perluasan pelayanan Perluasan pelayanan Perluasan pelayanan - METODE PENGOLAHAN Pulau Brayan Kec. Bantul PROVINSI JAWA TIMUR .Kota Malang Ciptomulyo Mergosono UASB UASB RBC Extended Aeration Aerated Lagoon Aerated Lagoon Sewon Aerated Lagoon 8 9 10 PROVINSI KALIMANTAN SELATAN .Kota Medan .000 13. tanggal 23 Maret 2009 4.000 10.010 5. Nusa Dua Pasar inpres Perluasan pelayanan Kota 6. Aji Bata Sukasari Perumnas Aerated Lagoon + UASB Aerated Lagoon Oxidation Ditch Oxidation Pond Aerated Lagoon RBC Stabilization Pond Stabilization Pond 2 PROVINSI BANTEN .Kota Balikpapan PROVINSI BALI .Jakarta Timur Setiabudi Duren Sawit 4 PROVINSI JAWA BARAT .Jakarta Pusat .000 429.pu.Kota Bandung .Kab.Kota Banjarmasin PROVINSI KALIMANTAN TIMUR .500 117 48.Kota Tangerang 3 PROVINSI DKI .id/infostatistik.592 2.Kota Prapat NAMA LOKASI KAP.000 400 248.074 15.000 Perluasan pelayanan Perluasan pelayanan 1.000 .22 LOKASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH TAHUN 2007 DAN RENCANA TAHUN 2008 NO 1 PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PROVINSI SUMATERA UTARA .Kota Denpasar .

ditimbun.41 TABEL III.5% 6. tetapi terlihat hasilnya belum signifikan berdasarkan pada rumah tangga yang melakukan pengomposan masih sangat sedikit.23 STATUS INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) TAHUN 2007 Jumlah IPAL Kapasitas pengolahan (m3/hari) Metode pengolahan 6. Foto: Istimewa . 11 diantaranya berencana untuk memperluas cakupan pelayanannya pada tahun 2008 dan 2 diantaranya berencana untuk menambah kapasitas pengolahannya serta 1 IPAL yang akan melakukan optimasi.5% 12.24.pu.993 Data dan Informasi Dasar Aerated Lagoon + Upflow Anerobic Sludge Blanket (UASB) Aerated Lagoon Oxidation Ditch Oxidation Pond RBC (Rotating Biological Contractors) Stabilization Pond UASB Extended Aeration Sumber: http://www. Cara membuang sampah yang paling banyak dipilih adalah membakar dan menimbun sampah. terutama bagi rumah tangga di perdesaan.4 Persampahan 3. UASB.3% 6. dibuang sembarangan.3% 12. bahkan dibakar. oxidation pond. dibuat kompos. tanggal 25 maret 2008 Sampai dengan tahun 2007. oxidation ditch. Upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendorong penerapan 3R telah berlangsung cukup lama. Dari 20 IPAL yang ada.3% 37. Bahkan masih jauh lebih banyak rumah tangga yang melakukan praktek buang sampah ke kali/ selokan.1 Cara Pembuangan Sampah Cara pembuangan sampah beragam mulai cara yang benar seperti diangkut.4. terdapat 20 IPAL yang tersebar di 14 kota besar di Indonesia dengan total kapasitas pengolahan sebesar 430 ribu m3/hari. dan dibuang sembarangan. Sebagian besar IPAL (37. 3. sampai cara yang kurang tepat seperti dibuang ke selokan.5% 6. terutama di perkotaan. Sementara sampah yang diangkut petugas walaupun belum dominan tetapi telah menunjukkan peningkatan dari tahun 2001.5 %) menggunakan metoda pengolahan aerated lagoon sedangkan sisanya menggunakan metoda pengolahan lain mulai dari kombinasi antara aerated lagoon dan UASB.id/infostatistik. Selengkapnya pada Tabel III. RBC.go.5% 12.3% 20 429. stabilization pond atau extended aeration.

timbulan sampah yang dihasilkan di Denpasar hanya mencapai 2.497.23 11. 2004. Dengan penduduk yang mencapai 8.46 3. Menurut Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2000-2025. 2005 .18%). sampah kain.70 9.49 12.46 66.90 7.67 15.71 4.21 PROPORSI RUMAH TANGGA MENURUT CARA PEMBUANGAN SAMPAH TAHUN 2007 (%) GAMBAR 3.63 21.2 Timbulan Sampah Kota Besar dan Metropolitan Timbulan sampah rata-rata yang dihasilkan di kota besar dan metropolitan di Indonesia pada tahun 2006 yang terbesar adalah Jakarta. sampah metal dan sampah pasir.80 Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman .98 50. Pada tahun 2006.176 m3 per hari.59 6. telah terjadi peningkatan timbulan sampah lebih dari 1.54 1.28 7.66 2. 2 3. sampah karet/kulit.41 10.24 2007 20.27 8. 2008 Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman 2007 Dari timbulan sampah tersebut.39 2007 44.02 12. sampah kaca.76 7.300 m3 per hari.64 3. dan 2007 Catatan: Setiap rumah tangga bisa mempunyai cara pembuangan lebih dari satu kategori. jenis sampah yang banyak dihasilkan adalah sampah dapur (58. DAN 2007 (%) NO 1 2 3 4 5 6 7 PEMBUANGAN Diangkut Petugas Ditimbun Dibuat Kompos Dibakar Dibuang ke Kali/Selokan Dibuang Sembarangan Lainnya CARA PERKOTAAN 2001 40.28 3.85 6.34 13.444 m3 per hari.03 10. KLH.61 2007 2.94 8.80 48.4.61 35.36 13.50 11.72 4.34 10. Dengan demikian.09 7.97 1.24 RUMAH TANGGA MENURUT CARA PEMBUANGAN SAMPAH TAHUN 2001.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 42 TABEL III.24 9. kota besar yang volume timbulan sampahnya tergolong sedikit adalah Denpasar. Sementara itu.87 12.11 PERDESAAN 2004 1.09 2001 1.27 7.200 m3 per hari.22 PERSENTASE JENIS TIMBULAN SAMPAH BERDASARKAN KLASIFIKASI (%) Sumber: Statistik Persampahan Indonesia Tahun 2008.94 2004 41. 2004.000 jiwa2.41 27.66 6. Pada tahun 2002. timbulan sampah yang dihasilkan mencapai 26.62 13.18 55.49 5.68 9.15 35. sampah plastik (14. jumlahnya hanya mencapai 25. Pada Gambar di bawah ini dapat dilihat presentase jenis timbulan sampah.81 3. 2001. GAMBAR 3.28 79.82 7.61 2001 18.35%).31 46. dikeluarkan oleh Bappenas dan BPS. Jenis timbulan sampah lainnya adalah sampah kayu.90 0.35 5.73 NASIONAL 2004 18.31 7.51 43. selama kurun waktu empat tahun.03%) dan sampah kertas (9.14 8.

Hal ini membuat tumpukan sampah menjadi tidak stabil dan pada akhirnya dapat mengakibatkan longsor seperti yang terjadi di TPA Bantargebang. atau membuang sampahnya ke hutan. 3. controlled landfill. Kota Banjar (Cibeureum). yaitu Kabupaten Dhamasraya. yaitu sanitary landfill. Kabupaten Bantul. tanggal 25 maret 2008 Sumber : Statistik Lingkungan Hidup. Kota Bontang. Bengkulu Selatan Kota Banjar Kota Semarang Kab. Namun. persentase volume sampah yang terangkut di kotakota di Indonesia cukup baik dimana rata-rata hampir 50% volume sampah yang sudah terangkut.918 2006 4. terdapat sekitar 2.886. Bahkan ada beberapa TPA yang membakar. 2003 dan 2006/2007 Keterangan: tad = tidak tersedia data Berdasarkan data dari Statistik Lingkungan Hidup tahun 2006/2007. Kabupaten Bengkulu Selatan.382 4.886 hektar.25 TIMBULAN SAMPAH DI KOTA BESAR DAN METROPOLITAN DI INDONESIA TAHUN 2002 DAN 2006 (m3/hari) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 KOTA Medan Palembang Jakarta Bandung Semarang Yogyakarta Surabaya Denpasar Manado Makassar 2002 6.234 2.6% 1.99 hektar Controlled Landfill Open Dumping Dibakar.484 3. jumlah TPA di Indonesia adalah 378 unit yang hampir berada di setiap kabupaten/kota.5% 80. Kota Semarang. Sampai tahun 2007. Kota Tarakan. Dibuang ke hutan.pu. Proporsi volume sampah terangkut yang mencapai 100% dijumpai di Kota Padang. terdapat 55 TPA yang menggunakan metode controlled landfill.805 tad 6. Selain itu. Kota Samarinda.id/infostatistik.8% 378 unit 1.157 tad 25. dan 286 TPA menggunakan metode open dumping.pu.8% atau 10 TPA yang menggunakan metode sanitary landfill.1% 2. Luas total TPA mencapai sekitar 1.591 8. Tanah Kosong Sanitary Landfill Sumber : http://www.470 3.26 PROFIL TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) DI INDONESIA TAHUN 2007 Jumlah TPA Luas (Ha) 15. Dharmasraya Kab. Selain itu.176 6. dan Kabupaten TABEL III. dan open dumping. proses degradasi sampah berlangsung tanpa ada oksigen (anaerob) sehingga menimbulkan bau dan gas metan yang dapat menimbulkan bahaya .700 Tad 1.3 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Sampai dengan tahun 2007.27 DAFTAR TPA YANG MENGGUNAKAN SISTEM SANITARY LANDFILL No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kota/Kab Kota Padang Kab.go. TABEL III.id/infostatistik.837 26.400 3. tanggal 25 maret 2008 Penerapan metode pengolahan open dumping dan controlled landfill tidak ramah lingkungan karena sampah hanya diurug dan seringkali tidak menggunakan tanah penutup harian. 4 TPA membakar dan membuang sampahnya ke hutan/tanah kosong. TPA-TPA di Indonesia memiliki metode pengolahan yang berbeda-beda.500 1.go.300 tad tad Metode pengolahan Data dan Informasi Dasar Mamuju.444 7.43 TABEL III. masih terdapat volume sampah yang belum ditangani dengan baik yaitu di Kota Jambi dan Palembang dimana persentase volume sampah yang terangkut di kota ini kurang dari 50%. Bantul Kota Samarinda Kota Tarakan Kota Bontang Nama TPA Air Dingin Koto Baru Pager Dewa Cibureum Jatibarang Regional Piyungan Bukit Pandang Akibahu Bontang Sumber : http://www.4.

Potensi gas metan yang dihasilkan mencapai 30. TPA yang tidak berwawasan lingkungan juga berpotensi mencemari air tanah. TABEL III. Penerapan CDM ini merupakan bentuk kerjasama pemerintah swasta (Public Private Partnership) yaitu antara Gikoko (PT. Gikoko Kogyo Indonesia) dengan Pemerintah Daerah Bekasi. pencemaran ini tidak akan terjadi karena telah dilengkapi dengan fasilitas pengolahan air lindi (leachate). meningkatkan pengelolaan persampahan (pengangkutan sampah dan TPA). Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa hampir sebagian besar TPA tidak dilengkapi dengan fasilitas tersebut. termasuk fasilitas pengolahan gas metan. Keterkaitan antar pihak tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Foto: PERKIM BAPPENAS . Pemerintah Kabupaten/Kota.23 KLASIFIKASI TPA BERDASARKAN ESTIMASI PERIODE PENGGUNAANNYA kebakaran/ledakan karena tidak dilengkapi oleh instalasi pengolahan gas yang memadai. 2008 ADA 53% 12% 36% TIDAK ADA 47% 88% 64% Salah satu sumber pendanaan yang dapat digunakan pemerintah daerah untuk meningkatan kinerja TPA adalah melalui mekanisme pembangunan bersih atau Clean Development Mechanism (CDM). Melalui CDM. Salah satu TPA yang menerapkan CDM adalah TPA Sumur Batu di Bekasi.28 KETERSEDIAAN FASILITAS DI TPA NO 1 2 3 4 F A S I L I TA S Pengolahan lindi Pemantauan terhadap kualitas air tanah Pemantauan terhadap kualitas air permukaan Pengolahan gas 52% 48% Sumber: Statistik Persampahan Indonesia Tahun 2008. Pemerintah Propinsi.4 Kelembagaan Kelembagaan di bidang persampahan tidak terlepas dari peran Pemerintah Pusat.000 ton/tahun dengan jangka waktu eksplorasi selama 15 tahun. dan lembaga Swadaya Masyarakat. Sedangkan pada TPA yang berwawasan lingkungan. KLH. dan pemantauan terhadap kualitas air. Sumber: Statistik Persampahan Indonesia Tahun 2008.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 44 GAMBAR 3. terutama jika lapisan tanah dibawah TPA tidak kedap air. peningkatan kebutuhan terkait pula dengan status masa periode penggunaan lahan TPA. 3. dan menyediakan pendanaan dan lapangan kerja untuk masyarakat di sekitar TPA. dan 37% akan habis periode penggunaan pada tahun 2015. 2008 Permasalahan keterbatasan lahan perlu segera ditangani karena kebutuhan terhadap lahan TPA diperkirakan akan meningkat pada tahun-tahun mendatang. diperkirakan 23% akan habis periode penggunaannya pada tahun 2010. Gambar berikut ini menunjukkan bahwa dari seluruh TPA yang ada.4. Selain dari disebabkan meningkatnya volume timbulan sampah. KLH. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK). pemerintah daerah dapat memperoleh pendapatan dari credit carbon proyek CDM pengelolaan TPA melalui pemanfaatan gas landfill untuk dibakar (flare) dan peningkatan pengelolaan TPA melalui pembangunan fasilitas TPA.

prosedur. Dinas PU. Hotel Bidakara. dan lain-lain) Sumber : National Action Plan Bidang Persampahan. Menetapkan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah. Menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya. kemitraan. tempat pengolahan sampah terpadu. d. Menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi. d. Dinas PU. Menetapkan norma.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah . Melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain. Dinas Kebersihan. 25-26 November 2004 dan UU No. dan Bapedalda 4 Lembaga Swadaya Masyarakat LKMD/RT-RW a. dan pengawasan kinerja pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Kantor Meneg KLH. dan Depkeu WEWENANG Data dan Informasi Dasar 2 Pemerintah Propinsi Bappeda. c. Depkes. standar. pembinaan. PDAM/ PDPAL. pembinaan. Dinas Kesehatan. Dinas Tata Kota. dan e. Menetapkan kebijakan penyelesaian perselisihan antardaerah dalam pengelolaan sampah. b. Jakarta.45 TABEL III. standar. Melakukan pembinaan terhadap masyarakat dalam bidang masyarakat (mengelola sampah dengan melibatkan masyarakat. Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup. dan pengawasan kinerja pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Dep. b. Menetapkan norma. dan kriteria pengelolaan sampah. a. Memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antardaerah. Menyelenggarakan koordinasi. dan jejaring dalam pengelolaan sampah. kemitraan. d. 1 L E V E L /T I N G K AT Pemerintah Pusat L E M B A G A /I N S T I T U S I Bappenas. e. dan/atau tempat pemrosesan akhir sampah. a. c. Menetapkan lokasi tempat penampungan sementara. dan Dinas Kesehatan 3 Pemerintah Kabupaten/Kota Bappeda. dan kriteria pengelolaan sampah. Depdagri.PU. b. Menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota sesuai dengan norma. prosedur. dan e. Memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antardaerah. prosedur. dan jejaring dalam pengelolaan sampah. dan f. dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah. Menetapkan kebijakan penyelesaian perselisihan antardaerah dalam pengelolaan sampah. standar. c. Menetapkan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah.29 ASPEK KELEMBAGAAN DALAM BIDANG PERSAMPAHAN NO. Menyelenggarakan koordinasi.

Sedangkan mengalir sangat lambat apabila air got/selokan mengalir sangat lambat.565. Pembinaan tersebut dapat dilakukan melalui pelatihan-pelatihan maupun menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk mendapatkan umpan balik atas pelayanan pengelolaan persampahan. antara lain terhalang oleh banyaknya sampah (limbah padat) yang dibuang ke got/selokan. Sebagai pengatur.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 46 TABEL III. termasuk di sini bila gotnya tidak berair (kering). fungsi Dinas Kebersihan adalah mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan yang telah dibuat dan memberikan sangsi kepada operator bila dalam pelaksanaan tugasnya tidak mencapai kinerja yang telah ditetapkan. DAN 2006 L UAS G ENANGAN Luas Genangan (ha) Luas Genangan (%) Total Luas Area Kab/Kota (ha) T 2003 A H U N Pada beberapa kota umumnya pengelolaan persampahan dilakukan oleh Dinas Kebersihan Kota. Direktorat PLP Dept. Tahun 2008 Dalam kurun waktu 3 tahun telah terjadi penurunan luas kawasan tergenang yang relatif signifikan yaitu sekitar 4% namun kondisi ini masih membutuhkan kinerja yang lebih keras lagi dalam rangka mencapai sasaran sektor drainase yang tercantum dalam RPJM yaitu mampu meningkatkan fungsi saluran drainase sebagai pematus air hujan dan berkurangnya wilayah genangan permanen dan temporer hingga 75% dari kondisi tahun 2005. Sebagai pengawas. Masyarakat banyak yang terlibat pada sektor pengumpulan sampah di sumber timbulan sampah. Luas kawasan tergenang pada tahun 2006 adalah 13. dan pembina pengelola persampahan. .195. Keterlibatan masyarakat maupun pihak swasta dalam menangani persampahan pada beberapa kota sudah dilakukan untuk beberapa jenis kegiatan.54 176. 3. 2005.5. Tumpang tindihnya fungsi-fungsi tersebut menjadikan pengelolaan persampahan menjadi tidak efektif dan dengan demikian kinerja operator sulit diukur dan pelayanan cenderung menurun. 2005 2006 31.430 13.631. sedangkan pihak swasta umumnya mengelola persampahan pada kawasan masyarakat berpenghasilan ke atas dimana kemampuan membayar dari konsumen sudah cukup tinggi. Pada umumnya dinas kebersihan selain berfungsi sebagai pengelola persampahan kota.2 Kondisi Saluran Drainase Proporsi rumah tangga skala nasional (perkotaan dan perdesaan) dengan kategori keadaan air got/selokan mengalir lancar adalah 52. mengalir sangat lambat 10.5 Drainase 3.174 29.63%.83%.1 Luas Kawasan Tergenang Kondisi fasilitas persampahan yang masih belum memadai ditengarai menjadi penyebab munculnya permasalahan drainase khususnya di wilayah perkotaan yang menyebabkan terjadinya kawasan tergenang dan terhambatnya fungsi drainase.30 LUAS KAWASAN TERGENANG DI INDONESIA TAHUN 2003. dan tidak ada got sebesar 32. tergenang 3.643 23. fungsi Dinas kebersihan sebagai pembina pengelolaan persampahan adalah melakukan peningkatan kemampuan dari operator. atau tidak ada aliran got/selokan. Keadaan lancar terjadi bila air got/selokan itu mengalir lancar sehingga air yang ada di got tersebut bergerak.92 16.923. juga berfungsi sebagai pengatur. PU. Kondisi tergenang bila air got/selokan itu tidak dapat mengalir antara lain karena tertutup oleh limbah padat atau terhambat alirannya karena saluran lanjutannya juga tergenang (penuh).68%. Dinas Kebersihan bertugas membuat peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan oleh operator pengelola persampahan.5.55%.981 17.55 Sumber : Review Renstra.86%. pengawas. Persentase tidak ada got cukup tinggi sehingga membahayakan lingkungan pada musim hujan. atau diakibatkan got/selokan yang tidak baik. 3.

24 Data dan Informasi Dasar KLASIFIKASI RUMAH TANGGA MENURUT KEADAAN AIR GOT/SELOKAN DI SEKITAR RUMAH Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman.09 12. „ .09% berbanding 42.98 43.68 GAMBAR 3.63 3.76%.37 3.83 10.69 17. Sumber : Statistik Perumahan dan Permukiman.30 3. BPS.96 PERKOTAAN + PERDESAAN 52. Modul Susenas 2007.76 9.47 TABEL III. Sedangkan persentase keadaan air got/selokan yang mengalir lambat dan tergenang tidak jauh berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan.31 RUMAH TANGGA MENURUT KEADAAN AIR GOT/SELOKAN DI SEKITAR RUMAH TAHUN 2007 (%) KEADAAN AIR GOT/ SELOKAN Lancar Mengalir lambat Tergenang Tidak ada got PERKOTAAN PERDESAAN 66.84 42.86 32. 2007 Proporsi rumah tangga yang tinggal di daerah perkotaan dengan kondisi air got/selokan mengalir lancar lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perdesaan yaitu 66.

.

.

.

51
isadari sepenuhnya bahwa pembangunan nasional banyak mengadopsi atau paling tidak terinspirasi oleh kesepakatan internasional baik tingkat global, maupun hanya wilayah, baik ditandatangani oleh kepala negara atau bahkan hanya menteri terkait, baik diratifikasi atau tidak. Beberapa kesepakatan internasional tersebut diadopsi secara resmi dan menjadi bagian dari dokumen pembangunan nasional, tetapi banyak juga yang hanya menjadi dasar pertimbangan. Terlepas dari itu semua, pada bagian berikut akan dijelaskan beberapa kesepakatan internasional yang terkait langsung maupun tidak langsung terhadap pembangunan perumahan dan permukiman. Kesepakatan internasional pada bagian berikut ini diklasifikasikan dalam 3 (tiga) bagian yaitu (i) umum, yang masuk dalam kategori ini adalah kesepakatan yang tidak langsung terkait tetapi turut mewarnai banyak kesepakatan internasional tentang perumahan dan permukiman atau kesepakatan internasional yang menyangkut keduanya, pembangunan perumahan dan permukiman; (ii) perumahan, yang mencakup kesepakatan internasional terkait langsung pembangunan perumahan; (iii) permukiman, yang mencakup kesepakatan internasional terkait langsung pembangunan permukiman yang meliputi air minum, air limbah, persampahan dan drainase. 4.1 Umum Kesepakatan internasional yang masuk kategori ini adalah

Kesepakatan Internasional

D

Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights), disusul Deklarasi Istanbul tentang Permukiman (Istanbul Declaration on Human Settlements) atau dikenal sebagai Agenda Habitat (Habitat Agenda), Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan Pembangunan (Rio Declaration on Environment and Development), atau dikenal sebagai Agenda 21 dan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs). Secara umum beberapa kesepakatan internasional tersebut mempunyai fokus yang berbeda yaitu (i) Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya merupakan penjabaran dari deklarasi HAM, yang banyak dijadikan acuan deklarasi internasional tentang perumahan; (ii) Agenda 21 merupakan deklarasi global untuk mempersiapkan dunia internasional terhadap tantangan di abad 21; (iii) Agenda Habitat lebih fokus kepada tantangan yang terkait langsung pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak bagi masyarakat miskin; (iv) Tujuan Pembangunan Milenium yang merupakan kesepakatan global dalam mengurangi tingkat kemiskinan dunia melalui beberapa tujuan dan target yang terukur disesuaikan dengan kapasitas masing-masing negara. Batas waktu pencapaian tujuan dan target tersebut adalah tahun 2015. Ringkasan kesepakatan selengkapnya dirangkum pada tabel IV.1 dan narasi selengkapnya pada sub bab berikutnya.

TABEL IV.1 KESEPAKATAN INTERNASIONAL TERKAIT PERUMAHAN DAN/ATAU PERMUKIMAN TAHUN 1966 JUDUL RINGKASAN KESEPAKATAN

Kovenan Internasional tentang Hak Mengatur berbagai hak asasi manusia mulai dari hak tenaga kerja, hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (The Interna- keamanan sosial, hak kehidupan keluarga, hak memperoleh standar tional Covenant on Economic, Social, and hidup yang layak, hak kesehatan, hak pendidikan, dan hak ikut serta Cultural Rights) dalam kebudayaan Kesepakatan terkait perumahan terutama menegaskan akses terhadap perumahan diakui sebagai suatu hal yang hakiki dan pemerintah didorong untuk memenuhi kewajibannya. Khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah . Kesepakatan terkait penyediaan air minum didedikasikan khusus pada Bab 18 yang menegaskan pengelolaan air global dan menterpadukan program dan rencana pembangunan terkait air kedalam kerangka kebijakan. Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan Pembangunan (Rio Declaration on Environment and Development), dikenal sebagai Agenda 21

1992

Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

52
RINGKASAN KESEPAKATAN

TAHUN 1996

JUDUL

Deklarasi Istanbul tentang Permukiman Komitmen untuk meningkatkan kondisi lingkungan dan pekerjaan yang (Istanbul Declaration on Human Settle- berkelanjutan sehingga semua orang dapat memperoleh perumahan ments), dikenal sebagai Agenda Habitat layak yang sehat, aman, nyaman, akses mudah, dan murah serta (Habitat Agenda) memiliki prasarana dasar yang memadai. tujuan pembangunan yang disepakati dan terukur. Secara ringkas, arah tujuan pembangunan yang disepakati secara global meliputi: 1. Menghapus kemiskinan dan kelaparan berat 2. Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua orang 3. Mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 4. Menurunkan tingkat kematian anak 5. Meningkatkan kesehatan ibu melahirkan 6. Melawan penyebaran HIV/AIDS dan penyakit kronis lainnya (malaria dan tuberkulosa) 7. Menjamin keberlangsungan lingkungan 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan
Sumber : diperoleh dari berbagai literatur

2000

Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Pemimpin dunia bersepakat mengurangi tingkat kemiskinan melalui Development Goals)

4.2 Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) 4.2.1 Latar Belakang MDGs Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan September 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB yang sebagian besar diwakili oleh kepala pemerintahan sepakat untuk mengadopsi Deklarasi Milenium. Deklarasi ini menghimpun komitmen para pemimpin dunia yang tidak pernah ada sebelumnya untuk menangani isu perdamaian, keamanan, pembangunan, hak asasi, dan kebebasan fundamental dalam satu paket. Dalam konteks inilah, negara-negara anggota PBB kemudian mengadopsi Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/ MDGs). Setiap tujuan memiliki satu atau beberapa target beserta indikatornya. MDGs menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus utama pembangunan serta memiliki tenggat waktu dan kemajuan yang terukur. MDGs didasarkan atas konsensus dan kemitraan global, sambil menekankan tanggung jawab negara berkembang untuk melaksanakan tugas tersebut. Di sisi lain, negara maju berkewajiban untuk mendukung upaya tersebut. Pada Pertemuan Dunia tentang Pembangunan Berkelan-

jutan (World Summit on Sustainable Development) di Johannesburg tahun 2002, dengan agenda menyepakati rencana implementasi (plan of implementation) MDGs, kemudian disepakati untuk menambahkan target sanitasi pada target 10 sehingga selengkapnya menjadi "Mengurangi separuhnya, pada tahun 2015, proporsi penduduk tanpa akses air minum dan sanitasi dasar". 4.2.2 Tujuan MDGs Tujuan Pembangunan Milenium terdiri dari 8 tujuan yang disepakati secara global meliputi: 1. Menghapus kemiskinan dan kelaparan berat 2. Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua orang 3. Mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 4. Menurunkan tingkat kematian anak 5. Meningkatkan kesehatan ibu melahirkan 6. Melawan penyebaran HIV/AIDS dan penyakit kronis lainnya (malaria dan tuberkulosa) 7. Menjamin keberlangsungan lingkungan 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Dari 8 tujuan tersebut, yang terkait dengan pembangunan

53
perumahan dan permukiman, adalah Tujuan 7 yaitu Menjamin Keberlangsungan Lingkungan. 4.2.3 Target dan Indikator MDGs Setiap tujuan MDGs memiliki satu atau beberapa target beserta indikatornya. Terdapat 15 target dan 59 indikator yang harus dicapai oleh negara yang menyepakatinya sampai tahun 2015. Penjabaran tujuan, target dan indikator secara rinci dapat dilihat di bagian lampiran. Dalam tujuan 7 ini terdapat tiga target yang ingin dicapai yaitu: 1. Memadukan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang. 2. Menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar sebesar separuhnya pada 2015. 3. Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020. Secara spesifik pembangunan air minum dan sanitasi dasar tercantum pada target 10 yaitu menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman

Kesepakatan Internasional

dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar sebesar separuhnya pada 2015, dan pembangunan perumahan terkait target 11 yaitu mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020. Target ini kemudian diterjemahkan dalam beberapa indikator. Secara umum, indikator target 10 dibagi dalam 2 bagian yaitu indikator air minum dan indikator sanitasi dasar. Indikator air minum menekankan pada dua hal yaitu (i) proporsi rumah tangga/penduduk terlayani berdasar berbagai sumber air yang disepakati sebagai sumber yang aman, baik di perkotaan maupun perdesaan; (ii) cakupan layanan sistem perpipaan melalui layanan PDAM. Indikator sanitasi dasar lebih fokus pada proporsi rumah tangga/penduduk yang mempunyai akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak, baik di perkotaan maupun di perdesaan (selengkapnya pada tabel berikut). Sementara indikator target 11 lebih fokus pada aspek kepemilikan rumah. Masing-masing negara kemudian bertanggungjawab untuk mengembangkan kriteria dari masing-masing indikator ini sesuai dengan kondisinya masing-masing. Secara rinci, tujuan beserta target dapat dilihat pada Tabel IV.2. Sementara indikatornya dapat dilihat pada Lampiran.

TABEL IV.2 TUJUAN DAN TARGET MDGS TUJUAN 1 MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN TARGET 1 TARGET 2 Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah US$ 1 per hari menjadi setengahnya dalam kurun waktu 1990-2015 Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya dalam kurun waktu 19902015

TUJUAN 2 MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA TARGET 3 Menjamin pada tahun 2015, semua anak, di manapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar

TUJUAN 3 MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN TARGET 4 Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005, dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015

TUJUAN 4 MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK TARGET 5 Menurunkan Angka Kematian Balita sebesar dua-pertiganya dalam kurun waktu 1990-2015

Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (perkotaan) (%) 4. 2007 Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang Menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar sebesar separuhnya pada 2015 Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020 . berbasis peraturan. Cakupan pelayanan perusahaan daerah air minum (KK) 5. MALARIA. DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA TARGET 7 TARGET 8 Mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunkan kasus baru pada 2015 Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah kasus malaria dan penyakit lainnya pada tahun 2015 TUJUAN 7 MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP TARGET 9 TARGET 10 INDIKATOR 1. Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (total) (%) 6. terutama teknologi informasi dan komunikasi Sumber : Laporan Pencapaian Millenium Development Goals Indonesia. dapat diprediksi. Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perdesaan) (%) 7. Proporsi rumah tangga dengan berbagai kriteria sumber air (total) (%) 2. Proporsi rumah tangga yang memiliki atau menyewa rumah (%) TUJUAN 8 MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN TARGET 12 TARGET 13 TARGET 14 TARGET 15 Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka. Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perkotaan) (%) TARGET 11 INDIKATOR 1. Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (perdesaan) (%) 3.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 54 TUJUAN 5 MENINGKATKAN KESEHATAN IBU TARGET 6 Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya dalam kurun waktu 1990-2015 TUJUAN 6 MEMERANGI HIV/AIDS. dan tidak diskriminatif Menangani hutang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional agar pengelolaan hutang berkesinambungan dalam jangka panjang Bekerjasama dengan negara lain untuk mengembangkan dan menerapkan strategi untuk menciptakan lapangan kerja yang baik dan produktif bagi penduduk usia muda Bekerjasama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi baru.

(ii) Pengertian sanitasi diartikan sebagai fasilitas sanitasi dasar berupa jamban (baik individual maupun komunal) beserta sistem pengelolaan tinja (septic tank/tangki septik). Hal ini juga berlaku di masing-masing negara. (b) Kedua adalah air dengan sumber yang terlindungi. Penentuan kriteria dan target MDGs di Indonesia telah mempertimbangkan kondisi yang ada. sehingga setiap negara mempunyai kriteria yang berbeda. TABEL IV.5% . Indikator. Sumber-sumber demikian meliputi air pompa.4 Target MDGs Perumahan dan Permukiman di Indonesia A. kriteria dan target selengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut. Sementara sumber air dari sumber yang tidak terlindungi yang artinya jarak antara sumber air dan pembuangan tinja kurang dari 10 meter tidak termasuk dalam kategori air minum. yaitu air dengan kualitas sumber air yang mempertimbangkan konstruksi bangunan sumber airnya serta jarak dari tem- Kesepakatan Internasional pat pembuangan tinja terdekat.55 4. Hal ini bertolak dari pemikiran bahwa tujuan utama MDGs bukanlah mengejar target tetapi bagaimana kemudian semua pihak dapat menyadari pentingnya memberi perhatian lebih pada pembangunan perumahan.Perkotaan (Proporsi penduduk perkotaan yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi baik perpipaan maupun non perpipaan terhadap jumlah total penduduk perkotaan) Sumber Air Terlindungi .Perdesaan (Proporsi penduduk perdesaan yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi baik perpipaan maupun non perpipaan terhadap jumlah total penduduk perdesaan) 67% 3 Proporsi penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (perdesaan) (%) 65. yaitu air dengan kualitas yang dapat diandalkan (reliable) dan lebih sehat dibandingkan dengan sumber air lainnya. Indikator. Kriteria dan Target MDGs Target MDGs Perumahan dan Permukiman di Indonesia diterjemahkan melalui penetapan kriteria yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. air perpipaan. air minum dan sanitasi. baik perdesaan maupun perkotaan. air dari sumur atau mata air yang dilindungi dan air hujan. Jarak yang layak antara sumber air dan tempat pembuangan tinja terdekat adalah lebih dari 10 meter. yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi baik perpipaan maupun non perpipaan terhadap total penduduk) TARGET 67% 2 Proporsi penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (perkotaan) (%) Sumber Air Terlindungi .3 INDIKATOR DAN TARGET MDGs PERMUKIMAN (AIR MINUM DAN SANITASI DASAR) INDONESIA NOMOR 1 I N D I K AT O R DUNIA Proporsi penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (total) (%) INDONESIA Sumber Air Terlindungi .Total (Proporsi penduduk.2. Target MDGs Permukiman di Indonesia diterjemahkan sebagai berikut (i) Pengertian air minum diartikan sebagai air dari sumber air yang terlindungi yaitu (a) Pertama.

5% 6 Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perkotaan) (%) Sanitasi yang layak di Perkotaan (Proporsi penduduk perkotaan yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah penduduk perkotaan) Sanitasi yang layak di Perdesaan (Proporsi penduduk perdesaan yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah penduduk perdesaan) 78. atau mengontrak rumah. dan target MDGs perumahan selengkapnya pada tabel berikut.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 56 I N D I K AT O R TARGET 57. terutama MBR.7% 52. Dengan adanya secure tenure maka masyarakat tidak akan memiliki kekhawatiran atas kemungkinan terjadinya penggusuran atau pendudukan lahan maupun bangunan oleh pihak lain. kriteria. yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah total penduduk) 65. 2007 Indikator MDGs perumahan didefinisikan sebagai terciptanya jaminan bermukim (secure tenure) bagi masyarakat. Secure tenure adalah jaminan bagi masyarakat untuk tinggal di suatu tempat karena adanya bukti kepemilikan.4 % NOMOR 4 DUNIA Cakupan pelayanan perusahaan daerah air minum (KK) INDONESIA Air Minum Perpipaan (Proporsi penduduk baik perkotaan maupun perdesaan yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi berupa perpipaan terhadap jumlah total penduduk) Air Minum Perpipaan Perkotaan (Proporsi penduduk perkotaan yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi berupa perpipaan terhadap jumlah total penduduk perkotaan) Air Minum Perpipaan Perdesaan (Proporsi penduduk perdesaan yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi berupa perpipaan terhadap jumlah total penduduk perdesaan) 67.6% Sumber: Diolah dari Laporan Pencapaian MDGs Indonesia. sewa. baik secara pribadi ataupun kelompok. Indikator. .8% 5 Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (total) (%) Sanitasi yang layak (Proporsi penduduk. baik perkotaan maupun perdesaan.8% 7 Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perdesaan) (%) 59.

78% di kota dan 21.7 1995 85. secure tenure didefinisikan sebagai rumah tangga yang memiliki atau menyewa rumah. yaitu milik sendiri.1 RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI ATAU MENYEWA RUMAH TAHUN 1992-2006 (%) Sumber : Laporan Pencapaian MDGs Indonesia.91%.4 INDIKATOR DAN TARGET MDGs PERUMAHAN NOMOR 1 I N D I K AT O R DUNIA Proporsi penduduk perkotaan yang tinggal di permukiman kumuh INDONESIA Kesepakatan Internasional TARGET * Proporsi rumah tangga yang memiliki rumah atau menyewa rumah Sumber: Laporan Pencapaian MDGs Indonesia 2007 Catatan * tidak dicantumkan secara jelas besarannya 4. Jumlah ini menurun dibandingkan dengan kondisi tahun 2001. dan kontrak. 2004 dan 2007 GAMBAR 4. sewa.55% masyarakat pedesaan masih memiliki girik sebagai bukti hak mengusahakan/mengelola bidang tanah.5 Pencapaian Target MDGs Perumahan dan Permukiman Indonesia Pencapaian tujuan MDGs bidang permukiman dan perumahan di Indonesia pada tahun 2007 secara umum telah berjalan sesuai target. Pada tahun 1992 proporsi rumah tangga dengan status rumah milik atau sewa di Indonesia adalah sebesar 87. Selengkapnya pada tabel IV. Berdasarkan data BPS tahun 2004. Walaupun demikian. masih diperlukan usaha keras agar cakupan pelayanan air.15%. dan tingkat kepemilikan rumah dapat memenuhi target. baik perpipaan maupun total. bahkan target sanitasi dasar telah tercapai. baik secara pribadi atau kelompok. Namun demikian.2. pada tahun 2004. TABEL IV.57 TABEL IV.1 1998 87. kondisi perumahan di Indonesia juga dipengaruhi oleh rendahnya status hukum kepemilikan tanah.5 2005 85 2006 84 Sumber : Laporan Pencapaian MDGs Indonesia.1. Selain itu. yang melalui proses lebih lanjut dapat diusulkan untuk ditingkatkan menjadi sertifikat hak milik dari BPN. yang dalam waktu cukup lama relatif stabil dan tahun 2006.63% di desa. Dalam dokumen pedoman MDGs. sedangkan di daerah perdesaan hanya 19. A.5 RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI ATAU MENYEWA RUMAH TAHUN 1992-2006 (%) 1992 87. sebanyak 18% masyarakat perkotaan dan 25. 2004 dan 2007 .5 dan Gambar 4. Perumahan Target ke-11 MDGs memiliki indikator proporsi rumah tangga yang memiliki atau menyewa rumah. proporsi tersebut berkurang menjadi 84%. Rumah tangga yang memiliki kepastian untuk bermukim di suatu lahan atau bangunan tempat tinggal dapat dilihat dari status penguasaannya. persentase rumah tangga yang memiliki sertifikat BPN atas tanah yang dibangun di daerah perkotaan baru mencapai 40.3 2001 83. Indikator ini merujuk pada kondisi kepastian bermukim bagi rumah tangga terutama di kawasan perkotaan. yakni 50.7%.

2007 Sumber : Survey Sosial Ekonomi Nasional (BPS.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 58 Pada tahun 1994. Antara tahun 2003-2005. (Lihat Gambar 4. Proporsi tersebut meningkat menjadi 55.6% (lihat Gambar 4. yang sebesar 76. yang sebesar 69.5% pada tahun 2000. indikator 2 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk perkotaan yang sumber air minumnya berasal dari sumber air terlindungi baik perpipaan maupun non perpipaan terhadap total penduduk perkotaan.6% pada tahun 2000. rumah tangga di kawasan perdesaan menikmati akses yang meningkat tajam mencapai 52. Jika rumah tangga yang mendapatkan akses air minum dari air terlindungi tahun 1994 hanya sekitar 38. B. sekitar 52. Pada tahun 1994.1%. indikator 1 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk. kecenderungannya justru meningkat relatif konstan.3 PELAYANAN AIR MINUM SUMBER AIR TERLINDUNGI MENURUT DESA DAN KOTA. yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi baik perpipaan maupun non perpipaan terhadap total penduduk.1%. Namun proporsi tersebut meningkat menjadi 35. maka pada tahun 2000 angka tersebut sudah mencapai sekitar 43. hanya sekitar 30. diperkirakan target MDGs pada indikator 1 akan dapat tercapai pada tahun 2015. maka target pencapaian MDGs tahun 2015 untuk kawasan perkotaan telah terlampaui.2 PELAYANAN AIR MINUM SUMBER AIR TERLINDUNGI DI INDONESIA TAHUN 1992-2006 (%) GAMBAR 4.4%. baik perpipaan maupun non perpipaan.2% pada tahun 2006.2006 (%) Sumber : Laporan Pencapaian MDGs Indonesia. Dengan mempertimbangkan laju pertumbuhan yang stabil saat ini.1% rumah tangga di perkotaan mampu mengakses pelayanan air minum dari sumber air terlindungi. Berbagai Tahun) dalam Laporan Pencapaian MDGs Tahun 2007 Indikator 2 : Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (perkotaan) (%) Di Indonesia. Rumah tangga yang mendapatkan akses air terlindungi.1% pada tahun 2006. GAMBAR 4. Berdasarkan pencapaian tahun 2006 tersebut.3). Indikator 3 : Proporsi rumah tangga/penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (Perdesaan) (%) Indikator 3 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk perdesaan yang sumber air minumnya berasal dari sumber air yang terlindungi baik perpipaan maupun air terlindungi terhadap total penduduk perdesaan. Kemudian. namun membaik kembali pada tahun 2006 menjadi 87.3) . TAHUN 1992 . rumah tangga di kawasan perkotaan sempat mengalami penurunan akses pada pelayanan air minum dari sumber air terlindungi. Permukiman Air Minum Indikator 1 : Proporsi penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (Total) (%).9% rumah tangga di perdesaan yang mampu mengakses pelayanan air minum dari sumber air terlindungi. Di Indonesia. baik perdesaan maupun perkotaan.2%. dan terus meningkat hingga 57.

5). Walaupun demikian. rumah tangga yang mampu mengakses pelayanan air minum perpipaan mencapai 35.3%. Sumber : Survey Sosial Ekonomi Nasional (BPS. Indikator 4 : Cakupan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (KK) Indikator 4 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk di perkotaan dan perdesaan. diperlukan usaha yang sangat keras untuk mencapainya.9% (tahun 2000) dan 9% (tahun 2006). 67. Selengkapnya pada Gambar 44. maupun di perkotaan dan di perdesaan masih jauh dari target.9% (tahun 1992). Indikator 5 : Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (total) (%) Indikator 5 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk. menunjukkan perkembangan yang meningkat dari 30. Pada tahun 1992 rumah tangga di perdesaan yang mampu mengakses pelayanan air minum perpipaan hanya 5. pelayanan air minum perpipaan hanya dinikmati oleh sekitar 14. menjadi 62. yang masing-masing sebesar 57.7% (2000). Di perkotaan.4 PELAYANAN AIR MINUM PERPIPAAN TAHUN 1992 .8% (perdesaan). GAMBAR 4. rumah tangga yang dapat mengakses pada air minum perpipaan justru menurun menjadi 18.2% rumah tangga yang mendapatkan akses air minum perpipaan. Namun pada tahun 2006.4 %. ternyata akses rumah tangga di perkotaan terhadap air minum perpipaan justru menurun dalam 5 tahun terakhir dari 36. yang sumber air minumnya berasal dari sumber air perpipaan terhadap total penduduk. yang sebesar 65.5%.4% (total).2006 (%) Kesepakatan Internasional Foto: Bowo Leksono Pencapaian akses rumah tangga pada pelayanan air minum perpipaan di kawasan perdesaan dari tahun ke tahun senantiasa lebih rendah dibandingkan dengan rumah tangga di kawasan perkotaan. Proporsi rumah tangga di perdesaan dan perkotaan dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak. Kemudian akses rumah tangga terhadap air minum perpipaan meningkat menjadi 6. Diperkirakan untuk dapat mencapai target MDGs untuk indikator 4 tersebut. baik perkotaan maupun perdesaan.2% (tahun 2000) menjadi hanya 30. pada tahun 1992.3% (tahun 2006). Pada tahun 2000 sudah sekitar 19.8% (tahun 2006).7% rumah tangga. yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah total penduduk.59 Mempertimbangkan laju pertumbuhan indikator 3 yang dinilai memiliki banyak kemajuan. diperkirakan target MDGs untuk indikator 3 akan dapat terpenuhi pada tahun 2015. Pencapaian indikator 5 menunjukkan bahwa Indonesia telah melampaui target MDGs tahun 2015 yang sebesar 65.5% (Lihat Gambar 4. Pencapaian Indonesia untuk indikator 4 secara total. Pada tahun 1992. dan 69. Cakupan layanan air minum sistem perpipaan menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik.7% (perkotaan) dan 52. Berbagai Tahun) dalam Laporan Pencapaian MDGs Tahun 2007 .5%.

1 65.5% (tahun 1992) menjadi 78% (2000).5).5 AKSES PENDUDUK PADA FASILITAS SANITASI LAYAK MENURUT DESA. (Lihat gambar 4. Pencapaian indikator 6 menunjukkan Indonesia telah melampaui target MDGs 2015 yang sebesar 78.4 67. KOTA DAN TOTAL TAHUN 2006 (%) Indikator 6 : Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perkotaan) (%) Indikator 6 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk perkotaan yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah total penduduk perkotaan.6 52. Kemudian pada tahun 2006 rumah tangga dengan akses sanitasi layak pada kembali meningkat menjadi 60% (lihat Gambar 4. Berbagai Tahun) dalam Laporan Pencapaian MDGs Tahun 2007 TABEL IV. Pencapaian indikator 7 menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai target MDGs 2015 yang sebesar 59.4 30.1 18.7 Naik dengan stabil Banyak kemajuan Naik perlahan Terus menurun Sesuai target Telah tercapai Sesuai target Perlu usaha keras Perlu usaha keras . Jika pada tahun 1992 proporsi ini hanya mencapai 19. GAMBAR 4.6 STATUS PENCAPAIAN MDGS INDONESIA TAHUN 2007 (%) NOMOR I N D I K AT O R 1990 2007 TA R G E T C ATATA N S TAT U S TARGET 10 : MENURUNKAN HINGGA SEPARUHNYA PROPORSI PENDUDUK TANPA AKSES TERHADAP SUMBER AIR MINUM YANG AMAN DAN BERKELANJUTAN SERTA FASILITAS SANITASI DASAR PADA 2015 1 2 3 4 4a Sumber Air Terlindungi Total Sumber Air Terlindungi Perkotaan Sumber Air Terlindungi Perdesaan Air Minum Perpipaan Air Minum Perpipaan Perkotaan 38. Berdasarkan grafik di bawah ini dapat dilihat bahwa proporsi rumah tangga di perkotaan dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak meningkat terus dari 57. Proporsi rumah tangga dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak (perdesaan) (%) Indikator 7 diterjemahkan sebagai proporsi penduduk perdesaan yang membuang air besar pada fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat terhadap jumlah total penduduk perdesaan.2 57.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 60 52. dan 81.8%.1%. pada tahun 2000 meningkat menjadi Indikator 7 : Sumber : Diolah dari Survey Sosial Ekonomi Nasional (BPS.1 76.5).2 87.8 69.3%.6%. Proporsi rumah tangga di perdesaan dengan akses pada fasilitas sanitasi yang layak ternyata menunjukkan perkembangan yang sangat baik.5 57.8% (tahun 2006).

Biaya per- ijinan untuk pembangunan perumahan saat ini mencapai 20% dari harga rumah sehingga makin menjauhkan keterjangkauan masyarakat terhadap harga rumah. Masih rendahnya efisiensi dalam pembangunan perumahan Tingginya biaya administrasi perijinan yang dikeluarkan dalam pembangunan perumahan merupakan persoalan yang selalu dihadapi dalam pembangunan perumahan. Sementara target MDGs sanitasi secara umum telah tercapai.61 NOMOR 4b 5 6 7 I N D I K AT O R Air Minum Perpipaan Perdesaan Sanitasi yang layak Total Sanitasi yang layak di Perkotaan Sanitasi yang layak di Perdesaan 1990 30.8 65.27 84 * Menurun - Sumber : Diolah dari Laporan Pencapaian MDGs Indonesia Tahun 2007 Keterangan *tidak dicantumkan secara jelas besarannya Pencapaian target MDGs air minum dapat diklasifikasikan secara sederhana sebagai (i) target air terlindungi diperkirakan akan dapat dicapai bahkan saat ini target di perkotaan telah terlampaui. serta inovasi dan rekayasa keuangan (financial engineering). . 3. walaupun perlu diingat bahwa fasilitas sanitasi yang dianggap layak tersebut masih diragukan kualitasnya. pemerintah daerah masih belum menjadikan pembangunan perumahan sebagai salah satu prioritas. 1. Menata kembali pemilikan. Terjadinya kesenjangan dalam pembiayaan perumahan Sumber pembiayaan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) pada umumnya berasal dari dana jangka pendek (deposito dan tabungan).1 2006 9 68 81. Upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menghadapi tantangan tersebut antara lain.9 57. Mendorong terbentuknya National Housing Authority sebagai institusi yang mempunyai wewenang penuh dalam memecahkan seluruh persoalan di bidang perumahan dan mengembangkan kebijakan pengembangan perumahan. 2. Menciptakan sumber pembiayaan perumahan jangka panjang melalui pembentukan fasilitas pembiayaan perumahan jangka panjang yaitu pendirian SMF (Secondary Mortgage Facility) dan SMM (Secondary Mortgage Market).6 Tantangan dan Upaya Pencapaian MDGs di Indonesia A. 4.8 60 TA R G E T 52.6 C ATATA N Kesepakatan Internasional S TAT U S Perlu usaha keras Telah tercapai Telah tercapai Telah tercapai Naik perlahan Kualitas kurang baik Kualitas kurang baik TARGET 11 : MEMPERBAIKI KEHIDUPAN PENDUDUK MISKIN YANG HIDUP DI PERMUKIMAN KUMUH PADA 2020 1 Proporsi rumah tangga yang memiliki atau menyewa rumah 88.8 59. 2. 3. sementara sifat kredit pemilikan rumah pada umumnya mempunyai tenor jangka panjang. Disamping.5 19. Pembiayaan perumahan yang terbatas dan pola subsidi yang memungkinkan terjadinya salah sasaran Hal ini disebabkan karena program perumahan tidak sepenuhnya terkoordinasi dan efektif sehingga masih sering terjadi ketidakkonsistenan antara institusi yang terlibat. Kesenjangan tersebut dalam jangka panjang menyebabkan pasar perumahan menjadi tidak sehat karena ketidakstabilan ketersediaan sumber pembiayaan. (ii) target air perpipaan akan sulit tercapai. penguasaan tanah yang tidak teratur menjadi teratur melalui konsolidasi lahan (Land Readjustment).2.5 78. Perumahan Tantangan yang dihadapi untuk mencapai target MDGs bidang perumahan di Indonesia antara lain: 1.

Kerjasama para pemangku kepentingan. 3. pencapaian tujuan MDGs menjadi lebih terpacu serta laju perusakan atas sumber daya air menjadi lebih berkurang. Pemerintah selain berfungsi sebagai penyedia juga memfasilitasi penyediaan air minum yang dilaksanakan oleh masyarakat. penyediaan air minum oleh masyarakat menunjukkan tingkat keberlanjutan yang lebih baik. 4. lembaga swadaya masyarakat. baik provinsi maupun kabupaten/kota. 2. sampah padat serta tangki septik di rumah tangga yang tidak memenuhi syarat konstruksi. Sebaran penduduk yang tidak merata dan beragamnya wilayah Indonesia menjadikan tingkat kesulitan penyediaan layanan meningkat . Cakupan daerah layanan yang sangat besar dan beragam. Saat ini telah diterbitkan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA). pendataan yang kuat akan mengurangi tumpang tindih antarprogram serta membantu identifikasi wilayah/penduduk yang kurang akses air minumnya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas manajemen operator air minum sehingga penyelenggaraannya menjadi lebih efektif dan efisien serta tepat sasaran kepada masyarakat miskin sesuai dengan amanat MDGs. Dalam undang-undang ini dijelaskan pengaturan sumber daya air dari hulu hingga ke hilir. 6. Konservasi sumber air baku. tingkat keterlibatan swasta masih rendah. hingga tahun 2006. Selain itu sifat air yang lintas wilayah menyebabkan pengaturannya pun menjadi tanggungjawab banyak pemerintah daerah. 4. termasuk di dalamnya pengelolaan limbah industri maupun domestik. Lemahnya kemampuan manajerial operator air minum Hal ini berdampak pada stagnasi produksi air minum perpipaan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Oleh karena itu. peningkatan kualitas air baku melalui penanganan sumber pence- B. 3. 5. Sayangnya. Keterbatasan sumber pendanaan pemerintah Keterlibatan pihak swasta untuk mendukung pembangunan air minum dan sanitasi di Indonesia sangat dibutuhkan terutama dikarenakan keterbatasan sumber dana dari pemerintah.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 62 perundangan ini. Masalah kemiskinan. Selain itu. serta berdasar pembelajaran selama ini. Peningkatan kapasitas kelembagaan penyelenggara penyediaan air minum. Selain itu. termasuk komunitas. Diharapkan melalui mekanisme insentif dan disinsentif dalam peraturan . Selain meringankan beban pembiayaan pemerintah. Permukiman Tantangan yang dihadapi untuk mencapai target MDGs bidang air minum di Indonesia antara lain: 1. Selanjutnya telah pula diluncurkan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat (AMPL-BM) dan beberapa regulasi lainnya yang dijadikan sebagai rujukan strategis dalam penyediaan air minum yang efektif dan berkesinambungan. Upaya ini meliputi pengaturan tata guna lahan berupa pengembalian fungsi lahan sebagai daerah tangkapan air hujan serta penanaman hutan yang gundul. tidak hanya pemerintah tapi juga termasuk pihak swasta. Selain itu. Hal ini disebabkan oleh semakin menurunnya daya dukung hutan terhadap sistem siklus air. Hal ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan perencanaan hingga pemantauan dan evaluasi program. Upaya yang dilakukan untuk menangani tantangan di sektor air minum tersebut antara lain: 1. limbah rumah tangga. koordinasi dan kerjasama dalam kesetaraan menjadi kata kunci dalam pelibatan para pemangku kepentingan tersebut. 5. Dari sisi pemerintahan terdapat banyak institusi yang terlibat dalam penyediaan air minum di masyarakat. masih tingginya kebocoran. Pengembangan kemampuan masyarakat dalam penyediaan air minum baik dalam pengelolaan maupun pembiayaan. serta kualitas. Penurunan kualitas dan kuantitas sumber air baku. Penguatan sistem informasi manajemen. Penyebab lain adalah aktivitas manusia yang mengeluarkan zat pencemar ke badan air seperti limbah pabrik/industri. Masalah kemiskinan yang diderita penduduk turut menjadi penyebab rendahnya kemampuan penduduk untuk mengakses air minum yang layak. kuantitas dan kontinuitas pelayanan masih di bawah standar air minum yang sehat. pihak yang terlibat dalam penyediaan air minum. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwasanya masyarakatlah yang memahami kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri. 2. Penguatan peraturan perundangan serta kebijakan mengenai air minum.

63
maran berupa penanganan air limbah industri dan domestik. Sementara itu, tantangan yang dihadapi untuk mencapai target MDGs bidang sanitasi di Indonesia antara lain: 1. Pengetahuan penduduk tentang kualitas lingkungan yang masih rendah. Masyarakat terutama di perdesaan kurang memahami pentingnya sanitasi bagi kesehatan mereka. Hal ini salah satunya dikarenakan rendahnya pengetahuan mereka. Kondisi ini menyebabkan banyak jamban yang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat, jajaran eksekutif, jajaran legislatif dan pelaku dunia usaha harus ditingkatkan agar memahami bahwasanya sanitasi berkaitan erat dengan kualitas hidup. Bila masyarakat telah menyadari pentingnya sanitasi, khususnya berkaitan dengan kesehatan dan produktivitas maka kebutuhan terhadap prasarana dan sarana sanitasi akan meningkat. 2. Persoalan sanitasi dasar bukan merupakan isu penting bagi kalangan politisi, pemerintah, bahkan dunia usaha. Rendahnya perhatian mereka pada masalah sanitasi dasar yang layak digambarkan dari masih sedikitnya anggaran pendanaan untuk pembangunan sanitasi dasar. Kepedulian dan kepekaan lebih tinggi dari kalangan pengambil keputusan bahwa masalah sanitasi sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat, terutama masyarakat miskin baik di perdesaan maupun di perkotaan, sangat diperlukan di masa depan. 3. Belum adanya kebijakan terpadu lintas sektor yang berupaya menyediakan fasilitas sanitasi dasar yang layak dan sehat. Di masa depan upaya peningkatan kualitas sarana sanitasi harus menjadi perhatian serius. Perhatian ini diberikan dalam bentuk penyediaan dana dan pendampingan dalam pembangunan sarana yang memenuhi kriteria teknis dan standar kesehatan yang ditetapkan tetapi sekaligus mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. 4. Rendahnya kualitas bangunan tangki septik di perkotaan. Keterbatasan lahan di perkotaan semakin menyulitkan banyak pihak untuk membangun sistem pengelolaan tinja individual dengan menggunakan tangki septik yang memenuhi syarat. 5. Masih rendahnya akses di kawasan perkotaan terhadap pelayanan sistem pembuangan air limbah (sewerage system).

Kesepakatan Internasional

Hal ini disebabkan laju pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan tidak mampu diikuti oleh laju penyediaan prasarana dan sarana sistem pembuangan air limbah. Rendahnya laju pembangunan sistem pembuangan air limbah bagi kota metropolitan dan besar pada umumnya disebabkan oleh semakin mahalnya nilai konstruksi dan semakin terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai jaringan pelayanan, sementara di lain pihak kesediaan membayar (willingnes to pay) dari masyarakat untuk pelayanan air limbah domestik masih sangat rendah sehingga tidak dapat menutup biaya pelayanan. 6. Tidak adanya pelayanan sanitasi yang layak berdampak pada kualitas kesehatan yang rendah. Hasil kajian Water and Sanitation Program East Asia and the Pacific (WSP - EAP), World Bank Office Jakarta Tahun 2008 berjudul "Dampak Ekonomi Sanitasi di Indonesia" menyebutkan bahwa total kerugian ekonomi dari sanitasi dan higinitas buruk mencapai Rp. 56 triliun per tahun. Dari total jumlah kerugian tersebut, sebesar 53% (Rp 29,5 triliun) merupakan dampak kesehatan dan sebesar 24% (Rp 13,3 triliun) merupakan dampak pencemaran air. Sisanya 23% biaya ekonomi disebabkan oleh waktu akses, pariwisata dan kerugian penggunaan lahan. Upaya yang dilakukan untuk menangani tantangan pembangunan sanitasi tersebut antara lain: 1. Mengembangkan kerangka kebijakan dan institusi. Kepastian pembagian peran di antara institusi yang terlibat, termasuk menerapkan institusi yang memegang peranan utama dalam pembangunan air limbah sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sanitasi. 2. Mengubah perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini ditempuh melalui metode CLTS (Community-Led Total Sanitation), yang memicu masyarakat untuk mengubah kebiasaan buang air besar sembarangan menjadi lebih tertutup buangan tinjanya. 3. Meningkatkan kapasitas masyarakat berdasarkan pendekatan tanggap kebutuhan (demand responsive approach/demand driven), partisipatif, pilihan yang diinformasikan (informed choice), keberpihakan pada masyarakat miskin (pro poor), gender, pendidikan, dan swadaya (self financing). 4. Mengembangkan model penyediaan fasilitas sanitasi dasar di perkotaan seperti program Sanimas (Sanitasi Berbasis Masyarakat). Hal ini menjadi jalan keluar untuk lahan perko-

Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

64
secara eksplisit telah mendorong agar pemerintah menjamin kepemilikan rumah bagi masyarakat. Kesepakatan semakin mengerucut ketika pada tahun 1988 melalui The Global Strategy for Shelter to the Year 2000 pemerintah diminta untuk melakukan perubahan mendasar untuk mengatasi permasalahan perumahan. Pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mulai dipertegas pada tahun 1992 melalui Agenda 21. Kemudian semakin lengkap dengan keluarnya Habitat Agenda pada tahun 1996 yang tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan perumahan saja tetapi juga dengan persyaratan perumahan layak yang sehat, aman, nyaman, akses mudah, dan murah serta memiliki prasarana dasar yang memadai. Ringkasan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

taan yang sempit, yakni dengan menyediakan sistem pengolahan tinja komunal. 5. Mengembangkan sistem database dan informasi untuk sanitasi dasar. Hal ini akan membantu dalam perencanaan, pengawasan dan evaluasi program sekaligus menjadi bahan baku untuk program advokasi dan kampanye publik. 4.3 Perumahan Selama kurun waktu 30 tahun (1966-1996) tercatat enam kesepakatan internasional yang terkait dengan pembangunan perumahan, baik langsung maupun tidak langsung. Dimulai pada tahun 1966 dengan The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights yang lebih menyoroti tentang hak asasi manusia. Kemudian diikuti pada tahun 1976 The Vancouver Declaration on Human Settlements yang

TABEL IV.7 KESEPAKATAN INTERNASIONAL TERKAIT PEMBANGUNAN PERUMAHAN DALAM KURUN WAKTU 1966-1996 TA H U N 1966 JUDUL K E S E PA K ATA N / D E K L A R A S I Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights) R I N G K A S A N K E S E PA K ATA N Memasukkan hak perumahan sebagai bagian dari hak asasi pada artikel 11 yang menegaskan bahwa "Pemerintah di setiap negara harus dapat memberikan hak berupa standar hidup yang layak bagi penduduknya, termasuk makanan, pakaian, dan rumah, serta peningkatan kondisi kehidupannya kepada setiap orang di negara tersebut" Kesepakatan mengenai penanganan masalah permukiman dan hal-hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah di seluruh dunia untuk menjamin kepemilikan rumah bagi masyarakat


1976

Deklarasi Vancouver tentang Permukiman (The Vancouver Declaration on Human Settlements)

1988

Strategi Global untuk Perumahan sampai Tahun 2000 (The Global Strategy for Shelter to the Year 2000)



Mendapatkan perumahan yang layak merupakan hak universal dan menjadi dasar dari suatu kebijakan pemenuhan kebutuhan perumahan Pemerintah harus membuat berbagai perubahan yang fundamental untuk mengatasi permasalahan perumahan yang ada

65
TA H U N 1992 JUDUL K E S E PA K ATA N / D E K L A R A S I Agenda 21

Kesepakatan Internasional

R I N G K A S A N K E S E PA K ATA N Akses terhadap perumahan yang aman dan sehat merupakan hal yang penting bagi kehidupan fisik, sosial, dan ekonomi suatu individu dan seharusnya menjadi bagian yang fundamental dari kegiatan nasio�

nal maupun internasional (paragraf 6). Sebagai tahap awal untuk menyediakan perumahan yang layak, seluruh negara harus segera melakukan sesuatu untuk menyediakan perumahan bagi MBR yang tidak memiliki rumah" (paragraf 9.a). "……Masyarakat harus dilindungi oleh hukum terkait masalah penggusuran" (paragraf 9.b). Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi kemiskinan perkotaan adalah dengan menyediakan pendampingan khusus kepada MBR, pembangunan infrastruktur sosial untuk mengurangi kelaparan dan backlog perumahan serta penyediaan pelayanan masyarakat yang sesuai" (paragraf 16.b.ii).

1996

Agenda Habitat (Habitat Agenda)

(i) paragraf 11 tentang hak semua orang atas standar dan peningkatan kehidupan yang layak; (ii) paragraf 39 tentang komitmen peningkatan kondisi lingkungan perumahan dan pekerjaan yang berkelanjutan; (iii) paragraf 60 tentang pengertian rumah yang layak mencakup privasi, aksesibilitas, keamanan, kepemilikan lahan, stabilitas dan ketahanan struktur, penerangan, ventilasi, infrastruktur dasar seperti air, sanitasi, dan air kotor, kondisi lingkungan yang baik, lokasi yang dekat tempat kerja, dan seluruhnya dapat diperoleh dengan harga pas

2000

Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals)

Pembangunan perumahan termasuk dalam Tujuan 7 Target 11 yaitu mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber (literatur)

4.4 Permukiman Isu minimnya ketersediaan air bersih dan sanitasi dasar bagi penduduk hingga saat ini masih menjadi isu hangat yang membutuhkan aksi nyata dari berbagai tingkatan pemerintahan dan pemangku kepentingan. Ditengarai masalah dalam bidang permukiman setidaknya dapat teratasi dengan adanya komitmen yang tinggi dari pemangku kepentingan tersebut.

Berbagai pertemuan telah mengeluarkan kesepakatan dalam tingkatan global. Beberapa tonggak (milestone) yang berpengaruh terhadap pembangunan permukiman dimulai dari Mar del Plata ketika dilaksanakan Konferensi PBB tentang Air (UN Conference on Water) pada tahun 1977 yang merupakan pertemuan internasional pertama membahas air. Konferensi ini melahirkan

Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 66 tersebut didedikasikan khusus bagi pembangunan air minum. Pada tahun yang sama juga diselenggarakan Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UN Conference on Environment and Development/UNCED Earth Summit) yang menelurkan Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan Pembangunan atau dikenal sebagai Agenda 21. Disusul tahun 2002. Selain juga ditetapkan Tahun 2008 sebagai Tahun Sanitasi Internasional (International Year of Sanitation). Salah satu bab dari deklarasi TABEL IV. 1997. pengendalian polusi. Pernyataan New Delhi yang terkenal adalah "Some for all rather than more for some" yang kira-kira mengandung arti sedikit untuk semua daripada banyak hanya untuk segelintir. Pertama.8 dan penjelasan lengkapnya pada bagian lampiran. atau 15 tahun setelah Mar del Plata yaitu tahun 1992.  . PBB menetapkan tahun 2005-2015 sebagai Dekade Internasional untuk Kegiatan Air untuk Kehidupan (International Decade for Action "Water for Life"). Merekomendasikan tahun 1980 -1990 sebagai dekade air bersih dan sanitasi. Kedua. ada sebanyak 12 resolusi yang menjelaskan secara lebih spesifik dari masing-masing isu. Tonggak sejarah terjadi pada tahun 2000 menyusul disepakatinya Deklarasi Millenium PBB (United Nations Millenium Declarations) yang menjadi dasar penetapan Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/MDGs). Afrika Selatan. yang menambahkan isu sanitasi sebagai tambahan target MDGs bersama dengan air minum. lingkungan. Deklarasi New Delhi juga mendorong semua negara untuk memungkinkan semua orang memperoleh akses terhadap dua kebutuhan dasar manusia yaitu air dan sanitasi lingkungan. yang menelurkan Deklarasi Istanbul tentang Permukiman yang lebih sering disebut sebagai Agenda Habitat (the Habitat Agenda). Selain itu. Segera setelah diakhirinya dekade air dan sanitasi internasional. Tahun 1996 PBB menyelenggarakan Konferensi tentang Permukiman (Habitat II) di Istanbul Turki. dilaksanakan Konsultasi Global tentang Air dan sanitasi yang aman untuk dekade 1990 (Global Consultation on Safe Water and Sanitation for the 1990's) di New Delhi Tahun 1990. yang menelurkan Deklarasi Marakesch (Marakesch Declaration). dilaksanakan Konferensi Internasional tentang Air dan Lingkungan (International Conference on Water and the Environment) di Dublin yang menghasilkan Pernyataan Dublin tentang Air dan Pembangunan Berkelanjutan (Dublin Statement on Water and Sustainable Development) yang terdiri dari 4 (empat) prinsip dasar (lihat Tabel). Keseluruhan pertemuan dan kesepakatan yang dihasilkan menunjukkan semakin besarnya perhatian bagi isu air minum dan sanitasi. Rangkuman tonggak sejarah air minum dan sanitasi selengkapnya pada Tabel IV. Setahun kemudian.8 KESEPAKATAN INTERNASIONAL TERKAIT PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TA H U N 1977 K E S E PA K ATA N / D E K L A R A S I Rencana Tindak Mar del Plata (Mar del Plata Action)  R I N G K A S A N K E S E PA K ATA N Terdapat dua hal penting dalam rencana kerja yang tersusun tersebut. Tidak lama setelah itu. kesepakatan Dekade Air dan Sanitasi Internasional tahun 1981-1990. diselenggarakan untuk pertama kalinya Forum Air Dunia (World Water Forum) di Marrakech. melalui Pertemuan Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) di Johannesburg. rekomendasi penting berkaitan dengan manajemen air meliputi efisiensi penggunaan. pendidikan publik. bencana alam serta kerjasama lintas negara. Walaupun dianggap kurang berhasil tetapi penetapan dekade memberi pengalaman berharga tentang pentingnya pendekatan terpadu dan sesuai dengan kondisi setempat dalam pembangunan air dan sanitasi. walaupun disadari hasilnya masih belum optimal.

3. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut : 1. dimana keputusan harus dihasilkan oleh tingkat/masyarakat paling rendah. dengan demikian air harus diperlakukan sebagai benda ekonomi. nasional hingga internasional. 2.67 Kesepakatan Internasional TA H U N 19811990 1990 K E S E PA K ATA N / D E K L A R A S I Dekade Air dan Sanitasi Internasional (International Decade for Water and Sanitation) Pernyataan New Delhi (New Delhi Statement) R I N G K A S A N K E S E PA K ATA N Tujuannya adalah menyediakan bagi setiap penduduk akses air dan sanitasi dasar yang memadai baik kualitas maupun kuantitasnya pada tahun 1990. penyusun kebijakan. hendaknya didasarkan atas pendekatan partisipatif yang pada semua tingkatan mengikutsertakan para pengguna. pengelolaan dan pemeliharaan kelestarian air. Penyederhanaan teknologi sebagai solusi bagi penyediaan kebutuhan air bagi masyarakat miskin 1992 Pernyataan Dublin tentang Air dan Pembangunan Berkelanjutan (Dublin Statement on Water and Sustainable Developmet). Pengelolaan sumber daya air merujuk pada suatu pendekatan yang menyeluruh (holistic approach) yang mengkaitkan pembangunan sosial dan ekonomi dengan perlindungan terhadap ekosistem alami. Dalam setiap pemanfaatannya air memiliki nilai ekonomi. Perlindungan lingkungan dan menjamin kesehatan melalui manajemen yang terintegrasi dari sumber daya air. Kesepakatan Dublin berisikan 4 prinsip sebagai sebuah rekomendasi untuk diterapkan pada tingkatan lokal. Oleh sebab itu. dan 4. . perencana. air limbah dan persampahan 2. Peningkatan pelayanan terhadap masyarakat 4. mereka harus diikutsertakan secara aktif dalam pengambilan keputusan yang menyangkut air dan pemanfaatannya. Pernyataan New Delhi yang terkenal dengan motto "Some for all rather than more for some" terdiri dari 4 prinsip : 1. Diperlukan partisipasi dan peran wanita diseluruh tingkatan institusi 3. Pengembangan dan pengelolaan air. Kaum perempuan hendaknya diberi peran utama dalam setiap upaya penyediaan.

Hari Air Dunia mulai diperingati sejak tahun 1993 oleh negara-negara anggota PBB. dan air kotor. dan menterpadukan program dan rencana pembangunan air dalam kerangka kebijakan ekonomi dan sosial nasional merupakan ciri pembangunan era setelah tahun 1990. . khususnya melalui penyediaan air yang aman dalam jumlah memadai dan pengelolaan limbah yang efektif" (paragraf 10). atau secara populer disebut sebagai Earth Summit. TA H U N 1992 K E S E PA K ATA N / D E K L A R A S I Deklarasi Rio tentang Lingkungan dan Pembangunan (Rio Declaration on Environment and Development) atau Agenda 21 1994 Pertemuan Bumi: Hari Air Dunia I (Earth Summit : World Water Day I ) Wahana memperbarui tekad semua pihak untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro... isu gender dalam penggunaan air dan kerjasama antara pemerintah dan civil society.  1997 Deklarasi Marrakesch/Forum Air Dunia I (Marrakech Declaration /World Water Forum I) Deklarasi Marrakesch dihasilkan dari World Water Forum Pertama.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 68 R I N G K A S A N K E S E PA K ATA N Rencana aksi Agenda 21 Bagian 2 Bab 18 didedikasikan untuk air yang secara ringkas menyatakan pengelolaan air terpadu. dan seluruhnya dapat diperoleh dengan harga terjangkau. mendukung konservasi ekosistem.. Pembangunan permukiman termasuk dalam Tujuan 7 Target 10 yaitu menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar sebesar separuhnya pada 2015 2000 Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/MDGs) . sanitasi. kondisi lingkungan yang baik.infrastruktur dasar seperti air... Deklarasi ini berisikan rekomendasi aksi dalam rangka menyediakan akses terhadap air bersih dan sanitasi.. pengertian rumah yang layak mencakup ..  1996 Habitat Agenda "Kita harus juga mempromosikan lingkungan hidup yang sehat... mendukung efisiensi penggunaan air.

69 TA H U N 2008 K E S E PA K ATA N / D E K L A R A S I Tahun Sanitasi Internasional (International Year of Sanitation/IYS) Kesepakatan Internasional R I N G K A S A N K E S E PA K ATA N Tahun 2008 ditetapkan sebagai tahun sanitasi dengan tujuan membantu mempercepat kemajuan pembangunan sanitasi dengan memberi perhatian khusus. Sumber : Disarikan dari berbagai sumber (literatur) . Rencana aksi ini dimaksudkan untuk mendorong dialog pada semua tingkatan agar dapat menghasilkan komitmen alokasi sumber daya yang lebih besar dari pemerintah dan pimpinan politik untuk sanitasi bagi yang miskin.

.

.

.

Selain undangundang tersebut di atas. adil. (ii) pembangunan rumah hanya dapat dilakukan di atas tanah yang dimiliki berdasarkan hak-hak atas tanah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. kepercayaan pada diri sendiri. serta ketentuan pidana yang mengatur penegakan undang-undang tersebut. serasi dan teratur. mera- . hak guna pakai. aman. an menteri bahkan surat keputusan eselon I telah dihasilkan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman. Hal ini sangat erat terkait dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria. air dan ruang angkasa. hak sewa. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. kebersamaan dan kekeluargaan. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. yang dianggap sudah tidak sesuai lagi. Beberapa prinsip dasar yang dituangkan dalam undangundang ini adalah (i) hukum agraria yang berlaku atas bumi. sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria. baik dilakukan secara perseorangan atau dalam bentuk usaha bersama.2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria Undang-undang ini dimaksudkan untuk mengatur segala hal yang berkaitan dengan hak-hak yang berhubungan dengan tanah.1. hak membuka tanah.3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Tujuan dari undang-undang ini adalah mewujudkan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Secara umum dinyatakan bahwa (i) Pemerintahan Daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. 5.1 Undang-Undang Terdapat beberapa undang-undang yang terkait langsung dengan perumahan dan permukiman yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. hak guna bangunan. hak guna usaha. hak pakai. dan hal ini merupakan pernyataan yang lebih tegas dibanding pernyataan "Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang perumahan dan permukiman kepada Pemerintah Daerah" sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. masih banyak undang-undang lainnya yang juga terkait yang disajikan selengkapnya pada lampiran.73 Regulasi B eragam peraturan dan regulasi terkait perumahan dan permukiman mulai dari undang-undang sampai keputus- ta. (iv) setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta.1. yakni Pemerintahan Daerah yang dapat mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. hak memungut hasil hutan.1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman Undang-Undang ini mempunyai tujuan mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat. 5.1. dengan menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus diri sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun. Penerbitan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman merupakan upaya mengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1964 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang Pokok-pokok Perumahan menjadi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1964. Hak atas tanah meliputi hak milik. Beberapa prinsip dasar yang dituangkan dalam undangundang ini adalah (i) perumahan dan permukiman merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa. (ii) dinyatakan juga bahwa perumahan dan permukiman menjadi kewenangan Pemerintah Daerah. (ii) semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. dan hak lainnya yang tidak termasuk dalam hak tersebut. dan kelestarian lingkungan hidup. 5. (iii) penataan perumahan dan permukiman berlandaskan pada asas manfaat. keterjangkauan. Pada bagian ini akan dibahas secara khusus undang-undang dan peraturan pemerintah yang terkait langsung dengan perumahan dan permukiman. 5. air dan ruang angkasa ialah hukum adat.

hak guna bangunan. . (ii) pembangunan rumah susun hanya dapat dilaksanakan di atas tanah dengan status hak milik. hak pakai atas tanah negara. Pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama antarpemerintah daerah dalam bentuk kerja sama dan/atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah.1. berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.1. (iv) pengembangan sistem penyediaan air minum adalah tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Prinsip dasar yang mengemuka diantaranya (i) pemerintah Foto: Bowo Leksono 5. (ii) hak guna air berupa hak guna pakai air dan hak guna usaha air. 5. Koperasi. penyelenggaraan.1. Prinsip dasar yang mengemuka diantaranya adalah (i) penguasaan sumber daya air diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dengan tetap mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat setempat. Beberapa hal terkait kewenangan pengaturan dan pembinaan rumah susun perlu disesuaikan sehubungan dengan terbitnya UU Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. dan tepat waktu.4 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun Tujuan undang-undang ini adalah (i) meningkatkan usaha penyediaan perumahan yang layak. dan memperoleh pembinaan agar dapat melaksanakan pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan. akurat. tidak dapat disewakan atau dipindahtangankan sebagian atau seluruhnya. maupun swadaya masyarakat sesuai dengan tingkat keperluan dan kemampuan masyarakat terutama bagi yang berpenghasilan rendah. (ii) meningkatkan kualitas lingkungan permukiman di kawasan padat penduduk namun dengan luas tanah yang terbatas.7 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah Tujuan diundangkannya adalah untuk turut serta melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya dalam rangka ekonomi terpimpin untuk memenuhi kebutuhan rakyat. koperasi.5 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Tujuan undang-undang ini adalah mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. atau hak pengelolaan sesuai dengan peraturan yang berlaku. (v) masyarakat dapat berperan serta dalam pengelolaan sampah. badan usaha swasta. Prinsip dasar yang tercantum dalam undang-undang diantaranya adalah (i) rumah susun dapat dibangun oleh BUMN/BUMD. (iii) pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan sampah. 5. dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah. 5. memperoleh informasi yang benar. swasta. Sedangkan kewajibannya adalah mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 74 Pusat dan Pemerintahan Daerah memiliki tugas dan wewenang masing-masing dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah. (ii) setiap orang berhak mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan. mendapatkan perlindungan dan kompensasi karena dampak negatif dari kegiatan tempat pemrosesan akhir sampah. terjangkau oleh masyarakat berpendapatan rendah. Pengelolaan sampah ini pun diawasi dan diberikan sanksi bagi yang melanggar. (iv) pemerintah dan pemerintah daerah wajib membiayai penyelenggaraan pengelolaan sampah yang bersumber dari APBN dan APBD. dan masyarakat dapat berperan serta dalam penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum. (iii) memperkenalkan Dewan Sumber Daya Air.1.6 Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Tujuan dikeluarkannya undang-undang ini adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

Pemerintah Daerah Provinsi. dan memupuk pendapatan. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Mengatur pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah melalui UU Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2005 tentang Penyertaan Modal Negara untuk Pendirian Perseroan (Persero) di Bidang Pembiayaan Sekunder Perumahan. (ii) meningkatkan optimasi penggunaan sumber daya tanah perkotaan. sehingga saat ini sedang diupayakan melakukan revisi terhadap materinya dengan mengajukan rancangan undang-undang yang baru. pemadam kebakaran.2 Peraturan Pemerintah Pada saat ini terdapat beberapa peraturan pemerintah yang terkait langsung dengan perumahan dan permukiman yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. (iii) mendorong pembangunan permukiman berkepadatan tinggi.1 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. perusahaan daerah didefinisikan sebagai suatu kesatuan produksi yang bersifat memberi jasa. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). dan kelengkapan lain yang memadai. Perumahan dan permukiman menjadi urusan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. penangkal petir. Hal yang diatur diantaranya pembangunan rumah susun harus memperhatikan udara dan pencahayaan yang cukup. 5. dan pengelolaan rumah susun juga dipaparkan secara lebih detail dalam peraturan pemerintah ini. jalur evakuasi. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Hak Guna Bangunan. Kelengkapan tersebut merupakan hak bersama yang harus ditempatkan dan dilindungi untuk menjamin fungsinya sebagai bagian bersama dan mudah dikelola. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun. dan dilengkapi dengan jaringan air bersih. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Regulasi bagian urusan pemerintahan antara Pemerintah. Pemerintah Daerah Provinsi. Penjelasan penting yang tercantum diantaranya (i) urusan pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah dan urusan pemerintahan yang dibagi bersama antartingkatan dan/atau susunan pemerintahan. telepon. konstruksi yang tahan gempa. Hak Guna Bangunan. Materi yang terkandung dalam undang-undang ini sebagian besar sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha. Perumahan dan permukiman merupakan urusan bersama yang harus ditangani oleh Pemerintah.2 Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1988 tentang Rumah Susun Tujuan peraturan pemerintah ini adalah (i) mendukung konsepsi tata ruang yang dikaitkan dengan pengembangan pembangunan daerah perkotaan ke arah vertikal dan untuk meremajakan daerah-daerah kumuh.2. dan Hak Pakai Atas Tanah. 5. Pemerintah Provinsi. dan Hak Pakai Atas Tanah Tujuan penerbitan peraturan ini adalah mengarahkan pe- Tujuan dikeluarkannya PP ini adalah untuk mengatur pem- . Selain peraturan pemerintah tersebut di atas. masih banyak peraturan pemerintah lainnya yang juga terkait yang disajikan selengkapnya pada lampiran. drainase. status kepemilikan.2. Peraturan Pemerintah ini merupakan versi detail dari Undang-Undang tersebut dan mengatur hal-hal teknis yang ada di dalam Undang-Undang Rumah Susun. sarana transportasi vertikal. air limbah. dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 5. lokasi pembangunan rumah susun. fasilitas lingkungan. Selain itu. berkaitan dengan pelayanan dasar.2. Pemerintah Daerah Provinsi.75 Didalam undang-undang ini. Hal ini yang kemudian diterjemahkan bahwa perusahaan daerah air minum (PDAM) berkewajiban menyerahkan hasil usahanya sebagai kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). menyelenggarakan kemanfaatan umum. perizinan. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun (KASIBA) dan Lingkungan Siap Bangun (LISIBA).3 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha. gas. listrik. terutama dengan dimulainya era otonomi dan dimulainya kerjasama pemerintah dan swasta. 5.

dan penggunaan tanah agar ketertiban di bidang hukum pertanahan.5 Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2005 tentang Penyertaan Modal Negara untuk Pendirian Perseroan (Persero) di Bidang Pembiayaan Sekunder Perumahan Tujuan peraturan pemerintah ini adalah mewujudkan lem- ngaturan penguasaan. 1 Triliun. dan (iii) tercapainya peningkatan efisiensi dan cakupan pelayanan air minum. pemerintah daerah menetapkan satu bagian yang telah ditetapkan sebagai kawasan permukiman dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan telah memenuhi persyaratan sebagai kawasan siap bangun.2. Pengelolaan Kasiba dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara dan/atau badan lain yang dibentuk dan ditugasi oleh Pemerintah. pemilikan. baga pembiayaan sekunder perumahan sebagai penyedia pendanaan bagi kebutuhan perumahan. (ii) menghimpun dana masyarakat untuk membiayai kegiatan pembiayaan sekunder perumahan dengan menerbitkan surat berharga jangka panjang dan atau jangka pendek. Pembangunan kawasan permukiman skala besar dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi dengan program pembangunan daerah meliputi penyelenggaraan kawasan siap bangun (Kasiba) dan lingkungan siap bangun yang berdiri sendiri (Lisiba yang berdiri sendiri) untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan. negara turut melakukan penyertaan modal yang merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dari APBN 2005. Dalam pendiriannya. 5. sesuai dengan rencana tata ruang . Sedangkan pengelolaan lisiba yang berdiri sendiri dapat dilakukan oleh masyarakat pemilik tanah dan badan usaha.6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pengaturan pengembangan SPAM bertujuan untuk (i) terwujudnya pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. menengah.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 76 kabupaten/kota yang terencana dan menyeluruh. ataupun pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup dapat terjamin sehingga kepastian hukum di bidang pertanahan dapat terwujud. penggunaan tanah. Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 40 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air maka ditetap- Foto: Bowo Leksono Penyelenggaraan kasiba/lisiba bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perumahan dan permukiman dalam jangka pendek. (ii) tercapainya kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan. 5. PP ini juga memuat sanksi atas pelanggaran yang dilakukan terhadap peraturan perundangan tersebut. Pihak-pihak yang dapat memperoleh Hak Guna Usaha. Nilai penyertaan modal tersebut adalah sebesar Rp. 5. Pendirian perusahaan di bidang pembiayaan sekunder perumahan bertujuan untuk menyelenggarakan kegiatan sebagai berikut (i) usaha pembiayaan dalam bentuk fasilitas pembiayaan sekunder perumahan pada bank dan lembaga keuangan yang memberikan kredit pemilikan rumah. Hak Guna Bangunan. atau panjang.2. administrasi pertanahan.2.4 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun (KASIBA) dan Lingkungan Siap Bangun (LISIBA) Peraturan Pemerintah ini ditetapkan untuk melaksanakan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 19 dan Pasal 32 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman yang menyatakan bahwa untuk mewujudkan kawasan permukiman. dan Hak Pakai Atas Tanah adalah WNI dan badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Peraturan Pemerintah ini mengatur ketentuan-ketentuan yang menetapkan kriteria yang lebih jelas mengenai tanah terlantar dan bagaimana melakukan penilaian sehingga ketentuan di dalam Undang-Undang Pokok Agraria dapat diterapkan.

Rencana induk pengembangan SPAM yang cakupan wilayah layanannya bersifat lintas Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi setelah berkoordinasi dengan daerah Kabupaten/Kota terkait. maka atas persetujuan dewan pengawas/komisaris dapat mengikutsertakan koperasi. Begitu pula dengan organisasi yang bergerak pada bidang sumber daya air berhak mengajukan gugatan terhadap orang Regulasi atau badan usaha yang melakukan kegiatan yang menyebabkan kerusakan pada prasarana dan sarana penyediaan air minum. Sedangkan biaya pencegahan. (iv) apabila untuk suatu jenis kegiatan belum ditentukan baku mutu limbah cairnya. badan usaha swasta dan/atau masyarakat dapat menyelenggarakan SPAM untuk memenuhi kebutuhan sendiri berdasarkan izin dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah.7 Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air Peraturan Pemerintah ini bertujuan menjaga kualitas air agar mencapai tingkat sesuai dengan penggolongan peruntukannya dalam jangka waktu tertentu atau bahkan menaikkan sampai kualitas yang lebih baik lagi.2. dan/atau kabupaten/kota. (ii) dalam penyelenggaraan pengembangan SPAM dan/atau prasarana dan sarana sanitasi. (vii) koperasi. Beberapa ketentuan penting diantaranya adalah (i) untuk pengendalian pencemaran air di daerah dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. maka ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri terkait. Pengaturan penting diantaranya adalah (i) pengaturan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (selanjutnya disingkat SPAM) diselenggarakan secara terpadu dengan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi yang berkaitan dengan air minum. dapat berasal dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. pemerintah provinsi.77 kan Peraturan Pemerintah tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Apabila BUMN/BUMD tidak dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan SPAM di wilayah pelayanannya. 5. dana masyarakat dan/atau sumber dana lain yang sesuai dengan peraturan perundangan-undangan. serta meningkatkan sistem fisik (teknik) dan sistem non-fisik. (ii) setiap orang atau badan yang membuang limbah cair wajib mentaati baku mutu limbah cair sebagaimana ditentukan dalam izin pembuangan limbah cair yang ditetapkan baginya. koperasi. Pemerintah Daerah dapat melakukan kerja sama antardaerah. . daya tampung beban pencemaran dan baku mutu limbah cair ditinjau secara berkala sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun.2. Menteri setelah berkonsultasi dengan Menteri lain dan atau Pimpinan lembaga pemerintah non-departemen yang bersangkutan menetapkan baku mutu limbah cair. memperluas. (vi) pembiayaan pengembangan SPAM meliputi pembiayaan untuk membangun. Pemerintah dipandang perlu untuk menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Pencemaran Air. Keanggotaan BPP SPAM terdiri atas unsur Pemerintah. BUMN/BUMD. (viii) masyarakat yang dirugikan berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan.8 Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Peraturan ini dimaksudkan untuk melestarikan fungsi air untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang serta keseimbangan ekologis. berada di bawah. Baku mutu air. (iv) penyelenggaraan pengembangan SPAM dilakukan oleh BUMN atau BUMD yang dibentuk secara khusus untuk pengembangan SPAM. Oleh karena itu. (iii) dalam hal pembiayaan inventarisasi kualitas dan kuantitas air dibebankan pada anggaran daerah yang bersangkutan. badan usaha swasta. badan usaha swasta. maka baku mutu limbah cair yang boleh dibuang ke dalam air oleh kegiatan tersebut ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I setelah berkonsultasi dengan Menteri. BPP SPAM merupakan badan non-struktural yang dibentuk oleh. dan bertanggung jawab kepada Menteri. (iii) kebijakan dan strategi nasional pengembangan SPAM disusun dan ditetapkan oleh Pemerintah setiap 5 tahun sekali melalui konsultasi publik. (v) untuk mencapai tujuan pengaturan pengembangan SPAM dibentuklah suatu badan yang disebut Badan Pendukung Pengembangan SPAM (BPP SPAM).. 5. Jika bersifat lintas provinsi. dan/atau masyarakat. dan pemulihan pencemaran air akibat suatu kegiatan dibebankan kepada penanggungjawab kegiatan yang bersangkutan. penanggulangan. dan unsur masyarakat. Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak. sehingga perlu dipelihara kualitasnya agar tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. unsur penyelenggara.

(v) setiap orang yang membuang air limbah ke prasarana dan/atau sarana pengelolaan air limbah yang disediakan oleh Pemerintah Kab/Kota dapat dikenakan retribusi yang ditetapkan dengan Perda Kab/Kota. Pemerintah Propinsi mengkoordinasikan pengelolaan kualitas air lintas Kab/Kota.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 78 Peraturan ini merupakan pelaksanaan ketentuan dari Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. (ii) Upaya pengelolaan kualitas air dilakukan pada (a) sumber air yang terdapat di dalam hutan lindung. Sedangkan Pemerintah Kab/Kota melakukan pengelolaan kualitas air di Kab/Kota. Baku mutu air limbah daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Propinsi. (iv) baku mutu air limbah nasional ditetapkan dengan Keputusan Menteri dengan tetap memperhatikan saran masukan dari instansi terkait. (iii) pemerintah melakukan pengelolaan kualitas air lintas propinsi dan/atau lintas batas negara. dan (c) akuifer air tanah dalam. Hal tersebut dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga berdasarkan peraturan perundang-undangan. (b) mata air yang terdapat di luar hutan lindung. Beberapa pengaturan penting diantaranya adalah (i) pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air diselenggarakan secara terpadu dengan pendekatan ekosistem. „ .

.

.

2. (vi) meningkatkan keamanan dan keselamatan bangunan. (x) tersusunnya pedolingkungan serta sistem pengawasannya. Dana Sumber dana adalah APBN. Sasaran Sasaran program ini adalah (i) tersedianya perumahan yang layak dan terjangkau. pengembangan kredit mikro dan pemberdayaan ekonomi lokal.81 6.1. (v) meningkatkan kualitas BUMN/BUMD yang bergerak dalam penyediaan dan pengelolaan perumahan.033. rumah sederhana.010.208 2008 2.1 Perumahan 6. Tujuan Tujuan dari program ini adalah (i) memantapkan sistem hunian bagi masyarakat. Kegiatan Program dan Proyek man dan standar teknis konstruksi bangunan gedung dan Kegiatan utama dari program ini mencakup (i) penyediaan kredit pemilikan rumah-inti sehat dan rumah-inti sehat sederhana (KP-RS/RSS).1 ALOKASI DANA PROGRAM PENGEMBANGAN PERUMAHAN TAHUN 2005-2008 (JUTA RUPIAH) 2005 512.232 unit oleh Kementerian Negara Perumahan Rakyat. dan terlihat peningkatan yang signifikan sejak pertama kali program dilangsungkan yang hanya sebesar Rp.309.5 Sumber : Bappenas. Selengkapnya pada Tabel VI. A. serta pengembangan rumah susun sederhana sewa (rusunawa). (iv) meningkatkan peran aktif swasta dalam penyediaan dan pembangunan perumahan. dan terjangkau. (ii) terhindarinya kegiatan spekulasi tanah dalam pembangunan perumahan dan permukiman. pengembangan sistem pembiayaan perumahan jangka panjang. 2009 Waktu Tahun 2005 sampai dengan 2009. (iii) meningkatkan keswadayaan masyarakat dalam penyediaan dan pembangunan perumahan. (v) terwujudnya mekanisme subsidi perumahan yang efisien dan tepat sasaran sesuai dengan kemampuan keuangan pemerintah. (iii) meningkatnya ketersediaan dana bagi pembiayaan perumahan yang berasal dari dana masyarakat. dan 13. Lokasi Lokasi pelaksanaan program berada di 33 propinsi di Indonesia. aman. (ix) terfokusnya kegiatan BUMN/BUMD pada pengelolaan hunian yang layak dan terjangkau di perkotaan. (iv) pengembangan Kasiba/Lisiba. (vi) penguatan kelembagaan pengawasan konstruksi dan keselamatan bangunan.8 miliar (2005) berkembang menjadi Rp. Program Pengembangan Perumahan Program ini dilaksanakan untuk mendorong pemenuhan kebutuhan rumah yang layak. 487. efektif dan akuntabel.048 2007 1. TABEL VI. dengan menitikberatkan kepada masyarakat miskin dan berpendapatan rendah.5 2006 1. (v) pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman akibat bencana alam dan kerusuhan sosial.480 unit. melalui pemberdayaan dan peningkatan kinerja pasar primer perumahan. (iv) terwujudnya pasar primer dan pasar hipotik sekunder yang berkualitas. (ii) pengembangan perumahan yang bertumpu pada keswadayaan masyarakat. (iii) pemberian fasilitas bantuan subsidi . (viii) meningkatnya investasi di bidang perumahan.1. Pencapaian Pencapaian dari program ini diantaranya (i) pembangunan rumah susun sederhana sewa bagi MBR sebanyak 12.4 triliun (2008).940. (ii) mengembangkan pola subsidi perumahan yang efisien. (vii) terwujudnya BUMN/BUMD yang bergerak di bidang perumahan dan permukiman yang efisien.424.672 unit oleh Departemen Pekerjaan Umum.1 Program Perumahan Pada saat ini terdapat 2 (dua) program perumahan yang tercantum dalam RPJM yaitu Program Pengembangan Perumahan dan Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan. pengembangan Kasiba/Lisiba. (vi) meningkatnya kemudahan bagi masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah untuk mendapatkan hunian yang layak. dan rumah sederhana sehat. sehat. (iii) pengembangan rumah susun sederhana sewa/rusunawa. Instansi Pelaksana Departemen Pekerjaan Umum dan Kementerian Negara Perumahan Rakyat. (vii) pengembangan manajemen pembangunan perumahan. (ii) penyediaan sarana dan prasarana dasar untuk RSH/S dan rumah susun sebanyak 1.

dan program perumahan swadaya. Pencapaian Pencapaian program ini diantaranya adalah (i) pembangunan kawasan kumuh dan nelayan berupa Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) di 18. strategi. 2. (vi) terbangunnya sarana dan prasarana dasar permukiman di kawasan pesisir. desa eks-transmigrasi. (iv) terlaksananya bantuan pembangunan rumah pasca-bencana. desa eks-transmigrasi. (viii) terlaksananya kembali penataan kawasan tradisional dan bersejarah. pemerintah juga melaksanakan program pemberdayaan komunitas perumahan.167 hektar dan dapat membantu . Instansi Pelaksana Departemen Pekerjaan Umum dan Kementerian Negara Perumahan Rakyat. dan desa nelayan.37 triliun (2008). dan kawasan perbatasan. desa tradisional.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 82 kualitas lingkungan pada kawasan kumuh. (vii) penyusunan NSPM pemberdayaan komunitas perumahan pemberdayaan masyarakat miskin di perkotaan. dan desa eks transmigrasi. Lokasi Lokasi pelaksanaan program berada di 33 propinsi di Indonesia. desa tradisional. (iv) pengembangan sistem penanggulangan kebakaran (fire fighting system). 2009 Waktu Tahun 2005 sampai dengan 2009.904.266. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat terutama dalam memenuhi kebutuhannya akan perumahan. Pemerintah hanya memberikan fasilitasi dan bantuan sebagai modal awal kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan perumahan maupun meningkatkan kualitas lingkungan perumahannya.490 unit. pulau kecil.484. desa nelayan.346. (vii) tersusunnya kebijakan. Sasaran Sasaran program ini adalah (i) terlaksananya fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya. (x) terlaksananya kegiatan penanggulangan kemiskinan perkotaan.2 2006 958. (vi) penataan. (xi) meningkatnya infrastruktur sosial ekonomi wilayah. (viii) fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan yang tanggap terhadap bencana. peremajaan. desa nelayan. pulau terpencil. (ii) penataan dan perbaikan lingkungan permukiman (NUSSP) di 828 kelurahan. Dana Sumber dana berasal dari APBN. Tujuan Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas perumahan melalui penguatan lembaga komunitas dalam rangka pemberdayaan sosial kemasyarakatan agar tercipta masyarakat yang produktif secara ekonomi dan berkemampuan mewujudkan terciptanya lingkungan permukiman yang sehat. TABEL VI. Program Pemberdayaan Komunitas Permukiman Selain pelaksanaan program pengembangan perumahan. (iii) terlaksananya fasilitasi dan stimulasi penyediaan sarana dan prasarana dasar di kawasan permukiman kumuh. dan desa eks transmigrasi. dan revitalisasi kawasan. (iv) dukungan kawasan perumahan bagi PNS/TNI-Polri/pekerja sebanyak 201. (ii) fasilitasi dan bantuan teknis perbaikan rumah pada kawasan kumuh. (iii) fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan Kegiatan utama program ini diantaranya (i) peningkatan Sumber : Bappenas. (ix) berkembangnya sistem penanggulangan kebakaran.364 unit. dan desa nelayan.2 ALOKASI DANA PROGRAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PERUMAHAN TAHUN 2005-2008 (JUTA RUPIAH) 2005 598. desa nelayan. B. harmonis dan berkelanjutan. (ii) terlaksananya fasilitasi dan stimulasi perbaikan rumah di kawasan permukiman kumuh.8 2008 1. desa nelayan. 598. dan menunjukkan peningkatan signifikan dari Rp. (v) pemberdayaan masyarakat miskin di kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.447 2007 2. seluas 5. (v) meningkatnya kualitas lingkungan perkotaan.7 miliar (2005) menjadi Rp.296 KPR RSH serta subsidi kredit mikro bagi pembangunan dan perbaikan rumah secara secara swadaya bagi MBR sebanyak 257.357 kelurahan.

Sedangkan tujuan secara rinci NUSSP adalah sebagai berikut (i) meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan perumahan bagi komunitas berpenghasilan rendah (KBR). Tercapainya peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam menangani permasalahan perumahan dan permukiman bagi KBR yang tinggal di tempat-tempat kumuh dan tidak layak. dan masyarakat. Selanjutnya diperluas pada area lain di kelurahan yang sama dan selanjutnya dapat dikembangkan di seluruh wilayah kota/kabupaten yang bersangkutan. 6.674 desa di 32 propinsi. (ii) membantu KBR dalam pengadaan dan perbaikan rumah tidak layak huni melalui fasilitas kredit mikro perumahan.385 unit. (iv) penataan bangunan dan lingkungan di 422 kelurahan. sektor swasta. Pelaksanaan pendekatan Tridaya dalam NUSSP meliputi: (1) Pemberdayaan pemerintah daerah dan masyarakat melalui pengembangan kapasitas dalam bentuk pelatihan dan pendampingan.551. Terbangunnya sistem pembiayaan perumahan yang didukung lembaga keuangan formal dan nonformal pada . (x) pembangunan infrastruktur permukiman kawasan di 101 kawasan perbatasan. pada tahun pertama. pembiayaan. Teralokasikannya dukungan kebijakan dan pembiayaan oleh pemerintah daerah dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan dan permukiman bagi KBR. Tujuan Tujuan umum NUSSP adalah untuk membantu pemerintah dalam mengurangi kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah. melalui penyediaan sumberdaya bagi pemerintah daerah. proses pembangunan akan dimulai pada Program dan Proyek kelurahan yang memiliki area kumuh sebagai wilayah pusat kegiatan (nuclear spot area). (3) Pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan program lain di bidang pekerjaan umum dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di daerah. Dalam pelaksanaannya. akan dimulai di beberapa lokasi sebagai bagian dari proses belajar (learning by doing) oleh masyarakat dan pemerintah daerah dalam membangun dan mengembangkan kapasitasnya dan sebagai dasar pengalaman untuk memperluas jangkauan penanganan di tahun-tahun selanjutnya.815. (v) pembangunan infrastruktur permukiman kawasan terpencil/pulau kecil/terluar di 100 kawasan. Masyarakat diorganisasikan dalam kelembagaan lokal bermitra dengan pemerintah daerah dan dunia usaha untuk bekerjasama dalam menyediakan sarana. Pendekatan yang dilakukan menggunakan pendekatan Tridaya. bekerjasama dengan masyarakat dan sektor swasta. dan keahlian teknis. Melalui NUSSP. Dalam hal ini masyarakat secara kolektif tetap dapat memutuskan sendiri segala sesuatu yang membawa akibat langsung maupun tidak langsung bagi mereka. dan kelompok swasta. Sasaran NUSSP memiliki sasaran yang terdiri dari sasaran fungsional dan sasaran operasional. pemerintah daerah. Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) NUSSP adalah sebuah kegiatan untuk mengatasi permasalahan pada perumahan dan permukiman kumuh. (vii) pembangunan Kawasan Terpilih Pusat Pertumbuhan Desa (KTP2D) di 586 kawasan.83 1. 1.830 jiwa. (iii) fasilitasi dan stimulasi pembangunan/perbaikan rumah yang bertumpu pada keswadayaan masyarakat sebanyak 1. (iii) meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyusun perencanaan partisipatif dengan penekanan pada berbagi peran dan tanggungjawab secara harmoni antara masyarakat. (viii) pembangunan infrastruktur perdesaan tertinggal pada 16.1.2 Proyek A. (ix) penataan revitalisasi kawasan pada 116 kawasan. (2) Pendayagunaan fasilitas lingkungan dengan peningkatan kualitas lingkungan permukiman melalui pengadaan dan perbaikan prasarana dan sarana dasar serta perbaikan rumah tidak layak huni melalui fasilitas kredit mikro perumahan. Sasaran Fungsional     Terlembaganya pendekatan partisipatif dalam pengembangan perencanaan permukiman oleh masyarakat secara harmoni yang didukung oleh pemerintah daerah. (vi) pembangunan daerah pedesaan berupa pembangunan kawasan agropolitan di 202 kawasan. Kegiatan ini meningkatkan kapasitas pemerintah dan masyarakat secara sinergis dibidang perumahan dan permukiman sehingga permasalahan penanganan perumahan dan permukiman kumuh akan lebih cepat untuk diselesaikan.

Luwu Timur. Kab. Serang. Kota Tanjung Balai. Kota-kota tersebut antara lain (i) wilayah Sulawesi mencakup Kota Kendari. 2. Peningkatan kualitas lingkungan bagi permukiman miskin dan berpendapatan rendah.9 juta. Bulukumba. baik untuk instansi/institusi di tingkat pemerintah maupun di tingkat masyarakat. Kolaka. tingkat pemerintah pusat dan daerah sehingga program pengembangan perumahan dan permukiman bagi KBR  dapat terselenggara secara harmoni dan berkelanjutan. Kota Surabaya. Kota Pontianak. Terpenuhinya kebutuhan rumah yang layak huni pada lingkungan permukiman yang sehat dan harmonis. Kab. Kab. (iv) Pengembangan kelembagaan. Membuka akses dan sistem pembiayaan perumahan yang terjangkau dan berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kualitas perumahan dan lingkungan masyarakat miskin perkotaan. Bone. Kota Bau-Bau. 4. Kota Yogyakarta. Kab. Jeneponto. (iii) Pelaksanaan pengembangan masyarakat melalui proses pengorganisasian masyarakat secara organik dan berkelanjutan. Kota Sukabumi. Hasil akhir (outcome) yang diharapkan adalah tersusunnya Rencana Pengembangan dan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Daerah (RP4D). Kota Mataram. Kab. Gowa. Kota Palembang. Dana Total dana mencapai USD 106. Kab. Kota Palopo.7 juta. Hasil antara (output) yang diharapkan adalah terbentuknya Badan Koordinasi Pengembangan dan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Daerah (BKP4D). yang terdiri dari pendanaan luar negeri sebesar USD 83. Terbangunnya sistem penyediaan sarana dan prasarana perumahan dan permukiman yang berdaya guna dan berkelanjutan. Kab. Sasaran Operasional  Terbangunnya kelembagaan lokal sebagai representasi warga masyarakat (Badan Keswadayaan Masyarakat/BKM) yang mampu melakukan peran dan fungsi serta mampu memfasilitasi terjadinya berbagi peran antara warga masyarakat dengan pelaku kunci lainnya serta mampu memfasilitasi terbangunnya aksesibilitas dan posisi tawar KBR terhadap pemerintah sebagai pemegang kewenangan dalam penetapan kebijakan dan penganggaran.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 84 3. Kota Padang. dan sebagai hasil akhir adalah tersusunnya Neighborhoods Upgrading Plan's (NUP) untuk peningkatan kualitas perumahan dan permukiman. 2. Peningkatan dan penguatan kapasitas kelembagaan sektor terkait untuk melaksanakan program.8 juta. Kab. Kota Jambi. Kab. .   Kegiatan Kegiatan yang dilaksanakan pada program ini antara lain: 1. Kalimantan Barat dan NTB mencakup Kota Tangerang. Muna. Hasil antara komponen ini adalah terbangunnya Kelembagaan Masyarakat dengan nama generik Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Membangun serta meningkatkan sistem implementasi perencanaan dan pengelolaan sektor hunian yang memihak pada kepentingan komunitas berpenghasilan rendah. Kota Makassar. Kab. dan Kota Bandar Lampung. sehingga dapat mendukung produktivitas penduduk terutama bagi KBR. Kab. Luwu. Hasil antara yang diharapkan adalah terbentuknya lembaga keuangan lokal di daerah dan hasil akhir yang diharapkan adalah terlembaganya sistem pembiayaan perumahan dan permukiman yang memihak kepada KBR. Subang. (ii) Pelaksanaan dan pengembangan sosialisasi bagi khalayak sasaran pemanfaat langsung dan khalayak sasaran masyarakat luas secara menyeluruh. Rembang. Komponen keempat ini mencakup (i) Pelaksanaan dan penyelenggaraan pelatihan bagi aparat pemerintah dan masyarakat. Polewali. (iii) wilayah Sumatera meliputi Kota Medan. (ii) wilayah Jawa. dan dana pendamping USD 22. Buton. Kota Palu. Instansi Pelaksana Departemen Pekerjaan Umum Lokasi NUSSP dilaksanakan di 32 Kota/Kabupaten yang dipilih secara kompetitif berdasarkan kriteria tertentu. Kab. Kab. Kab. Lamongan. Kota Bengkulu. Terfasilitasinya aksesibilitas masyarakat miskin kepada sumber daya keuangan sehingga dapat membantu dan memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas rumah secara berkelanjutan. Komponen ini menjadi pengikat ketiga komponen lainnya yang berperan sebagai elemen penyedia dan pemberi masukan yang dibutuhkan.

Program Pemberdayaan Masyarakat Program ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. (ix) pelibatan masyarakat dalam perencanaan awal. dan saluran drainase. gender. (iii) berkurangnya timbulan sampah. (xvi) kampanye penyadaran publik (public awareness campaign) mengenai perlunya saluran drainase dalam mengurangi genangan di kota metropolitan.1 Program Terdapat 4 program permukiman yang tercantum dalam RPJM yaitu program pemberdayaan masyarakat. (xii) pemasyarakatan struktur pembiayaan dalam penanganan persampahan dan drainase. desain. program pengembangan kelembagaan. dan (v) meningkatnya peran serta masyarakat dalam penanganan persampahan dan drainase. (viii) peningkatan kapasitas masyarakat dengan berdasar kepada pendekatan tanggap kebutuhan (demand responsive approach/demand driven). konstruksi maupun operasi dan pemeliharaan. mediasi. A. (xv) proyek percontohan pengembangan produk pertanian organik skala kecil sebagai upaya pengembangan pasar kompos. pendidikan. kota besar. reuse. pilihan yang diinformasikan (informed choice). (xiii) pengembangan kapasitas bagi pemulung dan lapak di kota metropolitan dan kota besar. dan program peningkatan kinerja persampahan dan drainase. dan swadaya (self-financing). (iv) menurunnya perambahan terhadap sungai. Tujuan Tujuan program ini adalah (i) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peranan air minum dan air limbah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan produktivitasnya. (ii) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan air minum dan air limbah. (xvii) peningkatan pemeliharaan dan normalisasi saluran drainase yang berbasis masyarakat pada kawasan-kawasan kumuh di kota metropolitan. (vi) pengembangan budaya penghargaan dan hukuman (reward and punishment) terhadap partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas lingkungan. kanal. dan kota sedang. NUSSP telah melakukan penanganan permukiman kumuh seluas 7. keberpihakan pada masyarakat miskin (pro-poor).85 Waktu Maret 2005-Desember 2009 Pencapaian Sampai dengan bulan Agustus tahun 2008. (vii) peningkatan peran charity fund dan LSM/NGO. recycle). (iv) pelaksanaan percontohan dan pengembangan peran masyarakat dalam meningkatkan kualitas lingkungan. (ii) meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penanganan persoalan persampahan dan drainase. Sasaran Sasaran program ini adalah (i) meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlunya perilaku hidup bersih dan sehat. (xi) pengembangan pusat daur ulang (recycle center) yang berbasis masyarakat di kota metropolitan dan kota besar. dan kota sedang.2 Permukiman 6. partisipatif. baik individual maupun kelompok dalam peningkatan kualitas lingkungan. Instansi Pelaksana Departemen Pekerjaan Umum Lokasi Lokasi pelaksanaan program tersebar di seluruh wilayah Indonesia . (ii) peningkatan peran sekolah Program dan Proyek dasar dalam mendukung perilaku hidup bersih dan sehat.675.2. kota besar. Sementara itu terdapat 1 (satu) program yang baru saja dicanangkan yaitu Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). 6.78 hektar di kota-kota sasaran proyek. (x) kampanye penyadaran publik (public awareness campaign) mengenai 3R (reduce. program pengembangan kinerja air minum dan air limbah. khususnya di daerah eks bencana alam sebagai upaya pemulihan. dan fasilitasi kepada masyarakat mengenai perlunya perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan Kegiatan program diantaranya (i) kampanye publik. (iii) pelaksanaan percontohan dan pengembangan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber air baku. (v) pelestarian budaya dan kearifan lokal yang mendukung pelestarian dan penjagaan kualitas air baku. (xiv) pengembangan vermi compost dan pengomposan yang berbasis masyarakat di kota besar dan kota sedang.

strategi. (viii) terciptanya sumber-sumber pembiayaan baru bagi penanganan persampahan dan drainase. Sasaran Sasaran program ini adalah (i) meningkatnya koordinasi dan kerjasama antarkegiatan dan antarwilayah dalam pembangunan air minum dan air limbah. (vii) review dan revisi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan persoalan persampahan dan drainase. 38. TABEL VI. air limbah. persampahan. (vii) tersedianya perangkat perundang-undangan yang mengatur hubungan kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam pengelolaan persampahan dan drainase. Program Pengembangan Kelembagaan Selain pemberdayaan masyarakat. (ix) penyusunan kebijakan. Pengembangan kelembagaan disini mencakup penataan peraturan perundang-undangan maupun lembaga pemerintah dan non-pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembangunan air minum dan air limbah. (xii) proyek percontohan kerjasama pemerintah dan BUMS dalam pengelolaan persampahan. (iii) peningkatan kerjasama BUMD dengan BUMS yang saling menguntungkan. Tujuan Melakukan penataan kembali peraturan perundang-undangan dan pengembangan kelembagaan yang terkait dengan pembangunan air minum. 19 Milyar pada tahun 2006 menjadi Rp. (iii) meningkatnya peranan badan usaha milik swasta dalam pembangunan dan pengelolaan air minum dan air limbah. (xi) peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan. 2009 Waktu Tahun 2005 sampai dengan 2009 B. (vi) pemberian bantuan teknis pada lembaga pengelola pelayanan air minum dan air limbah pada daerah eks bencana alam.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 86 air minum dan air limbah. dan menunjukkan kecenderungan menurun dari Rp. (x) pelaksanaan proyek percontohan regionalisasi penanganan persampahan dan drainase. Instansi Pelaksana Departemen Pekerjaan Umum Lokasi Lokasi pelaksanaan program tersebar di seluruh wilayah Indonesia Dana Sumber dana berasal dari APBN.000 2008 13. (ii) penyusunan peraturan presiden tentang kerjasama antara BUMN/BUMD dengan BUMS. dan drainase yang efektif. kelembagaan yang terkait dengan pembangunan perumahan dan permukiman juga harus dikembangkan. dan drainase untuk mewujudkan sistem kelembagaan dan tata laksana pembangunan air minum. (viii) penyusunan naskah akademik rencana undang-undang persampahan. dan transparan. (vi) pulihnya kinerja lembaga pengelola pelayanan air minum dan air limbah pada daerah eks bencana alam.4 Milyar pada tahun 2006 menjadi Rp. 22. akuntabel. 13 Milyar pada tahun 2008.2 Milyar pada tahun 2008. dan rencana tindak penanggulangan sampah secara nasional.000 2007 18.3 ALOKASI DANA PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TAHUN 2005-2008 (JUTA RUPIAH) 2005 2006 19. Kegiatan Kegiatan program ini diantaranya adalah (i) penyusunan peraturan presiden tentang kerjasama antarwilayah (regionalisasi) dalam pembangunan dan pengelolaan air minum dan air limbah. air limbah. (v) terselesaikannya revisi peraturan perundang-undangan yang melakukan pengaturan terhadap BUMD yang bergerak dalam pembangunan dan pengelolaan . Dana Sumber dana berasal dari APBN. serta (xiii) pemberian bantuan teknis pada lembaga pengelola pelayanan persampahan dan drainase pada daerah eks bencana alam. (iv) tersedianya sumber pembiayaan yang murah dan berkelanjutan. (v) penyusunan peraturan presiden tentang penerbitan obligasi oleh BUMD. (ii) terciptanya peraturan perundang-undangan yang mengatur kemitraan pemerintahswasta (public private partnership) dalam pembangunan air minum dan air limbah. (ix) meningkatnya kualitas koordinasi dan kerjasama antarwilayah dalam penanganan persampahan dan drainase. dan menunjukkan kecenderungan menurun dari Rp.000 Sumber : Bappenas. persampahan. (iv) pengembangan water supply and wastewater fund.

maupun masyarakat. C. Tujuan Tujuan program adalah meningkatkan cakupan pelayanan air minum dan air limbah yang dilaksanakan oleh badan usaha milik daerah (BUMD) dan yang dilaksanakan oleh komunitas masyarakat secara optimal. 4. 2009 .272 Kegiatan Program dan Proyek Kegiatan program ini diantaranya adalah 1. 8. 10. Refurbishment terhadap sistem penyediaan air minum dan pembuangan air limbah yang telah terbangun. Sasaran Sasaran program ini adalah (i) meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan air limbah yang dikelola oleh BUMD. serta 15. Pengembangan teknologi pengolahan lumpur tinja dan air minum. 9.000 2008 22.400 Waktu Tahun 2005 sampai dengan 2009 Pencapaian Terdapat dua pencapaian penting yaitu (i) Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. dan berkelanjutan. 2007 29. 14. Peningkatan peranserta masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan air minum dan air limbah. Instansi Pelaksana Departemen Pekerjaan Umum Lokasi Lokasi pelaksanaan program tersebar di seluruh Indonesia Dana Sumber dana berasal dari APBN. (ii) penetapan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Revisi peraturan mengenai struktur dan penentuan tarif. dan menunjukkan kecenderungan terus meningkat dari Rp.8 Triliun pada tahun 2008. 13. optimasi rasio pegawai dan pelanggan. 2. 6. Peningkatan kapasitas (Capacity building) bagi PDAM dan PDAL melalui uji kompetensi. Peningkatan jumlah PDAM dan PDAL yang berpredikat WTP di kota metropolitan dan besar.4 ALOKASI DANA PROGRAM PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN TAHUN 2005-2008 (JUTA RUPIAH) 2005 2006 38. Restrukturisasi hutang PDAM dan PDAL khususnya yang terkait dengan pinjaman luar negeri melalui subsidiary loan agreement (SLA). Peningkatan operasi dan pemeliharaan. penegakan hukum terhadap sambungan liar (illegal connection). Secara rinci sasaran pembangunan air minum adalah meningkatnya cakupan pelayanan air minum perpipaan secara nasional hingga mencapai 40 persen pada akhir tahun 2009 dengan perincian cakupan pelayanan air minum perpipaan untuk penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan diharapkan dapat meningkat hingga mencapai 66 persen dan di kawasan perdesaan meningkat hingga mencapai 30 persen. Sedangkan sasaran pembangunan air limbah adalah open defecation free (stop buang air besar sembarangan) untuk semua kabupaten/kota hingga akhir tahun 2009. 5. Perbaikan prasarana dan sarana air minum dan air limbah yang rusak serta pembangunan dibeberapa permukiman baru pada lokasi eks bencana alam. peningkatan efisiensi penagihan. Restrukturisasi manajemen PDAM dan PDAL. penggantian pipa air. (iii) meningkatnya cakupan pelayanan air minum dan air limbah yang dikelola secara langsung oleh masyarakat. Sumber : Bappenas. Pengembangan pelayanan air minum dan air limbah yang berbasis masyarakat. Penyediaan air minum dan prasarana air limbah bagi kawasan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Penurunan kebocoran melalui penggantian pipa bocor dan berumur.87 TABEL VI. Penurunan kapasitas tidak terpakai (idle capacity). Program Pengembangan Kinerja Air Minum dan Air Limbah Program ini mencakup kinerja penyediaan air minum dan penanganan air limbah baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. (ii) meningkatnya kinerja BUMD pengelola air minum dan air limbah hingga berpredikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). 468 Milyar pada tahun 2005 menjadi Rp. 11. pendidikan dan pelatihan. 3. Pengembangan pelayanan sistem pembuangan air limbah dengan sistem terpusat pada kota-kota metropolitan dan besar. efisien. 7. 12. 1.

4. Pengembangan prasarana dan sarana air minum bagi masyarakat menengah keatas (KPS/Turnkey/Swasta) Pengembangan prasarana dan sarana air minum perdesaan melalui DAK dan APBD Penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS) di desa rawan air/terpencil Pengelolaan air limbah - 2.043 2006 865 2007 766 TOTAL PENCAPAIAN 2005-2007 2.550 2. 5.894 87/287.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 88 Waktu Tahun 2005 sampai dengan 2009 Pencapaian Hasil yang telah dicapai dari program pengembangan kinerja pelayanan air minum dan air limbah semenjak awal RPJMN adalah sebagai berikut : TABEL VI.5 2008 1.584 1.188 1.452 L/detik 7. NAMA KEGIATAN Pengembangan prasarana dan sarana air minum bagi IKK (Ibu Kota Kecamatan) Pengembangan prasarana dan sarana air minum bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) Perkotaan (RSH dan kumuh.326.050 L/detik L/detik L/detik 6.4 Sumber : Bappenas.023 2.584 L/detik 3.391.998. 60 943 550 728 571 500 400 70 - 1. - 311 311 L/detik 8.5 ALOKASI DANA PROGRAM PENGEMBANGAN KINERJA AIR MINUM DAN AIR LIMBAH TAHUN 2005-2008 (JUTA RUPIAH) 2005 467. 2007 . serta nelayan) Penyehatan PDAM Pengembangan prasarana dan sarana air minum bagi ibukota kabupaten pemekaran. 943 571 70 1. 2009 TABEL VI.6 PENCAPAIAN PROGRAM PENGEMBANGAN KINERJA PELAYANAN AIR MINUM DAN AIR LIMBAH HASIL PENCAPAIAN 2005-2007 2005 1.150 84/615. 1.984 217/933. 46/29.6 2006 765.028 kab-kota/jiwa penduduk Sumber: Departemen PU.821.879 6.220.946 2007 1.674 SATUAN L/detik NO 1.

Instansi Pelaksana Departemen Pekerjaan Umum Lokasi Lokasi pelaksanaan program tersebar di seluruh wilayah Indonesia Dana Sumber dana berasal dari APBN. Perbaikan prasarana dan sarana persampahan serta sistem drainase yang rusak serta pembangunan di beberapa permukiman baru pada lokasi eks bencana alam. sewa beli (leasing). dan (iv) meningkatnya kinerja pengelola persampahan dan drainase. Kegiatan Kegiatan program ini diantaranya adalah 1. Penegakan hukum terhadap permukiman liar yang memanfaatkan lahan di jaringan drainase. efisien. Penyusunan studi kelayakan pemanfaatan WTE-incenerator (waste to energy) dalam pengolahan sampah. (ii) berkurangnya luasan wilayah tergenang. 10.140. serta 15. 4. Peningkatan kerjasama antara pemerintah dan BUMS baik melalui kontrak manajemen (contract management). saluran-saluran drainase juga harus terbebas dari sampah sehingga mampu meningkatkan fungsi saluran drainase sebagai pematus air hujan. 3. 2. 545 Milyar pada tahun 2008. maupun masyarakat. 7. Sasaran Sasaran program ini adalah (i) meningkatnya cakupan pelayanan persampahan. dan BOO dalam pengelolaan persampahan dan drainase.89 D. 5. BOT. Pembangunan jaringan drainase primer dan sekunder bagi kota-kota besar. tepat.1 2007 360. 9. Pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan bagi aparat maupun pegawai institusi yang menangani persampahan dan drainase. 12.389. Peningkatan kapasitas (capacity building) bagi institusi yang menangani pembangunan dan pemeliharaan drainase. Secara rinci. Pengembangan teknologi tepat guna bidang persampahan dan drainase. 2009 Waktu Tahun 2005-2009 . Program dan Proyek 8. 6. Restrukturisasi dan korporitisasi PD Kebersihan dan atau Dinas Kebersihan yang menangani persampahan. Peningkatan kualitas dan kuantitas pengangkutan persampahan. dan menunjukkan kecenderungan terus meningkat dari Rp. pelayanan persampahan dan drainase memiliki sasaran umum meningkatnya jumlah sampah terangkut hingga 75% dan meningkatnya kinerja pengelolaan TPA yang berwawasan lingkungan. 14. Peningkatan kualitas pengelolaan tempat pembuangan akhir dengan standar sanitary landfill system untuk kotakota besar. Program Peningkatan Kinerja Persampahan dan Drainase Program ini mencakup kinerja pengelolaan sampah dan drainase yang dilaksanakan oleh pemerintah.7 ALOKASI DANA PROGRAM PENINGKATAN KINERJA PERSAMPAHAN DAN DRAINASE TAHUN 2005-2008 (JUTA RUPIAH) 2005 2006 263. Selain itu. dan berwawasan lingkungan (environmental friendly). 11. 13. Pengembangan pemisahan sampah organik dan anorganik.1 2008 545. Peningkatan operasi dan pemeliharaan jaringan drainase primer dan sekunder. bermanfaat. Peningkatan dan normalisasi saluran drainase. Tujuan Tujuan program ini adalah meningkatkan kinerja pembangunan persampahan dan drainase sehingga lebih cepat.116 Sumber : Bappenas. 263 Milyar pada tahun 2006 menjadi Rp. (iii) meningkatnya pemanfaatan teknologi tepat guna. TABEL VI. Penerapan teknologi tinggi untuk pengurangan volume sampah bagi kota-kota metropolitan.

higinitas dan sanitasi masih sangat besar. sawah kolam. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian diare di Indonesia. (b) bersifat tidak menggurui. (ii) pembangunan drainase untuk menangani kawasan seluas 5. Foto: Istimewa Menyadari hal tersebut di atas. kebutuhan dan kemauan akan sanitasi yang berkesinambungan dan efektif terhadap higinitas dan sanitasi yg lebih baik. sehingga diperlukan strategi yang baru dengan melibatkan lintas sektor sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing dengan pelaku utama Departemen Kesehatan. antara lain melakukan ujicoba implementasi STBM di 6 kabupaten pada tahun 2005 dan dilanjutkan dengan penanganan gerakan sanitasi total oleh Menteri Kesehatan pada tahun 2006 di Sumatera Barat dan . pemerintah telah melaksanakan beberapa kegiatan. Program Stop BABS diterapkan dengan tujuan untuk memfasilitasi masyarakat dalam memahami permasalahan dan potensi peningkatan sanitasi di komunitasnya. (iii) meningkatkan pengetahuan dan kemampuan fasilitator tenaga pemicu. E. Pada tahap awal. (iii) penataan dan revitalisasi kawasan perkotaan di 116 kawasan. Perlunya strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat berangkat dari pelaksanaan kegiatan dengan pendekatan sektoral dan subsidi perangkat keras selama ini tidak memberi daya ungkit terjadinya perubahan perilaku higienitas dan peningkatan akses sanitasi. Kegiatan Stop BABS bertujuan untuk (i) menciptakan kesadaran.018 hektar. Kondisi seperti ini dapat dikendalikan melalui intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Programme (ISSDP) tahun 2006 menunjukkan bahwa 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai. Pendekatan program Stop BABS dilakukan dengan prinsip-prinsip: (a) tanpa subsidi kepada masyarakat (tanpa pengecualian termasuk masyarakat termiskin). Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia terkait dengan masalah air minum.687 jiwa. (v) menyediakan data dan informasi tentang perkembangan pembangunan sanitasi. Sanitasi total sendiri adalah kondisi ketika suatu komunitas telah mencapai 5 kondisi atau yang lebih dikenal dengan sebutan 5 pilar STBM. Tujuan : Program STBM diterapkan dengan tujuan agar masyarakat sebagai sasaran pembangunan dapat mengubah perilaku mereka menjadi lebih sehat dan higiene. (c) menem- Pencapaian Pencapaian program ini diantaranya (i) pengelolaan persampahan di 171 kab/kota untuk 6. (ii) meningkatkan jumlah desa dengan status Open Defecation Free (terbebas dari Buang Air Besar Sembarangan). (iv) meningkatkan anggaran daerah untuk fasilitasi stop BABS.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 90 pencanangan Kampanye Cuci Tangan secara nasional oleh Menko Kesra bersama Mendiknas dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2007. Pemerintah telah memberikan perhatian di bidang higienitas dan sanitasi dengan menetapkan Open Defecation Free (ODF) dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2009 dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009. kebun dan tempat terbuka. tidak memaksa. Hal ini terlihat dari angka kejadian diare nasional pada tahun 2006 sebesar 423 per seribu penduduk pada semua umur dan 16 provinsi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 2. Kegiatan STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higienitas dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan metode pemicuan.52. Tidak Buang Air Besar (BAB) sembarangan/Program Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) STOP BABS (Buang Air Besar Sembarangan) adalah pilar pertama dalam pendekatan STBM. program Stop BABS dikenal sebagai Community-Led Total Sanitation (CLTS) yang diadopsi dari Bangladesh. dan tidak mempromosikan jamban. yaitu : 1.978.

Pencapaian untuk masing-masing pilar tersebut adalah sebagai berikut : 1. Pemilahan sampah sebagai salah satu langkah awal dari konsep 3R tersebut dimulai dari ringkat rumah tangga.758 300 55 925 300 250 710 DESA IMPLEMENTASI S. pemanfaatan. 3. Mengelola Limbah Cair Rumah Tangga dengan Aman. Pilar terakhir dari STBM ini memberikan panduan berupa bagaimana melakukan pengelolaan limbah pada tingkat rumah tangga dengan cara yang aman. Pengelolaan sampah dengan menggunakan konsep 3R efektif dalam mengurangi jumlah timbunan sampah dan volume sampah terangkut menuju TPA. Secara global kegiatan CTPS telah mengurangi jumlah kematian bayi sebanyak 1 juta per tahun. Kegiatan CTPS lebih mengutamakan pada konsep kampanye publik dengan sasaran utama adalah ibu dan anak-anak. Mencuci Tangan Pakai Sabun/Program CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) merupakan pilar kedua dalam STBM. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan panduan dan metode pengolahan air. 5. Pilar ini mengutamakan kemitraan dengan pelaku swasta dengan prinsip kerjasama PPP (Public Private Partnership). yaitu (i) Stop Buang Air Besar Sembarangan (ii) Cuci Tangan Pakai Sabun dan (iii) Pengelolaan Air Minum Tingkat Rumah Tangga (PAM-RT). TABEL VI.8. Mengelola Air Minum dan Makanan yang Aman/Program PAM-RT (Pengelolaan Air Minum Tingkat Rumah Tangga) Pengelolaan Air Minum Tingkat Rumah Tangga atau yang lebih dikenal dengan PAM-RT merupakan pilar ketiga dalam STBM. Kegiatan ini memiliki tujuan meningkatkan jumlah masyarakat yang mencuci tangan pakai sabun pada waktuwaktu kritis.D 2008 2. Pencapaian Program STBM hingga awal tahun 2009 baru terlaksana di 3 pilar. dan pemeliharaan sarana sanitasi mereka sendiri. penyimpanan dan perilaku penanganan air minum dan air yang digunakan untuk produksi bahan makanan tingkat rumah tangga. Mengelola Sampah dengan Benar Pilar keempat ini merupakan pilar yang lebih menekankan pa- Program dan Proyek da proses pengelolaan sampah dengan menggunakan konsep 3R. dan (d) memicu masyarakat terlibat secara total dalam melakukan analisis permasalahan dan potensi pemecahannya. pelaksanaan. Sementara untuk 2 pilar lainnya meliputi pengelolaan sampah dengan benar dan pengelolaan limbah cair dengan aman tingkat rumah tangga baru akan disusun pedoman umum dan petunjuk pelaksanaan pada kuartal I Tahun 2009.663 30 10 214 54 22 141 JUMLAH KOMUNITAS/ DUSUN STOP BABS 702 1 0 81 2 117 JUMLAH DESA STOP BABS 193 0 0 19 2 26 INDONESIA 1 2 3 4 5 6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan .D 2012 10.8 PERKEMBANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN STBM UNTUK PILAR STOP BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN PER DESEMBER 2008 NO PROPINSI TARGET DESA S. 4. 2. Mengelola limbah berarti juga memberikan anjuran kepada masyarakat agar melakukan pengelolaan limbah cair menjadi sesuatu yang berguna secara ekonomis dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar seperti pemanfaatan limbah cair untuk digunakan kembali sebagai sumber pengairan lahan pertanian.91 patkan masyarakat sebagai pemimpin dalam pelaksanaan program di komunitasnya. Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) Secara rinci hasil rekapitulasi pelaksanaan Program Nasional STBM untuk pilar pertama Stop Buang Air Besar Sembarangan dapat dilihat pada Tabel VI. perencanaan. Dengan tujuan jangka panjang berkontribusi terhadap penurunan kasus diare pada bayi dan balita di Indonesia.

Saat ini jumlah partisipan yang telah diedukasi dengan kampanye CTPS dalam skala nasional telah berjumlah hampir 58.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 92 IMPLEMENTASI S. Jawa Barat.063 6.9. TABEL VI. program ini telah diimplementasikan di hampir 25% dari total 10. Kegiatan ini telah berlangsung di 14 propinsi dengan jumlah partisipan terbesar berada di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kegiatan kampanye biasanya dilakukan di sekolah dasar dengan target utama adalah siswa dan guru. kinerja dari pilar Stop BABS berkembang dengan pesat.261 8. Sumatera Barat. lalu Propinsi Jawa Timur yang merupakan propinsi dengan jumlah desa berstatus Stop BABS terbanyak (107 desa atau sebesar 55% dari total desa berstatus Stop BABS di seluruh Indonesia).9 PERKEMBANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT UNTUK PILAR CUCI TANGAN PAKAI SABUN (CTPS) PER DESEMBER 2008 NO 1 2 3 4 PROPINSI NAD Jawa Barat Nusa Tenggara Barat Jawa Timur JUMLAH PARTISIPAN (ORANG) 24. Cuci Tangan Pakai Sabun Kegiatan CTPS lebih mengutamakan pada konsep kampanye publik dengan sasaran utama adalah ibu dan anak-anak. Selengkapnya pada Tabel VI.797 158 529 709 283 326 400 2 350 580 5 150 300 74 100 24 24 DESA JUMLAH KOMUNITAS/ DUSUN STOP BABS 3 0 22 20 17 0 335 5 42 5 6 0 0 15 2 29 0 0 JUMLAH DESA STOP BABS 3 0 4 3 5 0 107 3 11 2 1 0 0 3 1 3 0 0 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Bengkulu Lampung Bangka Belitung Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sumber : Sekretariat Nasional Program STBM. peringatan hari kesehatan dan peristiwa yang terkait dengan isu lingkungan lainnya. Hingga Bulan Desember 2008. 2.D 2008 14 1 18 201 302 1 808 70 136 168 27 24 72 2 63 127 3 27 68 17 18 8 8 NO PROPINSI TARGET DESA S.000 desa STBM oleh Menteri Kesehatan RI pada bulan Agustus 2008. Propinsi terbanyak yang telah mengimplementasikan program STBM adalah Jawa Tengah.158 . 2008 Sejak uji coba pendekatan STBM dilaksanakan pada tahun 2005 di 6 kabupaten kemudian berkembang menjadi pencanangan program 10.758 target desa STBM hingga tahun 2012.000 orang.212 5.541 1 1.D 2012 175 1 37 602 1.

Sulawesi Selatan. kualitasnya belum memenuhi syarat untuk dikonsumsi secara langsung. penyediaan sarana air minum dan sani- Sumber : Sekretariat Nasional Program STBM. Kondisi yang buruk itu menjadi hambatan yang sangat besar bagi wanita dan anak-anak karena waktunya tersita untuk mendapatkan air bagi keperluan mencuci. Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi (SToPS). Banten. Jawa Barat.200 1.400 3. Jawa Tengah.2. peningkatan kesehatan dan sanitasi melalui pelayanan kesehatan dan perubahan perilaku.947 A. Proyek WSLIC-1 telah berlangsung pada tahun 1993-1999 untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Program Kerjasama BAPPENAS-Plan. Tujuan : WSLIC 2 bertujuan meningkatkan status kesehatan. Per Desember 2008. dan minum. dan keramik filter. Kegiatan di tiap propinsi tersebut adalah berupa promosi pilihan teknologi PAM-RT diantaranya adalah metode klorinasi. Kegiatan . Jawa Timur. Proyek ini diluncurkan kembali dengan WSLIC-2 yang berakhir pada 2007 (diperpanjang hingga 2009). produktivitas. . Kebiasaan buruk ini sering menimbulkan terjangkitnya penyakit diare atau lainnya ke masyarakat yang sama-sama menggunakan mata air tersebut.2 Proyek Permukiman Pada saat ini tercatat 11 proyek permukiman dengan status sedang dalam pelaksanaan (on going) yaitu Water and Sanitation for Low Income Communities (WSLIC-II). Dari hasil studi dampak kesehatan terhadap pembangunan sarana air minum dan sanitasi lainnya terlihat adanya penurunan tingkat penyakit diare hingga sepertiganya. berkesinambungan.120 579 340 190 90 76 57. Sistem Penyediaan Air Minum Ibu Kota Kecamatan (SPAM-IKK). 6. memasak. Namun proyek WSLIC-1 menghadapi kendala kerumitan penyaluran admistrasi keuangan. Kegiatan pengelolaan air minum tingkat rumah tangga sejauh ini memberikan pilihan teknologi dalam menjaga kualitas air yang aman dikonsumsi tingkat rumah tangga. NTT. Selain itu. dan jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan masyarakat desa. SANIMAS. banyak keluarga berpenghasilan rendah dan berada di lokasi terpencil membuang kotorannya di tempat terbuka atau sungai. Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP). dan efektif melalui partisipasi masyarakat. Sasaran : Masyarakat perdesaan khususnya bagi komunitas miskin yang tidak mempunyai cukup akses terhadap air minum dan sanitasi. Pengelolaan Air Minum tingkat Rumah Tangga (PAM-RT) Pilar ini juga sudah secara resmi dicanangkan melalui Konferensi Nasional Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (Konas PAM-RT) oleh Menteri Kesehatan RI pada Bulan Agustus 2008. NTB. Water Supply and Sanitation Policy and Action Planning (WASPOLA-2). dan Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Utara. Water and Environmental Sanitation (WES) Unicef. serta kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah melalui perubahan perilaku.93 NO 5 6 7 8 9 10 11 12 13 13 Program dan Proyek PROPINSI Sulawesi Selatan Maluku Papua Nusa Tenggara Timur Sumatera Barat Sumatera Selatan Jawa Tengah Papua Barat Bangka Belitung Sulawesi Barat INDONESIA JUMLAH PARTISIPAN (ORANG) 3. WSLIC-2 mempunyai empat komponen utama yakni peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat. Biosand Filter.958 2. Pro Air. penyediaan air minum dan sanitasi yang aman. pelayanan kesehatan berbasis lingkungan. Community Water Service and Health Project (CWSHP).300 2. Water and Sanitation for Low Income Communities (WSLIC-II) Banyak penduduk perdesaan masih tergantung pada sumber air minum tradisional namun seringkali sumber air tersebut berada sangat jauh dari lokasi tempat tinggal penduduk. Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Masyarakat (PAMSIMAS). cukup dan mudah dijangkau. 2008 3. dilaporkan bahwa kegiatan ini telah dilaksanakan di 10 propinsi meliputi DKI Jakarta. debitnya tidak mencukupi pada saat air kering.

Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

94
Pencapaian Berdasar laporan perkembangan kegiatan sampai September 2008, pencapaian proyek mencakup (i) TKM (Tim Kerja Masyarakat) terbentuk di 2.340 desa atau 117% dari target, (ii) RKM (Rencana Kerja Masyarakat) tersusun di 2.313 desa atau 116% dari target, (iii) hibah desa teralokasi di 2.174 desa atau 109% dari target, (iv) sarana air bersih/minum berfungsi di 2.146 desa atau 107% dari target, (v) sarana fisik terselesaikan di 2.144 desa atau 107% dari target, (v) menjangkau masyarakat pengguna sebanyak 4,66 juta (133% dari target 3.5 juta). Rencana dan Status Saat ini Diperpanjang untuk 3 propinsi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat berupa perpanjangan pekerjaan lapangan sampai Maret 2009 sedangkan untuk Jawa Barat pelaksanaan di lapangan sampai Desember 2008. Perpanjangan waktu dikarenakan adanya dana sisa yang kemudian akan digunakan untuk beberapa kegiatan yaitu (i) implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang akan dilaksanakan di 16 kabupaten; (ii) tambahan kegiatan post construction census; (iii) peningkatan kapasitas untuk tahun 2009 di 16 Kabupaten; (iv) tambahan waktu manajemen. B. Pro Air Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai daerah yang angka curah hujannya rendah, oleh karena itu wilayah ini dikenal pula sebagai daerah yang sulit air. Selain kondisi daerah yang sulit air, pengetahuan penduduk tentang higienitas yang masih kurang, serta sebagian penduduk yang masih tinggal di tempat yang belum memenuhi standar lingkungan yang sehat menyebabkan penduduk Nusa Tenggara Timur berada dalam kondisi rentan terhadap penyakit yang ditularkan melalui air. Memperhatikan keadaan di atas, Pemerintah RI dan Pemerintah Jerman pada tahun 1998 sepakat untuk bekerjasama dalam pembangunan bidang air minum dan sanitasi di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Menidaklanjuti kerjasama di atas, pada tahun 2001 dilakukan pertemuan antarsektor terkait di tingkat pusat dan daerah dengan German Bank for Reconstruction (KfW) Jerman. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa German Ministery for Economic Cooperation (BMZ), KfW, dan Deutsche Gesselschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ) mengko-

tasi, serta pengelolaan/manajemen proyek. Proyek ini menerapkan suatu metode pendekatan yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Seluruh anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk terlibat (berpartisipasi) dalam pemilihan kegiatan untuk kesehatan, air minum, dan sanitasi, dengan fokus khusus pada permintaan perempuan dan masyarakat miskin. Metode yang digunakan adalah PHAST (Participatory Health and Sanitation Transformation/Tranformasi hidup bersih dan sehat dengan menggunakan metode partisipatif). Metode ini didasari oleh metodologi partisipatif lain yakni SARAR (percaya tanggung jawab). Penggunaan metodologi tanggap kebutuhan menjadikan masyarakat terlibat dari mulai perencanaan, pelaksanaan, sampai pemeliharaan. Masyarakat menentukan sendiri pilihan teknologi sarana yang akan dibangun. Kegiatan mereka didanai oleh hibah desa yang berasal dari pinjaman Bank Dunia dan pemerintah daerah yang mencakup 80 persen dari total pembiayaan. Selebihnya dari konstribusi masyarakat berupa 4 persen tunai, dan 16 persen barang dan tenaga (inkind). Instansi Pelaksana Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI Lokasi Proyek ini dilaksanakan di 7 (tujuh) propinsi yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Pemilihan propinsi ini didasarkan kriteria: (i) tingkat terjangkitnya penyakit diare, (ii) tingkat kemiskinan, dan (iii) tingkat pelayanan air bersih dan sanitasi. Pembiayaan Total dana yang disediakan untuk proyek WSLIC-2 ini sebesar US$ 106 juta yang terdiri dari US$ 83,9 juta dari pinjaman World Bank dan US$ 22,8 juta yang merupakan dana pendamping. Waktu Program WSLIC-2 berlangsung selama 72 bulan/6 tahun (Tahun 2001-2007).

95
ordinasikan program bantuan teknis dan bantuan keuangan. Kabupaten yang menerima bantuan program adalah Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tujuan Secara umum Pro Air bertujuan memberikan konstribusi untuk menurunkan risiko kesehatan bagi masyarakat perdesaan akibat penyakit yang ditularkan melalui air yang digunakan melalui peningkatan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan sanitasi di masyarakat perdesaan di propinsi Nusa Tenggara Timur. Sedangkan secara lebih khusus lagi melalui Pro Air ini diharapkan masyarakat perdesaan mampu mengelola sendiri prasarana dan sarana air bersih dan sanitasinya secara kesinambungan dan pemerintah setempat dapat mengadopsi pendekatan ini.

Program dan Proyek

Instansi Pelaksana Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI.

dan

Lokasi Pro Air berlokasi pada daerah perdesaan di Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timor (Tahap I), dan Kabupaten Ende dan Kabupaten Alor (Tahap II). Kemudian terjadi pemekaran wilayah Kabupaten Sumba Barat sehingga lokasi proyek juga mencakup Kabupaten Sumba Barat Daya. Pembiayaan Pada tanggal 12 Desember 2001 diterbitkan Grant Agreement "Rural Water Supply and Sanitation". KfW Jerman memberikan hibah untuk Propinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 15,6 juta DM untuk biaya investasi (pembangunan konstruksi, pengadaan barang dan jasa) serta untuk biaya konsultan. Sedangkan untuk dana pendampingnya, masing-masing kabupaten akan menyediakan investasi di dalam Daftar Isian Proyek Daerah (DIPDA) sebesar 10 persen dari nilai hibah yang diberikan oleh KfW Jerman dan dana non investasi yang besarnya sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing kabupaten. Waktu dan Lokasi Tahap I berlangsung pada periode tahun 2002-2007. Pelaksanaan Pro Air dilakukan secara bertahap dimulai dengan pelaksanaan kegiatan di Kabupaten Sumba Timur, disusul dengan Kabupaten Sumba Barat dan Timor Tengah Selatan. Pada tahap I dilakukan perpanjangan pada beberapa lokasi, yaitu (i) Kabupaten Sumba Barat Daya (kecuali Kecamatan Kodi Utara), Kabupaten Sumba Timur, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan diperpanjang hingga bulan Januari 2009. Sementara Kecamatan Kodi Utara (Kabupaten Sumba Barat Daya) hingga bulan Mei 2009; (ii) Optimalisasi Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Timur hingga bulan Desember 2008 dan Kabupaten Timor Tengah Selatan hingga bulan Maret 2009. Pencapaian Telah dilakukan misi pada Tahun 2008 untuk melakukan peninjauan terhadap pencapaian proyek Pro Air di Provinsi NTT dengan hasil sebagai berikut :

Foto: Bowo Leksono

Kegiatan Berbeda dengan cara pendekatan yang dilakukan pada masa lalu yang mendasarkan pada standar normatif dari pemerintah (supply driven), maka pada pelaksanaan program Pro Air menggunakan pendekatan berdasarkan kebutuhan masyarakat (demand driven). Terdapat beberapa tahap yang dilalui dalam pelaksanaan program Pro Air, yaitu (i) tahap sosialisasi dan diseminasi; (ii) tahap permohonan dan penilaian; (iii) tahap perencanaan; (iv) tahap rancang bangun dan pembuatan kontrak; dan (v) tahap konstruksi dan tahap pasca konstruksi.

Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia

96

z Kabupaten Sumba Timur: Status 12 Desa di 4 Kecamatan hampir seluruhnya sudah melewati tahap konstruksi untuk pembangunan sumur gravitasi dan sumur gali atau small system. z Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya: Status 16 Desa di 7 Kecamatan sudah hampir seluruhnya telah melewati tahap konstruksi namun ada beberapa desa dilaporkan masih dalam tahap 50% penyiapan konstruksi. z Kabupaten Timor Tengah Selatan: sudah melakukan serah terima dengan pihak pemerintah daerah dan secara resmi pihak fasilitator sudah tidak melakukan pendampingan pada lokasi yang bersangkutan. C. SANIMAS (Sanitasi Berbasis Masyarakat) Pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman di Indonesia saat ini belum mencapai kondisi yang diinginkan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan permukiman padat penduduk, kumuh dan rawan sanitasi di perkotaan. Akses penduduk kepada prasarana dan sarana air limbah permukiman pada dasarnya erat kaitannya dengan aspek kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan, sosial budaya serta kemiskinan. Hasil berbagai pengamatan dan penelitian telah membuktikan bahwa semakin besar akses penduduk kepada fasilitas prasarana dan sarana air limbah permukiman (serta pemahaman tentang higienitas) semakin kecil kemungkinan terjadinya kasus penyebaran penyakit yang ditularkan melalui media air (waterborne diseases). Salah satu solusi dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh, dan rawan sanitasi, telah dikenalkan kegiatan SANIMAS (Sanitasi oleh Masyarakat), yaitu sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman yang berbasis masyarakat dengan pendekatan tanggap kebutuhan (demand driven). Fokus kegiatan SANIMAS adalah penanganan air limbah rumah tangga khususnya tinja manusia, namun tidak tertutup juga untuk menangani limbah cair industri rumah tangga yang dapat terurai secara alamiah seperti industri tahu, tempe, dan sejenisnya. Melalui pelaksanaan SANIMAS ini, masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah permukiman yang sesuai, ikut aktif menyusun rencana aksi, membentuk kelompok dan melakukan pembangunan fisik termasuk mengelola kegiatan operasi dan pemeliharaannya, bahkan bila perlu mengembangkannya.
Foto: Oswar Mungkasa

Tujuan Program SANIMAS berusaha untuk berperan dalam menyediakan sarana sanitasi dalam penanganan air limbah permukiman bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh, dan rawan sanitasi dengan pendekatan yang tanggap kebutuhan (berbasis masyarakat). Pendekatan Penerapan Program : SANIMAS merupakan salah satu program pembangunan prasarana air limbah yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui:  Keberpihakan pada warga yang berpenghasilan rendah, dimana orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil ditujukan kepada penduduk miskin yang bermukim di permukiman padat perkotaan berdasarkan kebutuhan. Otonomi dan desentralisasi, dimana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan, dan pengelolaan hasilnya. Mendorong prakarsa lokal dengan iklim keterbukaan, dimana masyarakat menyampaikan permasalahan dan merumuskan kebutuhannya secara demokratis dan transparan. Partisipatif, dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemanfaatan, dan pengelolaan. Keswadayaan, dimana kemampuan masyarakat menjadi faktor pendorong utama dalam keberhasilan kegiatan, baik proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, maupun pemanfaatan hasil kegiatan.









10 DAFTAR LOKASI PROYEK SANIMAS NO 1 TAHAP Tahun 2003 . Setiap desa peserta SANIMAS mendapat dana block grant . Jawa Tengah 4.Bali 17.NTB 4 5 Tahun 2008 Tahun 2009 2 Tahun 2006 Sumber : Ditjen Cipta Karya. Jawa Tengah 7. 2009 Pembiayaan Pembiayaan SANIMAS berasal dari berbagai sumber pendanaan. Jawa Tengah. Sumatera Utara 2. Kalimantan Timur 10. Kalimantan Selatan 19. Sulawesi Barat 17 Provinsi (provinsi sama dengan tahun 2009) 17 Provinsi 1. Adapun lokasi Sanimas per tahun selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : TABEL VI. Yogyakarta 3. Lampung 18. Sulawesi Tenggara 22. Jawa Tengah 9. yaitu dana pemerintah (APBN dan APBD). Kalimantan Barat 3. Sumatera Selatan 3 Tahun 2007 NO TAHAP Program dan Proyek PROVINSI 16. Riau 4. Gorontalo 11. Bali 12. Jawa Timur 8.2005 PROVINSI 4 Provinsi : 1. Jawa Barat 6. Tahun 2008 dan 2009 Proyek Sanimas masih terus berjalan dengan jumlah lokasi di 17 provinsi. Lampung 6. Bangka Belitung 4. Jambi 14. Sulawesi Utara 27 provinsi dengan tambahan 5 propinsi lagi dari Tahun 2006. Sulawesi Tengah 5. Sumatera Barat 3. Kalimantan Tengah 4.Kalimantan Selatan 12. Sumatera Utara 2. dan swasta/donor/LSM. Kep. DI Yogyakarta 10.Sulawesi Selatan 14. Pada tahun 2006 Departemen Pekerjaan Umum melalui Ditjen Cipta Karya telah melaksanakan replikasi kegiatan SANIMAS di 22 provinsi. DI Yogyakarta. NTB 20. Sulawesi Selatan 13. dan Jawa Timur.Sulawesi Tenggara 16.97 Instansi Pelaksana Ditjen Cipta Karya Departemen PU Lokasi Kegiatan SANIMAS sudah diujicobakan dan sejauh ini berhasil dilaksanakan sejak tahun 2003-2005 oleh LSM BORDA di Provinsi Bali. Jawa Timur 22 Provinsi: 1. Bengkulu 15. Yogyakarta 9. dana masyarakat (swadaya masyarakat). Banten 7. Sumatera Selatan 5. yaitu: 1. kemudian pada tahun 2007 telah dialokasikan dana untuk kegiatan SANIMAS bagi 27 provinsi.Kalimantan Timur 13. Bali 2. Jawa Barat 8. Departemen PU. Riau 2. Bangka Belitung 17. Sumatera Barat 3.Jawa Timur 11.Sulawesi Barat 15. Banten 5. NTT 21.

Pencapaian Saat ini SANIMAS sudah diimplementasikan di 433 lokasi.327 53. 2009 Keterangan : *) Jumlah penduduk terlayani Hingga Tahun 2008 . Berdasarkan laporan pencapaian proyek SANIMAS oleh Departemen Pekerjaan Umum bahwa untuk Tahun 2008 telah melayani sebanyak 128. Dana tersebut akan digunakan untuk pelatihan/penyiapan masyarakat dan pelaksanaan fisik. barang dan tenaga/in kind) serta kemungkinan dana dari LSM atau Donor. Agenda reformasi kebijakan yang belum selesai Reformasi kebijakan masih merupakan proses yang terus menerus. Departemen PU. Terbatasnya kapasitas untuk pelaksanaan kebijakan Peran pemangku kepentingan AMPL merupakan kunci pendorong dan perlu ditingkatkan kapasitasnya melalui kegiatan diseminasi hasil pembelajaran. TABEL VI. kondisi kesehatan lingkungan juga masih buruk dan terus menurun.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 98 D. nasional.778 jiwa Selama kurun watu pelaksanaan proyek SANIMAS dari tahun 2003 . oleh karena itu WASPOLA dapat memberikan kontribusi mendasar dengan berbagai pembelajaran melalui penelitian penerapan dan membuka jejaring dengan lintas pelaku AMPL secara luas.000. 2. kontribusi masyarakat (bisa dalam bentuk tunai. Tingkat pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan di Indonesia masih rendah. Kegiatan WASPOLA-2 terdiri atas 3 komponen yang saling terkait.778* Sumber : Ditjen Cipta Karya.665 18. Bali Jawa Timur.2008. Komponen ini mencakup: (i) lokakarya tingkat lokal. dengan mendorong penerapan pendekatan tanggap kebutuhan dan partisipatif. baik dari studi kasus maupun uji coba yang dilakukan. Bali Jawa Timur. Bali. sehingga diperlukan upaya untuk mengatasinya. yaitu: 1. Rendahnya akses terhadap pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan. yang tidak terbatas hanya pada pengembangan kebijakan tetapi perlu adanya pelaksanaan kebijakan dalam skala tertentu.-. Sisanya APBD. Total APBN yang telah dianggarkan untuk Proyek SANIMAS adalah sebesar Rp 51. 11 PENCAPAIAN PROYEK SANIMAS JUMLAH LOKASI 6 (masingmasing kota 1 lokasi) 7 8 JUMLAH PENDUDUK TERLAYANI 1. Fasilitas sarana terpilih yang telah terbangun pada umumnya adalah MCK ++. (ii) meningkatkan kapasitas Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan kebijakan dan meneruskan proses reformasi kebijakan sektor AMPL.984 128.075 2006 2007 2008 2009 10 52 95 69 75 11 65 125 108 110 433 3. Tujuan Tujuan proyek ini adalah (i) meningkatkan akses masyarakat Indonesia terutama masyarakat miskin terhadap pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) yang layak.960. Jawa Tengah 22 27 17 17 Total KOTA 6 2004 2005 3. 300 juta yang terdiri dari APBN sebesar 33 %. 3. Bantuan teknis dianggap perlu dilakukan karena dilatarbelakangi oleh hal-hal seperti berikut: 1. Komponen Perubahan Kebijakan. Water Supply and Sanitation Policy and Action Planning (WASPOLA-2) WASPOLA merupakan program dukungan teknis untuk Pemerintah Indonesia dalam menyusun dan mengimplementasikan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat. dan regional untuk mengkaji kebijakan-kebijakan sektoral dan identifikasi isu yang mungkin membutuhkan perubahan (yang disalurkan melalui rekening masyarakat) sebesar Rp.000. Waktu Dimulai pada tahun 2003 dan berlangsung hingga sekarang (tahun 2009).239 TAHUN PROVINSI 2003 Jawa Timur.488 48.

(ii) studi kasus dan studi sektoral untuk memperjelas gambaran tentang masalah dan besaran perubahan yang sesuai. Karena sifat kebijakan adalah terpusat (bahkan terkadang juga peka).  Analisis atas data yang telah dikumpulkan (pengetahuan). Namun demikian. CWSHP. Persyaratan untuk penDiketahuinya secara pasti sasaran pembelajaran. 2. Komponen Proses Pembelajaran dan Komunikasi. dan pembuatan rekomendasi yang mengarah kepada perubahan yang diperlukan. Nusa Tenggara Timur.Juni 2009) Pencapaian 1. Nusa Tenggara Barat. dan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan penanaman modal sektor ini. serta proyek-proyek AMPL skala besar seperti WSLIC2.000 Waktu 72 bulan (Tahun 2003 . Sulawesi Selatan. Proyek ini dirancang untuk memperbesar manfaat yang dihasilkan oleh investasi skala besar untuk pedesaan dan kota kecil yang dirancang berdasarkan proses penyusunan kebijakan yang dikembangkan oleh WASPOLA. Pengumpulan data yang sesuai (informasi). 3. dan menunjukan kemungkinan penerapan prakarsa kebijakan baru. WASPOLA harus menghormati peran kepemimpinan para "stakeholder" lokal dari dalam masyarakat Indonesia sendiri dalam mengungkapkan masalah-masalah kebijakan. dan PAMSIMAS  Telah disusun draft Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Lembaga (status draft 3) 2. Pro Air. Komponen Peningkatan Pelayanan. dan Sulawesi Tenggara. Bangka-Belitung. Pada akhirnya.99 kebijakan. dan  Penyampaian pengetahuan kepada para pengambil keputusan dan manajer sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi keputusan dan perubahan perilaku (komunikasi). Salah satu nilai utama untuk dapat menerima pembiayaan hibah dari WASPOLA adalah identifikasi pendekatan yang paling efektif dan efisien untuk dapat secara berkesinambungan memenuhi kebutuhan akan air bersih dan penyehatan lingkungan masyarakat miskin Indonesia.260. Gorontalo. Pembiayaan Hibah AusAID sebesar US$ 1. nilai keberadaan WASPOLA harus diukur dengan melihat sejauh mana kegiatannya dapat berpengaruh secara positif dalam penyusunan kebijakan-kebijakan nasional. Jawa Tengah. agar strategi yang dikembangkan di masingmasing tingkat menganut pendekatan-pendekatan yang sejalan dengan seluruh tingkatan. strategi pembangunan sektoral. Dalam proses pengembangan strategi akan diadakan koordinasi antara tingkat pusat. terutama dalam perannya sebagai pendorong kinerja. WES-UNICEF. (iii) strategi sektoral dan rencana kegiatan yang didasarkan pada kebijakan-kebijakan baru yang mungkin timbul dalam proses pengkajian. Komponen Peningkatan Pelayanan : Peningkatan kapasitas AMPL Daerah dalam pembangunan AMPL berbasis masyarakat adalah :  Pelatihan metodologi partisipatif (MPA/PHAST=Methodology for Participatory Assessment/Participatory Hygiene and Sanitation Transformation)  Pelatihan dasar fasilitasi  Pelatihan perencanaan pembangunan AMPL (Renstra AMPL daerah)  Pelatihan perubahan perilaku hygiene dan sanitasi (CLTS/STBM=Community-Led Total Sanitation/Sanitasi . Komponen Proses Pembelajaran dan Komunikasi ini dirancang untuk mendukung keempat persyaratan di atas. Instansi Pelaksana Bappenas Lokasi Provinsi Sumatera Barat. Komponen Perubahan Kebijakan :  Telah diformulasikan Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat pada tahun 2003  Kebijakan Nasional Pembangunan AMPL Berbasis Masyarakat telah diadopsi oleh 9 propinsi dan 62 kabupaten/kota. analisis implikasi kebijakan. sehingga dapat mempengaruhi kebijakan masa yang akan datang dan pengambilan capaian sasaran tersebut adalah:   Program dan Proyek keputusan yang menyangkut investasi. Tujuan percontohan ini adalah untuk memperoleh tambahan pengalaman lapangan dengan resiko inovatif yang lebih tinggi sehingga dihasilkan informasi bagi pengembangan kemampuan dan pilihan-pilihan kebijakan "generasi" yang akan datang. Banten. juga akan ikut ambil bagian dalam pendanaan fasilitas-fasilitas percontohan tingkat desa di 6 kabupaten (paling sedikit) yang kesemuanya akan berjumlah paling tidak 24 percontohan. WASPOLA bekerjasama dengan beberapa proyek induk dan masyarakat. provinsi dan kabupaten.

DHS. dan (iv) provinsi Kalimantan Tengah mencakup Kabupaten Katingan. Rajang Lebong. Community Water Service and Health Project (CWSHP) Berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) antara Republik Indonesia dan Asian Development Bank (ADB). Tujuan Secara umum CWSHP bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan derajat masyarakat perdesaan dan perkotaan berpenghasilan rendah. Pemerintah daerah diharapkan dapat memfasilitasi perencanaan dan pelaksanaan . Lokasi yang terpilih mencakup 4 (empat) propinsi dan 20 kabupaten sebagai berikut (i) provinsi Jambi mencakup Kabupaten Muaro Bungo Tebo. Sarolangun Bangko. serta meningkatkan perilaku sehat. (ii) pemberdayaan peran masyarakat dan keluarga. Kegiatan Secara umum. kegiatannya mencakup (i) fasilitasi perencanaan dan pelaksanaan proyek berbasis masyarakat (termasuk manajemen proyek) dan pelayanan kesehatan berbasis keluarga. Keempat propinsi yang telah disebutkan di atas adalah dengan status pembiayaan yang bersumber dari pinjaman. program-program yang memfokuskan pada masyarakat berpenghasilan rendah. Ketapang. Muaro Jambi. (iii) provinsi Kalimantan Barat mencakup Kabupaten Sambas. dan mampu memberikan pelayanan kesehatan berbasis keluarga khususnya terhadap penyakit menular berbasis air. Batanghari. masyarakat. Departemen Kesehatan RI Lokasi Beberapa kriteria sebagai dasar pemilihan lokasi adalah (i) angka Human Development Index (HDI). Di samping itu. Sanggau. telah di pastikan bahwa Community Water Services and Health Project (CWSHP) masuk pada Country Strategy and Program (CSP) 2003-2005 untuk Indonesia. dan (v) keberadaan beberapa proyek air minum dan sanitasi. (iv) angka diare. (ii) provinsi Bengkulu mencakup Kabupaten Bengkulu Utara. Bengkulu Selatan. Kapuas Bulu. Bersamaan dengan itu CWSHP bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam pelayanan air minum dan kesehatan melalui pelembagaan sistem yang tanggap terhadap kebutuhan dan berbasis keluarga.69 juta. Pulangpisau. Barito Timur. Pembiayaan Total biaya USD. Sintang. Total Berbasis Masyarakat)   Pelatihan komunikasi pembangunan AMPL Penguatan pengelolaan data AMPL di daerah 3. Kotawaringin Timur. pemberdayaan peran masyarakat dan keluarga diharapkan agar mampu merencanakan. dan dalam kemitraan dengan masyarakat sipil dan sektor swasta. (ii) Human Poverti Index (HPI). 64. Saat ini WASPOLA sedang dalam tahap finalisasi dalam penyusunan buku pembelajaran strategi komunikasi dalam rangka penguatan pokja daerah di 4 provinsi lokasi WASPOLA.39 juta terdiri dari pinjaman sebesar USD. hingga keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. telah diperoleh kesepakatan bahwa ADB akan memberikan dukungan terhadap upaya-upaya Pemerintah Republik Indonesia mengurangi berbagai permasalahan dan keterbatasan yang berkaitan dengan pelayanan penyediaan sarana air minum dan peningkatan pelayanan kesehatan. E. serta buku Pembelajaran Implementasi Kebijakan Nasional melalui WASPOLA. Pemerintah Pusat dan Daerah sebesar USD. mengelola. Tanjung Jabung Barat. Landak. dan memelihara program AMPL. 92. Komponen Proses Pembelajaran dan Komunikasi.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 100 proyek berbasis masyarakat (termasuk manajemen proyek). Instansi Pelaksana Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Kuala Kapuas. dan RWSS. Sedangkan untuk 2 propinsi meliputi Propinsi Sumatera Utara (Nias) dan Propinsi NAD adalah dengan status pembiayaan hibah. mengadvokasi. baik di wilayah pedesaan maupun di perkotaan. Barito Selatan. Pencapaian hal ini dilakukan melalui perbaikan kesehatan termasuk perilaku hidup keluarga yang berkaitan dengan air dengan dukungan perbaikan akses terhadap air minum dan sanitasi. khususnya terhadap penyakit menular berbasis air oleh Pemerintah Daerah. serta (vi) mempertimbangkan kemungkinan keterkaitan dengan proyek ADB lainnya. seperti FHN. Berkaitan dengan hal tersebut pada Country Program Mission ADB (CPM) tahun 2002. Sasaran Penerapan program CWSHP dilakukan melalui pemberdayaan pemerintah daerah. (iii) cakupan air minum dan sanitasi.

terhadap kondisi kesehatan dan lingkungan. Waktu : Tahun 2005 . Propinsi Kalimantan Tengah : Pemicuan di 18 desa 3. sumur pompa tangan.601. khususnya masyarakat miskin. Data lain dari BAPPENAS menunjukkan hanya 35% populasi di Indonesia yang memiliki akses yang baik terhadap sanitasi seperti toilet dan tangki septik. sumur bor. sumur gali.  Program dan Proyek paten (Aceh Utara. penampungan hujan. fasilitas jamban komunal dan tempat sampah. Bireun. Untuk mendorong investasi dalam penyediaan layanan sanitasi. Pidie. Tidak memadainya sanitasi baik di perkotaan dan pedesaan telah berdampak buruk.09 juta. sumur bor.61 juta. Total investasi pada sanitasi kota (pengumpulan dan pengolahan) hanya mencapai US$ 200 juta selama 20 tahun terakhir dari proyeksi kebutuhan (untuk infrastruktur air dan sanitasi) sebesar US$ 1 triliun per tahun sampai 2015. F. sumur bor. masyarakat). Propinsi Jambi : Pemicuan di 18 desa 4. dan (c) membaiknya tingkat investasi (penggalian dan mobilisasi dana pemerintah. masyarakat. (b) pemantapan strategi. fasilitas jamban komunal dan tempat sampah. LSM.789. Sarana tersebut antara lain sumur gali.42% dari pagu. (ii) meningkatkan profil sanitasi di Indonesia melalui (a) peningkatan kesadaran (pemerintah. perpipaan gravitasi serta sumur bor dangkal. Sedangkan pencapaian untuk setiap komponen adalah : Komponen Air Bersih dan Sanitasi Selama Tahun 2008 telah terbangun sebanyak 93 fasilitas untuk mempermudah akses terhadap air bersih dan sanitasi di lokasi proyek. diare menjadi penyebab kedua terbesar kematian balita (46 per 1000 kelahiran hidup) dan penyebab ketiga terbesar pada kematian bayi (32 per 1000 kelahiran). Pemerintah Pusat telah meluncurkan Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP).2010 Pencapaian Hingga bulan November 2008. Propinsi Bengkulu : Pemicuan di 14 desa  Foto: Istimewa Pencapaian CWSHP dengan pendanaan dari grant/hibah dengan lokasi proyek Propinsi NAD dan Nias untuk komponen pembangunan sarana air bersih dan sanitasi adalah (i) Propinsi Aceh : Pembangunan sarana air bersih dan sanitasi di 4 kabu- . Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) Sektor sanitasi merupakan salah satu pelayanan publik yang mempunyai kaitan erat dengan pengurangan kemiskinan di Indonesia. Akibatnya. Proses pemicuan selama tahun 2008 telah dilakukan di 4 propinsi dengan capaian sebagai berikut : 1. LSM. Sebanyak 47% populasi di Indonesia tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi dasar dan hanya sedikit sekali kota yang memiliki sistem sewerage dengan total cakupan pelayanan 14% populasi kota. lingkungan dan ekonomi masyarakat Indonesia. Dana tersebut telah dialokasikan di sebanyak 20 kabupaten dan 74 desa. 5. dan masih terus berlangsung. Investasi publik pada sektor sanitasi sangat rendah. fasilitas cuci tangan di sekolah. Propinsi Kalimantan Barat : Pemicuan di 27 desa 2. Tujuan Secara umum tujuan pekerjaan ini adalah (i) meningkatkan kondisi kesehatan. (ii) Nias: Pembangunan sarana air bersih dan sanitasi di 2 kabupaten Nias dan Nias Selatan meliputi pembangunan perpipaan. penyerapan dana sebesar Rp 47. penampungan hujan. Tujuan khusus program adalah (i) mengkonsolidasikan Komponen Sanitasi dan Perubahan Perilaku Upaya yang dilakukan dalam komponen ini adalah dengan menggunakan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dimana proses pemicuan dalam rangka mencapai Desa dengan status Stop BABS sebagai kegiatan awal yang dilakukan. sumur gali. Aceh Jaya dan Nagan Jaya) meliputi pembangunan perpipaan.774 atau senilai 59.101 22. swasta. dan masyarakat sebesar USD. dan swasta). melalui peningkatan pelayanan sanitasi. fasilitas cuci tangan di sekolah.

Peserta lokakarya kemudian dibagi dalam 4 kelompok yang membahas manfaat. (ii) Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum. Kota Surabaya. Kegiatan Perkembangan kapasitas tingkat daerah serta strategi dan rencana tindak lanjut tingkat kota akan diimplementasikan di 6 kota sedemikian rupa. Kota Banjarmasin. Kota Cirebon. Sasaran Melalui perencanaan yang strategis di tingkat lokal dan nasional. Bappenas. apa yang ingin dicapai oleh sektor sanitasi agar dapat dimasukkan ke dalam rencana anggaran pembangunan perkotaan. yang diawali dengan Lokakarya Pematangan Konsep ISSDP pada 25-26 Agustus 2005. Berkomitmen untuk: a.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 102 Hingga saat ini ISSDP telah memasuki tahap II dengan komponen kegiatan adalah sebagai berikut: Komponen Program Komponen program mencakup (i) manajemen program. Membentuk kelompok kerja khusus untuk menangani sanitasi pembelajaran dari implementasi ISSDP Fase 1. seluruh peserta dapat aktif berpartisipasi dan mengeluarkan pendapatnya. kelembagaan. dan agar peningkatan sanitasi menjadi proses yang berjangka panjang. Bantuan akan diberikan untuk pengembangan strategi sanitasi setempat di enam kota yang tanggap terhadap kebutuhan dan isu kesehatan masyarakat yang berkembang. Rencana pengembangan kapasitas dan strategi akan dikembangkan untuk membentuk perubahan dan pembaharuan kelembagaan. Kota Payakumbuh. dan kriteria pemilihan kota yang dapat berpartisipasi dalam ISSDP. Lingkungan yang mendukung pengembangan sanitasi secara nasional akan dikembangkan melalui perkuatan kebijakan. Kota Yogyakarta. penyusunan konsep. risiko. Menunjuk lead agency dan key contact person b. konsolidasi kebijakan. Dengan menggunakan pendekatan MPA-PHAST. Kota Jambi. peningkatan kapasitas. (ii) penguatan Kerangka Kerja Sanitasi Nasional ( National Enabling Framework). Sedapat mungkin mencakup juga kota-kota yang merupakan lokasi SANIMAS dan WASPOLA 4. mekanisme keuangan. Ringkasan hasil diskusi tentang kriteria pemilihan kota adalah sebagai berikut: 1. (ii) replikasi pendekatan ISSDP di tingkat propinsi dan kota. dan (iii) memperkuat enabling framework di tingkat nasional. Lokakarya dihadiri oleh 35 peserta berasal dari instansi Pemerintah Daerah yaitu Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko). (iii) replikasi dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah Instansi Pelaksana Instansi Pelaksana terdiri dari Executing Agency: (i) Direktorat Permukiman dan Perumahan. Sedang Implementing Agency: Departemen Kesehatan. Didasarkan atas pengalaman masa lalu dan pengembangan sanitasi yang sedang berlangsung di Indonesia. ISSDP akan memfasilitasi pembentukan Kelompok Kerja lintas sektoral tingkat daerah dalam bentuk Kelompok Kerja Sanitasi yang akan mengkoordinasikan pembangunan sanitasi melalui forum sanitasi untuk memastikan bahwa kapasitas tingkat daerah terbentuk. dan Kota Tangerang. Kombinasi antara kota-kota yang telah dan belum memiliki sistem sewerage 3. dan pedoman. sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan pedoman nasional bagi pemerintah daerah. dan dengan melaksanakan reformasi/pembaharuan kelembagaan. Kota Denpasar. Mewakili kota di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa 2. dan rencana tindak lanjut. Pemetaan dan pengkajian sanitasi-hasilnya disebut sebagai 'buku putih'-untuk daerah. peraturan. . dinas teknis yang menangani sanitasi (Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Kebersihan/Dinas Lingkungan Hidup) dan Perusahaan Daerah Air Minum. Semua itu didasarkan atas visi atau 'impian kota'. ISSDP juga akan mendukung peningkatan kepedulian masyarakat akan sanitasi serta menggalakkan hidup sehat pada tingkat nasional dan daerah. yang berisi situasi sanitasi di daerah dan dipadukan dalam perencanaan kota serta mekanisme penyediaan pelayanan. dan pengembangan strategi baru akan dicapai melalui kerjasama dengan Pemerintah Indonesia beserta para mitra pembangunan. Kota Pangkal Pinang. Kota Kendari. Departemen PU dan Bappenas Lokasi Pemilihan lokasi dilakukan melalui serangkaian proses. Adapun kota-kota yang diundang dalam lokakarya ini adalah Kota Solo. ISSDP akan menciptakan suatu program yang berkelanjutan untuk meningkatkan pelayanan sanitasi yang berpihak pada penduduk miskin di Indonesia. Kota Blitar.

Jambi. terdiri dari (i) Jawa Tengah: Kota Tegal dan Pekalongan. TABEL VI. Waktu z z Program dan Proyek .Bukittinggi dan Padang (Sumbar): Sedang mengkonsolidasikan pokja sanitasi.Desember 2009 Pencapaian Beberapa pencapaian proyek adalah  Kota-kota ISSDP tahap I telah memiliki Strategi Sanitasi Kota (Surakarta.300 sistem IKK di seluruh Indonesia. Malang. Malang dan Kediri. G. & Kediri (Jatim): Sudah membentuk pokja sanitasi dan sedang melakukan studi-studi pendukung buku putih. Hal ini terkait dengan belum adanya kejelasan mengenai badan pengelola yang akan mengoperasikan dan memelihara sarana IKK terbangun. Payakumbuh.5 PERLU REHABILITASI Kecamatan SPAM Kecamatan Non SPAM TOTAL 1.451 4. Namun demikian. terutama kondisi keuangan. (iii) Propinsi Sumatera Barat: Kota Bukit Tinggi dan Kota Padang. hanya 47% yang dapat berfungsi dengan baik. pengelolaan sistem IKK ini tidak dapat diserahkan kepada masyarakat karena memerlukan keahlian tertentu dalam mengoperasikan dan memelihara sistem penyediaan air minum yang terbangun.Batu. Blitar. (ii) Propinsi Jawa Timur: Kota Batu. Dana yang disediakan oleh negara donor (Pemerintah Belanda dan Pemerintah Swedia) dalam program ini sebesar ± US$ 8 juta. yaitu: Kota Banjarmasin. .103 c.774 3. sementara 19% sistem membutuhkan rehabilitasi dan 34% lainnya berada pada kondisi rusak. Kota Payakumbuh.310 Sumber: Departemen PU. Instalasi Pengolahan Air (IPA) sederhana dengan kapasitas 10-100 l/detik yang disertai dengan jaringan distribusi bagi masyarakat pengguna yang pembangunannya didanai oleh Pusat dan kontribusi dari Pemda setempat. Kota Denpasar. Sedangkan lokasi ISSDP Tahap II. Kerusakan sistem IKK tersebut salah satunya disebabkan oleh ketidaksesuaian antara kebutuhan pengelolaan dan pemeliharaan dari prasarana dan sarana terbangun yang tidak sesuai dengan kemampuan masyarakat. Saat ini banyak sistem IKK terbangun menjadi tanggung jawab pengelolaan PDAM.April 2008 ISSDP Tahap 2: Mei 2008 . 2008 TIDAK BERFUNGSI 19 - TIDAK DIKETAHUI 43. Kota Surakarta. Sampai saat ini telah dibangun lebih dari 2.Saat ini sedang mengupayakan alternatif pendanaan  Kota-kota ISSDP tahap II: . Sistem Penyediaan Air Minum-Ibu Kota Kecamatan (SPAM-IKK) SPAM-IKK adalah sistem penyediaan air minum yang terletak di ibukota kecamatan yang terdiri dari intake. Pembiayaan Dana hibah dari Pemerintah Belanda dan merupakan bagian dari Indonesia Water Trust Fund yang dikelola oleh Bank Dunia (WSP-EAP). padahal pemindahan pengelolaan sistem IKK ini memberatkan kondisi PDAM.980 KONDISI OPERASI BAIK 26. Kota Jambi.Tegal & Pekalongan (Jateng): Sudah membentuk pokja sanitasi dan sedang menyempurnakan Buku Putih (white book). Dilain pihak. ISSDP Tahap 1: April 2006 .536 5. Denpasar.5 - 11 - . Menyediakan dana pendamping untuk Tahun Anggaran 2006 Berdasarkan kriteria di atas diperoleh 6 kota yang diusulkan menjadi lokasi pilot project. & Banjarmasin): . Kota Blitar.12 KONDISI KECAMATAN BERDASARKAN ADA TIDAKNYA IKK SPAM SISTEM JUMLAH IKK JUMLAH PENDUDUK (RIBU JIWA) 9.Implementasi menggunakan APBD . saluran transmisi.

Disamping faktor musim dan perubahan iklim.17/meter kubik. Studi ADB menyatakan bahwa setiap tambahan konsentrasi pencemaran BOD sebesar 1 mg/liter pada sungai meningkatkan biaya produksi air minum sekitar Rp 9. padahal sistem ini tidak cocok untuk diterapkan pada ibukota kecamatan dengan kualitas air baku yang masih cukup baik kualitasnya dan kondisi masyarakat/PDAM yang belum memiliki keterampilan dalam mengoperasikan sistem tersebut. Hal ini tentu saja mempengaruhi kinerja sistem terbangun. Kondisi ini menyebabkan air yang diproduksi menjadi tidak layak untuk dikonsumsi karena masih berasa. Bila angka ini diagregatkan pada tingkat nasional maka tambahan konsentrasi BOD sebesar 1 mg/liter tersebut dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi PDAM sekitar 25% dari rata-rata tarif air nasional. dimana ketika air yang dialirkan tidak memenuhi kapasitas minimum yang diharuskan maka pompa tersebut akan menjadi rusak dan tidak berfungsi dengan baik. Pada dasarnya Pemda memiliki kewajiban untuk menyiapkan dana (APBD) bagi pembangunan Jaringan Distribusi Bagi dan Distribusi Pelayanan Air Minum serta unit Sambungan Rumah (SR). Hal ini disebabkan instalasi pengolahan air yang beroperasi pada SPAMIKK merupakan instalasi sederhana. Pengurangan kuantitas air baku sangat berpengaruh pada kinerja pelayanan air minum. pengurangan kualitas air baku sangat mempengaruhi kualitas air yang diproduksi oleh sistem IKK. Hal ini dapat terlihat bahwa pada beberapa lokasi sistem yang dibangun menggunakan sistem filter/membran. 2008 Permasalahan lain yang ditemui pada sistem IKK adalah terkait dengan sistem distribusi. Permasalahan yang terjadi di hulu yang berdampak pada berkurangnya kapasitas dan kualitas air baku juga menjadi salah satu masalah yang harus segera dapat dipecahkan. flokuasi dan filtrasi pada desain instalasi pengolahan pada SPAM-IKK dikarenakan sumber air baku diasumsikan berasal dari mata air atau hulu sungai dengan kualitas air yang baik. beberapa lokasi tidak memiliki mata air ataupun hulu sungai sehingga menggunakan GAMBAR 6. Terkadang sistem terpilih yang akan dibangun merupakan sistem yang cukup mutakhir yang membutuhkan keahlian khusus dalam operasi dan pemeliharaanya. berkurangnya kuantitas air baku juga disebabkan oleh adanya pemanfaatan air permukaan dengan kualitas yang kurang baik sehingga sulit untuk diolah dengan sistem terbangun yang sederhana tersebut. Namun pada kenyataannya. Dari sisi teknis. penurunan kualitas air baku berpotensi menambah biaya produksi air minum. keruh. khususnya terkait dengan sistem pemompaan.1 KONDISI OPERASI SISTEM IKK DI INDONESIA Sumber: Departemen PU. permasalahan yang muncul juga tidak terlepas dengan ketidaksesuaian antara kondisi perencanaan dan wilayah yang ada. Tidak tersedianya unit pengolahan lain. dimana instalasi dan jaringan transmisi air baku yang telah terbangun tidak dapat dioperasikan karena belum adanya jaringan distribusi yang memadai.2 KONDISI SPAM-IKK PER WILAYAH DI INDONESIA (%) Sumber: Departemen PU. berupa unit koagulasi. Selain itu pengoperasian dan pemeliharaan sistem membran membutuhkan biaya yang lebih banyak dibanding- .Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 104 air baku untuk penggunaan lain. seperti misalnya peternakan ikan dan irigasi bagi lahan pertanian. Dalam proses pengadaan barang dan jasa. Dari sisi kualitas. dimana unit-unit produksi hanya berupa unit pengolahan utama yaitu unit sedimentasi dan khlorinasi. GAMBAR 6. 2008 Pada grafik dibawah ini terlihat perbandingan kondisi sistem IKK di wilayah barat dengan wilayah timur Indonesia. Namun demikian kewajiban tersebut belum seluruhnya dapat dipenuhi akibat rendahnya alokasi anggaran Pemda untuk investasi air minum. dan ataupun berwarna.

000 penduduk kawasan kumuh di 5 kota (Makassar. Water and Environmental Sanitation (WES)-UNICEF Saat ini MDGs (Millenium Development Goals) telah menjadi salah satu acuan penting dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk mencapai MDG sesuai target. Sanitasi. Dalam kerangka pencapaian target MDG tersebut. MDG telah pula menjadi dasar perumusan Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di tingkat nasional dan daerah. 3. sektor swasta.105 kan dengan perangkat IPA Sederhana. 2. Sanitasi. Sanitasi. Dilain pihak diketahui harga jual air saat ini rata-rata masih dibawah harga produksi. Tujuan Adapun tujuan dari program kerjasama ini adalah : 1. Ambon dan Jayapura) mendapatkan pelayanan air minum dan sanitasi. program kerjasama ini akan diarahkan pada 3 pokok sasaran. Kupang. dengan fokus 30 kabupaten/kota.000 murid SD dan 2. Walaupun masih banyak kendala.000 guru di 500 sekolah dasar mendapatkan pelayanan akses air minum dan sanitasi. Pelaksanaan kegiatan dikelompokkan dalam beberapa tahapan besar terdiri dari : 1. sehingga biaya produksi air meningkat. dan Departemen Pendidikan Nasional. Komponen Air Minum. Membangun sistem monitoring dan evaluasi terpadu dengan mengembangkan Sistem Informasi Manajemen. Country Programme Action Plan (CPAP) 2006-2010 dan Annual Work Plans (AWP) dikembangkan bersama antara Pemerintah Indonesia dan UNICEF. Untuk itu. 2. mulai dari tahap perencanaan seperti yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 hingga tahap pelaksanaannya. 3. Meningkatkan kesempatan melanjutkan pendidikan bagi Program dan Proyek anak-anak dengan membangun lingkungan yang kondusif dalam rangka mencapai Wajib Belajar 9 tahun dan penyediaan kesempatan pendidikan non-formal termasuk mendukung pemerintah untuk mendukung penurunan angka buta huruf hingga 5 persen pada tahun 2009. H. Mengembangkan usaha-usaha dalam target PNBI tahun 2015 untuk air minum dan sanitasi dasar. yaitu: 1. Proses advokasi-sosialisasi . Pelaksanaan program kerjasama tersebut dilakukan untuk periode 2006-2010 dengan tema "Meningkatkan Martabat Anak" dalam upaya meningkatkan martabat dan kesejahteraan anak dalam kehidupannya di bidang kesehatan. maka salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan UNICEF. Penguatan Pemerintah Daerah. Mataram. dan keadilan. Komponen Air Minum. Sasaran Dalam penerapan programnya. dan Pendidikan Higinitas di Sekolah Dasar Komponen sekolah dasar memiliki target sebanyak 100. dengan membangun kapasitas Pemda dalam menyusun kebijakan skala daerah dan mengelola implementasi program lapangan. diperlukan adanya kerja keras dan kerjasama antarsemua pihak baik warga negara. pemerintah sesama negara berkembang maupun komunitas donor/kreditor. Kegiatan Water and Environmental Services Unicef terdiri dari tiga komponen yaitu 1. Komponen Air Minum. Implementasi program dengan membangun prasarana dan sarana sesuai prinsip Kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan berbasis Masyarakat. sehingga pengolahan dengan sistem membran ini akan memberatkan kondisi keuangan badan pengelolanya. Meningkatkan cakupan rumah tangga dan sekolah dalam akses pelayanan air bersih dan sanitasi dasar. Country Programme UNICEF mendukung rencana dan implementasi semua program dan proyek kerjasama dengan pemerintah Indonesia dengan Bappenas dan Bappeda (untuk tingkat propinsi) akan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan kerjasama tersebut sehingga dapat dilakukan bersama oleh beragam pemangku kepentingan seperti Departemen Pekerjaan Umum. dan Pendidikan Higienitas di Perdesaan Komponen perdesaan memiliki target sebanyak 320. perlindungan anak. pendidikan. dan Pendidikan Higinitas di Perkotaan Komponen perkotaan memiliki target sebanyak 70. 2. Salah satu lingkup program kerjasama ini adalah Air dan Penyehatan Lingkungan yang merupakan program baru untuk periode ini. Departemen Kesehatan.000 penduduk mendapatkan pelayanan akses air minum dan sanitasi. 3.

Proses pelaksanaan konstruksi 8. Jayapura. Kab. Sorong. 7 desa (NTB) dan 6 sekolah di NTB 48 desa dan 150 sekolah dasar 121 desa. Proses replikasi yang merupakan bagian dari skenario keberlanjutan kegiatan setelah proyek WES-Unicef dapat diselesaikan. Maluku Tenggara Barat. Kab. Manokwari. Kab. Kab. Kota Ambon. 2008 TABEL VI. Soppeng. Kab. Kota Mataram Kab.13 di bawah ini. Kab. Jayawijaya. Kab.Unicef. Kab. Kab.Kab. Timor Tengah Selatan. Lokasi Proyek WES-Unicef akan dilaksanakan dalam kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2006 -2010. Proses persiapan kelembagaan termasuk pembentukan Pokja AMPL baik di propinsi maupun kabupaten/kota 3. 2. Kota Makasar. Proses penguatan kapasitas pemerintah termasuk penyusunan rencana strategis. Kab. Kota Kupang Kab. Barru. 2008 Pembiayaan : WES UNICEF adalah proyek yang sepenuhnya dibiayai oleh hibah/grant.14 LOKASI PROYEK WES .UNICEF NO 1 2 3 4 5 6 PROPINSI Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Selatan Maluku Papua Barat Papua KABUPATEN/KOTA Kab. Terkait dengan kurun waktu yang relatif singkat dan besarnya target yang ingin dicapai maka target per lokasi dibagi ke dalam 3 tahapan. Kab. Proses pemilihan desa dan sekolah 5. Lombok Tengah. Proses persiapan masyarakat dan sekolah 6. Luwu Utara. Lihat tabel VI. Sumba Timur. Selayar. Sorong Selatan. 13 LOKASI PROYEK WES UNICEF PER TAHUN ANGGARAN TAHUN 2006-2007 2008-2009 2009-2010 LOKASI 3 kabupaten di Propinsi NTT dan 3 Kabupaten di Propinsi NTB 25 kabupaten di 6 propinsi dan 5 kota 25 kabupaten di 6 propinsi dan 5 kota JUMLAH DESA. Rote Ndao. dan pelatihan bagi kelompok kerja AMPL 4. . Kab. Kab. Kab. Sumbawa. Puncak Jaya. Sumber : Sekretariat WES . Kota Jayapura. Seram Bagian Barat. Kab. Kab. Raja Ampat. Kab. 282 sekolah dasar dan 35 kelurahan Sumber : Sekretariat WES . Kab. Lombok Barat. Seram Bagian Timur.Unicef. Kab. SEKOLAH DAN KELURAHAN 28 desa (NTT). Kab. Burru. Takalar. Bima. Proses fasilitasi PHBS 7. Kab. Total pendanaan untuk tiap tahun pelaksanaan dapat dilihat pada tabel berikut ini.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 106 Instansi Pelaksana Instansi pelaksana terdiri dari Executing Agency: Bappenas dan Implementing Agency: Pemerintah Daerah. Biak Numfor. TABEL VI. Belu.

954. Komponen Perkotaan Hingga saat ini. Pengembangan modul promosi kesehatan anak sekolah bidang higinitas dan sanitasi oleh Departemen Kesehatan 3.000 23. LSM yang terlibat adalah CARE untuk Kota Jayapura dan Ambon serta Mercy Corps untuk Kota Makassar dan Kupang. Komponen Perdesaan Hingga Tahun 2008 komponen perdesaan telah memasuki tahap pelaksanaan RKM (Rencana Kerja Masyarakat) yang telah tersusun di masing-masing desa. Pengembangan modul teknologi tepat guna untuk penyediaan air minum berbasis masyarakat 2. c.721. Pengembangan modul promosi kesehatan anak sekolah bidang higinitas dan sanitasi 3. Pengembangan modul teknologi tepat guna untuk penyediaan air minum berbasis masyarakat oleh Departemen Pekerjaan Umum 2.782 2010 Program dan Proyek TOTAL 12.223. Komponen Sekolah  dapat meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat.000 967.106.055. Koordinasi kegiatan kerjasama Bappenas-Plan Instansi Pelaksana Instansi pelaksana berbeda untuk tiap-tiap kegiatan. b. 2009 Waktu : Selama 60 bulan dari tahun 2006 .231.680 313.500 155.000 2.968. Oleh karena itu.780.348.000 440. Penyusunan Buku Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia: Pembelajaran dari Berbagai Pengalaman. Pengembangan Resource center 4. Kegiatan Program kerjasama yang telah disepakati terdiri dari 8 kegiatan yaitu : 1. Program Kerjasama BAPPENAS .000 4. Pengawasan kualitas air di perdesaan 8.050 168.000 7.385.000 1.UNICEF (DALAM USD) NO. Pembuatan media pendidikan lingkungan anak-anak "Majalah Percik Junior" 6. Berbagai pengu atan kapasitas seperti penyiapan pokja dan renstra (rencana strategis) sedang dilakukan termasuk sosialisasi PID (Project Implementation Document).390 964.000 690.2010 Pencapaian : a. perlu mengacu pada PID (Project Implementation Document) yang ada.000 1.000 5.497.473 2007 1.170.420 649.267.599 2008 3.000 6.000 2.000 504.WES UNICEF. 15 ALOKASI PENDANAAN PER PERIODE PROYEK WES . ESP (Environmental Services Program) akan membantu memfasilitasi penyusunan renstra kota. tahap perkotaan sedang dalam tahap persiapan khususnya penyiapan kelembagaan.480.000 706. Rencana Program Kerjasama periode 2006-2007 akan dijabarkan dan dilaksanakan sesuai dengan MoU.385.000 1.500 100. Pengembangan resource center oleh Bappenas Sebagian besar desa sedang dalam persiapan untuk pelaksanaan konstruksi di tingkat masyarakat dan perlu mendapatkan dukungan terus dari tingkat pusat dan provinsi Pelaksanaan di desa baru tahun 2009. yaitu : 1.000 2.547 Sumber : Sekretariat RI . Khusus untuk Kota Ambon dan Jayapura.107 TABEL VI.PLAN Indonesia Program kerjasama BAPPENAS-Plan Indonesia dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memberikan pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan yang berkelanjutan sehingga . 5. Media komunikasi pelaksanaan MDGs di Tingkat Pemerintah Daerah 7.306. Untuk pelaksanaan komponen perkotaan UNICEF melibatkan LSM internasional dan lokal yang akan mendampingi Pokja Kota dalam mencapai target komponen perkotaan. 1 2 3 KOMPONEN Perdesaan Sekolah Perkotaan Dana Pendukung Total (+7%) 2006 490.439 2009 4.840 2. H.460 859. pada tanggal 19 Oktober 2005 ditandatangani nota kesepahaman yang merupakan dasar dari kerjasama antara Bappenas dan Plan.

Kebumen Rapat koordinasi bulanan dan pelaporan 7 8 Koordinasi Kerjasama Bappenas-Plan Sumber : Sekretariat Pokja AMPL. Kalsel dan NTT Tidak terlaksana 5 6 4 edisi majalah Percik Yunior sudah terbit Tersusun modul. kemudian diperpanjang selama empat bulan hingga 30 April 2008. Perjanjian Kerjasama Tahun 2007 berlaku mulai 1 Januari 2007-31 Desember 2007. Koordinasi kegiatan kerjasama Bappenas-Plan oleh Bappenas Lokasi Cakupan wilayah dalam mengimplementasikan program kerjasama BAPPENAS .16 PENCAPAIAN KERJASAMA BAPPENAS . Penyusunan Buku Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan: Pembelajaran dari Berbagai Pengalaman oleh Bappenas 5.PLAN PERJANJIAN KERJA TAHUN 2007 NO 1 KEGIATAN Penyusunan Modul Teknologi Tepat Guna untuk Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat Penyusunan Modul Promosi Kesehatan Anak Sekolah Bidang Higiene dan Sanitasi Pengembangan Resource Center PELAKSANAAN Terkumpul 8 teknologi dari beberapa daerah. namun pelaporan bulanan rutin dilaksanakan 2 3 2 Penerbitan Majalah Percik Yunior Penguatan Jejaring AMPL 3 Pembelian buku dan penyebaran informasi melalui media cetak maupun elektronik 4 Koordinasi Kerjasama Bappenas-Plan Sumber : Sekretariat Pokja AMPL. Pembiayaan : Sumber dana dari kegiatan BAPPENAS-Plan berasal dari Plan dan juga Pemerintah Indonesia. 1. kemudian diperpanjang selama dua bulan hingga 28 Februari 2009. Nusa Tenggara Barat.Plan akan dilaksanakan di wilayah kerja Plan. Lembata dan Timor Tengah Utara) 3 edisi sudah terbit. 2008 .17 PENCAPAIAN KERJASAMA BAPPENAS . buklet. yaitu: Jawa Barat. Jawa Timur. Rembang. Besarnya dana dan sumber dana untuk kerjasama Tahun 2006 .PLAN PERJANJIAN KERJA TAHUN 2008 NO 1 KEGIATAN Penguatan Pokja STBM PELAKSANAAN Terlaksana di 4 kabupaten (Grobogan.4 miliar. 2008 2.2007 adalah sebesar sekitar Rp. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 108 NO 4 KEGIATAN Penyusunan Buku Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Indonesia: Pembelajaran dari Berbagai Pengalaman Penerbitan Majalah Percik Yunior Penyusunan Media Komunikasi Implementasi MDGs di daerah Pengawasan Kualitas Air Pedesaan PELAKSANAAN Terkumpul 21 best practices dari berbagai daerah 4. yaitu di Propinsi Jawa Tengah. Penyusunan media komunikasi pelaksanaan MDGs di Tingkat Pemerintah Daerah oleh Departemen Dalam Negeri 7. edisi terakhir sedang finalisasi Sudah terangkul 14 instansi untuk Jaringan Perpustakaan Rapat koordinasi sedikit terhambat. Pencapaiannya adalah sebagai berikut : TABEL VI. TABEL VI. Pengawasan kualitas air di perdesaan oleh Departemen Kesehatan 8. Perjanjian Kerjasama Tahun 2008 berlaku mulai 1 Mei 2008-31 Desember 2008. orientasi bagi sanitarian dan monitoring kualitas air di Desa Arjomulyo. Waktu dan Pencapaian 1. CD video dan presentasi untuk sosialisasi dan advokasi MDGs di daerah Terlaksana pelatihan pemeriksaan kualitas air bagi masyarakat. Pembuatan media pendidikan lingkungan anak-anak "Majalah Percik Junior" oleh Departemen Pekerjaan Umum 6.

I. Jember. Tujuan Tujuan program ini mencakup (i) menciptakan cakupan yang luas.2011. Oleh karena itu. Blitar. Kerjasama Bappenas-Plan akan direncanakan akan dilakukan perpanjangan untuk Tahun 2009-2011. Tulungagung. Hingga saat ini sedang dilakukan penyusunan kerangka kerja kerjasama Bappenas-Plan Indonesia untuk tahun 2009 . Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi (SToPS) atau Total Sanitation and Sanitation Marketing (TSSM) Komponen sanitasi pedesaan yang merupakan bagian komponen penyehatan lingkungan membutuhkan berbagai metode pendekatan agar pembangunan di sektor tersebut berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat. Bangkalan. Mengenai realisasi dari rencana perpanjangan kerjasama ini. Desember 2008 Keterangan : Jumlah desa per kabupaten berkisar antara 136 sampai 474 (dengan rata-rata jumlah penduduk 4. Lamongan. dan efesiensi program sanitasi pedesaan. (ii) peningkatan penawaran (supply) yang cukup dan tepat guna dalam berbagai produk dan pelayanan sanitasi. Instansi Pelaksana Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. disusul 11 kabupaten pada tahap II. dan (iii) peningkatan kapasitas Kegiatan Kegiatan proyek adalah (i) peningkatan kebutuhan (demand) pada rumah tangga dan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. CLTS dengan prinsip-prinsip yang mengacu pada hasil evaluasi program-program sanitasi sebelumnya dikedepankan sebagai program dalam perbaikan sanitasi pedesaan berikutnya. Lumajang. Dengan keadaan seperti ini. dan 8 kabupaten pada tahap III. Sumenep 11 Kabupaten: Ponorogo. dan efektivitas penyediaan 3 Tahap III Program dan Proyek pelayanan dan produk untuk perbaikan sanitasi dan higienis. Sampang 2 Tahap II Sumber : Presentasi Pencapaian Proyek TSSM. Ngawi. TABEL VI. Jombang. berkesinambungan. sosial.109 3. Pamekasan. Malang. telah dilaksanakan lokakarya evaluasi dan perencanaan kegiatan kerjasama Bappenas-Plan Indonesia pada bulan Februari 2009.000 jiwa) . Sidoarjo. Nganjuk. Beberapa studi evaluasi terhadap beberapa program pembangunan sanitasi pedesaan menemukan banyaknya sarana sanitasi yang telah dibangun namun kemudian tidak digunakan dan diperlihara oleh masyarakat sasaran pembangunan. Bondowoso. Madiun. dan efektivitas permintaan untuk perbaikan sanitasi dan higienis. (iii) peningkatan kemampuan pemerintah pusat. (iv) memperkuat pengetahuan secara global mengenai dampak cakupan yang luas program sanitasi yang berkesinambungan terhadap kesehatan. fakta menunjukkan bahwa kebiasaan buang air besar (BAB) di sembarang tempat (open defecation) di daerah yang mendapat bantuan sanitasi dasar tetap berjalan meskipun target pembangunan fisik tercapai. Bojonegoro. Sasaran Sasaran proyek mencakup (i) pelayanan sanitasi. efektifitas. Mojokerto. Situbondo. (ii) pemberdayaan masyarakat. Pasuruan. Selain itu (c) jumlah alokasi dana disamaratakan dan tidak melihat tingkat kemiskinan masyarakat sehingga subsidi lebih banyak dinikmati oleh keluarga mampu. Trenggalek. (iii) pembelajaran tentang pendekatan yang paling efektif untuk memperluas cakupan pelayanan sanitasi secara berkesinambungan. Kediri. Faktor utama penyebab kegagalan ini adalah (a) tidak adanya demand (kebutuhan) yang muncul ketika program dilaksanakan. Banyuwangi 8 Kabupaten: Magetan. (ii) menciptakan cakupan yang luas. berkesinambungan. Departemen Kesehatan RI Lokasi Kegiatan SToPS secara bertahap dimulai dengan 10 kabupaten pada tahap I. Probolinggo. daerah dan masyarakat dalam menciptakan dan melaksanakan kebijakan yang dapat menunjang kesinambungan. Banyak program ditujukan bagi pembangunan sanitasi pedesaan dengan berbagai hasil yang didapat. Gresik. Tuban. Hal tersebut dibutuhkan mengingat komponen sanitasi sangat erat kaitannya dengan kondisi geografis dan aspek perubahan pandangan dan perilaku yang akan berujung pada perubahan kebiasaan dari masyarakat yang sudah tertanam sejak lama. dan ekonomi.18 DAFTAR LOKASI PROYEK SToPS NO 1 TAHAP Tahap I KABUPATAN /KOTA 10 Kabupaten: Pacitan. dan (b) pendekatan yang digunakan tidak berhasil memunculkan demand dari masyarakat sasaran.

3. Meningkatkan produktifitas desa dalam upaya mendukung keberlanjutan penggunaan dan pemeliharaan sarana air minum dan sanitasi. Waktu Januari 2007 .Juni 2008) pada tahapan ini telah dilaksanakan kegiatan implementasi pada 15 kabupaten pertama (pilot project) dengan dampingan fasilitator meliputi kegiatan advokasi. pemicuan dan penyusunan RKM (Rencana Kerja Masyarakat) pasca pemicuan. Selanjutnya termin kedua (Juli 2008-Maret 2009) sedang dalam proses implementasi di 14 kabupaten lainnya. Tujuan Secara umum pelaksanaan Program PAMSIMAS bertujuan untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) yaitu mengurangi setengah dari jumlah penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi yang memadai pada tahun 2015.September 2009 akan dilakukan penyusunan pembelajaran dengan fokus utama pada aspek komunikasi yang diperoleh dari hasil capaian proyek SToPS. Mengembangkan kapasitas pemerintah daerah dalam pengembangan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat. Lebih jauh lagi Program PAMSIMAS memiliki tujuan-tujuan khusus yaitu: 1.9 juta. diare dan typus menjadi dua dari empat penyakit yang menyebabkan kematian pada bayi. (ii) Implementing Agency: Ditjen Pembiayaan StoPS merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia. Meningkatkan jumlah penduduk dengan akses yang berkelanjutan terhadap air minum dan kesehatan. Total pembiayaan yang bersumber dari The Bill and Melinda Gates Foundation adalah sebesar US$ 1.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 110 Indonesia sebagai salah satu negara dengan penyebaran typus yang tinggi. Termin pertama (September 2007 . Mengembangkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sarana air minum dan sanitasi. 7.  J. Akibat buruknya kondisi sanitasi. Fakta lain yang menunjukkan buruknya kondisi sanitasi yaitu ditempatkannya . Meningkatkan kesehatan masyarakat. Kegiatan Secara umum program PAMSIMAS terdiri dari 5 komponen sebagai berikut : Komponen A : Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan lokal Komponen B : Peningkatan Kesehatan dan Perilaku Higienis dan Pelayanan Sanitasi Komponen C : Penyediaan sarana air minum dan sanitasi umum Komponen D : Hibah pengembangan sosial ekonomi kota Komponen E : Dukungan pelaksanaan dan manajemen proyek Instansi Pelaksana Instansi pelaksana terdiri dari (i) Executing Agency: Ditjen Cipta Karya. 4. Departemen PU. 2. Meningkatkan efektifitas pengelolaan sarana air minum dan sanitasi berbasis masyarakat. dan 8. Selain itu adanya program ini ditujukan untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Sedangkan untuk air minum jumlah penduduk pedesaan yang belum memiliki akses masih mencapai 31 persen. Meningkatkan kepedulian masyarakat pada keberlanjutan lingkungan.  Tahap Implementasi Tahap implementasi terbagi menjadi 2 termin. Lebih dari 62 persen populasi penduduk pedesaan masih belum memiliki akses terhadap sanitasi yang memadai. Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (WSLIC-III/PAMSIMAS) Kondisi sanitasi di Indonesia khususnya di daerah yang terdiri dari masyarakat miskin masih memprihatinkan. Sedangkan laju kematian bayi di Indonesia mencapai 35 per 1000 kelahiran. Dalam tahapan ini telah dilakukan penilaian lingkungan melalui baseline study. 6.  Tahap Akhir Diakhir pelaksanaan proyek yang diperkirakan pada bulan April 2009 . Water and Sanitation Program (WSP) dan The Bill and Melinda Gates Foundation. pemetaan kondisi. 5. Meningkatkan kepedulian masyarakat akan hidup sehat. analisis hasil implementasi sebagai masukan bahan pembelajaran.April 2009 Pencapaian Pencapaian Proyek SToPS sejak dimulainya pada awal tahun 2007 adalah sebagai berikut : Tahapan Penilaian kondisi lingkungan Tahapan ini berlangsung dalam kurun waktu Januari 2007 Agustus 2007. implementasi CLTS.

Kab. Ogan Ilir Kab. 2008 2 Riau 3 4 5 6 Sumatera Selatan Banten Jawa Barat Jawa Tengah 7 8 Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Timur 9 10 11 12 13 14 15 Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat . Grobogan. Tasikmalaya. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kota Kupang. Indargiri Hilir. Kab. Kab. Banggai Kepulauan. Kab. Kab. Kab. Manggarai Barat. Departemen PU. Sumba Barat. Rokan Hulu. Morowali.000 desa replikasi. Lembata. Padang Pariaman. Kab. Kab. Hulu Sungai Utara. Manggarai Kab. Brebes. 110 kab/kota dengan target pelaksanaan di 5. Kab. Rote Ndao. Kuningan. Balangan. Kab. Kab. Magelang. Tegal.19 DAFTAR LOKASI PROYEK PAMSIMAS NO 1 PROPINSI Sumatera Barat KABUPATEN/KOTA Kota Pariaman. Kab. Muara Enim. Hulu Sungai Selatan. Kuantan Singigi. Barito Kuala. Karanganyar. Parigi Moutong Kota Palopo. Kab. Banjarnegara. Kab. Kab. Kab. Ditjen Pembangunan Daerah Sasaran Program PAMSIMAS dilaksanakan di 15 Propinsi. Mamuju. Kab. Poso. OKI. Kab. Demak. Kab. Tanah Laut. Kab. Kab. Kab. Sidrap. Rinician lokasi tersebut adalah sebagai berikut : TABEL VI. Kota Tidore Kepulauan Kab. Sukoharjo. Kab. Purbalingga. Kab. Kota Baru. Kab. Kab. Kota Sawahlunto. Kab. Kab. Kab. Kab. Lima Puluh Kota. Temanggung. Kota Padang. Kab. Kab. Kab. Musi Rawas. Banyumas. Majene. Boalemo Kab. Pemalang. Pohuwato. Pasaman Barat. Indragiri Hulu. Solok. Sumedang. Wajo. Kab. Cilacap.000 desa dan 1. Kab. Kab. Donggala. Kab. Kab. Lebak Kab. Wonogiri. Kudus. Mamuju Utara Kab. Garut. Kab.111 dan Pembangunan Masyarakat dan Desa. Kota Semarang. Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Wonosobo. Alor. Kab. Kab. Depdagri. OKU Timur. Kampar. Tanah Bumbu. Kab. Kab. Pekalongan. Lokasi Program dan Proyek Cipta Karya. Manokwari Sumber : Ditjen Cipta Karya. Kab. Pesisir Selatan Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Kab. Serang. Kab. Dharmasraya. Kab. Gorontalo. Rembang. Kab. Blora. Kab. Boyolali. Kota Payakumbuh. Batang. Kab. Solok Selatan. Timor Tengah Selatan. Kab. Kab. Halmahera Barat. Kab. Kab. Kupang. Agam. Maluku Tengah Kab. Kab. Kebumen. Pinrang. Sawahlunto/Sijunjung. Subang. Pasaman. Bulukumba. Timor Tengah Utara. Kab. Kab. OKU Selatan. Kota Pekalongan. Buol. Kab. Tana Toraja. Kendal. Banjar Kab. Sragen. Kab. Tanah Datar. Kab. Kab. Sikka. Kab. Kota Makasar Kab. Kab. Departemen PU. Kab. Depkes. Kab. Kab. Kab. Bengkalis Kab. Kab. Gowa. Kab. Purworejo. Kab. Kab. Kab. Kab. Tojo Una-Una. Musi Banyuasin. Lahat. Kab. Kab. Kab. Klaten. Kab. Kab. Pati. Kab. Kab. Semarang.

21 PELAKSANAAN KEGIATAN STBM PROYEK PAMSIMAS TAHUN 2008 NO 1.20 TARGET DAN REALISASI LOKASI DESA SASARAN PROGRAM PAMSIMAS KOMPONEN C TAHUN 2008 (%) PROVINSI Sumatera Barat Riau Sumatera Selatan Jawa Barat Banten Jawa Tengah Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan TARGET 135 54 72 45 18 270 72 99 63 72 REALISASI 117 54 72 45 18 270 69 99 63 68 PERSENTASE PENCAPAIAN 87 100 100 100 100 100 96 100 100 94 Sumber : Ditjen Cipta Karya. 3. APBD 10 %.000 dengan rincian sebagai berikut : 1. Pendanaan luar negeri berupa pinjaman lunak dari World Bank sebesar USD 94. Pencapaian Berikut ini adalah target dan realisasi untuk lokasi desa sasaran program PAMSIMAS selama Tahun 2008 pada komponen C yaitu penyediaan sarana air minum. Data pelaksanaan kegiatan STBM oleh PAMSIMAS selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : TABEL VI. 5. penyediaan dana dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan total pendanaan sebesar USD 103. surveylan kualitas air dan perubahan perilaku melalui pendekatan STBM. 275 juta yang terdiri dari APBN/PLN sebesar 70 %. dan kontribusi masyarakat 20 % (4 % tunai.100.410. PU Tahun 2008 Secara keseluruhan target pencapaian PAMSIMAS hingga tahun 2008 sudah mencapai 97%. Dana tersebut akan digunakan untuk pelatihan/penyiapan masyarakat dan pelaksanaan fisik. 16 % barang dan tenaga/in kind). 7. Sedangkan untuk Komponen B : Peningkatan Kesehatan dan Perilaku Higienitas dan Pelayanan Sanitasi. 2.000 2. Hampir semua desa telah merealisasikan pembangunan sarana air minum di lokasi sasaran kecuali untuk propinsi Sumatera Barat yang saat ini hanya mencapai target 87%. Dept.000 Setiap desa peserta PAMSIMAS mendapat dana block grant (yang disalurkan melalui rekening masyarakat) sebesar Rp.D DUSUN BABS 2008 STOP BABS 250 1.D IMPLEMEN KOMUNITAS/ DESA STOP 2012 TASI S.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 112 PROVINSI Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Total TARGET 27 27 9 18 9 990 REALISASI 27 27 9 18 9 965 PERSENTASE PENCAPAIAN 100 100 100 100 100 97 Pembiayaan Untuk melaksanakan program ini.500 750 300 530 400 350 400 45 270 135 54 81 72 63 72 8 31 2 - 3 7 - . Dana Pendamping yang berasal dari pemerintah daerah sebesar USD 9.510. 6. Waktu Proyek ini akan dilaksanakan selama kurun waktu tahun 2008-2012. Telah melaksanakan beberapa kegiatan khususnya terkait dengan kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang antara lain berupa kegiatan orientasi MPA/PHAST. TABEL VI. 4. 8. PROPINSI Jawa Barat Jawa Tengah Sumatera Barat Riau Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan JUMLAH TARGET DESA JUMLAH DESA S.

Banten 13. Sulawesi Barat Sumber : Sekretariat STBM 2008 Selama Tahun 2008 proyek PAMSIMAS telah melaksanakan implementasi kegiatan STBM di 999 desa target dengan jumlah desa yang berhasil mencapai status Desa Stop BABS sebanyak 10 desa.113 TARGET Program dan Proyek NO 9.D DUSUN BABS 2008 STOP BABS 50 100 100 150 50 150 9 99 18 18 27 9 27 - - 10. PROPINSI Maluku DESA S. Gorontalo 14. Maluku Utara 12. Nusa Tenggara Timur 528 11. Irian Jaya Barat 15.D 2012 JUMLAH DESA JUMLAH IMPLEMEN KOMUNITAS/ DESA STOP TASI S. „ .

.

.

.

keberhasilan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Tentunya tidak semua kisah sukses dapat dirangkum pada kesempatan kali ini. Forum Masyarakat Code Utara. (ii) perbaikan lingkungan perumahan. Dimulai dengan kisah sukses pembangunan perumahan yaitu perbaikan rumah tidak layak huni. dan penjelasan lengkapnya pada lampiran. 7. Sebagai ilustrasi. Kota Blitar. (v) aspek mental juga perlu mendapat perhatian dalam penanganan masalah perumahan. (vi) keberlanjutan kegiatan perlu diantisipasi dengan melakukan pengkaderan melalui pelatihan rutin dan penyiapan kelembagaan seperti koperasi.1. mulai dari proses peren- PERBAIKAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI 1 Bantuan Revitalisasi Rumah Kumuh (BR2K) (Kota Blitar) PERBAIKAN LINGKUNGAN PERUMAHAN 2 Perbaikan Lingkungan Perumahan Sub-Inti (Kota Pekalongan) 3 Perbaikan Lingkungan Permukiman Kawasan Code Utara (Kota Yogyakarta) PEMBANGUNAN RUMAH SWADAYA LAYAK HUNI 4 Pembangunan Rumah Swadaya Layak Huni (Kabupaten Karang Anyar) 5 Pembangunan Rumah Swadaya (Kota Banjar) . masyarakat menggunakan dana sendiri melalui arisan rumah yang diinisiasi oleh koperasi yang dikelola mereka sendiri untuk membangun rumah secara swadaya. dan perbaikan rumah swadaya layak huni. berdasarkan kriteria tertentu. pemeliharaan kualitas sumber air. Hal mendasar dari kegiatan ini adalah upaya Pemerintah Kota Blitar mengeluarkan kebijakan penanganan kemiskinan dengan cara membangkitkan semangat gotong royong. diantaranya melalui kegiatan rehabilitasi rumah milik MBR. dan (iii) perbaikan rumah swadaya layak huni. pemeliharaan kualitas lingkungan. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci dari kegiatan. dan sistem jaminan tunjuk di kota Banjar. perbaikan lingkungan perumahan. dan teknologi ramah lingkungan. Penjelasan selengkapnya pada lampiran yang dilengkapi dengan alamat dari nara sumber untuk masing-masing kisah sukses. Selanjutnya dilengkapi dengan kisah sukses pembangunan permukiman yang terbagi dalam beberapa bagian yaitu peningkatan kapasitas. dan recycle). Pada tahun 2005 sebanyak 223 unit rumah tidak layak huni di tiga kecamatan/21 kelurahan telah direvitalisasi menjadi rumah layak huni. reuse. perguruan tinggi.1 Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni Contoh kisah sukses adalah kegiatan Bantuan Revitalisasi Rumah Kumuh (BR2K). (iii) masyarakat mempunyai caranya sendiri dalam mengumpulkan dana seperti sistem jimpitan di kota Pekalongan. Daftar selengkapnya pada tabel berikut. Tim ini bertanggungjawab terhadap pelaksanaan proyek. Penjelasan selengkapnya pada sub bab berikut dan lampiran. dapat dirangkum beberapa pembelajaran penting diantaranya (i) masyarakat mempunyai potensi yang besar untuk turut terlibat dalam proses pembangunan. Yogyakarta). TABEL VII. di Kota Banjar. (ii) penanganan masalah perumahan dapat dilakukan melalui kerjasama banyak pihak diantaranya pemerintah (pusat dan daerah). dan komunitas. pengelolaan sampah dengan penerapan 3 R (reduce. (iv) sistem gotong royong masih dapat menjadi tumpuan dalam proses pembangunan perumahan.1 Perumahan Rangkuman kisah sukses terbagi dalam tiga kategori yaitu (i) perbaikan rumah tidak layak huni. secara gotong royong. Tetapi kisah sukses ini setidaknya bisa memberi gambaran keberhasilan yang selama ini telah kita capai namun mungkin belum terdokumentasi dengan baik. 7. Usulan ini kemudian diteruskan kepada Pemkot melalui kelurahan dan kecamatan. Partisipasi lainnya dalam bentuk kerjasama dengan pemerintah daerah maupun organisasi masyarakat (Forum Kota Sehat Kota Pekalongan. (ii) penanggungjawab pelaksanaan konstruksi diserahkan kepada Tim Pelaksana BR2K pada masyarakat di masing-masing lokasi. penyediaan air minum dan pengelolaan sanitasi. N A M A K E G I ATA N Belajar dari 5 (lima) kisah sukses tersebut. LSM. berupa (i) musyawarah untuk menentukan rumah kumuh yang akan ditangani. Pembentukan Tim Pelaksana ini dilakukan melalui musyawarah atas inisiatif masyarakat setempat maupun digerakkan oleh LPMK atau aparat kelurahan. yang oleh masyarakat sendiri dikategorikan tidak layak huni (kumuh).1 DAFTAR KISAH SUKSES PEMBANGUNAN PERUMAHAN NO.117 Kumpulan Kisah Sukses P ada bagian ini akan digambarkan rangkuman dari berbagai kisah sukses pembangunan perumahan dan permukiman di Indonesia.

(iii) perumahan yang pada awalnya dibangun membelakangi sungai Code dipindah sehingga seluruh rumah menghadap ke sungai. warga yang bertugas ronda akan mengumpulkan uang-uang tersebut. dan pembangunan masjid.1. namun juga pemberdayaan masyarakat setempat. Untuk mengatasi persoalan tersebut. sungai Code yang sudah menjadi latar depan terbebas dari limbah domestik sehingga kualitas lingkungan pun meningkat. Proses yang dilakukan secara gotong royong menyebabkan terbentuknya solidaritas di antara masyarakat dan mendekatkan aparat pemerintah dengan masyarakatnya. Setiap malam. misalnya memasang paving di gang-gang secara swadaya. warga menyumbang sebesar Rp. dimana pembangunan bukan hanya fokus ke fisik saja. Beberapa hasil nyata berupa (i) sumur artesis dan 8 unit MCK yang tersebar di 4 RT. (iv) masyarakat dapat berpartisipasi dengan memberikan uang atau bahan bangunan sebelum pelaksanaan maupun pada saat pelaksanaan. FMCU juga terus melakukan sosialisasi dan kaderisasi kepada masyarakat agar kualitas lingkungan maupun sumber daya masyarakat sepanjang Kali Code dapat terjaga dengan baik. 50 sampai Rp. sehingga masyarakat setempat tidak lagi buang hajat di sungai. Forum Masyarakat Code Utara (FMCU) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta termasuk perguruan tinggi dan pemerintah pusat secara bertahap menata lingkungan permukiman di bantaran sungai Code. Kota Yogyakarta pada awalnya berkesan kumuh dan suram. (ii) 65 unit sambungan rumah air minum bagi 500 jiwa dan terbentuknya Usaha Air Bersih Tirta Kencana. lembaga keuangan FMCU juga telah berkembang menjadi koperasi simpan pinjam secara mandiri. Masyarakat di beberapa lokasi terbukti berpartisipasi sangat aktif dalam program ini. DPRD Kota Pekalongan. Selain itu. Kegiatan ini menggunakan konsep Tribina. Selain itu. (iii) jalan dan paving dengan dana pemda dan masyarakat. Perumahan sub-inti sendiri dibangun pada tahun 1982 yang diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang mampu khususnya tukang becak dan pedagang kecil. (iii) pengelolaan uang diserahkan kepada Tim Pelaksana BR2K. B. Kota Pekalongan Program perbaikan lingkungan perumahan sub-inti di Kelurahan Panjang Wetan. Perbaikan lingkungan dimulai sejak tahun 1990 dengan pengaspalan jalan. tangki septik komunal. Kota Yogyakarta Wajah kondisi permukiman di bantaran sungai Code. Kegiatan ini akan semakin merekatkan solidaritas warga dan meredam konflik. Dari hasil uang jimpitan warga ternyata berhasil dibangun Gedung Serba Guna Perumahan Sub-Inti sebagai sarana tempat pertemuan warga. Beberapa hasil nyata berupa (i) akses jalan setapak. Pendanaan perbaikan lingkungan kawasan Code Utara berasal dari pemerintah dan swadaya masyarakat setempat. . (iv) MCK umum. MCK.2 Perbaikan Lingkungan Perumahan A. dan pengelolaan sampah. Dengan demikian. Di kawasan tersebut belum tersedia sarana umum (air bersih. penyediaan air minum. Kota Pekalongan dilakukan atas inisiatif Forum Kota Sehat Kota Pekalongan dan dilaksanakan oleh masyarakat bekerjasama dengan Walikota Pekalongan. jembatan. canaan (gambar rencana dan perkiraan biaya) sampai dengan koordinasi dalam pelaksanaan konstruksi rehabilitasi fisik rumah kumuh. dan lampu penerangan. perilaku dan sikap masyarakat juga dibina melalui pengajian dan kerja bakti. TP PKK Kota Pekalongan. Perbaikan Lingkungan Perumahan Sub-Inti. 100 per hari yang diletakkan di sebuah wadah di depan rumahnya. pagar pengaman.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 118 Warga setempat juga melakukan pengumpulan uang dengan sistem jimpitan. Koordinasi yang baik antara aparat dan masyarakat mulai dari tingkat perencanaan sampai implementasi di lapangan menghasilkan pelaksanaan program yang dapat dipertanggungjawabkan dan transparan. (iv) pembinaan sikap dan perilaku masyarakat melalui kegiatan pengajian. (ii) masjid dan gedung serba guna. Perbaikan Lingkungan Perumahan Kawasan Code Utara. Selain itu. dan lainnya) serta kondisi jalan yang belum diaspal. Kegiatan ini dilaksanakan dengan dana yang bersumber dari APBD Kota Pekalongan dan sumbangan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan dengan cara gotong royong masyarakat setempat. FMCU juga melaksanakan revitalisasi budaya melalui agenda Festival Merti Code yang digelar sejak tahun 2002. 7. dan Dinas Kesehatan Kota Pekalongan. Dengan sistem ini.

1. (iii) Sampai saat tidak ada kemacetan pembayaran dalam pelaksanaan. reuse. (iv) keberhasilan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Bantuan diberikan secara dana bergulir (tidak hibah murni) untuk mencegah agar masyarakat tidak konsumtif dan semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh bantuan. 1. 2. Sumber pembiayaan yang digunakan murni berasal dari iuran anggota kelompok arisan tanpa ada intervensi pemerintah maupun pinjaman bank. Menariknya adalah bentuk jaminan yang disebut jaminan 'tunjuk' yaitu jaminan berupa perabot rumah tangga.2 Permukiman Rangkuman kisah sukses pembangunan permukiman akan mencakup beragam aspek yang dikelompokkan dalam kategori yaitu (i) peningkatan kapasitas. B. Pembangunan dilakukan oleh masyarakat secara gotong royong. (ii) terbangunnya rumah baru bagi 60 KK dengan jumlah bantuan Rp. banyak warga yang tertarik untuk bergabung sehingga koperasi semakin berkembang dan kesejahteraan warga pun meningkat.2. (v) pengelolaan sampah dengan penerapan 3 R (reduce. Bantuan rumah swadaya dari Menpera dilaksanakan melalui pemberian dana stimulan swadaya melalui LKM. dan industri rumah tangga (gula aren dan keripik) sehingga taraf hidup masyarakat semakin meningkat. (ii) Koperasi Tani Margaluyu berkembang dengan usaha di bidang penyewaan tenda tradisional untuk pernikahan (balandongan).1 Peningkatan Kapasitas Kisah sukses pada bagian ini terutama menyoroti keberhasilan proyek Water and Sanitation Policy Formulation and Action Planning (WASPOLA) II bekerjasama dengan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Nasional dalam meningkatkan kapasitas Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan dan termasuk juga mendorong keterlibatan dan kemitraan dengan pemangku kepentingan di luar pemerintah. Selain itu. (iii) koperasi juga mendapat kepercayaan dari P2P Jawa Barat untuk menggulirkan dana perumahan swadaya. 5 Juta tiap KK. dari koperasi kecil. Sedangkan masyarakat mengupayakan penyediaan bahan materialnya. 3. Dengan demikian.2 DAFTAR KISAH SUKSES PENINGKATAN KAPASITAS POKJA AMPL NO. 7. pasir. 10 Juta tiap KK. Beberapa hasil nyata berupa (i) terenovasinya rumah dari 100 KK miskin dengan jumlah bantuan sebesar Rp. Pembangunan Rumah Swadaya Layak Huni di Kabupaten Karang Anyar Kegiatan ini diprakarsai oleh Pemerintah Kabupaten Karang Anyar dan dibantu oleh pemerintah pusat. 6 N A M A K E G I ATA N Mengusik Kebijakan melalui Advokasi Media Massa (Propinsi Bangka Belitung) Menggerakan Masyarakat melalui Media Rakyat (Kabupaten Kebumen) Pelibatan Kelompok Strategis ke dalam Struktur Pokja (Propinsi Sulawesi Tenggara) Meraih MURI Award untuk Sanitasi (Kabupeten Pandeglang) Mengawinkan Dana Antarproyek untuk AMPL (Kabupaten Pekalongan) Berjejaring dalam Pembangunan AMPL (Nasional) . 5. Selain dalam bentuk uang. dan (vii) teknologi ramah lingkungan.2 TABEL VII. Daftar kisah sukses peningkatan kapasitas selengkapnya pada tabel VII. masyarakat membentuk kelompok arisan rumah. peternakan ayam. koperasi juga memiliki kegiatan penyediaan fasilitas seko- Kumpulan Kisah Sukses lah serta pemberian bantuan kepada warga koperasi yang akan melanjutkan pendidikan di luar kota.3 Pembangunan Rumah Swadaya Layak Huni A.119 7. 7. Beberapa hasil nyata berupa (i) terbangunnya 27 unit rumah dengan ukuran mulai 16 m2 sampai 54 m2. (vi) pemeliharaan kualitas lingkungan. (ii) pemeliharaan kualitas sumber air. Pembangunan dilaksanakan secara bergotongroyong oleh seluruh anggota kelompok sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. dan recycle). (iii) penyediaan air minum dan pengelolaan sanitasi. Setelah masyarakat memiliki rumah yang layak huni. masyarakat juga mengumpulkan bahan bangunan yang ada di lingkungan sekitar seperti kerikil. Pembangunan Rumah Swadaya di Kota Banjar Kelompok tani Margaluyu yang bergabung dalam Koperasi Pemuda Harapan Jaya menginisiasi kegiatan arisan rumah bagi anggotanya sejak tahun 1980. 4. dan batu.

Yogyakarta Menyuburkan Tanaman dengan Limbah Rumah Tangga. Sumatera Utara Pemberdayaan Masyarakat di Cagar Alam Gunung Simpang. (v) peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kualitas sumber air. (ii) pemberian penghargaan bagi pencapaian kegiatan dapat meningkatkan kinerja pembangunan sebagaimana diperlihatkan oleh upaya Pokja AMPL Propinsi Banten dan Pokja AMPL Kabupaten Pandeglang melalui pemberian penghargaan MURI Award. (iii) upaya pembangunan AMPL berbasis masyarakat bukan upaya yang mudah khususnya ketika dana pemerintah pusat tidak mengakomodasi hal tersebut sebagaimana DAK. (iii) penegakan hukum melalui penetapan peraturan desa yang disusun secara partisipatif.3 DAFTAR KISAH SUKSES PEMELIHARAAN KUALITAS SUMBER AIR NO. (iii) pemanfaatan teknologi sederhana ternyata dapat membantu memberi solusi pemeliha- . dan juga kampanye publik kepada masyarakat luas. mendorong peran perempuan sebagai kader lingkungan. TABEL VII. dan pemanfaatan media massa. upaya menjadikan lingkungan sebagai bagian dari muatan lokal kurikulum sekolah. Selengkapnya pada Tabel VII. 1. Malang Menabung Air dengan Sistem Zonasi Pelestarian Sungai Deli Melalui Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Belajar dari pengalaman keenam kisah sukses di atas.3 dan Lampiran. dapat ditarik beberapa pembelajaran penting yaitu (i) peran komunikasi menjadi vital dalam kerangka advokasi kepada pengambil keputusan. N A M A K E G I ATA N Pendidikan Lingkungan Berbasis Alam untuk Siswa SD dan SMP di sepanjang Sungai Citarum Pendidikan Lingkungan Hidup Terkait dengan Air dan Tanah Perempuan Peduli Sumber Daya Air Berkelanjutan di Sungai Deli. 4.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 120 7. (v) keberadaan kampiun masih menjadi faktor penentu di hampir semua kegiatan Pokja AMPL. dapat menjadi contoh nyata. melibatkan media massa sebagai bagian dari upaya penyadaran masyarakat. (iv) keterlibatan lebih banyak pemangku kepentingan di luar pemerintah menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kinerja pembangunan AMPL.2 Pemeliharaan Kualitas Sumber Air Kisah sukses pemeliharaan kualitas sumber air menyoroti berbagai upaya yang telah dilakukan khususnya menyangkut (i) penyadaran masyarakat dari berbagai tingkatan melalui institusi pendidikan. Cianjur-melalui Penegakan Peraturan Desa dan Pembentukan Kelompok Penjaga Hutan "Raksabumi" Bambu untuk Masa Depan. 6. 7. 3.2. (iv) pemanfaatan teknologi sederhana. Terobosan Pokja AMPL Kabupaten Pekalongan dengan menyediakan dana pemberdayaan masyarakat melalui APBD untuk mendampingi DAK bisa menjadi contoh yang mumpuni. 5. (ii) kampiun penggerak kegiatan termasuk perempuan. Foto: Bowo Leksono Pembelajaran dari berbagai kisah sukses di atas adalah (i) penyadaran pentingnya menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui cara biasa tetapi juga perlu melalui cara yang sedikit berbeda seperti pembentukan kader yang militan. 2. Pengalaman Pokja AMPL Propinsi Bangka Belitung dan Pokja AMPL Kabupaten Kebumen dapat menjadi acuan. 8. (ii) keberadaan kampiun sebagai penggerak merupakan salah satu faktor yang mendorong keberhasilan sebuah kegiatan. Upaya Pokja AMPL Propinsi Sulawesi Tenggara yang melibatkan pemangku kepentingan di luar pemerintah sebagai anggota Pokja AMPL dan pembentukan Jejaring AMPL yang merupakan wadah kemitraan seluruh pemangku kepentingan AMPL oleh Pokja AMPL Nasional bersama WASPOLA dan beberapa pemangku kepentingan lainnya.

4 DAFTAR KISAH SUKSES PENYEDIAAN AIR MINUM DAN PENGELOLAAN SANITASI NO. dan (v) pembentukan forum pelanggan. Selengkapnya pada Tabel VII. Pembentukan koperasi menjadi salah satu pilihan untuk mengelola dana yang ada. Berjuta Manfaat di Kota Medan Akses untuk Yang Kurang Mampu: Sambungan Air Baru melalui Kredit Mikro di Surabaya Akses Air Minum Bagi Masyarakat Daerah Kumuh Perkotaan : Master Meter System di Medan Mengelola Air di Dua Kelurahan (Kedung Kandang dan Lesan Puro). Upaya konservasi lainnya melalui inovasi zakat air. pemerintah. (ii) pengelolaan sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat. (iii) inovasi bagi peningkatan layanan air minum bagi penduduk miskin. 3. (iv) kerjasama lembaga donor. 10. . (iv) inovasi zakat air bagi keperluan konservasi. 1. Kota Denpasar. 7. Selengkapnya pada Tabel VII. 11.121 raan sumber air. 5. (v) penegakan hukum merupakan bagian penting dari upaya pemeliharaan sumber air melalui penetapan peraturan desa yang disusun secara partisipatif melibatkan masyarakat. (viii) komunikasi antara pelanggan PDAM dan PDAM dijalin melalui pembentukan forum pelanggan. TABEL VII.2. (iv) kebutuhan hidup masyarakat tidak selalu bertabrakan dengan upaya pemeliharaan lingkungan bahkan dapat menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. N A M A K E G I ATA N Penyiapan Masyarakat untuk Tangki Septik Komunal. dalam bentuk penyisihan keuntungan PDAM untuk membiayai kegiatan konservasi pada daerah sumber air. (ii) kontribusi masyarakat baik berupa uang maupun tenaga dan bahan dapat mendorong timbulnya rasa memiliki. Jakarta Selatan 4. 6. (iii) kegiatan berbasis masyarakat biasanya didorong oleh adanya campur tangan pihak luar baik berupa dana maupun pelatihan. 2. (vii) rekayasa keuangan berupa pemberian kredit mikro bagi penduduk miskin merupakan jalan keluar dari masalah mahalnya biaya sambungan. Medan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Desa Banjar Batur. masyarakat dan LSM sudah mulai menjadi hal yang biasa. Forum pelanggan Kini Terbentuk di Meurebo. (v) tarif progresif dalam penyediaan air minum dapat mendorong pemanfaatan air yang lebih efisien sehingga membantu upaya konservasi.5 dan Lampiran. N A M A K E G I ATA N Pengelolaan Sampah Terpadu di Banjarsari. Kabupaten Aceh Barat Kumpulan Kisah Sukses Berdasar beragam kisah sukses di atas. TABEL VII. (vi) pengelolaan air oleh masyarakat yang dilakukan secara baik ternyata dapat menjadi sumber pemasukan bagi desa bersangkutan. 8. Kabupaten Jeneponto Program Zakat Air Kabupaten Pemalang Pengelolaan Air Bersih Berbasis Masyarakat di desa Cibodas Tiga sumur. Kelurahan Ubung. Bandung MCK+IPAL = Perbaikan Kondisi Sanitasi Lingkungan XVI. 7.4 Pengelolaan Sampah dengan Penerapan 3R Kisah sukses pengelolaan sampah dengan penerapan 3R menyoroti berbagai upaya yang dilakukan terkait dengan upaya mengurangi timbulan sampah khususnya di tingkat masyarakat.2.3 Penyediaan Air Minum dan Pengelolaan Sanitasi Kisah sukses penyediaan air minum dan pengelolaan sanitasi menyoroti berbagai upaya yang telah dilakukan khususnya menyangkut (i) penyediaan fasilitas sanitasi berupa MCK umum dan tangki septik komunal yang berbasis masyarakat. Cilandak. 1. Kota Malang Alat Pembagi Air Desa Singasari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas.5 DAFTAR KISAH SUKSES PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN KONSEP 3R NO. (vii) inovasi pemasangan sistem meter induk di daerah batas permukiman liar yang merupakan kerjasama antara PDAM dan masyarakat menjadi alternatif jalan keluar penyediaan air bagi penduduk di daerah permukiman liar. Tetapi yang berbeda dari biasanya adalah bahwa pengelolaan forum ini diserahkan kepada LSM. didapatkan beberapa pembelajaran penting berupa (i) keberadaan kampiun menjadi salah satu faktor penting keberlanjutan suatu kegiatan. 7. Walaupun demikian keberlanjutan kegiatan tersebut sangat tergantung pada kontribusi dari masyarakat. 12.4 dan Lampiran. 9. sekolah dan beberapa contoh di lokasi TPS/TPA. Pengelolaan Sarana Air Bersih pada Daerah Rawan Air Desa Togo-togo.

3. Surabaya Program Daur Ulang Kemasan Kertas Tetra Pak Kisah Sampah dari RW 06 Wonokromo Mewujudkan Konsep Bersih dan Hijau di Yogyakarta Mengelola Sampah Sampai Tuntas Kota Blitar Paring: Menuju Lingkungan Bersih. Jakarta Selatan Pengelolaan Sampah Terpadu di Kampung Rawasari. 14. Tangerang Pengelolaan Sampah Terpadu di Surabaya (Menggunakan Takakura Home Method) Pengelolaan Sampah Terpadu di Pondok Pekayon Indah.2. 17. 22. ternyata yang banyak mendorong dimulainya penerapan 3R. (ix) beberapa sekolah telah mulai memasukkan kegiatan 3R dalam kegiatan ekstrakulikuler bahkan menjadikannya muatan lokal dalam kurikulum sekolah. kerjasama dengan pihak swasta juga banyak dirintis. Jakarta Selatan Pengelolaan Sampah Terpadu di Perumahan Mustika Tigaraksa. Lebak Bulus. (iv) kegiatan 3R biasanya dimulai setelah adanya pelatihan. Pengelolaan Sampah Terpadu di Banjarsari. 2. Medan Mengubah Sampah Menjadi Peluang Bisnis. Cempaka Baru. sampah dapat dikompos dan sampah tidak bermanfaat. N A M A K E G I ATA N Cilandak. pembuatan lubang biopori. Jakarta Pusat Pengelolaan Sampah Terpadu di SMUN 34.5 Keberhasilan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Mempertimbangkan program STBM yang masih belum lama diluncurkan. Hijau dan Sehat di Surabaya Stop Buang Sampah ke Sungai. 18. (v) walaupun bukan dalam jumlah besar tetapi kegiatan 3R menjadi salah satu sumber pemasukan bagi masyarakat khususnya ibu rumah tangga. Jakarta Selatan Kadir Sang Aktivis Kompos Sejati. (viii) penerapan sanksi juga mulai banyak dilakukan oleh beberapa komunitas. Lebak Bulus. Malang Perempuan Nusa Menambah penghasilan Melalui Kerajinan Sampah plastik. 7. Kota Tasikmalaya . N A M A K E G I ATA N RW 06 Sektor 2 Bintaro: Lingkungan Yang Semakin Mandiri Bambookura Hindarkan Karang Taruna dari Pengangguran. 8.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 122 NO. Bekasi Selatan Pengelolaan Sampah Terpadu di Kampung Sukunan. dapat ditarik benang merah keberhasilannya yaitu (i) keberadaan kampiun baik sebagai individu maupun sekelompok orang. 7. 21. Bahkan kegiatan pengkaderan ini sendiri sudah menjadi kegiatan rutin berbagai LSM. 12. (iii) kampiun banyak melakukan kegiatan pelatihan untuk menciptakan kader-kader. (vi) setiap lokasi mempunyai ciri khasnya masing-masing seperti pada salah satu lokasi ditemukan pengklasifikasian sampah berdasar pemanfaatannya yaitu sampah dapat dijual. dan masih jarang yang merupakan inisiatif dari masyarakat. 4. Jakarta Selatan Pengelolaan Sampah Terpadu di Bukit Kencana Jaya. 13. (x) kegiatan lomba dan pemberian penghargaan membantu meningkatkan keinginan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan 3R. 15. Pancoran. (vii) dalam rangka meningkatkan pendapatan dari pengomposan maupun daur ulang barang bekas. Aceh Mengurangi Sampah sambil Menambah Penghasilan di Pinggiran Sungai Deli. Semarang Pengelolaan Kompos di Kampung Cibangkong. 9. 24. 6. pemanfaatan lahan kosong sebagai tanaman obat keluarga (TOGA). 5. Jakarta Pusat Pengelolaan Kompos di Kebun Karinda. 11. 16. atau pemberian hibah dari pihak lembaga donor/LSM. Bandung Jawa Barat Pengelolaan Kompos "Mutu Elok" di Perumahan Cipinang Elok. Sleman. 10. 19. NO. Yogyakarta Pengelolaan Sampah Terpadu di Kampung Rawajati. (ii) kegiatan pengelolaan sampah hampir selalu dilakukan bersamaan dengan kegiatan bertema lingkungan lainnya seperti konservasi. masih sedikit kisah sukses yang bisa di- 1. Malang Dari beragam kisah sukses tersebut. Jakarta Timur Pengelolaan Kompos Cair di Cempaka Baru. 25. 23. 20. atau pembentukan kelompok pengawas sampah yang bertugas mengawasi pola penanganan sampah masyarakat.

2. (iv) pemanfaatan sumber dana Corporate Social Responsibility (CSR) mulai menjadi salah satu pilihan. Bandung Menyelamatkan Desa Melalui Pertanian Ekologis. Selengkapnya pada Tabel VII. Tetapi berbeda dengan biasanya. Medan Klub Konservasi Sekolah (KKS) Secara umum pembelajaran dari kisah sukses ini adalah (i) kampiun menjadi faktor utama keberhasilan. penanaman pohon. (v) dukungan pemerintah menjadi salah satu kunci kesuksesan. penanaman pohon dalam rangka menjaga ketersediaan air.6 Pemeliharaan Kualitas Lingkungan Kisah sukses pemeliharaan kualitas lingkungan menyoroti berbagai upaya yang dilakukan terkait dengan menjadikan kondisi lingkungan lebih baik mulai dari penanganan kebersihan kota. 5. dan pemuka agama. 2. Foto: Bowo Leksono . Kumpulan Kisah Sukses N A M A K E G I ATA N Menjadikan Surabaya Bersih dan Hijau Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya Ishak Membawa semangat Hidup Baru di Kuala Meurisi. 3. Sumatera Selatan.6 DAFTAR KISAH SUKSES PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) NO. N A M A K E G I ATA N Belajar Dari Desa Tanjung Tiga Kabupaten Muara Enim. TABEL VII. maupun melibatkan kaum muda dalam proses menjaga kualitas lingkungan.123 tampilkan. NO. 1. 6. (ii) dukungan dari pemerintah daerah menjadi faktor pendukung lainnya. Kegiatan yang bisa ditampilkan adalah pada lokasi Kabupaten Muara Enim. Kisah sukses yang ditampilkan pada bagian ini hanya menyangkut pilar stop buang air besar sembarangan atau biasa dikenal sebagai Community-Led Total Sanitation (CLTS).7 DAFTAR KISAH SUKSES PEMELIHARAAN KUALITAS LINGKUNGAN NO. 7. Kepala Puskesmas yang dalam kesehariannya berhadapan langsung dengan masyarakat sangat membantu keberhasilan dalam merubah perilaku BAB sembarangan masyarakat.7 dan Lampiran. 7. (iii) keberadaan tim penggerak di masing-masing desa sangat membantu percepatan proses perubahan perilaku masyarakat. Mulai dari penanganan kawasan kumuh. TABEL VII. (iii) lembaga donor masih menjadi pendorong utama dari kegiatan mulai dari memberi hibah sampai pelatihan. N A M A K E G I ATA N Perbaikan Lingkungan Menyeluruh Kelurahan Petojo Utara Jakarta Pusat Cianjur Berjuang Melawan Perubahan Iklim Jampedas: 7. Aceh Berkat Sumur Resapan Banjir Mulai Berkurang. Sumatera Selatan 8. 1. pencegahan banjir maupun pembentukan organisasi sekolah. guru sekolah. pada salah satu lokasi kampiunnya adalah pegawai negeri yang menggerakkan KORPRI terlibat dalam kegiatan penanaman pohon.000 pohon untuk 20 hektar lahan kritis di Cianjur Pembelajaran yang diperoleh dari beberapa kisah sukses di atas diantaranya adalah (i) kampiun tetap menjadi faktor penting. Anggota tim penggerak merupakan tetua adat. (ii) keterlibatan beragam lembaga yang membentuk kemitraan dalam penanganan kualitas lingkungan juga terlihat di hampir semua kegiatan. 4.

„ TABEL VII. Kampiun tersebut memberi contoh langsung kepada masyarakat.8 DAFTAR KISAH SUKSES TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN NO. Hal menarik lainnya bahwa kampiun menjadi faktor utama dalam memperkenalkan teknologi ramah lingkungan bagi masyarakat. 2. 1.7 Teknologi Ramah Lingkungan Hal yang menarik dari penerapan teknologi ramah lingkungan adalah masyarakat relatif dapat menerimanya karena ternyata tidak hanya baik bagi lingkungan tetapi juga bermanfaat langsung bagi masyarakat pengguna. Malang . Sekaligus juga mengurangi jumlah pohon yang perlu ditebang. N A M A K E G I ATA N Hemat Kayu Bakar dengan Tungku Alternatif. sehingga prinsip 'seeing is believing' terlihat sangat jelas manfaatnya dalam merubah sikap masyarakat.Pembangunan Perumahan dan Permukiman di Indonesia 124 7.2. Magelang Slamet Sulap Kotoran Sapi Jadi Bahan Bakar. Sebagai ilustrasi penggunaan tungku hemat bahan bakar dapat mengurangi setengah dari kebutuhan kayu bakar sehingga bagi ibu rumah tangga akan mengurangi frekuensi pengambilan kayu di hutan.

Statistik Perumahan dan Permukiman.DAFTAR PUSTAKA Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Departemen Pekerjaan Umum. berbagai tahun Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta. Statistik Potensi Desa. 2007 Badan Pendukung Pengembangan Sistem penyediaan Air Minum Departemen Pekerjaan Umum. 2005 Millennium Jangka Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat. berbagai tahun Badan Pusat Statistik. Statistik Kesejahteraan Rakyat. 2006-2008 . Jakarta. Air Minum. 2008 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. 2005 Departemen Pekerjaan Umum. Permukiman. berbagai tahun Badan Pusat Statistik. Direktori Kinerja PDAM Tahun 2007. Jakarta. Jakarta. Jakarta. dan Sanitasi : Praktik-Praktik Unggulan Indonesia. Laporan Pencapaian Development Goals Indonesia Tahun 2007. 2004-2006. berbagai tahun Badan Pusat Statistik. Jakarta. Kutipan Kisah-Kisah Sukses (Best Practices) dari Berbagai Edisi. 2005 Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas. 2003 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kajian Pendahuluan Penyusunan RPJMN 2010-2014 Bidang Permukiman dan Perumahan. Jakarta. Statistik Persampahan Indonesia. Statistik Air Bersih. Jakarta. 2008 ESP (Environmental Services Program) News. Jakarta. 2008 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. Jakarta. Peluang Investasi KPS Infrastruktur Air Minum di Indonesia. Laporan Audit Kinerja PDAM. Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004-2009 Bersama Menata Perubahan. Jakarta. Permukiman. 2008 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. Jakarta. Jakarta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 Badan Pusat Statistik. 2008 Badan Pusat Statistik. Rencana Menengah Nasional Tahun 2004-2009. Air Minum. dan Sanitasi : Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium Indonesia Tahun 2005.

Blitar. Jakarta Pemerintah Kota Blitar. Jakarta. Jakarta. Kumpulan Regulasi Terkait AMPL. 2008 Suyoto. Jakarta.Hidayat. Jakarta. 2005 Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia. 2008 Japan Bank for International Cooperation. Jakarta. Bandung. CD Data Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL).AusAID . Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. 2008 . Status Lingkungan Hidup Indonesia. 2008 Water and Sanitation Programme (WSP). Jakarta. 2007 Sekretariat Kelompok Kerja AMPL. Jakarta Japan Bank for International Cooperation. Best Practices Program Bantuan Revitalisasi Rumah Kumuh (BR2K). Penanganan Sampah Perkotaan Terpadu. 2008 Mungkasa. 2008 United States Agency International Development (USAID). Oswar (editor). Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan di Indonesia: Pembelajaran dari Berbagai Pengalaman. Jakarta. 2008 Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia.World Bank. 2008 Pemerintah Indonesia . Direktori 2006. Ringkasan Studi Promosi Kegiatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Indonesia. Jakarta. Comparative Assesment Community Based Solid Waste Management (CBSWM) Medan. Oswar dan Kurnia Ratna Dewi. Good Practices Kegiatan Lingkungan Berbasis Masyarakat di Indonesia. PT Prima Infosarana Media. Jakarta. berbagai tahun Mungkasa. Leaflet WASPOLA Proyek Penyusunan Kebijakan dan Rencana Kegiatan Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan. and Surabaya. Dampak Ekonomi Sanitasi di Indonesia. 2008 Sekretariat Kelompok Kerja AMPL. CD Himpunan Peraturan Perundangan Mengenai Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL). Bagong. Fenomena Gerakan Mengolah Sampah. Jakarta. Jakarta. Subang.

Gambar 3. 2001-2007. Hal 28. Gambar 3. Hal 39.21 Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja Tahun 2001 dan 2007. Tabel IV.12 Cakupan Pelayanan Air Minum di Perdesaan Tahun 2002 dan 2007.18 Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Penampungan Akhir Tinja di Kota-Desa. Tabel IV. satuan dalam persen (%) . Hal 28.6 Status Pencapaian MDGs Indonesia Tahun 2007 (%) Kolom 5 Baris 3 pada Nomor 1 tertulis Sumber Air Terlindungi Total dengan target sebesar 69.Erata 1. Gambar 3. Milyar) 2.10 Cakupan Pelayanan Air Minum di Kota-Desa 2002 dan 2007. satuan dalam persen (%) 7.19 Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Penampungan Akhir Tinja di Perkotaan. satuan dalam persen (%) 5. Hal 55.2 Kondisi Kecamatan Berdasarkan Ada Tidaknya IKK SPAM. Hal 38. satuan dalam persen (%) 9. Gambar 3.20 Cakupan Pelayanan Sanitasi Dasar menurut Tempat Penampungan Akhir Tinja di Perdesaan. Tabel IV.3 Indikator dan Target MDGs Permukiman (Air Minum dan Sanitasi Dasar) Indonesia Kolom 4 Baris 3 pada Nomor 2 tertulis Proporsi Penduduk dengan Berbagai Kriteria Sumber Air (Perkotaan) (%) sebesar 67 seharusnya 76. satuan dalam persen (%) 8. Hal 39. Hal 26. Gambar 3. satuan dalam persen (%) 4. Gambar 3. 2001-2007.24 Klasifikasi Rumah Tangga menurut Keadaan Air Got/Selokan di Sekitar Rumah.1 seharusnya 67 12. satuan dalam persen (%) 6. Hal 39. Gambar 3. satuan dalam milyar rupiah (Rp. Hal 103. Tabel III.11 Cakupan Pelayanan Air Minum di Perkotaan Tahun 2002 dan 2007. 2001-2007. data tahun 2007. satuan dalam persen (%) 3.1 11. Hal 60. Gambar 3. Hal 28.9 Perkembangan Alokasi Dana dan Subsidi Perumahan Tahun 2004. satuan dalam persen (%) 10. Kolom 4-7 (“Kondisi Operasi”). Hal 47.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->