P. 1
SKENARIO KOnseling KELOMPOK

SKENARIO KOnseling KELOMPOK

|Views: 813|Likes:

More info:

Published by: Wahyuza Dimas Aditya Comtinge on May 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2014

pdf

text

original

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kelompok Peserta Pertemuan ke

SKENARIO KOnseling KELOMPOK Konseling kelompok Eksistensial : konseling Kelompok : Siswa yang mengalami masalah terkucilkan :1

Hari / tanggal : Selasa, 13 november 2012 Tempat Pukul Tahap-tahap : Ruang kelas XI : 09.00 WIB :

KONSELING KELOMPOK Konseling Eksistensial Dengan Mengunakan Teknik Derefleksi F. Tahapan-tahapan Konseling Eksistensial dengan mengunakan teknik Derefleksi Tahap-tahap : perkenalan, pengungkapan dan penjajakan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan perilaku. Setelah masa konseling berakhir masih dilanjutkan pemantauan atas upaya perubahan perilaku dan klien dapat melakukan konseling lanjutan jika diperlukan. Konseling Deferleksi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada kebermakna hidup (meaning oriented). Ada empat tahap utama didalam proses konseling eksistensial diantaranya adalah: 1. Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah keterbukaan. Inti sebuah encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli. 2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam konseling ini konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan. Dan untuk membantu konseli menangani perasaan tidak bermakna. 3. Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti kebermaknaan hidup. 4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli.

wali kelas mengadu kepada konselor sekolah. orientasi terhadap makna hidup. dan gurunya sering memergoki dirinya tidur dan makan ditengah pelajaran sedang berlangsung. SIMULASI KONSELING KELOMPOK Konseling Eksistensial Dengan Mengunakan Teknik Derefleksi SINOPSIS Dewi siswi SMA kelas X1 IPS 1 adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. sehingga Dewi merasa terkucilkan. namun dalam bersosialisasi Dewi mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman-temannya. Karena selama ini Dewi jarang bergaul dan berinteraksi dengan teman-temannya dan cenderung menyendiri di dalam kelas. dan pengurangan symptom. nilai ulangan yang jelek. penemuan dan pemenuhan makna.Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap. Tahap Awal Konselor :”Assalamualaikum” : “Waalaikumsalam” Siswa-siswa Konselor : “Sebelumnya Ibu ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang bersedia meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan kali ini.Ibu senang dengan keikutsertaan kalian semua dalam kegiatan kali ini. Baiklah marilah kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing. konselor mengambil tindakan memanggilnya dalam konseling kelompok SIMULASI A.” : “Iya Bu. Di sekolah. Karena perilaku Dewi yang seperti itu. Dewi adalah anak yang cantik. Baiklah agar kegiatan yang akan kita lakukan dapat berjalan dengan lancar dan bermanfaat bagi kita semua maka alangkah baiknya jika kita berdoa terlebih dahulu. Sehingga. (secara serempak)” : “Bagaimana kabar kalian?” : “ Alhamdulillah kalau begitu. berdoa mulai !” : “(Dalam keheningan semua siswa berdoa dengan dipimpin oleh konselor)” : “Berdoa selesai” Siswa-siswa Konselor Siswa – siswa : “Alhamdulillah sehat Bu” Konselor Siswa-siswa Konselor (Konselor dan semua siswa selesai berdoa) . Dewi sering bolos.

” 2. Jadi kalian tidak usah takut untuk mengeluarkan unek – unek yang ada di hati kalian. orang lain selain kita tidak perlu tahu apa yang kita bicarakan hari ini. karena disini kerahasiaan kita terjamin. bahwa kalian mengalami perasaan terkucilkan. Hal ini dilakukan untuk membuat Susana semakin akrab.” Brilian Konselor Siswa-siswa : “Oh begitu ya Bu..siswa : “Ow…begitu ya Bu” Konselor : “ Iya seperti itu. Konselor : ”Anak-anak.. setiap anggota mengeksplorasi masalah mereka masing-masing dan berusaha menyelesaikannya secara bersama-sama..” Siswa .Kira-kira disini siapa yang mengalami masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu coba ceritakan massing-masing masalah kalian? Siswa-siswa : “iya Bu (secara serempak. Bagaimana? Apa kalian sampai disini sudah paham?” Siswa-siswa : “ sudah Bu. k alian nanti silahkan untuk menanggapi apa yang disampaikan oleh teman kalian dengan aktif.. berhubung kalian tidak satu kelas jadi kalian mungkin ada saling mengenal satu sama lain kan? Dan ada juga yang belum.Konselor : “Baiklah.) . kita akan membahas salah satu masalah siswa yang tentunya paling berat diantara yang lainya . Nah dalam konseling kelompok yang akan kita lakukan. konselor melakukan ice breaking yakni meminta siswa untuk saling kenal. Tahap Peralihan ± 10 menit Setelah siswa jelas dengan cara pelaksanaan konseling kelompok. (secara serempak)” Konselor : “ perlu anak-anak tahu bahwasannya yang tahu masalah yang akan kita bahas nanti adalah hanya kalian yang ada disini. berdasarkan informasi dari guru dan wali kelas kalian. saat teman kalian mengungkapkan perasaannya.” : “konseling kelompok? apa itu Bu?” : “Jadi konseling kelompok disini diartikan sebagai salah satu layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada sejumlah orang atau siswa untuk mengatasi masalahnya dalam suasana berkelompok. saling akrab.” Siswa-siswa : iya Bu. tujuan Ibu mengumpulkan kalian disini adalah untuk melakukan konseling kelompok. menyenangkan dan lain-lain dengan menggunakan permainan Konselor : “Nah.

saya tidak punya semangat untuk belejar karena saya merasa tidak diterima oleh teman – teman saya sekelas. Bukankah seperti itu saya dikucilkan bu sama teman – teman saya di kelas?” : “Mengapa kamu mesti bolos sekolah.” (konselor sambil menatap wajah Dewi) : “Iya bu…tapi saat saya berada dukelas itu rasanya saya kur ang nyaman seakan itu teman – teman menjauhi saya bu. Mungkin bukan hanya kamu saja yang merasa terkucilkan tetapi.” : “iya Dewi. Siswa-siswa : “kita selesaikan masalah Dewi dulu Bu” Konselor : “ sekarang ceritakanlah masalahmu Dewi” Dewi : “iya Bu” (Dewi menceritakan semua masalahnya) Dewi Konselor Dewi : (Dewi menunduk diam sambil menangis) : “Saya mengerti apa yang kamu rasakan.” Dewi : “Em. saya setuju apa yang diungkapkan oleh Bu Feni barusan. kalau Dewi sering membolos seperti ini prestasi Dewi jadi menurun. kamu ini mempunyai kemampuan dan bakat yang bagus tapi karena kamu sering bolos seperti ini kamu jadi tidak mengembangkan kemampuan yang ada di dirimu. Fase Inti (Kegiatan) ± 25 menit (Pada tahap ini siswa mulai mencaeritakan masing-masing masalah mereka.. secara bergantian akhirnya dipilih massalah Dewi untuk diselesaikan terlebih dahulu). Apakah Dewi ada rencana untuk menyelesaikan masalah ini seperti apa?. dan sering tidur dikelas.” : “Dewi maaf sebelumnya. Kalian sibuk dengan diri kalian sendiri dan saya tidak mau membebani kalian dengan masalah ku. tidak mengerjakan tugas. saya memang bolos.. seperti itu? Benar begitu? Bukankah Dewi juga mempunyai prestasi yang bagus jika dikembangkan.” : “Baiklah. jadi yang menyebabkan Dewi sering bolos itu karena tidak ada semangat untuk belajar karena merasa terkucilkan di kelas. saya juga bingung apa yang harus saya lakukan.” : “Iya saya mengerti bahwa selama ini saya melakukan hal yang salah sampai – sampai saya harus membolos seperti itu.” Fakiha Brillian Dewi Konselor Ema Fakiha Dewi Konselor .II. namun saya sesalkan kenapa teman – teman berbuat seperti itu kepada saya” : “Iya Ibu mengerti penyesalan yang Dewi rasakan. Bu. mungkin juga teman – teman kamu itu menjauhi atau mengucilkan kamu itu karena kamu sering bolos. jika itu karena kamu merasa terkucilkan? Mengapa kamu tidak tunjukkan kepada teman –temanmu bahwa kamu itu bisa seperti mereka?” : “Iya Dewi…” : “saya pikir tidak ada yang mau mengerti saya.

Biar saya tahu alasan mereka melakukan hal itu kenapa” : “Baiklah Fakiha…..” : “Begitu juga dengan saya bu…sebenarnya saya ingin mengungkapkan apa yang ada dihati saya tapi saya takut akan menyinggung perasaan mereka dan dampaknya akan semakin terkucilkan Bu.” : “Kalau saya juga belum pernah malahan tidak ada pemikiran untuk melakukannya Bu. . apakah pernah mengungkapkan perasaannya kepada teman – teman yang mengucilkan?” : “Saya belum Bu…saya takut setelah saya mengungkapkan nanti saya semakin dikucilkan oleh teman – teman.” : “Baiklah…jadi kalian belum mengungkapkannya ya? Begini bukankah jika kita memendam perasaan kita yang sebenanrnya teman – teman tidak tahu bagaimana perasaan kita sebenarnya tapi jika kita memberi tahu bahwa kita merasa dikucilkan oleh mereka.”(Serempak) Konselor : Akhirnya semua sudah menyadari bahwa kita semua itu bermakna..Lalu bagaimana dengan Ema?” : “Saya mungkin juga akan melakukannya Bu. Dan mungkin saja nanti juga kita mengetahui alasan – alasan mereka melakukan hal seperti itu.” Siswa – siswa : “Iya Bu. mudah-mudahan dengan pertemuan ini kita bisa menemukan makna hidup ini.” : “Iya juga sich Bu… tapi saya takut” : “Lalu bagaimana yang lain?’ : “Mungkin saya akan mencobanya bu.Konselor Dewi Konselor Fakiha Ema : “Apakah Dewi sudah pernah mengungkapkan perasaan Dewi kepada teman-teman yang lain bahwa dewi itu merasa dikucilkan di kelas?” : “Belum bu…. mereka akan tahu bahwa kita merasa seperti itu. sepertinya saya juga perlu melakukannya Bu” : “Nah sepertinya kalian sudah menyadari. tapi kita ini juga berarti bagi mereka semua. biar jelas duduk perkaranya kenapa saya dikucilkan” : “Brilian?” : “Setelah saya pikir – pikir. jika kita mengungkapkan perasaan kita.”(sambil menggeleng) : “Lalu bagaimana dengan yang lain. kita akan tahu mengapa mereka mengucilkan kita atau bahkan kita juga mengetahui kita memang Brilian Konselor Dewi Konselor Fakiha Konselor Ema Konselor Brilian Konselor dikucilkan atau hanya perasaan kita saja. Dan yakinlah bahwa kita itu bukanlah orang yang tidak berarti.

Selanjutnya konselor mengucapkan salam dan semua siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya ).”. dan Fakiha. saya jadi lebih tahu bagaimana menanggapi masalah yang sedang saya alami. Ibu mau bertanya apa yang kalian dapatkan dari kegiatan konseling tadi? Coba menurut kamu Brilian? Brilian : ”Setelah saya mengikuti konseling kelompok ini. Konselor : ”Dari kegiatan konseling kelompok yang sudah kita lakukan.” Konselor : ”Tampaknya kalian sudah bisa menyadari tentang masalah kalian dan mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kalian alami. selanjutnya konselor menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi siswa-siswa telah mengikuti konseling kelompok ini sampai selesai.” Konselor Dewi : ”Bagaimana menurut kamu Dewi?” : ”Sama pak seperti Brilian. saya menjadi lebih tegar dan menyadari bahwa mungkin teman – teman saya sebenarnya juga perhatian kepada saya namun dengan cara yang berbeda. Pengakhiran kegiatan ditutup dengan doa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Konselor Ema : ”Bagaimana kalau kamu Ema?” : ”Kalau saya bisa lebih jelas akan melakukan apa setelah ini untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang saya alami saat ini bu. Fase Penutup ± 5 menit (Setelah semua siswa sadar. Masing-masing siswa menyampaikan pendapat dan ada yang menanggapi pendapat dari siswa lain. Mudah mudahan kegiatan kita ini dapat bermanfaat bagi kita semua”. konselor memberi tahu pada siswa bahwa konseling kelompok akan segera berakhir. saya juga ingin cepat menyelesaikan masalah saya. Ema. Dan saya juga mempunyai keberanian untuk menghadapinya” Konselor Fakiha : ”Bagaimana kamu Fakiha?” : ”Sama seperti yang dikatakan teman-teman Bu.III. dan setelah saya mengikuti kegiatan ini saya mengetahui bagaimana sebaiknya saya menghadapi ini semua. Setelah semua kegiatan dalam konseling kelompok selesai dilaksanakan. Siswa-siswa : ”Terima kasih Bu” .

Lain waktu kita bisa melakukan konseling kelompok lagi tentunya atas kesediaan kalian semua. bisa menemui IBu kapan saja.Konselor : “Terima kasih Ibu ucapkan pada kalian yang sudah bersedia mengikuti konseling kelompok ini sampai selesai. Alangkah lebih baiknya jika kita menutup kegiatan ini dengan doa agar apa yang sudah kita lakukan dalam kegiatan ini dapat bermanfaat. Wb. Memantau perkembangan siswa dalam ranah tingkah lakunya . Baiklah anak-anak mari kita berdoa. akhirnya ibu akhiri kegiatan ini.” Siswa-siswa : “Wa’alaikumsalam wr. Dan jika ada keluh kesah yang ingin kalian sampaikan suatu hari nanti. berdoa mulai!” (Semua siswa dan konselor berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing) Konselor : “Berdoa selesai.” “ Wassalamualaikum Wr. wb (serempak kemudian semua konseli meninggalkan ruang bimbingan dan konseling sambil berpamitan pada konselor) EVALUASI Laijapen dan Laijapan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->