Dasar penghapus pidana Alasan-alasan/ dasar yang digunakan untuk menghapus pertanggungjawaban pidana atas seseorang yang

telah melakukan perbuatan yang secara tegas dilarang oleh UU. Dalam KUHP: 1. Umum pasal 44, 48-51 kuhp 2. Khusus pasal 166, 221 kuhp Luar KHUP: Grasi, amnesty, abolisi, UU perlindungan anak Menurut doktrin: Pembenar: sifat melawan hukum dihapuskan (obyektif) Pemaaf: sifat melawan hukum tetap ada, namun kesalahan daripadanya dimaafkan/dihilangkan secara subyektif Pasal 44: tentang ketidak mampuan seseorang yang cacat jiwanya (orang gila) utk dimintai pertanggung jawaban pidana Pasal 48: tentang daya paksa/ overmacht  dasar pemaaf Menurut doktrin ada 2 jenis overmacht: 1. Absolut: dimana seseorang tidak lagi dapat menentukan kehendaknya secara bebas. Contoh: hipnotis 2. Relatif: suatu keadaan yang tidak disebabkan oleh orang lain secara langsung dimana seseorang masih mendapat pilihan untuk melakukan tindak pidana atau tidak. Menurut para ahli, sifat relative ini masih dapat dipidana karena seseorang masih mempunyai pilhan untuk melakukan, tidak melakukan, ataupun diam. Dalam perihal overmacht, asas subsidiaritas (tidak ada alternative lain lagi) dan asas proporsionalitas (aksi yang diterima setimpal dengan reaksi yang dilakukan) Noodtoestand / keadaan darurat (dasar pembenar): dimana seseorang terpaksa melakukan tindak pidana atas dasar suatu keadaan yang sangat memaksa dan tidak punya waktu lagi untuk berpikir panjang. Syarat: 1. Pembenturan antara kepentingan hukum dengan kepentingan hukum 2. Pementuran antara kepentingan hukum dengan kewajiban hukum 3. Pembenturan antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum

Ditujukan kepada: a. Menurut doktrin:[1] umum: tindak pidana apapun dan dalam jangka waktu kapanpun. kena/tidak b. unsure yang harus dibuktikan: 1. dan perintah yang dikeluarkan adalah sah. a. [2] khusus: tindak pidana yang sama dan dalam jangka waktu tertentu. Ada serangan: a. Dalam batas-batas lingkungan yang diperintah Dasar pemberat pidana 1. Kehormatan kesusilaan diri sendiri/orang lain Harus memenuhi asas subsidiaritas dan proporsionaltias Ayat(2): noodwer excess/bela paksa melampaui batas  dasar pemaaf Disebabkan oleh goncangan jiwa yang hebat.  dasar pembenar Ayat(2) melaksanakan perintah pejabat/atasan yang tidak berwenang. dan perintah yang dikeluarkan adalah tidak sah. Melawan hukum 4. Syarat: 1. Menurut KUHP: . yang mana kemudian ia kembali melakukan suatu tindak pidana. Nyawa/badan diri sendiri/orang lain c. mengenyampingkan asas subsidiaritas & proporsionalitas Pasal 50 KUHP: melaksanakan perintah UU  dasar pembenar Pasal 51 ayat (1) melaksanakan perintah pejabat/atasan yang berwenang. Orang yang diperintah tidak tahu sama sekali tentang otoritas atasannya 2. b. ada resiko tersendiri apabila ditinggalkan *kewajiban hukum: apabila ditinggalkan ada resiko pidana Pasal 49 ayat (1) : noodwer/bela paksa  dasar pembenar Pembelaan diri yang ditujukan langsung kepada orang yang secara langsung menyebabkan perlunya reaksi bela paksa. Seketika itu juga: tidak ada waktu untuk berfikir/melakukan pembalasan 3. Harata benda diri sendiri/orang lain b. Residiv: suatu keadaan dimana seseorang yang telah melakukan tindak pidana dan telah melalui proses pengadilan dan mendapat putusan hakim yang in kracht tentang pemidanaannya. Ada hubungan atasan dan bawahan 3. Serangansaat bertindak.*kepentingan hukum: tidak wajib dilakukan di mata hukum namun dirasa penting dan perlu. Ancaman seranganada keselarasan antara ancaman dengan apa yang hendak dilakukan 2.

Penggabungan tindak pidana/samenloop/concursus Seseorang melakukan perbarengan 2/lebih tindak pidana dan belum mendapat putusan hakim yang in kracht dan akan diperiksa dan diputus sekaligus untuk mempermudah proses pengadilan.  Residiv sistem antara: apabila kejahatan yang dilakukan adalah 1 kelompok dengan kejahatan yang sebelumnya yang mana kejahatan pertama telah mendapat putusan hakim yang in kracht. Concursus idealis/ endaadse samenloop: 1 perbuatan. banyak pasal yang dilanggar  Homogenius: 1 macam delik  Heterogenius: bermacam delik Di dalam KUHP: a. yaitu beberapa kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan untuk mencapai 1 tujuan. Concursus realis/merdaadse samenloop: banyak perbuatan. pasal 487 tentang kejahatan terhadap nyawa dan badan. dan ataupun sejak saat pidana itu dihapuskan.  . Pasal 64 KUHP: berbicara mengenai delik berlanjut/ voorgezette handeling. Menurut doktrin: a.  Perihal kejahatan:  Khusus: terdapat dalam masing-masing pasal yang menerangkan secara khusus mengenai residiv dari kejahatan tertentu. 2. menganut sistem absorpsi yang dipertajam. Pasal 63 KUHP ayat (1): menganut concursus idealis/endaadse samenloop. dengan jangka waktu 5 tahun setelah ia bebas maupun ia masih dalam masa pemidanaannya. pasal 489 tentang kejahatan terhadap nama baik/kehormatan dan percetakan. ayat (2) perihal denda jo. ayat (2) berbicara tentang asas lex specialis derogate lex generalis b. Pasal 65 KUHP ayat(1): menganut concursus realis/merdaadse samenloop.Perihal pelanggaran: ada beberapa pasal yang menentukan residivis secara khusus dalam pasalnya masing-masing. c. ayat (2): menganut sistem stelsel kumulasi terbatas. Pasal 30 KUHP d. melanggar banyak pasal sekaligus  Homogenius: 1 macam delik  Heterogenius: bermacam delik b. maka hukumannya ditambah 1/3. tidak melebihi pidana terberat ditambah sepertiga. dan belum melewati waktu daluwarsa. ancaman pidana pokoknya sejenis. Pasal 66 KUHP ayat (1): menganut concursus realis/merdaadse samenloop. Kelompok kejahatan itu terdapat dalam pasal: 486: tentang harta benda dan pemalsuan. menganut sistem absorpsi murni: dijatuhkan hukuman yang paling berat dari delik yang dilakukan. dan terdapat hubungan sedemikian rupa antara 1 kejahatan dengan yang lainnya sehingga dapat dipandang sebagai delik berlanjut. ancaman pidana pokoknya tidak sejenis.

Hukuman dapat berupa (pasal 47 KUHP) a. dengan bendera kebangsaan (pasal 52a KUHP). Pembantuan. 3 tahun 1997 tentang perlindungan anak. Pemberat Khusus  kejahatan dengan jabatan (pasal 52 KUHP). Usia 8-12 tahun diadakan pengawasan kepada anak tersebut b. Dikembalikan kepada orang tua tanpa pidana apapun b. 3. PENGGABUNGAN TINDAK PIDANA BUKAN MERUPAKAN DASAR PEMBERAT. delik yang di kualifisir/diperberat. dan pembagian pidana untuk anak (8-18 tahun menurut UU ini): a. Penyertaan/deelneming Terlibatnya lebih dari satu orang dalam satu atau lebih tindak pidana (sebelum atau saat tindak pidana terjadi). MELAINKAN MERINGANKAN HUKUMAN YANG DITERIMA OLEH PELAKU DELIK. Bentuk-bentuk penyertaan: DEELNEMING Doen plegen/ penyuruhan (pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP) Mede plegen/ turut serta pihak 2 Niat T. Usia 12-18 tahun dapat dipidana dengan maksimal ½ dari orang dewasa. Anak-anak dibawah umur. ancaman pidana dikurangi 1/3 2. membantu -1/3 1 Uitlokken/ penggerakkan* (pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP) Medeplichtigheid/ pembantuan** (pasal 56 & 57 KUHP) 2 2 Semua peserta (semuanya berkepentingan dalam selesainya delik) Pembujukdibujuk (upaya2 penggerakkan diatur secara limitatif di UU) Yg dibantu (pembantu tdk berkepentingan dlm selesainy delik) Yang dibantu . Dipidana dengan maksimum pidana pokok dikurangi 1/3 Namun pasal 45-47 KUHP diganti dengan UU no.P Penyuruh Perbuatanmemenuhi Tg jwb pidana unsur Pesuruh (orang2 penyuruh seperti dimaksud dalam pasal 44. ancaman pidana dikurangi 1/3 dari pelaku utama (pasal 57 KUHP) 3. 51(2) KUHP) Bersama2/ semua Semua peserta peserta (kerja sama secara sadar dan kerja sama secara fisik) dibujuk Pembujuk(hanya atas apa yang ia hendaki[ayat (2)]) & dibujuk Yang dibantu max.*MENURUT BANYAK AHLI.48. Batas usia dewasa menurut KUHP adalah 16 tahun. Percobaan/pogging (pasal 53 KUHP). Dasar peringan pidana 1. Diserahkan kepada pemerintah sampai batas anak berusia 18 tahun c.

penggerakkan yang berhasil. keterangan (pasal 56 ke-2 KUHP) . kesempatan. namun orang yang digerakkan tidak jadi melakukan tindak pidanatidak dipidana  Tindak pidana yang dikehendaki (oleh penggerak) tidak terjadi. pembagian: a. penggerakkan yang gagal:  Seseorang menggerakkan orang lain. Membantu pada waktu terjadinya tindak pidana  daya upaya dapat berbentuk apapun (pasal 56 ke-1 KUHP) b. tetapi tindak pidana lain yg terjadihanya yang digerakkan yang dipidana d. b. Membantu sebelum terjadinya tindap pidana  member sarana. Mencoba menggerakkan  pasal 163 bis. KUHP  dipidana **penjelasan lebih lanjut mengenai medeplichtigheid. penggerakkan yang berhasil hanya sampai taraf percobaan yang dapat dipidana  pasal 53 KUHP c.*penjelasan lebih lanjut mengenai uitlokken: jenis2 penggerakkan: a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful