SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

FRCS. dukungan. Dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu. MRCOG(UK). Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan. semangat. Dr. tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden. MSc. 7. 8. Channe. sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. Alief. terima kasih untuk saling memberikan masukan. Teristimewa untuk suamiku. SKM. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Bapak Idrus Jus’at. SpOG. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis. Ibu Iskari Ngadiarti. MPH. Robert J. Ibu Intan Silviana Mustikawati. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. dukungan satu sama lain. 4. penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. SKM. kasih sayang.D. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. tetap semangat ya teman. Ibu dr. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ph. Mayang Anggraeni. 5. Dadan “dudul”. 6. viii . 3. MBBS. RS Medistra. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2. atas doa.

9. 10. Ayah tercinta. Mohamad Margha. Jakarta. semuanya sangat berarti. 11. 16 September 2011 Penulis viii . Owen & Jason. teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari. MSc (alm). Drs. semoga suatu hari bisa seperti babeh. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. My beloved boys. penghiburan dan sumber kekuatan penulis. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua. Audric. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. yang selalu menjadi kebanggaan.

............................... 9 Manfaat penelitian ........... 6 Pembatasan Masalah .......................... DAFTAR TABEL ...............5 Manfaat ASI ..........................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................... 1 1.............................................. vii DAFTAR ISI ..........................................5 1..........................1....................6 BAB II Identifikasi Masalah ...... 2............1... i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT ..........................1.........................4 Kandungan Gizi ASI ............. DAFTAR GAMBAR ................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................6 Alasan Pemberian ASI eksklusif ...........................7 Teknik Menyusui ............................1 Latar Belakang ....1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2...................................................................................................................................1......................................... 39 ix ..... 2......................... v ii RIWAYAT HIDUP…………………………………………………….................................................................................... 37 2......1........ iii PERNYATAAN PERSETUJUAN……………………………………...... iv PENGESAHAN SKRIPSI …………………………………………….................... 9 Tujuan Penelitian ............................................................3 Komposisi ASI .........2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi ...................... 2.....................2 1....4 1...... BAB I PENDAHULUAN 1.....1............................................ DAFTAR GRAFIK ................................................................................................. vi KATA PENGANTAR ...............1........................................... 11 11 14 24 26 31 2............... 2............................... ABSTRAK…………………………………….........................................1 Kerangka Teori .................................................. 8 Perumusan Masalah .............. 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2..........................3 1.............................

.......... Sarana menyusui di tempat kerja 2................................................ 90 90 ix .....................................................4 Kerangka Berfikir ...3 3...................................1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ...............................2 3.................. Pengeluaran ASI / ASI perah 2................... Lama & frekuensi menyusui D............A..............3 2....... Dukungan Atasan H......... 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3. Pendidikan Ibu C..1 Deskripsi Umum .. 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4................. Sikap D....................................... 79 Pengujian Hipotesis ......... 4....... Kerangka Konsep .... 79 Instrumen Penelitian ...................... 78 3......... Posisi & pelekatan menyusui B.. Pola menyusui bayi E.................... Langkah-langkah menyusui yang benar C..............................4 3.5 Metode Penelitian ..................................................... 78 Teknik Pengambilan Sampel.... Umur B............ 56 A........1 Tempat dan waktu penelitian ............8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif ...... Lama Waktu Kerja E.....9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2..... Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F.1................... Dukungan Suami G..................1....................1...... Hipotesis .........2 2.......................

.........3 Keterbatasan Penelitian ..........................2 Kesimpulan ...................... BAB V PEMBAHASAN 5................2 Deskripsi Data ................. 4......4..............................2 Ketenagaan ..2.....1 6....... 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.....2.... 4................ 91 92 92 102 109 4........................................................2.................1 Analisa Univariat ........................ 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix ..........................1............1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta ............ Saran ...... 4.................................................................................................................... 5...2 Analisa Bivariat ..................................2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta........................

....6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra ....9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra ...................................................................... Tabel 4............1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen .......10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra ..........................................12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ............................... susu sapi.................. 25 Tabel 2....... Tabel 4....... Tabel 4................................................................1 Komposisi kandungan ASI .............DAFTAR TABEL Tabel 2.. 37 Tabel 3........... 102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4............................................................................................................. Tabel 3................................ Tabel 3...................................5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra ..... Tabel 4......4 Skoring untuk variabel sikap .......2 Ringkasan perbedaan ASI.... Tabel 4........................................ Tabel 4............. Tabel 4....................................................................................................1 Ketenagaan RS Medistra ..................... susu formula ................................ 103 ix ..................... Tabel 4.. Tabel 4....... Tabel 4..........8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra ......4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra .............................................................................................................3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra ........................... Tabel 3.2 Skoring untuk variabel dependen .............11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ...........................3 Instrumen penelitian untuk variabel independen .............................. Tabel 4......2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra .7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra .....

....... 108 107 106 105 ix ................... 104 Tabel 4..16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .......... Tabel 4....14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ............ Tabel 4................................13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ....15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ............... Tabel 4...........................Tabel 4................17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra.......................

...........2 Gambar 2...... 55 Gambar 2......................................................... 54 Gambar 2....8 Posisi pelekatan menyusui .....................3 Gambar 2................ 42 Gambar 2..... 25 Gambar 2.............DAFTAR GAMBAR Gambar 2.................... 51 Gambar 2................................ 15 Struktur anatomi payudara ........................................................9 Teknik menyusui ...................................14 Mencairkan ASI perah .............................12 Pompa tangan & pompa elektrik ......... 16 Bentuk-bentuk puting susu ................. 48 Gambar 2....................7 Posisi menyusui....................................5 Payudara tampak depan ................... 22 Gambar 2........................1 Gambar 2..........10 Definisi menyusui ............................6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum.................11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI ...........................4 Gambar 2..................... 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi .. 20 Respon Penyusuan .......................................................15 Hubungan sikap dan prilaku .............. ASI awal dan ASI akhir .. 44 Gambar 2............ 40 Gambar 2.........................13 Tempat penyimpanan ASI perah ....................................................................................... 40 Gambar 2..................................................... 63 ix ...................................

.........2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra ..................4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra ...............5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra ..............................................................................DAFTAR GRAFIK Grafik 4...... 99 Grafik 4...........................................................................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ........... 100 Grafik 4........................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra ..... 94 Grafik 4..................................................................1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra ... 98 Grafik 4.............. 97 Grafik 4............................3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra ...................................... 93 Grafik 4.................................7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ........................................................................... 101 ix ...... 95 Grafik 4............

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

sebagai makanan utama bayi. sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. Setelah usia bayi 6 bulan. dan nasi tim.1 BAB I PENDAHULUAN 1. jeruk. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. ASI bukan minuman. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. 2005). seperti pisang. serta tanpa tambahan makanan padat. madu. sangat dianjurkan (Arief. seperti susu formula. dan air putih. air teh. bubur susu. 2009). biskuit. bubur nasi. . kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. 2001). secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu.

2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. . Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37. karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi. 2010). Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi. saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal.6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001. Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32).2 World Health Organization (WHO.5% pada tahun 1989 menjadi 24. Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI. 2004).

sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi. karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino. dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI. Menurut WHO (2000). jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7. sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula. 2003).dkk.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF).dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16. dipeptid.9% (Sutama.000 balita di Indonesia. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15.3%.2005).8%. 2008). Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002. Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30. Semarang. bayi yang diberi susu selain ASI.9% menjadi 7. . Surabaya. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta. mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare.7% menjadi 27. heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak.

Jatim. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi. Jateng. Banten. Sulsel). NTB. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan. menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.2008). ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es. 2001). Lampung. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya).2010). Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu. Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. Faktor lain yang . sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes. Jabar. sedangkan pedesaan 6-19%.4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar. Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli.

Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo.5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono. 1999). hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja. . 2003).

infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis). Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah.2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting. faktor spesifik (IgA sektori.6 Berdasarkan permasalahan diatas. 1. radang selaput oak. . Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya).zat kekebalan). mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna. mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi. diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut.

misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Agar proses menyusui lancar. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif. . Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. Faktor yang berasal dari dalam individu.7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor. diperlukan breastfeeding father. Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui.

3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan.5. maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur.8 1. pendidikan.5 Tujuan Penelitian 1. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta. waktu. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1. sikap. biaya dan tenaga. Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?. B.2 Tujuan Khusus A.5. . 1. dukungan suami. lamanya waktu bekerja. kemampuan. 1.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang.

E. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. F. G. Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. 1.6.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif.6.9 C. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6 Manfaat Penelitian 1. 1. H.1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. D. 1.3 Manfaat bagi Universitas . Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan. dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul. .

Pada saat yang sama. Semasa kehamilan.1.11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. 1997). laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain. 2011). Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit. ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang . ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A. sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih. Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan.1 Kerangka Teori 2. ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi. payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah.

Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare. karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. 2010). namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. 2009). secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI.12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat. ASI bukan minuman. tanpa tambahan minuman atau makanan apapun. Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif. . Selain itu.

Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. air teh. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. dan nasi tim. Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. seperti susu formula. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. jeruk. . 2004). serta tanpa tambahan makanan padat. biskuit. dan air putih. seperti pisang. madu. Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. bubur susu. Dengan demikian. bubur nasi. ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. 2004). 2009). ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli.13 B. kecuali vitamin dan mineral dan obat.

kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus). diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. yaitu: 1. . mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. Anatomi Payudara Payudara ( mammae. Papilla atau puting. sel otot polos dan pembuluh darah. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus. Korpus (badan). Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus). yaitu bagian yang membesar 2. kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan.14 2. Areola. Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. dengan berat kira-kita 200 gram. sel plasma. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3.susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit. Pada waktu hamil payudara membesar. Ada 3 bagian utama payudara.1. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara. jaringan lemak.2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. yaitu unit terkecil yang memproduksi susu.

Gambar 2. terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar.1 Payudara tampak depan (a.15 Gambar 2.2 Struktur anatomi payudara . Areola c. Badan b. Di dalam dinding alveolus maupun saluran. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar. disebut sinus laktiferus.

terutama pada bentuk puting terbenam. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi.3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. Bila puting dihisap.16 Ada 4 macam bentuk puting. pendek/ datar. yaitu produksi dan pengeluaran ASI. terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI. yaitu bentuk yang normal. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. panjang dan terbenam. Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian. dengan terbentuknya . B. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2.

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

Lidah ditarik mundur. karena semakin kuat daya hisapnya. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri. Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar.5 Respon Penyusuan a. semakin banyak ASI yang diproduksi. Semakin sering bayi menyusu.20 Gambar 2. . Bibir bayi menangkap puting selebar areola b.

siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi. volume tersebut Volume mendekati . Kolostrum adalah cairan emas. Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. alveoli akan terbentuk kembali. cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya.1. Bila kemudian bayi disapih.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur. setelah payudara disusukan. kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan.3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain.dkk 2003) 2. refleks prolaktin akan terhenti. kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. maka akan terasa kosong dan payudara melunak. Sekresi ASI juga akan terhenti. Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran).

kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli. protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat. ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat. 2010). ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli.2001). dengan komposisi yang relatif konstan. . 2010). Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum. dan kolostrum B. ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. C.22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup. Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat.2001). ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya.

2003.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia .23 Tabel 2. dkk. Ieda Poernomo Sigit. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Dra.

LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi. Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan.1. merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak.24 Gambar 2. LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi.6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak. ASI awal dan ASI akhir 2. Zat-zat tersebut antara lain adalah: A.4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi. Asam dokosaheksanoat. Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty). ternyata bayi-bayi yang . Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat.

Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. Walaupun demikian. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama. sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia.25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. B. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme. Penelitian OSBORN membuktikan. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya. agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. C. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat. Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi. Seperti juga protein . ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia.

AA. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. Fungsinya sebagai sumber energi. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. E.26 dalam ASI. kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi. Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. dan lain sebagainya. ALA. DHA. Selain itu. serta vitamin D. . DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia. membentuk hormon. Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak. D. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI.

Namun. Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. H. Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya. Oleh karenanya. Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0.5-1. Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang.0mg/liter).27 F. G. jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia). Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan. . Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI. Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk). Kalsium. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. I.

M. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan .E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi. terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. Selain itu. Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi. taurin banyak terdapat di retina. L.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit. Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi. K. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf.28 J. Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida. Pada mata. Vitamin Kadar Vitamin A. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina.B. D. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E.C.

akan membuatnya merasa aman dan . Perlindungan terhadap infeksi dan diare. Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu. 2010).1. juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol). karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. 2. kemungkinan terserang alergi relatif kecil. Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A. 3. Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. Manfaat ASI bagi bayi : 1. Air Sebagian besar ASI mengandung air. Mempererat hubungan dengan ibu. Perlindungan terhadap alergi. N. salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi. 2.

6. Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. segar. 7. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). dan tidak pernah basi. semakin sering . pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. aman. Bagi ibu pekerja. Perlindungan dalam penyempurnaan otak. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. 8. sekembali dari bekerja. sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. Memperbagus gigi dan bentuk rahang. Mengurangi kegemukan/obesitas. beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya. jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. selalu bersih. ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi.30 4. 5.

2. B. menyiapkan air hangat dan sebagainya. pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid. pemberian ASI lebih praktis dan murah. khususnya pada tahun pertama menyusui. Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng. Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. Menunda masa subur (efek KB). bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. . 4. karena tidak merepotkan. Manfaat ASI bagi ibu 1.31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi. 3. yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. Memberi kepuasan batin. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. Mengembalikan bentuk tubuh. Lebih praktis dan ekonomis.

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok. D. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi . B. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna. vitamin. zat kekebalan. C. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai. ASI . misalnya zat warna dan zat pengawet.1. F. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna.35 2. lemak. enzime. antara lain zat putih telur. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi. faktor pertumbuhan. hormone. ASI juga disertai oleh zat. dan sel darah putih. mineral. karbohidrat. E. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A.

Selain mengandung protein yang tinggi.1. Ada . Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak. keluarga. yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi. 2. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk. kerabat. terutama pada minggu pertama setelah persalinan.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui. bidan dan lain-lain). Bayi. termasuk menyusui. A. Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. kasih sayangnya kepada anak. Ibu menunjukan cintanya. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri. secara emosional lebih peka/ sensitif.36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Suami. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. atau kelompok ibu pendukung ASI. berdiri atau berbaring. juga tenaga kesehatan (dokter. Selain itu mungkin masih ada masalah lain.

Pada ASI yang memancar (penuh). bayi ditengkurapkan diatas dada ibu. dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak. bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola. Gambar 2.7 Posisi menyusui .37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar. tangan ibu sedikit menahan kepala bayi. dipayudara kanan dan kiri. kedua bayi disusui bersamaan.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara. . Gambar 2. .Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu.Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu. Tujuan memerah . .Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja.10 Definisi menyusui E.Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam.41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan. Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1. . . baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal.

. seperti: .Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya. . minumlah segelas air atau cairan lainnya. misal susu. sedangkan payudara dibersihkan dengan air.Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu.Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu. padaumumnya terjadi di pagi hari. ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan. .Pilih waktu yang tepat. .Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. jus. 2. . . . Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI. Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI. tempat yang tidak bising. teh atau sup.Usahakan untuk santai.Sebelum memulai. yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi.Cuci tangan dengan sabun. jika bisa dengan kaki diangkat .42 .Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit. Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan.

4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada. tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. . yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang. berarti tekniknya salah. ibu dapat menekan disitu.43 3. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. kemudian. 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. Apabila pada mulanya ASI tidak keluar. Proses Memerah ASI a. Kalau terasa sakit. Bila ibu merasakannya. sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja.

Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin.44 maka jangan berhenti. 7) Sebaiknya. Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI. Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit. demikian seterusnya secara bergantian. lalu pindah ke payudara satu lagi. 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara. (a) . Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar. 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara. dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut.

Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku. Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan. perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik. yang ditempatkan di area puting ibu. Oleh karenanya. Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain. Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan. Sedotan ini dibuat. Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja. Yang harus diperhatikan.45 (b) Gambar 2. gerakannya meniru penghisapan bayi. baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik. .11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b.

. . .Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara.Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya.Namun. beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan.Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil.Mudah disterilkan. Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya. . .Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk.Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan. . b) Pompa elektrik .46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan . mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja. kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh.

Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan. (a) (b) . portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2.Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat.Pada penggunaan yang teratur. . . baterai akan cepat habis. bertenaga baterai. . .Pompa ini bervariasi dari yang kecil. Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger). ringan .5 kg (unportable).Jenis pompa ini bersuara (berisik).47 .

Jika ruangan ber AC. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam. sisanya tidak boleh diminum kembali. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu.48 Gambar 2. Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. ASI bisa tahan selama 3-4 bulan. jangan dibagian pintu. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan. bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. Penyimpanan ASI perah a. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. b. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. f. ASper beku yang sudah dicairkan. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam. . Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es. Dengan syarat AC-nya stabil. Jika memiliki freezer yang terpisah. e. Namun jika di dalam suhu ruangan. Jika ruangan tidak ber AC. c. d. ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam. tapi belum dihangatkan. ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan.

. dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas). Selain itu. Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. Jika menggunakan botol plastik. karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas. bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali. jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara. 5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol. sebaiknya botol yang tertutup rapat.

terpisah dari bahan makanan lain.50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya. Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu. Gambar 2. tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah.13 Tempat penyimpanan ASI perah . 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es. letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah. dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan.

bukan ibu. Usahakan diberikan oleh orang lain. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI. Penyajian ASI perah a. agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’. c. atau gunakan alat penghangat botol.51 5. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata. Selain itu. Sebaiknya hindari penggunaan dot. Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. kocoklah sampai merata. lemak susu terpisah. d. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok. Jika selama penyimpanan. b. Gambar 2. Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin.14 Mencairkan ASI perah .

Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. mencegah payudara bengkak. Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras. Menjaga kelangsungan produksi ASI. orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. f. Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah. tekanan batin).52 6. d. c. . b.Faktor sosial budaya (ibu bekerja. Ketika ibu membutuhkan istirahat.1. meniru teman. 2. Manfaat ASI perah a. e.Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: . tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol. . Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya. bepergian atau sakit). merasa ketinggalan jaman jika menyusui). g.8 Faktor . Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja. Menghilangkan bendungan ASI.

sikap. kepercayaan. peran petugas. yang mencakup: pengetahuan. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku. tingkat pendidikan. . tingkat sosial ekonomi. Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. keterjangkauan informasi kesehatan. .Meningkatnya iklan susu formula. sarana dan prasarana. umur. jarak ke pelayanan kesehatan.Faktor fisik ibu (ibu yang sakit. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1. misalnya mastitis. pengetahuan petugas. ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) . 2. Green dalam Notoatmodjo (2007). dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia. kepercayaan/ tradisi/ nilai.53 . terutama mereka yang bekerja. pekerjaan. panas dan sebagainya). Menurut Laurence W. pengalaman.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu.Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. keyakinan. tradisi. .

1982). A. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. Dari segi kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina. Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang . 2001). Maka semakin tua umur ibu. Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah. semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat.54 3. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. 2008). dukungan keluarga. dukungan suami. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2003). dukungan atasan. Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud. terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya.

penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu. Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari. Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif. Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. 1987). Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun. Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. kehamilan dan kelahiran. terjadi pada masa dewasa dini. 2008). Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. terutama pada usia 20-35 tahun. .

mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003). Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. 2003). pengertian. .56 Ibrahim (2000). misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. B.05). memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0. Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku. Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. pendapat dan konsep-konsep. 1997).

Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. baik secara formal maupun informal. opini. dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku. minat. Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. 2004). Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI. nilai dan perilaku suatu (Myers. dalam untuk Gerungan. Secara luas.1996). yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. 2005). pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan. perlakuan. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar. Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja. Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo. C.57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak .

benda dan sebagainya). Sikap adalah bagian dari perilaku. Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan. sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. situasi. Misalnya.58 menyenangi obyek tersebut. affektif (perasaan) dan behavior (perilaku). konsep.Mempunyai objek tertentu (orang.Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) . (Notoatmojo. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. 2007) Ciri khas dari sikap adalah. . prilaku.Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). .1999) . 1999).

sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja. D.15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui.59 Gambar 2. baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan . Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan. Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya. Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. juga harus bekerja diluar rumah.

lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah. lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli. 2009).60 yang cukup. Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul. Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari. Menurut Marini (1998). 2009). minimal 8 kali sehari. . maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani.182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. Pada ibu bekerja. karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui. Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. 2008). Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1.

Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. tekanan jiwa dan gangguan pikiran.61 E. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. yaitu frekuensi. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang gelisah. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . Akibat stimulus isapan.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. kurang percaya diri. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior. dan lama bayi mengisap. reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. intensitas. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif.

F. Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105). maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja.62 bantuan praktis lainnya. seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi. menggendong bayi. 2001). atau memijat bayi.2009). Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif. Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. Namun penelitian Afriana . kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani.

Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor.63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. pihak keluarga. mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif. stasiun. H. bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak. sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja . pemerintah. Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. bandara dan sebagainya. mall. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.

Ibu bekerja. puting ibu luka. 6. 4. payudara bengkak. Kelainan ibu: puting ibu lecet. Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi). 3. yaitu: 1. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . abnormalitas bayi. engorgement. 5. Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut.64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. mastitis dan abses. 8. Kelainan bayi: bayi sakit. 2. Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif. menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. 7. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). Produksi ASI kurang. Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa.

Sebab.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). Meniru teman. Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. pada umumnya. kakek. sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek. mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. 4. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya. 3. mertua. 2.

Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek. radio. 4. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal.66 Distribusi. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat. 2. kecuali atas indikasi medis. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan. . Hak tersebut mencakup: 1.1. 36 Tahun 2009: A. (untuk bayi dan ibu). 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003). Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. Kepentingan terbaik bagi anak. keluarga. surat kabat. 3. masyarakat dan negara.9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan. 2. Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No. Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no. Nondiskriminasi.12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua. Hak kelangsungan hidup. iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi.

(2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 100. pasal 192. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan . selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya.000 (seratus juta rupiah). pihak keluarga. pemerintah. pasal 198. pasal 197. D. pasal 191. pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi. Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1).000. B. pasal 196. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.67 (2) Selama pemberian air susu ibu. C.

Berkaitan dengan hal tersebut. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis. Dengan ini. berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO.1997). pasal 191. pasal 192. ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak. pasal 199 dan pasal 200. telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi. pasal 198. Untuk mendukung hal tersebut.68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut. pasal 197. mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. pasal 196. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1). ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan. Pencabutan izin usaha. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI. . dan/ atau b.

kepercayaan. jeruk.2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani. serta tanpa tambahan makanan padat. biskuit. dan nasi tim. 2. pekerjaan. sistem nilai. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan.69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. dan air putih. air teh. tradisi. Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia.2010). Faktor . tingkat sosial ekonomi. ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. bubur susu. sikap. seperti susu formula. tingkat pendidikan. seperti pisang. Ternyata. bubur nasi. Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. madu. reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap.

dukungan suami. undang-undang. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut.70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya. sarana dan prasarana. jarak ke pelayanan kesehatan. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat. Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. peraturan. peran petugas. dukungan keluarga. . akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. pengetahuan petugas.

sikap. terdiri dari umur ibu. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif.71 2.3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti. dukungan atasan. tingkat pendidikan ibu. Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja. sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami. Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : .

4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 5. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . 6. 4. 2. 3.72 2. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 7. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden.September 2011 3.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis.2. 3.2 Metode Penelitian 3.2. artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan.73 BAB III METODE PENELITIAN 3. yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional. .1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus .

3. 3. pendidikan. jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian).3. dukungan suami.3 Teknik Pengambilan Sampel 3. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). . 3. lama waktu bekerja. Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. sikap.2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen. dukungan atasan.74 3. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang.4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur.

2.75 3. bubur susu. B. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. dan nasi tim. biskuit.4. dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. bubur nasi. jeruk. dan air putih. air teh. bubur nasi. jeruk. kalsium dan mineral seperti susu formula. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. madu. seperti pisang.1 Variabel Dependen A. dan air putih. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak. kecuali vitamin dan mineral dan obat. serta tanpa tambahan makanan padat. seperti susu formula. seperti pisang. biskuit. serta tanpa tambahan makanan padat. vitamin. air teh. . bubur susu. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. madu. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain.

Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif. Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak.Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer. . Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: . dibersihkan dalam proses cleaning ini. jika terdapat data yang salah. . . peneliti menggunakan alat ukur kuesioner. responden menjawab sesuai dengan keadaan.Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua.Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data. dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak. .76 C.

. Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan. Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1.Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator . vitamin dan mineral Tabel 3.jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3.4.2 Variabel Independen A.jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali .77 Tabel 3.1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel .2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : .Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat.

Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1. .78 2. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. 6. Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI. 7. Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan. 3. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. 3. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif. B. 4. 2. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. 5.

Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. 5. Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban. nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden.79 4. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). 7. Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. C. Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. 6. . Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban.

Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden.80 Tabel 3. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari.2 5. < 8 jam ≥ 8 jam 1. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3.6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif.3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 .

Coding. sarana menyusui di tempat kerja). lama waktu bekerja. A. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer.5. yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan.1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing. dukungan atasan. dukungan suami. pendidikan. 3. sikap.81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3.5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur. Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik. Yang .

Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . HO : P1 = P2 . maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A.05 3. Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0. . .82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen.5.2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas.Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ha : P1 ≠ P2 . .Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . B.Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .83 . . . . .Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .84 .

Baktiparamita Putrasama. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl. Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5. sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis. Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra.85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan. Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis. Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT.

86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir. Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7. 4. medical check-up. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).1.5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik.1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang. Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) .2 Ketenagaan Tabel 4. .

Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra . 4.2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian. Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.8%).87 4.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37.2. yaitu analisa univariat dan analisa bivariat.2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62. Umur Tabel 4.2% 62.8% Dari tabel 4.1 Analisa Univariat A.

Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.1% 74. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .3% 18.6% Dari tabel 4.88 B. Pendidikan Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7.

4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68.4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68.3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra . Lama Waktu Bekerja Tabel 4. Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.6% 31.6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam.4%).89 C. Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.4% Dari tabel 4.

6% 1. Sikap Tabel 4.8% 4.8% 2. didapatkan nilai median= 38 .8% 2.8% 8.8% 4.90 D.2% 1.4% Standar Deviasi : 7.3% 2.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif.933.4% 1.3% 1.4% 11.6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.8% 5.3% 5.4% 2.3% 7. .8% 4.4% 8. standar deviasi (SD) = 7.8% 2.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37.8% 7. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4.2% 2.

6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per . Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.91 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61. Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38.4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.6% Dari tabel 4.4% 38.6%).

6%).6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81.92 E. Dukungan Suami Tabel 4. Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja.7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81.6% Dari tabel 4. Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18.5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .4% 18.

Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94.7%). Dukungan Atasan Tabel 4.93 F.8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94. Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.7% Dari tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra .3% 5.3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja.

94 G.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .9%).1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya.1% Dari tabel 4. Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.9% 87. Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12. Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4.8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87.9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12.

3% Dari tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra . Pemberian ASI eksklusif Tabel 4.3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25.95 H.9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.7% 74.7%). Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.

5%). pendidikan. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0.5 25.6 20. dukungan atasan.11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34.2.05 atau 5%.5 74. A. .6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20.4 79. dukungan suami.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65.190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34. Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0.2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur. lama waktu bekerja.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta. sikap.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0.05). Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.96 4.

97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.5 25. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.2 61.5 74.7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80.2%). Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif . C. Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.5%).3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61.190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.8 38.003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima. D III (19. B.

3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0.840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.3 25.7 74.13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27.3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%). D.98 Tabel 4. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72. Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.

Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65.14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.8%).7 4.3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34.7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.8 25.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .99 Tabel 4.2 74.3 95.

3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 25.092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29. .3 74.100 E.15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29.092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7. Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.8 7.7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.2 92.7%).

Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24.101 F.2 50 25.2%).7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.8 50 74.271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24. Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. .3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.

043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.4 78. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0.043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima. Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.6 21.3 25.6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21.3%).7 74.17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55. .102 F.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.

Dari sisi responden. Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman. .4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias. sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner. terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner.103 4.2. ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui.

Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4. sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes. juga melindungi bayi dari . 2009). Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan. Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan. ASI eksklusif memiliki banyak manfaat.7%. madu dan air putih. yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik. atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. World Health Organization (WHO.104 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25.

tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan. RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang.2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A. Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari. karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta . 5. termasuk perawat. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam.

karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34. Namun dalam penelitian pada responden perawat ini. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi. materi ASI eksklusif .05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif. Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan.106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.190 (> 0. Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI.6%. pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat.

Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang.107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif.5%. B. . Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61.003 (< 0.

maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Koordinator Pengembangan Perawat dan . Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Ketua Tim Perawatan. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif.108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. pengertian. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan. 2003). Begitu juga sebaliknya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. C. pendapat dan konsep-konsep.

840 (> 0. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian . Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya.lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya.109 lain. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja. sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif. Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi.3%.

7%).005 (<0.110 ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian Unika . D. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34. karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.

Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29.8%). E. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. misalnya keluarga.111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui.092 (>0. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami. tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui. teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang . Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi.

sikap dan lain sebagainya. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan. misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan. Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. Penelitian ini sejalan dengan penelitian . pengalaman. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif. F.112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%).271 (>0.

Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi. Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. pihak keluarga. sehingga perlu disiapkan .043(<0. G. karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. pemerintah.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No.

untuk semua karyawan dan pasien. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi. sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik. saat jam istirahat. . sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. sehingga dirasakan kurang mendukung.

115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 7. 4. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .7%. 5. Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25.1 Kesimpulan 1. masih jauh dari target nasional yaitu 80%. Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 2. 8. 3. Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 6.

2 Saran 6. seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai.2.3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa. Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI.116 6.2. 6. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif.2.1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat. dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat. 6. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan). cuti . misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus.

dr. Yogyakarta: Media Baca. 2001. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia. 2008. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi. Langkat. M. Depkes RI. Kristina. Nur. Yogyakarta: MedPress. Bandung : Khazanah Intelektual. Depdiknas. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch.W.2000. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. Jakarta : Depkes. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2004. 2003. Tesis Program Pasca Sarjana UI. .1996. Jakarta: Balai Pustaka. Badriul. Depkes RI. Depdikbud.Psikologi Sosial. Hartatik. edisi kedua). N. Susui Aku!.idai. 2010. Ibu. Gerungan. 2004. Laksono. http://www. Profil Depkes RI 2007. ASI atau Susu Formula ya?. 1982. Afriana. Tesis FKM UI. 2005. Hegar dkk. Kreuter.A. Bandung: Alumni. 2008. Depok. Penerbit. Houston.2010. Ibrahim.id/asi. 2011. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. Nia.asp. Skripsi FKM UI. Jakarta: Balai Pustaka FKUI. Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional. Kendala Pemberian ASI eksklusif. Tesis FKM UI. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh. Jogyakarta: Flashbooks. Bedah Asi. Jakarta: Depdiknas Green. 2000. 2010. Tilaili.W. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009. IDAI. Depok Kodrat. 2009. Daldjoni. Ariani. L..Bandung:PT Refika Aditama.W.DAFTAR PUSTAKA Arif.or. 2010. Jakarta : Depkes RI. Mayfield Publishing Company. Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Second Edition.

2011. Unika Atma Jaya. Jawa Barat. Yogyakarta : Diva Press Purwati. 1995.usu. Jakarta : Rineka Cipta. Sarlito Wirawan. http://www. Ieda Poernomo Sigit. Buku Pintar ASI Eksklusif.Tessa Wardlaw. 2001. Dwi sunar.Khasanah. http://library. Nur. Childa. 2008. 2009. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi. Prasetyono. 2007. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . Notoatmodjo. David Clark. Labbok. Jakarta : Depkes RI.2006. 1998. 2005. Konsep Penerapan ASI eksklusif. Depok.M. Tesis FKM UI. U. Siregar. Notoatmodjo. diakses 24 Juni 2011. dkk. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya.id/download/fkm/fkm-arifin. 2004. and Nancy Terreri. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Jakarta : Rineka Cipta. Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya. Mengenal ASI Eksklusif. Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s.Yogyakarta: Flashbook.sph. Maisni. S.LLB (Hons).eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006. S... 1999. Depok.ac.MD.. Marini. Sidi. Hubertin.pdf.. 2003. PhD. S. Miriam H. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. PhD.unc.. MPH. Jakarta : PT. 1992.Ann Blanc. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.pdf. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. ASI atau Susu Formula ya?. Roesli. Roesli. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. U. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.2003. diakses 24 Juni 2011. Skripsi FKM UI. Sarwono. A. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu. Dra.MPH. Jakarta : Trubus Agriwidya. Unicef. R. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum. 1994.

World Health Organization.http://asiku.. Vol 1. Bandung: Alfabeta Saryono. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. Sutama.M.2008.1. Geneva.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/. 1997. Switzerland: World Health Organization . Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.Sitaresmi. Jakarta: Balai Pustaka.. 2003.. Wicitra. Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia.N. F. Winarno. Psikologi untuk Perawatan. Jakarta: ECG Setyowati. M. diakses 24 Juni 2011. No. diakses 24 Juni 2011. Jurnal Kesmas Nasional. 2008. Rahardjo.Kes.wordpress. Metodologi Penelitian Kesehatan. Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. SKp. Psikologi Sosial. Jakarta: EGC. Global strategy for infant and young child feeding. 2009. DR. 1999. Sugiyono.2008. 2010. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif. Prof. Soetjiningsih. Metode Penelitian Administrasi. 2009. Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan.1987. Sarlito.G. Sunaryo. United Nations Children’s Fund. Gizi dan Makanan. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. 2004.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah.

saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”. meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun. Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian. Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. Sebelum menjawab pertanyaan. Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis. JAKARTA . JAKARTA Ibu yang terhormat. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian.

.......................................... Pendidikan :.... Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”.... 2011 Yang membuat pernyataan................. Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran......................... Jakarta ....................FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : ..................... Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi... .......................................................................... ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) ..........telp............. ......No.tahun ........... Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian......

. ....................... Identitas Responden NO.......................... obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan..................... C.. bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B.... jika ada? ... pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda............. mineral.......................... Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin.... .........A............. tahun SPK Diploma III Strata I (SKp. ......................... Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ............ Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia..... SKM) Usia Bayi : ..........

ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan. Dukungan Suami . Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi. D.NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan.

Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b. Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Tidak . Ya b. Tidak G. Ya b.Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a. Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a.

  .

    .

190 .0% N 70 Total Percent 100.3 52 52.0 Total 44 44.304 . The minimum expected count is 6.3 9 6. 0 cells (.0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32.0 Chi-Square Tests Asymp.691 70 1 .0% N 0 Missing Percent .152 a.0 70 70. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.0 ASI eksklusif 9 11.259 .Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. b.7 17 19.193 b Exact Sig.7 18 18. Sig.054 1. Computed only for a 2x2 table       .681 .0%) have expected count less than 5.195 1. (1sided) df a sided) 1 1 1 .716 1.0 26 26.69. (2sided) Exact Sig.

0 Total 5 5.0 13 13.667 70 a.7 42 38.0 Chi-Square Tests Asymp.       .29.0 ASI eksklusif 0 1. The minimum expected count is 1.6 5 9.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3.003 .003 .3 18 18. Sig.0% N 70 Total Percent 100.0 70 70. 3 cells (50. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.0%) have expected count less than 5.0 52 52.3 10 13.0% N 0 Missing Percent .001 11.570 10.4 8 3.7 52 52.609 a df 2 2 1 sided) .

000 .041 1. Sig.3 18 18.Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.66.000 .840 1.0% N 70 Total Percent 100. (2sided) Exact Sig. (1sided) df a sided) 1 1 1 .7 52 52.0 Total 22 22.0% N 0 Missing Percent .529 a. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .840 .0%) have expected count less than 5.0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16. Computed only for a 2x2 table       .000 .841 b Exact Sig.040 70 1 . b. The minimum expected count is 5.7 12 12.0 ASI eksklusif 6 5.0 70 70. 0 cells (.0 Chi-Square Tests Asymp.041 .0 48 48.3 36 35.

601 70 1 .0% N 70 Total Percent 100.0 70 70.712 6. (2sided) Exact Sig.0 ASI eksklusif 2 6.1 18 18.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.003 7.0 Chi-Square Tests Asymp.005 .0 Total 27 27.0%) have expected count less than 5.013 .1 27 31. The minimum expected count is 6. 0 cells (.9 16 11.005 .9 52 52.006 b Exact Sig. (1sided) df a sided) 1 1 1 .94. b.783 . Computed only for a 2x2 table       .0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20. Sig.230 8.0 43 43.0% N 0 Missing Percent .005 a. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7.

057 70 1 .0%) have expected count less than 5. 1 cells (25.0% N 0 Missing Percent .558 a.811 b Exact Sig. b.808 .000 .058 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .000 .0 ASI eksklusif 3 3.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 Chi-Square Tests Asymp. (2sided) Exact Sig.3 15 14. Computed only for a 2x2 table     .0% N 70 Total Percent 100.7 42 42.809 1. The minimum expected count is 3.7 18 18. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9.3 52 52. Sig.0 70 70.34.0 Total 13 13.000 .0 57 57.059 1.

0 66 66.0 Total 4 4.283 1.0% N 70 Total Percent 100.0% N 0 Missing Percent . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.256 b Exact Sig.291 70 1 .0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.310 .0%) have expected count less than 5.0 18 18.579 .0 ASI eksklusif 2 1. b. (2sided) Exact Sig.0 70 70.0 16 17.271 a.03.0 Chi-Square Tests Asymp.308 1. (1sided) df a sided) 1 1 1 .152 . 2 cells (50.0 52 52. The minimum expected count is 1. Sig. Computed only for a 2x2 table     .252 .Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.271 .0 50 49.

b. Computed only for a 2x2 table   .068 1.0 Chi-Square Tests Asymp.7 52 52.065 70 1 . The minimum expected count is 2.0 ASI eksklusif 16 15.795 .799 b Exact Sig.0% N 0 Missing Percent .3 7 6.0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45.000 .Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .31.0 Total 61 61.797 1.7 2 2. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 70 70. 1 cells (25.0% N 70 Total Percent 100.000 .3 18 18.0%) have expected count less than 5.066 .000 .580 a.0 9 9. (2sided) Exact Sig. Sig.

  .