GEOLOGI TEKNIK

Peran Geotek di Bidang Pertambangan Sebenarnya tidak hanya melakukan perhitungan saja tetapi lebih mengarah kepada memberikan panduan kepada pihak terkait mengenai potensi bahaya geoteknik yang akan terjadi kepada pihak terkait (manajemen perusahaan, institusi, mineplanner, dll). Sekilas contoh geoteknik dalam dunia tambang. 1. Eksplorasi dan mine development. Geoteknik diperlukan untuk memandu kepada arah pembuatan desain pit yang optimal dan aman (single slope degree, overall slope degree, tinggi bench,potensi bahaya longsor yang ada ex: longsoran bidang, baji, topling busur,dll) sesuai dengan kriteria SFnya. Disini ahli geotek tidak hanya melakukan analisis namun juga ikut turun memetakan kondisi geologi (patahan/lipatan/rekahan, dll) dilokasi yang akan dibuka tambang. Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam pembangunan infrastruktur tambang seperti stockpile, port, jalan hauling diareal lemah, dll. Disini, peran ahli geotek adalah memberikan analisis mengenai daya dukung tanah yang aman, cut fill volume, serta langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi safety factor sehingga ketika dilakukan kontruksi dan digunakan tidak terjadi kegagalan (failure) 2. Operasional Tambang pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam pengawasan kondisi pit dan infrastructur yang ada, sebagai contoh pengawasan pergerakan lereng tambang,

zona-zona potensi longsor di areal tambang (pit dan waste dump) akibat proses penambangan, prediksi kapan longsor akan terjadi, apakah berbahaya untuk operasional di pit atau tidak, langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi alat, melakukan push back untuk menurunkan derajat kemiringan lereng, melakukan penguatan, melakukan pengeboran horizontal untuk mengeluarkan air tanah,dll. Disini peran ahli geotek memandu tim safety dalam pengawasn operasional tambang dan ahli geotek bisa melakukan penyetopan operasional pit jika membahayakan keselamatan manusia dan alat. Diinfrastruktur juga berlaku hal yang sama. 3. Post mining Setelah kegiatan penambangan selesai, geotek bekerja sama dengan safety juga berperan untuk memastikan bahwa kondisi waste dump dan pit dalam kondisi aman dan tidak terjadi longsor dalam jangka waktu lama, karena setelah tambang selesai lahan tersebut akan dikembalikan kepada pemerintah dan masyarakat dan menyangkut masalah citra perusahaan, bagi perusahaan yang berstatus green company hal ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar.

Peran Geoteknik di Bidang Pertambangan
Geoteknik adalah ilmu yang mempelajari perilaku tanah maupun batuan. Di dalam dunia pertambangan peran seorang geotek sangatlah penting. Tidak hanya untukseorang insinyur geotek juga dibutuhkan utk mendisain tailings damagar damnya stabil, rembesannya minimum atau bahkan tidak ada rembesan sama sekali (terutama kalau tailings-nya mengandung limbah yg berbahaya), mendisain pondasi jembatan pada haul roads, timbunan tanah haul roads agar stabil dan berfungsi baik selama masa hidup perushaan tambang ybs, gorong2 (yg besar tentunya, yg kecil mah bisa dikerjakan tanpa geotek juga bisa) dan mendisain pondasi semua infrastruktur perusahaan tambang ybs. Untk melakukan disain tailings dam saja misalnya dibutukan ilmu yg cukup banyak karena menyangkut banyak aspek yg harus ditinjau termasuk stabilitas dam akibat beban statik, akibat gempa, apakah pondasi tanahnya cukup kuat atau tidak, kalau tidak cukup daya dukungnya apa yg harus dilakukan, apakah kita harus melakukan soil improvement. Kita juga harus cek berapa banyak seepage (rembesannya),apakah kita harus memasang cut-off wall utk mengontrol seepage, macam apa cut-off yg harus kita pasang, apakah cukup dg memsang bentonite cut-off wall, apakah harus memasang concrete diaprghm wall, dll, dll. Belum lagi utk memeriksa apakah ada pengaruh rembesan limbah thd air tanah, dll. Pada prinsipnya peran geotek dpt dibagi dua: 1. Yg berhubungan langsung dengan operational pertambangan spt meyakinkan agar open pitnya dan underground wall stabil, spoil dump,

dan infrastruktur pertambangan lainnya. Banyak perusahaan tambang kita yang masih mengabaikan peran geoteknik di dalam tambang. barge loading Conveyor/ Jety Manual maupun pelabuhan. sehingga dapat mencegah terjadinya longsor akibat beban yang berlebihan yang ditanggung oleh tanah/batuan tersebut. Yg berhubungan tidak langsung dengan operasi pertambangan spt pelabuhan. gorong2. Tidak hanya untuk mendisain atau menganalisis lereng agar aman. Geoteknik adalah ilmu yang mempelajari perilaku tanah maupun batuan. haul roads. Di dalam dunia pertambangan peran seorang geotek sangatlah penting. Seorang geotek akan melakukan perhitungan seberapa besar beban yang dapat diterima oleh suatu tanah/batuan. jembatan. 2. stock pile. Anggapan bahwa penyelidikan geoteknik itu mahal adalah salah. akan tetapi geotek juga diperlukan untuk mendisain stock pile.stock pile (terutama utk iron ore krn berat jenisnya yg relatif tinggi). barge loading atau bahkan pelabuhan. Biaya yang dikeluarkan untuk penyelidikan geoteknik tidaklah semahal biaya yang akan terbuang bila terjadi longsor di tambang. .

tiba-tiba mengalami longsor. perusahaan tambang yang baru sekitar satu minggu memasang hopper seberat 200 ton di lokasi barge loading conveyor. Akibat beban yang berlebihan dari penumpukan batubara. belum lagi kerugian yang timbul akibat terhentinya aktifitas disekitar BLC. Dapat dibayangkan berapa kerugian yang diderita oleh perusahaan akibat hilangnya batubara dan pencemaran yang ditimbulkan? Untuk itulah peran geotek cukup penting agar terhindar dari kerugian-kerugian tersebut. Kaki conveyor terangkat. Hopper terlepas dari pondasinya dan menggeser semua bangunan yang sudah terpasang disekitar BLC. Kerugian struktur yang diderita mencapai lebih dari 1M. dolpin bergerak dan jatuh ke sungai akibat terjadinya pergerakan tanah disekitarnya. > maka sebagian dari batubara tersebut longsor ke sungai. .Sebagai contoh. Banyak juga perusahaan tambang yang membuat lokasi stock pilenya dekat dengan sungai.

253 . pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa mencapai masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. serta kemampuan manajemen. terutama sumber daya alam mineral dan energi. penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengusahaan.BAB 25 PERTAMBANGAN I. Upaya tersebut bertumpu pada pendayagunaan berbagai sumber daya. PENDAHULUAN Pembangunan pertambangan yang merupakan perwujudan dari amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 33 pada hakikatnya merupakan upaya pengembangan sumber daya alam mineral dan energi yang potensial untuk dimanfaatkan secara hemat dan optimal bagi kepentingan dan kemakmuran rakyat. dan pemanfaatan hasil tambang. melalui serangkaian kegiatan eksplorasi. Pembangunan pertambangan merupakan bagian integral dari.

Sumber daya alam yang terbarukan harus dikelola sedemi kian rupa sehingga fungsinya dapat selalu terpelihara sepanjan g 254 . dalam PJP II. Tata ruang nasional yang berwawasan nusantara dijadikan pedoman bagi perencanaan pembangunan agar penataan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan secara aman. tertib. Selanjutnya. seperti pertambangan. di samping perannya dalam meme nuhi hajat hidup masyarakat luas. efisien. baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. optimal. juga harus menjamin kehidupan masa depan. pengusahaannya melibatkan investasi dan kegiatan sarat risiko. hasil tambang mineral dan energi mempunyai fungsi ganda. rasional. di samping untuk memberi kemanfaatan masa kini. harus senantiasa memperhatikan bahwa pengelolaan sumber daya alam. terdapat dalam jumlah terbatas dan pada umumnya tak terbarukan. dan efektif. yang seringkali harus padat modal dan teknologi. bertanggung jawab dan sesuai dengan kemampuan daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besar kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan yang berkelanjutan. dan usaha pertambangan mampu berperan sebagai penggerak mula dan ujung tombak pembangunan daerah. Ciri khusus sektor pertambangan yang perlu diperhati kan dalam pembangunan pertambangan.Sumber daya alam mineral dan energi memiliki ciri -ciri khusus yang memerlukan pendekatan sesuai dengan pengem bangannya. terutama sebagai sumber bahan baku industri dan energi. antara lain sumber daya alam tambang menempati sebaran ruang tertentu di dalam bumi dan dasar laut. GBHN 1993 juga menggariskan bahwa pembangunan ekonomi yang mengelola kekayaan bumi Indonesia. G ar i s -ga r i s Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 mengamanatkan bahwa dalam Pembangunan Jangka Panjang II (PJP H) pendayagunaan sumber daya alam sebagai pokok -pokok kemakmuran rakyat dilakukan secara terencana. proses penambangannya memiliki potensi daya ubah lingkungan yang tinggi.

GBHN 1993 menetapkan bahwa dalam PJP II pembangunan pertambangan diarahkan pula untuk menghasilkan bahan tambang sebagai bahan baku bagi industri dalam negeri sehingga dapat menghasilkan nilai tambah yang setinggi -tingginya dan menciptakan lapangan kerja yang sebesar-besarnya. harus selalu dijaga agar kegiatan pembangunan di sektor ini memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam (Repe lita VI). minyak dan gas bumi. sumber daya alam harus dijaga agar kemampuannya untuk memperbaharui diri selalu terpelihara. Oleh karena itu.masa. serta mineral lainnya yang terdapat di darat dan di dasar laut nusantara. baik air. Dengan demikian. tanah maupun udara. dalam Repelita VI pembangunan pertambangan diusahakan memberikan nilai tambah dan manfaat s ebesarbesarnya bagi kesejahteraan rakyat dan mendorong pertumbuhan 255 . Sumber daya alam yang tidak terbarukan harus digunakan sehemat mungkin dan diusahakan habisnya selama mungkin. serta menerapkan sistem penambangan yang berwawasan lingkungan. tugas pokok sektor pertambangan adalah melaksanakan pengelolaan sumber daya alam secara hemat dan optimal. Di samping itu. dan peningkatan taraf hidup rakyat. pembangunan daerah. makin ditingkatkan eksplorasi. Pembangunan sektor ini juga harus membawa manfaat yang sebesarbesarnya bagi pengembangan wilayah. GBHN 1993 mengamanatkan bahwa kekayaan alam yang potensial berupa barang tambang. Oleh karena itu. penggalian dan pendayagunaannya untuk menunjang pembangunan dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dengan memanfaatkan teknologi maju. Di samping itu. Selanjutnya GBHN 1993 mengingatkan bahwa kegiatan di sektor yang mengelola sumber daya alam dari bumi memiliki potensi untuk merusak lingkungan.

diarahkan untuk menjadi pendorong utama dan penggerak pembangunan ekonomi serta memperkukuh ketahanan nasional. Partisipasi aktif dan luas dari masyarakat dalam pembangunan pertambangan tidak saja bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. dan batu bara. serta penyediaan sumber energi primer yang penting meliputi minyak bumi. Penggunaan sumber daya mineral dan energi tersebut. gas bumi. Selain untuk menopang program industrialisasi melalui penyediaan bahan baku bagi industri di dalam negeri. yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Dengan modal dasar ini pertumbuhan ekonomi dapat lebih merata di berbagai wilayah Indonesia. pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang menentukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas guna mempercepat kemandirian bangsa. Dengan demikian. tetapi juga sangat bermanfaat bagi peningkatan ketahanan nasional dan kemampuan bangsa untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Pengembangan wilayah pada masa mendatang harus mampu mengambil manfaat dari potensi sumber daya alam yang tersedia melalui pengembangan pusat -pusat 256 . Dalam hubungan ini. sektor pertambangan diharapkan dapat berperan semakin nyata ke arah terwujudnya tujuan pembangunan nasional. membuka seluas-luasnya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. sebagai salah satu modal dasar bangsa. peningkatan kualitas sumber daya manusia. serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. pembangunan pertambangan juga diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara dan devisa. Pertumbuhan ekonomi diharapkan berkembang pula di daerah terpencil yang potensial melalui pembangunan pertambangan. Indonesia dikaruniai sumber daya alam yang beranekaragam serta tersebar di seluruh pelosok tanah air.industri dalam rangka memperkukuh struktur ekonomi yang seimbang dan meningkatkan pendapatan nasional. yang didukung oleh kemampuan pemanfaatan. meningkatkan dan memeratakan pembangunan ke seluruh wilayah.

air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sebagai pokok-pokok kemakmuran rakyat dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Untuk daerah di luar Pulau Jawa dan Madura diselesaikan 162 lembar atau 89.000 telah selesai 49 lembar atau 84.5 persen.5 persen dengan skala 1:250. yang terdiri 58 lembar peta geologi dengan skala 1:100. pembangunan pertambangan harus selalu mengarah kepada mantapnya sistem ekonomi nasional yang disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi. bumi.pertumbuhan ekonomi. pemetaan geologi dasar laut bersistem skala 1:250.000 257 . sedangkan untuk luar Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:250. Pemetaan geologi bersistem di Pulau Jawa dan Madura telah diselesaikan seluruhnya.4 persen. IL PEMBANGUNAN PERTAMBANGAN DALAM PJP I Selama Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I) telah dicapai berbagai hasil dan kemajuan di sektor pertambangan.000. Untuk menjalankan amanat tersebut. Pembangunan pertambangan dalam PJP II dan Repelita VI disusun dan diselenggarakan dengan berlandaskan pengarahan GBHN 1993 seperti tersebut di atas. Sesuai dengan petunjuk GBHN 1993. Selama PJP I telah berhasil diselesaikan sejumlah peta dan informasi geologi mengenai keberadaan mineral dan energi di Indonesia.000. Bersamaan dengan itu. yang sejauh mungkin disesuaikan dengan potensi sumber daya di wilayah tersebut. Pemetaan gaya berat bersistem di Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:100.000 telah selesai 75 lembar atau 41. Hasil ini merupakan tumpuan yang kuat untuk memasuki PJP II sebagai tahap tinggal landas yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan mandiri. termasuk sarana dan prasarananya.

000. Pemetaan hidrogeologi bersistem di luar Pulau Jawa dan Madura skala 1:250.000.7 ribu ton. bauksit 924.0 persen dari seluruh wilayah Indonesia yang mengandung batu bara dan gambut. sedangkan potensi sumber daya energi panas bumi diperkirakan 16. kaolin 9. dan pengeboran uji panas bumi di 2 lokasi atau 1.5 miliar ton. emas 1. nikel 901. Kegiatan eksplorasi selama PJP I telah menghasilkan data perkiraan cadangan sumber daya mineral logam.3 juta ton.3 juta ton.8 persen dari seluruh wilayah daratan Indonesia yang memiliki potensi.6 persen.000. penyelidikan geofisika panas bumi di 29 lokasi atau 13. Untuk sumber daya mineral industri.5 miliar ton.4 persen.000 atau lebih kecil telah selesai 7 lembar atau 25.7 ribu ton.4 juta ton.telah diselesaikan sebanyak 17 lembar atau 4. Kegiatan inventarisasi dan eksplorasi sumber daya mineral selama PJP I telah menyelesaikan pemetaan geokimia mineral skala 1:250.7 miliar ton.7 persen. Bersamaan dengan itu.0 peran. antara lain meliputi timah 2 juta ton. feldspar 2. dan inventarisasi sumber daya mineral skala 1:250. dan peta geologi kelautan regional dengan skala 1:1. dan marmer 8.000 megawatt.4 miliar ton.000 sebanyak 23 lembar atau 46. sedangkan untuk Pulau Jawa dan 258 . belerang 5.0 persen dari seluruh lapangan panas bumi di Indonesia.0 persen dari seluruh wilayah lautan di Indonesia. pasir kuarsa 4. pirofilit 550 juta ton.000 sebanyak 50 lembar atau 33. granit 10 miliar ton.000 sebanyak 38 lembar atau 25.2 juta ton. perkiraan cadangan asli adalah sebagai berikut: batu kapur 30 miliar ton.6 miliar ton. Untuk sumber daya energi diselesaikan peta penyebaran potensi panas bumi di Indonesia dengan skala 1:5. dolomit 1. dan perak 8. pemetaan geologi panas bumi skala 1:50.7 juta ton.000 di 52 lokasi atau 24. fosfat 4.7 persen. penyelidikan geokimia panas bumi di 19 lokasi atau 9. bentonit 1. zeolit 207 juta ton. diselesaikan pula inventarisasi batu bara dan gambut skala 1:250.000 menghasilkan 74 lembar atau 49.3 persen dari seluruh wilayah Indonesia.

Pemetaan kerentanan gerakan tanah skala 1:100.000 menyelesaikan 5 lembar atau 8.7 persen dari wilayah Indonesia yang diperkirakan berumur kuarter.5 persen dari wilayah rawan gempa di Indonesia.3 persen.Madura peta skala 1:100. pemetaan daerah bahaya gunung api skala 1:50.5 persen.6 persen dari daerah yang cepat pertumbuhan ekonominya. Dalam rangka peningkatan kepedulian sosial dan lingkungan telah dilaksanakan pemetaan dan penyelidikan geologi untuk mitigasi bencana alam geologis dan masukan untuk mendukung penataan ruang.000 sebanyak 10 lembar atau 20.000 sebanyak 4 lembar atau 3.1 persen. Selama PJP I telah diselesaikan penyelidikan daerah geologi kuarter dan seismotektonik pada 126 lokasi dan penyelidikan geologi wilayah pantai pada 49 lokasi.000 sebanyak 4 lembar atau 5.000 diselesaikan sebanyak 35 gunung api atau 27.0 persen. pemetaan topografi puncak gunung api skala 1:10.1 persen. pemetaan geologi kuarter skala 1:50.0 persen dari wilayah Indonesia yang rawan gerakan tanah. telah diselesaikan pula pemetaan seismik daerah rawan gempa skala 1:250. Pemetaan geologi gunung api skala 1:50.000 sebanyak 14 lembar atau 11. penyelidikan kimia sebanyak 21 gunung 259 .3 persen dari seluruh cekungan air tanah di Indonesia. Penyelidikan potensi cekungan air tanah tingkat awal telah menyelesaikan 105 cekungan atau 49. dan pemetaan geologi tata lingkungan skala 1:100. Sehubungan dengan itu. pemetaan aliran lahar skala 1:10.6 persen dari luas Pulau Jawa dan Madura. Penyelidikan gunung api meliputi penyelidikan lahar/bahan letusan sebanyak 35 gunung api. telah dilaksanakan pula berbagai penyelidikan. pemetaan geologi teknik skala 1:100. Dalam kaitan dengan lingkungan hidup.000 sebanyak 30 lembar atau 23.000 sebanyak 20 lembar atau 15.4 persen dari seluruh wilayah daratan di Indonesia.5 persen dari 129 gunung api aktif di Indonesia. pemetaan geomorfologi skala 1:100.000 diselesaikan sebanyak 10 lembar atau 10.000 sebanyak 91 lembar atau 70. dan penyelidikan tahap rinci sebanyak 22 cekungan atau 10.000 sebanyak 5 lembar atau 5.

wilayah pertambangan. Dengan antisipasi tersebut. Kegiatan ini akan diperluas dalam PJP II dengan pembuatan stasiun sesar aktif. dan konservasi air tanah di 5 daerah. terutama gunung api dan gerakan tanah. dan geologi lingkungan buangan limbah di berbagai wilayah telah dilakukan pada 124 lokasi. meliputi penyelidikan fondasi. dan likuifaksi. Produksi batu bara meningkat pesat. pengamatan secara terus-menerus di 59 gunung api. sedangkan jumlah korban relatif kecil. dari tingkat produksi sebesar 185. jalan raya dan kereta api. yaitu sekitar 156 kali. terus disebarluaskan guna memperkecil jumlah korban dan kerugian. pantai.8 ribu ton pada awal PJP I menjadi sekitar 29 juta ton pada tahun terakhir PJP I. pemantauan longsor di 5 lokasi daerah rawan longsor. kemantapan lereng. Selama PJP I pembangunan pertambangan mineral dan batu bara mengalami kemajuan pesat seperti terlihat dari peningkatan produksi dan ekspor pada hampir semua jenis mineral. 260 .api. bendungan. tanah lunak. Dalam 12 tahun terakhir 28 letusan gunung api skala besar yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia berhasil diantisipasi. dan pemantauan air tanah. pemantauan sesar aktif. Penyelidikan geologi lingkungan perkotaan. pemantauan gas gunung api di 20 lokasi. pemantauan fisika dan kimia di 20 gunung api. penyelidikan seismik sebanyak 16 gunung api. pembuatan sumur pantau air tanah di 62 lokasi. penyelidikan penginderaan jauh sebanyak 19 gunung api. perdesaan. selama PJP I telah dilaksanakan identifikasi 20 daerah sesar aktif yang terbagi dalam 130 bagian sesar. Penyuluhan dan informasi bahaya geologi. waduk. penyelidikan fisika sebanyak 19 gunung api. terowongan. pemantauan amblasan. Dalam upaya mitigasi bencana alam geologis. Penyelidikan geologi teknik dilaksanakan sebanyak 241 lokasi. yaitu 40 orang dari 1 juta penduduk yang bermukim di daerah rawan bahaya gunung api tersebut. 257.000 orang telah berhasil diselamatkan dari bahaya letusan. pemantauan limbah dan kualitas lingkungan geologi.

Mineral logam utama hasil pertambangan meliputi timah. dan Irian Jaya. Sebagian besar pemasaran batu bara di dalam negeri diserap oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).9 miliar ton. Sumatera Tengah 11. Cadangan tersebut terutama tersebar di Sumatera Utara 4. Pangkalan Bun. Sumatera Selatan 51. nikel. cadangan tereka dan terunjuk 18. perak. serta pasir besi. Adapun ekspor pada akhir Repe lita II adalah 27. Bengkulu 0. Produksi 261 .3 miliar ton yang terdiri atas cadangan terukur 4. industri dasar besi dan baja. dan Kanamit). yaitu sebesar 36.2 persen.0 juta ton. serta berbagai industri kecil lainnya.6 persen. Palangkaraya. dan cadangan hipotetis 12.8 miliar. dan Kalimantan (Sampit. industri semen. Kalimantan Barat 5.0 persen.2 juta ton dan pada akhir PJP I meningkat menjadi 8.5 juta ton.6 miliar ton. Menjelang akhir PJP I.3 ribu ton dan pada akhir PJP I diperkirakan mencapai 19. pabrik peleburan nikel dan timah.6 persen.450 hektare. Sulawesi.5 persen.7 persen. Kalimantan Selatan 10. Potensi gambut terse but jauh melebihi potensi batu bara Indonesia. penggunaan briket batu bara untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil sudah mulai dimasyarakatkan. sedangkan sisanya tersebar di Jawa. Kalimantan Tengah 1. Pontianak. Areal gambut yang telah dieksplorasi baru seluas 337. Banjarmasin.2 per sen. bauksit. Potensi gambut diperkirakan sebesar 200 miliar ton pada areal dengan ketebalan lebih dari dua meter. Pemasaran batu bara di dalam negeri dan ekspor selama PJP I menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.Dari hasil kegiatan inventarisasi dan eksplorasi sampai akhir PJP I telah dapat ditaksir besarnya cadangan batu bara Indonesia. tembaga. Tingkat pemasaran batu bara di dalam negeri pada tahun pertama PJP I sebesar 0.8 persen. Kalimantan Timur 14. sedangkan penye baran gambut di seluruh Indonesia diperkirakan seluas 25 juta hektare. Dalam PJP I telah dilakukan eksplorasi terhadap potensi gambut yang meliputi daerah di Sumatera (Bengkalis. Siak dan Kumpeh). emas.

Produksi bauksit sampai saat ini masih dipusatkan pada penambangan cadangan bijih berkadar ekspor di Pulau Bintan dan sekitarnya. Produksi logam timah meningkat dengan pesat dari 5. Penemuan cadangan timah yang cukup besar terjadi selama PJP I. telah meningkat produksinya menjadi 32 ribu ton pada akhir PJP I. yang mulai diproduksi pada tahun 1976 sebesar 1. Dengan beroperasinya pabrik feronikel di Pomalaa tahun 1976 dan dimulainya ekspor bijih nikel dari Pulau Gebe. Jumlah produksi bauksit pada awal PJP I sebesar 874.7 ribu ton. Ekspor logam timah memperlihatkan kenaikan dari 5. dengan pasaran ekspor utama ke Jepang.2 ribu ton pada kurun waktu yang sama.547.087 ribu ton. Produksi feronikel menjelang akhir PJP I mencapai 5. Nikel matte. volume ekspor bijih nikel memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat dari 830 ribu ton pada akhir Repelita I menjadi sekitar 1. Produksi bijih nikel baru mencapai sekitar 990 ribu ton pada akhir Repelita I.850 ribu ton pada akhir PJP I. karena belum berkembangnya pengolahan bauksit di dalam negeri.5 ribu ton.mineral logam selama PJP I menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. yang hampir seluruhnya diekspor. produksi bijih nikel pada akhir PJP I diperkirakan mencapai 2.2 ribu ton pada akhir PJP I. Produksi 262 .8 ribu ton pada awal Repelita I dan diperkirakan menjadi 31. Cadangan utama timah di Pulau Bangka dan Belitung tercatat sebesar 782. Cadangan bauksit yang jauh lebih besar terdapat di daerah Kalimantan Barat. tetapi produksi pada akhir PJP I mencapai 1.5 ribu ton berfluktuasi dari tahun ke tahun tergantung pada permintaan pasar. Sementara itu. Satu-satunya tambang di Indonesia yang menghasilkan tembaga dalam bentuk konsentrat terdapat di Irian Jaya. keperluan alumina masih harus diimpor.500 ton nikel per tahun. terutama pada tahun-tahun terakhir PJP I.5 ribu ton. yang sebagian besar juga diekspor. Namun.1 ribu ton menjadi 29.

Dalam PJP I produksi emas telah berhasil ditingkatkan dari 251. Sejalan dengan tingkat produksinya. dan pada akhir PJP I mencapai 990 ribu ton. dolomit.7 ribu ton.3 ribu ton pada tahun 1974/75. Pemanfaatan produksi pasir besi lebih diarah kan untuk pasaran dalam negeri.042 ribu ton pada tahun terakhir PJP I. Dengan berkembangnya industri semen di dalam negeri dalam dekade terakhir PJP I.6 kilogram pada awal Repelita I menjadi 40. Sampai saat ini seluruh produksi konsentrat tembaga masih diekspor karena belum tersedia pabrik peleburan tembaga di dalam negeri. dan marmer. adalah bahan galian industri. produksi perak selama periode PJP I berhasil ditingkatkan dari 10. Bahan-bahan tambang lainnya.143.8 ribu ton. feldspar. Pertumbuhan sektor industri yang semakin meningkat di Indonesia telah memacu pengembangan pertambangan bahan galian industri. khususnya dalam usaha 263 . seperti batu kapur. pasir kuarsa. Pada tahun 1990 Indonesia merupakan peringkat 15 produsen tembaga dunia.8 ribu ton pada akhir PJP I. ekspor konsen trat tembaga tahun 1972 sebesar 9 ribu ton. belerang. kaolin. dan mencapai 1. bentonit. Kegiatan eksplorasi yang intensif dalam Repelita V telah berhasil menemukan cadangan baru di daerah Gunung Pongkor. Penambangan pasir besi di Cilacap dimulai pada tahun 1971/72 dengan produksi sebesar 270 ribu ton. f osfat. Cadangan terukur emas sampai saat ini adalah 1. Jumlah produksi tersebut termasuk emas yang terkan dung dalam konsentrat tembaga. terutama untuk industri semen.2 kilogram pada awal PJP I dan diperkirakan menjadi 71. Sementara itu.094 kilogram pada akhir PJP I. permintaan pasar domestik akan pasir besi meningkat kembali sehingga produksi pasir besi dapat ditingkatkan hingga mencapai 315.324. dan diharapkan mulai berproduksi pada awal tahun 1994.pertama konsentrat tembaga dimulai pada tahun 1972 sebesar 9.0 kilogram pada akhir PJP I. Kabupaten Bogor. Produksi tertinggi yang pernah dicapai selama PJP I adalah sebesar 365.

.memenuhi kebutuhan bahan baku industri tersebut.

Produksi dolomit pada akhir Repelita III adalah sebesar 63. Industri pupuk merupakan pemakai fosfat yang utama.5 ribu ton dan pada akhir PJP I mencapai 103.6 ribu ton 264 . Jawa Barat. produksi fosfat Indonesia masih sangat kecil.Produksi batu kapur selama PJP I meningkat dari 696 ribu ton pada awal PJP I menjadi 39. Gunung Ijen. Gunung Welirang.236 ribu ton pada akhir PJP I. dengan produksi terbesar di Bangka. produksi tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan kaolin di dalam negeri sebagai bahan keramik. diperkirakan meningkat menjadi 99. Fosfat. dan Lampung. dan Pulau Damar. Belitung. Pada tahun pertama PJP I produksi kaolin sebesar 8. Kalimantan Tengah.250 ton. dan Kalimantan. Produksi kaolin Indonesia berasal dari Kalimantan Selatan. Bentonit. yang produksinya pada tahun terakhir Repelita I adalah sebesar 819 ton. Belitung.3 ribu ton pada tahun terakhir PJP I.097. Produksi belerang di Indonesia berasal antara lain dari Gunung Papandayan. pada akhir Repelita II produksinya sebesar 4. Dibanding dengan tingkat konsumsi di dalam negeri. dan baru sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk industri.1 ribu ton dan menjelang akhir PJP I meningkat menjadi 209.2 ribu ton dan menjelang akhir PJP I meningkat menjadi 46. Sebagian besar dolomit yang dihasilkan di Indonesia dimanfaatkan oleh sektor pertanian. Gunung Telaga Bodas. Produksi belerang pada tahun pertama PJP I adalah sebesar 528 ton dan menjelang akhir PJP I mencapai 4.950 ton pada tahun terakhir PJP I. Di samping untuk ekspor.3 ribu ton dan diperkirakan meningkat menjadi 1. Bangka. Jawa Timur. walaupun masih diperlukan impor untuk kebutuhan dalam negeri.6 ribu ton.7 ribu ton. Pasir kuarsa pada permulaan PJP I produksinya adalah sebesar 6. Jawa Timur. dan kekurangannya masih dipenuhi melalui impor.

karena kebu tuhan dalam negeri masih dipenuhi melalui impor. Selama PJP I minyak bumi. Feldspar digunakan untuk pembuatan barang-barang keramik dan porselen. produksi marmer pada awal PJP I adalah sebesar 9. serta untuk industri lainnya seperti genteng dan barang-barang dari tanah liat.069 sumur minyak dan 435 sumur gas. Dengan bertam bahnya data bawah permukaan sebagai hasil dari penyelidikan dan pengeboran.dan masih diperlukan lagi peningkatan produksinya. Minyak dan gas bumi merupakan sumber energi dan bahan baku untuk industri dalam negeri serta menjadi sumber penerimaan dan devisa negara. Pada tahun pertama Repelita I produksi minyak bumi mencapai 284.2 ribu ton dan produksi tersebut diperkirakan mening kat menjadi 1.9 ribu ton. Jawa Tengah.839. termasuk kondensat. Sampai saat ini bentonit baru dihasilkan dari Jawa Barat. dan panas bumi sangat besar peranannya dalam pembangunan. dan Jawa Timur. diketahui bahwa di Indonesia terdapat 60 cekungan tersier. industri gelas dan barang-barang dari gelas. DI Yogyakarta. gas bumi. 36 cekungan di antaranya telah dieksplorasi dan di bor selama PJP I.3 juta barel. Konsumsi feldspar di dalam negeri pada tahun 1993 mencapai 134. selama PJP I menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Pemboran eksplorasi minyak dan gas bumi selama PJP I telah menghasilkan 1.3 ribu ton menjelang akhir PJP I. Sesuai dengan peningkatan kegiatan pertambangan. Sementara itu. produksi minyak bumi.4 ribu ton pada akhir PJP I. dan pada akhi r PJP I produksi minyak bumi dan kondensat diperkirakan mencapai 265 . Produksi feldspar sebesar 349 ton pada tahun pertama PJP I meningkat menjadi 13.504 sumur temuan (discovery well) yang terdiri atas 1.

560 juta barel. .

Pengolahan minyak mentah mengalami peningkatan yang cukup besar. Menjelang akhir PJP I pemanfaatan gas bumi meningkat menjadi 94. yaitu dari 116 miliar kaki kubik pada awal PJP I menjadi 2. yang produksinya meningkat dari 21. pada tahun terakhir Repelita V minyak yang diolah mencapai 311. produksi gas minyak 266 .0 persen yang dibakar.6 persen dari gas yang diproduksi. Pengolahan gas mengalami peningkatan sejak dimulainya produksi LNG di kilang gas Bontang pada tahun 1977 dan di kilang gas Arun pada tahun 1978. Menjelang akhir PJP I produksi LNG mencapai 25 juta ton. Demikian pula.4 persen dibakar. Bahan bakar minyak (BBM) yang dihasilkan oleh kilang minyak meningkat dari 52.1 juta barel pada tahun pertama PJP I menjadi sekitar 66. peningkatan dan perbaikan kilang Cilacap. Dumai.0 persen dan hanya 6. meningkat dari tahun ke tahun selama PJP I. perluasan. Adapun sisanya sebesar 48.502 miliar kaki kubik menjelang akhir PJP I. Kilang minyak itu juga menghasilkan produk non-BBM. di samping dimanfaatkan juga untuk pabrik pupuk. Dengan pembangunan. Dalam tahun pertama Repelita I minyak mentah yang diolah sebesar 77. Sungai Pakning dan Sungai Musi yang dilakukan selama PJP I. Pada tahun pertama Repelita I gas yang dimanfaatkan baru 51.Produksi gas bumi selama PJP I meningkat 22 kali lipat. pabrik baja.1 juta barel.2 juta barel menjelang tahun terakhir PJP I. baik sebagai bahan bakar maupun sebagai bahan baku.9 juta barel atau meningkat hampir 4 kali lipat selama PJP I. Pemanfaatan gas bumi. Kenaikan produksi gas tersebut terutama disebabkan oleh pengembangan pemanfaatan gas untuk gas alam cair (liquefied natural gas. Balikpapan. terutama untuk pemakaian di lapangan sebagai gas pengangkat atau gas penekan dalam rangka membantu produksi minyak. dan pemanfaatan dalam negeri lainnya.4 juta barel pada tahun terakhir PJP I. LNG) sejak 1977.2 juta barel pada tahun pertama PJP I menjadi 232.

yaitu dari 11. minyak diesel (IDO) naik rata-rata 6.9 juta meter kubik pada tahun terakhir Repelita V.1 persen per tahun. Kilang asam tereftalat murni (Purified Terephthalic Acid. akhir Repelita V. Paraxilena dan benzena mulai diproduksikan pada tahun 1990.4 persen per tahun. bensin naik rata-rata 7.6 persen per tahun.4 persen per tahun. dan mencapai tingkat produksi 273 ribu ton pada akhir Repelita V. bensin pesawat terbang (avgas) menun jukkan penurunan.2 juta kiloli ter pada awal Repelita I menjadi sekitar 42 juta kiloliter pada akhir PJP I yang berarti naik hampir 7 kali lipat selama 25 tahun. minyak tanah (kerosin) naik rata-rata 4. sebaliknya bahan bakar pesawat jet (avtur) naik rata-rata 8. Konsumsi BBM di dalam negeri meningkat dari 6. mulai beroperasi pada tahun 1986. minyak solar (ADO) naik rata-rata 11. Sebagai hasil kegiatan eksplorasi.000 megawatt. Penjualan gas untuk rumah tangga dan industri oleh Perusahaan Umum Gas Negara (PGN) mengalami kenaikan hampir 29 kali lipat dari 5.5 persen setahun.2 persen per tahun.2 persen per tahun. Pada akhir PJP I telah dapat di manfaat kan 267 . Kilang polipropilena yang mulai beroperasi pada tahun 1973 diperkirakan menghasilkan 13. Kilang metanol mulai beroperasi pada tahun 1986. Dari berbagai jenis BBM yang digunakan di dalam negeri.6 juta meter kubik pada tahun pertama PJP I menjadi 733. LPG) meningkat selama PJP I.4 ribu ton polipropilena per tahun pads . atau naik rata-rata 8.8 ribu ton pada tahun pertama PJP I menjadi sekitar 2. diidentifikasikan 217 daerah prospek panas bumi dengan jumlah potensi lebih dari 16. Tingkat produksi pada akhir PJP I diperkirakan mencapai 242 ribu ton untuk paraksilena dan 102 ribu ton untuk benzena. PTA).9 juta ton pada tahun terakhir PJP I. dan diperkirakan memproduksi 205 ribu ton PTA pada tahun terakhir Repelita V. dan minyak bakar naik rata-rata 7. Sejak tahun 1974 mulai dilakukan survei dan eksplorasi panas bumi.cair (liquefied petroleum gas.

Gunung Salak. TANTANGAN.5 megawatt. Kegiatan eksplo rasi dan pengusahaan pertambangan pada masa mendatang cen derung semakin mengarah ke daerah yang lebih sulit dan terpen cil. 1. 268 . Hal ini menuntut perlunya upaya mempercepat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pertambangan yang lebih maju. III.sebesar 199. segala tantangan dan kendala yang ada harus dapat diantisipasi. KENDALA. Untuk dapat meningkatkan kemampuan di bidang pertambangan dalam rangka mendukung pembangunan nasional pada PJP II. DAN PELUANG PEMBANGUNAN Pembangunan di sektor pertambangan terutama minyak dan gas bumi. di sam ping berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan. Tantangan Dalam Repelita VI pembangunan pertambangan dihadapkan kepada tantangan bagaimana meningkatkan sumber daya manusia yang profesional baik dalam jumlah maupun kualitasnya. selama PJP I telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi pembangunan nasional. Dieng. yaitu dari lapangan Kamojang. Dalam Repelita VI minyak dan gas bumi masih merupakan komoditas andalan baik sebagai sumber energi primer maupun dalam penyediaan anggaran pemerintah. dan Lahendong. Demikian pula berbagai bahan tambang lainnya masih dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang cukup panjang. Tingkat penguasaan teknologi tenaga-tenaga pertambangan belum dapat memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat.

Tantangan yang juga dihadapi sektor pertambangan adalah bagaimana meningkatkan keterkaitan antara usaha pertambangan dengan industri pengolahan dan sektor-sektor lainnya. Belum berkembangnya keterkaitan tersebut berakibat hilangnya kesempatan untuk memperoleh nilai tambah yang potensial serta .

dan bersifat 269 . tantangan lain yang juga dihadapi sektor pertambangan adalah pengembangan keterkaitan antara usaha pertambangan dengan sektor -sektor lainnya. Di samping itu. Cadangan mineral tersebut sering tidak efisien jika diusahakan secara modern dan menggunakan teknologi canggih .ketergantungan industri dalam negeri terhadap impor bahan baku hasil tambang. Indonesia selain memiliki cadangan mineral berskala besar juga memiliki cadangan mineral berskala kecil dan tersebar di banyak tempat. tetapi masih ekonomis jika diusahakan oleh pertambangan rakyat. yang menyangkut bidang geologi. usaha pertambangan rakyat secara tradisional tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat penambang secara nyata. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menciptakan iklim investasi yang lebih men dukung serta sistem insentif untuk menarik masuknya investor baru dalam usaha pertambangan. Hal ini penting mengingat sifat usaha pertambangan adalah penuh risiko. pengembangan serta penerapan standardisasi produk dan jasa pertambangan. tantangan yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pertambangan secara efektif sehingga usaha pertambangan rakyat dapat ditata dan di kembangkan secara mantap dan terpadu sebagai bagian integral dari sistem pertambangan nasional yang berwawasan lingkungan. Pertambangan jenis ini sering diusahakan oleh rakyat setempat tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan ataupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. merupakan tantangan yang juga harus mendapatkan perhatian khusus dalam rangka mengembangkan keterkaitan usaha pertambangan dengan sektor industri secara efisien. padat modal. penambangan. Arus globalisasi telah mendorong terjadinya persaingan yang makin ketat dalam menarik investasi. dan pengolahan hasil tambang. termasuk pengujian dan analisis l a b o r ato ri um . baik persaingan antarnegara maupun persaingan antarsektor ekonomi. Dalam kaitan itu. Dengan demi kian. Sementara itu.

jangka panjang. .

ditata. Kegiatan usaha pertambangan banyak menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup fisik meliputi air. pemanfaatan sumber energi primer lainnya terutama gas bumi. Apabila tidak ditemukan cadangan -cadangan minyak baru. menuntut tersedianya data dan informasi geologi sumber daya mineral secara lengkap dan rinci. Di samping i tu. Dalam Repelita VI minyak bumi diperkirakan masih akan menjadi sumber energi primer yang penting. tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan diversifikasi dan konservasi sumber energi primer secara optimal. batu bara dan panas bumi perlu segera dipacu peningkatannya. pengolahan. dalam waktu yang tidak terlalu lama Indonesia akan menjadi negara pengimpor minyak neto. dan dikembangkan secara terpadu dengan pembangunan wilayah dalam suatu kerangka tata ruang 270 . Di samping itu. ataupun nonfisik seperti sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Dengan demikian. dan bentang alam. tanah. baik oleh swasta maupun Pemerintah. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengembangkan sistem informasi geologi dan sumber daya mineral yang terpadu dengan memanfaatkan teknologi informasi yang mutakhir. Penganekara gaman sumber energi telah lama diupayakan.Kegiatan perencanaan dan pengembangan pertambangan. Oleh karena i tu. tetapi jumlah pemakaiannya masih terus meningkat dari tahun ke tahun. penyimpanan serta pemanfaatan informasi geologi dan sumber daya mineral belum sepenuhnya mampu memberikan informasi secara cepat. minyak bumi juga merupakan komoditas ekspor yang memberikan sumbangan besar bagi pendapatan negara dan penerimaan devisa. pembangunan pertambangan sebagai upaya pemanfaatan sumber daya alam seharusnya dilaksanakan. Persyaratan lingkungan yang semakin ketat di tingkat nasional dan internasional memerlukan perhatian yang semakin besar terhadap aspek lingkungan hidup dalam kegiatan pertambangan. Dewasa ini upaya pengumpulan. lengkap dan efisien. tetapi hasilnya belum memuaskan. Pangsa minyak bumi dalam konsumsi energi telah berhasil diturunkan. udara.

Berbagai kegiatan usaha pertambangan mulai dari eksplorasi. Kendala pertama adalah berkaitan dengan kebutuhan modal untuk investasi. diperkirakan akan makin ketat. dan saluran pemasaran. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Pembangunan di sektor pertambangan masih sangat tergantung kepada investasi asing. baik antarnegara maupun antarsektor ekonomi di dalam negeri. Keterbatasan dalam kemampuan penguasaan teknologi juga menjadi kendala. masih terbatas kemampuannya. infrastruktur kelembagaan yang mendukung upaya percepatan penguasaan teknologi pertambangan. dalam pengusahaan pertambangan ketergantungan kepada tenaga ahli asing untuk berbagai bidang keahlian masih cukup besar. Harga komoditas mineral dan minyak bumi yang tidak stabil dan cende rung menurun di pasaran internasional. penambangan. Namun. Proses alih teknologi berlangsung relatif lambat. 271 . Investasi asing. di samping membawa modal. persaingan untuk menarik investasi tersebut. juga merupakan kendala. juga sekaligus memasukkan kemampuan teknologi. Kendala Pembangunan pertambangan dalam Repelita VI dan PJP II dihadapkan pada berbagai kendala. juga merupakan tantangan untuk memanfaatkan sumber daya mineral dan energi melalui penerapan sistem pertambangan yang berwawasan lingkungan.yang didasarkan kepada hasil inventarisasi geologi dan evaluasi sumber daya mineral. Walaupun selama PJP I telah dicapai kemajuan dalam teknologi pertambangan di Indonesia. 2. manajemen. termasuk lembaga pendidikan dan pelatihan serta lembaga penelitian dan pengembangan. serta pengolahan hasil tambang memerlukan dana yang besar. serta untuk menjamin kesinambungan kegiatan ekonomi setelah kegiatan pertambangan berakhir. termasuk pengembangan wilayah pasca tambang. dan disusun sesuai dengan prinsip peman faatan lahan berganda. Sementara itu. pada umumnya kemajuan baru pada taraf mengaplikasikan teknologi yang diimpor.

Dengan sumber daya alam mineral dan energi yang kaya. 272 . Pertumbuhan pasar di kawasan Asia Pasifik akan menciptakan peluang dan kesempatan khusus bagi Indonesia untuk mengem bangkan industri pertambangan dengan skala yang ekonomis. yang memungkinkan peningkatan efisiensi dan daya saing. Indonesia memiliki peluang yang besar sebagai tempat relokasi industri dari negara maju. termasuk untuk pengembangan pertambangan rakyat yang efisien dan pertambangan yang berwawasan lingkungan. termasuk industri pengolahan hasil tambang. Belum mantapnya penataan ruang menjadi kendala dalam pengembangan usaha pertambangan karena sering mengakibatkan tumpang tindih dalam pemberian hak pemanfaatan lahan dan ruang. Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya mineral yang sangat besar serta posisi yang strategis di kawasan Asia Pasifik mempunyai peluang untuk mengembangkan potensi mineralnya apabila ditunjang dengan strategi yang sesuai serta iklim berusaha yang mendukung. Restrukturisasi industri di negara-negara maju juga akan membuka peluang. Peluang Sektor pertambangan di Indonesia mempunyai cukup peluang untuk berkembang dalam masa PJP II. 3. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan tingkat pendapatan yang meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi akan menjadi pasar yang potensial bagi produk yang berbasis sumber daya mineral.Pembangunan pertambangan dalam Repelita VI juga diha dapkan pada kurangnya tenaga ahli dan tenaga terampil.

DAN KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN 1. serta untuk meningkatkan ekspor. serta memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha. penge lolaan usaha pertambangan secara efektif dan efisien. dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup serta ditujukan untuk menyediakan bahan baku bagi industri dalam negeri. dan bagi keperluan masyarakat. terutama yang berkaitan erat dengan perluasan lapangan kerja dan kesempatan usaha. Arahan GBHN 1993 Pembangunan pertambangan diarahkan untuk memanfaatkan kekayaan surnber daya alam tambang secara hemat dan optimal bagi pembangunan nasional demi kesejahteraan rakyat. Pengetahuan geologi perlu ditingkatkan untuk memperoleh manfaat maksimal dan kemampuan untuk memper kirakan secara tepat bencana alam geologis sehingga dapat mem berikan perlindungan bagi masyarakat. meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan daerah. Dalam pembangunan pertambangan perlu ditingkatkan upaya peningkatan produksi.IV. serta pengembangan wilayah dengan selalu memperhatikan kebutuhan masa depan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengembangan pertambangan perlu diarahkan untuk mendorong kegiatan ekonomi dengan mempertimbangkan prinsip penggunaan lahan berganda dan pola tata ruang nasional melalui kebijaksanaan optimasi manfaat dari pendayagunaan kekayaan alam. penganekaragaman hasil tambang. ARAHAN. bagi keperluan energi. didukung oleh usaha inventarisasi dan pemetaan serta eksplorasi dan eksploitasi kekayaan bahan tambang yang makin meningkat dengan menguasai dan memanfaatkan teknologi yang tepat. SASARAN. Pembangunan pertambangan diselenggarakan secara terpadu dengan pembangunan daerah dan pembangunan berbagai sektor lainnya. 273 .

upaya penganekaragaman sumber energi perlu makin ditingkatkan. baik modal dalam negeri maupun modal asing. dan pembinaan usaha pertambangan. Pertambangan rakyat dilindungi. terus didorong dan ditingkatkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pembangunan nasional dan alih teknologi. terutama batu bara. Penguasaan teknologi pertambangan. termasuk teknologi eksplorasi dan eksploitasi bahan tambang di darat maupun di dasar 274 . disertai usaha perluasan pemasaran produk hasil pengolahan minyak dan gas bumi dalam rangka peningkatan dan penganekaragaman sumber penerimaan dan devisa negara. penyuluhan. sehingga ketergantungan pada minyak dan gas bumi makin berkurang.Pemanfaatan bahan dan hasil tambang terus dikembangkan melalui peningkatan produksi dan usaha pemasarannya di dalam negeri dan di luar negeri serta pengolahannya perlu didukung oleh industri pengolahan yang maju agar mampu meningkatkan nilai tambah dan pendapatan negara. Dengan makin terbatasnya cadangan minyak dan gas bumi serta makin sulitnya menemukan ladang baru. khususnya rakyat penambang. dalam rangka perluasan lapangan kerja dan kesempatan usaha serta peningkatan pendapatan dan taraf hidup rakyat. termasuk usaha koperasi. Kerja sama pertambangan rakyat dengan usaha pertambangan negara dan swasta besar perlu didorong agar saling menunjang dan saling memperkuat. Penanaman modal swasta di sektor pertambangan di luar pertambangan rakyat dan galian strategis. dibimbing. dan ditingkatkan pengelolaannya antara lain melalui pengaturan. Upaya untuk memproduksi minyak dan gas bumi serta menemukan cadangan baru perlu ditingkatkan. antara lain melalui penciptaan iklim yang lebih sehat dan menarik bagi penanaman modal.

dan peningkatan manajemen usaha pertambangan. Untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan. telah tersedia. Khususnya potensi panas bumi akan dimanfaatkan minimal 25 persen atau sekitar 4. pemurnian.laut. pengolahan. Penambangan dan pengelolaan bahan galian yang tidak vital dan tidak strategis harus mengikutsertakan rakyat setempat dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dalam PJP II akan dicapai tingkat kemandirian yang tinggi melalui penguasaan pengetahuan dan teknologi. 2. pada akhir PJP II seluruh kebutuhan informasi dasar geologi. Dalam hal minyak bumi dan gas bumi. upaya reklamasi pascatambang perlu dilaksanakan sejak awal sehingga bekas tambang dapat lebih dimanfaatkan.000 megawatt. baik berupa peta-peta dasar geologi maupun informasi bencana alam geologis dan lingkungan hidup. Sasaran a. b. serta penggunaan bahan hasil tambang. Dalam kaitan itu. akan lebih dikembangkan eksplorasi dan pengusahaan di laut. Sasaran PJP II Sasaran pembangunan pertambangan dalam PJP II adalah mendukung terciptanya perekonomian nasional yang mandiri dan andal melalui pendayagunaan sumber daya alam mineral dan energi secara hemat dan optimal serta berwawasan lingkungan. terus ditingkatkan melalui keterampilan dan keahlian di sektor pertambangan. Sasaran Repelita VI 275 . dan hampir seluruh cekungan tersier sudah dieksplorasi.

Sasaran pembangunan pertambangan dalam Repelita VI adalah meningkatnya produksi dan diversifikasi hasil tambang untuk .

termasuk pertambangan skala kecil (PSK). maupun mitigasi bencana alam geologis. penataan ruang.memenuhi kebutuhan bahan baku industri dan sumber energi primer. penyelesaian peta dasar lainnya bagi daerah pertumbuhan di Pulau Jawa serta pembangunan pos pengamatan gunung api yang mempunyai derajat bahaya yang tinggi. tersedianya pelayanan informasi geologi dan sumber daya mineral yang andal. terwujudnya sistem pertambangan yang efisien dan produktif yang didukung oleh kemampuan penguasaan teknologi. terutama kawasan timur Indonesia. baik untuk eksplorasi lanjut. pemetaan dan penyelidikan geologi kelautan sejumlah 25 lembar peta dan 30 276 . Dalam Repelita VI akan dipercepat penyelesaian informasi dasar geologi. terutama terwujud melalui makin tumbuh dan berkembangnya usaha pertambangan rakyat. peningkatan ekspor dan pemenuhan keperluan masyarakat lainnya.6 persen per tahun selama Repelita VI. Dalam Repelita VI diprogramkan penyelesaian pemetaan dan penyelidikan geologi dan geofisika sejumlah 104 peta. pemetaan geofisika udara di Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Penyerapan tenaga kerja ini. Hal ini berarti bahwa sektor pertambangan akan mampu memberikan tambahan kesempatan kerja kepada 147 ribu orang selama Repelita VI. Dalam upaya perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Sektor pertambangan akan ditumbuhkembangkan rata-rata sebesar 2. meningkatnya peran serta masyarakat dalam usaha pertambangan terutama melalui wadah koperasi. meluasnya pembangunan pertambangan di daerah guna mendukung pengembangan wilayah. dalam bentuk koperasi. kualitas sumber daya manusia dan manajemen usaha pertambangan. Sasaran pokoknya adalah penyelesaian peta geologi dan daerah bahaya seluruh gunung api Indonesia. sektor pertambangan diupayakan mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sekitar 842 ribu orang pada tahun 1993 menjadi sebesar 989 ribu orang pada akhir Repelita VI.

3 ribu ton. Kilang minyak berorientasi ekspor (export oriented oil refinery. produksi gas bumi sebesar 2.6 ribu kilogram dan perak sebesar 143 ribu kilogram. produksi bauksit sebesar 1 juta ton. Di bidang minyak dan gas bumi direncanakan pada akhir Repelita VI sebanyak 60 persen dari cekungan telah dibor. feronikel sebesar 11 ribu ton. Laju pertumbuhan konsumsi BBM dalam negeri diharapkan dapat ditekan menjadi sekitar 6 persen per tahun. termasuk cadangan gas bumi di Kepulauan Natuna dan di kawasan timur Indonesia.9 juta ton bijih nikel.1 miliar kaki kubik per hari dan pemanfaatannya 277 277 . yang akan dipakai di dalam negeri sebanyak 31.75 juta ton. dan nikel matte sebesar 50 ribu ton.1. 11 ribu ton feronikel dan 45 ribu ton nikel matte.1 juta ton. produksi konsentrat tembaga sebesar 1. demikian pula Train G kilang LNG Bontang. sedang ekspornya masing-masing sebesar 1. EXOR) telah beroperasi. produksi bijih nikel sebesar 2.5 juta barel per tahun atau 1.9 juta ton dan ekspor sebanyak 39. produksi emas sebesar 70. pemetaan hidro geologi sejumlah 25 lembar peta dan 23 penyelidikan air tanah. yang akan diekspor sebesar 1.960 miliar kaki kubik atau 8.500 ribu barel per hari. Sasaran yang akan dicapai dalam pertambangan minyak dan gas bumi pada akhir Repelita VI adalah produksi minyak bumi dan kondensat dipertahankan sebesar 547.761 ribu ton. Pemanfaatan panas bumi telah mencapai 6 persen dari total sumber dayanya. dan 3 kegiatan pengeboran. dan produksi pasir besi sebesar 340 ribu ton. inventarisasi dan pemetaan serta eksplorasi sumber daya energi sejumlah 25 lembar peta dan 45 lokasi.lokasi. produksi timah sebesar 40. Sasaran pertambangan mineral dan batu bara yang akan dica pai pada akhir Repelita VI adalah produksi batu bara akan mencapai 71 juta ton.311 ribu ton. Lihat Tabel 25 . sedang 450 ribu ton konsentrat tembaga akan diproses di dalam negeri menjadi logam. inventarisasi dan pemetaan serta eksplorasi sumber daya mineral sejumlah 55 lembar peta dan 105 lokasi.

TABEL 25 . Penyelidikan air tanah lembar 5 11 11 11 11 11 55 lokasi lembar 10 3 21 5 21 5 21 5 21 5 21 5 105 25 lokasi 4 9 10 9 10 10 48 lembar lokasi 3 5 5 4 5 5 5 4 5 5 5 5 25 23 Catatan: *) Angka perkiraan realisasi (tahun terakhir Repelita V) . Inventarisasi dan pemetaan sumber daya energi 7. Pemetaan geologi dasar laut lembar 5 5 5 5 5 5 25 3. Pemetaan hidrogeologi 9. Pemetaan geologi dan geofisika Satuan lembar 2. Inventarisasi dan pemetaan sumber daya mineral 5. Eksplorasi dan penyelidikan sumber daya energi 8.1 RENCANA KEGIATAN PEMETAAN DAN PENYELIDIKAN GEOLOGI SEKTOR PERTAMBANGAN 1994/95-1998/99 Akhir Repelita V *) 11 Repelita VI 1994/95 1995/96 1996/97 1997/98 1998/99 Jumlah 15 22 22 24 21 104 Jenis Sasaran 1. Penyelidikan geologi kelautan lokasi 2 6 6 6 6 6 30 4. Eksplorasi sumber daya mineral 6.

278 .

a. Kebijaksanaan Dalam rangka pembangunan pertambangan sesuai dengan arahan GBHN 1993 dan untuk mencapai berbagai sasaran di atas. dan diversifikasi hasil tam-bang. 3. dikembangkan kebijaksanaan pembangunan pertambangan.107 ribu barel.025 megawatt. Lihat Tabel 25 . pengolahan. pengusahaan tambang. pengembangan kemampuan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi pertambangan guna mendukung peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha pertambangan. produksi LNG sebesar 28 juta ton. serta pengembangan sistem pendukung lainnya bagi peningkatan efektivitas pembangunan pertambangan. penjualan BBM dalam negeri sebesar 52. ekspor minyak mentah sebesar 263.sebesar 7.7 juta meter kubik. berbagai peta sumber daya mineral dan energi di 279 .7 miliar kaki kubik per hari.7 ribu kiloliter dan gas bumi sebesar 3. pemantapan penyediaan komoditas mineral dan energi melalui peningkatan produksi. potensi panas bumi dimanfaatkan sebesar 1. dan produksi LPG sebesar 3. Pengembangan Informasi Geologi dan Sumber Daya Mineral Pengembangan geologi dan sumber daya mineral sebagai pendukung dasar pembangunan pertambangan dan energi ditingkatkan dan diarahkan untuk penyediaan data dasar bagi kegiatan eksplorasi lanjutan. dan penyediaan informasi geologi tata lingkungan sebagai bahan acuan dalam menyusun tata ruang nasional.283.2. disusun peta dasar geologi. yang meliputi pengembangan informasi geologi dan sumber daya mineral sebagai pendukung dasar pembangunan pertambangan.5 juta ton.670. penyediaan informasi mengenai geologi bagi penanggulangan bencana alam geologis sehingga korban jiwa dan kerugian materiil dapat ditekan secara maksimal. Untuk itu. peningkatan peran serta rakyat dan pelestarian fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan pertambangan. pemanfaatan panas bumi dan pemanfaatan air tanah.

0 598.0 35.0 1.000.781.000.000.0 71.2 37.0 1.050.0 2.000.600.025.000.094.0 340.0 262.3 2.2 2.042.500.025.0 120.0 98.0 7.0 11. Batubara Panas bumi 2) Logam timah Bijih nikel .500.0 34.0 246.0 47.245.0 340.5 2.0 50.0 40.0 1.335.050.0 11.0 35.000.0 1. 5.042.000.0 1.feronikel .0 143.2 2.0 11. 4.200. Gas bumi 3.042.2 13.0 5.0 660.2 2.000. 6.5 3.800.0 93.0 56.ton ribu ton ribu ton ribu ton kg kg Akhir Repelita V 1) 1904195 1995/96 500.0 1.324.ton .000.0 70.0 1.0 84.1 71.0 48.890.0 310.000.0 1998/99 Jumlah 547.000.750.000.281.0 52.0 44.5 5.0 1.960. 7.000.752.500.nikel matte Bauksit Konsentrat tembaga Pasir besi Emas 3) Perak 4) Satuan juta barel miliar kaki kubik ribu ton MW ribu ton ribu ton .000.0 340.200.5 31.300.0 340.0 1.8 551.502.0 510.700.0 187.0 1.0 3.000.0 3.000.0 1.888.0 1.945.547.000.0 48.0 558.0 50.0 10.0 5.000.0 40.750.400.0 199.0 1.684.685.600. Minyak bumi dan kondensat 2.0 2.1 2.300.0 340.068.300.0 143.000.087.3 Repelita Vi 1998/97 1997/98 553.000.000.0 2.0 32.000.7 40.3 2.200.0 42.0 281.766.0 14.0 315.8 60.0 50.5 556. 10.0 1.0 29. 9.5 2.000. 11.280 TABEL 25-2 PERKIRAAN PRODUKSI PERTAMBANGAN MINERAL DAN ENERGI SEKTOR PERTAMBANGAN 1994/95-1998/99 Janis Sasaran 1.0 50.000.0 Catatan: 1) Angka perkiraan realisasi (tahun terakhir Repelita V) 2) Daya terpasang 3) Termasuk emas dalam konsentrat tembaga 4) Termasuk perak dalam konsentrat tembaga .0 740. 8.750.500.

.

darat dan di laut. gerakan tanah dan gempa bumi. Mengingat keterbatasan cadangan minyak bumi di masa mendatang. Pemantapan Penyediaan Komoditas Mineral dan Energi Pembangunan pertambangan ditingkatkan dan diarahkan pada pemanfaatan segenap kekayaan sumber daya mineral dan energi yang dimiliki untuk menunjang pembangunan nasional. inventarisasi. geologi teknik. Industri pengolahan hasil tambang dan industri manufaktur lainnya dikembangkan dengan memberikan prioritas kepada penciptaan mata rantai hulu-hilir industri pertambangan yang makin kukuh dengan daya saing yang meningkat. Keterpaduan upaya pemanfaatan energi alternatif di dalam negeri untuk menggantikan peranan BBM 281 . Pembangunan pertambangan diupayakan makin terkait erat dengan pembangunan industri di dalam negeri dalam rangka meningkatkan nilai tambah komoditas mineral dan energi. Untuk itu. serta peta hidrogeologi. dan sebagai bahan baku industri yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Upaya tersebut didukung oleh kegiatan penelitian geologi dan geofisika. b. eksplorasi dan evaluasi kekayaan sumber daya mineral. jumlah. ditingkatkan upaya untuk menggantikan peranan minyak bumi sebagai sumber utama energi primer. terutama dalam rangka penyediaan sumber energi primer serta bahan baku untuk industri di dalam negeri. daerah bahaya gunung api. diupayakan peningkatan jenis. Pemanfaatan minyak bumi sebagai penyedia energi supaya diarahkan hanya untuk penggunaan yang benar-benar belum dapat digantikan oleh sumber energi lain. air bawah tanah dan panas bumi. Efisiensi dan efektivitas penambangan dan pengolahan hasil tambang ditingkatkan melalui pemanfaatan teknologi tepat dan perbaikan manajemen. geologi tata lingkungan. dan penyelidikan serta pemantauan bencana alam geologis. dan mutu komoditas mineral yang ditambang.

Pengembangan pertambangan memperhatikan dan diserasikan dengan kebijaksanaan umum di bidang energi. dan kepentingan lintas sektoral lainnya. pertahanan keamanan negara. Penertiban dan pembinaan usaha pertambangan rakyat didukung oleh upaya identifikasi cebakan mineral dan pencadangan usaha untuk pertambangan rakyat di daerah. industri. Di samping itu. dengan mempertimbangkan prinsip penggunaan lahan berganda dalam tata ruang daerah yang bersifat dinamis. ditetapkan dalam suatu kebijaksanaan nasional yang menyangkut berbagai aspek dalam bentuk peraturan perundangundangan yang mempunyai jangkauan ke depan. ditempuh pengembangan pertambangan rakyat secara lebih terpadu melalui penyuluhan. Peningkatan Peran Serta Masyarakat dan Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengusahaan pertambangan. Pola pengembangan PSK yang telah dirintis di beberapa daerah sejak tahun 1991 dimantapkan dan diperluas pelaksanaannya. c. keselamatan dan kesehatan kerja. serta pembinaan usaha pertambangan termasuk pertambangan skala kecil (PSK) dalam wadah koperasi. kebijaksanaan umum lingkungan hidup. 282 . pembangunan daerah. ditingkatkan pula perhatian terhadap kelangsungan kehidupan sosial ekonomi pascatambang di daerah pertambangan. Pengembangan energi alternatif dengan cadangan besar seperti halnya batu bara. melalui optimasi manfaat neto pendayagunaan kekayaan alam. keselamatan terhadap bencana alam geologis. dan transportasi ditingkatkan. terutama di daerah terpencil. Pengembangan pertambangan dapat mendorong tumbuhnya kegiatan sosial ekonomi daerah.di sektor rumah tangga. pembimbingan.

Kawasan timur Indonesia relatif belum berkembang meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup besar dan beragam. Potensi tersebut dalam PJP II dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai modal awal dan penggerak mula dalam memacu pembangunan ekonomi kawasan ini. serta menciptakan keunggulan kompetitif sehingga mampu menggantikan kegiatan usaha pertambangan yang suatu ketika akan berakhir. Dengan demikian. harus dipersiapkan perencanaan. Penguasaan teknologi maju ditingkatkan melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan guna memenuhi kebutuhan tenaga profesional dan tenaga terampil. meningkatkan nilai tambah.Kegiatan sosial ekonomi yang tumbuh selama usaha pertambangan berlangsung diupayakan agar terus berlanjut pada masa pascatambang. Sektor yang tumbuh dan berkembang selama kegiatan usaha pertambangan berjalan diharapkan mampu menyerap dan mengembangkan potensi lokal dan memanfaatkan keunggulan komparatif yang dimiliki daerah seoptimal mungkin. Oleh karena itu. d. pengembangan ekonomi wilayah setelah kegiatan usaha pertambangan terhenti dapat terus dijaga kesinambungannya. memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup dan memperkecil kerugian akibat bencana alam geologis. terutama sumber daya mineral dan energi. Upaya alih teknologi pada tenaga bangsa Indonesia secara 283 . dan pengembangan transformasi struktural sesuai dengan potensi sumber daya yang terdapat di wilayah yang bersangkutan. Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penguasaan Teknologi Pertambangan Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih mantap diperlukan untuk mendukung pembangunan pertambangan yang makin berkembang. Transformasi struktural diarahkan pada proses perubahan kegiatan ekonomi suatu wilayah pertambangan secara bertahap ke sektor ekonomi lain yang produktif. pelaksanaan.

dan pemurnian hasil tambang. dan sistem insentif. Kemampuan penelitian dan pengembangan harus ditingkatkan sehingga mampu menghasilkan teknologi tepat serta menyediakan informasi bagi pemantapan kebijaksanaan ataupun dalam menunjang operasi dan pengelolaan pertambangan. ekstraksi. meningkatkan efisiensi dalam eksplorasi dan produksi. kegiatan penelitian dan pengembangan. dalam usaha pertambangan terus ditingkatkan melalui penyediaan informasi. Usaha menarik penanaman modal. Pengembangan Sistem Pendukung Pertambangan Untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan dan hasil tambang dalam upaya memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan ekspor. baik dalam eksplorasi. dengan tetap memperhatikan keserasian usaha yang saling terkait di antara para pelaku ekonomi. di samping tercapai efisiensi yang lebih tinggi. pengolahan dan pendistribusian komoditas hasil tambang.sistematis ditingkatkan dan dipercepat. baik asing maupun dalam negeri. e. dan mendukung pengembangan wilayah melalui pemanfaatan sumber daya setempat. pemberian kemudahan perizinan. meningkatkan konservasi dan penganekaragaman pemanfaatan sumber daya. Upaya tersebut dikembangkan agar dapat dicapai kesesuaian tolok ukur kualitas antara produsen dan konsumen. Untuk itu. teknologi maupun manajemen. mendukung pengembangan industri pengolahan hasil tambang. baik dari segi pendanaan . pengolahan. terus dilanjutkan usaha standardisasi proses dan produk per tambangan yang menyangkut teknik eksplorasi. sistem penam bangan. penambangan. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut diperlukan dalam usaha menemukan cadangan sumber daya mineral dan energi. Pertambangan minyak dan gas bumi dalam Repelita VI masih . serta pengujian mutu. maupun pemanfaatannya diberi perhatian khusus.

berperan cukup besar dengan menghasilkan berbagai bahan hasil tambang yang dapat dimanfaatkan. 284 . baik sebagai sumber energi.

Berbagai program tersebut merupakan program nasional sebagai acuan pelaksanaan kegiatan pembangunan sektor pertambangan bagi Pemerintah dan dunia usaha serta masyarakat pada umumnya. Program Pengembangan Geologi dan Sumber Daya Mineral Dalam program pengembangan geologi dan sumber daya mineral akan dilaksanakan beberapa kegiatan pokok yang bertujuan terutama untuk menyediakan data dasar geologi. geologi kelautan. akan dikembangkan berbagai program pembangunan sektor pertambangan. peran informasi dalam pembangunan pertambangan sangat vital. PROGRAM PEMBANGUNAN Dalam rangka mencapai sasaran Repelita VI dan PJP II. Sistem jaringan informasi yang andal dalam penyediaan data dan informasi bagi semua pihak yang berkepentingan dalam penanganan pertambangan. potensi sumber daya mineral. maupun sumber penerimaan negara. diinvestasikan kembali. terutama migas. terus ditingkatkan. . serta informasi geologi tata lingkungan dan mitigasi bencana alam geologis. Dalam arus globalisasi dengan persaingan yang makin tajam.bahan baku industri. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk menjamin kelangsungan pengusahaannya. sesuai dengan arahan GBHN 1993 dan sebagai pelaksanaan kebijaksanaan tersebut di atas. sebagian dari hasil tambang tersebut. V. yang meliputi program pokok dan program penunjang. Program Pokok a. 1.

285 .

eksplorasi geokimia di 15 daerah.1) Geologi Sumber Daya Mineral Dalam Repelita VI direncanakan pemetaan geologi bersistem berbagai skala sebanyak 68 lembar serta pemetaan gaya berat berbagai skala sebanyak 36 lembar. pengeboran eksplorasi. geofisika. penelitian dan penyelidikan geologi. Dalam Repelita VI akan dilakukan penyelidikan secara terpadu pembuatan peta geologi panas bumi skala 1 : 50. Dalam rangka inventarisasi dan eksplorasi sumber daya energi juga akan dilakukan penyelidikan terhadap panas bumi untuk melengkapi data geologi. 2) Geologi Kelautan Kegiatan di bidang geologi kelautan diarahkan untuk menyediakan informasi dasar mengenai potensi geologi dan sumber daya mineral dan energi dasar laut. Kegiatan inventarisasi dan eksplorasi sumber daya mineral logam dan energi. Prioritas akan diberikan pada daerah yang tidak mempunyai energi alternatif selain panas bumi dan diperkirakan mempunyai potensi energi panas bumi yang berskala kecil (sekitar 10 megawatt). termasuk di kawasan timur Indonesia. Inventarisasi sumber daya energi batu bara dan gambut akan dilakukan di 10 wilayah dan eksplorasinya di 30 daerah. Pelaksanaan inventarisasi sumber daya mineral logam direncanakan di 15 wilayah dan inventarisasi bahan galian industri di 15 wilayah. eksplorasi mineral logam di 30 daerah.000 serta penyelidikan geofisika dan geokimia panas bumi di 15 lapangan. dan geokimianya. Pengeboran uji panas bumi juga akan dilakukan di lapangan yang mempunyai potensi pengembangan. dan eksplorasi geofisika di 30 daerah. geofisika. Eksplorasi sumber daya bahan galian industri akan dilakukan di 30 daerah. serta analisis laboratorium kimia dan fisika mineral akan dilaksanakan dengan memberikan prioritas kepada kawasan timur Indonesia dan daerah berpotensi lainnya. Dalam Repelita VI kegiatan pemetaan geologi dan geofisika dasar laut akan ditingkatkan untuk 286 .

pengungkapan potensi sumber daya mineral dan energi di dasar laut, sebagai upaya mengantisipasi kebutuhan mineral dan energi di masa yang akan datang. Penyelidikan geologi dan geofisika kelautan akan dilakukan untuk memperoleh informasi struktur dan stratigrafi dasar laut. Informasi ini sangat berguna sebagai petunjuk adanya cebakan hidrokarbon. Pada kawasan yang penting dan jalur pelayaran internasional yang sibuk, kondisi dasar laut, jenis sedimen, dan proses sedimentasinya akan diselidiki. Penyelidikan geologi kawasan pantai ditekankan pada wilayah yang telah dan akan berkembang pesat sehingga informasi ini dapat dipakai untuk mengantisipasi dampak lingkungannya. Penyelidikan geologi wilayah pantai ini juga diarahkan untuk menunjang pengelolaan dan pelestarian lingkungan pantai dan lepas pantai dalam upaya penanggulangan bencana alam geologis. Perencanaan teknis dan geoteknik kelautan sangat dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan pelabuhan dan pendirian bangunan lepas pantai. Dalam Repelita VI akan dilakukan pemetaan geologi dasar laut sebanyak 25 lembar dan kompilasi peta geologi regional skala 1:1.000.000 dan lebih kecil sebanyak 5 lembar. Penyelidikan geologi wilayah pantai dan lepas pantai akan dilakukan di 25 wilayah pantai di Pulau Jawa dan kawasan timur Indonesia. 3) Geologi Tata Lingkungan dan Mitigasi Bencana
Alam Geologis

Pemetaan hidrogeologi bersistem direncanakan untuk menyelesaikan 15 lembar peta berskala 1:250.000 di kawasan timur Indonesia dan daerah pusat pertumbuhan ekonomi, serta menyelesaikan 10 lembar peta hidrogeologi Pulau Jawa dan Madura dengan skala 1:100.000, termasuk di wilayah yang memiliki kantung kemiskinan. Direncanakan pula penyelidikan potensi air tanah tingkat awal guna memperoleh data dan informasi air tanah secara semikuantitatif serta kemungkinan pengembangannya pada 20 cekungan air tanah.
287

Penyelidikan potensi air tanah tingkat rinci direncanakan mencakup tiga cekungan air tanah guna kemungkinan pengembangannya dalam memenuhi keperluan penyediaan air bersih di daerah perkotaan dan perdesaan. Prioritas utama akan diberikan pada daerah yang mempunyai kantung kemiskinan. Penyelidikan penyediaan air untuk daerah sulit air akan dilaksanakan di 25 lokasi; penyelidikan geologi teknik di 33 lokasi; penyelidikan geologi lingkungan di 30 lokasi; dan penyelidikan geologi lingkungan buangan limbah di 15 lokasi. Dalam Repelita VI akan dilakukan pemetaan seismotektonik daerah rawan gempa sebanyak 10 lembar; pemetaan geologi kuarter 15 lembar; pemetaan geomorfologi 10 lembar; pemetaan geologi gunung api 20 lembar; pemetaan daerah bahaya gunung api 38 lembar; pemetaan topografi puncak gunung api 20 lembar; pemetaan aliran lahar 30 lembar; pemetaan kerentanan gerakan tanah 19 lembar; pemetaan geologi teknik 13 lembar; pemetaan geologi tata lingkungan skala 1:100.000 sebanyak 30 lembar; dan pemetaan geologi tata lingkungan skala 1:250.000 sebanyak 5 lembar. Kegiatan penelitian dan penyelidikan akan meliputi aspek geologi kuarter dan seismotektonik di 40 lokasi; penyelidikan lahar/bahan letusan gunung api di 15 gunung api; penyelidikan kimia gunung api di 20 lokasi; penyelidikan fisika gunung api di 22 lokasi; penyelidikan penginderaan jauh gunung api di 30 lokasi; penyelidikan seismik gunung api di 10 lokasi. Kegiatan mitigasi bencana alam geologis berupa pembuatan stasiun pengamat sesar aktif di 3 lokasi, dan pemantauan sesar aktif di 2 lokasi; pemeriksaan kegempaan rata-rata di 3 lokasi setiap tahun; konservasi geologi di 5 lokasi; pemantauan gunung api dilakukan pada 79 gunung api aktif dan pada gunung api yang menunjukkan gejala peningkatan aktivitas akan dilaksanakan secara intensif pada 20 lokasi.

288

Pemantauan tanah longsor di 5 lokasi daerah rawan longsor, yaitu Cianjur, Ciloto, Ciamis, Majenang, dan Banjarnegara; pemeriksaan tanah longsor pada 30 lokasi setiap tahunnya; pembuatan sumur pantau air tanah 6 buah setiap tahun, sehingga pada akhir Repelita VI akan dimiliki 92 sumur pantau yang tersebar di Jakarta, Semarang, Bandung, Denpasar, dan Medan; pembuatan stasiun pengamat amblasan sebanyak 1 stasiun setiap tahunnya di Jakarta; konservasi air tanah di 6 daerah yang penggunaan airnya sangat intensif, yaitu Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Denpasar dan Medan; dan pemantauan masalah air, limbah, dan kualitas lingkungan geologi di 6 lokasi. b. Program Pembangunan Pertambangan Dengan memperhatikan kebijaksanaan pembangunan pertambangan nasional dan mengantisipasi perkembangan peningkatan permintaan akan hasil-hasil tambang, dalam Repelita VI akan diupayakan peningkatan produksi dan penganekaragaman hasil tambang. 1) Pertambangan Batu Bara

Produksi batu bara direncanakan sebesar 35 juta ton untuk tahun 1994/95 dan pada tahun 1998/99 diproyeksikan sebesar 71 juta ton. Peningkatan produksi ini berasal dari produksi badan usaha milik negara (BUMN) yang membuka tambang baru di sekitar Tanjung Enim (Muara Tiga Besar, Bangko Barat, Bukit Kendi), dan di sekitar Sawahlunto (Waringin atau Sugar), sehingga tingkat produksi dari BUMN akan mencapai 11,6 juta ton pada akhir Repelita VI. Investor swasta diharapkan akan meningkatkan produksinya dengan membuka beberapa tambang baru. Pada akhir Repelita VI tingkat produksi perusahaan swasta kontrak kerja sama diperkirakan akan mencapai 56,2 juta ton. Di samping itu, tambang berskala kecil yang dikelola oleh swasta nasional dan koperasi diharapkan dapat mencapai tingkat produksi sebesar 3,2 juta ton per tahun.

289

Eksplorasi di daerah baru seperti Irian Jaya dan Maluku akan dilakukan pada lokasi yang potensial. Dalam Repelita VI diharapkan bahwa sumber daya gambut sudah mulai dapat dimanfaatkan sebagai bahan energi serta bahan baku industri. dan Gresik. seperti di Kungkilan Banjarsari. Ciwandan. terutama di kawasan Asia Pasifik. di Mampun Pandan (Jambi). juga di sekitar Sawahlunto seperti di Sigalut dan Air Keruh. antara lain di Tanjung Enim. Rencana umum tata ruang (RUTR) merupakan salah satu acuan dalam pembangunan pertambangan. untuk memuat dan menyalurkan produksi yang berasal dari perusahaan swasta asing. akan dibangun kilang briket oleh BUMN. ataupun pertambangan skala kecil dan koperasi lainnya. di sekitar Cerenti (Riau). terutama sekali dikaitkan dengan pengelolaan masa pascatambang. Kegiatan pengusahaan pertambangan batu bara termasuk gambut tetap berpedoman kepada sistem penambangan yang berwawasan lingkungan. 290 . Ekspor bate bara pada akhir Repelita VI diperkirakan mencapai sebesar 39. khususnya yang berkaitan dengan pengembangan wilayah.8 juta ton per tahun. Kekurangannya diharapkan dapat dipenuhi oleh usaha swasta. Produksi briket batu bara tersebut diharapkan pada akhir Repelita VI dapat memenuhi 63 persen dari kebutuhan briket batu bara sebesar 4.1 juta ton. Untuk menunjang pengembangan briket batu bara bagi keperluan rumah tangga. Batu bara Indonesia telah mulai menembus pasaran internasional.Eksplorasi terinci batu bara akan dilakukan di sekitar Tanjung Enim. di Sangkulirang (Kalimantan Timur) dan di Satui II (Kalimantan Selatan). baik di dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. swasta nasional. Arahan dan Suban Jeriji. Dalam rangka meningkatkan daya muat akan dibangun pelabuhan batu bara Tarahan III dan beberapa pelabuhan batu bara lain. Sarana penunjang untuk pemuatan dan distribusi briket batu bara akan dikembangkan.

Upaya pemanfaatan gambut tersebut tetap memperhatikan kegunaan lahan bagi keperluan pertanian dan usaha lain. Pengolahan nikel akan ditingkatkan kapasitasnya secara ber 291 . Produksi nikel matte akan ditingkatkan menjadi 50 ribu ton nikel pada akhir Repelita VI. akan dilakukan berbagai upaya meningkatkan produksi timah.Energi gambut sejauh mungkin dapat membantu program nasional pengentasan desa tertinggal dan daerah yang relatif terpencil. pengatur pengerasan semen.75 juta ton pada tahun kelima. Perluasan pabrik feronikel Pomalaa tahap I yang telah dimulai pada akhir Repelita V diharapkan akan mulai berproduksi pada ta hun kedua Repelita VI. Penggunaan gambut juga diren canakan untuk percobaan ekstraksi asam humat (lignin). meningkatkan kualitas produk dengan menghasilkan timah berkadar timbal rendah. mengingat sifat arang gambut yang secara ekonomis kurang menguntungkan untuk ditranspor. sebagai pengencer lumpur pengeboran. dan media semai.5 ribu menjadi 11 ribu ton nikel. Dengan selesainya perluasan pabrik. meningkat kan kapasitas penambangan di darat.4 juta ton pada tahun pertama menjadi 2. Produksi timah pada awal Repelita VI diproyeksikan sebesar 34 ribu ton dan pada akhir Repelita VI meningkat menjadi 40. Dalarn periode Repelita VI.3 ribu ton. produksi bijih nikel akan ditingkatkan dari 2. antara lain dengan meningkatkan kegiatan eksplorasi tambang aluvial dalam di lepas pantai dan di daratan. pro duksi feronikel akan meningkat dari 5. 2) Pertambangan Mineral Produksi timah akan diarahkan pada pemenuhan peluang ekspor serta peningkatan kebutuhan industri di dalam negeri. Untuk itu. dan menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. meni ngkatkan pemasaran ekspor dan promosi serta menjamin lancarnya pemasokan sebagai bahan baku industri di dalam negeri.

U saha pe n gopt i mal an .tahap. sehingga ekspor utama komoditas nikel pada akhir Repe lita V I a ka n t er di r i at a s n i kel ol aha n.

dalam Repelita VI akan diteruskan kegiatan eksplorasi. dan Munggu Pasir untuk mengevaluasi cadangan dan perencanaan tambang. Kajian mengenai potensi tenaga air di daerah ini sebagai sumber energi juga akan dilakukan bersamaan dengan evaluasi cadangan yang dapat ditambang sehingga pembangunan pabrik pemurniannya dapat dimulai pelaksanaannya pada akhir Repelita VI. Untuk meningkatkan cadangan nikel. Untuk memanfaatkan cadangan nikel di Pulau Gag secara optimal. Juga akan dilakukan penyelesaian terhadap 292 . Untuk dapat lebih memanfaatkan potensi cadangan nikel. Cadangan yang telah ditemukan pada Repelita V di Pulau Halmahera akan dievaluasi lebih lanjut serta disiapkan rencana pengembangannya. Atas dasar studi ini. Perencanaan dan persiapannya juga akan dilakukan dalam Repelita VI sehingga pembangunannya dapat dimulai pada Repelita VII. Untuk memproduksi bijih bauksit berkualitas ekspor.penggunaan energi dalam pembuatan feronikel akan dilakukan dengan menjajagi penggunaan sumber energi yang lebih murah seperti PLTA. akan dibuat rencana perluasan/pengembangan tahap II. Kegiatan eksplorasi yang lebih rinci akan dilanjutkan di daerah Tayan. Pantas. pada Repelita VI juga akan dilakukan pengkajian kemungkinan dibangunnya pabrik baja tahan karat (stainless steel). usaha penjajagan proses leaching juga akan diteruskan dalam Repelita VI. Dalam meningkatkan nilai tambah komoditas nikel dan memanfaatkan cadangan nikel yang ada. serta kemungkinan pembuatan feronikel menggunakan teknik selain proses Elkem. pada Repelita VI akan dilakukan penambangan di Pulau Bintan yang pelaksanaannya sesuai dengan rencana pengembangan Pulau Bintan menjadi pusat pariwisata dan zona industri. dalam Repelita VI akan mulai dilakukan perundingan dengan perusahaan swasta nasional/asing yang tertarik menanamkan modalnya berikut mengembangkan proses pengolahannya.

293 . dan Sumatera.43. Diharapkan dalam Repelita VI pembukaan tambang baru berikut pengembangan bauksit di wilayah ini dapat dirumuskan. Selain itu. termasuk rencana pendirian pabrik peleburan tembaga di Gresik dengan kapasitas pengolahan 450 ribu ton konsentrat per tahun.000 kilogram perak. Komoditas ini memiliki prospek yang cerah di mesa depan karena pasaran yang baik di dalam dan di luar negeri. Kegiatan penyelidikan juga akan dilanjut kan di daerah Kalimantan. pada akhir Repelita VI diperkirakan telah dapat dibuka tambang baru di Pulau Sumbawa. Dalam Repelita VI produksi konsentrat tembaga akan ditingkatkan menjadi 1.masalah tumpang tindih lahan dengan pihak kehutanan (hutan tanaman industri). Maluku. akan diusahakan diversifikasi vertikal industri tembaga Indonesia dengan mendirikan pabrik peleburan tembaga di dalam negeri. terutama dalam penggunaannya untuk penjernihan air. Di samping itu. Sebagai upaya mengisi mata rantai produksi antara industri hulu dan hilir. Kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan emas dan perak akan dilanjutkan selama Repelita VI di beberapa daerah. Dengan berproduksinya tambang emas Pongkor.600 kilogram emas dan 1. pemanfaatan cadangan bauksit berkadar rendah di Pulau Bintan dan pengembangan cadangan bauksit di Kalimantan Barat merupakan pertimbangan pokok untuk pendirian pabrik alumina di Indonesia. disertai dengan upaya pengembangannya ke arah industri hilir. Sulawesi. Di Pulau Jawa akan dilakukan eksplorasi yang lebih intensif sehingga pada akhir Repelita VI dapat diketahui secara pasti potensi daerah yang akan dikembangkan. Usaha penelitian pembuatan tawas cair dari bahan baku bauksit.761 ribu ton. produksi emas dan perak pada akhir Repelita VI akan meningkat menjadi 70. Dalam Repelita VI produksi emas dan perak akan ditingkatkan. akan dilanjutkan dalam Repelita VI.

U n t u k me n c a p a i t i n gk a t pr o d u ks i t e r s e b ut . dalam masa Repelita VI akan dilakukan penelitian dan kemungkinan investasi untuk mengembangkan industri barang perhiasan. Gas Bumi. Usaha ini akan membantu pengembangan daerah dan penataan serta pemantapan usaha pertambangan rakyat. 3) Pertambangan Minyak Bumi. dan Panas Bumi Dalam Repelita VI direncanakan mengeksplorasi minyak dan gas bumi pada satu cekungan tersier yang belum dibor. Industri pengolahan hasil pertambangan berteknologi tinggi. bahan baku untuk industri elektronik.Mengingat banyaknya cadangan emas dalam jumlah kecil yang dimungkinkan untuk ditambang dengan tambang terbuka. Pengembangan bahan galian industri akan lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan bahan baku konstruksi. seperti produksi keramik halus. a ka n d i l a ku ka n 294 . logam baru.5 juta barel pada akhir Repelita VI. dan berbagai industri pengolahan di dalam negeri. Produksi pasir besi akan ditingkatkan dalam Repelita VI. dan logam tanah langka akan dirintis dan dikembangkan. Evaluasi potensi pasir besi Lumajang akan dilanjutkan dalam rangka pendirian pabrik semen di daerah Jawa Timur. produksi minyak bumi diperkirakan 547. pertanian. seiring dengan peningkatan kapasitas pabrik semen dalam negeri. Melalui upaya peningkatan eksplorasi dan pengurasan lanjut. Usaha pemanfaatan pasir besi Cilacap serta Kutoarjo dalam skala kecil atau menengah yang telah dimulai sejak Repelita V akan diterus kan dengan pengkajian kemungkinan pendirian pabrik pengolahan pasir besi. Dengan adanya potensi pasar yang baik untuk barang perhiasan. bahan komposit. dalam masa Repelita VI akan dievaluasi kemungkinannya untuk membuka tambang emas dengan kapasitas produksi ekonomis di bawah 1 ton per tahun.

Untuk itu. Gunung Wayang Windu (40 megawatt).042 ribu barel per hari takwim (thousands barrels per calendar day.3 juta ton per tahun. Dengan makin meningkatnya kebutuhan BBM. Untuk itu. yang akan beroperasi sebelum akhir Repelita VI.5 juta ton per tahun. dan Gunung Buyan Bratan (40 megawatt). Produksi gas bumi diproyeksikan mencapai 2. Untuk itu. modifikasi kilang Balikpapan 295 . Sejalan dengan upaya peningkatan minyak mentah yang diolah di dalam negeri. Gunung Dieng (55 megawatt). dan penyempurnaan alat-alat kilang sehingga kapasitas kilang dapat ditingkatkan menjadi 1. Gunung Sibayak (20 megawatt). Dari potensi panas bumi sebesar 16. Gunung Lahendong (20 megawatt).pengeboran sumur pengembangan sebanyak 773 buah sumur rata rata per tahun. akan dilakukan pengoptimalan penggunaan kilang melalui perbaikan. Gunung Patuha (40 megawatt). direncanakan pendirian kilang LNG Train G di Bontang dengan kapasitas 2. Dalam Repelita VI diupayakan untuk mempertahankan dan meningkatkan ekspor LNG sekaligus peningkatan konsumsi LNG di dalam negeri. Gunung Darajat (110 megawatt). dalam Repelita VI akan dilaksanakan upaya penambahan kapasitas kilang seperti pembangunan kilang mini di Kasim.7 miliar kaki kubik per hari atau 94 persen dari produk si.7 juta ton pada tahun pertama menjadi sebesar 28 juta ton pada tahun terakhir Repelita VI. pangsa ekspor minyak mentah diperkirakan akan mulai berkurang.000 megawatt direncana kan untuk dimanfaatkan sebesar 1. penyempurnaan kilang Balikpapan I.025 megawatt pada akhir Repe lita VI. penyesuaian. Gunung Lumut Balai (20 megawatt). Gunung Ulubelu (20 megawatt). MBCD) pada akhir Repelita VI.960 miliar kaki kubik pada akhir Repelita VI dengan tingkat pemanfaatan rata -rata sebesar 7. Gunung Kamojang (55 megawatt). Produksi LNG akan ditingkatkan dari 25. sedangkan produksi LPG sekitar 3. akan dilakukan pengembangan lapangan Gunung Salak (200 megawatt). Gunung Sarula (110 megawatt). Gunung Karaha (55 megawatt).

Demikian pula pendayagunaan prasarana maritim dan kebandaraan. Program Pengembangan Usaha Pertambangan Rakyat Terpadu Program ini ditujukan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pertambangan secara lebih luas dan produktif. dan telekomunikasi akan ditingkatkan kemampuannya. Konsep yang telah ada dan akan terus dikembangkan adalah pola pertambangan skala kecil (PSK). teknik bawah air. Fasilitas pengangkutan minyak mentah dan produk minyak akan ditingkatkan. demikian jugs kinerja untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. dalam Repelita VI akan mulai dipergunakan sebagai bahan baku oleh industri petrokimia di dalam negeri. 296 .II.7 juta DWT pada akhir Repelita VI. galangan kapal. Sistem angkutan dengan pemindahan dari kapal ke kapal di Teluk Semangka akan mulai ditinggalkan. dan pengembangan sistem transportasi BBM terpadu akan ditingkatkan. Untuk mengangkut BBM ke seluruh wilayah Nusantara. diperlukan armada kapal tanker dengan kapasitas 4. Sistem jaringan pipa penyaluran minyak beserta terminal distribusinya juga akan ditingkatkan kemampuannya dalam memperlancar distribusi BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk itu. sehingga tambahan kapasitas kilang mencapai sekitar 165 MBCD. Sasaran yang akan dicapai melalui PSK ini ialah membina dan menyalurkan potensi rakyat dalam suatu konsep kegiatan pertambangan yang tertata dan mendukung sistem perekonomian nasional. dan perbaikan kilang Cilacap. yang dirintis sejak tahun 1991. Produk non-BBM terutama Low Sulphur Waxy Residue (LSWR) dan nafta. akan dilakukan peningkatan pembinaan terhadap potensi usaha pertambangan rakyat dalam bentuk program terpadu yang merupakan bagian dari sistem pertambangan nasional yang tangguh. c.

PSK sebagai kegiatan pertambangan tidak dapat dilepaskan dari masalah kewilayahan sehingga pemerintah daerah dilibatkan secara aktif sebagai pembina teknis di lapangan. dan bilamana mungkin ditingkatkan kemampuannya sesuai dengan pola PSK. Kegiatan pertambangan rakyat yang telah ada akan dibina. melaksanakan upaya pencadangan usaha pertambangan rakyat secara proaktif pada lokasi yang cocok dengan konsep PSK. perlindungan terhadap kerusakan lingkungan. Jika dilihat sifat. akan ditingkatkan pula penataan dan pembinaan terhadap usaha pertam bangan rakyat lainnya serta dipersiapkan wilayah pencadangan yang sesuai untuk usaha tersebut. 297 . Hal ini jugs sesuai dengan ciri -ciri usaha pertambangan rakyat dan tujuan membangun ekonomi di daerah perdesaan. Di samping pembinaan yang terpadu dan utuh tersebut. keterkaitan dengan industri pengolahan. serta mendukung pengembangan wilayah. melalui pengembangan sistem pertambangan yang terpadu dan sesuai dengan permasa lahan yang dihadapi masyarakat penambang setempat. dan kemampuan rakyat setempat untuk ikut berperan aktif dalam usaha pertambangan yang berskala ekonomis sehingga mampu meningkatkan kesempatan berusaha dan perluasan lapangan kerja serta peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. bentuk organisasi usaha yang sesuai untuk dikembangkan adalah koperasi. menyediakan wadah pembinaan bagi peningkatan peran serta rakyat dalam pertambangan oleh Pemerintah dan para pelaku ekonomi yang kuat. Cara ini merupakan kegiatan sektor pertambangan dalam upaya pemerataan pembangunan dan pengentasan rakyat dari kemiskinan di daerah perdesaan. kemitraan usaha yang saling meng untungkan dengan pertambangan besar. serta tujuan pengembangan PSK. mendorong terselenggaranya pemanfaatan kekayaan sumber daya alam oleh rakyat dengan daya guna dan hasil guna yang lebih besar. pola. kebutuhan. pemasaran hasil dan jasa pelayanan lainnya.memberikan wahana ekonomi yang sesuai dengan aspirasi.

Peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang geologi dan sumber daya mineral akan dilaksanakan secara bertahap melalui penerapan teknologi maju. tanah longsor. pemanfaatan jasa satelit untuk peringatan dini bahaya gunung api. Program Penunjang a. amblasan. dan uji mineral logam serta mineral industri. Peningkatan efisiensi di bidang pertambangan mineral dan batu bara dilakukan melalui kegiatan pembakuan komoditas tambang. pengembangan sistem telemetri untuk seismik. Untuk meningkatkan efisiensi dalam kegiatan geologi dan pertambangan dilaksanakan pengembangan standardisasi dan manajemen.2. seperti survei geofisika udara. pemetaan digital. dan gunung api. Alat-alat deformasi akan digunakan untuk memantau gerakan tanah. dan aktivitas gunung api. Dalam Repelita VI direncanakan pembakuan peta dasar geologi untuk 25 jenis peta dan penyusunan prosedur tetap mitigasi bencana alam geologis seperti gempa bumi. dan untuk pengamatan gempa bumi dan amblasan. penerapan geographic information system (GIS). standar keselamatan kerja tambang dan lingkungan hidup tambang. dan parameter fisika lainnya. Peningkatan efisiensi dalam perusahaan minyak dan gas bumi akan diusahakan melalui penerapan manajemen reservoir dalam 298 . Program Penelitian dan Pengembangan Pert ambangan Program ini ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertambangan dan pengolahan hasil tambang dalam rangka peningkatan efisiensi dan mutu hasil tambang dengan meningkatkan serta mempercepat pelaksanaan penelitian dan pengembangan terapan. teknik penambangan serta pengolahan hasil tambang.

pengoptimalan pengembangan lapangan. penurunan biaya .

dan Ketenagakerjaan Pertambangan Program ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta masya rakat melalui pengembangan sistem informasi. gunung api. dan sumber daya mineral. Penyuluhan. termasuk dunia usaha. Pangsa pembelian barang dan jasa dalam negeri secara bertahap ditingkatkan sejalan dengan peningkatan daya saingnya. pengurasan lanjut. calon atau pemegang kuasa pertam - 299 . Penerbitan peta-peta. Program Pendidikan. diversifikasi dan konservasi energi. buku panduan. serta gerakan tanah. peningkatan nilai tambah. produksi. geofisika. pemurnian dan pengolahan. buletin dan yang berkaitan dengan geologi. Kegiatan penyuluhan akan ditingkatkan. kelestarian fungsi lingkungan hidup. Penelitian dan pengembangan pertambangan diarahkan pula pada upaya peningkatan cadangan. dan penyuluhan hukum di bidang pertambangan mineral dan energi kepada pemerintah daerah. penggunaan gas untuk menggantikan pemakaian minyak mentah dalam pengurasan tahap lanjut. Pelatihan. b. dan sumber daya mineral akan ditingkatkan. Peningkatan pemanfaatan produksi dalam negeri dan kan dungan lokal akan didorong melalui pengembangan kemampuan perekayasaan dan rancang bangun alat-alat pertambangan dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). penyuluhan. dan pemanfaatan gas bumi buangan untuk kilang LPG kecil.eksplorasi. dan teknologi material baru. pemakaian gas bumi sebagai bahan bakar di lapangan minyak. geologi lingkungan. informasi tentang air tanah. dan pelayananan kepada masyarakat. khususnya tentang bahaya gempa bumi. gunung api.

dan kepada masyarakat luas. .bangan.

Program Pembinaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Program ini ditujukan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan dan kepedulian sosial melalui perencanaan yang terpadu dengan memasukkan aspek penambangan yang berwawasan lingkungan secara dini. Pengembangan sumber daya manusia di bidang pertambangan akan lebih ditingkatkan lagi melalui pendidikan. dan masyarakat di sekitar tempat kerja. pengembangan karier melalui jalur jabatan fungsional. 300 . dan menyusun standar keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan teknologi. serta pemanfaatan limbah. pemanfaatan dana iuran wajib pendidikan dan pelatihan. serta pendidikan dan pelatihan teknis lainnya. baik di dalam negeri maupun di luar negeri. melakukan inspeksi yang teliti. dan intensifikasi pendidikan dan pelatihan dalam upaya menggantikan tenaga kerja asing. Peningkatan keselamatan kerja di bidang pertambangan akan diusahakan dengan mengintensifkan penyuluhan pekerja. c. rencana pengelolaan lingkungan (RKL). Kemampuan pelaksana inspeksi tambang di lingkungan pertambangan akan ditingkatkan dan tugas inspeksi tambang akan dipertimbangkan untuk dijadikan jabatan fungsional. serta pengembangan teknologi bersih. penyempurnaan peraturan dan prosedur kerja dalam proses kegiatan pertambangan. penyempurnaan terhadap pelaksanaan dan pengawasan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). pengusaha. reklamasi dan pemanfaatan lahan pascatambang secara produktif melalui penerapan konsep penambangan berkelanjutan dan pemanfaatan lahan berganda. teknologi daur ulang.Penyerapan tenaga kerja pertambangan akan ditingkatkan melalui koordinasi antarsektor serta dukungan terhadap bursa tenaga kerja.

dan paket pembimbingan teknis juru bor. Program Pengembangan Usaha Nasional Program ini ditujukan untuk mendorong dan meningkatkan kemampuan usaha nasional. yang mencakup aspek fiskal dan moneter serta pendukungnya. industri pertambangan didorong untuk melibatkan masyarakat di sekitar tempat kegiatan dengan membangun sarana kesehatan. Bantuan yang direncanakan meliputi pembimbingan teknis eksplorasi bahan galian industri. d. paket pembimbingan teknis pengeboran. Dalam rangka peningkatan kepedulian sosial. Peran koperasi dan swasta nasional dalam pengusahaan pertambangan didorong dalam bentuk kerja sama dengan BUMN dan swasta asing. pelaksanaan inspeksi tambang. termasuk sistem perizinan. Peningkatan partisipasi dunia usaha di bidang pertambangan akan didorong dengan memberikan paket pembimbingan teknis kepada koperasi dan swasta nasional. Selain itu. Kebijaksanaan investasi akan lebih disempurnakan. 301 . pemerataan pembangunan dan pengentasan penduduk dari kemiskinan. yang dapat pula dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. pendidikan dan fasilitas kemasyarakatan lain. dan pengalokasian lahan usaha pertambangan serta penertiban usaha pertambangan tanpa izin.Dalam Repelita VI direncanakan akreditasi laboratorium penguji. Penciptaan iklim investasi yang menarik akan dikembangkan sehingga mendorong para investor untuk berusaha di bidang pertambangan. akan dikembangkan pula paket teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha. terutama usaha skala menengah dan kecil. penyempurnaan peraturan pelaksanaan pengawasan mengenai pengelolaan lingkungan pertambangan. pedoman teknis reklamasi lahan pascatambang.

pembangunan dan pengelolaan pipa transmisi gas. antara lain. serta berbagai kegiatan jasa lainnya. pemanfaatan gas skala kecil. pengangkutan dan penyaluran BBM dan non-BBM. 302 . melalui pendidikan dan pelatihan. akan ditingkatkan pemantauan produksi dan penjualan bahan galian para pemegang kuasa pertambangan atau kontrak karya. Program Peningkatan Kerjasama Internasional Program ini dilaksanakan sebagai bagian integral dari pem bangunan pertambangan dalam rangka mempercepat alih teknologi. akan dilanjutkan usaha deregulasi dan debirokratisasi dalam perizinan. Di samping itu. komputerisasi sistem informasi kemineralan yang terpadu meliputi proses dan data usaha pertambangan. penyederhanaan proses pelaksanaan pemberian kuasa pertambangan. dan bimbingan teknis terutama untuk usaha koperasi dan swasta nasional.Untuk meningkatkan peran serta swasta dan koperasi di bidang minyak bumi. dan pendanaan juga akan dikembangkan untuk mulai beroperasi di luar negeri. Upaya tersebut dilaksanakan. Industri minyak dan gas bumi Indonesia yang telah berpengalaman lebih dari seabad dan kemampuan nasional yang telah berkembang dalam teknologi. Dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di bidang usaha pertambangan mineral dan energi. serta peningkatan arus investasi di bidang pertambangan. gas bumi. e. iklim investasi akan dibuat lebih menarik sehingga pihak swasta dan koperasi dapat didorong dalam meningkatkan kemampuannya. dan penye lesaian masalah tumpang tindih lahan pertambangan. peng ikutsertaan dalam pembangunan kilang dan industri petrokimia. peningkatan pelayanan dalam pemrosesan kontrak karya. dan panas bumi. stabilisasi harga dan produksi komoditas. keahlian.

Australia. serta pengusahaan bersama sumber daya minyak dan gas bumi. baik secara bilateral maupun multilateral. VI. Rencana anggaran pembangunan pertambangan untuk tahun pertama dan selama Repelita VI menurut sektor.0 juta. kerja sama antarnegara berkembang akan terus digalakkan dengan semangat saling membantu dan saling menguntungkan. dan berbagai negara berkembang. Jepang. dan panas bumi. sub sektor dan program dalam sistem APBN dapat dilihat dalam Tabel 25-3. akan ditingkatkan. Dalam programprogram tersebut. yang akan dibiayai dengan anggaran pembangunan selama Repelita VI (1994/95 . Dalam Repelita VI akan terus diupayakan peningkatan kerja sama internasional dalam rangka studi dan alih teknologi di bidang geologi dan sumber daya mineral. Demikian pula. penyelesaian masalah landas kontinen. Kerja sama di bidang komoditas pertambangan mineral dan energi terutama dengan badan-badan internasional. Kerja sama bilateral dengan berbagai negara akan dilaksanakan untuk kelancaran perdagangan dan ekspor.439. Jerman. akan tetap dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan nasional. Amerika Serikat.Kerja sama internasional di bidang minyak bumi. 303 .1998/99) adalah sebesar Rp. Demikian juga. RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN DALAM REPELITA VI Program-program pembangunan tersebut di atas dilaksanakan baik oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat. diusahakan peningkatan pemanfaatan data dan informasi dari badan-badan internasional sebagai bahan evaluasi guna menetapkan strategi pengembangan industri pertambangan nasional. gas bumi. Di bidang penelitian dan pengembangan akan dilakukan kerja sama internasional antara lain dengan Korea. yang merupakan program dalam bidang pertambangan.840.

1.0 1.03 1994/95 1994/95 — 1998/99 SEKTOR PERTAMBANGAN DAN ENERGI Sub Sektor Pertambangan Program Pengembangan Geologi dan Sumber Daya Mineral Program Pembangunan Pertambangan Program Pengembangan Usaha Pertambangan Rakyat Terpadu 43.000.0 23.870.Tabel 25 – 3 RENCANA ANGGARAN PEMBANGUNAN PERTAMBANGAN Tahun Anggaran 1994/95 dan Repelita VI (1994/95 — 1998/99) (dalam juta rupiah) No.000.920.1.0 141.350.01 07.570.0 10.1 07.02 07. Sektor/Sub Sektor/Program Kode 07 07.0 304 .0 287.1.

.

~.ullmll .