BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka konsep Konsep adalah abstraksi dari suatu realitas agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak diteliti) (Nursalam, 2008). Kerangka konsep akan membantu penelitian menghubungkan hasil penemuan dengan teori. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka kejadian TB Paru diantaranya adalah pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, dan ekonomi. Bagan 3.1 kerangka konsep Variabel independen 1. Pendidikan variabel dependen 2. Pengetahuan 3. Sosial ekonomi kejadian penyakit TB paru 4. Pekerjaan B. Variabel 1. Variabel independen Variabel yang nilainya menentukan variabel lain. Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk diketahui hubungannya atau pengaruhnya terhadap variabel lain (Nursalam,
36
STIKes Faletehan

2003). Dalam penelitian ini adalah pendidikan, pengetahuan, ekonomi, pekerjaan. 2. Variabel dependen (terikat) Variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain. Dengan kata lain variabel terikat adalah faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel bebas (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini adalah tingginya angka kejadian penyakit TB Paru. C. Definisi konseptual 1. Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo, 2003). 2. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). 3. Pekerjaan dapat didefinisikan sebagai apa yang dilakukan (diperbuat atau dikerjakan).

2003). Ha 3 : ada hubungan antara pekerjaan dengan tingginya angka kejadian TB Paru dipuskesmas Labuan.Rendah (SDSLTP) . Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan maka hipotesis dalam penelitian ini antara lain: Ha 1 : ada hubungan antara pendidikan dengan tingginya angka kejadian TB paru dipuskesmas Labuan tahun 2011.4.Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam. Ha 2 : ada hubungan antara pengetahuan dengan tingginya angka kejadian TB Paru dipuskesmas Labuan. D.Tidak TB Paru Ordinal 2 Independen Tingkat pendidikan Jenjang yang dilalui seseorang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan Kuesioner 1. Ekonomi adalah kemampuan seseorang menyediakan kebutuhannya mulai dari kebutuhan primer sampai dengan kebutuhan sekunder. Menurut La Biondo-Wood dan Haber (1994) Hipotesis adalah suatu asumsi pernyataan tentang 37 STIKes Faletehan hubungan antara dua atau lebih variabel yang diharapkan bisa menjawab atau pernyataan dalam penelitian. Ha 4 : ada hubungan antara ekonomi dengan tingginya angka kejadian TB Paru dipuskesmas Labuan.1 Definisi Operasional N o Variable Definisi operasional Alat ukur Hasil ukur skala 1 Dependen Angka kejadian TB Paru Menunjukan jumlah kejadian dalam suatu kurun waktu Kuesioner 1. Tabel 3.TB Paru 2.

tidak bekerja 2.kurang(< 50 %) 2.baik (76100 %) Ordinal 4 Pekerjaan Sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mencari uang bagi seseorang Kuesioner 1.tinggi(> 650 rb/bln) .tinggi (SLTAPT) Ordinal 3 Tingkat pengetahuan Tingkat pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang diketahui dan dipahami oleh pasien tentang TB paru Kuesioner 1.2.rendah(< 650 rb/bln) 2.bekerja Ordinal 38 STIKes Faletehan N o Variabel Definisi operasional Alat ukur Hasil ukur Skala 5 Status ekonomi Pendapatan seseorang menyediakan kebutuhannya mulai dari kebutuhan primer sampai sekunder Kuesioner 1.cukup(5 6-75 %) 3.

Ordinal 39 STIKes Faletehan BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Populasi dan sampel 1. digunakan perhitungan menurut (Ariawan 1998) sebagai berikut : n= ()() ()() n= (1. Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 8 Februari 2012 sampai dengan tanggal 29 Februari 2012.96 2×0. Pada tahun 2010 dari bulan oktober sampai dengan bulan desember angka kejadian dipuskesmas Labuan tercatat suspek 138. Lokasi penelitian Penelitian dilakukan dipuskesmas Labuan. B.1 2× 138−1 + 1. Jumlah suspek TB Paru tahun 2010 berjumlah 138 orang.5 1−0. Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah menggunakan teknik Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak (Sugiyono. pasien yang BTA positif sebanyak 32 orang. Dalam menentukan jumlah sampel penelitian yang dibutuhkan. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmojo. dan juga menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi angka kejadian TB Paru. Lokasi dan Waktu Penelitian 1.5 n = 57 keterangan: n : jumlah sampel yang diperlukan N : jumlah populasi . Yang di terapi dengan FDC sebanyak 24 sisanya ada yang diterapi ada yang tidak. BTA negatif sebanyak 96 orang. Sampel Sampel adalah proses menyeleksi populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam. 2002). 2003). Hal ini adalah seluruh pasien yang 40 STIKes Faletehan berobat ke poli Paru Puskesmas Labuan. C. 2. 2007). Desain penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional yaitu penggabungan antara variabel independen dan variabel dependen untuk memperoleh suatu data yang lengkap dan dilakukan dengan cepat.96)2×0. 2.5 138 0.5 1−0.

Pengolahan Data Setelah semua data diperoleh maka dilakukan pengolahan data dengan tahapan sebagai berikut : 1. ditentukan pada 1. sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari puskesmas. Penulis memeriksa kembali kelengkapan jawaban dari responden. Maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisis.Z I-a/2 : standar deviasi normal. Koding data Pada tahapan ini dilakukan pemberian kode pada pertanyaan dalam kuesioner. dimana data primer adalah data yang diperoleh dengan kuesioner. . Responden diberikan kuesioner untuk diisi dan penulis berada didekat responden agar bila ada pertanyaan dari responden. 41 STIKes Faletehan D. E. 42 STIKes Faletehan 3. 2001). jelas. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat kita mengentray ke komputer (Hastono. 4. sehingga responden tinggal memilih jawaban yang sudah ada agar jawabannya lebih jelas dan terarah. kemudian kuesioner yang sudah diisi dikumpulkan pada hari yang sama untuk kemudian dilakukan perhitungan dan analisa data. Pengumpulan data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder. 2.5 % D : penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang diinginkan. dan konsisten. penulis langsung dapat menjelaskan. Prosesing Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar dan juga sudah melewati pengkodingan.96 yang sesuai dengan derajat kepercayaan 95 % P : ketetapan yaitu 0. Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan instrument berupa kuesioner teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah angket tertutup atau jenis kuesioner dimana jawabannya sudah dibuat oleh peneliti. relevan. Kegunaan koding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan mempercepat pada saat entry data. Editing data Pada editing dilakukan pengecekan isian formulir atau kuesioner apakah jawaban yang ada dikuesioner sudah lengkap. Cleaning Cleaning atau pembersihan merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dientry apakah terdapat kesalahan atau tidak.

2002). Uji validitas dilakukan terhadap instrumen pengetahuan dengan 15 item pertanyaan. pekerjaan. dari semua responden yang mengisi pertanyaan hasilnya valid semua.972. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi “produk moment” yang diolah dengan perangkat lunak melalui sistem komputerisasi. 2002). Untuk mengetahui apakah kuesioner yang kita susun tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur. dengan melihat nilai alpha pada nilai akhir output suatu instrumen dikatakan realibel bila nilai r alpha lebih besar dari r tabel. berarti semua item (pertanyaan) yang ada didalam kuesioner itu mengukur konsep yang kita ukur. status ekonomi dan pengetahuan didapat bahwa Jumlah r tabel 0. sedangkan jumlah r hasil yang didapat 0.F. Uji reabilitas dilakukan dengan menggunakan one shot atau sekali ukur.632. Pada penelitian ini uji reabilitasnya menggunakan sekali ukur (one shot). Uji validitas Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur pada yang diukur (Notoatmojo. maka hasil uji reliabel. Dengan kata lain reabilitas menunjukkan konsistensi dari suatu alat ukur dalam mengukur gejala yang sama. Uji validitas dan Reliabilitas 1. Maka perlu diuji dengan korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skor total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan itu mempunyai korelasi yang bermakna (contak validity). 43 STIKes Faletehan Yang rumusannya sebagai berikut : = (Σ ) − (Σ Σ ) [ Σ − (Σ ) Ι Σ − (Σ ) ] Keterangan : N = besar populasi X = pertanyaan Y = skor total XY = skor pertanyaan dikali skor total Bila r hitung > artinya variabel valid Bila r hitung < artinya variabel tidak valid 2. . Hasil penelitian uji reabilitas dari instrumen pendidikan. Uji validitas dilakukan di Puskesmas Menes pada tanggal 02 Februari 2012. Apabila kuesioner tersebut telah memiliki validitas kontak . Uji Reabilitas Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmodjo. Uji reabilitas dilakukan terhadap 15 item pertanyaan pengetahuan yang sudah valid.

Baik bila nilai total responden 100% b. dan analisa multivariat (Notoatmodjo. apabila jawaban responden menjawab salah diberi skor 0. Rumus chi squere (X2) yang digunakan adalah : X = Σ () . Analisa bivariat Analisa bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat yang diduga berhubungan atau berkolerasi (Notoatmodjo. Karena variabel yang dihubungkan bersifat kategorik makan uji statistik yang digunakan adalah uji chi squere (X2 dengan batas kemaknaan α = 0. 2008) : = x 100% keterangan: f = frekuensi x= jumlah yang didapat n= jumlah populasi Hasil ukur variabel pengetahuan terdiri dari tiga katagori yaitu : baik. Kurang baik bila nilai responden kurang dari 100% 2. 2002). selanjutnya dilakukan penjumlahan prosentase menggunakan rumus sebagai berikut (Notoatmodjo. c. 2002). pekerjaan. Analisa univariat Analisa ini dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. analisa bivariat. Analisa Data Analisa data dibagi menjadi tiga macam yaitu : analisa univariat. tingkat ekonomi. 2008 Baik : apabila didapat skor ≥ 76-100 % Cukup : apabila didapat skor ≥ 56-75 % Kurang : apabila didapat skor ≤ 55 % 45 STIKes Faletehan Untuk menghitung skor total dengan menggunakan rumus : total keseluruhan yang didapat x 100% jumlah aspek yang dinilai kemudian ditentukan katagori sebagai berikut : a. Dalam penelitian ini hanya dilakukan 2 analisa yaitu analisa univariat dan analisa bivariat. pendidikan. d. cukup dan kurang sesuai dengan standar kriteria objektif yang diadopsi dari . 2002). 1. b. Analisa data terhadap variabel pengetahuan menggunakan bentuk pilihan ganda (multipel choice) responden memilih salah satu (option) jawaban yang paling tepat dari empat pilihan. Hasilnya dimasukkan kedalam tabel tabulasi. jawaban a.05 apabila nilai p < α maka hasilnya tidak terdapat hubungan yang bermakna (Notoatmodjo.44 STIKes Faletehan G. pada umumnya pada analisa ini hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari hasil tiap pengetahuan. Nursalam.

p ≤ 0. yakni mulai tanggal 8 Februari 2012 sampai 29 Februari 2012 dengan jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 57 responden. Hasil Penelitian Penelitian ini diawali dengan melakukan uji instrumen terlebih dahulu pada kuesioner pendidikan. Hasil Analisis Univariat Analisis univariat yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel yang diteliti.05 menunjukkan hasil tidak bermakna / berhubungan (Hipotesi ditolak). Gambaran Pendidikan tentang Kejadian TB Paru Tabel 5. .1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan responden di Puskesmas Labuan Pandeglang Tahun 2012 Pendidikan Frekuensi % Rendah 39 68. meliputi variabel pendidikan tentang kejadian TB Paru. 47 STIKes Faletehan BAB V HASIL PENELITIAN A. p > 0. digunakan tingkat kepercayaan 95 % dimana nilai p pada tingkat kepercayaan 95% sebagai berikut : a.Dimana : X2 = nilai chi squere 0 = frekuensi observasi E = frekuensi harapan 46 STIKes Faletehan Hasil uji statistik adalah untuk mengetahui apakah keputusan uji Ha ditolak atau Ha diterima (gagal ditolak). b. Hasil data yang diperoleh dalam penelitian ini akan disajikan dalm bentuk analisis univariat dan bivariat. sebagian besar responden yaitu sebanyak 39 orang (68. pekerjaan tentang Kejadian TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi TB Paru di Puskesmas Labuan tahun 2012. pengetahuan yang telah dibuat dan dilanjutkan dengan melakukan penelitian untuk analisa univariat dan bivariat. tingkat pekerjaan. sosial ekonomi.4%) pendidikannya rendah. pengetahuan tentang kejadian TB paru. Penelitian ini dilakukan di ruang poli paru Puskesmas Labuan dalam jangka waktu kurang lebih 4 minggu.6 Total 57 100 48 STIKes Faletehan Berdasarkan tabel 5. Hasil analisis univariat akan disajikan dalam beberapa tabel berikut : 1.1 diketahui dari total responden 57 orang.05 menunjukkan hasil bermakna / berhubungan (hipotesis diterima). sosial ekonomi tentang kejaidian TB Paru. Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang berkunjung ke poli Paru.4 Tinggi 18 31. Dan untuk menguji kemaknaan hubungan. B.

6%) 3.7 Tinggi 15 26.0 Berdasarkan tabel 5.6 Bekerja 21 47.0 Berdasarkan tabel 5. Gambaran Status Sosial Ekonomi Tabel 5. lebih dari setengah responden yang tidak bekerja yaitu sebanyak 30 orang (52.6 Total 57 100.5 Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Kejadian TB Paru di Puskesmas Labuan Pandeglang tahun 2012 Hasil analisis dari tabel hubungan pendidikan dengan kejadian TB Paru. Sosial Ekonomi Frekuensi % Rendah 42 73.0 Berdasarkan tabel 5.4 diketahui dari total responden 57 orang. diketahui dari 57 orang penderita TB Paru yang pendidikannya rendah presentasinya lebih tinggi (66.5 dibawah ini. 1. pengetahuan. pekerjaan.4 %).4 Distribusi Pengetahuan responden di Puskesmas Labuan Pandeglang tahun 2012 Pengetahuan frekuensi % Cukup 35 61.2 Distribusi Frekuensi pekerjaan responden di Puskesmas Labuan Pandeglang Tahun 2011 Pekerjaan Frekuensi % Tidak Bekerja 30 52. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square (X2) yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel bebas yaitu pendidikan. 49 STIKes Faletehan 4. C.3 Distribusi Frekuensi Sosial Ekonomi responden di Puskesmas Labuan Pandeglang Tahun 2012. sebagian besar responden yaitu sebanyak 42 orang (73.2 diketahui dari total responden 57 orang.3 Total 57 100. dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 35 responden (61.7%) sosial ekonomi rendah.7 %) dibandingkan dengan yang pendidikannya . Gambaran Pekerjaan tentang Kejadian TB Paru Tabel 5.4 Baik 22 38.3 diketahui dari total responden 57 orang.2.4 Total 57 100. Hubungan antara Pendidikan dengan kejadian TB Paru Hasil uji chi square antara pendidikan dengan kejadian TB Paru dapat dilihat dari tabel 5. status ekonomi. 50 STIKes Faletehan Tabel 5. Gambaran Pengetahuan tentang Kejadian TB Paru Tabel 5.

0 56. menunjukkan bahwa yang tidak bekerja(53.6 dibawah ini. Berdasarkan hasil uji chi square diperoleh nilai p = 0. Pekerjaan Kejadian TB Total P value OR TB paru Tidak TB paru Tidak Bekerja 16 14 30 0.000 21.7% 100.1 39.7% 100.000.9 18.786 16.0% Total 32 25 57 . artinya responden yang pendidikannya rendah memiliki resiko 4 kali lebih banyak dibandingkan dengan responden yang pendidikannya tinggi.0 33.6 Hubungan pekerjaan dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Labuan Pandeglang Berdasarkan tabel 5.8 13.0 57.3% 46. yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejaadian TB Paru di Puskesmas Labuan tahun 2012. 2.0% 51 STIKes Faletehan Tabel 5. Pendidikan Kejadian TB Total Nilai p OR TB paru Tidak TB paru Rendah 26 13 39 0.038 4.855 0.3% 40.2 11.7% 100.3%) sedangkan yang bekerja (59.3% 66.3 %) presentasinya hampir sama.6 dapat diketahui bahwa dari 57 responden hubungan pekerjaan dengan kejadian TB Paru.7% 33.0% Bekerja 16 11 27 15.0 59.0 66.1 7.038 yang berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Labuan tahun 2012.9% 100. Berdasarkan hasil uji chesquare didapatkan nilai p=0.0 53.tinggi. Hubungan Pekerjaan dengan Kejadian TB Paru Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square antara pekerjaan dengan kejadian TB Paru dapat dilihat pada tabel 5.0% Tinggi 6 12 18 10. Hasil uji statistik lainnya diperoleh nilai OR (Odd Ratio) = 4.0 25.9 17.2 30.8 27.0% Total 32 25 57 32.855.1% 43.3% 100.

500 artinya responden yang sosial ekonomi rendah memiliki resiko menderita TB Paru sebesar 5.0 56.6 18.0 66. Pengetahuan . Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian TB Paru Tabel 5.0% 52 STIKes Faletehan 3.0% Total 32 25 57 32.500 kali lebih banyak dibandingkan dengan responden yang sosial ekonomi tinggi. Hasil uji chi square didapat nilai p = 0.0 25.0 57.500 23.9% 100.8 Hubungan Pengetahuan dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Labuan Pandeglang tahun 2012 Hasil analisis tabel hubungan pengetahuan dengan kejadian TB Paru.3% 100. Hasil uji statistik menggunakan chi square didapat nilai p = 0.4 42.4 6.32.4 %) dibandingkan dengan pengetahuan yang baik. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Kejadian TB Paru Tabel 5.7 %) dibanding dengan status ekonominya tinggi.0% 53 STIKes Faletehan 4.0 57.017 yang berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara social ekonomi dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Labuan.0 26.3% 100. menunjukkan bahwa yang pengetahuannya cukup prosentasinya lebih tinggi (71.017 5.0% Tinggi 4 11 15 8.6 15.1% 43. menunjukkan bahwa yang status ekonominya rendah prosentasinya lebih tinggi (66.9% 100.0 56.7 Hubungan sosial ekonomi dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Labuan Pandeglang Hasil analisis tabel diatas hubungan sosial ekonomi dengan kejadian TB Paru. Hasil uji statistik lainnya diperoleh nilai OR (Odd Ratio) = 5.7% 33.357 artinya responden yang memiliki pengetahuan cukup memiliki resiko menderita TB Paru sebesar 5.0 25.1% 43.008 yang berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Labuan tahun 2012.7% 73. Hasil uji statistik lainnya diperoleh nilai OR (Odd Ratio) = 5.357 lebih banyak dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik. Sosial Ekonomi Kejadian TB Total Nilai p OR TB paru Tidak TB paru Rendah 28 14 42 0.

Hal ini karena faktor ekonomi yakni sebagian besar responden yang saya teliti mereka berpenghasilan rendah sehingga bagi mereka tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya sehingga mereka memilih untuk berdiam diri di rumah saja.0 31.4 9. sosial ekonomi.537 19. 2007). dan variabel dependen adalah kejadian TB Paru.0% 54 STIKes Faletehan BAB VI PEMBAHASAN A. 1.0% Baik 7 15 22 12.0 57. maka peneliti akan menjabarkan pembahasan yang mengacu pada tujuan khusus dari penelitian ini.0% Total 32 25 57 32.008 5. pekerjaan.6% 100. 55 STIKes Faletehan .0 71.9% 100.8% 68.0 56.2% 100. pekerjaan.Kejadian TB Total Nilai p OR TB paru Tidak TB paru Cukup 25 10 35 0.6 22. Kondisi demikian dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti pendidikan penderita yang cukup tinggi paparan informasi yang baik.4% 28. sedangkan yang pendidikan tinggi sebanyak 18 orang (31. Sehingga dapat diketahui bahwa responden yang lebih banyak adalah yang pendidikannya rendah hal tersebut mendeskripsikan bahwa pemahaman penderita TB paru tentang berbagai hal yang berhubungan dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru kurang baik.6 15. pengetahuan penderita TB paru di Puskesmas Labuan tahun 2012 dimana variabel independen adalah pendidikan.4 %). Pembahasan Hasil Penelitian setelah peneliti mendapatkan hasil penelitian dan melalui analisis univariat dan bivariat.1% 43. Tujuan khusus penelitian ini adalah diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru antara pendidikan. Kurangnya informasi disebabkan oleh pendidikan yang rendah karena pendidikan merupakan saran informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan penderita khususnya dalam hal TB Paru. dan pengetahuan.4 35.6 %).0 25. Pendidikan Berdasarkan hasil analisa bivariat didapat bahwa dari 57 orang menderita TB paru dengan pendidikan yang rendah sebanyak 39 orang (68. sehingga hal tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengetahuan penderita TB Paru (Notoatmodjo. sosial ekonomi.

paparan informasi yang baik tentang TB Paru. 2003) Pendidikan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penularan penyakit TB Paru. pekerjaan dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Seseorang pekerja mungkin mengalami kesulitan untuk memahami pentingnya penyakit atau cidera yang berpotensi menjadi serius . Sosial Ekonomi Penderita TB Paru Ekonomi adalah kemampuan seseorang menyediakan kebutuhannya mulai dari kebutuhan primer sampai sekunder. seringkali 20 atau 30 tahun setelah terpajan pada pada bahaya. Makin buruk keadaan sosial ekonomi masyarakat sehingga makin jelek pula gizi dan hygiene lingkunganya yang akan menyebabkan rendahnya daya tahan tubuh mereka sehingga memudahkan terjadinya penyakit.7 %). Masyarakat sibuk dengan kegiatan atau pekerjaan sehari-hari akan mempunyai waktu yang lebih sedikit untuk memperoleh informasi. kurang gizi. dari ini terjadi setelah orang . 2009). 2004). 2. Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan. Pekerjaan Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau pencarian. Sehingga tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan tentang penyakit TB Paru diantaranya mengenai faktor-faktor mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan TB Paru sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk prilaku hidup bersih dan sehat ( Umar Fahmi. 4. tingkat ekonomi sebuah keluarga akan mempengaruhi derajat kesehatan seseorang. Faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya TB Paru adalah faktor lingkungan rumah yang tidak bersih. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi sikap seseorang antara lain adalah pendidikan penderita TB Paru.Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu. kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh perilaku pendidikan (Notoatmodjo. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang memiliki resiko terkena TB Paru adalah yang sosial ekonominya rendah. keadaan sanitasi lingkungan gizi.4 %) Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang lebih banyak resiko terkena TB Paru adalah yang tidak bekerja. (George pickett. Pengetahuan Penderita TB Paru Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. Berdasarkan hasil analisa bivariat didapat bahwa dari 57 orang menderita TB Paru yang sosial ekonominya rendah sebanyak 42 orang (73.6 %).masalah penyakit cenderung terjadi kemudian. Berdasarkan hasil analisa bivariat didapat bahwa dari 57 orang penderita TB paru dengan tidak bekerja sebanyak 30 orang (52. 56 STIKes Faletehan 3. sedangkan yang sosial ekonominya tinggi sebanyak 15 orang (26.3%). yang bekerja 27 orang (47.

Keterkaitan ini dibuktikan melalui hasil uji chi square pada alpha 0. beda hal 58 . rasa dan raba sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga ( Notoatmodjo. Berdasarkan hasil analisa bivariat didapat bahwa dari 57 orang penderita TB paru dengan pengetahuan yang cukup sebanyak 35 orang (61. Seseorang yang bekerja dilapangan atau diluar gedung akan banyak kontak dengan benda-benda yang bersifat polusi.038. Semakin banyak informasi yang didapat maka semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh. Analisis Bivariat 1.melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.000.. artinya penderita TB Paru yang pendidikannya rendah. Hasil uji statistik lainnya diperoleh nilai OR (Odd Ratio) = 4.05 diperoleh nilai p sebesar 0.6 %). 2. 57 STIKes Faletehan A. bila dibandingkan dengan responden yang pendidikannya tinggi hanya (31. Pengetahuan merupakan motif atau penggerak seseorang untuk berprilaku atau melakukan suatu tindakan dimana subjek berprilaku sesuai dengan pengetahuan dan kesadaran yang dimilikinya. akan berpeluang memiliki resiko 4 kali terkena TB Paru dibandingkan dengan penderita TB Paru yang pendidikannya tinggi. Hubungan Pekerjaan dengan kejadian TB Paru Pekerjaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sesuatu yang dikerjakan yang dapat menghasilkan uang. pendengaran.4 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang pendidikannya rendah lebih banyak (68. Bahwa dapat disimpulkan yang memiliki resiko terkena TB Paru adalah yang pengetahuannya cukup. hal ini seiring dengan peningkatan pengetahuan yang dimiliki. sehingga dapat meningkatkan pendidikan penderita TB Paru.6 %). Adanya pendidikan kesehatan yang diberikan pihak puskesmas berupa penyuluhan atau informasi tentang TB Paru yang disosialisasikan kepada penderita TB Paru pada saat konsultasi dengan dokter Puskesmas atau pemegang program TB Paru. sedangkan pengetahuan yang baik 22 orang (38. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula pengetahuannya. penciuman. Hasil uji statistik diperoleh tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kejadian TB Paru. berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kejadian TB Paru. Informasi yang didapatkan sebagai akibat dari hasil interaksi sosial yang akan berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang. Hubungan Pendidikan dengan kejadian TB Paru Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan yang kurang akan menghambat pembentukan kesadaran seseorang untuk bertindak. 2003).4 %) yang berpengetahuan kurang. karena kurangnya pengetahuan yang dimilikinya. penginderaan terjadi melalui panca indra penglihatan.

maka P < alpha. Hasil penelitian mnenunjukan bahwa yang tidak bekerja (52.3 %). seorang perawat bertanggung jawab untuk meningkatkan pengetahuan tentang TB Paru. dimana alpha = 0. Hubungan antara kemiskinan dengan TBC bersifat timbale balik.855 . hal ini akan berpengaruh terhadap informasi dan pengetahuan yang dimilikinya. memberikan penyuluhan langsung tentang TB Paru dan pencegahannya. Hubungan Sosial Ekonomi Rendah dengan Kejadian TB Paru Hasil uji statistik diperoleh sosial ekonomi rendah sebanyak (73. sedangkan orang yang bekerja memungkinkan menerima banyak informasi karena selalu berinteraksi dengan banyak orang. Dimana responden yang tidak bekerja memiliki pengetahuan yang kurang hal ini dibuktikan pula melalui uji chisquare diperoleh P = 0.05 artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan kejadian paru. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan pengetahuan yang tidak bekerja dengan yang bekerja.STIKes Faletehan nya dengan orang yang bekerja didalam gedung mereka terhindar dari polusi. pekerjaan dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Dari hasil tersebut jelas bahwa penderita yang tidak bekerja mempunyai pengetahuan kurang tentang TB Paru jika dibandingkan dengan penderita yang bekerja. hal ini akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.4%). Menurut Makrum dalam Nursalam (2001). karena orang yang tidak bekerja kurang banyak berinteraksi dengan dunia luar atau interaksi social. Sosial ekonomi yang rendah lebih beresiko terkena TB Paru dari pada sosial ekonomi tinggi. Terdapat hubungan yang bermakna antara sosial ekonomi dengan kejadian TB Paru. TBC merupakan penyebab kemiskinan dan . Disamping itu orang yang bekerja (berpenghasilan) termotivasi berbuat sesuatu karena ditunjang oleh kemampuan ekonominya. khususnya dalam memelihara kesehatan.7 %). 59 STIKes Faletehan 3. Makin buruk keadaan sosial ekonomi masyarakat sehingga makin jelek pula gizi dan hygiene lingkungannya yang akan menyebabkan rendahnya daya tahan tubuh mereka sehingga memudahkan terjadinya penyakit.6%) berkecenderungan memiliki pengetahuan yang kurang dibandingkan dengan yang bekerja sebesar (47. Maka untuk menyikapi hal tersebut. misalnya memberikan pendidikan kepada penderita tentang cara agar tidak terjadi penularan TB Paru. WHO (2003) menyebutkan 90 % penderita TBC di dunia menyerang kelompok dengan sosial ekonomi rendah atau miskin. keadaan sanitasi lingkungan gizi. Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan. sedangkan sosial ekonomi tinggi sebanyak (26. seseorang yang tidak bekerja cenderung mendapatkan informasi dari luar sebagai contoh media maupun orang lain.

Untuk meminimalisir keterbatasan tersebut diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang pentingnya hasil penelitian ini. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui pendengaran dapat diperoleh melalui kegiatan kesehatan yang dijalani penderita dengan mendengarkan berita di televisi. untuk itu selama penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan antara lain: Alat pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner sehingga memungkinkan terjadi kesalahan persepsi responden terhadap pertanyaan yang ada dalam kuesioner pada saat pengisiannya dank arena jawaban tergantung dari kejujuran responden. Hubungan pengetahuan dengan kejadian TB Paru Hasil uji statistik diperoleh pengetahuan yang cukup sebanyak (61. karena informasi yang diperoleh juga dapat menambah pengetahuan yang dimiliki dan akan berpengaruh pada tingkat pengetahuan. namun dapat merupakan penyebab tidak langsung se 4.4 %) sedangkan yang pengetahuannya baik sebanyak (38.karena miskin maka manusia menderita TBC. 61 STIKes Faletehan BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. takut akan disebarluaskannya jawaban mereka. dan adanya jaminan kerahasiaan atas jawaban yang diberikan. Menurut Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan diperoleh sebagian besar melalui penglihatan dan pendengaran.6 %). Banyak penderita TB Paru yang menyalah persepsikan tujuan penelitian ini. Keterbatasan Penelitian Penelitian tidak terlepas dari segi kelemahan maupun kelebihan. Sosial ekonomi itu sendiri. Semakin banyak informasi yang didapat maka semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh. dari 4 minggu tersebut hanya 4 kali dilakukan penelitian karena jadwal poli paru di puskesmas Labuan hanya 1 minggu sekali. Setelah saya melakukan penelitian kurang lebih 4 minggu masih banyak hal-hal atau kendala-kendala dalam penelitian yang saya dapatkan diantaranya waktu penelitian yang sangat terbatas. Kesimpulan . Dengan demikian kesalahan persepsi dapat dihindari. Informasi yang didapatkan sebagai akibat dari hasil interaksi sosial yang akan berpengaruh terhadap 60 STIKes Faletehan pengetahuan seseorang. mungkin tidak hanya berhubungan secara langsung. terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian TB Paru. sehingga apabila ada pertanyaan yang tidak jelas atau tidak mengerti dapat langsung ditanyakan pada peneliti. Pengetahuan yang diperoleh melalui penglihatan dapat dilakukan dengan membaca dari media cetak yang beredar di masyarakat dan bisa juga diperoleh dari media masa seperti televisi. maka pada saat pengisian kuesioner didampingi peneliti. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangannya. B.

pihak puskesmas dapat memberikan informasi yang jelas tentang TB Paru pada pasien melalui konseling individu maupun melalui pemasangan brosur atau leaflet tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru.4%).6%). 2. Respon dengan kerja maka dapat diambil kesimpulan TB paru sebagai berikut : 1. B. 3.855). Sehingga dapat membantu memberikan konsultasi yang baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru. 5. c.7%). Meningkatkan kolaborasi dengan cara saling memberi masukan antara dokter dengan pemegang program. Bagi Puskesmas Labuan a. Dengan cara memberikan informasi tentang TB Paru secara jelas dan dimengerti. Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat juga sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan sikap positif pasien terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru. PromKes dan kader PMO. Saran 1. 2. 63 .008). Tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pekerjaan dengan kejadian TB paru di puskesmas Labuan p(0.Setelah dilakukan penelitian terhadap pendidikan. 3. Untuk meningkatkan pengetahuan pasien. 4.4 %). 62 STIKes Faletehan b. Lebih dari setengah responden yang tidak memiliki pekerjaan dengan kejadian TB paru sebanyak 30 orang (52. status ekonomi. Sebagian besar responden yang memiliki pendidikan rendah dengan kejadian TB paru sebanyak 39 orang (68. Sebagian besar responden yang memiliki status ekonomi rendah dengan kejadian TB paru sebanyak 42 orang (73. Adanya hubungan yang bermakna antara status sosial ekonomi dengan kejadian TB paru di puskesmas Labuan p(0. Adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian TB paru di puskesmas Labuan p(0. 8. 6. Sebagian besar responden yang memiliki pengetahuan cukup dengan kejadian TB paru sebanyak 35 orang (61. Adanya hubungan yang bermakna antara tingkan pendidikan dengan kejadian TB paru di puskesmas Labuan p(0. 7.038).17). Bagi Peneliti Perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut tantang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru dengan menggunakan metode observasi sehingga peneliti lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman. pekerjaan. Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan terhadap pengembangan program peningkatan kualitas penelitian dan bahan referensi bagi peneliti lainnya.

Hastono. Jakarta : Rineka Cipta. __________ 2007. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI. _______ 2007. ______________ 2005. Sugiono. Sutanto P. Jakarta. 2002. Jakarta. Jakarta Rineka Cipta . Menejemen Penyakit berbasis Wilayah. __________ 2008. Jakarta. _______________. Jakarta : EGC. Brunner & Suddarth. tesis. Jakarta: Salemba Media Notoatmodjo Soekidjo.STIKes Faletehan DAFTAR PUSTAKA Ahmadi Fahmi Umar. . 2007. 2007. 2003. Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Statistik untuk Penelitian. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta 64 STIKes Faletehan Pickett George. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Salemba Medika. Sudoyo Aru W. 2009. Arikunto S. edisi Revisi V. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : EGC. 2004. dan instrumen penelitian keperawatan. Departemen Kesehatan RI. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan : pedoman skripsi. Jakarta : Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Jakarta : FKM UI. 2001. Identitas semua responden dan informasi yang diperoleh dalam penelitian ini akan dijamin kerahasiaannya dan menjadi tanggung jawab saya sebagai peneliti apabila informasi yang diberikan merugikan responden dikemudian hari. 2002. analisa data. Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Aplikasi dalam praktek Keperawatan Profesional edisi 2. Ariawan. Besar dan Metode Sampel pada Penelitian Kesehatan. 2001. Kesehatan Masyarakat Administrasi dan Praktek. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Nursalam. Metodologi penelitian kesehatan. Pedoman Penanggulangan Tuberculosis edisi ke-2. Bandung : CV Alpa Beta. Jakarta : FKM UI. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Metodologi Riset Keperawatan. Semua aspek dalam penelitian ini akan didiskusikan dengan ahlinya dari Program Studi Ilmu Keperawatan Serang. 65 STIKes Faletehan LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Leni Suliawati NIM : 1010032024 Adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faletehan Serang yang sedang melakukan penelitian mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi angka kejadian TB paru di Puskesmas Labuan tahun 2012. 1998. Analisis data kesehatan .2007. 2007.

Serang. Jika responden memutuskan untuk memundurkan diri dari penelitian ini.Responden dapat mengundurkan diri dari penelitian ini kapan saja tanpa paksaan apapun. Informasi yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan bahan atau data yang akan bermanfaat bagi pengembangan Ilmu Keperawatan dan akan dipublikasikan dalam bentuk skripsi. Atas kesediaan saudara serta kerjasama saya ucapkan terima kasih. Semua data yang diperoleh dalam penelitian ini tidak akan disalahgunakan tanpa seizin responden. Februari 2012 Leni Suliawati .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.