SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

Channe. Alief. Dr.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. terima kasih untuk saling memberikan masukan.D. 8. MRCOG(UK). Bapak Idrus Jus’at. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang. Ibu dr. MBBS. kasih sayang. dukungan. RS Medistra. SKM. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. 3. SKM. Ph. 5. Teristimewa untuk suamiku. Robert J. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis. MSc. dukungan satu sama lain. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. SpOG. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2. atas doa. Dalam penyusunan skripsi ini. FRCS. sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden. 7. Ibu Intan Silviana Mustikawati. Untuk itu. Dadan “dudul”. 6. tetap semangat ya teman. 4. MPH. viii . Ibu Iskari Ngadiarti. semangat. penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. Mayang Anggraeni. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan.

semoga suatu hari bisa seperti babeh. Jakarta. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. 10. yang selalu menjadi kebanggaan. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. Ayah tercinta. atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis. MSc (alm). Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Owen & Jason. penghiburan dan sumber kekuatan penulis. 16 September 2011 Penulis viii . 11.9. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari. Drs. Audric. Mohamad Margha. semuanya sangat berarti. My beloved boys. teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua.

......................... v ii RIWAYAT HIDUP……………………………………………………........................................................... 37 2................. 1 1.2 1.......................... 2.1..................................................................4 1.. i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT .......................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..1 Latar Belakang ............................................................6 Alasan Pemberian ASI eksklusif ........................................1...... DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................... 6 Pembatasan Masalah ........3 1............... BAB I PENDAHULUAN 1..........................................................2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi ........ 2...........................................................6 BAB II Identifikasi Masalah ............................ ABSTRAK…………………………………….......... 11 11 14 24 26 31 2................................................ 2...........1 Kerangka Teori ..........................................................................................1................... 9 Manfaat penelitian .................................................................................... iv PENGESAHAN SKRIPSI ……………………………………………...................................... vi KATA PENGANTAR ......................................................... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN……………………………………..1.......5 Manfaat ASI .............................................................................. 39 ix .................1............................3 Komposisi ASI ............................5 1..1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2..........................7 Teknik Menyusui ....................................... 9 Tujuan Penelitian ...................4 Kandungan Gizi ASI .................... 8 Perumusan Masalah ......... DAFTAR GAMBAR ................................. 2............... DAFTAR TABEL .......... DAFTAR GRAFIK ......................................1. 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2............ vii DAFTAR ISI ...............1........

....... Dukungan Atasan H................ Sikap D.... Dukungan Suami G........ Langkah-langkah menyusui yang benar C............ 79 Instrumen Penelitian ... Kerangka Konsep .. Posisi & pelekatan menyusui B............... 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.........1 Gambaran Umum Tempat Penelitian .................. Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F.. Pengeluaran ASI / ASI perah 2...... Pendidikan Ibu C..........................................2 3....... Pola menyusui bayi E.....................1............A......... 79 Pengujian Hipotesis ........... Lama & frekuensi menyusui D.................................................. 78 Teknik Pengambilan Sampel......................1. Sarana menyusui di tempat kerja 2....................................... Hipotesis ........................ Umur B.......................................3 2...9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2.....................................4 3..1 Deskripsi Umum ................3 3..2 2............................4 Kerangka Berfikir ............. 90 90 ix ..........1 Tempat dan waktu penelitian ....1........................ 56 A............ 4.......8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif ....................................................... 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3......5 Metode Penelitian .......... 78 3................ Lama Waktu Kerja E.

......... BAB V PEMBAHASAN 5.................. 4............2.........2 Analisa Bivariat ........................................1 6........................... Saran .........................1........2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta....................................1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta .....2... 91 92 92 102 109 4.........2 Ketenagaan ..................3 Keterbatasan Penelitian ......1 Analisa Univariat ......................................................................2 Kesimpulan ....... 4........................4......................................... 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.......2............................... 5.............................. 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix ...................2 Deskripsi Data ........... 4..............................

.....................................6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra .......................................... Tabel 4.......1 Komposisi kandungan ASI ...............................3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra .................... 25 Tabel 2................................................................................................................... Tabel 3..................................... Tabel 4......1 Ketenagaan RS Medistra .........................................2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra ....................................................................8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra ............2 Skoring untuk variabel dependen .............................................. Tabel 3.................................................................................4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra ......................2 Ringkasan perbedaan ASI.......................................1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen .............. Tabel 4......... Tabel 4..... Tabel 4................................. susu sapi..................... Tabel 4.......................12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ....9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra ...... 37 Tabel 3...........11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ................................ Tabel 4......... Tabel 3............ Tabel 4.................. Tabel 4..... susu formula .............. 102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4... Tabel 4........4 Skoring untuk variabel sikap .....DAFTAR TABEL Tabel 2............ 103 ix ..........................3 Instrumen penelitian untuk variabel independen ........... Tabel 4........10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra .............7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra .................................5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra ......................

.............................16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ................... Tabel 4.....14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ............................. Tabel 4..... Tabel 4..17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra..................13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .....15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ........................Tabel 4... 108 107 106 105 ix ....... 104 Tabel 4.........................

...................................................................................................... 51 Gambar 2.....................................................................................4 Gambar 2.....................................10 Definisi menyusui ............ 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi ................................................12 Pompa tangan & pompa elektrik .............................................................2 Gambar 2................15 Hubungan sikap dan prilaku ............. 40 Gambar 2............ 20 Respon Penyusuan .... 16 Bentuk-bentuk puting susu ..................... 48 Gambar 2........ 44 Gambar 2....1 Gambar 2..................3 Gambar 2....8 Posisi pelekatan menyusui .......7 Posisi menyusui............ 22 Gambar 2........... 25 Gambar 2........... 54 Gambar 2.......................9 Teknik menyusui ..............................DAFTAR GAMBAR Gambar 2..................................................................................... 15 Struktur anatomi payudara .................... 63 ix ..............6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum...........11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI ............ 42 Gambar 2.........................5 Payudara tampak depan .............. ASI awal dan ASI akhir ........................................................................... 55 Gambar 2........13 Tempat penyimpanan ASI perah ...14 Mencairkan ASI perah ......... 40 Gambar 2...

................................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra ...........5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra ..........................DAFTAR GRAFIK Grafik 4................................................2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra ........ 101 ix ..........................................4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra ............... 100 Grafik 4.......... 98 Grafik 4................................................................ 99 Grafik 4...................................... 93 Grafik 4........... 95 Grafik 4.................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ..............7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ....................................................................................3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra ....................................................1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra ... 94 Grafik 4.. 97 Grafik 4.......................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

air teh. jeruk. 2009). secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu. 2005). bubur susu. sangat dianjurkan (Arief. biskuit. seperti pisang. ASI bukan minuman. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. Setelah usia bayi 6 bulan. oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. serta tanpa tambahan makanan padat. Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. dan air putih. . sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. seperti susu formula. sebagai makanan utama bayi. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu. bubur nasi.1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. dan nasi tim. 2001). kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. madu.

2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37.5% pada tahun 1989 menjadi 24. serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI. Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32). 2010). Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. 2004).6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001. karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi. .2 World Health Organization (WHO. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi.

2008).2005).000 balita di Indonesia.dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16. Surabaya. 2003). Menurut WHO (2000).9% (Sutama. sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi. mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta. heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak. bayi yang diberi susu selain ASI. . Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002. jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7.8%. sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita. dipeptid.dkk. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15. karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino. dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI. Semarang.7% menjadi 27.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF). Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30.3%.9% menjadi 7. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula.

Jabar.2010).4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi. Jateng. Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es. sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan. Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli. 2001). Banten. Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. sedangkan pedesaan 6-19%.2008). Faktor lain yang . Lampung. menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat. Jatim. NTB. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). Sulsel).

tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo. RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang. Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. .5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. 1999). Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. 2003). hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja.

antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya). faktor spesifik (IgA sektori. merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut. ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna.6 Berdasarkan permasalahan diatas. infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis). radang selaput oak. mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). 1.2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting. Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah. . karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi.zat kekebalan).

diperlukan breastfeeding father. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. Agar proses menyusui lancar. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. Faktor yang berasal dari dalam individu. misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui. salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor. . Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif.

. B. dukungan suami. lamanya waktu bekerja.5 Tujuan Penelitian 1. biaya dan tenaga.2 Tujuan Khusus A. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1.3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan. waktu. sikap.5. maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur. kemampuan. 1.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta.8 1. identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?.5. 1. pendidikan.

1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. E. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. F.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif.9 C. 1.3 Manfaat bagi Universitas .6. G. 1. D. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. H. Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 1. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6 Manfaat Penelitian 1.

.10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan. dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul.

sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A. ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang . Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui. Pada saat yang sama. ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan. laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan. Semasa kehamilan.1 Kerangka Teori 2. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain. 1997). ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi.1. ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit. Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah.11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. 2011).

tanpa tambahan minuman atau makanan apapun. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI. Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare. ASI bukan minuman. 2009). ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif. Selain itu. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. 2010). karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan. .12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat.

biskuit. serta tanpa tambahan makanan padat. Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. bubur susu. 2004). dan air putih. 2009). bubur nasi. seperti susu formula. kecuali vitamin dan mineral dan obat. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. madu.13 B. kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. Dengan demikian. ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. . 2004). Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. air teh. seperti pisang. dan nasi tim. tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. jeruk.

Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. Korpus (badan). yaitu bagian yang membesar 2. sel plasma. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. sel otot polos dan pembuluh darah. kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit. Anatomi Payudara Payudara ( mammae. jaringan lemak. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus). kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. Ada 3 bagian utama payudara. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara. dengan berat kira-kita 200 gram. diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. yaitu: 1.2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. Papilla atau puting.14 2. mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Areola.1. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus. . Pada waktu hamil payudara membesar.

15 Gambar 2. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar. terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar. disebut sinus laktiferus. Areola c. Badan b. Gambar 2.1 Payudara tampak depan (a.2 Struktur anatomi payudara . Di dalam dinding alveolus maupun saluran. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar.

Bila puting dihisap. B. dengan terbentuknya . yaitu produksi dan pengeluaran ASI. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur.16 Ada 4 macam bentuk puting. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. pendek/ datar.3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui. terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. terutama pada bentuk puting terbenam. yaitu bentuk yang normal. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2. Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. panjang dan terbenam.

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar. karena semakin kuat daya hisapnya. Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri. Bibir bayi menangkap puting selebar areola b. Semakin sering bayi menyusu. . semakin banyak ASI yang diproduksi. Lidah ditarik mundur. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak.20 Gambar 2.5 Respon Penyusuan a. Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. payudara akan memproduksi ASI lebih banyak.

kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya. Bila kemudian bayi disapih. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. maka akan terasa kosong dan payudara melunak. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain.3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. Sekresi ASI juga akan terhenti. Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. kolostrum antara 150-300 ml/24 jam.1. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur. Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. volume tersebut Volume mendekati . Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran). serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. setelah payudara disusukan. refleks prolaktin akan terhenti.dkk 2003) 2. Kolostrum adalah cairan emas. siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan. alveoli akan terbentuk kembali.

Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup. kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli. 2010). ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat. .2001). dan kolostrum B. ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli. dengan komposisi yang relatif konstan. ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya.22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi. Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat. 2010). ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat. Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum. C.2001).

dkk. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi.23 Tabel 2.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi. Dra. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia .2003. Ieda Poernomo Sigit.

LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi.1. ASI awal dan ASI akhir 2. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak. LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental.4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi. Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty). Asam dokosaheksanoat. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya. ternyata bayi-bayi yang .6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat. Zat-zat tersebut antara lain adalah: A. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi. merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak. Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan.24 Gambar 2.

agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. B. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama.25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. Walaupun demikian. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya. C. Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. Seperti juga protein . Penelitian OSBORN membuktikan. sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme. ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi.

Fungsinya sebagai sumber energi. DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan. DHA. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. E. . Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia. AA. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI.26 dalam ASI. serta vitamin D. ALA. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. dan lain sebagainya. Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. membentuk hormon. Selain itu. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. D. kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi.

Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. Oleh karenanya. jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras.27 F. Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang. Namun. Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan.0mg/liter). Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia). Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI. Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap. Kalsium. I. . Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk).5-1. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. G. H.

Pada mata. taurin banyak terdapat di retina. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan .28 J. terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. K. D. L.E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi.B. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E. M. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina. Selain itu. Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi. Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi.C. Vitamin Kadar Vitamin A.

Perlindungan terhadap infeksi dan diare. 2.1. juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A. Air Sebagian besar ASI mengandung air. akan membuatnya merasa aman dan . Perlindungan terhadap alergi. 2. kemungkinan terserang alergi relatif kecil. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. N. 3. karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat. Mempererat hubungan dengan ibu. Manfaat ASI bagi bayi : 1. Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol). 2010). ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi.

pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. 8. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. semakin sering . Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). Perlindungan dalam penyempurnaan otak. dan tidak pernah basi. sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit. beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya. jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. Mengurangi kegemukan/obesitas. Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. 6.30 4. 5. aman. sekembali dari bekerja. selalu bersih. Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. Bagi ibu pekerja. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. 7. ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi. segar. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. Memperbagus gigi dan bentuk rahang. Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar.

Menunda masa subur (efek KB). yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. Mengembalikan bentuk tubuh. ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. B. 2.31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi. pemberian ASI lebih praktis dan murah. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. menyiapkan air hangat dan sebagainya. Lebih praktis dan ekonomis. Memberi kepuasan batin. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. Manfaat ASI bagi ibu 1. khususnya pada tahun pertama menyusui. 4. . karena tidak merepotkan. pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid. 3. Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng. Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim. bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi.

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

antara lain zat putih telur. E. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai. lemak. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya. karbohidrat. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. ASI . Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia. C. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok. enzime. misalnya zat warna dan zat pengawet.1.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. B. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna. hormone. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi. zat kekebalan. vitamin. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi .35 2. mineral. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. ASI juga disertai oleh zat. F. dan sel darah putih.zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. faktor pertumbuhan. D.

Suami.36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. secara emosional lebih peka/ sensitif. Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak. Ibu menunjukan cintanya. bidan dan lain-lain). yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui. Selain mengandung protein yang tinggi.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui. 2. kerabat. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. keluarga. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri.1. terutama pada minggu pertama setelah persalinan. juga tenaga kesehatan (dokter. Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. A. berdiri atau berbaring. termasuk menyusui. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk. Selain itu mungkin masih ada masalah lain. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi. Bayi. atau kelompok ibu pendukung ASI. kasih sayangnya kepada anak. Ada .

Pada ASI yang memancar (penuh). dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak.7 Posisi menyusui . Gambar 2. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola. bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. kedua bayi disusui bersamaan.37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar. tangan ibu sedikit menahan kepala bayi. bayi ditengkurapkan diatas dada ibu. dipayudara kanan dan kiri.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

Tujuan memerah . Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1. .Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu.41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan. .Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara.10 Definisi menyusui E. . . Gambar 2. .Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu.Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja.Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam. baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal.

jika bisa dengan kaki diangkat .Usahakan untuk santai. seperti: . . .Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu. Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI. .Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu.Cuci tangan dengan sabun. tempat yang tidak bising. 2. .Pilih waktu yang tepat. ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan. padaumumnya terjadi di pagi hari. .Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit. . Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan.Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya. teh atau sup. minumlah segelas air atau cairan lainnya. misal susu. .Sebelum memulai. jus.Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI. sedangkan payudara dibersihkan dengan air. yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi.42 .

sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja. Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. Bila ibu merasakannya. kemudian. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang. 4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. Proses Memerah ASI a. . 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada.43 3. 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. berarti tekniknya salah. ibu dapat menekan disitu. Apabila pada mulanya ASI tidak keluar. tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. Kalau terasa sakit. yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah.

Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. (a) . 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara. 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara. Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja. lalu pindah ke payudara satu lagi. 7) Sebaiknya. Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin. dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut. demikian seterusnya secara bergantian.44 maka jangan berhenti. Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI.

perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan.11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b. Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu. Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. Yang harus diperhatikan. Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain. . baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik. yang ditempatkan di area puting ibu. Sedotan ini dibuat. Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja. gerakannya meniru penghisapan bayi. Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan. Oleh karenanya. Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku.45 (b) Gambar 2.

mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja.Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan. .Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk. . . kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh.Mudah disterilkan.Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya.Namun.Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara.46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan . Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya. beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan. . .Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil. b) Pompa elektrik . .

Pompa ini bervariasi dari yang kecil.Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat. (a) (b) . bertenaga baterai. Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger). baterai akan cepat habis.47 .5 kg (unportable). .Jenis pompa ini bersuara (berisik). portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2. .Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan. . .Pada penggunaan yang teratur. ringan .

Penyimpanan ASI perah a. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam. c. ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan. Jika ruangan tidak ber AC. Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam. sisanya tidak boleh diminum kembali. Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. ASper beku yang sudah dicairkan. tapi belum dihangatkan. e. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan. . Jika memiliki freezer yang terpisah. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu. ASI bisa tahan selama 3-4 bulan.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4. bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam. b.48 Gambar 2. jangan dibagian pintu. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. f. Namun jika di dalam suhu ruangan. Dengan syarat AC-nya stabil. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es. Jika ruangan ber AC. d. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam.

Jika menggunakan botol plastik. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali. bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna. Selain itu. 5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol. karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas). dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. sebaiknya botol yang tertutup rapat. . Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap.

Gambar 2. tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah. dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan. Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu. 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es.50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya. terpisah dari bahan makanan lain.13 Tempat penyimpanan ASI perah . letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah.

Usahakan diberikan oleh orang lain.51 5. Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. d. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI. bukan ibu. c. kocoklah sampai merata. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata.14 Mencairkan ASI perah . lemak susu terpisah. Gambar 2. Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin. atau gunakan alat penghangat botol. Penyajian ASI perah a. Jika selama penyimpanan. agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’. b. Selain itu. Sebaiknya hindari penggunaan dot. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok.

2.Faktor sosial budaya (ibu bekerja. . c. bepergian atau sakit). mencegah payudara bengkak. Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja. tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol.Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. b. Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras. d.8 Faktor . Menghilangkan bendungan ASI.52 6. meniru teman. e.Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: . orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. . Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah. f. g. Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya. Menjaga kelangsungan produksi ASI. tekanan batin). merasa ketinggalan jaman jika menyusui).1. Manfaat ASI perah a. Ketika ibu membutuhkan istirahat.

tingkat sosial ekonomi. dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia. yang mencakup: pengetahuan. keterjangkauan informasi kesehatan. 2. . Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. sarana dan prasarana.Meningkatnya iklan susu formula. umur.53 . . pekerjaan. peran petugas. pengalaman. Menurut Laurence W. keyakinan. Green dalam Notoatmodjo (2007). ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) . Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku. tingkat pendidikan. kepercayaan/ tradisi/ nilai. jarak ke pelayanan kesehatan.Faktor fisik ibu (ibu yang sakit. sikap. terutama mereka yang bekerja. panas dan sebagainya). misalnya mastitis. tradisi.Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. kepercayaan. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu. . pengetahuan petugas.

seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. Oleh karena itu. 2001). Menurut Notoatmodjo (2003). pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina. dukungan atasan. semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. 2008). semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. A. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. dukungan keluarga. terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat. Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud.54 3. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. Dari segi kepercayaan masyarakat. 1982). dukungan suami. Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Maka semakin tua umur ibu. Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang .

Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif. kehamilan dan kelahiran. Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. . terutama pada usia 20-35 tahun. Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun. 2008). penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu. 1987). Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari. terjadi pada masa dewasa dini.

Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku.05). pendapat dan konsep-konsep. . mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. 2003). B. pengertian. Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. 1997). membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003). misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0.56 Ibrahim (2000).

yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. 2005). dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. nilai dan perilaku suatu (Myers. Secara luas. 2004). Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar. perlakuan.1996). Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI. Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja. minat. Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan.57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo. Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku. dalam untuk Gerungan. C. baik secara formal maupun informal. opini. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak .

1999) . Sikap adalah bagian dari perilaku.58 menyenangi obyek tersebut. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya.Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). prilaku. sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono.Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) .Mempunyai objek tertentu (orang. Misalnya. . situasi. benda dan sebagainya). 1999). Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan. . 2007) Ciri khas dari sikap adalah. konsep. affektif (perasaan) dan behavior (perilaku). Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. (Notoatmojo. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap.

sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu. Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita.59 Gambar 2.15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja. D. juga harus bekerja diluar rumah. Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya. baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan . dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan.

minimal 8 kali sehari. karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah.60 yang cukup. 2009). . lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli. Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul. 2008). Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui. Pada ibu bekerja. Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1.182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. 2009). Menurut Marini (1998). Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani.

intensitas. Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. yaitu frekuensi. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi.61 E. Akibat stimulus isapan. kurang percaya diri. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Ibu yang gelisah. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. dan lama bayi mengisap. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif.

2001). seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. menggendong bayi. atau memijat bayi. F. Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105). kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani.2009). Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif. maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Namun penelitian Afriana . Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja.62 bantuan praktis lainnya.

Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja . pihak keluarga. mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. bandara dan sebagainya. mall. H. Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita.63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. stasiun. bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak. pemerintah. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI. Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor. Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No.

Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar. abnormalitas bayi. Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. 8. Ibu bekerja. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). 7. Kelainan ibu: puting ibu lecet. payudara bengkak. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . 3. Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut.64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. yaitu: 1. 4. menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. Kelainan bayi: bayi sakit. 6. 2. Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa. engorgement. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif. Produksi ASI kurang. mastitis dan abses. puting ibu luka. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi). 5.

mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . kakek.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Sebab. dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. mertua. sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja. 3. 2. Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui. pada umumnya. Meniru teman. 4.

3. iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan. 36 Tahun 2009: A. Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. Nondiskriminasi. 2. Hak kelangsungan hidup. keluarga.1. Kepentingan terbaik bagi anak.66 Distribusi. 2. radio. kecuali atas indikasi medis. (untuk bayi dan ibu).9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan. masyarakat dan negara. 4. surat kabat. 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003). . dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua. Hak tersebut mencakup: 1. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat. Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi.12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no.

pasal 191. pemerintah. pasal 196. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. pasal 197. pasal 192. D. pihak keluarga.000 (seratus juta rupiah). 100. Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. B. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan . C. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi.67 (2) Selama pemberian air susu ibu. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1).000. pasal 198.

berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO. pasal 192. . pasal 191. Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut. ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. Berkaitan dengan hal tersebut.68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). pasal 196. pasal 198. Pencabutan izin usaha. pasal 197. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis. dan/ atau b. telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi. ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan.1997). Untuk mendukung hal tersebut. pasal 199 dan pasal 200. Dengan ini. mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1).

2010).2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. kepercayaan. Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. seperti susu formula. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. tradisi. dan air putih. seperti pisang. biskuit. reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap.69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani. bubur susu. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan. dan nasi tim. ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia. sistem nilai. madu. pekerjaan. 2. Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. serta tanpa tambahan makanan padat. Faktor . hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. Ternyata. sikap. air teh. jeruk. bubur nasi. tingkat pendidikan. tingkat sosial ekonomi.

peran petugas. akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. dukungan keluarga. undang-undang. . jarak ke pelayanan kesehatan. Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut. keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. sarana dan prasarana.70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya. pengetahuan petugas. peraturan. dukungan suami. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat.

terdiri dari umur ibu. Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja. sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami.71 2. dukungan atasan. sikap. tingkat pendidikan ibu. Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : . Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif.3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti.

6. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 4. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. 5. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.72 2. 2. 3. . 7. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

3. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional.September 2011 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus .2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden.2.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis. . yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan.2.2 Metode Penelitian 3. artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan.73 BAB III METODE PENELITIAN 3.

pendidikan.3. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).74 3. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang.1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian).4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur. dukungan suami. 3. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen. 3. . lama waktu bekerja.3. dukungan atasan. Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra.3 Teknik Pengambilan Sampel 3.2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. sikap.

bubur nasi.4.1 Variabel Dependen A. air teh. bubur susu. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. madu. air teh. dan air putih. kalsium dan mineral seperti susu formula. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. serta tanpa tambahan makanan padat. serta tanpa tambahan makanan padat. seperti pisang. seperti susu formula. kecuali vitamin dan mineral dan obat. biskuit. dan air putih. B. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. dan nasi tim.75 3. bubur susu. bubur nasi. madu. 2. jeruk. seperti pisang. dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak. vitamin. jeruk. . biskuit. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain.

Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak. jika terdapat data yang salah. . .Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua. dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak. . peneliti menggunakan alat ukur kuesioner. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: .Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses. .Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data. dibersihkan dalam proses cleaning ini.76 C. Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif. responden menjawab sesuai dengan keadaan.

4. Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1.1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel .77 Tabel 3.jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3.2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : .Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator .2 Variabel Independen A. vitamin dan mineral Tabel 3. Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan.jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali . .Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat.

Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. 7. 4. 5. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. 6. B. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. 2. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif.78 2. Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI. 3. . Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. 3. Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1. Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan.

Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban. . Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja.79 4. C. Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban. 5. Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. 7. nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden. 6.

2 5.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 . < 8 jam ≥ 8 jam 1. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari. Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden.6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif.3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara.80 Tabel 3.

dukungan atasan. Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur. sikap. lama waktu bekerja. dukungan suami.81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3. 3. A. sarana menyusui di tempat kerja).1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. Yang . pendidikan. yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. Coding. Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik.5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing.5. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer.

.82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B.05 3. .Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen.Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . HO : P1 = P2 . maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.5.2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas.

.Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . . Ha : P1 ≠ P2 . B. . .Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .83 . .Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

84 .Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra. Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT. Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis. sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis. Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI. Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl. Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5.85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. Baktiparamita Putrasama.

5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang.2 Ketenagaan Tabel 4.86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir. medical check-up.1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan. .1. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7. Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) . 4.

1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra . Umur Tabel 4. Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian.8% Dari tabel 4.87 4. Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah. 4.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37.2% 62.2. yaitu analisa univariat dan analisa bivariat.1 Analisa Univariat A.8%).2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62.

1% 74.6% Dari tabel 4. Pendidikan Tabel 4.3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.88 B.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7.3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .3% 18. Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.

3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .4%). Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.6% 31.4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68. Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam.4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68. Lama Waktu Bekerja Tabel 4.89 C.4% Dari tabel 4.

3% 2.90 D.4% 1.8% 7. standar deviasi (SD) = 7.8% 2.8% 5.8% 2.4% 2. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.8% 8.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37.4% 11.4% 8.8% 4.5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif.2% 2.8% 2. Sikap Tabel 4. .6% 1. didapatkan nilai median= 38 .2% 1.8% 4.3% 1.3% 5.4% Standar Deviasi : 7.3% 7.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4.8% 4.6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50.933.

6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61.4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per .6% Dari tabel 4.6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.6%).91 Tabel 4. Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.4% 38.4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja. Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38.

6%).4% 18.5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra . Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18.92 E.6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81. Dukungan Suami Tabel 4.6% Dari tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81. Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja.

7% Dari tabel 4.93 F.8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94.7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94.7%).6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra . Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.3% 5. Dukungan Atasan Tabel 4. Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja.

Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12.9%).1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12.8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87.1% Dari tabel 4.94 G. Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4.9% 87. Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.

3% Dari tabel 4.7% 74.7%).95 H. Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25. Pemberian ASI eksklusif Tabel 4.9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .

5 25.190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34.05).2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur.6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20. .5%).4 79.5 74. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta. Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0. pendidikan.96 4. dukungan atasan. Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. sikap. A.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0.11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0.05 atau 5%.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65. lama waktu bekerja.2.6 20. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0. dukungan suami.

Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.8 38.3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0. D III (19.2%).7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80.190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.5 74.2 61.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61. B.5%).003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima. C.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif . Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.5 25.

13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%).98 Tabel 4.840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.3 25. D.7 74. Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72.840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0.

Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.8 25.99 Tabel 4.8%).3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65.7 4.7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.3 95.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34.2 74.14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.

7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.3 74.7 25.15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29.8 7.2 92. Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.7%).092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29. .8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0.092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.100 E.

2%). . Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24.8 50 74.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75.3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.2 50 25. Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.101 F.271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24.

.102 F.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima.17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55.043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.3 25.4 78.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21. Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3%).7 74.6 21.

2. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias. terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner.103 4. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman.4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun. sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun. ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui. . Dari sisi responden. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner. Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat.

2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”.104 BAB V PEMBAHASAN 5. atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis. yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik. World Health Organization (WHO. 2009). Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan. ASI eksklusif memiliki banyak manfaat. madu dan air putih. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25.7%. Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan. juga melindungi bayi dari .

termasuk perawat. tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. 5. Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta .2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A.105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan. RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang. Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam. karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.

Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat. karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif.190 (> 0. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34. Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan.106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi. materi ASI eksklusif . karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif. Namun dalam penelitian pada responden perawat ini. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.6%.

Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi.107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan. D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang. . B.003 (< 0. Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif.5%.

maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Begitu juga sebaliknya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. 2003). Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. Koordinator Pengembangan Perawat dan . Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. pengertian. pendapat dan konsep-konsep. maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. C. Ketua Tim Perawatan. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan.108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan.

840 (> 0. Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif. sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift.109 lain. sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi.lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27.3%. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian . Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya.

sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. D. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang.005 (<0. maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas. termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif. karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang. Hal ini sejalan dengan penelitian Unika .110 ASI eksklusif. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif.7%). Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34.

092 (>0. karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami. E. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami. teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang . misalnya keluarga.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui.111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.8%). Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29.

Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. pengalaman. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui. F. Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan. sikap dan lain sebagainya. Penelitian ini sejalan dengan penelitian .271 (>0.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif. misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif.112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%).

36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. pihak keluarga. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.043(<0. pemerintah.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. G. sehingga perlu disiapkan .

sehingga dirasakan kurang mendukung. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi. sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. saat jam istirahat. tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat. . untuk semua karyawan dan pasien.

4. Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra.1 Kesimpulan 1. Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25.115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . masih jauh dari target nasional yaitu 80%. 3. 6.7%. Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 7. Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 2. 8. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 5. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .

3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan). 6.2. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat.2 Saran 6.116 6.2. seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai. cuti . dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat.1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui. Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI.2. misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. 6.2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif.

Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional. Kendala Pemberian ASI eksklusif. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh.asp. 2004. Jakarta: Depdiknas Green.W. dr. Kreuter. Daldjoni. Bedah Asi. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi. 2008. Afriana. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. Profil Depkes RI 2007. Hegar dkk. 2003. Bandung: Alumni. 2010. 2008. Kristina. 2010. Tesis FKM UI. Gerungan. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009. Bandung : Khazanah Intelektual. 2009. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch.id/asi. Yogyakarta: Media Baca. Second Edition. Jakarta: Balai Pustaka. Penerbit. Laksono. Nur. Tilaili.W. Depdikbud. ASI atau Susu Formula ya?. Nia. 2005.Psikologi Sosial. 2000.idai. 2001. Jakarta: Balai Pustaka FKUI. Jakarta : Depkes.W. IDAI. Depkes RI. Depok Kodrat. Ibu. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Susui Aku!. Jakarta : Depkes RI. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. L. Tesis FKM UI.2010.DAFTAR PUSTAKA Arif. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia.A. Skripsi FKM UI. Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab.1996.2000. 2004. 1982..or.Bandung:PT Refika Aditama. Tesis Program Pasca Sarjana UI. Mayfield Publishing Company. Depdiknas. Depkes RI. edisi kedua). Badriul. Hartatik. Yogyakarta: MedPress. Houston. . Ibrahim. Depok. N. Jogyakarta: Flashbooks. Ariani. http://www. M. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2010. 2011. Langkat.

pdf. Yogyakarta : Diva Press Purwati.ac.Ann Blanc.pdf.unc. Maisni. Roesli. Mengenal ASI Eksklusif. Sarlito Wirawan. S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. diakses 24 Juni 2011.. U. S. 2003. Jakarta : Trubus Agriwidya. Hubertin. 1998.2006. PhD. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. 2009. A. Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s. Roesli.LLB (Hons). Depok. 2005. 2007. Labbok. Sarwono. ASI atau Susu Formula ya?.. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum. PhD. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. 2001. Dra.sph. 1999. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan. Unika Atma Jaya. Skripsi FKM UI. 1995.M. Jakarta : Depkes RI.Tessa Wardlaw. Sidi. dkk. Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya. http://library. U. 1994. Marini. Buku Pintar ASI Eksklusif. http://www.eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006. Prasetyono. Jakarta : Rineka Cipta.. Nur. 2011.. diakses 24 Juni 2011.MPH. Tesis FKM UI. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : PT. Unicef. Notoatmodjo. Depok. Jakarta: Balai Pustaka. Konsep Penerapan ASI eksklusif. 2008. R.. Siregar.MD. Dwi sunar. Miriam H. 1992.2003. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. Ieda Poernomo Sigit. Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu. Childa. and Nancy Terreri. Jawa Barat. David Clark. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1.Khasanah.usu. S. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.id/download/fkm/fkm-arifin. 2004. Notoatmodjo.Yogyakarta: Flashbook. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . MPH.

1.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/. F. Jakarta: EGC. Vol 1. Wicitra.. 2010. Sugiyono.Kes. Metodologi Penelitian Kesehatan. No. 1997. DR. 2003.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah. Bandung: Alfabeta Saryono. SKp.. Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia. Gizi dan Makanan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. diakses 24 Juni 2011. Global strategy for infant and young child feeding.1987. 2008. Sarlito. Geneva. Psikologi untuk Perawatan. Sunaryo. United Nations Children’s Fund. Jakarta: Balai Pustaka. 2004. Jurnal Kesmas Nasional. Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”.Sitaresmi. Rahardjo.http://asiku. 2009. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif. 2009.. Soetjiningsih.2008. World Health Organization.G. Metode Penelitian Administrasi. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. M.2008. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. Jakarta: ECG Setyowati.wordpress.N. Switzerland: World Health Organization . Prof. diakses 24 Juni 2011. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Sutama. Winarno. Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan. 1999.M. Psikologi Sosial.

penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian. Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. Sebelum menjawab pertanyaan.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”. JAKARTA . Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis. meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun. JAKARTA Ibu yang terhormat.

..... Jakarta ........................ ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) .................................telp.................. 2011 Yang membuat pernyataan...... ................ Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran...tahun .... Pendidikan :.................No.............. Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi...................... Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian.......FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : ........................................................... Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”... ..........................

............ tahun SPK Diploma III Strata I (SKp.................. Identitas Responden NO..... ... pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda.... Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia.. jika ada? ..................... .............A...................... SKM) Usia Bayi : ........... Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ................................. ............. bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B........ C........ obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan.............. Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin.......... mineral.

Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi. D.NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan. Dukungan Suami . ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan.

Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Tidak . Tidak G. Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Ya b.Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a. Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a. Ya b. Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b.

  .

    .

(2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.0 26 26.691 70 1 .0%) have expected count less than 5.152 a. The minimum expected count is 6. Computed only for a 2x2 table       . b.304 .0 Chi-Square Tests Asymp.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.054 1.0% N 0 Missing Percent .3 52 52. Sig.716 1.193 b Exact Sig.195 1.259 . (2sided) Exact Sig.69.681 .190 .7 18 18.3 9 6.7 17 19. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0% N 70 Total Percent 100.0 Total 44 44.0 70 70.0 ASI eksklusif 9 11.0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32. 0 cells (.

0 13 13.0 Total 5 5.29.0% N 0 Missing Percent .0 52 52.667 70 a.3 18 18.570 10. 3 cells (50. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11. Sig.       .0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3.003 .4 8 3.0 Chi-Square Tests Asymp.6 5 9.001 11.7 42 38.0% N 70 Total Percent 100.0 70 70.003 .0%) have expected count less than 5.609 a df 2 2 1 sided) .7 52 52.3 10 13. The minimum expected count is 1.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 ASI eksklusif 0 1.

7 12 12.041 1.000 .66.0 Total 22 22.3 18 18. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0%) have expected count less than 5.0% N 0 Missing Percent . b.0 Chi-Square Tests Asymp.840 1. Sig.040 70 1 .0 48 48. Computed only for a 2x2 table       . (1sided) df a sided) 1 1 1 .841 b Exact Sig.041 .000 .529 a.0% N 70 Total Percent 100.0 70 70. The minimum expected count is 5.0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16.3 36 35. 0 cells (.0 ASI eksklusif 6 5.Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.7 52 52.840 .000 . (2sided) Exact Sig.

0% N 70 Total Percent 100.0 Chi-Square Tests Asymp.712 6.1 18 18.9 16 11.94.003 7.9 52 52.005 a.601 70 1 .230 8.0 Total 27 27. 0 cells (.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. (1sided) df a sided) 1 1 1 . Computed only for a 2x2 table       .0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20. (2sided) Exact Sig.0% N 0 Missing Percent .013 . b.005 .0%) have expected count less than 5.783 .0 ASI eksklusif 2 6. Sig.006 b Exact Sig.0 43 43.1 27 31. The minimum expected count is 6.0 70 70.005 . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7.

000 . (1sided) df a sided) 1 1 1 . The minimum expected count is 3.3 52 52.558 a.0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9.059 1.0 ASI eksklusif 3 3. Computed only for a 2x2 table     .0% N 0 Missing Percent .34.0 57 57.0 70 70.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.000 .0 Total 13 13. 1 cells (25.808 . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .811 b Exact Sig.7 18 18.0 Chi-Square Tests Asymp.058 .000 . Sig.0%) have expected count less than 5.057 70 1 .7 42 42. b.3 15 14.0% N 70 Total Percent 100.809 1. (2sided) Exact Sig.

271 .0 Chi-Square Tests Asymp.256 b Exact Sig.310 .0 52 52.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.579 .0% N 70 Total Percent 100. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.152 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 16 17. b. Computed only for a 2x2 table     .0 50 49.0 ASI eksklusif 2 1.308 1. Sig. 2 cells (50.291 70 1 .0% N 0 Missing Percent .252 .0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.03.0%) have expected count less than 5. (2sided) Exact Sig.271 a.0 18 18.0 70 70.0 66 66. The minimum expected count is 1.283 1.0 Total 4 4.

(2sided) Exact Sig.7 52 52.000 .797 1.0% N 70 Total Percent 100. 1 cells (25.795 .000 .3 18 18.066 . Sig.Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 ASI eksklusif 16 15.0 Total 61 61.0 Chi-Square Tests Asymp.065 70 1 .0%) have expected count less than 5.0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45. Computed only for a 2x2 table   .0 70 70.7 2 2.3 7 6.068 1.799 b Exact Sig.000 .0 9 9. The minimum expected count is 2.580 a.31. b. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0% N 0 Missing Percent .

  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful