P. 1
BAB I - III Batas Definisi Operasional

BAB I - III Batas Definisi Operasional

|Views: 76|Likes:
Published by yosepdian
jj
jj

More info:

Published by: yosepdian on May 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Perumusan Masalah
  • C. Tujuan Penelitian
  • D. Manfaat Penelitian
  • 1. Bagi Peneliti
  • 2. Bagi Rumah Sakit
  • 3. Bagi Pendidikan
  • 4. Bagi Petugas Kesehatan
  • BAB II
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • A. Gangguan pola tidur
  • 1. Definisi tidur
  • 2. Pola Tidur
  • 3. Gangguan tidur
  • 4. Fisiologis Tidur
  • 5. Manfaat Tidur
  • Tabel 2.1 Pola Tidur Berdasarkan Tingkat Usia/Perkembangan
  • Tingkat
  • Pola Tidur Normal
  • 6. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
  • B. Teori Operasi
  • 1. Pengertian
  • 2. Macam-macam operasi
  • 3. Klasifikasi tindakan operasi
  • 4. Persiapan pre operasi elektif
  • C. Kecemasan
  • 2. Fungsi Adaptif Dari Kecemasan
  • 3. Tingkat Kecemasan
  • 4. Rentang Respon Kecemasan
  • 5. Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan
  • 6. Gejala Klinis Kecemasan
  • D. Kerangka Konsep
  • E. Definisi operasional
  • Variabel Definisi
  • Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
  • F. Hipotesis Penelitian
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • A. Lokasi dan objek penelitian
  • B. Jenis atau Rancangan Penelitian dan metode pendekatan
  • C. Populasi dan Sampel
  • 1. Populasi
  • 2. Sampel
  • D. Metode Pengumpulan Data
  • E. Metode Pengolahan
  • F. Teknik Analisa Data

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani (R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2005). Sedangkan menurut Carpenito, Lynda Juall (1999) Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan

membuka bagian tubuh yang akan ditangani. Sebelum dilakukan pembedahan ada beberapa hal yang penting yang harus dipersiapkan yaitu persiapan preoperasi ( persiapan fisik dan mental ) Hal tersebut membantu memperkecil resiko operasi karena hasil akhir suatu pembedahan sangat tergantung pada penelitian keadaan penderita dan persiapan preoperasi. Pada pasien pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan .takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuaan atau takut tentang derformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Smeltzer and Bare, 2002). Prevalensi sindrom cemas diperkirakan dalam masyarakat sekitar 2% sampai 4%, dari populasi yang datang ke institusi pelayanan umum, baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap, terdapat sekitar 17% sampai 27% menunjukkan adanya sindrom cemas. Keadaan ini mempengaruhi lamanya

1

2

penyembuhan penyakit, jumlah pemeriksaan diagnostik yang dibutuhkan dan jenis pengobatan yang diberikan.(Muslim Rusdi, 1991). Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat (Ruth F. Craven, Costance J Himle, 2000). Tidur merupakan

kebutuhan yang sangat penting pada pasien preoperasi yang mengalami kecemasan. Proses biokimia dan biofisika tubuh manusia mempunyai irama dengan puncak fungsi atau aktifitas yang terjadi dengan pola yang konsisten dalam siklus sehari – hari. Bila irama ini terganggu seperti gangguan pola tidur pada pasien pre operasi dapat mempengaruhi proses biokimia dan proses biofisika yang dapat menyebabkan penyimpangan dari norma kehidupan. (Hudak dan Gallo, 1997 ). Pada pasien preoperasi yang terencana mengalami kecemasan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pola tidur antara 3 – 5 jam, sedangkan kebutuhan tidur dan istirahat normal adalah antara 7 – 8 jam. (Gunawan L, 2001).

B. Perumusan Masalah Berdasarkan dari uraian pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah “Bagaimana hubungan antara tingkat kecemasan dengan gangguan pola tidur pada pasien preoperasi elektif di ruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu”

2

3

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan gangguan pola tidur pada pasien preoperasi elektif di ruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu . 2. Tujuan khusus a. Mendiskripsikan tingkat kecemasan yang terjadi pada pasien

preoperasi elektif di ruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu . b. Mendiskripsikan gangguan pola tidur yang dialami oleh pasien preoperasi elektif di ruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu . c. Mendiskripsikan tentang preoperatif di ruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu . d. Menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan dan gangguan pola tidur pada pasien preoperasi Yunus Bengkulu . elektif di ruang Seruni RSUD M.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Dapat menambah pengetahuan peneliti di bidang keperawatan bedah dan menambah pengalaman dalam melaksanakan penelitian dan penulisan skripsi dengan daftar teori yang telah peroleh serta sebagai dasar penelitian lain guna mengembangkan ilmu pengetahuan.

3

4

2. Bagi Rumah Sakit Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan meningkatkan efektifitas dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien pre operasi elektif 3. Bagi Pendidikan Sebagai tambahan referensi dalam penelitian lanjutan dan bahan pertimbangan bagi yang melakukan penelitian sejenis. 4. Bagi Petugas Kesehatan Penelitian ini memberi masukan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien preoperasi sehingga mampu mengatasi masalah gangguan pola tidur dan mampu mengurangi tingkat kecemasan pasien preoperasi elektif.

4

2006). (Achmanto Mendatu. rangsangan indrawi masih sedikit dapat diterima (sayupsayup). Pada saat mengantuk ini. Kemudian. baik karena mengantuk ataupun dipengaruhi obat-obatan. 5 . yaitu pola tidur biasa (Non REM) dan pola tidur paradoksal REM). Pola Tidur Secara umum. proses tidur normal diawali dengan tahap mengantuk. Tahap berikutnya merupakan tahap yang terakhir. 2. Sekarang para ahli telah berhasil menemukan adanya dua pola tidur.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. jika proses tidur berlanjut. Secara otomatis. yaitu tahap tidur nyenyak. otak kita memprogram untuk tidur begitu gelap datang dan terbangun ketika terang tiba. namun tidak mengganggu kesadaran. Gangguan pola tidur 1. Pada tahap ini. Pun kita bisa tidur kapan saja. maka kesadaran semakin berkurang dan timbullah suatu tahap yang sering disebut sebagai tahap tidur ayam. yaitu suatu keadaan saat hunungan antara kesadaran dengan lingkungan. rangsangan – rangangan dari luar masih dapat diterima dengan mudah dan membuat terbangun atau tersadar kembali. Definisi tidur Tidur bisa diartikan sebagai bagian dari periode alamiah kesadaran yang terjadi ketika tubuh direstorasi (diperbaiki) yang dicirikan oleh rendahnya kesadaran dan keadaan metabolisme tubuh yang minimal.

Tidur tahap II. Jika telepon berbunyi atau ada sesuatu sampai terbangun. sebagai akibat masuknya tahapan REM. diproduksi hormone pertumbuhan guna memulihkan tubuh. Pola Tidur Biasa/Non REM (Non Rapid Eye Movement) Tidur nonREM terdiri dari 4 tahap. memperbaiki sel. setidaktidaknya disebabkan karena hormon pertumbuhan bekerja baik. Perasaan enak dan segar setelah tidur nyenyak. Pada tahap 3. Tidur masih mudah dibangunkan. Kadang-kadang selama tahap tidur 2 seseorang dapat terbangun karena sentakan tiba-tiba dari ekstremitas tubuhnya. Pada tahap ini. dan memerlukan waktu beberapa menit untuk meresponnya. kejadian sentakan ini. meskipun kita benarbenar berada dalam keadaan tidur. Pada tidur tahap I terjadi bila merasakan ngantuk dan mulai tertidur. rileks sekali karena tonus otot lenyap sama. dimana setiap tahapnya mempunyai ciri tersendiri. Periode tahap 2 berlangsung dari 10 sampai 40 menit.6 a. Orang yang tertidur cukup pulas. Tahap I ini berlangsung 30 detik sampai 5 menit pertama dari siklus tidur. Ini normal. seluruh tubuh kita seperti berada pada tahap tidur yang lebih dalam. sering kali tidak merasakan bahwa sebenarnya kita telah tertidur. Gelombang listrik otak memperlihatkan ‘gelombang alfa’ dengan penurunan voltase. dan orang akan binggung bila terbangun langsung dari tahap ini. Tahap 3 dan 4. membangun otot dan jaringan pendukung. 6 . Tahap ini merupakan tahap tidur nyenyak. Tahap 4 mempunyai karakter : tanpa mimpi dan sulit dibangunkan.

atau muka. tonus otot menurun. Kadang-kadang timbul twitching pada tangan. sulit di bangunkan. berlangsung 10 – 20 menit. dapat dibangunkan dengan mudah.7 Menurut Tarwoto & Wartonah. (2006) tahapan NonREM mempunyai karakter sebagai berikut : NonREM Tahap I kedaan ini masih dapat merespons cahaya. aktivitas fisik menurun. sulit untuk di bangunkan. Tidur REM adalah tahapan tidur yang sangat aktif. enjernihkan rasa kuatir dan daya ingat dan mempertahankan fungsi sel-sel otak. Siklus tidur pada orang dewasa biasanya terjadi setiap 90 menit. relaksasi otot menyeluruh. kaki. NonREM Tahap III adalah awal dari keadaan tidur nyenyak. NonREM Tahap IV sudah terdapat tidur nyenyak. berlangsung 15 – 30 menit. fungsi tubuh berlangsung lambat. tekanan darah menurun. Pola nafas dan denyut jantung tak teratur dan tidak terjadi pembentukan keringat. Walaupun ada aktivitas demikian orang masih tidur lelap dan sulit untuk dibangunkan. berlangsung beberapa menit. Pola Tidur Paradoksal/REM (Rapid Eye Movemoent) Tahap tidur REM sangat berbeda dari tidur nonREM. bila terbangun terasa sedang mimpi. gerak bola mata cepat. tanda vital dan metabolisme menurun. Setelah 90 7 . b. Tahap tidur ini diduga berperan dalam memulihkan pikiran. NonREM Tahap II tubuh mulai relaksasi otot. sekresi lambung menurun. Pada 90 menit pertama seluruh tahapan tidurnya adalah NonREM. Sebagian besar anggota gerak tetap lemah dan rileks. untuk restorasi dan istirahat. dan pada laki-laki dapat timbul ereksi pada periode tidur REM.

gerakan atau sensasi abnormal di kala tidur atau ketika terjaga di tengah malam. Setelah itu hampir setiap 90 menit tahap tidur REM terjadi. tanpa harus menuruti aturan yang biasanya terjadi.8 menit. temperatur tubuh naik. metabolisme meningkat. Tapi malam lainnya seluruh tahapan tidur akan didapatkannya. akan muncul periode tidur REM. yang kemudian kembali ke tahap tidur NonREM. atau rasa mengantuk yang berlebihan di siang hari. Bila terjadi gangguan tidur. Artinya suatu malam. berlangsung hanya beberapa menit. Selama tidur. kadang dengan apnea. 2000) Karakteristik tidur REM meliputi : mata cepat tertutup dan terbuka. Gangguan tidur itu sendiri meliputi : 8 . otot besar imobilisasi. 2006) 3. sekresi gaster meningkat. kejang otot kecil. (Widodo DP. tekanan darah meningkat atau fluktuasi. Gangguan tidur Menurut Lanywati (2001). periode REM sangat singkat. Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak diobati. siklus tidur : sulit di bangunkan (Alimul. Orang itu akan mendapatkan tidur tahap 3 & 4 lebih banyak. periode REM akan muncul lebih awal pada malam itu. secara umum akan menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu dari ketiga masalah berikut : insomnia. tahapan tidur akan berpindah-pindah dari satu tahap ke tahapan yang lain. pernapasan tidak teratur. Pada tahap awal tidur. setelah kira-kira 30-40 menit. nadi cepat dan ireguler. mungkin saja tidak ada tahap 3 atau 4.

hati. b. gangguan susunan saraf pusat. Insomnia Insomnia merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat. seperti somnambulisme (berjalan-jalan dalam 9 . depresi. baik kualitas maupun kuantitas. yaitu : 1) Initial insomnia merupakan ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau mengawali tidur. kecemasan. Proses gangguan tidur ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya rasa khawatir. disebabkan oleh kemungkinan adanya masalah psikologis. dengan keadaan tidur yang hanya sebentar atau susah tidur. Parasomnia Parasomnia merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur.9 a. ataupun stres. 2) Intermiten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur karena selalu terbangun pada malam hari. pada umumnya lebih dari sembilan jam pada malam hari. Hipersomnia Hipersomnia merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan. dan gangguan metabolisme. c. 3) Terminal insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur kembali setelah bangun tidur pada malam hari. ginjal. tekanan jiwa. Insomnia terbagi menjadi tiga jenis.

Apnea tidur adalah gangguan yang dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut selama periode 10 detik atau lebih pada saat tidur. atau di saat sedang membicarakan sesuatu. misalnya tertidur dalam keadaan berdiri. d. Enuresa nokturnal umumnya merupakan gangguan pada tidur NREM 2) Enuresa diurnal merupakan mengompol pada saat bangun tidur e. Tanda-tanda yang dapat diamati adalah mendengkur berlebihan. Fisiologis Tidur Dua sistem didalam batang otak. Apnea Tidur Apnea saat tidur adalah periode henti napas saat tidur.10 tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak. mengemudikan kendaraan. atau biasa juga disebut dengan istilah mengompol. diyakini bekerja bersama mengontrol sifat siklik pada tidur. sistem pengaktivasi retikulum dan daerah sinkronisasi bulbar. yaitu pada tahap III dan IV dari tidur NREM. Somnambulisme ini dapat menyebabkan cidera. Enuresa dibagi menjadi dua jenis. Ini 10 . Enuresa Enuresa merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur. Formasi retikulum ditemukan didalam batang otak. f. Narkolepsi Narkolepsi merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur. Hal ini merupakan suatu gangguan neurologis 4. yaitu : 1) Enuresa nokturnal merupakan mengompol di waktu tidur.

pons. Cedera pada hipotalamus dapat menyebabkan seseorang tertidur untuk periode yang abnormal atau panjang. Formasi retikulum membantu refleks dan gerakan volunter. Ini terdiri dari banyak sel saraf dan serabut. Saraf mempuyai hubungan yang merelay impuls ke dalam kerteks serebral dan ke dalam medula spinalis. Keadaan terbangun diaktivasi oleh korteks serebral dan sensasi tubuh. otak tengah dan kemudian ke hipotalamus. serotonin dan histamin. Sensasi seperti nyeri. Hipotalamus mempunyai pusat kontrol untuk beberapa aktivitas tubuh. diikuti oleh dopamine. Keadaan terbangun terjadi apabila sistem retikulum diaktivasi dengan stimulasi dari korteks serebral dan dari sel dan organ sensori tepi. terlibat dalam inhibisi GaBa (gamma aminobutyric acid ) tampaknya perlu untuk inhibisi. sistem retikulum mengalami beberapa stimulasi dari korteks serebral dan dari tepi tubuh. Norepinefrin asetilkolin. stimulasi dari korteks adalah minimal. Sejumlah senyawa berperan sebagai neurotransmitter dan terlibat dalam proses tidur. 11 .11 membetang ke atas sampai ke medula. Selama tidur. Sebagai contoh: jam alam membangunkan kita dari tidur ke keadaan sadar apabila kita menyadari bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk hari itu. maupun aktivitas korteks yang berkaitan dengan keadaan sadar penuh. tekanan dan suara menimbulkan keadaan terbangun melalui sel dan organ tepi. Selama tidur. salah satunya adalah mengenai tidur dan terbangun.

pasien mudah tersinggung. 12 . lingkungan tidur sehari-hari. Memulihkan kondisi fisik b. jam berangkat tidur. Tanda-tanda klinis kekurangan istirahat dan tidur Ada beberapa tanda klinis yang perlu diketahui terhadap pasien yang kurang istirahat dan tidur. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan kebutuhan tidur dan istirahat : a. apatis. kebiasaan menjelang tidur. b. c. Manfaat Tidur Tidur akan terlihat lebih baik setelah tidur malam yang baik adalah berdasarkan pada keyakinan bahwa tidur : a. jumlah terjaga selama tidur.12 5. konjungtiva merah. waktu yang diperlukan untuk dapat tidur. obat-obatan yang diminum pasien dan pengaruhnya terhadap tidur. pasien mengungkapkan rasa capek. warna kehitam-hitaman di sekitar mata. dan kurang santai. posisi waktu tidur. Mengurangi stres dan kecemasan. persepsi pasien terhadap kebutuhan tidur. Kebiasaan tidur Yang perlu diperhatikan kebiasaan banyaknya tidur pasien. pusing dan mual. Memulihkan kemampuan untuk mengatasi dan berkonsentrasi pada aktifitas kehidupannya sehari-hari.

gerakan tubuh sedikit. 25 % tidur REM. 20 % tidur REM. Tidur sekitar 7-8. 20-50 % tidur REM. 20 % tidur REM.1 Pola Tidur Berdasarkan Tingkat Usia/Perkembangan Tingkat Perkembangan Bayi baru lahir Tidur 14-18 jam/hari. 3-6 tahun Akil baligh Dewasa Muda Tidur sekitar 11jam/hari. 20 % tidur REM Tidur sampai 7-8 jam/hari.5 jam/hari. Tabel 2.13 c. 20-25 % tidur Pola Tidur Normal 13 . Mungkin mengalami insomnia dan sulit untuk dapat tidur. Semakin tua usia seseorang semakin sedikit pula lama tidur yang diperlukan. Tahap perkembangan Lama tidur yang dibutuhkan oleh seseorang tergantung pada usia. Dewasa Tua Tidur sekitar 5-6 jam/hari. Dewasa pertengahan Tidur 7-8 jam/hari. pernapasan teratur. 20-30 % tidur NREM mungkin tidur sepanjang malam 1-3 tahun Tidur sekitar 11-12 jam/hari. 50 % tidur NREM siklus tidur 45-60 menit Bayi Tidur 13-16 jam/hari.

Penyakit dan situasi dalam kehidupan sehari – hari yang menyebabkan srtess psikologis cencerung mengganggu tidur. Pertimbangan tentang perkembangan Variasai karena usia terjadi pada siklus tidur – bangun. b.14 (Diatas 60 tahun) REM. Aktivitas fisik Aktivitas dan olah raga mempengaruhi tidur dengan cara meningkatkan kelelahan. mungkin mengalami insomnia dan sering bangun sewaktu tidur. Stres psikologis. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur Beberapa faktor mempengaruhi tidur baik kualitas maupun kuantitas tidur : a. 14 . Biasanya stress psikologis mempengaruhi tidur melalui dua cara : 1) Orang yang mengalami stres cenderung sulit memperoleh jumlah tidur yang dibutuhkan. 2) Tidur REM Berkurang jumlahnya. tampak bahwa aktivitas fisik meningkatkan baik tidur REM maupun NREM. ini menambah kecemasan dan stres. 2004) 6. (Lumbantobing. c.

skeren daerah operasi dan lain-lain. laborat. 2. Apabila motivasi untuk tetap terbangun adalah minimal. Walaupun tahap-tahap perkembangan adalah serupa. biasanya akan diikuti oleh tidur. Pengertian Operasi adalah tindakan pembedahan yang dilakukan oleh dokter spesialis atau operator dengan syarat ada persetujuan operasi. Macam-macam operasi a. Operasi Elektif (Terprogram) Operasi elektif (terprogram) pada pasien dari ruang kenangga yang sehari sebelumnya telah didaftarkan ke IBS (Instalasi Bedah Sentral) dengan ACC dari dokter anestesi. pola tidur mungkin bervariasai sesuai dengan budaya (Ruth F. B. EKG. dimana terencana terlebih dahulu. 2000). Himle. Semua prosedur operasi sudah memenuhi syarat termasuk persiapan pasien puasa. 15 . Constance J. kelengkapan laboratorium. Motivasi Keinginan untuk bangun dan sadar penuh membantu mengatasi mengantuk dan tidur. Radiologi dan lain-lain sesuai perintah dokter yang menaggani operasi. Implikasi kultural Penting bagi perawat mengetahui bahwa pekerjaan dan praktek kultural dapat mempengaruhi istirahat dan tidur. tetapi tempat tidur.15 d. Teori Operasi 1. disetujui oleh dokter anestasi. e. lagnen.

Sedang 1) 2) 3) 4) Hernioterapy reponible Apendiksitis simple tanpa penyulit Mekrotopmiluas Incici abses dengan anestesi ringan 16 . Operasi Cyto (emergency) Operasi segera atau mendadak (emergency) dimana pasien harus dioperasi segera dengan alasan medik misalnya SC dengan perdarahan. Sederhana meliputi operasi ringan 1) 2) 3) 4) Incici Caterisasi lesi kecil Fungsi ringan Jahit luka < 5 cm. Fraktur terbuka dengan perdarahan hebat dan lain-lain. placentaprefia dan lain-lain.16 b. Klasifikasi tindakan operasi a. Kecil 1) 2) 3) 4) Exterpasi tumor kulit superfisial diameter kecil Wound toilet luka kecil Exterpasi klavus Cabut kuku dan lain-lain c. b. 3.

Pemerksaan pra operasi dan rencana pengolahan. screw prothese dengan penyulit 4. infitrat) Thiroidectomy para anal Amputasi extermitas superior atau eksternal e. sedangkan yang lain dipilih berdasarkan keterangan anamnesis. Canggih 1) 2) Prostatectomy terbuka Urectrolitotomy f. Persiapan pre operasi elektif Tindakan umum yang dilakukan setelah diputuskan melakukan pembedahan adalah untuk mempersiapkan pasien agar penyulut pasca operasi dapat dicegah sebanyak mungkin. Sebagian tindakan tersebut dilakukan secara rutin seperti pembersihan kulit. Besar 1) 2) 3) 4) Laparatomy explorasi (Lilies. 17 . peritonitis) Apendiksitis dengan penyulit (perforasi. Khusus 1) 2) 3) Laparatomy explorasi reseksi dan anastomosis usus Laparatomy dan coloctomi Orit fraktur pasang plat.17 d. Toleransi pasien terhadap pembedahan mencakup toleransi fisik maupun mental.

Atas dasar pengertian. Persiapan Fisik 1) Berbagai organ dan sistem Sebelum pembedahan dimulai (dengan anesthesia umum) lambung harus kosong. Sealin itu harus bebas infeksi.18 a. anestesi terhadap kemungkinan cacat atau mati. b. oleh karena itu pasien dipuasakan 6 jam sebelum pembedahan. Reflek esophagus mudah terjadi terutama pada permulaan anesthesia. sehingga operasi efektif harus ditunda selama ada infeksi kulit. Dalam hal ini hubungan baik antara penderita. Persiapan Mental Secara mental seorang pasien harus dipersiapkan untuk menghadapi pembedahan karena selalu ada rasa cemas atau takut terhadap penyuntikan. sehingga dapat terjadi aspirasi isi lambung yang merupakan suatu penyulit berbahaya karena menimbulkan pneumonia yang tidak mudah diatasi. nyeri luka. 18 . Kecemasan ini adalah reaksi normal yang dapat dihadapi dengan sikap terbuka dan penerangan dokter dan petugas kesehatan lainnya. keluarga dan dokter sangat menentukan. Kulit tubuh khususnya didaerah lapangan operasi harus bersih. pasien dan keluarga dapat memberikan persetujuan dan izin untuk pembedahan. Pasien harus mandi atau dimandikan dengan sabun atau larutan antiseptik seperti khorheksidin atau larutan yang mengandung yodium.

Selain itu gangguan faal hati. mukosa lain tampak basah. turgor kulit memadai pasien dapat dianggap normal. 19 . pasien yang demikian harus dihanggatkan dahulu dengan selimut hangat atau dimandikan dengan air hangat 400 C. Jika diuresis mencapai 30ml/jam. gangguan pembekuan darah juga perlu dikoreksi. sehingga pembekuan darah terjadi keterlambatan.19 Suhu badan sebaiknya dipertahankan kurang lebih normal. Perokok diharuskan berhenti merokok satu minggu sebelum operasi. Penderita yang demam metabolismenya meningkat dan memerlukan lebih banyak zat asam sehingga iribilitas miskord meningkat dan keadaan syok tidak dapat dikompensasikan seperti biasa. karena merokok melumpuhkan siliamukosa dan meningkatkan sekresi jalan nafas sehingga proses pembersihan jalan nafas terganggu. Bila demam disertai mengigil dapat diberikan klorpromazin. hipotermia dibawah 340 C berisiko karena metabolisme berlangsung lambat. lidah lembab. Penyulit pasca bedah paling banyak terjadi diparu. Suhu tubuh harus diturunkan terlebih dahulu umpamanya dengan sedia salisilat. Diuresis menjadi pegangan penting dalam menentukan keseimbangan cairan.

Pada umumnya mereka itu dapat berpuasa untuk waktu tertentu sesuai dengan penyakit dan waktu pembedahan. keganasan infeksi kronis dan trauma berat. Kecemasan 1. Pengertian Menurut Freud (dalam Alwisol. Keadaan ini dapat berlangsung tampak pada penurunan kadar serum albumin dan hipotrofi otot. misalnya yang terjadi pada penderita penyakit saluran cerna. 2005:28) mengatakan bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi 20 . Berbeda dengan malnutrisi akibat kelaparan pada penderita bedah terdapat faktor lain yang menyebabkan malnutrisi yaitu kurangnya asupan makanan dan proses radang akibat katalisme meningkat dan anabolisme menurun. C. tetapi tidak jarang pasien yang datang dalam keadaan gizi yang kurang baik.20 2) Keadaan Gizi Kebanyakan pasien yang akan dioperasi tidak membutuhkan perhatian khusus tentang gizi. Namun malnutrisi ringan protein dan kalori tidak banyak mempengaruhi hasil operasi. Malnutrisi berat dipengaruhi morbiditas karena terganggunya penyembuhan luka dan menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi.

sedangkan menurut Nettina (2001) kecemasan adalah perasaan kekhawatiran subyektif dan ketegangan yang dimanifestasikan oleh tingkah laku psikofisiologi dan berbagai pola perilaku.21 adaptif yang sesuai. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian dari kecemasan adalah keadaan dimana seseorang mengalami perasaan gelisah. kekhawatiran atau cemas yang bersifat subyektif dan adanya aktivitas sistem saraf otonom dalam berrespon terhadap ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik yang dimanifestasikan oleh tingkah laku psikofisiologi dan berbagai pola perilaku. kesulitan-kesulitan dan tekanan yang menyertai suatu konflik atau ancaman (Basuki. 1987. (2005) Definisi Kecemasan adalah kebingungan. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan. Sedangkan menurut Suliswati. kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Hanum. Freud juga berpendapat bahwa kecemasan merupakan pengalaman subyektif individu mengenai ketegangan-ketegangan. 2002). 21 .

B. C (1996) kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam. baik secara fisik maupun secara psikologis. atau frustrasi dari kebutuhan sosial atau tubuh. gangguan pada keberhasilan atau status seseorang dan akhirnya ancaman pada kesatuan atau keutuhan seseorang. Bila data yang direpresikan dengan ego yang merepresikan tercantum sehingga timbul gejala kecemasan (Depkes RI. Represi merupakan proses yang automatik. perpisahan dari orang yang dicintai.22 2. Kecemasan akan mengarahkan seseorang untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah ancaman atau meringankan akibatnya. kemungkinan hukuman. Fungsi Adaptif Dari Kecemasan Kecemasan merupakan tanda akan adanya bahaya bagi ego. Pada tingkat yang lebih rendah kecemasan memperingatkan ancaman akan cedera pada tubuh. Dorongan atau pikiran yang tidak dapat diterima oleh ego disangkal (denial) atau disingkirkan dari kesadaran (alam sadar) dan ditanam di alam tak sadar ( represi dan supresi). mensublimasikan atau merepresikannya. keputusasaan. 1996). rasa takut. Kaplan dan Sadock (1999) menyatakan bahwa kecemasan sebagai suatu sinyal peringatan. Sedangkan menurut Long. Keseimbangan itu dipertahankan dengan memuaskan dorongan id. Kecemasan memperingatkan adanya ancaman eksternal dan internal. 22 . Ego menjaga keseimbangan antara id dan super ego dan antara individu yang bersangkutan dengan dunia luar. kecemasan dapat dianggap sebagai emosi yang sama seperti ketakutan.

atau identitas diri. kehilangan kendali. kemampuan untuk merespons terhadap suatu ancaman yang berbeda satu sama lain. perasaan terisolasi dan juga takut mati. 3. Tingkat Kecemasan Menurut Asmadi (2009 : 166). Kecemasan dapat dimanifestasikan dalam tingkatan yang berbeda-beda yaitu mulai dari tingkatan yang ringan sampai dengan tingkatan yang panik. gambaran diri. Selain itu Hudak dan Gallo (1997) menambahkan kecemasan dapat juga terjadi bila ada ancaman ketidakberdayaan. Adapun tingkat kecemasan mempunyai karakteristik atau manifestasi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan kemampuan ini berimplikasi terhadap perbedaan tingkat kecemasan yang dialami. perasaan kehilangan fungsi dan harga diri. kegagalan membentuk pertahanan. tetapi tingkat kecemasan yang parah tidak sejalan dengan kehidupan. antara lain sebagai berikut : 23 . kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup. Menurut Stuart dan Sundeen (1998).23 seperti harga diri. Respons individu terhadap kecemasan beragam dari kecemasan sampai panik.

6) Respons kognitif: mampu menerima rangsangan yang kompleks. menyelesaikan dan terangsang masalah untuk melakukan tindakan. efektif. dan suara kadang-kadang meninggi. nadi dan tekanan darah meningkat sedikit. 24 . 7) Respons perilaku dan emosi: tidak dapat duduk tenang. muka berkerut. gejala ringan pada lambung. tremor halus pada tangan.24 Tingkat Kecemasan Kecemasan ringan Karakteristik 1) Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari 2) Kewaspadaan meningkat 3) Persepsi terhadap lingkungan meningkat 4) Dapat menjadi motivasi positif untuk belajar dan menghasilkan kreativitas 5) Respons fisiologis: sesekali napas pendek. serta bibir bergetar. konsentrasi pada secara masalah.

25 Kecemasan sedang 1) Respons fisiologis: sering napas pendek. bicara banyak dan lebih cepat. anoreksia diare/ konstipasi. dan lapang mengesampingkan persepsi menyempit. dan rangsangan dari luar tidak mampu diterima. mulut kering. 25 .sentak. dan perasaan tidak aman. sering berkemih. susah tidur. dan letih. nadi ekstra sistol dan tekanan darah meningkat. terlihat lebih tegang. sakit kepala. 2) Respons kognitif: memusatkan perhatiannya pada hal yang yang penting lain. 3) Respons perilaku dan emosi: gerakan tersentak.

4) Respons perilaku dan emosi: perasaan terancam meningkat dan komunikasi menjadi terganggu (verbalisasi cepat). penglihatan berkelabut.26 Kecemasan Berat 1) Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. 26 . serta tampak tegang. serta lapang persepsi menyempit. 2) Respons fisiologis: napas pendek. 3) Respons kognitif: tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan / tuntutan. nadi dan tekanan darah naik. berkeringat dan sakit kepala.

berteriakteriak. 3) Respons perilaku dan emosi: agitasi. mengamuk dan marah. motorik. kehilangan kendali/kontrol diri (aktivitas motorik tidak menentu). ketakutan. hipotensi. 4. dan ketidakmampuan memahami situasi. mengejar perubahan terutama perubahan terhadap perasaan tidak nyaman serta 27 . tidak dapat berpikir logis. perasaan terancam. pucat. serta rendahnya koordinasi 2) Respons kognitif: gangguan realitas. sakit dada. rentang respon kecemasan dapat digambarkan dalam rentang respon adaptif sampai maladaptif. Reaksi terhadap kecemasan dapat bersifat konstruktif dan destruktif. serta dapat berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan/ atau orang lain. Bersifat konstruktif seperti motivasi individu untuk belajar. rasa tercekik dan palpitasi. Rentang Respon Kecemasan Menurut Stuart dan Sundeen (1998). persepsi terhadap lingkungan mengalami distorsi.27 Panik 1) Respons fisiologis: napas pendek.

antara lain : a.1: Rentang Respon Kecemasan Sumber : Stuart dan Sundeen (1998) 5. tergantung mekanisme koping seseorang. disfungsi yang menyangkut kecemasan berat dan panik. apakah proses persalinan menimbulkan kecemasan ?. Rentang respon kecemasan dapat digambarkan sebagai berikut : Respon Adaptif Respon Maladaptif Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik Bagan 2. Sifat stressor Sifat stressor dapat berubah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur dan dapat mempengaruhi seseorang dalam menghadapi kecemasan. seorang ibu yang mengetahui kondisi kehamilannya normal dan dapat melahirkan normal akan memiliki 28 . Sifat stressor dapat meliputi : apa arti stressor bagi ibu bersalin ?. Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan Menurut Kozier (2004) kecemasan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor.28 berfokus pada proses perubahan. sedangkan reaksi kecemasan yang bersifat dekstruktif seperti menimbulkan tingkah laku maladaptif. apakah jenis persalinan dapat mempengaruhi kecemasan ?.

misalnya : Ibu bersalin multipara memiliki pengalaman persalinan yang lalu sehingga tingkat kecemasannya dengan ibu primipara. Jumlah stressor yang bersamaan Pada waktu yang sama terdapat sejumlah stressor yang harus dihadapi bersama. semakin besar dampaknya bagi fungsi tubuh. Pengalaman masa lalu Pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu ketika menghadapi stressor yang sama karena individu memiliki kemampuan beradaptasi/mekanisme koping yang lebih baik. Lama stressor Lamanya waktu terpapar stressor dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk dapat mengatasi masalah dan dapat mempengaruhi respon tubuh. dapat menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih ringan. berbeda dibandingkan 29 . misalnya : saat menanti persalinan merupakan saat yang membuat ibu berada dalam kecemasan yang lebih lama karena panjangnya waktu persalinan. b. Semakin banyak stressor yang dialami seseorang. sehingga tingkat kecemasan pun akan berbeda. d.29 tingkat kecemasan yang berbeda dibandingkan dengan seorang ibu dengan penyulit dalam kehamilan dan persalinannya. sehingga jika terjadi stressor yang kecil dapat mengakibatkan reaksi yang berlebihan. c.

gangguan phobik dan gangguan obsesif-komplusif. mudah terkejut. Tingkat perkembangan Tingkat perkembangan individu dapat membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik terhadap stressor. Takut sendirian. Gangguan konsentrasi dan daya ingat. Cemas. misalnya rasa sakit pada otot dan tulang. gangguan perkemihan. Keluhan-keluhan somatik. gangguan panik. e. gangguan pencernaan. 6. takut akan pikirannya sendiri. pendengaran berdenging. Merasa tegang. f. sesak nafas. d. sakit kepala dan lain sebagainya. keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut : a. mimpi yang menegangkan. tidak tenang. ada lagi kelompok cemas yang lebih berat yaitu gangguan cemas menyeluruh. firasat buruk. mudah tersinggung. gelisah. 30 . Gejala Klinis Kecemasan Menurut Hawari (2006:66). Selain keluhan-keluhan cemas secara umum di atas. Pada tiap tingkat perkembangan terdapat sifat stressor yang berbeda sehingga resiko terjadinya stress dan kecemasan berbeda pula. takut pada keramaian dan banyak orang. khawatir. b. c. berdebar-debar. Gangguan pola tidur.30 e.

sering buang air seni. takut. jantung berdebar-debar. merasa ngeri. 3) Rasa khawatir berlebihan tentang hal-hal yang akan datang Cemas. kerongkongan tersumbat. tegang. sukar tidur.31 a. khawatir. Gangguan cemas menyeluruh Secara klinis selain gejala cemas yang biasa. rasa mual. berpikir berulang. membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya atau orang lain. kesemutan. disertai dengan kecemasan yang menyeluruh dan menetap dengan manifestasi 3 dari 4 kategori gejala berikut ini : 1) Ketegangan motorik/alat gerak Gemetar. muka merah atau pucat. kepala terasa ringan. kening berkerut. 2) Hiperaktivitas saraf autonom Berkeringat berlebihan. 31 . pusing. gelisah. rasa dingin. nyeri otot. kelopak mata bergetar. tidak dapat diam. rasa aliran panas atau dingin. diare. 4) Kewaspadaan berlebihan Mengamati lingkungan secara berlebihan sehingga mengakibatkan perhatian mudah teralih. tidak dapat santai. telapak tangan/kaki basah. muka tegang. mudah tersinggung. tidak sabar. sukar konsentrasi. denyut nadi dan nafas cepat waktu istirahat. mulut kering. mudah kaget. rasa tidak enak di ulu ati. letih.

4) Rasa tercekik atau sesak. 12) Merasa takut mati. 3) Nyeri atau rasa tidak enak di dada. 9) Berkeringan banyak. 8) Rasa aliran panas atau dingin. 11) Menggigil atau gemetar. 6) Perasaan seakan-akan diri atau lingkungan tidak realistik. vertigo. takut menjadi gila atau khawatir akan melakukan suatu tindakan secara tidak terkendali selamaa berlangsungnya serangan panik. perasaan melayang. c. 7) Kesemutan. aktifitas atau situasi 32 .32 b. 5) Pusing. Gangguan phobik Gangguan phobik adalah salah satu bentuk kecemasan yang didominasi oleh alam pikir phobia. Phobia adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu objek. 10) Rasa akan pingsan. 2) Jantung berdebar-debar. Secara klinis gangguan panik ditegakkanoleh paling sedikit 4 dari 12 gejala-gejala di bawah ini yang muncul pada setiap serangan yaitu : 1) Sesak nafas. Gangguan panik Gejala klinis gangguan panik yaitu kecemasan yang datangnya mendadak disertai perasaan takut mati.

Gangguan tersebut sudah barang tentu merupakan penderitaan berat bagi dirinya. Seseorang yang menderita phobia social mempunyai rasa takut yang menetap dan tidak rasionalterhadap situasi sosia tertentu dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. misalnya klaustrophobia. akrophobia yaitu ketakutan terhadap ketinggian. karena ia mersa terisolasi dari pergaulan sosial. Rasa ketakutan itu disadari oleh orang yang bersangkutan sebagai suatu ketakutan yang berlebihan dan tidak masuk akal. yaitu ketakutan terhadap ruang tertutup (missal di dalam lift).33 tertentu. yaituketakutan terhadap anjing. Ia mersa takut bahwa ia akan bereaksi dengan cara yang memalukan dirinya. Mekanisme defensive tersebut dilakukan dengan jalan mengalihkan (displacement) pada ide. Ia merasa cemas karena mungkin dinilai atau menadi pusat perhatian orang lain. phobia hewan. atau situasi tertentu yang bertindak sebagai symbol dari konflik atau 33 . Ada juga jenis-jenis phobia lainnya. namun ia tidak mampu mengatasinya. Tidak jarang pada orang yang menderita gangguan ini di samping ketakutan dan juga kecemasan juga menderita depresi. serangga.ular. tikus dan lain sebagainya. Dari sudut psikopatologi dapat disebutkan bahwa gangguan phobia adalah suatu mekanisme defensive dalam upaya seseorang untuk mengatasi kecemasannya. obyek. yang menimbulkan suau keinginan mendesak untuk menghindarinya.

d. Meskipun yang bersangkutan itu sadar bahwa sebenarnya tidak ad aide. Gangguan obsesi kompulsif Obsesi adalah suatu bentuk kecemasan yang didominasi oleh pikiran yang terpaku (persistence) dan berulang kali muncul (recurrent).34 psikotrauma masa lalu (symbolization). Sedangkan kompulsi adalah perbuatan yang dilakukan berulangulang sebagai konsekuensi dari pikiran yang bercorak obsesif tadi. 34 . objek atau situasi yang membahayakan dirinya (tidak rasional). namun hal itu dikemukakan atau diciptakan suatu simbolik atas ketidak- berdayaan(powerless) terhadap pengalaman atau psikotrauma masa lalu yang penuh dengan ketegangan dan ketakutan. suatu konflik yang tak terselesaikan dan ditekan dalam alam tak sadarnya.

(Stuard and Sunden. Cemas b. 1998 dan Gunawan L. (2001)). Kecemasan berat = 28-41 e. Tidak Cemas Variabel Dependent Gangguan pola tidur Suatu keadaan ketidakmampua n mendapatkan tidur yang adekuat. Kecemasan sedang = 21-27 d. Definisi operasional Variabel Variabel Independent Tingkat kecemasan Definisi Operasional Respon emosional yang muncul pada pasien pre operasi elektif selama dirawat di rumah sakit. E. Tidak ada kecemasan = 0-13 b. Penelitian yang akan diteliti. Kecemasan ringan = 14-20 c. Kerangka Konsep Variabel Independen Tingkat kecemasan Dependen Variabel Gangguan Pola Tidur Gambar. metode checklist dengan kriteria jawaban : 0 = Tidak 1 = Ya Penilaian Pertanyaan positif : Selalu = 4 Sering = 3 Kadang-kadang = 2 Tidak pernah = 1 Penilaian Pertanyaan negatif : Ordinal 35 .2 Kerangka konsep. Alat Ukur Kuesioner yang terdiri dari 14 item pertanyaan dengan kriteria jawaban: 1) Tidak pernah = 0 2) Jarang = 1 3) Sering = 2 4) Selalu = 3 Hasil Ukur Skala Dari dengan total 14 item nilai Interval (4x14=56) Score tertinggi: 56 Score terendah: 4 Untuk menjelaskan secara deskriptif dengan Klasifikasi: a.35 D. Panik = 42-56 Dengan kategori: a. baik secara kualitas maupun kuantitas dengan keadaan tidur yang hanya Kuesioner.

Hipotesis Penelitian Ha : Ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan gangguan pola tidur pada pasien preoperasi elektif. 36 . 2003) F.36 sebentar atau susah tidur Selalu = 1 Sering = 2 Kadang-kadang = 3 Tidak pernah = 4 Dikategorikan : Berat = 76% .100% Sedang = 56% -75% Ringan = ≤ 55% (Nursalam.

Lokasi dan objek penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di RSUD M. 1995) dan rancangan penelitian ini adalah menggunakan cross sectional. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono. 2012). Pada pendekatan ini. Populasi dan Sampel 1. C. Jenis atau Rancangan Penelitian dan metode pendekatan Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik yaitu pengukuran terhadap berbagai variabel subyek penelitian menurut keadaan alamiah tanpa melakukan manipulasi atau intervensi. Yunus Bengkulu dan objek penelitiannya adalah pasien pre-operasi elektif. B.37 BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi yang diteliti adalah semua pasien preoperasi 37 . merupakan metode penelitian survey yang bermaksud melakukan pengamatan atau observasi dan pemantauan terhadap objek yang di teliti tetapi objek hanya di teliti satu kali.(sasroasmoro.

Yunus Bengkulu. Pasien pre operasi elektif di ruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu. 2. Yunus Bengkulu. dimana tujuan pengambilan sample sebanyak jumlah tertentu yang dianggap dapat memperoleh sampel tertentu. Pasien pre operasi yang pada saat penelitian belum telah terprogram untuk dioperasi sesuai prosedur di ruang Seruni RSUD M. Kriteria Eksklusi : a. Pasien yang tidak bersedia menjadi responden. b. Teknik sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan teknik Quota Sampling.38 elektif/terencana yang ada di ruang rawat bedah RSUD M. Dengan kriteria Inklusi sebagai berikut : a. Pasien pre operasi yang pada saat penelitian telah terprogram untuk dioperasi sesuai prosedur di ruang Seruni RSUD M. Sampel Sampel adalah bagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. b. Yunus Bengkulu. yang mana dalam pelaksanaannya tidak dilakukan secara random. 38 .

Merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.(Sugiono. a. maka dilakukan uji korelasi antara skor tiap item pertayaan dengan skor total tersebut menggunakan uji korelasi Product moment” dengan rumus : pada responden ( 39 . Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan langkah awal dalam mendapatkan data penelitian. 2005). Data dari rekam medik RSUD M. Pengisian lembar observasi / lembar kuesioner pasien preoperasi dewasa yang terencana ) 2. 2002) Uji validitas isi terhadap kuesioner gangguan pola tidur dilakukan karena peneliti ingin mengetahui kelayakan instrument yang digunakan dalam penelitian. Alat penelitian yang digunakan adalah menggunakan berupa lembar observasi dan lembar kuesioner untuk memperoleh data tentang kecemasan dan gangguan pola tidur.39 D. Uji validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan alat tingkattingkat kesahihan suatu alat ukur (Arikunto. Alat penelitian. Yunus Bengkulu. 3. sumber yang menunjang topik penelitian. literatur yang relevan dengan topik penelitian. pengumpulan data pada penelitian ini akan dilakukan dengan cara : 1.

b. Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alatt pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoadmojdo. 2005). Pengujian validitas pada penelitian ini dilakukan terhadap responden dalam hal ini pasien pre operasi dengan gangguan pola tidur di RSUD M. jika r hitung > koefisien nilai table kritis r yaitu pada taraf signifikan 5%. Uji Reliabilitas.40 r N X  - X N Y  - Y    N XY    X  Y  Keterangan : r = Korelasi antara masing-masing item pertanyaan X = Skor pertanyaan N = Jumlah subyek Y = Skor total pertanyaan Untuk perhitungan tiap-tiap item pertayaan akan dibandingkan dengan table nilai Product Moment. kemudian yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Yunus kota Bengkulu. Untuk mengetahui reliabilitas caranya adalah 40 . Menurut Sugiyono (2005) pengujian reliabilitas kuesioner dapat dilakukan dengan menggunakan metode Internal Consistency. maka instrument yang diuji ditanyakan valid (Sugiono. dilakukan dengan cara mencobakan instrumen sekali saja. 2002).

Berupa lembar observasi jika skor 1 terdapat (satu gejala dari pilihan yang ada). E.41 membandingkan nilai r tabel dengan nilai alpha. Coding Yaitu pengklasifikasian dan pemberian kode pada data. jika skor 4 terdapat (semua gejala ada) dan Bagian B berupa kuesioner. 2. 41 . peneliti melakukan pengecekan terhadap kelengkapan data-data yang ada. Metode Pengolahan Pengolahan data dilakukan meliputi tahap – tahap sebagai berikut : 1. apabila jawaban Ya dinilai 1 dan apabila jawaban Tidak diberi nilai 0. jika skor 2 terdapat (separuh dari gejala yang ada). Dengan ketentuan bila r alpha > r tabel maka alat penelitian handal. Hasil jawaban dari setiap pertanyaan sesuai petunjuk koding yaitu pada lembar observasi bagian A. jika skor 3 terdapat (lebih dari separuh gejala yang ada). Entry data Memasukkan data yang telah dilakukan koding dengan bantuan komputer program SPSS. 3. Editing Editing dilakukan untuk peneliti setiap daftar pertanyaan yang sudah diisi oleh responden.

00. 42 . 2.standar deviasi dan varians). peneliti akan menggunakan uji kenormalan data dengan uji Kolmogorof Smirnov. dengan nilai p value <0.05.42 4. Analisa univariat digunakan untuk mengestimasi parameter populasi untuk data numeric terutama ukuran-ukuran tendesi sentral (modus. Analisa bivariat Analisa bivariat berfungsi untuk mengetahui hubungan antara variable depanden dengan independen. Tabulating Merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah. pengujian menggunakan tingkat kepercayaan 95% dengan menggunakan program komputer SPSS Versi 10. disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis. Jika data berdistribusi normal maka digunakan uji Pearson dan jika data berdistribusi tidak normal menggunakan uji Spearman Rho. ukuran variabilitas (frekuensi. Analisa univariat Penelitian ini menggunakan analisa univariat dengan dua tujuan yaitu analisi deskriptif variable penelitian dan uji kenormalan data.mean. maksimum. Untuk menguji kepastian sebaran data yang diperoleh. Teknik Analisa Data 1. median). minimum. F.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->