P. 1
Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam Dan Basa

Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam Dan Basa

|Views: 6|Likes:
Published by Mustafa Holidi

More info:

Published by: Mustafa Holidi on May 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2013

pdf

text

original

Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa Pendahuluan Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar

(milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalammilieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh. Komposisi Cairan Tubuh Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma.

Difusi Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. 3. maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. 4. 5. Berat molekul substansi. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’s law of diffusion). Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya. Jika tidak dapat menembusnya. 2. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen. maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali. konsentrasi air akan menurun. konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi.Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut. terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. Transport aktif membutuhkan energi. Dalam keadaan normal. Jarak yang ditempuh untuk difusi. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial. Peningkatan luas permukaan difusi. Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran. Osmosis Bila suatu substansi larut dalam air. Peningkatan permeabilitas. Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut.Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan mereka. sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. . Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Perpindahan Substansi Antar Kompartmen Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi. Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut.

luas permukaan membran dan permeabilitas membran. 1. maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Sebaliknya. Contoh: Pompa Na-K. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. . hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Internal fluid exchange. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap. Water turnover dibagi dalam: 1. seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan.  Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. eksternal fluid exchange. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting. dan 2. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Transport aktif Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar.Filtrasi Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran. Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang. Pengaturan volume cairan ekstrasel. yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel.

ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Retensi Na+meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel. Tetapi. semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah). Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam. semakin tinggi osmolaritas. Seperti halnya keseimbangan air. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara: 1. dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR). keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. 2. Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. 2. seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:  Perubahan osmolaritas di nefron . Memeperhatikan keseimbangan garam. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel.Selain sistem ReninAngiotensin-Aldosteron. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma.

Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus. pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sedangkan dalam sistem endokrin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. Aldosteron.Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal. terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH). dan cairan di dalam tubuh kembali normal. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. dan penyakit.  Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH) peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat. maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air. stres. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus. .Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur. perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. Sementara. diet. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan. suhu lingkungan. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. osmoreseptor di hypotalamus. jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh. yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II. dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. selain itu.

Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber. merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat . 2.45 dikatakan alkalosis. 2. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan 3. antara lain: 1.Keseimbangan Asam-Basa Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh. disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia.45 dan darah vena 7. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel 3. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh 3. pH rata-rata darah adalah 7.35. mempengaruhi konsentrasi ion K bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai semula dengan cara: 1. misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat. perubahan eksitabilitas saraf dan otot. sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. yaitu: 1. Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel.35 dikatakan asidosi. mengaktifkan sistem dapar kimia 2. Dapar hemoglobin. pH darah arteri 7. pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat. Dapar bikarbonat. katabolisme zat organik 3. mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan Ada 4 sistem dapar: 1. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Dapar protein.4. Jika pH <7. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat. sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas. dan jika pH darah >7. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2.

diabetes melitus. Dapar fosfat.4. Hilangnyaion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat. disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi. kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam non-karbonat. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia. 2. Asidosis metabolik. Alkalosis metabolik. dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H. diare akut. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. yaitu: 1. yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat. sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi . 3. Pembentukan H2CO3menurun sehingga pembentukkan ion H menurun. disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Ketidakseimbangan Asam-Basa Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa. Asidosis respiratori.. KESIMPULAN Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting. olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat. maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan. merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut. Alkalosis metabolik. 4. Pembentukkan H2CO3 meningkat. fungsi pernapasan dan ginjal sangat penting. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan.

cairan peritoneum. Komposisi Elektrolit Air melintasi membran sel dengan mudah. Cairan ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat di ruang antarsel (interstitial) sebesar 15% dan plasma sebesar 5%. sedangkan pada dewasa wanita 50% BB. San Fransisco: Pearson Education. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K. Cairan antarsel khusus disebut cairan transeluler misalnya cairan serebrospinal. sakit kepala dan keram otot. Mg dan fosfat. lemak. Air dalam tubuh berada di beberapa ruangan. California: Brooks/Cole-Thomson Learning.perawatonline. D. yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.  www. hipotiroid. gangguan ginjal dan sindroma nefrotik. Inc. 3th ed. • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam. Selain ginjal. 2. sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl. letargi. Daftar Pustaka  Sherwood.com BAGAIMANA KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DALAM TUBUH KITA Komposisi Cairan Tubuh Kandungan air pada saat bayi lahir adalah sekitar 75% BB dan pada saat berusia 1 bulan sekitar 65% BB. disorientasi dan koma. Komposisi cairan pada tubuh dewasa pria adalah sekitar 60% BB.  Silverthorn. oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda. yaitu intraseluler sebesar 40% dan ekstraseluler sebesar 20%. karbohidrat. tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya. Human Physiology: An Integrated approach. Syok hipovolemik Keseimbangan Cairan Dehidrasi Gangguan Keseimbangan Elektrolit 1.asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. pasien mungkin mual. (2004).U. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. muntah. cairan persendian. dll. 5th ed. Sisanya adalah zat padat seperti protein. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti . kejang. Human Physiology: From cells to system. Gangguan 1. dll. Lauralee. (2004). Hiponatremia Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF. penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam. bisa terjadi sakit kepala hebat.

perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L) Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik. emboli arteri akut. dan kelainan konduksi. Hipokalemia Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3. misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik. sedot nasogastrik. Temuan-temuan lain meliputi parestesi. di uretik hemat kalium. dan depresi segmen ST. 4. luka bakar. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama • Hipoaldosteron Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. nefropati hiperkalsemik. kelemahan. Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. uropati pasca obstruksi. hemolisis. kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L).5 mEq/L) Etiologi : • Ekskresi renal tidak adekuat. amplitudo gelombang P mengecil. terlihat gelombang T runcing (K+ > 6. sindrom malabsorpsi. defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah. mungkin arefleksia. tremor. diabetes insipidus. Tanda dan Gejala : iritabilitas otot. transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.5 mEq/L). atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia. Ini disusul dengan interval PR memanjang. Pada permulaan. arefleksia dan paralisis ascenden. • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan. 3. ataksia. penyakit Addison). diare. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar. penyalahgunaan pencahar) • Diuretik • Asupan K+ yang tidak cukup dari diet • Ekskresi berlebihan melalui ginjal • Maldistribusi K+ • Hiperaldosteron Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal). gelombang U.penghambatACE. misalnya pada asidosis. mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. bingung. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam. diuresis osmotik. sekrosis tubulus akut. hipotensi ortostatik.5 mEq/L) Etiologi • Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah.• Perpindahan dari intra ke ekstraseluler.• Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries). digitalisasi. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5.• Insufisiensi adrenal• Pseudohiperkalemia. reentry phenomena.gagal jantung. pembedahan mayor. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->