1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang tangguh, mandiri dan kreatif sehingga mampu menyesuaikan perkembangan zaman. Pendidikan sangat penting dalam menyiapkan manusia untuk mampu mempertahankan dan meningkatkan kualitas kehidupan sebagai bangsa yang bermartabat. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Sejalan dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta tuntunan peningkatan mutu pendidikan guru sebagai pelaksana danpengelola pelajaran diharapkan dapat memperbaiki mutu, proses dan hasil belejar siswa. Salah satu pemecahannya adalah pelaksanaan pendidikan seharusnya dapat memberikan ruang bagi anak didik secara baik untuk berkembang khususnya dalam Kognitif, Afektif, Psikomotorik. Berdasarkan pengamatan penulis tentang hasil belajar sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata ulangan harian ( formatif ) siswa pada

1

2

materi kerajaan Mataram di peroleh “65”1. Sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditetapkan yaitu “75” 2 Apabila keadaan demikian terus berlanjut, tentu para siswa yang mendapat nilai dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) harus tetap melakukan perbaikan, yang jelas akan menghambat siswa dalam menerima pelajaran baru. Selenjutnya akan dapat mengakibatkan lulus yang diperoleh semakin rendah kualitasnya. Guru telah berusaha menyiapkan pengajaran dengan baik, ia telah menguasai materi pelajaran dengan baik dan sudah di sampaikan dengan sangat baik juga serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar teleh pula dilakukan namun hasilnya belum memuaskan. Kenyataan demikian jika kita lihat dalam lingkup proses belajar mengajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, Tidak tercapainya tujuan dari suatu materi disebabkan karena siswa dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal yang meliputi kemampuan inteligensi bakat yang tidak dapat disalurkan. Kemudian faktor yang bersumber dari luar diri siswa atau disebut faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.. Tidak terciptanya kondisi yang menguntungkan bagi peserta didik akan dapat menurunkan pencapaian hasil belajar mereka. Oleh karena itu, setiap proses belajar mengajar guru harus menciptakan kondisi yang memungkinkan bagi murid untuk berkembang secara optimal. Kegiatan guru dalam menciptakan kondisi atau suasana kelas yang kondusif tersebut dinamakan pengelolaan kelas.
1

Formatif, Kerajaan Mataram , ( Padangsidimpuan : SMP Negeri 3, 2012 ) KKM, Pendidikan Sejarah, ( Padangsidimpuan : SMP Negeri 3, 2012 )

2

3

Mengelola kelas ialah suatu alat untuk mengembangkan kerja sama dan dinamika kelas yang stabil, walaupun banyak gangguan dan perubahan dalam lingkungan. Jika kondisi demikian tidak dapat di lakukan oleh guru akan tidak membawa hasil yang optimal. Dengan kata lain, walaupun guru telah menguasai materi pelajaran, memilih metode mengajar yang paling canggih dalam pengajaran dan alat-alat yang di perlukan dalam proses belajar mengajar itu akan menjadi sia-sia kalau para murid tidak berada pada suasana yang memungkinkan terjadinya pembelajaran. Akhir-akhir ini terasa banyaknya hambatan yang ditemui dalam mencapai tujuan pengajaran atau keberhasilan siswa dalam belajar dan salah satu dugaan kuat kenapa materi pelajaran yang disampaikan guru kurang dapat di serap oleh murid, karena lemahnya kemampuan guru dalam mengelola kelas sebagaimana mestinya, sehingga khususnya pada materi kerajaan Mataram, diantaranya yaitu Awal kerajaan Mataram, Perkembangan kerajaan Mataram, Akhir kerajaan Mataram. Dari latar belakang permasalahan di atas maka perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam sehingga di peroleh apakah faktor kemampuan guru dalam mengelola kelas yang menjadi penyebab rendahnya hasil belajar murid. Sebab kalau tidak diatasi maka pada akhirnya nanti mutu pendidikan akan terus merosot dan ini akan menjadi gambaran kemampuan sumber daya manusia kita di masa depan. Untuk mencapai nilai yang maksimal, maka penulis berkeinginan untuk mengadakan penelitian “ Pengaruh

Keterampilan Guru Mengelola Kelas Terhadap Hasil Belajar Sejarah Pada Materi Kerajaan Mataram Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan.

4

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang di uraikan di atas, secara umum keberhasilan para siswa di sekolah di tentukan oleh bermacam-macam faktor,dari macam-macam faktor tersebut pada dasarnya dapat di bagi 2 (dua) yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi anak yang berasal dari dalam diri siswa, seperti minat, motivasi, kecerdasan dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi anak yang berasal dari luar diri siswa,seperti kemampuan guru dalam mengelola kelas, sarana dan para sarana, lingkungan, tingkat pendidikan, orang tua, kurikulum serta kondisi masyarakat. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah diketahui bahwa banyak yang mempengaruhi hasil belajar sejarah siswa pada materi kerajaan Mataram. Untuk mengkaji keseluruhan faktor tentu sangat tidak mungkin apalagi dalam waktu yang bersamaan. Untuk itu penulis hanya mengkaji masalah penggunaan keterampilan guru mengelola kelas dikaitkan dengan hasil belajar pada materi kerajaan Mataram. Variabel penggunaan keterampilan ini dikaji dari indikator yaitu,

Menunjukkan sikap tanggap, Memberi perhatian, Menegur, Memberi perhatian. Adapun yang di batas pada pengaruh hasil belajar sejarah siswa yang di maksudkan penulis adalah :

5

a. Pengertian belajar b. Prinsip – prinsip belajar c. Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar Selanjutnya yang di batas pada materi kerajaan Mataram adalah : a. Awal kerajaan Mataram b. Perkembangan kerajaan Mataram c. Berakhirnya kerajaan Mataram Setelah faktor tersebut di bahas penulis akan menguraikan sejauh mana pengaruh keterampilan guru mengelola kelas terhadap hasil belajar sejarah siswa pada materi kerajaan Mataram kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan. D. Perumusan Masalah Berdasarkan judul yang diajukan dalam penulisan dan penelitian ini maka penulis mengajukan rumusan masalah yang akan di cari penyelesaiannya sebagai suatu alternatif solusi dalam membantu para guru dalam mengelola kelas dalam proses belajar mengajar. 1. Bagaimana gambaran keterampilan guru mengelola kelas di kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan? 2. Bagaimana gambaran hasil belajar sejarah siswa pada materi kerajaan Mataram di kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan? 3. Apakah terdapat pengaruh antara keterampilan guru mengelola kelas terhadap hasil belajar sejarah siswa pada materi kerajaan Mataram di kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan?

Tujuan Penelitian Penelitian ini di lakukan dengan tujuan yaitu : a. b. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang pengaruh terhadap hasil belajar sejarah pada materi kerajaan Mataram. agar dapat menentukan program apa yang tepat dalam rangka mencapai mutu pendidikan yang optimal. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Bagi siswa.6 E. d. Untuk mengetahui gambaran keterampilan guru mengelola kelas yang di laksanakan di kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan ? b. . Untuk menjadi bahan implementasi bagi guru dalam meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah. Kegunaan Penelitian Penelitian ini di harapkan dapat berguna bagi sebagai berikut : a. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh keterampilan guru mengelola kelas terhadap hasil belajar sejarah pada materi kerajaan mataram siswa kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan ? 2. Untuk mengetahui gambaran hasil belajar sejarah pada materi kerajaan mataram siswa kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan ? c. c. agar dapat lebih aktif dalam proses belajar mengajar khususnya pada materi kerajaan Mataram. Bagi kepala sekolah.

7 BAB II LANDASAN TEORITIS. 3 Sedangkan Oemar Hamalik berpendapat bahwa “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. yakni mengalami”. Pada saat orang belajar. (Jakarta : Rineka Cipta. ( Jakarta : Rajawali Pers. Proses Belajar Mengajar.27 Dimyati dan Mudjiono.5 Menurut Whittaker yang di kutip oleh Abu Ahmadani dan Widodo “Belajar dapat di 3 4 5 Kunandar. akan tetapi merupakan suatu proses. 2004). belajar hanyalah dianggap sebagai penambahan dan pengumpulan sejumlah ilmu pengetahuan. hal. belajar tidak hanya sekedar mengumpulkan ilmu penggetahuan. Hakikat Hasil Belajar Sejarah Pada Materi Kerajaan Mataram Dalam pembelajaran hasil belajar perlu lebih dahulu diuraikan tentang arti belajar. tetapi belajar lebih menekankan pada perubahan individu yang belajar. (Jakarta : Bumi Aksara. Hal ini seperti yang di katakan oleh Mulyasa yang di kutip oleh Kunandar “ Belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan.9 7 .4 Pandangan Skinner mengenai “Belajar adalah suatu perilaku. Sebaliknya. 2007 ). KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Deskripsi Teoritis 1. maka responnya menjadi lebih baik. bila ia tidak belajar maka responnya menurun”. 319 Oemar Hamalik. Pendapat ini terlalu sempit. belajar bukan hanya mengingat. suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. hal. 2006). Belajar dan Pembelajaran. pengetahuan dan sikap “. menurut pendapat tradisional. hal.

Proses belajar yang terbaik apabila murid mengetahui status dan kemajuan.hasil belajar itu lambat laun di persatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbeda. Hasil. dan keterampilan. Proses belajar dan hasil usaha belajar secara materill di pengaruhi oleh perbedaan. Hasil. 3. berbuat.pola perbuatan.perbedaan individual dikalangan murid. 9. “Proses belajar ialah pengalaman. 6 Abu Ahmad dan Widodo Suprianto.6 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri siswa melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang berlangsung secara terus menerus. 2008).hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman.beda. Proses belajar berlangsung secara efektif. 5. Psikologi Belajar. Dengan demikian penting di ketahui prinsip – prinsip belajar menurut William Burton yaitu : 1.8 definisikan sebagai proses dimana tingkah laku di timbulkan atau di ubah melalui latihan dan pengalaman”.hasil belajar adalah pola. 15. 12. Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalamanpengalaman dan hasil. 10. 2. (Jakarta : Rineka Cipta. 7. Hasil. 14. 4. sikap. Hasil.hasil belajar bertalian satu sama lain. Prose situ melalui bermacam – macam raga pengalaman dan mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan tertentu. 13. Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri yang mendorong motivasi yang kontiniu. 11. H asil.hasil yang di inginkan disesuaikan dengan kematangan murid. Proses belajar dan hasil belajar di syarati oleh hereditas dan lingkungan.pengalaman yang dapat di persamakan dan dengan pertimbangan dengan baik.murid. Proses belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai prosedur. 8.hasil belajar di terima oleh murid. Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan murid. 6. hal. mereaksi dan melampaui. 126 .

yaitu segala hal di luar individu mencakup material. 7 8 Oemar Hamalik. usia. hasil pembangunan.faktor kondisional yang ada. faktor stimulus.faktor individual seperti kematangan. serta motivasi.7 Prinsip.faktor individual ini sangat besar pengaruhnya terhadap pembelajaran “.8 Berdasarkan pendapat diatas.hasil belajar yang telah di capai adalah bersipat kompleks dan dapat berubah. Ketiga.prinsip belejar yang hanya memberikan petunjuk umum tentang belajar.ubah (adaptable). hal. hasil penjualan. penugasan. Psikologi Pendidikan. faktor. 2006). Hasil atau produksi adalah perolehan yang didapatkan karena adanya kegiatan mengubah bahan bagi istilah panen. serta suasana eksternal yang harus di terima. (Jakarta : Rineka Cipta. faktor metode belajar. dan rohani. perbedaan jenis kelamin. yaitu “hasil” dan “belajar”. di pelajari oleh pelajar.prinsip itu tidak dapat di jadikan hukum belajar yang bersifat mutlak. tetapi prinsip. termasuk hasil belajar. Pengertian hasil (product) menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. jaddi tidak sederhana dan statis”. 113 . Hasil belajar dapat di jelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya. Hasil. kalau tujuan belajar berbeda maka dengan sendirinya cara belajar juga harus berbeda karena itu belajar yang efektif sangat di pengaruhi oleh faktor. op. faktor.cit. maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu hubungan timbal balik antara seorang guru dengan siswa melalui proses perubahan seluruh tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalaman yang di alami oleh siswa. Menurut Wasty Soemanto faktorfaktor yang mempengaruhi belajar ada 3 golongan yaitu sebagai berikut : “Pertama.9 16. Kedua. hal. 32 Wasty Soemanto.

e. hasil dapat dengan jelas di bedakan dengan input akibat perolehan oleh proses. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menghasilkan sesuattu yang baru dengan cara menggabungkan berbagai factor. f. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar. pernyataan atau konsep berdasarkan criteria tertentu. Analisis. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang pelajaran yang di sampaikanguru dan dapat memanfaatkannya tanpa harus menghubungkannya dengan hal. b.ide umum. atau istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Kemampuan menerima. Pemahaman. dan teori. dan psikomotor. d. Setelah mengalami belajar siswa berubah perilakunya di banding sebelumnya. 2. 1. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik uuntuk peka terhadap eksistensi fenomena atau rangsangan tertentu.10 Dalam siklus input.hal lain. Domain afektif.hasil. Sejalan dengan uraian di atas. afektif.proses. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur. keadaan. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menggunakan ide. Sintesis. Evaluasi. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi. tata cara ataupun metode. Benyamin S. “Domain kognitif.Bloom. dkk yang di kutip oleh Zaenal Arifin bahwa hasil belajar dapat di kelompokkan ke dalam tiga domain yaitu domain kognitif. a. fakta. c. a. Begitu pula dalam kegiatan belajar mengajar.unsure atau komponen pembentukannya. yaitu jenjang pengetahuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep.teori dalam situasi baru dan konkrit. Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Pengetahuan. prinsip. . prinsip. Penerapan.

keputusan.nilai yang berbeda. Menilai. tidak mengajar di akhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. kegiatan.kerja. (Bandung : Remaja Rosdakarya. atau tiingkah laku tertentu secara konsisten. hal. objek dan yang lain berdasarkan criteria tertentu melalui penelitian. unjuk.11 Kemauan menanggapi/ menjawab. 11 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu yang mencakup tujuan. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta diudik untuk menilai suatu objek. dan membentuk suatu system nilai. memecahkan masalah. orang. Op. Organisasi. c. Dari sisi guru. hal. Evaluasi Pembelajaran. atau bagian.bagiannya. proses. fenomena. mulai dari gerakan yang sederhana sampai dengan yang kompleks”. Domain psikomotor. proses.9 Untuk di peroleh hasil belajar maka dilakukan evaluasi. 21 Dimyati dan Mudjiono. 191 10 . 9 Zaenal Arifin. kegiatan. orang. tetapi juga bereaksi terhadap salah satu cara. Dari sisi siswa. d. 191 11 Ibid. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk tidak hanya peka pada suatu fenomena. objek. yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menyatukan nilai. Seperti yang dinyatakan oleh Davies yang di kutip oleh Dimyati dan Mudjiono bahwa “Evaluasi merupakan proses sederhana memberikan/ menetapkan nilai kepada tujuan. 3. Cit. Hal. 2010). b. keputusan. dan masih banyak yang lain”.10 Sedangkan Wand dan Brown mengemukakan bahwa “Evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu”. unjuk-kerja. Hasil inilah yang di sebut hasil belajar . hasil belajar merupakan berakhirnya penggal atau puncak proses belajar. Domain ini merupakan kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan gerakan tubuh.

12 Nana Sudjana berpendapat bahwa : “Hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah di lakukan berulang-ulang. serta akan tersimpan dalam waktu yang lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang leebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik”. 45 . Awal kerajaan Mataram.13 Berdasarkan pendapat dii atas. c. Perkembangan kerajaan Mataram. 2011). b. (Bandung : Remaja Rosdakarya. 32 13 Purwanto. hal. Akhir kerajaan Mataram. pada materi kerajaan mataram banyak hal yang akan di bahas.12 Sedangkan menurut Winkel yang di kutip oleh Purwanto bahwa “Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya”. Evaluasi Hasil Belajar. atau dengan kata lain hasil belajar adalah hasil dari suatu tindak belajar dan bukan tindak mengajar. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. yang akan di uraikan penulis satu persatu sebagai berikut : 12 Nana Sudjana. Sama halnya dengan materi lain. tetapi penulis hanya membahas kerajaan Mataram yang tertuang dalam indikator pembelajaran. dan dapat membentuk pribadi individu siswa untuk serta mendapatkan hasil yang lebih baik . dapat di simpulkan bahwa hasil belajar adalah penilaian terakhir dari proses belajar siswa yang dapat merubah cara berpikir serta perubahan tingkah laku siswa. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2005). hal. terdiri dari : a.

Gramedia. 16 Kraton dari sang Raja terletak di sebuah kota yang bernama Medang. html. Berdasarkan catatan yang terdapat pada prasasti yang di temmukan “Kerajaaan Mataram berawal sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya”. yang pusat kerajaannya adalah kraton. yang dilindungi oleh dewa. go. Pada awal berdirinya kerajaan ini berpusat di Jawa Tengah atau disebut sekarang Yogyakarta. Kerajaan. 325 16 Ibid.prasaati ini sesuai dengan prasasti Rakai Pikatan nama kerajaannya adalah Mataram dan ibukotanya Medang. batan. (Yogyakarta : Mitra Abadi.17 14 15 http : // msmunir. Kulken telah menentukan bahwa “Mataram menghadirkan sebuah sturuktur yang hampir identik dengan sturuktur sriwijaya.14 Kerajaan Mataram ini berdiri sejak awal abad ke.fakta historisnya di tetapkan berdasarkan interpretasi tertentu”.10 pusat kerajaan Mataram pindah ke Jawa Timur. 125 . Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900. 2009).dewa pelindung kraton. hal. id /sejarah kediri/Mataram. 326 17 Sartono Kartodirdjo. 12 mei 2012 Paul Michel Munoz.(Jakarta. 15 Prasasti.8. hal.dewa leluhur”.13 a. Akan tetapi pada abad ke.2005). Di dalam abad dan historiografi tradisional lainnya pendirian “Mataram di selubungi oleh mitos dan legenda sehingga fakta. Banyak dari prasasti para Raja ini menyerukan “Perlindungan dari dewa.Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia . Raja agung di Medang negeri Mataram”. hal. Awal Kerajaan Mataram Kerajaaan Mataram adalah kerajaaan Hindu di Jawa ( Jawa Tengah dan Jawa Timur ).

14 Kerajaan Mataram ini juga membahas tentang dua wangsa yaitu wangsa sailendra dan wangsa isana.prasasti tersebut semuanya menggunakan bahasa sansekerta.catatan Cina dari masa dinasti Tang. Munculnya kerajaan ini telah mengalihkan perhatian para ahli sejarah kuno karena berbagai penelitian telah di lakukan.Mataram. Salah satu alasannya adalah sumber sejarah yang ada ternyata tidak cukup untuk bias merekonstruksikan sejarah kerajaan Mataram dari awal hingga akhirnya. Sejarah Nasional Indonesia II . 2008). catatan dinasti Tang itu adalah sebagai berikut : “Ada lebih dari 28 kerajaan kecil namun semuanya mengakui supremasi 18 Marwati Djoened Poesponegoro. Prasasti. Di dalam prasasti Abhayagiriwihara dari bukit Ratu Baka tahun 714 saka (792 M) dan di dalam prasasti Kayumwungan tahun 746 saka (824 M). Sedangkan asal usul wangsa isana di jumpai pertama kali di dalam prasasti pucangan yang menggunakan bahasa sansekerta. namun hasilnya kurang memuaskan karena banyak hal. Wangsa Sailendra. Sejalan dengan catatan.”Asal usul Sailendra ini di jumpai pertama kali di dalam prasasti kalasan tahun 700 saka (778 M)”. yang mengungkapkan adanya dua duta baru yang di kirim dari Chopo pada 860 M dan 873 M.hal yang belum bias di ungkapkan secara tuntas. Munculnya kerajaan Mataram ini menimbulkan sejumlah pertanyaan terutama yang berkaitan dengan masa-masa pra. Nugroho Notosusanto.hal. 113 .18 Kemudian istilah itu muncul pula di dalam prasasti dari desa kelurak tahun 704 saka (782 M). (Jakarta : Balai Pustaka.

Cit. C. 2. Ada 32 mentri dan yang pertama adalah Ta-tsa-kan-hiong. Jawa Tengah. Op.”20 19 20 Paul Michel Munoz.”19 Ke 28 kerajaan kecil yang di sebutkan itu tampaknya bersesuaian dengan wilayah. dapat disimpulkan bahwa awal kerajaan Mataram berdiri sejak abad ke-8 yang dipimpin oleh Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang letaknya di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan ibukotanya Medang. Berdasarkan pendapat di atas. Aliran migran Melayu bertambah besar setelah Aceh mengadakan ekspedisi terus menerus ke Johor dan pelabuhan. Op. 326 Sartono Kartodirdjo. b.pedagang baik dari Indonesia maupun dari India.wilayah lama dari para tuan tanah yang telah ditaklukkan oleh sanjaya. hal. Asia Barat dan Asia Timur.faktor kerajaan Mataram di lihat dari segi perdangannya yaitu : 1. dan ini mungkin bisa menjelaskan tingginya jumlah menteri yang ada. “Pendudukan Malaka oleh portugis mengakibatkan migrasi pedagang Melayu. antara lain ke Makassar. 3. Perkembangan Kerajaan Mataram Menurut Sartono Kartodirdjo faktor.C Berg berpendapat bahwa kronik.pelabuhan semenanjung Melayu. Candi Plaosan di klaten. 68 .cit. Candi Gedong di Ungaran Jawa Tengah dan Arca Raja Airlangga yang merupakan raja terakhir kerajaan Mataram. hal. Bukti lain yang di perkirakan merupakan peninggalan dari kerajaan Mataram adalah Candi Dieng di wonosobo (Jawa Tengah). Blokade Belanda terhadap Malaka di hindari oleh pedagang.kronik tersebut tidak dapat di percaya sepenuhnya sebagai dokumen sejarah.15 Chopo.

127 . hal.pesaing mereka melalui dua sarana yang berbeda yaitu sebagai berikut : 1. ratu lautan Indonesia yaitu : “Di jumpai mentifact atau fakta mental ialah kepercayaan dalam kebudayaan kejawan bahwa palung adalah lambing dari otoritas kharismatis yang senantiasa menjadi dasar kekuasaan bagi seorang Raja baru ataupun seorang yang bertindak sebagai ratu adil. konflik dan besar kemungkinannya bentrokan atau perang. Para Raja Jawa mengembangkan suatu kebijakan ritual yang bermanfaat melemahkan pesaing.A panjawa muncul sebagai tokoh.”21 Prinsip otoritas inilah yang menjadi dasar legitimitas bahwa senopati berhak menjadi raja Mataram.yang pertama di Mataram dan yang ke dua di Pati. Oleh karena itu sejak zaman kuno di setiap daerah telah ada penguasa lokal. Dalam perkembangan kerajaan Mataram Senopati mengunjungi kraton Nyai Lara Kidul. “Sarana yang pertama adalah model lama donasi / penyaluran kembali (Dharma memberi santunan) sebagai rujukan model pemerintahan dan kepemimpinan yang ideal. maka penanaman kekuasaan dari pusat sudah barang tentu menimbulkan ketegangan. yang mempunyai wilayah dengan beberapa cacah.A) dan pemanahan K. sebagai balasan dari jasa-jasa mereka di angkatlah mereka sebagai penguasa daerah. biasanya di sebut Kyai Ageng. 21 Ibid. Alokasi kekuasaan dari pusat kerajaan itu perlu di realisasikan baik secara de jure maupun de facto di daerah tersebut.16 Dari ekspedisi yang berhasil di Jawa Timur dengan kemenangan di Jepang dua orang kakak beradik Kyai Ageng (K.

Com. .23 Kerajaan Mataram dipimpin pertama kali oleh Raja Sanjaya yang terkenal sebagai seorang raja yang besar. Shyoong.780 M) Sri Maharaja Panunggalan (780. f. Dia penganut agama Hindu syiwa yang taat. d.17 2. Setelah Rakai Mataram Sang Ratu meninggal dunia.raja yang seebagian terkenal denagan keberanian. 22 23 Paul Michel Munoz.wilayah religius yang bebas oleh para raja yang dinamakan sebagai wilayah Sima atau Dharma yang di berikan kepada candi. e.863 M) Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (863. Candi Mendut. Adapun raja. Id. gagah berani dan bijaksana serta sangat toleran terhadap agama lain.biara. i. Ketika Rakai Panunggalan berkuasa kerajaan Mataram mulai mengadakan pembangunan beberapa candi megah seperti Candi Kalasan. kerajaan Mataram di pimpin oleh raja.800 M) Sri Maharaja Rakai Warak (800. 330 Wikipedia.”22 Selama 178 tahun berdiri. Candi Pawon. kebijaksanaan dan sikap toleransi terhadap agama lain. Raja panangkaran lebih progresif dan bijaksana daripada Sanjaya sehingga Mataram lebih cepat berkembang. “Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya (732-760 M) Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760. c.id.raja yang sempat memerintah kerajaan Mataram antara lain sebagai berikut : a. g.840 M) Sri Maharaja Rakai Pikatan (840. h. Op.898 M) Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898.820 M) Sri Maharaja Rakai Garung (820. Com.882 M) Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882. dan Candi Borobudur. Candi Sari. hal.Cit. Google. Sarana kedua adalah penetapan wilayah.co.910 M)”. Candi Sewu. beliau di gantikan anaknya yang bernama Sankhere yang bergelar Rakai Penangkaran Dyah Soukhara Sri Sanggramadhanjaya.candi atau biara. b.

masyarakat tetap hidup hidup rukun dan toleransi. misalnya sriwijaya. setelah ia meninggal di gantikan oleh Rakai Pikatan semangat kebudayaan dapat di hidupkan kembali. Dari segi aspek kehidupan ekonomi yaitu menggantungkan kehidupannya pada hasil pertanian. hal ini mengakibatkan banyak kerajaankerajaan serta daerah lain yang saling mengekspor dan mengimpor hasil . siam.18 Kemudian setelah Rakai Panunggalan meninggal beliau digantikan oleh Rakai Warak. dan pembangunan candi hindu yang lebih besar dan indah yaitu candi Prambanan. pada masa pemerintahan Rakai Garung membangun kompleks candi. dan India. Dari aspek kehidupan sosial yaitu kerajaan Mataram meskipun dalam praktik keagamaannya terdiri atas agama hindu dan Buddha. Setelah rakai Warak meninggal kemudian digantikan oleh Rakai Garung. Setelah Rakai Pikatan wafat di gantikan oleh Rakai Kayu Wangi. Saat Rakai Kayu Wangi meninggal di gantikan oleh Rakai Watuhumalang dan dia berhasil melanjutkan pembangunan candi Prambanan. kemudian setelah Rakai Watuhumalang meninggal di gantikan oleh Watukura Dyah Belitung. pada masa pemerintahannya banyak menghadapi masalah dan berbagai persoalan yang rumit sehingga timbullah benih perpecahan di antara kerajaan. Mataram menjalin kerja sama dengan kerajaan tetangga. Perkembangan kerajaan Mataram di lihat dari segi aspek kehidupan politiknya yaitu untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Pada masa pemerintahannya Rakai Warak mengutamakan agama Buddha dan hindu sehingga pada saat itu banyak masyarakat yang mengenal agama tersebut.

Dari segi aspek kebudayaan Hindu/ Buddha yaitu semangat kebudayaan masyarakat Mataram sangat tinggi. Akhir Kerajaan Mataram Menurut Niamuddin runtuhnya kerajaan Mataram di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain : a.raja yang menjabat di kerajaan Mataram. c. Berdasarkan pendapat di atas. b. hal. 2008). Di sebabkan perpindahan letek kerajaan di karenakan pertimbanangan ekonomi” Oleh karena itu pada tahun 929 M ibukota Mataram dipindahkan ke Jawa Timur (di bagian hilir sungai brantas) oleh Empu Sindok. politik. Di sebabkan oleh krisis politik yang terjadi pada tahun 927-929 M. De Casparis mencoba mengadakan rekonstruksi jalannya sejarah “Kerajaan Mataram sampai dengan pertengahan abad IX M”24 oleh karena adanya perlawanan yang di lakukan keturunan raja Sanjaya.89 . “Di sebabkan oleh letusan gunung merapi yang mengeluarkan lahar. Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia II. kebudayaan dan pengembangan raja. perdagangan. Kemudian lahar tersebut menimbun candi-candi yang di dirikan oleh kerajaan.(Jakarta : Balai Pustaka.19 pertaniannya. Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini di anggap sebagai cara yang paling baik. maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan kerajaan Mataram yaitu salah satu pusat perkembangan agama Hindu dan Buddha serta pengembangan pembangunan candi. c. Samaratungga (raja wangsa Sailendra) 24 Marwati Djoened Poesponegoro. Hal itu di buktikan dengan banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi. sehingga candi-candi tersebut menjadi rusak.

untuk di kawinkan dengan anak Rakai patapan. 27 Antara lain dengan langkah-langkah mendekati VOC untuk minta semacam proteksi. 25 26 http : // msmunir batan. Dua tahun kemudian Sultan Agung mengirim ekspedisi itu banyak penduduk meninggalkan kampung halaman untuk mengungsi kepegunungan. ketika kekuasaan kerajaan.kerajaan di Nusantara sudah melebur dalam Negara kesatuan Repoblik Indonesia. 143 . Kewibaannya di mata rakyat daerah-daerah yang di dudukinya sangat merosot. “Pada akhir 1628 di Sumedang dan Ukur rakyat mulai bergerak menjauhkan diri dari Mataram”.12 mei 2012 Sartono Kartodirdjo. kerajaan ini berakhir secara tiba. Go. Kini di daerah kemerdekaan. 152 27 Ibid.” 26 Kegagalan Mataram mempunyai akibat buruk bagi kedudukan hegemoni Mataram. Op. Cit.20 menyerahkan anak perempuannya. Html. Pada masa Sri maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya maha sambu berkuasa. yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).kerajaan itu hanya tinggal sebagai penjaga adat. hal. sekaligus penjaga mitos kepercayaan setempat. Menurut versi Sukapura atau Karawang bahwa “Berakhirnya kerajaan ini di karenakan adanya perebutan kedudukan antara Adi Pati Kartabumi dengan Ari Surengrana dan T. hal.tiba. terjadi “Perebutan kekuasaan di antara para pangeran kerajaan Mataram. Id /Sejarah Kediri/ Mataram. kebudayaan yang antara lain terdiri dari mitos setempat masih tetap ada. kekuatan kerajaan.”25 Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa. Dan mungkin kini. Wirabaya. Pramodawarddhani.

paling tidak kita hanya akan bercerita melihat kenyataan bahwa kerajaan Mataram pernah menjadi kekuatan besar di Jawa. kebiasaan. hal. hal. 2005). maka dapat disimpulkan bahwa berakhirnya kerajaan Mataram di sebabkan terjadinya letusan gunung merapi. 2005). Semua aktivitas dan prestasi manusia tidak lain adalah hasil dari belajar”.21 Mataram sebagai bekas kerajaan islam besar di Jawa juga tak lepas dari peran itu. sedangkan hasil belajar adalah kemampuan. Op. manusia melakukan perubahan. 40 .30 Sejalan 28 29 Nana Sudjana. persaingan politik dan perpindahan letak kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur serta terjadinya perebutan kedudukan. Yogya dan Solo yang dahulu pernah berjaya hanya meninggalkan bekas.bekas yang sulit di lupakan. 22 Wasty Soemanto. 104. hal. sikap. Berdasarkan pendapat di atas.kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.29 Sedangkan Ahmad Sabri mengatakan “Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat di tunjukkan dalam berbagai bentuk. hal. Op. seperti kecakapan. Nana Sudjana menyatakan bahwa “Proses adalah kegiatan yang di lakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pengajaran. Strategi Belajar Mengajar Microteaching.cit.perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. (Ciputat : Quantum Teaching.28 Wasty Soemanto menyatakan bahwa “Dengan belajar.cit. 40 30 Ahmad Sabri. Setelah mengalami proses pembelajaran akan terjadi perubahan dalam diri siswa menuju sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya yang merupakan wujud hasil pembelajaran. pengetahuan atau upresiasi (penerima atau penghargaan)”. (Ciputat : Quantum Teaching.

Loc. Hasil berupa kapabilitas. penilaian. ranah efektif.22 dengan itu Gagne dalam Dimiyati dan Mudjiono mengatakan bahwa “Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. keterampilan gerakan dasar. kemampuan perceptual.32 Berdasarkan beberapa pendapat di atas. keharmonisan atau ketepatan. aplikasi. pemahaman. pengetahuan. hal. sintesis. yakni pengetahuan atau ingatan. analisis.keterampilan dan kemampuan bertindak. Setelah belajar orang memiliki keterampilan. gerakan keterampilan kompleks. sikap. dan juga prestasi. dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang di alami seseorang setelah melalui proses pembelajaran dimana perubahan tersebut mengarah ke arah yang lebih baik misalnya perubahan kemampuan. pengetahuan. sikap. Ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan. hal. dan kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai pengetahuan tentang materi kerajaan Mataram yang dalam pembelajaran indikatornya meliputi awal kerajaan Mataram yang di mulai dari abad ke-8. ada enam aspek.cit. jawaban atau reaksi. dan ranah psikomotorik. dan nilai”. Op.cit. Oleh karena itu penulis juga menyimpulkan bahwa hasil belajar yang harus di capai siswa pada materi kerajaan Mataram adalah perubahan pengetahuan. organisasi. Ranah psikomotorik yaitu ada enam aspek yakni gerakan reflekx. menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Blom yang di kutip oleh Nana Sudjana secara garis besar membaginya tiga ranah yakni : “Ranah kognitif. baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional. dan evaluasi. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual. Perkembangan kerajaan 31 32 Dimyati dan Mudjiono. 31 Dalam system pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan. dan gerakan ekspresif dan interpretative”. 22 . 10 Nana Sudjana. sikap.

perkembangannya dilihat dari segi kehidupan ekonomi. Pengelolaan kelas di maksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien. Menurut Suharsimi Arikunto “Pengelolaan dalam pengertian umum . pengelolaan kelas terdiri dari dua kata yaitu pengelolaan dan kelas. serta kebudayaannya dan berakhirnya kerajaan ini di sebabkan oleh terjadinya letusan gunung merapi.23 Mataram yaitu dari segi ekononomi. Hakikat Pengelolaan Kelas Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Akhir kerajaan Mataram yaitu terjadinya perebutan kedudukan dan perpindahan letak kerajaan dari Jawa Tengah pindah ke Jawa Timur. 2. Maka penting untuk mengetahui pengertian dari pengelolaan kelas dalam hal ini. guru berusaha mengembalikan agar tidak menjadi penghalang bagi proses pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa kerajaan Mataram adalah kerajaan yang berdiri sejak awal abad ke-8. Ketika kelas terganggu. dan kebudayaan sudah mulai berkembang. Guru selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. politik. Dalam konteks yang demikian inilah kiranya pengelolaan kelas penting untuk diketahui oleh siapapun juga yang menunjukkan dirinya ke dalam dunia pendidikan. politik. persaingan politik dan perpindahan letak kerajaan kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur serta terjadinya perebutan kedudukan.

2 34 Oemar Hamalik. bakatnya dan energinya pada tugas – tugas individu. 1190). yang mendapat pengajaran dari guru”.35 Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat. hal. 2000). tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran. mempertahankan dan memelihara sistem organisasi kelas. 33 Sedangkan “kelas menurut Oemar Hamalik adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama. Op. Nasution bahwa “Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas”36. 2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil merupakan bagian dari masyarakat sekolah. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. 311 35 Hadari Nawawi. 99 . yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan . (Jakarta : Raja Wali. Dalam hal ini guru bertugas menciptakan.24 adalah pengadministrasian. hal. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Sedangkan menurut Sudirman yang di kutip oleh S. 2000). 33 Suharsimi Arikunto. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluasi. “Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang di batasi oleh empat dinding.alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas.cit.kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan”. 311 36 S. 34 Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto di dalam didaktif terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas yaitu sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. pengaturan atau penataan suatu kegiatan”. Selanjutnya Hadari Nawawi memandang kelas dari 2 sudut yaitu : 1. Nasution. hal. Sehingga individu siswa dapat memanfaatkan kemampuannya. (Jakarta : Haji Masagung. hal. (Jakarta : Bina Aksara.

Menunjukkan Sikap Tanggap Komponen ini ditunjukkan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir bersama mereka. 6 . Op. tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian.25 Di tambahkan lagi oleh Hadari Nawawi dengan mengatakan bahwa “kegiatan pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang luas. Suharsimi Arikunto juga berpendapat bahwa “pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran atau yang membantu dengan maksud agar di capai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.cit. “Memandang secara seksama: memandang secara seksama dapat mengandung dan melibatkan siswa dalam kontak pandangan serta interaksi antarpribadi yang dapat ditampakkan dalam pendekatan guru untuk bercakap. Guru tahu kegiatan mereka.luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan. 37 38 Hadari Nawawi.cakapan. Op.kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid”37. bekerja sama dan menunjukkan rasa persahabatan. tahu apa yang mereka kerjakan. Dalam pengembangan keterampilan pengelolaan kelas siswa yang preventif.”38 Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi kelas yang kondusif sehingga memungkinkan anak didik belajar secara optimal. guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara: a.cit. Kesan ketanggapan ini menurut Muhammad Uzer Usman dapat ditunjukkan dengan berbagai cara sebagai berikut : a. 29 Suharsimi Arikunto. hal. hal.

Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai. perhatian atau penguatan secara sistematis. komentar ataupun yang lain. d. Menurut Syaiful Bahri Djamarah strategi yang dapat memperbaiki tingkah laku anak didik antara lain : 1. 2010). Bukanlah kesalahan professional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas.39 Sikap tanggap guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengendalikan kondisi belajar yang optimal.26 b. guru dapat meminta bantuan kepala sekolah. “Modifikasi tingkah laku: tingkah guru memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengablikasikan pemberian. Menjadi Guru Profesional.Remaja Rosdakarya. Memberi reaksi terhadap gangguan atau menunjukkan kekacauan guru dapat memberikan reaksi dalam bentuk teguran”. hal. 98 . Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus-menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Memberikan pernyataan: pernyataan guru terhadap sesuatu yang di kemukakan siswa sangat diperlukan. baik berupa tanggapan. Gerak mendekati: gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil dan individu menandakan kesiagaan. minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas siswa. lompok: memelihara dan mengusahakan terjadinya kerja sama 39 Muhammad Uzer Usman. konselor sekolah atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya. (Bandung : PT. c.

hal. Kesan ini dapat ditunjukkan dengan cara memandang kelas secara seksama. Hasibuan mengatakan bahwa “menunjukkan sikap tanggap adalah melalui perbuatan sikap tanggap ini siswa merasakan bahwa “guru hadir bersama mereka” dan “tahu apa yang mereka perbuat” (withitness).40 Perubahan yang sistematis terhadap tingkah laku anak didik yang di sebabkan oleh sikap tanggap guru akan mempengaruhi saling ketergantungan antara guru dengan anak didik dalam proses pembelajaran. terhadap gangguan serta kekacauan siswa”. 83 42 Abdul Majid. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah”. Sehingga proses pengajaran dan pembelajaran akan biasa berjalan efektif dan efesien apabila seorang guru (pendidik) memahami dan menunjukkan sikap tanggap terhadap perkembangan peserta didik secara menyeluruh terutama yang berkaitan dengan perkembangan fisik.J. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT. 2006).42 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap tanggap guru dengan peserta didik sangat besar hubungannya dengan pengelolaan kelas. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Proses Belajar Mengajar. Gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan ketidak 40 41 Syaiful Bahri Djamara. 3. Perencanaan Pembelajaran. (Bandung :PT Remaja Rosdakarya.41 Selanjutnya menurut Zainal Asri yang mengatakan bahwa “Menunjukkan sikap tanggap. dan memberikan reaksi. Kemudian J. hal. Rineka Cipta. 178 J.27 2. dalam tugas mengajarnya guru harus terlibat secara fisik maupun mental dalam arti guru selalu memiliki waktu untuk semua perilaku peserta didik. Pendekatan pemecahan masalah ke yang baik dalam pelaksanaan tugas. hal. 119 . memberikan pernyataan. psikologis yang sesuai dengan fase-fase perkembangan peserta didik secara individu. gerak mendekati. baik peserta didik yang mempunyai perilaku positif maupun prilaku yang bersifat negative”.J. 2009). Hasibuan. 2007).

Memberi Perhatian Proses mengajar tidak selalu diartikan sebagai kegiatan seorang guru menyajikan materi pelajaran. Nasution. guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan perhatian agar terjadi proses interaksi yang kondusif”. Strategi Belajar Mengajar. 2001).28 mampuan guru mengelola kelas.K.cit. hal. Di samping berinteraksi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran terkadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain seperti memberikan perhatian kepada peserta didik.Op.N.Roestiyah mengatakan bahwa “memberikan perhatian kepada peserta didik di harapkan berguna bagi kehidupan anak didik untuk mencapai tujuan pembelajaran”. (Jakarta: Bina Aksara. Menurut S.43 Selanjutnya menurut Ny. walaupun menyajikan materi pelajaran merupakan bagian dari pembelajaran.Dr. Karena itu sikap tanggap guru merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai oleh guru dalam kerangka keberhasilan proses pembelajaran. 50 Roestiyah.44 43 44 S. hal. namun masih banyak cara lain membuat peserta didik untuk membuat siswa belajar. b. Nasution dalam “kegiatan belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing. 10 . Disinilah letak peran guru sebagai pendidik dan pembimbing bagi siswa untuk berinteraksi secara aktif dan memberi motivasi untuk belajar melalui berbagai sumber-sumber belajar yang dapat memberi kontribusi berupa pengetahuan dan pengalaman baru.

Pengelolaan kelas yang efektif terjadi bila guru mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Penggunaan alat bantu pelajaran.J. 83 . menurut tanggung jawab siswa”45 Selanjutnya J. Hasibuan mengatakan bahwa “Memberi perhatian adalah pengelolaaan kelas yangh efektif di tandai dengan pembagian perhatian yang efektif pula. 74 J.46 Salah satu tugas guru yang tidak pernah di tinggalkan dalam memberikan perhatian kepada peserta didik adalah pengelolaan kelas untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efesian. hal.cit. Loc. Menurut Sudirman yang di kutip oleh S. 2010). Micro Teaching.J. Hasibuan. Kemudian menurut Zainal Asri bahwa “Memberi perhatian adalah memusatkan perhatian kelompok: perbuatan ini penting untuk mempertahankan perhatian siswa dari waktu ke waktu dan dapat dilaksanakan dengan cara menyiagakan siswa. Perbuatan membagi perhatian dapat di kerjakan secara visual dan verbal”. 2. Gaya mengajar guru yang sangat penting untuk menghadapi peserta didik. hal. Pola interaksi yang bervariasi.29 Banyak cara yang dapat di gunakan guru untuk memberikan perhatian kepada peserta didik di dalam kelas antara lain: 1. Nasution membagi perhatian kepada peserta didik dapat di lakukan dengan cara: 45 46 Zainal Asri. (Jakarta: Rajawali Pers. 3.

cara tersendiri untuk menentukan pelaksanaan pembelajaran yang di lakukannya.cit. 50 Muhammad Uzer Usman.Nasution.guru mempunyai cara.47 Selanjutnya Uzer Usman mengatakan bahwa “Memberi perhatian adalah pengelolaan kelas yang efektif bila guru mampu memberikan perhatian kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama”. hendaklah guru menegurnya. hal. Menegur Guru. “Visual yaitu mengalihkan pandangan dari satu kegiatan kepada kegiatan yang lain dengan kontak pandang terhadap kelompok siswa atau seorang siswa secara individual. dan sebagainya terhadap aktivitas seorang siswa sementara ia memimpin kegiatan yang lain”. c. penjelasan.tugas yang di lakukan oleh peserta didik. Verbal yaitu guru dapat memberikan komentar.30 1.99 . 47 48 S. pertanyaan. Apabila terjadi tingkah laku siswa yang mengganggu kelas atau kelompok dalam kelas. Misalnya memusatkan perhatian siswa kepada suatu hal sebelum guru menyampaikan materi pokok. Loc.48 Kegiatan siswa dalam belajar dapat di pertahankan apabila dari waktu ke waktu guru mampu memberikan perhatian terhadap tugas.cit. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa memberikan perhatian kepada peserta didik merupakan suatu keharusan di berikan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ke kondisi yang optimal jika terjadi gangguan. Setiap cara itu dipilih atas dasar pertimbangan keberhasilan setelah mengajar. Op. hal. 2.

hendaklah guru menegurnya secara verbal.nyata melanggar dan mengganggu untuk aktif dalam kegiatan di kelas. jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu dan tingkah laku yang harus di hentikan (2). 2010). Teguran verbal yang efektif adalah yang memenuhi syarat.cit.J. Menghindari peringatan yang kasar atau yang mengandung penghinaan (3). Menghindari ocehan yang berkepanjangan”. Op. Bila anak didik melanggar kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya.49 Selanjutnya J. hal. Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. (Jakarta: Gaung Persada (GP) Perss.51 49 Aswan Zaini. 99 . Loc. guru secara verbal hendaklah menegurnya. Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan.31 Tidak semua gangguan tingkah laku dapat di cegah atau berhasil di hindari.J Hasibuan. Uzer Usman mengatakan bahwa “Menegur adalah apabila terjadi tingkah laku siswa yang mengganggu kelas atau kelompok dalam kelas.syarat sebagai berikut: a) Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya yang menyimpang b) Menghindari peringatan yang kasar”. Menurut Aswan Zaini bahwa teguran verbal yang efektif adalah memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Menghindari ocehan atau ejekan”.cit. Hasibuan mengatakan bahwa “Menegur adalah teguran verbal yang efektif harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1). 3. 176 50 J. hal. 2. hal. Yang di perlukan disini adalah guru dapat menanggulanginya terhadap anak didik yang nyata. Tegas. 84 51 Muhammad Uzer Usman. “Tegas dan jelas tertuju kepada anak didik yang mengganggu.50 Sedangkan Moh.

ide ataupun pendapat. Dan biasanya guru cenderung lebih mendominasikan pembicaraan dan mempunyai pengaruh langsung. Melibatkan murid untuk berfikir dengan memecahkan masalahmasalah. Bagi guru yang sudah berpengalamanpun tidak akan pernah dapat menghindari diri dari berbagai masalah di sekolah. (Jakarta: Bumi Aksara. hal. “Membimbing murid untuk mendapatkan dan memahami hokum. 58 . 2. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. 3. Pemberian teguran merupakan salah satu aspek yang amat penting dari kegiatan guru dalam interaksinya dengan siswa di dalam kelas. Memberi Penguatan 52 Yamin. Hal ini dapat di perbaiki dengan memberikan berupa pembinaan disiplin kepada peserta didik. Membimbing murid untuk menghayati dan mendapatkan proses dalam pemecahan masalah”. fakta.52 Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan tugas dalam kelas perlu di perhatikan kebiasaan-kebiasaan buruk peserta didik. hal ini haruslah di benahi untuk di tingkatkan ke efektipannya agar tercapai hasil belajar yang optimal dari penjelasan dan pembicaraan guru tersebut sehingga bermakna bagi murid. d. misalnya dalam memberikan fakta. Untuk mendapat balikan dari murid mengatasi kesalah pahaman mereka. bagi guru pemula. Hal itu adalah suatu hal yang wajar. Menurut Yamin bahwa tujuan menegur peserta didik dalam permasalahan yang di hadapinya meliputi sebagai berikut: 1.32 Untuk menangani permasalahan hendaknya di lakukan secara kolaborasi dan mengikut sertakan berbagai komponen atau unsur yang terkait. Oleh sebab itu. 4. 2006).

Menurut Abdul Majid “Penguatan adalah segala bentuk respons. tetapi harus mendapat perhatian serius. penghargaan yang diberikan itu disebut dengan penguatan. Op. agar mau melakukan hal yang sama di masa. hal. seperti ucapan terima kasih atas hadiah berupa materi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku positif yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi”. Tindakan tersebut di maksudkan untuk mengajar 53 Abdul Majid.33 Jika seseorang telah melakukan sesuatu kegiatan terhadap orang lain.masa yang akan datang. 120 . Penguatan tidak boleh di anggap sepele dan sembarangan.cit. Dengan demikian penghargaan yang di maksud berguna sebagai penguat bagi yang menerimanya. apakah bersifat verbal maupun nonverbal. Dalam kegiatan pembelajaran. 53 Atau penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Dengan menrima penghargaan tersebut orang yang melakukan kegiatan akan merasa puas dan bagi orang yang menerima jasanya mengharapkan agar kegiatan tersebut berulang kembali. biasanya ia memperoleh penghargaan dalam beberapa bentuk.

3. Menurut Krath Wohl dalam Uzer Usman memberi penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut : 1. hal. akan memberi manfaat bagi siswa untuk : a) Meningkatkan perhatian terhadap kegiatan pembelajaran. setelah menunjukkan tingkah laku yang baik. c) Memelihara dan meningkatkan motivasi belajar yang tinggi. 81 . Pemberian penguatan secara bijaksana dan sistematik berdasarkan cara dan prinsip yang tepat. seperti anggukan kepala.34 atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi pembelajaran. 2.hal yang bias membuyurkan konsentrasi anak didik.kata pujian akan dapat menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa untuk tetap mengulanginya pada situasi.54 Pengutan yang di berikan guru kepada siswa. Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar. b) Memperoleh kemudahan dalam menikuti penyajian guru. d) Mengarahkan cara berfikir ketingkat yang lebih tinggi.situasi lain. senyuman dan kata. 54 Ibid. Hal ini perlu guru dukung dan beri penguatan dengan hal. Meningkatkan perhatian anak didik dalam belajar adalah sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang di berikan di kelas. “Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran. Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif”.

Penguatan kepada kelompok: pemberian penguatan yang di tujukan kepada sekelompok siswa setelah menyelesaikan suatu tugas dengan baik”.35 Menurut Zainal Asri cara yang dapat menggunakan guru dalam memberi penguatan kepada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung antara lain : 1. 11 Moedjono. bukan sikap atau gaya berpura. Menghindari penggunaan respon yang negatife”. Kehangatan dan keantusiasan. Pendapat Moedjiono “memberi penguatan kepada siswa akan bermanfaat jika dalam penyampaiannya di dasarkan pada prinsip. Remaja Rosdakarya. “Pemberian penguatan dengan segera: pemberian penguatan setelah respons siswa muncul.pura (keterpaksaan). 2009). selalu tanggap terhadap keluhan siswa 55 56 Zainal Asri.56 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keharmonisan hubungan guru dengan siswa mempunyai efek terhadap pengelolaan kelas. Guru yang selalu memperhatikan siswa. a. Penguatan kepada pribadi tertentu: pemberian penguatan yang di tujukan ke pada siswa tertentu dengan menyebutkan namanya sambil memandang kearah siswa. Op.prinsip. Penguatan tidak penuh: pemberian penguatan bagi seorang siswa yang memberikan jawaban yang sebahagian benar atas pertanyaan guru. 3. (Bandung : PT. 2. dan c.benar ikhlas. hal.cit. 4. Proses Belajar Mengajar. hal. 173 . Kebermaknaan. guru dalam hal ini tidak perlu menunggu tetapi harus segera mungkin.55 Guru dalam memberi penguatan kepada siswa hendaknya menampakkan sikap dan gaya yang sesungguhnya. Guru dalam hal ini harus menunjukkan kepada siswa bahwa penghargaan itu benar. b.

Figure guru yang demikian biasanya akan kurang menemui kesulitan dalam pengelolaan kelas. Sebab keterampilan pengelolaan kelas ini sangat berpengaruh dalam kelancaran proses pembelajaran. Kerangka Berpikir Untuk mencapai tujuan pembelajaran seorang guru harus dapat memilih dan terampil dalam pengelolaan kelas.36 adalah guru yang di senangi oleh siswa. B. dan memberi penguatan. Dengan keterampilan pengelolaan kelas ini tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan kegiatan mengajar guru. guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara menunjukkan sikap tanggap. Oleh karena itu. keterampilan pengelolaaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran. Sedangkan sesuatu hal yang di . Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan dimana pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien. memberi perhatian. Suasana kelas kondusif dan optimal dalam proses pembelajaran dapat tercapai jika guru (pendidik) mampu mengatur peserta didik dan sarana prasarana pembelajaran untuk mencapai tujuan yang baik. Pembelajaran pada topik keterampilan guru mengelola kelas mempengaruhi pemahaman siswa tentang kerajaan Mataram. menegur. guru selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya.

Melalui pengelolaan kelas ini dapat meningkatkan perhatian siswa dan merangsang pola pikir siswa dalam menyelesaikan soal. Hipotesis . Belajar kerajaan Mataram merupakan kemampuan yang dimiliki siswa dalam memahami awal kerajaan Mataram. Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berfikir di atas. maka dalam penelitian ini membuat hipotesis yakni : Terdapat Pengaruh yang Siknifikan antara Keterampilan Pengelolaan Kelas Terhadap Hasil Belajar Sejarah Siswa Pada Materi Kerajaan Mataram di Kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan. maka diduga kuat ada Pengaruh Antara Keterampilan Mengelola Kelas Terhadap Hasil Belajar Sejarah Siswa Pada Materi Kerajaan Mataram yang di harapkan setelah mengikuti program pengajaran. Pengajuan Hipotesis Hipotesis merupakan suatu pertanyaan yang bersifat sementara dan masih membutuhkan suatu penelitian untuk membuktikan kebenarannya. Berdasarkan uraian di atas. perkembangan kerajaan Mataram.soal kerajaan Mataram. Jika guru dapat terampil dalam pengelolaan kelas dalam suatu pembelajaran. akhir kerajaan Mataram. C. maka akan semakin baik pula hasil belajar sejarah pada materi kerajaan Mataram di kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan.37 buat untuk menjelaskan itu yang sering di tuntut untuk melakukan pengecekannya.

Rumusan hipotesis hendaknya singkat dan tepat”.57 Selanjutnya Sudjana mengatakan bahwa “Hipotesis adalah suatu asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya”. 2. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktikum. Op. 57 Suharsimi Arikunto.59 Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berfikir di atas. 2006). Sutrisno Hadi mengatakan yang di kutip oleh Suharsimi Arikunto bahwa “Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan”. 50 .cit. Loc.cit.38 merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya perlu diuji melalui bukti. 71 58 Sudjana. hal.bukti secara empiris. 3. hal. Hipotesis yang di rumuskan hendaknya di sertai dengan alasan atau dasar. 219 59 Suharsimi Arikunto. hal. maka dalam penelitian ini membuat hipotesis yakni “Terdapat pengaruh yang signifikan antara keterampilan mengelola kelas terhadap hasil belajar sejarah pada materi kerajaan Mataram kelas VII SMP Negeri 3 Padangsidimpuan. Hipotesis harus dapat diuji. 4. “Hipotesis hendaknya merupakan rumusan tentang hubungan antara dua atau lebih variable.58 Menurut Borg dan Gall hipotesis dapat dikatakan baik apabila memenuhi 4 kriteria : 1. (Jakarta: Rineka Cipta.dasar teoritik dan hasil penemuan terdahulu.

Tempat dan waktu penelitian.39 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat penelitian ini di laksanakan di SMP N 4 Padangsidimpuan yang beralamat di Jln. Sutan Soripada Mulia/sihadabuan. Adapun alas an penulis memilih SMP N 4 Padangsidimpuan sebagai lokasi penelitian yaitu sepanjang .

Sejalan dengan itu Burhan Bungin mengatakan bahwa “Metode pengumpulan data adalah bagian dari instrument pengumpulan data yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian”62.pertanyaan dan isu. 2010).cit. hal. Waktu penelitian ini akan di laksanakan kurang lebih selama 3 (tiga) bulan yaitu mulai bulan desember sampai bulan pebruari 2013. Metode penelitian merupakan suatu hal yang sangat penting dalam suatu penelitian. Manajemen Penelitian.40 pengetahuan penulis belum pernah di teliti dengan judul pengaruh keterampilan mengelola kelas terhadap hasil belajar sejarah siswa pada materi kerajaan mataram di kelas VII SMP Negeri 4 Padangsidimpuan lokasi sekolah yang cukup mudah di jangkau. 60 61 Sugiono. 2010). keinginan penulis memberikan santunan metode pembelajaran yang baru kepada siswa SMP Negeri 4 Padangsidimpuan. B.pandangan filosofis dan idiologis. 123 .isu yang di hadapi. 100 62 Burhan Bungin. Beberapa peneliti menyebutnya sebagai tradisi penelitian (research trations)”63. Metode Penelitian. 3 Suharsimi Arikunto. (Jakarta : Kencana. (Jakarta : Rineka Cipta. hal. Sedangkan menurut Nana Syaodih Sukmadinata : “Metode penelitian merupakan rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang di dasari oleh asumsi-asumsi dasar pandangan. pertanyaan. Metodologi Penelitian kuantitatif. hal. Op. Menurut Sugiono “Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”60. Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa : “Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat di gunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data”61.

cit.fenomena yang ada. hal. berbagai situasi. Op. 36 65 Suharsimi Arikunto. Adapun metode yang di pergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. (Bandung : Remaja Rosdakaarya.cit. Op. aktifitas. Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa “Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksud untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu gejala menurut apa adanya pada saat penelian dilakukan”65.cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yang di butuhkan dalam penelitian agar data yang di peroleh lebih sistematis. 52 64 Burhan Bungin. dan perbedaannya dengan fenomena lain”66. ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena. 2010).cit. hal. meringkas berbagai kondisi. Penelitian ini mengkaji bentuk. sebagaimana pendapat Burhan Bungin yang mengemukakan bahwa “Penelitian kuantitatif format deskriptif bertujuan untuk menjelaskan. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran pengaruh keterampilan mengelola kelas sebagai variabel X terhadap hasil belajar sejarah pada materi kerajaan Mataram sebagai variabel Y di kelas VII SMP Negeri 4 Padangsidimpuan. hubungan. baik yang bersifat ilmiah maupun rekayasa manusia. hal. hal. Adapun kedua gambaran tersebut adalah : X Y 63 Nana Syaodih Sukmadinata. perubahan. 72 . kesamaan. karakteristik. Sejalan dengan pendapat di atas Nana Syaodih Sukmadinata mendefinisikan bahwa : “Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar.41 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian merupakan cara. Op. 234 66 Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan. atau berbagai variable yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi”64.

hewan. hal. “Populasi homogen yaitu sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara kualitatif. 250 69 Burhan Bungin. :Variabel terikat. 99 . populasi penelitian Dalam melaksanakan suatu penelitian harus ada objek yang akan diteliti sebagai sumber. sehingga objek ini bisa menjadi sumber data penelitian”69 Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah sejumlah sabjek yang di jadiakan sebagai sasaran penelitian yang di tetapkan oleh peneliti untuk di ketahui dan kemudian ditarik kesimpulannya.42 Keterangan : X Y :Variabel bebas.cit. Sejalan dengan itu Burhan Bungin mendefinisikan bahwa : “Populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia. Sebagaimana Suharsimi Arikunto berpendapat bahwa “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”67. C. hal. Op. 130 68 Nana Syaodih Sukmadinata. udara. hal. tumbuhtumbuhan. Sedangkan Nana Syaodih Sukmadinata menyatakan bahwa “Populasi adalah kelompok besar dan wilayah yang menjadi lingkup penelitian kita”68. 2006). nilai. 67 Suharsimi Arikunto.cit. yakni keterampilan mengelola kelas. Populasi dan Sampel Penelitian 1. peristiwa. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktik. (Jakarta : Rineka Cipta. Op. Menurut Riduan “jenis-jenis populasi berdasarkan sifatnya dapat di bagi menjadi dua yaitu : a. gejala. yakni kerajaan Mataram. sikap hidup dan sebagainya. Secara keseluruhan objek penelitian ini disebut populasi.

43 b. Nana Syaodih Sukmadinata berpendapat bahwa : “Sampel adalah kelompok kecil yang secara nyata kita teliti dan tarik kesimpulan dari padanya”71. 131 73 Riduwan.cit. Op. hal. Op.batasnya.cit.250 72 Suharsimi Arikunto. Berdasarkan pendapat di atas jenis populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 4 Padangsidimpuan. hal. Op. hal.cit.cit. Menurut sugiyono “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”74. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang di teliti”72. Populasi heterogen yaitu sumber data yang unsureunsurnya memiliki sifat atau keadaan yang berbeda sehingga perlu ditetapkan batas. Op. 65 Nana Syaodih Sukmadita. Op.cit. 56 74 Sugiyono. Tabel 1 Keadaan Populasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Padangsidimpuan Tahun Ajaran 2011/2012 NO 1 2 3 4 5 Kelas VII-A VII-B VII-C VII-D VII-E Jumlah Jumlah Siswa 43 43 44 30 30 190 siswa 2. Sampel Penelitian Sampel merupakan bagian yang mewakili populasi. Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa sample adalah data populasi yang secara nyata kita tarik 70 71 Riduan.ciri atau keadaan tertentu yang akan di teliti”73. hal. Senada dengan itu Riduwan mendefinisikan “Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri.118 . baik secara kualitatif dan kuantitatif”70. hal.

Menurut suharsimi arikunto “Adapun cara-cara pengambilan sample penelitian ini dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sampel berstrata ataustratified sample. Menurut Riduwan “random sampling adalah cara pengambilan sampel dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota tersebut. Sampel wilayah atau area probability sample. 5. 7. Sampel kuota atau quota sample. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling. Sampel kelompok atau cluster sample. 4. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen”77. Sampel random atau sample acak.cit. atau sample imbangan. Sampel bertujuan atau purposive sample. 58 77 Sugiyono. 2. Sedangkan Sugiono menyatakan bahwa “Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang dalam populasi itu. Op.”76. 120 78 Nana Syaodih Sukmadinata. Op. Berdasarkan pendapat di atas. hal. 6. 8. karena jumlah populasi yang cukup banyak maka sebagian populasi diambil untuk di jadikan sample penelitian. hal. Pengambilan sampel secara acak berarti setiap individu dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dijadikan sampel”78.44 kesimpulannya dari sebuah penelitian yang telah dilakukan.cit. Sampel kembar atau Double sample”75. Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa : 75 76 Suharsimi Arikunto. Sejalan dengan itu Nana Syaodih Sukmadinata menyatakan bahwa “Salah satu cara pengambilan sampel representative adalah secara acak atau random.cit. Sampel proporsi atau proportional sample. yang mewakili populasi yang kita teliti. Op. hal. 253 . sample campuran. 3. hal.cit. 134 Riduwan. Op.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas penulis -menyimpulkan bahwa sampel random adalah teknik pengambilan sampel dengan cara acak dimana peneliti memberikan peluang yang sama kepada setiap subjek untuk dipilih menjadi sampel. sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek. Dengan demikian maka peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel. dengan pengambilan 10-15%. tergantung setidak. Jika jumlah subjeknya besar. hal. maka hasilnya akan lebih baik”79. Instrumen Penelitian Salah satu pola dan prosedur yang tidak bias di abaikan oleh peneliti adalah menentukan serta menyusun instrument yang di gunakan pada penelitian karena instrumen penelitian merupakan alat untuk data/informasi yang di perlukan dalam menguji hipotesis.cit. tentu saja jika sampel besar. sehingga sampel dalam penelitian ini berjumlah 190 orang.45 “Takning ampling ini di beri nama demikian karena di dalam pengambilan sampelnya. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Untuk penelitian yang resikonya besar.13 80 Suharsimi Arikunto. Sejalan dengan itu Riduwan menyatakan bahwa “Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih 79 Suharsimi Arikunto. peneliti “mencampur” subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek dianggap sama. D. 20-25% atau lebih yang di lakukan apabila populasi dianggap homogen. 2006). 134 . Sebagaimana yang dinyatakan oleh Suharsimi Arikunto bahwa “instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data”80. karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.tidaknya dari a. dapat di ambil antara 1015 % atau 20-25 % atau lebih. b. hal. dimana sampel penelitian sebesar 50% dari jumlah populasi. Atas dasar ini penulis memilih random sampling sebagai teknik pengambilan sampel. kemampuan peneliti dilihat dari waktu tenaga dan dana. besar kecilnya resiko yang di tanggung oleh peneliti. c. Op. (Jakarta : Rineka Cipta.

hal. 2009). Kemudian Nurul Zuriah mengatakan bahwa “Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data”84. Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa instrument penelitian merupakan alat bantu pengumpulan dan pengolahan data. (Jakarta : PT Bumi Aksara. Data penggunaan keterampilan mengelola kelas diperoleh dari angket yang disebarkan kepada siswa. 6. hal. “Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika penelitian. Mencari indiator setiap sub atau bagian variabel. Sedangkan M. Sudrajat. (Bandung : CV Pustaka Setia. hal. Subana. 4. 3.Aplikasi. agar kegiatan tersebut lebih sistematis dan lebih mudah. Op. sebab instrumen penelitian merupakan alat bantu pengumpulan dan pengolahan data tentang variabel-variabel yang diteliti”82. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori.46 dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya”81. Menderetkan deskriptor dari suatu indikator. Menjabarkan variable menjadi sub atau bagian variabel. Untuk memperoleh data ini 81 82 Riduwan. Merumuskan setiap deskriptor menjadi butir-butir instrument. 168 . 127 83 Suharsimi Arikunto. Op. 69 M. 5. hal. Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah.cit. Menurut Suharsimi Arikunto secara umum penyusunan instrument pengumpulan data dilakukan dengan penahapan sebagai berikut : 1. 2. Melengkapi instrument dengan (pedoman atau instruksi) dan kata pengantar”83. Subana dan Sudrajat menyatakan bahwa “Instrumen penelitian berkaitan dengan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data.cit. 2007). 135 84 Nurul Zuriah.

2. 14. 7. 2. Adapun kisi-kisi instrument penelitian tentang pengaruh keterampilan mengelola kelas dapat dilihat pada tabel berikut : Table 2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Keterampilan Mengelola Kelas NO 1 2 3 4 Indikator Menunjukkan Sikap Tanggap Memberi Perhatian Menegur Memberi Penguatan Jumlah Nomor Soal 1. 3. 7 8. 10. akhir kerajaan Mataram. 5 6. 10 11. awal kerajaan Mataram b. Adapun kisi-kisi instrument penelitian tentang hasil belajar sejarah pada materi kerajaan Mataram dapat dilihat pada tabel berikut : Table 3 Kisi-Kisi Hasil Belajar Sejarah Pada Materi Kerajaan Mataram NO Indikator 1 Awal kerajaan mataram 2 Perkembangan kerajaan mataram 3 Akhir kerajaan mataram Jumlah Nomor Soal 1. Perkembangan kerajaan Mataram c. 6. 8. 14. 15 Banyak Soal 5 soal 5 soal 5 soal 15 soal . 9. 13. 4. 9. Dari ke tiga indikator di atas disusun tes sebanyak 15 butir soal. Menunjukkan Sikap Tanggap b. 11 12.12.47 dibuat instrument dengan indicator sebagai berikut : a. Untuk memperoleh data ini dibuat instrument dengan indikator sebagai berikut : a. 3 4. 15 Banyak Soal 3 soal 4 soal 4 soal 4 soal 15 soal Sedangkan data hasil belajar sejarah siswa pada materi kerajaan Mataram adalah skor yang diperoleh siswa setelah menjawab tes yang diberikan. Dari empat indikator di atas disusun angket sebanyak 15 butir soal. Memberi Penguatan. Memberi Perhatian c. Menegur d. 13. 5.

152 . yang memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.kuesioner tertutup. atau hal-hal yang ia ketahui”89. (Bandung :Alfabeta. 167 89 Suharsimi Arikunto.cit. hal. 216 87 Sugiono. Tes”86. hal. 2. Op. Metode Penelitian Administrasi. Op. hal. Sejalan dengan itu Margono menyatakan bahwa “Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif”85. Op. Op. 158 Nana Syaodih Sukmadinata. Angket Menurut Sugiono “Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang di lakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada responden untuk di jawab”87. Observasi 4. Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data berupa angket dan tes. yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih”90 85 86 Margono. hal. Sejalan dengan itu Margono menyatakan “Angket atau Kuesioner adalah suatu alat pengumpulan informasi dengan cara menyampaikan pertanyaan tertulis untuk menjawab secara tertulis pula oleh responden”88. 1. 151 90 Ibid. hal.cit.cit. “Kuesioner dapat dibedakan atas beberapa jenis dipandang dari cara menjawabnya yaitu : 1. 119 88 Margono. Wawancara 2.cit. hal.kuesioner terbuka. 2002). Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Selanjutnya Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa : “Kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya. Angket 3.48 E. Nana Syaodih Sukmadinata mengatakan bahwa “Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu 1.

pilihan jawaban “a” selalu di beri bobot 4 2.71 . c. pilihan jawaban “c” jarang diberi bobot 2 4. dan d dengan kategori bobot sebagai berikut : 1. b. Adapun tujuan penulis menggunakan angket dalam penelitian ini adalah untuk menjaring data tentang variable X: keterampilan mengelola kelas. Sedangkan angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket berstruktur dengan jawaban tertutup (angket tertutup) yaitu angket yang setiap pertanyaannya sudah tersedia berbagai alternative jawaban. pilihan jawaban “d” tidak pernah diberi bobot 1 2. Tujuan penyebaran angket adalah mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah tanpa khawatir bila responden memberikan jawaban yang sesuai dengan kenyataan angket dibedakan menjadi dua jenis yaitu angket terbuka dan angket terstruktur”91. Tes Riduan berpendapat bahwa “Tes sebagai instrument pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau 91 Riduwan.49 Selanjutnya Riduwan mendefinisikan : “Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon (responden) sesuai dengan permintaan pengguna. Dalam angket penelitian ini disediakan 4 alternative jawaban yaitu : a. pilihan jawaban “b” sering diberi bobot 3 3. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa angket merupakan teknik pengumpulan data dimana peneliti memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada responden dengan tujuan memperoleh informasi yang diperlukan.cit. Op. hal.

intelegensi. hal.170 . hal. 2. yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang aspekaspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara tertulis pula. 92 93 Ibid. Ada dua jenis tes yang sering dipergunakan sebagai alat pengukur adalah : 1. kemampuan.50 latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan. Sedangkan Margono mengemukakan bahwa “Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar penetapan skor angka. Tes lisan. terbagi menjadi tes essay dan tes objektif”94. atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”92. Tes tertulis.cit. 76 Nana Syaodih Sukmadinata. inteligensi. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tes merupakan stimuli atau sejumlah pertanyaan yang digunakan sebagai alat ukur keterampilan pengetahuan. Sejalan dengan itu Nana Syaodih Sukmadinata menyatakan bahwa “Tes umumnya bersifat mengukur.cit. Op. yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara lisan tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara lisan pula. 223 94 Margono. Tes yang digunakan dalam pendidikan biasanya tes hasil belajar dan tes psikologis”93. hal. kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Op.

Menurut Muhibbinsyah klasifikasi penilaian dapat digambarkan sebagai berikut : Tabel 4 Kriteria Penilaian Keterampilan Mengelola Kelas NO 1 2 3 4 Interval 3.75 Interpretasi Sangat Baik Baik Cukup Kurang . guna memberikan gambaran umum tentang variable X : keterampilan mengelola kelas. Teknik Analisis Data Untuk melakukan analisis terhadap data yang terkumpul dari lapangan maka dilakukan dengan dua cara yakni teknik analisis yang digunakan adalah : 1. F.3. Sedangkan untuk mengetahui pada kategori mana masing-masing variable penelitian berada.76 .00 – 1.51 .26 . dan modus.50 1. maka nilai rata-rata perolehan dari pihak-pihak variabel dikonsultasikan dengan klasifikasi penilaian yang ditetapkan. median.51 Adapun tujuan penulis menggunakan tes adalah untuk menjaring data tentang variable Y: hasil belajar sejarah siswa pada materi kerajaan Mataram. Analisis deskriptif.00 2. berdasarkan nilai mean.2.25 1.4. Sedangkan bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif berbentuk pilihan ganda. dan Y : hasil belajar sejarah pada materi kerajaan Mataram.

100 70 .59 Interpretasi Baik Sekali Baik Cukup Kurang 2.69 50 . 153 .79 60 . Analisis statistik yaitu menguji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan rumus korelasi r Product Moment oleh Pearson yaitu : 95 Muhibbinsyah. Loc.52 Sedangkan untuk mengetahui posisi dari variable Y : hasil belajar sejarah pada materi kerajaan Mataram hasil analisis data dikonsultasikan terhadap klasifikasi penilaian di bawah ini : Tabel 5 Kriteria Penilaian Hasil Belajar Sejarah Pada Materi Kerajaan Mataram”95 NO 1 2 3 4 Interval 80 .cit. hal.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.