PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR

Karakteristik Spesifik, Permasalahan dan Potensi Pengembangan KAWASAN KOTA TEPI LAUT/PANTAI (COASTAL CITY) DI INDONESIA

ABSTRAK

Pengembangan kawasan kota tepi air di Indonesia merupakan salah satu kawasan yang potensial untuk dikembangkan. Dibandingkan dengan kawasan kota tepi sungai atau danau, kawasan kota pantai/tepi laut mempunyai lebih banyak potensi untuk dikembangkan, terutama berkaitkan dengan aspek fungsi dan aksesibilitas. Pengembangan kawasan kota tepi pantai dapat diarahkan pada pengembangan fungsi pariwisata, perekonomian, budaya, pendidikan, industri, pergudangan dan hankam. Akan tetapi dalam pengembangannya, perlu mengidentifikasi secara spesifik karakteristik fisik lingkungan beserta kegiatan yang sedang dan akan dikembangkan di kawasan tersebut. Kawasan ini pada dasarnya berakar pada faktor-faktor geografi dan sejarah nusantara yang telah berabad-abad, bahkan perkembangan beberapa kota di antaranya diawali oleh keberadaan permukiman ini. Pada perkembangan selanjutnya kawasan tepi air ini menjadi tempat yang menarik untuk Permukiman dan berbagai kegiatan lain karena berbagai alasan. Akan tetapi, pengembangan kawasan ini sering mengabaikan keberadaan masyarakat setempat sehingga pada akhirnya harus menanggung beban akibat perubahan pemanfaatan lahan. Demikian pula dengan sejumlah permasalahan yang telah dan diperkirakan akan timbul berkaitan dengan pengembangan ini. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai 3 (tiga) aspek, yaitu karakteristik spesifik, permasalahan dan potensi pengembangan kawasan kota pantai/tepi air di Indonesia, ditinjau dari 7 (tujuh) parameter, yaitu (1) fisik lingkungan; (2) flora dan fauna; (3) social, ekonomi dan budaya; (4) perumahan dan Permukiman; (5) sarana dan prasarana; (6) otoritas kawasan dan (7) status legalitas.

VADZAR DEFTANANDA N (105534208)

Page 1

PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Penduduk perkotaan di Indonesia pada awal abad 21 menunjukkan kecenderungan terus meningkat dan diperkirakan pada tahun 2020 penduduk Indonesia akan mencapai 257 juta, dimana 49,5 % nya merupakan penduduk perkotaan. Penduduk perkotaan tahun 2020 di Sumatera diperkirakan mencapai 23.042.000 (39,8 %), Kalimantan 6.045.000 (38,4 %) dan Sulawesi 7.015.000 (40,5 %). Pengembangan kota tepi air di Indonesia merupakan pokok masalah yang potensial ditangani secara lebih seksama, karena Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia dan berdasarkan PP 47/97 (Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional) terdapat 516 kota andalan di Indonesia dengan 216 kota diantaranya merupakan kota tepi air yang berada di tepi laut (pantai), sungai atau danau. Dibandingkan dengan kawasan kota tepi sungai atau danau, kawasan kota pantai/tepi laut mempunyai lebih banyak potensi untuk dikembangkan, terutama berkaitkan dengan aspek fungsi dan aksesibilitas. Kota pantai/tepi laut sebagai salah satu bentuk kota tepi air pada dasarnya berakar pada faktor-faktor geografi dan sejarah nusantara yang selama berabad-abad telah menjadi bagian dari jalur perdagangan internasional. Pada perkembangan selanjutnya kawasan ini menjadi tempat yang menarik untuk permukiman. Gejala tersebut dapat terjadi karena berbagai alasan, antara lain : • • • merupakan kawasan alternatif permukiman kota bagi kaum urbanis miskin. merupakan peluang bagi kemudahan transportasi. menjadi pintu gerbang alami untuk perdagangan antar tempat yang terpisahkan oleh laut. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya laju pertumbuhan perkotaan, dimana kawasan kota pantai cenderung tumbuh lebih cepat, baik secara demografis maupun ekonomis daripada kota-kota di wilayah lain. Namun karena pesatnya perkembangan transportasi darat dan pusatpusat kegiatan baru di luar kawasan tepi air, maka kawasan kota tepi air mulai kehilangan
VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 2

sebagai BAGIAN dari bahan penyusunan peraturan daerah dan rencana detail/rinci tata ruang kota pantai di seluruh Indonesia. antara lain : • • • kepentingan antar institusi pemerintah.2 Tujuan dan Sasaran Tujuan tulisan ini adalah memberikan gambaran karakteristik spesifik. pergudangan dan perikanan. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 3 . antara kepentingan komersial dan sosial. Sebagian besar pemanfaatan ruang kawasannya hanya digunakan untuk kegiatan pelabuhan. Dengan adanya berbagai kepentingan yang berbeda. Tulisan ini merupakan suatu hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis selama 1995-2000. sebagai BAGIAN dari penyusunan pedoman teknis penataan kawasan kota pantai di Indonesia. permasalahan dan potensi pengembangan kawasan kota pantai/tepi air di Indonesia. baik pusat.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR keunggulannya. Sasaran tulisan ini adalah : a. 1. pengembangan kota tepi air dapat mengakibatkan terjadinya konflik/friksi. yang merupakan pelengkap peraturan perundang-undangan tentang penataan kota tepi air. antara kepentingan publik dan individu. b. daerah maupun pengelola pelabuhan.

3 Kerangka Pola Pikir Kerangka pola pikir penyusunan konsep pengembangan kota pantai di Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut : PEMANFAATAN Karakteristik Spesifik Permasalahan Potensi Kriteria Pelaku VISI Pengkajian Konsep Rencana Tata Ruang RENCANA TATA RUANG Struktur Pola Penyusunan Program Pengembangan Penyusunan Program Pendanaan Penyusunan Tahapan Pelaksanaan MISI PAKET PROGRAM Pendekatan Strategi Persyaratan Implementasi Fisik PENERTIBAN PENGAWASAN PERENCANAAN PENGENDALIAN Bagan 1.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 1. Kerangka Pola Pikir Pengembangan Kawasan Kota Pantai BAB II VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 4 .

kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya. hak untuk memperoleh dan menggunakan air untuk keperluan tertentu. Pengelolaan lingkungan hidup : Hak guna air Prasarana lingkungan : : upaya terpadu dalam pemanfaatan. Page 5 VADZAR DEFTANANDA N (105534208) .PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR KAJIAN PUSTAKA Batasan dan Pengertian Kawasan tepi air : . kawasan yang meliputi daerah sempadan pantai. laut. Sempadan pantai : kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi pantai. teluk) bertemu (kawasan tepian air) dan harus dipertahankan ke-unik-annya. Kawasan pantai berhutan bakau : kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Kawasan tepi laut/pantai : . pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup. danau.kawasan yang dapat meliputi bangunan atau aktivitas yang tidak harus secara langsung berada di atas air. sosial dan budaya. penataan. Sarana lingkungan : fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi. .kawasan yang dinamis dan unik dari suatu kota (dengan segala ukuran) di mana daratan dan air (sungai. proses erosi yang diikuti longsoran (runtuhan) pada material yang masif seperti tebing pantai/sungai. Reklamasi Abrasi Daerah pantai : : : merupakan kegiatan merubah areal laut menjadi daratan. akan tetapi terikat secara visual atau historis atau fisik atau terkait dengan air sebagai bagian dari "scheme" yang lebih luas.kawasan yang dinamis dan unik dari suatu kota (dengan segala ukuran) di mana daratan dan laut bertemu (kawasan pantai) dan harus dipertahankan ke-unik-annya.

PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR Garis pantai Intrusi air laut : : tepi tanah daerah pantai yang berbatasan dengan air laut. BAB III METODOLGI PENELITIAN VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 6 . Long shore line Cross shore line : : garis yang sejajar dengan garis pantai garis yang tegak lurus terhadap garis pantai. yang disebabkan oleh debit pengambilan telah melebihi kecepatan pengisian kembali pada sistem aquifernya yang berasal dari resapan air hujan. yang semula mengandung air tanah tawar. penyusupan air asin/laut ke dalam aquifer/lapisan pembawa air.

Tidak menyangkut ukuran teknis dan besaran. yaitu karakteristik spesifik. sosial dan budaya. kawasan wisata (rekreasi).PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 3. 3. Kedudukan kawasan kota pantai merupakan bagian tak terpisahkan (integral) dari beberapa kawasan lain di kota induknya. c. ekonomi. Secara skematik dapat dilihat pada gambar 1. Gresik. seperti kawasan komersial (perdagangan). Gresik. Mencakup 7 (tujuh) parameter. Ujung Pandang dan Watampone (Sulsel). Orientasi kegiatan kota pantai berbasis darat dan laut. flora dan fauna. sarana dan prasarana. perikanan. Mencakup 3 aspek. Batasan kawasan kota pantai tidak hanya mencakup bagian kota di darat dan berhadapan dengan laut saja. kawasan pelabuhan dan transportasi serta kawasan pertahanan keamanan. seperti perdagangan. serta permukiman. yaitu kondisi fisik lingkungan. perumahan dan permukiman. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 7 . permasalahan dan potensi pengembangan b. legalitas serta pengelolaan kawasan (otoritas). Ujung Pandang. Bersifat umum untuk skala nasional (generalisasi) d. tetapi juga mencakup bagian yang berada di atas air .1 Lingkup Materi Kajian dan Konsep Lingkup materi kajian dan konsep yang diusulkan adalah : a. c. pendidikan dan lingkungan hidup. kawasan budaya. 3. kawasan peninggalan bersejarah. Lamongan dan Tuban (Gelangban-Jatim) dan Balikpapan (Kaltim). Lamongan. b. Tuban dan Balikpapan serta studi data sekunder beberapa lokasi/kawasan sejenis menunjukkan bahwa : a. Bahkan perkembangan beberapa kota diawali oleh keberadaan permukiman di atas air ini.1 Kedudukan Kawasan Kota Pantai Hasil penelitian di Jakarta Utara.2` Lingkup Wilayah Studi Jakarta Utara (DKI).2. Watampone. pelabuhan dan transportasi.

Kedudukan Kawasan Kota Pantai terhadap kota induk dan kawasan lain di sekitar 3. Laut Daratan Kawasan Kota Pantai Kota Induk Kawasan-kawasan lain di Kota Pantai (Perdagangan. Kawasan wisata (rekreasi). Kawasan budaya. C. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 8 . dll) Gambar 1. Kawasan komersial (perdagangan). c.2. pendidikan dan lingkungan hidup. Pendidikan. D. Kawasan peninggalan bersejarah. E.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR Orientasi kegiatan ke air A E E E E E B E E E E D C Orientasi kegiatan ke darat Keterangan : A. b. B. Kawasan permukiman.2 Fungsi Ruang Kawasan Kota Pantai Hasil penelitian di berbagai lokasi kota pantai di Indonesia menunjukkan fungsi kawasan kota pantai adalah sebagai : a. d. d.

kelapa/palma. Kawasan pertahanan keamanan 3. f. serta merupakan daerah retensi sehingga run-off air rendah. Kawasan pelabuhan dan transportasi. suhu & kelembaban tinggi. merupakan pertemuan antara darat dan air. . mempunyai air tanah tinggi. terjadi kebiasaan 'tidak sadar lingkungan' serta cenderung kurang memperhatikan bahaya dan resiko. Secara topografi. seperti pencemaran. Karakteristik Ekonomi. . yaitu : . Sosial dan Budaya a. Terdapat peninggalan sejarah/budaya seperti museum bahari. Terdapat binatang yang spesifik seperti bangau. termasuk daerah pasang surut). Pergeseran fungsi badan perairan laut sebagai akibat kegiatan di sekitarnya menimbulkan beberapa permasalahan lingkungan. dsb. tanah lunak. cuaca. c. dataran landai. dsb. Secara klimatologi memiliki dinamika iklim.60 % (di darat).daerah rawa atau di atas air. Secara hidrologi merupakan daerah pasang surut. b. Pengetahuan akan lingkungan sehat cenderung masih kurang. ikan jenis tertentu.daerah perbukitan dengan kemiringan dataran 20 . dsb. f. Topografi tanah dapat dibedakan atas 3 (tiga) kategori. serta rawan bencana tsunami. serta sering terjadi erosi. Secara geologi.daerah relatif datar/kemiringan 0 . angin. Penduduk mempunyai kegiatan sosial-ekonomi yang berorientasi ke air dan darat. Rata-rata penduduk golongan ekonomi lemah.3 Gambaran Spesifik Kawasan Kota Pantai A. abrasi dan sedimentasi yang bisa menyebabkan pendangkalan badan perairan. b. e. Karakteristik Fisik Lingkungan a. Karakteristik Flora dan Fauna a. terdapat tekanan air laut terhadap air tanah. c.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR e. sebagian besar mempunyai struktur batuan lepas.20 % (di darat. B. e. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 9 . Secara penggunaan lahan memiliki hubungan intensif antara air dan elemen kota.2. dengan latar belakang pendidikan relatif terbatas d. d. Memiliki keunggulan lokasi yang dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Terdapat berbagai tanaman/vegetasi yang spesifik seperti bakau. C. b.

Tahapan perkembangan kawasan perumahan/permukiman di kota pantai adalah : . yang umumnya kumuh dan belum tertata. c. yaitu : . jenis fungsi perairan tidak berarti mengalami penurunan. b. d. Karakteristik Perumahan dan Permukiman a. Terdapat pula budaya/tradisi pemanfaatan perairan sebagai sarana transportasi utama. dibedakan atas 3 (tiga). Kawasan permukiman di atas air cenderung rapat (kepadatan bangunan tinggi dan jarak antar bangunan rapat) dan kumuh (tidak teratur. dan dapat diduga perkembangan fisik kota yang cenderung memanjang di pantai (linier). D. g. Kota masih berupa suatu kelompok permukiman di pantai dan di atas air. seperti masyarakat Bajo. dll).Perkembangan sebagai daerah alternatif permukiman. Walaupun begitu. sehingga rawan terhadap keamanan.Perkembangan selanjutnya ditandai dengan semakin kompleksnya kegiatan fungsional. Pola perumahan dipengaruhi oleh keadaan topografi. yaitu : .PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR f. bahkan mengalami peningkatan (makin beragam). sehingga intensitas kegiatan di sekitar perairan makin tinggi. . Terdapat masyarakat yang secara tradisi terbiasa hidup (bahkan tidak dapat dipisahkan) di atas air.Perkembangan yang dimulai oleh kedatangan sekelompok etnis tertentu di suatu lokasi di pantai. kotor. seperti penyelundupan. . . VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 10 . yang pada akhirnya merupakan karakter dan ciri khas permukiman tersebut.Tahap awal ditandai oleh dominasi pelayanan kawasan perairan sebagai sumber air untuk keperluan hidup masyarakat. Merupakan kawasan terbuka (akses langsung). Sejarah awal keberadaan lingkungan perumahan/permukiman di kota pantai dapat dibedakan atas 2 (dua) kronologis. penyusupan (masalah pertahanan dan keamanan) dsb. yang kemudian menetap dan berkembang secara turun-temurun membentuk suatu klan/komunitas tertentu serta cenderung bersifat sangat homogen.daerah perbukitan cenderung mengikuti kontur tanah. yang berakibat menjadi kawasan liar dan kumuh perkotaan. tertutup dan mengembangkan tradisi dan nilai-nilai tertentu. karena peningkatan arus urbanisasi.Ketika kota membutuhkan komunikasi dengan lokasi lainnya (kepentingan perdagangan) maka kawasan perairan merupakan prasarana transportasi. Dominasi kawasan perumahan/permukiman nelayan. Jaringan jalan raya menawarkan lebih banyak kesempatan mengembangkan kegiatan.

.daerah relatif datar cenderung memiliki pola relatif teratur. yang tidak teratur dan organik. Mempunyai aksesibilitas yang sangat tinggi sebab dapat dicapai dari darat dan dari air. Sistem jaringan jalan di daerah pasang surut dan bertanah lunak umumnya menggunakan konstruksi batu (dengan perkerasan atau makadam) atau konstruksi kayu. sesuai dengan latar belakang budaya dan suku/etnis masing-masing. yaitu pola Grid atau Linear dengan tata letak bangunan berada di kiri-kanan jalan atau linear sejajar dengan (mengikuti) garis tepi pantai. dll. Pada daerah-daerah yang telah ditata umumnya menggunakan pola grid atau linear sejajar garis badan perairan.Bangunan di atas tanah. Orientasi bangunan semula umumnya menghadap perairan sesuai orientasi kegiatan berbasis perairan.Bangunan rakit di atas air (pernah ada dan saat ini sudah jarang dijumpai). maka orientasi bangunan cenderung menghadap ke arah darat dan lebih mempertimbangkan aspek fungsional dan aksesibilitas. bangunan pada permukiman di kota pantai dibedakan atas : .Bangunan panggung di darat. Karakteristik Sarana dan Prasarana Lingkungan a. khususnya untuk perumahan di atas air. E. gempa. Jalan setapak dan beberapa jalan lingkungan umumnya berpola organik mengikuti pola perumahan. Tipologi bangunan menggunakan struktur dan konstruksi sederhana.daerah atas air pada umumnya cenderung memiliki pola cluster. Pola VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 11 . Sering terjadinya kebakaran karena kelalaian. tsunami. . b. memadai serta dapat melayani fungsi-fungsi yang ada.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR .Bangunan panggung di atas air. f. sedangkan jaringan jalan di atas air sepenuhnya menggunakan konstruksi kayu. Sistem dan pola jaringan jalan di darat umumnya sudah terpola. Hanya beberapa konstruksi jalan perlu disesuaikan dengan standar dan tingkat pelayanan yang harus disediakan. h. g. Arsitektural bangunan dibuat dengan kaidah tradisional maupun modern. serta belum tersedianya sarana dan pedoman penanggulangan kebakaran. . tradisional dan konvensional. Perkembangan selanjutnya orientasi kegiatan ke darat semakin meningkat (bahkan lebih dominan). yang kurang memperhitungkan pengaruh angin. Secara arsitektural. sehingga peran dermaga/pelabuhan menjadi titik pertumbuhan. . penggunaan bahan/peralatan berbahaya dan mudah terbakar. e.

3.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR jaringan jalan umumnya tidak teratur/ organik mengikuti perkembangan bangunan dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4. c. prasarana. Karakteristik Status Hukum (Legalitas) Status legalitas beberapa kawasan di kota pantai umumnya tidak jelas. Contoh kasus Pantai Cilincing. seperti kawasan Hankam. Masyarakat cenderung membuang air limbah langsung ke badan air. Jakarta Utara. F. khususnya di atas air memerlukan penanganan serius. Pengakuan legal umumnya tidak ada.4 Peraturan dan Standar Terkait Page 12 VADZAR DEFTANANDA N (105534208) . e. G. karena muka air tanah yang tinggi serta menjadi muara daerah hulunya. d. Pembuangan air limbah memerlukan penanganan khusus. Karakteristik Pengelolaan Kawasan a. dsb. kawasan merupakan 'public domain' yang dapat dimanfaatkan oleh segala lapisan masyarakat. f. Kawasan Berikat. Pelabuhan. baik dari kakus individu maupun MCK. tata cara dan pedoman). Kebutuhan air bersih biasanya belum tercukupi karena pada umumnya belum terjangkau jaringan air bersih/minum kota (PAM/PDAM) dan kondisi air tanah yang dijadikan sumber air bersih kebanyakan payau. g. Secara otorisasi kegiatan. terutama area yang direklamasi secara swadaya oleh masyarakat. sehingga perlu penjernihan air. Umumnnya sampah dibuang/ditimbun di pinggir laut atau dibuang langsung ke laut sehingga sering menimbulkan bau serta menjadi sarang lalat dan nyamuk. Sistem penanggulangan bahaya kebakaran (sarana. Secara otorisasi pengelolaan. Sistem drainase memerlukan penanganan relatif lebih rumit. dapat berfungsi sebagai kawasan khusus dengan alasan keamanan. tetapi pelarangan atau pengaturan juga tidak ada. karena merupakan daerah retensi yang sering tergenang air/banjir dan menjadi muara daerah hulunya. b.

Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Perdesaan. RAPEMEN STANDAR TEKNIS PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI ATAS AIR (Sumber : Pedoman Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Tepi Air di Indonesia . Dep. Ditjen Cipta Karya. 1998 dapat digambarkan sebagai berikut : STRUKTUR PERATURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN (FAMILY TREE) TENTANG PENATAAN KAWASAN KOTA TEPI AIR TAP MPR UU UU 24/92 PENATAAN RUANG UU 11/74 PENGAIRAN UU 23/97 LINGKUNGAN HIDUP UU 4/92 PERMUKIMAN UU 5/92 CAGAR ALAM UU HANKAM RPP KAWASAN PERKOTAAN Peraturan Pemerintah PP 22/82 PENGATURAN AIR PP 35/91 SUNGAI PP 27/91 RAWA PP 51/93 AMDAL PP 20/90 KENDALI PENCEMARAN SUNGAI RAPERMEN PENETAPAN KAWASAN PERKOTAAN PENYUSUNAN RENCANA & PENINJAUAN KEMBALI RAPERMEN PEDOMAN PEMENFAATAN RUANG & PENGENDALIAN PERKOTAAN RAPERMEN BENTUK PENGEMBANGAN PERKOTAAN Peraturan Menteri PERMEN PU 63/PRT/93 GSS DAERAH MANFAAT SUNGAI PERMEN PU 64/93 REKLAMASI PERMEN PU 45/PRT/90 KENDALI MUTU AIR PERMEN PU STANDAR AIR LIMBAH RAPEMEN PEDOMAN UMUM TENTANG RUANG KAWASAN PERKOTAAN TEPI AIR RAPEMEN PEDOMAN PENATAAN BANGUNAN & LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI ATAS ATAS AIR RAPEMEN SPESIFIKASI TEKNIS PERUMAHAN DI ATAS AIR Bagan 2.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR Struktur Peraturan Perundangan-undangan (Family Tree) tentang Penataan Kawasan Kota Tepi Air menurut Pedoman Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Tepi Air di Indonesia. PU. September 1998) BAB IV VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 13 .

kawasan tersebut rawan bencana tsunami serta muka tanah turun. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 14 . Arus pasang surut menimbulkan masalah pendaratan kapal. Muka air tanah tinggi dan merupakan fungsi retensi menyebabkan sering terjadi genangan banjir. yang mengganggu aktivitas yang sedang maupun akan berlangsung.Potensi perairan sebagai sumber air bersih penduduk menjadi tidak ekonomis lagi karena membutuhkan biaya tinggi untuk proses penjernihannya.Pertentangan kepentingan.1 Permasalahan Fisik Lingkungan a. c. e. serta mempunyai kelembaban tinggi. f. Pergeseran fungsi tepi laut/pantai mengakibatkan timbulnya : . run-off rendah. .Gejala erosi tanah yang terus meningkat sehingga terjadi pedangkalan perairan. . Sedimentasi mengakibatkan pendangkalan sehingga transportasi air terganggu. Hal ini mengakibatkan konflik kepentingan antara kawasan konservasi dan komersial. dan suhu. b. cuaca. Dilihat dari kondisi klimatologinya. kawasan tersebut mempunyai dinamika iklim. . Secara geologis. . lingkungan korosif. angin. .1 Permasalahan Utama Kawasan Kota Pantai Permasalahan utama kawasan kota pantai dapat dibagi atas 7 (tujuh) kategori : 4.Meningkatnya pencemaran air berakibat pada penurunan hasil perikanan.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. d. .Terjadi kecenderungan kenaikan muka air laut sebagai bagian dari pemanasan global (global warming) dan dampak pembangunan pada kawasan tepi laut/pantai secara tidak berwawasan lingkungan.Jumlah air permukaan menuju badan air naik. sehingga timbul banjir. Adanya abrasi dan akresi menyebabkan pengikisan dan sedimentasi sehingga garis pantai sering berubah.Potensi perairan sebagai objek wisata sukar dimanfaatkan karena kecenderung-an menurunnya estetika lingkungan.1. Tata guna lahan dan pembangunan fisik yang tidak sesuai karakteristik area pantai akibat adanya kompetisi lokasi yang berhadapan dengan air. serta tingginya intrusi air laut ke air tanah.

Mayoritas penduduk golongan ekonomi lemah dengan latar belakang pendidikan relatif terbatas dan pengetahuan akan lingkungan sehat. khususnya di daerah pasang surut. mengingat daya jangkau relatif terbatas. Tidak didukung penyediaan material berkualitas yang cukup (jumlah semakin terbatas dan relatif semakin mahal).3 a. sehingga menjadi tidak efektif. b. f. sehingga perlu penyelesaian sistem struktur tepat guna pada kondisi perairan. keindahan dan berwawasan lingkungan. kenyamanan. serasi. Sosial dan Budaya Pengembangan kawasan sering mengabaikan keberadaan penduduk setempat sehingga sering muncul konflik kepentingan antara kepentingan sosial dan komersial. keamanan. Belum maksimalnya teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk kawasan ini. sering terjadi konflik/friksi kepentingan antara kepentingan konservasi dan pengembangan kawasan. d.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 4. Alternatif-alternatif teknologi yang dapat diterapkan umumnya relatif modern dan cenderung memakan biaya tidak murah. 4. b.4 Permasalahan Perumahan dan Permukiman a. Kecenderungan pengembangan kawasan pemukiman.1. juga pengawasan dan pemeliharaan kawasan perumahan di pantai. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 15 . e.1.2 Permasalahan Flora dan Fauna Permasalahan flora dan fauna adalah terancamnya keberadaan flora dan fauna spesifik akibat meningkatnya aktivitas perkotaan yang tidak berwawasan lingkungan.1. maupun teknologi sistem pendukungnya. Sebagian besar perumahan nelayan dan perumahan di atas air belum memenuhi standar persyaratan kesehatan. terutama di atas air akan bersaing dengan lajunya pengembangan wilayah pelabuhan. 4. Belum adanya pengaturan perencanaan. Untuk kawasan yang mempunyai nilai budaya dan peninggalan sejarah. pelaksanaan. baik dari aspek fisik bangunan. terutama perumahan di atas air. c. Permasalahan Ekonomi. Perlu beberapa teknologi murah dan tepat guna. c. ketertiban. Kondisi lingkungan perairan kurang mendukung. teratur dan berkelanjutan cenderung masih kurang dan terjadi kebiasaan 'tidak sadar lingkungan' dan cenderung kurang memperhatikan bahaya dan resiko.

dan pasang-surut air laut.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 4. pengurugan dsb. Transportasi air di kawasan ini relatif lebih padat dari kawasan lain. mengakibatkan badan air terkontaminasi. Drainase kawasan sulit menggunakan sistem gravitasi. Perlu upaya penyediaan air bersih yang tidak mengganggu keseimbangan sumber air baik kualitas maupun kuantitasnya (PP No. tidak layak dikonsumsi. curah hujan. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. tingkat run-off. h. . . serta rawan terhadap tsunami. Keberadaaan perumahan kebanyakan menghalangi 'publik dominan'.Pola dan jaringan jalan yang tidak teratur (organik). VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 16 .Penerangan jalan. Permen 45/PRT/1990 tentang Pengendalian Mutu Air Pada Sumber-Sumber Air). c.5 Permasalahan Prasarana dan Sarana Lingkungan a. baik kebakaran maupun bencana alam tidak ada sama sekali. . e. lalu lintas air. i. terutama di atas air perlu mendapat perhatian serius.1. Pembuangan air limbah kawasan kota pantai bermuara di laut. Terbatasnya ruang bagi lokasi TPA dalam penanganan sampah akan berakibat terbatasnya ruang pembuangan alamiah. f. sistem polder. Prasarana (peralatan dan mekanisme) penanggulangan bahaya. Prasarana jalan lingkungan. terutama di malam hari nyaris tidak ada sama sekali. 22/1982 tentang Tata Pengaturan Air. d. Penanganan drainase tersebut dipengaruhi oleh kondisi hinterland kawasan. Upaya yang diperlukan antara lain memperlancar aliran air melalui pompanisasi. Pengaturan perlu mempertimbangkan pengendalian pencemaran air (PP No. b. yang akan menyebabkan polusi air tanah. Permen PU No 49/PRT/1990 tentang Tata Cara dan Persyaratan Ijin Penggunaan Air dan atau Sumber Air). Pada kawasan di atas air yang telah terlayani jaringan air bersih/minum kota pada umumnya mempunyai permasalahan pada sering terjadinya kerusakan jaringan perpipaan sebagai akibat perilaku hempasan ombak dan korosi. Keberadaan pasar terapung yang muncul pada badan air menimbulkan permasalahan terganggunya lalu lintas air dan pencemaran lingkungan.Persyaratan konstruksi jalan yang relatif tidak memenuhi syarat. g. karena merupakan kawasan datar. Penyediaan air bersih dengan memanfaatkan sumber air setempat biasanya payau dan mempunyai salinitas tinggi.

pemilikan dan rencana tata ruang lingkungan tempat tinggal atau hunian untuk membangun. b. Muka air tanah tinggi sehingga memiliki cukup banyak ketersediaan air. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 17 . penguasaan. hanya dapat terwujud di atas sebidang tanah yang disebut kavling tanah matang (interpretasi UU No. Otorisasi mengakibat-kan adanya konflik antara kegiatan komersial dan sosial.4/1992 tentang Perumahan dan Permukiman).24/1992 (penjelasan pasal 7 ayat 1). . Hal ini menjadikan kota pantai sering menjadi pusat pertumbuhan bagi wilayah yang lebih luas (hinterland). b. Potensi Fisik Lingkungan Merupakan dataran subur dan sebagian besar memiliki sumber daya mineral.Pengertian persyaratan pembakuan dalam penggunaan. b. namun pengakuan dan dukungan secara hukum masih terkesan ragu-ragu.2 Potensi Pengembangan Potensi pengembangan kawasan kota pantai dapat dibagi atas 7 (tujuh): 4.Pengertian permukiman : bagian lingkungan hidup di luar kawasan lindung. c.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 4. Karena kawasan di atas air tumbuh tanpa aturan yang jelas dengan sendirinya status hukumnya menjadi tidak jelas. 4. c.7 Permasalahan Status Hukum (Legalitas) Kawasan a.2.pasal 1).1.Pengertian sempadan pantai masuk dalam kelompok kawasan lindung. baik berupa kawasan perdesaan maupun perkotaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (Sumber : UU No.1 a. Otorisasi kegiatan khusus mempunyai potensi terjadinya konflik pemanfaatan ruang dengan kawasan sekitarnya.1. . khususnya pada lembaga-lembaga keuangan/perbankan yang ada. Meskipun eksitensi fisik diakui. 4. Belum memungkinkan menjadikan bangunan/sarana dan prasarana sebagai jaminan/ agunan kredit. sebagaimana tercantum dalam UU No.4/1992 Bab I .6 Permasalahan Pengelolaan Kawasan pengelolaan kawasan menyebabkan terjadinya eksklusivisme yang a. Keunggulan lokasi kawasan yang mempunyai akses langsung ke air mengakibatkan percepatan pengembangan kawasan. yang mungkin disebabkan oleh beberapa faktor: .

mempunyai beberapa permasalahan. b.3 a. Cocok bagi pengembangan perikanan darat (tambak) dan perikanan laut.Perkembangan kota sebagai implikasi berlangsungnya fungsi kota dan fungsi perairan. . yaitu : . mempunyai potensi perkembangan kegiatan-kegiatan perkotaan seperti pusat industri perikanan. Fungsi badan perairan dapat dibedakan antara kepentingan sosial masyarakat sebagai pemenuhan kebutuhan air bersih dan kegiatan domestik lainnya. pusat distribusi. Tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam meninjau pemanfaatan badan perairan terhadap perkembangan kota. 4. serta menjadi pemandangan alami. pusat kegiatan yang berkaitan dengan pelabuhan. maka dapat ditentukan fungsi perairannya. Potensi Flora dan Fauna Jenis vegetasi spesifik seperti tanaman bakau dapat berfungsi untuk mencegah abrasi.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR d.2. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 18 . Dengan mempertimbangkan watak fisik badan perairan.2 a.2. sehingga pada umumnya mempunyai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari kota/kawasan lainnya.Beberapa kegiatan kota muncul sebagai akibat potensi perairan yang dapat dimanfaatkan dan di pihak lain beberapa fungsi kota dapat menimbulkan jenis pemanfaatan kawasan perairan dan pantai. Sosial. komersial.Sifat fisik kawasan perairan menentukan adanya kesempatan untuk pengembangan kegiatan fungsional tertentu yang mempengaruhi jenis kegiatan kota. fungsi badan perairan dapat menjadi sebab maupun akibat perkembangan kota. sehingga dapat dikembangkan sebagai potensi wisata. . Hal itu memperlihatkan bahwa fungsi badan perairan dengan fungsi kota dapat saling berpengaruh. Memiliki potensi budaya seperti budaya masyarakat nelayan yang unik atau campuran dari berbagai jenis budaya-lokal dan asing yang memberi watak/karakter. pergudangan. Potensi Ekonomi. dsb. dan Budaya Secara ekonomi. b. perumahan. sedang fungsi lain adalah untuk kepentingan ekonomi dalam skala luas sebagai sarana angkutan regional dan pelabuhan ekspor/impor. 4. Permasalahan tersebut dapat menimbulkan jenis pemanfaatan kawasan perairan.

Potensi Prasarana dan Sarana Lingkungan Sebagai tempat bertemunya darat dengan air.5 a. Adanya perumahan di pinggiran air dan/atau di atas air merupakan potensi wisata yang perlu dikembangkan. Memungkinkan sarana hunian (rumah) dijadikan jaminan kredit bank. seperti permukiman yang terdapat di Brunei Darussalam.3 KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN Konsep dasar rencana pengembangan kawasan kota pantai bertitik tolak dari pendekatan dan strategi pengembangan kawasan. b. 4.2. 4.6 Potensi Pengelolaan Kawasan Otorisasi khusus seperti Kawasan Berikat dapat membuka peluang industri. Keberadaan pasar terapung sebagai penunjang ekonomi kota dan potensi wisata.2. bila dipandang dari sudut transportasi dengan adanya pelabuhan atau dermaga. 4. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 19 . Peninggalan sejarah seperti Museum Bahari. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya). Pengakuan terhadap lokasi tersebut akan mempermudah usaha penataan dan perbaikan lingkungan serta menjadikannya bagian integral rencana pengembangan tata ruang kota. sehingga rencana pengembangan permukimannya harus merupakan turunan dari rencana makro kota induknya. merupakan pendekatan perencanaan yang didasarkan pada rencana makro suatu kota pantai. antara lain: 1) Pendekatan Komprehensif.7 Potensi Keberadaan Status Hukum (Legalitas) Kawasan a. b.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR c. 4. a. 4. dapat dijadikan obyek wisata potensial.4 Potensi Perumahan dan Permukiman a. Merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah penyediaan perumahan sebagai akibat kekurangan/kesulitan lahan baru (semakin mahal. kawasan perkotaan pantai dapat diakses dari daratan maupun dari perairan.2. dan oleh karenanya sangat potensial. b. dan terbatas).2. dengan mempertimbangkan pelestarian cagar budaya (UU No. Pendekatan Beberapa pendekatan perencanaan dalam pengembangan kawasan kota pantai.

drainase. Melalui strategi ini diharapkan permasalahan yang mungkin dapat timbul karena penggunaan tanah/lahan sekitar pantai secara ekstensif sepanjang pantai atau gangguan terhadap kelestarian lingkungan hidup dapat dibatasi dan dilokalisasi ke arah pedamanan. swasta dan masyarakat setempat) dalam proses perencanaan kawasan permukiman di kota pantai. Strategi Pengembangan Beberapa strategi pengembangan yang dapat diterapkan antara lain : 1) Pengembangan secara mengelompok (clustered). fasilitas umum dan lain-lain. pintu gerbang kota.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 2) Pendekatan Front-Edge. 2) Pengembangan secara reklamasi. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 20 . merupakan pendekatan perencanaan yang mempertimbangkan sosial-budaya komunitas masyarakat di kawasan tersebut serta dengan mengembangkan potensi kearifan masyarakat setempat dalam mengelola lingkungan alam dan lingkungan buatan. 5) Pendekatan Kultural dan Kearifan Masyarakat. Strategi ini dipilih antara lain karena semakin langkanya ketersediaan lahan perkotaan untuk mengakomodir pemenuhan kebutuhan fungsi perkotaan seperti transportasi. merupakan pendekatan perencanaan yang melibatkan/ mengikutsertakan semua pelaku pembangunan (pemerintah. 3) Pengembangan secara revitalisasi. yaitu pengembangan kawasan pantai yang ditujukan untuk mendapatkan lahan pengembangan baru melalui pengurukan atau pengeringan. orientasi kegiatan penduduk. sosial atau budaya. dsb. yaitu pengembangan kawasan pantai yang diarahkan ke pedalaman. merupakan pendekatan perencanaan yang didasarkan pada pertimbangan inovasi teknologi. 4) Pendekatan Tekno-Ekonomis. merupakan pendekatan perencanaan yang memanfaatkan keberadaan air sebagai bagian depan dari bangunan. permukiman. 3) Pendekatan Partisipatorik. yaitu pengembangan kawasan pantai melalui cara pemugaran. konservasi (pelestarian) lingkungan maupun penataan lingkungan. Pemilihan strategi ini didasarkan pada kondisi kawasan dimana terdapat area yang kumuh (slum area) atau pada kawasan yang berpotensi untuk pengembangan ekonomi. b. tetapi masih dalam kelayakan ekonomi.

b. yaitu : 4. dll. Education. Harus mampu menarik pengunjung yang akan memanfaatkan potensi kawasan pantai sebagai tempat bekerja. Kegiatan diciptakan tetap menarik dan nyaman untuk dikunjungi (dinamis).4 Struktur Pengembangan Struktur peruntukkan kawasan kota pantai dapat diarahkan pada 7 (tujuh) pengembangan. d. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 21 . sarana pusat-pusat penelitian yang berhubungan dengan spesifikasi kawasan tersebut.2 Kawasan Budaya. dasar laut. Keberadaan budaya masyarakat harus dilestarikan dan dipadukan dengan pengelolaan lingkungan didukung kesadaran melindungi/mempertahankan keutuhan fisik badan air untuk dinikmati dan dijadikan sebagai wahana pendidikan (keberadaan keragaman biota laut. dll. Keindahan bentuk fisik (profil tepi pantai) kawasan pantai diangkat sebagai faktor penarik bagi kegiatan ekonomi. budaya dan konservasi. 4.1 Kawasan Komersial (Commercial Waterfront) : Adapun kriteria pokok pengembangan kawasan komersial di kota pantai adalah : a. profil pantai. seperti penyediaan sarana untuk upacara ritual keagaman. Menekankan pada kebersihan badan air dan suplai air bersih yang tidak hanya untuk kepentingan kesehatan saja tetapi juga untuk menarik investor.4.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 4. sosial-budaya. belanja maupun rekreasi (wisata). Memanfaatkan potensi alam pantai untuk kegiatan penelitian. f. dan Environmental Waterfront) : Kriteria pokok pengembangannya adalah : a. e. c. dll). Pendidikan dan Lingkungan Hidup (Cultural. mangrove. Perlu upaya pengaturan/pengendalian fungsi dan kemanfaatan air/badan air. Mempertahankan keberadaan golongan ekonomi lemah melalui pemberian subsidi. Bangunan harus mencirikan keunikan budaya setempat dan merupakan sarana bersosialisasi dan berusaha (komersial).4. d. c. Perlu ditunjang oleh program-program pemanfaatan ruang kawasan. b. e. Diarahkan untuk menyadarkan dan mendidik masyarakat tentang kekayaan alam tepi pantai yang perlu dilestarikan dan diteliti.

polder dan pompanisasi untuk menghindari terjadinya genangan pada bangunan bersejarah. e. Kekhasan arsitektur lokal dapat dimanfaatkan secara komersial guna menarik pengunjung. bangunan dll) dan/atau merehabilitasinya untuk penggunaan berbeda (modern). Perbedaan budaya dan geografi diarahkan untuk menunjang kegiatan pariwisata.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR 4. c.4. 4. situs.4.5 Kawasan Permukiman (Residential Waterfront) : Kriteria pokok pengembangan kawasan permukiman di kota pantai adalah : a. pembangunan tanggul. 4. budaya lokal serta kepentingan umum. Pada permukiman/perumahan nelayan harus dilakukan upaya penataan dan perbaikan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kawasan. terutama pariwisata perairan.4. Memanfaatkan kondisi fisik pantai untuk kegiatan rekreasi (indoor atau outdoor). Perlu memperhatikan tata air. d. Pelestarian peninggalan-peninggalan bersejarah (landscape. b. Penempatan perumahan nelayan baru hendaknya disesuaikan dengan potensi sumber daya sekitar dan “market” hasil budidaya perikanan. c.4 Kawasan Wisata/Rekreasi (Recreational Waterfront) : Kriteria pokok pengembangan kawasan rekreasi/wisata di kota pantai adalah : a. Program-program pemanfaatan ruang kawasan ini dapat berupa pengamanan pantai dengan pemecah gelombang untuk mencegah terjadinya abrasi (melindungi bangunan bersejarah di tepi pantai). c. Pemanfaatan kondisi fisik pantai untuk kegiatan rekreasi/wisata pantai. dll. d. Pembangunan diarahkan di sepanjang badan air dengan tetap mempertahankan keberadaan ruang terbuka. Pengendalian pengembangan baru yang kontradiktif dengan pembangunan yang sudah ada guna mempertahankan karakter (ciri) kota. b. Perlu keselarasan pembangunan untuk kepentingan pribadi (privat) dan umum. b.3 Kawasan Peninggalan Bersejarah (Historical/Herritage Waterfront) : Kriteria pokok pengembangannya adalah : a. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 22 . Pengembangan kawasan permukiman dapat dibedakan atas kawasan permukiman penduduk asli dan kawasan permukiman baru.

Program pemanfaatan kawasan yang dapat diterapkan untuk kawasan permukiman penduduk asli (lama) antara lain: revitalisasi/penataan bangunan. sarana penunjang pelabuhan (pergudangan).7 Kawasan Pertahanan dan Keamanan (Defence Waterfront) : Kriteria pengembangan kawasan pertahanan dan keamanan di kota pantai : a. b. c. serta pemeliharaan drainase. penanganan sarana air bersih. pengaturan batas sempadan dari badan air. Pengaturan tata guna lahan (land-use) untuk kebutuhan dan misi hankam negara. Pemanfaatan potensi pantai untuk kegiatan transportasi. d. Pengembangan kawasan diutamakan untuk menunjang program ekonomi kota (negara) dengan memanfaatkan kemudahan transportasi air dan darat. 4. f. Dipersiapkan khusus untuk kepentingan pertahanan dan keamanan bangsa-negara. pengaturan pengambilan air tanah.6 Kawasan Pelabuhan dan Transportasi (Working and Transportation Waterfront) : Kriteria pokok pengembangannya adalah : a. reklamasi. dll. 4. pergudangan dan industri. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 23 . penyediaan dermaga perahu.4. Pembangunan kegiatan industri harus tetap mempertahankan kelestarian lingkungan hidup. penyediaan utilitas. b. Program pemanfaatan ruang yang dapat diterapkan : pembangunan dermaga.4. c.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR e. dll. Perlu dikendalikan untuk alasan hankam dengan dasar peraturan khusus. air limbah dan persampahan. program penghijauan sempadan. Program pemanfaatan kawasan yang dapat diterapkan untuk kawasan permukiman baru antara lain : penataan bangunan dengan memberi ruang untuk public access ke badan air. pengadaan fasilitas transportasi.

Kawasan permukiman. Kawasan komersial (perdagangan). serta permukiman. Kawasan peninggalan bersejarah. Kawasan pantai di Indonesia dapat diarahkan pada 7 (tujuh) jenis pengembangan. seperti perdagangan. Kawasan pelabuhan dan transportasi. Kedudukan kawasan kota pantai merupakan bagian tak terpisahkan (integral) dari beberapa kawasan lain di kota induknya. Kawasan wisata (rekreasi). 3. Kawasan pertahanan keamanan 5. 4. maka konsep yang diusulkan ini perlu disesuaikan dengan kondisi spesifik setempat. 2. 6. d. pelabuhan dan transportasi.1 Kesimpulan a. yaitu : 1. b. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 24 .PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR BAB V PENUTUP 5. pendidikan dan lingkungan hidup. perikanan. Orientasi kegiatan kota pantai berbasis darat dan laut. dan lain-lain. Batasan kawasan kota pantai tidak hanya mencakup bagian kota di darat dan berhadapan dengan laut saja. seperti pedoman teknis penataan kawasan permukiman di kota tepi pantai. pedoman teknis penataan kawasan rekreasi di kota tepi pantai. 7. Untuk dapat digunakan sebagai dasar pengembangan kawasan. Pengembangan kawasan kota tepi air pada umumnya dan tepi laut/pantai pada khususnya perlu mengantisipasi dampak timbal balik antara pembangunan fisik dan kerusakan bentang alam. Perlu disusun pedoman umum penataan ruang kawasan kota pantai dan pedoman teknis penataan ruang untuk masing-masing tipe pemanfaatan kawasan kota pantai. 5. 3.2 Saran dan Rekomendasi 1. 2. Kawasan budaya. c. tetapi juga mencakup bagian yang berada di atas air .

Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Tata Perdesaan. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Laporan Akhir. 1998. Penyusunan Standar Spesifikasi Teknis Perumahan Nelayan. Laporan Akhir. Model Perbaikan Lingkungan Permukiman di Kota Tepi Air dengan Mengembangkan Kearifan Masyarakat dan Nilai-nilai Tradisional. Undang-Undang No. Pedoman Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Tepi Air di Indosesia. Penyusunan Standar Spesifikasi Teknis Instalasi Penanggulangan Kebakaran pada Kawasan Perumahan Di Atas Air. Laporan Akhir. 2000. 4.PENGEMBANGAN PERKOTAAN TEPI AIR DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI 1. Laporan Akhir. Direktorat Jenderal Cipta Karya. 3. 1998. Pedoman Penyelenggaraan Pembangunan Perumahan Di Atas Air. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Laporan Akhir. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Undang-Undang No. VADZAR DEFTANANDA N (105534208) Page 25 . 5. 2. 7. 1998. 1998. Puslitbang Permukiman. 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful