P. 1
teori

teori

|Views: 14|Likes:
Published by Vika Delfi Fitria

More info:

Published by: Vika Delfi Fitria on May 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

Konsentrasi minimun penghambatan atau lebih dikenal dengan MIC (Minimum Inhibitory Concentration) adalah konsentrasi terendah dari

antibiotika atau antimikrobial yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba tertentu. MIC dari sebuah antibiotika terhadap mikroba digunakan untuk mengetahui sensitivitas dari mikroba terhadap antibiotika. Nilai MIC berlawanan dengan sensitivitas mikroba yang diuji. Semakin rendah nilai MIC dari sebuah antibiotika, sensitivitas dari bakteri akan semakin besar. MIC dari sebuah antibiotika terhadap spesies mikroba adalah rata-rata MIC terhadap seluruh strain dari spesies tersebut. Strain dari beberapa spesies mikroba adalah sangat berbeda dalam hal sensitivitasnya. (Jawetz et al.,1996). E. Jawetz, George F. Brooks, Janet S. Butel, Stephen A. Morse.2001. Jawetz, Melnick and Adelberg's Medical Microbiology. McGraw-Hill (Lange Medical Books) Tetrasiklin merupakan agen antimikrobial hasil biosintesis yang memiliki spektrum aktivitas luas. Mekanisme kerjanya yaitu blokade terikatnya asam amino ke ribosom bakteri (sub unit 30S). Aksi yang ditimbulkannya adalah bakteriostatik yang luas terhadap gram positif, gram negatif, chlamydia, mycoplasma, bahkan rickettsia. Generasi pertama meliputi tetrasiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin. Generasi kedua merupakan penyempurnaan dari sebelumnya yaitu terdiri dari doksisiklin, minosiklin. Generasi kedua memilki karakteristik farmakokinetik yang lebih baik yaitu antara lain memiliki volume distribusi yartg lebih luas karena profil lipofiliknya. Selain itu bioavailabilitas lebih besar, demikian pula waktu paruh eliminasi lebih panjang (> 15 jam). Doksisiklin dan minosiklin tetap aktif

terhadapstafilokokus yang resisten terhadap tetrasiklin, bahkan terhadap bakteri anaerob seperti Acinetobacter spp, En-terococcus yang resisten terhadap Vankomisin sekalipun tetap efektif ( Boyd, 1980). Boyd, Robert F., 1988. General Microbiology. Second Edition. Times Mirror/Mosby College Publishing. Kemampuan antibiotic tetrasiklin untuk mencegah dan menekan hidup bakteri agar tidak berkembang di dalam tubuh secara sporadis. Antibiotic tetrasiklin ini di buat dari senyawa yang diambil dari inang bakteri yaitu dari kelompol Stretomyces. Cara kerja dari antibiotik tetrasiklin ini adalah dengan menghambat proses sintesis protein dari bakteri yang menyerang dalam tubuh. Akibatnya bakteri tidak dapat tumbuh dan berkembang didalam

tubuh. Ini menyebabkan pola destruktif terhadap bakteri tersebut . Untuk bakteri
tetrasiklin bakteri yang terpilih adalah Staphyloccoccus aureus ( Anne Ahira, 2009)

Anne Ahira. 2009. Antibiotika Tetrasiklin Tersedia di .http://www.anneahira.com/antibiotic tetrasiklin.htm [diakses pada tanggal 13 April 2013]

Nutrient broth merupakan media cair tempat penanaman bakteri ,Nutrient
Broth . Nutrient broth merupakan media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair. Sedangkan Nutrient Broth double strengthmengandungi kandungan nutrisi dua kali ganda daripada Nutrient Broth biasa. Maka ini dapat membedakan efektivitas antibiotik terhadap bakteri pada masingmasing nutrient broth (azinudin,2009). Azinudin,ahmad.2009. tersedia di http://umpir.ump.edu.my753/1/AHMAD _AZINUDIN_BIN_ZAKARIA.pdf Dalam MIC ini perlu adanya pengenceran dimana Pengenceran pada prinsipnya hanya
menambahkan pelarut saja, sehingga jumlah mol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut sesudah pengenceran. Dengan kata lain jumlah mmol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah mmol zat terlarut sesudah penegenceran atau jumlah gr zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah gr zat terlarut sesudah pengenceran. Rumus sederhana pengenceran sebagai berikut : M1V1 = M2V2 (lansida,2010).

Lansida.2010 tersedia di:http//lansida.blogspot.com/2010/10/pengenceranlarutan .
Prinsip dasar metode MIC cair adalah dengan cara memberikan bakteri / kuman uji dengan kepadatan tertentu kepada bahan antibakteri yang akan diuji pada konsentrasi yang semakin kecil. Kepekaan bahan uji terhadap bahan anti-bakteri ditentukan dengan pengamatan secara makroskopis setelah masa inkubasi berakhir yaitu dengan melihat ada tidaknya pertumbuhan koloni kuman / bakteri uji dalam tabung ( medium cair ) yang ditandai keruhnya medium cair yang dipakai (Pelczar, 1988). Metode ini digunakan untuk menentukan kadar hambat minimal (KHM) suatu senyawa anti-bakteri. Pada metode ini digunakan erlenmeyer yang diisi media cair dan

sejumlah tertentu bakteri yang diuji, kemudian masing-masing erlenmeyer diisi dengan senyawa yang diuji. Erlenmeyer-erlenmeyer tersebut diinkubasi pada suhu 37 0C selama 24 jam, untuk selanjutnya diamati turbidansi atau kekeruhannya. Konsentrasi terendah senyawa yang memberikan hasil biakan yang mulai tampak jernih merupakan Kadar Hambat Minimal senyawa tersebut. Metode Tube Dilution Test mempunyai keuntungan karena dapat menguji daya bakteriostatik dan bakterisidal sekaligus, namun metode ini hanya dapat menguji satu bahan antibakteri dalam satu kali kegiatan (Pelczar, 1988). Pelczar, Michael, J., dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi I. UI Press, Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->