Kreativitas dan Inovasi dalam Memajukan Sekolah Pendahuluan Sistem dan program pendidikan di seluruh tingkatan, secara umum

sudah membutuhkan revolusi alias perlu diubah total. Di berbagai jenis dan jenjang pendidikan, kini sekolah cenderung tidak terarah karena kurikulum yang tidak serasi. Proses pembelajaran pun tidak kreatif dan tidak mendorong kreativitas anak didik. Di sisi lain, pengelolaan dalam materi pembelajaran kerap tumpang tindih sehingga mematikan prakarsa pelajar. Kemampuan guru-guru di bidang pedagogik, didaktik dan metodik juga sangat kurang, sehingga acapkali guru sama sekali tidak mempedulikan pengembangan kepribadian dan watak anak didiknya. Pendidikan di Indonesia makin materialistis. Pendidikan kita juga terperangkap dalam keyakinan keliru, seolah-olah makin banyak mata ajaran yang dikuasai semakin terdidik seseorang. Kenyataan itu merupakan materialisme dikdaktis yang harus segera dihentikan. Lebih ironis lagi, pendidikan yang materialistis itu bersifat komersial. Tak berlebihan bila istilah penyelenggara sekolah kini sudah dapat diubah menjadi pengusaha sekolah. Pendidikan memang membutuhkan biaya besar, tetapi biaya itu tidak perlu seluruhnya dibebankan kepada murid (orang tua/wali). Pemerintah sebagai pengayom masyarakat harus menjalankan asas subsidiaritas. Jika tidak, makin banyak anak jalanan, anak fakir miskin, anak telantar. Kecen-derungan itu tidak boleh diabaikan oleh masyarakat dan pemerintah. Sebaiknya pendidikan dan persekolahan wajib dibebaskan dari etatisme (pengaruh dan pengaturan pemerintah yang berlebihan). Pendidikan juga perlu dibebaskan dari sentralisme (penyeragaman). Harus ada variasi kurikulum, serta dikembangkan otonomi pengelolaan pendidikan di berbagai kawasan. Otoritas ini memiliki wewenang penuh untuk mengatur pendidikan di wilayahnya. Persepsi Keliru tentang Pendidikan Ada tiga persepsi yang kurang benar tentang pendidikan. Pertama, pendidikan hanya terjadi di sekolah. Kedua, tugas sekolah ialah mengajarkan pengetahuan. Ketiga, sekolah harus membuat siswa menjadi “manusia siap pakai”. Akibat negatif dari kesalahan pertama, pengetahuan tentang pendidikan keluarga tidak berkembang. Sistem pendidikan nonformal tidak berkembang dan kemampuan bangsa untuk belajar dari situasi pendidikan nonformal menjadi rendah. Sedangkan dampak kesalahan kedua, kemampuan siswa yang rendah untuk mempergunakan pengetahuan sebagai alat berpikir dan alat untuk memahami serta memecahkan masalah. Kepekaan siswa terhadap nilai-nilai terhadap norma juga sangat rendah, baik norma estetis maupun norma synnoetis (norma kehidupan sosial), atau pun norma etis. Kesalahan ketiga berakibat lulusan sekolah tidak cukup menguasai konsep-konsep dasar. Mereka terpaku kepada keterampilan yang bersifat terapan. Selain itu, tenaga kerja menjadi kurang retrainable. Persepsi yang sebaiknya, adalah bahwa pendidikan terjadi sebelum anak masuk sekolah dan sesudah anak tamat sekolah. Sekolah hanya suatu mata rantai dari suatu kegiatan nyata pendidikan yang luas, dinamis dan saling ber-sambungan. Tugas sekolah ialah mempersiapkan anak untuk mengarungi kehidupan, bukan hanya membuat siswa menjadi siap pakai. Untuk itu, tugas pokok sekolah bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, melainkan me-mupuk kepekaan terhadap nilai-nilai.

maupun situasi pendidikan nonformal dan informal. karena kurikulum pendidikan dasar dan menengah saat ini memang sangat luas. baik untuk situasi pendidikan formal. sangat dibutuhkan anak. Selain waktu. Selain berpikir kreatif. Bahkan kualitas suatu bangsa dapat diukur dari sejauh mana kualitas pendidikan yang diberlakukan. perlu pula bersikap kreatif dengan merangsang anak membuat sesuatu yang baru. Anak-anak jangan didesak untuk menerima hafalan yang sebenarnya tak menambah kecerdasannya. para guru memiliki kesulitan bagaimana menanamkan dan menumbuhkan jiwa kreativitas kepada anak.Diperlukan adanya pelatihan bagi guru dan penerbitan buku mengenai kreativitas. sebab guru pun membutuhkan tuntunan. Tugas sekolah adalah melahirkan generasi yang menjadi bagian dari bangsa yang pandai belajar. Kreativitas Anak Terabaikan Para guru sebenarnya menyadari bahwa pelajaran yang memberi kesempatan mengembangkan kreativitas. yakni dengan meluangkan waktu untuk keperluan itu. Kesulitan mereka terutama karena padatnya kurikulum pendidikan sehingga kreativitas anak terabaikan. membuat sesuatu yang imajinatif. yang mendampingi para guru dan khususnya guru Bimbingan Konseling dalam membina siswa di sekolah. Upaya itu akan menumbuhkan hasil berupa kelancaran dalam berpikir. pendidikan dalam arti yang luas memegang peranan yang sangat strategis bagi setiap masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian. Beberapa sekolah yang secara finansial memadai kini memang sudah mempunyai tenaga psikolog sosial dan lainnya. perlu elaborasi dengan memperkaya gagasan dengan uraian lebih rinci. sekolah harus tahu jenis pendidikan yang telah dilalui anak di keluarga dan menilainya sejauh mana pendidikan keluarga itu dapat dipergunakan sebagai landasan untuk menyusun program pendidikan sekolah. kreativitas membutuhkan ruang. “Bagaimana mungkin bisa dilakukan guru jika di ruang kelas diisi 40 atau lebih anak?” Hargai Perbedaan Untuk bisa menanamkan kreativitas pada siswa.Fakta menunjukkan minimnya waktu dan pelajaran yang bersifat untuk mengembangkan kreativitas pada sekolah formal. harus ada kurikulum yang berbeda karena anak memiliki perbedaan bakat dan minat.Selanjutnya. Pendidikan Wadah Pemberdayaan Civil Society Di mata penulis. Tentu mereka tak memiliki waktu lagi untuk mengasah kreativitas siswa. Di luar itu harus pula diperhatikan. karena setiap anak memiliki pribadi berbeda. Dalam memberikan soal hendaknya jangan memberi peluang untuk satu jawaban saja.Terdapat jalan agar siswa mendapat kesempatan mengasah daya kreativitasnya. Jelaslah bangsa yang mempunyai pendidikan yang berkualitas akan mampu pula menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas secara menyeluruh. Terakhir.Empat unsur di atas sebaiknya masuk kurikulum sebab hal-hal itu yang menjadi dasar-dasar kreativitas. Kurikulum Padat. Lebih lanjut . padahal di sisi lain menurut upaya memunculkan pribadi kreatif sangat dibutuhkan bagi anak dalam kehidupannya. Guru dapat membuat pertanyaan yang menuntut pemikiran banyak gagasan dan janganlah membuat semuanya serba seragam. Kreativitas dan Inovasi dalam Memajukan Sekolah Dapat mengerti betapa sulitnya posisi guru.Konsekuensinya. sehingga cukup waktu untuk mengasah kreativitas. mestinya kurikulum memfokuskan pada hal dasar dan esensial. bahkan mendorong mereka mengutarakan pendapat lain dari yang lain. Sekolah juga harus membimbing anak untuk menguasai kemampuan belajar. faktor originalitas yang bisa dilakukan oleh guru dengan cara lebih luwes dalam menghargai gagasan unik. Akan tetapi mereka umumnya tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana mengatasi keadaan itu. tetapi psikolog pendidikan belum ada.

Apa yang diperlukan dalam membangun masyarakat madani Indonesia melalui pendidikan? Penulis mengatakan.penulis mengatakan. dalam suatu masyarakat yang demokratis. untuk mengupayakan civil society. karena bukan sekadar menyerap unsur-unsur kebudayaan secara pasif. pendidikan bukan dituangkan dari atas. Sudah barang tentu proses pendidikan dalam masyarakat demokratis mengakui adanya identitas masyarakat atau bangsa yang berbudaya. masyarakat diikutsertakan di dalam program-program pemerintah yang telah mendapatkan persetujuan masyarakat karena lahir dari kebutuhan nyata masyarakat itu sendiri. apalagi dari penguasa. Terkait dengan itu. pendidikan tidak hanya sebagai wadah bagi penyiapan SDM bermutu. dari. tetapi manusia itu merupakan makhluk yang dinamis. Sebab. Di dalam proses yang dinamis itu terjadilah proses hominisasi dan proses humanisasi yang justru menjadi titik pijak bagi pemberdayaan civil society. Unsur-unsur budaya lokal itu seharusnya dikaji dan dikembangkan dalam pendidikan sehingga dapat memberikan sumbangan besar bagi terwujudnya masyarakat madani yang berdaya. Masyarakat demokrasi hanya ada apabila hak-hak dan kewajiban warga negaranya diakui. dan bersama-sama masyarakat. Jadi. hak-hak dan kewajiban merupakan batu landasan dari masyarakat. tetapi suatu sistem yang percaya kepada kemampuan masyarakat untuk bertanggung jawab atas pendidikan generasi mudanya. dikembangkan dan dihormati. . Pendidikan oleh masyarakat artinya bahwa masyarakat bukanlah merupakan obyek pendidikan untuk melaksanakan kemauan negara atau suatu kelompok semata-mata tetapi partisipasi yang aktif dari masyarakat di mana masyarakat mempunyai peranan di dalam setiap langkah program pendidikan. Hal ini berarti masyarakat bukan sekadar penerima belas kasih dari penguasa. melainkan juga menjadi wadah bagi pemberdayaan masyarakat warga. Dinamisme kepribadian di dalam cipta. tetapi pendidikan yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri dengan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat itu sendiri. artinya. dalam interaksi antara perkembangan kepribadian dengan kebudayaannya. Dan pengembangan pribadi di dalam masyarakat yang berbudaya. pendidikan juga harus bersama-sama masyarakat. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan haruslah mampu memberikan jawaban kepada kebutuhan masyarakat itu. beberapa paradigma baru dalam pendidikan diperlukan. Paradigma baru itu adalah pendidikan. Di mana letak peranan pendidikan sebagai wadah pemberdayaan masyarakat madani itu? Pendidikan dalam masyarakat madani Indonesia tidak lain ialah proses pendidikan yang mengakui hak-hak serta kewajiban perorangan dalam masyarakat. Pendidikan dalam pengertian ini perlu dijadikan upaya mengembangkan manusia sebagai makhluk hidup. dan rasa secara keseluruhan merupakan sumber bagi perkembangan masyarakat warga. Oleh karena itu kesempatan untuk belajar bertanggung jawab mengenal dan menghayati serta melaksanakan nilai-nilai moral perlu ditumbuhkembangkan dalam pendidikan. pendidikan harus didasarkan pada kebudayaan nasional yang bertumpu pada kebudayaan lokal. Di benak penulis. baik lokal maupun nasional tidak terelakkan lagi dalam kehidupan global abad ke-21. Paradigma berikut adalah proses pendidikan mencakup proses hominisasi dan proses humanisasi. oleh. Jadi. karsa. masyarakat bukan disubordinasikan oleh pemerintah. Selain paradigma tersebut. proses pengembangan pribadi manusia lebih mendasar. Di sini tugas pendidikan nasional bukan hanya sekadar menghayati dan mengembangkan kebudayaan lokal tetapi juga ikut membangun kebudayaan nasional itu. dan makhluk yang mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun terhadap kesejahteraan masyarakat. Kebudayaan Nusantara yang merupakan silang budaya antarbangsa telah menampung unsur-unsur terbaik dari budaya luar dan menghasilkan kebudayaan Nusantara. dari kepentingan pemerintah semata-mata.

Selain tiga paradigma di atas. Pada banyak realitas sosial. Simak pula LSM Persatuan Orangtua Murid Indonesia yang ‘pentolan-pentolan’-nya justru eksekutif di dunia pendidikan (baca= persekolahan). hegemoni state seperti gurita yang terus saja membelit kehidupan warga masyarakat. serta akan mampu mengembangkan inisiatif untuk bereksperimen dan bersaing dalam pengembangan mutu pendidikan nasional menghadapi persaingan global. Dalam arti. Kejujuran dan keseriusan semua pihak dalam menyongsong era baru dunia pendidikan formal kita dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berbasis Kompetensi. akan menjadi titik krusial mengatasi berbagai problema kemandulan kreativitas dan inovasi yang seharusnya bersemi dari balik dinding sekolah. mengem-bangkan kebudayaan nasional sebagai benteng pertahanan menyaring pengaruhpengaruh kebudayaan global yang negatif. khususnya pengelola pendidikan. Hal tersebut berlangsung pada berbagai aspek dan level kehidupan. Padahal dari sinilah segala problematika pendidikan dan persekolahan sekaligus solusinya bersemi. Kini sudah waktunya memberlakukan sistem desentralisasi manajemen dalam pendidikan.Terkait dengan itu relevanlah budaya demokrasi dihidupkan dalam seluruh proses belajar mengajar. karena desentralisasi memiliki sejumlah dampak positif. dan berbagai lini manajerial sekolah dijalankan sesuai dengan semangat atmosfer filosofis pendidikan yang membebaskan. Penutup Semakin jelas kini betapa persoalan terberat bangsa Indonesia adalah ketiadaan lembaga kemasyarakatan (society institution) yang real.Overlapping peran dan fungsi kemasyarakatan—sebut saja eksekutif yang merangkap rakyat kebanyakan—dalam dunia persekolahan kita semakin menjadi ruwet dan terkesan sebagai sebuah kelaziman yang tidak aneh. Dengan kata lain. termasuk tentu saja dunia persekolahan kita. Ini penting. Bukankah orangtua murid itu identik dengan warga masyarakat? Mengapa LSM Persatuan Orangtua Murid Indonesia tidak digawangi oleh the real orangtua murid? Sementara itu gaung School Based Management ataupun School Council hanya menjadi gincu kosmetika persekolahan belaka. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan. soliter dan jauh dari prinsip-prinsip kreatif dan inovatif. Sebuah institusi sekolah akan mampu mengembangkan kreativitas dan inovasi siswa bila berbagai aspek. Atau tegasnya. Model seperti itu sama sekali tidak bisa mengembangkan dan menumbuhkan potensi-potensi yang ada di dalam masyarakat. antara lain mengembangkan kebudayaan lokal. secara praktis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan akan bernasib sama dengan Kurikulum yang sebelumnya bila manajemen pendidikan yang dilaksanakan di setiap unit kerja atau sekolah masih dikungkung oleh model kepemimpinan kepala sekolah yang monolitik. Dengan budaya seperti itu jiwa demokrasi akan tumbuh dan berkembang secara baik.*** . dan masyarakat warga merupakan elemen-elemen yang terkait dalam tatanan kehidupan bersama. sentralistik justru bertentangan dengan hakikat masyarakat madani. Penulis menganalisis bahwa kesalahan yang terjadi dalam pemerintahan Orde Baru adalah pemberlakuan sistem dan praksis pendidikan nasional yang sifatnya sentralistik. Lihat saja pengurus BP3 berbaju ”Komite Sekolah” yang masih tetap menjadi ‘kaki tangan’ sang raja kecil yang bernama Kepala Sekolah. desentralisasi manajemen pendidikan menjadi keharusan demi pemberdayaan masyarakat warga. serta akan meningkatkan peran masyarakat swasta untuk mengembangkan ciri khasnya sebagai sumbangan bagi pemberdayaan civil society. kebudayaan. hal itu memperlihatkan ketidakpercayaan pemerintah pada kemampuan rakyat sendiri. Perhatian yang seimbang atas ketiga unsur itu dalam praksis pendidikan akan mampu menumbuhkan orang-orang yang berdaya dalam masyarakat.

mendapatkan dukungan dari guru menberikan setgoal kepada guru: bagi guru disiplin waktu.osis. untuk . sistem administrasi yang berbentuk stok. fasilitas sekolah yang sangat lengkap.disiplin kerja. badan yang mengawasi keuangan sekolah.berusaha menwujudkan visi. selalu evaluasi dan perbaikan kirneja sekolah.manajemen sekolah dengan sangat baik. .bagi guru yang berprestasi (menghasilkan juara 1 s/d 3 pada 3 kelas) mendapatkan reward berupa jalan jalan ke luar negeri dll .selalu evaluasi dan perbaikan kinerjanya.misi dan tujuan sekolah selama 6 tahun/ 3 tahun (tergantung jenjang pendidikan).guru.guru guru diberikan fasilitas internet sehingga mendapatkan dukungan dari guru (guru menpromosikan sekolah ke masyarakat) untuk mendapatkan dukungan dari osis yaitu: bagi anggota osis yang berprestasi (menberikan saran yang dapat menwujudkan visi dan misi sekolah dan jenjang pendidikan ) diberikan bea siswa dan bagi siswa yang mau bergabung ke osis menbuat kartu pelajar berlaku selama jenjang pendidikan berlangsung. cara memajemen sekolah dengan sangat baik yaitu:ada badan yang mengawasi kinerja pegawai dan guru .cara memajukan sekolah cara memajukan sekolah yaitu mendapatkan dukungan dari siswa. osis mengelar liburan akhir tahun bersama siswa. untuk mendapatkan dukungan dari siswa yaitu bagi siswa yang berprestasi (juara 1 s/d 3 sampai habis waktu jenjang pendidikan tersebut) mendapatkan reward dari sekolah berupa jalan jalan ke luar negeri dll.