P. 1
Garis

Garis

|Views: 69|Likes:
Published by ashintaaaa

More info:

Published by: ashintaaaa on May 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2013

pdf

text

original

A.

PENGERTIAN TITIK, GARIS, DAN BIDANG
1. Titik
Secara geometri, titik adalah unsur geometri yang paling sederhana.
Namun, “titik” bukan main pentingnya, sebab semua unsur lainnya terdiri
dari titik-titik. Titik adalah sesuatu yang punya kedudukan, tetapi titik
tidak punya ukuran. Titik biasanya direpresentasikan dengan sebuah
noktah “.”, dan diberi nama dengan menggunakan huruf kapital seperti A,
B, atau C, dan seterusnya.

Gambar
memperlihatkan dua buah titik, yaitu titik B dan titik Q

2. Garis
Garis adalah himpunan titik-titik yang anggotanya adalah dua titik
atau lebih. Titik-titik tersebut berderet ke kedua arah yang berlawanan
sampai jauh tak terhingga. Model atau representasi suatu garis misalnya
seutas benang kecil lurus yang dapat diperpanjang kedua arah yang
berlawanan sampai jauh tak terhingga. Garis hanya mempunyai ukuran
panjang. Garis diberi nama dengan menggunakan huruf kecil seperti g, h,
k, dan seterusnya, atau AB, AC, BC, dan seterusnya.

Gambar
memperlihatkan dua buah garis, yaitu garis AB dan garis g


3. Bidang
Bidang adalah himpunan titik-titik, lebih dari dua buah titik dan tidak
semuanya terletak pada sebuah garis. Pada sebuah bidang, terdiri dari
banyak sekali garis. Model sebuah bidang adalah permukaan sebuah meja
rata misalnya yang dapat diperlebar ke semua arah. Bidang mempunyai
ukuran panjang dan lebar. Bidang diberi nama dengan menyebutkan titik-
titik sudut dari bidang tersebut atau memakai huruf α, β, γ , dan
seterusnya. Gambar 4.3 memperlihatkan dua buah bidang, yaitu bidang α
dan bidang ABCD.


B. Jarak antara Dua Titik
Telah kita kaitkan titik-titik dengan koordinat. Sekarang akan kita
pergunakan untuk menyelesaikan masalah geometri. Kita mulai dengan
konsep jarak antara dua titik. Misalkan kita pandang jarak dua titik pada
koordinat garis. Misalkan P1 dan P2 dua titik pada garis, dan misalkan
mempunyai koordinat x1 dan x2. Jika P1 dan P2 keduanya berada di sebelah
kanan pusat, dengan P2 lebih kanan daripada P1. Persamaan Garis dengan
diketahui Gradien dan 1 Titik (x
1
,y
1
)

Maka

̅̅̅̅̅̅

̅̅̅̅̅

̅̅̅̅̅

Pernyataan jarak antara dua titik akan lebih rumit jika titik pusat berada di
kanan salah satu atau kedua titik. Dalam gambar (b) berlaku
2 1
P P = O P
1
– O P
2
= –x
1
– (–x
2
) = x
2
– x
1
Dan dalam gambar (c)
2 1
P P = O P
1
+
2
OP = –x
1
+ x
2
= x
2
– x
1
Jadi kita lihat bahwa
2 1
P P = x
2
– x
1
dalam semua kasus dalam hal mana P
2

berada di kanan P
1
. Jika P
2
berada di kiri P
1
maka dengan cara yang sama
akan kita peroleh
2 1
P P = x
1
– x
2
.
Jadi
2 1
P P dapat selalu direpresentasikan sebagai koordinat terbesar dikurangi
koordinat terkecil. Karena x
2
– x
1
dan x
1
– x
2
berbeda hanya salah satu
dikurangi lainnya dan karena jarak selalu tidak boleh negatif maka jarak
antara P
1
dan P
2
dapat dirumuskan sebagai
2 1
P P = |x
2
– x
1
| = ( )
2
1 2
x x ÷
Bentuk ini adalah notasi jarak yang umum tanpa memandang posisi relatif P
1

terhadap P
2
diketahui ataupun tidak.
Sekarang kembali kepada perhatian kita permasalahan yang lebih sulit yaitu
menemukan jarak antara dua titik di bidang datar. Misalkan kita tertarik pada
jarak antara P
1
(x
1
, y
1
) dan P
2
(x
2
, y
2
) (lihat gambar)

Garis vertikal yang melalui P
1
dan garis horizontal yang melalui P
2

berpotongan pada titik Q(x
1
, y
2
). Asumsikan P
1
dan P
2
tidak berada pada garis
vertikal atau horizontal yang sama. P
1
P
2
Q membentuk segitiga siku-siku
dengan sudut siku-siku pada Q. Sekarang kita pergunakan teorema Pythagoras
untuk menghitung panjang P
1
P
2
. Dengan penjelasan yang telah dikemukakan di
depan diperoleh
2
QP = |x
2
– x
1
| dan Q P
1
= |y
2
– y
1
|
Dengan teorema Pythagoras diperoleh,
2
2 1
P P =
2
1
Q P +
2
2
QP
·
2 1
P P =
2
2
2
1
QP Q P + =
2
1 1
2
1 2
y y x x ÷ + ÷
Karena |x
2
– x
1
|
2
= (x
2
– x
1
)
2
= (x
1
– x
2
)
2
maka nilai mutlak boleh dihilangkan
dalam langkah ini dan kita peroleh

2 1
P P = ( ) ( )
2
1 1
2
1 2
y y x x ÷ + ÷
Jadi, J arak antara dua titik P
1
(x
1
, y
1
) dan P
2
(x
2
, y
2
) adalah
2 1
P P = ( ) ( )
2
1 1
2
1 2
y y x x ÷ + ÷
Contoh 1 :
Tentukan jarak antara P
1
(1, 4) dan P
2
(–3, 2).
Jawab:
2 1
P P = ( ) ( )
2 2
4 2 1 3 ÷ + ÷ ÷
= ( ) ( )
2 2
2 4 ÷ + ÷ = 20 = 2 5
Contoh 2:
Tentukan apakah titik-titik A(1, 7), B(0, 3), C(–2, –5) terletak pada satu garis
lurus(kolinier) ?
Jawab:
Kita hitung jarak antara masing-masing titik dengan lainnya.
AB = ( ) ( )
2 2
7 3 1 0 ÷ + ÷ = 17
BC = ( ) ( )
2 2
3 5 0 2 ÷ ÷ + ÷ ÷ = 68 = 2 17
AC = ( ) ( )
2 2
7 5 1 2 ÷ ÷ + ÷ ÷ = 153 = 3 17
Tampak bahwa AC = AB + BC , oleh karena itu ketiga titik harus berada
pada satu garis lurus (jika tidak demikian, mereka akan membentuk segitiga
dan salah satu sisinya harus kurang dari jumlah dua yang lain).

C.
Pada bagian ini akan dibicarakan koordinat sebuah titik yang membagi
sebuah segmen garis menjadi dua bagian dengan perbandingan tertentu.
Misalkan diketahui titik P membagi segmen garis AB sedemikian hingga
terdapat perbandingan
PB
AP
=
n
m

Rasio m : n disebut rasio pembagian. Titik P disebut titik pembagi, dan P
dikatakan membagi segmen AB secara internal atau eksternal bergantung
apakah P terletak antara A dan B atau di luar segmen AB.


Jika P terletak antara A dan B maka rasio pembagian adalah positif. Hal
ini dikarenakan AP dan PB mempunyai arah yang sama (perhatikan gambar
(a). Rasio akan bernilai 0 jika P berimpit dengan A dan naik tak terbatas
sebagaimana P mendekati B.
Jika P terletak di luar A dan B sebagaimana pada gambar (b) dan (c)
maka rasio pembagian adalah negatif. Hal ini dikarenakan AP dan PB
mempunyai arah yang berlawanan. Sejalan dengan mundurnya P dari A pada
arah BA (gambar (b)), maka rasio akan turun dari 0 hingga mendekati nilai –1.
Jika P pada perpanjangan AB (gambar (c)) maka rasio pembagian secara
aljabar akan kurang dari –1. Rasio secara aljabar akan besar tak terbatas
apabila P mendekati B dan rasio mendekati –1 apabila P menuju titik tak
hingga.
Perhatikan gambar berikut:

Jika koordinat titik A dan B diketahui, dan juga rasio pembagian diketahui
maka koordinat titik P dapat dicari. Pada gambar 1.12. misalkan diketahui
titik A dengan koordinat (x
1
, y
1
) dan titik B (x
2
, y
2
) dan titik P(x
p
, y
p
) membagi
segmen garis AB sedemikian hingga terdapat perbandingan AP : PB = m : n.
Berdasarkan sifat kesebangunan segitiga A’AB dengan P’AP maka diperoleh
perbandingan :
AP : AB = P’P : A’B = m : m + n
Sedangkan P’P = x
P
– x
1
dan A’B = x
2
– x
1
sehingga perbandingan menjadi
1 2
1
x x
x x
P
÷
÷
=
n m
m
+
.
Dengan menyelesaikan persamaan untuk x
P
diperoleh
x
P
=
n m
nx mx
+
+
1 2

Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan bahwa
y
P
=
n m
ny my
+
+
1 2

Contoh 1:
Tentukan koordinat titik yang membagi segmen dari titik (–6, 2) ke titik (4,7).
a) dengan rasio 2 : 3
b) dengan rasio –7 : 2
Jawab:
Dengan menggunakan rumus di atas dapat diperoleh
(a). x
P
=
3 2
) 6 ( 3 4 2
+
÷ × + ×
= –2, y
P
=
3 2
2 3 7 2
+
× + ×
= 4
(b). x
P’
=
2 7
) 6 ( 2 4 7
+ ÷
÷ × + × ÷
= 8, y
P’
=
2 7
2 2 7 7
+ ÷
× + × ÷
= 9
Titik-titik yang berkaitan dengan jawaban (a) dan (b) adalah P dan P’
seperti pada gambar di bawah ini:


D. Titik Tengah Segmen Garis
Rumus penting lain pada kasus khusus yang banyak digunakan dalam
koordinat Cartesius adalah mencari titik tengah suatu segmen garis, yang
dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 1.2:
Jika P adalah titik tengah dari AB dengan koordinat A(x
1
, y
1
) dan B(x
1
, y
1
)
maka koordinat titik P diberikan oleh (x, y) dengan rumus
x =
2
2 1
x x +
, y =
2
2 1
y y +

Bukti :
Misalkan P adalah titik tengah dari AB maka jelas bahwa m : n = 1 : 1, atau
m = n dan rumus (3) dan (4) dari seksi 1.6 dapat direduksi menjadi
x =
2
2 1
x x +
, y =
2
2 1
y y +

Jadi untuk mendapatkan titik tengah dari segmen AB, kita hanya
menghitung rata-rata masing-masing koordinat x dan y dari titik yang
diberikan. Dengan kejadian ini akan beralasan jika menyimpulkan bahwa rata-
rata dua temperatur yang berbeda terletak di tengahnya, rata-rata dua
ketinggian akan berada di tengah-tengah antaranya, dan lain-lain.
Contoh 2:
Tentukan titik tengah dari segmen AB jika koordinat masing-masing titik
diberikan oleh (1, 5) dan (–3, –1).
Jawab:
x =
2
2 1
x x +
, y =
2
2 1
y y +

=
2
3 1÷
= –1, =
2
1 5÷
= 2.
Jadi Titik Tengah P (–1, 2)
E. Gradien
Definisi :
Kemiringan (slope) m dari suatu garis adalah nilai tangen dari sudut
inklinasinya; yaitu
u
Kemiringan suatu garis dapat dinyatakan dalam bentuk dari koordinat
sembarang dua titik pada garis itu, misalnya melalui titik P
1
(x
1
, y
1
) dan P
2
(x
2
,
y
2
) seperti pada gambar

Contoh:
Tentukan kemiringan garis yang memuat titik P
1
(1, 5) dan P
2
(7, –7)
Maka kemiringan garis P
1
P
2
diberikan oleh
m = tan u =
1 2
1 2
x x
y y
÷
÷
=
2 1
2 1
x x
y y
÷
÷
; di mana x
1
= x
2
.
Jawab :
Dengan menggunakan rumus di atas diperoleh
m =
1 2
1 2
x x
y y
÷
÷

=
1 7
5 7
÷
÷ ÷
=
6
12 ÷
= – 2
F F. . G Ga ar ri is s- -g ga ar ri is s S Se ej ja aj ja ar r d da an n T Te eg ga ak k L Lu ur ru us s
Jika dua garis yang bukan vertikal adalah sejajar maka harus
mempunyai sudut inklinasi sama besar, sehingga mempunyai kemiringan
yang sama. Jika dua garis sejajar adalah vertikal maka salah satunya pasti
tidak mempunyai kemiringan. Sebaliknya jika garis mempunyai kemiringan
sama maka mereka mempunyai sudut inklinasi yang sama dan oleh karena itu
mereka sejajar. Jadi, dua garis yang mempunyai kemiringan m
1
dan m
2
adalah
sejajar jika dan hanya jika
m
1
= m
2
atau kedua garis tidak mempunyai kemiringan

Jika dua garis bukan vertikal l
1
dan l
2
dengan sudut inklinasi u
1
dan u
2
tegak
lurus

maka
u
1
– u
2
= 90°,
atau
u
1
= u
2
+ 90°,
Jadi
tanu
1
= tan(u
2
+ 90°) = – cotu
2
=
2
tan
1
u
÷ ,
atau
m
1
=
2
1
m
÷
Di lain pihak, jika m
1
=
2
1
m
÷ , dengan argumen penelusuran balik penalaran
di atas maka dapat ditunjukkan bahwa selisih sudut inklinasinya adalah 90°
dan kedua garis adalah tegak lurus.
Jadi, Jika dua garis l
1
dan l
2
mempunyai kemiringan m
1
dan m
2
berturut-turut,
maka mereka
(a) sejajar jika dan hanya jika m
1
=m
2,
(b) tegak lurus jika dan hanya jika m
1
m
2
= –1.

Contoh 1:
Tentukan kemiringan dari garis l
1
yang memuat (1, 5) dan (3, 8) dan garis l
2

yang memuat (–4, 1) dan (0, 7); tentukan apakah l
1
dan l
2
sejajar, berimpit,
tegak lurus atau yang lain.
Jawab:
Pertama kita hitung masing-masing kemiringan garis
m
1
=
1 3
5 8
÷
÷
=
2
3
, m
2
=
) 4 ( 0
1 7
÷ ÷
÷
=
4
6
=
2
3
,
Karena m
1
= m
2
maka l
1
dan l
2
sejajar. Untuk menguji apakah keduanya
berimpit kita ambil sembarang titik pada masing-masing garis kemudian kita
hitung kemiringannya, misalkan kita ambil titik (1, 5) pada l
1
dan titik (–4, 1).
m
3
=
) 4 ( 1
1 5
÷ ÷
÷
=
5
4
.
Karena m
3
= m
1
maka titik (–4, 1) tidak dapat berada di l
1
. Jadi l
1
dan l
2
adalah
dua garis yang sejajar dan tidak berimpit.

G G. . S Su ud du ut t a an nt ta ar ra a D Du ua a G Ga ar ri is s
Dua garis yang berpotongan, l
1
dan l
2
, akan membentuk sudut yang
saling berpelurus (suplemen), salah satu darinya diambil sebagai sudut antara
dua garis. Untuk menghindari arti ganda, kita definisikan :
Sudut antara garis l
1
dan l
2
dilambangkan dengan Z(l
1
, l
2
) adalah sudut
terkecil dalam arah berlawanan dengan arah putar jarum jam yang
diperlukan untuk memutar garis l
1
dengan pusat titik potongnya sehingga
berimpit dengan garis l
2
.
Gambar di bawah ini memperlihatkan sudut antara dua garis l
1
dan l
2
, yang
dinotasikan dengan u.

Suatu rumus sederhana untuk tangen sudut antara dua garis dapat
diturunkan dalam bentuk kemiringan dari kedua garis pembentuk sudut
tersebut. Misalkan garis l
1
dan l
2
berturut-turut mempunyai sudut inklinasi u
1

dan u
2
dan kemiringan m
1
dan m
2
. Misalkan u adalah sudut yang dibentuk
oleh garis l
1
dan l
2


Dengan menggunakan kenyataan bahwa sudut luar suatu segitiga sama
dengan jumlah dua sudut dalam lainnya maka diperoleh
u = u
2
– u
1
atau u = 180° + u
2
– u
1

Persamaan terkhir akan dipenuhi pada posisi relatif l
1
terhadap l
2
seperti pada
gambar di bawah ini:
Berdasarkan rumus trigonometri diperoleh hubungan
tan u = tan (u
2
– u
1
) =
2 1
1 2
tan tan 1
tan tan
u u
u u
+
÷

atau tan u =
2 1
1 2
1 m m
m m
+
÷

Contoh 1:
Tentukan besar sudut-sudut dalam segitiga yang mempunyai titik-titik sudut
dengan koordinat A(–4, 2), B(12, –2), dan C(8, 6).
Jawab :

Gambar di atas menunjukkan gambar segitiga tersebut. Sudut-sudut yang
dicari ditandai dengan anak panah dengan arah berlawanan dengan arah putar
jarum jam. Dengan persamaan di atas dapat ditemukan
m
AB
=
4 12
2 2
+
÷ ÷
= –
4
1
,
m
AC
=
4 8
2 6
+
÷
=
3
1
,
Dengan menggunakan rumus (3) seksi ini diperoleh
tan A =
) ( 1
) (
4
1
3
1
4
1
3
1
÷ +
÷ ÷
=
11
7
= 0.6364, sehingga A = 32,4712°
tan B =
) 2 )( ( 1
) 2 (
4
1
4
1
÷ ÷ +
÷ ÷ ÷
=
6
7
= 1.1667, sehingga B = 49,3987°
tan C =
3
1
3
1
) 2 ( 1
2
÷ +
÷ ÷
= –7, sehingga C = 180° – 81,8699° = 98.1301
Jika dicek A + B + C = 180°

H. Persamaan Garis Lurus
1. Bila yang diketahui gradient dan sebuah titik
Pandanglah suatu garis yang melalui titik tetap P
1
(x
1
, y
1
) dan
mempunyai gradien m. Jika diambil sembarang titik P(x, y) untuk x berbeda
dengan x
1
maka dengan rumus (3) seksi 1.11, kemiringan garis P
1
P adalah
1
1
x x
y y
÷
÷


Kemiringan garis akan sama dengan m jika dan hanya jika titik P berada
pada garis yang diberikan. Jadi, jika P(x, y) berada pada garis yang diberikan
maka harus dipenuhi kesamaans
1
1
x x
y y
÷
÷
= m
atau jika dilakukan penyederhanaan bentuk pembagian diperoleh persamaan :
y – y
1
= m(x – x
1
) ....... (1)
Persamaan (1) di atas disebut persamaan garis lurus dengan diketahui gradien
(m) dan titik (x
1
,y
1
)
Contoh 1:
Tentukan persamaan garis yang melalui (3, –2) dengan kemiringan

Jawab:
Dengan menggunakan rumus (1) di atas diperoleh
y – y
1
= m(x – x
1
).

Grafik garis lurus yang melalui titik (3, –2) dan mempunyai gradien

dapat
dilihat pada gambar 3.2 di bawah ini.

Contoh 2:
Tentukan persamaan garis yang melalui P(2, 1) dan membuat sudut 45°
dengan garis 2x – 3y = 6.
Jawab:
Misalkan m
1
gradien garis l
1
yang akan dicari.
Diketahui garis yang diminta membentuk sudut 45° dengan garis l
2
÷ 2x – 3y =
6 yang mempunyai gradien m
2
=

. Dalam hal ini ada dua garis kasus yang
memenuhi sifat garis yang dicari yaitu :
Kasus 1 : Jika u = Z(l
1
, l
2
) = 45°
Maka menurut rumus (3) didapatkan:
u
2 1
1 2
1 m m
m m
+
÷

°
m
m
3
2
3
2
1+
÷

·
m
m
3
2
3
2
1+
÷

·
5
1

Karena garis melalui titik P(2, 1) dan mempunyai kemiringan m = –
5
1
, maka
menurut rumus (1) persamaan garis bentuk titik-kemiringan persamaan garis
yang dicari adalah:

5
1

atau .
Kasus 2 : Jika u = Z(l
2
, l
1
) = 45°
Maka menurut rumus didapatkan:
u
2 1
2 1
1 m m
m m
+
÷

°
m
m
3
2
3
2
1+
÷

·
m
m
3
2
3
2
1+
÷

·
Karena garis melalui titik P(2, 1) dan mempunyai gradien m = 5, maka
menurut rumus (1) persamaan garis bentuk titik-kemiringan persamaan garis
yang dicari adalah


Grafik


2 2. . B Bi il la a d di ik ke et ta ah hu u g gr ra ad di ie en n d da an n d du ua a t ti it ti ik k
Mengingat postulat pertama tentang karakteristik garis lurus, maka
apabila diketahui dua titik yang berbeda pada bidang, maka garis yang
melalui dua titik tersebut dapat dilukis. Dengan demikian persamaan
garisnya pun juga dapat ditemukan.

Misalkan sebuah garis melalui titik P
1
(x
1
, y
1
) dan P
2
(x
2
, y
2
), x
1
= x
2
maka
menurut rumus (3) seksi 1.11 garis P
1
P
2
mempunyai kemiringan
m =
1 2
1 2
x x
y y
÷
÷

Berdasarkan rumus (1) seksi 3.1, dengan mengganti kemiringan

1 2
1 2
x x
y y
÷
÷
dan memilih satu dari dua titik yang diketahui diperoleh hubungan :
y – y
1
=
1 2
1 2
x x
y y
÷
÷
(x – x
1
)
atau dituliskan dalam bentuk
1 2
1
y y
y y
÷
÷
=
1 2
1
x x
x x
÷
÷

Persamaan (1)atau (2) di atas disebut persamaan garis bentuk titik – titik.
Satu hal yang menjadi catatan bahwa penamaan titik sebagai “titik pertama”
dan “titik kedua” diambil secara sembarang.
Contoh 1:
Tentukan persamaan garis yang melalui (4, 1) dan (–2, 3).
Jawab:
Dengan menggunakan persamaan di atas diperoleh persamaan
y – y
1
=
1 2
1 2
x x
y y
÷
÷
(x – x
1
).
y – 1 =
4 2
1 3
÷ ÷
÷
(x – 4).
x + 3y – 7 = 0
Contoh 2:
Tentukan persamaan garis yang tegak lurus dengan segmen yang
menghubungkan titik A(5, –3) dengan B(1, 7) dan melalui titik tengah segmen
tersebut (bisektor).
Jawab:
Misalkan titik tengah segmen AB adalah P. Pertama kita cari koordinat titik P
dengan rumus (5) seksi 1.8.
x
P
=
2
1 5 +
= 3; y
P
=
2
7 3 + ÷
= 2
Jadi koordinat titik P (3, 2).
Kemiringan dari segmen yang menghubungkan titik (5, –3) dan (1, 7) adalah
m =
1 5
7 3
÷
÷ ÷
=
2
5
÷ ;
sehingga kemiringan dari garis yang tegak lurus AB adalah m = 2/5. Dengan
menggunakan persamaan (1) seksi 3.1 untuk titik (3, 2) dan m =

diperoleh
persamaan yang kita cari yaitu
y – 2 =
5
2
(x – 3),
· 2x – 5y + 4 = 0

I I. . P Pe er rs sa am ma aa an n U Um mu um m G Ga ar ri is s L Lu ur ru us s
Dari pembahasan pada seksi-seksi sebelumnya terlihat bahwa
persamaan sembarang garis lurus adalah berderajad satu dalam koordinat
tegak lurus x dan y. Sebaliknya akan ditunjukkan bahwa sembarang
persamaan berderajad satu dalam x dan y menyatakan sebuah garis lurus. (Hal
ini merupakan jawaban mengapa sebuah persamaan derajad satu disebut
persamaan linier).
Persamaan umum derajad satu dalam x dan y adalah
Ax + By + C = 0 ….. (1)
di mana A dan B tidak keduanya nol.
Jika B = 0, bagilah kedua ruas persamaan (1) dengan B dan setelah disusun
ulang akaan diperoleh,
y = –
B
A
x –
B
C
(2)
Ini adalah sebuah garis dengan kemiringan –
B
A
dan memotong sumbu-y di –
B
C
, meskipun A atau C atau keduanya bernilai nol.
Jika B = 0, maka A = 0 dan selanjutnya akan diperoleh persamaan
x = –
A
C
, …. (3)
yang mana ini merupakan persamaan garis lurus yang sejajar dengan
sumbu-y jika C = 0, dan berimpit dengan sumbu-y jika C = 0.
Dengan demikian dalam semua kasus, persamaan (1) merepresentasikan
sebuah garis lurus.
Seperti telah diperlihatkan bahwa kemiringan garis (1) adalah –
B
A
dan
memotong sumbu-y di –
B
C
(dengan asumsi pada masing-masing kasus B = 0).
Untuk menentukan perpotongan dengan sumbu-x diambil y = 0 akan
menghasilkan x = –
A
C
. (dengan asumsi A = 0).
Pada penggambaran sketsa grafik sembarang persamaan derajad satu
yang berbentuk Ax + By + C = 0 dapat ditentukan dengan cukup mengambil
plot dua koordinat titik berbeda sembarang yang termuat dalam garis itu,
kemudian lukis garis yang melalui kedua titik.
Salah satu cara termudah dan tercepat dalam membuat sketsa garis
adalah mengambil titik-titik potong dengan sumbu koordinat sebagai dua titik
sembarang itu kemudian menghubungkan kedua titik itu sebagai garis lurus.
Satu masalah yang mungkin timbul adalah apabila garis melalui titik pusat
koordinat, atau kedua titik potong sangatlah dekat, atau mungkin sulit
menggambarkan secara tepat dikarenakan perpotongan di kedua sumbu
berupa nilai pecahan. Tetapi hal ini bisa diatasi dengan mengambil sembarang
titik lain yang termuat dalam garis, kemudian digambar sebagaimana cara
sebelumnya.

Contoh 1:
Buat sketsa grafik dari garis 2x – 3y – 6 = 0
Jawab:
Titik potong dengan sumbu-x dapat dicari dengan memberi nilai y = 0,
sehingga diperoleh x = 3. Jadi (3, 0) adalah titik potong dengan sumbu-x.
Titik potong dengan sumbu-y dapat dicari dengan memberi nilai x = 0,
sehingga diperoleh y = –2. Jadi (0, –2) adalah titik potong dengan sumbu-y.
Dari titik (3, 0) dan (0, -2) dapat dilukis sketsa grafik persamaan tersebut
seperti gambar di bawah ini



J J. . P Pe er rs sa am ma aa an n G Ga ar ri is s B Be en nt tu uk k N No or rm ma al l
Suatu garis dapat ditentukan dengan menentukan panjang p yang tegak lurus
atau normal dari titik asal ke garis tersebut, dan sudut o yaitu sudut arah positif yang
dibentuk oleh sumbu-x dengan garis normalnya yang ditetapkan sebagai arah dari
titik asal terhadap garis.
Untuk menurunkan persamaan garis dalam bentuk p dan o diambil
sembarang titik P(x, y) pada garis. Ditarik garis dari P yang tegak lurus
dengan sumbu-x, hingga memotong sumbu x di M. Dari M digambar garis
yang tegak lurus dengan garis normal ON dan berpotongan dititik R.
Proyeksi tegak lurus dari OM pada ON adalah:
OR = OM cos o = x cos o. (1)
Secara sama proyeksi tegak lurus dari MP pada ON adalah:
RQ = MP cos (90° – o) = y sin o. (2)
Tetapi OR + RQ = OQ = p, (3)

dan dengan menggunakan hubungan (1), (2), dan (3) dapat dituliskan sebagai:
x cos o + y sin o – p = 0 (4)
Persamaan (4) disebut bentuk normal dari persamaan garis lurus yang
panjang normalnya p dan besar sudut normalnya o.
Perlu diingat bahwa p adalah besaran positif (kecuali pada kasus garis melalui
titik asal, yang mana dalam kasus ini nilai p adalah nol).

K K. . R Re ed du uk ks si i P Pe er rs sa am ma aa an n k ke e B Be en nt tu uk k N No or rm ma al l
Untuk menunjukkan bagaimana mereduksi persamaan umum garis lurus
Ax + By + C = 0 (2)
ke bentuk normal, kita kalikan masing-masing ruas dengan konstanta k
sehingga diperoleh :
kAx + kBy + kC = 0. (2)
Jika persamaan (2) dalam bentuk normal, maka jika dibandingkan dengan
persamaan (4) seksi 3.6, maka harus dipunyai
kA = cos o; kB = sin o; kC = – p. (3)
Jika dua persamaan pertama masing-masing dikuadratkan, kemudian
dijumlahkan akan diperoleh:
k
2
A
2
+ k
2
B
2
= cos
2
o + sin
2
o = 1 (4)
sehingga diperoleh

k
2
=
2 2
1
B A +
, k =
2 2
1
B A + ±
. (5)
Jika hasil ini disubstitusikan ke persamaan (3) akan didapatkan:
cos o =
2 2
B A
A
+ ±
, sin o =
2 2
B A
B
+ ±
, p =
2 2
B A
C
+ 
(6)
Sehingga persamaan (1) dapat dituliskan sebagai:
0
2 2
=
+ ±
+ +
B A
C By Ax
(7)

Tanda ± yang berada di depan tanda akar dipilih sedemikian hingga p
bernilai positif, dan tanda pada konstanta (yaitu –p) dalam bentuk normal
adalah negatif. Hal ini berarti tanda harus dipilih yang berlawanan dengan
bentuk konstanta pada persamaan asal yaitu C.
Jika dalam persamaan (1), C = 0 tetapi B = 0, maka tanda diambil
sedemikian hingga koefisien y dalam bentuk normal harus positif, yaitu
diambil tanda yang sama dengan tanda pada koefisien persamaan asal.
Jika dalam persamaan (1), B = C = 0 tetapi A = 0, maka tanda dipilih
sedemikian hingga koefisien x adalah positif. Dalam kasus ini garis adalah
sumbu-y.
Contoh 1:
Reduksi persamaan 3x – 4y – 15 = 0 ke dalam persamaan normal dan buat
sketsa grafiknya.
Jawab:
Menurut (5) nilai k adalah

k =
2 2
1
B A + ±
=
2 2
) 4 ( 3
1
÷ + ±
=
5
1
±

Karena C = –15 yang berarti bertanda negatif, maka k bertanda
positif yaitu k =
5
1
. Kemudian kalikan ke persamaan asal diperoleh bentuk
normal:
5
15 4 3 ÷ ÷ y x
= 0, atau
5
3
x –
5
4
y – 3 = 0,
yang menunjukkan bahwa
cos o =
5
3
, sin o = –
5
4
, p = 3
Untuk membuat sketsa grafiknya, pertama tentukan normal garis
dengan sudut normal
o = arc tan
5
3
5
4
÷
=
3
4 ÷
.
Dengan demikian o adalah sudut yang berada di kuadran empat dan dengan
menggunakan tabel trigonometri maka besar sudut o dapat ditemukan yaitu
o = 360° – 53,13° = 306,17°.
Sudut o dapat dikonstruksikan dengan memplot titik N(3, –4) pada bidang
koordinat, kemudian buatlah garis berarah ON sebagai normal garis, maka
ukuran sudut XON sama dengan o. Lukisan garis yang dicari adalah garis
yang tegak lurus dengan ON pada titik Q sedemikian hingga OQ = p = 3.



Contoh 2:
Reduksi persamaan 3x – 4y = 0 ke dalam persamaan normal dan buat sketsa
grafiknya.
Jawab:
Menurut (5) nilai k adalah
k =
2 2
1
B A + ±
=
2 2
) 4 ( 3
1
÷ + ±
=
5
1
±

Karena C = 0 dan kofisien y adalah negatif, maka k dipilih yang bertanda
negatif yaitu k = –
5
1
. Kemudian kalikan ke persamaan asal diperoleh bentuk
normal:
5
4 3
÷
÷ y x
= 0, atau –
5
3
x +
5
4
y = 0,
yang menunjukkan bahwa
cos o = –
5
3
, sin o =
5
4
, p = 0
o = arc tan
5
3
5
4
÷
=
3
4 ÷
.
Kemudian o dapat dicari dengan hubungan
o = arc tan
5
3
5
4
÷
=
3
4
÷
.

yang berarti o adalah sudut yang berada di kuadran dua dan dengan
menggunakan tabel trigonometri diperoleh besar sudut o = 126,87°.

J. J Ja ar ra ak k t ti it ti ik k k ke e g ga ar ri is s
Sebelum membahas jarak titik ke garis, kita ingat kembali beberapa
kenyataan yang telah dibahas pada seksi sebelumnya.
Garis Ax + By + C
1
= 0 dan Ax + By + C
2
= 0 haruslah dua garis yang sejajar
karena memberikan bentuk
y = –
B
A
x –
B
C
1
dan y = –
B
A
x –
B
C
2
(1)
untuk B = 0 dan mereka merepresentasikan dua garis vertikal jika B = 0.
Perhatikan bahwa kedua garis mempunyai kemiringan yang sama.
Selain itu jika diberikan garis Ax + By + C = 0 dan titik (x
1
, y
1
), maka garis
yang melalui (x
1
, y
1
) dan sejajar garis yang diberikan mempunyai persamaan
Ax + By – (Ax
1
+ By
1
) = 0 (2)
Juga garis Ax + By + C
1
= 0 dan Bx – Ay + C
2
= 0 adalah saling tegak lurus,
karena mereka memberikan bentuk

y = –
B
A
x –
B
C
1
dan y =
A
B
x –
B
C
2
(3)
jika A dan B = 0; dan memberikan garis horisontal dan garis vertikal jika A = 0 atau
B = 0. Perhatikan bahwa kemiringan kedua garis jika dikalikan hasilnya adalah –
1. Lebih lanjut,
Bx – Ay + (Bx
1
– Ay
1
) = 0 (4)
adalah garis yang memuat (x
1
, y
1
) dan tegak lurus Ax + By + C

= 0.
Sekarang misalkan diberikan garis l
1
÷ Ax + By + C = 0 dan titik P(x
1
, y
1
),
maka
jarak titik P ke garis l ditulis d(P, l) adalah panjang dari titik P ke
titik proyeksi tegak lurus titik tersebut di garis l.

Menurut (4) maka l
2
÷ Bx – Ay – (Bx
1
– Ay
1
) = 0 adalah garis yang tegak lurus
dengan garis l
1
dan melalui P(x
1
, y
1
) (lihat gambar 3.10). Misalkan kedua garis
l
1
dan l
2
berpotongan di titik Q maka koordinat titik Q adalah

|
|
.
|

\
|
+
÷ +
÷
+
+ ÷
÷
2 2
1
2
1
2 2
1 1
2
,
B A
y A ABx BC
B A
ABy x B AC
Q (5)
PQ adalah jarak titik P ke garis l. Dengan menggunakan rumus jarak, maka
panjang d(P, l) = PQ adalah
d(P, l) =
2
2 2
1
2
1
1
2
2 2
1 1
2
1
|
|
.
|

\
|
+
÷ +
+ +
|
|
.
|

\
|
+
+ ÷
+
B A
y A ABx BC
y
B A
ABy x B AC
x
=
2
2 2
1 1
2
2
2 2
1 1
2
|
|
.
|

\
|
+
+ +
+
|
|
.
|

\
|
+
+ +
B A
ABx BC y B
B A
ABy AC x A


=
( ) ( )
2
2 2
1 1
2
2 2
1 1
|
.
|

\
|
+
+ +
+ |
.
|

\
|
+
+ +
B A
C By Ax B
B A
C By Ax A

= ( )
2
2 2
1 1 2 2
|
.
|

\
|
+
+ +
+
B A
C By Ax
B A
=
( )
2 2
2
1 1
B A
C By Ax
+
+ +

d(P, l) =
2 2
1 1
B A
C By Ax
+ ±
+ +
=
2 2
1 1
B A
C By Ax
+
+ +
(6)
Tanda ± didepan tanda akar di penyebut dipilih sedemikian hingga jarak yang
dicari d(P, l) bernilai positif.
y


P(x
1
, y
1
)

d Bx – Ay – (Bx
1
– Ay
1
) = 0

Q
x

l ÷ Ax + By + C = 0
Gambar 3.10

Contoh 1:
Tentukan jarak titik (1, 4) ke garis 3x – 5y + 2 = 0.
Jawab:

d =
2 2
1 1
B A
C By Ax
+
+ +

=
2 2
) 5 ( 3
2 4 5 1 3
÷ +
+ · ÷ ·
=
34
15 ÷
=
34
15
.

Contoh 2:
Tentukan semua panjang garis tinggi dari segitiga dengan koordinat titik-titik
sudutnya A(1, –1), B(4, 6), dan C(–1, 7).
Jawab:

C
B



A
Gambar 3.11

Kita cari persamaan masing-masing garis sisi segitiga ABC.
Persamaan garis AB adalah

1 2
1
y y
y y
÷
÷
=
1 2
1
x x
x x
÷
÷


) 1 ( 6
) 1 (
÷ ÷
÷ ÷ y
=
1 4
1
÷
÷ x

7x – 3y – 10 = 0

Kemudian kita hitung jarak titik C(–1, 7) terhadap garis 7x – 3y – 10 = 0
Maka diperoleh
d(C, AB) =
2 2
1 1
B A
C By Ax
+
+ +

=
2 2
) 3 ( 7
10 7 3 ) 1 ( 7
÷ +
÷ · ÷ ÷ ·

=
58
38
..




You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->