P. 1
Uji Tetrazolium

Uji Tetrazolium

|Views: 51|Likes:
Published by Lisa Sentani

More info:

Published by: Lisa Sentani on May 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2014

pdf

text

original

Pengujian benih sangat berperan penting, terujinya benih berarti terhindarnya para petani dari berbagai kerugian yang

dapat timbul dalam pelaksanaan usaha taninya. Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu dan kualitas benih.

Dalam praktikum ini, pengujian terhadap benih dilakukan dengan dua cara, cara langsung dan tidak langsung. Uji tetrazolium merupakan salah satu pengujian viabilitas benih
secara cepat dan tidak langsung. Hal ini dikarenakan, uji tersebut dapat dilakukan tanpa mengecambahkan benih terlebih dahulu, tetapi dengan menggunakan zat kimia 2, 3, 5 Triphenyl Tetrazolium Kloride (garam tetrazolium). Prinsip metode TZ (Uji Tetrazolium) adalah bahwa setiap sel hidup akan berwarna merah oleh reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih. Enzim yang mendorong terjadinya proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi (Byrd, 1988). Nilai atau presentase viabilitas benih dengan uji tertrazolium dengan melihat warna pada bagian embrio benih. Warna merah cerah menunjukkan benih yang tumbuh (germinable) sedangkan benih yang berwarna merah muda menuju ke putih menunjukkan benih yang tidak tumbuh (germinable). Dari hasil pengamatan presentase viabilitas benih dengan uji tertrazolium sebesar 76%. Cara langsung adalah dengan uji daya berkecambah benih dengan metode uji kertas digulung didirikan dalam plastik yang dikecambah selama 5 hari. Penghitungan daya kecambah benih dilakukan dengan cara membandingkan jumlah benih yang tumbuh dengan jumlah benih yang dikecambahkan. pengujian daya berkecambah benih melalui pengamatan terhadap benih yang tumbuh dilakukan dua kali. Pengamatan pertama biasa disebut hitungan pertama, dilakukan pada hari ketiga setelah tanam untuk benih jagung. Pengamatan pertama ditujukan untuk optimalisasi media, benih yang telah tumbuh menjadi kecambah normal dihitung, dicatat jumlahnya, setelah itu dikeluarkan dari media. Benih yang busuk, bercendawan juga disingkirkan. Bila media kering

ditambah kelembabannya. Benih yang belum berkecambah atau kecambah belum tumbuh normal dibiarkan dalam media tanam hingga akhir pengujian. Pengamatan kedua atau hitungan kedua semua kecambah normal, kecambah abnormal, benih mati dan benih segar tidak tumbuh dijumlah. Penentuan daya berkecambah benih adalah jumlah kecambah normal hitungan satu dan dua dibagi jumlah benih yang diuji dikali 100%. Presentase viabilitas benih dengan uji daya berkecambah adalah 60 %.

rata-rata viabilitas benih pada uji tertrazolium lebih tinggi dari viabilitas benih dengan uji daya berkecambah. namun nilai ini masih digolongkan benih yang memiliki mutu rendah atau buruk. Karena benih dengan mutu baik adalah benih yang memiliki viabilitas

lebih dari 80%. kecambah abnormal memiliki ciriciri plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah. CV Rajawali Pers. 1993. Sadjad. Kesimpulan: Viabilitas benih dapat diketahui dengan melakukan pengujian benih secara langsung maupun tidak langsung. daun berkembang baik dan berwarna hijau. Jakarta. dan mempunyai tunas pucuk yang baik. Jika diperlukan keterangan segera tentang viabilitas dari suatu kelompok benih tertentu. H. diantaranya faktor lingkungan. ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik. 1972. H. State College. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Roberts ed. Pedoman Teknologi Benih (Terjemahan). tidak tumbuh. maka uji tetrazolium akan dapat memberikan keterangan lebih cepat 1 – 2 hari daripada uji perkecambahan secara langsung yang memerlukan waktu lebih dari 3 hari. . Heydecker.. Mississipi. Teknologi Benih. Sutopo. Kecambah normal. sedangkan radikula tumbuh sebaliknya. USA. Diduga benih pada uji daya berkecambah pada perhitungan pertama benih yang bercendawan tidak dikeluarkan dari media sehingga cendawan tersebut menyebar pada benih-benih yang lain sehingga menyebabkan benih yang semula normal menjadi abnormal. Lita. E. Sjamsoe’oed. maupun tumbuh abnormal. W. Syracuse University Press. PT Gramedia. Jakarta. Dari Benih kepada Benih. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal benih Dapus: Byrd.W. In Viability of Seeds. jumlah kotiledon sesuai. Benih yang uji dapat mengalami kematian. 1988. 1993.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->