P. 1
BAB I-SPAM

BAB I-SPAM

|Views: 99|Likes:

More info:

Published by: Estuning Mugi Rahajeng on May 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1.1.LATAR BELAKANG
  • 1.3 TUJUAN
  • 1.4 MANFAAT
  • 1.5 RUANG LINGKUP TUGAS
  • 1.6 METODOLOGI PELAKSANAAN
  • 2.1. UMUM
  • 2.2.2. Sistem Penyediaan Air Minum
  • 2.2.3. Pengembangan SPAM
  • 2.3.Kualitas dan Kuantitas Air
  • 2.4.KEBUTUHAN AIR
  • 2.5. KEBOCORAN AIR
  • 2.6. FLUKTUASI PEMAKAIAN AIR
  • 2.7. PROYEKSI PENDUDUK
  • 2.8. KRITERIA PERENCANAAN
  • 2.9. SISTEM TRANSMISI
  • 2.10.2. Karakteristik Pipa Distribusi
  • 2.10.3. Reservoir
  • 2.10.4. SISTEM PEMOMPAAN
  • 2.10.5. Faktor Desain Pipa
  • 2.10.6. Hubungan Pompa dan Sistem Disribusi Air
  • 2.10.7. KEHILANGAN TEKANAN
  • 2.11.2. Pipa Hubungan Paralel
  • 2.11.3. Jaringan Pipa
  • 3.1.1. Rencana Umum SPAM
  • 3.1.2. Membuat Desain SPAM
  • 3.2. PENGUMPULAN DATA
  • 3.3. PENGOLAHAN DATA
  • 3.4.1. Proyeksi Jumlah Penduduk
  • 3.4.2. Daerah Perencanaan
  • 3.4.3. Sumber Air
  • 3.4.4. Proyeksi Kebutuhan Air
  • 3.4.5. Kebutuhan Air Untuk Keperluan Domestik
  • 3.4.6. Kebutuhan Air Untuk Kebutuhan Non Domestik
  • 4.1.UMUM
  • 4.2.2. Topografi
  • 4.2.3. Sumber Daya Alam
  • 4.2.4. Geologi
  • 4.2.5. Tata Guna Lahan
  • 4.3. ASPEK SOSIAL 4.3.1. Kependudukan
  • 4.4.2. Fasilitas Peribadatan
  • 4.4.3. Fasilitas Kesehatan
  • 4.4.4. Fasilitas Ekonomi
  • 4.4.5. Fasilitas Pelayanan Utilitas
  • 5.1. Proyeksi Penduduk
  • 5.2. PENDEKATAN TEKNIS STUDI
  • 5.3.2. Tingkat Pelayanan
  • 5.4. KEBUTUHAN AIR BERSIH
  • 5.5.1. Kebutuhan Air Domestik
  • 5.5.2. Kebutuhan Air Non Domestik
  • 5.5.3. Kebutuhan Air Maksimum dan Kebutuhan Jam Puncak
  • 5.5.4. Perhitungan Kebutuhan Air per Blok
  • 5.5.5. Sumber Air Baku Daerah Pelayanan
  • 5.5.6. Alternatif Sistem Pengaliran Air
  • 5.6.1.4.Perhitungan Sistem Transmisi
  • 5.7.1. Perencanaan Sistem Distribusi
  • 5.7.2. Sistem Perpipaan Distribusi
  • 5.8.1. Diameter Pipa Distribusi (Dari Reservoir Ke Junction 3)
  • 5.8.2. Diameter Pipa Distribusi (Dari Junction 3 Ke Junction 4)
  • 5.9. SIMULASI PERENCANAAN DENGAN EPANET VERSI 2.0

BAB I

PENDAHULUAN


1.1.LATAR BELAKANG
Air merupakan kebutuhan pokok manusia dalam melaksanakan aktivitas
sehari-hari dalam tingkat kebutuhan domestik .Air juga sebagai sumber daya alam
yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu di kelola untuk
dimanfaatkan secara efisien, adil , dan berkelanjutan. Selain itu bagi non
domestik ,air dapat pula sebagai bahan pokok ataupun sekunder dalam
melaksanakan produksi. Pada saat ini, kuantitas air yang ada di suatu daerah
relatif tetap. Di daerah Purworejo pertambahan penduduk maupun sosial ekonomi
semakin meningkat.
Untuk itu perlu dibuat sistem penyediaan air bersih yang dapat melayani
masyarakat seluas-luasnya. Sistem yang dibuat harus terencana dengan baik dan
kontrol pelaksanaan yang teratur sehingga dapat terbentuk sistem penyediaan air
bersih yang optimal.
Sistem penyediaan air bersih / minum merupakan kerangka penataan
dalam usaha pemenuhan kebutuhan air bersih melalui jaringan- jaringan pipa air
bersih dari sumber air hingga ke masyarakat (konsumen). Sistem yang dibuat
bertujuan agar masyarakat dapat mendapatkan pasokan kebutuhan air bersih
secara proporsional.
Sistem penyediaan air bersih merupakan suatu sistem suplai air bersih
yang berawal dari pengambilan air baku sampai distribusi ke pelanggan sebagian
air bersih yang memenuhi standar air bersih.
Ag a r k e b u t u h a n a i r mi n u m a t a u a i r b e r s i h d a p a t
me me n u h i k a p a s i t a s t o t a l distribusi, maka kita harus dapat melihat
proyeksi penduduk di tahun mendatang yang akan direncanakan. Dengan
melihat proyeksi penduduk, peruntukan kota dan kondisi ekonomi
di harapkan kebut uhan akan ai r bersi h atau ai r mi num pada suatu
daerahyang direncanakan dapat terpenuhi.
Sistem perencanaan teknis penyediaan air bersih di Kecamatan Banyuurip,
Kabupaten Purworejo ini dilakukan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Tugas ini disusun secara fleksibel dan
bersifat umum artinya dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada. Tugas ini
diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk lebih memahami tentang mata
kuliah yang telah diberikan dan bagaimana menerapkannya di lapangan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN
Penyusunan laporan ini bertujuan untuk merencanakan jaringan distribusi
air bersih pada daerah yang belum mendapatkan pelayanan distribusi air bersih
dari PDAM, dalam hal ini daerah Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo.
Perencanaan ini nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih di
Kecamatan Banyuurip dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2030.

1.4 MANFAAT
Manfaat dari perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum pada Kecamatan
Banyuurip Kabupaten Purworejo adalah :
1. Untuk masyarakat
 Dalam perencanaan ini dapat membantu masyarakat untuk
mendapatkan air bersih dengan merata dan sesuai prosedur
 Meminimalisasi kelangkaan air bersih pada musim kemarau.
 Dapat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat pada waktu
tertentu.
2. Untuk pendesain
Dapat memperkirakan kebutuhan air bersih pada waktu tertentu.
3. Untuk pembaca
Laporan ini dapat dijadikan referensi untuk merencanakan Sistem
Penyediaan Air Minum selanjutnya.

1.5 RUANG LINGKUP TUGAS
Adapun ruang lingkup dari tugas ini adalah :
1. Menyusun gambaran mengenai daerah perencanaan.
a. Mengumpulkan data jumlah penduduk sekarang dan waktu
sebelumnya, kepadatan penduduk dan areanya, serta
memproyeksikan pertambahan penduduk hingga 15 tahun yang akan
datang.
b. Melakukan survey sosio ekonomi.
c. Mengumpulkan informasi mengenai sumber-sumber air baku yang
ada.
d. Menganalisis infrastruktur dari daerah bersangkutan dengan
memperhitungkan rencana induk daerah.
2. Penyusunan rencana garis besar
a. Menentukan lokasi sumber air
b. Menyusun kriteria perencanaan untuk pembangunan sistem
penyediaan air bersih.
c. Merencanakan jalur transmisi dan distribusi.
d. Membagi blok pada daerah perencanaan yang akan dilayani
berdasarkan kepadatan penduduk atau lajur jalan.
3. Perhitungan
a. Memperkirakan pemakaian air rata-rata tiap tahun, perkiraan air
pada hari maksimum dan jam puncak.
b. Memperkirakan jumlah penduduk yang akan mendapat pelayanan air
bersih dan daerah pelayanannya, tahun per tahun, dimulai dari tahun
2008 sampai tahun 2030.
c. Menetukan kriteria perencanaan menganai kapasitas dan ukuran
sistem penyediaan air bersih.
d. Memberikan pandangan tentang kemampuan kota untuk mengelola
sistem penyediaan air bersih yang akan dibangun.

4. Membuat Gambar Perencanaan
a. Peta daerah perencanaan
b. Pipa transmisi dan distribusi
c. Denah dan potongan jalan serta pemasangan pipa dalam tanah.

1.6 METODOLOGI PELAKSANAAN
Secara umum proses studi penyediaan sarana air minum terbagi menjadi
empat tahap, sebagai berikut :

1. Persiapan
Sebagai langkah awal dalam merealisasikan tujuan pembuatan
tugas ini ialah sebagai berikut :
 Mengumpulkan berbagai informasi mengenai daerah
perencanaan.
 Meninjau data pustaka.
 Mempelajari kondisi khusus di lapangan sebagai bahan
pertimbangan.
 Mempelajari kriteria-kriteria yang dikeluarkan oleh pemerintah
maupun teknis yang memadai untuk digunakan.

2. Survey Lapangan
Bertujuan untuk mendapatkan informasi dan data aktual dari
daerah studi. Data lapangan tersebut berupa :
 Jaringan air bersih yang ada, air baku dan pendayagunaannya,
demografi, fisik dan sosial budaya.
 Sarana dan prasarana yang mendukung.
 Tingkat ekonomi, sosial budaya masyarakat daerah
perencanaan.
 Data umum kota, peta rencana tata ruang kota, peta
hidrogeologi dan hidrologi, peta topografi daerah Purworejo.
 Daftar harga lahan dan pipa yang digunakan di Kabupaten
Purworejo.
3. Praperencanaan
Data yang didapat dari hasil survey lapangan diperiksa oleh
asisten masing-masing kelengkapannya kemudian ditentukan wilayah
daerah perencanaan. Data yang ada dianalisa dan diolah untuk
dilakukan prediksi jumlah penduduk daerah pelayanan dan jumlah
penduduk yang dilayani. Setelah itu dihitung jumlah kebutuhan air
bersih penduduk baik pada masa sekarang maupun yang akan datang.
Jumlah kebutuhan air yang diperlukan pada akhir tahun
perencanaan dibandingkan kemudian dianalisa dan dievaluasi.
Langkah selanjutnya adalah menentukan kriteria dan metodologi
sebagai pola dasar yang akan dipakai dalam perencanaan selanjutnya,
seperti metode perhitungan, standar desain dan tetapan lain. Setelah
itu dibuat suatu alternatif penyediaan air minum yang dibuat dari
sumber air baku, unit pengolahan, jalur pipa dan peletakan material
sistem plan material yang digunakan.
4. Perencanaan
Berisi perhitungan desain pembuatan gambar dan syarat
pekerjaan. Perhitungan desain konstruksi lengkap terperinci dan
spesifikasi untuk setiap bangunan dilengkapi dengan gambar teknis
sehingga hasil desain siap untuk dikerjakan.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1. UMUM
Secara garis besar dalam menyelesaikan tugas mata kuliah SPAM ini
memerlukan beberapa landasan teori / prinsip dasar dan rumus – rumus yang
digunakan untuk mengolah data yang ada, misalnya untuk menentukan diameter
pipa, dimensi reservoir, besarnya headloss, dll.
Selain itu, dalam penyediaan kebutuhan air bersih harus aman, higienis, dapat
diolah lebih lanjut menjadi air minum, jumlahnya mencukupi dan ekonomis dari
segi biaya.
2.2.REGULASI SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM
2.2.1. Air Minum
Pengertian air minum di dalam Keputusan Menteri Kesehatan
(Kepmenkes) RI No. 907/Menkes/SK/VII/2002 Tentang Syarat-syarat dan
Pengawas Kualitas Air Minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau
tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung
diminum; dimana jenis air minum tersebut meliputi :
a. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga
b. Air yang didistribusikan melalui tangki air
c. Air kemasan
d. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman
yang disajikan kepada masyarakat.
Keempat jenis air minum tersebut harus memenuhi syarat kualitas air
minum yang meliputi persyaratan fisik, kimiawi, bakteriologis dan radioaktif.
Aktivitas pengolahan air sangat dibutuhkan ketika kualitas dari air yang
disadap tidak memenuhi standar kualitas air minum, sehingga tujuan dari
pelayanan air minum masih dapat terpenuhi. Aktivitas sistem transmisi adalah
mengumpulkan dan menyalurkan air dari sumber atau dari pengolahan air ke
daerah pelayanan. Sedangkan aktivitas ditribusi adalah mendistribusikan air
tersebut kepada pelanggan yang membutuhkan dengan volume dan tekanan yang
memenuhi.
Sistem penyediaan air bersih harus dapat menyediakan jumlah air yang
cukup untuk kebutuhan suatu kota. Unsur-unsur sistem yang modern terdiri atas :
sumber air baku, fasilitas penyimpanan, fasilitas transmisi ke unit pengolahan,
fasilitas pengolahan, fasilitas transmisi dan penyimpanan, dan fasilitas distribusi.
2.2.2. Sistem Penyediaan Air Minum
Menurut Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 2005 tentang pengembangan
sistem penyediaan air minum pasal 1 ayat (6) dan ayat (7), Sistem Penyediaan Air
Minum (SPAM) merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari
prasarana dan sarana air minum. Sedangkan pengembangan SPAM adalah
kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem
fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran serta
masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan
penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.
Menurut Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 2005 tentang Pengembangan
Sistem Penyediaan air Minum pasal 5 ayat (1), (2), dan (3), SPAM dapat
dilakukan dengan jaringan perpipaan dan/atau jaringan non perpipaan. SPAM
dengan jaringan perpipaan meliputi unit air baku, unit produksi, unit distribusi,
unit pelayanan, dan unit pengelolaan sedangkan SPAM dengan jaringan non
perpipaan meliputi sumur dangkal, sumur pompa tangan, bak penampungan air
hujan, terminal air, mobil tangki air instalasi air kemasan, atau bangunan
perlindungan mata air.
Dalam rangka mengatasi permasalahan dalam bidang air minum,
diperlukan adanya suatu kriteria perencanaan untuk menjaga mutu sistem yang
akan dibangun dengan strategi dan pengembangan kota. Suatu sistem penyediaan
air minum harus direncanakan dan dibangun sedemikian rupa agar dapat
memenuhi 3 (tiga) tujuan, yaitu :

1. Tersedianya air dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang
memenuhi persyaratan air minum.
2. Tersedianya air setiap waktu atau berkesinambungan.
3. Tersedianya air dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
2.2.3. Pengembangan SPAM
Menurut Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 2005 tentang pengembangan
sistem penyediaan air minum pasal 1 ayat (6) dan ayat (7), Sistem Penyediaan Air
Minum (SPAM) merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari
prasarana dan sarana air minum. Sedangkan pengembangan SPAM adalah
kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem
fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran serta
masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan
penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.
2.3.Kualitas dan Kuantitas Air
Pada dasarnya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam penyediaan air
bersih, yaitu :
1. Segi Kualitas
Air minum yang ideal adalah jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa, tidak mengandung bakteri pathogen, tidak mengandung zat kimia
yang berbahaya, dll.
(Peavy. 1985)
Persyaratan kualitas air minum diambil dari SK Menkes RI No.
907/Menkes/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas
air minum pada Lampiran I, yaitu :
a. Persyaratan Fisik
Adanya bau pada air minum akan menimbulkan kesan tidak estetis
(misal bau amis yang dapat disebabkan tumbuhnya algae) jumlah zat
terlarut yang berpengaruh terhadap kesadahan air. Suhu air bersih
harus sejuk, suhu yang tinggi dapat melarutkan zat kimia dalam
saluran, menghambat reaksi biokimia dan tidak menghilangkan
dahaga. Air bersih tidak berwarna atau jernih.
b. Parameter Kimia
Berkaitan erat dengan sifat racun, mengganggu kesehatan dan
sistem, sebagai indikator pencemaran, dll.
c. Parameter Biologis
Meliputi mikroorganisme patogen dan non patogen, adanya bakteri
coli sebagai indikator adanya patogen yang berkaitan dengan
kesehatan manusia.
d. Parameter Radiologis
Meliputi radioaktivitas yang merusak sel yang terpapar sinar α dan β.
(Peavy. 1985)

2. Segi Kuantitas
Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :
a. Pemakaian air dalam kondisi apapun. Pemakaian air dibatasi oleh
persediaan air dalam sistem yang telah dibuat dan sering tidak
mencukupi.
b. Kebutuhan air yang diperlukan konsumen untuk beraktivitas. Jumlah
keseluruhan air menentukan besaran sistem penyediaan air.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian :
- Faktor sosial-ekonomi, antara lain : populasi, luas wilayah,
komposisi penduduk, iklim, tingkat pendidikan, tingkat
ekonomi, dll.
- Faktor teknis : keadaan sistem penyediaan air bersih itu, antara
lain kualitas, kuantitas, operasional, perawatan, harga
penggunaan sistem, dll.
(Peavy. 1985)



2.4.KEBUTUHAN AIR
1. Kebutuhan Air Domestik
Kebutuhan air domestik adalah produk dari sejumlah populasi yang
dilayani dan unit pemakaian air domestik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan air domestic antara lain :
a. Pendapatan
b. Kebiasaan sosial-budaya
c. Tipe dari sambungan air
d. Karakteristik air, seperti kuantitas, kualitas dan harga
e. Tersedianya sumber alternatif

Faktor paling penting untuk menentukan kebutuhan air yang akan
datang adalah : persentase converage populasi dari sistem penyediaan air,
pertumbuhan populasi dan tipe sambungan pelayanan.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) membagi tiga tahapan dalam
mencapai tujuan untuk pemenuhan kebutuhan air :
a. Tahap I : 90% melayani kebutuhan air penduduk melalui hidran
umum dan 10% melalui sambungan rumah
b. Tahap II : 50% melayani kebutuhan air penduduk melalui hidran
umum dan 50% melalui sambungan rumah.
c. Tahap III : penduduk dilayani dengan sambungan rumah.
(Zwan.1989)
2. Kebutuhan Air Non Domestik
Pemakaian air non-domestik meliputi pemakaian air untuk industri,
pemakaian air untuk komersial, pemakaian air untuk sekolah, rumah sakit,
dan prasarana umum. Kebutuhan untuk pemakaian air non-domestik antara
20% sampai >100% dari pemakaian air total.



2.5. KEBOCORAN AIR
Dari beberapa pengalaman di lapangan, diketahui bahwa kuantitas air
sering hilang baik karena kebocoran atau terbuang pada sistem distribusi
dan istalasi domestik. Oleh karena itu, dalam persiapan proyeksi
pemakaian air, kebocoran dijadikan sebagai salah satu kriteria dasar
desain. Persentase kebocoran antara 10%-60% dari total penyediaan atau
bahkan lebih tergantung dari kondisi tanah daerah tersebut dan tergantung
umur dan operasi dan pemeliharaan sistem distribusinya.
(Zwan.1989)
2.6. FLUKTUASI PEMAKAIAN AIR
Pemakaian air tiap jam dalam 1 hari berbeda, tiap hari dalam satu bulan
juga berbeda atau dengan kata lain pemakaian air tiap waktu berbeda.
Kemungkinan hal ini disebabkan perbedaan kebiasaan hidup dan iklim suatu
wilayah. Fluktuasi kebutuhan air tergantung pada lokasi dari elemen pada total
sistem penyediaan air.
Fluktuasi pemakaian air dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :
a. Pemakaian harian rata-rata, yaitu pemakaian rata-rata dalam 1 hari
atau pemakaian dalam 1 tahun dibagidengan banyaknya hari dalam 1
tahun.
b. Pemakaian harian maksimum (peak day), pemakaian terbayak dalam
1 hari.
c. Pemakaian jam rata-rata : pemakaian air rata-rata dalam 1 jam atau
pemakaian air satu hari dibagi 24 jam.
d. Pemakaian jam puncak (peak hour) : pemakaian terbesarpada suatu
jam dalam 1 hari. Debit jam puncak berpengaruh pada perencanaan
pipa distribusi.
(Babbit. 1960)




2.7. PROYEKSI PENDUDUK
Perkembangan penduduk merupakan faktor penting dalam perencanaan
sistem penyediaan air bersih suatu area. Dalam proyeksi penduduk untuk tahun-
tahun berikutnya, diperlukan metode pendekatan yang diperlukan sesuai
karakteristik daerahnya.
Untuk memproyeksikan jumlah penduduk pada daerah perencanaan
dibandingkan dengan tiga metode proyeksi. Kemudian, dari ketiga metode
tersebut dipilih yang paling sesuai untuk karakteristik daerah yang ditinjau.
Metode yang diperbandingkan adalah :
1. Metode Aritmatik
Pn =po +rn
Keterangan :
Pn = jumlah penduduk pada tahun n
Po = jumlah penduduk pada awal
n = periode perhitungan
r = angka pertambahan penduduk/th
rumus diatas diubah dalam bentuk regresi menjadi :
Pn =Po +rn
Y =b +a x
Keterangan :
Pn = y = jumlah penduduk pada tahun n
Po = b = koefisien
n = x = tahun penduduk yang akan dihitung
r = a = koefisien x
2. Metode Geometrik
Pn = Po ( 1 + r )
n
Keterangan :
Pn = jumlah penduduk pada tahun n
Po = jumlah penduduk pada awal
n = periode perhitungan
r = rasio pertambahan penduduk/th
rumus diatas diubah dalam bentuk regresi menjadi :
log Pn = log Po + r log n
log y = log b + a log x
Keterangan :
log Pn = y = jumlah penduduk pada tahun n
log Po = b = koefisien
log n = x = tahun penduduk yang akan dihitung
r = a = koefisien x
3. Merode Least Square
Perhitungan proyeksi penduduk dengan metode least square dapat dihitung
dengan rumus, yaitu sebagai berikut :
Pn = a + (bt)
Keterangan :
t = tambahan tahun terhitung dari tahun dasar
a = { (∑p) (∑t
2
) – (∑t)(∑p.t)}/{n(∑t
2
)-(∑t)
2

b = {n(∑p.t) – (∑t)(∑p)}/{n(∑t
2
)-(∑t)
2
}
Keterangan :
t = sebagai nomor data tiap tahun
p = jumlah penduduk
t
2
= sebagai nomor data tiap tahun dikuadratkan
p
2
= jumlah penduduk dikuadratkan

Pemilihan metode proyaksi penduduk daerah perencanaan dilakukan
dengan cara pengujian statistik, yaitu dengan koefisien korelasi. Metode
proyaksi yang paling tepat adalah metode yang memberikan nilai R
2

mendekati atau sama dengan 1. Setelah itu, metode tersebut dipakai untuk
memproyaksikan jumlah penduduk yang diinginkan.


2.8. KRITERIA PERENCANAAN
Untuk merencanakan sistem penyediaan air bersih suatu area harus
memenuhi persyratan, bahwa air tersedia setiap saat dengan debit dan tekanan
yang cukup, serta keamanan dan kualitas sesuai standar. Secara umum, kriteria
perencanaan yang digunakan dalam sistem penyediaan air bersih adalah sebagai
berikut :
1. Service Area
Penentuan daerah layanan (service area) ditentukan sesuai dengan kondisi
daerah setempat berdasarkan kepadatan penduduk.
2. Consumplan Rate
Besarnya pemakaian per hari (consumplan rate) tergantung jenis
sambungan, seperti sambungan rumah dan hidran umum. Pemakaian air
untuk sambungan rumah 100-150 liter/orang/hari. Sedangkan untuk hidran
umum sebesar 30-4- liter/unit/hari.
3. Sistem Tekanan dan Kecepatan Aliran dalam Pipa
- Tekanan statis maksimum aliran dalam pipa
- Tekanan statis minimum sebesar 10 m.k.a
- Kecepatan 0,3 – 3m/s
(Zwan.1989)
2.9. SISTEM TRANSMISI
Pipa transmisi berfungsi untuk mengalirkan air dari sumber ke reservoir
dan unit pengolahan air.. Sistem transmisi ini terdiri dari dua cara, yaitu :
1. Sistem Branch, dengan ciri-ciri :
a. Sistem terbuka dan berakhir pada satu titik mati (dead end)
b. Gradasi ukuran pipa terlihat jelas
2. Sistem Loop, dengan ciri-ciri :
a. Sistem tertutup dan aliran tidak berasal dari satu daerah saja.
b. Gradasi ukuran pipa tidak terlihat jelas
c. Dipakai unutk daerah yang relatif datar
(Zwan.1989)

2.10. SISTEM DISTRIBUSI
2.10.1. Tipe Sistem Distribusi
1. Sistem Gravitasi
Prinsip dasar sistem gravitasi adalah mendesain sistem penyediaan
air minum berdasarkan kontur topografi, sehingga pada sistem ini,
distribusi air dilakukan tanpa pompa. Beberapa keuntungan dan kerugian
dari sistem ini adalah sebagai berikut:
a. Keuntungan :
- Tidak ada energi yang hilang
- Masalah pengoperasian sedikit (sedikit bagian mekanik, tidak
tergantung persediaan listrik) dan biaya pemeliharaan rendah.
- Tidak ada perubahan tekanan tiba-tiba
b. Kerugian :
- Kurang fleksibel untuk ekstensi yag akan dating
- Gradien keretatifannya rendah

2. Sistem Pompa
Sistem penyediaan air dengan pompa dapat dilakukan dengan reservoir
additional pada sistem ditribusi. Penyimpanan air di tangki layanan
digunakan sebagai cadangan untuk kebakaran, kebocoran atau jika terjadi
kekuatan pada ppipa. Reservoir juga digunakan untuk mengontrol tekanan
pada sistem distribusi.

3. Sistem Gabungan
Untuk sistem gabungan, kapasitas yang dibutuhkan di aliran dalam dan
luar lokasi dari unit penyimpanan biasanya ditentukan oleh topografi.
(Zwan.1989)




2.10.2. Karakteristik Pipa Distribusi
Pipa distribusi adalah pipa yang dimulai dari reservoir distribusi, tower
distribusi, atau pipa distribusi yang mensuplai air minum di daerah pelayanan.
Pipa distribusi terdiri dari distribusi jaringan pipa utama dan distribusi cabang
dari pipa utama dan menghubungkannya dengan pipa pelayanan.
Untuk pipa distribusi, maka pemilihannya harus berdasar pada :
a. Keamanannya terhadap tekanan dari dalam
b. Keamanannya terhadap tekanan dari luar
c. Diameter pipa harus cukup
d. Cocok untuk memenuhi kebutuhan
e. Kemungkinan pelaksanaannya sesuai dengan lingkungan
f. Tidak berpengaruh buruk terhadap kualitas air
(Ishibashi.1978)
2.10.3. Reservoir
Reservoir adalah bagian yang sangat penting dari sistem distribusi. Dareah
distribusi yang luas biasanya menggunakan lebih dari satu reservoir. Reservoir
biasanya berupa ground reservoir dan elevated reservoir.
(Zwan.1989)
Reservoir yang digunakan dalam rencana disesuaikan dengan kondisi
topografi dari daerah layanan. Untuk daerah layanan yang lebih tinggi, digunakan
pompa untuk mengalirkan air dari sumber menuju ke reservoir dengan elevasi
lebih tinggi dari daerah layanan, baru kemudian dialirkan secara gravitasi.
Kapasitas tersebut digunakan untuk mengaliri daerah layanan pada saat
pemakaian jam-jam puncak.
Reservoir dapat diletakkan di bermacam-macam tempat yaitu:
1. Reservoir di instalasi pengolahan air
Reservoir ini terletak antara supply (instalasi pengolahan air) dan demand
(stasiun pompa).
2. Reservoir di akhir sistem transmisi
Tanpa menggunakan reservoir pada akhir sistem transmisi, debit pada
transmisi harus mengikuti kebutuhan konsumen dan akan terjadi fluktuasi.
3. Reservoir di dekat konsumen
Reservoir yang diletakakan di dekat konsumen akan menyebabkan hal-
hal seperti berikut:
- Terjadi fluktuasi pemakaian air.
- Potensial terjadi kontaminasi pada air distribusi karena adanya
aliran balik.
(Zwan.1989)
2.10.4. SISTEM PEMOMPAAN
1. Tujuan
Pada sistem penyediaan air bersih, pompa digunakan dalam :
a. Intake
b. Sumur
c. Instalasi Pengolahan Air
d. Sistem distribusi air bersih
Tujuan penggunaan pipa adalah untuk memberikan head sesuai dengan
kebutuhan dan mengalirkan air dalam jumlah tertentu.
(Ishibashi.1978)

2.10.5. Faktor Desain Pipa
Dalam menentukan jenis pompa yang dibutuhkan, maka perlu diketahui
tentang faktor-faktor dibawah ini :
a. Kuantitas air per unit pompa.
b. Head pompa, dengan menggunakan rumus :
H = Hs + Hf + Hv + Hmin
Keterangan :
Hs = Head statis yaitu tekanan yang menunujukkan perbedaan
elevasi antara titik tertunggi di sistem distribusi dengan
stasiun pompa.
Hf = Head friksi yaitu tekanan yang diperlukan untuk mengatasi
energi yang hilang.
H min = Head minimum yaitu sisa tekanan minimal yang
dibutuhkan untuk mengalirkan air.
Head required yaitu tekanan pada stasiun pompa. Head ini
merupakan penjumlahan head statis, head friksi, dan head
minimum.
Head aktual yaitu tekanan yang disebbkan oleh pompa dan
merupakan penjumlahan dari head required dan head operasional.
Head operasional selisih antara head required dan aktual.
(Zwan.1989)
c. Daya Pompa dengan persamaan :
Data mengenai daya/energi yang tersedia diperlukan untuk
menentukan motor yang digunakan untuk menggerakkan pompa.
Penggunaan motor yang tidak sesuai dengan daya yang tersedia akan
mempengaruhi operasi pompa dan umur dari pompa maupun motor itu
sendiri.
Daya hidraulik adalah daya yang dimasukkan ke dalam air oleh rotor
atau torak pompa sehingga air tersebut dapat mengalir.
N
h
= 0,163 x Q x H x ¸
Keterangan :
H = tinggi angkat total (m)
Q = kasitas pompa (m
3
/menit)
¸ = berat spesifik (kg/liter)
Daya poros pompa (brake horse power) adalah daya yang harus
dimasukkan ke dalam poros pompa.
N
p
= N
h
/q
p
Keterangan :
N
h
= daya hidraulik pompa (Kwatt)
q
p
= efisiensi pompa
Daya motor penggerak pompa (N
m
) harus lebih besar dari pada
daya poros pompa, kelebihannya tergantung pada jenis motor dan
hubungan poros pompa dengan poros motor.

N
m
= N
p
x (1+A)/( q
p
x q
k
)
Keterangan :
N
p =
daya poros pompa (KWatt)
qp =
efisiensi pompa

A = faktor yang bergantung jenis motor
0,1 sampai 0,2 untuk motor listrik
0,2 untuk motor bakar besar
0,25 untuk motor bakar kecil
K = efisiensi hubungan poros, dengan nilai:
1 untuk poros yang dikopel langsung
Untuk menentukan besarnya efisiensi pompa dapat dilihat pada
grafik berikut ini:

Gambar 2.1 Grafik Efisiensi Pompa
2.10.6. Hubungan Pompa dan Sistem Disribusi Air
Hubungan ini terlihat pada perencanaan dan pengoperasian pompa. Design
pompa harus sesuai, agar dapat dioperasikan pada kapasitas yang telah
direncanakan. Pompa harus efisien dan menguntungkan, dimana membutuhkan
energi konsumsi rendah untuk kuantitas pengaliran dan dalam jangka waktu
pengoperasian yang lama.
Walaupun demikian, muatan pompa akan berubah seiring dengan variasi
kebutuhan air, terutama pada pemompaan secara langsung. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pengoperasian pompa pada sistem perpipaan adalah:
a. Ketika kebutuhan air meningkat, aliran air dalam pompa akan
meningkat dan pada waktu yang sama head pompa akan menurun.
b. Ketika kebutuhan air menurun, aliran pompa secara bertahap juga
menurun dan secara simultan head pompa akan naik.
c. Untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut, diperlukan fasilitas
lain untuk menaikkan atau menurunkan head tersebut dan
menyesuaikannya dengan variabel kecepatan pompa.
(Tambo.1999)
2.10.7. KEHILANGAN TEKANAN
Pengaliran lewat pipa disini, dimaksudkan untuk pipa hubungan seri,
dengan aliran “Steady Uniform Flow”. Sedangkan kehilangan energi pada pipa
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Mayor losses (pada pipa)
2. Minor losses (pada perubahan pipa, belokan, dsb).
Penggambaran sketsa EGL dan HGL seperti pada gambar 2.2 berikut ini:
Gambar 2.2 Sketsa EGL dan HGL pada Saluran Tertutup

Perhitungan debit yang lewat pada pipa adalah :
n
n
i
i
hf hf hf hf hf H + + + + = =
¿
=
...
3 2
1
1

keterangan : H = beda tinggi muka air di hulu dan di hilir pipa
i
hf = kehilangan energi ke-i

Maka perhitungannya adalah :
( )
g
V
X hf
2
2
1
1 1
× = , misal :
D
fx
X
1
1
= (headloss pada pipa)
( )
g
V
X hf
2
2
1
2 2
× =
( )
g
V
X hf
2
2
1
3 3
× =

( )
g
V
X hf
n n
2
2
1
× =
Semua kehilangan energi dibuat dalam koefisien
n
X X X ..., , ,
2 1
dikalikan
dengan
( )
g
V
2
2
. Hubungan antara
1
V ,
2
V ,
3
V dan seterusnya adalah
3 3 2 2 1 1
V A V A V A Q × = × = × = dan seterusnya.
( )
( )
1 1 1
2
2
1
2
2
1
2
1
2
1 1
2
25 . 0
25 . 0
V m V
D
D
D
V D
A
V A
V × = ×
(
¸
(

¸

=
×
× ×
=
×
=
( )
( )
1 2 1
2
3
1
2
3
1
2
1
3
1 1
3
25 . 0
25 . 0
V m V
D
D
D
V D
A
V A
V × = ×
(
¸
(

¸

=
×
× ×
=
×
=
D adalah diameter pipa yang telah diketahui, maka total Headlossnya
adalah
(Soeryono.1985)
( )
¿
=
× =
n
i
g
V
X H
1
2
1
1
2

Untuk menghitung tinggi air pada pipa kaca vertikal, hampir sama seperti
cara tersebut di atas, yaitu elevasi muka air di hulu pipa (reservoir atas) dikurangi
kehilangan energi dari awal sampai pada pipa kaca vertikal.
1. Mayor Losses (kehilangan energi primer)
Disebabkan oleh gesekan dengan dinding pipa.



Gambar 2.3 Kehilangan Energi Primer Akibat Gesekan
Berdasarkan persamaan Bernoulli pada titik 1 dan 2 :

g
V P
Z
g
V P
Z
2 2
2
2 2
2
2
1 1
1
+ + = + +
¸ ¸

Tabel 2.2 Perbandingan Titik 1 dan 2 pada Mayor Losses
Titik Kecepatan
Air
Tinggi
Elevasi
Tinggi
Tekan
Tinggi
Kecepatan
Penampang Energi
Losses
1 V
1
Z
1

¸
1
P

g
V
2
2
1

Z
1
-
2 V
2
Z
2

¸
2
P

g
V
2
2
2

Z
2
-
Sumber: (Soeryono.1985)
Sehingga akan didapat :
g
V
D
L f
hf
2
2
×
×
=
keterangan : hf = kehilangan energi
f = koefisien gesekan dinding pipa
D = diameter pipa
V = kecepatan aliran dalam pipa
Nilai f didapat dari diagram Moody, dengan terlebih dahulu dihitung
bilangan Reynoldnya (Re). Sehingga dapat ditentukan nilai f dari |
.
|

\
|
D
k
Re, .
v
D V ×
= Re
Dimana : V = kecepatan aliran dalam pipa
D = diameter
v = kekentalan zat cair
(Soeryono.1985)
2. Minor Losses (kehilangan energy sekunder)
Kehilangan energi sekunder ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, yang
dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Kehilangan energi pada awal pipa

g
V
k hf
2
2
× =
Keterangan : k = 0.5 untuk bentuk persegi/tegak
k = 0.05 untuk bentuk yang dibulatkan.





Gambar 2.4 Sketsa EGL dan HGL pada Awal Pipa Persegi/Tegak




Gambar 2.5 Sketsa EGL dan HGL pada Awal Pipa yang Dibulatkan


b. Kehilangan energi pada ujung pipa (akhir)

g
V
hf
2
0 . 1
2
1
× =

Gambar 2.6 Sketsa EGL dan HGL pada Ujung Pipa
(Soeryono.1985)
c. Kehilangan energy pada perubahan pipa (besar ke kecil)

( )
g
V V
k hf
2
2
2
2
1
÷
× =





Gambar 2.7 Sketsa EGL dan HGL pada Penyempitan Pipa

Jika aliran dalam pipa adalah steady uniform flow, maka berlaku
persamaan kontinuitas, yaitu :
2 2
A V A V Q
k k
× = × = , sehingga :
k k
k
C
V
A
V A
V
2 2 2
=
×
=
Keterangan :
( )
g
V V
hf
k
2
2
2
2
÷
=
sehingga :
g
V
C g
V
C
V
hf
k
k
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
×
(
¸
(

¸

÷ =
(
¸
(

¸

÷
=
jika : k
C
k
=
(
¸
(

¸

÷
2
1
1

maka :
g
V
k hf
2
2
2
× = , dan nilai k tergantung
1
2
A
A

Tabel 2.3 Harga Koefisien k Berdasarkan Weisbach
1
2
A
A


0.0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

1.0
k 0.5 0.48 0.45 0.41 0.36 0.29 0.21 0.13 0.07 0.01 0
Sumber: (Soeryono.1985)
d. Kehilangan energi pada perubahan pipa (kecil ke besar)

Gambar 2.8 Sketsa EGL dan HGL pada Pembesaran Pipa
Jika aliran dalam pipa adalah steady uniform flow, maka berlaku
persamaan kontinuitas, yaitu :

2 2 1 1
A V A V Q × = × =

( )
( )
2
2
1
2
1 2 2
4 1
4 1
D
V D
A
V A
V
k
k
×
=
×
=

1
2
2
2
V
D
D
V ×
|
|
.
|

\
|
=
dimana :
2 1
D D > , sehingga
2 1
V V > atau
g
V
g
V
2 2
2
2
2
1
>
Dari gambar, pada titik 1 dan 2 berlaku persamaan Bernaulli :

¿
+ + + = + + hf
g
V P
Z
g
V P
Z
2 2
2
2 2
2
2
1 1
1
¸ ¸

Karena jarak 1 dan 2 relatif kecil,
2 1
Z Z = maka
¿
+ + + = + + hf
g
V P
Z
g
V P
Z
2 2
2
2 2
2
2
1 1
1
¸ ¸

Persamaam impuls-momentum sebagai berikut :
( ) A P P × ÷
1 2
= ( )
2 1
V V Q ÷ × × µ
( )
1 2
P P ÷ = ( )
2 1
2
V V
A
Q
g
÷ × ×
¸


( )
¸
1 2
P P ÷
= ( )
2 1
2
V V
g
V
÷
Maka persamaan 2.20 dapat dirubah menjadi :
hf =
( )
g
V V P P
2
2
2
2
1 2 1
÷
+
÷
¸

=
( )
g
V V P P
2
2
2
2
1 1 2
÷
+
÷
÷
¸

=
( )
g
V V
g
V V V
2
2
2
2
1 2 1 2
÷
+
÷ ×
÷
=
( )
g
V V V
g
V V
2
2
2
2 1 2
2
2
2
1
÷ × ×
÷
÷

=
g
V V V V V
2
2 2
2
2 2 1
2
2
2
1
+ ÷ ÷

=
g
V V V V
2
2
2
2 2 1
2
1
+ ÷

hf =
( )
g
V V
2
2
2 1
÷

e. Kehilangan energi pada diafragma (orifice)

Gambar 2.9 Sketsa EGL dan HGL pada Diafragma

Pada gambar 2.9 tampak bahwa setelah air melewati diafragma, terjadi
kontraksi, kemudian ada pengurangan kecepatan secara mendadak
yang berarti terdapat kehilangan energi.
hf =
( )
g
V V
k
2
2
÷
dari penampang kecil ke besar
Jika aliran dalam pipa adalah steady uniform flow, maka berlaku
persamaan kontinuitas, yaitu :
1 1 0 0
A V A V A V Q
k k
× = × = × =
sehingga
k k
o
k
C
V
A
V A
V
0 0
=
×
=

dimana :
1 1 0 0
A V A V Q × = × =
0
1 1
0
A
V A
V
×
=

sehingga
0
1 1
0
1 1
A
A
C
V
C A
V A
V
k k
k
× =
×
×
=

maka kehilangan energi pada diafragma menjadi
hf
=
( )
g
V V
k
2
2
÷

=
g
V
A
A
C
V
k
2
2
0
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
÷
(
¸
(

¸

×

=
2
0
2
1
2
(
¸
(

¸

÷
×
×
A C
A
g
V
k

hf =
g
V
k
2
2
×

Untuk :
2
0
(
¸
(

¸

×
=
A C
A
k
k

untuk menentukan nilai k , dapat dilihat tabel dibawah ini.
1
2
A
A


0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

1.0
k
C
0.62 0.63 0.64 0.66 0.68 0.71 0.76 0.81 0.89 1.0
k 228.8 47.5 17.5 7.8 3.75 1.8 1.8 0.29 0.06 0
Sumber: (Soeryono.1985)

2.11. SISTEM PEMASANGAN PIPA
2.11.1. Pipa Hubungan Seri
Pada tiap-tiap pipa : panjang, diameter dan koefesien gesek dilambangkan
dengan l
1
,l
2
,l
3
,D
1
,D
2
,D
3
dan f
1
,f
2
,f
3
. Sedangkan kehilangan tekanan pada tiap
aliran dalam pipa dilambangkan dengan hf
1
,hf
2
,hf
3
. Jika dua buah kolam
dihubungkan oleh pipa-pipa tersebut dan beda tinggi kedua kolam diketahui, debit
air dapat dicari menggunakan persamaan kontinuitas dan energi Bernoulli.
Persamaan tersebut adalah:
Q = Q
1
= Q
2
= Q
3


Hf
1

Hf
2

H
1

D
1


D
2
D
3

L
1

L
2

L
3

H
2

H
Hf
3

Dan persamaan energinya adalah :

1
z +
3 2 1
2
2 2
2
2
1
2 2
hf hf hf
g
v
z
g
v
i
+ + + + + = +
¸
µ
¸
µ

Pada muka air kedua kolam P=P=P dan kecepatan V=V=O, sehingga
persamaan menjadi :
H= Z – Z = hf + hf + Hf

2.11.2. Pipa Hubungan Paralel






Gambar 2.10 Headloss pada Pipa
Pemasangan pipa bercabang biasannya digunakan pada system perpipaan
yang enghubungkan tiga atau lebih reservoir. Debit aliran melalui tiap pipa dapat
ditentukan oleh kemiringan garis tekanan masing-masing. Dan persamaan
kontinuitasnya adalah aliran yang masuk percabangan harus sama dangan aliran
yang keluar percabangan.
Headloss yang diakumulasi pipa dengan hubungan seri cenderung
mempunyai headloss yang besar bila ukuran pipa tidak sesuai dengan tekanan
yang dihasilkan.
(Soeryono.1985)
2.11.3. Jaringan Pipa
Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam jaringan pipa adalah :
a. Jumlah aljabar penurunan tekanan seputar tiap rangkaian harus
sama dengan nol.
b. Aliran ketiap cabang harus sama dengan aliran yang
meninggalkan
cabang.
Persamaan Darcy-Weisbach harus dipenuhi untuk tiap pipa yaitu
hubungan yang sesuai antara headloss dan debit.
(Soeryono.1985)
BAB III
METODOLOGI PERENCANAAN


3.1. TUJUAN OPERASIONAL
Tujuan operasional perencanaan sistem penyediaan air bersih di
Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali adalah :
3.1.1. Rencana Umum SPAM
1. Mengetahui daerah pelayanan non-perpipaan dan perpipaan.
2. Membuat rencana sistem pelayanan yang telah dikaitkan
dengan RUTRK dan kebijakan pemerintah, serta melihat
komposisi SR:HU dan tingkat pelayanaan/target MDGs.
3. Mengetahui kebutuhan air ( kebutuhan air eksisting dan
proyeksi pemakaian air domestik dan non demestik; kebocoran
air; debit air ( Qrata-rata, Qhari maksimum, Q jam puncak ).
4. Dapat menentukan sumber air baku.
5. Dapat membuat tiga alternatif sistem pengaliran air (gravitasi,
pompa atau kombinasi, mulai dari sumber air terpilih sampai
penentuan lokasi IPA, Reservoir Distribusi, dan pola jaringan
distribusi).
6. Dapat mencari alternatif sistem pengaliran.
7. Membuat skema sistem pengaliran terpilih.
8. Membuat peta layout sistem penyediaan air minum.
3.1.2. Membuat Desain SPAM
1. Membuat desain sistem penyadap/intake
2. Dapat menghitung dimensi bangunan penyadap/intake
3. Membuat gambar denah dan potongan bangunan penyadintake
4. Membuat desain sistem transmisi dan perlengkapannya
5. Dapat menghitung dimensi pipa transmisi dan bangunan
pelengkapnya (bak pelepas tekan)
6. Membuat gambar pipa dan bangunan pelengkap sistem
transmisi
7. Dapat menghitung dimensi sistem distribusi
8. Membuat gambar sistem distribusi
9. Membuat gambar detail junction
3.2. PENGUMPULAN DATA
Diperlukan data-data pendukung untuk menunjang pembuatan rencana
umum SPAM antara lain data administratif wilayah studi, peta wilayah studi,
jumlah penduduk wilayah studi minimal data 5 tahun terakhir, mengetahui sumber
air baku di wilayah tersebut, data sarana dan prasarana, data kependudukan, data
eksisting.
Tabel 3.2.1. Data Primer dan Metode Pengumpulan Data Primer
No. Data Primer Metode Pengumpulan Data
1. Data administratif Kabupaten Purworejo
pengambilan data di BAPPEDA
Purworejo
2. Peta wilayah studi, yang meliputi:
- peta topografi
- peta administrasi
pengambilan data di BAPPEDA
Purworejo
- peta tata guna lahan eksisting
- peta kontur
- peta tata guna lahan rencana
3.
Jml penduduk Kab Purworejo yang
meliputi jml penduduk di setiap Kec dan
di seiap Pengambilan data di BPS Purworejo
Kelurahan selama 5 tahun terakhir
4. Data sumber air baku pengambilan data di PDAM Purworejo
5. Data sarana dan prasarana
pengambilan data di BAPPEDA
Purworejo
6. Data eksisting pengambilan data di BAPPEDA
Purworejo
7.
Kondisi geografis, topografi, hidrologi,
klimatologi, tata guna lahan, geologi
8. RUTRK Kabupaten Purworejo
pengambilan data di BAPPEDA
Purworejo

3.3. PENGOLAHAN DATA
Data-data yang sudah diperoleh kemudian diolah sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai.
1. Peta wilayah studi, diolah agar dapat menentukan daerah
layanan. Daerah layanan dibuat boundary agar terlihat
batasannya dengan daerah-daerah lain.
2. Peta topografi dianalisis agar dapat melihat bentuk-bentuk
kenampakan bumi di wilayah studi untuk membuat desain
jaringan distribusi air minum.
3. Informasi dan data mengenai sumber air baku dianalisis dan
dipilih dari segi kualitas, kuantitas, dan kriteria yang sesuai,
agar dapat dijadikan sumber air baku pada wilayah studi.
4. Data jumlah penduduk diolah untuk dapat memproyeksikan
jumlah penduduk 15 tahun mendatang. Metode pengolahan
dapat menggunakan metode aritmatik, geometrik, maupun
eksponensial.
5. Data sarana dan prasarana yang ada di wilayah tersebut diolah
untuk dapat memperkirakan jumlah kebutuhan air wilayah
studi.

3.4. ANALISIS DATA
Untuk merencanakan sistem penyediaan air bersih suatu daerah yang
memenuhi syarat, yaitu air yang ada harus tersedia setiap saat dengan debit dan
tekanan yang mencukupi serta keamanan dan kualitas air sampai ke konsumen.
Secara umum kriteria perencanaan yang digunakan dalam perencanaan sistem
penyediaan air bersih meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Penentuan service area atau daerah pelayanan di sesuaikan dengan kondisi
setempat berdasarkan kepadatan penduduk.
2. Service lebel atau penyampaian air ke konsumen
Usaha pelayanan air bersih dilakaukan dengan dua cara yaitu sambungan
rumah dan hidran umum. Ketentuan perbandingan antara SR dan HU
dipertimbangakan sedemkian rupa, dimana faktor recovery cost
merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan.
3. Consumplan rate
Consumplan atau besarnya pemakaian perhari, tergantung jenis
sambungan seperti hidran umum dan sambungan rumah dari kalangan
kota, seperti kota kecil, kota sedang , kota metropolitan.
4. Pelayanan fasilitas non domestik
Pelayanan air bersih untuk fasilitas non domestik diperhitungkan besarnya
kebutuhan air untuk fasilitas pendidikan, perkantoran, niaga, maupun
fasilitas sosial.
5. Kebocoran atau kehilangan air
Dalam perencanaan kebocoran ditekankan seminimal mungkin dan untuk
standar kebocoran air diperhitungkan sebesar 20 % dari kebutuhan rata-
rata.
6. Fluktuasi pemakaian air
a.Pemakaian pada hari maksimum total = ( 1.10 – 1.25 ) x Q total
b.Pemakaian pada jam puncak = ( 1.75 – 2.00 ) x Q total
7. Pipa distribusi
Pengaliran air bersih kepada penduduk dilakukan dengan jaringan
perpipaan sistem loop, diperhitungkan dapat mengalirkan debit dengan
waktu pengaliran selama 24 jam / hari untuk memenuhi kebutuhan air.
8. Sistem tekanan dan kecepatan aliran dalam pipa
a.Tekanan statis maksimum sebesar = 60 m. k. a
b.Tekanan hidrolis sebesar = 15 m. k. a
9. Koefisien kekasaran pipa
Untuk memperhitungkan hidrolis, baik pipa tranmisi air baku, pipa
transmisi atau distribusi, koefisien kekasaran ( koefisien Hazen – William)
untuk pipa ialah sebesar 130.



3.4.1. Proyeksi Jumlah Penduduk
Perkembangan penduduk merupakan faktor yang memegang peranan
penting dalam perencanaan sistem penyediaan air bersih suatu kota. Dalam
proyeksi penduduk untuk tahun-tahun mendatang maka diperlukan suatu metode
pendekatan yang diperlukan sesuai karakteristik daerah yang ada. Analisis
proyeksi penduduk dapat dilakukan dengan beberapa metode yakni metode
aritmatik, geometrik dan eksponensial. Untuk menentukan metode yang tepat
dalam memproyeksikan jumlah penduduk dilakukan dengan cara membandingkan
nilai regresi linear dari tiap-tiap metode dalam perhitungan pertumbuhan
penduduk 5 tahun sebelumnya (2005-2010). Nilai regresi yang paling mendekati 1
(satu) atau yang paling besar sendiri menunjukkan bahwa perhitungan
petumbuhan penduduk tahun 2010-2023 akan menggunakan cara tersebut.
Setelah mendapatkan data penduduk selama lima tahun terakhir, langkah
berikutnya adalah membuat proyeksi penduduk sebanyak sepuluh tahun kedepan.
Ada empat metode yang digunakan untuk menentukan proyeksi penduduk yaitu
Metode Grafis yang terdiri dari :
1. Metode Grafis-Aritmatik
2. Metode Grafis- Logaritmik
3. Metode Least Square
Berikut ini penjabaran rumus dari ketiga metode untuk menentukan
proyeksi jumlah penduduk:
1. Metode Aritmatik
Pn=Po+rn
Keterangan : Pn = Jumlah penduduk pada tahun n
Po = Jumlah penduduk pada awal
n = periode perhitungan
r = angka pertambahan penduduk/th
rumus diatas diubah dalam bentuk regresi menjadi :


Keterangan : Pn = y = Jumlah penduduk pada tahun n
Po = b = koefisien
n = x = tahun penduduk yang akan dihitung
r = a = koefisien x
2. Metode Geometrik


Keterangan : Pn = Jumlah penduduk pada tahun n
Po = Jumlah penduduk pada awal
n = periode perhitungan
r = rasio pertambahan penduduk/th
rumus diatas diubah dalam bentuk regresi menjadi:
x a b y
n r Po Pn
log log log
log log log
+ =
+ =

Keterangan : log Pn = y = Jumlah penduduk pada tahun n
Log Po = b = koefisien
Log n = x = tahun penduduk yang akan dihitung
r = a = koefisien x
3. Metode Least Square
Perhitungan proyeksi penduduk dengan metode Least Square dapat
dihitung dengan rumus, yaitu sebagai berikut :
Pn = a + (bt)
Keterangan : t = tambahan tahun terhitung dari tahun dasar
Pn = Po + r n
Y = b + a x
Pn = Po ( 1 + r )
t
a = {(∑p)(∑t
2
)- (∑t)(∑ p.t )}/{n(∑t
2
)-(∑t)
2
}
b = {n(∑ p.t )-(∑t)(∑p)}/{n(∑t
2
)-(∑t)
2
}

Keterangan t = sebagai nomor data tiap tahun
p = jumlah penduduk
t
2
= sebagai nomor data tiap tahun dikuadratkan
p
2
= jumlah penduduk dikuadratkan
3.4.2. Daerah Perencanaan
Dalam penentuan daerah perencanaan tidak lepas dari peraturan/ kebijakan
pemerintah yang tertuang dalam peraturan pemerintah, kepadatan penduduk,
kondisi fisik daerah, serta RUTRK daerah perencanaan.
3.4.3. Sumber Air
Dalam memilih sumber air baku air bersih, maka harus diperhatikan
persyaratan utamanya yang meliputi kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan biaya
yang murah dalam proses pengambilannya.
3.4.4. Proyeksi Kebutuhan Air
Proyeksi kebutuhan air sangat tergantung pada pertambahan penduduk,
perkembangan kota dan fasilitas-fasilitas yang diperkirakan akan ikut berkembang
pula. Penggolongan kebutuhan air berdasarkan kelompok pemakaian dan
kebutuhannya :
1. Kebutuhan air untuk kebutuhan domestik
2. Kebutuhan air untuk kebutuhan non domestik
3. Kebutuhan air untuk fasilitas umum dan antisipasi kebocoran
3.4.5. Kebutuhan Air Untuk Keperluan Domestik
Sesuai dengan taraf hidup masyarakat dan jenis pemukiman di Kecamatan
Banyuurip, maka dapat dibagi menjadi :
a. Golongan mapan yang menempati rumah permanen
b. Golongan menengah yang menempati rumah semipermanen
c. Golongan rendah yang menempati rumah nonpermanen
Ketiga golongan ini akan terlayani oleh PDAM dengan sambungan yang
berbeda-beda. Semakin tinggi golongannya, maka tingkat kebutuhan airnya
semakin besar. Macam-macam sambungan PDAM pada rumah pelanggan adalah
sebagai berikut :
 Sambungan Rumah Langsung
Sambungan rumah (SR) digunakan oleh penduduk yang menempati rumah
permanen dan semipermanen.

 Hidran Umum
Hidran Umum (HU) disediakan untuk masyarakat yang menempati rumah
nonpermanen.
3.4.6. Kebutuhan Air Untuk Kebutuhan Non Domestik
1. Perkantoran
Kebutuhan air untuk daerah perkantoran disediakan untuk mencukupi
kebutuhan dan sanitasi serta keperluan karyawannya. Sehingga
kebutuhan air dikantor tergantung pada jumlah karyawan yang bekerja.
2. Pasar
Pemakaian air pada wilayah pasar hanya terbatas pada pemakaian
untuk keperluan sanitasi, sehingga dapat dianggap bahwa kebutuhan
air dikawasan pasar ini adalah tetap.
3. Sekolah
Sarana pendidikan terdiri dari TK, SD, SMP, dan SMA.
4. Rumah Sakit
Daya tampung dan kualitas pelayanan dari suatu rumah
sakit/puskesmas perlu diperhatikan.
5. Sarana Ibadah
Masyarakat membutuhkan air dalam jumlah yang berbeda-beda pada
setiap waktu. Hal ini menyebabkan terjadinya fluktuasi pemakaian air.


Dan besarnya pemakaian air tersebut dipengaruhi oleh :
a. Kebiasaan penduduk
b. Besarnya kelengkapan kota
c. Suhu atau cuaca
Mengenai fluktuasi pemakaian air terdapat empat macam pengertian,
yaitu:
1. Pemakaian sehari rata-rata (Qavg-day), pemakaian rata-rata dalam
sehari dan pemakaian setahun dibagi 365 hari.
2. Pemakaian sehari terbanyak (Qmax-day), pemakaian terbanyak dalam
satu hari dalam setahun.
3. Pemakaian sejam rata-rata (Qavg-hour), pemakaian rata-rata dalam
satu jam atau pemakaian satu hari dibagi 24 jam.
4. Pemakaian sejam terbanyak (Qmax-hour), pemakaian sejam terbesar
dalam sehari.
Faktor maksimum harian menyatakan perbandingan antara Qmax-day
terhadap Qavg-day, digunakan dalam sistem transmisi yaitu untuk menentukan
kapasitas maksimum harian. Kemudian Qmax-day ini digunakan sebagai acuan
dalam penentuan dimensi pipa transmisi dan instalasi serta pengolahan air baku.
Besarnya faktor maksimum harian pada setiap harinya tidak sama., hal ini
disebabkan karena dipengaruhi oleh suhu. Harga faktor maksimum harian pada:
- Daerah tropis = 1,1-1,5
- Daerah empat musim = 1,4-1,7
Faktor maksimum jam (fp) menyatakan perbandingan antara Qavg-hour
terhadap Qavg-day digunakan dalam sistem distribusi yaitu untuk menentukan
kapasitas maksimum jam. Qmax-hour digunakan sebagai acuan dalam penentuan
dimensi pipa distribusi. Besarnya faktor maksimum jam dipengaruhi oleh
pemakaian secara bersamaan oleh penduduk. Sehingga harga faktor maksimum
jam pada:
- Daerah tropis = 1,5-2 ,5
- Daerah empat musim = 1,7-3
Berdasarkan Draft Guidelines For Design and Construction of Public
Supply System In Indonesia, faktor maksimum (fh) untuk kota kecil sebesar 1,3,
untuk kota sedang bernilai 1,5, dan untuk kota besar bernilai 2,0.


Survey Data
Topografi Jumlah Penduduk
 Proyeksi
Penduduk
Sarana &
Prasarana
Wilayah
Peta Jalan
Arah
Aliran
Blok
Pengaliran
Kebutuhan
Air
Debit Air
Volume
Reservoir
Dimensi
Perpipaan
F FI IN NI IS SH H
S ST TA AR RT T
Headloss
Sesuai
Kriteria





















Gambar 1.1 Proses Pengerjaan Sistem Penyediaan Air Bersih

BAB IV
GAMBARAN UMUM DAERAH PERANCANGAN


4.1.UMUM
Dalam merencanakan jaringan distribusi air minum, kita harus
mengetahui terlebih dahulu gambaran umum daerah perencanaan yaitu
Kecamatan Boyolali yang di tinjau dari aspek fisik meliputi posisi geografi, batas-
batas administrasi, kondisi iklim, topografi, hidrologi dan geohidrologi serta tata
guna lahan, keberadaan sumber mata air yang ada saat ini. Di samping itu juga
ditinjau dari aspek sosial ekonomi yang kesemuanya akan diperlukan untuk
mendukung perencanaan penyediaan air bersih pada daerah pelayanan.Kecamatan
Boyolali merupakan salah satu kecamatan di antara 13 kecamatan lain yang ada
di Kabupaten Boyolali.
4.2.ASPEK FISIK
4.2.1. Letak Geografis dan Luas Wilayah
Kecamatan Boyolali terdiri dari 6 desa, 3 kelurahan dan berpenduduk
59.237 (tahun 2008), terdiri dari 29.008 jiwa penduduk laki-laki dan 30.149 jiwa
penduduk perempuan. Kecamatan Boyolali dengan luas wilayah 26.251 km
2

berarti mempunyai kepadatan penduduk 2.257 jiwa/km
2
sedangkan jumlah rumah
tangganya 16.670 rumah tangga.
Kecamatan Boyolali memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
+ Sebelah Utara : Kabupaten Semarang
+ Sebelah Timur : Kecamatan Mojongsongo
+ Sebelah Selatan : Kecamatan Mojongsongo
+ Sebelah Barat : Kecamatan Musuk, Cepogo, dan Kecamatan
Ampel



Tabel 4.1 Luas Kelurahan Wilayah Kecamatan Boyolali
No KELURAHAN LUAS (Ha)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
162,0
149,9
120,0
541,0
527,0
251,0
319,0
315,6
239,0
Sumber : Desa / Kelurahan
4.2.2. Topografi
Kecamatan Boyolali terletak pada ketinggian 400-700 m dari permukaan
air laut dan tanahnya miring dari barat ke timur kurang lebih 50°.
4.2.3. Sumber Daya Alam
Luas kecamaan Boyolali adalah 2.625,1 Ha dengan rincian sebagai
berikut:
1. Tanah sawah : 295,7 Ha
2. Tanah tegal / ladang : 908,1 Ha
3. Tanah pekarangan : 1.219,2 Ha
4. Lain-lain : 191,2 Ha
Kecamatan Boyolali beriklim sedang dengan sungai-sungai kecil yang
hanya mengalir pada musim penghujan. Raa-rata perbulan curah di Kecamatan
Boyolali pada tahun 2008 adalah 2.075 Mm dengan rata-rata hari hujan perbulan
137 Hh.
Tabel 4.2 Banyaknya Hari Hujan dan Curah Hujan Menurut Bulan
di Kec. Boyolali Tahun 2008
No Bulan
Hari Hujan Curah Hujan
(Hari) (MM)
1 Januari 14 278
2 Pebruari 23 486
3 Maret 21 603
4 April 11 119
5 Mei 5 22
6 Juni 2 22
7 Juli 2 70
8 Agustus - -
9 September - -
10 Oktober 18 339
11 Nopember 22 302
12 Desember 19 464
Jumlah 95 1.865
Sumber: Desa / Kelurahan

4.2.4. Geologi
Jenis tanah yang ada di kecamatan Boyolali meliputi tanah Alluvial,
Rogosol. Gromosol, dan Mediteran.
4.2.5. Tata Guna Lahan
Berdasarkan penggunaannya, tata guna lahan di kelurahan-kelurahan yang
ada di kecamatan Boyolali adalah sebagai berikut :




Tabel 4.3 Luas Wilayah dan Penggunaan Tanah (Ha)
di Kec. Boyolali Tahun 2008
No Kelurahan
Luas Wilayah dan Penggunaan Tanah (Ha)
Luas Wilayah Tanah Sawah Tanah Kering
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
162,0
149,9
120,0
541,0
527,0
251,1
319,5
315,6
239,0
-
-
-
-
-
43,7
34,0
173,0
45,0
162,0
149,9
120,0
541,0
527,0
207,4
285,5
142,6
194,0
Jumlah 2.625,1 295,7 2.329,4
Sumber : Distanbunhut. Kabupaten Boyolali
Tabel 4.4 Luas Tanah Sawah (Ha) Menurut Sistem Pengairan
di Kec. Boyolali Tahun 2008
No Kelurahan
Irigasi
Teknis
Irigasi ½
Teknis
Sederhana
Tadah
Hujan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
-
-
-
-
-
81,3
29,4
-
-
-
-
-
43,7
34,0
25,7
14,5
-
-
-
-
-
-
66,0
-
-
-
-
-
-
-
43,7
34,0
173,0
45,0
Jumlah 110,7 117,9 66,0 295,7
Sumber : Desa / Kelurahan
Tabel 4.5 Luas Tanah Kering (Ha) Menurut Pemggunaannya
di Kec. Boyolali Tahun 2008
No Kelurahan
Bangunan /
pekarangan
Tegal /
kebun
Hutan
Negara
Lainnya
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
17,8
105,0
107,6
171,4
166,6
108,7
169,0
122,6
160,5
-
18,4
-
361,1
325,6
80,8
97,9
12,0
12,3
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
12,0
Jumlah 1.219,2 908,1 - 12,0
Sumber : Desa / Kelurahan
4.3. ASPEK SOSIAL
4.3.1. Kependudukan
Penduduk merupakan indikator untuk melihat dan mengkaji sampai sejauh
mana kecenderungan pertumbuhan dan perkembangan di wilayah perencanaan.
Pada studi tugas ini dilakukan studi perencanaan di Kecamatan Boyolali.
Penduduk Kecamatan Boyolali tersebar ke dalam 9 kelurahan dengan
konsentrasi penduduk terbesar berada pada Kelurahan Siswodipuran. Kelurahan
Kebonbimo memiliki jumlah penduduk terkecil dibandingkan desa atau kelurahan
lainnya.
Pada tahun 2008 jumlah penduduk di kecamatan Boyolali berjumlah
59.237 jiwa yang terdiri dari 29.008 jiwa laki-laki dan jumlah perempuan
sebanyak 30.149 jiwa dengan perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan (sex
ratio) sebesar 96.48%.
Jumlah penduduk tiap-tiap desa atau kelurahan di Kecamatan Boyolali
pada tahun 2007 disajikan dalam Tabel 4.6
Tabel 4.6 Jumlah Penduduk Kec. Boyolali Th.2008
No KELURAHAN JML PENDUDUK (Jiwa)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
8.665
9.097
7.935
6.269
5.232
6.562
7.074
5.402
3.001
Sumber : Statistik Kecamatan Boyoalali
4.3.2 Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk di Kecamatan Boyolali berdasarkan data
tahun 2008 menunjukkan bahwa Kelurahan Banaran memiliki tingkat
kepadatan yang tertinggi yaitu sebesar 6.613 jiwa/Km2. Kepadatan
terendah ada di Desa Penggung yaitu sebesar 993 jiwa/Km
2
.
Tabel 4.7 Jml Penduduk dan Kepadatan Kec. Boyolali Th. 2008
No Kelurahan Jml. Pend
Luas wilayah
(0,00 Km
2
)
Kepadatan
Tiap Km
2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
8.665
9.097
7.935
6.269
5.232
6.562
7.074
5.402
3.001
162,0
149,9
120,0
541,0
527,0
251,0
319,0
315,6
239,0
5.349
6.069
6.613
1.159
993
2.613
2.214
1.712
1.256
Sumber : Statistik Kecamatan Boyoalali
4.4.SARANA DAN PRASARANA
4.4.1. Fasilitas Pendidikan
Karena semakin besarnya kebutuhan akan fasilitas pendidikan di masa
mendatang, maka diperkirakan di setiap kelurahan telah memiliki fasilitas
pendidikan yang lengkap, mulai dari TK hingga SMU, Mengingat banyaknya
jumlah penduduk Kecamatan Boyolali, maka Kecamatan tersebut memiliki
fasilitas pendidikan yang cukup.
Tabel 4.8 Fasilitas Pendidikan Kecamatan Boyolali Th. 2007
No. Jenis Fasilitas Pendidikan Jumlah
1.
2.
3.
4.
Taman Kanak-kanak (TK)
Sekolah Dasar (SD)
Sekolah Lanjutan Tingkat I (SLTP)
Sokolah LAnjutan Tingkat Atas (SLTA)
48
44
9
13
Jumlah 114
Sumber :BPS Kecamatan Boyolali 2008
4.4.2. Fasilitas Peribadatan
Di Kecamatan Boyolali terdapat fasilitas peribadatan yang lengkap seperti
masjid, mushola, gereja dan kuil/vihara. Namun karena umumnya penduduk di
Kecamatan Boyolali adalah beragama Islam, maka mayoritas fasilitas peribadatan
yang ada terdiri dari masjid dan musholla.
Tabel 4.9 Fasilitas Peribadatan Kecamatan Boyolali Th. 2008
No. Jenis Fasilitas Peribadatan Jumlah
1.
2.
3.
4.
Masjid
Surau/Mushola
Gereja
Kuil/Vihara
118
182
16
2
Jumlah 283
Sumber : Desa / Kelurahan

4.4.3. Fasilitas Kesehatan
Berdasarkan jumlah penduduk dan tingkat perekonomian. maka fasilitas
kesehatan yang ada di Kecamatan Boyolali sesuai dengan tabel di bawah ini.
Tabel 4.10 Fasilitas Kesehatan Kecamatan Boyolali Th. 2008
No. Jenis Fasilitas Kesehatan Jumlah
1.
2.
3.
4.
Rumah Sakit Umum & swasta
Puskesmas
Rumah Sakit Bersalin/BKIA
Poliklinik
4
6
1
4
Jumlah 24
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali 2008
4.4.4. Fasilitas Ekonomi
Fasilitas ekonomi yang ada di Kecamatan Boyolali meliputi toko,
pasar/pusat perdagangan, dsb. Berdasarkan faktor perekonomian, Kecamatan
Boyolali masih memiliki pasar tradisional.
Tabel 4.11 Fasilitas Ekonomi Kecamatan Boyolali Th. 2008
No. Jenis Fasilitas Ekonomi Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Pasar
Toko / Kios
Restoran / Rumah Makan / Kedai
Hotel Penginapan
Koperasi
Bank
Badan Perkreditan
9
941
192
8
21
6
1
Jumlah 1150
Sumber : Potensi Desa / Kelurahan
4.4.5. Fasilitas Pelayanan Utilitas
1. Jaringan Air Bersih/ Air Minum.
Kebutuhan air bersih untuk konsumsi penduduk di kecamatan Boyolali
sebagian masih berupa sumur, mata air dan sungai. Perpipaan yang
merupakan fasilitas/sarana penyaluran penyedia air bersih /air minum ke
penduduk diusahakan melalui swakelola masyarakat yang ada di
kecamatan Boyolali.
Tabel 4.12 Banyaknya Pelanggan PDAM di Kec. Boyolali Tahun 2008
No Kelurahan
Jumlah Rumah
Tangga
Jumlah Pelanggan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
2.573
3.231
1.947
1.513
1.409
1.678
1.934
1.507
878
1.995
2.664
877
214
645
-
2.168
-
-
Jumlah 16.670 8.564

2. Jaringan Listrik
Pemanfaatan listrik dari PLN untuk penerangan dan kebutuhan listrik
lainnya sudah ada di seluruh wilayah Kecamatan Boyolali. Jaringan listrik
yang dialirkan melalui kabel udara dengan tiang tiang listrik. Penggunaan
listrik ini sudah dilengkapi dengan meteran listrik tiap tiap pelanggan.



Tabel 4.13 Banyaknya Pelanggan Listrik di Kec. Boyolali Tahun 2008
No Kelurahan
Jumlah Rumah
Tangga
Jumlah Pelanggan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pulisen
Siswodipuran
Banaran
Winong
Penggung
Kiringan
Karanggeneng
Mudal
Kebonbimo
2.573
3.231
1.947
1.513
1.409
1.678
1.934
1.507
878
2.789
3.391
2.084
1.589
1.191
1.520
1.787
1.281
809
Jumlah 16.670 8.564

BAB V
ANALISA DATA DAN DESAIN SISTEM PENYEDIAAN
AIR BERSIH DI KECAMATAN BOYOLALI


Setiap tahun, jumlah kebutuhan air bersih akan meningkat seiring dengan
pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas manusia. Demikian juga dengan
perubahan gaya hidup masyarakat, akan meningkatkan kebutuhan air bersih. Hal
ini membuat perencanaan kebutuhan air akan berbeda dalam setiap tahunnya.
5.1. Proyeksi Penduduk
Pertumbuhan penduduk merupakan dasar penentuan kebutuhan air di suatu
wilayah. Karena itu, pertumbuhan penduduk harus diproyeksikan terlebih dahulu
sebelum merencanakan kebutuhan airnya. Untuk itu, terdapat bermacam-macam
metode.
Beberapa metode yang sering dipakai diantaranya adalah metode
aritmatika, metode logaritmik, dan metode eksponensial. Dari ketiga metode ini,
dipilih metode yang paling tepat. Penentuan metode ini dilakukan dengan cara
membandingakan nilai regresi linear dari tiap-tiap metode dalam perhitugan
pertumbuhan penduduk 5 – 6 tahun sebelumnya. Nilai regresi yang paling besar
menunjukkan bahwa perhitungan pertumbuhan penduduk menggunakan metode
tersebut paling mendekati linier, maka proyeksi penduduk tahun 2008 – 2030
akan menggunakan cara tersebut.
Adapun tiga metode yang digunakan untuk menentukan proyeksi
penduduk yaitu :
1. Metode Aritmatik
2. Metode Geometrik
3. Metode Least Square
Penentuan metode proyeksi dapat dilakukan dengan pengujian angka
korelasi, dimana metode yang dipilih adalah yang mendekati atau sama dengan 1.
Adapun rumus korelasi yaitu :
r = n ( ∑xy ) - ( ∑x ) ( ∑y )
{ ( n ( ∑y² ) - ( ∑y )² ) x ( n ( ∑x² ) - ( ∑x )² ) }½

Hasil perhitungan proyeksi penduduk untuk tahun 2008 – 2030
ditampilkan dalam tabel 5.1.

Tabel 5.1 Hasil Perhitungan Proyeksi Penduduk Kec Boyolali
Tahun 2008 – 2030
NO TAHUN
JUMLAH
PENDUDUK (JIWA)
1 2008 59.237
2 2009 59.634
3 2010 60.017
4 2011 60.400
5 2012 60.783
6 2013 61.167
7 2014 61.550
8 2015 61.933
9 2016 62.316
10 2017 62.699
11 2018 63.083
12 2019 63.466
13 2020 63.849
14 2021 64.232
15 2022 64.615
16 2023 64.999
17 2024 65.382
18 2025 65.765
19 2026 66.148
20 2027 66.531
21 2028 66.915
22 2029 67.298
23 2030 67.681


5.2. PENDEKATAN TEKNIS STUDI
Untuk perencanaan sistem penyediaan air minum Kecamatan Boyolali
berdasarkan kriteria penyediaan air minum, dipertimbangkan juga keadaan
kondisi setempat.
Tabel 5.2
Kriteria Penyediaan Air Minum
No Jenis Kota Jumlah Penduduk(jiwa) Kebutuhan Air
Domestik rata-rata
(l/j/h)
1
2
3
4
5
Metropolitan
Kota besar
Kota sedang
Kota kecil
Kota kecamatan
P > 1.000.000
500.000 < P < 1.000.000
100.000 < P < 500.000
20.000 < P < 100.000
P < 20.000
190
170
150
130
100
Sumber : Dirjen Cipta Karya

5.3. DASAR PERENCANAAN
5.3.1. Dasar Perencanaan
Sistem penyediaan air minum yang direncanakan untuk Kecamatan
Boyolali meliputi perencanaan garis besar untuk dapat melayani kebutuhan
penduduk yang tersebar di delapan belas desa sampai dengan tahun 2030 .
Daerah pelayanan untuk distribusi air bersih secara garis besar melayani 9
desa. Pembagian wilayah dibagi menjadi 3 blok, dapat dilihat pada tabel berikut
meliputi.

Tabel 5.3.1 Pembagian Kecamatan Boyolali Per Blok
No Blok Desa/ Kelurahan
1 I Pulisen, Siswodipuran, Banaran, Karanggeneng
2 II Mudal, Kebonbimo
3 III Winong, Penggung, Kiringan

Gambar pembagian blok Kecamatan Boyolali terdapat dalam lampiran.
Proyeksi Kebutuhan Air per Blok Kecamatan Boyolali tahun 2030 terdapat dalam
lampiran.
5.3.2. Tingkat Pelayanan
Tingkat pelayanan yaitu seluruh kelurahan di Kecamatan Boyolali dengan
jumlah penduduk yang dilayani berdasarkan program pemerintah yang tercantum
pada RUTK Kecamatan Boyolali. Direncanakan tingkat pelayanan pada tahun
2030 adalah 96%.
5.4. KEBUTUHAN AIR BERSIH
Pelayanan air bersih pada 9 desa di Kecamatan Boyolali, Boyolali
meliputi kebutuhan domestik dan kebutuhan non domestik. Jumlah kebutuhan
domestik ditentukan berdasarkan proyeksi penduduk dari tahun 2008 sampai
2028. Sedangkan kebutuhan nondomestik ditentukan berdasarkan tingkat
perekonomian serta perkiraan jumlah fasilitas umum dan perdagangan yang
menunjang di kedua wilayah perencanaan tersebut hingga tahun 2030.
Perencanaan tingkat pelayanan pada Kecamatan Boyolali berdasar pada
peraturan MDGs yang menyatakan pada tahun 2015 tingkat pelayanan pada
daerah pedesaan harus mencapai 65%.
Dalam pelayanan kebutuhan air minum tersebut diperkirakan bahwa
kehilangan atau kebocoran air yang terjadi pada sistem penyediaan air bersih
dapat terjadi pada :
a. Transmisi, kemungkinan adanya kebocoran pipa atau pencurian oleh
penduduk.
b. Distribusi, kebocoran pipa ataupun pencurian oleh penduduk.
Untuk mengatasi kehilangan air oleh faktor-faktor tersebut, maka perlu
koreksi dengan kapasitas produksi sebesar beberapa persen dari kebutuhan air
untuk domestik dan non domestik. Kehilangan air di Indonesia umumnya adalah
berkisar 10-60% dari total kebutuhan air. Sedangkan di Kecamatan Boyolali,
Boyolali 20% pada tahun 2008 dan 20% pada tahun 2030. Sistem penyediaan air
bersih Kecamatan Boyolali dilakukan sampai dengan tahun 2030 dengan
berpedoman pada RUTRK Kabupaten Boyolali. Perencanaan ini sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Proyeksi penduduk
b. Asumsi kebutuhan air untuk kepentingan domestik dan non domestik
c. Asumsi kehilangan air yang di produksi, di instalasi, dan di distribusi.
d. Fluktuasi pemakaian air
e. Data pendukung lain, seperti daerah pelayanan dan tata guna lahan.

5.5. PROYEKSI KEBUTUHAN AIR BERSIH
Untuk sistem perpipaan, kebutuhan air dibagi sesuai dengan jenis
klasifikasi konsumen dan macam kebutuhannya, selanjutnya dibagi ke dalam
kelompok sebagai berikut:
a. Kebutuhan air domestik meliputi sambungan rumah dan hidran
umum.
b. Kebutuhan air non domestik meliputi pendidikan, peribadatan,
kesehatan, perdagangan, dll.
c. Kehilangan air (kebocoran).
d. Kapasitas produksi.
e. Kebutuhan maksimum
5.5.1. Kebutuhan Air Domestik
Kebutuhan air bersih domestik meliputi kebutuhan sambungan rumah (SR)
dan hidran umum (HU). Pada tahun 2008 SR sebesar 70% dan HU sebesar 30%,
sedangkan pada tahun 2030 untuk SR 96% dan HU 4%.
Kebutuhan air untuk perorang untuk sambungan rumah adalah 110
L/org/hari pada tahun 2008 dan pada tahun 2030 adalah tetap 100 L/org/hari. Satu
sambungan melayani satu rumah tangga yang diperkirakan setiap rumah terdiri
dari 5 jiwa. Sehingga kebutuhan air sambungan rumah untuk tahun 2030
Kecamatan Boyolali adalah 94 L/detik.
Pelayanan hidran umum pada tahun 2008 adalah 70% dan menjadi 7%
pada tahun 2030. Satu sambungan HU melayani 100 jiwa, sehingga kebutuhan air
Hidran umum tahun 2030 adalah 0 L/detik.
Kebutuhan air domestik total untuk tahun 2030 Kecamatan Boyolali
adalah 94 L/detik.
Untuk proyeksi kebutuhan air Kecamatan Boyolali 2008-2030 dapat
dilihat pada tabel lampiran.
5.5.2. Kebutuhan Air Non Domestik
Kebutuhan air bersih non domestik meliputi kebutuhan :
1. Fasilitas sosial, meliputi:
a Pendidikan, yang terdiri dari tingkatan TK sampai SLTA yang
mempunyai kebutuhan air pada tahun 2008 adalah 19 L/dtk
dan pada tahun 2028 kebutuhan air untuk pendidikan 22 L/dtk.
b Kesehatan, yang terdiri dari Puskesmas, Puskemas Pembantu,
Poliklinik desa, dan Posyandu. Semua fasilitas kesehatan
tersebut membutuhkan air pada tahun 2008 sebesar 0,231 L/dtk
sedangkan kebutuhan air untuk fasilitas tersebut pada tahun
2030 sama yaitu 0,264 L/dtk.
c Tempat ibadah, yang terdiri dari masjid, musholla, pondok
pesantren. Kebutuhan air untuk tempat ibadah tahun 2008
adalah 3,681 L/det dan pada tahun 2030 meningkat menjadi
4,205 L/dtk.
Untuk kebutuhan air non domestik secara lengkap dapat dilihat pada tabel
lampiran.
5.5.3. Kebutuhan Air Maksimum dan Kebutuhan Jam Puncak
Kebutuhan hari maksimum di Kecamatan Boyolali tahun 2008 yaitu
52,034 L/detik dan pada tahun 2030 meningkat menjadi 175,664 L/detik.
Sedangkan kebutuhan jam puncak tahun 2008 adalah 73,714 L/detik dan
tahun 2028 meningkat menjadi 248,857 L/detik.
Untuk lebih lengkap dapat dilihat pada tabel lampiran.
5.5.4. Perhitungan Kebutuhan Air per Blok
Setelah mendapatkan jumlah penduduk tahun 2029 dari hasil proyeksi,
maka langkah selanjutnya adalah menghitung kebutuhan air total satu kecamatan
(terlampir), menentukan blok pelayanan dan kemudian menghitung kebutuhan air
tiap blok tersebut (terlampir).
Berikut ini akan diberikan contoh perhitungan kebutuhan air di blok I
Kecamatan Boyolali Kabupaten Boyolali.
1. Penduduk
Diketahui jumlah penduduk blok I tahun 2030 = 32771
Tingkat pelayanan dari sistem penyediaan air minum adalah 96 %.
Maka jumlah penduduk yang terlayani adalah = 96% x 32771
= 31460,16
~ 31460 jiwa
Asumsi satu keluarga terdiri dari 5 jiwa, maka jumlah keluarga
terlayani :
31460 : 5 = 6292 KK
2. Kebutuhan Air Domestik
Dari 6292 KK yang terlayani, pelayanan dibedakan menjadi
Sambungan Rumah (SR) dan Hidran Umum (HU) dengan
perbandingan 96% : 4%
Sehingga jumlah yang terlayani untuk :
 SR
96% x 6292 : 5 = 1208 unit
 HU
4% x 6292 : 100 = 2
3. Kebutuhan Air Non Domestik
a. Pendidikan
Terdapat 58 unit yang meliputi TK, SD, SMP dan 12 unit SLTA.
Jika kebutuhan airnya adalah 50 l/s dan 80 l/s, maka total
kebutuhan airnya adalah 130 l/s.
b. Peribadatan
Pada blok 1, total sarana peribadatan berjumlah 158 unit dengan
kebutuhan airnya dianggap sama untuk setiap jenis tempat
ibadahnya. Kebutuhan airnya yaitu 1000 l/orang/hari.

5.5.5. Sumber Air Baku Daerah Pelayanan
Sistem penyediaan air minum yang direncanakan untuk Kecamatan
Boyolali menggunakan sumber air baku dari sungai untuk memenuhi kebutuhan
airnya, dengan debit 12 L/s.
5.5.6. Alternatif Sistem Pengaliran Air
Alternatif sistem pengaliran air pada perencanaan ini menggunakan sistem
gravitasi. Adapun skema rancangan penyediaan air bersih Kecamatan Boyolali
adalah sebagai berikut :









5.6. DESAIN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH
5.6.1. Sistem Transmisi
1. Pemilihan Sistem Transmisi
Sesuai dengan deskripsi daerah dan profil muka tanah yang ada, serta
pertimbangan fungsional dan ekonomis untuk satu periode desain, maka
dipilih sistem perpipaan yang memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan
dengan sistem lainnya. Kelebihan transmisi dengan sistem perpipaan
antara lain adalah :
Sumber Air
Pengolahan Air
Reservoir
Transmisi Distribusi
 Kecepatan tinggi karena aliran berada di bawah tekanan.
 Dapat dioperasikan tanpa gangguan.
 Dilihat dari segi konstruksi, pemasangan pipa relatif lebih mudah
dibandingkan dengan membuat saluran terbuka atau aquaduct.
Untuk memilih pipa yang akan digunakan, perlu pertimbangan :
 Kekuatan pipa, baik dari tekanan dalam maupun luar pipa.
 Bahan pipa.
 Mempunyai sedikit gangguan pada pengoperasiannya.
 Harga.
 Kapasitas.
Jenis-jenis pipa yang biasa digunakan adalah :
- Pipa besi (Cast Iron Pipe / CIP), dapat digunakan selama kurang
lebih 100 tahun. Kelemahan pipa ini adalah mudahnya terkena
korosi sehingga akan menimbulkan penipisan pipa dan menambah
kekasaran pipa.
- Pipa baja (Steel Pipe), digunakan untuk air dengan tekanan tinggi
dan dengan keperluan besar (diameter besar). Harga lebih murah
dibandingkan dengan pipa besi, di samping itu lebih kuat dan lebih
mudah ditransportasikan.
- Pipa beton, tidak akan terkena korosi dan tidak akan kehilangan
energi hidrolis seiring dengan bertambahnya waktu, dan dapat
digunakan sampai 75 tahun.
- Pipa plastik, biasa digunakan untuk plambing domestik. Lebih
mudah ditangani, lebih ringan dan lebih murah dibandingkan
dengan jenis pipa lainnya.
- Pipa asbestos cement (ACP), bagian dalam pipa sangat licin dan
mempunyai karakter hidrolik yang sangat baik. Kelemahannya
adalah sifatnya yang karsinogen.

Dengan pertimbangan di atas, maka digunakan pipa baja yang memiliki
koefisien kekasaran (c) antara 90 – 130. Untuk perhitungan sistem transmisi ini,
digunakan nilai c sebesar 130 agar perhitungan dapat digunakan sampai tahun ke
15 masa perencanaan yaitu tahun 2023.
2. Dasar-dasar Perencanaan
Di dalam dasar perencanaan sistem transmisi, ada beberapa hal yang
harus diketahui sebelum menentukan dimensi pipa, antara lain :
a. Debit.
Desain penyediaan air bersih menggunakan Qmax day, yaitu debit
kebutuhan yang tertinggi pada satu hari dalam satu tahun.
b. Kecepatan aliran.
Kecepatan aliran yang terlalu tinggi akan merusak pipa karena gesekan
antara padatan (pasir) yang terbawa aliran dengan dinding pipa. Sebaliknya,
aliran yang terlalu pelan akan menimbulkan masalah pada endapan yang
mungkin terjadi di dalam pipa. Aliran yang terlalu pelan memerlukan
diameter pipa yang lebih besar (investasi lebih mahal).
c. Perlengkapan pipa.
Yang dimaksud di sini adalah bangunan dan perlengkapan pipa yang
diperlukan dalam sistem, antara lain :
- Gate Valve
Fungsinya untuk mengatur debit aliran dan memungkinkan untuk
pemeriksaan, pemeliharaan serta perbaikan. Dipasang pada
percabangan pipa, awal atau akhir saluran dan pemasangannya tiap
jarak 304,8 – 457,2 m.
- Blow Off
Berfungsi untuk menguras kotoran dan endapan dalam pipa, juga
sangat diperlukan dalam keadaan darurat, misalnya saat pipa akan
terputus. Pemasangannya pada bagian terendah / tekanan terendah
dari jalur pipa.

- Air Valve
Berfungsi untuk mengeluarkan udara yang terakumulasi dalam pipa.
Udara yang terakumulasi dalam pipa dapat disebabkan perhitungan
desain yang kurang baik, dekatnya jarak inlet dan permukaan debit
minimum, turbulensi aliran dan kemiringan yang terlalu tinggi.
Pemasangannya umumnya pada pipa elevasi tertinggi atau pada
lokasi dimana kemiringan lintasan berubah menjadi lebih curam.
- Bend
Sambungan pipa untuk belokan.
- Jembatan Pipa
Apabila sistem perpipaan melewati medan berupa lembah atau
sungai maka harus dibangun jembatan khusus untuk pipa atau dapat
juga dengan pemanfaatan jembatan yang sudah ada dengan
mempertimbangkan perubahan konstruksi pondasi.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan rinci jembatan
pipa adalah :
1. Konstruksi jembatan diperhitungkan dengan beban pipa dalam
kondisi yang terisi penuh.
2. Pipa yang digunakan adalah pipa baja.
3. Sambungan pada kedua ujung memiliki fleksibilitas untuk
mencegah resiko kerusakan pipa akibat deformasi dari jembatan,
yaitu dengan memasang expansion joint.
- Expansion Joint
Fungsinya untuk mengatasi kemungkinan adanya pergerakan pipa
akibat penyusutan atau pemuaian pipa karena perubahan temperatur.
- Flexible Joint
Dipasang di antara dua pipa yang diragukan kestabilan posisinya
satu sama lain atau untuk sambungan pipa pada belokan dengan
sudut yang kecil (kurang dari 11,25º)


3. Perencanaan Dimensi Jalur Pipa Transmisi
Untuk mengalirkan air dari sumber air ke instalasi pengolahan air yang
jaraknya sangat dekat, tidak perlu menggunakan alternatif sistem
transmisi. Apabila menggunakan alternatif transmisi, maka kriteria dalam
menetapkan jalur terpilih antara lain :
a. Hidrologis.
Diharapkan sisa tekan harus lebih atau sama dengan 10 meter.
b. Ekonomis.
- Jarak pipa terpendek
- Diameter ekonomis
- Pemasangan mudah
- Pemeliharaan dan pengontrolan mudah
c. Peralatan
Tidak menggunakan peralatan yang terlalu banyak.
5.6.1.4.Perhitungan Sistem Transmisi
- Qmax day pada tahun 2023 = 0,12708 m
3
/s
- Panjang pipa transmisi dari sumber ke reservoir distribusi = 430 m
- Kecepatan air dalam pipa = 2 m/s
Berdasarkan persamaan
Q = V.A
A = 1/4 t D
2

D =
t V
Q 4
=
14 . 3 2
12708 , 0 4
x
x
= 0.2845 m
Jadi diameter pipa transmisi = 0,2845 m = 284.5 mm
Digunakan pipa yang ada dipasaran yaitu 300 mm
v =
2
4 / 1 D
Q
t
=
2
4 , 0 14 . 3 4 / 1
12708 . 0
x x
= 1.01178 m/s
Kehilangan tekanan pada pipa
Pipa yang digunakan adalah pipa steel
( )
41 . 10 94626 . 0 4626 . 9
94626 . 0 4626 . 9 1 , 0
%. 10
4626 . 9
2845 , 0 130 2785 , 0
430 ) 12708 , 0 (
2785 , 0
min
min
min
63 , 2
85 , 1
63 , 2
85 . 1
= + =
+ =
= =
=
= =
=
f
or mayor f
or
mayor or
mayor
mayor
H
H H H
x H
H H
m
x x
x
H
xCxD
xL Q
H

Head statis (HS) = elevasi sumber – elevasi reservoir
= 506 – 455
= 51
Hmin = 1 m
Tinggi kecepatan (HV)
HV =
g
V
2
2
=
81 . 9 2
1 2
2
x
x
= 0.22
Head pompa = Hf + Hs + Hmin + HV
= 10.41+51+ 1 + 0.22
= 62.63
Daya hidrolik pompa (WHP)
Nh = 0.120 x Q x H x ¸
= 0.120 x 0.12708 x 62.63 x 1
= 0.955 Kwatt = 0.01273
Break horse power (BHP)
Np =
p
Nh
q
=
7 . 0
0.955
= 1.3643 kWatt (nilai p q dilihat dari table 3.85, Noerbambang
dan Morimura, 1999)
Daya motor penggerak pompa (Nm)
Nm = Np ( 1 + A ) / ( qp x qk )
= 1.3643 (1 + 0.1 ) / ( 0.70 x 1)
= 2.1439
5.7. Sistem Distribusi
Sistem distribusi merupakan salah satu komponen yang sangat penting dan
paling besar dalam sistem penyediaan air minum. Dalam sistem distribusi,
terdapat kriteria-kriteria yang harus dipenuhi agar diperoleh keuntungan dengan
manfaat optimal bagi pelaksanaan proyek umumnya dan bagi masyarakat yang
dilayani khususnya.
Tujuan pokok perencanaan sistem distribusi adalah agar kebutuhan
masyarakat akan air dapat terlayani dengan baik. Adapun kriteria-kriteria yang
harus dipenuhi adalah :
a. Secara kualitas air yang dialirkan harus tersedia dalam jumlah yang cukup
dan memenuhi kebutuhan dimanapun dan setiap saat kapan pun.
b. Penurunan mutu air harus diusahakan sekecil mungkin.
c. Secara kualitas, air harus sampai ke masyarakat layanan dalam kondisi
memenuhi standar, jadi air yang dialirkan sepanjang perpipaan tidak boleh
mengalami kontaminasi.
d. Kebocoran dalam sistem perpipaan sedapat mungkin dihindari. Hal ini
dapat dilakukan dengan menggunakan pipa yang bermutu baik melalui
penggunaan seluruh jaringan dan peralatan seefektif mungkin.
e. Harus ada tekanan yang cukup agar pengaliran berjalan dengan normal.
f. Jalur perpipaan harus sependek mungkin, tetapi mudah untuk dilakukan
pemeriksaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin oleh pihak
PDAM.
g. Jalur perpipaan diusahakan seefektif mungkin untuk mengurangi biaya
operasional.
h. Jalur yang direncanakan harus diamankan dari gangguan-gangguan luar
yang dapat merusak pipa.

Sistem distribusi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu :
1. Sub sistem jaringan distribusi.
2. Sub sistem jaringan reservoir.

5.7.1. Perencanaan Sistem Distribusi
Untuk mendistribusikan air ke suatu daerah pelayanan, diperlukan suatu
sistem distribusi berupa sistem perpipaan yang mencakup daerah pelayanan
tersebut. Di daerah distribusi, pipa utama dibagi menjadi pipa-pipa cabang.
Sistem distribusi berfungsi sebagai pembagi air kepada konsumen, baik
dengan sambungan langsung maupun sambungan tidak langsung seperti
sambungan halaman atau kran umum.
Dalam pengembangan sistem distribusi, masalah pokok yang harus
diperhatikan adalah :
a. Perpipaan distribusi.
- Sistem lingkaran tertutup
- Sistem cabang
b. Sistem zoning
Pembagian sistem distribusi atau zone-zone distribusi. Hal ini
tergantung pada :
- Luas kota, menyangkut pertimbangan efisiensi dan kelancaran
pelayanan
- Perbedaan elevasi kota
c. Sistem pengaliran
- Gravitasi
- Pemompaan
- Gravitasi dan pemompaan
d. Masalah teknis dan kerekayasaan
- Kapasitas sistem
- Konstruksi
- Peralatan / perlengkapan
- Bahan pipa
- Perhitungan engineering


5.7.2. Sistem Perpipaan Distribusi
Sistem perpipaan distribusi merupakan faktor yang menentukan baik
tidaknya sistem pelayanan. Investasi sistem distribusi sebesar 60 – 70% dari
seluruh sistem.
Jaringan distribusi terdiri dari :
a. Feeder System
Disebut juga jaringan utama atau pipa induk atau pipa hantar dalam
daerah distribusi. Sistem feeder ini mempunyai dua pola yaitu :
1) Sistem cabang
Digunakan di daerah distribusi yang mempunyai elevasi
menurun ke satu arah.
Ciri-ciri :
- Arah aliran satu arah dan bentuknya cabang.
- Gradasi pipa jelas terlihat, dimana diameter pipa
makin ke bawah makin kecil.
- Mempunyai banyak titik mati.
Kelebihan :
- Tidak perlu balancing pressure.
- Investasi lebih murah.
- Perhitungan lebih mudah.
- Pipa distribusi lebih pendek.
- Tekanan air dapat tinggi.
Kerugian :
- Bila terjadi kerusakan pipa, daerah di bawahnya tidak
mendapatkan suplai air.
- Terdapat endapan pada pipa sehingga diperlukan
pengurasan dan kran pembuang.
2) Sistem ring
Ciri-ciri :
- Tidak ada titik mati (dead end).
- Arah aliran dapat bolak-balik.
- Gradasi pipa tidak terlalu jelas. Ukuran diameter pipa
hampir-hampir sama.
Kelebihan :
- Bila ada kerusakan, tidak mengganggu sektor lain.
- Tidak terjadi pengendapan di titik tertentu, sehingga
tidak diperlukan pengurasan dan konstruksi
pengurasan Lumpur.
- Tekanan air cukup merata sehingga distribusi dapat
merata.
- Satu titik tujuan aliran dapat disuplai air dari dua arah
atau lebih.
Kekurangan :
- Perlu balancing pressure di titik junction.
- Perhitungan dimensi rumit.
- Tekanan dalam pipa rendah.
- Investasi lebih besar daripada sistem cabang.
b. Pipa pelayanan distribusi
Terdiri dari :
 Pipa pelayanan utama (small distribution main).
 Pipa pelayanan (service line).
Sistem distribusi yang digunakan pada kecamatan Ajibarang adalah
sistem lingkaran (loop), dengan pertimbangan penentuan alternatif loop
adalah sebagai berikut :
 Peletakan pipa.
 Topografi.
 Penyebaran penduduk.
 Ketersediaan energi gravitasi yang dapat digunakan.




5.8. Perhitungan Volume dan Dimensi Reservoir
Untuk menentukan kapasitas dan dimensi reservoir, data yang diperlukan
adalah nilai kapasitas instalasi (Q max day) yang sebelumnya telah dihitung dari
kebutuhan air total dan besarnya pemakaian air perjam. Kapasitas reservoir adalah
20% dari Qmax day
Menurut standar yang berlaku, kapasitas reservoir harus dapat menyimpan
air untuk melayani kebutuhan selama 8-12 jam atau minimal selama 6 jam
pemakaian.
 Dasar Perhitungan Reservoir
~ Debit Rata-rata = 146,387 l/s
~ Debit maksimum harian, Qmd 2030 = 86400 x Q rata-rata
= 86400 x 175,664 l/s
= 15,177 x 10
6
l/s
~ Fungsi reservoir
+ Tempat Klorinasi
+ Penyeimbang fluktuasi pemakaian air
+ Kapasitas reservoir = 20 % dari Qmd

Kapasitas reservoir V = 20% x 15,177 x 10
6
l/s
= 3,035473 x 10
6
l/s
= 3035,473 m
3
Reservoir terbuat dari beton berbentuk silinder dengan dimensi sebagai
berikut :
- Kedalaman efektif / Tinggi = 6 m
- Diameter = 25 m
- Free Board = 15 % x kedalaman efektif = 0.9 m
Perlengkapan Reservoir
o Inlet
Inlet berupa pipa dengan diameter 500 mm, dan inlet tersebut
diletakkan 30 cm di atas level air maksimum.

o Outlet
Pipa outlet berdiameter 250 mm, diletakkan 10 cm di atas dasar
lantai reservoir. Pada pipa outlet dilengkapi dengan meter induk.
o Overflow Pipa
Pipa overflow memiliki diameter 200 mm
o Penguras
Pipa penguras memiliki diameter 200 mm.
o Ventilasi
Dipasang pipa ventilasi dengan diameter 75 mm sebanyak 10
tempat.

5.8.1. Diameter Pipa Distribusi (Dari Reservoir Ke Junction 3)
Q =200 l/s = 0.2 m
3
/det
L = 500 m
Berdasarkan persamaan
S =
`
S = 400 = 0,8
500
Q =
0,2 m
3
/det = 0,279x130D
2,63
0,8
0,54

D = 0,4 mm
jadi diameter pipa distribusi (reservoir- junction 3) = 0,4 m = 400 mm = 16
inch.
cek kecepatan
s m
x x xD x
Q
v / 592 . 1
4 , 0 14 . 3 ) 4 / 1 (
2 , 0
) 4 / 1 (
2 2
= = =
t




L
H
54 . 0 63 . 2
279 . 0 S CD
5.8.2. Diameter Pipa Distribusi (Dari Junction 3 Ke Junction 4)
Q =200 l/s = 0.2 m
3
/det
L = 650 m
Berdasarkan persamaan
S =
` S = 395 = 0,6
650
Q =
0,2 m
3
/det = 0,279x130D
2,63
0,6
0,54

D = 0,275 mm
jadi diameter pipa distribusi (junction3- junction 4) = 0,275 m = 275 mm =
11 inch.
cek kecepatan
s m
x x xD x
Q
v / 592 . 1
4 , 0 14 . 3 ) 4 / 1 (
2 , 0
) 4 / 1 (
2 2
= = =
t


5.9. SIMULASI PERENCANAAN DENGAN EPANET VERSI 2.0
Dalam simulasi ini bertujuan untuk mendapatkan nilai tekanan dan aliran yang
maksimal dan minimal yang terjadi pada wilayah perencanaan (dengan pola
simulasi single period maupun multiple period) simulasi ini menggunakan
ketentuan kecepatan aliran dan tekanan air yang telah ditetapkan.
Pada simulasi ini akan ditampilkan gambaran jaringan perpipaan pada
kecamatan Sedan, beserta node-nodenya, detail pipa, (panjang, diameter, velocity,
headloss) dan detail node (elevasi dan pressure).
Pada simulasi ini menggunakan pola simulasi 24 hours period, semua
ketentuan baik besar kecepatan aliran / velocity (0,3 – 3 m/s) maupun besar
tekanan/pressure yang terjadi pada pipa (10 – 60 m) telah memenuhi persyaratan.
Oleh karena itu sistem perencanaan jaringan distribusi air bersih pada kecamatan
Wedung pada akhir tahun perencanaan telah normal dan berjalan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
L
H
54 . 0 63 . 2
279 . 0 S CD
Sistem distribusi menggunakan sistem jaringan pipa tertutup (sistem
loop).Cara pengalirannya menggunakan sistem gravitasi. Sistem pengalirannya
disebut ; gravitasi karena reservoir berada pada tempat yang lebih tinggi dari
daerah perencanaan. . Kemudian dibuat jaringan pipa distribusi dilengkapi dengan
titik node dan tapping, lalu dihitung menggunakan program Loop metode Hardy
Cross. Pipa distribusi direncanakan menggunakan data pada tahun 2028.
Analisa Hardy Cross
Berdasarkan perhitungan Hardy Cross dapat diketahui bahwa pada
beberapa pipa memiliki velocity yang rendah atau headloss yang tinggi, untuk
mengatasi hal tersebut maka perlu diberi perlengkapan pipa untuk mengatasi
rendahnya velocity atau tingginya headloss.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->