Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa Pendahuluan Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar

(milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalammilieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh. Komposisi Cairan Tubuh Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma.

konsentrasi air akan menurun. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen. Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran. 3. Osmosis Bila suatu substansi larut dalam air. 5. Transport aktif membutuhkan energi. 2. Peningkatan luas permukaan difusi. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan. Peningkatan permeabilitas. maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali. 4. maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Jarak yang ditempuh untuk difusi. Perpindahan Substansi Antar Kompartmen Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut. . Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial.Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan mereka.Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut. Difusi Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya. sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’s law of diffusion). Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. Jika tidak dapat menembusnya. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Dalam keadaan normal. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. Berat molekul substansi.

Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap. Internal fluid exchange. pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting. maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Sebaliknya. luas permukaan membran dan permeabilitas membran. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan. peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. dan 2. seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. Pengaturan volume cairan ekstrasel. pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Transport aktif Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. eksternal fluid exchange. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa Na-K.  Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Water turnover dibagi dalam: 1. 1. . yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik.Filtrasi Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran.

mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. 2. pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:  Perubahan osmolaritas di nefron . keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. Seperti halnya keseimbangan air. Memeperhatikan keseimbangan garam. semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah). Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya.Selain sistem ReninAngiotensin-Aldosteron. mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR). ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara: 1. ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. semakin tinggi osmolaritas. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma. seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel. 2. Retensi Na+meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam. sedangkan di dalam cairan intrasel. Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Tetapi.

perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan. Aldosteron. dan cairan di dalam tubuh kembali normal. yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta.  Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH) peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus.Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. . Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan. jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh. Sementara. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). suhu lingkungan. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Sedangkan dalam sistem endokrin. stres. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH). Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus. maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. selain itu. dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. dan penyakit. hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II.Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur. pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. diet. osmoreseptor di hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat. dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air.

pH darah arteri 7. mengaktifkan sistem dapar kimia 2. dan jika pH darah >7. Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber. Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan 3. misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat. Jika pH <7. pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel 3.45 dan darah vena 7. mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan Ada 4 sistem dapar: 1. pH rata-rata darah adalah 7.Keseimbangan Asam-Basa Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh. antara lain: 1.4. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh 3. 2. perubahan eksitabilitas saraf dan otot. merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat .35 dikatakan asidosi. sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas. Dapar protein. katabolisme zat organik 3. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. 2.35. disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia. mempengaruhi konsentrasi ion K bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai semula dengan cara: 1.45 dikatakan alkalosis. yaitu: 1. Dapar hemoglobin. Dapar bikarbonat. sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2.

sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Asidosis metabolik. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia. disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut.. Hilangnyaion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat. 2. kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi . sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat. diabetes melitus. 4. Alkalosis metabolik. maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan. Asidosis respiratori.4. KESIMPULAN Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting. Pembentukan H2CO3menurun sehingga pembentukkan ion H menurun. yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H. Alkalosis metabolik. Ketidakseimbangan Asam-Basa Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa. 3. Pembentukkan H2CO3 meningkat. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan. merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. Dapar fosfat. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. diare akut. terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam non-karbonat. disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi. fungsi pernapasan dan ginjal sangat penting. olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat. asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. yaitu: 1.

sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl.  Silverthorn. 3th ed.  www. cairan peritoneum. California: Brooks/Cole-Thomson Learning. Daftar Pustaka  Sherwood. Cairan ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat di ruang antarsel (interstitial) sebesar 15% dan plasma sebesar 5%. Mg dan fosfat. Komposisi Elektrolit Air melintasi membran sel dengan mudah. 5th ed.asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam. bisa terjadi sakit kepala hebat. 2. letargi. muntah.com BAGAIMANA KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DALAM TUBUH KITA Komposisi Cairan Tubuh Kandungan air pada saat bayi lahir adalah sekitar 75% BB dan pada saat berusia 1 bulan sekitar 65% BB. sedangkan pada dewasa wanita 50% BB. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K. gangguan ginjal dan sindroma nefrotik. San Fransisco: Pearson Education. Human Physiology: From cells to system.U. dll. Cairan antarsel khusus disebut cairan transeluler misalnya cairan serebrospinal. sakit kepala dan keram otot. yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh. Lauralee. Hiponatremia Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF. pasien mungkin mual. hipotiroid. yaitu intraseluler sebesar 40% dan ekstraseluler sebesar 20%. (2004). Selain ginjal.perawatonline. disorientasi dan koma. (2004). Syok hipovolemik Keseimbangan Cairan Dehidrasi Gangguan Keseimbangan Elektrolit 1. • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam. Air dalam tubuh berada di beberapa ruangan. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti . Gangguan 1. tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya. Human Physiology: An Integrated approach. dll. Sisanya adalah zat padat seperti protein. D. lemak. karbohidrat. Inc. Komposisi cairan pada tubuh dewasa pria adalah sekitar 60% BB. oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. kejang. cairan persendian.

• Perpindahan dari intra ke ekstraseluler. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. gelombang U. kelemahan. ataksia. nefropati hiperkalsemik. hemolisis. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama • Hipoaldosteron Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung.• Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries). Hipokalemia Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3. emboli arteri akut. arefleksia dan paralisis ascenden. • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan. defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah.5 mEq/L). Tanda dan Gejala : iritabilitas otot. diare. 4. dan kelainan konduksi. sekrosis tubulus akut. tremor.5 mEq/L) Etiologi • Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah. diuresis osmotik. misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik.5 mEq/L) Etiologi : • Ekskresi renal tidak adekuat. sindrom malabsorpsi.gagal jantung. penyalahgunaan pencahar) • Diuretik • Asupan K+ yang tidak cukup dari diet • Ekskresi berlebihan melalui ginjal • Maldistribusi K+ • Hiperaldosteron Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal). Temuan-temuan lain meliputi parestesi. amplitudo gelombang P mengecil. transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan.penghambatACE. dan depresi segmen ST. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel. sedot nasogastrik. penyakit Addison). EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. terlihat gelombang T runcing (K+ > 6. misalnya pada asidosis. diabetes insipidus. reentry phenomena. Pada permulaan. pembedahan mayor. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L) Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik.• Insufisiensi adrenal• Pseudohiperkalemia. mungkin arefleksia. Ini disusul dengan interval PR memanjang. bingung. atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam. uropati pasca obstruksi. digitalisasi. luka bakar. kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. hipotensi ortostatik. 3. kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia. mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. di uretik hemat kalium. perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. . Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful