PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM MENENTUKAN KEABSAHAN AKTA NOTARIS SEBAGAI PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) TENTANG

AKTA JUAL BELI HAK ATAS TANAH Oleh : Diah Nabila, S.H.M.Kn

ABSTRACT This article entitled Legal Considerations In Determining Eligibility Judge Deed For Land Deed Author Officials (PPAT) About the Deed of Sale and Purchase of Land Rights, examines the problems/issues of law: Legal considerations in the decision No.15/PDT.G/2008/PN Judge. PLG about the validity of a Deed as a PPAT deed of sale and purchase of land rights in accordance with a sense of justice; analysis of legal reasoning in the Court of Justice ruling dictum No.15/PDT.G/2008/PN.PLG case. Theoretical basis used in this study is the theory of justice, which was developed by John Rawls, in addition there is a theory as a Notary Public Officials and the theory developed by S.F.Marbun authority, as well as the theory of evidence developed by prof. R. Subekti. This study uses the method of statute approach, case approach, and futuristic approach. Legal materials are used, the primary legal materials, legal materials secondary, and tertiary legal materials. The collection of materials research conducted to identify and inventory the invitation regulations, researching library materials, books and other resources related to this issue. The conclusion to be drawn in this study are legal considerations District Court Judge Class 1 A Special Palembang No.15/PDT.G/2008/PN.PLG the judge to determine the validity of a Deed as a PPAT deed of sale and purchase of land rights in case in the trial examination process in review of the 3 (three) aspects, namely: the legal position, legal relations, and legal facts. And analysis of legal considerations in the dictum of Justice ruling on the case No.15/PDT.G/2008/PN.PLG Judge, Justice in its decision to cancel the Deed as not due to manufacturing procedures PPAT deed of sale that are not properly or legally flawed, but the right pedestal from the rising of the certificate obtained by fraud and forgery, so the decision should not "declare null and void" but "do not have the force of law."

Suprapto . dan 1446 masing-masing atas nama Tergugat IV. Lyly Patrice (Tergugat VI).1436 tersebut di pecah menjadi Sertifikat Hak Milik No. Sujani (Tergugat V).PLG antara Nyonya Dewi Putri Juwita Cindra Muchtar (Penggugat) melawan Kemas H. memeriksa.Sebelah Selatan / depan dengan Jalan besar R. 25 GS.G/2008/PN. PENDAHULUAN Negara Indonesia sebagai negara hukum.15/PDT. Tergugat II mengajukan permohonan kepada tergugat VIII untuk dilakukan pengukuran diatas tanah bekas Hak Pakai No. Jaksa Agung R. Kasus tersebut bermula dari Penggugat memiliki sebidang tanah terletak di Jl. Riris Tarigan . maka untuk mengurus hak baru Penggugat menyerahkan kepada tergugat I untuk mengajukan hak baru yaitu Hak Guna Bangunan. No. Tergugat IV menjual tanah Sertifikat No. Untuk mendukung terciptanya kepastian hukum dalam masyarakat maka diperlukan adanya aparatur hukum yang mewujudkan penegakan hukum. dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya.Sebelah Utara / belakang dengan tanah Ny. Hakim sebagai salah satu aparatur negara yang mewujudkan keadilan dan kepastian hukum. SH.Sebelah Timur / kanan dengan Hidato Arifin . Dalam contoh kasus putusan perkara pengadilan negeri klas 1 A khusus Palembang No. Kemudian Tergugat IV mengajukan permohonan peningkatan Hak dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik. Dalam hal ini Hakim bersikap pasif hanya meneliti perkara yang dimajukan kepadanya dan akhirnya mengadilinya. Tanah tersebut penggugat peroleh dengan cara membeli dari JOHN SADRAK KARAMOY melalui kuasanya Tergugat I sesuai Akta Pengikatan Jual Beli No. kemudian Tergugat I mengoperkan tanah tersebut kepada Tergugat II dihadapan Notaris Zainal Abidin. Karena Penggugat pindah ke Jakarta. 1445. Kemudian terbit Sertifikat Hak Milik No. Abdullah. 50 / 1966 sekarang menjadi 592 M2 dengan batas-batas : . Usman Karim Dan Hadi Djohan (Tergugat III). 05 Kelurahan 26 Ilir Kecamatan Ilir Barat I Palembang seluas 627 M2 bekas Hak Pakai No. Alwi Bin Kemas H. Kemudian Sertifikat . SH. 1436 atas nama tergugat IV dan selanjutnya Sertifikat No. Anwar Johanes (Tergugat IV). Lalu Tergugat II menjual tanah tersebut kepada tergugat III dengan Akta Jual Beli 28 Agustus 2001 di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah Gani Wahid. 01 RW. maka dalam menjalankan segala kehidupan bernegara harus sesuai dengan aturan hukum yang berlaku demi terciptanya kepastian hukum dalam masyarakat.A.Nanang (Tergugat II). SH. Andreas (Tergugat VII). Tohir Bin Kemas H. Nanang (Tergugat I). 38 tanggal 28 Nopember 1979 dihadapan Notaris AMINUS. 1444 kepada tergugat V berdasarkan Akta Jual Beli di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah Kms. yang mempunyai tugas pokok untuk menerima. Kemas H. 1444. 25 Gambar Situasi No. Tergugat III kemudian menjual tanah tersebut kepada Tergugat IV dengan Akta Jual Beli 26 Maret 2002 dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah Iswan Bangsawan. kemudian Tergugat VIII menerbitkan Hak Guna Bangunan atas nama Tergugat II. SH. Oleh karena tanah tersebut berupa bekas Hak Pakai sudah habis waktunya.Sebelah Barat / kiri Arnam Tenda Rapih. dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Palembang (Tergugat VIII). Suprapto RT. 50 / 1966. baru pada tahun 1995 Penggugat mengetahui bahwa Tergugat I justru membuat laporan kehilangan ke pihak Kepolisian.

pangkat maupun kedudukan orang tersebut. Mengkonstatir berarti Hakim menentukan benar tidaknya peristiwa yang dimajukan kepadanya dalam hal ini Hakim harus benar-benar merasa pasti tentang konstateringnya. Abdullah. kekuatan pembuktian materiil yaitu akta tersebut membuktikan bahwa peristiwa yang tercantum dalam akta tersebut benar-benar terjadi dan kekuatan mengikat keluar kepada pihak ketiga. Hakim mempunyai kewajiban untuk mengadili seluruh gugatan dan dilarang menetapkan keputusan yang tidak diminta atau mengabulkan lebih daripada apa yang dituntut (ultra petitum partium). dan mengkonstituir berarti menetapkan hukum kepada yang bersangkutan. Sehubungan dengan hal tersebut di atas dalam mengkonstatir Hakim memerlukan alat-alat bukti. Sebagai akta otentik. akta notaris mempunyai kedudukan istimewa dibandingkan dengan akta dibawah tangan. ¬Diantara akta otentik yang sering dimajukan kepada Hakim sebagai alat bukti dalam perkara perdata adalah akta notaris. Selanjutnya Krisna Harahap menyatakan bahwa : . persangkaan. Dalam menjalankan tugas pokoknya tersebut Hakim selalu melakukan tindakan konstatir. Dari kelima alat bukti yang disebutkan dalam Pasal 164 HIR yaitu surat atau bukti tertulis. saksi. ahli waris dan orangorang yang mendapat hak daripadanya sehingga tidak diperlukan pembuktian lain. SH. Menurut Pasal 178 ayat 2 dan 3 HIR.” Hal ini mempunyai arti bahwa pada hakekatnya pengadilan dalam melaksanakan setiap kegiatan mengadili harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Akta notaris sebagai akta otentik mempunyai dua macam kekuatan pembuktian yaitu kekuatan pembuktian formil dimana akta tersebut membuktikan bahwa para pihak telah menjelaskan apa yang tertulis di dalam akta tersebut. 1446 dijual oleh Tergugat IV kepada Tergugat VII berdasarkan Akta Jual Beli Di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah Kms. pengakuan dan sumpah. Sedangkan tanah Sertifikat No. Pengadilan juga memandang semua orang sama tanpa harus membedakan derajat. Berdasarkan Pasal 165 HIR dan 285 Rbg akta notaris sebagai akta otentik merupakan bukti yang sempurna bagi kedua belah pihak. tidak boleh hanya memeriksa dan memutus sebahagian saja. kualifisir. Undang-Undang nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dalam Pasal 5 ayat (1) menyebutkan bahwa: “Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membedakan orang. dan mengabdikan gugatan selebihnya. Pasal 137 HIR dan Pasal 163 RBg menentukan bahwa pada umumnya kedua belah pihak yang saling berperkara dapat saling meminta satu dari yang lain supaya diserahkan kepada Hakim surat-surat yang berada di tangan masingmasing agar pihak lawan mengetahui isinya.Hak Milik No. Mengkualifisir berarti mencari hubungan hukum bagi peristiwa yang telah dikonstatir tersebut. dan konstituir. Oleh karena itu Hakim harus menggunakan alat-alat yang diperlukan untuk membenarkan anggapannya mengenai peristiwa yang bersangkutan. maka alat bukti yang paling penting adalah alat bukti tertulis terutama alat bukti tertulis otentik yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu. SH. 1445 di jual kepada Tergugat VI berdasarkan Akta Jual Beli di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah Kms. Abdullah. Putusan harus secara total dan menyeluruh memeriksa dan mengadili setiap segi gugatan yang diajukan.

dalam putusan tersebut Hakim telah membatalkan akta Notaris dengan dasar adanya penyalahgunaan keadaan (misbruk van omstandingheden). Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia tanggal 7 Mei 1987 nomor register 3597/K/Pdt/1985 dalam perkara antara Sudarmadji melawan Oenaka demikian juga dalam putusannya tanggal 9 April 1987 nomor register 78 Pk/Pdt/1884 dalam perkara antara Soemantoro melawan Nyonya Siti Dwi Hartini dan kawan-kawan. dan pembatalan sertipikat hak atas tanah termasuk kewenangan administratif yaitu semata-mata menjadi wewenang Badan Pertanahan Nasional. Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa Notaris sebagai PPAT dalam pembuatan akta hanya melakukan tindakan konstatir atas apa yang terjadi.PLG Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus Palembang telah membatalkan akta Notaris sebagai PPAT dengan pertimbangan bahwa akta notaris yang dibuat bertentangan dengan kebenaran materiil. Sebagaimana yang terdapat di dalam majalah Varia Peradilan yang dikutip oleh Purwoto S.“Dalam mengadili Hakim menjatuhkan vonnis atau putusan baik berupa juridictie contentiese yaitu didasarkan adanya persengketaan maupun berupa juridisctie voluntaria yang didasarkan pada permohonan berupa penetapan. Masih berhubungan dengan pembatalan akta Notaris sebagai PPAT yang dilakukan oleh Hakim dalam putusan perkara No. Hal tersebut dilakukan Hakim berdasarkan adanya pendapat bahwa suatu akta notaris sebagai bentuk dari suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik dan sesuai dengan kepantasan yang mengakibatkan Hakim boleh memperluas atau membatasi kewajiban para pihak dalam perjanjian.” Undang-Undang No. dalam hal ini tidak disebutkan bahwa suatu akta notaris dapat dibatalkan.” Selanjutnya Purwoto S. Gandasubrata menyatakan : “Dalam beberapa putusan pengadilan. perubahan.15/PDT. Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Berdasarkan hal tersebut dengan demikian Undang-undang nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Bandingkan dengan putusan Mahkamah Agung RI tanggal 3 November 1971 nomor register 383 K/Sip/1971 dan tanggal 5 September 1973 nomor register 716 K/Sip/1963 yang menyatakan Hakim mempunyai kewenangan terbatas pada penetapan/penentuan siapakah menurut hukum berdasarkan alat-alat bukti yang sah yang berhak atas persil tanah yang bersangkutan sedangkan penarikan. Gandasubrata menambahkan. pencabutan. namun dalam kenyataanya Hakim sering membatalkan akta notaris.G/2008/PN. Hakim menilai akta Notaris yang dimajukan sebagai alat bukti dalam persidangan dapat memberikan putusan berupa akta tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum (buiten effect stellen) atau batal demi hukum (von rechtwege nietig). 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN) dalam Pasal 84 hanya menyebutkan bahwa suatu akta hanya mempunyai kekuatan sebagai akta di bawah tangan atau menjadi batal demi hukum apabila akta tersebut melanggar ketentuan pasal-pasal yang terdapat didalam pasal 84 UUJN tersebut. juga tidak menjelaskan bahwa akta PPAT dapat dibatalkan. dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah tidak menyebutkan secara tegas mengenai adanya kewenangan Hakim untuk menentukan keabsahan suatu akta notaris. apa yang yang . UUJN Nomor 30 Tahun 2004.

yang menyebutkan : Notaris adalah pejabat umum yang satusatunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan. apa yang disampaikan kepadanya. semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain. dan melihat tugas dan pekerjaan Notaris memberikan pelayanan publik (pelayanan pada masyarakat) untuk membuat akta-akta otentik. KERANGKA KONSEPTUAL 1. 43). yang tanda tangannya serta segelnya (capnya) memberi jaminan dan bukti kuat. Segala sesuatu yang ditulis serta ditetapkannya (konstatir) adalah benar. dan membuat suatu perjanjian yang dapat melindunginya di hari-hari yang akan datang. Notaris Kedudukan seorang Notaris sebagai suatu fungsionaritas dalam masyarakat dianggap sebagai seorang pejabat tempat seseorang dapat memperoleh nasihat sesuai yang diharapkan.diberikan kepadanya. 3. . Notaris sebagai Pejabat Umum ditegaskan juga dalam bab I pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris Di Indonesia (Ord. B. serta pengangkatan dan pemberhentian seorang Notaris yang dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini Menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang kenotariatan. perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik. seorang ahli yang tidak memihak dan penasihat yang tidak ada cacatnya (onkreukbaar atau unimpeachable). apa yang dilihat dan dialaminya sendiri kemudian mencatat dalam aktanya sehingga pembatalan akta Notaris sebagai PPAT berdasarkan alasan bahwa apa yang diterangkan dalam akta tersebut bertentangan dengan kebenaran materiil adalah tidak tepat. maka persyaratan Pejabat Umum adalah seorang yang diangkat oleh Pemerintah dengan tugas kewenangan memberikan pelayanan publik di bidang tertentu. Notaris juga memberikan nasihat dan penjelasan mengenai undang-undang kepada pihak-pihak yang bersangkutan. 1860 no. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 menyebutkan. Dengan memperhatikan beberapa pasal dari beberapa peraturan perundangundangan yang melegitimasikan keberadaan Notaris sebagai Pejabat Umum.N. Stbl. maka seoarang Notaris harus berusaha mencegah terjadinya kesulitan itu. dapat dipercayai. salinan dan kutipannya. mulai berlaku tanggal 1 Juli 1860). terpenuhi oleh Jabatan Notaris. Semestinya Hakim hanya membatalkan perbuatan hukum dalam akta tersebut tanpa membatalkan aktanya karena akta itu sendiri tidak mengandung cacat yuridis. notaris juga ditugaskan untuk melakukan pendaftaran dan mensahkan (waarmerken dan legaliseren) suratsurat/akta-akta yang dibuat di bawah tangan (L. 1916-46 jo. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. yang tutup mulut. Kalau seorang advokat membela hak-hak seseorang ketika timbul suatu kesulitan. menyimpan aktanya dan memberikan grosse. Demikian pula. menjamin kepastian tanggalnya. Setiap masyarakat membutuhkan seseorang (figuur) yang keteranganketerangannya dapat diandalkan. Notaris adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.

Nama lengkap. kedudukan. seperti Surat Keterangan Waris (SKW). pekerjaan. Badan akta. tempat dan tanggal lahir. b. Awal akta atau kepala akta. serta pekerjaan. dan Notaris ( Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN). bulan. kedudukan. Wewenang tersebut dicantumkan dalam Pasal 15 ayat (1). Nama lengkap dan tempat kedudukan Notaris yang membuat akta tersebut. Notaris adalah Pejabat umum yang berwenang membuat Akta Otentik. jabatan. Nomor akta. yang merupakan alat bukti terkuat dan terpenuh dan mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum. Akta pengakuan anak di luar kawin (Pasal 281 BW). Akta berita acara tentang penawaran pembayaran tunai dan konsinyasi (Pasal 1405 dan 1406 BW). mengetahui dan memahami isinya dengan ketentuan bahwa hal tersebut dinyatakan dalam penutup akta serta pada setiap halaman minuta akta diparaf oleh penghadap. memuat : a. Akta berita acara tentang kelalaian pejabat penyimpan hipotik (Pasal 1227 BW). (2). c. Uraian tentang pembacaan akta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf l atau Pasal 16 ayat (7) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 : Membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap. saksi. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT). 4. b. 6. kedudukan. tanggal. tempat dan tanggal lahir. Ada beberapa akta otentik yang merupakan wewenang Notaris. Keterangan mengenai kedudukan bertindak penghadap. bukan membuat surat. Pembacaan akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf l tidak wajib dilakukan jika penghadap menghendaki agar akta tidak dibacakan karena penghadap telah membaca sendiri. 5. dan tahun. Membuat akta risalah lelang. saksi. tempat dan tanggal lahir. yang memuat : a. hari.dan tempat tinggal dari tiap-tiap saksi akta. Isi akta yang merupakan kehendak dan keinginan dari pihak yang berkepentingan. jabatan.Setiap Notaris mempunyai wewenang dalam menjalani jabatannya. kewarga negaraan. Uraian tentang penanda tanganan dan tempat penanda tanganan atau penerjemahan akta apabila ada. 3. Akhir atau penutup akta. terdapat pada Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996). dan d. seperti Surat Kuasa membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) atau membuat surat lain. d. dan tempat tinggal dari tiap-tiap saksi pengenal. Nama lengkap. Judul akta . C. dan Notaris (Pasal 16 ayat 7 UUJN) b. Akta protes wesel dan cek (Pasal 143 dan 218 Wvk). dan . antara lain : 1. 2. c. c. memuat : a. Menurut Pasal 15 ayat (1) bahwa wewenang Notaris adalah membuat akta. Jam. tempat tinggal para penghadap dan/atau orang yang mewakili mereka. Untuk dapat disebut sebagai Akta Otentik harus sesuai dengan pedoman yang terdapat dalam Undang-undang Jabatan Notaris Pasal 38 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 yaitu terdiri dari: A. Nama lengkap. pekerjaan. jabatan. B. dan (3) UUJN.

Pengangkatan PPAT diatur menurut Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. PPAT hanya bertanggung jawab secara hukum kepada Hakim di Pengadilan apabila ia disangka dan dituduh melakukan tindak pidana atau jika ia diminta bertanggung jawab secara professional menurut norma-norma etika profesinya sendiri melalui Dewan Kehormatan atau Komisi Etika yang dibentuk oleh organisasi profesinya sendiri. yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu. Menteri dapat menunjuk pejabat-pejabat di bawah ini sebagai PPAT Sementara atau PPAT Khusus.d. sehingga PPAT dapat dikatakan sebagai Pejabat Tata Usaha Negara. Daerah ini pada umumnya meliputi satu kantor pertanahan tertentu. 2. PPAT diangkat untuk suatu daerah kerja tertentu. yaitu sebagai berikut : a.” Tugas Pokok dan Kewenangan PPAT adalah melaksanakan sebagian kegiatan Pendaftaran Tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Satuan Rumah Susun.pencoretan. atau penggantian. termasuk kepada Pejabat Pemerintah yang mengangkatnya. namun tidak tertutup kemungkinan PPAT mempunyai daerah kerja lain. Dalam menjalankan tugasnya PPAT membantu sebagian dari kegiatan Pendaftaran Tanah yang merupakan kegiatan Tata Usaha Negara sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. PPAT tidak bertanggung jawab secara fungsional kepada siapapun. c. PPAT diangkat dan diberhentikan oleh Menteri. PPAT menurut Pasal 1 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah adalah pejabat umum yang diberikan kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai Hak atas Tanah atau Hak Milik atas Satuan Rumah Susun. Uraian tentang tidak adanya perubahan yang terjadi dalam pembuatan akta atau uraian tentang adanya perubahan yang dapat berupa penambahan. Daerah kerja PPAT adalah daerah yang menunjukan kewenangan dari PPAT tersebut untuk membuat akta-akta PPAT. . Berkaitan dengan PPAT. demikian pengaturan dalam Pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Untuk melayani masyarakat dalam pembuatan akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT atau untuk melayani golongan masyarakat tertentu dalam pembuatan akta PPAT tertentu. b. terdapat pendapat dari Jimly Asshiddiqie yang mengatakan : “Dalam menjalankan fungsinya. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Keberadaan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang diundangkan pada tanggal 8 Oktober 1997 dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah yang diundangkan pada tanggal 5 Maret 1998.

yaitu sebagai berikut : 1) Daerah kerja PPAT adalah satu wilayah kerja Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. yaitu : 1) berkewarganegaraan Indonesia. 5) sehat jasmani dan rohani.1) Camat atau Kepala Desa untuk melayani pembuatan akta di daerah yang belum cukup terdapat PPAT sebagai PPAT Sementara. 2) Kepala Kantor Pertanian untuk melayani pembuatan akta PPAT yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan program-program pelayanan masyarakat atau untuk melayani pembuatan akta PPAT tertentu bagi Negara sahabat berdasarkan asas reprositas sesuai pertimbangan dari Departemen Luar Negeri. 3) berkelakuan baik yang dinyatakan dengan surat keterangan yang dibuat oleh Instansi Kepolisian setempat. Untuk daerah yang terjadi pemekaran atau pemecahan menjadi 2 (dua) atau lebih kabupaten/kota tentunya dapat mengakibatkan perubahan daerah kerja PPAT di daerah yang terjadi pemekaran atau pemecahan tersebut. sebagai berikut : 1) Apabila suatu wilayah Kabupaten/Kota dipecah menjadi 2 (dua) atau lebih wilayah Kabupaten/Kota. Hal ini telah diatur dalam Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. diatur dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. sebagai PPAT Khusus. 7) lulus ujian yang diselenggarakan oleh Kantor Menteri Negara Agraria/Badan Pertanahan Nasional. Syarat untuk dapat diangkat menjadi PPAT. maka mulai 1 (satu) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang pembentukan Kabupaten/Kota Daerah Tingkat II yang baru tersebut daerah kerja PPAT yang bersangkutan hanya meliputi wilayah Kabupaten/Kota letak kantor PPAT yang bersangkutan. dengan ketentuan bahwa apabila pemilihan tersebut tidak dilakukan pada waktunya. 6) lulusan program pendidikan spesialis notariat atau program pendidikan khusus PPAT yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tinggi. 4) belum pernah dihukum penjara karena melakukan kejahatan berdasarkan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. maka dalam waktu 1 (satu) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang tentang pembentukan Kabupaten/Kota Daerah Tingkat II yang baru PPAT yang daerah kerjanya adalah Kabupaten/Kota semua harus memilih salah satu wilayah Kabupaten/Kota sebagai daerah kerjanya. PPAT memiliki daerah kerja yang diatur dalam Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. 2) Daerah kerja PPAT Sementara dan PPAT Khusus meliputi wilayah kerjanya sebagai pejabat pemerintah yang menjadi dasar penunjukannya. . 2) berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.

jual beli. yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu. e. disebutkan bahwa : 1) Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. lingkungan . Menurut Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998. 2) PPAT khusus hanya berwenang membuat akta mengenai perbuatan hukum yang disebut secara khusus dalam penunjukannya. seorang PPAT mempunyai kewenangan membuat akta otentik mengenai semua perbuatan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 2 mengenai hak atas tanah dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang terletak di dalam daerah kerjanya. Sedangkan dalam masa peralihan yang lamanya 1 (satu) tahun PPAT yang bersangkutan berwenang membuat akta mengenail hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang terletak di wilayah Daerah Tingkat II yang baru maupun yang lama. pembagian harta bersama. g. f. h. hibah. pemberian Hak Guna Bangunan/Hak Pakai atas tanah Hak Milik. PPAT memiliki tugas pokok. pemberian Hak Tanggungan. dan jika dia tidak memilih salah satu dari daerah tersebut. 2) Perbuatan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah sebagai berikut : a. Dari rumusan di atas dapat dipahami bahwa dalam ayat 1 memberikan suatu kemudahan kepada PPAT untuk memilih salah satu wilayah kerjanya. maka dianggap dia telah memilih kantor pertanahan di daerah kerjanya dan atas daerah kerja lainnya setelah satu tahun tidak lagi berwenang. 3. dan jika ada kantor pertanahan setempat dianggap sebagai tempat kedudukannya dan di samping itu diberi dia tenggang waktu 1 (satu) tahun untuk memilih. Kemudian dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998.2) Pemilihan daerah kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku dengan sendirinya mulai 1(satu) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang pembentukan Kabupaten/Kota Daerah Tingkat II yang baru. yakni : 1) PPAT bertugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun. pemberian kuasa membebankan Hak Tanggungan. lingkungan peradilan agama. c. tukar-menukar. d. pemasukan dalam perusahaan (inbreng). b. HAKIM Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan yang dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan badan peradilan umum.

Jika pihak lawan mengangkat sumpah yang perumusannya disusun sendiri oleh pihak yang . Persangkaan-persangkaan. dsb. yaitu: a. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. memelihara integritas. merupakan suatu pembuktian yang sempurna tentang kebenaran hal atau peristiwa yang diakui. karenanya suatu akte harus selalu ditandatangani. Dalam pembuktian. Pengakuan. d. kecerdasan moral dan meningkatkan profesionalisme dalam menegakkan hukum dan keadilan bagi rakyat banyak. Kesaksian bukanlah suatu alat pembuktian yang sempurna dan mengikat Hakim. Hakim terpaksa untuk menerima dan menganggap. Surat akte ialah suatu tulisan yang semata-mata dibuat untuk membuktikan sesuatu hal atau peristiwa. c. meskipun sebetulnya ia sendiri tidak percaya bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh telah terjadi. suatu pengakuan di depan Hakim. Hakim sebagai aktor utama atau figur dalam proses peradilan senantiasa dituntut untuk mengasah kepekaan nurani.peradilan militer. Menurut undang-undang. Ini berarti. dan lingkungan peradilan tata usaha Negara. Persangkaan ialah suatu kesimpulan yang diambil dari suatu peristiwa yang sudah terang dan nyata. Dari peristiwa yang terang dan nyata ini ditarik kesimpulan bahwa suatu peristiwa lain yang dibuktikan juga telah terjadi. Sumpah Menurut UU ada dua macam bentuk sumpah. semua wewenang dan tugas yang dimiliki oleh Hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum. ada 5 (lima) macam alat pembuktian yang sah. kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang Hakim. ada persangkaan yang ditetapkan oleh undang-undang sendiri (watterlijk vermoeden) dan persangkaan yang ditetapkan oleh hakim (rechtelijk vermoeden). Alat-Alat Bukti Menurut pasal 1866 Kitab Undang-undang Hukum Pedata atau 164 RIB (pasal 283 RDS). Oleh sebab itu. Surat-surat akte dapat dibagi lagi atas akte resmi (authentiek) dan surat-surat akte di bawah tangan (onderhands). 4. artinya tulisan yang bukan akte seperti surat. Surat-surat lain/tulisan-tulisan lain. Bukti tulisan. yaitu sumpah yang “menentukan” (decissoire eed) dan “tambahan” (supletoir eed). Artinya. suatu peristiwa yang telah diakui memang benar-benar telah terjadi. di mana setiap orang sama kedudukanya di depan hukum dan Hakim. Sumpah yang “menentukan” (decissoire eed) adalah sumpah yang diperintahkan oleh salah satu pihak yang berperkara kepada pihak lawan dengan maksud untuk mengakhiri perkara yang sedang diperiksa oleh hakim. Menurut undang-undang. faktur. Hakim leluasa untuk mempercayai atau tidak mempercayai keterangan seorang saksi. ada dua macam persangkaan. hakim leluasa untuk mempercayai atau tidak mempercayai kebenarannya. tetapi terserah pada Hakim untuk menerimanya atau tidak. catatan yang dibuat oleh suatu pihak. b. e. Bukti dengan saksi-saksi. Yang kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim. surat-surat dapat dibagi dalam surat-surat akte dan surat-surat lain.

ia akan dikalahkan. ia akan dimenangkan. Bagi penelitian untuk kegiatan praktis. Pendekatan Penelitian Di dalam penelitian hukum normatif terdapat beberapa pendekatan. METODE PENELITIAN 1. ilmiah atau tidak suatu tesis adalah dipengaruhi oleh pemilihan dan penggunaan metode penulisan bahan atau data kajian serta metode penelitian. Logika keilmuannya dalam penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara kerja i1mu hukum normatif. penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Secara eptimologis. . Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argument untuk memecahkan isu yang dihadapi.dengan cara demikian peneliti mampu menangkap kandungan filosofi yang ada di belakang undang-undang dan dapat menyimpulkan ada tidaknya benturan filosofis antara undang-undang dengan isu yang dihadapi. pendekatan undangundang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undang-undang lainnya atau antara undang-undang dan undang-undang dasar atau antara regulasi dan undang-undang. metodologis dan konsisten melalui proses penelitian tersebut perlu diadakan analisa dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah. Penulisan ilmiah atau tesis agar mempunyai nilai ilmiah. Pendekatan undang-undang (statute approach) dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Oleh karena itu dalam penulisan tesis ini. peneliti perlu mencari ratio legis dan dasar ontologis lahirnya undang-undang tersebut. karena dipandang kurang memuaskan untuk menjatuhkan putusan atas dasar bukti-bukti yang terdapat itu. sebaliknya. adalah suatu sumpah yang diperintahkan oleh Hakim pada salah satu pihak yang beperkara apabila Hakim itu barpendapat bahwa didalam suatu perkara sudah terdapat suatu “permulaan pembuktian”. Pendekatan kasus/lapangan (case approach) dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi dengan tujuan untuk menemukan Ratio Decinde atau Legal Reasoning sebagai referensi penulisan argumentasi dalam menjawab isu hukum tertentu. C. jika ia tidak berani dan menolak pengangkatan sumpah itu. yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistimatis. maka perlu diperlihatkan syarat-syarat metode ilmiah. 2. jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Jenis Penelitian Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. leluasa apakah ia akan memerintahkan suatu sumpah tambahan atau tidak dan apakah suatu hal sudah merupakan permulaan pembuktian.memerintahkan pengangkatan sumpah itu. yang perlu ditambah dengan penyumpahan. Pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum normatif adalah : 1. Hakim. Bagi penelitian untuk akademis. Sumpah tambahan. Menurut Johny Ibrahim. Dengan pendekatan tersebut maka akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk dicari jawabnya.

Peraturan Dasar. dan memaparkan peraturan hukum berdasarkan hirarki sumber hukum untuk membangun landasan legitimasi dalam . yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari : 1. yaitu. Tataran teknis. yang dilakukan dalam tiga tataran. indeks kumulatif dan sebagainya. hasil karya dari kalangan hukum yang ada relevansinya dengan tema penelitian ini. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Penelitian Pengumpulan bahan-bahan hukum dilakukan dengan mengidentifikasi dan menginventarisasi peraturan perundang-undangan. penelitian hukum yang mengangkut pembangunan hukum di masa depan (futuristic atau antisipatoris) sehingga diperlukan metode penelitian hukum normatif di samping metode penelitian sosial atau metode penelitian sosio-legal . d) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. maka dilakukan pengelolaan bahan-bahan hukum yang bahan hukum tertulis.3. yaitu menstrukturkan. bahan-bahan hukum. Bahan Hukum Tertier Bahan Hukum Tertier adalah bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukLun primer dan sekunder. Pendekatan yang akan datang (futuristic). meneliti bahan pustaka. Bahan Hukum Primer Bahan Hukum Primer. menata. mendeskripsikan. seperti rancangan undang-undang. mencakup diantaranya Batang tubuh UUD 1945. yaitu menghimpun. membaca buku-buku dan sumber-¬sumber lainnya yang berhubungan dengan masalah ini. b) Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Bahan-bahan hukum yang bersifat normatif-prekriptif diolah dengan tahapan sebagaimana dijelaskan oleh Van Hoecke yang dikutip dari Bernard Arief Sidharta. c) Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. yaitu: a) Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 1. c. Norma atau kaidah dasar. 2. dan mensistematisasikan. 3. Sistematisasi berarti membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum untuk memudahkan pekerjaan analitis dan konstruksi. ensiklopedia. yaitu Pembukaan UUD 1945. seperti kamus. b. menyeleksi bermacam-macam bahan yang mengandung sudut pandang yang berbeda-beda dan bertentangan satu sama lain. Bahan Hukum Sekunder Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Setelah memperoleh bahan-bahan hukum dari hasil penelitian kepustakaan. Dengan demikian kegiatan-kegiatan seperti ini merupakan kegiatan yang interdisipliner. hasil penelitian. 3. Undang-undang. Jenis dan Sumber Bahan Penelitian Jenis dan sumber bahan penelitian yang digunakan dalarn penelitian tesis ini terdiri dari: a. 4.

Tataran teleologis. sebagaimana lazim diartikan dalam bahasa sehari-hari. e. Penafsiran Sosiologis. melainkan mencoba untuk memahami maksud sebenarnya dari suatu peraturan dengan menggunakan sumber lain yang dianggap dapat memberikan kejelasan yang lebih memuaskan. 2. dengan menerapkan metode interdisipliner atau transdisipliner. f. Penafsiran Tata Bahasa (Gramatika). dengan cara memikirkan. yaitu. c. yaitu penafsiran yang diberikan oleh pembentuk undangundang. mengingat kebutuhan masyarakat berubah menurut masa atau waktu sedangkan bunyi undang-undang itu tetap. yaitu interpretasi bebas yang tidak mengikatkan diri sepenuhnya kepada kalimat dan kata-kata peraturan. Penafsiran Teleologis. yaitu penafsiran dengan mencari riwayat terjadinya suatu Undang-undang sejak mulai dibuat. yaitu penafsiran dengan cars mempersatukan adanya hubungan antara satu pasal dengan pasal yang lain dalam suatu undang-undang. dilakukan menurut cara-cara analisis atau penafsiran hukum yang dikenal. d.menafsirkan peraturan hukum dengan menerapkan metode logika sehingga tertata dalam suatu sistem hukum yang koheren. yaitu penafsiran berdasarkan kata-kata yang dipakai dalam undang-undang yang bersangkutan. yaitu menyistematisasi peraturan hukum berdasarkan substansi hukum. Teknik Penarikan Kesimpulan Penarikan kesimpulan dalam peneiltian hukum menggunakan teknik atau metode deduktif. yaitu menyistematisasi hukum dalam rangka mengintegrasikan ke dalam tatanan dan pandangan hidup masyarakat. yang berdasarkan premis mayor berupa aturan hukum yang dikaji dan premis minornya berupa fakta hukum yang dirumuskan dengan menggunakan . sehingga dapat menafsir ulang pengertian yang ada dan pembentukan pengertian yang baru. Analisis bahan-bahan hukum dalam penyelesaian persoalan hukum individual dan konkrit yang dimaksud selain menggunakan metode penafsiran hukum juga menggunakan metode penemuan hukum yang seharusnya digunakan dalam menyelesaikan persoalan hukum konkrit individual yang berkaitan dengan pertimbangan hukum hakim dalam menentukan keabsahan akta Notaris sebagai PPAT tentang akta jual beli hak atas tanah. 3. Penafsiran Fungsional. b. Penafsiran Sistematis. Penafsiran Sejarah Perundang-undangan atau Sejarah Hukum. Penafsiran Autentik. Tataran sistematisasi eksternal. yakni metode dan produk berbagai ilmu manusia lainnya. 6. 5. Teknik Analisis Data Analisis terhadap bahan penelitian berupa bahan-bahan hukum yang telah dikumpulkan dan diolah. menata ulang dan menafsirkan material yuridis dalam persfektif teleologis sehingga sistemnya menjadi lebih jelas dan lebih patokan sistematisasi. dengan pendekatan antisipatif ke masa depan. a. yaitu penafsiran yang memperhatikan tentang tujuan undang-undang itu. g. yaitu penafsiran dengan mencari maksud atau tujuan dari undang-undang dalam masyarakat.

G/2008/PN. karena hal¬-hal yang dirumuskan secara umum diterapkan pada keadaan khusus.PLG dalam memutuskan perkara di atas pada pokoknya adalah sebagai berikut: 1. Maka . SH. Hakim harus menemukan hukum dari peristiwa yang disengketakan. 4. D. 2. Setahun kemudian Tergugat III menjual kepada Tergugat IV sertifikat Hak Guna Bangunan dengan akta jual beli dibuat dihadapan PPAT Iswan Bangsawan.PLG dicermati maka kita akan melihat bahwa Hakim dalam putusannya membatalkan Akta Notaris sebagai PPAT (Nomor 15 Tanggal 14 Agustus Tahun 2008) bukan karena prosedur pembuatan akta yang tidak benar atau cacat hukum. Kemudian Tergugat IV mengajukan permohonan peningkatan hak dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik dan dikabulkan oleh Tergugat VIII untuk diterbitkan sertifikat hak milik. Hubungan Hukum (rechtsverhouding/rechtsbetrekking). Proses yang terjadi dalam deduksi adalah konkretisasi. Penggunaan metode deduktif dalam hukum lebih dikenal dengan silogisme hukum.G/2008/PN.15/PDT. Adapun analisis pertimbangan-pertimbangan yang diambil Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus Palembang No. Fakta Hukum (Legal Fact).15/PDT. Tergugat VI. 3.Abdullah. Kemudian Tergugat I membuat akta pengoperan tanah usaha kepada Tergugat II dihadapan Notaris Zainal Abidin. selanjutnya dengan menggunakan logika ditarik kesimpulan/konklusinya. Lalu Tergugat II menjual kepada Tergugat III tanah Hak Guna Bangunan dengan akta jual beli yang dibuat dihadapan PPAT Gani Wahid.teknik atau metode induktif. SH. Selanjutnya sertifikat hak milik dipecah menjadi tiga (3) dan dibalik nama menjadi Tergugat V. akan tetapi dikarenakan hal lain yaitu tujuan dan pihak Tergugat I (Tuan Kemas H. Penggugat hanya meminta Tergugat I untuk mengurus permohonan Hak Guna Bangunan karena Hak Pakai tanah tersebut sudah habis waktu. Setelah suatu peristiwa dinyatakan terbukti. SH.Nanang) yang menjual sebidang tanah yang bukan miliknya tanpa sepengetahuan si Penggugat. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Tergugat membuat Surat Pengakuan Hak bahwa Tergugat telah memiliki sebidang tanah berdasarkan sertifikat Hak Pakai dan surat kuasa/jual beli di bawah tangan. Alat Bukti. SH.Tohir Bin Kemas H. Kedudukan Hukum (Legal Standing). Jadi aturan-aturan hukum yang bersifat umum dijabarkan dalam wujud aturan-aturan hukum konkrit. TEMUAN DAN ANALISIS Untuk dapat menyelesaikan suatu sengketa atau perkara Hakim harus mengetahui terlebih dahulu secara lengkap dan obyektif tentang duduk perkara yang sebenarnya dapat diketahui dari proses pembuktian. Apabila kasus di Pengadilan Negeri klas 1 A khusus Palembang No. Metode deduktif dan metode induktif sebagai teknik penarikan kesimpulan dalam penelitian hukum pada umumnya dapat digunakan secara simultan dalam menarik kesimpulan untuk menjawab permasalahan. sehingga dapat ditafsirkan dan disimpulkan aturan-aturan hukum khusus tentang pertimbangan hukum hakim dalam menentukan keabsahan akta Notaris sebagai PPAT tentang akta jual beli hak atas tanah. Tergugat VII yang dibuat dihadapan PPAT Kms. Hal ini sudah pasti merugikan pihak penggugat.

dan kalau sudah selesai dengan kehendak penghadap.15/PDT. Dalam kasus di atas dapat juga dilihat bahwa pihak Penggugat dalam materi gugatannya juga tidak menitik beratkan persoalan kepada masalah pembuatan akta PPAT.30 Tahun 2004. kemudian menyusunnya agar sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku. maka penghadap diminta untuk membubuhkan tanda tangannya serta menulis nama terangnya. hal ini merupakan prosedur pembuatan akta Notaris akta pihak. PENUTUP 1. Majelis Hakim tidak seharusnya membatalkan atau memutuskan. Notaris sebagai PPAT hanya menjamin kepastian tanggal dan mencatat mengenai hal-hal yang sudah disepakati oleh para pihak kedalam sebuah akta. Dan apabila terbukti di persidangan bahwa esensi atau isi dari akta tersebut dapat merugikan salah satu pihak ataupun pihak ketiga maka. Apabila terbukti di dalam persidangan proses keluarnya akta tersebut sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku maka yang dapat dibatalkan isi dari perjanjian yang tertuang dalam aktanya dan bukan aktanya.PLG tanggal 14 Agustus 2008 apabila secara formal dapat dibuktikan bahwa proses keluarnya akta tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku khususnya UU mengenai Peraturan Jabatan Notaris (PJN) dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Menurut beberapa putusan pengadilan. Jadi seharusnya putusannya bukan “menyatakan batal” melainkan “tidak mempunyai kekuatan hukum”. Kesimpulan 1) Pertimbangan hukum yang diambil Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus Palembang No.15/PDT.menurut hemat penulis sudah wajarlah si penggugat mengajukan permohonan untuk membatalkan akta jual beli hak atas tanah tersebut. dengan cara mencatat. E. Notaris sebagai PPAT tidak perlu khawatir oleh karena Notaris sebagai PPAT sudah membuat akta tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. akan tetapi penggugat beranggapan bahwa dengan adanya akta jual beli yang dibuat PPAT itu menimbulkan akibat yang sangat merugikan pihak penggugat sehingga akta tersebut harus dibatalkan.G/2008/PN.PLG dalam memutuskan perkara untuk menentukan keabsahan suatu akta Notaris sebagai PPAT tentang akta jual . membatalkan demi hukum Akta Notaris di dalam Putusan Hakim No. Putusan tersebut dibuat karena menurut penulis. Notaris hanya sekedar mengkonstatir saja apa yang diinginkan atau dikehendaki oleh penghadap yang bersangkutan. Mengenai akta yang dimintakan untuk dibatalkan.G/2008/PN. Jadi apabila kita memperhatikan materi gugatan secara seksama Notaris sebagai PPAT sudah seharusnya tidak dapat disalahkan apalagi dituntut untuk mengganti kerugian. dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Pada kasus diatas Notaris sebagai PPAT sudah melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan khususnya Peraturan Jabatan Notaris atau Undang-Undang Jabatan Notaris No. Notaris sebagai PPAT harus lapang dada untuk menerima aktanya dinyatakan "batal" atau “tidak mempunyai kekuatan hukum". bahwa pembuatan akta pihak. Selanjutnya menurut hemat penulis berdasarkan kasus di atas.

Apabila terbukti di dalam persidangan proses keluarnya akta tersebut sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. majelis Hakim tidak seharusnya membatalkan demi hukum Akta Notaris sebagai PPAT apabila secara formal dapat dibuktikan bahwa proses keluarnya akta tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila Notaris atau PPAT tersebut sudah membuat akta sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.PLG. melainkan alas hak dari terbitnya sertifikat itu didapatkan dengan cara penggelapan dan pemalsuan surat yang dilakukan oleh Tergugat I. Hakim belum bersikap adil karena pembatalan akta tersebut bukan karena prosedur pembuatan akta yang tidak benar atau cacat hukum.15/PDT. sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. sebaiknya meninjau langsung ke lokasi di mana objek tersebut berada untuk memperoleh keterangan dari masyarakat tentang kebenaran kepemilikan. . fakta hukum. 2) Hendaknya Notaris sebagai PPAT dalam membuat akta jual beli tidak hanya percaya pada bukti kepemilikan saja (sertifikat). Jadi seharusnya putusan tersebut bukan “menyatakan batal” melainkan “tidak mempunyai kekuatan hukum”. Notaris sebagai PPAT hanya menjamin kepastian tanggal dan para pihak serta mencatat mengenai halhal yang sudah disepakati oleh para pihak ke dalam sebuah akta. 2) Analisis pertimbangan hukum Hakim dalam dictum putusan Hakim terhadap perkara No.G/2008/PN. Putusan tersebut dibuat karena menurut penulis. hubungan hukum. maka yang dapat dibatalkan adalah isi dari perjanjian yang tertuang dalam akta dan bukan aktanya. Saran 1) Seharusnya Hakim dalam menjatuhkan putusan perkara yang berkaitan dengan pembatalan akta Notaris atau PPAT hendaknya lebih cermat. maka Hakim hendaknya jangan membatalkan akta tersebut melainkan hanya tidak mempunyai kekuatan hukum. dan alat bukti di persidangan. Hal tersebut akan menimbulkan keadilan bagi Notaris atau PPAT.beli hak atas tanah berdasarkan kedudukan hukum. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful