APA ITU RIBA??

Allah subhana wa ta’ala dan Rasulullah salallaahu alayhi wasallam dengan jelas mengharamkan riba-yakni termasuk menetapkan dan mengambil bunga: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), ‘Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,’ padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. al-Quran 2 : 275 – 278 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”al-Quran 3 : 130 – 13 Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik dari Nafi’bahwa beliau mendengar ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata,“Jika seseorang meminjamkan sesuatu, biarkan kondisi satusatunya yang dilunasi.” Al-Muwatta Imam Malik : 31.44.94 Malik meriwayatkan kepadaku bahwa beliau mendengar ‘Abdullah ibn Mas’ud pernah berkata, “Jika seseorang membuat pinjaman, mereka tak boleh menetapkan perjanjian

yang menyaksikan. Penjualan dengan penambahan yang terlarang.Tambahan keuntungan yang berasal dari peningkatan yang tidak dapat dibenarkan dalam bobot maupun ukuran. Transaksi yang dicirikan dengan suatu pernyataan ’Beri saya kelonggaran (dalam pelunasan) dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya) 2. dan yang mencatat riba. 6. dalam bukunya ‘Ahkamul Qur’an’ memberi definisi sebagai: ‘Setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai-tandingnya (nilai barang yang diterimakan).” Al-Muwatta Imam Malik : 31. Riba secara harfiah berarti “kelebihan” dalam bahasa Arab. memaparkan beberapa sumber riba ke dalam delapan jenis transaksi: 1. 3.lebih dari itu. penjualan produk pangan yang belum sepenuhnya diterima. Ibnu Rusyd mengatakan : ‘Para hakim secara ijma mengatakan tentang riba dalam buyu’ (perdagangan) dalam dua jenis yaitu penundaan (nasi’ah) dan kelebihan yang ditentukan (tafadul) Jadi. Dua aspek ini telah mendorong para ulama mendefinisikan dua jenis riba. ada dua jenis riba: .’ Kelebihan ini mengacu pada dua hal: 1. Sunah Imam Abu Dawud: 16. itu adalah riba. 8. Perlu diketahui bahwa Ibn Rushd menuliskan Bidayat al-Mujtahid dengan menganalisis berbagai pendapat para imam dari keempat madhhab utama. Meski hanya segenggam rumput.44. 7. Penjualan yang dicampuraduk dengan utang. 4. Pengertian riba menurut Islam secara lebih rinci diuraikan Ibn Rushd (al-hafid) seorang fakih.95 Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah salallaahu alayhi wasallam melaknat mereka yang menerima.1249. atau penjualan yang dicampuraduk dengan pertukaran uang. Penjualan emas dan barang dagangan untuk emas. 5. yang membayar. dan 2. Penjualan dengan penundaan pembayaran yang terlarang. Tambahan keuntungan yang berasal dari penundaan (waktu) yang tidak dibenarkan. Qadi Abu Bakar ibnu al Arabi. Pengurangan jumlah sebagai imbalan atas penyelesaian yang cepat.

sering disebut sebagai tunai. Riba an-nasiah mengacu pada penundaan waktu. Dalam peminjaman. tetapi penambahan atasnya tidak dibenarkan dan hukumnya haram. yang boleh dipertukarkan hanya ‘ayn dengan ‘ayn. ‘Ayn (nyata) merupakan barang dagangan yang nyata. dan sejenisnya. dan tidak atas benda-benda lain yang habis terpakai dan tidak bisa dimanfaatkan bagian per bagiannya – seperti makanan dan benda yang dipakai sebagai alat tukar. atau apa saja yang pembayarannya atau pelunasannya ditunda. Seseorang meminjamkan anda uang Rp 500. dan peminjam melunasinya. Sewa-menyewa uang berarti merusak fitrah transaksi. Penambahan dalam utang-piutang adalah riba al-fadl. Dalam hal ini riba yang terjadi adalah riba al-fadl. riba alfadl merupakan bunga yang harus dibayar. Hal ini mengacu pada benda nyata (‘ayn) dan benda tidak nyata (dayn). Riba al-fadl mengacu pada jumlah (kuantitas). baik penundaan maupun penambahan nilai hanya dapat dilakukan atas benda-benda tertentu saja seperti bangunan. Namun pada umumnya riba ini mewakili peningkatan tambahan terhadap nilai tanding yang diminta oleh satu pihak.000. yakni uang. Penundaan waktu dalam utang-piutang ini dibenarkan dan hukumnya halal.1. medium pembayaran (emas. transaksi sewa-menyewa melibatkan kedua unsur. IDR 500. Dalam penukaran. Riba an-nasiah secara khusus mengacu pada penggunaan dayn dalam pertukaran (safar) jenis benda yang serupa. setelah tertunda beberapa waktu lamanya. Penundaan ini tidak dibolehkan. Riba al-fadl adalah Penambahan dalam utang-piutang Dapat dijelaskan sebagai berikut. Menukar dayn untuk dayn juga haram. Menukar (safar) dayn untuk ‘ayn dari jenis yang sama disebut riba an-nasiah. Riba al-fadl sangat mudah untuk dipahami. kendaraan. Riba an-nasiah adalah kelebihan karena penundaan Memahami riba an-nasiah lebih pelik. binatang. Tetapi pengharaman ini diperluas sampai perdagangan umum jika dayn (sesuatu yang yang tidak nyata) mewakili uang yang melampaui fungsi sebenarnya dan . Dayn (tidak nyata) merupakan janji untuk membayar atau hutang. dalam jumlah yang sama. Transaksi utang-piutang mengandung penundaan (selisih) waktu. Riba ini merupakan kelebihan dalam waktu (penundaan) yang secara artifisial ditambahkan pada transaksi yang berlangsung. 2. tapi tidak ada unsur penambahan.000. perak dan bahan makanan – yang digunakan sebagai uang). karena menyewakan uang serupa dengan menambahkan nilai pada utang-piutang. dan menjadikannya sebagai riba.

Uang kertas tidak dapat memenuhi ketiga syarat jual-beli tersebut. mau buat beli telor. tidak setara. Sukarela atau disebut antaroddin minkum. Kegagalan ulama modern dalam memahami teknik kapitalis ini mengakibatkan pembenaran dikemudian hari yang menjelma menjadi perbankan Islam atau perbankan syariah. Hari ini uang kertas dan sistem perbankan riba dimasukan ketengah kaum muslim Indonesia yang di integrasikan (dimapankan) lewat kuda trojan bernama demokrasi. Kita dibuat . dan tidak kontan. 2. haram hukumnya. Memahami riba an-nasiah amat sangat penting agar mampu mengerti kedudukan kita berkenaan dengan uang kertas. batil. Prinsip darurat digabung dengan penghapusan riba annasiah telah memungkinkan mereka membenarkan penggunaan uang kertas dan pada gilirannya membenarkan perbankan dengan cadangan uang (fractional reserve banking) yang merupakan basis sistem perbankan hari ini yang dimampankan dalam sistem demokrasi. beras. uang kertas tidak bisa digunakan. sadarilah bahwa riba sebagai bagian cara berniaga kita sehari-hari. Dalam islam semua transaksi jual beli harus memenuhi tiga syarat: 1. euro atau pounsterling atau apa saja. kambing atau buat membayar apa pun. Dengan melihat hal tersebut di atas. Dari ini sini jelas terlihat posisi uang kertas posisi uang kertas dalam muamalah Islam. jadi. Kontan atau disebut yaddan bi yaddin. namanya dolar. haramnya berlipat dua. dan 3. uang kertas itu.menggantikan ‘ayn (sesuatu yang nyata) sebagai alat pembayaran umum. Setara atau disebut mithlan bi mithlin. tidak dapat memenuhi ketiga syarat tersebut. karena di dalamnya mengandung dua jenis riba sekaligus yaitu: 1. dan 2.Riba an Nasiah (karena penundaan pembayarannya) tersebut. Alasan mengapa kaum ulama modernis mengambil pandangan yang menyimpang tentang riba pada akhirnya adalah secara senagaja dan tidak adalah untuk mensahkan sistem perbankan (uang kertas dan bunga) yang sebetulnya tidak bisa diterima. Uang kertas. Jadi jelas. seharusnya tak hanya bank yang dianggap sebagai biang kerok riba tapi kita pun bisa dipersalahkan jika menerimanya riba yang bukanlah sesuatu yang jauh disana yang seolah asing bagi kita. uang kertas tidak sukarela. Untuk menyelesaikan urusan jaman riba ini.Riba al Fadl (karena ketidaksetaraannya itu).

Maka beliau (periwayat hadis) menjawab. “‘Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah sallallahu ‘alayhi wa sallam melaknat yang memungut maupun yang membayar riba. ‘Mereka semua sama saja. Saya bertanya bagaimana dengan yang mencatat transaksi dan dua saksinya. Keduanya hal ini harus dikerjakan secara bersamaan. Ketaatan kepada Allah dan rasulNya adalah kunci kemenangan. Meninggalkan riba berarti menciptakan (mengembalikan) cara berniaga (jual-beli) yang halal diantara kita. dan alhamdulillah dalam hal ini di Indonesia telah beredar dinar dirham yang telah dicetak oleh muslim indonesia melalui Pelopor Pencetakan dinardirham Mandiri dari Islamic Mint Nusantara (2000). dimulai dengan di gunakannya kembali Dinar-Dirham. pencatat transaksi. Dimulai dengan kembali kepada dinar dan dirham. Bab DCXXVII) “Jabir berkata bahwa Rasulullah sallallahu‘alayhi wa sallam melaknat pemungut maupun pembayar bunga. .begitu tergantung pada amalan riba ini dan jalan keluarnya adalah ubahlah cara berniaga kita sehari-hari hingga tak lagi bergantung pada riba. setelah itu anda boleh berjihad fisabilillah. Inilah kewajiban kita bersama dalam mentaati Allah dan rasulNya. Mobile dinar dirham yang disebut Dinarfirst dan Titipan Dinarfirst. Allah subhanahu wa ta`ala memberikan jalan keluar yang harus dikerjakan oleh muslim hari ini di Nusantara yakni meninggalkan riba dan memerangi para lintah darat (periba).’” (Al-Muslim. Jaringan Perdagangan Muslim dan Pasar Terbuka dalam Saudara (Saudagara Nusantara). melainkan inilah yang termudah. Bab DCXXVII. Nabi secara jelas menyebutkan kedua pihak yang terlibat dalam transaksi ribawi sebagai periba. 3881) Beberapa orang yang katanya ‘pintar’ atau orang-orang yang sudah apatis menyangka bahwa kita tidak mungkin meninggalkan uang-kertas dan perbankan. ‘Kami sampaikan yang kami dengar. Sebab Allah subhanahu wa ta`ala tidak membebankan kewajiban pada setiap manusia di luar kemampuannya. dan dua saksinya. Dan memerangi periba (harb) adalah dengan mengamalkan kembali segala cara hidup yang sesuai dengan tuntunan syari’ah yang secara otomatis akan menghancurkan sarana ribawi mereka. kemudian beliau bersabda. Padahal. karena kurang bijak jika kita menyeru dan mengajak muslim dan umum untuk meninggalkan sistem ribawi bila di saat yang sama tiada pilihan lain yang ditawarkan.’” (Al-Muslim. meninggalkan riba bukanlah perkara yang mustahil. Inilah tugas kita bersama yang ada di hadapan Muslimin hari ini. Pertama-tama kita diperintahkan untuk meninggalkan riba.

Jalan keluar dari sistem riba (perbankan dan uang kertas) adalah dengan kembali mengamalkan kehidupan tanpa riba yaitu perdagangan yang halal tanpa riba dalam pasarpasar terbuka islam dengan transaksi tanpa riba. tunggu apalagi. Mari kita tinggalkan riba dan uang kertas. Bismillah. . para pembaharu ini dengan sengaja atau tidak telah mengabaikan aspek pengertian riba dan uang kertas dengan meredefinisi pengertian riba dengan tujuan untuk memasukan sistem ekonomi modern atau kapitalisme yang sepenuhnya berdasarkan riba melalui demokrasi kedalam kehidupan muslim hari ini. Mari kita gunakan dinar dan dirham. maka menciptakan Bank Islam atau bank Syariah. maka kita melihat Islam hari ini jadi jelas apa posisi pembaharu islam yang berusaha mengislamkan kapitalis yaitu sistem riba dan uang kertas.Dengan kita telah memahami pengertian riba di atas yang telah dijelaskan oleh Ibn Rusd yang mengacu kepada empat Ulama Madhab.

M. NOUVAL SYAHAB.A JURUSAN HUKUM ISLAM IAIN RADEN FATAH PALEMBANG .TUGAS MAKALAH METODE PENULISAN KARYA ILMIAH APA ITU RIBA Disusun oleh: VERA SUSANTI (2120201156) DOSEN PEMBIMBING: DR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful