REVIEW JURNAL KLINIS

Peran Kepribadian Tahan Banting pada Gangguan Somatisasi Penulis Sumber  Topik : Somatisasi merupakan suatu proses yang melibatkan fisik (soma) untuk tujuan-tujuan psikologis atau tujuan pribadi. Gangguan somatisasi dapat terjadi karena ada factor predisposisi yaitu merupakan factor kerentanan biologis yang ada pada individu dan kondisi psikologisnya, seperti tingkat atau kondisi emosi yang tidak masak atau negatif, danya stressor pada kehidupan, abnormalitas neurologis, dll. Individu yang mengalami gangguan somatisasi menunjukkan adanya kaitan dengan kepribadian yang rentan terhadap stress, oleh karena itu muncul peranan kepribadian tahan banting (hardiness/ hardly personality) yang dapat digunakan sebagai perisai (buffer) dalam mengatasi stressor kehidupan pada gangguan somatisasi. Kepribadian tahan banting memiliki serangkaian ciri atau sikap yang membuat individu tahan terhadap tekanan karena kepribadian ini menunjukkan adanya komitmen yang merupakan lawan alienasi, kontrol merupakan ketidakberdayaan, dan menantang sebagai lawan dari takut atau situasi yang mengancam.  Tujuan : Mengungkapkan peran kepribadian tahan banting (hardiness) sebagai perisai (buffer) dari dampak stressor kehidupan pada munculnya simptom patologis berupa gangguan somatisasi, serta menyusun model gangguan somatisasi.  Hipotesis : Adanya simptom patologis yang berupa gangguan somatisasi disebabkan oleh adanya stressor pada kehidupan yang juga didukung adanya kerentanan biologs pada diri pelaku. Ada hubungan antara tipe kepribadian dalam kaitan timbulnya : M. Noor Rochman Hadjam, Sri Mulyani Martaniah, Johana Endang Prawitasari, dan Masrun. : Anima, Indonesian Psychological Journal, 2004, Vol. 19, No. 2, 122-135.

1

I). sesuai (S).S.  Metode : • Subjek Penelitian → berjumlah 106 pasien penderita gangguan somatisasi yang dirawat di rumah sakit. tidak sesuai (TS). dalam lingkungan sosial. Dalam penelitian stresor pada kehidupan sehari-hari diungkap dengan menggunakan skala stres kehidupan (disusun oleh peneliti sendiri) yang terdiri atas tiga aspek. sangat terganggu sekali (5). pasien-pasien yang direkomendasikan kemudian dijadikan subjek penelitian. sebagian besar subjek adalah wanita. Dalam hal ini kepribadian tahan banting dapat digunalan sebagai perisai untuk menekan serta mengontrol diri dalm mengahadapi stressor pada kehidupan yang akhirnya berdampak pada gangguan somatisasi. • Instrumen Adult Somatization Inventory (A. Nilai tinggi menunjukkan adanya stres yang tinggi. Skala somatisasi tersebut terdiri atas 35 pertanyaan dengan memakai 5 kategori jawaban. gejala gastrointestinal. dan dalam diri sendiri. Pada penelitian kepribadian tahan banting diungkap dengan skala kepribadian tahan banting (disusun oleh peneliti). gejala sakit organ seksual. • Prosedur Penyampaian terlebih dahulu pada dokter ahli penyakit dalam. agak terganggu (3). yaitu tidak terganggu sama sekali (1). yaitu: peristiwa atau kejadian dalam kehidupan keluarga. terganggu sekali (4). serta gejala sakit saraf temu. sedikit terganggu (2). penyakit saraf. dengan beragam latar belakang. Aspek-aspek yang terdapat pada alat ukur adalah gejala sakit umum. dan ahli jiwa mengenai criteria penelitian. sangat tidak sesuai (STS). yang terdiri atas 6 2 .gangguan somatisasi. Skor tinggi pada skala somatisasi menunjukkan tingginya gangguan somatisasi dan begitu pula sebaliknya. yang mengungkap seberapa tinggi somatisasi pada subjek pada subjek penelitian. Skala ini terdiri atas 40 pertanyaan dengan memakai 4 kategori yaitu sangat sesuai (SS).

• Uji Persamaan Model Melalui uji persamaan model ini didapatkan keterangan bahwa model yang digunakan dapat diterima. Pada kepribadian tahan banting berurutan dari yang terbesar nilainya adalah komitmen.  Hasil : • Deskrpsi Data Penelitian dan Analisis Univariat Dari hasil korelasi product moment didapat informasi bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ganggua somatisasi dengan stressor kepribadian. Nilai tinggi menunjukkan adanya kepribadian tahan banting yang baik. sesuai (S). pribadi.aspek yaitu: komitmen. dan ancaman. Pada variable kepribadian tahan banting. keterasingan. kontrol. kontrol. Keempat faktor yang dikonfirmasi yaitu gejala sakit umum. Hasil penelitian menujukkan bahwa stressor kepribadian dan kepribadian tahan banting sama-sama mampu menjelaskan 3 . ketidakberdayaan. Skala kepribadian tahan banting terdiri atas 50 pertanyaan dengan memakai 4 kategori yaitu sangat sesuai (SS). Faktor pada stressor kehidupan yang memilki keterkaitan terbesar dengan total gangguan somatisasi adalah stressor lingkungan sosial. Pada konstruk laten strensor kehidupan dan kepribadian tahan banting. Isu yang turut dibawa dalam penelitian ini adalah stress buffering model yang menekankan pada adanya variable yang menjadi perantara efek stressor kehidupan sehari-hari terhadap kemunculan gejala-gejala patologisl. • Analisis Faktor Konfirmatori Analisis faktor konfirmatori dilakukan pada variable somatisasi untuk memenuhi salah satu syarat uji persamaan structural. gejala gastro-intestinal. dan tantangan. tidak sesuai (TS). tantangan. pada strensor kehidupan berurutan dari yang paling besar adalah strensor lingkungan. terdapat hubungan antara gangguan somatisasi dengan kepribadian tahan banting. gejala gangguan saraf serta gejala gangguan fungsi seksual dapat diterima sebagai konstruk yang termasuk dalam gangguan somatisasi. dan keluarga. semua konstruk empirik yang dikonfirmasi juga diterima. sangat tidak sesuai (STS).

sehingga terhindar dari jatuh sakit. Keterkaitan keduanya yang pada akhirnya menimbulkan suatu solusi baru untuk penanganan gangguan somatisasi. karena kepribadian tahan banting memberikan pengaruh sebagai pelindung dalam hubungan antara stress dan penyakit. sehingga kepribadian tahan banting merupakan mediator dampak stressor kehidupan terhadap gangguan somatisasi. Dibuktikan pula pada penelitian bahwa faktor stressor kehidupan yang paling tinggi dalam menjelaskan gangguan somatisasi adalah stressor lingkungan. Faktor kepribadian tahan banting yang lain. semua aspek yang berkaitan 4 . Hasil penelitian menujukkan adanya hubungan negatif antara kepribadian tahan banting dengan gangguan somatisasi. penelitian ini membuktikan peran kepribadian tahan banting (hardiness) sebagai perisai (buffer) stressor kehidupan yang berupa kejadian-kejadian menekan dalam memunculkan gangguan somatisasi. individu masih dapat bertindak secara proporsional.gangguan somatisasi. Dapat dibuktikan pula peranan kepribadian sebagai moderator yang ditinjau dari uji registrasi hierarki untuk melihat seberapa jauh interaksi antara stressor kehidupan dan kepribadian tahan banting dalam menjelaskan gangguan somatisasi. Individu yang memiliki kepribadian tahan banting ketika menemui kondisi lingkungan yang menekan dan mengancam. juga terbukti sebagai perisai yang kuat.  Komentar : Topik yang diangkat mengenai kepribadian tahan banting dan hubungannya dengan ganggaun somatisasi ini dirasa sangat pas. Semua faktor kepribadian tahan banting memiliki keterkaitan yang kuat dengan gangguan somatisasi terutama faktor komitmen. Berusaha menerapkan kepribadian tahan banting dalam mengahadapi setiap stressor pada kehidupan bagi orang-orang yang kerap mengalami gangguan somatisasi. menjadi alternatif pilihan. Terdapat pula penjelasan bahwa gangguan somatisasi melalui mekanisme pengaruh tak langsung dengan standar kesalahan nilai gama. yaitu kontrol dan tantangan.  Pembahasan : Dengan memakai perspektif stress buffering model. Simpulan ini didapat dari terbuktinya peran kepribadian tahan banting sebagai mediator sekaligus sebagai moderator dampak stressor kehidupan pada gangguan somatisasi. Lewat jurnal penelitian ini.

Pembahasan jurnal ini cukup lengkap. penyampaiannya pun detil dan lengkapa karena dilengkapai dengan tabel-tabel dan bagan. Walau hal ini agak sedikit membuat saya bingung karena banyakanya istilah statistik yang digunakan yang belum banyak saya kenal dan ketahui. sehingga hasilnya pun dipercaya akurat. Pola metodologi yang digunakan pun berlapis-lapis dan memiliki kuantitasa dan kualitas yang lebih dari cukup. serta detil dan menyeluruh. Segala hasil yang didapat dapat dibuktikan dengan metodologi yang dipakai. bahkan hasil-hasil yang didapat pun ternyata menguatkan dan sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan.dengan stress dan somatisasi dikaji dan dihubungkan dengan pola kepribadian tiap individu secara gambalang dan jelas. 5 . Seluruh aspek yang merupakan hasil dari analisis dan penerapan metodologi diungkap secara jelas. akurat dan mendetil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful