SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

MRCOG(UK). dukungan satu sama lain. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. SKM. SKM. Channe. 5. Ibu Intan Silviana Mustikawati. RS Medistra. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2. MBBS. 4. terima kasih untuk saling memberikan masukan. atas doa. SpOG.D. FRCS. 3. Ibu dr. Dadan “dudul”. Mayang Anggraeni. MPH. Alief. Bapak Idrus Jus’at. viii . tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden. Untuk itu. 8. Dr. Robert J. semangat. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang. Teristimewa untuk suamiku. 6. Dalam penyusunan skripsi ini. tetap semangat ya teman. penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. MSc. 7. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan. Ph. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. Ibu Iskari Ngadiarti. dukungan. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. kasih sayang.

Mohamad Margha. MSc (alm). semuanya sangat berarti. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Ayah tercinta. teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. penghiburan dan sumber kekuatan penulis. 11. Jakarta. Owen & Jason. Audric. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua. 16 September 2011 Penulis viii . Drs. semoga suatu hari bisa seperti babeh. atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis. yang selalu menjadi kebanggaan.9. 10. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari. My beloved boys.

...............1.....................................1 Kerangka Teori .............. 9 Tujuan Penelitian .............................................................................................................4 Kandungan Gizi ASI ....................1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2.................................. 2.. iii PERNYATAAN PERSETUJUAN……………………………………...................................7 Teknik Menyusui ..................2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi ...................................1.........5 Manfaat ASI .............................6 Alasan Pemberian ASI eksklusif ............ vi KATA PENGANTAR ........................................................................................................................5 1........................................................... 39 ix ............................................................... i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT .................................. DAFTAR TABEL ...................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .1.... 2..........1............................ v ii RIWAYAT HIDUP…………………………………………………….... 2............................... 9 Manfaat penelitian ......3 1................. 2....... DAFTAR LAMPIRAN .................... 37 2..... iv PENGESAHAN SKRIPSI ……………………………………………...................1............. ABSTRAK…………………………………….1 Latar Belakang ............... 8 Perumusan Masalah ..4 1..... 6 Pembatasan Masalah ............................................1. BAB I PENDAHULUAN 1.........2 1........... 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2...............................................................................................3 Komposisi ASI ........... vii DAFTAR ISI ...................................................6 BAB II Identifikasi Masalah ................1.. DAFTAR GRAFIK ............................................................................................. 1 1............... 11 11 14 24 26 31 2.......................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................

.. Umur B.......................................................... 78 3. 4..........1 Tempat dan waktu penelitian ... Lama Waktu Kerja E......................................... 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.. 56 A.............3 3.......................... 79 Instrumen Penelitian . Dukungan Suami G.........3 2.... Dukungan Atasan H.......... Kerangka Konsep .......... Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F................................2 3...................1 Gambaran Umum Tempat Penelitian .................... 78 Teknik Pengambilan Sampel.... 90 90 ix ..................................... Hipotesis ............................. Sarana menyusui di tempat kerja 2..........2 2.5 Metode Penelitian ............. Pengeluaran ASI / ASI perah 2....................................1......................................................4 Kerangka Berfikir .......1 Deskripsi Umum .. Sikap D. Pola menyusui bayi E................ Posisi & pelekatan menyusui B.......4 3.............................. Pendidikan Ibu C.... 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3..........1.......9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2..... Langkah-langkah menyusui yang benar C...........A....................8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif . 79 Pengujian Hipotesis .........................................1....... Lama & frekuensi menyusui D...........

. Saran .......2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta.......................2 Ketenagaan ...........4...........................2 Kesimpulan .... 4.. 4............................. 91 92 92 102 109 4.............. 5............ BAB V PEMBAHASAN 5.......... 4............. 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix .......2 Analisa Bivariat ...........................2........................................2................1 6........................................................1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta .1 Analisa Univariat ..................2 Deskripsi Data ............. 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6................................................................2.........................................................3 Keterbatasan Penelitian .........................................1..

...................................... Tabel 4...3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra ...............................4 Skoring untuk variabel sikap ................6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra ... Tabel 4........... Tabel 4....2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra .......... 37 Tabel 3..........................4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra ....................... Tabel 3............................................................................................... Tabel 4............................. Tabel 4.........2 Skoring untuk variabel dependen ..............................................................................10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra ............. Tabel 3.................... Tabel 4.........................1 Ketenagaan RS Medistra . susu sapi........................................... Tabel 4........................................3 Instrumen penelitian untuk variabel independen ..................8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra ...........................................12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . Tabel 4.....................5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra ....................1 Komposisi kandungan ASI .............................11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ...........................................................................2 Ringkasan perbedaan ASI......................... Tabel 4............... susu formula .......................DAFTAR TABEL Tabel 2....... Tabel 4.................... 103 ix ..7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra ..........................................9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra ..................................... 102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4....... 25 Tabel 2. Tabel 3......................... Tabel 4............1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen ....................

...................... 104 Tabel 4...... Tabel 4....... Tabel 4..13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ....................................................Tabel 4.................15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ............17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra... Tabel 4.. 108 107 106 105 ix .........................16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .................14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ......

.........9 Teknik menyusui ........................................ 55 Gambar 2...............3 Gambar 2.......4 Gambar 2....................................10 Definisi menyusui ....................... 22 Gambar 2.........13 Tempat penyimpanan ASI perah .......................6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum.. 44 Gambar 2............................................12 Pompa tangan & pompa elektrik ............... 16 Bentuk-bentuk puting susu ..... 40 Gambar 2............... 51 Gambar 2.......................... 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi . 40 Gambar 2.................................................. 54 Gambar 2.............................................................14 Mencairkan ASI perah .........................................................................................1 Gambar 2...............................................................................................................5 Payudara tampak depan ..............11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI .....2 Gambar 2.......... 42 Gambar 2........................ 15 Struktur anatomi payudara ........... 25 Gambar 2........................15 Hubungan sikap dan prilaku ..................... 63 ix .... 48 Gambar 2....................... 20 Respon Penyusuan ........................... ASI awal dan ASI akhir .........7 Posisi menyusui......DAFTAR GAMBAR Gambar 2......................................8 Posisi pelekatan menyusui .....................

...............................................................................5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra ................. 99 Grafik 4...............1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra . 100 Grafik 4...................................................7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ...... 94 Grafik 4................3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .........DAFTAR GRAFIK Grafik 4....................... 97 Grafik 4........... 93 Grafik 4.......................................................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ..............................................................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .. 98 Grafik 4. 101 ix ...................... 95 Grafik 4...2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .........................4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra ......................................................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

air teh. jeruk.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. madu. biskuit. Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu. bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. dan air putih. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. ASI bukan minuman. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. sebagai makanan utama bayi. seperti pisang. sangat dianjurkan (Arief. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain.1 BAB I PENDAHULUAN 1. 2009). 2001). seperti susu formula. . serta tanpa tambahan makanan padat. kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. Setelah usia bayi 6 bulan. 2005). dan nasi tim. bubur susu. bubur nasi.

Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37. 2010). Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32). Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi. 2004). saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah. karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi. Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita.6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001.2 World Health Organization (WHO.5% pada tahun 1989 menjadi 24. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. . Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI. Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi.

mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare.7% menjadi 27. bayi yang diberi susu selain ASI. Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30.dkk.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF). sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita. Menurut WHO (2000).9% (Sutama. 2003). jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7. Surabaya. .8%.9% menjadi 7. heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15. karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino. dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI.000 balita di Indonesia. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta.2005). sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi. 2008). Semarang. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002.dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16.3%. dipeptid.

4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar. Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. 2001). sedangkan pedesaan 6-19%. Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli. Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi.2010). NTB. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). Jabar. Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu. Faktor lain yang . Banten. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat. Jatim. ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Jateng. Lampung. menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%.2008). sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes. Sulsel). Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan.

namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo. 1999). Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. 2003). RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang. Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja. . Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir.5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono.

Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah. karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi. ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. faktor spesifik (IgA sektori.zat kekebalan). . 1.2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting. mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya). infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis). mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna. merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. radang selaput oak. diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6 Berdasarkan permasalahan diatas.

Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. Faktor yang berasal dari dalam individu. Agar proses menyusui lancar. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu.7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor. Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. . Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui. salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI. diperlukan breastfeeding father.

identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?. waktu. pendidikan. biaya dan tenaga.2 Tujuan Khusus A.5. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. B. 1.3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan.8 1.5 Tujuan Penelitian 1.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1. Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. dukungan suami.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang.5. sikap. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta. 1. kemampuan. lamanya waktu bekerja. maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur. .

9 C. F. 1. 1.6. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.3 Manfaat bagi Universitas . Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. H. 1.1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. E. Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. D. G.6.6 Manfaat Penelitian 1.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif.

.10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan. dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul.

Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu.11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan. ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang . Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein.1. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain. Semasa kehamilan. Pada saat yang sama. ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan. sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih. ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit. payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah. 1997). 2011).1 Kerangka Teori 2. ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A. ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi.

ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare. Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. ASI bukan minuman. Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. tanpa tambahan minuman atau makanan apapun.12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat. 2009). . namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif. 2010). secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. Selain itu. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI. karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan.

ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. bubur nasi. dan air putih. air teh. madu. kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. 2004).13 B. Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli. bubur susu. dan nasi tim. biskuit. . Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. 2004). kecuali vitamin dan mineral dan obat. seperti pisang. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. seperti susu formula. serta tanpa tambahan makanan padat. 2009). Dengan demikian. jeruk.

mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. Korpus (badan). Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara. yaitu: 1. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3. kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).14 2. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus). Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. . sel otot polos dan pembuluh darah. Anatomi Payudara Payudara ( mammae. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus.1.2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. Ada 3 bagian utama payudara. Papilla atau puting. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan.susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit. yaitu bagian yang membesar 2. Pada waktu hamil payudara membesar. Areola. yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. sel plasma. dengan berat kira-kita 200 gram. Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. jaringan lemak.

Badan b.15 Gambar 2. Di dalam dinding alveolus maupun saluran. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar.1 Payudara tampak depan (a.2 Struktur anatomi payudara . terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar. Gambar 2. Areola c. disebut sinus laktiferus. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar.

Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian. terutama pada bentuk puting terbenam.16 Ada 4 macam bentuk puting. terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. B. panjang dan terbenam. yaitu produksi dan pengeluaran ASI. pendek/ datar. dengan terbentuknya .3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui. Bila puting dihisap. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. yaitu bentuk yang normal. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2.

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

. Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar. Bibir bayi menangkap puting selebar areola b. payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. Lidah ditarik mundur.20 Gambar 2. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. karena semakin kuat daya hisapnya. Semakin sering bayi menyusu.5 Respon Penyusuan a. Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. semakin banyak ASI yang diproduksi. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri.

refleks prolaktin akan terhenti. siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi. Kolostrum adalah cairan emas.1.3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. volume tersebut Volume mendekati . kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan. Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. Bila kemudian bayi disapih. Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. maka akan terasa kosong dan payudara melunak.dkk 2003) 2. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya. serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain. Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran). alveoli akan terbentuk kembali. setelah payudara disusukan. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. Sekresi ASI juga akan terhenti.

dan kolostrum B. 2010). 2010). ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup. . C.2001). dengan komposisi yang relatif konstan. ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli. protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat.2001). kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli. ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat.22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi. Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat. ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya. Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum.

2003. dkk.23 Tabel 2. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Ieda Poernomo Sigit. Dra.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia .

ternyata bayi-bayi yang .4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi. Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak.1. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi.6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty). Zat-zat tersebut antara lain adalah: A. LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi. merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak. ASI awal dan ASI akhir 2.24 Gambar 2. Asam dokosaheksanoat. Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan. LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental.

protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama. B. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi.25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme. ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat. Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi. Walaupun demikian. C. Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. Seperti juga protein . agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya. sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. Penelitian OSBORN membuktikan.

Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. DHA. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. membentuk hormon. Selain itu. . E. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain. DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan. ALA. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak.26 dalam ASI. D. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia. kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi. Fungsinya sebagai sumber energi. dan lain sebagainya. serta vitamin D. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. AA.

Oleh karenanya. Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap. . Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0. Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. I. H. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan. jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras. Namun.0mg/liter).27 F. Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk).5-1. Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI. Kalsium. Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya. G. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia).

taurin banyak terdapat di retina. Pada mata. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf. terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. M. K.B. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E.28 J.E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi. Selain itu. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina. Vitamin Kadar Vitamin A. Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida. D. Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi. Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. L. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan .C.

Perlindungan terhadap infeksi dan diare. 2010). 2. Manfaat ASI bagi bayi : 1. Air Sebagian besar ASI mengandung air. akan membuatnya merasa aman dan . N. ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Perlindungan terhadap alergi. juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman. 3.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A. Mempererat hubungan dengan ibu. karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu. Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. 2.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol). kemungkinan terserang alergi relatif kecil. salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi.1.

Perlindungan dalam penyempurnaan otak. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. Bagi ibu pekerja. Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar. aman. 6. pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. 7. 5. Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit. sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. Memperbagus gigi dan bentuk rahang. Mengurangi kegemukan/obesitas. ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi. sekembali dari bekerja. 8. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. selalu bersih. segar. dan tidak pernah basi.30 4. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. semakin sering . beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya.

pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid. karena tidak merepotkan. ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. 3. Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim.31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi. Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. . Lebih praktis dan ekonomis. bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi. Mengembalikan bentuk tubuh. yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. 4. khususnya pada tahun pertama menyusui. 2. B. pemberian ASI lebih praktis dan murah. Memberi kepuasan batin. Manfaat ASI bagi ibu 1. menyiapkan air hangat dan sebagainya. Menunda masa subur (efek KB).

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. mineral. hormone. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia. zat kekebalan.1. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. ASI juga disertai oleh zat. C. faktor pertumbuhan. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna. ASI . B. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok. antara lain zat putih telur. F. dan sel darah putih.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A. D. karbohidrat. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi . misalnya zat warna dan zat pengawet.35 2. vitamin. lemak. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. E. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya. enzime.

termasuk menyusui. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. Selain mengandung protein yang tinggi. Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak. Bayi.1. terutama pada minggu pertama setelah persalinan. Selain itu mungkin masih ada masalah lain. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi. Ada . kerabat. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri. secara emosional lebih peka/ sensitif. yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui. Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. kasih sayangnya kepada anak. atau kelompok ibu pendukung ASI. 2. Ibu menunjukan cintanya. keluarga.36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. berdiri atau berbaring. Suami. Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. bidan dan lain-lain). juga tenaga kesehatan (dokter. A.

37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar. dipayudara kanan dan kiri. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola. Gambar 2. dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak.7 Posisi menyusui . bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. Pada ASI yang memancar (penuh). tangan ibu sedikit menahan kepala bayi. kedua bayi disusui bersamaan. bayi ditengkurapkan diatas dada ibu.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

. . . Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1.10 Definisi menyusui E.Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu.41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan.Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja. Gambar 2.Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara. baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal.Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam. Tujuan memerah . . .Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu.

. Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI. sedangkan payudara dibersihkan dengan air. . . . misal susu. Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan.Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. teh atau sup. minumlah segelas air atau cairan lainnya.Sebelum memulai.Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu. ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan.Usahakan untuk santai.42 . jus. . seperti: .Pilih waktu yang tepat. Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI. yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi. 2. .Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit.Cuci tangan dengan sabun. jika bisa dengan kaki diangkat . .Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu. tempat yang tidak bising. padaumumnya terjadi di pagi hari.Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya.

sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). 4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada. kemudian. ibu dapat menekan disitu. Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. Kalau terasa sakit.43 3. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang. 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja. berarti tekniknya salah. . Apabila pada mulanya ASI tidak keluar. Bila ibu merasakannya. yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah. Proses Memerah ASI a. tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu.

Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja. 7) Sebaiknya.44 maka jangan berhenti. Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI. dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara. Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar. lalu pindah ke payudara satu lagi. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin. 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara. demikian seterusnya secara bergantian. Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit. (a) .

Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja. . Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu. Yang harus diperhatikan. Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain. Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku. Oleh karenanya.45 (b) Gambar 2. gerakannya meniru penghisapan bayi. yang ditempatkan di area puting ibu. Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. Sedotan ini dibuat. baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik.11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b. perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik. Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan.

beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan. b) Pompa elektrik . kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh. . . .Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil. mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja.Namun.Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk.Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan. . Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya. . .Mudah disterilkan.46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan .Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara.Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya.

(a) (b) . Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger).5 kg (unportable).Pada penggunaan yang teratur.Jenis pompa ini bersuara (berisik).Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat. ringan . . portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2. . baterai akan cepat habis.Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan. .Pompa ini bervariasi dari yang kecil.47 . . bertenaga baterai.

b. Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. Dengan syarat AC-nya stabil. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu. bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. Jika ruangan tidak ber AC. sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam. Jika ruangan ber AC.48 Gambar 2. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es. ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam. f. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. jangan dibagian pintu. ASper beku yang sudah dicairkan. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam. sisanya tidak boleh diminum kembali. ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan. Namun jika di dalam suhu ruangan. d. . e. tapi belum dihangatkan. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4. Penyimpanan ASI perah a. ASI bisa tahan selama 3-4 bulan. c. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). Jika memiliki freezer yang terpisah.

sebaiknya botol yang tertutup rapat. Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap. Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. . dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. 5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas). jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara. Selain itu. 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan. Jika menggunakan botol plastik. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna. karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas.

terpisah dari bahan makanan lain. tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah. letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah. 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es.50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya. Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu.13 Tempat penyimpanan ASI perah . Gambar 2. dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan.

c. b. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok. Jika selama penyimpanan. Selain itu. bukan ibu. agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’. Usahakan diberikan oleh orang lain. Penyajian ASI perah a.14 Mencairkan ASI perah . Gambar 2. lemak susu terpisah. Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin. kocoklah sampai merata. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI. Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. d. atau gunakan alat penghangat botol. Sebaiknya hindari penggunaan dot.51 5. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata.

2.Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. Manfaat ASI perah a. merasa ketinggalan jaman jika menyusui). meniru teman. Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja. b. . tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol. e. c. g. orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya. Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras.1. f.8 Faktor . Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah. d. Menjaga kelangsungan produksi ASI.52 6. tekanan batin). bepergian atau sakit). Ketika ibu membutuhkan istirahat. .Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: . Menghilangkan bendungan ASI.Faktor sosial budaya (ibu bekerja. mencegah payudara bengkak.

. pekerjaan. yang mencakup: pengetahuan.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu. sikap. pengalaman. tingkat pendidikan. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku. Menurut Laurence W. dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia. pengetahuan petugas.Meningkatnya iklan susu formula. . terutama mereka yang bekerja. 2.Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. kepercayaan. kepercayaan/ tradisi/ nilai.53 . peran petugas. panas dan sebagainya). misalnya mastitis. Green dalam Notoatmodjo (2007). tradisi. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1. sarana dan prasarana. keyakinan.Faktor fisik ibu (ibu yang sakit. ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) . tingkat sosial ekonomi. jarak ke pelayanan kesehatan. . umur. Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. keterjangkauan informasi kesehatan.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. dukungan atasan. 1982). Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang .54 3. Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. 2008). Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah. semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. Maka semakin tua umur ibu. Oleh karena itu. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat. terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud. dukungan keluarga. 2001). A. Dari segi kepercayaan masyarakat. dukungan suami. Menurut Notoatmodjo (2003).

terjadi pada masa dewasa dini. Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa. terutama pada usia 20-35 tahun. 2008). . Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun. penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu. 1987). Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. kehamilan dan kelahiran. Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif.

Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku. B.56 Ibrahim (2000).05). mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. 1997). memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0. misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. pengertian. membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003). . Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. 2003). pendapat dan konsep-konsep.

Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan. Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI. pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak . nilai dan perilaku suatu (Myers. 2004). Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. 2005). Secara luas. dalam untuk Gerungan. dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku. perlakuan. C. minat. dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat.1996). Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo.57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar. Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja. opini. baik secara formal maupun informal. yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif.

tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. prilaku.1999) . Sikap adalah bagian dari perilaku.Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). 1999). Misalnya. benda dan sebagainya). konsep. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang.Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) . 2007) Ciri khas dari sikap adalah. (Notoatmojo. . affektif (perasaan) dan behavior (perilaku).Mempunyai objek tertentu (orang. situasi. Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan.58 menyenangi obyek tersebut. sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono. .

Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. juga harus bekerja diluar rumah. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja. sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu. baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan . D.15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan. Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya.59 Gambar 2.

Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1. Pada ibu bekerja. minimal 8 kali sehari.60 yang cukup. lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli. Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul.182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah. 2009). . Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui. Menurut Marini (1998). 2008). karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. 2009). Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani. Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari.

Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. intensitas. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. yaitu frekuensi. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. Ibu yang gelisah. Akibat stimulus isapan. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. tekanan jiwa dan gangguan pikiran.61 E. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior. dan lama bayi mengisap.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. kurang percaya diri.

2001). maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami.2009). atau memijat bayi. menggendong bayi. Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif. Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105). dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja.62 bantuan praktis lainnya. Namun penelitian Afriana . F. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani. Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi.

bandara dan sebagainya. H. stasiun. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No.63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI. mall. pemerintah. pihak keluarga. mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif. bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak. Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja .

abnormalitas bayi. mastitis dan abses. Kelainan bayi: bayi sakit. Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa. payudara bengkak. 7. 2. puting ibu luka. Produksi ASI kurang. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). Kelainan ibu: puting ibu lecet. Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut. Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. 5. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif. engorgement. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. 3. 4. 6. Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar. menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi). Ibu bekerja.64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. 8. yaitu: 1.

3. mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. 4. 2. Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek. dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). Sebab. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Meniru teman. Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. mertua. pada umumnya. kakek. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja.

dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua. kecuali atas indikasi medis. masyarakat dan negara. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat.66 Distribusi. 2. 4. Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No. surat kabat. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. Hak kelangsungan hidup. Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek. (untuk bayi dan ibu). 3. iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. 2. . keluarga. Hak tersebut mencakup: 1. 36 Tahun 2009: A.1. radio. Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no.9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi. 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003).12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. Nondiskriminasi. Kepentingan terbaik bagi anak.

(2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 100. B.000.67 (2) Selama pemberian air susu ibu. pasal 191. pasal 197. pasal 196. pihak keluarga. pemerintah. Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). C. pasal 198. pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. D. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya.000 (seratus juta rupiah). pasal 192. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan .

pasal 196.1997).68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). pasal 197. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis. ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1). mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. pasal 192. Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut. ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak. telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi. Dengan ini. berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO. Pencabutan izin usaha. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. Berkaitan dengan hal tersebut. pasal 191. . dan/ atau b. Untuk mendukung hal tersebut. pasal 198. pasal 199 dan pasal 200. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI.

hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. 2. seperti pisang. sistem nilai.2010). Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. jeruk. reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap. bubur nasi. dan nasi tim. ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. tingkat pendidikan. dan air putih. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. seperti susu formula. tradisi. biskuit. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan. serta tanpa tambahan makanan padat.69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. kepercayaan. pekerjaan. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia. Ternyata. Faktor . Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. air teh. bubur susu.2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani. madu. sikap. tingkat sosial ekonomi.

akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut. peran petugas. pengetahuan petugas. sarana dan prasarana. keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat. dukungan suami.70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya. . jarak ke pelayanan kesehatan. undang-undang. dukungan keluarga. peraturan.

3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti. Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : . terdiri dari umur ibu. sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif. tingkat pendidikan ibu.71 2. Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja. sikap. dukungan atasan.

Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. 7. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 5. 6.4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 4. 2. 3.72 2. .

73 BAB III METODE PENELITIAN 3. yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan.September 2011 3. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus . artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis.2. 3.2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden. .2 Metode Penelitian 3.2.

1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. lama waktu bekerja. jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian).3. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang. 3. Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra.74 3. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen.3 Teknik Pengambilan Sampel 3.3.4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur. sikap. pendidikan. dukungan atasan.2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. dukungan suami. 3. .

jeruk. madu. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak. vitamin. . bubur susu. seperti pisang. bubur nasi. bubur nasi. air teh. madu. seperti susu formula. bubur susu.1 Variabel Dependen A. dan air putih. seperti pisang. 2. serta tanpa tambahan makanan padat. kalsium dan mineral seperti susu formula. biskuit. jeruk. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. kecuali vitamin dan mineral dan obat. serta tanpa tambahan makanan padat.4. biskuit.75 3. dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. dan nasi tim. B. air teh. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. dan air putih. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain.

Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif.Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer. dibersihkan dalam proses cleaning ini. jika terdapat data yang salah. dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak.Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: . . . responden menjawab sesuai dengan keadaan. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner. Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak.Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses. . .76 C.

77 Tabel 3.4. Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan.Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat. .2 Variabel Independen A. Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1.2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : .Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator .jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali .jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3.1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel . vitamin dan mineral Tabel 3.

Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. B. 7. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif. Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. 2. 5. 6. Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. . 3. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1.78 2. 3. 4.

79 4. Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. C. 5. nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden. Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. 7. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban. 6. . Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan.

3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3. < 8 jam ≥ 8 jam 1. Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 .80 Tabel 3. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari.6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif.2 5.

Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing. Yang . Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik. lama waktu bekerja. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer. sikap. Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur. dukungan suami.81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3.5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. pendidikan.5. A. 3. Coding. dukungan atasan.1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori. sarana menyusui di tempat kerja). yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan.

maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A.5. .Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen.82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B. . HO : P1 = P2 . .Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas.05 3. Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

B.Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .83 . . . .Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . Ha : P1 ≠ P2 .Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.84 . .

Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra. Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5. Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis. Baktiparamita Putrasama. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan. Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI. Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl.85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis.

. Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra.1.2 Ketenagaan Tabel 4.1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang. Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) . 4. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir. medical check-up. Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7.5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik.

1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra .1 Analisa Univariat A.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37. yaitu analisa univariat dan analisa bivariat.2% 62.87 4.2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62.2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian. Umur Tabel 4. Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah. Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.8% Dari tabel 4. 4.8%).2.

1% 74.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7. Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi.88 B.6% Dari tabel 4.3% 18.3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah. Pendidikan Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .

4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68. Lama Waktu Bekerja Tabel 4. Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.4%).4% Dari tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam.4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68.89 C.6% 31. Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.

8% 8.8% 4.8% 4. Sikap Tabel 4.8% 2.3% 5.8% 5.8% 2. .6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5.4% 11.8% 2.4% 8.3% 1.933. didapatkan nilai median= 38 .5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.90 D.8% 7. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37.4% 2. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50. standar deviasi (SD) = 7.2% 1.2% 2.3% 2.3% 7.6% 1.4% Standar Deviasi : 7.8% 4.4% 1.

6% Dari tabel 4.4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61. Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38.4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per .6%).4% 38.6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.91 Tabel 4.

Dukungan Suami Tabel 4. Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.4% 18.92 E.5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .6%).4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja.6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81. Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18.7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81.6% Dari tabel 4.

8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94. Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.3% 5.7%).93 F.7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94. Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Dukungan Atasan Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra .7% Dari tabel 4.3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja.

94 G.9% 87.8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87.9%).1% Dari tabel 4. Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12. Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12. Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya.

10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.3% Dari tabel 4.95 H.7%).3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25.9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .7% 74. Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Pemberian ASI eksklusif Tabel 4.

pendidikan.2. Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta. dukungan suami.2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur.05).190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34. sikap.5 74. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0.5 25. .6 20.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0. dukungan atasan.4 79.11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34. A. Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0.96 4.6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65.05 atau 5%. lama waktu bekerja.5%).

Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif .190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima.97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. C.5 74.7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80. D III (19. Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.2 61.5 25. B. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0.2%).8 38.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.5%).

840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. D.3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0.13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27.840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.7 74.3 25. Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .98 Tabel 4.3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%).7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72.

7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.2 74.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65.7 4.8%).3 95.8 25.009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.99 Tabel 4.

7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.2 92.7 25.15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.7%).100 E.092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29.3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0.3 74.8 7. . Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7.

7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24.8 50 74.3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24. .101 F.2 50 25.2%). Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.

6 21.043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.7 74.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.3 25. .102 F. Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55.6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21.4 78.043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.3%).

4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun. .103 4. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman. terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner. ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui. Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat.2. sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias. Dari sisi responden.

Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4. juga melindungi bayi dari . 2009). Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan. atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25.7%. yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik. World Health Organization (WHO.104 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan. madu dan air putih. sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes. ASI eksklusif memiliki banyak manfaat.

Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam.105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya. RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari. karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta . termasuk perawat. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif. 5.2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan.

karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat. karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu.190 (> 0. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif. Namun dalam penelitian pada responden perawat ini. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda.106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden. Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan. materi ASI eksklusif . dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.6%. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34.

. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif. D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif.5%. Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif.107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.003 (< 0.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. B. Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang.

108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. Begitu juga sebaliknya. C. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. pendapat dan konsep-konsep. 2003). pengertian. Koordinator Pengembangan Perawat dan . Ketua Tim Perawatan. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif. mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan.

sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27.840 (> 0. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif. sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja.109 lain. Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya.3%.lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian . Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.

Hal ini sejalan dengan penelitian Unika . karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.005 (<0. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. D. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang.7%). Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas.110 ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34.

Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29.111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. misalnya keluarga.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami. Let-down reflex mudah sekali terganggu. teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang . E. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami.092 (>0. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu.8%).

112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan. sikap dan lain sebagainya.271 (>0. pengalaman. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui. F. Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Penelitian ini sejalan dengan penelitian . Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%).05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan.

05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. pemerintah. karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. G. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi. sehingga perlu disiapkan . Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. pihak keluarga.043(<0. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.

Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi. . Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat. sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. untuk semua karyawan dan pasien. saat jam istirahat. sehingga dirasakan kurang mendukung. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi.

Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . 3. Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 5. 6. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra.7%. 4. 2. 7. masih jauh dari target nasional yaitu 80%. Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25.115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .1 Kesimpulan 1. Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 8.

6. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan).2.2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif. cuti .2 Saran 6. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat.116 6.2.2. misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus. Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI.3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa. 6. seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat.1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui.

Badriul. Second Edition. Mayfield Publishing Company. dr.1996.DAFTAR PUSTAKA Arif.or. 2011. 2010. Kendala Pemberian ASI eksklusif.A. Jakarta : Depkes RI. Depdikbud. Houston. Tesis Program Pasca Sarjana UI. IDAI. ASI atau Susu Formula ya?. Kristina. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia. Susui Aku!.id/asi. Tilaili. Jakarta : Depkes. L. 2004. http://www. Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional.2010. Afriana. 2008. Depdiknas. Depok. Depkes RI. Jogyakarta: Flashbooks.W. 2008. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. Laksono. 2003.Bandung:PT Refika Aditama.. Skripsi FKM UI.2000. 2010. Bedah Asi. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi. 2001. N. edisi kedua). Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab. 2010. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. M. Jakarta: Balai Pustaka. Bandung: Alumni. Hartatik. Tesis FKM UI. Penerbit. Gerungan. Ariani. Depok Kodrat. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. Jakarta: Depdiknas Green. Kreuter. 2009. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch. 2004. Nia. Profil Depkes RI 2007. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009. Ibu. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh.asp.idai. Langkat. Nur. Bandung : Khazanah Intelektual. Daldjoni. 2000. . Yogyakarta: Media Baca. Depkes RI. Yogyakarta: MedPress.Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka FKUI. Tesis FKM UI.W. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005.W. 1982. Hegar dkk. Ibrahim. Dahsyatnya ASI & Laktasi.

2011. U. Notoatmodjo. S. diakses 24 Juni 2011.MPH. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.. Hubertin. Buku Pintar ASI Eksklusif. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya. Jakarta : PT. 1994. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia . Childa. Maisni. Notoatmodjo. Siregar.Tessa Wardlaw..LLB (Hons). Sidi. Roesli. Yogyakarta : Diva Press Purwati. Konsep Penerapan ASI eksklusif.MD. PhD.sph.unc. PhD. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan. Nur. 2009. S. Marini. 2003. http://library. Jakarta : Depkes RI. S. Miriam H. 1998. Jakarta: Balai Pustaka. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. Jakarta : Rineka Cipta. Unika Atma Jaya. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi.id/download/fkm/fkm-arifin. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi.Khasanah. ASI atau Susu Formula ya?.. Depok. Dwi sunar. David Clark. Skripsi FKM UI. dkk.2003.2006. Unicef.Ann Blanc. Roesli. Jawa Barat. U. Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s. 2007..pdf.Yogyakarta: Flashbook. Jakarta : Trubus Agriwidya. 1999. Depok. Mengenal ASI Eksklusif. http://www. Ieda Poernomo Sigit. 2001. Labbok.. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum.pdf. A. diakses 24 Juni 2011. Prasetyono. 1995.usu. 2008. 2005. Tesis FKM UI.M. 1992. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Sarwono. MPH. Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya.eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006. Sarlito Wirawan.ac. Dra. and Nancy Terreri. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. 2004. Jakarta : Rineka Cipta. R.

Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”. 2010.Kes. 2004..G. SKp.2008. 2009.N. Metodologi Penelitian Kesehatan. Psikologi Sosial.http://asiku. DR. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. 2009.Sitaresmi.wordpress. Jurnal Kesmas Nasional.2008.. Jakarta: EGC. Sutama. 2008. Wicitra. World Health Organization. Switzerland: World Health Organization . Bandung: Alfabeta Saryono.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah. diakses 24 Juni 2011.. F. Global strategy for infant and young child feeding. M. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. No. Gizi dan Makanan. diakses 24 Juni 2011. Sunaryo. Soetjiningsih. Geneva. 1999. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/. Winarno. United Nations Children’s Fund. Sugiyono. Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia. Vol 1.1. Jakarta: Balai Pustaka.M. Metode Penelitian Administrasi. 2003. Psikologi untuk Perawatan. 1997. Sarlito. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Jakarta: ECG Setyowati.1987. Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan. Prof. Rahardjo.

penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian. Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis. JAKARTA Ibu yang terhormat.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun. JAKARTA . Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini. saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”. Sebelum menjawab pertanyaan. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA.

.......................... ........... Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran............................No.............................FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : . ........... Pendidikan :.. Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”................. Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi........ Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian...... Jakarta ...........................telp..........tahun ................. 2011 Yang membuat pernyataan.......... ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) ......................................................

A. ........ jika ada? .......................................... C.......... Identitas Responden NO.... tahun SPK Diploma III Strata I (SKp...... obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan......... Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin............ SKM) Usia Bayi : ........................... ......... mineral........ ................... Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ........ pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda......... Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia................... bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B.......

Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi.NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan. ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan. Dukungan Suami . D.

Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a. Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b. Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a. Tidak . Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Ya b. Tidak G. Ya b.

  .

    .

0% N 70 Total Percent 100.681 .152 a.3 52 52.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.7 17 19. b. The minimum expected count is 6.304 .0 ASI eksklusif 9 11.195 1.7 18 18. (2sided) Exact Sig.0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.190 .716 1. 0 cells (.0 70 70.0 26 26.691 70 1 .0 Total 44 44.0% N 0 Missing Percent .69. Sig.054 1. Computed only for a 2x2 table       .193 b Exact Sig.259 .0%) have expected count less than 5.0 Chi-Square Tests Asymp. (1sided) df a sided) 1 1 1 .3 9 6.

609 a df 2 2 1 sided) .0% N 0 Missing Percent .0 ASI eksklusif 0 1.0% N 70 Total Percent 100.0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3.0 13 13.       . (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.001 11. The minimum expected count is 1.29.0 Total 5 5. Sig.3 18 18.0%) have expected count less than 5.3 10 13.6 5 9.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.7 42 38.003 .0 52 52.003 .7 52 52.570 10.4 8 3. 3 cells (50.667 70 a.0 70 70.0 Chi-Square Tests Asymp.

Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.0% N 70 Total Percent 100.000 .3 36 35.841 b Exact Sig. Computed only for a 2x2 table       .0% N 0 Missing Percent . (1sided) df a sided) 1 1 1 .7 52 52.0 48 48.7 12 12.0 Chi-Square Tests Asymp.040 70 1 .0 70 70.529 a.041 .0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16. b.840 .000 . Sig.000 . 0 cells (.0 Total 22 22.0%) have expected count less than 5.3 18 18. (2sided) Exact Sig.041 1. The minimum expected count is 5.0 ASI eksklusif 6 5.840 1.66. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .

94.0%) have expected count less than 5. Computed only for a 2x2 table       .Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. 0 cells (.0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20.9 16 11.0 43 43. (1sided) df a sided) 1 1 1 .005 a.0 ASI eksklusif 2 6. (2sided) Exact Sig. The minimum expected count is 6.601 70 1 .1 27 31.006 b Exact Sig.013 .0 Total 27 27. b.0% N 0 Missing Percent . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7.003 7.005 .783 . Sig.005 .0% N 70 Total Percent 100.230 8.1 18 18.9 52 52.712 6.0 Chi-Square Tests Asymp.0 70 70.

000 .000 .0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9.0 Chi-Square Tests Asymp.811 b Exact Sig. The minimum expected count is 3.000 .7 42 42. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5.058 .Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. b.7 18 18.059 1.3 52 52. Sig.0 ASI eksklusif 3 3.0 Total 13 13. (2sided) Exact Sig.0% N 0 Missing Percent .558 a.0% N 70 Total Percent 100.0 57 57.057 70 1 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .808 .3 15 14.809 1. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0 70 70. Computed only for a 2x2 table     .34.

271 a. Sig.271 . The minimum expected count is 1.0 70 70.0% N 70 Total Percent 100.152 . b.0 52 52.0 18 18.291 70 1 .256 b Exact Sig.03.0%) have expected count less than 5.252 . Computed only for a 2x2 table     .0 ASI eksklusif 2 1.283 1.310 .0 Total 4 4. 2 cells (50.0% N 0 Missing Percent .0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.0 66 66.0 Chi-Square Tests Asymp. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1.0 50 49.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. (2sided) Exact Sig.579 . (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 16 17.308 1.

7 52 52. Computed only for a 2x2 table   .797 1. The minimum expected count is 2.000 . 1 cells (25.799 b Exact Sig.0 Total 61 61.0 70 70. (2sided) Exact Sig.065 70 1 .0 Chi-Square Tests Asymp.066 .Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.068 1.0%) have expected count less than 5.3 18 18. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45.7 2 2.3 7 6.0 9 9.0 ASI eksklusif 16 15.000 .0% N 70 Total Percent 100.000 . b.0% N 0 Missing Percent . (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .31.795 . Sig.580 a.

  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful