P. 1
perawatan lansia

perawatan lansia

|Views: 31|Likes:
Published by Doortua Butarbutar

More info:

Published by: Doortua Butarbutar on May 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2014

pdf

text

original

TELESURVEILLANCE SEBAGAI PELAYANAN PUBLIK BAGI PEMANTAUAN PERAWATAN LANSIA DI RUMAH Muhamad Hasbi

NPM :1006800945

Mahasiswa Magister Keperawatan Kekhususan Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Abstrak Telesurveillance adalah salah satu bentuk kegiatan kesehatan yang berbasis teknologi dimana memungkinkan pengawasan terhadap pasien dalam perawatan, terutama perawatan di rumah. Telesrveillance ini didasarkan pada teknologi komunikasi untuk menyampaikan informasi antara pasien dengan pusat layanan kesehatan panggilan yang telah terkoordinasi dan dikelola oleh tenaga kesehatan non profesional maupun tenaga kesehatan profesional seperti perawat. Berbagai jenis sistem telesurveillance telah dilaksanakan dan terbukti efektif dan efisien. Belakang belakang Telesurveillance adalah aplikasi dari telemedicine yang membantu untuk memenuhi kebutuhan medis pasien di rumah. Telesurveillance dilandasi pada teknologi komunikasi untuk menempatkan pasien untuk bisa kontak dengan pusat pelayanan panggilan sosial dan layanan medis yang sudah dikoordinasikan . Pelayanan kedaruratan dan layanan kesehatan dasar sehari – hari dapat diberikan bila lansia dapat menggunakan telesurveillance ini. Dalam telesurveillance terdapat "telemonitoring" berisikan transmisi data fisiologis pasien secara online (Misalnya tekanan darah, glycaemia) dan informasi adanya pengawasan medis atau tidak. Ketika tidak ada data fisiologis yang dikirimkan oleh pasien, maka telesurveillance dapat berfungsi dalam hal ini telesurveillance dapat berfungsi khusus yaitu sebagai pengingat untuk kegiatan yang berbeda. Berbagai jenis layanan telesurveillance telah dirancang untuk mendukung perawatan lansia di rumah. Telesurveillance yang paling umum digunakan adalah penggunaan call center yang dikelola oleh tenaga kesehatan non profesional yang dilatih untuk menanggapi keadaan darurat dan untuk merujuk kasus ke pelayanan kesehatan di masyarakat dengan sistem informasi. Telesurveillance layanan dikelola oleh tenaga non-kesehatan profesional telah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas umum kehidupan para lansia, serta berbagai hasil seperti kecemasan, perasaan yang aman di rumah, persepsi efek positif pada kesehatan . Hal ini juga telah terbukti memiliki efek positif pada fungsi kemandirian dan otonomi dalam kegiatan hidup sehari-hari para lansia. Penanganan yang cepat dari permintaan bantuan dalam waktu satu jam telah mengurangi angka kematian. Selain itu, tingkat kepuasan dengan penggunaan layanan telesurveillance dikelola oleh tenaga nonkesehatan profesional memiliki tingkat kepuasan yang tinggi. Berdasarkan penelitian Rooney, Studenski &Romawi bahwa telesurveillance juga memiliki efek positif pada beban pada pengasuh, terutama mengenai tingkat kecemasan tentang keamana serta memberikan efesien dalam hal biaya - terutama dikaitkan dengan penurunan rawat inap .

A. LATAR BELAKANG Peningkatan umur harapan hidup memberikan dampak pada semakin meningkatnya jumlah pendunduk yang berusia diatas 60 tahun atau lansia (Kepmenkes RI Nomor 264, 2010). Berdasarkan data base international yang dilakukan oleh U.S. Census Bureau penduduk usia lanjut di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2007 yaitu sebesar 18,96 juta jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 pada tahun 2009. Sedangkan menurut Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2010 mencapai 8,6% dari jumlah penduduk (Riskesdas, 2010). Usia lanjut merupakan tahapan usia akhir dimana pada usia tersebut terjadi penurunan biologis, fisiologis, psikososial dan spiritual. Adanya penurunan tersebut, menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang terjadi pada usia lanjut. Masalah yang sering dialami oleh usia lanjut adalah jatuh. Tinetti (2003) melaporkan bahwa lebih dari sepertiga penduduk usia 65 tahun atau lebih di seluruh dunia jatuh setiap tahun, dan dari satu setengah kasus jatuh tersebut berulang (Gai et al, 2010). Menurut penelitian Tinetti pada tahun 1992 kejadian jatuh pada usia lanjut di rumah lebih besar. Berdasarkan penelitian Juliana Gai, Lucy Gom es, Otavio de Toledo Nobrega, dan Marcelo Palmeira Rodrigues pada tahun 2009 yang meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian jatuh pada wanita usia lanjut, faktor keseimbangan merupakan faktor prediktor dan protektif dari jatuh. Selain itu, jatuh dapat disebabkan karena faktor ekstrinsik seperti lingkungan dan faktor intrinsik lain seperti usia, kondisi sosiodemografi, obat-obatan yang diminum, depresi, pusing, persepsi terhadap kesehatan. Selain itu, hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa functional reach test atau tes jangkauan serta skala Tinetti atau tes keseimbangan dan gaya berjalan merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian jatuh pada wanita usia lanjut (Gai et al, 2009). Gaya berjalan dipengaruhi oleh panjang langkah. Sedangkan, panjang langkah berhubungan dengan fungsi sensorimotorik yang dikombinasikan dengan faktor ketakutan akan jatuh (Menz et al, 2006 dalam Lord et al, 2007).Sedangkan, akibat dari jatuh diantaranya dapat terjadi kerusakan fisik, gangguan muskuloskeletal dan gangguan persarafan (Gai et al, 2010). Sedangkan, menurut penelitian Kong et al (2001), konsekuensi dari kejadian jatuh pada usia lanjut diantaranya adalah kehilangan kekuatan, ketakutan dan mencari perawatan.

Besarnya jumlah usia lanjut dan kompleksnya masalah pada usia lanjut yang disebabkan oleh penurunan biologis, fisiologis, psikososial dan spiritual serta lingkungan eksternal menyebabkan harus semakin besarnya upaya untuk mencegah masalah tersebut terjadi, termasuk masalah jatuh yang sering terjadi pada usia lanjut dan dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang lain. Untuk itu, diperlukan upaya pemantauan dan pengamatan yang bersifat teratur dan efektif terhadap lansia yang tinggal di rumah terutama lansia yang mempunyai faktor resiko jatuh. Pemantauan terhadap kesehatan lansia di rumah terutama yang mempunyai faktor resiko jatuh bukan sepenuhnya dilakukan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga harus dilakukan juga oleh lansia itu sendiri. Dalam mengawasi dan memantau kesehatan dirinya tersebut lansia membutuhkan strategi yang efektif, efesien dan moderen. Apakah Telesurveillance merupakan solusinya?

B. KAJIAN LITERATUR 1. Pelayanan Kesehatan Lansia Dirumah Populasi usia lanjut di Indonesia semakin meningkat, baik jumlah absolutnya maupun proporsinya. Diperkirakan pada tahun 2025 mendatang, proporsi usia lanjut di Indonesia mencapai 13,1% atau sekitar 27 juta jiwa. Peningkatan ini tentu membutuhkan perhatian yang lebih, baik dari pemerintah, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, praktisi kesehatan, serta masyarakat pada umumnya, mengingat bahwa permasalahan yang dihadapi oleh mereka yang berusia lanjut pada banyak hal berbeda dengan yang dihadapi pada kelompok usia yang lebih muda. Di bidang pelayanan kesehatan, hal ini menjadi semakin nyata karena masalah kesehatan pada mereka yang berusia lanjut, secara kuantitatif dan kualitatif, sedemikian kompleksnya yang membutuhkan perhatian khusus. Sistem pelayanan kesehatan untuk usia lanjut secara umum terbagi menjadi 2: yang berbasis rumah-sakit (hospital-based) dan berbasis komunitas (communitybased), dengan berbagai kekhususannya, yaitu perawatan di rumah (home care). Perawatan kesehatan di rumah adalah sektor yang mengalami pertumbuhan paling cepat dalam sistem pelayanan kesehatan. Layanan perawatan kesehatan

rumah dapat berupa perawatan yang berkelanjutan atau hanya kadang-kadang, menurut kebutuhan lansia terhadap pelayanan ini. Pelayanan ini diberikan oleh perusahaan swasta untuk provid atau oleh organisasi daerah atau lembaga perawat non provid yang berunjung ke rumah-rumah. Pelayanan yang diberikan termasuk asuhan keperawatan, fisioterapi, terapi okupasi, terapi bicara, pekerjaan sosial, dan pelayanan bantuan untuk perawatan kesehatan rumah. Usia lanjut banyak yang memelukan pelayanan kesehatan rumah yang teratur secara profesional. Pelayanan kesehatan rumah merupakan kombinasi pelayanan kesehatan rumah. Badan-badan pelayanan ke rumah dapat berasal dari pemerintah maupun dari swata ataupun rumah sakit dan lembaga pengobatan lainnya. Studi terbaru, menunjukkan pelayanan kesehatan rumah terhadap lansia bertujuan untuk mencegah lansia tersebut di rawat kembali di rumah sakit. Kemampuan perawat kesehatan rumah untuk mengkaji klien secara berkelanjutan dan mengidentifikasi berbagai gejala dari masalah yang ada memungkinkan perawat dapat melakukan intervensi seawal mungkin sebelum gejala bertambah buruk. Perawat kesehatan rumah berada pada posisi ideal untuk mengkaji kebutuhan lansia secara holistik dan untuk mengkoordinasikan pelayanan yang diperlukan. Semua bentuk asuhan keperawatan dapat diberikan dalam bentuk perawatan kesehatan dirumah. Banyak prosedur yang sebelumnya dianggap teknologi tinggi sekarang telah menjadi umum dalam perawatan di rumah. Banyak tindakan dengan teknologi tinggi dilakukan oleh perusahaan khusus dan lembaga keperawatan di rumah (home care) .Peralatan yang diperlukan untuk perawatan lansia disediakan dan dipelihara oleh perusahaan khusus ini. Yang juga memberikan pelatihan awal dan bantuan dalam memecahkan masalah bagi perawat perawatan di rumah setempat. Lembaga perawatan rumah setempat memberikan perawatan sehari-hari kepada klien. Di balik keberhasilan pelaksanaan pelayanan kesehatan di rumah dalam

mengatasi masalah-masalah kesehatan lansia , terdapat permasalahan lain yang mengganggu efektivitas pelaksanaan perawatan di rumah diantaranya adalah; (1) Terbatasnya tenaga kesehatan (2) Adanya panggilan kunjungan yang tidak

diperlukan, hal ini akan membuang waktu, tenaga dan biaya, (3) Hambatan yang datang dari pasien dan keluarga (4) Ketergantungan penderita dan atau keluarga, (5) untuk kolaborasi dengan tim profesional lain membutuhkan waktu yang cukup lama, (6) letak geografis yang jauh dapat mempengaruhi efektivitas pelayanan dan cost yang diperlukan. 2. Telesurveillance Sebagai Layanan Publik untuk Perawatan Lansia di Rumah Dewasa ini perkembangan ilmu dan teknologi berbanding lurus dengan percepatan informasi. Dimana saat ini sedang terjadi revolusi digital, data, suara, gambar diam dan gambar gerak dapat dicampur sehingga mendapatkan gambaran yang cocok dan dapat dikirim dengan berbagai jenis saluran. Hal ini menunjukan bahwa sejumlah besar informasi dapat disimpan pada chip yang lebih kecil dan dapat diaplikasikan dalam pembuatan database medis . Telesurveillance menunjukkan kecenderungan umum yang dapat mempengaruhi masa depan. Interoperabilitas, konektivitas, skalabilitas dan mobilitas merupakan fitur kunci untuk teknologi telesurveillance. Telesurveillance merupakan penyediaan layanan kesehatan dan informasi yang terkait melalui teknologi telekomunikasi. Telesurveillance dapat menggunakan telepon, atau dengan menggunakan videoconference. Telesurveillance merupakan perluasan dari telemedicine, dimana perbedaannya adalah telemedicin berfokus pada pengobatan/kuratif sedangkan telesurveillance menitikberatkan pada aspek preventif, promotif dan kuratif. Telesurveillance saat ini dijadikan solusi teknologi dalam melaksanakan menejemen kesehatan pasien. Dengan menggunakan telesurveillance pemberi layanan kesehatan kesehatan dapat melakukan monitoring pasien dari jarak jauh, seperti; memonitor tanda-tanda vital pasien, berat badan, tekanan darah, nadi dan indikasi lain yang merupakan tanda-tanda yang emergensi serta keluhan pasien dan obat-obatan. Pasien yang berada di rumah dapat berkomunikasi dengan pemberi layanan kesehatan, interaksi ini dapat diilakukan dengan berbagai cara diantaranya; real-time atau off line, atau dalam bentuk video, voice-video dan dapat juga dalam bentuk telephone dan internet [Dellifraine, 2008; Tran, 2008]. Karakteristik teknologi telesurveillance untuk perawatan lansia di rumah dengan model telepon adalah ditandai oleh bi-directional dengan kemampuan

komunikasi (pembicara-penerima) antara pasien dan pusat penerima(provaider). Kelengkapannya terdiri dari sebuah telepon dan kecil bertenaga baterai panggilan darurat nirkabel pemancar. Nirkabel pemancar, yang dapat dipakai sebagai sebuah medali atau gelang, berbentuk menonjol dan tahan air, dan dapat digunakan untuk menempatkan panggilan darurat, atau untuk menjawab telepon ketika pengguna sedang tidak dekat set dasar. Telepon dilengkapi bentuk besar , diterangi tombol dan ergonomis cahaya handset, yang kompatibel dengan alat bantu dengar. Ini Model memiliki banyak fitur khusus lainnya termasuk dua arah komunikasi hingga 30 meter dari telepon, dan suara pengingat (misalnya, untuk obat, kateter, glycaemia, diet khusus, latihan yang dianjurkan, medis, fungsi sosial, tugas aktivitas harian) yang dapat ditetapkan untuk waktu tertentu (harian, mingguan atau hanya sekali). Enam pengingat dapat disimpan secara bersamaan dan diprogram dari jarak jauh. Pengguna usia lanjut juga dapat menjawab dan berbicara di telepon jarak jauh hanya dengan Menekan tombol darurat, tanpa mengangkat telepon. Fungsi lain yang tersedia adalah kemampuan untuk mendapatkan waktu, hari dan tanggal dengan menekan tombol. Sedangkan telesurveillance yang menggunakan vidio mempunyai karakteristik sistem sebagai berikut : menggunakan sensor dan perangkat portabel nirkabel yang bertujuan memantau pasien di rumah. Perangkat portabel ini dihubungkan oleh sebuah stasiun radio untuk di-pintu-basis PC ditempatkan di utama ruangan rumah pasien. Terus menerima sinyal emisi dari perangkat portabel melalui link radio VHF, base station eksploitasi mereka untuk mendeteksi penyakit potensial situasi dan, hanya dalam kasus itu dan setelah proses pengambilan otomatis, itu menghasilkan alarm ke server remote. Di sisi lain PC-base stasiun terhubung ke server jauh dari pusat

Penggunaan telesurveillance dalam praktek keperawatan khususnya sangat efektif hal ini terbukti dari hasil penelitian yang di lakukan oleh Departemen

Rehabilitasi dan sosial untuk lanjut usia di Kanana menunjukan bahwa penggunaan telesurveillance memberikan hasil yang positif bagi penanganan usia lanjut terutama peningkatan kualitas hidup, perilaku sehat, dan kepuasan dalam dalam pelayanan kesehatan.Dalam penelitian itu juga menunjukan bahwa bahwa penggunaan telesurveillance yang dilakukan oleh perawat dapat menekan biaya perawatan yaitu dengan berkurangnya orang lanjut usia melakukan perawatan di rumah sakit (opname) C. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. Kesimpulan Kondisi kesehatan usia lanjut yang berada di rumah kurang diperhatikan, Fokus pelayanan kesehatan pada lansia banyak ditujukan pada lansia yang ada di rumah sakit . Kondisi ini yang memicu tingginya angka kesakitan pada lansia yang berada di rumah. Hal tersebut memerlukan suatu pendekatan penanganan pelayanan kesehatan pada lansia yang ada di rumah. Perawat (homecare) merupakan penyedia integral terlibat dalam mendidik, pembinaan, pengawasan pada lansia – lansia yang berada prakdi masyarakat /rumah . Penggunaan telesurveillance dalam perawatan di rumah sangat efektif, dengan telesurveillance kondisi perubahan-perubahan klinik pasien dapat segera terdeteksi dan dapat segera di komunikasikan dengan pemberi pelayanan kesehatan sehingga kondisi-kondisi yang memerlukan tindakan emergensi dapat segera dilakukan. Selain itu dengan menggunakan telesurveillance dapat menurunkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien untuk perjalanan dan menurunkan tingkat ketidaknyamanan pasien selama perjalanan.

2. Rekomendasi Telesurveillance diterapkan di Indonesia, mengingat letak geografis Indonesia berbentuk kepulauan dan banyak pegunungan menyebabkan masyarakat Indonesia banyak yang kesulitan mencapai tempat pelayanan kesehatan, dengan penggunaan telesurveillance pasien lansia dapat dengan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan. Namun demikian aplikasi penggunaan telesurveillance di Indonesia harus diiringi dengan pengadaan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan monitoring dan membangun jaringan untuk accses penyaluran sinyal ke

tempat pelayanan kesehatan serta pemberian informasi kepada pasien dan keluarga yang akan menggunakan metode telesurveillance.

Daftar Pustaka

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. 2010. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Jakarta: Depkes RI. Banerjee S, et all. 2003: Telesurveillance of elderly patients by use of passive infra-red sensors in a "smart" room. J Telemed Telecare, Claude Vincent att all. (2006).Public telesurveillance service for frail elderly living at home, outcomes and cost evolution: a quasi experimental design with two follow-ups

Gai, Juliana, Lucy Gomes, Otavio de Toledo Nobrega, Marcelo Palmeira Rodrigues. 2010. Factors Related to Falls Among Elderly Women Resident in a Community. Dimuat dalam jurnal Assoc Med Brasil: vol. 56(3), hal. 327-32. Hastings, Diana.2005.Pedoman Keperawatan di Rumah.Jakarta: EGC Kepmenkes RI Nomor 264. Tahun 2010 Kuntjoro Harimurti.(2010). Perawatan Lansia dirumah. Dalam http://www.komnaslansia.or.id Lord, Stephen, Catherine Sherrington, Hylton Menz, Jacqueline Close. 2007. Falls in Older People: Risk Factors and Strategies for Prevention , second edition. Cambridge: Cambridge University Press. Watson, Roger.2003.Perawatan pada lansia.Jakarta:EGC Whitten P att all. (1997): Home telenursing in Kansas: Patients' perceptions of users and benefits. World Health Organization. 2007. WHO Global Report on Falls Prevention in Older Age. Geneva:WHO Press.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->