Apa relevansinya mempelajari psikologi/ilmu perilaku bagi seorang dokter?

Dokter adalah salah satu profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sebagai lawan interaksinya. Karena itu seorang dokter harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Salah satunya dengan pengetahuan psikologi ini. Sebetulnya, pengetahuan ini haruslah terintegrasi ke dalam seluruh kurikulum kedokteran (demikian juga semua pokok bahasan yang ada dalam blok ini harus diintegrasikan ke dalam tiap-tiap blok). Karena yang kita harapkan adalah lahirnya dokter-dokter yang tidak saja kompeten dalam keilmuannya, tapi juga memiliki perilaku yang manusiawi, memperlakukan pasiennya seperti dirinya ingin diperlakukan. Tentu saja perilaku tersebut tidak akan muncul tanpa adanya pengetahuan tentang apa dan bagaimana sebetulnya sifat yang manusiawi itu. Agar Anda dapat memahami dan selanjutnya dapat menerapkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam ilmu psikologi, maka Anda diperkenalkan dengan pengetahuan ini. Tentu, pengetahuan ini sendiri belumlah cukup untuk mencapai apa yang kita harapkan, tapi harus dipadukan dengan pengetahuan-pengetahuan lain. Pengetahuan psikologi/ilmu perilaku ini berusaha memberi gambaran pada kita bagaimana menjadi seorang dokter yang sejatinya ideal, dokter yang manusiawi, yang berperilaku/berakhlak baik, berkepribadian profesional. Untuk mendapatkan hasil di hilir yang baik, tentu kondisi di hulu sudah harus dipersiapkan sebelumnya. Karena itu disajikan pengetahuan mengenai ilmu perilaku yang diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk dapat memahami lebih baik tentang makna kehidupan Anda sebagai seorang dokter.

Mungkin saja terdapat anggapan bahwa masalah perilaku/akhlak baik dan sifat belas kasih merupakan bawaan atau sifat lahiriah seseorang, bahkan ia adalah watak alami yang melekat pada seseorang sejak dia dilahirkan, dan berkembang sesuai pengaruh lingkungannya. Menganggap sifat belas kasih atau compassion bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari, tetapi suatu materi yang akan berpindah secara alami –melalui proses yang panjang- dari satu manusia ke manusia lain. Tapi bila kita kembali kepada jati diri sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan, maka kita tahu bahwa banyak hal yang harus kita pelajari, cermati, hayati dan amalkan dalam hidup ini, apalagi bila dikaitkan dengan jati diri

Karena itu seorang dokter harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan manusia. terkait dengan pengetahuan. konsep akhlak adalah konsep akhirat. baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Ilmu kedokteran yang selalu memikirkan jasmani dan rohani manusia akan selalu dituntut oleh . Sedangkan. penggunaan konsep perilaku di sini berada dalam pengertian ketunggalannya dengan konsep kebudayaan. nilai dan norma dalam lingkungan-lingkungan sosialnya. Bila dikaitkan dengan kebudayaan. and his fellow practitioners. Namun. maka seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam agama Islam diajarkan mengenai akhlak secara lengkap dan terperinci. Pengertian etika yang dipahami lebih luas di kalangan medis selama ini selalu menjadi jargon seorang dokter. konsep psikologi yang akan kita bahas adalah konsep dunia. Etika kedokteran dalam kamus kedokteran Stedman dirumuskan sebagai principles of correct professional conduct with regard to the rights of the physician himself. his patients. sedikit atau banyak. Segala penalaran dokter sebagai manusia akan sama dengan penalaran budi manusia. Ilmu kedokteran khususnya kedokteran umum yang menangani manusia jelas sangat paralel dengan pengetahuan budaya yang berkaitan dengan hasil kesadaran manusia. Untuk membangun nilai-nilai sosial itu agar tetap menjadi landasan bagi setiap dokter -terutama sebagai dokter muslim. maka disinilah pengetahuan kebudayaan menjadi konsep dasar dalam membangun jati diri sebagai petugas layanan kesehatan. khususnya dunia medis jadi implikasinya jelas di dunia medis juga. dan hak teman sejawatnya.dalam menjalani kehidupan profesinya yang luas. Perilaku seseorang. sebagai seorang muslim kita tentu percaya bahwa semua aspek kehidupan kita di dunia ini pada akhirnya akan berdampak juga di akhirat kelak. Sehubungan dengan itu. hak pasiennya.kita sebagai seorang muslim. demikian juga halnya dengan seorang dokter. Bedanya. jadi berimplikasi tidak hanya di dunia ini saja. Untuk proses hulu. dokter adalah suatu profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sebagai lawan interaksinya dalam konteks makhluk yang sama berbudaya. lingkungan pendidikan yang baik tentu akan mengantar seseorang untuk berperilaku yang baik pula. Dengan kata lain etika dalam kedokteran merupakan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku profesional yang tepat berkaitan dengan hak dirinya sebagai dokter.

akan disadari betapa kita telah jauh menyimpang dari idealisme sebagai dokter. Meskipun demikian. bahkan konsep humanisme menjadi sesuatu yang asing dalam . seperti halnya belas kasihan yang bukan sekedar perasaan prihatin kepada penderitaan orang lain tapi menolong dengan memberi saran atau tindakan yang meringankan penderitaannya. maknanya bergeser menjadi sebuah sikap yang berkenaan dengan perhatian manusia pada sesamanya dengan menekankan pada ‘compassion’ -belas kasihan.keadaan lingkungan masyarakat. rasa belas kasih sama pentingnya dengan pengetahuan ilmiah dan keterampilan pada seorang dokter yang humanistik. humanisme menyatakan suatu penghargaan kepada pasien sebagai seorang individu. terminologi humanisme awalnya dikaitkan dengan pergeseran filosofi dan budaya selama masa renaisans Eropa. Bukan hanya praktek medis dan perawatan pasien yang menyimpang dari idealisme sosial.dan martabat individual. menyatakan suatu komunikasi yang berarti kepada pasien sebagai seseorang dan bukannya sebagai sebuah penyakit. Belakangan. Humanisme merupakan tindakan positif. Sebaliknya kesuksesan dokter akan selalu menjunjung tinggi dan mengangkat nama harumnya karena segala kesuksesan itu tentu dilandasi oleh budi/pikiran manusia secara sadar. Lantas. bagaimana kaitannya dengan humanisme? Menurut Profesor U Mia Tu dari Myanmar dalam orasinya tentang humanisme dan etika dalam berbagai bidang kedokteran. Fenomena ini telah mendunia dan juga telah menyebar ke dalam negara kita. Situasi apa yang menyebabkan sehingga humanisme dan etika mengilhami profesi kedokteran saat ini? Apa yang telah terjadi sehingga menyebabkan banyak dokter-dokter senior menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi profesi kita? Jika kita mengamati sejenak. Lebih dari yang sekedar tertulis dalam sumpah Hippocrates. Lebih dari sekedar menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan fisik dan mental pasien karena kelalaian diri. menunjukkan belas kasih dan mengerti akan rasa takut dan khawatir dalam diri pasiennya. Lebih lanjut dia mengatakan. Salah pikir dari seorang dokter berarti akan bertentangan dengan hati nurani manusia yang melekat dalam pribadi sang dokter. Secara tidak langsung. Namun sungguh mengejutkan karena definisi „belas kasihan‟ tidak masuk dalam dua kamus utama kedokteran – Dorland dan Stedman. humanisme dalam kedokteran lebih dari sebuah etika.

tentang jati dirinya sebagai . yang penting pasien itu belum masuk kategori gila (silakan ke ahli jiwa kalau jiwa anda terganggu). ketakutan melakukan malapraktek. ahli kesehatan masyarakat. diserahkan dengan hormat kepada temanteman mereka. Menurutnya ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. peningkatan kejahatan moral oleh praktisi medis. Seorang dokter tentu tidak mau ketinggalan dalam bidang teknologi atau akan dicemoohkan oleh masyarakat -yang sudah semakin kritis. yaitu promosi kesehatan. Begitu barangkali yang ada dalam benak para dokter. Kenyataannya. dokter-dokter berlomba dalam menyempurnakan sisi keilmuannya. Benar bahwa etika kedokteran termasuk dalam kurikulum pada beberapa sekolah kedokteran.pendidikan kedokteran dan dalam bidang penelitian kedokteran. antara lain: · · · · · Pemisahan antara jasad dan jiwa Pemisahan antara pencegahan dan pengobatan Penghambaan diri terhadap teknologi modern Berlebihan dalam mengejar spesialisasi Perbedaan dalam tingkat pelayanan kesehatan Karena tuntutan akan kompetensi profesi yang semakin meningkat. Mereka tidak perlu repot-repot menangani jiwa pasien mereka. Padahal sangat jelas bahwa para dokter pun diharapkan partisipasi aktifnya dalam program pencegahan penyakit. yang penting pasien sembuh dari derita fisiknya. bisa-bisa kita dituding mengambil lahan kerja mereka”. Kegamangan menghadapi masyarakat yang gemar menggugat. semua hal-hal tersebut menyebabkan para dokter sangat fokus pada keahlian medis mereka. Untuk urusan pencegahan penyakit. ”Kami cukup mengobati mereka yang sakit. bahkan mulai pada tahap awal dari five level prevention. Seorang dokter bernama Assi Ba‟l mengemukakan kerisauannya tentang profesi dokter saat ini. dibutuhkan lebih dari sekedar memasukkan subjek etika kedokteran ke dalam kurikulum agar lulusan kedokteran menjadikan humanisme dan perilaku etis sebagai sifat kedua mereka. Perkembangan teknologi dalam dunia kesehatan begitu menggila belakangan ini. namun diduga hal tersebut hanya sebagai metode resmi untuk menenangkan hati mereka. Mereka menjadi sangat perhatian dalam menangani keluhan fisik pasien. Kalau ikut-ikutan dalam program pencegahan.

selama dia tidak merugikan mereka. walaupun dokter itu baru saja kembali dari daerah terpencil yang harus didiaminya selama dua-tiga tahun. serta adanya jaminan income yang lebih menjanjikan. toh mereka mempunyai kehidupan masing-masing yang tidak memerlukan campur tangan batinnya. dokter tidak mengerti tentang perkembangan jaman. Ini betul. dan yang menjadi prioritas tentunya pendidikan spesialisasi. Salah satu hal yang dapat memfasilitasi kebutuhan itu adalah dengan bersekolah kembali. Menurut Anda. Kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkan kehidupan kita kelak. marilah kita jalani sendiri-sendiri tanpa saling mengganggu. membuat mereka berlomba-lomba meraih gelar tersebut. Teknologi modern adalah suatu keharusan.seorang profesional. Ditopang oleh kecenderungan masyarakat yang selalu mengandalkan dokter spesialis dan bertindak merujuk dirinya sendiri langsung kepada seorang ahli. Tapi apakah memang semuanya harus berjalan demikian? Betulkah semata-mata tangan dingin sang dokter saja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah pasiennya? Mari kita lihat bagaimana humaniora memandang kehidupan seorang dokter. Tidak ada istilah. This is our own life. Ikut pendidikan dokter spesialis tentunya akan membuat para dokter akan terus-menerus berhubungan dengan perkembangan teknologi karena pusat pendidikan berada di kota-kota besar. Tentu saja kita tidak dapat menyalahkan dokter yang berniat meneruskan minatnya pada ilmu tertentu. . apakah semua ini tidak cukup membuat seorang dokter merasa terbebani sehingga punya waktu lagi untuk memikirkan perasaan pasiennya? Tidak cukupkah dia dapat menghilangkan keluhan pasien-pasiennya dan meringankan derita fisik mereka? Dan ada apa dengan orang-orang di sekelilingnya.

dan pengobatan dianggap sebagai pekerjaan rendah. Pada masa kekaisaran Roma. Dokter pada jaman itu dianggap tidak berdarah murni dan tidak pernah diundang pada acara-acara sesajian untuk dewa-dewa.1960). Kasta Brahmana tidak seharusnya menerima makanan dari seorang dokter karena dianggap najis/kotor (Rao & Radhalaksmi. ketergantungan. Di Inggris abad ke-18. orang liar. Saat hal tersebut dikaitkan dengan profesi dokter. Mereka semua tidak memiliki motif yang berkaitan dengan uang dalam memberikan bantuan. Misalnya pada jaman India kuno. tabib dan dukun telah merawat orang-orang sakit karena adanya keyakinan bahwa penyakit adalah manifestasi dari pengaruh iblis yang dilakukan dengan perantaraan tuhan atau makhluk supernatural atau manusia lain. orang asing. Pada level yang berbeda. dan keinginan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Tetapi martabat dan status profesi dokter dulunya tidak setinggi seperti yang kita lihat sekarang. kita diyakinkan bahwa masalah sosialnya berakar pada sikap humanisme. belas kasih terhadap penderitaan pasien. hanya dokter kerajaan yang memiliki status yang tinggi. dokter adalah pekerja berat. Misalnya seorang ibu yang merawat anak atau bayinya yang sedang sakit. Dengan otoritas tersebut terciptalah unsur kewajiban sosial untuk melayani dengan belas kasih kepada mereka yang percaya dan bergantung kepada kita. dan kepercayaan yang utuh dari pasien terhadap otoritas.Humanisme dan etika dalam praktek kedokteran Merawat orang sakit pada level fundamental berakar pada jiwa manusia dan humanisme. sementara seorang wanita tua di antara para warga merespon permintaan bantuan ibu tadi. dokter bedah dan ahli obat-obatan dianggap seperti pedagang dan termasuk kelas . Motif mereka dalam menyembuhkan orang sakit mungkin tidak sepenuhnya untuk kepentingan orang sakit tersebut karena mereka memperoleh keuntungan dalam tatanan sosial atas bantuan tersebut. disamping adanya kekuasaan dan otoritas yang diberikan pada mereka dalam masyarakat. Dokter praktek dan spesialis saat ini memiliki hubungan dokter-pasien ‟one-to-one‟ yang unik dan sangat pribadi. pengetahuan dan keterampilan dokternya. pendeta. sejak jaman dahulu orang-orang suci. kenalan/keluarga sekitarnya menawarkan bantuan berupa saran/nasihat dimanapun diinginkan. tapi dilandasi atas dasar belas kasih. melibatkan kepatuhan.

menetapkan standar kompetensi melalui pelatihan termasuk teori. Dari praktek mandiri. sekolah kedokteran yang dapat dikontrol) dan bertujuan memberikan pelayanan yang humanistik kepada masyarakat untuk kepentingan mereka. Prinsip-prinsip etika telah menjadi bagian yang mendasar sejak masa awal dan berkaitan dengan kewajiban dan tanggung-jawab seorang dokter. di samping merawat orang-orang sakit dalam keluarga itu. Dan tidak satupun yang berkenaan dengan aspek humanistik. dokter di Perancis sangat miskin dan statusnya juga rendah (Starr. baik berupa uang maupun berupa hasil-hasil pertanian seperti yang masih terdapat di negaranegara berkembang di beberapa daerah dan desa yang miskin. pola praktek di negara-negara industri berubah sama sekali dengan ekonomi berorientasi pasar. berkeliling ke rumah-rumah. Namun. bermula di akhir abad ke-19. bukan hanya keterampilan seperti pada pekerjaan tukang. Profesi kedokteran selanjutnya menyusun lembaga profesi struktural (asosiasi. mengontrol semua yang ingin memasuki profesi ini. Perkembangan kota-kota besar dan rumah-rumah sakit di abad 18 dan 19 membuat dokter-dokter desa perlahan menghilang dan semakin banyak dokter menetap di daerah kota untuk berpraktek. sekarang .pinggiran. publikasi. Hilangnya dokter pedesaan atau dokter keluarga memulai timbulnya „pelayanan dehumanisasi‟ di rumah-rumah sakit. dengan perkembangan dan kemajuan ilmu kedokteran dan kemampuan para dokter mempengaruhi perjalanan penyakit secara radikal. segala yang menjadi karakter sebuah profesi juga didapatkan. Ini adalah masa dokter pedesaan atau dokter „kuno‟ atau dokter keluarga yang mengetahui dengan baik keluarga tersebut. Bahkan sekurangnya di abad 19. dan bertindak sebagai „teman dan penuntun yang dapat dipercaya‟. Kedokteran memiliki otonomi. secara perlahan kedokteran berubah statusnya dari sekedar tukang/pekerja berat menjadi sebuah profesi dan bersamaan dengan itu kekuasaan dan martabat profesi dokter juga meningkat seterusnya hingga di abad 20 ini. Dengan tercapainya status profesi itu. bahwa semua pernyataan tentang etika dapat disesuaikan secara profesional dengan dunia medis. Pola praktek dokter pada awal abad delapanbelas bersifat „biaya pelayanan tunggal‟ yaitu seorang dokter memberikan pelayanan medis dan untuk itu dia dibayar. 1949). Namun harus dicatat. Dalam dekade terakhir abad 20.

Kedokteran tidak lagi merupakan industri rakyat seperti saat dokter berpraktek mandiri. seorang dokter di Myanmar menelaah sebuah film bergenre kedokteran. sopan dan penuh tatakrama. Anda menangani pasien. semakin dokter bergantung pada teknologi semata. Harga-harga obat melambung dan penggunaan peralatan medis yang canggih berkonsekuensi dengan pembayaran yang tinggi. tapi yang kita bicarakan dalam kaitannya dengan humanisme adalah dokter melayani pasiennya dengan melihat ke dalam perasaan pasiennya. saudara-saudara. dokter membayar asuransi untuk dirinya. Menampakkan pengertian akan derita pasiennya dan tidak . Ada berapa banyak dokter yang betul-betul menangani pasiennya dengan rasa belas kasih? Saya tidak menyatakan bahwa tidak ada dokter yang memiliki rasa belas kasih karena saya mengenal beberapa dokter yang betul-betul menangani pasiennya dengan hati.kebanyakan dokter praktek berkelompok di bawah persetujuan formal penggunaan fasilitas dan peralatan medis bersama-sama dan pendapatan didistrubusikan sesuai perjanjian awal dengan melibatkan personalia kesehatan. yang tentu berdampak pada pasien sehingga biaya layanan kesehatan semakin tinggi. hasilnya adalah meningkatnya komersialisasi layanan medis dan bertumbuhnya industri medis yang kompleks. ramah. Perubahan ini mewarnai sikap dan tingkah laku profesi yang menekankan pada aspek finansial dan teknologi dalam terapi dan merusak panggilan altruistik dan humanistik sang dokter. Hunter Adam: “Anda bahkan tidak melihat kepada pasien saat Anda berbicara pada mereka” dan saat dia berbicara melawan Badan Medis: “Kematian bukanlah musuh. berjudul “Patch Adam”. yang semakin sering memutuskan jenis praktek pelayanan dan jenis organisasi dibandingkan para dokter. tapi sebuah kelalaian. Keadaan ini pun sudah terlihat di negara kita. Banyak dokter melayani pasiennya dengan senyum. pemandangan seperti itu sangat jarang kita rasakan. Tapi. yang berujung pada „pelayanan dehumanisasi‟. Anda menangani penyakit. hasilnya kalah atau menang. anda akan menang bagaimanapun hasil akhirnya”. yang berperan sebagai dr. Hal tersebut ditambah dengan ketakutan akan tuntutan malapraktek. Dia tertarik pada kritik sang pemain. semakin mereka kehilangan rasa kemanusiaannya. Lagi menurut Profesor Tu. Kalangan bisnis melihat pasar besar dalam lapangan kesehatan. Telah dikatakan. Manager di bidang kesehatan ini – ekonom dan CEO (pejabat eksekutif).

Pada saat Abad Kegelapan baru saja terangkat dari Eropa.semata-mata memburu apa yang menjadi diagnosis agar pengobatannya tepat dan pasien ini segera menyingkir dari kehidupannya yang cukup sibuk. aspek-aspek estetika (seperti memainkan musik lembut di malam hari untuk membantu mereka yang sulit tidur). Tempatkan saja diri Anda pada posisi mereka. hingga mereka mampu kembali bekerja (Guthrie. dan Kairo yang memperhatikan segala aspek dari layanan kesehatan termasuk aspek humanistik seperti sisi spiritualnya (memperdengarkan Al-Quran sepanjang saat tanpa henti). Perkembangan spektakuler di dunia medis pada masa-masa setelahnya . Kerajaan Romawi mengatur tempat layanan kesehatan untuk orang-orang miskin yang akan dikunjungi oleh dokter-dokter umum untuk memberikan pemeriksaan kesehatan yang dibutuhkan. Itu tidak sulit dilakukan. Bahkan pasien diberikan sejumlah uang yang dapat menutupi kekurangan semasa sakit. dan tepat jika menduga bahwa mereka akan lebih nyaman dengan dokter yang menatap mereka saat melakukan anamnesis dan memperlihatkan sikap menerima dan mengerti akan segala keluhannya. Ini adalah pendekatan yang betul-betul manusiawi. situasi mana yang lebih Anda sukai. Kordoba. 1958). kedokteran di negaranegara Arab sangat berkembang. Lalu nilai. Raja pada jaman Indis kuno membangun tempat untuk orang-orang sakit dan cacat. Anda keliru jika menyangka pasien tidak membutuhkan sentuhan humanisme. khususnya Inggris relatif terlambat. Butuh terjadinya suatu epidemi (kolera) untuk terbentuknya Badan Kesehatan sebagai badan resmi walaupun sebelumnya negara telah megambil alih langkah darurat jika terjadi penyakit epidemik. dan aspek-aspek yang dapat meningkatkan semangat mereka (seperti membacakan kisah-kisah yang menggugah jiwa pasien). Pelayanan kesehatan di Eropa. pemegang kekuasaan bertanggung-jawab terhadap kesehatan rakyatnya. bahkan tempat khusus semacam rumah sakit untuk kebidanan dan bedah. ditangani oleh dokter yang berwajah dingin yang sibuk meneliti penyakit Anda atau oleh dokter yang menunjukkan perasaan kasih akan tiap keluhan Anda. Humanisme dan etika dalam pelayanan kesehatan Sejak jaman dulu. Terdapat rumah-rumah sakit yang besar di Damascus.

secara pribadi hal tersebut sulit dilaksanakan. Idealnya. Karena bisnis bersifat mengejar keuntungan. Sejak jaman dulu. Karena kontak yang sangat dekat dengan gurunya. apa yang bisa menjadikan seorang dokter memiliki kemampuan teknis sekaligus sikap humanistik dalam perilaku profesinya? Apakah itu bagian dari pelatihan dan pendidikan mahasiswa kedokteran dengan melihat contoh dari para dosennya? Mari kita lihat bagaimana humanisme dalam pendidikan kedokteran. murid kedokteran di India misalnya. tingkah laku moral. tinggal di rumah gurunya dan bahkan menjadi anggota keluarga yang ikut mengerjakan segala pekerjaan rumah sang guru. yaitu suatu sistem pelatihan yang bersifat desentralisasi di mana murid dan gurunya terikat dalam suatu hubungan pribadi. singkatnya „bedside manner‟ sang guru tadi. Baik di dunia barat maupun dalam budaya timur. dalam era pasar ekonomi. maka teknologi yang tercanggih sekalipun dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak. tapi menyerap filosofi. Teknologi tersebut membutuhkan biaya yang mahal sehingga tidak mampu digapai oleh masyarakat miskin. seorang murid tidak hanya belajar dari guru. dikembangkan filosofi baru mengenai pelayanan kesehatan berbasis persamaan dan keadilan sosial yang berakhir pada gerakan Pelayanan Kesehatan Primer dan Kesehatan untuk Semua (World Health Organisation. Dan akibatnya pelayanan terhadap masyarakat miskin terabaikan. Sekarang ini. jika penentu kebijakan terutama dalam bidang kesehatan memperhatikan masalah ini dan berangkat dengan keikhlasan untuk berbuat demi kemanusiaan. Tapi. Ditambah lagi dengan dokter-dokter yang terlatih di rumah sakit yang sangat sedikit dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi masalah kesehatan dalam masyarakat dan perkembangan baru dalam pelayanan kesehatan. kedokteran telah menjadi bisnis besar hingga di negara-negara berkembang. nilai-nilai dan metode hidupnya serta cara guru menghadapi pasiennya. agar nilai-nilai humanisme tetap terjaga.mengubah pola tingkah dokter dan pelayanan kesehatan. 1981) Seperti telah disebutkan sebelumnya. sikap. dokter mampu melakukan praktek hingga menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Tentu. pelatihan untuk menjadi seorang dokter bermula dari sistem magang. . biaya pelayanan kesehatan akhirnya meningkat. Humaniora dan etika dalam pendidikan kedokteran Lantas.

Kerajaan Romawi mengambil alih pelatihan dokter dengan menunjuk guru-gurunya. keadaan pasien yang sebenarnya terabaikan. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang dilatih di rumah sakit. Sebagai mahasiswa. mendengar keluhan mereka dengan sabar. Dan metode ini diadaptasi oleh semua sentra pendidikan kedokteran di dunia. Pasien tentu tidak akan mengeluh jika tidak merasa dirinya hanya dijadikan objek pembelajaran. pendidikan kedokteran telah berjalan dengan baik. Sebetulnya keadaan ini dapat kita hindari bersama. Metode pengajaran klinis dengan jumlah mahasiswa yang besar berdampak buruk pada pasien. Jika kelak Anda dipercayakan untuk memegang pasien pada saat kepanitraan klinik dan dapat menunjukkan bahwa sebagai mahasiswa kedokteran Anda cukup handal. sebagai calon dokter. Mereka menghindar untuk dirawat di rumah sakit pendidikan karena merasa dijadikan orang coba oleh para ko-ass.Karena kebutuhan akan dokter dan ahli bedah semakin meningkat. Caranya tentu dengan menanamkan kepercayaan kepada pasien dan masyarakat umumnya. Anda harus betul-betul memahami semua yang Anda pelajari selama proses pendidikan dan menguasai seluruh kompetensi yang sudah ditetapkan. Fakultas kedokteran ini tidak hanya melatih para dokter tetapi juga mengontrol tindakan mereka. tidak akan ada pasien yang menolak Anda. maka pasien akan dengan senang hati mempercayakan penanganan penyakitnya pada Anda . . Sekolah-sekolah kedokteran di Eropa pada abad 9 hingga 13 menjadikan pendidikan kedokteran sebagai basis dan memberikan gelar dokter setelah melalui suatu pendidikan dan ujian tertentu. Dan itu dapat dimulai dari Anda. memperhatikan apa yang menjadi persoalan sesungguhnya bagi mereka. Warga yang kaya membangun rumah-rumah sakit yang mempekerjakan dokter-dokter handal yang bertanggung-jawab dalam penanganan pasien sekaligus mengajar murid-murid kedokteran. perubahan sistem pelatihan mengalami perubahan. terurama pasien-pasien dari golongan menengah ke atas. Sekarang kita mungkin dapat melihatnya di rumah-rumah sakit. Mereka ditempatkan di rumah sakit untuk pendidikan kedokteran. beberapa pasien mengeluh jika terlalu banyak disentuh oleh mahasiswa (ko-ass). Kita harus benar-benar tulus menghadapi mereka. Apalagi jika dibarengi dengan tindakan yang etis dan penuh sentuhan manusiawi. Di negara-negara Islam. Ingatlah pepatah bijak orang tua kita bahwa apa yang dilakukan dari hati sampainya ke hati juga.

sangat tidak bijak jika Anda langsung menyalahkan dan mematahkan pendapat teman Anda. seringkali terjadi benturan pendapat.berimplikasi pada akhirat yang mengikat muslim yang berakal dan dewasa. Jadi. dan orang-orang dalam lingkungan kampus. pegawai di lingkungan Anda. dan didukung oleh beberapa teman yang lain. Anda akan berhubungan dengan dosen. dan waktu yang terasa sangat menghimpit. Anda dapat melalui proses pendidikan kedokteran dengan baik karena sebenarnyalah hubungan yang terjadi antara Anda dengan pasien tadi adalah hubungan kerjasama. adanya beban tugas dari dosen yang tidak habis-habis (walaupun alasan bahwa hal tersebut untuk kepentingan mahasiswa sendiri kadang sulit diterima). Anda akan banyak dibekali dengan pengetahuan tentang etika terutama saat Anda telah menjadi dokter. Anda memilih untuk menjadi dokter. Walaupun Anda yakin bahwa pendapat Andalah yang benar. bukan opininya. Anda. membutuhkan mereka. yaitu dalam ilmu tentang akhlak. sebagai mahasiswa. kita tidak punya pilihan selain menghadapinya. Bahkan ilmu ini tidak terbatas kepada profesi dokter saja. tapi memayungi semua insan yang mengaku sebagai muslim. saat sekarang pun prinsip-prinsip etika sudah harus kita jalankan karena akhlak -yang sumbernya jelas dari Allah SWT. Masalahnya. Betul bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Apalagi jika yang Anda serang adalah pribadinya. sesama mahasiswa. . Namun sebenarnya. Belum lagi jika menghadapi persoalan yang berbeda. Sekarang ini adalah masa yang tepat bagi Anda untuk melatih diri bagaimana bersikap menjadi dokter yang baik. Selama masa pendidikan. tapi sikap dan perilaku yang baik bukannya tidak dapat diamalkan. dan orang-orang dalam lingkungan kampus. jadi sudah seharusnya kita menyadari konsekuensi dari suatu pilihan. Kita menerima pengakuan sebagai pribadi dewasa. pegawai di lingkungan Anda. tentu akan sulit bagi kita untuk tetap bersikap stabil. Selama masa pendidikan. Anda akan berhubungan dengan dosen. Sekarang ini adalah masa yang tepat bagi Anda untuk melatih diri bagaimana bersikap menjadi dokter yang baik.Dengan begitu. Maka buatlah mereka pun membutuhkan Anda. berarti sedikit banyaknya Anda tahu seperti apa profesi ini. prinsip-prinsip etika telah tertuang secara lengkap dalam Islam. yaitu kita semua. dalam berdiskusi dengan teman-teman Anda. sesama mahasiswa. Sebagai contoh. Dalam pendidikan tentang bioetik dan humaniora ini.

Etika Kedokteran Indonesia.T. RS. Rineka Cipta. Samil.: Ilmu Budaya Dasar.Dari segi keterampilan. Gema Insani Press. Z. Anda diharapkan memiliki keterampiln klinis yang lebih terarah.. Humanism and Ethics in Medical Practice. J. Para pendidik di bidang kedokteran sepakat bahwa tujuan pembelajaran yang baru ini adalah mengarahkan pendidikan kedokteran kepada pengalaman berbasis komunitas. Health Service. Tu. Keaktifan dari Anda sebagai mahasiswa diharapkan karena pembelajaran ini memang dipusatkan pada Anda (student-centered learning). Dengan sistem integrasi yang baru diterapkan. Jakarta. 1992 2. Assi Ba‟l. 1998 3. Jakarta. model yang berpusat pada pembelajar sehingga memungkinkan dokter untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus berpraktek dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan yang memasukkan aspek-aspek psikososial dan biologi dalam pelayanan kesehatan. Jakarta. •Prasetya. U.M. kompetensi yang dikehendaki dijelaskan oleh masingmasing sub divisi pendidikan kedokteran.A. dalam The First Myanmar Academy of Medical Science Oration.2001. Medical Education and Medical Research.: Dokter-dokter. Bagaimana Akhlakmu. Daftar Pustaka 1. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohrdjo. Myanmar. 2001 4. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful