ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH

TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010

SKRIPSI

OLEH : Dita Wianjani NIM : 106101003314

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M/1431 H

44

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 25 Agustus 2010

Dita Wianjani

45

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, September 2010

DITA WIANJANI, NIM : 1061010003314

Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010

(xxiv + 197 halaman, 25 tabel, 15 gambar)

ABSTRAK
PT Holcim Indonesia dalah pelopor dan inovator di Indonesia yang berkembang cepat dalam sektor semen, karena pasar untuk rumah, bangunan komersial dan infrastruktur yang berkembang. Holcim adalah penyedia yang terintegrasi dari sembilan berbagai jenis semen, beton dan agregat. Selain itu Holcim juga memiliki unit Shredder facility yang berfungsi sebagai fasilitas pencacah limbah untuk bahan bakar alternatif dalam produksi semen. Setiap sistem kerja dalam sebuah perusahaan selalu mempunyai risiko keselamatan kerja, begitu juga sistem kerja pada PT Holcim Indonesia mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pada proses pencacahan atau Shredding ini terjadi kejadian kecelakaan kerja yang serius. Jika dibandingkan dengan fasilitas lain, Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan, namun dalam waktu yang relatif singkat, hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kecelakaan kerja sebab-sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan agar selanjutnya diperoleh usaha-usaha koreksi terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut Tujuan dai penelitian ini adalah Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Penelitian ini dilakukan di PT.Holcim Indonesia Tbk Bogor yang dimulai pada bulan April- Agustus 2010 melaui pengambilan data primer yang dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S , pada pekerja, penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.Serta melakukan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder berupa struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja yang ada pada proses pencacahan atau shredding ini secara keseluruhan adalah terpeleset ceceran residu, terjatuh dari ketinggian, pergelangan tangan terkilir, terpeleset screen , terjatuh saat melangkahi pemisah screen,

46

tangan terputus screen, terbentur penutup screen, tersandung peralatan yang berserakan, tertabrak/menabrak, tertimpa material ringan kejatuhan box, serta kebakaran. Pengendalian dengan engineering control dilakukan pada beberapa tahapan pekerjaan seperti pekerjaan seperti membersihkan handrail , maka dipasang handrail agar pekerja tidak jatuh, pemasangan guard pada benda berputar. Pengendalian dengan administrative control dengan housekeeping, bekerja sesuai dengan prosedur dan pemasangan safety sign di area kerja, terutama untuk pekerjaan yang berisiko tinggi. Pengendalian dengan pemakaian APD pada pekerja seperti safety shoes, safety helmet, mask organic, gloves, goggles, glasess. Sedangkan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di shredder facility adalah tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja yang kelelahan sehingga pekerja tidak berkonsentrasi. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009, penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja tidak melepaskan safety guard sebagai pelindung pekerja, karena merasa aman dengan pekerjaannya. Serta kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010, penyebab kecelakaan ini adalah ketidakharmonisan pekerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain factor teknis, faktor non-teknis pun menjadi penyebab dari kejadian kecelakaan kerja, sehingga perlu penyelesaian masalah yang lebih mendalam agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan tepat. Saran yang diajukan adalah perlu dilakukan identifikasi dan penilaian risiko pada masing-masing tahapan pekerjaan di PT.Holcim Indonesia Tbk untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Untuk menurunkan nilai risiko keselamatan kerja pada masing-masing tahapan proses shredding, diperlukan upaya pengendalian sebagai berikut pemeriksaaan standard operation dalam bekerja, diberikan pelatihan perilaku keselamatan dengan pengawasan serta pmebrian reward dan punishment pada pekerja. Daftar bacaan : 24 (1985-2010)

47

In the process of enumeration or shredding this occurs a serious work accident. Holcim is an integrated provider of nine different types of cement. September 2010 DITA WIANJANI. commercial buildings and developing infrastructure.Holcim Indonesia Tbk in 2010 ABSTRACT PT Holcim Indonesia is a pioneer and innovator in Indonesia who growing rapidly in the cement sector. hands cut off a screen. fell while bypassing the separator screen.JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis. NIM : 106101003314 Qualitative Analyze the relation between the result of Risk Analyze in Occupational Safety with the occurrence of accidents that have occurred in workers in unit shredder facility PT. because the market for homes. whereas secondary form the organizational structure of OH & S. was hit / hit. the worker. sprained wrist. Control by the use of PPE to workers such as safety shoes. Safety risks that exist in the enumeration or the shredding process as a whole is scattered residual slip. This is because the shredder facility over a wide range of waste processing facilities other than the machine used and still need care manually. hit by falling boxes lightweight materials. When compared with other facilities. and fire. as well as a working system a PT Holcim Indonesia has a safety risk that may cause accidents. working in accordance with the procedures and the installation of safety signs in work areas. but within a relatively short time. In addition. Holcim also has a unit Shredder facility that serves as an enumerator waste facility for alternative fuels in cement production. especially for high-risk jobs. fall from height. Therefore. slip screens. Shredder newest facility is a facility operated. nearly every year happen in a serious accident at this facility.This study was conducted in Bogor Indonesia Tbk PT. Control with administrative control with housekeeping. the responsible shredder and accident victims and make observations directly. to minimize workplace accidents causes of accidents should be investigated and found to be further efforts to obtain corrections to the causes of the accident The purpose of this study is Knowledgeable relationship between safety risk analysis with the occurrence of accidents that have occurred in workers at the facility shredder unit PT Holcim Indonesia Tbk 2010. stages Shredder facility and data accidents that have occurred in Shredder facility. Control with control engineering done in several stages of work as jobs such as cleaning the handrail. the handrail is installed for workers from falling. Each system is working in a company always has a safety risk. organic 48 . safety helmet. concrete and aggregates.Holcim which starts in April-August 2010 through Primary data collection is done by interviewing the staff OH & S. hit the screen cover. installation of guard at the rotating object. tripping over scattered equipment.

Arm cut off by the pinched by rotating objects (motion detector) in the year 2009. glasess. the cause of these accidents is that workers do not remove the safety guard as protectors of workers. non-technical factors were the cause of the work accident. Reading list: 24 (1985-2010) 49 . be trained in safety behavior with supervision and pmebrian reward and punishment on the workers. And fire at the Hooper happened on 7 April 2010. gloves. To reduce the value of safety risks at each stage of the process of shredding.mask. goggles. the cause of this accident was the disharmony pekerja. because they feel secure with his job. so we need a more in-depth problem solving to workplace accidents can minimized with proper.Hasil showed that in addition to technical factors. While the incidence of workplace accidents that have occurred in the shredder facility is a wall of separation between storage space and shredder collapsed due to hit the loader in the year 2008 the cause of this accident was the fatigue of workers so that workers do not concentrate. the following efforts are needed to control the examination standard operation in the work.Holcim Indonesia Tbk to prevent accidents. Suggestion is to do the identification and assessment of risk at each stage of work in PT.

SKM. 25 Agustus 2010 M.Si Pembimbing I Catur Rosidati. MKM Pembimbing Skripsi I 50 .Skripsi Dengan Judul ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010 Telah disetujui.Farid Hamzens M. diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.

.... 1..................................................................... 1....... 1.......................................................................DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN ............................... 51 7 ..................................................... ii PERNYATAAN PERSETUJUAN ....5.................................................................................................................................................................... 1......................... vii RIWAYAT HIDUP...................2 Tujuan Khusus ......................................................................................................................................................5 Manfaat Penelitian ................. 1.............................1 Bagi Peneliti ................................. viii KATA PENGANTAR............................5.........................4....................... BAB 1 PENDAHULUAN .2 Bagi Perusahaan .................................. 1................. ..............................................4 Tujuan Penelitian ........................................................ x DAFTAR ISI ........ xx 1 xxi 1 5 5 6 6 6 7 7 1... 1... vi LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................................................2 Rumusan Masalah .....................4................1 Latar Belakang .....3 Pertanyaan Penelitian ................................... xii DAFTAR TABEL .................................................................................................................................................................. DAFTAR GAMBAR.... i ABSTRAK .... 1.......1 Tujuan Umum ................

.........................2 Manfaat Manajemen Risiko .....1 Penyebab Kecelakaan Kerja ...........................2........... 2..........1... .......1.....1....................................................4 Manajemen Risiko.. 2..................... 2..................................4...............................................................1 Jenis-jenis Bahaya………………………………............................3........ 2...........1....... 2..........2........................ 2......1 Jenis-jenis Risiko 2................ 10 10 10 13 14 16 23 23 25 26 27 30 30 32 33 34 34 2.................. 2..................................... ........................................3 Definisi Risiko .......................1 Definisi Kecelakaan Kerja ...........3 Motivasi .. 2.. 2...........2 Pengendalian Bahaya ....... 52 36 2.........................................4.....5 Pencegahan Kecelakaan Kerja ....................1 Job Safety Analysis (JSA).............5 Metode Identifikasi Risiko ................ 2..............1...........1...... 2...............................BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...2 Kelelahan Kerja .........1 Tujuan Manajemen Risiko ....5.......................6 Klasifikasi Kecelaakaan Akibat Kerja ........... 2.......... 2................................4 Teori Kecelakaan Kerja .............................2 Definisi Bahaya ............................................................................. 2..................

...................... 4............Holcim Indonesia Tbk ………........................ 5... ....1 Gambaran Perusahaan ………………………………………................. 53 64 .....1 Kerangka Berpikir.......3 Struktur Organisasi PT.. 5............1 Metode Penelitian ………………………………………....................2 Definisi Istilah ..........1.................2 Visi dan Misi PT.... ......................................1..................1............................................................... 55 55 55 55 56 56 56 58 60 62 62 62 64 4........................................................2.....................................................6 Validitas Data .................. 47 3...........4 Metode Pengumpulan Data .......... 4.... 49 BAB IV METODE PENELITIAN .................... 4.........................................2 Waktu Penelitian .......... BAB V HASIL ..................3 Informan ......... 4............Holcim Indonesia Tbk ………………...............................................5 Pengolahan data Analisis Data ............................. 47 3......................................................................2.. 5.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4...........1 Lokasi Penelitian ...............1 Sejarah Perusahaan PT..............................Holcim Indonesia Tbk ………… 5.............................................. 4.......BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH .... 4.......

.2.2.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5. 106 101 102 101 54 .2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji ……………………… 5.2.1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper ………… 5. 5.3 Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT..2.2. Tahap Memberikan Parfum pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………………… 77 78 79 80 87 87 91 91 92 94 5.. 5.1 Membersihkan handrail ………………………………… 5.2..2 Mengecek Chute Magnet separator ………………… 5..1 Tahap Persiapan Awal ……………………………….1.2.3. 5.2.....1.3..1 Membersihkan Handrail ………………………….3 Membersihkan Screen ……………………………….1.2.2..Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ……………………….4.3.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran .2.2.4 Adjusting belt conveyor ……………………………… 5.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Product ……………………………………………………….3.2. 5...5.4.1..1.3.3.. 5.. 5.2.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material ……………. 106 5.1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material pada Truk ……………………………………………… 5.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader …………….

4. 5.3.4.3.Holcim Indonesia Tbk …………………………… 5.3.3.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5.2.1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi Material pada Truk ………………………………………………………….1 Memasukkan Material pada Hooper ………………… 5.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Produk ……………………………………………………… 5. 5.3... 5. 5..3 Memberikan Parfum pada Shredder dan Material ….1 Tahap Persiapan Awal …………………………………...1 Kecelakaan Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang 152 136 136 142 144 149 55 ..5.4.DAFTAR TABEL 5.4. 118 121 121 123 125 130 130 5. 5.3.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.. 5.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran …… 132 5. 5.4..4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.2 Menebar Serbuk Gergaji …………………………….4 Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Box ….3 Tahap Shredding ……………………………………….2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material ………….3.3..Holcim Indonesia Tbk …………………………………….1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ……………….4.. 5.3..3.3.

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ………………..2 Mengecek Chute Magnet Separator ……………......3.... 6..1.1......3. ……………... … 6.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT....3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 158 157 158 158 ……………………………………………………………....4 Adjusting belt conveyor ……………………….…………………………………………… 5.. 6.. 6... 6.................…………………………………………… 5...………………………..... 6.. 159 159 ........ ………………......1.......1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Persiapan dan Kecelakaan Kerja Penyimpanan Material dengan Kejadian Tertabraknya Tembok Pemisah antar Ruang Penyimpanan dan Shredder ………….3..2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting Belt Conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus 155 ………….......3..6..1 Keterbatasan Penelitian……………..6....DAFTAR GAMBAR 5..1 Tahap Persiapan Awal .. 56 6......6.………………………………………………………… BAB VI PEMBAHASAN ..1 Membersihkan Handrail ………………… ……….....3 Perbandingan Kejadian Hasil Analisis Tahap Shredding dengan 156 Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada Hooper ………….

............4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT. 6.4.6. Holcim Indonesia Tbk …………………………… 6......4....2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji pada Lantai yang Terkena Residu ……………………………………… 6..1 Tahap Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material 175 pada Truk …………………………………....1 Keterbatasan Penelitian…………….……………………….. 6.3.3.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja 179 177 177 172 Tertabraknya Tembok Pemisah Antara Ruang Penyimpanan dan Shredder…………………………………………………………..3.3..... 6... 6.4....3..2 Pembahsan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Lengan yang Terputus …………… 181 6......... 57 ....3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper …………………. BAB VI PEMBAHASAN .3. 6....3 Tahap Memberikan Parfume pada Fasilitas Shredder dan Material …………………………………………..3 Tahap Shredding ………………………………………… 170 170 6.3.....4 Tahap Memasukkan produk pada Box dan Pengiriman Produk …………………………………………………… 6..3.....2 Mengirimkan Box Menuju Tempat pembakaran / PreHeater …………………………………………...3..4....4......1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper …………… 6.......3.

......2 Saran............................................................................ 188 188 7......BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. 7................. 190 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 58 ....................................1 Kesimpulan......

42 2..1 Tabel Indentifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal ………………………………………………………………… 5..2 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ……………………………………………………………………….3 Tabel Triangulasi Sumber ………………………………………….4 Tabel Triangulasi Metode …………………………………………… 5.. 61 4.3 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Semikuantitatif …………….1 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif …………………. 5.2 Tabel Data Primer …………………………………………………… 60 4. 41 2..1 Tabel Definisi Istilah Tahapan Analisis Risiko …………………….4 Tabel Skala Ukur Eksposure Secara Semikuantitatif ……………….Daftar Tabel 40 2.7 Tabel Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross… 49 3.. 43 2.2 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif …………………….6 tabel Kategori Tingkat Risiko dengan Metode Semikuantitatif …….3 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatam Kerja pada Tahap Shredding 83 59 89 ...... 45 2. 43 2.2 Tabel Definisi Istilah Kejadian Kecelakaan Kerja ………………… 57 4.1 Tabel Data Sekunder ……………………………………………… 58 4..5 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Semikuantitatif ……………… 44 2. 53 3.

2 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap Memasukkan Produk pada Box 143 dan Pengirimannya …………………………………….8 Analisis Risiko Keselamatan Kerja Tahap memasukkan Produk pada Box dan pengirimannya ……………………………………………. 6.7 Analisis Risiko Keselamatan kerja Tahap Shredding ……………… 5....9 Evaluasi Risiko Keselamatan Tahap Persiapan ……………………..... 6. 134 5...... 6.Daftar Tabel 5. 138 127 60 .0 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap persiapan dan Penyimpanan Material ………………………………………………....1 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ………….

Daftar Gambar 2.1 Gambar Manajemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 : 1999 ………… 3.1 Gambar Kerangka Berpikir Hubungan Hasil Analisis Tingkat Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja ………………………………….. 5.1 Gambar Logo Holcim ………………………………………………... 5.2 Gambar Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk …………… 63 5.3 Gambar Green Pyramid ……………………………………………… 65 5.4 Gambar Struktur Organisasi OH&S Corporate ……………………… 48 33

61

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Kewarganegaraan Alamat Telepon Email Universitas Jurusan Peminatan : Dita Wianjani : Sukabumi, 20 November 1987 : Perempuan : Islam : Indonesia : Kp.Pangkalan raya rt 02/02 No.38 Cibuluh Bogor Utara : 085697493402 : michikakazuya@yahoo.co.id : UIN Syarif Hidayatullah : Kesehatan Masyarakat : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Latarbelakang Pendidikan Formal     1994- 2000 2000- 2003 2003- 2006 2006 –2009 Masyarakat Informal   2001-2003 2004-2005 (Conversation) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional (LIA) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional LIA : SDN Pengadilan 2 Bogor : SMPN 8 Bogor : SMAN 6 Bogor : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurusan Kesehatan

62

Pengalaman    2006-2008 2008 : Staff pengajar yayasan Miftahul Jannah Cimanggu Bogor : Mengikuti program beasiswa Youth Leadership Trip ke

Malaysia dan Thailand 2007-2008 : Bendahara BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat

63

KATA PENGANTAR ‫ت ه ك ا ب ر و هلل ا ورحمة ع ل ي كن م ل س ال ا‬

Segala puji kehadirat Allah SWT, yang tidak pernah tidur dan selalu dekat dengan hamba-Nya. Syukur senantiasa terucapkan atas segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian

Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010”. Skripsi ini disusun sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyusunan skripsi ini semata-mata bukanlah hasil usaha penulis, melainkan banyak pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, motivasi, dan semangat. Untuk itu penulis merasa pantas berterima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak M.Farid Hamzens Msi serlaku pembimbing I, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis 4. Ibu Catur Rosidati, SKM. MKM, selaku Dosen Pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. 64

10. Bapak. Rima dan Erangga yang selalu memberikan motivasi dan dukungannya 11. khususnya mengenai analisis risiko keselamatan kerja Jakarta. 9. Agustus 2010 Penulis 65 . Ibu. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. MKKK. Tim OH&S PT Holcim Indonesia Mas Pungki Yudono dan Mas Ahmad Azhar selaku pembimbing lapangan atas bimbingan dan bantuannya dalam proses pengambilan data. Ibu Iting Shofwati. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).5. Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’06 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. selaku Koordinator K3 yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. dan adikku tercinta atas dorongan dan bantuannya baik material dan spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. dr. 8. 7. ST. Tetap Semangat Untuk Masa Depan yang Lebih Baik.

sedangkan kerugian secara tidak langsung mencapai Rp. Data PT Jamsostek Indonesia (2008) menyatakan bahwa “ K erugian langsung akibat kelalaian manusia dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebesar Rp. bukan hanya bagi pekerja.624 kasus kecelakaan kerja dan tahun 2007 terjadi sebanyak 83.823 kasus. tetapi juga bagi dunia karena kesemuanya ini menyedot biaya kompensasi yang sangat besar. lebih dari 2 juta manusia meninggal dunia akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang terkait dengan pekerjaan. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 93.50 66 . pengusaha.1 Latar Belakang Berdasarkan ILO. ada 270 juta kecelakaan kerja dan 160 juta kasus penyakit yang terkait dengan pekerjaan.090 orang. Berdasarkan angka perkiraan konservatif.300 miliar. 2008) dan terdapat 96. 2007) Dari data statistik ini tentunya kita akan paham bahwa kerugian yang ditimbulkannya sangat masif.314 kasus di tahun 2009 (Jamsostek. dan pemerintah. 2010).714 kasus . dengan jumlah pekerja yang sembuh 85. Depnakertrans menyatakan angka kecelakaan kerja di Indonesia pun masih tergolong tinggi.BAB I PENDAHULUAN 1. Riset ILO menghasilkan kesimpulan bahwa setiap tahun. setiap tahun di seluruh dunia kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan banyak korban.(ILO. tahun 2006 terjadi 95. sedangkan yang cacat total 44 orang (Jamsostek.

000 pekerja per tahun merupakan angka yang cukup besar. pada tahun 1967. dan kerugian.truliun “. Ketiga hal tersebut menimbulkan unsafe action (tindakan yang tidak aman) dan unsafe condition (kondisi yang tidak aman) yang merupakan faktor tidak langsung penyebab kecelakaan kerja. yaitu manajemen. Birds memodifikasi teori Heinrich dan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. kontak. Dalam teorinya. gejala. oleh karena itu faktor penyebab kecelakaan dan faktor-faktor lainnya harus segera dikendalikan dengan benar. 67 . dapat dikatakan kerugian secara tidak langsung akibat kecelakaan kerja setiap tahun mencapai 15 kali dari kerugian secara langsung. Faktor dasar penyebab adanya kecelakaan kerja adalah buruknya manajemen K-3. Sedangkan faktor penyebab langsung timbulnya kecelakaan kerja adalah tidak adanya upaya pengendalian risiko dan adanya potensial bahaya di tempat kerja. tidak adanya komitmen perusahaan untuk menerapkan SMK3 serta faktor lingkungan kerja. Tingginya angka kematian akibat kecelakaan dan penyakit kerja mendesak dilakukannya analisa secara komprehensif terhadap penyebab kematian dialami pekerja atau buruh. Maka. Data yang dilansir Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan sinyal betapa kecelakaan kerja dan kematian akibat kerja sudah pada tingkat mengkhawatirkan. sumber penyebab dasar. Jumlah kematian lebih dari 14. sehinggga kecelakaan kerja dapat segera dicegah dan diminimalisasi frekuensinya.

Oil Sludge facility adalah fasilitas yang yang mengolah paint sludge menjadi bahan bakar alternatif dan Shredder facility adalah fasilitas yang mengolah berbagai limbah cair. PT Holcim Indonesia adalah perusahaan produksi semen yang memiliki unit kerja baru bernama Geocycle. Biomess facility merupakan fasilitas yang mengolah serbuk gergaji dan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif . yaitu : 68 . Geocycle adalah layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. oil sludge facility dan Shredder facility. Fasilitas ini merupakan sub kerja pada departmen Geocycle yang berfungsi sebagai pre-handling limbah. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. Terdapat tiga fasilitas pemanfaatan limbah yang dibawahi oleh unit Geocycle. padat dan sampah rumah tangga. Dari hasil observasi dan wawancara mengenai data kecelakaan kerja pada tiga fasilitas yang dibawahi oleh Geocycle sebagian besar kecelakaan kerja terjadi di Shredder facility yang melakukan pengolahan limbah dengan metode pencacahan atau shredding.mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. di antaranya Biomess Facility. Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk.

perlu dilakukan upaya analisis risiko keselamatan kerja yang terintegrasi ke dalam manajemen risiko yang dimulai dengan identifikasi risiko sampai dengan menentukan tingkat risiko keselamatan kerja dan menghubungkannya dengan fakta kecelakaan kerja yang pernah terjadi di tempat tersebut. Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2009 3. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 Jika dibandingkan dengan fasilitas lain. Oleh karena itu. namun dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2008 2. sehingga secara mudah risiko dapat diminamilisir dengan menentukan pengendalian yang tepat. hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini.1. 69 .

Dari data kecelakaan di shredder facility PT Holcim Indonesi Tbk pada tahun 2008 – 2010 kecelakaan kerja telah terjadi pada operator dan fasilitas di shredder. Bagaimana gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 2. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 4. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap bahaya-bahaya keselamatan pada pengoperasian shredder untuk diketahuinya tingkat risiko keselamatan kerja di tempat tersebut. Bagaimana gambaran consequences.1. Bagaimana gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. dan hubungannya dengan kejadian kecelakaan kerja di shredder facilitysehingga dapat dilakukan tindakan pengendalian bahaya dengan tepat. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 3. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 70 . Bagaimana gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk dan gambaran proses kerja shredder di PT.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah dalam proses operasinya shredder facility mengalami banyak kecelakaan apabila dibandingkan dengan fasilitas lain yang sudah beroperasi lebih lama di Geocycle.3 Pertanyaan Penelitian 1.

5. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 6.1 Tujuan Umum Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 2.2 Tujuan Khusus : 1. Diketahuinya gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 dan gambaran proses kerja shredder di PT. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT.4 Tujuan Penelitian 1. Bagaimana gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT. Diketahuinya gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 1.4. 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 7.4. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 71 . Bagaimana hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi dengan pada pekerja di unit shredder facility di PT. Bagaimana gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT.

Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi facility di PT.5.3. b. Diketahuinya gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. 72 . Memberikan bahan masukan pada institusi terkait mengenai pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) . Diketahuinya gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT.2 Perusahaan a. Diketahuinya gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT.1 Peneliti : Meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang K3 khususnya dalam melakukan analisis resiko keselamatan kerja 1. 4.5.5 Manfaat Penelitian 1. Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara perusahaan dengan program studi kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 5. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.’ 7. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 6. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 pada pekerja di unit shredder 1. Diketahiumya gambaran consequences.

1999/2004). Untuk mengetahui tingkat risiko digunakan metode analisis risiko secara semikuantitatif Standar Australia/Standar New Zealand (AS/NZS 4360. sedangkan data sekunder berupa 73 . penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. pada pekerja. Sebagai sarana untuk menjalin serta membina network dan kerjasama dengan perusahaan atau institusi lain dibidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Penelitian ini dilakukan di unit Shredder Facility PT.6 Ruang Lingkup Penelitian ini adalah penelitian analisis kualitatif hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan melihat hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Serta melakukan observasi secara langsung.1. 1.3 Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta a. Sasaran dari penelitian ini adalah proses shredding (pencacahan).Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. b. Data primer dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 yang berada di Cileungsi.5. Dapat dijadikan salah satu sumber informasi mengenai analisi risiko fan hubungannya terhadap kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi. Bogor dan dilakukan selama bulan AprilAgustus 2010.

struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Penelitian ini dilakukan oleh

mahasiswa Program Studi kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

74

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecelakaan Kerja Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga karena di akhir peristiwa itu ada unsur ketidaksengajaan, tak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian materil maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Suatu peristiwa dapat digolongkan suatu kecelakaan jika bersifat diluar kamauan manusia, disebabkan oleh kekuasaan dari luar yang berlangsung secara cepat dan menyebabkan cidera badan dan jiwa (Suma’mur, 1996). Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang, kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah, 2003) 2.1.1 Penyebab Kecelakaan Kerja Menurut Sahab (1997), penyebab kecelakaan kerja di tempat kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan: 1). Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain. 2). Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain.

75

3). Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain. 4). Sifat kerja. 5). Cara kerja b. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: 1). Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan. 2) cacat tubuh yang tidak kelihatan. 3) keletihan dan kelelahan. 4) sikap dan tingkah laku yang tidak aman. Secara umum ada dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu penyebab langsung (immediate causes) dan penyebab dasar (basic causes) (Budiono, 2003): a. Penyebab Langsung Penyebab langsung atau kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) dan kondisikondisi yang tidak aman (unsafe conditions) Menurut Ferdy dan Yudi (2008), dari beberapa hasil riset menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995), berdasarkan statistik di Indonesia, 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak 76

aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan kerja dibandingkan dengan kondisi tidak aman (unsafe condition). Menurut Murthi dan Yuri (2009), unsafe act adalah suatu tindakan seseorang yang menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan dan dapat mengakibatkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun peralatan yang ada di sekitarnya. Pendapat lain yang berkenaan, unsafe act adalah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan (Silalahi,1995). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa unsafe act adalah semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dimana tindakan tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, peralatan maupun lingkungan yang ada di sekitarnya. b. Penyebab Dasar Terdiri dari dua faktor, yaitu faktor manusia/ pribadi dan faktor kerja/ lingkungan kerja. Faktor manusia/ pribadi, antara lain karena: kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurangnya/ lemahnya pengetahuan dan ketrampilan/ keahlian, stres, motivasi yang tidak cukup/ salah.Sedangkan faktor kerja/ lingkungan, antara lain karena: tidak cukup kepimpinan atau pengawasan, tidak cukup rekayasa, tidak cukup pembelian/ pengadaan barang, tidak cukup perawatan, tidak cukup standar-standar kerja, penyalahgunaan.

.

77

Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan menurunkan dalam bekerja kinerja dan (Budiono. motivasi menurun.2. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive). Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan yang subyektif. tulang. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut. sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat. menambah 2003). tendon. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pendapat lain mengatakan bahwasanya kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah. aktivitas 78 . sedangkan menurunnya rasa lelah.2 Kelelahan Kerja Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Nurmianto.1. Kelelahan kerja akan tingkat kesalahan kerja. Pembebanan otot secara statispun (Static Muscular Loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries). 2003). Selain itu karakteristik kelelahan akan meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan yang dilakukan. yaitu nyeri otot.

Selain itu Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati. kecemasan. kurang tenaga. tantangan.menurun. cara berpikir atau perbuatan anti sosial. dan gejala umum (sakit kepala. Menurut Winardi (2001) imbalan berupa gaji atau upahmerupakan salah satu dari imbalan ekstrinsik yang diterima melalui kegiatan bekerja. keterlibatan. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. kehilangan nafsu makan. gangguan pencemaan. 1994). pengembangan. 2. badan terasa tidak enak. pembahan tingkah laku. gangguan fungsi paru dan jantung. (depresi. kegelisahan. dan balas jasa. tanggung jawab. imbalan tersebut dapat dijadikan motivasi kepada pekerja agar pekerja bekerja dengan kinerja tinggi. Rizeddin (2000). tidak cocok dengan lingkungan.3 Motivasi Menurut Rawianto (1990) dalam Aldila (2009) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan motor penggerak adalah : Prestasi.Akan tetapi jika upah tersebut tidak 79 . Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. kehilangan inisiatif). kesempatan. penghargaan. vertigo. dan kesukaran tidur). Gejala kelelahan kerja menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973) yaitu menurun kesiagaan dan perhatian. 1982). Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. penurunan dan hambatan persepsi.1.

dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental Teori Herzberg pun menyatakan tingginya motivasi kerja pun dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik seperti. hubungan antar pribadi.dipenuhi. dan supervise. Menurut penelitian yang dilakukan Shinta Dwi (2009) dimana secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi dengan perilaku tidaka aman. kondisi kerja. tetapi jika pekerja mempunyai motivasi dalam diri yang rendah. gaya kepimimpinan. akan berpengaruh pada motivasi kerja. maka secara langsung perilaku pada saat bekerja akan menjadi tidak selamat. 80 . maka akan muncul pemogokan-pemogokan. Disebutkan bahwa adanya motivasi dalam diri karyawan yang tinggi maka perilaku pada saat bekerja akan menjadi selamat. apabila faktorfaktor ekstrinsik ini tidak dipenuhi makan.

81 .2. kelalaian manusia. kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: kondisi kerja.1. pengaruh lingkungan dan pendidikan. mengakibatkan seorang pekerja kurang hati-hati. kecelakaan dan cedera. Sebelum memahami bagaimana kecelakaan itu dapat terlebih dahulu kita harus memahami urutan bagaimana kecelakaan terjadi dan penyebabnya. Teori Domino Heinrich Dalam Teori Domino Heinrich. yakni pada orang yang memiliki sifat tidak baik (misalnya keras kepala) yang diperoleh karena faktor keturunan. Heinrich (1931) berpendapat bahwa kecelakaan pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan. Colling (1990) telah mencatat teori-teori kecelakaan sebagai berikut : 1. Mekanisme terjadinya kecelakaan diuraikan dengan “Domino Sequence” berupa: a. Ancestry and environment. tindakan tidak aman. dan banyak membuat kesalahan. Teori tersebut memberikan pengertian terhadap tindakan preventif dan menggambarkan semua factor yang berkaitan terhadap terjadinya kecelakaan atau memperkirakan dengan alasanalasan yang akurat kemungkinan sebuah kecelakaan akan terjadi.4 Teori Kecelakaan Kerja Terdapat sejumlah teori tentang kecelakaan.

tindakan yang berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain. c. Dengan penjelasannya ini.b. Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. jika satu bangunan roboh. Pada umumnya disertai dengan kerugian. Accident. kecacatan dan bahkan kematian. Unsafe act and mechanical or physical hazards. merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan tersebut di atas yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan. e. peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja. memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya. maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama. Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama 82 . Menurut Heinrich. d. kecelakaan mengakibatkan cedera/luka atau berat. Injury. Jika satu kartu jatuh. tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya. Menurut penelitian yang dilakukannya. Fault of person.

Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan Heinrich dalam Suardi (2005) menemukan sebuah teori yang dinamakan “Teori Domino”. perbuatan dan kondisi tidak aman (hazard). Dalam teorinya. kesalahan seseorang. Misalnya dengan membuang hazard.yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memeperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Heinrich mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan. 83 . dan kerugian. Birds dalam Suardi (2005) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. sumber penyebab dasar. yaitu manajemen. serta cidera. terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar. kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab-akibat. Teori itu menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera. Praktek di bawah standar (unsafe acts) dan kondisi di bawah standar (unsafe conditions) merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan dan merupakan penyebab utama dari kesalahan manajemen. yaitu kebiasaan. kontak. satu domino diantaranya. gejala. kecelakaan. Pada tahun 1967.

pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision). Berbeda dengan teori Domino Heinrich. Failure to correct problems d.2. tindakan tidak aman (unsafe acts). Teori Chess Model Dalam teori ini. Types of Human Errors: 1.Preconditions for Unsafe Acts a. Informasi berikut. menunjukkan bagaimana terjadinya suatu tindakan tidak aman itu. Poor practice of operator 3. Conditions of operator b. pra-kondisi yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman (preconditions for unsafe acts). Violations 2. Unsafe Act a. Errors b. Inadequate supervision b. James Reason membagi penyebab kelalaian/kesalahan manusia menjadi 4 tingkatan: 1. Improper planning c. Supervisory violations 84 . pengaruh organisasi (organizational influences). Swiss Cheese Model memberikan informasi perihal bagaimana suatu tindakan tidak aman dapat terjadi.Unsafe Supervision a.

Organizational InfluencesResource management a. Teori Kecelakaan Pettersen Model ini berbeda dari model Ferrell. maka kecelakaan menjadi tak terhindarkan. berbagai macam types of human errors ini merepresentasikan lubang pada sebuah keju. manajemen yang justru dituntut untuk melakukan segala upaya yang diperlukan untuk melindungi karyawannya 3. Jika keempat keju ini (unsafe act. Agar kecelakaan dapat dicegah. 85 . Penyebab-penyebab kecelakaan dan atau insiden dapat bersumber dari salah satu atau keduanya. and organizational influences) sama-sama mempunyai lubang. Melalui Swiss Cheese Model. dimana model ini menyertakan 2 (dua) kemungkinan penyebab kecelakaan seperti yang dikemukakan dari teori domino: kesalahan manusia atau kesalahan sistem. Organizzational process Dalam Swiss Cheese Model. Melalui pendekatan ini. Organizational climate b. Dalam berbagai aspek. karyawan tidak lagi menjadi pihak yang melulu dipersalahkan jika suatu kecelakaan terjadi. unsafe supervisions. manajemen mesti mengenali secara spesifik kemungkinan terjadinya kelalaian/kesalahan manusia pada tiap tahapan pekerjaan yang dilakukan karyawan.1. teori ini mampu memberi banyak sumbangan atas pencegahan kecelakaan kerja. preconditions for unsafe acts.

tekanan produksi.Model ini menyatakan bahwa di belakang kesalahan manusia ada 3 (tiga) kategori besar: beban yang berlebih.Teori ini mengadopsi teori Ferell yang menyertakan kesalahan sistem disamping kesalahan manusia. ini lebih masuk akal dalam situasi mereka mengerjakannya dengan tidak aman daripada mengerjakannya dengan aman. Teori ini mengemukakan bahwa pengambilan keputusan yang salah pada suatu kondisi yang disadari atau tidak bertindak tidak aman. Perbedaan yang utama adalah pada kategori ketiga yaitu keputusan yang keliru. ergonomic. Teori ini mengkategorikan tiga kelompok besar penyebab kecelakaau yaitu overload (sama dengan teori Ferell). dan pengambilan keputusan yang salah. Teori Loss Causation Model Loss Causation Model berisikan petunjuk yang memudahkan penggunanya untuk memahami bagaimana menemukan faklor penting dalam rangka mengendalikan meluasnya kecelakaan dan kerugian termasuk persoalan manajemen. dikarenakan tekanan dari teman. Kategori ini mengajukan bahwa para pekerja sering melakukan kesalahan melalui keputusan-keputusan secara sadar atau tidak sadar. Beban yang berlebih kurang lebih seperti Ferrell Model. prioritas sistem dimana mereka berada. Bird dan Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss) disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor 86 . dan keputusan yang keliru. 4. rangkap. dan lain-lain. Berkali-kali pekerja akan memilih untuk mengerjakan tugas dengan tidak aman karena sederhana saja.

faktor kepemirnpinan atau kepengawasan. Job factor. c. Faktor substandard diantaranya tindakan tidak aman seperti mengoperasikan unit 87 standar merupakan penyebab yang tidak bervariasi yang . Immediate causes meliputi faktor sub-standard dan faktor kondisi. b. tidak sesuainya design engineering. Personal factor. Inadequate programe Hal ini dikarenakan program yang berhubungan dengan ruang lingkup.yang berurutan seperti yang terdapat dalam Loss Causation Model. Immediate Causes Suatu kejadian yang secara cepat memicu terjadinya kecelakaan bila kontak dengan bahaya. yang terdiri dari: 1. Lack of Control (kurang kendali) Pengendalian adalah salah satu faktor penting dalam meneegah terjadinya kecelakaan. standar tidak jelas atau standar tidak baik. Basic Causes: (penyebab dasar) Penyebab dasar terjadinya kecelakaan disebabkan oleh: a. Inadequate compliance -with standards Kurangnya pemenuhan sering terjadi. 2. Inadequate programe standards Tidak spesifiknya standar. b. 3. Penyebab lack of control yaitu: a.

Olishifki (1985) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut : a. c.tanpa ijin.6 Klasifikasi kecelakaan Akibat Kerja Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut ILO tahun 1962 adalah sebagai berikut: 88 . Menurut Julian B. Aspek perangkat keras (peralatan. cara kerja. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga 2. Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsure yang berkaitan). mesin. dsb). d. Memberikan pendidikan (training) kepada tenaga kerja atau karyawan tentang kecelakaan dan keselamatan kerja. perlengkapan. Memperkecil (menekan) kejadian yang membahayakan dari mesin. yakni : a. 2.5 Pencegahan Kecelakaan Menurut Bennett NBS (1995) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati dengan dua aspek. faktor kondisi seperti kebisingan. ventilasi iklim kerja dan lain-lain. material dan struktur perencanaan b. Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut. b. letak.1.1.

Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan. antara lain: a. Klasisfikasi menurut penyebab. d. Mesin. c. Tertimpa benda jatuh. d. e. Terjatuh. e. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan. Peralatan lain. Terkena arus listrik h. Bahan-bahan. Memar dan luka dalam yang lain. Gegar dan remuk. Patah tulang. Regang otot atau urat. Tertumbuk atau terkena benda-benda. 89 . zat-zat dan radiasi. Amputasi. c. f. 3. b. Lingkungan kerja. Terjepit oleh benda. b. Luka-luka lain.1. e. antara lain: a. Pengaruh suhu tinggi g. antara lain: a. terkecuali benda jatuh. b. Diskolasi atau keseleo. Alat angkut dan alat angkat. d. Kontak dengan bahan-bahan yang berbahaya atau radiasi 2. f. g. c. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan.

k. baik secara fisik maupun mental. Banyak tempat g. 4. i. Kelainan umum 2. Leher c. Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya. Anggota bawah f. bahaya ditempat kerja adalah segala sesuatu di tempat kerja yang dapat malukai pekerja.2 Bahaya Menurut AS/NZS 4350:2004. Pengaruh radiasi. Akibat cuaca dan lain-lain. Sedangkan menurut Labor Occupational Health Program. n. m. Anggota atas e. j. Pengaruh arus listrik. Keracunan-keracuan mendadak (akut). antara lain: a. Kepala b.h. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh. bahaya adalah suatu sumber potensial yang merugikan. l. Mati lemas. 90 . Badan d. Luka bakar.

91 . lingkungan. 3. corrosive. Australia). cair. Plog. radiasi. proses produksi. 2002. getaran.1 Jenis-jenis Bahaya Jenis-jenis bahaya yang berada di tempat kerja secara garis besar dikelompokan menjadi (Wells. Physical hazard (Bahaya Fisik) Berupa energy seperi kebisingan. 2. pencahayaan. Donoghue. flammable.Hazard atau bahaya adalah potensi yang dimiliki oleh bahan/ material. Bahaya dalam K3 adalah bahaya yang terdapat dilingkungan kerja yang dapat berasal dari bahan baku/material. limbah dan pekerja itu sendiri (Hendra. Biological hazard Bahaya yang berasal dari mikroorganisme khususnya yang pathogen yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. produk.2. proses kerja. tempratur ekstrim. reactive. dan struktur (ILO encyclopedia). 2. 1996.Bahaya mewakili satu sumber energy yang memilki potensi yang dapat menyebabkan terjadinya cidera pada pekerja. kerusakan pda peralatan. irritant. seperti bakteri. 2009). Chemical hazard Bahan kimia berbahaya dalam bentuk gas. virus. explosive. 2004) 1. padar yang mempunyai sifat toksik. jamur. tekanan udara. asphyxia. proses atau cara kerja yang dapat menimbulkan kerugian terhadap keselamatan dan kesehatan seseorang (Workover. lingkungan kerja.

tekanan pekerjaan. pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang.2. Psychological hazard (bahaya psikososial) Stress. 2.Ada tiga jenis pengendalian (Diane Bush. terjepit. jam kerja yang panjang. tersayat. 7.Electrical hazard (bahaya listrik) Merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik pendek (konsleting).2 Pengendalian Bahaya Pekerja tidak dapat dilindungi apabila bahaya yang ada belum diidentifikasi dan dievaluasi. tertusuk. tergores. Mechanical hazard (bahaya mekanik) Bahaya yang terdapat pada benda-benda atau proses yang bergerak yang dapat menimbulkan dampak seperti terpotong. dkk. Ergonomic (Aspek ergonomik) Merupakan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan sebagai akibat dari ketidaksesusaian antara desain kerja dengan pekerja. 2000) 92 .4. Berbagai metode untuk melindungi pekerja atau pengendalian bahaya telah diciptakan. 6. loncatan listrik/ listrik statik. dan cara kerja yang salah 5 . kekerasan ditempat kerja.

Pengendalian engineering merupakan pengendalian yang terbaik karena menghilangkan bahaya yang ada atau menghilangkan kemungkinan bahaya tersebut mengenai pekerja. untuk pemaparan Pengendalian administrative tidak menghilangkan bahaya secara langsung. Pengadaan ruang control 93 . Sasaran dari pengendalian teknik adalah bahaya yang secara langsung dan efektifitasnya tidak tergantung pada perilaku pekerja. Menggunakan produk yang lebih aman c. Pengendalian Administratif Pengendalian membatasi administrative melalui adalah rencana pengendalian kerja.1. Rotasi atau pergantian shift kerja b. tetapi digunakan untuk membatasi waktu kontak antar pekerja dengan bahaya. Memasang ventilasi buangan local 2. pengendalian administrative bergantung pada perilaku manusia.Yang termasuk dalam jenis pengendalian engineering antara lain adalah : a. Mendesain ulang mesin b. Yang termasuk dalam pengensalian administrative antara lain : a. Pengendalian Engineering Adalah pengendalian yang dilakukan dengan tujuan mengurangi bahaya pada sumber dan media transmisinya.Untuk menjadi efektif. Mengisolasi proses atau pekerja d.

Alat pelindung diri digunakan sebagai cara terakhir untuk melindungi pekerja bila pengendalian engineering dan administrative tidak mungkin dilakukan atau dalam keadaan darurat. Monitoring lingkungan 3.Alat pelindung diri tidak menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yang ada. Standard Operation Procedure (SOP) DAN Work Instruction h. f. Pengadaan pelatihan d. Ear plug dan ear muff. Pengadaan color code labeling dan material safety data sheet (MSDS) e. Housekeeping atau penataan tempat kerja yang ringkas. Ada banyak sekali jenis-jenis alat pelindung diri. proteksi pendengaran 2. pelindung kaki 94 .c. diantaranya : 1. rapi. Pemeriksaan kesehatan g. Safety shoes. Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadapa potensi bahaya/kecelakaan kerja akibat proses produksi atau pekerjaan. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya Dengan menempatkan penghalang antara pekerja dengan bahaya. Kebijakan-kebijakan K3 i.

Risiko dalam konteks K3 berarti besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan potensi kerugian yang muncul.3 Risiko Menurut AS/NZS 4360:2004. Kerugian-kerugian yang biasanya terjadi dalam risiko keselamatan adalah cedera. bahan kimia.Risiko ini dapat terjadi sewaktu-waktu. bersifat akut dan fatal. kerusakan property dan kerugian produksi dan penjualan. Helm. Safety goggle.3. pelindung mata 4. kehilangan hari kerja.3. risiko diukur berdasarkan adanya kemungkinan terjadinya suatu kasus dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan. Safety risk (risiko keselamatan) Risiko keselamatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan rendah untuk terjadi tetapi memiliki konsekuensi besar. uap. Kolluru. 2. 1996) a. fume 2.1 Jenis-jenis Risiko Adapun jenis-jenis risiko yaitu (Rao V. risiko adalah suatu kesempatan dari kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan dampak pada sasaran. pelindung kepala 5. Masker. dkk. Sarung tangan 6. 95 . melindungi pernafasan dari debu. asap. baik dampak kesehatan maupun yang lainnya.

Sehingga hal-hal yang tidak diharapkan seperti pencemaran air dan udara dapat dihindari. Health risk (risiko kesehatan) Risiko kesehatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk kterjadi tetapi memiliki konsekuensi yang rendah. gangguan syaraf. berubahnya fungsi dan kapasitas habitat dan ekosistem serta kerusakan sumber daya alam d. berdampak besar pada populasi atau komunitas.b. Financial risk (risiko keuangan) Risiko keuangan berkaitan dengan masalah ekonomi. gangguan reproduksi dan gangguan metabolic atau sistemik. mempunyai masa laten yan panjang. Penyakit-penyakit yang terjadi misalnya gangguan pernafasan. contohnya adalah kelangsungan suatu bisnis. Enviromental risk (risiko lingkungan) Risiko ini berhubungan dengan keseimbangan lingkungan. 96 .Risiko jenis ini dapat terjadi kapan saja secara terusmenerus dan berdampak kronik. asuransi dan inventasi e. c. Ciriciri risiko lingkungan adalah perubahan yang tidak signifikan. Public risk (risiko masyarakat umum) Risiko ini berkaitan dengan kesejahteraan kehidupan orang banyak.

2. 6. Menetapkan evaluasi untuk menetapkan skala prioritas dan membandingkan dengan kriteria yang ada. Melaksanakan identifikasi risiko. 97 . 2. 7. 5. Melakukan pengendalian risiko yang tidak dapat diterima. manajemen risiko adalah pemeliharaan. yaitu : 1. Beberapa tahapan dalam melaksanakan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. dan struktur yang mengacu langsung pada pengetahuan efektif terhadap kesempatan potensial dan efek yang merugikan. Menetapkan tujuan dan lingkup pelaksanaan manajemen risiko. Komunikasi dan konsultasi yang dilakukan dalam proses manajemen risiko yang melibatkan pihak internal dan eksternal.4 Manajemen risiko Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. 3. Melakukan analisis risiko untuk menetapkan kemungkinan dan konsekuensi yang akan terjadi serta menetapkan tingkat risiko. 4. proses. Melakukan pemantauan dan tinjauan ulang program manajemen risiko yang telah dilaksanakan.

Membantu meminimalisasikan meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi.1 Tujuan Manajemen Risiko Manajemen risiko bertujuan untuk memaksimalkan kemajuan dalam mencapai tujuan organisasi dengan cara meminimalkan kerugian yang akan terjadi.4. Tujuan manajemen risiko menurut AS/NZS 4360 (1999) adalah sebagai berikut : 1. 2005).1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999 2. 2. 3. RISKS ASSESMENT IDENTIFY RISKS 98 . Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan kerugian.\ COMMUNICATE AND CONSULT ESTABLISH CONTEXT MONITOR AND REVIEW ANALYSE RISKS EVALUATE RISKS TREAT RISKS Gambar 2. (Supriyadi.

2. Beberapa contoh metode identifikasi risiko tersebut adalah sebagai berikut : 99 . Melakukan peningkatan pengmbilan keputusan pada semua level. Menciptakan manajemen proaktif bukan reaktif. 3.2 Manfaat Manjemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 (2004) manfaat menerapkan manjemen risiko adalah : 1.4. 4. 6. 5. 5. Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan dari kemungkinan tersebut. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif.5 Metode Identifikasi Risiko Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi risiko untuk mengetahui faktor penyebab dan proses terjadinya konsentrasi atau dampak. Menyusun program yang tepat untuk menimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan. 2. lingkungan kerja. Meningkatkan produktifitas kerja. Mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan perlindungan aset.4. produksi dan mencapai performa perusahaan yang lebih baik. 2. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

1990). Hazard and operability Study and operability Study (HAZOPS) dapat digunakan untuk Hazard mengidentifikasi bahaya pada industri kimia. c. 1999). (Colling. Failure Mode Effect Analysis Failure Mode Effect Analysis adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis sistem yang berhubungan dengan engineering yang mungkin mengalami kegagalan dan efek yang ditimbulkan dari kegagalan. 1990). Check List Check List digunakan sebagai cara untuk mengetahui kondisi awal pada suatu kondisi yang meliputi aspek-aspek safety.a. tingkat bahaya yang dihasilkan dari kegagalan dan bagaimana kegagalan tersebut dicegah atau diminimalisasi (Colling. Preeliminary Hazard Analysis dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem tersebut. Safety checklist dapat digunakan untuk mengevaluasi perangkat peralatan. d. konsep design atau prosedur operasi (Diberadinis. b. HAZOPS digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan safety 100 . Failure Mode Effect Analysis secara sistematis menilai komponen dari dari suatu sistem tentang bagimana sistem dapat gagal lalu mengevaluasi efek dari kegagalan tersebut. fasilitas. Preeliminary Hazard Analysis Preeliminary Hazard Analysis adalah suatu metode yang dilakukan dalam mengetahui bahaya-bahaya awal pada suatu sistem baru.

1996).5. b) Membagi pekerjaan ke dalam tahapan tugas. 101 . Fault Tree Analysis (FTA) Fault Tree Analysis (FTA) dapat digunakan untuk memprediksi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau digunakan sebagai alat investigasi setelah terjadi kecelakaan (Geostsch. 2. e. 1996).1 Job Safety Analysis (JSA) Menurut OSHA 3071:2002 JSA (Job Safety Analysis) merupakan salah satu teknik atau cara untuk mengidentifikasi risiko sebelum risiko tersebut terjadi pada suatu kegiatan yang sedang berjalan. JSA dapat digunakan untuk menghulangkan atau mencegah bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. c) Mengidentifikasi bahaya atau risiko keselamatan kerja yang ada pada setiap tahapan tugas. membuat metode kerja yang lebih efektif Tahapan pelaksanaan Job Safety Analysis terdiri adari empat langkah yaitu : a) Memilih pekerjaan yang akan dianalisis. Job Job Safety Analysis Safety Analysis adalah suatu proses yang dilakukan dalam mengidentifikasi bahaya melalui langkah-langkah kerja yang ada. f.dan bahaya pada lingkungan dan memproses masalah yang dapat berdampak pada efisiensi operasi (Kolluru. Setiap langkah dianalisis untuk mengisentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut (Geotsch. 1996).

Job Safety Analysis berisikan informasi mengenai (Colling. Pendekatan JSA sangat mudah dipahami. e. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan metoda Job Safety Analysis yaitu (Diberardinis. c. Dokumentasi JSA juga dapat digunkan sebagai bahan studi. Job Berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan untuk masaing-masing tahapan kegiatan. c. 1990) : a. yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. Proses pada JSA dapat memberikan kesempatan pada individu untuk mengenali natau memberikan pengetahuan mengenai operasi. b. b. tidak membutuhkan suatu tahapan dalam training dan dapat dengan cepat disesuaikan dengan pandangan individu. 1999) : a.d) Menentukan prosedur atau tindakan pengendalian guna meminimalisasi risiko tersebut. d. Hazard (Bahaya) 102 . Task Berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang nantinya dapat digunakan untuk melatih (sebagai bahan training) pekerja baru.

e. Menurut AS/NZS 4360 (1999) analisis risiko adalah suatu kegiatan sistematik dengan menggunakan informasi yang ada untuk mendeterminasi seberapa besar konsequensi (severity) dan tingkat keseringan (likelihood) suatu kejadian yang ditimbulkan. ergonomi) apakah yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan. biologi. bangunan dan lingkungan. analisis risiko adalah sistematika penggunaan informasi yang tersedia untuk mengidentifikasi hazard dan untuk memperkirakan suatu risiko terhadap individu. mekanik. terkadang) dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan. 103 . populasi. inspeksi atau audit K3 di tempat kerja. kimia. Consequency Berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan pekerjaan.Untuk mengetahui jenis bahaya (fisik. Probability (Kemungkinan) Berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera (sering. 2. pemeriksaan dan pengujian peralatan kerja serta analisis data kecelakaan dan penyakit akibat kerja di perusahaan. Selain sejumlah metode di atas. konsultasi dengan pihak pekerja. d. prose identifikasi risiko juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman terdahulu atau masalah yang serupa.6 Analisis Risiko Menurut Kolluru (1996).

Analisis risiko adalah kegiatan menganalisis suatu risiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan dari akibat suatu risiko (Purwanto. Tujuan dilakukannya analisis risiko adalah untuk membedakan antara risiko kecil dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko (AZ/NZS 4360. pekerja dapat berperilaku tidak aman. jumlah dan karakteristik pekerja yang terpapar bahaya. kondisi area kerja. jumlah dan karakteristik bahaya yang memapar pekerja. 2006). Dalam bekerja. peralatan kerja. kondisi peralatan kerja. Sumber risiko Merupakan asal atau timbulnya risiko yang dapat berupa material. Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis risiko adalah : a. Faktor probabilitas juga berkaitan dengan faktor perilaku pekerja dalam melakukan pekerjaannya. 1999). Probabilitas Merupakan besaran kemungkinan timbulnya risiko. b. Hal itu dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap bahaya dan sumber risiko yang ada dalam proses kerja dan di tempat kerjanya. yang digunakan dalam proses kerja. keterbatasan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki pekerja saat pekerja seperti kondisi fisik pekerja yang sakit saat melakukan 104 . serta efektifitas tindakan pengendalian bahaya yang telah dilakukan sebelumnya. kondisi area kerja dan perilaku pekerja. Ditentukan dengan menganalisis frequensi paparan bahaya terhadap pekerja.

kerugian finansial tinggi. Ditentukan dengan analisis atau kalkulasi statistik berdasarkan data-data yang terkait atau melakukan estimasi subjektif berdasarkan pengalaman terdahulu. kerugian finansial sedang. Tabel 2. Konsequensi Merupakan besaran dampak yang ditimbulkan dari risiko. menimbulkan kerugian akibat berkurangnya kemampuan berproduksi. efeknya mempengaruhi tetapi tidak merugikan lingkungan sekitar. penanganan dilakukan tanpa bantuan pihak luar.1 Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif Level 1 2 Deskripsi Insignificant Minor Definisi Tidak terjadi cidera. kerugian finansial besar. Analisis risiko kualitatif Umumnya pada metode ini menggunakan bentuk matriks risiko dengan dua parameter. penanganan membutuhkan bantuan pihak luar.1 dan tabel 2.pekerjaan atau stress yang dialami pekerja yang berpengaruh dalam penurunan konsentrasi pekerja. Cidera berat. Membutuhkan penanganan medis. c. yaitu peluang dan akibat.2. kerugian finansial rendah Membutuhkan penanganan P3K. Menurut AZ/NZS 4360 (1999) terdapat tiga metode yang digunakan dalam menganalisis risiko di tempat kerja : 1. Skala ukur konsekuensi dan kecenderungan (likelihood) secara kualitatif menurut Risk Management AS/NZS (1999) yang dapat dilihat pada tabel 2. 3 Moderate 4 Major 105 .

perbedaannya yaitu uraian atau deskripsi dari parameter yang ada pada analisis semikuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. analisis semikuantitatif mempertimbangkan kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen.Menyebabkan kematian. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Tabel 2. kerugian finansial yang sangat besar. Terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi dari paparan dengan probabilitas terjadinya risiko. Analisis Semikuantitatif Analisis semikuantitatif bukan bagian dari analisis kuantitatif. efeknya mempengaruhi dan merugikan lingkungan sekitar. yaitu: 106 . Dalam metode analisis semikuantitatif terdapat 3 unsur yang dijadikan pertimbangan. yaitu probabilitas (likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi.2 Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif Level A B C D E Definisi Pasti terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Akan terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Sewaktu-waktu mungkin akan terjadi Sewaktu-waktu dapat terjadi Mungkin terjadi pada keadaan-keadaan tertentu saja Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Deskripsi Almost Likely Possible Unlikely Rare 5 Catasthropic 2. analisis ini menghasilkan prioritas yang lebih rinci dibandingkan dengan analisis kualitatif. Pada prinsipnya metode ini hampir sama dengan analisis kualitatif. karena risiko dibagi menjadi beberapa kategori. Menurut AS/NZS 4360:1999.

kerusakan kecil dengan kerugian produk sebesar <$500. Serious Cidera atau penyakit yang serius tetapi sementara (tidak menetap). memar. Paparan (exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi interaksi antara sumber risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja serta Kategori Catastrophic Rating 100 50 25 15 5 1 menggambarkan kesempatan yang terjadi ketika sumber risiko ada 107 . efeknya dapat dirasakan tetapi tidak terlalu merugikan.000.000. Tabel 2. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) b.a.000. Konsekuensi (consequences) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek yang ditimbulkan oleh sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Important Membutuhkan penanganan medis.000$2.000.3 Kategori Konsekuensi Secara Semikuantitatif Deskripsi Kerusakan yang sangat parah dengan kerugian di atas $1. kerugian $5. kerusakan sementara terhadap lingkungan. atau penyakit yang ringan. efek yang merugikan terhadap lingkungan.000. Disaster Kematian. kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. terhentinya aktivitas.000. kerugian sebesar $500-$5. kerugian $50.000.3. dan menetap terhadap lingkungan. Noticeable Luka ringan. kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan dengan kerugian $500.000-$50. Tingkat konsekuensi metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. Very serious Cacat atau penyakit yang menetap.000-$500. kerusakan besar-besaran.

yang akan diikuti oleh dampak atau konsekuensi yang akan ditimbulkan.5 : Risk Management AS/NZS 4360 (1999) c.5 Kategori Likelihood Secara Semikuantitatif Kategori Deskripsi Almost certain Akibat yang paling mungkin timbul apabila kejadian tersebut terjadi Likely Kemungkinan terjadi 50-50 Rating 10 6 108 .4.4 KategorExposure Secara Semikuantitatif S Kategori u Continously m Frequent Occasionaly b Infrequent e Rare r Very rare Deskripsi Terjadi secara terus-menerus atau setiap hari Terjadi kira-kira satu kali setiap hari Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun Pernah terjadi tetapi sangat jarang Tidak pernah terjadi Rating 10 6 3 2 1 0. Kemungkinan (likelihood) Kemungkinan adalah nilai yang menggambarkan kecenderungan terjadinya konsekuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.5 Tabel 2. Tabel 2. Tingkat konsekuensi tersebut akan ditentukan ke dalam beberapa kategori tingkat paparan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.

1 Tingkat risiko (level of risk) pada analisis semikuantitatif merupakan hasil perkalian dari variabel konsekuensi. paparan. Nilai risiko = Consequences (C) x Exposure (E) x Likelihood (L) Tingkat risiko metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2.Unsual Remotely possible Conceivable Kemungkinan terjadi tetapi jarang Kejadian yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi Mungkin terjadi. Practicaly Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak mungkin impossible terjadi Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 3 1 0.5 0. dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun.6.6 Kategori Tingkat Risiko (Level of Risk) dengan Metode Semikuantitatif Tingkat Risiko (Level of Risk) >350 Comment Very high Tindakan Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima 180-350 Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin 70-180 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis 20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan <20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 109 .

3. 1998): Tabel 2. yaitu (Cross. a. Orang lebih percaya angka daripada penglihatannya. Keuntungan analisis kuantitatif antara lain: a. Kelemahan analisis kuantitatif antara lain: a. b. Semikuantitatif a. Metode Analisis 1. Kelebihan Lebih mudah Lebih cepat Lebih akurat daripada analisis kualitatif Lebih mudah dan cepat daripada analisis kuantitatif Kekurangan Kurang akurat daripada analisis yang lain a. Harus mengacu model.7 Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross (1998) No. b. Membuktikan kebenaran bahwa hasil intuisi kita bisa salah. Skala yang digunakan harus tepat untuk menentukan tingkat risiko a. Kuantitatif Lebih akurat daripada analisis lainnya 110 . Mempertimbangkan secara detail faktor dari efek risiko. 3. Analisis Kuantitatif Merupakan langkah pertama dalam kuantifikasi risiko adalah mendefinisikan kemungkinan outcome. Dalam menentukan angka konsekuensi menjadi seragam. Kurang akurat daripada analisis kuantitatif b. b. Total risiko adalah total dari semua potensi risiko. Kualitatif 2. Masing-masing metode analisis di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan. c. Waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada analisis lainnya b.

b. lebih mudah dan cepat daripada analasis kuantitatif. 111 . yaitu lebih akurat daripada analisis kualitatif. dan pertimbangan pemaparan yang dijadikan faktor tingkat risiko menurut AS/NZS 4360:1999. Jean Cross. penulis menggunakan metode semikuantitatif berdasarkan pertimbangan kelebihan metode analisis risiko menurut Cross. Sumber data harus memadai dan representative Sumber: Risk Management Study Notes. 1998 Dari ketiga metode analisis yang ada.

dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360.peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. 1999/2004. Maka dapat diketahui hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Setelah mendapat hasil analisis risiko maka gambar pertama akan menjelaskan hubungannya dengan gambar kedua yaitu kejadian kecelakaan kerja yang didapat berdasarkan data kecelakaan kerja perusahaan .1 Kerangka Berpikir Penelitian ini bertujuan menghubungkan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 secara kulaitatif. Pada gambar pertama . 112 .BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH 3. peneliti melakukan komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder internal. Setiap tahapan analisis risiko.

Analisis Risiko Menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan Menentukan nilai risiko = konsekuensi x paparan x kemungkinan Menentukan kategori tingkat risiko

Kejadian kecelakaan kerja di Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir Analisis Tingkat Risiko

113

3.2 Definisi Istilah Tabel 3.1 Definisi Istilah Tahapan Manajemen Risiko (Menjelaskan) No. Nama Istilah Definisi Sebuah sistematika Alat Ukur Pedoman Cara Ukur Wawancara dan

1. Analisis Risiko

a. proba

yang wawancara dan observasi lembar

b. conse

menggunakan informasi didapat menentukan seberapa kejadian sering tertentu

c. expos

yang observasi untuk

dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut kegiatan shredding 1.1 Probabilitas (probability) Kemungkinan terjadinya kecelakaan kegiatan shredding Pedoman Wawancara dan 10 pada proses

Alm

suatu wawancara dan observasi dari lembar proses observasi 3 6

pali

Like

kec

Uns

nam 1

Rem

keja

kem 0,5

Con

114

kec

pem 0,1

Pra

tida 1.2 Konsekuensi (consequence) Perkiraan dampak Pedoman negative mungkin dari Wawancara dan 100

Cat

yang wawancara dan observasi timbul lembar kegiatan observasi 50

keru

ling

Dis

proses Shredding

perm

terh 25

Ver

keru

perm 15

Seri

men

perm

buru 5

Imp

med

dala

keru 1

Not

ring

keru

pros 1.3 Pajanan (exposure) Frekuensi pajanan Pedoman bahaya kegiatan Wawancara dan 10

Con

dari wawancara dan observasi proses lembar

seha

115

shredding

observasi 6

Fre

seha 3

Occ

sam 2

Infr

sam 1 0,5

Rar

Ver

terja 1.5 Tingkat Risiko Kategori berdasarkan hasil ini Rumus analisis Mengkalikan dari risiko semi consequence likeklihood exposure . >350 x x

Ver

sam

perkalian kuantitatif

antara probability, “tingkat risiko consequence, dan exposure kegiatan Shreeding pada proses

180350 70180 20-70

Prio

sece

Sub

perb

Prio

<20

Acc

sela

116

2003) 117 .2 Definisi Istilah Kecelakaan Kerja (Dijelaskan) No.Tabel 3. kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah. 1. Nama Istilah Kecelakaan Kerja di Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk Definisi Alat Ukur Cara Ukur Kecelakaan kerja Pedoman Wawancara dan Gambaran kejad adalah kejadian Wawancara dan Observasi Shredder facility P yang tidak lembar observasi diinginkan yang berhubungan dengan pekrjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang.

Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2010 4.Hasil analisis risiko yang diperoleh dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1. 4.BAB IV METODE PENELITIAN 4. yang berlokasi di Jalan Raya Narogong Kecamatan Kelapa nunggal Bogor. unit Geocycle. 4. Pada penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja diggunakan metode analisis risiko semikuantitatif berdasarkan standar AS/NZS 4360:1999/2004. PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.2.2.3. Informan 118 .1 Metode Penelitian Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Shredder facility.2.Holcim Indonesia Tbk.

petugas OS&H 2. pekerja shredder dan korban kecelakaan. yaitu dengan mengamati pekerja pada setiap tahapan proses shredding di PT Holcim Indonesia 119 . Pekerja PT. Pekerja unit Shredder facility PT. Sedangkan.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility 4. I 3. korban kecelakaan kerja yang bertanggung jawab terhadap 4.Kriteria informan pada penelitian ini adalah : 1. penanggung jawab Shredder facility 3. penanggung jawab Shredder. pekerja yang bertugas pada bagian pengoperasian shredder 4. selain itu data primer dapat pula diperoleh melalui observasi langsung dengan menggunakan alat dokumentasi berupa kamera.Holcim Indonesia Tbk 2.Holcim Indonesia Tbk yang berinteraksi langsung dengan proses Shredding. Pekerja yang mengetahui kronologi kejadian kecelakaan kerja yang pernah terjadi Sebagai informan pada penelitian ini adalah : 1. Pekerja unit Shredder facility PT.4 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari wawancara dan observasi kepada petugas OS&H berupa profil perusahaan dan data kecelakaan kerja di Shredder facility. data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas OS&H.

pekerja shredder dan korban Kecelakaan Wawancara dan studi dokumen Pedoman Wawancara dan lembar observasi Petugas OH&S dan penanggung jawab Shredder Wawancara dan observasi Pedomana Wawancara dan lembar observasi Tabel 4.2 120 . Data kecelakaan kerja Petugas OH&S.Tabel 4. Penanggung jawab Shredder. Struktur Organisasi OH&S dan tahapan pekerjkaan Shredder facility 2.1 Data Sekunder No. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Instrumen Penelitian 1.

Risiko di Shredder Facility Wawancara Pedoman Wawancara 4.Data Primer No. dilanjutkan dengan identifikasi risiko menggunakan 121 . 1999/2004. Nama Data Sumber Metode Pemgumpulan Instrumen Penelitian 1. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360.5 Pengolahan Dan Analisis Data Pada tahap awal penelitian ini. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Observasi Kamera 2. Diawali dengan penentuan ruang lingkup dengan melihat struktur organisasi OH & S PT. Gambar pekerjaan Shredder facility Petugas OS&H. peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. Penanggung jawab Shredder.Holcim Indonesia Tbk dan tahapan pekerjaan di Shredder facility.

job safety analysis ( JSA) untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja. waktu kecelakaan kerja. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah. Selanjutnya tingkat risiko yang didapatkan dari hasil analisis risiko dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT.6 Validitas data 122 . dan kemungkinan. Setelah mendapatkan nilai risiko. kemudian melakukan analisis risiko dengan menggunakan metode analisis semikuantitatif berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard 4360:1999/2004 untuk menentukan konsekuensi. Langkah selanjutnya yaitu menentukan nilai risiko dengan rumus: Nilai Risiko : Konsekuensi x paparan x kemungkinan . 4. dampak kecelakaan kerja dan pengendalian yang saat itu diterapkan. paparan.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Data yang diperoleh dari hasil wawacara ini adalah kronologi kejadian kecelakaan kerja. yaitu tahun 2008 dengan melakukan wawancara dan studi dokumentasi. dan upaya pengendalian yang telah dilakukan pihak perusahaan. mendapatkan gambaran kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada shredder facility dari sejak awal berdirinya. penyebab. kemudian menentukan tingkat risiko dari setiap tahapan pekerjaan dalam bentuk skor.

Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 123 . Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 2. Data Kecelakaan Kerja Petugas penanggung Shredder. Dalam penelitian ini.3 Tabel Triangulasi Sumber No. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Data 1. Risiko facility di Shredder Petugas penanggung Shredder.Validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi data. pekerja OS&H. Tabel 4. Teknik triangulasi data ini digunakan untuk keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding suatu data. pekerja OS&H.

Nama Data Profil Perusahaan Alur pekerjaan Metode Wawancara dan observasi Wawancara dan Observasi 124 . 1.Sedangkan triangulasi metode adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda.4 Triangulasi Metode No. 2. Tabel 4.

1.BAB V HASIL 5. maka dibentuk suatu tim yang ringkas tetapi memiliki kemampuan cepat dalam pembuatan peraturan.1 Struktur Organisasi OH&S Corporate Holcim 125 . kontraktor dan pengunjung Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5.Tim K3 di PT Holcim Indonesia Tbk ini disebut tim OH&S yang memiliki tujuan mencapai nilai nihil “nil” kecelakaan pada karyawan.1 Struktur Organisasi OH&S Sesuai dengan tujuan Sistem Manajemen K3 untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman.1 Struktur Organisasi OH&S dan Tahapan Pekerjaan Proses Produksi Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 5. standar K3 perusahaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan sistem manajemen K3. efisien dan produktif..

1 OH&S Project 1. OH&S Pyramid ini wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota group Holcim dengan pencapauian green pyramid OH&S Green Pyramid Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5. hadiah untuk karyawan. Identifikasi Bahaya Identifikasi bahaya dilakukan secara serentak oleh seluruh organisasi.1. Kampanye K2 Kampanye K3 yang dilakukan secara aktif seperti 10 prinsip keselamatan. identifikasi bahaya ini disusun oleh perwakilan unit kerjayang tergabung dalam Multi Diciplinary Team dengan anggota 34 orang 2.Dengan acuan kepada Undang-undang dan pemerintahan Indonesia serta OSHAS 18001. tema k3 bulanan.2 Green Pyramid 5. Holcim mengembangkan OH&S Pyramid yang dijadikan standar K3 yang dibuat oleh Holcim dan diperkenalkan akhir tahun 2002. 126 . door to door OHS coaching.1.

Pelaporan Bahaya Perlu tersedianyya sistem yang mudah bagi karyawan untuk melaporkan bahaya yang ditemuinya di tempat kerja. Kontraktor Training f. Sertifikasi juru las b. penghargaan bagi karyawan 3. Safety Observation Tour Merupakan sarana untuk memperlihatkan kepedulian atasan akan keselamatan anggotanya 7. Promosi program K3 baru d. Penghargaan bagi karyawan Perlu adanya penghargaan individu bagi karyawan yang berpartisipasi dalam program K3. 5. Sertifikasi operator forklift 4. Pelatihak K3 di training center e. Planned Inspection 127 . program ini baru diperkenalkan tahun 2006 6. Peningkatan skill fire brigade c. Induksi dan Training a. presentasi di manager forum. maka dibuatkan suatu sarana yang mudah dan jelas penanggungjawabnya untuk menindaklanjuti laporan bahaya dari karyawan.majalah K3 untuk karyawan.

Perlombaan K3 antar unit kerja Diperlukan adanya sarana yang dapat meningkatkan kerjasama yang terkait dengan K3. Safety Talk Adanya komunikasi antara Pekerja dan Atasan.Untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan keselamatan di tempat kerjanya. 10 Peraturan Keselamatan Merupalakan pedoman bagi pekerja dan kontraktor akan peraturan keselatan di tempat kerja. Induksi Keselamatan tamu adalah tanggung jawab Kita bersama. Kesehatan Tempat Kerja Menciptkan tempat kerja yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas pekerja 11. OH&S Audit OH&S audit dilakukan secara berkala terhadap pelakasanaan sistem K3 128 . Fire Volunteer Untuk mempercepat penanganan kebakaran dan kecelakaan 14. diperkenalkan kepada seluruh pekerja semenjak April 2005 9. 13. yang dilakukan pada bulan K3. dengan melibatkan seluruh karyawan terutama karyawan tingkat dasar (member) 8. selain untuk membina pekerja juga untuk memperlihatkan komitmen Atasan akan K3 12. maka sudah kewajiban penerima tamu untuk memberikani induksi terhadap tamunya 10.

minyak atau solar. Tahap Persiapan Awal (Housekeeping ) diawali dengan proses persiapan awal yang bertujuan agar proses kerja berjalan dengan baik dan bersih. seperti : 1. Proses pencacahan limbah yang biasa disebut proses shredding terdiri dari beberapa tahapan yang saling berhubungan untuk setiap prosesnya. 129 . Untuk membersihkan handrail dari residu material. Tujuan dari pembersihan handrail ini adalah agar fasilitas shredder berada pada kondisi yang bersih dan aman. Proses di Shredder facility dilalui oleh beberapa tahap. Posisi handrail berada melingkupi Shredder dan sebagian besar terletak pada ketinggian < 2 m. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. biasanya pada proses persiapan awal ini para pekerja melakukan housekeeping seperti a.1. Dimana Shredder adalah salah satu layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. Membersihkan handrail Tahap membersihkan Handrail ini dilakukan setiap awal shift atu 3 kali dalam sehari.5. helper menggunakan air.2 Tahapan Pekerjaan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 Shredder facility merupakan salah satu sub-bagian dari Geocycle.

b. Adjusting belt conveyor (meluruskan belt conveyor) Tahap Adjusting belt conveyor ini dilakukan seminggu sekali. gunting atau bar (tongkat panjang). . helper menggunakan bar (tongkat panjang). 130 . Tujuan dari membersihkan screen ini adalah melancarkan screen dari material yang tersangkut. sebelum Shredder diaktifkan pada awal shift . d. Tujuan dari Adjusting belt conveyor adalah meluruskan belt conveyor yang keluar dari jalur akibat material. Membersihkan screen Tahap membersihkan screen ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari khususnya ketika ada material yang tersangkut pada screen. helper menggunakan screw. Mengecek chute magnet separator Tahap mengecek chute magnet separator ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari. Posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 m. helper menggunakan cutter. Tujuan dari pengecekan chute magnet separator ini adalah melihat apakah chute magnet separator masih berfungsi dengan baik dan melihat apakah terdapat plak yang menempel pada chute magnet separator . Untuk membersihkan plak pada chute magnet separator. c. Untuk melancarkan screen. Untuk adjusting belt conveyor.

Tujuan dari perapihan material oleh wheel loader ini adalah melihat agar material di storage rapi dan tidak berceceran keluar storage. a. a. khusus 131 . proses ini merupakan tahap awal dari proses pencacahan limbah di unit Shredder facility. Perapihan material oleh wheel loader Tahap perapihan material oleh wheel loader ini dilakukan setiap hari. agar limbah cair lebih mudah bersatu dengan material lainnya. Shredding merupakan inti dari kegiatan pada Shredder facility.2.Material yang dirapihkan oleh wheel loader adalah berbagai material limbah (cair dan padat ) khusus limbah cair. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. pekerja hanya bersifat mengawasi dan melakukan pembersihan. Proses Persiapan dan Penyimpanan Material Tahapan proses persiapan dan penyimpanan material pada storage antara lain. Shreeding material pada Hooper Tahap Shreeding material pada Hooper ini dilakukan setiap saat selama material tersedia. 3.Material yang dimasukkan pada Hooper adalah berbagai material (cair dan padat). Pada dasarnya kegiatan shredding di unit ini sudah dilakukan secara otomatis. Shredding Procces Proses Shredding dilanjutkan dengan : Memasukan material menuju hooper shredder oleh wheel loader atau yang biasa disebut sebagai proses shredding. pada tahap ini wheel loader yang memasukan material pada hooper.

4. khususnya saat terdapat residu dari material yang bersifat cairan. pada tahap ini helper yang memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. b. kegiatan yang dilakukan pada saat ini adalah: a. kegiatan ini c. kegiatan ini dilakukan di lokasi penyimpanan hasil akhir product. tujuan dari menebar serbuk gergaji adalah agar permukaan yang terkena ceceran dari material cair tidak membuat permukaan di sekitar shredder dilakukan sesering mungkin oleh pekerja menjadi licin.limbah cair. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 132 . kegiatan ini dilakukan sesering mungkin oleh pekerja. Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Tahap menebar serbuk gergaji dilakukan setiap hari. Memasukan product pada box dan pengiriman product Kegiatan selanjutnya adalah proses memasukan material ke dalam box untuk diantarkan ke pre-heater untu proses selanjutnya. pada tahap ini helper yang melakukan penebaran serbuk gergaji. Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material Tahap Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dilakukan setiap hari. . tujuan dari memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material adalah agar aroma material yang sangat menyengat bisa sedikit diminimalisir.

membahas kecelakaan kerja dan hal-hal lain yang berkaitan dengan safety. 2 orang helper.menuju tempat pembakaran. Mengirimkan box menuju tempat pembakaran Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran dilakukan setiap ketika material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. Peralatan yang digunakan yaitu mesin pencacah atau shredder serta peralatan pendukung seperti bobcap. wheel loader. pada tahap ini box dinaikan menggunakan forklift menuju truck. handrail sebagai alat pengaman 133 . Safety briefing Kegiatan ini dilaksanakan sebelum jam kerja. Proses shredding ini melibatkan pekerja sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang penanggung jawab lapangan. b. b. Material yang digunakan adalah limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah.Tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk dilakukan setiap material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. Sudah terpasangnya alat pengaman pada peralatan kerja seperti safety guard (batas antara mesin dengan area kerja) serta rail guard pada platformyang berada pada ketinggian.. Pengendalian risiko yang telah dilakukan pada proses Shredding antara lain: a. pada tahap ini box dibawa truck. tersedianya hydrant . Seperti sosialisasi penggunaan APD. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material. truck dan crane. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material untuk dijadikan bahan bakar alternative pembuatan semen.

penanggung jawab shredder. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja terpeleset akibat kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge. paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan 134 .2.1.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset dan terjatuh . earmuff.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk. Pemasangan warning sign tentang penggunaan APD d. e.Tersedianya alarm pada crane yang bertujuan untuk menandakan bahwa crane sedang beroperasi serta penerapan LOTO pada semua mesin. 5. dan helper . goggle. Penggantian APD secara berkala terhadap peralatan kerja khususnya yang berkaitan dengan safety.1 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal (Housekeeping) 5.ketika menaiki tangga. APD yang digunakan terdiri dari helmet. c. safety shoes. Tahun 2010 Identifikasi risiko keselamatan kerja pada proses shredding dilakukan dengan menggunakan metode JSA .2. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pihak perusahaan. mask organic dan seragam kerja lengan panjang 5.1 Membersihkan Handrail Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. gloves. adanya emergency stop pada panel control untuk menghentikan proses kerja ketika terjadi kecelakaan kerja.

dan helper . seragam lengan panjang). safety briefing sebelum bekerja dan menggunakan APD lengkap(helmet.goggle.goggle. 5. Risiko terjatuh dapat terjadi karena handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. sarung tangan. melakukan house keeping. sarung tangan. memasang warning sign 135 .2. organic mask. dan menggunakan APD lengkap (helmet.safety shoes. memasang warning sign tentang penggunaan APD. paint sludge maupun zat cair lainnya serta pekerja tidak menggunakan safety shoes.1. organic mask.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah terpeleset dan tersandung roller. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. Administrative control seperti memasang warning sign tentang penggunaan APD. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. penanggung jawab shredder. safety briefing sebelum bekerja.2 Mengecek Chute Magnet Separator Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Risiko terpeleset terjadi karena kondisi lantai Shredder yang mendaki dan licin karena ceceran oil sludge. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar.safety shoes. seragam lengan panjang). Perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar.safety shoes. pekerja tidak selalu memegang handrail dan perusahaan telah melakukan upaya engineering control seperti memasang handrail pada platform.

melakukan house keeping. mengambil batu. seragam lengan panjang). sarung tangan. Risiko tangan terputus disebabkan karena mesin screen yang berputar atau saat helper akan menyabut benang atau benda lainnya yang tersangkut pada screen.1. organic mask.safety shoes. dan menggunakan APD lengkap. dan menggunakan APD lengkap. helper menggunakan benda tajam atau bar. dan helper. penganggung jawab shredder.goggle. safety briefing sebelum bekerja.3 Membersihkan Screen Tahap pekerjaan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatanhambatan seperti. Risiko terjatuh dapat terjadi karena lokasi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 M. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. terbentur penutup screen. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang handrail pada tangga dan platform. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah tangan yang terputus.tentang penggunaan APD.2. terpeleset. Administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. safety briefing sebelum bekerja. 136 . Upaya pengendalian yang telah dilakukan yaitu tersedianya LOTO (Lock out tag out). memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan menggunakan APD lengkap(helmet. menyabut benang. terjatuh. 5.

sehingga memungkinkan perkerja terbentur dengan penutup screen. hal ini dapat terjadi karena penutup screen memiliki batas maksimal yang rendah saat dibuka.Risiko terpeleset dapat terjadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. dan menggunakan APD lengkap. ketika helper melakukan adjusting belt conveyor. dan kebakaran. helper menggunakan tangannya secara manual untuk memutar belt yang cukup berat. upaya perusahaan untuk mengendalikan risiko keselamatan kerja terjatuh ini adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan helper. karena helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi.1.Risiko pergelangan terkilir dapat terjadi karena.2. 5. penganggung jawab shredder. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah pergelangan tangan yang terkilir. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan persusahaan adalah administrative control seperti memasang warning sign mengenai pemakaian APD.4 Adjusting Belt Conveyor Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H. safety briefing sebelum bekerja. Sedangkan untuk risiko terbentur penutup screen. tangan yang terputus.Untuk risiko terjatuh dapat terjadi saat helper memasuki screen. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya 137 . terpeleset. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan untuk risiko keselamatan kerja terbentur screen adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja. dan menggunakan APD lengkap. dan menggunakan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. terjatuh.

dan penggunaan APD lengkap. upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. safety briefing sebelum bekerja. administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. dengan membuka safety guard yang telah terpasang. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan dengan safety briefing sebelum bekerja. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset.Untuk risiko terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. Untuk risiko tangan yang terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. handrail.administrative control dengan melakukan safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. administrative control 138 . dan penggunaan APD lengkap.

engineering control dengan tersedianya hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran. dan penggerindaan. 139 . pengelasan. Hasil identifikasi risiko pada tahap persiapan awal (Housekeeping) secara rinci dapat dilihat pada tabel 5.Sedangkan untuk risiko kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran.1. safety briefing sebelum bekerja. administrative control dengan Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah.

Tabel 5.1 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Skenario Risiko Kondisi tempat kerja Terpeleset licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Pengendalian - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - lantai yang dibuat kasar - mersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang helper - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja

Kondisi tempat kerja Terjatuh < 2m berada pada ketinggian (< 2 m)

2

Mengecek chute Kondisi tempat kerja Terpeleset magnet separator licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnyaserta kondisi jalan yang mendaki

140

Posisi Chute Magnet Terjatuh > 2m Separator yang berada pada ketinggian (> 2 m)

4

Membersihkan Screen

Ketika helper Tangan terputus membersihkan screen, screen berputar karena LOTO tak terpasang.

- melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - menerapkan LOTO (Lock out tag out) pada panel 1 dan 2 - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan

4.

Adjusting conveyor

Kondisi permukaan screen yang licin dan tidak rata, dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Saat helper memasuki screen, helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi belt Ketika helper melakukan adjusting, helper menggunakan tangannya secara manual untuk

Terpeleset

Terjatuh

Pergelangan tangan terkilir

141

memutar belt yang cukup berat. Ketika Helper Tangan terputus melakukan adjusting belt conveyor secara langsung dengan membuka safety guard yang telah terpasang Ketika helper berlari Terjatuh mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan

- Memasang safety guard pada screw - Safety briefing sebelum bekerja

Kondisi jalan yang Terpeleset licin akibat ceceran residu, serta berjalan secara terburu-buru

Ketika helper Kebakaran memotong belt yang miring menggunakan cutting torch, tanpa menghiraukan

- menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - Menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - Memasang alarm kebakaran - Memasang hydrant dan APAR - Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api, pengelasan, dan

142

working permit

penggerindaan - Safety briefing sebelum bekerja - Menggunakan APD lengkap.

143

Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran. 144 . menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS). dan menggunakan APD lengkap. Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.1 Perapihan material oleh wheel loader Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H.2.2 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.2.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan helper. penganggung jawab shredder. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.5. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah engineering control dengan pemasangan antena pada Wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan serta tersedianya cermin agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar. safety briefing sebelum bekerja.2. safety briefing sebelum bekerja.

melakukan house keeping dan safety control.memasang warning sign tentang penggunaan APD .Tabel 5.2 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan penyimpanan Material facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Perapihan material Terjadi karena short Kebakaran oleh Wheel Loader circuit atau karena gesekan antara material yang dirapihkan Tidak adanya Tertabrak/Menabra koordinasi pengemudi k dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation Pengendalian .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja . menggunakan APD lengkap 145 .Memasang alarm .Memasang hydrant dan APAR .safety briefing sebelum bekerja .memasang antenna pada kendaraan yang sedang dipakai .

memasang warning sign tentang penggunaan APD. penanggung jawab shredder. dan menggunakan APD lengkap .5. safety briefing sebelum bekerja. tersedianya hydrant dan APAR. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja kebakaran akibat mixing material pada hooper adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. dan helper . sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar. dan helper 146 . dan penggunaan APD lengkap.3 Identifikasi Risiko pada Tahap Shredding 5.3. Upaya pengendalian yang telah dilakukan perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan. tertabrak/menabrak dan tertimpa material. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kebakaran. Risiko tertimpa material terjadi karena muatan hooper yang terlalu penuh. Risiko tertabrak/menabrak terjadi karena tidak ada koordinasi antar pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck. safety briefing sebelum bekerja.2.2.1 Tahap memasukkan material pada Hooper Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.

2 Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan helper . tertimpa material ringan.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset. safety briefing sebelum bekerja.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu. kebakaran.3. tersandung. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan.2. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. sehingga untuk material yang ringan 147 . dan penggunaan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. penanggung jawab shredder. melakukan housekeeping. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.sedang berada di sekitar hooper. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap 5.

148 .3 Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder Dan Material Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. penanggung jawab shredder.sering berjatuhan. karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar. Sedangkan untuk risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi apabila helper tidak mengikuti prosedur yang ada. safety briefing sebelum bekerja. seperti merokok. dan helper . Upaya pengendalian risiko keselamatan kerja yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. dan penggunaan APD lengkap. tersandung dan tertimpa material ringan.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset. tersedianya hydrant dan APAR serta alarm. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja.2.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. 5. safety briefing sebelum bekerja.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.3.

Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. safety briefing sebelum bekerja. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. 149 . sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap.. safety briefing sebelum bekerja.

memasang warning sign tentang penggunaan APD .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .memasang alarm kebakaran .memasang sprinkler tepat diatas hooper .safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap Memasukkan material Pada Hooper ada Kebakaran pada hooper gesekan yang dapat menimbulkan panas.safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap 150 .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menyediakan Standard operation mengenai koordinasi berkendara .mengganti tali sling pada crane .Tabel 5.memasang hydrant dan APAR .3 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT. karena tidak ada Tertabrak/menabra koordinasi antar k pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck . selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau ketika mixing material memiliki titik api yang rendah.

safety briefing sebelum bekerja . menggunakan APD lengkap . sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar.memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .karena muatan hooper Tertimpa Material yang terlalu penuh.menggunakan APD lengkap Disekitar facility peralatan berserakan Shredder Tersandung banyak yang .safety briefing sebelum bekerja . 151 . dan helper sedang berada di sekitar hooper.safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD . 2 Menebar serbuk karena pada lantai Terpeleset gergaji pada lantai shredder facility yang terkena residu terdapat ceceran residu .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menggunakan APD lengkap Helper bekerja Tertimpa material dibawah belt conveyor yang berjalan.melakukan house keeping . sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.memasang warning sign tentang penggunaan APD .melakukan house keeping dan safety control.

Tersedianya hydrant dan APAR . karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .Helper tidak Kebakaran mengikuti prosedur yang ada.melakukan house keeping .safety briefing sebelum bekerja . .menggunakan APD lengkap . Memberikan parfume karena pada lantai Terpeleset pada fasilitas shredder shredder facility dan material terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD .melakukan house keeping dan safety control.memasang warning sign tentang penggunaan APD .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair . menggunakan APD lengkap .menggunakan APD lengkap 3. karena helper bekerja Tertimpa Material dibawah belt conveyor yang berjalan.memasang alarm kebakaran . karena disekitar Tersandung Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.safety briefing sebelum bekerja 152 . seperti merokok.memasang sprinkler tepat diatas hooper .

menggunakan APD lengkap 153 .sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan. .

tertimpa material dan tertabrak/menabrak. dapat terjadi saat helper menaikan box dengan bobcap ke truck. safety briefing sebelum bekerja. dapat terjadi ketika box dinaikan menuju truck.Risiko keselamatan kerja kejatuhan box. Sedangkan untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena kurangnya koordinasi antar pengemudi forklift dan truck. dan helper .5. dan material yang ada dalam box berjatuhan. memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap.2. safety briefing sebelum bekerja. Untuk risiko tertimpa material. 154 .risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kejatuhan box. Upaya pengendalian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.Upaya pengendlaian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.4 Identifikasi Risiko pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5.2. safety briefing sebelum bekerja.4.1 Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. penanggung jawab shredder. dan menggunakan APD lengkap . Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan.

dan disediakannya mirror blind spot agar pengendara bisa melihat ke segala arah dalam berkendara. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility dan safety briefing sebelum bekerja. forklift dan kendaraan pribadi.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. dan helper . dapat terjadi karena guard yang berada pada truck sangat pendek.2. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena truck berjalan di jalan-jalan utama.4. yaitu mendahulukan kendaraan berat terlebih dahulu ketika berjalan.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu box terjatuh dan tertabrak/.menabrak. dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck. khususnya di jalanjalan yang sulit melihat arah. 155 . sehingga memungkinkan box terjatuh. wheel loader.Risiko keselamatan kerja box terjatuh.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah administrative control dengan adanya SOP mengenai cara berkendaraan di area proyek. penanggung jawab shredder.5.

156 .memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility .menggunakan APD lengkap . karena kurangnya Tertabrak/menabra .menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang cara Mengirimkan box Karena guard yang Terjatuh bekerja aman di Shredder facility menuju tempat berada pada truck safety briefing sebelum bekerja sangat pendek. dan material yang ada dalam box berjatuhan 2.safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja . penggunaan APD .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .Tersedianya Standard Operation mengenai cara koordinasi koordinasi antar k berkendaraan pengemudi forklift dan .memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility .memasang warning sign tentang truck.safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap Menaikan box yang helper menaikan box Kejatuhan box sudah terisi oleh dengan bobcap ke material pada truck truck ketika box dinaikan Tertimpa material menuju truck.5 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product pada fasilitas Shredder PT.Tabel 5.

forklift dan kendaraan pribadi . wheel loader. k dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck.tersedianya standard operation mengenai cara berkendaraan di area proyek . box Truck berjalan di Tertabrak/menabra jalan-jalan utama.pembakaran sehingga memungkinkan terjatuh.Tersedianya mirror blind spot 157 .

5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak memegang handrail.5.1 Membersihkan handrail Saat membersihkan handrail terdapat risiko kepala terpeleset dan terjatuh < 2m.3. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari daiawal shift. a. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. Terpeleset Pada tahap membersihkan handrail helper memiliki risiko terpeleset. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan membersihkan handrail setiap hari pada awal shift. paint sludge maupun zat cair lainnya dan helper tidak menggunakan safety shoes. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. Terjatuh < 2m Pada tahap membersihkan handrail. 158 .3. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.1 Analisis Risiko pada Tahap Persiapan 5. helper tidak selalu memegang handrail. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper hanya mengalami luka ringan atau memar jika terjatuh.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes.1. b. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Hal ini dapat terjadi kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge.

Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 45 dengan kategori priority 3.5. tersandung roller. 159 . Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari.3. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes.1.2 Mengecek Chute Magnet Separator Saat mengecek chute magnet separator. Terpeleset Risiko terpeleset saat menegecek chute magnet separator memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. Nilai kemungkinannya adalah 0. a. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable b. Terjatuh > 2m Risiko terjatuh saat helper menegecek chute magnet separator karena posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2m. namun tidak pernah terjadi meskipun paparan bertahuntahun. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan mengecek chute magnet separator terjadi sekali setiap hari.5 (conceivable) karena risiko ini mungkin terjadi. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 15 (serious) karena helper akan mengalami cidera atau penyakit yang serius jika helper jatuh > 2 m. terpeleset. dan terjatuh.

b. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. hal ini mungkin terjadi apabila pekerja tidak mematuhi peraturan penerapan LOTO (lock out tag out). Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat tejadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. Nilai kemungkinannya 0. menyabut benang. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen.1.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun.3 Membersihkan screen Helperan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatan-hambatan seperti. Nilai kemungkinannya adalah 0.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak 160 . mengambil batu.3.5.Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 25 (very serios) karena helper mengalami tangan terputus yang menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika mesin screen berputar dan helper berada di dalamnya untuk melancarkan screen. a. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari.

Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable.4 Adjusting belt conveyor Pada tahapan ini terdapat risiko pergelangan tangan terkilir. Nilai kemungkinannya 0. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. terjatuh. 5.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahuntahun. sehingga posisi penutup screen rendah. tangan yang terputus. d. Terjatuh Risiko keselamatan kerja terjatuh dapat terjadi ketika helper menaiki pemisah screen .3.1. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena Kejadian ini sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. terpeleset dan kebakaran.menggunakan safety shoes. 161 . Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terjatuh helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terbentur helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable c. Terbentur Penutup Screen Risiko keselamatan kerja terbentur penutup screen dapat terjadi karena penutup screen tidak bisa terbuka secara maksimal.

Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangta kecil kemungkinannya. dengan membuka safety guard yang telah terpasang. Nilai kemungkinannya 3 (unusual). Pergelangan tangan terkilir Risiko keselamatan kerja pergelangan tangan terkilir dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting secara manual. ketika helper tidak membuka safety guard yang terpasang.a.Nilai paparannya adalah paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. artinya kemungkinannya tetap ada untuk terjadi. Nilai paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. tetapi jarang terjadi. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 9 dengan kategori acceptable b. Nilai konsekuensi dari risiko ini adalah 1 (noticeable) karena ketika tangan terkilir pekerja/ helper hanya akan memgalami luka ringan atau memar.Nilai konsekuensi dari risiko tangan terputus adalah 25 (very serious) karena akan menimbulkan cacat atau penyakit yang menetap. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial 162 .

Nilai risiko dari terjatuh adalah 1.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi. 163 . yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun.5 dengan kategori acceptable. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Terjatuh Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Nilai konsekuensi dari risiko terjatuh adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. e.c. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai konsekuensi dari risiko terpeleset adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar.5 dengan kategori acceptable. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0.

Maka. nilai risiko kebakaran adalah 450 dengan kategori very high.6 164 . khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.f. Kebakaran Risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran.Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) apabila helper selalu menggunakan cutting torch untuk memotong belt. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada belt conveyor akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.

5 (conceivable) 0.6 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal Shredder facility PT.5 (conceivable) Nilai Risiko 3 Terpeleset 6 (frequent) Terjatuh < 2m 2 Mengecek chute magnet separator 6 (frequent) 3 Terpeleset 6 (frequent) 3 Terjatuh > 2 m (serious) 3.Tabel 5. No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Risiko Konsekuensi (C) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 15 Paparan (E) Kemungkinan (L) 0.5 (conceivable) 75 165 .5 (conceivable) 0. Membersihkan screen Tangan terputus 25 (very serious) 6 (frequent) 45 6 (frequent) 0.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.5 (conceivable) 0.

5 Kebakaran (very serious) 6 (Likely) 450 166 . Adjusting belt conveyor Pergelangan terkilir Tangan terputus 6 (frequent) (remotely possible) 3 (Unusual) 1 6 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 9 (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 (remotely possible) 0.5 (conceivable) 75 Terjatuh 1.5 Terpeleset 1.Terpeleset 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 6 (frequent) 0.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 1 3 Terjatuh 6 (frequent) 3 Terbentur penutup Screen 4.

nilai 167 . Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.5.Maka. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.3. Analisis Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5.Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. tetapi jarang terjadi.3. nilai risiko kebakaran adalah 750 dengan kategori very high. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. tetapi jarang terjadi. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.2.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adah tertabrak/menabrak.2.Maka. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada storage akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi.1 Perapihan material oleh wheel loader a. b.

7 168 . Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.

Tabel 5.7 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material PT. No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 3 (Unusual) 750 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 250 169 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.

b. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada hooper akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.Maka.3. Analisis Risiko pada Tahap Shredding 5.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.2. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) kemungkinan terjadi 50-50. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.Risiko.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertabrak/menabrak. nilai risiko kebakaran adalah 1500 dengan kategori very high. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah.1 Tahap memasukkan material pada Hooper a. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena 170 . dan tertimpa material .3.2. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas.5. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.

Maka.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu a. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari. tetapi jarang terjadi. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Terpeleset Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu .Maka. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Tertimpa Material Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertimpa material. Risiko tertimpa material dapat terjadi apabila muatan hooper yang terlalu penuh. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Nilai konsekuensi dari risiko tertimpa material adalah 1 ( noticeable) tertimpa material karena tertimpa material akan mengakibatkan luka ringan atau memar.kegiatan dilakukan setiap hari. dan helper sedang berada di sekitar hooper .3. tetapi jarang terjadi. 5. c. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil 171 . memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.2.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 10 dengan kategori acceptable. Nilai kemungkinan dari risiko tertimpa material adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.

c. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena ceceran residu. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Tersandung Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. Nilai paparan dari risiko kebakaran adalah Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang.5 (conceivable) karena risiko ini hanya mungkin terjadi 172 . nilai konsekuensi 25 (very serios) karena kebakaran ini menyebabkan kerussakan sementara terhadap lingkungan. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. b. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.kemungkinannya. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. d. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material.

memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. 173 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.3.2. Terpeleset Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.ketika helper tidak mematuhi peraturan seperti merokok. b. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang.Maka. Tersandung Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya apabila pekerja menggunakan safety shoes. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. 5.4 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material a.

8 174 . nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.c. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.

No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 6 (Likely) 1500 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 1 250 Tertimpa Material 1 (noticeable) 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 2.Tabel 5.8 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 1 (noticeable) 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 6 Tersandung 1 6 (frequent) 18 175 .

5 (conceivable) 1 Terpeleset 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 1 Tertimpa Material Ringan 6 (frequent) (remotely possible) 6 6 6 75 3.(noticeable) 1 Tertimpa Material Ringan 1 (noticeable) 25 Kebakaran (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 6 (frequent) 6 (frequent) (remotely possible) 0. Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Tersandung 6 (frequent) 18 176 .

Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. b. Analisis Risiko pada Tahap Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. khususnya saat membutuhkan bahan bakar. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 50 dengan kategori priority 3. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila tertimpa material yaitu luka ringan atau memar. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.2. Maka. 177 . khususnya saat membutuhkan bahan bakar. Nilai paparannya 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin.5.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk a. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 10 dengan kategori acceptable. Tertimpa Material Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya.3. 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 5 (important) karena akibat terburuk apabila kejatuhan box membutuhkan penanganan medis.3.2.

Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 30 dengan kategori priority 3.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.3.2. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi. 178 .c.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk adalah adah tertabrak/menabrak. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. tetapi jarang terjadi. Box terjatuh Risiko keselamatan kerja saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah box terjatuh.Risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada mobil truck sangat pendek. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin.Maka. Nilai konsekuensi dari risiko box terjatuh adalah 1 ( noticeable) karena box terjatuh hanya kerusakan keceil dengan kerugian produk ysng tidak banyak. 5. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. tetapi jarang terjadi.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran a.Maka.

nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.9 179 . tetapi jarang terjadi. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. Tertabrak/menabrak Risiko keselamatan kerja saat saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah tertabrak/menabrak.Maka. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin.b.

9 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product PT.Tabel 5. Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Box terjatuh 10 (Continously) 3 (unusual) 30 1 10 (Continously) (remotely possible) 250 180 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Konsekuensi (C) 5 Paparan (E) Kemungkinan (L) 1 Nilai Risiko Kejatuhan box (important) 10 (Continously) (remotely possible) 1 50 Tertimpa material 1 (noticeable 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 1 (noticeable) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) (remotely possible) 250 2.

4. seperti penggunaan APD. serta memberikan reward dan punishment.1 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan. termasuk kategori acceptable. yaitu mengharuskan adanya perbaikan. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO). pembuatan tangga yang lebih aman. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. yaitu aktivitas perlu dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan. terjatuh pada ketinggian < 2 m. Hasil evaluasi risiko pada tahap persiapan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.5. terbentur penutup screen dan pergelangan terkilir. Risiko yang paling tinggi adalah kebakaran yang termasuk dalam kategori very high. seperti tangga yang memiliki footstep yang lebar. pengelasan. dan penggerindaan. penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.Dan yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara untuk risiko tangan terputus termasuk kategori substansial. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. Tahun 2010 5. yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.Sedangkan risiko terjatuh pada ketinggian > 2 m termasuk kategori priority 3 berkesinambungan.1 62 . risiko terpeleset .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Tabel 6. seperti pengtingnya penggunaan APD .1 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Memasang warning sign Terjatuh < 2 m 3 acceptable 2 Mengecek chute Terpeleset 3 acceptable 62 .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Risiko Membersihkan handrail Terpeleset Nilai Risiko 3 Kategori Risiko Acceptable Rekomendasi .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .

63 magnet separator terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .pembuatan tangga yang lebih aman. seperti tangga yang memiliki footstep .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .penerapan sistem kunci Lock Terjatuh > 2 m 45 Priority 3 3 Membersihkan screen Tangan terputus 75 substansial 63 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai . seperti pengtingnya penggunaan APD .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.64 Out Tag Out (LOTO) . Terpeleset 3 acceptable Terjatuh 3 acceptable Terbentur penutup screen 6 acceptable 64 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.

Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD 4.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Adjusting belt conveyor Pergelangan tangan terkilir 9 Acceptable Tangan terputus 75 Substansial Terjatuh 1.65 seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO) .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .5 Acceptable 65 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.

66 . .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Terpeleset 1.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai . pengelasan. dan penggerindaan.5 Acceptable Kebakaran 450 Very high 66 .penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.

Dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . Tindakan yang perlu dilakukan adalah pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Risiko kebakaran termasuk kategori very high yang artinya aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. risiko tertabrak/menabrak masuk kedalam kategori priority 1. dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan.4. pemasangan smoke atau heat detector serta pemasangan sprinkler pada storage. yaitu Perlu pengendalian sesegera mungkin.5.2 62 .2 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap perapihan material oleh wheel loader.Hasil evaluasi risiko pada tahap pelaksanaan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. serta memberikan reward dan punishment .

pemasangan sprinkler pada storage .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Tabel 6.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Very high Rekomendasi .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Kebakaran 750 priority 1 Tertabrak/mena brak 250 62 . .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .2 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Shredder facility PT.pemasangan smoke atau heat detector .

memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. risiko terpeleset. Tindakan yang perlu dilakukan adalah.4. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. tersandung. pemasangan smoke atau heat detector. mengharuskan adanya perbaikan secara teknis .3 62 . memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. penerapan housekeeping dengan benar. serta memberikan reward dan punishment. memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.5. yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Risiko tertabrak/menabrak yang masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya perlu pengendalian sesegera mungkin Untuk risiko tertinggi adalah risiko kebakaran pada hooper akibat mixing material yang termasuk dalam kategori very high yang artinya Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. tertimpa material termasuk kategori acceptable. dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Risiko kebakaran saat housekeeping termasuk kategori substansial . memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.3 Evaluasi Risiko pada Tahap Shredding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap shredding. .

memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Tabel 6. .dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang jaring dibawah belt 62 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Nilai Risiko 1500 Kategori Risiko Very high Kebakaran Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 Tertimpa Material Acceptable 10 Rekomendasi .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.pemasangan smoke atau heat detector .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .3 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada Fasilitas Shrededder PT. .

63 conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.penerapan housekeeping dengan benar .memberikan reward dan punishment kepada pekerja 2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 6 Acceptable Acceptable Tersandung 18 63 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja. .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tertimpa Material Ringan 6 Substansial Kebakaran 75 3. seperti pengtingnya penggunaan APD . Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Terpeleset 6 Acceptable 64 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .64 Acceptable .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.65 Acceptable .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tersandung 18 Acceptable Tertimpa Material Ringan 6 65 .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan housekeeping dengan benar .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . seperti pengtingnya penggunaan APD .

perlu pengendalian sesegera mungkin. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck.4. serta memberikan reward dan punishment.4. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box . Risiko kejatuhan box dan box terjatuh di jalan termasuk kategori priority 3 . Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan dan penyimpanan material risiko tertimpa material termasuk kategori acceptable yang artinya yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Risiko paling tinggi adalah risiko tertabrak/menabrak yang termasuk kategori priority 1 yaitu. yaitu Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan .4 62 . Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.5. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .

memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Priority 3 Kejatuhan box 50 acceptable Tertimpa material 10 Tertabrak/mena 250 Priority 1 Rekomendasi . .4 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material pada Fasilitas Shrededder PT.memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.Tabel 6.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerjaberorientasi pada safety .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang 62 .

.memberikan reward dan punishment 2.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Priority 3 Box terjatuh 30 Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 63 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck .63 brak dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.

62 .

PT.Berdasarkan studi dokumen dan wawancara kepada petugas OH&S dan penanggung jawab shredder Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk.1Kecelakaan Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Tertabrak Wheel Loader Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10.5.00 di area operasi shredder Geocycle. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah.5.Holcim Indonesia Tbk.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility merupakan fasilitas pre-handling limbah dengan metode pencacahan atau shredding. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 5. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009 6.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. 158 . Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 5. yaitu : 4. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat tertabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder.

Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut.5. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan 159 . pengemudi tersebut tidak dapat tidur karena beban fikiran mengenai kondisi keuangan yang minim karena kurangnya pendapatan sekitar Rp. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut.000.Holcim Indonesia Tbk. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage.2 Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan Terputus Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder Geocycle. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector).PT. 5..tiap bulannya. dengan waktu istirahat 1 jam. pengemudi mengutarakan hal ini terjadi karena pekerja berada dalam kondisi kelelahan. dan salah satunya adalah karet.Setelah dilakukan wawancara terhadap pengemudi wheel loader yang bersangkutan mengenai alasan penyebab tidak berkonsentrasinya pengemudi dalam bekerja. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan.900. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor.

Pengendalian yang sudah tersedia adalah alarm. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. 5. Setelah dilakukan wawancara terhadap karyawan/helper lain yang bekerja di shredder facility mengenai alasan penyebab karyawan/helper melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api.menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar.5. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). 160 .Holcim Indonesia Tbk. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor.3 Kejadian Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 di area operasi shredder Geocycle. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. karyawan/helper lain mengutarakan hal ini terjadi karena karyawan/helper sudah terbiasa dengan pekerjaanya sehingga karyawan/helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada.PT.Upaya yang sudah dilakukan pada tahap ini adalah pemasangan screw diluar safety guard. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. sprinkler dan hydrant. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan.

Hasil analisis risiko dari kecelakaan tertabrak/menabrak pada tahap perapihan dan penyimpanan material adalah 25.Namun hingga saat ini belum disediakan informasi yang terbaru mengenai bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampur begitu saja dan dapat menimbulkan kebakaran.. Setelah dilakukan wawancara terhadap penanggung jawab shredder yang bersangkutan mengenai alasan penyebab mixing material adalah karena lembar MSDS yang belum diperbarui dan tidak lengkap akibat tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. tembok akibat pengemudi Wheel loader kelelahan tetap terjadi pada tahap perapihan dan penyimpanan material dan menimbulkan dampak rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.Holcim Indonesia Tbk 5. 5.6 Perbandingan hasil analisis dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di unit Shredder facility PT. hal ini juga terjadi karena data mengenai bahan-bahan yang berbahaya apabila dicampurkan belum diperbaharui. Namun ternyata kecelakaan kerja tertabraknya pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.6.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder . masuk kedalam kategori priority 3 yang artinya kegiatan ini hanya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. selain itu helper tidak mengetahui bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampurkan sebelum dimasukkan ke dalam shredder. 161 .

dengan waktu istirahat 1 jam.6. pekerja berada dalam kondisi kelelahan. Karena kecelakaan kerja ini.dampak lengan terputus ini menyebabkan helper atau korban tersebut mengalami luka terbuka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan.Hal ini terjadi karena. hasil analisis kecelakaan kerja saat ini. helper tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Berdasarkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. Kecelakaan kerja lengan terputus bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. pengemudi tersebut tidak dapat tidur.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus.mengenai lengan yang terputus pada tahap adjusting belt conveyor adalah. 7. Helper lain mengutarakan alasan 162 .akibat beban fikiran. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. Tindakan pengendalian ini berbeda dengan kejadian sebelum diterapkannya pengendalian pemasangan screw diluar safety guard . yaitu lengan terputus. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam. maka kegiatan adjusting belt conveyor harus dihentikan terlebih dahulu sampai mencapai batas yang dibolehkan.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. 5. Apabila dibandingkan dengan kecelakaan kerja yang telah terjadi sebelum pengendalian dilakukan.

hingga saat ini belum dilakukan pengendalian secara tekhnis pada Hooper . seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). Kecelakaan kerja kebakaran yang telah terjadi pada tahap Shredding. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja dan menimbulkan kebakaran pada hooper.3 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. Hal ini terjadi karena. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin.mengapa helper melepaskan safety guard tersebut. hal ini terjadi karena helper sudah merasa terbiasa dengan pekerjaanya sehingga helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada. 163 .6. 5. Hasil analisis risiko saat ini dari kecelakaan kebakaran pada tahap Shredding adalah 250. sehingga dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya kebakaran pada hooper dan menyebabkan kerusakan sementara pada hooper dan terhentinya produksi. terjadi akibat MSDS tidak lengkap dan belum diperbarui.

penanggung jawab lapangan dan 3 orang pekerja atau helper di shredder facility.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. menurut kelompok bahaya keselamatannya (safety hazard) dapat dibedakan menjadi: 1.1 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini. karena peneliti tidak diizinkan untuk mengambil gambar sendiri. hanya dilakukan wawancara kepada petugas OH&S.BAB VI PEMBAHASAN 6. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses shredding PT. 164 terbentur penutup screen. Hasil identifikasi dilakukan dengan menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi kepada petugas OH&S. Dari risiko yang telah diidentifikasi. terjatuh dari ketinggian. tersandung peralatan yang berserakan. peneliti melakukan observasi dan wawancara tidak kepada semua pekerja shredder facility.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT. dan 3 orang pekerja / helper di shredder facility karena kesibukan dari masing-masing pekerja yang lain. dikarenankan korban tersebut sudah tidak bekerja lagi. . 6.Holcim Indonesia Tbk. selain itu peneliti tidak melakukan wawancara kepada semua korban kecelakaan kerja. Gambar tahapan pekerjaan tidak terlalu lengkap. penanggung jawab lapangan. Bahaya mekanik (mechanical hazard) yaitu terpeleset ceceran residu. terpeleset screen. pergelangan tangan terkilir. tangan terputus.

terjatuh saat melangkahi pemisah.1 Tahap persiapan awal Berdasarkan analisis risiko pada tahap persiapan awal. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter ini mempunyai nilai risiko 15 kurang dari 20. sehingga dimasukkan ke 165 . 6. . Bahaya ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia pada proses kerja yang menimbulkan risiko keselamatan kerja.1. terbentur penutup screen. helper tidak selalu memegang handrail. tangan terputus dan kebakaran. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja.tertabrak/menabrak .3. tangan terputus screen. risiko yang dapat terjadi adalah terjatuh dari ketinggian kuran atau lebih dari 2 meter. pergelangan tangan terkilir.1 Membersihkan Handrail 1.3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT. tertimpa material ringan dan kejatuhan box.Bahaya kimia (chemical hazard) yaitu kebakaran. Terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter Pada tahap membersihkan handrail. 6.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 Berikut ini adalah hasil analisis risiko pada setiap tahapan proses shredding PT. 6. Bahaya-bahaya ini disebabkan oleh adanya benda-benda atau proses yang bergerak.Holcim Indonesia Tbk. 2. terpeleset pada screen.3.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. dari serious menjadi important atau noticeable. Untuk menurunkan nilai risiko. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Mengecek chute magnet separator Terjatuh dari ketinggian lebih dari 2 meter Pada tahap mengecek chute magnet separator.dalam kategori tingkat risiko acceptable yang artinya adalah mengurangi intesitas kegiatan yang menimbulkan risiko seminimal mungkin. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko priority 3 yang artinya adalah perlu diawasi dan di[erhatikan secara berkesinambungan. Sedangkan.1. helper berisiko terjatuh akibat chute magnet separator berada pada ketinggian lebih dari 2 meter dan ketika bekerja.2 1. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 m ini mempunyai nilai risiko 45. 166 . helper tidak selalu memegang handrail. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi.3. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. 6.

Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Tangan terputus screen Pada tahap membersihkan screen. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. 6. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman.3. Untuk menurunkan nilai risiko. dari serious menjadi important atau noticeable. Sedangkan. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko substansial teknis. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.3 Membersihkan screen 1.1. Untuk menurunkan nilai risiko. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. tangan helper berisiko terputus screen akibat akbat benda berputar dan ketika helper bekerja penerapan LOTO tidak dilaksanakan dengan baik. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. maka upaya pengendalian 167 yang artinya adalah mengharuskan adanya perbaikan . Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 75.

Untuk menurunkan nilai risiko. Terpeleset screen Pada tahap membersihkan screen. sehingga tingkat 168 . dan memberikan reward dan punishment kepada pekerja. selain itu sebaiknya dilakukan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. karena risiko minimal tangan terputus screen adalah cacat atau penyakit yang menetap. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko terpelset screen dikurangi seminimal mungkin. Untuk nilai konsekuensi dari tangan terputus screen tidak dapat dikurangi lagi. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. 2. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. helper berisiko terpeleset screen akibat akbat permukaan screen yang licin dan tidak rata. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Sedangkan tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.diberikan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD.yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan LOTO (lock out tag out ) pada pekerja yang bekerja pada screen.

helper berisiko terjatuh saat melangkahi pemisah screen akibat helper menaiki pemisah screen. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman .kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. tingkat 169 . sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. karena konsekuensi dari terjatuh saat menaiki pemisah screen adalah luka ringan atau memar. 3. Untuk nilak konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. Untuk nilai konsekuensi dari terpeleset screen tidak dapat dikurangi lagi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan tangga untuk masuk kedalam screen.Sedangkan. Sedangkan. karena konsekuensi dari teprleset screen ini adalah luka ringan atau memar. Terjatuh saat melangkahi pemisah screen Pada tahap membersihkan screen.

Sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko.paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga tingkat kemungkinan remotely possible dapat diturunkan menjadi conceivable dan practically impossible. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan dikurangi seminimal mungkin. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Terbentur Penutup Screen Pada tahap membersihkan screen. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Risiko terbentur penutup screen ini mempunyai nilai risiko 6 yang artinya kurang dari 20. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. karena penutup screen yang tidak bisa terbuka secara maksimal. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. helper berisiko terbentur penutup screen. 4. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. karena konsekuensi dari terbentur penutup screen adalah luka ringan dan memar. 170 .

Untuk menurunkan nilai risiko. Pergelangan tangan terkilir Pada tahap adjusting belt conveyor. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. conceivable atau practically impossible. 171 . karena konsekuensi dari pergelangan terkilir adalah luka ringan dan memar.6. sehingga tingkat kemungkinan unusual dapat diturunkan menjadi remotely possible. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan belt yang diluruskan memiliki beban yang cukup berat. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali.3. sehingga belt dapat diluruskan oleh 2 pekerja. pergelangan tangan helper berisiko terkilir. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan double screw. karena helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. menggunakan screw yang diputar secara manual oleh pergelangan tangan.4 Adjusting belt conveyor 1. Sedangkan. Risiko pergelangan tangan terkilir ini mempunyai nilai risiko 9 yang artinya kurang dari 20.1. sehingga beban yang diterima oleh masing-masing pekerja tidak besar serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja.

helper berisiko terjatuh dari ketinggian . tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Terjatuh dari ketinggian Pada tahap adjusting belt conveyor. helper akan berlari melihat dari sisi yang lain yang 172 . karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Sedangkan. karena setelah helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur.5 yang artinya kurang dari 20. Risiko Tangan terputus akibat benda berputar ini mempunyai nilai risiko 7. 3. Tangan terputus akibat benda berputar Pada tahap adjusting belt conveyor. karena helper melakukan adjusting belt conveyor dengan membuka safety guard yang tersedia. important . maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan sistem kunci LOTO (Lock out tag out) agar ketika helper bekerja. tangan helper berisiko terputus akibat benda berputar. tak ada pekerja lain yang menyalakan belt conveyor. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. atau noticeable. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. serta pelatihan perilaku yang beriorientasi pada safety. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga nilai konsekuensi dari tangan terputus dapat berkurang dari very serious menjadi serious.2.

lebih tinggi. risiko kebakaran dapat terjadi. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko. Untuk nilai konsekuensi dapat diturunkan lagi. diharapkan tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Kebakaran pada belt conveyor Pada tahap adjusting belt conveyor. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah dibuatkan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja.5 yang artinya kurang dari 20. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.dari important menjadi noticeable ketika pengendalian yang dilakukan sudah tepat. Risiko terjatuh dari ketinggian ini mempunyai nilai risiko 7. 4. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Dengan upaya pengendalian tersebut. apakah belt conveyor sudah memasuki jalur atau belum. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 900 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang dapat menyebabkan 173 . karena pemotongan belt conveyor menggunakan cutting torch. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali.

important.serta menurunkan nilai konsekuensi dari disaster menjadi serious . sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari likely menjadi remotely possible.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 6. Sedangkan.3. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. serta banyak material yang mudah terbakar.3. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. risiko kebakaran pada storage dapat terjadi. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 750 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang 174 . 6. Kebakaran pada storage Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. serta memberikan reward dan punishment. dan penggerindaan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. Untuk menurunkan nilai risiko. atau noticeable. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali.kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . karena gesekan antar material.1 Perapihan material oleh wheel loader 1.2. pengelasan.

karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. Untuk menurunkan nilai risiko.sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 dan diperhatikan secara berkesinambungan. Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko . tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. 2. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan sprinkler pada storage serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. serta menurunkan nilai konsekuensi dari very serious menjadi serious . Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible. yang artinya perlu diawasi Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. important. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah 175 . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.dapat menyebabkan kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . atau noticeable. karena kurang koordinasi antar 25 pengemudi. Sedangkan.

karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan.pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan serta pelatihan yang berorientasi pada safety. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang lengkap dan selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety.3. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. karena gesekan antar material.3 Tahap Shredding 6. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Untuk menurunkan nilai risiko. serta banyak material yang mudah terbakar. 6. Sedangkan.1 Tahap memasukkan material pada Hooper 1.3. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Kebakaran pada hooper Pada tahap memasukkan material pada hooper. sehingga nilai konsekuensi dapat ditunkan dari very serious menjadi serious . important. risiko kebakaran pada hooper dapat terjadi.3. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun yang artinya perlu 176 . Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 250 sehingga masuk ke dalam kategori priority 1 pengendalian sesegera mungkin. atau noticeable.

nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun dapat diturunkan dari likely menjadi unusual atau remotely possible. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. karena kuarngnya koordinasi antar pengemudi. dan tidak memanfaatkan fasilitas secara maksimal. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap memasukkan material pada hooper.dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable atau practically impossible. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. 2. Sedangkan. 177 . Untuk menurunkan nilai risiko. Sedangkan.

sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. potongan kayu yang beratnya sekitar 100-250 gram ). Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Memasang warning sign terkait bahaya yang ada. 6.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu 1.3. sedangkan.ketika helper berjalan di sekitar hooper. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap menebar serbuk gergaji.3. Pada tahap memasukkan material pada hooper. pengawasan penggunaan APD. Risiko tertimpa material ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. pemasangan guard pada area hooper.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tersandung oleh peralatan yang 178 . risiko tertimpa material dapat terjadi pada helper. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. Tertimpa Material dari Hooper Yang Memiliki Ketinggian Sekitar 2 Meter (contoh material : potongan plastik drum. dan isi hooper terlalu penuh.3. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. Untuk menurunkan nilai risiko.

berseerakan di sekitar shredder. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. Risiko tersandung peralatan ini mempunyai nilai risiko 18 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. Untuk menurunkan nilai risiko.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menebar serbuk gergaji. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable 179 . maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. sedangkan. 2.

sedangkan.yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. 3. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Untuk menurunkan nilai risiko. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait bahaya yang ada serta pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Untuk menurunkan nilai risiko.ketika helper berjalan tidak mematuhi prosedur yang tersedia. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji. risiko kebakarandapat terjadi pada helper. sehingga nilai konsekuensi dapat 180 . Risiko tertimpa kebakaran nilai risiko ini mempunyai 150 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. seperti merokok.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. sedangkan. atau noticeable.3 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material 1. sedangkan. 181 . risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dan tersandung oleh peralatan yang berserakan di sekitar shredder. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. important.3. Risiko tersandung peralatan 18 ini mempunyai nilai risiko sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable.3. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.diturunkan dari very serious menjadi serious. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 6. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap memberikan parfum pada shredder dan material.2. sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. 182 . Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfum pada shredder dan material dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. Untuk menurunkan nilai risiko. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD.

Untuk menurunkan nilai risiko. 2. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Tertimpa Material Ringan Dari Box (contoh material : palstik.4 Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 6. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 50 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. sedangkan. risiko kejatuhan box dapat terjadi pada helper.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 1.3.3.4. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. risiko tertimpa material ringan dari box. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu material ringan yang berada di posisi paling atas box terjatuh. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga 183 . karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.6. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.

memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. 184 . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. important. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga terjadi tabrak/menabrak. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu tidak ada koordinasi antar pengemudi. 3.masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko tertimpa material ringan dari box dikurangi seminimal mungkin. sedangkan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. atau noticeable. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. 185 . pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko. sedangkan. Risiko box terjatuh di jalan ini ini mempunyai nilai risiko 30 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. 6. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran / Pre-heater 1. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Box terjatuh saat dibawa menuju pre-heater Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan.3. risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada truk yang pendek. sedangkan box tinggi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.4.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. sedangkan. karena pekerja tidak mengikuti standard operation mengenai cara berkendara di arean proyek. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. Untuk menurunkan nilai risiko.2. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. 186 . pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. important. Tertabrak/menabrak antar pengemudi Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. atau noticeable.

Holcim Indonesia Tbk. serta menggunakan APD lengkap. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 25 masuk kedalam priority 3 yang artinya kegiatan ini sebenarnya hanya perlu pengawasan dan diperhatikan secara . safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan antena pada wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan . Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat ditabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder. memasang warning sign tentang penggunaan APD .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. tersedianya blind spot miror agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar.6.4.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. tersedia standard operation mengenai cara bekendara di area proyek.PT. 6.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT.00 di area operasi shredder Geocycle. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.

yang salah satunya adalah faktor kelelahan dan keletihan yang berasal dari penyebab dasar faktor pribadi. 63 . Hal ini sesuai dengan teori Nurmianto pada tahun 2003. namun kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder tetap terjadi. belum terjadi perubahan pengendalian. yang menyatakan “ Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja.berkesinambungan. kondisi korban yang memiliki beban fikiran mengenai minimnya upah yang menyebabkan pekerja kurang tidur. kecelakaan kerja terjadi karena pekerja tidak berkonsentrasi dalam mengemudi. Kelelahan kerja yang dilalami pekerja membuat turunnya kinerja dan menimbulkan kecelakaan kerja. Hal ini sesuai dengan teori domino heinrich yang menyatakan bahwa salah satu rangkaian domino yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja adalah unsafe act atau perilaku tidak aman yang salah satunya adalah kelelahan . Kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder terjadi karena faktor pekerja. Teori yang dikembangkan oleh Sahab (1997) juga menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja dilatarbelakangi oleh faktor-faktor. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. sehingga menjadi salah satu penyebab kelelahan.” Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri.

tidak cocok dengan lingkungan. badan terasa tidak enak. kegelisahan. pembahan tingkah laku. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector). gangguan pencemaan. 6. vertigo. penurunan dan hambatan persepsi cara berpikir atau perbuatan anti sosial. kecemasan. kehilangan nafsu makan.5. hal ini sesuai dengan teori Winardi (2001) yang menyatakan bahwa jika upah tersebut tidak dipenuhi. (depresi. sehingga menurunkan kesiagaan dan perhatian. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. kurang tenaga. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. gangguan fungsi paru dan jantung.Holcim Indonesia Tbk. 64 . Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun.Selain itu kerja fisik yang terus menerus dapat menyebabkan kelelahan. dan kesukaran tidur).Motivasi kerja khususnya faktor balas jasa atau upah yang minim pun menjadi penyebab pekerja tidak dapat tidur karena beban fikiran. kehilangan inisiatif).2 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. 1982). fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi perilaku kerja. Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder dengan Kejadian Geocycle. dan gejala umum (sakit kepala.PT.

akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. pengendalian yang sudah dilakukan saat ini dapat meminimalkan kecelakaan kerja. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Upaya yang saat ini sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor adalah pemasangan screw diluar safety guard agar pekerja bekerja lebih aman. Maka. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. maka nilai risiko yang didapat pada tahap ini adalah 7. Hal ini membuktikan bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi apabila manajemen keselamatan kerja belum dilakukan secara maksimal. sesuai dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich dengan 65 .5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut.Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. dan salah satunya adalah karet. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah.

80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition).dan Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemn keselamatan dan kesehatan kerja. berdasarkan statistik di Indonesia. Dan tentunya tindakan tidak aman akan menyebabkan kecelakaan kerja. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia seperti faktor sikap yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. sikap merupakan kecenderungan potensial untuk berpotensi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon . Penyebab yang melatarbelakangi kecelakaan kerja menurut Sahab (1997) salah satunya adalah sikap dan tingkah laku yang tidak aman.mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. 66 . dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan Maka. Menurut Gordon Allport . Jadi. hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995). walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. Namun. kecelakaan kerja lengan terputus disebabkan oleh faktor manusia yang merasa terbiasa dengan pekerjaannya. Selain karena faktor teknis.

PT. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi .3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Tahap Shredding Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. belum terjadi perubahan pengendalian. serta APAR. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. 67 . dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja.6. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. safety briefing sebelum bekerja. serta menggunakan APD lengkap. sprinkler tepat diatas hooper. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 dengan Kejadian di area operasi shredder Geocycle. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan hydrant. Karena sebenarnya berdasarkan dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terlebih dahulu. memasang warning sign tentang penggunaan APD . maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 250. tersedia MSDS (Material safety data sheet).Holcim Indonesia Tbk. sehingga kecelakaan kerja kebakaran pada hooper masih mungkin terjadi.5. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari.

Maka. faktor manusia itu sendiri seperti tidak segera merubah data material berbahaya sesegera mungkin. 68 . walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja.Akan tetapi. yang menyatakan bahwa “salah satu faktor yang menjadi penggerak terciptanya motivasi kerja karyawan adalah hubungan antar manusia. Sesuai dengan teori Hezberg pada tahun 1990. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. penyebab kecelakaan kecelakaan kerja kebakaran pada hooper terjadi karena faktor kelalaian.” Beliau juga menyatakan bahawa hubungan antar manusia dalam lingkungan pekerjaan baik hubungan vertical maupun horizontal akan berpengaruh terhadap disiplin dan produktivitas pekerja.Namun hingga saat ini manajemen keselamatan dan kesehatan kerja belum dilakukan secara maksimal sehingga kecelakaan kerja kebakaran masih mungkin terjadi.

69 .

70 .

Kegiatan pada Shredder Facility 71 .

Membersihkan Handrail Mengecek Chute Magnet separator Membersihkan Screen Adjusting Belt Conveyor 72 .

Perapihan dan Penyimpanan Material Menebar serbuk Gergaji Memasukkan Material pada Box Memberikan Parfum Menaikkan box pada truck 73 .

Tabel Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian 74 .

Tabel Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Risiko Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 75 .

Tabel No Rincian Pekerjaan Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Rekomendasi 76 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 77 .Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

.

63 .

64 .

65 .

66 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful