Penatalaksanaan Gizi Pada Diabetes Melitus Filed under: Artikel — 1 Komentar 19 November 2009

PojokSehat. Walaupun kepatuhan pada pasien terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada pelayanan diebetes, terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Digambarkan suatu model Terapi Gizi Medis pada rekomendasi The American Diabetes Association(ADA) 2003. model tersebut memerlukan pendekatan tim yang terdiri dari dokter, dietisie, perawat dan petugas kesehatan lain serta pasien itu sendiri untuk meningkatkan kemampuan setiap pasien dalam mencapai kontrol metabolik yang baik. Kunci keberhasilan terapi gizi medis adalah keterlibatan dalam 4 hal yaitu assesment atau pengkajian parameter metabolik individu dan gaya hidup, mendorong pasien berpartisipasi pada penentuan tujuan yang akan dialami, memilih intervensi gizi yang memadai dan mengevaluasi efektifnya perencanaan pelayanan gizi. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia yang telah disusun oleh PERKENI (21 November 1993 yang direvisi tahun 1998 dan terakhir tahun 2006) antara lain memberikan pedoman tentang kebutuhan gizi orang dengan diabetes dan anjuran penggunaan Daftar Bahan Makanan Penukar dalam penyuluhan perencanaan makan orang dengan diabetes. A.Terapi Gizi Medis Tujuan umum terapi gizi adalah membantu orang dengan diabetes memperbaiki kebiasaan dan olah raga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, dan beberapa tujuan khusus yaitu : 1. Mempertahankan kadar Glukosa darah mendekati normal dengan keseimbangan asupan makanan dengan insulin (endogen atau eksogen) atau obat hipoglikemik oral dan tingkat aktufitas. 2. Mencapai kadar serum lipid yang optimal. 3. Memberikan energi yang cukup untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang memadai orang dewasa, mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada anak dan remaja, untuk

informasi survival skill yang dianggap perlu untuk pasien (membaca label. audiotape. Aspek budaya. Intervensi gizi ditujukan untuk memberikan informasi praktis pada pasien yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Menentukan Tujuan yang akan Dicapai Hasil dari pengkajian gizi diperlukan untuk menentukan tujuan yang akan dicapai. Intervensi Gizi Informasi yang didapatkan dari pengkajian gizi dan tujuan yang akan dicapai menentukan dasar intervensi gizi. B. Menghindari dan menangan komplikasi akut orang dengan diabetes yang menggunakan insulin seperti hipoglikemia. video. food models). penyakit-penyakit jangka pendek. B. Pasien hendaknya diminta untuk mengidentifikasi apa yang diperlukan dalam penatalaksanaan diabetes secara keseluruhan. Informasi yang dikumpulkan oleh tim diabetes perlu dicatat pada dokumen medik sehingga perencanaan penanganan diabetes secara menyeluruh dapat dikembangkan dan semua anggota tim dapat membantu pasien. Dietisien perlu mempertimbangkan berapa banyak informasi yang perlu diberikan. Langkah-Langkah Terapi Gizi Medis B. kebutuhan zat gizi. Pengkajian Pengkajian gizi pasien termasuk data klinis seperti hasil pemantauan sendiri kadar glukosa darah. penatalaksanaan . kadar lemak darah (kolesterol total. 6. Dietisien yang bekerja di ruang perawatan dapat menggunakan kuesioner yang sederhana. HDL. B. Pengkajian dapat dilakukan melalui wawancara atau dengan penggunaan kuesioner. 5. petunjuk penatalaksanaan gizi pada diabetes. Ini mungkin tidak sama dengan yang biasanya didefinisikan sebagai berat badan idaman. Berat badan memadai diartikan sebagai berat badan yang dianggap dapat dicapai dan dipertahankan baik jangka pendek maupun jangka panjang oleh orang dengan diabetes itu sendiri maupun oleh petugas kesehatah.1. masalah yang berhubungan dengan kelainan jasmani dan komplikasi kronik diabetes seperti : penyakit ginjal. flip chart. Tujuan yang ditetapkan hendaknya membantu orang dengan diabetes membuat perubahan yang positip dalam kebiasaan makan dan latihan jasmani yang akan menghasilkan antara lain perbaikan kadar glukosa darah dan kadar lemak darah serta memperbaiki asupan gizi. LDL. Meningkatkan kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal. Pengkajian gizi juga digunakan untuk mengetahui apa yang mampu dilakukan oleh pasien dan kesediaan untuk melakukannya. neuroati automik. etnik.2.meningkatkan kebutuhan metabolik selama kehamilan dan laktasi penyembuhan dari penyakit katabolik. 4. Intervensi gizi melibatkan 2 tahap pemberian informasi : • Intervensi Gizi Dasar Tahap ini memberikan gambaran tentang gizi.3. kemampuan baca dan tulis pasien dan jenis alat peraga yang diperlukan (handout. dan trigliserida) dan hemoglobin glikat. hipertensi dan penyakit jantung. Pengkajian hendaknya mampu mengidentifikasi masalah gizi dan miskonsepsi yang ada. dan keuangan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan kepatuhan pasien yang tinggi.

C. Penurunan berat badan ringan atau sedang (5-10kg) sudah terbukti dapat meningkatkan control diabetes. Penurunan berat badan dan diet hipokalori (pada pasien yang gemuk) biasanya memperbaiki kadar glikemik jangka pendek dan mempunyai potensi meningkatkan control metabolik jangka lama. Terapi Gizi PadaDM Tipe 2 Penekanan tujuan terapi gizi medis pada diabetes tipe 2 hendaknya pada pengendalian glukosa. Kebutuhan Zat Gizi A. Dianjurkan pembatasan kalori sedang yaitu 250-500 kkal lebih rendah dari asupan rata-rata sehari.8 g/kg berat badan perhari atau 10% dari kebutuhan energi . Diet dengan kalori sangat rendah. dan hipertensi. Tindaklanjut untuk anakanak dianjurkan dilakukan setiap 3-6 bulan sedangkan pada orang dewasa setiap 6 sampai 12 bulan. penghitungan kalori. penghitungan lemak. lipid. Pemantauan keadaan glukosa darah dan hemoglobin glikat (AIC). Terapi Gizi pada DM Tipe 1 Perlu ditetapkan perencanaan makan yang berdasarkan asupan makan sehari-hari individu dan digunakan sebagai dasar untuk mengintegrasikan terapi insulin dengan pola makan dan latihan jasmani yang biasanya dilakukan. dalam hal ini perlu ditekankan bahwa tujuan diet adalah pada pengendalian glukosa dan lipid.1. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006 kebutuhan protein untuk penyandang diabetes juga 10%-20% energi. Pengaturan porsi makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi tersebar sepanjang hari.4. Pada tahap terapi ini. tekanan darah dan fungsi ginjal peting untuk mengevaluasi hasil yang berhubungan dengan gizi. Namun demikian pada sebagian individu penurunan berat badan dapat juga dicapai dan dipertahankan. Penurunan berat badan dapat diusahakan dicapai dengan baik dengan penurunan asupan energi yang moderat dan peningkatan pengeluaran energi. Perencanaan makan hendaknya dengan kandungan zat gizi yang cukup dan disertai pengurangan total lemak terutama lemak jenuh. C.2. dan lain-lain. daftar bahan penukar. Selanjutnya individu perlu memantau kadar glukosa darah sesuai dosis insulin dan jumlah makanan yang biasa dimakan. Protein Hanya sedikit data ilmiah untuk membuat rekomendasi yang kuat tentang asupan protein orang dengan diabetes. Evaluasi Evaluasi adalah bagian yang sangat penting pada proses terapi gizi medis. Lipid. Individu yang menggunakan terapi insulin dianjurkan makan pada waktu yang konsisten dan sinkron dengan waktu kerja insulin yang digunakan. pemecahan masalah mungkin penting untuk membantu pasien menetapkan tujuan baru untuk intervensi gizi lebih lanjut. Dietisien dank lien bersamasama menetapkan hasil intervensi. Perlu penurunan asupan protein menjadi 0.pada saat sakit) • Intervensi Gizi Lanjutan Tahap ini melibatkan penggunaan suatu pendekatan perencanaan makan yang lebih mendalam seperti menu. B. konsisiten dalam hal pola makan penting oleh karena pola makan yang konsisten menghasilkan AIC yang lebih rendah daripada pola makan yang serampangan. walaupun berat badan idaman tidak dicapai. Untuk individu. pada umumnya tidak efektif untuk mencapai penurunan berat jangka lama. ADA pada saat ini menganjurkan mengkonsumsi 10% sampai 20% energy dari protein total.

acesulfame k adalah pemanis tak bergizi yang dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM. Sukrosa Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk control glukossa darah pada individu dengan diabetes tipe 1 dan 2. D. Karbohidrat dan Pemanis Rekomendari ADA tahun 1994 lebih memfokuskan pada jumlah total karbohidrat daripada jenisnya. Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa harus diperhitungkan sebagai pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya pada perencanaan makan. Total Lemak Asupan lemak dianjurkan 7lt. Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energy. Namun demikian. Sorbitol. Apabila peningkatan LDL merupakan masalah utama. Lemak Jenuh dan Kolesterol Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu < 7% asupan energy sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari. manitoldan xylitol adalah gula alcohol biasa (polyols) yang menghasilkan respon glikemik lebih rendah daripada sukrosa dan karbohidrat lain. C.1. Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 45-65% energy. Penggunaan pemanis tersebut secara berlebihan dapat mempunyai pengaruh laksatif.dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologic tinggi. Walaupun berbagai tepung-tepungan mempunyai respon glikemik yang berbeda. aspartame. Sakarin. dapat diikuti anjuran diet disiplin diet dislipidemia tahap II yaitu 1000 mg/dl mungkin perlu penurunan semua tipe lemak makanan untuk menurunkan kadar lemak plasma dalam bentuk kilomikron. Pemanis Fluktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil daripada sukrosa dan kebanyakan karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam melakukan subtitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makanan manis yang pekat dan kandugan zat gizi lain dari makanan yang mengandung sukrosa harus dipertimbangkan. Dalam hal ini fruktosa dapat memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes. namun tidak ada alas an untuk menghindari makanan seperti buah-buahan dan sayuran yang mengandung fruktosa alami maupun konsumsi sejumlah sedang makanan yang mengandung pemanis fruktosa. fruktosa tidak seluruhnya menguntungkan sebagai bahan pemanis untuk orang dengan diabetes.7% energy dari lemak jenuh dan tidak jennuh 10% dari lemak tidak jenuh ganda. seperti lemak yang sering ada bersama sukrosa dalam makanan. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik yang lebih rendah dari pada sebagian besar tepung-tepungan. Mengkonsumsi makanan yang bervariasi memberikan lebih banyak zat gizi dari pada makanan dengan sukrosa sebagai satu-satunya zat gizi. D.2. D. Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal. sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Penderita disiplemia hendaknya menghindari mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah besar.prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi daripada sumber karbohidrat. . B. karena pengaruh dalam jumlah besar (20% energy) potensial merugikan pada kolesterol dan LDL.

Untuk yang menggunakan insulin. Dalam keadaan normal. hanya sedikit bukti yang menunjang bahwa terapi tersebut menguntungkan. kadar glukosa darah tidak terpengaruh oleh penggunaan alkohol dalam jumlah sedang apabila diabetes terkendali dengan baik. data yang ada menyarankan bahwa evaluasi rutin kadar magnesium serum dianjurkan pada pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk menderita devisiensi magnesium. biasanya tidak perlu menambah suplementasi vitamin dan mineral. • Menderita penyakit gastritis. dislipidemia. tidak lebih dari 2x seminggu. Suplementasi kalium mungkin diperrlukan bagi pasien yang kehilangan kalium kerena menggunakan diuretik. F. dianjurkan 2400 mgr natrium perhari. 2. Walaupun kekurangan magnesium dapat berperan pada resistansi insulin. Bagi orang dengan diabetes yang mempunyai masalah kesehatan lain seperti pancreatitis. Tidak diminum bila peut kosong karena dapat menyebabkan hipoglikemia. Natrium Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mgr. tidak lebih dari 2 minuman alkohol (1 minuman alkohol setara dengan 340 gr bir. Kebanyakan orang dengan diabetes agaknya tidak kekurangan kromium oleh karena itu suplementasi kromium tidak bermanfaat. 4. Alkohol mengganggu kesadaran sehingga dapat membuat perencanaan makan kurang bisa dipatuhi. atau neuropati mungkin perlu anjuran untuk mengurangi atau menghindari alkohol. Alkohol dapat meningkatkan resiko hipoglikemia pada mereka yang menggunakan insulin atau sulfonylurea. Mikronutrien : Vitamin dan Mineral Apabila asupan gizi cukup.E. Karena itu sebaiknya hanya diminum pada saat makan. Alkohol mengandung kalori tinggi sehingga tidak baik bagi yang kegemukan. G. pada saat ini. Pemberian kromium menguntungkan pengendalian glikemik bagi mereka yang kekurangan kromium sebagai akibat nutrisi parenteral. Alkohol Anjuran penggunaan alkohol untuk orang dengan diabetes sama dengan masyarakat umum. Asupan kalori dari alkohol diperhitungkan sebagai bagian dari asupan kalori total dan sebagai penukar lemak (1 minuman alcohol sama dengan 2 penukar lemak). Di Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25 gr/1000 kalori/ hari dengan mengutamakan serat larut. sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang. Hiperkalimea dapat terjadi pada pasien dengan insufiensi ginjal atau hipoaldosteronisme . 140 gr anggur atau 42 distilled spirits). intoleransi karbohidrat dan hipertensi. Walaupun ada alas an teoritis untuk memberikan suplemen anti oksidan. • Kadar trigleserida darah meningkat. Serat Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 gr serat makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Alkohol tidak boleh dikonsumsi apabila : • kadar glukosa darah belum terkendali. 3. Anjuran bagi orang diabetes yang tidak dapat meninggalkan alkohol adalah sebagai berikut : 1. pankreatis. tipe tertentu penyakit ginjal dan jantung. • Menggunakan obat diabetes sulfonylurea generasi pertama karena dapat memberikan efek samping. H. Batasi tidak lebih dari 1-2 minuman saja.

aktivitas. normal 1700-2100 kalori. umur. 10-20% dari protein dan 20-25% dari lemak. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan berdasarkan kebutuhankalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal. Prinsip Perencanaan Makan bagi Penyandang Diabetes Kebutuhan Kalori Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. adanya komplikasi dan berat badan. Kebutuhan kalori penyandang diabetes Kalori/kg BB ideal Status Gizi Gemuk Normal Kurus Kerja santai 25 30 35 sedang 30 35 40 berat 35 40 40-50 Perhitungan berat badan idaman dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut : Berat badan idaman = 90% x (TB dalam cm. Cara lain adalah seperti table I. Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes.hiporeninemik atau pasien rawat inap yang minum angiotensin converting enzyim inhibitor. dalam hal ini dapat dilakukan pembatasan kalium dalam diet pasien. dan gemuk 1300-1500 kalori. cara yang lebih gampang lagi adalah dengan pegangan kasar yaitu untuk pasien kurus 2300-2500 kalori. ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa factor yaitu jenis kelamin.100 cm)x 1 kg Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm. rumus modifikasi menjadi : Berat badan ideal = (TB dalam cm – 100) x 1 kg Sedangkan menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu berat badan (kg) Tinggi badan (m2) Adalah sebagai berikut : . Tabel I. Kompisisi energy adalah 45-65% dari karbohidrat. kehamilan/laktasi.

atlit. untuk ini dapat dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/ kg BB untuk pria.9 kg/m2 Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori : 1. 1. sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%. Sedang : pegawai di industry ringan. pandai besi. kebutuhan ditambah 40%. militer yang sedang tidak perang. Penurunan kebutuhan kalori di atas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap decade antara 40 dan 59 tahun. Berat badan .   1. Jenis aktivitas dikelompokkan sebagai berikut :   Keadaan istirahat : kebutuhan kalori basal ditambah 10% Ringan : pegawai kantor. Sangat berat : tukang becak. dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB. kebutuhan harus ditambah 50% dari basal. ibu rumah tangga dan lain-lain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal. mahasiswa. Kehamilan / laktasi Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/ hari dan ada trimester II dan III 350 kalori/hari. Aktivitas Fisik atau pekerjaan Jenis aktivitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Umur  Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada orang dewasa. pegawai took.5 – 22. penari.Berat normal : IMT = 18. guru.    1. militer dalam keadaan latihan. 1. Jenis kelamin Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Berat : petani. trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikan 1 derajat celcius. Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anak-anak lebih daripada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya. kebutuan dinaikkan menjadi 30% dari basal. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari. Adanya komplikasi Infeksi. tukang gali. buruh. 1. di atas 70 tahun dikurangi 20%. ahli hokum.

Dikelompokkan menjadi 8 kelompok bahan makanan yaitu :         Golongan I : bahan makanan sumber karbohidrat. Anjuran penggunaan gula untuk orang dengan DM sama dengan untuk orang-orang normal yaitu tidak lebih dari 5% kebutuhan kalori total. Golongan II : bahan makanan sumber protein hewani Golongan III : bahan makanan sumber protein nabati Golongan IV : sayuran Golongan V : buah-buahan Golongan VI : susu Golongan VII : minyak Golongan VIII : makanan tanpa kalori Diambil dari Penatalaksanaan Gizi Pada Diabetes Melitus. 9 . kecuali pada keadaan tertentu. pasien diberi petunjuk berapa kebutuhan bahan makanan setiap kali makan dalam sehari dalam bentuk Penukar (P). Bab V. dapat disusun menu makanan sehari-hari. B. dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung kepada tingkat kegemukan/kerusakannya. misalnya pasien dengan diet rendah protein dan yang mendapat makanan cair. gula boleh diberikan untuk mencukupi kebutuhan kalori. Di Tulis oleh : Kartini Sukardji pada Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu edisi kedua tahun 2009. Penggunaan gula sedikit dalam bumbu diperbolehkan sehingga memungkinkan pasien dapat makan makanan keluarga. lemak dan hidrat arang. protein. C. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama. Daftar Bahan Makanan Penukar Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikeompokkan berdasarkan kandungan kalori.Bila kegemukan/terlalu kurus. D. dalam jumlah terbatas. Sumber Diet Diabetes Melitus Untuk perencanaan pola makan sehari. berdasarkan pola makan pasien tersebut dan Daftar Bahan Makanan Penukar. Gula Gula dan produk lain dari gula dikurangi. lihat lampiran I.