LABORATORIUM KIMIA ANALISIS FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN LENGKAP
VITAMIN

DISUSUN OLEH: SALLMIAH IKA CHAPRIANTY PASALLI SUBAEDAH BAHKRI HIJRAH AL KAUTSAR HASMI ISHAK SUHERMAWAN GOLONGAN SABTU ASISTEN : HANSAR SAUD, S.Si, Apt

MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam suatu analisa farmasi, yang ditentukan bukan hanya untuk uji kualitas, tetapi juga untuk uji kuantitasnya. Atau dengan kata lain menentukan adanya suatu zat dalam sediaan dan menentukan seberapa besar kandungan zat aktifnya. Analisa kuatitatif dan kualitatif suatu senyawa obat yang diproduksi sangat penting untuk dilakukan, karena obat-obat yang beredar di pasaran harus diketahui kadar dan mutunya secara pasti. Senyawa atau bahan kimia obat harus esuai dengan yang tercantum dalam Farmakope dan buku-buku resmi lainnya. Dalam praktikum kali ini akan dilakukan analisa kuantitatif dari sediaan yang mengandung vitamin C. Dalam analisa kuantitatif akan ditentukan kadar vitamin C dalam sediaan tablet dengan metode titrasi. Vitamin adalah zat-zat kimia organik dengan komposisi beraneka ragam, yang dalam jumlah kecil dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk memelihara fungsi metabolisme normal. Istilah vitamin diberikan atas dasar perkiraan semula bahwa semua zat ini memiliki struktur amin. Vitamin bahasa latinnya vita yang berarti kehidupan, tetapi ternyata hanya tepat bagi beberapa zat saja.

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahui cara-cara penarikan zat aktif dari sediaan obat serta cara penentuan kadarnya dengan metode titrasi atau metode lainnya. Sehingga ditentukan bahwa kadar suatu zat memenuhi syarat atau tidak I.2 Maksud dan Tujan Percobaan I.2.1 Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara analisis kualitaitf dan kuantitatif suatu senyawa dalam suatu sediaan farmasi. I.2.2 Tujuan Percobaan Melakukan identifikasi suatu senyawa Vitamin B 1, B2, B6, B12 dan Vitamin C dengan cara analisis kualitatif dan menentukan kadar senyawa Vitamin B1, B2, B6, B12 dan Vitamin C dalam sediaan tablet, tabler bewarna dan injeksi. I.3 Prinsip Percobaan 1. Analisis Kualitatif Pengidentifikasian Vitamin B1, B2, B6, B12 dan Vitamin C berdasarkan reaksi sampel dengan pereaksi umum dan pereaksi spesifik yang ditambah pada sampel sehingga dapat ditentukan kandungan senyawa dalam sampel seperti metode Vercoling, reaksi warna dan reaksi pengendapan. 2. Analisis Kuantitatif a. Vitamin C dalam sediaan tablet (iodometri)

Penentuan kadar Vitamin B 1 dalam sediaan tablet dengan metode Argentometri. Dimana sampel dengan asam perklorat menggunakan indikator Kristal Violet.Penetapan kadar asam askorbat dalam sediaan tablet yang menggunakan metode iodometri dimana samnpel dilarutkan dalam campuran air dan H2SO4 10% kemudian dititrasi dengan iodium 0. b. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahaan warna biru . kelebihan larutan iod dititrasi dgn larutan Natrium Tiosulfat 0. Vitamin C dalam sediaan tablet bewarna (iodametri) Penetapan kadar asam askorbat dalam sediaan tablet bewarna dengan menggunakan metode iodametri dimana sampel ditambahkan dengan air. Dimana sampel ditambahkan dengan asam sulfat dan dititrasi dengan larutan iod 0. Dimana sampel Tiamin ditambahkan dengan larutan baku AgNO3 0.1N setelah ditambah dengan indikator besi (III) Amonium Sulfat 4.1N dengan menggunakan indikator kanji hingga warna larutan menjadi biru. Vitamin C dalam injeksi (iodometri) Penetapan kadar asam askorbat dalam injeksi dengan menggunakan metode iodometri. Penentuan kadar Vitamin B 1 dengan metode Titrasi Bebas Air (TBA).1N dengan indikator kanji hingga warna larutan menjadi biru. 3.01N c.1N.1N dan titrat dan endapan yang terbentuk dititrasi dengan larutan NH4SCN 0. HCl 2N dan kloroform sebagai indikator kemudian dititrasi dengan KIO3 0.

1 Teori Umum Vitamin adalah molekul organik dalam makanan yang dibutuhkan untuk metabolisme normal tetpi tidak dapat disintesis dalam jumlah cukup oleh tubuh manusia. Seperti halnya enzim. vitamin diperlukan hanya dalam jumlah sedikit karena vitamin bekerja sebagai katalisator yang memungkinkan transformasi kimia makronutrien yang secara bersama-sama kita sebut metabolisme. Makronutrien dibutuhkan dalam jumlah besar untuk menyediakan energi menghasilkan prekursor organik berbagai komponen tubuh dan untuk memberikan asam amino bagi sintesa protein tubuh. Protein dan lemak yang dibutuhkan pada diet manusia dalam jumlah besar. Karena vitamin dibutuhkan pada diet manusia hanya dalam jumlah milligram atau mikrogram per hari. yaitu ratusan atau sedikitnya lusinan gram per hari. dan martin : 1987). Istilah ini digunakan untuk membedakannya dari makronutrien seperti karbohidrat. Vitamin merupakan senyawa organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan kesehatan dan seringkali bekerja . Defisiensi diet atau fisiologis dari salah satu vitamin menyebabkan sekumpulan gejala penyakit khas yang dapat diperbaiki dengan pemberian vitamin itusendiri. sebaliknya .BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. bentuk aktif vitamin hanya terdapat pada konsentrasi yang rendah di dalam jaringan (Lehninger : 1990. maka vitamin disebut mikronutrien.

enzim bagi enzim-enzim tertentu. Sumber vitamin yang paling baik adalah makanan sehingga orang sehat yang makanannya bermutu baik. Sudah mendapatkan jumlah vitamin yang cukup. misalnya proses fosforilase (vitamin B 1 . tetapi membutuhkan pengubahan kimia dalam tubuh. Banyak vitamin secara biologis tidak aktif. Vitamin dibagi menjadi 2 golongan . vitamin juga dapat diberikan dalam bentuk murni sebagai sediaan tunggal atau kombinasi. Vitamin A bekerja sebagai bahan pangkal untuk . yaitu vitamin yang larut lemak dan vitamin yang larut air. Misalnya vitamin dari kelompok bekerja sebagai ko-enzim. Vitamin yang larut air disimpan dalam tubuh hanya dalam jumlah yang terbatas dan sisanya dibuang (Tjay : 1964). Sediaan untuk tujuan prifilaktik harus dibedakan dari sediaan untuk tujuan pengobatan defisiensi (Tjay : 1964). Yang termasuk vitamin yang larut lemak adalah vitamin A. B3 dan B6). Vitamin B2 dan B3 penggabungan pada nukleotida purin atau piridin.D. Akan tetapi individu dengan diet rendah kalori (kurang dari 1200 kalori/hari) seringkali asupan vitaminnya kurang dan memerlukan tambahan. Banyak vitamin yang berfungsi sebagai ko.sebagai kofaktor untuk enzim metabolisme. Vitamin mempunyai fungsi yang sangat bervariasi. Selain terdapat dalam makanan. B2.E dan K sedangkan vitamin yang larut dalam air adalah vitamin B kompleks dan vitamin C. yang aktif pada proses metabolisme dan pembentukan energi. Vitamin yang terdapat dalam lebih dari satu bentuk kimia atau terdapat pada satu prekursor kadangkadang dinamakan vitamer.

Beberapa vitamin baru aktif setelah mengalami aktivasi in vivo. Kofaktor logam ini mencakup Cu + dalam enzim monooksigenase dan Fe 2+ dalam enzim dioksigenase (Bichemistry : 1999). pridoksin) dan dapat juga membutuhkan pengikatan dengan nukleotida purin atau pirimidin (riboflavin. Asam askorbat merupakan sebagai pereduksi dengan potensial hidrogen sebesar + 0. yang essensial bagi proses penglihatan dalam keadaan gelap dan kurang cahaya. nitrat dan sitokrom. Mekanisme kerja asam askorbat tidak berpartisipasi langsung tetapi diperlukan untuk mempertahankan kofaktor logam dalam keadaan tereduksi. Sehingga membuatnya mampu untuk mereduksi senyawa seperti oksigen molekuler. asam askorbat dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat yang dapat bertindak sebagai sumber vitamin tersebut. . Viamin C ketika berfungsi sebagai donor ekuivalen preduksi. Vitamin yang larut dalam air dapt pula berperan sebagai kofaktor untuk enzim tertentu. niasin).aktivasi vitamin larut air dapat berupa fosforilasi (tiamin. niasin.riboflavin.pigmen retina rodopsin . Vitamin C berfungsi pada sistem reduksioksidasi yang memegang peranan penting pada banyak proses redoks sedangkan vitamin D dalam bentuk aktif penting bagi regulasi kadar Ca dan P dalam jaringan tubuh (Ganiswarna : 1995).08 V. sedangkan vitamin A dan D mempunyai sifat lebih menyerupai hormon dan mengadakan interaksi dengan reseptor spesifik intraseluler pada jaringan target (Ganiswarna : 1995).

ketika C. Persediaan tubuh untuk sebagin besar terdapat dalam cortex anak ginjal . akhirnya mengisolasi faktor anti sariawan dari sari jeruk. Kebanyakan hewan dan mungkin semua tumbuhan dapat mensintesis vitamin C dari glukosa.Meskipun telah diketahui sejak tahun 1970-an bahwa suatu faktor di dalam jeruk mencegah penyakit sariawan . Pemberian vitamin C pada keadaan normal tidak menunjukkan efek farmakodinamika yang jelas. A Waugh di Amerika. Penetapan struktur molekul tersebut segera dilakukan ternyata asam askorbat terdapat pada semua hewan dan jaringan tumbuhan tingkat tinggi. pemberian vitamin C akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat resorbsinya dari usus cepat dan praktis sempurna (90%) tetapi menurunkan pada dosis diatas 1 g. Senyawa ini diperlukan di dalam diet manusia dan hanya sedikit vertebrata lainnya. Asam askorbat tidak terdapat atau diperlukan oleh mikroorganisme (Lehninger : 1990). Glen King W. . ekskresi berlangsung terutama sebagai metabolisme dehidronya dan sedikit sebagai asam oksalat (Ganiswarna 1995). faktor tersebut belum diisolasi dan diidentifikasikan sampai tahun 1933. Tetapi pada keadaan depisiensi. Sebagian kecil dirombak menjadi asam oksalat dengan jalan pemisahan ikatan antara C 2 dan C3. dalam darah sangat mudah dioksida secara reversible menjadi dehidroksida secara reversibel menjadi dehidroaskorbat yang hampir sama katifnya. Distribusinya kesemua jaringan baik.

gigi. Titrasi asidi-alkalmetri dibagi menjadi dua bagian besar yaitu asidimetri.proteoglikan dan lain zat organik matriks antar sel misalnya pada tulang. Pendarahan tersebut disebabkan oleh kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel endotel yang kurang baik dan juga gangguan pada jaringan ikat perikapiler sehingga mudah pecah oleh penekanan (Tjay : 1964). Untuk menetapkan titik akhir titrasi atau titik ekivalen digunakan indikator. Ostwald. Menurut W. Alkalimetri. Reaksi dasar acidimetri dan . indikator adalah suatu senyawa kompleks organik. endotel kapiler. Pada penderita skorbut gangguan sintesis kolagen terlihat sebagai kesulitan penyembuhan luka. Dalam sintesis kolagen selain berperan dalam hidroksilase prolin vitamin C juga nampaknya berperan untuk menstimulasi langsung sintesis peptida kolagen. yaitu titrasi terhadap larutan-larutan asam bebas atau terhadap larutan-larutan yang berasal dari basa lemah dengan asam kuat dengan standar larutan baku basa. yaitu titrasi terhadap larutan-larutan basa bebas atau terhadap larutan-larutan yang berasal dari asam lemah dengan basa kuat dengan standar larutan baku asam. gangguan pembentukan gigi dan pecahnya kapiler yang menyebabkan pendarahan seperti petekie dan ekimosis. dapat dalam bentuk asam ataupun dalam bentuk basa yang mampu berada dalam dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari satu bentuk ke bentuk lain pada konsentrasi H+ atau pH tertentu.Pada jaringan fungsi utama vitamin C adalah dalam sintesis kolagen.

tidak berbau.alkalimetri adalah H+ ditambahkan OH.2 Uraian Bahan 1. Air suling Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : : : : Aqua destillata Aquades. II. 2004).menghasilkan H2O. Asam sulfat Nama resmi Nama lain RM/BM : : Antiskorbut Mengandung tidak kurang dari 99 % C6H8O6 : : : Acidum sulfuricum Asam sulfat H2SO4 / 98.02 Cairan jernih. Larutan asam atau basa 1 N adalah suatu larutan yang setiap liternya mengandung 1 gram ekuivalen asam atau basa.07 . Reaksi ini merupakan reaksi netralisasi asam oleh basa atau netralisasi basa oleh asam. tidak berwarna. air suling H2O/18. tidak berasa Penyimpanan Kegunaan : : Dalam wadah tertutup baik Sebagai pelarut Khasiat Penetapan kadar 2. atau suatu larutan yang setiap mililiter larutan mengandung 1 miligram ekuivalen (1 mgrek) asam atau basa (Depkes RI.

korosif. keras. Natrium Hidroksida : : : Dalam wadah tertutup rapat. Fenolftalein Nama resmi Nama lain RM/BM : : : Mudah larut dalam air dan dalam etanol Dalam wadah tertutup baik Sebagai larutan titer : : : Phenolphtaleinum Fenolftalein C20H14O4/318. rapuh dan menunjukkan pecahan hablur bila dibiarkan diudara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab Kelarutan Penyimpanan Kegunaan 4. massa hablur berbentuk pellet.00 Putih atau praktis putih. tidak berwarna. jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas. Zat tambahan Sebagai lartan titer Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : : : : Natrii Hydroxydum Natrium Hidroksida NaOH / 40. serpihan atau batang atau bentuk lain.Pemerian : Cairan kental seperti minyak.33 . Penyimpanan Khasiat Kegunaan 3.

hitam kelabu. tidak berbau. agak sukar larut dalam eter. stabil di udara Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air. larut dalam etanol. putih atau putih kekuningan lemah. Penyimpanan Kegunaan 5. bau khas Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 3500 bagian air .seperti logam.91 Keping atau butir. dalam 13 bagian etanol (95 %) P dalam lebih kurang 80 bagian gliserol P dan dalam lebih kurang 4 bagian karbondisulfida P. larut dalam kloroform p dan dalam karbontetraklorida P Penyimpanan Kegunaan : : Dalam wadah tertutup rapat Sebagai titran .Pemerian : Serbuk hablur. berat mengkilat. Iodin (hal 317) Nama resmi Nama lain RM/BM Pemerian : : Dalam wadah tertutup rapat Sebagai indicator : : : : Iodum Iod I / 126.

Asam Askorbat : : Dalam wadah tertutup baik Sebagai indikator Nama resmi Nama lain RM/BM Rumus struktur : : : : Acidum Ascorbicum Asam askorbat. putih atau agak. vitamin C C6H8O6/176. rasa asam. tidak berbau.6. tidak berbau Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P. Kanji (FI III : 94) Nama resmi Nama lain Pemerian Kelarutan : : : : Amilum solani Pati kentang Serbuk halus. kuning.13 CH2OH CHOH O =O OH OH Serbuk atau hablur. Penyimpanan Kegunaan II.3 Uraian Sampel 1. Oleh pengaruh Pemerian : . putih.

benzena P. dalam larutan cepat teroksidasi.37 : Sebagai sampel Pemerian : Serbuk hablur. kuning hingga kuning jingga.cahaya lambat laun menjadi gelap. terlindung dari cahaya Kegunaan 2. Melebur pada suhu lebih kurang . Vitanin B12 C17H20N406 / 376. praktis tidak larut dalam kloroform P. eter P. bau lemah. Riboflavin (FI IV:741) Nama Resmi Nama Lain RM/BM Rumus struktur : : : : Riboflavinum Riboflavin. Kelarutan : Mudah larut dalam air. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. agak sukar larut dalam etanol 95% P. Dalam keadaan kering mantap di udara.

Jika kering tidak begitu dipengaruhi oleh cahaya terdifusi. tetapi dalam larutan cahaya sangat cepat menyebabkan peruraian. Pyridoxini (FI IV : 723) Nama Resmi Nama Lain RM/BM Rumus struktur : : : : Pyridoxini Hydrochloridum Piridoksin Hidroklorida. 64 . Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air. dalam etanol dan dalam larutan natrium klorida 0. Vitamin B6 C6H11NO3HCl / 205. terutama jika ada alkali. tidak tembus cahaya. Larutan jernihnya netral terhadap lakmus. 3. sangat mudah larut dalam larutan alkali encer.9%. tidak larut dalam eter dan dalam kloroform. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.2800.

Kelarutan : Mudah larut dalam air. secara perlahan-lahan dipengaruhi oleh cahaya matahari.Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih atau hampir putih. tidak larut dalam eter. sukar larut dalam etanol.38 . Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat. stabil di udara. tidak tembus cahaya. Cyanocobalaminum (FI IV : 263) Nama Resmi Nama Lain RM/BM Rumus struktur : : : : Cyanocobalaminum Sianokobalamin. 4. Larutan mempunyai pH lebih kurang 3. Vitamin B12 C63H88CON14O14P / 1355.

Tidak tembus cahaya.6 diklofenol-indofenol natrium dalam 100 ml air) Demikian juga hal dengan reduksi dalam keadaan dingin dari larutan garam perak amoniak. Asam Askorbat Kualitatif 1. peraksi fehling dan laruta kalim permanganat. Jika terpapar menyerap air lebih kurang 12 % Kelarutan : Agak sukar larut dalam air. Reaksi besi (III) klorida.Pemerian : Hablur atau amorf merah tua atau serbuk hablur merah. Larutan 5 mg zat dalam 5.0 ml air menghilangkan warna 10ml pereaksi Tilimans (50 mg 2. . larut dalam etanol. bila perlu ditambahkan 1ml larutan methanol piridin 10% 2. dalam kloroform dan dalam eter Penyimpanan : Dalam waktu rapat. II. terbentuk warna ungu pada pH 6-8. tidak larut dalam aseton. Bentuk anhidratb pada sangat udara higroskopis.4 Prosedur Kerja • Auterhoff Kovac a.

kemudian dikocok kuat-kuat selama beberapa menit. Tiamin HCl Kualitatif 1. Sejumlah 10 mg zat ditambah dengan 3 ml NaOH. 2 tetes larutan Kalium heksasianoferat (III) 5% yang dibuat segar dan 5 ml isobutanol (I). larutkan dalam campuran 100 ml air bebas CO2 P dan 25 ml asam sulfat (10% b/v) P. larutan direaksikan dengan 5 ml larutan raksa (II) .806 mg C6H8O6 b. segera terbentuk warna kuning pada pemanasan terbentuk endapan coklat hitam (warna kuning juga dengan 3 N NaOH dengan penambahan Pb (II) asetat). 1ml iodium 0. lapisan atas berflouresensi biru-ungu (reaksi tiokrom) 2. Kuantitatif TBA Zat dilarutkan dalam 20 ml asam asetat dengan pemanasan lemah. Iodometri Timbang seksama 400 mg.- Kuantitatif 1.1 N menggunakan indikator larutan kanji P.1 N setara dengan 8. Sesudah dingin. titrasi segera dengan menggunakan iodium 0. Setelah terpisah. Kepada 10 mjg zat ditambahkan 1 ml larutan Pb (II) asetat 10% dan 2 ml 6 N NaOH.

Asam Askorbat (Hal. Tiap ml iodium setara dengan 8. Tiap ml asam perklorat 0.1 N setara dengan 16. Vitamin B1 (Hal 197) TBA: Lebih kurang 250 mg tiamin hidroksida yang ditimbang seksama ditambahkan 100 ml asam asetat glasial.1 N menggunakan indikator kanji sampai terbentuk warna biru tetap. kemudian dititrasi dengan 0.1 N menggunakan indikator 3 tetes Kristal violet sampai warna biru. 208) Lebih kurang 400 mg asam askorbat yang ditimbang seksama. 2. dilarutkan dalam campuran yang terdiri atas 100 ml air bebas karbondioksida dan 25 ml asam sulfat encer. • Analisis Kuantitaif Obat : 198 Argentometri .806 mg asam askorbat. Selanjutnya larutan dititrasi dengan asam perklorat 0.86 mg tiamin hidroksida. indikator 5 tetes larutan ungu Kristal • Analisis Kuantitatif Obat 1.asetat.05 N asam perklorat ( 1/40mmol) sampai timbul warna biru. 10 ml raksa (II) asetat 5% dalam asam asetat glasial dan ditambah 20 ml dioksan. Larutan ditetesi segera dengan iodium 0.

1 N menggunakan ferri ammonium sulfat sebagai indikator. ditambahkan 10 ml AgNO3 0. Filtrat selanjutnya dititrasi dengan larutan baku NH4SCN 0. ditambahkan 20 ml air dan HNO 3 encer sebanyak 5 ml. Larutan diasamkan dengan asam nitrat encer dan ditambah 10 ml AgNO3 0.1 N.Lebih kurang 100 mg tiamin HCl yang ditimbang seksama dilarutkan dalam 20 ml air.1 N. endapan disaring dan dicuci dengan air sampait tidak mengandung klorida. 1ml AgNO3 0.546 mg klor .1 N menggunakan besi (III) ammonium sulfat. • Hyguchi Tiamin Vitamin B1 Argentomeri 20 tablet ditimbang seksama lalu dilarutkan 100 mg tiamin.1 setara dengan 3. endapan disaring dan dicuci dengan air samapi tidak mengandung klorida. Filtrate selanjutnya dititrasi dengan larutan baku NH4SCN 0.

Nessler.BAB III METODE KERJA III. Luff. Na2S2O3 0. asam perklorat. raksa (II) asetat 5 %. B12. rak tabung. B6.I2. HNO3. aquadest. botol semprot. KMNO4.1. gelas ukur. III.2 Bahan Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah alluminium foil.2.1 Alat Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah buret. sendok tanduk. CuSO4. dragendorf. III. vitamin B1. Fehling A. B2. Pb Asetat. asam asetat glacial. FeSO 4. statif dan klem. Fenoftalein. NaOH. CHCl3. NaOH 4N. H2SO4.1 Uji kualitatif 1.1. batang pengaduk. asam oksalat.dan vitamin C. Meyer. HgCl2.AgNO 3. botol coklat. NaHCO3. pipet skala. Diazo A. FeCl3. Disiapkan alat dan bahan 2. pipet tetes. Bouchardat. diazo B.1 Alat dan Bahan III. air bebas CO2. biodium. Fehling B.2 Cara Kerja III.1 N. FeNH4(SO4)2. indikator kanji. asam pikrat. labu tentu ukur. KI. Dibuat larutan stok dari sampel uji .

Ditambahkan indikator kanji 7.3. Dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 4. Diamati perubahan warna 6. Disiapkan alat dan bahan 2. Dicatat volume titrasinya 9. Ditambahkan masing. Dibagi kedalam 6 tabung reaksi masing-masing berisi larutan 5 ml 4. Dicatat hasilnya III.2. dihomogenkan 6. dihomogenkan 5. Dititrasi dengan larutan baku Iod hingga warna biru 8. Ditambahkan air bebas CO2 sebanyak 10 ml. Dihitung % kadarnya .masing pereaksi yang sesuai 5. Ditimbang Vitamin C setara 100 mg 3. Vitamin C tablet 1.2 Uji kuantitatif a. Ditambahkan H2SO4 sebanyak 10 ml.

Ditimbang Vitamin C tablet berwarna setara 50 mg 3. Vitamin C injeksi 1. Ditambahkan air bebas CO2 sebanyak 10 ml. Ditambahkan HCl 2 N sebanyak 6 ml. Dicatat volume titrasinya 9. Disiapkan alat dan bahan 2. Dihitung % kadarnya c. Dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 4. Dititrasi dengan larutan baku KI hingga lapisan CHCl 3 berwarna 8. Ditambahkan H2SO4 sebanyak 5 ml. Vitamin C tablet berwarna 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Ditimbang Vitamin C injeksi setara 100 mg 3. dihomogenkan .b. Dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 4. dihomogenkan 5. dihomogenkan 7. dihomogenkan 6. Ditambahkan CHCl3 sebanyak 12.5 ml.

dengan indikator FeNH4(SO4)2 8. Dititrasi dengan larutan baku Iod sebanyak 5 ml 7. Ditambahkan indikator kanji 6. Dihitung % kadarnya d. Dititrasi dengan Na2S2O3 0. Ditambahkan air sebanyak 20 ml. Disaring dan dicuci endapan. Vitamin B1 (Argentometri) 1. Dihitung % kadarnya . dikocok 5. Disiapkan alat dan bahan 2. dihomogrnkan 6. Dicatat volume titrasinya 9. Dicatat volume titrasinya 9. Filtrat dititrasi dengan NH4SCN. Ditambahkan HNO3 encer 5 ml dan AgNO3 10 ml.5. Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer 4. Ditimbang vitamin B1 sebanyak 75 mg 3. filtrat ditampung 7.1 N hingga warna biru 8.

BAB IV HASIL PENGAMATAN IV.1 Tabel Pengamatan .

C tidak berwarna Vit.53 N1= 0.asetat () +Asam pikrat () +I2 (coklat) +I2 (coklat) +Pb. B1 tablet Vit. B1 tablet Metode Iodimetri TBA Iodatometri Argentometri TBA Bst (mg) 100 100 100 100 V2= 5.a.063 0.4 V1= 10 Nt (N) 0.0788 Vt (ml) 17. Uji kuantitatif Kel.9 4.C & B2 Vit. I Sampel Vit.asetat () +Asam pikrat () +I2 (coklat) Pengendapan +HgCl2 (putih) +I2 (coklat) Luff Oksidasi I2 H2SO4 Kode sampel Kesimpulan B1 Vit.0788 0. C berwarna II Vit. Uji kualitatif Pereaksi Reduksi Warna +AgNO3 (merah) +AgNO3 (merah) +AgNO3 (merah) +AgNO3 (merah) +HgCl2 (putih) +Pb.103 III 100 - .5 N2= 0.B1 dan B2 D6 B4 D5 b.152 0.B1 dan B2 Vit.C & B2 Vit. B1 injeksi Vit.

4 V 100 100 100 100 13.5 Iodometri Iodimetri TBA Iodatometri argentometri 100 V2= 6. B1 injeksi Argentometri 100 V2= 5.6 V1= 10 Vit. B1 tablet Vit.103 N2= 0.09 N1= 0.063 0. B1 injeksi IV Vit.3 V2= 10 .53 N1= 0. C injeksi Iodometri 100 V2= 11. C injeksi Vit.9 V1= 6.V1= 20 N1= 0. C tablet berwarna VI Vit.063 Vit.25 3.152 0.152 N2= 0.063 N1= 0. C tidak berwarna Vit.103 N2= 0.103 N2= 0.8 V1= 2.0788 0.

IV.2 Perhitungan 1) Kelompok I • Vitamin C tablet tidak berwarna (iodimetri) • Vitamin B1 tablet (TBA) - 2) Kelompok II • Vitamin C tablet berwarna (iodatometri) .

• Vitamin B1 injeksi (argentometri) 3) Kelompok III • Vitamin B1 tablet (TBA) • Vitamin C injeksi (iodometri) .

4) Kelompok IV • Vitamin B1 injeksi (argentometri) • Vitamin C injeksi (iodometri) 5) Kelompok V • Vitamin C tablet tidak berwarna (iodimetri) .

3 Reaksi 1.• Vitamin B1 tablet (TBA) - 6) Kelompok VI • Vitamin C tablet berwarna (iodatometri) • Vitamin B1 injeksi (argentometri) IV. Vitamin C Iodimetri .

Vitamin B1 a.+ I2 + 2HI Asam askorbat asam dehidroaskorbat I + I2 I 2. Argentometri + 2AgNO3 H+ NH+ + 2AgCl + 2HNO3 .

misalnya fosforelasi ( vitamin B 1. vitamin digolongkan menjadi . B3 dan B6 ). Kebutuhannya berkisar fari beberapa microgram.+ 2CH3COOH BAB V PEMBAHASAN Vitamin adalah zat-zat kimia organic dengan komposisi beraneka ragam yang dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk memelihara fungsi metabolisme normal. B2. Banyak vitamin seara biologis tidak aktif. tetapi membutuhkan pengubahaan kimia. Berdasarkan daya larutnya dalam air daya larutnya dalam air atau lemak.>AgNO3 +NH4SCN + Fe(NH4)(SO4)2 ↓AgSCN + NH4NO3 + FeSCN (merah) b. misalnya vitamin B12 sampai ratusan milligram ( vitamin C dan E ). Titrasi Bebas Air Hg(CH3COO)2 + 2HClO4 H+ NH+ + HgCl2 + 2ClO4.

Titik akhit titrasi ditandai dengan cepat hilangnya endapan biru tua. karena I2 akan membentuk titik akhir yang bewarna biru. . Titrasi iodimetri adalah analisis titrimetri untuk zat-zat reduktor dengan menggunakan indikator luar. Pada percobaan ini juga digunakan asam sulfat sebagai katalisator dan reaksi oksidasi reduksi dapat berjalan lebih cepat. Jadi. Titik akhir titrasi menjadi lebih dekat sehingga volume I2 yang digunakan tidak terlalu banyak. dilakukan penetapan kadar vitamin C dengan menggunakan metode titrimetri (iodimetri) berdasarkan reaksi redoks merupakan reaksi yang menyebabkan naik turunnya biloks reduksi. E dan K ) Pada percobaan kali ini.dua kelompok. Larutan baku yang digunakan adalah larutan I 2 0.1 N yang akan direaksikan dengan suatu asam katalisator. D. Dalam percobaan ini digunakan H2SO4 yang berfungsi sebagai pembuat suasana asam. Indikator yang digunakan adalah indikator kanji. pelepasan 2 atom H+ dari asam askorbat untuk berikatan dengan I 2 hanya bisa terjadi karena asam. dalam percobaan dilakukan penambahan H2SO4 10% Pada percobaan kali ini dilakukan penetapan kadar vitamin C tablet bewarna menggunakan metode iodatometri dan kadar vitamin B 1 dalam sediaan injeksi. Hal ini diperlukan karena dalam proses titrasi. yakni vitamin hidrofil ( Vitamin B dan C ) dan vitamin lipofil ( Vitamin A.

Vitamin C yang digunakan sudah teroksidasi.4 ml dengan persen kadar sebesar 205. hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini : 1. Tidak dilakukannya isolasi terhadap sampel yang digunakan.5ml CHCl 3. diperoleh volume titrasi 4. kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer. Sedangkan menurut persyaratan kadar dalam Farmakope Indonesia yaitu kadar vitamin C tidak kurang dari 99.0%. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori. ditambahkan 10ml air bebas CO2.Penetapan kadar vitamin C secara iodatometri pertama-tama ditimbang sampel setara 100mg. . Ditambahkan 12. Dititrasi dengan kalium iodat hingga lapisan CHCl3 warna ungu.43%. Ketelitian dalam pembacaan buret. 6ml HCl 2N kemudian dikocok. Berdasarkan percobaan. 3. 2. dimana salah satu persyaratan utama dalam penentuan kadar suatu senyawa adalah senyawa yang akan ditentukan kadarnya harus dalam keadaan murni yaitu tidak ada campuran suatu zat apapun.

1 Kesimpulan Berdasarkan hasil uji kuantitatif. Persen kadar vitamin C tablet berwarna menggunakan metode iodatometri yaitu 205. diperoleh hasil sebagai berikut : a.43 % (kelompok I) dan 182.074 % (kelompok IV).BAB VI PENUTUP VI. Hasil ini .262 % (kelompok II) dan 112.0 % dan tidak lebih dari 110. Hasil ini tidak memenuhi persyaratan kadar FI III yaitu tidak kurang dari 90. b. Persen kadar vitamin B1 injeksi menggunakan metode argentometri yaitu 115.092 % (kelompok VI).0 % dari jumlah yang tertera pada etiket.

0 % dan tidak lebih dari 105.tidak memenuhi persyaratan kadar FI III yaitu tidak kurang dari 95. VI.2 Saran Sebaiknya asisten dapat memakai baju lab dan masker agar menjaga kselamatan para asisten juga.0 % dari jumlah yang tertera pada etiket. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful