P. 1
Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan

Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan

|Views: 667|Likes:
Published by onealjhee

More info:

Published by: onealjhee on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2014

pdf

text

original

SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

SKM. MPH. dukungan. 6. Dalam penyusunan skripsi ini. Alief. atas doa. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. RS Medistra. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. MBBS. 4. Bapak Idrus Jus’at. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. Ibu dr. 3. Teristimewa untuk suamiku. tetap semangat ya teman. MSc. Untuk itu. Channe. semangat. Dr. MRCOG(UK). dukungan satu sama lain. Mayang Anggraeni. 5. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis. penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Ibu Iskari Ngadiarti. Robert J. Ibu Intan Silviana Mustikawati. terima kasih untuk saling memberikan masukan. sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. Dadan “dudul”. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang. tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden. SKM. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan. FRCS. SpOG. 8. kasih sayang. 7. Ph.D. viii .

Owen & Jason. yang selalu menjadi kebanggaan. 11. Mohamad Margha. semoga suatu hari bisa seperti babeh. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis.9. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Audric. 16 September 2011 Penulis viii . 10. MSc (alm). Ayah tercinta. Drs. penghiburan dan sumber kekuatan penulis. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. My beloved boys. Jakarta. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua. semuanya sangat berarti.

...................................1..........2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi ........1.....6 Alasan Pemberian ASI eksklusif .......................................................... 2........................................... 11 11 14 24 26 31 2..1......1 Latar Belakang ......................................................................................................... 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2........1..................................................................................................................................... 8 Perumusan Masalah ................. 1 1. i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT .2 1.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2...............................1..............................1 Kerangka Teori .......... DAFTAR TABEL .6 BAB II Identifikasi Masalah .......... 2.. v ii RIWAYAT HIDUP……………………………………………………............ vi KATA PENGANTAR ..................................................................... ABSTRAK……………………………………....................5 1....4 Kandungan Gizi ASI ......7 Teknik Menyusui ............. vii DAFTAR ISI .......... BAB I PENDAHULUAN 1........................................................................5 Manfaat ASI .....................................1...............................................................3 1................3 Komposisi ASI ............. 9 Tujuan Penelitian ............................... 9 Manfaat penelitian .... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN……………………………………......... 6 Pembatasan Masalah ............... 39 ix ............................. DAFTAR GRAFIK .............................................................. 2............... iv PENGESAHAN SKRIPSI ……………………………………………......................1......................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............. 37 2...... DAFTAR GAMBAR .................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ....................................................... 2................................4 1.........................................................................................................................

............................ 79 Instrumen Penelitian .................. Sarana menyusui di tempat kerja 2............ Pendidikan Ibu C............... Sikap D... Langkah-langkah menyusui yang benar C.....................4 3.....1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ..9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2........................ 4.............................. Lama Waktu Kerja E..... Dukungan Atasan H......................... 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. 78 Teknik Pengambilan Sampel........... Posisi & pelekatan menyusui B.................................................................. 79 Pengujian Hipotesis . Pola menyusui bayi E. Lama & frekuensi menyusui D....................................3 3.......................1..8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif .....................................4 Kerangka Berfikir ......................2 3...................1 Deskripsi Umum .... Pengeluaran ASI / ASI perah 2........ 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3................... Dukungan Suami G................A.................. Hipotesis ........... Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F............... Umur B........ 90 90 ix .......................1....3 2... Kerangka Konsep ................ 56 A............................... 78 3..1 Tempat dan waktu penelitian ......2 2..............5 Metode Penelitian ......1..............

1 6.......2. 4.. Saran ............... BAB V PEMBAHASAN 5.......................................................... 4.........1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta .................1..............2.......................................................... 91 92 92 102 109 4..............................1 Analisa Univariat ....4............................... 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix ...................................................................... 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 5.......................2 Analisa Bivariat ...2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta......................................................... 4.....2 Deskripsi Data ........................2 Ketenagaan ......2...............................................2 Kesimpulan .........3 Keterbatasan Penelitian ....

...................................................... 37 Tabel 3....... 103 ix .. Tabel 4.........3 Instrumen penelitian untuk variabel independen ................... susu sapi............. Tabel 4..............2 Skoring untuk variabel dependen ........................................ 102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4.....2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra ...........12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ........................................................ Tabel 4.....4 Skoring untuk variabel sikap .......................................................1 Komposisi kandungan ASI ...................................................8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra ............. susu formula ............ Tabel 4..................................... Tabel 3........................ Tabel 4............. Tabel 4........ Tabel 3.............................................................. Tabel 3................ Tabel 4..............1 Ketenagaan RS Medistra .4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra ..6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra .........................2 Ringkasan perbedaan ASI.................................................... 25 Tabel 2....................................................1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen .............................................................................................10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra ........................................7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra .....11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .. Tabel 4........................ Tabel 4.............5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra .... Tabel 4......9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra ............................DAFTAR TABEL Tabel 2...........................................3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra ............. Tabel 4..................

......17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra...... 104 Tabel 4.............................................16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ...................13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .......Tabel 4.................15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .... 108 107 106 105 ix ........ Tabel 4............ Tabel 4... Tabel 4.....14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .......................................

............................................10 Definisi menyusui ............... 25 Gambar 2...... 44 Gambar 2............. 54 Gambar 2.. ASI awal dan ASI akhir ................................8 Posisi pelekatan menyusui .............................................3 Gambar 2..............4 Gambar 2...................................................5 Payudara tampak depan ...13 Tempat penyimpanan ASI perah ....DAFTAR GAMBAR Gambar 2............................................................................................................ 40 Gambar 2.......................... 16 Bentuk-bentuk puting susu ............ 22 Gambar 2............... 48 Gambar 2. 15 Struktur anatomi payudara ................ 40 Gambar 2................................. 55 Gambar 2.........................................12 Pompa tangan & pompa elektrik ..............................15 Hubungan sikap dan prilaku .......... 63 ix ......14 Mencairkan ASI perah ........................2 Gambar 2................. 51 Gambar 2........................ 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi ...7 Posisi menyusui....11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI .......... 20 Respon Penyusuan ............6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum.....................................................................................................1 Gambar 2.............................................................9 Teknik menyusui .. 42 Gambar 2.................................

...................................................DAFTAR GRAFIK Grafik 4..........................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ................................. 93 Grafik 4................................... 101 ix ................1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra ..................................... 95 Grafik 4........................................................ 98 Grafik 4...5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .....................2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra ....................7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ..........................................................................................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra ........ 97 Grafik 4.......................................... 99 Grafik 4............ 94 Grafik 4............ 100 Grafik 4......................3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra ............................4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra ....

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. bubur nasi.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu. Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. sebagai makanan utama bayi. air teh. ASI bukan minuman. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu. sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi.1 BAB I PENDAHULUAN 1. madu. seperti pisang. dan air putih. 2009). sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. jeruk. Setelah usia bayi 6 bulan. dan nasi tim. kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. biskuit. sangat dianjurkan (Arief. bubur susu. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. 2001). bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. 2005). . seperti susu formula. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. serta tanpa tambahan makanan padat.

2 World Health Organization (WHO. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi. saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah. 2010). . karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi. Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32). Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. 2004). Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI.6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001.5% pada tahun 1989 menjadi 24. Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37.

Semarang.000 balita di Indonesia. dipeptid.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF).2005).9% (Sutama.3%. bayi yang diberi susu selain ASI. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15.dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16. 2003). . Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta. karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino. sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita.dkk. Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30. heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak. sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002. Menurut WHO (2000). dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI. jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula. Surabaya. mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare. 2008).9% menjadi 7.8%.7% menjadi 27.

Banten. sedangkan pedesaan 6-19%. Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan. menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%.2008).4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar. Sulsel). Jabar. 2001). NTB.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Jatim. ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat.2010). Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). Faktor lain yang . Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. Lampung. Jateng. sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes.

hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja. 1999). Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. .5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang. Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono. 2003). Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir.

ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya). merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah.6 Berdasarkan permasalahan diatas. Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. faktor spesifik (IgA sektori. 1. diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut. mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). . karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi. radang selaput oak.2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting. mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis). mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna.zat kekebalan).

salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Faktor yang berasal dari dalam individu. diperlukan breastfeeding father. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu. Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. Agar proses menyusui lancar. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif. Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya. Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui. misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. .7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor.

waktu.3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan. B. lamanya waktu bekerja. maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1. sikap.8 1. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.5. biaya dan tenaga. pendidikan.5.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang.5 Tujuan Penelitian 1. identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?. Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.2 Tujuan Khusus A. dukungan suami. 1. kemampuan. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta. 1. .

6 Manfaat Penelitian 1.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif.9 C. 1. G. H.6.1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. E. Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 1.6. F. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 1.3 Manfaat bagi Universitas . D. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul. .10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan.

1. Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda.1 Kerangka Teori 2.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A. ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang . ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan. Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui. ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan.11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi. Pada saat yang sama. Semasa kehamilan. sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih. 1997). payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah. 2011). ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain. laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu.

Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI. dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. 2010). ASI bukan minuman.12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan. Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. 2009). tanpa tambahan minuman atau makanan apapun. . Selain itu. Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare.

2004). ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. seperti pisang. kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. dan nasi tim. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. biskuit. kecuali vitamin dan mineral dan obat. Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. jeruk. . air teh. 2004). tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. seperti susu formula. dan air putih. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. bubur susu. Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. Dengan demikian. bubur nasi. ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli. 2009).13 B. madu. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. serta tanpa tambahan makanan padat.

sel plasma. yaitu: 1. Ada 3 bagian utama payudara.14 2. mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram.susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3. dengan berat kira-kita 200 gram. Anatomi Payudara Payudara ( mammae. . Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara. sel otot polos dan pembuluh darah. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus).2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus. kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus). jaringan lemak. yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Papilla atau puting. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. yaitu bagian yang membesar 2. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. Korpus (badan). diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Pada waktu hamil payudara membesar. Areola. Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara.1.

1 Payudara tampak depan (a. Badan b. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar. terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran.2 Struktur anatomi payudara . disebut sinus laktiferus.15 Gambar 2. Gambar 2. Areola c.

Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur.3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui. Bila puting dihisap. yaitu bentuk yang normal. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. dengan terbentuknya . yaitu produksi dan pengeluaran ASI. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2. terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI.16 Ada 4 macam bentuk puting. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. B. terutama pada bentuk puting terbenam. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. pendek/ datar. panjang dan terbenam.

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. . semakin banyak ASI yang diproduksi.5 Respon Penyusuan a.20 Gambar 2. Bibir bayi menangkap puting selebar areola b. karena semakin kuat daya hisapnya. Lidah ditarik mundur. Semakin sering bayi menyusu. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar. Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak.

Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. setelah payudara disusukan. Bila kemudian bayi disapih. Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya. alveoli akan terbentuk kembali. maka akan terasa kosong dan payudara melunak.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur.3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain.dkk 2003) 2. Kolostrum adalah cairan emas. kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan. cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. Sekresi ASI juga akan terhenti. volume tersebut Volume mendekati .1. Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. refleks prolaktin akan terhenti. siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi. serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran). kolostrum antara 150-300 ml/24 jam.

kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli. ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum.22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi. dengan komposisi yang relatif konstan. C. . ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat. Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat.2001). protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat. ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli.2001). 2010). 2010). Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup. dan kolostrum B. ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya.

Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Ieda Poernomo Sigit. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . Dra.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi.2003.23 Tabel 2. dkk.

6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak. LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi. LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental. merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak. Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan. Asam dokosaheksanoat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi.24 Gambar 2. ternyata bayi-bayi yang . ASI awal dan ASI akhir 2. Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat. Zat-zat tersebut antara lain adalah: A. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi. Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty).4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya.1.

ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya.25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. Seperti juga protein . B. Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi. Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. Walaupun demikian. Penelitian OSBORN membuktikan. protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia. C.

DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan. Fungsinya sebagai sumber energi. E. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. D. dan lain sebagainya. membentuk hormon. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI. Selain itu. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. ALA. kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi.26 dalam ASI. Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain. serta vitamin D. AA. Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia. DHA. .

Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk). Kalsium.0mg/liter). Namun. I. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI.27 F. G. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap. Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang. Oleh karenanya. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan.5-1. jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras. Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya. Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI. H. Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0. Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia). .

L. M.E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi. Selain itu. Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit. K. Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf. terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. taurin banyak terdapat di retina. Vitamin Kadar Vitamin A.B. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan . Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E. Pada mata. D.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi.28 J.C.

1. juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol). Mempererat hubungan dengan ibu. Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. 2. Perlindungan terhadap alergi. Manfaat ASI bagi bayi : 1. 3. 2. Perlindungan terhadap infeksi dan diare. 2010). akan membuatnya merasa aman dan . Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu. karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat. salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi. kemungkinan terserang alergi relatif kecil. Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. N.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A. ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Air Sebagian besar ASI mengandung air. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri.

Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). Mengurangi kegemukan/obesitas. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya. semakin sering . Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. 6. Bagi ibu pekerja. 5. segar. dan tidak pernah basi. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit.30 4. sekembali dari bekerja. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi. Perlindungan dalam penyempurnaan otak. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. aman. sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar. Memperbagus gigi dan bentuk rahang. pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. 8. 7. selalu bersih.

Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng. Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. Menunda masa subur (efek KB). pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid. Memberi kepuasan batin. pemberian ASI lebih praktis dan murah. yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. 4. Manfaat ASI bagi ibu 1. Mengembalikan bentuk tubuh. bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. karena tidak merepotkan. khususnya pada tahun pertama menyusui. 3. Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. B. . ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. 2. Lebih praktis dan ekonomis. menyiapkan air hangat dan sebagainya.31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi.

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

mineral.1. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai. E. zat kekebalan. dan sel darah putih. karbohidrat. hormone. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. enzime. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. D. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A.zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. lemak. vitamin. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi . Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi.35 2. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna. ASI . Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat. C. ASI juga disertai oleh zat. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. B. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia. misalnya zat warna dan zat pengawet. faktor pertumbuhan. F. antara lain zat putih telur.

Selain itu mungkin masih ada masalah lain.1. Ada . Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. atau kelompok ibu pendukung ASI. A. berdiri atau berbaring. Bayi. Selain mengandung protein yang tinggi. kasih sayangnya kepada anak. secara emosional lebih peka/ sensitif. kerabat. terutama pada minggu pertama setelah persalinan. bidan dan lain-lain). Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri. 2. keluarga. Ibu menunjukan cintanya. yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui. Suami. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. juga tenaga kesehatan (dokter. termasuk menyusui. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk.36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi.

bayi ditengkurapkan diatas dada ibu. tangan ibu sedikit menahan kepala bayi.37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar. Pada ASI yang memancar (penuh).7 Posisi menyusui . dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak. bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. dipayudara kanan dan kiri. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola. kedua bayi disusui bersamaan. Gambar 2.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

Gambar 2. .Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara. . Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1.Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu. baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal. .10 Definisi menyusui E. . Tujuan memerah .Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam. .41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan.Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja.Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu.

42 . . . sedangkan payudara dibersihkan dengan air. Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan. Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI.Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya. minumlah segelas air atau cairan lainnya.Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. jika bisa dengan kaki diangkat . yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi. teh atau sup.Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit. Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI. . 2. tempat yang tidak bising.Sebelum memulai. misal susu.Cuci tangan dengan sabun. .Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu. ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan. seperti: .Usahakan untuk santai.Pilih waktu yang tepat. jus.Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu. . . . padaumumnya terjadi di pagi hari.

kemudian. 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang. sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja.43 3. Bila ibu merasakannya. Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. 4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada. . Proses Memerah ASI a. Apabila pada mulanya ASI tidak keluar. ibu dapat menekan disitu. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah. tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. berarti tekniknya salah. Kalau terasa sakit.

Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI. lalu pindah ke payudara satu lagi. 7) Sebaiknya. demikian seterusnya secara bergantian. Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin. 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara.44 maka jangan berhenti. dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut. Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. (a) . 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara. Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar.

45 (b) Gambar 2. gerakannya meniru penghisapan bayi. Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku.11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b. yang ditempatkan di area puting ibu. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan. Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain. perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik. baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik. Oleh karenanya. Sedotan ini dibuat. Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja. Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu. Yang harus diperhatikan. Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan. .

. b) Pompa elektrik . .Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya.46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan .Mudah disterilkan. Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya.Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara.Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan. beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan.Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil.Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk. . . kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh. .Namun. . mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja.

. . (a) (b) .Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan.47 . baterai akan cepat habis.Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat.Jenis pompa ini bersuara (berisik). portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2. Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger). bertenaga baterai. .Pada penggunaan yang teratur.5 kg (unportable).Pompa ini bervariasi dari yang kecil. . ringan .

f. tapi belum dihangatkan. Jika ruangan tidak ber AC. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan. ASI bisa tahan selama 3-4 bulan. bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam. Namun jika di dalam suhu ruangan. .48 Gambar 2. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). ASper beku yang sudah dicairkan. ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam. Penyimpanan ASI perah a. Dengan syarat AC-nya stabil. Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. sisanya tidak boleh diminum kembali. c. d. Jika memiliki freezer yang terpisah.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4. e. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam. Jika ruangan ber AC. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. b. Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan. jangan dibagian pintu. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es.

Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas). 5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol. dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna. Jika menggunakan botol plastik. 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali. sebaiknya botol yang tertutup rapat. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan. . karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama. jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara. Selain itu.

tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah. terpisah dari bahan makanan lain. 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es. letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah. Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu.13 Tempat penyimpanan ASI perah . Gambar 2.50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya. dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan.

agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’. c. Selain itu. bukan ibu. Usahakan diberikan oleh orang lain. lemak susu terpisah. Sebaiknya hindari penggunaan dot. d. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI.51 5. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok. b. atau gunakan alat penghangat botol. Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin.14 Mencairkan ASI perah . kocoklah sampai merata. Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. Penyajian ASI perah a. Jika selama penyimpanan. Gambar 2.

Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja. Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya. tekanan batin). Menjaga kelangsungan produksi ASI.Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: . Menghilangkan bendungan ASI.8 Faktor . . merasa ketinggalan jaman jika menyusui).Faktor sosial budaya (ibu bekerja. e. Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras. orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. .Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. 2. mencegah payudara bengkak. c. bepergian atau sakit). f. meniru teman. d. Manfaat ASI perah a. Ketika ibu membutuhkan istirahat.52 6.1. b. tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol. Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah. g.

pekerjaan. tradisi. . 2. pengalaman.Faktor fisik ibu (ibu yang sakit.53 . tingkat sosial ekonomi. panas dan sebagainya). jarak ke pelayanan kesehatan. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu. ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) . sarana dan prasarana. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1. terutama mereka yang bekerja. Green dalam Notoatmodjo (2007). Menurut Laurence W. tingkat pendidikan. pengetahuan petugas. sikap. keyakinan. kepercayaan.Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. kepercayaan/ tradisi/ nilai. . misalnya mastitis. peran petugas. Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. umur. dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia. keterjangkauan informasi kesehatan.Meningkatnya iklan susu formula. yang mencakup: pengetahuan. .

semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina.54 3. Oleh karena itu. 1982). semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat. Maka semakin tua umur ibu. Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud. dukungan suami. dukungan atasan. 2001). Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. dukungan keluarga. Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang . 2008). Dari segi kepercayaan masyarakat. A. Menurut Notoatmodjo (2003). seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan.

1987). Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. kehamilan dan kelahiran. terutama pada usia 20-35 tahun. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif. Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun. . Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. 2008). Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. terjadi pada masa dewasa dini. Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu. Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa.

Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku. memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0. Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. B. Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. pendapat dan konsep-konsep. misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. 2003). pengertian. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. 1997).56 Ibrahim (2000). . membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003).05).

57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak . Secara luas. dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku. Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI. opini. pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. dalam untuk Gerungan. C. yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar. perlakuan. dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. 2004). Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. minat. Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja. Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan. Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo.1996). nilai dan perilaku suatu (Myers. 2005). baik secara formal maupun informal.

namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan. prilaku. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya.Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). situasi.58 menyenangi obyek tersebut. sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang.1999) . Misalnya. konsep. (Notoatmojo.Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) . affektif (perasaan) dan behavior (perilaku). . 2007) Ciri khas dari sikap adalah. benda dan sebagainya). Sikap adalah bagian dari perilaku. . 1999).Mempunyai objek tertentu (orang.

baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan .59 Gambar 2. D.15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu. juga harus bekerja diluar rumah. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja. dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan. Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya.

karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui.182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. . lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli. 2009). Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. 2008). Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1. Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari.60 yang cukup. Pada ibu bekerja. Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul. minimal 8 kali sehari. Menurut Marini (1998). maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah. 2009).

reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. dan lama bayi mengisap. Akibat stimulus isapan. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. Let-down reflex mudah sekali terganggu. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. yaitu frekuensi. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. kurang percaya diri. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . Ibu yang gelisah. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. intensitas.61 E.

Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105). Namun penelitian Afriana . menggendong bayi. F. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani. seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi. Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli.62 bantuan praktis lainnya. atau memijat bayi. Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. 2001). maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu.2009).

Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor. bandara dan sebagainya. Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja . mall.63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif. sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. H. stasiun. pihak keluarga. pemerintah. bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak.

mastitis dan abses. Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. 4. Ibu bekerja. Produksi ASI kurang. menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. Kelainan ibu: puting ibu lecet. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa. Kelainan bayi: bayi sakit. 2. engorgement. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . 3. Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut. payudara bengkak. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi).64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. 8. yaitu: 1. 7. 5. Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar. abnormalitas bayi. puting ibu luka. 6. Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif.

Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. 4. mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek. 2. Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya. 3. kakek. mertua. pada umumnya. Meniru teman. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). Sebab.

keluarga. dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua. Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin.66 Distribusi. surat kabat.12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. Kepentingan terbaik bagi anak. Hak tersebut mencakup: 1. 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003).9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan. Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no. 2. 36 Tahun 2009: A. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat. Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek. Hak kelangsungan hidup.1. iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. Nondiskriminasi. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi. masyarakat dan negara. kecuali atas indikasi medis. radio. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan. (untuk bayi dan ibu). . 2. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. 3. 4.

D. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. C. pasal 191. pasal 198. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. pasal 196. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.000. selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan . pihak keluarga. pasal 197. Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1).67 (2) Selama pemberian air susu ibu. pasal 192. pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi. pemerintah.000 (seratus juta rupiah). B. Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 100.

pasal 198. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. pasal 197. ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan. Dengan ini. pasal 191. telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi. ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI. Pencabutan izin usaha. mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis. dan/ atau b. pasal 192. pasal 199 dan pasal 200. Berkaitan dengan hal tersebut. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1).68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). pasal 196. . Untuk mendukung hal tersebut.1997). berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO. Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut.

reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap. 2. pekerjaan.69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. madu.2010). biskuit. serta tanpa tambahan makanan padat. sistem nilai. Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. sikap. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan. jeruk. tradisi. tingkat pendidikan. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia. dan nasi tim. seperti pisang. kepercayaan. Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. seperti susu formula. hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. dan air putih. Faktor . tingkat sosial ekonomi.2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. air teh. bubur nasi. Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani. bubur susu. ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. Ternyata.

dukungan suami. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat. . undang-undang. sarana dan prasarana. jarak ke pelayanan kesehatan. keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. pengetahuan petugas. akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut.70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya. dukungan keluarga. peraturan. peran petugas. Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi.

Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja. sikap. sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami. tingkat pendidikan ibu. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif.71 2. terdiri dari umur ibu. Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : . dukungan atasan.3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti.

Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 4. 7. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 5. 6. 2. 3. Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .72 2. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

73 BAB III METODE PENELITIAN 3.September 2011 3. 3.2. artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan. yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan.2 Metode Penelitian 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus .2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional.2. .

mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang. sikap.4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur.3 Teknik Pengambilan Sampel 3.1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian). 3. pendidikan. . lama waktu bekerja. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen. 3.3. dukungan suami.74 3. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. dukungan atasan.3. Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra.

dan air putih. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. bubur nasi. biskuit. kecuali vitamin dan mineral dan obat. serta tanpa tambahan makanan padat. air teh.75 3. bubur susu. madu. serta tanpa tambahan makanan padat. kalsium dan mineral seperti susu formula.4. biskuit. seperti susu formula. dan nasi tim. bubur susu. jeruk. 2. seperti pisang. air teh. dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. jeruk. .1 Variabel Dependen A. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak. vitamin. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. dan air putih. seperti pisang. B. madu. bubur nasi.

dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data.Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses. jika terdapat data yang salah.Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer. Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak. . Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif. . .76 C. dibersihkan dalam proses cleaning ini. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: . responden menjawab sesuai dengan keadaan.Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua. .

2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : .4.2 Variabel Independen A.77 Tabel 3. vitamin dan mineral Tabel 3.Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat.1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel . Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan.Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator . .jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3. Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1.jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali .

Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI. 6. 7. 3. 3. Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1. 4. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. B. 5. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif.78 2. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. 2. . Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan.

79 4. Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. . 6. 5. Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. 7. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden. Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban. nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden. C. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban. Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan.

6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif. Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari.2 5.80 Tabel 3.3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 . < 8 jam ≥ 8 jam 1.

yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. Coding. lama waktu bekerja. yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik.1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. sikap. 3. pendidikan. sarana menyusui di tempat kerja).5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer. dukungan atasan.81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3. A. dukungan suami. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing. Yang . Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur.5.

5. .Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . . maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B.05 3.2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen. HO : P1 = P2 . Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0.Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.83 . . .Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . . .Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ha : P1 ≠ P2 . B.Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .84 .

sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis.85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra. Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5. Baktiparamita Putrasama. Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis. Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan. Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT.

4.5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik. Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra.2 Ketenagaan Tabel 4.86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir. medical check-up. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang.1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).1. Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7. Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) . .

2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian.2% 62.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37.8%). Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. yaitu analisa univariat dan analisa bivariat.1 Analisa Univariat A.2. 4.8% Dari tabel 4. Umur Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra . Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.87 4.2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62.

88 B. Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7.1% 74. Pendidikan Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi.3% 18. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.6% Dari tabel 4.3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.

4%). Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68.89 C. Lama Waktu Bekerja Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68.6% 31.4% Dari tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam. Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.

8% 4.933. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50.2% 2.3% 1.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.3% 7.8% 8. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.8% 5.8% 7.4% Standar Deviasi : 7.4% 11.2% 1. didapatkan nilai median= 38 .8% 4.8% 2.8% 4. standar deviasi (SD) = 7.8% 2.4% 8.3% 5.4% 1. Sikap Tabel 4. .90 D.8% 2.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4.4% 2.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37.5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif.6% 1.3% 2.6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5.

4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja. Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.91 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per .6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.6% Dari tabel 4. Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38.6%).4% 38.6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61.

7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81.6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81. Dukungan Suami Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .6% Dari tabel 4.6%).92 E.4% 18. Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18.4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja.

Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.7% Dari tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94.7%).3% 5. Dukungan Atasan Tabel 4.93 F.6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra .7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94.3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja.

8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87.9%).9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12.1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya.1% Dari tabel 4.9% 87. Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12. Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4. Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.94 G.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .

3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25. Pemberian ASI eksklusif Tabel 4.7% 74.8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.3% Dari tabel 4. Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.7%).95 H.

4 79. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta.2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur.5 25. Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. A. .6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20.11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34.05). dukungan atasan.6 20.5%). lama waktu bekerja. sikap.05 atau 5%. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0. dukungan suami.96 4.5 74.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65.190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34. Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0. pendidikan.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0.2.

7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80.8 38.5 74. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif . B. Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. C.5%). Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.2%).190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima.2 61.5 25.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61. D III (19.97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0.

98 Tabel 4. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3 25.13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27.3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0.3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%). Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72. D.7 74.840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.

3 95.7 4.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .99 Tabel 4.7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.8 25.8%).009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34.7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.2 74.

092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.100 E. . Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.8 7.7 25.7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29.8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7.3 74.3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0. Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29.2 92.7%).

2%). Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24.7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75.101 F.2 50 25. . Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24.8 50 74.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.

.7 74.6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21.043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima. Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3 25.4 78.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55.6 21.043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.102 F.3%). Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman. sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun. Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat.2. ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui.4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun.103 4. . Dari sisi responden. terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias.

7%. madu dan air putih. ASI eksklusif memiliki banyak manfaat. atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis. sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. World Health Organization (WHO. juga melindungi bayi dari . Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal.104 BAB V PEMBAHASAN 5. Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif. Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan. 2009). yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25.

termasuk perawat. Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif. Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam.2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A. tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta . RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang.105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya. karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. 5. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan.

Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Namun dalam penelitian pada responden perawat ini. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda.190 (> 0. dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif. pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat.6%. Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi. materi ASI eksklusif . karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif.106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif. karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI.

D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang.107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan.5%. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang.003 (< 0. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. B. . Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61. Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif.

2003).108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan. Begitu juga sebaliknya. maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Koordinator Pengembangan Perawat dan . Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif. C. pendapat dan konsep-konsep. Ketua Tim Perawatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. pengertian. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo.

05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif. Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya.3%. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27.109 lain.lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift. Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian .840 (> 0. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi. sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja. sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.

Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang.005 (<0. sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas. D.110 ASI eksklusif.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian Unika .7%). termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif. karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34.

misalnya keluarga. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. E. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. tekanan jiwa dan gangguan pikiran.8%). Let-down reflex mudah sekali terganggu. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang .092 (>0. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami.111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui. karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami.

misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan. pengalaman. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%).112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan. Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui. sikap dan lain sebagainya.271 (>0. Penelitian ini sejalan dengan penelitian .05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif. F.

pemerintah. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. sehingga perlu disiapkan .043(<0.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. G. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi. pihak keluarga. karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

saat jam istirahat. Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi. sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik. sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat. sehingga dirasakan kurang mendukung. . untuk semua karyawan dan pasien.

115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25. Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 3. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . 6.1 Kesimpulan 1. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . 8. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 2. masih jauh dari target nasional yaitu 80%. 5. Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 7. 4.7%.

6.2. 6. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan). Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI.116 6.3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa.2 Saran 6.1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui. cuti .2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat. seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus.2. dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat.2.

Tesis FKM UI. Houston.2010. Ariani.. Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional.W. Kreuter.Bandung:PT Refika Aditama. L. ASI atau Susu Formula ya?. Jakarta: Balai Pustaka. Depok Kodrat. Jakarta: Depdiknas Green. Tilaili. 2009. Afriana. Ibrahim. Yogyakarta: MedPress. 2010. Nia. 2008. 2003. 2008. M. Badriul. Kristina. . Langkat. Depdikbud. Mayfield Publishing Company. Depkes RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Depkes.W. Kendala Pemberian ASI eksklusif. 2001. Skripsi FKM UI. Depdiknas. Susui Aku!. Ibu. 2010.or. Yogyakarta: Media Baca. Hegar dkk.idai. Nur. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. Laksono. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. 2000. Second Edition. Jakarta : Depkes RI. 2004.DAFTAR PUSTAKA Arif. Bandung : Khazanah Intelektual. 2004.2000. Hartatik. Gerungan. Tesis FKM UI.1996. edisi kedua).W. Depkes RI. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh. 1982. Daldjoni. Profil Depkes RI 2007. Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. N.Psikologi Sosial.A. dr. Penerbit. IDAI. http://www.asp. 2011. Bedah Asi.id/asi. Tesis Program Pasca Sarjana UI. Depok. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi. Jogyakarta: Flashbooks. 2005. Bandung: Alumni. Jakarta: Balai Pustaka FKUI. 2010.

Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Depok. 1999. R. 1992. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi.. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan..Ann Blanc. Unika Atma Jaya. diakses 24 Juni 2011. 2009. Depok. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya. Miriam H.. Konsep Penerapan ASI eksklusif. Hubertin. PhD. Buku Pintar ASI Eksklusif. Sarwono. Dra.Tessa Wardlaw. Roesli. Siregar.2006.unc. Marini.2003. http://www. Maisni. Notoatmodjo. Prasetyono. David Clark.LLB (Hons). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya. Roesli. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. Skripsi FKM UI. Labbok. Notoatmodjo. Jawa Barat. U. Jakarta : Trubus Agriwidya.. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. 2001. ASI atau Susu Formula ya?. 2003. 2005. MPH. 2011. Ieda Poernomo Sigit. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. Jakarta: Balai Pustaka. A. Jakarta : PT.sph. Yogyakarta : Diva Press Purwati. 2008. Childa. and Nancy Terreri.MPH. dkk. S. 1994. http://library. Jakarta : Depkes RI.M. Jakarta : Rineka Cipta. Tesis FKM UI. U.pdf. Nur. S.ac. Jakarta : Rineka Cipta.pdf. 2007. 1998. 1995. 2004. Mengenal ASI Eksklusif.. S.Yogyakarta: Flashbook.eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006. Dwi sunar.Khasanah. Unicef.id/download/fkm/fkm-arifin. PhD.usu. Sidi. Sarlito Wirawan.MD. diakses 24 Juni 2011. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum.

diakses 24 Juni 2011.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/. Wicitra.wordpress. Jurnal Kesmas Nasional.M.http://asiku. 2003. 1997. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2009.. Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. F. 2004. Metode Penelitian Administrasi.2008. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. Rahardjo. Geneva. 2009. Jakarta: ECG Setyowati. Psikologi untuk Perawatan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.Sitaresmi.G. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif. DR. Jakarta: Balai Pustaka. Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”.N. Sugiyono. Switzerland: World Health Organization . Sutama.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah. Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan. 2010. Psikologi Sosial. Sunaryo.1987.2008. 2008. 1999. Gizi dan Makanan. Global strategy for infant and young child feeding. World Health Organization. Bandung: Alfabeta Saryono. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. SKp. Soetjiningsih. Prof. United Nations Children’s Fund.Kes.. Winarno. Sarlito. M. Jakarta: EGC.1. No. Vol 1. diakses 24 Juni 2011..

meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis. Sebelum menjawab pertanyaan. JAKARTA Ibu yang terhormat. Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian. Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. JAKARTA . saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”.

Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran......... Pendidikan :....... ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) .............................................................. .................tahun .........telp.................... .... 2011 Yang membuat pernyataan.............. Jakarta .No...................... Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”......FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : .. Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi...................................................................... Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian..............

.. Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ........ mineral......................... ................ pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda...A....... bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B......... Identitas Responden NO.......................... C........... SKM) Usia Bayi : ..... .... obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan............. jika ada? ....... Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia................................... ........... Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin............... tahun SPK Diploma III Strata I (SKp.

D. Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi. Dukungan Suami . ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan.NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan.

Tidak . Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b. Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a.Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a. Tidak G. Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Ya b. Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Ya b.

  .

    .

(1sided) df a sided) 1 1 1 . Computed only for a 2x2 table       .69.7 17 19.0% N 70 Total Percent 100.3 9 6.681 .195 1.0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.3 52 52.0%) have expected count less than 5.190 . b. Sig. The minimum expected count is 6.193 b Exact Sig.0 Total 44 44.152 a. 0 cells (. (2sided) Exact Sig.0% N 0 Missing Percent .691 70 1 .054 1. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.716 1.7 18 18.259 .0 ASI eksklusif 9 11.0 26 26.0 70 70.304 .0 Chi-Square Tests Asymp.

(2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.3 10 13.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.4 8 3.6 5 9. 3 cells (50. Sig. The minimum expected count is 1.7 42 38.7 52 52.       .0% N 0 Missing Percent .0%) have expected count less than 5.001 11.0 ASI eksklusif 0 1.003 .0 Total 5 5.0 70 70.0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3.667 70 a.29.0 Chi-Square Tests Asymp.570 10.3 18 18.609 a df 2 2 1 sided) .0 13 13.003 .0 52 52.0% N 70 Total Percent 100.

Computed only for a 2x2 table       .0% N 0 Missing Percent .529 a.040 70 1 .0 ASI eksklusif 6 5.0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16. (1sided) df a sided) 1 1 1 . b. Sig.000 .840 1.0 Chi-Square Tests Asymp.3 18 18.000 . (2sided) Exact Sig.7 12 12.041 1.0 48 48.7 52 52.3 36 35. 0 cells (. The minimum expected count is 5.0 Total 22 22. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.041 .000 .0% N 70 Total Percent 100.840 .0%) have expected count less than 5.841 b Exact Sig.0 70 70.66.

Sig. Computed only for a 2x2 table       .005 .0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20. b.0% N 70 Total Percent 100. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7.0 43 43.601 70 1 .1 27 31.0 ASI eksklusif 2 6.230 8.0%) have expected count less than 5.94.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 Total 27 27.9 16 11.1 18 18.783 .9 52 52.0 Chi-Square Tests Asymp. The minimum expected count is 6.0 70 70. (1sided) df a sided) 1 1 1 .005 a.712 6. 0 cells (.006 b Exact Sig.013 .003 7. (2sided) Exact Sig.005 .0% N 0 Missing Percent .

b.3 15 14. (2sided) Exact Sig.0 70 70.057 70 1 .811 b Exact Sig. Computed only for a 2x2 table     .000 .3 52 52.0%) have expected count less than 5.7 18 18. 1 cells (25.0 ASI eksklusif 3 3.0 Total 13 13.809 1.0 57 57.0 Chi-Square Tests Asymp. (1sided) df a sided) 1 1 1 . Sig.058 .Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. The minimum expected count is 3.558 a.0% N 0 Missing Percent . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9.808 .059 1.34.0% N 70 Total Percent 100.000 .000 .7 42 42.

256 b Exact Sig. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.0%) have expected count less than 5. Computed only for a 2x2 table     . Sig.152 .579 .0 16 17.252 .0% N 70 Total Percent 100. (2sided) Exact Sig.0 52 52.03.0 Total 4 4.310 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 66 66. b.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. 2 cells (50.0 Chi-Square Tests Asymp.291 70 1 .271 .283 1. The minimum expected count is 1.0 18 18.271 a.0 70 70.308 1.0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.0 ASI eksklusif 2 1.0 50 49.0% N 0 Missing Percent .

31.066 . The minimum expected count is 2. Computed only for a 2x2 table   .795 .797 1. (1sided) df a sided) 1 1 1 .000 .799 b Exact Sig.065 70 1 .0 ASI eksklusif 16 15. (2sided) Exact Sig.0%) have expected count less than 5. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .7 2 2.0 Chi-Square Tests Asymp.7 52 52.0% N 70 Total Percent 100.0 9 9.0 70 70. Sig.000 .000 .0% N 0 Missing Percent .3 18 18.580 a.068 1. b.0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45. 1 cells (25.Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 Total 61 61.3 7 6.

  .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->