P. 1
Perencanaan Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit

Perencanaan Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit

|Views: 229|Likes:
Published by aistop

More info:

Published by: aistop on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/12/2013

pdf

text

original

PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Secara sistimatis pembangunan perkebunan kelapa sawit terbagi dalam tiga tahap

utama, yakni 1)Tahap Investigasi Lahan dan Persiapan, 2)Tahap Pembangunan dan Konstruksi serta 3) Tahap Operasi dan Pemeliharaan.

Tahap Investigasi Lahan dan Persiapan Pengkajian secara tahap demi tahap atas semua faktor yang terlibat dalam Investigasi Lahan dan Persiapan pembangunan perkebunan kelapa sawit perlu didalami dengan seksama sebelum membuat keputusan membangun perkebunan kelapa sawit, antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Lokasi dan Kesesuaian Lahan Aspek Sosial Pemilihan Benih Asumsi dan Proyeksi Manajemen Proyek

1. Lokasi dan Kesesuaian Lahan Survey Pendahuluan Sebelum pelaksanaan pembukaan areal dimulai, dilaksanakan studi kelayakan terlebih dahulu. Studi kelayakan ini harus dilakukan melalui survey pendahuluan untuk memeriksa atau melakukan investigasi atas lahan calon perkebunan yang akan dibangun. Pemeriksaan hanya dilakukan sebatas luas yang tercantum pada ijin lokasi dengan kajian tentang kawasan (hutan atau non hutan), aksesibilitas, status dan tata guna kawasan, kesesuaian lahan ( a.l. agroklimat, kelerengan, kelas tanah,dll), kondisi sosial ekonomi wilayah dan dukungan masyarakat sekitar calon perkebunan. Bila hasil kajian menyatakan bahwa lahan yang diperiksa itu ternyata tidak layak, maka proyek sebaiknyatidak dilanjutkan. Namun apabila hasil kajian menyatakan lahan tersebut layak, maka proses dapat dilanjutkan. Studi Kawasan Investor perlu memahami kawasan yang ditetapkan berdasarkan TGHK dan RTRWP. TGHK (Tata Guna Hutan Kesepakatan) adalah pembagian hutan negara menurut fungsinya yaitu hutan lindung, hutan konservasi, hutan produksi, serta hutan produksi yang dapat dikonversi. TGHK ditetapkan sejak tahun 1983 oleh Departemen Kehutanan yang disepakati oleh Pemerintah Daerah serta sektor lainnya. RTRWP (Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi) adalah pembagian tata ruang wilayah propinsi sebagai penjabaran dari Undang Undang Tata Ruang Tahun 1992. Dalam RTRWP dikenal pembagian ruang sebagai hutan lindung, kawasan budidaya kehutanan dan kawasan budidaya nonkehutanan. Dalam implementasinya, sejak tahun 1993, antara TGHK dan RTRWP dipaduserasikan. Salah satu propinsi yang hingga kini belum paduserasi adalah Kalimantan Tengah. Di propinsi ini, masih 100 % diberlakukan TGHK, sehingga ijin lokasi yang diterbitkan oleh Bupati setempat sering masih tumpang tindih dengan kawasan hutan menurut ketetapan TGHK. Oleh karenanya, langkah awal yang penting dilakukan dalam memilih/mengambil alih lahan adalah pemeriksaan Kawasan. Di Indonesia terdapat dua kawasan dengan Penggunaan yang berbeda, yakni Kawasan Hutan dan Kawasan Non Hutan atau dikenal oleh kalangan perkebunan sebagai Area Penggunaan Lain (APL). Pada Kawasan Hutan yang ditetapkan

berdasarkan TGHK maupun RTRWP, hanya Hutan Konversi yang masih memungkinkan untuk di alih fungsikan menjadi APL apabila memperoleh persetujuan pelepasan kawasan hutan dari Menteri Kehutanan, namun dengan prosedur yang tidak mudah dan dapat ditolak oleh Menteri Kehutanan dengan pertimbangan tertentu. Sedangkan APL dapat digunakan untuk pengembangan perkebunan dengan cukup mengajukan permohonan Ijin Lokasi kepada Bupati setempat. Oleh karenanya, dalam perencanaan pembangunan perkebunan sebaiknya tidak memilih lokasi yang masuk di dalam Kawasan Hutan dan untuk memastikannya, perlu dilakukan Cross Check melalui Badan Pemetaan dan Planologi Nasional yang berada di Bogor.

Kawasan Hutan Tata Ruang Indonesia

Hutan Lindung Hutan Konservasi Taman Hutan Raya Hutan Produksi Hutan Konversi

Kawasan Non Hutan

Area Penggunaan Lain (APL)

Studi Bio-physical Pengkajian berikut adalah menyangkut tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dan tentang persyaratan tumbuh untuk produktifitas tanaman kelapa sawit. Letak ketinggian lahan, data agroklimat, kemiringan lahan, gambut dalam dan jenis tanah sangat perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa lahan yang akan dipilih adalah sesuai baik dari tinjauan aspek Lingkungan Hidup maupun dari aspek persyaratan tumbuh untuk produktifitas. Studi awal untuk memperoleh informasi tentang kondisi diatas dapat dilakukan melalui intepretasi citra satelit dan lain lain, namun sangat disarankan untuk melaksanakan survey lapangan dengan menunjuk konsultan yang sudah berpengalaman.

Tanah Kriteria kesesuaian Tanah untuk produktifitas tanaman kelapa sawit di klasifikasikan dalam empat kelas dari Sangat Sesuai (S1), Sesuai dengan faktor pembatas minor(S2), Bisa Sesuai dengan banyak faktor pembatas (S3) dan Tidak Sesuai (N), seperti dipaparkan pada tabel berikut ini :

Kondisi Tanah S1 Kedalaman Tanah (cm) Kemiiringan Tekstur Struktur > 90 0 – 12 °

S2 60 - 90 12 – 16 °

S3 30 - 60 16 – 24 ° Sandy loam

N < 30 > 24 ° Sand Sangat Buruk

Sandy Clay Loam Loam, Sandy loam Strongly Developed

Moderate.Developed Buruk

Berikut ini adalah peta perwilayahan (Zona) agroklimat di Indonesia dalam hubungannya dengan perkebunan kelapa sawit. Area tanpa adanya water deficit merupakan area yang ideal untuk kelapa sawit.Konsistensi pH Permeabilitas Fragmen Batuan Status Hara Gembur Agak Gembur >4 3. . bulan kering.4 Tidak Tergenang Tergenang karena Tidak ada Subur sumbat Tidak ada Cukup Subur Padat 3 – 3.5 Tergenang musiman s/d 25 % laterit Kurang Subur Sangat Padat <3 Tergenang permanen >25 % laterit Tidak Subur Sumber : Malaysian Society of Soil Science 1977. Diketahui bahwa dampak signifikan dari besarnya water deficit per tahun sangat tidak suitable untuk kelapa sawit sebab akan menyebabkan turunnya produktifitas hingga 54 – 65 % dan oleh sebab itu. diolah Iklim Salah satu parameter yang sering digunakan mewakili kondisi iklim adalah water deficit. Water deficitmerupakan interaksi kompleks dari elevasi. namun water deficit kurang dari 200 mm masih baik untuk kelapa sawit.5 . Water deficit antara 200 – 300 m menjadi faktor pembatas ringan untuk kelapa sawit. area seperti ini menjadi tidak ekonomis buat perkebunan kelapa sawit. 1998 ). sedangkan area dengan water deficit antara 300 – 500 mm menjadi area marginal landperkebunan kelapa sawit ( Caliman & Southworth.. curah hujan dan penyinaran matahari.

Pantai utara Papua dan sebagian di selatan Papua 1 bulan kering.ZONA KARAKTERISTIK 1 DISTRIBUSI DAMPAK Water Deficit sekitar Curah Hujan 1750 – 3000 mm . dapat turun di musim kemarau. sebagian kecil sehingga produksi . Pulau Aru. lama penyinaran matahari 6 jam per hari Riau. Aceh bagian timur. Jambi bagian timur. Sumatera Utara bagian matahari 6 jam per hari Bagian utara dan selatan Kepala Burung Papua. Sangat Sesuai untuk Kelapa Sawit 2 Curah Hujan 1750 – 3000 mm . 200 mm per tahun. Water Deficit rendah namun radiasi matahari sangat kuat. di selatan Papua. lama penyinaran timur.Sumatera Selatan. Hampir seluruh wilayah 1 – 2 bulan kering.

sebagian kecil Kalimantan Tengah. Water Deficit rendah namun radiasi matahari sangat kuat. Bangka timur. 1 – 2 bulan kering. 6 Curah Hujan 1450 – 1750 mm . penyinaran matahari 5 – 5. penyinaran matahari 6 jam per Belitung. Sumatera Selatan bagian 1 – 3 bulan kering. penyinaran matahari 5 – 5.3000 mm . 7 Curah Hujan 1450 – 1750 mm .5 jam Barat. Sebagian kecil di utara 1 – 2 bulan kering.3 Curah Hujan > 3000 mm . kontribusinya sawit rendah. lama per hari Kalimantan Timur. Kalimantan Barat dan 1 – 2 bulan kering. lama penyinaran matahari 6 jam per hari Papua bagian Barat Water Deficit kurang dari 200 mm per tahun. Pulau Nias. lama hari selatan.5 jam Sulawesi Tengah (kecuali matahari lemah. Water Deficit 300 – 400 mm. lama per hari Aceh bagian Barat. sehingga produksi dapat turun di musim kemarau. 1 – 2 bulan kering. Sesuai untuk Kelapa Sawit 5 Curah Hujan > 3000 mm .Lampung bagian menyebabkan produksi . Sumatera Utara bagian Sumatera Barat bagian utara. Palu dan sekitarnya) dan bagian utara Maluku Water Deficit 200 – 300 mm radiasi sehingga produksi rendah. lama penyinaran matahari 6 jam per hari Sumatera Barat bagian selatan dan bagian utara Bengkulu Water Deficit rendah namun radiasi matahari sangat kuat. 4 Curah Hujan 2500 . sehingga produksi dapat turun di musim kemarau.

Lampung bagian barat dan Water Deficit 200 – 3 – 4 bulan kering. . 11 Curah Hujan < 1250 mm .Hampir seluruh Sulawesi Selatan dan perbatasan Papua dengan Papua Nugini bagian selatan 8 Curah Hujan 1750 – 3000 mm . Bagian timur Jawa Barat. lama penyinaran matahari 5. Jawa Timur. > 4 bulan kering. 10 Curah Hujan 1250 – 1450mm .5 – 6 jam per hari sebagian kecil Jawa Barat 300 mm. lama penyinaran matahari 6 jam per hari Jawa Tengah. bagian selatan Sulawesi Selatan dan bagian selatan Sulawesi Tenggara. Palu dan sekitarnya. 3 – 4 bulan kering. Maluku Tengah produksi sawit rendah. menyebabkan penyinaran matahari 5. sehingga produksi rendah selama musim kemarau 9 Curah Hujan 1250 – 1450mm .5 – 6 jam Tenggara. Kelapa Sawit Bali. lama per hari hampir seluruh Sulawesi dan Maluku Selatan Water Deficit 300 – 400mm. lama penyinaran matahari 6 jam per hari Sebagian Nusa Tenggara Sangat tidak Barat dan seluruh Nusa Tenggara Timur direkomendasikan untuk Kelapa Sawit. Tidak Sesuai untuk > 4 bulan kering.

Pertumbuhan Bibit muda akan berhenti pada temperatur udara dibawah 15 o C.000 ha-12.3000 mm per tahun dan terdistribusi sepanjang tahun. tetapi untuk kondisi bergelombang atau berbukit akan memiliki blok yang lebih kecil dan tidak jarang sebagai batas blok dipakai batas alam seperti sungai.Sebagai pegangan. Luas satu kebun biasanya disesuaikan dengan kapasitas pabrik yang akan dibangun. misalnya pemesanan kecambah dilakukan 3-6 bulan sebelum pembibitan dimulai dan pembibitan dimulai 1 tahun sebelum penanaman di lapangan. Demikian pula pemesanan alat-alat berat. Satu unit pabrik yang berkapasitas 30 ton TBS/jam disuplai oleh tanaman yang luasnya 6. Blok ini sangat penting sebagai satuan luas administrasi dan semua pekerjaan akan diperhitungkan dalam satuan blok. Untuk areal yang rata atau berombak mudah membagi blok tersebut. Jadwal atau perencanaan juga harus sudah dibuat. Suvey Detil dan Tata Ruang Kebun Perencanaan luas kebun yang akan dibangun serta tata ruangnya. menghubungi calon pemborong dan lain-lain. Rata rata temperature minimum 20 . instalasi penyiraman. Penyinaran matahari rata rata 5 jam per hari setiap bulan dalam setahun dan sebanyak banyaknya 7 jam per hari di bulan bulan tertentu . pencarian tenaga kerja. penyelesaian ganti rugi. pembentukan Tandan Buah akan terganggu yang pada akhirnya mempengaruhi Yield. Bila dimalam hari temperatur udara turun hingga dibawah 19o C. karena banyak pekerjaan atau hal-hal tertentu yang harus dilaksanakan atau dipesan beberapa bulan sebelumnya.23 oC dan Rata rata temperature maksimum 28o – 32oC. Tata Guna Lahan . Satu kebun dibagi dalam beberapa afdeling yang luasnya 600-800 ha/afdeling tergantung kondisi areal dan tiap afdeling terdiri dari blok tanaman yang luasnya 16-40 ha/blok tergantung kondisi areal.000 ha. disimpulkan bahwa Iklim yang sesuai untuk produktifitas tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut : Iklim tropikal basah di daerah rendah(< 500 m dpl) Curah hujan 1750 .000 ha. jalan dan lain-lain. sedangkan yang berkapasitas 60 ton TBS/jam membutuhkan areal seluas 11.

ketika ternyata dilokasi tersebut banyak terdapat pemukiman penduduk dan perlanian masyarakat yang tidak mungkin digunakan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. (2) Zona Spesifik Zona yang meliputi wilayah produksi netto untuk ditata secara spesifik pengelolaan kebun menjadi blok blok homogen yang teratur. dan kemungkinan adanya gangguan atas flora and fauna yang harus dilindungi. Kondisi tata guna lahan ini akan mempengaruhi besarnya luas efektif lahan. erosi tanah. Survey Detil ini dilakukan terutama untuk menekan seminimal mungkin dampak negatif dari pembukaan kawasan untuk perkebunan dalam skala besar terhadap kepentingan masyarakat lokal. Konsep ini selaras dengan standar pengelolaan Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan yang kini telah menjadi perhatian masyarakat dunia. keterjalan bukit (slope gradient) atau kedalaman rawa gambut. Ide dasar konsep Survey Detil ini adalah melakukan prosedur pengkajian dua Zona utama : (1) Zona Fungsional Fokus pada pengkajian tata guna lahan masyarakat yang sudah ada. kesuburan tanah dan biodiversity. melalui upaya upaya menjaga kelestarian alam dan fungsi sosial atas tata ruang alam semula yang sudah terbentuk sebelumnya.Kajian atas lahan dengan melaksanakan survey detil guna memperlajari tata guna lahan yang ada di lokasi yang dipilih. .

Desain Kebun Maksud perencanaan/desain kebun adalah untuk merencanakan tata ruang alam kebun dan afdeling yang terbagi atas: jaringan jalan. saluran air serta lokasi afdeling dan blok. Jaringan Jalan . areal pembibitan. a.

sehingga perlu diperkeras dengan batu. Untuk satu hektar diperlukan sepanjang 50 m. yaitu jalan yang berfungsi sebagai sarana untuk mengangkut produksi TBS dari TPH. dibuat tegak lurus terhadap baris tanaman. Jalan ini lebarnya 4 & 5 m dan tiap hektar membutuhkan 10 m. yaitu jalan yang terdapat di dalam setiap blok. Jalan ini lebih kecil dari jalan utama. pengelolaan tata air sangat dominan. Jalan utama biasanya dibangun secara terpadu dengan infrastruktur lain seperti perumahan.Panjang dan kualitas jalan di kebun merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam menjamin kelancaran pengangkutan bahan. Saluran Air Perencanaan pembangunan saluran air didasarkan atas topografi lahan. 6 m dan pada tempat tertentu perlu diperkeras. b. · Jalan kontrol (Control Road). · Jalan produksi (Collection Road). Jalan utama dengan lebar 6 & 8 m. Afdeling dan Blok . Rencana pembuatan jaringan jalan harus selaras dengan desain kebun secara keseluruhan. antara lain: · Jalan utama (Main Road). letak sumber air. Sistem pengeluaran air berlebih (drainase) dibuat berdasarkan kondisi drainase areal. bengkel dan kantor. c. dan tinggi muka air tanah. alat dan produksi serta pengontrolan lapangan. yaitu jalan yang menghubungkan antara satu afdeling dengan afdeling lainnya maupun dari afdeling ke pabrik serta menghubungkan langsung pabrik dengan jalan luar/umum. Berdasarkan kebutuhan di lapangan terdapat beberapa jenis jalan. Jalan kontrol berfungsi untuk memudahkan pengontrolan areal pada tiap blok dan sebagai batas pemisah antar blok tanaman. Untuk lahan gambut. Jalan ini terdapat diantara blok dan berhubungan dengan jalan utama. yang disesuaikan dengan kondisi topografi dan kebutuhan kebun. termasuk kendaraan umum. dengan lebar 5 &ndash. mengingat karakteristik lahan gambut yang mengering dan mengkerut tidak balik (irreversible shrinkage) apabila mengalami kekeringan. dilalui kendaraan lebih sering dan lebih berat.

penguasaan lahan menurut hukum negara maupun adat. tidak mungkin suatu masyarakat hukum adat mempertahankan isi dan pelaksanaan hak ulayatnya secara mutlak. seakan-akan ia terlepas dari pada hubungannya dengan masyarakat masyarakat hukum dan daerah-daerah lainnya didalam lingkungan Negara sebagai kesatuan. Sehingga penggunaan tanah yang mampu memberi nilai ekonomi lebih. Luas satu blok tersebut juga dikaitkan terhadap kepentingan penetapan kesatuan contoh daun (KCD). Pada umumnya orang hanya memahami bahwa HGU berlaku untuk tanah negara. Luas areal satu afdeling yang ideal berkisar 750 ha dan luas satu blok adalah 25 ha (500 m x 500 m) untuk topografi datar. Namun Pasal 4 ayat 2 Permenag No. 40/1996 Tentang Hak Guna Usaha. 2. Harus dipahami bahwa di Indonesia secara garis besar hanya dikenal ada dua jenis Hak atas Tanah. yaitu Hak Milik sebagai bentuk dari penguasaan tetap atas tanah dan Hak Pakai . misalnya dengan membangun perkebunan besar. dapat diterima asalkan misalnya dilakukan di atas prinsip keadilan. Aspek Sosial Pada dasarnya. memiliki banyak kesamaan. atau sesudah tanah tersebut tidak dipergunakan lagi atau ditelantarkan sehingga Hak Guna Usaha atau Hak Pakai yang bersangkutan hapus. Karena akan berakibat terhambatnya usaha-usaha untuk mencapai kemakmuran rakyat seluruhnya. sedangkan luas blok untuk daerah dengan topografi bergelombang atau berbukit adalah 16 ha (400 m x 400 m).Luas afdeling dan blok disesuaikan dengan keadaan topografi lahan dan efisiensi pengelolaan areal yang dikaitkan dengan kemudahan perawatan tanaman dan kegiatan panen. karena pada hakekatnya disusun atas nilai-nilai sosial dan kesejahteraan bersama di dalamnya. maka penggunaan selanjutnya harus dilakukan berdasarkan persetujuan baru dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak ulayat masyarakat hukum adat itu masih ada sesuai ketentuan Pasal 2. dapat dilakukan oleh masyarakat hukum adat dengan penyerahan penggunaan tanah untuk jangka waktu tertentu. 5/1999 menyatakan bahwa: ”Pelepasan tanah ulayat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b untuk keperluan pertanian dan keperluan lain yang memerlukan Hak Guna Usaha atau Hak Pakai. Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah. sehingga sesudah jangka waktu itu habis. sebagaimana Pasal 28 ayat 1 UUPA dan Pasal 4 PP No. Jika berdasarkan akal sehat.

Bila penggunaannya akan dilanjutkan. Konflik sosial yang sering terjadi adalah akibat tidak adanya pemahaman tentang HGU. . Hak Guna Usaha untuk perkebunan dan Hak Pakai untuk kepentingan lain lain. Tanpa penjelasan melalui proses sosialisasi. maka harus dilakukan berdasarkan ijin perpanjangan dari negara atau persetujuan baru dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan sepanjang hak ulayat masyarakat hukum adat itu masih menghendaki. yang ada hanyalah Hak Pakai selama kurun waktu yang di sepakati. Pada dasarnya dalam HGU tidak pernah terjadi pengalihan Hak kepemilikan atas tanah. yaitu selama usia HGU itu berlaku. Kompensasi yang diberikan pada hakekatnya bukan GANTI RUGI. akan tetapi semacam BIAYA PINJAM PAKAI dimana pemilik lahan juga akan menerima bagian kebun sesuai proporsi luas lahannya dalam konteks Program Inti Plasma. Hak Pakai dibagi menurut penggunaannya. atau sesudah tanah tersebut tidak dipergunakan lagi. baik dari pihak investor maupun masyarakat.dimana penguasaan atas tanah bersifat sementara atau tidak permanen. Hak Guna Usaha baik diatas tanah negara maupun diatas tanah adat pada hakekatnya adalah sama. yaitu kepada negara bila diatas tanah negara atau kepada masyarakat adat bila diatas tanah adat atau pemilik perorangan. masyarakat menjadi tidak paham dan akan merasa kehilangan. yang antara lain Hak Guna Bangunan untuk properti. yakni hak penguasaan tanah yang bersifat sementara atau tidak permanen menurut kurun waktu tertentu. Ketika jangka waktu itu habis. maka tanah tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah. Bagi perkebunan.

potensi konflik sosial akan menjadi sangat kecil. pemilihan lokasi sebaiknya diarahkan pada area dimana perkampungan tidak banyak dan pemanfaatan air untuk kebutuhan sehari hari tidak besar dan pemanfaatan lahan untuk perladangan atau pertanian masyarakat juga tidak luas.Dalam hal ini lahan plasma melalui wadah koperasi akan dibuatkan sertifikat HGU atas nama Koperasinya dan bukan sertifikat Hak Milik. luas efektif yang dapat diperoleh untuk pembangunan perkebunan berkisar 60 % hingga 70 % dari luas ijin lokasi yang diberikan oleh Bupati. Dengan demikian. ketika Ketika jangka waktu HGU itu habis. Melalui pola seperti ini. atau sesudah tanah tersebut tidak dipergunakan lagi. Adapun faktor pengurang yang utama dapat dilihat pada contoh berikut ini : Inti Plasma . dapat dikatakan bahwa. namun terlepas dari semua itu. maka tanah tersebut akan mudah untuk dikembalikan kepada pemiliknya atau ahli warisnya yang sah. Dari pengalaman.

Komposisi tersebut bervariasi dari 50 : 50 hingga 70 : 30 .140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan dimana Perusahaan perkebunan yang memiliki IUP atau IUPB akan membangun kebun untuk masyarakat sekitar paling rendah seluas 20% (dua puluh per seratus) dari total luas areal kebun yang diusahakan oleh Perusahaan. dimana pihak inti menguasai 70 % dan pihak Plasma 30 %. artinya adalah jika Perusahaan membangun kebun milik Perusahaan (“Inti”) Komposisi Inti dan Plasma merupakan sebuah hasil kesepakatan awal antara Pihak Inti dan Masyarakat yang harus dituangkan dalam sebuah perjanjian ikatan kemitraan.Pola pengembangan yang diterapkan/dikembangkan oleh Perusahaan harus mengikuti pola pengembangan berdasarkan Pola Kemitraan sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 26/Permentan/OT. Adapun lingkup hunbungan kemitraan meliputi : 1. Penyediaan Lahan .

TERJAMIN dari aspek Legal dan KONDUSIF secara Sosial.Lahan yang dimaksud harus memenuhi kriteria KESESUAIAN LAHAN ( Suitable) dari aspek teknis. sosialisasi pada dasarnya merupakan upaya penyebarluasan informasi (program. Pada tingkat implementasi program/proyek. kebijakan. menjadi penjamin pasar hasil produksi kebun plasma dengan menyediakan pabrik pengolahan TBS. peraturan) dari . Pembiayaan Inti bertanggung jawab mengupayakan sumber dana perbankan untuk plasma dan bertindak selaku Avalist serta proses pengembalian hutang petani plasma. memberikan kesempatan pertama pada anggota plasma untuk menjadi tenaga kerja perkebunan dll. 3. 2. Sosialisasi Kegiatan Proyek Perubahan Persepsi Masyarakat Idealnya ”sosialisasi” dimaknai sebagai proses diseminasi dan pembelajaran tentang normanorma yang berlaku sehingga dapat berperan dan diakui oleh kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program/proyek. Pembangunan Perkebunan Inti bertanggung Jawab membangun Kebun sesuai kriteria pada standar aplikasi agronomis yang baik.

Pembangunan kebun masyarakat untuk masyarakat tersebut . Adapun Pola kemitraan usaha perkebunan dapat berupa kerjasama penyediaan sarana produksi.18/2004 menyebutkan bahwa Perusahaan perkebunan melakukan kemitraanyang saling menguntungkan. saling memperkuat dan saling ketergantungan dengan pekebun. pengolahan dan pemasaran. sedangkan untuk luasan lahan kurang dari 25 hektar cukup didaftarkan dengan bukti Surat Tanda Daftar Usaha Budidaya Perkebunan (STD-B) dari Bupati/Walikota. masyarakat yang terkena program. Pasal 22 UU No. menginformasikan bahwa untuk usaha budidaya tanaman perkebunan dengan luasan lahan lebih dari 25 hektar WAJIB memiliki Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B).140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan. Isi informasi yang disebarluaskan harus menyeluruh sesuai dengan tujuan program. hasil kegiatan. saling menghargai. system rekruitmen tenaga kerja. dampak positip dan negatip proyek. program CD atau CSR yang dirancang untuk masyarakat. pola kemitraan. kerjasama operasional. operasi. yaitu Pasal 5 dan Pasal 6. lessons learned dari pengalaman baik (best practices) proyek yang sama untung ruginya ada proyek. transportasi. Perijinan Pengelolaan Usaha Budidaya Perkebunan Kebijakan teknis terbaru yang terkait dengan perizinan usaha perkebunan telah diatur secara operasional oleh Menteri Pertanian melalui Permentan No. dinyatakan bahwa Perusahaan yang memiliki IUP-B wajib membangun kebun untuk masyarakat sekitar paling rendah seluas 20% (dua puluh persen) dari total luas areal perkebunan yang diusahakan oleh perusahaan.26/Permentan/OT. dan masyarakat umum). No. Di dalam permentan tersebut. kebijakan. hak dan kewajiban perusahaan dan masyarakat. Adapun berdasarkan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal 11 Permentan No. kerjasama produksi. peraturan) kepada pihak-pihak lain (aparat. kebijakan exit strategy dan rencana pasca operasi. karyawan dan masyarakat sekitar. panduan dan standar kinerja yang digunakan.Terkait dengan pola usaha perkebunan. saling bertanggungjawab. seperti : Informasi dan materi yang disosialisaikan meliputi : kebijakan operasional program/rencana usaha pada seluruh tahapan kegiatan baik pada tahap pra-operasi. kepemilikan saham dan jasa pendukung lainnya.satu pihak (pemrakarsa program.26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan.

sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 27 ayat (3). sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 17 UU No. melakukan kemitraan dengan pekebun.18/2004 memuat ketentuan bahwa usaha industri pengolahan hasil perkebunan adalah kegiatan penanganan dan pemrosesan yang dilakukan terhadap hasil tanaman perkebunan yang ditujukan untuk mencapai nilai tambah yang lebih tinggi. Terkait dengan Perizinan usaha.26/Permentan/OT. sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 17 UU No.140/2/2007 mengatur bahwa untuk usaha industri pengolahan hasil perkebunan yang WAJIB mendapat Izin Usaha Perkebunan untuk pengolahan (IUP-P) adalah yang memiliki kapasitas produksi pengolahan 5 ton tandan buah segar per jam. di dalam atau di luar kawasan pengembangan perkebunan dan dilakukan secara terpadu dengan usaha budidaya tanaman perkebunan. Guna menegaskan keterjaminan pasokan bahan baku bagi usaha industri pengolahan hasil perkebunan. perusahaan perkebunan dan atau bahan baku dari sumber lainnya.140/2/2007 mengatur mengenai keharusan bagi usaha industri pengolahan hasil kelapa sawit memenuhi paling rendah 20% kebutuhan bahan bakunya dari kebun yang diusahakan sendiri.dapat dilakukan antara lain melalui pola kredit. Disamping itu. hibah atau bagi hasil yang dilakukan bersamaan dengan pembangunan kebun yang diusahakan oleh perusahaan. maka Menteri Pertanian melalui Permentan No.140/2/2007 mengatur mengenai keharusan bagi usaha industri pengolahan hasil kelapa sawit memenuhi paling rendah 20% kebutuhan bahan bakunya dari kebun yang diusahakan sendiri. Guna menegaskan keterjaminan pasokan bahan baku bagi usaha industri pengolahan hasil perkebunan. Permentan Nomor 26/Permentan/OT. usaha industri pengolahan hasil perkebunan harus dapat menjamin ketersediaan bahan bakunya dengan mengusahakan budidaya tanaman perkebunan sendiri. Sedangkan untuk yang berkapasitas dibawah dari kapasitas .18/2004 dimaksud. melakukan kemitraan dengan pekebun. Disamping itu.18/2004 dimaksud. UU No. sebagaimana termuat dalam ketentuan Pasal 10 Permentan dimaksud. usaha industri pengolahan hasil perkebunan harus dapat menjamin ketersediaan bahan bakunya dengan mengusahakan budidaya tanaman perkebunan sendiri. sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 27 ayat (3).26/Permentan/OT. maka Menteri Pertanian melalui Permentan No. Pencapaian nilai tambah tersebut dapat dilakukan di dalam atau di luar kawasan pengembangan perkebunan dan dilakukan secara terpadu dengan usaha budidaya tanaman perkebunan. sebagaimana termuat dalam ketentuan Pasal 10 Permentan dimaksud. perusahaan perkebunan dan atau bahan baku dari sumber lainnya.

Izin Usaha Perkebunan (IUP) diberikan oleh : Kabupaten dan atau Kota. apabila lokasi lahan usaha perkebunan berada diwilayah daerah Kabupaten atau Kota. e. Badan Usaha Milik Negara (BUMN). perusahaan perkebunan wajib memenuhi syaratsyarat sebagai berikut: a. c. o Gubernur. namun IUP itu sendiri tidak akan diterbitkan oleh Bupati atau Gubernur sebelum pengusaha melaksanakan AMDAL diatas lahan yang sudah dipilih. d. b. Surat Keterangan Domisili. Izin Usaha Perkebunan berlaku selama perusahaan masih melakukan pengelolaan perkebunan secara komersial yang sesuai standar teknis dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta memenuhi seluruh kewajiban yang telah ditetapkan. dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). apabila lokasi lahan usaha perkebunan berada pada lintas wilayah daerah o Bupati atau Walikota. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Perseroaan Terbatas (PT). b. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari instansi kehutanan sepanjang kawasan hutan. Rekomendasi lokasi dari instansi pertanahan. Akte pendirian atau perubahannya yang terakhir. Rencana kerja usaha perkebunan.tersebut cukup mendaftarkannya yang kemudian dibuktikan dengan Surat Tanda Daftar Usaha Industri Pengolahan Hasil Perkebunan (STD-P) yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota. . Dari uraian diatas jelas. Usaha perkebunan dapat dilakukan oleh perorangan warga negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia meliputi Koperasi. Untuk memperoleh izin usaha perkebunan. f. a. bahwa IUP adalah wajib di miliki sebelum mulai melaksanakan pembangunan Perkebunan.

Rekomendasi teknis kesesuaian lahan dari Kepala Dinas yang membidangi usaha perkebunan Provinsi. Diagram proses perijinan untuk kawasan hutan konversi dan kawasan APL dapat dilihat dibawah ini : . Peta calon lokasi dengan skala 1: 100. h. Surat persetujuan dokumen AMDAL dari komisi AMDAL daerah.000. i.g. Kabupaten atau Kota setempat yang didasarkan pada perencanaan makro. Ijin Lokasi. Pernyataan mengenai pola pengembangan yang dipilih dan dibuat dalam akte Dengan telah diperolehnya perijinan dasar yang berupa. Sedangkan proses sosialisasi dalam rangka perolehan lahan sudah dapat dimulai sejak Ijin Lokasi sudah di terbitkan dan laporan hasil survey detil sudah selesai. Amdal dan IUP. j. notaris. maka perusahaan perkebunan baru secara sah dapat mulai beroperasi. perwilayahan komoditi danRUTR.

NIFOR (Calabar). Banting. Dabou Sumber Utama pisifera – AVROS. Dami. risikonya akan ditanggung selama 30 tahun. La Me Kecambah Kelapa Sawit . Benih dan Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit dan bersifat monumental. DOA/MARDI/MPOB. Benih Kelapa Sawit Sasaran utama dari perkebunan kelapa sawit adalah menghasilkan YIELD atau produktifitas TBS ton per hektar atau produktifitas CPO ton per hektar yang tinggi. Yangambi. Produksi Benih Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai induk jantan DURA x PISIFERA (D xP) Kebanyakan berbasis pada Deli dura yang berasal dari – Chemara. artinya kesalahan memilih benih hari ini. Socfindo.3. Faktor faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produktifitas tanaman. diantaranya adalah kualitas dan karakteristik bahan tanaman atau benih yang ditanam. Ekona.

di luar dari sumber benih diatas. PT SMART TBK 2009 Pembelian benih harus berasal dari sumber penyedia benih nasional seperti pada daftar di atas.Estimasi Produksi Benih Kelapa Sawit Nasional Sumber : Tony Liwang. risiko memperoleh benih palsu atau memperoleh benih terkontaminasi Dura dan penyakit akan menjadi kenyataan. .

namun dengan cara ini. sebuah master budget akan memerlukan asumsi-asumsi dan proyeksi yang menyangkut produksi dan penjualan.Akibat Benih Palsu 4 Asumsi dan Proyeksi Setelah tahap investigasi lahan dan persiapan selesai dilakukan. Seperti diketahui. dan sebelum memulai tahap selanjutnya yakni tahap pembangunan dan konstruksi. a) karakteristik harga CPO dengan tinjauan trend perubahan harganya selama satu kurun waktu tertentu (misalnya 5 – 10 tahun terakhir). untuk kemudian dihitung besarnya harga rata rata dari periode waktu tersebut. maka yang perlu dilakukan adalah membuat perencanaan pembiayaan proyek (Master Budget). Ada juga yang membuat perhitungan harga CPO berdasarkan asumsi kenaikan pertahun. . Asumsi Asumsi Penetapan asumsi antara lain didasarkan atas . asumsi harga CPO pertahun akan jauh meleset dari kenyataan (karena harga CPO selalu berubah sesuai kehendak pasar) dan mempersulit perhitungan budget itu sendiri.

Oleh karenanya penetapan asumsi harga CPO. b) karakteristik produktifitas berdasarkan perubahan umur tanaman dan zona kesesuaian lahan serta kerapatan tanam per hektar seperti berikut : q Kerapatan Tanam 136 pohon per hektar. sebaiknya dibuat pesimis namun realistik.30 ton per hektar. q Panen dimulai pada tahun ke 4 setelah tanam. ketika harga CPO jatuh ke titik yang rendah. . produksi maximum dicapai antara tahun ke 9hingga tahun ke 15 q Produksi TBS per hektar bervariasi antara 17 .kesuburan tanah and perlakuan teknis agronomis. harga tersebut masih diatas dari biaya yang dikeluarkan.Perlu dipahami bahwa Prinsip utama dari bisnis komoditi seperti kelapa sawit adalah menekan biaya yang sekecil kecilnya dengan meningkatkan produksi yang se tinggi tingginya. tergantung umur tanaman . Dengan demikian.

23 % and Kernel antara 3 . Contoh Rencana Tanam Contoh Potensi Produksi Kelapa Sawit .q Rendemen CPO bervariasi antara 21 .5 % .

c) Perkiraan nilai tukar rupiah terhadap mata uang US dollar yang asumsikan tetap untuk kurun waktu yang panjang. dan d) asumsi rencana tanam berdasarkan ketersediaan lahan serta d) Perkiraan kenaikkan inflasi per tahun dalam persen. . Proyeksi Perhitungan proyeksi produksi dan proyeksi penjualan dengan mudah dapat diperhitungkan berdasarkan asumsi asumsi yang ditetapkan sebelumnya. Semua perhitungan proyeksi.

Contoh Tabel Proyeksi Produksi Palm Product .baik proyeksi produksi maupun proyeksi penjualan selalu akan mengacu pada Rencana Tanam dan potensi produktiftas serta asumsi harga yang telah ditetapkan.

underbrushing & clear felling) Pengelolaan Biomass (Biomass management & disposal) Perataan Tanah. drainage & irrigation) .Tahap Pembangunan dan Konstruksi Contoh Tabel Proyeksi Penjualan Tipikal Aktifitas Pembibitan (Nursery establishment) o o o o o Pembangunan Akses Jalan ( Access road) Pembuatan Bangunan Sementara ( Base camp) Pembersihan Lahan (Site clearing . pemaritan dan Jaringan penyiraman (Earthworks.

infrasruktur (Earthworks. harus dipastikan bahwa bahan tanaman kelapa sawit sudah di pesan dari sumber benih yang diuraikan pada tahap persiapan dimuka. Untuk kerapatan tanam 130 pohon/ha. Pemesanan kecambah sebaiknya dilakukan 3 . drainage & infrastructure) Penanaman Cover Crop Penanaman di Lapangan (Field establishment) o o o Pemancangan dan Lubang Tanam (Field lining & holing) Seleksi Bibit terakhir (Final culling) Penanaman di Lapangan (Transplanting) Perawatan & Panen (Maintenance & harvesting) o o o o o Aplikasi Pemupukan (Fertilizer application) Penggunaan dan Kontrol Bahan Kimia (Use of control agro-chemicals) Perawatan Tanaman (General field upkeep) Panen (Harvesting) Angkutan Tandan Buah Segar ke Pabrik ( Transportation of fresh fruit bunches to oil mill) Sebelum aktifitas pembukaan lahan dimulai.underbrushing & clear felling) Pengelolaan Biomass (Biomass management & disposal) Land clearing. diperlukan 180 .185 kecambah/ha. pemaritan .Bahan tanaman kelapa sawit disediakan dalam bentuk kecambah (germinated seed). .6 bulan sebelum pembibitan dimulai dan persiapan lapangannya agar disesuaikan dengan jadwal kedatangan kecambah.o Penanaman Kecambah dan Pemeliharaan (Planting and maintenance of seedlings) Pembukaan Lahan (Site preparation) o o o o o o o Pembangunan Akses Jalan ( Access road) Pembuatan Bangunan Sementara ( Base camp) Utilities provision Pembersihan Lahan (Site clearing .

000 bibit dlm polybag besar = +/.100 ha Lahan Tanam = 15. 11. Telah disinggung dimuka bahwa pemesanan kecambah harus dilakukan 3-6 bulan sebelum pembibitan dimulai dan kegiatan pembibitan dimulai 1 tahun sebelum penanaman di lapangan. Seleksi bibit di pembibitan dalam rangka memilih bibit yang jagur untuk ditanam di lapangan adalah penting untuk dilakukan agar potensi produksi yang diharapkan dapat terpenuhi.2 m . Jadwal kerja ini tergantung pada kondisi setempat dan hendaknya disesuaikan dengan keadaan iklim.per kecambah. sarana. dengan kisaran antara Rp 7000 hingga Rp.40% darijumlah kebutuhan bibit untuk ditanam di lapangan. Sumber benih manapun yang dipilih. Demikian pula pemesanan alat-alat berat. instalasi penyiraman. Jadwal pembibitan dibuat tersendiri dan jadwal pembukaan lahan serta penanaman tersendiri pula. Mengingat sebagian pekerjaan akan menghadapi tantangan alam maka pekerjaan tersebut harus disesuaikan dengan keadaan yang akan terjadi. Oleh karena itu ..tenaga kerja dan dana yang tersedia.Harga kecambah yang ditawarkan oleh masing masing sumber benih berbeda beda. pencarian tenaga kerja. pemesanan kecambah harus selalu ditambah 35% . 1 ha Lahan Pembibitan = +/. menghubungi calon pemborong dan lain-lain.000.2 hari untuk Penyiapan 1 ha Lahan Pembibitan dengan menggunakan Alat Be Pre-Nursery Ukuran Seedling bed 10 x 1.

Lihat gambar design pembibitan dibawah ini Design Jaringan Pipa Pembibitan 10 Ha Pompa dan mesin berkapasitas 30 kva untuk melayani 10 ha bibit di main nursery . pre nursery sesuai jumlah bibit yang akan dipindahkan dan terus berlanjut sampai Ukuran Polybag 50 cm x 40 cm x 0. sejak kecambah di tanam pada polybag Main Nursery Persiapan fasilitas Penyiraman harus sudah selesai 1 bulan sebelum pemindahan dari pre nursery ke main nursery. Pengisian tanah di polybags harus sudah selesai untuk menerima pemindahan bi untuk menampung semua kecambah.2 cm.1 cm . 500 lubang . dengan 250 lubang Jenis Polybag black UV stabilized harus Top Soil. Pengisisan Tanah dilakukan 2 minggu sebelum kecambah datang. jenis black UV stabilized) Jumlah pipa dan perlengkapannya harus di hitung sesuai design di lapangan.Peletakan polybag 100 x 10 Daya tampung kecambah per bed = 1000 kecambah’ Ukuran Polybag = 14 cm x 25 cm x 0. Pupuk phosphorus (P) dicampur dengan Tanah sebelum di isi kedalam polybag. Tanah yang dig Fasilitas Penyiraman harus sudah tersedia.

Design Jaringan Pipa Pembibitan Per Ha .

Ju Norma Tenaga Kerja dan Mesin Penyiapan Lahan untuk Pembibitan per Hektar (Ex Hutan) Penyiapan Lahan untuk Pembibitan per Hektar (Ex Padang Ilalang) .

Material dan Peralatan untuk Pre Nursery .Catatan : Harga HK berdasarkan UMK yang berlaku Harga JKT (Jam Kerja Traktor) berdasarkan harga Sewa yang berlaku Norma Kebutuhan HK.

Material dan Peralatan untuk Main Nursery .Norma Kebutuhan HK.

15 Kg .9 Kg .Perhitungan Upah Harian Tetap NOTE : Premium & Overtime Medical & Social Expenses Rice Allowance = 20 % To Normal Wage (Estimate ) = 10 % To Normal Wage (Estimate ) = Worker Dependant Wife .

279. Tahapan luas kebun yang dibangun juga harus diperhitungkan.5 Kg (7.Areal Lalang: areal bekas perladangan yang telah ditinggal dan ditumbuhi alang-alang . tata guna lahan dan drainasenya. dengan kerapatan pohon padat.64/Kg = Rp.000 & 12. kopi. agar pabrik yang akan dibangun 1-2 tahun kemudian dapat mengolah secara optimal atau tidak terlalu lama mengalami idle capacity& Kondisi areal yang akan dibuka tidak selalu sama baik ditinjau dari segi vegetasi.160 Pekerja Harian Lepas tidak diberikan tunjangan no 3 dan 4 Pembukaan Lahan Pembangunan kebun pada umumnya dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan kemampuan dana.000 ha dapat dilakukan jika semua fasilitas tersedia. walaupun pembukaan lahan sekaligus seluas 6.000 / MONTH = Rp. . dengan kerapatan pohon lebih sedikit dan terdapat pohon yang telah ditanam. drainase serta batas dan luas areal. Selanjutnya berdasarkan . 6. ada beberapa kemungkinan yaitu: . 1.22. maka dilakukan rintisan yang serupa dengan rintisan pada pembuatan studi kelayakan.5 . kelapa sawit dan lain-lain. 11. Setelah diketahui kondisi lokasi dan luas yang akan dibuka pada tahun pertama. Rintisan Areal Kondisi areal yang akan dibuka perlu diketahui lebih dulu untuk menentukan sistem yang akan digunakan dalam pembukaan areal tersebut. topografi.3 Children Kg/CHILD.46.Hutan Primer: hutan yang belum pernah dikelola manusia. .Areal Konversi: areal yang sebelumnya diusahakan dengan komoditi tertentu misal bekas karet.5 Kg = Rp.MAXIMUM 3 CHILDREN ) TOTAL Estimate Price Of Rice TOTAL RICE ALLOWANCE (IN Rp ) /Day 1 Month = 25 Days . sumber air. sumberdaya manusia dan keadaan lainnya.000 / Kg = USD 0. Berdasarkan keadaan vegetasi. topografi. namun lebih mendetail untuk mengetahui secara pasti vegetasi.Hutan sekunder: hutan yang pernah dikelola manusia.

terutama yang menyangkut perencanaan perolehan lahan. 2. lokasi pemondokan sementara. pembagian blok besar dan kecil untuk persiapan pemborongan pekerjaan. Pembukaan Lahan Hutan Tanpa Bakar (Zero Burning) Udara bersih yang bebas dari pencemaran asap merupakan manfaat utama dari pembukaan hutan dengan teknik tanpa bakar. misalnya perbaikan tekstur tanah.peta hasil rintisan dibuat perencanaan jalan. meningkatnya kapasitas penahanan air dan kapasitas tukar kation. Time Frame Pembangunan Perkebunan . arah pembukaan lahan dan lain-lain. Setelah itu dibuat rintisan untuk jalur pengukuran dan pemasangan patok. menurunkan plastisitas tanah dan kohesi tanah serta meningkatkan kandungan hara. Dengan peningkatan kandungan bahan organik dan anorganik tanah. Patok yang dicat putih dipasang setiap jarak 25 m dan patok merah dipasang di setiap sudut blok. disamping adanya peningkatan kandungan bahan organik dan anorganik sebagai akibat pembusukan kayu secara alami. Aktifitas pembangunan fisik perkebunan tidak dikupas seluruhnya. Selanjutnya dilakukan pengukuran dan penataaan blok yang dimulai dengan penentuan batas areal. karena fokus pembahasan pada artikel ini adalah perencanaan. maka akan meningkatkan kesuburan fisik dan kimia tanah. perencanaan tata ruang kebun dan perencanaan pembiayaan.

• • • • Satu Kontraktor rata rata mampu membuka lahan seluas 1.800 ha per tahun atau 150 ha per bulan (tanpa bakar dan vegetasi hutan sekunder) Mempersiapkan pembelian kecambah sebanyak 1 250 000 butir yang disesuaikan dengan tahapan pembukaan lahan per tahun Mempersiapkan lahan pembibitan lengkap dengan instalasi penyiraman seluas lebih kurang 100 Ha Kebutuhan tenaga kerja untuk 7.Administration Senior Assistant Manager (ASKEP) .000 Ha kebun tertanam 1 1 1 1 2 2 8 Estate Manager (Administratur) Mill Manager untuk pabrik kapasitas 45 T/jam Senior Asistant Manager (KTU) .Tenaga Kerja dan Kebutuhan Dasar Lainnya Kebutuhan mendasar untuk membangun dan mengelola Perkebunan Kelapa Sawit misalnya dalam hal ini seluas 7.000 Ha.Community Relation Senior Asistant Managers (ASKEP) – Field/Agronomic Infrastructure & Transport Sub Divisional Managers Field Assistant Managers (Asisten Lapangan) .

5 5 2 15 15 12 50 700 450 • • • • Administration Assistant Managers (Asisten Administrasi) Mill Assistant Managers (Asisten Pabrik) Community Relation Officers 1st Field Mandore (Mandor 1) 1st Mill Mandore (Mandor 1) Officers/ Administration Officer (Mandor 1) Mandore/Foreman Workers for Field Maintenance ( contractual basis) Harvesters (permanent workers/SKU) Housing Facilities for Staffs & workers (Fasilitas Perumahan) Estate Office (Kantor Administratur) & Field Offices (Kantor Kebun) Vehicles (Kendaraan untuk tenaga Staff) Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit ( 30 ton FFB/ jam extendable ke 45 ton FFB/ jam Perkiraan Biaya Pembangunan Kebun Berikut ini diberikan contoh biaya investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit. Contoh Biaya Investasi Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit . Angka angka didalamnya belum tentu sesuai di lokasi lain. namun cukup memberikan gambaran tentang aktifitas dan proporsi biayanya.

Telah disinggung dimuka bahwa kegiatan pembangunan perkebunan kelapa sawit pada areal yang luas umumnya dilaksanakan secara tahap demi tahap. tahun kedua dan tahun ketiga dimasa TBM. Semua perkiraan biaya ini harus dievaluasi setiap tahun karena mungkin ada pengaruh dari perubahan biaya input. pemeliharaan tahun pertama. Setiap tahap dibagi kedalam aktifitas biaya seperti biaya kecambah dan pembibitan. . Land Clearing dan penanaman palma.

drainase. Perkiraan Biaya land clearing. adalah kurang lebih mirip dengan perkiraan kebutuhan tenaga kerja. material dan alat berat untuk penyiapan lahan pembibitan seperti telah diuraikan dimuka. pemeliharaan jalan dan teras. Biaya Penanaman baru dan biaya pemeliharaan pada masa TBM akan meningkat seiring dengan naiknya biaya upah (UMK) dan kenaikan harga material input karena inflasi. gambut atau berbukit bukit). Variasi biaya terutama pada biaya land clearing terutama disebabkan oleh vegetasi dan jenis tanah (mineral. . Variasi biaya per ha lainnya juga dipengaruhi oleh aplikasi pemupukan.Biaya pembangunan perkebunan meliputi semua biaya investasi kecuali biaya perolehan tanah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->