SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

MSc. Teristimewa untuk suamiku. 3. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. Channe. 8. penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. Ibu Intan Silviana Mustikawati. Dr. Ph. SKM. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis. Alief. dukungan. 6. MPH. 4. MBBS. Untuk itu. Robert J.D. tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden. MRCOG(UK). atas doa. Mayang Anggraeni. RS Medistra. dukungan satu sama lain. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan. Dadan “dudul”. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. Ibu Iskari Ngadiarti. Dalam penyusunan skripsi ini. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. tetap semangat ya teman. semangat. kasih sayang. viii . 5. terima kasih untuk saling memberikan masukan. Ibu dr. SKM. Bapak Idrus Jus’at. FRCS. 7. sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. SpOG. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2.

Drs. yang selalu menjadi kebanggaan. 10. My beloved boys. semuanya sangat berarti. 11.9. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Ayah tercinta. MSc (alm). teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. semoga suatu hari bisa seperti babeh. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. Owen & Jason. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua. Audric. 16 September 2011 Penulis viii . Jakarta. atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis. Mohamad Margha. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari. penghiburan dan sumber kekuatan penulis.

..............................................................................................7 Teknik Menyusui ............. i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT ...................................... 8 Perumusan Masalah ....................4 Kandungan Gizi ASI .................................................................................. 37 2......................................................................................1.................... 2.........3 Komposisi ASI .............................. BAB I PENDAHULUAN 1.........2 1.......................................................................................... vii DAFTAR ISI ..........4 1................... DAFTAR TABEL .....3 1....................................... DAFTAR LAMPIRAN ..........DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................1............... 2.............................................................................. vi KATA PENGANTAR ............. iv PENGESAHAN SKRIPSI ……………………………………………................. 1 1...... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN…………………………………….............................................................. v ii RIWAYAT HIDUP……………………………………………………....................................................................6 Alasan Pemberian ASI eksklusif ................5 1...........1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2......... DAFTAR GAMBAR ....................1 Kerangka Teori . 9 Manfaat penelitian ........ DAFTAR GRAFIK ........... 6 Pembatasan Masalah .......................................................... 9 Tujuan Penelitian ............. 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2..... 11 11 14 24 26 31 2...... 2............................................2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi ...1....................1.1........................... 39 ix ............................1 Latar Belakang .........1..............1............... ABSTRAK……………………………………............................................................................................................................... 2.......................5 Manfaat ASI .....................6 BAB II Identifikasi Masalah ..............

....1 Deskripsi Umum .......8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif ....A...5 Metode Penelitian ........... Hipotesis .................... Sarana menyusui di tempat kerja 2...........................4 Kerangka Berfikir .9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2.................................. 79 Instrumen Penelitian ......................2 3...............................1......... Posisi & pelekatan menyusui B........................... Sikap D...... Dukungan Suami G........................................................................... Umur B................1...3 3................ 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3......1 Tempat dan waktu penelitian ........................2 2.......................................... Kerangka Konsep ...... Langkah-langkah menyusui yang benar C. Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F.. Lama Waktu Kerja E............ 4.......... 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4............................................3 2. Pengeluaran ASI / ASI perah 2......4 3... 56 A...... 90 90 ix ...... Lama & frekuensi menyusui D............ 78 Teknik Pengambilan Sampel................... Dukungan Atasan H............................ 79 Pengujian Hipotesis ....1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ..................................1............. Pola menyusui bayi E....... 78 3. Pendidikan Ibu C......................

.....................1 Analisa Univariat ......................2 Kesimpulan .3 Keterbatasan Penelitian ..2.........................2.....................................2 Ketenagaan .............................................. 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 4..........................1 6................. BAB V PEMBAHASAN 5....................................2 Deskripsi Data ....................................................4............ 4.. 91 92 92 102 109 4........................................2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta............................... 5..1.......1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta ................. 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix ............................... Saran ..... 4..............................2 Analisa Bivariat .2...............................

..........................................................................................................DAFTAR TABEL Tabel 2.................................. Tabel 4..... Tabel 3. Tabel 4............... Tabel 4..................................... susu formula ........................................... Tabel 4........... Tabel 3................................................................7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra . 37 Tabel 3......................6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra ......................2 Skoring untuk variabel dependen ............................4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra ...... Tabel 4..........2 Ringkasan perbedaan ASI............9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra ......................................1 Komposisi kandungan ASI ... susu sapi.........................11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .............. Tabel 4...............3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra ...............................................12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .....1 Ketenagaan RS Medistra ......8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra ..................... 103 ix ...... Tabel 4......................1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen .......................................3 Instrumen penelitian untuk variabel independen .........5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra ................2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra .......................... 102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4..... 25 Tabel 2........................ Tabel 4..............................................................10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra ............ Tabel 3.................................................................................. Tabel 4...... Tabel 4........................ Tabel 4.............4 Skoring untuk variabel sikap ........................

............... Tabel 4.................. Tabel 4. Tabel 4.............................................................. 104 Tabel 4..14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ....15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ......16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ..Tabel 4............................................ 108 107 106 105 ix ..........17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra..13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .....

....................................................... 54 Gambar 2........................................... 22 Gambar 2.11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI .................. 40 Gambar 2........3 Gambar 2............................................... 42 Gambar 2..............................4 Gambar 2.......... 63 ix ..................7 Posisi menyusui.............................................. 55 Gambar 2.. 15 Struktur anatomi payudara ............1 Gambar 2...... 51 Gambar 2.......................... ASI awal dan ASI akhir .........................DAFTAR GAMBAR Gambar 2...........................................................9 Teknik menyusui .......................................... 48 Gambar 2............................................ 44 Gambar 2.............. 40 Gambar 2.. 16 Bentuk-bentuk puting susu ......2 Gambar 2............5 Payudara tampak depan .6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum..............................15 Hubungan sikap dan prilaku ...........10 Definisi menyusui ...... 25 Gambar 2........... 20 Respon Penyusuan ....................................................... 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi ......................14 Mencairkan ASI perah ........................8 Posisi pelekatan menyusui ...................................................................13 Tempat penyimpanan ASI perah ...............................12 Pompa tangan & pompa elektrik ..................................

........................................................5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra ...............DAFTAR GRAFIK Grafik 4..............7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ... 95 Grafik 4....1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra .......................................................................... 100 Grafik 4.................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ......................................... 93 Grafik 4....................4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra . 97 Grafik 4..... 94 Grafik 4.............3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra ....................... 99 Grafik 4..........................................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra ..........................................................................................2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra ................... 98 Grafik 4........... 101 ix ....................................................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

sangat dianjurkan (Arief. serta tanpa tambahan makanan padat. Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. bubur nasi. 2005).1 BAB I PENDAHULUAN 1. air teh. dan nasi tim. kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. seperti susu formula. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu. madu.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. jeruk. dan air putih. seperti pisang. ASI bukan minuman. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. Setelah usia bayi 6 bulan. sebagai makanan utama bayi. 2001). secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu. sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. biskuit. 2009). bubur susu. .

Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32). Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”.6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. 2010). Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi. .5% pada tahun 1989 menjadi 24. karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. 2004).2 World Health Organization (WHO. serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI. saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah.

karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino.dkk.000 balita di Indonesia. Surabaya.3%.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF). Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula. heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak. dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI. sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi. Menurut WHO (2000).dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16. mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare. dipeptid. 2003). Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta.8%.7% menjadi 27. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002.2005). sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita.9% menjadi 7. . jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7. bayi yang diberi susu selain ASI. 2008).9% (Sutama. Semarang. Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30.

Faktor lain yang . Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu. menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%. Banten. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli.2008). Jabar. Jateng. Sulsel). ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es. Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan. sedangkan pedesaan 6-19%. sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes. NTB. 2001).4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar. Lampung. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya).2010). Jatim.

Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir. . 2003). Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. 1999). tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono.5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang.

faktor spesifik (IgA sektori. karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. radang selaput oak. Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah.2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting. mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. . diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut. mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). 1. ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya).zat kekebalan). infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis).6 Berdasarkan permasalahan diatas. mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna.

Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. Faktor yang berasal dari dalam individu. misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. diperlukan breastfeeding father. Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui. Agar proses menyusui lancar. . salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu. Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI.7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif.

5. pendidikan. . sikap.5 Tujuan Penelitian 1. B. 1. 1. Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta. biaya dan tenaga. identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?.8 1.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1. kemampuan. maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur.3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan. dukungan suami.5.2 Tujuan Khusus A. lamanya waktu bekerja. waktu.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

1.1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6.9 C. G. Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. H.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif.3 Manfaat bagi Universitas . E. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 1. 1. D. F.6 Manfaat Penelitian 1.6.

dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul.10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan. .

1997).1.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A. Semasa kehamilan. laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu. ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain.11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang . Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit. ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi. Pada saat yang sama. sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan. 2011). ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui.1 Kerangka Teori 2. Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah.

Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. ASI bukan minuman. 2010). tanpa tambahan minuman atau makanan apapun. Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare. . ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi.12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat. Selain itu. Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan. 2009). dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan.

bubur susu. Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. jeruk. seperti pisang. dan air putih. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. 2004). dan nasi tim. biskuit. serta tanpa tambahan makanan padat. bubur nasi. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli. . ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. kecuali vitamin dan mineral dan obat. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. 2004). kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. Dengan demikian. air teh. ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. seperti susu formula.13 B. 2009). madu.

sel otot polos dan pembuluh darah. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara.susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit.1. kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. Korpus (badan). dengan berat kira-kita 200 gram. Ada 3 bagian utama payudara. diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3. kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. yaitu bagian yang membesar 2. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus). Areola. yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. jaringan lemak.14 2. sel plasma. . Anatomi Payudara Payudara ( mammae. Pada waktu hamil payudara membesar. yaitu: 1. Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus. Papilla atau puting.

Gambar 2. terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar.2 Struktur anatomi payudara . Areola c.15 Gambar 2. Badan b. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar.1 Payudara tampak depan (a. Di dalam dinding alveolus maupun saluran. disebut sinus laktiferus.

terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI. terutama pada bentuk puting terbenam. yaitu bentuk yang normal. pendek/ datar.3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui.16 Ada 4 macam bentuk puting. Bila puting dihisap. dengan terbentuknya . panjang dan terbenam. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. yaitu produksi dan pengeluaran ASI. B. Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian.

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

Lidah ditarik mundur. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri.20 Gambar 2. semakin banyak ASI yang diproduksi. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. karena semakin kuat daya hisapnya. Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar. . payudara akan memproduksi ASI lebih banyak.5 Respon Penyusuan a. Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. Bibir bayi menangkap puting selebar areola b. Semakin sering bayi menyusu.

Sekresi ASI juga akan terhenti. kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan. siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi. Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. refleks prolaktin akan terhenti.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan.3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur. serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. setelah payudara disusukan. volume tersebut Volume mendekati . cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. maka akan terasa kosong dan payudara melunak. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya. Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran).dkk 2003) 2. Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain. Bila kemudian bayi disapih.1. Kolostrum adalah cairan emas. alveoli akan terbentuk kembali.

ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli. protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat. 2010). ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat. dan kolostrum B. Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum. ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya. kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli. . C. 2010).22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi.2001). Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat. dengan komposisi yang relatif konstan.2001). Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup.

Bahan Bacaan Manajemen Laktasi.2003. Ieda Poernomo Sigit. Dra.23 Tabel 2.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . dkk.

merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak.6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak.24 Gambar 2. Zat-zat tersebut antara lain adalah: A. Asam dokosaheksanoat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi. LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental. Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty). ternyata bayi-bayi yang . Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat. ASI awal dan ASI akhir 2. LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi. Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan.4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya.1.

ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. Walaupun demikian. Penelitian OSBORN membuktikan. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi. Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya. Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme. Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. C. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama. Seperti juga protein . protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat.25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi. B.

E. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. dan lain sebagainya. Fungsinya sebagai sumber energi. serta vitamin D. DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan.26 dalam ASI. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak. Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. membentuk hormon. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia. . kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi. D. Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. ALA. Selain itu. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. AA. DHA.

5-1. H. Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI.27 F. Namun. Kalsium. Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan. jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. G. . Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang. Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk). I. Oleh karenanya. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia). Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya. Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0. Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap.0mg/liter).

Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi. Vitamin Kadar Vitamin A.C. taurin banyak terdapat di retina. M.B. Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit. D. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E.E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi. Selain itu. Pada mata. Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi. K. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina. terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor.28 J. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan .Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. L.

juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman. 3. Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A. 2.1. N.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol). Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. Air Sebagian besar ASI mengandung air. kemungkinan terserang alergi relatif kecil. Perlindungan terhadap infeksi dan diare. akan membuatnya merasa aman dan . Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. 2010). ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Perlindungan terhadap alergi. Manfaat ASI bagi bayi : 1. salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi. 2. Mempererat hubungan dengan ibu.

ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. sekembali dari bekerja. semakin sering . Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. Mengurangi kegemukan/obesitas. selalu bersih. Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar. Memperbagus gigi dan bentuk rahang. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. 5. 6. jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. dan tidak pernah basi. 7. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit. 8. aman. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. Bagi ibu pekerja. Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). Perlindungan dalam penyempurnaan otak. beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya.30 4. segar.

Mengembalikan bentuk tubuh. Memberi kepuasan batin. Menunda masa subur (efek KB). Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. B. karena tidak merepotkan. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. khususnya pada tahun pertama menyusui. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. Lebih praktis dan ekonomis.31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi. yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. pemberian ASI lebih praktis dan murah. . pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid. 4. Manfaat ASI bagi ibu 1. 3. bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. 2. Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng. menyiapkan air hangat dan sebagainya. ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim.

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. ASI .35 2. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi. vitamin. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. mineral. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok. D. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi .1. lemak. enzime. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat. E. antara lain zat putih telur. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A. karbohidrat. hormone. B. zat kekebalan. misalnya zat warna dan zat pengawet. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna. C. ASI juga disertai oleh zat. faktor pertumbuhan. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. F. dan sel darah putih. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna.

kasih sayangnya kepada anak.1. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi. 2. terutama pada minggu pertama setelah persalinan. A. Suami. Selain mengandung protein yang tinggi. atau kelompok ibu pendukung ASI. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. keluarga. Ibu menunjukan cintanya. kerabat. Ada . Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. secara emosional lebih peka/ sensitif. juga tenaga kesehatan (dokter. bidan dan lain-lain). Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui.36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Bayi. Selain itu mungkin masih ada masalah lain. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri. yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk. berdiri atau berbaring. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. termasuk menyusui.

dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak. Pada ASI yang memancar (penuh). tangan ibu sedikit menahan kepala bayi. Gambar 2.37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar.7 Posisi menyusui . bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. bayi ditengkurapkan diatas dada ibu. dipayudara kanan dan kiri. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola. kedua bayi disusui bersamaan.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

Tujuan memerah . .10 Definisi menyusui E. . baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal. Gambar 2.Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu. Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1.Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara.Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam.41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan. . .Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu.Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja. .

. tempat yang tidak bising. jus. . ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan.Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit. . .Cuci tangan dengan sabun. jika bisa dengan kaki diangkat . .Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. 2. . minumlah segelas air atau cairan lainnya. padaumumnya terjadi di pagi hari. sedangkan payudara dibersihkan dengan air.Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya.Usahakan untuk santai. misal susu. Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI.Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu.Sebelum memulai. yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi.Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu. teh atau sup. Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan. . seperti: . Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI.Pilih waktu yang tepat.42 .

43 3. tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. ibu dapat menekan disitu. 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja. Proses Memerah ASI a. 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. Apabila pada mulanya ASI tidak keluar. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. . berarti tekniknya salah. Bila ibu merasakannya. yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah. 4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada. sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). Kalau terasa sakit. kemudian.

7) Sebaiknya. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin.44 maka jangan berhenti. Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit. Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI. 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar. (a) . Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja. 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara. lalu pindah ke payudara satu lagi. demikian seterusnya secara bergantian. dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut.

. Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu. Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan. perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik. yang ditempatkan di area puting ibu. baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik. Oleh karenanya. Yang harus diperhatikan. gerakannya meniru penghisapan bayi. Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan. Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain.45 (b) Gambar 2.11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b. Sedotan ini dibuat. Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja. Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku.

46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan .Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk. .Mudah disterilkan. . mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja. .Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan.Namun. Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya. beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan. kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh.Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara. . .Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil. .Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya. b) Pompa elektrik .

5 kg (unportable).Pompa ini bervariasi dari yang kecil.Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat. (a) (b) .Pada penggunaan yang teratur. bertenaga baterai.47 . Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger). portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2. baterai akan cepat habis.Jenis pompa ini bersuara (berisik). . .Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan. . . ringan .

jangan dibagian pintu. Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam. ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam. tapi belum dihangatkan. ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4. f. b. e. . Namun jika di dalam suhu ruangan. Dengan syarat AC-nya stabil. d. Jika ruangan ber AC.48 Gambar 2. Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. c. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu. ASper beku yang sudah dicairkan. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan. Jika ruangan tidak ber AC. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). Jika memiliki freezer yang terpisah. sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam. ASI bisa tahan selama 3-4 bulan. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. Penyimpanan ASI perah a. sisanya tidak boleh diminum kembali.

5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol. . karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas. 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas). Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara. Jika menggunakan botol plastik. dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. sebaiknya botol yang tertutup rapat. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna. Selain itu. bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama.

tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah. Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu. terpisah dari bahan makanan lain. letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah. dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan. Gambar 2. 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es.50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya.13 Tempat penyimpanan ASI perah .

Usahakan diberikan oleh orang lain.14 Mencairkan ASI perah . Selain itu. bukan ibu. agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’.51 5. atau gunakan alat penghangat botol. Sebaiknya hindari penggunaan dot. Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin. lemak susu terpisah. Jika selama penyimpanan. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI. Gambar 2. Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. b. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok. c. d. kocoklah sampai merata. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata. Penyajian ASI perah a.

tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol. g.52 6. c. meniru teman. tekanan batin). f. .Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. b. 2. mencegah payudara bengkak. Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja. bepergian atau sakit). . Ketika ibu membutuhkan istirahat. Menghilangkan bendungan ASI. d.Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: . e. Menjaga kelangsungan produksi ASI. Manfaat ASI perah a.Faktor sosial budaya (ibu bekerja.8 Faktor . orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah.1. Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya. merasa ketinggalan jaman jika menyusui). Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras.

sarana dan prasarana. panas dan sebagainya). jarak ke pelayanan kesehatan. dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia. Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. kepercayaan/ tradisi/ nilai.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu. . Menurut Laurence W. ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) . terutama mereka yang bekerja. pengetahuan petugas. 2. Green dalam Notoatmodjo (2007).Meningkatnya iklan susu formula. keterjangkauan informasi kesehatan. umur. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1. peran petugas. tradisi. sikap.Faktor fisik ibu (ibu yang sakit.53 . tingkat pendidikan. tingkat sosial ekonomi. misalnya mastitis. yang mencakup: pengetahuan. pekerjaan. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku. pengalaman.Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. kepercayaan. keyakinan. . .

semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. dukungan keluarga. Dari segi kepercayaan masyarakat. seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. 2001). semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. 2008). terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. Oleh karena itu. Menurut Notoatmodjo (2003). Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang . A.54 3. Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud. pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. dukungan suami. dukungan atasan. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat. 1982). Maka semakin tua umur ibu.

Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. . Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa. 1987). Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari. Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. terutama pada usia 20-35 tahun. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif. Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun. 2008). kehamilan dan kelahiran.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu. terjadi pada masa dewasa dini.

56 Ibrahim (2000). . memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. B. 2003). Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku. Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. pendapat dan konsep-konsep. 1997). pengertian. Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003).05). Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi.

perlakuan. yaitu dari tidak tahu menjadi tahu.57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan. Secara luas. dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku. opini. 2005). nilai dan perilaku suatu (Myers. baik secara formal maupun informal. Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja. 2004). pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. C. Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar. Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo. minat. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak . Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. dalam untuk Gerungan. Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI.1996).

sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono.Mempunyai objek tertentu (orang. 1999). affektif (perasaan) dan behavior (perilaku). benda dan sebagainya). Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. Misalnya.Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) .1999) . namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan.58 menyenangi obyek tersebut. . situasi.Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. 2007) Ciri khas dari sikap adalah. prilaku. konsep. . (Notoatmojo. Sikap adalah bagian dari perilaku.

15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita.59 Gambar 2. Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu. dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja. Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya. juga harus bekerja diluar rumah. baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan . D.

minimal 8 kali sehari. 2008). maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani. lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli. Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul. lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. . Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah. karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. Menurut Marini (1998).60 yang cukup.182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. 2009). 2009). Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1. Pada ibu bekerja.

dan lama bayi mengisap. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Akibat stimulus isapan. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. Ibu yang gelisah. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya.61 E. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. kurang percaya diri. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior. intensitas. Let-down reflex mudah sekali terganggu. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. yaitu frekuensi. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu.

atau memijat bayi. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. 2001). seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi. Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105). kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani. maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami.62 bantuan praktis lainnya. Namun penelitian Afriana . Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif.2009). F. Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli. menggendong bayi.

pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor. bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja . 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. pihak keluarga. Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif. sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI. bandara dan sebagainya. stasiun. pemerintah.63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. H. mall.

menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. payudara bengkak. puting ibu luka. Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. 8. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi). Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut. 5. Ibu bekerja. 3. mastitis dan abses. Kelainan ibu: puting ibu lecet.64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa. 6. Kelainan bayi: bayi sakit. yaitu: 1. 2. engorgement. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). 7. Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. Produksi ASI kurang. abnormalitas bayi. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . 4. Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar.

4.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. Sebab. Meniru teman. Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek. kakek. pada umumnya. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya. 2. mertua. Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. 3. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja.

kecuali atas indikasi medis. radio. surat kabat. 4. Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek. 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003). Hak kelangsungan hidup. (untuk bayi dan ibu). Hak tersebut mencakup: 1. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan.66 Distribusi. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat. 3. iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. 2. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. 36 Tahun 2009: A. dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua.12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. . masyarakat dan negara. Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no.9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan.1. 2. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi. Nondiskriminasi. Kepentingan terbaik bagi anak. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. keluarga. Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No.

000. selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. pasal 191. B. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan . Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. pasal 196. 100. pihak keluarga. pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi.67 (2) Selama pemberian air susu ibu. C. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). pasal 197. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. pasal 198.000 (seratus juta rupiah). pasal 192. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. D. pemerintah.

mempromosikan dan mendukung pemberian ASI.68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). Dengan ini. pasal 199 dan pasal 200. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan. Untuk mendukung hal tersebut. pasal 196. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI. pasal 197. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1). pasal 198. Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut. . Pencabutan izin usaha.1997). pasal 191. Berkaitan dengan hal tersebut. berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis. dan/ atau b. telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi. pasal 192. ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak.

Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani. Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. Ternyata. 2. Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. pekerjaan. reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap. ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan.69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. kepercayaan. madu. dan nasi tim. biskuit. bubur susu. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan.2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. bubur nasi. tingkat pendidikan. tradisi. sikap. hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. seperti susu formula. jeruk. dan air putih. Faktor . serta tanpa tambahan makanan padat.2010). sistem nilai. tingkat sosial ekonomi. air teh. seperti pisang. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia.

70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya. pengetahuan petugas. undang-undang. dukungan suami. peran petugas. peraturan. dukungan keluarga. sarana dan prasarana. . keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat. akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut. Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. jarak ke pelayanan kesehatan.

tingkat pendidikan ibu. dukungan atasan. Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : . sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami.71 2. Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif. terdiri dari umur ibu. sikap.3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti.

6.4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. 4. Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 3. 7. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 2. . maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.72 2. 5.

2 Metode Penelitian 3. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional.73 BAB III METODE PENELITIAN 3.2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden.September 2011 3.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis.2. yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan.2.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus . artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan. 3. .

mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian). lama waktu bekerja. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang.3. dukungan suami.2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. 3.3 Teknik Pengambilan Sampel 3. . Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. pendidikan. sikap.1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. dukungan atasan.74 3. 3.4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur.3. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen.

dan nasi tim. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. madu. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. dan air putih. seperti pisang. jeruk. air teh. biskuit.4.1 Variabel Dependen A. serta tanpa tambahan makanan padat. dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak. bubur nasi. kalsium dan mineral seperti susu formula. dan air putih. seperti pisang. B. .75 3. bubur susu. madu. biskuit. vitamin. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. bubur susu. kecuali vitamin dan mineral dan obat. air teh. 2. serta tanpa tambahan makanan padat. jeruk. bubur nasi. seperti susu formula.

jika terdapat data yang salah. .Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer.Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data. dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak. . Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: .Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua. . . Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak. responden menjawab sesuai dengan keadaan.76 C. dibersihkan dalam proses cleaning ini. Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner.

vitamin dan mineral Tabel 3.4.2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : .jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali .2 Variabel Independen A. Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan.1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel .jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3.Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator . Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1.Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat. .77 Tabel 3.

Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. 6.78 2. 2. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. 7. 3. Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. B. . Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. 5. 3. 4. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI.

Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. 7. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden. C. nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden. Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban. . Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban.79 4. Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. 6. 5.

80 Tabel 3. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari.2 5.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 . Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden.3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. < 8 jam ≥ 8 jam 1.6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3.

pendidikan.1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. sarana menyusui di tempat kerja). lama waktu bekerja. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing. sikap.81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3. dukungan atasan.5. yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. A. Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur. Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik. yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer. Coding. 3. dukungan suami. Yang .5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi.

Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen. HO : P1 = P2 . Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0.5. maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A.05 3.

Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ha : P1 ≠ P2 .83 . . .Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. B.Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . . .Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .84 .

Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl. Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT. Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis. Baktiparamita Putrasama. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5. Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI.85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra. Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan. sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis.

Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) . mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra.86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir.1. Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7.1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan.5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik. medical check-up.2 Ketenagaan Tabel 4. 4. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang. .

8% Dari tabel 4.2.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37. Umur Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra . 4. Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62.87 4.1 Analisa Univariat A.2% 62. Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. yaitu analisa univariat dan analisa bivariat.2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian.8%).

3% 18. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.88 B.1% 74.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7.6% Dari tabel 4. Pendidikan Tabel 4. Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.

3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam.4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68.6% 31. Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.4%).4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68.4% Dari tabel 4.89 C. Lama Waktu Bekerja Tabel 4.

8% 7.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37. standar deviasi (SD) = 7.8% 2.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.3% 5.4% 1.4% 8.8% 4.4% Standar Deviasi : 7.8% 4. .4% 2. Sikap Tabel 4.6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5.6% 1.3% 1.4% 11.8% 4.8% 2.2% 2.8% 2. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50.3% 2.3% 7.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4.8% 5.90 D.933. didapatkan nilai median= 38 .2% 1.8% 8.

4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61.6%). Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.6% Dari tabel 4.6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.91 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per .4% 38. Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38.

4% 18.5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81.6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81.6% Dari tabel 4.4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja.92 E. Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18. Dukungan Suami Tabel 4.6%).

7% Dari tabel 4.3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja. Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.7%).7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94.93 F.8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94. Dukungan Atasan Tabel 4.3% 5. Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra .

8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87.9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .9% 87.94 G. Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12.9%). Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4.1% Dari tabel 4.1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya. Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.

3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25.7% 74.9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.3% Dari tabel 4. Pemberian ASI eksklusif Tabel 4. Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.95 H.10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.7%).8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .

dukungan suami.5 25. Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0.5 74. . A. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0.6 20. dukungan atasan.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0.5%). Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta. pendidikan.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65.05 atau 5%.4 79. sikap.05).96 4.6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20.2. lama waktu bekerja.2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur.190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34.

190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.5 74.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.5 25.8 38.97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif . Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. B.2%).5%).003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima.3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0.2 61. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61. C.7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80. D III (19.

D.3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 74.13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27. Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%).840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.3 25.98 Tabel 4.840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72.

009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34.7 4.99 Tabel 4. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65.7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.8 25.3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.3 95.2 74.8%).

Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.8 7.100 E.092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29.3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0.2 92. .15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.7 25.7%).092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.3 74.8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7.

2 50 25.7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75.3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.8 50 74.271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24.101 F.2%).16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak. . Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.

7 74.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0.4 78.043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.6 21.3%). .102 F.043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.3 25. Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21.

ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui.103 4. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias. terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner. Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat. . sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman.4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner.2. Dari sisi responden.

2009). Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan.104 BAB V PEMBAHASAN 5. sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes. juga melindungi bayi dari . Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4. World Health Organization (WHO.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif.7%.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25. madu dan air putih. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. ASI eksklusif memiliki banyak manfaat. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik. atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis.

105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya. 5. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta . Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari.2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan. Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam. termasuk perawat. karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang.

Namun dalam penelitian pada responden perawat ini. materi ASI eksklusif . pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.190 (> 0.6%. karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif. Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu. karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34.106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi. Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan.

5%. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi. . Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif.003 (< 0. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. B.107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan. D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang.

108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. Ketua Tim Perawatan. Koordinator Pengembangan Perawat dan . Begitu juga sebaliknya. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan. maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. C. 2003). pendapat dan konsep-konsep. maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif. pengertian.

Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif.109 lain. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi.lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya. sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja. Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya.840 (> 0. sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang.3%. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian .

termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.7%). Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek.005 (<0. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. D. Hal ini sejalan dengan penelitian Unika . Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34.110 ASI eksklusif. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif.

misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. misalnya keluarga. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami. karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. E. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui.111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. tekanan jiwa dan gangguan pikiran.092 (>0.8%). teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang . Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29.

05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan. Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian . misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif.271 (>0. pengalaman. sikap dan lain sebagainya. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. F.112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan.

G.043(<0.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. pihak keluarga. sehingga perlu disiapkan . karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. pemerintah. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No.

tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. untuk semua karyawan dan pasien. sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. saat jam istirahat. Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi. . sehingga dirasakan kurang mendukung. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat.

3. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . 7. 2. 4.1 Kesimpulan 1. Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 5. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .7%. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra.115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 8. 6. masih jauh dari target nasional yaitu 80%. Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25.

seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa. misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus. cuti .1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat. Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI.2.2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif. dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat.2. 6.2 Saran 6. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan).2.116 6. 6.

1996.W.DAFTAR PUSTAKA Arif. 1982.id/asi. Jakarta: Depdiknas Green. 2010. http://www. Dahsyatnya ASI & Laktasi.Psikologi Sosial. Skripsi FKM UI. Badriul. 2004. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch. 2010. Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab. Bandung: Alumni.W. Susui Aku!. 2005. Kreuter. Yogyakarta: MedPress. . Penerbit. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Bandung:PT Refika Aditama. 2003. 2008.W. 2001.2000. Houston. Jakarta: Balai Pustaka FKUI. Bedah Asi. Depok Kodrat.A. L. dr.idai. M. Profil Depkes RI 2007. Jakarta : Depkes RI. Mayfield Publishing Company. Jogyakarta: Flashbooks. Tesis FKM UI. Depkes RI. Gerungan. Jakarta : Depkes. ASI atau Susu Formula ya?. edisi kedua). Daldjoni. Hegar dkk. 2000. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh. Nur. Tesis Program Pasca Sarjana UI. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009. 2004. Yogyakarta: Media Baca. Tilaili.asp. Afriana. 2009. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia. Depdiknas. Tesis FKM UI.2010. 2010. Laksono. Bandung : Khazanah Intelektual. Second Edition. Langkat. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. IDAI. Kristina. Depok.. Nia.or. Hartatik. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi. Depdikbud. Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Balai Pustaka. Ibu. Depkes RI. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. Ibrahim. N. Ariani. Kendala Pemberian ASI eksklusif. 2011. 2008.

2003. Dra..eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006. PhD. http://library.LLB (Hons). Sarlito Wirawan. 2007. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum. Sarwono. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. 1992. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi. 2009.M. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. Jakarta : Trubus Agriwidya. 1999. Labbok. Jawa Barat. 1998. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya. Nur. S. Unicef. Dwi sunar.. Konsep Penerapan ASI eksklusif.ac. 2004. dkk. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan. Jakarta : Depkes RI. Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu... Skripsi FKM UI. Miriam H.2003. Notoatmodjo. Siregar. Hubertin. 1994. 2005. David Clark. Prasetyono. MPH.MD. diakses 24 Juni 2011. Sidi.sph.. diakses 24 Juni 2011.usu. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya. Maisni. and Nancy Terreri. Mengenal ASI Eksklusif. Buku Pintar ASI Eksklusif.id/download/fkm/fkm-arifin. A. R. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . Marini. Roesli. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.Khasanah.pdf. U. Jakarta: Balai Pustaka.Tessa Wardlaw. PhD. 2008. Roesli. ASI atau Susu Formula ya?. S. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : Rineka Cipta. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. Unika Atma Jaya.unc. Depok.2006.Yogyakarta: Flashbook. Depok.Ann Blanc. U. S. 2001.pdf. Tesis FKM UI. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Childa. Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s. Notoatmodjo. Ieda Poernomo Sigit. http://www.MPH. Jakarta : PT. 2011. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. Yogyakarta : Diva Press Purwati. 1995.

Jakarta: ECG Setyowati.wordpress. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2009. 2003. M. Bandung: Alfabeta Saryono. SKp. Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”. Winarno. Rahardjo. Sugiyono. F.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/. World Health Organization.N.Sitaresmi. Vol 1.. 2010. United Nations Children’s Fund.1. diakses 24 Juni 2011. 1997. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Metode Penelitian Administrasi. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan.http://asiku. Geneva.G.2008.. Global strategy for infant and young child feeding. 2004. Prof. 2008. Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia. Wicitra. Psikologi Sosial. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. No. diakses 24 Juni 2011. Jakarta: EGC. Jakarta: Balai Pustaka. Gizi dan Makanan.. Jurnal Kesmas Nasional. Soetjiningsih.Kes. 1999. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif. Sutama. Sarlito.1987. Psikologi untuk Perawatan. Switzerland: World Health Organization . Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan.M.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah. 2009.2008. Sunaryo. DR.

Sebelum menjawab pertanyaan. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian. Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini. saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”. JAKARTA Ibu yang terhormat. JAKARTA . meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun.

.. Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran....................................... .............................................. 2011 Yang membuat pernyataan.. ...........................................tahun .........FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : .... ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) ........................... Jakarta .. Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”........ Pendidikan :.........................telp......................... Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian...... Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi.........No..........

.. Identitas Responden NO.......... tahun SPK Diploma III Strata I (SKp.. Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ........................................................ mineral. jika ada? ..... C............. pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda.........A..... SKM) Usia Bayi : ........... .......... ...... Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia..... ..... obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan....... Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin................................... bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B................

Dukungan Suami . Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi. ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan.NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan. D.

Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a. Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a. Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Ya b. Ya b. Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b. Tidak . Tidak G.

  .

    .

0% N 0 Missing Percent .0 26 26. Computed only for a 2x2 table       .69.681 .152 a.0 Chi-Square Tests Asymp.3 52 52.0 Total 44 44.716 1.304 .195 1.0%) have expected count less than 5. (1sided) df a sided) 1 1 1 .054 1. (2sided) Exact Sig. 0 cells (.193 b Exact Sig. The minimum expected count is 6.259 .0 ASI eksklusif 9 11.691 70 1 .0 70 70.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.190 .7 18 18.0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32.7 17 19. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1. Sig.0% N 70 Total Percent 100.3 9 6. b.

667 70 a.0 ASI eksklusif 0 1.609 a df 2 2 1 sided) . The minimum expected count is 1.29. Sig.6 5 9.0% N 70 Total Percent 100.0 13 13.0 Chi-Square Tests Asymp.0 70 70.0 Total 5 5.4 8 3.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.570 10.7 52 52. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3.001 11.3 18 18. 3 cells (50.7 42 38.0 52 52.0% N 0 Missing Percent .0%) have expected count less than 5.       .003 .3 10 13.003 .

7 52 52.040 70 1 . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .66. The minimum expected count is 5.0 Chi-Square Tests Asymp.000 .0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16.0% N 70 Total Percent 100.529 a.0 48 48.0 70 70.840 1. 0 cells (. Computed only for a 2x2 table       . b.3 36 35. Sig.840 .841 b Exact Sig.0 Total 22 22.7 12 12.0%) have expected count less than 5.3 18 18.041 .0% N 0 Missing Percent . (1sided) df a sided) 1 1 1 .000 .000 . (2sided) Exact Sig.Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.041 1.0 ASI eksklusif 6 5.

005 a. b.0% N 0 Missing Percent . 0 cells (.013 .003 7. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 ASI eksklusif 2 6. Sig.1 18 18.1 27 31. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7.0 43 43.94.230 8.005 . The minimum expected count is 6.005 .9 52 52.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 70 70.783 .0% N 70 Total Percent 100.0 Chi-Square Tests Asymp. (2sided) Exact Sig.0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20.601 70 1 .712 6.0 Total 27 27.9 16 11. Computed only for a 2x2 table       .0%) have expected count less than 5.006 b Exact Sig.

(2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0% N 0 Missing Percent .558 a.809 1. (2sided) Exact Sig.000 .3 15 14.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0%) have expected count less than 5. Sig.0 70 70.808 .057 70 1 .811 b Exact Sig.058 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .000 .0 ASI eksklusif 3 3.7 18 18.0% N 70 Total Percent 100.000 .059 1.34. b.0 Total 13 13. 1 cells (25.0 Chi-Square Tests Asymp.3 52 52. The minimum expected count is 3. Computed only for a 2x2 table     .7 42 42.0 57 57.0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9.

b.579 .252 .0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.0 50 49.271 .03. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 16 17.0 Chi-Square Tests Asymp.0% N 70 Total Percent 100.308 1.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 18 18.310 .152 .0% N 0 Missing Percent .0 70 70.291 70 1 .256 b Exact Sig.0 ASI eksklusif 2 1.0 Total 4 4. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. Computed only for a 2x2 table     .283 1. (2sided) Exact Sig.0 52 52. The minimum expected count is 1.0 66 66.271 a. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1. Sig.

7 2 2.000 . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45.0% N 70 Total Percent 100.0 9 9.7 52 52.Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.799 b Exact Sig. Computed only for a 2x2 table   . 1 cells (25. b.3 7 6.0 Total 61 61. Sig. (2sided) Exact Sig.000 .0 Chi-Square Tests Asymp.066 .3 18 18. The minimum expected count is 2.0% N 0 Missing Percent .0 70 70.795 .797 1.31.068 1.580 a.065 70 1 .0 ASI eksklusif 16 15.000 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .0%) have expected count less than 5.

  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful