P. 1
Panduan Pelaksanaan Penyadaran Publik

Panduan Pelaksanaan Penyadaran Publik

|Views: 111|Likes:
Published by Rudy Hartono.S
PANDUAN PELAKSANAAN PENYADARAN PUBLIK ( PLKSDA-BM)
PANDUAN PELAKSANAAN PENYADARAN PUBLIK ( PLKSDA-BM)

More info:

Published by: Rudy Hartono.S on May 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

pdf

text

original

PANDUAN PELAKSANAAN PENYADARAN PUBLIK

PROGRAM PENANGANAN LAHAN KRITIS DAN SUMBER DAYA AIR BERBASIS MASYARAKAT

DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KATA PENGANTAR

Disusun dan Ditanda Tangan Oleh Pemerintah Provinsi

.......................,................ 2013 Kepala Bappeda Kabupaten/ Kota.......................

(....................................)

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

2

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………….. DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. DAFTAR TABEL DAN GAMBAR …………………………………………… BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………… 1.1 Latar Belakang …………………………………………………………... 1.2 Maksud dan Tujuan Panduan Penyadaran Publik ………………….. 1.3 Ruang Lingkup Panduan ……………………………………………….. 1.4 Pengguna Panduan Penyadaran Publik ……………………………… BAB II PENGERTIAN KAMPANYE PENYADARAN PUBLIK…………… 2.1 Pengertian ………………………………………………………………. 2.2 Tujuan Kampanye Penyadaran Publik ………………………………. 2.3 Khalayak Sasaran ……………………………………………………… 2.3.1 Penerima manfaat tidak langsung ……………………………. 2.3.2 Penerima manfaat langsung …………………………………... 2.4 Mekanisme Kegiatan Penyadaran Publik …………………………….. 2.4.1 Sosialisasi ……………………………………………………….. 2.4.2 Diseminasi ………………………………………………………. 2.4.3 Publikasi …………………………………………………………. 2.5 Muatan Informasi Penyadaran Publik ………………………………… BAB III STRATEGI PENYEBARLUASAN INFORMASI ………………… Hal 2 3 6 6 6 7 8 8 11 11 11 12 12 12 13 13 13 13 14 17

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

3

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3.1 Metode Komunikasi …………………………………………………….. 3.2 Tema Pesan ……………………………………………………………. 3.3 Strategi Media …………………………………………………………… 3.3.1 3.3.2 3.3.3 Media Pertemuan ……………………………………………... Media Cetak ………………………………………………….. Media Elektronik ……………………………………………….

16 16 17 17 18 18 18 18 19 19 20 20 21 21 22 22 23 23 24 25 25 25 25

3.4 Tinjauan Penggunaan Media ………………………………………….. 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.4.4 3.4.5 3.4.6 3.4.7 3.4.8 3.4.9 Lokakarya Sosialialisasi ……………………………………… Pertemuan Kelompok Tani ………………………………….. Pertemuan warga melalui forum yang sudah ada ………… Brosur …………………………………………………………... Poster ………………………………………………………… Spanduk ……………………………………………………….. Buku Saku (Booklet) ………………………………………….. Newsletter …………………………………………………….. Jurnal ……………………………………………………………

3.4.10 Surat Kabar …………………………………………………… 3.4.11 Iklan Layanan Masyarakat di Televisi ………………………. 3.4.12 Talk show di Radio …………………………………………… BAB IV PELAKSANAAN PENYADARAN PUBLIK PLKSDA-BM …… 4.1 Persiapan ………………………………………………………………… 4.1.1 Identifikasi Kelompok Sasaran ……………………………….. 4.1.2 Klasifikasi Kelompok Sasaran ………………………………..

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

4

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4.2 Kampanye Penyadaran Publik Melalui Media Pertemuan …………. 4.2.1 Lokakarya (Workshop) …………………………………………. 4.2.2 Rembug Warga Desa ………………………………………….. 4.2.3 Pertemuan warga melalui forum-forum yang sudah ada di tingkat desa ……………………………………………………… 4.3 Kampanye Penyadaran Publik Melalui Media Cetak ………………. 4.3.1 Brosur ……………………………………………………………. 4.3.2 Poster ……………………………………………………………. 4.3.3 Spanduk …………………………………………………………. 4.3.4 Buku Saku (Booklet) …………………………………………… 4.3.5 Penawaran Berita di Surat Kabar …………………………….. 4.4 Kampanye Penyadaran Publik Melalui Media Elektronik …………… 4.4.1 Televisi ………………………………………………………….. 4.4.2 Radio …………………………………………………………….. 4.5 Pembiayaan ……………………………………………………………… 4.6 Evaluasi Pelaksanaan Penyadaran Publik …………………………… 4.6.1 Obyek Evaluasi ………………………………………………… 4.6.2 Evaluasi Pelaksanaan penyadaran Publik …………………… BAB V P E N U T U P ………………………………………………………..

26 26 29 31 32 33 33 34 35 35 36 37 37 39 39 40 40 41

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

5

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DAFTAR TABEL

Hal Tabel 1.1 Tabel 4.1 Pengguna Panduan Penyadaran Publik Program PLKSDABM ………………………………………………………………. Materi dan Narasumber Lokakarya Sosialisasi PLKSDA-BM 10 28

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

6

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gagasan dasar Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM) adalah adanya kesadaran untuk mengembangkan inisiatif dan alternatif-alternatif baru dalam upaya penanganan lahan kritis di daerah, dengan suatu pendekatan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat, agar selanjutnya Pemerintah Daerah dan masyarakat dapat melakukan penanganan lahan kritis secara mandiri dan berlangsung terus menerus. Secara umum PLKSDA-BM dilaksanakan dengan pola pembangunan partisipatif. Masyarakat dan Kelompok Tani diposisikan sebagai pelaku utama (subyek), yang harus didudukan sebagai Mitra Pemerintah Daerah untuk diberdayakan sebagai bagian dari strategi penting dalam program PLKSDA-BM. Pembangunan partisipatif seperti tersebut menuntut perubahan yang mendasar, yang tidak lagi dapat diakomodasikan oleh pola-pola deterministik seperti pendekatan dari atas (top down) dan juga tidak dapat diakomodasikan oleh pendekatan dari bawah (bottom up). Pembangunan partisipatif yang dikembangkan dalam program ini menuntut adanya pembagian peran, tidak saja dalam melaksanakan program PLKSDA-BM, tetapi juga dalam mencapai kesepakatankesepakatan yang menjadi landasan tindak, dimana setiap unsur yang terlibat secara bersama-sama bertanggung jawab akan keberhasilan penanganan lahan kritis tersebut, dengan tetap melakukan upaya pemberdayaan terhadap masyarakat dan kelompok Tani setempat. Model pengembangan program seperti ini memerlukan pelibatan semua pihak yang berkepentingan dalam suatu kesepakatan tindak untuk bersamasama bekerja mencapai tujuan bersama, sehingga upaya Sosialisasi dan Diseminasi Informasi program menjadi kunci utama membangun partisipasi, kesuksesan dan keberlanjutan.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

7

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Kegiatan kampanye penyadaran publik harus berfungsi penuh dalam penyebarluasan informasi mengenai kegiatan yang tercakup dalam program PLKSDA-BM, serta juga terus menanamkan konsep pengawasan (monitoring) dari masyarakat kepada seluruh pelaku yang terlibat langsung dalam program, seperti Pemerintah Daerah, Konsultan Bantek program serta masyarakat yang menerima bantuan langsung dari program. Selain itu, kampanye penyadaran publik juga harus menanamkan prinsipprinsip yang menjamin keberlanjutan dari program PLKSDA-BM secara mandiri, sehingga setelah masa program berakhir, program di tingkat masyarakat dan pemerintah daerah dapat terus berlanjut. Untuk menjamin hal tersebut, maka kegiatan kampanye penyadaran publik program PLKSDA-BM ini harus dilakukan secara terencana dan terpadu. Hanya dengan model sosialisasi yang utuh tersebut yang akan menjamin terwujudnya penyamaan persepsi serta tumbuhnya motivasi masyarakat sesuai dengan yang diharapkan PLKSDA-BM. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan suatu panduan teknis kampanye penyadaran publik program yang menyeluruh yang mengikuti seluruh tahapan pelaksanaan program, sejak persiapan, pelaksanaa, penyiapan terminasi dan bahkan setelah program PLKSDA-BM berakhir. 1.2 Maksud dan Tujuan Panduan Penyadaran Publik Panduan penyadaran publik ini dimaksudkan sebagai buku pegangan bagi stakeholder terkait dalam melaksanakan sosialisasi program PLKSDA-BM. Sedangkan tujuan penyusunan panduan penyadaran publik ini adalah untuk memberikan petunjuk dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi program PLKSDA-BM ditingkat pusat, propinsi, Kabupaten maupun ditingkat masyarakat dan petani. Panduan penyadaran publik ini, diharapkan dapat merangkai seluruh pemahaman terhadap program dan elemen proses maupun tahapan pelaksanaan PLKSDA-BM yang berbasis pemberdayaan masyarakat,
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

8

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

dalam satu benang merah yang konkret, serta mengurangi timbulnya kesenjangan pemahaman antara yang diharapkan Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen. Bina Bangda) dengan pihak-pihak terkait lainnya. 1.3 Ruang Lingkup Panduan Panduan penyadaran publik ini mencakup konsep sosialisasi dan diseminasi informasi program PLKSDA-BM secara terpadu. Mulai dari tujuan yang hendak dicapai, siapa saja khalayak yang akan menjadi sasaran sosialisasi, pesan (message) yang hendak disampaikan, materi per kelompok khalayak, teknis penyampaian, media yang digunakan, dan siapa pelakunya (komunikatornya). Petunjuk teknis ini dibuat untuk memudahkan penanggungjawab kegiatan dan pelaksana kegiatan membuat dan memanfaatkan penggunaan media cetak untuk sosialisasi dan publikasi. Dalam petunjuk teknis ada contohcontoh dari beberapa jenis media cetak yang disarankan untuk digunakan, dan tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan oleh pelaksana kegiatan. 1.4 Pengguna Panduan Penyadaran Publik Panduan penyadaran publik ini diperuntukkan bagi pelaku program PLKSDA-BM (Pemerintah dan Pemerintah Daerah, Konsultan Bantuan Teknik PLKSDA-BM dan KLelompok Tani PLKSDA-BM), maupun bagi masyarakat luas dan kelompok peduli lainnya, seperti: Perguruan Tinggi, Pihak Swasta, Pers, dan lain-lain di daerah. Secara rinci pengguna dan manfaat panduan penyadaran publik dapat dilihat pada Tabel 1.

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

9

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Tabel 1.1 Pengguna Panduan Penyadaran Publik Program PLKSDA-BM Pengguna  Pemerintah dan Pemerintah Daerah Manfaat  Memahami dampak kerusakan lahan dan lingkungan hidup akibat sistem bercocok tanam yang kurang memperhatikan aspek konservasi;  Memahami Visi, Misi, tujuan dan pelaksanaan Program PLKSDA-BM; sasaran

 Memahami tahapan dan strategi pelaksanaan program PLKSDA-BM;  Memahami struktur organisasi pelaksanaan PLKSDA-BM mulai dari pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota sampai doitingkat desa dan kelompok tani.  Memahami pentingnya pelaksanaan program PLKSDA-BM yang berbasis pemberdayaan masyarakat;  Konsultan Bantek Program PLKSDA-BM (Pusat maupun Regional), termasuk TPM dan KTPM.  Memahami dampak kerusakan lahan dan lingkungan hidup, salah satunya diakibatkan oleh sistem bercocok tanam yang kurang memperhatikan aspek konservasi;  Memahami Visi, Misi, tujuan dan pelaksanaan Program PLKSDA-BM; sasaran

 Memahami tahapan dan strategi pelaksanaan program PLKSDA-BM;  Memahami struktur organisasi pelaksanaan PLKSDA-BM mulai dari pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota sampai doitingkat desa dan kelompok tani.  Memahami pentingnya pelaksanaan program PLKSDA-BM yang berbasis pemberdayaan masyarakat;

 Masyarakat Luas

 Memahami dampak kerusakan lahan dan lingkungan hidup, akibat bercocok tanam yang kurang memperhatikan aspek konservasi;  Memahami pentingnya pelaksanaan program PLKSDA-BM yang berbasis pemberdayaan masyarakat;

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

10

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengguna

Manfaat  Memahami adanya program PLKSDA-BM yang berbasis pemberdayaan masyarakat;  Dukungan terhadap pelaksanaan PLKSDA-BM, terutama ditingkat desa; program

 Kelompok Tani PLKSDA-BM

 Memahami dampak kerusakan lahan akibat bercocok tanam yang kurang memperhatikan aspek konservasi;  Memahami Visi, Misi, tujuan, sasaran, tahapan dan strategi pelaksanaan PLKSDA-BM;  Memahami organisasi pelaksanaan PLKSDA-BM dari pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota sampai doitingkat desa dan kelompok tani.  Memahami pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan PLKSDA-BM;  Memahami teknis kegiatan dalam program PLKSDA-BM, seperti: Persyaratan bibit, sipil teknis, teknis budidaya, sistem bagi hasil, dll.  Memahami pentingnya keberadaan kelompopk tani serta komitmen untuk memperkuat kelembagaanya;  Membangun kemitraan secara sinergis antara kelompok tani, Pemerintah Daerah dan Kelompok Peduli lainnya di daerah;

 Kelompok Peduli lainnya di daerah

 Memahami Visi, Misi, tujuan, sasaran, tahapan dan strategi pelaksanaan PLKSDA-BM;  Memahami organisasi pelaksanaan PLKSDA-BM dari pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota sampai doitingkat desa dan kelompok tani.  Memahami pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan PLKSDA-BM;  Menjalin kerjasama kemitraan dengan Kelompok Tani dan Pemerintah daerah dalam mendukung keberlanjutan program;

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

11

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BAB II PENGERTIAN KAMPANYE PENYADARAN PUBLIK

2.1. Pengertian Kampanye penyadaran publik merupakan aktifitas komunikasi dalam menyampaikan pesan melalui jaringan saluran komunikasi secara terpadu, dan mengorganisir aktifitas komunikasi tersebut dengan tujuan menghasilkan dampak pada individu-individu dalam jumlah besar, dan atau kelompok masyarakat sesuai dengan target yang ingin dicapai, pada satuan waktu tertentu (Rogers & Storey, 1987). Berdasarkan pengertian tersebut diatas, maka kampenye penyadaran publik akan menyangkut publik kegiatan-kegiatan peran sosialisasi, pada diseminasi keseluruhan informasi dan publikasi program. Dalam hal ini berarti bahwa kampanye penyadaran stakeholders. 2.2. Tujuan Kampanye Penyadaran Publik Sebagai salah satu tahapan penting dalam program PLKSDA-BM adalah Kampanye Penyadaran Publik yang bertujuan untuk : a) Memberi pemahaman lahan kepada yang masyarakat berbasis petani mengenai penanganan masyarakat; b) Mengembangkan pengetahuan dan kesadaran kritis (awareness) masyarakat wilayahnya; c) Memberi kemudahan akses informasi mengenai program PLKSDABM kepada masyarakat secara secara luas dan stakeholder terkait program PLKSDA-BM; d) Menyebarluaskan informasi mengenai tujuan, sasaran, tahapan dan strategi pelaksanaan program PLKSDA-BM secara umum;
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

memegang

kunci

pelaksanaan program PLKSDA-BM yang akan melibatkan berbagai

kritis

pada

pemberdayaan

tentang

[pentingnya

penanganan

lahan

kritis

di

12

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

e) Menanamkan pengetahuan yang cukup kepada masyarakat sasaran mengenai PLKSDA-BM dan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan dan pengawasan program tersebut; f) Menyebarluaskan langkah-langkah PLKSDA-BM kepada stakeholder terkait, terutama kepada masyarakat sasaran (Kelompok Tani) sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat; g) Menjaga transparansi dan membangun kontrol sosial yang melekat pada keseluruhan tahapan pelaksanaan PLKSDA-BM. 2.3. Khalayak Sasaran Secara umum kampanye penyadaran publik tentang program PLKSDABM ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, yaitu untuk menyebarluaskan konsep-konsep kemandirian, kemitraan dan keberlanjutan dalam penanganan lahan kritis. Sedangklan khalayak sasaran kampenye publik secara khusus ditujukan kepada: 2.3.1. Penerima manfaat tidak langsung Penerima manfaat tidak langsung adalah khalayak di luar lokasi program yang mendapat terpaan (exposure) informasi PLKSDA-BM dengan baik dan jelas. Kelompok ini kemudian menjadi peduli terhadap permasalahan lahan kritis, sumberdaya air dan lingkungan hidup, serta mendukung keberlangsungan program dalam kapasitasnya masing-masing. Diharapkan mereka menjadi social control bagi keberhasilan program penanganan lahan kritis. 2.3.2. Penerima manfaat langsung Penerima manfaat langsung adalah Kelompok Tani PLKSDA-BM dan Pemerintah Daerah di lokasi program PLKSDA-BM. Fasilitasi pemberdayaan dan penguatan kelembagaan lokal lebih diarahkan pada kelompok sasaran ini. Keberhasilan program ditentukan oleh kemampuan mereka meningkatkan keberdayaan dan kemandirian dalam upaya memajukan pembangunan daerahnya. Informasi yang disampaikan pada kelompok sasaran ini harus lengkap, akurat, mudah dipahami dan komunikatif.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

13

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2.4. Mekanisme Kegiatan Penyadaran Publik Mekanisme dan lingkup kegiatan penyebarluasan Informasi dan penyadaran publik program PLKSDA-BM meliputi : 2.4.1. Sosialisasi Kegiatan sosialisasi program dilaksanakan pada setiap jenjang pemerintahan mulai dari tingkat Nasional, Propinsi, Kabupaten dan Desa. Untuk tingkat desa, khalayak sasaran penyadaran publik adalah masyarakat di desa/lokasi program sebagai penerima manfaat langsung, aparat pemerintahan desa, dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Di tingkat kabupaten, propinsi dan nasional, sosialisasi lebih ditujukan pada aparat pemerintah dan anggota DPR di masing-masing tingkatan, kalangan akademisi, pengusaha, kelompok-kelompok masyarakat sipil, dan media massa/pers. 2.4.2. Diseminasi Kegiatan ini diartikan sebagai penyebaran informasi secara lebih spesifik kepada pelaksana/pelaku program, tidak saja menyangkut pemahaman, tetapi juga pendalaman materi, nilai, aturan main, dan aplikasinya. Dalam konteks program PLKSDA-BM, kegiatan diseminasi ditujukan bagi seluruh tim Bantek PLKSDA-BM dan TPM desa secara berjenjang. Di tingkat desa, diseminasi lebih diarahkan pada Kelompok Tani PLKSDA-BM dan lain lain. 2.4.3. Publikasi Kegiatan ini meliputi penyampaian segala informasi menyangkut program PLKSDA-BM kepada masyarakat luas secara umum dan terbuka, melalui media publikasi baik cetak maupun elektronik. Media cetak yang akan digunakan adalah Brosur/Leaflet, Spanduk, Poster, Surat Kabar, Newsletter/Bulletin, Booklet dan Jurnal. Sedangkan untuk media elektronik rencananya akan menggunakan televisi dalam bentuk Iklan Layanan Masyarakat, dan radio untuk talkshow atau dialog interaktif. Beberapa produk media cetak juga dipakai sebagai alat bantu dalam kegiatan sosialisasi dan diseminasi.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

14

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Gambar 1.1 Skema Sosialisasi dan Diseminasi Informasi Penyadaran Publik
Pusat
Materi yg bersifat Umum, Visi – Misi, tujuan & sasaran program

Kementrian & Lembaga

PROPINSI

SOSIALISASI

Pemahaman

Aparat Pemerintah

 Pedoman Umum KABUPATEN
Materi yg bersifat Teknis, Komponen Kegiatan Pemahaman Pendalaman Pelaksanaan

Masyarakat Luas

PETANI

DESA

DISEMINASI
 Pedoman Teknis  Pedoman Pelaksanaan

PLKSDA-BM

Kelompok Tani

2.5. Muatan Informasi Penyadaran Publik Pada fase awal pelaksanaan program, muatan atau materi yang disampaikan adalah tentang keberadaan program PLKSDA-BM. Informasinya bersifat umum (makro) dan menyentuh persoalan mendasar di daerah tertinggal sehingga masyarakat lebih mudah memahami, mengerti dan menaruh perhatian pada program ini. Pada tahap berikutnya muatan informasi bersifat lebih rinci dan spesifik, seperti info soal mekanisme pelaksanaan kegiatan atau metode pelibatan/partisipasi warga masyarakat di dalam PLKSDA-BM. Pada tahap akhir program diharapkan terjadi kesinambungan sehingga muatan informasinya diarahkan pada upaya-upaya menjaga perhatian, kepedulian dan keterlibatan aktif masyarakat. Dengan demikian kelembagaan masyarakat lokal akan terus menguat dan dapat berfungsi sebagai kontrol sosial, baik untuk percepatan pembangunan daerah tertinggal maupun program-program pembangunan lainnya.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

15

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Muatan informasi tentunya disesuaikan dengan karakter, efektifitas, dan cakupan media yang digunakan. Informasi dasar yang wajib disampaikan kepada khalayak adalah :       Nama Program Maksud, Tujuan dan Sasaran Program PLKSDA-BM; Visi dan Misi Program PLKSDA-BM; Waktu Pelaksanaan Jumlah Anggaran / Alokasi Dana Tata Kelola Program, yang menyangkut: Struktur pelaksana program, Peran dan fungsi masing-masing pelaku yang terdapat dalam struktur pelaksanaan program;  Mekanisme dan Strategi pelaksanaan program PLKSDA-BM, mulai dari tingkat pusat, Propinsi, Kabupaten, sampai dengan ditingkat Desa;  Keberlanjutan dan best practice

Materi informasi tersebut akan ditampilkan dalam brosur, poster, dan juga spanduk. Sementara muatan informasi lain seperti Kriteria Penerima Program, Daftar Desa Penerima Program, Permasalahan yang dihadapi dan sebagainya, akan dipaparkan dalam media publikasi lainnya baik cetak, elektronik, maupun melalui forum-forum pertemuan yang direncanakan.

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

16

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BAB III STRATEGI PENYEBARLUASAN INFORMASI

3.1. Metode Komunikasi Konsep penyebarluasan informasi melalui kegiatan sosialisasi, diseminasi dan publikasi diupayakan mampu menjangkau khalayak sasaran yang terdiri dari berbagai lapisan sosial dan tingkat pendidikan. Mereka berada di wilayah geografis yang relatif luas, sebagian bahkan terpencil atau jauh dari jangakauan media massa sebagai saluran komunikasi yang efisien dalam proses penyebarluasan informasi. Oleh karenanya diperlukan pendekatan/metode komunikasi dan strategi yang tepat dalam menjalankan kegiatan sosialisasi, diseminasi dan publikasi program PLKSDA-BM ini Metode atau cara yang digunakan adalah komunikasi langsung/tatap muka (interpersonal communication) dan tidak langsung (melalui alat publikasi/media massa). Komunikasi langsung lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman 3.2. Tema Pesan Berdasarkan Tujuan, Sasaran, visi, misi dan tahapan pelaksanaan program PLKSDA-BM, perlu dirumuskan konsep tematik yang akan menjadi acuan pokok dalam kegiatan penyadaran public dan pembuatan pesan-pesan publik. Ditjen Bina Bangda Kementrian Dalam Negeri menyiapkan 5 (lima) tema sebagai rujukan bagi setiap rancangan pesan yang akan dipublikasikan, yaitu mengenai: a) Tata Kelola Pelaksanaan Program PLKSDA-BM, maksudnya agar penerima manfaat dan pelaku kegiatan lebih memahami dan mampu mencermati jalannya program, siapa yang berperan melakukan apa untuk menyukseskan pelaksanaan program.

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

17

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Prinisip pelaksanaan dana TP dan DEKON sebagai tema pesan yang informatif, tema ini diharap dapat menumbuhkan budaya transparan dan akuntabilitas sebuah program pembangunan c) Kampanye dan ajakan untuk mewujudkan percepatan pembangunan daerah tertinggal, seperti: “Lahan kritis berkurang dan air terjaga, ekonomi petani membaik”, dan “Penyelamatan lahan kritis untuk perbaikan lingkungan”. d) Kampanye tentang pentingnya memperkuat kelembagaan Kelompok Tani PLKSDA-BM, seperti: “Mewujudkan kelembagaan Kelompok Tani yang berdaya dan mampu bekerjasama secara sinergis dengan Pemerintah Daerah dalam penanganan lahan kritis di wilayahnya masing-masing”. e) Kampanye penyadaran serta ajakan untuk selalu melibatkan masyarakat dalam proses penanganan lahan kritis melalui program PLKSDA-BM, dengan pesan seperti: “Meningkatkan keterlibatan masyarakat petani dalam setiap tahapan pelaksanaan program PLKSDA-BM”. 3.3. Strategi Media Strategi media penyadaran public dalam pelaksanaan PLKSDA-BM ini perlu mempertimbangkan kebutuhan muatan informasi, cakupan wilayah sasaran program dan karakteristik media. Masa kerja program yang relatif singkat juga merupakan faktor krusial yang harus diperhitungkan. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan metode komunikasi yang telah diuraikan sebelumnya, penggunaan media dalam tahapan penyebarluasan informasi dikategorikan sebagai berikut : 3.3.1. Media Pertemuan Kampanye pendaran public PLKSDA-BM, dengan menggunakan Media Pertemuan, seperti: Lokakarya Sosialisasi (yang dilaksanakan ditingkat pusat, propinsi maupun Kabupaten/Kota), Rembug warga ditingkat desa, Pertemuan Kelompok Tani dan
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

18

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

pertemuan melalui forum-forum masyarakat yang sudah ada di tingkat desa. 3.3.2. Media Cetak Media cetak yang dapat digunakan untuk kampanye penyadaran publik program PLKSDA-BM, seperti: Newsletter, Jurnal, dan Surat Kabar. Penyadaran public melalui media cetak dimanfaatkan terutama pada tahap awal sosialisasi sampai dengan tahap akhir program, sedangkan materinya disesuaikan mengikuti kebutuhan setiap tahapan.

3.3.3. Media Elektronik Kampanye penyadaran publik dengan menggunakan media elektronik, seperti melalui radio dan televisi. Siaran atau tayangannya berupa iklan layanan masyarakat, talkshow atau dialog interaktif. Radio dapat dipergunakan selama pelaksanaan program dengan bentuk penyajian yang bervariasi. Media TV akan dimanfaatkan pada pertengahan pelaksanaan program atau setelah fase awal penyampaian informasi atau pada fase akhir pelaksanaan program untuk menyebarluaskan informasi best practice progma. 3.4. Tinjauan Penggunaan Media Sesuai strategi tersebut di atas, media yang dapat digunakan dalam sosialisasi informasi dan penyadaran public program PLKSDA-BM adalah sebagai berikut: 3.4.1. Lokakarya Sosialialisasi Lokakarya merupakan media efektif untuk memperkenalkan suatu hal baru di kalangan publik sasaran, khususnya kalangan pemerintahan yang relatif sibuk dengan urusannya masing-masing. Melalui pertemuan dan komunikasi langsung dalam bentuk

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

19

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

workshop ini diharapkan terbangun pengertian serta dukungan kolektif dari peserta terhadap program serta keberlanjutannya. Materi lokakarya harus dibuat sedemikian rupa sehingga peserta tidak hanya duduk pasif mendengarkan melainkan harus ikut berinteraksi dengan materi yang dibawakan. Karena peran pemerintah harus aktif dalam ikut menciptakan suasana yang kondusif di wilayah sasaran, maka akan sangat baik jika peran tersebut dimainkan dalam suatu bentuk role playing pada saat lokakarya berlangsung. 3.4.2. Pertemuan Kelompok Tani Pertemuan Kelompok Tani merupakan media komunikasi langsung antar penerima manfaat, selain itu juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi pelaksanaan kegiatan PLKSDA-BM. Pertemuan Petani bisa juga digunakan untuk mengukur tingkat inisiatif masyarakat untuk membahas dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, frekuensi dan intensitasnya sangat tergantung kepada kesepakatan yang dibangun di antara petani. Sifat pertemuan yang informal serta bentuk pertemuan seperti silaturahmi ini diharapkan menjadi lebih efektif sebagai sarana sosialisasi dan membangun kesadaran petani untuk penanganan lahan kritis dan memperkuat system bercocok tanam yang memperhatikan aspek-aspek konservasi lahan. 3.4.3. Pertemuan warga melalui forum yang sudah ada Di kalangan masyarakat terutama di pedesaan, biasanya sudah terbentuk forum-forum pertemuan rutin yang berbasis pada budaya lokal dan adat istiadat setempat. Forum-forum itu sangat beragam dan berbeda-beda antara satu desa dengan desa lainnya. Desadesa di Jawa, misalnya, mempunyai forum-forum pertemuan ”selapanan” (pertemuan 35 hari sekali) dan di daerah lain dipastikan juga ada forum-forum sejenis yang telah hidup dan berlangsung di masyarakat. Selain forum-forum yang akarnya
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

20

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

adalah tradisi setempat, juga ada forum-forum lain seperti kelompok pengajian, arisan, karang taruna dan lain sebagainya. Forum-forum yang telah berjalan di masyarakat tersebut potensial untuk digunakan sebagai media sosialisasi dan diseminasi pelaksanaan kegiatan PLKSDA-BM. Pemanfaatan forum-forum pertemuan ini akan semakin memperkuat upaya sosialisasi dan diseminasi program. 3.4.4. Brosur Brosur umumnya berbentuk lembaran yang dilipat dan merupakan kemasan informasi yang ringkas, praktis, mudah dibawa dan disebarkan. Dibandingkan media lain, kelebihan brosur adalah dapat disimpan dan dibaca ulang, baik secara individu maupun kelompok (kolektif). Khalayak sasaran yang bisa dijangkau juga lebih luas dan beragam. Brosur berisi pengetahuan dasar (basic knowledge) tentang program PLKSDA-BM, seperti konsep, tujuan, fokus, struktur organisasi, mekanisme kerja, wilayah dan pelaksana program. 3.4.5. Poster Kekuatan poster sebagai media adalah minim kata, berupa pesan pendek atau slogan, namun sarat makna dan pesan. Kelebihan lainnya adalah ilustrasi gambar atau simbol sehingga bisa memperkuat makna pesan yang akan disampaikan. Selain itu poster yang akan diproduksi juga dapat disesuaikan dengan lokalitas budaya dan bahasa sehingga lebih fleksibel dan mudah diterima di masyarakat. Dalam penyebarannya, poster diharapkan dapat menjangkau wilayah yang lebih terpencil dan menjadi pengingat (reminder) akan berlangsungnya suatu tahapan pada proses pelaksanaan PLKSDA-BM. Bentuk dan ukuran poster ini biasanya berupa lembaran kertas tebal/karton berukuran cukup besar, sekitar setengah atau satu halaman koran. Poster dibuat dengan pesan yang disesuaikan
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

21

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

perkembangan dan tahapan proyek di lapangan. Pesan yang dimuat dalam poster mengacu pada tema pesan sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Desain dan pilihan tema yang akan ditampilkan juga disesuaikan dengan tahapan program dan perkembangan di lapangan. Sesuai dengan khalayak sasaran yang ingin dicapai maka poster dapat ditempel di lokasi-lokasi strategis di kantor Desa, kantor Kecamatan, sekolah-sekolah, dan tempat warga berkumpul, atau lokasi-lokasi yang digunakan masyarakat untuk beraktifitas seperti terminal desa, pasar desa, dan lain-lain. 3.4.6. Spanduk Media publikasi ini berupa lembaran kain panjang berukuran kurang lebih 1 x 6 meter sehingga mudah terlihat dari jarak cukup jauh. Keunggulan utama spanduk adalah bentuk fisiknya yang besar dan menyolok sehingga langsung menarik perhatian banyak orang dalam satu kesempatan. Seperti halnya poster, spanduk juga fleksibel dan dapat menjangkau wilayah yang terpencil. Produksi spanduk ini diserahkan ke masing-masing regional dan penyebarannya dititipkan melalui TPM dan atau Kelompok Tani di masing-masing desa. Spanduk dipasang di tempat-tempat strategis di desa-desa lokasi program dan seputar kantor Kabupaten. Pemasangan Musyawarah program. 3.4.7. Buku Saku (Booklet) Buku Saku atau Booklet juga merupakan bentuk media cetak yang cukup praktis dengan muatan informasi yang lebih padat dan lengkap. Buku Saku ini berisi pedoman program PLKSDA-BM dengan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan visualisasi (gambar-gambar) dan ilustrasi yang menarik. Pedoman umum
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

sebaiknya

dilakukan

pada

momen

menjelang di

Perencanaan

Pembangunan

(Musrenbang)

berbagai tingkat pemerintahan serta pada tahap awal sosialisasi

22

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

sangat dibutuhkan sebagai referensi lengkap bagi siapapun yang ingin mengetahui dan mempelajari program PLKSDA-BM serta menjadi panduan bagi para pelaku kegiatannya. Penyebaran booklet dapat dilakukan melalui kegiatan pelatihan, lokakarya, forum-forum pertemuan rutin atau berbagai kegiatan sosialisasi lainnya. 3.4.8. Newsletter Newsletter merupakan terbitan berkala yang meliput perkembangan program PLKSDA-BM, profil daerah dan isu-isu aktual seputar pelaksanaan program. Newsletter disajikan dengan bahasa populer, ringkas dan didukung tampilan foto-foto (gambar). Kekuatan media publikasi ini adalah sifat beritanya yang selalu mutakhir (up to date) serta dapat menjadi sarana komunikasi bagi para pihak yang berkepentingan, termasuk Kelompok Tani PLKSDA-BM. Rubrikasi dalam buletin dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh khalayak sasaran, khususnya penerima manfaat langsung dan para pelaku yang terlibat aktif dalam program ini. 3.4.9. Jurnal Jurnal juga merupakan media yang terbit berkala, fokusnya lebih pada kajian mengenai suatu masalah secara mendalam dengan berbagai perspektif dan analisis. Kekuatan Jurnal adalah pada kajian dan analisisnya yang dibutuhkan oleh program-program semacam PLKSDA-BM yang terkait dengan permasalahan lahan kritis. Media berkala yang terbit sekali dalam 3 (tiga) bulan ini diharapkan mampu memunculkan ide baru dan lebih progresif dalam menangani lahan kritis di daerah. Jurnal juga dapat menjadi wadah bagi ekpresi, tanggapan, sekaligus apresiasi dari setiap temuan persoalan di lapangan, sehingga masalah secara cepat bisa ditanggulangi.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

23

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3.4.10. Surat Kabar Pemuatan berita atau tulisan (features) di surat kabar sangat efektif menjangkau khalayak sasaran secara umum dengan wilayah cakupan yang jauh lebih luas. Pada umumnya publik cenderung lebih mempercayai informasi dalam bentuk berita/tulisan di media massa dari pada dalam bentuk iklan atau advertising. Agar informasi mengenai PLKSDA-BM dapat masuk sebagai berita ataupun features dalam surat kabar, perlu dilakukan pendekatan terhadap tim redaksi atau editor dari media surat kabar yang kita harapkan. Pendekatan semacam ini disebut sebagai penawaran berita (news pitching) karena intinya memang berusaha menawarkan agenda berita kepada media. Proses news pitching ini idealnya dilakukan dengan semangat untuk membangun kerjasama jangka panjang dengan media massa. Langkah awalnya berupa kunjungan/silaturahmi kantor redaksi surat kabar program untuk memberi penjelasan dan mengenai bagi pelaksanaan PLKSDA-BM manfaatnya

masyarakat petani dilokasi sasaran, menawarkan pilihan informasiinformasi aktual yang terjadi di lapangan seputar program ini, mengkondisikan masuknya program ini di suatu daerah, dan sebagainya. 3.4.11. Iklan Layanan Masyarakat di Televisi Iklan Layanan Masyarakat melalui televisi sebagai media audiovisual berfungsi untuk menarik perhatian dan menggugah minat penonton. Penayangan iklan melalui televisi dapat menyentuh publik di wilayah yang relatif lebih luas karena televisi merupakan media massa yang populer dan digemari segala lapisan masyarakat. Keunggulan televisi adalah gambar yang bergerak dan suara yang jelas, proses penerimaan pesan menjadi lebih mudah dan cepat. Secara teoritis, pengalaman seseorang yang didapat melalui penglihatan dan suara akan terekam lebih baik daripada
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

24

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

pengalaman yang diperoleh hanya melalui suara atau membaca saja. Iklan layanan masyarakat di televisi bermanfaat untuk mendukung proses yang terjadi di lapangan. Dengan demikian khalayak sasaran PLKSDA-BM yang mendapatkan informasi melalui media lain menjadi lebih percaya dan mendapat pengukuhan atas informasi tersebut. 3.4.12. Talk show di Radio Talk show merupakan ruang diskusi di radio yang dihadiri oleh kelompok penerima manfaat dan pihak-pihak yang berkaitan dengan PLKSDA-BM. Diskusi terbuka ini dipandu oleh seorang presenter/penyiar radio, dan dapat pula menyertakan publik pendengarnya untuk terlibat aktif dalam diskusi tersebut (dialog interaktif). Manfaat dari talk show ini adalah untuk menyampaikan berbagai persoalan yang muncul selama implementasi program dan membahas pemecahannya. Di sisi lain, bentuk penyiaran ini juga berfungsi sebagai sarana promosi program berharga dengan (best mengungkapkan pengalaman-pengalaman

practices) yang terjadi di berbagai daerah lokasi program PLKSDABM. Keunggulan talk show adalah dapat didengar langsung oleh khalayak sasaran dalam waktu bersamaan, sehingga jika ada kesamaan masalah yang dihadapi sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan maka pendengar bisa segera mendapatkan alternatif pemecahannya. Dalam penyelenggaraan talk show radio di tingkat nasional dimungkinkan kerja sama dengan Kantor Berita Radio seperti 68 H, Elshinta, RRI Pro2 FM, sedangkan untuk tingkat lokal dapat bekerja sama dengan stasiun radio lokal di daerahnya masing-masing.

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

25

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BAB IV PELAKSANAAN PENYADARAN PUBLIK PLKSDA-BM

4.1. Persiapan 4.1.1. Identifikasi Kelompok Sasaran Langkah awal kampanye penyadaran publik adalah mengidentifikasi kelompok sasaran kampanye penyadaran publik dengan membuat daftar prioritas unsur terkait yang akan terlibat dengan pelaksanaan penanganan lahan kritis dan sumber daya air berbasis masyarakat, baik unsur Pemerintahan maupun non Pemerintah. Hal – hal yang diidentifikasi adalah dinas/ instansi, lembaga, jabatan, pendidikan, gender dan kelompok usianya. Identifikasi kelompok sasaran kampanye penyadaran publik ini akan menjadi dasar penentuan materi dan media yang akan digunakan. 4.1.2. Klasifikasi Kelompok Sasaran Mengingat kompleksitas persoalan yang terkandung di dalam penanganan lahan kritis dan sumber daya air berbasis masyarakat, maka kelompok sasaran penyadaran publik harus mencakup seluruh unsur pemangku kepentingan baik dari unsur Pemerintahan maupun non Pemerintah yang terkait dengan pelaksanaan PLKSDA-BM. Kelompok sasaran penyadaran publik tersebut dapat dibagi dalam 2 (dua) kelompok sebagai berikut: 1. Kelompok penentu kebijakan dan pemerhati. Kelompok penentu kebijakan terdiri dari pejabat Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Sedangkan kelompok pemerhati terdiri dari Perguruan Tinggi, LSM. 2. Kelompok penerima manfaat dan petugas lapangan, adalah kelompok tani, PPL, PKL, dan lain-lain.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

26

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4.2. Pelaksanaan Kampanye Penyadaran Publik Melalui Media Pertemuan Penggunaan media pertemuan yang sengaja dirancang ataupun

memanfaatkan forum-forum pertemuan yang sudah ada, merupakan alat yang efektif bagi upaya sosialisasi dan diseminasi informasi program PLKSDA-BM. Metode atau cara yang digunakan adalah komunikasi langsung/tatap muka (interpersonal communication), karena akan lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman, memberikan pengukuhan (reinforcement) atas suatu informasi, dan dapat langsung memperoleh umpan balik (feed back). Perlu dicatat bahwa pada saat menggunakan media pertemuan, apapun bentuknya, metode ceramah yang bersifat komunikasi satu arah sangat tidak dianjurkan. Model penyampaian pesan yang komunikatif dapat lebih menciptakan suasana dialogis, menumbuhkan kedekatan dan perasaan setara. Implikasinya, penjelasan dan informasi/pesan yang disampaikan akan lebih diterima sebagai suatu hasil diskusi dan pemahaman bersama. Pengaruh psikologis seperti inilah yang akan mendukung efektifnya penggunaan media pertemuan. Dari berbagai macam jenis/bentuk pertemuan sebagai media sosialisasi penyadaran publik, telah disiapkan tiga jenis media pertemuan yang akan digunakan dalam konteks penyadaran publik program PLKSDA-BM, yaitu: (1) Lokakarya Sosialisasi yang dilaksanakan secara bertingkat mulai dari pusat, propinsi dan Kabupaten; (2) Rembug Warga ditingkat Desa; dan (3) Pertemuan warga melalui forum-forum yang sudah ada di tingkat desa, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 4.2.1. Lokakarya (Workshop) Lokakarya sosialisasi PLKSDA-BM biasa dilakukan pada fase awal program. Dengan pembahasan dan komunikasi langsung dalam Lokakarya (workshop) sosialisasi program, diharapkan terbangun pengertian serta dukungan kolektif dari peserta terhadap program serta keberlanjutannya.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

27

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1. Materi Lokakarya Sosialisasi Materi lokakarya dibuat sedemikian rupa sehingga peserta tidak hanya duduk pasif mendengarkan tetapi ikut aktif merespon materi yang dibawakan. Peran aktif Narasumber dan Pemerintah maupun Pemerintah Daerah penting artinya dalam menciptakan suasana yang kondusif di wilayah sasaran program. Oleh karena itu akan sangat menarik jika peran tersebut dimainkan dengan cara role playing pada saat lokakarya berlangsung. Untuk mengetahui secara rinci materi dan narasumber Lokakarya Sosialisasi PLKSDA-BM dapat dilihat pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Materi dan Narasumber Lokakarya Sosialisasi PLKSDA-BM
No 1 2 Bidang Kebijakan Teknis Pertanian Pemberdayaan Masyarakat Pendampingan PLKSDA-BM Penguatan Kelompok Tani Materi Arah kebijakan lahan kritis dan tata kelola program PLKSDA-BM; Program PLKSDA-BM mengintegrasikan sistem pertanian dan konservasi lahan Pemberdayaan masyarakat sebagai kemandirian dan keberlanjutan PLKSDA-BM; Tugas pokok dan fungsi TPM dalam pelaksanaan program PLKSDA-BM; Tugas pokok dan fungsi Kelompok Tani dalam pelaksanaan PLKSDABM; Narasumber Ketua Bappeda Dinas Pertanian atau Kehutanan Bantek Regional Bantek Regional Bantek Regional

3

4

5

2. Tujuan Penyelenggaraan Secara umum kegiatan lokakarya sosialisasi program PLKSDA-BM adalah untuk meningkatkan kesadaran kritis (awareness) pentingnya penanganan lahan kritis secara terorganisasi (konsolidasi, integrasi dan koordinasi), serta menyebarluaskan informasi mengenai pelaksanaan PLKSDA-

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

28

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BM secara umum. Tujuan khusus Lokakarya Sosialisasi adalah sebagai berikut: a. Untuk memperkenalkan konsep: Tujuan, Sasaran, Vusi Misi, Tahapan dan Strategi pelaksanaan PLKSDA-BM yang akan dilaksanakan (Konsolidasi dan Persiapan); b. Untuk mempromosikan Best Practices program PLKSDABM yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya dan mendorong terjadinya perubahan kebijakan yang mendukung pelaksanaan program yang akan dilaksanakan (integrasi dan koordinasi). c. Sebagai media evaluasi dan refleksi para pelaku kegiatan, khususnya untuk menghasilkan perubahan kebijakan di tingkat daerah (konsolidasi, integrasi dan koordinasi). 3. Sasaran Lokakarya Sosialisasi Lokakarya sosialisasi adalah sebagai strategi dan sarana untuk mewujudkan konsolidasi, integrasi dan koordinasi, maka sasaran peserta lokakarya ditujukan kepada publik-publik sebagai berikut: a. Aparat Pemerintah, yaitu aparat pemerintah sebagai represntasi pelaku program PLKSDA-BM, baik di pusat, propoinsi, kabupaten maupun ditingkat desa; b. Kelompok strategis non-pemerintahan di tingkat lokal seperti pemuka masyarakat, akademisi, jurnalis, dan lain sebagainya di lokasi program PLKSDA-BM; c. Kelompok Strategis Pemerintahan di daerah, seperti: pembuat keputusan, DPRD, pelaksana/pengawas; 4. Hasil Lokakarya Sosialisasi Hasil yang diharapkan dari lokakarya ini adalah terbangunnya pengertian dan dukungan kolektif dari peserta terhadap program PLKSDA-BM serta keberlanjutannya. Namun hal yang
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

29

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

sangat penting dan membedakan lokakarya dari kegiatan komunikasi lainnya adalah karena pada saat lokakarya semua pihak yang membuat kebijakan umum hadir di tempat tersebut. Hal ini sangat menunjang terjadinya kesepakatan atau komitmen bersama, sehingga akan mendukung proses, mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi program. 5. Pelaksana Kegiatan a. Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen. Bina Bangda) dan didukuing oleh Tim Konsultan Bantuan Teknis Regional (Bantek) PLKSDA-BM Pusat. b. Pemerintah Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota dan didukung oleh Konsultan Bantuan Teknis Regional (Bantek) PLKSDA-BM Regional. 4.2.2. Rembug Warga Desa Rembug Warga Desa adalah pertemuan warga desa yang menjadi lokasi program PLKSDA-BM. Pertemuan ini digagas oleh pemuka/tokoh masyarakat ataupun aparat desa, terutama untuk membahas gagasan program yang akan dilaksanakan di wilayah desa tersebut. Pertemuan semacam ini biasa dilakukan dengan memperhatikan acara (event) penting tertentu yang akan diselenggarakan di berbagai jenjang pemerintahan. Sebagai pertemuan yang bersifat informal, Rembug Warga bermanfaat dalam menjalin silaturahmi yang akan mendukung hubungan kerja yang lebih harmonis di antara para pihak yang terlibat atau berperan dalam program PLKSDA-BM, termasuk Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM). Melalui Rembug Warga juga dapat dicermati tingkat kepedulian dan inisiatif warga dalam membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang muncul selama pelaksanaan program. \
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

30

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1.

Waktu Penyelenggaraan : a. Pada awal tahapan kegiatan program PLKSDA-BM dan penguatan kelembagaan masyarakat di tingkat desa. b. Menjelang dilaksanakannya Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes); c. Berdasarkan kesepakatan dan kebutuhan warga.

2.

Tujuan Penyelenggaraan : a. Membahas kesiapan pelaksanaan program dan kegiatan pembentukan/penguatan (kelompok tani). b. Sebagai forum untuk mengkaji masalah lahan kritis sumberdaya air dan kelestarian lingkungan, dan potensi yang dirasakan dapat mendukung penanganan lahan kritis ditingkat desa; c. Sebagai media untuk sosialisasi program dan komunikasi dan pelaksanaan kegaiatan PLKSDA-BM kelembagaan masyarakat

penguatan kelembagaan masyarakat/ kelompok tani. 3. Sasaran a. Masyarakat desa atau petani dimana kegiatan PLKSDABM dilaksanakan. b. Pemuka masyarakat (tokoh agama, pemangku adat dan lain sebagainya). 4. Hasil Rembug Warga: a. Kesepahaman masyarakat atas pelaksanaan kegiatan PLKSDA-BM masyarakat. b. Kebutuhan-kebutuhan terhadap upaya penanganan lahan kritis melalui PLKSDA-BM ditingkat desa. c. Kesepakatan warga tentang nilai-nilai dan aturan main yang harus ditegakkan dalam pelaksanaan PLKSDA-BM. yang berbasis pada pemberdayaan

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

31

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

5.

Pelaksana Kegiatan : a. Pemuka Masyarakat di desa. b. Kelompok Tani bersama dengan TPM.

4.2.3. Pertemuan warga melalui forum-forum yang sudah ada di tingkat desa Pada umumnya dalam lingkup suatu daerah atau desa, sudah ada forum-forum pertemuan rutin yang telah berjalan dalam kurun waktu cukup lama, dan diikuti secara teratur oleh warga masyarakat. Forum-forum ini beragam jenisnya dan bisa berbedabeda antara satu desa dengan desa lainnya. Selain forum / kelompok pertemuan yang berbasis budaya atau tradisi daerah setempat, ada pula forum pertemuan yang dibentuk berdasarkan kebutuhan kepentingan atau kepentingan bersama, misalnya Arisan, Kelompok PKK, Pengajian, Karang Taruna dan sebagainya. Forum-forum pertemuan tersebut potensial digunakan sebagai media sosialisasi dan diseminasi pelaksanaan program PLKSDA-BM. 1. Waktu Penyelenggaraan : Menyesuaikan dengan jadwal rutin dari forum-forum pertemuan yang sudah ada di desa. 2. Tujuan Penyelenggaraan : a. Perluasan informasi atas pelaksanaan kegiatan penanganan lahan kritis melalui program PLKSDA-BM. b. Masyarakat semakin memahami tujuan, manfaat serta hasil kegiatan yang akan dan sedang dijalankan program PLKSDA-BM. c. Masyarakat melalui kelompok-kelompoktani yang sudah ada dapat memberikan dukungan dan masukan yang berguna bagi terwujudnya tujuan program PLKSDA-BM ditingkat desa.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

32

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3. Sasaran a. Masyarakat dilaksanakan. b. Pemuka masyarakat (tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh petani, pemangku adat dan lain sebagainya). 4. Hasil yang diharapkan : a. Kesepahaman masyarakat atas pelaksanaan kegiatan penguatan kelembagaan masyarakat. b. Dukungan masyarakat untuk memperkuat dan terlibat dalam kegiatan. 5. Pelaksana Kegiatan : a. Pemuka Masyarakat. b. Kelompok Tani bersama dengan TPM. 4.3. Kampanye Penyadaran Publik Melalui Media Cetak Penggunaan media cetak sebagai salah satu alat kampanye penyadaran publik program ditujukan untuk lebih memberikan gambaran secara tertulis kepada pemanfaat langsung maupun pemanfaat tidak langsung dari program PLKSDA-BM. Media dalam bentuk cetak yang dirancang diharapkan akan memberikan informasi secara terus menerus kepada publik, untuk itu diperlukan beragam media yang secara berkala atau pada saat tertentu mampu mengingatkan publik atas kegiatan yang sedang dan akan berlangsung. Panduan teknis ini dibuat untuk memudahkan penanggungjawab kegiatan dan pelaksana kegiatan membuat dan memanfaatkan penggunaan media cetak untuk sosialisasi dan publikasi. Dalam petunjuk teknis ada contohcontoh dari beberapa jenis media cetak yang disarankan untuk digunakan, dan tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan oleh pelaksana kegiatan adalah sebagai berikut: desa dimana kegiatan PLKSDDA-BM

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

33

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4.3.1. Brosur Brosur atau leaflet adalah lembaran informasi yang biasa digunakan sebagai media untuk memperkenalkan suatu program secara umum. Kemasannya yang ringkas dan praktis memudahkan penyebaran brosur ke wilayah-wilayah lokasi program PLKSDA-BM. 1. Bentuk Pada umumnya Brosur berbentuk lembaran kertas berukuran A3 atau kwarto yang dilipat menjadi 3-4 bagian halaman. 2. Isi (Content) a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Nama Program, dilengkapi gambar dan logo Konsep atau pemahaman tentang PLKSDA-BM; Maksud dan Tujuan Fokus Program Mekanisme Kerja; Wilayah Program; Waktu Pelaksanaan; Struktur Organisasi; Jumlah Anggaran; Pelaksana Program (berikut alamat dan no telepon/fax yang dapat dihubungi) 4.3.2. Poster Poster merupakan salah satu bentuk media cetak yang langsung dapat menarik perhatian khalayak (eye cathing). Selain karena bentuknya yang cukup besar dan umumnya dipasang di tempattempat strategis, juga karena pesan pendeknya yang sarat makna serta mudah diingat. 1. Bentuk Poster Berupa lembaran kertas tebal berukuran setengah sampai satu halaman koran. Biasanya poster juga dilengkapi 34

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

gambar/ilustrasi yang menarik dan mendukung makna pesan yang ingin disampaikan. 2. Isi Poster a. Nama Program b. Gambar, ilustrasi, atau photo c. Pesan-pesan singkat yang merujuk pada Tema Pesan, contohnya: 1) Lahan kritis berkurang dan air terjaga, ekonomi petani membaik. 2) Lahan baik dan tanah subur, petani makmur. 3) Air irigasi kurang dan tanah gersang, petani meradang d. Pelaksana Program (berikut alamat dan no telepon/fax yang dapat dihubungi) Secara teknis produksi poster ini dikoordinasikan oleh Bantek Regional dan diusahakan proses produksinya dapat dilakukan masing-masing Pemerintah Daerah (Propinsi atau Kabupaten). Proses produksi yang terdesentralisasi ini dapat meringkas biaya pengiriman ke seluruh wilayah sasaran, dan juga setiap Regional berkesempatan untuk merubah gaya bahasa atau menambah pesan-pesan khusus yang khas sesuai dengan wilayah mereka masing-masing. 4.3.3. Spanduk Spanduk adalah media yang paling mudah menarik perhatian khalayak, terutama karena ukurannya yang besar dan letaknya yang menggantung sehingga tampak dari kejauhan. Dicetak di atas kain panjang berisi pesan/ informasi singkat atau slogan mengenai program PLKSDA-BM. 1. Bentuk Spanduk Berupa lembaran kain berukuran kurang lebih 1 x 6 meter, dengan ukuran huruf yang tercetak besar dan berwarna.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

35

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2.

Isi Spanduk a. Nama Program b. Slogan yang rumusannya mengacu pada Tema Pesan, seperti: 1) Alih fungsi lahan, lahan berkurang dan rusaknya lingkungan. 2) Penyelamatan lahan kritis untuk perbaikan lingkungan. Secara teknis pembuatan spanduk dikoordinasikan dengan Bantek Regional, dan produksi spanduk diserahkan ke masing-masing Pemerintah Daerah Propinsi atau Kabupaten, serta penyebarannya dititipkan melalui TPM dan KTPM dimasing-masing desa. Spanduk dipasang di tempat-tempat strategis di desa-desa lokasi program, dan juga di seputar kantor Kabupaten.

4.3.4. Buku Saku (Booklet) Media penyebarluasan informasi yang akan menjadi semacam panduan bagi khalayak sasaran, dicetak dalam bentuk Buku Saku atau Booklet. Sebagai buku panduan, Booklet ini akan memuat panduan teknis mengenai program PLKSDA-BM atau semacam best practice program untuk menjadi contoh bagi lokasi baru. 4.3.5. Penawaran Berita di Surat Kabar Berita atau tulisan (features) tentang PLKSDA-BM yang dimuat di surat kabar, nasional maupun lokal, akan berpengaruh dalam pembentukan opini publik terutama bagi khalayak sasaran dan pelaku kegiatan program ini. Sebelum melakukan penawaran berita (news pitching), perlu disiapkan lebih dahulu materi/bahan beritanya. Kemudian tentukan surat kabar apa yang sebaiknya digunakan, dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti cakupan wilayah dan kredibilitas surat kabar tersebut. Selanjutnya, dilakukan pendekatan kepada tim redaksi surat kabar dengan
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

36

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

melakukan kunjungan ke kantor redaksi, berdiskusi dan memberi penjelasan tentang program PLKSDA-BM. 1. Bentuk: Berupa kolom berita dalam surat kabar atau dalam bentuk artikel/tulisan 2. Isi: a. Informasi umum seperti nama program, tujuan, fokus, wilayah dan pelaksananya b. Informasi aktual seperti best practices, dan permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan kegiatan 4.4. Kampanye Penyadaran Publik Melalui Media Elektronik Penyampaian pesan melalui alat bantu publikasi dan media massa lebih berfungsi dalam menyebarkan informasi atau pesan secara lebih luas, cepat, dan dengan sasaran yang heterogen. Media massa elektronik yang berupa Radio atau Televisi memiliki karakteristik yang berbeda, sifat media massa elektronik yang memiliki ketergantungan terhadap jaringan transmiter dan receiver juga merupakan kendala tersendiri. Efektifitas penggunaan media massa elektronik yang berupa Televisi lebih kepada kekuatan audio-visualnya dan harus dilakukan secara berulang-ulang agar menimbulkan efek persuasi. Sedangkan media massa elektronik berupa Radio lebih memberikan kemudahan kepada publik (pendengar) karena sifat dari pesawat radio yang moveable (mudah dibawa-bawa). Media Radio dapat dipergunakan selama pelaksanaan program dengan bentuk penyajian yang bervariasi dan untuk proses penyebarluasannya bias menggunakan model kerjama dengan kantor berita radio nasional yang memiliki jaringan di berbagai tempat di Indonesia. Media TV akan dimanfaatkan pada pertengahan pelaksanaan program atau setelah fase awal penyampaian informasi.

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

37

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4.4.1. Televisi Televisi (TV) adalah media massa yang populer di masyarakat, sehingga penyampaian pesan melalui media ini menjadi efektif karena jangkauannya yang luas. Untuk membangun kesadaran publik (public awareness) tentang program pemerintah bagi kepentingan masyarakat, tayangan TV dalam format iklan dianggap paling tepat. Iklan semacam ini tidak bersifat komersil dan biasa disebut sebagai Iklan Layanan Masyarakat (ILM). Dengan frekuensi penayangan yang ideal, ILM mengenai PLKSDABM akan mudah diterima dan dipahami khalayak penontonnya. Harapannya dapat memperluas publikasi, memperoleh perhatian dan partisipasi yang lebih intens dari masyarakat, terutama khalayak sasaran, serta pihak-pihak yang berkepentingan dalam program ini. 1. Bentuk: Iklan Layanan Masyarakat, dengan durasi 60 detik 2. Muatan/materi: a. Informasi umum seperti nama program, tujuan, fokus, wilayah dan pengelola program b. Merujuk pada beberapa tema pesan, seperti : 1) Kampanye tentang pentingnya memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat dalam penanganan lahan kritis. 2) Kampanye dan ajakan untuk selalu melibatkan masyarakat dalam penanganan lahan kritis dan program PLKSDA-BM. 4.4.2. Radio Radio termasuk media yang masih banyak digemari berbagai kalangan. Talk show di Radio menyediakan ruang diskusi untuk menyampaikan berbagai persoalan yang muncul selama 38 implementasi program dan membahas pemecahannya. Bentuk
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

penyiaran ini juga dapat menjadi sarana promosi program PLKSDA-BM. 1. Bentuk : Talk show dengan dialog interaktif, durasi 60 menit (45 menit efektif) 2. Muatan/materi : a. b. Informasi umum seperti nama program, tujuan, fokus, wilayah dan pengelola atau penanggung jawab program Merujuk pada tema-tema pesan yang sudah disiapkan, seperti: 1) Pentingnya upaya penanganan lahan kritis untuk mengembalikan kesuburan tanah dan meningkatykan kesejahteraan petani; 2) Penguatan kelembagaan kelompok tani dan tahapan pelaksanaan PLKSDA-BM; 3) Pentingnya penanganan lahan kritis dan perlindungan terhadap lingkungan hidup; 3. Narasumber Talkshow dipandu oleh seorang presenter/penyiar radio, dengan narasumber yang berasal dari berbagai pihak yang terlibat dalam program, seperti: a. b. c. d. Penanggung jawab / pengelola program PLKSDA-BM Kelompok Tani PLKSDA-BM; Kalangan akademisi sebagai pengamat program penanganan lahan kritis; Kepala Bappeda lokasi program PLKSDA-BM;

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

39

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Contoh : Format Talk Show di Radio

TALK SHOW RADIO
Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen. Bina Bangda) Kementrian Dalam Negeri Topik : Program PLKSDA-BM Perlindungan Lingkungan Hidup dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Miskin : 1. Kasubdit P2SEDA, Ditjen. Bina Bangda; atau 2. Bappeda Propinsi 3. Kelompok Tani PLKSDA-BM : Salam pembuka dan perkenalan oleh pemandu talkshow, narasi singkat mengenai program PLKSDA-BM dan topik yang akan dibahas. Wawancara dan penjelasan dari narasumber soal isu lahan kritis dengan berbagai penyebabnya. : Pembahasan topik/isu ditinjau dari perspektif pengelola program dan dari sudut pandang masyarakat (khalayak sasaran) sebagai penerima manfaat langsung. : Diskusi tentang dinamika pelaksanaan program, kelebihan dan kekurangannya, kebutuhan masyarakat dan visi-misi pemerintah untuk penanganan lahan kritis, dalam kaitannnya dengan peningkatan ekonomi masyarakat miskin; : Dialog interaktif narasumber dengan para pendengar, baik lewat telpon, faksimili, ataupun sms.

Narasumber

Segmen satu

Segmen dua

Segmen tiga

Segmen empat

4.5. Pembiayaan Biaya pelaksanaan kegiatan penyadaran publik dibebankan pada APBN atau APBD Provinsi/Kabupaten/Kota. 4.6. Evaluasi Pelaksanaan Penyadaran Publik Evaluasi pelaksanaan penyadaran publik bertujuan untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan kegiatan kampanye penyadaran publik tentang penanganan lahan kritis dan sumber daya air berbasis masyarakat
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

40

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4.6.1. Obyek Evaluasi Obyek evaluasi adalah Kegiatan kampanye penyadaran publik dalam rangka penanganan lahan kritis dan sumber daya air berbasis masyarakat. 4.6.2. Evaluasi Pelaksanaan penyadaran Publik Evaluasi Pelaksanaan Penyadaran Publik dilakukan oleh Pengelola Program secara berjenjang. Materi evaluasi adalah sebagai Berikut: 1. Proses pelaksanaan kegiatan mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaannya 2. Output atau keluaran 3. Outcomes atau hasil dari kegiatan Evaluasi tersebut dijadikan dasar dalam penyusunan rencana tindak lanjut untuk peningkatan kinerja. Evaluasi Pelaksanaan kampanye penyadaran publik dalam rangka penanganan lahan kritis dan sumber daya air berbasis masyarakat dilaksanakan melalui pengisian kuesioner dari target sasaran dan metode lain yang dapat menjaring semua data yang diperlukan. Pelaksanaannya dikoordinir oleh Bappeda dengan melibatkan Dinas PU, Dinas Pertanian, BPLHD dan Dinas Kehutanan.

Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

41

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BAB V PENUTUP Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM) merupakan proses pembelajaran menyeluruh bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam upaya penanganan lahan kritis dan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin. Bagaimana pun perubahan paradigma pembangunan penaganan lahan kritis tidak dapat dengan serta merta terjadi. Sebaliknya, paradigma baru yang diharapkan juga bukan berarti tidak ada dalam kesadaran dan pemikiran aparat pemerintahan daerah. Banyak aparat pemerintahan daerah maupun berbagai elemen di daerah yang memiliki bangunan kesadaran dan sikap pemikiran yang sesuai dan komplementer dengan paradigma baru dan mereka dapat diorganisasikan untuk menjadi partner dalam upaya penanganan lahan kritis. Prinsip pembelajaran dalam program PLKSDA-BM yang mencakup kesediaan belajar bersama dan bekerja bersama masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai etika, moralitas dan norma serta kesanggupan melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman di masa lalu dan belajar dari kesalahan yang pernah dilami. Fasilitasi pembelajaran dan penyadaran publik dalam program PLKSDA-BM harus dilakukan dengan menghidupkan proses aksi-refleksi. Pelaku program di daerah, baik dari Pemerintah Daerah, masyarakat maupun Konsultan Bantek harus melakukan koordinasi intensif untuk mengkonstruksikan proses pembelajaran lapangan ini, sehingga pertemuanpertemuan dan dialog-dialog informal dapat distrukturkan bersama dibangun sebagai “ilmu bersama.” Hal ini akan memperkuat orientasi kerja lapangan pemerintah daerah dalam penanganan lahan kritis sebagaimana telah dilakukan oleh Ditjen. Bina Bangda. Panduan kampanye penyadaran publik dalam rangka Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat ini disusun sebagai acuan proses pelaksanaan kampanye penyadaran publik di Daerah. Panduan ini dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi Daerah setempat dan sesuai kebutuhan, kepentingan serta aspirasi masyarakat. Panduan ini diharapkan dapat membantu pencapaian koordinasi, sinergitas, kesepahaman dalam melaksanakan PLKSDA-BM di Daerah.
Panduan Penyadaran Publik Program Penanganan Lahan Kritis Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM)

42

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->