LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI MARKAS BESAR KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

HUKUM PIDANA

1.

Pengantar

Hukum Pidana bukan hal yang baru bagi para siswa secapa polri, karena sudah memperolehnya pada saat pendidikan di secaba polri, bahkan diantara para siswa sudah menjadi sahabat dalam praktek dilapangan, misal yang bertugas di Reserse, Lalu lintas, Provos dsb, bagi para siswa yang selama ini belum dapat mempraktekan bukan berarti melupakan hukum pidana. Sedangkan di secapa polri materi hukum pidana selain untuk mengingat kembali juga untuk memperoleh masukan dari para siswa sejalan dengan perkembangan masyarakat dan teknologi modern, bagaimana pelaksanaan / penerapan hukum pidana dilapangan, apakah ditemukan hal-hal yang tidak dapat di akomudir hukum pidana, mengingat hukum pidana merupakan warisan kolonial Belanda. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan teknologi dewasa ini para siswa dan penyaji dapat berbagi pengalaman, para siswa memiliki pengalaman praktek dilapangan dalam aplikasi perundang-undangan dan penyaji memiliki pengalaman secara teoritis dengan demikian timbul komunikasi dua arah untuk saling mengisi. Naskah materi bahan pelajaran hukum pidana ini disusun dalam bentuk modul sebagaimana dimaksud dengan surat perintah Kalemdiklat Polri No. Pol. : Sprin / 06 / I /2005 tanggal 7 Januari 2005, tentang Peningkatan kualitas Gadik Secapa Lemdiklat Polri yang berpangkat Pama sampai Pamen untuk mengikuti pelatihan pembuatan Hanjar berbentuk Modul dan pengoperasionalannya,

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

1

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

dengan harapan baik penyaji maupun para siswa mudah mempelajarinya. Naskah sederhana ini sudah barang tentu masih banyak kekurangannya, penyusun dengan tulus mengharapkan, kritik atau tanggapan untuk penyempurnaan naskah ini. mudah-mudahan ada manfaatnya untuk para siswa dan penyusun sendiri. 2. Standar Kompetensi

Memahami dan mengerti tentang pengertian Hukum Pidana ,sejarah Hukum pidana, kedudukan Hukum Pidana, azas-azas yang membatasi berlakunya Hukum Pidana, pengertian dasar tentang perbuatan yang dapat dihukum, macam-macam delict ,macam-macam vonis dan hukuman, kesengajaan , kelalaian dan pertanggung jawaban dalam hukum pidana , tempat dan waktu terjadinya tindak pidana, pengertian perihal melawan hukum, sifat tidak berlaku surut hukum pidana kita ajaran kausalitas, penghapusan, pengurangan dan penambahan hukuman, pokokpokok hukum pidana, kejahatan terhadap keamanan negara, kejahatan terhadap martabat presiden dan wakil presiden, kejahatan terhadap orang dan barang, kejahatan terhadap kekuasaan umum, sumpah palsu dan keterangan palsu sehingga dapat membantu para calon perwira dalam menyelesaikan perkara yang dihadapi dalam melaksanakan tugas dilapangan nantinya.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

2

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

BAB I KETENTUAN UMUM

Kompetensi dasar Memahami dan mengerti tentang pengertian Hukum Pidana , sejarah Hukum pidana, kedudukan Hukum Pidana, azasazas yang membatasi berlakunya Hukum Pidana. Indikator hasil belajar Setelah menyelesaikan Bab I diharapkan Siswa mampu : 1. Menjelaskan pengertian Hukum Pidana 2. Menjelaskan sejarah Hukum Pidana 3. Menjelaskan kedudukan Hukum Pidana 4. Menjelaskan Azas-azas yang membetasi berlakunya Hukum Pidana

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

3

2.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1. yang dilarang. PENGERTIAN HUKUM PIDANA Sebelum mempelajari Hukum Pidana. apabila ada orang yang melakukan perbuatan yang dilarang ia diancam dengan pidana tertentu. Menentukan kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang tlah diancamakan 3. Peraturan umum dan Delikdelik khusus sebagai berikut : Hukum adalah kumpulan peraturan. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 4 .peraturan yang harus ditaati oleh semua orang didalam suatu masyarakat dengan ancaman harus mengganti kerugian atau mendapat pidana. Dalam pengertian tersebut pada alinea satu dinyatakan . dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. sehingga dapat tercapai suatu pergaulan hidup dalam masyarakat itu yang tertib dan adil. Menentukan perbuatan-pebuatan mana yang tidak boleh dilakukan. perlu diketahui terlebih dahulu apakah yang diartikan Hukum dan apakah Hukum Pidana itu. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang telah melanggar larangan tersebut.Soesilo dalam bukunya yang berjudul Pokok-pokok Hukum Pidana. bahwa meskipun orang telah melakukan tindak pidana sepeti tersebut diatas tetapi menurut bunyi alinea dua tindak pidana tersebut masih harus ditentukan bahwa perbuatannya dapat dipidana atau tidak. Pengertian Hukum Pidana Menurut Prof Moelyatno. Pengertian Hukum menurut R. jika melanggar atau mengabaikan peraturan-peraturan itu . SH dalam bukunya yang berjudul “ Azas-azas Hukum Pidana “ antara lain beliau berpendapat sebagai berikut : Hukum Pidana adalah bagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku disuatu Negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk : 1.

tempat. Hukum Publik b. 2. dimana hukum pidana adat ini sebagian besar merupakan hukum tak tertulis dan berlaku dalam isi. hukum tata Negara . dan menitik beratkan pada kepentingan perorangan yang berifat pribadi. Hukum Dagang. pada masa itu dalam bidang kepidanaan yang ada hanyalah hukum pidana adat . Hukum tata pemerintah/Hukum Administrasi Negara.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Jika dilihat dari aspek penggolongan hukum menurut isinya terbagi 2 jenis yaitu : a. dan terjemahan dari KUHP Belanda yang disebut “ Wetboek Van Strafrecht “ Adapun riwayat / sejarah singkat perkembangan hukum pidana yang berlaku di Indonesi adalah sebagai berikut : Fase pertama Sebelum Belanda masuk kewilayah Indonesia. Hukum Privat ialah Hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang yang lain sebagai anggota masyarakat. SEJARAH SINGKAT HUKUM PIDANA YANG BERLAKU DI INDONESIA Kitab Undang-undang Hukum Pidana kita yang berlaku sekarang ini merupakan warisan peninggalan bangsa Belanda. golongan yang berbeda. dengan menitik beratkan pada kepentingan masyarakat atau Negara. Hukm Privat Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang dengan Negara . Yang termasuk dalam hukum Sipil ( Privat ) antara lain : Hukum Perdata. antara badan atau lembaga Negara yang satu dengan yang lain. Yang termasuk dalam hukum Publik antara lain : Hukum Pidana . Sebaliknya Hukum Privat mengatur hukum perorangan atau mengatur hubungan antara perorangan / individual. Dengan demikian Hukum Pidana digolongkan masuk jenis Hukum Publik karena mengatur hubungan antara Negara dan perorangan atau mengatur kepentingan umum. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 5 .

2) Hukum Pidana yang berlaku bagi orang-orang Pribumi Indoensia dan golongan Timur Asing ( Arab . dan berlaku secara local/kedaerahan didalam wilayah kerajaan-kerajaan. yaitu Wet Boek Van Strafrecht Voor de Eropeanen.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pada waktu itu hanya sebagian kecil saja hukum pidana adat yang sudah tertulis. India . Fase Ketiga Pada tahun 1915 diumumkan adanya KUHP yang baru dan KUHP tersebut baru berlaku pada tanggal 1 Januari 1918 bagi semua penduduk di Indonesia dengan menghapus kedua KUHP yang telah di sebukan dalam tahap 2 diatas ( Zaman Hindia Belanda ). hanya saja untuk kepentingan-kepentingan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 6 . pada tanggal 8 Maret 1942 Jepang ke Indonesia. maka di Negeri kita terjadilah dualisme hukum Pidana ( Zaman VOC ). tetapi sudah bersumber langsung ( Merupakan turunan ) dari KUHP Nasional Belanda yang telah ada sejak tahun 1866 melalui beberapa perubahan.orang Eropa lainnya yang berada di Nusantara. Fase kedua Setelah belanda masuk ke Indonesia. pada waktu itu WeetVoor Nederlandsche Indie 1918 masih tetap berlaku. Wet Voor Nederlandsche Indie / KUHP 1918 ini bukan lagi merupakan turunan dari Code Venal Perancis sebagaimana sebelumnbya. China dan sebagainya ) yang termuat dalam Wetboek Van Strafrecht. Kedua macam hukum pidana diatas selenggarakan oleh Pemerintah Balanda dengan bersumber pada hukum Pidana Perancis yang lahir pada Napoleon Bonaparte. yakni adanya deferensi atau pembedaan perlakuan antara dua hukum pidana yaitu : 1) Hukum pidana yang berlaku bagi orang-orang Belanda dan orang . setelah berhasil mengalahkan Belanda. Disamping itu pengaruh hukum pidana romawi pun masih terasa besar dalam tahap ini. tambahan / penyelarasannya untuk diperlakukan di Indonesia. Fase ke empat Zaman Pendudukan jepang.

Melalui Agresi – agresi Militer dan berbagai terornya untuk sementara waktu Belanda berhasil menduduki Indonesia dan kembali dengan membawa serta Hukum Pidana yang terdahulu. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 7 . Jadi sejak saat itu Hukum Pidana yang berlaku di Indoensia ialah Wet Voor Nederlandsche Indie dan ketentuan-ketentuan Hukum Pidana Jepang. tetapi dengan nama yang telah di ubah yakni WVS Voor Indonesia dengan isi 570 Pasal ( Melalui berbagai penambahan dan pemberatan Hukuman ).LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI pemerintahannya. yakni dengan adanya WVS Voor Nederlandsche Indie ( 569 Pasal dan WVS Voor Indonesia ( 570 pasal ) Fase kedelapan Dualisme Hukum berkahir dengan di keluarkannya UU No 73 tahun 1958 yang memperkuat UU No 1 tahun 1946 yang pada dasarnya menetapkan bahwa Hukum Pidana yang berlaku bagi seluruh Penduduk Indonesia Ialah Hukum Pidana yang termuat dalam WVS Voor Nederlandsche Indie (569 pasal) atau dengan kata lain : Hukum Pidana yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918 dan bukan WVS Voor Indonesia yang berisi 570 pasal itu. pada tanggal 17 Agustus 1945. Akibatnya kembali adanya Dualisme Hukum . Pasal II aturan peralihan UUD 1945 yang mulai berlaku pada tanggal 18 Agustus 1945 mengatakan : “ segala badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang Undang Dasar ini “. Fase kelima Zaman Kemerdekaan. Fase ketujuh Setelah Indoensia merdeka ternyata Belanda mencoba untuk menjajah kita kembali. Jepang mengeluarkan juga maklumat maklumat yang memuat ketentuan Pidana. Fase keenam Dengan adanya UU no 1 tahun 1946 di tetapkan bahwa Hukum Pidana yang berlaku bagi Indonesia adalah Hukum Pidana yang termuat dalam WVS Voor Nederlandsche Indie tahun 1918 saja ( tanpa ketentuan . sehingga Unifikasi Hukum kita terwujud kembali.ketentuan Pidana Jepang ).

1) Sistem Hukum Anglo Sexon (Anglo Amerika) Sistem Hukum Anglo sexon mulai berkembang di Inggris pada abad XI yang di sebut sebagai system” Common Law “ dan system “ Unwritten Law “ (Tidak tertulis walaupun di sebut Unwritten tidak KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 8 . 3. maka dalam system Hukum positif Indonesia tersebut akan terdapat Sistem Hukum Perdata. Jika kita ambil contoh system Hukum Indonesia. Sudikno metrokusumo. Sistem hukum merupakan system abstrak dan terbuka artinya bahwa system Hukum itu terdiri dari unsur-unsur yang tidak konkrit. Jadi jika terjadi Kontradiksi akan di selesaikan oleh system itu sendiri. serta unsure-unsur lain yang tidak termasuk dalam system mempunyai pengaruh terhdap unsur-unsur dalam system. tetapi bersamasama mewujudkan suatu kesatuan yang utuh. dan unsurunsur itu mempunyai hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Sistem Hukum Anglo Sexon (Anglo Amerika) dan system Hukum Eropa Kontinental. KEDUDUKAN HUKUM PIDANA DALAM SISTEM HUKUM Pengertian system Hukum : Sistem Hukum menurut pendapat Prof.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Dengan demikian . Untuk mencapai tujuan Kesatuan itu diperlukan kerja sama antara unsur-unsur tersebut. Jadi tegasnya system Hukum itu bukan hanya sekedar kumpulan peraturan . yang menyatakan bahwa tata Hukum itu sendiri tidak lengkap. Sistem Hukum Tata Negara dan lain – lain yang satu sama saling berbeda. Sistem Hukum Pidana. oleh karenanya Sistem Hukum adalah system terbuka yang selalu membutuhkan masukan untuk penyempurnaan. tidak menunjukan Kesatuan yang dapat di lihat. maka WVS Voor Nederlandsche Indie ( 569 Pasal ) inilah yang akhirnya di terjemahkan menjadi kitab Undang–undang Hukum Pidana ( KUHP ) kita sampai saat ini.peraturan Hukum itu saling berkaitan dan tidak boleh terjadi konflik atau kontradiksi di dalamnya. Hukum yang merupakan suatu system tersusun atas sejumlah bagian yang masing-masing juga merupakan system yang di namakan Sub Sistem. Scolten. SH adalah kesatuan utuh dari tatanan – tatanan yang terdiri dari bagian -bagian atau unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan kait-mengkait secara erat. sehingga tidak di biarkan berlarut.

Belanda. 3. Sumber Hukum dalam system Hukum Anglo sexon ialah putusan putusan Hukum / Pengadilan. Hukum Tata Negara 2. Hukum Privat . Perancis. Hukum Dagang. Peraturan-peraturan Hukumnya merupakan kumpulan . Hukum Publik. Italia. yang di perintahkan oleh Kaisar Justianus pada abad VI yang kemudian disebut “ Corpus Juris Civilis “ Prinsip-prinsip Hukum yang terdapat didalam Corpus Julis Civilis dijadikan dasar perumusan dan Kodivikasi Hukum di Negara -negara Eropa seperti: Jerman. 2) Sistem Hukum Eropa Continental Sistem Hukum ini berkembang di Negara-negara daratan eropa dan sering di sebut sebagai “ Civil Law “. Amerika latin termasuk Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Hukum Pidana dan Acara Pidana 4.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI sepenuhnya benar karena dalam system Hukum ini dikenal juga adanya sumber hukum yang tertulis (Statutes). Melalui putusan-putusan hakim (Judicial Decisioans) yang mewujudkan kepastian Hukum. maka system Hukum Eropa Continental di bagi 2 ( Dua ) golongan Hukum yaitu : a. Prinsip Utama yang menjadi dasar system Hukum eropa CONTINENTAL adalah “ Hukum memperoleh kekuatan mengikat karena di wujudkan dalam peraturan-peraturan yang berbentuk Undang-undang dan tersusun sistematika di dalam Kodifikasi dan Kofilasi tertentu. yang termasuk di dalamnya : 1. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 9 . yang termasuk di dalamnya : 1. Prinsip ini di anut mengingat tujuan Hukum adalah ”Kepastian Hukum“ berdasarkan sumber Hukum itu. Hukum Administrasi Negara 3. Hukum Perdata antar Negara (Traktat ) dll Jadi kedudukan Hukum Pidana dalam system Hukum adalah termasuk dalam bagian Hukum Publik dari system Hukum Eropa Continental.kumpulan dari berbagai Kaidah-kaidah Hukum yang ada Kekaisaran. mereka dibentuk menjadi Kaidah yang meningkat umum. Hukum Sipil (Hukum Perdata dan Acara Perdata) 2. Hukum Publik antar Negara ( Traktat ) dll b.

AZAS – AZAS YANG MEMBATASI BERLAKUNYA HUKUM PIDANA Berlakunya berdasarkan waktu. Azas Legalitas ( Prof.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 4. Azas legalitas ini dimaksud mengandung tiga pengertian yaitu :  Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. 4. Menyangkut perubahan Hukum Pidana dikenal 2 (Dua) teori yaitu :  Teori formal adalah perubahan UU barulah ada jika rekasi UU Pidana sendiri yang di ubah (Norma Hukum Pidana itu dirubah)  Teori materiil adalah perubahan dalam UU itu ada jika tiap – tiap perubahan itu sesuai dengan perubahan Perasaan Hukum berarti dapat menerima perubahan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 10 . supaya suatu perbuatan dapat di Hukum maka harus dipenuhi syarat – syarat :  Harus ada Norma Hukum Pidana .SH ). Azas legalitas ini di atur dalam pasal 1 ayat 1 KUHP berbunyi : “Tiada suatu perbuatan boleh di Hukum. artinya suatu peraturan yang mengandung ancaman Pidana terhadap pelanggarnya.  Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut. melainkan atas kekuatan ketentuan Pidana dalam Undang – undang yang ada terdahulu dari pada perbuatan itu “.1. Moelyatno. Oleh karena itu.  Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi (kiyas). (Nullum Delictum Nulla Poena Sine Preaevia Lege Poenali).  Norma Hukum itu harus berdasarkan UU artinya UU itu harus di buat oleh badan yang berwenang ( Legislatif / eksekutif ) sedangkan pasal 1 ayat 2 KUHP merupakan penyimpangan pasal 1 ayat 1 KUHP dimana pasal 1 ayat 2 ini dapat berlaku surut.

Palang Merah Internasional) dan sebagainya. Azas Teritorialitid ( Teritorial / wilayah. kedudukan jenis kelamin. Perubahan yang terdapat dalam Hukum Perdata juga dapat di terima oleh Hukum Pidana ( KUHP ). Menentukan berlakunya Hukum Pidana di Indonesia bagi setiap orang dengan tidak membedakan warga Negara ( Baik WNA dan WNI ). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 11 . misalnya  Berat ringannya Hukuman  Jenis Hukuman yang di jatuhkan  Lain – lain 4. agama dan lain sebagainya yang melakukan tindak Pidana di Wilayah kedaulatan RI yang meliputi Wilayah daratan . Berlakunya berdasarkan tempat KUHP Berlaku berdasarkan tempat diatur dalam pasal 2 sampai dengan pasal 9 KUHP yang di dalamnya didasari Azas – azas yaitu: 4. Azas ini diatur dalam pasal 2 KUHP.misalnya : Para duta Negara Asing di Indonesia termasuk Staf dan Keluarga para wakil badan Internasional (Utusan PBB . “ Ketentuan Pidana dalam UU Hukum Pidana Indonesia berlaku bagi setiap orang yang ada di dalam Negara Indonesia yang melakukan suatu perbuatan yang boleh di Hukum.2.2. maka harus dilihat dari berbagai segi / sudut. daratan dan laut tidak terbatas ke atas ) Ketentuan pasal 2 KUHP ini di batasi oleh Pasal 9 KUHP. lautan seluas 200 Mil di ukur dari pulau terluar ( Satu Mil = 1851. dimana Hukum Pidana Indonesia tidak berlaku bagi mereka yang memiliki hak “ EXTERITORIALITEIT “ . Dari kedua teori tersebut di atas oleh Hukum Pidana di Indonesia cenderung terhadap teori materiil. Ketentuan yang menguntungkan bagi tersangka dalam perubahan UU.1. Misalnya .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI diluar UU Pidana. 50 M ) berdasarkan UU No 4 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Exlusive ( ZEE ) dan udara setinggi -tingginya .

 Menyelesaikan tentang kompetensi relatif hakim/Pengadilan mana yang akan mengadili. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 12 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Disamping hak Exteritorialiteit dikenal juga hak IMUNITEID PARLEMENTAR ( Hak Kekebalan ) yang dimiliki oleh para anggota MPR. Perlunya menentukan wilayah / Teritorial suatu Negara adalah dapat menentukan apabila terjadi suatu tindak Pidana / peristiwa Pidana. DPR dan Menteri tidak dapat di kenakan Hukum Pidana untuk segera yang di katakannya dan tulisan – tulisannya dalam Gedung Parlemen ( TAP MPR NO.1 / MPR / 1978 dan UU No. Untuk dapat menyelesaikan setiap permasalahan dalam Locus Delicti maka dalam ilmu Hukum Pidana di kenal 3 macam teori yaitu :  Teori perbuatan materil adalah tempat dimana membuat melakukan segala sesuatu yang kemudian dapat mengakibatkan tindak Pidana ( Delict )  Teori alat yang di gunakan yang menjadi Locus Dlicti adalah tempat dimana ada “ Alat / Instrumen “ yang dipakai dalam tindak Pidana itu mulai mengakibatkan sesuatu ( Akibat dari bekerjanya alat itu mulai terasa ) Pada diri korban atau barang yang menjadi sasaran yang menegaskan Pidana. 13 tahun 1970 ). Selain yang di sebutkan dan diterangkan dalam pasal 2 KUHP yaitu berlakunya Hukum Pidana Indonesia di Wilayah/ Teritorial Indonesia. dimanakah tempat peristiwa itu terjadi atau di sebut “ LOCUS DELICTI “ nya guna dapat menentukan :  Berlakunya UU Hukum Pidana dalam hal yang konkrit.  Teori akibat yang menjadi Locus Delicti adalah tempat / waktu dimana akibat dari tindak Pidana itu terjadi / timbul. juga Wilayah/ Teritorial tersebut di perluas dalam Pasal 3 KUHP bahwa ketentuan Pidana Indonesia juga berlaku di luar wilayah Indonesia asal perbuatan itu dilakukan di atas kendaraan air / Kapal dan Pesawat Udara Indonesia (Pengertian Kendaraan Air dan Pesawat Udara dapat dilihat dan di baca dalam pasal 95 dan 95a KUHP).

uang kertas Negara / Bank / Materai atau Merk yang di keluarkan Pemerintah Indonesia ( Pasal 244 sampai dengan 262 KUHP ). 161. azas nasionaliteit aktif/personaliteit di atur dalam pasal 5 kUHP yang menentukan bahwa berlakunya Hukum Pidana Indonesia bersandar pada kewarga Negaraan pembuat tindak Pidana (Delic.2.  Azas Nasionaliteit Pasif / Azas Perlindungan. sertifikat – sertifikat. 106. 111 bisa pada ke 1 . dapat kita bagi dua macam yaitu :  Azas Nasionaliteit aktif atau azas personalitas / Personaliteit. 2.  Pemalsuan surat – surat . tergantung mana dari teori tersebut yang sesuai / cocok dalam menyelesaikan suatu Pidana. 240. Azas ini bertujuan untuk melindungi kepentingan Nasional/umum dan bukan kepentingan Individu selanjutnya. dan 3 KUHP yang menentukan bahwa ketentuan Pidana Indonesia berlaku bagi tiap – tiap orang yang di Luar Indonesia melakukan tindak Pidana. 450 dan 451 KUHP Suatu perbuatan yang dipandang sebagai kejahatan menurut ketentuan dimana dalam UU Hukum Pidana KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 13 . 110. pasal 127 dan pasal 131 KUHP. yang berarti Hukum Pidana Indonesia dapat berlaku bagi WNI yang melakukan suatu perbuatan Pidana walaupun pidana itu dilakukan di luar Indonesia terhadap : Kejahatan tersebut dalam bab I dan II pasal 160. 107. Tindak–tindak Pidana atau perkara–perkara yang dapat di selesaikan dengan Azas Nasional pasif ini antara lain :  Kejahatan dalam pasal 104.  Kejahatan mata uang. 279. Azas Nasionaliteit Pasif / perlindungan ini di atur dalam pasal 4 ayat 1. utang ( Pasal 263 sampai 276 KUHP ).LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ketiga teori tersebut di atas kesemuanya di anut oleh Hukum Pidana Indonesia.2. Azas nasionaliteit / Kebangsaan. 4.

M. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 14 . 4. N. Pasal 5 KUHP ini diperluas juga oleh pasal 7 KUHP terhadap Pegawai negeri yang melakukan kejahatan di luar negeri dalam bab 18 buku II (Pasal 413 samapi dengan 473 KUHP).3. bilamana seseorang melakukan pelanggaran diluar Indonesia maka Hukum Pidana Indonesia dapat diberlakukan terhdap yang bersangkutan (pelanggar) yaitu :  Kejahatan dalam pasal 438 .2.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Indonesia dan boleh di hukum menurut UU Negara tempat perbuatan itu dilakukan. Azas Universaliteit ( Universal ) Azas Universal ini diatur dalam pasal 4 ayat 4 KUHP dengan tujuan untuk melindungi kepentingan dunia / Internasional.  Kejahatan dalam pasal 479 L.  Kejahatan dalam pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut. O tentang kejahatan yang mengancam keselamatan penerbangan sipil. 444 s/d 446 tentang bajak laut.  Kejahatan dalam pasal 479 hurup J tentang penguasaan pesawat udara secara melawan Hukum.

Menjelaskan kesengajaan ( dolus ) dan kelalaian ( culpa ). Indikator hasil belajar Setelah menyelesaikan Bab II diharapkan Siswa mampu: 1. Menjelaskan Macam-macam vonis dan hukuman. 5. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 15 . Menjelaskan pengertian dasar tentang perbuatan yang dapat dihukum. Menjelaskan pertanggung jawaban dalam hukum pidana. HUKUMAN.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI BAB II PENGERTIAN DASAR TENTANG PERBUATAN YANG DAPAT DI HUKUM . 3. Dolus. Macam-macam delict. 2. VONIS . 4. culpa serta pertanggung jawaban dalam Hukum Pidana. vonis dan hukuman. Menjelaskan Macam-macam delict. DOLUS . MACAM-MACAM DELICT . CULPA DAN PERTANGGUNG JAWABAN DALAM HUKUM PIDANA Kompetensi dasar Memahami pengertian dasar tentang perbuatan yang dapat dihukum.

Siapa yang akan menyangkal . Menurut KUHP. bahwa karena hal ihwal pembunuhan tersebut tidak bertentangan dengan keinsafan hukum? Walaupun begitu. dengan hukuman penjara dan seterusnya “ Seorang gila dengan sengaja membunuh orang lain. Apakah suatu pembunuhan oleh seorang yang tidak waras pikirannya dapat di tanggungkan kepadanya ? seorang yang di serang oleh beberapa perampok . kedua peristiwa tersebut dianggap oleh Pasal 338 KUHP sebagai “ Perbuatan yang dapat di hukum “ dalam pada itu perkataan ini tidak berarti bahwa perbuatannya selalau boleh di hukum dan biasanya suatu pembunuhan “ Melawan hak “ akan tetapi kadang-kadang KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 16 . membela dirinya dengan sebuah pistol sehingga satu diantaranya di tembak mati. karena pembunuhan. PENGERTIAN DASAR TENTANG PERBUATAN YANG DAPAT DI HUKUM (DELICT) Menurut teori Hukum Pidana. maka perbuatan yang dapat di hukum ialah segala kelakuan seperti yang di nyatakan dalam buku kedua dan buku ketiga KUHP dalam pasal-pasal kedua buku itu tidak pernah di muat syarat. bahwa si pembuat mesti dapat dipermasalahkan tentang kelakuannya dan jarang ditentukan di dalamnya bahwa kelakuan mesti bertentangan dengan keinsafan hukum atau menurut perkataan Yuridis yang lazim mesti melawan hak umpamanya dalam Pasal 338 KUHP tercantum : “ Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain di hukum. maka “ Perbuatan yang dapat dihukum “ ialah kelakukan orang yang bertentangan dengan keinsyafan hukum sehingga kelakuan itu di ancam dengan hukuman asal di lakukan oleh seorang yang dapat dipermasalahkan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1.

Purnadi Purbacaraka. Sebetulnya satu perbuatan Pidana tidak dapat di ceraikan dari pembuatnya. Akan tetapi perkataan “ Kelakukan itu perbuatan yang boleh di hukum “ belum berarti pembuatnya boleh dikenakan hukuman.terminologi lain untuk “ Delict “ dalam bahasa Indonesia yang termuka :  Tindak pidana yang di cetuskan oleh Prof. yang merupakan istilah yang di cetuskan oleh Moeljatno . Jadi kematian B ini bukanlah akibat kelakuan A melakukan suatu tindak pidana. Satochid Kartanegara. yang merupakan istilah yang di cetuskan oleh Prof Punadi Purbacaraka. SH. SH. 2. bahwa suatu delik itu disamping berwujud sebagai suatu perbuatan dapat juga berwujud sebagai suatu kejadian atau peristiwa yang harus dipertanggung jawabkan karena merugikan pihak lain. SH menggunakan istilah “ Peristiwa Pidana “ ialah karena menurut beliau.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI dilakukan suatu pembunuhan oleh seorang yang tidak boleh di hukum karena alasan-alasan yang menurut KUHP ( Pasal 44 dan 48 sampai dengan Pasal 51 KUHP ) menghapuskan hukumannya. tetapi A tetap dapat di tuntut atas kematian B itu. Catatan : Hal ini amat erat hubungannya dengan persoalan tanggung jawab . bahwa jika seseorang melakukan suatu perbuatan yang di liputi oleh salah satu “ Perbuatan yang boleh di hukum “ . Penjelasan : Prof. Pada suatu hari pohon itu tumbang dengan sendirinya dan menimpa B hingga B tewas. Terminologi.  Peristiwa pidana. Karena segala pasal-pasal KUHP yang mengandung sesuatu kejahatan (Buku ke dua) atau pelanggaran (Buku ketiga) tidak mengindahkan keadaan si pembuat maka kita terpaksa mengaku. Contoh : Dipekarangan rumah A tumbuh sebatang pohon yang besar dan tinggi . hanya secara teoritis keduanya dapat di bedakan. melainkan akibat dari suatu peristiwa pidana dimana A dapat di tuntut bertanggung jawab. Meskipun hal ini bukan perbuatan A . MACAM-MACAM DELICT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 17 .  Perbuatan pidana. SH.

 Menurut KUHP. yakni Delict yang secara tidak di sengaja telah dilakukan oleh pelakunya (Sama sekali diluar kehendaknya) Contoh : Tabrakan yang terjadi karena sopir terlambat menghentikan mobilnya.2.   2. pencurian. agar lengkap tetapi singkat dan jelas . yakni Delit yang dilakukan dengan sengaja oleh pelakunya dalam arti akibat yang ditimbulkan oleh Delict tersebut memang di kehendaki oleh si pelaku.1. Makar dsbnya. Contoh :  2. Contoh : Pelanggaran aturan lalu lintas pelanggaran Tata tertib penyimpangan yang terlarang dan sebagainya. yaitu Delict yang berwujud suatu perbuatan yang merugikan orang lain ( Baik di sengaja maupun tidak di sengaja ). Delict dapat kita bedakan atas : Delict Commissie. dan sebagainya. Delict itu dapat dibagi atas : Delict kejahatan yaitu tindak pidana yang tergolong berat dan merugikan terhadap orang atau pihak lain. pembagian Delict itu di dalam KUHP dapat dijelaskan sebagai berikut : 2. Delict pelanggaran yaitu tindak pidana yang tergolong ringan dan belum tentu menimbulkan karugian bagi pihak lain. Contoh : Tindak Pidana Pencurian. Pembajakan. Delict itu dapat di bagi menurut beberapa sudut pandangan yakni : Delict Dolus.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pembagian Delict menurut jenis-jenisnya itu dapat di tinjau dari berbagai sudut pandangan karena itu. Delict Culpa.3.yaitu Delict yang berwujud sebagai suatu kelalaian atau pengabaian akan suatu yang seharusnya dilakukan sehingga kelalaian atau pengabaian ini menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Berdasarkan wujudnya. Delict Ommissie. pembunuhan. Menurut Doktrin atau Ilmu Pengetahuan Hukum. Contoh : Perampokan. Contoh : Penipuan. pembunuhan dsb.   KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 18 . penganiayaan. penganiayaan. Catatan : Pelanggaran Lalu Lintas pada saat jalan sedang sepi tidak menimbulkan kerugian apapun.

5. maka Delict itu dapat di bedakan atas :  Delict umum. perjinahan yang dilindungi sebagai rahasia bersama bagi para pelakunya dsbnya.1. Berdasarkan factor waktu atau lamanya Delict itu di lakukan maka Delict dapat di bedakan atas :  Delict yang dilakukan seketika saja atau sekali saja. pembunuhan dsbnya. 2. Delict ini dapat di bedakan atas : Delict Formil .undang Contoh: Pengrusakan barang-barang berharga ( Akibat yang dilarang ialah kerugian yang sampai terjadi ). yaitu Delict yang akibatnya dilarang oleh Undang . Berdasarkan factor pelakunya.5. Penipuan dsb. yakni Delict yang merupakan tindakan Pidana apa saja dan di lakukan oleh siapa saja. yaitu Delict yang perbuatannya dilarang oleh Undang – undang Contoh : Pencurian.  Delict yang dilakukan secara berulang – ulang.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI - Kelalaian penjaga palang pintu kereta api menyebabkan tabrakan Pengabaian seorang ibu terhadap kewajiban untuk menyusui bayinya yang menyebabkan bayinya itu meninggal dsb.2. Delict ini hanya dapat dilakukan oleh seorang militer ( Pelakunya pasti harus militer ). yakni Delict / tindak pidana tertentu ( Khusus ) dan pelakunya pun orang-orang tertentu saja ( tidak sembarang orang ). Perkosaan. yakni melarikan diri dari tugas / kewajiban kemiliteran.4. perampokan. pencurian. 2.  Delict Khusus . Misalnya : Pemerasan yang dibarengi/dilakukan dengan ancaman.   Berdasarkan unsur Delict yang di larang oleh Undangundang. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 19 . pembunuhan ( Akibat yang dilarang ialah matinya orang yang di bunuh ) dsbnya. Delict Materiil. Menurut segi pandangan dari sudut -sudut lain yakni : 2. 2.5. Misalnya : Pencopetan. Contoh : Delict Militer seperti Desersi.

agar dapat di ajukan untuk di tuntut maka harus di adukan dahulu oleh pihak yang di hina.6.6. Contoh :Penyembunyian / Penimbunan barang – barang kebutuhan pokok. barang cap. yaitu Delict yang di tujukan untuk menggangu kelancaran perekonomian Negara baik secara langsung maupun tidak langsung .1. 2. Contoh : Makar terhadap Kepala Negara dsb.  Terdakwa dibebaskan dari tuntutan hukum (atas delict yang tidak secara lengkap memenuhi unsur delict dalam arti perbuatannya)  Terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum (atas delict yang tidak secara lengkap memenuhi unsur-unsur delict dalam arti pelakunya) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 20 .2. Berdasarkan factor syarat untuk dapat tuntut maka Delict dapat di bedakan atas :  Delict aduan.3. Delict Ekonomi. Contoh : Delict penghinaan.3. Tanpa lampiran pengaduannya maka tuntutan perkara tersebut menjadi batal. penyelundupan dsbnya.5. dsbnya. merek penting secara besar – besaran. delict itu dapat di bedakan atas : 2. 2. yaitu delict yang memerlukan syarat mutlak agar delict tersebut dapat di tuntut di muka hakim. Delict social ( Umum ) sama dengan Delict pada umumnya. Berdasarkan factor sasaran kepentingan yang diganggu . 3.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2.6. yaitu delict yang setiap saat dapat di tuntut pelakunya oleh yang berwajib tanpa perlu adanya pengaduan terlebih dahulu dari pihak korbannya. pemalsuan uang.  Delict biasa. MACAM – MACAM VONIS DAN HUKUMAN Macam Vonis bila di pandang dari hal pemenuhan unsur-unsur dasar oleh suatu Delict ada 3 yaitu :  Terdakwa dipidana atau dihukum (atas delict yang memenuhi unsur-unsur secara sempurna atau lengkap). Delict Politik yaitu delict yang di tujukan untuk menggangu keamanan / ketertiban Negara atau untuk mengancam keselamatan Kepala Negara. 2.6.

sebab menurut hakikat mereka. Titel IX ) tidak tercantum satu definisi tentang “ sengaja “ menurut pembicaraan sehari-hari. a.     b. akan tetapi ada juga yang berpendapat. Hukuman pokok terdiri dari : Hukuman mati Hukuman penjara Hukuman Kurungan Hukuman denda Hukuman tambahan terdiri atas : Pencabutan atas beberapa hak tertentu Perampasan barang-barang tertentu Pengumuman keputusan hakim. sesuatu perbuatan dilakukan dengan sengaja jika pada pembuat ada kemauan akan melakukan perbuatan itu. maka setiap perbuatan yang dilakukan dengan pengetahuan tentang akibatnya dilakukan juga dengan kemauan supaya akibat itu jadi. Setiap perbuatan yang terjadi diciptakan terlebih dahulu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Mengenai macam hukuman yang dikenal dalam hukum pidana kita. 4. maka menurut Pasal 10 KUHP. bahwa sesuatu akibat diadakan dengan sengaja jika pada waktu dijadikannya pada pembuat ada pengetahuan akibat itu akan terbit/timbul. Jika A menembak mati B sebab ia mau mebunuhnya maka kita bilang A membunuh B dengan sengaja . Anggapan ini disetujui oleh penganut-penganut teori kemauan. Kebanyakan ahli –ahli hukum pidana setuju dengan keterangan ini.1. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 21 .    4. Dalam KUHP ( Buku I. KESENGAJAAN (DOLUS) DAN KELALAIAN (CULPA) Kedudukan delict kesengajaan (dolus) tersebut dalam buku II KUHP (kejahatan) biasanya dilarang seperti suatu larangan akan melakukan suatu perbuatan atau mengadakan sesuatu akibat “ dengan sengaja : Jadi “ sengaja “ dijadikan anasir dari hampir setiap kejahatan. pembagian macam-macam hukuman terbagi atas. Untuk meguji kesimpulan ini perlu secara phsiologis bagaimana dalam rohnya manusia dijadikan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan.

segala perbuatan yang dilakukan sedemikianlah dikatakan “ dilakukan dengan sengaja “ Tujuan sesuatu perbuatan harus dibedakan dari motifnya ialah akibatnya yang lebih jauh. 1) Sengaja sebagai tujuan/maksud adalah jika akibat dijadikan oleh si pembuat corak ini biasa terjadi dan juga menurut pembicaraan sehari-hari. Pada hari ia mau berangkat. terdapat olehnya kabar. tetapi mungkin juga berakibat anaknya akan meninggal dunia dan sebab itu ia memutuskan akan menolak maksud jahat itu. Matinya B disebabkan oleh A. Misalnya : A khawatir bahwa B akan dipanggil sebagi saksi dalam perkaranya dan akan meberi segala keterangan yang diperlukan untuk menghukumnya dan karena itu A membunuh B. Suara batin menasehati jangan melanggar kaidah agama tentang milik orang lain dan lagi ia merasa takut jangan-jangan ditangkap dan dihukum karena kejahatan itu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Banyak perbuatan yang diciptakan tidak dilakukan karena hasilnya yang baik dianggap tidak melebihi kesulitannya. misalnya : A ingin membeli cincin untuk dirinya akan tetapi uangnya tidak cukup. Dalam Ilmu Hukum Pidana ada 3 (tiga corak) sengaja yaitu :  Sengaja sebagai tujuan/maksud. Biasanya sesuatu perbuatan menyebabkan beberapa akibat : ada yang terbit terus dan ada yang terjadi tidak langsung. bahwa anaknya B sakit keras. sehingga segenap uang simpanan pamannya diperlukan ongkos untuk merawat. 2) Sengaja bersifat kepastian adalah dimana sipelaku (dader) mengetahui bahwa satu akibat yang tidak disetujuan akan terjadi jika akibat yang disetujui dilaksanakan. Motifnya A melakukan pembunuhan itu : supaya ia bebas dari perkara tadi lantaran kurang terang. ada yang diingini dan disegani oleh pembuat. Maka timbul maksudnya buat mencuri uang simpanan pamannya B. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 22 . yang dinamai juga “ sengaja bersyarat “ atau “ Dolus Eventualis “. jadi pembunuhan itu dilakukan dengan sengaja (corak 1). yang dimaksudkan untuk menggerakan pembuat melakukan perbuatannya.  Sengaja berinsaf kepastian. Maka A sadar bahwa pencurian itu tidak hanya akan berakibat pamannya kehilangan uangnya.  Sengaja berinsaf kemungkinan.

Maksud dilaksanakan dengan memasang bom waktu. dimana di samping hampir setiap detik yang bercorak sengaja disebut delict. Misalnya : A berniat membunuh B. Kejahatan-kejahatan dalam KUHP terutama dimuat dalam Titel VII (Kejahatan yang mendatangkan bahaya bagi keamanan umum manusia atau barang). itu pun dengan corak “ salah ”umpamanya : Pasal 187 KUHP berbunyi : Barang siapa dengan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 23 . ia lebih ingin menembak mati B maka biarpun C juga terkena . 3) Sengaja berinsaf kemungkinan. Tenggelamnya kapal merupakan kesengajaan sebagai maksud. Seandainya tembakan itu berakibat B mati dan C terluka . dari pada tidak nembak. Kelalaian Culpa dalam buku II KUHP tercantum beberapa hal kejahatan yang di karang seperti satu larangan akan menimbulkan sesuatu akibat ´karena salahnya “. yang juga dinamai “ kesengajaan bersyarat “ atau “ Dolus eventualist “: begitupun juga suatu perbuatan dilakukan dengan dolus eventualist maka ada dua akibat : satu yang ditujukan oleh pembuat dan satu yang berinsaf kemungkinan atau agaknya terjadi jika dilaksanakan tujuannya.2.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Contoh : Kasus meledaknya kapal Thomas Van Bremerhaven. Akibat matinya beberapa orang kelasi itu bagi terdakwa merupakan kesengajaan kepastian. ia melihat B dan C berjalan bersama-sama lantas ia menembak kearah B sedang ia sadar boleh jadi C juga akan ikut celaka. yang ketika akan dipasang bom waktu itu terjatuh dan meledak sehingga selain kapal itu rusak kemudian tenggelam dan terjadi juga akibat lain dengan meninggalnya beberapa orang kelasi kapal. 4. karena pemilik perusahaan angkutan kapal ingin mendapat pembayaran asuransi kapal dengan cara merencanakan untuk menenggelamkan kapal itu ditengah laut. Keinginan terdakwa untuk mendapatkan asuransi adalah motif. maka A dapat didakwa lantaran satu “ dengan sengaja meghilangkan jiwa orang lain “ dan dua “ (dengan sengaja) menganiaya” (Pasal 338 dan 351 (1) KUHP).

Seseorang baru boleh dipersalahkan karena melakukan sesuatu kejahatan berculpa (umpamanya : Menyebabkan terjadinya kebakaran atau matinya orang lain). Kadang-kadang satu pasal mengancam hukuman yang sangat pada satu delict yang bercorak dua . Umpamanya : A mesti menyeberangkan B dengan perahunya . Jika dari kedua syarat tersebut di atas hanya satu di penuhi. jika dipenuhi kedua syarat yang berikut :  Perbuatannya dilakukan dengan kurang hati . Ada beberapa anak yang bermain di dekatnya (akibatnya harus di kira-kirakan olehnya) satu dari mereka mengenai ujungnya kawat itu yang belum di isolasi. Dalam kedua pasal ini anasir dolus di nyatakan dengan “ sedang di ketahuinya “ dan “ Anasir Culpa dinyatakan dengan “ patut harus di sangkanya “. Akibat ini dapat di kira-kirakan lebih dahulu. Begitupun dalam Pasal 480 KUHP : “ Barang siapa yang membeli barang yang di ketahuinya atau patut harus di sangkanya diperoleh karena kejahatan. dihukum karena seterusnya (menadah atau sekongkol). dihukum “ selanjutnya dapat di dibandingkan : Pasal 333 dan 334 (menahan orang dengan sengaja dan karena salahnya) Pasal 338 dan 359 (membunuh orang dengan sengaja dan karena salahnya). Baru jika kelakuannya seseorang mempunyai kedua sifat itu. dikenai aliran listrik dan terus mati. sedang air sudah mulai banjir. Umpamanya dalam Pasal 292 KUHP tercantum dalam : “ Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa yang sama laki-laki atau sama perempuan dengan dia. ledakan atau banjir. A menjadikan matinya anak itu “ Karena salahnya “ (Culpa) . akan tetapi sebab A tidak KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 24 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI sengaja menimbulkan kebakaran. akan tetapi di tengah sungai perahunya di kenai sebatang kayu sehingga B jatuh keluar dan mati lemas. sedang di ketahuinya atau patut harus di sangkanya hal belum dewasanya itu di hukum (Homo Sexualiteit). ia boleh dipersalahkan karena suatu kejahatan berculpa umpamanya : Seorang ahli listrik mengerjakan satu kawat listrik dengan tidak di buka lebih dahulu kontaknya (kurang hati-hati). yaitu berdolus dan berculpa. Walaupun A mengambil segala tindakan yang perlu untuk menghindarkan kecelakaan .hati  Timbulnya akibat itu harus dapat di kira-kirakan olehnya lebih dahulu. maka belum ada culpa.

Kadang-kadang sesuatu kecelakaan yang terjadi karena kelalaiannya seseorang yang begitu besar. Apabila unsur tindak pidana sudah sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. “Culpa Levis“ : Kelalaian ringan “ Culpa “ : Kelalaian berat .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI berkelakuan kurang hati-hati. Jadi “ Culpa Levis “ belum cukup untuk menghukum orang karena sesuatu kejahatan berculpa. Selanjutnya bagaimana pertanggung jawaban dalam hukum pidana atas perbuatan yang ia lakukan itu? Pertanggunng jawaban dalam Hukum pidana atau yang juga di sebut “ Criminal Responsibility . Dimana letaknya garis batas antara kedua corak ini tidak dapat di tentukan pada umumnya : Inilah bergantung pada hal ihwalnya setiap perkara khusus dan hakikatnya hakim. Dalam KUHP segala jenis Culpa itu di sama ratakan menurut teori hukum pidana di bedakan antara “ Culpa levis “ dan “ Culpa Lata “ dan lagi dibedakan “ Culpa tidak berinsaf kemungkinan dan “ Culpa berinsaf kemungkinan. apakah kecelakaan yang berikut dijadikan karena kelalaiannya orang itu atau merupakan “ Casus “. ia tidak boleh dipersalahkan menurut Pasal 359 KUHP. sehingga hampir berupa kesengajaan. PERTANGGUNGJAWABAN DALAM HUKUM PIDANA Merumuskan suatu tindak pidana bertujuan untuk menentukan suatu perbuatan itu memenuhi unsur dari salah satu pasal dari suatu tindak pidana (Delict). berarti telah terjadi tindak pidana. yaitu peristiwa yang kebetulan terjadi. Azas pertanggung jawaban pidana KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 25 . Sebaliknya kadang – kadang kelalaiannya seseorang ada begitu kecil. 5. artinya “ Orang yang telah melakukan suatu tindak pidana akan tetapi belum berarti ia harus di pidana. Pembagian ini sangat penting karena dari sejarah KUHP ternyata bahwa maksudnya pembuat Undang-undang ialah supaya anasir “ Culpa “ ( “ karena salahnya “ ) diartikan sebagai “ Culpa latta “ . Jadi di samping orang telah melakukan tindak pidana masih di perlukan kesalahan padanya. sehingga susah di tentukan. ia harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan yang telah di lakukan “ Mempertanggung jawabkan atas suatu perbuatan berarti menentukan pelaku salah atau tidak.

Dalam pandangan tersebut segala sesuatunya dirdasarkan kepada hubungan sebab akibat seperti dalam ajaran Kausaliteit tetapi menurut Welzel. oleh karena yang penting bukannya bagaimana keadaan batin orang yang berbuat tetapi penilaian orang lain terhadap keadan batin tadi. Pertumbuhan yang demikian mengakibatkan perbuatan sengaja menjadi unsur kesalahan . tetapi sebaliknya orang tidak mungkin mempunyai kesalahan apabila tidak melakukan perbuatan yang bersifat “ melawan hukum “ baik secara formil maupun materil. Dengan kata lain orang dapat melakukan tindak pidana ( Delict ) tanpa mempunyai kesalahan . yang berarti hubungan batin antara orang yang melakukan perbuatan dengan perbuatannya. Arti kesalahan. pertama – pertama dasar kesalahan di cari hubungan batin orang yang melakukan perbuatan itu sendiri dengan perbuatan yang di lakukan. Azas ini oleh masyarakat di Indonesia di junjung tinggi dan akan di rasakan bertentangan dengan rasa kadilan jika ada orang yang tidak bersalah di jatuhi hukuman pidana. Oleh karena itu kesalahan (Schuld) merupakan suatu : “ Pengertian Psychologysch “ dengan demikian orang beranggapan bahwa kesalahan dalam hukum pidana adalah sama dengan kesengajaan dan kealpaan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI berbunyi : Tiada Pidana / hukuman tanpa kesalahan “ . berarti kehendak yang mengendalikan perbuatan itu merupakan kesatuan dengan perbuatan yang di kehendaki oleh pelaku. kesalahan adalah suatu keadaan Psychiologysch yang oleh penilaian hukum pidana ditentukan sebagai keliru dan dapat di cela. maka kesalahan pelaku merupakan perbuatan tercela. Pendirian tersebut di atas sekarang sudah berkembang. bahwa Psychologysh orang sudah semakin meninggalkan pendapat bahwa yang di sebut kejadian Psychisch adalah Proses berjalan secara kausal tetapi adalah sebaliknya bahwa suatu kehendak di tentukan oleh pelaku sesuai dengan nilai KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 26 . Jadi pengertian bergeser menjadi “ Pengertian Normatif “ dengan demikian dapat dikatakan bahwa.

2) 3) 4) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 27 . Lain halnya apabila pelaku insaf atas perbuatan yang dilakukan itu adalah tindakan pidana. Ada beberapa rumusan tindak pidana dimana “ sengaja” dimasukan dalam perbuatan . Seorang Dokter yang ditodong dengan pistol untuk membuat surat keterangan kesehatan palsu. perbuatan Dokter tersebut dapat di mengerti dan kesalahannya dapat dimaafkan.  Adanya hubungan yang tertentu antara keadaan batin tersebut dengan perbuatan yang dilakukan sehingga menimbulkan celaan tadi. Dengan demikian dapat di katakan bahwa pelaku itu menetukan hal yang menyebabkan dirinya sendiri dengan memperhatikan tujuan yang telah di tetapkan yang akan menimbulkan akibat dari perbuatan yang di lakukan. Untuk adanya kesalahan harus di pikirkan dua hal di samping melakukan tindak pidana :  Adanya keadaan Psycisch (batin). disini kata “ sengaja “ dipandang sebagai suatu pengertian yang tidak berwarna sebab perbuatan sengaja masih belum berarti salah. baru ia dapat di pidana. 1) Keadaan batin seorang anak yang belum cukup umur belum dapat membedakan antara perbuatan baik dengan yang buruk. Bahwa seorang anak yang belum cukup umur belum dapat menginsafi tentang makna dari suatu perbuatan yang dilakukannya maka atas dasar “ tidak di pidana tanpa kesalahan “ ia dapat di kecualikan.  Pelaku harus mampu bertanggung jawab.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI itu menimbulkan suatu proses sebab akibat dalam bentuk perbuatan sesuai dengan tujuan yang inginkan oleh kehendaknya. Dengan contoh tersebut akhirnya unsur kesalahan berkembang menjadi :  Perbuatan yang di sengaja dan alpa. sehingga perbuatannya tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab III . perbuatan yang di pidana. SIFAT TIDAK BERLAKU SURUT DARI HUKUM PIDANA DAN AJARAN KAUSALITAS Kompetensi Dasar Memahami tempat dan waktu terjadinya tindak pidana. Karena ajaran tentang kesalahan juga di sebut “ pertanggung jawaban pidana “ atau dengan istilah Criminal Responsibility. Menjelaskan tempat dan waktu terjadinya tindak pidana. 4. PENGERTIAN PERIHAL MELAWAN HUKUM. Menjelaskan sifat tidak berlaku surut dari hukum pidana. BAB III TEMPAT DAN WAKTU TERJADINYA TINDAK PIDANA. Tidak ada alasan pemaaf dan alasan pembenar.pengertian perihal melawan hukum. sifat tidak berlaku surut dari hukum pidana dan ajaran kausalitas. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 28 . Dengan adanya celaan. diharapkan Siswa mampu : 1. 2. Menjelaskan pengertian perihal melawan hukum.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI   Bahwa pelaku insaf atas perbuatan yang dilakukan itu adalah. Menjelaskan ajaran kausalitas. orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya untuk dapat ia dijatuhi pidana. 3.

Baik tempat Delicti maupun waktu delicti tidak di atur dalam KUHP melainkan di serahkan kepada ilmu dan yurisprudensi. TEMPAT DAN WAKTU TERJADINYA TINDAK PIDANA Locus Delicti (Tempat Delik).1. dan bom waktu meletus di sana.  Menyelesaikan kompetensi relatif ( menentukan pengadilan negeri mana yang berwenang untuk mengadili perkara yang bersangkutan ) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 29 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1. Misalnya : seorang mengirimkan bom waktu kepada lawannya di suatu kota lain. Timbul pertanyaan tempat manakah yang menjadi Locus Delicti ? Tempat kediaman pengirim atau kah tempat kediaman korbannya ? Jawaban atas pertanyaan mengenai dimanakah suatu delict di lakukan adalah penting untuk dua hal :  Menentukan berlakunya Undang-undang pidana nasional dalam hal konkrit . Locus Delicti itu menjadi persoalan apabila pembuat dan penyelesaian delict tidak berada di suatu tempat yang sama tetapi berada di dua tempat yang berlainan. 1.

maka delict dilakukan tempat dimana alat yang di gunakan itu menyelesaikannya. Oleh sebab itu. Teori ini boleh di anggap sebagai suatu tambahan atas teori perbuatan materiil. Contoh kasus : Dalam hal penipuan. Timbul pertanyaan. Seorang asing di LN dengan memakai nama palsu. HAYZEWINKEL SURINGA. Contoh kasus : Pengarang membuat tulisan di luar negeri tetapi menggunakan mesin percetakan di Indonesia untuk mempublikasikan tulisannya yang berisi hasutan terhadap pemerintah RI. Bila mana tiga teori tersebut di pakai serentak. Teori akibat ( de leer van het gevolg ) Menurut teori ini maka tempat terjadinya akibat yang menjadi locus delicti. maka perbuatan menipu adalah yang ditipu melepaskan barang yang di minta karena muslihat penipu. hanya tempat di mana perbuatan materiil di lakukan yang dapat menjadi locus delict. maka ada tiga Locus delicti misalnya : A di kota Surabaya  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 30 . teori manakah diantara ketiga ini yang paling cocok ? Oleh banyak pengarang di kemukakan bahwa ketiga teori ini sama pentingnya. berhasil menipu seorang Indonesia melepaskan barangnya. Perkara ini hanya dapat di seslesaikan dengan teori akibat dan tidak dapat di selesaikan dengan teori alat yang dipergunakan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Agar dapat menyelesaikan persoalan “ Locus Delicti “ itu maka ilmu Hukum pidana bersama-sama dengan Yurisprudensi Hukum pidana telah membuat 3 macam teori yaitu :  Teori perbuatan materil atau teori perbuatan badaniah ( de leer van de lichamelijke daad ) Menurut teori ini maka menjadi locus delicti ialah tempat dimana pembuat melakukan segala sesuatu yang kemudian dapat mengakibatkan delict. mengemukakan bahwa teori ini tidak dapat membawa penyelesaian dalam hal “ Delict materiil ‘  Teori alat yang dipergunakan ( de leer van het instrument ) Menurut teori ini . Kita dapat memilih dengan teori mana sesuatu kasus itu dapat di selesaikan.

dimana ia meninggal dunia.  Melawan hukum materil ( Materiele wederrechelijkhied ) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 31 . Tempus delicti menjadi suatu persoalan apabila perbuatan dan akibat dari perbuatan itu terjadi pada dua saat yang berlain-lainan . Kota Semarang. membedakan antara dua macam “ melawan hukum “ yaitu :  Melawan hukum positif tertulis ( Formele Wederrechtelijkheid ). karena pukulan sangat keras maka pada tanggal 3 Mei 1998 meninggal di rumah sakit. yaitu Pasal 1 ayat 2 KUHP. Kota Cirebon menurut teori akibat sering Hakim pidana di beri kemerdekaan untuk memilih di antara tiga locus delicti ini. PENGERTIAN PERIHAL MELAWAN HUKUM Vos dengan beberapa Sarjana lainnya membela suatu pendapat dan pandangan luas tentang batas – batas anasir melawan hukum itu sebagai suatu anasir yang tidak hanya melawan hukum yang tertulis.  Pasal 45 KUHP. dan setelah racun itu di minumnya maka pergi ke kota Cirebon.2. Utrech menyetujui pendapat bahwa tanggal 3 Mei itulah sebagai tempat tempus delicti yaitu tanggal akibat di mana suatu delict barulah selesai dilakukan ( lengkap ) 2.  Lewat waktu ( Verjaring ) . 1. Jadi disini ada tiga locus delicti yaitu : Kota Surabaya. yaitu Pasal 78 dan 79 KUHP.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mengirimkan racun kepada B di Semarang. misalnya : A memukul B pada tanggal 1 Mei 1998. Tempus Delicti ( Waktu Delict ). menurut teori alat yang dipergunakan. yaitu melawan azas-azas hukum yang umum. karena minum racun itu. menurut teori perbuatan materiil . yaitu Pasal 1 ayat 1 KUHP.  Hukum Transitur ( Transitoir Recht ) . Mereka itu. Tempus delicti ini berhubungan dengan :  Berlakunya KUHP.

Pasal 255 Sub 2e.. Barang siapa dengan tidak berhak membiarkan hewannya berjalan di kebun dan seteursnya. Disamping itu anasir “ Melawan hukum “ disinggung juga dengan memakai istilah – istilah : “ Dengan tidak berhak “ .334.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Mereka itu . Barang siapa dengan tidak berhak membiarkan ternaknya yang bersayap tidak dapat terbang. melihat “ melawan hukum “ sebagai anasir setiap peristiwa hukum pidana.000. 256. Pegawai Negeri dengan melampaui batas kekuasaan atau dengan tidak memperhatikan peraturan yang di tentukan dalam Undang – undang umum. 254 Sub 2e.dihukum barang siapa dengan tidak berhak : dan seterusnya ( memberikan kesempatan main judi ). 378.198. tidak dengan ijin kepada KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 32 . 368. barang atau paket dan seterusnya. 362. 329. 406. 328. Dalam KUHP tidak selalu memakai kata “ Melawan hukum “ hanya dalam beberapa yang memakai kata tersebut yaitu : Pasal 179. dan seterusnya. antara lain : Pasal 303 (1) : Dengan hukuman penjara delapan bulan atau denda sebanyak – banyak Rp 90. 372.Juga dengan mempergunakan istilah : “ Dengan tidak memperhatikan cara yang di tentukan pada Undang – undang umum “ seperti dalam KUHP. Pegawai Negeri yang melampaui batas kekuasaannya menyuruh orang menunjukan kepadanya atau menista surat kartu pos. Sub 2e Pasal 257. Masuk ke dalam rumah atau kedalam ruangan atau pekarangan yang tertutup dan seterusnya. 180. 333. juga apabila undang-undang tidak menyebutnya. Pasal 548 Pasal 549 (1) : : Pasal 429 (1) : Pasal 403 (1) : Demikian pula dipergunakan istilah : “ Tanpa ijin. tanpa berhak “ atau “ Tanpa kekuasaan “ dalam KUHP .253 Sub 2e. 408. 339. seperti dalam KUHP : Pasal 496 : Barang siapa yang membakar barang tetapnya sendiri .

menolak suatu penafsiran yang begitu luas dan bagi mereka “ Hukum “ itu adalah Undang – undang “ saja . dan seterusnya. pengarang yang tidak dapat menerima pelajaran melawan hukum secara. Menurut Pelajaran “ melawan hukum materiil “ maka kata “ Melawan hukum itu “ harus diinterprestasikan sebagai melawan hukum baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. “ yakni hukum tertulis “ .barang siapa yang tidak dengan ijin kepada Polisi atau Pegawai Negeri yang di tunjuk oleh pembesar itu ia mengadakan pesta umum. meteril. jadi yang dimaksud dengan hukum itu bukan hanya “ Undang – undang “ saja. akan tetapi hukum seluruh termasuk azas hukum.wenang. Di hukum dengan hukuman denda sebanyak – banyaknya Rp. Keberatan-keberatan yang biasanya dikemukakan terhadap ajaran ”melawan hukum materil“ itu ialah :  Kepastian hukum ( Reechtszekerheid ) akan berkurang. SIMONS ZEVENBERGER dll.R. Arti melawan hukum ( Wedeerchtelijk ) yang luas itu sesuai dengan arti “ bertentangan dengan hukum “ ( Onrecatmatig ) seperti yang tercantum dalam pasal 1365 KUH Perdata setelah ada keputusan H.  Bertentangan dengan kewajiban hukum dari yang melakukan perbuatan itu . VOS membela sekeras-kerasnya ajaran “ melawan hukum materil ‘ dengan mengemukakan jawaban-jawaban sebagai berikut : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 33 ..375.  Kepada hakim akan di berikan kesempatan untuk dapat bertindak sewenang.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 510 (1) Polisi atau Pegawai Negeri yang di tunjuk oleh pembesar itu dan seterusnya.  Bertentangan baik dengan kesusilaan maupun azas-azas pergaulan kemasyarakatan mengenai penghormatan diri orang lain atau barang orang lain . tanggal 31 januari 1919 ( Drukkers – Arrest ) dan memutuskan apa yang dimaksud dengan “ Perbuatan yang bertentangan dengan hukum ( Onrrecht Matige Daad ) ialah “ membuat sesuatu atau tidak membuat sesuatu / melalaikan sesuatu :  Melanggar hak orang lain. sehingga merupakan penapsiran yang luas.

yang ada terdahulu daripada perbuatan itu (Sebelum) perbuatan itu .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI     Hakim selalu dapat di beri kelonggaran karena pasal 48 KUHP : Barang siapa yang melakukan perbuatan karena terpaksa oleh suatu kekuasaan yang tidak dapat di hindarkan tidak boleh dihukum. “Tiada dengan maksud yang patut. yang menggunkan kata-kata . yakni Pasal 302 KUH Pidana. “ yaitu sengaja menyakiti atau membikin cacat binatang atau merusak kesehatan binatang Berkat kemerdekaan besar yang di beri kepada hakim yang menentukan berartinya hukuman. yang pada intinya menegaskan bahwa tidak bisa suatu ketentuan pidana itu di pakai untuk menghukum tindak pidana yang telah terjadi sebelumnya. Banyak ketentuan-ketentuan delict-delict khusus memuat perumusan -perumusan yang begitu gelap. SIFAT TIDAK BERLAKU SURUT DARI HUKUM PIDANA KITA Hukum pidana kita tidak berlaku surut artinya ialah bahwa ketentuan hukum pidana itu baru dapat diterapkan setelah saat berlakunya dan tidak dapat di terapkan terhadap hal-hal atau kejadian-kejadian yang telah ada sebelumnya saat itu. 3. sehingga banyak penentuan konkrit diserahkan kepada hakim : bahkan ada juga suatu ketentuan yang memuat suatu perumusan yang pada pokoknya mengandung unsur “ melawan hukum materil ‘ sebagai anasir delict. Bukti. Ketentuan Pasal 1 ayat 1 KUHP ini lebih di kenal sebagai azas “ Nullum Delictum Nulla Poena Sina Praevia Lege Poenali”. Sifat tidak berlaku surutnya hukum pidana kita sebagaimana yang tercermin dalam Pasal 1 ayat 1 KUHP kita tersebut tidak berlaku KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 34 . bahwa pada dasarnya hukum pidana kita tidak berlaku surut tersurat di dalam Pasal 1 ayat 1 KUHP kita yang berbunyi : “ Tiada suatu perbuatan boleh dihukum melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang – undang. maka hakim itu dapat memberi tempat yang layak kepada ajaran – ajaran “ melawan hukum materil .

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mutlak. karena itu sebab akibat yang latar belakang suatu tindak pidana atau peristiwa tersebut harus kita cari sendiri dengan ajaran tentang sebab akibat ini. Kita perlu mengetahuinya secara pasti hubungan sebab dan akibat dalam satu peristiwa pidana karena :  Undang-undang hanya menyebutkan perbuatan-perbuatan apa saja yang dilarang serta ancaman hukumannya . untuk mengetahui hal apakah yang menjadi sebab yang sebenarnya dari timbulnya peristiwa tersebut sebagai akibat.undanga tidak mengatur secara tegas perbuatan atau hal apa saja yang dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak diinginkan oleh undang-undang itu sendiri. Dari ketentuan Pasal 1 ayat 2 KUHP nyatalah bahwa suatu ketentuan pidana dapat saja berlaku surut bila ketentuan pidana tersebut ternyata lebih menguntungkan (lebih ringan ancaman hukumannya daripada ketentuan pidana yang ada sebelumnya) 4. masih terdapat Restriksi ( pembatasan ) atau pengecualian terhadap prinsip tidak berlaku surut tersebut. yang akhirnya terwujud dalam perbuatan yang di larang tersebut. Dikatakan demikian karena dalam penerapan hukum pidana kita . tetapi Undang. Buktinya Pasal 1 ayat 2 KUHP yang berbunyi : “ Jika undang – undang di ubah setelah perbuatan ( Pidana ) dilakukan maka kepada tersangka dikenakan ketentuan yang menguntungkan baginya. dengan jalan mencari hal atau perbuatan yang menjadi penimbul akibat yang di larang undang – undang sebelum di ketahui siapa pelakunya.  Disamping itu hubungan antara sebab dan akibat yang terkandung dalam suatu peristiwa pidana harus kita ketahui secara pasti untuk mencari orang yang dapat di mintai tanggung jawabnya atas terjadinya peristiwa pidana tersebut. AJARAN KAUSALITAS (HUBUNGAN KAUSAL SEBAB AKIBAT) Ajaran tentang sebab akibat (Hubungan Kausal) dalam Hukum pidana adalah suatu ajaran mempelajari tentang jalinan antara akibat yang terkandung dalam suatu peristiwa pidana. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 35 .

Karena menurut Von Burri tiap – tiap perbuatan atau peristiwa dalam rentetan penyebab tersebut masing – masing merupakan syarat yang sama nilai atau harga pentingnya sebagai penyebab setiap peristiwa pidana . yaitu :  Ajaran Von Burri. Sistem atau metode Apriori atau system dugaan awal yang lebih di kenal dengan istilah “ GENERALISERENDE. Menurut ajaran Von Burri yang terkenal sebagai “ CONDITIO SINE QUANON “ . THEORI “ dengan tokohnya yang terkemuka yakni Von Kries dengan “ Adequate Theori “-nya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 36 . sebagai medan ajaran yang memandang bahwa penyebab suatu tindak pidana atau peristiwa pidana haruslah hanya satu perbuatan yang menjadi sebab utamanya saja. bahwa suatu tindak pidana atau peristiwa pidana tidak di sebabkan oleh rentetan kejadian yang mendahuluinya seperti ajaran Von Burri melainkan di sebabkan oleh suatu sebab utama yang pasti ada dan harus di cari dalam peristiwa pidana tersebut. untuk selanjutnya dapat di ketahui siapa pelaku sebab tersebut sedangkan untuk mencari sebab utama itu. maka ajaran Von Burri ini di sebut juga ajaran atau teori Ekuivalensi atau Teori kesehargaan ( Kesenilaian). yang terjadi sebelum timbulnya suatu peristiwa pidana merupakan Conditio Sine Quanon atau syarat mutlak yang harus ada sebagai penyebab timbulnya peristiwa pidana tersebut.  Ajaran TRAEGER.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ada 2 ( Dua ) medan ajaran terkenal tentang sebab akibat ini. dikenal 2 ( Dua ) system atau metode yakni : a. b. yang dikenal dengan “ Conditio Sine Quanon “ sebagai medan ajaran yang memandang bahwa penyebab suatu tindak pidana atau peristiwa pidana / perbuatan pidana itu dapat berupa suatu rentetan kejadian. Sedang menurut TRAEGER . Sistem atau metode Posteriori atau system kenyataan yang lebih di kenal dengan istilah Individualiserende Theori “ yakni dengan tokoh -tokohnya yakni BRICK MAJER DAN KOHLER.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 37 . diharapkan Siswa mampu : 1.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI BAB IV PENGHAPUSAN . 3. 2. Menjelaskan penambahan hukuman. PENGURANGAN DAN PENAMBAHAN HUKUMAN Kompetensi Dasar Memahami hukuman penghapusan. Menjelaskan pengurangan hukuman. Menjelaskan penghapusan hukuman. pengurangan dan penambahan Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab IV .

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 38 .  Schuld-opheffimgsgronden/schulduits-luitingsgroden atau alasan pemaaf yaitu alasan yang menghilangkan kesalahan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas peristiwa pidana sehingga ia tidak dipidana tapi peristiwa/perbuatannya tetap merupakan “ Wederrechtelijk “ ( melawan hukum ). PENGHAPUSAN HUKUMAN Yang dimaksud dengan alasan peniadaan pidana (starfuits Luitings Gronden) atau penghapusan pidana ialah hal / keadaan yang mengakibatkan seseorang yang memenuhi perumusan peristiwa pidana /perbuatan pidana /tindak pidana atau delict tidak dapat dipidana. Macam alasan peniadaan / penghapusan pidana Menurut Doktrin starfuits Luitings Groden ini diperinci :  Rechtvaardigingsronden atau alasan pembenar yaitu alasan yang menghapuskan sifat “ Wederrechtelijk” dari pada peristiwa yang memenuhi ketentuan pidana . sehingga tidak merupakan peristiwa tindak pidana .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1.

akan tetapi orang itu oleh karena cacat-cacatnya mulai dilahirkan. atau berubah akalnya. ia sebenarnya tidak sakit. orangnya dapat ditahan di rumah sakit jiwa selama maksimum satu tahun untuk diperiksa ingatannya. tetapi menurut Doktrin mengadakan perincian sbb:  Inwedige Groden van ontoerekenbaarheid ( karena keadaan yang terdapat dalam pribadi penanggung jawab )  Uitwendige Groden van ontoerekkenbaarheid (karena keadaan diluar pribadi penaggung jawab ) Alasan peniadaan/penghapusan pidana (Strafuits luiting Groden ) dalam KUHP terdiri dalam bentuk : 1) Karena sakit atau kurang sempurna akalnya ( pasal 44 KUHP ). Menentukan bahwa barangsiapa berbuat tindak pidana karena terpaksa oleh suatu kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan tidak dihukum. Kurang sempurna akalnya yaitu kurang sempurna kecerdasan otaknya. Ia dapat minta nasehat dari seorang ahli penyakit jiwa ( psychiater ). tuli mulai lahir dan tidak pernah mendapat pendidikan ) Sakit berubah akalnya yaitu pikiran atau jiwa orang itu memang sakit. dalam kehidupan sehari-hari mereka ini biasa disebut orang idiot ( buta. hakimlah yang nanti akan memutuskannya. terganggu. Menerangkan bahwa barangsiapa berbuat tindak pidana yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena kurang sempurna akalnya. Dalam praktek. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 39 . 2) Karena kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan (Overmacht) Pasal 48 KUHP. jika polisi menjumpai peristiwa semacam ini. sehingga ia tidak dapat berpikir secara normal. pikirannya tidak dapat berkembang maju. tidak boleh dihukum.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI KUHP tidak menggunakan perincian. ia tetap berkewajiban untuk memeriksa perkaranya dan membuat berita acara. sehingga ia seperti anak kecil dan tidak mempunyai daya yang normal untuk dapat membedakan baik dan jelek .

kehormatan berarti disini kehormatan dalam lapangan sexual yang diserang dengan perbuatan-perbuatan tidak senonoh atau kesusilaan. Supaya orang dapat mengatakan dirinya dalam pembelaan darurat harus dipenuhi tiga macam syarat yaitu :  Perbuatan yang dilakukan itu harus terpaksa untuk membela dan pembelaan itu harus amat perlu. boleh dikatakan tidak ada jalan lain. kekuasaan yang pada umumnya dipandang tidak dapat / patut dilawan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kata “ terpaksa “ harus diartikan baik paksaan batin maupun lahir. Badan artinya tubuh. Ayat ( 2 ) Karena pembelaan darurat melampaui batas (noodweer exses) mengatakan bahwa melampaui batas pembelaan yang sangat perlu.  Pembelaan itu harus hanya ditujukan kepada kepentingan-kepentingan yang ditentukan yaitu badan.E. Ayat ( 1 ) Mengatakan bahwa barang siapa melakukan perbuatan yang terpaksa dilakukannya untuk membela dirinya atau diri orang lain . 3) Karena pembelaan darurat ( Nodweer ) Pasal 49 KUHP. Kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan yaitu kekuasaan berlebih. Jonkers membedakan kekuasaan ini atas 3 macam yaitu :  Yang bersifat absolut. tidak boleh dihukum. membela kehormatan diri atau orang lain membela harta benda sendiri atau harta benda orang lain dari pada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan segera pada saat itu juga. Mr.  Yang berupa keadaan darurat.  Yang bersifat relatif. Barang artinya segala yang berwujud juga termasuk binatang. jika perbuatan itu dengan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 40 . rohani maupun jasmani.  Harus ada serangan yang melawan hak dan mengancam pada ketika itu juga. kehormatan dan barang kepunyaan sendiri atau orang lain. J.

kecuali jika pegawai yang dibawahnya atas kepercayaannya memandang.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI sekonyong-konyong dilakukan karena perasaan tergoncang hebat yang timbul karena serangan itu. tidak boleh dihukum. Ayat ( 1 ) Menerangkan bahwa barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang berhak akan itu. bahwa perintah itu seakanakan diberikan oleh kuasa yang berhak dengan syah dan menjalankan perintah itu menjadi kewajiban pegawai yang di bawah perintah tadi. Yang menentukan bahwa barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan peraturan undang-undang tidak boleh dihukum. tetapi yang perlu antara yang memerintah dan yang diperintah harus ada kewajiban untuk mentaati perintah itu. Ayat ( 2 ) Mengatakan bahwa perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang tidak berhak tidak membebaskan dari hukuman. 4) Karena menjalankan peraturan undangundang ( Wettelijk Voorschrift ) Pasal 50 KUHP. antara pemberi perintah dengan orang yang diperintah harus ada hubungan yang bersifat jabatan atau kepegawaian negeri. 5) Karena menjalankan perintah jabatan ( Ambtelijk Bevel ) Pasal 51 KUHP. Yang dimaksud dengan undang-undang yaitu semua peraturan yang dibuat oleh suatu badan pemerintahan yang diberi kekuasaan membuat undang-undang ( legislatip ). tidak mungkin untuk diancam hukuman dengan undang-undang yang lain. Tidak perlu bahwa yang diberi perintah itu harus orang bawahan dari yang memerintah. tidak boleh dihukum. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 41 . bukan pegawai partikulir. bahwa apa yang telah diharuskan oleh undang-undang. Mungkin sama pangkatnya. Di sini diletakkan suatu prinsip. Syarat pertama yaitu bahwa orang itu melakukan perbuatan atas suatu perintah jabatan.

karena melakukan suatu tindak pidana.  Anak itu dijadikan anak negara maksudnya tidak dijatuhi hukuman tetapi diserahkan kepada rumah pendidikan anakanak nakal. maka ancaman hukumannya ditambah dengan sepertiganya.  Membantu/mendeplichtigheid (Pasal 56 KUHP ). untuk mendapat didikan dari negara sampai anak itu mencapai umur 18 tahun  Anak itu dijatuhi hukuman seperti orang dewasa akan tetapi dalam hal ini ancaman hukumannya dikurangkan dengan sepertiganya ( menurut undang-undang perlindungan anak dikurangi setengahnya ) 3. tanpa dijatuhi hukuman suatu apa. PENGURANGAN HUKUMAN Alasan pengurangan hukuman /peringanan :  Percobaan ( Pasal 53 KUHP). kesempatan atau daya upaya ( alat ) yang diperoleh dari jabatannya. 2. Jika kuasa tersebut tidak berhak. atau pada waktu melakukan tindak pidana memakai kekuasaan. PENAMBAHAN ATAU PEMBERATAN HUKUMAN Memangku suatu jabatan pasal 52 KUHP Menentukan bahwa jika seorang pegawai negeri. maka terhadap orang itu hakim dapat memutuskan memilih salah satu dari tiga kemungkinan yaitu :  Anak itu dikembalikan kepada orang tua atau walinya.  Belum dewasa atau belum cukup umur (Pasal 45 KUHP ).1. melainkan jika orang itu dengan itikad tidak mengira. melanggar kewajiban istimewa dalam jabatannya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 42 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Syarat kedua bahwa perintah itu harus diberikan oleh kuasa yang berhak untuk memberikan perintah. Menentukan bahwa jika seorang yang belum dewasa dituntut. jika demikian orang itu tidak dapat dihukum.maka orang yang menjalankan perintah tadi tetap dapat dihukum atas perbuatan yang telah dilakukannya. bahwa perintah tersebut syah dan diberikan oleh kuasa yang berhak untuk itu. karena telah melakukan perbuatan yang telah ia kerjakan pada waktu umurnya belum cukup 16 tahun. 3.

Pegawai negeri itu harus : a. 501 ayat 2 dsb). Residive (Pasal 486. 64. Menjelaskan delict aduan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 43 . Gabungan atau samenloop (Pasal 63. 489 ayat 2. kesempatan atau daya upaya ( alat ) yang diperoleh karena jabatannya. Menjelaskan perbantuan dalam tindak pidana 4.2. Melanggar kewajibannya yang istimewa. BAB V POKOK-POKOK HUKUM PIDANA Kompetensi Dasar Memahami pokok-pokok hukuman pidana Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab V . 492 ayat 2.3. b. Menjelaskan percobaan 2. Menjelaskan gabungan perbuatan pidana 5. Memakai kekuasaan. Menjelaskan penyertaan 3.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI   Syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu : Yang berbuat tindak pidana harus pegawai negeri. diharapkan Siswa mampu : 1. 3. 3. 65 dan 66 KUHP).

Menjelaskan gugurnya hak menuntut hukuman Menjelaskan gugurnya kewajiban untuk menjalani hukuman Menjelaskan ulangan ( residive ) 1.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 6. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 44 .  Orang sudah mulai berbuat kejahatan itu.  Perbuatan kejahatan itu tidak sampai selesai. 8.  Sebab-sebab itu tidak terletak dalam kemauan pembuat kejahatan itu. akan tetapi yang diberikan menurut pasal 53 KUHP adalah ketentuan mengenai syarat-syarat supaya percobaan pada kejahatan itu dapat dihukum. oleh karena terhalang sebab-sebab yang timbul kemudian. sudah dimulai akan tetapi tidak selesai . 7. yaitu :  Niat sudah ada untuk berbuat kejahatan itu. tetapi tidak sampai pada yang dituju itu atau hendak berbuat sesuatu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar percobaan pada kejahatan itu dapat dipidana. Percobaan : Menuju ke sesuatu hal. PERCOBAAN ( POGING ) Undang-undang tidak memberikan definisi apakah yang dimaksudkan dengan percobaan itu.

 Misalnya :A hendak mencuri lembu yang sedang memakan rumput ( Merumput ) ternyata setelah ditarik lembu tersebut menanduknya. semuanya dapat dihukum.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Dalam teori-teori percobaan maka orang ( pelaku ) melakukan kejahatan itu tidak dapat selesai karena sebab-sebab yang biasanya dapat merumuskan menjadi 4 (empat ) macam. tidak semua dapat dihukum masih tergantung pada hakim yang memeriksa dan mengadilinya. sedangkan nomor 1 dan 3 ( alat / objektifnya tidak sempurna sama sekali ) tidak dapat dihukum.  Misalnya :A hendak membunuh B dengan pisau ternyata pisau yang digunakan tumpul sehingga B tidak meninggal/mati. apabila niat jahat telah nyata. semuanya telah memenuhi syarat-syarat yang tercantum dalam pasal 53 KUHP.  Obyek yang dituju kurang sempurna. yang dapat dihukum hanyalah yang tersebut nomor 2 dan 4 ( alat / objektifnya kurang sempurna ). akan tetapi menurut ahli hukum yang menganut teori percobaan objektif.  Misalnya :A hendak mencuri disuatu rumah. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 45 .  Obyek yang dituju tidak sempurna sama sekali. akan tetapi walaupun demikian . sehingga tidak berhasil mengambilnya. Apabila kita tinjau contoh-contoh percobaan diatas. alasan untuk dapat dihukum / dipidana menurut teori ini titik berat terletak pada sudah adanya bahaya yang ditimbulkan oleh perbuatan percobaan itu. tidak perlu melihat apakah dalam hal itu terhadap objek yang dituju telah ditimbulkan bahaya. sedangkan dalam hal-hal nomor 1 dan 3 tadi tidak ada bahaya sama sekali. oleh karena teori ini mengajarkan. yaitu :  Alatnya yang dipakai tidak sempurna sama sekali . Menurut ahli hukum yang menganut teori percobaan yang subjektif.  Misalnya :A hendak membunuh B dengan pisau. ternyata keliru dengan pisau mainan sehingga B tidak meninggal/mati  Alat yang dipakai melakukan kurang sempuna. bahwa melalui niat jahat saja belum cukup dihukum. setelah masuk kedalam rumah tersebut ternyata kosong/tidak ada barang.

bahwa teori subjektif maupun objektif. misalnya : Ordonansi obat bius . pasal 354 KUHP dan pasal 355 KUHP tetap dihukum. kecuali jika dalam undang-undang atau ordonansi memberikan ketentuan lain (pasal 53. Penyertaan / Deelneming dalam suatu peristiwa pidana di dalam KUHP di atur dalam buku pertama. kedua -duanya meminta. Walaupun pada dasarnya percoban melakukan kejahatan dapat dihukum. namun ada beberapa percobaan kejahatan yang tidak dapat dihukum misalnya :  Percobaan menganiaya biasa (pasal 351 ayat 5 )  Percobaan menganiaya binatang ( pasal 302 ayat 3 KUHP  Percobaan perang tanding ( pasal 184 ayat 5 KUHP Catatan : Bahwa percobaan pada : Penganiayaan yang diatur dalam pasal 353 KUHP. 103). KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 46 . bahwa harus sudah dimulai dengan melakukan perbuatan pelaksanaan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Perlu dicatat disini. PENYERTAAN (DEELNEMING) Pada dasarnya setiap peristiwa yang terjadi tidak selalu dilakukan oleh setiap satu orang saja . Percobaan pada pelanggaran tidak dapat dihukum. Ajaran tentang penyertaan / Deelneming ini lahir pada abad ke 18. yang menemukan suatu paham bahwa dalam mengusut suatu tindak pidana harus di bedakan antara pelaku dan perserta. Menurut Yurisprudensi di Indonesia maka hakim menganut teori percobaan ( poging ) yang objektif. itu belum cukup menghukum memidana pelaku / pembuat. bab V pasal 55 s/d pasal 62 KUHP. 2. dipelopori oleh von fauerbach. tetapi mungkin juga dilakukan oleh beberapa orang tergantung dari peran serta seseorang dalam peristiwa pidana yang terjadi. jika baru perbuatan persiapan saja yang dilakukan.

c. sebab pada dasarnya tanggung jawab pelaku dan tanggung jawab peserta atas suatu tindak pidana itu belum tentu sama ( ada yang lebih berat. Dengan adanya lembaga penyertaan ini. Hal ini di sebabkan karena menurut doktrin. Peserta dimintai tanggung jawab / dihukum atas dasar jalan pikiran bahwa tanpa bantuannyan. Yang di katakana pencuri ialah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku pencurian. yang dimaksud pelaku ialah orang atau orang-orang yang memegang peran utama dalam pelaksanaan suatu tindak pidana sedangkan perserta ialah orang atau orang – orang yang ikut melakukan perbuatan-perbuatan yang pada dasarnya membantu dan melancarkan terlaksananya tindak pidana tersebut. suatu tindak pidana itu belum tentu terjadi atau sekalipun terjadi. tergantung pada kasusnya ). yang disebut pelaku tindak pidana adalah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku. karena tanpa adanya lembaga penyertaan . Yang di katakan pemerkosa ialah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku pemerkosaan sebagaimana di tetapkan dalam pasal 285 KUHP dan sebagainya.  Demikian pula halnya dengan para pelaku delik omissie. sebagaimana yang telah di tetapkan dalam undang – undang. Contoh : a. ada yang lebih ringan. Yang dikatakan pembunuh ialah mereka yang telah memenuhi unsur-unsur sebagai pelaku pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal 338 KUHP (Baik unsur Obyektif maupun Subyektif). b. Perlu di bedakannya antara pelaku dengan peserta . para peserta tidak dapat dipersalahkan. sebagaimana dalam pasal 362 KUHP. akibat yang ditimbulkannya mungkin tidak akan separah akibat yang ditimbulkan karena bantuannya tersebut.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Menurut beliau bahwa. mereka yang KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 47 . Lembaga penyertaan atau Deelneming pada dasarnya di adakan dengan tujuan untuk :  Memperluas orang-orang yang dapat di mintai tanggung jawab atas terjadinya suatu tindak pidana (baik pelaku maupun peserta).

membujuk atau mengajak orang lain untuk melakukan tindak pidana itu. atas peristiwa pidana yang terjadi akibat kelalaiannya (baik secara sengaja maupun secara tidak sengaja). Melakukan sendiri suatu tindak pidana. Pasal 55 ayat 1 KUHP. atau memaksa. Akibatnya ialah . Ad. karena sekarang mereka telah dapat dianggap sebagai pelaku (Pelaku dalam arti pasif atau “ Pelaku yang membiarkan “ terjadinya suatu peristiwa pidana) Mencari hubungan tanggung jawab antara pelaku / peserta yang satu dengan pelaku / peserta yang lain dalam suatu tindak pidana. bahwa orang – orang yang menurut doktrin tidak dapat dikatakan sebagai pelaku. dibujuk atau di ajak oleh orang lain. dengan ketentuan pasal 55 ayat1 KUHP ini menjadi dianggap sebagai pelaku. Turut melakukan suatu tindak pidana (Mede Pleger). d. Melakukan sendiri suatu tindak pidana ( Pleger ). dianjurkan. b. Menyuruh orang lain utnuk melakukan suatu tindak pidana (Doen Pleger). Membujuk atau menggerakan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana (Uitlokkers) . disuruh. sehingga mereka dapat di hukum dengan hukuman yang sama berat dengan pelaku utama . menyuruh.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  dahulu tidak tergolong sebagai pelaku (Akibat pandangan doktrin di atas) sekarang menjadi dapat dimintai tanggung jawab seperti para pelaku aktif. menyuruh orang lain melakukan suatu tindak pidana dalam arti berhasil mengikut sertakan orang lain dalam melakukan tindak pidana. yang pada dasarnya menentukan bahwa yang di anggap dan di hukum sebagai pelaku ialah mereka yang : a. artinya pelaku tindak pidana tersebut melakukan suatu tindak pidana itu seorang diri saja ( secara fisik ) berdasarkan atas kemauan atau inisiatifnya sendiri serta kesadaran yang penuh tanpa di paksa. untuk selanjutnya ditentukan berat ringannya hukuman yang akan dijatuhkan terhadap mereka selaras dengan kesalahannya masing-masing . c. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 48 . menganjurkan. Catatan : Yang dimaksud mengajak disini ialah mengajak.a.

melainkan ia menyuruh orang lain untuk melakukannya. bila yang di suruh itu menolak.  Unsur-unsur pokok yang menandai suatu “ Mede Pleger “ ialah a) Adanya 2 ( Dua ) orang atau lebih yang melakukan suatu tindak pidana secara bersama-sama. Ad. sampai kalau perlu dengan cara paksaan yang di sertai ancaman. dimana ia turut serta mendampingi pelaku utama.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ad. Catatan : Perbuatan menyuruh dalam hal ini dapat dilakukan dengan segala cara . karena satu dan lain hal tidak mau melakukan tindak pidana itu sendiri .c Turut melakukan suatu tindak pidana (Mede Pleger)  Turut melakukan “ ( Mede Pleger ) artinya ialah . . yaitu pihak yang menyuruh dan pihak yang di suruh Yang menyuruh ( Manus Domina ). yang pada dasarnya terasa menekan bagi orang yang di suruh. b) Pihak yang di suruh itu harus lah orang-orang yang tidak dapat dipertanggung jawabkan atau yang tidak mampu bertanggung jawab atas perbuatannya.  Unsur-unsur yang merupakan syarat mutlak harus ada dalam suatu “ Doen Pleger “ adalah : a) Adanya 2 ( Dua ) pihak . b) Kesemua orang tersebut di atas adalah orangorang yang mampu bertanggung jawab atas perbuatan -perbuatan mereka.Yang di suruh ( Manus Ministra ). suatu perbuatan yang dilakukan seseorang sehubungan dengan pelaksanaan suatu tindak pidana. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 49 .b Menyuruh orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana ( Doen Pleger )  “Menyuruh orang lain“ ( Doen Pleger ) ialah bahwa orang yang menghendaki terjadinya suatu tindak pidana atau peristiwa pidana itu. c) Adanya kerja sama tersebut disertai sepenuhnya oleh mereka semua.

Contoh : kekuasaan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 50 . − Penyalahgunaan wewenang/ wibawa dan martabat. Catatan : Kerja sama pada suatu “ Mede Pleger “ itu tidak selalu harus telah direncanakan terlebih dahulu melainkan kerjasama itu dapat saja terjadi seketika. b) Cara pembujukan dilakukan dengan menggerakan mempengaruhi pihak yang dibujuk dengan cara – cara khusus yang secara terbatas atau Limitatif di atur oleh Undang-undang seperti antara lain : memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada yang di bujuk ( Biasanya yang dipandang menguntungkan bagi yang di bujuk yang umumnya disertai dengan cara : − Penipuan / ancaman Contoh : A membujuk B agar membunuh C dengan alas an ( Tipuan / Ancaman ) bahwa bila C tidak di bunuh.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI d) Kerja sama yang mereka lakukan itu adalah kerja sama secara jasmania ( Tidak termasuk kerjha sama rohaniah ). ia ( C ) akan menjadi orang yang berbahaya bagi B. artinya ialah menggunakan kata-kata atau sarana-sarana yang memikat atau meyakinkan kepada orang lain. bahwa orang lain akan beruntung atau ada faedah yang berguna bagi dirinya bila ia melakukan suatu tindak pidana yang di kehendaki oleh pambujuk. dalam mewujudkan suatu tindak pidana atau menyebabkan terjadinya suatu peristiwa pidana. Ad.  Unsur – unsur pokok yang menandai “ Uitlokking : a) Adanya 2 ( Dua ) pihak yaitu pihak yang membujuk (Uitlokker) dan pihak yang dibujuk untuk melakukan suatu tindak pidana.d Membujuk atau menggerakan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana ( UITLOKKER )  Membujuk untuk melakukan kejahatan .

1. 7.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Seorang majikan atau tuan yang menyuruh orang upahannya untuk melakukan suatu tindak pidana. 7. misalkan gambar denah dan informasi tentang tempat yang akan dijadikan sasaran kejahatan.2. − Pembujukan tersebut memojokan pihak yang dibujuk pada suatu keadaan memaksa. Dalam rangka memudahkan atau melancarkan terjadinya suatu tindak pidana. dalam arti telah dewasa dan berakal sehat.   KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 51 . misalkan. − Penyediaan atau pemberian : (a) Keterangan. maka perbantuannya dapat kita bedakan atas : Perbantuan sebelum dilakukannya tindak pidana Perbantuan pada saat dilakukannya tindak pidana. 3. pisau. sehingga bagi pihak yang di bujuk secara sadar masih terbuka pilihan untuk tidak menurutinya akibatnya bila bujukan jahat dituruti. penjaga pabrik yang memberikan kesempatan bagi para pencuri leluasa mencuri barang – barang di pabrik tuannya itu dengan tujuan ia mendapat imbalan yang cukup besar dari pencuri. dan sebagainya. PERBANTUAN DALAM PLICHTIGHEID) TINDAK PIDANA (MEDE Perbantuan dalam tindak pidana ( Mede Plichtigheid ) ialah suatu hal dimana pelaku suatu tindak pidana mendapat bantuan dari pihak lain dalam melaksanakan perbuatan kejahatannya tersebut. misalkan pistol. pihak yang menuruti bujukan tersebut dapat di hukum. − Pihak yang di bujuk adalah orang yang dapat bertanggung jawab atas perbuatannya. (c) Sarana atau alat – alat yang diperlukan untuk melakukan tindak pidana. kunci palsu kendaraan. (b) Kesempatan.

Perbantuan yang diberikan setelah suatu tindak pidana itu dilakukan tidak termasuk dalam suatu penyertaan (Delneming) melainkan sudah di anggap sebagai suatu tindak pidana yang berdiri sendiri. contoh :  Delict penadahan yang merupakan perbantuan penjualan barang-barang hasil kejahatan (Setelah kejahatan). yakni terbatas pada pemberian kesempatan. Gabungan tindak pidana dapat di artikan beberapa tindak pidana dilakukan seorang / lebih dan masing-masing perbuatan tindak pidana itu dapat di hukum. sebagai bantuan perbuatan persiapan atau percobaan. GABUNGAN PERBUATAN PIDANA / TINDAK PIDANA (SAMEN LOOP VAN STRAFBAARE FEITEN)  4. dan sebagainya. Antara kedua macam perbantuan persamaan dan perbedaan. b) Cara-cara pelaksanan perbantuan ini ditentukan / dibatasi oleh Undang-undang. sebagaimana di atur dalam Pasal 56 ayat 2 KUHP. b) cara-cara pelaksanaannya tidak terbatas dan tidak ditentukan oleh undang-undang.  Persamaannya : Perbantuan sebelum dilakukannya tindak pidana : a) Diberikan pada waktu sebelum dilakukannya tindak pidana. Perbantuan pada saat dilakukannya tindak pidana : a) Diberikan pada saat dilakukannya tindak pidana sebagai bantuan bagi tindak pidana itu sendiri.3.4. tersebut terdapat 7. Pencurian itu terjadi. Gabungan suatu perbuatan ( Concursus idealis ) Pasal 63 KUHP supaya beberapa tindak pidana sebagai gabungan satu tindak pidana maka harus memenuhi syarat -syarat :  Beberapa tindak pidana harus dalam “ Satu peristiwa “ KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 52 . daya upaya atau pemberian keterangan untuk melakukan kejahatan.  Menyembunyikan penjahat yang sedang di cari-cari polisi. Jadi perbantuan ini dapat dilakukan dengan segala cara.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 7.

maka dalam hal ini telah terjadi pencurian ( Pasal 363 KUHP dan pengrusakan Pasal 406 KUHP ) Walaupun beberapa aturan hukum pidana telah di langgar. tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk mengambilnya sekaligus satu unit TV secara lengkap. 2) Perbuatan – perbuatan pidana itu harus sama macamnya. Bila diperhatikan contoh di atas . Misalnya : Pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu ( Pasal 340 KUHP ) adalah merupakan pengistimewaan dari pembunuhan biasa ( Pasal 338 KUHP ). maka pelaku tersebut lebih dahulu membongkar pintu / jendela. yaitu Pasal 363 KUHP. maka ketentuan yang dikenakan kepada pelaku adalah yang terberat. supaya tindak pidana dipandang sebagai perbuatan yang diteruskan maka harus dipenuhi syarat : 1) Kasus timbul dari satu niat : Satu kehendak atau satu keputusan. Minggu depan kabel dan seterusnya hingga lengkap menjadi TV. Demikian juga dalam Councursus Idealis ini dikenal juga ketentuan pidana dalam suatu perbuatan pidana terancam ketentuan umum dan istimewa. karena apabila terlaksana. maka peristiwa itu (pencurian). 3) waktu antara perbuatan yang satu dengan lainnya tidak boleh terlalu lama. dari pada perbuatan itu adalah sama. tetapi mempunyai kesempatan untuk mengambil bagian – bagian TV tersebut secara bertahap hingga lengkap satu Unit TV misalnya : Hari ini mengambil tabung.  Perbuatan yang diteruskan ( Voortgezette ) Pasal 64 KUHP. maka ketentuan yang istimewalah yang dikenakan dengan ketentuan bahwa ketentuan yang istimewa tersebut harus memuat semua unsur-unsur dari ketentuan pidana umum . misalnya : Hari ini KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 53 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Perbuatan pidana yang satu dengan yang lainnya tidak dapat di pisahkan ( Conditio sine quanon ) misalnya : seseorang melakukan pencurian di sebuah rumah itu. Contoh : Seseorang karyawan perusahaan elektronik hendak mencuri TV dari perusahaan itu. tiga hari lagi komponen elektroniknya.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 54 . maka yang dikenakan kepada pelaku beberapa perbuatan pidana adalah hukuman pokok yang terberat dari perbuatan itu di tambah 1/3 ( Sepertiga ) Contoh : Jika pada suatu hari seorang di tangkap karena di duga melakukan pencurian ( Pasal 363 KUHP ). Dalam Cuncursus Realis ( Pasal 65 KUHP ) harus benar . walaupun beberapa kali melakukan perbuatan pidana yang sama tetapi karena dipandang sebagai perbuatan yang diteruskan maka ketentuan yang dikenakan terhadap pelakunya adalah ketentuan yang terberat ancaman hukumannya. yaitu pasal 365 ditambah 1/3 ( Sepertiga ). 1) Gabungan beberapa perbuatan yang sejenis hukuman pokoknya sejenis ( Pasal 65 KUHP ) Catatan : Yang dimaksud gabungan beberapa perbuatan pidana dimana hukuman pokoknya sejenis adalah bahwa setiap perbuatan pidana merupakan perbuatan pidana sendirisendiri dan masing-masing perbuatan di ancaman hukuman pokok. Bila perbuatan-perbuatan itu dituntut. maka ketentuan yang terberatlah yang dijatuhkan .  Gabungan beberapa perbuatan (Concursus Realis pasal 65 dan 66 KUHP). yang sejenis. Demikian juga tentang ketentuan terhadap pelaku. besok mencuri komponen mobil atau maka hal ini bukan lagi merupakan perbuatan yang di teruskan / Voortgezette Handeling. sama -sama hukuman denda.benar diprhatikan.Hukuman pokok yang di ancamkan terhadap masing-masing kejahatan yaitu sama-sama hukuman mati . sama -sama hukuman penjara / tupan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mencuri komponen TV. tetapi lebih cenderung terhadap Concursus realis (Meerdadsche Samen Loop). yaitu pencurian dengan kekerasan ( pasal 365 KUHP ) dan penganiayaan (Pasal 353 KUHP).stelah di lakukan pemeriksaan ternyata mengakui telah melakukan beberapa kali kejahatan sebelumnya.

jumlah keseluruhan hukuman tersebut tidak boleh KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 55 . dan hukuman pokok yang di ancamkan terhadap perbuatan pidana itu berbeda-beda. 6 tahun. Dari semua perbuatan yang dilakukan itu masingmasing yang dijatuhkan hukuman dan apabila di jatuhkan hukuman denda maka diperhitungkan menjadi hukuman kurungan. Catatan : Yang dimaksud dengan gabungan beberapa perbuatan dimana hukuman pokok dari perbuatan itu tidak sejenis atau berbeda adalah bahwa seorang melakukan perbuatan pidana.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2) Gabungan beberapa perbuatan yang hukuman pokoknya berbeda ( Tidak sejenis ) Pasal 66 KUHP. Misalnya : Kejahatan yang satu hukuman penjara. akan tetapi jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari hukuman terberat di tambah sepertiganya. yang lain hukuman kurungan dan yang lain lagi hukuman denda. Sistem atau stelsel campuran / pertengahan antara system kumulasi dan system Absorbsi yang dipertajam. yang terdiri atas : Sistem atau stelsel absorbsi yang dipertajam. maka hukuman yang harus dijalani pelaku tersebut ialah 9 tahun + 6 tahun + 3 tahun penjara sama dengan 18 tahun penjara. masing-masing perbuatan di pandang berdiri sendiri. Di dalam “ Samen Loop “ atau gabungan antara beberapa tindak pidana dikenal beberapa system atau stelsel penghukuman yang secara garis besarnya ialah : a) Sistem atau Stelsel pokok. yang terdiri dari : Sistem atau stelsel Kumulasi ( Penjumlahan ) Sistem atau stelsel absorbsi (Sistem penyerapan ) b) Sistem atau stelsel tambahan . Tetapi menurut system campuran ini. dan 3 tahun penjara. Misalkan : Ancaman hukuman terhadap kesalahan pelaku masing – masing 9 tahun . Menurut system kumulasi .

Pembuatan Undang-undang nampaknya memberikan penghormatan pada hak azasi manusia dengan cara memberikan kesempatan pada beberapa peristiwa pidana tertentu untuk ditangani atau tidak di tangani oleh penegak hukum. 310.a. 332 dan demikian pula pasal 369 KUHP. 293. Delict aduan Relatif KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 56 . Delict aduan mutlak Delict aduan mutlak ( Absolut ) adalah sejenis peristiwa pidana yang hanya dapat di tuntut bilamana sudah ada pengaduannya misalnya : Peristiwa pidana yang di ancam dengan pasal – pasal 284. Jadi karena itu menurut system campuran ini . Delict aduan itu dapat dibedakan atas : a. 9 tahun + 1/3 X 9 tahun sama dengan 12 tahun penjara. tetap lah hanya 12 tahun dan bukan 18 tahun penjara 5. Dari sekian banyak peristiwa pidana. sering kita jumpai pula peristiwa -peristiwa yang hanya di dapat di tangani oleh para penegak hukum itu . bilamana pihak yang bersangkutan terlebih dahulu mengajukan seuatu pengaduan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI hukuman terberat + 1/3 ( Sepertiganya . 287. hukuman yang harus dijalanan oleh pelaku tersebut. tergantung pada pihak yang diberi hak dan wewenang untuk mengajukan pengaduan itu. Ad.b. yakni . Delict aduan mutlak ( Absolute ) b. Peristiwa pidana yang demikian itu dikenal dengan ilmu hukum pidana dengan sebutan Delict aduan. Delict aduan Relatif Ad. DELICT ADUAN DAN PROSEDUR Pengaduan adalah menjadi prinsip hukum pidana bahwa petugaspetugas hukuman seperti . Jaksa dan Hakim berkewajiban untuk menangani suatu peristiwa pidana tanpa menantikan pengaduan. Polisi . Pasal 369 KUHP adalah pemerasan dengan men ista dan penuntutan hanyalah di dasarkan atas pengaduan pihak korban.

Dalam membicarakan hal pengaduan ini ada baiknya dengan laporan mengenai dimanakah sebenarnya letak persamaan dan perbedaan antara pengaduan dan laporan itu. bilamana pelakunya mempunyai garis kekeluargaan yang sangat erat dengan pihak yang dirugikan. Adapun persamaan adalah : bahwa baik pengaduan maupun laporan kedua – duanya : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 57 . maka kita melihat pula sekian banyak peristiwa pidana yang di atur dan bertebaran pada buku II KUHP yang tidak tergolong delict aduan. delict demikian di sebut delict aduan relaitif. 370. maka delict aduan relatif juga tidak terhimpun di dalam suatu bab tersendiri. 404 dan 441 KUHP. 394. akan tetapi adanya hubungan kekeluargaan yang erat antara pelaku dan korban membuat delict itu menjadi delict aduan. Mengemukakan pasal – pasal di atas itu kiranya mulai menunjukan bahwa bukan semua peristiwa pidana biasa itu dapat menjelma menjadi delict aduan relatif. Perbuatan mencuri bukanlah delict aduan tetapi hubungan antara ayah dan anak merubah status delict demikian itu menjadi delict aduan dalam ilmu hukum pidana. walaupun pelakunya memiliki hubungan pertalian darah yang sangat dekat dengan korban. Sama halnya dengan delict aduan mutlak yang bertebaran di sana sini. 376. Delict – delict aduan relatif itu kita lihat pada pasal – pasal 367.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Lain daripada delict ataupun sebagaimana telah kita bentangkan di atas itu. Namun peristiwa pidana sedemikian itu dapat pula menjelma menjadi delict aduan. Jadi Delict aduan relatif ialah delict yang berasal dari peristiwa -peristiwa pidana yang pada dasarnya bukanlah delict aduan. Contoh : Seorang anak yang mencuri uang ayahnya. Peristiwa – peristiwa pidana seperti : Pencurian penggelapan dan demikian pula penipuan misalnya : bukanlah delict aduan .

Laporan :  Siapa saja bisa menjadi pelapor dalam arti tidak di batasi siapa orangnya dan apapun perkaranya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI   Merupakan sumber pengetahuan bagi pihak yang berwajib bahwa telah terjadi suatu tindak pidana. Pasal 77 KUHP. 6. Jika telah daluwarsa.3. GUGURNYA HAK MENUNTUT HUKUMAN Hak penuntutan pidana ( strafactie ) itu menjadi gugur ( hapus ) dalam hal-hal dibawah ini : 6. 6. Lama tempo gugurnya ( verjaring ) adalah : Semua Pelanggaran : 1 tahun. Pasal 78 KUHP.  Tidak mungkin dapat di cabut kembali suatu laporan dapat di anggap telah memasukan laporan palsu.  Dapat dicabut kembali oleh yang menbgadu dalam jangka waktu 3 ( Tiga ) bulan setelah di ajukan ( Pasal 75 KUHP ) kalau perkaranya belum diperiksa oleh pengadilan. 6.1. Kejahatan Percetakan : 1 tahun.2. Sekaligus merupakan pola dasar untuk bertindak bagi pihak yang berwajib untuk segera menangani perkara yang di adukan atau yang dilaporkan tersebut.     Jika terdakwa meninggal dunia. baik berupa tindak pidana kejahatan maupun pelanggaran. Jika sudah ada keputusan yang tidak dapat diubah lagi terhadap perbuatan itu. kurungan atau penjara tidak lebih dari tiga tahun : 6 tahun Segala kejahatan yang diancam hkuman penjara sementara lebih dari tiga tahun : 12 tahun KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 58 . Kejahatan yang terancam hukuman denda. Sedangkan perbedaannya ialah : Pengaduan :  Yang dapat menjadi pengadu dibatasi dengan undang -undang yakni hanyalah korban / keluarganya atau orang-orang tertentu lainnya yang berkepentingan atas penentuan perkara yang bersangkutan. Tersebut dalam Pasal 76 KUHP “ Nebis in idem “ ( tidak dua kali tentang perbuatan itu juga ).

Sudah kadaluarsa (lewat waktunya) (pasal 84 ayat 1 KUHP) Lama tempo gugurnya hak menjalankan hukuman karena daluwarsa adalah : Untuk pelanggaran : 2 tahun Untuk kejahatan percetakan : 5 tahun Untuk kejahatan-kejahatan yang lain : sepertiga lebih dari tempo daluwarsa hak penuntutan hukuman. Tempo daluwarsa ini sekali-kali tidak boleh kurang dari lamanya hukuman yang telah dijatuhkan. Ulangan atau “ residive “ terjadi jika satu orang yang telah dihukum karena sesuatu delik. Hak untuk menjalankan pidana menjadi gugur karena : 7. Pasal 83 KUHP.4. Anasir kedua membedakan “ Ulangan “ dari “ Gabungan “ sebab gabungan delik – delik ada jika satu orang melakukan beberapa delik padahal antara waktu – waktu dilakukannya tak ada KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 59 .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Kejahatan yang diancam hukuman mati atau penjara seumur hidup : 18 tahun Tempo daluwarsa itu pada umumnya dimulai dari keesokan harinya sesudah perbuatan itu dilakukan. 7. Delik ini mengandung 2 ( Dua ) anasir :  Adanya beberapa delik yang dilakukan oleh satu orang sebaliknya. Hal untuk menjalankan hukuman mati tidak dapat gugur karena daluwarsa. Terhukum meninggal dunia . ULANGAN ( RESIDIVE ) DAN GABUNGAN DELIK      8.  Antara waktu – waktu dilakukan delik – delik itu. pembuat / pelaku sudah di hukum karena salah satu delik. GUGURNYA HUKUMAN KEWAJIBAN UNTUK MENJALANI 6. melakukan lagi suatu perbuatan yang boleh di hukum. pada hal “ Penyertaan “ : Beberapa orang yang melakukan satu delik . Bagi pelanggaran yang hanya terancam hukuman denda saja dan maksimum denda yang diancamkan pada pelanggaran tersebut telah dibayar oleh pelanggar. 7.1. Pasal 82 (1) KUHP.2.

Perbedaan ini dapat di nyatakan secara pendek seperti : Ulangan / Residive : Delik .  Sistem ulangan / residive khusus : Hukuman maximum itu baru ditambah jikan pembuat telah di hokum lebih dahulu karena satu delik yang sama – sama atau semacam delik yang kemudian dilakukan ( Masalah Residive diatur dalam buku ke II Pasal 486.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI keputusan hakim tentang salah satu perbuatan itu .vonis – delik vonis. 488 KUHP. Penambahan itu dapat di atur oleh 2 ( Dua ) system :  Sistem ulangan / residive umum “ : Hukuman maksimum yang di ancam pada suatu delik di tembah . jika pembuat telah di hokum lebih dahulu karena delik lain yang mana saja . 487. Gabungan / Samen Loop : delik – delik vomis. BAB V KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA DAN KEJAHATAN TERHADAP MARTABAT PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN Kompetensi Dasar KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 60 .

5. 106. Menjelaskan kejahatan terhadap martabat Presiden dan wakil Presiden. 6. 107. Menjelaskan kejahatan membuka rahasia negara. Menjelaskan kejahatan pemberontakan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Memahami Kejahatan terhadap keamanan Negara dan Kejahatan terhadap martabat Presiden dan wakil Presiden Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab VI . KEJAHATAN TERHADAP KEAMANAN NEGARA 1. Kejahatan Makar. 4. 108. orang atau badan asing untuk menggulingkan pemerintahan RI. Menjelaskan kejahatan Permupakatan jahat untuk melakukan kejahatan 104. 3. diharapkan Siswa mampu : 1. Menjelaskan kejahatan mengadakan hubungan dengan negara asing. 2. Pasal 104 Makar yang dilakukan dengan niat hendak membunuh Presiden atau wakil Presiden atau dengan maksud hendak merampas kemerdekaannya atau hendak menjadikan mereka itu tiada cakap KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 61 . Menjelaskan kejahatan makar.

Unsur Pasal c. c. Pasal 106 Makar yang dilakukan denan niat hendak menaklukan daerah negara sama sekali atau sebagiannya kebawah pemerintahan asing atau dengan maksud hendak memisahkan sebagian dari daerah itu. antara lain termasuk perbuatan menculik sebagaimana ketentuan pasal 328 KUHP Membuat tidak mampu termasuk menjadikan tidak cakap memerintah. dihukum mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun. termasuk pemberikan bahan berbahaya ( misalnya makanan atauminuman atau suntikan yang merugikan kesehatan jasmani atau rokhani ). Makar menurut pasal 87 KUHP suatu perbuatan dianggap ada apabila niat sipembuat kejahatan sudah ternyata dengan dimulainya melakukan perbuatan menurut pasal 53 KUHP. Membunuh artinya menghilangkan nyawa orang lain sebagaimana ketentuan pasal 338 KUHP Merampas kemerdekaan termasuk membatasi kemerdekaan orang lain . Dengan Maksud adalah tujuan yang dikehendaki oleh pelaku atau mengetahui akibat yang akan terjadi. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 62 . b. atau merampaskemerdekaan mereka. dihukum penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 Tahun. Membunuh Presiden atau Wakil Presiden. b. Dengan maksud merupakan unsur kesengajaan. Penjelasan : a. Makar. dapat dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain kekerasan pisik maupun psikis. Perbuatan makar merupakan delict selesai. Unsur Pasal : a. artinya percobaan makar samadengan melakukan perbuatan makar. atau menjadikan mereka tidak mampu memerintah. Degan maksud.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI memerintah.

Dengan maksud. Pasal 107 (1) Makar yang dilakukan dengan niat menggulingkan pemerintahan. Dengan maksud liat penjelasan Pasal 104 KUHP. Makar liat penjelasan Pasal 104 KUHP. Makar. (2) Pemimpin danpengatur makar yang dimaksudkan dalamayat 1 . 27 Tahun 1999 tentang perubahan KUHP yang berkaitan dengan Kejahatan terhadap keamanan Negara KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 63 . Unsur Pasal 107 ayat 1 : a. b. c. dihukumpenjara seumur hidupataupenjara sementara selama-lamanya 20 Tahun. Makar.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI a. Pemimpin adalah orang yang Sesuai UU No. Yang dimaksud dengan merencanakan makar. Penjelasan a. c. dihukumpenjara selama-lamanya 15 Tahun. Memisahkan sebagian dari wilayah negara didalam kejahatan ini adalah tidakperlu bahwa wilayah negara dibawa kebawah kekuasaan asing . Memisahkan sebagian atau seluruh wilayah negara jatuh ke tangan musuh . ayat 2 : Pemimpin dan pengatur makar tersebut ayat 1 Penjelasan : Menggulingkan pemerintahan artinya :  Menghancurkan bentuk pemerintahan menurut UUD 45. melainkan dapat juga dibawa kebawah kekuasaan kelompok tertentu yang ingin memisahkan diri dari negara kesatuan RI ataumenjadi bagian darinegara lain atau menjadi negara sendiri. c. b. b. Dengan maksud. atau memisahkan sebagian wilayah negara dariyang lain.  Mengubah secara tidak sah bentukpemerintahan menurut UUD 45 ( pasal 88 bis KUHP ). Menggulingkan pemerintahan.

Barangsiapa yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 107 a Barangsiapa secara melawan hukum dimuka umum dengan lisan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 Tahun. dan atau melalui media apapun.markisme.leninesme dengan maksud mengubah atau menganti Pancasila sebagai dasar . atau b.leninesme dalam segala bentuk dan perwujutannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 Tahun. tulisan. dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme . dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme . Pasal 107 e Dipina dengan pidana penjara paling lama 15 Tahun : a. Pasal 107 c Barangsiapa secara melawan hukum dimuka umum dengan lisan. dan atau melalui media apapun menyebarkan atau mengembangkan ajaran komunisme . tulisan.leninesme yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat. baik didalam maupun diluar negeri yang diketahuinya berazaskan ajaran komunisme/markisme-leninesme atau dalam segala bentuk dan perwujutannya dengan maksud mengubah dasar nega atau menggulingkan pemerintahan yang sah KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 64 . menyatakan keinginan untuk meniadakan ataumengganti Pancasila sebagai dasar negara yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat atau menimbutkan korban jiwa atau harta benda. atau menimbulkan korbanjiwa ataukerugian harta benda dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 Tahun. Barang siapa mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga menganut ajaran komunisme/markismeleninesme atau dalam segala bentuk dan perwujutannya. Pasal 107 d Barangsiapa secara melawan hukum dimuka umum dengan lisan. tulisan. tulisan. dimuka umum dengan lisan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 Tahun. Pasal 107 b Barangsiapa secara melawan Hukum.markisme.markisme.

2e. atau memusnahkan instalasi negara ataumiliter. melawan atau menggabungkan diri pada gerombolan orang yang bersenjata untuk melawan ke kekuasaan itu.2 : Orang yang dengan maksud melawan pemerintah. Unsur pasal : Diancam dengan pidana paling lama 15 Thun karena pemberontakan : Ke . Barangsiapa yang dengan niat menentang kepada kekuasaan yang telah berdiri di Negara Indonesia.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 107 f Dipina karna sabotase dengan pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 Tahun : a. Penjelasan : Pemberontakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang banyakdalam ikatan organisasi ditujukan kepada pemerintahan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 65 .pemimpin dan pengatur . Barangsiapa secara melawan hukum menghalangi atau menggagalkan pengadan atau distribusi bahan pokok yang mengusai hajat hidup orang banyak sesuai dengan kebijakan pemerintah. atau b. Ayat ( 2 ) Pemimpin . membuat tidak dapat dipakai. Ayat ( 2 ) Pemimpin atau pengatur pemberontakan. menhancurkan. dihukum penjara seumur hidup atau penjara sementara selamalamanya 20 tahun. 2. Barangsiapa secara melawan hukum merusak.1 : Melawan pemerintah dengan senjata. Pasal 108 Ayat ( 1 ) Salah karena memberontak dihukum penjara selamalamanya 15 tahun yaitu : 1e. Ke. Barangsiapa melawan dengan senjata kepada kekuasaan yang telah berdiri di Negara Indonesia. Kejahatan Pemberontakan. Diancam pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 Tahun. menyerbu bersama-sama dengan gerombolan yang melawan pemerintah dengan senjata.pangatur pemberontakan.

106. bahwa barang itu guna melakukan itu 4e. iktiar atau keterangan untuk kejahatan itu . Ayat ( 2 ) Hukuman itu juga berlaku bagi orang yang dengan maksud akan menyediakan atau memudahkan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal-pasal 104. Menyiapkan atau mempunyai rencana untuk melakukan kejahatan itu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI yang sah. kantor telepon. menghalangi atau menggalkan sesuatu daya upaya pemerintah untuk mencegah atau menekankan orang melakukan kejahatanitu. pemancar radio dll Dengan maksud liat penjelasan pasal 104 KUHP.106. antara lain berbentuk menduduki Pos Polisi. 107 dan 108 dihukum sama dengan kejahatan itu. 3. 5e. 107dan108. Mencoba membujuk orang lain supaya ia melakukan menyuruh melakukan atau turut melakukan kejahatan itu atau memberi bantuan atau kesempatan. 107. 1e. iktiar atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu. Beriktiar mencegah. 108. Ayat ( 3 ) Barang yang dimaksutkan dalam ayat yang lalu sub 3e boleh dirampas. Ayat ( 4 ) Tiada boleh dihukum barangsiapa maksudnya ternyata hanya akan menyediakan atau memudahkan perubahan ketata-negaraan dengan pengertian umumnya. 3e Sedia barang yang diketahuinya . 2e. diikuti oleh kejahatan itu . 106. Unsur Pasal : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 66 . hukumnya boleh di kedua kalikan. Ayat ( 5 ) Bila dalam salah satu hal-hal yang dimaksudkan dalam ayat 1 dan ke 2 dari pasalini. yang akan diberitahukan kepada orang lain. Beriktiar akan mendapat atau akan memberikan bagi orang lain kesempatan. Pemimpin dan pengatur liat penjelasan pasal 107 ayat 2. Permupakatan jahat untuk melakukan kejahatan 104. Pasal 110 Ayat ( 1 ) Permukaatan akan melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal-pasal 104.

sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu . 2e. kejahatan sungguh terjadi. Ayat ( 2 ) Cukup jelas. yaitu segera setelah dua orang atau lebih sepakat melakukan suatu kejahatan. 4e. Penjelasan : Ayat ( 1 ) Pengertian permupakatan jahat sebagaimana dimaksud pasal 88 KUHP yang berbunyi : permupakatan untuk berbuat kejahatan. Mencoba mencegah. 3e. 1e. agar melakukan . dianggap telah terjadi . Mencoba mengerakan orang lain agar melakukan. Mempunyai persediaan barang-bang yang diketahui bahwa gunanya untuk melakukan kejahatan .LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Ayat ( 1 ) Permupakatan jahat untuk melakukan kejahatan tersebut pasal 104 -108 diancam denganpidana penjara paling lama 6 Tahun. menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kejahatan. sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan bagi diri sendiri atau orang lain. Ayat ( 2 ) Pidana tersebut berlaku juga bagi orang yang denganmaksud mempersiapkan ataumemperlancar kejahatan tersebutpasal 104 – 108. pidananya dapat dilipatkan dua kali. merintang / menggagalkan tindakan yang diadakan oleh pemerintah guna mencegah atau menindas pelaksanaan kejahatan Ayat ( 3 ) Barang-barang termaksud dalam ayat ( 2 ) 3e dapat dirampas Ayat ( 4 ) Tidak dipidana barang siapa ternyata bahwa maksudnya hanya mempersiapkan ataumemperlancar perubahan ketata negaraan dalam arti umum Ayat ( 5 ) Jika dalam salah satu hal seperti dimaksud dalam ayat 1 dan 2 pasal ini. Yang dimaksud menggerakan orang lain. Mencoba memperoleh kesempatan. atau supaya memberi bantuan pada waktumelakukan atau memberi kesempatan. menyuruh dan turut sertamelakukan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 67 . Mempersiapkan / mempunyai rencana untuk melaksanakankejahatan yang maksudnya akan diberitahukan orang lain 5e. 1e.

Ayat ( 3 ) haruslah ditafsirkan menurut pengertian sebagaimana dimaksud pasal 55 KUHP. 107 dan pasal 108 KUHP Menurut Prof. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 68 . 106.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2e. 4. Yang dimaksud mempersiapkan / mempunyai rencana berarti dengan maksud memperlancar dilakukannya suatu tindak pidana yang diatur pasal 104. Dapat dirampas jelas bukan merupakan pidana tambahan. Noyon-Langemeyer bahwa perbuatan mencegah. 3e. Kejahatan mengadakan hubungan dengan negara asing. yang seharusnya orang tersebut mempunyai kewajiban hukum untuk melapolkan kepada polisi atau pejabat yang berwewenang. orang atau badan asing untuk menggulingkan Pemerintahan RI. 5e. memberi bantuan dan memberi kesempatan sarana atau keterangan haruslah ditafsirkan menurut pengertian sebagaimana dimaksud pasal 56 KUHP Yang dimaksud memperoleh kesempatan adalah mengusahakan kemudahan-kemudahan. menyimpan dan/ atau menyembunyikan benda-benda untuk melakukan kejahatan. 4e. Pada tingkat penyidikan dan penuntutan agar dilakukan penyitaan.padahal ia mempunyai kewajiban untuk melakukan perbuatan tersebut. merintangi atau menggagalkan dapat terjadi bersipat “pasif “ yang artinya dengan tidak melakukan perbuatan tertentu. Contoh : Seseorang yang mengetahui ada pengiriman pasukan yang akan menumpas pemberontak dengan melewati jembatan kereta api yang diketahuinya rusak tidak dapat dilewati sehingga menimbulkan terjadinya kecelakaan kereta api dan kegagalan pengiriman pasukan tersebut. baik bagi diri sendiri maupun orang lain untuk melakukan kejahatan Yang dimaksud mempunyai persediaan berarti dengan sengaja mengumpulkan. melainkan merupakan suatu tindakan pencegahan dengan tujuan agar benda tersebut tidak sampai digunakan orang lain.

dengan seorang raja atau suku bangsa. Perbuatan permusuhan atau berperang terhadap negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 96 ayat ( 2 ) KUHP yang termasuk sebutan perang yaitu perusakan dengan tempat yang berpemerintahan sendiri. e. Dengan maksud cukup jelas. demikian juga perang antar anak negeri. b. diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 Tahun. Ayat ( 2 ) Jika permusuhan atau perang sungguh terjadi . membujuk mereka itu supaya bermusuh-musuhan atau berperang dengan negara. atau membantu mempersiapkan perbuatan tersebut.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Pasal 111 Ayat ( 1 ) Barangsiapa yang mengadakan perhubungan dengan negara. atau dengan niat hendak meneguhkan maksud mereka tentang hal itu. dihukum penjara selama-lamanya 15 Tahun. atau memperkuat niatnya untuk atau menjajikan bantuan pada perbuatan itu. c. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 69 . Barangsiapa. maupun dengan raja atau rakyat dengan niat hendak mengajak. Ayat ( 2 ) Jika permusuhan itu dilakukan atau peperangan terbit . Dengan maksud menggerakkannya untuk melakukan perbuatan permusuhan atau perang terhadap negara. Menadakan hubungan dengan negara asing maksudnya seperti menjadimata-mata atau kaki tangan orang asing. Yang dimaksud dengan raja termasuk juga presiden. b. Penjelasan : a. atau dengan niat akan menjadikan pertolongan pada mereka atau hendak memberi pertolongan waktu menyiapkan perbuatan itu. maka dijatuhkan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 Tahun. Barangsiapa cukup jelas. d. Mengadakan hubungan dengan negara asing. Unsur Pasal : Ayat ( 1 ) a. c.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

f.

Membantu cukup jelas.

Pasal 111 bis Dihukum penjara selama-lamanya 6 Tahun : 1e. Barangsiapa mengadakan perhubungan dengan orang atau badan diluar negara Indonesia, dengan niat hendak membujuk orang atau badan itu supaya memberi bantuan untuk menyiapkan, memudahkan atau menggulingkan pemerintahan untuk meneguhkan niat orang atau badan tentang halitu dengan niat hendak memberi atau berjanji akan memberi bantuan dalam pada itu, atau untuk menyiapkan, memudahkan atau merusakkan pemerintahan. 2e. Barangsiapa memasukkan kedalam negeri sesuatu barang yang dapat dipergunakan untuk memberi bantuan lahir buat menyiapkan memudahkan atau merusakkan pemerintahan, jikalau diketahuinya atau ada alasan sangat untuk menyangka, bahwa barang tadi sesungguhnya gunanya untuk itu. 3e. Barangsiapa yang menyimpan atau menyediakan sesuatu barang yang dapat dipergunakan untuk memberi bantuan lahir akan menyiapkan, memudahkan atau merusakkan pemerintahan, jikalau diketahuinya atau ada alasan sangat untuk menyangka, bahwa barang itu memang gunanya untuk itu dan bahwa barang itu atau barang apa saja penggantinya dibawa masuk kedalam negeri untuk keperluan tadi atau ditujukan untuk keperluan tadi oleh orang atau badan diluar negeri Indonesia.Barang yang dipakai untuk melakukan atau yang ada perhubungannya dengan kejahatan tersebut dalam ayat diatas bab 2e dan 3e boleh dirampas. Unsur Pasal : 1e. - Barangsiapa. - Mengadakan perhubungan dengan orang atau badan Yang berkedudukan diluar Indonesia. - Dengan maksud untuk menggerakkan orang atau badan itu supaya memberi bantuan dalam menyiapkan, memperlancar / megadakan penggulingan pemerintahan atau untuk memperkuat niat orang atau badan itu berbuat demikian atau menjajikan atau memberi bantuan kepada orang atau badan itu dalam perbuatan tersebut

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

70

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

atau menyiaokan, memperlancar / mengadakan penggulingan pemerintah. 2e. Barangsiapa memasukkan suatu benda yang dapat digunakan untuk memberi bantuan material dalam menyiapkan memperlancar atau mengadakan penggulingan pemerintahan, diketahui atau ada alasan kuat untuk menyangka, bahwa benda akan dipakai untuk perbuatan tersebut. 3e. - Orang yang mempunyai atau mengadakan perjanjian mengenai suatu benda yang dapat digunakan untuk memberi bantuan material dalam menyiapkan, memperlancar / mengadakan penggulingan pemerintahan, diketahui atau ada alasan kuat untuk menduga, bahwa benda akan dipakai untuk perbuatan tersebut dan bahwa benda itu atau barang lain sebagai penggantinya dimasukkandengan tujuan tersebut atau diperuntukkan bagi tujuan itu oleh orang atau badan yang berkedudukan diluar Indonesia. - Benda-benda yang dipakai untuk melakukan kejahatankejahatan tersebut dalam 2e dan 3e atau yang ada hubungannya dengan kajahatan-kejahatan itu, dapat dirampas. Penjelasan : 1e. - Barangsiapa cukup jelas - Menadakan hubungan dengan negara asing maksudnya seperti menjadimata-mata atau kaki tangan orang asing. - Menggulingkan pemerintahan artinya : Menghancurkan bentuk pemerintahan menurut UUD 45 Mengubah secara tidak sah bentuk pemerintahan menurut UUD 45 ( pasal 88 bis KUHP ). 2e. 3e. Cukup jelas Dapat dirampas jelas bukan merupakan pidana tambahan, melainkan merupakan suatu tindakan pencegahan dengan tujuan agar benda tersebut tidak sampai digunakan orang lain. Pada tingkat penyidikan dan penuntutan agar dilakukan penyitaan Kejahatan membuka rahasia Negara.

5.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

71

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Pasal 112 Barangsiapa dengan sengaja mengumumkan, atau mengabarkan atau menyampaikan surat, kabar dan keterangan tentang sesuatu hal kepada negara asing, sedang diketahuinya bahwa surat, kabar atau keterangan itu harus dirahasiakan karena kepentingan negara, maka ia dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya 7 tahun. Unsur Pasal : a. Barangsiapa b. Dengan sengaja c. Mengumumkan surat-surat, berita-berita / keterangan-keterangan yang diketahui bahwa harus dirahasiakan untuk kepentingan negara atau memberitahukan / memberikan kepada negara asing, kepada seorang raja atau suku bangsa. Penjelasan : a. Barangsiapa cukup jelas b. Dengan sengaja cukup jelas c. Yang dimaksud mengumumkan adalah menyampaikan pemberitahuan sesuatu hal yang seharusnya dirahasiakan kepada orang lain lebih dari satu orang baik secara tertulis maupun lisan. - Yang dimaksud memberitahukan dapat dilakukan dalam bentuk menyerahkan sesuatu barang atau dokumen atau surat-surat dan atau informasi yang seharusnya dirahasiakan kepada orang asing. Tentang surat rahasia dijelaskan bahwa apakah suatu surat itu merupakan surat rahasia atau bukan, hal mana ditentukan oleh sifat surat itu sendiri sehingga tidaklah perlu bahwa untuk menyebut surat itu sebagai surat rahasia, pada surat tersebut harus dibubuhi keterangan “ RAHASIA” seperti yang lazim dijumpai dalam praktek. Pasal 113 Ayat ( 1 ) Barangsiapa dengan sengaja mengumumkan, memberitahukan atau menyampaikan kepada orang yang tidak berhak mengetahui, segenapnya atau sebagian dari surat, peta bumi, rencana, gambar atau benda rahasia yang berhubungan dengan pertahanan atau keselamatan Indonesia terhadap serangan negeri

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

72

Mengumumkan Cukup jelas d. Memberitahukan cukup jelas Ayat ( 2 ) : Yang dimaksud “pencahariannya” merupakan pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus untuk penghidupannya. surat-surat. pidanaya dapat ditambah sepertiganya. peta-peta. Unsur Pasal : Ayat ( 1 ) : a. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI asing. rencana-rencana. yang disimpan olehnya atau yang diketahui olehnya akan isi surat atau bentuk atau cara membuat benda-benda rahasia itu. Ayat ( 2 ) Jika yang bersalah menyimpannya surat-surat atau benda-benda yang dimaksud diatas atau mengetahuinya hal itu oleh karena jabatannya maka hukumannya boleh ditambah dengan sepertiganya. Dengan sengaja cukup jelas c. ataumemberitahukan maupun menyerahkan. Pasal 114 Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan surat atau benda rahasia yang dimaksudkan dalam pasal 113 yang mana ia wajib menjaga atau menyimpan. atau bentuknya atau caranya membuat segenapnya atau sebagian menjadi diketahui orang banyak atau diperoleh atau diketahui oleh orang lain yang tidak berhak KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 73 . gambar-gambar atau benda-benda yang bersifat rahasia dan bersangkutan dengan pertahanan atau keamanan Indonesia terhadap serangan dari luar. yang ada padanya atau yang isinya. kepada orang yang tidak berwenang mengetahui. Barangsiapa cukup jelas b. Penjelasan : Ayat ( 1 ) : a. Dengan sengaja c. Untuk seluruhnya atau sebagian mengumumkan. bentuknya / susunannya bendabenda itu diketahui olehnya. Ayat ( 2 ) : Jika adanya surat-surat atau benda-benda pada yang bersalah. atau pengetahuannya tentang itu karena pencahariannya. Barangsiapa b.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 74 . b. c. Kealpaan cukup jelas. Untuk seluruhnya atau sebagian. sedangkan diketahui atau selayaknya harus diduga bahwa bendabenda itu tidak dimaksud untuk diketahuiolehnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI mengetahui maka ia dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya satu tahun enam bulan atau hukuman kurungan selamalamanya satu tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. Barangsiapa b. Penjelasan : a. Unsur Pasal : a. Karena kealpaanya.4500. Pasal 115 Barangsiapa dapat melihat atau mengetahui surat atau benda rahasia . c. b. Surat rahasia cukup jelas.Unsur pasal : a. 18 tahun 1960 tentang perubahan jumlah hukuman denda dalam KUHP dan dalam ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945. atau barangsiapa tidak menyampaikan surat atau benda itu kepada pegawai yustisi atau Polisi atau Pamongpraja jika surat atau benda itu diperolehnya maka ia dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya tiga tahun. d. Barangsiapa cukup jelas. Ancaman denda dikalikan lima belas menurut perpu No. Melihat atau membaca surat-surat atau bendabenda rahasia tersebut pasal 113 c. membuat atau suruh membuat salinan atau petikan dengan huruf atau bahasa apapun juga atau membuat atau menyuruh membuat gambar atau tiruan dari surat atau benda itu. yang dimaksudkan dalam pasal 113 segenapnya atau sebagian yang disadarinya atau patut dapat disangka bahwa surat atau benda rahasia itu tidak boleh diketahuinya. Barangsiapa. Menyebabkan surat-surat atau benda-benda rahasia tersebut dalam pasal 113 yang tentang menyimpan atau menaruhnya menjadi tugasnya diketahui oleh umum mengenai bentuk dan susunannya untuk seluruhnya atau sebagian atau oleh orang yan tidak berwenang mengetahui ataupun jatuh dalam tangannya.

Unsur Pasal Tiap-tiap perbuatan penyerangan terhadap diri presiden atau wakil presiden yang tidak termasuk dalam ketentuan pidana lain yang lebih berat. Pasal 132 . Barangsiapa cukup jelas b. Diketahui atau selayaknya harus disuga cukup jelas c.136 bis. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 75 . Penjelasan : a. dalam hal bendabenda itu jatuh ke tangannya. gambaran atau tiruan surat-surat atau benda-benda rahasia itu atau tidakmenyerahkan benda-benda itu kepada pejabat kehakiman. Pasal 134.013-022 / PUU-IV / 2006 tanngal 4 Desember 2006. 135. membuat atau menyuruh buat tiruan. 137 Dihapus berdasarka Putusan Mahkamah Konstitusi RI No.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI d. Sesuai Ordonansi tanggal 22 September 1945 . dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 8 Tahun. Penjelasan : Yang dimaksud dengan penyerangan adalah perlakuan terhadap tubuh seperti penganiayaan atau perbuatan kekerasan lainnya yang ditujukan terhadap diri Presiden atau wakil Presiden. 133 . Kepolisian / Pamongpraja. 135 dan 136 Dihapus oleh karena tidak sesuai lagi dengan susunan kenegaraan sekarang ( dicabut oleh UU No. Sibl 1945 No. Begitu pula jika membuat / menyuruh buat salinan atau ikhtisar denganhuruf atau dalam bahasa apapun juga. terhadap martabat Presiden dan wakil Pasal 131 Tiap-tiap perbuatan menyerang tubuh Presiden atau wakil Presiden yang tidak termasuk dalam peraturan pidana yang lebih berat. ancaman pidana bagi tindak pidana dirubah menjadi selama-lamanya 6 tahun 6.1 Tahun 1946 ). Kejahatan Presiden.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI BAB VII KEJAHATAN TERHADAP ORANG Kompetensi Dasar KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 76 .

5. Menjelaskan kejahatan terhadap jiwa orang. Kejahatan terhadap kesopanan. Menjelaskan kejahatan terhadap kemerdekaan orang. 1.  Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang masih dalam kandungan ibunya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Memahami Kejahatan terhadap orang. 4. 2. adapun jenis-jenisnya adalah :  Kejahatan terhadap jiwa orang pada umumnya. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 77 .  Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang sedang atau tidak lama dilahirkan. Menjelaskan kejahatan terhadap kehormatan orang. 3. Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab VII . diharapkan Siswa mampu : 1. KEJAHATAN TERHADAP JIWA ORANG Kejahatan ini biasa disebut juga kejahatan terhadap nyawa manusia. Menjelaskan kejahatan terhadap tubuh orang.

Dalam Pasal 339 KUHP diatur tentang makar mati dengan pemberatan apabila kejahatan itu : Diikuti. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 78 . dihukum karena makar mati dengan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun. Kejahatan terhadap jiwa orang pada umumnya. Terbagi atas : a. Barangsiapa dengan sengaja merampas jiwa orang lain. Pembunuhan dengan sengaja (doodslag). Pembunuhan atas permintaan yang sangat dan tegas dari orang yang dibunuh.  Jika tertangkap tangan akan melindungi dirinya atau kawannya dari hukuman. adalah pembunuhan. Unsur-unsurnya adalah :  Dengan sengaja. Dengan sengaja menganjurkan atau membantu atau memberi daya upaya kepada orang lain untuk membunuh diri.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Kejahatan terhadap jiwa orang yang dilakukan karena kelalaiannya. artinya bahwa akibat yang timbul dari kejahatan itu yang harus dilihat. Kejahatan ini adalah delict materiil.  Mempertahankan barang yang didapatnya. Ad. d. c. jadi dengan demikian setiap perbuatan dalam bentuk apa saja asal dilakukannya dengan sengaja dan ditujukan (niatnya) untuk merampas jiwa orang lain. Adapun perbuatannya tidak dirumuskan dengan tegas. Pembunuhan dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu (moord).  Merampas / menghilangkan jiwa orang lain. b. 1) Pembunuhan dengan sengaja Pasal 338 KUHP. disertai atau didahului kejahatan atau pelanggaran lain yang tujuannya :  Menyiapkan atau mempermudahkan perbuatan itu. 2) Pembunuhan dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu Pasal 340 KUHP.

 Direncanakan terlebih dahulu. Unsur-unsurnya adalah :  Perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Pembunuhan dalam Pasal 344 ini harus dilakukan atas permintaan yang tegas dan nyata serta sungguh-sungguh jadi tidak cukup kalau hanya sekedar persetujuan saja.  Perencanaan itu memerlukan tempo (jangka waktu) yang agak lama.  Apabila seorang telah putus asa dan tak sanggup lagi hidup. Kejahatan ini biasa terjadi misalnya :  Apabila seseorang dihinggapi oleh penyakit yang tidak dapat disembuhkan serta dapat menimbulkan banyak penderitaan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain.  Dengan maksud menimbulkan matinya orang lain. 3) Pembunuhan atas permintaan yang sangat dan tegas dari orang yang dibunuh pasal 344 KUHP. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 79 . Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Arti direncanakan terlebih dahulu adalah :  Telah merencanakankehendaknya (niatnya) itu lebih dahulu.  Cara merencanakannya harus dalam keadaan tenang.  Apabila dalam pertempuran seorang mendapat luka parah atau dalam ekspedisi menderita sakit sehingga tidak dapat meneruskan tugasnya.  Pemuda / pemudi yang dihalangi oleh orang tuanya untuk nikah dengan pilihannya sendiri. dihukum karena pembunuhan direncanakan dengan hukuman mati atau seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun. yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh dihukum penjara selamalamanya 12 tahun.  Menganjurkan / membantu orang lain membunuh diri Pasal 345 KUHP.

Unsur-unsurnya adalah :  Dengan sengaja menganjurkan. Unsur-unsurnya adalah :  Pembunuhan terhadap seorang anak yang sedang atau tidak antara lama dilahirkan. Ada dua jenis yaitu : Pembunuhan anak (kinder doodslag) Pasal 341 KUHP. Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambilnya sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi melahirkan anak. bahwa sang ibu itu elahirkan seorang anak. Pembunuhan anak yang direncanakan (kinder moord) pasal 342 KUHP. Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang sedang atau tidak antara lama dilahirkan.  Alasannya adalah.  Pembunuhan diri jadi dilaksanakan. dihukum penjara selamalamanya 4 bulan. Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama sesudah dilahirkan. memberi daya upaya. membantu. karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak. dihukum karena makar mati terhadap anak dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun.  Kepada orang lain. maka jika orang itu jadi membunuh diri.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Barangsiapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri. bahwa si ibu didorong oleh perasaan takut akan diketahui. menolongnya dalam perbuatan itu atau memberikan daya upaya kepadanya untuk itu.  Dilakukan dengan sengaja.  Untuk membunuh diri.Oleh seorang ibu terhadap anaknya yang sedang atau tidak antara lama setelah dilahirkannya sendiri. menghilangkan jiwa anaknya itu pada ketika dilahirkan atau tidak lama kemudian dari pada itu dihukum karena pembunuhan anak yang 1) 2) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 80 . Ad.

Pasal 346 KUHP.  Dilakukan dengan sengaja.  Dilakukan oleh seorang ibu yang melahirkan anak itu. bahwa si ibu diketahui telah melahirkan anak. Perempuan yang dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu.  Dilakukan oleh orang lain tanpa persetujuan si ibu. Terhadap orang yang turut serta atau membantu dalam kejahatan pembunuhan terhadap anak Pasal 341. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun.  Alasan perbuatan dilaksanakan oleh si ibu untuk melaksanakan kehendak yang dimiliki oleh si ibu sebelum ia melahirkan dan kehendak mana diliputi oleh perasaan takut.  Dilakukan oleh si ibu dengan menyuruh orang lain. 342 KUHP harus dihukum sebagai makar mati atau pembunuhan biasa Pasal 340 atau 340 KUHP. Dalam ilmu pengetahuan umum istilah yang biasa digunakan untuk kejahatan ini adalah Abortus yaitu perbuatan yang mengakibatkan bahwa sianak yang masih dalam kandungan dilahirkan sebelum tiba waktunya menurut alam. Kejahatan terhadap jiwa seorang anak yang masih dalam kandungan ibunya. Ad. Pasal 347 KUHP. Unsur-unsurnya adalah :  Merampas jiwa seorang anak yang sedan atau tidak antara lama dilahirkan. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 81 . Ada empat macam Abortus yaitu : Yang dilakukan oleh si ibu sendiri.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI direncanakan dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun.  Dilakukan oleh orang lain dengan persetujuan si ibu.

1) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya seorang perempuan dengan ijin perempuan itu dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun 6 bulan. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun atau denda sebanyakbanyaknya Rp.Seorang dokter yang menggugurkan atau membunuh kandunan untuk menolong jiwa perempuan atau menjaga kesehatannya. 2) Jika karena perbuatan itu perempuan itu adi mati dia dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun. 347 dan 348 maka ada pasal 299 sebagai alternatifnya. Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun atau kurungan selamalamanya 1 tahun. Ad. Barangsiapa dengan sengaja mengobati seseorang perempuan atau mengerjakan sesuatu perbuatan terhadap seorang perempuan dengan memberitahukan atau menimbulkan pengharapan. Pasal 299 KUHP. Kejahatan yang diatur dalam Pasal 346.45. 347 dan 348 obyeknya adalah jiwa seorang anak. Hal ini dalam praktek sukar dibuktikan. Kejahatan terhadap jiwa orang yang dilakukan karena kelalainnya Pasal 359 KUHP. lalu kita mendapat kesulitan untuk mengarahkan kepada Pasal 346.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1) 2) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungannya seorang perempuan tidak dengan ijin perempuan itu. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 82 .Maka apabila suatu kasus terjadi. dihukum penjara selama-lamanya 15 tahun. Jika karena perbuatan itu mengakibatkan perempuan itu mati. bahwa oleh karena itu dapat gugur kandunannya. dihukum penjara selam-lamanya 12 tahun. tidak bias dihukum.000. jadi harus dibuktikan bahwa anak dalam kandungan itu keadaan hidup saat dilakukan perbuatan. Pasal 348 KUHP.

KEJAHATAN TERHADAP TUBUH MANUSIA Kejahatan ini biasa disebut Penganiayaan (mishandeling) adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan rasa sakit. luka atau perasaan tidak enak (penderitaan) kepada orang lain. 2.(2) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat. Ada dua syarat Tidak sengaja / lalai (culpa). sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun. akan tetapi kematian tersebut hanya merupakan akibat dari kurang hati-hatinya atau lalainya terdakwa. Penjelasan : Luka berat Pasal 90 KUHP. kurang waspada. dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun. (3) Jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya.4. (1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.500. 2) Akibat yang ditimbulkan karena kurang hati-hati atau kurang kewaspadaan itu harus dapat dibayangkan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Matinya orang disini tidak dimaksud sama sekali oleh terdakwa. Ada dua macam penganiayaan yaitu : 1) Penganiayaan yang dilakukan dengan sengaja. 3) Sengaja dengan adanya kemungkinan akibat lain. (5) Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum. (4) Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja. Ada tiga pengertian Sengaja (dolus) 1) Sengaja yang dimaksud. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 83 . 1) Bila dengan melakukan sesuatu perbuatan seseorang kurang berhati-hati. a) Penyakit atau luka yang tidak bisa diharapkan sembuh dengan sempurna.  Penganiayaan biasa pasal 351 KUHP. 2) Sengaja dengan adanya kepastian akibat lain.

Luka berat atau mati dalam pasal 351 hanya merupakan akibat. c) Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya ia dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun. maka penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau halangan untuk melakukan jabatan atau pekerjaan adalah penganiayaan ringan. c) d) e) f) g) Dapat mendatangkan Terus menerus tidak cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan. a) Penganiayaan yang dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun. Menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan ibu. Jika luka berat dimaksud. lumpuh. Selain dari pada apa yang tersebut dalam Pasal 353 dan 356. Dan apabila mati itu dimaksud.  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 84 .-di tambah sepertiganya.  Penganiayaan yang direncanakan lebih dahulu Pasal 353 KUHP. jika dilakukan terhadap orang yang bekerja padanya atau yang ada dibawah perintahnya. dihukum penjara selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. Penganiayaan ringan Pasal 352 KUHP. b) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat. Berubah pikiran / akal lebih dari empat minggu. jadi tidak dimaksud oleh si pembuat.4. Tidak lagi memakai salah satu panca indra. Kudung (rompang) .500.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI b) bahaya maut. sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun. maka kepada pembuat dikenakan Pasal 338 (pembunuhan). maka kepada si pembuat dikenakan Pasal 354 (penganiayaan berat).

b) Jika dilakukan terhadap pegawai negeri yang sedang menjalankan pekerjaan yang syah.Jadi akibat dari kelalaian itu adalah :  Luka berat. b) Jika perbuatan itu menjadikan kematian orangnya.500. Terhadap kejahatan yang diatur dalam Pasal 351.4. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan atau hukuman kurunan selama-lamanya 6 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. a) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 5 tahun atau hukuman kurungan selama-lamanya 1 tahun. 353. c) Jika dilakukan dengan memakai bahan yang merusak jiwa atau kesehatan orang. dengan hukuman penjara selama-lamanya 8 tahun. bapaknya. sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 10 tahun. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 85 . dihukumkarena penganiayaan berat. istrinya / suaminya atau anaknya. Apabila penganiayaan berat dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu maka ancaman hukuman lebih diperberat menjadi 12 tahun diatur dalam Pasal 355 KUHP. 354 dan 355 ancaman hukumannya dapat ditambah sepertiganya apabila : a) Jika sitersalah melakukan terhadap ibunya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI  Penganiayaan berat Pasal 354 KUHP. b) Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan pejabat atau pekerjaan sementara. 2) Penganiayaan yang dilakukan dengan tidak sengaja Pasal 360 KUHP.  Luka yang menyebabkan jatuh sakit atau terhalang pekerjaan sehari-hari. a) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain.

ia dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun.  Dilakukan dengan sengaja. Disuruh tinggal dalam suatu rumah yang luas tetapi bila dijaga dan dibatasi kebebasan hidupnya juga masuk arti kata menahan. Kejahatan terhadap kemerdekaan pribadi ada tujuh macam yaitu:  Perampasan kemerdekaan dalam bentuk pokok Pasal 333 KUHP. a) Barang siapa dengan sengaja menahan/merampas kemerdekaan orang atau meneruskan tahanan itu dengan melawan hak. KEJAHATAN TERHADAP KEMERDEKAAN ORANG Maksudnya adalah kejahatan yang ditujukan terhadap kemerdekaan pribadi dan kemerdekaan bertindak. d) Hukuman yang ditentukan dalam pasal ini dikenakan juga kepada orang yang sengaja memberi tempat untuk menahan (merampas kemerdekaan) orang dengan melawan hak. dihukum penjara selama-lamanya 8 tahun. Penjelasan : Menahan :Perbuatan merampas kemerdekaan itu dapat dijalankan misalnya dengan mengurung. mengikat dsb. baik yang dilakukan dengan sengaja maupun yang dilakukan dengan tidak sengaja. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 86 . jadi memakan waktu yang agak lama. menutup dalam kamar.  Dengan melawan hak. rumah. b) Jika perbuatan itu menyebabkan luka berat sitersalah dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun. c) Jika perbuatan itu menyebabkan matian orangnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 3. Unsur-unsurnya adalah :  Menahan atau meneruskan tahanan. Meneruskan tahanan : Perbuatan ini terdiri atas perbuatan menahan orang dan perbuatan menahan ini diteruskan (dilangsungkan). akan tetapi tidak perlu bahwa orang itu tidak dapat bergerak sama sekali.

Maksudnya : Bahwa orang yang bersangkutan sebetulnya tidak menghendaki akan ajakan atau perbuatan pembawaan dari sipenjahat tersebut. c) Perbudakan di Indonesia telah dihapus sejak 1 januari 1860 (Jaman Hindia Belanda). dihukum karena melarikan orang (menculik) dengan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun. Perniagaan budak belia Pasal 324 s/d 327 KUHP.  Melarikan orang / penculikan Pasal 328 KUHP.  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 87 . baik dengan langsung maupun dengan tidak langsung dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun. Catatan : a) Perniagaan budak belian : Perniagaan yang barang dagangannya terdiri dari orang-orang yang akan dipergunakan sebagai budak (hamba). b) Budak : Orang yang kemerdekaannya dirampas dan biasanya dipekerjakan pada seorang tuan (majikan) dengan tidak menerima upah. Barangsiapa melarikan orang dari tempat kediamannya atau tempat tinggalnya sementara. dengan maksud melawan hak akan membawa orang itu dibawah kekuasaan sendiri atau dibawah kekuasaan orang lain atau akan menjadikan dia jatuh terlantar. Barangsiapa dengan ongkos sendiri atau ongkos orang lain menjalankan pernagaan budak belian atau melakukan perbuatan perniagaan budak belian atau dengan sengaja turut campur dalam segala sesuatu itu. Unsur-unsurnya adalah : a) Membawa atau mengangkut seseorang. Perbuatan melarikan itu dilakukan dari tempat tinggalnya atau dari setiap tempat.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Contoh : A mengikat kaki dan tangan B dan ditinggalkan begitu saja oleh A. b) Perbuatan melarikan itu harus dilakukan dengan maksud : Dibawah kekuasan sendiri atau orang lain. dimana orang itu sedang berada (tempat tinggal sementara).

Pasal 330 KUHP. (4) Dilepaskan dari orang yang menurut undang-undang mempunyai kekuasan atas anak itu. a) Barangsiapa dengan sengaja mencabut orang yang belum dewasa dari kuasa yang sah atasnya dari penjagaan orang yang dengan sah menjalankan penjagaan itu. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun atau jika anak itu umurnya dibawah 12 tahun. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 88 . Penjelasan : Belum dewasa : Orang yang belum berumur 21 tahun atau belum pernah kawin. dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun. Pasal 331 KUHP. kekerasan atau ancaman dengan kekerasan atau orang yang belum dewasa umrnya dibawah 12 tahun. Unsur-unsurnya adalah : (1) Dengan sengaja.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Menjadikan jatuh terlantar.  Melarikan orang wanita Pasal 332 KUHP.  Melepaskan orang-orang yang belum dewasa dari kekuasaan atas orang itu yang menurut undang-undang berkuasa atas orang itu Pasal 330 dan 331 KUHP. b) Dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. atau barangsiapa dengan sengaja menyembunyikan anak itu dari penyelidikan dari pegawai kehakiman atau polisi. (3) Anak itu belum dewasa. jika perbuatan itu dilakukan dengan memakai tipu daya. (5) Atau dari pengawasan orang yang berhak melakukan pengawasan itu. c) Perbuatan mana bertentangan dengan hukum. Barangsiapa dengan sengaja menyembunyikan orang yang belum dewasa yang dicabut atau mencabut dirinya dari kuasa yang sah atasnya atau dari penjagaan orang yang sah menjaga dia. (2) Melepaskan seorang anak. dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun.

Catatan : Unsur memiliki wanita artinya untuk melakukan persetubuhan dengan wanita yang belumdewasa itu baik dengan nikah atau tidak. (b) Wanita itu belum dewasa (21 tahun). (e) Dengan tujuan untuk memiliki wanita yang belum dewasa itu dengan nikah ataupun tidak dengan nikah. kekerasan atau ancaman kekerasan. (d) Akan tetapi dengan persetujuan wanita yang belum dewasa itu sendiri. Unsur-unsurnya adalah : (a) Melarikan wanita. tetapi dengan kemauan perempuan itu sendiri dengan maksud akan mempunyai perempuan itu baik dengan nikah maupun tidak dengan nikah. Unsur-unsurnya adalah : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 89 . Dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. (1) Melarikan wanita yang belum dewasa Pasal 332 (1) 1e KUHP. (2) Melarikan setiap orang wanita Pasal 332 (1) 2e KUHP. Dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun barangsiapa melarikan perempuan yang belum dewasa tidak dengan kemauan orang tuanya atau walinya. Walaupun persetubuhan belum terjadi asalkan maksud sudah ada. b) Melarikan setiap orang wanita. dengan maksud akan mempunyai perempuan itu baik dengan nikah maupun tidak dengan nikah. (c) Tidak dengan persetujuan orang tua atau walinya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kejahatan ini biasa disebut schaking dan ada dua macam yaitu : a) Melarikan wanita yang belum dewasa. maka kejahatan sudah terjadi. barangsiapa melarikan perempuan dengan tipu.

Unsur-unsurnya : a) Perbuatan dengan sengaja. b) Untuk mengangkut / membawa. (c) Dilakukan dengan daya upaya : Tipu muslihat. sedang ia menurut perjanjian harus melakukan pekerjaan didaerah tertentu Pasal 329 KUHP. yaitu orang yang telah membuat perjanjian untuk melakukan suatu pekerjaan dalam suatu tempat yang tertentu. hingga orang jadi tertahan atau terus tertahan dengan melawn hak.- KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 90 .  akan Menahan orang karena lalai Pasal 334 KUHP. Kekerasan atau ancaman kekerasan. dihukum kurungan selamalamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. e) Bertentangan dengan hukum.4.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (a) Melarikan (b) Seorang wanita (dewasa atau belum). Kejahatan ini adalah delict aduan.500 . (2) Bagi melarikan setiap orang wanita adalah wanita itu sendiri atau suaminya. d) Dibawa kedaerah lain. dihukum penjara selamalamanya 7 tahun. adapun pengaduannya dilakukan oleh : (1) Wanita yang belum dewasa itu sendiri atau oleh orang yang berhak memberikan izin kepada wanita itu guna melakukan perkawinan (walinya). a) Barang siapa yang karena salahnya.  Dengan sengaja membawa seseorang kedaerah lain. c) Orang yang telah membuat perjanjian melakukan suatu pekerjaan didaerah tertentu. (d) Dengan tujuan untuk memiliki perempuan itu baik dengan nikah maupun tidak dengan nikah. Barangsiapa dengan sengaja dengan melawan hak membawa orang ketempat lain dari pada yang dijanjikan.

(1) (2) Untuk : melakukan sesuatu. b) Terhadap (2) hanya dituntut atas pengaduan dari orang yang terkena kejahatan itu.4. Perbuatan lain. tiada melakukan atau membiarkan barang sesuatu apa dengan kekerasan. membiarkan sesuatu. Ancaman perbuatan lain. Ancaman perbuatan yang tidak menyenangkan. tidak melakukan atau membiarkan barang sesuatu apa. akan melakukan sesuatu itu. baik terhadap orang itu maupun orang lain. ancaman dengan suatu perbuatan lain. ataupun ancaman dengan perbuatan yang tidak menyenangkan. Unsur-unsurnya adalah :  Melawan hak / bertentangan dengan hukum. ia dihukum kurungan selama-lamanya 1 tahun. Akan melakukan itu terhadap orang lain atau terhadap pihak ke tiga. (2) Barangsiapa memaksa orang lain dengan ancaman penistaan lisan atau penistaan tertulis supaya ia melakukan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Jika karena perbuatan itu menyebabkan lika berat. dihukum kurungan selamalamanya 9 bulan. tidak melakukan sesuatu. dengan sesuatu perbuatan lain ataupun dengan perbuatan yang tidak menyenangkan atau dengan ancaman kekerasan. Dengan daya upaya : Kekerasan.500.(1) Barangsiapa melawan hak memaksa orang lain untuk melakukan.  Memaksa orang lain. Ancaman kekerasan. Kejahatan terhadap kemerdekaan untuk bertindak Pasal 335 KUHP a) Dihukum penjara selama-lamanya 1 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. b) (3) Contoh : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 91 . c) Jika perbuatan itu menyebabkan orangnya mati. Perbuatan yang tidak menyenangkan.

maka montir tersebut dikenakan pasal ini. b) Dengan kekerasan yang dilakukan oleh lebih dari seorang dengan secara terbuka. (2) Pelanggaran kesusilaan. maka supaya si A cepat mengambil mobilnya dia mengancam akan merusak kembali mobil A. maka oleh paksaan itu jadi tidak berbuat (dihalang-halangi). Pasal 336 KUHP dihukum selama-lamanya 2 tahun 8 bulan a) Mengancam. bicara dll ). sehingga menimbulkan rasa takut pada orang lain. c) Kejahatan yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan orang atau benda ( barang) yaitu : (1) Perkosaan. KEJAHATAN TERHADAP KEHORMATAN ORANG kejahatan ini adalah Istilah yang biasa dipakai terhadap Penghinaan (belediging) atau menista. maka ancaman hukuman lebih diperberat 5 tahun penjara ( lihat Pasal 336 ayat 2 ) 4. (4) Tidak melakukan sesuatu : Seseorang mempunyai kehendak untuk berbuat sesuatu. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 92 . padahal adanya mobil A ditempat itu mengganggu pekerjaan simontir. (3) Melakukan sesuatu : Melakukan suatu perbuatan yang sifatnya positif ( menulis. (3) Kejahatan terhadap jiwa orang. (5) Membiarkan sesuatu : Orang dipaksa mengalami suatu keadaan yang sebetulnya tidak dikehendaki. (5) Pembakaran. (2) Memaksa : Sesuatu perbuatan sedemikian rupa. Catatan : (1) Perbuatanlain : Setiap perbuatan yang tidak terdiri atas kata-kata.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Seorang montir mobil telah selesai memperbaiki mobil A. tapi oleh A lama tidak diambil. Apabila ancaman itu dilakukan dengan tertulis. (4) Penganiayaan berat.

Perbuatan menyebarkan. c) Tulisan yang mengandung hinaan. b) Dimana tempat dilakukan. b) Melanggar / merusak kehormatan atau nama baik orang. sehingga orang yang dihina akan merasa malu. c) Kapan waktunya dilakukan perbuatan itu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Penghinaan adalah pelanggaran kehormatan seseorang. atau perkosaan terhadap Kehormatan adalah sesuatu yang menyangkut atas harga diri atau martabat manusia. c) Dengan menuduh melakukan suatu perbuatan. Kejahatan ini tidak usah dilakukan ditempat umum. Mempertunjukan. Tujuan si pembuat yaitu tersiarnya tuduhan. Kejahatan ini unsur-unsurnya adalah : a) Dengan sengaja. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 93 .  Memfitnah ( laster ) Pasal 311 KUHP. sehingga dapat dibaca atau diketahui oleh orang lain. Di dalam KUHP ada beberapa macam penghinaan yaitu :  Menista dengan lisan ( smaad ) Pasal 310 ayat 1 KUHP. Melakukan suatu perbuatan. hanya daya upayanya yang berbeda yaitu dilakukan dengan : a) Menyebarkan. Kehormatan disini tidak berhubungan dengan masalah seks ( birahi ) tetapi mengenai nama baik. Jadi perbuatan itu harus ditujukan terhadap orang tertentu. Menempelkan. mempertunjukan atau menempelkan itu harus demikian rupa. d) Dengan maksud tersiarnya tuduhan itu. b) Tulisan atau. Jenis kejahatan ini sama dengan menista dengan lisan.  Menista dengan tulisan ( smaadschrif ) Pasal 310 ayat 2 KUHP. maksudnya ialah bahwa perbuatan yang dituduhkan itu harus dinyatakan dengan tegas : a) Siapa yang melakukan.

maka penuntutan terhadap sipenuduh harus ditangguhkan sampai dijatuhkan keputusan hakim terhadap siterdakwa. Apakah kekuasaan hakim itu tidak terbatas ? Kekuasaan hakim itu terbatas yaitu jika perbuatan yang dituduhkan adalah delict aduan dan belum ada pengaduan terhadap perbuatan itu. Selain itu perhatikan Pasal 314 KUHP. maka sipemfitnah tidak boleh dituntut. jika keputusan hakin itu merupakan bukti. 2) Siterdakwa dibebaskan. Jadi hakim hanya memberi kesempatan kepada : a) Apabila menurut pendapat hakim perlu diberi kesempatan kepada sipemfitnah untuk menyelidiki kebenaran tuduhannya itu dan apakah tuduhan itu betul dilakukan untuk kepentingan umum atau membela diri. d) Tuduhan itu dilakukan dengan sengaja. 1) Apabila seorang yang dituduh itu diproses sampai dipersalah kan oleh hakim jadi apa yang dituduhkan itu dapat dibuktikan. ( baca pasal 313 ). Unsur-unsurnya adalah : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 94 .  Penghinaan biasa Pasal 315 KUHP. b) Apabila perbuatan Smaad atau Smaadschrif itu dilakukan terhadap seorang pegawai negeri yang dituduh telah melakukan perbuatan didalam tugasnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kejahatan memfitnah terjadi apabila : a) Seseorang melakukan Smaad atau Smaadschrift b) Apabila orang ang melakukan itu diberi kesempatan untuk membuktikan kebenaran tuduhannya. Yang memberi kesempatan adalah hakim dan dalam hal ini ada aturan mainnya yang diterangkan dalam Pasal 312 KUHP. bahwa tuduhan yang dilancarkan adalah tidak benar dan oleh karena itu sipenuduh dapat dihukum. c) Jika ia tidak dapat membuktikan kebenaran tuduhannya. 3) Apa bila penuntutan terhadap siterdakwa sudah dimulai.

Kejahatan ini adalah delict aduan. (2) Dilakukan dimuka orang yang dihina baik dengan lisan atau dengan perbuatan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI a) b) Setiap penghinaan yang dibuat dengan sengaja. Penghinaan itu tidak bersifat Smaad atau Smaadschrif. c) Cara melakukannya : (1) Dilakukan ditempat umum dengan lisan atau tertulis. Laporan / pengaduan palsu yang tidak dengan maksud menyerang nama baik orang lain dikenakan Pasal 220 KUHP. c) Dilakukan dengan sengaja. Pengaduan / laporan tertulis itu tidak harus ditanda tangani. sedangkan dalam Pasal 315 dilakukan tidak dengan menuduh melakukan perbuatan tertentu. d) Laporan / Pengaduan itu disampaikan kepada penguasa ( polisi. f) Laporan / pengaduan itu menjadikan kehormatan atau nama baik orang tertentu itu dilanggar ( tersinggung ). Jaksa ). cukup bila pembuatnya sudah jelas. Barangsiapa yang memberitahukan atau mengadukan bahwa ada terjadi suatu perbuatan yang dapat dihukum. Unsur-unsurnya adalah : a) Menyampaikan laporan atau pengaduan yang palsu. Perbedaan antara Pasal 315 dan Pasal 310 adalah bahwa Pasal 310 dilakukan dengan menuduh melakukan perbuatan tertentu. b) Dengan cara tertulis atau sipenjahat menyampaikan laporan / pengaduan dengan lisan dan ditulis oleh yang menerimanya. (3) Secara tertulis yang dikirim atau disampaikan kepada yang dihina. e) Laporan / pengaduan itu harus mengenai orang tertentu. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 95 . Contoh : A mengatakan kepada B “ anjing kamu “  Pengaduan palsu dengan memfitnah Pasal 317 KUHP.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

sedang ia tahu bahwa perbuatan itu sebenarnya tidak ada, dihukum penjara selama-lamanya 1 tahun 4 bulan.  Penghinaan terhadap orang yang telah meninggal Pasal 320, 321 KUHP. Pasal 320 KUHP. Unsur-unsurnya adalah : a) Melakukan perbuatan Smaad atau Smaadschrift. b) Perbuatan itu ditujukan terhadap orang yang sudah meninggal dunia. Kejahatan ini adalah delict aduan dan yang berhak mengadu adalah :  Sanak saudara dalam keturunan lurus dan keturunan garis menyimpang sampai derajat kedua.  Suami atau isterinya. Pasal 321 KUHP mengatur tentang menyiarkan kejahatan dalam bentuk Pasal 320 KUHP dengan maksut agar tulisan atau gambar itu tersiar atau lebih tersiar lagi. Menyiarkan gambar / tulisan yang isinya penghinaan biasa Pasal 315, tidak bisa dihukum. Unsur-unsurnya adalah : a) Menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan. b) Suatu tulisan atau gambar. c) Isinya menghina atau menista orang yang sudah mati. Dengan maksud, supaya isi tulisan atau gambar yang menghina atau menista tadi tersiar atu lebih tersiar.  Penghinaan terhadap badan resmi Pasal 207 KUHP. Unsur-unsurnya adalah : a) Perbuatan dilakukan dengan sengaja. b) Yang berupa penghinaan.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

96

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

c) umum. d) atau tulisan. e)

Dilakukan dimuka Caranya dengan lisan Ditujukan terhadap suatu kekuasaan umum yang ada di negara RI atau suatu majelis umum.

Kekuasaan umum yaitu : Gubernur, Bupati, Polisi dan Camat. Majelis umum : DPR dan DPRD.  Penghinaan terhadap Kepala Negara Pasal 134 KUHP. Penghinaan dengan sengaja terhadap presiden atau wakil presiden dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya 6 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,Pasal ini mengancam orang yang dengan sengaja ( dia tahu betul ) melakukan penghinaan ( Pasal 310 s/d 321 ) terhadap presiden atau wakil presiden. Jadi kalau dia tidak tahu bahwa yang dihina itu presiden atau wakil presiden, tidak dapat dikenakan pasal ini . Ada juga aturan khusus sebagaimana diatur pasal 136 bis yaitu : Bahwa bagi Pasal 134, beberapa kemungkinankemungkinan yang tersebut dalam Pasal 315 lebih diperluas yaitu bahwa perbuatan itu tidak perlu ditempat umum, cukup dimuka lebih 4 orang atau dihadapan orang lain yang hadir tidak dengan kemauannya dan merasa tersentuh hatinya oleh penghinaan itu.  Penghinaan terhadap Kepala Negara Asing Pasal 142 KUHP. Dengan sengaja menghina raja yang memerintah atau kepala negara asing yang bersahabat, dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,Penghinaan terhadap wakil negara asing Pasal 143 KUHP.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

97

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Dengan sengaja menghina wakil negara asing pada pemerintah Indonesia dalam pangkatnya dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,Wakil negara asing adalah duta atau konsul negara asing yang ada di Indonesia, penghinaan ditujukan kepada pangkatnya dan kedudukannya ( jabatannya ) , jadi kalau terhadap orangnya sebagai individu berlaku ketentuan umum ( Pasal 310 – 321 ). 5. KEJAHATAN TERHADAP KESOPANAN

Istilah kesopanan mengandung arti kesusilaan yaitu perasan malu yang berhubungan dengan nafsu kelamin misalnya : Bersetubuh , meraba buah dada orang perempuan , meraba kemaluan wanita / pria, meperlihatkan alat vital, mencium atau gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan nafsu birahi. Adapun ukuran kesopanan ini dapat berkembang melihat kondisi tempat dan keadaan zaman, serta pendat umum masyarakat. Termasuk dalam kategori kejahatan terhadap kesopanan ini adalah :  Kejahatan merusak kesopanan Pasal 281 KUHP. Dihukum penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,a) Barangsiapa sengaja merusak kesopanan dimuka umum. b) Barangsiapa merusak kesopanan dimuka orang lain, yang hadir tidak dengan kemauannya sendiri. Suami isteri melakukan persetubuhan atau bermesraan ditempat yang dapat dilihat orang lain, asalkan disengaja perbuatan itu dapat dikenakan pasal ini.  Kejahatan persetubuhan. a) Pasal 284 KUHP tentang Zina. Yang dihukum berdasarkan pasal ini yaitu : (1) Laki-laki beristri, berbuat zina. (2) Perempuan bersuami berbuat zina.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

98

tidak dapat dihukum. Jadi apabila persetubuhan itu dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang tidak kawin (lajang) duda. Pasal 287 KUHP. Pingsan dan tidak berdayanya perempuan itu bukan perbuatan sipenjahat. sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. dengan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun. Pasal 286 KUHP Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan isterinya. perawan (janda) dengan perempuan atau laki-laki yang tidak kawin juga ini tidak termasuk kejahatan perzinaan sebagaimana diatur Pasal 284 KUHP. Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia dihukum karena memperkosa. Pingsan : tidak ingat atau tidak sadar akan dirinya. kalau yang membuat pingsan sipenjahat maka dikenakan Pasal 285 KUHP. b) Pasal 285 KUHP tentang Perkosaan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (3) Laki-laki yang turut melakukan. Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan isterinya. (4) Perempuan tidak bersuami turut melakukan sedang diketahui bahwa kawannya itu beristri. sedang diketahui bahwa perempuan itu pingsan atau tidak berdaya dihukum penjara selamalamanya 9 tahun. Kalau perempuan memaksa laki-laki bukan suaminya untuk bersetubuh. sedang diketahui dan harus jelas KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 99 . Tidak berdaya : Tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali. sedang diketahui kawannya bersuami. karena laki-laki yang dipaksa tersebut dipandang tidak mendapat kerugian. sehingga tidak dapat melakukan perlawanan sedikitpun.

kecuali bila perempuan itu belum berumur 12 tahun atau berakibat luka berat atau mati. Pasal 288 KUHP. (1) Memaksa. Perbuatan cabul ialah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan keji. (1) Melakukan perbuatan cabul dengan orang yang diketahuinya pingsan atau tidak berdaya. a) Pasal 289 KUHP. bahwa umur perempuan itu belum cukup 15 tahun.  Kejahatan percabulan. Kejahatan Percabulan diatur dalam Pasal 289 s/d 296 KUHP. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 100 . kalau tidak nyata berapa umurnya bahwa perempuan itu belum masanya untuk kawin. meraba buah dada perempuan dsb. meraba kemaluan. Kalau akibatnya luka berat ancaman hukumanya menjadi 8 tahun. dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun. Barangsiapa bersetubuh dengan isterinya yang diketahuinya atau harus patut disangkanya. Kejahatan ini adalah delict aduan. Misalnya : Cium-ciuman. (2) Seseorang melakuka atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul. dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun kalau perbuatan itu berakibat badan perempuan itu mendapat luka. Kalau akibatnya mati maka ancaman hukuman 12 tahun.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI disangkanya. (3) Dengan cara kekerasan atau ancaman kekerasan b) Pasal 290 KUHP. bahwa perempuan itu belum masanya buat dikawinkan . yang semuanya dalam lingkup nafsu birahi kelamin.

Pasal 295 KUHP. (1) Sengaja memudahkan perbuatan cabul yang dikerjakan oleh anaknya. (1) Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap : (a) Anaknya yang belum dewasa.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (2) (3) Melakukan perbuatan cabul dengan orang yang diketahuinya atau patut disangkanya umurnya belum cukup 15 tahun atau belum masanya dikawinkan. untuk melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul. anak asuhnya yang belum dewasa. Membujuk orang belum dewasa yang tidak cacat kelakuannya. Pasal 294 KUHP. (2) Pegawai negeri yang melakukan cabul dengan bawahannya atau dengan orang yang dipercayakan padanya untuk dijaga. Membujuk orang yang belum cukup 15 tahun atau belum masanya dikawinkan . Dewasa : telah berumur 21 tahun atau sudah pernah kawin. (c) Anak peliharaannya yang belum dewasa. Pasal 293 KUHP. c) Pasal 292 KUHP Orang dewasa melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama. (b) Anak tiri. (d) Orang yang dibawah kuasanya yang belum dewasa. guru. (3) Pengurus. anak pungut. d) e) f) g) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 101 . Pasal 296 KUHP. suatu balai social yang berbuat cabul dengan anak asuhannya. (2) Sengaja menimbulkan perbuatan cabul pada orang lain terhadap orang yang belum dewasa. melakukan perbuatan cabul atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul pada dirinya.

Terhadap segala perbuatan melanggar kesopanan. Kalau laki-laki bisa untuk dipekerjakan atau pemuas wanitawanita.  Perniagaan anak297 KUHP. Memperniagakan perempuan dan memperniagakan laki-laki yang belum dewasa. dengan imbalan uang yang ditentukan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Sebagai mata pencaharian atai kebiasaannya sengaja memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain. persetubuhan atau pencabulan yang mengakibatkan orangnya mendapat luka berat atau mati maka ancaman hukuman diperberat lihat pasal 291 KUHP. Perniagaan / perdagangan perempuan : mencari perempuan muda untuk ditempatkan ditempat pelacuran. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 102 . dihukum penjara selama-lamanya 6 tahun. Menjelaskan kejahatan pencurian. diharapkan Siswa mampu : 1. BAB VIII KEJAHATAN TERHADAP BARANG DAN KEJAHATAN TERHADAP KEKUASAAN UMUM Kompetensi Dasar Memahami Kejahatan terhadap barang Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab VIII .

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2. Menjelaskan kejahatan penipuan. 4. dengan maksud untuk dimiliki dan dengan melawan hukum. Menjelaskan kejahatan pemerasan dan pengancaman. KEJAHATAN TERHADAP BARANG 1. Menjelaskan kejahatan penggelapan. Menjelaskan kejahatan pertolongan jahat. 3. dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak. Ada 5 ( lima ) macam Pencurian : 1) Pencurian dalam bentuk pokok Pasal 362 KUHP. 6. Barangsiapa mengambil sesuatu barang. Menjelaskan kejahatan menghancurkan atau merusak barang. 5. PENCURIAN Yang disebut kejahatan pencurian adalah perbuatan mengambil suatu barang yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain. yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain.- KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 103 .900. dihukum karena pencurian dengan hukuman penjara selama lamanya lima tahun atau denda sebanyakbanyaknya Rp.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kejahatan ini disebut dengan pencurian biasa. tetapi memegang saja juga tidak cukup.Barang milik sendiri.Pencurian uang di bank dengan menggunakan computer dll. Contoh : . Hanya barang yang bergerak dapat diambil. Ada barang yang tidak dapat dicuri yaitu : . pada umumnya penjahat harus membawa barang itu ada padanya dan dibawah kekuasaannya. Adapun penafsiran unsur-unsur pencurian adalah : a) Mengambil. . binatang di hutan. kecuali ada aturan khusus yang mengaturnya.Buah dapat diambil dari pohonnya. b) Barang.Pencurian pulsa telepun. . adapun unsur-unsurnya adalah :  Mengambil  Suatu barang yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain  Dengan maksud memiliki barang itu  Dengan melawan hak Seseorang baru dapat dianggap melakukan pencurian jika keempat unsur tersebut terpenuhi.Pencurian arus listrik. Mengambil itu tidak usah memindahkan dari tempat semula. apabila salah satu unsur tidak ada maka perbuatan itu bukan pencurian. Adalah barang-barang baik yang berwujud atau tidak berwujud yang mempunyai nilai ekonomis. . Pengertian tersebut dapat diperluas dengan melihat situasi dan perkembangan jaman. barang tidak bergerak tidak dapat diambil kecuali bagian-bagiannya. Artinya membawa suatu barang dibawah kekuasaannya secara nyata dan mutlak. jadi barang itu lepas dari kekuasaan pemiliknya.Pintu/cendela dapat diambil dari rumahnya dll. . Contoh : . KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 104 .Barang tidak ada pemiliknya (res nullius) contoh : Ikan disungai/laut.

tidak untuk dipinjam atau sekedar kelakar. maka kepada pemungut dikenakan penggelapan. Jadi unsur sengaja ditujukan kepada maksud/hendak untuk memiliki barang yang diambilnya untuk dimilikinya sendiri atau mengambil barang itu harus mengandung maksud untuk memilikinya sendiri. merusakan. c) Dengan maksud memiliki barang itu. Pengertian dengan maksud ialah adanya unsur sengaja (ofzet) dia mau dan tahu atas perbuatannya. d) Dengan melawan hak. (bee derelictae) contoh : sepatu butut dibuang ketempat sampah. menghadiahkan. menghilangkan). Unsure untuk memiliki sendiri itu tidak usah selesai. bila saat memungut barang itu berniat untuk memilikinya maka sudah terjadi pencurian. telah cukup bahwa barang itu kepunyaan orang lain. Jadi tetap barang temuan ini tergantung pada keadaan maksud si pembuat. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 105 . cukup jika maksudnya itu sudah ada. Bagaimana dengan barang temuan. 2) Pencurian pemberatan Pasal 363 KUHP. Melawan hak (melawan hukum) maksudnya bahwa barang yang diambil adalah tidak dengan hak atau kekuasaan sendiri.terhadap barang itu tidak harus diketahui sipa pemiliknya. bukan milik sipembuat. Jika pemungut berniat untuk menyerahkan pada yang berwajib dan kemudian timbul pemikiran untuk memiliki sendiri. Yang jelas barang temuan tersebut adalah milik orang lain seluruhnya atau sebagian.Memiliki adalah setiap perbuatan yang terdiri atas penguasaan sesuatu barang seolah-olah dia adalah pemiliknya (menjual. Barang bukan haknya atau bukan miliknya atau barang yang bukan dibawah kekuasaanya sendiri diambil dan dimiliki. Yang dimaksud pencurian dengan pemberatan (gequalificeerd) adalah perbuatan pencurian yang memiliki unsur-unsur dari pada pencurian dalam bentuk pokok ditambah unsur-unsur lain sehingga ancamannya diperberat.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI - Barang yang hak miliknya telah dilepaskan oleh pemiliknya.

banjir. pemberontakan atau kesengsaraan dimasa perang. (b) Pencuri an pada waktu kebakaran. dilakukan oleh orang yang ada disitu tiada dengan setahunya atau bertentangan dengan dengan kemauannya orang yang berhak (yang punya). huru hara. Yaitu masa diantara matahari terbenam dan matahari terbit. (d) Pencuri an dilakukan oleh dua orang bersama-sama atau lebih. Jika pencurian yang diterangkan dalam huruf (c) disertai dengan salah satu hal yang tersebut dalam (d) dan (e) dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun. kapal karam. makan. perintah palsu atau pakaian jabatan palsu. (e) Pencuri an yang dilakukan oleh tersalah dengan masuk ketempat kejahatan itu atau dapat mencapai barang untuk (f) diambil nya. kapal terdampar. gempa bumi atau gempa laut. letusan gunung berapi. c) Rumah Yaitu setiap tempat yang dipergunakan untuk tempat tinggal (didiami. dengan jalan membongkar. b) Malam Pasal 98 KUHP. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 106 . binatang yang memamah biak dan babi. (c) Pencuri an pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan yang tertutup yang ada rumahnya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun dihukum : (a) Pencuri an Hewan. tidur. letusan. memecah atau memanjat atau dengan jalan memakai kunci palsu. Yang dikatakan hewan yaitu binatang yan berkuku satu. Pengertian – pengertian : a) Hewan Pasal 101 KUHP. kecelakaan kereta api. buang air dll).

Pakaian yang dipakai oleh seseorang yang tidak berhak memakainya. tetapi tidak dipakai keluar masuk. Pakaian palsu. Adalah sebidang tanah yang dibatasi dengan batasbatas yang jelas misalnya selokan. Kunci palsu Pasal 100 KUHP. Yang masuk sebutan kunci palsu yaitu sekalian perkakas yang gunanya tidak untuk membuka kunci itu. jendela. Pada hakekatnya adalah perbuatan naik/panjat. pintu. Contah : Polisi gadungan. memecah kaca jendela. padahal sebenarnya bukan. putus atau pecah. Dengan melalui lobang didalam tanah yang sengaja digali. jadi perintah itu kelihatannya seperti perintah asli yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwajib. semua benda atau perkakas seperti kawat. Memecah.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI d) e) f) g) h) i) j) Halaman tertutup. Merusak barang yang agak besar misalnya membongkar tembok. pagar batu dll. Membongkar. menggangsir. Perintah palsu. rumah. peti dll. Disini harus ada barang yang rusak. anak kunci yang hilang dari tangan yang berhak. Melalui selokan atau parit yang digunakan sebagai batas. Anak kunci palsu yaitu segala macam anak kunci yang dipergunakan oleh yang tidak berhak untuk membuka kunci dari sesuatu barang seperti : lemari. paku yang tidak berupa kunci. Anak kunci duplikat. apabila dipergunakan oleh yang tidak berhak termasuk anak kunci palsu. Yaitu perintah tertulis atau lisan yang tidak sah. Terhadap pencurian yang dilakukan dua orang atau lebih disertai b) s/d j) ancaman hukumannya lebih diperberat menjadi sembilan tahun. Yang masuk sebutan memanjat yaitu : Masuk melalui lubang yang sudah ada. Memanjat Pasal 99 KUHP. Merusak barang yang agak kecil. contoh memecah peti kecil. petugas PLN gadungan dll. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 107 .

250. Meskipun harga barang yang dicuri tidak lebih dari Rp. 250. 250.. Menurut Pasal 89 KUHP yang disamakan dengan kekerasan adalah membuat orang mejadi pingsan atau tidak berdaya lagi. 900. 250. Yang dinamakan pencurian ringan yaitu : (1) Pencurian biasa Pasal 362 tapi harga barang tidak lebih dari Rp. Ialah pencurian yang didahului serta diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.dan tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau dalam pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Jadi pasal ini memberi keluasan pengertian tentang kekerasan.tidak bisa menjadi pencurian ringan yaitu terhadap : (1) Pencurian Hewan (2) Pencurian Waktu ada kekacauan (3) Pencurian malam hari dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup dsb. tidak masuk pencurian ringan (mencuri surat wasiat.(3) Pencurian pemberatan Pasal 363 (dengan membongkar) tapi harga barang tidak lebih dari Rp. Tidak berdaya artinya tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali. karena yang dilihat adalah akibat dari perbuatan itu membuat orang pingsan atau tidak berdaya lagi. Pingsan artinya tidak ingat atau tidak sadar akan dirinya. sehingga tidak dapat mengadakan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 108 . (4) Pencurian dengan kekerasan Pencurian barang yang harganya tidak dapat dinilai dengan uang.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 3) Pencurian ringan Pasal 364 KUHP.- 4) Pencurian dengan kekerasan atau ancaman kekerasan Pasal 365 KUHP. Ancaman hukuman pencurian ringan adalah hukuman penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. barang koleksi dll). Contoh: orang diberi obat.(2) Pencurian pemberatan Pasal 363 (berkawan) tapi harga barang tidak lebih dari Rp.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI perlawanan sedikitpun contoh : orang diikat kaki dan tangannya. Hukuman mati atau hukuman seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya 20 tahun dijatuhkan.dilakukan oleh 2 orang bersama-sama atau lebih disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam huruf a dan c. disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang. (d) Jika perbuatan itu menjadikan ada orang mendapatkan luka berat. (c) Jika masuk ketempat melakukan kejahatan itu dengan jalan membongkar atau memanjat atau dengan jalan memakai kunci palsu. (2) (3) (4) KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 109 . (1) Dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. dihukum pencurian yang didahului. (b) Jika perbuatan itu dilakukan oleh dua orang bersamasama atau lebih. Hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun dijatuhkan jika karena perbuatan itu ada orang mati. dimasukan dalam kamar terkunci dll. dengan maksud akan menyiapkan atau memudahkan pencurian itu atau jika tertangkap tangan supaya ada kesempatan bagi dirinya sendiri atau bagi kawannya yang turut melakukan kejahatan itu akan melarikan diri atau supaya barang yang dicuri itu tetap ada ditangannya. perintah palsu atau pakaian jabatan palsu. Hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun dijatuhkan : (a) Jika perbuatan itu dilakukan pada malam hari dalam sebuah rumah atau pekarangan yang tertutup yang ada rumahnya atau dijalan umum atau didalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. jika perbuatan itu menjadikan ada orang yang mendapat luka berat atau mati.

kudung (romping).   KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 110 . menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan ibu. supaya orang itu memberikan barang. lumpuh.  Pencurian dalam perkawinan tidak dapat dituntut baik suami maupun istri. yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain atau supaya orang itu membuat utang atau menghapuskan piutang. 2. maka apabila kematian itu dimaksudkan sipembuat dia dikenakan kejahatan pembunuhan. Luka berat Pasal 90 ialah penyakit atau luka yang tidak dapat diharapkan sembuh lagi dengan sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut. Unsur-unsur kejahatan pemerasan . 5) Pencurian dalam keluarga Pasal 367 KUHP. Ketentuan dalam Pasal 365 ayat 2. memaksa orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. tidak lagi mekai salah satu panca indra. Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak.1.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kematian dalam kejahatan ini tidak dimaksudkan oleh sipembuat. dihukum karena memeras dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun. alasannya adalah supaya hubungan perkawinan tidak dikeruhkan. 2. Unsur Obyektif : (1) Memaksa. terus menerus tidak cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan. berubah pikiran (akal) lebih dari empat minggu lamanya. 3 dan 4 berlaku bagi kejahatan ini.  Pencurian yang merupakan delic aduan : a) Jika orang itu sudah bercerai dari meja dan tempat tidur atau terpisah dalam harta benda. PEMERASAN DAN PENGANCAMAN Pemerasan Pasal 368 KUHP. b) Jika orang itu keluarga sedarah atau keluarga perkawinan baik dalam keturunan yang lurus maupun keturunan yang menyimpang dalam derajat kedua dari penderita.

Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak. supaya orang itu memberikan suatu barang yang seluruh atau sebagian termasuk kepunyaan orang itu sendiri atau kepunyaan orang lain atau supaya orang itu membuat utang atau menghapuskan piutang. Beda yang menyolok antara kejahatan pemerasan dengan pencurian dengan kekerasan adalah terletak pada pindahnya barang. Unsur Obyektif : (1) Memaksa. (2) Orang lain. (a) Membuat utang. b. pada kejahatan 365 barang tersebut diambil oleh penjahat sedangkan pada kejahatan 368 barang tersebut diserahkan oleh penderita. (b) Menghapuskan piutang. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun. memaksa orang dengan ancaman akan menista dengan lisan atau tulisan atau dengan ancaman akan membuka rahasia. Unsur Subyektif : (1) Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Membuat utang. 2. Menyerahkan barang yang seluruh atau sebagian milik orang lain (pihak ketiga). (2) Bertentangan dengan hukum (melawan hak). Kejahatan ini hanya dituntut atas pengaduan orang yang dikenakan kejahatan itu. Dengan daya upaya kekerasan atau ancaman kekerasan.  KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 111 . Unsur-unsur kejahatan pengancaman. Menghapuskan piutang. Memaksa yaitu melakukan tekanan sehingga seseorang melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendaknya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (2) (3) (4) Orang lain. a. (3) Menyerahkan barang yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain.2.  Pengancaman Pasal 369 KUHP.

(2) Bertentangan dengan hukum. Unsur Subyektif : (1) Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. digadaikan).  Suatu barang seluruh atau sebagian milik orang lain. PENGGELAPAN Ada banyak kemiripan antara kajahatan penggelapan dengan kejahatan pencurian.2. Menista (menghina) artinya menyerang kehormatan dan nama baik seseorang. 900. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 112 . dititipkan.  Bertentangan dengan hukum (melawan hak). 3.Adapun unsur-unsurnya adalah :  Memiliki. Ada 4 macam peggelapan : 3. Rahasia ialah barang sesuatu yang hanya diketahui oleh yang berkepentingan. sedangkan pada penggelapan. 3. barang tersebut sudah berada pada tangan penjahat bukan karena kejahatan (disimpankan. dihukum karena penggelapan barang dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.  Barang itu ada padanya bukan karena kejahatan. sedangkan orang lain belum mengetahuinya. dimana pada pencurian barang tersebut diambil oleh penjahat.1. Penggelapan ringan Pasal 373 KUHP. maka kita harus hati-hati betul. Perbedaan yang pokok antara penggelapan dengan pencurian yaitu terletak pada obyek barang. sehingga akan merasa malu.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (4) Daya upaya dengan ancaman menista dengan lisan atau tulisan atau mengumumkan suatu rahasia.  Dengan sengaja. Barang siapa yang sengala memiliki dengan melawan hak suatu barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain dan barang itu ada padanya bukan karena kejahatan. Penggelapan dalam bentuk pokok Pasal 372 KUHP.

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

Adalah penggelapan dalam bentuk pokok pasal 372 tetapi :  Obyeknya bukan hewan.  Harga obyek tidak lebih dari Rp. 250,- atau harga obyek tidak dapat dinilai dengan uang. 3.3. Penggelapan dengan pemberatan Pasal 374 KUHP. Unsur-unsurnya adalah :  Unsur penggelapan pokok.  Oleh seseorang.  Suatu benda.  Dibawah kekuasaannya karena : a) Hubungan pekerjaan. b) Mata pencaharian. c) Mendapat upah uang. Jadi yang memberatkan adalah barang ada dibawah kuasanya dan ketiga unsur tersebut sehingga ancaman hukuman penjara maximal 5 tahun. Dalam Pasal 375 KUHP ancamannya diperberat menjadi 6 tahun jika penggelapan itu dilakukan oleh : (1) Orang yang karena terpaksa disuruh menyimpan barang itu (ada kekacauan, banjir dll ) (2) Wali. (3) Curator. (4) Pengurus. (5) Orang menjalankan wasiat. (6) Pengurus balai derma. Atau barang yang digelapkan itu dikuasainya karena jabatannya. 3.4. Penggelapan dalam keluarga Pasal 376.. Penjelasannya sama dengan pencurian dalam keluarga pasal 367 KUHP bedanya Pasal 376 tentang penggelapan. Apabila barang yang digelapkan kekayaan negara, menimbulkan kerugian negara, maka kejahatan ini diatur dalam undang-undang tersendiri (UU Korupsi No.20/2001). 4. PENIPUAN

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

113

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

4.1.

Penipuan dalam bentuk pokok Pasal 378 KUHP. Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan suatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang, dihukum karena penipuan dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun. Unsur-unsur penipuan adalah :  Menggerakan / membujuk.  Orang lain.  Menyerahkan suatu barang. a) Mengadakan perjanjian utang. b) Menghilangkan piutang.  Dengan menggunakan daya upaya : a) Nama palsu. b) Sifat palsu. c) Tipu muslihat. d) Susunan perkataan bohong.  Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain.  Melawan hak. Penjelasan : a) Membujuk : melakukan pengaruh dengan kelicikan terhadap orang, sehingga orang itu menurutinya berbuat sesuatu yang apabila mengetahui duduk perkaranya yang sebenarnya, dia tidak akan berbuat demikian itu. b) Nama palsu : Nama yang bukan namanya sendiri, nama “saimin” dikatakan “zaimin” itu bukan menyebut nama palsu akan tetapi kalau tulis, itu dianggap menyebut nama palsu. c) Sifat / keadaan palsu : Keadaan yang tidak sesuai dengan sebenarnya, contoh mengatakan mempunyai jabatan, pangkat, pekerjaan, padahal sebenarnya tidak demikian.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

114

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

d)

e)

Tipu muslihat / akal cerdik : Terdiri atas perbuatan-perbuatan yang demikian rupa sehingga tindakan atau perbuatan itu menimbulkan kepercayaan kepada orang lain (kesan) yang tidak sesuai dengan kebenaran misalnya kuitansi Rp. 1000 dirubah menjadi Rp 11.000. Susunan kata-kata bohong : Susunan kata-kata atau banyak kata-kata bohong yang disusun demikian rupa, sehingga kebohongan yang satu dapat ditutupi dengan kebohongan yang lain, sehingga keseluruhannya merupakan cerita sesuatu yang seakan-akan benar.

4.2.

Penipuan ringan Pasal 379 KUHP. Unsur-unsur penipuan ringan adalah :  Unsur-unsur dalam bentuk pokok.  Benda yang diserahkan tidak berupa hewan.  Harta barang yang diserahkan atau yang dihutang atau yang dipiutang tidak lebih dari Rp. 250,-. Dihukum karena penipuan ringan, dengan hukuman penjara selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 900,Pasal 379 a : Barang siapa membuat pencahariannya atau kebiasaannya membeli barang-barang dengan maksud supaya ia sensiri atau orang lain mendapat barang-barang itu dengan tidak melunaskan sama sekali pembayarannya, dihukum penjara selama-lamanya 4 tahun. Unsur-unsurnya adalah : a) Menjadikan sebagai mata pencaharian atau sebagai kebiasaannya. b) Membeli barang. c) Dengan maksud menguasai barang itu baik untuk diri sendiri atau orang lain. d) Tanpa membayar harga dengan penuh.

5.

MENGHANCURKAN ATAU MERUSAK BARANG

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP)

115

1. yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain. Membuat sehingga tidak dapat digunakan lagi atau menghilangkan. (2) Sama sekali atau sebagian milik orang lain.   Menghancurkan atau merusak barang dalam bentuk pokok Pasal 406 KUHP. b) Merusakan : Perbuatan tidak menimbulkan akibat yang begitu besar yaitu hanya sebagian dari benda itu yang dirusak. sehingga tidak dapat dipakai sama sekali. sehingga barang itu tidak dapat diperbaiki lagi. dihukum penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. b) Membunuh. (4) Dengan melawan hak. membuat sehingga tidak dapat digunakan lagi atau menghilangkan binatang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain. d) Menghilangkan : Membuat sehingga barang itu tidak ada lagi. merusakan. (3) Sengaja. (2) Sama sekali atau sebagian milik orang lain. (1) Sesuatu barang. Unsur-unsurnya adalah : a) Membinasakan. membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan. (3) Sengaja. Penjelasan : a) Membinasakan : menghancurkan atau merusak sama sekali.4.500. sehingga masih biasa diperbaiki. (1) Binatang. Barang siapa dengan sengaja dan dengan melawan hak membinasakan. merusakan membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang. e) Barang : Baik barang yang bergerak maupun barang yang tidak bergerak. c) Membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi : Disini tindakan itu harus demikian rupa.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 5. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 116 . (4) Dengan melawan hak. merusakan. merusakan.Hukuman serupa dikenakan juga kepada orang yang dengan sengaja dan dengan melawan hak membunuh.

2) Barangsiapa yang mengambil keuntungan dari hasil sesuatu barang. barangsiapa yang membeli.. 900. Pasal 412 : Menghancurkan atau merusak barang secara bersama-sama. Dengan hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 117 . Pasal 409 : Menghancurkan atau merusak barang untuk kepentingan umum karena salahnya. Pasal 407: Menghancurkan atau merusak barang ringan. menukar. atau kuda itu dibunuhnya. Kejahatan menghancurkan atau merusak barang diatur dalam Pasal 406 s/d 412 KUHP. menerima gadai. Pasal 408 : Menghancurkan atau merusak barang yang dipergunakan untuk kepentingan Umum. menukarkan. menerima sebagai hadiah. Pasal 410 : Menghancurkan atau merusak barang yang berupa gedung atau kapal / perahu. Pasal 411 : Menghancurkan atau merusak barang dalam keluarga. menerima tukar. 6. Pasal 406 : Menghancurkan atau merusak barang dalam bentuk pokok. menyimpan atau menyembunyikan sesuatu barang. atau karena hendak mendapat untung. menyewa. menyewa. menjual. menerima gadai. yang diketahuinya atau yang patut disangkanya diperoleh karena kejahatan. Unsur-unsurnya adalah : a) Membeli. sehingga kuda B tidak dapat dipaki lagi. yang diketahuinya atau yang patut harus disangkanya barang itu diperoleh karena kejahatan. PERTOLONGAN JAHAT Pertolongan jahat Pasal 480 KUHP. menggadaikan. tetapi juga mengenai “binatang” misalnya A benci pada B pada malam hari A membacok kudanya B arah urat kakinya. membawa.dihukum : 1) Karena sebagai sekongkol. menerima sebagai hadiah.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Yang dihukum menurut pasal ini tidak saja mengenai barang.

menyimpan. (4) Sipembuat mengetahui atau dapat menduga. (2) Suatu barang. mengangkut. c) Untuk keuntungan diri sendiri. menyembunyikan suatu barang. gugup dll. menyewakan. tergesa-gesa. sipembuat mengetahui atau patut dapat menduga. menjual. menukarkan.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI b) Untuk mendapat keuntungan. (1) Dari hasil. Berasal dari kejahatan.. menggadaikan. Istilah patut dapat menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a) Keadaan pembuat : Seorang berpakaian compang camping menjual computer. (3) Berasal dari kejahatan. b) Harga barang : Barang dijual jauh dibawah harga yang pantas. c) Keadaan waktu : Menjual barang tengah malam. BAB IX KEJAHATAN TERHADAP KEKUASAAN UMUM SUMPAH PALSU DAN KETERANGAN PALSU KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 118 . d) Cara melakukan : Ada rasa takut.

KEJAHATAN TERHADAP KEKUASAAN UMUM Pasal 207 Barangsiapa dengan sengaja dimuka umum. diharapkan Siswa mampu : 1. sumpah palsu dan keterangan palsu Indikator Hasil Belajar Setelah menyelesaikan Bab IX . Menjelaskan kejahatan terhadap kekuasaan umum 2. dihukum KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 119 . dengan lisan atau tulisan menghina sesuatu kekuasaan yang ada di negara Indonesia atau sesuatu majelis umum yang ada disana.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI Kompetensi Dasar Memahami Kejahatan terhadap kekuasaan umum. Menjelaskan kejahatan sumpah palsu dan keterangan palsu 1.

dihukum penjara selama-lamanya 4 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4. DPR. Yang dimaksud “ penguasa umum “ ialah suatu badan kekuasaan seperti gubernur.-. Bupati dsb atau majelis umum seperti MPR. Dimuka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI penjara selama-lamanya 1 tahun 6 bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. (2) Kalau sitersalah melakukan kejahatan itu dalampekerjaannya dan pada waktu melakukan kejahatan belum lewat 2 tahun sesudah tetap hukumannya yang dahulu sebab kejahatan yang serupa itu juga.500. Barangsiapa cukup jelas b. dengan niat supaya isi yang menghina itu diketahui oleh orang banyak atau lebih diketahui oleh orang banyak. Menyiarkan. DPRD yang bukan mengenai orangnya ( Ancaman denda dikalikan lima belas menurut perpu No. Unsur Pasal a. maka ia dapat dipecat dari pada menjalankan jabatannya itu. Penjelasan : a. Dengan Sengaja b. Unsur Pasal 208 Ayat ( 1 ) a.500. Polisi. Dengan sengaja cukup jelas c. mempertontonkan atau menempelkan tulisan atau gambar yang isinya penghinaan bagi suatu kekuasaan yang ada di Negara Indonesia atau bagi sesuatu majelis umum yang ada disana. Barangsiapa b. 18 tahun 1960 tentang perubahan jumlah hukuman denda dalam KUHP dan dalam ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelumtanggal 17 Agustus 1945 ) Pasal 208 (1) Barangsiapa menyiarkan.-. mempertunjukkan atau menempelkan dimuka umum suatu tulisan atau lukisan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 120 .4. Barangsiapa b.

atau majelis umum seperti MPR. ( Ancaman denda dikalikan lima belas menurut perpu No. Polisi. Barangsiapa cukup jelas b. 2. SUMPAH PALSU DAN KETERANGAN PALSU Pasal 242 (1) Barangsiapa dalam hal-hal yang menurut peraturan undang-undang menuntut sesuatu keterangan dengan KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 121 . d. juga perbuatan yang dapat diliat oleh masyarakat umum ( pekarangan rumah tidak termasuk tempat umum kecuali digunakan untuk kegiatan umum seperti rumah makan ) f.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI yang membuat hinaan suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia. Ayat ( 2 ) Jika yang bersalah. c. DPR. 18 tahun 1960 tentang perubahan jumlah hukuman denda dalam KUHP dan dalam ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelumtanggal 17 Agustus 1945 ). Bupati dsb. maka dapat dilarang menjalankan pencaharian tersebut. Yang dimaksud “ penguasa umum “ ialah suatu badan kekuasaan seperti Gubernur. Yang dimaksud “menempelkan “ berarti menempatkan/melekatkan disutu tempat yang mudah diketahui oleh orang banyak. Yang dimaksud “ menyiarkan “ berarti menyebarluaskan melalui media cetak maupun elektronik. Yang dimaksud “ dimuka umum “ adalah suatu tempat yang dapat dikunjugi/didatangi oleh setiap orang . Penjelasan : a. DPRD yang bukan mengenai orangnya. Yang dimaksud “ mempertunjukan “ berarti memperlihatkan kepada orang banyak. melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencahariannya dan ketika itu belum lewat 2 tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap. e. karena kejahatan semacam itu juga. dengan maksud supaya hinaan itu diketahui atau lebih diketahui oleh umum.

yang ditanggung dengan sumpah.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI (2) (3) (4) sumpah atau jika keterangan itu membawa akibat bagi hukum dengan sengaja memberi keterangan palsu.1-4 dapat dijatuhkan Penjelasan : a. Dalam hal-hal dimana undang-undang menentukan supaya memberi keterangan diatas sumpah. Unsur Pasal 242 Ayat 1 a. yang bersalah. c. b. Jika keterangan palsu yang ditanggung dengan sumpah itu diberikan dalam perkara pidana dengan merugikan siterdakwa atau sitersangka.1-4 KUHP. yang menurut undang-undang umum menjadi sumpah Dapat dijatuhkan hukuman mencabut hak yang tersebut dalam pasal 35 No. baik dengan lisan atau tulisan. Barangsiapa. Dengan sengaja memberi keterangan palsu di atas sumpah. maka sitersalah itu dihukumpenjara selama-lamanya 9 tahun. atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian. olehnya sendiri maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu. Barangsiapa cukup jelas b. diberikan dalam perkara pidana dan merugikan terdakwa atau tersangka. Yang disamakan dengan sumpah yaitu perjanjian atau pengakuan. dihukum penjara selamalamanya 7 tahun. Kesanggupan untuk memberikan keterangan palsu adalah kesadaran bahwa keterangan itu adalah palsu ataupun KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 122 . maupun oleh dia sendiri atau kuasanya yang istimewa ditunjuk untuk itu. Ayat 3 Disamakan dengan sumpah adalah janji atau penguatan yang diharuskan menurut aturan-aturan umum atau yang menjadi pengganti sumpah Ayat 4 Pidana pencabutan hak tersebut pasal 35 no. baik dengan lisan atau dengan tulisan. Ayat 2 Jika keterangan palsu diatas sumpah.

walaupun seandainya benar bahwa pencabutan kembali itu adalah sebagai akibat dari adanya peringatan bahwa ia dapat dikenakan penahanan karena memberikan keterangan dibawah sumpah secara palsu. bertentangan dengan kebenaran didalam pemeriksaan di sidang pengadilan. juga jika kesaksian itu adalah palsu. sebelum pemeriksaan saksi di pengadilan itu selesai. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP) 123 . hal ini haruslah dapat dibuktikan. apabila seorang saksi mencabut kembali keterangan sebelum pemeriksaan itu selesai maka bagian yang dicabut kembali itu bukanlah merupakan bagian dari keterangannya.LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI c. Suatu keterangan saksi itu dianggap belum ada .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful