ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH

TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010

SKRIPSI

OLEH : Dita Wianjani NIM : 106101003314

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010 M/1431 H

44

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa : 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarata. 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 25 Agustus 2010

Dita Wianjani

45

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT Skripsi, September 2010

DITA WIANJANI, NIM : 1061010003314

Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010

(xxiv + 197 halaman, 25 tabel, 15 gambar)

ABSTRAK
PT Holcim Indonesia dalah pelopor dan inovator di Indonesia yang berkembang cepat dalam sektor semen, karena pasar untuk rumah, bangunan komersial dan infrastruktur yang berkembang. Holcim adalah penyedia yang terintegrasi dari sembilan berbagai jenis semen, beton dan agregat. Selain itu Holcim juga memiliki unit Shredder facility yang berfungsi sebagai fasilitas pencacah limbah untuk bahan bakar alternatif dalam produksi semen. Setiap sistem kerja dalam sebuah perusahaan selalu mempunyai risiko keselamatan kerja, begitu juga sistem kerja pada PT Holcim Indonesia mempunyai risiko keselamatan kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pada proses pencacahan atau Shredding ini terjadi kejadian kecelakaan kerja yang serius. Jika dibandingkan dengan fasilitas lain, Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan, namun dalam waktu yang relatif singkat, hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kecelakaan kerja sebab-sebab kecelakaan harus diteliti dan ditemukan agar selanjutnya diperoleh usaha-usaha koreksi terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut Tujuan dai penelitian ini adalah Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.Penelitian ini dilakukan di PT.Holcim Indonesia Tbk Bogor yang dimulai pada bulan April- Agustus 2010 melaui pengambilan data primer yang dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S , pada pekerja, penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.Serta melakukan observasi secara langsung, sedangkan data sekunder berupa struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Risiko keselamatan kerja yang ada pada proses pencacahan atau shredding ini secara keseluruhan adalah terpeleset ceceran residu, terjatuh dari ketinggian, pergelangan tangan terkilir, terpeleset screen , terjatuh saat melangkahi pemisah screen,

46

tangan terputus screen, terbentur penutup screen, tersandung peralatan yang berserakan, tertabrak/menabrak, tertimpa material ringan kejatuhan box, serta kebakaran. Pengendalian dengan engineering control dilakukan pada beberapa tahapan pekerjaan seperti pekerjaan seperti membersihkan handrail , maka dipasang handrail agar pekerja tidak jatuh, pemasangan guard pada benda berputar. Pengendalian dengan administrative control dengan housekeeping, bekerja sesuai dengan prosedur dan pemasangan safety sign di area kerja, terutama untuk pekerjaan yang berisiko tinggi. Pengendalian dengan pemakaian APD pada pekerja seperti safety shoes, safety helmet, mask organic, gloves, goggles, glasess. Sedangkan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di shredder facility adalah tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja yang kelelahan sehingga pekerja tidak berkonsentrasi. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009, penyebab kecelakaan kerja ini adalah pekerja tidak melepaskan safety guard sebagai pelindung pekerja, karena merasa aman dengan pekerjaannya. Serta kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010, penyebab kecelakaan ini adalah ketidakharmonisan pekerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain factor teknis, faktor non-teknis pun menjadi penyebab dari kejadian kecelakaan kerja, sehingga perlu penyelesaian masalah yang lebih mendalam agar kecelakaan kerja dapat diminimalisir dengan tepat. Saran yang diajukan adalah perlu dilakukan identifikasi dan penilaian risiko pada masing-masing tahapan pekerjaan di PT.Holcim Indonesia Tbk untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Untuk menurunkan nilai risiko keselamatan kerja pada masing-masing tahapan proses shredding, diperlukan upaya pengendalian sebagai berikut pemeriksaaan standard operation dalam bekerja, diberikan pelatihan perilaku keselamatan dengan pengawasan serta pmebrian reward dan punishment pada pekerja. Daftar bacaan : 24 (1985-2010)

47

but within a relatively short time. Safety risks that exist in the enumeration or the shredding process as a whole is scattered residual slip.JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis. installation of guard at the rotating object. commercial buildings and developing infrastructure. organic 48 . hit the screen cover. was hit / hit. hit by falling boxes lightweight materials. working in accordance with the procedures and the installation of safety signs in work areas. to minimize workplace accidents causes of accidents should be investigated and found to be further efforts to obtain corrections to the causes of the accident The purpose of this study is Knowledgeable relationship between safety risk analysis with the occurrence of accidents that have occurred in workers at the facility shredder unit PT Holcim Indonesia Tbk 2010. In addition. whereas secondary form the organizational structure of OH & S. In the process of enumeration or shredding this occurs a serious work accident. tripping over scattered equipment. sprained wrist. Each system is working in a company always has a safety risk. stages Shredder facility and data accidents that have occurred in Shredder facility.This study was conducted in Bogor Indonesia Tbk PT. September 2010 DITA WIANJANI. the handrail is installed for workers from falling. because the market for homes. Shredder newest facility is a facility operated. nearly every year happen in a serious accident at this facility.Holcim Indonesia Tbk in 2010 ABSTRACT PT Holcim Indonesia is a pioneer and innovator in Indonesia who growing rapidly in the cement sector. Control with control engineering done in several stages of work as jobs such as cleaning the handrail. Control by the use of PPE to workers such as safety shoes. slip screens. especially for high-risk jobs. the responsible shredder and accident victims and make observations directly. Control with administrative control with housekeeping. Holcim is an integrated provider of nine different types of cement. fall from height. fell while bypassing the separator screen. as well as a working system a PT Holcim Indonesia has a safety risk that may cause accidents. When compared with other facilities. NIM : 106101003314 Qualitative Analyze the relation between the result of Risk Analyze in Occupational Safety with the occurrence of accidents that have occurred in workers in unit shredder facility PT.Holcim which starts in April-August 2010 through Primary data collection is done by interviewing the staff OH & S. safety helmet. and fire. This is because the shredder facility over a wide range of waste processing facilities other than the machine used and still need care manually. Holcim also has a unit Shredder facility that serves as an enumerator waste facility for alternative fuels in cement production. the worker. hands cut off a screen. Therefore. concrete and aggregates.

the following efforts are needed to control the examination standard operation in the work.Hasil showed that in addition to technical factors.mask. the cause of these accidents is that workers do not remove the safety guard as protectors of workers. non-technical factors were the cause of the work accident. To reduce the value of safety risks at each stage of the process of shredding. goggles.Holcim Indonesia Tbk to prevent accidents. glasess. Arm cut off by the pinched by rotating objects (motion detector) in the year 2009. so we need a more in-depth problem solving to workplace accidents can minimized with proper. the cause of this accident was the disharmony pekerja. And fire at the Hooper happened on 7 April 2010. Reading list: 24 (1985-2010) 49 . Suggestion is to do the identification and assessment of risk at each stage of work in PT. While the incidence of workplace accidents that have occurred in the shredder facility is a wall of separation between storage space and shredder collapsed due to hit the loader in the year 2008 the cause of this accident was the fatigue of workers so that workers do not concentrate. because they feel secure with his job. gloves. be trained in safety behavior with supervision and pmebrian reward and punishment on the workers.

25 Agustus 2010 M. SKM.Si Pembimbing I Catur Rosidati. MKM Pembimbing Skripsi I 50 .Skripsi Dengan Judul ANALISIS KUALITATIF HUBUNGAN ANTARA HASIL ANALISIS RISIKO KESELAMATAN KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA YANG TELAH TERJADI PADA PEKERJA DI UNIT SHREDDER FACILITY PT HOLCIM INDONESIA Tbk TAHUN 2010 Telah disetujui.Farid Hamzens M. diperiksa dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.

....................1 Bagi Peneliti ........................ vi LEMBAR PENGESAHAN .......................................... ................... 1. DAFTAR GAMBAR......................5 Manfaat Penelitian ...............................................................1 Tujuan Umum ........................................................... 1.. viii KATA PENGANTAR..............................4................ xii DAFTAR TABEL ................. 1...... xx 1 xxi 1 5 5 6 6 6 7 7 1.........................4............................................. 1..................... 1......... 51 7 .............................................................. 1. vii RIWAYAT HIDUP...................................................... ii PERNYATAAN PERSETUJUAN ............................................................................ 1..............................................................................................................................................................................................................................................................................4 Tujuan Penelitian .................................................1 Latar Belakang .................. i ABSTRAK .............2 Bagi Perusahaan .................. BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................3 Pertanyaan Penelitian .............DAFTAR ISI LEMBAR PERNYATAAN ...............................................5..................... 1..........................................................2 Tujuan Khusus ............. x DAFTAR ISI .......2 Rumusan Masalah ......................5..............................................................................

....................1 Definisi Kecelakaan Kerja .............. 2.........1.... 2.........................3............................... 2................ 2.....................................................................................1 Penyebab Kecelakaan Kerja ................................................. ........ 2....4......4...............3 Motivasi ....2 Pengendalian Bahaya ........5............... 2.................................................... 2........ .. 2..........................2............................................. 2...1....BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................4 Teori Kecelakaan Kerja ......... 2.................2 Manfaat Manajemen Risiko .5 Metode Identifikasi Risiko .. 2.........................1...2 Kelelahan Kerja ..........................................2........1...............1.........................1 Tujuan Manajemen Risiko .. 10 10 10 13 14 16 23 23 25 26 27 30 30 32 33 34 34 2........ 2............2 Definisi Bahaya ...................................5 Pencegahan Kecelakaan Kerja ................................................. 52 36 2............................4 Manajemen Risiko................. 2............1 Job Safety Analysis (JSA)......1 Jenis-jenis Risiko 2....................... 2..........................1...............6 Klasifikasi Kecelaakaan Akibat Kerja ..............................3 Definisi Risiko ......1 Jenis-jenis Bahaya……………………………….........

..............Holcim Indonesia Tbk ……….......5 Pengolahan data Analisis Data ..... 55 55 55 55 56 56 56 58 60 62 62 62 64 4.......BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH ....... 49 BAB IV METODE PENELITIAN ..............1.........................1...............................2 Definisi Istilah .............................. 5..........Holcim Indonesia Tbk ………… 5.2 Visi dan Misi PT..........................................2.................2.......................1 Lokasi Penelitian .............................................. 5..........1.....................2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4........... 4................. 4....................4 Metode Pengumpulan Data ..................................3 Struktur Organisasi PT........... ..................................................................................... BAB V HASIL .......1 Gambaran Perusahaan ……………………………………….......6 Validitas Data ..................... 4.Holcim Indonesia Tbk ………………............... 4........................ 47 3.......................................... 5............. 4... ................1 Kerangka Berpikir.... 53 64 .......................1 Sejarah Perusahaan PT.......................................2 Waktu Penelitian ...............................................................3 Informan ... 47 3... 4....................................1 Metode Penelitian ……………………………………….

1 Membersihkan Handrail ………………………….2.2..2.2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji ……………………… 5.3.2. 5.1.1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper ………… 5...4 Adjusting belt conveyor ……………………………… 5.1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material pada Truk ……………………………………………… 5.2 Mengecek Chute Magnet separator ………………… 5.3.2.1 Tahap Persiapan Awal ……………………………….4.1.2.5.. 5.3.1.3...2. 5.3..2.2. 5.1.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran . 106 5..1 Membersihkan handrail ………………………………… 5.4.2. 106 101 102 101 54 .2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material ……………..1.2.3...1 Perapihan Material oleh Wheel Loader …………….2..4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Product ………………………………………………………. 5.3 Tahap Shredding ………………………………………… 5..3 Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT.. 5.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ……………………….2..3 Membersihkan Screen ……………………………….2.. Tahap Memberikan Parfum pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………………… 77 78 79 80 87 87 91 91 92 94 5.

5..3 Tahap Shredding ………………………………………… 5. 5.3 Memberikan Parfum pada Shredder dan Material ….3.1 Memasukkan Material pada Hooper ………………… 5.2 Menebar Serbuk Gergaji ……………………………..1 Tahap Persiapan Awal …………………………………....4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT. 5.2.3.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.Holcim Indonesia Tbk …………………………………….3.3.Holcim Indonesia Tbk …………………………… 5.4 Tahap Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Produk ……………………………………………………… 5. 5.4.4.4.. 118 121 121 123 125 130 130 5.3.3.5.4.3.3.1 Kecelakaan Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang 152 136 136 142 144 149 55 . 5.1 Perapihan Material oleh Wheel Loader ……………….. 5.3.4.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran …… 132 5.4.3.DAFTAR TABEL 5..4 Memasukkan Product pada Box dan Pengiriman Box ….1 Menaikkan Box yang Sudah Terisi Material pada Truk ………………………………………………………….3 Tahap Shredding ………………………………………. 5.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material …………...3. 5..

1..........3 Perbandingan Kejadian Hasil Analisis Tahap Shredding dengan 156 Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada Hooper …………....... 6..1.DAFTAR GAMBAR 5..1 Tahap Persiapan Awal .1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Persiapan dan Kecelakaan Kerja Penyimpanan Material dengan Kejadian Tertabraknya Tembok Pemisah antar Ruang Penyimpanan dan Shredder …………....…………………………………………… 5.........3. 56 6.6.………………………...3.. ……………..... 6. 6...6...6....3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 158 157 158 158 ……………………………………………………………...4 Adjusting belt conveyor ……………………….1 Membersihkan Handrail ………………… ………..... 6.2 Mengecek Chute Magnet Separator …………….... ………………...1 Keterbatasan Penelitian……………...... 6.. … 6...3...2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT. 159 159 ....………………………………………………………… BAB VI PEMBAHASAN ...........3.... Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 ……………….....1...2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting Belt Conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus 155 …………...…………………………………………… 5.......

4..2 Pembahsan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Lengan yang Terputus …………… 181 6..2 Mengirimkan Box Menuju Tempat pembakaran / PreHeater …………………………………………...3.3...1 Keterbatasan Penelitian……………..……………………….....4. 6.......3.3.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja 179 177 177 172 Tertabraknya Tembok Pemisah Antara Ruang Penyimpanan dan Shredder…………………………………………………………..3....6......1 Tahap Memasukkan Material pada Hooper …………… 6..... Holcim Indonesia Tbk …………………………… 6.3 Tahap Memberikan Parfume pada Fasilitas Shredder dan Material ………………………………………….4 Tahap Memasukkan produk pada Box dan Pengiriman Produk …………………………………………………… 6..3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper …………………..... 57 ..2 Tahap Menebar Serbuk Gergaji pada Lantai yang Terkena Residu ……………………………………… 6................3. 6..4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT.4....3.... 6.3.3 Tahap Shredding ………………………………………… 170 170 6...... BAB VI PEMBAHASAN .3.1 Tahap Menaikkan Box yang Sudah Terisi oleh Material 175 pada Truk ………………………………….. 6..4.......4..... 6...3.

... 188 188 7........BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN.........................................................1 Kesimpulan.. 7......................................... 190 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 58 ........................................................................................2 Saran.............

3 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatam Kerja pada Tahap Shredding 83 59 89 .5 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Semikuantitatif ……………… 44 2..2 Tabel Definisi Istilah Kejadian Kecelakaan Kerja ………………… 57 4. 43 2..1 Tabel Definisi Istilah Tahapan Analisis Risiko …………………….3 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Semikuantitatif …………….1 Tabel Data Sekunder ……………………………………………… 58 4....1 Tabel Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif ………………….. 45 2. 5.1 Tabel Indentifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal ………………………………………………………………… 5.. 43 2.Daftar Tabel 40 2.4 Tabel Triangulasi Metode …………………………………………… 5.2 Tabel Data Primer …………………………………………………… 60 4. 42 2.2 Tabel Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif ……………………..3 Tabel Triangulasi Sumber …………………………………………. 53 3.7 Tabel Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross… 49 3.2 Tabel Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ……………………………………………………………………….. 41 2.6 tabel Kategori Tingkat Risiko dengan Metode Semikuantitatif ……. 61 4...4 Tabel Skala Ukur Eksposure Secara Semikuantitatif ……………….

9 Evaluasi Risiko Keselamatan Tahap Persiapan ……………………. 6...2 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap Memasukkan Produk pada Box 143 dan Pengirimannya …………………………………….Daftar Tabel 5.0 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja Tahap persiapan dan Penyimpanan Material ……………………………………………….1 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding ………….7 Analisis Risiko Keselamatan kerja Tahap Shredding ……………… 5..... 134 5. 6... 6. 138 127 60 ........8 Analisis Risiko Keselamatan Kerja Tahap memasukkan Produk pada Box dan pengirimannya …………………………………………….

Daftar Gambar 2.1 Gambar Manajemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 : 1999 ………… 3.1 Gambar Kerangka Berpikir Hubungan Hasil Analisis Tingkat Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja ………………………………….. 5.1 Gambar Logo Holcim ………………………………………………... 5.2 Gambar Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia Tbk …………… 63 5.3 Gambar Green Pyramid ……………………………………………… 65 5.4 Gambar Struktur Organisasi OH&S Corporate ……………………… 48 33

61

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Data Pribadi Nama Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Kewarganegaraan Alamat Telepon Email Universitas Jurusan Peminatan : Dita Wianjani : Sukabumi, 20 November 1987 : Perempuan : Islam : Indonesia : Kp.Pangkalan raya rt 02/02 No.38 Cibuluh Bogor Utara : 085697493402 : michikakazuya@yahoo.co.id : UIN Syarif Hidayatullah : Kesehatan Masyarakat : Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Latarbelakang Pendidikan Formal     1994- 2000 2000- 2003 2003- 2006 2006 –2009 Masyarakat Informal   2001-2003 2004-2005 (Conversation) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional (LIA) : Lembaga Bahasa dan pendidikan Profesional LIA : SDN Pengadilan 2 Bogor : SMPN 8 Bogor : SMAN 6 Bogor : Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurusan Kesehatan

62

Pengalaman    2006-2008 2008 : Staff pengajar yayasan Miftahul Jannah Cimanggu Bogor : Mengikuti program beasiswa Youth Leadership Trip ke

Malaysia dan Thailand 2007-2008 : Bendahara BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat

63

KATA PENGANTAR ‫ت ه ك ا ب ر و هلل ا ورحمة ع ل ي كن م ل س ال ا‬

Segala puji kehadirat Allah SWT, yang tidak pernah tidur dan selalu dekat dengan hamba-Nya. Syukur senantiasa terucapkan atas segala nikmat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Kualitatif Hubungan antara Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja dengan Kejadian

Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Pekerja di Unit Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010”. Skripsi ini disusun sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyusunan skripsi ini semata-mata bukanlah hasil usaha penulis, melainkan banyak pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, motivasi, dan semangat. Untuk itu penulis merasa pantas berterima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. (hc). dr. M.K. Tadjudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak dr. Yuli P. Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Bapak M.Farid Hamzens Msi serlaku pembimbing I, yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis 4. Ibu Catur Rosidati, SKM. MKM, selaku Dosen Pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing penulis. 64

Rima dan Erangga yang selalu memberikan motivasi dan dukungannya 11. dr. MKKK. Ibu. Ibu Iting Shofwati.5. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). ST. 7. Tim OH&S PT Holcim Indonesia Mas Pungki Yudono dan Mas Ahmad Azhar selaku pembimbing lapangan atas bimbingan dan bantuannya dalam proses pengambilan data. khususnya mengenai analisis risiko keselamatan kerja Jakarta. selaku Koordinator K3 yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Seluruh dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat (PSKM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Teman-teman Kesehatan Masyarakat ’06 FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 9. Tetap Semangat Untuk Masa Depan yang Lebih Baik. Bapak. Agustus 2010 Penulis 65 . 10. dan adikku tercinta atas dorongan dan bantuannya baik material dan spiritual sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 8.

Riset ILO menghasilkan kesimpulan bahwa setiap tahun.090 orang. pengusaha.624 kasus kecelakaan kerja dan tahun 2007 terjadi sebanyak 83. Berdasarkan angka perkiraan konservatif. tetapi juga bagi dunia karena kesemuanya ini menyedot biaya kompensasi yang sangat besar. lebih dari 2 juta manusia meninggal dunia akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang terkait dengan pekerjaan.50 66 . 2007) Dari data statistik ini tentunya kita akan paham bahwa kerugian yang ditimbulkannya sangat masif. dan pemerintah. bukan hanya bagi pekerja.BAB I PENDAHULUAN 1. Pada tahun 2008 terjadi sebanyak 93. tahun 2006 terjadi 95. dengan jumlah pekerja yang sembuh 85.314 kasus di tahun 2009 (Jamsostek. 2010). setiap tahun di seluruh dunia kecelakaan dan sakit di tempat kerja membunuh dan memakan banyak korban. sedangkan yang cacat total 44 orang (Jamsostek. Depnakertrans menyatakan angka kecelakaan kerja di Indonesia pun masih tergolong tinggi. 2008) dan terdapat 96.(ILO. sedangkan kerugian secara tidak langsung mencapai Rp. Data PT Jamsostek Indonesia (2008) menyatakan bahwa “ K erugian langsung akibat kelalaian manusia dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebesar Rp.714 kasus .1 Latar Belakang Berdasarkan ILO.300 miliar.823 kasus. ada 270 juta kecelakaan kerja dan 160 juta kasus penyakit yang terkait dengan pekerjaan.

Faktor dasar penyebab adanya kecelakaan kerja adalah buruknya manajemen K-3. Sedangkan faktor penyebab langsung timbulnya kecelakaan kerja adalah tidak adanya upaya pengendalian risiko dan adanya potensial bahaya di tempat kerja. sumber penyebab dasar. Data yang dilansir Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan sinyal betapa kecelakaan kerja dan kematian akibat kerja sudah pada tingkat mengkhawatirkan. yaitu manajemen. Dalam teorinya. Birds memodifikasi teori Heinrich dan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan.000 pekerja per tahun merupakan angka yang cukup besar. dan kerugian. Ketiga hal tersebut menimbulkan unsafe action (tindakan yang tidak aman) dan unsafe condition (kondisi yang tidak aman) yang merupakan faktor tidak langsung penyebab kecelakaan kerja. kontak. 67 . sehinggga kecelakaan kerja dapat segera dicegah dan diminimalisasi frekuensinya. Maka. Jumlah kematian lebih dari 14. oleh karena itu faktor penyebab kecelakaan dan faktor-faktor lainnya harus segera dikendalikan dengan benar. Tingginya angka kematian akibat kecelakaan dan penyakit kerja mendesak dilakukannya analisa secara komprehensif terhadap penyebab kematian dialami pekerja atau buruh. dapat dikatakan kerugian secara tidak langsung akibat kecelakaan kerja setiap tahun mencapai 15 kali dari kerugian secara langsung.truliun “. gejala. tidak adanya komitmen perusahaan untuk menerapkan SMK3 serta faktor lingkungan kerja. pada tahun 1967.

Fasilitas ini merupakan sub kerja pada departmen Geocycle yang berfungsi sebagai pre-handling limbah. PT Holcim Indonesia adalah perusahaan produksi semen yang memiliki unit kerja baru bernama Geocycle. oil sludge facility dan Shredder facility. Biomess facility merupakan fasilitas yang mengolah serbuk gergaji dan sekam padi menjadi bahan bakar alternatif . padat dan sampah rumah tangga. Oil Sludge facility adalah fasilitas yang yang mengolah paint sludge menjadi bahan bakar alternatif dan Shredder facility adalah fasilitas yang mengolah berbagai limbah cair. di antaranya Biomess Facility. Dari hasil observasi dan wawancara mengenai data kecelakaan kerja pada tiga fasilitas yang dibawahi oleh Geocycle sebagian besar kecelakaan kerja terjadi di Shredder facility yang melakukan pengolahan limbah dengan metode pencacahan atau shredding. Terdapat tiga fasilitas pemanfaatan limbah yang dibawahi oleh unit Geocycle. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah.mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. yaitu : 68 . Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. Geocycle adalah layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen.

Shredder facility merupakan fasilitas terbaru yang dioperasikan. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2008 2. sehingga secara mudah risiko dapat diminamilisir dengan menentukan pengendalian yang tepat. Hal ini dikarenakan shredder facility mengolah lebih beraneka ragam limbah dibanding fasilitas yang lain dan mesin yang digunakan masih butuh perawatan secara manual.1. perlu dilakukan upaya analisis risiko keselamatan kerja yang terintegrasi ke dalam manajemen risiko yang dimulai dengan identifikasi risiko sampai dengan menentukan tingkat risiko keselamatan kerja dan menghubungkannya dengan fakta kecelakaan kerja yang pernah terjadi di tempat tersebut. Oleh karena itu. Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 Jika dibandingkan dengan fasilitas lain. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2009 3. hampir pada setiap tahunnya terjadi kecelakaan kerja yang serius pada fasilitas ini. namun dalam waktu yang relatif singkat. 69 .

Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 3. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010? 4. dan hubungannya dengan kejadian kecelakaan kerja di shredder facilitysehingga dapat dilakukan tindakan pengendalian bahaya dengan tepat. Dari data kecelakaan di shredder facility PT Holcim Indonesi Tbk pada tahun 2008 – 2010 kecelakaan kerja telah terjadi pada operator dan fasilitas di shredder. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran consequences. Bagaimana gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. Bagaimana gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk dan gambaran proses kerja shredder di PT. Bagaimana gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi). Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 2.3 Pertanyaan Penelitian 1.1. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah dalam proses operasinya shredder facility mengalami banyak kecelakaan apabila dibandingkan dengan fasilitas lain yang sudah beroperasi lebih lama di Geocycle. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap bahaya-bahaya keselamatan pada pengoperasian shredder untuk diketahuinya tingkat risiko keselamatan kerja di tempat tersebut. 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 70 .

Bagaimana gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 71 . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 6. Diketahuinya gambaran struktur organisasi OH&S PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 dan gambaran proses kerja shredder di PT.2 Tujuan Khusus : 1. Diketahuinya gambaran risiko (baik potensi yang ada dan kejadian kecelakaan yang pernah terjadi).4.4 Tujuan Penelitian 1. Bagaimana gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT.1 Tujuan Umum Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.5. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 1. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 ? 7. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 2. penyebab dan upaya pengendalian yang dilakukan pada pengopersian shredder di PT. 1.4. Bagaimana hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi dengan pada pekerja di unit shredder facility di PT.

Diketahiumya gambaran consequences.5.2 Perusahaan a.5. 72 . Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Diketahuinya gambaran kecelakaan kerja di unit pengopersian shredder di PT. Diketahuinya hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi facility di PT. Memberikan bahan masukan pada institusi terkait mengenai pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) . Diketahuinya gambaran evaluasi risiko keselamatan pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 pada pekerja di unit shredder 1.5 Manfaat Penelitian 1.3.1 Peneliti : Meningkatkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang K3 khususnya dalam melakukan analisis resiko keselamatan kerja 1. 4. b. Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara perusahaan dengan program studi kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. exposure dan probability risiko keselamatan kerja pada pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 5. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.’ 7. Diketahuinya gambaran tingkat risiko (level of risk )keselamatan kerja pada kegiatan pengopersian shredder di PT. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 6.

Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 yang berada di Cileungsi. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Penelitian ini dilakukan di unit Shredder Facility PT. penanggung jawab shredder dan korban kecelakaan kerja.1. Dapat dijadikan salah satu sumber informasi mengenai analisi risiko fan hubungannya terhadap kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi. sedangkan data sekunder berupa 73 . Bogor dan dilakukan selama bulan AprilAgustus 2010. Sebagai sarana untuk menjalin serta membina network dan kerjasama dengan perusahaan atau institusi lain dibidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3). 1999/2004). b. 1.5.Serta melakukan observasi secara langsung.6 Ruang Lingkup Penelitian ini adalah penelitian analisis kualitatif hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT.3 Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta a. pada pekerja.Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan melihat hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Untuk mengetahui tingkat risiko digunakan metode analisis risiko secara semikuantitatif Standar Australia/Standar New Zealand (AS/NZS 4360. Sasaran dari penelitian ini adalah proses shredding (pencacahan). Data primer dilakukan dengan wawancara kepada petugas OH&S .

struktur organisasi OH&S, tahapan pekerjaan Shredder facility dan data kecelakaan kerja yang telah terjadi di Shredder facility. Penelitian ini dilakukan oleh

mahasiswa Program Studi kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

74

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecelakaan Kerja Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan. Tak terduga karena di akhir peristiwa itu ada unsur ketidaksengajaan, tak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian materil maupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Suatu peristiwa dapat digolongkan suatu kecelakaan jika bersifat diluar kamauan manusia, disebabkan oleh kekuasaan dari luar yang berlangsung secara cepat dan menyebabkan cidera badan dan jiwa (Suma’mur, 1996). Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang, kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah, 2003) 2.1.1 Penyebab Kecelakaan Kerja Menurut Sahab (1997), penyebab kecelakaan kerja di tempat kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu : a. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan: 1). Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain. 2). Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain.

75

3). Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain. 4). Sifat kerja. 5). Cara kerja b. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi oleh faktor-faktor: 1). Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan. 2) cacat tubuh yang tidak kelihatan. 3) keletihan dan kelelahan. 4) sikap dan tingkah laku yang tidak aman. Secara umum ada dua penyebab terjadinya kecelakaan kerja yaitu penyebab langsung (immediate causes) dan penyebab dasar (basic causes) (Budiono, 2003): a. Penyebab Langsung Penyebab langsung atau kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan dirasakan langsung, yang dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) dan kondisikondisi yang tidak aman (unsafe conditions) Menurut Ferdy dan Yudi (2008), dari beberapa hasil riset menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995), berdasarkan statistik di Indonesia, 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak 76

aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan kerja dibandingkan dengan kondisi tidak aman (unsafe condition). Menurut Murthi dan Yuri (2009), unsafe act adalah suatu tindakan seseorang yang menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan dan dapat mengakibatkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun peralatan yang ada di sekitarnya. Pendapat lain yang berkenaan, unsafe act adalah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan (Silalahi,1995). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa unsafe act adalah semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, dimana tindakan tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, peralatan maupun lingkungan yang ada di sekitarnya. b. Penyebab Dasar Terdiri dari dua faktor, yaitu faktor manusia/ pribadi dan faktor kerja/ lingkungan kerja. Faktor manusia/ pribadi, antara lain karena: kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi, kurangnya/ lemahnya pengetahuan dan ketrampilan/ keahlian, stres, motivasi yang tidak cukup/ salah.Sedangkan faktor kerja/ lingkungan, antara lain karena: tidak cukup kepimpinan atau pengawasan, tidak cukup rekayasa, tidak cukup pembelian/ pengadaan barang, tidak cukup perawatan, tidak cukup standar-standar kerja, penyalahgunaan.

.

77

dan lain-lain yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive).2 Kelelahan Kerja Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja (Nurmianto. sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pendapat lain mengatakan bahwasanya kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah.2. tendon. Menurut Tarwaka (2004) kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut. motivasi menurun. sedangkan menurunnya rasa lelah.1. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Pembebanan otot secara statispun (Static Muscular Loading) jika dipertahankan dalam waktu yang cukup lama akan mengakibatkan RSI (Repetition Strain Injuries). menambah 2003). Kelelahan adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan menurunkan dalam bekerja kinerja dan (Budiono. 2003). aktivitas 78 . Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasan yang subyektif. Selain itu karakteristik kelelahan akan meningkat dengan semakin lamanya pekerjaan yang dilakukan. tulang. Kelelahan kerja akan tingkat kesalahan kerja. yaitu nyeri otot.

Akan tetapi jika upah tersebut tidak 79 .Selain itu Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati. 1982). penurunan dan hambatan persepsi. vertigo. Gejala kelelahan kerja menurut Gilmer (1966) dan Cameron (1973) yaitu menurun kesiagaan dan perhatian. kecemasan. kegelisahan. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun.1. Rizeddin (2000). dan kesukaran tidur). Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. pengembangan.3 Motivasi Menurut Rawianto (1990) dalam Aldila (2009) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat menyebabkan motor penggerak adalah : Prestasi. 2. cara berpikir atau perbuatan anti sosial. kesempatan. keterlibatan. 1994).menurun. dan balas jasa. kehilangan nafsu makan. tanggung jawab. imbalan tersebut dapat dijadikan motivasi kepada pekerja agar pekerja bekerja dengan kinerja tinggi. penghargaan. pembahan tingkah laku. Menurut Winardi (2001) imbalan berupa gaji atau upahmerupakan salah satu dari imbalan ekstrinsik yang diterima melalui kegiatan bekerja. kurang tenaga. tantangan. (depresi. kehilangan inisiatif). gangguan pencemaan. tidak cocok dengan lingkungan. dan gejala umum (sakit kepala. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. badan terasa tidak enak. gangguan fungsi paru dan jantung.

tetapi jika pekerja mempunyai motivasi dalam diri yang rendah. apabila faktorfaktor ekstrinsik ini tidak dipenuhi makan. gaya kepimimpinan. dan supervise. maka secara langsung perilaku pada saat bekerja akan menjadi tidak selamat. dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental Teori Herzberg pun menyatakan tingginya motivasi kerja pun dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik seperti. Disebutkan bahwa adanya motivasi dalam diri karyawan yang tinggi maka perilaku pada saat bekerja akan menjadi selamat. hubungan antar pribadi. 80 . Menurut penelitian yang dilakukan Shinta Dwi (2009) dimana secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi dengan perilaku tidaka aman. akan berpengaruh pada motivasi kerja. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. kondisi kerja.dipenuhi.

pengaruh lingkungan dan pendidikan. Heinrich (1931) berpendapat bahwa kecelakaan pada pekerja terjadi sebagai rangkaian yang saling berkaitan. Sebelum memahami bagaimana kecelakaan itu dapat terlebih dahulu kita harus memahami urutan bagaimana kecelakaan terjadi dan penyebabnya. dan banyak membuat kesalahan. 81 . Mekanisme terjadinya kecelakaan diuraikan dengan “Domino Sequence” berupa: a. mengakibatkan seorang pekerja kurang hati-hati. Colling (1990) telah mencatat teori-teori kecelakaan sebagai berikut : 1. kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: kondisi kerja. kecelakaan dan cedera. tindakan tidak aman. Teori Domino Heinrich Dalam Teori Domino Heinrich.4 Teori Kecelakaan Kerja Terdapat sejumlah teori tentang kecelakaan.1.2. kelalaian manusia. yakni pada orang yang memiliki sifat tidak baik (misalnya keras kepala) yang diperoleh karena faktor keturunan. Teori tersebut memberikan pengertian terhadap tindakan preventif dan menggambarkan semua factor yang berkaitan terhadap terjadinya kecelakaan atau memperkirakan dengan alasanalasan yang akurat kemungkinan sebuah kecelakaan akan terjadi. Ancestry and environment.

Jika satu kartu jatuh. Menurut penelitian yang dilakukannya. e. kecelakaan mengakibatkan cedera/luka atau berat. merupakan rangkaian dari faktor keturunan dan lingkungan tersebut di atas yang menjurus pada tindakan yang salah dalam melakukan pekerjaan. kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Menurut Heinrich. c. tindakan yang berbahaya disertai bahaya mekanik dan fisik lain. kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama. Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama 82 . Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya. tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan. jika satu bangunan roboh. Unsafe act and mechanical or physical hazards.b. memudahkan terjadinya rangkaian berikutnya. Accident. Fault of person. kecacatan dan bahkan kematian. d. Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. peristiwa kecelakaan yang menimpa pekerja. Injury. Dengan penjelasannya ini. Pada umumnya disertai dengan kerugian.

serta cidera. Heinrich mengemukakan bahwa untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Dalam teorinya. Pada tahun 1967. 83 . perbuatan dan kondisi tidak aman (hazard). yaitu kebiasaan. Birds dalam Suardi (2005) memodifikasi teori domino Heinrich dengan mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan. terdapat lima faktor secara berurutan yang digambarkan sebagai lima domino yang berdiri sejajar. kecelakaan. Misalnya dengan membuang hazard. kesalahan seseorang. dan kerugian. sumber penyebab dasar. Teori itu menyebutkan bahwa pada setiap kecelakaan yang menimbulkan cidera. kuncinya adalah dengan memutuskan rangkaian sebab-akibat. kontak. Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan mulai memeperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan Heinrich dalam Suardi (2005) menemukan sebuah teori yang dinamakan “Teori Domino”. Praktek di bawah standar (unsafe acts) dan kondisi di bawah standar (unsafe conditions) merupakan penyebab langsung suatu kecelakaan dan merupakan penyebab utama dari kesalahan manajemen.yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. satu domino diantaranya. gejala. yaitu manajemen.

Failure to correct problems d. Improper planning c. Berbeda dengan teori Domino Heinrich. Errors b. James Reason membagi penyebab kelalaian/kesalahan manusia menjadi 4 tingkatan: 1. pra-kondisi yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman (preconditions for unsafe acts). tindakan tidak aman (unsafe acts). Violations 2. pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision). Swiss Cheese Model memberikan informasi perihal bagaimana suatu tindakan tidak aman dapat terjadi. menunjukkan bagaimana terjadinya suatu tindakan tidak aman itu. Supervisory violations 84 . pengaruh organisasi (organizational influences). Types of Human Errors: 1.Preconditions for Unsafe Acts a. Teori Chess Model Dalam teori ini. Inadequate supervision b. Conditions of operator b. Informasi berikut. Unsafe Act a. Poor practice of operator 3.2.Unsafe Supervision a.

manajemen mesti mengenali secara spesifik kemungkinan terjadinya kelalaian/kesalahan manusia pada tiap tahapan pekerjaan yang dilakukan karyawan. dimana model ini menyertakan 2 (dua) kemungkinan penyebab kecelakaan seperti yang dikemukakan dari teori domino: kesalahan manusia atau kesalahan sistem. Melalui pendekatan ini. Dalam berbagai aspek. maka kecelakaan menjadi tak terhindarkan. Jika keempat keju ini (unsafe act. Organizational InfluencesResource management a. karyawan tidak lagi menjadi pihak yang melulu dipersalahkan jika suatu kecelakaan terjadi. manajemen yang justru dituntut untuk melakukan segala upaya yang diperlukan untuk melindungi karyawannya 3. Teori Kecelakaan Pettersen Model ini berbeda dari model Ferrell. Agar kecelakaan dapat dicegah. Organizzational process Dalam Swiss Cheese Model. preconditions for unsafe acts. teori ini mampu memberi banyak sumbangan atas pencegahan kecelakaan kerja. and organizational influences) sama-sama mempunyai lubang. unsafe supervisions. Penyebab-penyebab kecelakaan dan atau insiden dapat bersumber dari salah satu atau keduanya. 85 . berbagai macam types of human errors ini merepresentasikan lubang pada sebuah keju.1. Organizational climate b. Melalui Swiss Cheese Model.

rangkap.Model ini menyatakan bahwa di belakang kesalahan manusia ada 3 (tiga) kategori besar: beban yang berlebih. 4. Bird dan Germain (1990) menjelaskan bahwa suatu kerugian (loss) disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor 86 . Teori Loss Causation Model Loss Causation Model berisikan petunjuk yang memudahkan penggunanya untuk memahami bagaimana menemukan faklor penting dalam rangka mengendalikan meluasnya kecelakaan dan kerugian termasuk persoalan manajemen. prioritas sistem dimana mereka berada. Teori ini mengemukakan bahwa pengambilan keputusan yang salah pada suatu kondisi yang disadari atau tidak bertindak tidak aman. ergonomic. Berkali-kali pekerja akan memilih untuk mengerjakan tugas dengan tidak aman karena sederhana saja. Beban yang berlebih kurang lebih seperti Ferrell Model.Teori ini mengadopsi teori Ferell yang menyertakan kesalahan sistem disamping kesalahan manusia. dan pengambilan keputusan yang salah. dikarenakan tekanan dari teman. ini lebih masuk akal dalam situasi mereka mengerjakannya dengan tidak aman daripada mengerjakannya dengan aman. Perbedaan yang utama adalah pada kategori ketiga yaitu keputusan yang keliru. tekanan produksi. Kategori ini mengajukan bahwa para pekerja sering melakukan kesalahan melalui keputusan-keputusan secara sadar atau tidak sadar. dan lain-lain. dan keputusan yang keliru. Teori ini mengkategorikan tiga kelompok besar penyebab kecelakaau yaitu overload (sama dengan teori Ferell).

Lack of Control (kurang kendali) Pengendalian adalah salah satu faktor penting dalam meneegah terjadinya kecelakaan. yang terdiri dari: 1. tidak sesuainya design engineering. Inadequate compliance -with standards Kurangnya pemenuhan sering terjadi. 2. Immediate causes meliputi faktor sub-standard dan faktor kondisi. b. c. 3. Faktor substandard diantaranya tindakan tidak aman seperti mengoperasikan unit 87 standar merupakan penyebab yang tidak bervariasi yang . standar tidak jelas atau standar tidak baik. Immediate Causes Suatu kejadian yang secara cepat memicu terjadinya kecelakaan bila kontak dengan bahaya. Basic Causes: (penyebab dasar) Penyebab dasar terjadinya kecelakaan disebabkan oleh: a. b. faktor kepemirnpinan atau kepengawasan.yang berurutan seperti yang terdapat dalam Loss Causation Model. Inadequate programe Hal ini dikarenakan program yang berhubungan dengan ruang lingkup. Penyebab lack of control yaitu: a. Inadequate programe standards Tidak spesifiknya standar. Job factor. Personal factor.

b. d.5 Pencegahan Kecelakaan Menurut Bennett NBS (1995) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati dengan dua aspek. faktor kondisi seperti kebisingan. ventilasi iklim kerja dan lain-lain.6 Klasifikasi kecelakaan Akibat Kerja Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut ILO tahun 1962 adalah sebagai berikut: 88 . cara kerja. dsb). Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsure yang berkaitan).1. perlengkapan. letak. Menurut Julian B. Memberikan pendidikan (training) kepada tenaga kerja atau karyawan tentang kecelakaan dan keselamatan kerja. material dan struktur perencanaan b.1. c.Olishifki (1985) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut : a. mesin. Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada dalam perusahaan tersebut. 2. Memperkecil (menekan) kejadian yang membahayakan dari mesin. Aspek perangkat keras (peralatan. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga 2. yakni : a.tanpa ijin.

Alat angkut dan alat angkat. Terjepit oleh benda. 89 . Terkena arus listrik h. 3. Tertumbuk atau terkena benda-benda. f. d. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan. Tertimpa benda jatuh. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan. Luka-luka lain. Mesin. c. Amputasi. c. Peralatan lain. Diskolasi atau keseleo. Memar dan luka dalam yang lain. Bahan-bahan. Patah tulang. Pengaruh suhu tinggi g. Kontak dengan bahan-bahan yang berbahaya atau radiasi 2. terkecuali benda jatuh. b. Lingkungan kerja.1. b. e. e. antara lain: a. g. zat-zat dan radiasi. antara lain: a. b. Gegar dan remuk. Regang otot atau urat. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan. antara lain: a. f. c. e. Terjatuh. d. Klasisfikasi menurut penyebab. d.

antara lain: a. Akibat cuaca dan lain-lain. Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya. k. baik secara fisik maupun mental. Anggota bawah f. bahaya adalah suatu sumber potensial yang merugikan. Badan d. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh. Anggota atas e. Pengaruh radiasi. Mati lemas. i.2 Bahaya Menurut AS/NZS 4350:2004. Luka bakar. j. n. Banyak tempat g. Kepala b. m. 4. Keracunan-keracuan mendadak (akut). l.h. Leher c. bahaya ditempat kerja adalah segala sesuatu di tempat kerja yang dapat malukai pekerja. 90 . Kelainan umum 2. Sedangkan menurut Labor Occupational Health Program. Pengaruh arus listrik.

flammable.1 Jenis-jenis Bahaya Jenis-jenis bahaya yang berada di tempat kerja secara garis besar dikelompokan menjadi (Wells. lingkungan. radiasi. 91 . irritant. pencahayaan. explosive. produk. 2009). Physical hazard (Bahaya Fisik) Berupa energy seperi kebisingan. corrosive. proses atau cara kerja yang dapat menimbulkan kerugian terhadap keselamatan dan kesehatan seseorang (Workover. 2. kerusakan pda peralatan.Bahaya mewakili satu sumber energy yang memilki potensi yang dapat menyebabkan terjadinya cidera pada pekerja. seperti bakteri. reactive. Donoghue. limbah dan pekerja itu sendiri (Hendra. proses produksi. getaran. 2002.2. jamur. Chemical hazard Bahan kimia berbahaya dalam bentuk gas. lingkungan kerja. 3. tekanan udara. padar yang mempunyai sifat toksik. virus. cair. Biological hazard Bahaya yang berasal dari mikroorganisme khususnya yang pathogen yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.Hazard atau bahaya adalah potensi yang dimiliki oleh bahan/ material. 2. Bahaya dalam K3 adalah bahaya yang terdapat dilingkungan kerja yang dapat berasal dari bahan baku/material. 1996. proses kerja. tempratur ekstrim. Plog. 2004) 1. asphyxia. dan struktur (ILO encyclopedia). Australia).

terjepit. tertusuk. jam kerja yang panjang. 6. 2. Ergonomic (Aspek ergonomik) Merupakan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan sebagai akibat dari ketidaksesusaian antara desain kerja dengan pekerja.Electrical hazard (bahaya listrik) Merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik pendek (konsleting). tergores.2 Pengendalian Bahaya Pekerja tidak dapat dilindungi apabila bahaya yang ada belum diidentifikasi dan dievaluasi. Berbagai metode untuk melindungi pekerja atau pengendalian bahaya telah diciptakan. pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang. 7. tersayat.Ada tiga jenis pengendalian (Diane Bush. Mechanical hazard (bahaya mekanik) Bahaya yang terdapat pada benda-benda atau proses yang bergerak yang dapat menimbulkan dampak seperti terpotong. dan cara kerja yang salah 5 . 2000) 92 . Psychological hazard (bahaya psikososial) Stress.4. loncatan listrik/ listrik statik. tekanan pekerjaan. kekerasan ditempat kerja.2. dkk.

Pengadaan ruang control 93 . Menggunakan produk yang lebih aman c. tetapi digunakan untuk membatasi waktu kontak antar pekerja dengan bahaya. Rotasi atau pergantian shift kerja b. Pengendalian Engineering Adalah pengendalian yang dilakukan dengan tujuan mengurangi bahaya pada sumber dan media transmisinya.Yang termasuk dalam jenis pengendalian engineering antara lain adalah : a. Sasaran dari pengendalian teknik adalah bahaya yang secara langsung dan efektifitasnya tidak tergantung pada perilaku pekerja. Memasang ventilasi buangan local 2. Pengendalian engineering merupakan pengendalian yang terbaik karena menghilangkan bahaya yang ada atau menghilangkan kemungkinan bahaya tersebut mengenai pekerja. Mengisolasi proses atau pekerja d. untuk pemaparan Pengendalian administrative tidak menghilangkan bahaya secara langsung. Pengendalian Administratif Pengendalian membatasi administrative melalui adalah rencana pengendalian kerja. Yang termasuk dalam pengensalian administrative antara lain : a.Untuk menjadi efektif. pengendalian administrative bergantung pada perilaku manusia.1. Mendesain ulang mesin b.

rapi. Alat pelindung diri digunakan sebagai cara terakhir untuk melindungi pekerja bila pengendalian engineering dan administrative tidak mungkin dilakukan atau dalam keadaan darurat. Pengadaan color code labeling dan material safety data sheet (MSDS) e. Ear plug dan ear muff. Housekeeping atau penataan tempat kerja yang ringkas.Alat pelindung diri tidak menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yang ada. pelindung kaki 94 .c. Monitoring lingkungan 3. Pengadaan pelatihan d. Safety shoes. Kebijakan-kebijakan K3 i. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya Dengan menempatkan penghalang antara pekerja dengan bahaya. diantaranya : 1. Standard Operation Procedure (SOP) DAN Work Instruction h. proteksi pendengaran 2. Pemeriksaan kesehatan g. f. Alat Pelindung Diri (APD) Alat pelindung diri adalah alat yang digunakan untuk melindungi diri terhadapa potensi bahaya/kecelakaan kerja akibat proses produksi atau pekerjaan. Ada banyak sekali jenis-jenis alat pelindung diri.

Masker. fume 2. dkk.3. Safety goggle. asap. uap. bersifat akut dan fatal.1 Jenis-jenis Risiko Adapun jenis-jenis risiko yaitu (Rao V. bahan kimia. risiko diukur berdasarkan adanya kemungkinan terjadinya suatu kasus dan konsekuensi yang dapat ditimbulkan. baik dampak kesehatan maupun yang lainnya. kehilangan hari kerja. Kolluru. 1996) a.Risiko ini dapat terjadi sewaktu-waktu. Kerugian-kerugian yang biasanya terjadi dalam risiko keselamatan adalah cedera. 2. pelindung kepala 5. risiko adalah suatu kesempatan dari kejadian atau peristiwa yang dapat menimbulkan dampak pada sasaran. Safety risk (risiko keselamatan) Risiko keselamatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan rendah untuk terjadi tetapi memiliki konsekuensi besar. kerusakan property dan kerugian produksi dan penjualan.3. pelindung mata 4.3 Risiko Menurut AS/NZS 4360:2004.Risiko dalam konteks K3 berarti besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan potensi kerugian yang muncul. 95 . melindungi pernafasan dari debu. Helm. Sarung tangan 6.

Financial risk (risiko keuangan) Risiko keuangan berkaitan dengan masalah ekonomi. contohnya adalah kelangsungan suatu bisnis.Risiko jenis ini dapat terjadi kapan saja secara terusmenerus dan berdampak kronik.b. asuransi dan inventasi e. 96 . berdampak besar pada populasi atau komunitas. Enviromental risk (risiko lingkungan) Risiko ini berhubungan dengan keseimbangan lingkungan. gangguan reproduksi dan gangguan metabolic atau sistemik. Ciriciri risiko lingkungan adalah perubahan yang tidak signifikan. berubahnya fungsi dan kapasitas habitat dan ekosistem serta kerusakan sumber daya alam d. gangguan syaraf. mempunyai masa laten yan panjang. Sehingga hal-hal yang tidak diharapkan seperti pencemaran air dan udara dapat dihindari. Health risk (risiko kesehatan) Risiko kesehatan adalah suatu risiko yang mempunyai kemungkinan tinggi untuk kterjadi tetapi memiliki konsekuensi yang rendah. c. Penyakit-penyakit yang terjadi misalnya gangguan pernafasan. Public risk (risiko masyarakat umum) Risiko ini berkaitan dengan kesejahteraan kehidupan orang banyak.

4.2. 3. Menetapkan evaluasi untuk menetapkan skala prioritas dan membandingkan dengan kriteria yang ada. Melakukan analisis risiko untuk menetapkan kemungkinan dan konsekuensi yang akan terjadi serta menetapkan tingkat risiko. 7. 2. Melakukan pengendalian risiko yang tidak dapat diterima. 97 . Melakukan pemantauan dan tinjauan ulang program manajemen risiko yang telah dilaksanakan. yaitu : 1. proses.4 Manajemen risiko Menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Komunikasi dan konsultasi yang dilakukan dalam proses manajemen risiko yang melibatkan pihak internal dan eksternal. 6. Beberapa tahapan dalam melaksanakan manajemen risiko menurut Australian Standard / New Zealand Standard 4360 : 1999. Menetapkan tujuan dan lingkup pelaksanaan manajemen risiko. 5. manajemen risiko adalah pemeliharaan. dan struktur yang mengacu langsung pada pengetahuan efektif terhadap kesempatan potensial dan efek yang merugikan. Melaksanakan identifikasi risiko.

\ COMMUNICATE AND CONSULT ESTABLISH CONTEXT MONITOR AND REVIEW ANALYSE RISKS EVALUATE RISKS TREAT RISKS Gambar 2. RISKS ASSESMENT IDENTIFY RISKS 98 . 2005). Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugian. Memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi dengan meminimalkan kerugian.1 Tujuan Manajemen Risiko Manajemen risiko bertujuan untuk memaksimalkan kemajuan dalam mencapai tujuan organisasi dengan cara meminimalkan kerugian yang akan terjadi. Membantu meminimalisasikan meluasnya efek yang tidak diinginkan terjadi.1 Tahapan Manajemen Risiko Menurut AS / NZS 4360 : 1999 2. Tujuan manajemen risiko menurut AS/NZS 4360 (1999) adalah sebagai berikut : 1. 3. 2.4. (Supriyadi.

Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan dari kemungkinan tersebut. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif. 4. 5. Meningkatkan produktifitas kerja. 2. Melakukan peningkatan pengmbilan keputusan pada semua level.5 Metode Identifikasi Risiko Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan identifikasi risiko untuk mengetahui faktor penyebab dan proses terjadinya konsentrasi atau dampak. Menciptakan manajemen proaktif bukan reaktif.4. 2. lingkungan kerja. 5. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan. 3. Mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan perlindungan aset. 6.4. Menyusun program yang tepat untuk menimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan. produksi dan mencapai performa perusahaan yang lebih baik.2 Manfaat Manjemen Risiko Menurut AS/NZS 4360 (2004) manfaat menerapkan manjemen risiko adalah : 1. Beberapa contoh metode identifikasi risiko tersebut adalah sebagai berikut : 99 . 2.

(Colling. Preeliminary Hazard Analysis Preeliminary Hazard Analysis adalah suatu metode yang dilakukan dalam mengetahui bahaya-bahaya awal pada suatu sistem baru. 1990). Hazard and operability Study and operability Study (HAZOPS) dapat digunakan untuk Hazard mengidentifikasi bahaya pada industri kimia. fasilitas. b.a. Failure Mode Effect Analysis Failure Mode Effect Analysis adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis sistem yang berhubungan dengan engineering yang mungkin mengalami kegagalan dan efek yang ditimbulkan dari kegagalan. tingkat bahaya yang dihasilkan dari kegagalan dan bagaimana kegagalan tersebut dicegah atau diminimalisasi (Colling. Check List Check List digunakan sebagai cara untuk mengetahui kondisi awal pada suatu kondisi yang meliputi aspek-aspek safety. 1990). d. HAZOPS digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi proses yang berhubungan dengan safety 100 . Failure Mode Effect Analysis secara sistematis menilai komponen dari dari suatu sistem tentang bagimana sistem dapat gagal lalu mengevaluasi efek dari kegagalan tersebut. 1999). konsep design atau prosedur operasi (Diberadinis. Preeliminary Hazard Analysis dilakukan jika tidak ada suatu informasi mengenai sistem tersebut. Safety checklist dapat digunakan untuk mengevaluasi perangkat peralatan. c.

1996). JSA dapat digunakan untuk menghulangkan atau mencegah bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja. 1996). 101 .5. e. b) Membagi pekerjaan ke dalam tahapan tugas. Job Job Safety Analysis Safety Analysis adalah suatu proses yang dilakukan dalam mengidentifikasi bahaya melalui langkah-langkah kerja yang ada. Setiap langkah dianalisis untuk mengisentifikasi potensi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut (Geotsch. Fault Tree Analysis (FTA) Fault Tree Analysis (FTA) dapat digunakan untuk memprediksi dan mencegah terjadinya kecelakaan atau digunakan sebagai alat investigasi setelah terjadi kecelakaan (Geostsch. c) Mengidentifikasi bahaya atau risiko keselamatan kerja yang ada pada setiap tahapan tugas.dan bahaya pada lingkungan dan memproses masalah yang dapat berdampak pada efisiensi operasi (Kolluru. 2. 1996). membuat metode kerja yang lebih efektif Tahapan pelaksanaan Job Safety Analysis terdiri adari empat langkah yaitu : a) Memilih pekerjaan yang akan dianalisis. f.1 Job Safety Analysis (JSA) Menurut OSHA 3071:2002 JSA (Job Safety Analysis) merupakan salah satu teknik atau cara untuk mengidentifikasi risiko sebelum risiko tersebut terjadi pada suatu kegiatan yang sedang berjalan.

e. c. Hazard (Bahaya) 102 . b. Pendekatan JSA sangat mudah dipahami. Job Safety Analysis berisikan informasi mengenai (Colling. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan metoda Job Safety Analysis yaitu (Diberardinis. c. 1990) : a. d. yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak.d) Menentukan prosedur atau tindakan pengendalian guna meminimalisasi risiko tersebut. b. tidak membutuhkan suatu tahapan dalam training dan dapat dengan cepat disesuaikan dengan pandangan individu. Proses pada JSA dapat memberikan kesempatan pada individu untuk mengenali natau memberikan pengetahuan mengenai operasi. Job Berisikan mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan untuk masaing-masing tahapan kegiatan. Task Berisikan penjelasan mengenai rincian kegiatan yang dilakukan untuk masing-masing tahapan kegiatan yang dapat menggambarkan faktor-faktor terjadinya dampak. Hasil dari analisis dapat digunakan untuk dokumentasi yang nantinya dapat digunakan untuk melatih (sebagai bahan training) pekerja baru. Dokumentasi JSA juga dapat digunkan sebagai bahan studi. 1999) : a.

prose identifikasi risiko juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berdasarkan pengalaman terdahulu atau masalah yang serupa.6 Analisis Risiko Menurut Kolluru (1996). 2. konsultasi dengan pihak pekerja. terkadang) dari bahaya yang ditimbulkan oleh kegiatan. Menurut AS/NZS 4360 (1999) analisis risiko adalah suatu kegiatan sistematik dengan menggunakan informasi yang ada untuk mendeterminasi seberapa besar konsequensi (severity) dan tingkat keseringan (likelihood) suatu kejadian yang ditimbulkan. populasi. kimia.Untuk mengetahui jenis bahaya (fisik. 103 . Consequency Berisikan penjelasan mengenai dampak yang ditimbulkan dari setiap kegiatan pekerjaan. analisis risiko adalah sistematika penggunaan informasi yang tersedia untuk mengidentifikasi hazard dan untuk memperkirakan suatu risiko terhadap individu. Selain sejumlah metode di atas. inspeksi atau audit K3 di tempat kerja. Probability (Kemungkinan) Berisikan tentang kemungkinan pekerja untuk terkena cidera (sering. e. d. bangunan dan lingkungan. ergonomi) apakah yang ditimbulkan dari kegiatan pekerjaan. pemeriksaan dan pengujian peralatan kerja serta analisis data kecelakaan dan penyakit akibat kerja di perusahaan. mekanik. biologi.

kondisi area kerja. Probabilitas Merupakan besaran kemungkinan timbulnya risiko. b. Faktor probabilitas juga berkaitan dengan faktor perilaku pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis risiko adalah : a. Sumber risiko Merupakan asal atau timbulnya risiko yang dapat berupa material.Analisis risiko adalah kegiatan menganalisis suatu risiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan dan tingkat keparahan dari akibat suatu risiko (Purwanto. Hal itu dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap bahaya dan sumber risiko yang ada dalam proses kerja dan di tempat kerjanya. kondisi area kerja dan perilaku pekerja. Ditentukan dengan menganalisis frequensi paparan bahaya terhadap pekerja. 1999). jumlah dan karakteristik pekerja yang terpapar bahaya. Tujuan dilakukannya analisis risiko adalah untuk membedakan antara risiko kecil dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan penanganan risiko (AZ/NZS 4360. yang digunakan dalam proses kerja. jumlah dan karakteristik bahaya yang memapar pekerja. serta efektifitas tindakan pengendalian bahaya yang telah dilakukan sebelumnya. peralatan kerja. Dalam bekerja. kondisi peralatan kerja. keterbatasan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki pekerja saat pekerja seperti kondisi fisik pekerja yang sakit saat melakukan 104 . pekerja dapat berperilaku tidak aman. 2006).

penanganan dilakukan tanpa bantuan pihak luar. kerugian finansial besar.1 dan tabel 2. Skala ukur konsekuensi dan kecenderungan (likelihood) secara kualitatif menurut Risk Management AS/NZS (1999) yang dapat dilihat pada tabel 2.2. kerugian finansial rendah Membutuhkan penanganan P3K.pekerjaan atau stress yang dialami pekerja yang berpengaruh dalam penurunan konsentrasi pekerja. kerugian finansial sedang. c. Ditentukan dengan analisis atau kalkulasi statistik berdasarkan data-data yang terkait atau melakukan estimasi subjektif berdasarkan pengalaman terdahulu. kerugian finansial tinggi. Tabel 2. Konsequensi Merupakan besaran dampak yang ditimbulkan dari risiko. menimbulkan kerugian akibat berkurangnya kemampuan berproduksi. efeknya mempengaruhi tetapi tidak merugikan lingkungan sekitar. penanganan membutuhkan bantuan pihak luar. yaitu peluang dan akibat. 3 Moderate 4 Major 105 . Menurut AZ/NZS 4360 (1999) terdapat tiga metode yang digunakan dalam menganalisis risiko di tempat kerja : 1.1 Skala Ukur Konsekuensi Secara Kualitatif Level 1 2 Deskripsi Insignificant Minor Definisi Tidak terjadi cidera. Membutuhkan penanganan medis. Analisis risiko kualitatif Umumnya pada metode ini menggunakan bentuk matriks risiko dengan dua parameter. Cidera berat.

Terdapat hubungan yang kuat antara frekuensi dari paparan dengan probabilitas terjadinya risiko. karena risiko dibagi menjadi beberapa kategori. Analisis Semikuantitatif Analisis semikuantitatif bukan bagian dari analisis kuantitatif. analisis semikuantitatif mempertimbangkan kemungkinan untuk menggabungkan 2 elemen. Menurut AS/NZS 4360:1999.2 Skala Ukur Likelihood Secara Kualitatif Level A B C D E Definisi Pasti terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Akan terjadi apabila kejadian tersebut terjadi Sewaktu-waktu mungkin akan terjadi Sewaktu-waktu dapat terjadi Mungkin terjadi pada keadaan-keadaan tertentu saja Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Deskripsi Almost Likely Possible Unlikely Rare 5 Catasthropic 2. kerugian finansial yang sangat besar. Pada prinsipnya metode ini hampir sama dengan analisis kualitatif. efeknya mempengaruhi dan merugikan lingkungan sekitar. yaitu probabilitas (likelihood) dan paparan (exposure) sebagai frekuensi. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) Tabel 2. perbedaannya yaitu uraian atau deskripsi dari parameter yang ada pada analisis semikuantitatif dinyatakan dengan nilai atau skor tertentu. Dalam metode analisis semikuantitatif terdapat 3 unsur yang dijadikan pertimbangan. yaitu: 106 . analisis ini menghasilkan prioritas yang lebih rinci dibandingkan dengan analisis kualitatif.Menyebabkan kematian.

000.000. kerugian $50. Serious Cidera atau penyakit yang serius tetapi sementara (tidak menetap).000. Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) b.000-$500. Tabel 2.000$2. kerusakan setempat dan menetap terhadap lingkungan dengan kerugian $500.000. memar.3. Very serious Cacat atau penyakit yang menetap. Noticeable Luka ringan.000. Important Membutuhkan penanganan medis. kerusakan kecil dengan kerugian produk sebesar <$500. kerugian setempat yang sangat kecil dengan efek yang juga setempat. Paparan (exposure) Paparan menggambarkan tingkat frekuensi interaksi antara sumber risiko yang terdapat di tempat kerja dengan pekerja serta Kategori Catastrophic Rating 100 50 25 15 5 1 menggambarkan kesempatan yang terjadi ketika sumber risiko ada 107 .000. efeknya dapat dirasakan tetapi tidak terlalu merugikan. terhentinya aktivitas.000-$50. efek yang merugikan terhadap lingkungan. Disaster Kematian. atau penyakit yang ringan. dan menetap terhadap lingkungan. Konsekuensi (consequences) Konsekuensi adalah nilai yang menggambarkan suatu keparahan dari efek yang ditimbulkan oleh sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan.a. kerusakan besar-besaran.3 Kategori Konsekuensi Secara Semikuantitatif Deskripsi Kerusakan yang sangat parah dengan kerugian di atas $1.000. kerugian $5. kerugian sebesar $500-$5. kerusakan sementara terhadap lingkungan. Tingkat konsekuensi metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2.

Kemungkinan (likelihood) Kemungkinan adalah nilai yang menggambarkan kecenderungan terjadinya konsekuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan.5 : Risk Management AS/NZS 4360 (1999) c.yang akan diikuti oleh dampak atau konsekuensi yang akan ditimbulkan. Tingkat konsekuensi tersebut akan ditentukan ke dalam beberapa kategori tingkat paparan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2.5 Tabel 2.5 Kategori Likelihood Secara Semikuantitatif Kategori Deskripsi Almost certain Akibat yang paling mungkin timbul apabila kejadian tersebut terjadi Likely Kemungkinan terjadi 50-50 Rating 10 6 108 .4 KategorExposure Secara Semikuantitatif S Kategori u Continously m Frequent Occasionaly b Infrequent e Rare r Very rare Deskripsi Terjadi secara terus-menerus atau setiap hari Terjadi kira-kira satu kali setiap hari Terjadi sekali seminggu sampai dengan sekali sebulan Terjadi sekali sebulan sampai dengan sekali setahun Pernah terjadi tetapi sangat jarang Tidak pernah terjadi Rating 10 6 3 2 1 0. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai rating yang berbeda yang dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2.4.

Practicaly Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak mungkin impossible terjadi Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 3 1 0. Tabel 2. Nilai risiko = Consequences (C) x Exposure (E) x Likelihood (L) Tingkat risiko metode analisis semikuantitatif dibagi ke dalam beberapa kategori yang dapat dilihat pada tabel 2. dan kemungkinan dari risiko-risiko keselamatan kerja yang terdapat pada setiap tahapan pekerjaan.6.5 0.1 Tingkat risiko (level of risk) pada analisis semikuantitatif merupakan hasil perkalian dari variabel konsekuensi. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun.Unsual Remotely possible Conceivable Kemungkinan terjadi tetapi jarang Kejadian yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi Mungkin terjadi.6 Kategori Tingkat Risiko (Level of Risk) dengan Metode Semikuantitatif Tingkat Risiko (Level of Risk) >350 Comment Very high Tindakan Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima 180-350 Priority 1 Perlu pengendalian sesegera mungkin 70-180 Substansial Mengharuskan adanya perbaikan secara teknis 20-70 Priority 3 Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan <20 Acceptable Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (1999) 109 . paparan.

7 Kelebihan dan Kekurangan Metode Analisis Menurut Cross (1998) No. Mempertimbangkan secara detail faktor dari efek risiko. Kualitatif 2. Analisis Kuantitatif Merupakan langkah pertama dalam kuantifikasi risiko adalah mendefinisikan kemungkinan outcome.3. Dalam menentukan angka konsekuensi menjadi seragam. Waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada analisis lainnya b. 1998): Tabel 2. b. a. b. Kurang akurat daripada analisis kuantitatif b. Kelebihan Lebih mudah Lebih cepat Lebih akurat daripada analisis kualitatif Lebih mudah dan cepat daripada analisis kuantitatif Kekurangan Kurang akurat daripada analisis yang lain a. 3. yaitu (Cross. Kelemahan analisis kuantitatif antara lain: a. Total risiko adalah total dari semua potensi risiko. Kuantitatif Lebih akurat daripada analisis lainnya 110 . Keuntungan analisis kuantitatif antara lain: a. Orang lebih percaya angka daripada penglihatannya. c. b. Skala yang digunakan harus tepat untuk menentukan tingkat risiko a. Harus mengacu model. Membuktikan kebenaran bahwa hasil intuisi kita bisa salah. Masing-masing metode analisis di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan. Metode Analisis 1. Semikuantitatif a.

yaitu lebih akurat daripada analisis kualitatif. Jean Cross. 1998 Dari ketiga metode analisis yang ada. 111 . dan pertimbangan pemaparan yang dijadikan faktor tingkat risiko menurut AS/NZS 4360:1999.b. lebih mudah dan cepat daripada analasis kuantitatif. penulis menggunakan metode semikuantitatif berdasarkan pertimbangan kelebihan metode analisis risiko menurut Cross. Sumber data harus memadai dan representative Sumber: Risk Management Study Notes.

Setiap tahapan analisis risiko. 1999/2004.BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN DEFINISI ISTILAH 3. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 secara kulaitatif. 112 . Maka dapat diketahui hubungan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. Setelah mendapat hasil analisis risiko maka gambar pertama akan menjelaskan hubungannya dengan gambar kedua yaitu kejadian kecelakaan kerja yang didapat berdasarkan data kecelakaan kerja perusahaan .peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. Pada gambar pertama .1 Kerangka Berpikir Penelitian ini bertujuan menghubungkan antara hasil analisis risiko keselamatan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada pekerja di unit shredder facility PT. . dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360. peneliti melakukan komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder internal.

Analisis Risiko Menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan Menentukan nilai risiko = konsekuensi x paparan x kemungkinan Menentukan kategori tingkat risiko

Kejadian kecelakaan kerja di Shredder Facility PT Holcim Indonesia Tbk

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir Analisis Tingkat Risiko

113

3.2 Definisi Istilah Tabel 3.1 Definisi Istilah Tahapan Manajemen Risiko (Menjelaskan) No. Nama Istilah Definisi Sebuah sistematika Alat Ukur Pedoman Cara Ukur Wawancara dan

1. Analisis Risiko

a. proba

yang wawancara dan observasi lembar

b. conse

menggunakan informasi didapat menentukan seberapa kejadian sering tertentu

c. expos

yang observasi untuk

dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut kegiatan shredding 1.1 Probabilitas (probability) Kemungkinan terjadinya kecelakaan kegiatan shredding Pedoman Wawancara dan 10 pada proses

Alm

suatu wawancara dan observasi dari lembar proses observasi 3 6

pali

Like

kec

Uns

nam 1

Rem

keja

kem 0,5

Con

114

kec

pem 0,1

Pra

tida 1.2 Konsekuensi (consequence) Perkiraan dampak Pedoman negative mungkin dari Wawancara dan 100

Cat

yang wawancara dan observasi timbul lembar kegiatan observasi 50

keru

ling

Dis

proses Shredding

perm

terh 25

Ver

keru

perm 15

Seri

men

perm

buru 5

Imp

med

dala

keru 1

Not

ring

keru

pros 1.3 Pajanan (exposure) Frekuensi pajanan Pedoman bahaya kegiatan Wawancara dan 10

Con

dari wawancara dan observasi proses lembar

seha

115

shredding

observasi 6

Fre

seha 3

Occ

sam 2

Infr

sam 1 0,5

Rar

Ver

terja 1.5 Tingkat Risiko Kategori berdasarkan hasil ini Rumus analisis Mengkalikan dari risiko semi consequence likeklihood exposure . >350 x x

Ver

sam

perkalian kuantitatif

antara probability, “tingkat risiko consequence, dan exposure kegiatan Shreeding pada proses

180350 70180 20-70

Prio

sece

Sub

perb

Prio

<20

Acc

sela

116

1. Nama Istilah Kecelakaan Kerja di Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk Definisi Alat Ukur Cara Ukur Kecelakaan kerja Pedoman Wawancara dan Gambaran kejad adalah kejadian Wawancara dan Observasi Shredder facility P yang tidak lembar observasi diinginkan yang berhubungan dengan pekrjaan yang dapat mengakibatkan cidera/kematian terhadap orang.Tabel 3. 2003) 117 .2 Definisi Istilah Kecelakaan Kerja (Dijelaskan) No. kerusakan harta benda atau terhentinya proses produksi (Freddin Warsto dan Loui Arthur Mamesah.

2. Pada penelitian ini untuk mengetahui tingkat risiko keselamatan kerja diggunakan metode analisis risiko semikuantitatif berdasarkan standar AS/NZS 4360:1999/2004. 4.3. Informan 118 .BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. PT.Holcim Indonesia Tbk.2.2. 4.Hasil analisis risiko yang diperoleh dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT. unit Geocycle. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Shredder facility. Lokasi dan Waktu Penelitian 4. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan April-Agustus 2010 4.1 Metode Penelitian Metode penelitian ini adalah metode kualitatif.2. yang berlokasi di Jalan Raya Narogong Kecamatan Kelapa nunggal Bogor. Holcim Indonesia Tbk tahun 2010.

yaitu dengan mengamati pekerja pada setiap tahapan proses shredding di PT Holcim Indonesia 119 .Kriteria informan pada penelitian ini adalah : 1. Data sekunder diperoleh dari wawancara dan observasi kepada petugas OS&H berupa profil perusahaan dan data kecelakaan kerja di Shredder facility. penanggung jawab Shredder. Pekerja unit Shredder facility PT. Pekerja PT. selain itu data primer dapat pula diperoleh melalui observasi langsung dengan menggunakan alat dokumentasi berupa kamera.Holcim Indonesia Tbk 2.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility 4. pekerja yang bertugas pada bagian pengoperasian shredder 4. Pekerja yang mengetahui kronologi kejadian kecelakaan kerja yang pernah terjadi Sebagai informan pada penelitian ini adalah : 1. Sedangkan. data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas OS&H. I 3. petugas OS&H 2. Pekerja unit Shredder facility PT.4 Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. pekerja shredder dan korban kecelakaan.Holcim Indonesia Tbk yang berinteraksi langsung dengan proses Shredding. penanggung jawab Shredder facility 3. korban kecelakaan kerja yang bertanggung jawab terhadap 4.

1 Data Sekunder No.2 120 . pekerja shredder dan korban Kecelakaan Wawancara dan studi dokumen Pedoman Wawancara dan lembar observasi Petugas OH&S dan penanggung jawab Shredder Wawancara dan observasi Pedomana Wawancara dan lembar observasi Tabel 4. Penanggung jawab Shredder.Tabel 4. Struktur Organisasi OH&S dan tahapan pekerjkaan Shredder facility 2. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Instrumen Penelitian 1. Data kecelakaan kerja Petugas OH&S.

Nama Data Sumber Metode Pemgumpulan Instrumen Penelitian 1. Penanggung jawab Shredder. dilanjutkan dengan identifikasi risiko menggunakan 121 . Diawali dengan penentuan ruang lingkup dengan melihat struktur organisasi OH & S PT.Holcim Indonesia Tbk dan tahapan pekerjaan di Shredder facility. Risiko di Shredder Facility Wawancara Pedoman Wawancara 4. peneliti mencari tingkat risiko keselamatan kerja. 1999/2004.5 Pengolahan Dan Analisis Data Pada tahap awal penelitian ini. pekerja shredder dan korban Kecelakaan Observasi Kamera 2.Data Primer No. Gambar pekerjaan Shredder facility Petugas OS&H. dengan metode analisis risiko (AS/NZS) Australian Standard/New Zeland Standard : 4360.

penyebab. dan upaya pengendalian yang telah dilakukan pihak perusahaan. kemudian melakukan analisis risiko dengan menggunakan metode analisis semikuantitatif berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard 4360:1999/2004 untuk menentukan konsekuensi. paparan.6 Validitas data 122 . Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah. Selanjutnya tingkat risiko yang didapatkan dari hasil analisis risiko dihubungkan dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada Shredder facility PT.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. dampak kecelakaan kerja dan pengendalian yang saat itu diterapkan. 4. mendapatkan gambaran kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi pada shredder facility dari sejak awal berdirinya.job safety analysis ( JSA) untuk mengetahui risiko kecelakaan kerja. waktu kecelakaan kerja. dan kemungkinan. kemudian menentukan tingkat risiko dari setiap tahapan pekerjaan dalam bentuk skor. Data yang diperoleh dari hasil wawacara ini adalah kronologi kejadian kecelakaan kerja. Langkah selanjutnya yaitu menentukan nilai risiko dengan rumus: Nilai Risiko : Konsekuensi x paparan x kemungkinan . Setelah mendapatkan nilai risiko. yaitu tahun 2008 dengan melakukan wawancara dan studi dokumentasi.

pekerja OS&H. peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Risiko facility di Shredder Petugas penanggung Shredder.Validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi data. Dalam penelitian ini. Teknik triangulasi data ini digunakan untuk keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding suatu data. Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Nama Data Sumber Metode Pengumpulan Data 1. pekerja OS&H. Data Kecelakaan Kerja Petugas penanggung Shredder. Tabel 4. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 2.3 Tabel Triangulasi Sumber No. Wawancara jawab dan korban kecelakaan kerja 123 .

Nama Data Profil Perusahaan Alur pekerjaan Metode Wawancara dan observasi Wawancara dan Observasi 124 . 2. Tabel 4.Sedangkan triangulasi metode adalah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda.4 Triangulasi Metode No. 1.

maka dibentuk suatu tim yang ringkas tetapi memiliki kemampuan cepat dalam pembuatan peraturan. efisien dan produktif.1 Struktur Organisasi OH&S dan Tahapan Pekerjaan Proses Produksi Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 5. standar K3 perusahaan dan materi pelatihan untuk mengembangkan sistem manajemen K3.Tim K3 di PT Holcim Indonesia Tbk ini disebut tim OH&S yang memiliki tujuan mencapai nilai nihil “nil” kecelakaan pada karyawan. kontraktor dan pengunjung Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5.1 Struktur Organisasi OH&S Corporate Holcim 125 ..BAB V HASIL 5.1 Struktur Organisasi OH&S Sesuai dengan tujuan Sistem Manajemen K3 untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman.1.

door to door OHS coaching. identifikasi bahaya ini disusun oleh perwakilan unit kerjayang tergabung dalam Multi Diciplinary Team dengan anggota 34 orang 2. tema k3 bulanan. 126 . Holcim mengembangkan OH&S Pyramid yang dijadikan standar K3 yang dibuat oleh Holcim dan diperkenalkan akhir tahun 2002.1.1.1 OH&S Project 1. OH&S Pyramid ini wajib dilaksanakan oleh seluruh anggota group Holcim dengan pencapauian green pyramid OH&S Green Pyramid Sumber : OH&S Coorporate PT Holcim Gambar 5.2 Green Pyramid 5. Kampanye K2 Kampanye K3 yang dilakukan secara aktif seperti 10 prinsip keselamatan. Identifikasi Bahaya Identifikasi bahaya dilakukan secara serentak oleh seluruh organisasi. hadiah untuk karyawan.Dengan acuan kepada Undang-undang dan pemerintahan Indonesia serta OSHAS 18001.

Peningkatan skill fire brigade c. Sertifikasi juru las b. Penghargaan bagi karyawan Perlu adanya penghargaan individu bagi karyawan yang berpartisipasi dalam program K3. 5. Pelaporan Bahaya Perlu tersedianyya sistem yang mudah bagi karyawan untuk melaporkan bahaya yang ditemuinya di tempat kerja. program ini baru diperkenalkan tahun 2006 6. penghargaan bagi karyawan 3. maka dibuatkan suatu sarana yang mudah dan jelas penanggungjawabnya untuk menindaklanjuti laporan bahaya dari karyawan. Promosi program K3 baru d.majalah K3 untuk karyawan. Induksi dan Training a. Sertifikasi operator forklift 4. Pelatihak K3 di training center e. Kontraktor Training f. Planned Inspection 127 . presentasi di manager forum. Safety Observation Tour Merupakan sarana untuk memperlihatkan kepedulian atasan akan keselamatan anggotanya 7.

yang dilakukan pada bulan K3. Perlombaan K3 antar unit kerja Diperlukan adanya sarana yang dapat meningkatkan kerjasama yang terkait dengan K3. maka sudah kewajiban penerima tamu untuk memberikani induksi terhadap tamunya 10. Induksi Keselamatan tamu adalah tanggung jawab Kita bersama. dengan melibatkan seluruh karyawan terutama karyawan tingkat dasar (member) 8. 10 Peraturan Keselamatan Merupalakan pedoman bagi pekerja dan kontraktor akan peraturan keselatan di tempat kerja. Fire Volunteer Untuk mempercepat penanganan kebakaran dan kecelakaan 14. Safety Talk Adanya komunikasi antara Pekerja dan Atasan. Kesehatan Tempat Kerja Menciptkan tempat kerja yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas pekerja 11. OH&S Audit OH&S audit dilakukan secara berkala terhadap pelakasanaan sistem K3 128 . selain untuk membina pekerja juga untuk memperlihatkan komitmen Atasan akan K3 12.Untuk meningkatkan kesadaran pekerja akan keselamatan di tempat kerjanya. diperkenalkan kepada seluruh pekerja semenjak April 2005 9. 13.

Proses di Shredder facility dilalui oleh beberapa tahap. Proses pencacahan limbah yang biasa disebut proses shredding terdiri dari beberapa tahapan yang saling berhubungan untuk setiap prosesnya. seperti : 1. Tahap Persiapan Awal (Housekeeping ) diawali dengan proses persiapan awal yang bertujuan agar proses kerja berjalan dengan baik dan bersih. Untuk membersihkan handrail dari residu material. Posisi handrail berada melingkupi Shredder dan sebagian besar terletak pada ketinggian < 2 m. 129 . Dimana Shredder adalah salah satu layanan khusus solusi penanganan limbah yang mengembangkan kegiatan co-processing atau pemanfaatan limbah yang akhirnya akan digunakan sebagai bahan bakar alternative (Alternative fuel & raw material / AFR) menggantikan batu bara yang berfungsi sebagai sumber utama bahan bakar untuk pembakaran bahan baku semen.2 Tahapan Pekerjaan Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 Shredder facility merupakan salah satu sub-bagian dari Geocycle. Membersihkan handrail Tahap membersihkan Handrail ini dilakukan setiap awal shift atu 3 kali dalam sehari. helper menggunakan air.1. Tujuan dari pembersihan handrail ini adalah agar fasilitas shredder berada pada kondisi yang bersih dan aman. minyak atau solar. Bahan bakar alternative tersebut berasal dari limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah.5. biasanya pada proses persiapan awal ini para pekerja melakukan housekeeping seperti a.

sebelum Shredder diaktifkan pada awal shift . Adjusting belt conveyor (meluruskan belt conveyor) Tahap Adjusting belt conveyor ini dilakukan seminggu sekali. Untuk membersihkan plak pada chute magnet separator. Membersihkan screen Tahap membersihkan screen ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari khususnya ketika ada material yang tersangkut pada screen. Mengecek chute magnet separator Tahap mengecek chute magnet separator ini dilakukan setiap awal shift atau 3 kali dalam sehari. d. Untuk adjusting belt conveyor. Untuk melancarkan screen. 130 . Tujuan dari pengecekan chute magnet separator ini adalah melihat apakah chute magnet separator masih berfungsi dengan baik dan melihat apakah terdapat plak yang menempel pada chute magnet separator . Tujuan dari membersihkan screen ini adalah melancarkan screen dari material yang tersangkut. gunting atau bar (tongkat panjang). c. helper menggunakan cutter. helper menggunakan bar (tongkat panjang).b. . Posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 m. helper menggunakan screw. Tujuan dari Adjusting belt conveyor adalah meluruskan belt conveyor yang keluar dari jalur akibat material.

Material yang dirapihkan oleh wheel loader adalah berbagai material limbah (cair dan padat ) khusus limbah cair. Tujuan dari perapihan material oleh wheel loader ini adalah melihat agar material di storage rapi dan tidak berceceran keluar storage. agar limbah cair lebih mudah bersatu dengan material lainnya. pekerja hanya bersifat mengawasi dan melakukan pembersihan. khusus 131 .Material yang dimasukkan pada Hooper adalah berbagai material (cair dan padat). Shredding Procces Proses Shredding dilanjutkan dengan : Memasukan material menuju hooper shredder oleh wheel loader atau yang biasa disebut sebagai proses shredding. a. Shredding merupakan inti dari kegiatan pada Shredder facility. proses ini merupakan tahap awal dari proses pencacahan limbah di unit Shredder facility.2. 3. Proses Persiapan dan Penyimpanan Material Tahapan proses persiapan dan penyimpanan material pada storage antara lain. pada tahap ini wheel loader yang memasukan material pada hooper. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. a. Perapihan material oleh wheel loader Tahap perapihan material oleh wheel loader ini dilakukan setiap hari. Pada dasarnya kegiatan shredding di unit ini sudah dilakukan secara otomatis. Shreeding material pada Hooper Tahap Shreeding material pada Hooper ini dilakukan setiap saat selama material tersedia.

. kegiatan yang dilakukan pada saat ini adalah: a. b. tujuan dari memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material adalah agar aroma material yang sangat menyengat bisa sedikit diminimalisir. pada tahap ini helper yang melakukan penebaran serbuk gergaji. Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material Tahap Memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dilakukan setiap hari. tujuan dari menebar serbuk gergaji adalah agar permukaan yang terkena ceceran dari material cair tidak membuat permukaan di sekitar shredder dilakukan sesering mungkin oleh pekerja menjadi licin. kegiatan ini dilakukan sesering mungkin oleh pekerja. kegiatan ini dilakukan di lokasi penyimpanan hasil akhir product. khususnya saat terdapat residu dari material yang bersifat cairan. kegiatan ini c. Memasukan product pada box dan pengiriman product Kegiatan selanjutnya adalah proses memasukan material ke dalam box untuk diantarkan ke pre-heater untu proses selanjutnya. operator wheel loader akan menyatukannya terlebih dahulu dengan serbuk gergaji. Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Tahap menebar serbuk gergaji dilakukan setiap hari.limbah cair. 4. pada tahap ini helper yang memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 132 .

truck dan crane. handrail sebagai alat pengaman 133 . Pengendalian risiko yang telah dilakukan pada proses Shredding antara lain: a. Sudah terpasangnya alat pengaman pada peralatan kerja seperti safety guard (batas antara mesin dengan area kerja) serta rail guard pada platformyang berada pada ketinggian. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material untuk dijadikan bahan bakar alternative pembuatan semen. Safety briefing Kegiatan ini dilaksanakan sebelum jam kerja.menuju tempat pembakaran.Tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk dilakukan setiap material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran. tersedianya hydrant . membahas kecelakaan kerja dan hal-hal lain yang berkaitan dengan safety. Seperti sosialisasi penggunaan APD. Peralatan yang digunakan yaitu mesin pencacah atau shredder serta peralatan pendukung seperti bobcap. pada tahap ini box dibawa truck. wheel loader. b. 2 orang helper. b.. Proses shredding ini melibatkan pekerja sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 orang penanggung jawab lapangan. kegiatan ini dilakukan sesuai dengan kebutuhan pembakaran material. Material yang digunakan adalah limbah padat maupun cair yang berasal dari berbagai macam limbah. pada tahap ini box dinaikan menggunakan forklift menuju truck. Mengirimkan box menuju tempat pembakaran Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran dilakukan setiap ketika material sudah dibutuhkan oleh bagian pembakaran.

penanggung jawab shredder. dan helper . Tahun 2010 Identifikasi risiko keselamatan kerja pada proses shredding dilakukan dengan menggunakan metode JSA .Tersedianya alarm pada crane yang bertujuan untuk menandakan bahwa crane sedang beroperasi serta penerapan LOTO pada semua mesin. APD yang digunakan terdiri dari helmet.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset dan terjatuh .ketika menaiki tangga. adanya emergency stop pada panel control untuk menghentikan proses kerja ketika terjadi kecelakaan kerja.2.1 Membersihkan Handrail Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Penggantian APD secara berkala terhadap peralatan kerja khususnya yang berkaitan dengan safety. earmuff.2. Pemasangan warning sign tentang penggunaan APD d. gloves. goggle. safety shoes.1. mask organic dan seragam kerja lengan panjang 5. paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan 134 . e. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja terpeleset akibat kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge. c.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk.1 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal (Housekeeping) 5. 5. Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pihak perusahaan.

safety briefing sebelum bekerja. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar. memasang warning sign 135 .safety shoes. Risiko terjatuh dapat terjadi karena handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. seragam lengan panjang). organic mask.2. 5. memasang warning sign tentang penggunaan APD. organic mask. sarung tangan. dan menggunakan APD lengkap (helmet. Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai. pekerja tidak selalu memegang handrail dan perusahaan telah melakukan upaya engineering control seperti memasang handrail pada platform. seragam lengan panjang). Perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan menyediakan handrail dan lantai yang kasar.safety shoes. Risiko terpeleset terjadi karena kondisi lantai Shredder yang mendaki dan licin karena ceceran oil sludge. melakukan house keeping.1. dan helper .risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah terpeleset dan tersandung roller.2 Mengecek Chute Magnet Separator Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. penanggung jawab shredder. safety briefing sebelum bekerja dan menggunakan APD lengkap(helmet. sarung tangan. Administrative control seperti memasang warning sign tentang penggunaan APD.goggle. paint sludge maupun zat cair lainnya serta pekerja tidak menggunakan safety shoes.goggle.safety shoes.

goggle. safety briefing sebelum bekerja. dan helper. dan menggunakan APD lengkap. menyabut benang. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. 136 . Risiko terjatuh dapat terjadi karena lokasi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2 M. sarung tangan.3 Membersihkan Screen Tahap pekerjaan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatanhambatan seperti. 5. terjatuh. seragam lengan panjang). Administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang handrail pada tangga dan platform. terpeleset.2. helper menggunakan benda tajam atau bar. dan menggunakan APD lengkap. Upaya pengendalian yang telah dilakukan yaitu tersedianya LOTO (Lock out tag out). organic mask. Risiko tangan terputus disebabkan karena mesin screen yang berputar atau saat helper akan menyabut benang atau benda lainnya yang tersangkut pada screen. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah tangan yang terputus. memasang warning sign tentang penggunaan APD. mengambil batu.1. melakukan house keeping. penganggung jawab shredder.safety shoes.tentang penggunaan APD. terbentur penutup screen. dan menggunakan APD lengkap(helmet. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.

tangan yang terputus.Risiko pergelangan terkilir dapat terjadi karena. ketika helper melakukan adjusting belt conveyor. dan menggunakan APD lengkap.Untuk risiko terjatuh dapat terjadi saat helper memasuki screen. 5. sehingga memungkinkan perkerja terbentur dengan penutup screen.4 Adjusting Belt Conveyor Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H. safety briefing sebelum bekerja. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan persusahaan adalah administrative control seperti memasang warning sign mengenai pemakaian APD. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah pergelangan tangan yang terkilir. terpeleset.2. helper menggunakan tangannya secara manual untuk memutar belt yang cukup berat. penganggung jawab shredder. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya 137 . Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan untuk risiko keselamatan kerja terbentur screen adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. dan menggunakan APD lengkap. upaya perusahaan untuk mengendalikan risiko keselamatan kerja terjatuh ini adalah memasang warning sign tentang penggunaan APD. hal ini dapat terjadi karena penutup screen memiliki batas maksimal yang rendah saat dibuka. safety briefing sebelum bekerja. Sedangkan untuk risiko terbentur penutup screen. dan menggunakan APD lengkap.Risiko terpeleset dapat terjadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes. terjatuh. dan helper. karena helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi.1. dan kebakaran. safety briefing sebelum bekerja.

Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki.administrative control dengan melakukan safety briefing sebelum bekerja. administrative control 138 . dengan membuka safety guard yang telah terpasang. upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan handrail disepanjang jalan yang mendaki. administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap. Untuk risiko tangan yang terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah engineering control dengan pemasangan dengan safety briefing sebelum bekerja.Untuk risiko terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. dan penggunaan APD lengkap. handrail. safety briefing sebelum bekerja. Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. safety briefing sebelum bekerja.

safety briefing sebelum bekerja. 139 . engineering control dengan tersedianya hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran. pengelasan. administrative control dengan Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah.Sedangkan untuk risiko kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran.1. Hasil identifikasi risiko pada tahap persiapan awal (Housekeeping) secara rinci dapat dilihat pada tabel 5. dan penggerindaan.

Tabel 5.1 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Skenario Risiko Kondisi tempat kerja Terpeleset licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnya dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Pengendalian - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - lantai yang dibuat kasar - mersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang helper - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja

Kondisi tempat kerja Terjatuh < 2m berada pada ketinggian (< 2 m)

2

Mengecek chute Kondisi tempat kerja Terpeleset magnet separator licin akibat ceceran ceceran oil sludge, paint sludge maupun zat cair lainnyaserta kondisi jalan yang mendaki

140

Posisi Chute Magnet Terjatuh > 2m Separator yang berada pada ketinggian (> 2 m)

4

Membersihkan Screen

Ketika helper Tangan terputus membersihkan screen, screen berputar karena LOTO tak terpasang.

- melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - menerapkan LOTO (Lock out tag out) pada panel 1 dan 2 - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - memasang warning sign tentang penggunaan

4.

Adjusting conveyor

Kondisi permukaan screen yang licin dan tidak rata, dan pekerja tidak menggunakan safety shoes Saat helper memasuki screen, helper harus melangkahi pemisah screen yang cukup tinggi belt Ketika helper melakukan adjusting, helper menggunakan tangannya secara manual untuk

Terpeleset

Terjatuh

Pergelangan tangan terkilir

141

memutar belt yang cukup berat. Ketika Helper Tangan terputus melakukan adjusting belt conveyor secara langsung dengan membuka safety guard yang telah terpasang Ketika helper berlari Terjatuh mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan

- Memasang safety guard pada screw - Safety briefing sebelum bekerja

Kondisi jalan yang Terpeleset licin akibat ceceran residu, serta berjalan secara terburu-buru

Ketika helper Kebakaran memotong belt yang miring menggunakan cutting torch, tanpa menghiraukan

- menyediakan handrail pada tangga dan platform - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - menggunakan APD lengkap - Menyediakan handrail untuk dipegang oleh helper - Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair - memasang warning sign tentang penggunaan APD - safety briefing sebelum bekerja - melakukan house keeping dan safety control, menggunakan APD lengkap - Memasang alarm kebakaran - Memasang hydrant dan APAR - Tersedianya working permit mengenai pekerjaan yang melibatkan api, pengelasan, dan

142

working permit

penggerindaan - Safety briefing sebelum bekerja - Menggunakan APD lengkap.

143

dan helper.2.2 Identifikasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. Pengendalian yang telah ada yaitu perusahaan telah melakukan upaya engineering control dengan memasang hydrant dan APAR tersedianya alarm kebakaran.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja.2. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. safety briefing sebelum bekerja. dan menggunakan APD lengkap. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. 144 . penganggung jawab shredder.2. Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan. menyediakan Material Safety Data Sheet (MSDS). Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah engineering control dengan pemasangan antena pada Wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan serta tersedianya cermin agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar.5.1 Perapihan material oleh wheel loader Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OS&H.

safety briefing sebelum bekerja .2 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan penyimpanan Material facility PT Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Perapihan material Terjadi karena short Kebakaran oleh Wheel Loader circuit atau karena gesekan antara material yang dirapihkan Tidak adanya Tertabrak/Menabra koordinasi pengemudi k dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation Pengendalian .melakukan house keeping dan safety control.memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .Memasang hydrant dan APAR .Memasang alarm .memasang antenna pada kendaraan yang sedang dipakai .memasang warning sign tentang penggunaan APD .Tabel 5. menggunakan APD lengkap 145 .menggunakan APD lengkap .

dan helper .2. Risiko tertimpa material terjadi karena muatan hooper yang terlalu penuh. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah. memasang warning sign tentang penggunaan APD. Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar. Upaya pengendalian risiko yang telah dilaksanakan oleh perusahaan untuk mencegah risiko keselamatan kerja kebakaran akibat mixing material pada hooper adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper. dan helper 146 .1 Tahap memasukkan material pada Hooper Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. dan penggunaan APD lengkap.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kebakaran.2. safety briefing sebelum bekerja. Risiko tertabrak/menabrak terjadi karena tidak ada koordinasi antar pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck. tertabrak/menabrak dan tertimpa material. tersedianya hydrant dan APAR.5. dan menggunakan APD lengkap . safety briefing sebelum bekerja.3. Upaya pengendalian yang telah dilakukan perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan.3 Identifikasi Risiko pada Tahap Shredding 5. penanggung jawab shredder.

sedang berada di sekitar hooper. penanggung jawab shredder. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. melakukan housekeeping.2 Menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan adalah Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja. tersandung. kebakaran. dan helper . sehingga untuk material yang ringan 147 . safety briefing sebelum bekerja.2.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.3. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap. tertimpa material ringan. Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. dan penggunaan APD lengkap 5.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset.

dan penggunaan APD lengkap. tersandung dan tertimpa material ringan.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu terpeleset. safety briefing sebelum bekerja.3 Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder Dan Material Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang cara pengendalian ceceran zat cair di lantai dan dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. tersedianya hydrant dan APAR serta alarm. seperti merokok. 5. dan helper .2. 148 . Sedangkan untuk risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi apabila helper tidak mengikuti prosedur yang ada. dan penggunaan APD lengkap. safety briefing sebelum bekerja. karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar.3. penanggung jawab shredder. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD.sering berjatuhan. Upaya pengendalian risiko keselamatan kerja yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah engineering control dengan memasang sprinkler tepat diatas hooper.Upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang penggunaan APD. safety briefing sebelum bekerja.Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena pada lantai shredder facility terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin. dan penggunaan APD lengkap.

Risiko keselamatan kerja tersandung dapat terjadi karena disekitar Shredder facility banyak peralatan yang berserakan. 149 . Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. Untuk risiko tertimpa material dapat terjadi karena helper bekerja dibawah belt conveyor yang berjalan. dan penggunaan APD lengkap. dan penggunaan APD lengkap. sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.. safety briefing sebelum bekerja. safety briefing sebelum bekerja.Upaya pengendalian yang dilakukan perusahaan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility.

selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau ketika mixing material memiliki titik api yang rendah.menggunakan APD lengkap 150 .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menggunakan APD lengkap Memasukkan material Pada Hooper ada Kebakaran pada hooper gesekan yang dapat menimbulkan panas.mengganti tali sling pada crane .Tabel 5.memasang alarm kebakaran .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .memasang hydrant dan APAR .memasang warning sign tentang penggunaan APD .3 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.safety briefing sebelum bekerja . karena tidak ada Tertabrak/menabra koordinasi antar k pengemudi wheel loader dan pengemudi forklift atau pengemudi truck .safety briefing sebelum bekerja .memasang sprinkler tepat diatas hooper .menyediakan Standard operation mengenai koordinasi berkendara .

dan helper sedang berada di sekitar hooper.melakukan house keeping .menggunakan APD lengkap Helper bekerja Tertimpa material dibawah belt conveyor yang berjalan. menggunakan APD lengkap . sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.melakukan house keeping dan safety control. 151 .memasang warning sign tentang penggunaan APD .memasang warning sign tentang penggunaan APD .safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja . 2 Menebar serbuk karena pada lantai Terpeleset gergaji pada lantai shredder facility yang terkena residu terdapat ceceran residu .karena muatan hooper Tertimpa Material yang terlalu penuh.Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .safety briefing sebelum bekerja .menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang penggunaan APD .menggunakan APD lengkap Disekitar facility peralatan berserakan Shredder Tersandung banyak yang . sehingga material yang did alma hooper terlempar keluar.

menggunakan APD lengkap 3.safety briefing sebelum bekerja .memasang warning sign tentang penggunaan APD . Memberikan parfume karena pada lantai Terpeleset pada fasilitas shredder shredder facility dan material terdapat ceceran residu yang membuat jalan menjadi licin.safety briefing sebelum bekerja . menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility .Tersedianya Standard Operation mengenai cara pengendalian ceceran zat cair .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja 152 .memasang sprinkler tepat diatas hooper .memasang alarm kebakaran .melakukan house keeping . karena helper bekerja Tertimpa Material dibawah belt conveyor yang berjalan. .Tersedianya hydrant dan APAR . karena disekitar Tersandung Shredder facility banyak peralatan yang berserakan.memasang warning sign tentang penggunaan APD . karena serbuk gergaji merupakan bahan yang mudah sekali terbakar . seperti merokok.menggunakan APD lengkap .Helper tidak Kebakaran mengikuti prosedur yang ada.memasang warning sign tentang penggunaan APD .melakukan house keeping dan safety control.

.menggunakan APD lengkap 153 .sehingga untuk material yang ringan sering berjatuhan.

2. Sedangkan untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena kurangnya koordinasi antar pengemudi forklift dan truck. safety briefing sebelum bekerja.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu kejatuhan box. dapat terjadi saat helper menaikan box dengan bobcap ke truck.4 Identifikasi Risiko pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. Upaya pengendalian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. dan penggunaan APD lengkap. dan material yang ada dalam box berjatuhan.5. penanggung jawab shredder. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Administrative control dengan menyediakan Standard Operation yang berisi tentang koordinasi berkendaraan. safety briefing sebelum bekerja. memasang warning sign tentang penggunaan APD. dapat terjadi ketika box dinaikan menuju truck. dan menggunakan APD lengkap .1 Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.2.Risiko keselamatan kerja kejatuhan box. dan penggunaan APD lengkap.4. dan helper .Upaya pengendlaian yang sudah perusahaan lakukan adalah upaya administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility. 154 . safety briefing sebelum bekerja. Untuk risiko tertimpa material. tertimpa material dan tertabrak/menabrak.

dan helper . dapat terjadi karena guard yang berada pada truck sangat pendek. dan disediakannya mirror blind spot agar pengendara bisa melihat ke segala arah dalam berkendara.Upaya pengendalian yang sudah dilakukan perusahaan adalah administrative control dengan adanya SOP mengenai cara berkendaraan di area proyek. Upaya pengendalian yang sudah dilakukan oleh pihak perusahaan adalah administrative control dengan memasang warning sign tentang cara bekerja aman di Shredder facility dan safety briefing sebelum bekerja. wheel loader.5. dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck. 155 . yaitu mendahulukan kendaraan berat terlebih dahulu ketika berjalan.Risiko keselamatan kerja box terjatuh. penanggung jawab shredder. forklift dan kendaraan pribadi.4. sehingga memungkinkan box terjatuh. khususnya di jalanjalan yang sulit melihat arah.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan petugas OH&S.2.menabrak.risiko keselamatan kerja yang terdapat pada tahapan ini yaitu box terjatuh dan tertabrak/. Untuk risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi karena truck berjalan di jalan-jalan utama.

memasang warning sign tentang truck.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian .5 Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product pada fasilitas Shredder PT.Tersedianya Standard Operation mengenai cara koordinasi koordinasi antar k berkendaraan pengemudi forklift dan .memasang warning sign tentang cara Mengirimkan box Karena guard yang Terjatuh bekerja aman di Shredder facility menuju tempat berada pada truck safety briefing sebelum bekerja sangat pendek. penggunaan APD . dan material yang ada dalam box berjatuhan 2.safety briefing sebelum bekerja .Tabel 5.memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility . karena kurangnya Tertabrak/menabra .menggunakan APD lengkap .menggunakan APD lengkap Menaikan box yang helper menaikan box Kejatuhan box sudah terisi oleh dengan bobcap ke material pada truck truck ketika box dinaikan Tertimpa material menuju truck.menggunakan APD lengkap .memasang warning sign tentang bekerja aman di shredder facility . 156 .safety briefing sebelum bekerja .safety briefing sebelum bekerja .

k dimana banyak lalu lalang kendaraan proyek lain seperti dumptruck.tersedianya standard operation mengenai cara berkendaraan di area proyek .Tersedianya mirror blind spot 157 .pembakaran sehingga memungkinkan terjatuh. wheel loader. box Truck berjalan di Tertabrak/menabra jalan-jalan utama. forklift dan kendaraan pribadi .

5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak memegang handrail.1 Membersihkan handrail Saat membersihkan handrail terdapat risiko kepala terpeleset dan terjatuh < 2m. Terpeleset Pada tahap membersihkan handrail helper memiliki risiko terpeleset. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja.1 Analisis Risiko pada Tahap Persiapan 5. a. Sedangkan nilai kemungkinannya 0.5.1.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes. Hal ini dapat terjadi kondisi tempat kerja yang licin karena terdapat ceceran oil sludge.3. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper hanya mengalami luka ringan atau memar jika terjatuh.3. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. b. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan membersihkan handrail setiap hari pada awal shift. Terjatuh < 2m Pada tahap membersihkan handrail. paint sludge maupun zat cair lainnya dan helper tidak menggunakan safety shoes. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari daiawal shift. helper tidak selalu memegang handrail. 158 .

Terpeleset Risiko terpeleset saat menegecek chute magnet separator memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari. terpeleset. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. 159 . tersandung roller. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable b. Nilai paparannya 6 (frequent) karena helperan mengecek chute magnet separator terjadi sekali setiap hari.5 (conceivable) karena risiko ini mungkin terjadi.5.3. namun tidak pernah terjadi meskipun paparan bertahuntahun. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 15 (serious) karena helper akan mengalami cidera atau penyakit yang serius jika helper jatuh > 2 m. a. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 45 dengan kategori priority 3. Terjatuh > 2m Risiko terjatuh saat helper menegecek chute magnet separator karena posisi chute magnet separator berada pada ketinggian > 2m.2 Mengecek Chute Magnet Separator Saat mengecek chute magnet separator.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak menggunakan safety shoes. Nilai kemungkinannya adalah 0.1. dan terjatuh.

hal ini mungkin terjadi apabila pekerja tidak mematuhi peraturan penerapan LOTO (lock out tag out). Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial.1.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahun-tahun. dan benda lainnya yang tersangkut pada screen. Nilai kemungkinannya adalah 0. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika mesin screen berputar dan helper berada di dalamnya untuk melancarkan screen. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 25 (very serios) karena helper mengalami tangan terputus yang menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. menyabut benang.3. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini terjadi sekali setiap hari.Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena helper akan mengalami luka ringan atau memar jika helper terpeleset. b.5. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat tejadi karena permukaan screen yang licin dan tidak rata serta pekerja tidak menggunakan safety shoes.5 (conceivable) karena mungkin dapat terjadi jika helper tidak 160 .3 Membersihkan screen Helperan membersihkan screen dilakukan dengan masuknya helper kedalam screen shredder untuk melancarkan jalannya screen dari hambatan-hambatan seperti. mengambil batu. Nilai kemungkinannya 0. a.

Terbentur Penutup Screen Risiko keselamatan kerja terbentur penutup screen dapat terjadi karena penutup screen tidak bisa terbuka secara maksimal.1. tangan yang terputus.menggunakan safety shoes. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terbentur helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. 5. terpeleset dan kebakaran. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena Kejadian ini sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi.4 Adjusting belt conveyor Pada tahapan ini terdapat risiko pergelangan tangan terkilir. Nilai kemungkinannya 0. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan membersihkan screen ini dilakukan sekali setiap hari. Terjatuh Risiko keselamatan kerja terjatuh dapat terjadi ketika helper menaiki pemisah screen . Risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena ketika terjatuh helper hanya akan mengalami luka ringan atau memar. terjatuh. 161 . sehingga posisi penutup screen rendah.3.5 (conceivable) karena mungkin terjadi tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan yang bertahuntahun. d. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 3 dengan kategori acceptable c.

artinya kemungkinannya tetap ada untuk terjadi.Nilai paparannya adalah paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 9 dengan kategori acceptable b.Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial 162 . khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai paparannya 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. dengan membuka safety guard yang telah terpasang. Nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangta kecil kemungkinannya. Pergelangan tangan terkilir Risiko keselamatan kerja pergelangan tangan terkilir dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting secara manual. Tangan terputus Risiko keselamatan kerja tangan terputus dapat terjadi ketika helper melakukan adjusting belt conveyor secara langsung. tetapi jarang terjadi.Nilai konsekuensi dari risiko tangan terputus adalah 25 (very serious) karena akan menimbulkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai konsekuensi dari risiko ini adalah 1 (noticeable) karena ketika tangan terkilir pekerja/ helper hanya akan memgalami luka ringan atau memar. ketika helper tidak membuka safety guard yang terpasang. Nilai kemungkinannya 3 (unusual).a.

Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai konsekuensi dari risiko terjatuh adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar. Nilai kemungkinan dari risiko terjatuh adalah 0. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring.5 dengan kategori acceptable.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1.c. yang membuat jalan menjadi licin dan dapat menyebabkan helper terpeleset. Terpeleset Risiko keselamatan kerja terpeleset dapat terjadi karena banyak ceceran residu yang berada di jalan. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi.Nilai risiko dari terjatuh adalah 1. Nilai paparan dari risiko terjatuh adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.5 (conceivable) yang artinya mungkin terjadi. Terjatuh Risiko terjatuh dapat terjadi ketika helper berlari mendaki jalan untuk melihat belt conveyor yang sudah diluruskan. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. e. tetapi tidak pernah terjadi meskipun dengan paparan bertahun-tahun. Nilai konsekuensi dari risiko terpeleset adalah 1 (noticeable) karena ketika terjatuh konsekuensi yang didapatkan adalah lika ringan atau memar.5 dengan kategori acceptable. 163 .

Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. khususnya ketika belt berada pada kondisi miring. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada belt conveyor akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.6 164 . Kebakaran Risiko keselamatan kerja kebakaran dapat terjadi ketika helper memotong belt yang miring dengan menggunakan cutting torch yang dapat menyebabkan kebakaran.Maka. nilai risiko kebakaran adalah 450 dengan kategori very high.Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) apabila helper selalu menggunakan cutting torch untuk memotong belt.f. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 3 (Occasionally) karena kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali.

5 (conceivable) Nilai Risiko 3 Terpeleset 6 (frequent) Terjatuh < 2m 2 Mengecek chute magnet separator 6 (frequent) 3 Terpeleset 6 (frequent) 3 Terjatuh > 2 m (serious) 3. No 1 Rincian Pekerjaan Membersihkan handrail Risiko Konsekuensi (C) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 15 Paparan (E) Kemungkinan (L) 0.5 (conceivable) 0.6 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Awal Shredder facility PT. Membersihkan screen Tangan terputus 25 (very serious) 6 (frequent) 45 6 (frequent) 0.5 (conceivable) 0.5 (conceivable) 75 165 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.5 (conceivable) 0.Tabel 5.

5 Terpeleset 1.Terpeleset 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 6 (frequent) 0.5 (conceivable) 1 3 Terjatuh 6 (frequent) 3 Terbentur penutup Screen 4.5 (conceivable) 75 Terjatuh 1.5 (conceivable) 0. Adjusting belt conveyor Pergelangan terkilir Tangan terputus 6 (frequent) (remotely possible) 3 (Unusual) 1 6 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 3 (Occasionally) 9 (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 25 (remotely possible) 0.5 (conceivable) 0.5 Kebakaran (very serious) 6 (Likely) 450 166 .

Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. b.Maka. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.3.5.2. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada storage akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.1 Perapihan material oleh wheel loader a.nilai 167 .Risiko kebakaran dapat terjadi karena short circuit pada wheel loader atau karena gesekan antara material yang dirapihkan.3. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat perapihan material oleh wheel loader adah tertabrak/menabrak. nilai risiko kebakaran adalah 750 dengan kategori very high. tetapi jarang terjadi. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.Maka.2. Analisis Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 5. tetapi jarang terjadi.

7 168 .risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5.

No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 3 (Unusual) 750 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 250 169 .Tabel 5.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.7 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material PT.

Kebakaran Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah kebakaran dan tertabrak/menabrak. Analisis Risiko pada Tahap Shredding 5. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.5. Risiko kebakaran dapat terjadi karena pada hooper ada gesekan yang dapat menimbulkan panas. Nilai konsekuensi dari risiko kebakaran adalah 25 (very serious ) karena kebakaran pada hooper akan menyebabkan kerugian dan kerusakan sementara pada lingkungan.3.1 Tahap memasukkan material pada Hooper a.2.Maka. Nilai kemungkinan dari risiko kebakaran adalah 6 (likely) kemungkinan terjadi 50-50. nilai risiko kebakaran adalah 1500 dengan kategori very high.3. selain itu material yang dimasukkan merupakan zat flammable atau mixing material yang memiliki titik api rendah. Nilai paparan dari kebakaran adalah adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. dan tertimpa material .Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertabrak/menabrak. b.Risiko.2. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena 170 .

tetapi jarang terjadi. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil 171 . Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan setiap hari.2. dan helper sedang berada di sekitar hooper . Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. 5.3.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 10 dengan kategori acceptable. c. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Risiko tertimpa material dapat terjadi apabila muatan hooper yang terlalu penuh. Nilai kemungkinan dari risiko tertimpa material adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.Maka. Tertimpa Material Risiko keselamatan kerja saat memasukkan material pada Hooper adalah adah tertimpa material. Terpeleset Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu . memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.Maka. tetapi jarang terjadi.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu a.kegiatan dilakukan setiap hari. Nilai konsekuensi dari risiko tertimpa material adalah 1 ( noticeable) tertimpa material karena tertimpa material akan mengakibatkan luka ringan atau memar.

Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena ceceran residu. c.kemungkinannya. d. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Tersandung Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu.5 (conceivable) karena risiko ini hanya mungkin terjadi 172 . Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. Nilai paparan dari risiko kebakaran adalah Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. nilai konsekuensi 25 (very serios) karena kebakaran ini menyebabkan kerussakan sementara terhadap lingkungan. b. Sedangkan nilai kemungkinannya 0. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.

5. Tersandung Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. b. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika terpeleset.4 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material a. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.Maka.ketika helper tidak mematuhi peraturan seperti merokok.3. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari. memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tersandung. nilai risiko yang dihasilkan yaitu 75 dengan kategori substansial. 173 . Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya apabila pekerja menggunakan safety shoes. Sedangkan nilai kemungkinannya 3 (unusual) karena kemungkinan ini terjadi tapi jarang. Terpeleset Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material.2. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 18 dengan kategori acceptable. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable.

Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. Tertimpa Material Ringan Pada tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu.c. Nilai paparannya 6 (frequent) karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari.8 174 . Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 6 dengan kategori acceptable. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila terpeleset yaitu luka ringan atau memar jika tertimpa material.

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010.8 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Tabel 5. No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Konsekuensi (C) 25 Kebakaran (very serious) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) 10 (Continously) 6 (Likely) 1500 Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 1 (remotely possible) 1 250 Tertimpa Material 1 (noticeable) 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 2. Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 1 (noticeable) 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 6 Tersandung 1 6 (frequent) 18 175 .

Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Tersandung 6 (frequent) 18 176 .(noticeable) 1 Tertimpa Material Ringan 1 (noticeable) 25 Kebakaran (very serious) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 1 (noticeable) 6 (frequent) 6 (frequent) (remotely possible) 0.5 (conceivable) 1 Terpeleset 6 (frequent) (remotely possible) 3 (unusual) 1 Tertimpa Material Ringan 6 (frequent) (remotely possible) 6 6 6 75 3.

Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Sedangkan nilai kemungkinannya 1 (remotely possible) karena kejadian ini sangat kecil kemungkinannya.2.3. Nilai risiko yang dihasilkan yaitu 10 dengan kategori acceptable.5. khususnya saat membutuhkan bahan bakar.3. Maka. 177 . nilai risiko yang dihasilkan yaitu 50 dengan kategori priority 3. Nilai paparannya 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. khususnya saat membutuhkan bahan bakar. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 5 (important) karena akibat terburuk apabila kejatuhan box membutuhkan penanganan medis. Analisis Risiko pada Tahap Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 5. Tertimpa Material Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk a. 10 (continously) karena pekerjaan ini dilakukan sesering mungkin. risiko ini memiliki nilai konsekuensi 1 (noticeable) karena akibat terburuk apabila tertimpa material yaitu luka ringan atau memar.2. b.

Maka. Nilai konsekuensi dari risiko box terjatuh adalah 1 ( noticeable) karena box terjatuh hanya kerusakan keceil dengan kerugian produk ysng tidak banyak.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. tetapi jarang terjadi. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.Risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada mobil truck sangat pendek. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 3 (unusual) kemungkinan terjadi. 178 .3.c.2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran a.Tertabrak/Menabrak Risiko keselamatan kerja saat menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk adalah adah tertabrak/menabrak. Box terjatuh Risiko keselamatan kerja saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah box terjatuh.2.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 30 dengan kategori priority 3. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin. 5. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi. tetapi jarang terjadi.Maka.nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1.

nilai risiko tertabrak/menabrak adalah 250 dengan kategori priority 1. Tertabrak/menabrak Risiko keselamatan kerja saat saat mengirimkan box menuju tempat pembakaran adalah tertabrak/menabrak. Risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi apabila tidak adanya koordinasi pengemudi dengan pengemudi lainnya sesuai dengan standard operation.Nilai konsekuensi dari risiko trtabrak/menabrak adalah 25 ( veryserious) karena tertabrak/menabrak dapat menyebabkan cacat atau penyakit yang menetap.b. Hasil analisis risiko pada tahap persiapan produksi dapat dilihat pada tabel 5. Nilai kemungkinan dari risiko tertabrak/menabrak adalah 1(remotely possible) kemungkinan terjadi.Maka. Nilai paparan pada risiko ini adalah 10 (Continously) karena kegiatan dilakukan sesering mungkin.9 179 . tetapi jarang terjadi.

Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Box terjatuh 10 (Continously) 3 (unusual) 30 1 10 (Continously) (remotely possible) 250 180 .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Konsekuensi (C) 5 Paparan (E) Kemungkinan (L) 1 Nilai Risiko Kejatuhan box (important) 10 (Continously) (remotely possible) 1 50 Tertimpa material 1 (noticeable 10 (Continously) (remotely possible) 1 10 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 1 (noticeable) 25 Tertabrak/menabrak (very serious) 10 (Continously) (remotely possible) 250 2.9 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product PT.Tabel 5.

risiko terpeleset . yaitu intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. termasuk kategori acceptable. Hasil evaluasi risiko pada tahap persiapan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.4 Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Proses Proses Shredding PT Holcim Indonesia Tbk.4. dan penggerindaan. yaitu mengharuskan adanya perbaikan. yaitu aktivitas perlu dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan. terbentur penutup screen dan pergelangan terkilir. Tahun 2010 5.Dan yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara untuk risiko tangan terputus termasuk kategori substansial.Sedangkan risiko terjatuh pada ketinggian > 2 m termasuk kategori priority 3 berkesinambungan. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai.1 62 . Tindakan yang perlu dilakukan adalah. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.1 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan Awal Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan. terjatuh pada ketinggian < 2 m. seperti tangga yang memiliki footstep yang lebar.penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO). serta memberikan reward dan punishment. pengelasan. dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. seperti penggunaan APD. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. Risiko yang paling tinggi adalah kebakaran yang termasuk dalam kategori very high. pembuatan tangga yang lebih aman.5.

memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .1 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan Shredder facility PT.memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Risiko Membersihkan handrail Terpeleset Nilai Risiko 3 Kategori Risiko Acceptable Rekomendasi .Memasang warning sign Terjatuh < 2 m 3 acceptable 2 Mengecek chute Terpeleset 3 acceptable 62 .Tabel 6.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.penerapan sistem kunci Lock Terjatuh > 2 m 45 Priority 3 3 Membersihkan screen Tangan terputus 75 substansial 63 .pembuatan tangga yang lebih aman.63 magnet separator terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti tangga yang memiliki footstep .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .

seperti pengtingnya penggunaan APD . Terpeleset 3 acceptable Terjatuh 3 acceptable Terbentur penutup screen 6 acceptable 64 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.64 Out Tag Out (LOTO) .

memberikan reward dan punishment kepada pekerja . Adjusting belt conveyor Pergelangan tangan terkilir 9 Acceptable Tangan terputus 75 Substansial Terjatuh 1.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memasang warning sign agar bekerja dengan hati-hati .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .5 Acceptable 65 .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.penerapan sistem kunci Lock Out Tag Out (LOTO) . seperti pengtingnya penggunaan APD 4.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .65 seperti pengtingnya penggunaan APD . seperti pengtingnya penggunaan APD .

5 Acceptable Kebakaran 450 Very high 66 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . . pengelasan.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.66 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Terpeleset 1.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. seperti pengtingnya penggunaan APD . dan penggerindaan.dibuat jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh .

4.2 62 . memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. Tindakan yang perlu dilakukan adalah pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. serta memberikan reward dan punishment . risiko tertabrak/menabrak masuk kedalam kategori priority 1. yaitu Perlu pengendalian sesegera mungkin. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . pemasangan smoke atau heat detector serta pemasangan sprinkler pada storage. Risiko kebakaran termasuk kategori very high yang artinya aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima. Dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain.Hasil evaluasi risiko pada tahap pelaksanaan produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6.2 Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap perapihan material oleh wheel loader. dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan.5.

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Kebakaran 750 priority 1 Tertabrak/mena brak 250 62 .Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Perapihan material oleh wheel loader Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Very high Rekomendasi .Tabel 6.memasang alarm dan revolving lamp pada forklift. .pemasangan smoke atau heat detector .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .2 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Oleh Wheel Loader Shredder facility PT.pemasangan sprinkler pada storage .

memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja. risiko terpeleset. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan. yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain.4. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai. Risiko tertabrak/menabrak yang masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya perlu pengendalian sesegera mungkin Untuk risiko tertinggi adalah risiko kebakaran pada hooper akibat mixing material yang termasuk dalam kategori very high yang artinya Aktivitas dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima.3 62 .5.3 Evaluasi Risiko pada Tahap Shredding Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap shredding. penerapan housekeeping dengan benar. Risiko kebakaran saat housekeeping termasuk kategori substansial . tersandung. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. . pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Tindakan yang perlu dilakukan adalah. pemasangan smoke atau heat detector. serta memberikan reward dan punishment. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. tertimpa material termasuk kategori acceptable. mengharuskan adanya perbaikan secara teknis .

memasang alarm dan revolving lamp pada forklift.3 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada Fasilitas Shrededder PT.memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .pemasangan smoke atau heat detector . .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.Tabel 6.memasang jaring dibawah belt 62 .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .dibuatkan work instruction mengenai material yang berbahaya apabila dicampur dengan material lain .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap memasukkan material pada hooper Risiko Nilai Risiko 1500 Kategori Risiko Very high Kebakaran Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 Tertimpa Material Acceptable 10 Rekomendasi .

memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .63 conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan . seperti pengtingnya penggunaan APD . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.penerapan housekeeping dengan benar .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .memberikan reward dan punishment kepada pekerja 2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu Terpeleset 6 Acceptable Acceptable Tersandung 18 63 .

memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tertimpa Material Ringan 6 Substansial Kebakaran 75 3.memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .64 Acceptable .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memberikan reward dan punishment kepada pekerja . . seperti pengtingnya penggunaan APD .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.memasang penghalang dan penampungan agar ceceran residu tidak jatuh ke lantai .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja. Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material Terpeleset 6 Acceptable 64 .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .65 Acceptable .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety.Memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .penerapan housekeeping dengan benar . .memasang jaring dibawah belt conveyor agar material tidak jatuh langsung dan mengenai pekerja. seperti pengtingnya penggunaan APD .memberikan reward dan punishment kepada pekerja Tersandung 18 Acceptable Tertimpa Material Ringan 6 65 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .

4. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. perlu pengendalian sesegera mungkin. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box . yaitu Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan . Tindakan yang perlu dilakukan adalah. Hasil evaluasi risiko tahap selesai produksi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 6. pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. Risiko paling tinggi adalah risiko tertabrak/menabrak yang termasuk kategori priority 1 yaitu.5. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .4 62 . pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck. Evaluasi Risiko pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material Berdasarkan hasil analisis risiko pada tahap persiapan dan penyimpanan material risiko tertimpa material termasuk kategori acceptable yang artinya yaitu Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan.4. Risiko kejatuhan box dan box terjatuh di jalan termasuk kategori priority 3 . serta memberikan reward dan punishment.

.pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .memasang warning sign terkait dengan risiko yang 62 .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .Tabel 6.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No 1 Rincian Pekerjaan Tahap menaikan box yang sudah terisi ileh material pada truck Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Priority 3 Kejatuhan box 50 acceptable Tertimpa material 10 Tertabrak/mena 250 Priority 1 Rekomendasi .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.memberikan reward dan punishment kepada pekerjaberorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .4 Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material pada Fasilitas Shrededder PT. .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.

Tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran Priority 3 Box terjatuh 30 Priority 1 Tertabrak/mena brak 250 63 .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck .memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .63 brak dapat ditimbulkan .pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak.memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety .pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety . .memberikan reward dan punishment kepada pekerja .memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .memberikan reward dan punishment 2. .

62 .

Kebakaran pada bagian hooper yang terjadi pada 7 April 2010 5.00 di area operasi shredder Geocycle.Berdasarkan studi dokumen dan wawancara kepada petugas OH&S dan penanggung jawab shredder Kecelakaan kerja periode 2008 – 2010 di fasilitas shredder facility unit Geocycle PT Holcim Indonesia Tbk. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder.PT. Lengan yang terputus akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector) pada tahun 2009 6. 158 . Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah.5. Tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder runtuh akibat tertabrak loader pada tahun 2008 5.1Kecelakaan Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Tertabrak Wheel Loader Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat tertabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2.Holcim Indonesia Tbk. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. yaitu : 4.5.5 Gambaran Kejadian Kecelakaan Kerja pada Unit Shredder Facility PT.Holcim Indonesia Tbk Shredder facility merupakan fasilitas pre-handling limbah dengan metode pencacahan atau shredding.

karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut.000. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan 159 . pengemudi mengutarakan hal ini terjadi karena pekerja berada dalam kondisi kelelahan.5.PT. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut. pengemudi tersebut tidak dapat tidur karena beban fikiran mengenai kondisi keuangan yang minim karena kurangnya pendapatan sekitar Rp. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. dengan waktu istirahat 1 jam. Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller.tiap bulannya. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector).Holcim Indonesia Tbk..Setelah dilakukan wawancara terhadap pengemudi wheel loader yang bersangkutan mengenai alasan penyebab tidak berkonsentrasinya pengemudi dalam bekerja. sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan.2 Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan Terputus Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder Geocycle. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. 5. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah.900. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. dan salah satunya adalah karet.

dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar. karyawan/helper lain mengutarakan hal ini terjadi karena karyawan/helper sudah terbiasa dengan pekerjaanya sehingga karyawan/helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . 5. sprinkler dan hydrant.Holcim Indonesia Tbk. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. 160 . tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari.5. Pengendalian yang sudah tersedia adalah alarm.menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper.Upaya yang sudah dilakukan pada tahap ini adalah pemasangan screw diluar safety guard. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor.3 Kejadian Kecelakaan Kerja Kebakaran Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 di area operasi shredder Geocycle.PT. seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). Setelah dilakukan wawancara terhadap karyawan/helper lain yang bekerja di shredder facility mengenai alasan penyebab karyawan/helper melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api.

Hasil analisis risiko dari kecelakaan tertabrak/menabrak pada tahap perapihan dan penyimpanan material adalah 25.Holcim Indonesia Tbk 5. 5.6 Perbandingan hasil analisis dengan kejadian kecelakaan kerja yang telah terjadi di unit Shredder facility PT. selain itu helper tidak mengetahui bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampurkan sebelum dimasukkan ke dalam shredder. 161 ..Namun hingga saat ini belum disediakan informasi yang terbaru mengenai bahan-bahan apa saja yang tidak boleh dicampur begitu saja dan dapat menimbulkan kebakaran.6. tembok akibat pengemudi Wheel loader kelelahan tetap terjadi pada tahap perapihan dan penyimpanan material dan menimbulkan dampak rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder. masuk kedalam kategori priority 3 yang artinya kegiatan ini hanya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. Namun ternyata kecelakaan kerja tertabraknya pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder.1 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder . Setelah dilakukan wawancara terhadap penanggung jawab shredder yang bersangkutan mengenai alasan penyebab mixing material adalah karena lembar MSDS yang belum diperbarui dan tidak lengkap akibat tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. hal ini juga terjadi karena data mengenai bahan-bahan yang berbahaya apabila dicampurkan belum diperbaharui.

6. hasil analisis kecelakaan kerja saat ini. Karena kecelakaan kerja ini. Apabila dibandingkan dengan kecelakaan kerja yang telah terjadi sebelum pengendalian dilakukan. maka kegiatan adjusting belt conveyor harus dihentikan terlebih dahulu sampai mencapai batas yang dibolehkan. yaitu lengan terputus. 5.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Tindakan pengendalian ini berbeda dengan kejadian sebelum diterapkannya pengendalian pemasangan screw diluar safety guard .dampak lengan terputus ini menyebabkan helper atau korban tersebut mengalami luka terbuka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. pengemudi tersebut tidak dapat tidur. karena malam hari sebelum kejadian tertabraknya tembok pemisah antara shredder dengan ruang penyimpanan atau storage. dengan waktu istirahat 1 jam. Berdasarkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor. Helper lain mengutarakan alasan 162 . sehingga pada pagi harinya pekerja merasa kelelahan. 7.Hal ini terjadi karena.akibat beban fikiran. pekerja berada dalam kondisi kelelahan. Selain itu setiap harinya pekerja melakukan pekerjaan ini 8 jam.mengenai lengan yang terputus pada tahap adjusting belt conveyor adalah. Kecelakaan kerja lengan terputus bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller.2 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. helper tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan.

hingga saat ini belum dilakukan pengendalian secara tekhnis pada Hooper . masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. sehingga dampak yang ditimbulkan adalah terjadinya kebakaran pada hooper dan menyebabkan kerusakan sementara pada hooper dan terhentinya produksi. Hal ini terjadi karena. Hasil analisis risiko saat ini dari kecelakaan kebakaran pada tahap Shredding adalah 250.mengapa helper melepaskan safety guard tersebut. 163 .6. Kecelakaan kerja kebakaran yang telah terjadi pada tahap Shredding.3 Perbandingan Hasil Analisis Tahap Shredding dengan Kejadian Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. 5. seperti melepas safety guard dan tidak perlu menerapkan prosedur LOTO (lock out tag out ). terjadi akibat MSDS tidak lengkap dan belum diperbarui. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja dan menimbulkan kebakaran pada hooper. hal ini terjadi karena helper sudah merasa terbiasa dengan pekerjaanya sehingga helper merasa tidak perlu mematuhi peraturan yang ada.

164 terbentur penutup screen. hanya dilakukan wawancara kepada petugas OH&S.1 Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini. Hasil identifikasi dilakukan dengan menggunakan data primer berupa wawancara dan observasi kepada petugas OH&S. . penanggung jawab lapangan. dan 3 orang pekerja / helper di shredder facility karena kesibukan dari masing-masing pekerja yang lain. 6.Holcim Indonesia Tbk. risiko keselamatan kerja yang terdapat pada proses shredding PT. Bahaya mekanik (mechanical hazard) yaitu terpeleset ceceran residu.2 Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Shredder Facility PT. Gambar tahapan pekerjaan tidak terlalu lengkap. peneliti melakukan observasi dan wawancara tidak kepada semua pekerja shredder facility. terpeleset screen. penanggung jawab lapangan dan 3 orang pekerja atau helper di shredder facility. selain itu peneliti tidak melakukan wawancara kepada semua korban kecelakaan kerja.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010. pergelangan tangan terkilir.BAB VI PEMBAHASAN 6. Dari risiko yang telah diidentifikasi. tangan terputus. menurut kelompok bahaya keselamatannya (safety hazard) dapat dibedakan menjadi: 1. karena peneliti tidak diizinkan untuk mengambil gambar sendiri. dikarenankan korban tersebut sudah tidak bekerja lagi. tersandung peralatan yang berserakan. terjatuh dari ketinggian.

terbentur penutup screen. helper berisiko terjatuh akibat handrail berada pada ketinggian dan ketika bekerja. helper tidak selalu memegang handrail. terjatuh saat melangkahi pemisah. pergelangan tangan terkilir. tangan terputus dan kebakaran. tertimpa material ringan dan kejatuhan box. 2. Bahaya-bahaya ini disebabkan oleh adanya benda-benda atau proses yang bergerak.Holcim Indonesia Tbk tahun 2010 Berikut ini adalah hasil analisis risiko pada setiap tahapan proses shredding PT. risiko yang dapat terjadi adalah terjatuh dari ketinggian kuran atau lebih dari 2 meter. sehingga dimasukkan ke 165 . 6. Bahaya ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia pada proses kerja yang menimbulkan risiko keselamatan kerja.3. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter ini mempunyai nilai risiko 15 kurang dari 20. 6. terpeleset pada screen.Bahaya kimia (chemical hazard) yaitu kebakaran.1 Tahap persiapan awal Berdasarkan analisis risiko pada tahap persiapan awal.1. . 6. tangan terputus screen.3 Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Setiap Tahapan Proses Shredding PT.Holcim Indonesia Tbk. Terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 meter Pada tahap membersihkan handrail.tertabrak/menabrak .3.1 Membersihkan Handrail 1.

Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. helper tidak selalu memegang handrail. Sedangkan. 166 . 6. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.dalam kategori tingkat risiko acceptable yang artinya adalah mengurangi intesitas kegiatan yang menimbulkan risiko seminimal mungkin. dari serious menjadi important atau noticeable. Mengecek chute magnet separator Terjatuh dari ketinggian lebih dari 2 meter Pada tahap mengecek chute magnet separator.1. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat. helper berisiko terjatuh akibat chute magnet separator berada pada ketinggian lebih dari 2 meter dan ketika bekerja. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh.2 1. sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko priority 3 yang artinya adalah perlu diawasi dan di[erhatikan secara berkesinambungan.3. Risiko terjatuh dari ketinggian kurang dari 2 m ini mempunyai nilai risiko 45. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman.

sehingga dimasukkan ke dalam kategori tingkat risiko substansial teknis.Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. 6.3 Membersihkan screen 1. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Untuk nilai konsekuensi terjatuh dari ketinggian dapat dikurangi lagi. tingkat paparan tidak dapat diturunkan lagi karena pekerjaan membersihkan handrail hanya dilakukan setiap diawal shift. tangan helper berisiko terputus screen akibat akbat benda berputar dan ketika helper bekerja penerapan LOTO tidak dilaksanakan dengan baik. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 75. Sedangkan. dan penyediaan safety belt pada daerah yang memiliki risiko terjatuh agar pekerja bekerja lebih aman. Untuk menurunkan nilai risiko.3. Tangan terputus screen Pada tahap membersihkan screen. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah menyediakan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh. maka upaya pengendalian 167 yang artinya adalah mengharuskan adanya perbaikan . ketika sudah dilakukan pengendalian yang tepat.1. Untuk menurunkan nilai risiko. dari serious menjadi important atau noticeable.

Sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. karena risiko minimal tangan terputus screen adalah cacat atau penyakit yang menetap. helper berisiko terpeleset screen akibat akbat permukaan screen yang licin dan tidak rata. Untuk nilai konsekuensi dari tangan terputus screen tidak dapat dikurangi lagi. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. 2. selain itu sebaiknya dilakukan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja.yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan LOTO (lock out tag out ) pada pekerja yang bekerja pada screen. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko terpelset screen dikurangi seminimal mungkin.diberikan pelatihan yang berorientasi pada perilaku safety sehingga pekerja dapat menyadari tindakan apa saja yang berbahaya bagi pekerja. Terpeleset screen Pada tahap membersihkan screen. Sedangkan tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga tingkat 168 . dan memberikan reward dan punishment kepada pekerja.

maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan tangga untuk masuk kedalam screen. Untuk menurunkan nilai risiko. Sedangkan. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Untuk nilak konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Untuk nilai konsekuensi dari terpeleset screen tidak dapat dikurangi lagi. karena konsekuensi dari teprleset screen ini adalah luka ringan atau memar. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . helper berisiko terjatuh saat melangkahi pemisah screen akibat helper menaiki pemisah screen. tingkat 169 . karena konsekuensi dari terjatuh saat menaiki pemisah screen adalah luka ringan atau memar. Terjatuh saat melangkahi pemisah screen Pada tahap membersihkan screen. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. 3.Sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible. Risiko terputus screen ini mempunyai nilai risiko 3 dengan kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. sehingga tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible.

Sedangkan. sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman . karena konsekuensi dari terbentur penutup screen adalah luka ringan dan memar. memberikan reward dan punishment kepada pekerja. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan APD. sehingga tingkat kemungkinan remotely possible dapat diturunkan menjadi conceivable dan practically impossible. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. helper berisiko terbentur penutup screen. 170 . Risiko terbentur penutup screen ini mempunyai nilai risiko 6 yang artinya kurang dari 20. karena penutup screen yang tidak bisa terbuka secara maksimal. Terbentur Penutup Screen Pada tahap membersihkan screen. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan dikurangi seminimal mungkin. 4. Untuk menurunkan nilai risiko.paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. karena pekerjaan membersihkan screen ini hanya dilakukan sekali setiap hari. Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi.

pergelangan tangan helper berisiko terkilir. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan double screw. 171 . Untuk nilai konsekuensi tidak dapat diturunkan lagi.4 Adjusting belt conveyor 1. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. menggunakan screw yang diputar secara manual oleh pergelangan tangan. Sedangkan.3. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Pergelangan tangan terkilir Pada tahap adjusting belt conveyor.1. sehingga beban yang diterima oleh masing-masing pekerja tidak besar serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. sehingga tingkat kemungkinan unusual dapat diturunkan menjadi remotely possible. karena helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. karena konsekuensi dari pergelangan terkilir adalah luka ringan dan memar. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Risiko pergelangan tangan terkilir ini mempunyai nilai risiko 9 yang artinya kurang dari 20. sehingga belt dapat diluruskan oleh 2 pekerja. sedangkan belt yang diluruskan memiliki beban yang cukup berat. conceivable atau practically impossible.6.

Risiko Tangan terputus akibat benda berputar ini mempunyai nilai risiko 7. karena helper melakukan adjusting belt conveyor dengan membuka safety guard yang tersedia. tak ada pekerja lain yang menyalakan belt conveyor. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pengawasan penerapan sistem kunci LOTO (Lock out tag out) agar ketika helper bekerja. helper akan berlari melihat dari sisi yang lain yang 172 .5 yang artinya kurang dari 20. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. important . 3.2. sehingga nilai konsekuensi dari tangan terputus dapat berkurang dari very serious menjadi serious. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Terjatuh dari ketinggian Pada tahap adjusting belt conveyor. helper berisiko terjatuh dari ketinggian . Sedangkan. tangan helper berisiko terputus akibat benda berputar. serta pelatihan perilaku yang beriorientasi pada safety. atau noticeable. karena setelah helper melakukan adjusting belt conveyor yang keluar jalur. Tangan terputus akibat benda berputar Pada tahap adjusting belt conveyor. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.

karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali. apakah belt conveyor sudah memasuki jalur atau belum. Untuk nilai konsekuensi dapat diturunkan lagi. Risiko terjatuh dari ketinggian ini mempunyai nilai risiko 7. karena pemotongan belt conveyor menggunakan cutting torch. risiko kebakaran dapat terjadi. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah dibuatkan jaring pengaman untuk daerah yang memiliki risiko terjatuh . sehingga pekerja dapat bekerja lebih aman serta memberikan reward dan punishment kepada pekerja. Sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Untuk menurunkan nilai risiko. Kebakaran pada belt conveyor Pada tahap adjusting belt conveyor. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali.lebih tinggi. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 900 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang dapat menyebabkan 173 .5 yang artinya kurang dari 20. 4. Dengan upaya pengendalian tersebut. Sedangkan. diharapkan tingkat kemungkinan conceivable dapat diturunkan menjadi practically impossible.dari important menjadi noticeable ketika pengendalian yang dilakukan sudah tepat. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.

Kebakaran pada storage Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. pengelasan. atau noticeable. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 750 sehingga masuk ke dalam kategori very high yang artinya aktivitas yang 174 . serta banyak material yang mudah terbakar. serta memberikan reward dan punishment. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah penerapan prosedur working permit untuk setiap pekerjaan yang melibatkan api. 6.3.kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . risiko kebakaran pada storage dapat terjadi. dan penggerindaan.3.2. important. karena pekerjaan ini hanya dilakukan seminggu sekali.serta menurunkan nilai konsekuensi dari disaster menjadi serious . Sedangkan. tingkat paparannya occasionally dan tidak dapat diturunkan kembali. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko.2 Tahap Persiapan dan Penyimpanan Material 6.1 Perapihan material oleh wheel loader 1. karena gesekan antar material. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari likely menjadi remotely possible.

Sedangkan. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan.dapat menyebabkan kebakaran dihentikan sampai risiko dikurangi hingga mencapai batas yang dibolehkan atau diterima . maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan sprinkler pada storage serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko . Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. karena kurang koordinasi antar 25 pengemudi. Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap perapihan material oleh wheel loader. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. serta menurunkan nilai konsekuensi dari very serious menjadi serious . Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah 175 . risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. atau noticeable.sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 dan diperhatikan secara berkesinambungan. important. 2. sehingga nilai kemungkinan dari risiko kebakaran dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible. yang artinya perlu diawasi Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.

risiko kebakaran pada hooper dapat terjadi. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. Risiko kebakaran ini mempunyai nilai risiko 250 sehingga masuk ke dalam kategori priority 1 pengendalian sesegera mungkin. important. sehingga nilai konsekuensi dapat ditunkan dari very serious menjadi serious . sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Sedangkan. serta banyak material yang mudah terbakar.3.3 Tahap Shredding 6. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan.pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak dan dibuatkan guard untk melindungi fasilitas dari tabrakan serta pelatihan yang berorientasi pada safety. 6.1 Tahap memasukkan material pada Hooper 1. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang lengkap dan selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. atau noticeable.3.3. Untuk menurunkan nilai risiko. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. Kebakaran pada hooper Pada tahap memasukkan material pada hooper. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun yang artinya perlu 176 . karena gesekan antar material.

Sedangkan. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. dan tidak memanfaatkan fasilitas secara maksimal. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious atau important. Untuk menurunkan nilai risiko. karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. 177 . risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. 2. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah pemasangan smoke atau heat detector pada hooper serta penyediaan MSDS (material safety data sheet) yang selalu diperbarui serta pelatihan yang berorientasi pada safety. nilai kemungkinan dari risiko kebakaran pun dapat diturunkan dari likely menjadi unusual atau remotely possible. Sedangkan.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap memasukkan material pada hooper.dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable atau practically impossible. karena kuarngnya koordinasi antar pengemudi.

dan isi hooper terlalu penuh. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap menebar serbuk gergaji. Pada tahap memasukkan material pada hooper.3. pemasangan guard pada area hooper. Tertimpa Material dari Hooper Yang Memiliki Ketinggian Sekitar 2 Meter (contoh material : potongan plastik drum. sehingga material yang di dalam hooper terlempar keluar. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah Memasang warning sign terkait bahaya yang ada. Untuk menurunkan nilai risiko.ketika helper berjalan di sekitar hooper. Risiko tertimpa material ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. potongan kayu yang beratnya sekitar 100-250 gram ). risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko tersebut.3. pengawasan penggunaan APD.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tersandung oleh peralatan yang 178 . karena pekerjaan ini dilakukan setiap hari sesuai kebutuhan. risiko tertimpa material dapat terjadi pada helper.3. 6. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.2 Tahap menebar serbuk gergaji pada lantai yang terkena residu 1. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable.

ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk menebar serbuk gergaji dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. 2. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menebar serbuk gergaji. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. Untuk menurunkan nilai risiko. Risiko tersandung peralatan ini mempunyai nilai risiko 18 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.berseerakan di sekitar shredder. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. sedangkan. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable 179 ..

Untuk menurunkan nilai risiko. Kebakaran Pada tahap menebar serbuk gergaji. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. 3. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. seperti merokok. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. risiko kebakarandapat terjadi pada helper. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.ketika helper berjalan tidak mematuhi prosedur yang tersedia. sehingga nilai konsekuensi dapat 180 . Risiko tertimpa kebakaran nilai risiko ini mempunyai 150 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin.yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait bahaya yang ada serta pelatihan perilaku yang berorientasi pada safety. sedangkan.

6.. sedangkan. memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. sedangkan. Untuk menurunkan nilai risiko.3. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah mengawasi penerapan housekeeping. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. atau noticeable.3 Tahap Memberikan Parfume Pada Fasilitas Shredder dan Material 1. 181 .ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material dan tersandung oleh peralatan yang berserakan di sekitar shredder.3. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali. Tersandung peralatan yang berserakan Pada tahap memberikan parfume pada fasilitas shredder dan material. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. Risiko tersandung peralatan 18 ini mempunyai nilai risiko sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. risiko tersandung peralatan yang berserakan dapat terjadi pada helper. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari.diturunkan dari very serious menjadi serious. important. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.

memasang warning sign terkait bahaya yang ada dan pengawasan penggunaan APD. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap memberikan parfum pada shredder dan material. tingkat paparannya frequent dan tidak dapat diturunkan kembali.2. Risiko tertimpa material ringan ini mempunyai nilai risiko 6 sehingga masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya risiko tertimpa material Intensitas yang menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. risiko tertimpa material ringan dari belt conveyor dapat terjadi pada helper. Tertimpa Material Ringan Dari Belt Conveyor Yang Memiliki Ketinggain Sekitar 1-2 M (contoh material : palstik. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari. Untuk menurunkan nilai risiko. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.ketika helper berjalan di sekitar shredder untuk memberikan parfum pada shredder dan material dan tertimpa material ringan dari belt conveyor. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang jarring dibawah belt conveyor. 182 . sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. sedangkan.

Untuk menurunkan nilai risiko. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. risiko tertimpa material ringan dari box. potongan material ringan yang beratnya kurang dari 100 gram) Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. Kejatuhan box Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap.3.1 Tahap Menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk 1. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 10 sehingga 183 .4 Memasukan Product Pada Box dan Pengiriman Product 6. Tertimpa Material Ringan Dari Box (contoh material : palstik.3. risiko kejatuhan box dapat terjadi pada helper.4. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box. sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu material ringan yang berada di posisi paling atas box terjatuh. Risiko kejatuhan box ini mempunyai nilai risiko 50 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan.6. 2.

Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. Untuk menurunkan nilai risiko. ketika helper mengangkut box ke atas truk memnggunankan bobcap lalu tidak ada koordinasi antar pengemudi. Untuk menurunkan nilai risiko. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. sedangkan. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut.masuk ke dalam kategori acceptable yang artinya intensitas yang menimbulkan risiko tertimpa material ringan dari box dikurangi seminimal mungkin. sehingga terjadi tabrak/menabrak. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. atau noticeable. important. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. memasang penghalang atau kaca pada forklift yang mengangkut box.Tertabrak/Menabrak antar pengemudi Pada tahap menaikan box yang sudah terisi oleh material pada truk. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari remotely possible menjadi conceivable. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. 3. 184 .

Box terjatuh saat dibawa menuju pre-heater Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. sehingga nilai kemungkinan dapat diturunkan dari unusual menjadi remotely possible atau conceivable. sedangkan box tinggi. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. 185 . Risiko box terjatuh di jalan ini ini mempunyai nilai risiko 30 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya Perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. 6. memasang blind spot mirror pada daerah tikungan .2 Mengirimkan Box Menuju Tempat Pembakaran / Pre-heater 1. Untuk menurunkan nilai risiko. sedangkan.sedangkan.4. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. pemasangan guard yang lebih tinggi pada truck.3. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. risiko box terjatuh dapat terjadi karena guard pada truk yang pendek.

Tertabrak/menabrak antar pengemudi Pada tahap mengirimkan box menuju tempat pembakaran / pre-heater. karena pekerjaan ini dilakukan sekali setiap hari sesuai kebutuhan. important. Risiko tertabrak/menabrak ini mempunyai nilai risiko 25 sehingga masuk ke dalam kategori priority 3 yang artinya perlu diawasi dan diperhatikan secara berkesinambungan. pemasangan alarm pada forklift atau revolving lamp saat kendaraan bergerak. Untuk menurunkan nilai risiko.2. Rekomendasi yang diberikan adalah dengan cara menurunkan nilai risiko dari risiko tersebut. sedangkan. maka upaya pengendalian yang sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan adalah memasang warning sign terkait dengan risiko yang dapat ditimbulkan. atau noticeable. 186 . karena pekerja tidak mengikuti standard operation mengenai cara berkendara di arean proyek. risiko tertabrak/menabrak dapat terjadi. sehingga nilai konsekuensi dapat diturunkan dari very serious menjadi serious. tingkat paparannya continouslly dan tidak dapat diturunkan kembali.

6.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010. Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan antena pada wheel loader dan alat kemudi lainnya yang sedang berjalan . maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 25 masuk kedalam priority 3 yang artinya kegiatan ini sebenarnya hanya perlu pengawasan dan diperhatikan secara . sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan rubuhnya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder akibat ditabrak wheel loader yang sedang mundur untuk parkir.4 Pembahasan Hubungan antara Hasil Analisis Risiko dengan Kejadian Kecelakaan Kerja yang Telah Terjadi pada Shredder Facility PT. tersedia standard operation mengenai cara bekendara di area proyek. memasang warning sign tentang penggunaan APD .Holcim Indonesia Tbk. Pengemudi Wheel loader tidak berkonsentrasi sehingga wheel loader menabrak tembok pemisah.4. hanya kerusakan sementara fasilitas shredder. tersedianya blind spot miror agar pengemudi dapat mengetahui aktivitas disekitar. Tidak ada korban dari kecelakaan kerja ini. safety briefing sebelum bekerja.6.00 di area operasi shredder Geocycle.1 Pembahasan Hubungan Hasil Analisis Tahap Perapihan dan Penyimpanan Material dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Tertabraknya Tembok Pemisah antara Ruang Penyimpanan dan Shredder Pada tanggal 8 November 2008 pukul 10.PT. Hal ini bermula ketika wheel loader keluar dari storage 1 menuju storage 2. serta menggunakan APD lengkap.

yang menyatakan “ Kelelahan kerja akan menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Hal ini sesuai dengan teori Nurmianto pada tahun 2003. Hal ini sesuai dengan teori domino heinrich yang menyatakan bahwa salah satu rangkaian domino yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja adalah unsafe act atau perilaku tidak aman yang salah satunya adalah kelelahan . Teori yang dikembangkan oleh Sahab (1997) juga menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja dilatarbelakangi oleh faktor-faktor.berkesinambungan.” Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. belum terjadi perubahan pengendalian. kondisi korban yang memiliki beban fikiran mengenai minimnya upah yang menyebabkan pekerja kurang tidur. Kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder terjadi karena faktor pekerja. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi. sehingga menjadi salah satu penyebab kelelahan. yang salah satunya adalah faktor kelelahan dan keletihan yang berasal dari penyebab dasar faktor pribadi. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja. namun kecelakaan kerja tertabraknya tembok pemisah antara ruang penyimpanan dan shredder tetap terjadi. kecelakaan kerja terjadi karena pekerja tidak berkonsentrasi dalam mengemudi. 63 . Kelelahan kerja yang dilalami pekerja membuat turunnya kinerja dan menimbulkan kecelakaan kerja.

kegelisahan. pembahan tingkah laku. gangguan pencemaan.PT. kurang tenaga. hal ini sesuai dengan teori Winardi (2001) yang menyatakan bahwa jika upah tersebut tidak dipenuhi.2 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Adjusting belt conveyor Kecelakaan Kerja Lengan yang Terputus. sebuah kecelakaan terjadi mengakibatkan luka parah pada seorang karyawan Holcim Indonesia. kecemasan. tidak cocok dengan lingkungan. fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun. dan kadangkala timbul gejala berupa memburuknya kesehatan fisik dan mental yang dapat mempengaruhi perilaku kerja. 6. maka akan muncul pemogokan-pemogokan. 64 . Pada tanggal 28 Juli 2009 pukul 23:00 di area operasi shredder dengan Kejadian Geocycle. Karyawan tersebut mengalami luka terbuka atau terputusnya lengan atas dan pergelangan tangan akibat terjepit oleh benda berputar (motion detector).Selain itu kerja fisik yang terus menerus dapat menyebabkan kelelahan. Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute. sehingga menurunkan kesiagaan dan perhatian. 1982). penurunan dan hambatan persepsi cara berpikir atau perbuatan anti sosial. gangguan fungsi paru dan jantung. badan terasa tidak enak. dan kesukaran tidur). kehilangan inisiatif). dan gejala umum (sakit kepala. (depresi.5. Kelelahan Kerja dapat menyebabkan prestasi kerja yang menurun. kehilangan nafsu makan.Motivasi kerja khususnya faktor balas jasa atau upah yang minim pun menjadi penyebab pekerja tidak dapat tidur karena beban fikiran. vertigo.Holcim Indonesia Tbk.

maka nilai risiko yang didapat pada tahap ini adalah 7. selain itu prosedur LOTO (lock out tag out ) tidak diterapkan sehingga terjadi kecelakaan kerja tersebut. Upaya yang saat ini sudah dilakukan pada tahap adjusting belt conveyor adalah pemasangan screw diluar safety guard agar pekerja bekerja lebih aman. akibatnya lengan bajunya tersangkut oleh motion detector yang berputar dan menarik tangan kanannya ke arah motion detector yang berputar. Karyawan tersebut mengalami luka dan dikirim ke rumah sakit untuk operasi pembedahan. Namun ketika karyawan berusaha menyingkirkan material tersebut.Hal ini bermula ketika belt conveyor pada shredder keluar dari jalur roller. Karyawan tersebut melepaskan pelindung untuk mengatur posisi belt pada kondisi belt berjalan. Hal ini membuktikan bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi apabila manajemen keselamatan kerja belum dilakukan secara maksimal. Maka. Safety guard pada saat itu belum dilengkapi screw yang berfungsi sebagai alat adjusting belt conveyor.5 masuk ke dalam kategori Acceptabble yang artinya intensitas yang dapat menimbulkan risiko dikurangi seminimal mungkin. dan salah satunya adalah karet. sesuai dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich dengan 65 . karyawan tidak menggunakan bar untuk menyingkirkan benda tersebut. karyawan tersebut melihat material karet yang tersangkut pada tail pulley. Setelah selesai mengatur posisi belt conveyor. hal ini biasa terjadi karena Shredder merupakan alat pencacah berbagai limbah. pengendalian yang sudah dilakukan saat ini dapat meminimalkan kecelakaan kerja.

Namun. Jadi. Selain karena faktor teknis. dapat disimpulkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe act) memegang pengaruh yang besar terhadap kecelakaan Maka. 66 . Menurut Gordon Allport . hal itu senada dengan yang diungkapkan oleh Silalahi (1995).mengemukakan teori manajemen yang berisikan lima faktor dalam urutan suatu kecelakaan.dan Birds mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemn keselamatan dan kesehatan kerja. kecelakaan kerja lengan terputus disebabkan oleh faktor manusia yang merasa terbiasa dengan pekerjaannya. berdasarkan statistik di Indonesia. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia seperti faktor sikap yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Penyebab yang melatarbelakangi kecelakaan kerja menurut Sahab (1997) salah satunya adalah sikap dan tingkah laku yang tidak aman. 80% kecelakaan diakibatkan oleh tindakan tidak aman (unsafe act) dan 20% oleh kondisi tidak aman (unsafe condition). walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. sikap merupakan kecenderungan potensial untuk berpotensi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon . Dan tentunya tindakan tidak aman akan menyebabkan kecelakaan kerja.

Didalam hooper gesekan antar besi menimbulkan percikan api. sprinkler tepat diatas hooper.Holcim Indonesia Tbk.6. tersedia MSDS (Material safety data sheet). serta APAR. dan mixing material yang dimasukkan oleh wheel loader bersifat mudah terbakar.5. tidak ada korban dari kejadian ini hanya mengakibatkan produksi terhenti untuk 2 hari. safety briefing sebelum bekerja. serta menggunakan APD lengkap. 67 .PT. masuk kedalam kategori priority 1 yang artinya aktivitas shredding perlu pengendalian sesegera mungkin. belum terjadi perubahan pengendalian. Karena sebenarnya berdasarkan dengan teori Birds dalam Suardi (2005) yang memodifikasi teori domino Heinrich mengemukakan bahwa usaha pencegahan kecelakaan kerja hanya dapat berhasil dengan memperbaiki manajemen keselamatan dan kesehatan kerja terlebih dahulu. sehingga terjadi kebakaran pada Hooper. apabila dibandingkan pengendalian saat ini dengan pengendalian saat terjadi kecelakaan kerja.3 Pembahasan Hasil Analisis Tahap Tahap Shredding Kecelakaan Kebakaran pada Hooper. Pada tanggal 7 April 2010 pukul 15:00 dengan Kejadian di area operasi shredder Geocycle. sehingga kecelakaan kerja kebakaran pada hooper masih mungkin terjadi. maka nilai risiko yang didapat dari tahap ini adalah 250. Sebuah kebakaran pada hooper terjadi . Hal ini bermula ketika wheel loader memasukkan material pada hooper. memasang warning sign tentang penggunaan APD . Upaya pengendalian yang telah tersedia pada saat ini adalah engineering control dengan pemasangan hydrant.

Akan tetapi. yang menyatakan bahwa “salah satu faktor yang menjadi penggerak terciptanya motivasi kerja karyawan adalah hubungan antar manusia. Maka. walaupun upaya pengendalian teknis sudah dilakukan dengan maksimal. 68 .Namun hingga saat ini manajemen keselamatan dan kesehatan kerja belum dilakukan secara maksimal sehingga kecelakaan kerja kebakaran masih mungkin terjadi. tetapi tetap ada faktor yang terdapat pada manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. karena tidak terjalin koordinasi yang baik antar pekerja. Sesuai dengan teori Hezberg pada tahun 1990. faktor manusia itu sendiri seperti tidak segera merubah data material berbahaya sesegera mungkin.” Beliau juga menyatakan bahawa hubungan antar manusia dalam lingkungan pekerjaan baik hubungan vertical maupun horizontal akan berpengaruh terhadap disiplin dan produktivitas pekerja. penyebab kecelakaan kecelakaan kerja kebakaran pada hooper terjadi karena faktor kelalaian.

69 .

70 .

Kegiatan pada Shredder Facility 71 .

Membersihkan Handrail Mengecek Chute Magnet separator Membersihkan Screen Adjusting Belt Conveyor 72 .

Perapihan dan Penyimpanan Material Menebar serbuk Gergaji Memasukkan Material pada Box Memberikan Parfum Menaikkan box pada truck 73 .

Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Skenario Risiko Pengendalian 74 .Tabel Hasil Identifikasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.

Tabel Hasil Analisis Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 No Rincian Pekerjaan Risiko Konsekuensi (C) Paparan (E) Kemungkinan (L) Nilai Risiko 75 .

Tabel No Rincian Pekerjaan Risiko Nilai Risiko Kategori Risiko Rekomendasi 76 .

Hasil Evaluasi Risiko Keselamatan Kerja pada Tahap Shredding pada fasilitas Shredder PT.Holcim Indonesia Tbk Tahun 2010 77 .

.

63 .

64 .

65 .

66 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful