P. 1
Laporan Pendahuluan Diabetes

Laporan Pendahuluan Diabetes

|Views: 33|Likes:
LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS
Posted: Januari 31, 2012 in Uncategorized
0
DIABETES MELLITUS
A. Definsi
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
B. Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)
(Brunner dan Suddarth, 2002)
C. Etiologi
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
D. Patofisiologi
Diabetes tipe I.pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karna sel-sel beta pankreas telah diancurkanoleh proses autoimun. Hiperglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan)
Diabetes tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam dalam metabolism glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulus pengambilan glukosa oleh jaringan.
(Brunner dan Suddarth, 2002)
E. Manisfestasi klinik
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak
F. Komplikasi
Komplikasi yang biasa terjadi yaitu:
1. Gagal ginjal
2. Hiperglikemia
3. Hipertensi
4. Ketoasidosis
5. Sindrom hiperglikemia
6. Amputasi
(T.M Marelli, 2007)
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu
- Plasma vena
- Darah kapiler
Kadar glukosa dara
LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS
Posted: Januari 31, 2012 in Uncategorized
0
DIABETES MELLITUS
A. Definsi
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
B. Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)
(Brunner dan Suddarth, 2002)
C. Etiologi
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
D. Patofisiologi
Diabetes tipe I.pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karna sel-sel beta pankreas telah diancurkanoleh proses autoimun. Hiperglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan)
Diabetes tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam dalam metabolism glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulus pengambilan glukosa oleh jaringan.
(Brunner dan Suddarth, 2002)
E. Manisfestasi klinik
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak
F. Komplikasi
Komplikasi yang biasa terjadi yaitu:
1. Gagal ginjal
2. Hiperglikemia
3. Hipertensi
4. Ketoasidosis
5. Sindrom hiperglikemia
6. Amputasi
(T.M Marelli, 2007)
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu
- Plasma vena
- Darah kapiler
Kadar glukosa dara

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Uking Jewell'Poenya 汇卜为下大弯 on May 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS

Posted: Januari 31, 2012 in Uncategorized

0 DIABETES MELLITUS A. Definsi Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002). Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002). B. Klasifikasi Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut : 1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM) 2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) 3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya 4. Diabetes mellitus gestasional (GDM) (Brunner dan Suddarth, 2002) C. Etiologi 1. Diabetes tipe I: a. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. b. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolaholah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. c. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. 2. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko : a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) b. Obesitas c. Riwayat keluarga

Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Glaukoma 3. Manisfestasi klinik Keluhan umum pasien DM seperti poliuria. Pruritus Vulvae 6. Hiperglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Ketoasidosis 5. Dermatopati 9. Komplikasi Komplikasi yang biasa terjadi yaitu: 1. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin. Hipertensi 4. Penyakit ginjal 14. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor tersebut.D. 2002) E. Patofisiologi Diabetes tipe I. Infeksi jamur di kulit 8. (Brunner dan Suddarth. Amputasi (T. Katarak 2. Retinopati 4. Infeksi bakteri kulit 7. Pemeriksaan Penunjang . Ulkus Neurotropik 13. Amiotropi 12. Gagal ginjal 2.M Marelli. gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1. Neuropati perifer 10. Neuropati viseral 11. polifagia pada DM umumnya tidak ada. Penyakit pembuluh darah perifer 15. Hiperglikemia 3. Menurut Supartondo. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. terjadi suatu rangkaian reaksi dalam dalam metabolism glukosa di dalam sel. glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan) Diabetes tipe II. Penyakit pembuluh darah otak F. yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Penyakit koroner 16. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulus pengambilan glukosa oleh jaringan. polidipsia. Sindrom hiperglikemia 6. Gatal seluruh badan 5. 2007) G. Disamping itu.pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karna sel-sel beta pankreas telah diancurkanoleh proses autoimun.

Plasma vena . Terapi (jika diperlukan) 5.Plasma vena .Darah kapiler < 100 <80 <110 200 >200 >126 >110 Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan : 1. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1.Darah kapiler Kadar glukosa darah puasa . I. Penatalaksanaan Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Lemah. Pengkajian  Riwayat Kesehatan Keluarga Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?  Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya Berapa lama klien menderita DM.1 mmol/L) 2. kram otot. Kadar glukosa darah puasa 3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl H. apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. Pendidikan (Brunner dan Suddarth.8 mmol/L) 3. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7. mendapat terapi insulin jenis apa. tonus otot menurun. Tes toleransi glukosa Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl) Bukan DM Belum pasti DM DM Kadar glukosa darah sewaktu .  Aktivitas/ Istirahat : Letih. 2002). Diet 2. Glukosa darah sewaktu 2. .1. bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak. bagaimana penanganannya. Pemantauan 4. Sulit Bergerak / berjalan. Latihan 3.

kebas. 2. Resiko terjadi gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. 4. takikardi. Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. klaudikasi. 5. Berat badan dan tinggi badan ideal. kebas kelemahan pada otot. 1. mual muntah. penurunan berat badan. Masalah Keperawatan A. Diagnosa Keperawatan. Intervensi a. nyeri (sedang / berat)  Pernapasan Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)  Keamanan Kulit kering. sakit kepala. Diagnosa no. perubahan tekanan darah  Integritas Ego Stress.  Neurosensori Pusing. ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama. kesemutan. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan. parestesia. Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu . intervensi: 1. Sirkulasi Adakah riwayat hipertensi. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan. B. Kadar gula darah dalam batas normal.AMI. Timbang berat badan setiap seminggu sekali. 2002) J. penggunaan diuretik. 2. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan dieresis osmotic 3. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria hasil : 1. Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. ansietas  Eliminasi Perubahan pola berkemih ( poliuria. anuria ). kesemutan pada ekstremitas. (Marilyn E. Pasien mematuhi dietnya. Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia. 4. nokturia. haus. ulkus kulit.gangguan penglihatan. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.  Nyeri / Kenyamanan Abdomen tegang. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. 1 Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake makanan yang kurang. 3. gatal. 2. diare  Makanan / Cairan Anoreksia. 3. tidak mengikuti diet.

pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi. Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah. Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator. Rasional : mempertahankan dehodrasi/volume sirkulasi. Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. hindari balutan ketat. Nadi perifer dapat diraba 2. 3. kadar elektrolitdalam batas normal Intervensi : 1. 2 Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan dieresis osmotic. Diagnosa no. b. Diagnosa 3 Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun. Kriteria Hasil : – Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler – Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis – Kulit sekitar luka teraba hangat. 2. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik. 2. Tujuan : kebutuhan cairan dapat terpenuhui. Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah : Tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung ( posisi elevasi pada waktu istirahat ). pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ). turgor kulit dan pengisian kapiler baik 3. catat berat jenis urine. Identifikasi perubahan pola makan. 4. 5. hindari penyilangkan kaki. hindari penggunaan bantal. kriteria hasil : 1. di belakang lutut dan sebagainya. Rasional : memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti. Pantau masukan dan pengeluaran. Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti. Rasional : meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema. Ukur berat badan setiap hari. c. Pertahankan untuk memberikan cairanpaling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan cairan melalui oral sudah dapat diberikan.indikasi untuk menentukan diet ). – Sensorik dan motorik membaik intevensi: 1. 3. Tujuan : mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal. – Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah. Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi . fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan.

jaringan dapat diperbaiki. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. e. 5. Diagnosa 4 Resiko terjadi Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan. Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka. Pergerakan paien bertambah luas 2. Kriteria hasil : 1. . 3. angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati. Rasa nyeri berkurang. 3. HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien. intervensi: 1. Adanya jaringan granulasi. Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi. pus dan jaringan berkurang 3. Diagnosa 5 Gangguan pemenuhan mobilitas berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan. Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah. 4. 4. d. 2. Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan. Bau busuk luka berkurang. pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit. Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik. berjalan ). Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal. Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan. sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi. Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan. Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin. Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal. 2. 4. 2. sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien. 3. dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul. intervensi: 1.Berkurangnya oedema sekitar luka. pemeriksaan kultur pus pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk. berdiri. Rasional : Untuk mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien. Kriteria Hasil : 1.

DAFTAR PUSTAKA Doenges. dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien. disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal.Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Pelaksanaan Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Jakarta : EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih. Setelah selesai implementasi. 2002. C. Jakarta : EGC. Marelli T. 2007 Smeltzer. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan. D. Suzanne C. intelektual. . fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar. Jakarta : EGC. Buku Saku Dokumentasi Keperawatan edisi 3. Marilyn E. Brenda G bare. Evaluasi Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan.M. Edisi 8 Vol 2. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. 1999.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->