P. 1
Bab Semua & Daftar Pustaka

Bab Semua & Daftar Pustaka

4.17

|Views: 8,150|Likes:
Published by arie wardana

More info:

Published by: arie wardana on Apr 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/10/2013

pdf

text

original

HUBUNGAN PENGUASAAN MATA KULIAH INTI KEBIDANAN DENGAN SIKAP TERHADAP PROFESI BIDAN DI STIKES DHARMA HUSADA BANDUNG

LAPORAN TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Menyelesaikan Pendidikan Program D4 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

ANITA YULIANI NPM 130104060097

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM KEBIDANAN BANDUNG 2008

2

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Pendidikan merupakan sektor paling penting dalam pembangunan nasional dan dijadikan sebagai andalan untuk berfungsi semaksimal mungkin dalam upaya meningkatkan kualitas hidup Indonesia. Dengan kata lain, pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun potensi manusia. Pada akhirnya akan membantu manusia meningkatkan sumber daya pembangunan (1). Untuk mencapai hal tersebut, penyelenggaraan pendidikan

terutama untuk tenaga kesehatan profesional harus memiliki beberapa variabel penting yaitu diantaranya input (tenaga kependidikan, mahasiswi, sarana prasarana), proses (kurikulum dan penatalaksaan program) dan out put (lulusan yang berkualitas) sesuai dengan tuntutan pelayanan yang diharapkan oleh masyarakat (2). Sesuai dengan salah satu variabel di atas, jelas mahasiswi dituntut untuk menjadi lulusan berkualitas. Untuk menjadi lulusan berkualitas, dalam proses pendidikan salah satunya dapat dilihat dengan penguasaannya terhadap materi

2

3

yang diajarkan. Penguasaan kemudian ditunjukan dengan prestasi belajarnya. Prestasi belajar sendiri merupakan wujud hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas yang telah dilakukan selama berada dalam aktivitas pembelajaran. Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita (3). Prestasi belajar dilihat pada saat dilakukan pengujian pada mata kuliah yang berhubungan. Untuk melihat penguasaan mahasiswa, maka dalam pendidikan kebidanan terdapat mata kuliah yang mengacu pada kurikulum DIII Kebidanan (berdasarkan SK Menteri Kesehatan No. HK.00.06.2.4.1583 Tahun 2002). Dalam kurikulum tersebut, terdapat Mata kuliah inti kebidanan yang seharusnya dikuasai oleh mahasiswi sebagai calon bidan. Mata kuliah tersebut adalah Askeb I, Askeb II, Askeb III, Askeb IV, Askeb V, Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita, Kesehatan Reproduksi, Pelayanan KB, Dokumentasi Kebidanan, PKK (Praktik Klinik Kebidanan), Konsep Kebidanan, Etika Profesi, Komunikasi dan Konseling, Mutu Layanan Kebidanan, Metoda Penelitian, dan KTI (Karya Tulis Ilmiah). Mata kuliah tersebut kemudian dijabarkan dalam kompetensi berdasarkan peran dan fungsinya sebagai bidan (2). Di sisi lain, Jika pengetahuan tersebut baik, apakah sikap mahasiswi terhadap profesinya baik? Dalam realitasnya, mahasiswi kebidanan harus memiliki sikap yang baik terhadap profesinya, karena dia akan menjadi seorang bidan. Apabila

3

4

sikap terhadap profesinya baik, maka dia akan cenderung mencintai profesinya karena sikap umumnya sulit untuk dirubah (5). Menurut survey yang dilakukan oleh IBI, tercatat hingga saat ini terdapat sekolah kebidanan berjenjang diploma 3 berjumlah 120. Di Kota Bandung sendiri, terdapat sekitar 6 sekolah kebidanan jenjang DIII STIKes Dharma Husada Bandung. Sekolah Tinggi Kesehatan Dharma Husada merupakan Sekolah Tinggi Kesehatan yang memiliki jurusan kebidanan di dalamnya. Jurusan Kebidanan itu sendiri memiliki 2 penggolongan kelas besar yaitu kelas reguler dan kelas karyawan. Berbeda dengan kelas karyawan yang telah menjadi bidan sebelumnya, kelas reguler ini merupakan lulusan dari SMU. Tentu saja dengan kuliahnya mahasiswa kelas reguler tersebut ke jurusan kebidanan, mereka nantinya ingin menjadi orang yang sukses di masa yang akan datang. Selama mereka mengikuti proses perkuliahan, mereka bersaing agar memiliki prestasi belajar yang baik. Diharapkan, dengan nilai yang baik, akan lebih paham mengenai dunia kebidanan itu sendiri. Hal ini sesuai dengan Visi DIII Kebidanan STIKes Dharma Husada yaitu bahwa mereka ingin menghasilkan bidan yang kompeten, sesuai perkembangan IPTEK, berjiwa entrerpreneur, serta berdaya saing tinggi pada Tahun 2015. Untuk menjadi bidan yang kompeten sesuai dengan visi tersebut, maka
(20)

, salah satunya yaitu

4

5

lulusannya diharapkan memiliki kecintaan tinggi dengan profesinya dan hal itu ditunjukan dengan sikapnya kepada profesinya. Namun berdasarkan voting, sekitar 60% mahasiswi semester V bersekolah di STIKes Dharma Husada Bandung berdasarkan kehendak orangtua. Hal ini menimbulkan ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian ini dengan judul “Hubungan Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dengan Sikap Terhadap Profesi Bidan di STIKes Dharma Husada Bandung”.

1.2. Rumusan Masalah Adakah hubungan antara penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan di STIKes Dharma Husada Bandung .

1.3. Tujuan 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan terhadap profesi bidan di STIKes Dharma Husada Bandung .

1.3.2. Tujuan Khusus 1) Untuk mendapatkan gambaran penguasaan mata kuliah inti kebidanan di STIKes Dharma Husada Bandung .

5

6

2) Untuk mendapatkan gambaran sikap terhadap profesi bidan di STIKes Dharma Husada Bandung . 3) Untuk mengetahui adakah hubungan antara penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan di STIKes Dharma Husada Bandung .

1.4. Manfaat 1) Bagi Institusi Merupakan sumbangan pemikiran penyusunan program pendidikan terutama dalam hubungan penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan. 2) Bagi Masyarakat Dapat menambah pengetahuan atau wawasan khususnya mengenai dunia pendidikan kebidanan. 3) Bagi Penulis Dapat memberikan pengalaman, menambah wawasan dan pengetahuan khususnya mengenai hubungan penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan.

6

7

1.5. Kerangka Pemikiran Penguasaan mata kuliah inti kebidanan adalah memiliki sifat paham atau sanggup menguasai pengetahuannya yang dalam hal ini yaitu pengetahuan dalam bidang kebidanan. Pengetahuan tersebut terdapat dalam mata kuliah pokok atau mata kuliah wajib sebuah institusi kebidanan. Mata kuliah inti kebidanan adalah berbagai mata kuliah yang merupakan salah salah satu tubuh pengetahuan kebidanan (Body of Midwifery Knowledge) yaitu ilmu kebidanan yang harus dikuasai mahasiswi kebidanan sebagai seorang calon bidan. Ilmu kebidanan adalah dasar dari berbagai kompetensi atau kemampuan yang dimiliki oleh bidan (6). Ilmu kebidanan tersebut antara lain adalah: 1) Dasar-dasar Kebidanan (Perkembangan Kebidanan, registrasi, dan organisasi profesi dan peran fungsi bidan). 2) Teori dan model konseptual kebidanan 3) Siklus Kehidupan wanita 4) Etika dan etiket kebidanan 5) Pengantar Kebidanan Profesional (konsep kebidanan, definisi dan lingkup kebidanan dan manajemen kebidanan) 6) Teknik dan prosedur asuhan 7) Asuhan Kebidanan dalam kaitan kesehatan reproduksi (berdasarkan siklus hidup kehidupan manusia dan wanita)

7

8

8) Tingkat dan jenis pelayanan kebidanan 9) Legislasi kebidanan 10) Praktik Klinik Kebidanan Di dalam kenyataannya, ilmu kebidanan yang merupakan mata kuliah inti kebidanan tersebut kemudian dikelompokan menjadi MKB (Mata kuliah Keahlian Berkarya) dan MPB (Mata kuliah Perilaku Berkarya). Berdasarkan Kurikulum Nasional Pendidikan DIII Kebidanan Tahun 2002, mata kuliah inti kebidanan tersebut adalah (2, 14): .A MKB (Mata kuliah Keahlian Berkarya) 1) Askeb I (Asuhan Kebidanan Kehamilan), 2) Askeb II (Asuhan Kebidanan Persalinan), 3) Askeb III (Asuhan Kebidanan Nifas), 4) Askeb IV (asuhan Kebidanan Patologi), 5) Askeb V (Asuhan Kebidanan Komunitas), 6) Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita, 7) Kesehatan Reproduksi, 8) Pelayanan KB (Keluarga Berencana), 9) Dokumentasi Kebidanan, 10)Praktik Klinik Kebidanan.

8

9

.B MPB (Mata kuliah Perilaku Berkarya) .1 Konsep Kebidanan, .2 Etika Profesi dan Hukum Kesehatan, .3 Komunikasi dan Konseling, .4 Mutu Layanan Kebidanan, .5 Metoda Penelitian, dan .6 KTI (Karya Tulis Ilmiah).

Di sisi lain, sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat atau emosi yang bersangkutan (senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju baik atau tidak baik, dan sebagainya). Jadi dapat dikatakan bahwa sikap adalah suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam merespons stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan yang lainnya. (4,5). Profesi bidan adalah profesi tertua dunia yang ada sejak adanya peradaban dunia. Bidan lahir sebagai seorang wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu-ibu yang melahirkan. Profesi ini telah menunjukan peran dan posisi seorang bidan yang terhormat di masyarakat karena tugas yang diembannya sangat mulia dalam upaya memberikan semangat dan

membesarkan hati para ibu-ibu (6,7).

9

10

Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri tertentu yaitu: 1. Disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan/ mengerjakan pekerjaan yang menjadi

tanggung jawabnya secara profesional. 2. Dalam menjalankan tugasnya, bidan memiliki alat yang dinamakan Standar Pelayanan Kebidanan, Kode etik dan Etika Kebidanan. 3. Bidan memiliki kewenangan kelompok ilmu pengetahuan yang jelas dalam menjalankan profesinya. 4. Memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya

(Permenkes No.572 Tahun 1996). 5. Memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 6. 7. Memiliki wadah organisasi profesi. Memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan masyarakat. 8. Menjadikan bidan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama kehidupan.

10

11

Dari ciri tersebut, seperti pada salah satu poinnya bahwa profesi bidan disiapkan melalui pendidikan bidan. Saat melalui proses pendidikan tersebut, harus memiliki prestasi belajar atau penguasaan mata kuliah yang bagus. Maka, diharapkan jika memiliki prestasi belajar yang baik akan memiliki sikap terhadap profesinya yang baik pula. Untuk memperjelas mengenai pemikiran di atas, maka berikut ini akan ditampilkan mengenai skema kerangka konsepnya.
• • • Konsep Kebidanan Etika Profesi Komunika si & Konseling ASKEB I ASKEB II ASKEB III ASKEB IV • • • •

• •

Penguasaan Mata Inti Kebidanan Kuliah

• • • •

ASKEB V ASKEB Neonatus, bayi & balita • Kesehatan Reproduksi • Pelayanan KB • Dokumentas i • PKK I

Sikap Terhadap Profesi Bidan

PKK II dan PKK III Mutu Layanan Kebidanan Metoda Penelitian Karya Tulis Ilmiah

Variabel Independen

Variabel Dependen

Gambar 1.1 Kerangka Konsep Keterangan: _______________ variabel yang diteliti

11

12

-------------

variabel yang tidak diteliti

1.6. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder (data kuantitatif) berupa rata-rata kumulatif nilai akhir mata kuliah inti kebidanan yang diambil dari catatan nilai pada dokumen yang ada dan data primer (Data kualitatif yang diubah menjadi data kuantitatif) berupa angket atau kuisioner yang berisi sikap terhadap profesi bidan. Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh Mahasiswi Kebidanan Kelas Reguler Semester V STIKes Dharma Husada Bandung yang berjumlah 88 orang. Dalam hal ini peneliti tidak melakukan pengambilan sampel. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 13.0 for windows.

1.7. Lokasi Penelitian Lokasi Penelitian adalah STIKes Dharma Husada Bandung Jurusan Kebidanan. Waktu pembuatan Laporan Tugas Akhir dilakukan dari bulan Desember s.d Maret 2008. Sedangkan waktu pengambilan data dilakukan pada tanggal 17-18 Januari 2008.

12

13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kurikulum 2.1.1. Definisi Kurikulum Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/ U/ 2000 Bab I pasal 1 No.6, kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi (16). Dalam proses belajar mengajar, peran kurikulum sangat penting. Kurikulum yang menjadikan dasar penyelenggaraan program studi. Kurikulum juga berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum di suatu perguruan tinggi berisi uraian tentang jenis program yang diselenggarakan, bertanggung jawab. bagaimana menyelenggarakannya serta siapa yang

2.1.2. Pembagian Kurikulum Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/ U/ 2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian

13

14

Belajar Mahasiswa, kurikulum perguruan tinggi termasuk program diploma terdiri dari kelompok MPK, MKK, MKB, MPB dan MBB : a. MPK (Mata kuliah Pengembangan Kepribadian) adalah sekelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. b. MKK (Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan) adalah kelompok bahan kajian dan pajaran yang yang ditunjukan terutama untuk memberikan landasan penguasaan ilmu dan keterampilan tertentu. c. MKB (Mata kuliah Keahlian Berkarya) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan dasar ilmu dan kterampilan yang dikuasai. d. MPB (Mata kuliah Perilaku Berkarya) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan untuk membentuk sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang untuk berkarya menurut tingkat keahlian

berdasarkan dasar ilmu dan keterampilan yang dikuasai. e. MBB (Mata kuliah Berkehidupan Bermasyarakat) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan seseorang untuk dapat memahami

14

15

kaidah kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

2.1.3. Fungsi Kurikulum Adapun fungsi kurikulum perguruan tinggi diantaranya yaitu(16): a. Bagi Mahasiswa Bagi mahasiswa kurikulum berfungsi untuk mendapat sejumlah pengetahuan dan pengalaman baru yang kelak dikemudian hari dapat digunakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. b. Bagi Dosen i. Pedoman kerja menyusun dan mengorganisasikan kegiatan belajar para mahasiswa. ii. Pedoman mengadakan evaluasi terhadap perkembangan mahasiswa dalam rangka menyerap sejumlah ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diberikan. c. Bagi Penyelenggara Pendidikan i. Pedoman mengadakan fungsi supervisi yaitu memperbaiki situasi belajar. ii. Pedoman melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan kepada dosen untuk memperbaiki situasi mengajar.

15

16

iii. Pedoman melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan kepada dosen untuk memperbaiki situasi mengajar. iv. Pedoman memperkembangkan kurikulum lebih lanjut sesuai dengan perkembangan yang ada. v. Pedoman mengadakan evaluasi kemajuan belajar mengajar.

d. Bagi Orang Tua Mahasiswa Bagi orangtua mahasiswa, kurikulum memiliki fungsi memberikan pengetahuan bagi orangtua tentang apa yang dipelajari putra putrinya, membantu usaha perguruan tinggi dalam memajukan putra-putrinya.

2.2. Penguasaan Mata Kuliah Inti kebidanan Penguasaan adalah suatu proses atau cara, perbuatan menguasai/ menguasakan. Penguasaan juga dapat diartikan pemahaman atau kesanggupan untuk menggunakan pengetahuan. Atau juga dapat diartikan sebagai pemahaman atau kesanggupan untuk menggunakan kepandaian(13). Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan adalah memiliki sifat paham atau sanggup menguasai pengetahuannya yang dalam hal ini yaitu pengetahuan dalam bidang kebidanan. Pengetahuan tersebut terdapat dalam mata kuliah pokok atau mata kuliah wajib sebuah kurikulum yang dimiliki oleh sebuah institusi kebidanan.

16

17

Mata kuliah inti kebidanan adalah berbagai mata kuliah yang merupakan salah salah satu tubuh pengetahuan kebidanan (Body of Midwifery Knowledge) yaitu ilmu kebidanan yang harus dikuasai mahasiswi kebidanan sebagai seorang calon bidan
(6) .

Ilmu kebidanan adalah dasar dari berbagai kompetensi atau

kemampuan yang dimiliki oleh bidan. Ilmu kebidanan tersebut antara lain adalah: 1) Dasar-dasar Kebidanan (Perkembangan Kebidanan, registrasi, dan organisasi profesi dan peran fungsi bidan). 2) Teori dan model konseptual kebidanan 3) Siklus Kehidupan wanita 4) Etika dan etiket kebidanan 5) Pengantar Kebidanan Profesional (konsep kebidanan, definisi dan lingkup kebidanan dan manajemen kebidanan) 6) Teknik dan prosedur asuhan 7) Asuhan Kebidanan dalam kaitan kesehatan reproduksi (berdasarkan siklus hisup kehidupan manusia dan wanita) 8) Tingkat dan jenis pelayanan kebidanan 9) Legislasi kebidanan 10) Praktik Klinik Kebidanan

17

18

Ilmu kebidanan tersebut pada kenyataannya merupakan beberapa mata kuliah yang ada dalam kurikulum kebidanan. Mata kuliah tersebut yaitu terdiri dari Mata kuliah Keahlian Berkarya (MKB) dan Mata kuliah Perilaku Berkarya (MPB) (2, 13). Mata Kuliah tersebut antara lain: A. MKB (Mata kuliah Keahlian Berkarya) 1) Askeb I (Asuhan Kebidanan Kehamilan), 2) Askeb II (Asuhan Kebidanan Persalinan), 3) Askeb III (Asuhan Kebidanan Nifas), 4) Askeb IV (Asuhan Kebidanan Patologi), 5) Askeb V (Asuhan Kebidanan Komunitas), 6) Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita 7) Kesehatan Reproduksi, 8) Pelayanan KB (Keluarga Berencana), 9) Dokumentasi Kebidanan, 10)PKK (Praktik Klinik Kebidanan). B. MPB (Mata kuliah Perilaku Berkarya) 1. Konsep Kebidanan, 2. Etika Profesi dan Hukum Kesehatan, 3. Komunikasi dan Konseling, 4. Mutu Layanan Kebidanan,

18

19

5. Metoda Penelitian, dan 6. KTI (Karya Tulis ilmiah)

2.3. Belajar 2.3.1. Definisi Belajar Untuk mendapatkan penguasaan Mata Kuliah yang sangat baik, tentu saja harus memiliki suatu proses yang bermakna sehingga penguasaannya dapat berhasil tersampaikan. Berbagai proses itu tentu tidak lepas dari suatu hal yang selalu dilakukan manusia yaitu belajar. Di kalangan ahli psikologi terdapat keragaman dalam mendefinisikan makna belajar. Namun akhirnya terdapat kesamaan makna, bahwa definisi belajar itu selalu menunjukan kepada suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu (22). Belajar adalah proses yang terjadi dalam otak manusia. Saraf dan sel-sel otak yang bekerja mengumpulkan semua yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan lain-lain, lantas disusun oleh otak sebagai hasil belajar. Itulah sebabnya orang tidak bisa belajar jika fungsi otaknya terganggu (11). Belajar merupakan perkayaan materi pengetahuan (material) dan atau perkayaan pola-pola perilaku baru dengan proses pengisian jiwa melalui hafalan (memorizing) pengetahuan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya. Belajar

19

20

juga merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan. Pendapat ini dikemukakan oleh para penganut Ilmu Jiwa Gestalt (22). Jadi secara umum, pengertian belajar selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa aspek dari kepribadian individu. Perubahan ini dengan sendirinya dialami tiap-tiap individu atau manusia, terutama hanya sekali sejak manusia dilahirkan. Sejak saat itu terjadi perubahan-perubahan dalam arti perkembangan melalui fase-fasenya. Dan karena itu pula, sejak saat itu pula berlangsung proses belajar (22).

2.3.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar Secara fundamental, Dollar and Miller menegaskan bahwa keefektivan perilaku belajar itu dipegaruhi oleh empat hal yaitu (22): a. Adanya motivasi, siswa harus menghendaki sesuatu. b. Adanya perhatian dan mengetahui sasaran, siswa harus memperhatikan sesuatu. c. Adanya usaha, siswa harus melakukan sesuatu. d. Adanya evaluasi dan pemantapan hasil, siswa harus memperoleh sesuatu. Sedangkan secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar anak atau individu dibagi dalam dua bagian. Kedua faktor tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain (11):

20

21

2.3.2.1. Faktor endogen Faktor ini disebut juga dengan faktor internal, yakni semua faktor yang berada dalam diri sendiri. Faktor ini meliputi dua faktor yaitu faktor fisik dan faktor psikis. a. Faktor Fisik Faktor ini dikelompokan lagi menjadi beberapa faktor antara lain faktor kesehatan. Misalnya anak yang kurang sehat maka daya tangkap dan kemampuan belajarnya akan kurang dibandingkan dengan anak yang sehat. Selain faktor kesehatan, ada faktor lain yaitu faktor cacat-cacat yang dibawa sejak anak berada di dalam kandungan. Keadaa cacat ini juga bisa menghambat keberhasilan seseorang. b. Faktor Psikis Banyak faktor termasuk aspek psikis yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran, diantaranya: i. Faktor intelegensi atau kemampuan Faktor ini memiliki pengaruh karena pada kenyataannya orang yang dikaruniai kemampuan yang tinggi maka dia akan mudah mempelajari sesuatu. Sebaliknya, ada orang yang kemampuannya kurang, sehingga mengalami kesulitan untuk mempelajari sesuatu.

21

22

Dengan

demikian,

perbedaan

dalam

mempelajari

sesuatu

disebabkan antara lain oleh perbedaan pada taraf kemampuannya. Kemampuan ini penting untuk mempelajari sesuatu. ii. Faktor perhatian dan minat Secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan besar terhadap sesuatu. Bagi seorang anak, mempelajari suatu hal yang menarik akan lebih mudah menerima daripada yang tidak menarik. Keinginan (minat) dan kemauan (kehendak) sangat

mempengaruhi corak perbuatan yang akan diperlihatkan seseorang. Sekalipun seseorang mampu mempelajari sesuatu, tetapi bila tidak memiliki minat dan tidak ada kehendak untuk mempelajari, ia tidak bisa mengikuti proses belajar. Minat erat pula hubungannya dengan perhatian yang dimiliki, karena perhatian mengarahkan timbulnya kehendak pada

seseorang. Kehendak juga erat hubungannya dengan kondisi fisik/ psikis seseorang seperti sehat-sakit atau senang-tidak senang. iii. Faktor bakat Pada dasarnya, bakat mirip dengan intelegensi. Bakat seseorang itu berbeda-beda. Seorang anak yang berbakat musik,

22

23

dia akan lebih cepat mempelajari musik. Orang tua terkadang kurang memperhatikan faktor ini, sehingga mereka terkadang memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yag dimiliki anaknya. Pemaksaan kehendak ini akan berpengaruh buruk terhadap prestasi belajar anak. iv. Faktor motivasi Motivasi adalah keadaan internal organisme yang

mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Karena belajar merupakan suatu proses yang timbul dari dalam, motivasi memgang peranan juga. Kekurangan atau ketiadaan motivasi, baik internal maupun eksternal, akan menyebabkan kurang bersemangatnya anak dalam melakukan proses pembelajaran. v. Faktor Kematangan Kematangan adalah tingkat perkembangan pada individu atau organ-organnya sehingga sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam proses belajar, kematangan ini datang menentukan. Oleh karena itu, setiap usaha belajar akan lebih berhasil bila dilakukan bersamaan dengan tingkat kematangan individu. Kematangan ini erat kaitannya dengan masalah minat dan kebutuhan anak.

23

24

vi.

Faktor Kepribadian Faktor ini turut memegang peranan dalam belajar. Dalam proses pembentukan kepribadian, ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai fase tertentu akan mengalami kesulitan jika ia dipaksa melakukan hal-hal yang terjadi pada fase sekolah yang berbeda dengan fase yang telah dilaluinya.

c. Faktor eksternal, yakni semua faktor yang berada di luar diri individu, misalnya orang tua dan guru, atau kondisi lingkungan di sekitar individu. 2.3.2.2. Faktor eksogen Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari luar diri anak. Faktor ini terdiri dari tiga hal yaitu: a. Faktor keluarga Keluarga adalah lembaga sosial terkecil dari masyarakat. Jadi keluarga merupakan bagian dari masyarakat. Individu-individu yang baru berkembang, yang dilahirkan dalam suatu keluarga, harus mengalami proses belajar sehingga akan mengambil alih nilai-nilai yang umum berlaku di kelompoknya. Dalam hubungannya dengan belajar, faktor keluarga memiliki peranan penting karena keadaan keluarga akan sangat menentukan berhasil

24

25

tidaknya anak dalam menjalin proses belajarnya. Faktor ini dibagi menjadi 3 aspek yakni: i. Kondisi ekonomi keluarga Faktor ekonomi sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan kehidupan keluarga dan keberhasilan anak. ii. Hubungan emosional orangtua dan anak Hubungan emosional berpengaruh dalam keberhasilan anak. Misalnya dalam suasana rumah yang selalu ribut dengan pertengkaran akan mengakibatkan terganggunya ketenangan dan konsenrasi anak, sehingga tidak bisa belajar dengan baik. iii. Cara mendidik anak Biasanya, setiap keluarga memiliki spesifikasi dalam mendidik. Ada keluarga yang menjalankan cara mendidik anaknya secara diktator militer, ada yang demokratis, tetapi ada juga keluarga yang acuh tak acuh dengan pendapat setiap anggota keluarga. Ketiga cara mendidik ini, langsung atau tidak langsung, dapat berpengaruh pada proses belajar anak. b. Faktor sekolah Faktor lingkungan sekolah seperti para guru, pegawai administrasi, dan teman-teman sekolah, dapat mempengaruhi semangat belajar seorang

25

26

anak. Bimbingan yang baik dan sistematis dari guru terhadap pelajar yang mendapat kesulitan-kesulitan dalam belajar, bisa membantu kesuksesan anak dalam belajar. c. Faktor lingkungan lain Faktor lain yang dapat mempengaruhi hasil belajar misalnya karena jarak antara rumah dan sekolah yang jauh, sehingga memerlukan kendaraan untuk keperluan perjalanan yang relatif cukup lama atau faktor teman bergaul dan aktivitas dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar anak.

2.3.3. Belajar sebagai Suatu Proses Kata Proses berasal dari bahasa latin ”processus” yang artinya ”berjalan ke depan”. Proses adalah runtutan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu, atau merupakan rangkaian tindakan, pembuatan, atau pengolahan yang menghasilkan produk. Proses juga dapat dikatakan sebagai perkara di pengadilan (12). Seorang peneliti bermana Reber mengatakan bahwa proses belajar adalah langkah-langkah yang memungkinkan timbulnya beberapa perubahan serta tercapainya hasil-hasil tertentu
(11)

. Apabila proses belajar telah berjalan dengan baik

maka kelak akan memberikan hasil yang baik, yang nanti akan disebut sebagai ”hasil belajar”.

26

27

Proses dalam belajar merupakan faktor yang paling penting, karena proses sebetulnya menekankan kreativitas. Pada umumnya, proses berkenaan dengan cara belajar berkembang, bagaimana siswa bergaul dengan guru dan bagaimana siswa terlibat dalam proses tersebut. Menurut seorang peneliti Indonesia Soepartinah Pakasi bahwa beberapa sifat proses belajar adalah: 1. Belajar merupakan suatu interaksi antara anak dan lingkungan . 2. Belajar berarti berbuat 3. Belajar berarti ”mengalami” 4. Belajar adalah suatu aktivitas yang bertujuan 5. Belajar memerlukan motivasi 6. Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak 7. Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak Selain itu, mekanisme proses belajar yang berlangsung dalam diri siswa dapat diterangkan sebagai berikut (22): i. Pertama, siswa merasakan adanya kebutuhan. Misalnya ingin

meningkatkan atau mempertahankan prestasinya. ii. Kedua, siswa menyadari bahwa cara-cara belajar yang selama ini biasa ia gunakan atau keterampilan-keterampilan yang dia miliki ternyata tidak

27

28

memadai lagi digunakan untuk meningkatkan atau mempertahankan prestasinya. iii. Ketiga, mencoba melakukan cara-cara atau pola-pola belajar yang telah diketahui dan dipilihnya di dalam praktik. Hasilnya dapat berhasil ataupun tidak. Jika ternyata berhasil, siswa cenderung untuk menggunakannya kembali dalam menghadapi tantangan, situasi atau masalah yang serupa. Dari proses belajar di atas, dapat dikatakan bahwa siswa akan mulai akan belajar kalau diawali dengan menciptakan situasi yang dapat menimbulkan keinginan atau rasa kebutuhan dalam diri siswa, untuk memperoleh sikap atau keterampilan baru. Kemudian siswa mencoba melakukannya dan akhirnya siswa terutama guru dapat menimbang apakah benar hasil pekerjaannya itu dapat memenuhi kebutuhan tadi.

2.3.4. Cara Penilaian Belajar Belajar pada akhirnya membutuhkan penilaian untuk mengetahui hasilnya seperti apa. Dalam kaitannya dengan penyusunan alat-alat penilaian, ada beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu (23): 1. Menelaah kurikulum dan buku pelajaran agar dapat ditentukan lingkup pertanyaan, terutama materi pelajaran, baik keluasannya maupu kedalamannya. 2. Merumuskan tujuan instruksional khusus sehingga tujuannya jelas. 3. Membuat kisi-kisi alat penilaian.

28

29

4. Menyusun atau menulis soal-soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. 5. Membuat dan menentukan kunci jawaban dan standar penskoran untuk setiap soal. Dalam melakukan penilaian atau evaluasi proses pembelajaran hendaknya dengan kegiatan yang komprehensif dan kontinyu (menyeluruh dan terus menerus) menyangkut pribadi siswa. Yang dimaksud dengan penilaian pribadi siswa secara menyeluruh adalah: a. Penilaian yang dilaksanakan tidak hanya mencakup satu aspek tingkah laku saja, misalnya menilai sejauh mana siswa dapat mengulang kembali data-data yang telah disampaikan oleh guru (recall), tetapi ingin diketahui pula pemahaman materi yang diberikan, bagaimana menggunakannya (aplikasinya), menganalisa dan aspek tingkah laku lainnya. b. Penilaian yang menjurus kepada penentuan: i. Prestasi Belajar ii. Kemampuan dasar seperti bakat, kebiasaan, apresiasi, inisiatif, hubungan sosial, intelegensi, dsb. Terdapat dua cara penilaian yang dapat ditempuh dalam melaksanakan penilaian yaitu dengan cara kualitatif dan cara kuantitatif. Cara kualitatif yaitu cara hasil penilaian yang diberikan dalam bentuk angka, misalnya dari 0 s.d. 10. sedangkan cara

29

30

kuantitatif yaitu cara dimana hasil penilaian dalam bentuk pernyataan verbal, misalnya baik, cukup, kurang, memuaskan, dsb. Sedangkan teknik penilaian yang digunakan di sekolah dapat dikelompokan menjadi 2 golongan yaitu teknik tes (digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang mencakup pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil belajar, bakat khusus dan bakat umum) dan teknik non tes (digunakan untuk menilai karakteristik lainnya dari siswa misalnya minat, sikap, dan kepribadian). Tes sebagai alat penilaian dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tertulis baik tes uraian maupun tes objektif), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Melalui tes tertulis ataupun tes lisan biasanya dinilai aspek-aspek kemampuan yang bersifat kognitif, sedangkan pada tes perbuatan lazimnya yang dinilai adalah aspek kemampuan yang bersifat psikomotor (23).

2.3.5. Hasil Belajar Suatu kegiatan belajar dapat dikatakan efisien jika usaha belajar tertentu memberikan prestasi belajar yang tinggi yang kemudian menjadi paham menguasai materi yang telah dipelajari
(11)

. Hasil belajar ini akan muncul sesuai dengan ranah

yang dia pahami. Untuk mempermudah sistematikanya, dapat kita gunakan penggolongan perilaku menurut Bloom dalam kawasan kognitif, afektif, dan

30

31

psikomotor. Beberapa indikator dan kemungkinan cara mengungkapkannya secara garis besar dapat digambarkan dalam tabel di bawah ini (22):

Tabel 2.1. Indikator Hasil Belajar dan Cara Pengukurannya
Jenis Hasil Belajar A. Kognitif i. Pengamatan/ perseptual ii. Hafalan/ ingatan iii. Pengertian/ pemahaman iv. Aplikasi/ penggunaan v. Analisis vi. Sintesis Indikator-indikator dapat menunjukan/ membandingkan/ menghubungkan dapat menyebutkan/ menunjukan lagi dapat menjelaskan/ mendefinisikan dengan katakata sendiri dapat memberikan contoh/ menggunakan dengan tepat/ memecahkan masalah dapat menguraikan/ mengklasifikasikan dapat menghubungkan/ menyimpulkan/ menggeneralisasikan vii. Evaluasi tugas/ persoalan/ tes tugas/ persoalan/ tes persoalan/ tes/ tugas pertanyaan/ soalan/ tes/ tugas pertanyaan/ tugas/ tes Cara Pengukuran tugas/ tes/ observasi

-

dapat menginterprestasikan/ memberi kritik/ pertimbangan/ penilaian

-

tugas/ persoalan/ tes -

31

32

B. Afektif i. Penerimaan bersikap menerima/ menyetujui atau sebaliknya ii. Sambutan iii. Penghargaan/ apresiasi iv. Pendalaman/ internalisasi v. Karakterisasi/ penghayatan bersedia terlibat/ partisipasi/ memanfaatkan/ sebaliknya memandang penting/ bernilai/ berfaedah/ harmonis/ indah atau sebaliknya mengakui/ mempercayai/ meyakinkan atau sebaliknya melembagakan/ membiasakan/ menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari. C. Psikomotor i. Keterampilan bergerak/ bertindak ii. Keterampilan ekspresi verbal dan non verbal koordinasi mata, tangan dan kaki gerak, mimik, ucapan. tugas/observasi/ tes tindakan tugas/observasi/ tes tindakan skala sikap/tugas ekspresi/proyektif observasi/ tugas ekspresi/ proyektif skala penilaian/ tugas/ observasi pertanyaan/tes/ skala sikap tugas/ observasi/ tes

2.4. Sikap 2.4.1 Definisi Sikap Sikap merupakan istilah yang paling banyak dibahas dalam ilmu psikologi, khususnya mengenai bidang ilmu psikologi sosial. Meskipun demikian, istilah sikap

32

33

ini telah menjadi istilah umum dalam bahasa sehari-hari yang pengertiannya tidak banyak menyimpang dari konotasinya. Sikap merupakan keteraturan tertentu dalam hal perasaan, pemikiran, dan predisposisi tindakan seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya (6). Sikap juga dikatakan sebagai kecenderungan untuk bertindak, berfikir, berpersepsi, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukanlah perilaku, tetapi lebih merupakan kecenderungan untuk berprilaku dengan cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap bisa berupa orang, benda, tempat, gagasan, situasi, atau kelompok (12). Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimuli atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat, emosi yang bersangkutan (senangtidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dsb) (4). Kajian-kajian sikap sebagai upaya untuk menyusun konsepsi mengenai tingkah laku manusia, menurut Azwar yaitu bahwa sikap adalah sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan terhadap objek sikap dari kontinum perasaan mendukung atau memihak (favorable) sampai perasaan tidak mendukung (unfavorable). Dikatakan sebagai respon evaluatif karena seseorang dalam menentukan sikapnya terhadap suatu objek dapat melalui penilaian-penilaian yang terjadi di dalam perasaannya. Penilaian-penilaian tersebut ada yang memihak dan ada yang memiliki derajat afek negatif, artinya perasaanya tidak mendukung (5).

33

34

Selain itu, sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan potensial terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan dengan stimulan.

2.4.2 Komponen Sikap Kothandapani (dalam Middlebrook) merumuskan sikap ke dalam tiga komponen yaitu komponen kepercayaan (komponen kognitif), komponen emosional atau perasaan (komponen afektif), dan komponen tindakan (konatif atau perilaku)
(4,5,12)

. Teori mengatakan bahwa apabila salah satu saja diantara

ketiga komponen sikap tidak konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap sedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali. a. Komponen Kognitif Komponen ini berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.contohnya mengenai sikap terhadap lokalisasi pelacuran. Dalam hal ini, komponen kognitif sikap terhadap lokalisasi pelacuran adalah apa saja yang dipercayai sseorang mengenai lokalisasi termaksud. Seringkali, apa yang dipercayai seseorang itu merupakan stereotipe atau sesuatu yang telah terpolakan dalam fikirannya.

34

35

Kepercayaan datang dari apa yang telah kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek
(5)

. Kemudian kepercayaan ini terus berkembang. Pengalaman pribadi, apa

yang diceritakan orang lain, dan kebutuhan emosional kita sendiri merupakan determinan utama dalam terbentuknya kepercayaan.

Pengalaman pribadi yang digeneralisasikan ini lalu membentuk stereotipe. Apabila stereotipe ini sudah berakar sejak lama, maka orang kemudian akan memiliki sikap yang lebih didasarkan pada predikat yang dilekatkan oleh pola stereotipenya dan bukan didasarkan pada objek sikap tertentu. Sikap yang didasari pola stereotif semacam ini biasanya sangat sulit untuk menerima perubahan (5). b. Komponen Afektif Komponen ini menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikapyang sering disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun, pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap. Pada umumnya, reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini banyak

35

36

dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi objek termaksud (5). Sebagai contoh, dua orang yang memiliki sikap negatif terhadap pelacuran misalnya, yang seorang tidak menyukai pelacuran dan ketidaksukaannya ini berkaitan dengan ketakutan akan akibat perbuatan pelacuran. Sedangkan orang kedua mewujudkan ketidaksukaannya itu dalam bentuk benci atau jijik terhadap segala sesuatu yang menyangkut pelacuran. c. Komponen Konatif Komponen ini menunjukan bagaimana kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek yang dihadapinya. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Maksudnya, bagaimana orang berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut. Kecenderungan berperilaku, secara konsisten selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Karena itu, adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang akan dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku terhadap objek. Apabila orang percaya bahwa

36

37

daging kuda tidak enak rasanya, dan ia merasa tidak suka dengan daging kuda, maka wajarlah apabila ia tak akan mau memakan daging kuda (5).

2.4.3. Proses Perubahan Sikap Pemahaman mengenai proses perubahan sikap sangat diperlukan karena sebagai manusia kadang-kadang kita berperan sebagai agen perubahan dan kadangkadang berperan sebagai subjek perubahan. Untuk mengubah suatu sikap, kita harus ingat bagaimana sikap dengan polapolanya dibentuk. Sikap bukan diperoleh karena keturunan, tetapi dari pengalaman, lingkungan, orang lain, terutama dari pengalaman yang sangat berkesan
(11)

. Faktor

yang dianggap sangat berpengaruh dalam mengarahkan sikap kepada bentuk yang dikehendaki yaitu faktor eksternal. Faktor ini merupakan faktor yang ada di luar individu yaitu dengan sengaja dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap manusia sehingga dengan sadar atau tidak sadar individu yang bersangkutan akan mengadopsi sikap tersebut (5). Perubahan sikap pada individu dapat terjadi secara mudah dan sukar. Hal ini bergantung pada kesiapan seseorang untuk menerima atau menolak rangsangan yang datang kepadanya. Selain itu, terjadinya perubahan sikap individu ini seiring dengan pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut karena perkembangan itu dapat menimbulkan pergesaran nilai dan norma, baik dalam bidang

37

38

ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Dalam pandangan beberapa peneliti (Krech, Crutchfield, dan Ballachey), keterubahan suatu sikap bergantung pada karakteristik sistem sikap, kepribadian individu, dan seberapa besar dukungan kelompok terhadap individu (11). Usaha yang dilakukan untuk pengubahan sikap dapat dilakukan dengan persuasi. Persuasi adalah usaha pengubahan sikap individu dengan memasukan ide, fikiran, pendapat dan bahkan fakta baru lewat pesan-pesan komunikatif. Pesan yang disampaikan dimaksud untuk menimbulkan kontradiksi dan inkonsisten diantara komponen sikap individu atau diantara sikap sikap dan perilakunya sehingga menggangu kestabilan sikap dan membuka peluang terjadinya perubahan yang dinginkan (5). Beberapa teori yang menjelaskan mengenai proses pendekatan perubahan sikap berdasarkan persuasi yaitu (5): a. Pendekatan Tradisional Pada umumnya pendekatan persuasi ini meliputi beberapa unsur yaitu sumber (source) sebagai komunikator yang membawa pesan (messagecommunication) kepada mereka yang sikapnya hendak diubah (audience). Peran kesemua unsur dalam komunikasi persuatif ini ditelaah melalui studi dan riset sehingga melahirkan konsep dan teori mengenai strategi dalam usaha pengubahan sikap manusia.

38

39

Satu model yang dilakukan dengan pendekatan tradisional dalam usaha pengubahan sikapnya yaitu model studi Yale yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen. Model ini beranggapan bahwa efek suatu komunikasi berupa perubahan sikap (respon) tergantung pada sejauh mana komunikasi itu diperhatikan, dipahami, dan diterima. b. Pendekatan Teori Kognitif Pendekatan perubahan sikap ini merupakan pendekatan yang bersifat modern karena memusatkan perhatiannya pada analisa respons kognitif, yaitu suatu usaha untuk memahami apa yang dipikirkan orang sewaktu mereka dihadapkan pada rangsangan persuatif dan bagaimana pikiran serta proses kognitif yang berkaitan dapat menentukan apakah mereka mengalami perubahan sikap dan sejauhmana perubahan itu terjadi. Analisa ini dilakukan dengan membuka dua jalur bagi seseorang yang telah menerima pesan persuatif. Jalur tersebut yaitu jalur sentral (central route) dan jalur peripheral (peripheral route). Jalur sentral terjadi apabila individu memberikan perhatian penuh terhadap pesan dan argumentasinya. Disini akan terjadi pemikiran yang hati-hati dan mendalam, penuh pertimbangan mengenai argumentasi yang dapat disimpulkan dari pesan yang disampaikan. Sedangkan jalur peripheral terjadi apabila dilakukan tanpa pemikiran yang mendalam. Bahkan hampir secara otomatis, persuasi mendapat respon langsung dari invidu. Jalur periferal ini

39

40

cenderung dilalui apabila target atau subjek persuasi dalam keadaan terpecah konsentrasinya sehingga tidak dapat menaruh perhatian penuh dan tidak dapat melakukan analisis mendalam terhadap isi pesan yang disampaikan. c. Pendekatan Belajar-Pesan Pendekatan ini mengatakan bahwa berdasarkan variabel yang berpengaruhnya (sumber, pesan, target, dan saluran) maka proses yang paling dasar dalam pengubahan sikap manusia adalah atensi (perhatian), pemahaman, penerimaan, dan retensi. Hasil yang dapat diperoleh apabila pendekatan ini berhasil yaitu adanya perubahan keyakinan, perubahan sikap, dan perubahan perilaku. Perbedaan pendekatan ini dengan pendekatan tradisional yaitu bahwa disamping faktor sumber, pesan, dan target maka dalam pendekatan belajar-pesan terdapat faktor saluran atau jalur komunikasi yang digunakan dan dianggap sangat penting peranannya dalam menentukan efektivitas persuatif. Komunikasi dapat disampaikan lewat berbagai media atau saluran. Suatu penelitian dari Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi suatu perilaku batu (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses perubahan sikap secara berurutan yaitu (29): 1. Awareness (kesadaran) Yaitu orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus atau rangsangan (objek) terlebih dahulu. Dalam tahap ini orang sudah mengetahui

40

41

bahwa objek tersebut dapat membuat hal yang lebih baik. Misalnya, seorang ibu memiliki sikap sadar bahwa penyakit polio berbahaya dan telah mendengar dari media tentang penyakit polio. 2. Interest (tertarik) Yaitu orang mulai tertarik pada stimulus atau rangsangan objek yang ada. Dalam tahap ini, orang memperhatikan dengan seksama stimulus yang diberikan. Misalnya, sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang gizi. 3. Evaluation (Evaluasi) Yaitu menimbang-nimbang baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. Responden akan memberikan jawaban apabila ditanya, bertanya jika tidak mengerti, atau mengerjakan tugas yang diberikan. Hal ini merupakan suatu indikasi dari sikap, karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan misalnya, berarti responden menerima ide tersebut dan mencari yang benar dan tidaknya atau baik dan buruknya. 4. Trial Yaitu orang telah mulai mencoba perilaku baru. Misalnya seorang ibu mulai

41

42

pergi untuk menimbangkan anaknya ke Posyandu karena dinilai baik untuk melihat perkembangan anaknya. 5. Adoption (adopsi) Yaitu orang telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Orang tersebut bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risikonya. Misalnya seorang ibu menjadi akseptor KB, meskipun mendapat tantangan dari mertuanya sendiri.

2.4.4 Pengukuran Sikap Untuk mengukur sikap, perlu diadakan pengukuran dengan menggunakan alat yang dipandang tepat. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecenderungan sikap seseorang adalah skala sikap (5,11,18). Tujuan pengukuran sikap adalah untuk memperoleh gambaran yang sesuai tentang individu atau kelompok yang diteliti. Pengukuran sikap tidaklah dapat dilakukan secara langsung (direct quentioning) maupun cara-cara observasi terhadap tingkah laku. Metode pengukuran sikap yang dapat diandalkan dan dapat memberikan penafsiran terhadap manusia adalah pengukuran sikap (5,18). Dengan demikian, sikap dapat diukur dengan memperhatikan kecenderungan perilaku individu yang menggambarkan arah dan intensitas sikap seseorang terhadap

42

43

suatu objek sikap. Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan mengobservasi tingkah laku yang tampak dari individu atau dapat dengan cara menyimpulkan pernyataanpernyataan dari individu yang meliputi perasaan, keyakinan, serta kecenderungan untuk merespon sikap. Selain itu, konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif, dan dengan kecenderungan berperilaku sebagai komponen konatif seperti itulah yang menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap. Dilihat dari jenisnya, ada beberapa model skala yang dapat dijadikan sebagai alat pengukur sikap seseorang. Beberapa diantaranya yaitu skala likert, skala model Thurstone, Skala Model Gollman dan sebagainya (5,18). Skala pengukuran sikap dalam penelitian ini adalah skala model Likert. Skala model likert memiliki beberapa kelebihan, yaitu lebih mudah, lebih murah, dan penilai perlu kehilangan sikap subjektivitasnya karena yang ditanyakan adalah benar-benar sikap dirinya sendiri. Adapun kelemahannya terutama yang menyangkut adanya tuntutan jangan sampai terjadi pernyataan yang seharusnya negatif mengandung pengertian positif. Pada skala likert, setiap butir pernyataan harus jelas positif dan negatifnya, dengan memperhatikan objek sikap. Di dalam membuat skor untuk pokok-pokok skala likert, dinyatakan dengan “sangat setuju” yang menerima lima angka, “setuju” yang menerima empat angka, “agak setuju” yang menerima tiga angka, “tidak setuju” yang menerima dua angka, dan “sangat

43

44

tidak setuju” yang menerima satu angka. Sedangkan untuk pernyataan negatif, pemberian skor dilakukan sebaliknya (10).

2.5. Profesi Bidan Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer, dan teknik. Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik sendiri yang membedakannya dari pekerjaan lainnya. Di bawah ini merupakan karakteristik umum profesi, namun tidak semua ciri ini berlaku dalam setiap profesi (15): 1. Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoritis: Profesional

diasumsikan mempunyai pengetahuan teoritis dan memiliki keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktik. 2. Asosiasi profesional: Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya. Organisasi profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk menjadi anggotanya.

44

45

3. Pendidikan formal: Profesi biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. 4. Ujian kompetensi: Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoritis. 5. Pelatihan institusional: Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan untuk mengikuti pelatihan institusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan melalui pengembangan profesional juga dipersyaratkan. 6. Lisensi: Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi yang dianggap bisa dipercaya. 7. Otonomi kerja: Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoritis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar. 8. Kode etik: Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur kedisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan. 9. Mengatur diri: Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi yang dihormati, atau mereka yang berkualifikasi paling tinggi.

45

46

10. Layanan publik: Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat. 11. Status dan imbalan yang tinggi: Profesi yang paling sukses akan meraih status yang tinggi dan imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat. Sedangkan bidan merupakan profesi yang diakui secara nasional maupun internasional dengan sejumlah praktisi dunia. Menurut International

Confederation of Midwives (ICM), pengertian bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memiliki kualifikasi dan diberi ijin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasihat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan (post partum period), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk tindakan pencegahan, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan

mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga lainnya. Dia memiliki tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut tapi juga

46

47

untuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan tersebut termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang tua, yang meluas ke daerah tertentu untuk ginekologi, KB, dan asuhan anak. Dia bisa berpraktik di RS, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat pelayanan lainnya. (6) Dari pengertian tersebut terlihat sedemikian luas dan dalamnya profesi bidan, maka dapat dikatakan bahwa bidan Indonesia adalah seorang bidan yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan bidan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian dengan persyaratan yang berlaku. Jika melakukan praktik, yang bersangkutan harus memiliki kualifikasi agar mendapatkan lisensi untuk praktik
(6)

. Menurut IBI, Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan

menyelesaikan pendidikan bidan yang diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku, dicatat, dan diberi ijin secara sah untuk menjalankan praktik. Menurut WHO,bidan adalah seseorang yang telah diakui secara reguler dalam program pendidikan kebidanan, sebagaimana yang telah diakui secara yuridis, dimana dia ditempatkan dan telah menyelesaikan pendidikan kebidanan dan memperoleh ijin melaksanakan praktik kebidanan (21).

47

48

Profesi bidan adalah profesi tertua dunia yang ada sejak adanya peradaban dunia. Bidan lahir sebagai seorang wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu-ibu yang melahirkan. (6,7). Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri tertentu yaitu: 1. Disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara profesional. 2. Dalam menjalankan tugasnya, bidan memiliki Standar Pelayanan Kebidanan, Kode etik dan Etika Kebidanan. 3. Memiliki kewenangan kelompok IPTEK yang jelas dalam menjalankan profesinya. 4. Memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya (Permenkes No.572 Tahun 1996). 5. Memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 6. 7. Memiliki wadah organisasi profesi. Memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan masyarakat. 8. Menjadikan bidan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama kehidupan. Bidan sebagai profesi telah memiliki karakteristik profesi. Salah satu karakteristiknya yang khas yaitu bahwa profesi bidan memiliki Batang Tubuh

48

49

Keilmuan Kebidanan. Disiplin keilmuan kebidanan memiliki karakteristik dan spesifikasi baik objek forma maupun objek material. Objek forma disiplin keilmuan kebidanan adalah cara pandang yang berfokus pada objek penelaahan dalam batas atau ruang lingkup tertentu. Objek forma dari disiplin keilmuan kebidanan adalah mempertahankan status kesehatan reproduksi termasuk kesejahteraan wanita sejak lahir sampai masa tuanya termasuk berbagai implikasi dalam siklus kehidupannya. Objek material disiplin keilmuan kebidanan adalah substansi dari objek penelaahan dalam lingkup tertentu. Objek material dalam disiplin keilmuan kebidanan adalah janin, bayi baru lahir, bayi dan anak bawah lima tahun (balita) dean wanita secara utuh/ holistik dalam siklus kehidupannya (kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lansia dini, dan lansia lanjut) yang berfokus kepada kesehatan reproduksi.

2.6. Sikap terhadap Profesi Bidan Sikap terhadap profesi bidan maksudnya yaitu respon seperti apa yang ditunjukan seseorang yang merupakan calon bidan terhadap stimuli atau objek tertentu, yang dalam hal ini adalah profesi bidan itu sendiri. Sikap ini sudah melibatkan faktor pendapat, emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dsb) dan telah mengandung komponen afektif, kognisi dan konatif (4,5,11).

49

50

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, seorang profesi (termasuk bidan di dalamnya) dalam menanggapi profesinya diperlukan usaha besar sehingga dapat menjadi seorang yang sukses dengan profesinya. Usaha tersebut yaitu harus memiliki(30): 1. Mentalitas Mutu Seorang profesional menampilkan kinerja terbaik yang mungkin. Dengan sengaja dia tidak akan menampilkan the second best (kurang dari terbaik) karena tahu tindakan itu sesungguhnya adalah bunuh diri profesi. Seorang profesional mengusahakan dirinya selalu berada di ujung terbaik (cutting edge) bidang keahliannya. Dia melakukannya karena hakikat profesi itu memang ingin mencapai suatu kesempurnaan nyata untuk menjadi ideal. 2. Mentalitas Altruistik Seorang profesional selalu dimotivasi oleh keinginan mulia berbuat baik. Istilah baik di sini berarti berguna bagi masyarakat. Baik dapat juga berarti goodness yang dipersembahkan bagi kemaslahatan masyarakat. Profesi seperti bidan jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Mutu kerja seorang profesional tinggi secara teknis, tetapi nilai kerja itu sendiri diabdikan demi kebaikan masyarakat yang didorong oleh

50

51

kebaikan hati, bahkan dengan kesediaan berkorban. Inilah yang disebut altruisme. 3. Mentalitas melayani Kaum profesional tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri saja tanpa peduli pada sekitarnya. Mereka mencari kepuasannya dengan pelanggan atau pemakai jasa profesionalnya yang telah puas setelah lebih dahulu dilayani via interaksi kerja. Kaum profesional lahir karena kebutuhan masyarakat pelanggan. Seorang profesional bahkan dengan tegas mematok nilai moneter atas jasa profesionalnya. Dengan ketegasan ini berarti dia berani melakukan tawarmenawar rasional dengan para pelanggannya. Maka seorang profesional harus bisa melayani pelanggannya sebaik-baiknya dan diharapkan melakukannya secara konsisten dengan segenap ketulusan serta kerendahan hati sebagai apreasiasi atas kesetiaan pelanggannya di sepanjang karir profesionalnya. 4. Mentalitas pembelajar Seorang pekerja profesional adalah dia yang telah mendapat pendidikan dan pelatihan khusus di bidang profesinya. Kompetensi tinggi tidak mungkin dicapai tanpa disiplin belajar yang tinggi dan

berkesinambungan. Dan karena tuntutan masyarakat semakin lama semakin

51

52

tinggi maka belajar dan berlatih seumur hidup harus menjadi budaya kaum profesional. Tanpa itu, sajian nilai pekerja profesional semakin lama semakin tidak relevan. 5. Mentalitas Pengabdian Seorang pekerja profesional memilih dengan sadar satu bidang kerja yang akan ditekuninya sebagai profesi. Pilihannya ini biasanya terkait erat dengan ketertarikannya pada bidang itu, bahkan ada semacam rasa keterpanggilan untuk mengabdi di bidang tersebut. Pada awalnya, pilihan itu dipengaruhi oleh bakat dan kemampuannya yang digunakannya sebagai perhitungan peluang suksesnya. Namun kemudian berkembang sebagai sebuah kebutuhan dan pengabdian antara pekerja dengan pekerjaannya. 6. Mentalitas Kreatif Seorang pekerja profesional, sesudah menguasai kompetensi teknis di bidangnya, berkembang terus ke tahap seni. Dia akan menemukan unsur seni dan menghayati dalam pekerjaannya. Selanjutnya dapat memicu kegairahan baru bagi para profesional untuk menjadi pekerja kreatif, berdaya cipta, dan inovatif. 7. Mentalitas etis Seorang pekerja profesional, setelah memilih untuk mengabdi dengan profesinya maka dia akan menerima semua konsekuensi pilihannya, baik

52

53

manis maupun pahit. Misalnya pada profesi bidan yang menggeluti moralitas kehidupan maka dia tidak akan menghianati etika dan moralitas profesinya demi uang atau kekuasaan misalnya. Penghianatan profesi disebut juga sebagai ketidaksetiaan pada moralitas dasar kaum profesional.

2.7. Hubungan Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dengan Sikap terhadap Profesi Bidan Seperti yang telah dijelaskan bahwa salah satu ciri dari profesi bidan yaitu bahwa bidan disiapkan melalui pendidikan bidan. Saat melalui proses pendidikan tersebut, calon bidan harus memiliki prestasi belajar atau penguasaan mata kuliah yang bagus. Penguasaan mata kuliah ini sangat erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki oleh mahasiswi, karena nilai menunjukan seberapa besar kemampuan seorang mahasiswi terhadap mata kuliah yang dipelajarinya. Nilai sangat erat kaitannya dengan sikap . Nilai adalah suatu konsep, eksplisit atau implisit, yang khas untuk seorang individu, atau suatu kelompok, dari yang diiinginkan yang mempengaruhi seleksi modus, cara, dan tujuan tindakan yang tersedia. Maka, sikap dan nilai ada kesamaan di antara definisinya yang menonjol (12).

53

54

Diharapkan jika memiliki prestasi belajar yang baik yang ditonjolkan dengan nilai baik atau tinggi maka akan memiliki sikap terhadap profesinya yang baik pula. Karena pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal adalah meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tidak dapat diraba). Oleh karena itu dapat dilihat salah satunya dengan mengunakan tes alternatif keberhasilan belajar khususnya yang berdimensi ranah rasa seperti tes untuk mengidentifikasi sikapnya terhadap profesi tersebut. Data hasil penelitian yang dilakukan di Sampang (Madura) Tahun 1998 diperoleh ibu hamil yang memiliki pengetahuan rendah tentang kehamilan dan berpendidikan dasar yang memiliki sikap untuk melakukan pemeriksaan hamil lebih dari 4 kali hanya 39% dari 205 responden yang diteliti. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan dan pendidikan seseorang berhubungan dengan sikap untuk memelihara kehamilannya (26).

54

55

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1.Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional
(8)

. Penelitian ini untuk mengetahui adakah hubungan antara

penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan di STIKes Dharma Husada Bandung .

3.2.Prosedur Penelitian Di bawah ini merupakan langkah-langkah yang dilakukan peneliti secara umum (9): 1) Melaksanakan persiapan dan penjajakan lapangan dan observasi 2) Membuat kisi-kisi instrumen penelitian 3) Membuat instrumen penelitian 4) Melaksanakan uji coba terhadap sampel uji coba 5) Melaksanakan pengolahan data hasil dan uji coba 6) Menyebarkan instrumen penelitian pada responden 7) Mengolah data hasil 8) Membuat penafsiaran dan kesimpulan terhadap hasil penelitian

55

56

3.3.Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh Mahasiswi Kebidanan Kelas reguler Semester V STIKes Dharma Husada Bandung yang berjumlah 88 orang. Dalam hal ini peneliti tidak melakukan pengambilan sampel.

3.4.Definisi Operasional Tabel 3.1. Definisi Operasional
Nomor

No. 1

Definisi Operasional Sikap terhadap • •

Indikator Kognitif

Alat Ukur Angket/ Kuisioner (Skala Likert): 1. SS (Sangat Setuju) 2. S (Setuju) 3. AS (Agak Setuju) 4. TS (Tidak Setuju) 5. STS (Sangat Tidak

Skala Item Soal 1, 4-6, 8- Ordinal 12, 30-32. 3, 34. 2, 14-21, 29, 35, 36. 7, 13, 22-28, 33-

profesi bidan adalah kecenderungan positif/ negatif yang dimiliki STIKes mahasiswi Dharma • Konatif Afektif

Husada Kelas reguler Semester 5 terhadap profesi bidan yang dipilihnya berdasarkan jawaban angket.

56

57

Setuju)

2

Penguasaan

mata •

Konsep Kebidanan Etika Profesi Komunikasi &Konseling ASKEB I ASKEB II ASKEB III ASKEB IV ASKEB V ASKEB Neo Kesehatan Reproduksi KB Dokumentasi PKK I

Format rekapitulasi nilai

-

Ordinal

kuliah inti kebidanan adalah nilai rata-rata • kumulatif mata kuliah • inti kebidanan yang telah mahasiswi dan didapat diperoleh kelas dari • • •

reguler semester V dokumen pendidikan.

nilai • • • • • • •

3.5.Instrumen Data 3.5.1. Uji Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat ketepatan dan kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang sebenarnya dapat diukur(9). Dalam uji validitas ini,

57

58

peneliti melakukannya pada 10 orang mahasiswa semester 5 yang sedang melakukan praktik klinik kebidanan di Puskesmas Garuda (Tanggal 13 Januari 2008). Pada pengolahannya, peneliti menggunakan rumus Pearson Product Moment (18) dengan bantuan SPSS versi 13.0 for windows (19). Adapun rumus tersebut adalah: rb =

( ∑ XY ) − ( ∑ X ).( ∑ Y ) {n.∑ X − ( ∑ X ) }.{n.∑Y − ( ∑Y ) }
2 2 2 2

Dimana: r b = koefisien korelasi ∑Xi = jumlah skor item ∑Yi = jumlah skor total (seluruh item) n = jumlah responden

Pada hasilnya, didapatkan hasil 36 soal valid dari 40 soal yang ada pada kuisioner yaitu nomor 24, 37, 37 dan 40. Kemudian empat soal yang tidak valid tersebut dihilangkan atau didrop karena 36 pernyataan yang valid memiliki bobot soal yang sama dan dapat mewakili penelitian untuk mengukur sikap mahasiswi terhadap profesi bidan (18,27,28).

3.5.2. Uji Reliabilitas

58

59

Pengujian reliabilitas pada instrument angket atau kuesioner sikap terhadap profesi bidan ini dilakukan dengan metode belah dua (Split Half) dengan menggunakan rumus Spearman Brown(18).. Adapun rumus tersebut

adalah: r11 =

2.rb 1 + rb

Dimana: r 11 = koefisien reliabilitas internal seluruh item rb = korelasi Product Moment antara belahan (ganjil-genap) Kemudian, r11 dibandingkan dengan rtabel =0,707 dengan signifikasi α =0,05. Hasilnya yaitu jika r11 > r reliabel (18). Pada data uji ini didapatkan rb dengan bantuan SPSS versi 13.0 for windows sebesar 0,996. Kemudian menggunakan rumus didapatkan r11=0,998. Jadi dapat dilihat bahwa 0,998 > 0,707 sehingga kuisioner ini dikatakan reliabel sebagai instrumen penelitian. 3.6.Variabel dalam Penelitian Pada penelitian ini, terdapat dua variabel yaitu: • • Variabel Independen: Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan. Variabel Dependen: Sikap Terhadap Profesi Bidan.
tabel

berarti reliabel dan jika r11<rtabel berarti tidak

59

60

3.7.Jenis dan Cara Pengumpulan Data 3.7.1. Jenis Data Penelitian ini memiliki dua data. Data pertama adalah data sekunder (data kuantitatif) yang berupa rata-rata kumulatif nilai mata kuliah inti kebidanan yang diambil dari dokumen pendidikan. Sedangkan data kedua adalah data primer (data kualitatif yang dubah menjadi data kuantitatif) berupa hasil angket atau kuisioner terntang sikap terhadap profesi bidan. 3.7.2. Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan angket atau kuisioner yang menggunakan skala likert langsung kepada mahasiswi kebidanan Kelas reguler Semester V STIKes Dharma Husada Bandung. Alasan menggunakan skala likert diantaranya yaitu karena responden atau mahasiswi menilai satu pernyataan, apakah pertanyaan tersebut didukung atau ditolak responden melalui rentang nilai tertentu (9). Skala likert yang digunakan menggunakan 5 skala. Untuk pertanyaan yang diajukan baik pertanyaan positif ataupun negatif dinilai subjek dengan jawaban (5,9):

60

61

SS S

= Sangat Setuju (jika 81%-100% dilakukan/ akan dilakukan atau keadaan responden sangat sesuai dengan pernyataan pada angket). = Setuju (jika 61%-80% dilakukan/ akan dilakukan atau keadaan responden sesuai dengan pernyataan pada angket).

AS = Agak Setuju (jika 41%-60% dilakukan/ akan dilakukan atau keadaan responden agak sesuai dengan pernyataan pada angket). TS = Tidak Setuju (jika 21%-40% dilakukan/ akan dilakukan atau keadaan responden tidak sesuai dengan pernyataan pada angket). STS = Sangat Tidak Setuju (jika 0%-20% dilakukan/ akan dilakukan atau keadaan responden sangat tidak sesuai dengan pernyataan pada angket). Pada saat pengumpulan data, responden didampingi oleh peneliti dengan maksud bila ada pernyataan yang kurang jelas dapat ditanyakan langsung kepada peneliti. Angket yang digunakan terdiri dari 36 butir pernyataan. Dari 36 butir pernyataan terdapat 18 pernyataan positif yaitu nomor 1, 2, 8, 9, 10, 13, 15, 17, 20, 21, 23, 24, 26, 27, 30, 32, 34, dan 35; sedangkan sisanya adalah pernyataan negatif. Sedangkan untuk penguasaan mata kuliah inti kebidanan dilakukan pengumpulan data dengan melihat daftar pencatatan nilai yang sudah ada kemudian dicatat dalam format rekapitulasi nilai, sehingga didapatkan nilai rata-rata dari mata kuliah kependidikan yang ada, kemudian dilakukan pengkategorian (10):

61

62

3.8.Pengolahan dan Analisa Data 3.8.1. Pengolahan Data 3.8.1.1.Editing Data Tahap ini merupakan tahap kegiatan yang memisahkan data yang telah terkumpul baik secara pengisian, konsistensi cara pengisian, konsistensi dari setiap jawaban yang terdapat dalam angket.

3.8.1.2.Koding data Tahap ini dilakukan dua kali yaitu: a. Memberikan kode/ tanda tertentu pada setiap nilai mahasiswa pada dokumen yang ada yaitu: Tabel 3.2. Pengkategorian Angka dan Huruf
Simbol-simbol Nilai Angka dan Huruf Angka Huruf Prediksi Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal

3,1 – 4 2,1 – 3 1,1 – 2 1 0

A B C D E

62

63

b. Memberikan tanda tertentu jawaban yang telah diberikan di dalam angket yaitu: Tabel 3.3. Koding Data Kuisioner Pernyataan Positif Negatif 3.8.1.3.Tabulasi Data Tahap ini merupakan tahap penyusunan data dengan cara SS 5 1 S 4 2 AS 3 3 TS 2 4 STS 1 5

pengorganisasian data agar dapat mudah dijumlahkan.

3.8.2. Analisa Data 3.8.2.1.Analisa Univariat Untuk mengukur sikap terhadap profesi bidan, dilakukan dengan menggunakan skala likert dengan interprestasi skor menggunakan kategorisasi Jenjang (Ordinal) berdasar Model Distribusi Normal dengan penggolongan ke dalam 3 kategori dengan rumus sebagai berikut X < (µ~1,0 δ) (µ~1,0 δ)< X < (µ+1,0 δ) (µ+1,0 δ)< X Keterangan: δ = standar deviasi
(17)

:

untuk kategori kurang baik untuk kategori netral untuk kategori baik

63

64

µ = mean teoritis Berdasarkan perhitungan diketahui angket berjumlah 36 aitem, rentang minimun-maksimumnya adalah 36x1=36 dengan 36x5=180, sehingga luas sebarannya 180-36=144. Dengan demikian, detiap satuan deviasi standarnya (δ) bernilai=144/6=24 dan mean teoritisnya (µ) = 36x3 = 108. Maka hasil kategorinya: X < 84 untuk kategori kurang baik

84 < X < 132 untuk kategori netral X > 132 untuk kategori baik

3.8.2.2.Analisa Bivariat Analisa ini memiliki tujuan untuk menganalisa hubungan antara variabel independen (penguasaan mata kuliah inti kebidanan) dengan variabel dependen (sikap terhadap profesi bidan). Profesi menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan derajat kepercayaan 95% (α =0,05)(9,18): Rumus:

r

s

= 1−

n n2 − 1

6∑ d 2

(

)

Keterangan : rs = nilai korelasi Rank Spearman

64

65

d2 = selisih setiap pasangan Rank n = jumlah pasangan Rank untuk Spearman Dalam hal ini, penulis menggunakan bantuan SPSS versi 13.0 for windows
(19)

untuk mengolah datanya. Kemudian setelah terdapat nilai korelasi,

dilakukan interpretasi terhadap koefisien korelasi yang diperoleh atau nilai r. Interpretasinya adalah sebagai berikut (9):

Tabel 3.4. Interpretasi Nilai r Antara 0,800 s.d. 1,000 Antara 0,600 s.d. 0,799 Antara 0,400 s.d. 0,599 Antara 0,200 s.d. 0,399 Antara 0,000 s.d. 0,199 Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah (tidak berkorelasi)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian 4.1.1. Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan

65

66

Hasil penelitian tentang Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan Mahasiswi di STIKes Dharma Husada Bandung Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan Sangat baik Baik Cukup Kurang Gagal Jumlah Frekuensi 42 40 2 4 0 88 Persentase 47,7% 45,5% 2,3% 4,5% 0 100%

Berdasarkan tabel 4.1. dapat dilihat bahwa Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dalam kategori sangat baik sebesar 47,7%, baik sebesar 45,5%, cukup sebesar 2,3% dan kurang sebesar 4,5%. 4.1.2. Sikap terhadap Profesi Bidan Hasil penelitian tentang kondisi penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan yang dimiliki mahasiswa dapat dilihat pada tabel berikut ini:

66

67

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Sikap terhadap Profesi Bidan Mahasiswi di STIKes Dharma Husada Bandung Sikap terhadap Profesi Bidan Baik Netral Kurang Baik Jumlah Frekuensi 74 13 1 88 Persentase 84,10% 14,77% 1,14% 100%

Berdasarkan tabel 4.2. dapat dilihat bahwa Sikap terhadap Profesi Bidan dalam kategori baik sebesar 84,10%, kategori netral sebesar 14,77% dan kategori kurang baik sebesar 1,14%.

Tabel 4.3.

Distribusi Frekuensi Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dengan Sikap terhadap Profesi Bidan di STIKes Dharma Husada Bandung

Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan Sangat Baik (A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (D) Gagal (E) Baik 39 32 1 1 0 % 92,9% 80% 50% 25% 0

Sikap terhadap Profesi Bidan Kurang Netral % baik 3 7,14% 0 7 17,5% 1 1 50% 0 3 75% 0 0 0 0

% 0 2,5% 0 0 0

Jumlah 42 40 2 4 0

% 100 100 100 100 0

67

68

Berdasarkan tabel 4.3. diketahui bahwa mahasiswa yang tergolong sangat baik penguasaan mata kuliah intinya memiliki sikap yang baik terhadap profesi bidan berjumlah 39 orang (92,9%), yang memiliki sikap netral berjumlah 3 orang (7,14%) dan yang memiliki sikap kurang baik tidak ada. Mahasiswa yang tergolong baik penguasaannya memiliki sikap yang baik berjumlah 32 orang (80%), yang memiliki sikap netral 7 orang (17,5%) dan yang memiliki sikap kurang baik berjumlah 1 orang (2,5%). Mahasiswa yang tergolong cukup penguasaannya memiliki sikap yang baik berjumlah 1 orang (50%), memiliki sikap netral berjumlah 1 orang (50%), dan yang memiliki sikap kurang baik tidak ada. Sedangkan sisanya yang tergolong kurang dalam pengguasaannya memiliki sikap yang baik berjumlah 1 orang (25%) dan memiliki sikap netral berjumlah 3 orang (75%). 4.1.3. Hubungan Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dengan Sikap terhadap Profesi Bidan Hasil penelitian tentang Hubungan Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dengan Sikap terhadap Profesi Bidan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Hubungan Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan Dengan Sikap Terhadap Profesi Bidan Di Stikes Dharma Husada Bandung

68

69

Corre lations Spearman's rho Nilai_mhs Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N Nilai_mhs Sikap_mhs 1.000 .469** . .000 88 88 .469** 1.000 .000 . 88 88

Sikap_mhs

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diperoleh bahwa koefisien Rank Spearman yaitu 0,469 dengan taraf signifikan 0,05. Merujuk pada Arikunto (2002) yaitu terdapat korelasi positif atau korelasi sejajar antara penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan. Interpretasi terhadap koefisien korelasi atau nilai r berada antara 0,400 s.d. 0,599 termasuk pada keeratan yang cukup. Pertanyaan penelitian yang diajukan yaitu adanya hubungan/ korelasi positif antara penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan di STIKes Dharma Husada Bandung ”dapat diterima”.

4.2. Pembahasan 4.2.1. Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan Seperti yang telah dijelaskan, belajar dipandang sebagai proses ”validasi” atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah dia pelajari.

69

70

Bukti institusional yang menunjukan siwa telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar. Ukurannnya yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor (10). Berdasarkan tabel 4.1. mengenai Distribusi Frekuensi Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan di STIKes Dharma Husada, didapatkan hasil Penguasaan Mata Kuliah inti Kebidanan dalam kategori sangat baik (nilai mutu A) sebesar 47,7% dan dalam kategori baik (nilai mutu B) sebesar 45,5%. Penguasaan dalam kategori sangat tinggi dan tinggi tersebut merupakan bukti institusional yang menunjukan bahwa siswa telah berhasil dalam proses belajarnya. Keberhasilan dalam menjalani proses belajar ini disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor tersebut diantaranya adalah faktor sekolah. Misalnya faktor guru atau dosen. Mereka sangat memiliki peran dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Para dosen yang selalu menunjukan sikap dan perilaku yang simpatik serta memperlihatkan suri tauladan yang baik dan rajin, khususnya dalam hal belajar dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar mahasiswa. Bimbingan yang baik dan sistematis dari dosen atau guru terhadap mahasiswa yang mendapat kesulitan dalam belajar, bisa membantu anak dalam belajar hingga memperoleh hasil belajar yang maksimal (11). Ada hal lain yang mungkin membedakan mata kuliah inti kebidanan dengan mata kuliah lain pada umumnya. Seorang peneliti bernama Whiterington melaporkan beberapa studi yang menunjukan bahwa hal-hal yang bersifat hafalan mudah cepat dilupakan dibandingkan dengan hasil proses mental yang lebih tinggi atau hasil

70

71

pengalaman praktik yang berarti. Hal itu juga yang terjadi pada proses pembelajaran di dunia kebidanan karena banyak praktik yang dilakukan, sehingga mahasiswa cukup kaya pengalaman dengan mengaplikasikan teorinya yang hanya sekedar dihapal saja. Inilah yang kemudian menjadikan banyak mahasiswi yang memiliki penguasaan sangat baik. Hal lain yang mungkin berpengaruh sehingga penguasaan mata kuliah inti kebidanan sangat tinggi yaitu dari faktor kemampuan, minat dan bakat. Anak yang dikaruniai kemampuan yang tinggi akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar karena ia akan lebih mudah menangkap dan memahami mata kuliah. Selain itu, karena akademi kebidanan kini hampir selalu melakukan psikotest saat masuk, maka mungkin banyak pula yang masuk sesuai dengan bakat dan minat mereka di bidang kesehatan (11). Selain itu juga, faktor lingkungan di sekitar siswa seperti kondisi lingkungan masyarakat di sekitar siswa. Untuk diketahui, lingkungan masyarakat sekarang ini lebih memperhatikan tenaga profesional untuk menjadi suatu profesi. Tingginya kebutuhan akan bidan profesional, mendorong banyak perguruan tinggi yang membuka Program Studi Kebidanan dan hal itu akan menjadi semangat dan meningkatkan aktivitas belajar. Paling tidak, siswa tersebut akan merasa dibutuhkan kelaknya oleh masyarakat, sehingga dia semangat belajar. Selain itu, banyaknya

71

72

peminat terhadap sekolah bidan, menjadikan siswa semangat bersaing untuk belajar
(14)

. Seorang psikolog yaitu Poespoprodjo mengatakan bahwa sebelum belajar maka

tanamkan keinginan kuat untuk mengingat sesuatu, kemudian membuat hal yang diingat memiliki arti sebesar mungkin. Kemudian berfikir untuk mencari benang merah diantara hal yang telah diinggat sehingga mudah dihafal
(14)

. Hal itu yang

mungkin dilakukan sebagian besar mahasiswa sehingga penguasaan mata kuliah inti kebidanan yang dilihat dari hasil belajarnya diperolehnya sangat baik dan baik. Meskipun pada akhirnya masih ada mahasiswa yang belum mampu memahami mata kuliah inti kebidanan ini. Terbukti masih ada 4 mahasiswa yang penguasaannya masih kurang (4,5%). Kemungkinan mereka dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya kondisi fisik yang tidak sehat, tidak menyukai mata kuliahnya, terbatas kemampuannya, keadaan psikis yang bermasalah atau mungkin dari pemicu lainnya. 4.2.2. Sikap terhadap profesi Bidan Berdasarkan tabel 4.2. mengenai Distribusi Frekuensi Sikap terhadap Profesi Bidan di STIKes Dharma Husada, didapatkan hasil Sikap dalam kategori baik sebesar 84,10%, kategori netral sebesar 14,77% dan kategori kurang baik sebesar 1,14%. Artinya dapat dikatakan sebagian besar sikap mahasiswa baik. Salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu karena bidan sudah memiliki banyak ciri yang menunjukan profesinya. Diantaranya yaitu bidan dapat

72

73

mengembangkan pelayanan untuk masyarakat dan wajar mendapatkan imbalan jasa atas pelayanan yang diberikan. Ciri tersebut sudah direalisasikan misalnya dengan adanya program bidan desa yang digulirkan pemeritah pada Tahun 1994 hingga sekarang. Bidan diupayakan untuk mengabdi kepada masyarakat yang

membutuhkannya dalam rangka penurunan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi (25). Itulah yang mungkin menyebabkan banyak mahasiswa tertarik dengan bidan dan menunjukan sikap yang tinggi terhadap profesinya. Faktor lain yang mempengaruh sangat erat kaitannya dengan era globalisasi sekarang ini. Faktor tersebut yaitu faktor pendapatan. Di Indonesia, tenaga kesehatan kini mendapat sorotan besar karena dinilai mudah mendapatkan pekerjaan setelah mahasiswanya lulus, artinya kemungkinan menganggur sangat kecil. Apalagi jika dikaitkan dengan profesi bidan yang unik, yaitu dapat membuka praktik sendiri membuat banyak yang tertarik dengan profesi bidan. Kini, telah banyak akademi kebidanan yang menerima banyak mahasiswa. Sehingga orang berlomba-lomba untuk sekolah di sana. Ketatnya persaingan mengisi kebutuhan tenaga bidan ini menyebabkan para calon bidan harus meningkatkan kemampuan diri
(26)

. Jalan satu-

satunya yaitu dengan meningkatkan kualitas yang dimulai dengan mencintai profesi tanpa paksaan. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa pada intinya sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang lain

73

74

atau barang tertentu. Dengan demikian berarti sikap terhadap profesi bidan adalah kecenderungan yang relatif menetap dengan cara baik ataupun buruk terhadap profesi bidan. Dalam hal ini, karena sikap dalam kategori baik mahasiswa bernilai 84,1%, berarti perwujudan perilaku mereka akan ditandai dengan munculnya kecenderungankecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju dan tegas) dalam menanggapi profesi bidan yang lebih baik. Menurut Wastidar Musbir, dahulu nasib bidan nyaris tidak terdengar. Padahal posisi bidan yang sebenarnya merupakan pekerjaan vital dan berisiko tinggi harus diperjuangkan. Bidan sesungguhnya bergumul di tengah perjuangan dramatis seorang ibu yang tinggal di desa terpencil dalam keadaan berdarah-darah dan nyawanya di ujung tanduk dalam memperjuangkan lahirnya kehidupan baru. Dahulu juga, kiprah kepahlawananya dalam membantu kelahiran generasi penerus banyak tertelan bumi. Karena nasibnya seperti kaum guru, pamor bidan terpatri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Dunia bidan baru muncul ke permukaan ketika terjadi malpraktik. Ketika itulah profesi bidan menjadi berita
(24)

. Namun kini, pamor bidan meningkat setelah

melihat persaingan menjadi tenaga kesehatan membuat bidan sebagai profesi yang unik menjadi hal yang diminati selain profesi kesehatan lain seperti dokter misalnya.

4.3.3. Hubungan Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dengan Sikap terhadap Profesi Bidan

74

75

Keyakinan adanya hubungan positif antara penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan berangkat dari asumsi bahwa pengungkapan hasil belajar ideal adalah meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa
(10)

. Asumsi ini terbukti

bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan hasil korelasi 0,469 dengan taraf signifikasi 0,05. Hasil dari hubungan ini yaitu dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi positif atau korelasi sejajar antara penguasaan mata kuliah inti kebidanan dengan sikap terhadap profesi bidan. Interpretasi terhadap koefisien korelasi atau nilai r berada antara 0,400 s.d. 0,599 termasuk pada keeratan yang cukup. Arti dari hubungan ini adalah bahwa jika penguasaan mata kuliah inti kebidanan meningkat maka sikap terhadap profesi bidan cenderung meningkat. Dengan kata lain, untuk meningkatkan sikap terhadap profesi bidan maka penguasaan mata kuliah inti kebidananpun perlu meningkat pula. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sikap timbul dari pengalaman, bukan dibawa sejak lahir namun merupakan hasil belajar. Hasil belajar yang dimaksud disini dapat berupa nilai yang merupakan lambang mutu atau lambang penguasaannya terhadap hasil belajar (11). Selain itu pula, adanya hubungan ini sejalan dengan wujud hasil belajar yang dapat dimanifestasikan salah satunya dalam bentuk penguasaan pola-pola perilaku kognitif (berdasarkan pengamatan) proses berfikir, mengingat atau mengenal

75

76

kembali, perilaku afektif (seperti sikap-sikap yang tampak, penghayatan, dsb), perilaku psikomotor (keterampilan-keterampilan psikomotor) dan perubahan sifatsifat kepribadian baik yang terukur maupun yang tidak terukur (22). Adanya hubungan ini sejalan dengan Data hasil penelitian tentang pengetahuan dan pendidikan dengan sikap yang dilakukan di Sampang (Madura) Tahun 1998 diperoleh ibu hamil yang memiliki pengetahuan rendah tentang kehamilan dan berpendidikan dasar yang memiliki sikap untuk melakukan pemeriksaan hamil lebih dari 4 kali hanya 39% dari 205 responden yang diteliti. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan dan pendidikan seseorang berhubungan dengan sikap untuk memelihara kehamilannya (26).

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik simpulan bahwa:

76

77

1) Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan di STIKes Dharma Husada Bandung dalam kategori sangat baik (47,7%), baik (45,5%), cukup (2,3%) dan kurang (4,5%). 2) Sikap terhadap Profesi Bidan di STIKes Dharma Husada Bandung dalam kategori baik (84,10%), kategori netral (14,77%) dan kategori kurang baik (1,14%). 3) Terdapat Hubungan yang positif atau sejajar dan antara Penguasaan Mata Kuliah Inti Kebidanan dengan Sikap Terhadap Profesi Bidan di STIKes Dharma Husada Bandung dalam keeratan yang cukup.

5.2. Saran Karena masih ada penguasaan mata kuliah inti kebidanan yang kurang, maka hendaknya mahasiswa dan pihak institusi meningkatkan kualitas kegiatan belajarnya agar penguasaannya lebih baik, dapat memenuhi persyaratan nilai dan memiliki sikap yang baik perhadap profesi bidan. DAFTAR PUSTAKA

1. Ihsan F. Dasar-Dasar Kependidikan, Komponen MPK. Jakarta: Rineka Cipta. 2003: 11-22. 2. Soeparan S dkk. Standar Pembelajaran Praktik Kebidanan. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 2006: 1-15.

77

78

3. ___________. Prestasi Di Sekolah Kita. 2006. .http://ditptksd.go.id/index. Diakses Desember 2007 4. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan, teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta. 2005: 52-56. 5. Azwar S. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya, Edisi ke2, Cetakan ke XI. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007: 4-9, 139-141, 154-157. 6. Sofyan M, Madjid & Ruslidjah S. 50 Tahun IBI, Bidan Menyongsong Masa Depan, Cetakan ketujuh. Jakarta: PP IBI, 2006: 20-24, 112-124. 7. PP IBI. 9 Modul Kebidanan. Jakarta. 2002: PP IBI. 8. Sudjana N. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 2002: 64-80. 9. Arikunto S. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 2002: 260. 10. Syah M. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2004: 92, 150-153. 11. Sobur A. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia. 2003: 217-260, 355-381. 12. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ke-3. Jakarta: Balai Pustaka .2001. 13. Depkes RI. Kurikulum Nasional Pendidikan Diploma III Kebidanan. Jakarta. 2003: 3. 14. ___________. Geliat Program Studi Kebidanan. 2007. http://www.tenagakesehatan.or.id/publikasi. Diakses Januari 2008. 15. ___________. Karakteristik Profesi. 2007. http://id.wikipedia.org/wiki/Profesi. Diakses Januari 2008. 16. Sudarman P. Belajar Efektif di Perguruan Tinggi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2004:18, 49-50.

78

79

17. Azwar S. Penyusunan Skala Psikologis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007: 106110. 18. Riduwan. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. 2007: 97-109, 134-137. 19. Zaelani K. Modul-Praktik Aplikasi komputer. Bandung: D4 Kebidanan FK UNPAD. 2005: 9-35. 20. _____________. Profesi Bidan di Indonesia, Dibutuhkan tapi diacuhkan. Jakarta: 2006. http: www.sinarharapan/artklindonesia. 21. WHO. Pengertian Bidan. 2006.http: www.waspada_online/bidan/profesibidan. Diakses Desember 2007. 22. Makmun AS. Psikologi Kependidikan Perangkat Sistem Pengajaran Bermodul. Bandung: Alfabeta. 2005: 157-166. 23. Cartono & Sutarto T. Penilaian Hasil Belajar Berbasis Standar. Bandung: Prisma Press. 2006: 43. 24. Zam. Dengan ’Bintang’, Bidan ingin Didengar. http://www.kompas.com/kompas-cetak. Diakses Desember 2007. 25. ______________. Agar Bidan Tak Tinggalkan http://www.bppsdmk.depkes.go.id. Diakses Januari 2007. 26. Kertiasih LP. Sumatera barat Butuh 600 Bidan. http://yiha.wordpress.com/. Diakses 20 Februari 2008. Desa. 2007. 2003. 2001. Jakarta.

27. Machfoedz I. Teknik Membuat Alat Ukur Penelitian Bidang Kesehatan Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya. 2005: 32-37. 28. Machfoedz I. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya. 2007: 97. 29. Notoatmodjo S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 2003: 121-122.

79

80

30. Tesalonika I. Mentalitas Seorang Profesional yang Handal. 2007. http://www.mail-archive.com/akhi@yahoogroups.com/. Diakses 28 Februari 2008.

80

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->