LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HEMAPTOE DAN TUBERKULOSIS PARU

A. Definisi Tuberkulosis adalah penyakit yang ditularkan melalui udara, dimana bakteri basil yang infeksius terhirup (droplet) di udara (Jurdao & Otilia VV, 2011). Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Smeltzer & Brenda, 2001). Hemaptoe (batuk darah) adalah darah berdahak yang dibatukkan yang berasal dari saluran pernafasan bagian bawah. Dikatakan batuk darah masif apabila jumlah darah yang keluar 600 ml dalam waktu 24 jam. Hemaptoe adalah ekspetorasi darah / mukus yang berdarah (Anonimous, 2012). Hemaptoe (hemoptysis) adalah batuk dengan sputum yang mengandung darah yang berasal dari paru atau percabangan bronkus (Kusmiati & Laksmi, 2011). Hemaptoe diklasifikasikan menjadi (Tafti SF dkk, 2005): 1. 2. 3. Hemaptoe masif : perdarahan lebih dari 200cc per 24 jam Hemaptoe moderat : perdarahan kurang dari 200cc per 24 jam Hemaptoe ringan : sputum dengan bercak darah.

B. Penularan dan Faktor-faktor Risiko Tuberkulosis ditularkan dari orang ke orang oleh transmisi melalui udara. Individu terinfeksi , melalui berbicara, batuk, bersin, tertawa, atau bernyanyi, melepaskan droplet besar (lebih besar dari 100µ) dan kecil (1-5 µ). Droplet yang besar menetap, sementara droplet yang kecil tertahan di udara dan terhirup oleh individu yang rentan. Individu yang berisiko tinggi untuk tertular tuberkulosis adalah (Smeltzer & Brenda, 2001): 1. Mereka yang kontak dekat dengan seseorang yang mempunyai TB aktif.

1

Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya (mis. 2 . metastase pulmonal. pada kejadian yang jarang. penjara) 7. fasilitas perawatan jangka panjang. Etiologi Agens infeksius utama. Imigran dari negara dengan insiden TB yang tinggi (Asia Tenggara. bovis dan dua subspesies yaitu M. canettii. microti.2. bronchiectasis (fibrosis cystic). berkaita dengan terjadinya infeksi tuberkulosis (Smeltzer & Brenda. Hemaptoe adalah gejala pernafasan non-spesifik dan memiliki hubungan yang signifikan dengan TB paru (Tafti SF et al. Infeksi: penyakit paru inflamasi kronis (bronkhitis akut/ kronis. atau mereka yang terinfeksi HIV). institusi psikiatrik. M. Etiologi hemaptoe antara lain (Flores & Sunder. Individu imunosupresif (termasuk lansia. mereka yang dalam terapi kortikosteroid. Petugas kesehatan C. Mycobacterium tuberculosis. adalah bakteri batang aerobik tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet. Avium pernah. M. Mycobacterium tuberculosis kompleks terdiri dari strain lima spesies yaitu M. 2001). Individu yang tinggal di daerah perumahan substandar kumuh 8. africanum. Mikobakteri ini ditandai dengan 99. 2006) : 1. Neoplasma: karsinoma bronchogenik. Amerika Latin. tuberkulosis. caprae dan M. sarcoma.9% kesamaan pada tingkat nukleotida dan hampir identik dengan urutan 16S rRNA tetapi berbeda dalam hal inang tropisme. Pengguna obat-obat IV dan alkoholik 4. 2. 2011). abses paru. M. Diabetes. Setiap individu yang tinggal di institusi (mis. bypass gastrektomi atau yeyunoileal) 5. dan M. aspergilloma. 3. Bovis dan M. 2005). adenoma bronkial. gagal ginjal kronis. pasien dengan kanker. Afrika. tuberkulosis. M. silikosis. Pinnipedii. fenotipe dan patogenisitas (Jurdao & Otilia VV. penyimpangan gizi. Karibia) 6.

bronkial telangiectasia. infark/emboli pulmonal. Pembuluh darah pulmonal/ cardiac: gagal ventrikel kiri. obat-obatan (nitrofurantoin. Iatrogenik: post biopsi paru. 4. vasculitide sistemik/ penyakit vaskular kolagen. Lain-lain: malformasi arterivenous pulmonal. Alveolar hemoragik: sindrom Goodpasteur. koagulopati. pneumoconiosis. D-penicillamine.3. rupturnya arteri pulmonal dari kateter SwanGanz 7. Benda asing/ trauma: aspirasi benda asing. stenosis katup mitral. 5. 3 . 6. kokain). trimellitic anhydrid. perforasi arteri pulmonal (komplikasi dari kateter arteri pulmonal). trauma dada. isocyanate. broncholith. fistula trakeovaskular.

saluran pencernaan. hematogen. Patofisiologi Microbacterium tuberculosa Droplet infection Masuk lewat jalan napas Menempel pada paru Keluar dari tracheobionchial bersama secret Dibersihkan oleh makrofag Menetap di jaringan paru Sembuh tanpa pengobatan Terjadi proses peradangan Pengeluaran zat pirogen Tumbuh dan berkembang di sitoplasma makrofag Mempengaruhi hipotalamus Sarang primer/afek primer (focus ghon) Hipertermi Mempengaruhi sel point Komplek primer Limfangitis Lokal Limfadinitis regional Menyebar ke organ lain (paru lain. percontinuitum.D. limfogen) Sembuh sendiri tanpa pengobatan Sembuh dengan bekas fibrosis 4 . tulang) melalui media (bronchogen.

muntah Intake nutrisi kurang Perdarahan Hemaptoe Kurang pengetahuan PK infeksi Psikologis Ansietas. takut Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Nyeri akut Fisik (batuk) Gangguan rasa nyaman Gambar 1.Radang tahunan bronkus Pertahanan primer tidak adekuat Berkembang menghancurkan jaringan ikat sekitar Pembentukan tuberkel Kerusakan membran alveolar Bagian tengah nekrosis Membentuk jaringan keju Pembentukan sputum berlebihan Menurunnya permukaan efek paru Alveolus Secret keluar saat batuk Alveolus mengalami konsolidasi dan eksudasi Batuk produktif (batuk terus menerus Droplet infection Batuk berat Distensi abdomen Terhirup orang sehat Resiko infeksi Ketidakefektifan bersihan jalan napas Terjadi robekan pembuluh darah pada paru-paru Mual. Anonimous. Patofisiologi Hematoma Paru (Nurarif AH & Hardhi K. 2013. 2012) 5 .

Ht) 2. Menghentikan perdarahan Sasaran-sasaran terapi yang utama adalah memberikan suport kardiopulmaner dan mengendalikan perdarahan sambil mencegah asfiksia yang 6 . pasien harus mendapatkan perhatian medis yang mendesak tanpa penundaan (Anonimous. Mencegah kemungkinan penyebaran infeksi 3. darah adalah berbusa karena dicampur dengan udara dan lendir dan kadang-kadang lendir yang bernoda darah. 2012). Darah mungkin berwarna merah terang atau mungkin berwarna kekuningan. Mencegah tersumbatnya saluran napas oleh darah yang beku 2. Pada hemaptoe. nyeri dada dan darah dalam urin atau feses. Tujuan pokok terapi ialah (Anonimous. 2006) 1. Jika batuk disertai dengan demam tinggi. 4. ada umumnya hemoptoe ringan tidak diperlukan perawatan khusus dan biasanya berhenti sendiri. Kuantitas mungkin berbeda dengan jumlah yang kecil karena iritasi tenggorokan atau jumlah yang besar dalam kasus kanker. Mendeteksi adanya aneurysm dan malformasi arterivenous atau bronchiectasis yang terkadang tidak terlihat pada radiografi dada. 2. Bronkoskopi 3. Pemeriksaan Penunjang (Flores & Sunder. yang merupakan masalah kesehatan nasional. lesi atau alveoli hemoragik. 4. X-Ray dada. 5. F. sesak napas. pusing. 2011): 1. Bermanfaat untuk menentukan sumber lokasi perdarahan jika terdapat masa. Yang perlu mendapat perhatian yaitu hemoptisis yang masif. 2012).E. 3. rejimen yang tepat dari obat anti-TBC dapat diberikan (Nakhoda N. Penatalaksanaan Medis Dalam kasus tuberkulosis. Pemeriksaaan laboratorium (Hb. Tanda dan Gejala 1. CT scan dada. Sputum sitologi G.

b. 2. Masalah utama dalam hemoptoe adalah terjadinya pembekuan dalam saluran napas yang menyebabkan asfiksi. Hemoptoe dalam jumlah kecil dengan refleks batuk yang buruk dapat menyebabkan kematian. d. h. Pada prinsipnya. trombin dan karbazokrom. Pemberian oksigen. Pemberian cairan atau darah sesuai dengan banyaknya perdarahan yang terjadi. ion kalsium. Pemberian obat – obat penghenti perdarahan (obat – obat hemostasis). tingkat kegawatan hemoptoe paling tinggi dan menyebabkan kegagalan organ yang multipel. c. Bila terjadi afsiksi. Kepala lebih rendah dan miring ke sisi yang sakit untuk mencegah aspirasi darah ke paru yang sehat. hal ini biasanya menenangkan penderita. Tindakan operasi ini dilakukan atas pertimbangan : 7 . Pasien harus dalam keadaan posisi istirahat. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder.merupakan penyebab utama kematian pada para pasien dengan hemoptisis masif (Anonimous. Dalam jumlah banyak dapat menimbukan renjatan hipovolemik (Anonimous. e. 2011): 1. Melakukan suction dengan kateter setiap terjadi perdarahan. Tindakan selanjutnya bila mungkin : 1) Menentukan asal perdarahan dengan bronkoskopi 2) Menentukan penyebab dan mengobatinya. Terapi pembedahan Reseksi bedah segera pada tempat perdarahan merupakan pilihan. i. Dada dikompres dengan es – kap. 2011). g. terapi yang dapat dilakukan adalah (Anonimous. f. yakni posisi miring (lateral decubitus). Batuk secara perlahan – lahan untuk mengeluarkan darah di dalam saluran saluran napas untuk mencegah bahaya sufokasi. Terapi konservatif a. misalnya vit. K. misal aspirasi darah dengan bronkoskopi dan pemberian adrenalin pada sumber perdarahan. 2011).

Pengalaman berbagai penyelidik menunjukkan bahwa angka kematian pada perdarahan yang masif menurun dari 70% menjadi 18% dengan tindakan operasi. gerakan fisik. Hematuria yang disertai dengan batuk darah 13. Batuk terjadi sebelum atau sesudah perdarahan 5. Riwayat penyakit paru atau jantung terdahulu 9. Wheezing 8. c. Lamanya perdarahan 3. Masalah Keperawatan Pengkajian (Anonimous. Terjadinya hemoptisis masif yang mengancam kehidupan pasien. posisi badan dan batuk 7.a. ingin batuk 2. Untuk membedakan antara batuk darah dengan muntah darah dapat digunakan petunjuk sebagai berikut : Keadaan 1. b. Sakit pada tungkai atau adanya pembengkakan serta sakit dada 12. dapat disertai batuk Darah dimuntahkan dapat disertai batuk Hematemesis Mual. Hubungannya perdarahan dengan : istirahat. Etiologi dapat dihilangkan sehingga faktor penyebab terjadinya hemoptoe yang berulang dapat dicegah. Sakit dada. Jumlah dan warna darah 2. H. Perdarahan di tempat lain serempak dengan batuk darah 10. substernal atau pleuritik 6. Onset Darah dibatukkan. Prodromal Hemoptoe Rasa tidak enak di tenggorokan. Perokok berat dan telah berlangsung lama 11. 2011) 1. stomach distress 8 . Batuknya produktif atau tidak 4.

Anemi 9. 5. makrofag. Kurang pengetahuan b. fisiologis (infeksi). Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik dicari gejala/tanda lain di luar paru yang dapat mendasari terjadinya batuk darah. Ketidak seimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b. kelainan hepar Kadang-kadang Warna tinja normal Guaiac test (-) Selalu Tinja bisa berwarna hitam. Reaksi 7.d faktor biologi (hemaptoe). ulserasi septum nasalis.d obstruksi jalan nafas (sekresi dibronkus. 3. PK infeksi 9 . Tinja Alkalis (pH tinggi) Menderita kelainan paru Asam (pH rendah) Gangguan lambung. Diagnosa Keperawatan (NANDA International. 3. Carpenito LJ. mikroorganisme. Nyeri akut b. 8. antara lain : jari tabuh. Riwayat Penyakit Dahulu 8. Penampilan darah 4. bising sistolik dan opening snap.3. 5.d kurangnya paparan informasi. 2. 4. 6. pembesaran kelenjar limfe. 2011). Isi Berbuih Tidak berbuih Merah segar Lekosit. Gangguan rasa nyaman 6. 4. 2007) 1. 7. Guaiac test (-) 14. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b. Warna 5. 2009. mukus yang berlebihan). teleangiektasi (Anonimous. hemosiderin Merah tua Sisa makanan 6.d agen injuri (fisik). I.

2008) 2. kedalaman dan upaya bernapas. Suara napas normal jelas atau krakels tersebar dibagian dasar yang jelas dengan napas dalam. status respirasi. meliputi rate. frekuensi pernapasan dalam rentang normal. et all. bau. mukus yang berlebihan). NIC label: Manajemen jalan napas 1. perubahan pada pola dan respiratory rate. Berikan oksigen sesuai order. warna. mampu bernafas dengan mudah) b) Menunjukkan jalan napas yang paten (irama nafas. sputum abnormal adalah hijau. Dengan adanya sekresi pada jalan napas respiratori rate akan meningkat.d obstruksi jalan nafas (sekresi dibronkus. 4. dan volume. Nurarif AH & Hardhi K. 2013. Moorhead S. Diagnosa 1: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b. Auskultasi suara napas 1 -4 jam. Pantau pola napas. Setelah diberikan asuhan keperawatan 1 x 24 jam diharapkan bersihan jalan klien menjadi efektif.J. 10 . Respiratory rate normal untuk dewasa tanpa dispneu adalah 12-16 (Bickley & Szilagyi. tidak ada sianosis dan dipsneu (mampu mengeluarkan sputum. 2009). NOC: Patensi jalan napas. suara nafas tambahan (wheezing). 2009). Pemberian oksigen dapat memperbaiki hipoksemia (Wong & Elliot. wheezing mengindikasikan adanya sumbatan jalan napas (Fauci et al. tidak ada suara napas abnormal) c) Mampu mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan napas. fisiologis (infeksi) ditandai dengan adanya batuk. 3. sputum berlebihan. Adanya krakles kasar diakhir inspirasi mengindikasikan adanya cairan di jalan napas. 2011. 2007. Rencana Tindakan (Ackley & Ladwig. Sputum normal adalah bening atau abu-abu dan minimal. 2008) 1. Carpenito LJ. Observasi sputum. Kriteria hasil: a) Suara nafas yang bersih.

frekuensi. dan biasanya dalam jumlah banyak. durasi. Kompres dingin memberikan efek vasokontriksi pada pembuluh darah sehingga perdarahan dapat dikontrol. frekuensi penting untuk menentukan penyebab utama nyeri dan pengobatan yang efektif (Breivik et al. perubahan respiratory rate. kontrol nyeri. Ming Wah. mencari bantuan) b) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri c) Mampu mengenali nyeri (skala. Berikan kompres dingin dibagian leher dan dada klien. melaporkan nyeri secara verbal. Dorong pemberian cairan lebih dari 2500ml/ hari kecuali klien dengan gangguan jantung atau ginjal. frekuensi. 11 . dan antitusif. Berikan pengobatan seperti obat koagulan. 5. berbau. Lakukan pengkajian menyeluruh pada nyeri termasuk lokasi. 2. karakteristik. Diagnosa 2: Nyeri akut b. NIC label: Manajemen nyeri 1.d agen injuri (fisik) ditandai dengan perubahan nafsu makan. Setelah diberikan asuhan keperawatan 1 x 2 jam diharapkan nyeri yang dirasakan klien berkurang. NOC: Tingkat nyeri. intensitas. Kriteria hasil: a) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri. Obat koagulan diberikan untuk menghentikan perdarahan dan obat golongan antitusif untuk mengurangi batuk pada klien melalui penekanan pusat saraf batuk. mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. durasi. 7. Cairan membantu meminimalisasi keringnya mukosa dan memaksimalkan kerja silia untuk mengeluarkan sekresi. dan tanda nyeri) d) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang. Pengkajian menyeluruh pada nyeri termasuk lokasi. 2008. 6. 2008). karakteristik.kuning atau terdapat bercak darah.

metode (Pasero. Memperoleh riwayat nyeri individu membantu untuk mengidentifikasi faktor potensial yang mungkin mempengaruhi keinginan pasien untuk melaporkan nyeri. Nyeri akut sebaiknya dikaji saat istirahat (penting untuk kenyamanan) dan selama bergerak (penting untuk fungsi dan menurunkan risiko terjadinya kardiopulmonari dan tromboembolitik pada klien)(Breivik et al. 6. cemas. Regimen manajemen nyeri harus secara individu kepada klien dan mempertimbangkan kondisi medis. Parvizi et al. 2008). termasuk intervensi farmakologi dan nonfarmakologi. 2003a. dan informasi yang dibutuhkan. eliminasi. Obat-obatan golongan opioid 12 . Minta klien untuk menjelaskan pengalaman nyeri sebelumnya. 3. 2008. pengobatannya dan peran klien dalam mengontrol nyeri (APS. 2003a. APS. dan kemampuan untuk istirahat dan tidur. 2003. Deane & Smith. 5. Dunwoody et al. Jelaskan pada klien mengenai pendekatan manajemen nyeri. usia.2. hasilnya efek samping dapat diminimalkan seperti terjadinya oversedasi dan depresi respirasi (Pasero. 2008). keefektifan intervensi manajemen nyeri. biasanya dilakukan pada pemeriksaan TTV dan selama aktivitas dan istirahat. Multimodal analgesik mengkombinasikan dua atau lebih pengobatan. 2008). Kaji adanya nyeri secara rutin. Manajemen nyeri akut dengan pendekatan multimodal. respon klien terhadap nyeri. respon pengobatan analgetik termasuk efek samping. Salah satu langkah penting untuk meningkatkan kemampuan kontrol nyeri adalah klien memahami nyeri secara alami dengan baik. Administrasikan terapi dan pengobatan untuk meningkatkan/ memperbaiki fungsi ini. Minta klien untuk menjelaskan nafsu makan. Manfaat dari pendekatan ini adalah dosis efektif terendah dari setiap obat bisa diberikan. farmakokinetik dari analgesik (Kalkman et al. psikologis dan fisiologis. seperti intensitas nyeri. 2007. respon sebelumnya terhadap analgesik. 2008). Pengkajian nyeri merupakan tanda-tanda vital fisiologis yang penting dan nyeri termasuk dalam “kelima tanda-tanda vital” (APS. 2009a). 2008). 4.

NIC label: Mengajarkan: Proses penyakit (Ackley & Gail. dan berpartisipasi aktif dalam pengobatannya sendiri. adanya nyeri. imaginary. pengobatan. 2. 2007). keberhasilan personal. 7. Muller-Schwefe. Panchal. kesiapan emosional. relaksasi dengan menarik napas dalam. Pertimbangkan kemampuan dan kesiapan klien untuk belajar (mis. 3. 2001. Opioid menyebabkan konstipasi dengan cara menurunkan motilitas usus danmengurangi sekresi mukosa (Friedman &Dello Buono. mental. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit. Memudahkan klien dalam memahami proses penyakit. seperti distraksi. Wurzelmann. Strategi perilaku-kognitif dapat menjadi sumber kontrol diri klien. kondisi. NOC: Pengetahuan: proses penyakit. 2013) 1. 2010. Setelah diberikan asuhan keperawatan 1 x 30 menit (1X pertemuan) diharapkan pengetahuan klien bertambah. b) Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang telah dijelaskan perawat/ tim kesehatan lainnya. Kriteria hasil: a) Klien dan keluarga mampu menyatakan pemahaman tentang penyakit. Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat. motivasi dan pengetahuan sebelumnya) ketika mengajarkan klien. 3. Nurarif & Hardhi. kemampuan melihat dan mendengar. klien dapat 13 .dapat menyebabkan konstipasi yang biasanya terjadi dan menjadi masalah yang signifikan dalam manajemen nyeri. dukung klien untuk menggunakan metode nonfarmakologi untuk membantu mengontrol nyeri.d kurangnya paparan informasi ditandai dengan memverbalkan masalah yang dialami. Klien mengetahui tanda dan gejala sehingga jika terjadi kegawatan. Diagnosa 3: Kurang pengetahuan b. Sebagai tambahan administrasi obat analgesik. Mempermudah dalam memberikan penjelasan pada klien. prognosis dan program pengobatan.

Tawarkan makanan yang biasa klien makan. 2009. 3. Setelah diberikan asuhan keperawatan 1 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi. NOC: Ansietas. kesulitan menelan makanan. 5. rasa nyaman. 2013) 1. Setiap orang menyukai makanan yang biasa dimakan. Diagnosa 5: Gangguan rasa nyaman ditandai dengan ansietas. ketidakmampuan untuk rileks. mengakaji makanan yang biasa dimakan. Berikan pengobatan antiemetik dan nyeri sesuai order dan keperluan.melapor kepada petugas kesehatan/ perawat dan mendapatkan penanganan yang tepat. c) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti. terutama ketika mereka sakit (O’Regan. Pencatatan intake makanan membantu klien dan perawat. Adanya mual/ muntah atau nyeri menimbulkan penurunan nafsu makan.d faktor biologi (hemaptoe) ditandai dengan berat badan turun dengan intake makanan yang tidak adekuat. status nutrisi: intake nutrisi. Nurarif & Hardhi. status nutrisi: intake makanan dan minuman. nyeri dada. Kriteria hasil: a) Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan. NOC: Status nutrisi. takut. Pantau intake makanan. Kriteria hasil: a) Mampu mengontrol kecemasan 14 . 2. pola makan ( Shay. Diagnosa 4: Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b. kurang istirahat. Setelah diberikan asuhan keperawatan 1 x 12 jam diharapkan klien merasa nyaman. 4. 2009). kontrol berat badan. b) Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi. 2010. Sorbert & Seibert. NIC label: Manajemen nutrisi (Ackley & Gail.

Mambantu klien untuk mendapatkan rasa nyaman tanpa teknik farmakologi. 15 . Nurarif & Hardhi. Monitor komplikasi. suhu tubuh. dan pemeriksaan labolatorium . 2010. 2007). Nurarif & Hardhi. 2013) 1. Mengatasi penyabab. primer.b) Kualitas tidur dan istirahat adekuat NIC label: Inspirasi harapan (Ackley & Gail. objektif. NIC label: Kontrol infeksi (Ackley & Gail. 2006) Kriteria hasil: a) Komplikasi dapat dicegah b) Tidak terjadi distres pernapasan. Diagnosa 6: PK Infeksi Setelah diberikan asuhan keperawatan 1 x 24 jam diharapkan infeksi dapat diatasi. sekunder. 2. 2. perdarahan. Langkah ini dapat digunakan untuk membantu meningkatkan rasa nyaman klien. 2003. tidak terjadi syok. Kaji tanda-tanda infeksi. Kaji tanda-tanda syok dan distress pernapasan.radiologi. NOC (Carpenito. 3. Kolaborasi pemberian antibiotik yang sesuai. 6. Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. nyeri. Mengetahui keadaan pasien. Sumber pengkajian data tingkat kenyamanan bisa berupa subjektif. 2010. 2013) 1. Kaji tingkat kenyaman klien saat ini. fokus (Kolcaba. Wilkinson & VanLeuven.

Diakses pada 22 April 2013. 23 (1A): S27. 2011.blogspot. Fauci A. 57: 415-423. Moen J et al. http://mydocumentku. Br J Anaesth. Clin Geriatr Med. Review Articel Tuberculosis: New Aspect of An Old Disease. Kusmiati T. Philadelphia: Lippincott. Guide to Physical Examination. Kasper DL et al. Braunwald E. Hospital Physician: 37-43. Dunwoody CF. United Stated of America : Elsevier. LJ. Otilia VV. Physiologycal Monitoring. Assesment of Pain. . Laksmi W. Nursing Diagnosis Handbook an Evidence-Based Guide to Planning Care. Williams and Wilkins. Deane G. Overview of Pain Management in Older Persons.html Anonimous. 2011. Smith HS. Hemaptoe. Flores RJ. 2003. Jurdao L. Carpenito. 24: 185-20. Majalah kKedokteran Respirasi. Pasero C et al. Jakarta : EGC.html Bicley LS. Harrison’s principles of internal medicine. Breivik H. Ed 10.blogspot. Anonimous. Ladwig GB. Sunder S. New York: Springer.com/2011/07/hemaptoe. Kolcaba K. Visser K. New York: McGraw-Hill. K renzischek DA. 2009.Daftar Pustaka Ackley BJ. Diakses pada tanggal 22 April 2013 http://uzanxwsdcito. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis. Assesment. Asuhan keperawatan pada pasien hemaptoe (batuk darah). 2012. 2006. Allen SM et al. Pain. Borchgrevink PC. 2003. 2008. 2011. 2008. J Perianesth Nurs. 101 (1): 17-24. 2 (1). 2011. 2008. Terapi Bedah pada Penderita dengan Persistent Hemoptysis. Comfort Theory and Practice A Holistic Vision for Health Care. 26. 16 . 2008. Massive Hemoptysis.2007. Preoperative Predication of Severe Postoperative Pain. International Journal of Cell Biology: 1-13. Szilagy P. ed 17.com/2012/03/asuhan-keperawatan-padapasien-hemaptoe. and Consequences of Inadequately Treated Pain. Kalkman CJ.

2013. Seibert D et al. Nutrition for Patients in Hospital. Wilkinson J. Tafti SF. Br J Nurs. 2007. Hardhi K. Jakarta: EGC. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis dan Nanda Nic Noc. 17 . Seyed MM. Sue. http://www. 24 (1): 50-54. Mehran M. Pain Management in The Hospitalized Patient.A Davis. 23 (32): 35-41. Yogyakarta: Mediaction. 2009. 18 (8): 462-464. J Perianesth Nurs. IL: The Society. Nurarif AH. Fundamental of Nursing. 2009. 2008. 6.Ming Wah IJ. Pasero C. 2008. Glenview. Nakhoda N. USA: Willey Blackwell Publication. Philadelphia: E. 2012. ed. O’Regan P. 2005. 2008. The American Pain Society (APS). Diakses pada tanggal 22 April. Mehdi KD. 21 (4): 197-206. Brenda GB. Md Clin N Am. Jilid 2. Moorhead. Principle of Analgesic Use in Acute and Chronic Pain. Elliot M. 2009a. 2009. 92: 371-385. Parvizi J. VanLeuven K.com/hemoptysis/ NANDA International.mdhil. Nursing Diagnosis: Definition and Classification 2009-2011. Outcome and Evaluation of Hemoptysis in Patients with Old Pulmonary TB. Shobert JL. mDhil. -----------. Shay LE. CSI: investigating Acute Postoperative Pain: Improving Outcomes and Clinical Horizons. et all. Reines D. 18 (4): 265-268. Challenges in Pain Assesment. Multimodal Balanced Analgesia in the PACU. Steege J et al. J Am Acad Nurse Pract. Tanaffos. 2009. Hemoptysis. 2001. J Perianesth Nurs. 2003a. Nurs Stand. 4 (15) : 43-8. Smeltzer SC. The Use of Medical Orders in Acute Care Oxygen Therapy. Wong M. USA: Mosbie Elsevier. Adult Weight Management: Translating Resource and Guidelines Into Practice. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8. 2007. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful