PERKAP NOMOR 12 TAHUN 2011.pdf

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG KEDOKTERAN KEPOLISIAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan tugas di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat, Kepolisian Negara Republik Indonesia dibantu oleh fungsi-fungsi terkait salah satunya pengemban fungsi kedokteran dan kesehatan Kepolisian Negara Republik Indonesia; bahwa salah satu bentuk dukungan yang diberikan pengemban fungsi kedokteran dan kesehatan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pelaksanaan tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia, yaitu dengan menyelenggarakan kedokteran kepolisian, sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) huruf h Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang Kedokteran Kepolisian; Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4168); Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Organisasi pada Tingkat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia; 4. Peraturan .....

b.

c.

Mengingat

: 1.

2.

3.

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA INDONESIA TENTANG KEDOKTERAN KEPOLISIAN. 2. 4. Disaster Victim Identification yang selanjutnya disingkat DVI adalah kegiatan identifikasi terhadap korban mati akibat bencana yang dilakukan secara ilmiah sesuai standar interpol dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Kedokteran Forensik adalah salah satu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk kepentingan hukum dan peradilan. . Patologi Forensik adalah cabang ilmu kedokteran forensik yang menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran pada pemeriksaan jenazah dan segala hal yang berhubungan dengan kematian guna kepentingan peradilan.2 4. Kesehatan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat yang selanjutnya disingkat Keskamtibmas adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran untuk kepentingan tugas Polri dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.. 5. REPUBLIK 5. Odontologi …. Kedokteran Kepolisian yang selanjutnya disingkat Dokpol adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran beserta ilmu-ilmu pendukungnya untuk kepentingan tugas kepolisian. 6. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor. 7. 3. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Daerah. Odontologi Kepolisian adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi beserta ilmu pendukungnya untuk kepentingan tugas kepolisian. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang d imaksud dengan: 1.

Psikiatri Forensik adalah penerapan ilmu kedokteran jiwa untuk kepentingan hukum dan peradilan. 14. 21. Kesehatan Lapangan yang selanjutnya disingkat Keslap adalah bagian dari ilmu kedaruratan medik yang mempelajari permasalahan medik di lapangan. 20. Kedokteran Lalu Lintas adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran guna mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Dioxyribo Nucleic Acid Forensic yang selanjutnya disebut DNA Forensik adalah salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi Biomolekuler di bidang DNA untuk kepentingan identifikasi. tempat dan perlengkapannya yang dapat berakibat timbulnya penyakit atau gangguan kesehatan. Odontologi Forensik adalah salah satu cabang ilmu kedokteran gigi yang menerapkan ilmu dan teknologi kedokteran gigi untuk kepentingan hukum dan peradilan.3 7. Pusat Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disingkat PPT adalah sistem pelayanan terpadu lintas fungsi dan lintas sektor bagi korban tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak untuk kepentingan hukum dan peradilan. dokumen. Pengamanan Makanan (food security) adalah upaya pengamanan terhadap makanan. 18. orang. 11. Chemical …. makanan/minuman. 12. instalasi. Kesehatan tahanan adalah penentuan status kesehatan dan pelayanan kesehatan terhadap tahanan Polri.. Toksikologi Forensik adalah penerapan ilmu pengetahuan tentang racun untuk kepentingan hukum dan peradilan. 19. . Pengamanan Kesehatan adalah semua usaha kegiatan dan tindakan yang terus menerus diambil dalam rangka pengamanan di bidang medik meliputi personel. Hukum Kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan dan penerapannya. 8. 13. 10. materiil. Forensik Klinik adalah bagian ilmu kedokteran forensik yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan status klinik seseorang untuk kepentingan hukum dan peradilan. Antropologi Forensik adalah penerapan ilmu pengetahuan antropologi ragawi dan ilmu osteologi manusia untuk kepentingan hukum dan peradilan. 17. 9. 16. 15. Geomedicine adalah cabang dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemetaan pengaruh kondisi iklim dan lingkungan terhadap kesehatan.

24. tidak memihak dan tidak menguntungkan salah satu pihak. Ilmiah. yaitu penyelenggaraan Dokpol didasarkan pada ilmu pengetahuan yang dapat dibuktikan dan diuji ulang serta bersifat universal. dapat berpikir dan bertindak secara mandiri dan tidak dipengaruhi oleh semua pihak. terselenggaranya Dokpol secara efektif. yaitu penyelenggaraan Dokpol mengikuti dan dilaksanakan oleh personel yang memiliki kompetensi dan standar profesi. sebagai pedoman pelaksanaan tugas bagi para pengemban Dokpol. f. d. yaitu pelayanan Dokpol dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. legalitas. c. transparan ….. objektif. Farmasi Kepolisian adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian beserta ilmu pendukungnya untuk kepentingan tugas kepolisian. g. Biological. 22. efisien dan profesional. penyelenggaraan Dokpol didasarkan pada fakta yang ada. b. 23. imparsial. meliputi: a. yaitu pelayanan diberikan secara adil. dan tidak dipengaruhi oleh interpretasi dan kepentingan siapapun dan pihak manapun. Pasal 3 Prinsip-prinsip dari peraturan ini. e. profesional. Farmasi Forensik adalah cabang dari ilmu farmasi yang mempelajari dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian untuk kepentingan hukum dan peradilan. dan terwujudnya pelayanan Dokpol yang prima untuk kepentingan tugas kepolisian. . Radiological and Nuclear yang selanjutnya disingkat CBRN adalah bahan-bahan yang dengan perantaraan teknologi dapat dipergunakan untuk kepentingan/kesejahteraan hidup orang banyak. namun pada kejadian tertentu dapat menimbulkan bahaya yang mengancam kehidupan orang banyak. Chemical. meliputi: a. Independen. b. Rumah Sakit Bhayangkara yang selanjutnya disingkat Rumkit Bhayangkara adalah Rumkit di lingkungan Polri yang menyelenggarakan kedokteran kepolisian dan kesehatan kepolisian bagi pegawai negeri pada Polri. keluarganya dan masyarakat umum.4 21. Pasal 2 Tujuan dari peraturan ini. yaitu suatu keadaan atau kualitas yang bebas dari ketergantungan atau suatu pengaruh. c.

Kedokteran Forensik. dan sasaran yang ditetapkan serta memberikan manfaat sebesar-besarnya. (2) operasional. tenaga. b.5 g. . dan kerja sama lintas program. Penyelenggaraan Dokpol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilaksanakan antara lain pengembangan jejaring. yaitu penyelenggaraan Dokpol dilaksanakan secara terbuka sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip profesi yang berlaku. pendidikan dan pelatihan. b. lintas sektoral serta lintas fungsi di dalam maupun luar negeri.. i. waktu. DVI. BAB II KEDOKTERAN KEPOLISIAN Bagian Kesatu Kegiatan. c. Pasal 5 Kegiatan Dokpol meliputi: a. dan penelitian dan pengembangan. c. dan Fasilitas Pasal 4 (1) Penyelenggaraan Dokpol meliputi: a. d. yaitu penyelenggaraan Dokpol dilakukan secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. h. dan efektif dan efisien. biaya. transparan. Pasal …. pembinaan. yaitu penyelenggaraan Dokpol dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. Kemampuan. dan Keskamtibmas. akuntabel.

dan Database odontogram. 2. pemeriksaan awal terhadap korban di TKP. e. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) Aspek Medik. g.. f. pemeriksaan Laboratorium kedokteran forensik. d.6 Pasal 6 Kemampuan Dokpol meliputi: a. pemeriksaan tulang belulang manusia. pemeriksaan jenis racun dalam tubuh manusia atau bagian tubuh manusia. b. dan melaksanakan rekonstruksi wajah. dan database DNA. pemeriksaan titik-titik antropologi manusia. antara lain: 1. 2. antara lain: 1. Antropologi Forensik. 4. pemeriksaan mayat luar dan dalam (otopsi). pemeriksaan kematangan tulang manusia. Odontologi forensik. Toksikologi Forensik. antara lain: 1. antara lain: 1. pengawetan jenazah. Patologi Forensik. Identifikasi. 3. . antara lain: 1. Kesehatan …. penentuan garis keturunan. 5. dan gali kubur (ekshumasi). dan penanganan barang bukti non medik yang menempel pada tubuh korban dan barang bukti medik. 3. Odontologi Kepolisian. DNA forensik. pemeriksaan Toksikologi kedokteran forensik. 2. 2. c. DNA Profiling. 4. 4. 2. 2. antara lain: 1. dan pemeriksaan kadar racun dalam tubuh manusia atau bagian tubuh manusia. 3.

1. dan pemeriksaan status kesehatan jiwa. 2. 2. 3. Kesehatan Tahanan. 6. dan pemeriksaan uji kelayakan kesehatan. penetapan status kesehatan untuk kepentingan peradilan. pemeriksaan korban hidup. penanganan sengketa medik dan kesehatan. antara lain: Hukum Kesehatan. dan perdagangan gelap organ tubuh manusia (Illegal organ trafficking). 3. pemeriksaan kepribadian pada kasus–kasus kriminal. 1. 2. 4. bioetika kedokteran. 1. 3. pemeriksaan tahanan yang akan dipindahkan. j. Forensik Klinik. antara lain: Kedokteran Lalu Lintas. 4. pemeriksaan dan pembuatan surat keterangan dokter terhadap tersangka. profil kejiwaan pelaku kejahatan (criminal psychiatric profiling). informasi dan edukasi tentang keselamatan lalu lintas. pemeriksaan berdasarkan surat permintaan visum et repertum.. 2.antara lain: . i. pemeriksaan kasus yang berkaitan dengan dugaan malpraktek. pemeriksaan toksikologi kedokteran forensik. 1. pemeriksaan kesehatan tahanan baru. penyusunan aturan internal rumah sakit (hospital by-laws). k. 1. penerbitan …. dan rawat jalan dan atau rawat inap. 5. 3. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan. antara lain: Psikiatri Forensik. komunikasi. dan penanggulangan gawat darurat kecelakaan lalu lintas. antara lain: Medikolegal. 2. pemeriksaan kesehatan calon pengemudi dan pengemudi. pemeriksaan laboratorium kedokteran forensik. h. pembuatan visum et repertum dengan rahasia kedokteran. 3. 4.7 g. antara lain: 1. 2. 4. l. 3.

dan evakuasi Medik. antara lain: Pengamanan Kesehatan. penanganan gawat darurat. 2. penanganan …. 2. 3. 2. r. 7. deteksi bahaya CBRN. antara lain: Pengamanan Makanan (Food Security). kegiatan promotif dan preventif bagi petugas lapangan. q. n. 1. 2. 1. o. 2. 3. deteksi dini penyalahgunaan narkotika. 1. antara lain: Farmasi Kepolisian. 2. pemeriksaan makanan/minuman untuk VIP. 4. stabilisasi korban untuk dievakuasi dari TKP. antara lain: . dan pasien untuk menjalani pemeriksaan untuk pemeriksaan mengenai kecelakaan lalu lintas. antara lain: Penanganan Penyalahgunaan Narkotika. dan rehabilitasi medik penyalahguna narkotika.8 6. perawatan dan pengobatan penyalahguna narkotika. informasi dan edukasi bahaya CBRN. p. dan pengamanan kesehatan pada situasi khusus. 1. pengamanan kesehatan Very Important Person (VIP). penanganan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). 1. 3. 1. dan pemeriksaan makanan/minuman pada situasi khusus. 3. komunikasi. dan penanganan perdagangan manusia (human trafficking). Penanggulangan Bahaya CBRN. farmasi forensik. penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik. kelayakan kesehatan peradilan. s. 4. 2. 1. antara lain: Keslap. m.. pemeriksaan penyalahguna narkotika. PPT korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. 8. pengamanan kesehatan pada rusuh massa. antara lain. dan produksi bahan dukungan operasi Dokpol.

15. 2. 5. Kesehatan Tahanan. pengumpulan data geomedik. 14. 4. penanganan medik korban hidup. Hukum Kesehatan. 10. 6. Odontologi kepolisian. 1. dan pembekalan Dokpol bagi anggota Polmas. antara lain: . Pusat Pelayanan Terpadu. 13. antara lain: Kesehatan Perpolisian Masyarakat (Kespolmas). u. 3. 2. penyuluhan kesehatan. t. Olah TKP Aspek Medik. 3. 9. bakti sosial di wilayah bencana. dan penentuan rute evakuasi medik. Fasilitas internal Polri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain: a. 2. 7. Psikiatri Forensik. Penanganan Penyalahgunaan Narkotika. Medikolegal. Forensik Klinik. Penanggulangan …. Pengamanan Kesehatan. bakti sosial di wilayah operasi. Rumkit Bhayangkara tingkat I.. Antropologi Forensik. Pasal 7 (1) (2) Kemampuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas internal dan/atau eksternal Polri.9 3. 8. 4. 12. 1. Geomedicine. 11. Food Security. Kesehatan Lapangan. 3. 4. Patologi Forensik. meliputi kemampuan: 1. dan penanganan korban mati. pembuatan peta geomedik.

Forensik Klinik. Rumkit Bhayangkara tingkat III. Kesehatan Lapangan. 7.10 15. . Penanganan penyalahgunaan Narkotika. Rumkit Bhayangkara tingkat II. 6. 4. 8. Pusat Pelayanan Terpadu. 17. 12. Kesehatan Lapangan. Psikiatri Forensik. Odontologi kepolisian. meliputi kemampuan: 1. Olah TKP Aspek Medik. 6.. Forensik Klinik. Pengamanan …. c. Hukum Kesehatan. Odontologi kepolisian. meliputi kemampuan: 1. 3. Food Security. 2. 7. dan Kesehatan Perpolisian Masyarakat. 2. 16. Pusat Pelayanan Terpadu. Kesehatan Tahanan. Olah TKP Aspek Medik. 13. Antropologi Forensik. 15. 9. Kesehatan Tahanan. Pengamanan Kesehatan. 4. Psikiatri Forensik. 10. 10. 16. Geomedicine. Medikolegal. 8. Penanggulangan Bahaya CBRN. dan Kesehatan Perpolisian Masyarakat. Medikolegal. 14. 11. 9. 5. b. Patologi Forensik. Patologi Forensik. 3. Geomedicine. 5.

dan Kesehatan Perpolisian Masyarakat. 14. (3) Fasilitas eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai keperluan dan ketentuan yang berlaku. d. 10. Pusat Pelayanan Terpadu. e. Geomedicine. Penanganan penyalahgunaan Narkotika. Patologi Forensik.11 10. 6. 13. yaitu kemampuan DNA Profiling. Laboratorium DNA Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri. 12. Rumkit Bhayangkara tingkat IV. 4. . Bagian …. dan Laboratorium Farmasi Kepolisian (Farmapol). Penanganan penyalahgunaan Narkotika. 9. dan Farmasi Kepolisian. Forensik Klinik. 12. 13. meliputi kemampuan: 1. 11. Medikolegal. 2. Olah TKP Aspek Medik. meliputi kemampuan: 1. Food Security. 7. Odontologi kepolisian. Geomedicine. 3. 5. Toksikologi Forensik. Pengamanan Kesehatan. Kesehatan Lapangan. yaitu kemampuan Odontologi Kepolisian. 8. Kesehatan Tahanan. dan Kesehatan Perpolisian Masyarakat. 2. Laboratorium dan Klinik Odontologi Kepolisian (LKOK). Pengamanan Kesehatan.. 11. f. Food Security. g.

. e. Komite DVI sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyelenggarakan DVI secara berjenjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. tingkat Provinsi oleh Komite DVI Propinsi yang ditetapkan oleh Keputusan Gubernur. Odontologi Forensik. Toksikologi Forensik. dan pada tingkat Polres oleh Urusan Kesehatan (Urkes) Polres. b. sebagai berikut: a. b. . (3) (4) Kemampuan Dokpol dalam kegiatan DVI meliputi: a. Patologi Forensik. c. Farmasi Forensik.12 Bagian Kedua Disaster Victim Identification Pasal 8 (1) Kegiatan DVI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dilaksanakan: a. g. Database DNA Database Odontogram. d. Psikiatri …. tingkat Nasional oleh Komite DVI Nasional yang ditetapkan oleh Keputusan Bersama Kapolri dan Menteri Kesehatan. h. f. pada tingkat Polda oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda. dilakukan kerjasama lintas sektor dan lintas fungsi melalui Komite DVI Nasional Indonesia (INDIVIC/Indonesian National DVI Committee). tingkat Regional oleh Komite DVI Regional yang ditetapkan oleh Keputusan Bersama Kapolri dan Menteri Kesehatan. Untuk mendukung kegiatan DVI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. DNA profiling. c. i. d. (2) pada tingkat Mabes Polri oleh Pusdokkes Polri. dan Provinsi yang belum memiliki Polda dilaksanakan oleh Komite DVI Provinsi yang bertanggung jawab atas provinsi tersebut sesuai ketentuan peraturan perundangan. Antropologi Forensik.

b. Antropologi …. gunung meletus. trafficking in persons). Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis penyelenggaraan kegiatan DVI diatur dengan Peraturan Kapusdokkes Polri. Dalam pelaksanaan DVI dapat memanfaatkan kemampuan Dokpol dan kemampuan lain yang dikoordinasikan oleh Tim DVI. (5) Psikiatri Forensik. Olah TKP Aspek Medik. (2) . kegagalan modernisasi. dampak industri. Bagian Ketiga Kedokteran Forensik Pasal 10 (1) Kegiatan Kedokteran Forensik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b dilaksanakan: a. wabah penyakit. pada tingkat Polres oleh Urkes Polres. k. Odontologi Forensik. Pasal 9 (1) Pelaksanaan DVI meliputi: a. ledakan nuklir. bencana alam (Natural Disaster) yang diakibatkan peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi. c.. j. Hukum Kesehatan. Kemampuan Dokpol dalam kegiatan Kedokteran Forensik meliputi: a. kegiatan keantariksaan dan tindak pidana kejahatan antara lain kejahatan konvensional. kecelakan transportasi. d. pada tingkat Polda oleh Biddokkes Polda. angin topan. pada tingkat Mabes Polri oleh Pusdokkes Polri. b. tsunami. b. kekeringan. DNA Forensik. Patologi Forensik. dan bencana non alam (Unnatural Disaster) antara lain kebakaran hutan/ lahan yang disebabkan oleh manusia. tanah longsor. pencemaran lingkungan. dan c. kegagalan konstruksi/teknologi. banjir. dan Medikolegal. e. kejahatan trans nasional (terorisme. (2) (3) Penentuan pelaksanaan DVI digelar sesuai tingkatan bencana yang ditetapkan dengan ketentuan yang berlaku.13 i.

Psikiatri Forensik. Pengamanan Kesehatan. c. (3) Antropologi Forensik. b. PPT. o. i. Bagian Keempat Kesehatan Keamanan Ketertiban Masyarakat Pasal 11 (1) Kegiatan Keskamtibmas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c dilaksanakan: a. p. Hukum Kesehatan. Geomedicine. l. pada tingkat Polda oleh Biddokkes Polda. Food Security. m. Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis penyelenggaraan kegiatan Kedokteran Forensik diatur dengan Peraturan Kapusdokkes Polri. Database DNA. n. k. (2) Kemampuan Dokpol dalam kegiatan Keskamtibmas meliputi: a.14 e. j. Kesehatan Lapangan. e. Farmasi …. Forensik Klinik. dan Medikolegal. Evakuasi Medik. Database Odontogram. dan pada tingkat Polres oleh Urkes Polres. Farmasi Forensik. b. . h. f. Toksikologi Forensik. d.. f. pada tingkat Mabes Polri oleh Pusdokkes Polri. g. Kesehatan Tahanan. c. Kedokteran Lalu Lintas.

Bagian Kelima Dukungan Anggaran Pasal 12 Dukungan anggaran dalam penyelenggaraan Dokpol antara lain bersumber dari: a. BAB III PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 13 (1) Pengawasan dan pengendalian secara umum terhadap kegiatan Dokpol dilaksanakan: a. Daftar Isian Program dan Anggaran (DIPA) Polri. anggaran kontinjensi. d. Kedokteran Lalu Lintas. bantuan pemerintah daerah. g. Penanggulangan Bahaya CBRN. dan bantuan murni yang berasal dari donatur baik dalam maupun luar negeri. Kesehatan Perpolisian Masyarakat (pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum dalam rangka membangun kemitraan Polri dengan masyarakat). j. dan Hukum Kesehatan. kerja sama dengan kementerian atau lembaga pemerintah/swasta baik dalam maupun luar negeri. h. e. c. kegiatan k. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis penyelenggaraan Keskamtibmas diatur dengan Peraturan Kapusdokkes Polri. b. Database Produk Farmasi Ilegal/Substandar/Palsu. i. l.. pada tingkat Mabes Polri oleh Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri.15 f. Penanganan Penyalahgunaan Narkotika. (2) Pengawasan …. Farmasi Kepolisian. . b. dan pada tingkat kewilayahan oleh Inspektorat Pengawasan Daerah (Itwasda) Polda.

Pol. b. Ttd. dan pada tingkat kewilayahan oleh Kabiddokkes Polda. Drs. Peraturan Kapolri ini diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ttd. BAB IV KETENTUAN PENUTUP Pasal 14 Pada saat Peraturan Kapolri ini mulai berlaku. TIMUR PRADOPO JENDERAL POLISI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 2 Agustus 2011 MENTERI HUKUM DAN HAM REPUBLIK INDONESIA. pada tingkat Mabes Polri oleh Kapusdokkes Polri. Pasal 15 Peraturan Kapolri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Surat Keputusan Kapolri No. Agar setiap orang mengetahuinya.: Skep/204/VI/1986 tentang Pelaksanaan Kegiatan Kedokteran Kepolisian Dalam Mendukung Tugas Operasional Polri. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 2011 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA.16 (2) Pengawasan dan pengendalian teknis terhadap kegiatan Dokpol dilaksanakan: a. PATRIALIS AKBAR BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 466 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful