P. 1
Hukum Pidana

Hukum Pidana

|Views: 496|Likes:
Published by M Yafi Zhafran

More info:

Published by: M Yafi Zhafran on May 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2014

pdf

text

original

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI MARKAS BESAR KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

HUKUM PIDANA

1.

Pengantar

Hukum Pidana bukan hal yang baru bagi para siswa secapa polri, karena sudah memperolehnya pada saat pendidikan di secaba polri, bahkan diantara para siswa sudah menjadi sahabat dalam praktek dilapangan, misal yang bertugas di Reserse, Lalu lintas, Provos dsb, bagi para siswa yang selama ini belum dapat mempraktekan bukan berarti melupakan hukum pidana. Sedangkan di secapa polri materi hukum pidana selain untuk mengingat kembali juga untuk memperoleh masukan dari para siswa sejalan dengan perkembangan masyarakat dan teknologi modern, bagaimana pelaksanaan / penerapan hukum pidana dilapangan, apakah ditemukan hal-hal yang tidak dapat di akomudir hukum pidana, mengingat hukum pidana merupakan warisan kolonial Belanda. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan teknologi dewasa ini para siswa dan penyaji dapat berbagi pengalaman, para siswa memiliki pengalaman praktek dilapangan dalam aplikasi perundang-undangan dan penyaji memiliki pengalaman secara teoritis dengan demikian timbul komunikasi dua arah untuk saling mengisi. Naskah materi bahan pelajaran hukum pidana ini disusun dalam bentuk modul sebagaimana dimaksud dengan surat perintah Kalemdiklat Polri No. Pol. : Sprin / 06 / I /2005 tanggal 7 Januari 2005, tentang Peningkatan kualitas Gadik Secapa Lemdiklat Polri yang berpangkat Pama sampai Pamen untuk mengikuti pelatihan pembuatan Hanjar berbentuk Modul dan pengoperasionalannya,

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

1

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

dengan harapan baik penyaji maupun para siswa mudah mempelajarinya. Naskah sederhana ini sudah barang tentu masih banyak kekurangannya, penyusun dengan tulus mengharapkan, kritik atau tanggapan untuk penyempurnaan naskah ini. mudah-mudahan ada manfaatnya untuk para siswa dan penyusun sendiri. 2. Standar Kompetensi

Memahami dan mengerti tentang pengertian Hukum Pidana ,sejarah Hukum pidana, kedudukan Hukum Pidana, azas-azas yang membatasi berlakunya Hukum Pidana, pengertian dasar tentang perbuatan yang dapat dihukum, macam-macam delict ,macam-macam vonis dan hukuman, kesengajaan , kelalaian dan pertanggung jawaban dalam hukum pidana , tempat dan waktu terjadinya tindak pidana, pengertian perihal melawan hukum, sifat tidak berlaku surut hukum pidana kita ajaran kausalitas, penghapusan, pengurangan dan penambahan hukuman, pokokpokok hukum pidana, kejahatan terhadap keamanan negara, kejahatan terhadap martabat presiden dan wakil presiden, kejahatan terhadap orang dan barang, kejahatan terhadap kekuasaan umum, sumpah palsu dan keterangan palsu sehingga dapat membantu para calon perwira dalam menyelesaikan perkara yang dihadapi dalam melaksanakan tugas dilapangan nantinya.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

2

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BAB I KETENTUAN UMUM

Kompetensi dasar Memahami dan mengerti tentang pengertian Hukum Pidana , sejarah Hukum pidana, kedudukan Hukum Pidana, azasazas yang membatasi berlakunya Hukum Pidana. Indikator hasil belajar Setelah menyelesaikan Bab I diharapkan Siswa mampu : 1. Menjelaskan pengertian Hukum Pidana 2. Menjelaskan sejarah Hukum Pidana 3. Menjelaskan kedudukan Hukum Pidana 4. Menjelaskan Azas-azas yang membetasi berlakunya Hukum Pidana

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

3

Menentukan kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang tlah diancamakan 3. dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Pengertian Hukum menurut R. perlu diketahui terlebih dahulu apakah yang diartikan Hukum dan apakah Hukum Pidana itu. apabila ada orang yang melakukan perbuatan yang dilarang ia diancam dengan pidana tertentu. SH dalam bukunya yang berjudul “ Azas-azas Hukum Pidana “ antara lain beliau berpendapat sebagai berikut : Hukum Pidana adalah bagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku disuatu Negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk : 1. sehingga dapat tercapai suatu pergaulan hidup dalam masyarakat itu yang tertib dan adil. Pengertian Hukum Pidana Menurut Prof Moelyatno. yang dilarang. bahwa meskipun orang telah melakukan tindak pidana sepeti tersebut diatas tetapi menurut bunyi alinea dua tindak pidana tersebut masih harus ditentukan bahwa perbuatannya dapat dipidana atau tidak. Peraturan umum dan Delikdelik khusus sebagai berikut : Hukum adalah kumpulan peraturan. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang telah melanggar larangan tersebut. 2. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 4 .Soesilo dalam bukunya yang berjudul Pokok-pokok Hukum Pidana.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1. Dalam pengertian tersebut pada alinea satu dinyatakan . jika melanggar atau mengabaikan peraturan-peraturan itu . PENGERTIAN HUKUM PIDANA Sebelum mempelajari Hukum Pidana. Menentukan perbuatan-pebuatan mana yang tidak boleh dilakukan.peraturan yang harus ditaati oleh semua orang didalam suatu masyarakat dengan ancaman harus mengganti kerugian atau mendapat pidana.

hukum tata Negara . golongan yang berbeda. antara badan atau lembaga Negara yang satu dengan yang lain. SEJARAH SINGKAT HUKUM PIDANA YANG BERLAKU DI INDONESIA Kitab Undang-undang Hukum Pidana kita yang berlaku sekarang ini merupakan warisan peninggalan bangsa Belanda. Sebaliknya Hukum Privat mengatur hukum perorangan atau mengatur hubungan antara perorangan / individual. dimana hukum pidana adat ini sebagian besar merupakan hukum tak tertulis dan berlaku dalam isi. Hukum tata pemerintah/Hukum Administrasi Negara. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 5 . Hukum Dagang. 2. Hukum Privat ialah Hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang yang lain sebagai anggota masyarakat. dan terjemahan dari KUHP Belanda yang disebut “ Wetboek Van Strafrecht “ Adapun riwayat / sejarah singkat perkembangan hukum pidana yang berlaku di Indonesi adalah sebagai berikut : Fase pertama Sebelum Belanda masuk kewilayah Indonesia. pada masa itu dalam bidang kepidanaan yang ada hanyalah hukum pidana adat .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Jika dilihat dari aspek penggolongan hukum menurut isinya terbagi 2 jenis yaitu : a. Dengan demikian Hukum Pidana digolongkan masuk jenis Hukum Publik karena mengatur hubungan antara Negara dan perorangan atau mengatur kepentingan umum. dengan menitik beratkan pada kepentingan masyarakat atau Negara. Yang termasuk dalam hukum Publik antara lain : Hukum Pidana . tempat. dan menitik beratkan pada kepentingan perorangan yang berifat pribadi. Hukum Publik b. Yang termasuk dalam hukum Sipil ( Privat ) antara lain : Hukum Perdata. Hukm Privat Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang dengan Negara .

China dan sebagainya ) yang termuat dalam Wetboek Van Strafrecht. maka di Negeri kita terjadilah dualisme hukum Pidana ( Zaman VOC ). Fase Ketiga Pada tahun 1915 diumumkan adanya KUHP yang baru dan KUHP tersebut baru berlaku pada tanggal 1 Januari 1918 bagi semua penduduk di Indonesia dengan menghapus kedua KUHP yang telah di sebukan dalam tahap 2 diatas ( Zaman Hindia Belanda ). hanya saja untuk kepentingan-kepentingan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 6 . 2) Hukum Pidana yang berlaku bagi orang-orang Pribumi Indoensia dan golongan Timur Asing ( Arab . tetapi sudah bersumber langsung ( Merupakan turunan ) dari KUHP Nasional Belanda yang telah ada sejak tahun 1866 melalui beberapa perubahan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pada waktu itu hanya sebagian kecil saja hukum pidana adat yang sudah tertulis. tambahan / penyelarasannya untuk diperlakukan di Indonesia. pada tanggal 8 Maret 1942 Jepang ke Indonesia. Disamping itu pengaruh hukum pidana romawi pun masih terasa besar dalam tahap ini. setelah berhasil mengalahkan Belanda. yakni adanya deferensi atau pembedaan perlakuan antara dua hukum pidana yaitu : 1) Hukum pidana yang berlaku bagi orang-orang Belanda dan orang . Kedua macam hukum pidana diatas selenggarakan oleh Pemerintah Balanda dengan bersumber pada hukum Pidana Perancis yang lahir pada Napoleon Bonaparte. yaitu Wet Boek Van Strafrecht Voor de Eropeanen. Fase kedua Setelah belanda masuk ke Indonesia. pada waktu itu WeetVoor Nederlandsche Indie 1918 masih tetap berlaku. Wet Voor Nederlandsche Indie / KUHP 1918 ini bukan lagi merupakan turunan dari Code Venal Perancis sebagaimana sebelumnbya. Fase ke empat Zaman Pendudukan jepang. dan berlaku secara local/kedaerahan didalam wilayah kerajaan-kerajaan.orang Eropa lainnya yang berada di Nusantara. India .

Fase kelima Zaman Kemerdekaan. Jadi sejak saat itu Hukum Pidana yang berlaku di Indoensia ialah Wet Voor Nederlandsche Indie dan ketentuan-ketentuan Hukum Pidana Jepang. Melalui Agresi – agresi Militer dan berbagai terornya untuk sementara waktu Belanda berhasil menduduki Indonesia dan kembali dengan membawa serta Hukum Pidana yang terdahulu. pada tanggal 17 Agustus 1945. Fase keenam Dengan adanya UU no 1 tahun 1946 di tetapkan bahwa Hukum Pidana yang berlaku bagi Indonesia adalah Hukum Pidana yang termuat dalam WVS Voor Nederlandsche Indie tahun 1918 saja ( tanpa ketentuan . KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 7 . yakni dengan adanya WVS Voor Nederlandsche Indie ( 569 Pasal dan WVS Voor Indonesia ( 570 pasal ) Fase kedelapan Dualisme Hukum berkahir dengan di keluarkannya UU No 73 tahun 1958 yang memperkuat UU No 1 tahun 1946 yang pada dasarnya menetapkan bahwa Hukum Pidana yang berlaku bagi seluruh Penduduk Indonesia Ialah Hukum Pidana yang termuat dalam WVS Voor Nederlandsche Indie (569 pasal) atau dengan kata lain : Hukum Pidana yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918 dan bukan WVS Voor Indonesia yang berisi 570 pasal itu. Jepang mengeluarkan juga maklumat maklumat yang memuat ketentuan Pidana. Pasal II aturan peralihan UUD 1945 yang mulai berlaku pada tanggal 18 Agustus 1945 mengatakan : “ segala badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang Undang Dasar ini “. Akibatnya kembali adanya Dualisme Hukum . Fase ketujuh Setelah Indoensia merdeka ternyata Belanda mencoba untuk menjajah kita kembali.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI pemerintahannya. tetapi dengan nama yang telah di ubah yakni WVS Voor Indonesia dengan isi 570 Pasal ( Melalui berbagai penambahan dan pemberatan Hukuman ). sehingga Unifikasi Hukum kita terwujud kembali.ketentuan Pidana Jepang ).

dan unsurunsur itu mempunyai hubungan timbal balik dengan lingkungannya. tidak menunjukan Kesatuan yang dapat di lihat. KEDUDUKAN HUKUM PIDANA DALAM SISTEM HUKUM Pengertian system Hukum : Sistem Hukum menurut pendapat Prof. Jadi jika terjadi Kontradiksi akan di selesaikan oleh system itu sendiri. yang menyatakan bahwa tata Hukum itu sendiri tidak lengkap. Hukum yang merupakan suatu system tersusun atas sejumlah bagian yang masing-masing juga merupakan system yang di namakan Sub Sistem. maka WVS Voor Nederlandsche Indie ( 569 Pasal ) inilah yang akhirnya di terjemahkan menjadi kitab Undang–undang Hukum Pidana ( KUHP ) kita sampai saat ini. Jadi tegasnya system Hukum itu bukan hanya sekedar kumpulan peraturan . maka dalam system Hukum positif Indonesia tersebut akan terdapat Sistem Hukum Perdata. Untuk mencapai tujuan Kesatuan itu diperlukan kerja sama antara unsur-unsur tersebut. Sistem Hukum Pidana. sehingga tidak di biarkan berlarut. Sistem Hukum Tata Negara dan lain – lain yang satu sama saling berbeda. oleh karenanya Sistem Hukum adalah system terbuka yang selalu membutuhkan masukan untuk penyempurnaan.peraturan Hukum itu saling berkaitan dan tidak boleh terjadi konflik atau kontradiksi di dalamnya. Scolten. tetapi bersamasama mewujudkan suatu kesatuan yang utuh.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Dengan demikian . Sistem hukum merupakan system abstrak dan terbuka artinya bahwa system Hukum itu terdiri dari unsur-unsur yang tidak konkrit. Sistem Hukum Anglo Sexon (Anglo Amerika) dan system Hukum Eropa Kontinental. SH adalah kesatuan utuh dari tatanan – tatanan yang terdiri dari bagian -bagian atau unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan kait-mengkait secara erat. Sudikno metrokusumo. Jika kita ambil contoh system Hukum Indonesia. serta unsure-unsur lain yang tidak termasuk dalam system mempunyai pengaruh terhdap unsur-unsur dalam system. 3. 1) Sistem Hukum Anglo Sexon (Anglo Amerika) Sistem Hukum Anglo sexon mulai berkembang di Inggris pada abad XI yang di sebut sebagai system” Common Law “ dan system “ Unwritten Law “ (Tidak tertulis walaupun di sebut Unwritten tidak KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 8 .

Melalui putusan-putusan hakim (Judicial Decisioans) yang mewujudkan kepastian Hukum. yang di perintahkan oleh Kaisar Justianus pada abad VI yang kemudian disebut “ Corpus Juris Civilis “ Prinsip-prinsip Hukum yang terdapat didalam Corpus Julis Civilis dijadikan dasar perumusan dan Kodivikasi Hukum di Negara -negara Eropa seperti: Jerman. maka system Hukum Eropa Continental di bagi 2 ( Dua ) golongan Hukum yaitu : a. 3. Hukum Administrasi Negara 3. Hukum Dagang. yang termasuk di dalamnya : 1. mereka dibentuk menjadi Kaidah yang meningkat umum. yang termasuk di dalamnya : 1. Amerika latin termasuk Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Hukum Publik antar Negara ( Traktat ) dll b. Belanda. Hukum Privat . Italia. Prinsip Utama yang menjadi dasar system Hukum eropa CONTINENTAL adalah “ Hukum memperoleh kekuatan mengikat karena di wujudkan dalam peraturan-peraturan yang berbentuk Undang-undang dan tersusun sistematika di dalam Kodifikasi dan Kofilasi tertentu. Hukum Sipil (Hukum Perdata dan Acara Perdata) 2. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 9 . 2) Sistem Hukum Eropa Continental Sistem Hukum ini berkembang di Negara-negara daratan eropa dan sering di sebut sebagai “ Civil Law “. Hukum Publik. Prinsip ini di anut mengingat tujuan Hukum adalah ”Kepastian Hukum“ berdasarkan sumber Hukum itu. Hukum Pidana dan Acara Pidana 4. Sumber Hukum dalam system Hukum Anglo sexon ialah putusan putusan Hukum / Pengadilan. Perancis. Peraturan-peraturan Hukumnya merupakan kumpulan . Hukum Perdata antar Negara (Traktat ) dll Jadi kedudukan Hukum Pidana dalam system Hukum adalah termasuk dalam bagian Hukum Publik dari system Hukum Eropa Continental. Hukum Tata Negara 2.kumpulan dari berbagai Kaidah-kaidah Hukum yang ada Kekaisaran.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI sepenuhnya benar karena dalam system Hukum ini dikenal juga adanya sumber hukum yang tertulis (Statutes).

Azas legalitas ini di atur dalam pasal 1 ayat 1 KUHP berbunyi : “Tiada suatu perbuatan boleh di Hukum. melainkan atas kekuatan ketentuan Pidana dalam Undang – undang yang ada terdahulu dari pada perbuatan itu “. Oleh karena itu. Moelyatno.SH ).1.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 4.  Norma Hukum itu harus berdasarkan UU artinya UU itu harus di buat oleh badan yang berwenang ( Legislatif / eksekutif ) sedangkan pasal 1 ayat 2 KUHP merupakan penyimpangan pasal 1 ayat 1 KUHP dimana pasal 1 ayat 2 ini dapat berlaku surut. Menyangkut perubahan Hukum Pidana dikenal 2 (Dua) teori yaitu :  Teori formal adalah perubahan UU barulah ada jika rekasi UU Pidana sendiri yang di ubah (Norma Hukum Pidana itu dirubah)  Teori materiil adalah perubahan dalam UU itu ada jika tiap – tiap perubahan itu sesuai dengan perubahan Perasaan Hukum berarti dapat menerima perubahan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 10 . Azas legalitas ini dimaksud mengandung tiga pengertian yaitu :  Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. (Nullum Delictum Nulla Poena Sine Preaevia Lege Poenali). 4. supaya suatu perbuatan dapat di Hukum maka harus dipenuhi syarat – syarat :  Harus ada Norma Hukum Pidana .  Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi (kiyas). Azas Legalitas ( Prof. artinya suatu peraturan yang mengandung ancaman Pidana terhadap pelanggarnya. AZAS – AZAS YANG MEMBATASI BERLAKUNYA HUKUM PIDANA Berlakunya berdasarkan waktu.  Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut.

Dari kedua teori tersebut di atas oleh Hukum Pidana di Indonesia cenderung terhadap teori materiil. Berlakunya berdasarkan tempat KUHP Berlaku berdasarkan tempat diatur dalam pasal 2 sampai dengan pasal 9 KUHP yang di dalamnya didasari Azas – azas yaitu: 4. Ketentuan yang menguntungkan bagi tersangka dalam perubahan UU. Azas Teritorialitid ( Teritorial / wilayah. Perubahan yang terdapat dalam Hukum Perdata juga dapat di terima oleh Hukum Pidana ( KUHP ). 50 M ) berdasarkan UU No 4 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Exlusive ( ZEE ) dan udara setinggi -tingginya . Misalnya . “ Ketentuan Pidana dalam UU Hukum Pidana Indonesia berlaku bagi setiap orang yang ada di dalam Negara Indonesia yang melakukan suatu perbuatan yang boleh di Hukum. Palang Merah Internasional) dan sebagainya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 11 . kedudukan jenis kelamin.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI diluar UU Pidana. Menentukan berlakunya Hukum Pidana di Indonesia bagi setiap orang dengan tidak membedakan warga Negara ( Baik WNA dan WNI ).1.2. lautan seluas 200 Mil di ukur dari pulau terluar ( Satu Mil = 1851.2. daratan dan laut tidak terbatas ke atas ) Ketentuan pasal 2 KUHP ini di batasi oleh Pasal 9 KUHP. misalnya  Berat ringannya Hukuman  Jenis Hukuman yang di jatuhkan  Lain – lain 4.misalnya : Para duta Negara Asing di Indonesia termasuk Staf dan Keluarga para wakil badan Internasional (Utusan PBB . Azas ini diatur dalam pasal 2 KUHP. maka harus dilihat dari berbagai segi / sudut. dimana Hukum Pidana Indonesia tidak berlaku bagi mereka yang memiliki hak “ EXTERITORIALITEIT “ . agama dan lain sebagainya yang melakukan tindak Pidana di Wilayah kedaulatan RI yang meliputi Wilayah daratan .

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 12 . Untuk dapat menyelesaikan setiap permasalahan dalam Locus Delicti maka dalam ilmu Hukum Pidana di kenal 3 macam teori yaitu :  Teori perbuatan materil adalah tempat dimana membuat melakukan segala sesuatu yang kemudian dapat mengakibatkan tindak Pidana ( Delict )  Teori alat yang di gunakan yang menjadi Locus Dlicti adalah tempat dimana ada “ Alat / Instrumen “ yang dipakai dalam tindak Pidana itu mulai mengakibatkan sesuatu ( Akibat dari bekerjanya alat itu mulai terasa ) Pada diri korban atau barang yang menjadi sasaran yang menegaskan Pidana. 13 tahun 1970 ).  Teori akibat yang menjadi Locus Delicti adalah tempat / waktu dimana akibat dari tindak Pidana itu terjadi / timbul. DPR dan Menteri tidak dapat di kenakan Hukum Pidana untuk segera yang di katakannya dan tulisan – tulisannya dalam Gedung Parlemen ( TAP MPR NO. Perlunya menentukan wilayah / Teritorial suatu Negara adalah dapat menentukan apabila terjadi suatu tindak Pidana / peristiwa Pidana. Selain yang di sebutkan dan diterangkan dalam pasal 2 KUHP yaitu berlakunya Hukum Pidana Indonesia di Wilayah/ Teritorial Indonesia. dimanakah tempat peristiwa itu terjadi atau di sebut “ LOCUS DELICTI “ nya guna dapat menentukan :  Berlakunya UU Hukum Pidana dalam hal yang konkrit.  Menyelesaikan tentang kompetensi relatif hakim/Pengadilan mana yang akan mengadili.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Disamping hak Exteritorialiteit dikenal juga hak IMUNITEID PARLEMENTAR ( Hak Kekebalan ) yang dimiliki oleh para anggota MPR.1 / MPR / 1978 dan UU No. juga Wilayah/ Teritorial tersebut di perluas dalam Pasal 3 KUHP bahwa ketentuan Pidana Indonesia juga berlaku di luar wilayah Indonesia asal perbuatan itu dilakukan di atas kendaraan air / Kapal dan Pesawat Udara Indonesia (Pengertian Kendaraan Air dan Pesawat Udara dapat dilihat dan di baca dalam pasal 95 dan 95a KUHP).

2.  Kejahatan mata uang. 161. yang berarti Hukum Pidana Indonesia dapat berlaku bagi WNI yang melakukan suatu perbuatan Pidana walaupun pidana itu dilakukan di luar Indonesia terhadap : Kejahatan tersebut dalam bab I dan II pasal 160.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ketiga teori tersebut di atas kesemuanya di anut oleh Hukum Pidana Indonesia.2. Azas Nasionaliteit Pasif / perlindungan ini di atur dalam pasal 4 ayat 1. azas nasionaliteit aktif/personaliteit di atur dalam pasal 5 kUHP yang menentukan bahwa berlakunya Hukum Pidana Indonesia bersandar pada kewarga Negaraan pembuat tindak Pidana (Delic. 106.  Pemalsuan surat – surat . 240. dapat kita bagi dua macam yaitu :  Azas Nasionaliteit aktif atau azas personalitas / Personaliteit. tergantung mana dari teori tersebut yang sesuai / cocok dalam menyelesaikan suatu Pidana. dan 3 KUHP yang menentukan bahwa ketentuan Pidana Indonesia berlaku bagi tiap – tiap orang yang di Luar Indonesia melakukan tindak Pidana. Azas nasionaliteit / Kebangsaan. 110. Tindak–tindak Pidana atau perkara–perkara yang dapat di selesaikan dengan Azas Nasional pasif ini antara lain :  Kejahatan dalam pasal 104. uang kertas Negara / Bank / Materai atau Merk yang di keluarkan Pemerintah Indonesia ( Pasal 244 sampai dengan 262 KUHP ). 107. 450 dan 451 KUHP Suatu perbuatan yang dipandang sebagai kejahatan menurut ketentuan dimana dalam UU Hukum Pidana KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 13 .2. sertifikat – sertifikat. 4. pasal 127 dan pasal 131 KUHP. 111 bisa pada ke 1 . Azas ini bertujuan untuk melindungi kepentingan Nasional/umum dan bukan kepentingan Individu selanjutnya. 279.  Azas Nasionaliteit Pasif / Azas Perlindungan. utang ( Pasal 263 sampai 276 KUHP ).

Pasal 5 KUHP ini diperluas juga oleh pasal 7 KUHP terhadap Pegawai negeri yang melakukan kejahatan di luar negeri dalam bab 18 buku II (Pasal 413 samapi dengan 473 KUHP).LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Indonesia dan boleh di hukum menurut UU Negara tempat perbuatan itu dilakukan.3. bilamana seseorang melakukan pelanggaran diluar Indonesia maka Hukum Pidana Indonesia dapat diberlakukan terhdap yang bersangkutan (pelanggar) yaitu :  Kejahatan dalam pasal 438 . O tentang kejahatan yang mengancam keselamatan penerbangan sipil. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 14 .  Kejahatan dalam pasal 479 hurup J tentang penguasaan pesawat udara secara melawan Hukum.2.  Kejahatan dalam pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut. 444 s/d 446 tentang bajak laut. N. 4. M.  Kejahatan dalam pasal 479 L. Azas Universaliteit ( Universal ) Azas Universal ini diatur dalam pasal 4 ayat 4 KUHP dengan tujuan untuk melindungi kepentingan dunia / Internasional.

3. 4. Macam-macam delict. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 15 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI BAB II PENGERTIAN DASAR TENTANG PERBUATAN YANG DAPAT DI HUKUM . Menjelaskan kesengajaan ( dolus ) dan kelalaian ( culpa ). Menjelaskan Macam-macam delict. Dolus. Indikator hasil belajar Setelah menyelesaikan Bab II diharapkan Siswa mampu: 1. vonis dan hukuman. Menjelaskan pengertian dasar tentang perbuatan yang dapat dihukum. Menjelaskan Macam-macam vonis dan hukuman. 2. culpa serta pertanggung jawaban dalam Hukum Pidana. Menjelaskan pertanggung jawaban dalam hukum pidana. MACAM-MACAM DELICT . CULPA DAN PERTANGGUNG JAWABAN DALAM HUKUM PIDANA Kompetensi dasar Memahami pengertian dasar tentang perbuatan yang dapat dihukum. VONIS . 5. HUKUMAN. DOLUS .

bahwa karena hal ihwal pembunuhan tersebut tidak bertentangan dengan keinsafan hukum? Walaupun begitu. Menurut KUHP. Siapa yang akan menyangkal . karena pembunuhan. dengan hukuman penjara dan seterusnya “ Seorang gila dengan sengaja membunuh orang lain. maka perbuatan yang dapat di hukum ialah segala kelakuan seperti yang di nyatakan dalam buku kedua dan buku ketiga KUHP dalam pasal-pasal kedua buku itu tidak pernah di muat syarat. bahwa si pembuat mesti dapat dipermasalahkan tentang kelakuannya dan jarang ditentukan di dalamnya bahwa kelakuan mesti bertentangan dengan keinsafan hukum atau menurut perkataan Yuridis yang lazim mesti melawan hak umpamanya dalam Pasal 338 KUHP tercantum : “ Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain di hukum. membela dirinya dengan sebuah pistol sehingga satu diantaranya di tembak mati. maka “ Perbuatan yang dapat dihukum “ ialah kelakukan orang yang bertentangan dengan keinsyafan hukum sehingga kelakuan itu di ancam dengan hukuman asal di lakukan oleh seorang yang dapat dipermasalahkan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1. Apakah suatu pembunuhan oleh seorang yang tidak waras pikirannya dapat di tanggungkan kepadanya ? seorang yang di serang oleh beberapa perampok . PENGERTIAN DASAR TENTANG PERBUATAN YANG DAPAT DI HUKUM (DELICT) Menurut teori Hukum Pidana. kedua peristiwa tersebut dianggap oleh Pasal 338 KUHP sebagai “ Perbuatan yang dapat di hukum “ dalam pada itu perkataan ini tidak berarti bahwa perbuatannya selalau boleh di hukum dan biasanya suatu pembunuhan “ Melawan hak “ akan tetapi kadang-kadang KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 16 .

Contoh : Dipekarangan rumah A tumbuh sebatang pohon yang besar dan tinggi . SH.  Peristiwa pidana. SH menggunakan istilah “ Peristiwa Pidana “ ialah karena menurut beliau. Sebetulnya satu perbuatan Pidana tidak dapat di ceraikan dari pembuatnya. yang merupakan istilah yang di cetuskan oleh Moeljatno .terminologi lain untuk “ Delict “ dalam bahasa Indonesia yang termuka :  Tindak pidana yang di cetuskan oleh Prof. tetapi A tetap dapat di tuntut atas kematian B itu. Jadi kematian B ini bukanlah akibat kelakuan A melakukan suatu tindak pidana. Karena segala pasal-pasal KUHP yang mengandung sesuatu kejahatan (Buku ke dua) atau pelanggaran (Buku ketiga) tidak mengindahkan keadaan si pembuat maka kita terpaksa mengaku. Akan tetapi perkataan “ Kelakukan itu perbuatan yang boleh di hukum “ belum berarti pembuatnya boleh dikenakan hukuman. Catatan : Hal ini amat erat hubungannya dengan persoalan tanggung jawab . 2. Meskipun hal ini bukan perbuatan A . melainkan akibat dari suatu peristiwa pidana dimana A dapat di tuntut bertanggung jawab. SH. Pada suatu hari pohon itu tumbang dengan sendirinya dan menimpa B hingga B tewas. MACAM-MACAM DELICT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 17 . hanya secara teoritis keduanya dapat di bedakan. bahwa jika seseorang melakukan suatu perbuatan yang di liputi oleh salah satu “ Perbuatan yang boleh di hukum “ . Satochid Kartanegara.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI dilakukan suatu pembunuhan oleh seorang yang tidak boleh di hukum karena alasan-alasan yang menurut KUHP ( Pasal 44 dan 48 sampai dengan Pasal 51 KUHP ) menghapuskan hukumannya.  Perbuatan pidana. Penjelasan : Prof. yang merupakan istilah yang di cetuskan oleh Prof Punadi Purbacaraka. Purnadi Purbacaraka. Terminologi. SH. bahwa suatu delik itu disamping berwujud sebagai suatu perbuatan dapat juga berwujud sebagai suatu kejadian atau peristiwa yang harus dipertanggung jawabkan karena merugikan pihak lain.

Delict itu dapat dibagi atas : Delict kejahatan yaitu tindak pidana yang tergolong berat dan merugikan terhadap orang atau pihak lain. yakni Delict yang secara tidak di sengaja telah dilakukan oleh pelakunya (Sama sekali diluar kehendaknya) Contoh : Tabrakan yang terjadi karena sopir terlambat menghentikan mobilnya. penganiayaan. pencurian. Delict pelanggaran yaitu tindak pidana yang tergolong ringan dan belum tentu menimbulkan karugian bagi pihak lain. Catatan : Pelanggaran Lalu Lintas pada saat jalan sedang sepi tidak menimbulkan kerugian apapun.   2. yaitu Delict yang berwujud suatu perbuatan yang merugikan orang lain ( Baik di sengaja maupun tidak di sengaja ). Makar dsbnya. Contoh : Pelanggaran aturan lalu lintas pelanggaran Tata tertib penyimpangan yang terlarang dan sebagainya. Contoh : Perampokan. penganiayaan. Delict Ommissie.3. pembagian Delict itu di dalam KUHP dapat dijelaskan sebagai berikut : 2.  Menurut KUHP.1. pembunuhan dsb.   KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 18 . agar lengkap tetapi singkat dan jelas . Delict dapat kita bedakan atas : Delict Commissie. Contoh : Penipuan.yaitu Delict yang berwujud sebagai suatu kelalaian atau pengabaian akan suatu yang seharusnya dilakukan sehingga kelalaian atau pengabaian ini menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Menurut Doktrin atau Ilmu Pengetahuan Hukum. Contoh :  2. Delict Culpa. Pembajakan. Delict itu dapat di bagi menurut beberapa sudut pandangan yakni : Delict Dolus. yakni Delit yang dilakukan dengan sengaja oleh pelakunya dalam arti akibat yang ditimbulkan oleh Delict tersebut memang di kehendaki oleh si pelaku. Berdasarkan wujudnya. Contoh : Tindak Pidana Pencurian.2.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pembagian Delict menurut jenis-jenisnya itu dapat di tinjau dari berbagai sudut pandangan karena itu. dan sebagainya. pembunuhan.

Misalnya : Pencopetan. Misalnya : Pemerasan yang dibarengi/dilakukan dengan ancaman. Berdasarkan factor waktu atau lamanya Delict itu di lakukan maka Delict dapat di bedakan atas :  Delict yang dilakukan seketika saja atau sekali saja. Delict Materiil. yakni Delict / tindak pidana tertentu ( Khusus ) dan pelakunya pun orang-orang tertentu saja ( tidak sembarang orang ). perampokan.1. Penipuan dsb. 2. yaitu Delict yang perbuatannya dilarang oleh Undang – undang Contoh : Pencurian. pembunuhan dsbnya. Delict ini hanya dapat dilakukan oleh seorang militer ( Pelakunya pasti harus militer ). Delict ini dapat di bedakan atas : Delict Formil . pembunuhan ( Akibat yang dilarang ialah matinya orang yang di bunuh ) dsbnya. yaitu Delict yang akibatnya dilarang oleh Undang .  Delict Khusus . 2.   Berdasarkan unsur Delict yang di larang oleh Undangundang. Menurut segi pandangan dari sudut -sudut lain yakni : 2.5. perjinahan yang dilindungi sebagai rahasia bersama bagi para pelakunya dsbnya.undang Contoh: Pengrusakan barang-barang berharga ( Akibat yang dilarang ialah kerugian yang sampai terjadi ).5.4.5. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 19 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI - Kelalaian penjaga palang pintu kereta api menyebabkan tabrakan Pengabaian seorang ibu terhadap kewajiban untuk menyusui bayinya yang menyebabkan bayinya itu meninggal dsb. 2. yakni Delict yang merupakan tindakan Pidana apa saja dan di lakukan oleh siapa saja. Contoh : Delict Militer seperti Desersi. yakni melarikan diri dari tugas / kewajiban kemiliteran. Berdasarkan factor pelakunya. Perkosaan. maka Delict itu dapat di bedakan atas :  Delict umum.2.  Delict yang dilakukan secara berulang – ulang. pencurian.

6.  Terdakwa dibebaskan dari tuntutan hukum (atas delict yang tidak secara lengkap memenuhi unsur delict dalam arti perbuatannya)  Terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum (atas delict yang tidak secara lengkap memenuhi unsur-unsur delict dalam arti pelakunya) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 20 . Contoh : Makar terhadap Kepala Negara dsb.6.3. yaitu delict yang setiap saat dapat di tuntut pelakunya oleh yang berwajib tanpa perlu adanya pengaduan terlebih dahulu dari pihak korbannya. 2. 2. 2.  Delict biasa. dsbnya. Berdasarkan factor sasaran kepentingan yang diganggu . Contoh :Penyembunyian / Penimbunan barang – barang kebutuhan pokok. yaitu delict yang memerlukan syarat mutlak agar delict tersebut dapat di tuntut di muka hakim. barang cap. Delict Politik yaitu delict yang di tujukan untuk menggangu keamanan / ketertiban Negara atau untuk mengancam keselamatan Kepala Negara.6.1. Contoh : Delict penghinaan. penyelundupan dsbnya.2.6. yaitu Delict yang di tujukan untuk menggangu kelancaran perekonomian Negara baik secara langsung maupun tidak langsung . agar dapat di ajukan untuk di tuntut maka harus di adukan dahulu oleh pihak yang di hina. Delict Ekonomi. Delict social ( Umum ) sama dengan Delict pada umumnya. Berdasarkan factor syarat untuk dapat tuntut maka Delict dapat di bedakan atas :  Delict aduan. merek penting secara besar – besaran. MACAM – MACAM VONIS DAN HUKUMAN Macam Vonis bila di pandang dari hal pemenuhan unsur-unsur dasar oleh suatu Delict ada 3 yaitu :  Terdakwa dipidana atau dihukum (atas delict yang memenuhi unsur-unsur secara sempurna atau lengkap). Tanpa lampiran pengaduannya maka tuntutan perkara tersebut menjadi batal. delict itu dapat di bedakan atas : 2.3. pemalsuan uang.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2.5. 3.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 21 . Anggapan ini disetujui oleh penganut-penganut teori kemauan.     b. Dalam KUHP ( Buku I.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Mengenai macam hukuman yang dikenal dalam hukum pidana kita. bahwa sesuatu akibat diadakan dengan sengaja jika pada waktu dijadikannya pada pembuat ada pengetahuan akibat itu akan terbit/timbul. Titel IX ) tidak tercantum satu definisi tentang “ sengaja “ menurut pembicaraan sehari-hari. Kebanyakan ahli –ahli hukum pidana setuju dengan keterangan ini. a. Hukuman pokok terdiri dari : Hukuman mati Hukuman penjara Hukuman Kurungan Hukuman denda Hukuman tambahan terdiri atas : Pencabutan atas beberapa hak tertentu Perampasan barang-barang tertentu Pengumuman keputusan hakim.1. KESENGAJAAN (DOLUS) DAN KELALAIAN (CULPA) Kedudukan delict kesengajaan (dolus) tersebut dalam buku II KUHP (kejahatan) biasanya dilarang seperti suatu larangan akan melakukan suatu perbuatan atau mengadakan sesuatu akibat “ dengan sengaja : Jadi “ sengaja “ dijadikan anasir dari hampir setiap kejahatan. maka menurut Pasal 10 KUHP. maka setiap perbuatan yang dilakukan dengan pengetahuan tentang akibatnya dilakukan juga dengan kemauan supaya akibat itu jadi. akan tetapi ada juga yang berpendapat. sesuatu perbuatan dilakukan dengan sengaja jika pada pembuat ada kemauan akan melakukan perbuatan itu. Untuk meguji kesimpulan ini perlu secara phsiologis bagaimana dalam rohnya manusia dijadikan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan. pembagian macam-macam hukuman terbagi atas. Jika A menembak mati B sebab ia mau mebunuhnya maka kita bilang A membunuh B dengan sengaja . sebab menurut hakikat mereka. Setiap perbuatan yang terjadi diciptakan terlebih dahulu.    4. 4.

ada yang diingini dan disegani oleh pembuat.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Banyak perbuatan yang diciptakan tidak dilakukan karena hasilnya yang baik dianggap tidak melebihi kesulitannya. Motifnya A melakukan pembunuhan itu : supaya ia bebas dari perkara tadi lantaran kurang terang. Dalam Ilmu Hukum Pidana ada 3 (tiga corak) sengaja yaitu :  Sengaja sebagai tujuan/maksud. Biasanya sesuatu perbuatan menyebabkan beberapa akibat : ada yang terbit terus dan ada yang terjadi tidak langsung. bahwa anaknya B sakit keras. Maka A sadar bahwa pencurian itu tidak hanya akan berakibat pamannya kehilangan uangnya. yang dimaksudkan untuk menggerakan pembuat melakukan perbuatannya. Suara batin menasehati jangan melanggar kaidah agama tentang milik orang lain dan lagi ia merasa takut jangan-jangan ditangkap dan dihukum karena kejahatan itu. 1) Sengaja sebagai tujuan/maksud adalah jika akibat dijadikan oleh si pembuat corak ini biasa terjadi dan juga menurut pembicaraan sehari-hari. 2) Sengaja bersifat kepastian adalah dimana sipelaku (dader) mengetahui bahwa satu akibat yang tidak disetujuan akan terjadi jika akibat yang disetujui dilaksanakan. jadi pembunuhan itu dilakukan dengan sengaja (corak 1). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 22 . misalnya : A ingin membeli cincin untuk dirinya akan tetapi uangnya tidak cukup. Pada hari ia mau berangkat. sehingga segenap uang simpanan pamannya diperlukan ongkos untuk merawat. yang dinamai juga “ sengaja bersyarat “ atau “ Dolus Eventualis “.  Sengaja berinsaf kepastian. segala perbuatan yang dilakukan sedemikianlah dikatakan “ dilakukan dengan sengaja “ Tujuan sesuatu perbuatan harus dibedakan dari motifnya ialah akibatnya yang lebih jauh. Misalnya : A khawatir bahwa B akan dipanggil sebagi saksi dalam perkaranya dan akan meberi segala keterangan yang diperlukan untuk menghukumnya dan karena itu A membunuh B. tetapi mungkin juga berakibat anaknya akan meninggal dunia dan sebab itu ia memutuskan akan menolak maksud jahat itu. terdapat olehnya kabar.  Sengaja berinsaf kemungkinan. Matinya B disebabkan oleh A. Maka timbul maksudnya buat mencuri uang simpanan pamannya B.

Seandainya tembakan itu berakibat B mati dan C terluka . Tenggelamnya kapal merupakan kesengajaan sebagai maksud. itu pun dengan corak “ salah ”umpamanya : Pasal 187 KUHP berbunyi : Barang siapa dengan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 23 . dimana di samping hampir setiap detik yang bercorak sengaja disebut delict. Keinginan terdakwa untuk mendapatkan asuransi adalah motif. yang juga dinamai “ kesengajaan bersyarat “ atau “ Dolus eventualist “: begitupun juga suatu perbuatan dilakukan dengan dolus eventualist maka ada dua akibat : satu yang ditujukan oleh pembuat dan satu yang berinsaf kemungkinan atau agaknya terjadi jika dilaksanakan tujuannya. Kelalaian Culpa dalam buku II KUHP tercantum beberapa hal kejahatan yang di karang seperti satu larangan akan menimbulkan sesuatu akibat ´karena salahnya “. ia melihat B dan C berjalan bersama-sama lantas ia menembak kearah B sedang ia sadar boleh jadi C juga akan ikut celaka. karena pemilik perusahaan angkutan kapal ingin mendapat pembayaran asuransi kapal dengan cara merencanakan untuk menenggelamkan kapal itu ditengah laut. Akibat matinya beberapa orang kelasi itu bagi terdakwa merupakan kesengajaan kepastian. Kejahatan-kejahatan dalam KUHP terutama dimuat dalam Titel VII (Kejahatan yang mendatangkan bahaya bagi keamanan umum manusia atau barang). 4. ia lebih ingin menembak mati B maka biarpun C juga terkena . yang ketika akan dipasang bom waktu itu terjatuh dan meledak sehingga selain kapal itu rusak kemudian tenggelam dan terjadi juga akibat lain dengan meninggalnya beberapa orang kelasi kapal. Misalnya : A berniat membunuh B. dari pada tidak nembak.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Contoh : Kasus meledaknya kapal Thomas Van Bremerhaven. 3) Sengaja berinsaf kemungkinan. Maksud dilaksanakan dengan memasang bom waktu. maka A dapat didakwa lantaran satu “ dengan sengaja meghilangkan jiwa orang lain “ dan dua “ (dengan sengaja) menganiaya” (Pasal 338 dan 351 (1) KUHP).2.

dihukum “ selanjutnya dapat di dibandingkan : Pasal 333 dan 334 (menahan orang dengan sengaja dan karena salahnya) Pasal 338 dan 359 (membunuh orang dengan sengaja dan karena salahnya). Umpamanya : A mesti menyeberangkan B dengan perahunya . akan tetapi di tengah sungai perahunya di kenai sebatang kayu sehingga B jatuh keluar dan mati lemas. yaitu berdolus dan berculpa. ledakan atau banjir. ia boleh dipersalahkan karena suatu kejahatan berculpa umpamanya : Seorang ahli listrik mengerjakan satu kawat listrik dengan tidak di buka lebih dahulu kontaknya (kurang hati-hati). Akibat ini dapat di kira-kirakan lebih dahulu. Baru jika kelakuannya seseorang mempunyai kedua sifat itu. Walaupun A mengambil segala tindakan yang perlu untuk menghindarkan kecelakaan . sedang air sudah mulai banjir. sedang di ketahuinya atau patut harus di sangkanya hal belum dewasanya itu di hukum (Homo Sexualiteit).hati  Timbulnya akibat itu harus dapat di kira-kirakan olehnya lebih dahulu. A menjadikan matinya anak itu “ Karena salahnya “ (Culpa) . Kadang-kadang satu pasal mengancam hukuman yang sangat pada satu delict yang bercorak dua . akan tetapi sebab A tidak KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 24 . Umpamanya dalam Pasal 292 KUHP tercantum dalam : “ Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa yang sama laki-laki atau sama perempuan dengan dia. dihukum karena seterusnya (menadah atau sekongkol). dikenai aliran listrik dan terus mati. maka belum ada culpa. Dalam kedua pasal ini anasir dolus di nyatakan dengan “ sedang di ketahuinya “ dan “ Anasir Culpa dinyatakan dengan “ patut harus di sangkanya “. Begitupun dalam Pasal 480 KUHP : “ Barang siapa yang membeli barang yang di ketahuinya atau patut harus di sangkanya diperoleh karena kejahatan. Jika dari kedua syarat tersebut di atas hanya satu di penuhi. jika dipenuhi kedua syarat yang berikut :  Perbuatannya dilakukan dengan kurang hati . Ada beberapa anak yang bermain di dekatnya (akibatnya harus di kira-kirakan olehnya) satu dari mereka mengenai ujungnya kawat itu yang belum di isolasi. Seseorang baru boleh dipersalahkan karena melakukan sesuatu kejahatan berculpa (umpamanya : Menyebabkan terjadinya kebakaran atau matinya orang lain).LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI sengaja menimbulkan kebakaran.

Selanjutnya bagaimana pertanggung jawaban dalam hukum pidana atas perbuatan yang ia lakukan itu? Pertanggunng jawaban dalam Hukum pidana atau yang juga di sebut “ Criminal Responsibility . “Culpa Levis“ : Kelalaian ringan “ Culpa “ : Kelalaian berat . Dalam KUHP segala jenis Culpa itu di sama ratakan menurut teori hukum pidana di bedakan antara “ Culpa levis “ dan “ Culpa Lata “ dan lagi dibedakan “ Culpa tidak berinsaf kemungkinan dan “ Culpa berinsaf kemungkinan. ia harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan yang telah di lakukan “ Mempertanggung jawabkan atas suatu perbuatan berarti menentukan pelaku salah atau tidak. Jadi di samping orang telah melakukan tindak pidana masih di perlukan kesalahan padanya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI berkelakuan kurang hati-hati. Kadang-kadang sesuatu kecelakaan yang terjadi karena kelalaiannya seseorang yang begitu besar. sehingga hampir berupa kesengajaan. sehingga susah di tentukan. berarti telah terjadi tindak pidana. 5. Azas pertanggung jawaban pidana KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 25 . Pembagian ini sangat penting karena dari sejarah KUHP ternyata bahwa maksudnya pembuat Undang-undang ialah supaya anasir “ Culpa “ ( “ karena salahnya “ ) diartikan sebagai “ Culpa latta “ . Dimana letaknya garis batas antara kedua corak ini tidak dapat di tentukan pada umumnya : Inilah bergantung pada hal ihwalnya setiap perkara khusus dan hakikatnya hakim. Sebaliknya kadang – kadang kelalaiannya seseorang ada begitu kecil. PERTANGGUNGJAWABAN DALAM HUKUM PIDANA Merumuskan suatu tindak pidana bertujuan untuk menentukan suatu perbuatan itu memenuhi unsur dari salah satu pasal dari suatu tindak pidana (Delict). ia tidak boleh dipersalahkan menurut Pasal 359 KUHP. Jadi “ Culpa Levis “ belum cukup untuk menghukum orang karena sesuatu kejahatan berculpa. Apabila unsur tindak pidana sudah sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. artinya “ Orang yang telah melakukan suatu tindak pidana akan tetapi belum berarti ia harus di pidana. apakah kecelakaan yang berikut dijadikan karena kelalaiannya orang itu atau merupakan “ Casus “. yaitu peristiwa yang kebetulan terjadi.

Pendirian tersebut di atas sekarang sudah berkembang. Oleh karena itu kesalahan (Schuld) merupakan suatu : “ Pengertian Psychologysch “ dengan demikian orang beranggapan bahwa kesalahan dalam hukum pidana adalah sama dengan kesengajaan dan kealpaan. maka kesalahan pelaku merupakan perbuatan tercela. yang berarti hubungan batin antara orang yang melakukan perbuatan dengan perbuatannya. kesalahan adalah suatu keadaan Psychiologysch yang oleh penilaian hukum pidana ditentukan sebagai keliru dan dapat di cela. bahwa Psychologysh orang sudah semakin meninggalkan pendapat bahwa yang di sebut kejadian Psychisch adalah Proses berjalan secara kausal tetapi adalah sebaliknya bahwa suatu kehendak di tentukan oleh pelaku sesuai dengan nilai KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 26 . Arti kesalahan. Azas ini oleh masyarakat di Indonesia di junjung tinggi dan akan di rasakan bertentangan dengan rasa kadilan jika ada orang yang tidak bersalah di jatuhi hukuman pidana. Pertumbuhan yang demikian mengakibatkan perbuatan sengaja menjadi unsur kesalahan . berarti kehendak yang mengendalikan perbuatan itu merupakan kesatuan dengan perbuatan yang di kehendaki oleh pelaku. pertama – pertama dasar kesalahan di cari hubungan batin orang yang melakukan perbuatan itu sendiri dengan perbuatan yang di lakukan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI berbunyi : Tiada Pidana / hukuman tanpa kesalahan “ . Jadi pengertian bergeser menjadi “ Pengertian Normatif “ dengan demikian dapat dikatakan bahwa. tetapi sebaliknya orang tidak mungkin mempunyai kesalahan apabila tidak melakukan perbuatan yang bersifat “ melawan hukum “ baik secara formil maupun materil. Dengan kata lain orang dapat melakukan tindak pidana ( Delict ) tanpa mempunyai kesalahan . Dalam pandangan tersebut segala sesuatunya dirdasarkan kepada hubungan sebab akibat seperti dalam ajaran Kausaliteit tetapi menurut Welzel. oleh karena yang penting bukannya bagaimana keadaan batin orang yang berbuat tetapi penilaian orang lain terhadap keadan batin tadi.

Bahwa seorang anak yang belum cukup umur belum dapat menginsafi tentang makna dari suatu perbuatan yang dilakukannya maka atas dasar “ tidak di pidana tanpa kesalahan “ ia dapat di kecualikan. Seorang Dokter yang ditodong dengan pistol untuk membuat surat keterangan kesehatan palsu. Lain halnya apabila pelaku insaf atas perbuatan yang dilakukan itu adalah tindakan pidana.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI itu menimbulkan suatu proses sebab akibat dalam bentuk perbuatan sesuai dengan tujuan yang inginkan oleh kehendaknya. baru ia dapat di pidana. Dengan demikian dapat di katakan bahwa pelaku itu menetukan hal yang menyebabkan dirinya sendiri dengan memperhatikan tujuan yang telah di tetapkan yang akan menimbulkan akibat dari perbuatan yang di lakukan. Untuk adanya kesalahan harus di pikirkan dua hal di samping melakukan tindak pidana :  Adanya keadaan Psycisch (batin). 2) 3) 4) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 27 . perbuatan Dokter tersebut dapat di mengerti dan kesalahannya dapat dimaafkan. sehingga perbuatannya tidak dapat dipertanggung jawabkan. Dengan contoh tersebut akhirnya unsur kesalahan berkembang menjadi :  Perbuatan yang di sengaja dan alpa.  Pelaku harus mampu bertanggung jawab. disini kata “ sengaja “ dipandang sebagai suatu pengertian yang tidak berwarna sebab perbuatan sengaja masih belum berarti salah. Ada beberapa rumusan tindak pidana dimana “ sengaja” dimasukan dalam perbuatan .  Adanya hubungan yang tertentu antara keadaan batin tersebut dengan perbuatan yang dilakukan sehingga menimbulkan celaan tadi. 1) Keadaan batin seorang anak yang belum cukup umur belum dapat membedakan antara perbuatan baik dengan yang buruk.

Menjelaskan ajaran kausalitas. Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab III . 3. Menjelaskan tempat dan waktu terjadinya tindak pidana.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI   Bahwa pelaku insaf atas perbuatan yang dilakukan itu adalah. Tidak ada alasan pemaaf dan alasan pembenar. PENGERTIAN PERIHAL MELAWAN HUKUM. Dengan adanya celaan. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 28 . diharapkan Siswa mampu : 1. BAB III TEMPAT DAN WAKTU TERJADINYA TINDAK PIDANA.pengertian perihal melawan hukum. SIFAT TIDAK BERLAKU SURUT DARI HUKUM PIDANA DAN AJARAN KAUSALITAS Kompetensi Dasar Memahami tempat dan waktu terjadinya tindak pidana. 2. sifat tidak berlaku surut dari hukum pidana dan ajaran kausalitas. Menjelaskan pengertian perihal melawan hukum. Menjelaskan sifat tidak berlaku surut dari hukum pidana. Karena ajaran tentang kesalahan juga di sebut “ pertanggung jawaban pidana “ atau dengan istilah Criminal Responsibility. perbuatan yang di pidana. orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya untuk dapat ia dijatuhi pidana. 4.

Locus Delicti itu menjadi persoalan apabila pembuat dan penyelesaian delict tidak berada di suatu tempat yang sama tetapi berada di dua tempat yang berlainan. dan bom waktu meletus di sana.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1. Baik tempat Delicti maupun waktu delicti tidak di atur dalam KUHP melainkan di serahkan kepada ilmu dan yurisprudensi. TEMPAT DAN WAKTU TERJADINYA TINDAK PIDANA Locus Delicti (Tempat Delik).1.  Menyelesaikan kompetensi relatif ( menentukan pengadilan negeri mana yang berwenang untuk mengadili perkara yang bersangkutan ) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 29 . Timbul pertanyaan tempat manakah yang menjadi Locus Delicti ? Tempat kediaman pengirim atau kah tempat kediaman korbannya ? Jawaban atas pertanyaan mengenai dimanakah suatu delict di lakukan adalah penting untuk dua hal :  Menentukan berlakunya Undang-undang pidana nasional dalam hal konkrit . Misalnya : seorang mengirimkan bom waktu kepada lawannya di suatu kota lain. 1.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Agar dapat menyelesaikan persoalan “ Locus Delicti “ itu maka ilmu Hukum pidana bersama-sama dengan Yurisprudensi Hukum pidana telah membuat 3 macam teori yaitu :  Teori perbuatan materil atau teori perbuatan badaniah ( de leer van de lichamelijke daad ) Menurut teori ini maka menjadi locus delicti ialah tempat dimana pembuat melakukan segala sesuatu yang kemudian dapat mengakibatkan delict. Perkara ini hanya dapat di seslesaikan dengan teori akibat dan tidak dapat di selesaikan dengan teori alat yang dipergunakan. Bila mana tiga teori tersebut di pakai serentak. Contoh kasus : Pengarang membuat tulisan di luar negeri tetapi menggunakan mesin percetakan di Indonesia untuk mempublikasikan tulisannya yang berisi hasutan terhadap pemerintah RI. Contoh kasus : Dalam hal penipuan. Seorang asing di LN dengan memakai nama palsu. HAYZEWINKEL SURINGA. maka perbuatan menipu adalah yang ditipu melepaskan barang yang di minta karena muslihat penipu. Teori akibat ( de leer van het gevolg ) Menurut teori ini maka tempat terjadinya akibat yang menjadi locus delicti. maka ada tiga Locus delicti misalnya : A di kota Surabaya  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 30 . Timbul pertanyaan. teori manakah diantara ketiga ini yang paling cocok ? Oleh banyak pengarang di kemukakan bahwa ketiga teori ini sama pentingnya. Teori ini boleh di anggap sebagai suatu tambahan atas teori perbuatan materiil. Oleh sebab itu. maka delict dilakukan tempat dimana alat yang di gunakan itu menyelesaikannya. Kita dapat memilih dengan teori mana sesuatu kasus itu dapat di selesaikan. hanya tempat di mana perbuatan materiil di lakukan yang dapat menjadi locus delict. berhasil menipu seorang Indonesia melepaskan barangnya. mengemukakan bahwa teori ini tidak dapat membawa penyelesaian dalam hal “ Delict materiil ‘  Teori alat yang dipergunakan ( de leer van het instrument ) Menurut teori ini .

Kota Cirebon menurut teori akibat sering Hakim pidana di beri kemerdekaan untuk memilih di antara tiga locus delicti ini. Mereka itu. Jadi disini ada tiga locus delicti yaitu : Kota Surabaya. Tempus delicti menjadi suatu persoalan apabila perbuatan dan akibat dari perbuatan itu terjadi pada dua saat yang berlain-lainan .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mengirimkan racun kepada B di Semarang. menurut teori alat yang dipergunakan. yaitu Pasal 1 ayat 1 KUHP. karena pukulan sangat keras maka pada tanggal 3 Mei 1998 meninggal di rumah sakit. 1. yaitu Pasal 1 ayat 2 KUHP. Tempus Delicti ( Waktu Delict ). yaitu Pasal 78 dan 79 KUHP. dan setelah racun itu di minumnya maka pergi ke kota Cirebon. PENGERTIAN PERIHAL MELAWAN HUKUM Vos dengan beberapa Sarjana lainnya membela suatu pendapat dan pandangan luas tentang batas – batas anasir melawan hukum itu sebagai suatu anasir yang tidak hanya melawan hukum yang tertulis.  Melawan hukum materil ( Materiele wederrechelijkhied ) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 31 .  Pasal 45 KUHP. Utrech menyetujui pendapat bahwa tanggal 3 Mei itulah sebagai tempat tempus delicti yaitu tanggal akibat di mana suatu delict barulah selesai dilakukan ( lengkap ) 2.  Hukum Transitur ( Transitoir Recht ) . karena minum racun itu. membedakan antara dua macam “ melawan hukum “ yaitu :  Melawan hukum positif tertulis ( Formele Wederrechtelijkheid ).  Lewat waktu ( Verjaring ) . Kota Semarang. Tempus delicti ini berhubungan dengan :  Berlakunya KUHP.2. misalnya : A memukul B pada tanggal 1 Mei 1998. dimana ia meninggal dunia. yaitu melawan azas-azas hukum yang umum. menurut teori perbuatan materiil .

329. 328. tidak dengan ijin kepada KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 32 .253 Sub 2e. Pegawai Negeri yang melampaui batas kekuasaannya menyuruh orang menunjukan kepadanya atau menista surat kartu pos. antara lain : Pasal 303 (1) : Dengan hukuman penjara delapan bulan atau denda sebanyak – banyak Rp 90. 339. 368. Dalam KUHP tidak selalu memakai kata “ Melawan hukum “ hanya dalam beberapa yang memakai kata tersebut yaitu : Pasal 179.Juga dengan mempergunakan istilah : “ Dengan tidak memperhatikan cara yang di tentukan pada Undang – undang umum “ seperti dalam KUHP. 378. 333. dan seterusnya. melihat “ melawan hukum “ sebagai anasir setiap peristiwa hukum pidana. 254 Sub 2e. 362. Barang siapa dengan tidak berhak membiarkan hewannya berjalan di kebun dan seteursnya. 406.198. barang atau paket dan seterusnya. Sub 2e Pasal 257. Pasal 255 Sub 2e. Disamping itu anasir “ Melawan hukum “ disinggung juga dengan memakai istilah – istilah : “ Dengan tidak berhak “ . Pasal 548 Pasal 549 (1) : : Pasal 429 (1) : Pasal 403 (1) : Demikian pula dipergunakan istilah : “ Tanpa ijin. Pegawai Negeri dengan melampaui batas kekuasaan atau dengan tidak memperhatikan peraturan yang di tentukan dalam Undang – undang umum. Barang siapa dengan tidak berhak membiarkan ternaknya yang bersayap tidak dapat terbang. Masuk ke dalam rumah atau kedalam ruangan atau pekarangan yang tertutup dan seterusnya. 256.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Mereka itu . seperti dalam KUHP : Pasal 496 : Barang siapa yang membakar barang tetapnya sendiri . 408. juga apabila undang-undang tidak menyebutnya. 372. tanpa berhak “ atau “ Tanpa kekuasaan “ dalam KUHP .334. 180.000..dihukum barang siapa dengan tidak berhak : dan seterusnya ( memberikan kesempatan main judi ).

Di hukum dengan hukuman denda sebanyak – banyaknya Rp. menolak suatu penafsiran yang begitu luas dan bagi mereka “ Hukum “ itu adalah Undang – undang “ saja . VOS membela sekeras-kerasnya ajaran “ melawan hukum materil ‘ dengan mengemukakan jawaban-jawaban sebagai berikut : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 33 .barang siapa yang tidak dengan ijin kepada Polisi atau Pegawai Negeri yang di tunjuk oleh pembesar itu ia mengadakan pesta umum.. pengarang yang tidak dapat menerima pelajaran melawan hukum secara. akan tetapi hukum seluruh termasuk azas hukum. meteril. jadi yang dimaksud dengan hukum itu bukan hanya “ Undang – undang “ saja.  Bertentangan baik dengan kesusilaan maupun azas-azas pergaulan kemasyarakatan mengenai penghormatan diri orang lain atau barang orang lain . SIMONS ZEVENBERGER dll. “ yakni hukum tertulis “ . Menurut Pelajaran “ melawan hukum materiil “ maka kata “ Melawan hukum itu “ harus diinterprestasikan sebagai melawan hukum baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 510 (1) Polisi atau Pegawai Negeri yang di tunjuk oleh pembesar itu dan seterusnya. sehingga merupakan penapsiran yang luas.  Bertentangan dengan kewajiban hukum dari yang melakukan perbuatan itu . tanggal 31 januari 1919 ( Drukkers – Arrest ) dan memutuskan apa yang dimaksud dengan “ Perbuatan yang bertentangan dengan hukum ( Onrrecht Matige Daad ) ialah “ membuat sesuatu atau tidak membuat sesuatu / melalaikan sesuatu :  Melanggar hak orang lain.wenang. Arti melawan hukum ( Wedeerchtelijk ) yang luas itu sesuai dengan arti “ bertentangan dengan hukum “ ( Onrecatmatig ) seperti yang tercantum dalam pasal 1365 KUH Perdata setelah ada keputusan H. Keberatan-keberatan yang biasanya dikemukakan terhadap ajaran ”melawan hukum materil“ itu ialah :  Kepastian hukum ( Reechtszekerheid ) akan berkurang.375.  Kepada hakim akan di berikan kesempatan untuk dapat bertindak sewenang. dan seterusnya.R.

“Tiada dengan maksud yang patut. sehingga banyak penentuan konkrit diserahkan kepada hakim : bahkan ada juga suatu ketentuan yang memuat suatu perumusan yang pada pokoknya mengandung unsur “ melawan hukum materil ‘ sebagai anasir delict. yakni Pasal 302 KUH Pidana. yang pada intinya menegaskan bahwa tidak bisa suatu ketentuan pidana itu di pakai untuk menghukum tindak pidana yang telah terjadi sebelumnya. “ yaitu sengaja menyakiti atau membikin cacat binatang atau merusak kesehatan binatang Berkat kemerdekaan besar yang di beri kepada hakim yang menentukan berartinya hukuman. SIFAT TIDAK BERLAKU SURUT DARI HUKUM PIDANA KITA Hukum pidana kita tidak berlaku surut artinya ialah bahwa ketentuan hukum pidana itu baru dapat diterapkan setelah saat berlakunya dan tidak dapat di terapkan terhadap hal-hal atau kejadian-kejadian yang telah ada sebelumnya saat itu. 3. yang ada terdahulu daripada perbuatan itu (Sebelum) perbuatan itu . Banyak ketentuan-ketentuan delict-delict khusus memuat perumusan -perumusan yang begitu gelap. Sifat tidak berlaku surutnya hukum pidana kita sebagaimana yang tercermin dalam Pasal 1 ayat 1 KUHP kita tersebut tidak berlaku KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 34 . bahwa pada dasarnya hukum pidana kita tidak berlaku surut tersurat di dalam Pasal 1 ayat 1 KUHP kita yang berbunyi : “ Tiada suatu perbuatan boleh dihukum melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang – undang. maka hakim itu dapat memberi tempat yang layak kepada ajaran – ajaran “ melawan hukum materil . Ketentuan Pasal 1 ayat 1 KUHP ini lebih di kenal sebagai azas “ Nullum Delictum Nulla Poena Sina Praevia Lege Poenali”.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI     Hakim selalu dapat di beri kelonggaran karena pasal 48 KUHP : Barang siapa yang melakukan perbuatan karena terpaksa oleh suatu kekuasaan yang tidak dapat di hindarkan tidak boleh dihukum. Bukti. yang menggunkan kata-kata .

dengan jalan mencari hal atau perbuatan yang menjadi penimbul akibat yang di larang undang – undang sebelum di ketahui siapa pelakunya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 35 . untuk mengetahui hal apakah yang menjadi sebab yang sebenarnya dari timbulnya peristiwa tersebut sebagai akibat. karena itu sebab akibat yang latar belakang suatu tindak pidana atau peristiwa tersebut harus kita cari sendiri dengan ajaran tentang sebab akibat ini. masih terdapat Restriksi ( pembatasan ) atau pengecualian terhadap prinsip tidak berlaku surut tersebut.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mutlak. tetapi Undang. yang akhirnya terwujud dalam perbuatan yang di larang tersebut. Buktinya Pasal 1 ayat 2 KUHP yang berbunyi : “ Jika undang – undang di ubah setelah perbuatan ( Pidana ) dilakukan maka kepada tersangka dikenakan ketentuan yang menguntungkan baginya. Kita perlu mengetahuinya secara pasti hubungan sebab dan akibat dalam satu peristiwa pidana karena :  Undang-undang hanya menyebutkan perbuatan-perbuatan apa saja yang dilarang serta ancaman hukumannya . Dari ketentuan Pasal 1 ayat 2 KUHP nyatalah bahwa suatu ketentuan pidana dapat saja berlaku surut bila ketentuan pidana tersebut ternyata lebih menguntungkan (lebih ringan ancaman hukumannya daripada ketentuan pidana yang ada sebelumnya) 4. Dikatakan demikian karena dalam penerapan hukum pidana kita .  Disamping itu hubungan antara sebab dan akibat yang terkandung dalam suatu peristiwa pidana harus kita ketahui secara pasti untuk mencari orang yang dapat di mintai tanggung jawabnya atas terjadinya peristiwa pidana tersebut.undanga tidak mengatur secara tegas perbuatan atau hal apa saja yang dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak diinginkan oleh undang-undang itu sendiri. AJARAN KAUSALITAS (HUBUNGAN KAUSAL SEBAB AKIBAT) Ajaran tentang sebab akibat (Hubungan Kausal) dalam Hukum pidana adalah suatu ajaran mempelajari tentang jalinan antara akibat yang terkandung dalam suatu peristiwa pidana.

THEORI “ dengan tokohnya yang terkemuka yakni Von Kries dengan “ Adequate Theori “-nya. b. maka ajaran Von Burri ini di sebut juga ajaran atau teori Ekuivalensi atau Teori kesehargaan ( Kesenilaian). yaitu :  Ajaran Von Burri. Menurut ajaran Von Burri yang terkenal sebagai “ CONDITIO SINE QUANON “ . Sistem atau metode Posteriori atau system kenyataan yang lebih di kenal dengan istilah Individualiserende Theori “ yakni dengan tokoh -tokohnya yakni BRICK MAJER DAN KOHLER.  Ajaran TRAEGER. Sedang menurut TRAEGER . yang terjadi sebelum timbulnya suatu peristiwa pidana merupakan Conditio Sine Quanon atau syarat mutlak yang harus ada sebagai penyebab timbulnya peristiwa pidana tersebut.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ada 2 ( Dua ) medan ajaran terkenal tentang sebab akibat ini. Sistem atau metode Apriori atau system dugaan awal yang lebih di kenal dengan istilah “ GENERALISERENDE. dikenal 2 ( Dua ) system atau metode yakni : a. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 36 . bahwa suatu tindak pidana atau peristiwa pidana tidak di sebabkan oleh rentetan kejadian yang mendahuluinya seperti ajaran Von Burri melainkan di sebabkan oleh suatu sebab utama yang pasti ada dan harus di cari dalam peristiwa pidana tersebut. yang dikenal dengan “ Conditio Sine Quanon “ sebagai medan ajaran yang memandang bahwa penyebab suatu tindak pidana atau peristiwa pidana / perbuatan pidana itu dapat berupa suatu rentetan kejadian. untuk selanjutnya dapat di ketahui siapa pelaku sebab tersebut sedangkan untuk mencari sebab utama itu. Karena menurut Von Burri tiap – tiap perbuatan atau peristiwa dalam rentetan penyebab tersebut masing – masing merupakan syarat yang sama nilai atau harga pentingnya sebagai penyebab setiap peristiwa pidana . sebagai medan ajaran yang memandang bahwa penyebab suatu tindak pidana atau peristiwa pidana haruslah hanya satu perbuatan yang menjadi sebab utamanya saja.

Menjelaskan pengurangan hukuman.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI BAB IV PENGHAPUSAN . diharapkan Siswa mampu : 1. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 37 . 2. Menjelaskan penambahan hukuman. Menjelaskan penghapusan hukuman. pengurangan dan penambahan Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab IV . 3. PENGURANGAN DAN PENAMBAHAN HUKUMAN Kompetensi Dasar Memahami hukuman penghapusan.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1. sehingga tidak merupakan peristiwa tindak pidana .  Schuld-opheffimgsgronden/schulduits-luitingsgroden atau alasan pemaaf yaitu alasan yang menghilangkan kesalahan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas peristiwa pidana sehingga ia tidak dipidana tapi peristiwa/perbuatannya tetap merupakan “ Wederrechtelijk “ ( melawan hukum ). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 38 . Macam alasan peniadaan / penghapusan pidana Menurut Doktrin starfuits Luitings Groden ini diperinci :  Rechtvaardigingsronden atau alasan pembenar yaitu alasan yang menghapuskan sifat “ Wederrechtelijk” dari pada peristiwa yang memenuhi ketentuan pidana . PENGHAPUSAN HUKUMAN Yang dimaksud dengan alasan peniadaan pidana (starfuits Luitings Gronden) atau penghapusan pidana ialah hal / keadaan yang mengakibatkan seseorang yang memenuhi perumusan peristiwa pidana /perbuatan pidana /tindak pidana atau delict tidak dapat dipidana.

jika polisi menjumpai peristiwa semacam ini. hakimlah yang nanti akan memutuskannya. atau berubah akalnya. Menerangkan bahwa barangsiapa berbuat tindak pidana yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya. Dalam praktek. 2) Karena kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan (Overmacht) Pasal 48 KUHP. Kurang sempurna akalnya yaitu kurang sempurna kecerdasan otaknya. pikirannya tidak dapat berkembang maju. akan tetapi orang itu oleh karena cacat-cacatnya mulai dilahirkan. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 39 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI KUHP tidak menggunakan perincian. sehingga ia seperti anak kecil dan tidak mempunyai daya yang normal untuk dapat membedakan baik dan jelek . Menentukan bahwa barangsiapa berbuat tindak pidana karena terpaksa oleh suatu kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan tidak dihukum. ia tetap berkewajiban untuk memeriksa perkaranya dan membuat berita acara. ia sebenarnya tidak sakit. terganggu. dalam kehidupan sehari-hari mereka ini biasa disebut orang idiot ( buta. tetapi menurut Doktrin mengadakan perincian sbb:  Inwedige Groden van ontoerekenbaarheid ( karena keadaan yang terdapat dalam pribadi penanggung jawab )  Uitwendige Groden van ontoerekkenbaarheid (karena keadaan diluar pribadi penaggung jawab ) Alasan peniadaan/penghapusan pidana (Strafuits luiting Groden ) dalam KUHP terdiri dalam bentuk : 1) Karena sakit atau kurang sempurna akalnya ( pasal 44 KUHP ). orangnya dapat ditahan di rumah sakit jiwa selama maksimum satu tahun untuk diperiksa ingatannya. sehingga ia tidak dapat berpikir secara normal. tidak boleh dihukum. Ia dapat minta nasehat dari seorang ahli penyakit jiwa ( psychiater ). tuli mulai lahir dan tidak pernah mendapat pendidikan ) Sakit berubah akalnya yaitu pikiran atau jiwa orang itu memang sakit.

jika perbuatan itu dengan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 40 .  Harus ada serangan yang melawan hak dan mengancam pada ketika itu juga. 3) Karena pembelaan darurat ( Nodweer ) Pasal 49 KUHP. J. kekuasaan yang pada umumnya dipandang tidak dapat / patut dilawan.E. Ayat ( 2 ) Karena pembelaan darurat melampaui batas (noodweer exses) mengatakan bahwa melampaui batas pembelaan yang sangat perlu. kehormatan dan barang kepunyaan sendiri atau orang lain.  Pembelaan itu harus hanya ditujukan kepada kepentingan-kepentingan yang ditentukan yaitu badan. Jonkers membedakan kekuasaan ini atas 3 macam yaitu :  Yang bersifat absolut. Barang artinya segala yang berwujud juga termasuk binatang.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kata “ terpaksa “ harus diartikan baik paksaan batin maupun lahir. Mr. membela kehormatan diri atau orang lain membela harta benda sendiri atau harta benda orang lain dari pada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera pada saat itu juga. kehormatan berarti disini kehormatan dalam lapangan sexual yang diserang dengan perbuatan-perbuatan tidak senonoh atau kesusilaan.  Yang bersifat relatif. Badan artinya tubuh.  Yang berupa keadaan darurat. rohani maupun jasmani. tidak boleh dihukum. Ayat ( 1 ) Mengatakan bahwa barang siapa melakukan perbuatan yang terpaksa dilakukannya untuk membela dirinya atau diri orang lain . boleh dikatakan tidak ada jalan lain. Kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan yaitu kekuasaan berlebih. Supaya orang dapat mengatakan dirinya dalam pembelaan darurat harus dipenuhi tiga macam syarat yaitu :  Perbuatan yang dilakukan itu harus terpaksa untuk membela dan pembelaan itu harus amat perlu.

bahwa apa yang telah diharuskan oleh undang-undang. Syarat pertama yaitu bahwa orang itu melakukan perbuatan atas suatu perintah jabatan. tidak boleh dihukum. Yang dimaksud dengan undang-undang yaitu semua peraturan yang dibuat oleh suatu badan pemerintahan yang diberi kekuasaan membuat undang-undang ( legislatip ). Mungkin sama pangkatnya. Tidak perlu bahwa yang diberi perintah itu harus orang bawahan dari yang memerintah. antara pemberi perintah dengan orang yang diperintah harus ada hubungan yang bersifat jabatan atau kepegawaian negeri. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 41 . Di sini diletakkan suatu prinsip. Ayat ( 2 ) Mengatakan bahwa perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang tidak berhak tidak membebaskan dari hukuman. tetapi yang perlu antara yang memerintah dan yang diperintah harus ada kewajiban untuk mentaati perintah itu. Yang menentukan bahwa barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan peraturan undang-undang tidak boleh dihukum. Ayat ( 1 ) Menerangkan bahwa barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang berhak akan itu. 5) Karena menjalankan perintah jabatan ( Ambtelijk Bevel ) Pasal 51 KUHP. tidak mungkin untuk diancam hukuman dengan undang-undang yang lain. kecuali jika pegawai yang dibawahnya atas kepercayaannya memandang. bahwa perintah itu seakanakan diberikan oleh kuasa yang berhak dengan syah dan menjalankan perintah itu menjadi kewajiban pegawai yang di bawah perintah tadi. bukan pegawai partikulir.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI sekonyong-konyong dilakukan karena perasaan tergoncang hebat yang timbul karena serangan itu. 4) Karena menjalankan peraturan undangundang ( Wettelijk Voorschrift ) Pasal 50 KUHP. tidak boleh dihukum.

jika demikian orang itu tidak dapat dihukum. atau pada waktu melakukan tindak pidana memakai kekuasaan. melainkan jika orang itu dengan itikad tidak mengira.  Anak itu dijadikan anak negara maksudnya tidak dijatuhi hukuman tetapi diserahkan kepada rumah pendidikan anakanak nakal. PENAMBAHAN ATAU PEMBERATAN HUKUMAN Memangku suatu jabatan pasal 52 KUHP Menentukan bahwa jika seorang pegawai negeri. 2.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Syarat kedua bahwa perintah itu harus diberikan oleh kuasa yang berhak untuk memberikan perintah. bahwa perintah tersebut syah dan diberikan oleh kuasa yang berhak untuk itu. maka terhadap orang itu hakim dapat memutuskan memilih salah satu dari tiga kemungkinan yaitu :  Anak itu dikembalikan kepada orang tua atau walinya.maka orang yang menjalankan perintah tadi tetap dapat dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya. karena melakukan suatu tindak pidana.  Membantu/mendeplichtigheid (Pasal 56 KUHP ). kesempatan atau daya upaya ( alat ) yang diperoleh dari jabatannya. 3.  Belum dewasa atau belum cukup umur (Pasal 45 KUHP ). tanpa dijatuhi hukuman suatu apa. Jika kuasa tersebut tidak berhak. melanggar kewajiban istimewa dalam jabatannya. PENGURANGAN HUKUMAN Alasan pengurangan hukuman /peringanan :  Percobaan ( Pasal 53 KUHP). maka ancaman hukumannya ditambah dengan sepertiganya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 42 . karena telah melakukan perbuatan yang telah ia kerjakan pada waktu umurnya belum cukup 16 tahun. Menentukan bahwa jika seorang yang belum dewasa dituntut.1. untuk mendapat didikan dari negara sampai anak itu mencapai umur 18 tahun  Anak itu dijatuhi hukuman seperti orang dewasa akan tetapi dalam hal ini ancaman hukumannya dikurangkan dengan sepertiganya ( menurut undang-undang perlindungan anak dikurangi setengahnya ) 3.

Menjelaskan delict aduan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 43 . 3. kesempatan atau daya upaya ( alat ) yang diperoleh karena jabatannya. Menjelaskan perbantuan dalam tindak pidana 4. diharapkan Siswa mampu : 1. 492 ayat 2. 3. Pegawai negeri itu harus : a. Melanggar kewajibannya yang istimewa. b. 64. BAB V POKOK-POKOK HUKUM PIDANA Kompetensi Dasar Memahami pokok-pokok hukuman pidana Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab V .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI   Syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu : Yang berbuat tindak pidana harus pegawai negeri. 501 ayat 2 dsb). Menjelaskan gabungan perbuatan pidana 5. Menjelaskan percobaan 2. Menjelaskan penyertaan 3. 489 ayat 2. Residive (Pasal 486.2. Gabungan atau samenloop (Pasal 63.3. Memakai kekuasaan. 65 dan 66 KUHP).

sudah dimulai akan tetapi tidak selesai . 7. Menjelaskan gugurnya hak menuntut hukuman Menjelaskan gugurnya kewajiban untuk menjalani hukuman Menjelaskan ulangan ( residive ) 1. akan tetapi yang diberikan menurut pasal 53 KUHP adalah ketentuan mengenai syarat-syarat supaya percobaan pada kejahatan itu dapat dihukum. yaitu :  Niat sudah ada untuk berbuat kejahatan itu. oleh karena terhalang sebab-sebab yang timbul kemudian. Percobaan : Menuju ke sesuatu hal. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar percobaan pada kejahatan itu dapat dipidana.  Perbuatan kejahatan itu tidak sampai selesai. 8.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 6. PERCOBAAN ( POGING ) Undang-undang tidak memberikan definisi apakah yang dimaksudkan dengan percobaan itu. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 44 .  Sebab-sebab itu tidak terletak dalam kemauan pembuat kejahatan itu.  Orang sudah mulai berbuat kejahatan itu. tetapi tidak sampai pada yang dituju itu atau hendak berbuat sesuatu.

alasan untuk dapat dihukum / dipidana menurut teori ini titik berat terletak pada sudah adanya bahaya yang ditimbulkan oleh perbuatan percobaan itu.  Misalnya :A hendak mencuri disuatu rumah. apabila niat jahat telah nyata. tidak perlu melihat apakah dalam hal itu terhadap objek yang dituju telah ditimbulkan bahaya.  Misalnya :A hendak membunuh B dengan pisau. sehingga tidak berhasil mengambilnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Dalam teori-teori percobaan maka orang ( pelaku ) melakukan kejahatan itu tidak dapat selesai karena sebab-sebab yang biasanya dapat merumuskan menjadi 4 (empat ) macam. tidak semua dapat dihukum masih tergantung pada hakim yang memeriksa dan mengadilinya.  Misalnya :A hendak membunuh B dengan pisau ternyata pisau yang digunakan tumpul sehingga B tidak meninggal/mati.  Obyek yang dituju kurang sempurna. yang dapat dihukum hanyalah yang tersebut nomor 2 dan 4 ( alat / objektifnya kurang sempurna ). semuanya dapat dihukum. sedangkan dalam hal-hal nomor 1 dan 3 tadi tidak ada bahaya sama sekali. setelah masuk kedalam rumah tersebut ternyata kosong/tidak ada barang. akan tetapi menurut ahli hukum yang menganut teori percobaan objektif. sedangkan nomor 1 dan 3 ( alat / objektifnya tidak sempurna sama sekali ) tidak dapat dihukum. yaitu :  Alatnya yang dipakai tidak sempurna sama sekali . oleh karena teori ini mengajarkan. Menurut ahli hukum yang menganut teori percobaan yang subjektif. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 45 . akan tetapi walaupun demikian . semuanya telah memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam pasal 53 KUHP. ternyata keliru dengan pisau mainan sehingga B tidak meninggal/mati  Alat yang dipakai melakukan kurang sempuna. bahwa melalui niat jahat saja belum cukup dihukum.  Misalnya :A hendak mencuri lembu yang sedang memakan rumput ( Merumput ) ternyata setelah ditarik lembu tersebut menanduknya.  Obyek yang dituju tidak sempurna sama sekali. Apabila kita tinjau contoh-contoh percobaan diatas.

bahwa harus sudah dimulai dengan melakukan perbuatan pelaksanaan. pasal 354 KUHP dan pasal 355 KUHP tetap dihukum. misalnya : Ordonansi obat bius . jika baru perbuatan persiapan saja yang dilakukan. dipelopori oleh von fauerbach. namun ada beberapa percobaan kejahatan yang tidak dapat dihukum misalnya :  Percobaan menganiaya biasa (pasal 351 ayat 5 )  Percobaan menganiaya binatang ( pasal 302 ayat 3 KUHP  Percobaan perang tanding ( pasal 184 ayat 5 KUHP Catatan : Bahwa percobaan pada : Penganiayaan yang diatur dalam pasal 353 KUHP. yang menemukan suatu paham bahwa dalam mengusut suatu tindak pidana harus di bedakan antara pelaku dan perserta. 2. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 46 . kecuali jika dalam undang-undang atau ordonansi memberikan ketentuan lain (pasal 53. Penyertaan / Deelneming dalam suatu peristiwa pidana di dalam KUHP di atur dalam buku pertama. bab V pasal 55 s/d pasal 62 KUHP. itu belum cukup menghukum memidana pelaku / pembuat.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Perlu dicatat disini. Menurut Yurisprudensi di Indonesia maka hakim menganut teori percobaan ( poging ) yang objektif. 103). Percobaan pada pelanggaran tidak dapat dihukum. PENYERTAAN (DEELNEMING) Pada dasarnya setiap peristiwa yang terjadi tidak selalu dilakukan oleh setiap satu orang saja . Ajaran tentang penyertaan / Deelneming ini lahir pada abad ke 18. kedua -duanya meminta. Walaupun pada dasarnya percoban melakukan kejahatan dapat dihukum. bahwa teori subjektif maupun objektif. tetapi mungkin juga dilakukan oleh beberapa orang tergantung dari peran serta seseorang dalam peristiwa pidana yang terjadi.

b. sebagaimana yang telah di tetapkan dalam undang – undang. sebab pada dasarnya tanggung jawab pelaku dan tanggung jawab peserta atas suatu tindak pidana itu belum tentu sama ( ada yang lebih berat. karena tanpa adanya lembaga penyertaan . ada yang lebih ringan. tergantung pada kasusnya ). para peserta tidak dapat dipersalahkan.  Demikian pula halnya dengan para pelaku delik omissie.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Menurut beliau bahwa. Yang dikatakan pembunuh ialah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal 338 KUHP (Baik unsur Obyektif maupun Subyektif). yang disebut pelaku tindak pidana adalah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku. Peserta dimintai tanggung jawab / dihukum atas dasar jalan pikiran bahwa tanpa bantuannyan. mereka yang KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 47 . akibat yang ditimbulkannya mungkin tidak akan separah akibat yang ditimbulkan karena bantuannya tersebut. Hal ini di sebabkan karena menurut doktrin. Lembaga penyertaan atau Deelneming pada dasarnya di adakan dengan tujuan untuk :  Memperluas orang-orang yang dapat di mintai tanggung jawab atas terjadinya suatu tindak pidana (baik pelaku maupun peserta). Yang di katakana pencuri ialah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku pencurian. Contoh : a. yang dimaksud pelaku ialah orang atau orang-orang yang memegang peran utama dalam pelaksanaan suatu tindak pidana sedangkan perserta ialah orang atau orang – orang yang ikut melakukan perbuatan-perbuatan yang pada dasarnya membantu dan melancarkan terlaksananya tindak pidana tersebut. c. sebagaimana dalam pasal 362 KUHP. Perlu di bedakannya antara pelaku dengan peserta . suatu tindak pidana itu belum tentu terjadi atau sekalipun terjadi. Yang di katakan pemerkosa ialah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku pemerkosaan sebagaimana di tetapkan dalam pasal 285 KUHP dan sebagainya. Dengan adanya lembaga penyertaan ini.

a. menyuruh. untuk selanjutnya ditentukan berat ringannya hukuman yang akan dijatuhkan terhadap mereka selaras dengan kesalahannya masing-masing . dengan ketentuan pasal 55 ayat1 KUHP ini menjadi dianggap sebagai pelaku. Menyuruh orang lain utnuk melakukan suatu tindak pidana (Doen Pleger). artinya pelaku tindak pidana tersebut melakukan suatu tindak pidana itu seorang diri saja ( secara fisik ) berdasarkan atas kemauan atau inisiatifnya sendiri serta kesadaran yang penuh tanpa di paksa. dibujuk atau di ajak oleh orang lain. atas peristiwa pidana yang terjadi akibat kelalaiannya (baik secara sengaja maupun secara tidak sengaja).LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  dahulu tidak tergolong sebagai pelaku (Akibat pandangan doktrin di atas) sekarang menjadi dapat dimintai tanggung jawab seperti para pelaku aktif. bahwa orang – orang yang menurut doktrin tidak dapat dikatakan sebagai pelaku. menyuruh orang lain melakukan suatu tindak pidana dalam arti berhasil mengikut sertakan orang lain dalam melakukan tindak pidana. Turut melakukan suatu tindak pidana (Mede Pleger). b. Melakukan sendiri suatu tindak pidana. Pasal 55 ayat 1 KUHP. Akibatnya ialah . sehingga mereka dapat di hukum dengan hukuman yang sama berat dengan pelaku utama . Melakukan sendiri suatu tindak pidana ( Pleger ). dianjurkan. yang pada dasarnya menentukan bahwa yang di anggap dan di hukum sebagai pelaku ialah mereka yang : a. menganjurkan. Catatan : Yang dimaksud mengajak disini ialah mengajak. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 48 . atau memaksa. Ad. membujuk atau mengajak orang lain untuk melakukan tindak pidana itu. d. karena sekarang mereka telah dapat dianggap sebagai pelaku (Pelaku dalam arti pasif atau “ Pelaku yang membiarkan “ terjadinya suatu peristiwa pidana) Mencari hubungan tanggung jawab antara pelaku / peserta yang satu dengan pelaku / peserta yang lain dalam suatu tindak pidana. disuruh. Membujuk atau menggerakan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana (Uitlokkers) . c.

karena satu dan lain hal tidak mau melakukan tindak pidana itu sendiri . yaitu pihak yang menyuruh dan pihak yang di suruh Yang menyuruh ( Manus Domina ). c) Adanya kerja sama tersebut disertai sepenuhnya oleh mereka semua.b Menyuruh orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana ( Doen Pleger )  “Menyuruh orang lain“ ( Doen Pleger ) ialah bahwa orang yang menghendaki terjadinya suatu tindak pidana atau peristiwa pidana itu. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 49 . sampai kalau perlu dengan cara paksaan yang di sertai ancaman. Ad. melainkan ia menyuruh orang lain untuk melakukannya. bila yang di suruh itu menolak. suatu perbuatan yang dilakukan seseorang sehubungan dengan pelaksanaan suatu tindak pidana.c Turut melakukan suatu tindak pidana (Mede Pleger)  Turut melakukan “ ( Mede Pleger ) artinya ialah .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ad.  Unsur-unsur pokok yang menandai suatu “ Mede Pleger “ ialah a) Adanya 2 ( Dua ) orang atau lebih yang melakukan suatu tindak pidana secara bersama-sama.  Unsur-unsur yang merupakan syarat mutlak harus ada dalam suatu “ Doen Pleger “ adalah : a) Adanya 2 ( Dua ) pihak . yang pada dasarnya terasa menekan bagi orang yang di suruh.Yang di suruh ( Manus Ministra ). . b) Kesemua orang tersebut di atas adalah orangorang yang mampu bertanggung jawab atas perbuatan -perbuatan mereka. b) Pihak yang di suruh itu harus lah orang-orang yang tidak dapat dipertanggung jawabkan atau yang tidak mampu bertanggung jawab atas perbuatannya. Catatan : Perbuatan menyuruh dalam hal ini dapat dilakukan dengan segala cara . dimana ia turut serta mendampingi pelaku utama.

b) Cara pembujukan dilakukan dengan menggerakan mempengaruhi pihak yang dibujuk dengan cara – cara khusus yang secara terbatas atau Limitatif di atur oleh Undang-undang seperti antara lain : memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada yang di bujuk ( Biasanya yang dipandang menguntungkan bagi yang di bujuk yang umumnya disertai dengan cara : − Penipuan / ancaman Contoh : A membujuk B agar membunuh C dengan alas an ( Tipuan / Ancaman ) bahwa bila C tidak di bunuh. artinya ialah menggunakan kata-kata atau sarana-sarana yang memikat atau meyakinkan kepada orang lain.d Membujuk atau menggerakan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana ( UITLOKKER )  Membujuk untuk melakukan kejahatan .  Unsur – unsur pokok yang menandai “ Uitlokking : a) Adanya 2 ( Dua ) pihak yaitu pihak yang membujuk (Uitlokker) dan pihak yang dibujuk untuk melakukan suatu tindak pidana. − Penyalahgunaan wewenang/ wibawa dan martabat. Contoh : kekuasaan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 50 . dalam mewujudkan suatu tindak pidana atau menyebabkan terjadinya suatu peristiwa pidana. ia ( C ) akan menjadi orang yang berbahaya bagi B. Ad. Catatan : Kerja sama pada suatu “ Mede Pleger “ itu tidak selalu harus telah direncanakan terlebih dahulu melainkan kerjasama itu dapat saja terjadi seketika. bahwa orang lain akan beruntung atau ada faedah yang berguna bagi dirinya bila ia melakukan suatu tindak pidana yang di kehendaki oleh pambujuk.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI d) Kerja sama yang mereka lakukan itu adalah kerja sama secara jasmania ( Tidak termasuk kerjha sama rohaniah ).

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Seorang majikan atau tuan yang menyuruh orang upahannya untuk melakukan suatu tindak pidana. dan sebagainya. 7. kunci palsu kendaraan. (b) Kesempatan. pihak yang menuruti bujukan tersebut dapat di hukum. sehingga bagi pihak yang di bujuk secara sadar masih terbuka pilihan untuk tidak menurutinya akibatnya bila bujukan jahat dituruti. misalkan. misalkan gambar denah dan informasi tentang tempat yang akan dijadikan sasaran kejahatan. 3. misalkan pistol. − Pihak yang di bujuk adalah orang yang dapat bertanggung jawab atas perbuatannya. − Pembujukan tersebut memojokan pihak yang dibujuk pada suatu keadaan memaksa. Dalam rangka memudahkan atau melancarkan terjadinya suatu tindak pidana.2.1. PERBANTUAN DALAM PLICHTIGHEID) TINDAK PIDANA (MEDE Perbantuan dalam tindak pidana ( Mede Plichtigheid ) ialah suatu hal dimana pelaku suatu tindak pidana mendapat bantuan dari pihak lain dalam melaksanakan perbuatan kejahatannya tersebut. dalam arti telah dewasa dan berakal sehat. pisau. (c) Sarana atau alat – alat yang diperlukan untuk melakukan tindak pidana. 7. maka perbantuannya dapat kita bedakan atas : Perbantuan sebelum dilakukannya tindak pidana Perbantuan pada saat dilakukannya tindak pidana. − Penyediaan atau pemberian : (a) Keterangan.   KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 51 . penjaga pabrik yang memberikan kesempatan bagi para pencuri leluasa mencuri barang – barang di pabrik tuannya itu dengan tujuan ia mendapat imbalan yang cukup besar dari pencuri.

contoh :  Delict penadahan yang merupakan perbantuan penjualan barang-barang hasil kejahatan (Setelah kejahatan).4. Gabungan suatu perbuatan ( Concursus idealis ) Pasal 63 KUHP supaya beberapa tindak pidana sebagai gabungan satu tindak pidana maka harus memenuhi syarat -syarat :  Beberapa tindak pidana harus dalam “ Satu peristiwa “ KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 52 . b) Cara-cara pelaksanan perbantuan ini ditentukan / dibatasi oleh Undang-undang. Gabungan tindak pidana dapat di artikan beberapa tindak pidana dilakukan seorang / lebih dan masing-masing perbuatan tindak pidana itu dapat di hukum. b) cara-cara pelaksanaannya tidak terbatas dan tidak ditentukan oleh undang-undang.  Menyembunyikan penjahat yang sedang di cari-cari polisi. sebagaimana di atur dalam Pasal 56 ayat 2 KUHP. Pencurian itu terjadi. Antara kedua macam perbantuan persamaan dan perbedaan. Jadi perbantuan ini dapat dilakukan dengan segala cara. dan sebagainya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 7. daya upaya atau pemberian keterangan untuk melakukan kejahatan. Perbantuan yang diberikan setelah suatu tindak pidana itu dilakukan tidak termasuk dalam suatu penyertaan (Delneming) melainkan sudah di anggap sebagai suatu tindak pidana yang berdiri sendiri.  Persamaannya : Perbantuan sebelum dilakukannya tindak pidana : a) Diberikan pada waktu sebelum dilakukannya tindak pidana.3. Perbantuan pada saat dilakukannya tindak pidana : a) Diberikan pada saat dilakukannya tindak pidana sebagai bantuan bagi tindak pidana itu sendiri. GABUNGAN PERBUATAN PIDANA / TINDAK PIDANA (SAMEN LOOP VAN STRAFBAARE FEITEN)  4. tersebut terdapat 7. yakni terbatas pada pemberian kesempatan. sebagai bantuan perbuatan persiapan atau percobaan.

tetapi mempunyai kesempatan untuk mengambil bagian – bagian TV tersebut secara bertahap hingga lengkap satu Unit TV misalnya : Hari ini mengambil tabung. tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk mengambilnya sekaligus satu unit TV secara lengkap.  Perbuatan yang diteruskan ( Voortgezette ) Pasal 64 KUHP. maka peristiwa itu (pencurian). Minggu depan kabel dan seterusnya hingga lengkap menjadi TV. Demikian juga dalam Councursus Idealis ini dikenal juga ketentuan pidana dalam suatu perbuatan pidana terancam ketentuan umum dan istimewa. supaya tindak pidana dipandang sebagai perbuatan yang diteruskan maka harus dipenuhi syarat : 1) Kasus timbul dari satu niat : Satu kehendak atau satu keputusan. dari pada perbuatan itu adalah sama. maka dalam hal ini telah terjadi pencurian ( Pasal 363 KUHP dan pengrusakan Pasal 406 KUHP ) Walaupun beberapa aturan hukum pidana telah di langgar. Contoh : Seseorang karyawan perusahaan elektronik hendak mencuri TV dari perusahaan itu. Bila diperhatikan contoh di atas . misalnya : Hari ini KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 53 . karena apabila terlaksana. 3) waktu antara perbuatan yang satu dengan lainnya tidak boleh terlalu lama. tiga hari lagi komponen elektroniknya. maka pelaku tersebut lebih dahulu membongkar pintu / jendela. 2) Perbuatan – perbuatan pidana itu harus sama macamnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Perbuatan pidana yang satu dengan yang lainnya tidak dapat di pisahkan ( Conditio sine quanon ) misalnya : seseorang melakukan pencurian di sebuah rumah itu. yaitu Pasal 363 KUHP. maka ketentuan yang istimewalah yang dikenakan dengan ketentuan bahwa ketentuan yang istimewa tersebut harus memuat semua unsur-unsur dari ketentuan pidana umum . maka ketentuan yang dikenakan kepada pelaku adalah yang terberat. Misalnya : Pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu ( Pasal 340 KUHP ) adalah merupakan pengistimewaan dari pembunuhan biasa ( Pasal 338 KUHP ).

tetapi lebih cenderung terhadap Concursus realis (Meerdadsche Samen Loop). sama -sama hukuman penjara / tupan. Demikian juga tentang ketentuan terhadap pelaku. Bila perbuatan-perbuatan itu dituntut.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mencuri komponen TV. yang sejenis. Dalam Cuncursus Realis ( Pasal 65 KUHP ) harus benar .stelah di lakukan pemeriksaan ternyata mengakui telah melakukan beberapa kali kejahatan sebelumnya. walaupun beberapa kali melakukan perbuatan pidana yang sama tetapi karena dipandang sebagai perbuatan yang diteruskan maka ketentuan yang dikenakan terhadap pelakunya adalah ketentuan yang terberat ancaman hukumannya.benar diprhatikan.Hukuman pokok yang di ancamkan terhadap masing-masing kejahatan yaitu sama-sama hukuman mati . yaitu pencurian dengan kekerasan ( pasal 365 KUHP ) dan penganiayaan (Pasal 353 KUHP). maka ketentuan yang terberatlah yang dijatuhkan . yaitu pasal 365 ditambah 1/3 ( Sepertiga ). 1) Gabungan beberapa perbuatan yang sejenis hukuman pokoknya sejenis ( Pasal 65 KUHP ) Catatan : Yang dimaksud gabungan beberapa perbuatan pidana dimana hukuman pokoknya sejenis adalah bahwa setiap perbuatan pidana merupakan perbuatan pidana sendirisendiri dan masing-masing perbuatan di ancaman hukuman pokok. besok mencuri komponen mobil atau maka hal ini bukan lagi merupakan perbuatan yang di teruskan / Voortgezette Handeling.  Gabungan beberapa perbuatan (Concursus Realis pasal 65 dan 66 KUHP). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 54 . maka yang dikenakan kepada pelaku beberapa perbuatan pidana adalah hukuman pokok yang terberat dari perbuatan itu di tambah 1/3 ( Sepertiga ) Contoh : Jika pada suatu hari seorang di tangkap karena di duga melakukan pencurian ( Pasal 363 KUHP ). sama -sama hukuman denda.

Sistem atau stelsel campuran / pertengahan antara system kumulasi dan system Absorbsi yang dipertajam. yang lain hukuman kurungan dan yang lain lagi hukuman denda. Menurut system kumulasi . masing-masing perbuatan di pandang berdiri sendiri. yang terdiri dari : Sistem atau stelsel Kumulasi ( Penjumlahan ) Sistem atau stelsel absorbsi (Sistem penyerapan ) b) Sistem atau stelsel tambahan . Tetapi menurut system campuran ini. jumlah keseluruhan hukuman tersebut tidak boleh KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 55 . yang terdiri atas : Sistem atau stelsel absorbsi yang dipertajam.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2) Gabungan beberapa perbuatan yang hukuman pokoknya berbeda ( Tidak sejenis ) Pasal 66 KUHP. Catatan : Yang dimaksud dengan gabungan beberapa perbuatan dimana hukuman pokok dari perbuatan itu tidak sejenis atau berbeda adalah bahwa seorang melakukan perbuatan pidana. 6 tahun. Di dalam “ Samen Loop “ atau gabungan antara beberapa tindak pidana dikenal beberapa system atau stelsel penghukuman yang secara garis besarnya ialah : a) Sistem atau Stelsel pokok. Misalnya : Kejahatan yang satu hukuman penjara. dan hukuman pokok yang di ancamkan terhadap perbuatan pidana itu berbeda-beda. Misalkan : Ancaman hukuman terhadap kesalahan pelaku masing – masing 9 tahun . dan 3 tahun penjara. akan tetapi jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari hukuman terberat di tambah sepertiganya. maka hukuman yang harus dijalani pelaku tersebut ialah 9 tahun + 6 tahun + 3 tahun penjara sama dengan 18 tahun penjara. Dari semua perbuatan yang dilakukan itu masingmasing yang dijatuhkan hukuman dan apabila di jatuhkan hukuman denda maka diperhitungkan menjadi hukuman kurungan.

Jadi karena itu menurut system campuran ini . Pasal 369 KUHP adalah pemerasan dengan men ista dan penuntutan hanyalah di dasarkan atas pengaduan pihak korban. Polisi . tergantung pada pihak yang diberi hak dan wewenang untuk mengajukan pengaduan itu. yakni .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI hukuman terberat + 1/3 ( Sepertiganya . 332 dan demikian pula pasal 369 KUHP. Delict aduan Relatif KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 56 . 9 tahun + 1/3 X 9 tahun sama dengan 12 tahun penjara. tetap lah hanya 12 tahun dan bukan 18 tahun penjara 5. Delict aduan mutlak ( Absolute ) b. Delict aduan itu dapat dibedakan atas : a. 310.a. Peristiwa pidana yang demikian itu dikenal dengan ilmu hukum pidana dengan sebutan Delict aduan. Pembuatan Undang-undang nampaknya memberikan penghormatan pada hak azasi manusia dengan cara memberikan kesempatan pada beberapa peristiwa pidana tertentu untuk ditangani atau tidak di tangani oleh penegak hukum. Dari sekian banyak peristiwa pidana. sering kita jumpai pula peristiwa -peristiwa yang hanya di dapat di tangani oleh para penegak hukum itu .b. bilamana pihak yang bersangkutan terlebih dahulu mengajukan seuatu pengaduan. Ad. Delict aduan mutlak Delict aduan mutlak ( Absolut ) adalah sejenis peristiwa pidana yang hanya dapat di tuntut bilamana sudah ada pengaduannya misalnya : Peristiwa pidana yang di ancam dengan pasal – pasal 284. Delict aduan Relatif Ad. 287. Jaksa dan Hakim berkewajiban untuk menangani suatu peristiwa pidana tanpa menantikan pengaduan. hukuman yang harus dijalanan oleh pelaku tersebut. 293. DELICT ADUAN DAN PROSEDUR Pengaduan adalah menjadi prinsip hukum pidana bahwa petugaspetugas hukuman seperti .

Peristiwa – peristiwa pidana seperti : Pencurian penggelapan dan demikian pula penipuan misalnya : bukanlah delict aduan . Sama halnya dengan delict aduan mutlak yang bertebaran di sana sini. 394. Perbuatan mencuri bukanlah delict aduan tetapi hubungan antara ayah dan anak merubah status delict demikian itu menjadi delict aduan dalam ilmu hukum pidana. 376. Contoh : Seorang anak yang mencuri uang ayahnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Lain daripada delict ataupun sebagaimana telah kita bentangkan di atas itu. Mengemukakan pasal – pasal di atas itu kiranya mulai menunjukan bahwa bukan semua peristiwa pidana biasa itu dapat menjelma menjadi delict aduan relatif. maka kita melihat pula sekian banyak peristiwa pidana yang di atur dan bertebaran pada buku II KUHP yang tidak tergolong delict aduan. Jadi Delict aduan relatif ialah delict yang berasal dari peristiwa -peristiwa pidana yang pada dasarnya bukanlah delict aduan. akan tetapi adanya hubungan kekeluargaan yang erat antara pelaku dan korban membuat delict itu menjadi delict aduan. Namun peristiwa pidana sedemikian itu dapat pula menjelma menjadi delict aduan. maka delict aduan relatif juga tidak terhimpun di dalam suatu bab tersendiri. 404 dan 441 KUHP. Delict – delict aduan relatif itu kita lihat pada pasal – pasal 367. Adapun persamaan adalah : bahwa baik pengaduan maupun laporan kedua – duanya : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 57 . Dalam membicarakan hal pengaduan ini ada baiknya dengan laporan mengenai dimanakah sebenarnya letak persamaan dan perbedaan antara pengaduan dan laporan itu. walaupun pelakunya memiliki hubungan pertalian darah yang sangat dekat dengan korban. 370. bilamana pelakunya mempunyai garis kekeluargaan yang sangat erat dengan pihak yang dirugikan. delict demikian di sebut delict aduan relaitif.

Pasal 77 KUHP. Sekaligus merupakan pola dasar untuk bertindak bagi pihak yang berwajib untuk segera menangani perkara yang di adukan atau yang dilaporkan tersebut. 6.3. Laporan :  Siapa saja bisa menjadi pelapor dalam arti tidak di batasi siapa orangnya dan apapun perkaranya.  Dapat dicabut kembali oleh yang menbgadu dalam jangka waktu 3 ( Tiga ) bulan setelah di ajukan ( Pasal 75 KUHP ) kalau perkaranya belum diperiksa oleh pengadilan. 6. kurungan atau penjara tidak lebih dari tiga tahun : 6 tahun Segala kejahatan yang diancam hkuman penjara sementara lebih dari tiga tahun : 12 tahun KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 58 . Jika sudah ada keputusan yang tidak dapat diubah lagi terhadap perbuatan itu. Jika telah daluwarsa.     Jika terdakwa meninggal dunia. baik berupa tindak pidana kejahatan maupun pelanggaran. 6. Pasal 78 KUHP. Lama tempo gugurnya ( verjaring ) adalah : Semua Pelanggaran : 1 tahun. Kejahatan yang terancam hukuman denda. GUGURNYA HAK MENUNTUT HUKUMAN Hak penuntutan pidana ( strafactie ) itu menjadi gugur ( hapus ) dalam hal-hal dibawah ini : 6. Tersebut dalam Pasal 76 KUHP “ Nebis in idem “ ( tidak dua kali tentang perbuatan itu juga ).2. Kejahatan Percetakan : 1 tahun.  Tidak mungkin dapat di cabut kembali suatu laporan dapat di anggap telah memasukan laporan palsu. Sedangkan perbedaannya ialah : Pengaduan :  Yang dapat menjadi pengadu dibatasi dengan undang -undang yakni hanyalah korban / keluarganya atau orang-orang tertentu lainnya yang berkepentingan atas penentuan perkara yang bersangkutan.1.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI   Merupakan sumber pengetahuan bagi pihak yang berwajib bahwa telah terjadi suatu tindak pidana.

Anasir kedua membedakan “ Ulangan “ dari “ Gabungan “ sebab gabungan delik – delik ada jika satu orang melakukan beberapa delik padahal antara waktu – waktu dilakukannya tak ada KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 59 . Bagi pelanggaran yang hanya terancam hukuman denda saja dan maksimum denda yang diancamkan pada pelanggaran tersebut telah dibayar oleh pelanggar. 7. pada hal “ Penyertaan “ : Beberapa orang yang melakukan satu delik . melakukan lagi suatu perbuatan yang boleh di hukum. Hak untuk menjalankan pidana menjadi gugur karena : 7. pembuat / pelaku sudah di hukum karena salah satu delik. Sudah kadaluarsa (lewat waktunya) (pasal 84 ayat 1 KUHP) Lama tempo gugurnya hak menjalankan hukuman karena daluwarsa adalah : Untuk pelanggaran : 2 tahun Untuk kejahatan percetakan : 5 tahun Untuk kejahatan-kejahatan yang lain : sepertiga lebih dari tempo daluwarsa hak penuntutan hukuman.2.4. Hal untuk menjalankan hukuman mati tidak dapat gugur karena daluwarsa. ULANGAN ( RESIDIVE ) DAN GABUNGAN DELIK      8. Pasal 83 KUHP.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Kejahatan yang diancam hukuman mati atau penjara seumur hidup : 18 tahun Tempo daluwarsa itu pada umumnya dimulai dari keesokan harinya sesudah perbuatan itu dilakukan. Ulangan atau “ residive “ terjadi jika satu orang yang telah dihukum karena sesuatu delik.  Antara waktu – waktu dilakukan delik – delik itu. Delik ini mengandung 2 ( Dua ) anasir :  Adanya beberapa delik yang dilakukan oleh satu orang sebaliknya. 7. Terhukum meninggal dunia .1. Tempo daluwarsa ini sekali-kali tidak boleh kurang dari lamanya hukuman yang telah dijatuhkan. GUGURNYA HUKUMAN KEWAJIBAN UNTUK MENJALANI 6. Pasal 82 (1) KUHP.

487. Penambahan itu dapat di atur oleh 2 ( Dua ) system :  Sistem ulangan / residive umum “ : Hukuman maksimum yang di ancam pada suatu delik di tembah .vonis – delik vonis. jika pembuat telah di hokum lebih dahulu karena delik lain yang mana saja . 488 KUHP. Gabungan / Samen Loop : delik – delik vomis. Perbedaan ini dapat di nyatakan secara pendek seperti : Ulangan / Residive : Delik .  Sistem ulangan / residive khusus : Hukuman maximum itu baru ditambah jikan pembuat telah di hokum lebih dahulu karena satu delik yang sama – sama atau semacam delik yang kemudian dilakukan ( Masalah Residive diatur dalam buku ke II Pasal 486.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI keputusan hakim tentang salah satu perbuatan itu . BAB V KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA DAN KEJAHATAN TERHADAP MARTABAT PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN Kompetensi Dasar KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 60 .

107. Pasal 104 Makar yang dilakukan dengan niat hendak membunuh Presiden atau wakil Presiden atau dengan maksud hendak merampas kemerdekaannya atau hendak menjadikan mereka itu tiada cakap KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 61 . 2.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Memahami Kejahatan terhadap keamanan Negara dan Kejahatan terhadap martabat Presiden dan wakil Presiden Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab VI . 106. 3. Menjelaskan kejahatan membuka rahasia negara. 6. KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA 1. Kejahatan Makar. Menjelaskan kejahatan terhadap martabat Presiden dan wakil Presiden. 4. Menjelaskan kejahatan makar. 108. diharapkan Siswa mampu : 1. Menjelaskan kejahatan pemberontakan. 5. Menjelaskan kejahatan mengadakan hubungan dengan negara asing. Menjelaskan kejahatan Permupakatan jahat untuk melakukan kejahatan 104. orang atau badan asing untuk menggulingkan pemerintahan RI.

Makar menurut pasal 87 KUHP suatu perbuatan dianggap ada apabila niat sipembuat kejahatan sudah ternyata dengan dimulainya melakukan perbuatan menurut pasal 53 KUHP. Membunuh artinya menghilangkan nyawa orang lain sebagaimana ketentuan pasal 338 KUHP Merampas kemerdekaan termasuk membatasi kemerdekaan orang lain . Makar. artinya percobaan makar samadengan melakukan perbuatan makar. atau merampaskemerdekaan mereka. dihukum mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun. Membunuh Presiden atau Wakil Presiden. Pasal 106 Makar yang dilakukan denan niat hendak menaklukan daerah negara sama sekali atau sebagiannya kebawah pemerintahan asing atau dengan maksud hendak memisahkan sebagian dari daerah itu. Dengan Maksud adalah tujuan yang dikehendaki oleh pelaku atau mengetahui akibat yang akan terjadi. dihukum penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 Tahun.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI memerintah. b. Penjelasan : a. antara lain termasuk perbuatan menculik sebagaimana ketentuan pasal 328 KUHP Membuat tidak mampu termasuk menjadikan tidak cakap memerintah. Unsur Pasal c. c. dapat dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain kekerasan pisik maupun psikis. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 62 . Unsur Pasal : a. termasuk pemberikan bahan berbahaya ( misalnya makanan atauminuman atau suntikan yang merugikan kesehatan jasmani atau rokhani ). Degan maksud. Perbuatan makar merupakan delict selesai. Dengan maksud merupakan unsur kesengajaan. b. atau menjadikan mereka tidak mampu memerintah.

Dengan maksud. Pemimpin adalah orang yang Sesuai UU No. c. dihukumpenjara selama-lamanya 15 Tahun. dihukumpenjara seumur hidupataupenjara sementara selama-lamanya 20 Tahun. Dengan maksud liat penjelasan Pasal 104 KUHP. melainkan dapat juga dibawa kebawah kekuasaan kelompok tertentu yang ingin memisahkan diri dari negara kesatuan RI ataumenjadi bagian darinegara lain atau menjadi negara sendiri. (2) Pemimpin danpengatur makar yang dimaksudkan dalamayat 1 . Dengan maksud. Makar. b. ayat 2 : Pemimpin dan pengatur makar tersebut ayat 1 Penjelasan : Menggulingkan pemerintahan artinya :  Menghancurkan bentuk pemerintahan menurut UUD 45. c. Pasal 107 (1) Makar yang dilakukan dengan niat menggulingkan pemerintahan. b. Memisahkan sebagian atau seluruh wilayah negara jatuh ke tangan musuh . c. 27 Tahun 1999 tentang perubahan KUHP yang berkaitan dengan Kejahatan terhadap keamanan Negara KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 63 . Yang dimaksud dengan merencanakan makar. Makar.  Mengubah secara tidak sah bentukpemerintahan menurut UUD 45 ( pasal 88 bis KUHP ).LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI a. b. Unsur Pasal 107 ayat 1 : a. Memisahkan sebagian dari wilayah negara didalam kejahatan ini adalah tidakperlu bahwa wilayah negara dibawa kebawah kekuasaan asing . atau memisahkan sebagian wilayah negara dariyang lain. Menggulingkan pemerintahan. Penjelasan a. Makar liat penjelasan Pasal 104 KUHP.

leninesme yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat. baik didalam maupun diluar negeri yang diketahuinya berazaskan ajaran komunisme/markisme-leninesme atau dalam segala bentuk dan perwujutannya dengan maksud mengubah dasar nega atau menggulingkan pemerintahan yang sah KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 64 . dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 Tahun. tulisan. menyatakan keinginan untuk meniadakan ataumengganti Pancasila sebagai dasar negara yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat atau menimbutkan korban jiwa atau harta benda. Pasal 107 c Barangsiapa secara melawan hukum dimuka umum dengan lisan. dimuka umum dengan lisan. tulisan. dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme . atau b. atau menimbulkan korbanjiwa ataukerugian harta benda dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 Tahun.markisme. Pasal 107 b Barangsiapa secara melawan Hukum. Barang siapa mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga menganut ajaran komunisme/markismeleninesme atau dalam segala bentuk dan perwujutannya. dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme . Barangsiapa yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi. dan atau melalui media apapun. tulisan. tulisan.leninesme dengan maksud mengubah atau menganti Pancasila sebagai dasar . dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 Tahun.markisme.leninesme dalam segala bentuk dan perwujutannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 Tahun.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 107 a Barangsiapa secara melawan hukum dimuka umum dengan lisan.markisme. Pasal 107 d Barangsiapa secara melawan hukum dimuka umum dengan lisan. dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme . Pasal 107 e Dipina dengan pidana penjara paling lama 15 Tahun : a.

atau memusnahkan instalasi negara ataumiliter. 2. membuat tidak dapat dipakai. Ke. Barangsiapa secara melawan hukum menghalangi atau menggagalkan pengadan atau distribusi bahan pokok yang mengusai hajat hidup orang banyak sesuai dengan kebijakan pemerintah. Unsur pasal : Diancam dengan pidana paling lama 15 Thun karena pemberontakan : Ke . Pasal 108 Ayat ( 1 ) Salah karena memberontak dihukum penjara selamalamanya 15 tahun yaitu : 1e. dihukum penjara seumur hidup atau penjara sementara selamalamanya 20 tahun. Barangsiapa secara melawan hukum merusak. Penjelasan : Pemberontakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang banyakdalam ikatan organisasi ditujukan kepada pemerintahan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 65 . Barangsiapa yang dengan niat menentang kepada kekuasaan yang telah berdiri di Negara Indonesia. menhancurkan. Ayat ( 2 ) Pemimpin atau pengatur pemberontakan.1 : Melawan pemerintah dengan senjata. Barangsiapa melawan dengan senjata kepada kekuasaan yang telah berdiri di Negara Indonesia. atau b. Ayat ( 2 ) Pemimpin . melawan atau menggabungkan diri pada gerombolan orang yang bersenjata untuk melawan ke kekuasaan itu. menyerbu bersama-sama dengan gerombolan yang melawan pemerintah dengan senjata.pangatur pemberontakan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 107 f Dipina karna sabotase dengan pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 Tahun : a. Kejahatan Pemberontakan.pemimpin dan pengatur .2 : Orang yang dengan maksud melawan pemerintah. Diancam pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 Tahun. 2e.

yang akan diberitahukan kepada orang lain. 5e. hukumnya boleh di kedua kalikan. 3e Sedia barang yang diketahuinya . Pasal 110 Ayat ( 1 ) Permukaatan akan melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal-pasal 104. Beriktiar akan mendapat atau akan memberikan bagi orang lain kesempatan. iktiar atau keterangan untuk kejahatan itu . iktiar atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu. Ayat ( 2 ) Hukuman itu juga berlaku bagi orang yang dengan maksud akan menyediakan atau memudahkan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal-pasal 104. 2e. 107. Pemimpin dan pengatur liat penjelasan pasal 107 ayat 2. 107dan108. 106. 3. Ayat ( 5 ) Bila dalam salah satu hal-hal yang dimaksudkan dalam ayat 1 dan ke 2 dari pasalini. antara lain berbentuk menduduki Pos Polisi. menghalangi atau menggalkan sesuatu daya upaya pemerintah untuk mencegah atau menekankan orang melakukan kejahatanitu. 108.106. diikuti oleh kejahatan itu . pemancar radio dll Dengan maksud liat penjelasan pasal 104 KUHP. Menyiapkan atau mempunyai rencana untuk melakukan kejahatan itu. 107 dan 108 dihukum sama dengan kejahatan itu. Ayat ( 4 ) Tiada boleh dihukum barangsiapa maksudnya ternyata hanya akan menyediakan atau memudahkan perubahan ketata-negaraan dengan pengertian umumnya. Permupakatan jahat untuk melakukan kejahatan 104. Mencoba membujuk orang lain supaya ia melakukan menyuruh melakukan atau turut melakukan kejahatan itu atau memberi bantuan atau kesempatan. 106. Beriktiar mencegah. Ayat ( 3 ) Barang yang dimaksutkan dalam ayat yang lalu sub 3e boleh dirampas. Unsur Pasal : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 66 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI yang sah. 1e. bahwa barang itu guna melakukan itu 4e. kantor telepon.

dianggap telah terjadi . Mempunyai persediaan barang-bang yang diketahui bahwa gunanya untuk melakukan kejahatan . 4e. 2e. Mencoba memperoleh kesempatan. sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu . pidananya dapat dilipatkan dua kali. atau supaya memberi bantuan pada waktumelakukan atau memberi kesempatan. Ayat ( 2 ) Pidana tersebut berlaku juga bagi orang yang denganmaksud mempersiapkan ataumemperlancar kejahatan tersebutpasal 104 – 108. menyuruh dan turut sertamelakukan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 67 . merintang / menggagalkan tindakan yang diadakan oleh pemerintah guna mencegah atau menindas pelaksanaan kejahatan Ayat ( 3 ) Barang-barang termaksud dalam ayat ( 2 ) 3e dapat dirampas Ayat ( 4 ) Tidak dipidana barang siapa ternyata bahwa maksudnya hanya mempersiapkan ataumemperlancar perubahan ketata negaraan dalam arti umum Ayat ( 5 ) Jika dalam salah satu hal seperti dimaksud dalam ayat 1 dan 2 pasal ini.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ayat ( 1 ) Permupakatan jahat untuk melakukan kejahatan tersebut pasal 104 -108 diancam denganpidana penjara paling lama 6 Tahun. agar melakukan . kejahatan sungguh terjadi. 1e. Yang dimaksud menggerakan orang lain. Mencoba mengerakan orang lain agar melakukan. sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan bagi diri sendiri atau orang lain. menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kejahatan. 3e. 1e. Mempersiapkan / mempunyai rencana untuk melaksanakankejahatan yang maksudnya akan diberitahukan orang lain 5e. Mencoba mencegah. Ayat ( 2 ) Cukup jelas. yaitu segera setelah dua orang atau lebih sepakat melakukan suatu kejahatan. Penjelasan : Ayat ( 1 ) Pengertian permupakatan jahat sebagaimana dimaksud pasal 88 KUHP yang berbunyi : permupakatan untuk berbuat kejahatan.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2e. 3e. 106. Dapat dirampas jelas bukan merupakan pidana tambahan. memberi bantuan dan memberi kesempatan sarana atau keterangan haruslah ditafsirkan menurut pengertian sebagaimana dimaksud pasal 56 KUHP Yang dimaksud memperoleh kesempatan adalah mengusahakan kemudahan-kemudahan. 107 dan pasal 108 KUHP Menurut Prof. Kejahatan mengadakan hubungan dengan negara asing. Yang dimaksud mempersiapkan / mempunyai rencana berarti dengan maksud memperlancar dilakukannya suatu tindak pidana yang diatur pasal 104. menyimpan dan/ atau menyembunyikan benda-benda untuk melakukan kejahatan. yang seharusnya orang tersebut mempunyai kewajiban hukum untuk melapolkan kepada polisi atau pejabat yang berwewenang. merintangi atau menggagalkan dapat terjadi bersipat “pasif “ yang artinya dengan tidak melakukan perbuatan tertentu. 5e. Contoh : Seseorang yang mengetahui ada pengiriman pasukan yang akan menumpas pemberontak dengan melewati jembatan kereta api yang diketahuinya rusak tidak dapat dilewati sehingga menimbulkan terjadinya kecelakaan kereta api dan kegagalan pengiriman pasukan tersebut. orang atau badan asing untuk menggulingkan Pemerintahan RI. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 68 . 4.padahal ia mempunyai kewajiban untuk melakukan perbuatan tersebut. melainkan merupakan suatu tindakan pencegahan dengan tujuan agar benda tersebut tidak sampai digunakan orang lain. Noyon-Langemeyer bahwa perbuatan mencegah. Ayat ( 3 ) haruslah ditafsirkan menurut pengertian sebagaimana dimaksud pasal 55 KUHP. 4e. Pada tingkat penyidikan dan penuntutan agar dilakukan penyitaan. baik bagi diri sendiri maupun orang lain untuk melakukan kejahatan Yang dimaksud mempunyai persediaan berarti dengan sengaja mengumpulkan.

atau memperkuat niatnya untuk atau menjajikan bantuan pada perbuatan itu. Perbuatan permusuhan atau berperang terhadap negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 96 ayat ( 2 ) KUHP yang termasuk sebutan perang yaitu perusakan dengan tempat yang berpemerintahan sendiri. Dengan maksud cukup jelas. dihukum penjara selama-lamanya 15 Tahun. Yang dimaksud dengan raja termasuk juga presiden. c. b. c. Ayat ( 2 ) Jika permusuhan itu dilakukan atau peperangan terbit . Dengan maksud menggerakkannya untuk melakukan perbuatan permusuhan atau perang terhadap negara. Barangsiapa. Penjelasan : a. dengan seorang raja atau suku bangsa. atau dengan niat hendak meneguhkan maksud mereka tentang hal itu. maka dijatuhkan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 Tahun. Ayat ( 2 ) Jika permusuhan atau perang sungguh terjadi . b. atau membantu mempersiapkan perbuatan tersebut. d. Barangsiapa cukup jelas. demikian juga perang antar anak negeri. atau dengan niat akan menjadikan pertolongan pada mereka atau hendak memberi pertolongan waktu menyiapkan perbuatan itu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 111 Ayat ( 1 ) Barangsiapa yang mengadakan perhubungan dengan negara. Menadakan hubungan dengan negara asing maksudnya seperti menjadimata-mata atau kaki tangan orang asing. e. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 69 . Unsur Pasal : Ayat ( 1 ) a. Mengadakan hubungan dengan negara asing. maupun dengan raja atau rakyat dengan niat hendak mengajak. membujuk mereka itu supaya bermusuh-musuhan atau berperang dengan negara. diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 Tahun.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

f.

Membantu cukup jelas.

Pasal 111 bis Dihukum penjara selama-lamanya 6 Tahun : 1e. Barangsiapa mengadakan perhubungan dengan orang atau badan diluar negara Indonesia, dengan niat hendak membujuk orang atau badan itu supaya memberi bantuan untuk menyiapkan, memudahkan atau menggulingkan pemerintahan untuk meneguhkan niat orang atau badan tentang halitu dengan niat hendak memberi atau berjanji akan memberi bantuan dalam pada itu, atau untuk menyiapkan, memudahkan atau merusakkan pemerintahan. 2e. Barangsiapa memasukkan kedalam negeri sesuatu barang yang dapat dipergunakan untuk memberi bantuan lahir buat menyiapkan memudahkan atau merusakkan pemerintahan, jikalau diketahuinya atau ada alasan sangat untuk menyangka, bahwa barang tadi sesungguhnya gunanya untuk itu. 3e. Barangsiapa yang menyimpan atau menyediakan sesuatu barang yang dapat dipergunakan untuk memberi bantuan lahir akan menyiapkan, memudahkan atau merusakkan pemerintahan, jikalau diketahuinya atau ada alasan sangat untuk menyangka, bahwa barang itu memang gunanya untuk itu dan bahwa barang itu atau barang apa saja penggantinya dibawa masuk kedalam negeri untuk keperluan tadi atau ditujukan untuk keperluan tadi oleh orang atau badan diluar negeri Indonesia.Barang yang dipakai untuk melakukan atau yang ada perhubungannya dengan kejahatan tersebut dalam ayat diatas bab 2e dan 3e boleh dirampas. Unsur Pasal : 1e. - Barangsiapa. - Mengadakan perhubungan dengan orang atau badan Yang berkedudukan diluar Indonesia. - Dengan maksud untuk menggerakkan orang atau badan itu supaya memberi bantuan dalam menyiapkan, memperlancar / megadakan penggulingan pemerintahan atau untuk memperkuat niat orang atau badan itu berbuat demikian atau menjajikan atau memberi bantuan kepada orang atau badan itu dalam perbuatan tersebut

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

70

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

atau menyiaokan, memperlancar / mengadakan penggulingan pemerintah. 2e. Barangsiapa memasukkan suatu benda yang dapat digunakan untuk memberi bantuan material dalam menyiapkan memperlancar atau mengadakan penggulingan pemerintahan, diketahui atau ada alasan kuat untuk menyangka, bahwa benda akan dipakai untuk perbuatan tersebut. 3e. - Orang yang mempunyai atau mengadakan perjanjian mengenai suatu benda yang dapat digunakan untuk memberi bantuan material dalam menyiapkan, memperlancar / mengadakan penggulingan pemerintahan, diketahui atau ada alasan kuat untuk menduga, bahwa benda akan dipakai untuk perbuatan tersebut dan bahwa benda itu atau barang lain sebagai penggantinya dimasukkandengan tujuan tersebut atau diperuntukkan bagi tujuan itu oleh orang atau badan yang berkedudukan diluar Indonesia. - Benda-benda yang dipakai untuk melakukan kejahatankejahatan tersebut dalam 2e dan 3e atau yang ada hubungannya dengan kajahatan-kejahatan itu, dapat dirampas. Penjelasan : 1e. - Barangsiapa cukup jelas - Menadakan hubungan dengan negara asing maksudnya seperti menjadimata-mata atau kaki tangan orang asing. - Menggulingkan pemerintahan artinya : Menghancurkan bentuk pemerintahan menurut UUD 45 Mengubah secara tidak sah bentuk pemerintahan menurut UUD 45 ( pasal 88 bis KUHP ). 2e. 3e. Cukup jelas Dapat dirampas jelas bukan merupakan pidana tambahan, melainkan merupakan suatu tindakan pencegahan dengan tujuan agar benda tersebut tidak sampai digunakan orang lain. Pada tingkat penyidikan dan penuntutan agar dilakukan penyitaan Kejahatan membuka rahasia Negara.

5.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

71

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Pasal 112 Barangsiapa dengan sengaja mengumumkan, atau mengabarkan atau menyampaikan surat, kabar dan keterangan tentang sesuatu hal kepada negara asing, sedang diketahuinya bahwa surat, kabar atau keterangan itu harus dirahasiakan karena kepentingan negara, maka ia dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya 7 tahun. Unsur Pasal : a. Barangsiapa b. Dengan sengaja c. Mengumumkan surat-surat, berita-berita / keterangan-keterangan yang diketahui bahwa harus dirahasiakan untuk kepentingan negara atau memberitahukan / memberikan kepada negara asing, kepada seorang raja atau suku bangsa. Penjelasan : a. Barangsiapa cukup jelas b. Dengan sengaja cukup jelas c. Yang dimaksud mengumumkan adalah menyampaikan pemberitahuan sesuatu hal yang seharusnya dirahasiakan kepada orang lain lebih dari satu orang baik secara tertulis maupun lisan. - Yang dimaksud memberitahukan dapat dilakukan dalam bentuk menyerahkan sesuatu barang atau dokumen atau surat-surat dan atau informasi yang seharusnya dirahasiakan kepada orang asing. Tentang surat rahasia dijelaskan bahwa apakah suatu surat itu merupakan surat rahasia atau bukan, hal mana ditentukan oleh sifat surat itu sendiri sehingga tidaklah perlu bahwa untuk menyebut surat itu sebagai surat rahasia, pada surat tersebut harus dibubuhi keterangan “ RAHASIA” seperti yang lazim dijumpai dalam praktek. Pasal 113 Ayat ( 1 ) Barangsiapa dengan sengaja mengumumkan, memberitahukan atau menyampaikan kepada orang yang tidak berhak mengetahui, segenapnya atau sebagian dari surat, peta bumi, rencana, gambar atau benda rahasia yang berhubungan dengan pertahanan atau keselamatan Indonesia terhadap serangan negeri

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

72

Ayat ( 2 ) : Jika adanya surat-surat atau benda-benda pada yang bersalah. rencana-rencana. pidanaya dapat ditambah sepertiganya. Untuk seluruhnya atau sebagian mengumumkan. Pasal 114 Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan surat atau benda rahasia yang dimaksudkan dalam pasal 113 yang mana ia wajib menjaga atau menyimpan. yang disimpan olehnya atau yang diketahui olehnya akan isi surat atau bentuk atau cara membuat benda-benda rahasia itu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI asing. surat-surat. Barangsiapa cukup jelas b. kepada orang yang tidak berwenang mengetahui. atau pengetahuannya tentang itu karena pencahariannya. ataumemberitahukan maupun menyerahkan. peta-peta. atau bentuknya atau caranya membuat segenapnya atau sebagian menjadi diketahui orang banyak atau diperoleh atau diketahui oleh orang lain yang tidak berhak KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 73 . yang ada padanya atau yang isinya. gambar-gambar atau benda-benda yang bersifat rahasia dan bersangkutan dengan pertahanan atau keamanan Indonesia terhadap serangan dari luar. Penjelasan : Ayat ( 1 ) : a. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun. bentuknya / susunannya bendabenda itu diketahui olehnya. Mengumumkan Cukup jelas d. Dengan sengaja c. Dengan sengaja cukup jelas c. Memberitahukan cukup jelas Ayat ( 2 ) : Yang dimaksud “pencahariannya” merupakan pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus untuk penghidupannya. Barangsiapa b. Unsur Pasal : Ayat ( 1 ) : a. Ayat ( 2 ) Jika yang bersalah menyimpannya surat-surat atau benda-benda yang dimaksud diatas atau mengetahuinya hal itu oleh karena jabatannya maka hukumannya boleh ditambah dengan sepertiganya.

Barangsiapa b. Karena kealpaanya. Barangsiapa cukup jelas. c. membuat atau suruh membuat salinan atau petikan dengan huruf atau bahasa apapun juga atau membuat atau menyuruh membuat gambar atau tiruan dari surat atau benda itu. Kealpaan cukup jelas. d. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 74 . b. 18 tahun 1960 tentang perubahan jumlah hukuman denda dalam KUHP dan dalam ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945. Menyebabkan surat-surat atau benda-benda rahasia tersebut dalam pasal 113 yang tentang menyimpan atau menaruhnya menjadi tugasnya diketahui oleh umum mengenai bentuk dan susunannya untuk seluruhnya atau sebagian atau oleh orang yan tidak berwenang mengetahui ataupun jatuh dalam tangannya. Unsur Pasal : a. Ancaman denda dikalikan lima belas menurut perpu No. Pasal 115 Barangsiapa dapat melihat atau mengetahui surat atau benda rahasia . Surat rahasia cukup jelas. c. b. Untuk seluruhnya atau sebagian. Barangsiapa. Penjelasan : a. sedangkan diketahui atau selayaknya harus diduga bahwa bendabenda itu tidak dimaksud untuk diketahuiolehnya. yang dimaksudkan dalam pasal 113 segenapnya atau sebagian yang disadarinya atau patut dapat disangka bahwa surat atau benda rahasia itu tidak boleh diketahuinya.Unsur pasal : a. Melihat atau membaca surat-surat atau bendabenda rahasia tersebut pasal 113 c.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mengetahui maka ia dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya satu tahun enam bulan atau hukuman kurungan selamalamanya satu tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. atau barangsiapa tidak menyampaikan surat atau benda itu kepada pegawai yustisi atau Polisi atau Pamongpraja jika surat atau benda itu diperolehnya maka ia dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tiga tahun.4500.

Sesuai Ordonansi tanggal 22 September 1945 . gambaran atau tiruan surat-surat atau benda-benda rahasia itu atau tidakmenyerahkan benda-benda itu kepada pejabat kehakiman. membuat atau menyuruh buat tiruan. Barangsiapa cukup jelas b. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 75 . ancaman pidana bagi tindak pidana dirubah menjadi selama-lamanya 6 tahun 6.1 Tahun 1946 ). dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 8 Tahun. Penjelasan : a. Kejahatan Presiden. 133 . dalam hal bendabenda itu jatuh ke tangannya.013-022 / PUU-IV / 2006 tanngal 4 Desember 2006. Pasal 134.136 bis. terhadap martabat Presiden dan wakil Pasal 131 Tiap-tiap perbuatan menyerang tubuh Presiden atau wakil Presiden yang tidak termasuk dalam peraturan pidana yang lebih berat. 137 Dihapus berdasarka Putusan Mahkamah Konstitusi RI No. Kepolisian / Pamongpraja. Penjelasan : Yang dimaksud dengan penyerangan adalah perlakuan terhadap tubuh seperti penganiayaan atau perbuatan kekerasan lainnya yang ditujukan terhadap diri Presiden atau wakil Presiden. Sibl 1945 No. Begitu pula jika membuat / menyuruh buat salinan atau ikhtisar denganhuruf atau dalam bahasa apapun juga.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI d. 135. 135 dan 136 Dihapus oleh karena tidak sesuai lagi dengan susunan kenegaraan sekarang ( dicabut oleh UU No. Unsur Pasal Tiap-tiap perbuatan penyerangan terhadap diri presiden atau wakil presiden yang tidak termasuk dalam ketentuan pidana lain yang lebih berat. Pasal 132 . Diketahui atau selayaknya harus disuga cukup jelas c.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI BAB VII KEJAHATAN TERHADAP ORANG Kompetensi Dasar KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 76 .

Menjelaskan kejahatan terhadap jiwa orang. Kejahatan terhadap kesopanan. 5.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Memahami Kejahatan terhadap orang. 1. Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab VII . 2.  Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang masih dalam kandungan ibunya. Menjelaskan kejahatan terhadap kehormatan orang. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 77 .  Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang sedang atau tidak lama dilahirkan. Menjelaskan kejahatan terhadap kemerdekaan orang. KEJAHATAN TERHADAP JIWA ORANG Kejahatan ini biasa disebut juga kejahatan terhadap nyawa manusia. adapun jenis-jenisnya adalah :  Kejahatan terhadap jiwa orang pada umumnya. diharapkan Siswa mampu : 1. 3. 4. Menjelaskan kejahatan terhadap tubuh orang.

Barangsiapa dengan sengaja merampas jiwa orang lain. adalah pembunuhan.  Jika tertangkap tangan akan melindungi dirinya atau kawannya dari hukuman. jadi dengan demikian setiap perbuatan dalam bentuk apa saja asal dilakukannya dengan sengaja dan ditujukan (niatnya) untuk merampas jiwa orang lain.  Mempertahankan barang yang didapatnya. Kejahatan ini adalah delict materiil. 1) Pembunuhan dengan sengaja Pasal 338 KUHP. Ad. Dengan sengaja menganjurkan atau membantu atau memberi daya upaya kepada orang lain untuk membunuh diri. Adapun perbuatannya tidak dirumuskan dengan tegas.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Kejahatan terhadap jiwa orang yang dilakukan karena kelalaiannya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 78 .  Merampas / menghilangkan jiwa orang lain. Pembunuhan atas permintaan yang sangat dan tegas dari orang yang dibunuh. d. Pembunuhan dengan sengaja (doodslag). Pembunuhan dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu (moord). artinya bahwa akibat yang timbul dari kejahatan itu yang harus dilihat. disertai atau didahului kejahatan atau pelanggaran lain yang tujuannya :  Menyiapkan atau mempermudahkan perbuatan itu. dihukum karena makar mati dengan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun. Terbagi atas : a. Kejahatan terhadap jiwa orang pada umumnya. Unsur-unsurnya adalah :  Dengan sengaja. b. 2) Pembunuhan dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu Pasal 340 KUHP. Dalam Pasal 339 KUHP diatur tentang makar mati dengan pemberatan apabila kejahatan itu : Diikuti. c.

Kejahatan ini biasa terjadi misalnya :  Apabila seseorang dihinggapi oleh penyakit yang tidak dapat disembuhkan serta dapat menimbulkan banyak penderitaan.  Apabila dalam pertempuran seorang mendapat luka parah atau dalam ekspedisi menderita sakit sehingga tidak dapat meneruskan tugasnya. Pembunuhan dalam Pasal 344 ini harus dilakukan atas permintaan yang tegas dan nyata serta sungguh-sungguh jadi tidak cukup kalau hanya sekedar persetujuan saja. 3) Pembunuhan atas permintaan yang sangat dan tegas dari orang yang dibunuh pasal 344 KUHP.  Perencanaan itu memerlukan tempo (jangka waktu) yang agak lama.  Menganjurkan / membantu orang lain membunuh diri Pasal 345 KUHP. yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh dihukum penjara selamalamanya 12 tahun.  Apabila seorang telah putus asa dan tak sanggup lagi hidup. Unsur-unsurnya adalah :  Perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. dihukum karena pembunuhan direncanakan dengan hukuman mati atau seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun. Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 79 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain.  Pemuda / pemudi yang dihalangi oleh orang tuanya untuk nikah dengan pilihannya sendiri.  Dengan maksud menimbulkan matinya orang lain. Arti direncanakan terlebih dahulu adalah :  Telah merencanakankehendaknya (niatnya) itu lebih dahulu.  Direncanakan terlebih dahulu.  Cara merencanakannya harus dalam keadaan tenang.

 Kepada orang lain.  Alasannya adalah. memberi daya upaya. dihukum penjara selamalamanya 4 bulan. bahwa si ibu didorong oleh perasaan takut akan diketahui. Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang sedang atau tidak antara lama dilahirkan. Pembunuhan anak yang direncanakan (kinder moord) pasal 342 KUHP. Ada dua jenis yaitu : Pembunuhan anak (kinder doodslag) Pasal 341 KUHP. Ad.Oleh seorang ibu terhadap anaknya yang sedang atau tidak antara lama setelah dilahirkannya sendiri.  Pembunuhan diri jadi dilaksanakan. karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak. maka jika orang itu jadi membunuh diri. Unsur-unsurnya adalah :  Dengan sengaja menganjurkan. menghilangkan jiwa anaknya itu pada ketika dilahirkan atau tidak lama kemudian dari pada itu dihukum karena pembunuhan anak yang 1) 2) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 80 . Unsur-unsurnya adalah :  Pembunuhan terhadap seorang anak yang sedang atau tidak antara lama dilahirkan. dihukum karena makar mati terhadap anak dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun. Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambilnya sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi melahirkan anak.  Dilakukan dengan sengaja. Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama sesudah dilahirkan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Barangsiapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri. menolongnya dalam perbuatan itu atau memberikan daya upaya kepadanya untuk itu. membantu. bahwa sang ibu itu elahirkan seorang anak.  Untuk membunuh diri.

Pasal 347 KUHP.  Dilakukan dengan sengaja.  Dilakukan oleh orang lain tanpa persetujuan si ibu. Ad. 342 KUHP harus dihukum sebagai makar mati atau pembunuhan biasa Pasal 340 atau 340 KUHP.  Alasan perbuatan dilaksanakan oleh si ibu untuk melaksanakan kehendak yang dimiliki oleh si ibu sebelum ia melahirkan dan kehendak mana diliputi oleh perasaan takut. Pasal 346 KUHP. Dalam ilmu pengetahuan umum istilah yang biasa digunakan untuk kejahatan ini adalah Abortus yaitu perbuatan yang mengakibatkan bahwa sianak yang masih dalam kandungan dilahirkan sebelum tiba waktunya menurut alam.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI direncanakan dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun.  Dilakukan oleh orang lain dengan persetujuan si ibu. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 81 . bahwa si ibu diketahui telah melahirkan anak. Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang masih dalam kandungan ibunya. Terhadap orang yang turut serta atau membantu dalam kejahatan pembunuhan terhadap anak Pasal 341. Ada empat macam Abortus yaitu : Yang dilakukan oleh si ibu sendiri.  Dilakukan oleh si ibu dengan menyuruh orang lain. Unsur-unsurnya adalah :  Merampas jiwa seorang anak yang sedan atau tidak antara lama dilahirkan. Perempuan yang dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu.  Dilakukan oleh seorang ibu yang melahirkan anak itu.

bahwa oleh karena itu dapat gugur kandunannya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1) 2) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya seorang perempuan tidak dengan ijin perempuan itu. 2) Jika karena perbuatan itu perempuan itu adi mati dia dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 82 . dihukum penjara selam-lamanya 12 tahun.Seorang dokter yang menggugurkan atau membunuh kandunan untuk menolong jiwa perempuan atau menjaga kesehatannya. Pasal 348 KUHP. Pasal 299 KUHP.45. Barangsiapa dengan sengaja mengobati seseorang perempuan atau mengerjakan sesuatu perbuatan terhadap seorang perempuan dengan memberitahukan atau menimbulkan pengharapan. tidak bias dihukum. Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun atau kurungan selamalamanya 1 tahun. Jika karena perbuatan itu mengakibatkan perempuan itu mati. lalu kita mendapat kesulitan untuk mengarahkan kepada Pasal 346. Ad. 1) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya seorang perempuan dengan ijin perempuan itu dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun 6 bulan.Maka apabila suatu kasus terjadi. jadi harus dibuktikan bahwa anak dalam kandungan itu keadaan hidup saat dilakukan perbuatan. 347 dan 348 obyeknya adalah jiwa seorang anak. Kejahatan yang diatur dalam Pasal 346. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun atau denda sebanyakbanyaknya Rp. 347 dan 348 maka ada pasal 299 sebagai alternatifnya. Kejahatan terhadap jiwa orang yang dilakukan karena kelalainnya Pasal 359 KUHP. dihukum penjara selama-lamanya 15 tahun.000. Hal ini dalam praktek sukar dibuktikan.

(5) Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum. (3) Jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Matinya orang disini tidak dimaksud sama sekali oleh terdakwa. KEJAHATAN TERHADAP TUBUH MANUSIA Kejahatan ini biasa disebut Penganiayaan (mishandeling) adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit. akan tetapi kematian tersebut hanya merupakan akibat dari kurang hati-hatinya atau lalainya terdakwa. (1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 2) Sengaja dengan adanya kepastian akibat lain. kurang waspada. 3) Sengaja dengan adanya kemungkinan akibat lain. sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun.  Penganiayaan biasa pasal 351 KUHP. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 83 . Penjelasan : Luka berat Pasal 90 KUHP. (4) Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja. dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun.(2) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat.500. 2. Ada dua syarat Tidak sengaja / lalai (culpa). a) Penyakit atau luka yang tidak bisa diharapkan sembuh dengan sempurna. luka atau perasaan tidak enak (penderitaan) kepada orang lain. 2) Akibat yang ditimbulkan karena kurang hati-hati atau kurang kewaspadaan itu harus dapat dibayangkan. Ada tiga pengertian Sengaja (dolus) 1) Sengaja yang dimaksud. 1) Bila dengan melakukan sesuatu perbuatan seseorang kurang berhati-hati. Ada dua macam penganiayaan yaitu : 1) Penganiayaan yang dilakukan dengan sengaja.4.

maka penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau halangan untuk melakukan jabatan atau pekerjaan adalah penganiayaan ringan. Dan apabila mati itu dimaksud. c) d) e) f) g) Dapat mendatangkan Terus menerus tidak cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan. Luka berat atau mati dalam pasal 351 hanya merupakan akibat. Selain dari pada apa yang tersebut dalam Pasal 353 dan 356. jadi tidak dimaksud oleh si pembuat.4. Penganiayaan ringan Pasal 352 KUHP. lumpuh. Berubah pikiran / akal lebih dari empat minggu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI b) bahaya maut. Menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan ibu. Jika luka berat dimaksud. maka kepada pembuat dikenakan Pasal 338 (pembunuhan). Tidak lagi memakai salah satu panca indra. Kudung (rompang) .  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 84 . jika dilakukan terhadap orang yang bekerja padanya atau yang ada dibawah perintahnya. dihukum penjara selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.  Penganiayaan yang direncanakan lebih dahulu Pasal 353 KUHP.-di tambah sepertiganya. b) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat. maka kepada si pembuat dikenakan Pasal 354 (penganiayaan berat). c) Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya ia dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun. a) Penganiayaan yang dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun. sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun.500.

b) Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya. a) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 5 tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya 1 tahun. b) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan pejabat atau pekerjaan sementara.500. c) Jika dilakukan dengan memakai bahan yang merusak jiwa atau kesehatan orang. 353.  Luka yang menyebabkan jatuh sakit atau terhalang pekerjaan sehari-hari.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Penganiayaan berat Pasal 354 KUHP. a) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain. Apabila penganiayaan berat dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu maka ancaman hukuman lebih diperberat menjadi 12 tahun diatur dalam Pasal 355 KUHP. dengan hukuman penjara selama-lamanya 8 tahun. b) Jika dilakukan terhadap pegawai negeri yang sedang menjalankan pekerjaan yang syah. bapaknya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 85 .4. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan atau hukuman kurunan selama-lamanya 6 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 354 dan 355 ancaman hukumannya dapat ditambah sepertiganya apabila : a) Jika sitersalah melakukan terhadap ibunya. 2) Penganiayaan yang dilakukan dengan tidak sengaja Pasal 360 KUHP.Jadi akibat dari kelalaian itu adalah :  Luka berat. dihukumkarena penganiayaan berat. istrinya / suaminya atau anaknya. sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 10 tahun. Terhadap kejahatan yang diatur dalam Pasal 351.

jadi memakan waktu yang agak lama. baik yang dilakukan dengan sengaja maupun yang dilakukan dengan tidak sengaja.  Dengan melawan hak. mengikat dsb. d) Hukuman yang ditentukan dalam pasal ini dikenakan juga kepada orang yang sengaja memberi tempat untuk menahan (merampas kemerdekaan) orang dengan melawan hak. rumah. KEJAHATAN TERHADAP KEMERDEKAAN ORANG Maksudnya adalah kejahatan yang ditujukan terhadap kemerdekaan pribadi dan kemerdekaan bertindak. Meneruskan tahanan : Perbuatan ini terdiri atas perbuatan menahan orang dan perbuatan menahan ini diteruskan (dilangsungkan). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 86 . dihukum penjara selama-lamanya 8 tahun. Unsur-unsurnya adalah :  Menahan atau meneruskan tahanan. akan tetapi tidak perlu bahwa orang itu tidak dapat bergerak sama sekali.  Dilakukan dengan sengaja.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 3. a) Barang siapa dengan sengaja menahan/merampas kemerdekaan orang atau meneruskan tahanan itu dengan melawan hak. c) Jika perbuatan itu menyebabkan matian orangnya. b) Jika perbuatan itu menyebabkan luka berat sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun. menutup dalam kamar. Kejahatan terhadap kemerdekaan pribadi ada tujuh macam yaitu:  Perampasan kemerdekaan dalam bentuk pokok Pasal 333 KUHP. Penjelasan : Menahan :Perbuatan merampas kemerdekaan itu dapat dijalankan misalnya dengan mengurung. ia dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun. Disuruh tinggal dalam suatu rumah yang luas tetapi bila dijaga dan dibatasi kebebasan hidupnya juga masuk arti kata menahan.

Catatan : a) Perniagaan budak belian : Perniagaan yang barang dagangannya terdiri dari orang-orang yang akan dipergunakan sebagai budak (hamba). Perniagaan budak belia Pasal 324 s/d 327 KUHP. b) Budak : Orang yang kemerdekaannya dirampas dan biasanya dipekerjakan pada seorang tuan (majikan) dengan tidak menerima upah. dimana orang itu sedang berada (tempat tinggal sementara). b) Perbuatan melarikan itu harus dilakukan dengan maksud : Dibawah kekuasan sendiri atau orang lain.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Contoh : A mengikat kaki dan tangan B dan ditinggalkan begitu saja oleh A. baik dengan langsung maupun dengan tidak langsung dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun. Perbuatan melarikan itu dilakukan dari tempat tinggalnya atau dari setiap tempat. Unsur-unsurnya adalah : a) Membawa atau mengangkut seseorang.  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 87 . dengan maksud melawan hak akan membawa orang itu dibawah kekuasaan sendiri atau dibawah kekuasaan orang lain atau akan menjadikan dia jatuh terlantar. Maksudnya : Bahwa orang yang bersangkutan sebetulnya tidak menghendaki akan ajakan atau perbuatan pembawaan dari sipenjahat tersebut. Barangsiapa dengan ongkos sendiri atau ongkos orang lain menjalankan pernagaan budak belian atau melakukan perbuatan perniagaan budak belian atau dengan sengaja turut campur dalam segala sesuatu itu. c) Perbudakan di Indonesia telah dihapus sejak 1 januari 1860 (Jaman Hindia Belanda). Barangsiapa melarikan orang dari tempat kediamannya atau tempat tinggalnya sementara.  Melarikan orang / penculikan Pasal 328 KUHP. dihukum karena melarikan orang (menculik) dengan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun.

Penjelasan : Belum dewasa : Orang yang belum berumur 21 tahun atau belum pernah kawin. dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun. Barangsiapa dengan sengaja menyembunyikan orang yang belum dewasa yang dicabut atau mencabut dirinya dari kuasa yang sah atasnya atau dari penjagaan orang yang sah menjaga dia. (2) Melepaskan seorang anak.  Melarikan orang wanita Pasal 332 KUHP.  Melepaskan orang-orang yang belum dewasa dari kekuasaan atas orang itu yang menurut undang-undang berkuasa atas orang itu Pasal 330 dan 331 KUHP.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Menjadikan jatuh terlantar. Pasal 330 KUHP. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 88 . atau barangsiapa dengan sengaja menyembunyikan anak itu dari penyelidikan dari pegawai kehakiman atau polisi. b) Dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. kekerasan atau ancaman dengan kekerasan atau orang yang belum dewasa umrnya dibawah 12 tahun. a) Barangsiapa dengan sengaja mencabut orang yang belum dewasa dari kuasa yang sah atasnya dari penjagaan orang yang dengan sah menjalankan penjagaan itu. (3) Anak itu belum dewasa. dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun. Unsur-unsurnya adalah : (1) Dengan sengaja. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun atau jika anak itu umurnya dibawah 12 tahun. Pasal 331 KUHP. c) Perbuatan mana bertentangan dengan hukum. jika perbuatan itu dilakukan dengan memakai tipu daya. (4) Dilepaskan dari orang yang menurut undang-undang mempunyai kekuasan atas anak itu. (5) Atau dari pengawasan orang yang berhak melakukan pengawasan itu.

(e) Dengan tujuan untuk memiliki wanita yang belum dewasa itu dengan nikah ataupun tidak dengan nikah. (1) Melarikan wanita yang belum dewasa Pasal 332 (1) 1e KUHP. barangsiapa melarikan perempuan dengan tipu. Unsur-unsurnya adalah : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 89 . Unsur-unsurnya adalah : (a) Melarikan wanita. maka kejahatan sudah terjadi.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kejahatan ini biasa disebut schaking dan ada dua macam yaitu : a) Melarikan wanita yang belum dewasa. (c) Tidak dengan persetujuan orang tua atau walinya. (b) Wanita itu belum dewasa (21 tahun). (2) Melarikan setiap orang wanita Pasal 332 (1) 2e KUHP. dengan maksud akan mempunyai perempuan itu baik dengan nikah maupun tidak dengan nikah. Walaupun persetubuhan belum terjadi asalkan maksud sudah ada. Dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun barangsiapa melarikan perempuan yang belum dewasa tidak dengan kemauan orang tuanya atau walinya. Catatan : Unsur memiliki wanita artinya untuk melakukan persetubuhan dengan wanita yang belumdewasa itu baik dengan nikah atau tidak. kekerasan atau ancaman kekerasan. Dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. tetapi dengan kemauan perempuan itu sendiri dengan maksud akan mempunyai perempuan itu baik dengan nikah maupun tidak dengan nikah. (d) Akan tetapi dengan persetujuan wanita yang belum dewasa itu sendiri. b) Melarikan setiap orang wanita.

4.  akan Menahan orang karena lalai Pasal 334 KUHP. adapun pengaduannya dilakukan oleh : (1) Wanita yang belum dewasa itu sendiri atau oleh orang yang berhak memberikan izin kepada wanita itu guna melakukan perkawinan (walinya). a) Barang siapa yang karena salahnya. sedang ia menurut perjanjian harus melakukan pekerjaan didaerah tertentu Pasal 329 KUHP. (2) Bagi melarikan setiap orang wanita adalah wanita itu sendiri atau suaminya. c) Orang yang telah membuat perjanjian melakukan suatu pekerjaan didaerah tertentu. yaitu orang yang telah membuat perjanjian untuk melakukan suatu pekerjaan dalam suatu tempat yang tertentu. Unsur-unsurnya : a) Perbuatan dengan sengaja. (d) Dengan tujuan untuk memiliki perempuan itu baik dengan nikah maupun tidak dengan nikah.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (a) Melarikan (b) Seorang wanita (dewasa atau belum). dihukum kurungan selamalamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.- KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 90 . Barangsiapa dengan sengaja dengan melawan hak membawa orang ketempat lain dari pada yang dijanjikan. b) Untuk mengangkut / membawa. d) Dibawa kedaerah lain.  Dengan sengaja membawa seseorang kedaerah lain. dihukum penjara selamalamanya 7 tahun. e) Bertentangan dengan hukum.500 . Kekerasan atau ancaman kekerasan. Kejahatan ini adalah delict aduan. (c) Dilakukan dengan daya upaya : Tipu muslihat. hingga orang jadi tertahan atau terus tertahan dengan melawn hak.

tidak melakukan atau membiarkan barang sesuatu apa. dihukum kurungan selamalamanya 9 bulan. tiada melakukan atau membiarkan barang sesuatu apa dengan kekerasan. ancaman dengan suatu perbuatan lain. Perbuatan yang tidak menyenangkan. Dengan daya upaya : Kekerasan.(1) Barangsiapa melawan hak memaksa orang lain untuk melakukan. b) (3) Contoh : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 91 . baik terhadap orang itu maupun orang lain.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Jika karena perbuatan itu menyebabkan lika berat. tidak melakukan sesuatu. ataupun ancaman dengan perbuatan yang tidak menyenangkan. (1) (2) Untuk : melakukan sesuatu.  Memaksa orang lain. membiarkan sesuatu.4. Akan melakukan itu terhadap orang lain atau terhadap pihak ke tiga. akan melakukan sesuatu itu. Ancaman perbuatan lain. Kejahatan terhadap kemerdekaan untuk bertindak Pasal 335 KUHP a) Dihukum penjara selama-lamanya 1 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. c) Jika perbuatan itu menyebabkan orangnya mati. ia dihukum kurungan selama-lamanya 1 tahun. b) Terhadap (2) hanya dituntut atas pengaduan dari orang yang terkena kejahatan itu. Ancaman perbuatan yang tidak menyenangkan. dengan sesuatu perbuatan lain ataupun dengan perbuatan yang tidak menyenangkan atau dengan ancaman kekerasan. Perbuatan lain.500. (2) Barangsiapa memaksa orang lain dengan ancaman penistaan lisan atau penistaan tertulis supaya ia melakukan. Unsur-unsurnya adalah :  Melawan hak / bertentangan dengan hukum. Ancaman kekerasan.

KEJAHATAN TERHADAP KEHORMATAN ORANG kejahatan ini adalah Istilah yang biasa dipakai terhadap Penghinaan (belediging) atau menista. c) Kejahatan yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan orang atau benda ( barang) yaitu : (1) Perkosaan. Apabila ancaman itu dilakukan dengan tertulis. (4) Tidak melakukan sesuatu : Seseorang mempunyai kehendak untuk berbuat sesuatu. (2) Memaksa : Sesuatu perbuatan sedemikian rupa. padahal adanya mobil A ditempat itu mengganggu pekerjaan simontir. (3) Melakukan sesuatu : Melakukan suatu perbuatan yang sifatnya positif ( menulis. maka supaya si A cepat mengambil mobilnya dia mengancam akan merusak kembali mobil A.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Seorang montir mobil telah selesai memperbaiki mobil A. Catatan : (1) Perbuatanlain : Setiap perbuatan yang tidak terdiri atas kata-kata. Pasal 336 KUHP dihukum selama-lamanya 2 tahun 8 bulan a) Mengancam. sehingga menimbulkan rasa takut pada orang lain. maka montir tersebut dikenakan pasal ini. bicara dll ). maka oleh paksaan itu jadi tidak berbuat (dihalang-halangi). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 92 . (2) Pelanggaran kesusilaan. (3) Kejahatan terhadap jiwa orang. (5) Membiarkan sesuatu : Orang dipaksa mengalami suatu keadaan yang sebetulnya tidak dikehendaki. (4) Penganiayaan berat. maka ancaman hukuman lebih diperberat 5 tahun penjara ( lihat Pasal 336 ayat 2 ) 4. (5) Pembakaran. b) Dengan kekerasan yang dilakukan oleh lebih dari seorang dengan secara terbuka. tapi oleh A lama tidak diambil.

Kejahatan ini tidak usah dilakukan ditempat umum. Kejahatan ini unsur-unsurnya adalah : a) Dengan sengaja. Mempertunjukan.  Menista dengan tulisan ( smaadschrif ) Pasal 310 ayat 2 KUHP. Di dalam KUHP ada beberapa macam penghinaan yaitu :  Menista dengan lisan ( smaad ) Pasal 310 ayat 1 KUHP. sehingga orang yang dihina akan merasa malu. Perbuatan menyebarkan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Penghinaan adalah pelanggaran kehormatan seseorang. Kehormatan disini tidak berhubungan dengan masalah seks ( birahi ) tetapi mengenai nama baik. hanya daya upayanya yang berbeda yaitu dilakukan dengan : a) Menyebarkan. Menempelkan. maksudnya ialah bahwa perbuatan yang dituduhkan itu harus dinyatakan dengan tegas : a) Siapa yang melakukan. d) Dengan maksud tersiarnya tuduhan itu. c) Tulisan yang mengandung hinaan. Jadi perbuatan itu harus ditujukan terhadap orang tertentu. Melakukan suatu perbuatan. sehingga dapat dibaca atau diketahui oleh orang lain. atau perkosaan terhadap Kehormatan adalah sesuatu yang menyangkut atas harga diri atau martabat manusia.  Memfitnah ( laster ) Pasal 311 KUHP. Jenis kejahatan ini sama dengan menista dengan lisan. b) Dimana tempat dilakukan. b) Melanggar / merusak kehormatan atau nama baik orang. mempertunjukan atau menempelkan itu harus demikian rupa. c) Kapan waktunya dilakukan perbuatan itu. c) Dengan menuduh melakukan suatu perbuatan. Tujuan si pembuat yaitu tersiarnya tuduhan. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 93 . b) Tulisan atau.

3) Apa bila penuntutan terhadap siterdakwa sudah dimulai.  Penghinaan biasa Pasal 315 KUHP. Unsur-unsurnya adalah : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 94 . maka penuntutan terhadap sipenuduh harus ditangguhkan sampai dijatuhkan keputusan hakim terhadap siterdakwa. d) Tuduhan itu dilakukan dengan sengaja. Yang memberi kesempatan adalah hakim dan dalam hal ini ada aturan mainnya yang diterangkan dalam Pasal 312 KUHP. 1) Apabila seorang yang dituduh itu diproses sampai dipersalah kan oleh hakim jadi apa yang dituduhkan itu dapat dibuktikan. 2) Siterdakwa dibebaskan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kejahatan memfitnah terjadi apabila : a) Seseorang melakukan Smaad atau Smaadschrift b) Apabila orang ang melakukan itu diberi kesempatan untuk membuktikan kebenaran tuduhannya. b) Apabila perbuatan Smaad atau Smaadschrif itu dilakukan terhadap seorang pegawai negeri yang dituduh telah melakukan perbuatan didalam tugasnya. jika keputusan hakin itu merupakan bukti. Apakah kekuasaan hakim itu tidak terbatas ? Kekuasaan hakim itu terbatas yaitu jika perbuatan yang dituduhkan adalah delict aduan dan belum ada pengaduan terhadap perbuatan itu. Selain itu perhatikan Pasal 314 KUHP. Jadi hakim hanya memberi kesempatan kepada : a) Apabila menurut pendapat hakim perlu diberi kesempatan kepada sipemfitnah untuk menyelidiki kebenaran tuduhannya itu dan apakah tuduhan itu betul dilakukan untuk kepentingan umum atau membela diri. c) Jika ia tidak dapat membuktikan kebenaran tuduhannya. ( baca pasal 313 ). bahwa tuduhan yang dilancarkan adalah tidak benar dan oleh karena itu sipenuduh dapat dihukum. maka sipemfitnah tidak boleh dituntut.

Laporan / pengaduan palsu yang tidak dengan maksud menyerang nama baik orang lain dikenakan Pasal 220 KUHP. b) Dengan cara tertulis atau sipenjahat menyampaikan laporan / pengaduan dengan lisan dan ditulis oleh yang menerimanya. Pengaduan / laporan tertulis itu tidak harus ditanda tangani. Perbedaan antara Pasal 315 dan Pasal 310 adalah bahwa Pasal 310 dilakukan dengan menuduh melakukan perbuatan tertentu. d) Laporan / Pengaduan itu disampaikan kepada penguasa ( polisi. e) Laporan / pengaduan itu harus mengenai orang tertentu. Penghinaan itu tidak bersifat Smaad atau Smaadschrif. (3) Secara tertulis yang dikirim atau disampaikan kepada yang dihina. sedangkan dalam Pasal 315 dilakukan tidak dengan menuduh melakukan perbuatan tertentu. (2) Dilakukan dimuka orang yang dihina baik dengan lisan atau dengan perbuatan. Barangsiapa yang memberitahukan atau mengadukan bahwa ada terjadi suatu perbuatan yang dapat dihukum. Unsur-unsurnya adalah : a) Menyampaikan laporan atau pengaduan yang palsu. Kejahatan ini adalah delict aduan. c) Dilakukan dengan sengaja. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 95 . Contoh : A mengatakan kepada B “ anjing kamu “  Pengaduan palsu dengan memfitnah Pasal 317 KUHP. c) Cara melakukannya : (1) Dilakukan ditempat umum dengan lisan atau tertulis. f) Laporan / pengaduan itu menjadikan kehormatan atau nama baik orang tertentu itu dilanggar ( tersinggung ). Jaksa ). cukup bila pembuatnya sudah jelas.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI a) b) Setiap penghinaan yang dibuat dengan sengaja.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

sedang ia tahu bahwa perbuatan itu sebenarnya tidak ada, dihukum penjara selama-lamanya 1 tahun 4 bulan.  Penghinaan terhadap orang yang telah meninggal Pasal 320, 321 KUHP. Pasal 320 KUHP. Unsur-unsurnya adalah : a) Melakukan perbuatan Smaad atau Smaadschrift. b) Perbuatan itu ditujukan terhadap orang yang sudah meninggal dunia. Kejahatan ini adalah delict aduan dan yang berhak mengadu adalah :  Sanak saudara dalam keturunan lurus dan keturunan garis menyimpang sampai derajat kedua.  Suami atau isterinya. Pasal 321 KUHP mengatur tentang menyiarkan kejahatan dalam bentuk Pasal 320 KUHP dengan maksut agar tulisan atau gambar itu tersiar atau lebih tersiar lagi. Menyiarkan gambar / tulisan yang isinya penghinaan biasa Pasal 315, tidak bisa dihukum. Unsur-unsurnya adalah : a) Menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan. b) Suatu tulisan atau gambar. c) Isinya menghina atau menista orang yang sudah mati. Dengan maksud, supaya isi tulisan atau gambar yang menghina atau menista tadi tersiar atu lebih tersiar.  Penghinaan terhadap badan resmi Pasal 207 KUHP. Unsur-unsurnya adalah : a) Perbuatan dilakukan dengan sengaja. b) Yang berupa penghinaan.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

96

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

c) umum. d) atau tulisan. e)

Dilakukan dimuka Caranya dengan lisan Ditujukan terhadap suatu kekuasaan umum yang ada di negara RI atau suatu majelis umum.

Kekuasaan umum yaitu : Gubernur, Bupati, Polisi dan Camat. Majelis umum : DPR dan DPRD.  Penghinaan terhadap Kepala Negara Pasal 134 KUHP. Penghinaan dengan sengaja terhadap presiden atau wakil presiden dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya 6 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,Pasal ini mengancam orang yang dengan sengaja ( dia tahu betul ) melakukan penghinaan ( Pasal 310 s/d 321 ) terhadap presiden atau wakil presiden. Jadi kalau dia tidak tahu bahwa yang dihina itu presiden atau wakil presiden, tidak dapat dikenakan pasal ini . Ada juga aturan khusus sebagaimana diatur pasal 136 bis yaitu : Bahwa bagi Pasal 134, beberapa kemungkinankemungkinan yang tersebut dalam Pasal 315 lebih diperluas yaitu bahwa perbuatan itu tidak perlu ditempat umum, cukup dimuka lebih 4 orang atau dihadapan orang lain yang hadir tidak dengan kemauannya dan merasa tersentuh hatinya oleh penghinaan itu.  Penghinaan terhadap Kepala Negara Asing Pasal 142 KUHP. Dengan sengaja menghina raja yang memerintah atau kepala negara asing yang bersahabat, dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,Penghinaan terhadap wakil negara asing Pasal 143 KUHP.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

97

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Dengan sengaja menghina wakil negara asing pada pemerintah Indonesia dalam pangkatnya dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,Wakil negara asing adalah duta atau konsul negara asing yang ada di Indonesia, penghinaan ditujukan kepada pangkatnya dan kedudukannya ( jabatannya ) , jadi kalau terhadap orangnya sebagai individu berlaku ketentuan umum ( Pasal 310 – 321 ). 5. KEJAHATAN TERHADAP KESOPANAN

Istilah kesopanan mengandung arti kesusilaan yaitu perasan malu yang berhubungan dengan nafsu kelamin misalnya : Bersetubuh , meraba buah dada orang perempuan , meraba kemaluan wanita / pria, meperlihatkan alat vital, mencium atau gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan nafsu birahi. Adapun ukuran kesopanan ini dapat berkembang melihat kondisi tempat dan keadaan zaman, serta pendat umum masyarakat. Termasuk dalam kategori kejahatan terhadap kesopanan ini adalah :  Kejahatan merusak kesopanan Pasal 281 KUHP. Dihukum penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,a) Barangsiapa sengaja merusak kesopanan dimuka umum. b) Barangsiapa merusak kesopanan dimuka orang lain, yang hadir tidak dengan kemauannya sendiri. Suami isteri melakukan persetubuhan atau bermesraan ditempat yang dapat dilihat orang lain, asalkan disengaja perbuatan itu dapat dikenakan pasal ini.  Kejahatan persetubuhan. a) Pasal 284 KUHP tentang Zina. Yang dihukum berdasarkan pasal ini yaitu : (1) Laki-laki beristri, berbuat zina. (2) Perempuan bersuami berbuat zina.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

98

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia dihukum karena memperkosa. Tidak berdaya : Tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali. tidak dapat dihukum.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (3) Laki-laki yang turut melakukan. kalau yang membuat pingsan sipenjahat maka dikenakan Pasal 285 KUHP. Pasal 287 KUHP. Jadi apabila persetubuhan itu dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang tidak kawin (lajang) duda. Pasal 286 KUHP Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan isterinya. Pingsan : tidak ingat atau tidak sadar akan dirinya. sedang diketahui dan harus jelas KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 99 . b) Pasal 285 KUHP tentang Perkosaan. Kalau perempuan memaksa laki-laki bukan suaminya untuk bersetubuh. karena laki-laki yang dipaksa tersebut dipandang tidak mendapat kerugian. perawan (janda) dengan perempuan atau laki-laki yang tidak kawin juga ini tidak termasuk kejahatan perzinaan sebagaimana diatur Pasal 284 KUHP. sedang diketahui bahwa perempuan itu pingsan atau tidak berdaya dihukum penjara selamalamanya 9 tahun. sehingga tidak dapat melakukan perlawanan sedikitpun. Pingsan dan tidak berdayanya perempuan itu bukan perbuatan sipenjahat. sedang diketahui kawannya bersuami. dengan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun. (4) Perempuan tidak bersuami turut melakukan sedang diketahui bahwa kawannya itu beristri. sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan isterinya.

Kejahatan ini adalah delict aduan. a) Pasal 289 KUHP. yang semuanya dalam lingkup nafsu birahi kelamin. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 100 . (1) Memaksa. meraba kemaluan. dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun. kalau tidak nyata berapa umurnya bahwa perempuan itu belum masanya untuk kawin. Perbuatan cabul ialah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan keji. bahwa perempuan itu belum masanya buat dikawinkan . Misalnya : Cium-ciuman. meraba buah dada perempuan dsb. (1) Melakukan perbuatan cabul dengan orang yang diketahuinya pingsan atau tidak berdaya.  Kejahatan percabulan. bahwa umur perempuan itu belum cukup 15 tahun. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun kalau perbuatan itu berakibat badan perempuan itu mendapat luka. Kalau akibatnya luka berat ancaman hukumanya menjadi 8 tahun. Pasal 288 KUHP.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI disangkanya. (3) Dengan cara kekerasan atau ancaman kekerasan b) Pasal 290 KUHP. Barangsiapa bersetubuh dengan isterinya yang diketahuinya atau harus patut disangkanya. (2) Seseorang melakuka atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul. kecuali bila perempuan itu belum berumur 12 tahun atau berakibat luka berat atau mati. Kejahatan Percabulan diatur dalam Pasal 289 s/d 296 KUHP. Kalau akibatnya mati maka ancaman hukuman 12 tahun.

d) e) f) g) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 101 . melakukan perbuatan cabul atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul pada dirinya. (c) Anak peliharaannya yang belum dewasa. Pasal 294 KUHP. guru. untuk melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (2) (3) Melakukan perbuatan cabul dengan orang yang diketahuinya atau patut disangkanya umurnya belum cukup 15 tahun atau belum masanya dikawinkan. Pasal 293 KUHP. (1) Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap : (a) Anaknya yang belum dewasa. Pasal 295 KUHP. (d) Orang yang dibawah kuasanya yang belum dewasa. (3) Pengurus. c) Pasal 292 KUHP Orang dewasa melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama. (1) Sengaja memudahkan perbuatan cabul yang dikerjakan oleh anaknya. suatu balai social yang berbuat cabul dengan anak asuhannya. Membujuk orang belum dewasa yang tidak cacat kelakuannya. (2) Sengaja menimbulkan perbuatan cabul pada orang lain terhadap orang yang belum dewasa. Pasal 296 KUHP. Dewasa : telah berumur 21 tahun atau sudah pernah kawin. anak pungut. (2) Pegawai negeri yang melakukan cabul dengan bawahannya atau dengan orang yang dipercayakan padanya untuk dijaga. anak asuhnya yang belum dewasa. (b) Anak tiri. Membujuk orang yang belum cukup 15 tahun atau belum masanya dikawinkan .

Memperniagakan perempuan dan memperniagakan laki-laki yang belum dewasa. Perniagaan / perdagangan perempuan : mencari perempuan muda untuk ditempatkan ditempat pelacuran. dengan imbalan uang yang ditentukan. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 102 . persetubuhan atau pencabulan yang mengakibatkan orangnya mendapat luka berat atau mati maka ancaman hukuman diperberat lihat pasal 291 KUHP. BAB VIII KEJAHATAN TERHADAP BARANG DAN KEJAHATAN TERHADAP KEKUASAAN UMUM Kompetensi Dasar Memahami Kejahatan terhadap barang Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab VIII . Terhadap segala perbuatan melanggar kesopanan. Menjelaskan kejahatan pencurian. dihukum penjara selama-lamanya 6 tahun. diharapkan Siswa mampu : 1.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Sebagai mata pencaharian atai kebiasaannya sengaja memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain. Kalau laki-laki bisa untuk dipekerjakan atau pemuas wanitawanita.  Perniagaan anak297 KUHP.

6. dihukum karena pencurian dengan hukuman penjara selama lamanya lima tahun atau denda sebanyakbanyaknya Rp. Ada 5 ( lima ) macam Pencurian : 1) Pencurian dalam bentuk pokok Pasal 362 KUHP.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2. Menjelaskan kejahatan penipuan. Menjelaskan kejahatan penggelapan.900. 4. KEJAHATAN TERHADAP BARANG 1. Menjelaskan kejahatan pertolongan jahat. dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak. Barangsiapa mengambil sesuatu barang. yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain. 3. dengan maksud untuk dimiliki dan dengan melawan hukum. Menjelaskan kejahatan pemerasan dan pengancaman.- KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 103 . Menjelaskan kejahatan menghancurkan atau merusak barang. 5. PENCURIAN Yang disebut kejahatan pencurian adalah perbuatan mengambil suatu barang yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain.

Pencurian uang di bank dengan menggunakan computer dll. adapun unsur-unsurnya adalah :  Mengambil  Suatu barang yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain  Dengan maksud memiliki barang itu  Dengan melawan hak Seseorang baru dapat dianggap melakukan pencurian jika keempat unsur tersebut terpenuhi. .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kejahatan ini disebut dengan pencurian biasa. pada umumnya penjahat harus membawa barang itu ada padanya dan dibawah kekuasaannya. . Artinya membawa suatu barang dibawah kekuasaannya secara nyata dan mutlak. Ada barang yang tidak dapat dicuri yaitu : . barang tidak bergerak tidak dapat diambil kecuali bagian-bagiannya. Pengertian tersebut dapat diperluas dengan melihat situasi dan perkembangan jaman. apabila salah satu unsur tidak ada maka perbuatan itu bukan pencurian. Mengambil itu tidak usah memindahkan dari tempat semula. binatang di hutan. Adapun penafsiran unsur-unsur pencurian adalah : a) Mengambil. Contoh : . Contoh : .Pencurian arus listrik.Pintu/cendela dapat diambil dari rumahnya dll. .Barang milik sendiri.Pencurian pulsa telepun. tetapi memegang saja juga tidak cukup.Buah dapat diambil dari pohonnya. jadi barang itu lepas dari kekuasaan pemiliknya. kecuali ada aturan khusus yang mengaturnya. Hanya barang yang bergerak dapat diambil. Adalah barang-barang baik yang berwujud atau tidak berwujud yang mempunyai nilai ekonomis. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 104 . . b) Barang.Barang tidak ada pemiliknya (res nullius) contoh : Ikan disungai/laut.

Barang bukan haknya atau bukan miliknya atau barang yang bukan dibawah kekuasaanya sendiri diambil dan dimiliki. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 105 . Unsure untuk memiliki sendiri itu tidak usah selesai. c) Dengan maksud memiliki barang itu. 2) Pencurian pemberatan Pasal 363 KUHP. merusakan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI - Barang yang hak miliknya telah dilepaskan oleh pemiliknya. Jika pemungut berniat untuk menyerahkan pada yang berwajib dan kemudian timbul pemikiran untuk memiliki sendiri. (bee derelictae) contoh : sepatu butut dibuang ketempat sampah. menghilangkan). Jadi unsur sengaja ditujukan kepada maksud/hendak untuk memiliki barang yang diambilnya untuk dimilikinya sendiri atau mengambil barang itu harus mengandung maksud untuk memilikinya sendiri. Yang dimaksud pencurian dengan pemberatan (gequalificeerd) adalah perbuatan pencurian yang memiliki unsur-unsur dari pada pencurian dalam bentuk pokok ditambah unsur-unsur lain sehingga ancamannya diperberat. maka kepada pemungut dikenakan penggelapan. menghadiahkan. Yang jelas barang temuan tersebut adalah milik orang lain seluruhnya atau sebagian. telah cukup bahwa barang itu kepunyaan orang lain. Bagaimana dengan barang temuan. Jadi tetap barang temuan ini tergantung pada keadaan maksud si pembuat. d) Dengan melawan hak. Melawan hak (melawan hukum) maksudnya bahwa barang yang diambil adalah tidak dengan hak atau kekuasaan sendiri.terhadap barang itu tidak harus diketahui sipa pemiliknya. bila saat memungut barang itu berniat untuk memilikinya maka sudah terjadi pencurian. cukup jika maksudnya itu sudah ada. tidak untuk dipinjam atau sekedar kelakar.Memiliki adalah setiap perbuatan yang terdiri atas penguasaan sesuatu barang seolah-olah dia adalah pemiliknya (menjual. Pengertian dengan maksud ialah adanya unsur sengaja (ofzet) dia mau dan tahu atas perbuatannya. bukan milik sipembuat.

huru hara. pemberontakan atau kesengsaraan dimasa perang. letusan. Pengertian – pengertian : a) Hewan Pasal 101 KUHP. kapal karam. (e) Pencuri an yang dilakukan oleh tersalah dengan masuk ketempat kejahatan itu atau dapat mencapai barang untuk (f) diambil nya. makan. Yaitu masa diantara matahari terbenam dan matahari terbit. binatang yang memamah biak dan babi. letusan gunung berapi. perintah palsu atau pakaian jabatan palsu. b) Malam Pasal 98 KUHP. kecelakaan kereta api. buang air dll). dilakukan oleh orang yang ada disitu tiada dengan setahunya atau bertentangan dengan dengan kemauannya orang yang berhak (yang punya). c) Rumah Yaitu setiap tempat yang dipergunakan untuk tempat tinggal (didiami. (b) Pencuri an pada waktu kebakaran. kapal terdampar. tidur.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun dihukum : (a) Pencuri an Hewan. Yang dikatakan hewan yaitu binatang yan berkuku satu. dengan jalan membongkar. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 106 . memecah atau memanjat atau dengan jalan memakai kunci palsu. (c) Pencuri an pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan yang tertutup yang ada rumahnya. gempa bumi atau gempa laut. banjir. Jika pencurian yang diterangkan dalam huruf (c) disertai dengan salah satu hal yang tersebut dalam (d) dan (e) dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun. (d) Pencuri an dilakukan oleh dua orang bersama-sama atau lebih.

peti dll. Yang masuk sebutan kunci palsu yaitu sekalian perkakas yang gunanya tidak untuk membuka kunci itu. menggangsir. Kunci palsu Pasal 100 KUHP. Pakaian palsu. jendela. memecah kaca jendela. pintu. Contah : Polisi gadungan. tetapi tidak dipakai keluar masuk. jadi perintah itu kelihatannya seperti perintah asli yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwajib. Merusak barang yang agak besar misalnya membongkar tembok. Adalah sebidang tanah yang dibatasi dengan batasbatas yang jelas misalnya selokan. Merusak barang yang agak kecil. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 107 . Yang masuk sebutan memanjat yaitu : Masuk melalui lubang yang sudah ada. Memanjat Pasal 99 KUHP. contoh memecah peti kecil. petugas PLN gadungan dll. Terhadap pencurian yang dilakukan dua orang atau lebih disertai b) s/d j) ancaman hukumannya lebih diperberat menjadi sembilan tahun. padahal sebenarnya bukan. rumah. Anak kunci duplikat. semua benda atau perkakas seperti kawat. Disini harus ada barang yang rusak. Pakaian yang dipakai oleh seseorang yang tidak berhak memakainya. apabila dipergunakan oleh yang tidak berhak termasuk anak kunci palsu. Membongkar. Dengan melalui lobang didalam tanah yang sengaja digali. pagar batu dll. Anak kunci palsu yaitu segala macam anak kunci yang dipergunakan oleh yang tidak berhak untuk membuka kunci dari sesuatu barang seperti : lemari. Perintah palsu. putus atau pecah. Memecah. Melalui selokan atau parit yang digunakan sebagai batas. Yaitu perintah tertulis atau lisan yang tidak sah. Pada hakekatnya adalah perbuatan naik/panjat.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI d) e) f) g) h) i) j) Halaman tertutup. paku yang tidak berupa kunci. anak kunci yang hilang dari tangan yang berhak.

tidak masuk pencurian ringan (mencuri surat wasiat. Menurut Pasal 89 KUHP yang disamakan dengan kekerasan adalah membuat orang mejadi pingsan atau tidak berdaya lagi. sehingga tidak dapat mengadakan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 108 . 250. 250.tidak bisa menjadi pencurian ringan yaitu terhadap : (1) Pencurian Hewan (2) Pencurian Waktu ada kekacauan (3) Pencurian malam hari dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup dsb. Yang dinamakan pencurian ringan yaitu : (1) Pencurian biasa Pasal 362 tapi harga barang tidak lebih dari Rp. 900.- 4) Pencurian dengan kekerasan atau ancaman kekerasan Pasal 365 KUHP. Ancaman hukuman pencurian ringan adalah hukuman penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 3) Pencurian ringan Pasal 364 KUHP. Jadi pasal ini memberi keluasan pengertian tentang kekerasan. 250. 250. Tidak berdaya artinya tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali.. Meskipun harga barang yang dicuri tidak lebih dari Rp. Contoh: orang diberi obat. barang koleksi dll). (4) Pencurian dengan kekerasan Pencurian barang yang harganya tidak dapat dinilai dengan uang. Pingsan artinya tidak ingat atau tidak sadar akan dirinya.dan tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau dalam pekarangan tertutup yang ada rumahnya.(2) Pencurian pemberatan Pasal 363 (berkawan) tapi harga barang tidak lebih dari Rp.(3) Pencurian pemberatan Pasal 363 (dengan membongkar) tapi harga barang tidak lebih dari Rp. karena yang dilihat adalah akibat dari perbuatan itu membuat orang pingsan atau tidak berdaya lagi. Ialah pencurian yang didahului serta diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.

perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI perlawanan sedikitpun contoh : orang diikat kaki dan tangannya. jika perbuatan itu menjadikan ada orang yang mendapat luka berat atau mati. (c) Jika masuk ketempat melakukan kejahatan itu dengan jalan membongkar atau memanjat atau dengan jalan memakai kunci palsu. dihukum pencurian yang didahului. (d) Jika perbuatan itu menjadikan ada orang mendapatkan luka berat. Hukuman mati atau hukuman seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun dijatuhkan. dimasukan dalam kamar terkunci dll. Hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun dijatuhkan : (a) Jika perbuatan itu dilakukan pada malam hari dalam sebuah rumah atau pekarangan yang tertutup yang ada rumahnya atau dijalan umum atau didalam kereta api atau trem yang sedang berjalan.dilakukan oleh 2 orang bersama-sama atau lebih disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam huruf a dan c. disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang. (1) Dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. (2) (3) (4) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 109 . (b) Jika perbuatan itu dilakukan oleh dua orang bersamasama atau lebih. dengan maksud akan menyiapkan atau memudahkan pencurian itu atau jika tertangkap tangan supaya ada kesempatan bagi dirinya sendiri atau bagi kawannya yang turut melakukan kejahatan itu akan melarikan diri atau supaya barang yang dicuri itu tetap ada ditangannya. Hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun dijatuhkan jika karena perbuatan itu ada orang mati.

terus menerus tidak cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kematian dalam kejahatan ini tidak dimaksudkan oleh sipembuat.  Pencurian dalam perkawinan tidak dapat dituntut baik suami maupun istri. b) Jika orang itu keluarga sedarah atau keluarga perkawinan baik dalam keturunan yang lurus maupun keturunan yang menyimpang dalam derajat kedua dari penderita.   KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 110 . menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan ibu. Luka berat Pasal 90 ialah penyakit atau luka yang tidak dapat diharapkan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut. tidak lagi mekai salah satu panca indra.  Pencurian yang merupakan delic aduan : a) Jika orang itu sudah bercerai dari meja dan tempat tidur atau terpisah dalam harta benda.1. alasannya adalah supaya hubungan perkawinan tidak dikeruhkan. Unsur-unsur kejahatan pemerasan . 2. Unsur Obyektif : (1) Memaksa. yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain atau supaya orang itu membuat utang atau menghapuskan piutang. maka apabila kematian itu dimaksudkan sipembuat dia dikenakan kejahatan pembunuhan. lumpuh. 5) Pencurian dalam keluarga Pasal 367 KUHP. 3 dan 4 berlaku bagi kejahatan ini. Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak. kudung (romping). 2. memaksa orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Ketentuan dalam Pasal 365 ayat 2. supaya orang itu memberikan barang. berubah pikiran (akal) lebih dari empat minggu lamanya. dihukum karena memeras dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. PEMERASAN DAN PENGANCAMAN Pemerasan Pasal 368 KUHP.

(b) Menghapuskan piutang. Unsur-unsur kejahatan pengancaman.  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 111 . (a) Membuat utang. (2) Orang lain. b. Dengan daya upaya kekerasan atau ancaman kekerasan.  Pengancaman Pasal 369 KUHP. a.2. (2) Bertentangan dengan hukum (melawan hak). supaya orang itu memberikan suatu barang yang seluruh atau sebagian termasuk kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain atau supaya orang itu membuat utang atau menghapuskan piutang. Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak. 2. Unsur Subyektif : (1) Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun. memaksa orang dengan ancaman akan menista dengan lisan atau tulisan atau dengan ancaman akan membuka rahasia. Menyerahkan barang yang seluruh atau sebagian milik orang lain (pihak ketiga). Unsur Obyektif : (1) Memaksa. Kejahatan ini hanya dituntut atas pengaduan orang yang dikenakan kejahatan itu. pada kejahatan 365 barang tersebut diambil oleh penjahat sedangkan pada kejahatan 368 barang tersebut diserahkan oleh penderita. Beda yang menyolok antara kejahatan pemerasan dengan pencurian dengan kekerasan adalah terletak pada pindahnya barang.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (2) (3) (4) Orang lain. Memaksa yaitu melakukan tekanan sehingga seseorang melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendaknya. Membuat utang. Menghapuskan piutang. (3) Menyerahkan barang yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain.

sedangkan pada penggelapan. dimana pada pencurian barang tersebut diambil oleh penjahat. maka kita harus hati-hati betul. Menista (menghina) artinya menyerang kehormatan dan nama baik seseorang.Adapun unsur-unsurnya adalah :  Memiliki. 900. Perbedaan yang pokok antara penggelapan dengan pencurian yaitu terletak pada obyek barang. Penggelapan ringan Pasal 373 KUHP. Barang siapa yang sengala memiliki dengan melawan hak suatu barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain dan barang itu ada padanya bukan karena kejahatan. digadaikan). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 112 . PENGGELAPAN Ada banyak kemiripan antara kajahatan penggelapan dengan kejahatan pencurian. dititipkan. Unsur Subyektif : (1) Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain.  Suatu barang seluruh atau sebagian milik orang lain.  Dengan sengaja. Penggelapan dalam bentuk pokok Pasal 372 KUHP.2.1. dihukum karena penggelapan barang dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.  Bertentangan dengan hukum (melawan hak). Rahasia ialah barang sesuatu yang hanya diketahui oleh yang berkepentingan.  Barang itu ada padanya bukan karena kejahatan. 3. Ada 4 macam peggelapan : 3. sehingga akan merasa malu. (2) Bertentangan dengan hukum. 3. sedangkan orang lain belum mengetahuinya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (4) Daya upaya dengan ancaman menista dengan lisan atau tulisan atau mengumumkan suatu rahasia. barang tersebut sudah berada pada tangan penjahat bukan karena kejahatan (disimpankan.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Adalah penggelapan dalam bentuk pokok pasal 372 tetapi :  Obyeknya bukan hewan.  Harga obyek tidak lebih dari Rp. 250,- atau harga obyek tidak dapat dinilai dengan uang. 3.3. Penggelapan dengan pemberatan Pasal 374 KUHP. Unsur-unsurnya adalah :  Unsur penggelapan pokok.  Oleh seseorang.  Suatu benda.  Dibawah kekuasaannya karena : a) Hubungan pekerjaan. b) Mata pencaharian. c) Mendapat upah uang. Jadi yang memberatkan adalah barang ada dibawah kuasanya dan ketiga unsur tersebut sehingga ancaman hukuman penjara maximal 5 tahun. Dalam Pasal 375 KUHP ancamannya diperberat menjadi 6 tahun jika penggelapan itu dilakukan oleh : (1) Orang yang karena terpaksa disuruh menyimpan barang itu (ada kekacauan, banjir dll ) (2) Wali. (3) Curator. (4) Pengurus. (5) Orang menjalankan wasiat. (6) Pengurus balai derma. Atau barang yang digelapkan itu dikuasainya karena jabatannya. 3.4. Penggelapan dalam keluarga Pasal 376.. Penjelasannya sama dengan pencurian dalam keluarga pasal 367 KUHP bedanya Pasal 376 tentang penggelapan. Apabila barang yang digelapkan kekayaan negara, menimbulkan kerugian negara, maka kejahatan ini diatur dalam undang-undang tersendiri (UU Korupsi No.20/2001). 4. PENIPUAN

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

113

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

4.1.

Penipuan dalam bentuk pokok Pasal 378 KUHP. Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan suatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang, dihukum karena penipuan dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun. Unsur-unsur penipuan adalah :  Menggerakan / membujuk.  Orang lain.  Menyerahkan suatu barang. a) Mengadakan perjanjian utang. b) Menghilangkan piutang.  Dengan menggunakan daya upaya : a) Nama palsu. b) Sifat palsu. c) Tipu muslihat. d) Susunan perkataan bohong.  Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain.  Melawan hak. Penjelasan : a) Membujuk : melakukan pengaruh dengan kelicikan terhadap orang, sehingga orang itu menurutinya berbuat sesuatu yang apabila mengetahui duduk perkaranya yang sebenarnya, dia tidak akan berbuat demikian itu. b) Nama palsu : Nama yang bukan namanya sendiri, nama “saimin” dikatakan “zaimin” itu bukan menyebut nama palsu akan tetapi kalau tulis, itu dianggap menyebut nama palsu. c) Sifat / keadaan palsu : Keadaan yang tidak sesuai dengan sebenarnya, contoh mengatakan mempunyai jabatan, pangkat, pekerjaan, padahal sebenarnya tidak demikian.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

114

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

d)

e)

Tipu muslihat / akal cerdik : Terdiri atas perbuatan-perbuatan yang demikian rupa sehingga tindakan atau perbuatan itu menimbulkan kepercayaan kepada orang lain (kesan) yang tidak sesuai dengan kebenaran misalnya kuitansi Rp. 1000 dirubah menjadi Rp 11.000. Susunan kata-kata bohong : Susunan kata-kata atau banyak kata-kata bohong yang disusun demikian rupa, sehingga kebohongan yang satu dapat ditutupi dengan kebohongan yang lain, sehingga keseluruhannya merupakan cerita sesuatu yang seakan-akan benar.

4.2.

Penipuan ringan Pasal 379 KUHP. Unsur-unsur penipuan ringan adalah :  Unsur-unsur dalam bentuk pokok.  Benda yang diserahkan tidak berupa hewan.  Harta barang yang diserahkan atau yang dihutang atau yang dipiutang tidak lebih dari Rp. 250,-. Dihukum karena penipuan ringan, dengan hukuman penjara selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 900,Pasal 379 a : Barang siapa membuat pencahariannya atau kebiasaannya membeli barang-barang dengan maksud supaya ia sensiri atau orang lain mendapat barang-barang itu dengan tidak melunaskan sama sekali pembayarannya, dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun. Unsur-unsurnya adalah : a) Menjadikan sebagai mata pencaharian atau sebagai kebiasaannya. b) Membeli barang. c) Dengan maksud menguasai barang itu baik untuk diri sendiri atau orang lain. d) Tanpa membayar harga dengan penuh.

5.

MENGHANCURKAN ATAU MERUSAK BARANG

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

115

(4) Dengan melawan hak. Unsur-unsurnya adalah : a) Membinasakan. sehingga tidak dapat dipakai sama sekali. membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan. merusakan. sehingga barang itu tidak dapat diperbaiki lagi. Membuat sehingga tidak dapat digunakan lagi atau menghilangkan. Penjelasan : a) Membinasakan : menghancurkan atau merusak sama sekali. (2) Sama sekali atau sebagian milik orang lain. yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain. (4) Dengan melawan hak. dihukum penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.500. (3) Sengaja. merusakan. Barang siapa dengan sengaja dan dengan melawan hak membinasakan. (3) Sengaja.   Menghancurkan atau merusak barang dalam bentuk pokok Pasal 406 KUHP. d) Menghilangkan : Membuat sehingga barang itu tidak ada lagi.4. (1) Binatang. merusakan membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang. (2) Sama sekali atau sebagian milik orang lain. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 116 . sehingga masih biasa diperbaiki.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 5. e) Barang : Baik barang yang bergerak maupun barang yang tidak bergerak. membuat sehingga tidak dapat digunakan lagi atau menghilangkan binatang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain.1. b) Merusakan : Perbuatan tidak menimbulkan akibat yang begitu besar yaitu hanya sebagian dari benda itu yang dirusak. b) Membunuh.Hukuman serupa dikenakan juga kepada orang yang dengan sengaja dan dengan melawan hak membunuh. merusakan. (1) Sesuatu barang. c) Membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi : Disini tindakan itu harus demikian rupa.

menyewa. Pasal 408 : Menghancurkan atau merusak barang yang dipergunakan untuk kepentingan Umum. menukar. yang diketahuinya atau yang patut harus disangkanya barang itu diperoleh karena kejahatan. 2) Barangsiapa yang mengambil keuntungan dari hasil sesuatu barang. Pasal 407: Menghancurkan atau merusak barang ringan.dihukum : 1) Karena sebagai sekongkol. menerima sebagai hadiah. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 117 . Dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. menukarkan. atau kuda itu dibunuhnya. Pasal 411 : Menghancurkan atau merusak barang dalam keluarga. Kejahatan menghancurkan atau merusak barang diatur dalam Pasal 406 s/d 412 KUHP. barangsiapa yang membeli. menggadaikan. menerima sebagai hadiah.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Yang dihukum menurut pasal ini tidak saja mengenai barang. menerima tukar. menerima gadai. menjual. atau karena hendak mendapat untung. menerima gadai. yang diketahuinya atau yang patut disangkanya diperoleh karena kejahatan.. Pasal 412 : Menghancurkan atau merusak barang secara bersama-sama. Pasal 406 : Menghancurkan atau merusak barang dalam bentuk pokok. membawa. tetapi juga mengenai “binatang” misalnya A benci pada B pada malam hari A membacok kudanya B arah urat kakinya. PERTOLONGAN JAHAT Pertolongan jahat Pasal 480 KUHP. menyewa. menyimpan atau menyembunyikan sesuatu barang. Pasal 409 : Menghancurkan atau merusak barang untuk kepentingan umum karena salahnya. Pasal 410 : Menghancurkan atau merusak barang yang berupa gedung atau kapal / perahu. 6. sehingga kuda B tidak dapat dipaki lagi. 900. Unsur-unsurnya adalah : a) Membeli.

BAB IX KEJAHATAN TERHADAP KEKUASAAN UMUM SUMPAH PALSU DAN KETERANGAN PALSU KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 118 . Istilah patut dapat menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Keadaan pembuat : Seorang berpakaian compang camping menjual computer. gugup dll. menyewakan. menyembunyikan suatu barang. (4) Sipembuat mengetahui atau dapat menduga. menggadaikan. sipembuat mengetahui atau patut dapat menduga. tergesa-gesa. (3) Berasal dari kejahatan. (2) Suatu barang. menukarkan. mengangkut.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI b) Untuk mendapat keuntungan. menjual. c) Untuk keuntungan diri sendiri. Berasal dari kejahatan.. b) Harga barang : Barang dijual jauh dibawah harga yang pantas. d) Cara melakukan : Ada rasa takut. c) Keadaan waktu : Menjual barang tengah malam. menyimpan. (1) Dari hasil.

dengan lisan atau tulisan menghina sesuatu kekuasaan yang ada di negara Indonesia atau sesuatu majelis umum yang ada disana.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kompetensi Dasar Memahami Kejahatan terhadap kekuasaan umum. Menjelaskan kejahatan terhadap kekuasaan umum 2. sumpah palsu dan keterangan palsu Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab IX . Menjelaskan kejahatan sumpah palsu dan keterangan palsu 1. diharapkan Siswa mampu : 1. dihukum KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 119 . KEJAHATAN TERHADAP KEKUASAAN UMUM Pasal 207 Barangsiapa dengan sengaja dimuka umum.

Dengan Sengaja b.-. Menyiarkan. (2) Kalau sitersalah melakukan kejahatan itu dalampekerjaannya dan pada waktu melakukan kejahatan belum lewat 2 tahun sesudah tetap hukumannya yang dahulu sebab kejahatan yang serupa itu juga. Unsur Pasal 208 Ayat ( 1 ) a. maka ia dapat dipecat dari pada menjalankan jabatannya itu. Penjelasan : a. Bupati dsb atau majelis umum seperti MPR.500. DPRD yang bukan mengenai orangnya ( Ancaman denda dikalikan lima belas menurut perpu No. dihukum penjara selama-lamanya 4 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI penjara selama-lamanya 1 tahun 6 bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. Barangsiapa b.-. Barangsiapa b. 18 tahun 1960 tentang perubahan jumlah hukuman denda dalam KUHP dan dalam ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelumtanggal 17 Agustus 1945 ) Pasal 208 (1) Barangsiapa menyiarkan. Barangsiapa cukup jelas b. Polisi. DPR. Dimuka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia. Unsur Pasal a. mempertontonkan atau menempelkan tulisan atau gambar yang isinya penghinaan bagi suatu kekuasaan yang ada di Negara Indonesia atau bagi sesuatu majelis umum yang ada disana. dengan niat supaya isi yang menghina itu diketahui oleh orang banyak atau lebih diketahui oleh orang banyak.500. mempertunjukkan atau menempelkan dimuka umum suatu tulisan atau lukisan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 120 .4. Yang dimaksud “ penguasa umum “ ialah suatu badan kekuasaan seperti gubernur. Dengan sengaja cukup jelas c.

maka dapat dilarang menjalankan pencaharian tersebut. atau majelis umum seperti MPR. 2. Yang dimaksud “ menyiarkan “ berarti menyebarluaskan melalui media cetak maupun elektronik. Yang dimaksud “ penguasa umum “ ialah suatu badan kekuasaan seperti Gubernur. e. karena kejahatan semacam itu juga. Yang dimaksud “ dimuka umum “ adalah suatu tempat yang dapat dikunjugi/didatangi oleh setiap orang . Polisi. 18 tahun 1960 tentang perubahan jumlah hukuman denda dalam KUHP dan dalam ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelumtanggal 17 Agustus 1945 ). c.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI yang membuat hinaan suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia. juga perbuatan yang dapat diliat oleh masyarakat umum ( pekarangan rumah tidak termasuk tempat umum kecuali digunakan untuk kegiatan umum seperti rumah makan ) f. Yang dimaksud “menempelkan “ berarti menempatkan/melekatkan disutu tempat yang mudah diketahui oleh orang banyak. Ayat ( 2 ) Jika yang bersalah. d. Penjelasan : a. DPR. Bupati dsb. DPRD yang bukan mengenai orangnya. Barangsiapa cukup jelas b. SUMPAH PALSU DAN KETERANGAN PALSU Pasal 242 (1) Barangsiapa dalam hal-hal yang menurut peraturan undang-undang menuntut sesuatu keterangan dengan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 121 . dengan maksud supaya hinaan itu diketahui atau lebih diketahui oleh umum. Yang dimaksud “ mempertunjukan “ berarti memperlihatkan kepada orang banyak. melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencahariannya dan ketika itu belum lewat 2 tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap. ( Ancaman denda dikalikan lima belas menurut perpu No.

yang ditanggung dengan sumpah. Kesanggupan untuk memberikan keterangan palsu adalah kesadaran bahwa keterangan itu adalah palsu ataupun KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 122 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (2) (3) (4) sumpah atau jika keterangan itu membawa akibat bagi hukum dengan sengaja memberi keterangan palsu. Unsur Pasal 242 Ayat 1 a. c. yang menurut undang-undang umum menjadi sumpah Dapat dijatuhkan hukuman mencabut hak yang tersebut dalam pasal 35 No. Barangsiapa. maka sitersalah itu dihukumpenjara selama-lamanya 9 tahun. Jika keterangan palsu yang ditanggung dengan sumpah itu diberikan dalam perkara pidana dengan merugikan siterdakwa atau sitersangka. atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian. olehnya sendiri maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu. Dalam hal-hal dimana undang-undang menentukan supaya memberi keterangan diatas sumpah. maupun oleh dia sendiri atau kuasanya yang istimewa ditunjuk untuk itu. dihukum penjara selamalamanya 7 tahun. Yang disamakan dengan sumpah yaitu perjanjian atau pengakuan. b.1-4 dapat dijatuhkan Penjelasan : a. Dengan sengaja memberi keterangan palsu di atas sumpah. diberikan dalam perkara pidana dan merugikan terdakwa atau tersangka. Ayat 3 Disamakan dengan sumpah adalah janji atau penguatan yang diharuskan menurut aturan-aturan umum atau yang menjadi pengganti sumpah Ayat 4 Pidana pencabutan hak tersebut pasal 35 no. baik dengan lisan atau dengan tulisan. Barangsiapa cukup jelas b. Ayat 2 Jika keterangan palsu diatas sumpah. baik dengan lisan atau tulisan.1-4 KUHP. yang bersalah.

apabila seorang saksi mencabut kembali keterangan sebelum pemeriksaan itu selesai maka bagian yang dicabut kembali itu bukanlah merupakan bagian dari keterangannya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 123 . hal ini haruslah dapat dibuktikan. sebelum pemeriksaan saksi di pengadilan itu selesai. bertentangan dengan kebenaran didalam pemeriksaan di sidang pengadilan. walaupun seandainya benar bahwa pencabutan kembali itu adalah sebagai akibat dari adanya peringatan bahwa ia dapat dikenakan penahanan karena memberikan keterangan dibawah sumpah secara palsu. juga jika kesaksian itu adalah palsu. Suatu keterangan saksi itu dianggap belum ada .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI c.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->