[Type the document subtitle

]

PEMERIKSAAN BAKTERI YANG MENIMBULKAN KERACUNAN MAKANAN (FOOD POISONING) DAN BAKTERI YANG MENIMBULKAN SAKIT LEWAT MAKANAN (FOOD BORNE DESEASES)
BAKTERI DAN JAMUR YANG DIPERIKSA A. Food Poisoning 1. Vibrio para haemolyticus (mulai 300.000/gram) 2. Staphylococcus aureus (500.000/gram) 3. Bacillus cereus (1.000.000/gram) 4. Clostridium botulinum, Cl. perfringens (lebih 1.000.000/gram) 5. Aspergillus flavus (60 mg racun / 1 kg sampel) 6. Pseudomonas coccovenenans B. Food Borne Deseases 1. Vibrio cholerae, Vibrio El Tor, Vibrio NAG 2. Salmonella 3. Shigella 4. Escherichia coli (EPEC, ETEC, EIEC, EHEC) 5. Yersinia enterocolitica 6. Campylobacter sp. 7. Aeromonas sp. ISOLASI DAN DIAGNOSE a. Untuk bakteri lihat cara isolasi dan diagnose pada masing-masing bakteri b. Untuk jamur lihat cara pemeriksaan jamur SPESIMEN a. Makanan, minuman, air, muntahan dan feses b. Tempe bongkrek, tempe gembus dan oncom CATATAN a. Di dalam isolasi dan diagnose, apabila diketemukan bakteri lain, harus juga dilaporkan b. Hanya untuk spesimen berupa tempe dan terutama yang berasal dari daerah aliran sungai Serayu, Banyumas dan sekitarnya

Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan

Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto

pipet. Angka kuman (TPC) b. Bacillus cereus j. MPN coliform c. Angka kuman (tidak selalu) b. Pembukaan kaleng/botol tempat makanan/minuman 1. Cl. Tangan dibersihkan dengan kapas beralkohol. Kalau kalengnya sudah dilengkapi dengan tarikan pembuka kaleng. Salmonella f. Untuk spesimen cair. botulinum. bahan yang diambil untuk pemeriksaan adalah yang ada dibawah permukaan atau dibagian tengah (spesimen padat). terus dibakar. tinggal ditarik dengan pinset steril. E. B. yaitu : a. tutupnya dibasahi alkohol terus dibakar. gelas ukur. 2. MINUMAN DAN AIR SECARA BAKTERIOLOGIS PENATALAKSANAAN SPESIMEN A. plastiknya diambil dahulu kemudian tutup kaleng dibasahi dengan alkohol. Mould dan Yeast PEMERIKSAAN AIR Yang diperiksa. sebelum dibuka dikocok dahulu ± 25 kali. 3. El Tor. Setelah dingin dibuka dengan alat pembuka kaleng/botol. sendok disteril dengan dibakar menggunakan alkohol. MPN E. labu erlenmeyer disteril dengan oven 180 OC selama 1 jam atau 120 OC selama 12 jam. deficille k. Pengambilan spesimen Pada dasarnya pengambilan spesimen harus dilaksanakan secara aseptis dengan alat yang steril. Setelah dibuka. coli patogen h. Clostridium perfringens. Parahaemolyticus e. Enterococci l. Cl. yang sudah dibakar.PEMERIKSAAN MAKANAN. PEMERIKSAAN MAKANAN DAN MINUMAN Yang diperiksa yaitu : a. Begitu pula kalau minuman di dalam botol. MPN coliform tinja d. coli d. Staphylococcus aureus i. Shigella g. Kadang-kadang juga pH dan sisa chlor Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto . Kalau kaleng tutup plastik. MPN coliform c. Vibrio cholera.

PENUANGAN MEDIA DAN MEDIA YANG DIGUNAKAN 1. Dicampur sampai homogen. Dari enrichment media ditanam pada Salmonella Shigella Agar dan Mc Conkey Agar. Rapport medium) 2. Kemudian diinkubasi dengan posisi terbalik. PERHITUNGAN BAKTERI ENTEROPATOGENIK DAN BAKTERI INDIKATOR DI DALAM MAKANAN DENGAN METODE PLATE A. Tiap-tiap pengenceran sampel 10 x. Bakteri Indikator a. Masuk inkubator 37 OC selama 24 jam. Vibrio parahaemolyticus b. Di baca dan dicatat pertumbuhan pada TSIA. atau sisa pengenceran untuk angka kuman boleh juga digunakan. dicocokkan dengan tabel serum biokimia Salmonella. 4.PEMERIKSAAN SALMONELLA MAKANAN STANDART MUTU Di dalam minimal 50 gram makanan yang diperiksa tidak boleh ada Salmonella PELAKSANAAN PEMERIKSAAN 1. Minimal 50 gram makanan sampel dimasukkan ke dalam 250 ml enrichment media (Selenite Broth. Mould dan Yeast B. Masuk inkubator 37 OC selama 24 jam 3. Seterusnya boleh ditanam pada media gula-gula panjang dan media identifikasi yang lainnya. BAKTERI YAN DIHITUNG 1. Jenis media yang dituang untuk pemeriksaan : Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto . 100 x dan 1000 x diambil masing-masing 1ml dimasukkan ke dalam petri dish steril (1 seri pengenceran ada 3 dish) 2. SIM dan Simmon’s Citrat Agar. Bacillus cereus d. Escherichia coli c. Coliform b. Kepada 1 seri pengenceran dituang media sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan. 5. 4. Jumlah media yang dituang adalah 15 – 20 ml per dish. 3. Koloni yang tersangka Salmonella ditanam pada gula-gula pendek TSIA. Tetrathionat Broth. Staphylococcus aureus c. pada suhu 37 OC selama 48 jam. Clostridium perfringens 3. C. Enterococci 2. PENGENCERAN SAMPEL Dilakukan seperti pada pemeriksaan angka kuman. Bakteri Enteropatogenik a. diamkan di atas meja sampai media memadat. Kalau cocok diteruskan dengan slide agglutinasi dengan serum anti Salmonella polyvalent dan monovalen. Sim dan SC.

f. atau d. coli a. Lakukan pengenceran sampai 10-6 . d. Diambil sampel air kemih 5 ml atau feses sebanyak 5 gr b. Violet Red Bile Agar Tergitol 7 Agar Thiosulfat Citrat Bile Sukrosa Agar + NaCl 6 % Mannitol Salt Agar + 5 % Egg Yolk Bacillus cereus Agar Egg Yolk Handfort Agar modified KF Streptococci Agar Potato Dextrose Agar (inkubasi 30 .1.1 ml dengan mikropipet masukkan dalam medium SSA dan diratakan dengan drugalsky e. dituang media yang akan digunakan sesuai dengan jenis pemeriksaan. Coliform Escherichia coli Vibrio parahaemolyticus Staphylococcus aureus Bacillus cereus Clostridium perfringens Enterococci Mould dan Yeast : : : : : : : : D. Siapkan 3 tabung berisi LBDS dan 6 tabung LBSS (dibagi dua) Inokulasi tabung LBDS dengan 10 ml air sampel. masukkan dalam medium Selenith Broth (SB) dan diinkubasi selama 1 x 24 jam. h.6. Sampel mutahan diambil ± 1 gram dan dihaluskan b. ISOLASI E.1 ml Inkubasi pada suhu 37 OC selama 1 x 24 jam. hanya saja koloni yang dihitung adalah koloni yang sesuai dengan ciri-ciri bakteri yang dihitung. II. inokulasikan pada medium SSA secara streak atau kuadran. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : E. ISOLASI Salmonella dan Shigella a. dengan menggunakan jarum ose. d. 37 OC c. a. b. E. b. c. PERHITUNGAN KOLONI Perhitungan seperti angka kuman.37 OC selama 4 – 5 hari) Contoh sterilitas dibuat 1 petri dish steril diisi dengan 1 ml pelarut.2. g. c. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto . 37 OC d. coli pada medium Mac Conkey akan tampak berwarna merah tua dengan koloni besar dan EMBA akan tampak berwarna merah tua dengan kilap logam. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 2 x 24 jam d.1 ml dengan mikropipet masukkan dalam medium Mac Conkey atau EMBA dan diratakan dengan drugalsky c. ISOLASI I. pada dua pengenceran terakhir (10-5 dan 10-6) diambil 0. Setelah inkubasi selesai : d. Amati terbentuknya gas yang terperangkap pada tabung durham. PERHITUNGAN JUMLAH BAKTERI COLIFORM a. 0. 3 tabung LBSS diinokulasi dengan 1 ml dan 3 tabung LBSS yang lain diinokulasi dengan 0. Jumlah gas pada masing-masing kelompok medium dicocokan dengan tabel MPN untuk mengetahui jumlah bakteri coliform dalam sampel. Setelah inkubasi selesai. e. e. Masukkan dalam medium Lactose Broth (LB) dan diinkubasi selama 1 x 24 jam.

tepi tidak rata. Spesimen di lakukan pengenceran sampai tingkatan tertentu b. (+) apabila berwarna merah (terbentuk asam) c. (+) apabila terbentuk warna merah (terbentuk asetil methyl karbinol) d. Methyle red : ditambah indikator methyle red. Indole : ditambah covak indole reagent. untuk Indole dan Voges Proskauer selama 2 x 24 jam sedangkan Methyl Red dan Koser’s Citrat 4 x 24 jam. 2. Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto .f. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : koloni warna merah atau bening keruh dan pada bagian tengahnya berwarna hitam menunjukkan adanya koloni Salmonella. ISOLASI Staphylococcus aureus a.ISOLASI Bacillus cereus a. Pengenceran terakhir dilakukan penanaman secara streak plate dan spread plate pada media MSA atau MSA-darah c. Koser’s Citrat : (+) apabila terjadi kekeruhan (bakteri tumbuh dengan memanfaatkan citrat sebagai satu-satunya sumber karbon). IDENTIFIKASI E. Amati terbentuknya gas pada tabung durham (+) dan perubahan warna media (asam) (+). 4. Voges Proskauer : ditambah KOH dan α naftol. Kemudian diinkubasi pada suhu 37 OC. Inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37 OC d. coli 1. Dilakukan penanaman pada media Agar plate d. putih. Masukan dalam medium LB + indikator warna (preenrichment) yang didalamnya terdapat tabung durham. IDENTIFIKASI I. 3. cembung. Pengenceran terakhir dilakukan pemanasan pada air mendidih (membunuh bakteri selain Bacillus) c. F. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : bulat. Spesimen di lakukan pengenceran sampai tingkatan tertentu b. cembung. sedangkan Shigella koloni warna merah atau bening keruh dan pada bagian tengahnya tidak berwarna hitam. Koloni yang di duga E. Koloni yang terbentuk Salmonella pada media SSA (koloni berwarna merah atau bening keruh dan pada bagian tengahnya berwarna hitam) dan Shigella koloni warna merah atau bening keruh dan pada bagian tengahnya tidak berwarna hitam. (+) apabila terbentuk cincin warna merah (terbentuk indole) b. putih sampai abu-abu dengan zona jernih disekeliling koloni (hemolisis). Hasil positif dimasukan sebanyak 1 ose ke dalam medium IMViC (Indole Methyl Red Voges Proskauer Koser’s Citrat). Amati perubahan warna pada masing-masing medium : a. sedangkan pada MSAdarah : bulat. Amati pertumbuhan koloni yang terbentuk : pada media MSA : bulat. II. berwarna kuning dengan zona kuning disekeliling koloni. coli hasil isolasi disiapkan. Inkubasi selama 2 x 24 jam pada suhu 37 OC e. III. IDENTIFIKASI Salmonella dan Shigella 1. keping. inkubasi pada suhu 37 OC selama 1 x 24 jam. menjalar IV.

uji positif : katalase test. Koloni tersebut kemudian ditumbuhkan pada media tegak miring TSIA (goresan dan tusukan). Apabila pengamatan menunjukkan batang gram negatif maka dilanjutkan ke uji biokimia. 1 2 3 4 Spesies B. koagulase test (inkubasi 37 OC selama 24 jam) dan oksidase test. 3. staphylase test. 4. koagulase test (inkubasi 37 OC selama 24 jam) dan uji negatif : oksidase test. antrachis B. TSIA lereng merah (alkalis). Dicocokan dengan table ciri-ciri Bacillus IV. IDENTIFIKASI Staphylococcus aureus 1. Hasil pengamatan menunjukkan. UA negatif (tidak terjadi perubahan warna media). D-Nase test test. Jika Staphylococcus gram positif. Salmonella : (1). Inkubasi pada suhu 35 OC selama 1 x 24 jam. dasar kuning (asam) dan gas (+ / -). Koloni yang tersangka Staphylococcus dilakukan pewarnaan gram 2. Inkubasi pada suhu 37 OC selama 1 x 24 jam 3. D-Nase test test. 3.2.IDENTIFIKASI Bacillus cereus 1. TSIA lereng merah (alkalis). Apabila dijumpai gram positif berbentuk batang dilanjutkan ke media uji 2. subtilis B. (2). SIMA : hidrogen sulfida (H2S) positif. indole (-) dan motiliti (aktif / +). SIMA (tusukan) dan UA (tusukan) untuk identifikasi jenis Salmonella. indole (+ / -) dan motiliti (tidak motil / -) (3). UA negatif (tidak terjadi perubahan warna media). Dibaca dan dicatat pertumbuhan pada media uji 4. Koloni yang tersangka Bacillus kemudian dilakukan pewarnaan gram. (2). dilanjut katalase test. thuringensis Mo Lec Glu Lac Man Mal Suc G 6% Sta Nit AnO2 GL + + + + + + + + + + + +/+/+/++ + +/+ + + + + + + + + + + + + Keterangan : ON : oval tidak mengembang Mo : motilitas Lec : lecitinase Glu : glukosa Lac : lactose Man : manitol Mal : maltosa Suc : sukrosa G 6% : kaldu NaCl 6% Sta : starch Nit : reduksi nitrat AnO2 : pertumbuhan pada nutrient agar anaerob GL : globule lipid BS ON ON ON ON Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto . SIMA : hidrogen sulfida (H 2S) negatif. dasar kuning (asam) dan gas (+ / -). Tabel Identifikasi Bacillus : No. Amati pertumbuhan koloni dan perubahan media identifikasi. Koloni kemudian dilakukan pewarnaan gram. (3). Shigella : (1). staphylase test. cereus B. III.

3 11 15 19 11 15 20 24 16 20 24 29 10 ml 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1 ml 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0.2 11 15 7.1 14.2 9.6 7.1 ml 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 MPN per 100 ml 3 6 9 3 6.1 ml 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 0 1 2 3 MPN per 100 ml 9.Tabel MPN per 100 ml sampel menggunakan 3 seri tabung untuk setiap pengenceran 10 ml 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 ml 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0 0 0 0 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 0.2 12 6.4 13 16 19 3.3 12 16 9.1 20 26 15 20 27 34 21 28 35 42 29 36 44 53 23 39 64 95 43 75 120 160 93 150 210 290 240 460 1100 >1100 Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto .1 9.

H antigen (flagellar antigen) dan Vi antigen (virulensi antigen) ada juga pustaka menambahkan K antigen (kapsul antigen). Reaksi Widall dipakai untuk menegakkan diagnosis penyeakit tifus abdominalis. liver) 5. tidak mudah hancur dan terurai oleh cairan-cairan tubuh (darah. virus maupun toksinnya yang terdiri atas protein akan bertindak sebagai antigen apabila sehingga merangsang dibentuknya antibodi. bergantung dari antigen yang masuk. limfa dan sebagainya) Sifat antibodi : 1. direaksikan dengan antigen yang sudah diketahui jenisnya. apabila masuk dalam jaringan tubuh tidak akan bersifat antigen. dikatakan reaksi Widall positif berarti serum orang tersebut mempunyai antibodi terhadap S. Menentukan antigen atau antibodi apabila salah satu dari hal tersebut telah diketahui 2. Antigen adalah zat yang dapat merangsang terbentuknya antibodi apabila dimasukkan dalam jaringan tubuh Antibodi adalah zat yang dihasilkan tubuh setelah dimasuki suatu antigen. peninggian titer aglutinin H disebabkan vaksinasi dan peninggian titer aglutinin Vi menunjukkan karier. Apabila terjadi reaksi (reaksi positif). setelah sembuh dari penyakit tifus ataupun sedang menderita tifus. Reaksi serologi dapat digunakan sebagai : 1. Jumlah antibodi (titer antibodi) yang terdapat di dalam serum penderita dapat dipakai sebagai dasar untuk diagnosa penyakitnya. dapat direaksikan dengan antigen secara spesifik 4. Aglutinasi H berbentuk butir-butir pasir yang hilang apabila dikocok 3. tetapi apabila berikatan dengan suatu protein akan bersifat antigen.UJI SEROLOGI Serologi adalah telaah ilmu tentang reaksi antara antigen dengan antibodi di dalam serum. dan Vi dari laboratorium. antivirus maupun antitoksin. baik setelah vaksinasi. Aglutinasi O berbentuk butir-butir pasir yang tidak hilang apabila dikocok 2. reaksi Widall dipakai untuk mendiagnosis penyakit typus abdominalis yang disebabkan oleh Salmonella typhi. juga dapat digunakan untuk menentukan golongan darah sebelum melakukan transfusi darah. selalu berupa protein yang mempunyai berat molekul lebih dari 10. karena itu harus disimpan pada tempat yang dingin dan gelap. Reaksi Widall negatif artinya tidak memiliki antibodi terhadap S. terdiri dari suatu zat yqang menempel pada gamma globulin 2. Contoh. antibodi bersifat thermolabil dan tidak tahan apabila kena sinar matahari. Peninggian titer aglutinin O menunjukkan adanya infeksi yang aktif. Serum penderita yang diduga mengandung suatu antibodi. yaitu : O antigen (somatik antigen).umnya telah pernah terinfeksi oleh antigen tersebut. Sel bakteri. Mengukur titer atau kadar Tes serologi berdasarkan pada terjadinya ikatan antigen antibodi. berarti penderita sebel. H. dengan jalan mereaksikan serum seseorang dengan antigen O. kelenjar limfa. berada dalam keadaan larut dalam cairan badan (serum) 3. Pada reaksi aglutinasinya : 1. dibuat dalam reticulo endothelial system (sumsum tulang. Salmonella typhi mempunyai tiga macam antigen. sehingga merangsang terbentuknya Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto . memilih donor yang tepat pada transplantasi jaringan. Selain dapat dipakai untuk menentukan jenis kuman yang diasingkan dari penderita. typhi.000 2. typhi. Beberapa jenis karbohidrat dan lemak. Sifat antigen : 1. Antibodi ini dapat berupa antibakteri. Aglutinasi Vi berbentuk awan Reaksi Widall adalah reaksi serum (sero-test) untuk mengetahui ada tidaknnya antibodi terhadap Salmonella typhi. Apabila terjadi aglutinasi.

Vi. dapat merupakan hapten karena berikatan dengan protein tubuh sehingga merangsang dibentuknya antibodi. hanya terdapat pada kuman yang baru diasingkan dan terbatas pada Salmonella typhi serta beberapa jenis salmonella lainnya dan kuman enterik non patogen. Titer 1/160 Ambil 10 μl serum (antibodi) + 40 μl (1 tetes) reagen Widall (antigen S. pada mulanya dianggap sebagai faktor penting untuk menentukan virulensi kuman. Karbohidrat atau lemak yang dapat berikatan dengan protein dan bersifat antigen disebut HAPTEN. Titer 1/320 Ambil 5 μl serum (antibodi) + 40 μl (1 tetes) reagen Widall (antigen S. ke dalam tubuh binatang percobaan. Antibodi H. tetapi kemudian ternyata antigen Vi tidak sepenting reaksi aglutinasi dengan serum yang mengandung antibodi O. serum darah penderita tyfus : Objeck glass. Misalnya.antibodi. Biasanya titer yang diperoleh tidak begitu tinggi karena aglutinasi sel kuman diperlukan lebih banyak molekul antibodi. typhi H) 4. Antibodi Vi. Istilah Reaksi Antigen dengan Antibodi Antigen Antibodi Reaksi Aglutinogen Aglutinin Aglutinasi Precipinogen Precipitin Precipitasi Sel bakteri Bakteriolysin Bakteriolisis Toksin Antitoksin Flokulasi Weil Felix (1971) menemukan bahwa antigen badan kuman (antigen O. dan apabila tidak terjasi aglutinasi (tidak ada antigen Salmonella typhi H pada serum penderita) maka reaksi negatif 5. Laboratorium Mikrobiologi Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Jurusan Kedokteran Unsoed-Purwokerto . Pada manusia. Amati masing-masing. kependekan dari virulensi. Tujuan Bahan Alat : Menguji secara serologi mikroba patogen yang menyebabkan penyakit : Antigen Salmonella typhi H. apabila terjadi aglutinasi maka reaksi positif. pipet tetes Prosedur : 1. didapat dengan cara menyuntikan kuman yang masih bergerak dalam bentuk suspensi kuman hidup atau dimatikan dan antigen somatiknya dirusak dengan formalin. Antigen Vi dapat dihilangkan dengan cara pembiakkan berulangkali. Untuk titernya dihitung kelipatannya. Obat-obat tertentu apabila diberikan kepada seseorang yang sensitiv. Antibodi O. titer yang tinggi menunjukkan adanya infeksi atau pernah divaksinasi. Titer yang didapat biasanya tinggi karena antibodi H mempunyai afinitas tinggi terhadap flagela dan mudah menyebabkan bergerombolnya flagela. tetapi tidak ada hubungannya dengan derajat kekebalan tubuh karena antigen H tidak berhubungan dengan virulensi. typhi H) 2. mikropipet segala ukuran. typhi H) 3. seseorang menjadi alergi terhadap obat sulfa atau penisilin. didapat dengan cara menyuntikan kuman yang flagelanya telah dirusak dengan mencampur alkohol dan dieram pada suhu 37 OC selama 24-36 jam. antigen somatik) berlainan dengan antigen dari flagel (antigen H) dan hasil aglutinasinya jelas berbeda. Pekerjaan diteruskan hingga reksi negatif. Titer 1/80 Ambil 20 μl serum (antibodi) + 40 μl (1 tetes) reagen Widall (antigen S.