P. 1
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja

Analisis Risiko Kecelakaan Kerja

|Views: 498|Likes:
jurnal tentang kecelakaan kerja, pengertian, penyebab, klasifikasi dan penanggulangan
jurnal tentang kecelakaan kerja, pengertian, penyebab, klasifikasi dan penanggulangan

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Siti Kamariah Muhammad Idrus on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/05/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Rumusan Masalah
  • 1.3 Pertanyaan Penelitian
  • 1.4.1 Tujuan Umum
  • 1.4.2 Tujuan Khusus :
  • 1.5.1 Peneliti :
  • 1.5.2 Perusahaan
  • 1.5.3 Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta
  • 1.6 Ruang Lingkup
  • 2.1.1 Penyebab Kecelakaan Kerja
  • 2.1.2 Kelelahan Kerja
  • 2.1.3 Motivasi
  • 2.1.4 Teori Kecelakaan Kerja
  • 2.1.5 Pencegahan Kecelakaan
  • 2.1.6 Klasifikasi kecelakaan Akibat Kerja
  • 2.2.1 Jenis-jenis Bahaya
  • 2.2.2 Pengendalian Bahaya
  • 2.3.1 Jenis-jenis Risiko
  • 2.4.1 Tujuan Manajemen Risiko
  • 2.4.2 Manfaat Manjemen Risiko
  • 2.5.1 Job Safety Analysis (JSA)
  • 2.6 Analisis Risiko
  • 3.1 Kerangka Berpikir
  • 3.2 Definisi Istilah
  • 4.1 Metode Penelitian
  • 4.2.1. Lokasi Penelitian
  • 4.2.2. Waktu Penelitian
  • 4.3. Informan
  • 4.4 Metode Pengumpulan Data
  • 4.5 Pengolahan Dan Analisis Data
  • 4.6 Validitas data
  • 5.1.1.1 OH&S Project
  • 5.1.2 Tahapan Pekerjaan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010
  • 5.2.1.1 Membersihkan Handrail
  • 5.2.1.2 Mengecek Chute Magnet Separator
  • 5.2.1.3 Membersihkan Screen
  • 5.2.1.4 Adjusting Belt Conveyor
  • 5.2.2 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material
  • 5.2.3.1 Tahap memasukkan material pada Hooper
  • 5.2.3.2 Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu
  • 5.2.3.3 Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder Dan Material
  • 5.2.4.1 Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk
  • 5.2.4.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran
  • 5.3.1.1 Membersihkan handrail
  • 5.3.1.2 Mengecek Chute Magnet Separator
  • 5.3.1.3 Membersihkan screen
  • 5.3.1.4 Adjusting belt conveyor
  • 5.3.2.1 Tahap memasukkan material pada Hooper
  • 5.3.2.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu
  • 5.4.1 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal
  • 5.4.2 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan dan Penyimpanan Material Oleh
  • 5.4.3 Evaluasi Risiko pada Tahap Shredding
  • 5.4.4. Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material
  • 5.5.1Kecelakaan Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder
  • 5.5.2 Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan Terputus
  • 5.5.3 Kejadian Kecelakaan Kerja Kebakaran
  • 5.6.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material
  • 5.6.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian
  • 5.6.3 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan
  • 6.1 Keterbatasan Penelitian
  • 6.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT.Holcim
  • 6.3.1.1 Membersihkan Handrail
  • 6.3.1.2 Mengecek chute magnet separator
  • 6.3.1.3 Membersihkan screen
  • 6.3.1.4 Adjusting belt conveyor
  • 6.3.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material
  • 6.3.3.1 Tahap memasukkan material pada Hooper
  • 6.3.3.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu
  • 6.3.3.3 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material
  • 6.3.4.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk
  • 6.3.4.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran / Pre-heater
  • 6.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian
  • 6.5.2 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian
  • 6.5.3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Tahap Shredding dengan Kejadian

ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH

TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010

SKRIPSI

OLEH : Dita Wianjani NIM : 106101003314

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M/1431 H

44

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 25 Agustus 2010

Dita Wianjani

45

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, September 2010

DITA WIANJANI, NIM : 1061010003314

Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010

(xxiv + 197 halaman, 25 tabel, 15 gambar)

ABSTRAK
PT Holcim Indonesia dalah pelopor dan inovator di Indonesia yang berkembang cepat dalam sektor semen, karena pasar untuk rumah, bangunan komersial dan infrastruktur yang berkembang. Holcim adalah penyedia yang terintegrasi dari sembilan berbagai jenis semen, beton dan agregat. Selain itu Holcim juga memiliki unit Shredder facility yang berfungsi sebagai fasilitas pencacah limbah untuk bahan bakar alternatif dalam produksi semen. Setiap sistem kerja dalam sebuah perusahaan selalu mempunyai risiko keselamatan kerja, begitu juga sistem kerja pada PT Holcim Indonesia mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pada proses pencacahan atau Shredding ini terjadi kejadian kecelakaan kerja yang serius. Jika dibandingkan dengan fasilitas lain, Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan, namun dalam waktu yang relatif singkat, hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kecelakaan kerja sebab-sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan agar selanjutnya diperoleh usaha-usaha koreksi terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut Tujuan dai penelitian ini adalah Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Penelitian ini dilakukan di PT.Holcim Indonesia Tbk Bogor yang dimulai pada bulan April- Agustus 2010 melaui pengambilan data primer yang dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S , pada pekerja, penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.Serta melakukan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder berupa struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja yang ada pada proses pencacahan atau shredding ini secara keseluruhan adalah terpeleset ceceran residu, terjatuh dari ketinggian, pergelangan tangan terkilir, terpeleset screen , terjatuh saat melangkahi pemisah screen,

46

tangan terputus screen, terbentur penutup screen, tersandung peralatan yang berserakan, tertabrak/menabrak, tertimpa material ringan kejatuhan box, serta kebakaran. Pengendalian dengan engineering control dilakukan pada beberapa tahapan pekerjaan seperti pekerjaan seperti membersihkan handrail , maka dipasang handrail agar pekerja tidak jatuh, pemasangan guard pada benda berputar. Pengendalian dengan administrative control dengan housekeeping, bekerja sesuai dengan prosedur dan pemasangan safety sign di area kerja, terutama untuk pekerjaan yang berisiko tinggi. Pengendalian dengan pemakaian APD pada pekerja seperti safety shoes, safety helmet, mask organic, gloves, goggles, glasess. Sedangkan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di shredder facility adalah tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja yang kelelahan sehingga pekerja tidak berkonsentrasi. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009, penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja tidak melepaskan safety guard sebagai pelindung pekerja, karena merasa aman dengan pekerjaannya. Serta kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010, penyebab kecelakaan ini adalah ketidakharmonisan pekerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain factor teknis, faktor non-teknis pun menjadi penyebab dari kejadian kecelakaan kerja, sehingga perlu penyelesaian masalah yang lebih mendalam agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan tepat. Saran yang diajukan adalah perlu dilakukan identifikasi dan penilaian risiko pada masing-masing tahapan pekerjaan di PT.Holcim Indonesia Tbk untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Untuk menurunkan nilai risiko keselamatan kerja pada masing-masing tahapan proses shredding, diperlukan upaya pengendalian sebagai berikut pemeriksaaan standard operation dalam bekerja, diberikan pelatihan perilaku keselamatan dengan pengawasan serta pmebrian reward dan punishment pada pekerja. Daftar bacaan : 24 (1985-2010)

47

because the market for homes. was hit / hit. nearly every year happen in a serious accident at this facility. Therefore. installation of guard at the rotating object. as well as a working system a PT Holcim Indonesia has a safety risk that may cause accidents. This is because the shredder facility over a wide range of waste processing facilities other than the machine used and still need care manually. tripping over scattered equipment. safety helmet. but within a relatively short time. Shredder newest facility is a facility operated. Each system is working in a company always has a safety risk. slip screens. In the process of enumeration or shredding this occurs a serious work accident. Control by the use of PPE to workers such as safety shoes. Control with administrative control with housekeeping. to minimize workplace accidents causes of accidents should be investigated and found to be further efforts to obtain corrections to the causes of the accident The purpose of this study is Knowledgeable relationship between safety risk analysis with the occurrence of accidents that have occurred in workers at the facility shredder unit PT Holcim Indonesia Tbk 2010. Safety risks that exist in the enumeration or the shredding process as a whole is scattered residual slip.Holcim Indonesia Tbk in 2010 ABSTRACT PT Holcim Indonesia is a pioneer and innovator in Indonesia who growing rapidly in the cement sector. Control with control engineering done in several stages of work as jobs such as cleaning the handrail. September 2010 DITA WIANJANI. Holcim also has a unit Shredder facility that serves as an enumerator waste facility for alternative fuels in cement production. the handrail is installed for workers from falling.This study was conducted in Bogor Indonesia Tbk PT. commercial buildings and developing infrastructure. stages Shredder facility and data accidents that have occurred in Shredder facility. hit by falling boxes lightweight materials. hit the screen cover. working in accordance with the procedures and the installation of safety signs in work areas. organic 48 . When compared with other facilities. sprained wrist. the worker. especially for high-risk jobs. the responsible shredder and accident victims and make observations directly. hands cut off a screen. concrete and aggregates. In addition. fell while bypassing the separator screen. and fire.Holcim which starts in April-August 2010 through Primary data collection is done by interviewing the staff OH & S. whereas secondary form the organizational structure of OH & S. Holcim is an integrated provider of nine different types of cement.JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis. fall from height. NIM : 106101003314 Qualitative Analyze the relation between the result of Risk Analyze in Occupational Safety with the occurrence of accidents that have occurred in workers in unit shredder facility PT.

mask. so we need a more in-depth problem solving to workplace accidents can minimized with proper. glasess. be trained in safety behavior with supervision and pmebrian reward and punishment on the workers. gloves. Arm cut off by the pinched by rotating objects (motion detector) in the year 2009. non-technical factors were the cause of the work accident. And fire at the Hooper happened on 7 April 2010. because they feel secure with his job. the cause of this accident was the disharmony pekerja.Hasil showed that in addition to technical factors. the following efforts are needed to control the examination standard operation in the work. Suggestion is to do the identification and assessment of risk at each stage of work in PT. While the incidence of workplace accidents that have occurred in the shredder facility is a wall of separation between storage space and shredder collapsed due to hit the loader in the year 2008 the cause of this accident was the fatigue of workers so that workers do not concentrate. Reading list: 24 (1985-2010) 49 . goggles. To reduce the value of safety risks at each stage of the process of shredding.Holcim Indonesia Tbk to prevent accidents. the cause of these accidents is that workers do not remove the safety guard as protectors of workers.

25 Agustus 2010 M.Farid Hamzens M. diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.Skripsi Dengan Judul ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010 Telah disetujui. MKM Pembimbing Skripsi I 50 . SKM.Si Pembimbing I Catur Rosidati.

........................................5................................................................4..................................... 1.........................................................................................................................1 Tujuan Umum .... vi LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 1......................................................................................................................1 Bagi Peneliti .5............4... ............................................ i ABSTRAK ................................................................................................. xii DAFTAR TABEL .................. 1........ ii PERNYATAAN PERSETUJUAN ..................................................... 1................................................................................................................................................ viii KATA PENGANTAR................................................. xx 1 xxi 1 5 5 6 6 6 7 7 1.................................... DAFTAR GAMBAR..............2 Bagi Perusahaan ................3 Pertanyaan Penelitian .......................... 1............4 Tujuan Penelitian ........ 1.............................................................................. 51 7 ....................... BAB 1 PENDAHULUAN ............................................DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN .1 Latar Belakang ...5 Manfaat Penelitian ..... vii RIWAYAT HIDUP............. 1........ x DAFTAR ISI ...........2 Tujuan Khusus ....... 1..............

..........1......... ......1 Job Safety Analysis (JSA).....5 Metode Identifikasi Risiko ...........................2 Pengendalian Bahaya .......................... 10 10 10 13 14 16 23 23 25 26 27 30 30 32 33 34 34 2. 2.....................................................................................4 Teori Kecelakaan Kerja ......1............ 2....................... 52 36 2..... 2.............1 Definisi Kecelakaan Kerja ................................1 Penyebab Kecelakaan Kerja .....................................................2 Manfaat Manajemen Risiko .......5 Pencegahan Kecelakaan Kerja ............ 2............2 Definisi Bahaya ..2 Kelelahan Kerja .............................BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............1..........2...............1 Tujuan Manajemen Risiko ...........5...................... 2... 2.........................3 Motivasi .......1...........4.... 2............................. 2....................................................... 2.......2.................. 2..4...............................1.........1.... 2............3 Definisi Risiko ..............................................................1 Jenis-jenis Bahaya……………………………….......................................................... 2....6 Klasifikasi Kecelaakaan Akibat Kerja ....3........................................................ ................ 2..........1 Jenis-jenis Risiko 2..........4 Manajemen Risiko........ 2.........

.... 5............... 4.1 Lokasi Penelitian ......... 4....... .............................................2 Visi dan Misi PT............................ 5..................................... 5................. 4..... 47 3.... 49 BAB IV METODE PENELITIAN .................................................................................Holcim Indonesia Tbk ………………............................. BAB V HASIL . 4........2 Waktu Penelitian .....2......1 Sejarah Perusahaan PT..1........1 Kerangka Berpikir...2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4... 4. 55 55 55 55 56 56 56 58 60 62 62 62 64 4.................... 53 64 ......3 Informan ....................3 Struktur Organisasi PT...1 Gambaran Perusahaan ……………………………………….......Holcim Indonesia Tbk ………… 5............5 Pengolahan data Analisis Data ... ....................................1..............................6 Validitas Data ............................................................2...2 Definisi Istilah ............ 4.............................................BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ............................ 47 3..........1 Metode Penelitian ………………………………………........................................................4 Metode Pengumpulan Data ..........................................................1.........................................................................Holcim Indonesia Tbk ………........

2.4.1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper ………… 5. 106 5...3. 5..1 Tahap Persiapan Awal ………………………………..4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Product ……………………………………………………….1.2.2.2 Mengecek Chute Magnet separator ………………… 5.2. 5.1.3 Membersihkan Screen ……………………………….2.2.2.1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material pada Truk ……………………………………………… 5..2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji ……………………… 5. 5.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5..2.2...4. 5.5..2..2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material …………….2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran .3.3.1..3.3 Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.1 Membersihkan handrail ………………………………… 5...2.2.2. 5..2.. Tahap Memberikan Parfum pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………………… 77 78 79 80 87 87 91 91 92 94 5.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader …………….1..1 Membersihkan Handrail ………………………….4 Adjusting belt conveyor ……………………………… 5. 5.3.3. 106 101 102 101 54 .1.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ……………………….

3. 5. 5..4.3 Memberikan Parfum pada Shredder dan Material ….Holcim Indonesia Tbk …………………………………….3.1 Memasukkan Material pada Hooper ………………… 5.3.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material …………..2 Menebar Serbuk Gergaji ……………………………..2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran …… 132 5.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5.4.3. 5.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Produk ……………………………………………………… 5..3.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.2..DAFTAR TABEL 5.4. 118 121 121 123 125 130 130 5..3.4 Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Box …..3..1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi Material pada Truk ………………………………………………………….4.. 5.1 Kecelakaan Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang 152 136 136 142 144 149 55 .3. 5. 5. 5.4.3..1 Tahap Persiapan Awal ………………………………….. 5.3 Tahap Shredding ……………………………………….3.3.5.Holcim Indonesia Tbk …………………………… 5.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ……………….4.

....1 Tahap Persiapan Awal ....6.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting Belt Conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus 155 …………..4 Adjusting belt conveyor ………………………. ……………….3.......3 Perbandingan Kejadian Hasil Analisis Tahap Shredding dengan 156 Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada Hooper ………….. 6..1 Membersihkan Handrail ………………… ………........2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Persiapan dan Kecelakaan Kerja Penyimpanan Material dengan Kejadian Tertabraknya Tembok Pemisah antar Ruang Penyimpanan dan Shredder …………. 6......... ……………...... 6....3.............2 Mengecek Chute Magnet Separator ……………. … 6.......…………………………………………… 5.………………………………………………………… BAB VI PEMBAHASAN ... 6.. 56 6...6....1..6.1 Keterbatasan Penelitian…………….....3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 158 157 158 158 …………………………………………………………….. Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ………………....3... 159 159 .....3........1.1..DAFTAR GAMBAR 5.. 6..……………………….…………………………………………… 5....

1 Tahap Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material 175 pada Truk …………………………………..2 Mengirimkan Box Menuju Tempat pembakaran / PreHeater ………………………………………….. BAB VI PEMBAHASAN .......3. 6.3.. 6.4.....3..4........1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja 179 177 177 172 Tertabraknya Tembok Pemisah Antara Ruang Penyimpanan dan Shredder………………………………………………………….4..2 Pembahsan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Lengan yang Terputus …………… 181 6..4.3...3 Tahap Memberikan Parfume pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………….. 6..... 57 .. Holcim Indonesia Tbk …………………………… 6......3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper …………………....……………………….....3...3.4...3....3.1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper …………… 6...... 6....4 Tahap Memasukkan produk pada Box dan Pengiriman Produk …………………………………………………… 6..6.... 6..4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT......3.3 Tahap Shredding ………………………………………… 170 170 6........3...1 Keterbatasan Penelitian…………….2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji pada Lantai yang Terkena Residu ……………………………………… 6.

..................... 190 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 58 ...............................2 Saran............... 7............BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN....1 Kesimpulan.......................... 188 188 7.......................................................................................................

.3 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatam Kerja pada Tahap Shredding 83 59 89 . 43 2.1 Tabel Indentifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal ………………………………………………………………… 5.6 tabel Kategori Tingkat Risiko dengan Metode Semikuantitatif …….4 Tabel Skala Ukur Eksposure Secara Semikuantitatif ……………….2 Tabel Definisi Istilah Kejadian Kecelakaan Kerja ………………… 57 4.3 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Semikuantitatif …………….3 Tabel Triangulasi Sumber …………………………………………. 45 2..4 Tabel Triangulasi Metode …………………………………………… 5.. 42 2.2 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif …………………….1 Tabel Data Sekunder ……………………………………………… 58 4...1 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif …………………..2 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ………………………………………………………………………...2 Tabel Data Primer …………………………………………………… 60 4. 41 2. 53 3. 61 4..5 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Semikuantitatif ……………… 44 2.1 Tabel Definisi Istilah Tahapan Analisis Risiko …………………….Daftar Tabel 40 2.7 Tabel Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross… 49 3.. 43 2.. 5.

.9 Evaluasi Risiko Keselamatan Tahap Persiapan …………………….8 Analisis Risiko Keselamatan Kerja Tahap memasukkan Produk pada Box dan pengirimannya ……………………………………………...Daftar Tabel 5.. 6.7 Analisis Risiko Keselamatan kerja Tahap Shredding ……………… 5.1 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding …………... 138 127 60 ..2 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap Memasukkan Produk pada Box 143 dan Pengirimannya ……………………………………. 6.... 6..0 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap persiapan dan Penyimpanan Material ………………………………………………. 134 5.....

Daftar Gambar 2.1 Gambar Manajemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 : 1999 ………… 3.1 Gambar Kerangka Berpikir Hubungan Hasil Analisis Tingkat Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja ………………………………….. 5.1 Gambar Logo Holcim ………………………………………………... 5.2 Gambar Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk …………… 63 5.3 Gambar Green Pyramid ……………………………………………… 65 5.4 Gambar Struktur Organisasi OH&S Corporate ……………………… 48 33

61

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Kewarganegaraan Alamat Telepon Email Universitas Jurusan Peminatan : Dita Wianjani : Sukabumi, 20 November 1987 : Perempuan : Islam : Indonesia : Kp.Pangkalan raya rt 02/02 No.38 Cibuluh Bogor Utara : 085697493402 : michikakazuya@yahoo.co.id : UIN Syarif Hidayatullah : Kesehatan Masyarakat : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Latarbelakang Pendidikan Formal     1994- 2000 2000- 2003 2003- 2006 2006 –2009 Masyarakat Informal   2001-2003 2004-2005 (Conversation) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional (LIA) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional LIA : SDN Pengadilan 2 Bogor : SMPN 8 Bogor : SMAN 6 Bogor : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurusan Kesehatan

62

Pengalaman    2006-2008 2008 : Staff pengajar yayasan Miftahul Jannah Cimanggu Bogor : Mengikuti program beasiswa Youth Leadership Trip ke

Malaysia dan Thailand 2007-2008 : Bendahara BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat

63

KATA PENGANTAR ‫ت ه ك ا ب ر و هلل ا ورحمة ع ل ي كن م ل س ال ا‬

Segala puji kehadirat Allah SWT, yang tidak pernah tidur dan selalu dekat dengan hamba-Nya. Syukur senantiasa terucapkan atas segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian

Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010”. Skripsi ini disusun sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyusunan skripsi ini semata-mata bukanlah hasil usaha penulis, melainkan banyak pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, motivasi, dan semangat. Untuk itu penulis merasa pantas berterima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak M.Farid Hamzens Msi serlaku pembimbing I, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis 4. Ibu Catur Rosidati, SKM. MKM, selaku Dosen Pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. 64

Tim OH&S PT Holcim Indonesia Mas Pungki Yudono dan Mas Ahmad Azhar selaku pembimbing lapangan atas bimbingan dan bantuannya dalam proses pengambilan data. 8. Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’06 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu. Bapak. khususnya mengenai analisis risiko keselamatan kerja Jakarta. dr. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Agustus 2010 Penulis 65 . MKKK. Rima dan Erangga yang selalu memberikan motivasi dan dukungannya 11. 10. selaku Koordinator K3 yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Ibu Iting Shofwati. ST. Tetap Semangat Untuk Masa Depan yang Lebih Baik.5. 9. 7. dan adikku tercinta atas dorongan dan bantuannya baik material dan spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

50 66 .300 miliar. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 93. Depnakertrans menyatakan angka kecelakaan kerja di Indonesia pun masih tergolong tinggi. ada 270 juta kecelakaan kerja dan 160 juta kasus penyakit yang terkait dengan pekerjaan.624 kasus kecelakaan kerja dan tahun 2007 terjadi sebanyak 83. setiap tahun di seluruh dunia kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan banyak korban.BAB I PENDAHULUAN 1. tahun 2006 terjadi 95. pengusaha. lebih dari 2 juta manusia meninggal dunia akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang terkait dengan pekerjaan. Riset ILO menghasilkan kesimpulan bahwa setiap tahun.1 Latar Belakang Berdasarkan ILO. Data PT Jamsostek Indonesia (2008) menyatakan bahwa “ K erugian langsung akibat kelalaian manusia dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebesar Rp. dengan jumlah pekerja yang sembuh 85.314 kasus di tahun 2009 (Jamsostek. sedangkan kerugian secara tidak langsung mencapai Rp.090 orang. Berdasarkan angka perkiraan konservatif. 2007) Dari data statistik ini tentunya kita akan paham bahwa kerugian yang ditimbulkannya sangat masif. bukan hanya bagi pekerja. 2010). dan pemerintah. tetapi juga bagi dunia karena kesemuanya ini menyedot biaya kompensasi yang sangat besar. 2008) dan terdapat 96.714 kasus . sedangkan yang cacat total 44 orang (Jamsostek.(ILO.823 kasus.

Sedangkan faktor penyebab langsung timbulnya kecelakaan kerja adalah tidak adanya upaya pengendalian risiko dan adanya potensial bahaya di tempat kerja. dan kerugian. dapat dikatakan kerugian secara tidak langsung akibat kecelakaan kerja setiap tahun mencapai 15 kali dari kerugian secara langsung. Dalam teorinya. Maka. 67 . kontak. Tingginya angka kematian akibat kecelakaan dan penyakit kerja mendesak dilakukannya analisa secara komprehensif terhadap penyebab kematian dialami pekerja atau buruh. tidak adanya komitmen perusahaan untuk menerapkan SMK3 serta faktor lingkungan kerja. Faktor dasar penyebab adanya kecelakaan kerja adalah buruknya manajemen K-3. gejala. yaitu manajemen.000 pekerja per tahun merupakan angka yang cukup besar. Data yang dilansir Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan sinyal betapa kecelakaan kerja dan kematian akibat kerja sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Jumlah kematian lebih dari 14.truliun “. Birds memodifikasi teori Heinrich dan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. sehinggga kecelakaan kerja dapat segera dicegah dan diminimalisasi frekuensinya. Ketiga hal tersebut menimbulkan unsafe action (tindakan yang tidak aman) dan unsafe condition (kondisi yang tidak aman) yang merupakan faktor tidak langsung penyebab kecelakaan kerja. pada tahun 1967. oleh karena itu faktor penyebab kecelakaan dan faktor-faktor lainnya harus segera dikendalikan dengan benar. sumber penyebab dasar.

yaitu : 68 .mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Oil Sludge facility adalah fasilitas yang yang mengolah paint sludge menjadi bahan bakar alternatif dan Shredder facility adalah fasilitas yang mengolah berbagai limbah cair. Fasilitas ini merupakan sub kerja pada departmen Geocycle yang berfungsi sebagai pre-handling limbah. Geocycle adalah layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. padat dan sampah rumah tangga. PT Holcim Indonesia adalah perusahaan produksi semen yang memiliki unit kerja baru bernama Geocycle. di antaranya Biomess Facility. Dari hasil observasi dan wawancara mengenai data kecelakaan kerja pada tiga fasilitas yang dibawahi oleh Geocycle sebagian besar kecelakaan kerja terjadi di Shredder facility yang melakukan pengolahan limbah dengan metode pencacahan atau shredding. Terdapat tiga fasilitas pemanfaatan limbah yang dibawahi oleh unit Geocycle. oil sludge facility dan Shredder facility. Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. Biomess facility merupakan fasilitas yang mengolah serbuk gergaji dan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif .

Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2008 2. hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual.1. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 Jika dibandingkan dengan fasilitas lain. perlu dilakukan upaya analisis risiko keselamatan kerja yang terintegrasi ke dalam manajemen risiko yang dimulai dengan identifikasi risiko sampai dengan menentukan tingkat risiko keselamatan kerja dan menghubungkannya dengan fakta kecelakaan kerja yang pernah terjadi di tempat tersebut. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2009 3. sehingga secara mudah risiko dapat diminamilisir dengan menentukan pengendalian yang tepat. Oleh karena itu. Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan. namun dalam waktu yang relatif singkat. 69 .

Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 4. 1. Dari data kecelakaan di shredder facility PT Holcim Indonesi Tbk pada tahun 2008 – 2010 kecelakaan kerja telah terjadi pada operator dan fasilitas di shredder.1. Bagaimana gambaran consequences. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 70 . Bagaimana gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk dan gambaran proses kerja shredder di PT.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah dalam proses operasinya shredder facility mengalami banyak kecelakaan apabila dibandingkan dengan fasilitas lain yang sudah beroperasi lebih lama di Geocycle.3 Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 3. dan hubungannya dengan kejadian kecelakaan kerja di shredder facilitysehingga dapat dilakukan tindakan pengendalian bahaya dengan tepat. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 2. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap bahaya-bahaya keselamatan pada pengoperasian shredder untuk diketahuinya tingkat risiko keselamatan kerja di tempat tersebut.

Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 1. Diketahuinya gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 dan gambaran proses kerja shredder di PT.2 Tujuan Khusus : 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 7. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 6. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 2. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. 1.1 Tujuan Umum Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Diketahuinya gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi).4 Tujuan Penelitian 1. Bagaimana hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi dengan pada pekerja di unit shredder facility di PT. Bagaimana gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT.4. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 71 .4.5.

5. b. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. 4.’ 7. Diketahiumya gambaran consequences. Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi facility di PT.1 Peneliti : Meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang K3 khususnya dalam melakukan analisis resiko keselamatan kerja 1.5. Diketahuinya gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. 72 .2 Perusahaan a.5 Manfaat Penelitian 1. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. Diketahuinya gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT. Diketahuinya gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 pada pekerja di unit shredder 1. Memberikan bahan masukan pada institusi terkait mengenai pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) .3. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 6. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 5. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara perusahaan dengan program studi kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

b. Sasaran dari penelitian ini adalah proses shredding (pencacahan).3 Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta a. penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.5. Sebagai sarana untuk menjalin serta membina network dan kerjasama dengan perusahaan atau institusi lain dibidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). sedangkan data sekunder berupa 73 . Data primer dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S . Bogor dan dilakukan selama bulan AprilAgustus 2010.1. 1. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan melihat hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.6 Ruang Lingkup Penelitian ini adalah penelitian analisis kualitatif hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. Untuk mengetahui tingkat risiko digunakan metode analisis risiko secara semikuantitatif Standar Australia/Standar New Zealand (AS/NZS 4360. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Dapat dijadikan salah satu sumber informasi mengenai analisi risiko fan hubungannya terhadap kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi. 1999/2004). pada pekerja. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 yang berada di Cileungsi. Penelitian ini dilakukan di unit Shredder Facility PT.Serta melakukan observasi secara langsung.

struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Penelitian ini dilakukan oleh

mahasiswa Program Studi kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

74

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecelakaan Kerja Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga karena di akhir peristiwa itu ada unsur ketidaksengajaan, tak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian materil maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Suatu peristiwa dapat digolongkan suatu kecelakaan jika bersifat diluar kamauan manusia, disebabkan oleh kekuasaan dari luar yang berlangsung secara cepat dan menyebabkan cidera badan dan jiwa (Suma’mur, 1996). Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang, kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah, 2003) 2.1.1 Penyebab Kecelakaan Kerja Menurut Sahab (1997), penyebab kecelakaan kerja di tempat kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan: 1). Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain. 2). Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain.

75

3). Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain. 4). Sifat kerja. 5). Cara kerja b. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: 1). Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan. 2) cacat tubuh yang tidak kelihatan. 3) keletihan dan kelelahan. 4) sikap dan tingkah laku yang tidak aman. Secara umum ada dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu penyebab langsung (immediate causes) dan penyebab dasar (basic causes) (Budiono, 2003): a. Penyebab Langsung Penyebab langsung atau kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) dan kondisikondisi yang tidak aman (unsafe conditions) Menurut Ferdy dan Yudi (2008), dari beberapa hasil riset menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995), berdasarkan statistik di Indonesia, 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak 76

aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan kerja dibandingkan dengan kondisi tidak aman (unsafe condition). Menurut Murthi dan Yuri (2009), unsafe act adalah suatu tindakan seseorang yang menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan dan dapat mengakibatkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun peralatan yang ada di sekitarnya. Pendapat lain yang berkenaan, unsafe act adalah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan (Silalahi,1995). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa unsafe act adalah semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dimana tindakan tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, peralatan maupun lingkungan yang ada di sekitarnya. b. Penyebab Dasar Terdiri dari dua faktor, yaitu faktor manusia/ pribadi dan faktor kerja/ lingkungan kerja. Faktor manusia/ pribadi, antara lain karena: kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurangnya/ lemahnya pengetahuan dan ketrampilan/ keahlian, stres, motivasi yang tidak cukup/ salah.Sedangkan faktor kerja/ lingkungan, antara lain karena: tidak cukup kepimpinan atau pengawasan, tidak cukup rekayasa, tidak cukup pembelian/ pengadaan barang, tidak cukup perawatan, tidak cukup standar-standar kerja, penyalahgunaan.

.

77

sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat. Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan menurunkan dalam bekerja kinerja dan (Budiono. tendon. Selain itu karakteristik kelelahan akan meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan yang dilakukan. yaitu nyeri otot. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Kelelahan kerja akan tingkat kesalahan kerja.2 Kelelahan Kerja Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Nurmianto. Pembebanan otot secara statispun (Static Muscular Loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries). dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive). menambah 2003).1. Pendapat lain mengatakan bahwasanya kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah. Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan yang subyektif. 2003).2. aktivitas 78 . motivasi menurun. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. tulang. sedangkan menurunnya rasa lelah.

Rizeddin (2000). gangguan pencemaan. pengembangan.Akan tetapi jika upah tersebut tidak 79 . dan kesukaran tidur). tanggung jawab. Menurut Winardi (2001) imbalan berupa gaji atau upahmerupakan salah satu dari imbalan ekstrinsik yang diterima melalui kegiatan bekerja. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. 2. penghargaan. badan terasa tidak enak. gangguan fungsi paru dan jantung. Gejala kelelahan kerja menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973) yaitu menurun kesiagaan dan perhatian.3 Motivasi Menurut Rawianto (1990) dalam Aldila (2009) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan motor penggerak adalah : Prestasi.menurun. 1982). kurang tenaga. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. (depresi. tantangan. tidak cocok dengan lingkungan. 1994). kecemasan. dan balas jasa. kegelisahan. imbalan tersebut dapat dijadikan motivasi kepada pekerja agar pekerja bekerja dengan kinerja tinggi. dan gejala umum (sakit kepala. kesempatan.Selain itu Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati. pembahan tingkah laku. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. cara berpikir atau perbuatan anti sosial. keterlibatan. kehilangan nafsu makan.1. penurunan dan hambatan persepsi. kehilangan inisiatif). vertigo.

dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental Teori Herzberg pun menyatakan tingginya motivasi kerja pun dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik seperti. Menurut penelitian yang dilakukan Shinta Dwi (2009) dimana secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi dengan perilaku tidaka aman. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. maka secara langsung perilaku pada saat bekerja akan menjadi tidak selamat. apabila faktorfaktor ekstrinsik ini tidak dipenuhi makan. tetapi jika pekerja mempunyai motivasi dalam diri yang rendah. kondisi kerja. Disebutkan bahwa adanya motivasi dalam diri karyawan yang tinggi maka perilaku pada saat bekerja akan menjadi selamat. hubungan antar pribadi. akan berpengaruh pada motivasi kerja. gaya kepimimpinan. dan supervise.dipenuhi. 80 .

kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: kondisi kerja. Sebelum memahami bagaimana kecelakaan itu dapat terlebih dahulu kita harus memahami urutan bagaimana kecelakaan terjadi dan penyebabnya. 81 . dan banyak membuat kesalahan. kelalaian manusia. Teori tersebut memberikan pengertian terhadap tindakan preventif dan menggambarkan semua factor yang berkaitan terhadap terjadinya kecelakaan atau memperkirakan dengan alasanalasan yang akurat kemungkinan sebuah kecelakaan akan terjadi. Mekanisme terjadinya kecelakaan diuraikan dengan “Domino Sequence” berupa: a. Teori Domino Heinrich Dalam Teori Domino Heinrich. Colling (1990) telah mencatat teori-teori kecelakaan sebagai berikut : 1. pengaruh lingkungan dan pendidikan. yakni pada orang yang memiliki sifat tidak baik (misalnya keras kepala) yang diperoleh karena faktor keturunan. Ancestry and environment. tindakan tidak aman.4 Teori Kecelakaan Kerja Terdapat sejumlah teori tentang kecelakaan. kecelakaan dan cedera. Heinrich (1931) berpendapat bahwa kecelakaan pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan.2. mengakibatkan seorang pekerja kurang hati-hati.1.

Accident. kecacatan dan bahkan kematian. Pada umumnya disertai dengan kerugian. peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja. jika satu bangunan roboh. Menurut penelitian yang dilakukannya. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya.b. Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama 82 . Jika satu kartu jatuh. Unsafe act and mechanical or physical hazards. memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya. merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan tersebut di atas yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan. Fault of person. d. kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Injury. Menurut Heinrich. Dengan penjelasannya ini. Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama. tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. c. tindakan yang berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain. kecelakaan mengakibatkan cedera/luka atau berat. e.

Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memeperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Praktek di bawah standar (unsafe acts) dan kondisi di bawah standar (unsafe conditions) merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan dan merupakan penyebab utama dari kesalahan manajemen. dan kerugian. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan Heinrich dalam Suardi (2005) menemukan sebuah teori yang dinamakan “Teori Domino”. 83 . Pada tahun 1967. yaitu manajemen. kesalahan seseorang. kecelakaan. kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab-akibat. Dalam teorinya. terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar. Teori itu menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera. gejala. yaitu kebiasaan. Heinrich mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan. sumber penyebab dasar. perbuatan dan kondisi tidak aman (hazard). serta cidera. Birds dalam Suardi (2005) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. satu domino diantaranya.yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya dengan membuang hazard. kontak.

Unsafe Act a. menunjukkan bagaimana terjadinya suatu tindakan tidak aman itu. tindakan tidak aman (unsafe acts). pengaruh organisasi (organizational influences). pra-kondisi yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman (preconditions for unsafe acts). Improper planning c.2. Conditions of operator b. Informasi berikut. Errors b. Teori Chess Model Dalam teori ini. Failure to correct problems d. James Reason membagi penyebab kelalaian/kesalahan manusia menjadi 4 tingkatan: 1.Unsafe Supervision a. Poor practice of operator 3. Swiss Cheese Model memberikan informasi perihal bagaimana suatu tindakan tidak aman dapat terjadi. Berbeda dengan teori Domino Heinrich. Types of Human Errors: 1. Violations 2. Inadequate supervision b. pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision). Supervisory violations 84 .Preconditions for Unsafe Acts a.

dimana model ini menyertakan 2 (dua) kemungkinan penyebab kecelakaan seperti yang dikemukakan dari teori domino: kesalahan manusia atau kesalahan sistem. Jika keempat keju ini (unsafe act. 85 . and organizational influences) sama-sama mempunyai lubang. Organizational climate b. Teori Kecelakaan Pettersen Model ini berbeda dari model Ferrell. teori ini mampu memberi banyak sumbangan atas pencegahan kecelakaan kerja. Penyebab-penyebab kecelakaan dan atau insiden dapat bersumber dari salah satu atau keduanya. Organizational InfluencesResource management a. unsafe supervisions.1. berbagai macam types of human errors ini merepresentasikan lubang pada sebuah keju. Organizzational process Dalam Swiss Cheese Model. Melalui pendekatan ini. Agar kecelakaan dapat dicegah. manajemen mesti mengenali secara spesifik kemungkinan terjadinya kelalaian/kesalahan manusia pada tiap tahapan pekerjaan yang dilakukan karyawan. manajemen yang justru dituntut untuk melakukan segala upaya yang diperlukan untuk melindungi karyawannya 3. preconditions for unsafe acts. maka kecelakaan menjadi tak terhindarkan. Melalui Swiss Cheese Model. karyawan tidak lagi menjadi pihak yang melulu dipersalahkan jika suatu kecelakaan terjadi. Dalam berbagai aspek.

tekanan produksi. Perbedaan yang utama adalah pada kategori ketiga yaitu keputusan yang keliru. ini lebih masuk akal dalam situasi mereka mengerjakannya dengan tidak aman daripada mengerjakannya dengan aman. prioritas sistem dimana mereka berada. Kategori ini mengajukan bahwa para pekerja sering melakukan kesalahan melalui keputusan-keputusan secara sadar atau tidak sadar. rangkap. Berkali-kali pekerja akan memilih untuk mengerjakan tugas dengan tidak aman karena sederhana saja. Bird dan Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss) disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor 86 . dan pengambilan keputusan yang salah. dan keputusan yang keliru. ergonomic. Beban yang berlebih kurang lebih seperti Ferrell Model. Teori Loss Causation Model Loss Causation Model berisikan petunjuk yang memudahkan penggunanya untuk memahami bagaimana menemukan faklor penting dalam rangka mengendalikan meluasnya kecelakaan dan kerugian termasuk persoalan manajemen. dan lain-lain.Teori ini mengadopsi teori Ferell yang menyertakan kesalahan sistem disamping kesalahan manusia. 4.Model ini menyatakan bahwa di belakang kesalahan manusia ada 3 (tiga) kategori besar: beban yang berlebih. dikarenakan tekanan dari teman. Teori ini mengemukakan bahwa pengambilan keputusan yang salah pada suatu kondisi yang disadari atau tidak bertindak tidak aman. Teori ini mengkategorikan tiga kelompok besar penyebab kecelakaau yaitu overload (sama dengan teori Ferell).

faktor kepemirnpinan atau kepengawasan. Inadequate programe standards Tidak spesifiknya standar. Faktor substandard diantaranya tindakan tidak aman seperti mengoperasikan unit 87 standar merupakan penyebab yang tidak bervariasi yang . Basic Causes: (penyebab dasar) Penyebab dasar terjadinya kecelakaan disebabkan oleh: a. Immediate Causes Suatu kejadian yang secara cepat memicu terjadinya kecelakaan bila kontak dengan bahaya. Personal factor. 3. b. 2. b.yang berurutan seperti yang terdapat dalam Loss Causation Model. Inadequate compliance -with standards Kurangnya pemenuhan sering terjadi. Lack of Control (kurang kendali) Pengendalian adalah salah satu faktor penting dalam meneegah terjadinya kecelakaan. Inadequate programe Hal ini dikarenakan program yang berhubungan dengan ruang lingkup. Job factor. Penyebab lack of control yaitu: a. c. yang terdiri dari: 1. standar tidak jelas atau standar tidak baik. tidak sesuainya design engineering. Immediate causes meliputi faktor sub-standard dan faktor kondisi.

letak.1. d. yakni : a. Aspek perangkat keras (peralatan. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga 2.Olishifki (1985) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut : a. Memperkecil (menekan) kejadian yang membahayakan dari mesin. Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut. Menurut Julian B. dsb). faktor kondisi seperti kebisingan.1. c. ventilasi iklim kerja dan lain-lain.tanpa ijin. perlengkapan.6 Klasifikasi kecelakaan Akibat Kerja Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut ILO tahun 1962 adalah sebagai berikut: 88 . Memberikan pendidikan (training) kepada tenaga kerja atau karyawan tentang kecelakaan dan keselamatan kerja.5 Pencegahan Kecelakaan Menurut Bennett NBS (1995) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati dengan dua aspek. cara kerja. 2. Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsure yang berkaitan). b. mesin. material dan struktur perencanaan b.

Peralatan lain. c. Regang otot atau urat. Terkena arus listrik h. Terjepit oleh benda. d. zat-zat dan radiasi. Patah tulang. e. f. Tertumbuk atau terkena benda-benda. g. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan. Klasisfikasi menurut penyebab. Luka-luka lain. Terjatuh. 89 . antara lain: a. Gegar dan remuk. Amputasi. 3. c. Bahan-bahan.1. Diskolasi atau keseleo. d. Tertimpa benda jatuh. c. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan. Lingkungan kerja. b. b. antara lain: a. e. b. Pengaruh suhu tinggi g. Mesin. f. antara lain: a. d. e. Memar dan luka dalam yang lain. Kontak dengan bahan-bahan yang berbahaya atau radiasi 2. terkecuali benda jatuh. Alat angkut dan alat angkat.

antara lain: a. Keracunan-keracuan mendadak (akut). baik secara fisik maupun mental. Akibat cuaca dan lain-lain. Mati lemas. Leher c. k. l. i. Kelainan umum 2. Anggota bawah f. Kepala b. bahaya ditempat kerja adalah segala sesuatu di tempat kerja yang dapat malukai pekerja. Sedangkan menurut Labor Occupational Health Program. 4. Pengaruh arus listrik. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh.h. Pengaruh radiasi.2 Bahaya Menurut AS/NZS 4350:2004. Luka bakar. n. m. Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya. bahaya adalah suatu sumber potensial yang merugikan. 90 . Badan d. Banyak tempat g. Anggota atas e. j.

proses produksi. Australia). produk. seperti bakteri. explosive. irritant.1 Jenis-jenis Bahaya Jenis-jenis bahaya yang berada di tempat kerja secara garis besar dikelompokan menjadi (Wells. padar yang mempunyai sifat toksik. corrosive. lingkungan. 2004) 1.Bahaya mewakili satu sumber energy yang memilki potensi yang dapat menyebabkan terjadinya cidera pada pekerja. flammable. 3. Chemical hazard Bahan kimia berbahaya dalam bentuk gas. Biological hazard Bahaya yang berasal dari mikroorganisme khususnya yang pathogen yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. jamur. 91 . lingkungan kerja. getaran. Physical hazard (Bahaya Fisik) Berupa energy seperi kebisingan. dan struktur (ILO encyclopedia). 2. pencahayaan. 2002. tekanan udara.2. 1996. radiasi. proses kerja. tempratur ekstrim. reactive. asphyxia. Plog. Bahaya dalam K3 adalah bahaya yang terdapat dilingkungan kerja yang dapat berasal dari bahan baku/material. Donoghue. kerusakan pda peralatan.Hazard atau bahaya adalah potensi yang dimiliki oleh bahan/ material. cair. virus. 2009). 2. proses atau cara kerja yang dapat menimbulkan kerugian terhadap keselamatan dan kesehatan seseorang (Workover. limbah dan pekerja itu sendiri (Hendra.

6. 7. Mechanical hazard (bahaya mekanik) Bahaya yang terdapat pada benda-benda atau proses yang bergerak yang dapat menimbulkan dampak seperti terpotong. Psychological hazard (bahaya psikososial) Stress. tersayat.Electrical hazard (bahaya listrik) Merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik pendek (konsleting). Berbagai metode untuk melindungi pekerja atau pengendalian bahaya telah diciptakan. 2. jam kerja yang panjang. kekerasan ditempat kerja.Ada tiga jenis pengendalian (Diane Bush.2 Pengendalian Bahaya Pekerja tidak dapat dilindungi apabila bahaya yang ada belum diidentifikasi dan dievaluasi. terjepit. tergores. loncatan listrik/ listrik statik.4. dan cara kerja yang salah 5 .2. pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang. tertusuk. dkk. 2000) 92 . Ergonomic (Aspek ergonomik) Merupakan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan sebagai akibat dari ketidaksesusaian antara desain kerja dengan pekerja. tekanan pekerjaan.

1. Memasang ventilasi buangan local 2. Mendesain ulang mesin b. Rotasi atau pergantian shift kerja b. Pengendalian engineering merupakan pengendalian yang terbaik karena menghilangkan bahaya yang ada atau menghilangkan kemungkinan bahaya tersebut mengenai pekerja. Pengadaan ruang control 93 .Untuk menjadi efektif. Sasaran dari pengendalian teknik adalah bahaya yang secara langsung dan efektifitasnya tidak tergantung pada perilaku pekerja. pengendalian administrative bergantung pada perilaku manusia. tetapi digunakan untuk membatasi waktu kontak antar pekerja dengan bahaya. Yang termasuk dalam pengensalian administrative antara lain : a. Menggunakan produk yang lebih aman c. Pengendalian Engineering Adalah pengendalian yang dilakukan dengan tujuan mengurangi bahaya pada sumber dan media transmisinya.Yang termasuk dalam jenis pengendalian engineering antara lain adalah : a. untuk pemaparan Pengendalian administrative tidak menghilangkan bahaya secara langsung. Mengisolasi proses atau pekerja d. Pengendalian Administratif Pengendalian membatasi administrative melalui adalah rencana pengendalian kerja.

Safety shoes. Pengadaan pelatihan d. diantaranya : 1. Alat pelindung diri digunakan sebagai cara terakhir untuk melindungi pekerja bila pengendalian engineering dan administrative tidak mungkin dilakukan atau dalam keadaan darurat. rapi. Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadapa potensi bahaya/kecelakaan kerja akibat proses produksi atau pekerjaan. Housekeeping atau penataan tempat kerja yang ringkas. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya Dengan menempatkan penghalang antara pekerja dengan bahaya. Standard Operation Procedure (SOP) DAN Work Instruction h.Alat pelindung diri tidak menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yang ada. Monitoring lingkungan 3. f.c. Pemeriksaan kesehatan g. Ear plug dan ear muff. Kebijakan-kebijakan K3 i. pelindung kaki 94 . Pengadaan color code labeling dan material safety data sheet (MSDS) e. Ada banyak sekali jenis-jenis alat pelindung diri. proteksi pendengaran 2.

1996) a. bersifat akut dan fatal.3.1 Jenis-jenis Risiko Adapun jenis-jenis risiko yaitu (Rao V. uap. 2. Sarung tangan 6. Safety risk (risiko keselamatan) Risiko keselamatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan rendah untuk terjadi tetapi memiliki konsekuensi besar. melindungi pernafasan dari debu. baik dampak kesehatan maupun yang lainnya. Kolluru. Safety goggle.Risiko ini dapat terjadi sewaktu-waktu. Kerugian-kerugian yang biasanya terjadi dalam risiko keselamatan adalah cedera.3 Risiko Menurut AS/NZS 4360:2004. risiko adalah suatu kesempatan dari kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan dampak pada sasaran. dkk. risiko diukur berdasarkan adanya kemungkinan terjadinya suatu kasus dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan. Masker. pelindung mata 4. Helm. kehilangan hari kerja. pelindung kepala 5. asap. fume 2.Risiko dalam konteks K3 berarti besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan potensi kerugian yang muncul. bahan kimia. 95 . kerusakan property dan kerugian produksi dan penjualan.3.

Sehingga hal-hal yang tidak diharapkan seperti pencemaran air dan udara dapat dihindari. Financial risk (risiko keuangan) Risiko keuangan berkaitan dengan masalah ekonomi. Ciriciri risiko lingkungan adalah perubahan yang tidak signifikan.Risiko jenis ini dapat terjadi kapan saja secara terusmenerus dan berdampak kronik. Public risk (risiko masyarakat umum) Risiko ini berkaitan dengan kesejahteraan kehidupan orang banyak. Health risk (risiko kesehatan) Risiko kesehatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk kterjadi tetapi memiliki konsekuensi yang rendah. berdampak besar pada populasi atau komunitas. Penyakit-penyakit yang terjadi misalnya gangguan pernafasan.b. contohnya adalah kelangsungan suatu bisnis. Enviromental risk (risiko lingkungan) Risiko ini berhubungan dengan keseimbangan lingkungan. 96 . asuransi dan inventasi e. mempunyai masa laten yan panjang. c. gangguan syaraf. gangguan reproduksi dan gangguan metabolic atau sistemik. berubahnya fungsi dan kapasitas habitat dan ekosistem serta kerusakan sumber daya alam d.

Menetapkan tujuan dan lingkup pelaksanaan manajemen risiko. manajemen risiko adalah pemeliharaan. 2. Melakukan analisis risiko untuk menetapkan kemungkinan dan konsekuensi yang akan terjadi serta menetapkan tingkat risiko. 4. Melakukan pemantauan dan tinjauan ulang program manajemen risiko yang telah dilaksanakan. Beberapa tahapan dalam melaksanakan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Melaksanakan identifikasi risiko. 97 . Melakukan pengendalian risiko yang tidak dapat diterima. Menetapkan evaluasi untuk menetapkan skala prioritas dan membandingkan dengan kriteria yang ada. 5. proses.4 Manajemen risiko Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. yaitu : 1. dan struktur yang mengacu langsung pada pengetahuan efektif terhadap kesempatan potensial dan efek yang merugikan. Komunikasi dan konsultasi yang dilakukan dalam proses manajemen risiko yang melibatkan pihak internal dan eksternal.2. 3. 6. 7.

1 Tujuan Manajemen Risiko Manajemen risiko bertujuan untuk memaksimalkan kemajuan dalam mencapai tujuan organisasi dengan cara meminimalkan kerugian yang akan terjadi. Tujuan manajemen risiko menurut AS/NZS 4360 (1999) adalah sebagai berikut : 1.4. 2. Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian.\ COMMUNICATE AND CONSULT ESTABLISH CONTEXT MONITOR AND REVIEW ANALYSE RISKS EVALUATE RISKS TREAT RISKS Gambar 2. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan kerugian. RISKS ASSESMENT IDENTIFY RISKS 98 . Membantu meminimalisasikan meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi. (Supriyadi.1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999 2. 2005). 3.

2. Mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan perlindungan aset.2 Manfaat Manjemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 (2004) manfaat menerapkan manjemen risiko adalah : 1. 3. 2. Menyusun program yang tepat untuk menimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan. Melakukan peningkatan pengmbilan keputusan pada semua level. Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan dari kemungkinan tersebut. 4. Meningkatkan produktifitas kerja. produksi dan mencapai performa perusahaan yang lebih baik. lingkungan kerja.4. 5. Menciptakan manajemen proaktif bukan reaktif. Beberapa contoh metode identifikasi risiko tersebut adalah sebagai berikut : 99 . 6. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. 5.5 Metode Identifikasi Risiko Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi risiko untuk mengetahui faktor penyebab dan proses terjadinya konsentrasi atau dampak. 2.4.

1990). fasilitas. Failure Mode Effect Analysis Failure Mode Effect Analysis adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis sistem yang berhubungan dengan engineering yang mungkin mengalami kegagalan dan efek yang ditimbulkan dari kegagalan. Preeliminary Hazard Analysis Preeliminary Hazard Analysis adalah suatu metode yang dilakukan dalam mengetahui bahaya-bahaya awal pada suatu sistem baru. HAZOPS digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan safety 100 . Preeliminary Hazard Analysis dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem tersebut. Failure Mode Effect Analysis secara sistematis menilai komponen dari dari suatu sistem tentang bagimana sistem dapat gagal lalu mengevaluasi efek dari kegagalan tersebut. (Colling. 1990).a. 1999). c. Check List Check List digunakan sebagai cara untuk mengetahui kondisi awal pada suatu kondisi yang meliputi aspek-aspek safety. d. b. Hazard and operability Study and operability Study (HAZOPS) dapat digunakan untuk Hazard mengidentifikasi bahaya pada industri kimia. Safety checklist dapat digunakan untuk mengevaluasi perangkat peralatan. konsep design atau prosedur operasi (Diberadinis. tingkat bahaya yang dihasilkan dari kegagalan dan bagaimana kegagalan tersebut dicegah atau diminimalisasi (Colling.

5. membuat metode kerja yang lebih efektif Tahapan pelaksanaan Job Safety Analysis terdiri adari empat langkah yaitu : a) Memilih pekerjaan yang akan dianalisis. 1996).1 Job Safety Analysis (JSA) Menurut OSHA 3071:2002 JSA (Job Safety Analysis) merupakan salah satu teknik atau cara untuk mengidentifikasi risiko sebelum risiko tersebut terjadi pada suatu kegiatan yang sedang berjalan. 1996). Job Job Safety Analysis Safety Analysis adalah suatu proses yang dilakukan dalam mengidentifikasi bahaya melalui langkah-langkah kerja yang ada. 2. 101 .dan bahaya pada lingkungan dan memproses masalah yang dapat berdampak pada efisiensi operasi (Kolluru. b) Membagi pekerjaan ke dalam tahapan tugas. Setiap langkah dianalisis untuk mengisentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut (Geotsch. JSA dapat digunakan untuk menghulangkan atau mencegah bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. Fault Tree Analysis (FTA) Fault Tree Analysis (FTA) dapat digunakan untuk memprediksi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau digunakan sebagai alat investigasi setelah terjadi kecelakaan (Geostsch. 1996). f. e. c) Mengidentifikasi bahaya atau risiko keselamatan kerja yang ada pada setiap tahapan tugas.

yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. e.d) Menentukan prosedur atau tindakan pengendalian guna meminimalisasi risiko tersebut. Hazard (Bahaya) 102 . c. b. Pendekatan JSA sangat mudah dipahami. tidak membutuhkan suatu tahapan dalam training dan dapat dengan cepat disesuaikan dengan pandangan individu. Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang nantinya dapat digunakan untuk melatih (sebagai bahan training) pekerja baru. Proses pada JSA dapat memberikan kesempatan pada individu untuk mengenali natau memberikan pengetahuan mengenai operasi. 1990) : a. 1999) : a. Task Berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. Job Berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan untuk masaing-masing tahapan kegiatan. Job Safety Analysis berisikan informasi mengenai (Colling. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan metoda Job Safety Analysis yaitu (Diberardinis. d. Dokumentasi JSA juga dapat digunkan sebagai bahan studi. c. b.

biologi. d. populasi. konsultasi dengan pihak pekerja. 2. bangunan dan lingkungan. 103 . ergonomi) apakah yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan. Menurut AS/NZS 4360 (1999) analisis risiko adalah suatu kegiatan sistematik dengan menggunakan informasi yang ada untuk mendeterminasi seberapa besar konsequensi (severity) dan tingkat keseringan (likelihood) suatu kejadian yang ditimbulkan. inspeksi atau audit K3 di tempat kerja. prose identifikasi risiko juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman terdahulu atau masalah yang serupa.Untuk mengetahui jenis bahaya (fisik. pemeriksaan dan pengujian peralatan kerja serta analisis data kecelakaan dan penyakit akibat kerja di perusahaan. Probability (Kemungkinan) Berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera (sering. Selain sejumlah metode di atas. mekanik.6 Analisis Risiko Menurut Kolluru (1996). e. Consequency Berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan pekerjaan. terkadang) dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan. analisis risiko adalah sistematika penggunaan informasi yang tersedia untuk mengidentifikasi hazard dan untuk memperkirakan suatu risiko terhadap individu. kimia.

Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis risiko adalah : a. keterbatasan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki pekerja saat pekerja seperti kondisi fisik pekerja yang sakit saat melakukan 104 . Hal itu dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap bahaya dan sumber risiko yang ada dalam proses kerja dan di tempat kerjanya. Faktor probabilitas juga berkaitan dengan faktor perilaku pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Sumber risiko Merupakan asal atau timbulnya risiko yang dapat berupa material. Tujuan dilakukannya analisis risiko adalah untuk membedakan antara risiko kecil dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko (AZ/NZS 4360. Probabilitas Merupakan besaran kemungkinan timbulnya risiko. peralatan kerja. kondisi area kerja dan perilaku pekerja. Dalam bekerja. Ditentukan dengan menganalisis frequensi paparan bahaya terhadap pekerja. b. serta efektifitas tindakan pengendalian bahaya yang telah dilakukan sebelumnya. jumlah dan karakteristik pekerja yang terpapar bahaya. yang digunakan dalam proses kerja. kondisi peralatan kerja. 2006).Analisis risiko adalah kegiatan menganalisis suatu risiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan dari akibat suatu risiko (Purwanto. 1999). jumlah dan karakteristik bahaya yang memapar pekerja. kondisi area kerja. pekerja dapat berperilaku tidak aman.

c.1 dan tabel 2. kerugian finansial besar. Cidera berat. Menurut AZ/NZS 4360 (1999) terdapat tiga metode yang digunakan dalam menganalisis risiko di tempat kerja : 1. 3 Moderate 4 Major 105 . Analisis risiko kualitatif Umumnya pada metode ini menggunakan bentuk matriks risiko dengan dua parameter. Skala ukur konsekuensi dan kecenderungan (likelihood) secara kualitatif menurut Risk Management AS/NZS (1999) yang dapat dilihat pada tabel 2.2. kerugian finansial tinggi.pekerjaan atau stress yang dialami pekerja yang berpengaruh dalam penurunan konsentrasi pekerja. Konsequensi Merupakan besaran dampak yang ditimbulkan dari risiko. kerugian finansial sedang.1 Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif Level 1 2 Deskripsi Insignificant Minor Definisi Tidak terjadi cidera. Ditentukan dengan analisis atau kalkulasi statistik berdasarkan data-data yang terkait atau melakukan estimasi subjektif berdasarkan pengalaman terdahulu. yaitu peluang dan akibat. penanganan dilakukan tanpa bantuan pihak luar. menimbulkan kerugian akibat berkurangnya kemampuan berproduksi. penanganan membutuhkan bantuan pihak luar. efeknya mempengaruhi tetapi tidak merugikan lingkungan sekitar. kerugian finansial rendah Membutuhkan penanganan P3K. Membutuhkan penanganan medis. Tabel 2.

efeknya mempengaruhi dan merugikan lingkungan sekitar. karena risiko dibagi menjadi beberapa kategori. analisis ini menghasilkan prioritas yang lebih rinci dibandingkan dengan analisis kualitatif. yaitu probabilitas (likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi.Menyebabkan kematian. Pada prinsipnya metode ini hampir sama dengan analisis kualitatif. kerugian finansial yang sangat besar. yaitu: 106 . perbedaannya yaitu uraian atau deskripsi dari parameter yang ada pada analisis semikuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. Terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi dari paparan dengan probabilitas terjadinya risiko.2 Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif Level A B C D E Definisi Pasti terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Akan terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Sewaktu-waktu mungkin akan terjadi Sewaktu-waktu dapat terjadi Mungkin terjadi pada keadaan-keadaan tertentu saja Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Deskripsi Almost Likely Possible Unlikely Rare 5 Catasthropic 2. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Tabel 2. Menurut AS/NZS 4360:1999. Analisis Semikuantitatif Analisis semikuantitatif bukan bagian dari analisis kuantitatif. analisis semikuantitatif mempertimbangkan kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen. Dalam metode analisis semikuantitatif terdapat 3 unsur yang dijadikan pertimbangan.

Disaster Kematian. kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan dengan kerugian $500. terhentinya aktivitas.000.000.000-$500. kerusakan besar-besaran.a. kerugian $5. memar.000-$50. kerusakan sementara terhadap lingkungan.000. atau penyakit yang ringan. kerugian $50.000.3.000. Very serious Cacat atau penyakit yang menetap. Konsekuensi (consequences) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek yang ditimbulkan oleh sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Tabel 2. kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. kerusakan kecil dengan kerugian produk sebesar <$500. efeknya dapat dirasakan tetapi tidak terlalu merugikan.3 Kategori Konsekuensi Secara Semikuantitatif Deskripsi Kerusakan yang sangat parah dengan kerugian di atas $1. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) b. Paparan (exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi interaksi antara sumber risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja serta Kategori Catastrophic Rating 100 50 25 15 5 1 menggambarkan kesempatan yang terjadi ketika sumber risiko ada 107 . efek yang merugikan terhadap lingkungan.000.000. Noticeable Luka ringan. Important Membutuhkan penanganan medis.000$2. Tingkat konsekuensi metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. Serious Cidera atau penyakit yang serius tetapi sementara (tidak menetap). kerugian sebesar $500-$5. dan menetap terhadap lingkungan.

4 KategorExposure Secara Semikuantitatif S Kategori u Continously m Frequent Occasionaly b Infrequent e Rare r Very rare Deskripsi Terjadi secara terus-menerus atau setiap hari Terjadi kira-kira satu kali setiap hari Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun Pernah terjadi tetapi sangat jarang Tidak pernah terjadi Rating 10 6 3 2 1 0.yang akan diikuti oleh dampak atau konsekuensi yang akan ditimbulkan.5 Tabel 2.5 : Risk Management AS/NZS 4360 (1999) c. Tabel 2.4. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.5 Kategori Likelihood Secara Semikuantitatif Kategori Deskripsi Almost certain Akibat yang paling mungkin timbul apabila kejadian tersebut terjadi Likely Kemungkinan terjadi 50-50 Rating 10 6 108 . Kemungkinan (likelihood) Kemungkinan adalah nilai yang menggambarkan kecenderungan terjadinya konsekuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Tingkat konsekuensi tersebut akan ditentukan ke dalam beberapa kategori tingkat paparan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.

5 0. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun. Nilai risiko = Consequences (C) x Exposure (E) x Likelihood (L) Tingkat risiko metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2.6.1 Tingkat risiko (level of risk) pada analisis semikuantitatif merupakan hasil perkalian dari variabel konsekuensi.Unsual Remotely possible Conceivable Kemungkinan terjadi tetapi jarang Kejadian yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi Mungkin terjadi. dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan.6 Kategori Tingkat Risiko (Level of Risk) dengan Metode Semikuantitatif Tingkat Risiko (Level of Risk) >350 Comment Very high Tindakan Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima 180-350 Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin 70-180 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis 20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan <20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 109 . paparan. Practicaly Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak mungkin impossible terjadi Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 3 1 0.

Masing-masing metode analisis di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan Lebih mudah Lebih cepat Lebih akurat daripada analisis kualitatif Lebih mudah dan cepat daripada analisis kuantitatif Kekurangan Kurang akurat daripada analisis yang lain a. Membuktikan kebenaran bahwa hasil intuisi kita bisa salah. Semikuantitatif a. Keuntungan analisis kuantitatif antara lain: a. Mempertimbangkan secara detail faktor dari efek risiko. Metode Analisis 1. b. Kuantitatif Lebih akurat daripada analisis lainnya 110 . Kelemahan analisis kuantitatif antara lain: a. Analisis Kuantitatif Merupakan langkah pertama dalam kuantifikasi risiko adalah mendefinisikan kemungkinan outcome. c. a. b. Total risiko adalah total dari semua potensi risiko. 3. Dalam menentukan angka konsekuensi menjadi seragam. Orang lebih percaya angka daripada penglihatannya.3.7 Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross (1998) No. yaitu (Cross. Waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada analisis lainnya b. b. 1998): Tabel 2. Kualitatif 2. Harus mengacu model. Skala yang digunakan harus tepat untuk menentukan tingkat risiko a. Kurang akurat daripada analisis kuantitatif b.

Sumber data harus memadai dan representative Sumber: Risk Management Study Notes. 1998 Dari ketiga metode analisis yang ada. 111 . Jean Cross. penulis menggunakan metode semikuantitatif berdasarkan pertimbangan kelebihan metode analisis risiko menurut Cross. dan pertimbangan pemaparan yang dijadikan faktor tingkat risiko menurut AS/NZS 4360:1999. yaitu lebih akurat daripada analisis kualitatif.b. lebih mudah dan cepat daripada analasis kuantitatif.

Setiap tahapan analisis risiko.1 Kerangka Berpikir Penelitian ini bertujuan menghubungkan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT.BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH 3. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 secara kulaitatif. peneliti melakukan komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder internal.peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. 112 . dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360. Setelah mendapat hasil analisis risiko maka gambar pertama akan menjelaskan hubungannya dengan gambar kedua yaitu kejadian kecelakaan kerja yang didapat berdasarkan data kecelakaan kerja perusahaan . . Pada gambar pertama . 1999/2004. Maka dapat diketahui hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.

Analisis Risiko Menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan Menentukan nilai risiko = konsekuensi x paparan x kemungkinan Menentukan kategori tingkat risiko

Kejadian kecelakaan kerja di Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir Analisis Tingkat Risiko

113

3.2 Definisi Istilah Tabel 3.1 Definisi Istilah Tahapan Manajemen Risiko (Menjelaskan) No. Nama Istilah Definisi Sebuah sistematika Alat Ukur Pedoman Cara Ukur Wawancara dan

1. Analisis Risiko

a. proba

yang wawancara dan observasi lembar

b. conse

menggunakan informasi didapat menentukan seberapa kejadian sering tertentu

c. expos

yang observasi untuk

dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut kegiatan shredding 1.1 Probabilitas (probability) Kemungkinan terjadinya kecelakaan kegiatan shredding Pedoman Wawancara dan 10 pada proses

Alm

suatu wawancara dan observasi dari lembar proses observasi 3 6

pali

Like

kec

Uns

nam 1

Rem

keja

kem 0,5

Con

114

kec

pem 0,1

Pra

tida 1.2 Konsekuensi (consequence) Perkiraan dampak Pedoman negative mungkin dari Wawancara dan 100

Cat

yang wawancara dan observasi timbul lembar kegiatan observasi 50

keru

ling

Dis

proses Shredding

perm

terh 25

Ver

keru

perm 15

Seri

men

perm

buru 5

Imp

med

dala

keru 1

Not

ring

keru

pros 1.3 Pajanan (exposure) Frekuensi pajanan Pedoman bahaya kegiatan Wawancara dan 10

Con

dari wawancara dan observasi proses lembar

seha

115

shredding

observasi 6

Fre

seha 3

Occ

sam 2

Infr

sam 1 0,5

Rar

Ver

terja 1.5 Tingkat Risiko Kategori berdasarkan hasil ini Rumus analisis Mengkalikan dari risiko semi consequence likeklihood exposure . >350 x x

Ver

sam

perkalian kuantitatif

antara probability, “tingkat risiko consequence, dan exposure kegiatan Shreeding pada proses

180350 70180 20-70

Prio

sece

Sub

perb

Prio

<20

Acc

sela

116

Nama Istilah Kecelakaan Kerja di Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk Definisi Alat Ukur Cara Ukur Kecelakaan kerja Pedoman Wawancara dan Gambaran kejad adalah kejadian Wawancara dan Observasi Shredder facility P yang tidak lembar observasi diinginkan yang berhubungan dengan pekrjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang. 2003) 117 .Tabel 3.2 Definisi Istilah Kecelakaan Kerja (Dijelaskan) No. kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah. 1.

3. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2010 4. Lokasi dan Waktu Penelitian 4. yang berlokasi di Jalan Raya Narogong Kecamatan Kelapa nunggal Bogor. Informan 118 . 4.2.1. PT.2. 4.BAB IV METODE PENELITIAN 4.2.Holcim Indonesia Tbk.1 Metode Penelitian Metode penelitian ini adalah metode kualitatif. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Shredder facility.2.Hasil analisis risiko yang diperoleh dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. unit Geocycle. Pada penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja diggunakan metode analisis risiko semikuantitatif berdasarkan standar AS/NZS 4360:1999/2004.

I 3. Pekerja unit Shredder facility PT. petugas OS&H 2. pekerja shredder dan korban kecelakaan. korban kecelakaan kerja yang bertanggung jawab terhadap 4. Sedangkan.Holcim Indonesia Tbk yang berinteraksi langsung dengan proses Shredding. data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas OS&H. pekerja yang bertugas pada bagian pengoperasian shredder 4. Pekerja PT. Pekerja unit Shredder facility PT.Kriteria informan pada penelitian ini adalah : 1.Holcim Indonesia Tbk 2. Pekerja yang mengetahui kronologi kejadian kecelakaan kerja yang pernah terjadi Sebagai informan pada penelitian ini adalah : 1. Data sekunder diperoleh dari wawancara dan observasi kepada petugas OS&H berupa profil perusahaan dan data kecelakaan kerja di Shredder facility. yaitu dengan mengamati pekerja pada setiap tahapan proses shredding di PT Holcim Indonesia 119 . selain itu data primer dapat pula diperoleh melalui observasi langsung dengan menggunakan alat dokumentasi berupa kamera. penanggung jawab Shredder. penanggung jawab Shredder facility 3.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility 4.4 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder.

Struktur Organisasi OH&S dan tahapan pekerjkaan Shredder facility 2. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Wawancara dan studi dokumen Pedoman Wawancara dan lembar observasi Petugas OH&S dan penanggung jawab Shredder Wawancara dan observasi Pedomana Wawancara dan lembar observasi Tabel 4.1 Data Sekunder No.Tabel 4. Data kecelakaan kerja Petugas OH&S.2 120 . Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Instrumen Penelitian 1. Penanggung jawab Shredder.

peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. Penanggung jawab Shredder. Diawali dengan penentuan ruang lingkup dengan melihat struktur organisasi OH & S PT. Gambar pekerjaan Shredder facility Petugas OS&H. 1999/2004. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Observasi Kamera 2.Data Primer No.5 Pengolahan Dan Analisis Data Pada tahap awal penelitian ini. dilanjutkan dengan identifikasi risiko menggunakan 121 .Holcim Indonesia Tbk dan tahapan pekerjaan di Shredder facility. Risiko di Shredder Facility Wawancara Pedoman Wawancara 4. Nama Data Sumber Metode Pemgumpulan Instrumen Penelitian 1. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360.

4. Selanjutnya tingkat risiko yang didapatkan dari hasil analisis risiko dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT. paparan. kemudian melakukan analisis risiko dengan menggunakan metode analisis semikuantitatif berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard 4360:1999/2004 untuk menentukan konsekuensi.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. mendapatkan gambaran kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada shredder facility dari sejak awal berdirinya. dampak kecelakaan kerja dan pengendalian yang saat itu diterapkan. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah. waktu kecelakaan kerja.job safety analysis ( JSA) untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja. kemudian menentukan tingkat risiko dari setiap tahapan pekerjaan dalam bentuk skor. Data yang diperoleh dari hasil wawacara ini adalah kronologi kejadian kecelakaan kerja.6 Validitas data 122 . penyebab. Langkah selanjutnya yaitu menentukan nilai risiko dengan rumus: Nilai Risiko : Konsekuensi x paparan x kemungkinan . yaitu tahun 2008 dengan melakukan wawancara dan studi dokumentasi. dan kemungkinan. dan upaya pengendalian yang telah dilakukan pihak perusahaan. Setelah mendapatkan nilai risiko.

peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Dalam penelitian ini. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 2. Data Kecelakaan Kerja Petugas penanggung Shredder. Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Risiko facility di Shredder Petugas penanggung Shredder. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 123 . Teknik triangulasi data ini digunakan untuk keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding suatu data. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Data 1.3 Tabel Triangulasi Sumber No.Validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi data. pekerja OS&H. Tabel 4. pekerja OS&H.

4 Triangulasi Metode No. Tabel 4. 2. Nama Data Profil Perusahaan Alur pekerjaan Metode Wawancara dan observasi Wawancara dan Observasi 124 .Sedangkan triangulasi metode adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda. 1.

1.Tim K3 di PT Holcim Indonesia Tbk ini disebut tim OH&S yang memiliki tujuan mencapai nilai nihil “nil” kecelakaan pada karyawan.1 Struktur Organisasi OH&S Sesuai dengan tujuan Sistem Manajemen K3 untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman. standar K3 perusahaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan sistem manajemen K3. efisien dan produktif.1 Struktur Organisasi OH&S dan Tahapan Pekerjaan Proses Produksi Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 5.BAB V HASIL 5. kontraktor dan pengunjung Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5..1 Struktur Organisasi OH&S Corporate Holcim 125 . maka dibentuk suatu tim yang ringkas tetapi memiliki kemampuan cepat dalam pembuatan peraturan.

1. 126 . Kampanye K2 Kampanye K3 yang dilakukan secara aktif seperti 10 prinsip keselamatan.Dengan acuan kepada Undang-undang dan pemerintahan Indonesia serta OSHAS 18001. door to door OHS coaching.1 OH&S Project 1.2 Green Pyramid 5.1. OH&S Pyramid ini wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota group Holcim dengan pencapauian green pyramid OH&S Green Pyramid Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5. hadiah untuk karyawan. tema k3 bulanan. identifikasi bahaya ini disusun oleh perwakilan unit kerjayang tergabung dalam Multi Diciplinary Team dengan anggota 34 orang 2. Identifikasi Bahaya Identifikasi bahaya dilakukan secara serentak oleh seluruh organisasi. Holcim mengembangkan OH&S Pyramid yang dijadikan standar K3 yang dibuat oleh Holcim dan diperkenalkan akhir tahun 2002.

Induksi dan Training a. presentasi di manager forum. 5. maka dibuatkan suatu sarana yang mudah dan jelas penanggungjawabnya untuk menindaklanjuti laporan bahaya dari karyawan. Safety Observation Tour Merupakan sarana untuk memperlihatkan kepedulian atasan akan keselamatan anggotanya 7. Penghargaan bagi karyawan Perlu adanya penghargaan individu bagi karyawan yang berpartisipasi dalam program K3. Promosi program K3 baru d. Sertifikasi operator forklift 4. program ini baru diperkenalkan tahun 2006 6.majalah K3 untuk karyawan. Kontraktor Training f. Planned Inspection 127 . Pelaporan Bahaya Perlu tersedianyya sistem yang mudah bagi karyawan untuk melaporkan bahaya yang ditemuinya di tempat kerja. Peningkatan skill fire brigade c. Sertifikasi juru las b. Pelatihak K3 di training center e. penghargaan bagi karyawan 3.

dengan melibatkan seluruh karyawan terutama karyawan tingkat dasar (member) 8. diperkenalkan kepada seluruh pekerja semenjak April 2005 9. 13.Untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan keselamatan di tempat kerjanya. Fire Volunteer Untuk mempercepat penanganan kebakaran dan kecelakaan 14. Kesehatan Tempat Kerja Menciptkan tempat kerja yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas pekerja 11. yang dilakukan pada bulan K3. Safety Talk Adanya komunikasi antara Pekerja dan Atasan. selain untuk membina pekerja juga untuk memperlihatkan komitmen Atasan akan K3 12. 10 Peraturan Keselamatan Merupalakan pedoman bagi pekerja dan kontraktor akan peraturan keselatan di tempat kerja. maka sudah kewajiban penerima tamu untuk memberikani induksi terhadap tamunya 10. OH&S Audit OH&S audit dilakukan secara berkala terhadap pelakasanaan sistem K3 128 . Induksi Keselamatan tamu adalah tanggung jawab Kita bersama. Perlombaan K3 antar unit kerja Diperlukan adanya sarana yang dapat meningkatkan kerjasama yang terkait dengan K3.

Posisi handrail berada melingkupi Shredder dan sebagian besar terletak pada ketinggian < 2 m. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. Tahap Persiapan Awal (Housekeeping ) diawali dengan proses persiapan awal yang bertujuan agar proses kerja berjalan dengan baik dan bersih. Tujuan dari pembersihan handrail ini adalah agar fasilitas shredder berada pada kondisi yang bersih dan aman.5. Proses di Shredder facility dilalui oleh beberapa tahap. helper menggunakan air. Membersihkan handrail Tahap membersihkan Handrail ini dilakukan setiap awal shift atu 3 kali dalam sehari. Proses pencacahan limbah yang biasa disebut proses shredding terdiri dari beberapa tahapan yang saling berhubungan untuk setiap prosesnya.2 Tahapan Pekerjaan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 Shredder facility merupakan salah satu sub-bagian dari Geocycle. 129 . Untuk membersihkan handrail dari residu material. biasanya pada proses persiapan awal ini para pekerja melakukan housekeeping seperti a.1. seperti : 1. minyak atau solar. Dimana Shredder adalah salah satu layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen.

Posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 m. 130 . helper menggunakan bar (tongkat panjang).b. helper menggunakan screw. Mengecek chute magnet separator Tahap mengecek chute magnet separator ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari. d. c. Membersihkan screen Tahap membersihkan screen ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari khususnya ketika ada material yang tersangkut pada screen. Tujuan dari Adjusting belt conveyor adalah meluruskan belt conveyor yang keluar dari jalur akibat material. helper menggunakan cutter. Untuk membersihkan plak pada chute magnet separator. Untuk melancarkan screen. Untuk adjusting belt conveyor. . Adjusting belt conveyor (meluruskan belt conveyor) Tahap Adjusting belt conveyor ini dilakukan seminggu sekali. gunting atau bar (tongkat panjang). Tujuan dari pengecekan chute magnet separator ini adalah melihat apakah chute magnet separator masih berfungsi dengan baik dan melihat apakah terdapat plak yang menempel pada chute magnet separator . Tujuan dari membersihkan screen ini adalah melancarkan screen dari material yang tersangkut. sebelum Shredder diaktifkan pada awal shift .

Shredding merupakan inti dari kegiatan pada Shredder facility. proses ini merupakan tahap awal dari proses pencacahan limbah di unit Shredder facility. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. pada tahap ini wheel loader yang memasukan material pada hooper. a. Perapihan material oleh wheel loader Tahap perapihan material oleh wheel loader ini dilakukan setiap hari. Proses Persiapan dan Penyimpanan Material Tahapan proses persiapan dan penyimpanan material pada storage antara lain.Material yang dimasukkan pada Hooper adalah berbagai material (cair dan padat). Shredding Procces Proses Shredding dilanjutkan dengan : Memasukan material menuju hooper shredder oleh wheel loader atau yang biasa disebut sebagai proses shredding. Pada dasarnya kegiatan shredding di unit ini sudah dilakukan secara otomatis. a.2.Material yang dirapihkan oleh wheel loader adalah berbagai material limbah (cair dan padat ) khusus limbah cair. khusus 131 . agar limbah cair lebih mudah bersatu dengan material lainnya. Tujuan dari perapihan material oleh wheel loader ini adalah melihat agar material di storage rapi dan tidak berceceran keluar storage. 3. pekerja hanya bersifat mengawasi dan melakukan pembersihan. Shreeding material pada Hooper Tahap Shreeding material pada Hooper ini dilakukan setiap saat selama material tersedia.

pada tahap ini helper yang memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. 4. Memasukan product pada box dan pengiriman product Kegiatan selanjutnya adalah proses memasukan material ke dalam box untuk diantarkan ke pre-heater untu proses selanjutnya. tujuan dari memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material adalah agar aroma material yang sangat menyengat bisa sedikit diminimalisir. kegiatan ini dilakukan sesering mungkin oleh pekerja. kegiatan yang dilakukan pada saat ini adalah: a. kegiatan ini dilakukan di lokasi penyimpanan hasil akhir product.limbah cair. Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material Tahap Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dilakukan setiap hari. khususnya saat terdapat residu dari material yang bersifat cairan. pada tahap ini helper yang melakukan penebaran serbuk gergaji. . b. Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Tahap menebar serbuk gergaji dilakukan setiap hari. tujuan dari menebar serbuk gergaji adalah agar permukaan yang terkena ceceran dari material cair tidak membuat permukaan di sekitar shredder dilakukan sesering mungkin oleh pekerja menjadi licin. Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 132 . kegiatan ini c.

Proses shredding ini melibatkan pekerja sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang penanggung jawab lapangan. tersedianya hydrant . Pengendalian risiko yang telah dilakukan pada proses Shredding antara lain: a. b. handrail sebagai alat pengaman 133 . wheel loader. pada tahap ini box dibawa truck. Seperti sosialisasi penggunaan APD.menuju tempat pembakaran. b. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material untuk dijadikan bahan bakar alternative pembuatan semen. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material. truck dan crane. Peralatan yang digunakan yaitu mesin pencacah atau shredder serta peralatan pendukung seperti bobcap. membahas kecelakaan kerja dan hal-hal lain yang berkaitan dengan safety.. Mengirimkan box menuju tempat pembakaran Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran dilakukan setiap ketika material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. pada tahap ini box dinaikan menggunakan forklift menuju truck. Sudah terpasangnya alat pengaman pada peralatan kerja seperti safety guard (batas antara mesin dengan area kerja) serta rail guard pada platformyang berada pada ketinggian. 2 orang helper. Material yang digunakan adalah limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah.Tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk dilakukan setiap material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. Safety briefing Kegiatan ini dilaksanakan sebelum jam kerja.

Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja terpeleset akibat kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge.1 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal (Housekeeping) 5. paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan 134 . earmuff.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset dan terjatuh . e.2. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pihak perusahaan. adanya emergency stop pada panel control untuk menghentikan proses kerja ketika terjadi kecelakaan kerja. gloves.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk. APD yang digunakan terdiri dari helmet.ketika menaiki tangga.1.1 Membersihkan Handrail Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. penanggung jawab shredder.2.Tersedianya alarm pada crane yang bertujuan untuk menandakan bahwa crane sedang beroperasi serta penerapan LOTO pada semua mesin. dan helper . Pemasangan warning sign tentang penggunaan APD d. Tahun 2010 Identifikasi risiko keselamatan kerja pada proses shredding dilakukan dengan menggunakan metode JSA . goggle. safety shoes. 5. Penggantian APD secara berkala terhadap peralatan kerja khususnya yang berkaitan dengan safety. c. mask organic dan seragam kerja lengan panjang 5.

Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. penanggung jawab shredder. dan menggunakan APD lengkap (helmet. safety briefing sebelum bekerja dan menggunakan APD lengkap(helmet.safety shoes.safety shoes. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai.safety shoes. organic mask. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. seragam lengan panjang). memasang warning sign 135 . Perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. pekerja tidak selalu memegang handrail dan perusahaan telah melakukan upaya engineering control seperti memasang handrail pada platform.goggle.2 Mengecek Chute Magnet Separator Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. seragam lengan panjang). safety briefing sebelum bekerja. Administrative control seperti memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan helper . organic mask. melakukan house keeping.goggle. memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko terpeleset terjadi karena kondisi lantai Shredder yang mendaki dan licin karena ceceran oil sludge.1. sarung tangan. 5.2. sarung tangan. Risiko terjatuh dapat terjadi karena handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah terpeleset dan tersandung roller. paint sludge maupun zat cair lainnya serta pekerja tidak menggunakan safety shoes.

3 Membersihkan Screen Tahap pekerjaan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatanhambatan seperti. terpeleset.1.2. penganggung jawab shredder. melakukan house keeping. Risiko tangan terputus disebabkan karena mesin screen yang berputar atau saat helper akan menyabut benang atau benda lainnya yang tersangkut pada screen. 5. 136 . Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang handrail pada tangga dan platform. dan menggunakan APD lengkap. Administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah tangan yang terputus. organic mask. safety briefing sebelum bekerja. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. dan menggunakan APD lengkap. dan helper. mengambil batu.goggle. terbentur penutup screen.safety shoes. terjatuh. safety briefing sebelum bekerja. Risiko terjatuh dapat terjadi karena lokasi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 M. safety briefing sebelum bekerja.tentang penggunaan APD. helper menggunakan benda tajam atau bar. seragam lengan panjang). sarung tangan. dan menggunakan APD lengkap(helmet. menyabut benang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. memasang warning sign tentang penggunaan APD. Upaya pengendalian yang telah dilakukan yaitu tersedianya LOTO (Lock out tag out).

Risiko pergelangan terkilir dapat terjadi karena. karena helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah pergelangan tangan yang terkilir.Untuk risiko terjatuh dapat terjadi saat helper memasuki screen. dan menggunakan APD lengkap. penganggung jawab shredder. tangan yang terputus.Risiko terpeleset dapat terjadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. upaya perusahaan untuk mengendalikan risiko keselamatan kerja terjatuh ini adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan helper. dan kebakaran. dan menggunakan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja.4 Adjusting Belt Conveyor Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H. safety briefing sebelum bekerja. helper menggunakan tangannya secara manual untuk memutar belt yang cukup berat. Sedangkan untuk risiko terbentur penutup screen. hal ini dapat terjadi karena penutup screen memiliki batas maksimal yang rendah saat dibuka. ketika helper melakukan adjusting belt conveyor. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan untuk risiko keselamatan kerja terbentur screen adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. 5.1. sehingga memungkinkan perkerja terbentur dengan penutup screen. terpeleset. dan menggunakan APD lengkap. terjatuh.2. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan persusahaan adalah administrative control seperti memasang warning sign mengenai pemakaian APD. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya 137 .

Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. administrative control 138 . administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja. Untuk risiko tangan yang terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan dengan safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap. upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. handrail. dan penggunaan APD lengkap. administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.administrative control dengan melakukan safety briefing sebelum bekerja.Untuk risiko terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. dan penggunaan APD lengkap. dengan membuka safety guard yang telah terpasang.

engineering control dengan tersedianya hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran. safety briefing sebelum bekerja.1.Sedangkan untuk risiko kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran. Hasil identifikasi risiko pada tahap persiapan awal (Housekeeping) secara rinci dapat dilihat pada tabel 5. 139 . administrative control dengan Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api. dan penggerindaan. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah. pengelasan.

Tabel 5.1 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Skenario Risiko Kondisi tempat kerja Terpeleset licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Pengendalian - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - lantai yang dibuat kasar - mersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang helper - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja

Kondisi tempat kerja Terjatuh < 2m berada pada ketinggian (< 2 m)

2

Mengecek chute Kondisi tempat kerja Terpeleset magnet separator licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnyaserta kondisi jalan yang mendaki

140

Posisi Chute Magnet Terjatuh > 2m Separator yang berada pada ketinggian (> 2 m)

4

Membersihkan Screen

Ketika helper Tangan terputus membersihkan screen, screen berputar karena LOTO tak terpasang.

- melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - menerapkan LOTO (Lock out tag out) pada panel 1 dan 2 - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan

4.

Adjusting conveyor

Kondisi permukaan screen yang licin dan tidak rata, dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Saat helper memasuki screen, helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi belt Ketika helper melakukan adjusting, helper menggunakan tangannya secara manual untuk

Terpeleset

Terjatuh

Pergelangan tangan terkilir

141

memutar belt yang cukup berat. Ketika Helper Tangan terputus melakukan adjusting belt conveyor secara langsung dengan membuka safety guard yang telah terpasang Ketika helper berlari Terjatuh mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan

- Memasang safety guard pada screw - Safety briefing sebelum bekerja

Kondisi jalan yang Terpeleset licin akibat ceceran residu, serta berjalan secara terburu-buru

Ketika helper Kebakaran memotong belt yang miring menggunakan cutting torch, tanpa menghiraukan

- menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - Menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - Memasang alarm kebakaran - Memasang hydrant dan APAR - Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api, pengelasan, dan

142

working permit

penggerindaan - Safety briefing sebelum bekerja - Menggunakan APD lengkap.

143

2. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.2. dan menggunakan APD lengkap.2 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. penganggung jawab shredder. menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS). safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah engineering control dengan pemasangan antena pada Wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan serta tersedianya cermin agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar.1 Perapihan material oleh wheel loader Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H.5. safety briefing sebelum bekerja.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. 144 . Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran.2. dan helper. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.

Memasang hydrant dan APAR .melakukan house keeping dan safety control.Memasang alarm .menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja . menggunakan APD lengkap 145 .memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang antenna pada kendaraan yang sedang dipakai .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD .2 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan penyimpanan Material facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Perapihan material Terjadi karena short Kebakaran oleh Wheel Loader circuit atau karena gesekan antara material yang dirapihkan Tidak adanya Tertabrak/Menabra koordinasi pengemudi k dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation Pengendalian .Tabel 5.

sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar.1 Tahap memasukkan material pada Hooper Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. memasang warning sign tentang penggunaan APD. penanggung jawab shredder. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja kebakaran akibat mixing material pada hooper adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. safety briefing sebelum bekerja.3 Identifikasi Risiko pada Tahap Shredding 5. dan menggunakan APD lengkap .2. Risiko tertabrak/menabrak terjadi karena tidak ada koordinasi antar pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck. Upaya pengendalian yang telah dilakukan perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan.3.2. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. dan helper .risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kebakaran. Risiko tertimpa material terjadi karena muatan hooper yang terlalu penuh.5. tertabrak/menabrak dan tertimpa material. tersedianya hydrant dan APAR. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah. safety briefing sebelum bekerja. dan helper 146 .

safety briefing sebelum bekerja. tertimpa material ringan.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. safety briefing sebelum bekerja. penanggung jawab shredder. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. safety briefing sebelum bekerja. kebakaran.sedang berada di sekitar hooper. dan penggunaan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap 5. tersandung. dan helper .risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. melakukan housekeeping.3.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. sehingga untuk material yang ringan 147 .2 Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. dan penggunaan APD lengkap.2.

safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja.3 Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder Dan Material Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Sedangkan untuk risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi apabila helper tidak mengikuti prosedur yang ada.sering berjatuhan. penanggung jawab shredder. 5. dan helper . 148 .Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. seperti merokok. dan penggunaan APD lengkap. karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar. dan penggunaan APD lengkap.3. tersandung dan tertimpa material ringan. tersedianya hydrant dan APAR serta alarm. Upaya pengendalian risiko keselamatan kerja yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin. dan penggunaan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset.2.

Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. dan penggunaan APD lengkap.. dan penggunaan APD lengkap. 149 . Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja.

memasang sprinkler tepat diatas hooper .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menggunakan APD lengkap 150 .mengganti tali sling pada crane .safety briefing sebelum bekerja . selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau ketika mixing material memiliki titik api yang rendah. karena tidak ada Tertabrak/menabra koordinasi antar k pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menyediakan Standard operation mengenai koordinasi berkendara .safety briefing sebelum bekerja .3 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Tabel 5.menggunakan APD lengkap Memasukkan material Pada Hooper ada Kebakaran pada hooper gesekan yang dapat menimbulkan panas.memasang alarm kebakaran .memasang hydrant dan APAR .

menggunakan APD lengkap Disekitar facility peralatan berserakan Shredder Tersandung banyak yang .melakukan house keeping dan safety control. sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar.menggunakan APD lengkap Helper bekerja Tertimpa material dibawah belt conveyor yang berjalan.memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja . dan helper sedang berada di sekitar hooper.Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang penggunaan APD .melakukan house keeping .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD . 2 Menebar serbuk karena pada lantai Terpeleset gergaji pada lantai shredder facility yang terkena residu terdapat ceceran residu . menggunakan APD lengkap . sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.karena muatan hooper Tertimpa Material yang terlalu penuh. 151 .

karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar .memasang warning sign tentang penggunaan APD .Helper tidak Kebakaran mengikuti prosedur yang ada.safety briefing sebelum bekerja 152 .melakukan house keeping dan safety control.memasang warning sign tentang penggunaan APD .menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja .memasang alarm kebakaran .Tersedianya hydrant dan APAR . seperti merokok.memasang sprinkler tepat diatas hooper . menggunakan APD lengkap . karena disekitar Tersandung Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. karena helper bekerja Tertimpa Material dibawah belt conveyor yang berjalan. .menggunakan APD lengkap 3.memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .melakukan house keeping .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair . Memberikan parfume karena pada lantai Terpeleset pada fasilitas shredder shredder facility dan material terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.safety briefing sebelum bekerja .

.menggunakan APD lengkap 153 .sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.

dapat terjadi saat helper menaikan box dengan bobcap ke truck.2.Upaya pengendlaian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.Risiko keselamatan kerja kejatuhan box. tertimpa material dan tertabrak/menabrak. Untuk risiko tertimpa material. dan penggunaan APD lengkap.2.5.1 Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.4 Identifikasi Risiko pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. dan helper . penanggung jawab shredder. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. 154 .risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kejatuhan box. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan. memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan menggunakan APD lengkap .4. Upaya pengendalian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. dan penggunaan APD lengkap. dapat terjadi ketika box dinaikan menuju truck. Sedangkan untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena kurangnya koordinasi antar pengemudi forklift dan truck. dan material yang ada dalam box berjatuhan. safety briefing sebelum bekerja.

Risiko keselamatan kerja box terjatuh. sehingga memungkinkan box terjatuh. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility dan safety briefing sebelum bekerja.4. dapat terjadi karena guard yang berada pada truck sangat pendek. forklift dan kendaraan pribadi.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu box terjatuh dan tertabrak/. dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck. wheel loader. dan disediakannya mirror blind spot agar pengendara bisa melihat ke segala arah dalam berkendara.menabrak.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah administrative control dengan adanya SOP mengenai cara berkendaraan di area proyek.2. dan helper . 155 .5. khususnya di jalanjalan yang sulit melihat arah. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena truck berjalan di jalan-jalan utama. yaitu mendahulukan kendaraan berat terlebih dahulu ketika berjalan. penanggung jawab shredder.

156 .menggunakan APD lengkap Menaikan box yang helper menaikan box Kejatuhan box sudah terisi oleh dengan bobcap ke material pada truck truck ketika box dinaikan Tertimpa material menuju truck.menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility . penggunaan APD .5 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product pada fasilitas Shredder PT. karena kurangnya Tertabrak/menabra .memasang warning sign tentang cara Mengirimkan box Karena guard yang Terjatuh bekerja aman di Shredder facility menuju tempat berada pada truck safety briefing sebelum bekerja sangat pendek.safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .memasang warning sign tentang truck.memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility .Tersedianya Standard Operation mengenai cara koordinasi koordinasi antar k berkendaraan pengemudi forklift dan .Tabel 5.menggunakan APD lengkap . dan material yang ada dalam box berjatuhan 2.

forklift dan kendaraan pribadi .tersedianya standard operation mengenai cara berkendaraan di area proyek . box Truck berjalan di Tertabrak/menabra jalan-jalan utama.Tersedianya mirror blind spot 157 .pembakaran sehingga memungkinkan terjatuh. k dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck. wheel loader.

Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.1 Analisis Risiko pada Tahap Persiapan 5. 158 . paint sludge maupun zat cair lainnya dan helper tidak menggunakan safety shoes. Terjatuh < 2m Pada tahap membersihkan handrail.1 Membersihkan handrail Saat membersihkan handrail terdapat risiko kepala terpeleset dan terjatuh < 2m.1. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.3. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. helper tidak selalu memegang handrail.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak memegang handrail. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari daiawal shift.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes. b.5. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper hanya mengalami luka ringan atau memar jika terjatuh. a.3. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan membersihkan handrail setiap hari pada awal shift. Terpeleset Pada tahap membersihkan handrail helper memiliki risiko terpeleset. Hal ini dapat terjadi kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge.

namun tidak pernah terjadi meskipun paparan bertahuntahun. terpeleset. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 45 dengan kategori priority 3. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan mengecek chute magnet separator terjadi sekali setiap hari. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 15 (serious) karena helper akan mengalami cidera atau penyakit yang serius jika helper jatuh > 2 m.2 Mengecek Chute Magnet Separator Saat mengecek chute magnet separator.3. Nilai kemungkinannya adalah 0. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari. Terjatuh > 2m Risiko terjatuh saat helper menegecek chute magnet separator karena posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2m.5 (conceivable) karena risiko ini mungkin terjadi. 159 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable b.5.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes. tersandung roller. Terpeleset Risiko terpeleset saat menegecek chute magnet separator memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. a. dan terjatuh.1.

5. Nilai kemungkinannya 0. a. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. Nilai kemungkinannya adalah 0. mengambil batu.3. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak 160 .1. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 25 (very serios) karena helper mengalami tangan terputus yang menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat tejadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun.3 Membersihkan screen Helperan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatan-hambatan seperti. hal ini mungkin terjadi apabila pekerja tidak mematuhi peraturan penerapan LOTO (lock out tag out). menyabut benang. b. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika mesin screen berputar dan helper berada di dalamnya untuk melancarkan screen.

Terbentur Penutup Screen Risiko keselamatan kerja terbentur penutup screen dapat terjadi karena penutup screen tidak bisa terbuka secara maksimal.3. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terbentur helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable c.1.4 Adjusting belt conveyor Pada tahapan ini terdapat risiko pergelangan tangan terkilir. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. tangan yang terputus. Terjatuh Risiko keselamatan kerja terjatuh dapat terjadi ketika helper menaiki pemisah screen .5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahuntahun. Nilai kemungkinannya 0. d. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari.menggunakan safety shoes. 5. terjatuh. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terjatuh helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. sehingga posisi penutup screen rendah. 161 . terpeleset dan kebakaran. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena Kejadian ini sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable.

artinya kemungkinannya tetap ada untuk terjadi.a. Nilai konsekuensi dari risiko ini adalah 1 (noticeable) karena ketika tangan terkilir pekerja/ helper hanya akan memgalami luka ringan atau memar. ketika helper tidak membuka safety guard yang terpasang.Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial 162 . Nilai kemungkinannya 3 (unusual). dengan membuka safety guard yang telah terpasang.Nilai konsekuensi dari risiko tangan terputus adalah 25 (very serious) karena akan menimbulkan cacat atau penyakit yang menetap. Pergelangan tangan terkilir Risiko keselamatan kerja pergelangan tangan terkilir dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting secara manual. Nilai paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 9 dengan kategori acceptable b. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangta kecil kemungkinannya. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. tetapi jarang terjadi. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.Nilai paparannya adalah paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.

yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. 163 .Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. e. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi.5 dengan kategori acceptable. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. Nilai konsekuensi dari risiko terpeleset adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. Terjatuh Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.5 dengan kategori acceptable.c.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi. Nilai konsekuensi dari risiko terjatuh adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.

6 164 . Kebakaran Risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada belt conveyor akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.Maka. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) apabila helper selalu menggunakan cutting torch untuk memotong belt.f.Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. nilai risiko kebakaran adalah 450 dengan kategori very high.

Membersihkan screen Tangan terputus 25 (very serious) 6 (frequent) 45 6 (frequent) 0.5 (conceivable) 0. No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Risiko Konsekuensi (C) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 15 Paparan (E) Kemungkinan (L) 0.5 (conceivable) Nilai Risiko 3 Terpeleset 6 (frequent) Terjatuh < 2m 2 Mengecek chute magnet separator 6 (frequent) 3 Terpeleset 6 (frequent) 3 Terjatuh > 2 m (serious) 3.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.5 (conceivable) 75 165 .6 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal Shredder facility PT.5 (conceivable) 0.Tabel 5.5 (conceivable) 0.

5 (conceivable) 0. Adjusting belt conveyor Pergelangan terkilir Tangan terputus 6 (frequent) (remotely possible) 3 (Unusual) 1 6 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 9 (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 (remotely possible) 0.5 (conceivable) 75 Terjatuh 1.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 1 3 Terjatuh 6 (frequent) 3 Terbentur penutup Screen 4.5 Terpeleset 1.5 Kebakaran (very serious) 6 (Likely) 450 166 .Terpeleset 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 6 (frequent) 0.

3.3. Analisis Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5.nilai 167 . tetapi jarang terjadi.2.Maka. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada storage akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. nilai risiko kebakaran adalah 750 dengan kategori very high.1 Perapihan material oleh wheel loader a. b. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adah tertabrak/menabrak.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. tetapi jarang terjadi.2.Maka. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.5.

risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.7 168 . Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.

No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 3 (Unusual) 750 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 250 169 .Tabel 5.7 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.

2. b. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.3.2.Maka. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah.5.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.Risiko. dan tertimpa material .Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertabrak/menabrak. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. nilai risiko kebakaran adalah 1500 dengan kategori very high. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada hooper akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena 170 . Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) kemungkinan terjadi 50-50. Analisis Risiko pada Tahap Shredding 5.1 Tahap memasukkan material pada Hooper a.3.

Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.Maka. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. c. Risiko tertimpa material dapat terjadi apabila muatan hooper yang terlalu penuh. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil 171 .2.Maka.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu a. Terpeleset Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu . Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari. dan helper sedang berada di sekitar hooper . Tertimpa Material Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertimpa material.kegiatan dilakukan setiap hari.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. tetapi jarang terjadi.3.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 10 dengan kategori acceptable. tetapi jarang terjadi. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Nilai konsekuensi dari risiko tertimpa material adalah 1 ( noticeable) tertimpa material karena tertimpa material akan mengakibatkan luka ringan atau memar. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. Nilai kemungkinan dari risiko tertimpa material adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. 5.

Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena ceceran residu. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. nilai konsekuensi 25 (very serios) karena kebakaran ini menyebabkan kerussakan sementara terhadap lingkungan. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Nilai paparan dari risiko kebakaran adalah Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.kemungkinannya. d. Tersandung Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. b.5 (conceivable) karena risiko ini hanya mungkin terjadi 172 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. c. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.

Tersandung Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.3. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya apabila pekerja menggunakan safety shoes.4 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material a.ketika helper tidak mematuhi peraturan seperti merokok. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.2. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. 5. Terpeleset Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.Maka. 173 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. b.

Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.c. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material.8 174 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.Tabel 5. No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 6 (Likely) 1500 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 1 250 Tertimpa Material 1 (noticeable) 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 2.8 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT. Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 1 (noticeable) 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 6 Tersandung 1 6 (frequent) 18 175 .

Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Tersandung 6 (frequent) 18 176 .5 (conceivable) 1 Terpeleset 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 1 Tertimpa Material Ringan 6 (frequent) (remotely possible) 6 6 6 75 3.(noticeable) 1 Tertimpa Material Ringan 1 (noticeable) 25 Kebakaran (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 6 (frequent) 6 (frequent) (remotely possible) 0.

Analisis Risiko pada Tahap Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 10 dengan kategori acceptable. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Nilai paparannya 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 50 dengan kategori priority 3.5. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. khususnya saat membutuhkan bahan bakar. 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. 177 . Tertimpa Material Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.3. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya.2. khususnya saat membutuhkan bahan bakar. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila tertimpa material yaitu luka ringan atau memar.2. Maka. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 5 (important) karena akibat terburuk apabila kejatuhan box membutuhkan penanganan medis.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk a.3. b.

Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin.Maka.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.3. 178 .nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Box terjatuh Risiko keselamatan kerja saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah box terjatuh. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi.c.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 30 dengan kategori priority 3.2. tetapi jarang terjadi. Nilai konsekuensi dari risiko box terjatuh adalah 1 ( noticeable) karena box terjatuh hanya kerusakan keceil dengan kerugian produk ysng tidak banyak.Risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada mobil truck sangat pendek. 5.Maka.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk adalah adah tertabrak/menabrak. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. tetapi jarang terjadi. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran a.

tetapi jarang terjadi.b.9 179 .nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.Maka.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. Tertabrak/menabrak Risiko keselamatan kerja saat saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah tertabrak/menabrak. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.

No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Konsekuensi (C) 5 Paparan (E) Kemungkinan (L) 1 Nilai Risiko Kejatuhan box (important) 10 (Continously) (remotely possible) 1 50 Tertimpa material 1 (noticeable 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 1 (noticeable) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) (remotely possible) 250 2.9 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Box terjatuh 10 (Continously) 3 (unusual) 30 1 10 (Continously) (remotely possible) 250 180 .Tabel 5.

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti tangga yang memiliki footstep yang lebar. dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. risiko terpeleset . memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.4. yaitu aktivitas perlu dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan.1 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan. terjatuh pada ketinggian < 2 m. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. seperti penggunaan APD. Hasil evaluasi risiko pada tahap persiapan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. Risiko yang paling tinggi adalah kebakaran yang termasuk dalam kategori very high.5. termasuk kategori acceptable.Dan yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara untuk risiko tangan terputus termasuk kategori substansial. yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. pengelasan. Tindakan yang perlu dilakukan adalah.1 62 . yaitu mengharuskan adanya perbaikan.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk. dan penggerindaan. terbentur penutup screen dan pergelangan terkilir.Sedangkan risiko terjatuh pada ketinggian > 2 m termasuk kategori priority 3 berkesinambungan. pembuatan tangga yang lebih aman.penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO). Tahun 2010 5. serta memberikan reward dan punishment. penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD .Tabel 6.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Risiko Membersihkan handrail Terpeleset Nilai Risiko 3 Kategori Risiko Acceptable Rekomendasi .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .1 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .Memasang warning sign Terjatuh < 2 m 3 acceptable 2 Mengecek chute Terpeleset 3 acceptable 62 .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .

penerapan sistem kunci Lock Terjatuh > 2 m 45 Priority 3 3 Membersihkan screen Tangan terputus 75 substansial 63 .pembuatan tangga yang lebih aman. seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti tangga yang memiliki footstep .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .63 magnet separator terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .64 Out Tag Out (LOTO) . Terpeleset 3 acceptable Terjatuh 3 acceptable Terbentur penutup screen 6 acceptable 64 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.

Adjusting belt conveyor Pergelangan tangan terkilir 9 Acceptable Tangan terputus 75 Substansial Terjatuh 1.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.5 Acceptable 65 .65 seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD 4.penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO) .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. dan penggerindaan. pengelasan.5 Acceptable Kebakaran 450 Very high 66 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Terpeleset 1.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .66 .

5. risiko tertabrak/menabrak masuk kedalam kategori priority 1.Hasil evaluasi risiko pada tahap pelaksanaan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . yaitu Perlu pengendalian sesegera mungkin. pemasangan smoke atau heat detector serta pemasangan sprinkler pada storage.2 62 . dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan. Tindakan yang perlu dilakukan adalah pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. serta memberikan reward dan punishment . Risiko kebakaran termasuk kategori very high yang artinya aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan.4.2 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap perapihan material oleh wheel loader. Dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain.

dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .Tabel 6.dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pemasangan sprinkler pada storage .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Very high Rekomendasi .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Kebakaran 750 priority 1 Tertabrak/mena brak 250 62 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .2 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Shredder facility PT.pemasangan smoke atau heat detector .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .

3 62 . memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. pemasangan smoke atau heat detector. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain. memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja. tersandung. yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. risiko terpeleset. . Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.4. tertimpa material termasuk kategori acceptable. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. serta memberikan reward dan punishment. mengharuskan adanya perbaikan secara teknis .3 Evaluasi Risiko pada Tahap Shredding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap shredding. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. penerapan housekeeping dengan benar. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai.5. Risiko kebakaran saat housekeeping termasuk kategori substansial . Risiko tertabrak/menabrak yang masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya perlu pengendalian sesegera mungkin Untuk risiko tertinggi adalah risiko kebakaran pada hooper akibat mixing material yang termasuk dalam kategori very high yang artinya Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pemasangan smoke atau heat detector .memasang jaring dibawah belt 62 .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .3 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada Fasilitas Shrededder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Nilai Risiko 1500 Kategori Risiko Very high Kebakaran Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 Tertimpa Material Acceptable 10 Rekomendasi .Tabel 6.memasang alarm dan revolving lamp pada forklift. .

Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja 2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 6 Acceptable Acceptable Tersandung 18 63 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .penerapan housekeeping dengan benar . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.63 conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .

Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tertimpa Material Ringan 6 Substansial Kebakaran 75 3.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Terpeleset 6 Acceptable 64 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .64 Acceptable .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

65 Acceptable .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.penerapan housekeeping dengan benar .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tersandung 18 Acceptable Tertimpa Material Ringan 6 65 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan dan penyimpanan material risiko tertimpa material termasuk kategori acceptable yang artinya yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Risiko kejatuhan box dan box terjatuh di jalan termasuk kategori priority 3 .4. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.4. serta memberikan reward dan punishment. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. yaitu Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan . perlu pengendalian sesegera mungkin. Risiko paling tinggi adalah risiko tertabrak/menabrak yang termasuk kategori priority 1 yaitu. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box . Tindakan yang perlu dilakukan adalah.5.4 62 . pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang 62 .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Priority 3 Kejatuhan box 50 acceptable Tertimpa material 10 Tertabrak/mena 250 Priority 1 Rekomendasi .memberikan reward dan punishment kepada pekerjaberorientasi pada safety .4 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material pada Fasilitas Shrededder PT.Tabel 6. .

memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Priority 3 Box terjatuh 30 Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 63 .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .63 brak dapat ditimbulkan .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .memberikan reward dan punishment 2. . .pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck .

62 .

sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat tertabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir.1Kecelakaan Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Tertabrak Wheel Loader Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009 6.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility merupakan fasilitas pre-handling limbah dengan metode pencacahan atau shredding. yaitu : 4.Berdasarkan studi dokumen dan wawancara kepada petugas OH&S dan penanggung jawab shredder Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini.5.Holcim Indonesia Tbk.00 di area operasi shredder Geocycle. 158 .PT.5. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 5. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 5. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.

5. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley.PT. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector).Holcim Indonesia Tbk.Setelah dilakukan wawancara terhadap pengemudi wheel loader yang bersangkutan mengenai alasan penyebab tidak berkonsentrasinya pengemudi dalam bekerja. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan 159 .5. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. dan salah satunya adalah karet. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor.900.. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan.tiap bulannya. pengemudi mengutarakan hal ini terjadi karena pekerja berada dalam kondisi kelelahan. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. pengemudi tersebut tidak dapat tidur karena beban fikiran mengenai kondisi keuangan yang minim karena kurangnya pendapatan sekitar Rp. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah. dengan waktu istirahat 1 jam. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage.2 Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan Terputus Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder Geocycle.000.

Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . karyawan/helper lain mengutarakan hal ini terjadi karena karyawan/helper sudah terbiasa dengan pekerjaanya sehingga karyawan/helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada.Holcim Indonesia Tbk. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. sprinkler dan hydrant. 160 . selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut.3 Kejadian Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 di area operasi shredder Geocycle. Setelah dilakukan wawancara terhadap karyawan/helper lain yang bekerja di shredder facility mengenai alasan penyebab karyawan/helper melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan.5.Upaya yang sudah dilakukan pada tahap ini adalah pemasangan screw diluar safety guard.menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. 5. seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari.PT. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. Pengendalian yang sudah tersedia adalah alarm.

161 . selain itu helper tidak mengetahui bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampurkan sebelum dimasukkan ke dalam shredder. Hasil analisis risiko dari kecelakaan tertabrak/menabrak pada tahap perapihan dan penyimpanan material adalah 25.Holcim Indonesia Tbk 5..Namun hingga saat ini belum disediakan informasi yang terbaru mengenai bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampur begitu saja dan dapat menimbulkan kebakaran. Setelah dilakukan wawancara terhadap penanggung jawab shredder yang bersangkutan mengenai alasan penyebab mixing material adalah karena lembar MSDS yang belum diperbarui dan tidak lengkap akibat tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. Namun ternyata kecelakaan kerja tertabraknya pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.6. masuk kedalam kategori priority 3 yang artinya kegiatan ini hanya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. tembok akibat pengemudi Wheel loader kelelahan tetap terjadi pada tahap perapihan dan penyimpanan material dan menimbulkan dampak rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder. hal ini juga terjadi karena data mengenai bahan-bahan yang berbahaya apabila dicampurkan belum diperbaharui. 5.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder .6 Perbandingan hasil analisis dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di unit Shredder facility PT.

6. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam. Helper lain mengutarakan alasan 162 . pengemudi tersebut tidak dapat tidur. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. Kecelakaan kerja lengan terputus bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. Apabila dibandingkan dengan kecelakaan kerja yang telah terjadi sebelum pengendalian dilakukan. pekerja berada dalam kondisi kelelahan.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus.dampak lengan terputus ini menyebabkan helper atau korban tersebut mengalami luka terbuka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. maka kegiatan adjusting belt conveyor harus dihentikan terlebih dahulu sampai mencapai batas yang dibolehkan. Tindakan pengendalian ini berbeda dengan kejadian sebelum diterapkannya pengendalian pemasangan screw diluar safety guard .5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. dengan waktu istirahat 1 jam. hasil analisis kecelakaan kerja saat ini. Berdasarkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor.mengenai lengan yang terputus pada tahap adjusting belt conveyor adalah. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. helper tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. 5. yaitu lengan terputus.Hal ini terjadi karena. Karena kecelakaan kerja ini. 7.akibat beban fikiran.

hingga saat ini belum dilakukan pengendalian secara tekhnis pada Hooper . Hal ini terjadi karena.mengapa helper melepaskan safety guard tersebut. 163 . Hasil analisis risiko saat ini dari kecelakaan kebakaran pada tahap Shredding adalah 250. seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). 5. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja dan menimbulkan kebakaran pada hooper. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. sehingga dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya kebakaran pada hooper dan menyebabkan kerusakan sementara pada hooper dan terhentinya produksi. Kecelakaan kerja kebakaran yang telah terjadi pada tahap Shredding. terjadi akibat MSDS tidak lengkap dan belum diperbarui.3 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. hal ini terjadi karena helper sudah merasa terbiasa dengan pekerjaanya sehingga helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada.6.

Dari risiko yang telah diidentifikasi. hanya dilakukan wawancara kepada petugas OH&S. Gambar tahapan pekerjaan tidak terlalu lengkap. tangan terputus. dikarenankan korban tersebut sudah tidak bekerja lagi.Holcim Indonesia Tbk. penanggung jawab lapangan. terjatuh dari ketinggian. . peneliti melakukan observasi dan wawancara tidak kepada semua pekerja shredder facility. 164 terbentur penutup screen. dan 3 orang pekerja / helper di shredder facility karena kesibukan dari masing-masing pekerja yang lain.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT.BAB VI PEMBAHASAN 6.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. 6. tersandung peralatan yang berserakan. karena peneliti tidak diizinkan untuk mengambil gambar sendiri. menurut kelompok bahaya keselamatannya (safety hazard) dapat dibedakan menjadi: 1. penanggung jawab lapangan dan 3 orang pekerja atau helper di shredder facility. pergelangan tangan terkilir. Bahaya mekanik (mechanical hazard) yaitu terpeleset ceceran residu. terpeleset screen.1 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini. selain itu peneliti tidak melakukan wawancara kepada semua korban kecelakaan kerja. Hasil identifikasi dilakukan dengan menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi kepada petugas OH&S. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses shredding PT.

terbentur penutup screen. pergelangan tangan terkilir.1 Tahap persiapan awal Berdasarkan analisis risiko pada tahap persiapan awal. 6. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. tangan terputus screen. terpeleset pada screen. Bahaya ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia pada proses kerja yang menimbulkan risiko keselamatan kerja.tertabrak/menabrak .Holcim Indonesia Tbk. 6.3. 2. .3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT. sehingga dimasukkan ke 165 . Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter ini mempunyai nilai risiko 15 kurang dari 20. Bahaya-bahaya ini disebabkan oleh adanya benda-benda atau proses yang bergerak. risiko yang dapat terjadi adalah terjatuh dari ketinggian kuran atau lebih dari 2 meter. tangan terputus dan kebakaran. terjatuh saat melangkahi pemisah.1.Bahaya kimia (chemical hazard) yaitu kebakaran. Terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter Pada tahap membersihkan handrail.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 Berikut ini adalah hasil analisis risiko pada setiap tahapan proses shredding PT. 6. tertimpa material ringan dan kejatuhan box.1 Membersihkan Handrail 1. helper tidak selalu memegang handrail.3.

6. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko priority 3 yang artinya adalah perlu diawasi dan di[erhatikan secara berkesinambungan. dari serious menjadi important atau noticeable. 166 . Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. helper tidak selalu memegang handrail.3. Sedangkan.dalam kategori tingkat risiko acceptable yang artinya adalah mengurangi intesitas kegiatan yang menimbulkan risiko seminimal mungkin.2 1. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 m ini mempunyai nilai risiko 45. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. Untuk menurunkan nilai risiko. Mengecek chute magnet separator Terjatuh dari ketinggian lebih dari 2 meter Pada tahap mengecek chute magnet separator.1. helper berisiko terjatuh akibat chute magnet separator berada pada ketinggian lebih dari 2 meter dan ketika bekerja. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. tangan helper berisiko terputus screen akibat akbat benda berputar dan ketika helper bekerja penerapan LOTO tidak dilaksanakan dengan baik.3 Membersihkan screen 1. 6. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 75.3. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. Untuk menurunkan nilai risiko.1. Untuk menurunkan nilai risiko. Sedangkan. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko substansial teknis.Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. dari serious menjadi important atau noticeable. maka upaya pengendalian 167 yang artinya adalah mengharuskan adanya perbaikan . Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. Tangan terputus screen Pada tahap membersihkan screen.

Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Untuk nilai konsekuensi dari tangan terputus screen tidak dapat dikurangi lagi. karena risiko minimal tangan terputus screen adalah cacat atau penyakit yang menetap. sehingga tingkat 168 . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko terpelset screen dikurangi seminimal mungkin. helper berisiko terpeleset screen akibat akbat permukaan screen yang licin dan tidak rata.yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan LOTO (lock out tag out ) pada pekerja yang bekerja pada screen. Sedangkan tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 2. dan memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Terpeleset screen Pada tahap membersihkan screen.diberikan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. selain itu sebaiknya dilakukan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja.

tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. tingkat 169 . memberikan reward dan punishment kepada pekerja. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . Untuk nilak konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Untuk menurunkan nilai risiko. helper berisiko terjatuh saat melangkahi pemisah screen akibat helper menaiki pemisah screen. Untuk nilai konsekuensi dari terpeleset screen tidak dapat dikurangi lagi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan tangga untuk masuk kedalam screen. karena konsekuensi dari teprleset screen ini adalah luka ringan atau memar. 3. Sedangkan.kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Terjatuh saat melangkahi pemisah screen Pada tahap membersihkan screen. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. karena konsekuensi dari terjatuh saat menaiki pemisah screen adalah luka ringan atau memar.Sedangkan. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari.

Terbentur Penutup Screen Pada tahap membersihkan screen. karena konsekuensi dari terbentur penutup screen adalah luka ringan dan memar. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. karena penutup screen yang tidak bisa terbuka secara maksimal. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. helper berisiko terbentur penutup screen. Untuk menurunkan nilai risiko. Sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 170 . karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. 4. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi.paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga tingkat kemungkinan remotely possible dapat diturunkan menjadi conceivable dan practically impossible. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . Risiko terbentur penutup screen ini mempunyai nilai risiko 6 yang artinya kurang dari 20. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan dikurangi seminimal mungkin. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.

4 Adjusting belt conveyor 1. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga tingkat kemungkinan unusual dapat diturunkan menjadi remotely possible. sehingga belt dapat diluruskan oleh 2 pekerja. 171 . Sedangkan. karena konsekuensi dari pergelangan terkilir adalah luka ringan dan memar. sehingga beban yang diterima oleh masing-masing pekerja tidak besar serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi.3. karena helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur.6. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan belt yang diluruskan memiliki beban yang cukup berat. menggunakan screw yang diputar secara manual oleh pergelangan tangan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan double screw. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. pergelangan tangan helper berisiko terkilir.1. conceivable atau practically impossible. Untuk menurunkan nilai risiko. Pergelangan tangan terkilir Pada tahap adjusting belt conveyor. Risiko pergelangan tangan terkilir ini mempunyai nilai risiko 9 yang artinya kurang dari 20.

atau noticeable. helper akan berlari melihat dari sisi yang lain yang 172 . important . Sedangkan. karena helper melakukan adjusting belt conveyor dengan membuka safety guard yang tersedia. tak ada pekerja lain yang menyalakan belt conveyor. Tangan terputus akibat benda berputar Pada tahap adjusting belt conveyor.2. sehingga nilai konsekuensi dari tangan terputus dapat berkurang dari very serious menjadi serious. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan sistem kunci LOTO (Lock out tag out) agar ketika helper bekerja. Risiko Tangan terputus akibat benda berputar ini mempunyai nilai risiko 7. helper berisiko terjatuh dari ketinggian . Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 3. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Untuk menurunkan nilai risiko. Terjatuh dari ketinggian Pada tahap adjusting belt conveyor.5 yang artinya kurang dari 20. karena setelah helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. tangan helper berisiko terputus akibat benda berputar. serta pelatihan perilaku yang beriorientasi pada safety.

diharapkan tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 900 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang dapat menyebabkan 173 . Untuk nilai konsekuensi dapat diturunkan lagi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. apakah belt conveyor sudah memasuki jalur atau belum. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah dibuatkan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. 4.5 yang artinya kurang dari 20. karena pemotongan belt conveyor menggunakan cutting torch. Kebakaran pada belt conveyor Pada tahap adjusting belt conveyor. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.dari important menjadi noticeable ketika pengendalian yang dilakukan sudah tepat. Risiko terjatuh dari ketinggian ini mempunyai nilai risiko 7. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Untuk menurunkan nilai risiko.lebih tinggi. Sedangkan. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Dengan upaya pengendalian tersebut. risiko kebakaran dapat terjadi.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 6. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari likely menjadi remotely possible.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 6. serta memberikan reward dan punishment. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Sedangkan.2. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 750 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang 174 .1 Perapihan material oleh wheel loader 1. important.3. pengelasan. karena gesekan antar material. Kebakaran pada storage Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. atau noticeable. serta banyak material yang mudah terbakar.serta menurunkan nilai konsekuensi dari disaster menjadi serious . Untuk menurunkan nilai risiko.3.kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . dan penggerindaan. risiko kebakaran pada storage dapat terjadi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.

dapat menyebabkan kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. Untuk menurunkan nilai risiko. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. yang artinya perlu diawasi Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena kurang koordinasi antar 25 pengemudi.sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 dan diperhatikan secara berkesinambungan. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. important. atau noticeable. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan sprinkler pada storage serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. Sedangkan. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko . serta menurunkan nilai konsekuensi dari very serious menjadi serious . sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible. 2. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah 175 .

3. Sedangkan. atau noticeable. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. risiko kebakaran pada hooper dapat terjadi.1 Tahap memasukkan material pada Hooper 1. Kebakaran pada hooper Pada tahap memasukkan material pada hooper.3. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.3. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 250 sehingga masuk ke dalam kategori priority 1 pengendalian sesegera mungkin. 6. sehingga nilai konsekuensi dapat ditunkan dari very serious menjadi serious . karena gesekan antar material. important. Untuk menurunkan nilai risiko. serta banyak material yang mudah terbakar. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun yang artinya perlu 176 .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan serta pelatihan yang berorientasi pada safety.3 Tahap Shredding 6. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang lengkap dan selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety.

karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. Sedangkan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap memasukkan material pada hooper. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun dapat diturunkan dari likely menjadi unusual atau remotely possible. dan tidak memanfaatkan fasilitas secara maksimal. 177 . karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. karena kuarngnya koordinasi antar pengemudi. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko.dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable atau practically impossible. 2.

Tertimpa Material dari Hooper Yang Memiliki Ketinggian Sekitar 2 Meter (contoh material : potongan plastik drum. Pada tahap memasukkan material pada hooper.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tersandung oleh peralatan yang 178 . dan isi hooper terlalu penuh. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. pemasangan guard pada area hooper. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.3. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap menebar serbuk gergaji.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu 1. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Memasang warning sign terkait bahaya yang ada. 6.3. pengawasan penggunaan APD.3. Untuk menurunkan nilai risiko.ketika helper berjalan di sekitar hooper. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. Risiko tertimpa material ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. risiko tertimpa material dapat terjadi pada helper. sedangkan. potongan kayu yang beratnya sekitar 100-250 gram ).

Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable 179 . sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable.berseerakan di sekitar shredder. 2. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menebar serbuk gergaji. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. Untuk menurunkan nilai risiko.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tertimpa material ringan dari belt conveyor.. sedangkan. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. Risiko tersandung peralatan ini mempunyai nilai risiko 18 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.

risiko kebakarandapat terjadi pada helper. sehingga nilai konsekuensi dapat 180 . Risiko tertimpa kebakaran nilai risiko ini mempunyai 150 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.ketika helper berjalan tidak mematuhi prosedur yang tersedia. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. Untuk menurunkan nilai risiko. seperti merokok. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. 3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait bahaya yang ada serta pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji.

tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dan tersandung oleh peralatan yang berserakan di sekitar shredder. 181 . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. Risiko tersandung peralatan 18 ini mempunyai nilai risiko sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sedangkan. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. sedangkan.3. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.3. important. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. atau noticeable.3 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material 1.. 6. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.diturunkan dari very serious menjadi serious. Untuk menurunkan nilai risiko.

Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfum pada shredder dan material dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. 182 .2. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap memberikan parfum pada shredder dan material. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.

6. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.4 Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 6. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Tertimpa Material Ringan Dari Box (contoh material : palstik.3.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 1. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. 2. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu material ringan yang berada di posisi paling atas box terjatuh. risiko kejatuhan box dapat terjadi pada helper. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 50 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.4. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga 183 .3. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. risiko tertimpa material ringan dari box. sedangkan.

184 . atau noticeable. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko tertimpa material ringan dari box dikurangi seminimal mungkin. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga terjadi tabrak/menabrak. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu tidak ada koordinasi antar pengemudi. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. 3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. important. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Untuk menurunkan nilai risiko. sedangkan. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. Untuk menurunkan nilai risiko.

2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran / Pre-heater 1. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.sedangkan. Risiko box terjatuh di jalan ini ini mempunyai nilai risiko 30 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan.4. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck. Box terjatuh saat dibawa menuju pre-heater Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. 185 . karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. 6.3. Untuk menurunkan nilai risiko. risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada truk yang pendek. sedangkan box tinggi.

Tertabrak/menabrak antar pengemudi Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. Untuk menurunkan nilai risiko. important. sedangkan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. 186 . karena pekerja tidak mengikuti standard operation mengenai cara berkendara di arean proyek. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. atau noticeable. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi.2. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.

00 di area operasi shredder Geocycle.4. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat ditabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 25 masuk kedalam priority 3 yang artinya kegiatan ini sebenarnya hanya perlu pengawasan dan diperhatikan secara .Holcim Indonesia Tbk.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. 6. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.6.PT. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. serta menggunakan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT. tersedia standard operation mengenai cara bekendara di area proyek. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan antena pada wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan . memasang warning sign tentang penggunaan APD . tersedianya blind spot miror agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah.

Teori yang dikembangkan oleh Sahab (1997) juga menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja dilatarbelakangi oleh faktor-faktor. 63 . namun kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder tetap terjadi. sehingga menjadi salah satu penyebab kelelahan.berkesinambungan. Hal ini sesuai dengan teori domino heinrich yang menyatakan bahwa salah satu rangkaian domino yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja adalah unsafe act atau perilaku tidak aman yang salah satunya adalah kelelahan . kondisi korban yang memiliki beban fikiran mengenai minimnya upah yang menyebabkan pekerja kurang tidur. Hal ini sesuai dengan teori Nurmianto pada tahun 2003. belum terjadi perubahan pengendalian.” Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. yang menyatakan “ Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder terjadi karena faktor pekerja. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi. kecelakaan kerja terjadi karena pekerja tidak berkonsentrasi dalam mengemudi. Kelelahan kerja yang dilalami pekerja membuat turunnya kinerja dan menimbulkan kecelakaan kerja. yang salah satunya adalah faktor kelelahan dan keletihan yang berasal dari penyebab dasar faktor pribadi.

64 . maka akan muncul pemogokan-pemogokan. kehilangan inisiatif). sehingga menurunkan kesiagaan dan perhatian. pembahan tingkah laku. badan terasa tidak enak. dan kesukaran tidur). dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi perilaku kerja. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector). fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia.2 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. kecemasan. hal ini sesuai dengan teori Winardi (2001) yang menyatakan bahwa jika upah tersebut tidak dipenuhi. dan gejala umum (sakit kepala.Selain itu kerja fisik yang terus menerus dapat menyebabkan kelelahan.Motivasi kerja khususnya faktor balas jasa atau upah yang minim pun menjadi penyebab pekerja tidak dapat tidur karena beban fikiran. tidak cocok dengan lingkungan. 1982). gangguan pencemaan. kehilangan nafsu makan. Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder dengan Kejadian Geocycle. (depresi. kegelisahan. kurang tenaga.PT. gangguan fungsi paru dan jantung. penurunan dan hambatan persepsi cara berpikir atau perbuatan anti sosial.Holcim Indonesia Tbk. vertigo.5. 6. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun.

Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Upaya yang saat ini sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor adalah pemasangan screw diluar safety guard agar pekerja bekerja lebih aman. Hal ini membuktikan bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi apabila manajemen keselamatan kerja belum dilakukan secara maksimal. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah. maka nilai risiko yang didapat pada tahap ini adalah 7.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. sesuai dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich dengan 65 .Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. Maka. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. pengendalian yang sudah dilakukan saat ini dapat meminimalkan kecelakaan kerja. dan salah satunya adalah karet.

Menurut Gordon Allport . sikap merupakan kecenderungan potensial untuk berpotensi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon . 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). berdasarkan statistik di Indonesia. Jadi. 66 . tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia seperti faktor sikap yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. kecelakaan kerja lengan terputus disebabkan oleh faktor manusia yang merasa terbiasa dengan pekerjaannya. Selain karena faktor teknis.dan Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemn keselamatan dan kesehatan kerja. dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan Maka. Dan tentunya tindakan tidak aman akan menyebabkan kecelakaan kerja. hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995). Namun.mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. Penyebab yang melatarbelakangi kecelakaan kerja menurut Sahab (1997) salah satunya adalah sikap dan tingkah laku yang tidak aman.

Holcim Indonesia Tbk.6. safety briefing sebelum bekerja. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. sehingga kecelakaan kerja kebakaran pada hooper masih mungkin terjadi. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan hydrant. serta APAR. Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 dengan Kejadian di area operasi shredder Geocycle. 67 . tersedia MSDS (Material safety data sheet). apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. memasang warning sign tentang penggunaan APD .PT. sprinkler tepat diatas hooper.5. serta menggunakan APD lengkap. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 250. Karena sebenarnya berdasarkan dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terlebih dahulu.3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Tahap Shredding Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. belum terjadi perubahan pengendalian. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi .

Akan tetapi. 68 . penyebab kecelakaan kecelakaan kerja kebakaran pada hooper terjadi karena faktor kelalaian.” Beliau juga menyatakan bahawa hubungan antar manusia dalam lingkungan pekerjaan baik hubungan vertical maupun horizontal akan berpengaruh terhadap disiplin dan produktivitas pekerja. walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja.Namun hingga saat ini manajemen keselamatan dan kesehatan kerja belum dilakukan secara maksimal sehingga kecelakaan kerja kebakaran masih mungkin terjadi. yang menyatakan bahwa “salah satu faktor yang menjadi penggerak terciptanya motivasi kerja karyawan adalah hubungan antar manusia. Sesuai dengan teori Hezberg pada tahun 1990. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. faktor manusia itu sendiri seperti tidak segera merubah data material berbahaya sesegera mungkin. Maka.

69 .

70 .

Kegiatan pada Shredder Facility 71 .

Membersihkan Handrail Mengecek Chute Magnet separator Membersihkan Screen Adjusting Belt Conveyor 72 .

Perapihan dan Penyimpanan Material Menebar serbuk Gergaji Memasukkan Material pada Box Memberikan Parfum Menaikkan box pada truck 73 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian 74 .Tabel Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Risiko Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 75 .Tabel Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

Tabel No Rincian Pekerjaan Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Rekomendasi 76 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 77 .Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

.

63 .

64 .

65 .

66 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->