LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS

Posted: Januari 31, 2012 in Uncategorized

0 DIABETES MELLITUS A. Definsi Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002). Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002). B. Klasifikasi Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut : 1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM) 2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) 3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya 4. Diabetes mellitus gestasional (GDM) (Brunner dan Suddarth, 2002) C. Etiologi 1. Diabetes tipe I: a. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. b. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolaholah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. c. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. 2. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko : a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) b. Obesitas c. Riwayat keluarga

pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karna sel-sel beta pankreas telah diancurkanoleh proses autoimun. Penyakit koroner 16. Neuropati viseral 11. (Brunner dan Suddarth. Sindrom hiperglikemia 6. terjadi suatu rangkaian reaksi dalam dalam metabolism glukosa di dalam sel.M Marelli. Infeksi bakteri kulit 7. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulus pengambilan glukosa oleh jaringan. Pemeriksaan Penunjang . Hiperglikemia 3. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin. Patofisiologi Diabetes tipe I. 2007) G. Penyakit ginjal 14. Disamping itu. glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan) Diabetes tipe II. Hipertensi 4. Pruritus Vulvae 6. Retinopati 4. Neuropati perifer 10. Hiperglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Gatal seluruh badan 5. Penyakit pembuluh darah perifer 15. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor tersebut. Komplikasi Komplikasi yang biasa terjadi yaitu: 1. Dermatopati 9. Amputasi (T. Menurut Supartondo. Manisfestasi klinik Keluhan umum pasien DM seperti poliuria. Penyakit pembuluh darah otak F. polifagia pada DM umumnya tidak ada. polidipsia. Gagal ginjal 2. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Ketoasidosis 5. Glaukoma 3. Amiotropi 12. 2002) E. yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.D. Infeksi jamur di kulit 8. Ulkus Neurotropik 13. Katarak 2. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1.

kram otot. mendapat terapi insulin jenis apa. . Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1. Terapi (jika diperlukan) 5. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11. Lemah. apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. bagaimana penanganannya.Darah kapiler Kadar glukosa darah puasa .Plasma vena .8 mmol/L) 3.  Aktivitas/ Istirahat : Letih. Diet 2. Pendidikan (Brunner dan Suddarth.1 mmol/L) 2. Penatalaksanaan Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati.1. Tes toleransi glukosa Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl) Bukan DM Belum pasti DM DM Kadar glukosa darah sewaktu . Kadar glukosa darah puasa 3. 2002). Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7.Plasma vena . Pemantauan 4. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. Glukosa darah sewaktu 2. Pengkajian  Riwayat Kesehatan Keluarga Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?  Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya Berapa lama klien menderita DM. Latihan 3. bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak. I.Darah kapiler < 100 <80 <110 200 >200 >126 >110 Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan : 1. tonus otot menurun. Sulit Bergerak / berjalan. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl H.

nokturia. tidak mengikuti diet. Sirkulasi Adakah riwayat hipertensi.  Neurosensori Pusing. Masalah Keperawatan A. 1 Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake makanan yang kurang. Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. Kadar gula darah dalam batas normal. Berat badan dan tinggi badan ideal. Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia. Pasien mematuhi dietnya. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan. (Marilyn E. Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu .  Nyeri / Kenyamanan Abdomen tegang. kebas. Resiko terjadi gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. Timbang berat badan setiap seminggu sekali. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan. 5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. 2. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1. 2. Diagnosa Keperawatan. 2002) J. Diagnosa no. takikardi. kesemutan pada ekstremitas. 2. ansietas  Eliminasi Perubahan pola berkemih ( poliuria. perubahan tekanan darah  Integritas Ego Stress. 1. ulkus kulit. klaudikasi. parestesia. 4. kesemutan. 4. gatal. penurunan berat badan. 3.AMI. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan dieresis osmotic 3.gangguan penglihatan. 3. kebas kelemahan pada otot. nyeri (sedang / berat)  Pernapasan Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)  Keamanan Kulit kering. anuria ). diare  Makanan / Cairan Anoreksia. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. penggunaan diuretik. ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama. sakit kepala. mual muntah. haus. intervensi: 1. Intervensi a. B.

5. Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal. Tujuan : kebutuhan cairan dapat terpenuhui. Kriteria Hasil : – Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler – Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis – Kulit sekitar luka teraba hangat. – Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah. Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti. Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. Rasional : memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator. hindari penyilangkan kaki.pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.indikasi untuk menentukan diet ). Pantau masukan dan pengeluaran. Identifikasi perubahan pola makan. kadar elektrolitdalam batas normal Intervensi : 1. Ukur berat badan setiap hari. Rasional : mempertahankan dehodrasi/volume sirkulasi. Diagnosa no. Rasional : meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema. 2. c. 3. 3. Nadi perifer dapat diraba 2. b. Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah : Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu istirahat ). Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik. kriteria hasil : 1. hindari penggunaan bantal. Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi . Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah. pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ). 4. fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan. Pertahankan untuk memberikan cairanpaling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan. 2. hindari balutan ketat. di belakang lutut dan sebagainya. turgor kulit dan pengisian kapiler baik 3. 2 Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan dieresis osmotic. catat berat jenis urine. – Sensorik dan motorik membaik intevensi: 1. Diagnosa 3 Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.

Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi. Kriteria hasil : 1. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan. Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan. Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik. Bau busuk luka berkurang. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi. Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal. intervensi: 1. 4. HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren. Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya. angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati. Pergerakan paien bertambah luas 2. Adanya jaringan granulasi. intervensi: 1. Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah. pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit. 4. Kriteria Hasil : 1. Diagnosa 5 Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. . sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.Berkurangnya oedema sekitar luka. Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka. 3. pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan. dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul. Diagnosa 4 Resiko terjadi Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. 2. Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan. e. Rasa nyeri berkurang. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif. 3. berdiri. d.jaringan dapat diperbaiki. 4. 2. 2. sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien. 3. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal. 5. pus dan jaringan berkurang 3. Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik. berjalan ). Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien. Rasional : Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien. pemeriksaan kultur pus pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin.

Evaluasi Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi. dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.M. intelektual. fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar. Jakarta : EGC. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan. 2007 Smeltzer. Pelaksanaan Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Jakarta : EGC. C. 2002. disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal. Suzanne C. 1999. Brenda G bare. DAFTAR PUSTAKA Doenges. Marilyn E. .Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Edisi 8 Vol 2. Buku Saku Dokumentasi Keperawatan edisi 3. Jakarta : EGC. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih. Marelli T. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. D.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times