P. 1
Alat Ukur Tata Pemerintahan Yang Baik

Alat Ukur Tata Pemerintahan Yang Baik

|Views: 187|Likes:
Published by brilliant76
pemerintahan
pemerintahan

More info:

Published by: brilliant76 on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2013

pdf

text

original

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah: Alat Ukur Tata Pemerintahan yang Baik

Local Governance Support Program
Maret 2008

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah: Alat Ukur Tata Pemerintahan yang Baik

Maret 2008

RTI International
Bekerja sama dengan: International City/County Management Association Computer Assisted Development Incorporated Democracy International

Laporan untuk Local Government Support Program ini diproduksi oleh RTI International untuk mendapatkan tinjauan oleh US Agency for International Development di bawah kontrak nomor 497-M-00-05-00017-00. Pandangan-pandangan pengarang yang diekspresikan dalam publikasi ini tidak selalu mencerminkan pandanganpandangan United States Agency for International Development atau Pemerintah Amerika Serikat.

Daftar Isi
I. Pendahuluan ................................................................................................................... II. Deskripsi Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah ...................................... III. Kinerja Tata Pemerintahan Daerah: Temuan-temuan tentang Lima Prinsip Tata Pemerintahan yang Baik .................... Akuntabilitas Partisipasi Efektifitas Keadilan Transparansi IV. Kesimpulan dan Rekomendasi ................................................................................... Lampiran1. Lampiran 2. Lampiran 3. 1 2 5

10

Prinsip-prinsip, Indikator-indikator dan Pertanyaan-pertanyaan Operasional LGAT ........................................................................................ 13 Skor LGAT: Pemerintah Daerah menurut Provinsi .................. 15 Skor LGAT: Pemerintah Daerah menurut Peringkat ................. 16

Daftar Grafik
Grafik 1. Grafik 2. Grafik 3. Grafik 4. Grafik 5. Grafik 6. Grafik 7. Representasi Grafik dari Hasil-hasil LGAT ....................................... Skor Gabungan Pemerintah Daerah .............................................. Skor Akuntabilitas .......................................................................... Skor Partisipasi ............................................................................... Skor Efektifitas ............................................................................... Skor Keadilan ................................................................................. Skor Transparansi ........................................................................... 5 6 7 7 8 9 10

i

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah: Alat Ukur Tata Pemerintahan yang Baik1

I. Pendahuluan
Memperbaiki tata pemerintahan kini secara luas dianggap sebagai bagian yang penting dari strategi pembangunan yang komprehensif. Pengukuran empiris terhadap tata pemerintahan telah menjadi indikator pembangunan yang penting di tingkat nasional dalam satu dekade terakhir. Dalam konteks desentralisasi Indonesia, pengukuran yang efektif terhadap tata pemerintahan di tingkat pemerintah daerah tidak hanya akan menyoroti pemerintah daerah yang kinerjanya tidak sebaik yang lain tetapi juga membantu untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan bagi tata pemerintahan yang baik di pemerintah daerah. Tata pemerintahan yang baik sangat berkorelasi dengan perkembangan ekonomi. Studi-studi menunjukkan bahwa meningkatkan mutu institusi akan menaikkan pendapatan per kapita dan meningkatkan pertumbuhan dalam jangka panjang. Meskipun pendapatan lebih tinggi berkorelasi dengan tata pemerintahan yang lebih baik, hubungan sebab-akibat lebih kuat dari tata pemerintahan terhadap pendapatan. Penelitian Bank Dunia2 memperkirakan bahkan perbaikan yang paling sederhana dalam tata pemerintahan dapat membawa peningkatan pendapatan yang signifikan. Sebagaimana kasus di banyak negara berkembang, Indonesia perlu memperbaiki praktekpraktek tata pemerintahannya. Kelemahan di masa lalu telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap masalah-masalah yang dihadapi negara ini sejak permulaan krisis finansial Asia.3 Mengingat kesadaran yang tumbuh terhadap hubungan antara tata pemerintahan yang baik dan pembangunan yang sukses, penting untuk memikirkan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk menilai dan memonitor praktek tata pemerintahan yang baik oleh pemerintah daerah. Tetapi, tidak ada instrumen yang diterima secara luas yang dipergunakan untuk memonitor atau mengevaluasi praktek tata pemerintahan yang baik di tingkat daerah. Upaya-upaya yang dilakukan baru-baru ini untuk mengevaluasi tata pemerintahan di Indonesia antara lain survei pendapat tentang tata pemerintahan yang baik yang diselenggarakan oleh Universitas Gajah Mada dan survei yang diselenggarakan di seluruh Indonesia oleh Bank Dunia.4

1

2 3 4

Tulisan ini disusun oleh Luce Bulosan, Penasehat Monitoring Kinerja LGSP (Oktober 2005–Mei 2007), dengan kontribusi dari Peter Rooney, Penasehat Monitoring Kinerja LGSP, Trias Utomo, Spesialis Monitoring dan Evaluasi Senior LGSP dan Judith Edstrom, Direktur LGSP. A Decade of Measuring the Quality of Governance, Bank Dunia, 2007. Penerapan Tata Kepemerintahan yang Baik (Good Public Governance in Brief), Bappenas, 2006. The Governance and Decentralization Survey, Bank Dunia, 2007.

1
Local Governance Support Program

1

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Sebagai permulaan, Local Governance Support Program (LGSP) memprakarsai Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah (Local Governance Assessment Tool / LGAT) yang mengaplikasikan instrumen penilaian tersebut di beberapa mitra awal pemerintah daerah di Indonesia. Tujuan LGAT adalah untuk memahami bagaimana pemerintah daerah menerapkan prinsip umum tata pemerintahan yang baik dan oleh karena itu menilai kekuatan dan kelemahan praktek tata pemerintahan saat ini di tingkat daerah. Diharapkan bahwa LGAT dapat berkembang menjadi instumen praktis yang diterima secara luas serta digunakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah, maupun individu serta kelompok yang berminat untuk memonitor efektifitas praktek tata pemerintahan tingkat daerah. Risalah ini menyajikan pengalaman LGSP dalam menerapkan LGAT untuk menggambarkan manfaat instrumen tersebut dalam menetapkan tolok ukur tata pemerintahan yang baik, memonitor perubahan dari waktu ke waktu, dan mengidentifikasi kebutuhan institusional yang dapat memperkuat program-program pengembangan kapasitas.

II. Deskripsi Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah
Tinjauan Umum Kuesioner. Indeks tata pemerintahan yang baik untuk penilaian LGSP diadopsi dari Kampanye Global tentang Tata Pemerintahan Kota (Global Campaign on Urban Governance) yang diprakarsai oleh UN–Habitat.5 Lima dari sepuluh prinsip orisinil tata pemerintahan yang baik diterapkan untuk LGAT. Kerangka kerja yang komplit tidak diterapkan secara penuh karena instrumen yang lebih ringkas diperlukan untuk memudahkan fasilitasi di tingkat daerah. Kelima prinsip utama tata pemerintahan yang diterapkan dalam LGAT adalah: efektifitas, keadilan, partisipasi, akuntabilitas, dan transparansi. Lima prinsip ini didukung oleh 20 indikator khusus yang dioperasionalisasikan ke dalam 70 pertanyaan yang dapat diverifikasi lewat dokumen sekunder dan wawancara.6 Pertanyaan kategoris ‘Ya’ atau ‘Tidak’ diberikan di setiap pertanyaan. Jawaban yang menghasilkan dukungan bagi tata pemerintahan yang baik diberi nilai satu (1), dan nilai nol (0) diberikan untuk jawaban yang tidak mencerminkan jawaban yang positif terhadap tata pemerintahan. Indeks Tata Pemerintahan Daerah yang Baik (Good Local Governance Index) berasal dari total persentase skor yang diperoleh. Kuesioner diujicobakan di satu kabupaten dan hasilnya berbuah revisi terhadap kerangka kerja. Tujuannya adalah untuk mengembangkan instrumen pengujian sendiri (self-assessment tool) dan instrumen yang lebih sederhana dianggap lebih sesuai. Masing-masing dari kelima prinsip tersebut diberikan daftar indikatornya. Pemilihan indikator didasarkan pada: (a) relevansi bagi prinsip-prinsip tata pemerintahan; (b) kemudahan dan biaya pengumpulan data, termasuk ketersediaan dan waktu yang diperlukan untuk memperoleh data; (c) keterukuran dan universalitas penggunaannya bagi populasi umum dan populasi yang beraneka-ragam.

5 6

The Global Campaign on Urban Governance, UN-HABITAT, 2002. Daftar indikator dan pertanyaan survei yang lengkap dicantumkan dalam Lampiran 1.

2 2
Local Governance Support Program

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Kerangka Konseptual LGAT

Aplikasi Perangkat Lunak. Untuk memfasilitasi analisis data, LGSP mengembangkan aplikasi berbasis PC untuk memastikan satu sistem standar untuk memasukkan data dan analisis data. Sistem ini secara otomatis menghitung skor untuk tiap prinsip dan Indeks Tata Pemerintahan yang Baik. Angka-angka di bawah ini menunjukkan paket aplikasi LGAT yang tersedia secara online di bank data LGSP. 7 Contoh-contoh dari Paket Aplikasi Perangkat Lunak LGAT

7

Lihat www.lgdatabank.or.id.

3
Local Governance Support Program

3

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Pengumpulan Data. Untuk menerapkan instrumen tersebut, LGSP memberikan tugas pada lembaga penelitian lokal yang beroperasi di daerah sasaran proyek. Penyedia jasa dipilih berdasarkan pengalaman penelitian mereka, khususnya dalam lokalitasnya. Lokakarya pelatihan yang intensif diberikan kepada semua peneliti untuk memastikan pemahaman yang sama terhadap indikator dan metodologi yang dipergunakan untuk mengukur indikator tersebut. Di tiap kabupaten/kota, dibentuk tim evaluasi yang terdiri dari seorang ahli ilmu sosial senior, dua peneliti lapangan dan seorang pengkoding data. Pengumpulan data memakan waktu sekitar lima hari dan dilaksanakan antara bulan April dan Juni 2006 di semua kabupaten. Wawancara dengan para pemberi informasi penting dan Diskusi Kelompok Fokus (Focus Group Discussions/FGD) adalah metode pengumpulan data yang utama. Dengan menggunakan kuesioner semi-terstruktur, wawancara dengan para pemberi informasi penting dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang indikator yang dikaji. Diskusi Kelompok Fokus juga dipergunakan untuk mendukung informasi yang dikumpulkan lewat wawancara mendalam (in-depth interviews). Untuk mengukur dengan menggunakan trigonometri (triangulate) data primer yang dikumpulkan lewat wawancara dan Diskusi Kelompok Fokus, data sekunder juga perlu untuk memverifikasi informasi yang diberikan dalam wawancara-wawancara tersebut. Data sekunder termasuk peraturan daerah, laporan yang dipublikasikan, petunjuk tertulis, notulen dan laporan-laporan berita daerah. Dalam sebuah institusi, lebih dari satu orang dapat memberikan jawaban untuk satu set indikator dalam kuesioner. Analisis dan Pelaporan Data. Mitra peneliti daerah menyampaikan laporan yang rinci dalam waktu dua minggu pekerjaan lapangan. Laporan mencakup narasi tentang temuantemuan termasuk semua dokumen pendukung untuk memperkuat skor tata pemerintahan dari tiap indikator. Sistem basis data (database) LGSP dimutahirkan dengan memuat aplikasi LGAT yang telah dilengkapi oleh para peneliti. Pengukuran untuk tata pemerintahan yang baik ditunjukkan dalam satu tabel dan juga secara grafis sebagai tabel, dasbor (dashboard), diagram batang dan diagram radar. Pengguna dapat mengkopi dan menempelkan (copy and paste) gambar tersebut.4

4 4
Local Governance Support Program

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Grafik 1: Representasi Grafik dari Hasil LGAT

Reliabilitas LGAT. LGAT dikenai uji reliabilitas yang disebut Cronbach’s alpha, 8 dan menghasilkan skor 0.82. Pada kebanyakan situasi penelitian ilmu sosial, koefisien reliabilitas dengan skor 0.70 atau lebih tinggi dari itu dianggap dapat diterima.

III. Kinerja Tata Pemerintahan Daerah: Temuan tentang Lima Prinsip Tata Pemerintahan yang Baik
Grafik 2 di bawah memuat temuan untuk 25 pemerintah daerah dalam Indeks Tata Pemerintahan yang Baik, mencerminkan lima prinsip dari Tata Pemerintahan yang Baik yang diseleksi untuk LGAT. Peringkat tertinggi adalah untuk prinsip akuntabilitas, disusul oleh partisipasi, efektifitas, keadilan dan transparansi. Walaupun peringkat di pemerintah daerah yang terlemah secara keseluruhan cenderung rendah, dengan Binjai dan Sibolga sebagai yang terlemah kinerjanya di hampir tiap kategori, terdapat variasi yang luas antara beberapa skor dalam satu pemerintah daerah. Contohnya, Kota Malang berada di antara lima kabupaten/kota terbaik untuk dua prinsip, masih memiliki skor yang paling rendah dari seluruh 25 pemerintah daerah untuk prinsip akuntabilitas. Hanya satu, Semarang, yang berada di antara lima kabupaten/kota terbaik dengan lebih dari dari dua aspek dari kelima aspek tata pemerintahan yang baik, dan terdapat delapan pemerintah daerah berada dalam daftar kabupaten/kota terbaik untuk dua aspek.

8

Uji Cronbach’s alpha diterapkan oleh International Development Group di RTI International, North Carolina, Amerika Serikat.

5
Local Governance Support Program

5

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Grafik 2: Skor Gabungan Pemerintah Daerah

Walaupun terdapat variasi yang beragam pada keseluruhan skor di antara kabupaten dengan skor tertinggi dan kabupaten skor terendah dan pada skor terhadap kelima aspek di setiap kabupaten, patut diperhatikan bahwa skor keseluruhan untuk akuntabilitas, partisipasi, efektifitas dan kesetaraan semuanya memiliki poin yang berdekatan satu dengan lainnya, dari 61 sampai 65 persen. Skor untuk transparansi adalah anomali (outlier), dengan skor ratarata 51 persen (rincian dapat dilihat pada Lampiran 2). Bidang tata pemerintahan yang relatif lemah ini mendukung penekanan LGSP pada transparansi, terutama dalam proses-proses perencanaan dan penganggaran, sembari bekerja untuk memperkuat aspek-aspek utama lainnya dari tata pemerintahan. Temuan yang berkaitan dengan masing-masing dari kelima aspek tata pemerintahan diuraikan di bawah ini. Akuntabilitas. Prinsip akuntabilitas berarti kewajiban dari pihak pejabat publik untuk melaporkan tentang penggunaan sumber daya publik dan untuk diminta tanggung jawabnya bila gagal memenuhi tujuan tersebut. Prinsip ini memperoleh skor tertinggi secara keseluruhan. Tetapi, akuntabilitas yang baik dilemahkan oleh transparansi yang buruk. Di beberapa kabupaten/kota skor untuk akuntabilitas tetap rendah. Sebagai contoh, di Kota Binjai di Sumatera Utara, skor prinsip akuntabilitas hanya 43 persen. Skor yang rendah ini disebabkan tidak adanya kode etik untuk pegawai negeri, kurangnya transparansi dalam publikasi dokumen tender, dan persepsi yang salah di antara pegawai pemerintah tentang arti kerahasiaan dokumen keuangan untuk tinjauan publik. Pejabat pemerintah daerah enggan untuk mengungkapkan dokumen keuangan publik, termasuk anggaran tahunan kabupaten/kota tersebut. Mereka merasa, dengan keliru, bahwa hanya institusi tertentu, seperti auditor pemerintah, yang berhak untuk memeriksa dokumen keuangan tersebut.

6 6
Local Governance Support Program

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Grafik 3: Skor Akuntabilitas

Partisipasi. Partisipasi publik yang bermakna berada di jantung proses pembangunan. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan untuk pembangunan. Agar bisa operasional di tingkat akar rumput, partisipasi harus didukung oleh peraturan dan struktur pemerintah yang sesuai sehingga memungkinkan para penerima manfaat tersebut terlibat dalam desain dan implementasi program dan proyek publik. Hal ini akan meningkatkan kepemilikan masyarakat dan akhirnya mengarah pada hasil yang lebih baik. Skor partisipasi adalah yang tertinggi kedua setelah akuntabilitas (64.1 persen). Tetapi, beberapa skor kabupaten/kota sangat buruk, termasuk Sibolga dan Binjai di Sumatera Utara serta Enrekang dan Pangkajene di Sulawesi Selatan, yang semua skornya berada di bawah 30 persen. Grafik 4: Skor Partisipasi

7
Local Governance Support Program

7

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Efektifitas. Efektifitas merujuk pada proses dan institusi yang memberikan hasil untuk memenuhi kebutuhan ketika memanfaatkan sumber daya dengan sebaik-baiknya. Prinsip ini terwakili oleh beberapa indikator: sumber utama pendapatan, perkiraan transfer dana ke anggaran pemerintah daerah, survei kepuasan pelanggan, adanya pernyataan tentang visi dan misi. Prinsip efektifitas memperoleh skor tertinggi ketiga (63.9 persen). Skor tertinggi adalah untuk pemerintah daerah Kabupaten Malang dengan skor 91 persen. Kota Binjai dan Kabupaten Karanganyar memperoleh skor terendah dalam prinsip efektifitas. Di Karanganyar, contohnya, Pemerintah daerah seringkali gagal mengembangkan rencana anggaran yang secara beralasan sesuai dengan realisasi pengeluaran anggaran. Banyak kabupaten/kota memiliki nilai skor yang rendah pada indikator efisiensi lainnya, yaitu melakukan survei kepuasan pelanggan. Laporan pemberi informasi penting ini dianggap tidak penting dan menghamburkan sumber daya yang terbatas. Grafik 5: Skor Efektifitas

Keadilan. Prinsip keadilan merujuk pada ketidaksetaraan gender dan ketidaksetaraan pendapatan. Dalam studi ini prinsip keadilan diwakili oleh beberapa indikator: kontrak pelayanan (citizens’ charter) yang mengekspresikan hak terhadap pelayanan dasar; perempuan di posisi penting pemerintah daerah; kerangka kerja untuk kesetaraan gender; kebijakan yang berpihak pada masyarakat miskin; dan insentif untuk usaha informal. Studi ini menemukan bahwa skor rata-rata untuk prinsip keadilan adalah 60 persen. Binjai dan Sibolga di Sumatera Utara mencapai nilai skor terendah yaitu 32 persen. Di kedua kota ini, hak masyarakat terhadap pelayanan dasar, seperti kesehatan dan pendidikan, tidak secara memadai ditangani. Walaupun pemerintah pusat secara finansial mendukung beberapa intervensi penting di bidang kesehatan dan pendidikan, kapasitas daerah untuk mendukung program-program penting ini, khususnya untuk segmen masyarakat miskin, masih terbatas. Mengenai perspektif gender dalam pembangunan, seperti keterwakilan perempuan di posisi penting dalam struktur pemerintah daerah, studi ini menunjukkan bahwa di kabupaten/kota yang kinerjanya kurang baik proporsi perempuan di posisi penting pemerintah adalah 21
8 8
Local Governance Support Program

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

persen. Para responden yang diwawancarai mengatakan bahwa problem utamanya adalah kurangnya perempuan yang memenuhi kualifikasi, sehingga membatasi keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan pemerintah daerah. Jika demikian, upaya-upaya untuk meningkatkan kesempatan bagi perempuan untuk mengakses pendidikan yang berkualitas akan memberikan kontribusi kepada keterwakilan perempuan yang lebih banyak dalam pemerintah daerah. Grafik 6: Skor Keadilan

Transparansi. Skor transparansi adalah yang paling rendah dari daerah-daerah tempat studi ini dilakukan. Pada kebanyakan kasus, tranparansi rendah karena pemerintah daerah tidak punya mekanisme untuk mengakomodir pengaduan masyarakat dan terdapat penolakan di antara pejabat daerah untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Di samping itu, fakta bahwa pengungkapan pendapatan dan aset para anggota DPRD bukan merupakan praktek yang standar diperparah dengan kurangnya LSM/NGO yang secara khusus memantau praktek pengungkapan pendapatan elit-elit politik daerah. Praktek yang buruk dalam transparansi tidak hanya membuat masyarakat sulit untuk melayangkan pengaduan resmi tetapi juga meningkatkan resiko korupsi. Pada tabel di bawah ini, Kabupaten Gowa adalah yang paling transparan dengan skor 89 persen sedangkan Kabupaten Sibolga adalah yang paling tidak transparan dengan skor 17 persen.

Local Governance Support Program

9

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Grafik 7: Skor Transparansi

IV. Kesimpulan dan Rekomendasi
Bercermin pada pengalaman LGSP dalam menerapkan LGAT kepada 27 kabupaten/kota di Indonesia (termasuk Nias), bagian ini menyajikan isu-isu untuk ditangani dan rekomendasi untuk dipertimbangkan jika instrumen tersebut hendak diadopsi dan diterapkan kepada skala yang lebih luas di Indonesia. Indikator yang tidak sesuai. Kami menemukan bahwa beberapa indikator terlalu kaku untuk diterapkan secara menyeluruh, mengakibatkan tingginya jawaban “tidak” bahkan ketika pada kenyataannya mungkin terdapat prakarsa pengganti yang dapat diterima tapi belum diformalisasikan dalam bentuk kebijakan. Ini terbukti benar khususnya untuk survei kepuasan pelanggan, salah satu indikator untuk efektifitas, dan kontrak pelayanan, salah satu indikator untuk keadilan. Rekomendasi: Ketika mengembangkan kuesioner dan melatih para pelaksana survei, beberapa respon positif yang dapat diterima harus diidentifikasikan daripada hanya satu. Data yang tidak akurat. Walaupun instrumen menggunakan seri pertanyaan ya-dan-tidak, metode penelitian yang beragam digunakan untuk mengumpulkan informasi untuk memperdalam pernyataan ya atau tidak. Beberapa peneliti kami kesulitan untuk memperoleh data dari pemerintah daerah, khususnya data yang berkaitan dengan anggaran. Ketidakcocokan data dari satu pemerintah daerah ke pemerintah daerah yang lain juga nyata. Rekomendasi: Data atau informasi harus diperiksa silang dan diverifikasi dari sumber-sumber yang berbeda untuk menetapkan keakuratan dan mengatasi informasi yang bertentangan.

9 10
Local Governance Support Program

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Interpretasi hasil yang tidak konsisten. Kami membekali mitra peneliti kami dengan skala yang mewakili peringkat tata pemerintahan yang rendah, sedang dan tinggi. Tetapi, setelah membaca laporan mereka kami menemukan bahwa interpretasi temuan bervairasi dari satu peneliti ke peneliti yang lainnya. Apa yang merupakan bukti peringkat yang tinggi bagi satu peneliti dapat diinterpretasikan peringkat yang sedang untuk peneliti yang lain. Rekomendasi: Lokakarya sintesis harus dilakukan di antara para peneliti dan pemangku kepentingan sebelum finalisasi peringkat untuk memungkinkan pembagian dan pendalaman analisis serta mencapai konsensus tentang proses pemberian skor. Ini juga akan meminimalkan, jika tidak menghilangkan, bias peneliti. Jika instrumen tersebut digunakan untuk penilaian sendiri (self-assessment), tim multidisipliner harus memvalidasi pemberian peringkat sendiri (self-rating). Terlalu banyak informasi. LGSP menerima sekitar 50 halaman laporan naratif untuk masing-masing 27 kabupaten/kota yang dinilai, dan hal ini hanya untuk kelima prinsip tata pemerintahan yang baik. Kuesioner dengan pertanyaan tertutup (close-ended questionnaire) sengaja digunakan untuk membantu meminimalkan waktu untuk analisis data tetapi dibutuhkan banyak waktu untuk meninjau laporan-laporan naratif tersebut untuk memastikan jawaban kategoris dijustifikasi. Rekomendasi: Kerangka waktu, sumber daya keuangan dan manusia serta manfaat untuk pembuatan keputusan perlu dipertimbangkan dalam memutuskan jumlah prinsip-prinsip dan indikator yang sesuai supaya tidak tenggelam dengan data. Tidak berlaku dalam situasi yang ekstrim. Instrumen ini diterapkan di dua kabupaten di Nias yang keduanya terkena dampak tsunami tahun 2004 dan gempa bumi tahun 2005. Analisis data menunjukkan bahwa instrumen tersebut hanya dapat berlaku dalam keadaan yang normal. Nias memiliki skor yang sangat rendah dalam tata pemerintahan yang baik yang kemungkinan dipengaruhi oleh efek dari gabungan kedua bencana alam tersebut. Rekomendasi: LGAT seharusnya tidak diterapkan dalam situasi di mana faktor eksternal kemungkinan mengaburkan hasilnya, seperti di daerah yang terkena bencana alam atau daerah konflik. Biaya pengumpulan data. Evaluasi ini sepenuhnya didanai oleh LGSP, termasuk pelatihan untuk para peneliti. Biaya untuk tiap kabupaten/kota adalah sekitar Rp 50.000.000. Rekomendasi: Pemerintah Daerah dapat menggunakan staff mereka sendiri untuk mengumpulkan data atau mereka juga dapat didorong untuk mengalokasikan dana untuk mengkontrak peneliti independen daerah yang telah memiliki pengalaman menggunakan LGAT. Sangat penting bahwa ukuran-ukuran dijalankan sebagaimana mestinya untuk memastikan integritas hasil-hasilnya. Kurangnya minat pemerintah daerah. Mengikuti penilaian serupa di negara-negara lain, mitra penelitian melakukan lokakarya penutup untuk memaparkan dan memvalidasi temuan dengan para pemangku kepentingan penting di daerah. Tetapi, karena adanya kebutuhan

Local Governance Support Program

11

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

untuk memastikan konsistensi data di antara pemerintah daerah maka kurang waktu untuk menyelenggarakan lokakarya ini segera setelah penilaian. Di samping itu, terdapat penolakan yang nyata dari beberapa mitra pemerintah daerah untuk meninjau atau berpartisipasi dalam forum yang lebih luas untuk memaparkan dan mendiskusikan hasilnya karena resiko bahwa penilaian (assessment) negatif akan mencerminkan keburukan mereka. Pada saat penilaian ini pemerintah daerah tidak diwajibkan untuk menilai kinerja tata pemerintahan mereka, situasi ini mungkin akan berubah di tahun 2008. Rekomendasi: Mensosialisasikan secara aktif hasil studi ini sangat diinginkan dan harusnya membentuk sebagian rencana aksi. Penting mengidentifikasi pejabat pemerintah daerah yang berpikiran reformis dan perwakilan organisasi masyarakat sipil yang menjadi pejuang dan pendukung untuk tata pemerintahan yang baik. Komitmen dari pemerintah daerah akan lebih tinggi ketika mereka mendengar manfaat instrumen tersebut dari rekan sejawat mereka. Menemukan pejuang di tingkat nasional yang dapat melanjutkan pekerjaan tersebut, seperti yang kemudian telah terjadi, dapat menggantikan kekurangan akan pendukung di pemerintah daerah. Setelah memaparkan hasil temuan kepada mitra-mitra nasional dan regional, LGSP menerima permintaan dari Sekretariat untuk Tata Pemerintahan yang Baik dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Direktorat Pengembangan Kapasitas dan Evaluasi Kinerja Daerah, Departemen Dalam Negeri, untuk kerjasama lebih lanjut menggunakan LGAT sebagai dasar untuk mengembangkan sistem nasional monitoring dan evaluasi tata pemerintahan daerah yang baik. Pada bulan April 2008 Indeks Tata Pemerintahan yang Baik, dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Bappenas dengan bantuan LGSP, akan diujicobakan di empat kabupaten/kota termasuk di dua kabupaten/kota mitra LGSP. Setelah ujicoba dan revisi-revisi selanjutnya Bappenas berencana untuk mengimplementasikan instrumen penilaian-sendiri ini di seluruh pemerintah daerah pada akhir tahun 2008.

12

Local Governance Support Program

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Lampiran1. Prinsip-prinsip, Indikator-indikator dan Pertanyaan-pertanyaan Operasional LGAT

Local Governance Support Program

13

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

14

Local Governance Support Program

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Lampiran 2. Skor-skor LGAT: Pemerintah Daerah menurut Provinsi

Local Governance Support Program

15

Instrumen Penilaian Tata Pemerintahan Daerah

Lampiran 3. Skor-skor LGAT: Pemerintah Daerah menurut Peringkat

16

Local Governance Support Program

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->