SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

semangat. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Mayang Anggraeni. 4. MSc. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. Bapak Idrus Jus’at. Ibu dr. terima kasih untuk saling memberikan masukan. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Ibu Iskari Ngadiarti. 3. tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden.D. kasih sayang. viii . penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. 7. Ph. MRCOG(UK). sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. SKM. dukungan satu sama lain. MPH. Untuk itu. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang. Alief. Ibu Intan Silviana Mustikawati. SpOG. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. MBBS. atas doa. Dadan “dudul”. 5. dukungan. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. Channe. SKM. RS Medistra. tetap semangat ya teman. 8. Robert J. Dalam penyusunan skripsi ini. Teristimewa untuk suamiku. FRCS. 6. Dr.

Mohamad Margha. Drs. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua. yang selalu menjadi kebanggaan. Owen & Jason. atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis.9. My beloved boys. teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. 10. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. penghiburan dan sumber kekuatan penulis. Audric. semoga suatu hari bisa seperti babeh. 11. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. semuanya sangat berarti. Jakarta. 16 September 2011 Penulis viii . Ayah tercinta. MSc (alm).

........................3 Komposisi ASI .................................................2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi ....................... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN……………………………………...................... v ii RIWAYAT HIDUP……………………………………………………........................... 2...........................................................1........................................................................................................ vii DAFTAR ISI ............ 11 11 14 24 26 31 2......................................1....... 37 2.................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................4 1...........................................4 Kandungan Gizi ASI .........................................................................1 Kerangka Teori ........ 9 Manfaat penelitian ............................................................ 1 1.......................5 1...........................................................................1....... ABSTRAK……………………………………............................. 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2.................... iv PENGESAHAN SKRIPSI ……………………………………………............6 BAB II Identifikasi Masalah ............................... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ...............1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2......7 Teknik Menyusui ......................................................................................3 1................................ 9 Tujuan Penelitian .1..1 Latar Belakang ................................................1......... 8 Perumusan Masalah ......................... 39 ix ............... 2....1................ BAB I PENDAHULUAN 1.................................. 2................................................ DAFTAR GRAFIK ............................................................................................ i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT ...............5 Manfaat ASI ...... 6 Pembatasan Masalah ............................. DAFTAR TABEL ............6 Alasan Pemberian ASI eksklusif ............................... vi KATA PENGANTAR ......... 2.....2 1................1................

..... 78 Teknik Pengambilan Sampel..............4 Kerangka Berfikir ....................8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif ...1. 79 Pengujian Hipotesis ...1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ............................................. Sarana menyusui di tempat kerja 2................... 79 Instrumen Penelitian ........................................... Lama & frekuensi menyusui D............................... Kerangka Konsep ............ Dukungan Suami G......... 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3.........2 2.............. 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4............ Sikap D...9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2....................... Posisi & pelekatan menyusui B.2 3............. Hipotesis .. Langkah-langkah menyusui yang benar C............4 3. Pengeluaran ASI / ASI perah 2....................1 Tempat dan waktu penelitian ....1..................... 56 A.................. Pendidikan Ibu C............................ 4............. Lama Waktu Kerja E....A.........3 3......................... Pola menyusui bayi E................. 78 3. 90 90 ix .........1.................5 Metode Penelitian ......... Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F...........3 2........................................................... Umur B.......................1 Deskripsi Umum ......... Dukungan Atasan H.................................

........1 6.............................................2.............................................................................1.................1 Analisa Univariat ..................................... 91 92 92 102 109 4.........2 Deskripsi Data .......2...2 Ketenagaan ....................1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta .........................................................................2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta. Saran ...............................2 Analisa Bivariat .. 4..........4..3 Keterbatasan Penelitian .......................... 5........ BAB V PEMBAHASAN 5.......... 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6...........................2 Kesimpulan ........... 4......................... 4.......................... 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix .......2.............

....8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra ............................................7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra ................. Tabel 4............................. 37 Tabel 3.........................................6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra ....................... Tabel 4.............................. 25 Tabel 2................................................................................................................................ Tabel 4......................................................... Tabel 4.........................4 Skoring untuk variabel sikap ........................... Tabel 4..................................2 Skoring untuk variabel dependen .1 Komposisi kandungan ASI ..........................................................12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . Tabel 4...................... 103 ix ........9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra . susu sapi............ Tabel 3.................................................. Tabel 3......................................................10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra .......................2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra .......3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra ...1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen .............. Tabel 4..................... susu formula ... Tabel 4.............................................. Tabel 3.........DAFTAR TABEL Tabel 2..................................4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra ... Tabel 4...11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .......................3 Instrumen penelitian untuk variabel independen ...5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra .......................... Tabel 4........................................ 102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4.. Tabel 4..........2 Ringkasan perbedaan ASI....1 Ketenagaan RS Medistra .....................

.......... Tabel 4.................................13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ..Tabel 4..................................16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .......14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ........ 104 Tabel 4.................. 108 107 106 105 ix .................................17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra............ Tabel 4..........15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ... Tabel 4.

............................................................5 Payudara tampak depan .....................................15 Hubungan sikap dan prilaku .......................................... 20 Respon Penyusuan ........................ 48 Gambar 2...................9 Teknik menyusui .......................... 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi ......13 Tempat penyimpanan ASI perah ...............3 Gambar 2....... 15 Struktur anatomi payudara ..8 Posisi pelekatan menyusui ........ 55 Gambar 2....... 40 Gambar 2................................7 Posisi menyusui....................4 Gambar 2..............................................................................................................12 Pompa tangan & pompa elektrik ................................. 44 Gambar 2...................1 Gambar 2........14 Mencairkan ASI perah ......................... 16 Bentuk-bentuk puting susu .......................... 40 Gambar 2................. 63 ix .......10 Definisi menyusui ........................................... ASI awal dan ASI akhir .................................. 22 Gambar 2......... 25 Gambar 2............................ 42 Gambar 2.................................2 Gambar 2....... 54 Gambar 2......................6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum........................................................DAFTAR GAMBAR Gambar 2.............11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI ................... 51 Gambar 2....

... 97 Grafik 4........... 100 Grafik 4...... 99 Grafik 4........................................... 94 Grafik 4......................................... 93 Grafik 4..................3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .....7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ............ 101 ix .................................................................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ....5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra ...............4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra .........................1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra ..................................................................................................................DAFTAR GRAFIK Grafik 4...............................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .............. 95 Grafik 4... 98 Grafik 4...................................................................................2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .......................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

2001). madu. dan air putih. bubur susu. 2009). bubur nasi. seperti susu formula. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu. air teh. . oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. ASI bukan minuman. Setelah usia bayi 6 bulan. kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. sebagai makanan utama bayi. sangat dianjurkan (Arief. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. jeruk. serta tanpa tambahan makanan padat. 2005). bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu. sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. dan nasi tim. seperti pisang.1 BAB I PENDAHULUAN 1. biskuit.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein.

serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. 2010).2 World Health Organization (WHO. karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi.6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001. 2004). Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi. Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37.5% pada tahun 1989 menjadi 24. Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32). Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah. .

8%. karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino.2005).dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF). mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare.3%.7% menjadi 27. 2008). bayi yang diberi susu selain ASI. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15. Surabaya. . sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita.dkk. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002. Semarang. jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7. dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI. Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta. 2003). dipeptid. sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula.000 balita di Indonesia.9% (Sutama.9% menjadi 7. Menurut WHO (2000). heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak.

ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan. Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). sedangkan pedesaan 6-19%. NTB. Jabar. Jatim. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi. Faktor lain yang . Jateng.2010). menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%. Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. Sulsel).2008). 2001). Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli. Banten. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat. Lampung.4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar.

tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono.5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif. dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. 2003). RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang. 1999). hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo. .

mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi. faktor spesifik (IgA sektori.zat kekebalan). radang selaput oak. merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah. mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna.2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting. ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis). maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya). diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut. . 1.6 Berdasarkan permasalahan diatas.

Faktor yang berasal dari dalam individu. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor. Agar proses menyusui lancar. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI. diperlukan breastfeeding father. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif. misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu. Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. . Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui.

3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan. dukungan suami.5. sikap.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1. B. 1. identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?. Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.5 Tujuan Penelitian 1.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang.5. 1. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. kemampuan. lamanya waktu bekerja. pendidikan.2 Tujuan Khusus A. . waktu. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta.8 1. biaya dan tenaga. maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur.

3 Manfaat bagi Universitas . Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 1. E. Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6 Manfaat Penelitian 1. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6.6. 1. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. 1.9 C. D. F. G.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif. H.1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

.10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan. dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul.

ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang . Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan. payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah. sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan. ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain. ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi. ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit.1. 1997). laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu.11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. Semasa kehamilan. Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein.1 Kerangka Teori 2. 2011). Pada saat yang sama.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A.

Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. 2010). tanpa tambahan minuman atau makanan apapun. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. . Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare. ASI bukan minuman. 2009). secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan. Selain itu.12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI. dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi.

air teh. serta tanpa tambahan makanan padat. seperti pisang. tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. bubur susu. jeruk. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. madu. seperti susu formula. kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. 2009). ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli.13 B. dan air putih. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. bubur nasi. Dengan demikian. ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. 2004). ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. biskuit. kecuali vitamin dan mineral dan obat. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. . 2004). ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. dan nasi tim. Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik.

jaringan lemak. Korpus (badan). mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. yaitu unit terkecil yang memproduksi susu.1. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara. sel plasma. Areola. dengan berat kira-kita 200 gram. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus. diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan.2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).14 2. . yaitu bagian yang membesar 2. yaitu: 1. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus). Papilla atau puting. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3. sel otot polos dan pembuluh darah. Ada 3 bagian utama payudara.susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit. Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. Pada waktu hamil payudara membesar. Anatomi Payudara Payudara ( mammae. kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara.

1 Payudara tampak depan (a.15 Gambar 2. Di dalam dinding alveolus maupun saluran. terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar. Gambar 2. Areola c. Badan b. disebut sinus laktiferus. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar.2 Struktur anatomi payudara .

B. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2. panjang dan terbenam. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian. pendek/ datar. terutama pada bentuk puting terbenam. dengan terbentuknya . yaitu produksi dan pengeluaran ASI. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI.16 Ada 4 macam bentuk puting.3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. yaitu bentuk yang normal. Bila puting dihisap.

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri. karena semakin kuat daya hisapnya.20 Gambar 2. semakin banyak ASI yang diproduksi. . Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar. Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. Semakin sering bayi menyusu. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. Bibir bayi menangkap puting selebar areola b.5 Respon Penyusuan a. payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. Lidah ditarik mundur.

3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan. kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. setelah payudara disusukan. Bila kemudian bayi disapih. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain. cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan. siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi. Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. Sekresi ASI juga akan terhenti. Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran). volume tersebut Volume mendekati . Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. maka akan terasa kosong dan payudara melunak. refleks prolaktin akan terhenti. alveoli akan terbentuk kembali.1. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya.dkk 2003) 2. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. Kolostrum adalah cairan emas.

ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya. ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. dengan komposisi yang relatif konstan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup. C. . ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat.22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi.2001). 2010).2001). dan kolostrum B. 2010). kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli. protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat. Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat. Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum. ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli.

Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia .23 Tabel 2. Ieda Poernomo Sigit. dkk.2003.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi. Dra.

4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi.24 Gambar 2. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya. Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak.6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak. ternyata bayi-bayi yang . Zat-zat tersebut antara lain adalah: A. Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi. LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi. LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental. ASI awal dan ASI akhir 2. Asam dokosaheksanoat.1. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi. Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty).

Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme. ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat. Penelitian OSBORN membuktikan. protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia. Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. Walaupun demikian. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. C. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi.25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. B. Seperti juga protein . sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi.

. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. ALA. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. dan lain sebagainya. Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. D. AA. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. Fungsinya sebagai sumber energi. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak. DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan. kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. E. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain.26 dalam ASI. membentuk hormon. Selain itu. DHA. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia. serta vitamin D. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI.

Oleh karenanya. Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0. Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI. Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. Namun. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap. G. Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya.0mg/liter). . Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan. Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI.27 F. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia).5-1. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. Kalsium. H. I. Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk). jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras.

Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida.B. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina. Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi. Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi. K. L. Pada mata. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan .C. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E. Vitamin Kadar Vitamin A.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. Selain itu. terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. M.E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi. taurin banyak terdapat di retina. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit. D.28 J.

2. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi. N. juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman. 3. Perlindungan terhadap alergi. Manfaat ASI bagi bayi : 1. kemungkinan terserang alergi relatif kecil.1. 2010). 2. Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol). akan membuatnya merasa aman dan . Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu. Perlindungan terhadap infeksi dan diare.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A. Air Sebagian besar ASI mengandung air. Mempererat hubungan dengan ibu. Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

segar. 8. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. selalu bersih. sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. Perlindungan dalam penyempurnaan otak. pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit. Bagi ibu pekerja. 5. semakin sering . Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar. dan tidak pernah basi. Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. aman. Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi. Mengurangi kegemukan/obesitas. sekembali dari bekerja.30 4. 7. 6. Memperbagus gigi dan bentuk rahang. beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya.

2. Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng.31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi. Memberi kepuasan batin. Lebih praktis dan ekonomis. 4. yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. . bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. Manfaat ASI bagi ibu 1. pemberian ASI lebih praktis dan murah. Menunda masa subur (efek KB). 3. menyiapkan air hangat dan sebagainya. B. khususnya pada tahun pertama menyusui. Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. karena tidak merepotkan. ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim. pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. Mengembalikan bentuk tubuh.

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat. karbohidrat. faktor pertumbuhan. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi . B. misalnya zat warna dan zat pengawet. hormone. dan sel darah putih. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A. mineral. zat kekebalan. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna.zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok.35 2. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. enzime. E. ASI . Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai.1. vitamin. F. lemak. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna. antara lain zat putih telur. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. ASI juga disertai oleh zat. C. D.

36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Bayi. atau kelompok ibu pendukung ASI. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. berdiri atau berbaring. Ada . yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui. Ibu menunjukan cintanya. bidan dan lain-lain). Selain mengandung protein yang tinggi. 2. termasuk menyusui. A. Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi. terutama pada minggu pertama setelah persalinan. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. kasih sayangnya kepada anak. juga tenaga kesehatan (dokter. keluarga.1. secara emosional lebih peka/ sensitif. Selain itu mungkin masih ada masalah lain. Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri. kerabat.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. Suami.

7 Posisi menyusui . bayi ditengkurapkan diatas dada ibu. kedua bayi disusui bersamaan. dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak. Pada ASI yang memancar (penuh). Gambar 2. tangan ibu sedikit menahan kepala bayi. dipayudara kanan dan kiri. bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola.37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

Tujuan memerah .Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam.Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja. .Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara. Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1.41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan. . .Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu.10 Definisi menyusui E. Gambar 2. . baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal. .Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu.

seperti: .Usahakan untuk santai. . Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan.Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu. . yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi. jika bisa dengan kaki diangkat .Cuci tangan dengan sabun. misal susu. teh atau sup. tempat yang tidak bising.Pilih waktu yang tepat. sedangkan payudara dibersihkan dengan air. padaumumnya terjadi di pagi hari. minumlah segelas air atau cairan lainnya. ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan.42 . . Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI. .Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya. jus.Sebelum memulai.Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit. 2. Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI.Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu. . .Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. .

yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah. kemudian. Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. Proses Memerah ASI a. sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja. berarti tekniknya salah. sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang. Bila ibu merasakannya. 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. Apabila pada mulanya ASI tidak keluar.43 3. Kalau terasa sakit. 4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada. ibu dapat menekan disitu. .

Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar. dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut. demikian seterusnya secara bergantian. Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja. lalu pindah ke payudara satu lagi. 7) Sebaiknya. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin. (a) . Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit.44 maka jangan berhenti. Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI. 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara.

Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan. Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja. Oleh karenanya. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan. Yang harus diperhatikan.11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b. Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain. gerakannya meniru penghisapan bayi. Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu.45 (b) Gambar 2. Sedotan ini dibuat. Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. . Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku. yang ditempatkan di area puting ibu. baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik. perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik.

mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja. . . . .Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara. .Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk.Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya.Namun.Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil.Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan. .46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan .Mudah disterilkan. b) Pompa elektrik . kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh. Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya. beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan.

Jenis pompa ini bersuara (berisik). .Pompa ini bervariasi dari yang kecil. baterai akan cepat habis. .47 . ringan . .5 kg (unportable). .Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat. Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger).Pada penggunaan yang teratur.Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan. bertenaga baterai. (a) (b) . portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2.

d. sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam. Dengan syarat AC-nya stabil. tapi belum dihangatkan. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu. b. Jika memiliki freezer yang terpisah. ASper beku yang sudah dicairkan. f. Namun jika di dalam suhu ruangan. Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. Jika ruangan ber AC. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es. sisanya tidak boleh diminum kembali. c. ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. ASI bisa tahan selama 3-4 bulan. .48 Gambar 2. e. ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam. jangan dibagian pintu. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). Penyimpanan ASI perah a. Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam. Jika ruangan tidak ber AC.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4.

bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama. jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara. . sebaiknya botol yang tertutup rapat. Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. 5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan. 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna. Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas). dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas. Selain itu. Jika menggunakan botol plastik.

dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan. letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah. tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah. 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es. Gambar 2. Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu. terpisah dari bahan makanan lain.13 Tempat penyimpanan ASI perah .50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya.

kocoklah sampai merata. d. Sebaiknya hindari penggunaan dot. Selain itu. atau gunakan alat penghangat botol.14 Mencairkan ASI perah . Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. Usahakan diberikan oleh orang lain. agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’. b. Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin. Jika selama penyimpanan. Gambar 2. c. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata. lemak susu terpisah.51 5. Penyajian ASI perah a. bukan ibu. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok.

Menghilangkan bendungan ASI. e. bepergian atau sakit). mencegah payudara bengkak.Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah. Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya.8 Faktor .52 6. meniru teman. . c.1.Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: . orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. b. Ketika ibu membutuhkan istirahat. f. merasa ketinggalan jaman jika menyusui). Menjaga kelangsungan produksi ASI. . 2. tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol. Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja. tekanan batin). Manfaat ASI perah a. d. g.Faktor sosial budaya (ibu bekerja. Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras.

terutama mereka yang bekerja.53 . keyakinan. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1.Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. kepercayaan. dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia. peran petugas. pengetahuan petugas. . jarak ke pelayanan kesehatan. misalnya mastitis.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu. Menurut Laurence W. sikap. kepercayaan/ tradisi/ nilai. ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) . pengalaman. . Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. tingkat pendidikan. pekerjaan. panas dan sebagainya). tradisi. Green dalam Notoatmodjo (2007). sarana dan prasarana. keterjangkauan informasi kesehatan. umur. tingkat sosial ekonomi.Meningkatnya iklan susu formula. 2. yang mencakup: pengetahuan. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku. .Faktor fisik ibu (ibu yang sakit.

dukungan atasan. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2003). semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat. dukungan suami. 1982). seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud. dukungan keluarga. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. Oleh karena itu. Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang . Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah.54 3. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. 2008). semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina. A. 2001). Maka semakin tua umur ibu. terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. Dari segi kepercayaan masyarakat.

Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa. . 2008). Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. kehamilan dan kelahiran. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif. Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. 1987). terutama pada usia 20-35 tahun. terjadi pada masa dewasa dini. Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari. Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun. penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu.

Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0. 1997). Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku. misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. pendapat dan konsep-konsep. Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003).05). 2003). . Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan.56 Ibrahim (2000). mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. B. pengertian.

57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. 2005). pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. 2004). dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku. Secara luas. Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak . Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja.1996). minat. dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar. C. dalam untuk Gerungan. perlakuan. Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo. Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan. nilai dan perilaku suatu (Myers. Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI. opini. baik secara formal maupun informal.

tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. . prilaku.Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). affektif (perasaan) dan behavior (perilaku).Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) . konsep. (Notoatmojo.58 menyenangi obyek tersebut. Misalnya. situasi. benda dan sebagainya). 2007) Ciri khas dari sikap adalah.Mempunyai objek tertentu (orang. Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan. .1999) . sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. 1999). Sikap adalah bagian dari perilaku.

baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan . sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu. juga harus bekerja diluar rumah. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja. Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya.59 Gambar 2. Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita.15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan. D.

minimal 8 kali sehari. lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah. 2009).182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui. Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari. Menurut Marini (1998). karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. 2009). Pada ibu bekerja. 2008). lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli. . Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1. Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul.60 yang cukup.

Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. Let-down reflex mudah sekali terganggu. yaitu frekuensi.61 E. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Akibat stimulus isapan. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Ibu yang gelisah. kurang percaya diri. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. dan lama bayi mengisap. intensitas. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior.

2009).62 bantuan praktis lainnya. dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani. 2001). F. maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. Namun penelitian Afriana . atau memijat bayi. menggendong bayi. Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105). Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif.

Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). bandara dan sebagainya. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja . mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif.63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. mall. Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. pemerintah. pihak keluarga. H. stasiun. sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI. Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak.

Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi). 3. Kelainan ibu: puting ibu lecet. mastitis dan abses. Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar. Kelainan bayi: bayi sakit. puting ibu luka. Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa. 5. menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. abnormalitas bayi. engorgement. 6. Produksi ASI kurang.64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . 4. 8. 2. Ibu bekerja. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif. yaitu: 1. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. 7. payudara bengkak.

2. Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. mertua. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). 3. pada umumnya. Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui. Sebab. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya. dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Meniru teman. kakek. 4. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek.

Kepentingan terbaik bagi anak. masyarakat dan negara. Hak tersebut mencakup: 1.9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan.66 Distribusi. 3. Nondiskriminasi. Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No. radio. dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua.12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi. (untuk bayi dan ibu). iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. 36 Tahun 2009: A. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan. surat kabat. 4. kecuali atas indikasi medis. 2. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat. Hak kelangsungan hidup. Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no. . keluarga. 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003).1. Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek. 2.

(3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan . Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. pasal 191. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. pihak keluarga.000. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. C. pasal 192.67 (2) Selama pemberian air susu ibu. pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi. 100. B. selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. pasal 196. pasal 197. pasal 198. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. D. Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1).000 (seratus juta rupiah). pemerintah.

pasal 191. pasal 196. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis.1997). telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi. Berkaitan dengan hal tersebut. Pencabutan izin usaha. dan/ atau b. pasal 197. Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut. pasal 199 dan pasal 200. mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. Dengan ini.68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). pasal 192. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1). pasal 198. berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. . Untuk mendukung hal tersebut. ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI. ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan.

69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. air teh.2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia. tradisi. Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani. sistem nilai. 2. sikap. serta tanpa tambahan makanan padat. seperti susu formula. biskuit. Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. pekerjaan. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. tingkat sosial ekonomi. madu. reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap. hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. kepercayaan. tingkat pendidikan. bubur susu. seperti pisang. dan air putih. ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan. bubur nasi.2010). Faktor . jeruk. Ternyata. dan nasi tim.

peran petugas. sarana dan prasarana. jarak ke pelayanan kesehatan. pengetahuan petugas. peraturan. undang-undang.70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya. keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. . Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. dukungan keluarga. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut. akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. dukungan suami.

Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : .3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti. Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja.71 2. tingkat pendidikan ibu. sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami. terdiri dari umur ibu. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif. sikap. dukungan atasan.

Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.72 2. . Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 3. 2. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 5. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1.4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. 7. 6. 4. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

73 BAB III METODE PENELITIAN 3. yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan.2 Metode Penelitian 3.2.2.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus . 3. artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional.September 2011 3. .2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis.

lama waktu bekerja. .1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen. 3. pendidikan.3 Teknik Pengambilan Sampel 3.2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian). Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. dukungan atasan. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). 3. dukungan suami.3.74 3. sikap. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang.3.4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur.

kalsium dan mineral seperti susu formula. . dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. air teh. dan air putih.1 Variabel Dependen A.4. bubur nasi. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. madu. biskuit. dan nasi tim. jeruk. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. vitamin. seperti susu formula. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. 2. seperti pisang. madu. dan air putih. air teh. kecuali vitamin dan mineral dan obat. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak.75 3. serta tanpa tambahan makanan padat. seperti pisang. bubur nasi. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. bubur susu. jeruk. biskuit. serta tanpa tambahan makanan padat. B. bubur susu.

.Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer. .Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua.76 C. Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak.Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses. . Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: . jika terdapat data yang salah. dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak. . dibersihkan dalam proses cleaning ini. responden menjawab sesuai dengan keadaan. Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner.

.jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali .2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : .jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3.4.Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat.77 Tabel 3.Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator .2 Variabel Independen A.1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel . vitamin dan mineral Tabel 3. Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1. Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan.

2. Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI. 4. B. 3. Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. .78 2. Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. 7. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. 3. 6. 5. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari.

nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban. Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. 5. 6. Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan.79 4. Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. C. Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban. . peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden. 7.

3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari.6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif. Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 .80 Tabel 3. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3. < 8 jam ≥ 8 jam 1.2 5.

Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing.1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. 3. Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur. Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik.5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer. sikap. lama waktu bekerja.5. dukungan suami. A. yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. pendidikan. sarana menyusui di tempat kerja). dukungan atasan. yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. Yang .81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3. Coding.

Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0. HO : P1 = P2 .2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas.Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A. .82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B. .Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.05 3. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen.5.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

. .Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ha : P1 ≠ P2 . .Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.83 .Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. B. . .Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

84 . .Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT. Baktiparamita Putrasama. Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan. sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis. Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5. Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis.85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI.

5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang. Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) .1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan.1. medical check-up.86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). .2 Ketenagaan Tabel 4. 4. Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7.

2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37. Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62.8%).87 4.1 Analisa Univariat A.2. Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.2% 62. Umur Tabel 4. 4.8% Dari tabel 4. yaitu analisa univariat dan analisa bivariat.1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra .2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian.

1% 74. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .88 B.3% 18.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7. Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Pendidikan Tabel 4.6% Dari tabel 4.3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi.3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.

6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam.3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .4% Dari tabel 4. Lama Waktu Bekerja Tabel 4.89 C.4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68.6% 31. Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68. Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.4%).

5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.8% 4. didapatkan nilai median= 38 .6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5.6% 1. standar deviasi (SD) = 7.8% 8.3% 1.8% 5.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37.3% 5.2% 1.4% 8.8% 4.8% 7.90 D.4% 11.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4.3% 7.8% 2.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.2% 2.4% 1.8% 4. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50.3% 2.8% 2.4% 2. . Sikap Tabel 4.933.4% Standar Deviasi : 7.8% 2.

4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.6%).6% Dari tabel 4.6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.91 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per . Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38.4% 38.6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61. Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.

4% 18. Dukungan Suami Tabel 4. Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18.7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81.6%).5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81.6% Dari tabel 4. Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.92 E.4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja.

Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.93 F.8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94. Dukungan Atasan Tabel 4.3% 5.6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra .7%). Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.7% Dari tabel 4.3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja.7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94.

9% 87.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87.9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12. Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.1% Dari tabel 4.1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya.9%).94 G. Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12. Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4.

Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.95 H. Pemberian ASI eksklusif Tabel 4.3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25.8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .7%).7% 74.3% Dari tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.

2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur.05).05 atau 5%.190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34. dukungan suami. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta.11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34. pendidikan.6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20.5%). Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0.2. A. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0. lama waktu bekerja.4 79.5 74.6 20.5 25. . Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0. dukungan atasan.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0. sikap.96 4.

D III (19.97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. C.3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0.2%). Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. B.5%).2 61.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61.5 25.7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80.003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima.5 74.190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif . Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.8 38.

3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%).7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72. D. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.98 Tabel 4.13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27.3 25.3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0.840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.7 74. Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.

009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34.99 Tabel 4.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .2 74.3 95. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 4.7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.8 25.3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.8%).7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65.

2 92.8 7.100 E.7%).8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 25.7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.3 74. Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29.092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29.092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0. .

Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.8 50 74. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.101 F.2%).7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75.2 50 25.3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak. .16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24.

3 25.043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.4 78.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.102 F.17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55.3%). Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.6 21.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21.7 74. .043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima.

Dari sisi responden. .2. terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner. ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui. Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias. sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun.4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun.103 4. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman.

juga melindungi bayi dari .7%. sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes. atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25.104 BAB V PEMBAHASAN 5. Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan. ASI eksklusif memiliki banyak manfaat. Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan. World Health Organization (WHO. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4. 2009). 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. madu dan air putih.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif. yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal.

Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta . termasuk perawat. karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari. RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya.2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan. 5.

karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu. dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif. materi ASI eksklusif .106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi.6%.190 (> 0. Namun dalam penelitian pada responden perawat ini. pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat. Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan. karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif.

107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif.5%. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif.003 (< 0. .05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi. Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang. B.

maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. C.108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Begitu juga sebaliknya. Ketua Tim Perawatan. maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. Koordinator Pengembangan Perawat dan . pengertian. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan. 2003). pendapat dan konsep-konsep.

sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja.109 lain. Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27.3%. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif. sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.840 (> 0. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian . Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang.lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya.

termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian Unika . Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif.005 (<0. maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas.7%). Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. D.110 ASI eksklusif.

misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami. E. tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui. Let-down reflex mudah sekali terganggu.092 (>0.8%). karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29. teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang .111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. misalnya keluarga. tekanan jiwa dan gangguan pikiran.

pengalaman. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.271 (>0. Penelitian ini sejalan dengan penelitian . F. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui. sikap dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%). Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja.112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan. misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif.

sehingga perlu disiapkan . Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. G. pemerintah.043(<0. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi. karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. pihak keluarga. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif.

Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi. . sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. saat jam istirahat. sehingga dirasakan kurang mendukung. tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi. sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. untuk semua karyawan dan pasien.

Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 7. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .7%. 8. 5.1 Kesimpulan 1. 4. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25.115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 6. 2. 3. Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. masih jauh dari target nasional yaitu 80%.

2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat.3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa.116 6. Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI.2. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.2. seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai.2 Saran 6.2. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan).1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui. misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus. 6. cuti . dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat. 6.

Ariani. Susui Aku!. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Jakarta : Depkes RI. Badriul. Jakarta : Depkes. N. Second Edition. Ibrahim. Profil Depkes RI 2007.2010. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi.idai. Nur. Depdikbud. Gerungan.id/asi. Tesis Program Pasca Sarjana UI. Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab.W. 2008. Tesis FKM UI. Nia. IDAI. .W. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. Hegar dkk. Jogyakarta: Flashbooks.Bandung:PT Refika Aditama. Mayfield Publishing Company. Tesis FKM UI..A. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. Skripsi FKM UI. Depok. Bedah Asi. 2005. http://www. Tilaili.W. L. Langkat. Depkes RI. Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional. Penerbit. Kendala Pemberian ASI eksklusif. 2011. Hartatik. 2003. Ibu. 2009. ASI atau Susu Formula ya?. 2004.2000. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch. Depdiknas. edisi kedua). Laksono. 1982. M. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh. Daldjoni. Depkes RI.Psikologi Sosial. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009. Afriana. Jakarta: Depdiknas Green. dr. Kristina. 2010. Kreuter. Bandung: Alumni.or. Yogyakarta: Media Baca. 2001. Depok Kodrat. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. 2004. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia. Houston. Yogyakarta: MedPress. 2010. 2000.DAFTAR PUSTAKA Arif. 2010. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.asp.1996. 2008. Bandung : Khazanah Intelektual. Jakarta: Balai Pustaka FKUI.

unc. Maisni. PhD. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum. 2008. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : PT. Dwi sunar. Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s. http://library. 2001. Roesli.usu.. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . Sarwono.M. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. Siregar. Yogyakarta : Diva Press Purwati.Tessa Wardlaw. A. David Clark. Sidi. diakses 24 Juni 2011. Konsep Penerapan ASI eksklusif. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi.MD. Childa.id/download/fkm/fkm-arifin. Notoatmodjo.. Unika Atma Jaya.2003. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. Jakarta: Balai Pustaka.MPH. Depok. Hubertin. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. http://www.pdf.Yogyakarta: Flashbook. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu. Nur. S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.sph. 1992.. 1994. Sarlito Wirawan. Tesis FKM UI. 1995. 2011. Skripsi FKM UI. Ieda Poernomo Sigit. PhD. and Nancy Terreri. Buku Pintar ASI Eksklusif. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Jawa Barat. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi. ASI atau Susu Formula ya?. 1999. U..Khasanah. 2004. diakses 24 Juni 2011. S. MPH.Ann Blanc.2006. 2005. U. 2007. Jakarta : Depkes RI. S.pdf. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya. 2009.LLB (Hons). Notoatmodjo. R. Dra. Prasetyono. Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya.. Roesli. Depok. Jakarta : Rineka Cipta.ac. dkk.eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006. Miriam H. 2003. Jakarta : Rineka Cipta. Unicef. Labbok. 1998. Jakarta : Trubus Agriwidya. Marini.

G. Jakarta: Balai Pustaka. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif. DR. diakses 24 Juni 2011. 2008. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. F. Metode Penelitian Administrasi. 2004.wordpress. Vol 1.http://asiku.2008. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Prof.Kes. 1999. 2009. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. Psikologi Sosial. Jakarta: ECG Setyowati. Psikologi untuk Perawatan. Jurnal Kesmas Nasional. Winarno. Wicitra. Sugiyono. No. World Health Organization. Geneva. Sarlito. Switzerland: World Health Organization . Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah. 2010. Sunaryo.1987. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. M.2008. Jakarta: EGC. SKp.. Metodologi Penelitian Kesehatan.Sitaresmi. Bandung: Alfabeta Saryono. Global strategy for infant and young child feeding. United Nations Children’s Fund. 2003. Gizi dan Makanan. Sutama. 1997.N.1. Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”. Soetjiningsih.. Rahardjo.M.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/.. 2009. Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan. diakses 24 Juni 2011.

meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun. saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”. Sebelum menjawab pertanyaan. Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini. penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian. Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. JAKARTA . Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. JAKARTA Ibu yang terhormat.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA.

..........telp...................................... Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian................................... Pendidikan :.. Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”............... ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) . 2011 Yang membuat pernyataan....No............. Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi............. ................FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : .......... Jakarta ........ ..................................... Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran..tahun .....................................................

............. pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda............... Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ..............................A. bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B.................... SKM) Usia Bayi : ................... mineral................. ............ C. ..... Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia.......... Identitas Responden NO.......... obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan................... jika ada? ................. Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin... tahun SPK Diploma III Strata I (SKp... ...

D. ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan. Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi. Dukungan Suami .NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan.

Tidak G. Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Ya b. Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a. Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b. Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Tidak . Ya b.Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a.

  .

    .

0% N 70 Total Percent 100. The minimum expected count is 6.054 1.152 a.190 . 0 cells (.0 70 70.691 70 1 . (1sided) df a sided) 1 1 1 . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.195 1.259 .0%) have expected count less than 5.0% N 0 Missing Percent . Sig.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 26 26.304 .69.0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32.7 18 18.0 Chi-Square Tests Asymp.3 52 52.0 ASI eksklusif 9 11.193 b Exact Sig.716 1.3 9 6. (2sided) Exact Sig.0 Total 44 44. b. Computed only for a 2x2 table       .681 .7 17 19.

0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3. 3 cells (50.0 Total 5 5.609 a df 2 2 1 sided) .7 52 52. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.0 13 13.3 10 13.0 Chi-Square Tests Asymp.0% N 0 Missing Percent .570 10.29.667 70 a.0%) have expected count less than 5.3 18 18.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 52 52.0% N 70 Total Percent 100.0 ASI eksklusif 0 1.0 70 70.4 8 3.001 11.       . The minimum expected count is 1.7 42 38.003 .6 5 9.003 . Sig.

7 12 12.841 b Exact Sig.3 36 35.Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.000 . b.0% N 70 Total Percent 100.0 ASI eksklusif 6 5.0 70 70.040 70 1 .66.041 1. 0 cells (.7 52 52. (1sided) df a sided) 1 1 1 .3 18 18.0 48 48. Computed only for a 2x2 table       .840 .041 . Sig.0 Total 22 22.840 1.0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16.0%) have expected count less than 5.529 a. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .000 . The minimum expected count is 5.000 .0% N 0 Missing Percent .0 Chi-Square Tests Asymp. (2sided) Exact Sig.

(1sided) df a sided) 1 1 1 .003 7.1 18 18.0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0%) have expected count less than 5.005 .0 70 70.0 Chi-Square Tests Asymp.005 a.9 52 52. (2sided) Exact Sig.1 27 31. Computed only for a 2x2 table       . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7. 0 cells (.006 b Exact Sig.005 .0% N 0 Missing Percent .601 70 1 .230 8.0 Total 27 27.783 . b. Sig.712 6.013 .0 43 43.0 ASI eksklusif 2 6. The minimum expected count is 6.94.9 16 11.0% N 70 Total Percent 100.

058 . The minimum expected count is 3.34. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .3 15 14. (2sided) Exact Sig.0% N 0 Missing Percent .3 52 52.0 Total 13 13. 1 cells (25.0 70 70.0 57 57. Computed only for a 2x2 table     . Sig. b.0 ASI eksklusif 3 3.0%) have expected count less than 5.0% N 70 Total Percent 100.7 18 18.000 .Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.7 42 42.811 b Exact Sig.057 70 1 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .000 .000 .059 1.809 1.0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9.558 a.808 .0 Chi-Square Tests Asymp.

256 b Exact Sig.152 . (1sided) df a sided) 1 1 1 . The minimum expected count is 1.0 Total 4 4. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1. Computed only for a 2x2 table     .0% N 0 Missing Percent .Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.252 . 2 cells (50.0 52 52.0 16 17.0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.0 18 18. b.0 ASI eksklusif 2 1.271 a. (2sided) Exact Sig.579 .271 .291 70 1 .0 50 49.283 1.310 .0% N 70 Total Percent 100.03.308 1.0 66 66. Sig.0%) have expected count less than 5.0 Chi-Square Tests Asymp.0 70 70.

799 b Exact Sig.0 70 70. The minimum expected count is 2.3 7 6.7 52 52.797 1.0 Chi-Square Tests Asymp.0%) have expected count less than 5.Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 Total 61 61.0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases . Computed only for a 2x2 table   . (1sided) df a sided) 1 1 1 .065 70 1 .580 a.3 18 18.0 9 9.000 . 1 cells (25.000 . (2sided) Exact Sig.0% N 70 Total Percent 100.0% N 0 Missing Percent . Sig.066 .000 .068 1. b.31.795 .0 ASI eksklusif 16 15.7 2 2.

  .