P. 1
Pemecahan Permasalahan Pada Lahan Marginal Untuk Perkebuanan Kelapa Sawit

Pemecahan Permasalahan Pada Lahan Marginal Untuk Perkebuanan Kelapa Sawit

|Views: 625|Likes:

More info:

Published by: Nurwansyah Kayaknya Lebih Okee on May 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/28/2015

pdf

text

original

BY NURWANSYAH

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Ilmu tanah adalah pengkajian terhadap tanah sebagai sumber daya alam. Dalam ilmu ini dipelajari berbagai aspek tentang tanah, seperti pembentukan, klasifikasi, pemetaan, berbagai karakteristik fisik, kimiawi, biologis, kesuburannya, sekaligus mengenai pemanfaatan dan pengelolaannya. Tanah adalah lapisan yang menyeliputi bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) dan atmosfer. Tanah menjadi tempat tumbuh tumbuhan dan mendukung kehidupan hewan dan manusia. Ilmu tanah dipelajari oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu keteknikan (rekayasa), agronomi/pertanian, kimia, geologi, geografi, ekologi, biologi (termasuk cabang-cabangnya), ilmu sanitasi, arkeologi, dan perencanaan wilayah. Akibat banyaknya pendekatan untuk mengkaji tanah, ilmu tanah bersifat multidisiplin dan memiliki sisi ilmu murni maupun ilmu terapan. Ilmu tanah dibagi menjadi dua cabang utama: pedologi dan edafologi. Pedologi mempelajari tanah sebagai objek geologi. Edafologi, atau ilmu kesuburan tanah, mempelajari tanah sebagai benda pendukung kehidupan. Keduanya menggunakan alatalat dan sering kali juga metodologi yang sama dalam mempelajari tanah, sehingga muncul pula disiplin ilmu seperti fisika tanah, kimia tanah, biologi tanah (atau ekologi tanah), serta ilmu konservasi tanah. Karena tanah juga memiliki aspek ketataruangan dan sipil, berkembang pula disiplin seperti mekanika tanah, pemetaan (kartografi),

geodesi dan survai tanah, serta pedometrika atau pedostatistika. Penggunaan informatika juga melahirkan beberapa ilmu campuran seperti geomatika. Sumber daya lahan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu sistem usaha pertanian, karena hampir semua usaha pertanian berbasis pada sumber daya lahan. Lahan adalah suatu wilayah daratan dengan ciri mencakup semua watak yang melekat pada atmosfer, tanah, geologi, timbulan, hidrologi dan populasi tumbuhan dan hewan, baik yang bersifat mantap maupun yang bersifat mendaur, serta kegiatan manusia di atasnya. Jadi, lahan mempunyai ciri alami dan budaya (Notohadiprawiro, 1996). Istilah ”marginal” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah: 1. berhubungan dengan batas (tepi); tidak terlalu menguntungkan, 2. berada di pinggir. Memarginalkan berarti meminggirkan atau memojokkan. Dalam Merriam-Webster Dictionary, marginal defined as close to the lower limit of qualification, acceptability or function. Wacana mengenai lahan marginal dapat ditelusur pada tulisan Peterson dan Galbraith (1932) yang berjudul The Concept of Marginal Land. Scherr dan Hazell (1994) memberi pengertian lahan marginal sebagai lands unsuitable for continuous tillage or lands where there were major constraints to economic use of industrial inputs. Marginal lands menurut Ojating cit. Olanrewaju dan Ezekiel (2005) are those lands which have lost their ability to support the required biodiversity either through natural catastrophes and or human destructive activities. Menurut Strijker (2005), marginal lands are characterised by land uses that are at the margin of economic viability. Lahan marginal dapat diartikan sebagai lahan yang memiliki mutu rendah karena memiliki beberapa faktor pembatas jika digunakan untuk suatu keperluan tertentu.

Sebenarnya faktor pembatas tersebut dapat diatasi dengan masukan, atau biaya yang harus dibelanjakan. Tanpa masukan yang berarti budidaya pertanian di lahan marginal tidak akan memberikan keuntungan. Ketertinggalan pembangunan pertanian di daerah marginal hampir dijumpai di semua sektor, baik biofisik, infrastruktur, kelembagaan usahatani maupun akses informasi untuk petani miskin yang kurang mendapat perhatian.

Pengolahan tanah adalah setiap kegiatan mekanik yang dilakukan terhadap tanah dengan tujuan untuk memudahkan penanaman, menciptakan keadaan tanah yang gembur bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman sekaligus merupakan upaya pemberantasan gulma. Dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan air, pengolahan tanah hendaknya dilakukan seperlunya saja. Untuk tanah yang berlereng curam pengolahan tanah sebaiknya diminimumkan, bahkan ditiadakan.Kegiatan pengolahan tanah biasa atau konvensional (dengan cara mencangkul atau membajak tanah dua kali dan diikuti dengan menghaluskan bongkahan tanah satu atau dua kali sebelum bertanam) lebih banyak bertujuan untuk memberantas gulma. Jika gulma dapat diatasi misalnya dengan penggunaan mulsa atau penggunaan herbisida, maka pengolahan tanah dapat dikurangi atau malah ditiadakan. Keunggulan dari tanaman tahunan adalah bahwa hampir semuanya tanaman ini tidak memerlukan pengolahan tanah. Hal ini dimungkinkan karena setelah tajuknya berkembang menaungi permukaan tanah pertumbuhan gulma akan sangat berkurang.

Olah tanah konservasi adalah suatu sistem pengolahan tanah dengan tetap mempertahankan setidaknya 30% sisa tanaman menutup permukaan tanah. Olah tanah konservasi dilakukan dengan cara:

Pengolahan tanah dalam bentuk larikan memotong lereng atau dengan mencangkul sepanjang larikan untuk memudahkan penanaman.

Tanpa olah tanah adalah sistem di mana permukaan tanah hanya dibersihkan dari gulma baik secara manual maupun dengan menggunakan herbisida. Sesudah pembersihan, tanaman langsung ditugalkan. Jika penugalan sulit dilakukan, dapat digunakan cangkul untuk memudahkan penanaman.

Pengolahan tanah minimum adalah teknik konservasi tanah dimana gangguan mekanis terhadap tanah diupayakan sesedikit mungkin. Dengan cara ini kerusakan struktur tanah dapat dihindari sehingga aliran permukaan dan erosi berkurang. Teknik ini juga mengurangi biaya dan tenaga kerja untuk pengolahan tanah dan mengurangi biaya / tenaga kerja untuk penyiangan secara mekanik. Pengolahan tanah minimum cukup efektif dalam mengendalikan erosi, dan biasa dilakukan pada tanah-tanah yang berpasir dan rentan terhadap erosi.

1.2 Tujuan Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui teknik dan cara pengelolaan lahan marginal dalam pemanfaatannya sebagai tempat usaha dan budidaya tanaman terutama tanaman kelapa sawit

II. METODE PRAKTIKUM

2.1 Tempat dan Waktu Praktikum ini telah dilaksanakan di PT Minamas Plantation Research Desa Maredan Kecamatan Perawang Barat, Kabupaten Siak Provinsi Riau. Pada 10 Desember 2011. 2.2 Metode Praktikum Praktikum ini diikuti oleh 70 orang mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau. Metode yang digunakan dalam praktikum pengolahan lahan marginal di PT Minamas Plantation yaitu menggunakan dua metode. Metode pertama adalah mendengarkan program-program kerja dan langkah-langkah kerja yang telah diterapkan oleh pihak perusahaan didalam ruang seminar PT Minamas Plantation dan diteruskan memasuki laboraturium research untuk mendengarkan penjelasan para staf laboraturium tentang fungsi dan kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan. Metode kedua yaitu mengunjungi areal perkebunan milik PT. Minamas Plantation untuk melihat secara langsung kegiatan yang telah dilakukan dan dijelaskan oleh pihak perusahaan didalam ruangan.

III. HASIL PRAKTIKUM
3.1 Materi Ruangan Lahan marginal adalah Lahan yang kehilangan kemampuan untuk mendukung kegiatan fisiologis tumbuhan yang terjadi akibat proses pembentukan, kerusakan alam atau akibat aktivitas manusia, yang membutuhkan perlakuan lebih untuk kegiatan ekonomi. Pada prinsipnya pengembangan usaha perkebunan dilakukan untuk mengembalikan kemampuan tanah dalam mendukung kegiatan fisiologis tanaman yang memerlukan perencanaan yang terprogram dan continue serta dukungan modal yang cukup besar. Namun permasalahan dalam pemanfaatan lahan marginal ini tidak cukup sampai disitu saja melainkan pada teknis pelaksanaan dan pemilihan program yang tepat sesuai dengan karakteristik lahan yang akan diusahakan. Salah satu contoh pengelolaan lahan marginal untuk perkebunan yang akan saya bahan pada posting kali ini ialah : 3.1.1 Areal Berlerang Areal atau lahan dikatakan berlereng apabila tingkat kelerengan atau kemiringannya lebih dari 5 digit dan jumlah lahan yang memiliki kemiringan minimal ½ dari total luas areal/lahan yang ada. Pada areal berlerang pada umumnya dikatakan marginal karena tingkat terjadinya erosi sangat tinggi yang menyebabkan terjadinya leaching atau degradasi kesuburan tanah, penurunan permukaan tanah, degradasi lapisan tanah, dll. Erosi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

Manusia

Vegetasi

Iklim

Erosi

Tanah

Tofografi

Gambar 1. Faktor yang mempengaruhi erosi

1. Manusia Erosi terjadi disebabkan oleh manusia lebih dititik beratkan kepada aktivitas dalam memenuhi kebutuhan manusia baik pangan, sandang, papan, transportasi, dsb. Dengan adanya kegiatan manusia yang mengksploitasi lahan seperti pembukaan hutan untuk lahan pertanian, pembuatan jalan dan perumahan menjadikan suatau areal atau lahan menjadi kawasan yang terbuka dan ketika hujan turun Run Off (aliran permukaan) tidak tertahan sehingga terjadi erosi. 2. Iklim Iklim yang mempengaruhi erosi yaitu curah hujan. Jika curah hujan dan intensitas hujan tinggi pada daerah-daerah yang berlereng akan terjadi erosi karena air yang datang lebih besar dari pada air yang masuk (infiltrasi rendah) dengan demikian aliran permukaan (run off) akan besar yang terus mengalir kedaerah yang lebih rendah dengan membawah bahan-bahan yang ikut mengalir terutama Bahan organik tanah, unsur hara dll. 3. Tofografi Semakin tinggi tingkat kemiringan tanah maka tingkat erosi akan tinggi apalagi pada saat musim penghujan. 4. Vegetasi Vegetasi berkayu atau pohon-pohonan tingkat mengurangi erosi lebih rendah dibandingkan dengan vegetasi tanaman rumput-rumputan. 5. Tanah Jenis tanah akan berpengaruh terhadap erosi yang berhubungan dengan kemampuan jenis tanah tersebut dalam menyerap dan menahan air. Pada tanah berpasir erosi yang terjadi akan tinggi karena sifat tanah pasir yang tidak mampu menahan dan menyerap air.

3.2.1 Program for corrective and improvement 1. Water Manajement Program ini bertujuan untuk managing flooding, acid Fosfat, reservoir for keep water. langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah : a. Pembuatan teras bersambung. Ini bertujuan agar laju aliran permukaan dapat terhambat dan lapisan tanah yang ikut terbawa juga dapat tertahan pada teras berikutnya sehingga tidak langsung hilang. b. Pembuatan Side pit (lubang-lubang air). Lubang air ini dapat dibuat di pinggirpinggir jalan, atau disela-sela tanaman dengan pola dan tata letak disesuaikan dengan kebutuhan. Side pit ini bertujuan untuk meningkatkan volume air yang masuk kedalam tanah sehingga aliran permukaan dapat dikurangi c. Pengaturan jarak tanam dan arah tanam sesuai kontur lereng. Semakin curam lerang lahan yang diusahakan jarak tanam harus diupayakan sedimikian rupa dengan jarak lebih rapat dan penanaman tanaman disesuai dengan rah lereng sehingga perakaran tanaman dapat menahan laju aliran permukaan d. “U” shape front stocking ( pengturan arah pelepah berbentuk huruf u )untuk perkebunan kelapa sawit e. Tapak kuda. 2. Soil and Moisture Conservation Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah, menahan lapisan tanah dan menyediakan unsur hara. Langkah-langkah yang dapat dilakukan yaitu : a. Penanaman cover crop yang memiliki perakaran banyak seperti dari golongan LCC ( mucuna bracteata), akar wangi, pakis (nepiolephis bisserata). Selain berfungsi sebagai penahan erosi penamanam cover crop juga berfungsi untuk menyediakan unsur hara karena beberapa jenis tanaman seperti yang saya sebutkan diatas dapat memfiksasi unsur hara Makro primer tanpa merugikan tanaman utama

b. Pemberian mulsa organik dengan pemanfaatan serasah, janjang kosong kelapa sawit dan tidak dianjurkan pemberian mulsa anorganik karena mulsa organik akan berdampak pada positif pada tanah dari pada pemberian mulsa anorganik. 3. Soil Fertilizer Conservation Peningkatan kesuburan tanah perlu dilakukan karena pada umumnya tanah-tanah yang berlereng tingkat kesuburannya berbeda antara lereng dan lembah yang penerapannya juga memerlukan spesifikasi khusus antara lereng dan lembah. Pada daerah lereng aplikasi pemupukan dilakukan dengan cara saving (penanaman pupuk kedalam tanah) dan jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk yang tidak mudah larut sedangkan pada daerah lembah aplikasi pemupukan dilakukan dengan cara tabur dan jenis pupuk harus pupuk yang cepat larut.

3.3.1 Lahan Sulfat Masam Lahan Sulfat Masam biasanya ditandai dengan kondisi lahan yang selalu tergenang atau jenuh air baik pada saat kemarau ataupun musim penghujan. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penurunan atau hilangnya kemampuan tanah dalam memenuhi kebutuhan hidup tumbuhan yang tumbuh diatasnya. Kondisi ini diperparah dengan sifat tanahnya yang kurang baik, boleh dikatakan jelek jika diusahakan untuk kegiatan ekonomi seperti perkebunan. Selain produktifitas rendah, bahaya salinitasi, biaya investasi juga besar dan tidak cukup disitu saja, dengan kondisi lahan yang jenuh air diperlukan perlakuan-perlakuan khusus dengan mempertimbangkan beberapa hal : Pertama, bagaimana caranya air tetap tersedia sesuai kebutuhan tanaman perkebunan tapi yang tidak menimbulkan genangan. Kedua, apabila cara untuk mengatasi masalah pertama didapat tetapi tidak mengakibatkan terjadinya penurunan permukaan tanah. Ketiga, bagaimana cara menjaga agar tanaman tetap tegak dengan kondisi tanah yang bisa dikatakan lembek atau kerapatan tanah rendah dengan cara yang tidak merusak tanah. dan masih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan lainnya. Belum lagi jika ternyata pada lahan rawa tersebut terdapat lapisan gambut. Entah laaaaaaa

Namun, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengelolah lahan rawa atau berair yang tidak produktif menjadi lahan yang menguntungkan diantaranya yaitu : 1. Water Managing Cara ini dilakukan melalui : a. Pembuatan parit-parit disetiap baris tanaman dengan ketentuan yang disesuaikan dengan ketinggian air yang diinginkan dari permukaan parit sehingga tidak terjadi penurunan permukaan tanah. parit dapat dibuat dengan beberapa skala yaitu 1:12, 1:8, 1:4 dan yang terakhir 1:2. Jika cara ini tidak memberikan efek terhadap penurunan penurunan permukaan air, perlu ditambahkan lubang-lubang air (side pit) pada setiap tanaman atau 1 side pit untuk 4 tanaman misalnya. b. Pembuatan BUND atau tanggul penahan air seperti tanggul begitulah kira-kira tetapi bund ini tidak terbuat dari beton seperti tanggul kebanyakan melainkan dari tanah yang ditumpuk sedemikian rupa sehingga membentuk gundukan sebagai penahan air untuk lahan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B. untuk lahan sulfat masam dengan tipe luapan C dan D tidak perlu dilakukan pembuatan BUND cukup dengan pembuatan parit saja dengan ukuran disesuaikan agar lahan tidak kekurangan air (biasanya parit berukuran 1m x 1m) c. Pembangunan water gate (pintu air) untuk mengatur ketinggian air ideal pada lahan apabila kelebihan dan kekurangan air 2. Mounding (pembubunan) tanaman Tujuannya agar tanaman tidak mudah tumbang, memicu pertumbuhan akar dan meninggikan tempat tanaman di tanam. Mounding dilakukan karena pada umumnya tanah sulfat masam akan mengalami penurunan permukaan akibat proses pelapukan bahan-bahan organik yang belum terurai saat kondisi tergenang.caranya yaitu : isi tanah kedalam karung goni dan tumpuk karung goni disekitar tanaman membentuk huruf O atau lingkaran dengan jarak disesuaikan dengan jenis tanaman perkebunan yang diusahakan kemudian didalam lingkaran tersebut di tutupi atau diisi dengan tanah setebal kurang lebih sampai batas leher akar (pangal batang)

3. Pemupukan Upaya pemupukan dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah dan peningkatan pH tanah. usaha peningkatan pH tanah dapat dilakukan dengan pemupukan kapur pertanian, atau pupuk organik dengan dosis yang direkomendasikan. Pemupukan untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara makro dan mikro dilakukan dengan pemberian pupuk dengan kandungan hara N, P, K, MG, dll dan diberikan melalui saving dengan jenis pupuk yang tidak mudah larut 4. Sarana Transportasi a. Pemilihan sarana transportasi harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Jika tanah tidak cukup padat dan kuat untuk sarana jalan darat maka sarana harus dialihkan ke sarana air seperti rakit. b. Pembuatan jalan rintis untuk pemanenan buah dan pengangkutan buat dari dalam kebun ke luar kebun 5. Pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kesesuaian lahan bila ada pilih varietas tanaman yang khusu untuk lahan sulfat masam jika memang ada jika tidak apa boleh buat.

3.2 Tinjauan Lapangan PT Minamas Plantation 3.2.1 Lahan tergenang Berdasarkan tinjauan dilahan milik PT Minamas Plantation, pengelolahan lahan tergenang pada areal kelapa sawit dilakukan dengan berberapa cara yaitu : 1. Pembuatan Parit yang bertujuan untuk mengurangi tinggi permukaan air yang menggenangi permukaan lahan pertanaman kelapa sawit. Parit ini dibuat dengan perbandingan 1:8 namun hasilnya tidak menurunkan permukaan air seperti yang diinginkan yakni 70 cm dari permukaan. Kemudian dilakukan pembuatan parit

dengan perbandingan 1: 4 permukaan juga tidak turun apalagi ketika musim hujan. Pembuatan parit selanjutnya dilakukan dengan perbandingan 1: 2 yakni satu parit untuk dua baris tanaman dan hasilnya juga tidak dapat menurunkan permukaan air namun muncul masalah baru terutama pada musim kemarau. 2. Pembuatan Mounding yang bertujuan untuk mengatasi masalah penurunan permukaan tanah akibat penyusutan tanah ketika musim kemarau yang disebabakan oleh pembuatan parit. 3. Pembuatan Bund yang dilakukan dengan cara membuat bendungan dari tanah yang disusun dipenggir parit sehingga membentuk sepertu tanggul yagn bertujuan untuk mencegah terjadinya erupsi oleh air sungai pada saat pasang 4. Soil and Moisture Conservation. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah, menahan lapisan tanah dan menyediakan unsur hara. Langkahlangkah yang dapat dilakukan yaitu : Penanaman cover crop yang memiliki perakaran banyak seperti dari golongan LCC ( mucuna bracteata), akar wangi, pakis (nepiolephis bisserata). Selain berfungsi sebagai penahan erosi penamanam cover crop juga berfungsi untuk menyediakan unsur hara karena beberapa jenis tanaman seperti yang saya sebutkan diatas dapat memfiksasi unsur hara Makro primer tanpa merugikan tanaman utama. Pemberian mulsa organik dengan pemanfaatan serasah, janjang kosong kelapa sawit dan tidak dianjurkan pemberian mulsa anorganik karena mulsa organik akan berdampak pada positif pada tanah dari pada pemberian mulsa anorganik. 5. Soil Fertilizer Conservation. Peningkatan kesuburan tanah perlu dilakukan karena pada umumnya tanah-tanah yang berlereng tingkat kesuburannya berbeda antara lereng dan lembah yang penerapannya juga memerlukan spesifikasi khusus antara lereng dan lembah. Pada daerah lereng aplikasi pemupukan dilakukan dengan cara saving (penanaman pupuk kedalam tanah) dan jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk yang tidak mudah larut sedangkan pada daerah lembah aplikasi pemupukan dilakukan dengan cara tabur dan jenis pupuk harus pupuk yang cepat larut.

3.2.2 Lahan Miring Areal atau lahan dikatakan berlereng apabila tingkat kelerengan atau kemiringannya lebih dari 5 digit dan jumlah lahan yang memiliki kemiringan minimal ½ dari total luas areal/lahan yang ada. Pada areal berlerang pada umumnya dikatakan marginal karena tingkat terjadinya erosi sangat tinggi yang menyebabkan terjadinya leaching atau degradasi kesuburan tanah, penurunan permukaan tanah, degradasi lapisan tanah, 1. Water Manajement Program ini bertujuan untuk managing flooding, acid Fosfat, reservoir for keep water. langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah : a. Pembuatan teras bersambung. Ini bertujuan agar laju aliran permukaan dapat terhambat dan lapisan tanah yang ikut terbawa juga dapat tertahan pada teras berikutnya sehingga tidak langsung hilang. b. Pembuatan Side pit (lubang-lubang air). Lubang air ini dapat dibuat di pinggirpinggir jalan, atau disela-sela tanaman dengan pola dan tata letak disesuaikan dengan kebutuhan. Side pit ini bertujuan untuk meningkatkan volume air yang masuk kedalam tanah sehingga aliran permukaan dapat dikurangi c. Pengaturan jarak tanam dan arah tanam sesuai kontur lereng. Semakin curam lerang lahan yang diusahakan jarak tanam harus diupayakan sedimikian rupa dengan jarak lebih rapat dan penanaman tanaman disesuai dengan rah lereng sehingga perakaran tanaman dapat menahan laju aliran permukaan d. “U” shape front stocking (pengaturan arah pelepah berbentuk huruf U) untuk perkebunan kelapa sawit e. Tapak kuda. 2. Soil and Moisture Conservation Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah, menahan lapisan tanah dan menyediakan unsur hara. Langkah-langkah yang dapat dilakukan yaitu :

a. Penanaman cover crop yang memiliki perakaran banyak seperti dari golongan LCC ( mucuna bracteata), akar wangi, pakis (nepiolephis bisserata). Selain berfungsi sebagai penahan erosi penamanam cover crop juga berfungsi untuk menyediakan unsur hara karena beberapa jenis tanaman seperti yang saya sebutkan diatas dapat memfiksasi unsur hara Makro primer tanpa merugikan tanaman utama b. Pemberian mulsa organik dengan pemanfaatan serasah, janjang kosong kelapa sawit dan tidak dianjurkan pemberian mulsa anorganik karena mulsa organik akan berdampak pada positif pada tanah dari pada pemberian mulsa anorganik. 3. Soil Fertilizer Conservation Peningkatan kesuburan tanah perlu dilakukan karena pada umumnya tanah-tanah yang berlereng tingkat kesuburannya berbeda antara lereng dan lembah yang penerapannya juga memerlukan spesifikasi khusus antara lereng dan lembah. Pada daerah lereng aplikasi pemupukan dilakukan dengan cara saving (penanaman pupuk kedalam tanah) dan jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk yang tidak mudah larut sedangkan pada daerah lembah aplikasi pemupukan dilakukan dengan cara tabur dan jenis pupuk harus pupuk yang cepat larut.

III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan Tanah atau lahan marginal adalah lahan atau tanah-tanah yang tidak ekonomis untuk di pergunakan dalam kegiatan ekonomi. Dan lahan marginal tidak selamanya harus tanah gambut. Namun, dengan penerapan metode dan cara yang baik dan tepat maka lahan atau tanah-tanah marginal akan bernilai ekonomis tinggi bila diusahakan untuk kegiatan ekonomi. 3.2 Saran Adapun saran yang dapat saya berikan adalah untuk melanjutkan kegiatan praktikum mata kuliah pengelolaan lahan marginal ini karena sangat berperan penting bagi penambahan dan pembukaan sebuah wacana dan wawasanbaru bagi kami para peserta praktikum

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2008. Lahan Marginal dan Pengelolaannya. www. Annise.blogspot.com. diakses pada 29 Desember 2011 Fahmuddin Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. Bogor: WORLD AGROFORESTRY CENTRE ICRAF Southeast Asia. Hal 59-60 Yowono, Nasih, Widya. 2009. Membangun Kesuburan Tanah Di Lahan Marginal.Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 9 No 2 hal 137-141

Lampiran 1. Dokumentasi Praktikum

Instruktur menjelaskan manfaat akar wangi (Nepiolephis bisserata).

Kepala kantor cabang minamas plantation sedang menjelaskan materi

Peninjauan ke lapangan di kebun milik PT Minamas

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->