ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH

TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010

SKRIPSI

OLEH : Dita Wianjani NIM : 106101003314

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M/1431 H

44

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 25 Agustus 2010

Dita Wianjani

45

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, September 2010

DITA WIANJANI, NIM : 1061010003314

Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010

(xxiv + 197 halaman, 25 tabel, 15 gambar)

ABSTRAK
PT Holcim Indonesia dalah pelopor dan inovator di Indonesia yang berkembang cepat dalam sektor semen, karena pasar untuk rumah, bangunan komersial dan infrastruktur yang berkembang. Holcim adalah penyedia yang terintegrasi dari sembilan berbagai jenis semen, beton dan agregat. Selain itu Holcim juga memiliki unit Shredder facility yang berfungsi sebagai fasilitas pencacah limbah untuk bahan bakar alternatif dalam produksi semen. Setiap sistem kerja dalam sebuah perusahaan selalu mempunyai risiko keselamatan kerja, begitu juga sistem kerja pada PT Holcim Indonesia mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pada proses pencacahan atau Shredding ini terjadi kejadian kecelakaan kerja yang serius. Jika dibandingkan dengan fasilitas lain, Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan, namun dalam waktu yang relatif singkat, hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kecelakaan kerja sebab-sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan agar selanjutnya diperoleh usaha-usaha koreksi terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut Tujuan dai penelitian ini adalah Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Penelitian ini dilakukan di PT.Holcim Indonesia Tbk Bogor yang dimulai pada bulan April- Agustus 2010 melaui pengambilan data primer yang dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S , pada pekerja, penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.Serta melakukan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder berupa struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja yang ada pada proses pencacahan atau shredding ini secara keseluruhan adalah terpeleset ceceran residu, terjatuh dari ketinggian, pergelangan tangan terkilir, terpeleset screen , terjatuh saat melangkahi pemisah screen,

46

tangan terputus screen, terbentur penutup screen, tersandung peralatan yang berserakan, tertabrak/menabrak, tertimpa material ringan kejatuhan box, serta kebakaran. Pengendalian dengan engineering control dilakukan pada beberapa tahapan pekerjaan seperti pekerjaan seperti membersihkan handrail , maka dipasang handrail agar pekerja tidak jatuh, pemasangan guard pada benda berputar. Pengendalian dengan administrative control dengan housekeeping, bekerja sesuai dengan prosedur dan pemasangan safety sign di area kerja, terutama untuk pekerjaan yang berisiko tinggi. Pengendalian dengan pemakaian APD pada pekerja seperti safety shoes, safety helmet, mask organic, gloves, goggles, glasess. Sedangkan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di shredder facility adalah tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja yang kelelahan sehingga pekerja tidak berkonsentrasi. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009, penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja tidak melepaskan safety guard sebagai pelindung pekerja, karena merasa aman dengan pekerjaannya. Serta kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010, penyebab kecelakaan ini adalah ketidakharmonisan pekerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain factor teknis, faktor non-teknis pun menjadi penyebab dari kejadian kecelakaan kerja, sehingga perlu penyelesaian masalah yang lebih mendalam agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan tepat. Saran yang diajukan adalah perlu dilakukan identifikasi dan penilaian risiko pada masing-masing tahapan pekerjaan di PT.Holcim Indonesia Tbk untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Untuk menurunkan nilai risiko keselamatan kerja pada masing-masing tahapan proses shredding, diperlukan upaya pengendalian sebagai berikut pemeriksaaan standard operation dalam bekerja, diberikan pelatihan perilaku keselamatan dengan pengawasan serta pmebrian reward dan punishment pada pekerja. Daftar bacaan : 24 (1985-2010)

47

Holcim is an integrated provider of nine different types of cement. This is because the shredder facility over a wide range of waste processing facilities other than the machine used and still need care manually. because the market for homes. hands cut off a screen. September 2010 DITA WIANJANI. hit the screen cover. slip screens. the worker. tripping over scattered equipment. In addition. Each system is working in a company always has a safety risk. especially for high-risk jobs. fell while bypassing the separator screen. Therefore. commercial buildings and developing infrastructure. Control with administrative control with housekeeping. NIM : 106101003314 Qualitative Analyze the relation between the result of Risk Analyze in Occupational Safety with the occurrence of accidents that have occurred in workers in unit shredder facility PT. fall from height. working in accordance with the procedures and the installation of safety signs in work areas.This study was conducted in Bogor Indonesia Tbk PT. but within a relatively short time. the handrail is installed for workers from falling. Control by the use of PPE to workers such as safety shoes. hit by falling boxes lightweight materials. and fire.JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis. Shredder newest facility is a facility operated.Holcim Indonesia Tbk in 2010 ABSTRACT PT Holcim Indonesia is a pioneer and innovator in Indonesia who growing rapidly in the cement sector. Holcim also has a unit Shredder facility that serves as an enumerator waste facility for alternative fuels in cement production. was hit / hit. nearly every year happen in a serious accident at this facility. In the process of enumeration or shredding this occurs a serious work accident. concrete and aggregates. as well as a working system a PT Holcim Indonesia has a safety risk that may cause accidents. When compared with other facilities. the responsible shredder and accident victims and make observations directly. stages Shredder facility and data accidents that have occurred in Shredder facility. Control with control engineering done in several stages of work as jobs such as cleaning the handrail. safety helmet. sprained wrist. whereas secondary form the organizational structure of OH & S.Holcim which starts in April-August 2010 through Primary data collection is done by interviewing the staff OH & S. organic 48 . to minimize workplace accidents causes of accidents should be investigated and found to be further efforts to obtain corrections to the causes of the accident The purpose of this study is Knowledgeable relationship between safety risk analysis with the occurrence of accidents that have occurred in workers at the facility shredder unit PT Holcim Indonesia Tbk 2010. installation of guard at the rotating object. Safety risks that exist in the enumeration or the shredding process as a whole is scattered residual slip.

glasess. the following efforts are needed to control the examination standard operation in the work. goggles. the cause of this accident was the disharmony pekerja.Hasil showed that in addition to technical factors.mask. And fire at the Hooper happened on 7 April 2010. While the incidence of workplace accidents that have occurred in the shredder facility is a wall of separation between storage space and shredder collapsed due to hit the loader in the year 2008 the cause of this accident was the fatigue of workers so that workers do not concentrate. gloves. the cause of these accidents is that workers do not remove the safety guard as protectors of workers. be trained in safety behavior with supervision and pmebrian reward and punishment on the workers. because they feel secure with his job. Reading list: 24 (1985-2010) 49 . Suggestion is to do the identification and assessment of risk at each stage of work in PT. To reduce the value of safety risks at each stage of the process of shredding. so we need a more in-depth problem solving to workplace accidents can minimized with proper. non-technical factors were the cause of the work accident.Holcim Indonesia Tbk to prevent accidents. Arm cut off by the pinched by rotating objects (motion detector) in the year 2009.

Si Pembimbing I Catur Rosidati. SKM. 25 Agustus 2010 M.Skripsi Dengan Judul ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010 Telah disetujui. MKM Pembimbing Skripsi I 50 . diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.Farid Hamzens M.

.............................1 Tujuan Umum .....5..2 Rumusan Masalah ..4................... i ABSTRAK ........... ......................... xii DAFTAR TABEL ........................................................................... 1........... 1...............................3 Pertanyaan Penelitian ............................................1 Latar Belakang .......................1 Bagi Peneliti ....................................................... 1...............................................................DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN ........................5...................................................... xx 1 xxi 1 5 5 6 6 6 7 7 1.............................. 1.................................................................4...............................2 Tujuan Khusus ............................................................... BAB 1 PENDAHULUAN .......... 1...... DAFTAR GAMBAR............................. 51 7 ...................................................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................ vi LEMBAR PENGESAHAN ... 1....................................................................................................................................... 1.......5 Manfaat Penelitian ................................4 Tujuan Penelitian ....................................................................... ii PERNYATAAN PERSETUJUAN ... 1............................ vii RIWAYAT HIDUP............................................................2 Bagi Perusahaan ................................ viii KATA PENGANTAR.......................................................

........ ................................................. 2............4.......1......................... 2.................. 2...5 Metode Identifikasi Risiko ................. 2.......... 52 36 2..........................3 Definisi Risiko ................................................................................... 10 10 10 13 14 16 23 23 25 26 27 30 30 32 33 34 34 2.....1........3 Motivasi ........2 Definisi Bahaya ..... 2.... 2.............2 Kelelahan Kerja ................. 2...............................................................................................................1 Jenis-jenis Risiko 2..........5.............1..1............... 2................................................................................................... 2.......................1 Penyebab Kecelakaan Kerja ...... 2...1 Job Safety Analysis (JSA)........4........... .BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................2.........2 Pengendalian Bahaya ........2 Manfaat Manajemen Risiko ..... 2....4 Teori Kecelakaan Kerja ..........1........3....1................1 Definisi Kecelakaan Kerja ........................................................................... 2............1 Tujuan Manajemen Risiko ......5 Pencegahan Kecelakaan Kerja .. 2..............................6 Klasifikasi Kecelaakaan Akibat Kerja .............1 Jenis-jenis Bahaya………………………………. 2..2...4 Manajemen Risiko.......................

.......2 Waktu Penelitian ........................ 5.......... 53 64 .....1 Sejarah Perusahaan PT......................................................2 Definisi Istilah ..........................................2...... 4............ 47 3. 4...............................2 Visi dan Misi PT......................... 4........Holcim Indonesia Tbk ……….......1............ ................... 49 BAB IV METODE PENELITIAN ....................................................... ............ 4........................................................Holcim Indonesia Tbk ………… 5.....3 Struktur Organisasi PT...........4 Metode Pengumpulan Data ................3 Informan ....................................................................1 Metode Penelitian ……………………………………….... BAB V HASIL .............................................6 Validitas Data ............2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4........................1 Gambaran Perusahaan ……………………………………….............. 47 3...... 55 55 55 55 56 56 56 58 60 62 62 62 64 4..... 5............................. 5..5 Pengolahan data Analisis Data ...........1 Kerangka Berpikir....................2................................................ 4.BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH .............................1....... 4....1..........Holcim Indonesia Tbk ………………......1 Lokasi Penelitian ..............................................

5.1.2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji ……………………… 5.3.1.2.3 Membersihkan Screen ………………………………..2..1.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Product ………………………………………………………....3.... 5.3. 5.2. 5.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader …………….4..Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ………………………..3 Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.4.. Tahap Memberikan Parfum pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………………… 77 78 79 80 87 87 91 91 92 94 5.3..1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper ………… 5.5.2..2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran .2.1 Membersihkan handrail ………………………………… 5.2. 106 101 102 101 54 ..2.2.3.1 Membersihkan Handrail …………………………. 106 5.4 Adjusting belt conveyor ……………………………… 5.1.2.2.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material …………….1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material pada Truk ……………………………………………… 5..3.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5.1.2..1 Tahap Persiapan Awal ……………………………….2 Mengecek Chute Magnet separator ………………… 5.2.2.2. 5. 5.

2.3. 5.. 5.4 Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Box ….3..2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material ………….3. 5.3. 5.3 Tahap Shredding ………………………………………. 5.3 Memberikan Parfum pada Shredder dan Material …..4..1 Memasukkan Material pada Hooper ………………… 5.4.1 Kecelakaan Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang 152 136 136 142 144 149 55 .4.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5.....4.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran …… 132 5. 118 121 121 123 125 130 130 5.1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi Material pada Truk ………………………………………………………….1 Tahap Persiapan Awal ………………………………….3.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ………………..5...3. 5.4.Holcim Indonesia Tbk …………………………………….3.3.4.DAFTAR TABEL 5.2 Menebar Serbuk Gergaji ……………………………. 5.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Produk ……………………………………………………… 5.3. 5.3.3.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.Holcim Indonesia Tbk …………………………… 5.

....3 Perbandingan Kejadian Hasil Analisis Tahap Shredding dengan 156 Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada Hooper …………......... 6......1.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Persiapan dan Kecelakaan Kerja Penyimpanan Material dengan Kejadian Tertabraknya Tembok Pemisah antar Ruang Penyimpanan dan Shredder ………….1.....2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting Belt Conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus 155 ………….1........ 56 6....3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 158 157 158 158 ……………………………………………………………...………………………………………………………… BAB VI PEMBAHASAN ..1 Membersihkan Handrail ………………… ………..2 Mengecek Chute Magnet Separator ……………...4 Adjusting belt conveyor ……………………….....………………………. ……………...2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT........3...1 Tahap Persiapan Awal .6.. 159 159 ... … 6.…………………………………………… 5.. 6.DAFTAR GAMBAR 5.......1 Keterbatasan Penelitian……………..6. Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ………………........ ……………….. 6............ 6.......6... 6.3..3..…………………………………………… 5..3.

.....4..2 Mengirimkan Box Menuju Tempat pembakaran / PreHeater …………………………………………... 6..3.......4.....3..3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper …………………..4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT.4... 6.....3..1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper …………… 6..3..3 Tahap Memberikan Parfume pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………….. 6.1 Keterbatasan Penelitian……………...6......3..4.2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji pada Lantai yang Terkena Residu ……………………………………… 6......………………………. 57 .......3.....4 Tahap Memasukkan produk pada Box dan Pengiriman Produk …………………………………………………… 6..1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja 179 177 177 172 Tertabraknya Tembok Pemisah Antara Ruang Penyimpanan dan Shredder…………………………………………………………..3... 6..3....3.....4... Holcim Indonesia Tbk …………………………… 6... BAB VI PEMBAHASAN ..3.2 Pembahsan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Lengan yang Terputus …………… 181 6..1 Tahap Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material 175 pada Truk …………………………………. 6..3 Tahap Shredding ………………………………………… 170 170 6.....

.............. 7.....................................................2 Saran......................1 Kesimpulan...................... 190 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 58 ............................ 188 188 7.........................................BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN................................

. 5.1 Tabel Data Sekunder ……………………………………………… 58 4.3 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatam Kerja pada Tahap Shredding 83 59 89 . 43 2.2 Tabel Data Primer …………………………………………………… 60 4.3 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Semikuantitatif …………….2 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif ……………………..2 Tabel Definisi Istilah Kejadian Kecelakaan Kerja ………………… 57 4.... 61 4. 43 2.3 Tabel Triangulasi Sumber ………………………………………….2 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ………………………………………………………………………..6 tabel Kategori Tingkat Risiko dengan Metode Semikuantitatif ……..7 Tabel Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross… 49 3..1 Tabel Indentifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal ………………………………………………………………… 5. 53 3... 45 2.4 Tabel Triangulasi Metode …………………………………………… 5.Daftar Tabel 40 2. 42 2.1 Tabel Definisi Istilah Tahapan Analisis Risiko …………………….4 Tabel Skala Ukur Eksposure Secara Semikuantitatif ……………….5 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Semikuantitatif ……………… 44 2. 41 2..1 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif ………………….

. 6..Daftar Tabel 5..1 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding …………...2 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap Memasukkan Produk pada Box 143 dan Pengirimannya ……………………………………..8 Analisis Risiko Keselamatan Kerja Tahap memasukkan Produk pada Box dan pengirimannya ……………………………………………. 6........ 138 127 60 .9 Evaluasi Risiko Keselamatan Tahap Persiapan ……………………. 6.. 134 5.0 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap persiapan dan Penyimpanan Material ………………………………………………..7 Analisis Risiko Keselamatan kerja Tahap Shredding ……………… 5.

Daftar Gambar 2.1 Gambar Manajemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 : 1999 ………… 3.1 Gambar Kerangka Berpikir Hubungan Hasil Analisis Tingkat Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja ………………………………….. 5.1 Gambar Logo Holcim ………………………………………………... 5.2 Gambar Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk …………… 63 5.3 Gambar Green Pyramid ……………………………………………… 65 5.4 Gambar Struktur Organisasi OH&S Corporate ……………………… 48 33

61

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Kewarganegaraan Alamat Telepon Email Universitas Jurusan Peminatan : Dita Wianjani : Sukabumi, 20 November 1987 : Perempuan : Islam : Indonesia : Kp.Pangkalan raya rt 02/02 No.38 Cibuluh Bogor Utara : 085697493402 : michikakazuya@yahoo.co.id : UIN Syarif Hidayatullah : Kesehatan Masyarakat : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Latarbelakang Pendidikan Formal     1994- 2000 2000- 2003 2003- 2006 2006 –2009 Masyarakat Informal   2001-2003 2004-2005 (Conversation) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional (LIA) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional LIA : SDN Pengadilan 2 Bogor : SMPN 8 Bogor : SMAN 6 Bogor : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurusan Kesehatan

62

Pengalaman    2006-2008 2008 : Staff pengajar yayasan Miftahul Jannah Cimanggu Bogor : Mengikuti program beasiswa Youth Leadership Trip ke

Malaysia dan Thailand 2007-2008 : Bendahara BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat

63

KATA PENGANTAR ‫ت ه ك ا ب ر و هلل ا ورحمة ع ل ي كن م ل س ال ا‬

Segala puji kehadirat Allah SWT, yang tidak pernah tidur dan selalu dekat dengan hamba-Nya. Syukur senantiasa terucapkan atas segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian

Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010”. Skripsi ini disusun sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyusunan skripsi ini semata-mata bukanlah hasil usaha penulis, melainkan banyak pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, motivasi, dan semangat. Untuk itu penulis merasa pantas berterima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak M.Farid Hamzens Msi serlaku pembimbing I, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis 4. Ibu Catur Rosidati, SKM. MKM, selaku Dosen Pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. 64

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Agustus 2010 Penulis 65 . selaku Koordinator K3 yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 10. Ibu. 9. khususnya mengenai analisis risiko keselamatan kerja Jakarta. Ibu Iting Shofwati. dan adikku tercinta atas dorongan dan bantuannya baik material dan spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 7.5. dr. Tim OH&S PT Holcim Indonesia Mas Pungki Yudono dan Mas Ahmad Azhar selaku pembimbing lapangan atas bimbingan dan bantuannya dalam proses pengambilan data. Bapak. MKKK. 8. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Tetap Semangat Untuk Masa Depan yang Lebih Baik. Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’06 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. ST. Rima dan Erangga yang selalu memberikan motivasi dan dukungannya 11.

624 kasus kecelakaan kerja dan tahun 2007 terjadi sebanyak 83.1 Latar Belakang Berdasarkan ILO. tahun 2006 terjadi 95. setiap tahun di seluruh dunia kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan banyak korban.823 kasus. lebih dari 2 juta manusia meninggal dunia akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang terkait dengan pekerjaan. dengan jumlah pekerja yang sembuh 85. sedangkan yang cacat total 44 orang (Jamsostek. Berdasarkan angka perkiraan konservatif. 2007) Dari data statistik ini tentunya kita akan paham bahwa kerugian yang ditimbulkannya sangat masif.090 orang.BAB I PENDAHULUAN 1.50 66 . Depnakertrans menyatakan angka kecelakaan kerja di Indonesia pun masih tergolong tinggi. 2008) dan terdapat 96. pengusaha. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 93. ada 270 juta kecelakaan kerja dan 160 juta kasus penyakit yang terkait dengan pekerjaan. tetapi juga bagi dunia karena kesemuanya ini menyedot biaya kompensasi yang sangat besar. Riset ILO menghasilkan kesimpulan bahwa setiap tahun.714 kasus .300 miliar. dan pemerintah. 2010). sedangkan kerugian secara tidak langsung mencapai Rp. bukan hanya bagi pekerja.(ILO.314 kasus di tahun 2009 (Jamsostek. Data PT Jamsostek Indonesia (2008) menyatakan bahwa “ K erugian langsung akibat kelalaian manusia dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebesar Rp.

tidak adanya komitmen perusahaan untuk menerapkan SMK3 serta faktor lingkungan kerja. Maka. Sedangkan faktor penyebab langsung timbulnya kecelakaan kerja adalah tidak adanya upaya pengendalian risiko dan adanya potensial bahaya di tempat kerja. sumber penyebab dasar. pada tahun 1967. Ketiga hal tersebut menimbulkan unsafe action (tindakan yang tidak aman) dan unsafe condition (kondisi yang tidak aman) yang merupakan faktor tidak langsung penyebab kecelakaan kerja. Birds memodifikasi teori Heinrich dan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. Dalam teorinya. Tingginya angka kematian akibat kecelakaan dan penyakit kerja mendesak dilakukannya analisa secara komprehensif terhadap penyebab kematian dialami pekerja atau buruh. oleh karena itu faktor penyebab kecelakaan dan faktor-faktor lainnya harus segera dikendalikan dengan benar. dapat dikatakan kerugian secara tidak langsung akibat kecelakaan kerja setiap tahun mencapai 15 kali dari kerugian secara langsung. gejala. 67 . dan kerugian. kontak. Data yang dilansir Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan sinyal betapa kecelakaan kerja dan kematian akibat kerja sudah pada tingkat mengkhawatirkan. yaitu manajemen.000 pekerja per tahun merupakan angka yang cukup besar. Jumlah kematian lebih dari 14. sehinggga kecelakaan kerja dapat segera dicegah dan diminimalisasi frekuensinya. Faktor dasar penyebab adanya kecelakaan kerja adalah buruknya manajemen K-3.truliun “.

padat dan sampah rumah tangga. yaitu : 68 . Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. PT Holcim Indonesia adalah perusahaan produksi semen yang memiliki unit kerja baru bernama Geocycle. Oil Sludge facility adalah fasilitas yang yang mengolah paint sludge menjadi bahan bakar alternatif dan Shredder facility adalah fasilitas yang mengolah berbagai limbah cair. Terdapat tiga fasilitas pemanfaatan limbah yang dibawahi oleh unit Geocycle. di antaranya Biomess Facility. Geocycle adalah layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. Fasilitas ini merupakan sub kerja pada departmen Geocycle yang berfungsi sebagai pre-handling limbah.mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. oil sludge facility dan Shredder facility. Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. Biomess facility merupakan fasilitas yang mengolah serbuk gergaji dan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif . Dari hasil observasi dan wawancara mengenai data kecelakaan kerja pada tiga fasilitas yang dibawahi oleh Geocycle sebagian besar kecelakaan kerja terjadi di Shredder facility yang melakukan pengolahan limbah dengan metode pencacahan atau shredding.

sehingga secara mudah risiko dapat diminamilisir dengan menentukan pengendalian yang tepat. Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2008 2. perlu dilakukan upaya analisis risiko keselamatan kerja yang terintegrasi ke dalam manajemen risiko yang dimulai dengan identifikasi risiko sampai dengan menentukan tingkat risiko keselamatan kerja dan menghubungkannya dengan fakta kecelakaan kerja yang pernah terjadi di tempat tersebut. 69 . Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 Jika dibandingkan dengan fasilitas lain. namun dalam waktu yang relatif singkat. hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2009 3.1. Oleh karena itu.

1. Bagaimana gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. dan hubungannya dengan kejadian kecelakaan kerja di shredder facilitysehingga dapat dilakukan tindakan pengendalian bahaya dengan tepat. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 70 . Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap bahaya-bahaya keselamatan pada pengoperasian shredder untuk diketahuinya tingkat risiko keselamatan kerja di tempat tersebut. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 2. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 3. 1. Bagaimana gambaran consequences. Dari data kecelakaan di shredder facility PT Holcim Indonesi Tbk pada tahun 2008 – 2010 kecelakaan kerja telah terjadi pada operator dan fasilitas di shredder.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah dalam proses operasinya shredder facility mengalami banyak kecelakaan apabila dibandingkan dengan fasilitas lain yang sudah beroperasi lebih lama di Geocycle.3 Pertanyaan Penelitian 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 4. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk dan gambaran proses kerja shredder di PT.

penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. 1.2 Tujuan Khusus : 1. Bagaimana hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi dengan pada pekerja di unit shredder facility di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 6. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 2. Bagaimana gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 7. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 71 . Diketahuinya gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi).4.4 Tujuan Penelitian 1.5. Bagaimana gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. Diketahuinya gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 dan gambaran proses kerja shredder di PT.4.1 Tujuan Umum Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.

Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi facility di PT. Diketahuinya gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT.2 Perusahaan a. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.’ 7. Diketahuinya gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT.5. Memberikan bahan masukan pada institusi terkait mengenai pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) . 4.3. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 6. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 pada pekerja di unit shredder 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Diketahuinya gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT.5 Manfaat Penelitian 1. Diketahiumya gambaran consequences. Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara perusahaan dengan program studi kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 5. b.5.1 Peneliti : Meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang K3 khususnya dalam melakukan analisis resiko keselamatan kerja 1. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. 72 .

1.1. Data primer dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S .6 Ruang Lingkup Penelitian ini adalah penelitian analisis kualitatif hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Bogor dan dilakukan selama bulan AprilAgustus 2010.3 Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta a. b. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 yang berada di Cileungsi. Dapat dijadikan salah satu sumber informasi mengenai analisi risiko fan hubungannya terhadap kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi. Untuk mengetahui tingkat risiko digunakan metode analisis risiko secara semikuantitatif Standar Australia/Standar New Zealand (AS/NZS 4360. Penelitian ini dilakukan di unit Shredder Facility PT. Sebagai sarana untuk menjalin serta membina network dan kerjasama dengan perusahaan atau institusi lain dibidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan melihat hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Serta melakukan observasi secara langsung. 1999/2004).5. Sasaran dari penelitian ini adalah proses shredding (pencacahan). sedangkan data sekunder berupa 73 . pada pekerja.

struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Penelitian ini dilakukan oleh

mahasiswa Program Studi kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

74

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecelakaan Kerja Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga karena di akhir peristiwa itu ada unsur ketidaksengajaan, tak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian materil maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Suatu peristiwa dapat digolongkan suatu kecelakaan jika bersifat diluar kamauan manusia, disebabkan oleh kekuasaan dari luar yang berlangsung secara cepat dan menyebabkan cidera badan dan jiwa (Suma’mur, 1996). Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang, kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah, 2003) 2.1.1 Penyebab Kecelakaan Kerja Menurut Sahab (1997), penyebab kecelakaan kerja di tempat kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan: 1). Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain. 2). Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain.

75

3). Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain. 4). Sifat kerja. 5). Cara kerja b. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: 1). Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan. 2) cacat tubuh yang tidak kelihatan. 3) keletihan dan kelelahan. 4) sikap dan tingkah laku yang tidak aman. Secara umum ada dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu penyebab langsung (immediate causes) dan penyebab dasar (basic causes) (Budiono, 2003): a. Penyebab Langsung Penyebab langsung atau kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) dan kondisikondisi yang tidak aman (unsafe conditions) Menurut Ferdy dan Yudi (2008), dari beberapa hasil riset menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995), berdasarkan statistik di Indonesia, 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak 76

aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan kerja dibandingkan dengan kondisi tidak aman (unsafe condition). Menurut Murthi dan Yuri (2009), unsafe act adalah suatu tindakan seseorang yang menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan dan dapat mengakibatkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun peralatan yang ada di sekitarnya. Pendapat lain yang berkenaan, unsafe act adalah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan (Silalahi,1995). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa unsafe act adalah semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dimana tindakan tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, peralatan maupun lingkungan yang ada di sekitarnya. b. Penyebab Dasar Terdiri dari dua faktor, yaitu faktor manusia/ pribadi dan faktor kerja/ lingkungan kerja. Faktor manusia/ pribadi, antara lain karena: kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurangnya/ lemahnya pengetahuan dan ketrampilan/ keahlian, stres, motivasi yang tidak cukup/ salah.Sedangkan faktor kerja/ lingkungan, antara lain karena: tidak cukup kepimpinan atau pengawasan, tidak cukup rekayasa, tidak cukup pembelian/ pengadaan barang, tidak cukup perawatan, tidak cukup standar-standar kerja, penyalahgunaan.

.

77

motivasi menurun. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut. Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan menurunkan dalam bekerja kinerja dan (Budiono. yaitu nyeri otot. 2003). Selain itu karakteristik kelelahan akan meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan yang dilakukan. aktivitas 78 . menambah 2003).1. dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive). tulang. Pendapat lain mengatakan bahwasanya kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan yang subyektif. tendon. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara statispun (Static Muscular Loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries). sedangkan menurunnya rasa lelah.2 Kelelahan Kerja Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Nurmianto. Kelelahan kerja akan tingkat kesalahan kerja.2. sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat.

Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. kesempatan. Menurut Winardi (2001) imbalan berupa gaji atau upahmerupakan salah satu dari imbalan ekstrinsik yang diterima melalui kegiatan bekerja. Rizeddin (2000). dan kesukaran tidur). tantangan. kehilangan nafsu makan. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. vertigo. dan balas jasa. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun.Akan tetapi jika upah tersebut tidak 79 . 2. kurang tenaga.Selain itu Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati. tidak cocok dengan lingkungan. kegelisahan. kehilangan inisiatif). penurunan dan hambatan persepsi. penghargaan. 1982). cara berpikir atau perbuatan anti sosial. kecemasan. 1994). pengembangan.1. dan gejala umum (sakit kepala.3 Motivasi Menurut Rawianto (1990) dalam Aldila (2009) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan motor penggerak adalah : Prestasi. tanggung jawab. keterlibatan. gangguan pencemaan. gangguan fungsi paru dan jantung. (depresi. Gejala kelelahan kerja menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973) yaitu menurun kesiagaan dan perhatian.menurun. pembahan tingkah laku. badan terasa tidak enak. imbalan tersebut dapat dijadikan motivasi kepada pekerja agar pekerja bekerja dengan kinerja tinggi.

Menurut penelitian yang dilakukan Shinta Dwi (2009) dimana secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi dengan perilaku tidaka aman. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. akan berpengaruh pada motivasi kerja.dipenuhi. maka secara langsung perilaku pada saat bekerja akan menjadi tidak selamat. dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental Teori Herzberg pun menyatakan tingginya motivasi kerja pun dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik seperti. hubungan antar pribadi. tetapi jika pekerja mempunyai motivasi dalam diri yang rendah. dan supervise. apabila faktorfaktor ekstrinsik ini tidak dipenuhi makan. 80 . Disebutkan bahwa adanya motivasi dalam diri karyawan yang tinggi maka perilaku pada saat bekerja akan menjadi selamat. gaya kepimimpinan. kondisi kerja.

Teori Domino Heinrich Dalam Teori Domino Heinrich. dan banyak membuat kesalahan.1. Sebelum memahami bagaimana kecelakaan itu dapat terlebih dahulu kita harus memahami urutan bagaimana kecelakaan terjadi dan penyebabnya. kecelakaan dan cedera. pengaruh lingkungan dan pendidikan. Heinrich (1931) berpendapat bahwa kecelakaan pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan. mengakibatkan seorang pekerja kurang hati-hati. Colling (1990) telah mencatat teori-teori kecelakaan sebagai berikut : 1. Teori tersebut memberikan pengertian terhadap tindakan preventif dan menggambarkan semua factor yang berkaitan terhadap terjadinya kecelakaan atau memperkirakan dengan alasanalasan yang akurat kemungkinan sebuah kecelakaan akan terjadi.2. tindakan tidak aman. kelalaian manusia. Mekanisme terjadinya kecelakaan diuraikan dengan “Domino Sequence” berupa: a. 81 . kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: kondisi kerja. Ancestry and environment. yakni pada orang yang memiliki sifat tidak baik (misalnya keras kepala) yang diperoleh karena faktor keturunan.4 Teori Kecelakaan Kerja Terdapat sejumlah teori tentang kecelakaan.

kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Menurut Heinrich. maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama. merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan tersebut di atas yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan. c. Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama 82 . Injury. e. Menurut penelitian yang dilakukannya. Jika satu kartu jatuh. jika satu bangunan roboh. kecacatan dan bahkan kematian. kecelakaan mengakibatkan cedera/luka atau berat. Dengan penjelasannya ini. Fault of person. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya. peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja. Unsafe act and mechanical or physical hazards. tindakan yang berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain.b. tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya. kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Pada umumnya disertai dengan kerugian. Accident. d.

Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan Heinrich dalam Suardi (2005) menemukan sebuah teori yang dinamakan “Teori Domino”. kontak. Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memeperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab-akibat. yaitu kebiasaan.yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. kecelakaan. 83 . Misalnya dengan membuang hazard. perbuatan dan kondisi tidak aman (hazard). Dalam teorinya. satu domino diantaranya. Praktek di bawah standar (unsafe acts) dan kondisi di bawah standar (unsafe conditions) merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan dan merupakan penyebab utama dari kesalahan manajemen. dan kerugian. serta cidera. Teori itu menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera. Pada tahun 1967. Heinrich mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan. yaitu manajemen. terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar. gejala. kesalahan seseorang. sumber penyebab dasar. Birds dalam Suardi (2005) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan.

tindakan tidak aman (unsafe acts). menunjukkan bagaimana terjadinya suatu tindakan tidak aman itu.Unsafe Supervision a. Improper planning c.Preconditions for Unsafe Acts a. Inadequate supervision b. Types of Human Errors: 1. James Reason membagi penyebab kelalaian/kesalahan manusia menjadi 4 tingkatan: 1. Errors b. Teori Chess Model Dalam teori ini. pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision).2. pengaruh organisasi (organizational influences). Unsafe Act a. Violations 2. Supervisory violations 84 . Failure to correct problems d. Informasi berikut. Berbeda dengan teori Domino Heinrich. Conditions of operator b. Swiss Cheese Model memberikan informasi perihal bagaimana suatu tindakan tidak aman dapat terjadi. pra-kondisi yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman (preconditions for unsafe acts). Poor practice of operator 3.

maka kecelakaan menjadi tak terhindarkan. and organizational influences) sama-sama mempunyai lubang. preconditions for unsafe acts. berbagai macam types of human errors ini merepresentasikan lubang pada sebuah keju. Melalui Swiss Cheese Model. Agar kecelakaan dapat dicegah.1. Jika keempat keju ini (unsafe act. manajemen mesti mengenali secara spesifik kemungkinan terjadinya kelalaian/kesalahan manusia pada tiap tahapan pekerjaan yang dilakukan karyawan. Teori Kecelakaan Pettersen Model ini berbeda dari model Ferrell. manajemen yang justru dituntut untuk melakukan segala upaya yang diperlukan untuk melindungi karyawannya 3. karyawan tidak lagi menjadi pihak yang melulu dipersalahkan jika suatu kecelakaan terjadi. Dalam berbagai aspek. Organizational InfluencesResource management a. 85 . Penyebab-penyebab kecelakaan dan atau insiden dapat bersumber dari salah satu atau keduanya. Organizational climate b. Melalui pendekatan ini. Organizzational process Dalam Swiss Cheese Model. dimana model ini menyertakan 2 (dua) kemungkinan penyebab kecelakaan seperti yang dikemukakan dari teori domino: kesalahan manusia atau kesalahan sistem. teori ini mampu memberi banyak sumbangan atas pencegahan kecelakaan kerja. unsafe supervisions.

Bird dan Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss) disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor 86 . dan keputusan yang keliru. ergonomic. 4. dan lain-lain. Teori ini mengkategorikan tiga kelompok besar penyebab kecelakaau yaitu overload (sama dengan teori Ferell). Berkali-kali pekerja akan memilih untuk mengerjakan tugas dengan tidak aman karena sederhana saja. Perbedaan yang utama adalah pada kategori ketiga yaitu keputusan yang keliru. rangkap. prioritas sistem dimana mereka berada. tekanan produksi. Teori Loss Causation Model Loss Causation Model berisikan petunjuk yang memudahkan penggunanya untuk memahami bagaimana menemukan faklor penting dalam rangka mengendalikan meluasnya kecelakaan dan kerugian termasuk persoalan manajemen. Kategori ini mengajukan bahwa para pekerja sering melakukan kesalahan melalui keputusan-keputusan secara sadar atau tidak sadar. dikarenakan tekanan dari teman. dan pengambilan keputusan yang salah.Teori ini mengadopsi teori Ferell yang menyertakan kesalahan sistem disamping kesalahan manusia. ini lebih masuk akal dalam situasi mereka mengerjakannya dengan tidak aman daripada mengerjakannya dengan aman. Beban yang berlebih kurang lebih seperti Ferrell Model.Model ini menyatakan bahwa di belakang kesalahan manusia ada 3 (tiga) kategori besar: beban yang berlebih. Teori ini mengemukakan bahwa pengambilan keputusan yang salah pada suatu kondisi yang disadari atau tidak bertindak tidak aman.

Penyebab lack of control yaitu: a. b. Lack of Control (kurang kendali) Pengendalian adalah salah satu faktor penting dalam meneegah terjadinya kecelakaan. b.yang berurutan seperti yang terdapat dalam Loss Causation Model. Inadequate programe Hal ini dikarenakan program yang berhubungan dengan ruang lingkup. Immediate Causes Suatu kejadian yang secara cepat memicu terjadinya kecelakaan bila kontak dengan bahaya. Personal factor. Inadequate compliance -with standards Kurangnya pemenuhan sering terjadi. 2. Job factor. Immediate causes meliputi faktor sub-standard dan faktor kondisi. 3. standar tidak jelas atau standar tidak baik. tidak sesuainya design engineering. yang terdiri dari: 1. faktor kepemirnpinan atau kepengawasan. Basic Causes: (penyebab dasar) Penyebab dasar terjadinya kecelakaan disebabkan oleh: a. Faktor substandard diantaranya tindakan tidak aman seperti mengoperasikan unit 87 standar merupakan penyebab yang tidak bervariasi yang . Inadequate programe standards Tidak spesifiknya standar. c.

Olishifki (1985) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut : a. Aspek perangkat keras (peralatan.5 Pencegahan Kecelakaan Menurut Bennett NBS (1995) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati dengan dua aspek. yakni : a. 2.tanpa ijin.1.1. perlengkapan. dsb). Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut. Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsure yang berkaitan). d. cara kerja. c. material dan struktur perencanaan b. Memberikan pendidikan (training) kepada tenaga kerja atau karyawan tentang kecelakaan dan keselamatan kerja. mesin. ventilasi iklim kerja dan lain-lain.6 Klasifikasi kecelakaan Akibat Kerja Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut ILO tahun 1962 adalah sebagai berikut: 88 . b. faktor kondisi seperti kebisingan. Memperkecil (menekan) kejadian yang membahayakan dari mesin. Menurut Julian B. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga 2. letak.

Patah tulang. f. terkecuali benda jatuh. Amputasi. Klasisfikasi menurut penyebab. Terjatuh. antara lain: a. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan. Tertumbuk atau terkena benda-benda. Diskolasi atau keseleo. antara lain: a. b. c. 3.1. Kontak dengan bahan-bahan yang berbahaya atau radiasi 2. f. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan. Terjepit oleh benda. d. d. Tertimpa benda jatuh. Terkena arus listrik h. c. Alat angkut dan alat angkat. Luka-luka lain. d. Bahan-bahan. e. Regang otot atau urat. c. Gegar dan remuk. Pengaruh suhu tinggi g. b. Peralatan lain. zat-zat dan radiasi. e. Lingkungan kerja. 89 . Gerakan-gerakan melebihi kemampuan. Memar dan luka dalam yang lain. e. antara lain: a. Mesin. b. g.

Pengaruh arus listrik. Banyak tempat g. Leher c.2 Bahaya Menurut AS/NZS 4350:2004. Luka bakar. Sedangkan menurut Labor Occupational Health Program. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh. Keracunan-keracuan mendadak (akut). n. Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya. l. 4. bahaya ditempat kerja adalah segala sesuatu di tempat kerja yang dapat malukai pekerja. Akibat cuaca dan lain-lain. k. Kelainan umum 2. 90 . j.h. Anggota atas e. baik secara fisik maupun mental. Badan d. Anggota bawah f. i. bahaya adalah suatu sumber potensial yang merugikan. m. Pengaruh radiasi. Kepala b. Mati lemas. antara lain: a.

seperti bakteri.Hazard atau bahaya adalah potensi yang dimiliki oleh bahan/ material. Biological hazard Bahaya yang berasal dari mikroorganisme khususnya yang pathogen yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Chemical hazard Bahan kimia berbahaya dalam bentuk gas. 2009). proses kerja. Australia).1 Jenis-jenis Bahaya Jenis-jenis bahaya yang berada di tempat kerja secara garis besar dikelompokan menjadi (Wells. flammable. cair. 2. tekanan udara. explosive. Plog. lingkungan. irritant. proses atau cara kerja yang dapat menimbulkan kerugian terhadap keselamatan dan kesehatan seseorang (Workover. dan struktur (ILO encyclopedia). pencahayaan. radiasi. 2004) 1. Physical hazard (Bahaya Fisik) Berupa energy seperi kebisingan. corrosive. kerusakan pda peralatan. tempratur ekstrim. getaran. 2002. produk. Donoghue. proses produksi. limbah dan pekerja itu sendiri (Hendra. 2. jamur. reactive.Bahaya mewakili satu sumber energy yang memilki potensi yang dapat menyebabkan terjadinya cidera pada pekerja. lingkungan kerja. 91 . 3. Bahaya dalam K3 adalah bahaya yang terdapat dilingkungan kerja yang dapat berasal dari bahan baku/material. 1996. padar yang mempunyai sifat toksik. asphyxia.2. virus.

loncatan listrik/ listrik statik. Mechanical hazard (bahaya mekanik) Bahaya yang terdapat pada benda-benda atau proses yang bergerak yang dapat menimbulkan dampak seperti terpotong.2. jam kerja yang panjang. dkk. terjepit. tergores. tertusuk. Berbagai metode untuk melindungi pekerja atau pengendalian bahaya telah diciptakan. 2. kekerasan ditempat kerja.Electrical hazard (bahaya listrik) Merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik pendek (konsleting). dan cara kerja yang salah 5 . tekanan pekerjaan.2 Pengendalian Bahaya Pekerja tidak dapat dilindungi apabila bahaya yang ada belum diidentifikasi dan dievaluasi. 6.4. 7. 2000) 92 . tersayat. Psychological hazard (bahaya psikososial) Stress.Ada tiga jenis pengendalian (Diane Bush. Ergonomic (Aspek ergonomik) Merupakan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan sebagai akibat dari ketidaksesusaian antara desain kerja dengan pekerja. pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang.

Memasang ventilasi buangan local 2. Mendesain ulang mesin b. Pengadaan ruang control 93 . pengendalian administrative bergantung pada perilaku manusia. Pengendalian Engineering Adalah pengendalian yang dilakukan dengan tujuan mengurangi bahaya pada sumber dan media transmisinya. Pengendalian Administratif Pengendalian membatasi administrative melalui adalah rencana pengendalian kerja. tetapi digunakan untuk membatasi waktu kontak antar pekerja dengan bahaya. untuk pemaparan Pengendalian administrative tidak menghilangkan bahaya secara langsung. Mengisolasi proses atau pekerja d. Menggunakan produk yang lebih aman c.Untuk menjadi efektif.1. Pengendalian engineering merupakan pengendalian yang terbaik karena menghilangkan bahaya yang ada atau menghilangkan kemungkinan bahaya tersebut mengenai pekerja.Yang termasuk dalam jenis pengendalian engineering antara lain adalah : a. Yang termasuk dalam pengensalian administrative antara lain : a. Sasaran dari pengendalian teknik adalah bahaya yang secara langsung dan efektifitasnya tidak tergantung pada perilaku pekerja. Rotasi atau pergantian shift kerja b.

Ada banyak sekali jenis-jenis alat pelindung diri. f. Monitoring lingkungan 3. Pengadaan color code labeling dan material safety data sheet (MSDS) e. Alat pelindung diri digunakan sebagai cara terakhir untuk melindungi pekerja bila pengendalian engineering dan administrative tidak mungkin dilakukan atau dalam keadaan darurat. Ear plug dan ear muff.c. Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadapa potensi bahaya/kecelakaan kerja akibat proses produksi atau pekerjaan. Housekeeping atau penataan tempat kerja yang ringkas. diantaranya : 1. Standard Operation Procedure (SOP) DAN Work Instruction h.Alat pelindung diri tidak menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yang ada. Pemeriksaan kesehatan g. Safety shoes. Pengadaan pelatihan d. proteksi pendengaran 2. pelindung kaki 94 . rapi. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya Dengan menempatkan penghalang antara pekerja dengan bahaya. Kebijakan-kebijakan K3 i.

fume 2. uap. kerusakan property dan kerugian produksi dan penjualan. asap.3. baik dampak kesehatan maupun yang lainnya. risiko diukur berdasarkan adanya kemungkinan terjadinya suatu kasus dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan.1 Jenis-jenis Risiko Adapun jenis-jenis risiko yaitu (Rao V.Risiko dalam konteks K3 berarti besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan potensi kerugian yang muncul. pelindung kepala 5. risiko adalah suatu kesempatan dari kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan dampak pada sasaran. bahan kimia. bersifat akut dan fatal. Sarung tangan 6. 1996) a.3. Safety goggle. Kerugian-kerugian yang biasanya terjadi dalam risiko keselamatan adalah cedera. Safety risk (risiko keselamatan) Risiko keselamatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan rendah untuk terjadi tetapi memiliki konsekuensi besar.Risiko ini dapat terjadi sewaktu-waktu. kehilangan hari kerja. dkk. 2.3 Risiko Menurut AS/NZS 4360:2004. Kolluru. Helm. melindungi pernafasan dari debu. 95 . pelindung mata 4. Masker.

Penyakit-penyakit yang terjadi misalnya gangguan pernafasan. contohnya adalah kelangsungan suatu bisnis. berdampak besar pada populasi atau komunitas. berubahnya fungsi dan kapasitas habitat dan ekosistem serta kerusakan sumber daya alam d. gangguan syaraf.Risiko jenis ini dapat terjadi kapan saja secara terusmenerus dan berdampak kronik. Health risk (risiko kesehatan) Risiko kesehatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk kterjadi tetapi memiliki konsekuensi yang rendah. Public risk (risiko masyarakat umum) Risiko ini berkaitan dengan kesejahteraan kehidupan orang banyak. Ciriciri risiko lingkungan adalah perubahan yang tidak signifikan. Financial risk (risiko keuangan) Risiko keuangan berkaitan dengan masalah ekonomi.b. 96 . Enviromental risk (risiko lingkungan) Risiko ini berhubungan dengan keseimbangan lingkungan. Sehingga hal-hal yang tidak diharapkan seperti pencemaran air dan udara dapat dihindari. asuransi dan inventasi e. gangguan reproduksi dan gangguan metabolic atau sistemik. c. mempunyai masa laten yan panjang.

Komunikasi dan konsultasi yang dilakukan dalam proses manajemen risiko yang melibatkan pihak internal dan eksternal. 2. 5. Melakukan analisis risiko untuk menetapkan kemungkinan dan konsekuensi yang akan terjadi serta menetapkan tingkat risiko.2. Melakukan pemantauan dan tinjauan ulang program manajemen risiko yang telah dilaksanakan. proses. Menetapkan tujuan dan lingkup pelaksanaan manajemen risiko. 6. 4. 7. Melakukan pengendalian risiko yang tidak dapat diterima. 3. Melaksanakan identifikasi risiko. manajemen risiko adalah pemeliharaan. dan struktur yang mengacu langsung pada pengetahuan efektif terhadap kesempatan potensial dan efek yang merugikan. Beberapa tahapan dalam melaksanakan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. yaitu : 1. Menetapkan evaluasi untuk menetapkan skala prioritas dan membandingkan dengan kriteria yang ada.4 Manajemen risiko Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. 97 .

Membantu meminimalisasikan meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi. 2005). (Supriyadi. RISKS ASSESMENT IDENTIFY RISKS 98 .1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999 2. 2. Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian.\ COMMUNICATE AND CONSULT ESTABLISH CONTEXT MONITOR AND REVIEW ANALYSE RISKS EVALUATE RISKS TREAT RISKS Gambar 2. Tujuan manajemen risiko menurut AS/NZS 4360 (1999) adalah sebagai berikut : 1. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan kerugian. 3.1 Tujuan Manajemen Risiko Manajemen risiko bertujuan untuk memaksimalkan kemajuan dalam mencapai tujuan organisasi dengan cara meminimalkan kerugian yang akan terjadi.4.

Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan dari kemungkinan tersebut. Menciptakan manajemen proaktif bukan reaktif. produksi dan mencapai performa perusahaan yang lebih baik. lingkungan kerja. 2. 5. Melakukan peningkatan pengmbilan keputusan pada semua level. 5.2 Manfaat Manjemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 (2004) manfaat menerapkan manjemen risiko adalah : 1. 4. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. Meningkatkan produktifitas kerja. 2. 6.5 Metode Identifikasi Risiko Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi risiko untuk mengetahui faktor penyebab dan proses terjadinya konsentrasi atau dampak. 3. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif. Mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan perlindungan aset. Menyusun program yang tepat untuk menimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan. 2.4. Beberapa contoh metode identifikasi risiko tersebut adalah sebagai berikut : 99 .4.

(Colling. Check List Check List digunakan sebagai cara untuk mengetahui kondisi awal pada suatu kondisi yang meliputi aspek-aspek safety. HAZOPS digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan safety 100 . 1990). 1990). Preeliminary Hazard Analysis dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem tersebut. Failure Mode Effect Analysis Failure Mode Effect Analysis adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis sistem yang berhubungan dengan engineering yang mungkin mengalami kegagalan dan efek yang ditimbulkan dari kegagalan. b. konsep design atau prosedur operasi (Diberadinis. fasilitas. Safety checklist dapat digunakan untuk mengevaluasi perangkat peralatan. c. Preeliminary Hazard Analysis Preeliminary Hazard Analysis adalah suatu metode yang dilakukan dalam mengetahui bahaya-bahaya awal pada suatu sistem baru. 1999). Failure Mode Effect Analysis secara sistematis menilai komponen dari dari suatu sistem tentang bagimana sistem dapat gagal lalu mengevaluasi efek dari kegagalan tersebut. d. Hazard and operability Study and operability Study (HAZOPS) dapat digunakan untuk Hazard mengidentifikasi bahaya pada industri kimia. tingkat bahaya yang dihasilkan dari kegagalan dan bagaimana kegagalan tersebut dicegah atau diminimalisasi (Colling.a.

1996). Setiap langkah dianalisis untuk mengisentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut (Geotsch. 1996).5. f. Job Job Safety Analysis Safety Analysis adalah suatu proses yang dilakukan dalam mengidentifikasi bahaya melalui langkah-langkah kerja yang ada.1 Job Safety Analysis (JSA) Menurut OSHA 3071:2002 JSA (Job Safety Analysis) merupakan salah satu teknik atau cara untuk mengidentifikasi risiko sebelum risiko tersebut terjadi pada suatu kegiatan yang sedang berjalan. Fault Tree Analysis (FTA) Fault Tree Analysis (FTA) dapat digunakan untuk memprediksi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau digunakan sebagai alat investigasi setelah terjadi kecelakaan (Geostsch. 1996). 101 . membuat metode kerja yang lebih efektif Tahapan pelaksanaan Job Safety Analysis terdiri adari empat langkah yaitu : a) Memilih pekerjaan yang akan dianalisis. 2. c) Mengidentifikasi bahaya atau risiko keselamatan kerja yang ada pada setiap tahapan tugas. e. JSA dapat digunakan untuk menghulangkan atau mencegah bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja.dan bahaya pada lingkungan dan memproses masalah yang dapat berdampak pada efisiensi operasi (Kolluru. b) Membagi pekerjaan ke dalam tahapan tugas.

Job Safety Analysis berisikan informasi mengenai (Colling. e. yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. 1990) : a. c. Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang nantinya dapat digunakan untuk melatih (sebagai bahan training) pekerja baru. b. Hazard (Bahaya) 102 .d) Menentukan prosedur atau tindakan pengendalian guna meminimalisasi risiko tersebut. Proses pada JSA dapat memberikan kesempatan pada individu untuk mengenali natau memberikan pengetahuan mengenai operasi. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan metoda Job Safety Analysis yaitu (Diberardinis. b. Task Berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. tidak membutuhkan suatu tahapan dalam training dan dapat dengan cepat disesuaikan dengan pandangan individu. 1999) : a. Job Berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan untuk masaing-masing tahapan kegiatan. d. Pendekatan JSA sangat mudah dipahami. Dokumentasi JSA juga dapat digunkan sebagai bahan studi. c.

ergonomi) apakah yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan. kimia.6 Analisis Risiko Menurut Kolluru (1996).Untuk mengetahui jenis bahaya (fisik. d. e. pemeriksaan dan pengujian peralatan kerja serta analisis data kecelakaan dan penyakit akibat kerja di perusahaan. Probability (Kemungkinan) Berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera (sering. analisis risiko adalah sistematika penggunaan informasi yang tersedia untuk mengidentifikasi hazard dan untuk memperkirakan suatu risiko terhadap individu. Menurut AS/NZS 4360 (1999) analisis risiko adalah suatu kegiatan sistematik dengan menggunakan informasi yang ada untuk mendeterminasi seberapa besar konsequensi (severity) dan tingkat keseringan (likelihood) suatu kejadian yang ditimbulkan. populasi. bangunan dan lingkungan. Consequency Berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan pekerjaan. terkadang) dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan. prose identifikasi risiko juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman terdahulu atau masalah yang serupa. 103 . 2. mekanik. Selain sejumlah metode di atas. konsultasi dengan pihak pekerja. inspeksi atau audit K3 di tempat kerja. biologi.

kondisi area kerja. 1999). Faktor probabilitas juga berkaitan dengan faktor perilaku pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Probabilitas Merupakan besaran kemungkinan timbulnya risiko.Analisis risiko adalah kegiatan menganalisis suatu risiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan dari akibat suatu risiko (Purwanto. Ditentukan dengan menganalisis frequensi paparan bahaya terhadap pekerja. kondisi peralatan kerja. kondisi area kerja dan perilaku pekerja. peralatan kerja. keterbatasan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki pekerja saat pekerja seperti kondisi fisik pekerja yang sakit saat melakukan 104 . Dalam bekerja. yang digunakan dalam proses kerja. 2006). b. Hal itu dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap bahaya dan sumber risiko yang ada dalam proses kerja dan di tempat kerjanya. Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis risiko adalah : a. jumlah dan karakteristik pekerja yang terpapar bahaya. Sumber risiko Merupakan asal atau timbulnya risiko yang dapat berupa material. pekerja dapat berperilaku tidak aman. jumlah dan karakteristik bahaya yang memapar pekerja. serta efektifitas tindakan pengendalian bahaya yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuan dilakukannya analisis risiko adalah untuk membedakan antara risiko kecil dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko (AZ/NZS 4360.

pekerjaan atau stress yang dialami pekerja yang berpengaruh dalam penurunan konsentrasi pekerja. kerugian finansial rendah Membutuhkan penanganan P3K.1 dan tabel 2. Cidera berat. yaitu peluang dan akibat. penanganan membutuhkan bantuan pihak luar. Analisis risiko kualitatif Umumnya pada metode ini menggunakan bentuk matriks risiko dengan dua parameter. menimbulkan kerugian akibat berkurangnya kemampuan berproduksi.1 Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif Level 1 2 Deskripsi Insignificant Minor Definisi Tidak terjadi cidera. c. Skala ukur konsekuensi dan kecenderungan (likelihood) secara kualitatif menurut Risk Management AS/NZS (1999) yang dapat dilihat pada tabel 2. penanganan dilakukan tanpa bantuan pihak luar. Ditentukan dengan analisis atau kalkulasi statistik berdasarkan data-data yang terkait atau melakukan estimasi subjektif berdasarkan pengalaman terdahulu. kerugian finansial tinggi. Konsequensi Merupakan besaran dampak yang ditimbulkan dari risiko. Menurut AZ/NZS 4360 (1999) terdapat tiga metode yang digunakan dalam menganalisis risiko di tempat kerja : 1. 3 Moderate 4 Major 105 . efeknya mempengaruhi tetapi tidak merugikan lingkungan sekitar. Tabel 2. kerugian finansial besar. Membutuhkan penanganan medis.2. kerugian finansial sedang.

Menurut AS/NZS 4360:1999. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Tabel 2. Terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi dari paparan dengan probabilitas terjadinya risiko.2 Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif Level A B C D E Definisi Pasti terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Akan terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Sewaktu-waktu mungkin akan terjadi Sewaktu-waktu dapat terjadi Mungkin terjadi pada keadaan-keadaan tertentu saja Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Deskripsi Almost Likely Possible Unlikely Rare 5 Catasthropic 2. perbedaannya yaitu uraian atau deskripsi dari parameter yang ada pada analisis semikuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. yaitu probabilitas (likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi. analisis ini menghasilkan prioritas yang lebih rinci dibandingkan dengan analisis kualitatif. efeknya mempengaruhi dan merugikan lingkungan sekitar. Pada prinsipnya metode ini hampir sama dengan analisis kualitatif. yaitu: 106 . analisis semikuantitatif mempertimbangkan kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen. Analisis Semikuantitatif Analisis semikuantitatif bukan bagian dari analisis kuantitatif. karena risiko dibagi menjadi beberapa kategori.Menyebabkan kematian. Dalam metode analisis semikuantitatif terdapat 3 unsur yang dijadikan pertimbangan. kerugian finansial yang sangat besar.

Paparan (exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi interaksi antara sumber risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja serta Kategori Catastrophic Rating 100 50 25 15 5 1 menggambarkan kesempatan yang terjadi ketika sumber risiko ada 107 . kerusakan sementara terhadap lingkungan.000-$50. Tingkat konsekuensi metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2.000-$500.000$2. Disaster Kematian. Very serious Cacat atau penyakit yang menetap.a. kerusakan besar-besaran. kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat.000. atau penyakit yang ringan. Konsekuensi (consequences) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek yang ditimbulkan oleh sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Important Membutuhkan penanganan medis. Serious Cidera atau penyakit yang serius tetapi sementara (tidak menetap).3 Kategori Konsekuensi Secara Semikuantitatif Deskripsi Kerusakan yang sangat parah dengan kerugian di atas $1. kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan dengan kerugian $500. kerugian $50. Tabel 2.000. Noticeable Luka ringan. efeknya dapat dirasakan tetapi tidak terlalu merugikan.000.000. memar. kerugian $5. terhentinya aktivitas.3. dan menetap terhadap lingkungan. efek yang merugikan terhadap lingkungan. kerusakan kecil dengan kerugian produk sebesar <$500. kerugian sebesar $500-$5.000.000.000. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) b.

5 : Risk Management AS/NZS 4360 (1999) c. Tingkat konsekuensi tersebut akan ditentukan ke dalam beberapa kategori tingkat paparan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.5 Kategori Likelihood Secara Semikuantitatif Kategori Deskripsi Almost certain Akibat yang paling mungkin timbul apabila kejadian tersebut terjadi Likely Kemungkinan terjadi 50-50 Rating 10 6 108 .4 KategorExposure Secara Semikuantitatif S Kategori u Continously m Frequent Occasionaly b Infrequent e Rare r Very rare Deskripsi Terjadi secara terus-menerus atau setiap hari Terjadi kira-kira satu kali setiap hari Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun Pernah terjadi tetapi sangat jarang Tidak pernah terjadi Rating 10 6 3 2 1 0. Kemungkinan (likelihood) Kemungkinan adalah nilai yang menggambarkan kecenderungan terjadinya konsekuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan.5 Tabel 2. Tabel 2.yang akan diikuti oleh dampak atau konsekuensi yang akan ditimbulkan. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun.6 Kategori Tingkat Risiko (Level of Risk) dengan Metode Semikuantitatif Tingkat Risiko (Level of Risk) >350 Comment Very high Tindakan Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima 180-350 Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin 70-180 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis 20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan <20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 109 .1 Tingkat risiko (level of risk) pada analisis semikuantitatif merupakan hasil perkalian dari variabel konsekuensi. Practicaly Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak mungkin impossible terjadi Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 3 1 0.Unsual Remotely possible Conceivable Kemungkinan terjadi tetapi jarang Kejadian yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi Mungkin terjadi. paparan.6. Nilai risiko = Consequences (C) x Exposure (E) x Likelihood (L) Tingkat risiko metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan.5 0.

Masing-masing metode analisis di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Membuktikan kebenaran bahwa hasil intuisi kita bisa salah. c. 3. Metode Analisis 1. Total risiko adalah total dari semua potensi risiko. yaitu (Cross. a. Harus mengacu model. Kelebihan Lebih mudah Lebih cepat Lebih akurat daripada analisis kualitatif Lebih mudah dan cepat daripada analisis kuantitatif Kekurangan Kurang akurat daripada analisis yang lain a. b.3. Keuntungan analisis kuantitatif antara lain: a. 1998): Tabel 2. Waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada analisis lainnya b. Kualitatif 2. Dalam menentukan angka konsekuensi menjadi seragam. Kurang akurat daripada analisis kuantitatif b. Kuantitatif Lebih akurat daripada analisis lainnya 110 . b. b. Semikuantitatif a. Analisis Kuantitatif Merupakan langkah pertama dalam kuantifikasi risiko adalah mendefinisikan kemungkinan outcome.7 Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross (1998) No. Skala yang digunakan harus tepat untuk menentukan tingkat risiko a. Orang lebih percaya angka daripada penglihatannya. Kelemahan analisis kuantitatif antara lain: a. Mempertimbangkan secara detail faktor dari efek risiko.

lebih mudah dan cepat daripada analasis kuantitatif. dan pertimbangan pemaparan yang dijadikan faktor tingkat risiko menurut AS/NZS 4360:1999.b. 1998 Dari ketiga metode analisis yang ada. yaitu lebih akurat daripada analisis kualitatif. Sumber data harus memadai dan representative Sumber: Risk Management Study Notes. penulis menggunakan metode semikuantitatif berdasarkan pertimbangan kelebihan metode analisis risiko menurut Cross. 111 . Jean Cross.

Setelah mendapat hasil analisis risiko maka gambar pertama akan menjelaskan hubungannya dengan gambar kedua yaitu kejadian kecelakaan kerja yang didapat berdasarkan data kecelakaan kerja perusahaan .BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH 3.peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360. Maka dapat diketahui hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.1 Kerangka Berpikir Penelitian ini bertujuan menghubungkan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. 112 . Setiap tahapan analisis risiko. peneliti melakukan komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder internal. Pada gambar pertama . . 1999/2004. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 secara kulaitatif.

Analisis Risiko Menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan Menentukan nilai risiko = konsekuensi x paparan x kemungkinan Menentukan kategori tingkat risiko

Kejadian kecelakaan kerja di Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir Analisis Tingkat Risiko

113

3.2 Definisi Istilah Tabel 3.1 Definisi Istilah Tahapan Manajemen Risiko (Menjelaskan) No. Nama Istilah Definisi Sebuah sistematika Alat Ukur Pedoman Cara Ukur Wawancara dan

1. Analisis Risiko

a. proba

yang wawancara dan observasi lembar

b. conse

menggunakan informasi didapat menentukan seberapa kejadian sering tertentu

c. expos

yang observasi untuk

dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut kegiatan shredding 1.1 Probabilitas (probability) Kemungkinan terjadinya kecelakaan kegiatan shredding Pedoman Wawancara dan 10 pada proses

Alm

suatu wawancara dan observasi dari lembar proses observasi 3 6

pali

Like

kec

Uns

nam 1

Rem

keja

kem 0,5

Con

114

kec

pem 0,1

Pra

tida 1.2 Konsekuensi (consequence) Perkiraan dampak Pedoman negative mungkin dari Wawancara dan 100

Cat

yang wawancara dan observasi timbul lembar kegiatan observasi 50

keru

ling

Dis

proses Shredding

perm

terh 25

Ver

keru

perm 15

Seri

men

perm

buru 5

Imp

med

dala

keru 1

Not

ring

keru

pros 1.3 Pajanan (exposure) Frekuensi pajanan Pedoman bahaya kegiatan Wawancara dan 10

Con

dari wawancara dan observasi proses lembar

seha

115

shredding

observasi 6

Fre

seha 3

Occ

sam 2

Infr

sam 1 0,5

Rar

Ver

terja 1.5 Tingkat Risiko Kategori berdasarkan hasil ini Rumus analisis Mengkalikan dari risiko semi consequence likeklihood exposure . >350 x x

Ver

sam

perkalian kuantitatif

antara probability, “tingkat risiko consequence, dan exposure kegiatan Shreeding pada proses

180350 70180 20-70

Prio

sece

Sub

perb

Prio

<20

Acc

sela

116

kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah.2 Definisi Istilah Kecelakaan Kerja (Dijelaskan) No. 1. 2003) 117 . Nama Istilah Kecelakaan Kerja di Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk Definisi Alat Ukur Cara Ukur Kecelakaan kerja Pedoman Wawancara dan Gambaran kejad adalah kejadian Wawancara dan Observasi Shredder facility P yang tidak lembar observasi diinginkan yang berhubungan dengan pekrjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang.Tabel 3.

Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. unit Geocycle. 4.Hasil analisis risiko yang diperoleh dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT.2.1 Metode Penelitian Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Shredder facility.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4. yang berlokasi di Jalan Raya Narogong Kecamatan Kelapa nunggal Bogor. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2010 4.3. Informan 118 .Holcim Indonesia Tbk.2. Pada penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja diggunakan metode analisis risiko semikuantitatif berdasarkan standar AS/NZS 4360:1999/2004. PT.BAB IV METODE PENELITIAN 4.2. 4.2.

Sedangkan. Pekerja yang mengetahui kronologi kejadian kecelakaan kerja yang pernah terjadi Sebagai informan pada penelitian ini adalah : 1. pekerja shredder dan korban kecelakaan. korban kecelakaan kerja yang bertanggung jawab terhadap 4. selain itu data primer dapat pula diperoleh melalui observasi langsung dengan menggunakan alat dokumentasi berupa kamera. data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas OS&H.Kriteria informan pada penelitian ini adalah : 1. I 3.Holcim Indonesia Tbk yang berinteraksi langsung dengan proses Shredding. penanggung jawab Shredder.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility 4.Holcim Indonesia Tbk 2. Data sekunder diperoleh dari wawancara dan observasi kepada petugas OS&H berupa profil perusahaan dan data kecelakaan kerja di Shredder facility. Pekerja PT. Pekerja unit Shredder facility PT. petugas OS&H 2. Pekerja unit Shredder facility PT.4 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. yaitu dengan mengamati pekerja pada setiap tahapan proses shredding di PT Holcim Indonesia 119 . pekerja yang bertugas pada bagian pengoperasian shredder 4. penanggung jawab Shredder facility 3.

Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Instrumen Penelitian 1.2 120 . Penanggung jawab Shredder. Struktur Organisasi OH&S dan tahapan pekerjkaan Shredder facility 2. Data kecelakaan kerja Petugas OH&S.1 Data Sekunder No.Tabel 4. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Wawancara dan studi dokumen Pedoman Wawancara dan lembar observasi Petugas OH&S dan penanggung jawab Shredder Wawancara dan observasi Pedomana Wawancara dan lembar observasi Tabel 4.

Nama Data Sumber Metode Pemgumpulan Instrumen Penelitian 1. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360. dilanjutkan dengan identifikasi risiko menggunakan 121 . peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. 1999/2004. Risiko di Shredder Facility Wawancara Pedoman Wawancara 4. Diawali dengan penentuan ruang lingkup dengan melihat struktur organisasi OH & S PT. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Observasi Kamera 2.5 Pengolahan Dan Analisis Data Pada tahap awal penelitian ini.Data Primer No. Penanggung jawab Shredder.Holcim Indonesia Tbk dan tahapan pekerjaan di Shredder facility. Gambar pekerjaan Shredder facility Petugas OS&H.

mendapatkan gambaran kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada shredder facility dari sejak awal berdirinya. Data yang diperoleh dari hasil wawacara ini adalah kronologi kejadian kecelakaan kerja. kemudian melakukan analisis risiko dengan menggunakan metode analisis semikuantitatif berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard 4360:1999/2004 untuk menentukan konsekuensi. dampak kecelakaan kerja dan pengendalian yang saat itu diterapkan. Setelah mendapatkan nilai risiko. kemudian menentukan tingkat risiko dari setiap tahapan pekerjaan dalam bentuk skor.job safety analysis ( JSA) untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja.6 Validitas data 122 . dan kemungkinan.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. penyebab. Langkah selanjutnya yaitu menentukan nilai risiko dengan rumus: Nilai Risiko : Konsekuensi x paparan x kemungkinan . waktu kecelakaan kerja. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah. Selanjutnya tingkat risiko yang didapatkan dari hasil analisis risiko dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT. yaitu tahun 2008 dengan melakukan wawancara dan studi dokumentasi. 4. dan upaya pengendalian yang telah dilakukan pihak perusahaan. paparan.

Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Data 1. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 2. Dalam penelitian ini. Tabel 4.3 Tabel Triangulasi Sumber No. Risiko facility di Shredder Petugas penanggung Shredder. pekerja OS&H. Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 123 . Teknik triangulasi data ini digunakan untuk keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding suatu data. Data Kecelakaan Kerja Petugas penanggung Shredder. pekerja OS&H.Validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi data. peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode.

1. 2. Nama Data Profil Perusahaan Alur pekerjaan Metode Wawancara dan observasi Wawancara dan Observasi 124 . Tabel 4.Sedangkan triangulasi metode adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda.4 Triangulasi Metode No.

1 Struktur Organisasi OH&S dan Tahapan Pekerjaan Proses Produksi Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 5.1.1 Struktur Organisasi OH&S Corporate Holcim 125 . standar K3 perusahaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan sistem manajemen K3. maka dibentuk suatu tim yang ringkas tetapi memiliki kemampuan cepat dalam pembuatan peraturan.Tim K3 di PT Holcim Indonesia Tbk ini disebut tim OH&S yang memiliki tujuan mencapai nilai nihil “nil” kecelakaan pada karyawan. efisien dan produktif..1 Struktur Organisasi OH&S Sesuai dengan tujuan Sistem Manajemen K3 untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman. kontraktor dan pengunjung Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5.BAB V HASIL 5.

tema k3 bulanan.1. door to door OHS coaching. OH&S Pyramid ini wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota group Holcim dengan pencapauian green pyramid OH&S Green Pyramid Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5. hadiah untuk karyawan. Identifikasi Bahaya Identifikasi bahaya dilakukan secara serentak oleh seluruh organisasi.Dengan acuan kepada Undang-undang dan pemerintahan Indonesia serta OSHAS 18001. identifikasi bahaya ini disusun oleh perwakilan unit kerjayang tergabung dalam Multi Diciplinary Team dengan anggota 34 orang 2. Kampanye K2 Kampanye K3 yang dilakukan secara aktif seperti 10 prinsip keselamatan. Holcim mengembangkan OH&S Pyramid yang dijadikan standar K3 yang dibuat oleh Holcim dan diperkenalkan akhir tahun 2002.1 OH&S Project 1.1.2 Green Pyramid 5. 126 .

Pelaporan Bahaya Perlu tersedianyya sistem yang mudah bagi karyawan untuk melaporkan bahaya yang ditemuinya di tempat kerja. 5.majalah K3 untuk karyawan. Peningkatan skill fire brigade c. Sertifikasi juru las b. Safety Observation Tour Merupakan sarana untuk memperlihatkan kepedulian atasan akan keselamatan anggotanya 7. Kontraktor Training f. presentasi di manager forum. Induksi dan Training a. maka dibuatkan suatu sarana yang mudah dan jelas penanggungjawabnya untuk menindaklanjuti laporan bahaya dari karyawan. Promosi program K3 baru d. penghargaan bagi karyawan 3. Penghargaan bagi karyawan Perlu adanya penghargaan individu bagi karyawan yang berpartisipasi dalam program K3. Planned Inspection 127 . program ini baru diperkenalkan tahun 2006 6. Sertifikasi operator forklift 4. Pelatihak K3 di training center e.

selain untuk membina pekerja juga untuk memperlihatkan komitmen Atasan akan K3 12. Fire Volunteer Untuk mempercepat penanganan kebakaran dan kecelakaan 14. Safety Talk Adanya komunikasi antara Pekerja dan Atasan. diperkenalkan kepada seluruh pekerja semenjak April 2005 9.Untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan keselamatan di tempat kerjanya. 10 Peraturan Keselamatan Merupalakan pedoman bagi pekerja dan kontraktor akan peraturan keselatan di tempat kerja. OH&S Audit OH&S audit dilakukan secara berkala terhadap pelakasanaan sistem K3 128 . yang dilakukan pada bulan K3. 13. dengan melibatkan seluruh karyawan terutama karyawan tingkat dasar (member) 8. Kesehatan Tempat Kerja Menciptkan tempat kerja yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas pekerja 11. Induksi Keselamatan tamu adalah tanggung jawab Kita bersama. maka sudah kewajiban penerima tamu untuk memberikani induksi terhadap tamunya 10. Perlombaan K3 antar unit kerja Diperlukan adanya sarana yang dapat meningkatkan kerjasama yang terkait dengan K3.

Tujuan dari pembersihan handrail ini adalah agar fasilitas shredder berada pada kondisi yang bersih dan aman. Dimana Shredder adalah salah satu layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. Proses pencacahan limbah yang biasa disebut proses shredding terdiri dari beberapa tahapan yang saling berhubungan untuk setiap prosesnya. Untuk membersihkan handrail dari residu material. helper menggunakan air.1. Membersihkan handrail Tahap membersihkan Handrail ini dilakukan setiap awal shift atu 3 kali dalam sehari. Proses di Shredder facility dilalui oleh beberapa tahap. Posisi handrail berada melingkupi Shredder dan sebagian besar terletak pada ketinggian < 2 m. minyak atau solar. biasanya pada proses persiapan awal ini para pekerja melakukan housekeeping seperti a.5. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. seperti : 1.2 Tahapan Pekerjaan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 Shredder facility merupakan salah satu sub-bagian dari Geocycle. 129 . Tahap Persiapan Awal (Housekeeping ) diawali dengan proses persiapan awal yang bertujuan agar proses kerja berjalan dengan baik dan bersih.

Tujuan dari pengecekan chute magnet separator ini adalah melihat apakah chute magnet separator masih berfungsi dengan baik dan melihat apakah terdapat plak yang menempel pada chute magnet separator . c. Untuk adjusting belt conveyor. . Mengecek chute magnet separator Tahap mengecek chute magnet separator ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari. sebelum Shredder diaktifkan pada awal shift .b. Posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 m. Untuk melancarkan screen. helper menggunakan screw. helper menggunakan cutter. 130 . d. Membersihkan screen Tahap membersihkan screen ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari khususnya ketika ada material yang tersangkut pada screen. helper menggunakan bar (tongkat panjang). Untuk membersihkan plak pada chute magnet separator. Tujuan dari membersihkan screen ini adalah melancarkan screen dari material yang tersangkut. gunting atau bar (tongkat panjang). Adjusting belt conveyor (meluruskan belt conveyor) Tahap Adjusting belt conveyor ini dilakukan seminggu sekali. Tujuan dari Adjusting belt conveyor adalah meluruskan belt conveyor yang keluar dari jalur akibat material.

operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. Pada dasarnya kegiatan shredding di unit ini sudah dilakukan secara otomatis.Material yang dirapihkan oleh wheel loader adalah berbagai material limbah (cair dan padat ) khusus limbah cair.Material yang dimasukkan pada Hooper adalah berbagai material (cair dan padat). a. Shreeding material pada Hooper Tahap Shreeding material pada Hooper ini dilakukan setiap saat selama material tersedia.2. khusus 131 . Tujuan dari perapihan material oleh wheel loader ini adalah melihat agar material di storage rapi dan tidak berceceran keluar storage. pada tahap ini wheel loader yang memasukan material pada hooper. agar limbah cair lebih mudah bersatu dengan material lainnya. Perapihan material oleh wheel loader Tahap perapihan material oleh wheel loader ini dilakukan setiap hari. Shredding merupakan inti dari kegiatan pada Shredder facility. pekerja hanya bersifat mengawasi dan melakukan pembersihan. 3. a. proses ini merupakan tahap awal dari proses pencacahan limbah di unit Shredder facility. Proses Persiapan dan Penyimpanan Material Tahapan proses persiapan dan penyimpanan material pada storage antara lain. Shredding Procces Proses Shredding dilanjutkan dengan : Memasukan material menuju hooper shredder oleh wheel loader atau yang biasa disebut sebagai proses shredding.

Memasukan product pada box dan pengiriman product Kegiatan selanjutnya adalah proses memasukan material ke dalam box untuk diantarkan ke pre-heater untu proses selanjutnya. Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material Tahap Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dilakukan setiap hari. kegiatan ini dilakukan sesering mungkin oleh pekerja.limbah cair. b. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. tujuan dari menebar serbuk gergaji adalah agar permukaan yang terkena ceceran dari material cair tidak membuat permukaan di sekitar shredder dilakukan sesering mungkin oleh pekerja menjadi licin. Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 132 . tujuan dari memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material adalah agar aroma material yang sangat menyengat bisa sedikit diminimalisir. . Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Tahap menebar serbuk gergaji dilakukan setiap hari. pada tahap ini helper yang memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. khususnya saat terdapat residu dari material yang bersifat cairan. kegiatan yang dilakukan pada saat ini adalah: a. 4. kegiatan ini c. kegiatan ini dilakukan di lokasi penyimpanan hasil akhir product. pada tahap ini helper yang melakukan penebaran serbuk gergaji.

Pengendalian risiko yang telah dilakukan pada proses Shredding antara lain: a. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material. handrail sebagai alat pengaman 133 . tersedianya hydrant . pada tahap ini box dinaikan menggunakan forklift menuju truck. membahas kecelakaan kerja dan hal-hal lain yang berkaitan dengan safety. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material untuk dijadikan bahan bakar alternative pembuatan semen. Safety briefing Kegiatan ini dilaksanakan sebelum jam kerja.Tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk dilakukan setiap material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. Seperti sosialisasi penggunaan APD. b. Mengirimkan box menuju tempat pembakaran Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran dilakukan setiap ketika material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. Material yang digunakan adalah limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah.menuju tempat pembakaran. 2 orang helper.. wheel loader. Proses shredding ini melibatkan pekerja sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang penanggung jawab lapangan. pada tahap ini box dibawa truck. truck dan crane. Peralatan yang digunakan yaitu mesin pencacah atau shredder serta peralatan pendukung seperti bobcap. Sudah terpasangnya alat pengaman pada peralatan kerja seperti safety guard (batas antara mesin dengan area kerja) serta rail guard pada platformyang berada pada ketinggian. b.

dan helper . penanggung jawab shredder. e. Penggantian APD secara berkala terhadap peralatan kerja khususnya yang berkaitan dengan safety. gloves. safety shoes. Tahun 2010 Identifikasi risiko keselamatan kerja pada proses shredding dilakukan dengan menggunakan metode JSA . earmuff. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja terpeleset akibat kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge.1 Membersihkan Handrail Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. adanya emergency stop pada panel control untuk menghentikan proses kerja ketika terjadi kecelakaan kerja.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset dan terjatuh .ketika menaiki tangga.1 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal (Housekeeping) 5. Pemasangan warning sign tentang penggunaan APD d. APD yang digunakan terdiri dari helmet.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk. paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan 134 .Tersedianya alarm pada crane yang bertujuan untuk menandakan bahwa crane sedang beroperasi serta penerapan LOTO pada semua mesin. 5.2. goggle.1.2. mask organic dan seragam kerja lengan panjang 5. c. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pihak perusahaan.

safety briefing sebelum bekerja. sarung tangan.safety shoes.1. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. dan menggunakan APD lengkap (helmet.2 Mengecek Chute Magnet Separator Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. safety briefing sebelum bekerja dan menggunakan APD lengkap(helmet. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. Perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. seragam lengan panjang). Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. 5.safety shoes. organic mask. memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko terjatuh dapat terjadi karena handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja.2. melakukan house keeping.goggle.safety shoes. pekerja tidak selalu memegang handrail dan perusahaan telah melakukan upaya engineering control seperti memasang handrail pada platform. organic mask.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah terpeleset dan tersandung roller. penanggung jawab shredder.goggle. memasang warning sign 135 . sarung tangan. paint sludge maupun zat cair lainnya serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. seragam lengan panjang). dan helper . Administrative control seperti memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko terpeleset terjadi karena kondisi lantai Shredder yang mendaki dan licin karena ceceran oil sludge.

1. 136 . safety briefing sebelum bekerja. terpeleset. melakukan house keeping. menyabut benang. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah tangan yang terputus. Risiko terjatuh dapat terjadi karena lokasi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 M. 5. Administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.tentang penggunaan APD.2.safety shoes. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. safety briefing sebelum bekerja. penganggung jawab shredder. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. terjatuh. organic mask. dan menggunakan APD lengkap. Risiko tangan terputus disebabkan karena mesin screen yang berputar atau saat helper akan menyabut benang atau benda lainnya yang tersangkut pada screen. seragam lengan panjang). helper menggunakan benda tajam atau bar.goggle. dan menggunakan APD lengkap. terbentur penutup screen.3 Membersihkan Screen Tahap pekerjaan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatanhambatan seperti. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang telah dilakukan yaitu tersedianya LOTO (Lock out tag out). dan helper. sarung tangan. dan menggunakan APD lengkap(helmet. memasang warning sign tentang penggunaan APD. mengambil batu. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang handrail pada tangga dan platform.

Untuk risiko terjatuh dapat terjadi saat helper memasuki screen. sehingga memungkinkan perkerja terbentur dengan penutup screen. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah pergelangan tangan yang terkilir.Risiko terpeleset dapat terjadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. terpeleset. dan menggunakan APD lengkap.2. safety briefing sebelum bekerja. dan menggunakan APD lengkap. penganggung jawab shredder.1.4 Adjusting Belt Conveyor Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H. hal ini dapat terjadi karena penutup screen memiliki batas maksimal yang rendah saat dibuka. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya 137 . tangan yang terputus. dan menggunakan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. upaya perusahaan untuk mengendalikan risiko keselamatan kerja terjatuh ini adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja. 5. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan persusahaan adalah administrative control seperti memasang warning sign mengenai pemakaian APD. dan kebakaran. terjatuh. Sedangkan untuk risiko terbentur penutup screen. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan untuk risiko keselamatan kerja terbentur screen adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD.Risiko pergelangan terkilir dapat terjadi karena. helper menggunakan tangannya secara manual untuk memutar belt yang cukup berat. ketika helper melakukan adjusting belt conveyor. dan helper. karena helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi.

Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. dan penggunaan APD lengkap. handrail. administrative control 138 .administrative control dengan melakukan safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan dengan safety briefing sebelum bekerja. administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. Untuk risiko tangan yang terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. dengan membuka safety guard yang telah terpasang. dan penggunaan APD lengkap. Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan.Untuk risiko terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki.

safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah. dan penggerindaan. pengelasan. engineering control dengan tersedianya hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran. 139 . Hasil identifikasi risiko pada tahap persiapan awal (Housekeeping) secara rinci dapat dilihat pada tabel 5. administrative control dengan Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api.Sedangkan untuk risiko kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran.1.

Tabel 5.1 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Skenario Risiko Kondisi tempat kerja Terpeleset licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Pengendalian - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - lantai yang dibuat kasar - mersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang helper - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja

Kondisi tempat kerja Terjatuh < 2m berada pada ketinggian (< 2 m)

2

Mengecek chute Kondisi tempat kerja Terpeleset magnet separator licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnyaserta kondisi jalan yang mendaki

140

Posisi Chute Magnet Terjatuh > 2m Separator yang berada pada ketinggian (> 2 m)

4

Membersihkan Screen

Ketika helper Tangan terputus membersihkan screen, screen berputar karena LOTO tak terpasang.

- melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - menerapkan LOTO (Lock out tag out) pada panel 1 dan 2 - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan

4.

Adjusting conveyor

Kondisi permukaan screen yang licin dan tidak rata, dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Saat helper memasuki screen, helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi belt Ketika helper melakukan adjusting, helper menggunakan tangannya secara manual untuk

Terpeleset

Terjatuh

Pergelangan tangan terkilir

141

memutar belt yang cukup berat. Ketika Helper Tangan terputus melakukan adjusting belt conveyor secara langsung dengan membuka safety guard yang telah terpasang Ketika helper berlari Terjatuh mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan

- Memasang safety guard pada screw - Safety briefing sebelum bekerja

Kondisi jalan yang Terpeleset licin akibat ceceran residu, serta berjalan secara terburu-buru

Ketika helper Kebakaran memotong belt yang miring menggunakan cutting torch, tanpa menghiraukan

- menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - Menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - Memasang alarm kebakaran - Memasang hydrant dan APAR - Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api, pengelasan, dan

142

working permit

penggerindaan - Safety briefing sebelum bekerja - Menggunakan APD lengkap.

143

144 . risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.2.2.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.1 Perapihan material oleh wheel loader Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H.2 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran.5. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. penganggung jawab shredder. dan menggunakan APD lengkap. Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja.2. menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS). dan helper. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah engineering control dengan pemasangan antena pada Wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan serta tersedianya cermin agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar.

Memasang hydrant dan APAR . menggunakan APD lengkap 145 .safety briefing sebelum bekerja .melakukan house keeping dan safety control.safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang antenna pada kendaraan yang sedang dipakai .2 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan penyimpanan Material facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Perapihan material Terjadi karena short Kebakaran oleh Wheel Loader circuit atau karena gesekan antara material yang dirapihkan Tidak adanya Tertabrak/Menabra koordinasi pengemudi k dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation Pengendalian .Memasang alarm .menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang penggunaan APD .Tabel 5.

Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas.2. sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar.3 Identifikasi Risiko pada Tahap Shredding 5. Risiko tertimpa material terjadi karena muatan hooper yang terlalu penuh. tersedianya hydrant dan APAR. penanggung jawab shredder. safety briefing sebelum bekerja. Risiko tertabrak/menabrak terjadi karena tidak ada koordinasi antar pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck. memasang warning sign tentang penggunaan APD.5. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah. tertabrak/menabrak dan tertimpa material.2.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kebakaran.1 Tahap memasukkan material pada Hooper Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. dan menggunakan APD lengkap . Upaya pengendalian yang telah dilakukan perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan. safety briefing sebelum bekerja. dan helper . Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja kebakaran akibat mixing material pada hooper adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. dan helper 146 .3. dan penggunaan APD lengkap. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.

penanggung jawab shredder.2 Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. dan helper .Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. melakukan housekeeping.2. sehingga untuk material yang ringan 147 . safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap.3. safety briefing sebelum bekerja.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu. dan penggunaan APD lengkap.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. dan penggunaan APD lengkap 5.sedang berada di sekitar hooper. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. tertimpa material ringan. safety briefing sebelum bekerja.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset. tersandung. kebakaran. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.

safety briefing sebelum bekerja. 148 . dan penggunaan APD lengkap. tersedianya hydrant dan APAR serta alarm. 5. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. tersandung dan tertimpa material ringan.2. dan helper . Upaya pengendalian risiko keselamatan kerja yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. safety briefing sebelum bekerja. karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar. penanggung jawab shredder. seperti merokok.3.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.sering berjatuhan.3 Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder Dan Material Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset. Sedangkan untuk risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi apabila helper tidak mengikuti prosedur yang ada.

Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. 149 . dan penggunaan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. dan penggunaan APD lengkap. sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.

Tabel 5.memasang sprinkler tepat diatas hooper . selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau ketika mixing material memiliki titik api yang rendah. karena tidak ada Tertabrak/menabra koordinasi antar k pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck .safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap 150 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .menggunakan APD lengkap Memasukkan material Pada Hooper ada Kebakaran pada hooper gesekan yang dapat menimbulkan panas.memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang hydrant dan APAR .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD .mengganti tali sling pada crane .3 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.menyediakan Standard operation mengenai koordinasi berkendara .memasang alarm kebakaran .

safety briefing sebelum bekerja .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair . sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar.safety briefing sebelum bekerja .karena muatan hooper Tertimpa Material yang terlalu penuh.memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .memasang warning sign tentang penggunaan APD . menggunakan APD lengkap .melakukan house keeping . dan helper sedang berada di sekitar hooper. 151 .menggunakan APD lengkap Disekitar facility peralatan berserakan Shredder Tersandung banyak yang . sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.menggunakan APD lengkap Helper bekerja Tertimpa material dibawah belt conveyor yang berjalan.menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja .melakukan house keeping dan safety control. 2 Menebar serbuk karena pada lantai Terpeleset gergaji pada lantai shredder facility yang terkena residu terdapat ceceran residu .safety briefing sebelum bekerja .

memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang penggunaan APD . .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility . karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar .memasang alarm kebakaran .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .safety briefing sebelum bekerja . karena helper bekerja Tertimpa Material dibawah belt conveyor yang berjalan.menggunakan APD lengkap 3. Memberikan parfume karena pada lantai Terpeleset pada fasilitas shredder shredder facility dan material terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.melakukan house keeping .safety briefing sebelum bekerja .Helper tidak Kebakaran mengikuti prosedur yang ada. seperti merokok.menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja 152 .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .Tersedianya hydrant dan APAR . karena disekitar Tersandung Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.memasang sprinkler tepat diatas hooper . menggunakan APD lengkap .melakukan house keeping dan safety control.

.menggunakan APD lengkap 153 .sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.

safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap. Sedangkan untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena kurangnya koordinasi antar pengemudi forklift dan truck. dapat terjadi saat helper menaikan box dengan bobcap ke truck. penanggung jawab shredder. dan menggunakan APD lengkap . tertimpa material dan tertabrak/menabrak.5. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kejatuhan box. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.Upaya pengendlaian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.4.2. dan penggunaan APD lengkap. dapat terjadi ketika box dinaikan menuju truck.2. dan helper . Untuk risiko tertimpa material. memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan material yang ada dalam box berjatuhan.1 Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.4 Identifikasi Risiko pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5.Risiko keselamatan kerja kejatuhan box. safety briefing sebelum bekerja. 154 .

dapat terjadi karena guard yang berada pada truck sangat pendek.2.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu box terjatuh dan tertabrak/.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah administrative control dengan adanya SOP mengenai cara berkendaraan di area proyek. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena truck berjalan di jalan-jalan utama. wheel loader.Risiko keselamatan kerja box terjatuh. sehingga memungkinkan box terjatuh. dan disediakannya mirror blind spot agar pengendara bisa melihat ke segala arah dalam berkendara. khususnya di jalanjalan yang sulit melihat arah.5. 155 . dan helper . penanggung jawab shredder.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. forklift dan kendaraan pribadi. dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility dan safety briefing sebelum bekerja.4. yaitu mendahulukan kendaraan berat terlebih dahulu ketika berjalan.menabrak.

safety briefing sebelum bekerja .Tabel 5.memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility .safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap .5 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product pada fasilitas Shredder PT. penggunaan APD .menggunakan APD lengkap .Tersedianya Standard Operation mengenai cara koordinasi koordinasi antar k berkendaraan pengemudi forklift dan .memasang warning sign tentang truck.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .memasang warning sign tentang cara Mengirimkan box Karena guard yang Terjatuh bekerja aman di Shredder facility menuju tempat berada pada truck safety briefing sebelum bekerja sangat pendek. dan material yang ada dalam box berjatuhan 2.memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility . 156 .safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap Menaikan box yang helper menaikan box Kejatuhan box sudah terisi oleh dengan bobcap ke material pada truck truck ketika box dinaikan Tertimpa material menuju truck. karena kurangnya Tertabrak/menabra .

wheel loader. forklift dan kendaraan pribadi . box Truck berjalan di Tertabrak/menabra jalan-jalan utama.pembakaran sehingga memungkinkan terjatuh. k dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck.tersedianya standard operation mengenai cara berkendaraan di area proyek .Tersedianya mirror blind spot 157 .

Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper hanya mengalami luka ringan atau memar jika terjatuh. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable.5. helper tidak selalu memegang handrail.1 Analisis Risiko pada Tahap Persiapan 5. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan membersihkan handrail setiap hari pada awal shift.3.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes. 158 . b. Terjatuh < 2m Pada tahap membersihkan handrail. Hal ini dapat terjadi kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.3.1.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak memegang handrail. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari daiawal shift. paint sludge maupun zat cair lainnya dan helper tidak menggunakan safety shoes.1 Membersihkan handrail Saat membersihkan handrail terdapat risiko kepala terpeleset dan terjatuh < 2m. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. Terpeleset Pada tahap membersihkan handrail helper memiliki risiko terpeleset. a.

Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable b. Nilai kemungkinannya adalah 0. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan mengecek chute magnet separator terjadi sekali setiap hari. namun tidak pernah terjadi meskipun paparan bertahuntahun.1.2 Mengecek Chute Magnet Separator Saat mengecek chute magnet separator. 159 .3.5.5 (conceivable) karena risiko ini mungkin terjadi.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 45 dengan kategori priority 3. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 15 (serious) karena helper akan mengalami cidera atau penyakit yang serius jika helper jatuh > 2 m. a. terpeleset. Terpeleset Risiko terpeleset saat menegecek chute magnet separator memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. tersandung roller. dan terjatuh. Terjatuh > 2m Risiko terjatuh saat helper menegecek chute magnet separator karena posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2m. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari.

3. Nilai kemungkinannya 0. Nilai kemungkinannya adalah 0.1.5. a. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen.3 Membersihkan screen Helperan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatan-hambatan seperti. mengambil batu. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. b. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika mesin screen berputar dan helper berada di dalamnya untuk melancarkan screen.Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak 160 . Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat tejadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. menyabut benang. hal ini mungkin terjadi apabila pekerja tidak mematuhi peraturan penerapan LOTO (lock out tag out). Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 25 (very serios) karena helper mengalami tangan terputus yang menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.

Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable c. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena Kejadian ini sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Terbentur Penutup Screen Risiko keselamatan kerja terbentur penutup screen dapat terjadi karena penutup screen tidak bisa terbuka secara maksimal. 5.1. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terbentur helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahuntahun. Nilai kemungkinannya 0. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. tangan yang terputus. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terjatuh helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. terpeleset dan kebakaran. d. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable.4 Adjusting belt conveyor Pada tahapan ini terdapat risiko pergelangan tangan terkilir. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. terjatuh.3.menggunakan safety shoes. Terjatuh Risiko keselamatan kerja terjatuh dapat terjadi ketika helper menaiki pemisah screen . sehingga posisi penutup screen rendah. 161 .

Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangta kecil kemungkinannya.a. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai konsekuensi dari risiko ini adalah 1 (noticeable) karena ketika tangan terkilir pekerja/ helper hanya akan memgalami luka ringan atau memar. ketika helper tidak membuka safety guard yang terpasang. Pergelangan tangan terkilir Risiko keselamatan kerja pergelangan tangan terkilir dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting secara manual. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai kemungkinannya 3 (unusual).Nilai konsekuensi dari risiko tangan terputus adalah 25 (very serious) karena akan menimbulkan cacat atau penyakit yang menetap.Nilai paparannya adalah paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. dengan membuka safety guard yang telah terpasang. artinya kemungkinannya tetap ada untuk terjadi. tetapi jarang terjadi.Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial 162 . Nilai paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 9 dengan kategori acceptable b. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung.

Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0.5 dengan kategori acceptable.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. Terjatuh Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan.5 dengan kategori acceptable.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Nilai konsekuensi dari risiko terjatuh adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. e. 163 . Nilai konsekuensi dari risiko terpeleset adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.c. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset.

Maka. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.6 164 . Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada belt conveyor akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan. Kebakaran Risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. nilai risiko kebakaran adalah 450 dengan kategori very high.f.Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) apabila helper selalu menggunakan cutting torch untuk memotong belt.

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.5 (conceivable) 75 165 .5 (conceivable) 0. Membersihkan screen Tangan terputus 25 (very serious) 6 (frequent) 45 6 (frequent) 0.6 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal Shredder facility PT.Tabel 5.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) Nilai Risiko 3 Terpeleset 6 (frequent) Terjatuh < 2m 2 Mengecek chute magnet separator 6 (frequent) 3 Terpeleset 6 (frequent) 3 Terjatuh > 2 m (serious) 3. No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Risiko Konsekuensi (C) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 15 Paparan (E) Kemungkinan (L) 0.

5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 75 Terjatuh 1.5 (conceivable) 1 3 Terjatuh 6 (frequent) 3 Terbentur penutup Screen 4. Adjusting belt conveyor Pergelangan terkilir Tangan terputus 6 (frequent) (remotely possible) 3 (Unusual) 1 6 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 9 (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 (remotely possible) 0.Terpeleset 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 6 (frequent) 0.5 Terpeleset 1.5 (conceivable) 0.5 Kebakaran (very serious) 6 (Likely) 450 166 .

nilai risiko kebakaran adalah 750 dengan kategori very high.1 Perapihan material oleh wheel loader a. Analisis Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. tetapi jarang terjadi.nilai 167 .2.3. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi. b. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.2. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.3. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada storage akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adah tertabrak/menabrak.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.Maka.5. tetapi jarang terjadi.Maka.

7 168 . Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.

7 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material PT.Tabel 5.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 3 (Unusual) 750 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 250 169 .

5. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena 170 . b.2. Analisis Risiko pada Tahap Shredding 5. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) kemungkinan terjadi 50-50. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. dan tertimpa material . Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.Maka. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.3. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. nilai risiko kebakaran adalah 1500 dengan kategori very high. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah.2.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertabrak/menabrak.Risiko. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada hooper akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.3.1 Tahap memasukkan material pada Hooper a.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.

dan helper sedang berada di sekitar hooper . tetapi jarang terjadi. Nilai konsekuensi dari risiko tertimpa material adalah 1 ( noticeable) tertimpa material karena tertimpa material akan mengakibatkan luka ringan atau memar.kegiatan dilakukan setiap hari.Maka. Tertimpa Material Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertimpa material. 5.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu a. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. tetapi jarang terjadi.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 10 dengan kategori acceptable.Maka. Risiko tertimpa material dapat terjadi apabila muatan hooper yang terlalu penuh.2. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. c. Nilai kemungkinan dari risiko tertimpa material adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.3. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil 171 .nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Terpeleset Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu .

nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Nilai paparan dari risiko kebakaran adalah Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.5 (conceivable) karena risiko ini hanya mungkin terjadi 172 . c. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena ceceran residu. Tersandung Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya.kemungkinannya. b. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. nilai konsekuensi 25 (very serios) karena kebakaran ini menyebabkan kerussakan sementara terhadap lingkungan. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. d.

memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. b.4 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material a. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya apabila pekerja menggunakan safety shoes.Maka. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable.3. 5. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.ketika helper tidak mematuhi peraturan seperti merokok. Terpeleset Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. 173 . nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial.2. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Tersandung Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.

Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu.c.8 174 .

Tabel 5. Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 1 (noticeable) 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 6 Tersandung 1 6 (frequent) 18 175 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.8 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT. No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 6 (Likely) 1500 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 1 250 Tertimpa Material 1 (noticeable) 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 2.

5 (conceivable) 1 Terpeleset 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 1 Tertimpa Material Ringan 6 (frequent) (remotely possible) 6 6 6 75 3.(noticeable) 1 Tertimpa Material Ringan 1 (noticeable) 25 Kebakaran (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 6 (frequent) 6 (frequent) (remotely possible) 0. Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Tersandung 6 (frequent) 18 176 .

Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 10 dengan kategori acceptable. b. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila tertimpa material yaitu luka ringan atau memar. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 50 dengan kategori priority 3. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 5 (important) karena akibat terburuk apabila kejatuhan box membutuhkan penanganan medis. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Analisis Risiko pada Tahap Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5.2. 177 .3.3.2.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk a. Tertimpa Material Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.5. khususnya saat membutuhkan bahan bakar. Nilai paparannya 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Maka. khususnya saat membutuhkan bahan bakar.

Nilai konsekuensi dari risiko box terjatuh adalah 1 ( noticeable) karena box terjatuh hanya kerusakan keceil dengan kerugian produk ysng tidak banyak. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi.Maka.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 30 dengan kategori priority 3. 5.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. 178 .2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran a.Risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada mobil truck sangat pendek. Box terjatuh Risiko keselamatan kerja saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah box terjatuh.3.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk adalah adah tertabrak/menabrak. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. tetapi jarang terjadi.2.c. tetapi jarang terjadi.Maka.

9 179 . Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.b. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Tertabrak/menabrak Risiko keselamatan kerja saat saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah tertabrak/menabrak. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. tetapi jarang terjadi. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.Maka.

No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Konsekuensi (C) 5 Paparan (E) Kemungkinan (L) 1 Nilai Risiko Kejatuhan box (important) 10 (Continously) (remotely possible) 1 50 Tertimpa material 1 (noticeable 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 1 (noticeable) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) (remotely possible) 250 2. Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Box terjatuh 10 (Continously) 3 (unusual) 30 1 10 (Continously) (remotely possible) 250 180 .Tabel 5.9 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.

penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO). pembuatan tangga yang lebih aman. serta memberikan reward dan punishment. Risiko yang paling tinggi adalah kebakaran yang termasuk dalam kategori very high. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. terjatuh pada ketinggian < 2 m.Sedangkan risiko terjatuh pada ketinggian > 2 m termasuk kategori priority 3 berkesinambungan. terbentur penutup screen dan pergelangan terkilir. penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. risiko terpeleset . Hasil evaluasi risiko pada tahap persiapan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. dan penggerindaan. Tahun 2010 5. seperti tangga yang memiliki footstep yang lebar. dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.5.4.1 62 .4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk. yaitu mengharuskan adanya perbaikan. seperti penggunaan APD. yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. pengelasan. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. termasuk kategori acceptable. yaitu aktivitas perlu dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan.1 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Dan yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara untuk risiko tangan terputus termasuk kategori substansial.

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .1 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT. seperti pengtingnya penggunaan APD .Tabel 6.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Risiko Membersihkan handrail Terpeleset Nilai Risiko 3 Kategori Risiko Acceptable Rekomendasi .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign Terjatuh < 2 m 3 acceptable 2 Mengecek chute Terpeleset 3 acceptable 62 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .

63 magnet separator terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .penerapan sistem kunci Lock Terjatuh > 2 m 45 Priority 3 3 Membersihkan screen Tangan terputus 75 substansial 63 .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti tangga yang memiliki footstep .pembuatan tangga yang lebih aman.

Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Terpeleset 3 acceptable Terjatuh 3 acceptable Terbentur penutup screen 6 acceptable 64 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .64 Out Tag Out (LOTO) .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO) .65 seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Adjusting belt conveyor Pergelangan tangan terkilir 9 Acceptable Tangan terputus 75 Substansial Terjatuh 1.5 Acceptable 65 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati . seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD 4.

.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .5 Acceptable Kebakaran 450 Very high 66 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Terpeleset 1.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.66 .penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD . pengelasan. dan penggerindaan. .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .

Hasil evaluasi risiko pada tahap pelaksanaan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.2 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap perapihan material oleh wheel loader. Risiko kebakaran termasuk kategori very high yang artinya aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima.4. serta memberikan reward dan punishment . yaitu Perlu pengendalian sesegera mungkin. Tindakan yang perlu dilakukan adalah pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .2 62 . Dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain.5. dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. pemasangan smoke atau heat detector serta pemasangan sprinkler pada storage. risiko tertabrak/menabrak masuk kedalam kategori priority 1.

dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .Tabel 6.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .pemasangan sprinkler pada storage .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .2 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Shredder facility PT.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Very high Rekomendasi .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Kebakaran 750 priority 1 Tertabrak/mena brak 250 62 .pemasangan smoke atau heat detector .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.

3 62 .4. tertimpa material termasuk kategori acceptable. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. penerapan housekeeping dengan benar. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. risiko terpeleset. dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain. memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.3 Evaluasi Risiko pada Tahap Shredding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap shredding.5. . Risiko tertabrak/menabrak yang masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya perlu pengendalian sesegera mungkin Untuk risiko tertinggi adalah risiko kebakaran pada hooper akibat mixing material yang termasuk dalam kategori very high yang artinya Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. mengharuskan adanya perbaikan secara teknis . memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. serta memberikan reward dan punishment. Risiko kebakaran saat housekeeping termasuk kategori substansial . Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. tersandung. pemasangan smoke atau heat detector.

.pemasangan smoke atau heat detector .memasang jaring dibawah belt 62 . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .3 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada Fasilitas Shrededder PT.dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Nilai Risiko 1500 Kategori Risiko Very high Kebakaran Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 Tertimpa Material Acceptable 10 Rekomendasi .Tabel 6.memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . seperti pengtingnya penggunaan APD . .penerapan housekeeping dengan benar . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja 2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 6 Acceptable Acceptable Tersandung 18 63 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .63 conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

memberikan reward dan punishment kepada pekerja . Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Terpeleset 6 Acceptable 64 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tertimpa Material Ringan 6 Substansial Kebakaran 75 3.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .64 Acceptable . seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tersandung 18 Acceptable Tertimpa Material Ringan 6 65 .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.65 Acceptable . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .penerapan housekeeping dengan benar .

perlu pengendalian sesegera mungkin. Risiko paling tinggi adalah risiko tertabrak/menabrak yang termasuk kategori priority 1 yaitu. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. Risiko kejatuhan box dan box terjatuh di jalan termasuk kategori priority 3 .4. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan dan penyimpanan material risiko tertimpa material termasuk kategori acceptable yang artinya yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck.4. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. serta memberikan reward dan punishment.4 62 .5. yaitu Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan . memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box .

.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .4 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material pada Fasilitas Shrededder PT.memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang 62 .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.memberikan reward dan punishment kepada pekerjaberorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Priority 3 Kejatuhan box 50 acceptable Tertimpa material 10 Tertabrak/mena 250 Priority 1 Rekomendasi .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Tabel 6. .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .

pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Priority 3 Box terjatuh 30 Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 63 . .63 brak dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment 2.memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck .

62 .

1Kecelakaan Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Tertabrak Wheel Loader Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 5.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.00 di area operasi shredder Geocycle.Berdasarkan studi dokumen dan wawancara kepada petugas OH&S dan penanggung jawab shredder Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. 158 .PT.5. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat tertabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 5. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.Holcim Indonesia Tbk. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009 6.5.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility merupakan fasilitas pre-handling limbah dengan metode pencacahan atau shredding. yaitu : 4.

5. pengemudi mengutarakan hal ini terjadi karena pekerja berada dalam kondisi kelelahan.Setelah dilakukan wawancara terhadap pengemudi wheel loader yang bersangkutan mengenai alasan penyebab tidak berkonsentrasinya pengemudi dalam bekerja.Holcim Indonesia Tbk. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector).PT. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan 159 . karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. dengan waktu istirahat 1 jam.2 Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan Terputus Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder Geocycle. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia.tiap bulannya. 5. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam.000. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. dan salah satunya adalah karet.900. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah.. pengemudi tersebut tidak dapat tidur karena beban fikiran mengenai kondisi keuangan yang minim karena kurangnya pendapatan sekitar Rp.

5. sprinkler dan hydrant. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . Pengendalian yang sudah tersedia adalah alarm. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari. 160 .PT. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan.3 Kejadian Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 di area operasi shredder Geocycle. karyawan/helper lain mengutarakan hal ini terjadi karena karyawan/helper sudah terbiasa dengan pekerjaanya sehingga karyawan/helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada. Setelah dilakukan wawancara terhadap karyawan/helper lain yang bekerja di shredder facility mengenai alasan penyebab karyawan/helper melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. 5.menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar.Holcim Indonesia Tbk. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper.Upaya yang sudah dilakukan pada tahap ini adalah pemasangan screw diluar safety guard. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ).

hal ini juga terjadi karena data mengenai bahan-bahan yang berbahaya apabila dicampurkan belum diperbaharui. Setelah dilakukan wawancara terhadap penanggung jawab shredder yang bersangkutan mengenai alasan penyebab mixing material adalah karena lembar MSDS yang belum diperbarui dan tidak lengkap akibat tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. 161 . Namun ternyata kecelakaan kerja tertabraknya pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.6. 5.Holcim Indonesia Tbk 5.6 Perbandingan hasil analisis dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di unit Shredder facility PT.Namun hingga saat ini belum disediakan informasi yang terbaru mengenai bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampur begitu saja dan dapat menimbulkan kebakaran.. tembok akibat pengemudi Wheel loader kelelahan tetap terjadi pada tahap perapihan dan penyimpanan material dan menimbulkan dampak rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder . masuk kedalam kategori priority 3 yang artinya kegiatan ini hanya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. Hasil analisis risiko dari kecelakaan tertabrak/menabrak pada tahap perapihan dan penyimpanan material adalah 25. selain itu helper tidak mengetahui bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampurkan sebelum dimasukkan ke dalam shredder.

helper tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam.Hal ini terjadi karena. hasil analisis kecelakaan kerja saat ini. dengan waktu istirahat 1 jam. Berdasarkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor. Karena kecelakaan kerja ini.akibat beban fikiran.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Apabila dibandingkan dengan kecelakaan kerja yang telah terjadi sebelum pengendalian dilakukan. Helper lain mengutarakan alasan 162 . pekerja berada dalam kondisi kelelahan. yaitu lengan terputus.6. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. pengemudi tersebut tidak dapat tidur. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. 5. Tindakan pengendalian ini berbeda dengan kejadian sebelum diterapkannya pengendalian pemasangan screw diluar safety guard . 7.dampak lengan terputus ini menyebabkan helper atau korban tersebut mengalami luka terbuka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Kecelakaan kerja lengan terputus bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. maka kegiatan adjusting belt conveyor harus dihentikan terlebih dahulu sampai mencapai batas yang dibolehkan.mengenai lengan yang terputus pada tahap adjusting belt conveyor adalah.

seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja dan menimbulkan kebakaran pada hooper. terjadi akibat MSDS tidak lengkap dan belum diperbarui.3 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. Hasil analisis risiko saat ini dari kecelakaan kebakaran pada tahap Shredding adalah 250. hingga saat ini belum dilakukan pengendalian secara tekhnis pada Hooper .mengapa helper melepaskan safety guard tersebut. hal ini terjadi karena helper sudah merasa terbiasa dengan pekerjaanya sehingga helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada. sehingga dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya kebakaran pada hooper dan menyebabkan kerusakan sementara pada hooper dan terhentinya produksi. 163 . Kecelakaan kerja kebakaran yang telah terjadi pada tahap Shredding. 5.6. Hal ini terjadi karena.

terpeleset screen. tersandung peralatan yang berserakan. tangan terputus.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. dikarenankan korban tersebut sudah tidak bekerja lagi. menurut kelompok bahaya keselamatannya (safety hazard) dapat dibedakan menjadi: 1. peneliti melakukan observasi dan wawancara tidak kepada semua pekerja shredder facility. . risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses shredding PT. 6.BAB VI PEMBAHASAN 6. penanggung jawab lapangan dan 3 orang pekerja atau helper di shredder facility.1 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini. 164 terbentur penutup screen. selain itu peneliti tidak melakukan wawancara kepada semua korban kecelakaan kerja. dan 3 orang pekerja / helper di shredder facility karena kesibukan dari masing-masing pekerja yang lain. pergelangan tangan terkilir. terjatuh dari ketinggian. hanya dilakukan wawancara kepada petugas OH&S. penanggung jawab lapangan.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT. Gambar tahapan pekerjaan tidak terlalu lengkap.Holcim Indonesia Tbk. karena peneliti tidak diizinkan untuk mengambil gambar sendiri. Hasil identifikasi dilakukan dengan menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi kepada petugas OH&S. Bahaya mekanik (mechanical hazard) yaitu terpeleset ceceran residu. Dari risiko yang telah diidentifikasi.

tertabrak/menabrak .Holcim Indonesia Tbk. . 6. risiko yang dapat terjadi adalah terjatuh dari ketinggian kuran atau lebih dari 2 meter.1 Membersihkan Handrail 1. terjatuh saat melangkahi pemisah. sehingga dimasukkan ke 165 .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 Berikut ini adalah hasil analisis risiko pada setiap tahapan proses shredding PT.1. Bahaya ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia pada proses kerja yang menimbulkan risiko keselamatan kerja. pergelangan tangan terkilir. tangan terputus dan kebakaran. 2. 6. helper tidak selalu memegang handrail. terbentur penutup screen.3. tertimpa material ringan dan kejatuhan box.3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT.3.Bahaya kimia (chemical hazard) yaitu kebakaran. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter ini mempunyai nilai risiko 15 kurang dari 20. terpeleset pada screen. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. 6. Bahaya-bahaya ini disebabkan oleh adanya benda-benda atau proses yang bergerak. Terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter Pada tahap membersihkan handrail. tangan terputus screen.1 Tahap persiapan awal Berdasarkan analisis risiko pada tahap persiapan awal.

dalam kategori tingkat risiko acceptable yang artinya adalah mengurangi intesitas kegiatan yang menimbulkan risiko seminimal mungkin. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 m ini mempunyai nilai risiko 45. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. 6. Sedangkan.1. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. Untuk menurunkan nilai risiko. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. 166 . dari serious menjadi important atau noticeable.3.2 1. Mengecek chute magnet separator Terjatuh dari ketinggian lebih dari 2 meter Pada tahap mengecek chute magnet separator. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. helper tidak selalu memegang handrail. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko priority 3 yang artinya adalah perlu diawasi dan di[erhatikan secara berkesinambungan. helper berisiko terjatuh akibat chute magnet separator berada pada ketinggian lebih dari 2 meter dan ketika bekerja. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.

dari serious menjadi important atau noticeable. Untuk menurunkan nilai risiko. Tangan terputus screen Pada tahap membersihkan screen. Untuk menurunkan nilai risiko. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 75.1. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko substansial teknis. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift.3 Membersihkan screen 1. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. tangan helper berisiko terputus screen akibat akbat benda berputar dan ketika helper bekerja penerapan LOTO tidak dilaksanakan dengan baik.Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Sedangkan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.3. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. maka upaya pengendalian 167 yang artinya adalah mengharuskan adanya perbaikan . 6.

Untuk menurunkan nilai risiko. karena risiko minimal tangan terputus screen adalah cacat atau penyakit yang menetap.diberikan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko terpelset screen dikurangi seminimal mungkin. sehingga tingkat 168 . karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. dan memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Sedangkan tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Untuk nilai konsekuensi dari tangan terputus screen tidak dapat dikurangi lagi. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. selain itu sebaiknya dilakukan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. Terpeleset screen Pada tahap membersihkan screen. helper berisiko terpeleset screen akibat akbat permukaan screen yang licin dan tidak rata. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD.yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan LOTO (lock out tag out ) pada pekerja yang bekerja pada screen. 2. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.

Untuk nilai konsekuensi dari terpeleset screen tidak dapat dikurangi lagi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan tangga untuk masuk kedalam screen. sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. 3. helper berisiko terjatuh saat melangkahi pemisah screen akibat helper menaiki pemisah screen.Sedangkan. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . karena konsekuensi dari teprleset screen ini adalah luka ringan atau memar. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Sedangkan.kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Terjatuh saat melangkahi pemisah screen Pada tahap membersihkan screen. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. karena konsekuensi dari terjatuh saat menaiki pemisah screen adalah luka ringan atau memar. Untuk menurunkan nilai risiko. Untuk nilak konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. tingkat 169 .

tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. helper berisiko terbentur penutup screen. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. Untuk menurunkan nilai risiko. Sedangkan. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. karena penutup screen yang tidak bisa terbuka secara maksimal. Terbentur Penutup Screen Pada tahap membersihkan screen. 4. 170 . memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan dikurangi seminimal mungkin. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari.paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . Risiko terbentur penutup screen ini mempunyai nilai risiko 6 yang artinya kurang dari 20. karena konsekuensi dari terbentur penutup screen adalah luka ringan dan memar. sehingga tingkat kemungkinan remotely possible dapat diturunkan menjadi conceivable dan practically impossible.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan double screw.6. sehingga tingkat kemungkinan unusual dapat diturunkan menjadi remotely possible.4 Adjusting belt conveyor 1. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. sedangkan belt yang diluruskan memiliki beban yang cukup berat. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. karena konsekuensi dari pergelangan terkilir adalah luka ringan dan memar. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.1. 171 . karena helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. conceivable atau practically impossible. sehingga belt dapat diluruskan oleh 2 pekerja. Pergelangan tangan terkilir Pada tahap adjusting belt conveyor. pergelangan tangan helper berisiko terkilir. Risiko pergelangan tangan terkilir ini mempunyai nilai risiko 9 yang artinya kurang dari 20. sehingga beban yang diterima oleh masing-masing pekerja tidak besar serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja.3. Untuk menurunkan nilai risiko. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. menggunakan screw yang diputar secara manual oleh pergelangan tangan.

tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan sistem kunci LOTO (Lock out tag out) agar ketika helper bekerja. 3. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko Tangan terputus akibat benda berputar ini mempunyai nilai risiko 7.2. important . Sedangkan. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.5 yang artinya kurang dari 20. tangan helper berisiko terputus akibat benda berputar. atau noticeable. Terjatuh dari ketinggian Pada tahap adjusting belt conveyor. serta pelatihan perilaku yang beriorientasi pada safety. helper berisiko terjatuh dari ketinggian . tak ada pekerja lain yang menyalakan belt conveyor. sehingga nilai konsekuensi dari tangan terputus dapat berkurang dari very serious menjadi serious. Tangan terputus akibat benda berputar Pada tahap adjusting belt conveyor. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena setelah helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. karena helper melakukan adjusting belt conveyor dengan membuka safety guard yang tersedia. helper akan berlari melihat dari sisi yang lain yang 172 .

karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah dibuatkan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. diharapkan tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena pemotongan belt conveyor menggunakan cutting torch. Untuk nilai konsekuensi dapat diturunkan lagi. Kebakaran pada belt conveyor Pada tahap adjusting belt conveyor. Sedangkan.dari important menjadi noticeable ketika pengendalian yang dilakukan sudah tepat. apakah belt conveyor sudah memasuki jalur atau belum. 4. Risiko terjatuh dari ketinggian ini mempunyai nilai risiko 7. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 900 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang dapat menyebabkan 173 . Dengan upaya pengendalian tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko.5 yang artinya kurang dari 20. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. risiko kebakaran dapat terjadi. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali.lebih tinggi.

risiko kebakaran pada storage dapat terjadi.2.1 Perapihan material oleh wheel loader 1. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . atau noticeable. dan penggerindaan.serta menurunkan nilai konsekuensi dari disaster menjadi serious . Kebakaran pada storage Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. serta banyak material yang mudah terbakar. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 750 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang 174 .3. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. karena gesekan antar material. pengelasan. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari likely menjadi remotely possible. Sedangkan.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 6. important. serta memberikan reward dan punishment.3. 6. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali.

important. 2. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah 175 .sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 dan diperhatikan secara berkesinambungan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan sprinkler pada storage serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko . karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.dapat menyebabkan kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. karena kurang koordinasi antar 25 pengemudi. Untuk menurunkan nilai risiko. serta menurunkan nilai konsekuensi dari very serious menjadi serious . Sedangkan. Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. yang artinya perlu diawasi Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. atau noticeable.

karena gesekan antar material. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 250 sehingga masuk ke dalam kategori priority 1 pengendalian sesegera mungkin.1 Tahap memasukkan material pada Hooper 1. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang lengkap dan selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. risiko kebakaran pada hooper dapat terjadi. Kebakaran pada hooper Pada tahap memasukkan material pada hooper. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Sedangkan. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun yang artinya perlu 176 . Untuk menurunkan nilai risiko. serta banyak material yang mudah terbakar. important.3.3 Tahap Shredding 6. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.3. 6. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. sehingga nilai konsekuensi dapat ditunkan dari very serious menjadi serious . atau noticeable.3.pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan serta pelatihan yang berorientasi pada safety.

177 . Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap memasukkan material pada hooper.dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable atau practically impossible. Sedangkan. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. 2. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. karena kuarngnya koordinasi antar pengemudi. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun dapat diturunkan dari likely menjadi unusual atau remotely possible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. dan tidak memanfaatkan fasilitas secara maksimal. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important.

sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. potongan kayu yang beratnya sekitar 100-250 gram ). tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tersandung oleh peralatan yang 178 .3.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu 1. Pada tahap memasukkan material pada hooper.3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Memasang warning sign terkait bahaya yang ada. Risiko tertimpa material ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap menebar serbuk gergaji. sedangkan. dan isi hooper terlalu penuh. Tertimpa Material dari Hooper Yang Memiliki Ketinggian Sekitar 2 Meter (contoh material : potongan plastik drum. Untuk menurunkan nilai risiko. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. 6.3. risiko tertimpa material dapat terjadi pada helper. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.ketika helper berjalan di sekitar hooper. pemasangan guard pada area hooper. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. pengawasan penggunaan APD.

. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping.berseerakan di sekitar shredder. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menebar serbuk gergaji. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 2. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable 179 . sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. Risiko tersandung peralatan ini mempunyai nilai risiko 18 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sedangkan.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tertimpa material ringan dari belt conveyor.

sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga nilai konsekuensi dapat 180 . maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. risiko kebakarandapat terjadi pada helper. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji. Risiko tertimpa kebakaran nilai risiko ini mempunyai 150 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 3. seperti merokok.ketika helper berjalan tidak mematuhi prosedur yang tersedia. Untuk menurunkan nilai risiko. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait bahaya yang ada serta pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.

important. atau noticeable. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper.. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. 181 . memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Untuk menurunkan nilai risiko. sedangkan. Risiko tersandung peralatan 18 ini mempunyai nilai risiko sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.3 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material 1. sedangkan. 6.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dan tersandung oleh peralatan yang berserakan di sekitar shredder.3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.diturunkan dari very serious menjadi serious. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.3.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. 182 .ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfum pada shredder dan material dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap memberikan parfum pada shredder dan material. sedangkan. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.2.

Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.3. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. risiko tertimpa material ringan dari box.6. 2. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.3. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap. risiko kejatuhan box dapat terjadi pada helper. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga 183 .4. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.4 Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 6. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 1. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. Tertimpa Material Ringan Dari Box (contoh material : palstik. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 50 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu material ringan yang berada di posisi paling atas box terjatuh.

Untuk menurunkan nilai risiko. sedangkan. 184 . important. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko tertimpa material ringan dari box dikurangi seminimal mungkin. atau noticeable. Untuk menurunkan nilai risiko. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu tidak ada koordinasi antar pengemudi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 3. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. sehingga terjadi tabrak/menabrak. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.

sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . sedangkan box tinggi. 185 . risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada truk yang pendek. 6.3. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko box terjatuh di jalan ini ini mempunyai nilai risiko 30 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck.4.sedangkan. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran / Pre-heater 1. Box terjatuh saat dibawa menuju pre-heater Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.

important. sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 186 . Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. atau noticeable. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. karena pekerja tidak mengikuti standard operation mengenai cara berkendara di arean proyek. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.2. Untuk menurunkan nilai risiko. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Tertabrak/menabrak antar pengemudi Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious.

safety briefing sebelum bekerja. tersedianya blind spot miror agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah. tersedia standard operation mengenai cara bekendara di area proyek.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT. 6. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat ditabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 25 masuk kedalam priority 3 yang artinya kegiatan ini sebenarnya hanya perlu pengawasan dan diperhatikan secara . Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan antena pada wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan . serta menggunakan APD lengkap.6.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.Holcim Indonesia Tbk. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder.PT.00 di area operasi shredder Geocycle. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini.4. memasang warning sign tentang penggunaan APD .

Hal ini sesuai dengan teori Nurmianto pada tahun 2003.” Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Hal ini sesuai dengan teori domino heinrich yang menyatakan bahwa salah satu rangkaian domino yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja adalah unsafe act atau perilaku tidak aman yang salah satunya adalah kelelahan . namun kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder tetap terjadi. belum terjadi perubahan pengendalian. yang salah satunya adalah faktor kelelahan dan keletihan yang berasal dari penyebab dasar faktor pribadi.berkesinambungan. 63 . Kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder terjadi karena faktor pekerja. kondisi korban yang memiliki beban fikiran mengenai minimnya upah yang menyebabkan pekerja kurang tidur. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi. yang menyatakan “ Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Kelelahan kerja yang dilalami pekerja membuat turunnya kinerja dan menimbulkan kecelakaan kerja. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. Teori yang dikembangkan oleh Sahab (1997) juga menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja dilatarbelakangi oleh faktor-faktor. kecelakaan kerja terjadi karena pekerja tidak berkonsentrasi dalam mengemudi. sehingga menjadi salah satu penyebab kelelahan.

Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder dengan Kejadian Geocycle. penurunan dan hambatan persepsi cara berpikir atau perbuatan anti sosial. maka akan muncul pemogokan-pemogokan.Selain itu kerja fisik yang terus menerus dapat menyebabkan kelelahan.Motivasi kerja khususnya faktor balas jasa atau upah yang minim pun menjadi penyebab pekerja tidak dapat tidur karena beban fikiran. vertigo. dan kesukaran tidur). sehingga menurunkan kesiagaan dan perhatian. kegelisahan. kurang tenaga.5. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. kehilangan inisiatif).2 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi perilaku kerja. 64 .PT. dan gejala umum (sakit kepala. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. hal ini sesuai dengan teori Winardi (2001) yang menyatakan bahwa jika upah tersebut tidak dipenuhi. (depresi. tidak cocok dengan lingkungan. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector). gangguan fungsi paru dan jantung. kehilangan nafsu makan. kecemasan. gangguan pencemaan. pembahan tingkah laku. 1982). 6. badan terasa tidak enak.Holcim Indonesia Tbk. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute.

5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. pengendalian yang sudah dilakukan saat ini dapat meminimalkan kecelakaan kerja.Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. Upaya yang saat ini sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor adalah pemasangan screw diluar safety guard agar pekerja bekerja lebih aman. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. Hal ini membuktikan bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi apabila manajemen keselamatan kerja belum dilakukan secara maksimal. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. dan salah satunya adalah karet. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. sesuai dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich dengan 65 . Maka. maka nilai risiko yang didapat pada tahap ini adalah 7. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut.

66 .dan Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemn keselamatan dan kesehatan kerja. Namun. berdasarkan statistik di Indonesia. Menurut Gordon Allport . walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan Maka. Penyebab yang melatarbelakangi kecelakaan kerja menurut Sahab (1997) salah satunya adalah sikap dan tingkah laku yang tidak aman. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia seperti faktor sikap yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Selain karena faktor teknis. kecelakaan kerja lengan terputus disebabkan oleh faktor manusia yang merasa terbiasa dengan pekerjaannya. sikap merupakan kecenderungan potensial untuk berpotensi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon . Jadi.mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995). Dan tentunya tindakan tidak aman akan menyebabkan kecelakaan kerja. 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition).

Karena sebenarnya berdasarkan dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terlebih dahulu.PT. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. tersedia MSDS (Material safety data sheet). sprinkler tepat diatas hooper.5. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 250. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. memasang warning sign tentang penggunaan APD .Holcim Indonesia Tbk. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . belum terjadi perubahan pengendalian. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper.3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Tahap Shredding Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. sehingga kecelakaan kerja kebakaran pada hooper masih mungkin terjadi. 67 . safety briefing sebelum bekerja. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 dengan Kejadian di area operasi shredder Geocycle. serta APAR. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan hydrant. serta menggunakan APD lengkap. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari.6.

Sesuai dengan teori Hezberg pada tahun 1990. Maka.Namun hingga saat ini manajemen keselamatan dan kesehatan kerja belum dilakukan secara maksimal sehingga kecelakaan kerja kebakaran masih mungkin terjadi.Akan tetapi. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. 68 . penyebab kecelakaan kecelakaan kerja kebakaran pada hooper terjadi karena faktor kelalaian. yang menyatakan bahwa “salah satu faktor yang menjadi penggerak terciptanya motivasi kerja karyawan adalah hubungan antar manusia. walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal.” Beliau juga menyatakan bahawa hubungan antar manusia dalam lingkungan pekerjaan baik hubungan vertical maupun horizontal akan berpengaruh terhadap disiplin dan produktivitas pekerja. faktor manusia itu sendiri seperti tidak segera merubah data material berbahaya sesegera mungkin. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja.

69 .

70 .

Kegiatan pada Shredder Facility 71 .

Membersihkan Handrail Mengecek Chute Magnet separator Membersihkan Screen Adjusting Belt Conveyor 72 .

Perapihan dan Penyimpanan Material Menebar serbuk Gergaji Memasukkan Material pada Box Memberikan Parfum Menaikkan box pada truck 73 .

Tabel Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian 74 .

Tabel Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Risiko Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 75 .

Tabel No Rincian Pekerjaan Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Rekomendasi 76 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 77 .Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

.

63 .

64 .

65 .

66 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful