BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatkan perhatian dan bantuan dari orang lain. Anak luar biasa atau disebut sebagai anak berkebutuhan khusus (children with special needs), memang tidak selalu mengalami problem dalam belajar. Namun, ketika mereka diinteraksikan bersamasama dengan anak-anak sebaya lainnya dalam sistem pendidikan regular, ada halhal tertentu yang harus mendapatkan perhatian khusus dari guru dan sekolah untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak. Selama ini cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus, masih negatif maka pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus juga belum dapat memperoleh hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Persamaan hak sebenarnya telah diatur dengan berbagai perangkat perundangan formal, tetapi permasalahannya tidak adanya sanksi yang jelas terhadap pelanggaran peraturan

1

yang ada, sehingga masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang belum memperoleh haknya. Sehubungan dengan itu maka guru sebagai ujung tombak pendidikan formal perlu memberikan layanan secara optimal bagi semua siswa termasuk anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan di atas, dalam makalah ini akan dibahas mengenai Hakekat Layanan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang dapat diambil berdasarkan latar belakang di atas adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. Bagaimana konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus? Bagaimana model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus? Bagaimana pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus?

1.3 Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. Untuk mengetahui konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Untuk mengetahui model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Untuk mengetahui pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus.

2

dan hanya pada beberapa bidang yang memerlukan layanan atau pendampingan khusus. Dalam layanan terdapat hubungan timbal-balik antara yang memberi layanan dan yang membutuhkan layanan. tunarungu. baik secara langsung atau tidak berdampak pada berbagai aspek kehidupan mereka. tunadaksa. untuk dapat menjalani kehidupannya secara wajar. Mungkin saja anak-anak berkebutuhan khusus secara umum memerlukan layanan sebagaimana anak-anak pada umumnya (ini juga dapat lihat pada standar isi kurikulum 2005 yang terstandarkan untuk anak tunanetra. istilah layanan diartikan sebagai (1) cara melayani. (2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang). tunalaras. Secara umum kondisi anak-anak berkebutuhan khusus memang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. gangguan prilaku. Dalam beberapa terminologi. jadi layanan diberikan berdasarkan kebutuhan. tentu ada anak-anak berkebutuhan khusus yang memang memerlukan layanan individual. karena kondisi dan 3 . yaitu suatu jasa yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. bukan berarti layanan yang diberikan selalu berbeda dengan anak-anak pada umumnya. anak berbakat. dan tunalaras).1 Konsep Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Konsep layanan memiliki arti yang sama meskipun dalam konteks kegiatan yang berbeda. Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak-anak yang mengalami keterbatasan atau hambatan dalam segi fisik. tunagrahita. (3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang. maupun sosial emosional. untuk beberapa jenis anak berkebutuhan tersebut sebagian besar dapat mengikuti layanan pendidikan sebagaimana anak-anak normal pada umumnya. tunadaksa. Artinya. Untuk itu layanan sangat diperlukan bagi mereka. kesulitan belajar. tunarungu. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra. Kendati demikian. anak dengan gangguan kesehatan. Kondisi yang demikian.BAB II PEMBAHASAN 2. mental-intelektual. Namun keadaan yang demikian.

Ada beberapa jenis layanan yang bisa diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Ada beberapa landasan yuridis formal yang mendasari upaya untuk memberikan hak-hak pada anak berkebutuhan khusus. UU No. Pasal 3. (2) layanan sosialpsikologis. UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 tentang hak mendapat pendidikan. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. 50. Namun untuk anak-anak yang berklasifikasi berat. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 48. Anak-anak mungkin hanya membutuhkan layanan dalam beberapa periode waktu. diantaranya yaitu: 1. pemberian layanan pada anak berkebutuhan khusus juga sangat bervariasi. anak-anak tunanetra membutuhkan layanan orientasi dan mobilitas hanya diperlukan pada tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar. bina diri dan gerak untuk anak tunadaksa. sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. 3. 52. Contohnya. Beberapa jenis layanan tersebut diberikan oleh para ahli yang kompeten pada bidangnya masing-masing. Wayan Sri Armini selaku narasumber dapat diketahui bahwa cara memberikan layanan terhadap anak berkebutuhan khusus adalah disesuaikan dengan kemampuan intelektual anak. Dari segi waktu. dan (3) layanan pedagogis/pendidikan. Demikian juga bina komunikasi untuk anak tunarungu. 5 dan 32 tentang pelayanan pendidikan khusus. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan sepanjang hidupnya. 2. Apabila anak memiliki kemampuan intelektual lebih rendah dari kemampuan temannya. 4 tahun 1997 pasal 5 tentang penyandang cacat. UU No. UU No. ada kalanya layanan bagi mereka bersifat temporer. memerlukan berbagai layanan yang lebih lama untuk menumbuhkan kemandirian mereka. 4 . 51.keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti layanan sebagaimana anak-anak normal. dan dilakukan berdasarkan kebutuhan anak. 53. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SLB C Negeri Singaraja dengan Dra. 4. bina diri dan sosial untuk anak tunalaras. Namun secara umum akan mencakup (1) layanan medis dan fisiologis. 49. maka materi yang diberikan lebih sederhana atau lebih mudah untuk dipahami anak tersebut.

kerja sama antara guru. meskipun terdapat beberapa masalah yang ditemukan guru dalam pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus diantaranya adalah siswa memiliki emosi yang tidak stabil sehingga saat pembelajaran siswa sering keluar masuk kelas. 3. Guru selalu berusaha untuk memaksimalkan pembelajaran di SLB C adalah dengan bersikap lebih sabar dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus Dari berbagai upaya di atas diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan pelayanan khusus sesuai dengan hak-haknya. 2. Di semua negara bagian di dunia. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Deklarasi Hak-hak Anak. Wayan Sri Armini. dan bahwa anak-anak seperti itu membutuhkan perhatian khusus. Dengan demikian anak berkebutuhan khusus dapat mengembangkan potensinya 5 . 3. sebelum dan sesudah kelahiran". Dalam deklarasi Hak-hak Asasi Manusia Sedunia. Sesuai yang disampaikan oleh narasumber Dra. kerja sama organisasi profesional. Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga. 2005:225) oleh karena itu upaya untuk memberikan pelayanan kepada anak yang berkebutuhan khusus hendaknya melibatkan: 1. kerja sama dengan masyarakat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa masa kanak-kanak berhak memperoleh pemeliharaan dan bantuan khusus.5. 2. Sejalan dengan hal tersebut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 20 November 1989 menetapkan konfensi hak anak termasuk di dalamnya hak anak yang berkebutuhan khusus. Sehingga anak tidak akan kehilangan hak-haknya untuk mengembangkan potensi secara optimal. memerlukan pengamanan dan pemeliharaan khusus termasuk perlindungan hukum yang layak. "anak karena tidak memiliki kematangan jasmani dan mentalnya. kerja sama dengan orang tua. ada anak-anak yang hidup dalam keadaan yang sulit. Deklarasi Bandung (Nasional) "Indonesia menuju pendidikan inklusi" 8-14 Agustus 2004. di antaranya: 1. sekolah dan pemerintah (Suyanto. 4.

yaitu kelas biasa dengan guru biasa. Pusat Diagnostik-Prescriptif (Pusat Penentuan Diagnosa) f. yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa). 2. g. Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama) i. Kirk (1986) membuat gradasi layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bergradasi dari model segregasi ke model mainstreaming seperti tersebut di bawah ini: 6 . Self-contained Class (Kelas khusus di sekolah biasa bersama guru PLB) h.2 Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Menurut Hallahan dan Kauffman (1991) bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ada berbagai pilihan. dan masyarakat. namun dalam beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber) e. Reguler Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB) c. Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah sakit. yaitu: a. Resource Teacher (Guru sumber. Itinerant Teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung) d. Residential School (Sekolah luar biasa berasrama) Samuel A.seperti anak-anak lain untuk membekali hidupnya serta dapat bermanfaat bagi dirinya. Reguler Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa) b. lingkungan.

Pada awal pelaksanaan. sistem ini diselenggarakan karena adanya kekhawatiran atau keraguan terhadap kemampuan anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak normal. Pendidikan anak berkebutuhan khusus melalui sistem segregasi maksudnya adalah penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan secara khusus. bentuk-bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar. adanya kelainan fungsi 7 . dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak normal. Selain itu. seperti Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Dasar Luar Biasa. yaitu: A. Sekolah Menangah Atas Luar Biasa.Berdasarkan kedua pendapat tersebut di atas. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa. Dengan kata lain anak berkebutuhan khusus diberikan layanan pendidikan pada lembaga pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Sistem pendidikan segregasi merupakan sistem pendidikan yang paling tua. Bentuk Layanan Pendidikan Segregasi Sistem layanan pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan yang terpisah dari sistem pendidikan anak normal.

tunagrahita. SLB untuk tunadaksa (SLB-D). Peserta didik SLB berasrama tinggal diasrama. dan tingkat lanjut. dan tunadaksa. Artinya. untuk anak tunanetra.tertentu pada anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan dengan menggunakan metode yang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. SLB untuk tunagrahita (SLB-C). Bentuk SLB merupakan bentuk unit pendidikan. Anak tunarungu memerlukan komunikasi total. bina persepsi bunyi. yaitu: 1. Misalnya. dan tingkat lanjut. SLB untuk tunarungu (SLB-B). sehingga ada SLB-A untuk anak tunanetra. serta unit asrama. ada pula SLB yang mendidik lebih dari satu kelainan. Hal ini terjadi karena jumlah anak yang ada di unit tersebut sedikit dan fasilitas sekolah terbatas. anak tunadaksa memerlukan layanan mobilisasi dan aksesibilitas. SLB-D untuk anak 8 . sehingga di SLB tersebut ada tingkat persiapan. tingkat dasar. Pada awalnya penyelenggaraan sekolah dalam bentuk unit ini berkembang sesuai dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja). dan layanan terapi untuk mendukung fungsi fisiknya. Sekolah Luar Biasa (SLB) Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. mereka memerlukan layanan khusus berupa braille. penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat persiapan sampai dengan tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit sekolah dengan satu kepala sekolah. Sistem pengajarannya lebih mengarah ke sistem individualisasi. Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi. tunarungu. SLB-C untuk anak tunagrahita. yaitu SLB untuk anak tunanetra. sehingga ada SLB untuk tunanetra (SLB-A). Sekolah Luar Biasa Berasrama Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar biasa yang dilengkapi dengan fasilitas asrama. dan SLB untuk tunalaras (SLB-E). Selain ada SLB yang hanya mendidik satu kelainan saja. sehingga muncul SLB-BC yaitu SLB untuk anak tunarungu dan tunagrahita. Di setiap SLB tersebut ada tingkat persiapan. SLB-B untuk anak tunarungu. 2. Pengelolaan asrama menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah. tingkat dasar. orientasi mobilitas. Bentuk satuan pendidikannya pun juga sama dengan bentuk SLB di atas. SLB-ABCD.

serta SLB-AB untuk anak tunanetra dan tunarungu. pemerintah mulai Pelita II menyelenggarakan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Pada SLB berasrama. Oleh karena itu. Selain tenaga 9 . karena mereka terbatas fasilitas antar jemput. Kelas jauh/Kelas Kunjung Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang disediakan untuk memberi pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB atau SDLB. dan guru olahraga. tunagrahita. Kegiatan administrasinya dilaksanakan di SLB terdekat tersebut. dan tunadaksa. guru untuk anak tunarungu. Anak berkebutuhan khusus tersebar di seluruh pelosok tanah air. tunarungu. guru untuk anak tunanetra. Di SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan yang dididik dalam satu atap. Selain itu. guru untuk anak tunadaksa. Tenaga guru yang bertugas di kelas tersebut berasal dari guru SLB-SLB di dekatnya. dengan adanya kelas jauh/kelas kunjung ini diharapkan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus semakin luas. Tenaga kependidikan di SDLB terdiri dari kepala sekolah. guru untuk anak tunagrahita. Dalam penyelenggaraan kelas jauh/kelas kunjung menjadi tanggung jawab SLB terdekatnya. guru agama. 4. sedangkan sekolah-sekolah yang khusus mendidik mereka masih sangat terbatas di kota/kabupaten. terdapat kesinambungan program pembelajaran antara yang ada di sekolah dengan di asrama. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra. Sekolah Dasar Luar Biasa Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus. sehingga asrama merupakan tempat pembinaan setelah anak di sekolah. 3.tunadaksa. Pengelenggaraan kelas jauh/kelas kunjung merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam rangka menuntaskan wajib belajar serta pemerataan kesempatan belajar. Mereka berfungsi sebagai guru kunjung (itinerant teacher). SLB berasrama merupakan pilihan sekolah yang sesuai bagi peserta didik yang berasal dari luar daerah. dan SLB-E untuk anak tunalaras.

B. 72 tahun 1991. Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar 10 . 72 tahun 1991 satuan pendidikan luar biasa terdiri dari: a. fisiotherapis. dalam pasal 4 PP No. dan klasikal sesuai dengan ketunaan masing-masing. speech therapist. di SDLB dilengkapai dengan tenaga ahli yang berkaitan dengan kelainan mereka antara lain dokter umum. pada pasal 6 PP No. Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) minimal 3 tahun. kelompok. dan anak tunadaksa memperoleh layanan fisioterapi dan latihan koordinasi motorik. Kegiatan belajar dilakukan secara individual. psikolog. Kurikulum yang digunakan di SDLB adalah kurikulum yang digunakan di SLB untuk tingkat dasar yang disesuikan dengan kekhususannya. Lama pendidikan di SDLB sama dengan lama pendidikan di SLB konvensional untuk tingkat dasar. 2 tahun 1989 dan PP No. Selain itu. yaitu UU RI No.kependidikan. dan tunadaksa selama 6 tahun. anak tunarungu memperoleh latihan membaca ujaran. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB) minimal 3 tahun c. Pendekatan yang dipakai juga lebih ke pendekatan individualisasi. komunikasi total. tunagrahita. dalam rangka rehabilitasi di SDLB juga diselenggarakan pelayanan khusus sesuai dengan ketunaan anak. yaitu anak tunanetra. Sejalan dengan perbaikan sistem perundangan di RI. bina persepsi bunyi dan irama. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dengan lama pendidikan minimal 6 tahun b. Selain kegiatan pembelajaran. audiolog. dan untuk anak tunarungu 8 tahun. dokter spesialis. anak tunagrahita memperoleh layanan mengurus diri sendiri. Selain itu ada tenaga administrasi dan penjaga sekolah. Anak tunanetra memperoleh latihan menulis dan membaca braille dan orientasi mobilitas. 72 tahun 1991 juga dimungkinkan pengelenggaraan Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB) dengan lama pendidikan satu sampai tiga tahun.

jumlah anak berkebutuhan khusus dalam satu kelas maksimal 10 % dari jumlah siswa keseluruhan. Selain itu dalam satu kelas hanya ada satu jenis kelainan. Untuk membantu kesulitan yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu sangat diharapkan adanya pelayanan dan bantuan guru kelas atau guru bidang studi semaksimal mungkin dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk khusus dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di kelas biasa. Selain itu. Dengan demikian. guru kelas/guru bidang studi. kepala sekolah. sebagaian. melalui sistem integrasi anak berkebutuhan khusus bersama-sama dengan anak normal belajar dalam satu atap. GPK juga berfungsi sebagai pembimbing di ruang bimbingan khusus atau guru kelas pada kelas khusus. Pada sistem keterpaduan secara penuh dan sebagaian. Bentuk Kelas Biasa Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa secara penuh dengan menggunakan kurikulum biasa. atau keterpaduan dalam rangka sosialisasi. dibanding jika guru harus melayani berbagai macam kelainan. atau orangtua anak berkebutuhan khusus. Sistem pendidikan integrasi disebut juga sistem pendidikan terpadu. atau anak berkebutuhan khusus itu sendiri. GPK dapat berfungi sebagai konsultan bagi guru kelas. Ada tiga bentuk keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menurut Depdiknas (1986). Keterpaduan tersebut dapat bersifat menyeluruh. Seagai konsultasn. guru pembimbing khusus berfungsi sebagai penasehat mengenai kurikulum.bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. yaitu sistem pendidikan yang membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana keterpaduan dengan anak normal. Oleh karena itu perlu disediakan ruang konsultasi untuk guru pembimbing khusus. Hal ini untuk menjaga agar beban guru kelas tidak terlalu berat. di sekolah terpadu disediakan Guru Pembimbing Khusus (GPK). Ketiga bentuk tersebut adalah: 1. 11 . maupun permasalahan dalam mengajar anak berkebutuhan khusus. Dalam keterpaduan ini guru pembimbing khusus hanya berfungsi sebagai konsultan bagi kepala sekolah. Bentuk keterpaduan ini sering juga disebut keterpaduan penuh.

keterampilan. 2. cara penilaian yang digunakan pada kelas biasa ini tidak berbeda dengan yang digunakan pada sekolah umum. guru pembimbing khusus berfungsi sebagai pelaksana program di kelas khusus. di ruang bimbingan khusus dilengkapi dengan peralatan khusus untuk memberikan latihan dan bimbingan khusus. Keterpaduan pada tingkat ini sering disebut juga keterpaduan sebagian. Bentuk Kelas Khusus Dalam keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan sama dengan kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum yang melaksanakan program pendidikan terpadu. juga sosialisasi pada waktu jam-jam istirahat atau acara lain yang diadakan oleh sekolah. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus Pada keterpaduan ini. dengan menggunakan pendekatan individu dan metode peragaan yang sesuai. 12 . anak tunanetra untuk pelajaran menggambar. Pelayanan khusus tersebut diberikan di ruang bimbingan khusus oleh guru pembimbing khusus (GPK). bahasa asing/bahasa Indonesia (lisan) perlu disesuaikan dengan kemampuan wicara anak. metode. matematika. di ruang bimbingan khusus disediakan alat tulis braille. Misalnya. Untuk anak tunarungu mata pelajaran kesenian. menulis. Untuk keperluan tersebut. metode. membaca perlu disesuaikan dengan kondisi anak. Keterpaduan pada tingkat ini hanya bersifat fisik dan sosial. artinya anak berkebutuhan khusus dapat dipadukan untuk kegiatan yang bersifat non akademik. dan cara penilaian yang biasa digunakan di SLB. Keterpaduan ini disebut juga keterpaduan lokal/bangunan atau keterpaduan yang bersifat sosialisasi. dan cara penilaian yang digunakan adalah pendekatan. Pada tingkat keterpaduan ini. 3. metode. peralatan orientasi mobilitas.Pendekatan. Misalnya untuk anak tunanetra. Tetapi untuk beberapa mata pelajaran yang disesuaikan dengan ketunaan anak. seperti olahraga. Pendekatan. anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa dengan menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diikuti oleh anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal.

1 Pengertian Inklusi Pendidikan inklusi adalah termasuk hal yang baru di Indonesia umumnya. status sosial. adalah sebagai berikut. Bahwa setiap anak merupakan bagian integral dari komunitas lokalnya dan kelas serta kelompok reguler. bahwa inklusi dapat berarti penerimaan anak-anak yang mengalami hambatan ke dalam kurikulum. individualisasi pendidikan dan fleksibilitas dalam pilihan materinya. kemiskinan dan lain-lain. 3. Konsep inklusi lebih menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Ada beberapa pengertian mengenai pendidikan inklusi. 1. Sejalan dengan konsep ini. lingkungan. Bahwa guru bekerjasama dan memiliki pengetahuan tentang strategi pembelajaran dan kebutuhan pengajaran umum. Smith (2006:45) mengemukakan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik. Untuk itu perlu adanya restrukturisasi di sekolah sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus bagi setiap anak. interaksi sosial dan konsep diri (visi-misi) sekolah.3. 2. Pendidikan inklusi menurut Sapon-Shevin dalam O’Neil (1994/1995) didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Gagasan utama mengenai pendidikan inklusi ini menurut Johnsen (2003:181). khusus dan individual. gender. diantaranya adalah pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Dengan kata lain pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. dan memiliki pengetahuan tentang cara menghargai tentang pluralitas perbedaan individual dalam mengatur aktivitas kelas. 13 . Bahwa kegiatan sekolah diatur dengan sejumlah besar tugas belajar yang kooperatif.2.3 Pendidikan Inklusi 2.

jalur. bahwa di sekolah mereka dapat membuat penyesuaian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. kondisi ekonomi. jenis dan jenjang pendidikan (Pasal 6 ayat 1).3. Setiap penyandang cacat memiliki hak yang sama untuk menumbuh kembangkan bakat. bahwa anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan potensi dan kebutuhannya. ataupun kelainannya. 2.anak berkebutuhan khusus. undang-undang. Setiap penyandang cacat berhak memperolah pendidikan pada semua sektor. Penting bagi guru untuk disadari. (1) Kebijakan. Ini didasari atas pertimbangan. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat). Pendidikan inklusi sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari program mainstreaming yang sudah beberapa dekade ini diterapkan secara luas oleh para pendidik di berbagai negra untuk anak. ekonomi. yang terpusat pada anak. 2008) adalah. Mereka juga memiliki hak untuk belajar bersama dengan temanteman sebayanya. beberapa faktor dimaksud menurut Skjorten. Kesadaran tersebut juga perlu dibangun. Miriam D (dalam Suparno. meskipun orientasi dan implementasinya berbeda. terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat (Pasal 6 ayat 6 UU RI No. hukum. Meskipun mungkin masih memerlukan pelatihan tentang metode atau strategi khusus yang akan diterapkan di sekolah. yaitu perlunya ada undang-undang 14 . manakala mereka memiliki pandangan pendidikan yang komprehensif.Pendidikan inklusi mempercayai bahwa semua anak berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik sesuai dengan usia atau perkembangannya. terutama berkenaan dengan pengembangan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak secara individual. tanpa memandang derajat. kemampuan dan kehidupan sosialnya.2 Implementasi Inklusi Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 agustus 2004 di Bandung. dengan harapan dapat menggalang sekolah reguler untuk mempersiapkan pendidikan bagi semua anak termasuk penyandang cacat anak. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbagkan dalam implementasi pendidikan inklusi.

emosional. pengalaman. filosofis dan yuridis-empiris. bahwa: 1. (4) Perubahan pendidikan yang potensial. (5) Kerjasama lintas sektoral. dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. serta dukungan dana dalam implementasinya. mental. UUD 1945 pasal 31 ayat (1) & (2) dan (3) yang berbunyi : Ayat 1: Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Ayat 3: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional.khusus yang mengakomodasi kepentingan anak berkebutuhan khusus. Ayat 2: Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. implementasi inklusi mengacu pada beberapa hal. termasuk anak berkebutuhan khusus 2. dan nasional. (2) yang berbunyi: Ayat 1: Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. UUSPN No 20 tahun 2003. Anak adalah pribadi yang unik yang memiliki karakteristik. regional. yaitu berkenaan dengan pengakuan hak anak serta kemampuan dan potensinya. Setiap anak berhak mendapat pendidikan yang layak 5. Pasal 5 Ayat (1). Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang ada di lingkungan sekitarnya Sedangkan landasan yuridis-empirisnya mengacu pada: 1. 2. inklusi harus didukung oleh reorientasi di lapangan. pengetahuan. (3) Kurikulum lokal. Secara filosofis.yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta 15 . (6) Adaptasi lingkungan. dan (7) Penciptaan lapangan kerja. Ayat 2: Warga negara yang memiliki kelainan fisik. (2) Sikap. intelektual. Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua masyarakat dan pemerintah 4. kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda 3. diantaranya. dalam bidang pendidikan guru dan penelitian. minat. Di Indonesia sendiri pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah didasarkan pada beberapa landasan. Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap anak.

1990. memiliki komitmen terhadap pendidikan inklusi. Selain itu juga harus 16 . Kendati demikian. 4. Pernyataan Salamanca (1994) tentang Pendidikan Inklusi. termasuk diantaranya anak-anak yang kemampuan intelektualnya berada di bawah rata-rata. manajemen sekolah.akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa . Permen No. penuntasan wajib belajar maupun terhadap komite sekolah. 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. dan Permen No. dan ketenagaan. komitmen. selama ini masih ada beberapa persoalan prinsip yang menyangkut pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah. sesuai dengan perundangan yang ada pendidikan inklusi hanya berlaku bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang kemampuan intelektualnya tidak berada di bawah ratarata. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi haruslah memiliki siswa berkebutuhan khusus. 2. 1989 pengakuan dan penjaminan hak-hak anak di setiap negara. Resolusi PBB nomor 48/96 tahun 1993 tentang Persamaan Kesempatan bagi Orang Berkelainan. 8. 3. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.3 Sekolah Penyelenggara Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. tentulah sekolah umum yang telah memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan. 9. Sedangkan secara konsep filosofis. 7. Beberapa persyaratan dimaksud diantaranya berkenaan dengan keberadaan siswa berkebutuhan khusus. sarana prasarana. 10. Deklarasi Bandung (2004) & Rekomendasi Bukittinggi (2005) tentang komitmen “pendidikan inklusi”. Di satu sisi. 1948 tentang penghargaan terhadap hak-hak dan kebebasan-kebebasan asasi manusia.3.yang diatur dengan undang-undang. Komitmen Dakar (2000) mengenai Pendidikan untuk Semua. Deklarasi Hak Asasi Manusia. 6. Konvensi Hak Anak. Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua. sebenarnya inklusi adalah wadah semua anak berkebutuhan khusus. 5.

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi juga harus menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran. Berbagai metode. yaitu: 1. motivasi dan belajar melalui suatu interaksi positif dan berorientasikan sumber 4. Pemahaman terhadap hambatan belajar termasuk yang disebabkan oleh kecacatan fisik atau mental 10. Pemahaman akan kebutuhan dan nilai interaksi komunikasi dan pentingnya dialog di kelas 3. Pemahaman akan pentingnya mendorong rasa penghargaan diri anak berkaitan dengan perkembangan. Pengetahuan tentang perkembangan anak 2. yang memungkinkan semua siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Pemahaman konsep pendidikan berkualitas dan kebutuhan akan implementasi pendekatan dan metode baru. Pemahaman pentingnya evaluasi dan asesmen berkesinambungan oleh guru 8. sebagaimana dikemukakan Mirriam S. Adanya penghargaan terhadap diri anak. Pemahaman tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran yang berkaitan dengan isi. memotivasi dan menumbuhkan kepercayaan diri anak. hubungan sosial.memiliki jaringan kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait. Ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki guru pendidikan inklusi. dengan menggunakan kata-kata atau nada suara yang baik. 17 . (dalam Suparno. Pemahaman tentang ”Konvensi Hak Anak” dan implikasinya terhadap implementasi pendidikan dan perkembangan semua anak 5. Pemahaman arti pentingnya belajar aktif dan pengembangan pemikiran kreatif dan logis 7. Pemahaman konsep inklusi dan pengayaan serta cara pelaksanaan inklusi dan pembelajaran yang berdeferensi 9. pendekatan dan metode dan bahan pembelajaran 6. untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan fleksibel. yang didukung dengan adanya fasilitas dan sarana pembelajaran yang mudah diakses oleh semua anak. atau strategi belajar sangat mungkin dikembangkan pada sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. 2008).

ataupun guru di sekolah umum yang telah memperoleh pelatihan khusus sebagai guru pendamping untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah umum penyelenggara pendidikan inklusi.3. Di satu sisi para guru harus berjuang keras memenuhi tuntutan hati nuraninya untuk mencerdaskan seluruh siswanya. Apalagi sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). Jelas ini menjadi dilema tersendiri bagi para guru yang di dalam kelasnya ada siswa difabel. Kendala/Kelemahan Pendidikan Inklusi Minimnya sarana penunjang sistem pendidikan inklusi. justru menciptakan kondisi eksklusifisme bagi siswa difabel dalam lingkungan kelas reguler. sementara di sisi lain para guru tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang difabel. 18 .4 Kendala dan Kelebihan Pendidikan Inklusi 1. Kondisi ini jelas menambah beban tugas yang harus diemban para guru yang berhadapan langsung dengan persoalan teknis di lapangan.Kurikulum yang diterapkan. atau secara khusus dikembangkan program pembelajaran individual (PPI) bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Alih-alih situasi kelas yang seperti ini bukannya menciptakan sistem belajar yang inklusi. terbatasnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi menunjukkan betapa sistem pendidikan inklusi belum benar-benar dipersiapkan dengan baik. Sekolah juga harus mempersiapkan guru pendamping khusus. Sehingga sepertinya program pendidikan inklusi hanya terkesan program eksperimental. yang bisa didatangkan dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus (SLB) sebagai sekolah basis. 2. modifikasi. dapat menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dikembangkan sekolah sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk anak-anak normal penuh.

d. yaitu dapat meningkatkan status mereka di kelas dan di sekolah. b.2. hilangnya rasa takut pada anak berkebutuhan khusus akibat sering berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus. 19 . Banyak anak non ABK yang mengakui peningkatan selfesteem (harga diri) sebagai akibat pergaulannya dengan ABK. Anak non ABK menjadi semakin toleran pada orang lain setelah memahami kebutuhan individu teman ABK. e. Anak non ABK mengalami perkembangan dan komitmen pada moral pribadi dan prinsip-prinsip etika. Berdasarkan hasil wawancara dengan anak non ABK di sekolah menengah. c. Anak non ABK yang tidak menolak ABK mengatakan bahwa mereka merasa bahagia bersahabat dengan ABK Dengan demikian orang tua murid tidak lagi khawatir bahwa pendidikan inklusi dapat merugikan pendidikan anaknya justru malah akan menguntungkan. Kelebihan/Manfaat Pendidikan Inklusi Menurut Staub dan Peck (1994/1995) ada lima manfaat atau kelebihan program inklusi yaitu: a.

Bentuk Layanan Pendidikan Segregasi Anak berkebutuhan khusus diberikan layanan pendidikan pada lembaga pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus. tanpa memandang derajat. Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. jadi layanan diberikan berdasarkan kebutuhan yang dimiliki oleh anak-anak yang mengalami keterbatasan atau hambatan dalam segi fisik. kondisi ekonomi. Sekolah Menangah Atas Luar Biasa. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa. b. yang terpusat pada anak. ataupun kelainannya. 3. Konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus adalah suatu jasa yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini yang dimaksud hubungan timbal-balik antara yang memberi layanan dan yang membutuhkan layanan. bahwa di sekolah mereka dapat membuat penyesuaian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus mempercayai bahwa semua anak berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik sesuai dengan usia atau perkembangannya. 2. manakala mereka memiliki pandangan pendidikan yang komprehensif . Model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan menjadi dua diantaranya sebagai berikut. mental-intelektual.BAB III PENUTUP 3. a. 20 . maupun sosial emosional.1 Simpulan 1. seperti Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Dasar Luar Biasa. Penting bagi guru untuk disadari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful