SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

D. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. Dadan “dudul”. 4. viii . MPH. atas doa. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2. Channe. dukungan. RS Medistra. Mayang Anggraeni. Ph. 3. FRCS. tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. SKM. Dalam penyusunan skripsi ini. Alief. Untuk itu. penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. Robert J. Ibu Iskari Ngadiarti. SKM. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. MBBS. 6. Bapak Idrus Jus’at. 7. MRCOG(UK). semangat. Ibu Intan Silviana Mustikawati. kasih sayang. 5. SpOG. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang. terima kasih untuk saling memberikan masukan. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. Ibu dr. sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis. tetap semangat ya teman. Dr. Teristimewa untuk suamiku. 8. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. dukungan satu sama lain. MSc. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan.

Mohamad Margha. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. 11. My beloved boys. teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Drs. 16 September 2011 Penulis viii . Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua. penghiburan dan sumber kekuatan penulis. Ayah tercinta. Owen & Jason. 10. yang selalu menjadi kebanggaan. semuanya sangat berarti. semoga suatu hari bisa seperti babeh. atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis. Audric. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. MSc (alm).9. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari. Jakarta.

..........3 Komposisi ASI ................................. ABSTRAK…………………………………….......1.................................................. 2..... 37 2.................... 2........6 Alasan Pemberian ASI eksklusif ....................................... DAFTAR GRAFIK ......................................................................................... 6 Pembatasan Masalah ... DAFTAR TABEL ........................... 9 Manfaat penelitian ... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN……………………………………............................ i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT ......................1 Latar Belakang . 1 1.......... 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2......................................................... 2............... v ii RIWAYAT HIDUP……………………………………………………............1...........................................................................................6 BAB II Identifikasi Masalah ...4 1............................................................................................. vii DAFTAR ISI ..................................................................1............................................................................4 Kandungan Gizi ASI .....................................2 1...................1........................ BAB I PENDAHULUAN 1.....................................1...... 9 Tujuan Penelitian ........1.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....... 8 Perumusan Masalah ..................5 Manfaat ASI ............................................... 11 11 14 24 26 31 2............................................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................5 1...1 Kerangka Teori ............... 39 ix ........ vi KATA PENGANTAR .............. 2.............1........7 Teknik Menyusui ..............................................2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi ...3 1............1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2.............................................................. DAFTAR GAMBAR .......... iv PENGESAHAN SKRIPSI …………………………………………….............................................................................

..........................................................................4 3.......9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2.......................1................1.......... 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4......... Pendidikan Ibu C...... Dukungan Suami G.......1 Tempat dan waktu penelitian ..................1................... Sarana menyusui di tempat kerja 2..... 4...... Langkah-langkah menyusui yang benar C............... Kerangka Konsep ...5 Metode Penelitian ................................... 56 A......... Pengeluaran ASI / ASI perah 2. 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3................ Sikap D. 78 3.................. Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F............ Posisi & pelekatan menyusui B.............................1 Deskripsi Umum ...................... 79 Pengujian Hipotesis ......2 2. 90 90 ix ................................... Lama Waktu Kerja E....2 3................... 79 Instrumen Penelitian ...............................1 Gambaran Umum Tempat Penelitian .. 78 Teknik Pengambilan Sampel................................ Dukungan Atasan H.... Pola menyusui bayi E..................4 Kerangka Berfikir ............. Umur B.......................A.. Lama & frekuensi menyusui D..........3 2.....8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif ......... Hipotesis ..3 3................................................

...............2 Kesimpulan ......1..........................2............. 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6........... 91 92 92 102 109 4........................... 5...................................................2..................................................... 4.....2 Ketenagaan ..............2.............1 Analisa Univariat ................................... 4...............2 Analisa Bivariat ..................1 6.........................2 Deskripsi Data .... 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix ........................................1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta ........................... BAB V PEMBAHASAN 5....2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta...3 Keterbatasan Penelitian ....4................................................ Saran ...................... 4................

102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4............................................... Tabel 3.................12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .....3 Instrumen penelitian untuk variabel independen .........................................................1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen ................................... Tabel 4............... Tabel 4.................................................10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra ............. 37 Tabel 3........................1 Komposisi kandungan ASI ...........2 Skoring untuk variabel dependen ................................................. Tabel 4..................................4 Skoring untuk variabel sikap ........................................................................ Tabel 3....... Tabel 4..... susu formula ........................................................7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra .... Tabel 4............................. Tabel 4...........DAFTAR TABEL Tabel 2............................................. 25 Tabel 2..................5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra ...................... Tabel 4....6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra ..... Tabel 3..........................4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra ..........................3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra .................................................................................................................. Tabel 4........1 Ketenagaan RS Medistra .........2 Ringkasan perbedaan ASI.....11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ..... Tabel 4................ Tabel 4..............9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra .................................................8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra ... 103 ix .............................2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra ................... Tabel 4.. susu sapi..

....... Tabel 4........... 108 107 106 105 ix .... Tabel 4..............................................................................17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra...................13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ..................... Tabel 4.....15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .......Tabel 4....16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .... 104 Tabel 4.........14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ..

................ 25 Gambar 2........... 15 Struktur anatomi payudara ........................................................................................ 16 Bentuk-bentuk puting susu ...................... 40 Gambar 2......1 Gambar 2. 63 ix ............ 40 Gambar 2..12 Pompa tangan & pompa elektrik ....................... 51 Gambar 2.....................2 Gambar 2....6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum.........DAFTAR GAMBAR Gambar 2......................4 Gambar 2..................................................13 Tempat penyimpanan ASI perah .......5 Payudara tampak depan ......... 42 Gambar 2................................................................. 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi ................ 54 Gambar 2...................................................................................15 Hubungan sikap dan prilaku ...................... 48 Gambar 2........................................8 Posisi pelekatan menyusui .............................. 22 Gambar 2.....................14 Mencairkan ASI perah ................................ 44 Gambar 2..........11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI .... 20 Respon Penyusuan ..................................................... 55 Gambar 2.......9 Teknik menyusui ..10 Definisi menyusui ................... ASI awal dan ASI akhir ........................3 Gambar 2.....................................................................7 Posisi menyusui..................

................ 99 Grafik 4......................................................................1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra ................... 98 Grafik 4...... 100 Grafik 4.................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra ..........................................7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ...4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra .......2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra ........5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra ............. 94 Grafik 4................ 93 Grafik 4........................DAFTAR GRAFIK Grafik 4. 97 Grafik 4...........................................................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ............................................3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra ........................................ 95 Grafik 4........................................................... 101 ix ........................................................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

seperti pisang. kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. 2009). sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. jeruk. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu. sebagai makanan utama bayi. madu.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. seperti susu formula. Setelah usia bayi 6 bulan. dan air putih. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu. biskuit. dan nasi tim. sangat dianjurkan (Arief. bubur nasi. oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. ASI bukan minuman. 2005). Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. serta tanpa tambahan makanan padat. bubur susu. air teh. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. 2001).1 BAB I PENDAHULUAN 1. sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. .

Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32). Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”.2 World Health Organization (WHO. saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah.6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. 2010). 2004).5% pada tahun 1989 menjadi 24. . Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi. serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI. Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37. karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi.

Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta. Menurut WHO (2000). jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7.8%. sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita. . dipeptid.dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16. Semarang. bayi yang diberi susu selain ASI. heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15. sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi.7% menjadi 27.9% menjadi 7. dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI.dkk. karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF). Surabaya. 2003). 2008). Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002.2005).3%.000 balita di Indonesia. mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare.9% (Sutama. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula.

Jatim. Sulsel). Jateng. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan. sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes. 2001).4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat. ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es. menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%. NTB. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi. Faktor lain yang . sedangkan pedesaan 6-19%. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya).2008).2010). Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. Lampung. Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli. Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu. Banten.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Jabar.

tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono. Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. 2003). . Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. 1999). dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja.5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo. Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif.

mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. radang selaput oak. 1.6 Berdasarkan permasalahan diatas. ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis). faktor spesifik (IgA sektori. diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut. Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah. mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi. antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya). maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna. .2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting.zat kekebalan).

Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui. misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor. Faktor yang berasal dari dalam individu. diperlukan breastfeeding father. Agar proses menyusui lancar. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI. Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu. .

Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. B. identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?. 1.3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan. pendidikan.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1. 1. maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur.8 1. sikap. lamanya waktu bekerja. waktu.5 Tujuan Penelitian 1.5. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta. biaya dan tenaga.2 Tujuan Khusus A.5.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang. kemampuan. . dukungan suami. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

6. Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 1.9 C. 1.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif. H. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6 Manfaat Penelitian 1.6. E.3 Manfaat bagi Universitas . Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. G. 1. F. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. D.

.10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan. dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul.

ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan. Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain. 1997). Semasa kehamilan. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan.11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui.1. 2011).1 Kerangka Teori 2. payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah. ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A. ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang . ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit. sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih. Pada saat yang sama. Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein.

dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. tanpa tambahan minuman atau makanan apapun. Selain itu. Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. ASI bukan minuman. .12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI. 2009). Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare. karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. 2010).

Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. seperti susu formula. tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan.13 B. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. serta tanpa tambahan makanan padat. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. bubur nasi. Dengan demikian. kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. . biskuit. jeruk. ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. dan nasi tim. kecuali vitamin dan mineral dan obat. madu. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. air teh. 2004). 2004). dan air putih. bubur susu. Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. 2009). seperti pisang.

sel plasma.susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit.2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. Areola. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus). yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. yaitu: 1. Korpus (badan). yaitu bagian yang membesar 2. sel otot polos dan pembuluh darah. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. Pada waktu hamil payudara membesar. Anatomi Payudara Payudara ( mammae. Papilla atau puting.14 2. . mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara. jaringan lemak. dengan berat kira-kita 200 gram.1. kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus). Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. Ada 3 bagian utama payudara. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus.

Badan b. Di dalam dinding alveolus maupun saluran. disebut sinus laktiferus.15 Gambar 2. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar.1 Payudara tampak depan (a. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar. terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar. Areola c.2 Struktur anatomi payudara . Gambar 2.

panjang dan terbenam. Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian. B. terutama pada bentuk puting terbenam. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. Bila puting dihisap.3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui. pendek/ datar. yaitu bentuk yang normal. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. yaitu produksi dan pengeluaran ASI. terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI.16 Ada 4 macam bentuk puting. dengan terbentuknya .

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

Semakin sering bayi menyusu. payudara akan memproduksi ASI lebih banyak.5 Respon Penyusuan a. semakin banyak ASI yang diproduksi. Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar. karena semakin kuat daya hisapnya. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. Bibir bayi menangkap puting selebar areola b. Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri. Lidah ditarik mundur.20 Gambar 2. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. .

kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya. Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. volume tersebut Volume mendekati . Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. refleks prolaktin akan terhenti. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. Bila kemudian bayi disapih. Kolostrum adalah cairan emas.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan. setelah payudara disusukan.3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi. maka akan terasa kosong dan payudara melunak. cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain. Sekresi ASI juga akan terhenti.1. alveoli akan terbentuk kembali. serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur.dkk 2003) 2. kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan. Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran).

22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi. kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli.2001). C. ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya. ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. dengan komposisi yang relatif konstan. ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat. ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli. dan kolostrum B. Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat. Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum. 2010). 2010). protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat. . Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup.2001).

Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Ieda Poernomo Sigit. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia .2003. dkk. Dra.23 Tabel 2.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi.

Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty). Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan. LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak. ASI awal dan ASI akhir 2.6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak.1. Zat-zat tersebut antara lain adalah: A. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi.4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi. ternyata bayi-bayi yang .24 Gambar 2. Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat. Asam dokosaheksanoat. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya. LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi.

25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat. agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi. protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi. Walaupun demikian. Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. B. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya. ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia. Penelitian OSBORN membuktikan. Seperti juga protein . Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. C. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama.

Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. AA. serta vitamin D. ALA. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. E. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak. . DHA. DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan.26 dalam ASI. D. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. Selain itu. dan lain sebagainya. Fungsinya sebagai sumber energi. kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi. membentuk hormon. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain. Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia.

Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI. Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI. Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0. Namun. Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang. Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk). jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras. Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. Kalsium. Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. Oleh karenanya. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia). I. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap.5-1.27 F.0mg/liter). G. . H.

M. K. taurin banyak terdapat di retina. Pada mata. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan . terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. L.E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi. Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi. Vitamin Kadar Vitamin A. Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida.B. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina. Selain itu.C.28 J. D. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf. Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E.

ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu. akan membuatnya merasa aman dan . Perlindungan terhadap infeksi dan diare. Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. 2010). N. 3.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A.1. Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. 2. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol). karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat. Manfaat ASI bagi bayi : 1. Mempererat hubungan dengan ibu. 2. juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman. Perlindungan terhadap alergi. kemungkinan terserang alergi relatif kecil. salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi. Air Sebagian besar ASI mengandung air.

sekembali dari bekerja. Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. Mengurangi kegemukan/obesitas.30 4. ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi. 8. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. 5. Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar. aman. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. selalu bersih. semakin sering . sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit. Bagi ibu pekerja. jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. segar. beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya. 7. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. dan tidak pernah basi. Perlindungan dalam penyempurnaan otak. 6. Memperbagus gigi dan bentuk rahang.

bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. karena tidak merepotkan. ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. B. pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid. menyiapkan air hangat dan sebagainya. yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. 2. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. Manfaat ASI bagi ibu 1. Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng. Mengembalikan bentuk tubuh. Lebih praktis dan ekonomis. 4. pemberian ASI lebih praktis dan murah. khususnya pada tahun pertama menyusui. Menunda masa subur (efek KB). Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim. 3. Memberi kepuasan batin. .31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi.

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

ASI juga disertai oleh zat. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna. dan sel darah putih. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya. hormone. F. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi. faktor pertumbuhan. D. mineral. C. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. lemak. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat. misalnya zat warna dan zat pengawet.35 2. antara lain zat putih telur. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A. vitamin.zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. ASI . zat kekebalan. karbohidrat. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai. enzime. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi . E. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. B. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik.1.

secara emosional lebih peka/ sensitif. Bayi. atau kelompok ibu pendukung ASI. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. Selain itu mungkin masih ada masalah lain. keluarga. juga tenaga kesehatan (dokter. Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. kasih sayangnya kepada anak. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. A. berdiri atau berbaring. bidan dan lain-lain). yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk. Selain mengandung protein yang tinggi.1. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui. terutama pada minggu pertama setelah persalinan. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi. kerabat.36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. 2. Ibu menunjukan cintanya. Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak. Suami. termasuk menyusui. Ada .

dipayudara kanan dan kiri.37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar. tangan ibu sedikit menahan kepala bayi. dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak. kedua bayi disusui bersamaan. Pada ASI yang memancar (penuh). bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola.7 Posisi menyusui . bayi ditengkurapkan diatas dada ibu. Gambar 2.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

Tujuan memerah . . .Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu. .10 Definisi menyusui E. .Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara.Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja. . Gambar 2.Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam. Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1. baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal.Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu.41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan.

2. Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI. . Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan.Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. . jus.Usahakan untuk santai. jika bisa dengan kaki diangkat . ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan. minumlah segelas air atau cairan lainnya. . . misal susu.Sebelum memulai.Cuci tangan dengan sabun.42 . . Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI. teh atau sup. .Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya. sedangkan payudara dibersihkan dengan air. . yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi.Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit. tempat yang tidak bising. seperti: .Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu.Pilih waktu yang tepat. padaumumnya terjadi di pagi hari.Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu.

kemudian. 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang. Kalau terasa sakit. tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. Bila ibu merasakannya.43 3. Apabila pada mulanya ASI tidak keluar. ibu dapat menekan disitu. sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja. Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. . yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah. 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). berarti tekniknya salah. Proses Memerah ASI a. 4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada.

Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit. Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI. Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja.44 maka jangan berhenti. demikian seterusnya secara bergantian. 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara. Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar. 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara. lalu pindah ke payudara satu lagi. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. 7) Sebaiknya. dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin. (a) .

Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain. Yang harus diperhatikan. Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan. Sedotan ini dibuat. Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku. Oleh karenanya. Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik. baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik. Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja.45 (b) Gambar 2.11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b. . Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan. gerakannya meniru penghisapan bayi. yang ditempatkan di area puting ibu.

b) Pompa elektrik . . Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya. . kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh. . .Namun. .Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil.Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya.Mudah disterilkan.Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk.Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara.Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan. beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan. mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja. .46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan .

Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan.47 . baterai akan cepat habis. (a) (b) . . .Jenis pompa ini bersuara (berisik). ringan .Pada penggunaan yang teratur. .Pompa ini bervariasi dari yang kecil. Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger).5 kg (unportable). bertenaga baterai. .Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat. portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2.

ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan. sisanya tidak boleh diminum kembali. tapi belum dihangatkan. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. Jika memiliki freezer yang terpisah. jangan dibagian pintu. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan.48 Gambar 2. b. sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam. Jika ruangan ber AC. . Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es. bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam. Penyimpanan ASI perah a. e. ASper beku yang sudah dicairkan. ASI bisa tahan selama 3-4 bulan. Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. d. ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam. Dengan syarat AC-nya stabil.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4. c. Jika ruangan tidak ber AC. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). f. Namun jika di dalam suhu ruangan. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu.

dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas). jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. Jika menggunakan botol plastik. 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali. karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna. Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. Selain itu. . sebaiknya botol yang tertutup rapat. bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama. 5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan.

Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu.50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya. letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah.13 Tempat penyimpanan ASI perah . dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan. Gambar 2. 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es. tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah. terpisah dari bahan makanan lain.

atau gunakan alat penghangat botol. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata. Selain itu. bukan ibu. agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’. Sebaiknya hindari penggunaan dot. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI. Penyajian ASI perah a. lemak susu terpisah. Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin. d. Jika selama penyimpanan. Usahakan diberikan oleh orang lain. kocoklah sampai merata. Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. Gambar 2. c.51 5. b. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok.14 Mencairkan ASI perah .

Menjaga kelangsungan produksi ASI. . d. g. mencegah payudara bengkak.52 6. Menghilangkan bendungan ASI.Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. e. f. c. tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol. meniru teman. . merasa ketinggalan jaman jika menyusui). tekanan batin). 2. Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah. Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja.1. Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras. bepergian atau sakit). Ketika ibu membutuhkan istirahat. Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya.Faktor sosial budaya (ibu bekerja.8 Faktor . orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. Manfaat ASI perah a.Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: . b.

yang mencakup: pengetahuan. Green dalam Notoatmodjo (2007). . jarak ke pelayanan kesehatan. Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. sarana dan prasarana. pekerjaan. ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) . tingkat sosial ekonomi. tingkat pendidikan. . kepercayaan/ tradisi/ nilai. peran petugas. . pengetahuan petugas.Faktor fisik ibu (ibu yang sakit. sikap. panas dan sebagainya). terutama mereka yang bekerja.Meningkatnya iklan susu formula. keyakinan. misalnya mastitis. Menurut Laurence W. kepercayaan. umur. dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia.Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. keterjangkauan informasi kesehatan. pengalaman. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1. 2.53 . tradisi. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu.

semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. 2001). pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat. Oleh karena itu. 2008). Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud.54 3. Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah. 1982). dukungan keluarga. Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang . Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Dari segi kepercayaan masyarakat. terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. dukungan atasan. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. A. seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2003). dukungan suami. Maka semakin tua umur ibu.

terutama pada usia 20-35 tahun. Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. terjadi pada masa dewasa dini. Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. 2008). Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa. Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif. 1987). Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. kehamilan dan kelahiran. penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu. .

2003).56 Ibrahim (2000). memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0. Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku. pendapat dan konsep-konsep. misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. B. pengertian.05). 1997). Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. . Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003).

Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. dalam untuk Gerungan. nilai dan perilaku suatu (Myers. baik secara formal maupun informal. Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja. Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo.57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. perlakuan. pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. 2005). Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI. Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan. Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak . yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. Secara luas. 2004). opini. dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. C. minat.1996). Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar.

(Notoatmojo.Mempunyai objek tertentu (orang. konsep. Misalnya. situasi. prilaku. Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan.1999) .Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) . sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono. . 2007) Ciri khas dari sikap adalah. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. affektif (perasaan) dan behavior (perilaku). benda dan sebagainya). Sikap adalah bagian dari perilaku. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap.Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). 1999). .58 menyenangi obyek tersebut. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang.

sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja.59 Gambar 2. Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya. Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang.15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. D. baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan . dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan. juga harus bekerja diluar rumah.

2009). Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul. Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari. lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli. 2008). lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani.182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. . Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui. minimal 8 kali sehari. Pada ibu bekerja. karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah. Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1. Menurut Marini (1998).60 yang cukup. 2009).

dan lama bayi mengisap. reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Ibu yang gelisah.61 E. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. intensitas. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. Akibat stimulus isapan.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. kurang percaya diri. yaitu frekuensi. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi.

seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. atau memijat bayi. 2001). F. menggendong bayi.62 bantuan praktis lainnya. Namun penelitian Afriana . kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani. Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif. Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105).2009).

Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja . mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif. sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI.63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. pihak keluarga. Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. pemerintah. Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor. bandara dan sebagainya. stasiun. mall. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. H.

menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. yaitu: 1. Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. payudara bengkak. mastitis dan abses. 8. Produksi ASI kurang. puting ibu luka. abnormalitas bayi. 6. Ibu bekerja. 4. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). Kelainan bayi: bayi sakit. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa. Kelainan ibu: puting ibu lecet. Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi).64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. 7. 2. 3. engorgement. 5. Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif. Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar.

Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. mertua. Sebab. dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja. Meniru teman. kakek. tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . 3. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek. 4. 2. pada umumnya.

Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. Kepentingan terbaik bagi anak. (untuk bayi dan ibu). Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No. Hak kelangsungan hidup. 4. 2. Hak tersebut mencakup: 1. keluarga. surat kabat. kecuali atas indikasi medis. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat. iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi.12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003). masyarakat dan negara. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek.9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan. 2. 3.66 Distribusi.1. radio. Nondiskriminasi. . Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no. 36 Tahun 2009: A. dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua.

pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi. pasal 198. pasal 197. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.000 (seratus juta rupiah). Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1).67 (2) Selama pemberian air susu ibu. pasal 191. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. pasal 192. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan . D.000. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. C. pemerintah. Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. B. 100. pihak keluarga. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. pasal 196.

telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1).1997). . berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO.68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). Pencabutan izin usaha. ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. pasal 191. Untuk mendukung hal tersebut. pasal 199 dan pasal 200. pasal 198. Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut. mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan. pasal 197. dan/ atau b. Dengan ini. Berkaitan dengan hal tersebut. pasal 196. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis. pasal 192.

reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap. bubur nasi. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. tingkat sosial ekonomi. tingkat pendidikan. serta tanpa tambahan makanan padat.69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia. bubur susu. Ternyata. biskuit. Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. sistem nilai. seperti susu formula. dan air putih. Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. tradisi. hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. jeruk. Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani. sikap. 2.2010). madu. air teh. dan nasi tim. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan. pekerjaan. Faktor . seperti pisang.2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. kepercayaan.

undang-undang. peraturan. . Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut. sarana dan prasarana. jarak ke pelayanan kesehatan. keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. dukungan keluarga. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat. peran petugas. pengetahuan petugas. dukungan suami.70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya.

3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif. Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja.71 2. sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami. sikap. dukungan atasan. tingkat pendidikan ibu. terdiri dari umur ibu. Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : .

72 2. 5. 2. 6. 7. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 3. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. 4.

September 2011 3.2 Metode Penelitian 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus .73 BAB III METODE PENELITIAN 3. .1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis.2. yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan. 3. artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan.2. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional.2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden.

pendidikan. 3. dukungan suami.3 Teknik Pengambilan Sampel 3. jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian).74 3. Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. .4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur.3. 3. dukungan atasan.2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. lama waktu bekerja. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang. sikap.1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).3.

4. air teh.75 3. bubur nasi. bubur susu. bubur susu. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak. B. serta tanpa tambahan makanan padat. dan air putih. vitamin. dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. seperti pisang. seperti pisang. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. serta tanpa tambahan makanan padat. . madu. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. madu. bubur nasi. kalsium dan mineral seperti susu formula. kecuali vitamin dan mineral dan obat. dan air putih. air teh. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain.1 Variabel Dependen A. dan nasi tim. biskuit. 2. jeruk. biskuit. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. jeruk. seperti susu formula.

. Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif. responden menjawab sesuai dengan keadaan. . Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: . dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak. jika terdapat data yang salah. . .Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data. Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak.Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua. dibersihkan dalam proses cleaning ini.76 C. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner.Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer.

Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator . Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan.jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali .2 Variabel Independen A. . Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1.4.jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3.1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel .Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat.2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : . vitamin dan mineral Tabel 3.77 Tabel 3.

78 2. 7. 2. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. 6. Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. 5. Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI. Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. 3. 3. 4. B. . Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden.

6. C. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban. Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban. Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan. Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden. 5. .79 4. 7. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden. Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif.

< 8 jam ≥ 8 jam 1.2 5. Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden.80 Tabel 3.3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari.6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 .

5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. lama waktu bekerja. sarana menyusui di tempat kerja).81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3. Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik. Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur. Coding. pendidikan. yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. Yang . 3.5. sikap. yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer. A. dukungan suami.1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. dukungan atasan. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing.

. Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0.05 3. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen.5.2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas. HO : P1 = P2 .Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A. .Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B.

.Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. B. .Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ha : P1 ≠ P2 .Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .83 .Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

84 .Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra. sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT. Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5. Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl. Baktiparamita Putrasama. Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI. Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan.

Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7. Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) . mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang.5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik.2 Ketenagaan Tabel 4. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).1. 4. medical check-up.1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan. .86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir.

8% Dari tabel 4.2% 62. 4. Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.8%). Umur Tabel 4.87 4.2.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37.1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra .2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian. yaitu analisa univariat dan analisa bivariat. Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62.1 Analisa Univariat A.

3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7.1% 74. Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Pendidikan Tabel 4. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.3% 18.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .88 B.3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi.6% Dari tabel 4.3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.

3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .89 C.4%). Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68.4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68.4% Dari tabel 4.6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam.6% 31. Lama Waktu Bekerja Tabel 4. Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.

4% 2.90 D. Sikap Tabel 4.5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif.8% 2.3% 5.4% 8.933.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4.3% 7.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.8% 4.2% 1. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.8% 4.8% 5. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50.2% 2.8% 2.6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5.6% 1.8% 4.3% 2.3% 1. standar deviasi (SD) = 7. .4% Standar Deviasi : 7.8% 8. didapatkan nilai median= 38 .8% 2.4% 1.4% 11.8% 7.

4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per .4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.91 Tabel 4. Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38. Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.6% Dari tabel 4.6%).4% 38.6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61.

6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81. Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.92 E.6% Dari tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja. Dukungan Suami Tabel 4.6%). Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18.4% 18.7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81.

Dukungan Atasan Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra .7% Dari tabel 4.7%). Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.3% 5.8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94.3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja. Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.93 F.7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94.

Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4.9%). Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12.9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12.8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87.94 G.1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .9% 87.1% Dari tabel 4. Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.

8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .7%).3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25.7% 74. Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Pemberian ASI eksklusif Tabel 4.95 H.9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.3% Dari tabel 4.

pendidikan.6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20. A.5%).6 20. dukungan suami.2.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0.96 4.05).4 79.190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34.5 25.2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur.11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta.5 74. sikap. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0. Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65. . dukungan atasan. Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0.05 atau 5%. lama waktu bekerja.

Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. C. B. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif .5 25. Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. D III (19.5 74.003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima.8 38.5%).190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.2%).3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.2 61.7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80.97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61.

Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .3 25.7 74.3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak. D.7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72.3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%).13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27.98 Tabel 4.840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.

8 25.7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.7 4.14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34.3 95.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .99 Tabel 4.8%).2 74. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65.

8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7.7 25.092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.100 E.3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0.3 74. . Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.2 92.8 7.15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.7%).092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29.7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.

2 50 25.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. .271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24.8 50 74.16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24. Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.2%).101 F.3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.

043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima.6 21.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.3%).6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21.3 25. Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.7 74.102 F. .043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.4 78.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0.

terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner. sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun. Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias.103 4.4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun. . Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner. ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui.2. Dari sisi responden. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman.

7%. World Health Organization (WHO. Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25. madu dan air putih. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik. 2009). atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis. juga melindungi bayi dari . ASI eksklusif memiliki banyak manfaat. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan. sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes.104 BAB V PEMBAHASAN 5.

Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari. RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang.2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A. Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam. 5. termasuk perawat. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta . karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya. tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan.

semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif.6%.190 (> 0. pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif. Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan. karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. materi ASI eksklusif . hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi. Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu.106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Namun dalam penelitian pada responden perawat ini.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif.5%.003 (< 0. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. . Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif.107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan. B. D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang. Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi. Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61.

C. pengertian. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. Ketua Tim Perawatan. Begitu juga sebaliknya. maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan. Koordinator Pengembangan Perawat dan . 2003). pendapat dan konsep-konsep. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif. maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif.108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan.

lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian .05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif. sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift.840 (> 0. sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang. Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya.3%.109 lain. Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang.

005 (<0. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34. Hal ini sejalan dengan penelitian Unika .7%). maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut.110 ASI eksklusif. D.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang. termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang.

teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang . Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui.111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi.092 (>0. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. E. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29. karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. Let-down reflex mudah sekali terganggu.8%). Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. misalnya keluarga.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini sejalan dengan penelitian . sikap dan lain sebagainya. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan. pengalaman. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%). Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. F. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui.112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan. misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif.271 (>0.

pemerintah. karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. pihak keluarga.043(<0.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. G. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. sehingga perlu disiapkan . Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita.

Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik. saat jam istirahat. sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. . Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi. sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. sehingga dirasakan kurang mendukung. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. untuk semua karyawan dan pasien. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat.

Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra.7%.115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. 5. Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 7. Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 2. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra.1 Kesimpulan 1. 4. Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25. 8. 6. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . 3. masih jauh dari target nasional yaitu 80%.

3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa.1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat.2. seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai.116 6. misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus. 6. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan).2. cuti . Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI. dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat. 6.2 Saran 6.2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif.2.

Tesis FKM UI. Houston. Yogyakarta: Media Baca. L. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Ibu. 1982. Badriul.2010. Jakarta : Depkes.W. . Langkat. Bandung : Khazanah Intelektual.DAFTAR PUSTAKA Arif. Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional. Depkes RI. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009.2000. Bandung: Alumni.asp. http://www. 2008. edisi kedua). Tesis Program Pasca Sarjana UI. Yogyakarta: MedPress. Jakarta: Balai Pustaka. Depdiknas. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh. 2004. Skripsi FKM UI. Susui Aku!. Depok Kodrat. Gerungan. 2003. 2009. Ariani. IDAI. Depkes RI.Psikologi Sosial.or. Nur. Jogyakarta: Flashbooks. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hegar dkk. Hartatik. Depok. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi.1996. Ibrahim. Nia. Afriana. dr. N. 2010. Kristina. Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab. Daldjoni. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch. Second Edition.W. Jakarta: Balai Pustaka FKUI. ASI atau Susu Formula ya?. Profil Depkes RI 2007. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia. 2010.Bandung:PT Refika Aditama.W. Penerbit.A. 2008. Laksono. 2005. Kreuter. M. Kendala Pemberian ASI eksklusif. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. 2011. 2004.idai. 2000. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. 2010. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. Mayfield Publishing Company. Tesis FKM UI. Jakarta : Depkes RI. Jakarta: Depdiknas Green. Tilaili. Depdikbud. Bedah Asi..id/asi. 2001.

1994. Sidi. 2003. Unicef. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. Jakarta : PT. Dwi sunar. Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu.ac. Roesli. http://www.2006. Yogyakarta : Diva Press Purwati. Unika Atma Jaya. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum. Mengenal ASI Eksklusif. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya. MPH. 1995.LLB (Hons).. David Clark. Depok. U. 1992. Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya. diakses 24 Juni 2011. 2001.Tessa Wardlaw. Jawa Barat. 2011.sph. Ieda Poernomo Sigit. Siregar.pdf. PhD. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. 2007.unc.MPH. Childa. ASI atau Susu Formula ya?.usu. Konsep Penerapan ASI eksklusif. Buku Pintar ASI Eksklusif.Yogyakarta: Flashbook. Sarlito Wirawan. Jakarta : Trubus Agriwidya. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan. U. 1999. 2009. Hubertin. Nur.Ann Blanc. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. Tesis FKM UI. Dra. Roesli. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Prasetyono. Miriam H. 2008. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . S. Skripsi FKM UI..M. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.pdf. Sarwono. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. Jakarta : Rineka Cipta. 2004. Notoatmodjo... Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s. S. 1998. Notoatmodjo. Depok. and Nancy Terreri. Marini. A. PhD.Khasanah. Labbok. Jakarta : Depkes RI. 2005. Maisni.2003.eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006. diakses 24 Juni 2011. http://library. dkk. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.MD.id/download/fkm/fkm-arifin. R.. Jakarta : Rineka Cipta. S.

http://asiku. Prof. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. Rahardjo. Vol 1.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/. Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia. Bandung: Alfabeta Saryono. United Nations Children’s Fund. Global strategy for infant and young child feeding.. Soetjiningsih. Sugiyono.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah. Gizi dan Makanan. 2010. Sutama. Jakarta: Balai Pustaka. Psikologi untuk Perawatan.Sitaresmi.. 1997. diakses 24 Juni 2011.2008. Wicitra. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif.Kes. 2008. Switzerland: World Health Organization . Jurnal Kesmas Nasional. Sunaryo. 1999. Geneva. M. No.M. Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan. DR. Winarno.wordpress.1.G. 2009. World Health Organization. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2009. Jakarta: ECG Setyowati. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. Metode Penelitian Administrasi. Sarlito. SKp. 2004..1987. Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”. F. Jakarta: EGC.N. Psikologi Sosial. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2003.2008. diakses 24 Juni 2011.

saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. Sebelum menjawab pertanyaan. Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. JAKARTA . penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian. Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini. Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. JAKARTA Ibu yang terhormat. meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun.

............................. Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”......................................................................telp.. ......... 2011 Yang membuat pernyataan...... ....... Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran.. ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) .......... Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi..FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : ................ Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian.................................................................... Jakarta ..No.....tahun ............................ Pendidikan :.

........... Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ............................ Identitas Responden NO..... bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B.......... C. .. .......... obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan.................A...... .. tahun SPK Diploma III Strata I (SKp. jika ada? ................... Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia.................................................. pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda......... SKM) Usia Bayi : ............ Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin............. mineral..

ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan. Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi.NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan. D. Dukungan Suami .

Tidak . Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Ya b. Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b. Tidak G. Ya b.Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a. Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a.

  .

    .

0%) have expected count less than 5.7 18 18.259 .716 1.054 1.0 ASI eksklusif 9 11.3 9 6.0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32.152 a.0 Chi-Square Tests Asymp.0 Total 44 44.3 52 52.69. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1. 0 cells (.195 1.0% N 70 Total Percent 100.691 70 1 .681 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 26 26.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. (2sided) Exact Sig. The minimum expected count is 6.7 17 19. Computed only for a 2x2 table       .0% N 0 Missing Percent .190 .0 70 70. b.304 .193 b Exact Sig.

0% N 70 Total Percent 100.3 18 18.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.667 70 a. 3 cells (50.0 ASI eksklusif 0 1.0% N 0 Missing Percent .       . The minimum expected count is 1.6 5 9.609 a df 2 2 1 sided) .570 10.29.0 Total 5 5.003 .0 70 70.4 8 3.0%) have expected count less than 5.001 11.0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3.0 13 13. Sig.7 52 52.0 52 52.0 Chi-Square Tests Asymp.3 10 13. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.7 42 38.003 .

0% N 0 Missing Percent .0 70 70.3 18 18.529 a.841 b Exact Sig.0 ASI eksklusif 6 5.000 .000 . 0 cells (.66. Computed only for a 2x2 table       .840 1.0 Total 22 22. b.Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0 48 48.041 1.7 52 52.0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16. (2sided) Exact Sig.041 .840 .0 Chi-Square Tests Asymp.000 .040 70 1 . (1sided) df a sided) 1 1 1 . The minimum expected count is 5.0% N 70 Total Percent 100.0%) have expected count less than 5. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .3 36 35. Sig.7 12 12.

94.0 Chi-Square Tests Asymp.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0% N 70 Total Percent 100.0%) have expected count less than 5. 0 cells (. Computed only for a 2x2 table       .005 .9 52 52.013 .0 ASI eksklusif 2 6.9 16 11. b. The minimum expected count is 6. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7.712 6.006 b Exact Sig.0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20. Sig.0 70 70. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 Total 27 27.0 43 43.230 8.0% N 0 Missing Percent . (2sided) Exact Sig.601 70 1 .1 27 31.005 .003 7.005 a.1 18 18.783 .

Sig.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.811 b Exact Sig. b.0 ASI eksklusif 3 3.0% N 0 Missing Percent .000 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .34.808 .0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9.0 57 57.0% N 70 Total Percent 100.0%) have expected count less than 5. (2sided) Exact Sig.058 .3 15 14.000 . Computed only for a 2x2 table     .558 a.059 1.3 52 52.809 1. 1 cells (25.057 70 1 .0 70 70.000 .7 42 42.7 18 18.0 Chi-Square Tests Asymp. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0 Total 13 13. The minimum expected count is 3.

0 Chi-Square Tests Asymp.0 ASI eksklusif 2 1.283 1.310 .0 52 52.0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.0 70 70.579 .152 .308 1.0 Total 4 4. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.0%) have expected count less than 5.0 18 18.0 50 49.0 16 17. The minimum expected count is 1.0% N 70 Total Percent 100.291 70 1 .0 66 66.252 . (2sided) Exact Sig. 2 cells (50. Computed only for a 2x2 table     .03.271 a. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0% N 0 Missing Percent . b.256 b Exact Sig.271 . Sig.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.

797 1.799 b Exact Sig.31.066 .0 Total 61 61.0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45.000 .0 ASI eksklusif 16 15. b.0 9 9. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0% N 70 Total Percent 100. Computed only for a 2x2 table   . 1 cells (25.7 2 2. (2sided) Exact Sig.000 .7 52 52.000 .795 .0 Chi-Square Tests Asymp.0 70 70. Sig.3 7 6.3 18 18.0% N 0 Missing Percent .0%) have expected count less than 5. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .068 1.Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.580 a. The minimum expected count is 2.065 70 1 .

  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful