Apa relevansinya mempelajari psikologi/ilmu perilaku bagi seorang dokter?

Dokter adalah salah satu profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sebagai lawan interaksinya. Karena itu seorang dokter harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Salah satunya dengan pengetahuan psikologi ini. Sebetulnya, pengetahuan ini haruslah terintegrasi ke dalam seluruh kurikulum kedokteran (demikian juga semua pokok bahasan yang ada dalam blok ini harus diintegrasikan ke dalam tiap-tiap blok). Karena yang kita harapkan adalah lahirnya dokter-dokter yang tidak saja kompeten dalam keilmuannya, tapi juga memiliki perilaku yang manusiawi, memperlakukan pasiennya seperti dirinya ingin diperlakukan. Tentu saja perilaku tersebut tidak akan muncul tanpa adanya pengetahuan tentang apa dan bagaimana sebetulnya sifat yang manusiawi itu. Agar Anda dapat memahami dan selanjutnya dapat menerapkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam ilmu psikologi, maka Anda diperkenalkan dengan pengetahuan ini. Tentu, pengetahuan ini sendiri belumlah cukup untuk mencapai apa yang kita harapkan, tapi harus dipadukan dengan pengetahuan-pengetahuan lain. Pengetahuan psikologi/ilmu perilaku ini berusaha memberi gambaran pada kita bagaimana menjadi seorang dokter yang sejatinya ideal, dokter yang manusiawi, yang berperilaku/berakhlak baik, berkepribadian profesional. Untuk mendapatkan hasil di hilir yang baik, tentu kondisi di hulu sudah harus dipersiapkan sebelumnya. Karena itu disajikan pengetahuan mengenai ilmu perilaku yang diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk dapat memahami lebih baik tentang makna kehidupan Anda sebagai seorang dokter.

Mungkin saja terdapat anggapan bahwa masalah perilaku/akhlak baik dan sifat belas kasih merupakan bawaan atau sifat lahiriah seseorang, bahkan ia adalah watak alami yang melekat pada seseorang sejak dia dilahirkan, dan berkembang sesuai pengaruh lingkungannya. Menganggap sifat belas kasih atau compassion bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari, tetapi suatu materi yang akan berpindah secara alami –melalui proses yang panjang- dari satu manusia ke manusia lain. Tapi bila kita kembali kepada jati diri sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan, maka kita tahu bahwa banyak hal yang harus kita pelajari, cermati, hayati dan amalkan dalam hidup ini, apalagi bila dikaitkan dengan jati diri

lingkungan pendidikan yang baik tentu akan mengantar seseorang untuk berperilaku yang baik pula. sebagai seorang muslim kita tentu percaya bahwa semua aspek kehidupan kita di dunia ini pada akhirnya akan berdampak juga di akhirat kelak. Ilmu kedokteran yang selalu memikirkan jasmani dan rohani manusia akan selalu dituntut oleh . dokter adalah suatu profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sebagai lawan interaksinya dalam konteks makhluk yang sama berbudaya. jadi berimplikasi tidak hanya di dunia ini saja. Perilaku seseorang. Pengertian etika yang dipahami lebih luas di kalangan medis selama ini selalu menjadi jargon seorang dokter. dan hak teman sejawatnya. Dengan kata lain etika dalam kedokteran merupakan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku profesional yang tepat berkaitan dengan hak dirinya sebagai dokter. Etika kedokteran dalam kamus kedokteran Stedman dirumuskan sebagai principles of correct professional conduct with regard to the rights of the physician himself. Ilmu kedokteran khususnya kedokteran umum yang menangani manusia jelas sangat paralel dengan pengetahuan budaya yang berkaitan dengan hasil kesadaran manusia. nilai dan norma dalam lingkungan-lingkungan sosialnya. baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. terkait dengan pengetahuan. sedikit atau banyak. konsep akhlak adalah konsep akhirat. Sedangkan. Untuk proses hulu. Segala penalaran dokter sebagai manusia akan sama dengan penalaran budi manusia. khususnya dunia medis jadi implikasinya jelas di dunia medis juga. hak pasiennya.dalam menjalani kehidupan profesinya yang luas. demikian juga halnya dengan seorang dokter. Namun. Bila dikaitkan dengan kebudayaan. Dalam agama Islam diajarkan mengenai akhlak secara lengkap dan terperinci. maka disinilah pengetahuan kebudayaan menjadi konsep dasar dalam membangun jati diri sebagai petugas layanan kesehatan. maka seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Bedanya. his patients. Karena itu seorang dokter harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan manusia. and his fellow practitioners. konsep psikologi yang akan kita bahas adalah konsep dunia. penggunaan konsep perilaku di sini berada dalam pengertian ketunggalannya dengan konsep kebudayaan. Untuk membangun nilai-nilai sosial itu agar tetap menjadi landasan bagi setiap dokter -terutama sebagai dokter muslim. Sehubungan dengan itu.kita sebagai seorang muslim.

keadaan lingkungan masyarakat. akan disadari betapa kita telah jauh menyimpang dari idealisme sebagai dokter. menunjukkan belas kasih dan mengerti akan rasa takut dan khawatir dalam diri pasiennya. Lebih dari yang sekedar tertulis dalam sumpah Hippocrates. Situasi apa yang menyebabkan sehingga humanisme dan etika mengilhami profesi kedokteran saat ini? Apa yang telah terjadi sehingga menyebabkan banyak dokter-dokter senior menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi profesi kita? Jika kita mengamati sejenak. terminologi humanisme awalnya dikaitkan dengan pergeseran filosofi dan budaya selama masa renaisans Eropa. Humanisme merupakan tindakan positif. bagaimana kaitannya dengan humanisme? Menurut Profesor U Mia Tu dari Myanmar dalam orasinya tentang humanisme dan etika dalam berbagai bidang kedokteran. bahkan konsep humanisme menjadi sesuatu yang asing dalam . seperti halnya belas kasihan yang bukan sekedar perasaan prihatin kepada penderitaan orang lain tapi menolong dengan memberi saran atau tindakan yang meringankan penderitaannya. Meskipun demikian.dan martabat individual. rasa belas kasih sama pentingnya dengan pengetahuan ilmiah dan keterampilan pada seorang dokter yang humanistik. humanisme menyatakan suatu penghargaan kepada pasien sebagai seorang individu. Lantas. Salah pikir dari seorang dokter berarti akan bertentangan dengan hati nurani manusia yang melekat dalam pribadi sang dokter. menyatakan suatu komunikasi yang berarti kepada pasien sebagai seseorang dan bukannya sebagai sebuah penyakit. Secara tidak langsung. maknanya bergeser menjadi sebuah sikap yang berkenaan dengan perhatian manusia pada sesamanya dengan menekankan pada ‘compassion’ -belas kasihan. Fenomena ini telah mendunia dan juga telah menyebar ke dalam negara kita. Belakangan. humanisme dalam kedokteran lebih dari sebuah etika. Lebih dari sekedar menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan fisik dan mental pasien karena kelalaian diri. Lebih lanjut dia mengatakan. Namun sungguh mengejutkan karena definisi „belas kasihan‟ tidak masuk dalam dua kamus utama kedokteran – Dorland dan Stedman. Bukan hanya praktek medis dan perawatan pasien yang menyimpang dari idealisme sosial. Sebaliknya kesuksesan dokter akan selalu menjunjung tinggi dan mengangkat nama harumnya karena segala kesuksesan itu tentu dilandasi oleh budi/pikiran manusia secara sadar.

namun diduga hal tersebut hanya sebagai metode resmi untuk menenangkan hati mereka. Kenyataannya. ahli kesehatan masyarakat. Perkembangan teknologi dalam dunia kesehatan begitu menggila belakangan ini. dibutuhkan lebih dari sekedar memasukkan subjek etika kedokteran ke dalam kurikulum agar lulusan kedokteran menjadikan humanisme dan perilaku etis sebagai sifat kedua mereka. Begitu barangkali yang ada dalam benak para dokter. ”Kami cukup mengobati mereka yang sakit. Untuk urusan pencegahan penyakit. yang penting pasien itu belum masuk kategori gila (silakan ke ahli jiwa kalau jiwa anda terganggu).tentang jati dirinya sebagai . semua hal-hal tersebut menyebabkan para dokter sangat fokus pada keahlian medis mereka. Kalau ikut-ikutan dalam program pencegahan. bahkan mulai pada tahap awal dari five level prevention. Menurutnya ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut. dokter-dokter berlomba dalam menyempurnakan sisi keilmuannya. ketakutan melakukan malapraktek. Padahal sangat jelas bahwa para dokter pun diharapkan partisipasi aktifnya dalam program pencegahan penyakit. yaitu promosi kesehatan. Mereka tidak perlu repot-repot menangani jiwa pasien mereka. antara lain: · · · · · Pemisahan antara jasad dan jiwa Pemisahan antara pencegahan dan pengobatan Penghambaan diri terhadap teknologi modern Berlebihan dalam mengejar spesialisasi Perbedaan dalam tingkat pelayanan kesehatan Karena tuntutan akan kompetensi profesi yang semakin meningkat. Seorang dokter tentu tidak mau ketinggalan dalam bidang teknologi atau akan dicemoohkan oleh masyarakat -yang sudah semakin kritis. Kegamangan menghadapi masyarakat yang gemar menggugat. Mereka menjadi sangat perhatian dalam menangani keluhan fisik pasien. Seorang dokter bernama Assi Ba‟l mengemukakan kerisauannya tentang profesi dokter saat ini. bisa-bisa kita dituding mengambil lahan kerja mereka”. yang penting pasien sembuh dari derita fisiknya. Benar bahwa etika kedokteran termasuk dalam kurikulum pada beberapa sekolah kedokteran. diserahkan dengan hormat kepada temanteman mereka.pendidikan kedokteran dan dalam bidang penelitian kedokteran. peningkatan kejahatan moral oleh praktisi medis.

Kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkan kehidupan kita kelak. Ditopang oleh kecenderungan masyarakat yang selalu mengandalkan dokter spesialis dan bertindak merujuk dirinya sendiri langsung kepada seorang ahli. marilah kita jalani sendiri-sendiri tanpa saling mengganggu. . Teknologi modern adalah suatu keharusan. Salah satu hal yang dapat memfasilitasi kebutuhan itu adalah dengan bersekolah kembali. Tentu saja kita tidak dapat menyalahkan dokter yang berniat meneruskan minatnya pada ilmu tertentu. This is our own life. Ikut pendidikan dokter spesialis tentunya akan membuat para dokter akan terus-menerus berhubungan dengan perkembangan teknologi karena pusat pendidikan berada di kota-kota besar. serta adanya jaminan income yang lebih menjanjikan. Ini betul. Tidak ada istilah. Menurut Anda.seorang profesional. apakah semua ini tidak cukup membuat seorang dokter merasa terbebani sehingga punya waktu lagi untuk memikirkan perasaan pasiennya? Tidak cukupkah dia dapat menghilangkan keluhan pasien-pasiennya dan meringankan derita fisik mereka? Dan ada apa dengan orang-orang di sekelilingnya. Tapi apakah memang semuanya harus berjalan demikian? Betulkah semata-mata tangan dingin sang dokter saja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah pasiennya? Mari kita lihat bagaimana humaniora memandang kehidupan seorang dokter. toh mereka mempunyai kehidupan masing-masing yang tidak memerlukan campur tangan batinnya. dan yang menjadi prioritas tentunya pendidikan spesialisasi. walaupun dokter itu baru saja kembali dari daerah terpencil yang harus didiaminya selama dua-tiga tahun. selama dia tidak merugikan mereka. dokter tidak mengerti tentang perkembangan jaman. membuat mereka berlomba-lomba meraih gelar tersebut.

1960). Dokter pada jaman itu dianggap tidak berdarah murni dan tidak pernah diundang pada acara-acara sesajian untuk dewa-dewa. ketergantungan. tapi dilandasi atas dasar belas kasih. Pada level yang berbeda. dokter bedah dan ahli obat-obatan dianggap seperti pedagang dan termasuk kelas . sejak jaman dahulu orang-orang suci. Motif mereka dalam menyembuhkan orang sakit mungkin tidak sepenuhnya untuk kepentingan orang sakit tersebut karena mereka memperoleh keuntungan dalam tatanan sosial atas bantuan tersebut. orang liar. dan kepercayaan yang utuh dari pasien terhadap otoritas. melibatkan kepatuhan. Dokter praktek dan spesialis saat ini memiliki hubungan dokter-pasien ‟one-to-one‟ yang unik dan sangat pribadi. Misalnya seorang ibu yang merawat anak atau bayinya yang sedang sakit. Di Inggris abad ke-18. dan keinginan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Pada masa kekaisaran Roma. orang asing. Tetapi martabat dan status profesi dokter dulunya tidak setinggi seperti yang kita lihat sekarang. Kasta Brahmana tidak seharusnya menerima makanan dari seorang dokter karena dianggap najis/kotor (Rao & Radhalaksmi. pengetahuan dan keterampilan dokternya. belas kasih terhadap penderitaan pasien. hanya dokter kerajaan yang memiliki status yang tinggi. Misalnya pada jaman India kuno. pendeta. sementara seorang wanita tua di antara para warga merespon permintaan bantuan ibu tadi.Humanisme dan etika dalam praktek kedokteran Merawat orang sakit pada level fundamental berakar pada jiwa manusia dan humanisme. Mereka semua tidak memiliki motif yang berkaitan dengan uang dalam memberikan bantuan. Dengan otoritas tersebut terciptalah unsur kewajiban sosial untuk melayani dengan belas kasih kepada mereka yang percaya dan bergantung kepada kita. kita diyakinkan bahwa masalah sosialnya berakar pada sikap humanisme. dokter adalah pekerja berat. Saat hal tersebut dikaitkan dengan profesi dokter. disamping adanya kekuasaan dan otoritas yang diberikan pada mereka dalam masyarakat. tabib dan dukun telah merawat orang-orang sakit karena adanya keyakinan bahwa penyakit adalah manifestasi dari pengaruh iblis yang dilakukan dengan perantaraan tuhan atau makhluk supernatural atau manusia lain. kenalan/keluarga sekitarnya menawarkan bantuan berupa saran/nasihat dimanapun diinginkan. dan pengobatan dianggap sebagai pekerjaan rendah.

Dari praktek mandiri. bahwa semua pernyataan tentang etika dapat disesuaikan secara profesional dengan dunia medis. Bahkan sekurangnya di abad 19. dan bertindak sebagai „teman dan penuntun yang dapat dipercaya‟. baik berupa uang maupun berupa hasil-hasil pertanian seperti yang masih terdapat di negaranegara berkembang di beberapa daerah dan desa yang miskin. Namun. bukan hanya keterampilan seperti pada pekerjaan tukang. publikasi. segala yang menjadi karakter sebuah profesi juga didapatkan. sekolah kedokteran yang dapat dikontrol) dan bertujuan memberikan pelayanan yang humanistik kepada masyarakat untuk kepentingan mereka. di samping merawat orang-orang sakit dalam keluarga itu. Perkembangan kota-kota besar dan rumah-rumah sakit di abad 18 dan 19 membuat dokter-dokter desa perlahan menghilang dan semakin banyak dokter menetap di daerah kota untuk berpraktek. pola praktek di negara-negara industri berubah sama sekali dengan ekonomi berorientasi pasar. Dan tidak satupun yang berkenaan dengan aspek humanistik. Namun harus dicatat. mengontrol semua yang ingin memasuki profesi ini. Dalam dekade terakhir abad 20. Dengan tercapainya status profesi itu. Profesi kedokteran selanjutnya menyusun lembaga profesi struktural (asosiasi. menetapkan standar kompetensi melalui pelatihan termasuk teori. Pola praktek dokter pada awal abad delapanbelas bersifat „biaya pelayanan tunggal‟ yaitu seorang dokter memberikan pelayanan medis dan untuk itu dia dibayar. bermula di akhir abad ke-19. dokter di Perancis sangat miskin dan statusnya juga rendah (Starr. secara perlahan kedokteran berubah statusnya dari sekedar tukang/pekerja berat menjadi sebuah profesi dan bersamaan dengan itu kekuasaan dan martabat profesi dokter juga meningkat seterusnya hingga di abad 20 ini. 1949). Ini adalah masa dokter pedesaan atau dokter „kuno‟ atau dokter keluarga yang mengetahui dengan baik keluarga tersebut. sekarang . Hilangnya dokter pedesaan atau dokter keluarga memulai timbulnya „pelayanan dehumanisasi‟ di rumah-rumah sakit. dengan perkembangan dan kemajuan ilmu kedokteran dan kemampuan para dokter mempengaruhi perjalanan penyakit secara radikal. Kedokteran memiliki otonomi.pinggiran. berkeliling ke rumah-rumah. Prinsip-prinsip etika telah menjadi bagian yang mendasar sejak masa awal dan berkaitan dengan kewajiban dan tanggung-jawab seorang dokter.

saudara-saudara. pemandangan seperti itu sangat jarang kita rasakan. Tapi. Harga-harga obat melambung dan penggunaan peralatan medis yang canggih berkonsekuensi dengan pembayaran yang tinggi. dokter membayar asuransi untuk dirinya. Manager di bidang kesehatan ini – ekonom dan CEO (pejabat eksekutif). hasilnya adalah meningkatnya komersialisasi layanan medis dan bertumbuhnya industri medis yang kompleks. Keadaan ini pun sudah terlihat di negara kita. Dia tertarik pada kritik sang pemain. yang berperan sebagai dr. hasilnya kalah atau menang. yang berujung pada „pelayanan dehumanisasi‟. Banyak dokter melayani pasiennya dengan senyum.kebanyakan dokter praktek berkelompok di bawah persetujuan formal penggunaan fasilitas dan peralatan medis bersama-sama dan pendapatan didistrubusikan sesuai perjanjian awal dengan melibatkan personalia kesehatan. Anda menangani pasien. Hunter Adam: “Anda bahkan tidak melihat kepada pasien saat Anda berbicara pada mereka” dan saat dia berbicara melawan Badan Medis: “Kematian bukanlah musuh. tapi sebuah kelalaian. Kedokteran tidak lagi merupakan industri rakyat seperti saat dokter berpraktek mandiri. ramah. Perubahan ini mewarnai sikap dan tingkah laku profesi yang menekankan pada aspek finansial dan teknologi dalam terapi dan merusak panggilan altruistik dan humanistik sang dokter. sopan dan penuh tatakrama. yang tentu berdampak pada pasien sehingga biaya layanan kesehatan semakin tinggi. semakin dokter bergantung pada teknologi semata. semakin mereka kehilangan rasa kemanusiaannya. Kalangan bisnis melihat pasar besar dalam lapangan kesehatan. berjudul “Patch Adam”. Anda menangani penyakit. yang semakin sering memutuskan jenis praktek pelayanan dan jenis organisasi dibandingkan para dokter. seorang dokter di Myanmar menelaah sebuah film bergenre kedokteran. Telah dikatakan. Menampakkan pengertian akan derita pasiennya dan tidak . anda akan menang bagaimanapun hasil akhirnya”. tapi yang kita bicarakan dalam kaitannya dengan humanisme adalah dokter melayani pasiennya dengan melihat ke dalam perasaan pasiennya. Lagi menurut Profesor Tu. Ada berapa banyak dokter yang betul-betul menangani pasiennya dengan rasa belas kasih? Saya tidak menyatakan bahwa tidak ada dokter yang memiliki rasa belas kasih karena saya mengenal beberapa dokter yang betul-betul menangani pasiennya dengan hati. Hal tersebut ditambah dengan ketakutan akan tuntutan malapraktek.

Tempatkan saja diri Anda pada posisi mereka. 1958). Terdapat rumah-rumah sakit yang besar di Damascus. Butuh terjadinya suatu epidemi (kolera) untuk terbentuknya Badan Kesehatan sebagai badan resmi walaupun sebelumnya negara telah megambil alih langkah darurat jika terjadi penyakit epidemik. hingga mereka mampu kembali bekerja (Guthrie. Pelayanan kesehatan di Eropa. khususnya Inggris relatif terlambat. Itu tidak sulit dilakukan. aspek-aspek estetika (seperti memainkan musik lembut di malam hari untuk membantu mereka yang sulit tidur).semata-mata memburu apa yang menjadi diagnosis agar pengobatannya tepat dan pasien ini segera menyingkir dari kehidupannya yang cukup sibuk. Kordoba. pemegang kekuasaan bertanggung-jawab terhadap kesehatan rakyatnya. Anda keliru jika menyangka pasien tidak membutuhkan sentuhan humanisme. bahkan tempat khusus semacam rumah sakit untuk kebidanan dan bedah. Lalu nilai. Pada saat Abad Kegelapan baru saja terangkat dari Eropa. situasi mana yang lebih Anda sukai. ditangani oleh dokter yang berwajah dingin yang sibuk meneliti penyakit Anda atau oleh dokter yang menunjukkan perasaan kasih akan tiap keluhan Anda. Kerajaan Romawi mengatur tempat layanan kesehatan untuk orang-orang miskin yang akan dikunjungi oleh dokter-dokter umum untuk memberikan pemeriksaan kesehatan yang dibutuhkan. Humanisme dan etika dalam pelayanan kesehatan Sejak jaman dulu. kedokteran di negaranegara Arab sangat berkembang. Raja pada jaman Indis kuno membangun tempat untuk orang-orang sakit dan cacat. dan aspek-aspek yang dapat meningkatkan semangat mereka (seperti membacakan kisah-kisah yang menggugah jiwa pasien). Bahkan pasien diberikan sejumlah uang yang dapat menutupi kekurangan semasa sakit. dan Kairo yang memperhatikan segala aspek dari layanan kesehatan termasuk aspek humanistik seperti sisi spiritualnya (memperdengarkan Al-Quran sepanjang saat tanpa henti). Perkembangan spektakuler di dunia medis pada masa-masa setelahnya . Ini adalah pendekatan yang betul-betul manusiawi. dan tepat jika menduga bahwa mereka akan lebih nyaman dengan dokter yang menatap mereka saat melakukan anamnesis dan memperlihatkan sikap menerima dan mengerti akan segala keluhannya.

nilai-nilai dan metode hidupnya serta cara guru menghadapi pasiennya. jika penentu kebijakan terutama dalam bidang kesehatan memperhatikan masalah ini dan berangkat dengan keikhlasan untuk berbuat demi kemanusiaan. Idealnya. dikembangkan filosofi baru mengenai pelayanan kesehatan berbasis persamaan dan keadilan sosial yang berakhir pada gerakan Pelayanan Kesehatan Primer dan Kesehatan untuk Semua (World Health Organisation. secara pribadi hal tersebut sulit dilaksanakan. tingkah laku moral. Sekarang ini. biaya pelayanan kesehatan akhirnya meningkat. dalam era pasar ekonomi. seorang murid tidak hanya belajar dari guru. dokter mampu melakukan praktek hingga menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Dan akibatnya pelayanan terhadap masyarakat miskin terabaikan. Tentu. 1981) Seperti telah disebutkan sebelumnya. kedokteran telah menjadi bisnis besar hingga di negara-negara berkembang. Karena bisnis bersifat mengejar keuntungan. Humaniora dan etika dalam pendidikan kedokteran Lantas. maka teknologi yang tercanggih sekalipun dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak. Karena kontak yang sangat dekat dengan gurunya. singkatnya „bedside manner‟ sang guru tadi. agar nilai-nilai humanisme tetap terjaga. Ditambah lagi dengan dokter-dokter yang terlatih di rumah sakit yang sangat sedikit dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi masalah kesehatan dalam masyarakat dan perkembangan baru dalam pelayanan kesehatan. Teknologi tersebut membutuhkan biaya yang mahal sehingga tidak mampu digapai oleh masyarakat miskin. pelatihan untuk menjadi seorang dokter bermula dari sistem magang. tapi menyerap filosofi. Tapi.mengubah pola tingkah dokter dan pelayanan kesehatan. Baik di dunia barat maupun dalam budaya timur. murid kedokteran di India misalnya. Sejak jaman dulu. . yaitu suatu sistem pelatihan yang bersifat desentralisasi di mana murid dan gurunya terikat dalam suatu hubungan pribadi. apa yang bisa menjadikan seorang dokter memiliki kemampuan teknis sekaligus sikap humanistik dalam perilaku profesinya? Apakah itu bagian dari pelatihan dan pendidikan mahasiswa kedokteran dengan melihat contoh dari para dosennya? Mari kita lihat bagaimana humanisme dalam pendidikan kedokteran. tinggal di rumah gurunya dan bahkan menjadi anggota keluarga yang ikut mengerjakan segala pekerjaan rumah sang guru. sikap.

perubahan sistem pelatihan mengalami perubahan. Mereka menghindar untuk dirawat di rumah sakit pendidikan karena merasa dijadikan orang coba oleh para ko-ass. Metode pengajaran klinis dengan jumlah mahasiswa yang besar berdampak buruk pada pasien. Dan itu dapat dimulai dari Anda. pendidikan kedokteran telah berjalan dengan baik. sebagai calon dokter. Di negara-negara Islam. Dan metode ini diadaptasi oleh semua sentra pendidikan kedokteran di dunia. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang dilatih di rumah sakit. beberapa pasien mengeluh jika terlalu banyak disentuh oleh mahasiswa (ko-ass). Sebagai mahasiswa. Jika kelak Anda dipercayakan untuk memegang pasien pada saat kepanitraan klinik dan dapat menunjukkan bahwa sebagai mahasiswa kedokteran Anda cukup handal. maka pasien akan dengan senang hati mempercayakan penanganan penyakitnya pada Anda . . terurama pasien-pasien dari golongan menengah ke atas. Mereka ditempatkan di rumah sakit untuk pendidikan kedokteran. Sebetulnya keadaan ini dapat kita hindari bersama. memperhatikan apa yang menjadi persoalan sesungguhnya bagi mereka. mendengar keluhan mereka dengan sabar. Caranya tentu dengan menanamkan kepercayaan kepada pasien dan masyarakat umumnya. tidak akan ada pasien yang menolak Anda. Kerajaan Romawi mengambil alih pelatihan dokter dengan menunjuk guru-gurunya. Anda harus betul-betul memahami semua yang Anda pelajari selama proses pendidikan dan menguasai seluruh kompetensi yang sudah ditetapkan. Pasien tentu tidak akan mengeluh jika tidak merasa dirinya hanya dijadikan objek pembelajaran. Fakultas kedokteran ini tidak hanya melatih para dokter tetapi juga mengontrol tindakan mereka.Karena kebutuhan akan dokter dan ahli bedah semakin meningkat. Sekolah-sekolah kedokteran di Eropa pada abad 9 hingga 13 menjadikan pendidikan kedokteran sebagai basis dan memberikan gelar dokter setelah melalui suatu pendidikan dan ujian tertentu. Apalagi jika dibarengi dengan tindakan yang etis dan penuh sentuhan manusiawi. Sekarang kita mungkin dapat melihatnya di rumah-rumah sakit. Ingatlah pepatah bijak orang tua kita bahwa apa yang dilakukan dari hati sampainya ke hati juga. keadaan pasien yang sebenarnya terabaikan. Kita harus benar-benar tulus menghadapi mereka. Warga yang kaya membangun rumah-rumah sakit yang mempekerjakan dokter-dokter handal yang bertanggung-jawab dalam penanganan pasien sekaligus mengajar murid-murid kedokteran.

Anda akan banyak dibekali dengan pengetahuan tentang etika terutama saat Anda telah menjadi dokter. Selama masa pendidikan. sesama mahasiswa. Maka buatlah mereka pun membutuhkan Anda. Anda akan berhubungan dengan dosen. . seringkali terjadi benturan pendapat. bukan opininya. Apalagi jika yang Anda serang adalah pribadinya. jadi sudah seharusnya kita menyadari konsekuensi dari suatu pilihan. Walaupun Anda yakin bahwa pendapat Andalah yang benar. dan didukung oleh beberapa teman yang lain. adanya beban tugas dari dosen yang tidak habis-habis (walaupun alasan bahwa hal tersebut untuk kepentingan mahasiswa sendiri kadang sulit diterima).berimplikasi pada akhirat yang mengikat muslim yang berakal dan dewasa. Sekarang ini adalah masa yang tepat bagi Anda untuk melatih diri bagaimana bersikap menjadi dokter yang baik. Anda akan berhubungan dengan dosen. Anda memilih untuk menjadi dokter. dan orang-orang dalam lingkungan kampus. Anda. Selama masa pendidikan. Masalahnya. sesama mahasiswa. Belum lagi jika menghadapi persoalan yang berbeda. Sebagai contoh. kita tidak punya pilihan selain menghadapinya. tapi sikap dan perilaku yang baik bukannya tidak dapat diamalkan. Dalam pendidikan tentang bioetik dan humaniora ini. membutuhkan mereka. tapi memayungi semua insan yang mengaku sebagai muslim. dalam berdiskusi dengan teman-teman Anda. Jadi. berarti sedikit banyaknya Anda tahu seperti apa profesi ini. Bahkan ilmu ini tidak terbatas kepada profesi dokter saja. yaitu dalam ilmu tentang akhlak. saat sekarang pun prinsip-prinsip etika sudah harus kita jalankan karena akhlak -yang sumbernya jelas dari Allah SWT. Namun sebenarnya. prinsip-prinsip etika telah tertuang secara lengkap dalam Islam. sangat tidak bijak jika Anda langsung menyalahkan dan mematahkan pendapat teman Anda. tentu akan sulit bagi kita untuk tetap bersikap stabil. pegawai di lingkungan Anda.Dengan begitu. dan orang-orang dalam lingkungan kampus. sebagai mahasiswa. dan waktu yang terasa sangat menghimpit. yaitu kita semua. pegawai di lingkungan Anda. Sekarang ini adalah masa yang tepat bagi Anda untuk melatih diri bagaimana bersikap menjadi dokter yang baik. Betul bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Kita menerima pengakuan sebagai pribadi dewasa. Anda dapat melalui proses pendidikan kedokteran dengan baik karena sebenarnyalah hubungan yang terjadi antara Anda dengan pasien tadi adalah hubungan kerjasama.

Health Service.: Ilmu Budaya Dasar.A. Jakarta. Para pendidik di bidang kedokteran sepakat bahwa tujuan pembelajaran yang baru ini adalah mengarahkan pendidikan kedokteran kepada pengalaman berbasis komunitas. 2001 4. Daftar Pustaka 1. RS. Dengan sistem integrasi yang baru diterapkan. . Etika Kedokteran Indonesia. U. Rineka Cipta. Bagaimana Akhlakmu. Myanmar. model yang berpusat pada pembelajar sehingga memungkinkan dokter untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus berpraktek dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan yang memasukkan aspek-aspek psikososial dan biologi dalam pelayanan kesehatan. Z. J. •Prasetya. Assi Ba‟l. 1992 2. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohrdjo. Anda diharapkan memiliki keterampiln klinis yang lebih terarah.T.. 1998 3. Keaktifan dari Anda sebagai mahasiswa diharapkan karena pembelajaran ini memang dipusatkan pada Anda (student-centered learning). Gema Insani Press. dalam The First Myanmar Academy of Medical Science Oration.: Dokter-dokter. Jakarta.M. Humanism and Ethics in Medical Practice. Tu. Samil. Jakarta. kompetensi yang dikehendaki dijelaskan oleh masingmasing sub divisi pendidikan kedokteran.Dari segi keterampilan. Medical Education and Medical Research.2001.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful