P. 1
Asuhan Keperawatan Pada Klien Pre Dan Post Operasi Sistem Pernafasan

Asuhan Keperawatan Pada Klien Pre Dan Post Operasi Sistem Pernafasan

|Views: 3,194|Likes:
Published by Indri Kristanty

More info:

Published by: Indri Kristanty on May 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PRE DAN POST OPERASI SISTEM PERNAFASAN A. KONSEP PENYAKIT 1.

PENGERTIAN Gangguan pada sistem pernapasan adalah terganggunya pengangkutan O2 ke sel - sel atau jaringan tubuh; disebut asfiksi. Asfiksi ada bermacam-macam misalnya terisinya alveolus dengan cairan limfa karena infeksi Diplokokus pneumonia atau Pneumokokus yang menyebabkan penyakit pneumonia. Keracunan asam sianida, debu, batu bara dan racun lain dapat pula menyebabkan terganggunya pengikatan O2 oleh hemoglobin dalam pembuluh darah, karena daya afinitas hemoglobin juga lebih besar terhadap racun dibanding terhadap O2. Asfiksi dapat pula disebabkan karena penyumbatan saluran pernapasan oleh kelenjar limfa, misalnya polip, amandel, dan adenoid. Gangguan pernapasan yang sering terjadi adalah emfisema berupa penyakit yang terjadi karena susunan dan fungsi alveolus yang abnormal. (http://repository.usu.ac.id)

2. ETIOLOGI ( Penyebab Terjadinya Gangguan Pernapasan ) Penyebab utama penyakit pernapasan, yaitu: a) Mikroorganisme patogen yang mampu bertahan terhadap fagositosis; b) Partikel - partikel mineral yang menyebabkan kerusakan atau kematian makrofag yang menelannya, sehingga menghambat pembersihan dan merangsang reaksi jaringan; c) Partikel - partikel organik yang merespons imun; d) Kelebihan beban sistem akibat paparan terus - menerus terhadap debu berkadar tinggi yang menumpuk disekitar saluran napas terminal. Sedangkan faktor lain yang menyebabkan terjadinya gangguan pernapasan adalah kebiasaan merokok, keturunan, perokok pasif, polusi udara dan riwayat infeksi pernapasan sewaktu kecil. (http://repository.usu.ac.id)

3. PATOFISIOLOGI HIPOKSIA dan HIPOKSEMIA

Hipoksia merupakan suatu mekanisme utama yang terjadi pada penyakit paru – paru akibat adanya penurunan suplai oksigen. Hipoksia itu sendiri berarti kurangnya ( hipo )

oksigen dalam jaringan, sedangkan hipoksemia merupakan kekurangan oksigen pada tingkat darah / arteri ( heme ). (Irman Somantri, 2009, hlm.17) Jenis hipoksia adalah sebagai berikut : a) Hipoksia Hipoksik Hipoksia jenis ini muncul akibat kurangnya suplai oksigen ataupun kadar oksigen yang ada di lingkungan ( tekanan parsial arteri [ PaO2 ] rendah ). Biasanya merupakan masalah individu normal pada dataran tinggi, dimana kadar PO2 sangat rendah sehingga orang yang berada pada tempat tersebut akan merasa kesulitan menarik nafas dan ini merupakan komplikasi dari pneumonia, dapat pula terjadi pada tempat dimana banyak sekali orang dalam satu ruangan dengan ventilasi yang kurang. (Irman Somantri, 2009, hlm.18) Penyebab Hipoksia Hipoksik antara lain adalah : 1) Penurunan PO2 udara inspirasi ( ketinggian, kekurangan oksigen ); 2) Hipoventilasi; 3) Gangguan difusi alveolar kapiler; 4) Rasio ventilasi – perfusi abnormal atau gangguan ventilasi – perfusi.

b) Hipoksia Anemik Terjadi akibat tekanan parsial oksigen arteri ( PaO2 ) normal tetapi jumlah hemoglobin yang tersedia untuk mengangkut oksigen berubah. Sering muncul pada kondisi anemia berat, gagal ginjal kronik, dan lain – lain. Klien dengan anemia dapat sangat mengalami kesulitan sewaktu melakukan aktivitas sebab kemampuan yang terbatas untuk meningkatkan pengangkutan oksigen ke jaringan yang aktif. (Irman Somantri, 2009, hlm.18)

c) Hipoksia Stagnan / iskemik Hipoksia terjadi akibat adanya penurunan stroke volume dan cardiac output yang mengakibatkan penurunan konsumsi oksigen oleh jaringan. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke jaringan sangat lambat, sehingga oksigen yang adekuat tidak dapat dikirim ke jaringan walaupun PO2 dan konsentrasi hemoglobin normal. Kondisi ini sering terjadi pada kondisi gagal jantung. (Irman Somantri, 2009, hlm.18)

d) Hipoksia histotoksik Jenis ini terjadi akibat adanya zat racun yang masuk bersama dengan udara yang dihirup. Hipoksia ini disebabkan karena penghambatan proses oksidasi jaringan. Sering timbul pada area tambang atau pada kondisi polusi dan kasus yang paling berat adalah keracunan sianida. (Irman Somantri, 2009, hlm.18) HIPERKAPNEA Secara harfiah hiperkapnea adalah berlebihnya ( hiper ) karbon dioksida dalam jaringan. Mekanisme penting yang mendasari terjadinya hiperkapnia adalah ventilasi alveolar yang inadekuat untuk jumlah CO2 yang diproduksi atau dengan kata lain timbulnya retensi CO2 di dalam jaringan. (Irman Somantri, 2009, hlm.19) Faktor yang mendasari hal tersebut terjadi adalah sebagai berikut. 1) Produksi CO2 yang meningkat. 2) Dorongan ventilasi menurun ( klien tidak mau bernafas ). 3) Malfungsi pompa respirasi atau resistensi saluran nafas yang meningkat , sehingga menyulitkan klien mempertahankan ventilasi adekuat ( klien tidak dapat bernafas ). 4) Inefisiensi pertukaran gas ( ketidakcocokkan rasio ventilasi – perfusi atau ruang rugi atau anatomical dead space yang meningkat ).

4. PATHWAY ( Pohon Masalah ) Hipoventilasi

Hipokapnia Hipoksemia

Gangguan pada Sistem Pernafasan

Gangguan pada Sistem Kardiovaskuler

Paru - Paru

Pembuluh Darah

Penekanan Pusat Pernafasan

Gas Darah Arteri Abnormal

pH Menurun ( Alkalosis Respiratorik )

Asidosis Metabolik

Ventilasi tidak adekuat

Gangguan Sistem Oksigenasi

Sumber : scribd.com/patofisiologi

5. TANDA DAN GEJALA Tanda klinis klien hipoksia (Arif Muttaqin, 2008 ) Hipoksia dapat terjadi secara akut atau kronik. Gejala awal dari hipoksia adalah peningkatan denyut nadi, peningkatan jumlah dan kedalaman nafas, dan diikuti peningkatan tekanan darah sistolik. Gejala lanjutan hipoksia mencakup penurunan denyut nadi dan penurunan tekanan darah sistolik, dispnea, batuk, hemoptisis, serta kemungkinan sianosis dapat timbul. Gejala lain pada hipoksia akut adalah nause, vomiting, oliguria, dan mungkin anuria. Hipoksia dapat memengaruhi sistem saraf pusat, sehingga dapat menyebabkan sakit kepala, apatis ( penurunan kesadaran ), dizzines, iritabilitas, dan kehilangan memori. Korteks serebral hanya dapat menoleransi terjadinya hipoksia selama 3 – 5 menit. Pada kondisi lanjut, pada jari klien biasanya timbul clubbing finger. Terjadinya clubbing finger disebabkan oleh terhambatnya pengangkutan oksigen dan suplai darah arteri ke jari yang ditandai dengan pembengkakan pada dasar jari menjadi dan meningkatnya ukuran ujung jari, sudut antara jari, dan dasar jari yang lebih dari 160°.

Gambar 1 : Clubbing Finger Sumber : healthcentral.com

Tanda - Tanda dan Gejala Gangguan Pernapasan Yang termasuk tanda dan gejala gangguan pernapasan adalah batuk, sputum ( dahak ), dispnea, nyeri dada. (http://repository.usu.ac.id)

a) Batuk Batuk merupakan gejala paling umum dari penyakit pernapasan. Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia dan peradangan. Inhalasi debu, asap dan benda asing kecil sering merupakan penyebab paling sering dari batuk. b) Sputum ( dahak ) Orang dewasa membentuk sputum sekitar 100 ml dalam saluran napas setiap hari, sedangkan dalam keadaan saluran napas terganggu biasanya sputum yang dihasilkan melebihi 100 ml per hari. c) Hemoptisis Istilah yang digunakan untuk menyatakan batuk darah atau sputum berdarah. d) Dispnea Dispnea sering juga disebut dengan sesak napas, perasaan sulit bernapas dan merupakan gejala utama penyakit kardiovaskuler. e) Nyeri dada Nyeri dada terjadi dari berbagai penyebab, tetapi yang paling khas dari penyakit paru - paru adalah akibat radang pleura.

6. KLASIFIKASI ( Arif Muttaqin, 2008 ) a) Klien dengan infeksi dan inflamasi sistem pernafasan : 1. Tuberkolusis Paru 2. Pneumonia 3. Abses paru 4. Bronkhitis b) Klien dengan gangguan pleura : 1. Efusi pleura 2. Pneumothoraks 3. Empiema 4. Hematothoraks

c) Klien dengan gangguan jalan nafas : 1. Penyakit Paru Obstruktif Menahun 2. Emfisema 3. Asma Bronkhial 4. Status Asmatikus 5. Bronkhiektasis d) Klien dengan keganasan sistem pernafasan : 1. Karsinoma Bronkhogenik 2. Karsinoma Mediastinum e) Klien dengan gangguan pernafasan : 1. Gagal Nafas 2. Adult Respiratory Distress Syndrome 3. Penyakit Jantung – Paru ( Kor Pulmonal ) 4. Embolisme Paru

7. FAKTOR – FAKTOR Faktor yang mempengaruhi respirasi (Irman Somantri, 2009, hlm.16 - 17) 1. Efek Ketinggian ( Altitude ) Pada tempat yang tinggi biasanya tekanan parsial oksigen ( PO2 ) turun, darah dalam arteri di bawah tekanan parsial oksigen arteri ( PaO2 ), sehingga terjadi peningkatan laju dan ke dalaman respiratori.

2. Lingkungan Pada lingkungan yang panas terjadi dilatasi ( pelebaran ) pembuluh darah perifer, hal ini mengakibatkan darah mengalir ke kulit sehingga akan meningkatkan jumlah kehilangan panas dari permukaan tubuh.

3. Emosi Kerja dari jantung dipengaruhi oleh pusat tertinggi dari serebrum melalui hipotalamus, dimana terdapat pusat stimulasi jantung ( cardioinhibitory dan cardioaccelerator ) di medula. Jarak motorik dari pusat tersebut dibawa oleh impuls kepada neuron simpatis dan parasimpatis, yang kemudian ditransmisikan ke jantung.

4. Aktivitas dan Istirahat Latihan / kegiatan akan meningkatkan laju respirasi dan menyebabkan peningkatan suplai serta kebutuhan oksigen dalam tubuh.

5. Kesehatan Pada seseorang yang sehat, sistem kardiovaskuler dan pernafasan secara normal menyediakan oksigen bagi kebutuhan tubuh. Pada penyakit sistem kardiovaskuler, hal ini sering kali berdampak terhadap pengangkutan oksigen ke sel tubuh, sedamgkan penyakit sistem pernafasan dapat memengaruhi oksigenasi dalam darah. Pada kedua kasus tadi, hipoksemia dapat timbul.

6. Gaya Hidup Klien yang merokok atau terpapar polusi udara akan dapat mengindikasikan adanya gangguan paru – paru.

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi penyakit paru dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu sebagai berikut. (Irman Somantri, 2009, hlm.21) 1. Metode morfologis : radiologi, bronkoskopi, dan pemeriksaan biopsi sputum ( dahak ). 2. Metode fisiologis : pengukuran gas darah dan tes – tes fungsi ventilasi.

Metode Morfologis 1) Radiologi Toraks merupakan tempat yang ideal untuk pemeriksaan radiologi. Parenkim paru yang berisi udara memberikan resistensi yang kecil terhadap jalannya sinar X, karena itu parenkim menghasilkan bayangan yang sangat bersinar - sinar. Jaringan lunak dinding dada, jantung dan pembuluh - pembuluh darah besar serta diafragma lebih sukar ditembus sinar X dibandingkan parenkim paru sehingga bagian ini akan tampak lebih padat pada radiogram. Struktur toraks yang bertulang ( termasuk iga, sternum dan vertebra ) lebih sulit lagi ditembus, sehingga bayangannya lebih padat lagi.

Gambar 2 : Chest X-Ray ; Sumber : meddean.luc.edu

2) Bronkoskopi Merupakan suatu teknik yang memungkinkan visualisasi langsung trakea dan cabang - cabang utamanya. Cara ini paling sering digunakan untuk memastikan diagnosis karsinoma bronkogenik, tetapi dapat juga digunakan untuk mengangkat benda asing.

Gambar 3 : Bronchoscope ; Sumber : asiancancer.com

3) Pemeriksaan Biopsi Contoh jaringan yang dapat digunakan untuk pemeriksaan biopsi adalah jaringan yang diperoleh dari saluran pernafasan bagian atas dan bawah dengan menggunakan teknik endoskopi yang memakai laringoskop atau bronkoskop. Manfaat utama biopsi paru – paru terutama berkaitan dengan penyakit paru – paru difus yang tidak dapat didiagnosis dengan cara lain.

4) Pemeriksaan sputum Penting dilakukan untuk mendiagnosis etiologi berbagai penyakit pernafasan. Pemeriksaan mikroskopik dapat menjelaskan organisme penyebab pada berbagai pneumonia bakterial, tuberkulosis, serta berbagai jenis infeksi jamur. Pemeriksaan sitologi eksfoliatif pada sputum dapat membantu dalam mendiagnosis karsinoma paru. Waktu terbaik untuk pengumpulan sputum adalah setelah bangun tidur, karena sekresi abnormal bronkus cenderung untuk berkumpul pada waktu tidur.

Metode Fisiologis 1) Analisa Gas Darah Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien - pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar oksigenasi dalam darah, kadar karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan “ ASTRUP ”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, Arteri brachialis, dan Arteri Femoralis. Tes PaO2 PaCO2 pH HCO3 SaO2 Rentang Normal Dewasa 80 – 100 mmHg 35 – 45 mmHg 7,35 – 7,45 21 – 28 mEq/L 95% - 100%

Sumber : Perry dan Potter, 2001

2) Tes Fungsi Paru Frekuensi pernapasan orang dewasa normal berkisar 12 - 16 kali permenit yang mengangkut kurang lebih 5 liter udara masuk dan keluar paru. Volume yang lebih rendah dari kisaran normal seringkali menunjukkan malfungsi sistem paru. Volume dan kapasitas paru diukur dengan alat berupa spirometer atau spirometri, sedang hasil rekamannya disebut dengan spirogram. (www.duniaalatkedokteran.com) Udara yang keluar dan masuk saluran pernapasan saat inspirasi dan ekspirasi sebanyak 500 ml disebut dengan volume tidal, sedang volume tidal pada tiap orang sangat bervariasi tergantung pada saat pengukurannya. Rata-rata orang dewasa 70% (350 ml) dari volume tidal secara nyata dapat masuk sampai ke bronkiolus, duktus alveolus, kantong alveoli dan alveoli yang aktif dalam proses pertukaran gas. Sedang sisanya sebanyak 30% ( 150 ml ) menetap di ruang rugi ( anatomic dead spac e). Volume total udara yang ditukarkan dalam satu menit disebut dengan minute volume of respiration ( MVR ) atau juga biasa disebut menit ventilasi. MVR ini didapatkan dari hasil kali antara volume tidal dan frekuensi pernapasan normal permenit. Rata - rata MVR dari 500 ml volume tidal sebanyak 12 kali pernapasan permenit adalah 6000 ml / menit. Volume pernapasan yang melebihi volume tidal 500 ml dapat diperoleh dengan mengambil nafas lebih dalam lagi. Penambahan udara ini biasa disebut volume cadangan inspirasi ( Inspiratory reserve volume ) sebesar 3100 ml dari volume tidal sebelumnya, sehingga volume tidal totalnya sebesar 3600 ml. Meskipun paru dalam keadaan kosong setelah fase ekspirasi maksimal, akan tetapi sesungguhnya paru - paru masih memiliki udara sisa yang disebut dengan volume residu yang mempertahankan paru - paru dari keadaan kollaps, besarnya volume residu sekitar 1200 ml.

9. PENGOBATAN Agen farmakologi untuk penyakit saluran pernafasan ( Irman Somantri, 2009, hlm. 33 ) 1) Antimikrobial ( Antibiotik )

Biasanya Ampicillin dan Tetracycline dapat digunakan untuk mengobati infeksi paru. Meskipun begitu penyebab yang sering pada infeksi saluran pernafasan adalah virus. Pengobatan untuk infeksi virus bersifat simptomatik.

2) Bronkodilator Bekerja langsung pada otot bronkus untuk mengurangi bronkospasme. Biasanya dibedakan menjadi dua grup yaitu sebagai berikut.   Β-adrenergik, seperti Albuterol ( Ventolin ). Theophyline, seperti Aminophyline. Efek samping yang biasa terjadi adalah peningkatan denyut jantung ( heart rate ), palpitasi, nervousness, tremor, mual ( nausea ) dan anoreksia.

3) Adrenal Glukokortikoid ( Prednison ) Digunakan untuk mengurangi inflamasi, dengan cara mempertebal dinding bronkial dan menurunkan ukuran dari lumen bronkial.

4) Antitusif Berfungsi untuk menghambat refleks batuk pada pusat batuk. Seperti Benzinatate ( Tessalon ), Codein Phosphate, Dextrometorphan Hydrobromida ( Robitusin DM ), dan Hydrocodone Bitartrate ( Hycodan ).

5) Mukolitik Membantu mengencerkan sekresi pulmonal agar dapat diekspektorasikan. Obat ini diberikan kepada klien dengan sekresi mukus yang abnormal, kental pada penyakit akut dan kronis seperti pneumonia, brokitis, tuberkulosis serta kistik fibrosis. Acetilcystein ( Mucomyst ) berbentuk aerosol dapat digunakan untuk mengurangi kekentalan dari sekresi.

6) Antialergenik Cromolyn Sodium ( Intal ) merupakan antialergen yang khusus untuk klien dengan asma. Obat ini mampu menstabilkan mast sel serta menghambat pelepasan mediator tipe I dari reaksi alergi ( histamin dan Slow – Reacting Substance of Anaphylaxis – SRS – A ).

7) Vasokonstriktor dan Dekongestan Pengobatan ini diberikan dengan beberapa cara, yaitu topikal, parenteral, dan oral. Contoh dekongestan adalah Ephedrine Sulfate dan Phenylephrine Hydrochloride.

10. PENATALAKSANAAN MEDIS 1) Terapi Oksigen ( Irman Somantri, 2009 ) Oksigen tambahan diberikan untuk beberapa klien yang mengalami hipoksemia. Jika hipoksemia teratasi, maka hipoksia akan dapat dicegah. Terdapat tiga indikasi utama untuk pemberian oksigen yaitu sebagai berikut : a) Menurunnya arterial blood oxygen. b) Meningkatnya kerja nafas. c) Kebutuhan untuk menurunkan kerja miokardial. 2) Fisioterapi Dada Terdiri atas postural drainase, perkusi dada, dan vibrasi dada. Biasanya ketiga metode ini digunakan pada posisi yang berbeda diikuti dengan nafas dalam dan batuk. 3) Inhalasi Nebulizer Alat bantu pernapasan yang dapat digunakan sebagai terapi untuk mengencerkan dahak dengan pengasapan ( terapi uap ). 4) Pemberian pengobatan sesuai indikasi. 5) Dukungan Nutrisi sesuai kebutuhan.

11. KOMPLIKASI Meskipun secara umum terapi oksigen ini aman digunakan, tetapi terdapat beberapa komplikasi yang dapat timbul akibat dari pemberian oksigen tambahan seperti berikut ini. (Irman Somantri, 2009) a) Oxygen – induced Hypoventilation. b) Oxygen Toxicity. c) Atelektasis. d) Occular Damage.

B. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PRE DAN POST OPERASI SISTEM PERNAFASAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN PRE OPERASI 1. Pengertian Pre Operasi Preoperasi merupakan tahapan dalam proses pembedahan yang dimulai prabedah

( preoperatif ), bedah ( intraoperatif ), pascaoperatif ( postoperatif ).Prabedah merupakan masa sebelum dilakukannya tindakan pembedahan dimulai sejak ditentukannya persiapan pembedahan dan berakhir sampai pasien di meja bedah. Intra bedah merupakan masa pembedahan yang dimulai sejak ditransfer kemeja bedah dan berakhir sampai pasien dibawa ke ruang pemulihan. Pasca bedah merupakan masa setelah dilakukan pembedahan yang dimulai sejak pasien memasuki ruang dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya. (scribd.com)

2. Pengkajian psikososial Dengan mengumpulkan riwayat kesehatan secara cermat, perawat menemukan kekhawatiran pasien yang dapat menjadi beban langsung selama pengalaman pembedahan. Tidak diragukan lagi pasien yang mengalami pembedahan ini dilingkupi oleh kecemasan, termasuk ketakutan akan ketidaktahuan dan lain sebagainya. Akibatnya, perawat harus memberikan dorongan untuk pengungkapan, dan harus mendengarkan, memahami, dan memberikan i n f o r m a s i y a n g m e m b a n t u m e n y in g k I r k a n k e k h a w a t I r a n tersebut. Untuk pasien pre operatif berbagai kecemasan yang cukup besar cemas dan takut terhadap anastesia, takut terhadap rasa nyeri dan kematian atau ancamanlain yang dapat menimbulkan ketidak tenangan dan ansietas berat.Perawat dapa tmelakukan banyak hal untuk menghilangkan kekhawatiran itu supaya dapat memberikan perasaan tenang pada pasien apabila memungkinkan. (scribd.com)

3. Pengkajian fisik umum Sebelum pengobatan dimulai, riwayat kesehatan dikumpulkan dan pemeriksaan fisik dilakukan, selama pemeriksaan fisik tersebut, tanda-tanda vital di catat dan data dasar ditegakan untuk pembandingan dimasa yang datang, pemeriksaan diagnostik dilakukan seperti Analisis Gas Darah ( AGD ), pemeriksaan rontgen, endoskopi, biopsi jaringan, dan pemeriksaan feses dan urin, perawat berada dalam posisi untuk membantu pasien memahami perlunya pemeriksaan diagnostic adalah suatu kesempatan selama pemeriksaan fisik untuk memperhatikan temuan fisik yang signifikan, seperti

decubitus, edema, atau bunyinafas yang ab n o r m a l, yang lebih jauh menggambarkan k o n d i s i k e s e l u r u h a n pasien. (scribd.com)

Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara lain : (nurseducation.com)

1) Status kesehatan fisik secara umum Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan secara umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain - lain. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup, karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres fisik, tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal.

2) Status Nutrisi Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah ( albumin dan globulin ) dan keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi ( terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu ), demam dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.

3) Keseimbangan cairan dan elektrolit Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output cairan. Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar elektrolit yang biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum ( normal : 135 -145 mmol/l ), kadar kalium serum ( normal : 3,5 - 5 mmol/l ) dan kadar kreatinin serum ( 0,70 - 1,50 mg/dl ). Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat - obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat

dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri / anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasuskasus yang mengancam jiwa.

4) Kebersihan lambung dan kolon Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema / lavement. Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam ( biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24.00 WIB ). Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi ( masuknya cairan lambung ke paru-paru ) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. Khusus pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO ( segera ), seperti pada pasien kecelakaan lalu lintas. Maka pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT ( naso gastric tube ).

5) Pencukuran daerah operasi Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat menjadi tempat bersembunyi kuman dan juga mengganggu / menghambat proses penyembuhan dan perawatan luka. Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu yang tidak memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien luka incisi pada lengan. Tindakan pencukuran ( scheren ) harus dilakukan dengan hati - hati jangan sampai menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sering kali pasien di berikan kesempatan untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman. Daerah yang dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan dioperasi. Biasanya daerah sekitar alat kelamin ( pubis ) dilakukan pencukuran jika yang dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. Misalnya : apendiktomi, herniotomi, uretrolithiasis, operasi pemasangan plate pada fraktur femur, hemmoroidektomi. Selain terkait daerah pembedahan, pencukuran pada lengan juga dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan.

6) Personal Hygine Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada daerah yang dioperasi. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan

lebih seksama. Sebaliknya jika pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan memeberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.

7) Pengosongan kandung kemih Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter. Selain untuk pengongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk mengobservasi balance cairan.

8) Latihan Pra Operasi Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti : nyeri daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan.

Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain : a) Latihan Nafas Dalam Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :       Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang. Letakkan tangan diatas perut Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat. Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut. Lakukan hal ini berulang kali (15 kali). Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.

b) Latihan Batuk Efektif Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang mengalami operasi dengan anstesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teranstesi. Sehingga ketika sadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret tersebut. Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :    Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari - jari tangan dan letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk. Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam ( 3-5 kali ) Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada tenggorokan. Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi.   Ulangi lagi sesuai kebutuhan. Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.

c) Latihan Gerak Sendi Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat proses penyembuhan. Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut / flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun

kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.

4. Persiapan Penunjang Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tindakan pembedahan. Tanpa adanya hasil pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak meungkin bisa menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan radiologi, laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti ECG, dan lain-lain. Sebelum dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasien, dokter melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien. Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi maka dokter anstesi berperan untuk menentukan apakan kondisi pasien layak menjalani operasi. Untuk itu dokter anastesi juga memerlukan berbagai macam pemrikasaan laboratorium terutama pemeriksaan masa perdarahan ( bledding time ) dan masa pembekuan ( clotting time ) darah pasien, elektrolit serum, Hemoglobin, protein darah, dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan EKG.

5. Pemeriksaan Status Anastesi Pemeriksaaan status fisik untuk dilakukan pembiuasan dilakukan untuk keselamatan selama pembedahan. Sebelum dilakukan anastesi demi kepentingan pembedahan, pasien akan mengalami pemeriksaan status fisik yang diperlukan untuk menilai sejauh mana resiko pembiusan terhadap diri pasien. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA ( American Society of Anasthesiologist ). Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi pernafasan, peredaran darah dan sistem saraf. Berikut adalah tabel pemeriksaan ASA.

6. Persiapan Mental / Psikis Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Long). Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan dan ketakutan antara lain :Pasien dengan riwayat hipertensi jika

mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi terpaksa harus ditunda. Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi pengalaman operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula, akan tetapi sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain :        Takut nyeri setelah pembedahan. Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal ( body image ). Takut keganasan ( bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti ). Takut / cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyai penyakit yang sama. Takut / ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas. Takut mati saat dibius / tidak sadar lagi. Takut operasi gagal.

Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya perubahan - perubahan fisik seperti : meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan, gerakan - gerakan tangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah, menayakan pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, sering berkemih. Perawat perlu mengkaji mekanisme koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam menghadapi stres. Disamping itu perawat perlu mengkaji hal - hal yang bisa digunakan untuk membantu pasien dalam menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini, seperti adanya orang terdekat, tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung / support system. Untuk mengurangi / mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan hal - hal yang terkait dengan persiapan operasi, antara lain : 1) Pengalaman operasi sebelumnya Persepsi pasien dan keluarga tentang tujuan / alasan tindakan operasi

Pengetahuan pasien dan keluarga tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang. 2) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang situasi / kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi.

Pengetahuan pasien dan keluarga tentang prosedur ( pre, intra, post operasi ) Pengetahuan tentang latihan - latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan setalah operasi, seperti : latihan nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll. Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari / minggu yang lalu. Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga / orang terdekat pasien.Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi. Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara: 1) Membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum operasi, memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan dialami oleh pasien selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi, dll. 2) Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi lebih siap menghadapi operasi, meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami pasien. 3) Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai dengan tingkat perkembangan. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Misalnya: jika pasien harus puasa, perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan, manfaatnya untuk apa, dan jika diambil darahnya, pasien perlu diberikan penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan, dll. Diharapkan dengan pemberian informasi yang lengkap, kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik 4) Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama-sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi. 5) Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.

6) Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium dan diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi. 7) Pada saat pasien telah berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi, petugas kesehatan di situ akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang. Untuk memberikan ketenangan pada pasien, keluarga juga diberikan kesempatn untuk mengantar pasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu di ruang tunggu yang terletak di depan kamar operasi.

7. Obat – Obatan Pre Medikasi Sebelum operasi dilakukan pada esok harinya. Pasien akan diberikan obat - obatan premedikasi untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Obat – obatan premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam. Antibiotik profilaksis biasanya di berikan sebelum pasien di operasi. Antibiotik profilaksis yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi selama tindakan operasi, antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1 - 2 jam sebelum operasi dimulai dan dilanjutkan pasca bedah 2 - 3 kali. Antibiotik yang dapat diberikan adalah ceftriakson 1gram dan lain - lain sesuai indikasi pasien.

8. Manajemen Keperawatan

1.

PENGKAJIAN

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10). Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi : 1) Sirkulasi

Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus. 2) Integritas ego

Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup. Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis. 3) Makanan / cairan

Gejala : insufisiensi pancreas / DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi

(termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi). 4) Pernapasan

Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok. 5) Keamanan

Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse. Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam. 6) Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol ( risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi ).

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17). Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006) meliputi : 1. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan

status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti, krisis situasi atau krisis maturasi. 2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping penanganan, factor

budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan. 3. Koping individu, ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan, keluhan

terhadap reaksi orang lain, kehilangan fungsi, diagnosis kanker. 4. Proses keluarga, perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks, hospitalisasi /

perubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan penampilan.

5.

Ketakutan berhubungan dengan proses penyakit / prognosis ( misalnya kanker ),

ketidakberdayaan. 6. Mobilitas fisik, hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kerusakan saraf /

otot, dan nyeri.

3.

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI

Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20). Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).

Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006) adalah :

1.

Ansietas adalah suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan yang tidak mudah atau dread yang disertai dengan respons autonomis ; sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu ; perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.ini merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk mengatasi ancaman. Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol. Kriteria hasil : 1. klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress. 2. klien mampu mempertahankan penampilan peran. 3. klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. 4. klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik. 5. tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI 1. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. Rasional : memudahkan intervensi.

2.

Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu. Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas.

3.

Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan.

4.

Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapa-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.

5.

Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan cemas. Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.

6.

Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.

7.

Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis. Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.

8.

Kolaborasi pemberian obat anti ansietas. Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.

2.

Gangguan citra tubuh adalah konfusi pada gaambaran mental dari fisik seseorang. Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh. Kriteria hasil : 1. pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh. 2. memiliki keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan. 3. menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh.

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI 1. Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya. Rasional : faktor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh. 2. Kaji harapan pasien tentang gambaran tubuh. Rasional : mungkin realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak menyukai keadaan fisiknya. 3. Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif, dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan, kemajuan dan prognosis. Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memudahkan saran koping, mengurangi kecemasan. 4. Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, jaga privasi dan martabat pasien. Rasional : menciptakan suasana saling percaya, meningkatkan harga diri dan perasaan berarti dalam diri pasien.

3.

Koping individu, ketidakefektifan adalah ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadap stressor, pilihan respons untuk bertindak secara tidak adekuat, dan atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang tersedia. Tujuan : pasien menunjukkan koping yang efektif. Kriteria hasil : 1. pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu luang. 2. mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif. 3. menimbang serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya. 4. berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI 1. Kaji pandangan pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan pandangan pemberi pelayanan kesehatan. Rasional : mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya. 2. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Rasional : menghindari ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya, memudahkan intervensi

3.

Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realitas. Rasional : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat ini.

4.

Bantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain. Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memberikan penguatan yang positif.

5.

Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan dukungan emosional untuk pasien dan keluarga. Rasional : menciptakan suasana saling percaya, perasaan berarti, dan mengurangi kecemasan.

4.

Proses keluarga, perubahan adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga. Tujuan : pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga. Kriteria hasil : 1. pasien/keluarga mampu mengidentifikasi koping. 2. pasien/keluarga berpartisipasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan perawatan setelah rawat inap.

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI 1. Kaji interaksi antara pasien dan keluarga. Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi. 2. Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin menghambat pengobatan. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi. 3. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan koping yang digunakan. Rasional : membantu keluarga dalam memilih mekanisme koping adaptif yang tepat . 4. Dukung kesempatan untuk mendapatkan pengalaman masa anak-anak yang normal pada anak yang berpenyakit kronis atau tidak mampu. Rasional : memudahkan keluarga dalam menciptakan/memelihara fungsi anggota keluarga.

5.

Ketakutan adalah ansietas yang disebabkan oleh sesuatu yang dikenali secara sadar dan bahaya nyata dan dipersepsikan sebagai bahaya yang nyata. Tujuan : pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.

Kriteria hasil : 1. mencari informasi untuk menurunkan ketakutan. 2. menggunakan teknik relaksasi untuk menurnkan ketakutan. 3. mempertahankan penampilan peran dan hubungan social.

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI 1. Kaji respons takut subjektif dan objektif pasien. Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi. 2. Berikan penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan atau mengurangi takut. Rasional : mempertahankan perilaku koping yang efektif. 3. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. 4. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.

6.

Mobilitas fisik, hambatan adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Kriteria hasil : 1. penampilan yang seimbang.. 2. melakukan pergerakkan dan perpindahan. 3. mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik : a. b. c. d. 0 = mandiri penuh 1 = memerlukan alat Bantu. 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran. 3 =membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.

e.

4 =ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.

INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI 1. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi. 2. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. Rasional : mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. 3. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. Rasional : menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. 4. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. Rasional : mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. 5. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. Rasional : sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.

4.

EVALUASI

Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, Christine. 2001). Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Respirasi adalah : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Ansietas berkurang/terkontrol. Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh. Pasien menunjukkan koping yang efektif. Pasien dan keluarga memahami perubahan - perubahan dalam peran keluarga. Pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan. Pasien akan menunjukkan tingkat Respirasi yang optimal.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN POSTOPERASI 1. Pengertian Post Operasi Post operasi adalah masa yang dimulai ketika masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik ataudirumah. Setelah pembedahan, perawatan klien dapat menjadi kompleks akibatfisiologis yang mungkin terjadi. Untuk mengkaji kondisi pasca atau post operasiini, perawat mengandalkan informasi yang berasal dari hasil pengkajian keperawatan preoperative. Pengetahuan yang dimiliki klien tentang prosedur pembedahan dan hal - hal yang terjadi selama pembedahan berlangsung.Informasi ini membantu perawat mendeteksi adanya perubahan. Tindakan pasca operasi dilakukan dalam 2 tahap, yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase pasca operasi. Untuk klien yang menjalani bedah sehari, pemulihan normalnya terjadi dalam 1 sampai 2 jam dan penyembuhan dilakukan di rumah. Untuk klien yang dirawat di rumah sakit pemulihan terjadi selama beberapa jam dan penyembuhan berlangsung selama 1hari atau lebih tergantung pada luasnya pembedahan dan respon klien. 2. Perawatan Pasien Di Ruang Pemulihan / Recovery Room Uraian diatas telah membahas tentang hal yang diperhatikan pada pasien post anaesthesi. Untuk lebih jelasnya maka dibawah ini adalah petunjuk perawatan / observasi diruang pemulihan :        Posisi kepala pasien lebih rendah dan kepala dimiringkan pada pasien dengan pembiusan umum, sedang pada pasein dengan anaesthesi regional posisi semi fowler. Pasang pengaman pada tempat tidur. Monitor tanda vital : TN, Nadi, respirasi / 15 menit. Penghisapan lendir daerah mulut dan trakhea. Beri O2 2,3 liter sesuai program. Observasi adanya muntah. Catat intake dan out put cairan.

Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya situasi krisis    Tekanan sistolik < 90 –100 mmHg atau > 150 – 160 mmH, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90 mmHg. HR kurang dari 60 x menit > 10 x/menit. Suhu > 38,3 o C atau kurang dari 35 o C.

 

Meningkatnya kegelisahan pasien Tidak BAK + 8 jam post operasi.

3. Pengeluaran dari Ruang Pemulihan / Recovery Room Kriteria umum yang digunakan dalam mengevaluasi pasien :         Pasien harus pulih dari efek anaesthesi. Tanda-tanda vital harus stabil. Tidak ada drainage yang berlebihan dari tubuh. Efek fisiologis dari obat bius harus stabil. Pasien harus sudah sadar kembali dan tingkat kesadaran pasien telah sempurna. Urine yang keluar harus adekuat ( 1cc/ Kg/jam). Jumlahnya harus dicatat dan dilaporkan. Semua pesan harus ditulis dan dibawa ke bangsal masing-masing. Jika keadaan pasien membaik, pernyataan persetujuan harus dibuat untuk kehadiran pasien tersebut oleh seorang perawat khusus yang bertugas pada unit dimana pasien akan dipindahkan.  Staf dari unit dimana pasien harus dipindahkan, perlu diingatkan untuk menyiapkan dan menerima pasien tersebut.

4. Pengangkutan Pasien keruangan Hal - hal yang harus diperhatikan selama membawa pasien ke ruangan antara lain :    Keadaan penderita serta order dokter. Usahakan pasien jangan sampai kedinginan. Kepala pasien sedapat mungkin harus dimiringkan untuk menjaga bila muntah sewaktu - waktu, dan muka pasien harus terlihat sehingga bila ada perubahan sewaktu - waktu terlihat.

5. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Post Operasi a) Pengkajian awal 1. Status Respirasi Meliputi :  Kebersihan jalan nafas.

  

Kedalaman pernafasaan. Kecepatan dan sifat pernafasan. Bunyi nafas

2. Status sirkulator Meliputi :     Nadi Tekanan darah Suhu Warna kulit

3. Status neurologis Meliputi : tingkat kesadaran

4. Balutan Meliputi :   Keadaan drain. Terdapat pipa yang harus disambung dengan sistem drainase.

5. Kenyamanan Meliputi :    Terdapat nyeri Mual Muntah

6. Keselamatan Meliputi :    Diperlukan penghalang samping tempat tidur. Kabel panggil yang mudah dijangkau. Alat pemantau dipasang dan dapat berfungsi.

7. Perawatan Meliputi :

 

Cairan infus, kecepatan, jumlah cairan, kelancaran cairan. Sistem drainase : bentuk kelancaran pipa, hubungan dengan alat penampung, sifat dan jumlah drainage.

8. Nyeri Meliputi :   Waktu Tempat.

9. Frekuensi. 10. Kualitas. 11. Faktor yang memperberat / memperingan.

A. Data Subyektif Pasien hendakanya ditanya mengenai gejala-gejala ketidaknyamanan setelah ditempatkan ditempat tidur dengan posisi tubuh yang menunjang. Pertanyaan-pertanyaan yang langsung misalnya : ”Bagaimana perasaan anda?”, dapat memperlihatkan data mula dan nyeri tanpa memfokuskan pada daerah yang spesifik, dimana tidak ada keluhan. Penginderaan rasa nyeri sering kali meningkat pada waktu ini akibat pemindahan dari brankard ke tempat tidur. Sangat penting untuk mengetahui lokasi, bentuk serangan dan perubahan intensitas rasa nyeri, dan bukan menyangka bahwa nyeri berasal dari torehan. Mual jarang timbul setelah pasca anaesthesi baru. Sangat besar kemungkinan terjadi mual bila perut mengalami manipulasi yang ekstensif pada waktu prosedur bedah atau telah mendapat narkotika yang cukup banyak. B. Data Objektif 1. 2. 3. 4. 5. Sistem Respiratori Status sirkulatori Tingkat Kesadaran Balutan Posisi tubuh

6.

Status Urinari / eksresi.

C. Pengkajian Psikososial Yang perlu diperhatikan : umur, prosedur pembedahan, efek samping dari prosedur pembedahan dan pengobatan, body image dan pola / gaya hidup. Juga tanda fisik yang menandakan kecemasan termasuk denyut nadi, tekanan darah, dan kecepatan respirasi serta ekspresi wajah.

6. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium berdasarkan pada prosedur pembedahan, riwayat medis, dan manifestasi klinik post operasi. Pemeriksaan laboratorium lab post operasi secara umum anatara lain : 1. 2. Analisa serum dan elektrolit, glukosa dan pemeriksaaan darah lengkap. Pemeriksaann urine sekitar setiap 4 jam untuk klien dengan resiko dehidrasi dan insufisisensi ginjal.

7.

Masalah Keperawatan Yang Lazim Muncul

A. Diagnosa Umum 1) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan efek samping dari anaesthesi. 2) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka post operasi. 3) Nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan. 4) Resiko injury berhubungan dengan kelemahan fisik, efek anaesthesi, obat-obatan ( penenang, analgesik ) dan imobilisasi terlalu lama. B. Diagnosa Tambahan 1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret. 2) Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah memahami informasi. 3) Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur pembedahan. 4) Nausea berhubungan dengan efek anaesthesi, narkotika, ketidaseimbangan elektrolit. 5) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.

6)

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksoia, lemah, nyeri, mual.

7) Konstipasi berhubungan dengan efek anaesthesi.

DAFTAR PUSTAKA

1) http://www.scribd.com/doc/54740478/Makalah-KMB-1-Monitoring-Pre-Dan-Post 2) http://www.scribd.com/doc/76227258/patofisiologi 3) Somantri Irman. (2009). ( Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pernafasan )(Edisi 2). Jakarta: Salemba Medika. 4) Muttaqin Arif.(2008). (Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem

pernafasan).Jakarta : Salemba Medika. 5) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21820/4/Chapter%20II.pdf

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->