ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH

TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010

SKRIPSI

OLEH : Dita Wianjani NIM : 106101003314

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M/1431 H

44

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 25 Agustus 2010

Dita Wianjani

45

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, September 2010

DITA WIANJANI, NIM : 1061010003314

Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010

(xxiv + 197 halaman, 25 tabel, 15 gambar)

ABSTRAK
PT Holcim Indonesia dalah pelopor dan inovator di Indonesia yang berkembang cepat dalam sektor semen, karena pasar untuk rumah, bangunan komersial dan infrastruktur yang berkembang. Holcim adalah penyedia yang terintegrasi dari sembilan berbagai jenis semen, beton dan agregat. Selain itu Holcim juga memiliki unit Shredder facility yang berfungsi sebagai fasilitas pencacah limbah untuk bahan bakar alternatif dalam produksi semen. Setiap sistem kerja dalam sebuah perusahaan selalu mempunyai risiko keselamatan kerja, begitu juga sistem kerja pada PT Holcim Indonesia mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pada proses pencacahan atau Shredding ini terjadi kejadian kecelakaan kerja yang serius. Jika dibandingkan dengan fasilitas lain, Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan, namun dalam waktu yang relatif singkat, hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kecelakaan kerja sebab-sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan agar selanjutnya diperoleh usaha-usaha koreksi terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut Tujuan dai penelitian ini adalah Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Penelitian ini dilakukan di PT.Holcim Indonesia Tbk Bogor yang dimulai pada bulan April- Agustus 2010 melaui pengambilan data primer yang dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S , pada pekerja, penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.Serta melakukan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder berupa struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja yang ada pada proses pencacahan atau shredding ini secara keseluruhan adalah terpeleset ceceran residu, terjatuh dari ketinggian, pergelangan tangan terkilir, terpeleset screen , terjatuh saat melangkahi pemisah screen,

46

tangan terputus screen, terbentur penutup screen, tersandung peralatan yang berserakan, tertabrak/menabrak, tertimpa material ringan kejatuhan box, serta kebakaran. Pengendalian dengan engineering control dilakukan pada beberapa tahapan pekerjaan seperti pekerjaan seperti membersihkan handrail , maka dipasang handrail agar pekerja tidak jatuh, pemasangan guard pada benda berputar. Pengendalian dengan administrative control dengan housekeeping, bekerja sesuai dengan prosedur dan pemasangan safety sign di area kerja, terutama untuk pekerjaan yang berisiko tinggi. Pengendalian dengan pemakaian APD pada pekerja seperti safety shoes, safety helmet, mask organic, gloves, goggles, glasess. Sedangkan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di shredder facility adalah tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja yang kelelahan sehingga pekerja tidak berkonsentrasi. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009, penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja tidak melepaskan safety guard sebagai pelindung pekerja, karena merasa aman dengan pekerjaannya. Serta kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010, penyebab kecelakaan ini adalah ketidakharmonisan pekerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain factor teknis, faktor non-teknis pun menjadi penyebab dari kejadian kecelakaan kerja, sehingga perlu penyelesaian masalah yang lebih mendalam agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan tepat. Saran yang diajukan adalah perlu dilakukan identifikasi dan penilaian risiko pada masing-masing tahapan pekerjaan di PT.Holcim Indonesia Tbk untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Untuk menurunkan nilai risiko keselamatan kerja pada masing-masing tahapan proses shredding, diperlukan upaya pengendalian sebagai berikut pemeriksaaan standard operation dalam bekerja, diberikan pelatihan perilaku keselamatan dengan pengawasan serta pmebrian reward dan punishment pada pekerja. Daftar bacaan : 24 (1985-2010)

47

JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis. but within a relatively short time. tripping over scattered equipment. September 2010 DITA WIANJANI. Shredder newest facility is a facility operated. Holcim is an integrated provider of nine different types of cement. commercial buildings and developing infrastructure. NIM : 106101003314 Qualitative Analyze the relation between the result of Risk Analyze in Occupational Safety with the occurrence of accidents that have occurred in workers in unit shredder facility PT. Holcim also has a unit Shredder facility that serves as an enumerator waste facility for alternative fuels in cement production. as well as a working system a PT Holcim Indonesia has a safety risk that may cause accidents. was hit / hit. Control with administrative control with housekeeping.This study was conducted in Bogor Indonesia Tbk PT. working in accordance with the procedures and the installation of safety signs in work areas. In addition. This is because the shredder facility over a wide range of waste processing facilities other than the machine used and still need care manually.Holcim which starts in April-August 2010 through Primary data collection is done by interviewing the staff OH & S. especially for high-risk jobs. Control with control engineering done in several stages of work as jobs such as cleaning the handrail. organic 48 . the worker. hit the screen cover. In the process of enumeration or shredding this occurs a serious work accident. because the market for homes. to minimize workplace accidents causes of accidents should be investigated and found to be further efforts to obtain corrections to the causes of the accident The purpose of this study is Knowledgeable relationship between safety risk analysis with the occurrence of accidents that have occurred in workers at the facility shredder unit PT Holcim Indonesia Tbk 2010. installation of guard at the rotating object. Safety risks that exist in the enumeration or the shredding process as a whole is scattered residual slip. Therefore. and fire. whereas secondary form the organizational structure of OH & S. concrete and aggregates. stages Shredder facility and data accidents that have occurred in Shredder facility. fell while bypassing the separator screen. safety helmet. nearly every year happen in a serious accident at this facility. slip screens. the handrail is installed for workers from falling. hands cut off a screen. sprained wrist. Control by the use of PPE to workers such as safety shoes.Holcim Indonesia Tbk in 2010 ABSTRACT PT Holcim Indonesia is a pioneer and innovator in Indonesia who growing rapidly in the cement sector. the responsible shredder and accident victims and make observations directly. When compared with other facilities. fall from height. Each system is working in a company always has a safety risk. hit by falling boxes lightweight materials.

glasess. so we need a more in-depth problem solving to workplace accidents can minimized with proper. To reduce the value of safety risks at each stage of the process of shredding. Arm cut off by the pinched by rotating objects (motion detector) in the year 2009. Reading list: 24 (1985-2010) 49 . goggles.Hasil showed that in addition to technical factors. the cause of this accident was the disharmony pekerja. Suggestion is to do the identification and assessment of risk at each stage of work in PT. the following efforts are needed to control the examination standard operation in the work. because they feel secure with his job. non-technical factors were the cause of the work accident. gloves. be trained in safety behavior with supervision and pmebrian reward and punishment on the workers. And fire at the Hooper happened on 7 April 2010. the cause of these accidents is that workers do not remove the safety guard as protectors of workers. While the incidence of workplace accidents that have occurred in the shredder facility is a wall of separation between storage space and shredder collapsed due to hit the loader in the year 2008 the cause of this accident was the fatigue of workers so that workers do not concentrate.mask.Holcim Indonesia Tbk to prevent accidents.

MKM Pembimbing Skripsi I 50 . 25 Agustus 2010 M. SKM.Skripsi Dengan Judul ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010 Telah disetujui.Si Pembimbing I Catur Rosidati. diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.Farid Hamzens M.

............................................................................................................5 Manfaat Penelitian ...... 1.................. 1................... i ABSTRAK ..............3 Pertanyaan Penelitian ..........1 Tujuan Umum ...........................5.....................................................................................................................................................................1 Latar Belakang .................... 1..................... vii RIWAYAT HIDUP..... vi LEMBAR PENGESAHAN .................................. BAB 1 PENDAHULUAN .......4..........................................2 Bagi Perusahaan ....... xii DAFTAR TABEL ...................................................... 1........DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN ........... viii KATA PENGANTAR...........................................................................................2 Rumusan Masalah ............................ 1....................................................... 1........................................................... 51 7 ................................ 1....................................................................................4..... .......... xx 1 xxi 1 5 5 6 6 6 7 7 1................................1 Bagi Peneliti ...... 1............................................ ii PERNYATAAN PERSETUJUAN ...............2 Tujuan Khusus ............................................................................................................................... DAFTAR GAMBAR........................... x DAFTAR ISI ............................5...............................................................4 Tujuan Penelitian .........

........................2..........................................1.... .......................... 2................. 2........................3.......................................1....................................................................1................................................... 2.. 2.....4.....................1 Job Safety Analysis (JSA)................................ 2. ..2 Manfaat Manajemen Risiko ...................................... 52 36 2..... 2..................2 Pengendalian Bahaya ...2 Kelelahan Kerja ....... 2.... 2.............6 Klasifikasi Kecelaakaan Akibat Kerja ................... 2...................................... 2............................... 2......3 Definisi Risiko ...................4 Manajemen Risiko............................3 Motivasi ............1.......1 Jenis-jenis Bahaya………………………………..................... 10 10 10 13 14 16 23 23 25 26 27 30 30 32 33 34 34 2...........................................1....5 Pencegahan Kecelakaan Kerja ...........1 Definisi Kecelakaan Kerja .........4............................... 2.....1 Tujuan Manajemen Risiko .................2 Definisi Bahaya .....1..4 Teori Kecelakaan Kerja ...............BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................1 Penyebab Kecelakaan Kerja ...... 2................5......2......5 Metode Identifikasi Risiko .... 2..............................................1 Jenis-jenis Risiko 2..........................

................... 5..........2 Definisi Istilah ............................................ 4......4 Metode Pengumpulan Data .................1 Kerangka Berpikir......................... 55 55 55 55 56 56 56 58 60 62 62 62 64 4.............3 Informan ........................................2 Waktu Penelitian .....................5 Pengolahan data Analisis Data .. 5........................1 Metode Penelitian ………………………………………........ 47 3....BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ............1...................... 4...................................2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4....1 Gambaran Perusahaan ………………………………………..........2....................Holcim Indonesia Tbk ………………........................ 49 BAB IV METODE PENELITIAN ..................1..... 47 3.......................................................... 4..............................1...Holcim Indonesia Tbk ………...............................2 Visi dan Misi PT......................................3 Struktur Organisasi PT......... 4............................. BAB V HASIL ....................................... ............. 53 64 ......................................... 4.............Holcim Indonesia Tbk ………… 5...........1 Sejarah Perusahaan PT.2.......... 5.................... ............................................... 4..6 Validitas Data ..1 Lokasi Penelitian .............................

1 Tahap Persiapan Awal ………………………………..4.. 5...2..2.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Product ……………………………………………………….3.2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji ……………………… 5. 5.2. 5.2. 106 101 102 101 54 .1.2.2.3.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ……………. 5.2. Tahap Memberikan Parfum pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………………… 77 78 79 80 87 87 91 91 92 94 5..2..2..1 Membersihkan handrail ………………………………… 5.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran . 106 5. 5.1.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5.2 Mengecek Chute Magnet separator ………………… 5.3..1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper ………… 5.1 Membersihkan Handrail …………………………. 5.2....2.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ……………………….2.3.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material ……………...5.3 Membersihkan Screen ……………………………….3..1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material pada Truk ……………………………………………… 5.4.2.3.4 Adjusting belt conveyor ……………………………… 5..1.2.3 Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.1.1.

4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Produk ……………………………………………………… 5.4.. 5.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ……………….1 Memasukkan Material pada Hooper ………………… 5. 5.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5.3.1 Kecelakaan Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang 152 136 136 142 144 149 55 .3.3. 5.3.DAFTAR TABEL 5.4 Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Box ….2 Menebar Serbuk Gergaji ……………………………...5..... 5.3. 5.4.. 5.4.3 Memberikan Parfum pada Shredder dan Material ….5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT. 5.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran …… 132 5.3.4.Holcim Indonesia Tbk …………………………………….1 Tahap Persiapan Awal ………………………………….1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi Material pada Truk ………………………………………………………….Holcim Indonesia Tbk …………………………… 5. 118 121 121 123 125 130 130 5..2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material ………….3..3.3.2.4.3 Tahap Shredding ……………………………………….3. 5..3.4.

....... ……………. 6.1 Membersihkan Handrail ………………… ………. Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ………………..3 Perbandingan Kejadian Hasil Analisis Tahap Shredding dengan 156 Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada Hooper …………...1 Keterbatasan Penelitian…………….…………………………………………… 5.………………………………………………………… BAB VI PEMBAHASAN . ………………. 6.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Persiapan dan Kecelakaan Kerja Penyimpanan Material dengan Kejadian Tertabraknya Tembok Pemisah antar Ruang Penyimpanan dan Shredder ………….......1 Tahap Persiapan Awal ..3.......3. 6.....…………………………………………… 5..... 56 6...……………………….......2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting Belt Conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus 155 …………... … 6.. 6....6.3.6....2 Mengecek Chute Magnet Separator ……………...1............3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 158 157 158 158 ……………………………………………………………..2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT. 159 159 ......3..4 Adjusting belt conveyor ……………………….1.....1. 6......DAFTAR GAMBAR 5.........6.........

...3.......1 Keterbatasan Penelitian…………….4.. 6..2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji pada Lantai yang Terkena Residu ……………………………………… 6....3..........3.1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper …………… 6.3.………………………...2 Mengirimkan Box Menuju Tempat pembakaran / PreHeater ………………………………………….. 6.....4...3........ 6.3....6..3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper …………………...3 Tahap Memberikan Parfume pada Fasilitas Shredder dan Material …………………………………………...3 Tahap Shredding ………………………………………… 170 170 6... 57 ... BAB VI PEMBAHASAN .3..1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja 179 177 177 172 Tertabraknya Tembok Pemisah Antara Ruang Penyimpanan dan Shredder…………………………………………………………..........4.. Holcim Indonesia Tbk …………………………… 6.4 Tahap Memasukkan produk pada Box dan Pengiriman Produk …………………………………………………… 6.3.3. 6..4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT....4....3....4..2 Pembahsan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Lengan yang Terputus …………… 181 6....1 Tahap Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material 175 pada Truk ………………………………….. 6.

....................................................................................................................BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN.. 7..................................... 188 188 7............................... 190 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 58 ....................2 Saran....1 Kesimpulan..

2 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ………………………………………………………………………..3 Tabel Triangulasi Sumber …………………………………………. 42 2. 61 4..3 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Semikuantitatif ……………..4 Tabel Skala Ukur Eksposure Secara Semikuantitatif ……………….2 Tabel Data Primer …………………………………………………… 60 4.1 Tabel Indentifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal ………………………………………………………………… 5..4 Tabel Triangulasi Metode …………………………………………… 5. 53 3.6 tabel Kategori Tingkat Risiko dengan Metode Semikuantitatif …….1 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif ………………….3 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatam Kerja pada Tahap Shredding 83 59 89 .2 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif …………………….Daftar Tabel 40 2.. 41 2.2 Tabel Definisi Istilah Kejadian Kecelakaan Kerja ………………… 57 4. 45 2.7 Tabel Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross… 49 3. 43 2..5 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Semikuantitatif ……………… 44 2..1 Tabel Definisi Istilah Tahapan Analisis Risiko …………………….1 Tabel Data Sekunder ……………………………………………… 58 4... 5. 43 2...

1 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding …………...Daftar Tabel 5.... 6...0 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap persiapan dan Penyimpanan Material ………………………………………………....9 Evaluasi Risiko Keselamatan Tahap Persiapan ……………………. 6.2 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap Memasukkan Produk pada Box 143 dan Pengirimannya …………………………………….. 138 127 60 . 134 5.8 Analisis Risiko Keselamatan Kerja Tahap memasukkan Produk pada Box dan pengirimannya ……………………………………………. 6.....7 Analisis Risiko Keselamatan kerja Tahap Shredding ……………… 5.

Daftar Gambar 2.1 Gambar Manajemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 : 1999 ………… 3.1 Gambar Kerangka Berpikir Hubungan Hasil Analisis Tingkat Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja ………………………………….. 5.1 Gambar Logo Holcim ………………………………………………... 5.2 Gambar Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk …………… 63 5.3 Gambar Green Pyramid ……………………………………………… 65 5.4 Gambar Struktur Organisasi OH&S Corporate ……………………… 48 33

61

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Kewarganegaraan Alamat Telepon Email Universitas Jurusan Peminatan : Dita Wianjani : Sukabumi, 20 November 1987 : Perempuan : Islam : Indonesia : Kp.Pangkalan raya rt 02/02 No.38 Cibuluh Bogor Utara : 085697493402 : michikakazuya@yahoo.co.id : UIN Syarif Hidayatullah : Kesehatan Masyarakat : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Latarbelakang Pendidikan Formal     1994- 2000 2000- 2003 2003- 2006 2006 –2009 Masyarakat Informal   2001-2003 2004-2005 (Conversation) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional (LIA) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional LIA : SDN Pengadilan 2 Bogor : SMPN 8 Bogor : SMAN 6 Bogor : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurusan Kesehatan

62

Pengalaman    2006-2008 2008 : Staff pengajar yayasan Miftahul Jannah Cimanggu Bogor : Mengikuti program beasiswa Youth Leadership Trip ke

Malaysia dan Thailand 2007-2008 : Bendahara BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat

63

KATA PENGANTAR ‫ت ه ك ا ب ر و هلل ا ورحمة ع ل ي كن م ل س ال ا‬

Segala puji kehadirat Allah SWT, yang tidak pernah tidur dan selalu dekat dengan hamba-Nya. Syukur senantiasa terucapkan atas segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian

Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010”. Skripsi ini disusun sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyusunan skripsi ini semata-mata bukanlah hasil usaha penulis, melainkan banyak pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, motivasi, dan semangat. Untuk itu penulis merasa pantas berterima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak M.Farid Hamzens Msi serlaku pembimbing I, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis 4. Ibu Catur Rosidati, SKM. MKM, selaku Dosen Pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. 64

Ibu Iting Shofwati. ST. Tim OH&S PT Holcim Indonesia Mas Pungki Yudono dan Mas Ahmad Azhar selaku pembimbing lapangan atas bimbingan dan bantuannya dalam proses pengambilan data. Rima dan Erangga yang selalu memberikan motivasi dan dukungannya 11. 8. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). 10. selaku Koordinator K3 yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 7. Bapak.5. 9. Tetap Semangat Untuk Masa Depan yang Lebih Baik. Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’06 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Agustus 2010 Penulis 65 . khususnya mengenai analisis risiko keselamatan kerja Jakarta. Ibu. MKKK. dr. dan adikku tercinta atas dorongan dan bantuannya baik material dan spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

714 kasus . Data PT Jamsostek Indonesia (2008) menyatakan bahwa “ K erugian langsung akibat kelalaian manusia dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebesar Rp.300 miliar.BAB I PENDAHULUAN 1. ada 270 juta kecelakaan kerja dan 160 juta kasus penyakit yang terkait dengan pekerjaan. pengusaha. tetapi juga bagi dunia karena kesemuanya ini menyedot biaya kompensasi yang sangat besar.50 66 . tahun 2006 terjadi 95. 2008) dan terdapat 96.624 kasus kecelakaan kerja dan tahun 2007 terjadi sebanyak 83. Berdasarkan angka perkiraan konservatif. 2007) Dari data statistik ini tentunya kita akan paham bahwa kerugian yang ditimbulkannya sangat masif. dan pemerintah. setiap tahun di seluruh dunia kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan banyak korban. lebih dari 2 juta manusia meninggal dunia akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang terkait dengan pekerjaan.(ILO. Depnakertrans menyatakan angka kecelakaan kerja di Indonesia pun masih tergolong tinggi.090 orang.823 kasus. sedangkan yang cacat total 44 orang (Jamsostek. bukan hanya bagi pekerja.1 Latar Belakang Berdasarkan ILO.314 kasus di tahun 2009 (Jamsostek. dengan jumlah pekerja yang sembuh 85. Riset ILO menghasilkan kesimpulan bahwa setiap tahun. sedangkan kerugian secara tidak langsung mencapai Rp. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 93. 2010).

sehinggga kecelakaan kerja dapat segera dicegah dan diminimalisasi frekuensinya. yaitu manajemen. kontak. Ketiga hal tersebut menimbulkan unsafe action (tindakan yang tidak aman) dan unsafe condition (kondisi yang tidak aman) yang merupakan faktor tidak langsung penyebab kecelakaan kerja. sumber penyebab dasar. 67 . Birds memodifikasi teori Heinrich dan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan.000 pekerja per tahun merupakan angka yang cukup besar. dan kerugian. Dalam teorinya.truliun “. gejala. Sedangkan faktor penyebab langsung timbulnya kecelakaan kerja adalah tidak adanya upaya pengendalian risiko dan adanya potensial bahaya di tempat kerja. oleh karena itu faktor penyebab kecelakaan dan faktor-faktor lainnya harus segera dikendalikan dengan benar. Jumlah kematian lebih dari 14. Data yang dilansir Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan sinyal betapa kecelakaan kerja dan kematian akibat kerja sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Faktor dasar penyebab adanya kecelakaan kerja adalah buruknya manajemen K-3. pada tahun 1967. Tingginya angka kematian akibat kecelakaan dan penyakit kerja mendesak dilakukannya analisa secara komprehensif terhadap penyebab kematian dialami pekerja atau buruh. dapat dikatakan kerugian secara tidak langsung akibat kecelakaan kerja setiap tahun mencapai 15 kali dari kerugian secara langsung. Maka. tidak adanya komitmen perusahaan untuk menerapkan SMK3 serta faktor lingkungan kerja.

Dari hasil observasi dan wawancara mengenai data kecelakaan kerja pada tiga fasilitas yang dibawahi oleh Geocycle sebagian besar kecelakaan kerja terjadi di Shredder facility yang melakukan pengolahan limbah dengan metode pencacahan atau shredding.mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Biomess facility merupakan fasilitas yang mengolah serbuk gergaji dan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif . di antaranya Biomess Facility. padat dan sampah rumah tangga. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. yaitu : 68 . Fasilitas ini merupakan sub kerja pada departmen Geocycle yang berfungsi sebagai pre-handling limbah. Geocycle adalah layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. Oil Sludge facility adalah fasilitas yang yang mengolah paint sludge menjadi bahan bakar alternatif dan Shredder facility adalah fasilitas yang mengolah berbagai limbah cair. Terdapat tiga fasilitas pemanfaatan limbah yang dibawahi oleh unit Geocycle. oil sludge facility dan Shredder facility. PT Holcim Indonesia adalah perusahaan produksi semen yang memiliki unit kerja baru bernama Geocycle. Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk.

Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 Jika dibandingkan dengan fasilitas lain. 69 . Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2008 2. sehingga secara mudah risiko dapat diminamilisir dengan menentukan pengendalian yang tepat. Oleh karena itu. hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini.1. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. namun dalam waktu yang relatif singkat. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2009 3. Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan. perlu dilakukan upaya analisis risiko keselamatan kerja yang terintegrasi ke dalam manajemen risiko yang dimulai dengan identifikasi risiko sampai dengan menentukan tingkat risiko keselamatan kerja dan menghubungkannya dengan fakta kecelakaan kerja yang pernah terjadi di tempat tersebut.

2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah dalam proses operasinya shredder facility mengalami banyak kecelakaan apabila dibandingkan dengan fasilitas lain yang sudah beroperasi lebih lama di Geocycle.1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 2. dan hubungannya dengan kejadian kecelakaan kerja di shredder facilitysehingga dapat dilakukan tindakan pengendalian bahaya dengan tepat. Bagaimana gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). Bagaimana gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk dan gambaran proses kerja shredder di PT. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. 1. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 3.3 Pertanyaan Penelitian 1. Dari data kecelakaan di shredder facility PT Holcim Indonesi Tbk pada tahun 2008 – 2010 kecelakaan kerja telah terjadi pada operator dan fasilitas di shredder. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap bahaya-bahaya keselamatan pada pengoperasian shredder untuk diketahuinya tingkat risiko keselamatan kerja di tempat tersebut. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 70 . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 4. Bagaimana gambaran consequences.

penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT.4. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 6. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 71 .2 Tujuan Khusus : 1.4.5.4 Tujuan Penelitian 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 7. 1. Bagaimana hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi dengan pada pekerja di unit shredder facility di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 2. Bagaimana gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT. Diketahuinya gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 dan gambaran proses kerja shredder di PT.1 Tujuan Umum Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Diketahuinya gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi).

Diketahuinya gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT.5. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.2 Perusahaan a. 72 . Diketahuinya gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 6. Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi facility di PT. Memberikan bahan masukan pada institusi terkait mengenai pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) . 4.1 Peneliti : Meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang K3 khususnya dalam melakukan analisis resiko keselamatan kerja 1. b. Diketahiumya gambaran consequences.3.5. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 pada pekerja di unit shredder 1. Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara perusahaan dengan program studi kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.5 Manfaat Penelitian 1. Diketahuinya gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 5.’ 7.

Penelitian ini dilakukan di unit Shredder Facility PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 yang berada di Cileungsi.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. sedangkan data sekunder berupa 73 . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.5.1. Sebagai sarana untuk menjalin serta membina network dan kerjasama dengan perusahaan atau institusi lain dibidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Sasaran dari penelitian ini adalah proses shredding (pencacahan).Serta melakukan observasi secara langsung. pada pekerja. 1999/2004). Bogor dan dilakukan selama bulan AprilAgustus 2010. Dapat dijadikan salah satu sumber informasi mengenai analisi risiko fan hubungannya terhadap kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi. Untuk mengetahui tingkat risiko digunakan metode analisis risiko secara semikuantitatif Standar Australia/Standar New Zealand (AS/NZS 4360.3 Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta a. 1. b. penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan melihat hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Data primer dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S .6 Ruang Lingkup Penelitian ini adalah penelitian analisis kualitatif hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT.

struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Penelitian ini dilakukan oleh

mahasiswa Program Studi kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

74

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecelakaan Kerja Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga karena di akhir peristiwa itu ada unsur ketidaksengajaan, tak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian materil maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Suatu peristiwa dapat digolongkan suatu kecelakaan jika bersifat diluar kamauan manusia, disebabkan oleh kekuasaan dari luar yang berlangsung secara cepat dan menyebabkan cidera badan dan jiwa (Suma’mur, 1996). Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang, kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah, 2003) 2.1.1 Penyebab Kecelakaan Kerja Menurut Sahab (1997), penyebab kecelakaan kerja di tempat kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan: 1). Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain. 2). Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain.

75

3). Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain. 4). Sifat kerja. 5). Cara kerja b. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: 1). Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan. 2) cacat tubuh yang tidak kelihatan. 3) keletihan dan kelelahan. 4) sikap dan tingkah laku yang tidak aman. Secara umum ada dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu penyebab langsung (immediate causes) dan penyebab dasar (basic causes) (Budiono, 2003): a. Penyebab Langsung Penyebab langsung atau kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) dan kondisikondisi yang tidak aman (unsafe conditions) Menurut Ferdy dan Yudi (2008), dari beberapa hasil riset menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995), berdasarkan statistik di Indonesia, 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak 76

aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan kerja dibandingkan dengan kondisi tidak aman (unsafe condition). Menurut Murthi dan Yuri (2009), unsafe act adalah suatu tindakan seseorang yang menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan dan dapat mengakibatkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun peralatan yang ada di sekitarnya. Pendapat lain yang berkenaan, unsafe act adalah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan (Silalahi,1995). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa unsafe act adalah semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dimana tindakan tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, peralatan maupun lingkungan yang ada di sekitarnya. b. Penyebab Dasar Terdiri dari dua faktor, yaitu faktor manusia/ pribadi dan faktor kerja/ lingkungan kerja. Faktor manusia/ pribadi, antara lain karena: kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurangnya/ lemahnya pengetahuan dan ketrampilan/ keahlian, stres, motivasi yang tidak cukup/ salah.Sedangkan faktor kerja/ lingkungan, antara lain karena: tidak cukup kepimpinan atau pengawasan, tidak cukup rekayasa, tidak cukup pembelian/ pengadaan barang, tidak cukup perawatan, tidak cukup standar-standar kerja, penyalahgunaan.

.

77

sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat. Pembebanan otot secara statispun (Static Muscular Loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries). sedangkan menurunnya rasa lelah. Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan menurunkan dalam bekerja kinerja dan (Budiono. motivasi menurun.2 Kelelahan Kerja Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Nurmianto. Kelelahan kerja akan tingkat kesalahan kerja.2. tulang. yaitu nyeri otot. Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan yang subyektif. menambah 2003). dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive). aktivitas 78 . Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. 2003). tendon. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut. Selain itu karakteristik kelelahan akan meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan yang dilakukan.1. Pendapat lain mengatakan bahwasanya kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah.

tidak cocok dengan lingkungan. tanggung jawab.3 Motivasi Menurut Rawianto (1990) dalam Aldila (2009) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan motor penggerak adalah : Prestasi.menurun. penurunan dan hambatan persepsi. tantangan. pembahan tingkah laku. Rizeddin (2000). penghargaan. 1994). Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. cara berpikir atau perbuatan anti sosial. 1982). (depresi. kurang tenaga. keterlibatan. kehilangan inisiatif). kehilangan nafsu makan. 2. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. gangguan pencemaan.Akan tetapi jika upah tersebut tidak 79 . kegelisahan.1. vertigo. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. Gejala kelelahan kerja menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973) yaitu menurun kesiagaan dan perhatian. dan kesukaran tidur). badan terasa tidak enak. kecemasan. imbalan tersebut dapat dijadikan motivasi kepada pekerja agar pekerja bekerja dengan kinerja tinggi. dan gejala umum (sakit kepala. gangguan fungsi paru dan jantung.Selain itu Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati. pengembangan. kesempatan. dan balas jasa. Menurut Winardi (2001) imbalan berupa gaji atau upahmerupakan salah satu dari imbalan ekstrinsik yang diterima melalui kegiatan bekerja.

gaya kepimimpinan. maka secara langsung perilaku pada saat bekerja akan menjadi tidak selamat. dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental Teori Herzberg pun menyatakan tingginya motivasi kerja pun dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik seperti.dipenuhi. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. Menurut penelitian yang dilakukan Shinta Dwi (2009) dimana secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi dengan perilaku tidaka aman. akan berpengaruh pada motivasi kerja. Disebutkan bahwa adanya motivasi dalam diri karyawan yang tinggi maka perilaku pada saat bekerja akan menjadi selamat. kondisi kerja. apabila faktorfaktor ekstrinsik ini tidak dipenuhi makan. tetapi jika pekerja mempunyai motivasi dalam diri yang rendah. 80 . dan supervise. hubungan antar pribadi.

kelalaian manusia. tindakan tidak aman. Heinrich (1931) berpendapat bahwa kecelakaan pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan. yakni pada orang yang memiliki sifat tidak baik (misalnya keras kepala) yang diperoleh karena faktor keturunan. mengakibatkan seorang pekerja kurang hati-hati. Colling (1990) telah mencatat teori-teori kecelakaan sebagai berikut : 1. 81 .1. kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: kondisi kerja. dan banyak membuat kesalahan.2. Teori tersebut memberikan pengertian terhadap tindakan preventif dan menggambarkan semua factor yang berkaitan terhadap terjadinya kecelakaan atau memperkirakan dengan alasanalasan yang akurat kemungkinan sebuah kecelakaan akan terjadi. kecelakaan dan cedera. Ancestry and environment.4 Teori Kecelakaan Kerja Terdapat sejumlah teori tentang kecelakaan. Sebelum memahami bagaimana kecelakaan itu dapat terlebih dahulu kita harus memahami urutan bagaimana kecelakaan terjadi dan penyebabnya. Mekanisme terjadinya kecelakaan diuraikan dengan “Domino Sequence” berupa: a. pengaruh lingkungan dan pendidikan. Teori Domino Heinrich Dalam Teori Domino Heinrich.

Dengan penjelasannya ini. e. Injury. merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan tersebut di atas yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan. Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. tindakan yang berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain. d. maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama. Menurut penelitian yang dilakukannya. jika satu bangunan roboh. kecacatan dan bahkan kematian. c. memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya. Accident. Unsafe act and mechanical or physical hazards. peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja. kecelakaan mengakibatkan cedera/luka atau berat. Jika satu kartu jatuh. tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan.b. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya. Menurut Heinrich. kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama 82 . Pada umumnya disertai dengan kerugian. kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Fault of person.

Pada tahun 1967. Dalam teorinya. Teori itu menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera. gejala. serta cidera. sumber penyebab dasar. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan Heinrich dalam Suardi (2005) menemukan sebuah teori yang dinamakan “Teori Domino”.yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. satu domino diantaranya. dan kerugian. yaitu kebiasaan. 83 . Heinrich mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memeperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. yaitu manajemen. Birds dalam Suardi (2005) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. kecelakaan. Praktek di bawah standar (unsafe acts) dan kondisi di bawah standar (unsafe conditions) merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan dan merupakan penyebab utama dari kesalahan manajemen. kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab-akibat. kontak. perbuatan dan kondisi tidak aman (hazard). kesalahan seseorang. Misalnya dengan membuang hazard. terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar.

pengaruh organisasi (organizational influences).Preconditions for Unsafe Acts a. Poor practice of operator 3. pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision).Unsafe Supervision a.2. Informasi berikut. James Reason membagi penyebab kelalaian/kesalahan manusia menjadi 4 tingkatan: 1. Swiss Cheese Model memberikan informasi perihal bagaimana suatu tindakan tidak aman dapat terjadi. Berbeda dengan teori Domino Heinrich. Improper planning c. Inadequate supervision b. Supervisory violations 84 . Errors b. Teori Chess Model Dalam teori ini. menunjukkan bagaimana terjadinya suatu tindakan tidak aman itu. Types of Human Errors: 1. Conditions of operator b. Unsafe Act a. tindakan tidak aman (unsafe acts). pra-kondisi yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman (preconditions for unsafe acts). Violations 2. Failure to correct problems d.

teori ini mampu memberi banyak sumbangan atas pencegahan kecelakaan kerja. Organizational InfluencesResource management a. and organizational influences) sama-sama mempunyai lubang. karyawan tidak lagi menjadi pihak yang melulu dipersalahkan jika suatu kecelakaan terjadi. Jika keempat keju ini (unsafe act. manajemen mesti mengenali secara spesifik kemungkinan terjadinya kelalaian/kesalahan manusia pada tiap tahapan pekerjaan yang dilakukan karyawan.1. preconditions for unsafe acts. Organizational climate b. manajemen yang justru dituntut untuk melakukan segala upaya yang diperlukan untuk melindungi karyawannya 3. Teori Kecelakaan Pettersen Model ini berbeda dari model Ferrell. Organizzational process Dalam Swiss Cheese Model. unsafe supervisions. dimana model ini menyertakan 2 (dua) kemungkinan penyebab kecelakaan seperti yang dikemukakan dari teori domino: kesalahan manusia atau kesalahan sistem. Melalui pendekatan ini. Penyebab-penyebab kecelakaan dan atau insiden dapat bersumber dari salah satu atau keduanya. Agar kecelakaan dapat dicegah. maka kecelakaan menjadi tak terhindarkan. Dalam berbagai aspek. Melalui Swiss Cheese Model. 85 . berbagai macam types of human errors ini merepresentasikan lubang pada sebuah keju.

dikarenakan tekanan dari teman. ini lebih masuk akal dalam situasi mereka mengerjakannya dengan tidak aman daripada mengerjakannya dengan aman.Teori ini mengadopsi teori Ferell yang menyertakan kesalahan sistem disamping kesalahan manusia. dan lain-lain. 4. tekanan produksi. Teori ini mengemukakan bahwa pengambilan keputusan yang salah pada suatu kondisi yang disadari atau tidak bertindak tidak aman. Bird dan Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss) disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor 86 . Teori Loss Causation Model Loss Causation Model berisikan petunjuk yang memudahkan penggunanya untuk memahami bagaimana menemukan faklor penting dalam rangka mengendalikan meluasnya kecelakaan dan kerugian termasuk persoalan manajemen. ergonomic.Model ini menyatakan bahwa di belakang kesalahan manusia ada 3 (tiga) kategori besar: beban yang berlebih. rangkap. Kategori ini mengajukan bahwa para pekerja sering melakukan kesalahan melalui keputusan-keputusan secara sadar atau tidak sadar. Beban yang berlebih kurang lebih seperti Ferrell Model. dan keputusan yang keliru. dan pengambilan keputusan yang salah. Teori ini mengkategorikan tiga kelompok besar penyebab kecelakaau yaitu overload (sama dengan teori Ferell). Berkali-kali pekerja akan memilih untuk mengerjakan tugas dengan tidak aman karena sederhana saja. prioritas sistem dimana mereka berada. Perbedaan yang utama adalah pada kategori ketiga yaitu keputusan yang keliru.

Faktor substandard diantaranya tindakan tidak aman seperti mengoperasikan unit 87 standar merupakan penyebab yang tidak bervariasi yang . Job factor. b. 3. Inadequate programe Hal ini dikarenakan program yang berhubungan dengan ruang lingkup. 2. Immediate Causes Suatu kejadian yang secara cepat memicu terjadinya kecelakaan bila kontak dengan bahaya. b. Personal factor. Inadequate compliance -with standards Kurangnya pemenuhan sering terjadi. Inadequate programe standards Tidak spesifiknya standar. c. tidak sesuainya design engineering. Basic Causes: (penyebab dasar) Penyebab dasar terjadinya kecelakaan disebabkan oleh: a. Immediate causes meliputi faktor sub-standard dan faktor kondisi. standar tidak jelas atau standar tidak baik. Penyebab lack of control yaitu: a.yang berurutan seperti yang terdapat dalam Loss Causation Model. Lack of Control (kurang kendali) Pengendalian adalah salah satu faktor penting dalam meneegah terjadinya kecelakaan. faktor kepemirnpinan atau kepengawasan. yang terdiri dari: 1.

d. Memberikan pendidikan (training) kepada tenaga kerja atau karyawan tentang kecelakaan dan keselamatan kerja. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga 2. faktor kondisi seperti kebisingan. Aspek perangkat keras (peralatan.tanpa ijin. cara kerja. 2.5 Pencegahan Kecelakaan Menurut Bennett NBS (1995) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati dengan dua aspek. dsb). ventilasi iklim kerja dan lain-lain. material dan struktur perencanaan b.1. perlengkapan. Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsure yang berkaitan). c. yakni : a. Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut.Olishifki (1985) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut : a. mesin. Menurut Julian B.6 Klasifikasi kecelakaan Akibat Kerja Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut ILO tahun 1962 adalah sebagai berikut: 88 . b. Memperkecil (menekan) kejadian yang membahayakan dari mesin. letak.1.

e. antara lain: a. d. Terjatuh. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan. antara lain: a. d. e. Peralatan lain. Bahan-bahan. Terkena arus listrik h. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan. Luka-luka lain. Tertumbuk atau terkena benda-benda. c. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan. Gegar dan remuk. antara lain: a. Diskolasi atau keseleo. Mesin. zat-zat dan radiasi. Amputasi. b. c. b.1. f. Regang otot atau urat. d. Patah tulang. Tertimpa benda jatuh. e. Kontak dengan bahan-bahan yang berbahaya atau radiasi 2. Memar dan luka dalam yang lain. c. b. Lingkungan kerja. Pengaruh suhu tinggi g. g. 3. terkecuali benda jatuh. Klasisfikasi menurut penyebab. Alat angkut dan alat angkat. 89 . Terjepit oleh benda. f.

Mati lemas. Anggota atas e. j.h. i. Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh. Sedangkan menurut Labor Occupational Health Program. bahaya adalah suatu sumber potensial yang merugikan. 4. baik secara fisik maupun mental. Kelainan umum 2. Akibat cuaca dan lain-lain. Pengaruh radiasi. k. Banyak tempat g.2 Bahaya Menurut AS/NZS 4350:2004. antara lain: a. Pengaruh arus listrik. n. 90 . Leher c. Kepala b. m. Anggota bawah f. l. Luka bakar. bahaya ditempat kerja adalah segala sesuatu di tempat kerja yang dapat malukai pekerja. Keracunan-keracuan mendadak (akut). Badan d.

radiasi. Donoghue. Plog. limbah dan pekerja itu sendiri (Hendra. explosive. tempratur ekstrim. proses kerja. reactive. virus. irritant. cair. Bahaya dalam K3 adalah bahaya yang terdapat dilingkungan kerja yang dapat berasal dari bahan baku/material.Hazard atau bahaya adalah potensi yang dimiliki oleh bahan/ material. asphyxia. tekanan udara. proses produksi. 2002. lingkungan kerja. 2. padar yang mempunyai sifat toksik.2. Physical hazard (Bahaya Fisik) Berupa energy seperi kebisingan.1 Jenis-jenis Bahaya Jenis-jenis bahaya yang berada di tempat kerja secara garis besar dikelompokan menjadi (Wells. kerusakan pda peralatan. getaran. produk. 3. Biological hazard Bahaya yang berasal dari mikroorganisme khususnya yang pathogen yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. jamur. Chemical hazard Bahan kimia berbahaya dalam bentuk gas. 2004) 1. 2009). 2. Australia). 1996. proses atau cara kerja yang dapat menimbulkan kerugian terhadap keselamatan dan kesehatan seseorang (Workover. lingkungan. flammable. dan struktur (ILO encyclopedia).Bahaya mewakili satu sumber energy yang memilki potensi yang dapat menyebabkan terjadinya cidera pada pekerja. pencahayaan. 91 . seperti bakteri. corrosive.

Electrical hazard (bahaya listrik) Merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik pendek (konsleting). 6. kekerasan ditempat kerja. dkk. pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang. 2. tekanan pekerjaan.4. dan cara kerja yang salah 5 . tergores. tertusuk. jam kerja yang panjang. Ergonomic (Aspek ergonomik) Merupakan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan sebagai akibat dari ketidaksesusaian antara desain kerja dengan pekerja. Berbagai metode untuk melindungi pekerja atau pengendalian bahaya telah diciptakan.Ada tiga jenis pengendalian (Diane Bush. 7.2. Mechanical hazard (bahaya mekanik) Bahaya yang terdapat pada benda-benda atau proses yang bergerak yang dapat menimbulkan dampak seperti terpotong. 2000) 92 . Psychological hazard (bahaya psikososial) Stress.2 Pengendalian Bahaya Pekerja tidak dapat dilindungi apabila bahaya yang ada belum diidentifikasi dan dievaluasi. tersayat. loncatan listrik/ listrik statik. terjepit.

Pengendalian Administratif Pengendalian membatasi administrative melalui adalah rencana pengendalian kerja. Sasaran dari pengendalian teknik adalah bahaya yang secara langsung dan efektifitasnya tidak tergantung pada perilaku pekerja. Memasang ventilasi buangan local 2. Mendesain ulang mesin b.1.Untuk menjadi efektif. untuk pemaparan Pengendalian administrative tidak menghilangkan bahaya secara langsung. Yang termasuk dalam pengensalian administrative antara lain : a. Pengadaan ruang control 93 . Pengendalian Engineering Adalah pengendalian yang dilakukan dengan tujuan mengurangi bahaya pada sumber dan media transmisinya.Yang termasuk dalam jenis pengendalian engineering antara lain adalah : a. Menggunakan produk yang lebih aman c. Rotasi atau pergantian shift kerja b. tetapi digunakan untuk membatasi waktu kontak antar pekerja dengan bahaya. pengendalian administrative bergantung pada perilaku manusia. Pengendalian engineering merupakan pengendalian yang terbaik karena menghilangkan bahaya yang ada atau menghilangkan kemungkinan bahaya tersebut mengenai pekerja. Mengisolasi proses atau pekerja d.

Pengadaan pelatihan d. Monitoring lingkungan 3. rapi. Kebijakan-kebijakan K3 i. Housekeeping atau penataan tempat kerja yang ringkas. Alat pelindung diri digunakan sebagai cara terakhir untuk melindungi pekerja bila pengendalian engineering dan administrative tidak mungkin dilakukan atau dalam keadaan darurat. f. Pemeriksaan kesehatan g. Safety shoes. Standard Operation Procedure (SOP) DAN Work Instruction h. Ada banyak sekali jenis-jenis alat pelindung diri.Alat pelindung diri tidak menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yang ada. Pengadaan color code labeling dan material safety data sheet (MSDS) e. Ear plug dan ear muff.c. diantaranya : 1. pelindung kaki 94 . Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadapa potensi bahaya/kecelakaan kerja akibat proses produksi atau pekerjaan. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya Dengan menempatkan penghalang antara pekerja dengan bahaya. proteksi pendengaran 2.

2. 95 . Safety goggle. risiko adalah suatu kesempatan dari kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan dampak pada sasaran. risiko diukur berdasarkan adanya kemungkinan terjadinya suatu kasus dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan. uap. pelindung kepala 5.1 Jenis-jenis Risiko Adapun jenis-jenis risiko yaitu (Rao V.3. Kerugian-kerugian yang biasanya terjadi dalam risiko keselamatan adalah cedera.Risiko dalam konteks K3 berarti besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan potensi kerugian yang muncul.3 Risiko Menurut AS/NZS 4360:2004.Risiko ini dapat terjadi sewaktu-waktu. Safety risk (risiko keselamatan) Risiko keselamatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan rendah untuk terjadi tetapi memiliki konsekuensi besar. Kolluru. kehilangan hari kerja. Masker. kerusakan property dan kerugian produksi dan penjualan. 1996) a. Helm. Sarung tangan 6. pelindung mata 4. asap. bersifat akut dan fatal.3. melindungi pernafasan dari debu. bahan kimia. fume 2. dkk. baik dampak kesehatan maupun yang lainnya.

asuransi dan inventasi e. Sehingga hal-hal yang tidak diharapkan seperti pencemaran air dan udara dapat dihindari. gangguan reproduksi dan gangguan metabolic atau sistemik. Enviromental risk (risiko lingkungan) Risiko ini berhubungan dengan keseimbangan lingkungan. Public risk (risiko masyarakat umum) Risiko ini berkaitan dengan kesejahteraan kehidupan orang banyak. Penyakit-penyakit yang terjadi misalnya gangguan pernafasan. mempunyai masa laten yan panjang. berdampak besar pada populasi atau komunitas. Ciriciri risiko lingkungan adalah perubahan yang tidak signifikan. contohnya adalah kelangsungan suatu bisnis. c.b. berubahnya fungsi dan kapasitas habitat dan ekosistem serta kerusakan sumber daya alam d.Risiko jenis ini dapat terjadi kapan saja secara terusmenerus dan berdampak kronik. Financial risk (risiko keuangan) Risiko keuangan berkaitan dengan masalah ekonomi. 96 . Health risk (risiko kesehatan) Risiko kesehatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk kterjadi tetapi memiliki konsekuensi yang rendah. gangguan syaraf.

97 . 3. Melakukan pengendalian risiko yang tidak dapat diterima. 5. 2. Beberapa tahapan dalam melaksanakan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Melaksanakan identifikasi risiko.4 Manajemen risiko Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. manajemen risiko adalah pemeliharaan. Melakukan analisis risiko untuk menetapkan kemungkinan dan konsekuensi yang akan terjadi serta menetapkan tingkat risiko. proses. Melakukan pemantauan dan tinjauan ulang program manajemen risiko yang telah dilaksanakan. Menetapkan tujuan dan lingkup pelaksanaan manajemen risiko. 4. 6. Menetapkan evaluasi untuk menetapkan skala prioritas dan membandingkan dengan kriteria yang ada.2. 7. Komunikasi dan konsultasi yang dilakukan dalam proses manajemen risiko yang melibatkan pihak internal dan eksternal. dan struktur yang mengacu langsung pada pengetahuan efektif terhadap kesempatan potensial dan efek yang merugikan. yaitu : 1.

Membantu meminimalisasikan meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi. RISKS ASSESMENT IDENTIFY RISKS 98 . Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian. Tujuan manajemen risiko menurut AS/NZS 4360 (1999) adalah sebagai berikut : 1.4.1 Tujuan Manajemen Risiko Manajemen risiko bertujuan untuk memaksimalkan kemajuan dalam mencapai tujuan organisasi dengan cara meminimalkan kerugian yang akan terjadi. 2005). 2.\ COMMUNICATE AND CONSULT ESTABLISH CONTEXT MONITOR AND REVIEW ANALYSE RISKS EVALUATE RISKS TREAT RISKS Gambar 2. (Supriyadi.1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999 2. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan kerugian. 3.

Mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan perlindungan aset. Melakukan peningkatan pengmbilan keputusan pada semua level. Menyusun program yang tepat untuk menimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan.4. 2. Menciptakan manajemen proaktif bukan reaktif. 2.2 Manfaat Manjemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 (2004) manfaat menerapkan manjemen risiko adalah : 1. 6. 5. 2. produksi dan mencapai performa perusahaan yang lebih baik.5 Metode Identifikasi Risiko Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi risiko untuk mengetahui faktor penyebab dan proses terjadinya konsentrasi atau dampak. Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan dari kemungkinan tersebut. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif. 4. Meningkatkan produktifitas kerja. Beberapa contoh metode identifikasi risiko tersebut adalah sebagai berikut : 99 . 5. 3. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. lingkungan kerja.4.

b. 1990). Failure Mode Effect Analysis Failure Mode Effect Analysis adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis sistem yang berhubungan dengan engineering yang mungkin mengalami kegagalan dan efek yang ditimbulkan dari kegagalan. konsep design atau prosedur operasi (Diberadinis. Safety checklist dapat digunakan untuk mengevaluasi perangkat peralatan. HAZOPS digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan safety 100 . Preeliminary Hazard Analysis dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem tersebut. tingkat bahaya yang dihasilkan dari kegagalan dan bagaimana kegagalan tersebut dicegah atau diminimalisasi (Colling. Hazard and operability Study and operability Study (HAZOPS) dapat digunakan untuk Hazard mengidentifikasi bahaya pada industri kimia. 1999). Check List Check List digunakan sebagai cara untuk mengetahui kondisi awal pada suatu kondisi yang meliputi aspek-aspek safety. 1990). fasilitas. Preeliminary Hazard Analysis Preeliminary Hazard Analysis adalah suatu metode yang dilakukan dalam mengetahui bahaya-bahaya awal pada suatu sistem baru. Failure Mode Effect Analysis secara sistematis menilai komponen dari dari suatu sistem tentang bagimana sistem dapat gagal lalu mengevaluasi efek dari kegagalan tersebut.a. d. (Colling. c.

101 . 2. b) Membagi pekerjaan ke dalam tahapan tugas. membuat metode kerja yang lebih efektif Tahapan pelaksanaan Job Safety Analysis terdiri adari empat langkah yaitu : a) Memilih pekerjaan yang akan dianalisis. c) Mengidentifikasi bahaya atau risiko keselamatan kerja yang ada pada setiap tahapan tugas. 1996).dan bahaya pada lingkungan dan memproses masalah yang dapat berdampak pada efisiensi operasi (Kolluru.5. 1996). f. Fault Tree Analysis (FTA) Fault Tree Analysis (FTA) dapat digunakan untuk memprediksi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau digunakan sebagai alat investigasi setelah terjadi kecelakaan (Geostsch. Setiap langkah dianalisis untuk mengisentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut (Geotsch.1 Job Safety Analysis (JSA) Menurut OSHA 3071:2002 JSA (Job Safety Analysis) merupakan salah satu teknik atau cara untuk mengidentifikasi risiko sebelum risiko tersebut terjadi pada suatu kegiatan yang sedang berjalan. 1996). e. JSA dapat digunakan untuk menghulangkan atau mencegah bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. Job Job Safety Analysis Safety Analysis adalah suatu proses yang dilakukan dalam mengidentifikasi bahaya melalui langkah-langkah kerja yang ada.

Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan metoda Job Safety Analysis yaitu (Diberardinis. yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. c. Hazard (Bahaya) 102 . Pendekatan JSA sangat mudah dipahami. b. Job Berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan untuk masaing-masing tahapan kegiatan. Proses pada JSA dapat memberikan kesempatan pada individu untuk mengenali natau memberikan pengetahuan mengenai operasi. b. Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang nantinya dapat digunakan untuk melatih (sebagai bahan training) pekerja baru. Task Berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. 1999) : a.d) Menentukan prosedur atau tindakan pengendalian guna meminimalisasi risiko tersebut. 1990) : a. e. tidak membutuhkan suatu tahapan dalam training dan dapat dengan cepat disesuaikan dengan pandangan individu. d. Dokumentasi JSA juga dapat digunkan sebagai bahan studi. c. Job Safety Analysis berisikan informasi mengenai (Colling.

2. kimia. inspeksi atau audit K3 di tempat kerja. prose identifikasi risiko juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman terdahulu atau masalah yang serupa. Selain sejumlah metode di atas. Menurut AS/NZS 4360 (1999) analisis risiko adalah suatu kegiatan sistematik dengan menggunakan informasi yang ada untuk mendeterminasi seberapa besar konsequensi (severity) dan tingkat keseringan (likelihood) suatu kejadian yang ditimbulkan. ergonomi) apakah yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan.Untuk mengetahui jenis bahaya (fisik. 103 . Probability (Kemungkinan) Berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera (sering. biologi. pemeriksaan dan pengujian peralatan kerja serta analisis data kecelakaan dan penyakit akibat kerja di perusahaan. populasi. mekanik. konsultasi dengan pihak pekerja. terkadang) dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan. d. e. Consequency Berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan pekerjaan. bangunan dan lingkungan. analisis risiko adalah sistematika penggunaan informasi yang tersedia untuk mengidentifikasi hazard dan untuk memperkirakan suatu risiko terhadap individu.6 Analisis Risiko Menurut Kolluru (1996).

Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis risiko adalah : a. Hal itu dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap bahaya dan sumber risiko yang ada dalam proses kerja dan di tempat kerjanya. 2006). serta efektifitas tindakan pengendalian bahaya yang telah dilakukan sebelumnya. jumlah dan karakteristik pekerja yang terpapar bahaya. Probabilitas Merupakan besaran kemungkinan timbulnya risiko. Faktor probabilitas juga berkaitan dengan faktor perilaku pekerja dalam melakukan pekerjaannya.Analisis risiko adalah kegiatan menganalisis suatu risiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan dari akibat suatu risiko (Purwanto. kondisi peralatan kerja. peralatan kerja. kondisi area kerja dan perilaku pekerja. kondisi area kerja. b. Ditentukan dengan menganalisis frequensi paparan bahaya terhadap pekerja. keterbatasan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki pekerja saat pekerja seperti kondisi fisik pekerja yang sakit saat melakukan 104 . jumlah dan karakteristik bahaya yang memapar pekerja. yang digunakan dalam proses kerja. Tujuan dilakukannya analisis risiko adalah untuk membedakan antara risiko kecil dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko (AZ/NZS 4360. Dalam bekerja. pekerja dapat berperilaku tidak aman. Sumber risiko Merupakan asal atau timbulnya risiko yang dapat berupa material. 1999).

3 Moderate 4 Major 105 . kerugian finansial tinggi.2. Menurut AZ/NZS 4360 (1999) terdapat tiga metode yang digunakan dalam menganalisis risiko di tempat kerja : 1.1 dan tabel 2. Konsequensi Merupakan besaran dampak yang ditimbulkan dari risiko. Tabel 2. penanganan dilakukan tanpa bantuan pihak luar. Analisis risiko kualitatif Umumnya pada metode ini menggunakan bentuk matriks risiko dengan dua parameter. Ditentukan dengan analisis atau kalkulasi statistik berdasarkan data-data yang terkait atau melakukan estimasi subjektif berdasarkan pengalaman terdahulu. menimbulkan kerugian akibat berkurangnya kemampuan berproduksi. Cidera berat. kerugian finansial besar. kerugian finansial sedang. penanganan membutuhkan bantuan pihak luar.pekerjaan atau stress yang dialami pekerja yang berpengaruh dalam penurunan konsentrasi pekerja. c. Membutuhkan penanganan medis. yaitu peluang dan akibat. Skala ukur konsekuensi dan kecenderungan (likelihood) secara kualitatif menurut Risk Management AS/NZS (1999) yang dapat dilihat pada tabel 2. kerugian finansial rendah Membutuhkan penanganan P3K.1 Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif Level 1 2 Deskripsi Insignificant Minor Definisi Tidak terjadi cidera. efeknya mempengaruhi tetapi tidak merugikan lingkungan sekitar.

Analisis Semikuantitatif Analisis semikuantitatif bukan bagian dari analisis kuantitatif.Menyebabkan kematian.2 Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif Level A B C D E Definisi Pasti terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Akan terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Sewaktu-waktu mungkin akan terjadi Sewaktu-waktu dapat terjadi Mungkin terjadi pada keadaan-keadaan tertentu saja Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Deskripsi Almost Likely Possible Unlikely Rare 5 Catasthropic 2. Terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi dari paparan dengan probabilitas terjadinya risiko. karena risiko dibagi menjadi beberapa kategori. Menurut AS/NZS 4360:1999. kerugian finansial yang sangat besar. perbedaannya yaitu uraian atau deskripsi dari parameter yang ada pada analisis semikuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. Pada prinsipnya metode ini hampir sama dengan analisis kualitatif. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Tabel 2. efeknya mempengaruhi dan merugikan lingkungan sekitar. Dalam metode analisis semikuantitatif terdapat 3 unsur yang dijadikan pertimbangan. yaitu probabilitas (likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi. yaitu: 106 . analisis ini menghasilkan prioritas yang lebih rinci dibandingkan dengan analisis kualitatif. analisis semikuantitatif mempertimbangkan kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen.

kerusakan kecil dengan kerugian produk sebesar <$500. Konsekuensi (consequences) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek yang ditimbulkan oleh sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. kerusakan sementara terhadap lingkungan. efek yang merugikan terhadap lingkungan. kerugian $5. kerugian sebesar $500-$5.000. terhentinya aktivitas.a.000. memar.000.000-$50. Tingkat konsekuensi metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2.000. kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan dengan kerugian $500. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) b.000. Paparan (exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi interaksi antara sumber risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja serta Kategori Catastrophic Rating 100 50 25 15 5 1 menggambarkan kesempatan yang terjadi ketika sumber risiko ada 107 . Noticeable Luka ringan. Disaster Kematian. Very serious Cacat atau penyakit yang menetap.3 Kategori Konsekuensi Secara Semikuantitatif Deskripsi Kerusakan yang sangat parah dengan kerugian di atas $1. kerusakan besar-besaran. Important Membutuhkan penanganan medis.000. kerugian $50.000. Tabel 2. efeknya dapat dirasakan tetapi tidak terlalu merugikan.000$2. kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat.000-$500.3. atau penyakit yang ringan. dan menetap terhadap lingkungan. Serious Cidera atau penyakit yang serius tetapi sementara (tidak menetap).

Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.4 KategorExposure Secara Semikuantitatif S Kategori u Continously m Frequent Occasionaly b Infrequent e Rare r Very rare Deskripsi Terjadi secara terus-menerus atau setiap hari Terjadi kira-kira satu kali setiap hari Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun Pernah terjadi tetapi sangat jarang Tidak pernah terjadi Rating 10 6 3 2 1 0.5 Kategori Likelihood Secara Semikuantitatif Kategori Deskripsi Almost certain Akibat yang paling mungkin timbul apabila kejadian tersebut terjadi Likely Kemungkinan terjadi 50-50 Rating 10 6 108 . Kemungkinan (likelihood) Kemungkinan adalah nilai yang menggambarkan kecenderungan terjadinya konsekuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan.4. Tabel 2.5 : Risk Management AS/NZS 4360 (1999) c.5 Tabel 2.yang akan diikuti oleh dampak atau konsekuensi yang akan ditimbulkan. Tingkat konsekuensi tersebut akan ditentukan ke dalam beberapa kategori tingkat paparan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.

1 Tingkat risiko (level of risk) pada analisis semikuantitatif merupakan hasil perkalian dari variabel konsekuensi. Practicaly Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak mungkin impossible terjadi Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 3 1 0. dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan.Unsual Remotely possible Conceivable Kemungkinan terjadi tetapi jarang Kejadian yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi Mungkin terjadi. Nilai risiko = Consequences (C) x Exposure (E) x Likelihood (L) Tingkat risiko metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2.6.6 Kategori Tingkat Risiko (Level of Risk) dengan Metode Semikuantitatif Tingkat Risiko (Level of Risk) >350 Comment Very high Tindakan Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima 180-350 Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin 70-180 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis 20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan <20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 109 . tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun. Tabel 2. paparan.5 0.

Membuktikan kebenaran bahwa hasil intuisi kita bisa salah. Harus mengacu model. Masing-masing metode analisis di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kurang akurat daripada analisis kuantitatif b. Waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada analisis lainnya b. a. Orang lebih percaya angka daripada penglihatannya. b. Total risiko adalah total dari semua potensi risiko. b. Analisis Kuantitatif Merupakan langkah pertama dalam kuantifikasi risiko adalah mendefinisikan kemungkinan outcome. b. Kuantitatif Lebih akurat daripada analisis lainnya 110 . Keuntungan analisis kuantitatif antara lain: a. Kualitatif 2. Mempertimbangkan secara detail faktor dari efek risiko. yaitu (Cross. Skala yang digunakan harus tepat untuk menentukan tingkat risiko a.7 Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross (1998) No. 3. Kelebihan Lebih mudah Lebih cepat Lebih akurat daripada analisis kualitatif Lebih mudah dan cepat daripada analisis kuantitatif Kekurangan Kurang akurat daripada analisis yang lain a. c. 1998): Tabel 2. Dalam menentukan angka konsekuensi menjadi seragam.3. Semikuantitatif a. Kelemahan analisis kuantitatif antara lain: a. Metode Analisis 1.

Sumber data harus memadai dan representative Sumber: Risk Management Study Notes. lebih mudah dan cepat daripada analasis kuantitatif. 111 . penulis menggunakan metode semikuantitatif berdasarkan pertimbangan kelebihan metode analisis risiko menurut Cross. yaitu lebih akurat daripada analisis kualitatif.b. 1998 Dari ketiga metode analisis yang ada. Jean Cross. dan pertimbangan pemaparan yang dijadikan faktor tingkat risiko menurut AS/NZS 4360:1999.

1999/2004. Setelah mendapat hasil analisis risiko maka gambar pertama akan menjelaskan hubungannya dengan gambar kedua yaitu kejadian kecelakaan kerja yang didapat berdasarkan data kecelakaan kerja perusahaan . 112 . Maka dapat diketahui hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH 3. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360. .1 Kerangka Berpikir Penelitian ini bertujuan menghubungkan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. peneliti melakukan komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder internal. Pada gambar pertama .peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 secara kulaitatif. Setiap tahapan analisis risiko.

Analisis Risiko Menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan Menentukan nilai risiko = konsekuensi x paparan x kemungkinan Menentukan kategori tingkat risiko

Kejadian kecelakaan kerja di Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir Analisis Tingkat Risiko

113

3.2 Definisi Istilah Tabel 3.1 Definisi Istilah Tahapan Manajemen Risiko (Menjelaskan) No. Nama Istilah Definisi Sebuah sistematika Alat Ukur Pedoman Cara Ukur Wawancara dan

1. Analisis Risiko

a. proba

yang wawancara dan observasi lembar

b. conse

menggunakan informasi didapat menentukan seberapa kejadian sering tertentu

c. expos

yang observasi untuk

dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut kegiatan shredding 1.1 Probabilitas (probability) Kemungkinan terjadinya kecelakaan kegiatan shredding Pedoman Wawancara dan 10 pada proses

Alm

suatu wawancara dan observasi dari lembar proses observasi 3 6

pali

Like

kec

Uns

nam 1

Rem

keja

kem 0,5

Con

114

kec

pem 0,1

Pra

tida 1.2 Konsekuensi (consequence) Perkiraan dampak Pedoman negative mungkin dari Wawancara dan 100

Cat

yang wawancara dan observasi timbul lembar kegiatan observasi 50

keru

ling

Dis

proses Shredding

perm

terh 25

Ver

keru

perm 15

Seri

men

perm

buru 5

Imp

med

dala

keru 1

Not

ring

keru

pros 1.3 Pajanan (exposure) Frekuensi pajanan Pedoman bahaya kegiatan Wawancara dan 10

Con

dari wawancara dan observasi proses lembar

seha

115

shredding

observasi 6

Fre

seha 3

Occ

sam 2

Infr

sam 1 0,5

Rar

Ver

terja 1.5 Tingkat Risiko Kategori berdasarkan hasil ini Rumus analisis Mengkalikan dari risiko semi consequence likeklihood exposure . >350 x x

Ver

sam

perkalian kuantitatif

antara probability, “tingkat risiko consequence, dan exposure kegiatan Shreeding pada proses

180350 70180 20-70

Prio

sece

Sub

perb

Prio

<20

Acc

sela

116

2003) 117 .2 Definisi Istilah Kecelakaan Kerja (Dijelaskan) No. kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah. Nama Istilah Kecelakaan Kerja di Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk Definisi Alat Ukur Cara Ukur Kecelakaan kerja Pedoman Wawancara dan Gambaran kejad adalah kejadian Wawancara dan Observasi Shredder facility P yang tidak lembar observasi diinginkan yang berhubungan dengan pekrjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang. 1.Tabel 3.

2.2. PT. Informan 118 .Hasil analisis risiko yang diperoleh dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT.1.2. yang berlokasi di Jalan Raya Narogong Kecamatan Kelapa nunggal Bogor. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2010 4.1 Metode Penelitian Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Pada penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja diggunakan metode analisis risiko semikuantitatif berdasarkan standar AS/NZS 4360:1999/2004. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Shredder facility.2.3. unit Geocycle.BAB IV METODE PENELITIAN 4.Holcim Indonesia Tbk. 4. 4. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.

I 3.Kriteria informan pada penelitian ini adalah : 1. pekerja yang bertugas pada bagian pengoperasian shredder 4. Pekerja yang mengetahui kronologi kejadian kecelakaan kerja yang pernah terjadi Sebagai informan pada penelitian ini adalah : 1. korban kecelakaan kerja yang bertanggung jawab terhadap 4. Pekerja PT. selain itu data primer dapat pula diperoleh melalui observasi langsung dengan menggunakan alat dokumentasi berupa kamera. Sedangkan. Pekerja unit Shredder facility PT. penanggung jawab Shredder. petugas OS&H 2.Holcim Indonesia Tbk 2. penanggung jawab Shredder facility 3.4 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Pekerja unit Shredder facility PT.Holcim Indonesia Tbk yang berinteraksi langsung dengan proses Shredding. yaitu dengan mengamati pekerja pada setiap tahapan proses shredding di PT Holcim Indonesia 119 . data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas OS&H. pekerja shredder dan korban kecelakaan. Data sekunder diperoleh dari wawancara dan observasi kepada petugas OS&H berupa profil perusahaan dan data kecelakaan kerja di Shredder facility.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility 4.

Struktur Organisasi OH&S dan tahapan pekerjkaan Shredder facility 2.1 Data Sekunder No. Data kecelakaan kerja Petugas OH&S. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Instrumen Penelitian 1.Tabel 4. Penanggung jawab Shredder.2 120 . pekerja shredder dan korban Kecelakaan Wawancara dan studi dokumen Pedoman Wawancara dan lembar observasi Petugas OH&S dan penanggung jawab Shredder Wawancara dan observasi Pedomana Wawancara dan lembar observasi Tabel 4.

Diawali dengan penentuan ruang lingkup dengan melihat struktur organisasi OH & S PT. dilanjutkan dengan identifikasi risiko menggunakan 121 . Risiko di Shredder Facility Wawancara Pedoman Wawancara 4. Nama Data Sumber Metode Pemgumpulan Instrumen Penelitian 1. 1999/2004. peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja.Data Primer No. Penanggung jawab Shredder.5 Pengolahan Dan Analisis Data Pada tahap awal penelitian ini. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360.Holcim Indonesia Tbk dan tahapan pekerjaan di Shredder facility. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Observasi Kamera 2. Gambar pekerjaan Shredder facility Petugas OS&H.

kemudian menentukan tingkat risiko dari setiap tahapan pekerjaan dalam bentuk skor. 4. Selanjutnya tingkat risiko yang didapatkan dari hasil analisis risiko dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT.job safety analysis ( JSA) untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja. mendapatkan gambaran kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada shredder facility dari sejak awal berdirinya. kemudian melakukan analisis risiko dengan menggunakan metode analisis semikuantitatif berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard 4360:1999/2004 untuk menentukan konsekuensi. penyebab. Setelah mendapatkan nilai risiko. dan kemungkinan. Data yang diperoleh dari hasil wawacara ini adalah kronologi kejadian kecelakaan kerja. Langkah selanjutnya yaitu menentukan nilai risiko dengan rumus: Nilai Risiko : Konsekuensi x paparan x kemungkinan . dan upaya pengendalian yang telah dilakukan pihak perusahaan. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah. waktu kecelakaan kerja. paparan. yaitu tahun 2008 dengan melakukan wawancara dan studi dokumentasi.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.6 Validitas data 122 . dampak kecelakaan kerja dan pengendalian yang saat itu diterapkan.

peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. pekerja OS&H. Dalam penelitian ini. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 123 . Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. pekerja OS&H. Teknik triangulasi data ini digunakan untuk keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding suatu data. Tabel 4.3 Tabel Triangulasi Sumber No.Validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi data. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 2. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Data 1. Data Kecelakaan Kerja Petugas penanggung Shredder. Risiko facility di Shredder Petugas penanggung Shredder.

4 Triangulasi Metode No. 2. 1. Tabel 4. Nama Data Profil Perusahaan Alur pekerjaan Metode Wawancara dan observasi Wawancara dan Observasi 124 .Sedangkan triangulasi metode adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda.

Tim K3 di PT Holcim Indonesia Tbk ini disebut tim OH&S yang memiliki tujuan mencapai nilai nihil “nil” kecelakaan pada karyawan. maka dibentuk suatu tim yang ringkas tetapi memiliki kemampuan cepat dalam pembuatan peraturan.. efisien dan produktif.1 Struktur Organisasi OH&S Sesuai dengan tujuan Sistem Manajemen K3 untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman.1 Struktur Organisasi OH&S dan Tahapan Pekerjaan Proses Produksi Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 5.1. standar K3 perusahaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan sistem manajemen K3.BAB V HASIL 5.1 Struktur Organisasi OH&S Corporate Holcim 125 . kontraktor dan pengunjung Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5.

tema k3 bulanan.1 OH&S Project 1. hadiah untuk karyawan. door to door OHS coaching. Identifikasi Bahaya Identifikasi bahaya dilakukan secara serentak oleh seluruh organisasi. OH&S Pyramid ini wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota group Holcim dengan pencapauian green pyramid OH&S Green Pyramid Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5. 126 . Holcim mengembangkan OH&S Pyramid yang dijadikan standar K3 yang dibuat oleh Holcim dan diperkenalkan akhir tahun 2002.1.2 Green Pyramid 5. Kampanye K2 Kampanye K3 yang dilakukan secara aktif seperti 10 prinsip keselamatan. identifikasi bahaya ini disusun oleh perwakilan unit kerjayang tergabung dalam Multi Diciplinary Team dengan anggota 34 orang 2.1.Dengan acuan kepada Undang-undang dan pemerintahan Indonesia serta OSHAS 18001.

program ini baru diperkenalkan tahun 2006 6. Safety Observation Tour Merupakan sarana untuk memperlihatkan kepedulian atasan akan keselamatan anggotanya 7. presentasi di manager forum. Pelatihak K3 di training center e. Kontraktor Training f. Peningkatan skill fire brigade c. Penghargaan bagi karyawan Perlu adanya penghargaan individu bagi karyawan yang berpartisipasi dalam program K3. Induksi dan Training a. maka dibuatkan suatu sarana yang mudah dan jelas penanggungjawabnya untuk menindaklanjuti laporan bahaya dari karyawan.majalah K3 untuk karyawan. Sertifikasi juru las b. 5. Promosi program K3 baru d. penghargaan bagi karyawan 3. Pelaporan Bahaya Perlu tersedianyya sistem yang mudah bagi karyawan untuk melaporkan bahaya yang ditemuinya di tempat kerja. Sertifikasi operator forklift 4. Planned Inspection 127 .

Fire Volunteer Untuk mempercepat penanganan kebakaran dan kecelakaan 14. Safety Talk Adanya komunikasi antara Pekerja dan Atasan. diperkenalkan kepada seluruh pekerja semenjak April 2005 9. 13. Perlombaan K3 antar unit kerja Diperlukan adanya sarana yang dapat meningkatkan kerjasama yang terkait dengan K3. selain untuk membina pekerja juga untuk memperlihatkan komitmen Atasan akan K3 12. maka sudah kewajiban penerima tamu untuk memberikani induksi terhadap tamunya 10. Kesehatan Tempat Kerja Menciptkan tempat kerja yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas pekerja 11. yang dilakukan pada bulan K3.Untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan keselamatan di tempat kerjanya. OH&S Audit OH&S audit dilakukan secara berkala terhadap pelakasanaan sistem K3 128 . dengan melibatkan seluruh karyawan terutama karyawan tingkat dasar (member) 8. 10 Peraturan Keselamatan Merupalakan pedoman bagi pekerja dan kontraktor akan peraturan keselatan di tempat kerja. Induksi Keselamatan tamu adalah tanggung jawab Kita bersama.

Posisi handrail berada melingkupi Shredder dan sebagian besar terletak pada ketinggian < 2 m. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah.5.2 Tahapan Pekerjaan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 Shredder facility merupakan salah satu sub-bagian dari Geocycle.1. minyak atau solar. biasanya pada proses persiapan awal ini para pekerja melakukan housekeeping seperti a. Dimana Shredder adalah salah satu layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. Proses di Shredder facility dilalui oleh beberapa tahap. Membersihkan handrail Tahap membersihkan Handrail ini dilakukan setiap awal shift atu 3 kali dalam sehari. helper menggunakan air. Proses pencacahan limbah yang biasa disebut proses shredding terdiri dari beberapa tahapan yang saling berhubungan untuk setiap prosesnya. seperti : 1. 129 . Tahap Persiapan Awal (Housekeeping ) diawali dengan proses persiapan awal yang bertujuan agar proses kerja berjalan dengan baik dan bersih. Tujuan dari pembersihan handrail ini adalah agar fasilitas shredder berada pada kondisi yang bersih dan aman. Untuk membersihkan handrail dari residu material.

d. Tujuan dari Adjusting belt conveyor adalah meluruskan belt conveyor yang keluar dari jalur akibat material. c.b. gunting atau bar (tongkat panjang). Posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 m. . sebelum Shredder diaktifkan pada awal shift . Membersihkan screen Tahap membersihkan screen ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari khususnya ketika ada material yang tersangkut pada screen. Adjusting belt conveyor (meluruskan belt conveyor) Tahap Adjusting belt conveyor ini dilakukan seminggu sekali. Tujuan dari membersihkan screen ini adalah melancarkan screen dari material yang tersangkut. Untuk melancarkan screen. Tujuan dari pengecekan chute magnet separator ini adalah melihat apakah chute magnet separator masih berfungsi dengan baik dan melihat apakah terdapat plak yang menempel pada chute magnet separator . 130 . helper menggunakan cutter. Mengecek chute magnet separator Tahap mengecek chute magnet separator ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari. helper menggunakan screw. Untuk adjusting belt conveyor. Untuk membersihkan plak pada chute magnet separator. helper menggunakan bar (tongkat panjang).

pekerja hanya bersifat mengawasi dan melakukan pembersihan. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. Perapihan material oleh wheel loader Tahap perapihan material oleh wheel loader ini dilakukan setiap hari. a. 3. Proses Persiapan dan Penyimpanan Material Tahapan proses persiapan dan penyimpanan material pada storage antara lain. pada tahap ini wheel loader yang memasukan material pada hooper. proses ini merupakan tahap awal dari proses pencacahan limbah di unit Shredder facility. Pada dasarnya kegiatan shredding di unit ini sudah dilakukan secara otomatis. Tujuan dari perapihan material oleh wheel loader ini adalah melihat agar material di storage rapi dan tidak berceceran keluar storage. agar limbah cair lebih mudah bersatu dengan material lainnya.Material yang dimasukkan pada Hooper adalah berbagai material (cair dan padat). khusus 131 . Shredding Procces Proses Shredding dilanjutkan dengan : Memasukan material menuju hooper shredder oleh wheel loader atau yang biasa disebut sebagai proses shredding. Shreeding material pada Hooper Tahap Shreeding material pada Hooper ini dilakukan setiap saat selama material tersedia.Material yang dirapihkan oleh wheel loader adalah berbagai material limbah (cair dan padat ) khusus limbah cair. Shredding merupakan inti dari kegiatan pada Shredder facility. a.2.

kegiatan ini dilakukan sesering mungkin oleh pekerja. pada tahap ini helper yang memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. tujuan dari menebar serbuk gergaji adalah agar permukaan yang terkena ceceran dari material cair tidak membuat permukaan di sekitar shredder dilakukan sesering mungkin oleh pekerja menjadi licin. Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 132 . kegiatan ini dilakukan di lokasi penyimpanan hasil akhir product. kegiatan yang dilakukan pada saat ini adalah: a. khususnya saat terdapat residu dari material yang bersifat cairan. 4. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. . pada tahap ini helper yang melakukan penebaran serbuk gergaji. b.limbah cair. tujuan dari memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material adalah agar aroma material yang sangat menyengat bisa sedikit diminimalisir. Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Tahap menebar serbuk gergaji dilakukan setiap hari. Memasukan product pada box dan pengiriman product Kegiatan selanjutnya adalah proses memasukan material ke dalam box untuk diantarkan ke pre-heater untu proses selanjutnya. kegiatan ini c. Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material Tahap Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dilakukan setiap hari.

Proses shredding ini melibatkan pekerja sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang penanggung jawab lapangan. 2 orang helper. Safety briefing Kegiatan ini dilaksanakan sebelum jam kerja. pada tahap ini box dibawa truck. membahas kecelakaan kerja dan hal-hal lain yang berkaitan dengan safety. wheel loader. b. truck dan crane.menuju tempat pembakaran.. Seperti sosialisasi penggunaan APD. handrail sebagai alat pengaman 133 . Peralatan yang digunakan yaitu mesin pencacah atau shredder serta peralatan pendukung seperti bobcap. b. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material untuk dijadikan bahan bakar alternative pembuatan semen. tersedianya hydrant . Sudah terpasangnya alat pengaman pada peralatan kerja seperti safety guard (batas antara mesin dengan area kerja) serta rail guard pada platformyang berada pada ketinggian. Material yang digunakan adalah limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. pada tahap ini box dinaikan menggunakan forklift menuju truck. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material.Tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk dilakukan setiap material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. Mengirimkan box menuju tempat pembakaran Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran dilakukan setiap ketika material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. Pengendalian risiko yang telah dilakukan pada proses Shredding antara lain: a.

gloves. safety shoes.1. earmuff.2.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk.Tersedianya alarm pada crane yang bertujuan untuk menandakan bahwa crane sedang beroperasi serta penerapan LOTO pada semua mesin. Pemasangan warning sign tentang penggunaan APD d. Penggantian APD secara berkala terhadap peralatan kerja khususnya yang berkaitan dengan safety.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset dan terjatuh . Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja terpeleset akibat kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge. e. goggle. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pihak perusahaan. c. penanggung jawab shredder. APD yang digunakan terdiri dari helmet. Tahun 2010 Identifikasi risiko keselamatan kerja pada proses shredding dilakukan dengan menggunakan metode JSA .1 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal (Housekeeping) 5. 5.ketika menaiki tangga. paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan 134 . mask organic dan seragam kerja lengan panjang 5.2.1 Membersihkan Handrail Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. adanya emergency stop pada panel control untuk menghentikan proses kerja ketika terjadi kecelakaan kerja. dan helper .

pekerja tidak selalu memegang handrail dan perusahaan telah melakukan upaya engineering control seperti memasang handrail pada platform. organic mask.safety shoes. safety briefing sebelum bekerja dan menggunakan APD lengkap(helmet.safety shoes. dan menggunakan APD lengkap (helmet.2.1.goggle.safety shoes. organic mask. memasang warning sign tentang penggunaan APD. paint sludge maupun zat cair lainnya serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. dan helper . sarung tangan. memasang warning sign 135 . melakukan house keeping. penanggung jawab shredder. 5. Risiko terpeleset terjadi karena kondisi lantai Shredder yang mendaki dan licin karena ceceran oil sludge. Administrative control seperti memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko terjatuh dapat terjadi karena handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. seragam lengan panjang). sarung tangan. safety briefing sebelum bekerja.goggle.2 Mengecek Chute Magnet Separator Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. Perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. seragam lengan panjang).risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah terpeleset dan tersandung roller.

Risiko tangan terputus disebabkan karena mesin screen yang berputar atau saat helper akan menyabut benang atau benda lainnya yang tersangkut pada screen. mengambil batu. menyabut benang. melakukan house keeping. Administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Upaya pengendalian yang telah dilakukan yaitu tersedianya LOTO (Lock out tag out). dan menggunakan APD lengkap. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah tangan yang terputus. safety briefing sebelum bekerja.safety shoes. safety briefing sebelum bekerja. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang handrail pada tangga dan platform. seragam lengan panjang). helper menggunakan benda tajam atau bar.tentang penggunaan APD. Risiko terjatuh dapat terjadi karena lokasi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 M. safety briefing sebelum bekerja.1. memasang warning sign tentang penggunaan APD. organic mask. terpeleset.goggle.3 Membersihkan Screen Tahap pekerjaan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatanhambatan seperti. dan helper. dan menggunakan APD lengkap(helmet. terbentur penutup screen. 136 . Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. terjatuh. dan menggunakan APD lengkap. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. 5. sarung tangan.2. penganggung jawab shredder.

upaya perusahaan untuk mengendalikan risiko keselamatan kerja terjatuh ini adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan menggunakan APD lengkap. dan helper. safety briefing sebelum bekerja. dan kebakaran. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan untuk risiko keselamatan kerja terbentur screen adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah pergelangan tangan yang terkilir. terpeleset.Risiko pergelangan terkilir dapat terjadi karena. hal ini dapat terjadi karena penutup screen memiliki batas maksimal yang rendah saat dibuka. safety briefing sebelum bekerja. 5. karena helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi.Risiko terpeleset dapat terjadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes.4 Adjusting Belt Conveyor Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H. tangan yang terputus. Sedangkan untuk risiko terbentur penutup screen.1. terjatuh. dan menggunakan APD lengkap. sehingga memungkinkan perkerja terbentur dengan penutup screen. safety briefing sebelum bekerja.Untuk risiko terjatuh dapat terjadi saat helper memasuki screen. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya 137 . dan menggunakan APD lengkap. ketika helper melakukan adjusting belt conveyor. helper menggunakan tangannya secara manual untuk memutar belt yang cukup berat.2. penganggung jawab shredder. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan persusahaan adalah administrative control seperti memasang warning sign mengenai pemakaian APD.

handrail. safety briefing sebelum bekerja. Untuk risiko tangan yang terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. safety briefing sebelum bekerja. administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.administrative control dengan melakukan safety briefing sebelum bekerja. dengan membuka safety guard yang telah terpasang. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki.Untuk risiko terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. dan penggunaan APD lengkap. upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. administrative control 138 . administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan dengan safety briefing sebelum bekerja.

dan penggerindaan. engineering control dengan tersedianya hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran.1. pengelasan. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah.Sedangkan untuk risiko kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran. administrative control dengan Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api. Hasil identifikasi risiko pada tahap persiapan awal (Housekeeping) secara rinci dapat dilihat pada tabel 5. safety briefing sebelum bekerja. 139 .

Tabel 5.1 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Skenario Risiko Kondisi tempat kerja Terpeleset licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Pengendalian - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - lantai yang dibuat kasar - mersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang helper - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja

Kondisi tempat kerja Terjatuh < 2m berada pada ketinggian (< 2 m)

2

Mengecek chute Kondisi tempat kerja Terpeleset magnet separator licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnyaserta kondisi jalan yang mendaki

140

Posisi Chute Magnet Terjatuh > 2m Separator yang berada pada ketinggian (> 2 m)

4

Membersihkan Screen

Ketika helper Tangan terputus membersihkan screen, screen berputar karena LOTO tak terpasang.

- melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - menerapkan LOTO (Lock out tag out) pada panel 1 dan 2 - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan

4.

Adjusting conveyor

Kondisi permukaan screen yang licin dan tidak rata, dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Saat helper memasuki screen, helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi belt Ketika helper melakukan adjusting, helper menggunakan tangannya secara manual untuk

Terpeleset

Terjatuh

Pergelangan tangan terkilir

141

memutar belt yang cukup berat. Ketika Helper Tangan terputus melakukan adjusting belt conveyor secara langsung dengan membuka safety guard yang telah terpasang Ketika helper berlari Terjatuh mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan

- Memasang safety guard pada screw - Safety briefing sebelum bekerja

Kondisi jalan yang Terpeleset licin akibat ceceran residu, serta berjalan secara terburu-buru

Ketika helper Kebakaran memotong belt yang miring menggunakan cutting torch, tanpa menghiraukan

- menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - Menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - Memasang alarm kebakaran - Memasang hydrant dan APAR - Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api, pengelasan, dan

142

working permit

penggerindaan - Safety briefing sebelum bekerja - Menggunakan APD lengkap.

143

5. dan helper. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah engineering control dengan pemasangan antena pada Wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan serta tersedianya cermin agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar. safety briefing sebelum bekerja.2 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5.2. 144 . safety briefing sebelum bekerja. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.2. dan menggunakan APD lengkap. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS). Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan.2. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.1 Perapihan material oleh wheel loader Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H. penganggung jawab shredder.

Memasang alarm .menggunakan APD lengkap .Tabel 5. menggunakan APD lengkap 145 .memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .Memasang hydrant dan APAR .melakukan house keeping dan safety control.memasang antenna pada kendaraan yang sedang dipakai .safety briefing sebelum bekerja .2 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan penyimpanan Material facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Perapihan material Terjadi karena short Kebakaran oleh Wheel Loader circuit atau karena gesekan antara material yang dirapihkan Tidak adanya Tertabrak/Menabra koordinasi pengemudi k dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation Pengendalian .

safety briefing sebelum bekerja. sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar. Risiko tertabrak/menabrak terjadi karena tidak ada koordinasi antar pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck. dan penggunaan APD lengkap.1 Tahap memasukkan material pada Hooper Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.3 Identifikasi Risiko pada Tahap Shredding 5.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kebakaran. penanggung jawab shredder. memasang warning sign tentang penggunaan APD.3. Risiko tertimpa material terjadi karena muatan hooper yang terlalu penuh. dan helper 146 . tertabrak/menabrak dan tertimpa material. tersedianya hydrant dan APAR. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan helper .5.2.2. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja kebakaran akibat mixing material pada hooper adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. Upaya pengendalian yang telah dilakukan perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan. dan menggunakan APD lengkap . selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah.

2 Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. tertimpa material ringan. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. tersandung. kebakaran. dan penggunaan APD lengkap.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.3. dan helper . Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan.sedang berada di sekitar hooper. safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu. penanggung jawab shredder.2.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja. melakukan housekeeping. safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap 5. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. sehingga untuk material yang ringan 147 .

safety briefing sebelum bekerja.3.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. tersedianya hydrant dan APAR serta alarm.sering berjatuhan. karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar. tersandung dan tertimpa material ringan. Upaya pengendalian risiko keselamatan kerja yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. 148 . seperti merokok. dan penggunaan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.2. Sedangkan untuk risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi apabila helper tidak mengikuti prosedur yang ada. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan helper . safety briefing sebelum bekerja. penanggung jawab shredder.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin. dan penggunaan APD lengkap. 5.3 Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder Dan Material Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.

safety briefing sebelum bekerja. 149 .Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. safety briefing sebelum bekerja. sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan. dan penggunaan APD lengkap. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.. dan penggunaan APD lengkap. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.

Tabel 5.3 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.memasang sprinkler tepat diatas hooper .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menggunakan APD lengkap Memasukkan material Pada Hooper ada Kebakaran pada hooper gesekan yang dapat menimbulkan panas. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau ketika mixing material memiliki titik api yang rendah.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .menggunakan APD lengkap 150 .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .mengganti tali sling pada crane . karena tidak ada Tertabrak/menabra koordinasi antar k pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck .memasang hydrant dan APAR .memasang alarm kebakaran .safety briefing sebelum bekerja .menyediakan Standard operation mengenai koordinasi berkendara .

menggunakan APD lengkap Helper bekerja Tertimpa material dibawah belt conveyor yang berjalan.melakukan house keeping .karena muatan hooper Tertimpa Material yang terlalu penuh.menggunakan APD lengkap . menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang penggunaan APD . 151 . dan helper sedang berada di sekitar hooper.menggunakan APD lengkap Disekitar facility peralatan berserakan Shredder Tersandung banyak yang .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .melakukan house keeping dan safety control. sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar.safety briefing sebelum bekerja . 2 Menebar serbuk karena pada lantai Terpeleset gergaji pada lantai shredder facility yang terkena residu terdapat ceceran residu .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja . sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .

memasang warning sign tentang penggunaan APD .melakukan house keeping dan safety control.memasang sprinkler tepat diatas hooper .melakukan house keeping . karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar .safety briefing sebelum bekerja 152 . karena disekitar Tersandung Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.Helper tidak Kebakaran mengikuti prosedur yang ada. Memberikan parfume karena pada lantai Terpeleset pada fasilitas shredder shredder facility dan material terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.memasang warning sign tentang penggunaan APD . karena helper bekerja Tertimpa Material dibawah belt conveyor yang berjalan.menggunakan APD lengkap 3.Tersedianya hydrant dan APAR . seperti merokok.safety briefing sebelum bekerja .memasang alarm kebakaran .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .menggunakan APD lengkap . menggunakan APD lengkap . .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD .

sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan. .menggunakan APD lengkap 153 .

2. Upaya pengendalian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.4 Identifikasi Risiko pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. dan penggunaan APD lengkap.2. penanggung jawab shredder. dan helper . safety briefing sebelum bekerja. dan menggunakan APD lengkap .Risiko keselamatan kerja kejatuhan box. dapat terjadi ketika box dinaikan menuju truck.Upaya pengendlaian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.5.4. dan material yang ada dalam box berjatuhan. Sedangkan untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena kurangnya koordinasi antar pengemudi forklift dan truck. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan. memasang warning sign tentang penggunaan APD.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kejatuhan box. Untuk risiko tertimpa material. dapat terjadi saat helper menaikan box dengan bobcap ke truck. safety briefing sebelum bekerja. 154 . dan penggunaan APD lengkap.1 Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. tertimpa material dan tertabrak/menabrak. safety briefing sebelum bekerja.

2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. penanggung jawab shredder. sehingga memungkinkan box terjatuh. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility dan safety briefing sebelum bekerja. wheel loader. khususnya di jalanjalan yang sulit melihat arah. dapat terjadi karena guard yang berada pada truck sangat pendek.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah administrative control dengan adanya SOP mengenai cara berkendaraan di area proyek. dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck.5.2.Risiko keselamatan kerja box terjatuh. 155 .menabrak. yaitu mendahulukan kendaraan berat terlebih dahulu ketika berjalan. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena truck berjalan di jalan-jalan utama. dan disediakannya mirror blind spot agar pengendara bisa melihat ke segala arah dalam berkendara.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu box terjatuh dan tertabrak/. forklift dan kendaraan pribadi. dan helper .4.

memasang warning sign tentang truck.Tabel 5.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility . penggunaan APD .menggunakan APD lengkap Menaikan box yang helper menaikan box Kejatuhan box sudah terisi oleh dengan bobcap ke material pada truck truck ketika box dinaikan Tertimpa material menuju truck.safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja . karena kurangnya Tertabrak/menabra .memasang warning sign tentang cara Mengirimkan box Karena guard yang Terjatuh bekerja aman di Shredder facility menuju tempat berada pada truck safety briefing sebelum bekerja sangat pendek. dan material yang ada dalam box berjatuhan 2.menggunakan APD lengkap . 156 .Tersedianya Standard Operation mengenai cara koordinasi koordinasi antar k berkendaraan pengemudi forklift dan .5 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product pada fasilitas Shredder PT.menggunakan APD lengkap .

pembakaran sehingga memungkinkan terjatuh. wheel loader. forklift dan kendaraan pribadi .tersedianya standard operation mengenai cara berkendaraan di area proyek .Tersedianya mirror blind spot 157 . k dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck. box Truck berjalan di Tertabrak/menabra jalan-jalan utama.

158 . Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari daiawal shift.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes.1 Analisis Risiko pada Tahap Persiapan 5. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper hanya mengalami luka ringan atau memar jika terjatuh. Terjatuh < 2m Pada tahap membersihkan handrail. b. paint sludge maupun zat cair lainnya dan helper tidak menggunakan safety shoes.3. Hal ini dapat terjadi kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable.1. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.1 Membersihkan handrail Saat membersihkan handrail terdapat risiko kepala terpeleset dan terjatuh < 2m. a. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja.3. Terpeleset Pada tahap membersihkan handrail helper memiliki risiko terpeleset. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. helper tidak selalu memegang handrail.5. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan membersihkan handrail setiap hari pada awal shift.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak memegang handrail. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable.

159 .3. Nilai kemungkinannya adalah 0. dan terjatuh.1. namun tidak pernah terjadi meskipun paparan bertahuntahun. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.2 Mengecek Chute Magnet Separator Saat mengecek chute magnet separator.5 (conceivable) karena risiko ini mungkin terjadi. a. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan mengecek chute magnet separator terjadi sekali setiap hari. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 15 (serious) karena helper akan mengalami cidera atau penyakit yang serius jika helper jatuh > 2 m. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari. terpeleset. tersandung roller.5. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 45 dengan kategori priority 3. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable b. Terpeleset Risiko terpeleset saat menegecek chute magnet separator memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. Terjatuh > 2m Risiko terjatuh saat helper menegecek chute magnet separator karena posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2m.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes.

Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial.Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. menyabut benang. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. Nilai kemungkinannya 0. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika mesin screen berputar dan helper berada di dalamnya untuk melancarkan screen. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. a.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun.3. mengambil batu.5.1. Nilai kemungkinannya adalah 0.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak 160 . b. hal ini mungkin terjadi apabila pekerja tidak mematuhi peraturan penerapan LOTO (lock out tag out).3 Membersihkan screen Helperan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatan-hambatan seperti. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat tejadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 25 (very serios) karena helper mengalami tangan terputus yang menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.

sehingga posisi penutup screen rendah. terpeleset dan kebakaran. Terjatuh Risiko keselamatan kerja terjatuh dapat terjadi ketika helper menaiki pemisah screen . Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. d. 5.1.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahuntahun. terjatuh. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terbentur helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. Terbentur Penutup Screen Risiko keselamatan kerja terbentur penutup screen dapat terjadi karena penutup screen tidak bisa terbuka secara maksimal. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena Kejadian ini sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi.3. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. 161 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable c. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari.menggunakan safety shoes. tangan yang terputus.4 Adjusting belt conveyor Pada tahapan ini terdapat risiko pergelangan tangan terkilir. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terjatuh helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. Nilai kemungkinannya 0.

artinya kemungkinannya tetap ada untuk terjadi. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 9 dengan kategori acceptable b.a. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. dengan membuka safety guard yang telah terpasang.Nilai konsekuensi dari risiko tangan terputus adalah 25 (very serious) karena akan menimbulkan cacat atau penyakit yang menetap. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai kemungkinannya 3 (unusual). Nilai konsekuensi dari risiko ini adalah 1 (noticeable) karena ketika tangan terkilir pekerja/ helper hanya akan memgalami luka ringan atau memar.Nilai paparannya adalah paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. ketika helper tidak membuka safety guard yang terpasang. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangta kecil kemungkinannya.Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial 162 . Nilai paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. tetapi jarang terjadi. Pergelangan tangan terkilir Risiko keselamatan kerja pergelangan tangan terkilir dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting secara manual.

5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Terjatuh Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. e.c. Nilai konsekuensi dari risiko terpeleset adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun.5 dengan kategori acceptable. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. Nilai konsekuensi dari risiko terjatuh adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. 163 . Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.5 dengan kategori acceptable. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.

Kebakaran Risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran. nilai risiko kebakaran adalah 450 dengan kategori very high.Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.f. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) apabila helper selalu menggunakan cutting torch untuk memotong belt. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.Maka.6 164 . Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada belt conveyor akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.

5 (conceivable) Nilai Risiko 3 Terpeleset 6 (frequent) Terjatuh < 2m 2 Mengecek chute magnet separator 6 (frequent) 3 Terpeleset 6 (frequent) 3 Terjatuh > 2 m (serious) 3.Tabel 5.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 75 165 .5 (conceivable) 0. Membersihkan screen Tangan terputus 25 (very serious) 6 (frequent) 45 6 (frequent) 0.6 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal Shredder facility PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Risiko Konsekuensi (C) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 15 Paparan (E) Kemungkinan (L) 0.

5 (conceivable) 0.5 Kebakaran (very serious) 6 (Likely) 450 166 .5 (conceivable) 75 Terjatuh 1.Terpeleset 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 6 (frequent) 0.5 Terpeleset 1. Adjusting belt conveyor Pergelangan terkilir Tangan terputus 6 (frequent) (remotely possible) 3 (Unusual) 1 6 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 9 (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 (remotely possible) 0.5 (conceivable) 1 3 Terjatuh 6 (frequent) 3 Terbentur penutup Screen 4.5 (conceivable) 0.

Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi.2.3.3. tetapi jarang terjadi. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada storage akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.5.Maka. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. tetapi jarang terjadi. b.2. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adah tertabrak/menabrak.nilai 167 . Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.1 Perapihan material oleh wheel loader a. nilai risiko kebakaran adalah 750 dengan kategori very high. Analisis Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5.Maka.

7 168 .risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.

7 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material PT. No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 3 (Unusual) 750 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 250 169 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.Tabel 5.

2. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada hooper akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan. nilai risiko kebakaran adalah 1500 dengan kategori very high. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena 170 .2. dan tertimpa material . Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas.1 Tahap memasukkan material pada Hooper a.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari. b.5.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertabrak/menabrak. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) kemungkinan terjadi 50-50.Risiko.Maka.3. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.3. Analisis Risiko pada Tahap Shredding 5. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah.

sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. Nilai konsekuensi dari risiko tertimpa material adalah 1 ( noticeable) tertimpa material karena tertimpa material akan mengakibatkan luka ringan atau memar.3. Terpeleset Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu .nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil 171 . c. Nilai kemungkinan dari risiko tertimpa material adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Maka. 5. Risiko tertimpa material dapat terjadi apabila muatan hooper yang terlalu penuh.Maka. Tertimpa Material Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertimpa material. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari. tetapi jarang terjadi. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.kegiatan dilakukan setiap hari. tetapi jarang terjadi.2.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 10 dengan kategori acceptable.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu a. dan helper sedang berada di sekitar hooper .

Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu.kemungkinannya. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena ceceran residu.5 (conceivable) karena risiko ini hanya mungkin terjadi 172 . c. d. Nilai paparan dari risiko kebakaran adalah Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. nilai konsekuensi 25 (very serios) karena kebakaran ini menyebabkan kerussakan sementara terhadap lingkungan. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. b. Tersandung Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.

Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. b. Tersandung Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya apabila pekerja menggunakan safety shoes.Maka. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. 173 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. 5.4 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material a.ketika helper tidak mematuhi peraturan seperti merokok.2. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. Terpeleset Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.3.

Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu.8 174 . Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya.c. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.

8 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 1 (noticeable) 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 6 Tersandung 1 6 (frequent) 18 175 .Tabel 5. No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 6 (Likely) 1500 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 1 250 Tertimpa Material 1 (noticeable) 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 2.

(noticeable) 1 Tertimpa Material Ringan 1 (noticeable) 25 Kebakaran (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 6 (frequent) 6 (frequent) (remotely possible) 0. Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Tersandung 6 (frequent) 18 176 .5 (conceivable) 1 Terpeleset 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 1 Tertimpa Material Ringan 6 (frequent) (remotely possible) 6 6 6 75 3.

1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk a. 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. 177 . khususnya saat membutuhkan bahan bakar. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 5 (important) karena akibat terburuk apabila kejatuhan box membutuhkan penanganan medis. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 50 dengan kategori priority 3. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Tertimpa Material Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. b.2. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 10 dengan kategori acceptable.2. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila tertimpa material yaitu luka ringan atau memar. Maka.5. khususnya saat membutuhkan bahan bakar.3. Analisis Risiko pada Tahap Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Nilai paparannya 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin.3.

2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran a.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 30 dengan kategori priority 3.2. Box terjatuh Risiko keselamatan kerja saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah box terjatuh.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.Risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada mobil truck sangat pendek.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk adalah adah tertabrak/menabrak. tetapi jarang terjadi.Maka. tetapi jarang terjadi. Nilai konsekuensi dari risiko box terjatuh adalah 1 ( noticeable) karena box terjatuh hanya kerusakan keceil dengan kerugian produk ysng tidak banyak.3. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin.c.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin.Maka. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. 178 . Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi. 5.

Maka. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. Tertabrak/menabrak Risiko keselamatan kerja saat saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah tertabrak/menabrak.9 179 . Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. tetapi jarang terjadi.b.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.

9 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product PT. Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Box terjatuh 10 (Continously) 3 (unusual) 30 1 10 (Continously) (remotely possible) 250 180 . No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Konsekuensi (C) 5 Paparan (E) Kemungkinan (L) 1 Nilai Risiko Kejatuhan box (important) 10 (Continously) (remotely possible) 1 50 Tertimpa material 1 (noticeable 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 1 (noticeable) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) (remotely possible) 250 2.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.Tabel 5.

5. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Hasil evaluasi risiko pada tahap persiapan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. risiko terpeleset . yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.4. terbentur penutup screen dan pergelangan terkilir. penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. terjatuh pada ketinggian < 2 m. Tahun 2010 5. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. seperti tangga yang memiliki footstep yang lebar. pembuatan tangga yang lebih aman. yaitu aktivitas perlu dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan. Tindakan yang perlu dilakukan adalah.1 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan.1 62 . pengelasan. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. Risiko yang paling tinggi adalah kebakaran yang termasuk dalam kategori very high. termasuk kategori acceptable. seperti penggunaan APD. yaitu mengharuskan adanya perbaikan. dan penggerindaan.penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO).Sedangkan risiko terjatuh pada ketinggian > 2 m termasuk kategori priority 3 berkesinambungan.Dan yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara untuk risiko tangan terputus termasuk kategori substansial.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk. serta memberikan reward dan punishment. dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.

1 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT. seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .Memasang warning sign Terjatuh < 2 m 3 acceptable 2 Mengecek chute Terpeleset 3 acceptable 62 . seperti pengtingnya penggunaan APD .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Tabel 6.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Risiko Membersihkan handrail Terpeleset Nilai Risiko 3 Kategori Risiko Acceptable Rekomendasi .

seperti tangga yang memiliki footstep .pembuatan tangga yang lebih aman. seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan sistem kunci Lock Terjatuh > 2 m 45 Priority 3 3 Membersihkan screen Tangan terputus 75 substansial 63 . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.63 magnet separator terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .

seperti pengtingnya penggunaan APD . Terpeleset 3 acceptable Terjatuh 3 acceptable Terbentur penutup screen 6 acceptable 64 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.64 Out Tag Out (LOTO) .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.5 Acceptable 65 . seperti pengtingnya penggunaan APD 4.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO) .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . Adjusting belt conveyor Pergelangan tangan terkilir 9 Acceptable Tangan terputus 75 Substansial Terjatuh 1.65 seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .

dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Terpeleset 1.penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .66 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD . . dan penggerindaan.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . pengelasan.5 Acceptable Kebakaran 450 Very high 66 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

2 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap perapihan material oleh wheel loader. serta memberikan reward dan punishment . Risiko kebakaran termasuk kategori very high yang artinya aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima.4. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Hasil evaluasi risiko pada tahap pelaksanaan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.2 62 . Tindakan yang perlu dilakukan adalah pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. yaitu Perlu pengendalian sesegera mungkin. pemasangan smoke atau heat detector serta pemasangan sprinkler pada storage. dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan. risiko tertabrak/menabrak masuk kedalam kategori priority 1.5.

memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Very high Rekomendasi .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pemasangan smoke atau heat detector .2 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Shredder facility PT. .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Tabel 6.dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Kebakaran 750 priority 1 Tertabrak/mena brak 250 62 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan .pemasangan sprinkler pada storage .

.4. dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain.3 62 . penerapan housekeeping dengan benar. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. serta memberikan reward dan punishment. risiko terpeleset. yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Risiko tertabrak/menabrak yang masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya perlu pengendalian sesegera mungkin Untuk risiko tertinggi adalah risiko kebakaran pada hooper akibat mixing material yang termasuk dalam kategori very high yang artinya Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.3 Evaluasi Risiko pada Tahap Shredding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap shredding.5. tersandung. pemasangan smoke atau heat detector. mengharuskan adanya perbaikan secara teknis . tertimpa material termasuk kategori acceptable. Risiko kebakaran saat housekeeping termasuk kategori substansial . pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. Tindakan yang perlu dilakukan adalah.

Tabel 6.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Nilai Risiko 1500 Kategori Risiko Very high Kebakaran Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 Tertimpa Material Acceptable 10 Rekomendasi . .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pemasangan smoke atau heat detector .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.3 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada Fasilitas Shrededder PT.memasang jaring dibawah belt 62 .

.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja 2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 6 Acceptable Acceptable Tersandung 18 63 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .penerapan housekeeping dengan benar .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.63 conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

64 Acceptable .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Terpeleset 6 Acceptable 64 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tertimpa Material Ringan 6 Substansial Kebakaran 75 3.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .

memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tersandung 18 Acceptable Tertimpa Material Ringan 6 65 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan housekeeping dengan benar .65 Acceptable . seperti pengtingnya penggunaan APD . .

memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . Risiko kejatuhan box dan box terjatuh di jalan termasuk kategori priority 3 . pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.4. Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan dan penyimpanan material risiko tertimpa material termasuk kategori acceptable yang artinya yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.4 62 . Risiko paling tinggi adalah risiko tertabrak/menabrak yang termasuk kategori priority 1 yaitu. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. serta memberikan reward dan punishment. Tindakan yang perlu dilakukan adalah.5.4. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box . yaitu Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan . perlu pengendalian sesegera mungkin. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Priority 3 Kejatuhan box 50 acceptable Tertimpa material 10 Tertabrak/mena 250 Priority 1 Rekomendasi .memberikan reward dan punishment kepada pekerjaberorientasi pada safety .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Tabel 6.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.memasang warning sign terkait dengan risiko yang 62 . .4 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material pada Fasilitas Shrededder PT.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Priority 3 Box terjatuh 30 Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 63 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .63 brak dapat ditimbulkan .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.memberikan reward dan punishment 2. .pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck .

62 .

Holcim Indonesia Tbk Shredder facility merupakan fasilitas pre-handling limbah dengan metode pencacahan atau shredding. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.5. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat tertabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir.Berdasarkan studi dokumen dan wawancara kepada petugas OH&S dan penanggung jawab shredder Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk.5. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009 6.PT.1Kecelakaan Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Tertabrak Wheel Loader Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 5. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah.Holcim Indonesia Tbk.00 di area operasi shredder Geocycle.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT. yaitu : 4. 158 . Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 5.

900.000. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan 159 . 5. Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller.Holcim Indonesia Tbk. pengemudi mengutarakan hal ini terjadi karena pekerja berada dalam kondisi kelelahan. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan.tiap bulannya.5. dan salah satunya adalah karet. pengemudi tersebut tidak dapat tidur karena beban fikiran mengenai kondisi keuangan yang minim karena kurangnya pendapatan sekitar Rp.PT. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut.Setelah dilakukan wawancara terhadap pengemudi wheel loader yang bersangkutan mengenai alasan penyebab tidak berkonsentrasinya pengemudi dalam bekerja. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam.2 Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan Terputus Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder Geocycle. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah.. dengan waktu istirahat 1 jam. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector). karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley.

seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. sprinkler dan hydrant. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. 160 .Upaya yang sudah dilakukan pada tahap ini adalah pemasangan screw diluar safety guard. karyawan/helper lain mengutarakan hal ini terjadi karena karyawan/helper sudah terbiasa dengan pekerjaanya sehingga karyawan/helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi .Holcim Indonesia Tbk. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari.5. Setelah dilakukan wawancara terhadap karyawan/helper lain yang bekerja di shredder facility mengenai alasan penyebab karyawan/helper melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar.PT.3 Kejadian Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 di area operasi shredder Geocycle. Pengendalian yang sudah tersedia adalah alarm. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. 5. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan.menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar.

161 . selain itu helper tidak mengetahui bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampurkan sebelum dimasukkan ke dalam shredder. 5.. hal ini juga terjadi karena data mengenai bahan-bahan yang berbahaya apabila dicampurkan belum diperbaharui.Namun hingga saat ini belum disediakan informasi yang terbaru mengenai bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampur begitu saja dan dapat menimbulkan kebakaran. Namun ternyata kecelakaan kerja tertabraknya pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.6 Perbandingan hasil analisis dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di unit Shredder facility PT. Setelah dilakukan wawancara terhadap penanggung jawab shredder yang bersangkutan mengenai alasan penyebab mixing material adalah karena lembar MSDS yang belum diperbarui dan tidak lengkap akibat tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. Hasil analisis risiko dari kecelakaan tertabrak/menabrak pada tahap perapihan dan penyimpanan material adalah 25. masuk kedalam kategori priority 3 yang artinya kegiatan ini hanya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder .6. tembok akibat pengemudi Wheel loader kelelahan tetap terjadi pada tahap perapihan dan penyimpanan material dan menimbulkan dampak rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.Holcim Indonesia Tbk 5.

akibat beban fikiran.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. Tindakan pengendalian ini berbeda dengan kejadian sebelum diterapkannya pengendalian pemasangan screw diluar safety guard .5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. pekerja berada dalam kondisi kelelahan. Berdasarkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor. 7. dengan waktu istirahat 1 jam.dampak lengan terputus ini menyebabkan helper atau korban tersebut mengalami luka terbuka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. hasil analisis kecelakaan kerja saat ini. helper tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. maka kegiatan adjusting belt conveyor harus dihentikan terlebih dahulu sampai mencapai batas yang dibolehkan. 5. yaitu lengan terputus. Kecelakaan kerja lengan terputus bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. Helper lain mengutarakan alasan 162 . Apabila dibandingkan dengan kecelakaan kerja yang telah terjadi sebelum pengendalian dilakukan.mengenai lengan yang terputus pada tahap adjusting belt conveyor adalah.6. pengemudi tersebut tidak dapat tidur. Karena kecelakaan kerja ini.Hal ini terjadi karena.

hal ini terjadi karena helper sudah merasa terbiasa dengan pekerjaanya sehingga helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada. Kecelakaan kerja kebakaran yang telah terjadi pada tahap Shredding. hingga saat ini belum dilakukan pengendalian secara tekhnis pada Hooper . seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). 5. Hasil analisis risiko saat ini dari kecelakaan kebakaran pada tahap Shredding adalah 250.3 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper.6. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. sehingga dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya kebakaran pada hooper dan menyebabkan kerusakan sementara pada hooper dan terhentinya produksi. terjadi akibat MSDS tidak lengkap dan belum diperbarui.mengapa helper melepaskan safety guard tersebut. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja dan menimbulkan kebakaran pada hooper. Hal ini terjadi karena. 163 .

Hasil identifikasi dilakukan dengan menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi kepada petugas OH&S. hanya dilakukan wawancara kepada petugas OH&S. .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. pergelangan tangan terkilir. penanggung jawab lapangan.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT. terjatuh dari ketinggian. terpeleset screen. penanggung jawab lapangan dan 3 orang pekerja atau helper di shredder facility. peneliti melakukan observasi dan wawancara tidak kepada semua pekerja shredder facility. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses shredding PT. selain itu peneliti tidak melakukan wawancara kepada semua korban kecelakaan kerja. Bahaya mekanik (mechanical hazard) yaitu terpeleset ceceran residu. tersandung peralatan yang berserakan.Holcim Indonesia Tbk. 6. Gambar tahapan pekerjaan tidak terlalu lengkap. menurut kelompok bahaya keselamatannya (safety hazard) dapat dibedakan menjadi: 1.1 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini. dikarenankan korban tersebut sudah tidak bekerja lagi. tangan terputus. karena peneliti tidak diizinkan untuk mengambil gambar sendiri. 164 terbentur penutup screen.BAB VI PEMBAHASAN 6. Dari risiko yang telah diidentifikasi. dan 3 orang pekerja / helper di shredder facility karena kesibukan dari masing-masing pekerja yang lain.

tangan terputus dan kebakaran.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 Berikut ini adalah hasil analisis risiko pada setiap tahapan proses shredding PT. sehingga dimasukkan ke 165 .3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT. terjatuh saat melangkahi pemisah. 6.1.Bahaya kimia (chemical hazard) yaitu kebakaran. terbentur penutup screen.Holcim Indonesia Tbk. tangan terputus screen. risiko yang dapat terjadi adalah terjatuh dari ketinggian kuran atau lebih dari 2 meter.3. terpeleset pada screen. 6. 2. . helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja.tertabrak/menabrak . Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter ini mempunyai nilai risiko 15 kurang dari 20. helper tidak selalu memegang handrail. Terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter Pada tahap membersihkan handrail. tertimpa material ringan dan kejatuhan box.3. pergelangan tangan terkilir.1 Membersihkan Handrail 1.1 Tahap persiapan awal Berdasarkan analisis risiko pada tahap persiapan awal. Bahaya-bahaya ini disebabkan oleh adanya benda-benda atau proses yang bergerak. 6. Bahaya ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia pada proses kerja yang menimbulkan risiko keselamatan kerja.

Mengecek chute magnet separator Terjatuh dari ketinggian lebih dari 2 meter Pada tahap mengecek chute magnet separator. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift.dalam kategori tingkat risiko acceptable yang artinya adalah mengurangi intesitas kegiatan yang menimbulkan risiko seminimal mungkin. 6. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 m ini mempunyai nilai risiko 45. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi.3. Untuk menurunkan nilai risiko. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. helper berisiko terjatuh akibat chute magnet separator berada pada ketinggian lebih dari 2 meter dan ketika bekerja. Sedangkan.1. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko priority 3 yang artinya adalah perlu diawasi dan di[erhatikan secara berkesinambungan. helper tidak selalu memegang handrail. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. 166 . dari serious menjadi important atau noticeable.2 1. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat.

maka upaya pengendalian 167 yang artinya adalah mengharuskan adanya perbaikan .3. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. dari serious menjadi important atau noticeable. Tangan terputus screen Pada tahap membersihkan screen. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 75.1. Sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman.Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko substansial teknis. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Untuk menurunkan nilai risiko.3 Membersihkan screen 1. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. tangan helper berisiko terputus screen akibat akbat benda berputar dan ketika helper bekerja penerapan LOTO tidak dilaksanakan dengan baik. 6.

helper berisiko terpeleset screen akibat akbat permukaan screen yang licin dan tidak rata. Untuk menurunkan nilai risiko. 2. sehingga tingkat 168 . Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. karena risiko minimal tangan terputus screen adalah cacat atau penyakit yang menetap. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari.diberikan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. selain itu sebaiknya dilakukan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. Untuk nilai konsekuensi dari tangan terputus screen tidak dapat dikurangi lagi. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko terpelset screen dikurangi seminimal mungkin. Terpeleset screen Pada tahap membersihkan screen. dan memberikan reward dan punishment kepada pekerja.yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan LOTO (lock out tag out ) pada pekerja yang bekerja pada screen. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Sedangkan tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. tingkat 169 . 3. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. karena konsekuensi dari teprleset screen ini adalah luka ringan atau memar. Sedangkan. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Untuk nilai konsekuensi dari terpeleset screen tidak dapat dikurangi lagi. karena konsekuensi dari terjatuh saat menaiki pemisah screen adalah luka ringan atau memar.kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Untuk nilak konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan tangga untuk masuk kedalam screen. Terjatuh saat melangkahi pemisah screen Pada tahap membersihkan screen. Untuk menurunkan nilai risiko. helper berisiko terjatuh saat melangkahi pemisah screen akibat helper menaiki pemisah screen. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman .Sedangkan.

sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga tingkat kemungkinan remotely possible dapat diturunkan menjadi conceivable dan practically impossible. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. helper berisiko terbentur penutup screen. karena konsekuensi dari terbentur penutup screen adalah luka ringan dan memar. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. 170 . Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan dikurangi seminimal mungkin. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Sedangkan. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Untuk menurunkan nilai risiko. karena penutup screen yang tidak bisa terbuka secara maksimal. Risiko terbentur penutup screen ini mempunyai nilai risiko 6 yang artinya kurang dari 20. Terbentur Penutup Screen Pada tahap membersihkan screen. 4.

tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga beban yang diterima oleh masing-masing pekerja tidak besar serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. pergelangan tangan helper berisiko terkilir.4 Adjusting belt conveyor 1. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Risiko pergelangan tangan terkilir ini mempunyai nilai risiko 9 yang artinya kurang dari 20.6. Sedangkan. 171 . Untuk menurunkan nilai risiko. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. conceivable atau practically impossible. sehingga tingkat kemungkinan unusual dapat diturunkan menjadi remotely possible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan double screw. sehingga belt dapat diluruskan oleh 2 pekerja. karena helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. menggunakan screw yang diputar secara manual oleh pergelangan tangan. karena konsekuensi dari pergelangan terkilir adalah luka ringan dan memar. sedangkan belt yang diluruskan memiliki beban yang cukup berat. Pergelangan tangan terkilir Pada tahap adjusting belt conveyor. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.1.

tak ada pekerja lain yang menyalakan belt conveyor. Risiko Tangan terputus akibat benda berputar ini mempunyai nilai risiko 7. Sedangkan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan sistem kunci LOTO (Lock out tag out) agar ketika helper bekerja. helper akan berlari melihat dari sisi yang lain yang 172 . karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Terjatuh dari ketinggian Pada tahap adjusting belt conveyor. 3. sehingga nilai konsekuensi dari tangan terputus dapat berkurang dari very serious menjadi serious. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.2. karena setelah helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. tangan helper berisiko terputus akibat benda berputar. Tangan terputus akibat benda berputar Pada tahap adjusting belt conveyor. Untuk menurunkan nilai risiko. karena helper melakukan adjusting belt conveyor dengan membuka safety guard yang tersedia. serta pelatihan perilaku yang beriorientasi pada safety. helper berisiko terjatuh dari ketinggian . important . Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. atau noticeable.5 yang artinya kurang dari 20.

risiko kebakaran dapat terjadi. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Sedangkan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah dibuatkan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . Dengan upaya pengendalian tersebut. apakah belt conveyor sudah memasuki jalur atau belum. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko terjatuh dari ketinggian ini mempunyai nilai risiko 7. Kebakaran pada belt conveyor Pada tahap adjusting belt conveyor.5 yang artinya kurang dari 20. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 900 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang dapat menyebabkan 173 . sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.dari important menjadi noticeable ketika pengendalian yang dilakukan sudah tepat. 4. diharapkan tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. karena pemotongan belt conveyor menggunakan cutting torch.lebih tinggi. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Untuk nilai konsekuensi dapat diturunkan lagi.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.2. 6. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.1 Perapihan material oleh wheel loader 1. karena gesekan antar material. pengelasan. Untuk menurunkan nilai risiko. dan penggerindaan.3.kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima .2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 6. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari likely menjadi remotely possible.3.serta menurunkan nilai konsekuensi dari disaster menjadi serious . risiko kebakaran pada storage dapat terjadi. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 750 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang 174 . Kebakaran pada storage Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. serta banyak material yang mudah terbakar. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Sedangkan. important. serta memberikan reward dan punishment. atau noticeable.

sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. important. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan sprinkler pada storage serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko . Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. atau noticeable. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 dan diperhatikan secara berkesinambungan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah 175 .dapat menyebabkan kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . Sedangkan. karena kurang koordinasi antar 25 pengemudi. 2. Untuk menurunkan nilai risiko. yang artinya perlu diawasi Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. serta menurunkan nilai konsekuensi dari very serious menjadi serious . karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan.

Sedangkan. karena gesekan antar material. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. 6.3. sehingga nilai konsekuensi dapat ditunkan dari very serious menjadi serious . atau noticeable. serta banyak material yang mudah terbakar. Untuk menurunkan nilai risiko. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan.3.1 Tahap memasukkan material pada Hooper 1.pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan serta pelatihan yang berorientasi pada safety.3 Tahap Shredding 6. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang lengkap dan selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. risiko kebakaran pada hooper dapat terjadi. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun yang artinya perlu 176 . Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 250 sehingga masuk ke dalam kategori priority 1 pengendalian sesegera mungkin. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. important.3. Kebakaran pada hooper Pada tahap memasukkan material pada hooper.

sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Sedangkan. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun dapat diturunkan dari likely menjadi unusual atau remotely possible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. karena kuarngnya koordinasi antar pengemudi. dan tidak memanfaatkan fasilitas secara maksimal. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. 2. 177 . Sedangkan.dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable atau practically impossible. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap memasukkan material pada hooper.

potongan kayu yang beratnya sekitar 100-250 gram ).ketika helper berjalan di sekitar hooper.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tersandung oleh peralatan yang 178 . sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. dan isi hooper terlalu penuh. risiko tertimpa material dapat terjadi pada helper. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. 6. Pada tahap memasukkan material pada hooper. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap menebar serbuk gergaji. Risiko tertimpa material ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Tertimpa Material dari Hooper Yang Memiliki Ketinggian Sekitar 2 Meter (contoh material : potongan plastik drum.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu 1.3. pengawasan penggunaan APD. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Memasang warning sign terkait bahaya yang ada. Untuk menurunkan nilai risiko. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.3.3. pemasangan guard pada area hooper.

tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menebar serbuk gergaji. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. Risiko tersandung peralatan ini mempunyai nilai risiko 18 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. Untuk menurunkan nilai risiko.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. 2.berseerakan di sekitar shredder. sedangkan.. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable 179 . Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable.

sedangkan. sehingga nilai konsekuensi dapat 180 . 3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait bahaya yang ada serta pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. risiko kebakarandapat terjadi pada helper. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. Risiko tertimpa kebakaran nilai risiko ini mempunyai 150 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.ketika helper berjalan tidak mematuhi prosedur yang tersedia.yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. seperti merokok. Untuk menurunkan nilai risiko. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.

. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. Untuk menurunkan nilai risiko.3. important. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. sedangkan.diturunkan dari very serious menjadi serious. 181 .ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dan tersandung oleh peralatan yang berserakan di sekitar shredder. Risiko tersandung peralatan 18 ini mempunyai nilai risiko sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.3 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material 1. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.3. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 6. atau noticeable. sedangkan.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap memberikan parfum pada shredder dan material. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. 182 . Untuk menurunkan nilai risiko. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. sedangkan.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfum pada shredder dan material dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik.2.

ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu material ringan yang berada di posisi paling atas box terjatuh. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.3. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 50 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 1.6. risiko tertimpa material ringan dari box. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. risiko kejatuhan box dapat terjadi pada helper. Untuk menurunkan nilai risiko. Tertimpa Material Ringan Dari Box (contoh material : palstik.4. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.3. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga 183 .4 Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 6. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan. 2.

Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu tidak ada koordinasi antar pengemudi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. 3. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. sehingga terjadi tabrak/menabrak. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Untuk menurunkan nilai risiko. atau noticeable. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko tertimpa material ringan dari box dikurangi seminimal mungkin. important. 184 .

karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan box tinggi. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Risiko box terjatuh di jalan ini ini mempunyai nilai risiko 30 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. Box terjatuh saat dibawa menuju pre-heater Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .4. 6. sedangkan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. Untuk menurunkan nilai risiko.3.sedangkan. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. 185 . risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada truk yang pendek.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran / Pre-heater 1.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.2. atau noticeable. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. important. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. 186 . Tertabrak/menabrak antar pengemudi Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. karena pekerja tidak mengikuti standard operation mengenai cara berkendara di arean proyek. sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. Untuk menurunkan nilai risiko.

safety briefing sebelum bekerja.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT. memasang warning sign tentang penggunaan APD . serta menggunakan APD lengkap. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 25 masuk kedalam priority 3 yang artinya kegiatan ini sebenarnya hanya perlu pengawasan dan diperhatikan secara .4. tersedia standard operation mengenai cara bekendara di area proyek. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.00 di area operasi shredder Geocycle.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan antena pada wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan .PT. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat ditabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir. 6.Holcim Indonesia Tbk. tersedianya blind spot miror agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar.6.

Teori yang dikembangkan oleh Sahab (1997) juga menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja dilatarbelakangi oleh faktor-faktor. Hal ini sesuai dengan teori domino heinrich yang menyatakan bahwa salah satu rangkaian domino yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja adalah unsafe act atau perilaku tidak aman yang salah satunya adalah kelelahan . Kelelahan kerja yang dilalami pekerja membuat turunnya kinerja dan menimbulkan kecelakaan kerja.” Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi. namun kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder tetap terjadi. belum terjadi perubahan pengendalian. yang menyatakan “ Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. Hal ini sesuai dengan teori Nurmianto pada tahun 2003. sehingga menjadi salah satu penyebab kelelahan.berkesinambungan. kondisi korban yang memiliki beban fikiran mengenai minimnya upah yang menyebabkan pekerja kurang tidur. yang salah satunya adalah faktor kelelahan dan keletihan yang berasal dari penyebab dasar faktor pribadi. Kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder terjadi karena faktor pekerja. kecelakaan kerja terjadi karena pekerja tidak berkonsentrasi dalam mengemudi. 63 .

kecemasan. 1982).Holcim Indonesia Tbk. penurunan dan hambatan persepsi cara berpikir atau perbuatan anti sosial. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. vertigo. maka akan muncul pemogokan-pemogokan.5.PT. kehilangan nafsu makan. 6.Selain itu kerja fisik yang terus menerus dapat menyebabkan kelelahan. 64 . dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi perilaku kerja. kurang tenaga. (depresi. Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder dengan Kejadian Geocycle. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun.2 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. badan terasa tidak enak. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. sehingga menurunkan kesiagaan dan perhatian. kegelisahan. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. hal ini sesuai dengan teori Winardi (2001) yang menyatakan bahwa jika upah tersebut tidak dipenuhi. tidak cocok dengan lingkungan. dan gejala umum (sakit kepala. dan kesukaran tidur). Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector).Motivasi kerja khususnya faktor balas jasa atau upah yang minim pun menjadi penyebab pekerja tidak dapat tidur karena beban fikiran. gangguan fungsi paru dan jantung. gangguan pencemaan. pembahan tingkah laku. kehilangan inisiatif).

hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. Maka. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. pengendalian yang sudah dilakukan saat ini dapat meminimalkan kecelakaan kerja. dan salah satunya adalah karet. sesuai dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich dengan 65 . Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Upaya yang saat ini sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor adalah pemasangan screw diluar safety guard agar pekerja bekerja lebih aman. Hal ini membuktikan bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi apabila manajemen keselamatan kerja belum dilakukan secara maksimal. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. maka nilai risiko yang didapat pada tahap ini adalah 7. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut.Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley.

dan Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemn keselamatan dan kesehatan kerja. Penyebab yang melatarbelakangi kecelakaan kerja menurut Sahab (1997) salah satunya adalah sikap dan tingkah laku yang tidak aman. 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition).mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. sikap merupakan kecenderungan potensial untuk berpotensi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon . 66 . hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995). tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia seperti faktor sikap yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Menurut Gordon Allport . kecelakaan kerja lengan terputus disebabkan oleh faktor manusia yang merasa terbiasa dengan pekerjaannya. berdasarkan statistik di Indonesia. Jadi. Dan tentunya tindakan tidak aman akan menyebabkan kecelakaan kerja. Selain karena faktor teknis. dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan Maka. Namun. walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal.

sprinkler tepat diatas hooper. safety briefing sebelum bekerja. Karena sebenarnya berdasarkan dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terlebih dahulu. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper.Holcim Indonesia Tbk.3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Tahap Shredding Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 250. serta menggunakan APD lengkap. memasang warning sign tentang penggunaan APD . sehingga kecelakaan kerja kebakaran pada hooper masih mungkin terjadi. Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 dengan Kejadian di area operasi shredder Geocycle. tersedia MSDS (Material safety data sheet). tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari.PT. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan hydrant.5. 67 .6. serta APAR. belum terjadi perubahan pengendalian. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . sehingga terjadi kebakaran pada Hooper.

penyebab kecelakaan kecelakaan kerja kebakaran pada hooper terjadi karena faktor kelalaian.Akan tetapi.Namun hingga saat ini manajemen keselamatan dan kesehatan kerja belum dilakukan secara maksimal sehingga kecelakaan kerja kebakaran masih mungkin terjadi. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. Sesuai dengan teori Hezberg pada tahun 1990. yang menyatakan bahwa “salah satu faktor yang menjadi penggerak terciptanya motivasi kerja karyawan adalah hubungan antar manusia. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. 68 .” Beliau juga menyatakan bahawa hubungan antar manusia dalam lingkungan pekerjaan baik hubungan vertical maupun horizontal akan berpengaruh terhadap disiplin dan produktivitas pekerja. Maka. walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. faktor manusia itu sendiri seperti tidak segera merubah data material berbahaya sesegera mungkin.

69 .

70 .

Kegiatan pada Shredder Facility 71 .

Membersihkan Handrail Mengecek Chute Magnet separator Membersihkan Screen Adjusting Belt Conveyor 72 .

Perapihan dan Penyimpanan Material Menebar serbuk Gergaji Memasukkan Material pada Box Memberikan Parfum Menaikkan box pada truck 73 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian 74 .Tabel Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Risiko Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 75 .Tabel Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

Tabel No Rincian Pekerjaan Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Rekomendasi 76 .

Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 77 .

.

63 .

64 .

65 .

66 .