ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH

TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010

SKRIPSI

OLEH : Dita Wianjani NIM : 106101003314

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M/1431 H

44

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 25 Agustus 2010

Dita Wianjani

45

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, September 2010

DITA WIANJANI, NIM : 1061010003314

Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010

(xxiv + 197 halaman, 25 tabel, 15 gambar)

ABSTRAK
PT Holcim Indonesia dalah pelopor dan inovator di Indonesia yang berkembang cepat dalam sektor semen, karena pasar untuk rumah, bangunan komersial dan infrastruktur yang berkembang. Holcim adalah penyedia yang terintegrasi dari sembilan berbagai jenis semen, beton dan agregat. Selain itu Holcim juga memiliki unit Shredder facility yang berfungsi sebagai fasilitas pencacah limbah untuk bahan bakar alternatif dalam produksi semen. Setiap sistem kerja dalam sebuah perusahaan selalu mempunyai risiko keselamatan kerja, begitu juga sistem kerja pada PT Holcim Indonesia mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pada proses pencacahan atau Shredding ini terjadi kejadian kecelakaan kerja yang serius. Jika dibandingkan dengan fasilitas lain, Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan, namun dalam waktu yang relatif singkat, hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kecelakaan kerja sebab-sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan agar selanjutnya diperoleh usaha-usaha koreksi terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut Tujuan dai penelitian ini adalah Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Penelitian ini dilakukan di PT.Holcim Indonesia Tbk Bogor yang dimulai pada bulan April- Agustus 2010 melaui pengambilan data primer yang dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S , pada pekerja, penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.Serta melakukan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder berupa struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja yang ada pada proses pencacahan atau shredding ini secara keseluruhan adalah terpeleset ceceran residu, terjatuh dari ketinggian, pergelangan tangan terkilir, terpeleset screen , terjatuh saat melangkahi pemisah screen,

46

tangan terputus screen, terbentur penutup screen, tersandung peralatan yang berserakan, tertabrak/menabrak, tertimpa material ringan kejatuhan box, serta kebakaran. Pengendalian dengan engineering control dilakukan pada beberapa tahapan pekerjaan seperti pekerjaan seperti membersihkan handrail , maka dipasang handrail agar pekerja tidak jatuh, pemasangan guard pada benda berputar. Pengendalian dengan administrative control dengan housekeeping, bekerja sesuai dengan prosedur dan pemasangan safety sign di area kerja, terutama untuk pekerjaan yang berisiko tinggi. Pengendalian dengan pemakaian APD pada pekerja seperti safety shoes, safety helmet, mask organic, gloves, goggles, glasess. Sedangkan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di shredder facility adalah tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja yang kelelahan sehingga pekerja tidak berkonsentrasi. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009, penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja tidak melepaskan safety guard sebagai pelindung pekerja, karena merasa aman dengan pekerjaannya. Serta kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010, penyebab kecelakaan ini adalah ketidakharmonisan pekerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain factor teknis, faktor non-teknis pun menjadi penyebab dari kejadian kecelakaan kerja, sehingga perlu penyelesaian masalah yang lebih mendalam agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan tepat. Saran yang diajukan adalah perlu dilakukan identifikasi dan penilaian risiko pada masing-masing tahapan pekerjaan di PT.Holcim Indonesia Tbk untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Untuk menurunkan nilai risiko keselamatan kerja pada masing-masing tahapan proses shredding, diperlukan upaya pengendalian sebagai berikut pemeriksaaan standard operation dalam bekerja, diberikan pelatihan perilaku keselamatan dengan pengawasan serta pmebrian reward dan punishment pada pekerja. Daftar bacaan : 24 (1985-2010)

47

Shredder newest facility is a facility operated. Each system is working in a company always has a safety risk. tripping over scattered equipment. Safety risks that exist in the enumeration or the shredding process as a whole is scattered residual slip. hands cut off a screen. hit the screen cover. fell while bypassing the separator screen. the worker. commercial buildings and developing infrastructure.This study was conducted in Bogor Indonesia Tbk PT. slip screens. the responsible shredder and accident victims and make observations directly.Holcim which starts in April-August 2010 through Primary data collection is done by interviewing the staff OH & S. In the process of enumeration or shredding this occurs a serious work accident. When compared with other facilities. Therefore. was hit / hit. stages Shredder facility and data accidents that have occurred in Shredder facility. NIM : 106101003314 Qualitative Analyze the relation between the result of Risk Analyze in Occupational Safety with the occurrence of accidents that have occurred in workers in unit shredder facility PT. Holcim is an integrated provider of nine different types of cement. This is because the shredder facility over a wide range of waste processing facilities other than the machine used and still need care manually. working in accordance with the procedures and the installation of safety signs in work areas. because the market for homes. Control with administrative control with housekeeping. organic 48 . In addition. whereas secondary form the organizational structure of OH & S. Holcim also has a unit Shredder facility that serves as an enumerator waste facility for alternative fuels in cement production. installation of guard at the rotating object. especially for high-risk jobs. hit by falling boxes lightweight materials. and fire. as well as a working system a PT Holcim Indonesia has a safety risk that may cause accidents. nearly every year happen in a serious accident at this facility. fall from height. the handrail is installed for workers from falling.Holcim Indonesia Tbk in 2010 ABSTRACT PT Holcim Indonesia is a pioneer and innovator in Indonesia who growing rapidly in the cement sector. safety helmet. Control by the use of PPE to workers such as safety shoes. concrete and aggregates. but within a relatively short time.JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis. sprained wrist. September 2010 DITA WIANJANI. Control with control engineering done in several stages of work as jobs such as cleaning the handrail. to minimize workplace accidents causes of accidents should be investigated and found to be further efforts to obtain corrections to the causes of the accident The purpose of this study is Knowledgeable relationship between safety risk analysis with the occurrence of accidents that have occurred in workers at the facility shredder unit PT Holcim Indonesia Tbk 2010.

Hasil showed that in addition to technical factors. goggles. non-technical factors were the cause of the work accident. the cause of these accidents is that workers do not remove the safety guard as protectors of workers. To reduce the value of safety risks at each stage of the process of shredding.Holcim Indonesia Tbk to prevent accidents. Arm cut off by the pinched by rotating objects (motion detector) in the year 2009. the following efforts are needed to control the examination standard operation in the work.mask. the cause of this accident was the disharmony pekerja. because they feel secure with his job. glasess. be trained in safety behavior with supervision and pmebrian reward and punishment on the workers. gloves. While the incidence of workplace accidents that have occurred in the shredder facility is a wall of separation between storage space and shredder collapsed due to hit the loader in the year 2008 the cause of this accident was the fatigue of workers so that workers do not concentrate. so we need a more in-depth problem solving to workplace accidents can minimized with proper. Reading list: 24 (1985-2010) 49 . And fire at the Hooper happened on 7 April 2010. Suggestion is to do the identification and assessment of risk at each stage of work in PT.

25 Agustus 2010 M. SKM.Si Pembimbing I Catur Rosidati.Farid Hamzens M. MKM Pembimbing Skripsi I 50 .Skripsi Dengan Judul ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010 Telah disetujui. diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.

.............. vii RIWAYAT HIDUP..................................................... ii PERNYATAAN PERSETUJUAN ...................4.....................................................................3 Pertanyaan Penelitian ............... DAFTAR GAMBAR.......... i ABSTRAK ...............................................................................................................2 Rumusan Masalah ........................... 1.....................................................4........ viii KATA PENGANTAR................ xx 1 xxi 1 5 5 6 6 6 7 7 1................................. x DAFTAR ISI ......................... 1....................................................................................................................... 1...........................................1 Tujuan Umum ................. BAB 1 PENDAHULUAN ...........................................................................................................................1 Bagi Peneliti ...........................................................1 Latar Belakang ..... 1.................................... xii DAFTAR TABEL .......................5 Manfaat Penelitian .. vi LEMBAR PENGESAHAN ....................................5................. 1.5......................................... .................................... 1............. 1...DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN ..................................................................................................................2 Bagi Perusahaan .......................................................................................... 1.....................4 Tujuan Penelitian ...................... 51 7 ...2 Tujuan Khusus ..............

.............. 2.............................................. 2.........5 Pencegahan Kecelakaan Kerja .... .............................................. 2..................................5 Metode Identifikasi Risiko ......1....3 Definisi Risiko ..................................2...........................1 Jenis-jenis Risiko 2..............1 Penyebab Kecelakaan Kerja ...4....5.................1 Tujuan Manajemen Risiko ....................................................2 Pengendalian Bahaya .......................6 Klasifikasi Kecelaakaan Akibat Kerja ..............3 Motivasi ....2 Manfaat Manajemen Risiko .................................1.................1 Jenis-jenis Bahaya……………………………….4 Manajemen Risiko...4............ 52 36 2.. 2....... 2................. 2..2 Kelelahan Kerja ............4 Teori Kecelakaan Kerja ...................1 Job Safety Analysis (JSA).3.............................................................................................1...................................... 10 10 10 13 14 16 23 23 25 26 27 30 30 32 33 34 34 2..................................... 2........................................1 Definisi Kecelakaan Kerja ...... 2........... 2............BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........ 2.......................................2 Definisi Bahaya .............................2.....................................1....... 2.... 2. .........................1.... 2. 2..1........................

....1.................. 4......................................1 Sejarah Perusahaan PT........... 4.................BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ................ 4...............................Holcim Indonesia Tbk ………… 5.Holcim Indonesia Tbk ………................................................... 47 3................................................... BAB V HASIL .... ..........................................2.1 Gambaran Perusahaan ………………………………………......1............................................... ................1 Metode Penelitian ………………………………………..................2 Definisi Istilah ..................3 Struktur Organisasi PT.... 53 64 ......................................................................... 4..................... 4.... 47 3........................................Holcim Indonesia Tbk ………………..............5 Pengolahan data Analisis Data .......6 Validitas Data .............................3 Informan ................1...................... 5... 4...... 55 55 55 55 56 56 56 58 60 62 62 62 64 4......2 Visi dan Misi PT.......1 Lokasi Penelitian .........2.............................4 Metode Pengumpulan Data ............ 49 BAB IV METODE PENELITIAN ........ 5.................................1 Kerangka Berpikir..............2 Waktu Penelitian ...............................2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4........................ 5.......

5..2.2.2.2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji ……………………… 5..4 Adjusting belt conveyor ……………………………… 5..1. 5.. 5.1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material pada Truk ……………………………………………… 5.3.1.1.5.3.3..2.3.3.1 Tahap Persiapan Awal ………………………………. 5.2. 106 5.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran .1 Membersihkan handrail ………………………………… 5.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material …………….2 Mengecek Chute Magnet separator ………………… 5.2.2.1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper ………… 5. 106 101 102 101 54 .3.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5..4..Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ………………………...1.1 Membersihkan Handrail …………………………. 5.3 Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.2.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Product ……………………………………………………….2..4..2.2.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ……………. Tahap Memberikan Parfum pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………………… 77 78 79 80 87 87 91 91 92 94 5..3 Membersihkan Screen ………………………………....1.2. 5..2.2.

.Holcim Indonesia Tbk ……………………………………..3.3.3.3.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5.3 Tahap Shredding ……………………………………….DAFTAR TABEL 5.4.3.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran …… 132 5.4.1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi Material pada Truk ………………………………………………………….3.. 5..1 Tahap Persiapan Awal …………………………………. 5. 5.3. 5. 5.3..3.. 5.1 Kecelakaan Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang 152 136 136 142 144 149 55 .3.5..4.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT..2.1 Memasukkan Material pada Hooper ………………… 5..5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.4.2 Menebar Serbuk Gergaji …………………………….Holcim Indonesia Tbk …………………………… 5..1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ………………. 5. 5.3 Memberikan Parfum pada Shredder dan Material ….3.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Produk ……………………………………………………… 5.4.4.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material …………. 118 121 121 123 125 130 130 5..4 Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Box ….

...2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT........6.1.....3...............2 Mengecek Chute Magnet Separator ……………....3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 158 157 158 158 ……………………………………………………………..... 6.. ……………..........1 Tahap Persiapan Awal . 6...1...6.......DAFTAR GAMBAR 5...3 Perbandingan Kejadian Hasil Analisis Tahap Shredding dengan 156 Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada Hooper …………... ………………...3.... Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ……………….2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting Belt Conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus 155 …………......………………………...3.3.. 6... … 6..1..1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Persiapan dan Kecelakaan Kerja Penyimpanan Material dengan Kejadian Tertabraknya Tembok Pemisah antar Ruang Penyimpanan dan Shredder ………….... 6. 56 6....1 Keterbatasan Penelitian……………. 159 159 ..…………………………………………… 5....6.4 Adjusting belt conveyor ……………………….………………………………………………………… BAB VI PEMBAHASAN .....…………………………………………… 5...1 Membersihkan Handrail ………………… ……….. 6.

...4 Tahap Memasukkan produk pada Box dan Pengiriman Produk …………………………………………………… 6..4.. 57 ................... 6...1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja 179 177 177 172 Tertabraknya Tembok Pemisah Antara Ruang Penyimpanan dan Shredder…………………………………………………………......... BAB VI PEMBAHASAN ...3...……………………….3...2 Mengirimkan Box Menuju Tempat pembakaran / PreHeater …………………………………………..3. 6..4.3.3.. 6.....3.3.4.3 Tahap Shredding ………………………………………… 170 170 6. 6....... Holcim Indonesia Tbk …………………………… 6..2 Pembahsan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Lengan yang Terputus …………… 181 6.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT.3 Tahap Memberikan Parfume pada Fasilitas Shredder dan Material …………………………………………..1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper …………… 6...... 6..4.3.6...2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji pada Lantai yang Terkena Residu ……………………………………… 6.3.....4......3..3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper …………………..1 Tahap Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material 175 pada Truk …………………………………...1 Keterbatasan Penelitian……………...

............................... 7............................... 188 188 7.....2 Saran........................................................................................ 190 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 58 ...................BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN.............................1 Kesimpulan.........

..6 tabel Kategori Tingkat Risiko dengan Metode Semikuantitatif ……. 5.1 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif ………………….5 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Semikuantitatif ……………… 44 2.3 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatam Kerja pada Tahap Shredding 83 59 89 .Daftar Tabel 40 2..2 Tabel Definisi Istilah Kejadian Kecelakaan Kerja ………………… 57 4.2 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif …………………….1 Tabel Indentifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal ………………………………………………………………… 5.3 Tabel Triangulasi Sumber ………………………………………….3 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Semikuantitatif ……………. 43 2. 42 2...2 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ………………………………………………………………………..1 Tabel Definisi Istilah Tahapan Analisis Risiko ……………………. 41 2.7 Tabel Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross… 49 3.2 Tabel Data Primer …………………………………………………… 60 4. 45 2. 53 3.. 43 2. 61 4...4 Tabel Triangulasi Metode …………………………………………… 5.1 Tabel Data Sekunder ……………………………………………… 58 4.4 Tabel Skala Ukur Eksposure Secara Semikuantitatif ………………...

..... 6.0 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap persiapan dan Penyimpanan Material ………………………………………………. 138 127 60 .1 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ………….7 Analisis Risiko Keselamatan kerja Tahap Shredding ……………… 5......8 Analisis Risiko Keselamatan Kerja Tahap memasukkan Produk pada Box dan pengirimannya ……………………………………………. 6.. 134 5...Daftar Tabel 5..9 Evaluasi Risiko Keselamatan Tahap Persiapan …………………….2 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap Memasukkan Produk pada Box 143 dan Pengirimannya ……………………………………. 6..

Daftar Gambar 2.1 Gambar Manajemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 : 1999 ………… 3.1 Gambar Kerangka Berpikir Hubungan Hasil Analisis Tingkat Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja ………………………………….. 5.1 Gambar Logo Holcim ………………………………………………... 5.2 Gambar Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk …………… 63 5.3 Gambar Green Pyramid ……………………………………………… 65 5.4 Gambar Struktur Organisasi OH&S Corporate ……………………… 48 33

61

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Kewarganegaraan Alamat Telepon Email Universitas Jurusan Peminatan : Dita Wianjani : Sukabumi, 20 November 1987 : Perempuan : Islam : Indonesia : Kp.Pangkalan raya rt 02/02 No.38 Cibuluh Bogor Utara : 085697493402 : michikakazuya@yahoo.co.id : UIN Syarif Hidayatullah : Kesehatan Masyarakat : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Latarbelakang Pendidikan Formal     1994- 2000 2000- 2003 2003- 2006 2006 –2009 Masyarakat Informal   2001-2003 2004-2005 (Conversation) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional (LIA) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional LIA : SDN Pengadilan 2 Bogor : SMPN 8 Bogor : SMAN 6 Bogor : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurusan Kesehatan

62

Pengalaman    2006-2008 2008 : Staff pengajar yayasan Miftahul Jannah Cimanggu Bogor : Mengikuti program beasiswa Youth Leadership Trip ke

Malaysia dan Thailand 2007-2008 : Bendahara BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat

63

KATA PENGANTAR ‫ت ه ك ا ب ر و هلل ا ورحمة ع ل ي كن م ل س ال ا‬

Segala puji kehadirat Allah SWT, yang tidak pernah tidur dan selalu dekat dengan hamba-Nya. Syukur senantiasa terucapkan atas segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian

Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010”. Skripsi ini disusun sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyusunan skripsi ini semata-mata bukanlah hasil usaha penulis, melainkan banyak pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, motivasi, dan semangat. Untuk itu penulis merasa pantas berterima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak M.Farid Hamzens Msi serlaku pembimbing I, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis 4. Ibu Catur Rosidati, SKM. MKM, selaku Dosen Pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. 64

5. Tim OH&S PT Holcim Indonesia Mas Pungki Yudono dan Mas Ahmad Azhar selaku pembimbing lapangan atas bimbingan dan bantuannya dalam proses pengambilan data. selaku Koordinator K3 yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 8. Rima dan Erangga yang selalu memberikan motivasi dan dukungannya 11. Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’06 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Agustus 2010 Penulis 65 . Ibu. 9. khususnya mengenai analisis risiko keselamatan kerja Jakarta. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 7. MKKK. dr. Tetap Semangat Untuk Masa Depan yang Lebih Baik. 10. dan adikku tercinta atas dorongan dan bantuannya baik material dan spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Bapak. Ibu Iting Shofwati. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). ST.

314 kasus di tahun 2009 (Jamsostek. 2010). lebih dari 2 juta manusia meninggal dunia akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang terkait dengan pekerjaan. tahun 2006 terjadi 95. setiap tahun di seluruh dunia kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan banyak korban. tetapi juga bagi dunia karena kesemuanya ini menyedot biaya kompensasi yang sangat besar.BAB I PENDAHULUAN 1.823 kasus. pengusaha. dengan jumlah pekerja yang sembuh 85.624 kasus kecelakaan kerja dan tahun 2007 terjadi sebanyak 83. dan pemerintah. Berdasarkan angka perkiraan konservatif. Data PT Jamsostek Indonesia (2008) menyatakan bahwa “ K erugian langsung akibat kelalaian manusia dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebesar Rp.090 orang. sedangkan yang cacat total 44 orang (Jamsostek. Riset ILO menghasilkan kesimpulan bahwa setiap tahun. 2007) Dari data statistik ini tentunya kita akan paham bahwa kerugian yang ditimbulkannya sangat masif.50 66 .714 kasus . sedangkan kerugian secara tidak langsung mencapai Rp.1 Latar Belakang Berdasarkan ILO.(ILO.300 miliar. ada 270 juta kecelakaan kerja dan 160 juta kasus penyakit yang terkait dengan pekerjaan. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 93. 2008) dan terdapat 96. bukan hanya bagi pekerja. Depnakertrans menyatakan angka kecelakaan kerja di Indonesia pun masih tergolong tinggi.

67 . Tingginya angka kematian akibat kecelakaan dan penyakit kerja mendesak dilakukannya analisa secara komprehensif terhadap penyebab kematian dialami pekerja atau buruh. gejala. Jumlah kematian lebih dari 14.000 pekerja per tahun merupakan angka yang cukup besar. sumber penyebab dasar. Maka. Faktor dasar penyebab adanya kecelakaan kerja adalah buruknya manajemen K-3. sehinggga kecelakaan kerja dapat segera dicegah dan diminimalisasi frekuensinya. yaitu manajemen. dapat dikatakan kerugian secara tidak langsung akibat kecelakaan kerja setiap tahun mencapai 15 kali dari kerugian secara langsung. Ketiga hal tersebut menimbulkan unsafe action (tindakan yang tidak aman) dan unsafe condition (kondisi yang tidak aman) yang merupakan faktor tidak langsung penyebab kecelakaan kerja. kontak. oleh karena itu faktor penyebab kecelakaan dan faktor-faktor lainnya harus segera dikendalikan dengan benar. Data yang dilansir Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan sinyal betapa kecelakaan kerja dan kematian akibat kerja sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Birds memodifikasi teori Heinrich dan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. tidak adanya komitmen perusahaan untuk menerapkan SMK3 serta faktor lingkungan kerja. Sedangkan faktor penyebab langsung timbulnya kecelakaan kerja adalah tidak adanya upaya pengendalian risiko dan adanya potensial bahaya di tempat kerja. pada tahun 1967. dan kerugian.truliun “. Dalam teorinya.

yaitu : 68 . oil sludge facility dan Shredder facility. Fasilitas ini merupakan sub kerja pada departmen Geocycle yang berfungsi sebagai pre-handling limbah. padat dan sampah rumah tangga. Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. Biomess facility merupakan fasilitas yang mengolah serbuk gergaji dan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif . Dari hasil observasi dan wawancara mengenai data kecelakaan kerja pada tiga fasilitas yang dibawahi oleh Geocycle sebagian besar kecelakaan kerja terjadi di Shredder facility yang melakukan pengolahan limbah dengan metode pencacahan atau shredding. Oil Sludge facility adalah fasilitas yang yang mengolah paint sludge menjadi bahan bakar alternatif dan Shredder facility adalah fasilitas yang mengolah berbagai limbah cair. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. Terdapat tiga fasilitas pemanfaatan limbah yang dibawahi oleh unit Geocycle.mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. PT Holcim Indonesia adalah perusahaan produksi semen yang memiliki unit kerja baru bernama Geocycle. Geocycle adalah layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. di antaranya Biomess Facility.

Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2009 3. hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 Jika dibandingkan dengan fasilitas lain. namun dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karena itu. 69 . Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. sehingga secara mudah risiko dapat diminamilisir dengan menentukan pengendalian yang tepat. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2008 2.1. perlu dilakukan upaya analisis risiko keselamatan kerja yang terintegrasi ke dalam manajemen risiko yang dimulai dengan identifikasi risiko sampai dengan menentukan tingkat risiko keselamatan kerja dan menghubungkannya dengan fakta kecelakaan kerja yang pernah terjadi di tempat tersebut.

Dari data kecelakaan di shredder facility PT Holcim Indonesi Tbk pada tahun 2008 – 2010 kecelakaan kerja telah terjadi pada operator dan fasilitas di shredder.1.3 Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk dan gambaran proses kerja shredder di PT. Bagaimana gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap bahaya-bahaya keselamatan pada pengoperasian shredder untuk diketahuinya tingkat risiko keselamatan kerja di tempat tersebut. Bagaimana gambaran consequences. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 2. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 3. 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 70 . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 4.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah dalam proses operasinya shredder facility mengalami banyak kecelakaan apabila dibandingkan dengan fasilitas lain yang sudah beroperasi lebih lama di Geocycle. dan hubungannya dengan kejadian kecelakaan kerja di shredder facilitysehingga dapat dilakukan tindakan pengendalian bahaya dengan tepat.

2 Tujuan Khusus : 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 2. 1. Diketahuinya gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT.4.4. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 1. Bagaimana gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 71 . Bagaimana hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi dengan pada pekerja di unit shredder facility di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 7.5.1 Tujuan Umum Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 6.4 Tujuan Penelitian 1. Diketahuinya gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 dan gambaran proses kerja shredder di PT. Bagaimana gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT.

5 Manfaat Penelitian 1. Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara perusahaan dengan program studi kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.5.2 Perusahaan a.3.’ 7. Diketahuinya gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.1 Peneliti : Meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang K3 khususnya dalam melakukan analisis resiko keselamatan kerja 1. Diketahiumya gambaran consequences. Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi facility di PT. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT.5. 4. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 5. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 6. 72 . b. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Memberikan bahan masukan pada institusi terkait mengenai pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 pada pekerja di unit shredder 1. Diketahuinya gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. Diketahuinya gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT.

Data primer dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S . penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.3 Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta a.5. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan melihat hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.6 Ruang Lingkup Penelitian ini adalah penelitian analisis kualitatif hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. Penelitian ini dilakukan di unit Shredder Facility PT.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.1. b. Bogor dan dilakukan selama bulan AprilAgustus 2010. sedangkan data sekunder berupa 73 . pada pekerja. Untuk mengetahui tingkat risiko digunakan metode analisis risiko secara semikuantitatif Standar Australia/Standar New Zealand (AS/NZS 4360. 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 yang berada di Cileungsi. Dapat dijadikan salah satu sumber informasi mengenai analisi risiko fan hubungannya terhadap kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi. Sebagai sarana untuk menjalin serta membina network dan kerjasama dengan perusahaan atau institusi lain dibidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3).Serta melakukan observasi secara langsung. 1999/2004). Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Sasaran dari penelitian ini adalah proses shredding (pencacahan).

struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Penelitian ini dilakukan oleh

mahasiswa Program Studi kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

74

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecelakaan Kerja Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga karena di akhir peristiwa itu ada unsur ketidaksengajaan, tak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian materil maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Suatu peristiwa dapat digolongkan suatu kecelakaan jika bersifat diluar kamauan manusia, disebabkan oleh kekuasaan dari luar yang berlangsung secara cepat dan menyebabkan cidera badan dan jiwa (Suma’mur, 1996). Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang, kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah, 2003) 2.1.1 Penyebab Kecelakaan Kerja Menurut Sahab (1997), penyebab kecelakaan kerja di tempat kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan: 1). Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain. 2). Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain.

75

3). Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain. 4). Sifat kerja. 5). Cara kerja b. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: 1). Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan. 2) cacat tubuh yang tidak kelihatan. 3) keletihan dan kelelahan. 4) sikap dan tingkah laku yang tidak aman. Secara umum ada dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu penyebab langsung (immediate causes) dan penyebab dasar (basic causes) (Budiono, 2003): a. Penyebab Langsung Penyebab langsung atau kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) dan kondisikondisi yang tidak aman (unsafe conditions) Menurut Ferdy dan Yudi (2008), dari beberapa hasil riset menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995), berdasarkan statistik di Indonesia, 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak 76

aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan kerja dibandingkan dengan kondisi tidak aman (unsafe condition). Menurut Murthi dan Yuri (2009), unsafe act adalah suatu tindakan seseorang yang menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan dan dapat mengakibatkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun peralatan yang ada di sekitarnya. Pendapat lain yang berkenaan, unsafe act adalah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan (Silalahi,1995). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa unsafe act adalah semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dimana tindakan tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, peralatan maupun lingkungan yang ada di sekitarnya. b. Penyebab Dasar Terdiri dari dua faktor, yaitu faktor manusia/ pribadi dan faktor kerja/ lingkungan kerja. Faktor manusia/ pribadi, antara lain karena: kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurangnya/ lemahnya pengetahuan dan ketrampilan/ keahlian, stres, motivasi yang tidak cukup/ salah.Sedangkan faktor kerja/ lingkungan, antara lain karena: tidak cukup kepimpinan atau pengawasan, tidak cukup rekayasa, tidak cukup pembelian/ pengadaan barang, tidak cukup perawatan, tidak cukup standar-standar kerja, penyalahgunaan.

.

77

Selain itu karakteristik kelelahan akan meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan yang dilakukan. menambah 2003). Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan menurunkan dalam bekerja kinerja dan (Budiono. 2003). Pembebanan otot secara statispun (Static Muscular Loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries). tulang.2 Kelelahan Kerja Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Nurmianto. yaitu nyeri otot. Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan yang subyektif. sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat.2. Pendapat lain mengatakan bahwasanya kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah.1. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. motivasi menurun. aktivitas 78 . tendon. dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive). Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. sedangkan menurunnya rasa lelah. Kelelahan kerja akan tingkat kesalahan kerja.

tanggung jawab. gangguan pencemaan. kehilangan inisiatif). gangguan fungsi paru dan jantung. 2. dan kesukaran tidur). (depresi. kurang tenaga. kegelisahan. penurunan dan hambatan persepsi. penghargaan.Akan tetapi jika upah tersebut tidak 79 . Rizeddin (2000). kesempatan. 1982). pembahan tingkah laku. cara berpikir atau perbuatan anti sosial. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. dan gejala umum (sakit kepala. 1994). kehilangan nafsu makan. tidak cocok dengan lingkungan. badan terasa tidak enak. kecemasan. Gejala kelelahan kerja menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973) yaitu menurun kesiagaan dan perhatian.Selain itu Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati. vertigo. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. dan balas jasa.1. imbalan tersebut dapat dijadikan motivasi kepada pekerja agar pekerja bekerja dengan kinerja tinggi.3 Motivasi Menurut Rawianto (1990) dalam Aldila (2009) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan motor penggerak adalah : Prestasi. pengembangan. keterlibatan. tantangan.menurun. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. Menurut Winardi (2001) imbalan berupa gaji atau upahmerupakan salah satu dari imbalan ekstrinsik yang diterima melalui kegiatan bekerja.

tetapi jika pekerja mempunyai motivasi dalam diri yang rendah. dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental Teori Herzberg pun menyatakan tingginya motivasi kerja pun dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik seperti. Disebutkan bahwa adanya motivasi dalam diri karyawan yang tinggi maka perilaku pada saat bekerja akan menjadi selamat. akan berpengaruh pada motivasi kerja. gaya kepimimpinan. kondisi kerja. maka secara langsung perilaku pada saat bekerja akan menjadi tidak selamat.dipenuhi. hubungan antar pribadi. dan supervise. Menurut penelitian yang dilakukan Shinta Dwi (2009) dimana secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi dengan perilaku tidaka aman. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. apabila faktorfaktor ekstrinsik ini tidak dipenuhi makan. 80 .

Teori tersebut memberikan pengertian terhadap tindakan preventif dan menggambarkan semua factor yang berkaitan terhadap terjadinya kecelakaan atau memperkirakan dengan alasanalasan yang akurat kemungkinan sebuah kecelakaan akan terjadi. Teori Domino Heinrich Dalam Teori Domino Heinrich. mengakibatkan seorang pekerja kurang hati-hati. kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: kondisi kerja. Colling (1990) telah mencatat teori-teori kecelakaan sebagai berikut : 1. Heinrich (1931) berpendapat bahwa kecelakaan pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan. tindakan tidak aman. dan banyak membuat kesalahan. kecelakaan dan cedera.2. yakni pada orang yang memiliki sifat tidak baik (misalnya keras kepala) yang diperoleh karena faktor keturunan.1. pengaruh lingkungan dan pendidikan. kelalaian manusia.4 Teori Kecelakaan Kerja Terdapat sejumlah teori tentang kecelakaan. Mekanisme terjadinya kecelakaan diuraikan dengan “Domino Sequence” berupa: a. 81 . Sebelum memahami bagaimana kecelakaan itu dapat terlebih dahulu kita harus memahami urutan bagaimana kecelakaan terjadi dan penyebabnya. Ancestry and environment.

jika satu bangunan roboh. memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya. Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya. kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Dengan penjelasannya ini. kecacatan dan bahkan kematian. Fault of person. Jika satu kartu jatuh. Menurut Heinrich. maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama. e. c. kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja. tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. Menurut penelitian yang dilakukannya. Pada umumnya disertai dengan kerugian. merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan tersebut di atas yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan.b. Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama 82 . tindakan yang berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain. kecelakaan mengakibatkan cedera/luka atau berat. Accident. Injury. Unsafe act and mechanical or physical hazards. d.

kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab-akibat. perbuatan dan kondisi tidak aman (hazard). serta cidera. Birds dalam Suardi (2005) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. yaitu manajemen. dan kerugian. Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memeperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. 83 . satu domino diantaranya. Pada tahun 1967. kesalahan seseorang. gejala. terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar.yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya dengan membuang hazard. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan Heinrich dalam Suardi (2005) menemukan sebuah teori yang dinamakan “Teori Domino”. Teori itu menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera. Praktek di bawah standar (unsafe acts) dan kondisi di bawah standar (unsafe conditions) merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan dan merupakan penyebab utama dari kesalahan manajemen. kontak. Dalam teorinya. sumber penyebab dasar. Heinrich mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan. yaitu kebiasaan. kecelakaan.

Preconditions for Unsafe Acts a.Unsafe Supervision a. Poor practice of operator 3. pra-kondisi yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman (preconditions for unsafe acts). Unsafe Act a. Swiss Cheese Model memberikan informasi perihal bagaimana suatu tindakan tidak aman dapat terjadi. Conditions of operator b. Failure to correct problems d. pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision). Supervisory violations 84 . Inadequate supervision b. pengaruh organisasi (organizational influences). Teori Chess Model Dalam teori ini. Informasi berikut. tindakan tidak aman (unsafe acts). Types of Human Errors: 1. Improper planning c. Errors b. James Reason membagi penyebab kelalaian/kesalahan manusia menjadi 4 tingkatan: 1.2. Berbeda dengan teori Domino Heinrich. menunjukkan bagaimana terjadinya suatu tindakan tidak aman itu. Violations 2.

manajemen yang justru dituntut untuk melakukan segala upaya yang diperlukan untuk melindungi karyawannya 3. Agar kecelakaan dapat dicegah.1. and organizational influences) sama-sama mempunyai lubang. Organizational climate b. Melalui Swiss Cheese Model. Teori Kecelakaan Pettersen Model ini berbeda dari model Ferrell. Melalui pendekatan ini. dimana model ini menyertakan 2 (dua) kemungkinan penyebab kecelakaan seperti yang dikemukakan dari teori domino: kesalahan manusia atau kesalahan sistem. 85 . karyawan tidak lagi menjadi pihak yang melulu dipersalahkan jika suatu kecelakaan terjadi. preconditions for unsafe acts. Penyebab-penyebab kecelakaan dan atau insiden dapat bersumber dari salah satu atau keduanya. Jika keempat keju ini (unsafe act. berbagai macam types of human errors ini merepresentasikan lubang pada sebuah keju. teori ini mampu memberi banyak sumbangan atas pencegahan kecelakaan kerja. Dalam berbagai aspek. Organizational InfluencesResource management a. unsafe supervisions. maka kecelakaan menjadi tak terhindarkan. Organizzational process Dalam Swiss Cheese Model. manajemen mesti mengenali secara spesifik kemungkinan terjadinya kelalaian/kesalahan manusia pada tiap tahapan pekerjaan yang dilakukan karyawan.

Teori ini mengemukakan bahwa pengambilan keputusan yang salah pada suatu kondisi yang disadari atau tidak bertindak tidak aman. ergonomic.Teori ini mengadopsi teori Ferell yang menyertakan kesalahan sistem disamping kesalahan manusia. Berkali-kali pekerja akan memilih untuk mengerjakan tugas dengan tidak aman karena sederhana saja.Model ini menyatakan bahwa di belakang kesalahan manusia ada 3 (tiga) kategori besar: beban yang berlebih. dan lain-lain. Teori ini mengkategorikan tiga kelompok besar penyebab kecelakaau yaitu overload (sama dengan teori Ferell). dan pengambilan keputusan yang salah. dikarenakan tekanan dari teman. Beban yang berlebih kurang lebih seperti Ferrell Model. tekanan produksi. Teori Loss Causation Model Loss Causation Model berisikan petunjuk yang memudahkan penggunanya untuk memahami bagaimana menemukan faklor penting dalam rangka mengendalikan meluasnya kecelakaan dan kerugian termasuk persoalan manajemen. Kategori ini mengajukan bahwa para pekerja sering melakukan kesalahan melalui keputusan-keputusan secara sadar atau tidak sadar. Bird dan Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss) disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor 86 . 4. ini lebih masuk akal dalam situasi mereka mengerjakannya dengan tidak aman daripada mengerjakannya dengan aman. Perbedaan yang utama adalah pada kategori ketiga yaitu keputusan yang keliru. prioritas sistem dimana mereka berada. rangkap. dan keputusan yang keliru.

Penyebab lack of control yaitu: a. c. tidak sesuainya design engineering. Inadequate programe Hal ini dikarenakan program yang berhubungan dengan ruang lingkup. Inadequate compliance -with standards Kurangnya pemenuhan sering terjadi. Lack of Control (kurang kendali) Pengendalian adalah salah satu faktor penting dalam meneegah terjadinya kecelakaan. Inadequate programe standards Tidak spesifiknya standar. 3. Personal factor. Faktor substandard diantaranya tindakan tidak aman seperti mengoperasikan unit 87 standar merupakan penyebab yang tidak bervariasi yang . 2. b. Job factor. faktor kepemirnpinan atau kepengawasan. yang terdiri dari: 1. Basic Causes: (penyebab dasar) Penyebab dasar terjadinya kecelakaan disebabkan oleh: a.yang berurutan seperti yang terdapat dalam Loss Causation Model. Immediate causes meliputi faktor sub-standard dan faktor kondisi. standar tidak jelas atau standar tidak baik. Immediate Causes Suatu kejadian yang secara cepat memicu terjadinya kecelakaan bila kontak dengan bahaya. b.

b. letak. perlengkapan. Menurut Julian B. ventilasi iklim kerja dan lain-lain. yakni : a. Memperkecil (menekan) kejadian yang membahayakan dari mesin. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga 2. Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut. material dan struktur perencanaan b.1.1. 2.6 Klasifikasi kecelakaan Akibat Kerja Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut ILO tahun 1962 adalah sebagai berikut: 88 . mesin.5 Pencegahan Kecelakaan Menurut Bennett NBS (1995) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati dengan dua aspek. c. cara kerja. Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsure yang berkaitan). Aspek perangkat keras (peralatan. dsb). Memberikan pendidikan (training) kepada tenaga kerja atau karyawan tentang kecelakaan dan keselamatan kerja. faktor kondisi seperti kebisingan. d.tanpa ijin.Olishifki (1985) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut : a.

terkecuali benda jatuh. f. Bahan-bahan. Peralatan lain. Klasisfikasi menurut penyebab. Terkena arus listrik h. Amputasi. Tertimpa benda jatuh. d. e. antara lain: a.1. Diskolasi atau keseleo. antara lain: a. Mesin. Patah tulang. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan. c. c. 89 . e. Lingkungan kerja. g. e. Tertumbuk atau terkena benda-benda. Memar dan luka dalam yang lain. b. f. Regang otot atau urat. Alat angkut dan alat angkat. d. Gegar dan remuk. d. b. antara lain: a. Terjatuh. c. Kontak dengan bahan-bahan yang berbahaya atau radiasi 2. Pengaruh suhu tinggi g. b. 3. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan. Luka-luka lain. zat-zat dan radiasi. Terjepit oleh benda.

Pengaruh arus listrik. Leher c.h. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh. bahaya ditempat kerja adalah segala sesuatu di tempat kerja yang dapat malukai pekerja. Luka bakar. Anggota atas e. baik secara fisik maupun mental. Keracunan-keracuan mendadak (akut). Pengaruh radiasi. Kelainan umum 2. i. j. n. Banyak tempat g. Kepala b. 90 . Sedangkan menurut Labor Occupational Health Program. antara lain: a. l. Anggota bawah f. Mati lemas.2 Bahaya Menurut AS/NZS 4350:2004. Badan d. Akibat cuaca dan lain-lain. m. Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya. 4. k. bahaya adalah suatu sumber potensial yang merugikan.

explosive. seperti bakteri. 1996. produk. irritant. dan struktur (ILO encyclopedia). corrosive. virus. Bahaya dalam K3 adalah bahaya yang terdapat dilingkungan kerja yang dapat berasal dari bahan baku/material. tempratur ekstrim. radiasi. getaran. padar yang mempunyai sifat toksik. 2004) 1. Australia). 2002. 2. lingkungan. reactive. jamur.Bahaya mewakili satu sumber energy yang memilki potensi yang dapat menyebabkan terjadinya cidera pada pekerja. proses produksi. 2009). Chemical hazard Bahan kimia berbahaya dalam bentuk gas.1 Jenis-jenis Bahaya Jenis-jenis bahaya yang berada di tempat kerja secara garis besar dikelompokan menjadi (Wells.2. Donoghue. cair. 3. Physical hazard (Bahaya Fisik) Berupa energy seperi kebisingan. flammable. proses atau cara kerja yang dapat menimbulkan kerugian terhadap keselamatan dan kesehatan seseorang (Workover.Hazard atau bahaya adalah potensi yang dimiliki oleh bahan/ material. 91 . asphyxia. kerusakan pda peralatan. tekanan udara. Plog. pencahayaan. 2. limbah dan pekerja itu sendiri (Hendra. lingkungan kerja. Biological hazard Bahaya yang berasal dari mikroorganisme khususnya yang pathogen yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. proses kerja.

loncatan listrik/ listrik statik. tersayat. kekerasan ditempat kerja.4. 2.2. Ergonomic (Aspek ergonomik) Merupakan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan sebagai akibat dari ketidaksesusaian antara desain kerja dengan pekerja. terjepit. 6. tertusuk. 2000) 92 . Mechanical hazard (bahaya mekanik) Bahaya yang terdapat pada benda-benda atau proses yang bergerak yang dapat menimbulkan dampak seperti terpotong. tekanan pekerjaan. Psychological hazard (bahaya psikososial) Stress. dkk.Ada tiga jenis pengendalian (Diane Bush.Electrical hazard (bahaya listrik) Merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik pendek (konsleting). 7. Berbagai metode untuk melindungi pekerja atau pengendalian bahaya telah diciptakan. dan cara kerja yang salah 5 . pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang. tergores.2 Pengendalian Bahaya Pekerja tidak dapat dilindungi apabila bahaya yang ada belum diidentifikasi dan dievaluasi. jam kerja yang panjang.

Untuk menjadi efektif.Yang termasuk dalam jenis pengendalian engineering antara lain adalah : a. Yang termasuk dalam pengensalian administrative antara lain : a. Pengendalian Administratif Pengendalian membatasi administrative melalui adalah rencana pengendalian kerja. Pengendalian Engineering Adalah pengendalian yang dilakukan dengan tujuan mengurangi bahaya pada sumber dan media transmisinya. tetapi digunakan untuk membatasi waktu kontak antar pekerja dengan bahaya.1. Mengisolasi proses atau pekerja d. Pengadaan ruang control 93 . Memasang ventilasi buangan local 2. Rotasi atau pergantian shift kerja b. Mendesain ulang mesin b. pengendalian administrative bergantung pada perilaku manusia. untuk pemaparan Pengendalian administrative tidak menghilangkan bahaya secara langsung. Pengendalian engineering merupakan pengendalian yang terbaik karena menghilangkan bahaya yang ada atau menghilangkan kemungkinan bahaya tersebut mengenai pekerja. Sasaran dari pengendalian teknik adalah bahaya yang secara langsung dan efektifitasnya tidak tergantung pada perilaku pekerja. Menggunakan produk yang lebih aman c.

Alat pelindung diri digunakan sebagai cara terakhir untuk melindungi pekerja bila pengendalian engineering dan administrative tidak mungkin dilakukan atau dalam keadaan darurat. Monitoring lingkungan 3.c. Ear plug dan ear muff.Alat pelindung diri tidak menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yang ada. Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadapa potensi bahaya/kecelakaan kerja akibat proses produksi atau pekerjaan. diantaranya : 1. rapi. pelindung kaki 94 . Pengadaan color code labeling dan material safety data sheet (MSDS) e. Safety shoes. Standard Operation Procedure (SOP) DAN Work Instruction h. Pemeriksaan kesehatan g. Kebijakan-kebijakan K3 i. Ada banyak sekali jenis-jenis alat pelindung diri. proteksi pendengaran 2. Housekeeping atau penataan tempat kerja yang ringkas. Pengadaan pelatihan d. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya Dengan menempatkan penghalang antara pekerja dengan bahaya. f.

Helm. asap. Safety goggle. risiko diukur berdasarkan adanya kemungkinan terjadinya suatu kasus dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan.Risiko dalam konteks K3 berarti besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan potensi kerugian yang muncul. Sarung tangan 6.3. Safety risk (risiko keselamatan) Risiko keselamatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan rendah untuk terjadi tetapi memiliki konsekuensi besar.3.3 Risiko Menurut AS/NZS 4360:2004. Kolluru. bahan kimia. melindungi pernafasan dari debu.1 Jenis-jenis Risiko Adapun jenis-jenis risiko yaitu (Rao V. pelindung kepala 5. Masker. 95 . dkk.Risiko ini dapat terjadi sewaktu-waktu. kerusakan property dan kerugian produksi dan penjualan. 2. kehilangan hari kerja. Kerugian-kerugian yang biasanya terjadi dalam risiko keselamatan adalah cedera. risiko adalah suatu kesempatan dari kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan dampak pada sasaran. 1996) a. baik dampak kesehatan maupun yang lainnya. uap. bersifat akut dan fatal. fume 2. pelindung mata 4.

berubahnya fungsi dan kapasitas habitat dan ekosistem serta kerusakan sumber daya alam d. c. Health risk (risiko kesehatan) Risiko kesehatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk kterjadi tetapi memiliki konsekuensi yang rendah. 96 . contohnya adalah kelangsungan suatu bisnis. Penyakit-penyakit yang terjadi misalnya gangguan pernafasan. Financial risk (risiko keuangan) Risiko keuangan berkaitan dengan masalah ekonomi. Ciriciri risiko lingkungan adalah perubahan yang tidak signifikan. gangguan syaraf. Enviromental risk (risiko lingkungan) Risiko ini berhubungan dengan keseimbangan lingkungan. gangguan reproduksi dan gangguan metabolic atau sistemik.b. asuransi dan inventasi e. Public risk (risiko masyarakat umum) Risiko ini berkaitan dengan kesejahteraan kehidupan orang banyak. Sehingga hal-hal yang tidak diharapkan seperti pencemaran air dan udara dapat dihindari. berdampak besar pada populasi atau komunitas.Risiko jenis ini dapat terjadi kapan saja secara terusmenerus dan berdampak kronik. mempunyai masa laten yan panjang.

4. 97 .4 Manajemen risiko Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. 7. Melakukan pengendalian risiko yang tidak dapat diterima. 2. 5. manajemen risiko adalah pemeliharaan. 3. Melaksanakan identifikasi risiko. Menetapkan tujuan dan lingkup pelaksanaan manajemen risiko. 6. dan struktur yang mengacu langsung pada pengetahuan efektif terhadap kesempatan potensial dan efek yang merugikan. yaitu : 1. Melakukan pemantauan dan tinjauan ulang program manajemen risiko yang telah dilaksanakan. Menetapkan evaluasi untuk menetapkan skala prioritas dan membandingkan dengan kriteria yang ada. Komunikasi dan konsultasi yang dilakukan dalam proses manajemen risiko yang melibatkan pihak internal dan eksternal. Beberapa tahapan dalam melaksanakan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999.2. Melakukan analisis risiko untuk menetapkan kemungkinan dan konsekuensi yang akan terjadi serta menetapkan tingkat risiko. proses.

1 Tujuan Manajemen Risiko Manajemen risiko bertujuan untuk memaksimalkan kemajuan dalam mencapai tujuan organisasi dengan cara meminimalkan kerugian yang akan terjadi. 3.4.\ COMMUNICATE AND CONSULT ESTABLISH CONTEXT MONITOR AND REVIEW ANALYSE RISKS EVALUATE RISKS TREAT RISKS Gambar 2.1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999 2. RISKS ASSESMENT IDENTIFY RISKS 98 . Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian. 2. Membantu meminimalisasikan meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi. (Supriyadi. 2005). Tujuan manajemen risiko menurut AS/NZS 4360 (1999) adalah sebagai berikut : 1. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan kerugian.

2.5 Metode Identifikasi Risiko Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi risiko untuk mengetahui faktor penyebab dan proses terjadinya konsentrasi atau dampak. 6. 3. 2. Mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan perlindungan aset. Meningkatkan produktifitas kerja. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif.4. produksi dan mencapai performa perusahaan yang lebih baik. 4. Menciptakan manajemen proaktif bukan reaktif. 5. 5. lingkungan kerja. Melakukan peningkatan pengmbilan keputusan pada semua level. Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan dari kemungkinan tersebut.2 Manfaat Manjemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 (2004) manfaat menerapkan manjemen risiko adalah : 1. Beberapa contoh metode identifikasi risiko tersebut adalah sebagai berikut : 99 . Menyusun program yang tepat untuk menimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan.4. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. 2.

konsep design atau prosedur operasi (Diberadinis. fasilitas. Failure Mode Effect Analysis Failure Mode Effect Analysis adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis sistem yang berhubungan dengan engineering yang mungkin mengalami kegagalan dan efek yang ditimbulkan dari kegagalan. Failure Mode Effect Analysis secara sistematis menilai komponen dari dari suatu sistem tentang bagimana sistem dapat gagal lalu mengevaluasi efek dari kegagalan tersebut. 1990). d. 1999). Preeliminary Hazard Analysis dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem tersebut. HAZOPS digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan safety 100 . c. Safety checklist dapat digunakan untuk mengevaluasi perangkat peralatan. tingkat bahaya yang dihasilkan dari kegagalan dan bagaimana kegagalan tersebut dicegah atau diminimalisasi (Colling.a. 1990). Preeliminary Hazard Analysis Preeliminary Hazard Analysis adalah suatu metode yang dilakukan dalam mengetahui bahaya-bahaya awal pada suatu sistem baru. (Colling. b. Check List Check List digunakan sebagai cara untuk mengetahui kondisi awal pada suatu kondisi yang meliputi aspek-aspek safety. Hazard and operability Study and operability Study (HAZOPS) dapat digunakan untuk Hazard mengidentifikasi bahaya pada industri kimia.

1996). f. 2. 101 . c) Mengidentifikasi bahaya atau risiko keselamatan kerja yang ada pada setiap tahapan tugas.5. JSA dapat digunakan untuk menghulangkan atau mencegah bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. 1996). e.dan bahaya pada lingkungan dan memproses masalah yang dapat berdampak pada efisiensi operasi (Kolluru.1 Job Safety Analysis (JSA) Menurut OSHA 3071:2002 JSA (Job Safety Analysis) merupakan salah satu teknik atau cara untuk mengidentifikasi risiko sebelum risiko tersebut terjadi pada suatu kegiatan yang sedang berjalan. 1996). Job Job Safety Analysis Safety Analysis adalah suatu proses yang dilakukan dalam mengidentifikasi bahaya melalui langkah-langkah kerja yang ada. Fault Tree Analysis (FTA) Fault Tree Analysis (FTA) dapat digunakan untuk memprediksi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau digunakan sebagai alat investigasi setelah terjadi kecelakaan (Geostsch. b) Membagi pekerjaan ke dalam tahapan tugas. membuat metode kerja yang lebih efektif Tahapan pelaksanaan Job Safety Analysis terdiri adari empat langkah yaitu : a) Memilih pekerjaan yang akan dianalisis. Setiap langkah dianalisis untuk mengisentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut (Geotsch.

Task Berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. 1990) : a. Job Berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan untuk masaing-masing tahapan kegiatan. c. Pendekatan JSA sangat mudah dipahami. 1999) : a. Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang nantinya dapat digunakan untuk melatih (sebagai bahan training) pekerja baru. c. yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. tidak membutuhkan suatu tahapan dalam training dan dapat dengan cepat disesuaikan dengan pandangan individu. Dokumentasi JSA juga dapat digunkan sebagai bahan studi. d. Job Safety Analysis berisikan informasi mengenai (Colling. Hazard (Bahaya) 102 .d) Menentukan prosedur atau tindakan pengendalian guna meminimalisasi risiko tersebut. Proses pada JSA dapat memberikan kesempatan pada individu untuk mengenali natau memberikan pengetahuan mengenai operasi. b. b. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan metoda Job Safety Analysis yaitu (Diberardinis. e.

mekanik. e. populasi. biologi. Probability (Kemungkinan) Berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera (sering. pemeriksaan dan pengujian peralatan kerja serta analisis data kecelakaan dan penyakit akibat kerja di perusahaan.Untuk mengetahui jenis bahaya (fisik. Menurut AS/NZS 4360 (1999) analisis risiko adalah suatu kegiatan sistematik dengan menggunakan informasi yang ada untuk mendeterminasi seberapa besar konsequensi (severity) dan tingkat keseringan (likelihood) suatu kejadian yang ditimbulkan. 2. Consequency Berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan pekerjaan. d. ergonomi) apakah yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan. Selain sejumlah metode di atas.6 Analisis Risiko Menurut Kolluru (1996). 103 . kimia. prose identifikasi risiko juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman terdahulu atau masalah yang serupa. konsultasi dengan pihak pekerja. analisis risiko adalah sistematika penggunaan informasi yang tersedia untuk mengidentifikasi hazard dan untuk memperkirakan suatu risiko terhadap individu. bangunan dan lingkungan. inspeksi atau audit K3 di tempat kerja. terkadang) dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan.

jumlah dan karakteristik pekerja yang terpapar bahaya. yang digunakan dalam proses kerja. Probabilitas Merupakan besaran kemungkinan timbulnya risiko. Sumber risiko Merupakan asal atau timbulnya risiko yang dapat berupa material. 2006). pekerja dapat berperilaku tidak aman. Faktor probabilitas juga berkaitan dengan faktor perilaku pekerja dalam melakukan pekerjaannya. kondisi area kerja. kondisi area kerja dan perilaku pekerja. Dalam bekerja. keterbatasan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki pekerja saat pekerja seperti kondisi fisik pekerja yang sakit saat melakukan 104 . Tujuan dilakukannya analisis risiko adalah untuk membedakan antara risiko kecil dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko (AZ/NZS 4360. peralatan kerja.Analisis risiko adalah kegiatan menganalisis suatu risiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan dari akibat suatu risiko (Purwanto. Hal itu dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap bahaya dan sumber risiko yang ada dalam proses kerja dan di tempat kerjanya. jumlah dan karakteristik bahaya yang memapar pekerja. 1999). b. Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis risiko adalah : a. Ditentukan dengan menganalisis frequensi paparan bahaya terhadap pekerja. kondisi peralatan kerja. serta efektifitas tindakan pengendalian bahaya yang telah dilakukan sebelumnya.

kerugian finansial tinggi. menimbulkan kerugian akibat berkurangnya kemampuan berproduksi. kerugian finansial besar. kerugian finansial rendah Membutuhkan penanganan P3K. efeknya mempengaruhi tetapi tidak merugikan lingkungan sekitar. penanganan dilakukan tanpa bantuan pihak luar. Skala ukur konsekuensi dan kecenderungan (likelihood) secara kualitatif menurut Risk Management AS/NZS (1999) yang dapat dilihat pada tabel 2. Konsequensi Merupakan besaran dampak yang ditimbulkan dari risiko. Ditentukan dengan analisis atau kalkulasi statistik berdasarkan data-data yang terkait atau melakukan estimasi subjektif berdasarkan pengalaman terdahulu. penanganan membutuhkan bantuan pihak luar. Cidera berat. Analisis risiko kualitatif Umumnya pada metode ini menggunakan bentuk matriks risiko dengan dua parameter.2. Tabel 2.1 dan tabel 2.pekerjaan atau stress yang dialami pekerja yang berpengaruh dalam penurunan konsentrasi pekerja. kerugian finansial sedang. c.1 Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif Level 1 2 Deskripsi Insignificant Minor Definisi Tidak terjadi cidera. 3 Moderate 4 Major 105 . yaitu peluang dan akibat. Menurut AZ/NZS 4360 (1999) terdapat tiga metode yang digunakan dalam menganalisis risiko di tempat kerja : 1. Membutuhkan penanganan medis.

perbedaannya yaitu uraian atau deskripsi dari parameter yang ada pada analisis semikuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. Terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi dari paparan dengan probabilitas terjadinya risiko. karena risiko dibagi menjadi beberapa kategori. Analisis Semikuantitatif Analisis semikuantitatif bukan bagian dari analisis kuantitatif. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Tabel 2. yaitu: 106 . efeknya mempengaruhi dan merugikan lingkungan sekitar. kerugian finansial yang sangat besar.Menyebabkan kematian. Menurut AS/NZS 4360:1999.2 Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif Level A B C D E Definisi Pasti terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Akan terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Sewaktu-waktu mungkin akan terjadi Sewaktu-waktu dapat terjadi Mungkin terjadi pada keadaan-keadaan tertentu saja Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Deskripsi Almost Likely Possible Unlikely Rare 5 Catasthropic 2. Dalam metode analisis semikuantitatif terdapat 3 unsur yang dijadikan pertimbangan. yaitu probabilitas (likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi. analisis semikuantitatif mempertimbangkan kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen. Pada prinsipnya metode ini hampir sama dengan analisis kualitatif. analisis ini menghasilkan prioritas yang lebih rinci dibandingkan dengan analisis kualitatif.

000$2. kerusakan besar-besaran. kerugian $50.3. efek yang merugikan terhadap lingkungan.a. kerusakan kecil dengan kerugian produk sebesar <$500. Important Membutuhkan penanganan medis. kerugian $5. dan menetap terhadap lingkungan.000. Disaster Kematian. atau penyakit yang ringan. Noticeable Luka ringan.000-$50. Konsekuensi (consequences) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek yang ditimbulkan oleh sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Paparan (exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi interaksi antara sumber risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja serta Kategori Catastrophic Rating 100 50 25 15 5 1 menggambarkan kesempatan yang terjadi ketika sumber risiko ada 107 .000. Tingkat konsekuensi metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. memar.000. terhentinya aktivitas.000. kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Tabel 2. Very serious Cacat atau penyakit yang menetap.000-$500. kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan dengan kerugian $500. Serious Cidera atau penyakit yang serius tetapi sementara (tidak menetap). kerusakan sementara terhadap lingkungan.000. efeknya dapat dirasakan tetapi tidak terlalu merugikan.000.000.3 Kategori Konsekuensi Secara Semikuantitatif Deskripsi Kerusakan yang sangat parah dengan kerugian di atas $1. kerugian sebesar $500-$5. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) b.

5 Tabel 2. Tingkat konsekuensi tersebut akan ditentukan ke dalam beberapa kategori tingkat paparan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.yang akan diikuti oleh dampak atau konsekuensi yang akan ditimbulkan. Kemungkinan (likelihood) Kemungkinan adalah nilai yang menggambarkan kecenderungan terjadinya konsekuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Tabel 2.5 Kategori Likelihood Secara Semikuantitatif Kategori Deskripsi Almost certain Akibat yang paling mungkin timbul apabila kejadian tersebut terjadi Likely Kemungkinan terjadi 50-50 Rating 10 6 108 .5 : Risk Management AS/NZS 4360 (1999) c.4 KategorExposure Secara Semikuantitatif S Kategori u Continously m Frequent Occasionaly b Infrequent e Rare r Very rare Deskripsi Terjadi secara terus-menerus atau setiap hari Terjadi kira-kira satu kali setiap hari Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun Pernah terjadi tetapi sangat jarang Tidak pernah terjadi Rating 10 6 3 2 1 0.4.

dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan.1 Tingkat risiko (level of risk) pada analisis semikuantitatif merupakan hasil perkalian dari variabel konsekuensi.6 Kategori Tingkat Risiko (Level of Risk) dengan Metode Semikuantitatif Tingkat Risiko (Level of Risk) >350 Comment Very high Tindakan Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima 180-350 Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin 70-180 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis 20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan <20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 109 . paparan.Unsual Remotely possible Conceivable Kemungkinan terjadi tetapi jarang Kejadian yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi Mungkin terjadi. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun.5 0.6. Nilai risiko = Consequences (C) x Exposure (E) x Likelihood (L) Tingkat risiko metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Practicaly Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak mungkin impossible terjadi Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 3 1 0.

Semikuantitatif a. Orang lebih percaya angka daripada penglihatannya. Total risiko adalah total dari semua potensi risiko.7 Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross (1998) No. a. Analisis Kuantitatif Merupakan langkah pertama dalam kuantifikasi risiko adalah mendefinisikan kemungkinan outcome.3. Metode Analisis 1. b. Keuntungan analisis kuantitatif antara lain: a. Harus mengacu model. Membuktikan kebenaran bahwa hasil intuisi kita bisa salah. b. Dalam menentukan angka konsekuensi menjadi seragam. c. Masing-masing metode analisis di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelemahan analisis kuantitatif antara lain: a. Kelebihan Lebih mudah Lebih cepat Lebih akurat daripada analisis kualitatif Lebih mudah dan cepat daripada analisis kuantitatif Kekurangan Kurang akurat daripada analisis yang lain a. Kurang akurat daripada analisis kuantitatif b. Mempertimbangkan secara detail faktor dari efek risiko. 3. b. Kualitatif 2. yaitu (Cross. 1998): Tabel 2. Skala yang digunakan harus tepat untuk menentukan tingkat risiko a. Kuantitatif Lebih akurat daripada analisis lainnya 110 . Waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada analisis lainnya b.

dan pertimbangan pemaparan yang dijadikan faktor tingkat risiko menurut AS/NZS 4360:1999.b. penulis menggunakan metode semikuantitatif berdasarkan pertimbangan kelebihan metode analisis risiko menurut Cross. 111 . yaitu lebih akurat daripada analisis kualitatif. Jean Cross. 1998 Dari ketiga metode analisis yang ada. lebih mudah dan cepat daripada analasis kuantitatif. Sumber data harus memadai dan representative Sumber: Risk Management Study Notes.

Maka dapat diketahui hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. . Pada gambar pertama .BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH 3.1 Kerangka Berpikir Penelitian ini bertujuan menghubungkan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. Setelah mendapat hasil analisis risiko maka gambar pertama akan menjelaskan hubungannya dengan gambar kedua yaitu kejadian kecelakaan kerja yang didapat berdasarkan data kecelakaan kerja perusahaan . Setiap tahapan analisis risiko. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360. 112 . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 secara kulaitatif. peneliti melakukan komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder internal.peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. 1999/2004.

Analisis Risiko Menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan Menentukan nilai risiko = konsekuensi x paparan x kemungkinan Menentukan kategori tingkat risiko

Kejadian kecelakaan kerja di Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir Analisis Tingkat Risiko

113

3.2 Definisi Istilah Tabel 3.1 Definisi Istilah Tahapan Manajemen Risiko (Menjelaskan) No. Nama Istilah Definisi Sebuah sistematika Alat Ukur Pedoman Cara Ukur Wawancara dan

1. Analisis Risiko

a. proba

yang wawancara dan observasi lembar

b. conse

menggunakan informasi didapat menentukan seberapa kejadian sering tertentu

c. expos

yang observasi untuk

dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut kegiatan shredding 1.1 Probabilitas (probability) Kemungkinan terjadinya kecelakaan kegiatan shredding Pedoman Wawancara dan 10 pada proses

Alm

suatu wawancara dan observasi dari lembar proses observasi 3 6

pali

Like

kec

Uns

nam 1

Rem

keja

kem 0,5

Con

114

kec

pem 0,1

Pra

tida 1.2 Konsekuensi (consequence) Perkiraan dampak Pedoman negative mungkin dari Wawancara dan 100

Cat

yang wawancara dan observasi timbul lembar kegiatan observasi 50

keru

ling

Dis

proses Shredding

perm

terh 25

Ver

keru

perm 15

Seri

men

perm

buru 5

Imp

med

dala

keru 1

Not

ring

keru

pros 1.3 Pajanan (exposure) Frekuensi pajanan Pedoman bahaya kegiatan Wawancara dan 10

Con

dari wawancara dan observasi proses lembar

seha

115

shredding

observasi 6

Fre

seha 3

Occ

sam 2

Infr

sam 1 0,5

Rar

Ver

terja 1.5 Tingkat Risiko Kategori berdasarkan hasil ini Rumus analisis Mengkalikan dari risiko semi consequence likeklihood exposure . >350 x x

Ver

sam

perkalian kuantitatif

antara probability, “tingkat risiko consequence, dan exposure kegiatan Shreeding pada proses

180350 70180 20-70

Prio

sece

Sub

perb

Prio

<20

Acc

sela

116

kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah. Nama Istilah Kecelakaan Kerja di Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk Definisi Alat Ukur Cara Ukur Kecelakaan kerja Pedoman Wawancara dan Gambaran kejad adalah kejadian Wawancara dan Observasi Shredder facility P yang tidak lembar observasi diinginkan yang berhubungan dengan pekrjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang.Tabel 3. 2003) 117 . 1.2 Definisi Istilah Kecelakaan Kerja (Dijelaskan) No.

PT.BAB IV METODE PENELITIAN 4. 4. unit Geocycle. Informan 118 .Holcim Indonesia Tbk.2. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Shredder facility.1.1 Metode Penelitian Metode penelitian ini adalah metode kualitatif.3. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2010 4.Hasil analisis risiko yang diperoleh dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT. Pada penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja diggunakan metode analisis risiko semikuantitatif berdasarkan standar AS/NZS 4360:1999/2004. yang berlokasi di Jalan Raya Narogong Kecamatan Kelapa nunggal Bogor.2.2. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.2. 4. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.

korban kecelakaan kerja yang bertanggung jawab terhadap 4. Data sekunder diperoleh dari wawancara dan observasi kepada petugas OS&H berupa profil perusahaan dan data kecelakaan kerja di Shredder facility. pekerja yang bertugas pada bagian pengoperasian shredder 4. Pekerja PT. Sedangkan. I 3.4 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Pekerja yang mengetahui kronologi kejadian kecelakaan kerja yang pernah terjadi Sebagai informan pada penelitian ini adalah : 1.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility 4. Pekerja unit Shredder facility PT. pekerja shredder dan korban kecelakaan. selain itu data primer dapat pula diperoleh melalui observasi langsung dengan menggunakan alat dokumentasi berupa kamera. yaitu dengan mengamati pekerja pada setiap tahapan proses shredding di PT Holcim Indonesia 119 . Pekerja unit Shredder facility PT.Holcim Indonesia Tbk 2. data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas OS&H.Holcim Indonesia Tbk yang berinteraksi langsung dengan proses Shredding. penanggung jawab Shredder. penanggung jawab Shredder facility 3.Kriteria informan pada penelitian ini adalah : 1. petugas OS&H 2.

Penanggung jawab Shredder.2 120 .1 Data Sekunder No. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Instrumen Penelitian 1. Struktur Organisasi OH&S dan tahapan pekerjkaan Shredder facility 2. Data kecelakaan kerja Petugas OH&S. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Wawancara dan studi dokumen Pedoman Wawancara dan lembar observasi Petugas OH&S dan penanggung jawab Shredder Wawancara dan observasi Pedomana Wawancara dan lembar observasi Tabel 4.Tabel 4.

dilanjutkan dengan identifikasi risiko menggunakan 121 .Data Primer No. Penanggung jawab Shredder. 1999/2004. Gambar pekerjaan Shredder facility Petugas OS&H. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Observasi Kamera 2.5 Pengolahan Dan Analisis Data Pada tahap awal penelitian ini. Diawali dengan penentuan ruang lingkup dengan melihat struktur organisasi OH & S PT.Holcim Indonesia Tbk dan tahapan pekerjaan di Shredder facility. Nama Data Sumber Metode Pemgumpulan Instrumen Penelitian 1. peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. Risiko di Shredder Facility Wawancara Pedoman Wawancara 4. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360.

penyebab. paparan. Selanjutnya tingkat risiko yang didapatkan dari hasil analisis risiko dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT. kemudian melakukan analisis risiko dengan menggunakan metode analisis semikuantitatif berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard 4360:1999/2004 untuk menentukan konsekuensi. dan kemungkinan. dan upaya pengendalian yang telah dilakukan pihak perusahaan. waktu kecelakaan kerja. yaitu tahun 2008 dengan melakukan wawancara dan studi dokumentasi. Langkah selanjutnya yaitu menentukan nilai risiko dengan rumus: Nilai Risiko : Konsekuensi x paparan x kemungkinan . kemudian menentukan tingkat risiko dari setiap tahapan pekerjaan dalam bentuk skor. dampak kecelakaan kerja dan pengendalian yang saat itu diterapkan.6 Validitas data 122 .job safety analysis ( JSA) untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. mendapatkan gambaran kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada shredder facility dari sejak awal berdirinya. 4. Data yang diperoleh dari hasil wawacara ini adalah kronologi kejadian kecelakaan kerja. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah. Setelah mendapatkan nilai risiko.

Validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi data. Risiko facility di Shredder Petugas penanggung Shredder. Teknik triangulasi data ini digunakan untuk keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding suatu data. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Data 1. peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Tabel 4. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 2. pekerja OS&H. Data Kecelakaan Kerja Petugas penanggung Shredder. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 123 . Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. pekerja OS&H. Dalam penelitian ini.3 Tabel Triangulasi Sumber No.

2.4 Triangulasi Metode No. 1.Sedangkan triangulasi metode adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda. Tabel 4. Nama Data Profil Perusahaan Alur pekerjaan Metode Wawancara dan observasi Wawancara dan Observasi 124 .

efisien dan produktif. maka dibentuk suatu tim yang ringkas tetapi memiliki kemampuan cepat dalam pembuatan peraturan.BAB V HASIL 5. standar K3 perusahaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan sistem manajemen K3.. kontraktor dan pengunjung Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5.1.1 Struktur Organisasi OH&S dan Tahapan Pekerjaan Proses Produksi Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 5.1 Struktur Organisasi OH&S Sesuai dengan tujuan Sistem Manajemen K3 untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman.Tim K3 di PT Holcim Indonesia Tbk ini disebut tim OH&S yang memiliki tujuan mencapai nilai nihil “nil” kecelakaan pada karyawan.1 Struktur Organisasi OH&S Corporate Holcim 125 .

identifikasi bahaya ini disusun oleh perwakilan unit kerjayang tergabung dalam Multi Diciplinary Team dengan anggota 34 orang 2. OH&S Pyramid ini wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota group Holcim dengan pencapauian green pyramid OH&S Green Pyramid Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5. Holcim mengembangkan OH&S Pyramid yang dijadikan standar K3 yang dibuat oleh Holcim dan diperkenalkan akhir tahun 2002. hadiah untuk karyawan. Kampanye K2 Kampanye K3 yang dilakukan secara aktif seperti 10 prinsip keselamatan. 126 .2 Green Pyramid 5.Dengan acuan kepada Undang-undang dan pemerintahan Indonesia serta OSHAS 18001.1.1 OH&S Project 1. Identifikasi Bahaya Identifikasi bahaya dilakukan secara serentak oleh seluruh organisasi. tema k3 bulanan. door to door OHS coaching.1.

presentasi di manager forum. Planned Inspection 127 . Penghargaan bagi karyawan Perlu adanya penghargaan individu bagi karyawan yang berpartisipasi dalam program K3. program ini baru diperkenalkan tahun 2006 6. Promosi program K3 baru d. 5. Induksi dan Training a. Kontraktor Training f. Safety Observation Tour Merupakan sarana untuk memperlihatkan kepedulian atasan akan keselamatan anggotanya 7. Peningkatan skill fire brigade c. penghargaan bagi karyawan 3.majalah K3 untuk karyawan. maka dibuatkan suatu sarana yang mudah dan jelas penanggungjawabnya untuk menindaklanjuti laporan bahaya dari karyawan. Pelaporan Bahaya Perlu tersedianyya sistem yang mudah bagi karyawan untuk melaporkan bahaya yang ditemuinya di tempat kerja. Sertifikasi juru las b. Sertifikasi operator forklift 4. Pelatihak K3 di training center e.

Fire Volunteer Untuk mempercepat penanganan kebakaran dan kecelakaan 14.Untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan keselamatan di tempat kerjanya. selain untuk membina pekerja juga untuk memperlihatkan komitmen Atasan akan K3 12. yang dilakukan pada bulan K3. Safety Talk Adanya komunikasi antara Pekerja dan Atasan. Induksi Keselamatan tamu adalah tanggung jawab Kita bersama. maka sudah kewajiban penerima tamu untuk memberikani induksi terhadap tamunya 10. 10 Peraturan Keselamatan Merupalakan pedoman bagi pekerja dan kontraktor akan peraturan keselatan di tempat kerja. Kesehatan Tempat Kerja Menciptkan tempat kerja yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas pekerja 11. OH&S Audit OH&S audit dilakukan secara berkala terhadap pelakasanaan sistem K3 128 . dengan melibatkan seluruh karyawan terutama karyawan tingkat dasar (member) 8. Perlombaan K3 antar unit kerja Diperlukan adanya sarana yang dapat meningkatkan kerjasama yang terkait dengan K3. diperkenalkan kepada seluruh pekerja semenjak April 2005 9. 13.

2 Tahapan Pekerjaan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 Shredder facility merupakan salah satu sub-bagian dari Geocycle. Proses di Shredder facility dilalui oleh beberapa tahap. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. Tahap Persiapan Awal (Housekeeping ) diawali dengan proses persiapan awal yang bertujuan agar proses kerja berjalan dengan baik dan bersih. Dimana Shredder adalah salah satu layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen. Membersihkan handrail Tahap membersihkan Handrail ini dilakukan setiap awal shift atu 3 kali dalam sehari. minyak atau solar. seperti : 1. Proses pencacahan limbah yang biasa disebut proses shredding terdiri dari beberapa tahapan yang saling berhubungan untuk setiap prosesnya. helper menggunakan air. 129 . biasanya pada proses persiapan awal ini para pekerja melakukan housekeeping seperti a. Tujuan dari pembersihan handrail ini adalah agar fasilitas shredder berada pada kondisi yang bersih dan aman. Posisi handrail berada melingkupi Shredder dan sebagian besar terletak pada ketinggian < 2 m.5. Untuk membersihkan handrail dari residu material.1.

Tujuan dari pengecekan chute magnet separator ini adalah melihat apakah chute magnet separator masih berfungsi dengan baik dan melihat apakah terdapat plak yang menempel pada chute magnet separator . d. 130 . gunting atau bar (tongkat panjang). Untuk membersihkan plak pada chute magnet separator. helper menggunakan cutter. sebelum Shredder diaktifkan pada awal shift . Untuk melancarkan screen. Mengecek chute magnet separator Tahap mengecek chute magnet separator ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari. Posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 m. c. helper menggunakan screw.b. Tujuan dari Adjusting belt conveyor adalah meluruskan belt conveyor yang keluar dari jalur akibat material. helper menggunakan bar (tongkat panjang). Untuk adjusting belt conveyor. Adjusting belt conveyor (meluruskan belt conveyor) Tahap Adjusting belt conveyor ini dilakukan seminggu sekali. Tujuan dari membersihkan screen ini adalah melancarkan screen dari material yang tersangkut. . Membersihkan screen Tahap membersihkan screen ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari khususnya ketika ada material yang tersangkut pada screen.

proses ini merupakan tahap awal dari proses pencacahan limbah di unit Shredder facility. Pada dasarnya kegiatan shredding di unit ini sudah dilakukan secara otomatis.2. Perapihan material oleh wheel loader Tahap perapihan material oleh wheel loader ini dilakukan setiap hari. Tujuan dari perapihan material oleh wheel loader ini adalah melihat agar material di storage rapi dan tidak berceceran keluar storage. khusus 131 . 3. Shredding merupakan inti dari kegiatan pada Shredder facility. pada tahap ini wheel loader yang memasukan material pada hooper. a. pekerja hanya bersifat mengawasi dan melakukan pembersihan. a. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. Proses Persiapan dan Penyimpanan Material Tahapan proses persiapan dan penyimpanan material pada storage antara lain. Shredding Procces Proses Shredding dilanjutkan dengan : Memasukan material menuju hooper shredder oleh wheel loader atau yang biasa disebut sebagai proses shredding.Material yang dimasukkan pada Hooper adalah berbagai material (cair dan padat). Shreeding material pada Hooper Tahap Shreeding material pada Hooper ini dilakukan setiap saat selama material tersedia. agar limbah cair lebih mudah bersatu dengan material lainnya.Material yang dirapihkan oleh wheel loader adalah berbagai material limbah (cair dan padat ) khusus limbah cair.

Memasukan product pada box dan pengiriman product Kegiatan selanjutnya adalah proses memasukan material ke dalam box untuk diantarkan ke pre-heater untu proses selanjutnya. b. khususnya saat terdapat residu dari material yang bersifat cairan. Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Tahap menebar serbuk gergaji dilakukan setiap hari. kegiatan ini dilakukan sesering mungkin oleh pekerja. kegiatan yang dilakukan pada saat ini adalah: a.limbah cair. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. 4. pada tahap ini helper yang memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. kegiatan ini dilakukan di lokasi penyimpanan hasil akhir product. kegiatan ini c. pada tahap ini helper yang melakukan penebaran serbuk gergaji. Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 132 . Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material Tahap Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dilakukan setiap hari. . tujuan dari memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material adalah agar aroma material yang sangat menyengat bisa sedikit diminimalisir. tujuan dari menebar serbuk gergaji adalah agar permukaan yang terkena ceceran dari material cair tidak membuat permukaan di sekitar shredder dilakukan sesering mungkin oleh pekerja menjadi licin.

Peralatan yang digunakan yaitu mesin pencacah atau shredder serta peralatan pendukung seperti bobcap. Seperti sosialisasi penggunaan APD. b. handrail sebagai alat pengaman 133 . kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material untuk dijadikan bahan bakar alternative pembuatan semen. truck dan crane. pada tahap ini box dibawa truck.. wheel loader. Material yang digunakan adalah limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. 2 orang helper. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material. membahas kecelakaan kerja dan hal-hal lain yang berkaitan dengan safety. Safety briefing Kegiatan ini dilaksanakan sebelum jam kerja. Proses shredding ini melibatkan pekerja sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang penanggung jawab lapangan. Mengirimkan box menuju tempat pembakaran Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran dilakukan setiap ketika material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran.Tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk dilakukan setiap material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. b. Pengendalian risiko yang telah dilakukan pada proses Shredding antara lain: a. pada tahap ini box dinaikan menggunakan forklift menuju truck. Sudah terpasangnya alat pengaman pada peralatan kerja seperti safety guard (batas antara mesin dengan area kerja) serta rail guard pada platformyang berada pada ketinggian.menuju tempat pembakaran. tersedianya hydrant .

Penggantian APD secara berkala terhadap peralatan kerja khususnya yang berkaitan dengan safety.2. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pihak perusahaan.1. dan helper .2. c.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset dan terjatuh . Tahun 2010 Identifikasi risiko keselamatan kerja pada proses shredding dilakukan dengan menggunakan metode JSA . e.1 Membersihkan Handrail Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. adanya emergency stop pada panel control untuk menghentikan proses kerja ketika terjadi kecelakaan kerja.Tersedianya alarm pada crane yang bertujuan untuk menandakan bahwa crane sedang beroperasi serta penerapan LOTO pada semua mesin. goggle. paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan 134 .1 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal (Housekeeping) 5. 5. earmuff. safety shoes. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja terpeleset akibat kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge. mask organic dan seragam kerja lengan panjang 5. penanggung jawab shredder.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk.ketika menaiki tangga. Pemasangan warning sign tentang penggunaan APD d. gloves. APD yang digunakan terdiri dari helmet.

Risiko terjatuh dapat terjadi karena handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. dan menggunakan APD lengkap (helmet. sarung tangan.2 Mengecek Chute Magnet Separator Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. Perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar.safety shoes.goggle. pekerja tidak selalu memegang handrail dan perusahaan telah melakukan upaya engineering control seperti memasang handrail pada platform.1. dan helper .safety shoes. sarung tangan. organic mask. memasang warning sign tentang penggunaan APD. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. organic mask. penanggung jawab shredder. seragam lengan panjang). seragam lengan panjang). Risiko terpeleset terjadi karena kondisi lantai Shredder yang mendaki dan licin karena ceceran oil sludge. paint sludge maupun zat cair lainnya serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. memasang warning sign 135 .2.goggle.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah terpeleset dan tersandung roller. safety briefing sebelum bekerja.safety shoes. safety briefing sebelum bekerja dan menggunakan APD lengkap(helmet. melakukan house keeping. 5. Administrative control seperti memasang warning sign tentang penggunaan APD. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai.

dan menggunakan APD lengkap. seragam lengan panjang).goggle. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. organic mask. terbentur penutup screen.1. mengambil batu. melakukan house keeping. dan helper. Administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. terjatuh. 5.2. 136 . safety briefing sebelum bekerja. menyabut benang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah tangan yang terputus. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang telah dilakukan yaitu tersedianya LOTO (Lock out tag out).safety shoes. Risiko terjatuh dapat terjadi karena lokasi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 M.3 Membersihkan Screen Tahap pekerjaan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatanhambatan seperti. terpeleset. sarung tangan. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang handrail pada tangga dan platform. dan menggunakan APD lengkap(helmet. penganggung jawab shredder. memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko tangan terputus disebabkan karena mesin screen yang berputar atau saat helper akan menyabut benang atau benda lainnya yang tersangkut pada screen.tentang penggunaan APD. helper menggunakan benda tajam atau bar. dan menggunakan APD lengkap.

Upaya pengendalian yang sudah dilakukan persusahaan adalah administrative control seperti memasang warning sign mengenai pemakaian APD.Risiko terpeleset dapat terjadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. 5. safety briefing sebelum bekerja. upaya perusahaan untuk mengendalikan risiko keselamatan kerja terjatuh ini adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD.1. hal ini dapat terjadi karena penutup screen memiliki batas maksimal yang rendah saat dibuka. sehingga memungkinkan perkerja terbentur dengan penutup screen. dan menggunakan APD lengkap. dan helper. Sedangkan untuk risiko terbentur penutup screen. safety briefing sebelum bekerja.Untuk risiko terjatuh dapat terjadi saat helper memasuki screen. penganggung jawab shredder. tangan yang terputus. dan kebakaran.Risiko pergelangan terkilir dapat terjadi karena. terjatuh. dan menggunakan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan untuk risiko keselamatan kerja terbentur screen adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD.2. karena helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi. ketika helper melakukan adjusting belt conveyor.4 Adjusting Belt Conveyor Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H. terpeleset. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah pergelangan tangan yang terkilir. helper menggunakan tangannya secara manual untuk memutar belt yang cukup berat. safety briefing sebelum bekerja. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya 137 . dan menggunakan APD lengkap.

Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan dengan safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap. handrail.Untuk risiko terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. dan penggunaan APD lengkap. administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.administrative control dengan melakukan safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap. Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. dengan membuka safety guard yang telah terpasang. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. safety briefing sebelum bekerja. administrative control 138 . safety briefing sebelum bekerja. Untuk risiko tangan yang terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung.

Hasil identifikasi risiko pada tahap persiapan awal (Housekeeping) secara rinci dapat dilihat pada tabel 5. safety briefing sebelum bekerja. dan penggerindaan. engineering control dengan tersedianya hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran. 139 . pengelasan. administrative control dengan Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah.1.Sedangkan untuk risiko kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran.

Tabel 5.1 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Skenario Risiko Kondisi tempat kerja Terpeleset licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Pengendalian - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - lantai yang dibuat kasar - mersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang helper - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja

Kondisi tempat kerja Terjatuh < 2m berada pada ketinggian (< 2 m)

2

Mengecek chute Kondisi tempat kerja Terpeleset magnet separator licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnyaserta kondisi jalan yang mendaki

140

Posisi Chute Magnet Terjatuh > 2m Separator yang berada pada ketinggian (> 2 m)

4

Membersihkan Screen

Ketika helper Tangan terputus membersihkan screen, screen berputar karena LOTO tak terpasang.

- melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - menerapkan LOTO (Lock out tag out) pada panel 1 dan 2 - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan

4.

Adjusting conveyor

Kondisi permukaan screen yang licin dan tidak rata, dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Saat helper memasuki screen, helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi belt Ketika helper melakukan adjusting, helper menggunakan tangannya secara manual untuk

Terpeleset

Terjatuh

Pergelangan tangan terkilir

141

memutar belt yang cukup berat. Ketika Helper Tangan terputus melakukan adjusting belt conveyor secara langsung dengan membuka safety guard yang telah terpasang Ketika helper berlari Terjatuh mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan

- Memasang safety guard pada screw - Safety briefing sebelum bekerja

Kondisi jalan yang Terpeleset licin akibat ceceran residu, serta berjalan secara terburu-buru

Ketika helper Kebakaran memotong belt yang miring menggunakan cutting torch, tanpa menghiraukan

- menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - Menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - Memasang alarm kebakaran - Memasang hydrant dan APAR - Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api, pengelasan, dan

142

working permit

penggerindaan - Safety briefing sebelum bekerja - Menggunakan APD lengkap.

143

Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. dan menggunakan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah engineering control dengan pemasangan antena pada Wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan serta tersedianya cermin agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar.2.2. 144 . Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS).1 Perapihan material oleh wheel loader Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H.2.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. penganggung jawab shredder.2 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran. safety briefing sebelum bekerja. dan helper.5. safety briefing sebelum bekerja.

Tabel 5.Memasang alarm .Memasang hydrant dan APAR .2 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan penyimpanan Material facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Perapihan material Terjadi karena short Kebakaran oleh Wheel Loader circuit atau karena gesekan antara material yang dirapihkan Tidak adanya Tertabrak/Menabra koordinasi pengemudi k dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation Pengendalian .melakukan house keeping dan safety control.menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .memasang antenna pada kendaraan yang sedang dipakai .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja . menggunakan APD lengkap 145 .

Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kebakaran. dan menggunakan APD lengkap . tersedianya hydrant dan APAR. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja kebakaran akibat mixing material pada hooper adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. Risiko tertimpa material terjadi karena muatan hooper yang terlalu penuh. dan helper 146 .2. sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. memasang warning sign tentang penggunaan APD. tertabrak/menabrak dan tertimpa material. safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap. Risiko tertabrak/menabrak terjadi karena tidak ada koordinasi antar pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck. safety briefing sebelum bekerja. penanggung jawab shredder. dan helper . Upaya pengendalian yang telah dilakukan perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan.5. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah.2.1 Tahap memasukkan material pada Hooper Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.3.3 Identifikasi Risiko pada Tahap Shredding 5.

2. dan helper . Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. sehingga untuk material yang ringan 147 . safety briefing sebelum bekerja. dan penggunaan APD lengkap 5. dan penggunaan APD lengkap. tertimpa material ringan.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.sedang berada di sekitar hooper. dan penggunaan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. tersandung.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja.2 Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset. kebakaran. melakukan housekeeping.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu. penanggung jawab shredder.3.

3 Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder Dan Material Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.2. safety briefing sebelum bekerja.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan penggunaan APD lengkap. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. penanggung jawab shredder. dan penggunaan APD lengkap. tersedianya hydrant dan APAR serta alarm.3. 148 . safety briefing sebelum bekerja. dan helper . safety briefing sebelum bekerja.sering berjatuhan. tersandung dan tertimpa material ringan. Upaya pengendalian risiko keselamatan kerja yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. seperti merokok. Sedangkan untuk risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi apabila helper tidak mengikuti prosedur yang ada. 5.

safety briefing sebelum bekerja. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan.. 149 . Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. safety briefing sebelum bekerja.

memasang alarm kebakaran . selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau ketika mixing material memiliki titik api yang rendah.menggunakan APD lengkap 150 .safety briefing sebelum bekerja .mengganti tali sling pada crane .memasang sprinkler tepat diatas hooper . karena tidak ada Tertabrak/menabra koordinasi antar k pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck .3 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.memasang warning sign tentang penggunaan APD .Tabel 5.memasang hydrant dan APAR .safety briefing sebelum bekerja .menyediakan Standard operation mengenai koordinasi berkendara .menggunakan APD lengkap Memasukkan material Pada Hooper ada Kebakaran pada hooper gesekan yang dapat menimbulkan panas.memasang warning sign tentang penggunaan APD .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .

safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .menggunakan APD lengkap Helper bekerja Tertimpa material dibawah belt conveyor yang berjalan.safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja . dan helper sedang berada di sekitar hooper.menggunakan APD lengkap Disekitar facility peralatan berserakan Shredder Tersandung banyak yang .melakukan house keeping dan safety control. sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar. menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang penggunaan APD .melakukan house keeping .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair . 2 Menebar serbuk karena pada lantai Terpeleset gergaji pada lantai shredder facility yang terkena residu terdapat ceceran residu . sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.karena muatan hooper Tertimpa Material yang terlalu penuh. 151 .

memasang warning sign tentang penggunaan APD . .Tersedianya hydrant dan APAR .memasang warning sign tentang penggunaan APD . karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar .memasang warning sign tentang penggunaan APD . karena disekitar Tersandung Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.melakukan house keeping .memasang alarm kebakaran . karena helper bekerja Tertimpa Material dibawah belt conveyor yang berjalan.memasang sprinkler tepat diatas hooper .menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja 152 .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .melakukan house keeping dan safety control.safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility . menggunakan APD lengkap . Memberikan parfume karena pada lantai Terpeleset pada fasilitas shredder shredder facility dan material terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.safety briefing sebelum bekerja .Helper tidak Kebakaran mengikuti prosedur yang ada.safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap 3. seperti merokok.

.sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.menggunakan APD lengkap 153 .

dan menggunakan APD lengkap .5.4. Upaya pengendalian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. safety briefing sebelum bekerja.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kejatuhan box.Risiko keselamatan kerja kejatuhan box. penanggung jawab shredder. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. memasang warning sign tentang penggunaan APD. Untuk risiko tertimpa material. tertimpa material dan tertabrak/menabrak. Sedangkan untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena kurangnya koordinasi antar pengemudi forklift dan truck. dapat terjadi ketika box dinaikan menuju truck. dan helper .2. 154 . dan penggunaan APD lengkap.4 Identifikasi Risiko pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. dapat terjadi saat helper menaikan box dengan bobcap ke truck.1 Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. dan material yang ada dalam box berjatuhan. dan penggunaan APD lengkap.2. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan.Upaya pengendlaian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.

dan disediakannya mirror blind spot agar pengendara bisa melihat ke segala arah dalam berkendara. forklift dan kendaraan pribadi.2.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu box terjatuh dan tertabrak/.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah administrative control dengan adanya SOP mengenai cara berkendaraan di area proyek. dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility dan safety briefing sebelum bekerja. sehingga memungkinkan box terjatuh. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena truck berjalan di jalan-jalan utama.5.4. penanggung jawab shredder. 155 . khususnya di jalanjalan yang sulit melihat arah.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. wheel loader.Risiko keselamatan kerja box terjatuh. yaitu mendahulukan kendaraan berat terlebih dahulu ketika berjalan. dapat terjadi karena guard yang berada pada truck sangat pendek. dan helper .menabrak.

memasang warning sign tentang cara Mengirimkan box Karena guard yang Terjatuh bekerja aman di Shredder facility menuju tempat berada pada truck safety briefing sebelum bekerja sangat pendek.memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility .Tersedianya Standard Operation mengenai cara koordinasi koordinasi antar k berkendaraan pengemudi forklift dan . penggunaan APD .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .menggunakan APD lengkap Menaikan box yang helper menaikan box Kejatuhan box sudah terisi oleh dengan bobcap ke material pada truck truck ketika box dinaikan Tertimpa material menuju truck.menggunakan APD lengkap .menggunakan APD lengkap .safety briefing sebelum bekerja . 156 .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility . karena kurangnya Tertabrak/menabra .Tabel 5. dan material yang ada dalam box berjatuhan 2.5 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product pada fasilitas Shredder PT.memasang warning sign tentang truck.safety briefing sebelum bekerja .

box Truck berjalan di Tertabrak/menabra jalan-jalan utama.tersedianya standard operation mengenai cara berkendaraan di area proyek . forklift dan kendaraan pribadi . wheel loader. k dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck.Tersedianya mirror blind spot 157 .pembakaran sehingga memungkinkan terjatuh.

5.3.1 Analisis Risiko pada Tahap Persiapan 5. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Terjatuh < 2m Pada tahap membersihkan handrail. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. paint sludge maupun zat cair lainnya dan helper tidak menggunakan safety shoes.1 Membersihkan handrail Saat membersihkan handrail terdapat risiko kepala terpeleset dan terjatuh < 2m. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari daiawal shift.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan membersihkan handrail setiap hari pada awal shift. Terpeleset Pada tahap membersihkan handrail helper memiliki risiko terpeleset. b. Hal ini dapat terjadi kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper hanya mengalami luka ringan atau memar jika terjatuh. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. helper tidak selalu memegang handrail. 158 .1. a. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak memegang handrail. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.3.

Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan mengecek chute magnet separator terjadi sekali setiap hari.3. Nilai kemungkinannya adalah 0. tersandung roller. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari. 159 .1. namun tidak pernah terjadi meskipun paparan bertahuntahun.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes.2 Mengecek Chute Magnet Separator Saat mengecek chute magnet separator. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 15 (serious) karena helper akan mengalami cidera atau penyakit yang serius jika helper jatuh > 2 m. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable b.5 (conceivable) karena risiko ini mungkin terjadi. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 45 dengan kategori priority 3. Terpeleset Risiko terpeleset saat menegecek chute magnet separator memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. terpeleset. dan terjatuh. a. Terjatuh > 2m Risiko terjatuh saat helper menegecek chute magnet separator karena posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2m.5.

1. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 25 (very serios) karena helper mengalami tangan terputus yang menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari.3. Nilai kemungkinannya adalah 0.3 Membersihkan screen Helperan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatan-hambatan seperti. b.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak 160 . dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. menyabut benang. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. mengambil batu. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari. hal ini mungkin terjadi apabila pekerja tidak mematuhi peraturan penerapan LOTO (lock out tag out).5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun. a.Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset.5. Nilai kemungkinannya 0. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika mesin screen berputar dan helper berada di dalamnya untuk melancarkan screen. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat tejadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes.

Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari.1. d. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable c. terpeleset dan kebakaran. 5. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terbentur helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. tangan yang terputus. Terjatuh Risiko keselamatan kerja terjatuh dapat terjadi ketika helper menaiki pemisah screen . sehingga posisi penutup screen rendah. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terjatuh helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. Nilai kemungkinannya 0. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena Kejadian ini sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Terbentur Penutup Screen Risiko keselamatan kerja terbentur penutup screen dapat terjadi karena penutup screen tidak bisa terbuka secara maksimal. terjatuh. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.4 Adjusting belt conveyor Pada tahapan ini terdapat risiko pergelangan tangan terkilir. 161 .3.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahuntahun. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari.menggunakan safety shoes.

Nilai paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. tetapi jarang terjadi. artinya kemungkinannya tetap ada untuk terjadi. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 9 dengan kategori acceptable b. Nilai kemungkinannya 3 (unusual). dengan membuka safety guard yang telah terpasang. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung.Nilai konsekuensi dari risiko tangan terputus adalah 25 (very serious) karena akan menimbulkan cacat atau penyakit yang menetap. Pergelangan tangan terkilir Risiko keselamatan kerja pergelangan tangan terkilir dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting secara manual. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.Nilai paparannya adalah paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. ketika helper tidak membuka safety guard yang terpasang.a. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangta kecil kemungkinannya. Nilai konsekuensi dari risiko ini adalah 1 (noticeable) karena ketika tangan terkilir pekerja/ helper hanya akan memgalami luka ringan atau memar.Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial 162 .

yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.5 dengan kategori acceptable.c. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1.5 dengan kategori acceptable. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. 163 . Nilai konsekuensi dari risiko terjatuh adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. Nilai konsekuensi dari risiko terpeleset adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. e.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi. Terjatuh Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun.

nilai risiko kebakaran adalah 450 dengan kategori very high. Kebakaran Risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada belt conveyor akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.Maka.6 164 .Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) apabila helper selalu menggunakan cutting torch untuk memotong belt.f.

Tabel 5.5 (conceivable) Nilai Risiko 3 Terpeleset 6 (frequent) Terjatuh < 2m 2 Mengecek chute magnet separator 6 (frequent) 3 Terpeleset 6 (frequent) 3 Terjatuh > 2 m (serious) 3.5 (conceivable) 0.6 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal Shredder facility PT. No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Risiko Konsekuensi (C) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 15 Paparan (E) Kemungkinan (L) 0.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 75 165 . Membersihkan screen Tangan terputus 25 (very serious) 6 (frequent) 45 6 (frequent) 0.5 (conceivable) 0.

5 (conceivable) 1 3 Terjatuh 6 (frequent) 3 Terbentur penutup Screen 4. Adjusting belt conveyor Pergelangan terkilir Tangan terputus 6 (frequent) (remotely possible) 3 (Unusual) 1 6 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 9 (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 (remotely possible) 0.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 75 Terjatuh 1.5 Kebakaran (very serious) 6 (Likely) 450 166 .Terpeleset 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 6 (frequent) 0.5 Terpeleset 1.5 (conceivable) 0.

Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.nilai 167 .Maka.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. Analisis Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.2. b. nilai risiko kebakaran adalah 750 dengan kategori very high.5. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi.3.3.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adah tertabrak/menabrak. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada storage akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.2.1 Perapihan material oleh wheel loader a. tetapi jarang terjadi. tetapi jarang terjadi. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.Maka.

risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.7 168 .

No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 3 (Unusual) 750 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 250 169 .Tabel 5.7 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.

Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertabrak/menabrak. nilai risiko kebakaran adalah 1500 dengan kategori very high.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak.3. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena 170 .5.Risiko. b. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) kemungkinan terjadi 50-50. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada hooper akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas.2. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.2.1 Tahap memasukkan material pada Hooper a.3. dan tertimpa material .Maka. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. Analisis Risiko pada Tahap Shredding 5.

sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.kegiatan dilakukan setiap hari. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. tetapi jarang terjadi. Terpeleset Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu .3. Nilai konsekuensi dari risiko tertimpa material adalah 1 ( noticeable) tertimpa material karena tertimpa material akan mengakibatkan luka ringan atau memar. tetapi jarang terjadi. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.2. Tertimpa Material Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertimpa material. c. Risiko tertimpa material dapat terjadi apabila muatan hooper yang terlalu penuh.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu a. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil 171 .nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 10 dengan kategori acceptable.Maka. 5. dan helper sedang berada di sekitar hooper . Nilai kemungkinan dari risiko tertimpa material adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Maka.

b. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Nilai paparan dari risiko kebakaran adalah Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Tersandung Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung.kemungkinannya. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena ceceran residu. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. d. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material.5 (conceivable) karena risiko ini hanya mungkin terjadi 172 . c. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. nilai konsekuensi 25 (very serios) karena kebakaran ini menyebabkan kerussakan sementara terhadap lingkungan. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.

Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya apabila pekerja menggunakan safety shoes. 173 . Tersandung Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.Maka. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. b.2.4 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material a.3. Terpeleset Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.ketika helper tidak mematuhi peraturan seperti merokok. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. 5. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.

Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya.8 174 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.c. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.

No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 6 (Likely) 1500 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 1 250 Tertimpa Material 1 (noticeable) 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 2. Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 1 (noticeable) 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 6 Tersandung 1 6 (frequent) 18 175 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.Tabel 5.8 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

(noticeable) 1 Tertimpa Material Ringan 1 (noticeable) 25 Kebakaran (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 6 (frequent) 6 (frequent) (remotely possible) 0.5 (conceivable) 1 Terpeleset 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 1 Tertimpa Material Ringan 6 (frequent) (remotely possible) 6 6 6 75 3. Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Tersandung 6 (frequent) 18 176 .

risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila tertimpa material yaitu luka ringan atau memar.2. 177 . khususnya saat membutuhkan bahan bakar. 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin.3. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya.3. Nilai paparannya 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 5 (important) karena akibat terburuk apabila kejatuhan box membutuhkan penanganan medis. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 50 dengan kategori priority 3. khususnya saat membutuhkan bahan bakar.5. Analisis Risiko pada Tahap Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5.2. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Maka. b. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk a. Tertimpa Material Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 10 dengan kategori acceptable.

Risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada mobil truck sangat pendek.c. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk adalah adah tertabrak/menabrak.Maka. Box terjatuh Risiko keselamatan kerja saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah box terjatuh.3. tetapi jarang terjadi.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 30 dengan kategori priority 3. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.2.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran a. 178 .Maka. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi. 5. Nilai konsekuensi dari risiko box terjatuh adalah 1 ( noticeable) karena box terjatuh hanya kerusakan keceil dengan kerugian produk ysng tidak banyak. tetapi jarang terjadi. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.

Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.b. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. Tertabrak/menabrak Risiko keselamatan kerja saat saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah tertabrak/menabrak.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. tetapi jarang terjadi. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.9 179 .Maka.

No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Konsekuensi (C) 5 Paparan (E) Kemungkinan (L) 1 Nilai Risiko Kejatuhan box (important) 10 (Continously) (remotely possible) 1 50 Tertimpa material 1 (noticeable 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 1 (noticeable) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) (remotely possible) 250 2.Tabel 5. Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Box terjatuh 10 (Continously) 3 (unusual) 30 1 10 (Continously) (remotely possible) 250 180 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.9 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product PT.

memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. Hasil evaluasi risiko pada tahap persiapan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. risiko terpeleset . Risiko yang paling tinggi adalah kebakaran yang termasuk dalam kategori very high. dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. termasuk kategori acceptable. seperti tangga yang memiliki footstep yang lebar.5. yaitu aktivitas perlu dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan. yaitu mengharuskan adanya perbaikan. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Tahun 2010 5. pengelasan. penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. seperti penggunaan APD.4. serta memberikan reward dan punishment.1 62 . Tindakan yang perlu dilakukan adalah. terjatuh pada ketinggian < 2 m.Sedangkan risiko terjatuh pada ketinggian > 2 m termasuk kategori priority 3 berkesinambungan. dan penggerindaan. terbentur penutup screen dan pergelangan terkilir.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk.1 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan.penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO). pembuatan tangga yang lebih aman.Dan yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara untuk risiko tangan terputus termasuk kategori substansial.

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .1 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT.Memasang warning sign Terjatuh < 2 m 3 acceptable 2 Mengecek chute Terpeleset 3 acceptable 62 .Tabel 6.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Risiko Membersihkan handrail Terpeleset Nilai Risiko 3 Kategori Risiko Acceptable Rekomendasi .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .

Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai . seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti tangga yang memiliki footstep .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pembuatan tangga yang lebih aman.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .penerapan sistem kunci Lock Terjatuh > 2 m 45 Priority 3 3 Membersihkan screen Tangan terputus 75 substansial 63 . seperti pengtingnya penggunaan APD .63 magnet separator terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .

seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD . Terpeleset 3 acceptable Terjatuh 3 acceptable Terbentur penutup screen 6 acceptable 64 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.64 Out Tag Out (LOTO) .

seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . Adjusting belt conveyor Pergelangan tangan terkilir 9 Acceptable Tangan terputus 75 Substansial Terjatuh 1.memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO) .5 Acceptable 65 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD 4.65 seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Terpeleset 1.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . dan penggerindaan.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.66 .5 Acceptable Kebakaran 450 Very high 66 . . pengelasan.penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api.memberikan reward dan punishment kepada pekerja . .

yaitu Perlu pengendalian sesegera mungkin.4. Risiko kebakaran termasuk kategori very high yang artinya aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima.2 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap perapihan material oleh wheel loader. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .5. serta memberikan reward dan punishment .Hasil evaluasi risiko pada tahap pelaksanaan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.2 62 . memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. risiko tertabrak/menabrak masuk kedalam kategori priority 1. pemasangan smoke atau heat detector serta pemasangan sprinkler pada storage. Tindakan yang perlu dilakukan adalah pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain. dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan.

pemasangan smoke atau heat detector .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Very high Rekomendasi .dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .pemasangan sprinkler pada storage .dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Kebakaran 750 priority 1 Tertabrak/mena brak 250 62 . .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .2 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Shredder facility PT.Tabel 6.

risiko terpeleset. mengharuskan adanya perbaikan secara teknis . pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.3 Evaluasi Risiko pada Tahap Shredding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap shredding. tersandung. dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. Risiko tertabrak/menabrak yang masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya perlu pengendalian sesegera mungkin Untuk risiko tertinggi adalah risiko kebakaran pada hooper akibat mixing material yang termasuk dalam kategori very high yang artinya Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. . Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.3 62 . serta memberikan reward dan punishment.5. tertimpa material termasuk kategori acceptable. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.4. Risiko kebakaran saat housekeeping termasuk kategori substansial . penerapan housekeeping dengan benar. pemasangan smoke atau heat detector.

pemasangan smoke atau heat detector .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .Tabel 6.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .3 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada Fasilitas Shrededder PT.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Nilai Risiko 1500 Kategori Risiko Very high Kebakaran Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 Tertimpa Material Acceptable 10 Rekomendasi .memasang jaring dibawah belt 62 . .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD . . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan housekeeping dengan benar .memberikan reward dan punishment kepada pekerja 2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 6 Acceptable Acceptable Tersandung 18 63 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .63 conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Terpeleset 6 Acceptable 64 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .64 Acceptable .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tertimpa Material Ringan 6 Substansial Kebakaran 75 3.

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .65 Acceptable .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan housekeeping dengan benar . seperti pengtingnya penggunaan APD . .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tersandung 18 Acceptable Tertimpa Material Ringan 6 65 .

memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .4. Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan dan penyimpanan material risiko tertimpa material termasuk kategori acceptable yang artinya yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Risiko paling tinggi adalah risiko tertabrak/menabrak yang termasuk kategori priority 1 yaitu. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck. serta memberikan reward dan punishment.4. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. yaitu Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan . perlu pengendalian sesegera mungkin. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.4 62 .5. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box . Risiko kejatuhan box dan box terjatuh di jalan termasuk kategori priority 3 . Tindakan yang perlu dilakukan adalah.

memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .4 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material pada Fasilitas Shrededder PT.Tabel 6.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerjaberorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang 62 . .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Priority 3 Kejatuhan box 50 acceptable Tertimpa material 10 Tertabrak/mena 250 Priority 1 Rekomendasi .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .63 brak dapat ditimbulkan .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Priority 3 Box terjatuh 30 Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 63 .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment 2.pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. . .

62 .

5. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 5. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat tertabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir.PT.Holcim Indonesia Tbk. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 5.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility merupakan fasilitas pre-handling limbah dengan metode pencacahan atau shredding.00 di area operasi shredder Geocycle.1Kecelakaan Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Tertabrak Wheel Loader Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. 158 . Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009 6.Berdasarkan studi dokumen dan wawancara kepada petugas OH&S dan penanggung jawab shredder Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. yaitu : 4.5.

hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah.Holcim Indonesia Tbk. dengan waktu istirahat 1 jam. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia.5. dan salah satunya adalah karet.Setelah dilakukan wawancara terhadap pengemudi wheel loader yang bersangkutan mengenai alasan penyebab tidak berkonsentrasinya pengemudi dalam bekerja. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector).000.2 Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan Terputus Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder Geocycle. pengemudi mengutarakan hal ini terjadi karena pekerja berada dalam kondisi kelelahan. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan 159 .900. Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. 5. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam.. pengemudi tersebut tidak dapat tidur karena beban fikiran mengenai kondisi keuangan yang minim karena kurangnya pendapatan sekitar Rp.PT.tiap bulannya. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley.

Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. sprinkler dan hydrant. Setelah dilakukan wawancara terhadap karyawan/helper lain yang bekerja di shredder facility mengenai alasan penyebab karyawan/helper melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api.5. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut.Holcim Indonesia Tbk. 5. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. 160 . Pengendalian yang sudah tersedia adalah alarm.PT. seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ).menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar.3 Kejadian Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 di area operasi shredder Geocycle. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi .Upaya yang sudah dilakukan pada tahap ini adalah pemasangan screw diluar safety guard. karyawan/helper lain mengutarakan hal ini terjadi karena karyawan/helper sudah terbiasa dengan pekerjaanya sehingga karyawan/helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada.

1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder . Hasil analisis risiko dari kecelakaan tertabrak/menabrak pada tahap perapihan dan penyimpanan material adalah 25.6 Perbandingan hasil analisis dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di unit Shredder facility PT.. Namun ternyata kecelakaan kerja tertabraknya pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder. hal ini juga terjadi karena data mengenai bahan-bahan yang berbahaya apabila dicampurkan belum diperbaharui. tembok akibat pengemudi Wheel loader kelelahan tetap terjadi pada tahap perapihan dan penyimpanan material dan menimbulkan dampak rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.Holcim Indonesia Tbk 5. selain itu helper tidak mengetahui bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampurkan sebelum dimasukkan ke dalam shredder. 5. masuk kedalam kategori priority 3 yang artinya kegiatan ini hanya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan.Namun hingga saat ini belum disediakan informasi yang terbaru mengenai bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampur begitu saja dan dapat menimbulkan kebakaran. 161 .6. Setelah dilakukan wawancara terhadap penanggung jawab shredder yang bersangkutan mengenai alasan penyebab mixing material adalah karena lembar MSDS yang belum diperbarui dan tidak lengkap akibat tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja.

Helper lain mengutarakan alasan 162 .akibat beban fikiran.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. yaitu lengan terputus. maka kegiatan adjusting belt conveyor harus dihentikan terlebih dahulu sampai mencapai batas yang dibolehkan. 7.mengenai lengan yang terputus pada tahap adjusting belt conveyor adalah. pekerja berada dalam kondisi kelelahan. Apabila dibandingkan dengan kecelakaan kerja yang telah terjadi sebelum pengendalian dilakukan.6.dampak lengan terputus ini menyebabkan helper atau korban tersebut mengalami luka terbuka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Kecelakaan kerja lengan terputus bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. helper tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam. Tindakan pengendalian ini berbeda dengan kejadian sebelum diterapkannya pengendalian pemasangan screw diluar safety guard . sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. hasil analisis kecelakaan kerja saat ini. Karena kecelakaan kerja ini. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage.Hal ini terjadi karena. dengan waktu istirahat 1 jam.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. 5. Berdasarkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor. pengemudi tersebut tidak dapat tidur.

hal ini terjadi karena helper sudah merasa terbiasa dengan pekerjaanya sehingga helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada. 163 . terjadi akibat MSDS tidak lengkap dan belum diperbarui.mengapa helper melepaskan safety guard tersebut. Hasil analisis risiko saat ini dari kecelakaan kebakaran pada tahap Shredding adalah 250. seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). sehingga dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya kebakaran pada hooper dan menyebabkan kerusakan sementara pada hooper dan terhentinya produksi. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. hingga saat ini belum dilakukan pengendalian secara tekhnis pada Hooper . Kecelakaan kerja kebakaran yang telah terjadi pada tahap Shredding.6.3 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. 5. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja dan menimbulkan kebakaran pada hooper. Hal ini terjadi karena.

BAB VI PEMBAHASAN 6. penanggung jawab lapangan dan 3 orang pekerja atau helper di shredder facility.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Holcim Indonesia Tbk. 6. terjatuh dari ketinggian. tersandung peralatan yang berserakan. dan 3 orang pekerja / helper di shredder facility karena kesibukan dari masing-masing pekerja yang lain. Bahaya mekanik (mechanical hazard) yaitu terpeleset ceceran residu. terpeleset screen. 164 terbentur penutup screen. pergelangan tangan terkilir. hanya dilakukan wawancara kepada petugas OH&S.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT. Hasil identifikasi dilakukan dengan menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi kepada petugas OH&S. dikarenankan korban tersebut sudah tidak bekerja lagi. Dari risiko yang telah diidentifikasi. menurut kelompok bahaya keselamatannya (safety hazard) dapat dibedakan menjadi: 1. Gambar tahapan pekerjaan tidak terlalu lengkap.1 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini. . penanggung jawab lapangan. karena peneliti tidak diizinkan untuk mengambil gambar sendiri. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses shredding PT. tangan terputus. selain itu peneliti tidak melakukan wawancara kepada semua korban kecelakaan kerja. peneliti melakukan observasi dan wawancara tidak kepada semua pekerja shredder facility.

terpeleset pada screen. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja.tertabrak/menabrak . 6. tangan terputus dan kebakaran.3. 6. Terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter Pada tahap membersihkan handrail.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 Berikut ini adalah hasil analisis risiko pada setiap tahapan proses shredding PT. Bahaya-bahaya ini disebabkan oleh adanya benda-benda atau proses yang bergerak.Bahaya kimia (chemical hazard) yaitu kebakaran. terbentur penutup screen. 2. pergelangan tangan terkilir.1 Membersihkan Handrail 1.3.Holcim Indonesia Tbk. tertimpa material ringan dan kejatuhan box. risiko yang dapat terjadi adalah terjatuh dari ketinggian kuran atau lebih dari 2 meter. . sehingga dimasukkan ke 165 .3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT.1 Tahap persiapan awal Berdasarkan analisis risiko pada tahap persiapan awal.1. Bahaya ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia pada proses kerja yang menimbulkan risiko keselamatan kerja. tangan terputus screen. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter ini mempunyai nilai risiko 15 kurang dari 20. helper tidak selalu memegang handrail. terjatuh saat melangkahi pemisah. 6.

Sedangkan.2 1. dari serious menjadi important atau noticeable.dalam kategori tingkat risiko acceptable yang artinya adalah mengurangi intesitas kegiatan yang menimbulkan risiko seminimal mungkin. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. Mengecek chute magnet separator Terjatuh dari ketinggian lebih dari 2 meter Pada tahap mengecek chute magnet separator. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. helper tidak selalu memegang handrail. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. 6.3.1. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 m ini mempunyai nilai risiko 45. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko priority 3 yang artinya adalah perlu diawasi dan di[erhatikan secara berkesinambungan. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. 166 . helper berisiko terjatuh akibat chute magnet separator berada pada ketinggian lebih dari 2 meter dan ketika bekerja.

3.1. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. tangan helper berisiko terputus screen akibat akbat benda berputar dan ketika helper bekerja penerapan LOTO tidak dilaksanakan dengan baik.3 Membersihkan screen 1. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. Tangan terputus screen Pada tahap membersihkan screen. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 75. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko substansial teknis. Sedangkan. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. maka upaya pengendalian 167 yang artinya adalah mengharuskan adanya perbaikan . 6. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. dari serious menjadi important atau noticeable. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible.

Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga tingkat 168 . Terpeleset screen Pada tahap membersihkan screen. Untuk nilai konsekuensi dari tangan terputus screen tidak dapat dikurangi lagi. helper berisiko terpeleset screen akibat akbat permukaan screen yang licin dan tidak rata. Sedangkan tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko terpelset screen dikurangi seminimal mungkin. dan memberikan reward dan punishment kepada pekerja.yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan LOTO (lock out tag out ) pada pekerja yang bekerja pada screen. 2. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. karena risiko minimal tangan terputus screen adalah cacat atau penyakit yang menetap.diberikan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. selain itu sebaiknya dilakukan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.

Sedangkan. tingkat 169 . Sedangkan. Untuk nilai konsekuensi dari terpeleset screen tidak dapat dikurangi lagi. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Untuk nilak konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. karena konsekuensi dari terjatuh saat menaiki pemisah screen adalah luka ringan atau memar. Terjatuh saat melangkahi pemisah screen Pada tahap membersihkan screen.kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. helper berisiko terjatuh saat melangkahi pemisah screen akibat helper menaiki pemisah screen. Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 3. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan tangga untuk masuk kedalam screen. karena konsekuensi dari teprleset screen ini adalah luka ringan atau memar.

karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. sehingga tingkat kemungkinan remotely possible dapat diturunkan menjadi conceivable dan practically impossible.paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Sedangkan. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan dikurangi seminimal mungkin. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. 4. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. karena konsekuensi dari terbentur penutup screen adalah luka ringan dan memar. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. helper berisiko terbentur penutup screen. karena penutup screen yang tidak bisa terbuka secara maksimal. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Untuk menurunkan nilai risiko. Terbentur Penutup Screen Pada tahap membersihkan screen. 170 . sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Risiko terbentur penutup screen ini mempunyai nilai risiko 6 yang artinya kurang dari 20.

Untuk menurunkan nilai risiko. sehingga belt dapat diluruskan oleh 2 pekerja. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.6. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga beban yang diterima oleh masing-masing pekerja tidak besar serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. karena konsekuensi dari pergelangan terkilir adalah luka ringan dan memar. pergelangan tangan helper berisiko terkilir. conceivable atau practically impossible. Risiko pergelangan tangan terkilir ini mempunyai nilai risiko 9 yang artinya kurang dari 20. 171 . menggunakan screw yang diputar secara manual oleh pergelangan tangan. Pergelangan tangan terkilir Pada tahap adjusting belt conveyor. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. karena helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur.3. Sedangkan.1. sehingga tingkat kemungkinan unusual dapat diturunkan menjadi remotely possible.4 Adjusting belt conveyor 1. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan double screw. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan belt yang diluruskan memiliki beban yang cukup berat.

important . atau noticeable. serta pelatihan perilaku yang beriorientasi pada safety.2. 3. helper akan berlari melihat dari sisi yang lain yang 172 . karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. tangan helper berisiko terputus akibat benda berputar.5 yang artinya kurang dari 20. karena setelah helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. tak ada pekerja lain yang menyalakan belt conveyor. helper berisiko terjatuh dari ketinggian . Untuk menurunkan nilai risiko. Terjatuh dari ketinggian Pada tahap adjusting belt conveyor. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Tangan terputus akibat benda berputar Pada tahap adjusting belt conveyor. Sedangkan. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan sistem kunci LOTO (Lock out tag out) agar ketika helper bekerja. karena helper melakukan adjusting belt conveyor dengan membuka safety guard yang tersedia. Risiko Tangan terputus akibat benda berputar ini mempunyai nilai risiko 7. sehingga nilai konsekuensi dari tangan terputus dapat berkurang dari very serious menjadi serious.

Untuk menurunkan nilai risiko. diharapkan tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. risiko kebakaran dapat terjadi. Sedangkan. 4. Untuk nilai konsekuensi dapat diturunkan lagi. Risiko terjatuh dari ketinggian ini mempunyai nilai risiko 7.lebih tinggi. Dengan upaya pengendalian tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah dibuatkan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 900 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang dapat menyebabkan 173 . apakah belt conveyor sudah memasuki jalur atau belum.dari important menjadi noticeable ketika pengendalian yang dilakukan sudah tepat. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Kebakaran pada belt conveyor Pada tahap adjusting belt conveyor. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.5 yang artinya kurang dari 20. karena pemotongan belt conveyor menggunakan cutting torch.

2. karena gesekan antar material. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari likely menjadi remotely possible. atau noticeable. dan penggerindaan. important. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Kebakaran pada storage Pada tahap perapihan material oleh wheel loader.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 6. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. risiko kebakaran pada storage dapat terjadi.1 Perapihan material oleh wheel loader 1. serta banyak material yang mudah terbakar. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 6. Sedangkan.3.3. serta memberikan reward dan punishment. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 750 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang 174 . pengelasan.serta menurunkan nilai konsekuensi dari disaster menjadi serious .kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima .

2. Sedangkan. Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. serta menurunkan nilai konsekuensi dari very serious menjadi serious . Untuk menurunkan nilai risiko. karena kurang koordinasi antar 25 pengemudi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan sprinkler pada storage serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. yang artinya perlu diawasi Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible.dapat menyebabkan kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah 175 . atau noticeable.sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 dan diperhatikan secara berkesinambungan. important. Untuk menurunkan nilai risiko.

3 Tahap Shredding 6. atau noticeable. 6. risiko kebakaran pada hooper dapat terjadi. Kebakaran pada hooper Pada tahap memasukkan material pada hooper. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan.1 Tahap memasukkan material pada Hooper 1. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 250 sehingga masuk ke dalam kategori priority 1 pengendalian sesegera mungkin. important.3.pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan serta pelatihan yang berorientasi pada safety. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Sedangkan.3. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun yang artinya perlu 176 .3. sehingga nilai konsekuensi dapat ditunkan dari very serious menjadi serious . maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang lengkap dan selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. Untuk menurunkan nilai risiko. serta banyak material yang mudah terbakar. karena gesekan antar material.

risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap memasukkan material pada hooper. Sedangkan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. dan tidak memanfaatkan fasilitas secara maksimal. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun dapat diturunkan dari likely menjadi unusual atau remotely possible.dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable atau practically impossible. Sedangkan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. 177 . Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. 2. karena kuarngnya koordinasi antar pengemudi.

karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. Untuk menurunkan nilai risiko. Tertimpa Material dari Hooper Yang Memiliki Ketinggian Sekitar 2 Meter (contoh material : potongan plastik drum.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tersandung oleh peralatan yang 178 . tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. pengawasan penggunaan APD. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap menebar serbuk gergaji.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu 1. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.3.3. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. Risiko tertimpa material ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Memasang warning sign terkait bahaya yang ada.ketika helper berjalan di sekitar hooper. dan isi hooper terlalu penuh. pemasangan guard pada area hooper. potongan kayu yang beratnya sekitar 100-250 gram ). sedangkan. risiko tertimpa material dapat terjadi pada helper. Pada tahap memasukkan material pada hooper. 6.

potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menebar serbuk gergaji. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut..ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable 179 . 2. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sedangkan. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. Risiko tersandung peralatan ini mempunyai nilai risiko 18 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.berseerakan di sekitar shredder.

Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. sehingga nilai konsekuensi dapat 180 . tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. seperti merokok. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.ketika helper berjalan tidak mematuhi prosedur yang tersedia. 3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. Untuk menurunkan nilai risiko. risiko kebakarandapat terjadi pada helper. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko tertimpa kebakaran nilai risiko ini mempunyai 150 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait bahaya yang ada serta pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. sedangkan.

.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dan tersandung oleh peralatan yang berserakan di sekitar shredder. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. important. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 181 . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 6. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. Risiko tersandung peralatan 18 ini mempunyai nilai risiko sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sedangkan.3.diturunkan dari very serious menjadi serious.3 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material 1. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. atau noticeable. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping.3. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. Untuk menurunkan nilai risiko.

karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.2. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. Untuk menurunkan nilai risiko.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfum pada shredder dan material dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap memberikan parfum pada shredder dan material. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 182 .

1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 1. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. sedangkan. risiko tertimpa material ringan dari box. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.4. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan.3. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 50 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 2. Tertimpa Material Ringan Dari Box (contoh material : palstik. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.4 Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 6. risiko kejatuhan box dapat terjadi pada helper. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga 183 . ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu material ringan yang berada di posisi paling atas box terjatuh.6. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap.3.

sehingga terjadi tabrak/menabrak.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. sedangkan. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu tidak ada koordinasi antar pengemudi. 184 . memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. 3. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko.masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko tertimpa material ringan dari box dikurangi seminimal mungkin. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. important. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. atau noticeable. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Risiko box terjatuh di jalan ini ini mempunyai nilai risiko 30 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran / Pre-heater 1.3.sedangkan. Box terjatuh saat dibawa menuju pre-heater Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada truk yang pendek. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan . maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. Untuk menurunkan nilai risiko. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. 185 . tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. 6. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable.4. sedangkan box tinggi. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan.

Tertabrak/menabrak antar pengemudi Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. atau noticeable. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. 186 . sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.2. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. karena pekerja tidak mengikuti standard operation mengenai cara berkendara di arean proyek. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. important.

serta menggunakan APD lengkap. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT.00 di area operasi shredder Geocycle.PT. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 25 masuk kedalam priority 3 yang artinya kegiatan ini sebenarnya hanya perlu pengawasan dan diperhatikan secara . hanya kerusakan sementara fasilitas shredder.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. memasang warning sign tentang penggunaan APD . safety briefing sebelum bekerja. tersedia standard operation mengenai cara bekendara di area proyek.4. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.Holcim Indonesia Tbk. 6. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat ditabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir.6. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah. tersedianya blind spot miror agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan antena pada wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan .

Hal ini sesuai dengan teori domino heinrich yang menyatakan bahwa salah satu rangkaian domino yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja adalah unsafe act atau perilaku tidak aman yang salah satunya adalah kelelahan .” Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Teori yang dikembangkan oleh Sahab (1997) juga menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja dilatarbelakangi oleh faktor-faktor. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi. namun kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder tetap terjadi. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. kecelakaan kerja terjadi karena pekerja tidak berkonsentrasi dalam mengemudi. kondisi korban yang memiliki beban fikiran mengenai minimnya upah yang menyebabkan pekerja kurang tidur. sehingga menjadi salah satu penyebab kelelahan. yang menyatakan “ Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Hal ini sesuai dengan teori Nurmianto pada tahun 2003. belum terjadi perubahan pengendalian. Kelelahan kerja yang dilalami pekerja membuat turunnya kinerja dan menimbulkan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder terjadi karena faktor pekerja. 63 .berkesinambungan. yang salah satunya adalah faktor kelelahan dan keletihan yang berasal dari penyebab dasar faktor pribadi.

dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi perilaku kerja. dan gejala umum (sakit kepala. gangguan pencemaan.Selain itu kerja fisik yang terus menerus dapat menyebabkan kelelahan. 1982).Holcim Indonesia Tbk. 64 . sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. (depresi.Motivasi kerja khususnya faktor balas jasa atau upah yang minim pun menjadi penyebab pekerja tidak dapat tidur karena beban fikiran.PT. gangguan fungsi paru dan jantung. vertigo. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. kecemasan.2 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. 6. dan kesukaran tidur). Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. kegelisahan. sehingga menurunkan kesiagaan dan perhatian. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. pembahan tingkah laku. penurunan dan hambatan persepsi cara berpikir atau perbuatan anti sosial. kurang tenaga. Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder dengan Kejadian Geocycle. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. hal ini sesuai dengan teori Winardi (2001) yang menyatakan bahwa jika upah tersebut tidak dipenuhi. tidak cocok dengan lingkungan. kehilangan nafsu makan. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector). kehilangan inisiatif). badan terasa tidak enak.5.

Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. dan salah satunya adalah karet. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut.Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. maka nilai risiko yang didapat pada tahap ini adalah 7. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Maka. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah. Upaya yang saat ini sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor adalah pemasangan screw diluar safety guard agar pekerja bekerja lebih aman. pengendalian yang sudah dilakukan saat ini dapat meminimalkan kecelakaan kerja. karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. Hal ini membuktikan bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi apabila manajemen keselamatan kerja belum dilakukan secara maksimal. sesuai dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich dengan 65 .

66 . 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition).mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. sikap merupakan kecenderungan potensial untuk berpotensi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon . dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan Maka. Menurut Gordon Allport . hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995). Dan tentunya tindakan tidak aman akan menyebabkan kecelakaan kerja. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia seperti faktor sikap yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Jadi. berdasarkan statistik di Indonesia.dan Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemn keselamatan dan kesehatan kerja. Penyebab yang melatarbelakangi kecelakaan kerja menurut Sahab (1997) salah satunya adalah sikap dan tingkah laku yang tidak aman. Namun. walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. Selain karena faktor teknis. kecelakaan kerja lengan terputus disebabkan oleh faktor manusia yang merasa terbiasa dengan pekerjaannya.

masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin.3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Tahap Shredding Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. belum terjadi perubahan pengendalian. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan hydrant.PT. Karena sebenarnya berdasarkan dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terlebih dahulu. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . sprinkler tepat diatas hooper.Holcim Indonesia Tbk. 67 . Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper.5. sehingga kecelakaan kerja kebakaran pada hooper masih mungkin terjadi. serta APAR.6. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. safety briefing sebelum bekerja. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. serta menggunakan APD lengkap. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari. tersedia MSDS (Material safety data sheet). memasang warning sign tentang penggunaan APD . maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 250. Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 dengan Kejadian di area operasi shredder Geocycle.

walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. Sesuai dengan teori Hezberg pada tahun 1990. Maka. faktor manusia itu sendiri seperti tidak segera merubah data material berbahaya sesegera mungkin. yang menyatakan bahwa “salah satu faktor yang menjadi penggerak terciptanya motivasi kerja karyawan adalah hubungan antar manusia. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. penyebab kecelakaan kecelakaan kerja kebakaran pada hooper terjadi karena faktor kelalaian. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja.” Beliau juga menyatakan bahawa hubungan antar manusia dalam lingkungan pekerjaan baik hubungan vertical maupun horizontal akan berpengaruh terhadap disiplin dan produktivitas pekerja.Akan tetapi. 68 .Namun hingga saat ini manajemen keselamatan dan kesehatan kerja belum dilakukan secara maksimal sehingga kecelakaan kerja kebakaran masih mungkin terjadi.

69 .

70 .

Kegiatan pada Shredder Facility 71 .

Membersihkan Handrail Mengecek Chute Magnet separator Membersihkan Screen Adjusting Belt Conveyor 72 .

Perapihan dan Penyimpanan Material Menebar serbuk Gergaji Memasukkan Material pada Box Memberikan Parfum Menaikkan box pada truck 73 .

Tabel Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian 74 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Risiko Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 75 .Tabel Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

Tabel No Rincian Pekerjaan Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Rekomendasi 76 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 77 .Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

.

63 .

64 .

65 .

66 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful