GAGAL GINJAL  Pengertian Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi

renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Gagal ginjal kronis terjadi dengan lambat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dengan penurunan bertahap dengan fungsi ginjal dan peningkatan bertahap dalam gejala-gejala, menyebabkan penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Gagal ginjal kronis biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Gangguan fungsi ginjal adalah penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan ringan, sedang dan berat. Azotemia adalah peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan ditegakkan bila konsentrasi ureum plasma meningkat. Etiologi Gagal ginjal kronik merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversible dari berbagai penyebab. Sebab-sebab gagal ginjal kronik yang sering ditemukan dapat dibagi menjadi delapan kelas. Klasifikasi sebab-sebab gagal ginjal kronik :  Infeksi : Pielonefritis kronik  Penyakit peradangan : Glomerulonefritis  Penyakit vascular hipertensi : Nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis.  Gangguan jaringan penyambung : Lupus eritematosus sistemik, Poliarteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif.  Gangguan kongerital dan hereditas : Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal.  Penyakit metabolic : Diabetes militus, gout, hiperpara tiroidisme, amiloidosis.  Nefropati toksik : Penyalahgunaan analgesik, nefropati timbale  Nefropati obstruktif : Saluran kemih bagian atas kalkuli , neoplasma, fibrosisretroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostate, struktur urea, anomaly kongetal pada leher kandung kemih dan uretra.  Tanda dan gejala Penurunan fungsi ginjal akan mengakibatkan berbagai manifestasi klinik mengenai dihampir semua sistem tubuh manusia, seperti:  Gangguan pada Gastrointestinal Dapat berupa anoreksia, nausea, muntah yang dihubungkan dengan terbentuknya zat toksik (amoniak, metal guanidin) akibat metabolisme protein yang terganggu oleh bakteri usus sering pula faktor uremikum akibat bau amoniak dari mulut. Disamping itu sering timbul stomatitis, cegukan juga sering yang belum jelas penyebabnya. Gastritis erosif hampir dijumpai pada 90 % kasus Gagal Ginjal Kronik, bahkan kemungkinan terjadi ulkus peptikum dan kolitis uremik.  Kulit Kulit berwarna pucat, mudah lecet, rapuh, kering, timbul bintik-bintik hitam dan gatal akibat uremik atau pengendapan kalsium pada kulit.  Hematologi Anemia merupakan gejala yang hampr selalu ada pada Gagal Ginjal Kronik. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal tanpa disertai anemia perlu dipikirkan apakah suatu Gagal Ginjal Akut atau Gagal Ginjal Kronik dengan penyebab polikistik ginjal yang disertai polistemi. Hemolisis merupakan sering timbul anemi, selain anemi pada Gagal Ginjal Kronik sering disertai pendarahan akibat gangguan fungsi trombosit atau dapat pula disertai trombositopeni. Fungsi leukosit maupun limposit dapat pula terganggu sehingga pertahanan seluler terganggu, sehingga pada penderita Gagal Ginjal Kronik mudah terinfeksi, oleh karena imunitas yang menurun.  Sistem Saraf Otot Penderita sering mengeluh tungkai bawah selalu bergerak-gerak (restlesslessleg syndrome), kadang tersa terbakar pada kaki, gangguan syaraf dapat pula berupa kelemahan, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, tremor, kejang sampai penurunan kesadaran atau koma.  Sistem Kardiovaskuler Pada gagal ginjal kronik hampir selalu disertai hipertensi, mekanisme terjadinya hipertensi pada Gagal Ginjal Kronik oleh karena penimbunan garam dan air, atau sistem renin angiostensin aldosteron (RAA). Sesak nafas merupakan gejala yang sering dijumpai akibat kelebihan cairan tubuh, dapat pula terjadi perikarditis yang disertai efusi perikardial. Gangguan irama jantung sering dijmpai akibat gangguan elektrolit.  Sistem Endokrin Gangguan seksual seperti penurunan libido, ion fertilitas sering dijumpai pada Gagal Ginjal Kronik, pada wanita dapat pula terjadi gangguan menstruasi sampai aminore. Toleransi glukosa sering tergangu paa Gagal Ginjal Kronik, juga gangguan metabolik vitamin D.  Gangguan lain Akibat hipertiroid sering terjadi osteoporosis, osteitis, fibrasi, gangguan elektrolit dan asam basa hampir selalu dijumpai, seperti asidosis metabolik, hiperkalemia, hiperforfatemi, hipokalsemia.  Pemerikasaan Penunjang Urine Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tak keluar (anuria) Warna : Secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus bakteri, lemak, partikel koloid, forfat atau urat. Sedimen kotor, kecoklatan menunjukan adanya darah, HB, mioglobin. Berat jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukan kerusakan ginjal berat). Osmolalitas : Kurang dari 350 mosm/kg menunjukan kerusakan tubular, dan rasio urine/serum sering 1:1 Klirens keratin : Mungkin agak menurun Natrium : Lebih besar dari 40 m Eq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium. Protein : Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada. Darah BUN / Kreatin : Meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi kadar kreatinin 16 mg/dL diduga tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5) Hitung darah lengkap : Ht : Menurun pada adanya anemia Hb:biasanya kurang ari 78 g/dL SDM : Waktu hidup menurun pada defisiensi aritropoetin seperti pada azotemia. GDA : pH : Penurunan asidosis metabolik (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengeksresi hydrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun, PCO2 menurun . Natrium Serum : Mungkin rendah (bila ginjal “kehabisan Natrium” atas normal (menunjukan status dilusi hipernatrem ia).

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL GINJAL 1. Magnesium/Fosfat : Meningkat Kalsium : Menurun Protein (khususnya Albumin) : Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine. (Rencana Askep. kista. keluar batu. Marilyn E Doenges dkk)  Pencegahan Pemeliharaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang menjadi insufisiensi. penurunan rentang gerak  Sirkulasi Adanya riwayat hipertensi lama atau berat. Pada tahap akhir. Diberikan supplemen vitamin D dan dilakukan paratiroidektomi atas indikasi.  Modifikasi terapi obat dengan fungsi ginjal Banyak obat-obatan yang harus diturunkan dosisnya karena metabolitnya toksik dan dikeluarkan oleh ginjal. perubahan EKG mungkin tidak terjadi sampai kalium 6. Foto Kaki. sering sama dengan urine. menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala.  Kontrol ketidaksemibangan elektrolit Yang sering ditemukan adalah hiperkalemia dan asidosis berat. Deteksi melalui kadar kalium plasma dan EKG.  Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang ginjal Hiperfosfatemia dikontrol dengan obat yang mengikat fosfat seperti alumunium hidroksida (300-1800 mg) atau kalsium karbonat (500-3000mg) pada setiap makan. DUJ. Biasanya diusahakan hingga tekanan vena juga harus sedikit meningkat dan terdapat edema betis ringan. kegagalan untuk bertahan. EKG : Mungkin abnormal menunjukan ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa. obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas. kelebihan cairan yang meningkat. perpindahan cairan. Biopsi Ginjal : Mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histoligis. Pengkajian  Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan sebelumnya Berapa lama klien sakit. penurunan pemasukan. Endoskopi Ginjal. Pengawasan dilakukan melalui berat badan. perikarditis. Namun hati-hati dengan toksisitas obat tertentu. bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak. misalnya tetrasiklin. kortikosteroid dan sitostatik. obat-obatan yang berhubungan dengan eksresi kalium (misalnya penghambat ACE dan obat anti inflamasi non steroid).  Deteksi dini dan terapi infeksi Pasien uremia harus diterapi sebagai pasien imuosupresif dan diterapi lebih ketat. urine. Osmolalitas Serum : Lebih besar dari 285 mOsm/kg. . neurepati perifer. Tengkorak. Indikasi dilakukan dialysis biasanya adalah gagal ginjal dengan klinis yang jelas meski telah dilakukan terapi konservatif atau terjadi komplikasi. Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi. refluks ke dalam ureter. sering diperlukan diuretik loop. Ultrasono Ginjal : Menentukan ukuran ginjal dan adanya massa. sementara pasien lain mungkin memerlukan suplemen natrium klorida atau natrium bikarbonat oral. palpatasi. Nefroskopi : Dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal. apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. asidosis berat. Pada beberapa pasien. Arteriogram Ginjal : Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskular massa. amfoterisin dan alupurinol.  Aktifitas / istirahat : Kelelahan ekstrem. dihindari masukan kalium yang besar (batasi hingga 60 mmol/hari). terensi. keseimbangan garam dan cairan diatur tersendiri tanpa tergantung tekanan darah. Untuk mencegah hiperkalemia. Misalnya digoksin. kehilangan tonus. hematuria dan pengangkatan tumor selektif. atau kekurangan garam yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut dalam kaliuresis. Gejala-gejala asidosis baru jelas bila bikarbonat plasma kurang dari 15 mmol/liter biasanya terjadi pada pasien yang sangat kekurangan garam dan dapat diperbaiki secara spontan dengan dehidrasi. nadi kuat. Sistouretrogram Berkemih : Menunjukan ukuran kandung kemih. nyeri dada (angina) Hipertensi. furosemid dosis besar (250-1000 mg/hari) atau diuretic 100p (bumetanid. bagaimana penanganannya. Namun perbaikan yang cepat dapat berbahaya. sehingga diperlukan dialysis.  Kontrol hipertensi Bila tidak terkontrol dapat terakselerasi dengan hasil akhir gagal kiri pada pasien hipertensi dengan penyakit ginjal.Kalium : Peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan.  Persiapan dialysis dan program transplantasi Segera dipersiapkan setelah gagal ginjal kronik dideteksi. Juga obat-obatan yang meningkatkan katabolisme dan ureum darah. hiperkalemia yang meningkat. analgesic opiat. edema jaringan umum dan pitting pada kaki. aminoglikosid. kelemahan. malaise Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen) Kelemahan otot. Sampai menjadi kegagalan ginjal. atau penurunan sintesis karena kurang asam amino esensial.  Pengobatan / Penatalaksanaan Tujuan penatalaksaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. selain obat anti hipertensi. mendapat terapi apa. KUB fota : Menunujukkan ukuran ginjal / ureter / kandung kemih dan adanya obstruksi (batu) Piolegram Retrograd : Menunujukkan abnormallitas pelvis ginjal dan ureter. Kolmna Spiral dan Tangan : Dapat menunjukan demineralisasi. diuretik hemat kalium. infeksi yang mengancam jiwa. telapak tangan.  Deteksi dan terapi komplikasi Awasi denagn ketat kemungkinan ensefelopati uremia. dan pencatatan keseimbangan cairan (masukan melebihi keluaran sekitar 500 ml).5 MPq atau lebih besar. Adapun penatalaksaannya sebagai berikut :  Diet tinggi kalori dan rendah protein Diet rendah protein (20-40 g/hari) dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia dan nausea dari uremia.  Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam. Hindari masukan berlebihan dari kalium dan garam. kehamilan). asam etakrinat) diperlukan untuk mencegah kelebihan cairan.

diet berlebihan dan retensi cairan serta natrium. Nyeri / kenyamanan Nyeri panggul. mudah terangsang. kulit coklat kehijauan. coklat. gelisah. normotermia dapat secara aktual terjadi peningkatan pada pasien yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal. atau konstipasi Perubahan warna urine. oliguria. marah. kehilangan memori. sakit kepala. Pucat. perasaan tak berdaya. kuning. Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini / berulang. contoh kuning pekat. kacau. kuku rapuh dan tipis. rasa terbakar pada telapak kaki. Anoreksia. nefritis heredeter. Takipnea. oliguria. kesemutan dan kelemahan. Intervensi Diagnosa I Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine. Neurosensori Sakit kepala. 2. anuria (pada gagal ginjal tahap lanjut) Abdomen kembung. diet berlebih dan retensi cairan serta natrium. pendarahan gusi/lidah. 3. penurunan tingkat kesadaran. merah. mual dan muntah. batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak. stupor. Penyuluhan / Pembelajaran Riwayat DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal). amenorea. penglihatan kabur. aktivitas kejang. Gangguan status mental. Menolak. hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia. Batuk dengan sputum encer (edema paru). Riwayat terpejan pada toksin. Kemungkinan diagnosa keperawatan dari orang dengan kegagalan ginjal kronis adalah sebagai berikut :  Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine. Perilaku berhati-hati / distraksi. nyeri ulu hati. ansietas. racun lingkungan. Pernapasan Napas pendek. diare. dehidrasi). Ptekie. Makanan / cairan : Peningkatan berat badan cepat (oedema). maliganansi.          Nadi lemah. takut. infertilitas Interaksi sosial Kesulitan menentukan kondisi. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data dari pasien. ketidakmampuan berkonsentrasi. retensi. dan rencana tindakan. mual/muntah. anemia. pembesaran hati (tahap akhir) Perubahan turgor kulit/kelembaban. produk sampah. Keamanan Kulit gatal Ada / berulangnya infeksi Pruritis Demam (sepsis. contoh tak mampu bekerja. Kriteria hasil :  Menunjukkan pemasukan dan pengeluaran mendekati seimbang  Turgor kulit baik  Membran mukosa lembab  Berat badan dan tanda vital stabil  Elektrolit dalam batas normal Intervensi 1. dispnea. Rambut tipis. kram otot/ nyeri kaki.  Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi. mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga. Tujuan : mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan. Kram otot / kejang. contah penurunan lapang perhatian. peningkatan frekuensi / kedalaman. penyakit polikistik. Eliminasi : Penurunan frekuensi urine. yang jarang pada penyakit tahap akhir. syndrome “kaki gelisah”. dan perubahan membrane mukosa mulut. pembatasan diet. contoh obat. perubahan kepribadian. pemeriksaan diagnostik. fasikulasi otot. penurunan berat badan (malnutrisi). tak ada kekuatan. rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia) Penggunaan diuretik Distensi abdomen/asites. area ekimosis pada kulit Fraktur tulang. dispnea. khususnya ekstremiras bawah. Ulserasi gusi. Kejang. Kecenderungan perdarahan Integritas Ego : Faktor stress. kalkulus urenaria. Kaji status cairan : o Timbang berat badan harian o Keseimbangan masukan dan haluaran o Turgor kulit dan adanya oedema o Distensi vena leher .  Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.  Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan. keterbatasan gerak sendi Seksualitas Penurunan libido. tak ada harapan.

mual dan muntah o Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien o Depresi o Kurang memahami pembatasan diet Menyediakan informasi mengenai faktor lain yang dapat diubah atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan diet. Timbang berat badan harian. hal 620). Kaji pola diet nutrisi pasien o Riwayat diet o Makanan kesukaan o Hitung kalori Pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu. . 2. Memberikan pasien tindakan kontrol dalam pembatasan diet. Kondisi fisik umum gejala uremik dan pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan. hal 1452). 4. (Rencana Asuhan Keperawatan. 3. Pantau kreatinin dan BUN serum Perubahan ini menunjukkan kebutuhan dialisa segera. hal 156). (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. daging. Brunner & Suddart. Kaji faktor yang menimbulkan keletihan o Anemia o Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit o Retensi produk sampah o Depresi Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Brunner & Suddart. Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi. hal 1452). bantu jika keletihan terjadi. hal 620). 5. Brunner & Suddart. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat Kriteria hasil :  Mempertahankan/meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu. hal 1452). Kaji / catat pemasukan diet Membantu dalam mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Makanan dan rumah dapat meningkatkan nafsu makan. Brunner & Suddart. 4. (Rencana Asuhan Keperawatan. hal 620). hal 1454). Barbara Ensram. Tinggikan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi : telur. Brunner & Suddart. Berikan pasien / orang terdekat daftar makanan / cairan yang diizinkan dan dorong terlibat dalam pilihan menu. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi. Berikan makan sedikit tapi sering Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/menurunnya peristaltik. Doenges. Marylinn E. 2. (Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan. pembatasan diet perubahan membran mukosa mulut. o Tekanan darah. Brunner & Suddart. susu.2. vol 1. Untuk memantau status cairan dan nutrisi. haluaran urine dan respons terhadap terapi. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. 3. Mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat. Doenges. denyut dan irama nadi Pengkajian merupakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. hal 1454). 8. (Rencana Asuhan Keperawatan. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Batasi masukan cairan : Pembatasan cairan akan menentukan berat badan ideal. mual dan muntah. Marylinn E. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat. hal 1452). Diagnosa III Intoleran aktifitas berhubungan dengan kelelahan. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. 6.  Bebas oedema Intervensi 1. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet Mendorong peningkatan masukan diet 7. Brunner & Suddart. Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi o Anoreksia. hal 1452). hal 1452). Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Brunner & Suddart. 3. Meningkatkan aktivitas ringan/sedang dan memperbaiki harga diri. anemia dan retensi produk sampah Tujuan : Berpartisipasi dalam aktifitas yang dapat ditoleransi Kriteria hasil :  Berkurangnya keluhan lelah  Peningkatan keterlibatan pada aktifitas social  Laporan perasaan lebih berenergi  Frekuensi pernapasan dan frekuensi jantung kembali dalam rentang normal setelah penghentian aktifitas. Marylinn E. Intervensi 1. Diagnosa II Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Doenges.

striktur uretra. kerena dengan CKD dibagi 5 grade. o Pemeriksaan diagnostic termasuk :  Tujuan  Diskripsi singkat  Persiapan yang diperlukan sebelum tes  Hasil tes dan kemaknaan hasil tes. PENGERTIAN Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges.  Sedikit melaporkan perasaan gugup atau takut. fibrosis netroperitoneal. B. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1. Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. dengan harapan klien datang/merasa masih dalam stage – stage awal yaitu 1 dan 2. Brunner & Suddart. untuk menentukan derajat ( stage ) menggunakan terminology CCT ( clearance creatinin test ) dengan rumus stage 1 sampai stage 5. ( Barbara C Long. Intervensi 1. Memberi pasien informasi mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan dan membantu mengembangkan kepatuhan dan kemandirian maksimum.amiloidosis Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat. Berikan informasi tentang : o Sifat gagal ginjal. stenosis arteria renalis Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik. Barbara Engram hal 160). Indiviodu yang berhasil dalam koping dapat pengaruh positif untuk membantu pasien yang baru didiagnosa mempertahankan harapan dan mulai menilai perubahan gaya hidup yang akan diterima.gout.asidosis tubulus ginjal Penyakit metabolik misalnya DM. o Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar. Titik dimana timbulnya gejalagejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% – 90%. nefrosklerosis maligna. (Brunner & Suddarth. produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1. Diagnosa IV Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondis. sedangkan CRF ( cronic renal failure ) hanya 3 stage. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron –nefron rusak. Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisis. poliarteritis nodosa. namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk membatasi kelainan klien pada kasus secara dini. Jamin pasien memahami bahwa gagal ginjal kronis adalah tak dapat pulih dan bahwa lama tindakan diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal.4. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. rencana tindakan dan prognosis. (Price.hiperparatiroidisme.nefropati timbal Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma. (Brunner & Suddarth. Pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penanganan setelah mereka siap untuk memahami dan menerima diagnosis dan konsekuensinya. 1448) Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat. 1999. Barbara Engram hal 159). 2001 : 1448). Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh.biasanya berlangsung beberapa tahun. o Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya. pemeriksaan diagnostic. Pasien sering tidak memahami bahwa dialisa akan diperlukan selamanya bila ginjal tak dapat pulih. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1. PATOFISIOLOGI Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). A. Barbara Engram hal 159). pemeriksaan diagnostic dan rencana tindakan. anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. Kriteria hasil :  Mengungkapkan pemahaman tentangkondisi.pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure ( CRF ).sklerosis sistemik progresif Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik. secara konsep CKD. 368) Fungsi renal menurun.menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). 1996. 2001. yang bagi banyak pasien sangat melelahkan. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. Secara umum ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah CRF. Tujuan : Ansietas berkurang dengan adanya peningkatan pengetahuan tentang penykit dan pengobatan. hal 1454). glomerulonefritis Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna. Pengekspresian perasaan membantu mengurangi ansietas. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Tindakan untuk gagal ginjal berdampak pada seluruh keluarga. 1992. 812) Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease ( CKD ). ETIOLOGI         Infeksi misalnya pielonefritis kronik. Klasifikasi Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium : . Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2. Bila mungkin atur untuk kunjungan dari individu yang mendapat terapi. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis C. 2. o Sediakan waktu untuk pasien dan orng terdekat untuk membicarakan tentang masalah dan perasaan tentang perubahan gaya hidup yang akan diperlukan untuk memiliki terapi. 626) Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit.

dan cegukan. mual. 2001 : 1449) antara lain : hipertensi. Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia. pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah. mual disertai muntah. dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak. 2. kelelahan fisik dan mental.Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal. anoreksia. 1996 : 369): 1. depresi Gejala yang lebih lanjut : anoreksia.73m2 Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1.73m2 atau gagal ginjal terminal. kejang.73m2 Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1. mudah tersinggung. berat badan berkurang. udem yang disertai lekukan. sakit kepala. gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik. tidak mampu berkonsentrasi). Gejala dini : lethargi. nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak.73 m2 Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1. Stadium 2 : insufisiensi ginjal. Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus : Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg ) 72 x creatini serum Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0. pada stadium kadar kreatinin serum normal dan penderita asimptomatik. muntah. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer. dan kreatinin serum meningkat. Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat. kedutan otot.85 MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinik antara lain (Long. K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG : Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1. (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin angiotensin – aldosteron). perubahan tingkat kesadaran. pruritis.73 m2 Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful