RINGKASAN ERI RAHMAWATY ELYAS SALEH FAKTOR RISIKO KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP KEJADIAN STROKE DI RUMAH SAKIT UMUM

DAERAH BAU-BAU PROPINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2007 Stroke merupakan penyakit gangguan fungsional otak fokal maupun global akut dengan gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang sebelumnya tanpa peringatan; dan yang dapat sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, atau kematian; akibat gangguan alliran darah ke otak karena perdarahan ataupun non perdarahan dan dianggap sebagai masalah besar yang tengah dihadapi hampir seluruh dunia. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti merasa tertarik untuk menganalisis factor risiko merokok sebagai salah satu penyebab terhadap kejadian stroke. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan rancangan Case Control Study yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berisiko terhadap kejadian Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bau-Bau. Pengumpulan data penelitian dilakukan secara wawancara langsung kepada responden menggunakan bantuan kuesioner. Pengolahan data menggunakan bantuan komputer dan analisis data berdasarkan pengujian statistik Odds Ratio (OR). Peyajian data penelitian dalam bentuk tabel analisis univariat dan bivariat yang disertai dengan pejelasan. Hasil penelitian diperoleh bahwa Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dan jenis rokok yang dihisap dengan kejadian stroke dan dikatakan bukan faktor risiko berdasarkan nilai Confidence Interval yang mencakup nilai satu, sedangkan lama merokok dan banyaknya rokok yang dihisap dalam sehari merupakan faktor risiko terhadap kejadian stroke. Dimana semakin banyak batang rokok yang dihisap dalam sehari dan lamanya seorang merokok meningkatkan kejadian terhadap stroke. Saran yang diajukan pada penelitian adalah penanggulangan stroke melalui pengurangan konsumsi rokok perlu dilaksanakan melalui berbagai upaya yang tidak hanya mencakup aspek penyebaran informasi saja namun juga harus mencakup pada pengurangan produksi rokok di perusahaan-perusahaan pemintal rokok dan Upaya penanggulangan perilaku merokok pada masyarakat juga dapat dilakukan dengan keterlibatan pemerintah dengan membuat kebijakan atas harga penjualan rokok yang lebih tinggi selain dengan penerapan aturan pemroduksian jenis rokok berfilter. Kata Kunci : Merokok, Perilaku

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otak merupakan jaringan atau organ tubuh yang sangat vital, keberadaan serta fungsinya dapat terganggu oleh suatu serangan yang datang secara tiba-tiba dan mendadak, serta tanpa peringatan terlebih dahulu; yang disebut stroke.Stroke dianggap sebagai masalah besar yang tengah dihadapi hampir seluruh dunia, serangan stroke yang akut terutama dapat menyebabkan kemetian yang mendadak ataupun kecatatan fisik dan mental baik pada usia produktif maupun usia lanjut. Insidennyapun semakin sering ditemukan (Junaidi, 2004). Stroke merupakan penyakit gangguan fungsional otak fokal maupun global akut dengan gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang sebelumnya tanpa peringatan; dan yang dapat sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, atau kematian; akibat gangguan alliran darah ke otak karena perdarahan ataupun non perdarahan (Junaidi, 2004). Stroke adalah penyakit penyebab kematian ke tiga di negara maju. Angka kejadian stroke di Amerika Serikat di perkirakan setiap tahunnya mencapai 500.000 pasien stroke baru dan sekitar 150.000 yang meninggal berkenaan dengan stroke (Bustan, 2000). Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) menyebutkan bahwa setiap tahun diperkirakan 500.000 penduduk Indonesia terserang

stroke. Sekitar 25% diantaranya atau 125.000 penduduk yang meninggal. Sedangkan yang sisanya mengalami cacat berat maupun ringan seumur hidupnya. Dan dari seluruh rumah sakit di Indonesia, dilaporkan, stroke merupakan penyakit nomor satu penyebab kematian (www. info-sehat.com). Sumber data dari ASEAN Neurological Association (ASNA) menyebutkan, dari Oktober 1999 hingga Maret 2000, terdapat 4.065 pasien stroke yang terdaftar di 28 rumah sakit yang mewakili daerah dengan populasi padat di Indonesia, 13 rumah sakit berlokasi di Jawa, Sumatera dan Jakarta (www. suaramerdeka.com). Data dari RSUD Bau-bau menunjukkan bahwa tedapat 5 penyakit tertinggi khususnya pada pasien rawat inap yaitu tuberkolosis, stroke, hipertensi, diabetes melitus dan tumor paru. Untuk pasien penyakit stroke tahun 2005 berjumlah 40 sedangkan untuk tahun 2006 jumlah pasien penyakit stroke mengalami peningkatan menjadi 57 pasien rawat inap dan 2 pasien didiagnosa meninggal dunia akibat stroke akut (Indeks PasienRSUD Bau-bau tahun 2005-2006). Serangan stroke bisa dialami oleh setiap orang baik wanita maupun pria. Makin banyak faktor risiko yang dimiliki, makin besar kemungkinanseseorang mengalami serangan stroke (Lumbantobing, 2004). Beberapa faktor risiko yang tidak dapat dikontrol seperti umur, jenis kelamin dan genetik. Sedangkan faktor risiko yang dapat dikontrol

Kebiasaan merokok telah terbukti berhubungan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit dari berbagi alat tubuh manusia. maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : .seperti hipertensi. impotensi dan gangguan kehamilan (Kanang. hipertensi. Dengan melihat kenyataan yang ada. kurang aktifitas fisik. bronkitis. merokok. didapatkan bahwa kebiasaan merokok memperbesar risiko stroke dan risiko kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok gas karbon monoksida dalam rokok mengakibatkan penyempitan dan penyumbatan aliran darah ke otak yang dapat merusak jaringan otak karena kekurangan oksigen (Insufisiensi Otak) (Kusmana. diabetes melitus. rongga mulut. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas. 2004). Penyakitpenyakit ini antara lain serangan jantung. 2004). leher rahim kandung kemih dan emfisema). kolesterol. B. stroke. penyakit paru-paru obstruktif kronis. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris. kanker lainnya (tenggorokan. maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengenai faktor risiko kebiasaan merokok terhadap penyakit stroke pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-bau Propinsi Sulawesi Tenggara. kanker paru-paru dan gangguan pernapasan. 2003). stres fisik dan mental (Junaidi.

c. Tujuan Khusus a. Diharapkan dapat memberikan informasi bagi instansi departemen kesehatan dan RSUD Bau-bau dalam upaya . Untuk mengetahui lama merokok sebagai faktor risiko terhadap penderita penyakit stroke. Manfaat Praktis a. Apakah usia mulai merokok merupakan faktor risiko stroke pada pasien rawat inap di RSUD Bau-bau? 2. b. D. Tujuan Penelitian 1. Apakah jumlah rokok yang dihisap perhari merupakan faktor risiko stroke pada pasien rawat inap di RSUD Bau-bau? 3. 2. Untuk mengetahui jumlah rokok yang dihisap perhari sebagai faktor risiko terhadap penderita penyakit stroke. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor risiko kebiasaan merokok terhadap penyakit stroke pada pasien rawat inap di RSUD Bau-bau periode 2005-2006. Untuk mengetahui usia mulai merokok sebagai faktor risiko terhadap penderita penyakit stroke.1. Apakah lama merokok merupakan faktor risiko stroke pada pasien rawat inap di RSUD Bau-bau? C. Manfaat Penelitian 1.

. khususnya dalam bidang epidemiologi 3. Manfaat Ilmiah Sebagai bahan informasi dan bahan bacaan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan ilmu kesehatan masyarakat. 2. Diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi perokok. Manfaat Bagi Peneliti Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman berharga bagi peneliti sendiri. khususnya generasi muda agar menghindarkan diri dari kebiasaan merokok.perencanaan program penyuluhan kesehatan yang berhubungan dengan penyakit stroke b.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Stroke 1. Pengertian Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu. Kejadian serangan penyakit ini bervariasi antar tempat, waktu dan keadaan penduduk (Bustan, 2000). Stroke berarti pukulan pada sel otak, biasanya karena adanya gangguan distribusi oksigen ke sel otak. Terdapat banyak pembuluh arteri dan cabang-cabangya mensuplai darah ke otak, setiap arteri mensuplai area yang spesifik dari otak, dan beberapa area tersebut mendapat suplai dari satu pembuluh arteri,

kekurangan darah segar yang disebabkan oleh gangguan misalnya terdapatnya timbunan plak atau pecahnya arteri dapat

menimbulkan arteri (Soeharto, 2002). Menurut WHO : stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan maut, selain daripada gangguan vaskular. tanpa ditemukannya penyebab

Istilah kuno, apoplaksia serebri sama maknanya dengan cerebrovascular Accidents/Attacks (CVA) dan stroke. Adapun penyakit atau kelainan dan penyakit pembuluh darah otak, yang mendasari terjadinya stroke, misalnya arteriosklerosis otak,

aneurisma, angioma pembuluh darah otak dan sebagainya, disebut Penyakit Peredaran Darah Otak (Cerebrovascular Disease/CVD) ( Price, 2004) 2.Klasifikasi Secara umum stroke dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu : a. Stroke Pendarahan (Hemoragonik) Yang termasuk stroke perdarahan yaitu : 1. Pendarahan intraserebral (PIS), seperti intraparenkim dan intraventrikel. 2. Pendarahan subarakhnoid (PSA). 3. Pendarahan subdural (PSD) (Bustan, 2000). b. Stroke Non Pendarahan (Infark/Iskemik) Stroke Non menjadi : 1. Berdasarkan perjalanan klinisnya stroke iskemik (non hemoragik) dikelompokkan menjadi : a. Transient ischemic Attack (TIA) : serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam. Pendarahan (Infark/Iskemik) dikelompokkan

b. Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND) : Gejala neurologis akan menghilang antara > 24 jam sampai dengan 21 hari c. Progressing stroke atau Stroke in evolution : Kelumpuhan atau defisit neurologik berlangsung secara bertahap dari yan ringan sampai menjadi berat d. Stroke komplit atau Comleted stroke : Kelainan

neurologis sudah menetap, dan tidak berkembang lagi (Junaidi, 2004) 3.Etiologi a. Infark otak (80%) Emboli 1. Emboli kardiogenik a. Fibrilasi atrium atau aritma lain b. Trombus mural ventrikel kiri c. Penyakit katup mitral atau aorta d. Endokarditis (infeksi atau non infeksi) 2. Emboli paradokssal (foramen ovale paten) 3. Emboli arkus aorta Aterotrombotik (Penyakit pembuluh darah sedang – besar) 1. Penyakit ekstrakranial a. Arteri karotis interna b. Arteri vertebralis 2. Penyakit intracranial

. atau leukimia) 9. dari 16 pusat riset di 12 negara maju dan berkembang antara Mei 1971 sampai dengan .a. Menurut hasil penelitian yang dikoordinasi oleh WHO. Diseksi rteri karotis atau vertebralis 3. Hipertensif 2. Lakuner (oklusi arteri perforans kecil) b. Pendarahan intraserebral (15%) 1. Perdarahan Subaraknoid (5%) d. Kelainan hematologis (anemia sel sabit. polisitemia. 2000) 4. Migren 6.Epidemiologi Insiden stroke bervariasi antar negara dan tempat. Trombosis sinus dura 2. Penyakit moya-moya (oklusi arteri besar intrakranial yang progresif) 5. Arteri karotis interna b. Malformasi 3. Arteri serebri media c. Penyebab lain (dapat menimbulkan infark atau perdarahan) 1. Arteri basilaris d. Angiopati amiloid c. Miksoma atrium (Mansjoer dkk. Vaskulitis system saraf pusat 4. Penyalahgunaan obat (kokain dan dan amfetamin) 8. Kondisi hiperkoalgulasi 7.

3 per 100.000 populasi per tahun.Desember 1974 memperlihatkan bahwa insiden stroke yan paling tinggi adalah di Ahita (Jepang) yaitu 287 per 100. Clifford Rose dari Inggris memperkirakan insiden stroke dikebanyakan negara adalah sebesar 200 per 100. walaupun belum ada penelitian epidemiologis yang sempurna. 2000). sementara di negara-negara maju.72 menjadi 0.96 per 100 penderita. 5. 24. dan 276. sedang yang terendah adalah di Ibadan (Nigeria) sebesar 150 per 100.4.000 penduduk per tahhun (Bustan.000 penduduk.83 dan pada tahun 1986 meningkat 0.3 per 100.000 populasi pertahun. sedang perdarahan subarachnoidal lebih banyak terdapat dikalangan usia muda (Bustan. Insiden infark otak dan perdarahan intra serebral meningkat sesuai dengan pertambahan umur. dan pada kelompok umur 55 tahun ke atas berturut-turut 6. dari hasil survei kesehatan rumah tangga tahun 1984 dilaporkan prevalensi stroke pada golongan umur 25-34 tahun. 2000). Di Indonesia.000 populasi per tahun. stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker.Faktor Risiko Penyakit Stroke . Masih dari suvei hasil kesehatan rumah tangga. namun secara rata-rata disebutkan angka 100 kematian per 100. Walaupun mortalitasnya sangat bervariasi antar geografi.000 penduduk sedangkan proporsi stroke di rumah-rumah sakit di 27 propinsi pada tahun 1985 berturut-turut meningkat dari 0. 35-44 tahun. mortalitas stroke pada tahun 1986 adalah tercatat 37.7.

Transient Ischemic Attack (TIA) = serangan lumpuh sementara. faktor risiko kulit e. Ras / bangsa : Afrika / negro. Umur : makin tua kejadian stroke makin tinggi b.Faktor risiko stroke adalah kelainan atau kondisi yang membuat seseorang rentan terhadap serangan stroke. Post stroke f. laki-laki lebih berisiko daripada wanita d. kapiler rapuh. Diabetes Melitus / kencing manis. Riwayat keluarga (orang tua. Hipertensi. Fibrinogen tingga dan perubahan hemoreologikal lain h. faktor risiko tertinggi dari stroke b. Peminum alkohol dan obat anti hamil Hiperhomocysteinema . kuat asosiasinya. d. Perokok (sigaret) i. Atrial fibration. Adapun faktor risiko stroke umumnya dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu : Faktor yang tidak dapat dikontrol antara lain : a. saudara) yang pernah mengalami stroke pada usia muda. Jepang dan Cina lebih sering terkene stroke c. maka yang bersangkutan berisiko tinggi terkena stroke Yang dapat dikontrol : a. j. Abnormalitas lipoprotein g. c. (>120 mg/100ml). Jenis Kelamin.

Infeksi : virus dan bakteri l. Hypechales terolemia d. Kurang aktifitas fisik o. Tempatlesi lebih penting dala menghasilkan gejala dan tanda patologis daripada sifat dan patologi lesi itu sendiri.k. Obesitas / kegemukan. Transient Ischemic Attack (TIA) c. ditemukan tidak konsisten n. obat-obat lainnya m. Stroke sering berhubungan dengan hipertensi dan penyakit aterosklerosis. . Diabetes melitus (DM) 6.Patofisiologi Penyakit Stroke a. terdapat faktor risiko major dari stroke antara lain: a. Mayoritas lesi yang mempengaruhi korteks motoris bersifat vaskular dan berakibat cedera jaringan anoksik yang reversibel maupun ireversibel. obesitas dan diabetes melitus. Obat kontrasepsi oral. Hiperkolesterolemia / hipertrigliserida / hiperglikemia p. merokok. Keadaan ini berhubungan erat dengan faktor risik lain termasuk hiperkolesterelemia. Cedera serebravaskuler (CVA) Cedera serebravaskuler (CVA) atau stroke terjadi akibat iskemia atau perdarahan. Stress fisik dan mental Diantara faktor risiko di atas. Hipertensi b.

Penyebeb perdarahan intraserebri adalah peningkatan tekanan darah secara mendadak dengan pembuluh intrakranial yang kurang baik sehingga pecah. atau gangguan visual.Salah satu akibat stroke dalah nekrosis parenkim otak yang berakhir dengan infark serebri (Tambayong. sering dengan sinkope (gangguan sirkulasi sesaat). akibat spasme pembuluh darah atau gangguan aliran darah. 2000). Perdarahan dapat masif maupun difus (multiple focl). perdarahan dapat pula terjadi intraserebri (perdarahan) ke dalam perenkim otak atau ventrikel otak. hemiparestesi. b. akibatnya dapat berupa hamiparese kontra lateral. . dan semua bersifat sesaat. Perdarahan Intraserebri Selain di korteks motoris. Penyebab perdarahan subaraknoid yang paling sering adalah pecahnya aneurisma intraserebri (Tambayong. Darah dipandang sebgai benda asing dan akhirnya peceh difagositosis dan diangkut pergi. 2000). Taransient Ischemic Attack (TIA) Gejala iskemia yang reversibael disebut transient ischemic attack (TIA). Darah dalam parenkim merusak neuron. Serangan berlangsung kurang dari satu jam dan tidak ada gejala sisa. Transient Ischemic Attack (TIA) ditandai gejala disfungsi serebri setempat. c..

hilangnya keseimbangan. anng akan terganggu adalah tubuh sebelah kanan. vertigo. gangguan motoris atau sensoris. Mati rasa yang mendadak di wajah. 2000). b. Gejala serangan stroke antara lain: a. Kesulitan penglihatan yang mendadak di salah satu atau kedua mata. tuli. sulit bicara dan sulit mengerti. diplopia. 2004). lengan atau kaki dan terutama terasa di salah satu sisi saja kiri atau kanan. Mereka yang pernah terserang stroke biasanya mengalami kesulitan berjalan dan berbicara (Soeharto. .Manifestasi Klinik Gejala-gejala yang paling umum timbulnya stroke ini adalah terjadinya iskemik. yang ditandai dengan sakit kepala.Gejala TIA termasuk mengkuap. 7. sakit kepala. ataksia. Risiko terbesar yang terjadi adalah minggu pertama setelah timbulnya gejala-gejala ini. gangguan penglihatan dan hilangnya kemempuan bicara dengan jelas atau kempuan untuk memahami apa yang dikatakan lawan bicara. bila yang terserang adalah otak sebelah kiri. bila terserang adalah otak sebelah kanan yang akan mengalami gangguan adalah tubuh sebelah kiri. c. Mendadak bingung. Diagnosis TIA ditegakkan dengan angiografi untuk melihat vasularisasi serebri dan menetapkan adanya penyempitan atau penyakit (Tambayong.

1= ada tidak ada. e. 1+somlolen. Klinis anamnesis dan pemeriksaan fisis-neurologis b. 2004) 9.1 tekanan diastolik)-(38 petanda ateroma Skor > 1 Skor -1 sd 1 Skor < 1 Derajat Kesadaran : : : : perdarahan supratentorial Perlu CT scan Infark serebri 0=kompo mentis. Kelopak mata sulit dibuka atau terjatuh 8.5* derajat kesadaran)+(2* vomitus)+(2* nyeri kepala)+(0. penyakit pembuluh darah (Soeharto. Sakit kepala yang mendadak tanpa penyebab yang jelas f. Mendadak kehilangan keseimbangan atau koordinasi atau kesulitan berjalan yang biasanya dibarengi rasa pusing. 2= spoor / koma Vomitus k Nyeri kepala Ateroma : : 0= : 0=tidak ada. Sistem skor untuk membedakan jenis stroke Skor stroke siriraj : (2. Pengobatan Pada pasien stroke umumnya diberi terapi obat selama dirawat di rumah sakit. Obat yang diberikan sesuai dengan jenis stroke .d.Diagnosis a. 1= ada 0= tidak ada. 1=salah satu lebih: diabetes angina.

b). jenis antiplatelet lainnya adalah clopidogrel dan ticlopidine. Obat antiplatelet yang terjual bebas adalah aspirin. Kelompok obat yang lazim digunakan adalah : a). Trombolitik Obat trombolitik digunakam untuk mengatasi stroke iskemik yang parah dan berlanjut. Obat jenis inin digunakkan untuk mencegah terjadinya stroke iskemik.yang di derita pasien stroke. Obat trom bilitik dapat .  Antikoagulan adalah jenis obat yang digunakan untuk mengurangi risiko stroke dengan merendam sifat penggumpalan pada darah. Antitrombotik Kelompok antitrombotik diberikan untuk mencegah pembentukkan gumpalan darah yang mungkin tersangkut di pembuluh darah serebral dan menyebabkan stroke. Yang termasuk dalam kelompok obat jenis ini adalah:  Antiplatelet adalah jenis obat-obatan yang sifatnya mencegah penggumpalan dengan mengurangi kegitan platelet (sel darah) yang sifatnya merangsang terjadinya penggumpalan. Obat antikoagulan ini berupa warfarin (juga dikenal sebagai coumadin) dan heparin. Obat-obatan ini dimaksudkan untuk menghetgikan stroke dengan melarutkan gumpalan darah yang menyumbat aliran darah dari jantung ke otak. apaka stroke perdarahan atau stroke non perdarahan.

yang berlokasi di leher dan merupakan penyalur darah yang utama ke otak.meningkatkan perdarahan dan tidak boleh diberikan untuk kasus stroke perdarahan (hemoragik) c). Pembedahan ini disarankan untuk mencegah stroke. atau cacat bentuk di dan sekitar otak.  Bypass EC/IC Merupakan cara pembedahan untuk memulihkan aliran darah ke bagian otak yang kehilangan darah. Neuroprotektif Obat neuroprotektif digunakan untuk mellindungi kerusakan lebih lanjut dari sel saraf otak karena akibat ikutan dari stroke. Beberapa jenis pembedahan yang dilakukan adalah :  Endarterectomy carotid Pembedahan endarterektomi karotid ini dilakukan untuk membuang endapan lemak penyumbat dari sebelah dalam pembuluh karotid. dapat juga dilakukan dengan pembedahan. 2004). menindak stroke yang akut. Pembedahan dapat dilakukan secara darurat untuk menyelamatkan pasien stroke perdarahan (hemoragik) yang parah. dengan cara mengatur . Pengobatan stroke selain dengan menggunakan terapi obat. Kelompok ini harus digunakan dengan sangat hati-hati. memperbaiki kerusakan pada pembuluh darah. karena efek sampingnya berbahaya (Siregar.

Pencegahan Primer . makan rendah garam . Dukungan keluarga juga sangat diperlukan untuk menunjang kesembuhan pasien (Junaidi.kembali aliran darah yang sehat dalam tempurung otak dari pembuluh darah oatak yang tersumbat. yakni penjepit pembuluh darah yang bengkak.Lingkungan : Kesadaran atas stress kerja.Gaya hidup : Kurangi stress.  Clipping Merupakan cara pembedahan untuk mengurangi kemungkinan pembuluh darah pecah dan menyebabkan perdarahan subarchnoid.Pencegahan Stroke 1. 2004). Selain dengan obat-obatan pasien stroke juga harus menjalani terapi-terapi sesuai deangan jenis stroke yang dialami.  Teknik kumparan lepas Teknik baru pembedahan ini mulai mendapat perhatian walaupun tindakan untuk mengatasi pembekakan pembuluh darah interkarnial ini berisiko tinggi (Siregar. Pb kemungkinan (lead) gangguan . 2004) 10 .

Pelayanan Kesehatan : Pendidikan pasien dan evaluasi penyebab sekunder.Lingkungan : Jaga keamanan serta dan dukungan keselamatan keluarga. . latihan sedang. .Pelayanan Kesehatan : Pendidikan kesehatan dan pemeriksaan tekanan darah 2. berhenti merokok.Gaya hidup : Kurangi stress. riwayat keluarga) .Gaya hidup : Manajemen stress. .Pencegahan Sekunder .Lingkungan : Penggantian kerja jika penyesuaian gaya diperlukan. 3.Biologi : Perhatian terhadap fakto risiko biologis (jenis kelamin. hidup .. makan manakan rendah garam. berhenti merokok. dukungan keluarga.Biologi : Pengobatan yang tekun dan cegah efek samping . Pencegahan tersier .

Pengertian Rokok Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang anatara 70 mm hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Dan dibungkus dengan menggunakan berbagai bahan pembungkus (www. TINJAUAN UMUM TENTANG ROKOK 1. 2.Pelayanan kesehatan : Kepatuhan berobat terapi fisik. Orang-oarang merokok dalam situasi tertentu dan biasanya merupakan respon terhadap rangsangan tertentu. : Asuransi kesehatan. com).. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihisap oleh mulut pada ujung lainnya (www. Pengertian Merokok Merokok merupakan suatu bentuk ketagihan fisik dan emosional yang rumit. suara merdeka. B. Merokok dapat diartikan juga sebagai pola tingkah laku atau kebiasaan yang sudah terpatri. 1996).Biologi . sebagai hasil olahan tembakau rajangan dan atau rokok dicampur cengkeh rajangan dan saus serta bahan tambahan lain yang diizinkan. Rokok kretek adalah rokok khas Indonesia. Situasi ini dengan cepat dapat menguasai alam pikiran si perokok dengan tindakan merokk. Situasi ini . mirip dengan ketagihan heroin dan kokain. wikipedia.

wikpedia. 3. yaitu perokok pasif dan tipe perokok pasif. Jadi pada perokok pasif akan mendapatkan paparan asap rokok 85% dari asap rokok sampingan. Mereka ini tanpa merokok tetapi terpaksa menghisap rokok dari lingkungannya. Bagi perokok aktif ini. Tipe Perokok Perokok dikenal ada dua tipe. Individu yang tidak merokok tetapi menghisap udara nafas dari lingkungannya yang menghisap rokok disebut sebagai perokok pasif. Seperti diketahui bahwa kandungan bahan kimiapada asap rokok sampingan ternyata lebih tinggi dibanding asap rokok utama. Individu yang menghisap rokok yang telah dibakar salah satu ujungnya dan dari ujung yang lain dihisap asapnya ke dalam pauiparu atau ditelannya disebut perokok aktif.misalnya sesseirang yang menghirup aroma kopi dapat membuat seseorang menginginkan sebatang rokok (www. selain dia menghisap asap rokok utama secara penuh maka dia juga akan menghisap udara nafas yang berasal dari udara di . dan 15% berasal dari asap rokok utama dihembuskan perokok aktif ke udara (Sudoyo. tentu juga akan menderita berbagai penyakit akibat asap rokok. 2006). com). anatara lain karena tembakau terbakar pada temperatur lebih rendah ketika rokok tidak sedang dihisap membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan mengeluarkan lebih banyak bahan kimia.

forforal. metilklorida. ortokseron. aseton. tar. Nikotin menghalangi kontraksi rasa lapar. Bahan-bahan yang Terdapat Dalam Rokok Dalam sebatang rokok terdapat kurang lebih 4000 jenis bahan kimia yang secara umum dibagi dalam dua golongan besar. a. sianida. phenol. asam format. ammonia. dan karbon monoksida. Dari 4000 bahan kimia tersebut ada 40 jenis yang bersifat karsinogen (Oyeng. formaldehid. benzaldehid. 2006).sekitarnya yanng mengandung asap rokok lingkungan (Sudoyo. karbon monoksida dan tar. hydrogen. nikotin. 3 bahan kimia yang paling berbahaya yaitu nikotin. nitrous oxide. Nikotin merupakan unsur kimia beracun yang memiliki susunan seperti alkali. Bahan-bahan tersebut merupakan campuran yang kompleks dari benzopyrin. unsur inilah yang banyak pengaruhnya terhadap perokok. Peningkatan denyut jantung . yaitu komponen gas dan komponen padat. piridin. methanol. Nikotin Nikotin adalah cairan berminyak yang tidak berwarna dan membuat rasa perih yang sangat. resolsinol. acrolein yang merupakan zat cair tidak berwarna seperti aldehyde yang sedikit banyak mengandung kadar alkohol. 2006). Merokok dengan nikotin lebih tinggi atau nikotin rendah menyebabkan peningkatan tekanan darah sisitolik dan diastolik. 4.

Ia merangsang pelepasan epinefrin lokal dari saraf adrenergik dan meningkatkan sekresi katekolamin dari medulla adrenalis dan dari jaringan kromafit di jantung. Pada otot jantung anjing. nikotin menyebabkan penguatan serentak aktivitas pacu jantung ektopik dan . Ini tiak terjadi setelah merokok sigaret tanpa nikotn dan lebih besar setelah merokok sigaret tinggi nikotin daripada merokok sigaret rendah nikotin (Oyeng. kenaikan frekuensi denyut jantung serta TDS dan TDD. Nikotin bisa juga mempredisposisi perokok pada aritmia ventikel.sehingga meningkatkan kebutuhan oksigen myokard (Kanang. sehingga meningkatkan kebutuhan oksigen (O2). myocardium. tetapi tidak ada perubahan dalam waktu ejeksi sistolik. Merokok sigaret tinggi nikotin menyebabkan peningkatan frekuensi denyut jantung istirahat serta meningkatkan tekanan darah sistolik dan diastolik (TDS & TDD). 2006). Nikotin merupakan zat adiktif yang mempengaruhi saraf dan peredaran darah. Nikotin menyebabkan kenaikan arteri dan denyut jantung oleh beberapa mekanisme. Bekerja langsung pada myocardium untuk menginduksi efek inotropik dan kronotropik positif. 2003). Ia bekerja pada kemoreseptor di glomus caroticus dan glomera aortica yang menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan arteri.

CO menurunkan kapasitas latihan fisik. mengganggu pelepasan oksigen dengan mempercepat arterosklerosis (pengapuran atau penebalan dinding pembuluh darah).melambatkan hantaran pada serabut. Indikasi CO untuk meningkatkan . sehingga mempermudah penggumpalan darah (Kanang. Purkinje dan ventriel yang mempredisposisi jantung ke aritma ventrikel. menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh myokard. 2000). b. 2000). 2003). CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin. Seperti nikotin. CO bisa menurunkan ambang fibrilasi jantung yang mempredisposisi seseorang ke mati mendadak. meningkatkan viskositas darah. Daya gabung karbon monoksida dengan hemoglobin kira-kira 245 kali lebih besar dari daya gabung dengan oksigen (Amsal. Dengan demikian. Karbon monoksida menimbulkan desarturasi hemoglobin. menaikan bermakna fibrasi ventrikel pada monyet dengan kadar IM akut. membuat darah tidak mampu mengikat oksigen. Mendapatkan bahwa inhalasi CO untuk kenaikan kadar COHb arteri ke 10.2%. Karbon Monoksida (CO) Karbon monoksida merupakan zat yang mengikat hemoglobin dalam darah. Inhalasi asap sigaret menyebabkan penurunan 30-40% dalam ambang fibrilasi ventrikel pada anjing normal dan anjing infark myocardium (IM) akut (Stanler.

8 0.3 2. Tar merupakan substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paruparu (Kanang. Tabel 1 Tabel Kadar Tar dan Nikotin pada Berbagai Merek Rokok Merek Dji sam soe Sampoerna Kebun Cengkeh Gudang Garam International Red Bentoel International Camel Dunhill Lucky strike Mild Marlboro Light Special Mild Luxury Mild Tar 69 69 62 54 53 45 28 17 16 15 11 10 9 Nikotin(%) 3.2 1.7 1.9 1. Tar Tar adalah komponen dalam asap rokok yang tinggal sebagai sisa sesudah dihilangkan komponen nikotin dan cairan dan tar ini bersifat karsinogen.3 2.3 1.kadar COHb arteri sampai 6% menyebabkan penurunan ambang fibrasi ventrikel pada anjing normal dan dengan IM akut (Stanler.2 0.8 2.9 0.8 . c. 2000). 2003).2 2.1 1.

meningkatkan risiko osteoporosis. seperti penyakit paru obstruktif menehu (PPOM).S. Al Baqarah:219) Terjemahannya : Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah : “pada keduanya itu terdapat . Penyakit paru. Merokok Sebagai Faktor Risiko Berbagai penyakit dimana rokok dianggap sebagai faktor risiko penting adalah: a. sampai penyakit jantung koroner Beberapa jenis kanker seperti kanker mulut. Ulkus peptikum. Infertiliti e.5. Gangguan kehamilan f. kanker paru. kandung kemih pangkreas dan ginjal serta kanker payudara. Artheroklerosis. Menurut hukum Islam rokok itu diharamkan meskipun tidak tertulis dalam Al quran dan Hadits. kanker sistem pernapasan. keriput. bronchitis dan emfisema c. katarak senilis. Batuk menahun b. batu empedu dan kolesistitis pada wanita dan impotensi pada pria d. Tapi Islam dengan tegas melarang kita melakukan sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain hal ini dapat dilihat dalam (Q. menepouse prematur.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. agregasi. perokok lebih dari 25 batang atau lebih berisiko 3. Katakanlah : “Yang lebih dari keperluan”. The Physician Health Study. platelet.7 kali dibanding bukan perokok. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang meeka nafkahkan. penurunan HDL (menyebabkan berkurangnya distansibilitas pembuluh darah).dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. suatu penelitian kelompok (cohort) yang bersifat prospektif pada 22.9 kali. Pada penelitian metaanalisis. didapatkan adanya peningkatan dua kali lipat relatif faktor risiko untuk terjadinya stroke infark pada perokok dibandingkan dengan non perokok (Kanang. Risiko perokok terkena infark serebral 1. merokok akan meningkatkan kadar fibrinogen. Wanita perokok juga mempunyai risiko terkena stroke lebih besar.2 kali. tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.539 perawat berumur 3035 tahun. Disamping itu. terkena .52 kali dibanding bukan perokok. yang merokok kurang dari 15 batang per hari risiko 2. perokok lebih dari 20 batang per hari risiko stroke 2. 2003). Pada penelitian cohort pada 118.071 laki-laki. Tinjauan Umum Tentang Rokok dan Penyakit Stroke Stroke dikenal sebagai faktor risiko timbulnya stroke infark. C. Karena dapat menyebabkan berkurangnya distansibilitas pembuluh darah akibat bartambahnya kekakuan dari dinding pembuluh darah tersebut.02. diperoleh data untuk perokok kurang dari 20 batang per hari risiko stroke sebesar 2.

7 kali. Bahkan merokok pasif (menbghirup asap rokok secara tidak langsung) meningkatkan kemungkinnan terkena stroke hampir sebesar 80%. 2004). hematologik dan reologik. Merokok berefek pada proses pembentukkan plak ateroklerotik. Pembuluh darah otak. dan perdarahan intrakranial sebesar 0. pipa atau cerutu) dan untuk semua tipe stroke. dan bahwa wanita pada umumnya lebih sensitif terhadap berbagai efek buruk merokok. Mereka yang menghisap 20 atau lebih batang rokok sehari memiliki risiko ampir dua . Merokok juga menyebabkan pembentukan dan pertumbuhan aneurisma intrakranium (Yatim. Berbagai penelitian modern memperlihatkan bahwa risiko terkena stroke adalah sekitar 20% lebih tinggi bagi wanita perokok daripada bagi pria perokok. dan menyebabkan darah mudah menggumpal. jantung dan tungkai) sehingga merokok mendorong terjadinya arterosklerosis. Merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri di seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak. Hal ini berlaku bagi semua jenis rokok (sigaret. 2005). sehingga pembuluh darah yang sudah menyempit oleh arteroklerosis akan bertambah menyempit lagi keadaan ini akan menyebabkan kejadian stroke. Risiko terkena stroke setara dengan jumlah dan durasi merokok. mengurangi aliran darah. terutama perdarahan subaraknoid dan stroke iskemik.(Setyowati. Merokok meningkatkan risiko terkena stroke empat kali lipat. 2005).perdarahan sybarakhnoid 2.9 kali. (Junaidi.

kali lipat dibandingkan dengan yang merokoknya lebih sedikit. . semakin besar risiko mengalami stroke (Feigin. 2006). Semakin lama orang merokok.

Otak berfungsi sebagai pusat pengendalian badan. tidak ada bagian dari badan dapat bertahan hidup bila ada gangguan pada suplai darah jangka waktu yang lama karena darah membawa oksigen dan bahan makanan lain untuk kehidupan. Jumlah Rokok yang Dihisap Risiko timbulnya penyakit stroke meningkat sejajar dengan jumlah rokok yang dihisap. Lama Merokok Lama merokok berhubungan dengan kebiasaan merokok atau terlalu lama terpapar dengan asap rokok menyebabkan terjadinya perubahan morfologi pada organ-organ yang terpapar 3. akan tampak pada tingkah laku dan gerakan orang yanng bersangkutan (Soeharto. 2002). Stroke Stroke adalah gangguan suplai darah pada bagian otak. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti 1. Oleh karena itu perlu penenganan setiap kasus stroke sebagai prioritas utama dan sebaiknya dikerjakan secara cept dan tepat (Junaidi. 2. Dalam menyatakan resiko dari orang . tetapi otak sangatlah peka. diperkirakan angka kejadian stroke akan semakin meningkat hingga maa yang akan datang. 2004). bila terjadi gangguan fungsi otak.BAB III KERANGKA KONSEP A. mengarahkan setiap pemikiran dan gerakan fisik. Dengan semakin meningkatnya pergeseran umur yang lebih tinggi di Indonesia.

Namun merokok denga rokok berilter kemungkinan risiko lebih kecil untuk terpapar oleh suatu penyakit dibandingkan rokok yang tidak berfilter. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif 1. . Dimana jjumlah tar dan nikotin yang masuk ke dalam tubuh akan berkurang karena sebagian mengendap lebih dahulu pada filter. Bagan Kerangka Konsep Lama Merokok Jumlah Rokok yang Dihisap Jenis Rokok Yang Dihisap Penyakit Stroke = Variabel Dependen = Variabel Independen C. 4.yang menghisap 20 batang rokok perhari atau lebih 3 kali besar dari orang yang tidak merokok. Jenis rokok yang dihisap Jenis rokok yang dihisap tergantung apakah rokok tersebut berfilter atau tidak berfilter. Penyakit Stroke Defenisi operasional : Penyakit Stroke Penyakit stroke adalah penyakit yang berdasarkan pemeriksaan klinis atau yang tercantum dalam kartu status. B.

Kriteria Objektif : . 3. 2. . . Merokok Defenisi Operasional : Merokok adalah kegiatan yang pernah dilakukan secara teratur oleh penderita dengan cara menghisap rokok atau gulungan tembakau yang berbentuk batang dengan ukuran tertentu setiap hari berdasarkan hasil wawancara.Tidak Stroke : Tidak memenuhi criteria di atas. Lama Merokok Defenisi operasional : Lama merokok adalah keseluruhan jumlah waktu dalam tahun penderita mulai merokok yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara. Kriteria Objektif : Beraturan : Bila penderita pernah menghisap rokok setiap hari secara rutin sampai dinyatakan menderita stroke Tidak beraturan : Bila penderita tidak menghisap rokok tidak secara rutin setiap hari.Stroke : Bila penyakit stroke rawat inap yang baru atau lama dengan umur di atas 15 tahun dan didiagnosa menderita penyakit stroke.

Singkat : Bila tidak memenuhi kriteria di atas. 4. .Perokok berat : Bila menghisap rokok perhari lebih dari 20 batang per hari .Rokok filter : Bila rokok yang dihisap memiliki penyaringan .Kriteria Objektif : . Jumlah Rokok yang Dihisap Perhari Definisi operasional : Jumlah rokok yang dihisap per hari adalah banyaknya rokok yang dihisap per hari berdasarkan hasil wawancara.Rokok kretek : Bila rokok yang dihisap tidak memiliki penyaringan. 5. Kriteria objektif : . .Perokok ringan : Bila menghisap rokok antara 1 sampai 20 batang per hari. Apakah menggunakan filter atau non filter berdasarkan hasil wawancara. Jenis rokok yang dihisap Definisi operasional : Jenis rokok adalah rokok yang dikonsumsi oleh penderita setiap hari.Lama : Bila merokok setiap hari selama lebih dari 10 tahun. Kriteria objektif : .

Tidak ada hubungan antara usia mulai merokok dengan terjadinya penyakit stroke. Jika ada hubungan antara lama merokok dengan terjadinya penyakit stroke. Hipotesis Alternatif (HA) 1. . E. Hipotesis Nol (Ho) 1. Tidak ada hubungan antara jumlah rokok yang dihisap dengan terjadinya penyakit stroke. Jika ada hubungan antara jumlah merokok yang dihisap dengan terjadinya penyakit stroke. Tidak ada hubungan antara lama merokok dengan terjadinya penyakit stroke. 2. Jika ada hubungan antara usia mulai merokok dengan terjadinya penyakit stroke.D. 3. 3. 2.

dalam Landung R. Rencana adalah suatu skema yang menyeluruh terhadap program penelitian. Kerlinge. sedangkan struktur adalah kerangka.BAB IV METODE PENELITIAN A. Simatupang. 2. (Fred N. 2004). yakni periode 2005-2006. pengaturan. sampai pada analisis akhir terhadap data. Jenis dan Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan case control study yang dimaksudkan untuk melihat besar risiko merokok terhadap penderita penyakit stroke dengan menggunakan matching jenis kelamin. Desain kasus kontrol adalah skema penentuan kasus dan konrola yang dilakukan dengan cara retriksi dari populasi penelitian. implikasi operasional hipotesis. . A. Desain penelitian Desain penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang disusun sedemikian rupa untuk menjawab pertanyaanpertanyaan penelitian. 2000). yang memuat semua pajanan mengenai hal-hal yang akan dilakukan peneliti mulai dari penulisan hipotesis. atau konfigurasi unsur-unsur struktur yang terhubungkan dengan cara-cara jelas serta tertentu (Hakim. B.

Sulawesi Tenggara. serta keluarga pasien bila pasien stroke sudah tidak dapat berbicara 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di bagian rawat inap RSUD Bau-bau. Populasi dan Sampel 1. Kasus . Sampel Terdiri dari : a. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita penyakit. Yang sudah pernah atau masih dirawat inap di RSUD Bau-bau tahun 2006. C.Faktor Risiko (+) Kasus Faktor Risiko (-) Populasi Faktor Risiko (+) Kontrol Faktor Risiko (-) B. stroke.

Teknik Pengambilan Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah penderita stroke sebagai kasus dan tidak menderita sroke.50 dan derajat kepercayaan (cl) = 95 %. Kontrol Pasien yang tidak menderita stroke. 1990) .inap di RSUD Bau-bau dengan menggunakan sistematik random sampling berupa teknik penentuan sampel dengan cara memberi nomor urut pada semua anggota populasi. dalam jarak (d) = 50% dari OR yang sebenarnya. yakni dengan memperkirakan OR-nya = 2. perkiraan populasi (P) = 0.Pasien yang didiagnosa menurut catatan rekam medik menderita stroke yang dirawat inap di RSUD Bau-bau tahun 2006 b. sebagai kontrol yang dirawat. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan rumus : (Lameshow. yang sementara dirawat inap dan pernah di rawat inap di RSUD Bau-bau tahun 2006. setelah itu ditentukan satu nomor secara acak kemudian digunakan interval untuk penentuan nomor selanjutnya berdasarkan catatan rekam medik atau kartu status pada tahun 2005-2006 yang berjumlah 94 yang terdiri dari 68 kasus dan 136 kontrol. Sedangkan untuk sampel kontrol ditetapkan 94 yang tidak menderita stroke. atau dengan perbandingan kasus : kontrol = 1 : 2 (satu kasus dua kontrol). D. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 68 kasus yang ditetapkan berdasarkan tabel Lemeshow.

Cara Pengumpulan Data Data yang diperoleh berupa data sekunder yang berasal dari status penderita rawat inap yang diambil dari bagian medical record.5 x 0.67 x 0.n Z 2  α/2 (1/{p1 (1  p1 )  (p 2 (1  p 2 )} (In (1  Σ) 2 nm Keterangan : n p1 p2 Z1-  = Besar sampel = populasi terpapar pada kelompok kasus = Populasi terpapar pada kelompok kontrol = Tingkat kemaknaan  (1.66 = 1. G. Pengolahan Data Di dalam mengolah data dapat dilakukan dengan menggunakan komputersisasi.5)} In (1 0. Cara Pengolahan dan Penyajian Data 1.5) = 68 F. Adapun tahap-tahap dalam mengolah data dilakukan sebagai berikut : a.5) / (0. yakni data penderita penyakit stroke di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau.960) = Tingkat keterpaparan relatif Maka besar sampel diperoleh : P1 N = (2 x 0. . Tahap editing dengan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemui dalam proses pengumpulan atau pemasukan data.33)  1 / (0.5) = 0.5 + 2 x 0.960{1 / ( 0.

2. Penyajian Data Data yang sudah diolah selanjutnya disusun dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi disertai penjelasan H. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR). Dengan mengetahui besarnya OR.b. Analisis Variat Analisis variat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum dengan cara mendeskripsikan tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan melihat gambaran distribusi frekuensinya. 2. dapat diestimasi pengaruh dari faktor yang diteliti sebagai variabel bebas terhadap terjadinya stroke dengan perhitungan OR menggunakan tabel silang 2 x 2 sebagai berikut : Tabel 2 Kontigensi 2x2 untuk odds ratio pada Penelitian Case Control Study . Karene rancangan penelitian ini adalah studi kasus kontrol. Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data agar lebih mudah dianalisis dengan menggunakan kode-kode dalam bentuk angka. Analisis Data 1. baik dalam bentuk tabel maupun dalam bentuk grafik.

Jika OR = 1 : artinya tidak ada hubungan c. Jika OR > 1 : artinya ebagai faktor causative . Jika OR < 1 : artinya sebagai faktor protektif b.Faktor Risiko Positif Negatif Total Kelompok Studi Kasus Konrol A B C D a+c b+d Total a+b c+d a+b+c+d Odds kelompok kasus = a / (a+c) : c / (a+c) = a / c Odds kelompok kontrol = b / (b+d) : d/ (b+d) = b / d Keterangan : a b c d = Jumlah kasus dengan risiko positif (+) = Jumlah kontrol dengan risiko negatif (-) = Jumlah kasus dengan risiko positif (+) = Jumlah kontrol dengan risiko negatif (-) Dimana : a.

Analisis Univariat a.49 Thn 50 .1 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Kelompok Umur < 20 Thn 20 .6 100.6 19. 1.3 11.39 Thn 40 . Gambaran Umum Lokasi Penelitian B.69 Thn ≥ 70 Thn Total Sumber : Data Primer Jumlah (n) 4 25 24 30 37 44 40 204 Persen (%) 2. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan sejak tanggal sampai dengan melalui wawancara langsung kepada responden penelitian yang kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer maka dapat disajikan sebagai berikut.0 12.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.8 14.1 21. Kelompok Umur Tabel 5.29 Thn 30 .1 menunjukkan bahwa responden tertinggi berada pada kelompok umur 60 – 69 tahun sebanyak 44 .7 18.0 Tabel 5.59 thn 60 .

0 Tabel 5.5 29.9 100.2 menunjukkan bahwa lebih dominan responden penelitian adalah berjenis kelamin laki-laki sebanyak 141 (69.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Sumber : Data Primer Jumlah (n) 141 63 204 Persen (%) 69.4 100.3 menunjukkan bahwa responden tertinggi dengan status tidak bekerja/URT sebanyak 60 (29.4%) dan .1%).9 15.2 26.(21. Jenis Kelamin Tabel 5. Swasta Wiraswasta URT/Tdk Kerja Total Sumber : Data Primer Jumlah (n) 59 31 54 60 204 Persen (%) 28.1 30.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Pekerjaan PNS Pg. Pekerjaan Tabel 5.6%) dan terendah pada kelompok umur < 20 tahun sebanyak 4 (2%). b.0 Tabel 5. c.

6 29. Merokok Tabel 5.terendah bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 31 (15.0 Tabel 5.1 100.4 menunjukkan bahwa lebih dominan responden penelitian tidak memiliki perilaku merokok sebanyak 144 (70.6%).0 Tabel 5. d.5 Distribusi Responden Perokok Berdasarkan Jenis Rokok Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Jenis Rokok Kretek Filter Total Sumber : Data Primer Jumlah (n) 20 124 144 Persen (%) 13. Jenis Rokok Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Merokok Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Perilaku Merokok Ya Tidak Total Sumber : Data Primer Jumlah (n) 144 60 204 Persen (%) 70.5 menunjukkan bahwa dari 144 responden yang merokok lebih dominan menggunakan jenis rokok yang berfilter sebanyak 124 (86.4 100.2%).1%). e.9 86. .

6 menunjukkan bahwa dari 144 perokok lebih dominan tergolong dalam perokok ringan sebanyak 99 (68.6%).20 Btg > 20 Btg Total Sumber : Data Primer Jumlah (n) 52 47 45 144 Persen (%) 36. .7 menunjukkan bahwa dari 144 responden yang merokok. Jumlah Rokok Tabel 5.0 Tabel 5.1 32. banyaknya rokok yang diisap perhari lebih dominan sebanyak 10 – 20 batang sebanyak 47 (32.3 68.6 31.8 100.8%). Status Perokok Tabel 5.3 100.7 Distribusi Responden Perokok Berdasarkan Jumlah Rokok Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Jumlah (n) 45 99 144 Persen (%) 31.6 Distribusi Responden Perokok Berdasarkan Status Perokok Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Status Perokok Perokok berat Perokok ringan Total Sumber : Data Primer Tabel 5.f.0 Jumlah Rokok < 10 Btg 10 . g.

3 100.20 Thn > 20 Thn Total Sumber : Data Primer Tabel 5.3 59.9 Distribusi Responden Perokok Berdasarkan Lama Merokok Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Lama Merokok Lama Singkat Total Sumber : Data Primer Tabel 5.0 .0 Jumlah (n) 23 35 86 204 Persen (%) 16. dengan lamaa merokok Jumlah (n) 86 58 144 Persen (%) 59. dominan telah melakukan perilaku tersebut > 20 tahun sebanyak 86 (59.0 24.h.8 menunjukkan bahwa responden yang merokok sebanyak 144 orang. Lama Merokok Tabel 5.7%) Tabel 5.9 menunjukkan bahwa dari 144 perokok.7 40.8 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Lama Merokok Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Lama Merokok < 10 Thn 10 .7 100.7%) dikategorikan lam. lebih dominan sebanyak 86 (59.

Ho diterima.3 Kontrol n 93 43 136 % 64.6%) dan yang tidak merokok juga dominan pada kontrol sebanyak 43 (71.7 144 60 204 100. Hasil uji statsitik diperoleh nilai OR = 1.2.0 100.4 28.0 100.6 71.676 Total Persen OR CI Sumber : Data Primer Tabel 5.387 0. Analisis Faktor Risiko Merokok Terhadap Kejadian Stroke Tabel 5. .7 66.7%).7192.0 1.10 menunjukkan bahwa responden yang merokok lebih dominan bukan sebagai penderita stroke (Kontrol) sebanyak 93 (64. Analisis Bivariat a.3 33.387 > nilai 1 sehingga dikatakan faktor risiko namun dengan memperhitungkan nilai Confidence Interval (CI) lower dan upper limit yang mencakup 1 sehingga risiko yang ditimbulkan tidak bermakna maka dapat diinterpretasikan bahwa merokok bukan faktor risiko terhadap kejadian stroke.10 Analisis Faktor Risiko Merokok Terhadap Kejadian Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Status Merokok Kasus n Ya Tidak Total 51 17 68 % 35.

Hasil uji statistik diperoleh nilai OR = 1.11 Analisis Faktor Risiko Jenis Rokok Terhadap Kejadian Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Jenis Rokok Kretek Filter Total Status Kasus n 8 43 51 % 40.4 Kontrol n 12 81 93 % 60. Ho diterima.477 – 3.7 35.256 > nilai 1 sehingga dikatakan faktor risiko.b.306 yang mencakup nilai 1 sehingga risiko yang ditimbulkan tidak bermakna dengan interpretasi bahwa jenis rokok bukan faktor risiko kejadian stroke. .3%).0 1.0 100.6 20 124 144 100.0 100. Analisis Faktor Risiko Jenis Rokok Terhadap Kejadian Stroke Tabel 5.477-3.256 0.3 64.0 34.306 Total Persen OR CI Sumber : Data Primer Tabel 5. tidak ada hubungan.0 65. Namun dengan meninjau nilai Confidence Interval (CI) lower dan upper limit = 0.11 menunjukkan bahwa responden yang merokok dengan jenis kretek lebih dominan bukan sebagai penderita stroke (kontrol) sebanyak 12 (60%) dan begitupun yang menghisap rokok berfilter dominan bukan sebagai penderita stroke sebanyak 81 (65.

0 47.6 45 99 144 100.125 16.9 64.487 – 134. Ho ditolak.9%).125 > nilai 1 sehingga dikatakan faktor risiko.12 menunjukkan bahwa responden yang berstatus perokok berat lebih dominan terdistribusi sebagai penderita stroke sebanyak 39 (86.c.1 35.700 yang tidak mencakup nilai 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status perokok dengan kejadian stroke. Hasil uji statistik diperolah nilai OR = 47.4 Kontrol n 6 87 93 % 13. .487134.12 Analisis Faktor Risiko Status Perokok Terhadap Kejadian Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Status Perokok Berat Ringan Total Status Kasus n 39 12 51 % 86. Analisis Faktor Risiko Status Perokok Terhadap Kejadian Stroke Tabel 5.700 Total Persen OR CI Sumber : Data Primer Tabel 5.3 87.0 100.7%) sedangkan yang berstatus perokok ringan dominan terdistribusi bukan sebagai penderita stroke (kontrol) sebanyak 87 (87.7 12.0 100. status perokok merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian stroke dimana perokok yang menghisap > 20 batang perhari lebih berisiko 47 kali untuk menderita stroke. Dengan memperhitungkan nilai confidence interval (CI) lower dan uuper limit = 16.

753 Tabel 5.2 48 82. Analisis Faktor Risiko Lama Merokok Terhadap Kejadian Stroke Tabel 5. .0 OR CI 4.13 Analisis Faktor Risiko Lama Merokok Terhadap Kejadian Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Bau-Bau Kota Bau-Bau Propinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2007 Status Kasus Kontrol n % n % Lama 41 47.3 Singkat 10 17.4 93 64.373 > nilai 1 sehingga dikatakan faktor risiko.753 yang tidak mencakup nilai 1 sehingga dikatakan terdapat hubungan yang bermakna antara lama merokok dengan kejadian stroke dengan interpretasi terdapat hubungan.3%) dan yang memiliki kebiasaan merokok pada kategori singkat juga dominan bukan sebagai penderita stroke sebanyak 48 (82.8%).0 100.6 Sumber : Data Primer Lama Merokok Total 86 58 144 Persen 100.961-9.373 1.7 45 52. Hasil uji statistik diperoleh nilai OR = 4. Dengan memperhitungkan nilai Confidence Interval (CI) lower dan upper limit = 1.d.13 menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan merokok pada kategori lama dominan terdistribusi bukan sebagai penderita stroke (konttrol) sebanyak 45 (52.961 – 9.0 100. Ho ditolak dimana lama merokok merupakan faktor risiko yang signifikan dimana seseorang yang telah lama memiliki kebiasaan merokok > 20 tahun lebih berisiko 4 kali untuk menderita stroke.8 Total 51 35.

6%). Hal ini disebabkan karena rokok yang dihisap mengandung bahan berbahaya yang dapat memberi dampak negatif dalam tubuh. Pembahasan Berdasarkan hasil pengumpulan. Kedua zat ini dapat memberi pengaruh yang tinggi terhadap sistem saraf tubuh sehingga mempengaruhi fungsi dari berbagai organ dalam tubuh. Meskipun . Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat responden yang memiliki kebiasaan merokok (29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dominan responden penelitian tidak memiliki perilaku merokok sebanyak 144 (70. 1.C. Jenis bahan berbahaya yang tergolong racun yang terdapat dalam rokok sangat banyak namun yang sering menjadi bahan perhitungan dan dipermasalahkan dengan adanya pengaruh yang lebih tinggi adalah kandung nikotin dan tar. Hasil ini memberi interpretasi bahwa lebih dominan responden penelitian telah memiliki kesadaran akan dampak buruk yang ditimbulkan dari rokok. pengolahan dan penyajian data penelitian sebelumnya di atas maka dapat dibahas berdasarkan variabel penelitian sebagai berikut.4%). Analisis Faktor Risiko Merokok Terhadap Kejadian Stroke Merokok adalah kebiasaan buruk bagi seseorang yang dapat memberi pengaruh terhadap berbagai masalah penurunan status kesehatan.

Hasil ini memberi indikasi bahwa kebiasaan merokok tidak memberi pengaruh terhadap kejadian .angka ini relatif rendah namun mereka yang memiliki kebiasaan buruk ini akan memberi dampak terhadap timbulnya berbagai masalah kesehatan terutama yang berhubungan dengan gangguan fungsi organ tubuh yang menyebabkan kurang maksimalisasi fungsi kerja tubuh. Arteroskelerosis dapat terjadi diseluruh pembuluh darah.6%) dan yang tidak merokok juga dominan pada kontrol sebanyak 43 (71. Jika terjadi pada pembuluh darah jantung akan menyebabkan jantung koroner (PJK) dan yang terjadi diotak akan mengalami stroke dimana sasaran organ akan mengalami kekurangan suplai darah sebagai sumber nutrisi organ sehinga organ akan mengalami malfungsionalisasi.7%). Nikotin dan tar yang terdapat dalam rokok dan jika terhisap masuk dalam paru-paru maka akan mengendap dan juga akan ikut bersama peredaran darah yang kemudian mengendap dalam sistem pembuluh darah. Pengendapan yang terjadi pada paru-paru dapat menyebabkan timbulnya kanker paru-paru sedangkan pada pembuluh darah menyebabkan terjadiny arteroskelerosis sebagai pemicu terhadap timbulnya berbagai penyakit kardiovaskuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang merokok lebih dominan bukan sebagai penderita stroke (Kontrol) sebanyak 93 (64.

2.7 kali untuk memperoleh stroke. Penelitian sebelumnya yang dilaksanakan oleh Wa Ode Manzila (2005) di Rumah Sakit Umum DR Wahidin Sudirohusodo menunjukkan perbedaan dimana perilaku merokok merupakan faktor risiko terhadap kejadian stroke dimana mereka yang memiliki perilaku merokok berisiko 4. Ho diterima.stroke dimana dari hasil penelitian. responden yang merokok lebih dominan bukan sebagai penderita. Jenis rokok yang dihisap terhadap penurunan derajat kesehatan dibedakan menjadi dua yaitu kretek dan filter. Analisis Faktor Risiko Jenis Rokok Terhadap Kejadian Stroke Merokok sebagai faktor risiko terhadap timbulnya berbagai masalah kesehatan juga harus ditinjau dari banyak aspek dan salah satu diantaranya adalah jenis rokok yang dihisap sehingga dapat memberi interpretasi yang lebih kuat akan pengaruh merokok. Pembagian jenis rokok ini didasarkan atass aspek banyaknya . Hal ini ditunjang dengan hasil uji statsitik diperoleh interpretasi bahwa perilaku merokok bukan faktor risiko terhadap kejadian stroke. Namun jika ditinjau dari perilaku yang tidak merokok menunjukkan peningkatan jumlah responden yang bukan sebagai penderita stroke dan hal ini tentunya akan menjadi bahan pertimbangan bahwa perilaku merokok masih perlu menjadi bahan pertimbangan atas kejadian stroke.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 144 responden yang merokok lebih dominan menggunakan jenis rokok yang berfilter sebanyak 124 (86. kandungan racun yang masuk dalam rokok saat dihisap lebih banyak dibandingkan dengan jenis filter.1%). Hal ini disebabkan karena tidak adanya mekanisme filterisasi dari rokok yang dihisap dan bahan beracun yang terkandung dalam tubuh secara langsung masuk ke dalam tubuh. Jenis kretek. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat responden yang menggunakan jenis kretek (13.9%). Hal ini tentunya akan mengurangi dampak atas timbulnya berbagai jenis masalah kesehatan dalam tubuh meskipun hal yang perlu dipahami bahwa perilaku merokok tetaplah menjadi perilaku hidup tidak sehat yang sama sekali tidak memberi dampak positif bagi status kesehatan. Hal ini . Program penanggulangan terhadap bahaya rokok dengan pengadaan jenis rokok berfilter belum dilaksanakan secara maksimal dimana pada beberap kasus menunjukkan bahwa pengadaan rokok tanpa filter (kretek) masih tetap diproduksi. Meskipun angka pencapaian relatif kecil namun dapat memberi indikasi akan upaya pengurangan risiko bahaya rokok terhadap berbagai masalah kesehatan yang timbul masih kurang maksimal.kandungan bahan beracun yang dihisap dan masuk dalam tubuh seorang perokok.

Namun jika ditinjau dari angka pencapaian pada mereka yang mengkonsumsi rokok filter menunjukkan peningkatan angka . pemerintah perlu menunjukkan peran yang maksimal pula dengan pembuatan aturan pemroduksian jenis rokok selain dengan ditunjang dengan adanya penyebaran informasi secara merata dan menyeluruh kepada masyarakat.3%). Oleh sebab itu. Hasil ini memberi indikasi bahwa jenis rokok yang dihisap oleh seorang perokok tidak memberi pengaruh terhadap kejadian stroke dimana jenis kretek sendiri lebih dominan bukan sebagai penderita. Hal ini ditunjang dengan hasil uji statistik diperoleh interpretasi bahwa jenis rokok bukan faktor risiko kejadian stroke.biasanya berhubungan dengan aspek kebijakan pemerintah terhadap perusahaan rokok yang tidak dilaksanakan secara maksimal untuk memproduksi jenis rokok berfilter. Ho diterima. dalam rangka penanggulangan dan pengurangan risiko bahaya yang ditimbulkan dari perilaku merokok yang semakin meningkat dilaksanakan oleh masyarakat. tidak ada hubungan. Tingginya tingkat risiko dari rokok jenis kretek sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang merokok dengan jenis kretek lebih dominan bukan sebagai penderita stroke (kontrol) sebanyak 12 (60%) dan begitupun yang menghisap rokok berfilter dominan bukan sebagai penderita stroke sebanyak 81 (65.

Jumlah rokok yang dihisap merupakan tanda akan banyaknya kandungan rokok yang dihisap dan dapat menjadi bahan pertimbangan akan berat ringannya dampak negatif yang ditimbulkan dari rokok. banyaknya rokok yang diisap perhari lebih dominan sebanyak 10 – 20 batang sebanyak 47 (32. Analisis Faktor Risiko Status Perokok Terhadap Kejadian Stroke Jumlah rokok yang dihisap juga merupakan aslahs atu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam rangka analisis yang lebih kuat terhadap pengaruh perilaku merokok dengan kejadian penyakit terutama yang berhubungan dengan gangguan sistem kardiovaskuler tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 144 responden yang merokok.6%). Jumlah rokok yang dihisap pada penelitian ini merupakan alat indikasi terhadap penentuan status seorang perokok yang dikartegorikan berat dan ringan dimana indikator ini dapat . Penelitian sebelumnya yang dilaksanakan oleh Abdul Aziz di Rumah Sakit Islam Faisal 2004 menunjukkan perbedaan hasil dimana dipeorleh hasil bahwa jenis rokok kretek yang dihisap oleh seorang perokok dapat meningkatkan risiko 3.5 kali terhadap kejadian stroke.pencapaian yang bukan sebagai penderita sehingga perlu menjadi bahan pertimbangan untuk analisis lebih lanjut bahwa rokok berfilter dapat mengurangi risiko kejadian stroke. 3.

membantu terhadap besarnya dampak yang diberikan dari jumla rokok yang dihisap.8%). Hal ini tentunya akan memberi dampak yang lebih berat atas masalah kesehatan dalam tubuh meskipun pada umumnya sebatang rokok pun dapat memberi dampak yang cukup berarti terhadap penurunan status kesehatan seseorang. Banyaknya rokok yang dihisap sehubungan dengan banyaknya kandungan bahan beracun dari rokok yang masuk di dalam tubuh yang tentunya akan memperparah keadaan kesehatan berbagai fungsi organ dalam tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 144 perokok lebih dominan tergolong dalam perokok ringan sebanyak 99 (68.2%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masih terdapat responden perokok yang dikategorikan perokok berat (31. Hasil ini memberi indikasi bahwa masih terdapat kesadaran dari kaum perokok akan dampak yang ditimbulkan dari rokok yang dihisap. . Hal ini disebabkan karena perbedaan kadar bahan racun rokok yang masuk dalam tubuh. Pada perokok berat yang menghabiskan rokok perhari > 20 batang tentunya akan memberi dampak yang berbeda dengan mereka yang hanya merokok < 20 batang sehari.

Ho ditolak. status perokok merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian stroke dimana perokok yang menghisap > 20 batang perhari lebih berisiko 47 kali untuk menderita stroke. Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berstatus perokok berat lebih dominan terdistribusi sebagai penderita stroke sebanyak 39 (86. Hal ini memberi indikasi bahwa jumlah rokok yang dihisap terutama > 20 batang per hari memiliki risiko yang cukup besar terhadap kejadian stroke.7%) sedangkan yang berstatus perokok ringan dominan terdistribusi bukan sebagai penderita stroke (kontrol) sebanyak 87 (87. Oleh sebab itu.Kejadian arteroskelerosis sebagai penyebab utama timbulnya berbagai masalah kardiovaskuler akan semakin cepat terjadi jika jumlah rokok yang dihisap lebih banyak. Berdasarkan hasil uji statistik diperolah interpretasi bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status perokok dengan kejadian stroke. Hasil ini memberi indikasi bahwa jumlah rokok yang dihisap akan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap kejadian arteroskelerosis terutama pada pembuluh darah otak sebagai pemicu stroke. dalam utama rangka kematian penanggulangan stroke sebagai penyebab .9%). Sedangkan sedikitnya rokok yang dihisap dalam perhari akan mengurangi tingkat risiko terhadap kejadian stroke.

Waktu ini juga merupakan salah satu aspek yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam analisis yang lebih jelas akan bahaya rokok terhadap kesehatan terutama yang berhubungan dengan berbagai kejadian penyakit kardiovaskuler. Selain itu. . pengurangan produksi rokok pun harus diperhatikan sehingga dapat mengurangi kehendak perokok untuk mengkonsumsi rokok lebih banyak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilaksanakan oleh Abdul Aziz di Rumah Sakit Islam Faisal 2004 yang dipeorleh hasil bahwa banyaknya rokok yang dihisap dalam sehari oleh seorang perokok terutama > 20 batang dapat meningkatkan risiko 11. Analisis Faktor Risiko Lama Merokok Terhadap Kejadian Stroke Lama merokok berhubungan dengan waktu keterpaparan seseorang dengan bahan beracun dari rokok yang dihisap.2 kali terhadap kejadian stroke. 4.terutama di negara-negara maju dan berkembang daerah perkotaan maka upaya komprehensif akan peningkatan kesadaran dari masyarakat akan bahaya rokok harus dilakukan secara maksimal melalui penyebaran informasi secara mendetail akan bahaya rokok. Selain juga dengan peningkatan harga jual rokok dipasaran harus dilaksanakan sehingga kehendak untuk membeli rokok pun dapat menurun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 144 perokok. lama atau tidaknya seseorang menekuni perilaku merokok bukanlah yang menjadi target terhadap penurunan dampak kesehatan yang ditimbulkan. Hal ini disebabkan karena lamanya seorang beraktivitas sebagai perokok dapat memberi indikasi akan banyaknya bahan berbahaya yang telah masuk dalam tubuh bersama dengan rokok yang dihisap. dominan telah melakukan perilaku tersebut > 20 tahun sebanyak 86 (59. Pada dasarnya. Lama merokok pada penelitian ini dalam rangka analisis yang lebih kuat dibedakan atas kategori lama dan singkat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari responden yang merokok sebanyak 144 orang. Pengkategorian tersebut dibedakan atas konsumsi rokok selama 20 tahun dimana > 20 tahun dikategorikan lama dan < 20 tahun dikategorikan waktu singkat.7%) dengan lama merokok dikategorikan lama. Namun karena aspek keterpaparan dengan faktor penyebab maka lama merokok perlu menjadi bahan pertimbangan. Hasil ini memberi indikasi bahwa lebih dominan responden telah memiliki tingkat keterpaparan terhadab bahan .7%) yang memberi indikasi bahwa tingkat keterpaparan akan bahaya yang timbul dari penyakit akibat rokok pun akan semakin tinggi. lebih dominan sebanyak 86 (59.

3%) dan yang memiliki kebiasaan merokok pada kategori singkat juga dominan bukan sebagai penderita stroke sebanyak 48 (82. . Ho ditolak dimana lama merokok merupakan faktor risiko yang signifikan dimana seseorang yang telah lama memiliki kebiasaan merokok > 20 tahun lebih berisiko 4 kali untuk menderita stroke. Tingginya tingkat pengaruh dari lama keterpaparan seseorang terhadap kebiasaan merokok sebagaimana ditunjukkan dari hasil penelitian bahwa responden yang memiliki kebiasaan merokok pada kategori lama dominan terdistribusi bukan sebagai penderita stroke (konttrol) sebanyak 45 (52. Hasil distribusi antara lama merokok dengan kejadian stroke memberi indikasi bahwa tingginya tingkat keterpaparan terhadap bahan beracun dari rokok tidak memberi pengaruh terhadap kejadian stroke. Hal ini sesuai dengan hasil uji statistik diperoleh interpretasi bahwa terdapat hubungan antara lama merokok dengan kejadian stroke.8%). Namun jika ditinjau dari tingkat keterpaparan yang rendah menunjukkan peningkatan drastis akan pengurangan risiko terhadap kejadian stroke dan hal ini tentunya harus memperoleh perhatian yang cukup serius.berbahaya dari rokok pada kategori tinggi sehingga memiliki risiko yang tinggi untuk memperoleh berbagai penyakit sehubungan dengan ganguan sistem kardiovaskuler dalam tubuh.

2 kali untuk memperoleh stroke dikemudian hari. . Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Abdul Aziz di Rumah Sakit Islam Faisal 2004 yang diperoleh hasil bahwa lamanya perilaku merokok yang ditekuni oleh seseorang terutama > 20 tahun dapat meningkatkan risiko 7.Terdapatnya hubungan yang signifikan memberi indikasi bahwa dalam upaya penanggulangan stroke yang lebih maksimal maka upaya pengurangan pengkonsumsian rokok perlu mendapat perhatian dengan berbagai upaya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di atas.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Lamanya seseorang merokok > 20 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian stroke dengan besar risiko yang ditimbulkan adalah 4 kali untuk memperoleh stroke di kemudian hari. Penanggulangan stroke melalui pengurangan konsumsi rokok perlu dilaksanakan melalui berbagai upaya yang tidak hanya mencakup . Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis rokok yang dihisap dengan kejadian stroke dan dikatakan bukan faktor risiko berdasarkan nilai Confidence Interval yang mencakup nilai satu. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dengan kejadian stroke dan dikatakan bukan faktor risiko berdasarkan nilai Confidence Interval yang mencakup nilai satu. Saran Berdasarkan kesimpulan yang telah dijelaskan sebelumnya di atas maka saran yang diajukan pada penelitian ini adalah : 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengumpulan. Perokok berat merupakan faktor risiko terhadap kejadian stroke dimana perokok yang menghabiskan rokok > 20 batang dalam sehari berisiko 47 kali untuk menderita stroke di kemudian hari 4. pengolahan dan penyajian data sebelumnya di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 2. B. 3. 1.

. Upaya penanggulangan perilaku merokok pada masyarakat juga dapat dilakukan dengan keterlibatan pemerintah dengan membuat kebijakan atas harga penjualan rokok yang lebih tinggi selain dengan penerapan aturan pemroduksian jenis rokok berfilter.aspek penyebaran informasi saja namun juga harus mencakup pada pengurangan produksi rokok di perusahaan-perusahaan pemintal rokok 2.

Feigin Valery. http//www. Kapita Selekta Kedokteran. Buana Ilmu Populer. 2004 (diakses 4 Maret 2007). (diakses 20 Februari 2007). Kaplan Stanler. FKM UNHAS. Panduan Penulisan Proposal Penelitian dan Skripsi. FKM UMI. Skripsi tidak dipublikasikan.. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke. 2004. Murti.satu lelaki.s Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2004. Stroke. PT.com. http//goggle. 2006 (diakses 19 Februari 2007). Bisma. Rokok. dkk. EYP. 2006. Wahidin Sudirohusodo Bagian Rawat Inap Makassar Tahun 2001 – 2002. Iwan. Stroke ?.suara merdeka.com. FKM UNHAS Skripsi Tidak Dipublikasikan Siregar Anggiat. 2000. 2005. Oyeng. Kanang H. PT. Penerbit Media Aesculapius. Dr. Arif.DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an dan Terjemahannya.. 2003. Mansjoer. Studi Tentang Distribusi Kebiasaan Merokok Terhadap Beberapa Penyakit di R. S. Buana Ilmu Populer Jakarta. 2006. Penerbit buku kedokteran. Puasa Mengurangi Racun dalam Tubuh. Gajah Mada University Press... Handoko.com. Jakarta. Bencana Peredaran Darah di Otak.S. Jakarta. Halaman 51-56.. 2000. Lumbatobing.. Stroke.com. Setengah Jam Menjadi Perokok Pasif Jantung Anda Terancam. . Beberapa Faktor Risiko Kejadian Stroke di Perjan R. Departemen Agama RI Anonim. Pencegahan Penyakit Jantung Koroner. SM. FK – UI Jakarta. Junaidi S... 2004.. http//:www. Januari 2007 (diakses 20 Februari 2007) Fachrin Suharni. Jakarta. Yogyakarta. 2006. Setyowati H.situs kesehatan alternatif. http\\www.

2006. Ilmu Penyakit Dalam. PT.. Jakarta. ramedia Pustaka Utama. . Terjemahan oleh Hartono Andry. 1995.Soeharto I. Jakarta. Edisi IV. PT. Patofisiologi. 2000. Jakarta Tambayong.J. Thomas D. Jakarta.. Fakultas Kedokteran UI. Jilid II. Meninggal Mendadak atasi dengan Pola hidup Sehat. 2005. Stroke dan Pencegahannya. Penerbit Arcan. Patofisologi Untuk Keperawatan. Serangan Jantung dan Stroke. Jakarta. Jakarta Sylvia A Price&Lorraine M Wilson. Waspadai Jantung Koroner.. 2004. EGC. Edisi kedua. 2004. Penerbit Buku Kedokteran. Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Stroke. Sudoyo Aru W dkk. Yatim F. Pustaka Populer Obor. 1988.

Berfilter 2. 3. Mahasiswa 8. Tidak bekerja 2. 10 – 20 tahun 3. Ibu Rumah Tangga 3. Responden Nama Jenis Kelamin : Penderita (Responden) : : : 1. Pensiunan 7. Tidak berfilter Jumlah : Jumlah rokok yang dihisap perhari 1. Perempuan Pekerjaan : 1. Tidak Jenis rokok yang dihisap : 1. Ya 2. Karyawan 6. Siswa Usia Merokok : : Pernah merokok 1. < 10 batang perhari 10 – 20 perhari > 20 batang perhari Lama Merokok : 1. PNS 4. < 10 tahun 2. Wiraswasta 5. Laki-laki 2. > 20 tahun . 2.KUISIONER Ket No.