makalah Ruptur perineum + Askeb

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perineum merupakan bagian yang sangat penting dalam fisiologi. Keutuhan perineum tidak hanya berperan atau menjadi bagian penting dari proses persalinan, tetapi juga diperlukan untuk mengontrol proses buang air besar dan buang air kecil, menjaga aktifitas peristaltik normal (dengan menjaga tekanan intra abdomen) dan fungsi seksual yang sehat. Robekan perineum terjadi hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga tidak sampai dasar panggul dilalui kepala janin dengan cepat. Sebaliknya kepala janin yang akan lahir tidak ditahan terlampau kuat dan lama karena menyebabkan asfiksia perdarahan dalam tengkorak janin dan melemahkan otot-otot dan pada dasar panggul karena direnggangkan terlalu lama. Pesalinan seringkali menyebabkan perlukaan jalan lahir. Luka yang biasa terjadi biasanya ringan tetapi sering kali juga terjadi luka yang luas dan berbahaya, untuk itu setelah persalinan harus dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum perlu dilakukan setelah pembedahan pervaginam. B. Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan asuhan kebidanan pada ibu inpartu dengan kasus robekan perineum tingkat 3 dan tingkat 4 pada persalinan.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ruptur Perineum 1. Ruptur Perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin terlalu cepat. Robekan perineum terjadi pada hampir semua primipara (Winkjosastro,2005). 2. Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum yang biasanya disebabkan oleh trauma saat persalinan (Maemunah, 2005). 3. Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya (Prawirohardjo,2007). B. Faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga terjadi robekan 1. Faktor Predisposisi Faktor penyebab ruptur perineum diantaranya adalah faktor ibu, faktor janin, dan faktor persalinan pervaginam. Diantara faktor-faktor tersebut dapat diuraikan sebagai beriut : 1) Faktor Ibu a) Paritas Menurut panduan Pusdiknakes 2003, paritas adalah jumlah kehamilan yang mampu menghasilkan janin hidup di luar rahim (lebih dari 28 minggu). Paritas menunjukkan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan, tanpa mengingat jumlah anaknya (Oxorn, 2003). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia paritas adalah keadaan kelahiran atau partus. Pada primipara robekan perineum hampir selalu terjadi dan tidak jarang berulang pada persalinan berikutnya (Sarwono, 2005). b) Meneran

dan menderita lebih banyak laserasi dari pada kedudukan normal. Menganjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.5 cm. Tidak melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi. patah tulang klavikula. Sikap ekstensi memiliki hubungan dengan diproporsi kepala panggul dan merupakan kombinasi yang serius. 2001). Makrosomia disertai dengan meningkatnya resiko trauma persalinan melalui vagina seperti distosia bahu. karena muka merupakan pembuka servik yang jelek dan sikap ekstensi kurang menguntungkan. presentasi adalah letak hubungan sumbu memanjang janin dengan sumbu memanjang panggul ibu (Dorland.Presentasi Dahi Presentasi dahi adalah sikap ekstensi sebagian (pertengahan). Ibu harus di dukung untuk meneran dengan benar pada saat ia merasakan dorongan dan memang ingin mengejang (Jhonson. sikap extensi sempurna dengan diameter pada waktu masuk panggul atau diameter submento bregmatika sebesar 9. Bagian terendahnya adalah daerah .- Secara fisiologis ibu akan merasakan dorongan untuk meneran bila pembukaan sudah lengkap dan reflek ferguson telah terjadi. Ibu harus bekerja lebih keras. Ibu mungkin merasa dapat meneran secara lebih efektif pada posisi tertentu (JHPIEGO. dan kerusakan jaringan lunak pada ibu seperti laserasi jalan lahir dan robekan pada perineum (Rayburn. Presentasi muka menyebabkan persalinan lebih lama dibanding presentasi kepala dengan UUK (Ubun-ubun Kecil) di depan. hal ini berlawanan dengan presentasi muka yang ekstensinya sempurna. 2004). dan presentasi bokong. Keadaan yang menghambat masuknya kepala dalam sikap flexi dapat menjadi penyebab pesentasi muka. 2001). presentasi dahi. sedang pada presentasi dahi bagian terendahnya antara glabella dan bregma (Oxorn. Pencegahan ruptur perineum dapat dilakukan saat bayi dilahirkan terutama saat kelahiran kepala dan bahu. Macam-macam presentasi dapat dibedakan menjadi presentasi muka. Mungkin ibu akan merasa lebih mudah untuk meneran jika ibu berbaring miring atau setengah duduk. maka harus diperhitungkan kemungkinan panggul yang kecil atau kepala yang besar. 2) Faktor Janin a) Berat Badan Bayi Baru lahir Makrosomia adalah berat janin pada waktu lahir lebih dari 4000 gram (Rayburn. b) Presentasi Menurut kamus kedokteran. Bagian terendahnya adalah bagian antara glabella dan dagu. 2003).1998). Karena persalinan lebih lama dan rotasi yang sukar akan menyebabkan traumatik pada ibu maupun anaknya. tetapi setelah persalinan lebih maju semuanya akan berjalan lancar. lebih merasakan nyeri. Tidak menganjurkan ibu untuk menahan nafas pada saat meneran. . Dorongan ini dapat meningkatkan resiko distosia bahu dan ruptur uteri. menarik lutut ke arah ibu. Penundaan terjadi di pintu atas panggul. kerusakan fleksus brakialis. Sekitar 70% presentasi muka adalah dengan dagu di depan dan 30% posisi dagu di belakang. dan menempelkan dagu ke dada. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam memimpin ibu bersalin melakukan meneran untuk mencegah terjadinya ruptur perineum.Presentasi Muka Presentasi muka atau presentasi dahi letak janin memanjang. Presentasi digunakan untuk menentukan bagian yang ada di bagian bawah rahim yang dijumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam. . diantaranya : Menganjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya selama kontraksi. 2005).

. 2003). robekan portio. dapat mengakibatkan ruptur uteri. khususnya dengan segmen bawah uterus yang sudah tipis. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu adalah robekan pada serviks uteri dan robekan pada vagina dan ruptur perineum. atau persalinan setelah coming head lewat servik yang belum berdilatasi lengkap. Manipulasi secara manual pada jalan lahir akan meningkatkan resiko infeksi pada ibu. berlangsung kurang dari 3 jam. presentasi bokong kaki. Cara ini tidak dapat dipakai untuk melahirkan anak dengan fetal distress (gawat janin). (Oxorn. laserasi serviks. 2002). 2002). Berdasarkan posisi janin. Komplikasi yang mungkin terjadi atara lain perlukaan vagina. janin dilahirkan dengan cunam yang dipasang di kepala janin (Mansjoer. presentasi bokong dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu presentasi bokong sempurna. dan presentasi bokong lutut (Oxorn. 3) Faktor Persalinan Pervaginam a) Vakum ekstrasi Vakum ekstrasi adalah suatu tindakan bantuan persalinan. atau pada keadaan yang sangat jarang dijumpai. ruptur perineum. kebanyakan adalah skunder yakni terjadi setelah persalinan dimulai. Proses lewatnya dahi melalui panggul lebih lambat. 2005). Tindakan manipulasi tersebut dapat pula menyebabkan robekan perineum yang lebih dalam (Cunningham. pecahnya varices vagina (Oxorn. Berbagai perasat intra uteri. Robekan perineum tidak dapat dihindari dan dapat meluas atas sampai fornices vagina atau rektum. Waktu yang diperlukan untuk pemasangan cup sampai dapat ditarik relatif lebih lama daripada forsep (lebih dari 10 menit). Bersifat sementara dan kemudian kepala fleksi menjadi presentasi belakang kepala atau ekstensi menjadi presentasi muka. Presentasi dahi primer yang terjadi sebelum persalinan mulai jarang dijumpai. 2002). d) Persalinan Presipitatus Persalinan presipitatus adalah persalinan yang berlangsung sangat cepat. Panggul janin merupakan kutub bawah dengan penunjuknya adalah sacrum. perdarahan post partum. 2003). Kesulitan pada persalinan bokong adalah terdapat peningkatan resiko maternal.diantara margo orbitalis dengan bregma dengan penunjukknya adalah dahi. syok. lebih berat. tidak adanya rasa nyeri pada saat his sehingga ibu tidak menyadari adanya proses persalinan yang sangat kuat (Cunningham. perlukaan vulva. merupakan diameter antero posterior kepala janin yang terpanjang (Oxorn. 2003). janin dilahirkan dengan ekstrasi menggunakan tekanan negatif dengan alat vacum yang dipasang di kepalanya (Mansjoer. dan lebih traumatik pada ibu dibanding dengan presentasi lain. dapat disebabkan oleh abnormalitas kontraksi uterus dan rahim yang terlau kuat. b) Ekstrasi Cunam/Forsep Ekstrasi Cunam/Forsep adalah suatu persalinan buatan. serta cedera saluran kemih/cerna. . 2002). Diameter bagian terendah adalah diameter verticomentalis sebesar 13. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu karena tindakan ekstrasi forsep antara lain ruptur uteri.5 cm. 2003). c) Embriotomi Embriotomi adalah prosedur penyelesaian persalinan dengan jalan melakukan pengurangan volume atau merubah struktur organ tertentu pada bayi dengan tujuan untuk memberi peluang yang lebih besar untuk melahirkan keseluruhan tubuh bayi tersebut (Syaifudin. presentasi bokong murni. ruptur perineum yang luas bila perforator meleset karena tidak ditekan tegak lurus pada kepala janin atau karena tulang yang terlepas saat sendok tidak dipasang pada muka janin. ataupun keduanya. karena besarnya diameter yang harus melewati PBP (Pintu Bawah Panggul).Presentasi Bokong Presentasi bokong memiliki letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas. atonia uteri dan infeksi ( Mansjoer. vagina.

dengan jaringan yang mengalami robekan adalah : a) Sebagaimana ruptur derajat tiga b) Dinding depan rectum D. Penanganan Ruptur Perineum Penanganan ruptur perineum diantaranya dapat dilakukan dengan cara melakukan penjahitan luka lapis demi lapis. Ada perdarahan keluar dari lubang vulva. Ruptur perineum derajat empat. dengan jaringan yang mengalami robekan adalah : a) Sebagaimana ruptur derajat dua b) Otot sfingter ani 4. dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi. Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali. Selain itu dapat dilakukan dengan cara memberikan antibiotik yang cukup (Moctar. 3 3. Menurut buku Acuan Asuhan Persalinan Normal (2008) laserasi spontan pada vagina atau perineum dapat terjadi saat kepala dan bahu dilahirkan. Pimpinan persalinan yang salah merupakan salah satu penyebab terjadinya ruptur perineum. 4 4. 2 2. 2004). kepala janin terjadi defleksi terlalu cepat. Prinsip yang harus diperhatikan dalam menangani ruptur perineum adalah : . Tanda dan Gejala Ruptur Perineum Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik. yaitu : 1. sehingga sangat diperlukan kerjasama dengan ibu dan penggunaan perasat manual yang tepat dapat mengatur ekspulsi kepala. Tanda-tanda yang mengancam terjadinya robekan perineum antara lain : 1 1. di antara fourchette dan sfingter ani. Keadaan ini akan memperbesar kemungkinan ruptur perineum (Mochtar. 4) Faktor Penolong Persalinan Penolong persalinan adalah seseorang yang mampu dan berwenang dalam memberikan asuhan persalinan. dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir (Depkes RI. E. dengan jaringan yang mengalami robekan adalah : a) Mukosa Vagina b) Komisura posterior c) Kulit perineum 2. Ruptur perineum derajat tiga. dengan jaringan yang mengalami robekan adalah : a) Mukosa Vagina b) Komisura posterior c) Kulit perineum d) Otot perineum 3. merupakan indikasi robekan pada mukosa vagina. derajat ruptur perineum dapat dibagi menjadi empat derajat. Sehingga sering petugas belum siap untuk menolong persalinan dan ibu mengejan kuat tidak terkontrol. 1998). 1998). bahu. C. Kulit perineum berwarna pucat dan mengkilap.2005). dan memperhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka kearah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka. Ruptur perineum derajat dua. Bila kulit perineum pada garis tengah mulai robek. Ruptur perineum derajat satu. Klasifikasi Ruptur Perineum Menurut buku Acuan Asuhan Persalinan Normal (2008). Kulit perineum mulai melebar dan tegang.

Perdarahan pada ruptur perineum dapat menjadi hebat khususnya pada ruptur derajat dua dan tiga atau jika ruptur meluas ke samping atau naik ke vulva mengenai clitoris. Mencegah kontaminasi dari rektum . kebersihan. Melindungi perineum dengan satu tangan dengan kain bersih dan kering. Infeksi juga dapat menjadi sebab luka tidak segera menyatu sehingga timbul jaringan parut. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat I. segera memeriksa perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap. Perawatan Ruptur Perineum Perawatan khususnya perineum bagi wanita setelah melahirkan mengurangi rasa ketidaknyamanan. bahu. G. 2. mencegah infeksi dan meningkatkan penyembuhan. Prinsip melakukan jahitan pada robekan perineum : a) Reparasi mula-mula dari titik pangkal robekan sebelah dalam/proksimal ke arah luar/distal. untuk mengeringkan bayi segera setelah lahir. kemudian dijahit antara 2-3 jahitan catgut kromik sehingga bertemu kembali. d) Robekan perineum tingkat III : penjahitan yang pertama pada dinding depan rektum yang robek. 4. 2. 2. ibu jari pada salah satu sisi perineum dan empat jari tangan pada sisi yang lain pada belakang kepala bayi. 3. c) Robekan perineum tingkat II : untuk laserasi derajat I atau II jika ditemukan robekan tidak rata atau bergerigi harus diratakan terlebih dahulu sebelum dilakukan penjahitan. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari puncak robekan.1. Vagina dijahit dengan catgut secara terputus-putus atau jelujur. Pertama otot dijahit dengan catgut kemudian selaput lendir. Bila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak lahir. Meminimalkan Derajat Ruptur Perineum Menurut Mochtar (1998) persalinan yang salah merupakan salah satu sebab terjadinya ruptur perineum. Bahaya dan Komplikasi Ruptur Perineum 1. Menurut Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal (2008) kerjasama dengan ibu dan penggunaan perasat manual yang tepat dapat mengatur ekspulsi kepala. Prinsipprinsip dasarnya adalah sebagai berikut : 1. F. e) Robekan perineum tingkat IV : ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah karena robekan diklem dengan klem pean lurus. Kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara jelujur. penolong meletakkan kain yang bersih dan kering yang dilipat sepertiganya di bawah bokong ibu dan menyiapkan kain atau handuk bersih di atas perut ibu. Cara-cara yang dianjurkan untuk meminimalkan terjadinya ruptur perineum diantaranya adalah Saat kepala membuka vulva (5-6 cm). kemudian fasia perirektal dan fasia septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik sehingga bertemu kembali. dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi atau meminimalkan robekan pada perineum. Melindungi perineum dan mengendalikan keluarnya kepala. Jahitan dilakukan lapis demi lapis. Menahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum. b) Robekan perineum tingkat I : tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik. selanjutnya dilakukan penjahitan. Laserasi perineum dapat dengan mudah terkontaminasi feses karena dekat dengan anus. namun jika terjadi perdarahan segera dijahit dengan menggunakan benang catgut secara jelujur atau dengan cara angka delapan. F. dari lapis dalam kemudian lapis luar. bahu. dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada jalan lahir. Bila plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi uterus baik. dan seluruh tubuh bayi secara bertahap dengan hati-hati dapat mengurangi regangan berlebihan (robekan) pada vagina dan perineum.

Dengan menerapkan prinsip ini. Satu pasang handscoen 2. oleskan dari atas ke bawah pada labia minora (dimulai dari bagian yang terjauh dari petugas). perencanaan. Hal ini mulai dengan pengumpulan data dasar dan di akhiri dengan evaluasi. diagnosis kebidanan. sedangkan diagnosa lebih sering di definisikan oleh bidan yang di fokuskan pada apa yang di alami oleh klien. Berkemih dan BAB ke toilet 4. Pengertian Manajemen Kebidanan Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang di gunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan 1. Tujuh langkah itu adalah : a) Langkah I : Identifikasi dan analisa Data Identifikasi dan analisa data (pengkajian) pengumpulan data untuk menialai kondisi klien. kemudian oleskan ke dalam vagina dengan memutar 360 derajat. serta catatan tentang kesehatan yang lalu dan sekarang serta hasil pemeriksaan laboratorium. a. 3. c) Pakai sarung tangan disenfeksi tinggi atau steril. prosedur yang di sarankan pada ibu adalah : 1. Cuci tangan. pemeriksaan panggul. b) Kompres bethadine G. Terakhir oleskan 1 kapas savlon dari bagian sampai ke bawah vulva 1 kali. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma. 3.2. b) Langkah II : Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual Mengidentifikasi data secara spesifik ke dalam suatu rumusan diagnosa kebidanan dan masalah. Nerbeken b. pemeriksaan fisik. Problem klien menguraikan keadaan yang ia rasakan. Kom berisi bethadine 4. Persiapan alat dan bahan 1. Membersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau. Mencuci tangan. Cara Kerja a) Vulva Hygiene a) Membantu ibu untuk mengambil posisi litotomi b) Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air yang bersih yang mengalir. 2. a. Yang termasuk data dasar adalah riwayat kesehatan klien. b) Vagina toilet a) Gulungkan gaas bethadin pada jari telunjuk dan jari tengah. pelaksanaan dan evaluasi. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rektum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantong plastik. d) Dengan menggunakan 1 kapas savlon. Kata diagnosa dan masalah digunakan kedua-duanya dan mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Gaas Steril 3. c) Langkah III : Identifikasi Diagnosa/ Masalah potensial . Tahapan dalam Manajemen Kebidanan Menurut Varney (2008) proses manajemen kebidanan dalam tujuh langkah yang pada waktu tertentu dapat diperluas dan diperbaharui. Kapas Savlon 5. analisa data.

Rencana tindakan komprehensif bukan hanya meliputi kondisi klien serta konseling. Langkah VII: mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan asuhan yang diberikan kepada klien. Langkah IV : Perlunya Tindakan Segera/ Kolaborasi Proses manajemen kebidanan dilakukan secara terus menerus selama klien dalam perawatan bidan. “A” DENGAN LUKA PERINEUM DERAJAT III DI RUMAH SAKIT AJAPPANGE KAB. Bidan harus melakukan implementasi yang efisien dan akan mengurabgi waktu perawatn dan biaya perwatan serta akan meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan klien. a) b) c) d) Dari kumpulan masalah dan diagnosa. Langkah IV: Implementasi Asuhan Kebidanan Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan ataupun bekerja sama dengan tim kesehatan lain.Pada prinsipnya tahapan evaluasi adalah pengkajian kembali terhadap klien untuk menjawabpertanyaan seberapa jauh tercapainya rencana yang dilakukan. agama. Planning (P) Apa yang dilakukan berdasarkan hasil kesimpulan dan evaluasi terhadap keputusan klinis yang diambil dalam rangka mengatasi masalah klinis klien atau memenuhi kebutuhan klien. Dipakai untuk mendokumentasikan hasil klien dalam rekaman medis klien sebagai catatan perkembangan kemajuan yaitu: Subjektif (S) Apa yang dikatakan. bila perlu mengenai ekonomi. Proses terus menerus ini menghasilkan data baru segera di nilai. SOPPENG TANGGAL 06 JULI 2012 Nomor register : 21 45 46 . serta pemeriksaan laboratorium.J (2006). sebagian telahdipecahkan atau mungkin timbul masalah baru. disampaikan. BAB III STUDI KASUS ASUHAN KEBIDANAN POST NATAL CARE PATOLOGI PADA NY.d) e) f) g) b. Pada tahap evaluasi ini bidan harus melakukan pengamatan dan obsevasi terhadap masalah di atasi seluruhnya. Data yang muncul dapat menggambarkan suatu keadaan darurat di mana bidan harus segera bertindak untuk menyelamatkan klien. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan Menurut Simatupang E.. dirasakan oleh bidan saat melakukan pemeriksaan. metode empat pendokumentasian yang di sebut soap ini dijadikan proses pemikiran penatalaksanaan kebidanan. Assesment (A) Kesimpulan apa yang di buat berdasarkan data subjektif dan objektif sebagai hasil pengambilan keputusan klinis terhadap klien tersebut. budya. Langkah V : Rencana Asuhan Kebidanan Dikembangkan berdasarkan intervensi saat sekarang dan antisipasi diagnosa dan problem serta meliputi data-data tambahan setelah data dasar. dikeluhkan oleh bidan Objektif (O) Apa yang dilihat dan di raba. ataupun masalah psikologis. identifikasi faktor-faktor potensial yang memerlukan antisipasi segera tindakan pencegahan jika memungkinkan atau waspada sambil menunggu dan mempersiapkan pelayanan untuk segala sesuatu yang mungkin terjadi.

dan TBC 2) Tidak ada riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan tertentu 3) Tidak ada riwayat penyakit keturunan C. Riwayat Persalinan ( Di tinjau Ulang proses persalinan/ medical record) 1. jantung. Riwayat kesehatan lalu 1) Ibu tidak pernah menderita penyakit hipertensi. ANC : 5x selama hamil. Identitas Istri/Suami Nama : Ny. malaria. . HTP : 12 Juli 2012 3. Ibu telah mendapat imunisasi TT selama hamil sebanyak 2x di BPS TT1 : 05 Januari 2012 TT2 : 14 Maret 2012 5. Lamanya ± 9 jam 30 menit. 3) Ibu berusaha mengatasi nyeri perineum dengan beristirahat baring di tempat tidur 4) Keluhan lain yang dirasakan ibu yaitu nyeri pada perut bagian bawah sejak melahirkan. Riwayat keluhan utama 1) Nyeri di rasakan setelah melahirkan pada tanggal 06 Juli 2011. Riwayat Obstetri 1) G1 P0 A0 2) Riwayat Haid a) Menarche umur 14 tahun b) Siklus haid ± 28 hari c) Lamanya 6 hari d) Ibu tidak pernah merasakan adanya keluhan saat haid D. Kala 1 a. Masuk Rumah Sakit 06 Juli 2012 Pukul 00:30 wita.Tanggal masuk Tanggal partus Tanggal pengkajian : 06 Juli 2012 : 06 Juli 2012 : 06 Juli 2012 Pukul : 00 : 30 Wita Pukul : 04 : 50 Wita Pukul : 15 : 00 Wita Langkah 1. Keluhan Utama Ibu merasa nyeri pada bekas luka jahitan b. di BPS 4. Identifikasi Data Dasar A. Riwayat Ginekologi 1. E. HPHT : 05 Oktober 2011 2. 2. Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit serius. F. DM. “B” Umur : 20 tahun / 24 tahun Nikah/Lamanya : 1 kali / 2 tahun Suku : Bugis / Bugis Agama : Islam / Islam Pendidikan : Sma / S1 Pekerjaan : URT / Guru Alamat : Jalan Bila Selatan B. pukul 04:50 wita. Tidak pernah di operasi ginekologi. b. “A” / Tn. Tidak pernah menderita tumor rahim/ginekologi. Riwayat kehamilan sekarang 1. Data biologis/fisiologis a. c. 2) Sifat Keeluhan di rasakan lebih berat jika ibu terlalu banyak bergerak.

2. Persalinan spontan. c. c. 3. Tinggi Fundus Uterus 1 jari bawah pusat c. b. Perdarahan ± 150 cc d. Lamanya ± 13 menit b. Lamanya ± 25 menit. Ruptur perineum tingkat 3 4. Kontraksi uterus baik. lahir bayi laki-laki. presentasi belakang kepala. Jam 04:55 Wita. Pola kebiasaan sebelum post partum a) BAK : 3-4x sehari b) BAB : 1x sehari b. Pikul 04:25 Wita pembukaan lengkap (10 cm). Kebutuhan nutrisi a) Pola makan : Nasi.5 °C G. Sayur dan lauk b) Frekuensi Makan : 3 kali sehari c) Nafsu Makan : 3 kali sehari d) Minum : 6-8 gelas/ hari 2. plasenta lahir lengkap. A/S : 8/10. Kala II a. BBL 3300 gr. Riwayat Pemenuhan Kebutuhan Dasar 1.c. Pola kebutuhan eliminasi a. b. Pola selama post partum a) BAK : 3-4x sehari b) BAB : 1x sehari 3. Kebiasaan selama post partum a) Mandi 2x sehari b) Gosok gigi 2x sehari c) Keramas 1x sehari d) Ganti pakaian 2x sehari e) Ganti pembalut 2-3x sehari atau tiap kali penuh . Riwayat Keluarga Berencana Ibu tidak pernah menjadi akseptor KB. Tanda-tanda vital: 1) Tekanan darah : 110/80 mmHg 2) Nadi : 84 x/menit 3) Pernafasan : 24 x/menit 4) Suhu : 36. d.segera menangis. Anus (+). Kala III : a. Kebiasaan sebelum post partum a) Mandi 2x sehari menggunakan sabun mandi b) Gosok gigi 2x sehari c) Keramas 3x seminggu d) Ganti pakaian 2x sehari b. Personal hygiene a. H. Melahirkan tanggal 06 Juli 2012 pukul 04:50 wita. PB 47 cm. Kala IV (kala pengawasan) a. Sakit perut tembus ke belakang di sertai pengeluaran lendir dan darah di rasakan sejak jam 19:00 wita.

b) Palpasi : tidak ada benjolan. Hubungan ibu. Suami dan keluarga menyambut dengan bahagia kelahiran sang bayi dan berharap ibu dan bayinya sehat. Suami dan keluarga sangat senag dan bahagia dengan kelahiran bayinya.5ºC b. 5. kelenjar limfe dan ven jugularis 8) Dada a) Inspeksi : pola pernafasan normal. . Pemeriksaan Umum dan Fisik a. Riwayat psikososial. Pemeriksaan umum 1) Keadaan umum baik : Klien masih nampak lemah 2) Kesadaran komposmentis : Composmentris 3) Tanda-Tanda Vital : a) Tekanan darah : 110/80 mmHg b) Nadi : 84x/mnt c) Pernafasan : 24 x/ menit d) Suhu : 36.4. 3) Mata Inspeksi : Konjungtiva pucat dan skelera putih 4) Hidung a) Inspeksi : tidak ada sekret b) Palpasi : tidak ada polip 5) Mulut dan gigi Inspeksi : a) Bibir : lembab b) Gusi : warna merah muda. dan spiritual 1. pucat. 2. Pemeriksaan Fisik 1) Kepala a) Inspeksi : kulit kepala dan rambut bersih. J. ikal dan tidak mudah rontok b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan 2) Muka/Wajah a) Inspeksi : ekspresi wajah ibu meringis saat bergerak. payudara simetris kiri dan kanan. kolostrum ada jika areola di pencet. Ibu bersyukur atas anugerah Tuhan dengan kelahiran bayinya dan berdoa agar kelak bayinya jadi anak yang soleh. suami. c) Gigi : bersih dan tidak ada caries. 7) Leher Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. ekonomi. hyperpigmentasi pada areola mammae. 4. d) Lidah : Bersih 6) Telinga Inspeksi : simetris kiri dan kanan. Pola istirahat Klien mengatakan sulit tidur karena nyeri pada luka perineum dan ibu istrahat baring. dan tidak ada cloasma. Keluarga mengharapkan agar ibu dan bayinya sehat 6. I. dan keluarga sangat harmonis. tidak ada oedema dan perdarahan. tidak ada gangguan fungsi pendengaran. Ibu dapat beradaptasi dengan keadaan dan lingkungannya. puting susu terbentuk. b) Palpasi : tidak oedema pada wajah. 3.

Hal. 11) Anus Inspeksi : Tidak ada tanda-tanda haemoroid 12) Ekstremitas a) Inspeksi : Simetris kiri dan kanan. b. Setelah bayi lahir TFU 12. oleh Eny Retna Ambarwati. tidak varices b) Palpasi : Tidak ada oedema c) Perkusi : Refleks patella positif kiri dan kanan LANGKAH II. Kontraksi uterus: baik teraba keras dan bundar 3. tampak jahitan jelujur pada perineum dan pengeluaran lochia rubra. Ibu mengatakan ada jahitan pada perenium. Hal 116) b. Hsl 7778) Masalah aktual : Nyeri pada perut bagian bawah Data Subjektif : Ibu mengeluh nyeri pada perut bagian bawah Data Objektif : 1. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH AKTUAL Diagnosa : Post partum hari pertama Masalah Aktual : Nyeri pada daerah perineum a. b) Palpasi : tinggi fundus uteri setinggi pusat. Ibu nampak kesakitan bila bergerak 3. uterus teraba keras dan bulat. Data objektif: 1.73-74) c. Data subjektif: 1. B= 60(Sumber: Asuhan kebidanan nifas. Pada hari 1-3 (luchia rubra) berisi darah segar dan sisa selaput ketubanSel-sel desidua. Ibu mengeluh nyeri bila duduk dan berjalan. Melahirkan tanggal 06 Juli 2012 Pukul 04:50 Wita.5 cm di atas sympisis.Dengan adanya proses involusi ukuran uterus harus kembali normal yaitu P= 8cm. luka masih basah. 3. sehingga impuls di bawah ke sistem saraf sentral melalui saraf asendens. Pengeluaran lochia rubra merah ketuaan Analisa dan interpretasi data . verniks cascosa lanugo dan mekanium(Sumber: Asuhan kebidanan nifas. L=5cm. TFU 1 jari di bawah pusat 4. Bila informasi ini sudah di sampaikan ke cortex serebri maka seseorang akan merasa nyeri (Sumber: Sipnopsis obsteri oleh Rustam Mochtar. Adanya luka mengakibatkan terputusnya kontinuitas jaringan pembuluh darah dan serabut saraf yang ada di sekitar luka . 2. Nampak luka jahitan perineum tingkat III masih basah 2. Kontraksi uterus teraba keras dan bundar 5. Lochia adalah cairan yang berasal dari uterus melalui vagina dalam masa nifas. oleh Eny Retna Ambarwati. 10) Genetalia a) Inspeksi : Tidak ada varises. TFU: 1 jari dibawah pusat 2.9) Abdomen a) Inspeksi : Tidak ada luka bekas operasi terdapat striae livida dan linea nigra. setinggi pusat atau I jari bawah pusat. b) Palpasi : nyeri tekan pada perineum dan tidak ada oedema. Pengeluaran lochia rubra Analisa dan interpretasi data a.

Antisipasi Diagnosa/Masalah Potensial Potensial terjadinya infeksi luka perineum Diagnosa : post partum hari pertama dengan nyeri luka perenium derajat III DS : . Observasi tanda-tanda vital dan keadaan umum ibu .Terdapat jahitan pada perineum masih basah .Ibu tampak kesakitan bila bergerak dan berjalan. Ilmu kebidanan. Ibrahim hal 16-17) b.a.Bidan hal. Pada daerah vulva perineum merupakantempat yang lembab dan tempat berkembang biaknya mikroorganisme karena adanya pengeluaran lochia sehingga kuman bisa masuk sampai ke endometrium sebab oustium internum masih terbuka apalagi ada luka yang memudahkan kuman patogen masuk yang dapat menimbulkan infeksi (Wiknjosastro. L=5cm.Ada pengeluaran darah dari jalan lahir DO : .313) b.Dengan adanya proses involusi ukuran uterus harus kembali normal yaitu P= 8cm. TTV dalam batas normal a) TD : 110/80 mmHg b) P : 24x/ mnt c) N : 84x / mnt d) S : 36. Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot uterus akan terjepit. Hal. Ibu dapat beradaptsi dengan nyeri perineum 2. Kontraksi uterus baik. Setelah melahirkan uterus berkontraksi sehingga menjadi keras.5ºC c. TFU berkurang 1cm setiap hari d. Intervensi a.5 cm di atas sympisis. Setelah bayi lahir TFU 12. teraba keras dan bundar e. Penyayat kandungan dan KB untu k Dik. setinggi pusat atau I jari bawah pusat. Tindakan segera/kolaborasi Kolaborasi dengan dokter obgyn untuk pemberian obat Langkah V. Post partum hari 1 berlangsung normal b. Tujuan: a.73-74). Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti: a) Color (panas) b) Rubur(merah) c) Dolor (nyeri) d) Tuinor (pembengkakan) e) Funcio leansa (kerusakan pada jaringan) 3. Pengeluaran lochia berubah seiring waktu dan proses perawatan f. oleh Eny Retna Ambarwati.Ibu mengeluh nyeri bila duduk dan berjalan . Proses ini menghentikan pendarahan(Sumber: perawatan kebidanan oleh cristina S. Langkah IV. Involutio uterus berjalan normal b. Langkah III. Rencana tindakan Post partum hari pertama dengan masalah nyeri pada luka perineum tingkat III 1. Analisa dan interpretasi data a. B= 60(Sumber: Asuhan kebidanan nifas. (Sumber: ide bagus Gede Manuaba. Luka persalinan merupakan tempat masuknya kuman ke dalam tubuh.2005). sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Kriteria: KU ibu baik a. Ibu tidak meringis bila bergerak g.

ibu dapat memahami dan mengerti timbulnya nyeri yang dirasakan. bau. g. Anjurkan ibu sesering mungkin menyusui bayinya Rasional : ASI dapat memenuhi kebutuhan nutrisi untuk bayi serta ASI merangsang terbentuknya oksitosin yang mempengaruhi proses involusio. kalori. sehingga akan berlangsung cepat i. 3) Vulva Hygiene Ajarkan ibu untuk melakukan vulva hygiene untuk kebersihan perineum dan vulva Rasional : dengan melakukan vulva hygiene dapat mencegah terjadinya terjadinya infeksi vulva perineum serta untuk penyembuhan luka perineum. 4) Istirahat Anjurkan pada pasien untuk istirahat siang minimal 2 jam. Lakukan perawatan dan kebersihan payudara Rasional : Dengan melakukan perawatan dan kebersihan payudara diharapkan ibu dapat mengerti manfaat perawatan dan kebersihan payudara yang dilakukan serta mau melakukannya sendiri. Observasi involusio uteri setiap hari Rasional : Dengan mengobservasi involusio uteri setiap hari dapat diketahui bahwa proses involusio berjalan normal di mana TFU mengalami penurunan 1 cm per harinya dan uterus teraba bulat dan keras. Beri healt education (HE) pada ibu tentang: 1) Gizi Anjurkan ibu makan makanan yang bergizi. Rasional : dengan mengajarkan pada pasien tentang personal Hygiene dapat mencegah masuknya penyakit karena pasien selalu menjaga kebersiahan dirinya. Observasi pengeluaran lochia Rasional : Adanya perubahan warna. c. e. Ajarkan ibu untuk perawatan payudara . j. vitamin. Jelaskan penyebab nyeri Rasional : Dengan mengetahui penyebab nyeri. b. 2) Personal Hygiene Anjurkan ibu untuk sering menjaga kebersihan dirinya dengan menjaga kebersihan dirinya dengan mandi paling tidak 2x sehari dan mengganti pakaian. malam 7-8 jam Rasional : Dengan istirahat dapat membantu memulihkan kondisi tubuh setelah menghadapi persalinan h.Rasional: Dengan mengobservasi tanda-tanda vital setiap hari dapat diketahui keadaan umum ibu karena tanda-tanda vital merupakan salah satu indikator untuk mengetahui keadaan umum ibu. Jelaskan pada ibu penyebab nyeri yang dirasakan Rasional : dengan mengetahui penyebab nyeri atas penjelasan yang diberikan ibu dapat mengerti dan beradaptasi dengan keadaannya sehingga dapat mengurangi kecemasan ibu f. banyaknya dan perpanjangan lochia merupakan tanda terjadinya infeksi yang di sebabkan involusio yang kurang baik. cukup protein. Anjurkan ibu untuk mobilisasi dini Rasional : Dengan mobilisasi akan mempercepat proses involusio dan sirkulasi darah ke jaringan. d. minum ± 8 gelas sehari Rasional : dengan makan makanan yang bergizi proses pemulihan dapat berlangsungdengan cepat dan stamina tubuh terjagab.

00 1. Suhu : 36. Observasi tanda-tanda infeksi seperti: tuinor(pembengkakan). Penatalaksanaan pemberian obat amoxicillin 500mg dan asam mefenamat 500mg 9. Nadi : 84 x/ Menit c. Memberi healt education (HE) pada ibu tentang: a) Personal Hygiene yaitu mengganti pakaian dalam jika basah atau sesudah BAB/BAK. . m. f) Tidak tanda-tanda infeksi seperti panas. Tekanan darah : 110/80 mmHg b. Pernafasan : 24x/ Menit d.5ºC b) Kontraksi uterus baik. rubor (kemerahan). Langkah VI. dolor (nyeri). teraba keras dan bundar. c) Pengeluaran lochia rubra d) Nyeri daerah prineum sudah berkurang ditandai dengan: e) Luka jahitan mulai baik. Mengobservasi pengeluaran lochia setiap hari 5. funcio leansa (kerusakan pada jaringan). funcio leansa (kerusakan pada jaringan). color (panas). Bantu ibu untuk mobilisasi dini Rasional : mobilisasi dini mempercepat proses involusio dan juga memperlancar sirkulasi darah ke jaringan sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan l. kulit dan serabut akibat dari regangan otot perineum yang berlebihan saat kepala melewati jalan lahir. Mengobservasi tanda-tanda vital dan keadaan umum ibu a. 8. Menjelaskan pada ibu penyebab nyeri yang dirasakan yaitu nyeri ruptur perineum disebabkan karena terputusnya kontinuitas jaringan otot. Evaluasi Tanggal 06 Juli 2011 Pukul16:00 Wita 1. Mengobservasi tanda-tanda infeksi seperti: tuinor(pembengkakan). Anjurkan ibu untuk mobilisasi dini 7. nyeri. color (panas). Post partum hari I berjalan normal di tandai dengan: a) Keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital dalam batas normal : 1) TD: 110/80mmHg 2) P : 24/mnt 3) N : 84/mnt 4) S : 36. Implementasi Tanggal 06 Juli 2011 jam 16. rubor (kemerahan). dolor (nyeri). merah. Langkah VII.Rasional : perawatan payudara yang benar dan teratur akan memperlancar dan meningkatkan produktifitas ASI k. Dengan adanya luka ini maka dapat merangsang ujung-ujung syaraf sehingga timbullah rasa nyeri dan ibu bisa mengerti. Rasional : dengan mengetahui tanda-tanda infeksi. Penatalaksanaan pemberian obat Amoxicillin 500mg dan asam mefenamat 500mg Rasional : amoxicillin sebagai antibiotik dapat membunuh kuman penyebab infeksi dan asam mefenamat sebagai analgetik dapat mengurangi rasa sakit.5 oC 2. dapat mencegah terjadinay infeksi. bengkak dan kerusakan pada jaringan. Mengobservasi proses involusio uteri setiap hari 4. 6. b) Cara menyusui yang baik dan benar. Lakukan perawatan dan kebersihan payudara 3.

.

dan berjalan Ada pengeluaran darah dari jalan lahir. duduk. 4. potensial terjadi infeksi. “B” : 20 tahun / 24 tahun : 1 kali / 2 tahun : Bugis / Bugis : Islam / Islam : Sma / S1 : URT / Guru : Jalan Bila Selatan DATA SUBJEKTIF (S) Ibu melahirkan tanggal 06 Juli 2012 jam 04. Ibu merasa nyeri pada perut bagian bawah ASI belum lancar. Pengeluaran lochia rubra Nyeri tekan pada perineum Tanda-tanda Vital : a) Tekanan darah : 110/80 mmHg b) Nadi : 84 x/ menit c) Pernafasan : 24 x/menit d) Suhu : 36.A DENGAN LUKA PERINEUM DERAJAT III DI RUMAH SAKIT AJAPPANGE KAB. 2. 7. Mengobservasi tanda-tanda vital dan keadaan umum ibu: a.00 Wita 1. 6. Tekanan darah : 110/80 mmHg . 4. Tinggi Fundus Uterus 1 jari bawah pusat. 5. 5. : 21 45 46 : 06 Juli 2012 : 06 Juli 2012 : 06 Juli 2012 Pukul : 00 : 30 Wita Pukul : 04 : 50 Wita Pukul : 15 : 00 Wita : Ny. 1. 3. “A” / Tn. Kontraksi uterus ibu teraba keras dan bulat. Ibu merasa nyeri pada perineum terutama bila bergerak. PLANNING (P) Tanggal 06 Juli 2011 jam 16.5 oC ASSESMENT (A) Post partum hari III dengan ruptur perineum tingkat III. SOPPENG TANGGAL 06 JULI 2012 Nomor register Tanggal masuk Tanggal partus Tanggal pengkajian Identitas Istri/Suami Nama Umur Nikah/Lamanya Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat 1. 6. Ada pengeluaran darah dari jalan lahir DATA OBJEKTIF (O) Keadaan umum ibu masih nampak lemah Ekspresi wajah ibu meringis saat bergerak. 50 Wita. 2. 3.PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN PADA NY.

dolor(nyeri). Ilmu Kebidanan . Wiknjosastro. terutama pada seorang primipara. Buku Ajar Asuhan Kebidanan.B. Sarwono. menerapkan konsep asuhan kebidanan kepada klien dengan perlukaan jalan lahir. Fitramaya: Yogyakarta Prawirohardjo. Mengobservasi pengeluaran lochia setiap hari. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini.42 . b. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. color(panas).5 0C 2. funcio leansa(kerusakan pada jaringan).blogspot. Menjelaskan penyebab nyeri 8. B. Baik itu berupa robekan perinium. Memberikan healt education (HE): a. Mengobservasi proses involusio uterus setiap hari.com/2012/05/askeb-luka-perineum-derajat-iii-akbid. BAB IV PENUTUP A. Pernafasan : 21 x/menit d. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi I. Nadi : 84 x/ menit c. Salmah.Rustam. 6. EGC : Jakarta. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Diposkan oleh Harlinda linda di 03. 10. 2008. Cara menyusui yang benar dan baik. Penatalaksanaan pemberian obat Amoxicillin 500mg dan asam mefenamat 500mg. Suhu : 36. H. Pentingnya menyusui sesering mungkin dan manfaat ASI 9. SinopsisObstetri Fisiologi dan Patologi. 2010. sebagai akibat persalinan. Helen. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. 2005. 2008. 7.b. Melakukan perawatan dan kebersihan payudara 3. 4. rubor(kemerahan).2006. EGC: Jakarta Sumarah. Saran 1. Mengobservasi tanda-tanda infeksi seperti: tuinor(pembengkakan).Sarwono Prawirohardjo Varney. 5. EGC : Jakarta Mochtar. Perawatan Ibu Bersalin. 2007.G. Ilmu Kebidanan . 2005. Bagi Tenaga Kesehatan Diharapakan mampu mengerti tentang robekan jalan lahir dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi klien serta mampu memberikan asuhan secara komprehensif DAFTAR PUSTAKA http://aznhysoppenk. Bagi Mahasiswa Mahasiswa diharapkan agar dapat mengerti tentang robekan jalan lahir sampai dengan bagaimana manifestasi klinik dan penatalaksanaan medisnya. Melakukan vulva hygiene dan vagina toilet. 2. Hal ini dapat diatasi apabila seorang tenaga kesehatan dapat mengelolanya dengan baik. Kesimpulan Kami dapat menyimpulkan bahwa perlukaan pada jalan lahir. EGC: Jakarta.html Manuaba I. robekan serviks atau rupture uteri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful