BAB I KONSEP EFUSI PLEURA

1.1 Anatomi dan Fisiologi Pleura Pleura terletak dibagian terluar dari paru-paru dan mengelilingi paru. Pleura disusun oleh jaringan ikat fibrosa yang didalamnya terdapat banyak kapiler limfa dan kapiler darah serta serat saraf kecil. Pleura disusun juga oleh sel-sel (terutama fibroblast dan makrofag). Pleura paru ini juga dilapisi oleh selapis mesotel. Pleura merupakan membran tipis, halus, dan licin yang membungkus dinding anterior toraks dan permukaan superior diafragma. Lapisan tipis ini mengandung kolagen dan jaringan elastis (Sylvia Anderson Price dan Lorraine M, 2005: 739). Ada 2 macam pleura yaitu pleura parietalis dan pleura viseralis. Pleura parietalis melapisi toraks atau rongga dada sedangkan pleura viseralis melapisi paru-paru. Kedua pleura ini bersatu pada hilus paru. Dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara kedua pleura ini yaitu pleura viseralis bagian permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesotelial yang tipis (tebalnya tidak lebih dari 30 µm). Diantara celahcelah sel ini terdapat beberapa sel limfosit. Di bawah sel-sel mesotelia ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit. Seterusnya dibawah ini (dinamakan lapisan tengah) terdapat jaringan kolagen dan serat-serat elastik. Pada lapisan terbawah terdapat jaringan intertitial subpleura yang sangat banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari A. Pulmonalis dan A. Brankialis serta pembuluh getah bening. Keseluruhan jaringan pleura viseralis ini menempel dengan kuat pada jaringan parenkim paru. Pleura parietalis mempunyai lapisan jaringan lebih tebal dan terdiri dari sel-sel mesotelial juga dan jaringan ikat (jaringan kolagen dan serat-serat elastik). Dalam jaringan ikat, terdapat pembuluh kapiler dari A. Interkostalis dan A. Mammaria interna, pembuluh getah bening dan banyak reseptor saraf-saraf sensorik yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur. Sistem persarafan ini berasal dari nervus intercostalis dinding dada. Keseluruhan jaringan pleura parietalis ini menempel dengan mudah, tapi juga mudah dilepaskan dari dinding dada di atasnya. Di antara pleura terdapat ruangan yang disebut spasium pleura, yang mengandung sejumlah kecil cairan yang 1

melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya bergeser secara bebas pada saat ventilasi. Cairan tersebut dinamakan cairan pleura. Cairan ini terletak antara paru dan thoraks. Tidak ada ruangan yang sesungguhnya memisahkan pleura parietalis dengan pleura viseralis sehingga apa yang disebut sebagai rongga pleura atau kavitas pleura hanyalah suatu ruangan potensial. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah daripada tekanan atmosfer sehingga mencegah kolaps paru. Jumlah normal cairan pleura adalah 10-20 cc (Hood Alsagaff dan H. Abdul Mukty, 2002: 786). Cairan pleura berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis bergerak selama pernapasan dan untuk mencegah pemisahan toraks dan paru yang dapat dianalogkan seperti dua buah kaca objek yang akan saling melekat jika ada air. Kedua kaca objek tersebut dapat bergeseran satu dengan yang lain tetapi keduanya sulit dipisahkan. Cairan pleura dalam keadaan normal akan bergerak dari kapiler di dalam pleura parietalis ke ruang pleura kemudian diserap kembali melalui pleura viseralis. Hal ini disebabkan karena perbedaan tekanan antara tekanan hidrostatik darah yang cenderung mendorong cairan keluar dan tekanan onkotik dari protein plasma yang cenderung menahan cairan agar tetap di dalam. Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura viseralis lebih besar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan permukaan pleura viseralis lebih besar dari pada pleura parietalis sehingga dalam keadaan normal hanya ada beberapa mililiter cairan di dalam rongga pleura (Sylvia Anderson Price dan Lorraine M, 2005: 739).

Gambar 1.1 Gambaran Anatomi Pleura (dikutip dari Poslal medicina, 2007:
www.google.com)

2

1.2 Definisi Efusi Pleura Efusi pleura adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura akibat transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura (Suzanne Smeltzer: 2001). Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paruparu dan rongga dada, diantara permukaan viseral dan parietal. Dalam keadaan normal, rongga pleura hanya mengandung sedikit cairan sebanyak 10-20 ml yang membentuk lapisan tipis pada pleura parietalis dan viseralis, dengan fungsi utama sebagai pelicin gesekan antara permukaan kedua pleura pada waktu pernafasan. Jenis cairan lainnya yang bisa terkumpul di dalam rongga pleura adalah darah, nanah, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi. Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit. Pada gangguan tertentu, cairan dapat berkumpul dalam ruang pleural pada titik dimana penumpukan ini akan menjadi bukti klinis, dan hampir selalu merupakan signifikasi patologi. Efusi dapat terdiri dari cairan yang relatif jernih, yang mungkin merupakan cairan transudat atau eksudat, atau dapat mengandung darah dan purulen. Transudat (filtrasi plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh) terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorpsi cairan pleural terganggu. Biasanya oleh ketidakseimbangan tekanan hidrostatik atau onkotik. Transudat menandakan bahwa kondisi seperti asites atau gagal ginjal mendasari penumpukan cairan. Eksudat (ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau kavitas). Biasanya terjadi akibat inflamasi oleh produk bakteri atau tumor yang mengenai permukaan pleural (Sylvia Anderson Price dan Lorraine, 2005: 739). Efusi yang mengandung darah disebut dengan efusi hemoragis. Pada keadaan ini kadar eritrosit di dalam cairan pleural meningkat antara 5.000-10.000 mm3. Keadaan ini sering dijumpai pada keganasan pneumonia. Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi pleura dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya, akan tetapi efusi yang bilateral seringkali ditemukan pada penyakit :

3

kegagalan jantug kongestif, sindroma nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosis sistemik, tumor dan tuberkulosis. Terdapat beberapa jenis efusi berdasarkan penyebabnya, yakni : a. Bila efusi berasal dari implantasi sel-sel limfoma pada permukaan pleura, cairannya adalah eksudat, berisi sel limfosit yang banyak dan sering hemoragik. b. c. d. Bila efusi terjadi akibat obstruksi aliran getah bening, cairannya bisa Bila efusi terjadi akibat obstruksi duktus torasikus, cairannya akan Bila efusi terjadi karena infeksi pleura pada pasien limfoma maligna transudat atau eksudat dan ada limfosit. berbentuk cairan kelenjar limfa (chylothorak) karena menurunnya resistensinya terhadap infeksi, efusi akan berbentuk empiema akut atau kronik (www.medicastore.com). Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi menjadi : 1. Transudat Transudat Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah transudat. Transudat terjadi apabila hubungan normal antara tekanan kapiler hidrostatik dan koloid osmotik menjadi terganggu, sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura akan melebihi reabsorbsi oleh pleura lainnya. Biasanya hal ini terdapat pada: a) b) c) d) Meningkatnya tekanan kapiler sistemik Meningkatnya tekanan kapiler pulmonal Menurunnya tekanan koloid osmotik dalam pleura Menurunnya tekanan intra pleura Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah: a) b) c) Gagal jantung kiri (terbanyak) Sindrom nefrotik Obstruksi vena cava superior d) Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek diafragma atau masuk melalui saluran getah bening)

4

abses paru. infark paru atau neoplasma. Penyakit yang menyertai eksudat. pnemonitis. 2001: 787-788) 1.2. (Hadi Halim. 2001. pneumonia) tumor pada pleura. Macam-macam penyakit infeksi lain yang dapat menyebabkan efusi pleura antara lain: a.3 Etiologi Efusi pleura merupakan proses penyakit primer yang jarang terjadi. tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. sehingga menimbulkan eksudat. abses subfrenik. Coxsackie virus. 5 . Bila terjadi jumlahnya pun tidak banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. Infeksi Penyakit-penyakit infeksi yang menyebabkan efusi pleura antara lain: tuberculosis. Protein yang terdapat dalam caira pleura kebanyakan berasal dari saluran getah bening. Eksudat Eksudat merupakan cairan pleura yang terbentuk melalui membran kapiler yang permeable abnormal dan berisi protein transudat. Jenisjenis virusnya adalah : Echo virus. karsinoma bronkogenik radiasi. antara lain: infeksi (tuberkulosis. terjadinya efusi pleura disebabkan oleh 2 faktor yaitu: 1. Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-6000 per cc. Menurut Brunner & Suddart. penyakit dan jaringan ikat/ kolagen/ SLE (Sistemic Lupus Eritematosis). Pleuritis karena Virus dan mikoplasma Efusi pleura karena virus atau mikoplasma agak jarang. Kegagalan aliran protein getah bening ini akan menyebabkan peningkatan konsentrasi protein cairan pleura. dan mikoplasma. infark paru. Chlamidia. Terjadinya perubahan permeabilitas membrane adalah karena adanya peradangan pada pleura misalnya: infeksi. Rickettsia.

Jenis fungi penyebab pleuritis adalah : aktinomikosis. Aerob : Streptococcus pneumonia. . Peptostreptococcus. blastomikosis. dan jarang yang melalui penetrasi diafragma. Pleuritis Tuberkulosa Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang bersifat eksudat. Pseudomonas spp. 6 . Anaerob : Bacteroides spp. dll. d. Klebsiella. tapi kemudian sel limfost. dinding dada atau esophagus.b. Pleura karena Fungi Pleuritis karena fungi amat jarang. Patogenesis timbulnya efusi pleura adalah karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi. Efusi pleura karena parasit ini terjadi karena peradangan yang ditimbulkannya. aspergillus. coli. kriptokokus. kadang-kadang bisa juga hemoragis. Hemofilus spp. Cairan efusi sangat sedikit mengandung kuman tuberculosis. Cairan efusi yang biasanya serous. Bentuk tropozoit datang dari parenkim hati menembus diafragma terus ke parenkim paru dan rongga pleura. Penyakit kebanyakan terjadi sebagai komplikasi tuberkulosis paru melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. histoplasmosis.di sini parasit masuk ke rongga pleura secara migrasi dari perenkim hati. Fusobacterium. Di samping ini dapat terjadi empiema karena karena ameba yang cairannya berwarna khas merah coklat. Streptococcus mileri. Jumlah leukosit antara 500-2000 per cc. koksidioidomikosis. Pleuritis karena bakteri Piogenik Permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen. Pleuritis karena parasit Parasit yang dapat menginfeksi ke dalam rongga pleura hanyalah amoeba. Dapat juga karena adanya robekan dinding abses amuba pada hati ke arah rongga pleura. E. mula-mula yang dominan adalah sel polimorfonuklear. Saphylococcus aureus. e. Biasanya terjadi karena penjalaran infeksi fungi dari jaringan paru. c.

Pada efusi pleura denga infark paru jumlah cairan efusinya lebih banyak dan waktu penyembuha juga lebih lama. Adapun penyakit non infeksi lain yang dapat menyebabkan efusi pleura antara lain: a. sehingga terjadi iskemia maupun kerusakan parenkim paru dan memberikan peradangan dengan efusi yang berdarah (warna merah). tumor ovarium. dan biasanya sembuh secara spontan. Emboli Pulmonal Efusi pleura dapat terjadi pada sisi paru yang terkena emboli pulmonal. Emboli menyebabkan turunnya aliran darah arteri pulmonalis. bendungan jantung (gagal jantung). gagal hati. Non infeksi Sedangkan penyakit non infeksi yang dapat menyebabkan efusi pleura antara lain: Ca paru. Di samping itu permeabilitas antara satu atau kedua bagian pleura akan meningkat. Cairan efusi biasanya bersifat eksudat.2. Ca mediastinum. Gangguan Kardiovaskuler efusi pleura. Penyebab lainnya dalah perikarditis Payah jantung (decompensatio cordis) adalah penyebab terbanyak timbulnya konstriktiva dan sindrom vena kava superior. perikarditis konstruktifa. Ca pleura (primer dan sekunder). 2. Patogenesisnya dalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorbsi pembuluh darah subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongga pleura dan paru-paru meningkat. 7 . asal tidak terjadi emboli pulmonal lainnya. sehingga cairan efusi mudah terbentuk. jumlahnya tidak banyak. Efusi pleura karena gangguan sirkulasi 1. gagal ginjal. Keadaan ini dapat disertai infark paru ataupun tanpa infark.

laserasi. Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat. Efusi pleura karena neoplasma Neoplasma primer ataupun sekunder (metastasis) dapat menyerang pleura dan umumnya menyebabkan efusi pleura. efusi perikard dan efusi peritoneal (asites). Efusi pleura karena sebab lain 1. Efusi terjadi karena rendahnya tekana osmotic protein cairan pleura dibandingkan dengan tekana osmotic darah. Uremia Salah satu gejala penyakit uremia lanjut adalah poliserositis yang terdiri dari efusi pleura. c. tetapi diketahui dengan timbulnya eksudat terdapat peningkatan permeabilitas jaringan pleura. yakni : Menumpuknya sel-sel tumor akan meningkatnya permeabilitas pleura terhadap air dan protein Adanya massa tumor mengakibatkan tersumbatnya aliran pembuluh darah vena dan getah bening. rupture esophagus karena muntah hebat atau karena pemakaian alat waktu tindakan esofagoskopi. malabsorbsi atau keadaan lain dengan asites serta anasarka. 8 .3. Gejala lain adalah adanya cairan yang selalu berakumulasi kembali dengan cepat walaupun dilakukan torakosentesis berkali-kali. b. Hipoalbuminemia Efusi pleura juga terdapat pada keadaan hipoalbuminemia seperti sindrom nefrotik. Mekanisme penumpukan cairan ini belum diketahui betul. Terdapat beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura pada neoplasma. sehingga rongga pleura gagal memindahkan cairan dan protein Adanya tumor membuat infeksi lebih mudah terjadi dan selanjutnya timbul hipoproteinemia. Efusi pleura dapat terjadi karena trauma yaitu trauma tumpul. 2. luka tusuk pada dada. Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah sesak nafas dan nyeri dada.

Sebagian besar efusi pleura karena uremia tidak memberikan gejala yang jelas seperti sesak nafas. Efusi pleura juga sering terjadi setelah 48-72 jam pasca operasi abdomen seperti splenektomi. tangan dan efusi pleura yang berulang pada satu atau kedua paru. Mekanismenya adalah karena berpindahnya cairan yang kaya dengan enzim pancreas ke rongga pleura melalui saluran getah bening. operasi terhadap obstruksi intestinal atau pascaoperasi atelektasis. abses limpa. Efusi pleura idiopatik Pada beberapa efusi pleura. Keadaan ini dapat digolongkan daloam efusi pleura idiopatik. pseudokista pancreas atau eksaserbasi akut pankreatitis kronik. kadang-kadang masih belum bisa didapatkan diagnostic yang pasti. (Asril Bahar. dll. Biasanya efusi terjadi pada pleura kiri tapi dapat juga bilateral. abses hati. tetapi kadang-kadang juga dapat hemoragik.perikard atau peritoneum. Efusi disini bersifat eksudat serosa. abses ginjal. metisergid. seperti pankreatitis. Miksedema Efusi pleura dan efusi perikard dapat terjadi sebagai bagian miksedema. 5. biopsy pleura). Cairan bersifat eksudat dan mengandung protein dengan konsentrasi tinggi. atau batuk. Pada beberapa pasien terdapat juga kuku jari yang berwarna kekuning-kuningan. muka. 4. Efusi dapat terjadi tersendiri maupun secara bersama-sama. 6. 9 . Efusi pleura karena kelainan Intra-abdominal Efusi pleura dapat terjadi secara steril karena reaksi infeksi dan peradangan yang terdapat di bawah diafragma. 3. Reaksi hipersensitif terhadap obat Pengobatan dengan nitrofurantoin. 2001) d. analisis cairan. praktolol kadang-kadang memberikan reaksi/perubahan terhadap paru-paru dan pleura berupa radang dan dan kemudian juga akan menimbulkan efusi pleura. walaupun telah dilakukan prosedur diagnostic secara berulang-ulang (pemeriksaan radiologis. Limfedema Limfedema secara kronik dapat terjadi pada tungkai. sakit dada.

Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika penumpukan cairan pleural yang signifikan. 3. Secara khas terdapat kesamaan antara cairan asites dengan cairan pleura. Bila tumor ovarium tersebut dioperasi. Hal ini terbukti dengan samanya komposisi antara cairan pleura dengan cairan dialisat. Efusi terjadi pada salah satu paru maupun bilateral. 2. Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi napas minimal atau tidak sama sekali mengandung bunyi datar. Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura terjadi melalui celah diafragma. Pneumonia akan menyebabkan demam. Kebanyakan efusi pleura timbul bersamaan dengan asites. 1.( Brunner & Suddart. karena terdapat hubungnan fungsional antara rongga pleura dan rongga abdomen melalui saluran getah bening atau celah jaringan otot diafragma. dispnea mungkin saja tidak ditemukan. pekak saat perkusi. Bila terdapat efusi pleura kecil sampai sedang. Sindrom Meig Tahun 1937 Meig dan Cass menemukan penyakit tumor pada ovarium (jinak atau ganas) disertai asites dan efusi pleura. sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk.1. menggigil. efusi pleura dan asitesnya pun segera hilang. Efusi yang luas akan menyebabkan sesak napas.4 Manifestasi Klinis Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit dasar. Adanya massa di rongga pelvis disertai asites dan eksudat cairan pleura sering dikira sebagai neoplasma dan metastasisnya. Sirosis Hati Efusi pleura dapat terjadi pada pasien sirosis hati. Patogenesis terjadinya efusi pleura masih belum diketahui betul. dan nyeri dada pleuritis. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala. 2001: 593) 10 . Dialisis Peritoneal Efusi pleura dapat terjadi selama dan sesudah dilakukannya dialysis peritoneal. Suara egophoni akan terdengar diatas area efusi.

Tekanan hidrostatik pleura parientalis 9 cm H2O 2. keadaan normal pada cavum pleura dipertahankan oleh: 1. Pertama. tekanan (atelektasis ).1 ml/kgBB/hari Secara garis besar akumulasi cairan pleura disebabkan karena dua hal yaitu: 1. jaringan elastis paru memberikan kontinu yang cenderung menarik paru-paru menjauh dari rangka thoraks. Cairan pleura tersebut terakumulasi ketika pembentukan cairan pleura lebih dari pada absorbsi cairan pleura. permukaan pleura viseralis dan pleura parietalis yang saling menempel itu tidak dapat dipisahkan. misalnya reaksi radang yang meningkatkan permeabilitas vaskuler. 2002). Tekanan osmotik pleura viceralis 10 cm H2O 3. Menurut Hood Alsagaff dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Dalam. Selain itu. hipoprotonemia dapat menyebabkan efusi pleura karena rendahnya tekanan osmotic di kapiler darah ( Hood Alsagaff dan H. Namun dalam keadaan tertentu. Abdul Mukty. sehingga tetap ada kekuatan kontinyu yang cenderung memisahkannya. Pembentukan cairan pleura berlebih Hal ini dapat terjadi karena peningkatan: permeabilitas kapiler (keradangan. Produksi cairan 0. Keadaan ini dapat dipertahankan karena adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatis pleura parientalis sebesar 9 cm H2O dan tekanan koloid osmotic pleura viceralis. hidrostatis di pembuluh jantung darah ke jantung / v. neoplasma).5 Patogenesis Efusi Pleura Pada orang normal. Tetapi. Cairan di rongga pleura jumlahnya tetap karena ada keseimbangan antara produksi oleh pleura parientalis dan absorbsi oleh pleura viceralis. tekanan negatif 11 . intrapleura pulmonalis ( kegagalan kiri ).1. Ada tiga faktor yang mempertahankan tekanan negatif paru yang normal ini. sejumlah cairan abnormal dapat terakumulasi di rongga pleura. Kekuatan ini dikenal sebagai kekuatan negatif dari ruang pleura. cairan di rongga pleura sebanyak 10-20 cc.

Jumlah cairan 12 . yang berfungsi untuk melicinkan dan membuat keduanya bergesekan dengan mudah selama bernafas. 2. pergerakan cairan bergantung pada selisih perbedaan antara tekanan hidrostatik darah yang cenderung mendorong cairan keluar dan tekanan onkotik dari protein plasma yang cenderung menahan cairan agar tetap di dalam. Pada orang sehat pleura terletak pada posisi yang sangat dekat satu sama lain dan hanya dipisahkan oleh cairan serous yang sangat sedikit. Cairan dalam keadaan normal akan bergerak dari kapiler di dalam pleura parietalis ke ruang pleura dan kemudian di serap kembali melalui pleura viseralis. Pergerakan cairan pleura dianggap mengikuti hukum Starling tentang pertukaran trans kapiler yaitu. peningkatan tekanan vena sentral tempat masuknya saluran limfe dan tekanan osmotic koloid yang menurun dalam darah. Sistem limfatik punya kemampuan absorbsi sampai dengan 20 kali jumlah cairan yang terbentuk. Faktor ketiga yang mendukung tekanan negatif intrapleura adalah kekuatan pompa limfatik. infiltrasi pada kelenjar getah bening. Penurunan kemampuan absorbsi sistem limfatik Hal ini disebabkan karena beberapa hal antara lain: obstruksi stomata. gangguan kontraksi saluran limfe. Selisih perbedaan absorbsi cairan pleura melalui pleura viseralis lebih besar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan parietalis dan permukaan pleura viseralis lebih besar daripada plura parietalis sehingga pada ruang pleura dalam keadaan normal hanya terdapat beberapa milliliter cairan. misalnya pada hipoalbuminemi. Sejumlah kecil protein secara normal memasuki ruang pleura tetapi akan dikeluarkan oleh sistem limfatik dalam pleura parietalis.Faktor utama kedua dalam mempertahankan tekanan negatif intra pleura menurut Sylvia Anderson Price dalam bukunya Patofisiologi adalah kekuatan osmotic yang terdapat di seluruh membran pleura. Ketiga faktor ini kemudian. mengatur dan mempertahankan tekanan negatif intra pleura normal. Sedikitnya cairan serous menyebabkan keseimbangan diantara transudat dari kapiler pleura dan reabsorbsi oleh vena dan jaringan limfatik di selaput visceral dan parietal.

dan agak menggumpal. seperti pneumonia atau TBC. dan tidak menggumpal. Eksudat pleura lebih pekat. Selain itu. Pada tahap awal. hypoprotonemia dapat menyebabkan efusi pleura karena rendahnya tekanan osmotic di kapailer darah. 2005: 739). berwarna jerami. cairan ini merupakan transudat. 13 . selalu ada peningkatan cairan pleura. Pada tahap awal. cairan pleura yang berupa eksudat ini bening.yang abnormal dapat terkumpul jika tekanan vena meningkat karena dekompensasi cordis atau tekanan vena cava oleh tumor intrathorax. pucat. ginjal. Efusi yang disebabkan oleh inflamasi pleura selalu sekunder terhadap proses inflamasi yang melibatkan paru. Pada tahap selanjutnya akan menjadi kurang jernih. Efusi pleura tanpa peradangan menghasilkan cairan serous yang jernih. kondisi ini merujuk pada hemothorax. biasanya terjadi pada penyakit yang dapat mengurangi tekanan osmotic darah atau retensi Na. kebanyakan ditemukan pada pasien yang menderita oedemumum sekunder terhadap penyakit yang melibatkan jantung. atau dengan neoplasma. dan sering disebut serous atau serofibrinous. tapi bisa juga terjadi secara spontan saat subpleural rupture atau sobeknya adhesi pleural (Sylvia Anderson Price dan Lorraine. Cairan pleura jenis ini biasanya terjadi karena rusaknya dinding kapiler melalui proses suatu penyakit. banyak leukosit terbentuk. Cairan eksudat ini sesuai dengan yang sudah di jelaskan sebelumnya.. mediastinum. atau karena adanya percampuran dengan drainase limfatik. lebih gelap dan konsistensinya kental karena meningkatkanya kandungan sel PMN. memiliki banyak fibrinogen. Bila efusi cepat permulaanya. Bila cairan di ruang pleura terdiri dari darah. atau hati. tidak terlalu jernih. esophagus atau ruang subdiafragmatik. Biasanya hal ini disebabkan oleh kecelakaan penetrasi traumatik dari dinding dada dan menyobek arteri intercostalis. ada serabut pleura yang kering tapi ada sedikit peningkatan cairan pleura.selama lesi berkembang. dimana pada umumnya limfatik akan mendominasi.

prostaglandin. serotonin Rongga pleura gagal memindahkan cairan Vaso aktif Gangguan keseimbangan tekanan Hidrostatik dan Onkotik Meningkatkan permeabilitas membran Akumulasi cairan di rongga pleura Perpindahan cairan EFUSI PLEURA Peningkatan cairan Pleura Rangsangan serabut saraf sensoris parietalis MK: Nyeri Menekan pleura PK: Atelektasis Ekspansi paru inadekuat Indikasi Tindakan Sesak nafas (Dispnea) Nafas pendek dengan usaha kuat Kelelahan ↑ Pemasangan WSD Torakosintesis Nafsu makan ↓ Terputusnya Kontinuitas jaringan MK: Ketidakefektifan Pola Napas MK: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Kesulitan tidur MK: Gangguan Pola Tidur MK: Nyeri Perlukaan Port de entre kuman 14 .6 WOC Infeksi (TB) tuberculosis. Ca mediastinum. bendungan jantung (gagal jantung). Ca pleura (primer dan sekunder). abses paru Ca paru. tumor ovarium.1. perikarditis konstruktifa. gagal hati. histamine. pnemonitis. gagal ginjal Non Infeksi mis. Penumpukan sel-sel tumor Reaksi Ag -Ab Massa tumor Tersumbatnya pembuluh darah vena dan getah bening Merangsang mediator inflamasi Bradikinin.

2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik pasien dengan efusi pleura akan ditemukan: 1. Untuk diagnosis yang pasti perlu dilakukan tindakan torakosentesis dan pada beberapa kasus dilakukan juga biopsy pleura. sehingga terlihat sebagai kardiomegali.7 Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik 1. Diagnostik Palpasi: sesuai dengan inspeksi. Tapi bila 15 . 1. garis Elolis damoisseaux Auskultasi: suara nafas yang menurun bahkan menghilang.MK: Rsiko Tinggi terhadap Infeksi 1. Bisa juga terdapat secara parallel dengan sisi jantung. 4. dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial. mediastinum terdorong ke arah kontralateral. fremitus raba menurun. 3. Sinar tembus dada Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva. sehingga perlu pemeriksaan tambahan sinar tembus dada. Perkusi: perkusi yang pekak. Inspeksi: pencembungan hemithorax yang sakit. Dapat juga menggumpul di daerah para-mediastinal dan terlihat dalam foto sebagai figura interlobaris. Diagnosis kadang-kadang dapat ditegakkan secara anamnesis dan pemeriksaan fisik saja. Cairan dalam pleura kadang-kadang menumpuk menggelilingi lobus paru (biasanya lobus bawah) dan terlihat dalam foto sebagai bayangan konsolidasi parenkim lobus. Tapi kadang-kadang sulit juga. Hal lain yang dapat juga terlihat dalam foto dada pada efusi pleura adalah terdorongnya mediastenum pada sisi yang berlawanan dengan cairan. pergerakan pernafasan menurun pada sisi sakit. ICS melebar.

Adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya.2 Gambaran Toraks dengan Efusi Pleura (http://www. Hanya saja pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.000-1. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru di sela iga IX garis aksilaris posterioar dengan memakai jarum Abbocath nomor 14 atau 16.efusi pleura/080308/thorax/weblog. adanya densitas parenkimynag lebih kerang dpada pneumonia atau abses paru. mediastenum akan tetap pada tempatnya.htm) 2. terutama pada efusi yang terlokalisasi. Pelaksanaannya sebaiknya dilakukan pada penderita dengan posisi duduk. Pemeriksaan ini sangat membantu sebagai penentuan waktu melakukan aspirasi cairan tersebut. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1.terdapat atelektasis pada sisi yang berlawanan dengan cairan. Gambar 1. adanya lesi tulang yang destruktif pada keganasan. sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. Demikian juga dengan pemeriksaan CT Scan dada. Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat menentukan adanya cairan dalam rongga pleura. adanya masa tumor. Torakosentesis Aspirasi cairan pleura (torakosentesis) berguna sebagai sarana untuk diagnostic maupun terapeutik.500 cc 16 . Di samping itu gambaran foto dada dapat juga menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura yaitu bila terdapat jantung yang membesar.

ini menunjukan adanya empiema. Komplikasi lain torakosentesis adalah pneumotoraks. Bila kuning kehijauan dan agak perulen. ini yang paling sering. tapi biasanya ini akan sembuh sendiri dengan cepat. ini menunjukan adanya abses karena amoeba. Untuk diagnostic caiaran pleura dilakukan pemeriksaan: 1) Warna cairan Biasanya cairan pleura berwarna agak kekuning-kuningan (serous-xanthochrome). adanya kebocoran aneurisma aorta. Edema paru dapat terjadi karena paru-paru menggembang terlalu cepat. Bila laserasinya cukup dalam. dapat menyebabkan udara dari alveoli masuk ke vena pulmonalis sehingga terjadi emboli udara. 2) Biokimia Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut ini: 17 . hemotoraks (karena trauma pada pembuluh darah interkostalis). udara masuk melalui jarum). Adalah lebih baik mengerjakan aspirasi berulangulang daripada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat menimbulkan pleural shock (hipotensi) atau edema paru. keganasan.ini dapat terjadi pada trauma. emboli udara (ini agak jarang terjadi). posisi kepala lebih rendah daripada leher. penderita dibaringkan pada sisi kiri di bagian bawah. sehingga udara tersebut dapat terperangkap di atrium kanan. Dapat juga terjadi laserasi pleura viseralis. infark paru. Bila merahtengguli. Untuk mencegah emboli udara ini menjadi emboli pulmoner atau emboli sistemik.pada setiap kali aspirasi. Bila agak kemerah-merahan.

5 < 200 > 200 < 0. arthritis rheumatoid dan neoplasma metastasis adenokarsinoma. 3) Sitologi Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnostic penyakit pleura. 016 Positif cairan efusi Rivalta (dikutip dari Asril Bahar: 2001) Di samping pemeriksaan tersebut di atas. Kadar pH dan glukosa.6 > 0.U. terutama bila ditemukan patologis atau dominasi sel –sel tertentu. secara biokimia di periksakan juga pada cairan pleura: A. B.Kadar protein dalam efusi efusi (g/dl) Kadar protein dalam serum per serum Kadar dalam (I. Biasanya meningkat pada pankreatitis dan penyakit infeksi.) Kadar dalam pe LDH serum Berat kadar protein dalam LDH efusi LDH efusi Kadar dalam jenis transudat <3 Eksudat >3 < 0. 016 negatif > 1.5 > 0. Biasanya merendah pada penyakitKadar amylase.6 < 1. a) Sel neutrofil: menunjukan adanya infeksi akut 18 .

Klebsiella. Jika fasilitas memungkinkan dapat dilakukan pemeriksaan tambahan seperti: a) Bronkoskopi. coli.E: pada lupus eritematosus sistemik. E.biasanya juga ditemukan banyak sel eritrosit. pada kasus–kasus neoplasma. Enterobacter. penyebarab infeksi atau tumor pada dinding dada. Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneumokokus. 4) Bakteriologi Biasanya cairan pleura steril. f) Sel L. e) Sel-sel besar dengan banyak inti: pada arthritis rheumatoid. d) Sel mesotel maligna: pada mesotelioma. Pendekatan pada efusi yang tidak terdiagnosis Analisis terhadap cairan pleura yang dilakukan satu kali kadang-kadang tidak dapat menegakkan diagnosis.Dalam hal ini dianjurkan asppirasi dan anakisisnya diulang kembali sampai diagnosis menjadi jelas. Komplikasi adalah pneumotoraks. 4. Pseudomonas. c) Torakoskop(fiber-optic-pleuroscopy) pada kasus-kasus dengan neoplasma atau tuberculosis pleura. Biopsi pleura Pemeriksaan histology stu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat menunjukan 50-75 persen diagnosis kasus-kasus pleuritis tuberkolosa dan tumor pleura..Efusi yang purulan dapat mengandung kuman-kuman yang aerob ataupaun anaerob.b) Sel limfosit: menunjukan adanya infeksi kronik seperti pleuritis tuberkulosa atau limfoma malignum. (Asril Bahar. b) Scanning isotop. pada kasus-kasus dengan emboli paru. 3. abses paru. tapi kadang-kadang dapat mengandung mikroorganisme. 2001: 786-789) 19 . hemotoraks. c) Sel mesotel: bila jumlahnya meningkat adanya infark paru. apalagi bila cairanya purulen. korpus alienum dalam paru.

20 .

Misal: pabrik bahan-bahan kimia (asbes) kaji pola makanan misal makanan yang mengandung bahan karsinogenik kaji keluhan utama yang paling dirasakan klien. neoplasma. dll) kaji emosi yang timbul akibat pola nafas tidak efektif kaji koping (kecemasan) klien mengenai penyakitnya kaji apakah klien pernah kontak langsung dengan penderita TB dan infeksi lain yang mendasari efusi pleura kaji tempat kerja klien.BAB 2 ASUHAN KEPERAWATAN 2. Riwayat keperawatan Efusi Pleura kaji adanya penyakit yang mendasari terjadinya efusi pleura (misal: TB. B1 (Breathing) 1. pneumonia. nafas pendek 21 pola nafas Pengkajian Pre Tindakan - tidak teratur (dispneu/ sesak . Misal sesak nafas b. nafas) 2.1 1) Pengkajian Keperawatan Pengkajian a.

inadekuat d. 8. B4 (Bladder) f. suhu tubuh tidak ada masalah Tidak ada masalah g. 2. bunyi nafas menghilang/ tidak terdengar diatas bagian yang terkena efusi c. B5 (Bowel) 1. B2 (Blood) pleura 7. B6 (Bone/musculoskeletal/inte gumen) gan nafsu makan penurun an masukan makanan penurun an masukan makanan kehilan peningkatan tekanan darah nyeri dada perkusi pekak ekspansi paru dan penurunan fremitus raba dan denyut nadi meningkat setempat ketika dilakukan 22 . B3 (Brain) e. area efusi ketidaksimetri san dada saat ekspansi egofoni diatas frekuensi nafas meningkat 6.3. (pergerakan dada) 4. perkusi 3.

ketidak mampuan untuk makan karena i.h. obstruksi diafragma sebagian. 2. Pemeriksaan laboratorium dan diagnostic 1. dan sensivitas cairan pleura Hitung sel darah merah dan Pemeriksaan kimiawi putih 23 . distres pernapasan turgor kulit sekitar abdomen buruk bentuk dada (barrel chest) 3. kultur. dan “putih” komplet (opaque densitas) pada area yang sakit Torasentesis Biopsi pleura Pemeriksaan cairan sitologi Pewarnaan gram. Aktivitas/istirahat penurunan berat badan 5. ukuran dada tidak mengalami perubahan kesulitan tidur keletihan meningkat Periksaan sinar dada. untuk sel-sel malignan basil tahan asam. ditemukan : sudut kostrofenik tumpul.

ekspansi paru adekuat 2. Riwayat keperawatan Efusi Pleura 1. nyeri dada saat tindakan 24 . B1 (breating) 1. amylase. emosi yang meningkat akibat tindakan 4. B2 (Blood) 1. kaji koping (kecemasan) klien selama dan sesudah tindakan 6. laktat dehidrogenase. LDH. kaji pengetahuan/pendidikan tentang prosedur tindakan 3. terdengarnya bunyi napas (sonor pada paru ketika perkusi) c. sesak napas berkurang 3. adanya fremitus raba 7. kaji keluhan utama yang paling dirasakan menggangu klien selama dan setelah tindakan 2. kaji mobilitas yang menurun selama tindakan 7. kaji kondisi klien selama tindakan b. protein) 2) Pengkajian Post tindakan Pengkajian a. pola napas teratur 4.(glukosa. frekuensi napas normal 5. kaji pola makan klien selama dan setelah tindakan 5. tekanan darah normal 2. gerakan dada simetris saat ekpansi 6.

2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang timbul menurut Carpenito (1995) adalah: a) Diagnosa Keperawatan Pre Tindakan 1. terkejut 25 . suhu tubuh normal d.3. adanya tanda iritasi (kulit sekitar perlukaan akibat pemasangan WSD h. gugup. gelisah. Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura ditandai dengan sesak nafas 2. WSD keterbatasan rentang gerak pada area pemasangan WSD peradangan/in flamasi di sekitar pemasangan badan peningkatan masukan makanan dan berat peningkatan f. B4 (Bladder) tidak ada masalah tidak ada masalah 1. gemetar. g. B5 (Bowel) 2. ketakutan. nafsu makan 2. Aktifitas/istirahat berwarna merah) 2. B3 (Brain) e. B6 (Bone/musculoskeletal/integ umen) 1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang tindakan medis pemasangan WSD ditandai dengan palpitasi.

dan kedalaman pernafasan normal Penurunan nyeri dada/dispneu Pada pemeriksaan sinar-x. baik jumlah maupun konsistensinya Klien menyatakan factor penyebab. Ansietas berhubungan dengan prosedur pemeriksaan diagnostic ditandai dengan klien menghindar.3. 3. Nyeri berhubungan dengan inflamasi sekunder terhadap efusi pleura ditandai dengan klien mengeluh nyeri. 2. Nyeri berhubungan dengan truma jaringan sekunder terhadap Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan truma jaringan pemasangan WSD sekunder terhadap pemasangan WSD 2.3 Perencanaan a). meliputi : 1. menangis dan merintih 4. irama. Kriteria evaluasi hasil 1. Resiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia akibat nyeri 6. Ketidakefektifan pola pernafasan yang berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam ronga pleura ditandai dengan sesak nafas. wajah tampak menahan nyeri. Gangggun pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder terhadap efusi pleura ditandai dengan kesulitan untuk jatuh tertidur 5. pucat. cairan rongg pleura kembali normal. 2. Frekuensi. Pasien memperlihatkan/ mempertahankan pola pernafasan yang efektif dan mengalami perbaiakn pertukaran gas pada paru. jika diketahui dan menyatakan cara adaptif mengatasi factor tersebut 26 . Tujuan : Pasien memperlihatkan pola pernafasan yang efektif dalam waktu 2 hari setelah pemasangan WSD. 2. Rencana Tindakan Pre Tindakan 1. palpitasi dan gemetar b) Diagnosa Keperawatan Post Tindakan 1.

27 . 2 Dorong atau bantu pasien dalam melakukan nafas dalam.3. Rasional Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan Dapat meningkatkan banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidaknyamanan upaya bernafas. Rencana Tindakan Mengutarakan pentingnya latihan paru setiap hari No Rencana Tindakan 1 Posisikan fowler.

Observasi klem penghubung klien dengan system. menandakan kebocoran antara klien dan water seal.3 Siapkan untuk bantu pemasangan WSD Memudahkan upaya pernafasan dalam. maka kencangkan sambungan yang kendur antara klien dengan water seal • Gelembung berkelanjutan dan belum dapat teratas menandakan bahwa kebocoran tidak berpusat pada klien. Pastikan plester terpasang dan menghubungkan antara dada dan selang drinase dengan tepat -Plester berfungsi sebagai fiksasi dan mengamankan selang dada ke sistem memungkinkan udara yang tertahan keluar ke atmosfir . jika klemnya tidak terpasang dengan semestinya. jika terjadi : • Gelembung berkelanjutan pada bilik WSD. meliputi : 1.Sambungan yang kendor menyebabkan udara memasuki sistem . dimana dapat lebih mempercepat penghisapan 4 Pantau kepatenan pemasangan dan keefektifan proses drainase dengan WSD (Water Seal Drainage). maka pasang kembali (perbaiki posisinya} Observasi kebocoran pada system WSD.Gelembung berlanjut sebagai fiksasi dan mengamankan selang tetapi pada WSD dan plester penghubung .Klem berfungsi untuk mengisolasi system agar tidak ada udara yang masuk ke dalam sistem 28 . maka ganti system drainase (kolaborasi dengan dokter) 3.

Pemijatan menimbulkan tingkat tekanan negatif tinggi dan mempunyai potensi penarikan jaringan paru atau pleura ke dalam lubang drainase selang dada . Pantau posisi selang agar tetap menggantung dalam garis lurus dari atas tempat tidur ke bilik drainase 6. maka lakukan pemencetan atau urut selang dada tersebut 7. Pantau selang dada. bila pengkajian keperawatan menandakan obstruksi pada drainase sekunder terhadap bekuan atau debris pada selan.4. Ventilasi harus bebas sumbatan b.Meningkatkan drainase adanya tekanan negatif berlebihan ke dalam atmosfir 5 6 Pertahankan tirah baring untuk mengambil posisii yang nyaman Pastikan pada individu bahwa tindakan latihan pernafasan dilakukan untuk menjamin keamanan Memberikan rasa nyaman pada klien Melakukan pelatihan pernafasan 29 . Pastikan patensi ventilasi udara pada .Memberikan factor keamanan sistem : a. saat memakai penghisap 5. Pastikan drainase berjalan dengan semestinya . Pastikan posisi botol WSD terletak di bawah tempat tidur klien (posisi lebih rendah dari paru klien) .Mempermudah drainase dan mempertahankan tekanan negatif dan mempunyai potensi penarikan jaringan atau pleura ke dalam lubang drainase selang dada 8. Ventilasi bilik control penghisap harus tanpa sumbatan.

Memberikan oksigenasi yang yang adekuat -Bebat dada ketika batuk . gugup.Mengurangi kekakuan pada sendi gerak akibat tirah baring Mencegah terjadinya salah memberi obat dan mempercepat proses penyembuhan Mengurangi intoleransi aktivitas pada klien mengurangi ansietas pada saat latihan dan memberi motivasi pada klien untuk melakukan latihan pernafasan Untuk mengetahui perkembangan klien setiap 4 jam 2. 30 .Mengurangi guncangan pada rongga pleurayang dapat mengakibatkan nyeri . sehingga drainase dapat berjalan dengan lancer 8 Bantu dan ajarkan klien untuk : -Berbalik. WSD ditandai dengan palpitasi . Tujuan : Individu akan mengetahui penyebab ansietasnya dan mampu menunjukkan pola koping yang baik. N. batuk dan nafas setiap 2-4 jam . dan P setiap 4jam pemasangan. jelaskan bahwa fungsi pernafasan akan meningkat dan dispneu akan menurun dengan melakukan latihan . gelisah. katakutan. maupun saat tindakan medis dilakukan.Melatih pernafasan klien 9 10 11 Pantau TD. demonstrasikan. S.7 Jelaskan alasan. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang tindakan medis .Lakukan latihan rentang gerak pasif pada semua ekstremitas klien setiap 24 jam Berikan obat-obatan sesuai pesanan dan pastikan bahwa klien meminumnya Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi. dan instruksikan klien untuk batuk saat ekspirasi Batuk saat ekspirasi mencegah peningkatan tekanan.pleura.Memberikan spirometer insentif . terkejut. gemetar.

ketakutan menurun atau Klien mengungkapkan apa yang diharapkannya atau optimisme tindakan tersebut dilakukan tidak ada pada saat pra. pencabutan. dan pemulihan Kebutuhan partisipasi dalam kegiatan. gugup. dan waktu tindakan medis dilakukan terhadap tindakan tersebut Rencana tindakan : No 1 Rencana Tindakan Sebelum melakukan tindakan jelaskan terlebih dulu mengenai : . 2 petugas. gemetar. lingkungan. gelisah. Bantu klien untuk mengungkapkan pengertian dan alsan ansietas.Alasan dan hasil tindakan yang diharapkan -Resiko yang akan terjadi Jenis anesthesia Perkiraan lama tindakan. terkejut.Jenis tindakan yang akan dilakukan . Klien mengatakan bahwa ia mengetahui penyebab ansietasnya Klien mengatakan bahwa ia menyadari pantingnya atau alasan Palpitasi.Kriteria evaluasi hasil : 1. 3. pasca. 4. perlu usaha tambahan atau bantuan untuk memahami ansietas yang terjadi Rasional Penjelasan lebih awal dapat menurunkan atau menghilangkan ansietas klien. peralatan. pemasangan. sensasi pasca operasi Jika terjadi ansietas ringan ulangi kembali penjelasan awal 3 Jika ansietas sedang. Klien mengetahui proses dan tujuan. 2. Bantu unutk menilai kembali adanya ancaman dan belajar cara baru untuk Penjelasan dapat menenangkan klien dan meminimalisir atau mengeliminasi ansietas tersebut Pada tingkat ini. tindakan tersebut dilakukan 31 .

tindakan kolaboratif diperlukan Informasi dapat membantu klien untuk mengetahui gambaran tindakan yang akan dilakukan.Pentingnya perawatan diri 32 . tidak dapat berkonsentrasi. dan ambulasi . Keyakinan dapat membantu klien untik lebuh siap menghadapi tindakan Penyuluhan. bangun. beri tahu dokter Pada tingkat ini persepsi sangat menurun.Duduk. dan cara latihan rentang gerak pasif . demonstrasi mendorong atau membantu klien untuk melaksanakan latihan pasca operasi untuk mempercepat pemulihan dan meminimalisir efek lainnya yang tidak diharapkan 5 Beri informasi di samping tempat tidur mengenai sensai serta gambaran (menggunakan selang) dan jelaskan bahwa klien dan keluarganya dapat menghadapinya pada pasca operasi 6 Jelaskan pentingnya penyluhan dan demonstrasi serta instruksikan klien untuk mengulangi demonstrasi .4 mengatasinya Jika terjadi ansietas berat.Latihan aktivitas.

klien menyatakan nyeri yang dirasakannya berkurang atau hilang 3. Klien mengetahui penyebab nyeri 2. Nyeri berhubungan dengan inflamasi sekunder terhadap efusi pleura ditandai dengan klien mengeluh nyeri.3. Klien tidak lagi menunjukkan wajah menahan nyeri. wajah tampak menahan nyeri. menangis. menangis dan merintih Tujuan : Nyeri teratasi seiring dengan berkurangnya akumulasi cairan pleura Kriteria evaluasi hasil : 1. dan merintih Rencana tindakan : 33 .

diukur dengan skala 2 nyeri dan rentang 0-10 Berikan analgesic pada penurunan rasa nyeri yang optimal : . atau IV . IM.No Rencana Tindakan 1 Bantu klien untuk menetukan penyebab nyeri dan tentukan tingkatannya. dan dalam). sedasi. lambat.Lihat advice dokter . inhalasi. 5 distraksi dan masase Beri informasi akurat untuk menurunkan rasa nyeri mengenai penyebab nyeri dari kemungkinan kapan nyeri akan hilang serta yakinkan klien bahwa ia mampu mengatasi rasa nyeri Rasional Tindakan yang dapat dilakukan jika penyebab dan tingkatan nyeri telah diketahui Analgesik dapat menurunkan atau menghilangkan sensasi nyeri dan harus dilakukan secara kolaboratif Narkotik dapat menyebabkan adiksi dan efek samping lain yang membahayakan Kolaborasi dapat mempermudah pelaksanaan tindakan dan tehnik relaksasi mampu mengurangi sensasi nyeri Informasi dan dukungan keyakinan dapat menenangkan klien sehingga sensai nyeri tidak terlalu dirasakan 34 .Konsultasikan dengan apoteker mengenai kemungkinan reaksi tambahan akibat interaksi denga 3 nobat lain Kurangi ayau turunkan efek samping umum dari narkotik.muntah. dan 4 mulut kering Kolaborasi dengan klien untuk melakukan tindakan pengurangan nyeri noninvasive : Ajarkan dan instruksikan penggunaan tehnik relaksasi (nafas berirama.Jelaskan rute yang digunakan peroral. adiksi. mual. jika digunakan jelaskan bahwa narkotik bisa menyebabkan konstipasi.

rekaman hujan 2 3 4 Beri posisi fowler pada klien Relaksasi atau latihan nafas sebelum tidur Lakukan ritual sebelum tidur (bagi yang terbiasa) : . Klien mengetahui dan mengerti factor-faktor yang menghambat untuk tertidur 2. kurangi stimulus (seperti pembicaraan staf).Tutup kebisingan lingkungan dengan kebisingan putih misalnya kipas angin. lepaskan hubungan telepon.Kurangi atau hilangkan distraksi lingkungan seperti kebisingan dan stimulus yaitu : tutp pintu ruangan. musik lembut. gorden atau tirai. hindari prosedur yang tidak penting selama klien tertidur. batasi pengunjung .4.Mandi air hangat 35 Posisi fowler mempermudah drainase pleura Relaksasi mempermudah untuk tidur Ritual sebelum tidur dapat membantu klien untuk cepat tidur Rasional Kebisingan dan stimulus dapat mengganggu istirahat atau tidur klien . Klien mengetahui dan menerapkan teknik-teknik untuk mempermudah tidur 3. Klien segera tertidur dalam waktu kuran dari 30 menit Rencana tindakan : No Rencana tindakan 1 . Gangguan pola tidur berhubungan dengan sering terbangun sekunder terhadap gangguan pernafasan ditandai dengan kesulitan untuk jatuh tertidur Tujuan : Memperbaiaki pola tidur klien hingga kembali teratur tanpa terganggu oleh kondisi terapinya Kriteria hasil evaluasi : 1.

membaca .Makan makanan kecil sebelum tidur .tempatkan tempat tidur pada posisi yang rendah .Berikan pengawasan yang cukup ..bunyikan musik yang lembut 5 Batasi jumlah dan lamanya tidur siang jika berlebihan (lebih dari 90 6 menit) Tingkatkan aktivitas sehari-hari jika memungkinkan : buat bersama klien jadwal program aktivitas sehari-hari .berdoa .Ajarkan pentingnya latihan regular 7 seperti berpindah Kurangi potensi terhadap cedera ketika tidur : -Gunakan pagar tempat tidur jika perlu .dipijat . Nyeri berhubungan dengan truma jaringan sekunder terhadap pemasangan WSD Sedative atau hipnotik dapat membuat klien mudah tertidur Sedative atau hipnotik dapat menyebabkan adiksi bila digunakan dalam jangka waktu yang lama Pencegahan dapat menghindarkan klien dari cidera yang memperparah kondisi klien Tidur siang yang lebih dari 90 menit dapat menurunkan stimulus untuk tidur yang lama pada malam hari Aktivitas berupa latihan dapat menurunkan stress dan memudahkan tertidur 36 .minum susu hangat .tempatkan bel pada tempat yang 8 rendah Berikan sedative atau hipnotik dalam dosis seminimal mungkin jika 9 diperlukan (konsul dengan dokter) Jelaskan obat-obat hipnotik atau sedative tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang lama Rencana Tindakan Post Tindakan 1.

Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan truma jaringan sekunder Tindakan/Intervensi Rasional terhadap pemasangan WSD 37 . Menunjukkan rileks. Berikan anlgesik dan antitusif sesuai terapi Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk nonproduktif dan untuk meningkatkan kenyamanan istirahat. 2. dan peningkatan aktivitas dengan tepat Rencana Tindakan No Mandiri 1. Pasien menyatakan nyeri hilang atau terkontrol b. relaksasi atau latihan napas vital telah terlihat Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik Kolaborasi 1. Berikan tindakan nyaman misalnya pijatan punggung. musik tenang/perbincangan. perubahan posisi.Tujuan: Menghilangkan nyeri akibat pemasangan WSD Kriteria hasil evaluasi: a. Pantau tanda vital Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda 2. istirahat/tidur.

Tujuan: Mengurangi faktor infeksi yang berhubungan dengan truma jaringan sekunder terhadap pemasangan WSD Kriteria Hasil: Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan risiko infeksi. Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan oksigen dan memperbaiki pertahanan pasien terhadap infeksi. 3. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi. atau diberikan secara profilaktik karana resiko tinggi. Observasi warna. Kolaborasi 1. Kaji pentingya latihan napas. Demam dapat terjadi karena infeksi. meningkatkan 5. Dapatkan spesimen sputum dengan kuman Gram. kuning atau kehijauan menunjukkan adanya 4. 2. kultur/sensitivitas. Sekret berbau. batuk atau pengisapan untuk pewarnaan organisme penyebab dan penyembuhan. Rencana Tindakan No Mandiri 1. Dorong keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. dan masukan cairan adekuat. Aktivitas ini meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekret untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi paru. Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitivitas. Tindakan/Intervensi Rasional 38 . batuk efektif. 2. Berikan antimikrobial sesuai indikasi Dilakukan untuk mengidentifikasi kerentanan terhadap berbagai antimikrobial. perubahan posisi. Diskusi kebutuhan masukan nutrisi adekuat. infeksi paru. Awasi suhu.

www. 1995 Diagnosa Keperawatan. 8. Hood dan H. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. 2002. 2001. Abdul Mukty.medicastore. Jakarta: EGC Carpenito. Surabaya: Airlangga University Press Anonim. Jakarta: EGC 39 . 3. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Paru-paru dan Saluran Pernapasan. Diakses tanggal 10 Maret 2008. Lynda Juall. Ed.com. Ed.00 WIB Bahar. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. jam 13.DAFTAR PUSTAKA Alsagaff. Asril. Jakarta: Balai Penerbit FK UI Brunner & Suddart. 2001.

Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. 3. Ed. Sylvia A. Jakarta EGC. Wilson. 2005. dan Lorraine M. Vol 2.Halim. Jakarta: Balai Penerbit FK UI Price. Hadi. 2008.efusi pleura/080308/thorax/weblog. http://www.20 WIB 40 . Rofiqahmad. Thorax.htm. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Ed. diakses tanggal 13 Maret 2008 jam 13. 6. 2001.